BERMULA DARI KITA


Dakwah-Islam1Bermula Dari Kita

Dwi Nopitasari

Assalamualaikum Wr.Wb.

Suatu hari ketika jam istirahat kerja di kantor, ada seorang sahabat yang menegur saya atas ucapan dan perbuatan yang dirasa tidak sesuai dengan apa yang pernah saya lontarkan kepada orang lain. Astagfirullah ! Ya Allah ampunkan hambamu yang lemah ini, betapa saya mengingatkan orang lain sementara saya sendiri melakukannya.

Hal ini menjadi bahan perenungan saya untuk hari-hari selanjutnya. Sebagai manusia biasa dengan didasari oleh sifat ego, terkadang kita nggak sadar dan terlalu cepat untuk memvonis seseorang atas kesalahannya, bahkan langsung berburuk sangka terhadap orang tersebut. Tanpa kita mencoba berpikir atau melihat dari sisi-sisi lain kenapa sampai si Fulan melakukan hal demikian. Sementara mungkin di lain waktu tanpa kita sadari hal yang sama akan kita lakukan sendiri.

Berungtunglah kalau ada sahabat-sahabat kita yang mau dan berani memberi kritikan dan saran untuk perbaikan diri kita, sebelum kita terlena dalam sifat uzub dan ria serta tenggelam dalam lautan kesombongan. Sayapun jadi teringat akan sebuah hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Dalam hadist tersebut Allah Ta’ala berfirman :

“Kebesaran (Kesombongan) adalah pakain-KU dan Keagungan adalah sarung-KU. Barangsiapa merampas salah satu (dari keduanya) Aku lemparkan dia ke neraka (jahanam).”

Dalam bermuhasabah sayapun jadi berpikir, sangatlah buruk pabila sifat sombong kita biarkan menggerogoti hati, karena bisa merusak amal kebaikan kita.Sehingga tidaklah heran, jika Nabi SAW. mencela perbuatan sombong dan membanggakan diri. Sebagaimana Sabdanya :

“Sesungguhnya Allah SWT. telah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendahkan hati sehingga tidak ada lagi orang yang saling membanggakan diri terhadap orang lain ” (HR Muslim).

Kejadian diatas menjadi pelajaran buat saya, bahwa sebelum kita mengubah orang lain kepada akhlak yang utama, mulailah terlebih dahulu dengan diri sendiri. Adalah aib bagi seorang manusia bila ia telah mengajari atau mendidik orang lain sedangkan dirinya sendiri masih perlu dididik dan diajari hal yang sama. Allah SWT. berfirman : “Mengapa kamu suruh orang lain melakukan kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab. Tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah : 44)

Sungguh menjadi panutan bagi kita pula kalau Imam Hasan Basri terkenal di jamannya dulu bukan semata-mata karena beliau mengeksploitasi diri agar populer di masyarakat, melainkan terkenal otomatis akibat keluasan pengetahuan dan pemahaman ilmu agamanya serta kehalusan dan keluhuran budi pekertinya. Beliau seorang Ulama yang mumpuni tapi tawadhu’ rendah hati. Dapat dipahami jika setiap fatwa yang dikeluarkannya selalu dianut dan dipahami oleh masyarakatnya.

Karena kredibiltasnya sebagai ulama yang hebat dan memikat hati inilah, maka para budak ( hamba sahaya) sempat berulangkali meminta bantuannya agar dalam khotbah Jumat, mengangkat topik nasib mereka, kaum sahaya, berulangkali permintaan serupa diajukan oleh para sahaya, berulangkali pula Iman Hasan Basri ternyata tak mengabulkan dan merealisirnya. Dari Jumat ke Jumat beliau tak pernah menyinggung segala masalah yang terkait dengan perbudakan. Sikap sang Imam Hasan Basri tadi tentu menimbulkan tanda tanya bin keanehan di hati para budak yang jamaah dalam Shalat Jumat.

Ada apa gerangan? Mengapa Kyai Hasan Basri tak mampu memperjuangkan nasib kami? Bukankah Islam secara substansial mengarahkan ajaran pada penghapusan perbudakan? itulah segudang pertanyaan yang bergelayut dalam benak masing-masing hamba sahaya. Barulah pada suatu hari, setelah lama berselang, Imam Hasan Basri tiba-tiba mengangkat tema yang lama didamba kaum sahaya. Hasan Basri mengungkapkan nasib nestapa kaum sahaya yang perlu dibebaskan dari berbagai rantai dan belenggu perbudakan.

Selesai Shalat Jumat, para budak kontan mengerumuni sang Ulama, menyalami, lantas berkata kepada beliau “Kenapa baru sekarang engkau mengungkapkan permasalahan kami, wahai Iman Hasan Basri?”

Beliau menjawab, “Maafkan aku wahai saudaraku, Aku memang ingin menyampaikan persoalan kalian itu. Tapi, bagaimana mungkin aku sampaikan pesan kalian, sesuatu yang aku sendiri belum pernah melakukan? Ketika telah datang rizqi dan dari risky itulah aku bisa membebaskan seorang budak, barulah aku berani mendakwahkan dan menyerukan perbaikan nasib kalian.”

Itulah sikap dan ucapan seorang ulama yang berani mendakwahkan dan atau menyerukan setelah dirinya terlebih dahulu memberikan contoh perbuatan. Itulah sikap dan ucapan seorang ulama yang konsisten antara ucapan dan perbuatan.

Sangatlah sejalan dengan apa yang dikatakan Imam Ali, “Barangsiapa menjadi pemimpin, hendaklah ia mulai dengan mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain, dan mendidik dengan perilaku lebih dulu sebelum dengan lisan.(pen.- mungkin kita kasih contoh lewat perilaku/sikap kita terlebih dahulu, baru lewat lisan). Pengajar dan pendidik diri sendiri lebih berhak mendapatkan keagungan daripada pendidik dan pengajar untuk orang lain.” (Berarti semuanya bermula dari kita).

“Pada hari kiamat seorang dihadapkan dan dilempar ke neraka. Orang-orang bertanya, ” Hai Fulan, mengapa kamu masuk neraka sedang kamu dahulu adalah orang yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah perbuatan mungkar? ” Orang tersebut menjawab, ” Ya benar, dahulu aku menyuruh berbuat makruf, sedang aku sendiri tidak melakukannya. Aku mencegah orang lain berbuat mungkar sedang aku sendiri melakukannya.” (HR. Muslim)

Wassalam

Siti Nurjanah

Iklan