Memelihara Diri dari Kezaliman


quran-tasbihMemelihara Diri dari Kezaliman

”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-Nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat biji zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-Nya pula.” (QS. Al-Zalzalah:7-8)

Dari ayat di atas, maka dapat kita ambil hikmah. Betapa Allah SWT telah mengajarkan kepada manusia agar bersikap peka, meski terhadap hal yang teramat kecil sekalipun. Memang, sesungguhnya Islam sangat menekankan agar kita memperhatikan hal-hal kecil bahkan detail dalam hidup kita. Saudaraku, kepekaan memang sudah selayaknya terasah dalam setiap gerak langkah hidup kita. Sudah saatnya kita kita perhatikan, jangan-jangan sikap, perilaku, tindakan, atau kata-kata kita menzalimi orang lain.

Banyak di antara manusia yang kurang menyadari bahwa dirinya kerap kali berlaku zalim terhadap sesamanya. Hal ini terjadi sekurang-kurangnya disebabkan oleh dua alasan.

1. Kita kurang memiliki tingkat kepekaan yang bagus ketika hendak melakukan sesuatu.

Dalam bertindak seringkali tidak diawali dengan pertimbangan, apakah orang lain akan terlukai perasaannya atau tidak dengan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan kita itu? Atau sekurang-kurangnya apakah orang lain bisa memaklumi tindakan kita atau tidak?

2. Kita hanya memahami gambaran tentang makna kata ‘zalim’ atau ‘aniaya’ itu dalam konteks yang lebih besar.

Misalnya, ketika Belanda dan Jepang menjajah tanah air, maka didapati kenyataan sejarah bahwa rakyat Indonesia ketika itu telah dizalimi oleh kaum penjajah. Sejarah pun telah mencatat tindakan raja Fir’aun yang amat sewenang-wenang terhadap rakyatnya, sehingga dia dikenal sebagai penguasa yang zalim. Demikian pun media massa sering menyampaikan informasi betapa rakyat kecil berada dalam posisi teraniaya karena tanah dan rumahnya telah dirampas dan digusur oleh pihak lain.

Nah, di sisi lain kita mungkin sudah seharusnya menyadari bahwa kezaliman pun bisa terjadi dalam hal-hal kecil pada kehidupan kita. Misalnya, suatu ketika kita masuk ke kamar mandi lalu secara tidak sengaja kita menyenggol sikat gigi milik teman sehingga terlempar ke lubang kloset. Mungkin kita hanya akan mengambilnya, lalu disimpan kembali di tempat semula tanpa dicuci terlebih dahulu. Apalah jadinya jika kemudian si empunya sikat gigi tersebut memakainya. Tentu, secara tidak langsung kita sebagai orang yang tahu, telah membiarkan sikat gigi kotor itu digunakan.

Di sinilah sebenarnya tingkat kepekaan kita diuji. Adakah dengan tindakan kita seperti itu lantas orang lain tidak merasa dizalimi? Atau kita mengira ia bisa memakluminya, karena toh kita memang tidak sengaja. Padahal, tidakkah kita menyadari bahwa perilaku seperti itu sebenarnya tindakan zalim juga? Suatu tindakan yang sebenarnya akan potensial sekali menghalangi datangnya pertolongan Allah. Hendaknya hal-hal yang tampaknya sepele ini tidak lagi menjadi bagian dari perilaku kita jika memang kita ingin semakin dekat kepada Allah.

Tidak heran kalau sahabat Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib ketika mengajak para laki-laki muslim untuk berperang di jalan Allah, beliau terlebih dahulu bertanya, ”Bagaimana kalau ada pihak musuh yang menyerah? Apa yang akan engkau lakukan?”

Seseorang spontan menjawab, ”Habisi saja!”

Kemudian Ali bin Abi Thalib berkata dengan tegas, ”Kalau begitu engkau jangan ikut bertempur!”

Mengapa Ali bin Abi Thalib melarang? Sebab orang tersebut masih memiliki bibit-bibit zalim yang bisa mengakibatkan tidak akan datangnya pertolongan Allah, karena pertempuran tersebut bersatu dengan kezaliman. Bagaimana mungkin berjihad di jalan Allah seraya ada kezaliman di dalamnya kendati mungkin hanya dilakukan oleh satu orang saja?

Dalam kisah lain, kita pun masih ingat ketika Ali bin Abi Thalib bertarung mati-matian menghadapi lawan dalam suatu peperangan. Pada saat musuhnya berhasil dilumpuhkan dan hendak beliau tebas dengan pedangnya, tiba-tiba si musuh tersebut meludahi wajah Ali. Lalu dengan serta-merta beliau mengurungkan serangan pedangnya.

Tentu saja, melihat sikap Ali tersebut sang musuh menjadi heran, lalu bertanya, ”Mengapa engkau tidak jadi membunuhku, hai Ali?”

Ali bin Abi Thalib menjawab, ”Karena aku khawatir apabila aku jadi membunuhmu itu bukan karena Allah, melainkan karena kebencianku akibat engkau meludahi mukaku!” Subhanallah, begitu luhur dan mulianya motivasi beliau berperang. Bebas dari kezaliman.

Semoga Allah melindungi kita dari perilaku mengabaikan hal-hal yang tampak sepele. Mudah-mudahan kita dapat mengikuti teladan Rasulullah, yang selalu memperhatikan hal-hal yang tampak kecil, yang menyebabkan beliau menjadi pribadi besar sepanjang zaman. Wallahu a’lam.

***

(Diambil dari tulisan Aa Gym, kolom Refleksi Republika)

Iklan