Perlukah Hati Kita Istirahat?


Perlukah Hati Kita Istirahat?

Oleh: Abuluthfia

Yang paling penting yang ada di dalam jasad kita adalah hati dan yang paling penting yang ada dalam hati adalah iman yang merupakan sebagai pelita hati. Sifat iman sama dengan sifat hati yaitu bolak- balik atau yazid wa yankus. Oleh karena itu yang paling berkepentingan dalam menjaga dan memelihara hati adalah manusia itu sendiri. Sebab, kalau dibiarkan begitu saja maka hati itu akan menjadi hati yang berpenyakit atau mungkin juga menjadi mati. Kalau sudah begitu, maka nafsu yang akan menguasainya. Dan efeknya akan menjalar kepada anggota tubuh yang lain.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di dalam tubuh anak Adam terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah tubuh itu seluruhnya, dan anggota-anggota tubuh yang lain akan membuatnya baik. Apabila segumpal daging itu rusak, maka rusak pula tubuh itu seluruhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati.”

Hati adalah tempat untuk melihat Rabb. Ketika dihati sudah tertancap sebuah keyakinan, maka akan muncul sebuah kebahagiaan yang akan mengalirkan kedamaian dan keteduhan ke dalam ruh dan jiwa. Dari situ kebahagiaan akan meluap kepada yang lain.

Ulama terkenal Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Hati yang mencapai kedamaian dan ketenteraman, mengantar pemiliknya dari ragu menjadi yakin, dari kebodohan kepada ilmu, dari lalai kepada taat, dari riya kepada ikhlas, dari lemah kepada teguh, dan dari sombong kepada tahu diri”

Dan ini merupakan hasil dari pengistirahatan hati dari hawa nafsu duniawi yang selalu menggerogoti hati manusia. Sebab, hawa nafsu dan syahwat badani termasuk penyakit hati yang sering menghinggapi manusia. Apabila hawa nafsu itu telah masuk dan menusuk hati, maka rusaklah hati, dan apabila dibiarkan saja, ia akan membusuk dan sukar untuk disembuhkan. Dosa akibat hawa nafsu itu akibat setetes kotoran yang jatuh diatas lembaran hati manusia. Sekali manusia berbuat dosa, satu titik kotoran melekat diatas hati. Apabila tidak dicegah, tetesan dosa itu lama kelamaan akan menutup seluruh permukaan hati, maka gelaplah hati. Ia tertutup dari sinar iman karena sudah dipenuhi oleh kegelapan dan hawa nafsu.

Jadi, mengistirahatkan hati menjadi sesuatu yang harus dilakukan sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini,

Rasulullah SAW bersabda, “Istirahatkanlah hati kalian walaupun sejenak. Jika hati kalian tidak di istirahatkan (diporsir), maka hati kalian akan berubah menjadi buta.” (HR. Bukhari-Muslim)

Istirahatnya hati bagi seorang muslim yaitu dengan zikrullah kepada Allah SWT.

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS. Ar-Ra’d (13): 28)

Apalagi di bulan Ramadhan yang mulia ini. Dan ini merupakan momentum yang sangat baik untuk mengistirahatkan hati. Sebab, di bulan ini kita diwajibkan berpuasa, dianjurkan melakukan muamalah yang lainnya seperti membaca Al-Qur’an, zikrullah, qiyamul-lail, shadaqah, I’tikaf, dll. Coba kita simak apa kata Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan beberapa hikmah i’tikaf, beliau berkata, “Kelurusan hati dalam perjalanannya menuju Allah sangat bergantung kepada kuat tidaknya hati itu berkonsentrasi mengingat Allah dan merapikan kekusutan hati serta menghadapkannya secara total kepada Allah….. Perlu diketahui bahwa makan dan minum yang berlebihan, kepenatan jiwa dalam berinteraksi sosial, terlalu banyak berbicara dan tidur akan menambah kekusutan hati bahkan dapat menceraiberaikannya dan menghambat perjalanannya menuju Allah atau melemahkan langkahnya. Maka sebagai konsekuensi rahmat Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengasih terhadap hamba-hamba-Nya, Allah mensyari’atkan ibadah puasa atas mereka untuk menghilangkan kebiasaan makan dan minum secara berlebih-lebihan serta membersihkan hati dari noda-noda syahwat yang menghalangi perjalanannya menuju Allah. Dan Allah mensyari’atkan i’tikaf yang inti dan tujuannya adalah menambat hati untuk senantiasa mengingat Allah, menyendiri mengingat-Nya, menghentikan segala kesibukan yang berhubungan dengan makhluk, dan memfokuskan diri kepada Allah semata. Sehingga kegundahan dan goresan-gorasan hati dapat diisi dan dipenuhi dengan dzikrullah (mengingat Allah), mencintai dan menghadap kepada-Nya.”

Wallahu A’lam

Iklan