Tafakur “Fitnah”


tafakurTafakur “Fitnah”

Ada banyak cara menjadi dewasa. Kadang begitu mudah, semudah membaca buku dan menemukan kearifan di tiap lembar halaman. Bahkan ada yang lebih mudah, seperti bercermin pada setiap kejadian yang terjadi pada orang lain.

Tapi tak jarang, kita harus menempuh jalan yang begitu berat untuk menjadi dewasa dan sadar. Kita harus melewati sungai fitnah yang berarus jeram. Membelah rimba cobaan dengan kerja dan sabar. Bahkan kita harus penuh luka sebelum akhirnya memetik hikmah dan menjadi dewasa.

Ada yang berhasil, tapi banyak pula yang gugur di tengah jalan. Orang- orang yang berhasil menjadi lebih arif sikapnya. Lebih dalam kemampuannya. Lebih luas pemahamannya. Dan lebih terbuka menerima segala. Sedangkan mereka yang gagal, telah menjadi gusar, bahkan gusar mereka melebihi sebelum fitnah datang. Sumbu emosi mereka lebih pendek dan mudah terbakar. Mereka telah gagal melanjutkan perjalanan menuju kearifan dan kedewasaan.

Sesungguhnya, perjalanan masih sangatlah panjang. Tapi mana mungkin ditempuh dalam keadaan papah. Tak mungkin perjalanan diselesaikan tanpa kemampuan menangkap hikmah, menyerap ilmu, apalagi berjalan tanpa ma’rifat kepada-Nya. Hati yang gentar pada fitnah, benak yang gusar pada fitnah, akal yang buntu karena fitnah, akan membuat kaki kita terantuk-antuk batu dalam setiap langkah. Lalu kita akan menyerah sebelum perjalanan usai dan purna.

Fitnah selalu ada. Semakin tinggi tingkat kearifan, maka semakin besar pula fitnah menghantam. Selayaknya fitnah harus kita jadikan ukuran. Jika waktu lalu, cobaan yang datang untuk kita selesaikan sama dengan cobaan yang kita hadapi sekarang, sungguh tak ada peningkatan apapun yang kita dapatkan.

Ketakutan memang sering menggalikan liang kubur untuk akal sehat yang kita perlukan. Rasa gentar pun sering mengabarkan jalan semu yang menyesatkan. Jangan lari ketika fitnah datang. Jangan pula berpaling ketika cobaan menghadang. Lewati saja. Tembus saja. Sejatinya, fitnah dan cobaan adalah pintu-pintu menuju kedewasaan.

Selama kita berpegang teguh pada tali Allah, sungguh, tak ada yang perlu ditakutkan. Sepanjang kita tak berma’syiat kepada pencipta alam, tidak perlu pula takut tak gentar.

Tapi sebaliknya, jika kita berma’syiat kepada Allah, maka semua yang kita alami adalah awal dari kehancuran. Satu-satunya penyebab paling absolut sebuah kebinasaan adalah, karena kita berma’syiat kepada Allah. Jika sudah demikian, ketakutan akan mengepungmu. Kegalauan akan menelikung setiap langkahmu. Dan perjalanan begitu berat. Tak ada jalan lain jika sudah begitu; cepat bertaubat atau tenggelam dalam sesat.

Dari Sahabat: Herry Nurdi

Iklan