Kalau Saja Muhammad SAW Menerima…


nabi-muhammad-saw1Kalau Saja Muhammad SAW Menerima…

Oleh Hamim Thohari, redaktur senior Majalah Hidayatullah

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24)

Di awal da’wahnya, selain mendapat tekanan yang sangat keras dari komunitas kafir Quraisy, Rasulullah Shallallaahu `alaihi wa sallam juga mendapatkan tawaran yang menggiurkan. Melalui Abu Thalib, paman sekaligus pelindungnya, para petinggi Quraisy menawarkan tiga hal, yaitu wanita, harta benda, dan kekuasaan. Jika mau, kaum Quraisy bersedia dipimpin Muhammad dengan suka cita.

Tawaran ini ditolak dengan tegas oleh Rasulullah Saw, melalui pernyataannya yang sangat terkenal: “Sekiranya engkau mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, niscaya aku tak akan pernah melepas pekerjaan da’wah ini sampai maut menjemputku.”

Mengapa Rasulullah menolak tawaran kekuasaan, bukankah dengan kekuasaan itu beliau lebih mudah memperbaiki kualitas hidup masyarakatnya, mengenalkan da’wah dan missi perjuangannya? Mengapa beliau tidak menerima jabatan politik yang oleh sebagian besar orang diyakini sangat efektif sebagai sarana perjuangan ideologi? Jawabnya sederhana.

Pertama, beliau hendak meyakinkan kepada kita semua bahwa tujuan da’wah sama sekali bukanlah kekuasaan. Adalah salah besar jika seseorang atau sekelompok orang melakukan da’wah dengan tujuan meraih jabatan politik atau mendapatkan kekuasaan dan kepemimpinan dunia. Kesalahan dalam memahami masalah ini bisa jadi berakibat sangat fatal. Sebagian ada yang mudah frustrasi setelah sekian lama berjuang dan ternyata tak pernah meraih jabatan politik atau kekuasaan apapun. Sebagian lagi malah berbuat nekat dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Tak sedikit yang kemudian menggunakan jalan kekerasan dan menyebarkan kebencian untuk meraih kekuasaan yang telah dijadikan tujuan da’wahnya.

Kedua, bahwa kekuasaan itu tidak bisa dijalankan seorang diri. Rasululah sadar pada saat itu pendukungnya sangat sedikit. Jika ia berkuasa seorang diri, maka tak ubahnya seperti menara gading. Berkuasa tapi tidak bisa berbuat apa-apa, sebab orang-orang yang mengitarinya tak memiliki visi dan misi yang sama. Kekuasaan seperti ini sangat rapuh, mudah diganggu oleh pihak-pihak yang kurang senang atau kurang diuntungkan. Daripada berkuasa kemudian di tengah jalan diturunkan, lebih baik mundur terlebih dahulu.

Bagi Rasulullah, kekuasaan tidak lebih dari alat untuk memperkuat gerakan amar ma’ruf nahi munkar. Jika kekuasaan tidak bisa dimainkan seperti itu, untuk apa harus dipegang? Masih banyak alat lain yang mungkin lebih efektif daripada sekadar kekuasaan.

Ketiga, kekuasaan yang dijalankan oleh seorang diri tidak akan berjalan secara efektif. Kekuasaan seperti ini tidak akan menghasilkan apa-apa, kecuali simbol-simbol pemujaan yang tidak berguna. Rasulullah tak ingin dikultus-individukan, itulah sebabnya beliau bergaul erat dengan kaum lemah dan golongan bawah. Sebagai pemimpin, yang paling utama adalah ditaati, bukan sekadar dipuji. Beliau tidak ingin “dirajakan”.

Kekuasaan itu baru efektif jika dikendalikan oleh sebuah komunitas besar yang mempunyai visi dan platform kerja yang sama. Komunitas itu tak lain adalah sebuah jama’ah. Jika kekuasaan dikendalikan sebuah jama’ah, maka roda kekuasaan akan menggerakkan seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat di dalamnya. Bagaikan mesin arloji, sekali diputar semua komponen mesinnya ikut bergerak. Tidak ada yang diam. Meskipun ada yang harus berputar lebih cepat dan ada pula yang sangat lambat, tapi semuanya bergerak sesuai fungsi dan tugasnya masing-masing.

