Abu Bakar Ash-Shiddiq (2/2)


Reciting-QuranAbu Bakar Ash-Shiddiq (2/2)

Disampaikan oleh : Retno Wahyudiaty

Medina sebagai ibu kota Islam sangat terancam oleh gerombolan-gerombolan musuh. Nabi mengimbau perlunya dana untuk membiayai kampanye guna mempertahankan diri dari bahaya yang akan tiba. Maka, Umar yang kaya raya seketika itu juga ingin mengambil kesempatan emas ini, sehingga dia berharap bisa menandingi Abu Bakar dalam berbakti kepada Islam. Beliau bergegas pulang ke rumah dan kembali membawa sejumlah besar harta kekayaannya. Nabi sangat senang melihat tindakan sahabatnya itu, dan bertanya : “Apakah ada yang Anda tinggalkan untuk keturunan Anda?”

“Sebagian dari harta kekayaan telah saya sisihkan untuk anak-anak saya,” jawab Umar.

Ketika Abu Bakar membawa pula hartanya, pertanyaan yang sama juga diajukan kepadanya.

Beliau langsung menjawab, “Yang saya tinggalkan untuk anak-anak saya hanyalah Allah dan Rasul-Nya.”

Sangat terkesan akan ucapan Abu Bakar, Umar berkata, “Tidak akan mungkin bagi saya melebihi Abu Bakar.”

Abu Bakar, Khalifah Islam yang pertama dan orang paling terpercaya serta pembantu Nabi yang sangat setia, dilahirkan di Mekkah dua setengah tahun setelah Tahun Gajah, atau lima puluh setengah tahun sebelum dimulainya Hijrah. Di masa pra Islam dikenal sebagai Abul Kaab dan waktu masuk Islam Nabi memberinya nama Abdullah dengan gelar Ash-Shiddiq (Orang Terpercaya). Ia termasuk suku Quraisy dari Bani Taim, dan silsilah keturunannya sama dengan Nabi SAW dari garis ke 7. Dialah salah seorang pemimpin yang sangat dihormati sebelum dan sesudah mereka memeluk agama Islam. Nenek moyangnya berdagang dan sekali-sekali mengadakan perjalanan dagang ke Syria atau Yaman. Sering Abu Bakar mengunjungi Nabi dan ketika turun wahyu, ia sedang berada di Yaman. Setelah kembali ke Mekkah ia mendengar para pemimpin Quraisy seperti Abu Jahal, Ataba dan Shoba mengejek pernyataan pengangkatan Muhammad menjadi Rasul Allah. Abu Bakar menjadi sangat marah, lalu bergegas ke rumah Nabi dan langsung memeluk agama Islam. Menurut Suyuti, pengarang Tarikhul Khulafa, Nabi berkata, “Apabila saya menawarkan agama Islam kepada seseorang, biasanya orang itu menunjukkan keragu-raguannya sebelum memeluk agama Islam. Tapi Abu Bakar adalah suatu perkecualian. Dia memeluk agama Islam tanpa ada sedikit pun keragu-raguan pada dirinya.”

Sudah diakui secara luas, bahwa pemeluk agama Islam pertama-tama diantara orang dewasa adalah Abu Bakar, diantara kaum muda tercatat nama Ali, sedang diantara kaum wanita adalah Khadijah. Abu Bakar, sebagai seorang yang kaya raya, telah menyerahkan seluruh harta kekayaannya untuk digunakan Nabi. Disamping itu, ia membeli dan membebaskan sejumlah budak belian, termasuk menjalani segala macam penderitaan, intimidasi dan siksaan demi berbakti kepada kepercayaan barunya itu (Islam). Pada suatu ketika dia dipukul hingga pingsan. Keberanian dan kebulatan tekad yang ditunjukkan Nabi dan para sahabat yang setia dalam menghadapi oposisi keras akan selalu menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang berjuang demi kebenaran. Abu Bakar mempunyai 40.000 dirham ketika masuk agama Islam, tapi kemudian hanya tinggal 5.000 dirham saja pada waktu hijrah. Beliau pergi hijrah ke Medina menemani Nabi, dan meninggalkan istri serta anak-anaknya pada lindungan Allah

Ia juga berjuang bahu-membahu dengan Nabi dalam pertempuran mempertahankan diri, di saat para pemeluk agama baru itu sedang berjuang untuk eksistensinya. Abdur Rahman bin Abu Bakar — putera Abu Bakar — mengatakan kepada ayahnya bahwa di dalam perang Badar, dengan mudah dia mendapat kesempatan membunuh ayahnya. Abu Bakar langsung menjawab bahwa apabila hal itu terjadi pada dirinya dalam menghadapi anaknya, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Abu Bakar meninggal pada 23 Agustus 634 Masehi dalam usia 63 tahun, dan ke-Khalifahannya berlangsung selama dua tahun tiga bulan sebelas hari, jenazahnya dimakamkan di samping makam Nabi.

