Lisan-Lisan Berbahaya


siluet bicaraLisan-Lisan Berbahaya

“Bukankah ditelungkupkannya wajah-wajah manusia di neraka adalah akibat ucapan lisan-lisan mereka?” Demikian Rasulullah menjawab pertanyaan shahabat Mu’adz bin Jabal tentang apakah manusia disiksa lantaran perkataan yang mereka ucapkan.

Pintu Gerbang

Benar, lisan adalah nikmat yang luar biasa dari Allah. Namun ia juga menjadi pintu fitnah yang besar. Meski tampak ringan dan sepele, kata-kata yang keluar dari lisan kita mungkin akan berakibat fatal. Menimbulkan kerusakan hebat di dunia atau menjerumuskan pelakunya ke neraka yang menyala-nyala. Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada sesuatu yang membuat seseorang lebih lama mendekam di penjara selain karena lidahnya.”

Sedang Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan sebuah perkataan yang menjerumuskannya ke neraka dengan jarak sejauh timur dan barat.” (HR. al Bukhariy, Muslim dan Ahmad )

Begitu besar bahaya dan madharat yang ditimbulkan oleh lisan, sehingga menjaganya agar tidak tergelincir dalam kesalahan hendaknya mendapat perhatian yang serius. Menahannya dari perkataan-perkataan yang tidak berguna dan membatasinya untuk hanya membicarakan hal-hal yang terpuji. Rasulullah bahkan menjanjikan jannah (syurga) bagi siapa saja yang bisa menjamin lisannya untuk kebaikan. Beliau bersabda,

“Barangsiapa yang bisa menjamin bagiku apa yang ada di antara dua tulang dagu (lisan)nya dan dua kaki (kemaluan)nya, maka aku menjamin jannah baginya.” HR. al Bukhariy, Ahmad dan at Tirmidzi.

Diam dan Bicara

Syetan tahu, bahwa lisan merupakan pintu yang sangat menjanjikan dalam rangka menyesatkan manusia. Tabiat manusia yang menyukai kebatilan –sehingga dosa lisan terasa manis-, memudahkan para syetan melancarkan serangan mereka. Mereka akan berusaha agar manusia mengatakan hal-hal yang tidak bermanfaat dan mendatangkan madharat. Juga agar manusia tidak memanfaatkan lisan mereka untuk kebaikan.

Dua hal yang menjadi sasaran mereka dalam menggoda manusia melalui pintu lisan ini. Yang pertama adalah agar manusia mengucapkan kebatilan (at takallum bil bathil), sedang yang kedua adalah agar manusia diam dari kebenaran (as sukut ‘anil haq). Dan syetan tidak peduli dari sasaran yang mana mereka akan menembakkan godaan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, syetan akan berusaha semaksimal mungkin mengajak manusia berkata-kata tanpa ilmu, tidak memberi manfaat dan mendatangkan madharat. Juga mencegah manusia agar jangan sampai mengucapkan perkataan yang bermanfaat, seperti dzikir, istighfar, tilawah Al Qur’an, menasihati sesama dalam kebenaran serta berbicara atas dasar ilmu.

Syetan akan menjadikan manusia sebagai pasukan mereka dalam menimbulkan kerusakan di muka bumi. Mereka hiasi perkataan-perkataan batil hingga tampak menarik dan indah. Atau menakut-nakuti manusia dengan beratnya risiko yang akan mereka tanggung jika sibuk menyerukan kebenaran. Mereka akan menjadikan manusia sebagai syetan bisu atau syetan bicara, sebagaimana perkataan seorang alim, “Manusia yang berbicara batil adalah syetan berbicara, sedang manusia yang diam dari al haq adalah syetan bisu.”

Pilihan Sulit

Dari target syetan di atas, pembicaraan tentang lisan menjadi rumit. Berbicara atau diam ternyata sama-sama berpotensi menjadi tentara syetan. Padahal tidak ada pilihan bagi lisan selain dua hal itu, diam atau bicara. Dan tidak ada pilihan ketiga.Berbicara keliru menjadi syetan bicara, sedang diam yang keliru juga menjadi syetan bisu yang bisa jadi lebih berbahaya. Bukankah diamnya kaum muslimin pada saat harus menyerukan kebenaran atau banyaknya kemaksiatan yang merajalela bisa sangat berbahaya? Mungkin, syetan akan lebih diuntungkan dengan keadaan begini.

Bagaimana?

Jalan keluar dari kerumitan ini hanyalah dengan dua pilihan; berbicara yang benar atau diam yang benar. Masing-masing menjadi pilihan yang tepat menurut keadaan yang menuntutnya. Diam saat harus diam dan berbicara saat harus berbicara.

Kita harus berusaha menjaga lisan agar tidak tergelincir kepada pembicaraan yang tidak bermanfaat. Mencampuri urusan orang lain, berbicara kosong yang tidak perlu, membicarakan kebatilan, bercanda berlebihan, dan berdusta adalah bentuk-bentuk penyelewengan lisan. Juga termasuk di antaranya adalah perkataan-perkataan keji semisal; menggunjing (ghibah), mengejek, mengolok-olok, mencela, mengumpat, mengadu domba dan yang lain.

Akal harus senantiasa terjaga dari godaan berbicara yang tidak perlu, terbuangnya waktu dan tenaga dengan sia-sia, juga kerugian lain yang kan menimpa. Tentu saja tidak lupa menyibukkan lisan dengan hal-hal bermanfaat seperti wirid, dzikir, tilawah Al Qur’an, berdakwah, berbicara dengan ilmu dan yang lain. Benarlah Rasulullah yang bersabda,

“Iman seorang hamba tidak akan istiqamah hingga istiqamah hatinya. Dan hatinya tidak akan istiqamah hingga istiqamah lisannya.” HR. Ahmad.

Resapi pula perkataan shahabat Abu Darda’, “Aktifkanlah dua telingamu daripada lisanmu. Karena engkau diberi dua telinga dan satu mulut, agar engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara!”

***

Dari Sahabat

Iklan