Perlukah Kita Bertuhan?


Perlukah Kita Bertuhan?

Tidak semua kita menganggap perlu untuk bertuhan. Meskipun, ia termasuk orang yang percaya kepada adanya Tuhan. Banyak hal yang melatarbelakangi seseorang sehingga ia memilih tidak bertuhan. Sehingga, bisa jadi, muncul pertanyaan di dalam benak Anda: “Ya, sebenarnya perlukah kita bertuhan?”.

Sejarah peradaban manusia menunjukkan, bahwa hampir di seluruh penjuru bumi manusia memiliki kebergantungan kepada sesuatu yang supranatural. Coba saja datang ke berbagai suku primitif di seluruh dunia, pasti mereka memiliki agama atau semacam agama, yang mengajarkan adanya kekuatan-kekuatan supranatural di luar kuasa manusia.

Itulah Tuhan mereka. Apa pun bentuknya. Ada yang bertuhan kepada nenek moyangnya. Atau bertuhan kepada patung-patung. Atau bertuhan kepada ‘penghuni’ pohon. Bertuhan kepada berbagai macam azimat. Dan lain sebagainya.

Dan sebenarnya bukan hanya pada kalangan primitif, masyarakat modern pun tidak ada yang tidak bertuhan. Meskipun, sebagian mereka menyatakan bahwa mereka tidak percaya kepada adanya Tuhan alias atheis. Pada kenyataannya mereka seringkali meminta bantuan dan bahkan bergantung kepada sesuatu, yang dianggapnya jauh lebih kuat dari dirinya. Kenapa demikian? Karena setiap kita menyadari betapa manusia ini demikian lemah. Nah, ketika seseorang telah bergantung dan bersandar kepada ‘Sesuatu yang Lebih Kuat’ itulah sebenarnya dia telah mengakui ada dan perlunya bertuhan. Apa pun namanya.

Boleh jadi, masyarakat modern menyebutnya sebagai faktor X, kekuatan supranatural, dewi keberuntungan, dan lain sebagainya. Tapi intinya, setiap kita memerlukan adanya Tuhan dalam kehidupan kita.

Pada skala kecerdasan yang lebih tinggi pun, tidak sedikit orang yang mengaku tidak mempercayai Tuhan. Katakanlah para ilmuwan. Baik ilmu kealaman maupun ilmu ilmu sosial, atau filsafat sekali pun.

Sebagiannya telah saya bahas dalam diskusi sebelum ini : ‘Jiwa & Ruh. EMereka adalah orang-orang yang terlalu bertumpu pada ‘Kesadaran Inderawi’. Atau, sedikit lebih tinggi, adalah ‘Kesadaran Rasional’.

Orang-orang yang membangun kesadarannya hanya bertumpu pada keduanya, hanya akan memperoleh kesadaran yang bersifat materialistik alias lahiriah. Mereka tidak menyangka bahwa ada eksistensi yang bersifat batiniah, yang juga nyata. Tapi, mereka tidak mampu ‘menangkapnya E

Yang tertangkap olehnya hanya sebagian saja dari sifat ketuhanan: yang bersifat lahiriah. Dan mereka tidak menganggap itu sebagai Tuhan. Karena bagi mereka, Tuhan haruslah bersifat batiniah.

Yang lebih jelek lagi, mereka malah menganggap Tuhan tidak perlu ada karena menurut mereka hukum alam ini sudah bisa berfungsi dengan sendirinya tanpa melibatkan eksistensi Tuhan.

Padahal, Tuhan meliputi segala-galanya. Baik yang bersifat lahiriah maupun yang bersifat batiniah. Termasuk, hukum alam yang mereka sebut-sebut berjalan dengan sendirinya itu sebenarnya adalah perwujudan dari ‘sebagian’ sifat-sifat Ketuhanan yang bisa kita observasi secara lahiriah. Sedangkan secara holistik, eksistensi Ketuhanan itu meliputi yang lahir maupun yang batin.

Hal ini akan kita bahas lebih jauh pada bab yang lain, ketika kita berusaha mengenal Allah, Tuhan paling sempurna yang disembah oleh manusia.

Jadi, setiap kita sebenarnya telah mengakui keberadaan Tuhan, dan sekaligus membutuhkanNya. Karena, itu memang telah menjadi fitrah manusia. Hal itu, telah Dia firmankan di dalam KitabNya, Al Qur’an al Karim.

QS. Al A’raaf : 172

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Jadi, jelas sekali, bahwa setiap manusia memiliki naluri ketuhanan. Persoalannya adalah, apakah mereka merasa membutuhkan kehadiranNya ataukah tidak. Dalam hal interaksi dengan Tuhan ini, mereka terdiri dari beberapa kelompok, yaitu :

1. Orang yang tidak mau melakukan interaksi dengan Tuhan, karena merasa tidak butuh. Itulah orang-orang yang kafir alias ingkar. Mengakui keberadaanNya, tetapi tidak mau menjadikan sebagai Tuhannya. Begitulah sifat yang ditunjukkan oleh Iblis dalam kisah penciptaan manusia pertama : Adam dan Hawa.

2. Orang yang malas berinteraksi denganNya. Mereka anggap bahwa bertuhan merepotkan saja. Mereka tidak paham tentang konsep ketuhanan, dan perlunya bertuhan dalam kehidupannya. Itulah orang-orang yang dalam istilah Qur’an disebut sebagai orang yang lalai dan bodoh. Mereka harus lebih banyak lagi membangun wacana kehidupan. Jangan sampai usianya habis, menemui ajalnya, tapi belum tahu makna kehidupan yang sesungguhnya.

3. Orang yang melakukan interaksi dengah Tuhan secara terpaksa. Mereka menjalankan agama secara ikut-ikutan, dan menganggap Tuhan sebagai Dzat yang harus disembah. Yang kalau tidak disembah bakal menjatuhkan sanksi neraka. Dan kalau disembah bakal memberikan surga. Inilah orang yang belum tahu makna agama dan makna ibadahnya. Kelompok inilah yang disinyalir oleh rasulullah saw sebagai orang-orang yang melakukan puasa tanpa memperoleh makna puasanya kecuali lapar dan dahaga. Atau seperti orang yang sudah mengerjakan shalat, tetapi disuruh mengulangi shalatnya, karena sesungguhnya dia tidak menegakkan shalat di dalam ritual shalat. Atau seperti orang-orang yang riya’ alias pamer di dalam zakat dan infaqnya. Atau seperti orang yang berhaji tanpa memahami makna hajinya, kecuali sekadar tour ke tanah suci. Atau lebih mendasar lagi, bagaikan orang yang membaca syahadat tapi tidak pernah menyaksikan makna syahadat di dalam kesehariannya.

4. Orang yang merasakan manfaat dalam berinteraksi dengan Tuhan. Ia menemukan bahwa Tuhan adalah ‘Sesuatu’ yang Hidup, Berkehendak, Berkuasa, Adil, Sangat Penyayang, Suka Memberi, dan Sumber Segala Kenikmatan. Maka ia selalu merindukan untuk bisa selalu berinteraksi denganNya. Orang yang demikian ini, akhirnya melakukan interaksi dengan Tuhannya secara suka rela dan bahkan mencintaiNya. Inilah orang yang disebut sebagai muslimuun, yang telah berserah diri dan bergantung sepenuhnya kepada Dzat Yang paling Sempurna, Penguasa alam semesta.

***

Dari Sahabat