Motor Tua


motor tuaMotor Tua

Dengan riang kulangkahkan kaki memasuki pekarangan rumah. Ah, cukup lama aku meninggalkan orang-orang yang kucintai. Langkahku terhenti, pandanganku tertumbuk pada sebuah motor tua. 20 tahun yang lalu motor itu sangat berarti. Allah menyatukan hati papa, mama, aku dan adik-adik (kami 4 bersaudara) lewat kendaraan bekas yang sekarang sudah dipenuhi debu dan karat itu. Sebagai pegawai negeri biasa dengan ekonomi pas-pasan, papa dan mama hanya bisa mencicil sebuah motor sebagai sarana transportasi kami sekeluarga. Waktu itu aku berusia 5 tahun, adikku no 2 berusia 3 tahun, no 3 berusia 2 tahun dan adik bungsuku berusia kira-kira 5 bulan. Kalau kedua orang tuaku pergi, kami semua pasti dibawa.. tentu saja dengan motor tua itu.

Sejenak, senyumku mengembang seiring memori yang tetap mengalunkan kenangan indah. Urutan-urutan di motor itu adalah : adikku no.2 di depan sekali (di tank bensin), papa (sebagai rider), adikku no.3, aku dan terakhir mama duduk miring ke satu arah dengan menggendong adik bungsuku yang masih bayi. Aku juga ga habis pikir kenapa bisa muat dan kenapa orang tuaku begitu berani ? Tapi sudahlah, semua sudah berlalu dan aku sedang menikmati kebersamaan kami ketika itu.

Hal yang paling bertahan dalam ingatanku adalah ketika tiba-tiba hujan turun, papa segera menepikan motornya, kami semua diturunkan karena mantel hujan tersimpan di bawah sadel. Mantel dikeluarkan .. kemudian kami kembali menempati posisi dan masuk ke dalam mantel. Mantel satu dipakai ramai-ramai. Pemandangan yang tadinya indah mendadak gelap gulita tapi tawa canda tetap mewarnai perjalanan hingga tempat tujuan.

Namun… perjalanan hidup tidak selamanya bahagia. Di suatu sore, dalam keadaan kurang sehat papa pulang ke rumah untuk istirahat. Namun di perjalanan papa tidak sempat mengelakkan segerombolan sapi yang melintas dan menabrak salah satunya. Papa terpental dari motor dan mengalami patah kaki. Otomatis, kebersamaan di motor tua terhenti untuk sementara waktu. Terasa ada yang lain.. kami merindukan kehangatan berdesakan di motor tua (tak terasa air mataku mengalir)..

Betapa bersyukurnya aku dikarunia keluarga yang hidup pas-pasan oleh Allah. Kenangan ini menjadi milikku… belum tentu dimiliki oleh orang lain. Kebahagiaan dan kebersamaan keluargaku dibangun di atas motor tua. Antara percaya dan tidak, tapi aku yakin motor itu jadi salah satu sarana kehangatan aku dan keluarga hingga sekarang. Dengan menyusut air mata, kulangkahkan kaki menuju pintu dan subhaanallaah… suara orang tua dan adik-adik riuh rendah menyambut kedatanganku… Betapa hangatnya cinta-Mu ya Allah. Ijinkan aku untuk selalu ingin memiliki cinta ini…dalam sabar dan syukurku…

Ayo sobat, bangkitkan kenangan indah beserta anggota keluarga. Janganlah sesekali menyesali kondisi keluarga. Insya Allah kebahagiaan dan semangat akan selalu mewarnai hidup kita. Jangan lupa bersyukur kepada Allah dan berterimakasih kepada orang-orang yang berjasa kepada kita.

***

(Diambil dari http://www.eramuslim.com)

Iklan