Takabur


sombongTakabur

Salah satu penyakit yang bisa merusak tatanan sosial ialah sikap takabur yang artinya angkuh, sombong, atau menganggap orang lain tidak berharga apabila dibandingkan dengan dirinya. Sikap ini selain bertentangan dengan konsep persamaan dan kehambaan manusia di hadapan Allah, juga menghalangi pembudayaan untuk menghargai lingkungan, Hak Asasi Manusia, dan demokrasi.

Penyakit takabur pada intinya berhubungan dengan dua hal. Pertama, takabur terhadap Allah. Ketakaburan jenis ini membawa penyakit sosial berupa menyepelekan, bahkan penolakan terhadap fungsi dan eksistensi agama dalam masyarakat. Orang tersebut menganggap agama seolah-olah penghalang modernisasi dan kemajuan. Perwujudannya dalam masyarakat adalah selalu bersikap apriori terhadap nilai dan aturan yang diserukan agama. Mereka beranggapan punya aturan sendiri yang dianggap lebih baik. Mereka merasa menjadi hina untuk melakukan pengabdian kepada Allah SWT. Alquran menyebutkan: ”Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menghambakan diri kepada-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina,” (QS Al-Mukmin [40]: 11).

Kedua, takabur terhadap sesama manusia. Ketakaburan jenis ini bersifat langsung berupa perilaku sosial yang merusak iklim kebersamaan. Sikap yang paling menonjol adalah sikap penghinaan dan menganggap remeh pendapat serta kerja orang lain, gampang menilai orang lain tidak punya kemampuan, cepat marah apabila ada yang menyaingi, iri, dengki, bahkan dendam terhadap orang lain yang memperoleh kelebihan dan kesempatan. Rasulullah saw menggambarkan dalam sabdanya: ”Takabur itu menolak kebenaran dan menghina hak-hak manusia,” (HR Muslim).

Di antara sebab-sebab paling berbahaya yang membawa orang pada sikap takabur ialah karena merasa memiliki kekuatan dan pengaruh di masyarakat. Wujud takabur ini macam-macam, mulai dari perilaku sombong, memaksakan kehendak, sampai kepada fenomena kediktatoran dan ”Fir’aunisme” di berbagai dimensi pergaulan masyarakat. Ini semua bermula dari sikap merasa paling unggul dalam kekuatan maupun pengaruh.

Islam mendorong umatnya untuk memiliki kekuatan dan pengaruh selama digunakan untuk menolong dan memberi perlindungan terhadap orang yang lemah. Tapi, di lain pihak, dalam Alquran Allah memuji sikap rendah hati melalui firman-Nya: ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat Kami, mereka bersujud dan bertasbih serta memuji Tuhan. Mereka tidak menyombongkan diri,” (QS As-Sajdah [32]: 15).

Dalam pergaulan berbangsa dan bernegara, kita memerlukan keluhuran jiwa untuk berendah hati satu sama lain, terlebih pada saat prihatin sekarang ini. Kesombongan dan ketakaburan hanya akan membuat bangsa kita terantuk pada kesulitan yang berkepanjangan. Sebaliknya rendah hati dan saling menghargai dan sudi bekerja sama akan memudahkan langkah untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitan.

***

Sumber dari Sahabat

Iklan