Bisul Yang Aneh – Hikmah (bag. 1 dari 2)


Bisul Yang Aneh – Hikmah (bag. 1 dari 2)

Dosa sebagai sesuatu yang samar pada beberapa orang karena tertutupnya kalbu membutuhkan mata yang lain untuk melihatnya. Dosa besar sebagai sesuatu yang nyata dan telah disebutkan dengan jelas nash-nya dalam al Qur’an mungkin sesuatu yang kita boleh jadi bisa langsung melihatnya. Tapi bagaimana dengan dosa-dosa kecil? Kadangkala kita melakukannya tapi kita tidak menyadarinya. Ketika kita melihat dengan menggunakan mata yang lain kita dapati ia telah menjadi sebuah borok/bisul dalam diri kita.

Dan karena keterbatasan dan masih kurang percayanya kita dengan apa yang kita lihat (akal kita melakukan justifikasi bahwa itu kan sedikit, itu kan tidak apa-apa, itu kan nggak sengaja dst) kita berusaha memastikan dengan menanyakan kepada orang-orang disekeliling kita, apa betul sih ada bisul/dosa-dosa kecil itu yang telah kita lakukan.

Justifikasi ini tidak akan pernah memuaskan mata yang lain yang melihatnya. Karena boleh jadi lingkungan mengatakan tidak apa-apa, nggak salah. Aku nggak melihat itu sebagai dosa. Tapi mata yang lain melihat bisul itu dengan jelas dan itu dipertegas dengan adanya cermin yang kita pakai untuk memastikannya. Justifikasi ini tentunya menunjukkan lingkungan dan teman yang bagaimana yang kita pilih untuk melakukan justifikasi tersebut.

Maka ketika kita melakukan isolasi diri/seklusi sebagai bentuk introspeksi/muhasabah maka kesempatan untuk mengurangi dosa-dosa kecil itu bisa kita lakukan dan dzikir (lisan/kalbu) yang kita lakukan dalam kesendirian itu bisa menghapus dosa-dosa keci tsb.

Ketika kita telah berinteraksi lagi dengan sekeliling kita sekalipun teman-teman di majelis taklim dosa- dosa kecil itu bisa saja muncul tanpa kita sadari. Ketika mereka mengatakan kangen nggak ketemu kita, dan kita merasa bangga tiba-tiba terbersit pikiran bahwa kita jadi orang penting nich. Dan itu mereka nggak tahu hanya mata yang lain yang mengetahuinya. Itulah mata hati kita dia melihat tubuh kita yang tiba-tiba menjadi besar dan dada kita terbusung.

Tapi justru ketika kita melihat senja dalam kesunyian dan tidak mampunya lidah kita mengeluarkan ungkapan dzikir menunjukkan adanya pengakuan hati (yang itu tidak membutuhkan gerakan lidah) kita justru menyadari (lahir batin) akan kebesaran Allah dan inilah yang mampu mengembalikan kita pada posisi kita sebagai manusia yang tidak lebih hanya hamba sahaya saja.

Wallohu’alam bish showab.

***

Dari Sahabat

Iklan