Shalat-Shalat Sunnah


siluet sholatShalat-Shalat Sunnah

arsip fiqih

Shalat-Shalat sunnah sangat banyak, yaitu Shalat sunnah rawatib (Shalat sunnah yang mengiringi Shalat fardhu), Shalat witir, Shalat dua hari raya, Shalat gerhana matahari dan gerhana bulan, Shalat istisqa’, Shalat malam (tahajjud), Shalat dhuha, Shalat Tarawih dll.

Dianjurkannya Shalat-Shalat sunnah tersebut tidak lain hanya semata-mata untuk menyempurnakan kekurangan yang ada pada Shalat fardhu yang telah dilakukan seorang muslim dan untuk meningkatkan pendekatan diri kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Tamim ad-Daari, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Yang pertama kali dihisab oleh Allah SWT dari seorang hamba adalah Shalatnya. Jika Shalatnya sempurna (benar dan baik), maka ditulislah pahala sempurna untuknya dan apabila dia tidak menyempurnakan Shalat tersebut (melakukannya dengan benar dan baik), maka Allah SWT berfirman kepada para malaikatnya: ‘Lihatlah, apakah kalian menemukan Shalat sunnah yang dilakukan hambaku untuk menyempurnakan Shalat fardhunya’?” (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, dan al-Hakim).

Kemudian, Shalat-Shalat sunnah tersebut dikategorikan menjadi dua bagian: mutlaq dan muqayyad. Untuk sunnah mutlaq, cukuplah seseorang berniat Shalat saja. Imam Nawawi berkata, “Seseorang yang melakukan Shalat sunnah dan tidak menyebutkan berapa raka’at yang akan dilakukannya dalam Shalatnya itu, bolehlah ia melakukan satu raka’at lalu bersalam dan boleh pula menambahnya menjadi dua, tiga, seratus, seribu raka’at dan seterusnya. Apabila seseorang Shalat sunnah dengan bilangan raka’at yang tidak diketahuinya, lalu bersalam, maka hal itu pun sah pula tanpa ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Demikianlah yang telah disepakati oleh golongan kami (madzhab syafi’i) dan dijelaskan pula oleh Imam Syafi’i dalam kitab ‘al-Imla’.

Imam Baihaqi meriwayatkan dengan isnadnya bahwa Abu Dzarr ra melakukan Shalat dengan raka’at yang banyak, dan setelah salam ditegur oleh Ahnaf bin Qais ra seraya berkata, “Tahukah anda bilangan raka’at dalam Shalat tadi, apakah genap atau ganjil?” Ia menjawab: “Jikalau saya tidak mengetahui berapa jumlah raka’atnya, maka cukuplah Allah mengetahuinya. Sebab, saya pernah mendengar kekasihku Abu al-Qasim (Nabi Muhammad saw) bersabda, (sampai di sini Abu Dzarr menangis, kemudian dia melanjutkan pembicaraannya saya pernah mendengar kekasihku Abu al-Qasim bersabda) “Tiada seorang hamba pun yang bersujud kepada Allah satu kali, melainkan dia mesti diangkat oleh Allah sederajat dan satu dosanya dihapuskan oleh Allah berkat sujud itu.” (HR Darimi dalam musnadnya dengan sanad yang sahih, dan hanya ada seorang yang oleh para ahli hadis diperselisihkan mengenai ‘adalah-nya (yakni dia tidak fasik).

Adapun Shalat-Shalat sunnah Muqayyad itu terbagi atas dua macam:

  1. yang disyariatkan sebagai Shalat-Shalat sunnah yang mengikuti Shalat fardhu (Shalat sunnah rawatib),
  2. yang disyariatkan bukan sebagai Shalat sunnah yang mengikuti Shalat-Shalat fardhu seperti Shalat dhuha, Shalat witir, Shalat malam (tahajjud), Shalat gerhana bulan dan matahari, Shalat istisqa’, dan lain-lain.

Selanjutnya, di bawah ini akan dijelaskan uraiannya mengenai gambaran Shalat-Shalat sunnah tersebut.

Shalat Malam (qiyamul lail/Shalat tahajjud)

Keutamaan Shalat Malam

Shalat malam adalah Shalat yang paling baik setelah Shalat fardhu. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw:

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik Shalat setelah Shalat fardhu adalah Shalat (di tengah) malam.” (HR Muslim).

Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash ra berkata, Rasulullah saw berkata kepadaku, “Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti fulan yang pernah melakukan Shalat malam kemudian meninggalkannya.” (Muttafaq ‘Alaihi).

