Dan Berbahagialah ‘Ukasyah


rasullullah-saw-muhammad-bin-abdullah3Dan Berbahagialah ‘Ukasyah

Setelah peristiwa Haji Wada’ kesehatan Rasulullah Saw memang menurun. Islam telah sempurna, tak akan ada lagi wahyu yang turun. Semula, kaum muslimin bergembira dengan hal ini. Hingga Abu Bakar mendesirkan angin kematian Rasulullah. Sahabat terdekat ini menyatakan bahwa kepergian kekasih Allah akan segera tiba.

Mesjid penuh sesak. Semua berkumpul setelah Bilal memanggil kaum muslimin dengan suara adzan. Setelah mengimami shalat, nabi berdiri dengan anggun di atas mimbar. Selanjutnya Nabi bertanya. “Duhai sahabat, kalian tahu umurku tak akan lagi panjang, Siapakah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil kisas, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang”. Semua yang hadir terdiam, semua mata menatap lekat Nabi yang terlihat lemah. Melihat semua membisu, nabi mengulangi lagi ucapannya lebih keras. Hingga ucapan yang ketiga kali, seorang laki-laki berdiri menuju Nabi. Dialah ‘Ukasyah.

“Ya Rasul Allah, Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung samping ku” ucap ‘Ukasyah. Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah Fatimah. Dengan langkah berat dan keengganan yang amat sangat, Bilal mengambil cambuk dan menyerahkannya kepada Rasulullah. Masjid seketika mendengung seperti sarang lebah.

Sekonyong-konyong melompatlah dua sosok dari barisan terdepan, melesat maju. Dialah Abu Bakar dan Umar Ibn Khattab. Gemetar mereka berkata: “Hai ‘Ukasyah, pukullah kami berdua, sesuka yang kau dera. Pilihlah bagian manapun yang paling kau ingin, kisaslah kami, jangan sekali-kali engkau pukul Rasul”. Namun Nabi memberi perintah secara tegas, “Duduklah kalian sahabatku, Allah telah mengetahui kedudukan kalian”. Ke dua sahabat itu lemah sangsai, langkahnya surut menuju tempat semula. Mereka pandangi sosok ‘Ukasyah dengan pandangan memohon. ‘Ukasyah tidak bergeming.

Masjid kembali ditelan senyap. Banyak jantung yang berdegup kian cepat, menahan nafas. ‘Ukasyah tetap tegap menghadap Nabi. Kini tak ada lagi yang berdiri ingin menghalangi ‘Ukasyah mengambil kisas. “Wahai ‘Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil kisas, inilah Ragaku,” Nabi selangkah maju mendekatinya. Berkata ‘Ukasyah: “Ya Rasul Allah, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang menghalangi lecutan cambuk itu”. Tanpa berbicara, Nabi langsung melepaskan gamisnya yang telah memudar. Dan tersingkaplah tubuh Rasulullah. Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis pedih.

Melihat tegap badan manusia yang di maksum itu, ‘Ukasyah langsung menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi. Sepenuh cinta direngkuhnya Nabi… ‘Ukasyah berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu, “?Ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati mengkisas manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka”. Dengan tersenyum, Nabi berkata: “Ketahuilah duhai manusia, sesiapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini”. Pekikan takbir menggema kembali. “Duhai, ‘Ukasyah berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian pasti, bergembiralah engkau, karena kelak engkau menjadi salah satu yang menemani Rasul di surga”.

***

Sahabat, indah nian pabila kita dapat berjumpa dengan kekasih Allah di surga. ‘Ukasyah mencari setiap celah kesempatan agar dapat merengkuh anugerah ini. Lalu, seperti apakah usaha kita? Astagfirullahaladziimmm, tak berani saya membandingkan jejak kehidupan saya dengan kemilau ‘Ukasyah.

Ya Allah….

diri ini tidak layak ke surgamu

Namun, tidak jua

aku sanggup ke neraka Mu

Semoga ku kan selamat

Dunia akhirat

Seperti Rasul dan Sahabat

***

(Diambil dari artikel http://www.eramuslim.com)

Iklan