Memahami Bahwa Kehidupan Dunia Ini Adalah Sementara


taubatMemahami Bahwa Kehidupan Dunia Ini Adalah Sementara

Di seluruh dunia, setiap manusia tanpa terkecuali, membicarakan atau paling tidak memikirkan satu tema pada satu titik dalam kehidupan mereka: berumur panjang dan menghindari kematian sebisa mungkin. Hingga saat ini, para ilmuwan telah melakukan usaha-usaha yang serius selama berabad-abad dan telah berusaha menemukan formula-formula untuk membuat manusia hidup lebih lama. Bagaimanapun juga, hingga saat ini, tak ada kemajuan apa pun yang dicapai. Karena itu, dengan ayat, “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (al-Anbiyaa` [21]: 34-35) Allah mengatakan kepada kita bahwa setiap manusia diciptakan tidak abadi (akan mati). Sebuah kenyataan yang setiap kita pasti akan hadapi pada waktu yang telah ditentukan.

Tanpa mengabaikan kenyataan bahwa manusia enggan memikirkan atau menerima realitas kematian, kenyataan bahwa manusia akan mati adalah sebuah kebenaran mutlak. Dalam hal apa pun, kehidupan dunia ini sangatlah singkat dan sementara sifatnya. Setiap orang diturunkan ke dunia ini untuk diuji dalam rentang waktu berkisar antara tujuh belas sampai tujuh puluh tahun. Karena itulah, akan menjadi sebuah kesalahan yang besar bagi seseorang untuk mendasarkan rencana hidupnya hanya untuk dunia, untuk menerima persinggahan yang sebentar ini sebagai kehidupan sejatinya, dan untuk melupakan akhirat di mana ia akan hidup selamanya.

Kenyataan ini terlihat begitu jelas dan mudah hingga semua kita bisa memahaminya dengan cepat. Akan tetapi, sebagaimana ditunjukkan dalam ayat, “Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (al-Mulk [67]: 2) Allah memperindah dunia ini untuk menciptakan kondisi di mana di dalamnya manusia akan diuji. Manusia seharusnya tidak tertipu oleh kenyataan bahwa sebagian orang berlomba-lomba satu sama lain untuk memaksimalkan kesenangan hidup di dunia ini. Hal ini karena–seperti yang ditunjukkan oleh Al-Qur`an–mereka yang hidup dalam kelalaian, tidak dapat menganggap sebuah kelompok kecuali bila mereka memiliki sifat-sifat yang dikehendakinya. Mereka yang berusaha untuk mengumpulkan dan menimbun harta kekayaan, mengorbankan kepercayaan mereka untuk mendapatkan kekuasaan.

Mereka yang memainkan peran sebagai orang yang ingin mendapatkan penghargaan atau penerimaan dari orang lain, sebenarnya mencari cita-cita yang khayali. Menganggap bahwa kehidupan dunia ini adalah nyata dan mengejar keuntungan serta balasan duniawi tanpa harapan, adalah ketidaklogisan, kelucuan, dan kehinaan, seperti menyalahkan adegan dari sebuah sandiwara nyata.

Bagaimanapun juga, haruslah diingat bahwa yang tertipu itu bukan hanya mereka yang mengabdikan dirinya pada kehidupan dunia ini, melainkan juga mereka yang berusaha mendapatkan dunia dan akhirat. Kehidupan dunia ini diciptakan sebagai berkah bagi manusia. Sementara mereka di dunia, manusia harus memakainya sebaik mungkin atas segala pesonanya dan menikmati anugerahnya yang berlimpah. Akan tetapi, kita tidak boleh mengidealkan dan tidak juga mengejar anugerah ini dengan keinginan atau ambisi yang berlebihan. Ia harus menjadikannya alat untuk hidup sesuai dengan agama dalam sikap sebaik mungkin, untuk menghargai Allah, dan bersyukur setelah menyadari bahwa semua itu dilimpahkan Allah kepadanya. Berbuat sesuai dengan alasan-alasan seperti, “Saya dapat membawa hidup saya dalam keridhaan Allah dan menggunakan keuntungan-keuntungan duniawi ini sebaik-baiknya,” akan menjadi pola pikir yang merusak keikhlasan seseorang.

