Istiqomah


istiqomahIstiqomah

Oleh : Aus. Hidayat Nur

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 11:112)”

Seorang sahabat Nabi, Sofyan bin Abdullah Ats Tsaqafi mendatangi Rasulullah Shollallahu Alahi Wa Sallam kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, katakan kepadaku satu ajaran Islam yang aku tidak perlu lagi aku menanyakannya kepada yang lain selain kepada dirimu? Rasulullah Shollallahu Alahi Wa Sallam menjawab, “Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah kemudian bersikap istiqomahlah!”

Itulah untaian hadits yang amat sederhana yang dapat kita jumpai di dalam Kitab Hadits Al Arbain yang disusun oleh Imam An Nawawie. Hadits itu menjadi salah satu sember ajaran Islam yang sangat penting yaitu istiqomah. Apakah istiqomah itu? Istiqomah seringkali diartikan konsisten dan konsekuen pada kebenaran. Artinya Anda tetap pada sikap dan pendirian atau amal ketaatan Anda yang berlandaskan keimanan dengan penuh keikhlasan, tanpa tergoda untuk surut karena rayuan nafsu dan bujukan duniawi yang ada.

Manakala Islam telah menjadi pilihan untuk menjadi pedoman hidup kita, jangan dikira persoalan sudah selesai, masih banyak ujian dan cobaan untuk memastikan sejauh mana kebenaran iman yang kita miliki itu. Kehidupan kita dipenuhi dengan berbagai godaan, bujukan dan rayuan yang dapat memalingkan kita dari jalan Allah. Godaan ini datang dari berbagai arah, sangat indah menarik dan menggairahkan. Dia dapat terjadi dimanapun kita berada, di rumah, sekolah, kantor, di jalan, di maal-maal tempat berbelanja.

Kadang-kadang hati kita tertipu kerena menganggap godaan tersebut dapat diatasi dengan segera sehingga kita pun bersedia berlalai-lalai. Namun ternyata ketika kita lepas dari jalur kebenaran, terasa semakin mengasyikkan dan mungkin hawanafsu pribadi berkata, “Biarlah untuk kali ini, tokh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”……Setelah itu godaan datang lagi, lama kelamaan kita sering terjatuh kemudian lebih sering, kemudian menjadi amat sering bermaksiat. Kemudian seringkali kita pun lupa apakah perbuatan ini termasuk larangan Allah, termasuk sesuatu yang dibenci Allah? Nauzubillah.

Orang yang istiqomah bagaikan batu karang di tengah lautan, semakin kokoh dan kuat meskipun menghadapi hantaman ombak yang terus menerus menerpa. Atau seperti pohon yang terus menerus tumbuh di tengah hembusan angin dan ganasnya alam sekitar. Tiap hari ada saja daunnya yang jatuh berguguran, namun daun rontok itu ternyata dapat dijadikan pupuk yang bermanfaat. Pada akhirnya pohon itu akan memberikan buah yang bermanfaat kepada manusia kendatipun sebelumnya dia harus menderita.

Demikian juga orang yang istiqomah dengan iman dan amal salehnya, dia mungkin menghadapi gangguan, ejekan, celaan dari orang lain, tapi dia terus saja melaksanakan amal kebaikannya. Sebaliknya kaum kafir dan munafikin menjadi batu penguji orang-orang beriman dalam meneguhkan kepribadian mereka. Mereka selalu menggangu, mengejek, dan mencela baik dengan diam-diam atau pun terang-terangan. Ini digambarkan dalam ayat berikut ini :

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang beriman berlalu dihadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila  orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan : “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat” (QS. 83:29-32)

Istiqomah akan menjadi lebih kokoh dan kuat manakala dilakukan oleh satu komunitas yang beriman kepada Allah dan selalu tetap pada pendirian mereka. Mereka senantiasa bejuang di jalan Allah dengan penuh kesetian dan pengorbanan dengan tanpa mempedulikan segala bentuk resiko dalam perjuangan mereka. Di dalam Al-Quran dikatakan bahwa mereka yang mengatakan “Robbunallah” (Kami beriman kepada Allah) kemudian beristiqomah, Allah akan menurunkan kepadanya Malaikat yang memberikan jaminan kebahagian di Dunia dan Akhirat.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. 41:30)”

Bentuk perjuangan komunitas yang istiqomah ini telah banyak di contohkan oleh Kitabullah. Seperti misalnya sikap heroisme para pemuda yang berjihad menentang kezaliman seorang raja. mereka tidak setuju dengan pendirian mayoritas bangsanya yang menyimpang dari ajaran Tawhidullah. Mereka berhimpun utuk menumbangkan kezaliman penguasa yang membawa manusia pada jalan kesesatan. Di tengah masyarakatnya yang terseret arus jahiliyyah yaitu kemusyikan yang dipelopori Raja Zhalim Dekianus, Para pemuda Kahfi tetap istiqomah. Mereka tidak ikut-ikutan mengakui Tuhan-tuhan yang disembah Dekianus dan rakyatnya. Kerena itu mereka dianggap musuh negara, subvesif, dan harus dihukum. Namun mereka bersembunyi kerena tuntunan dakwah masih memerlukan tenaga mereka. Untuk menunjukan tanda kekuasaan-Nya Allah menidurkan mereka. Ketika bangun ternyata masyarakat yang zhalim beserta pemimpinnya itu telah tiada dan tinggal sejarah saja (QS. 18 Al Kahfi: 13-14)

Secara umum, para ulama membedakan Istiqomah dalam beberapa jenis, tergantung keadaan orang yang menghadapi ujian dan cobaan:

  1. Istiqomah dalam Keimanan: Yaitu senantiasa menjadikan Iman sebagai dasar kehidupan   meskipun harus menghadapi resiko yang menghadang. Iman tidak dilepaskan hingga akhir hayat. Inilah istiqomah yang dicontohkan para Nabi dan Rasul dalam perjuangan dakwah mereka.
  2. Istiqomah dalam Ibadat: Yaitu tetap memelihara ibadat-ibadat yang difardhukan atau pun yang disunnatkan dengan menunaikan hak-hak Allah untuk mencapai khusyu dalam ibadah. Rasulullah Shollallahu Alahi Wa Sallam  pernah menyatakan “Khoirul umuurihi adwaamaha wa-in qolla” (Sebaik-baik amal itu adalah yang berkesinambungan kendati pun sedikit). Istiqomah dalam ibadat ini membuat seorang hamba Allah dicintai Allah dan Allah senantiasa dekat kepadanya.
  3. Istiqomah dalam Muamalah: Yaitu selalu menjalankan prinsip-prinsip syariat dalam hubungan interaksi antar manusia. Dalam berjual beli, perdagangan, dalam berorganisasi, dalam gaul, senantiasa menjalankan missi dan membangun masyarakat Islam.
  4. Istiqomah dalam Akhlaqul Karimah: Yaitu tetap memelihara dan menjaga kepribadian dan budipekerti serta sopan santun islam di tengah pergaulan hidup sehari-hari. Tidak mengikuti perilaku dan kebiasaan orang-orang yang kufur kendati pun masyarakat di sekitarnya sudah menganggap perbuatan tersebut sesuatu yang wajar.
  5. Istiqomah dalam Perjuangan: Yaitu senantiasa melakukan dakwah dan amar makruf nahi munkar, memperjuangkan nilai-nilai ajaran islam di tengah kehidupan masyarakat meskipun datang aneka ragam ujian dalam bentuk ancaman dan permusuhan dari berbagai lawan.

***

Sumber : Marhamah; 592 Tahun XIII 1424 / 2003 M

 

Iklan