Salat Witir di dalam dan di luar Ramadhan


sujud-shalat-di-masjidSalat Witir di dalam dan di luar Ramadhan

arsip fiqh

Kata witir atau witrun semula berarti ganjil. Allah disebut witrun karena Ia Esa, Tunggal. “Berwitir” bisa berarti “mengganjili”, artinya menambah yang genap (dua, misalnya) menjadi ganjil. Di malam bulan Ramadhan, setelah kita melakukan salat tarawih 20 atau delapan rakaat (genap), kita lalu “mewitirinya”, dengan salat “ganjil” tiga rakaat.

Salat witir diisyaratkan tidak hanya di malam-malam bulan Ramadhan saja. Ia adalah salat yang sangat penting setelah salat Fardu. Bahkan menurut Imam Abu Hanifah, salat Witir itu wajib berdasarkan sabda Nabi Saw.:

“Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla menambah atas kamu satu salat, maka kerjakanlah itu pada waktu Isya dan Subuh: salat Witir..” (HR. Ahmad dan Tahbrani)

Namanya “tambahan”, tentulah merupakan sesuatu yang sejenis dengan yang ditambahi. Jika yang ditambahi wajib, maka tambahan itu pun wajib. Lagi pula Nabi bersabda: “Kejakanlah” berarti perintah.

Di samping itu, Imam Abu Hanifah juga berdalil dengan hadis:

“Salat Witir itu haq, maka barangsiapa yang tidak berwitir maka ia tidak termasuk golonganku” (HR. Abu Dawud dari Abdullah bin Buraidah r.a)

Sedangkan menurut Imam Syafi’i dan yang lain, salat Witir itu tidak wajib, tapi sunnah muakkadah, sunnah yang dikukuhkan. Yang dianjurkan dan ditekankan Nabi Saw. Sayyidina Ali r.a. berkata: ‘Salat Wtir itu tidak wajib sebagaimana salat-salat fardu kalian, tapi Rasulullah Saw. berwitir (melakukan salat Witir) dan bersabda:

“Wahai ahli (keluarga) Al-Qur’an, berwitirlah kalian; sesungguhnya Allah itu Witir (Esa, Tunggal) dan menyukai yang witir (ganjil).” (HR. Abu Dawud)

Salat Witri itu, menurut Hanafi, tiga rakaat dengan satu salam dan pada rakaat ketiga selalu ada qunutnya. Sedang menurut Syafi’i, salat Witir itu sempurnanya, minimal tiga rakaat dengan dua salat (2+1) dan hanya berqunut pada akhir Ramadhan saja.

***

Sumber : Fiqh Keseharian Oleh KH. A. Mustofa Bisri

Kiriman Sahabat Arland

Iklan