Tagged: sholat Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:08 am on 27 October 2010 Permalink | Balas
    Tags: sholat, tuntunan sholat   

    Sholat Berjama’ah 

    Sholat adalah Ibadah yang sangat tinggi nilainya dibandingkan dengan ibadah lainnya, Sholat merupakan ibadah yang pertama kali dihisab nantinya di akhirat. Sholat merupakan ibadah langsung antara manusia dengan Sang Pencipta, perintah Sholat pun Allah SWT sampaikan langsung kepada Nabi Besar Muhammad SAW, pada saat Beliau Mi’raj ke Sidratul Muntaha.

    Sholat adalah tiang Agama , siapa yang mendirikan Sholat berarti mendirikan Agama, dan siapa yang meninggalkan Sholat maka dia meruntuhkan Agama.

    Sholat melatih kita untuk Disiplin dengan melaksanakan tepat pada waktunya.

    Sholat pun bisa mencegah manusia dari perbuatan keji dan Munkar .

    Sholat juga yang membedakan antara orang Islam dan Orang kafir

    Perintah Sholat banyak kita temui di dalam Al-Qur’an bahkan pada permulaan surat Al-Baqoroh : 1-3 : yang artinya : Inilah Kitab (Al-Qur’an) yang tidak ada keraguan didalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, Yaitu mereka yang percaya dengan yang Ghoib dan yang melaksanakan Sholat dan yang menfkahkan sebagian Rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

    Dari ayat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah mendirikan Sholat.

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Beliau mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Apa pendapat kamu sekiranya terdapat sebatang sungai di hadapan pintu rumah salah seorang dari kamu dan dia mandi di dalamnya setiap hari sebanyak lima kali. Apakah masih lagi terdapat kotoran pada badannya? Para Sahabat menjawab: Sudah pastinya tidak terdapat sedikit pun kotoran pada badannya. Lalu baginda bersabda: Begitulah perumpamaannya dengan sembahyang lima waktu. Allah menghapuskan segala kesalahan mereka (Bukhori / Muslim)

    Sholat Berjama’ah

    Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk melaksanakan Sholat Fardlu Lima Waktu secara berjama’ah.

    Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: Sholat berjemaah itu lebih baik dari mendirikan sholat secara bersendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat ganjaran (Bukhori /Muslim/Tirmizi)

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: Sholat berjemaah itu lebih baik dari mendirikan sholat secara bersendirian sebanyak dua puluh lima kali ganda (Bukhori /Muslim/Tirmizi)

    Sholat Berjama’ah di Masjid

    Rasululloh SAW memerintahkan untuk kaum laki-laki melaksanakan Sholat Lima Waktu berjama’ah di Masjid.

    Dalam suatu riwayat, pada suatu hari ada seorang Buta datang kepada Rasululloh SAW meminta keringanan untuk tidak melakukan Sholat Lima Waktu di Masjid karena orang buta tersebut tidak ada memiliki penunjuk jalan atau pemandu lagi, maka Rasululloh SAW mengijinkannya, tetapi setelah orang buta tersebut pergi beberapa langkah, Rasul Muhammad SAW memanggil orang buta tersebut dan bertanya : “Apakah engkau mendengar suara Adzan ketika engkau berada di rumahmu?”, orang buta tersebut menjawab : ” Mendengar Ya Rasululloh”, maka Rasululloh SAW bersabda : “maka wajib atas kamu datang ke Masjid” (Bukhori / Muslim)

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Daripada Nabi s.a.w bersabda: Sesiapa yang pergi ke masjid pada waktu pagi atau pada waktu petang Allah akan menyediakan untuknya satu tempat tinggal di Syurga. (Bukhori / Muslim/Tirmizi)

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Bahwa Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Seandainya manusia mengetahui kelebihan yang terdapat di dalam azan dan saf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan cara mengundi di antara mereka, sudah tentu mereka mau mengundi. Seandainya mereka mengetahui kelebihan takbir yaitu menyegerakan sholat, sudah pasti mereka akan berlumba-lumba mendapatkannya dan seandainya mereka mengetahui kelebihan yang terdapat di dalam sholat Isyak dan sholat Subuh, sudah tentu mereka akan mendatanginya meskipun secara merangkak (Bukhori / Muslim/Tirmizi)

    Begitu pentingnya Sholat berjama’ah di Masjid, sampai Rasululloh SAW pernah menyuruh para sahabat untuk membawa kayu bakar dan membakar rumah orang yang tidak pernah datang Sholat ke Masjid.

