Hal-Hal yang Dimakruhkan dalam Shalat


sholat 4Hal-Hal yang Dimakruhkan dalam Shalat

Arsip Fiqh

Hal-hal yang dimakruhkan di dalam shalat adalah sebagai berikut.

  1. Menengadahkan pandangan ke atas. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Apa yang membuat orang-orang itu mengangkat penglihatan mereka ke langit dalam shalat mereka? Hendaklah mereka berhenti dari hal itu atau (kalau tidak), niscaya akan tersambar penglihatan mereka.” (HR Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dengan makna yang sama)
  2. Meletakkan tangan di pinggang. Hal ini berdasarkan larangan Rasulullah saw meletakkan tangan di pinggang ketika shalat. (Muttafaq ‘alaih)
  3. Menoleh atau melirik, terkecuali apabila diperlukan. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah ra. Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang seseorang yang menoleh dalam keadaan shalat, beliau menjawab,

“Itu adalah pencurian yang dilakukan setan dari shalat seorang hamba.” (HR Bukhari dan Abu Daud)

  1. Melakukan pekerjaan yang sia-sia, serta segala perbuatan yang membuat orang lalai dalam shalatnya atau menghilangkan kekhusyuan shalatnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Hendaklah kamu tenang dalam melaksanakan shalat.” (HR Muslim)
  2. Menaikkan rambut yang terurai atau melipatkan lengah baju yang terulur. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota badan dan tidak boleh melipat baju atau menaikkan rambut (yang terulur).” (Muttafaq ‘alaih)
  3. Menyapu kerikil yang ada di tempat sujud (dengan tangan) dan meratakan tanah lebih dari sekali. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah saw, “Dari Mu’aiqib, ia berkata, ‘Rasulullah saw menyebutkan tentang menyapu di masjid (ketika shalat), maksudnya menyapu kerikil (dengan telapak tangan). Beliau bersabda, ‘Apabila memang harus berbuat begitu, maka hendaklah sekali saja’.” (HR Muslim)

Dari Mu’aiqib pula, bahwa Rasulullah saw bersabda tentang seseorang yang meratakan tanah pada tempat sujudnya (dengan telapak tangan), beliau bersabda, “Kalau kamu melakukannya, maka hendaklah sekali saja.” (Muttafaq ‘alaih)

  1. Mengulurkan/menjulurkan pakaian sampai mengenai lantai dan menutup mulut (tanpa alasan).

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Rasulullah saw melarang mengulurkan/menjulurkan pakaian sampai mengenai lantai dalam shalat dan menutup mulut.” (HR Abu Daud, Tirmizi dan lainnya, hadis hasan)

Adapun jika menutup mulut karena suatu hal, seperti menguap ataupun yang lainnya maka hal tersebut dibolehkan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis.

  1. Shalat di hadapan makanan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Tidak sempurna shalat (yang dikerjakan setelah) makanan dihidangkan.” (HR Muslim)
  2. Shalat sambil menahan buang air kecil atau besar dan sebagainya yang mengganggu ketenangan hati. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Tidak sempurna shalat (yang dikerjakan setelah) makanan dihidangkan dan shalat seseorang yang menahan buang air kecil dan besar.” (HR Muslim)
  3. Shalat ketika sudah terlalu mengantuk. Rasulullah saw bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu ada yang mengantuk dalam keadaan shalat, maka hendaklah ia tidur sampai hilang rasa kantuknya. Maka sesungguhnya apabila salah seorang di antara kamu ada yang shalat dalam keadaan mengantuk, dia tidak akan tahu apa yang ia lakukan, barangkali ia bermaksud minta ampun kepada Allah, ternyata dia malah mencerca dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih)
  4. Berpanca atau mengait-ngaitkan jari-jari tangan. Hal ini karena Nabi saw pernah melihat seorang laki-laki mengait-ngaitkan jari-jemarinya diwaktu shalat yang kemudian dilepaskan oleh beliau. (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah)
  5. Melihat sesuatu yang dapat melalaikan hati. Diriwayatkan dari Aisyah bahwasannya dia berkata bahwa Rasulullah saw shalat dengan memakai kain (baju) yang terbuat dari bulu wol bergaris-garis, lalu beliau bersabda, “Garis-garis baju ini membuat lalai. Karena itu, bawalah baju ini kepada Abu Jahm dan tukarkanlah dengan baju bulu yang kasar dan polos. (HR Syaikhan/Bukhari-Muslim)

Referensi:

  • Tuntunan Shalat Menurut Alquran & As-Sunah, Syekh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin
  • Shalat Empat Mazhab, ‘Abdul Qadir ar-Rahbawi

Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Iklan