Zikir dan Doa


dzikirZikir dan Doa

Arsip fiqh

Tidak ada ibadah yang lebih utama bagi lidah setelah membaca Alquran selain zikrullah (mengingat Allah dengan zikir) dan menyampaikan segala kebutuhan melalui doa yang tulus kepada-Nya.

Berikut ini adalah dalil-dalil tentang keutamaan berzikir.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian.” (Al-Baqarah: 152).

“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.” (Ali Imran: 191).

Nabi saw. bersabda yang artinya, “Sesungguhnya Allah Azza wa-Jalla berfirman, “Aku beserta hamba-hamba-Ku selagi dia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak-gerak menyebut-Ku.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Dalam hadis lain beliau bersabda, “Tidaklah segolongan orang mengingat Allah, malainkan para malaikat menghormati mereka, rahmat menyelubungi mereka, ketenangan turun kepada mereka, dan Allah mengingat mereka bersama orang-orang yang ada di sisi-Nya.” (HR Muslim dan At-Tirmizi).

Hadis-hadis lain yang serupa dengan ini banyak sekali, yang biasanya disebutkan dalam masalah amal-amal yang utama.

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi saw., beliau bersabda, “Tidaklah segolongan orang duduk-duduk di suatu majelis, lalu mereka buyar tanpa mengingat Allah Azza wa-Jalla, melainkan mereka itu buyar seperti bangkai-bangkai himar, dan majelis itu akan menjadi penyesalan bagi mereka pada hari kiamat.” (HR Abu Daud, Ibnus-Sunni, dan Al-Hakim).

Dalam hadis lain disebutkan, “Tidaklah segolongan orang duduk-duduk di suatu majelis, sedang mereka tidak mengingat Allah Azza wa-Jalla dan tidak berselawat kepada Nabi saw., melainkan majelis itu akan menjadi penyesalan bagi mereka pada hari kiamat.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).

Tentang keutamaan doa, Abu Hurairah r.a. telah meriwayatkan dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu yang mulia atas Allah Azza wa-Jalla selain dari doa.” (HR At-Tirmizi, Ibnu majah, Ibnu Hibban, Ahmad, dan Al-Baghawi).

Dalam hadis lain disebutkan, “Ibadah yang paling utama adalah doa.” (HR Bukhari, sanadnya ada kelemahan).

“Siapa yang tidak mau meminta kepada Allah, Allah murka kepadanya.” (HR Bukhari, Tirmizi, Ibnu Majah, Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Baghawi).

“Mintalah kepada Allah kemurahan-Nya, karena Allah itu suka jika dimintai.” (HR Tirmizi).

Ada beberapa adab yang harus diperhatikan saat berdoa, yaitu mencari waktu yang mulia, seperti hari Arafah untuk putaran satu tahun, pada bulan Ramadan untuk putaran satu bulan, pada hari Jumat untuk putaran satu minggu, pada waktu-waktu sahur untuk putaran setiap hari. Waktu mulia lainnya adalah antara azan dan iqamat, seusai salat fardu, saat turun hujan lebat, saat berperang fisabilillah, saat khatam Alquran, saat sujud, saat berbuka puasa, saat hati sedang khusu dan takut. Yang pasti, kemuliaan waktu-waktu ini kembali kepada kemuliaan keadaannya. Waktu sahur merupakan saat hati sedang bersih dan kosong, waktu sujud karena dalam hina.

Adab berdoa lainnya adalah harus menghadap ke arah kiblat, mengangkat kedua tangan (pada selain salat wajib lima waktu ed.), dan hendaknya mengucapkan doa secara pelan-pelan.

Adab yang lain, hendaknya dimulai dengan zikir kepada Allah, kemudian mengucapkan selawat kepada Nabi saw., dan tidak memaksakan kalimat-kalimat yang bersajak dalam doa. Adab bedoa lainnya yang termasuk adab batin dan merupakan dasar pengabulan adalah tobat.

***

Sumber: Diadaptasi dari Minhajul Qashidin: Jalan Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk terjemahan dari Mukhtasyar Minhajul Qashidin, Al-Imam asy-Syekh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisy

Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Iklan