Tak Ada Ujung (Maut itu pasti menjemput)


kuburanTak Ada Ujung (Maut itu pasti menjemput)

Kutatap dalam diam ibuku yang sedang menekuni buku primbon jawanya. Matanya yang masih tajam itu sering menatapku dalam-dalam, meski aku anak kandung darah dagingnya sendiri, aku masih sering bergidik menerima tatapan ibu. Rambutnya yang sudah bertabur uban dan bibirnya yang selalu mengulum sirih itu pun sering menambah keengganan teman-teman kuliahku untuk bertegur sapa dengannya. Ibumu seram Ji, kayak dukun!!. Begitu ledek mereka. Yaaaahhhh,mau gimana lagi ibuku memang suka hal-hal yang berbau mistik.

“Setiaji, sudah dapat kabar dari masmu?” tanya ibu perlahan, jemari tuanya masih membolak-balikan primbonnya.

“Belum Bu. Mas Bimo belum telpon.” Jawabku singkat.

Diantara anak-anak Ibu, Mas Bimo yang paling disayangi olehnya. Mbak Wening, Mbak Lastri, Mas Harjuno sering protes karena selalu Mas Bimo yang diprioritaskan oleh Ibu. Ada uang sedikit, permintaan Mas Bimo yg paling dulu diluluskan. Mas Bimo minta kerja gambar,sawah peninggalan Eyang dijual separuh. Sampai ketika Mas Bimo dikirim pemerintah keluar negri ibu masih menyempatkan diri untuk memberi uang saku seluruh hasil penjualan perhiasan emasnya, peninggalan Eyang kakung almarhum.Begitulah Ibu,Mas Bimo adalah segala-galanya.

Barangkali karena Mas Bimo selalu menurut semua kata-kata ibu , meluluskan semua permintaan ibu.Bahkan untuk hal-hal yang bagi kami sangat tidak masuk akal sekalipun. Beberapa waktu yang lalu ketika Mas Bimo menabrak seekor kucing di jalan, Mas Bimo langsung menguburkannya saat itu juga, persis sebagaimana pesan ibu.Ibu selalu berkata , kalau di jalanan nabrak kucing, harus cepat-cepat di kubur, sebab kucing itu mengakibatkan celaka,kamu bisa celaka. Bimo yang mengangguk-angguk, sedang kami berempat cuma tersenyum – senyum geli saja.Bagaimana tidak geli?? Bukankah yang bisa menimbulkan kecelakaan dan kebahagiaan hanya Allah saja? Tapi lain dengan versi Mas Harjuno yang lulus Harvard.

“Ibu itu pantasnya dimasukan RSJ saja, habis semuanya selalu dikaitkan dengan mistik, it doesn’t make sense!! gerutunya setiap kali mendengar nasihat ibu.

Sedangkan Mbak Wening dan Mbak Lestari yang cenderung Opportunistik selalu mengatakan sudahlah turuti saja apa kata ibu, nanti kalau ibu ngambek kan payah bisa-bisa uang hasil perkebunan teh warisan almarhum Bapak, tidak dibagikan lagi pada kita.

Yaah, begitulah kakak-kakakku. Rasanya tidak ada yang cara berfikirnya beres, yang lulusan luar negri seperti Mas Harjuno semua selalu dikaitkan dengan logika, yang materialistis seperti Mbak Wening dan Mbak Lastri tidak pernah berusaha meluruskan pendapat ibu karena takut ibu tidak membagi hasil perkebunan , yang penurut seperti Mas Bimo hampir -hampir tidak pernah berfikir bahwa pendapat ibu hampir selalu nyerempet -nyerempet dengan syirik. Heeeehhhhh, paling cuma aku yang memperhatikan pendapat Ibu, itupun baru beberapa tahun ini setelah aku mencoba mendalami Islam dari pesantren mahasiswa yang kuikuti selepas kuliah.

“Mas -mu Harjuno juga belum menelpon to Ji??” tanya Ibu lagi.

