Kerelaan Berkorban


ikhlasKerelaan Berkorban

Seorang pemuda serta merta berdiri dan mempersilahkan seorang ibu setengah baya untuk menempati tempat duduknya di sebuah bis kota, tidak peduli sebelumnya ia pun harus berlari dan berdesakkan untuk mendapatkan tempat duduk tersebut. Sepuluh tahun yang lalu, pemandangan seperti itu bukanlah hal mengagumkan yang dilakukan orang muda terhadap orang-orang yang lebih tua, wanita atau penyandang cacat. Namun seiring pergeseran budaya dan perubahan tatanan nilai dalam masyarakat kita, seolah hal seperti itu saat ini menjadi barang langka yang jarang ditemui, lihat saja bahwa ternyata masih banyak pelajar, mahasiwa atau orang-orang yang sebenarnya masih sanggup untuk berdiri tetap tenang meski seorang jompo atau ibu hamil berdiri menahan beban tubuh disampingnya.

Kejadian diatas hanyalah satu dari sekian banyak contoh pergeseran nilai yang semakin terasa nampak sebagai hal yang lumrah di masyarakat kita. Namun tentu bergesernya budaya dan nilai seperti itu jelas ada penyebabnya. Hilangnya semangat kerelaan berkorban misalnya, bisa karena hilangnya kepekaan sosial, rasa kebersamaan, budaya saling tolong atau bahkan memudarnya sifat-sifat humanis di kalangan masyarakat, terutama di perkotaan. Maka tidaklah aneh, misalnya lagi, seseorang akan jauh lebih marah ketika ditegor orang lain yang merasa terganggu oleh asap rokoknya di dalam kendaraan umum.

Kita tentu merindukan orang-orang yang memiliki jiwa dan semangat rela berkorban (asketis) seperti yang pernah diajarkan sekaligus dicontohkan Rasulullah, sehingga sikap-sikap itu pun tercermin dalam diri sahabat-sahabat rasul. Kerelaan berkorban (asketisme) yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib, misalnya, saat menggantikan Rasul tidur di ranjangnya pada malam ketika Rasulullah ditemani Abu Bakar hendak melakukan hijrah. Atau keberanian Asma binti Abu bakar mengantar makanan untuk Rasulullah dan ayahandanya di tempat persembunyian di gua Tsur. Sikap-sikap serupa juga dicontohkan sahabat lainnya seperti Abu Bakar yang dengan lantang mengatakan, cukuplah Allah dan Rasul-Nya untuk menjawab pertanyaan Rasulullah tentang apa yang ditinggalkan untuk keluarganya. Pada saat itu, Abu Bakar menyerahkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan Islam.  Semangat kerelaan berkorban merupakan wujud dari kecintaan kepada Allah, yang karena itu mereka mau melakukan apapun untuk menolong agama Allah. Intanshurullaaha yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum, barang siapa menolong agama Allah maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Dari kecintaan terhadap Sang Khalik itu berlanjut pada kecintaan yang begitu mendalam terhadap sosok manusia yang dimuliakan Allah, yakni kecintaan terhadap Rasulullah. Bentuk kecintaaan inilah yang ditunjukkan oleh Ali bin Abi Thalib dan juga para sahabat lainnya.

Dengan segenap cintanya, Rasulullah mampu menurunkan perasaan cinta Allah dan Rasul-Nya itu menjadi sebuah cinta yang bertebaran menyentuh seluruh ummat, sesama mukmin bahkan menjadi rahmat seluruh alam.

Sesungguhnya, saat ini kita tidak kehilangan momentum-momentum untuk kembali memiliki atau memperbaiki jiwa dan semangat asketis yang pernah dicontohkan oleh orang-orang mukmin terdahulu itu. Ruang publik kita masih cukup terbuka untuk melakukannya, bahwa masih banyak para fakir miskin yang memerlukan sisihan sebagian dari harta kita, bahwa ada orang-orang lemah yang perlu huluran tangan, dan juga mereka yang sangat membutuhkan sekedar sandaran atau penyangga berdiri, dimana kelebihan dari kekuatan yang kita miliki akan sangat berharga bagi mereka. Tentu saja, kerelaan berkorban itu tercermin dalam sikap-sikap saling bantu, menyisihkan waktu dan tenaga untuk kepentingan banyak orang sebagai wujud dari Islam rahmat bagi seluruh alam, serta tidak egois dan semena-mena menggunakan hak tanpa mempedulikan hak orang lainnya. Hanya saja, sikap-sikap seperti itu akan lebih terasa jika menjadi sebuah kesadaran kolektif dalam menerapkannya, meski bukan menjadi alasan untuk tidak melakukannya mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang!

Satu wujud yang cukup membuat kita tersenyum misalnya, ketika sekelompok mahasiswa yang insya Allah terjaga kemurnian perjuangannya merasa terusik saat orang-orang yang dipercaya rakyat untuk memimpin dan mengelola negeri ini justru mengkhianati rakyat. Kesadaran kolektif yang dimiliki itu tentu menjadi contoh bahwa semangat kerelaan berkorban jika dilakukan secara kolektif akan memberikan hasil yang luar biasa bagi sebuah perubahan bahkan peradaban.

Maka patutlah sesegera mungkin kita melongok kedalam diri ini, adakah besarnya cinta yang bersemayam didalam diri ini masih lebih menguasai rasa akan pemenuhan kepentingan diri sendiri. Jika demikian, tak perlu menunggu waktu lama untuk memperbaiki sisi-sisi cinta itu dengan membetulkannya kearah yang pernah diajarkan Rasulullah, bahwa kecintaan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan seluruh mukmin sebagai wujud persaudaraan diatas segala kecintaan dan kepentingan terhadap diri sendiri.

Karena bisa jadi kedepan, bukan sekedar kecerdasan intelektual tapi juga kecerdasan emosi berupa sikap kerelaan berkorban inilah yang jauh lebih dibutuhkan, jauh lebih penting dimiliki oleh setiap calon pemimpin, para wakil rakyat pengemban amanah ummat selain prinsip-prinsip berkeadilan yang juga mesti dihasung.

Wallahu a’lam bishshowaab (Abi Hufha)

***

eramuslim – Nasihin Ahmad

Iklan