Kejujuran Sang Imam


Siluet masjid 12Bissmillahirrohmaan irrohiim

Selepas sholat subuh, Imam Hanafi bersiap membuka tokonya, di pusat kota kufah. Diperiksanya dengan cermat pakaian dan kain yang akan dijual. Sewaktu menemukan pakaian yang cacat, ia segera menyisihkannya dan meletakkannya di tempat yang terbuka. Supaya kalau ada yang akan membeli, ia dapat memperlihatkannya.

Ketika hari mulai siang, banyak pengunjung yang datang ke tokonya untuk membeli barang dagangannya. Tapi, ada juga yang hanya memilih-milih saja.

“Mari silakan, dilihat dulu barangnya. Mungkin ada yang disukai,”tawar Imam Hanafi tersenyum ramah.

Seorang pengunjung tertarik pada pakaian yang tergantung di pojok kiri.

“Bolehkah aku melihat pakaian itu?” tanya perempuan itu. Imam Hanafi segera mengambilkannya.

“Berapa harganya?”tanyanya sambil memandangi pakaian itu. Pakaian ini memang bagus. Tapi, ada sedikit cacat di bagian lengannya.”Imam Hanafi memperlihatkan cacat yang hampir tak tampak pada pakaian itu.

“Sayang sekali.”perempuan itu tampak kecewa.

“Kenapa Tuan menjual pakaian yang ada cacatnya?”

“Kain ini sangat bagus dan sedang digemari. Walaupun demikian karena ada cacat sedikit harus saya perlihatkan. Untuk itu saya menjualnya separuh harga saja.”

“Aku tak jadi membelinya. Akan kucari yang lain,”katanya.

“Tidak apa-apa, terima kasih,”sahut Imam Hanafi tetap tersenyum dalam hati, perempuan itu memuji kejujuran pedagang itu. Tidak banyak pedagang sejujur dia. Mereka sering menyembunyikan kecacatan barang dagangannya.

Sementara itu ada seorang perempuan tua, sejak tadi memperhatikan sebuah baju di rak. Berulang-ulang dipegangnya baju itu. Lalu diletakkan kembali. Imam Hanafi lalu menghampirinya.

“Silakan, baju itu bahannya halus sekali. Harganya pun tak begitu mahal.”

“Memang, saya pun sangat menyukainya. ” Orang itu meletakkan baju di rak. Wajahnya kelihatan sedih. “Tapi saya tidak mampu membelinya. Saya ini orang miskin,”katanya lagi.

Imam Hanafi merasa iba. Orang itu begitu menyukai baju ini, saya akan menghadiahkannya untuk ibu,”kata Imam Hanafi.

“Benarkah? Apa tuan tidak akan rugi?”

“Alhamdulillah, Allah sudah memberi saya rezeki yang lebih.”Lalu, Imam Hanafi membungkus baju itu dan memberikannya pada orang tersebut.

“Terima kasih, Anda sungguh dermawan. Semoga Allah memberkahi.” Tak henti-hentinya orang miskin itu berterima kasih.

Menjelang tengah hari, Imam Hanafi bersiap akan mengajar. Selain berdagang, ia mempunyai majelis pengajian yang selalu ramai dipenuhi orang-orang yang menuntut ilmu. Ia lalu menitipkan tokonya pada seorang sahabatnya sesama pedagang.

Sebelum pergi, Imam Hanafi berpesan pada sahabatnya agar mengingatkan pada pembeli kain yang ada cacatnya itu.

“Perlihatkan pada pembeli bahwa pakaian ini ada cacat di bagian lengannya. Berikan separo harga saja,” kata Imam Hanafi. Sahabatnya mengangguk. Imam Hanafi pun berangkat ke majelis pengajian.

Sesudah hari gelap ia baru kembali ke tokonya.

“Hanafi, hari ini cukup banyak yang mengunjungi tokomu. O, iya! Pakaian yang itu juga sudah dibeli orang,”kata sahabatnya menunjuk tempat pakaian yang ada cacatnya.

“Apa kau perlihatkan kalau pada bagian lengannya ada sedikit cacat?” tanya Hanafi.