    Hasil dari Penelitian juga menyatakan bahwa Ion-ion dalam tubuh kita akan saling dinetralkan ketika bahu dan kaki kita bersentuhan dengan jemaah lainnya pada saat kita melaksanakan Sholat berjamaah, sehingga tubuh kita akan merasa lebih segar kembali jika kita sering melakukan Sholat berjama’ah dengan Benar.

    Adab-Adab Sholat Berjama’ah

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w telah bersabda: Seandainya kamu mengetahui atau mereka mengetahui kelebihan yang terdapat di dalam saf yang pertama, niscaya kamu atau mereka akan mengadakan undian (Bukhori / Muslim)

    Maka jikalau iqomat sudah dikumandangkan, penuhilah Shaft pertama terlebih dahulu. Kemudian Sholatlah dengan Khusyuk dan jangan terburu-buru. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila Sholat telah dimulai, maka janganlah kamu mendatanginya dengan tergesa-gesa, tetapi hendaklah kamu mendatanginya dalam keadaan tenang. Sholatlah sekadar yang kamu sempat dan sempurnakanlah rakaat sholat yang belum ditunaikan. (Bukhori / Muslim)

    Kita sering mendengar setiap akan melakukan Sholat Berjama’ah Imam selalu berkata ” Lurus dan Rapatkan Shaft “

    Tapi terkadang itu hanyalah perkataan yang jarang dihiraukan oleh makmum dan bahkan oleh Imam itu sendiri.

    Diriwayatkan daripada Nu’man bin Basyir r.a katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Kamu ingin meluruskan saf-safmu atau Allah akan menggantikan wajahmu. (Bukhori / Muslim)

    Hadis Abu Hurairah r.a: Rasulullah s.a.w bersabda: Rapikanlah saf waktu sholat karena merapikan saf itu sebahagian dari kebaikan sholat. (Bukhori / Muslim)

    Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Luruskanlah (dan rapatkan) saf-saf kamu karena sesungguhnya meluruskan (merapatkan) saf itu sebahagian dari kesempurnaan sholat. (Bukhori / Muslim)

    Dalam suatu Riwayat, Sayyidina Umar Ibnu Khotob R.A. pada saat beliau menjadi Khalifah, ketika beliau mengimami Sholat berjama’ah, beliau meluruskan Shaft Makmumnya dengan Pedang, begitulah pentingnya Shaft yang rapid an lurus.

    Demikian sedikit uraian di Bulan yang Suci dan penuh berkah ini, semoga kita selalu menjadikan Masjid sebagai pusat kegiatan dan Ilmu, Islam akan bersatu jika semua kegiatan Ibadah dan agama kita kembalikan ke Masjid, ada pernyataan seorang pemimpin Yahudi yang menyatakan bahwa “mereka sangat ketakutan dan gentar terhadap Islam jika mereka sudah melihat / mendengar jama’ah umat Islam melaksanakan Sholat Subuh berjama’ah di Masjid menyamai Sholat Jum’at.

    ***

     
  • erva kurniawan 7:49 pm on 1 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: manfaat sholat, sholat   

    Dahsyatnya Manfaat Gerakan Sholat 

    Salat adalah amalan ibadah yang paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Gerakan-gerakannya sudah sangat melekat dengan gestur (gerakan khas tubuh) seorang muslim. Namun, pernahkah terpikirkan manfaat masing-masing gerakan? Sudut pandang ilmiah menjadikan salat gudang obat bagi berbagai jenis penyakit.

    Saat seorang hamba telah cukup syarat untuk mendirikan salat, sejak itulah ia mulai menelisik makna dan manfaatnya. Sebab salat diturunkan untuk menyempurnakan fasilitasNya bagi kehidupan manusia. Setelah sekian tahun menjalankan salat, sampai di mana pemahaman kita mengenainya.

