Riwayat Hidup Imam Asy-Syafi’iy (1/2)


Imam Syafi'iRiwayat Hidup Imam Asy-Syafi’iy (1/2)

Beliau adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’iy Al-Mutholliby. Nasab beliau bertemu dengan Nabi SAW pada kakek beliau Abdu Manaf. Beliau dilahirkan di kota Ghuzzah pada tahun 105 H dan kemudian dibawa pindah ke kota Makkah. Disana beliau menuntut ilmu pada guru-gurunya yaitu pada Al-Imam Khalid Muslim Az-Zanuji, Fudhail bin ‘Iyadh, Sufyan bin Uyainah dan lain-lain.

Pada saat umur beliau menginjak 22 tahun, beliau pergi menuju kota Madinah. Untuk mempersiapkan diri berguru pada Al-Imam Malik, beliau menghafalkan seluruh isi kitab Al-Muwaththo’ dalam jangka waktu 9 hari. Baru setelah itu beliau berguru pada Al-Imam Malik sampai akhirnya beliau menjadi murid yang paling pandai. Selain itu, beliau juga berguru kepada ulama Madinah dan Makkah.

Pada saat usia beliau masih 18 tahun, beliau sudah menjadi seorang mufti. Disaat itu beliau juga sudah menguasai syair-syair arab dan ilmu-ilmu bahasa arab sampai-sampai Al-Asma’iy (seorang periwayat syair-syair arab) mendapat manfaat dari beliau dan mengambil dari beliau syair-syair kabilah Bani Hudzail.

Kemudian berpindahlah beliau ke kota Iraq. Disana beliau berguru kepada Al-Imam Muhammad bin Hasan Asy-Syaibany (murid Al-Imam Abu Hanifah). Dari gurunya itu, beliau Al-Imam Asy-Syafi’iy mendapatkan ilmu dan membacakan kitab-kitabnya. Beliau juga sempat berguru kepada beberapa teman gurunya tersebut. Disinilah beliau Al-Imam Asy-Syafi’iy menulis sebuah kitab yang berjudul Al-Hujjah yang menghimpun madzhab beliau yang pertama (al-madzhab al-qodim). Banyak para ulama besar yang mengambil madzhab beliau itu, di antaranya adalah Al-Imam Ahmad dan Al-Imam Abu Tsur.

Dari Iraq beliau kemudian pindah ke kota Mesir. Disini seringkali ijtihad beliau berbeda dari sebelumnya pada banyak masalah. Hal itulah yang menyebabkan beliau akhirnya menarik madzhabnya yang pertama (al-madzhab al-qodim) dan mengokohkan madzhabnya yang baru (al-madzhab al-jadid). Di kota Mesir, beliau mendiktekan kitabnya yang bernama Al-Um. Beliau juga mengarang sebuah kitab dalam ilmu ushul figih yang berjudul Ar-Risalah. Kitab inilah yang menjadi peletak dasar ilmu ushul figih dan kunci pembuka kesulitan-kesulitan di dalamnya.

Al-Imam Asy-Syafi’iy dianggap sebagai pembaharu (mujaddid) abad kedua. Hal ini tidak lain disebabkan oleh karena beliau mampu menggabungkan ilmu hadits dan ilmu logika. Beliau telah mengokohkan kaidah-kaidah ilmu ushul figih. Selain itu beliau juga seorang pakar hadits, riwayat-riwayat dan perawi-perawinya. Beliau juga menguasai Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya. Ditambah lagi beliau adalah seorang ahli sejarah, penyair, sastrawan dan pakar bahasa. Dan yang tak kalah pentingnya beliau adalah seorang yang sangat wara’, takwa dan zuhud di dunia.

Sampai akhirnya beliau menghembuskan napas yang terakhir di kota Kairo pada tahun 203 H. Berkata Al-Imam Ahmad tentang Al-Imam Asy-Syafi’iy, “Keberadaan Al-Imam Asy-Syafi’iy bagaikan keberadaan matahari bagi dunia, dan bagaikan keberadaan kesehatan bagi tubuh.”  Beliau Al-Imam Ahmad juga berkata, “Dahulu ilmu figih ini sudah tertutup bagi manusia, sampai akhirnya Allah membukanya kembali dengan Asy-Syafi’iy.”  Berkata Al-Imam Abu Zur’ah, “Tidak ada orang alim yang sangat diagung-agungkan oleh umat Islam seperti Asy-Syafi’iy, semoga Allah memberi rahmat kepada mereka semua dan merestuinya.”

[Diterjemahkan dari mukadimah kitab At-Taqriirat As-Sadiidah fi Al-Masaail Al-Mufiidah, qismul ibaadat, Al-Habib Zein bin Ibrahim Bin Sumaith, hal. 1-2]

Diriwayatkan oleh Toyalisi dan Baihaqi, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian mencaci (suku) Quraisy, sesungguhnya kelak salah seorang ulama Quraisy akan memenuhi bumi ini dengan ilmunya”. Berkata Imam Ahmad bin Hanbal dan ulama lainnya, bahwa ulama quraisy yang dimaksud oleh Rasulullah disini adalah Imam Syafi’i. Juga diakui oleh para ulama zamannya, bahwa Imam Syafi’I adalah seorang mujaddid (pembaharu Islam).

