Sudah Layakkah Permintaan Kita


Sudah Layakkah Permintaan Kita

Bila suatu waktu pembantu kita, mungkin karena senangnya mendapat sesuatu dari kita, mengatakan, ” Apapun permintaan Bapak hari ini akan saya penuhi “. Karena kita tahu keadaan dia, maka mungkin kita hanya mengatakan, ” Tolong kamu cuci bersih saja mobil saya “. Kita tidak mungkin meminta rumah mewah darinya, karena kita tahu tidak mungkin ia sanggup memberikan itu kepada kita.

Sebaliknya bila pada suatu ketika misalnya Bapak Presiden menawarkan kepada kita, ” Bila ada sesuatu yang kamu inginkan dari saya, silakan kamu sebutkan”. Maka tentu kita tidak meminta bapak Presiden untuk mencucikan mobil kita, mungkin kita akan meminta agar kita dijadikan Menteri atau dijadikan Direktur di salah satu BUMN.

Ilustrasi di atas ingin menyampaikan bahwa kita termasuk orang yang bijak bila permintaan kita selalu disesuaikan dengan kemampuan orang yang kita mintai pertolongan. Dengan demikian kita akan ditertawakan orang bila misalnya meminta dibelikan mobil mewah pada seorang tukang becak ; atau hanya meminta dibelikan sebungkus rokok pada seorang konglomerat ternama.

Lalu bagaimana permintaan kita kepada Allah ? Apakah doa kita masih meminta sesuatu yang sifatnya ” recehan ” ? Meminta supaya kaya ? Meminta supaya mendapat jabatan yang tinggi ?

Mengapa kita tidak meminta sesuatu yang teramat istimewa ? yaitu sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun ?

Bukankah hidayah, ampunan, lindungan dari siksa neraka, keteguhan iman, kekhusukan dalam ibadah atau pun petunjuk kepada jalan yang lurus hanya dapat diberikan oleh Allah saja?

***

Dari Sahabat

Iklan