Pada waktu Nabi wafat, Abu Bakar dipilih menjadi khalifah Islam yang pertama. Setelah terpilih, banyak orang berebut menawarkan ‘bai’at’, Khalifah lalu menyampaikan pidatonya yang mengesankan di hadapan para pemilih.

Abu Bakar berkata : “Saudara-saudara, sekarang aku telah terpilih sebagai Amir, meskipun aku tidak lebih baik dari siapa pun di antara kalian. Bantulah aku apabila aku berada di jalan yang benar, dan perbaikilah aku apabila aku berada di jalan yang salah. Kebenaran adalah suatu kepercayaan; kesalahan adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian akan menjadi kuat bersamaku sampai (Insya Allah) kebenarannya terbukti, dan orang yang kuat di antara kalian akan menjadi lemah bersamaku sampai (Insya Allah) kuambil apa yang menjadi haknya. Patuhilah kepadaku sebagaimana aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika akau tidak mematuhi-Nya dan Rasul-Nya, janganlah sekali-kali kalian patuh kepadaku.”

Abu Bakar berdiri tegak bagaikan batu karang menghadapi kekuatan-kekuatan yang mengacau setelah Nabi wafat. Nampaknya seluruh struktur Islam yang telah diletakkan Nabi yang baru saja mangkat akan hancur berantakan. Namun Abu Bakar sebagai seorang sahabat setia Nabi telah membuktikan dirinya menjadi orang yang kuat memegang teguh pada jalan yang ditunjukkan Nabi. Selama Nabi sakit, satuan tentara yang berkekuatan 700 orang dimobilisir di bawah pimpinan Usama bin Zaid menuntut balas atas kekalahan orang-orang Muslim dari tangan pasukan Romawi. Dan begitu Nabi wafat terjadi pula huru-hara besar di Arab dan teman-teman dekatnya menasehati Khalifah baru agar tidak mengirimkan tentara ke luar Medina pada saat-saat kritis seperti itu. Tapi Abu Bakar tetap pada pendiriannya. Mengenai nasehat itu seandainya dilaksanakan, ia memberikan komentar bahwa dirinya akan menjadi orang terakhir di dunia yang mengubah perintah-perintah Nabi. Pengukuhan Usama sebagai panglima pasukan berkuda yang diangkat Nabi dipimpin langsung oleh Khalifah sendiri. Tentara Usama menyelesaikan tugasnya dalam tempo empat puluh hari. Ekspedisi itu berpengaruh sangat baik terhadap suku-suku bangsa yang mulai membandel dan ragu-ragu tentang kekuatan Islam yang sesungguhnya. Tindakan Abu Bakar yang imajinatif, tepat waktu, dan dinamis, telah menyatukan kekuatan Islam.

Segera Abu Bakar menghadapi krisis yang lain. Waktu Nabi wafat, sejumlah nabi palsu, yaitu para penipu lihai yang muncul di berbagai bagian Arab. Di antara mereka yang terkenal ialah Aswad Asni, Talha Bani Asad, Musailama si Pendusta, dan Sajah seorang wanita Yaman. Di suatu daerah di Zuhl Qassa, Khalifah memberikan sebelas petaka untuk menyamai jumlah komandannya dan menugaskan mereka di berbagai sektor. Ekspedisi melawan Musailama terasa sangat berat dan baru setelah Khlaid bin Walid menggempur dengan dahsyatnya, musuh dapat dihancurkan. Musailama mati terbunuh. Seorang sejarawan bernama Tabrani mengatakan, “Belum pernah Muslimin bertempur sedahsyat pertempuran itu.”

