Kekasihku Mendekatkan Aku Pada Tuhan


tahajjudKekasihku Mendekatkan Aku Pada Tuhan

Oleh: Ningsih

Malam semakin beranjak tinggi, gelap telah sempurna mewarnai seluruh lagit, walau bintang bertaburan, namun tidak jua mampu mengusir gelapnya malam. Afwan, mengetuk pintu rumahnya sedikit keras, tapi sepertinya tidak ada yang handak membukakan pintu. Berkali-kali-kali ucapan salam ia lontarkan, Namun tak ada sahutan dari dalam. “Ehm…Mungkin sudah tidur” guman afwan dalam hati.

Afwan segera merogoh, sela-sela jendela rumahnya. ” Alhamdulillah, ini dia kuncinya”. Ucapnya bersyukur. Segera ia buka pintu dan masuk ke dalamnya. Ia dapati , Syifa istrinya tertidur pulas. Sejenak ia terpana, kemudian di dekati dan dipandanginya wajah istrinya. Gurat-gurat lelah tampak memenuhi wajahnya. “Maafkan aku Dik. Kesibukanku dalam da’wah, membuat aku sering mengabaikanmu. Terima kasih telah menjadi istri yang baik , terima kasih atas dukungan yang selalu kau berikan dalam setiap langkah da’wahku. Maaf, bila aku belum dapat menjadi seorang suami yang baik.” Dialog Afwan dalam hati.

Afwan, merasa begitu bersyukur, mendapatkan istri seorang Syifa, yang mendukung penuh aktifitas da’wahnya. Sehingga ia lebih bersemangat melaksanakan kewajibannya untuk beramar ma’ruf nahi munkar.

Suami atau istri merupakan salah satu sisi kehidupan kita manusia, bahkan merupakan orang yang paling dekat dengannya. Dengan pasangannyalah manusia dapat berbagi rasa, bercerita tentang suka cita atau duka cita. Mereka akan berusaha bersama-sama menyelesaikan permasalahan kehidupan yang kerap kali menyinggahi mereka. Mereka akan berusaha menjadikan rumah tangganya dipenuhi oleh harum semerbaknya bunga kebahagiaan. Karena sesungguhnya, kebahagiaan rumah tangga adalah sisi kebahagiaan terpenting dalam kehidupan manusia. Mereka akan berusaha menjadikan rumah tangga mereka sebagai sarana untuk menggapai ridho Tuhannya.

Sebelum menikah, barangkali agama dalam diri sang istri atau suami belum terurus. Maka dengan menikah, akan ada kerja sama untuk saling menjaga agar agama dalam diri keduanya tidaklah merosot. Alangkah indahnya jika masing-masing dapat membantu teman hidupnya untuk memperbaiki agamanya. Mereka membantu dengan penuh kelembutan dan kelapangan hati.

Suami istri bisa saling membantu untuk memperbaiki agama mereka. Mereka bisa mengajarkan apa-apa yang tidak diketahui pasangannya . Mereka bisa saling mengingatkan. Di sinilah ada ladang amal shalih bagi keduanya, ketika tingkatan ilmu agama mereka sederajat maupun salah satu dari mereka lebih tinggi.

Rasulullah pernah berkata “Allah merahmati seseorang yang bangun pada malam hari lalu menunaikan sholat. Dia bangunkan istrinya, dan jika istri enggan, maka dia percikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam hari untuk menunaikan sholat. Dia bangunkan suaminya, dan apabila suaminya enggan, maka ia percikkan air ke wajahnya (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah).

Jika sebelum menikah jiwa sulit terjaga dan mata sangat berat untuk memicing mudah-mudahan setelah menikah ada perbaikan. Paling tidak bisa lebih bangun lebh awal. dan jika sebelum menikah bisa bangun malam, mudah-mudahan kecantikan istri tidak menjadikan kaki berat untuk melangkah. Berdampingan dengan istri yang cantik dan sangat kita cintai memang menyenangkan hati. Adalah perjuangan berat untuk bisa merenggangkan jarak selama beberapa saat diantara malam gelap dan dingin.

Islam memerintahkan kepada suami dan istri untuk melestarikan mahligai pernikahannya, memupuk rasa cinta cinta dan mempererat ikatan kasih diantara mereka, sampai saat yang dikehendaki oleh Allah atau sampai tiba ajla mereka. Oleh karena itu, prinsip-prinsip dan nasihat-nasihat sama-sama ditujukan kepada suami dan istri pada tingkat yang sama. Masing-masing di tuntut untuk memperlakukan pasangannya dengan baik.

Allah memerintahkan seorang suami untuk berperilaku baik serta lembut kepada sang istri yaitu dengan memberi nasihat bila keliru, berbicara dengan baik, tidak memberi beban berat kepada istri dalam mengurus diri dan anak-anaknya, tidak menelantarkan nafkah nya, menyediakan keperluan istri untuk meningkatkan ilmu dan intelektualnya, dan lain-lain hal yang bermanfaat bagi kehidupan agama istri. Demikian juga istri terhadap suaminya, ia harus melayani kebutuhan suaminya dengan penuh ketulusan, mengurus anak-anak suami, memelihara harta dan martabat suami, dan memenuhi kepentingan lain suaminya yang bermanfaat bagi kehidupan keluarga.

Suami juga diperintahkan untuk bersabar. Termasuk bersabar disini adalah tidak menari-cari kekurangan istrinya dan mengambil hikmah dari apa yang tidak disenanginya. Hal ini perlu sebab adakalanya suatu hal yang tidak disenangi oleh suami dari istri justru merupakan kunci kebaikan bagi pasangan tersebut. Misalnya, istri memiliki sifat cerewet. Sifat sering membuat suami sebal. Akan tetapi, adakalanya sifat cerewet ini bermanfaat bagi suami karena bisa menjadi pengontrol terhadap kelalaian suami. Dan Allah pun berfirman: “…………….Dan bergaulah dengan mereka secara baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah), karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Q.S. An- nisaa’ : 19)

Demikianlah, sebelumnya manusia adalah seorang diri, kemudian Allah takdirkan manusia saling berpasang-pasangan, agar terjalin cinta kasih diantara mereka. Dengan energi cinta itulah manusia dapat saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Semoga anda dan istri anda merupakan pasangan yang saling memberikan motivasi untuk kebaikan dunia dan akhirat anda. Amin (nsh)

***

Referensi :

  • Mencapai Pernikahan Barakah, M. Fauzil Adhim.1998
  • Petunjuk Pernikahan dalam Islam, M. Thalib
Iklan