Ketika Senandung Camar itu Tiada


Pagi hari tiup bayu semilir menghilir dedaunan butir-butir cahya mentari menyapa halus kayu-kayu pepohonan dan lembar demi lembar kelopak daun sisa musim semi yang mulai berguguran membias indah menyimpan berjuta senyuman

Nun jauh di sana seorang anak kecil telanjang kakinya berlarian melintas garis-garis pantai menyiratkan Rahasia Alam Tuhan sambil membawa jala lebar penangkap ikan hanya satu yang ada dalam pikirannya: “Aku harus bisa mengumpulkan ikan sebanyak mungkin untuk membantu emak berjualan di pasar kota dan menyisihkannya untuk kusimpan sedikit di tabungan walaupun tak seberapa “…

Terlintas di pikirannya segaris senyum yang tulus dan bahagia yang selalu menghias wajah kerut-merut seorang wanita 50an yang telah banyak dimakan panasnya api perjuangan hidup yang telah mengenal banyak duri dan onak tajam namun senantiasa penuh cinta dan keikhlasan

Hari pun tertatih-tatih merambat siang mentari mulai menggeser di antara awan-awan camar-camar riang bernyanyi menghias lelangit terang

” Hei, agaknya hari sudah siang aku harus segera berkemas pulang mengganti baju lusuh ini dengan baju yang sedikit lebih rupawan untuk kupakai ke sekolahan”

Dan anak kecil lusuh berwajah tampan itupun segera melangkah pulang mengayunkan langkah-langkah penat yang tak begitu ia rasakan demi dilihatnya bayangan emaknya yang tengah menantinya di depan dan terukir senyum bahagia di wajah tuanya karena melihat kehadirannya dengan ikan jaringannya yang berlimpah.

” Emak pasti senang… ah, aku ingin segera berjumpa emak emak yang sangat aku sayang ” sesekali dibetulkannya jaring penuh ikan yang menggelayut berat di bahu kirinya sambil tangan kanannya menyeka peluh yang mengalir di sekujur wajah dan lehernya

Akhirnya, tibalah ia di jalan arah menuju rumahnya seolah terbayang sudah masakan yang sudah disiapkan emaknya penopang lapar yang sejak tadi menggoda perutnya.

Namun… langkah penatnya tiba-tiba terhenti terheran melihat banyaknya orang di depan rumahnya “Tak seperti biasanya, ada apakah gerangan? Di manakah emak ?…” tanyanya dalam hati dan langkahnya pun diteruskannya

Setibanya di dekat rumah sang bocah 10 tahun itupun berteriak lantang “Emaak… emaak… aku pulang!.. Jaringku penuh, Mak, ikanku banyak Emak, emaak, … aku sudah pulang, Maak…!!”

Di dekat pintu masuk rumah kayu yang sudah hampir rubuh itu tangan bocah itu dipegang oleh seorang pria “Paman, Paman ada di sini? Emak di mana, Paman? Aku ingin menunjukkan hasil panen ikanku hari ini. Aku ingin melihat senyum indah emak, Paman… ”

Akhirnya pria berwajah sedih itupun melepaskan pegangan tangannya dan sang bocah pun melanjutkan langkah penat kakinya di antara kerumunan orang-orang yang memenuhi sekelilingnya.

Tiba-tiba… kedua mata bundarnya terbelalak lebar mulut mungilnya terbuka tanpa suara nafasnya seolah terhenti seketika kedua alis tebalnya terpaut menggaris dahi dan… sebuah lengkingan mengharukan pun memecah deburan ombak kehidupan Rahasia Tuhan

” Emaak…! Emaak…! Emak…, jangan tinggalkan Bayu, Mak… jangan tinggalkan Bayu…. Mak, kalau emak pergi, Bayu akan sendiri… Emaaak…!! ”

Isak tangis pilu menyayat buluh perindu seorang hamba telah kembali ke Empunya sang camar perindu telah kembali ke Kampungnya sang pelipur lara bayu telah bertemu Kekasih Hatinya emak sang bunda tercinta telah pergi tinggalkan dunia menyisakan sebait senyum kasih dan keikhlasan akan seorang bunda…

(untukmu, bocah di tepi pantai itu)

***

Sumber: Email sahabat

Iklan