Ternyata Allah memang Universal


Ternyata Allah memang Universal

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” QS Thahaa: 14.

Apa yang akan saya ceritakan bukanlah tentang pluralisme. Karena bagi saya sudah jelas firman Allah dalam QS Al Kafirun yang ditegaskan dalam ayat terakhir (ayat 6), lakum dinukum waliyadin. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku. Saya hanya ingin berbagi pengalaman dan pemahaman saya bahwa Allah sangat inklusif dan universal.

Kurang lebih dua minggu yang lalu, saya ngobrol dengan salah seorang teman. Sebut saja namanya Budi. Sambil download e mail melalui pop 3 di free hot spot milik dia, kami berbincang dan bertukar cerita tentang pengalaman spiritual kami masing-masing. Saya muslim, dia nasrani. Tapi perbedaan itu tidak menghalangi keakraban kami.

Sebenarnya kami kenal juga belum lama, mungkin baru sekitar dua atau tiga bulanan. Tapi keakraban yang muncul seolah-olah kami seperti sahabat lama. Tidak ada sama sekali batasan yang membuat kami saling sungkan. Perbincangan kami mengalir dengan lepas.

Budi adalah seorang nasrani yang percaya dengan takdir, bahwa segala sesuatu di alam semesta ini tidak berjalan dengan sendirinya. Namun atas kehendak suatu zat yang pasti mempunyai sifat maha segala sesuatu. Berdasarkan pengakuannya, Budi percaya dengan keberadaan Allah. Menurut Budi, sepertinya dia adalah muslim meskipun secara resmi di KTP dia seorang nasrani.

Pada dasarnya tahapan-tahapan dan proses perjalanan spiritual kami mirip satu sama lain. Dimulai dari pertanyaan dan pencarian tentang zat tunggal pencipta semesta, kemudian kami sama-sama mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada banyak orang. Tetapi tidak ada satupun jawaban yang mampu memuaskan dahaga kami. Saat mentok dan tidak tahu lagi harus bertanya kemana, kami sama-sama diberitahu oleh seseorang untuk bertanya saja kepada Yang Maha Pencipta. Ternyata, jawaban atas semua pertanyaan kami datang dengan sendirinya pada saat kami dalam kondisi hening dan khusyu menghadap kepada Tuhan.

Dalam satu kesempatan, Budi menyebut Tuhan dengan nama Allah. Cara mengucapkannyapun menggunakan cara muslim, bukan nasrani. Saat Budi – seorang nasrani yang percaya penuh atas takdir dan keberadaan Allah- menyebut nama Allah dengan cara muslim itulah hati saya tiba-tiba tergetar. Hal ini membuat saya kaget. Saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa hati saya bergetar, padahal yang menyebut Allah bukan seorang muslim. Ah, mungkin kebetulan saja. Begitu pikir saya dalam hati.

Namun ternyata setiap kali Budi menyebut nama Allah dengan cara muslim, setiap kali juga hati saya tergetar. Saya jadi ingat salah satu hadits qudsi yang pernah disamapaikan dalam sebuah forum pengajian umum yang menyebutkan bahwa sebenarnya yang menetapkan nama zat pencipta semesta alam sebagai Allah adalah Allah sendiri. Secara pasti saya tidak ingat, tapi kira-kira redaksionalnya berbunyi sebagai berikut: “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, Aku ingin dikenal oleh makhluk-Ku, dan dengan nama Allah-lah mereka memanggil- Ku.” (Mohon maaf apabila saya lupa dan salah kutip.)

Dalam sebuah forum pertemuan antar penggemar acara sulur kembang di salah satu stasiun radio swasta di Banyuwangi, diceritakan bahwa ada seorang warga negara asing yang ingin bertemu dengan Tuhan. Maka dia diminta untuk memanggil-Nya dengan nama Allah. Ternyata panggilan itu disambut oleh Allah.

Saat itu pemahaman atas nama Allah masih berada pada tataran otak saja, masih sebatas menjadi sebuah teori. Baru pada tahapan wajibul yakin. Belum tertanam dalam hati dan menjadi ‘ainul yakin ataupun haqqul yakin. Ternyata kemudian Allah memahamkan hati saya dan memberikan bukti langsung bahwa Allah milik semua makhluk-Nya di alam semesta ini. Semua manusia berhak untuk memanggil dan berkomunikasi dengan-Nya. Tanpa perkecualian. Asalkan kita percaya dan yakin sepenuh hati atas eksistensi Allah sebagai satu-satunya zat pencipta alam semesta.

Subhanallah, ternyata Allah memang benar-benar inklusif. Tidak ada sekat-sekat bagi manusia untuk bertemu dengan-Nya. Allah sangat terbuka kepada manusia. Siapapun yang memanggil-Nya, Allah akan datang dan menyambut panggilan itu. Alhamdulillah, Allah masih meneguhkan hati saya melalui firman-Nya dalam QS Al Kafirun. Allahu akbar, hanya Allah-lah yang mampu memahamkan dan menggerakkan hati manusia. Tanpa kehendak-Nya manusia hanyalah sekedar seonggok daging belaka.

***

Oleh : Aziz Fajar Ariwibowo

Iklan