Lima Harapan Allah


m_dinPenulis : M Din Syamsuddin

Mungkin ada yang bertanya, mengapa ALLAH Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya masih berharap kepada manusia, bukankah DIA tidak memerlukan apa-apa dari makhluk-NYA? Namun, ternyata ALLAH menaruh harapan atas kaum beriman. Lima harapan ALLAH itu terungkap dalam rangkaian ayat tentang puasa dan Ramadhan (al Baqarah: 183-189), yaitu dalam bentuk ‘kalimat harapan’ (la’alla) yang terdapat pada akhir beberapa ayat tersebut.

Dalam perspektif Bahasa Arab, la’alla, secara harfiah berarti mudah-mudahan atau semoga, merupakan harapan faktual dan potensial, yakni bahwa harapan itu berdasarkan fakta-fakta yang ada dalam diri yang diharapkan dan karenanya sangat mungkin terlaksana.

Harapan pertama, (akhir ayat 183), la’allakum tattaqun, semoga kamu menjadi orang bertakwa, dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah puasa. Bahwa, shaimin dan shaimat diharapkan dapat meraih predikat ketakwaan, tentu melalui proses aktif dan dinamis dalam suatu keberagaman yang berorientasi pada sikap menjadi (to be) daripada sekadar memiliki (to have).

Harapan kedua (akhir ayat 185), la’allakum tasykurun, semoga kamu menjadi orang bersyukur, berhubungan antara lain dengan wahyu Alquran yang diturunkan pertama kali pada bulan Ramadhan. Alquran adalah hidayah ALLAH berupa petunjuk, nilai dan ajaran yang sangat penting bagi manusia untuk mencapai derajat kemanusiaan tertinggi, karenanya harus disyukuri melalui pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Alquran tersebut.

Harapan ketiga, la’allahum yarsyudun, semoga mereka menjadi orang yang terbimbingkan, dikaitkan dengan komunikasi intensif melalui doa kepada ALLAH. Doa adalah medium yang sangat efektif untuk memperoleh tambahan kekuatan dari sumber-NYA, yaitu Sang Pencipta yang sesungguhnya sangat dekat dengan manusia ciptaan-NYA, bahkan lebih dekat dari urat nadinya sendiri.

Harapan keempat (akhir ayat 187), la’allahum yattaqun, semoga mereka menjadi orang bertakwa, merupakan pengulangan dan penekanan dari harapan pertama, yang kali ini dikaitkan dengan pengindahan terhadap ketentuan dan batas-batas yang telah ditentukan ALLAH dalam kehidupan muamalat. Sikap ketaatan seperti inilah yang akan membawa kaum beriman kepada ketakwaan.

Harapan terakhir (akhir ayat 189), la’allakum tuflihun, semoga kamu menjadi orang yang menang dan berbahagia, berkaitan dengan sikap hidup yang berorientasi kepada kebaikan dan kebenaran sebagai pangkat kemenangan dan kebahagiaan.

***

Iklan