“Belum Bu,cuma kemaren Mas Harjuno sudah nelpon minta bantuan saya untuk membantunya pindahan,”jawabku.Tumben Ibu menanyakan Mas Harjuno, biasanya cuma Mas Bimo yang disebut-sebut.

“Anak itu selalu membantah kalau diperintah orangtua .” Ibu bertutur seperti orang bergumam saja, seakan-akan ia tidak berbicara pada siapa-siapa.

“Memangnya Mas Harjuno kenapa Bu ?” tanyaku sambil lalu.Tidak sopan rasanya membiarkan Ibu mengguman sendiri.

“Lha iyooo,kalau pindah itu khan seharusnya bertahap,yang harus masuk itu pertama kali ya sapu lidi untuk tempat tidur sama bantal guling dulu,baru yang lain-lain.ini malah tidak,yang masuk pertama komputer,mesin faksimile,alasannya biar pekerjaan bisa di bawa ke rumah!! Dasar bocah ngak gugu sama orang tua ,nanti kuwalat baru tahu rasa!!” gerutu ibu panjang-pendek. Aku hanya bisa menghela nafas panjang ,Ibu.Ibu.

Tiba-tiba telphone berdering. Aku dan Ibu serentak berdiri, sejenak kami beradu pandang. Lalu Ibu duduk kembali, dan melanjutkan kesibukannya. Itu tanda bahwa aku yang harus mengangkat telpon.

“Assalmualaikum ? Oh,Mas Juno? Dirampok orang? Kapan?! Tadi malam? Lho, khan ada si Yem sama Kardi? Apa? Komputer, telephone, faks, dan brankas? Innalilahi…ya deh Mas,aku segera kesana ,iya,iya,” gagang telpon kuletakan dengan terburu-buru.

“Mas Harjuno-mu ya,Le?” tanya ibu.

Aku mengangguk cepat.

“Dirampok orang?” tanya ibu lagi.

Aku mengangguk sambil terburu-buru mencari kunci mobil. Kulihat sekilas wajah Ibu memancar aneh. Segera kucium punggung tangannya ,dalam pikiranku saat ini hanya berkecamuk satu pemikiran. Mengapa ancaman-ancaman Ibu selalu benar-benar terjadi?

Didalam mobilpun aku masih memikirkan kebetulan-kebetulan yang sepertinya berulang-ulang itu. Kemarin, ketika Mbak Wening melahirkan anak pertamanya,ancaman Ibu terjadi juga. Pada saat hamil Mbak Wening tidak mau menuruti larangan ibu untuk tidak menjahit di atas tempat tidur saat hamil karena nanti jari-jari bayinya akan berimpit. Ternyata ketika bayi itu lahir, keadaannya persis seperti yang dikatakan ibu, sehingga Mbak Wening harus menyiapkan jutaan rupiah untuk operasi plastik anak perempuannya.

Itu adalah istidraj kata seorang Ustad,semacam ujian dari Allah yang diberikan kepada seseorang yang tidak mau menyadari kesalahannya, lalu Allah membiarkan orang itu berlarut-larut dalam dosanya sehingga akhirnya orang tsb mengira bahwa dirinya tidak melakukan sesuatu yang tidak diridhoi Allah.

**

“Rasanya kali ini saya tidak bisa mundur, Bu,tidak bisa, tidak mungkin.” suara Mas Bimo terdengar seperti menahan amarah, wajahnya yang biasanya lembut , teduh, dan penurut itu memerah padam. Wajah Ibu pun tak kalah merah.Aku bisa menyimak betapa dalam ketegangan diantara Mas Bimo menentang kehendak Ibu.

