Bisul Yang Aneh – Hikmah (bag. 2 dari 2)


Bisul Yang Aneh – Hikmah (bag. 2 dari 2)

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh perubahan yang terjadi pada diriku. Aku lihat bisul-bisul kecil mulai bermunculan di badanku. Dan tiap kali aku bertanya kepada teman-teman yang ada disekitarku mereka selalu menjawab “Nggak, aku tidak melihatnya. Dimana sih”? Aku jadi semakin bingung. Aku yang salah lihat atau mereka yang tidak melihatnya.

Bahkan ketika hari aku melihat bisul itu mulai mengeluarkan nanah. Tiap kali aku berjumpa dengan teman-temanku aku khawatir bau nanah yang busuk itu akan tercium oleh mereka, eh?.mereka malah tenang-tenang saja, seakan tidak melihatnya. Kadangkala aku tanyakan kepada mereka dengan bergurau (tapi serius), “eh kamu bau nggak”!? Mereka malah menjawab, “bau apa?! Ah..kamu belum mandi ya”..?

Mereka tidak membaunya, mereka tidak melihatnya apakah bisul ini memang hanya mau dilihat olehku saja?! Sekali waktu karena jengkelnya aku tarik lengan sahabatku dan aku bawa ke depan kaca di kamarku dan aku tunjukkan bisul yang sebesar jagung dipipi kiriku, dia malah tertawa mengatakan aku bergurau dan menghinanya karena dia banyak jerawat. Padahal demi Allah aku melihat bisul itu dengan jelas.

Aku ingin barang sekali saja ada orang yang bisa melihat bisul itu dan mengatakan “ya aku melihatnya dan aku mencium baunya yang busuk”..  supaya aku tahu bahwa bisul itu ada, bahwa aku tahu ini adalah penyakit yang memang terjadi pada diriku agar aku tahu bahwa aku harus berobat untuk menyembuhkannya. Tapi betapa sering aku ketemu orang dan sebegitu tidak juga mereka melihatku dengan cara yang aneh yang menunjukkan mereka mengetahui bisul yang ada dimukaku ini. Sekali waktu dalam perjalananku, aku pernah berpapasan dengan orang yang nampaknya tahu akan bisul itu, tapi kenapa dia tidak mau mengatakannya? Mungkin karena aku tidak cukup berani untuk menanyakan kepadanya apakah dia melihat bisulku.

Akhirnya aku menyerah. Karena aku melihat setiap kali aku ribut dengan bisul-bisulku, semakin besar ia jadinya. Maka aku putuskan daripada orang-orang mengatakan aku gila, lebih baik aku nggak keluar kamar dulu. Memang betul …..beberapa waktu aku tidak keluar kamar eh….sedikit-sedikit bisul itu semakin mengecil.

Akhirnya, aku putuskan untuk bertemu dengan teman-teman di ta’lim dan mulailah obrolan yang mengasyikkan dengan mereka, tentang perkembangan ta’lim, tentang betapa perasaan kangen karena ketidak munculanku dan tentu saja berita terbaru dari sekelilingku. Tiba-tiba aku merasakan bajuku menjadi sempit sementara lagi-lagi teman-temanku tenang-tenang saja, seakan mereka tidak melihat badanku yang menjadi gemuk dengan tiba-tiba. Dengan menahan kekalutan akan apa yang tiba-tiba terjadi, aku putuskan untuk pulang kembali ke rumah.

Senja itu ketika kudapati diriku termenung di depan jendala kamar sambil menikmati matahari terbenam, tiba-tiba kurasakan badanku kembali kecil dan rasanya aku tidak bisa bicara, lidahku kelu tak dapat lagi mengucapkan dzikir yang biasa kubaca sesudah sholat. Tapi bisul itu tak pernah hilang. Dan dia selalu membengkak ketika aku sedang kalut.

Iklan