Tata Cara Shalat Orang Sakit


shalat orang sakitTata Cara Shalat Orang Sakit

Arsip Fiqh

Cara-cara Shalat bagi orang yang sakit secara garis besar adalah sebagai berikut.

Orang yang sakit wajib melaksanakan Shalat fardhu dengan berdiri, sekalipun bersandar ke dinding atau ke tiang atau dengan tongkat.

Jika tidak sanggup Shalat berdiri, hendaklah ia Shalat dengan duduk. Lalu, pada waktu berdiri dan ruku’ sebaiknya duduk bersila, sedangkan pada waktu sujud, sebaiknya dia duduk iftirasy (seperti duduk ketika tasyahhud awal).

Jika tidak sanggup Shalat sambil duduk, boleh Shalat sambil berbaring, bertumpu pada sisi badan menghadap kiblat. Dan bertumpu pada sisi kanan lebih utama daripada sisi kiri. Jika tidak memungkinkan untuk menghadap kiblat, boleh menghadap ke mana saja dan tidak perlu mengulangi Shalatnya.

Jika tidak sanggup Shalat berbaring, boleh Shalat sambil terlentang dengan menghadapkan kedua kaki ke kiblat. Dan, yang lebih utama yaitu dengan mengangkat kepala untuk menghadap kiblat. Jika tidak bisa menghadapkan kedua kakinya ke kiblat, dibolehkan Shalat menghadap ke mana saja.

Orang sakit wajib melaksanakan ruku’ dan sujud, jika tidak sanggup, cukup dengan membungkukkan badan pada ruku’ dan sujud, dan ketika sujud hendaknya lebih rendah dari ruku’. Dan jika sanggup ruku’ saja dan tidak sanggup sujud, dia boleh ruku’ saja dan menundukkan kepala saat sujud. Demikian pula sebaliknya, jika dia sanggup sujud saja dan tidak sanggup ruku’, dia boleh sujud saja dan ketika ruku’ dia menundukkan kepala.

Isyarat dengan mata (memejamkan mata) ketika ruku’ dan dengan memejamkan lebih kuat ketika sujud. Adapun isyarat dengan telunjuk, seperti yang dilakukan beberapa orang sakit, itu tidak betul dan penulis tidak pernah tahu dalil-dalilnya, baik dalil dari Alquran maupun as-sunnah, dan tidak pula dari perkataan para ulama.

Jika tidak sanggup juga Shalat dengan menggerakkan kepala dan isyarat mata, hendaklah ia Shalat dengan hatinya, dia berniat ruku’, sujud dan berdiri serta duduk. Masing-masing orang akan diganjar sesuai dengan niatnya.

Orang yang sakit wajib melaksanakan semua kewajiban Shalat tepat pada waktunya menurut kemampuannya. Jika termasuk orang yang kesulitan berwudhu, dia boleh menjamak Shalatnya seperti layaknya seorang musafir.

Jika dia sulit untuk Shalat pada waktunya, boleh menjamak antara Dhuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya, baik jamak taqdim maupun jamak takhir, sesuai dengan kemampuannya. Kalau dia mau, dia boleh memajukan Shalat Asharnya digabung dengan Dhuhur, atau mengakhirkan Dhuhurnya digabung dengan Ashar di waktu Ashar. Jika mau, boleh juga dia memajukan Shalat Isya untuk digabung dengan Shalat Maghrib di waktu Maghrib atau sebaliknya. Adapun Shalat Subuh, maka tidak boleh dijamak dengan Shalat yang sebelumnya atau sesudahnya karena waktunya terpisah dari waktu Shalat sebelumnya dan Shalat sesudahnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan dirikanlah Shalat dari sesudah tergelincirnya matahari sampai gelap malam, dan (dirikanlah pula) Shalat Subuh. Sesungguhnya Shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (Al-Isra’: 78)

Sumber: Diadaptasi dari Tuntunan Shalat Menurut Alquran dan Hadis, Syekh Abdurrahman Jibrin

Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

***

Kiriman Sahabat Arland

Iklan