“Ibu hanya menyayangi kamu aja kok Le.. kalau kamu tidak mau disayang ya sudah, yang penting ibu sudah memperingatkan kamu, bahwa menurut firasat Ibu, pesawatmu itu tidak akan sampai selamat di San fransisco, Ibu tidak mau kehilangan kamu, Le,”

“Tapi ini tender penting Bu, Mr.Melners pasti tidak akan percaya lagi pada saya jika saya mengundur jadwal penerbangan saya. ia pasti tidak segan-segan memecat saya, toh sekarng ahli komputer tidak sedikit lagi, apa itu yang Ibu kehendaki???? Ibu tega melihat saya dipecat??!!” Suara Mas Bimo mengguntur. Tubuhnya yang kurus karena terlalu keras bekerja dihempaskan keatas sofa.

“Ya,bukan begitu Le,” Suara ibu melemah.

“Ya, sudah !! Ibu tidak usah ikut campur!!!” Mas Bimo membentak. Tubuh tua Ibu sampai terdorong ke belakang mendengar bentakannya. Aku pun terkejut. Tidak biasanya Mas Bimo meradang seperti ini. Biasanya ia lembut seperti kapas, tutur katanya ringan seperti awan.tapi kali ini tidak, Mas Bimo benar-benar mirip singa yang sedang marah.

Kulihat ibu perlahan beringsut pergi. Air mata menitik satu-satu dikerut – kerut pipinya. Kususul Ibu, kubimbing memasuki kamarnya. Ibu benar-benar terluka. Tepat pukul tujuh malam ketika aku dan ibu sedang menyimak berita di teve. Seharian ini ibu hanya mengunci mulut saja, dan aku pun tidak berani mengusiknya. Tiba-tiba pintu depan yang tidak terkunci terkuak dengan kasar. Lho,Mas Bimo?!!!!

“Sial!!!!!! Benar-benar siaaaalllllllllll!!!!!!!!!!!” runtuknya sambil menghempaskan tubuh diatas sofa.

“Tidak jadi berangkat Mas??” tanyaku keheranan.

“Tiketku hilang!! Jatuh barangkali ?! Aku sudah mencoba melacak kemana-mana,bandara aku kitari, laci kantor aku obrak-abrik,kertas sialan itu tetap tidak ada,sial. Semuanya sial!!!” Mas Bimo menyumpah -nyumpah.

Serentak perhatian kami tertuju ke layar teve. Berita kecelakaan.sebuah pesawat Garuda dengan penerbangan 1078 dengan tujuan San Fransisco meledak diatas Laut Jawa. Penumpang beserta seluruh awak kapalnya tewas.

Tiba-tiba Ibu terkekeh kekeh, bulu kudukku berdiri. Mas Bimo mengerutkan kening. Ia mengingat-ingat. “Lho,itu khan pesawatku? Itu pesawatku Ji. ” teriak Mas Bimo. Ibu masih terkekeh.

“Berterima kasihlah pada ibumu yang sudah tua ini,Le. Tiketmu ibu sembunyikan .., kalau tidak pasti namamu sudah berada dalam deretan penumpang pesawat yang tewas itu.. hehehehehe..” Ibu terkekeh sambil melambai-lambaikan tiket pesawat Mas Bimo. Mendadak. Mas Bimo mendekap dadanya dengan kedua tangan. Wajahnya pucat pasi, sebelum tubuhnya ambruk ke lantai

“Mas bimooooooooooooooooo,” teriakku histeris.

Kuraba dadanya.Kucari detak jantungnya. Ya Allah.tidak ada .detak jantung Mas Bimo berhenti.Mas Bimo???!!! Kucoba memberinya nafas buatan. Kutekan-tekan dadanya dengan harapan jantung Mas Bimo kembali berdetak.peluhku melelh membanjir sia-sia, Mas Bimo tetap terbaring kaku.

Aku menatap ibu dengan tatapan kosong. “Ibu menatapku dengan tatapan tanya.Mas Bimo meninggal bu.” kataku lirih. Ibu terbelalak. lalu tersungkur pingsan.

**

Semoga anda semua dapat mengerti apa hikmah dan pesan dari cerita ini,

***

Dari Sahabat

Iklan