Shalat Gaib


shalat gaibShalat Gaib

Arsip fiqh

Dalil-dalil tentang Shalat gaib di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Dari Jabir dan Umar: “Bahwa Nabi saw. telah menyalatkan Ashhamah Najasyi, lalu takbir empat kali.” (SR Bukhari, muslim dan Ibnu Majah).
  2. Dari Jaabir: Sabda Rasulullah saw., “Telah mati pada hari ini seorang yang saleh dari bangsa Habasyi, lantaran itu marilah kamu Shalatkan atasnya,” maka kami pun beratur di belakangnya, lalu Rasulullah saw. menyalatkan.” (HR Bukhari dan Muslim).
  3. Dari Imraan bin Hushain, telah bersabda rasulullah saw., “Bahwasanya saudara kamu Najasyi telah mati, lantaran itu bediri dan Shalatkan atasnya, maka kami pun berdiri lelu membuat shaf sebagaimana dibuat bagi Shalat mayit dan kita Shalatkan atasnya sebagaimana diShalatkan atas mayit.” (SR Nasai dan Tirmizi).
  4. Dari Ibnu Abbas, “Rasulullah saw. pernah pergi ke satu kuburan yang baru, lalu ia Shalatkan atasnya, dan sahabatnya bershaf di belakangnya, dan ia takbir empat kali.” (HSR Bukhari dan Muslim).
  5. Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi saw. pernah menyalatkan atas satu mayit sesudah tiga hari.” (R Daraquthni).
  6. Dari Ibnu Abbas, “Bahwasanya Nabi saw. pernah menyalatkan atas satu kubur sesudah sebulan.” (R Daraquthni).
  7. Dari Abi Hurairah r.a., bahwasanya seorang perempuan hitam (atau seorang muda) yang biasa menyapu masjid tidak kelihatan kepada Rasulullah saw., lalu Rasulullah menanyakan dia, maka sahabat-sahabatnya menjawab, “Ia sudah mati.” Sabda Rasulullah, “Mengapakah kamu tidak beri tahu kepadak? Lalu, Rasulullah berkata, Tunjukan kepadaku kuburannya, lalu mereka tunjukkan, lantas Rasulullah menyalatkan atasnya.” (SR Bukhari, Muslim, dan yang lainnya). Dan, masih banyak lagi.

Imam Syafii, Imam Ahmad bin Hambal, dan kebanyakan ulama yang dahulu membolehkan orang atau sekelompok orang Shalat gaib. Kata Imam Ibnu Hazm, “Tidak diriwayatkan walaupun dari seorang sahabat, tentang melarang hal itu.”

Kata Hafizh Ibnu Hajar, “Sebagian dari ahli ilmu berkata, ‘Boleh diShalatkan gaib pada hari matinya atau sesudah dua tiga hari. Tetapi, tidak boleh kalau sudah lama’.”

Dalil bagi Imam Syafii dan yang sependapat dengannya ialah karena hadis yang ada itu membolehkan Shalat gaib dengan tidak mensyaratkan apa-apa. Imam Al-Khaththabi berkata, “Tidak boleh diShalatkan gaib, melainkan atas orang yang mati di negeri yang tidak ada siapa-siapa menyalatkan dia di situ.” Dalilnya, dari Hudzaifah bin Asid, bahwasanya Nabi saw. telah bersabda, “Sesungguhnya saudara kamu telah mati di luar negeri kamu. Lantaran itu, berdirilah kamu dan Shalatkanlah dia.”

(HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Thabrani).

Sementara mazhab Imam Hanafi dan Maliki berlainan pendapat dan berkata,

“Tidak sekali-kali disyariatkan, yakni tidak sekali-kali disuruh oleh agama supaya kita menyalatkan mayit yang gaib.”

Kesimpulan

  1. Boleh suatu jamaah Shalat gaib walaupun mungkin sudah ada yang menyalatkannya.
  2. Tidak bidah berdasarkan hadis yang tidak menyaratkan apa-apa.

***

Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Iklan