Ingin Nyaman Di Rumah? Ciptakan Suasana Itu Bersama!


keluarga-muslimIngin Nyaman Di Rumah? Ciptakan Suasana Itu Bersama!

Bagaimana perasaan anda, jika pas tiba di rumah setelah tugas kantor cukup lama di luar kota, keadaan rumah berantakan, anak-anak rewel, dan penampilan isteri compang-camping? Pasti perasaan anda kesal setengah mati. Bayangan semula bahwa setelah pulang bisa beristirahat, disambut hangat istri, bisa bercengkerama dengan anak-anak, kontan buyar. Rasa penat setelah perjalanan jauh bukannya hilang, bahkan tambah capek. Soalnya pikiran ruwet, membuat fisik kian lesu tak bersemangat. Sebaliknya hati jadi panas. Emosi gampang meledak. Itu barangkali ekses dari suasana di dalam rumah yang tidak nyaman.

Jika ketidaknyamanan suasana seperti ini kerap terjadi, jelas sangat mengancam kelangsungan kehidupan rumah tangga pasangan suami-isteri (pasutri). Ini bukan persoalan sepele. Sebab dia menyangkut fondasi bangunan keluarga. Fondasi itu tidak boleh dibiarkan mengalami erosi karena persoalan-persoalan seperti di atas.

Patut dicatat bahwa pada banyak kasus, untuk menghindari ketidaknyamanan suasana di rumah, kebanyakan pria tak jarang mengambil jalan penyelesaian pintas. Keluar rumah dan cari tempat istirahat yang tenang. Entah itu rumah teman atau tempat penginapan lainnya. Atau dia keluar ke tempat-tempat hiburan untuk menghilangkan pikiran yang suntuk. Bila ini yang terjadi, sangat beresiko. Soalnya, mencari ketenangan, khususnya bagi pria yang telah berkeluarga, akan berkonotasi dia perlu “pendamping alternatif” untuk tempat pelampiasan uneg-uneg atau tempat pelepas beban pikirannya. Entah bersifat sementara atau permanen.

Apa yang terjadi selanjutnya, bila seorang suami merasa rumah tidak bisa lagi dijadikan tempatnya beristirahat? Andalah yang bisa menjawabnya. Tapi tentu saja, persoalan itu tidak bisa semata-mata menuding isteri sebagai penyebabnya. Dengan kata lain, suami seharusnya tidak mendramatisir persoalan itu sebagai kesalahan istrinya. Karena suami juga punya kewajiban ikut bertanggung jawab menciptakan kenyamanan di dalam rumahnya. Secara bersama, para pasutri sebetulnya bisa mengantisipasi bakal terjadinya kasus-kasus gawat yang akan melanda kehidupan rumah tangga mereka.

Kasus seorang suami yang pulang dari tugas di tempat jauh misalnya, sebetulnya bisa diatur kepulangannya. Sehingga saat ia pulang, keadaan rumah rapi dan para anggota keluarga menyambutnya dengan hangat. Hal darurat lainnya adalah, isteri jangan sekali-kali mengizinkan orang lain (tamu wanita tentunya) menginap di rumahnya selama suami tidak di rumah. Soalnya ini bisa mengganggu kebebasan bercengkerama suaminya dengan anggota keluarga, khususnya dengan dirinya.

Ini artinya, seorang suami/ayah akan lebih baik bila tidak pulang dengan cara dadakan, sehingga orang rumah tidak melakukan persiapan. Karena itu perlu ada komunikasi dan koordinasi dengan isteri sebelum seorang suami pulang setelah dari bepergian jauh dalam waktu lama.

Sebagai suami, kita sebetulnya bisa mengkomunikasikan dan mengatur jadwal waktu kepulangan kita dengan isteri kita. Mau malam atau siang, termasuk juga jam kepulangan. Pukul berapa kira-kira waktu yang kondusif bagi kita sampai di rumah.

Jika kita menghendaki agenda kencan dengan isteri setelah tiba di rumah, toh semuanya bisa diatur. Kalau jadwal kepulangan kita malam hari, kita bisa kontak istri agar menyediakan air panas untuk mandi malam kita misalnya. Atau kita minta pada isteri agar dimasakkan makanan kesukaan kita. Atau misalnya, kita bisa minta pada isteri agar anak-anak di rumah dimandikan dan memakai pakaian yang rapi, karena ayah mereka sebentar lagi datang. Bukankah semua itu bisa dikomunikasikan dan direkayasa?

Setelah lama bepergian, wajar jika muncul kekangenan seorang ayah pada anggota keluarganya. Selain tentunya, kerinduan ingin berkencan dengan sang isteri. Ini perasaan manusiawi yang ada pada diri setiap orang. Seorang sahabat bernama Jabir bin Abdullah, ra juga pernah mengalami perasaan serupa. Di bawah ini cuplikan kisahnya.

Jabir bin Abdullah, ra berkata; “Suatu hari kami pulang dari peperangan bersama Nabi saw. Aku bergegas mempercepat untaku yang semula berjalan lambat. Tapi tiba-tiba seorang pengendara menyusul dari belakang dan mendorong bagian belakang untaku dengan tongkat yang dibawanya. Lalu untaku menjadi unta paling cepat yang pernah kami lihat. Ternyata orang itu adalah Rasulullah saw.

“Apa yang membuatmu tergesa-gesa,” tanya Rasulullah saw.

“Aku belum lama menikah,” jawabku.

“Gadis atau janda?” tanya beliau lagi.

“Janda,” jawabku.

“Mengapa tidak dengan gadis sehingga kamu bisa bersenda gurau dengannya?” lanjut beliau.

Ketika kami hampir sampai, beliau saw berkata; “Jangan tergesa-gesa. Usahakan menemui keluarga di malam hari (ketika hari sudah gelap). Supaya mereka menyisir rambutnya yang lusuh dan menyiapkan diri (untuk menyambut kedatangan suaminya), setelah ditinggal pergi.” (HR Bukhori)

Hadits di atas mengisyaratkan dengan gamblang, agar seorang suami yang ingin bercumbu dengan isterinya setelah bepergian jauh, untuk memberikan waktu kepada si isteri bersolek. Agar penampilan isteri segar ketika menyambut sang suami yang sudah kangen berat. Secara umum riwayat di atas juga mengajarkan, bahwa hendaknya isteri selalu berpenampilan rapi dan selalu “ready” jika diajak bercumbu dengan suaminya.

Persoalannya, bagaimana jika isteri selalu sibuk dengan pekerjaan di rumah seharian penuh sehingga tidak fresh menghadapi suaminya pada malam hari? Itu pun merupakan persoalan yang sebetulnya bisa didiskusikan dengan suami. Jika persoalan rutin isteri adalah kesibukan pekerjaan rumah tangga, kenapa suami tidak mencarikan pembantu untuk meringankan beban pekerjaan rutin sang isteri? Andaikan anggaran untuk menggaji pembantu juga belum ada? Maka suami seharusnya bisa turun tangan untuk sementara waktu ikut meringankan beban pekerjaan isterinya.

Walhasil, tidak ada persoalan besar, jika masalahnya didiskusikan dan dipecahkan bersama. Sebaliknya tidak ada persoalan yang ringan, jika hal itu dibiarkan berlarut-larut tanpa ada penyelesaian. Jadi saling berkomunikasi antara pasutri itu penting dan wajib, agar bahtera rumah-tangga kita tetap bisa berlayar walaupun diterpa berbagai badai cobaan. Wallahu a’lam.

***

Diambil dari eramuslim

(sulthoni)

Iklan