Menyiasiati Rapuhnya Kemauan


Reciting-QuranMenyiasiati Rapuhnya Kemauan

Lemahnya kemauan sering membuat orang enggan berbuat kebaikan, padahal manfaat dan maslahat terpulang pada dirinya. Mengapa ini sering terjadi?

Siapa yang tak kenal Salman al-Farisi? Sahabat Rasul berkebangsaan Persia ini menempuh perjalanan panjang dan rintangan berat demi menjemput hidayah. Berbagai dera siksa telah dirasainya. Keluarga yang dikasihinya rela ia tinggalkan. Lebih dari itu, ia juga telah mengecap derita menjadi budak yang diperjual belikan. Usahanya tak sia-sia, ketika akhirnya ia tiba di Madinah dan bertemu Rasulullah saw. Keimanan dan hidayah yang diperolehnya berhasil memupus duka dan kepedihan yang telah ia jalani. Strateginya yang brilian dengan cara menggali parit, atas izin Allah, sukses melindungi Madinah dari serangan pasukan koalisi kaum Musyrikin dan Yahudi dalam perang Ahzab.

Salman adalah contoh nyata sebuah perjuangan gigih menggapai hidayah. Fitrah dan nuraninya yang jernih mendambakan petunjuk yang dapat dipakainya dalam hidup. Amat wajar, jika ia mendapat anugerah dari Rasulullah saw sebagai bagian dari keluarga Rasul. Ia menjadi contoh tentang semangat dan tekad yang membaja dalam menemukan kebenaran.

Dalam kenyataan sehari-hari, berbagai godaan memang datang silih berganti memenuhi ruang benak setiap Muslim. Sering terjadi, kemauan begitu lemah sehingga enggan berbuat demi kemaslahatan diri sendiri, di dunia ataupun di akhirat. Lemahnya kemauan itu, dilatari oleh kekeliruan dalam menyikapi tipu daya syetan. Dalam rangka pencerahan tekad dan kemauan ini, Ustadz Abdullah Abdul Aziz al-Idan dalam “Man yamna’uka min al-hidayah” , menguraikan enam pandangan yang layak diresapi oleh setiap Mukmin dalam rangka mengokohkan kemauan dan membajakan tekad untuk bersama menjemput hidayah Allah.

Pertama, penting ditegaskan tentang urgensi kebertahapan jiwa (tadarruj), dengan memulai dari amal shalih yang sedikit tapi kontinu. Ibnul Qayyim, seorang ulama yang banyak menulis tentang masalah-masalah ruhiyah, menjelaskan fenomena ini dalam Ighatsah al-Lahfaan (I/183-184). Menurutnya, syetan ingin menjatuhkan manusia pada satu dari dua sisi. Di satu sisi, ia begitu semangat sehingga bernafsu melakukan banyak hal sehingga ia tak sanggup lagi lalu berhenti. Di sisi lain, ia menganggap enteng sehingga hanya melakukan sedikit amal.

Seorang ulama pernah mengungkapkan, “Allah tidak memerintahkan suatu urusan, kecuali syetan mempunyai dua jalan untuk menggoda: sikap berlaku kurang dan lalai, atau melampaui batas dan berlebih-lebihan.”

Kedua, keinginan dan tekad kuat itu hanya datang dari dalam diri, bukan dari luar. Ia harus menggunakan waktunya dengan penuh semangat betapapun sulit dan buruk situasi dihadapinya. Ia harus dalam tujuan baiknya untuk istiqamah, berdakwah dan menebar manfaat bagi diri dan umat. Bukan malah terbuai dalam angan-angan menanti masa depan yang tak pasti.

Ketiga, harus disadari bahwa “barang dagangan” Allah itu mahal (Ash-Shaff:10-11). Setelah menyadarinya, akan terasa ringanlah berbagai kepayahan dan kesulitan yang dirasakan dalam mengerjakan ketaatan. Rasulullah saw dan para sahabat ra telah memberi teladan perjuangan dalam menegakkan agama, dengan pengorbanan waktu, kesungguhan dan harta, mulai dari menuntut ilmu, mengamalkannya, dan sabar mendakwahkannya. “Ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah sorga,” (HR Tirmidzi No. 2374).

Keempat, hendaknya kita renungkan kondisi orang-orang kafir dan penganut ajaran dan pemikiran sesat. Mereka berjuang habis-habisan dalam kebatilan, tapi tak beroleh ganjaran di akhirat. Sebaliknya, orang Mukmin pasti mendapat ganjaran atas usaha dan perjuangannya. Menghindari kemaksiatan dan kemungkaran hanyalah sebuah pengorbanan kecil dibanding ganjaran sorga yang akan diperoleh.

Kelima, setiap Mukmin yang ikhlas dan bertekad kuat dalam melaksanakan sunnah Rasulullah saw dan amal shalih, pasti mendapat pertolongan dan petunjuk dari Allah SWT (QS al-Ankabut: 69). Problema yang sering dihadapi oleh umat Islam, mereka ingin berbuat yang besar tapi melupakan yang kecil. Ini adalah kekeliruan besar dalam pendidikan. Semestinya, ia memulai dari yang kecil agar dapat melaksanakan yang besar. Seperti ungkapan seorang ulama, “Siapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, Allah akan menganugrahkan kepadanya pengetahuan terhadap sesuatu yang tak ia ketahui.”

Keenam, doa adalah senjata Mukmin yang amat efektif. Doa adalah otaknya ibadah, sabda Rasul saw (HR Tirmidzi No. 3293). Seorang yang bertekad dengan sungguh-sungguh dan ikhlas memperbaiki diri, hendaknya memperbanyak doa dan kepasrahan kepada Allah. Diriwayatkan bahwa kaum salaf berdoa kepada Allah dalam setiap kebutuhan mereka, bahkan garam untuk makanan mereka sekalipun. Orang yang mengharapkan istiqamah, petunjuk dan keteguhan hati dalam kebenaran, tentu sangat memerlukan doa. Apalagi di zaman ini yang penuh dengan sebab-sebab futur (lemahnya semangat ketaatan), kelalaian dan penyimpangan. Rasulullah saw mengajarkan doa, “Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agama-Mu,” (HR Tirmidzi No.2066).

Berbagai pemahaman ini diharapkan membantu kita mengokohkan kemauan dan semangat yang terkadang lemah dan rapuh. Sebab, dengan memahami tinggi dan mulianya tujuan dapat membantu mengokohkan semangat untuk berbuat dan terus berbuat. Bi idzinillah.

***

Dari Sahabat: M. Nurkholis Ridwan

Iklan