Jaga Mulut


tertawa 1Jaga Mulut

Luqman Alhakim adalah seorang budak hitam. Bibirnya tebal, dan kedua kakinya melekuk, sehingga kalau berjalan tampak lucu. Meskipun demikian, dia seorang yang arif bijaksana. Luqman tidak pernah berperilaku buruk, bahkan dalam ucapannya. Apa yang keluar dari kedua bibirnya adalah kebijaksanaan. Ia tidak pernah mengucapkan sesuatu pun, kecuali hal-hal yang mulia, penuh makna dan hikmah, serta berguna. Allah mengabadikan namanya di dalam Alquran sebagai salah satu teladan umat manusia.

Suatu kali tuannya menyuruh Luqman agar menyembelih beberapa ekor kambing untuk sebuah keperluan. ”Luqman, coba ambilkan untukku dua bagian yang terbaik dari daging-daging itu,” kata tuannya. Sejurus kemudian Luqman datang dan menyerahkan potongan hati dan lidah.

”Sekarang, ambilkan untukku bagian yang terburuknya,” pinta tuannya lagi. Luqman bergegas, dan sejenak kemudian datang. Namun, lagi-lagi ia menyerahkan potongan hati dan lidah. ”Apa maksudmu dengan ini semua, Luqman? Mengapa yang terbaik dan terburuk sama bentuknya?” tanya sang tuan keheranan.

”Tuan, jika kedua bagian ini sudah baik, tidak ada lagi yang lebih baik dari keduanya. Sebaliknya, jika kedua bagian ini sudah buruk, tidak ada lagi yang lebih buruk dibandingkan dengan keduanya,” jawab Luqman.

Tentang mulut, Nabi saw seringkali mewanti-wanti agar menjaganya dengan sungguh-sungguh karena ia paling berpotensi mencelakakan kita. ”Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berbicaralah hanya yang baik-baik. Jika tidak sanggup, sebaiknya diam.” Sabda beliau di kali yang lain, ”Cukuplah seorang menjadi penduduk neraka, ketika ia tidak bisa menjaga lisannya.” Berkenaan dengan itu pula, Ali bin Abi Talib berkata, ”Berbahagialah orang yang bisa menahan kelebihan mulutnya dan menginfakkan kelebihan hartanya”.

***

Diambil dari kolom Hikmah Republika

Iklan