Di dalam ayat berikut, mengacu pada para nabi-Nya, Allah mengingatkan umat manusia bahwa tingkah laku mereka yang hanya mengingat hari akhir saja adalah yang terbaik dalam kebaikan bersama Allah.

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya, Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlaq yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (Shaad [38]: 45-47)

Meskipun demikian, Allah melimpahkan anugerah duniawi yang luar biasa atas mereka yang dengan ikhlas berpaling kepada-Nya dan menginginkan hari akhirat. Jadi, seseorang yang mengambil jarak dengan keikhlasan dengan mengatakan, “Biarkan aku memiliki dunia ini dan akhirat,” pada akhirnya akan kehilangan kedua-duanya. Orang yang selalu hanya mencari akhirat akan mendapatkan keberkahan dunia dan akhirat.

Demikian pula, Badiuzzaman Said Nursi berkata, “Rahasianya adalah keikhlasan. Kesenangan dunia yang sementara ini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang tidak berhasil mendapatkan kemurnian spiritual. Jadi, perbuatan yang dilakukan oleh mereka untuk hari akhirat dipengaruhi oleh kesenangan-kesenangan tersebut, dan keikhlasan mereka ternodai. Karena hal-hal yang bersifat duniawiah, kesenangan tidak dapat dicari bersama dengan perbuatan untuk mendapatkan balasan duniawi lainnya. Jika demikian, keikhlasan akan terancam.” (1)

Ia menggaris-bawahi bahwa tujuan untuk mendapatkan dua keuntungan dunia dan akhirat muncul dari jiwa yang kurang terdidik. Pemikiran demikian mengurangi keikhlasan dan mencegah seseorang dari melakukan amal saleh untuk hari akhirat.

Dalam karyanya yang lain, Said Nursi mencatat bahwa hanya mereka “yang menganggap bahwa dunia adalah rumah persinggahan” yang dapat berharap untuk mendapatkan kehidupan terbaik dan paling berbahagia. Karena itu, pola pikir demikian membawa seseorang pada keridhaan Allah dan untuk berbuat ikhlas.

“Saya melihat bahwa orang yang paling beruntung di dunia ini adalah dia yang melihat dunia ini sebagai rumah persinggahan militer, menyerahkan dirinya, dan bersikap sebaik mungkin. Dengan berpikir demikian, ia dapat meningkat cepat pada tingkatan keridhaan Allah, tingkatan tertinggi. Karena, orang tidak akan memberikan harga intan untuk sesuatu yang senilai dengan kaca yang bisa pecah. Ia akan menjalani hidupnya dengan lurus dan penuh kebahagiaan. Benar, materi yang ada di dunia ini adalah seperti serpihan kaca yang hancur, sedangkan materi yang abadi di akhirat memiliki nilai intan yang sempurna. Keingintahuan yang besar, rasa cinta yang hebat, keserakahan yang parah, keinginan yang keras, dan emosi-emosi lainnya yang kuat dalam naluri manusia diberikan untuk mendapatkan hal-hal yang ada di akhirat. Menjadikan emosi-emosi yang kuat terhadap hal-hal duniawi yang bersifat sementara ini sebagai tujuan, berarti memberikan harga intan yang abadi untuk serpihan kaca yang hancur.” (2)

Dalam istilah ini, Badiuzzaman membandingkan kehidupan dunia ini sebagai sebuah botol yang mudah pecah, sedangkan hari akhirat sebagai intan. Siapa pun yang berbuat tidak ikhlas, dengan larut dalam kehidupan dunia ini, akan kehilangan balasan yang amat menyenangkan, seperti orang yang mengorbankan intan untuk sebuah botol kaca yang tak bernilai.

Di sisi lain, orang yang memahami bahwa dunia ini adalah rumah persinggahan, ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama dan akan mendesak dirinya untuk berusaha sekuatnya di dunia ini untuk akhirat.

***

(1)-Badiuzzaman Said Nursi, Emirdag Lahikasi (Surat-Surat Emirdag), Vol. 1, hlm 86.

(2)-Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan Surat, Surat Ke-9

Kiriman Sahabat

Iklan