Hidup Bertetangga


TETANGGA-OH-TETANGGAHidup Bertetangga

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS An Nisaa’ 4: 36)

Salah satu nikmat dalam hidup adalah bagaimana rukun dengan tetangga. Kita harus menyikapi setiap tetangga dengan sikap terbaik. Kelebihannya kita syukuri sehingga mampu mendatangkan manfaat. Kekurangannya harus menjadi ladang amal bagi kita, mereka harus dibantu sehingga menjadi lebih baik hidupnya. Kita pun harus senang untuk melupakan jasa & kebaikan, merasa lebih, ingin dihargai, ingin dihormati, ingin dipuji. Meakin kita banyak berharap dari tetangga, akan banyak terluka hati ini. Merdekakan diri ini dengan banyak berbuat, bukan banyak berharap dari tetangga kita.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Hak tetangga ialah, bila dia sakit, kamu kunjungi. Bila wafat, kamu mengantarkan jenazahnya. Bila dia membutuhkan uang, maka kamu pinjami. Dan bila mengalami kesukaran/kemiskinan, maka jangan dibeberkan, aib-aibnya kamu tutup-tutupi dan rahasiakan. Bila dia memperoleh kebaikan, maka kita turut bersuka cita dan mengucapkan selamat kepadanya. Dan bila menghadapi musibah, kamu datang untuk menyampaikan rasa duka. Jangan sengaja meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya, lalu menutup jalan udaranya (kelancaran angin baginya). Dan janganlah kamu mengganggunya dengan bau masakan, kecuali kamu menciduknya dan memberikan kepadanya.”

Kalau kita punya tetangga kaya  dan sukses, jangan iri hati dan jangan suka mengintip. Belajarlah senang dengan kesuksesan orang. “Alhamdulillah, dia ternyata sekarang dititipi rizki. Mudah-mudahan barokah, mudah-mudahan bisa banyak manfaat.” Anaknya lulus dan dapat kerjaan, alhamdulillah. Anak tetangga dapat jodoh, alhamdulillah. Insya Allah, kita akan bahagia terus.

Jika kita jadi orang kaya namun tinggal di lingkungan perumahan sederhana, kemudian bikin rumah lima lantai sendiri tapi di sekelilingnya gubuk, tentu bisa menimbulkan sakit hati. Usahakan kalau kita punya rumah jangan sampai terlalu menyolok, membuat orang lain dengki. Seperti kata Rasul, jangan sampai menutupi cahaya, kecuali kalau mereka ridha. Kalau tidak, berikan kompensasi yang memadai. Pokoknya jangan berbuat yang membuat tetanga tidak suka kepada kita.

***

Diambil dari artikel Refleksi Republika

Iklan