“Masya Allah aku lupa memberitahunya. Pakaian itu sudah dibelinya dengan harga penuh.”sahabatnya sangat menyesal.

Hanafi menanyakan ciri-ciri orang yang membeli pakaian itu. Dan ia pun bergegas mencarinya untuk mengembalikan sebagian uangnya.

“Ya Allah! Aku sudah menzhaliminya, “ucap Imam Hanafi.

Sampai larut malam, Imam Hanafi mencari orang itu kesana-kemari. Tapi tak berhasil ditemui. Imam Hanafi amat sedih.

Di pinggir jalan tampak seorang pengemis tua dan miskin duduk seorang diri. Tanpa berpikir panjang lagi, ia sedekahkan uang penjualan pakaian yang sedikit cacat itu semuanya.

“Kuniatkan sedekah ini dan pahalanya untuk orang yang membeli pakaian bercacat itu,”ucap Imam Hanafi. Ia merasa tidak berhak terhadap uang hasil penjualan pakaian itu.

Imam Hanafi berjanji tidak akan menitipkan lagi tokonya pada orang lain.

Keesokan harinya Imam Hanafi kedatangan utusan seorang pejabat pemerintah. Pejabat itu memberikan hadiah uang sebanyak 10.000 dirham sebagai tanda terima kasih. Rupanya sang ayah merasa bangga anaknya bisa berguru pada Imam Hanafi di majelis pengajiannya. Imam Hanafi menyimpan uang sebanyak itu disudut rumahnya. Ia tidak pernah menggunakan uang itu untuk keperluannya atau menyedekahkannya sedikitpun pada fakir miskin.

Seorang tetangganya merasa aneh melihat hadiah uang itu masih utuh.

“Kenapa Anda tidak memakainya atau menyedekahkannya? ” tanyanya.

“Tidak, Aku khawatir uang itu adalah uang haram,” kata Imam Hanafi.

Barulah tetangganya mengerti kenapa Imam Hanafi berbuat begitu. Uang itu pun tetap tersimpan disudut rumahnya. Setelah beliau wafat, hadiah uang tersebut dikembalikan lagi kepada yang memberinya.

***

Sumber kisah kisah teladan

y u RP hanya di bulan Ramadhan.

Alasannya, makin banyak rakaatnya, makin banyak pahalanya. Tetapi ingat yang namanya sholat taraweh itu sholat santai, jadi harus dikerjakan dengan khusuk dan tidak tergesa-gesa hanya untuk mengejar target 23 rakaat cepet selesai.

SHOLAT WITIR SEBELUM TIDUR
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Sahabatku (yaitu Rasulullah s.a.w.) berwasiat kepadaku tiga perkara: (a). Puasa tiga hari setiap bulan. (b).Shalat Dhuha 2 rakaat. (c). Shalat Witir sebelum tidur.” HSM.688, 689  (Selain bulan Ramadhan).

Dari ‘Ali Bin Abi Tholib. Ia berkata: “Bukanlah witir itu  kemestian sebagaimana sholat yang diwajibkan, tetapi ia satu sunnat yang disunnatkan oleh Rasulullah.s. a.w. HBM.394 Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dihasankan dia oleh Nasa-y dan Hakim dan ia shahkan dia.

SHOLAT WITIR:  5 RAKAAT,  3 RAKAAT ATAU 1 RAKAAT (HANYA 1 SALAM):
Dari Jabir r.a., katanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Siapa yang takut tidak terbangun di akhir malam, maka shalat witirlah di awalnya (sebelum tidur). Tetapi siapa yang penuh harapannya akan terbangun tengah malam, sebaiknyalah dia witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam itu disaksikan para malaikat, dan itulah yang lebih baik”. HSM No. 728

Dari Abi ‘aiyub Al Anshari, bahwasanya Rasulullah s.a.w. telah bersabda: “Witir itu satu haq (satu tuntunan yang ringan) atas tiap-tiap muslim, barangsiapa suka 5 rakaat, suka 3 rakaat, suka 1 rakaat boleh ia buat. Diriwayatkan dia oleh “Empat” kecuali Tirmidzi dan disahkan oleh Ibnu Hiban. Hadis Shahih Bulughul Maram.No. 393