***

Tidak lama setelah pemilihan Khalifah, sejumlah anggota suku mengimbau para pemimpin Islam Medinah agar mereka dibebaskan dari membayar zakat. Keadaan tampaknya begitu suram, sehingga menghadapi masalah itu orang seperti Umar pun terpaksa mengalah dan ia mohon kepada Abu Bakar: “O, Khalifah Rasul, bersikap ramahlah kepada orang-orang ini, dan perlakukanlah mereka dengan lemah lembut.” Khalifah sangat jengkel dengan pameran kelemahan yang tidak disangka-sangka itu, dan dengan amarah yang amat sangat ia menjawab : “Anda begitu keras pada zaman jahiliyyah, tapi sekarang, Anda menjadi begitu lemah. Wahyu Allah telah sempurna dan iman kita telah mencapai kesempurnaan. Sekarang Anda ingin merusakkannya pada saat aku masih hidup. Demi Allah, walau sehelai benang pun yang akan dikurangi dari zakat, aku akan berjuang mempertahankannya dengan semua kekuatan yang ada padaku.”

Dalam sejarahnya, Khalifah Abu Bakar adalah seorang yang memegang teguh pendirian dan integritasnya, berwatak baja. Ia selalu tampil mempertahankan ajaran dasar agama Islam pada saat-saat yang sangat kritis.

Semua ekspedisi militer yang ditujukan terhadap orang-orang yang ingkar kepada agama dan terhadap suku-suku bangsa yang berontak, berakhir dengan sukses menjelang akhir tahun 11 Hijrah. Pemberontakan dan perselisihan yang mencekam Arab dapat ditumpas untuk selama-lamanya.

Di dalam negeri tidak ada pergolakan lagi, tetapi Khlaifah harus menghadapi bahaya dari luar yang pada gilirannya dapat menghancurkan eksistensi Islam. Dua orang raja paling berkuasa di dunia, Kaisar dan kisra, sedang mengintai kesempatan untuk menyerang pusat agama baru itu. Orang-orang Parsi selama berabad-abad memerintah Arab sebagai maharaja, tidak dapat mentolerir setiap kekuatan Arab militan untuk bersatu membentuk kekuatan yang besar. Hurmuz adalah raja Islam yang memerintah Iraq atas naka Kisra. Penganiayaan terhadap orang-orang Arab menimbulkan pemberontakan kecil, tapi lalu berkembang menjadi peperangan berdarah. Kini, keadaan terjadi sebaliknya, orang-orang Persia dengan penuh kecongkakan dan selalu meremehkan kekuatan orang-orang Muslim, akhirnya tidak dapat menahan gelombang maju pasukan Islam, dan mereka harus mundur dari satu tempat ke tempat lainnya sampai Iraq jatuh. Pada mulanya, Muthanna yang memimpin tentara Islam melawan orang-orang Persi. Dia banyak mendapat kemenangan. Kemudian, Khalid bin Walid yang tak terkalahkan dan dikenal sebagai Pedang Allah itu bergabung. Pertempuran yang menentukan melawan Hurmuz dimenangkan orang-orang Muslim, dan saat itulah Hurmuz mati terbunuh di tangan Khalid bin Walid dan orang-orang Parsi dihancurkan dengan meninggalkan banyak korban jiwa. Seekor unta dimuati rantai seberat tujuh setengah maund yang dikumpulkan dari medan tempur, sehingga pertempuran itu dikenal sebagi “Pertempuran Rantai”

Khalid bin Walid ketika menjabat panglima tentara Islam di Iraq memisahkan administrasi sipil dengan militer, masing-masing di bawah beberapa orang kepala. Said bin Noman diangkat sebagai kepala departemen militer, sedangkan Suwaid bin Maqran selaku kepala administrasi sipil dari daerah Iraq yang ditaklukkan. Sebagian besar daerah Iraq direbut selama pemerintah Khalifah Abu Bakar, sedang sisanya ditaklukkan di bawah pemerintahan Umar.

Raja Byzantium, Heraclius, yang menguasai Syria dan Palestina, benar-benar musuh Islam yang paling besar dan paling perkasa. Terus-menerus raja itu bersekongkol dengan musuh-musuh Muslimin untuk menghancurkan Islam. Intrik-intrik dan akal bulusnya menimbulkan beberapa kerusuhan yang dilakukan oleh suku-suku non-Islam di arab. Dialah bahaya laten bagi Islam. Sejak tahun (?) Hijrah, Nabi sendiri telah memimpin tentara melawan orang romawi, dan ekspedisi pimpinan Usama bin Zaid juga ditujukan melawan ancaman musuh yang sama. Lagi, Abu Bakar mengirimkan tentaranya yang terlatih untuk menghadang orang-orang Romawi dan membagi kekuatannya dalam empat pasukan di bawah komando Abu Ubaikdah, Syarjil bin Hasanah, Yazid bin Sofyan dan Amr bin Al-Ash serta menempatkan mereka di berbagai sektor di Syria. Tentara Islam tanpa persenjataan yang baik, tidak terlatih dan rendah mutunya, bukanlah tandingan angkatan perang Romawi. Mereka bersenjata lengkap dan baik, terlatih dan jumlahnya lebih banyak. Khalid diperintahkan Khalifah untuk bergabung dengan pasukan Muslim di Syria dan ia bergerak dengan cepatnya melalui padang pasir gersang untuk menggores babak yang tak terlupakan dalam sejarah operasi militer.