    TAKBIRATUL IHRAM

    Postur: berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah.

    Manfaat: Gerakan ini melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.

    RUKUK

    Postur: Rukuk yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang.

    Manfaat: Postur ini menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah latihan kemih untuk mencegah gangguan prostat.

    I’TIDAL

    Postur: Bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak setelah, mengangkat kedua tangan setinggi telinga.

    Manfaat: I’tidal adalah variasi postur setelah rukuk dan sebelum sujud. Gerak berdiri bungkuk berdiri sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Organ organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar.

    SUJUD

    Postur: Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai.

    Manfaat: Aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Karena itu, lakukan sujud dengan tumakninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.

    DUDUK

    Postur: Duduk ada dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk (tahiyyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki.

    Manfaat: Saat iftirosy, kita bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf nervus Ischiadius. Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (urethra), kelenjar kelamin pria (prostata) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, postur ini mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.

    SALAM

    Gerakan: Memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal.

    Manfaat: Relaksasi otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala d! an menjaga kekencangan kulit wajah.

    **

    Beribadah secara, kontinyu bukan saja menyuburkan iman, tetapi mempercantik diri wanita luar-dalam.

    PACU KECERDASAN

    Gerakan sujud dalam salat tergolong unik. Falsafahnya adalah manusia menundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang didalami Prof Sholeh, gerakan ini mengantar manusia pada derajat setinggi-tingginya. Mengapa?

    Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan darah. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan.

    Risetnya telah mendapat pengakuan dari Harvard Universitry, AS. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan masuk Islam setelah diam-diam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud.

    PERINDAH POSTUR

    Gerakan-gerakan dalam salat mirip yoga atau peregangan (stretching). Intinya untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan salat dibandingkan gerakan lainnya adalah salat menggerakan anggota tubuh lebih banyak, termasuk jari kaki dan tangan.

    Sujud adalah latihan kekuatan untuk otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggaan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.

    MUDAHKAN PERSALINAN

    Masih dalam pose sujud, manfaat lain bisa dinikmati kaum hawa. Saat pinggul dan pinggang terangkat melampaui kepala dan dada, otot-otot perut (rectus abdominis dan obliquus abdominis externuus) berkontraksi penuh. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lama. Ini menguntungkan wanita karena dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila, otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami ia justru lebih elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan serta mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).

    PERBAIKI KESUBURAN

    Setelah sujud adalah gerakan duduk. Dalam salat ada dua macam sikap duduk, yaitu duduk iftirosy (tahiyyat awal) dan duduk tawarruk (tahiyyat akhir). Yang terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, inilah daerah paling terlindung karena terdapat tiga lubang, yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih.

    Saat duduk tawarruk, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi! ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.

    AWET MUDA

    Pada dasarnya, seluruh gerakan salat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar.

    Gerakan terakhir, yaitu salam dan menengok ke kiri dan kanan punya pengaruh besar pada kekencangan. kulit wajah. Gerakan ini tak ubahnya relaksasi wajah dan leher. Yang tak kalah pentingnya, gerakan ini menghindarkan wanita dari serangan migrain dan sakit kepala lainnya.

     
    • aresaja 1:20 pm on 2 April 2010 Permalink

      postingan yang sangat bermanfaat… mohon izin copy paste… salam kenal… http://aresaja.wordpress.com

    • Hendra tanjung 1:39 pm on 2 April 2010 Permalink

      Assalamuallaikum.wr wb. Slam knal. Kang gmana ya cra copy paste na lewat opmin tp pake hp. Aq slalu bca artikel akang tp maaf klo ngak ksi komen

    • zuhdi 10:37 am on 19 April 2010 Permalink

      amt bermanfaat bgt kang…izin copy paste jg ya… slm kenal

    • Mhd Rasyid Ridho 2:56 pm on 24 April 2010 Permalink

      Subhanallah…., trimakasih atas article ini. Mohon izin copy paste.