Dari Thalq bin ‘Ali. Ia berkata: Saya dengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak ada dua witir pada satu malam”. Diriwayatkan dia oleh Ahmad dan “Tiga” dan dishahkan dia oleh Ibnu Hibban. Hadis shahih Bulughul Maram.No.407

Sholat witir lima rakaat hanya satu kali duduk.
Dan daripadanya (‘Aisyah). Ia berkata: Adalah Rasulullah s.a.w. sholat, pada waktu malam tiga belas raka’at, dan ia witir dari padanya dengan lima raka’at; tidak ia duduk melainkan pada akhirnya. HBM.402; (4rk salam, 4rk salam dan witir 5rk satu tasyahut dan satu salam)

Sholat witir. Sekali berattahiyat dan lalu salam. Hadis Bulughul Maram.No. 408
Sholat witir, selain diatas  baca HBM.395, 396, 398,405, 406, 410, 412, 413, 414
Apabila sudah terbit fajar maka habislah waktu sholat malam dan sholat witir.BM.414

Belum ketemu dalilnya sholat witir tiga raka’at dikerjakan dua raka’at satu tasyahud dan satu salam, ditambah satu raka’at satu tasyahud dan satu salam

Dasar-dasar hukumnya No.V adalah:
Dari Jabir r.a. katanya dia mendengar Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya tengah malam terdapat suatu sa’at, apabila seorang muslim memohon kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat pada saat itu, niscaya Allah memperkenankannya. Begitu halnya setiap malam.” HSM.No.730

Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia, yaitu kira-kira sepertiga malam yang akhir. Dia (Allah) berfirman, “Siapa yang memohon kepada-Ku, Aku perkenankan; dan siapa yang meminta kepada-Ku, Aku beri; dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku ampuni dia”. HSM. No.731

Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah turun ke langit dunia setiap malam, yaitu ketika telah lewat sepertiga malam pertama. Lalu Allah berfirman: “Akulah Tuhan! Akulah Tuhan! Siapa yang memohon kepada-Ku, Kuperkenankan permohonannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, Kuberi dia. Dan siapa yang mohon ampun kepada-Ku, Kuampuni dia. Begitulah seterusnya hingga terbit fajar”. HSM.732

SHOLAT-SHOLAT  MALAM ROSULULLAH SAW.

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Qs.Al Isroo’ (17): 79

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya) , (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.Qs. Al Muzzammil (73): 1 s/d 8

[73.20] Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Qs.73:20

Kesimpulannya
Bagi mereka yang mengamalkan sholat tarawih, sholat Tahajud, sholat Tathawwu dengan cara sholat 4rk satu tasyahut satu salam; 4rk satu tasyahud dan satu salam. Sholat witir 3rk satu tasyahut dan satu salam. Silahkan!
Karena dalil-dalilnya tersebut diatas sudah jelas dan nyata.

Bagi mereka yang mengamalkan sholat Tarawih 20 raka’at dengan cara tiap-tiap dua raka’at satu tasyahud dan satu salam. Ditambah 3 raka’at sholat witir yang dikerjakan dua raka’at satu tasyahud dan satu salam ditambah satu raka’at satu tasyahut dan satu salam.
Dalilnya Ijma’ dari kesepakatan para ulama Mahdzab Imam Syafi’i.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan, semoga anda dapat memilih yang baik sesuai hati nurani anda, sesuai keyaqinan anda, sesuai contoh Rasulullah s.a.w. atau sesuai Ijma dari kesepakatan para ulama Mahdzab Imam Syafi’i. Allahu a’lam mana yang paling baik dimata Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
[17.36] Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

[7.179] Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.  Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Penyesalan setelah mati tiada gunanya.
[33.66] Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”.[33.67] Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).[33.68] Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”.

[35.37] Dan mereka berteriak di dalam neraka itu:”Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang lalim seorang penolongpun.

Alhamdulillahirabbi l’alamin. Billahitaufik wal hidayah. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh. Sukarman.