Tawakal kepada Allah


bekerjaTawakal kepada Allah

Oleh : Ustadz Diaudin

Tawakal artinya mempercayakan, sedangkan yang dimaksud tawakal kepada Allah berarti mempercayakan kepada Allah dalam urusan yang seharusnya kita tangani kemudian kita pasrahkan kepada Allah untuk menanganinya. Tawakal kepada Allah artinya mempercayakan kepada Allah untuk menentukan suatu ketentuan yang mana kita percayakan pada Allah bahwa ketentuan itu adalah ketentuan yang terbaik buat kita karena kita tidak mengetahui apa yang hendak kita capai ini apakah dampaknya positif bagi kita ataukah dampaknya negatif.

Ada contoh sahabat nabi yang bernama Ta’labah yang bertujuan ingin menjadi orang kaya dan apabila ia kaya maka ia merencanakan untuk beribadah serius kepada Allah akan tetapi setelah yang diingininya tercapai namun setelah kaya ternyata Ta’labah semakin jauh kepada Allah bahkan ia tidak berbibadah kepada Allah lagi.

Ini menunjukkan kadang-kadang apa yang hendak kita capai setelah tercapai bisa jadi berdampak negatif pada diri kita oleh karena itu setiap kita hendak mencapai suatu apa yang kita capai maka sebaiknya dipercayakan kepada Allah untuk menentukannya apakah nanti tercapai apa yang kita capai ataukah digagalkan oleh Allah sebab kita tidak mengetahui dampak positif dan dampak negatifnya setelah kita mencapai segala sesuatu itu.

Allah berfirman dalam QS Al Baqarah 216 ….Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui

Boleh jadi keingininan kita umpamanya ingin menjadi orang kaya dan disukai oleh kita bisa jadi itu sebenarnya tidak baik buat kita. Yang tahu yang terbaik cuma Allah, oleh karena itu jika kita hendak mencapai sesuatu yang akan kita capai haruslah kita bertawakal kepada Allah mempercayakan kepada Allah untuk menentukan sebaiknya apa yang hendak kita capai itu tercapai ataukah gagal sebab Allah Yang Maha Mengetahui. Bisa jadi yang hendak kita capai telah tercapai berdampak negatif maka tentunya Allah akan menggagalkannya kalau kita bertawakal kepadaNya. Kalau kita mempercayakan Allah untuk menentukannya mana yang terbaik buat kita. Itulah tawakal kepada Allah.

Muncul pertanyaan buat kita, kapan tawakal itu dibicarakan dan dipikirkan dan kapan tawakal dimasukkan kedalam hati sebagai prinsip ? Kita tidak boleh membicarakan dan memikirkan tawakal kalau masih dalam proses ikhtiar sebab kalau kita membicarakan dan memikirkan tawakal maka tawakal tersebut akan membunuh ide-ide, inisiatif, kreatifitas pikir solutif, daya semangat juang kita untuk mencapai sesuatu olehkarena itu kita harus menempatkan tawakal pada tempatnya. Jika salah menempatkan maka akan sangat fatal akibatnya.

Kapan tawakal itu bisa dibicarakan dan dipikirkan? Ada seseorang yang datang pada Nabi Saw dan bertanya: Ya Nabi apakah saya harus lepas untaku dan kemudian aku bertawakal kepada Allah ataukah saya ikat untaku kemudian aku bertawakal kepada Allah ?

Nabi Saw menjawab ikatlah untamu itu kemudian baru bertawakal kepada Allah. Hadist ini memberikan isyarat bahwa menempatkan tawakal setelah ikhtiar maksimal. Jika ikhtiar itu sudah maksimal baru boleh kemudian berpikir tawakal. Janganlah ikhtiar belum maksimal kita sudah berpikir tawakal.

