Perjalanan Hijrah Rasulullah SAW


Perjalanan Hijrah Rasulullah SAW

Tatkala arRasul keluar dari kota Makkah bersama Abubakar, beliau menoleh dari atas bukit ke arah Makkah sambil berlinang air mata, dan berkata : “Sungguh demi Allah, engkaulah (Makkah) tempat yang paling aku cintai, dan kalau bukan karena kaumku mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan keluar darimu”.

Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, setelah 13 tahun berdakwah di kota Makkah. 13 Tahun lamanya beliau berdakwah di kota Makkah menghadapi seribu satu gangguan dan cobaan dari kaum-nya. Yang mana beliau dan muslimin Makkah menghadapi boikot orang-orang kafir selama bertahun-tahun, dikucilkan dan dihina oleh mereka. Tetapi sungguh besar kesabaran beliau. Tahun demi tahun beliau lalui di kota Makkah dibawah gangguan kaum musyrikin, sampai akhirnya gangguan yang beliau alami semakin berat setelah wafat pamannya dan istri beliau yang selalu setia didalam membela beliau. Sehingga pada puncaknya kaum musyrikin berusaha untuk membunuh Rasulullah dan mengepung rumah beliau di malam hijrahnya beliau.

Sebelum peristiwa tersebut beliau telah memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk keluar dari Makkah dan menuju Madinah, dimana saat itu Islam berkembang dengan pesatnya di kota Madinah. Sehingga tatkala sahabat-sahabatnya meninggalkan kota Makkah atas perintah beliau, beliau tetap tinggal di kota Makkah menunggu perintah Hijrah dari Allah Ta’ala kepada beliau. Tatkala menerima perintah Hijrah tersebut, beliau memilih Abubakar AsSiddiq untuk menemani beliau dalam perjalanan Hijrah.

Pada malam hijrah, setelah memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di pembaringan Rasulullah berselimutkan sorban Rasul dengan taruhan nyawa, maka arRasul keluar dari rumahnya yang telah di kepung oleh 40 pemuda yang berencana akan membunuh beliau. Allah membuat mereka tertidur semuanya sehingga Rasulullah keluar di hadapan mereka, bahkan menaburkan pasir diatas kepala mereka yang terlelap. Disini kita melihat bagaimana kuffar berencana, tetapi Allah juga memiliki rencana, dan rencana Allah di atas rencana mereka.

Tatkala ArRasul keluar dari kota Makkah bersama Abubakar, beliau menoleh dari atas bukit ke arah Makkah sambil berlinang air mata, dan berkata : “Sungguh demi Allah, engkaulah (Makkah) tempat yang paling aku cintai, dan kalau bukan karena kaumku mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan keluar darimu”. Maka Rasul pun melanjutkan perjalanannya di bawah kejaran orang orang kafir yang berusaha membunuh beliau. Sehingga beliau dan Abubakar terpaksa harus bersembunyi di dalam gua Tsur, selama bermalam-malam.

Tatkala mereka sampai di mulut gua, maka Abubakar masuk terlebih dahulu untuk memastikan keamanan gua bagi Rasulullah, sehingga Abubakar menyumbat semua lubang yang ada di dalam gua tersebut dengan bahan yang beliau miliki, agar binatang yang bersarang di dalam lubang-lubang tersebut tidak keluar dan mengganggu Rasulullah. Sehingga habislah bahan yang beliau miliki untuk menutup lubang-lubang yang ada di dalam gua tersebut, dan masih tersisa satu lubang yang belum tertutup. Maka beliaupun menutup lubang tadi, dengan kakinya, lalu mempersilahkan Rasulullah untuk masuk. Rasul pun masuk, dan beristirahat di gua Tsur, dan tertidur di atas pangkuan Abubakar. Ternyata lubang yang disumbat oleh kaki Abubakar dihuni oleh seekor ular, dan ular tersebut berusaha untuk keluar dengan mematuk kaki Abubakar yang menghalangi jalan keluarnya. Berkali kali ular tersebut menyalurkan bisanya, akan tetapi Abubakar lebih suka menahan rasa sakit dan tidak bersuara, daripada membangunkan Rasulullah dari tidurnya. Tidak kuasa beliau menahan rasa sakit tersebut hingga meneteskan air mata, dan terjatuh air mata Abubakar di pipi Rasulullah. Rasul pun terjaga dan bertanya, “Mengapa engkau menangis wahai Abubakar ?” Abubakar menjawab bahwa kakinya telah dipatuk ular yang ada di dalam lubang tersebut. Maka mereka pun menyingkirkan ular yang telah mematuk kaki Abubakar. Rasulullah segera melihat kaki Abubakar yang telah dipatuk dan terkena bisa ular tersebut, maka Rasul pun menempelkan liurnya dengan jarinya ke kaki Abubakar. Abubakar menceritakan, “Saat itu juga langsung hilang rasa sakitku seolah olah tidak terjadi apa apa terhadap kakiku sama sekali”.