    • iswandi 1:53 pm on 3 Juli 2010 Permalink

      Subhanallah…..,terima ksh atas artikel nya,semoga ini menjadikan pelajaran penting dalam kehidupan sehari-hari saya…mohon izin copy paste nya. assalamualaikum wr.wb

    • munawir 11:54 am on 10 Mei 2011 Permalink

      hiii sunguh banyak mamfaat gerakan sholat
      sesenguh nya olah raaga itu adalah …pengobataan tradi sional …yaayaaya i like it

  • erva kurniawan 9:54 pm on 5 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: sholat, sholat fardhu   

    Kaifiat Sholat Nabi (Membaca Ta’awudz & Al Fatihah) 

    MEMBACA TA’AWWUDZ

    Membaca do’a ta’awwudz adalah disunnahkan dalam setiap raka’at, sebagaimana firman Allah ta’ala: “Apabila kamu membaca al Qur-an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (An Nahl : 98).

    Dan pendapat ini adalah yang paling shahih dalam madzhab Syafi’i dan diperkuat oleh Ibnu Hazm (Lihat al Majmuu’ III/323 dan Tamaam al Minnah 172-177).

    Nabi biasa membaca ta’awwudz yang berbunyi:

    “A’UUDZUBILLAHI MINASY SYAITHAANIR RAJIIM MIN HAMAZIHI WA NAFKHIHI WANAFTSIHI”

    artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari semburannya (yang menyebabkn gila), dari kesombongannya, dan dari hembusannya (yang menyebabkan kerusakan akhlaq).” (Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, Daraquthni, Hakim dan dishahkan olehnya serta oleh Ibnu Hibban dan Dzahabi).

    Atau mengucapkan:

    “A’UUZUBILLAHIS SAMII’IL ALIIM MINASY SYAITHAANIR RAJIIM…”

    artinya: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk” (Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud dan Tirmidzi dengan sanad hasan).

    **

    MEMBACA AL FATIHAH

    Hukum Membaca Al-Fatihah

    Membaca Al-Fatihah merupakan salah satu dari sekian banyak rukun sholat, jadi kalau dalam sholat tidak membaca Al-Fatihah maka tidak sah sholatnya berdasarkan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): “Tidak dianggap sholat (tidak sah sholatnya) bagi yang tidak membaca Al-Fatihah” (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Jama’ah: yakni Al-Imam Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i dan Ibnu Majah).

    “Barangsiapa yang sholat tanpa membaca Al-Fatihah maka sholatnya buntung, sholatnya buntung, sholatnya buntung…tidak sempurna” (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim dan Abu ‘Awwanah).

    Kapan Kita Wajib Membaca Surat Al-Fatihah

    Jelas bagi kita kalau sedang sholat sendirian (munfarid) maka wajib untuk membaca Al-Fatihah, begitu pun pada sholat jama’ah ketika imam membacanya secara sirr (tidak diperdengarkan) yakni pada sholat Dhuhur, ‘Ashr, satu roka’at terakhir sholat Mahgrib dan dua roka’at terakhir sholat ‘Isyak, maka para makmum wajib membaca surat Al-Fatihah tersebut secara sendiri-sendiri secara sirr (tidak dikeraskan).

    Lantas bagaimana kalau imam membaca secara keras?

    Tentang ini Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa pernah Rasulullah melarang makmum membaca surat dibelakang imam kecuali surat Al-Fatihah: “Betulkah kalian tadi membaca (surat) dibelakang imam kalian?” Kami menjawab: “Ya, tapi dengan cepat wahai Rasulallah.” Berkata Rasul: “Kalian tidak boleh melakukannya lagi kecuali membaca Al-Fatihah, karena tidak ada sholat bagi yang tidak membacanya.” (Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhori, Abu Dawud, dan Ahmad, dihasankan oleh At-Tirmidzi dan Ad-Daraquthni).

    Selanjutnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makmum membaca surat apapun ketika imam membacanya dengan jahr (diperdengarkan) baik itu Al-Fatihah maupun surat lainnya. Hal ini selaras dengan keterangan dari Al-Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal tentang wajibnya makmum diam bila imam membaca dengan jahr (keras).