***

Pasukan Islam dan musuh berhadapan di dataran Yarmuk, Tentara Romawi yang hebat itu terdiri dari lebih 3 lakh serdadu bersenjata lengkap, di antaranya 80.000 orang diikat dengan rantai untuk mencegah kemungkinan mundurnya mereka. Tentara Muslim seluruhnya berjumlah 46.000 orang. Sesuai dengan strategi Khalid, mereka dipecah menjadi 40 kontingen untuk memberi kesan seolah-olah mereka lebih besar dari musuh. Pertempuran yang tak terlupakan ini berakhir dengan kekalahan pihak Romawi, dan ketika mengundurkan diri mereka meninggalkan banyak serdadu yang mati di medan tempur. Kemenangan ini menentukan nasib kekuasaan Romawi di Syria. Pertempuran Yarmuk, dengan persiapan-persiapan pendahuluannya yang telah dimulai sejak zaman Khalifah Abu Bakar, dimenangkan pada masa pemerintahan Umar.

Abu Bakar adalah sahabat Nabi yang paling terpercaya. Nabi berkata, “Saya tidak tahu apakah ada orang yang melebihi Abu Bakar dalam kedermawanannya.” Ketika sakit Nabi semakin parah, beliau meminta Abu Bakar menjadi imam dalam shalat. Demikianlah, Abu Bakar mengimami shalat tujuh belas kali selama Nabi hidup.

Nabi berkata: “Saya sudah membayar semua kewajiban saya, kecuali kepada Abu Bakar yang akan mendapatkan ganjarannya pada hari kiamat.”

Menurut Tarmidzi, Umar pernah berkata, “O, Abu Bakar, Anda orang terbaik sesudah Rasul Allah.”

Menurut keterangan imam Ahmad, Ali pernah berkata, “Orang-orang terbaik di antara umat Islam setelah Nabi adalah Abu Bakar dan Umar.”

Para sejarawan dahulu maupun sekarang banyak memberikan pujian mengenai watak dan prestasi Abu Bakar. Dialah salah satu pilar Islam yang kuat, yang sangat membantu dalam menjadikan agama baru itu sebagai suatu kekuatan di dunia, juga sebagai salah seorang tokoh revolusi besar Islam, ia telah menciptakan berbagai perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang paling fundamental dalam sejarah manusia, hanya dalam waktu 30 tahun. Abu Bakar juga salah seorang peletak dasar demokrasi yang sebenarnya di dunia ini, lebih dari 1.400 tahun yang lalu, tapi tak pernah ada lagi setelah itu. Kekuasaan tertinggi negara memang berada di tangan Khalifah, dan waktu itu seorang khalifah adalah juga seorang raja yang sangat kuat. Tapi Abu Bakar berjalan hilir mudik tanpa pengawal ataupun teman. Ia makan makanan yang jelek dan memakai pakaian yang lusuh. Bahkan rakyat awam pun dapat menghubunginya setiap waktu di siang hari, dan menanyakan segala tindakannya secara terbuka.

Di antara orang-orang Islam, Abu Bakar dan Ali yang terkenal pandai berpidato. Suatu ketika Abu Bakar menasehati Khalid bin Walid: “Cobalah jauhi kemegahan, karena kemegahan itu yang akan mengejar Anda. Carilah kematian, maka kehidupan yang akan diberikan kepada Anda.”

Dia perintahkan pembuatan daftar tuntunan moral bagi tingkah laku para prajurit Islam. Tuntunan ini seyogyanya menjadi contoh bagi dunia yang porak poranda karena peperangan. Kepada setiap tentara diperintahkan: “Janganlah melakukan penyelewengan, jangan menipu orang, jangan ingkar kepada atasan, jangan memotong bagian badan manusia, jangan membunuh orang-orang tua, para wanita dan anak-anak, jangan menebang atau membakar pohon buah-buahan, jangan membunuh hewan kecuali disembelih untuk dimakan, jangan menganiaya para pendeta Kristen, dan jangan lupa kepada Allah atas kurnia-Nya yang telah Anda nikmati.” Adalah suatu kewajiban bagi angkatan bersenjata untuk mempertahankan moral yang tinggi. Walaupun dalam keadaan perang, mereka tetap harus menunjukkan rasa hormat kepada manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Setiap penyelewengan dari prinsip-prinsip ini akan diganjar dengan hukuman yang setimpal.

