Penundaan


Penundaan

Terdengar kabar bahwa si Setan mau pensiun. Kata kabar, dia punya tiga anak. Terjadilah persaingan berat mengenai siapa yang berhak menggantikan kedudukan sang Ayah. Sehingga, Setan harus mengumpulkan tiga anaknya untuk menjalani fit and proper test.

“Kalau kamu yang aku pilih, apa agendamu dalam menjalankan tugas menggoda manusia-manusia lemah di muka bumi?” tanya si Setan pada anaknya yang tertua.

“Begini, Pap, aku akan beritahukan mereka bahwa tidak ada kehidupan akhirat dan tidak ada kehidupan setelah kematian. Bahwa satu-satunya kebenaran adalah kehidupan ini sendiri, maka ayolah makan, minum, nge-sek-nge-sek, nanti waktunya mati ya mati aja.”

“No, no, no, kalau itu agendamu nggak akan berhasil,” sergah si Setan sambil geleng-geleng kepalanya.

“Sumpeh loh?” tanya anak Setan yang tertua itu lagi. (Namanya aja setan, jadi tidak kenal sopan santun sama orang tuanya).

“Di bumi sana sudah terlalu banyak calo dan agen-agen Tuhan yang sudah mencuci otak manusia sejak berabad-abad. Mereka bilang ada sorga, ada neraka, ada reward and ada punishment. Mereka terlalu banyak dan nggak akan dengerin pogram kamu. Kamu pasti kalah and gagal. Sorry Nak, aku nggak bisa kasih kekuasaanku ama kamu.”

Giliran anaknya kedua yang ditanya, “Kalau kamu yang gantiin kedudukanku, apa agenda kerjamu?” Sambil mengabaikan putra pertamanya yang sudah tereleminasi.

“Hhhmm, Aku tidak hanya akan cukup memberitahu bahwa tidak ada surga, tidak ada neraka, dan tidak ada kehidupan akhirat, tapi lebih dari itu, aku akan berusaha meyakinkan-nya, tidak perlu takut.Hayo, kalau mau leha-leha, mau sakau, mau judi, ayo, tidak usah takut, silahkan!” Penuh semangat, dengan gaya mirip para nggota parlemen yang sedang mencari dukungan rakyat bergaya seolah-olah sedang di hadapan audience.

“Kamu akan ‘berusaha meyakinkan’, berarti kamu belum yakin agendamu itu bisa jalan. Kamu gak pede, ah. Tidak, aku tidak akan kasih kekuasaanku kepada yang nggak pede. Kalau kamu ngomong begitu, sama saja dengan memberi peluang dan kebebasan, justru ini akan bikin mereka bosan dan muak, malah ujungnya mereka akan sadar.”

Sambil mengabaikan lagi yang sudah tereleminasi, si Setan mengarahkan dirinya ke putra ketiganya yang pedenya oke, sangat meyakinkan, “Kamu putraku yang terakhir, kalau agendamu juga nggak jelas, terpaksa aku nggak jadi pensiun, biarin aku akan jalankan tugas ini sampai mati.”

“Nggak perlu sampai Papi mati, aku siap dan sanggup kok. Begini Pap, aku akan bilang pada manusia, sorga itu ada, neraka juga ada, reward ada punishment juga pasti, tapi apa gunya mikirin surga dan neraka, reward juga punishment, NANTI ajalah. Nikmati aja dulu hidup ini, nanti kalau sudah berumur, atau kalau hidup kamu sudah benar-benar mapan and bisa ngejamin cucu-cucu dan cicit-cit, baru deh mulai pikirin itu”

“Hahaha, smart! Penundaan ! Kita buanget tuh! Kamu akan mengharumkan namaku, kamu pasti sukses. Sekarang juga ambillah kekuasanku dan mulailah bekerja.

***

Sumber Tulisan Oleh : Abi Maulana (GET REAL Maka Hidup Ini Menakjubkan! Penerbit Gagas Media, Cetakan pertama, 2007)

Iklan