Kalau misalnya dalam mencapai sesuatu kemudian kita menemui persolan dan kita berusaha untuk menghadapi persoalan tsb dan persoalan tsb umpamanya sangat sulit untuk diatasinya Kalau seandainya disaat demikian kemudian terpikir oleh kita untuk bertawakal kepada Allah maka tawakalnya akan membunuh kreatifitas solutif kita, tawakalnya akan membunuh kreatifitas pikir kita untuk mencari solusi untuk menghadapi persoalan yang dihadapinya dan kalau sudah demikian fatal akibatnya. Olehkarena itu kalau kita berbicara tawakal bicaralah setelah ikhtiar maksimal kalau kita berpikir tawakal pikirkanlah tawakal itu setelah ikhtiar maksimal setelah usaha maksimal. Disaat kita menjalankan suatu usaha pikirkanlah masalah usaha itu fokuskanlah pikiran kita kepada usaha itu jangan sampai dimasuki pikiran tawakal karena tawakal tempatnya bukan dalam proses usaha tetapi tawakal tempatnya adalah setelah ikhtiar maksimal.

Kemudian juga muncul pertanyaan kapan tawakal dimasukkan dalam hati sebagai prinsip. Tawakal dimasukkan dalam hati sebagai prinsip ditegaskan dalam firman Allah QS Al Imran 159 ……Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya.

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad (berazam, merencanakan perencanaaan yang sudah matang) untuk dilaksanakan maka setelah punya rencana yang matang dan siap untuk dilaksanakan maka masukkanlah dalam hati prinsip bertawakal kepada Allah. Tawakal dimasukkan dalam hati sebagai prinsip setelah adanya rencana yang matang dari kita yang siap untuk dilaksanakan. Sebab jika manusia sudah punya rencana yang matang yang siap dilaksanakan apabila hatinya telah diisi prinsip tawakal kepada Allah maka bisa diwujudkan dalam usaha yang telah matang tadi maka umpamanya diakhirnya kemudian gagal maka hati telah terisi dengan prinsip tawakal kepada Allah. Kalau hamba itu telah menemui suatu kegagalan setelah punya rencana yang matang dan akhirnya gagal maka kemanusiaan hamba tidak akan kecewa. Kemanusiaan hamba ia tidak bisa menerima tentang kegagalan tersebut kemanusiaan hamba akan protes akan kegagalan tersebut tetapi kegagalan yang diterima oleh manusia dimana kemanusiaannya protes dimana kemanusiaannya tidak bisa menerima dimana kemanusiaannya tersebut bergejolak menolak kenyataan kegagalannya, tetapi gejolak kemanusiaan tersebut tidak bisa mempengaruhi hati karena hati telah diisi dengan prinsip bertawakal kepada Allah. Maka kalau hati sudah tidak bisa dipengaruhi oleh reaksi dari kemanusiaannya atas kegagalannya maka hati tersebut akan tetap bersih disisi Allah Swt. Dan kalau hati sudah punya prinsip bertawakal kepada Allah maka kekuatan hati bisa mengalahkan seluruh diri manusia termasuk seluruh kemanusiaan manusia maka gejolak protes kemanusiaan manusia dinetralisir oleh prinsip bertawakal kepada Allah yang ada dalam hati. Maka begitu kemanusiaan itu kecewa maka kekecewaannya itu dinetralisir oleh prinsip yang ada dalam hati yang berupa tawakal kepada Allah maka hilanglah kekecewaan hamba sebab karena hati telaah diisi dengan prinsip bertawakal kepada Allah maka bahagialah hidup manusia walaupun ia menemui kegagalan.

Jika sudah demikian maka kegagalan yang dialami oleh manusia tidak akan membawa tekanan dalam hatinya sehingga tidak akan mendatangkan stress karena hati telah diisi dengan prinsip tawakal kepada Allah maka prinsip tawakal kepada Allah yang ada dalam hati diantaranya secara duniawiyahnya akan menetralisir stress kemanusiaan

Oleh karena itu jika kita menginginkan kebahagiaan dunia akhirat diantaranya harus berprinsip dengan prinsip agama termasuk didalamnya adalah bertawakal kepada Allah.

