Kebodohan Universal


Sholawat beserta Salam kita peruntukkan untuk junjungan Nabi Besar Muhammad SAW.

Kaum Muslimin wal Muslimat yang insyaAllah di Rahmati ALLah SWT, ada sebuah Ilustrasi yang menarik untuk kita renungkan, karena jangan sampai akibat kesibukan kita di Dunia ini , kita bisa masuk kedalam golongan orang-orang yang merugi, yaitu orang yang membuang-buang percuma sesuatu yang paling berharga yang dimiliki.

Jika ada seorang pemuda yang mendapatkan warisan yang sangat banyak dari orang tuanya, tetapi kemudian ia membelanjakannya tanpa perhitungan…., bagaimanakah menurut pendapat kita..?, mungkin kita akan mengangap bahwa pemuda itu adalah seorang yang bodoh.

Sekarang marilah kita perhatikan diri kita, jangan – jangan kita lupa kalau kita sendiripun tanpa disadari, sering kali bersikap seperti yang dilakukan pemuda itu. Kita acapkali menghabiskan modal yang paling bernilai yang kita miliki, hanya untuk sesuatu yang sama sekali tidak berarti. Apakah modal manusia yang paling bernilai???? Tidak diragukan lagi, itulah usia, bukankah Umur merupakan modal yang paling besar bagi manusia?? Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW bersabda , ” Kemuliaan Umur dan Waktu, lebih bernilai dibandingkan kemuliaan Harta.”

Bila kita perhatikan dengan cermat, manusia itu pada hakekatnya adalah pengendara diatas punggung usia, Ia menempuh perjalanan hidupnya, melewati hari demi hari, menjauhi dunia dan mendekati liang kubur. Dalam hal ini ada seorang bijak yang mengutarakan keheranannya, ” Aku heran terhadap orang yang menyambut dunia yang sedang pergi meniggalkannya, tetapi malahan berpaling dari Akhirat yang sedang berjalan menuju kepadanya.”

Kadang-kadang kita heran juga dengan sikap kita sendiri, Kenapa kita mudah menangis bila harta benda kita berkurang, sebaliknya tidak pernah menangis bila usia kita yang berkurang? Bukankah tidak ada yang lebih bernilai bagi manusia selain usianya? Ironisnya lagi, kehilangan usia ini malahan kita rayakan dengan Sesemarak mungkin. Barangkali inilah kebodohan manusia yang bersifat Universal, yaitu merayakan dengan meriah kehilangan sesuatu yang sangat berarti bagi dirinya. Padahal semua orang mengerti, bahwa yang hilang ini benar-benar menguap dan tidak akan pernah menjadi milik kita lagi.

Saudara-saudaraku yang di Rahmati Allah, ada lagi yang aneh pada diri kita, Yaitu kita mau berjuang mati-matian mengerahkan seluruh daya dan potensi yang ada untuk mendapatkan sesuatu yang belum pasti kita peroleh, sementara untuk hal yang sudah pasti terjadi , kita hadapi dengan usaha yang sekedarnya saja. Bukankah satu-satunya kepastian bagi manusia itu adalah hanya kematian??, Tidakkah kita sadari, bahwa sebenarnya kita semua sedang berkarya dalam batas hari-hari yang pendek untuk hari-hari yang panjang? Lalu mengapa kita selalu cenderung membangun istana Duniawi, sedangkan Istana Akhirat kita abaikan??

Bila kita sadar dengan tujuan keberadaan kita di dunia, maka pastilah kita menjadikan usia sebagai sesuatu yang paling berharga. Ia lebih mahal dari Emas, Intan berlian, atau batu mulia apapun. Oleh sebab itu, ia harus digunakan seoptimal mungkin.

Ada perkataan yang bijak yang sangat baik kita renungkan, katanya : ” Aku tidak menyesali sesuatu seperti penyesalanku terhadap tenggelamnya matahari dan berarti umurku berkurang, tetapi amal Sholehku tidak bertambah.”

Mengapa kita biarkan umur kita berlalu begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang berarti? Apakah sudah demikian parahnya kebodohan kita, sehingga rela menghabiskan modal yang paling bernilai untuk sesuatu yang tidak bernilai? Bukankah kita harus mempertangung jawabkan setiap menit yang berlalu?? Firman Allah dalam surat Al-Mukminun : 115 sangat tegas menegaskan hal ini. ” Apakah kamu sekalian mengira, bahwa Kami menciptakan kamu Sia-sia dan kepada Kami kamu tidak dikembalikan ?”

Saudaraku yang berbahagia, demikian mudah-mudahan renungan tersebut dapat menggugah hati nurani kita, sehingga kita tidak mau lagi membuang-buang umur dengan percuma, apalagi bersuka cita pada saat umur kita berlalu.

Sebuah pepatah mengatakan, ” Kuburan akan datang ke setiap Orang dengan kecepatan 60 menit per Jam, tidak peduli sekaya atau sesehat apapun ia sekarang.”

***

Diambil dari Buku Sentuhan Kalbu yang disajikan oleh Ir. Permadi Alibasyah

Iklan