Abu Bakar mengangkat Umar sebagai Qadhi Agung. Tapi rakyat telah terbiasa dengan hidup jujur dan kehidupan sosial mereka begitu bersih dibanding dengan kehidupan immoral zaman sebelum Islam, sehingga tidak ada pengaduan yang disampaikan kepada qadhi selama satu tahun. Adapun Ali, Utsman, dan Zaid bin Tsabit bekerja sebagai Khatib. Kesederhanaan, kejujuran dan integritas Abu Bakar telah bersatu dalam dirinya. Dialah seorang pedagang kaya yang memiliki lebih dari 40.000 dirham tunai ketika memeluk agama Islam, tapi menjadi miskin harta sewaktu wafat sebagai

***

Khalifah satu ini tidak meninggalkan usaha dagangnya ang telah dirintis oleh kakeknya. Tetap saja dia menggotong lembar-lembar kain di atas pundaknya untuk dijual di pasar-pasar Madina. Itu terjadi pada enam bulan sejak ia menjabat sebagai Khalifah. Namun, mengingat tugas-tugas resmi menyita banyak waktu, sehingga tidak ada lagi waktu tersisa untuk pekerjaan pribadi, setelah itu agar ia mau menerima uang tunjangan. Dewan Muslimin menetapkan uang tunjangan dalam status hidup sebagai warga negara biasa. Ia harus memberikan baju-baju usang miliknya untuk ditukarkan dengan yang baru dari Baitul Maal (Perbendaharaan Umum).

Sebelum mendapatkan kedudukan yang agung sebagai Khalifah, ia sudah terbiasa memerah susu kambing milik orang-orang sekampungnya. Suatu ketika, waktu ia sedang berjalan di sebuah jalan di kota Madina, didengarnya seorang anak perempuan berkata, “Sekarang dia sudah jadi Khalifah, dan sejak saat ini dia tidak akan memerah susu kambing-kambing kita lagi.” Sekejap itu juga beliau menjawab, “Tidak anakku, tentu saja saya akan memerah susu sebagaimana biasanya. Saya harap dengan rahmat Allah, kedudukan saya tidak akan mengubah kerja sehari-hari saya.” Ia sangat mencintai anak-anak, dan mereka suka memeluk dan memanggilnya dengan sebutan Baba (Ayah).

Seorang wanita miskin tinggal di luar kot Madina. Sekali-sekali Umar mengunjunginya untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangganya. Itu sudah berlangsung sejak lama. Tapi akhir-akhirnya, setiap kali ia pergi ke sana, kepadanya bahwa seseorang lainnya telah mendahuluinya dalam tugas tersebut. Umar jadi penasaran. Suatu ketika, pagi-pagi sekali, ia mengunjungi rumah orang perempuan miskin itu dan bersembunyi di suatu sudut untuk melihat siapa orangnya yang sering datang pada waktu yang bersamaan itu. Beliau kaget melihat bahwa orang tersebut tidak lain adalah Khalifah sendiri.

Abu Bakar orangnya cermat dalam mengambil uang bantuan dari Baitul Mal. Dia ambil secukupnya saja untuk keperluan hidup minimal setiap hari. Pernah isterinya minta manisan tapi si suami tidak punya uang lebih untuk membelinya. Untung, isterinya punya tabungan beberapa dirham selama dua minggu, yang lalu diberikannya uang itu kepada suaminya untuk membeli manisan. Melihat uang itu, Abu Bakar bilang terus terang kepada isterinya bahwa tabungannya itu telah membuatnya mengambil uang melebihi dari jumlah yang mereka butuhkan. Lalu dikembalikan uang itu kepada Baitul Mal dan dikurangi pengambilan uangnya di masa mendatang.

Abu Bakar senang sekali mengerjakan semua pekerjaan dengan tangannya sendiri, dan tidak pernah mengizinkan siapa pun juga untuk ikut membantu melakukan pekerjaan rumah tangganya. Bahkan seandainya tali kekang untanya terjatuh, ia tidak akan pernah meminta siapa pun untuk mengambilnya. Ia lebih suka turun dri unta dan mengambilnya sendiri.