Salman al-Farisi berkata, Rasulullah saw bersabda, “Kerjakanlah Shalat malam, sebab itu adalah kebiasaan orang-orang yang saleh sebelum kamu; jalan mendekatkan diri kepada Tuhan; penebus kejelekan-kejelekanmu; pencegah dosa serta penghalau penyakit dari tubuh.”

Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan dari sebagian malam itu gunakanlah untuk bertahajjud sebagai Shalat sunnah bagimu, semoga Tuhanmu akan membangkitkanmu pada kedudukan yang terpuji.” (Al-Isra’: 79).

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Pengasih ialah mereka yang berjalan di bumi dengan merendahkan diri dan apabila diganggu oleh pembicaraan orang-orang bodoh, mereka hanya menjawab dengan ucapan yang baik. Mereka itu semalam-malam beribadah kepada Tuhan, baik dengan sujud maupun dengan berdiri.” (Al-Furqan: 63-64).

“Sesungguhnya yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami itu ialah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu, mereka segera tunduk sambil bersujud serta mensucikan dan memuji Tuhan, dan lagi tidak sombong. Mereka selalu merenggangkan ikat pinggangnya dari tempat tidur (tidak banyak tidur) karena berdo’a kepada Tuhan yang timbul karena rasa takut serta mengharap, juga suka bersedekah dari apa-apa yang Kami rizkikan kepada mereka. Maka tiada seorang pun yang mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka yakni berupa segala sesuatu yang menggembirakan pandangan. Itulah balasan amal perbuatan mereka.”

(As-Sajdah: 16).

Etika-Etika Melakukan Shalat Malam

  1. Di waktu akan tidur, hendaklah ia berniat hendak bangun untuk melakukan Shalat tahajjud (qiyamul lail).

Dari Abu ad-Darda’ bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa akan tidur dan berniat hendak melakukan Shalat malam, kemudian terlanjur terus tertidur hingga pagi, maka dicatatlah niatnya itu sebagai satu pahala, sedang tidurnya itu dianggap sebagai karunia Tuhan yang diberikan padanya.” (HR an-Nasa’i dan Ibnu Majah dengan sanad yang sahih).

2.Berusaha menghilangkan kantuk dari mukanya di saat bangun, kemudian bersugi lalu melihat ke langit sambil berdoa’a: “Alhamdulillahi alladzi ahyaana ba’dama amaatana wailahin nusyuur” (Segal puji bagi Allah yang telah menghidupkan saya kembali sesudah mematikan saya dan kepada-Nya pula tempat kembali).

  1. Sebaiknya Shalat malam itu dimulai dengan melakukan Shalat dua rakaat yang ringan (agak cepat), dan selanjutnya boleh melakukan Shalat sesuka hati. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah saw di bawah ini:

Dari Aisyah ra berkata, “Rasulullah saw itu apabila bangun malam untuk melakukan Shalat, beliau memulainya dengan melakukan Shalat dua rakaat yang ringan (agak cepat).” (HR Muslim).

Dan sesuai dengan hadis di bawah ini juga:

“Apabila salah seorang di antara kalian bangun malam, maka hendaknya memulai Shalatnya dengan dua rakaat yang ringan (agak cepat).” (HR Muslim)

  1. Apabila dia telah bangun, hendaknya dia membangunkan istrinya.

Dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda: “Mudah-mudahan Allah SWT memberikan rahmat kepada seorang laki-laki yang bangun malam untuk Shalat lalu membangunkan pula istrinya, apabila istrinya itu menolak, hendaknya ia memercikkan air pada wajahnya. Dan mudah-mudahan Allah SWT memberikan rahmat-Nya kepada seorang istri yang bangun malam untuk melakukan Shalat, lalu dia membangunkan pula suaminya, dan apabila suaminya itu menolak, hendaknya dia memercikkan air pada wajahnya.” (HR Abu Daud dan yang lain dengan sanad yang sahih).

Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Apabila seseorang itu membangunkan istrinya pada waktu malam, lalu keduanya Shalat dua rakaat, maka tercatatlah mereka dalam golongan orang-orang yang selalu berdzikir.” (HR Abu Daud dan yang lain dengan sanad yang sahih).

