Khusyu’ Dalam Sholat 1


sholat 1Khusyu’ Dalam Sholat 1

Arsip Fiqh

Secara Lughah (Etimologi), khusyu’ berarti rendah diri atau mendekati rendah diri. Menurut pengertian ini, khusyu’ itu terdapat pada suara, penglihatan, ketenangan dan kerendah-dirian. Sedangkan pengertian khusyu’ menurut syara’ (terminologi) adalah rendah diri. Rendah diri ini kadang-kadang berada dalam hati dan kadang-kadang berasal dari anggota tubuh seperti diam.

Adapun dalil yang menguatkan bahwa khusyu’ itu pekerjaan hati adalah hadis Ali ra, “Khusyu’ itu berada dalam hati” (HR. al-Hakim), hadis: “Sekiranya sanubari hati orang ini khusyu, niscaya anggota tubuhnya menjadi khusyu”, dan hadis do’a mohon perlindungan: “….dan aku mohon perlindungan kepada-Mu dari sanubari hati yang tidak khusyu.”

Apakah khusyu’ dalam Shalat itu wajib?

Dalam masalah ini, ulama berbeda pendapat. Menurut al-Ghozali khusyu’ itu wajib. Beliau menguraikan argumentasinya secara panjang lebar -untuk menguatkan pendapatnya- dalam kitab ‘Ihyaa’ Ulumuddin’. Akan tetapi, menurut Jumhur Ulama’, khusyu’ itu tidak wajib. Bahkan, Imam an-Nawawi mengklaim adanya Ijma’ yang tidak mewajibkan khusyu’.

Hadis-Hadis yang Menganjurkan Seseorang agar Berlaku Khusyu’ dalam Shalatnya.

  1. Dari Abu Hurairah ra berkata, “Rasulullah saw melarang seseorang meletakkan tangannya pada lambungnya” (HR. al-Bukhari dan Muslim, sedangkan redaksi (lafal) hadis berasal dari Imam Muslim (wallafdzu li Muslimin).

Maksud dari larangan hadis tersebut adalah hendaknya seseorang tidak meletakkan tangan, baik yang kiri maupun yang kanan, pada lambungnya ketika dia sedang melakukan Shalat, sebagaimana penjelasan yang disampaikan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani terhadap hadis tersebut.

Kemudian, apa hikmah dari larangan itu? Maka dalam hal ini Rasulullah saw menjelaskannya dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah ra, “Bahwa hal itu adalah pekerjaan orang Yahudi dalam Shalat mereka” (HR. al-Bukhari). Sebab, umat Islam itu dilarang keras untuk menyerupai orang-orang Yahudi dalam semua gerak-gerik mereka.

  1. Dari Anas ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila hidangan makan malam telah disiapkan, maka mulailah menyantap makanan itu sebelum anda Shalat Maghrib” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menurut Jumhur Ulama’ menunjukkan sunnahnya mendahulukan makan malam atas Shalat. Karena, hal itu akan bisa mengarahkan seseorang berkonsentrasi dalam Shalatnya. Bahkan, menurut ulama yang lain, agar sanubari hati itu tidak tergoda dengan makanan yang sudah tersediakan tersebut.

Di samping itu, ada beberapa atsar sahabat yang menjelaskan tentang ta’lil (sebab-musabab) dilarangnya mendahulukan Shalat ketika makanan sudah dihidangkan. Di antaranya adalah atsar yang dikeluarkan oleh Ibnu Abu Syaibah dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas, “Bahwa keduanya pernah sedang makan, sementara didapur api (kompor)nya masih terdapat daging yang sedang dibakar, lalu sahabat yang melakukan adzan tersebut ingin melakukan iqamah untuk Shalat, tiba-tiba Ibnu Abbas berkata kepadanya: ‘Jangan terburu-buru’, kita tidak melakukan Shalat selama dalam hati kita masih ingat sesuatu (makanan).” Dalam riwayat yang lain disebutkan: “Supaya (makanan itu) tidak memalingkan perhatian kita dalam Shalat.” Disebutkan pula dari Hasan bin Ali ra bahwa dia berkata, “Makan malam sebelum Shalat itu bisa menghilangkan (meredam) jiwa yang suka mencela (an-Nafs al-Lawwaamah).” (HR. Ibnu Abu Syaibah)

Jika waktu Shalat tinggal sedikit, apakah disunnahkan pula mendahulukan makan atas Shalat?