Apabila di hadapannya ada orang memujinya, dia berkata, “Ya Allah! Engkau lebih tahu akan diriku daripada aku sendiri, dan aku mengetahui diriku sendiri lebih daripada orang-orang ini. Ampunilah dosa-dosaku yang tidak mereka ketahui, dan janganlah mengakibatkan aku bertanggung jawab atas puja-puji mereka itu.”

Abu Bakar dikenal memiliki kebiasaan hidup sangat sederhana. Pada suatu hari, seorang putra mahkota Yaman dalam pakaiannya yang mewah tiba di Madinah. Dilihatnya Abu Bakar hanya mengenakan dua lembar kain warna cokelat, yang selembar menutupi pinggang dan yang selembar lagi menutupi bagian badan lainnya. Putra mahkota itu begitu terharu melihat kesederhanaan Khalifah, sehingga dia juga membuang pakaiannya yang indah itu. Dia berkat, “Di dalam Islam, saya tidak menikmati kepalsuan seperti ini.”

Pada waktu akhir perjalan hidupnya, Abu Bakar bertanya kepada petugas Baitul Mal, berapa jumlah yang telah ia ambil sebagai uang tunjangan. Petugas memberitahu bahwa beliau telah mengambil 6.000 dirham selama dua setengah tahun kekhalifahan. Ia lalu memerintahkan agar tanah miliknya dijual dan seluruh hasilnya diberikan kepada Baitul Mal. Amanatnya sebelum mangkat itu telah dilaksanakan. Dan untuk seekor unta dan sepotong baju seharga seperempat rupee milik pribadinya, ia amanatkan agar diberikan kepada khalifah baru setelah ia meninggal dunia. Ketika barang-barang tersebut dibawa kepada yang berhak, Umar yang baru saja menerima jabatan sebagai khalifah mengeluarkan air mata dan berkata, “Abu Bakar, engkau telah membuat tugas penggantimu menjadi sangat sulit.”

Pada malam sebelum meninggal, Abu Bakar bertanya pada putrinya, Aisyah, berapa jumlah kain yang digunakan sebagai kain kafan Nabi. Aisyah menjawab, “Tiga.” Seketika itu juga ia bilang bahwa dua lembar yang masih melekat di badannya supaya dicuci, sedangkan satu lembar kekurangannya, yaitu lembar ketiga, boleh dibeli. Dengan berurai air mata Aisyah berkata bahwa dia tidaklah sedemikian miskinnya, sehingga tidak mampu membeli kain kafan untuk ayahnya. Khalifah menjawab, kain yang baru lebih berguna bagi orang yang hidup daripada bagi orang meninggal.

Banyak penghargaan yang diberikan kepada Khalifah Abu Bakar tentang kepandaian dan kebaikan hatinya. Baik kawan maupun lawan memuji kesetiaannya kepada agama baru itu, demikian pula watak kesederhanaannya, kejujuran, dan integritas pribadinya. Jurji Zaidan, sejarawan Mesir beragama Kristen menulis : “Zaman khalifah-khalifah yang alim adalah merupakan masa keemasan Islam. Ketika Abu Bakar masuk Islam, ia memiliki 40.000 dirham, jumlah yang sangat besar pada waktu itu, akan tetapi ia habiskan semua, termasuk uang yang diperolehnya dari perdagangan, demi memajukan agama Islam. Ketika wafat, tidaklah ia memiliki apa-apa kecuali uang satu dinar. Ia biasa berjalan kaki ke rumahnya di Sunh, di pinggiran Kota Madinah. Ia juga jarang sekali menunggangi kudanya. Ia datang ke Madinah untuk memimpin sembahyang berjamaah dan kembali ke Sunh di sore hari. Setiap hari Abu Bakar membeli dan menjual domba, dan mempunyai sedikit gembalaan yang sesekali harus ia gembalakan sendiri. Sebelum menjadi khalifah, ia telah terbiasa memerah susu domba milik kabilahnya, sehingga ketika ia menjadi khalifah, seorang budak anak perempuan menyesalkan dombanya tidak ada yang memerah lagi. Abu Bakar kemudian meyakinkan anak perempuan itu bahwa ia akan tetap memerah susu dombanya, dan martabat tidak akan mengubah tingkah lakunya. Sebelum wafat ia memerintahkan menjual sebidang tanah miliknya dan hasil penjualannya dikembalikan kepada masyarakat Muslim sebesar sejumlah uang yang telah ia ambil dari masyarakat sebagai honorarium.”

***

Sumber : alsofwah

Iklan