  1. Hendaklah melakukan Shalat dulu dan kembali tidur bila terasa mengantuk sampai hilang rasa kantuknya.

Dari Aisyah ra, Nabi saw bersabda, “Apabila seseorang dari kalian bangun malam untuk Shalat, kemudian terasa berat membaca Alquran hingga tidak disadarinya apa yang sedang dibacanya itu, maka sebaiknya dia tidur lagi.” (HR Muslim).

Pada suatu malam, Rasulullah saw masuk ke dalam masjid, tampak di situ ada tali yang terbentang di antara dua tiang, beliau lalu bertanya, “Apakah ini?” Orang-orang menjawab, “Itu kepunyaan Zainab, jikalau dia lelah atau mengantuk, maka ia tidur di situ.” Kemudian Nabi saw pun bersabda, “Lepaskanlah tali itu! seseorang itu hendaknya Shalat selagi dia segar, dan jikalau dia telah lelah atau mengantuk, sebaiknya dia tidur.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

  1. Hendaknya jangan memberatkan diri. Jadi, hendaknya Shalat malam itu dilakukan dengan tekun dan jangan sampai meninggalkannya, kecuali dalam keadaan terpaksa.

Dari Aisyah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Kerjakanlah semua amal itu sekedar kekuatanmu. Demi Allah, Allah itu tidak akan jemu memberikan pahala sampai engkau sekalian jemu beramal.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan pula dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw pernah ditanya: “Amal perbuatan manakah yang disukai oleh Allah?” Beliau menjawab, “Yang konstan (terus-menerus) sekalipun sedikit.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah ra, “Amalan Rasulullah saw itu terus-menerus, yakni jikalau beliau mengerjakan sesuatu lalu ditetapi.”

Waktu Shalat Malam

Shalat malam itu dapat dikerjakan di permulaan, di pertengahan atau di penghabisan malam, asalkan sesudah melaksanakan Shalat isya’.

Dalam menguraikan gambaran Shalat Rasulullah saw Anas ra berkata, “Kapan saja kami ingin melihat Nabi saw berShalat malam, di saat itu pasti kami dapat melihatnya. Dan kapan saja kami ingin melihat tidur Rasululah saw, di saat itu pula kami dapat melihatnya. Apabila beliau berpuasa, terus dilakukannya sampai-sampai kami akan mengira bahwa beliau tidak pernah berbuka. Akan tetapi, jikalau beliau sudah berbuka, sampai-sampai kita akan berkata bahwa beliau tidak pernah berpuasa.” (HR Ahmad, al-Bukhari dan an-Nasa’i).

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Tahajjud Rasulullah saw tidak ada ketentuan waktunya, hanyalah semata-mata di mana ada kelapangan.”

Waktu Shalat Malam yang Paling Baik

Sebaik-baik waktu untuk Shalat malam itu adalah sepertiga malam yang terakhir. Hal ini sesuai dengan hadis-hadis berikut ini:

  1. Dari Abu Hurairah ra bahwa rasulullah saw bersabda, “Tuhan kita Azza wa Jalla turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir. Pada saat itu Allah SWT berfirman ‘Siapa yang berdo’a kepada-Ku, pasti Aku kabulkan, siapa yang memohon kepada-Ku pasti Aku berikan (permohonannya) dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni.” (HR al-Jama’ah).
  2. Dari ‘Amr bin al-‘Ash berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sedekat-dekat hamba kepada Allah SWT adalah pada tengah malam yang terakhir. Apabila engkau bisa termasuk golongan orang-orang yang berdzikir kepada Allah pada sa’at itu, maka lakukanlah.” (HR al-Hakim seraya berkata, hadis ini sesuai dengan syarat hadis Muslim, an-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah).
  3. Abu Muslim berkata kepada Abu Dzarr, “Pada saat manakah Shalat malam itu lebih utama?” Abu Dzarr menjawab, “Saya pernah menanyakan demikian kepada Rasulullah saw, maka jawabnya, ‘Pada tengah malam yang terakhir, tetapi sedikit sekali orang yang suka melakukannya’.” (HR Ahmad dengan sanad yang baik).
  4. Dari Abdullah bin ‘Amr ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Puasa yang paling disukai Allah ialah puasa Nabi Daud dan Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud as. Beliau itu tidur pada tengah malam, Shalat malam pada sepertiganya lalu tidur lagi pada seperenamnya, sedang beliau itu berpuasa sehari dan berbuka sehari pula.” (HR al-Jama’ah selain at-Tirmidzi).

***

Referensi:

  1. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
  2. Subulus Salaam, Muhammad bin Ismail as-Shan’ani

Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Kiriman Sahabat Arland

Iklan