    Berdasar arahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :”Dijadikan imam itu hanya untuk diikuti. Oleh karena itu apabila imam takbir, maka bertakbirlah kalian, dan apabila imam membaca, maka hendaklah kalian diam (sambil memperhatikan bacaan imam itu)” (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud no. 603 & 604. Ibnu Majah no. 846, An-Nasa-i. Imam Muslim berkata: Hadits ini menurut pandanganku Shahih).

    “Barangsiapa sholat mengikuti imam (bermakmum), maka bacaan imam telah menjadi bacaannya juga.” (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah, Ad-Daraquthni, Ibnu Majah, Thahawi dan Ahmad lihat kitab Irwa-ul Ghalil oleh Syaikh Al-Albani).

    Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah mendirikan sholat yang beliau keraskan bacaanya dalam sholat itu, beliau bertanya: “Apakah ada seseorang diantara kamu yang membaca bersamaku tadi ?” Maka seorang laki-laki menjawab, “Ya ada, wahai Rasulullah.” Kemudian beliau berkata, “Sungguh aku katakan: Mengapakah (bacaan)ku ditentang dengan Al-Qur’an (juga).” Berkata Abu Hurairah, kemudian berhentilah orang-orang dari membaca bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sholat-sholat yang Rasulullah keraskan bacaannya, ketika mereka sudah mendengar (larangan) yang demikian itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa-i dan Malik. Abu Hatim Ar Razi menshahihkannya, Imam Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan).

    Hadits-hadits tersebut merupakan dalil yang tegas dan kuat tentang wajib diamnya makmum apabila mendengar bacaan imam, baik Al-Fatihah-nya maupun surat yang lain. Selain itu juga berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Dan apabila dibacakan Al-Qur-an hendaklah kamu dengarkan ia dan diamlah sambil memperhatikan (bacaannya), agar kamu diberi rahmat.” (Al-A’raaf : 204).

    Ayat ini asalnya berbentuk umum yakni dimana saja kita mendengar bacaan Al-Qur-an, baik di dalam sholat maupun di luar sholat wajib diam mendengarkannya walaupun sebab turunnya berkenaan tentang sholat. Tetapi keumuman ayat ini telah menjadi khusus dan tertentu (wajibnya) hanya untuk sholat, sebagaimana telah diterangkan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Adh Dhohak, Qotadah, Ibarahim An Nakha-i, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan lain-lain. Lihat Tafsir Ibnu Katsir II/280-281.

    Cara Membaca Al Fatihah

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Al-Fatihah pada setiap roka’at. Membacanya dengan berhenti pada setiap akhir ayat (waqof), tidak menyambung satu ayat dengan ayat berikutnya (washol) berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud, Sahmi dan ‘Amr Ad Dani, dishahihkan oleh Hakim, disetujui Adz-Dzahabi.

    Begitulah seterusnya sampai selesai ayat yang terakhir. Terkadang beliau membaca: ( MAALIKI YAUMIDDIIN ). Atau dengan memendekkan bacaan ‘maa’ menjadi: ( MALIKI YAUMIDDIIN ). Berdasarkan riwayat yang mutawatir dikeluarkan oleh Tamam Ar Razi, Ibnu Abi Dawud, Abu Nu’aim, dan Al Hakim. Hakim menshahihkannya, dan disetujui oleh Adz-Dzahabi.

    Seandainya Seseorang Belum Hafal Al-Fatihah

    Bagi seseorang yang belum hafal Al Fatihah terutama bagi yang baru masuk Islam, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan solusinya. Nasehatnya untuk orang yang belum hafal Al-Fatihah (tentunya dia tak berhak jadi Imam)

    Ucapkanlah: SUBHANALLAHI, WALHAMDULILLAHI, WA LAA ILAHA ILLALLAHU, WALLAHU AKBAR, WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAHI

    artinya: “Maha Suci Allah, Segala puji milik Allah, tiada Ilah (yang haq) kecuali Allah, Allah Maha Besar, Tiada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah.” (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Hakim, Thabrani dan Ibnu Hibban disahihkan oleh Hakim dan disetujui oleh Ad-Dzahabi).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Jika kamu hafal suatu ayat Al-Qur-an maka bacalah ayat tersebut, jika tidak maka bacalah Tahmid, Takbir dan Tahlil.” (Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dihasankan oleh At-Tirmidzi, tetapi sanadnya shahih, baca Shahih Abi Dawud hadits no. 807).