Betapa banyaknya penguasa di muka bumi yang kekuasaannya sebatas menjadi “raja” tanpa memiliki kendali. Mereka berkuasa tapi tali kendalinya dipegang orang lain. Segala putusan dan kebijakannya ditentukan pihak-pihak yang secara de facto sesungguhnya merekalah yang berkuasa. Penguasa seperti ini tak akan pernah bisa berbuat apa-apa kecuali sekadar memenuhi kehendak kelompok kecil (minoritas) yang mengendalikannya. Penguasa jenis ini tak ada bedanya dengan sapi yang telah dicokok hidungnya.

Keempat, Rasulullah saw menyadari bahwa kekuasaan itu bisa mengantarkan seseorang pada keadaan “lupa diri”. Tanpa kontrol jama’ah yang kuat, besar kemungkinan seseorang yang menduduki jabatan politik atau sedang berkuasa justru memanfaatkan kekuasaannya untuk memperkaya dan memenuhi kepentingannya sendiri. Tanpa kontrol jama’ah, besar kemungkinan seseorang yang memegang kekuasaan menjadi “lepas kendali”.

Kekuasaan itu dapat diibaratkan pisau bermata dua, jika tak pandai menggunakannya bisa jadi pisau itu akan melukai dirinya sendiri. Kekuasaan yang seperti ini, alih-alih memperbaiki masyarakat, malah mencelakakan masyarakat, juga menjerumuskan penguasanya sendiri dalam kehinaan.

Rasulullah Saw dikenal sepanjang zaman sebagai manusia yang arif. Beliau tidak terburu-buru untuk berkuasa walaupun kesempatan untuk itu telah terbuka. Lebih baik meniti kekuasaan dari bawah, merangkak, berjalan pelan-pelan, sampai pada akhirnya harus berlari. Itulah teladan utama yang diwariskan kepada ummatnya. Sayangnya, seringkali ummatnya kurang sabar. Mereka mengira, hari ini berda’wah, besok sudah seribu orang langsung menjadi pengikutnya. Hari ini mendirikan partai, besok langsung menang pemilu.

Muhammad Saw sepanjang hidupnya belum pernah mendeklarasi dirinya sebagai penguasa Madinah hatta seluruh wilayah Madinah telah berada dalam komando kekuasaannya. Demikian pula beliau tidak pernah meproklamirkan dirinya sebagai penguasa jazirah arab, walaupun wilayah kekuasaannya sudah menjangkau seluruh jazirah arab, tanpa kecuali.

Konsep ini berintikan pelajaran politik kepada ummat manusia, bahwa untuk berkuasa tidak perlu berebut atau memperebutkan. Sebab dalam Islam, kekuasaan bukan hak monopoli pribadi, akan tetapi adalah hak jama’i. Oleh karenanya, jika mayoritas rakyat telah menjadi jama’ah, komunitas yang memiliki kesamaan ideologi, fikrah, manhaj, standar-standar akhlaq dan cita-cita yang sama, maka kekuasaan itu dengan sendirinya akan beralih kepada jama’ah tersebut.

Justeru perjuangan yang paling berat adalah menyiapkan masyarakat menjadi sebuah jama’ah. Itulah yang dilakukan Nabi Saw selama di Makkah, dan itu pula yang dilakukannya selama di Madinah. Pada masa masa itulah keringat tak berhenti mengucur dari anggota tubuh. Air mata hampir tak pernah kering. Demikian pula dengan tetesan darah. Itulah saat-saat berat, tapi sangat menentukan.

Ketika jama’ah sudah mapan, maka datang kemenangan secara nyata. Kemenangan itu secara jelas digambarkan Allah untuk masyarakat manapun yang istiqamah membangun jama’ah, seperti di ayat Al-Quran yang mengawali tulisan ini.

***

Dari: Ummu Ja’far

hidayatullah.com

Iklan