Setelah masuknya Rasulullah dan Abubakar ke dalam gua, Allah mengutus laba-laba untuk membangun sarangnya menutupi mulut gua, juga merpati untuk membangun sarangnya dan bertelur di depan mulut gua. Sehingga mereka kaum musyrikin sampai di mulut gua di dalam pengejarannya terhadap Rasulullah. Mereka ragu untuk masuk ke dalam gua yang dihuni oleh Rasulullah tersebut. Bahkan keduanya bisa melihat dengan jelas kaki kaum musyrikin yang berdiri di mulut gua. Abubakar pun menangis karena mengkuatirkan Rasulullah, beliau berkata, “Ya Rasulullah, seandainya salah seorang mereka melihat kedalam gua dari posisi kakinya, maka mereka pasti akan melihat kita”. Rasul pun berkata, “Wahai Abubakar, bagaimana prasangka mu tentang dua orang, yang mana Allah Dzat ketiga yang bersama mereka? Ya Abubakar, janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”. Abubakar pun gembira dengan ucapan Rasul tersebut. Maka tiba tiba salah seorang musyrikin mengatakan, “barangkali keduanya ada didalam gua ini”, maka dijawab oleh temannya, “tidakkah engkau melihat sarang laba laba yang tebal ini yang menutupi mulut gua ini ? juga merpati yang bersarang dan bertelur di mulut gua ini ? Kalau mereka masuk ke dalam gua ini, maka pasti akan merusak sarang laba-laba ini dan memecahkan telur serta sarang merpati ini, maka mereka tidak mungkin ada didalam gua ini”. Lantas merekapun pergi, sungguh luar biasa pertolongan Allah terhadap Rasul dan pecintanya. Bermalam-malam Rasulullah SAW dan Abubakar bersembunyi didalam gua tersebut untuk menghindari kejaran orang musyrikin yang tetap berusaha untuk membunuhnya.

Betapa banyak rintangan yang beliau hadapi di dalam menyebarkan syariat islam ini, hingga sampailah syariat tersebut kepada kita sekalian, setelah melalui sekian rintangan dan sekian cobaan, setelah mengorbankan sekian harta dan sekian nyawa, sekian malam yang dilalui dengan perut lapar, sekian bulan yang dihabiskan di medan perang serta padang pasir yang panas. Sedangkan kita menerima syariat tersebut dalam keadaan siap dan sudah di atas nampan. Sudah begitupun, masih banyak juga di antara kaum muslimin yang melempar nampan tersebut dan melupakan pengorbanan sang kekasih yang telah membawa nampan tersebut kepadanya.

Bila kita membaca kisah Hijrah, kita akan menyadari bahwa pertolongan Allah senantiasa bersama mereka yang berjuang dan rela berkorban untuk Islam. Bukan mereka yang terbawa arus sesat di zaman yang penuh dengan kemaksiatan ini. Inilah pengorbanan Rasulullah, inilah pengorbanan Abubakar, inilah pengorbanan Ali bin Abi Thalib. Dan banyak lagi pengorbanan beliau dan para sahabat serta keluarga beliau untuk Islam.

Sekarang yang jadi pertanyaan adalah : Apakah pengorbanan saya dan Anda untuk Islam?? Apakah disebut suatu pengorbanan orang yang lebih mementingkan pekerjaannya daripada waktu solat? Atau lebih mendahulukan sinetron daripada AlQuran? Atau menonton pertandingan sepak bola daripada Qiyamul lail? Anehnya sebagian orang islam lebih kuatir apabila telat ke kantor atau sekolah daripada telat solat subuh. Anehnya lagi orang islam lebih pandai menghujat sesama islam daripada menutupi aib orang yang seakidah dengannya.

Semoga Allah melimpahkan taufiq dan hidayatNya kepada kaum muslimin Amiin…

***

Kiriman Sahabat Arlan

Iklan