Sebuah Perjalanan Ba’da Dzuhur


Sebuah Perjalanan Ba’da Dzuhur

Siang itu kami meluncur dari kantor pusat kantor kami di Jl. MT Haryono ke RSCM. Saya dan teman saya yang sekarang dipercaya sebagai Manajer Baitul Maal di kantor kami rencananya akan ke Tanjung Priuk, disana kami akan on the spot ke satu titik pemukiman kumuh di Ibukota, tapi setelah obrolan ba’da dzuhur akhirnya saya dan teman saya menyempatkan diri ke RSCM sebelum ke Tanjung Priuk.

Di tengah perjalanan, kami pun memperbincangkan rencana yang akan berkunjung ke seorang pasien yang sedang kritis di IGD RSCM. Meski teman saya sama sekali belum kenal dengan si pasien, tetapi sudah menjadi tanggung jawab moral untuk menjenguknya dengan membawa sejumlah dana ala kadarnya agar dapat meringankan biaya pengobatannya. Teman saya tahu kondisi si pasien dari dua orang aktivis bernama Pak Andi dan Pa Ahmad yang belum lama ia kenal. Keduanya mengajukan bantuan dana ke Baitul Maal yang akan dimanfaatkan untuk biaya pengobatannya.

Akhirnya dengan semua atribut kemacetan Ibukota jam 14.00 kami pun sampai. Kami parkir di belakang kamar jenazah RSCM, karena di depan IGD RSCM parkir selalu penuh dan bisa-bisa kami pun tidak boleh parkir disitu. Rupanya Pak Andi yang kami cari-cari belum ada disana. Kami kesulitan karena Pak Andi tidak memiliki alat komunikasi HP. Kami pun harus menunggu dan bolak balik ke depan parkir dan ke dalam, ternyata Pak Andi belum juga ada. Selang tiga puluh menit Pak Andi pun telepon ke HP teman saya dan satu menit kemudian kami pun bertemu.

Perbincangan pun langsung terfokus kepada kondisi si pasien. Pak Andi ternyata tidak tahu di kamar mana si pasien sekarang berada, karena dari tanggal 15 Maret dia selalu bergantian menjaga pasien bersama dengan Pak Ahmad. Dan pasien dipindahkan ruangannya pada saat Pak Ahmad yang menjaganya. Akhirnya kami pun harus menunggu Pak Ahmad. Sambil menunggu Pak Ahmad kami bertiga ke ruang P3RN (ruang informasi) disana kami tanyakan kepada petugas dimana keberadaan si pasien sekarang ini. Dengan keramahan yang ala kadarnya petugas menyampaikan bahwa dia tidak tahu keberadaan si pasien yang kami maksud.

Sebagai seorang yang besar di lingkungan Ibukota yang penuh dengan intrik-intrik penipuan, saya pun mulai timbul rasa curiga. Jangan jangan dua orang ini cuma mengada-ngada, dia hanya ingin memanfaatkan dana dari Baitul Maal kami. Akhirnya kami pun kembali lagi ke ruang IGD, dicari-cari tetap tidak ada. Kami tanya ke suster yang bertugas disana pun tidak ada (ehm… tapi kali ini bicaranya cukup ramah).

Saya pun mengajak teman saya keluar ruangan IGD. Saya bilang, ” Jangan-jangan di cuma mau menipu kita saja, buktinya sekarang pasiennya tidak ada, sementara dia sendiri tidak tahu dimana keberadaan pasien yang akan kita bantu “. Teman saya pun cuma tersenyum, dan dia tetap bersabar. Dia bilang, ” Mungkin yang tahu cuma Pak Ahmad, kita tunggu saja Pak Ahmad “. Akhirnya saya pun berargumen, “Wah, hati-hati lho, ini Jakarta Bung. Lagian saya jam 4 sore sudah janjian dengan seseorang di Bogor dan mana sempat kita ke Tanjung Priuk.

Dengan dalih yang beraneka ragam, akhirnya teman saya mau juga mengikuti kemauan saya. Kami pun berpamitan dengan Pak Andi, dan langsung meluncur ke arah parkir. Di selasar kamar jenazah ternyata Pak Ahmad telepon via wartel, dia tahu keberadaan si pasien dan memohon untuk ditunggu. Akhirnya dengan pertimbangan yang macam-macam kami berdua pun berpisah. Teman saya kembali ke sana, sementara saya menuju ke parkir dan langsung ke Bogor. Dalam perjalanan ke Bogor otak saya masih diselimuti kecurigaan yang luar bisa tentang dua orang aktivis itu. Dan saya sangat yakin kalau kali ini adalah salah satu modus penipuan berkedok permintaan bantuan dana.

Satu hari berlalu, pagi-pagi dapat sms dari teman saya ” Pak, pasien yang kemarin benar, sekarang sudah meninggal, kena HIV dan Narkoba “.

Langsung saya tersentak, “Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun, Astaghfirullah…..jantung saya serasa copot, ternyata dugaan saya salah !”. Ternyata Pak Ahmad dan Pak Andi adalah benar-benar dua orang yang mulia, yang rela mengorbankan waktunya untuk seorang yang bernama Dorris. Untuk seorang preman yang terinfeksi HIV. Untuk seorang preman pecandu narkoba. Untuk seorang preman yang sakit dan dinistakan di emperan toko di Ibukota.

Selamat jalan Dorris, semoga Allah SWT mengampuni semua dosa-dosamu.

Untuk temanku, kau memang orang yang sangat sabar, teruslah berjuang di jalan Allah SWT.

Mohon maaf Pak Ahmad dan Pak Andi, saya sudah terinfeksi dengan virus-virus kecurigaan dan kemunafikan Ibukota yang lebih berbahaya daripada virus HIV yang diderita Dorris. Prasangka buruk kepada saudara-saudaranya sendiri.

” Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. ” (QS.49.12).

Astagfirullah aladziim…………..

***

Dari Sahabat

Iklan