Melalui tasawuf kita mensucikan hati yang sesuci- sucinya untuk mencapai kedekatan diri pada Allah sedekat-dekatnya sampai seakan-akan menyatu dengan diri Allah Swt

Kalau di hati kita ada prinsip bertawakal maka begitu yang kita ingini tidak tercapai yang mana kemanusiaan kita tidak ridho takdir Allah tersebut tetapi hati kita bisa menerima takdir Allah tersebut. Kalau seandainya hati kita tidak diisi dengan prinsip tawakal kepada Allah begitu kemanusiaan kita menolak tidak bisa menerima takdir Allah yang berupa kegagalan maka dia akhirnya akan mempengaruhi hati kita dan akhirnya hati kita juga turut menolaknya. Maka hati kita menjadi tidak ridho atas takdir Allah jika hati tidak ridho akan takdir Allah maka kotorlah hati kita dan Allah tidak senang terhadap hati hambanya yang tidak ridho atas takdir Allah.

Berdasarkan sabda Nabi Saw “Barangsiapa yang tidak ridho terhadap keputusanKu dan kekuasaanKu maka hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku”.

Begitu kerasnya Allah memperingati hambanya seandainya hambaNya tidak ridho akan takdir Allah tentu Allah benci kepada hambaNya yang hatinya tidak ridho atas takdir Allah dan kalau Allah benci kepada hambaNya karena hatinya ada kekotoran maka sulit kita untuk bisa dekat kepada Allah. Untuk menjadi hamba yang dekat kepada Allah jangan sampai Allah benci kepada kita, tetapi yang dikejar adalah Allah cinta kepada kita.

Karena itu kalau kita berusaha untuk bertasawuf maka tawakal tidak bisa ditawar lagi harus tertanam dihati kita sebagai prinsip dalam merencanakan suatu rencana yang harus kita capai masukkanlah tawakal dalam hati kita

Dengan bertawakal kepada Allah semua takdir yang ditakdirkan kepada kita maka hati akan ridho menerimanya dan kalau hati sudah ridho menerimanya maka Allah tidak murka kepada hambaNya tapi cintai kepada hambaNya.

Allah berfirman dalam Al Imron 159 “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertawakal”

Allah cinta kepada hambaNya yang bertawakal tetapi tawakalnya bukan cuma ada dipikirannya tawakalnya bukan cuma dibicarakan tetapi tawakalnya masuk dalam hati sebagai prinsip.

Keistimewaan tawakal tercantum dalam QS At Talaq 3 ……..Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya

Allah akan mencukupi kebutuhan kita baik kebutuhan lahiriah maupun kebutuhan batiniah Karena Allah mencukupi kita maka itu adalah hak Allah kita tidak boleh intervensi akan hak Allah tersebut. Silahkan Allah yang menentukan kapan Allah akan mencukupkan kebutuhan kita tersebut. Bisa jadi saat sekarang kita bertawakal kepada Allah tetapi Allah mencukupi kebutuhan kita di lain waktu sesuai dengan situasi dan kondisi yangada pada diri kita. Dan yang paling penting bila kita tawakal kepada Allah maka diakhiratnya kita akan dicukupi kebutuhannya oleh Allah maka tempatnya tidak ada lain kecuali syurga karena syurga lah tempat dimana seluruh kebutuhan tercukupi sedangkan neraka adalah suatu tempat dimana kebutuhan tidak tercukupi oleh Allah. Jika kita bertawakal maka pastilah kita akan masuk syurga. Oleh karena itu orang yang bertasawuf yang dikejar adalah mencapai kedekatan diri kepada Allah diantaranya dengan bertawakal kepada Allah. Yang paling penting penting adalah tawakal dimasukkan dalam diri kita sebagai prinsip dan waktu memasukkan sebagai prinsip setelah kita punya rencana yang sudah matang yang siap untuk dilaksanakan. Dengan kita bertawakala kepad Allah akhirnya hati kita akan selamat dari tidak ridho atas takdir Allah karena dengan tidak ridho pada Allah adalah sangat mengotori hati kita maka Allah mengecamnya silahkan cari Tuhan yang lain (Nauudzubillahi min Dzalik)

