Tak Mudah Mengendalikan Lidah


ghibahTak Mudah Mengendalikan Lidah

Qori tak menyangka kalau omongannya berbuah petaka. Ibu usia empat puluhan ini akhirnya harus rela suaminya ditangkap polisi lantaran membacok tetangga sendiri. Peristiwa itu bermula ketika warga Semarang ini terus-menerus mengadu ke suaminya. “Saya dipelototin Heri, Mas,” begitu ucapannya. Di luar dugaan, suami Qori tega membacok kepala tetangganya itu.

Begitulah lidah ketika kita lengah. Tak jarang, hanya karena ucapan, antar kampung bisa saling tarung, antar negara bisa adu senjata. Luka karena lidah bahkan lebih parah dari senjata. Untuk beberapa waktu, lukanya tidak tampak. Luka itu terpendam dalam hati. Bagaikan benih, luka itu tumbuh, membesar, dan menjalar. Suatu saat, luka itu akan keluar dan memperlihatkan keganasannya. Mungkin, si empunya lidah tak menyangka kalau luka yang ditorehkan bisa begitu dalam dan menganga. Siapa menyangka kalau gurauan bisa berbuntut pada bunuh-bunuhan.

Kehatian-hatian dengan gurauan menjadi keharusan buat seorang mukmin. Karena, gurauan yang terkesan ringan bisa bermakna besar buat seseorang. Walaupun cuma panggil-panggilan sebutan, timbangannya lumayan besar di sisi Allah.

Allah swt berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 11, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Betapa kasihan tubuh ini jika harus menuai cela lantaran lidah. Kasihan, karena hanya sebab lidah, kebaikan anggota tubuh lain terhapus sia-sia. Mata tak lagi merasakan kemuliaannya yang letih bergadang di jalan Allah. Tangan yang begitu cekatan menolong orang, tak lagi mendapat penghargaan yang selayaknya. Kaki yang lelah mengantar tubuh berjuang di jalan Allah tak lagi menuai berkah. Di dunia cela, di akhirat menderita siksa.

Itulah mungkin kenapa Rasulullah saw memberikan jaminan surga buat mereka yang sukses menjaga dua anggota tubuh: kemaluan dan lidah. Dari Sahal bin Sa’ad, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa berani memberi jaminan kepadaku atas selamatnya apa yang ada di antara tulang mulutnya dan apa yang ada di antara kedua pahanya, maka aku berani memberi jaminan surga kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tingkat keburukan, kemuliaan, kecerdasan, dan kebijaksanaan seseorang bisa dilihat dari ucapannya. Peliharalah lidah. Latih ia dengan alur kerja yang rapi, bersih, berbobot, dan punya nilai. Jika tidak, akan selalu jatuh korban karena liarnya lidah. Sirami dan ingatkan lidah Anda dengan bacaan Al-Quran setiap hari.

***

(Diambil dari kolom Taujih majalah Saksi)

Iklan