Dimana Maqam kita?


sufi 14Dimana Maqam Kita?

Bismillaahir-rahmaanir-rahiim

Sahabat,

Sesungguhnya Rasulullah saw sampai pada maqam yang istimewa di sisi Allah adalah setelah melalui tahapan yang berterusan lewat fikir dan pengorbanannya. Ketinggian derajatnya tidak semata-mata karunia yang Allah berikan begitu saja. Dan tanpa keduanya, yakni fikir dan pengorbanannya, Allah tak akan buat keputusan untuk menurunkan hidayah yang bercurah-curah; Sehingga tidak ada seorangpun yang duduk di dekatnya (pada hari akhir hayatnya), kecuali dia menyaksikan manusia berbondong-bondong masuk kepada agama-Nya, Islam.

Sebagaimana Rasulullah saw, seperti itu pula sahabat-sahabatnya. Mereka mencapai derajat yang tinggi dengan fikir dan pengorbanan mereka. Dalam membantu Rasulullah saw, fikir mereka adalah sedemikian rupa sehingga mereka merasa suka hati untuk mengorbankan nyawa mereka pada saat-saat diperlukan. Fikir dan pengorbanan mereka adalah demi tegaknya kalimah Allah. Fikir harian mereka adalah bagaimana setiap karunia yang Allah berikan kepada mereka berupa harta, diri dan masa dapat dikembalikan kepada-Nya dengan sebaik-baik pengembalian. Dan pengorbanan mereka yang luar biasa adalah wujud dari apa yang mereka fikirkan.

Penggambaran “hayatush-shahabah” seringkali sedemikian rupa sehingga kita seakan berada di sisi mereka. Kita terbawa dalam duka-lara saat membaca riwayat kesusahan dan kepedihan mereka dalam menegakkan agama. Kita juga tak kuasa menyembunyikan kepiluan hati saat mendengar riwayat pengabdian yang sarat dengan kesulitan dalam perjuangan mereka. Kita juga tak dapat menahan airmata yang gugur ketika menonton adegan ulang kisah penderitaan mereka di jalan Allah.

Bila demikian keadaannya, lalu dimana maqam kita? Dan bila dibandingkan dengan para sahabat Rasulullah, setinggi apa derajat kita di sisi Allah? Apakah kita menyangka bahwa cara yang kita lakukan hari ini akan dapat ‘mendongkrak’ derajat kita kepada suatu kemuliaan? Sungguh ini suatu sangka baik yang belum diletakkan pada tempatnya.

Adalah kita ingin mencapai derajat kemuliaan sebagaimana yang telah mereka raih dengan cara menulis. Sebagian lagi dengan cara membuat adegan ulang (seperti tayangan tv dan sejenisnya). Sebagian yang lain dengan cara membaca buku (bahkan sambil berbaring atau mengunyah nyamikan). Sebagian lain dengan cara mendiskusikannya, membuat seminar atau yang serupa dengan itu. Ternyata kita ingin mencapai derajat mereka dengan cara kita sendiri yang senang dan mudah, tanpa mujahadah sebagaimana yang mereka contohkan.

Lewat sirahnya, sesungguhnya Rasulullah saw mengajarkan kita cara terbaik untuk dapat sampai kepada maqam tertinggi. Bila hari ini kita mengaku bahwa kita sedang mengikuti Rasulullah dan para sahabatnya, yang sebenarnya adalah bahwa kita baru mengambil pelajaran dari yang tersurat saja. Barangkali kecerdasan kita sudah tertutup oleh kebodohan yang berlapis sehingga kita masih gagal untuk mengambil pelajaran yang tersirat. Bila kita malu mengakuinya demikian, hal itu sudah cukup membuktikan kebodohan kita sendiri.

Kita tidak lagi mengetahui bahwa dakwah adalah kewajiban setiap individu bagi ummat ini. Artinya adalah bila seseorang tidak buat dakwah (sekurangnya niat untuk dakwah) maka dia ada diluar jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Padahal karena dakwahlah akan timbul berbagai ujian yang sesungguhnya yang sangat berat buat ummat ini. Asbab dakwahlah maka timbul kesusahan dan kesulitan yang sebenarnya. Asbab dakwahlah maka ada gelar kehormatan syahid (atau syuhada) yang tertinggi di sisi Allah.

Bila kita menulis tentang dakwah, barangkali kita termasuk sedang dakwah, akan tetapi berapa kadar kesulitannya dibandingkan dengan dakwah yang menjadikan kita berhadapan dengan orang seperti Abu Jahal dan Abu Lahab? Bila kita menulis tentang dakwah, barangkali kita termasuk sedang dakwah, akan tetapi berapa kesan kesusahan yang kita dapatkan dibandingkan dengan dakwah yang menjadikan kita berhadapan dengan kondisi yang penuh dengan penderitaan seperti yang dialami oleh Rasulullah saw dan sahabatnya?

Maka yang terbaik bagi kita adalah selain menulis, kita juga dapat melapangkan masa untuk bergerak kepada mereka yang awam yang jauh dari kemampuan menjangkau tulisan. Selain membaca, kita juga masih punya waktu khusus untuk berjalan kepada saudara kita di sekitar kita. Selain waktu yang kita habiskan di depan komputer ini, kita juga menginfakkan waktu kita untuk menjumpai manusia di alam nyata dan mengajak mereka kepada Allah.

Bila kita mulai bergerak kepada manusia, maka tidak seorangpun yang meminta kesulitan di jalan-Nya. Bila dakwah kita diterima orang lain dengan baik, maka kita mesti menyakininya bahwa hal itu adalah semata karunia Allah swt. Akan tetapi bila kita mendapat kesulitan di dalamnya, maka kita mesti bersyukur karena kita telah mendapatkan sunnah nabi di sana. Padahal setiap kesulitan yang kita temui di jalan dakwah tidak akan memberi kecuali semakin meninggikan derajat kita di sisi Allah. Dengan cara seperti inilah kita bina maqam kita sendiri ke derajat yang paling tinggi di sisi Allah. Subhanallah.

***

Dari: Abi Subhan

Iklan