Tanya-Jawab Pada fase apa saja tawakal ditempatkan sehingga kita tidak salah menempatkan? Tahap I : Tempatkan tawakal dalam hati sebagai prinsip Jika dalam proses usaha maka jangan berpikir tawakal karena akan membunuh berpikir solutif kita Tahap II: Tawakal ditempatkan setelah usaha yang maksimal Tahap III: Tawakal ditempatkan setelah takdir ditentukan oleh Allah

Apakah kita pernah kecewa apabila menerima kegagalan? Kita sering merasa kecewa yang berkepanjangan atas kegagalan yang kita temui. Ini dikarenakan kita tidak memasukkan prinsip bertawakal dalam hati kita. Kita juga sering mempertanyaan takdir Allah yang telah ditetapkan kepada kita akan kegagalan tersebut maka hal ini akan memunculkan titik-titik hitam dihati kita dan kotorlah hati kita. Jika hati kita kotor maka kita tidak akan dekat dengan Allah.

Apakah kita bisa disebut tawakal apabila kita berusaha ke pengobatan alternatif ? Jika masih dalam jalur keislaman pengobatan tersebut masih boleh dilakukan namun tetap harus ditanamkan prinsip bertawakal kepada Allah. Melalui tawakal pada Allah jika terjadi hal-hal yang tidak berkenan maka kita tidak akan menyalahkan orang yang mengobati tersebut

Bagaimana kita bisa tahu bahwa usaha kita sudah maksimal atau belum ? Awali dengan perencanaan yang matang. Kadang-kadang perencanaan yang kita buat tidak matang sehingga hasilnya pun kurang maksimal. Azam = Perencanaan yang matang. Setelah itu lakukan usaha maksimal untuk mewujudkan secara menyeluruh oleh karenanya disebut usahanya sudah maksimal

Jika sering berusaha tapi gagal apakah ada hubungan Allah tidak merestui? Gagal itu ada 2 pandangan dari segi kemanusiaan rugi terus namun dari segi keimanan kegagalan bisa mengumpulkan tawakal

Jika kita hendak menjual sesuatu dan pihak pembeli mantap dan kita berniat jika terjual maka sebagian keuntungan akan diinfakkan namun akhirnya tidak terjual, apakah ini artinya tidak diridhoi Allah? Kita ridho atas tidak terjualnya karena ada segi kebaikan akan tidak terjualnya tersebut

Beda tawakal dengan sabar ? Tawakal artinya mempercayakan kepada Allah sedangkan Sabar artinya menahan

Dalam proses tawakal kadang tidak mampu menahan emosi kita dan prosesnya melalui jatuh bangun hal apa yang perlu dilatih? Usaha memproses diri untuk bertawakal sudah digolongkan sebagai orang yang bertawakal. Bertawakal awalnya bisa dimulai dari ucapan kita sebelum berangkat kita membaca Bismillahitawakaltu Allahllah. kemudian langkah selanjutnya ucapan bertawakal tersebut meresap dalam hati caranya, hati berbicara mulut ditutup dan pikiran merenungi makna tawakal dan percaya pada Allah untuk menangani dan menentukan sesuatu urusan jika terus- terus dilakukan maka prinsip bertawakal akan masuk dalam hati maka punya kekuatan menetralisir kemanusiaan yang tidak menerima takdir Allah

Alhamdulillahirabbil Alamin

Daarut Tauhiid Cipaku

Iklan