Ulama mengatakan bahwa : “Tak seorangpun di antara ahli hadist dengan alat tulis mereka, melainkan pasti Imam Syafi’I mempunyai jasa yang sangat besar terhadap mereka”.

Al-Imam Syafi’I tumbuh dilingkungan yang penuh dengan kemiskinan, akan tetapi beliau banyak melazimi para ulama, dan belajar dari mereka. Bahkan beliau menulis ilmu yang didapatnya di atas tulang atau kulit dan lain sebagainya, karena beliau tidak memiliki alat tulis dan buku yang memadai.

Beliau banyak berdakwah dan mengajar, sampai beliau pergi ke Yaman dan dikenal disana, lantas pergi ke Iraq dan dikenal disana, lalu ke Mesir sampai akhirnya meninggal di sana. Begitu banyak para murid dan pengikut beliau, sehingga salah seorang murid beliau berkata; “Aku melihat tujuh ratus kendaraan di muka pintu rumah Imam syafi’I, yang mana semuanya datang untuk menimba ilmu dari beliau”.

Berkata Imam Syafi’I : “Orang yang berakal adalah orang yang terikat oleh akalnya dari hal hal yang tercela”.

Beliau juga berkata : “Barangsiapa menyangka tidak menjadi mulia karena taqwa, maka orang tersebut tidak memiliki kemuliaan”.

Kita melihat Imam Syafi’I dengan kecerdasan beliau, taqwa, ilmu dan akhlak beliau sebagaimana diakui oleh ulama salaf dan khalaf. Apabila kita renungkan bahwa betapa terbatasnya fasilitas yang dimiliki Syafi’I untuk menuntut ilmu, bahkan beliau tidak mampu memiliki alat tulis, sehingga harus menulis di atas tulang dan daun. Dan apa yang dimiliki oleh pelajar kita zaman sekarang ini ? Mereka memiliki alat tulis dan buku yang beragam, bahkan seragam dan sepatu yang setiap tahun diganti dengan yang baru. Akan tetapi betapa jauhnya kita tertinggal oleh para pendahulu kita yang tidak memiliki fasilitas yang kita miliki sekarang ini. Sehingga banyak diantara kaum muslimin sekarang ini yang minim pengetahuan agamanya, sampai tidak mengenal akan hal hal yang membatalkan wudhu, atau fardhu-fardhu wudhu, bahkan syarat sahnya wudhu. Bagaimana dengan wudhu mereka ? Bagaimana dengan solat mereka ? Bagaimana dengan puasa dan haji mereka ? Apabila hal-hal yang wajib mereka ketahui didalam agama tidak mereka ketahui.

Kita terbuai oleh dunia kita yang fana ini. Sehingga orang tua, muda, besar, kecil, laki, perempuan yang mereka pentingkan adalah; bagaimana mencari kesejahteraan mereka di dunia yang akan mereka huni selama 60 atau 70 tahun (kalau panjang umur). Akan tetapi mereka melupakan kesejahteraan akherat yang pasti akan mereka huni tidak seribu atau dua ribu tahun, tidak satu juta atau dua juta tahun, akan tetapi kehidupan yang abadi, yang hanya ada dua alternatif, surga atau neraka.

Banyak orang yang mengenal profil dari seorang artis, atau pemain bola, atau petinju, bahkan tokoh politikus. Akan tetapi betapa mengherankannya seorang muslim bisa mengenal mereka tadi, melebihi pengenalannya akan profil seorang ulama besar seperti Imam Syafi’I, atau toko- tokoh sahabat dan keluarga Rasulullah SAW, bahkan melebihi pengenalannya akan Rasulullah, Nabinya sendiri. Ia mampu menceritakan kepada anda akan riwayat hidup seorang petinju dunia, akan tetapi tidak tahu riwayat hidup Pemimpin Akherat (Nabi Muhammad). Tidak mengetahui dimana beliau dilahirkan dan dimakamkan. Tidak mengetahui usia beliau ketika menikah, menerima wahyu, hijrah dan wafat. Bahkan tidak mengetahui siapa anak dan istri Rasulullah.

Perlu ada yang membangunkan muslimin dari tidur mereka yang lelap dan panjang ini. Perlu ada yang menyadari akan tujuan kehidupannya di dunia yang fana ini. Perlu ada yang menyadari bahwa ia tidak akan ditanya kelak dikuburan; berapa penghasilanmu, atau apa mobilmu, atau apa jabatanmu, atau siapa artis favoritmu, akan tetapi akan ditanyakan bagaimana perhatiannya terhadap syariat yang diturunkan Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala mempercepat pertolonganNya bagi kaum Muslimin, Amiin..

Wallohu a’lam bish-shawab,-

***

Dari: Retno Wahyudiaty

Iklan