Buraq


imaginative_imagery_alburaq_or45smAsal kata dari Baraqa artinya gemilap/gemerlap, khususnya menggambarkan sinar. Kendaraan Buraq digambarkan seperti kuda yang membawa malaikat Jibril dan Nabi Muhammad SAW ketika melaksanakan Isra dan Miraj.

Di India digambarkan Buraq ini berkepala manusia wanita dan berekor merak bertubuh kuda dan di Cirebon bahkan ada keseniannya, juga menggambarkan kuda berkepala manusia wanita dan bersayap. Di Indonesia malah buraq adalah merek salah satu maskapai penerbangan, mungkin mengacu bahwa pesawat tersebut terbang secepat buraq. Tinggi buraq digambarkan lebih tinggi dari keledai. Apakah gambaran buraq yang dipercayai masyarakat awam ini karena pengaruh agama Hindu saat berkembangnya agama Islam, hal ini tidak dibahas dalam literatur-literatur. Gambaran ini bisa dimaknai bahwa buraq adalah mahluk fantastik yang merupakan perpaduan antara untsur manusia dan binatang sehingga ia merupakan simbol perpaduan seluruh mahluk yang mengantarkan nabi menuju surga.

Di dalam riwayat yang membahas tentang isra miraj, buraq digambarkan sebagai kendaraan yang lebih cepat dari pada cahaya, dimana pandangan matanya sejauh dunia dan satu luncatannya melebihi dunia. Dari riwayat bisa dipahami bahwa buraq sesungguhnya merupakan wujud intellect (aql) atau wujud realitas spiritual, yang mesti difahami dan dikenal sifat-sifatnya dengan tidak menggunakan proses analisis dan akal fikiran saja tapi iman, sebagaimana Abu Bakar as Shidiq mempercayai tanpa reserve.

isra-mikrajDi dalam Al Quran tidak ada kata bouraq, mungkin masuk dalam peristiwa isra miraj yang dinyatakan dalam QS Al Isra: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu malam dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsa yang kami berkahi sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepada-Nya sebagian dari tanda-tanda kami. Sesungguhnya Tuhan Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS:17:1).

Buraq dalam pembahasan logika tentu tidak masuk akal, di sini ada hal yang menarik, umumnya manusia menganggap kepergian Rosul adalah tebang menuju langit/luar angkasa menggunakan buraq seperti pesawat ulang alik challenger. Dus, hal ini mengandung makna bahwa Rosul harus terbang ke angkasa melebihi kecepatan cahaya. Tentunya, secara logika hal ini tidak masuk akal. Kasus ketidakpercayaan dialami juga oleh kaum kafir quraisy pada masanya. Sekarang berkembang faham bahwa kepergian rosul adalah perjalanan spiritual di mana yang bergerak adalah ruhaninya, dan dimensi alam-alam langit adalah bukan vertikal melainkan horisontal dalam dimensi tinggi melewati alam jin dan malakut.

Isra miraj memang akan terus diperdebatkan, hal yang sebaiknya ditanya adalah mengapa ada isra miraj, bukan bagaimananya. Begitu ditanya bagaimana maka akan didapat hal-hal yang tidak masuk akal, bagi penulis mengenai buraq bisa saja ada karena kekuasaan itu Tuhan tidak tebatas… ungkapan “Kun Fayakun” menjelaskan bahwa apa yang akan dikehendaki-Nya pasti terjadi.

***

Sumber email teman

Iklan