Kesunnahan seperti itu dilakukan apabila waktu Shalat masing panjang. Namun, jika waktu Shalat tinggal sedikit, maka menurut Jumhur Ulama’, dia mendahulukan Shalat atas makan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga waktu Shalat agar tidak lewat.

Kandungan Hadist

Dari hadis no. 2 di atas, bisa ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  • Hadirnya makanan seperti itu bisa menjadi uzur untuk meninggalkan Shalat jama’ah. Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa apabila hidangan makan malamnya telah disiapkan dan dia mendengar bacaan Imam dalam Shalat, maka dia tidak berdiri (untuk melakukan Shalat) sampai dia selesai makan.
  • Hal-hal selain makanan bisa dianalogikan (diqiyaskan) dengan makanan selama mempunyai ilat (sebab) yang sama yaitu apabila dia mengakhirkan melakukan sesuatu itu, hatinya menjadi terganggu ketika Shalat. Maka, sebaiknya melakukan sesuatu itu sebelum Shalat.

Dan di sini yang perlu diperhatikan betul adalah bahwa sesuatu itu telah diperbolehkan secara tegas bahkan dianjurkan oleh Syara’ (Allah dan Rasul-Nya). Akan tetapi, apabila sesuatu itu tidak dianjurkan oleh Syara’, maka mendahulukan Shalat lebih baik daripada melakukan atau melanjutkan sesuatu itu. Contohnya adalah menonton sinetron, berbincang-bincang dengan kawan atau kerabatnya. Karena itu, mendahulukan Shalat lebih baik daripada menonton sinetron atau mengobrol lebih dahulu dengan kawan atau kerabatnya, baik waktu Shalat tinggal sedikit atau masih panjang.

  1. Dari Aisyah ra berkata, “saya bertanya kepada Rasulullah saw tentang menoleh dalam Shalat?” Kemudian Rasul saw menjawab: “Menoleh itu adalah suatu keteledoran seseorang akibat ulah syetan dalam Shalat seorang hamba” (HR. al-Bukhari)

Menurut riwayat at-Tirmidzi dan menshahihkannya: “Janganlah anda menoleh dalam Shalat, karena itu adalah kebinasaan (dalam agama). Apabila anda harus melakukannya, maka lakukanlah dalam Shalat sunnah”

Seseorang yang sedang melakukan Shalat, dimakruhkan menoleh ke kanan dan ke kiri. Karena pada dasarnya, dia sedang menghadap Tuhannya. Sementara itu, syetan selalu mengintip dan mencari-cari kelengahan orang itu. Jika seseorang dalam Shalatnya menoleh ke kiri dan ke kanan, berarti dia telah masuk perangkap syetan.

Menurut Jumhur Ulama’, menoleh itu dimakruhkan, karena bisa mengurangi khusyu’ Shalat. Namun, apabila menolehnya itu sampai memalingkan dadanya atau seluruh lehernya dari kiblat, maka hal itu bukan lagi makruh, melainkan bisa membatalkan Shalat. Hal ini berdasarkan pada hadis Abu Dzar, “Allah SWT selalu menghadap kepada seorang hamba dalam Shalatnya, selama dia tidak menoleh, apabila dia memalingkan wajahnya, maka Allah pun ‘pergi’ .” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i)

***

Sumber: Subulus Salaam, Muhammad bin Ismail as-Shan’ani

Al-Islam — Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Iklan