Korupsi dan jaminan hidup bagi keluarga


newbribeKorupsi adalah penyakit kronis yang melanda negeri ini. Banyak faktor yang mendorong seseorang melakukan korupsi. Salah satunya adalah tekanan keluarga; anak dan istri. Seorang ayah terpaksa mengorbankan kejujuran karena banyaknya tuntutan anak-istri. Demi melihat anak-istrinya bahagia seseorang yang tadinya baik berubah menjadi jahat. Al-Qur’an menyitir hal ini dalam:

“ Hai orang-orang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ (QS.64: 14)

Adakalanya seseorang terjerumus berbuat maksiat, berkhianat kepada Allah SWT karena kecintaannya kepada isteri dan anak-anaknya. Kecintaan kepada mahluk yang tidak bersandarkan kepada Allah SWT seperti inilah yang bukan merupakan karakter Tauhid.

“ Dan kepunyaan-Nya- lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah? “ (QS.16:52)

Padahal harta korupsi itu tidak membawa kebaikan dan keberkahan. Suapan makanan dari hasil korupsi akan menumbuhkan daging yang jelek. Bisa jadi ini akan melapangkan ruang gerak syaitan dan menimbulkan keburukan. Seorang suami dan ayah yang melakukan kejahatan korupsi demi istri dan anak-anak mereka, sebenarnya sedang menebar benih-benih kejahatan dalam diri anak-istrinya. Sesungguhnya harta korupsi tersebut bukanlah warisan berharga, melainkan racun yang mencelakakan kehidupan mereka di kemudian hari.

Allah SWT mengingatkan bahwa takwa dan kebaikan merupakan sebaik-baiknya warisan. Adalah ketakwaan Nabi Ibrahim AS bisa menjadi suatu teladan, bagaimana takwa seorang ayah merupakan jaminan kehidupan bagi isteri dan anak-anaknya, suatu waktu beliau harus meninggalkan Hajar dan Ismail AS di sebuah padang yang tandus karena panggilan keimanan dari Robbnya. Ia tidak meninggalkan apapun untuk Hajar dan Ismail, selain wasiat tauhid. Allahlah yang menjamin kehidupan Isteri dan anaknya tersebut dengan karunia-Nya.

“ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar ” (QS.4: 9)

Sesungguhnya Allah SWT akan menjamin kehidupan anak-anak kita dengan rahmat dan karunia-Nya bila kita benar-benar bertakwa kepada-Nya. Allah mempunyai kekuasaan untuk memberikan kelapangan dan kemudahan rizki untuk mereka dalam menghadapi kehidupan sepeninggal kita. Insya Allah.

“ Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu….” (QS.18: 82)

Iklan