Sebuah Rasa


cintaSebuah Rasa

Suara hati diantara 2 orang manusia yang saling mengerti itu kini sudah meninggalkan tempatnya.Yang tersisa disana hanyalah puing-puing kenangan yang akan tetap meninggalkan bekasnya didasar sebuah hati sang jiwa.

Semakin sang jiwa berlari akankah ia jauh dari sang pecinta?? tidak…justru ia akan semakin mendekati bayangan sang pecinta.Lalu sang jiwapun terdiam dan membiarkan rasa yang selalu mengguncangkan dunia itu tetap disana…ditempat yang semestinya,sang jiwapun termenung, berfikir dan mencari-cari jawaban atas semua pertanyaannya…apakah ada bedanya?! hanya sang jiwalah yang benar-benar bisa merasakannya.

Tuhan yang maha membolak-balikan hati, mengapa rasa itu masih ada? tidak bisakah ia tergantikan dengan yang lain? mengapa sang jiwa mencintai seseorang yang seharusnya hanya bisa ia sayangi? dan mengapa pula ia hanya memiliki rasa sayang pada seseorang yang sebenarnya bisa ia cintai? lalu apa itu cinta dan apa itu sayang, wahai yang maha tahu?

Sang jiwa terus termenung dan ditengah-tengah keterdiamannya ia masih mempertanyakan mengapa kebahagiaan hatinya di suatu kumpulan waktu menjadi deritanya saat ini.. terikat dan terbelenggu karenanya. Benarkah tubuh hanya suatu kumpulan Zat kimia, jaringan dan impuls saraf, pikiran tak lebih dari gelombang listrik dalam otak, hasratpun tak lebih dari asam yang menusuk otak kecil, benarkah? Jika begitu tubuhpun tak lebih dari sekedar mesin tanpa jiwa.

Wahai Tuhan yang maha tinggi , apakah ini berarti sang jiwa telah melalaikan-Mu meski dalam hatinya masih ada sebuah keinginan yang tak pernah berkurang karena kekeringan dan tidak bertambah karena basah! tidak…tidak Tuhan…dia tidak ingin lalai pada-Mu meski ingatanya tetap terpatri pada sang pecinta.

Sang jiwa masih teringat akan perkataan Rosul-Mu “KECINTAANMU KEPADA SESUATU BISA MEMBUAT BUTA DAN TULI”. Karenanya sang jiwa masih mencari-cari dimanakah kunci semuanya, dia tidak ingin buta dan tuli, dia hanya ingin sebuah kebahagiaan dan kedamaian.

Waktupun terus berlalu, terlihat di semua tempat dan membagi tahun menjadi bulan, bulan kedalam hari, hari kedalam jam, jam kedalam detik, pertambahan waktupun berbaris rapi setelah yang satu menghilang dan tergantikan dengan yang lain. Detikpun mulai bergulir dan tibalah waktunya sang jiwa memahami apa yang telah dipertanyakannya, lewat semua Hidayah-Nya ia pun menemukan sebuah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang membuat dirinya resah

“DAN SEGALA SESUATU KAMI JADIKAN BERJODOH-JODOHAN AGAR SEKALIAN KAMU BERFIKIR”(QS. 51:49)

Sang jiwa pun mulai merasakan suatu aliran yang mengalir mendesak-desak dalam nadinya, resah itu mulai meninggalkan hati sang jiwa sedikit demi sedikit setelah ia belajar bahwa semuanya bukan milikinya,semuanya sudah diluar kendali seorang anak manusia…Yah sang jiwa tidak mempunyai kuasa apa-apa terhadap takdir dimuka bumi

“DAN DIA TELAH MENCIPTAKAN SEGALA SESUATU DAN DIA MENETAPKAN UKURAN-UKURANNYA DENGAN SERAPI-RAPINYA”(QS.25:3)

Sang jiwa masih bisa memberikan senyumnya untuk orang-orang yang memiliki rasa dalam hatinya mungkin masih ada sisa sebuah rasa yang pernah mengguncangkan jiwanya, tapi telah sedikit tertolong .Dia tetap bahagia bahwa rasa itu pernah menetap dalam jiwanya

“DAN BISA JADI KAMU MEMBENCI SESUATU PADAHAL ITU BAIK UNTUKMU DAN BISA JADI KAMU MENYUKAI SESUATU SEMENTARA ITU BURUK BAGIMU, DAN ALLAH LEBIH MENGETAHUI PADA SAAT KAMU TIDAK MENGETAHUI (QS. 2:126).

Pada akhirnya sang jiwapun harus pasrah terhadap semua Takdir-Nya dan belajar untuk menerima bahwa hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.Dan semuanya pasti ada Hikmah dan kebaikan yang terdapat didalamnya……..

***

Dari Sahabat Lina Karlina

Iklan