    **

    MEMBACA AMIN

    Hukum Bagi Imam:

    Membaca amin disunnahkan bagi imam sholat.

    Dari Abu hurairah, dia berkata: “Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika selesai membaca surat Ummul Kitab (Al-Fatihah) mengeraskan suaranya dan membaca amin.” (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ad-Daraquthni dan Ibnu Majah, oleh Al-Albani dalam Al-Silsilah Al-Shahihah dikatakan sebagai hadits yang berkualitas shahih) “Bila Nabi selesai membaca Al-Fatihah (dalam sholat), beliau mengucapkan amiin dengan suara keras dan panjang.” (Hadits shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Abu Dawud).

    Hadits tersebut mensyari’atkan para imam untuk mengeraskan bacaan amin, demikian yang menjadi pendapat Al-Imam Al-Bukhari, As-Syafi’i, Ahmad, Ishaq dan para imam fikih lainnya. Dalam shahihnya Al-Bukhari membuat suatu bab dengan judul ‘baab jahr al-imaan bi al-ta-miin’ (artinya: bab tentang imam mengeraskan suara ketika membaca amin). Didalamnya dinukil perkataan (atsar) bahwa Ibnu Al-Zubair membaca amin bersama para makmum sampai seakan-akan ada gaung dalam masjidnya.

    Juga perkataan Nafi’ (maula Ibnu Umar): Dulu Ibnu Umar selalu membaca aamiin dengan suara yang keras. Bahkan dia menganjurkan hal itu kepada semua orang. Aku pernah mendengar sebuah kabar tentang anjuran dia akan hal itu.”

    Hukum Bagi Makmum:

    Dalam hal ini ada beberapa petunjuk dari Nabi (Hadits), atsar para shahabat dan perkataan para ulama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Jika imam membaca amiin maka hendaklah kalian juga membaca amiin.”

    Hal ini mengisyaratkan bahwa membaca amiin itu hukumnya wajib bagi makmum. Pendapat ini dipertegas oleh Asy-Syaukani. Namun hukum wajib itu tidak mutlak harus dilakukan oleh makmum. Mereka baru diwajibkan membaca amiin ketika imam juga membacanya. Adapun bagi imam dan orang yang sholat sendiri, maka hukumnya hanya sunnah. (lihat Nailul Authaar, II/262).

    “Bila imam selesai membaca ghoiril maghdhuubi ‘alaihim waladhdhooolliin, ucapkanlah amiin [karena malaikat juga mengucapkan amiin dan imam pun mengucapkan amiin]. Dalam riwayat lain: “(apabila imam mengucapkan amiin, hendaklah kalian mengucapkan amiin) barangsiapa ucapan aminnya bersamaan dengan malaikat, (dalam riwayat lain disebutkan: “bila seseorang diantara kamu mengucapkan amin dalam sholat bersamaan dengan malaikat dilangit mengucapkannya), dosa-dosanya masa lalu diampuni.” (Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa-i dan Ad-Darimi)

    Syaikh Al-Albani mengomentari masalah ini sebagai berikut: “Aku berkata: Masalah ini harus diperhatikan dengan serius dan tidak boleh diremehkan dengan cara meninggalkannya. Termasuk kesempurnaan dalam mengerjakan masalah ini adalah dengan membarengi bacaan amin sang imam, dan tidak mendahuluinya. (Tamaamul Minnah hal. 178).

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • pakne Nafa 12:52 pm on 10 Agustus 2012 Permalink

      Terima kasih atas pencerahannya. Semoga Allah membalas dg pahala yang banyak.

  • erva kurniawan 5:48 pm on 2 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: doa istiftah, sholat   

    Kaifiat Sholat Nabi (Membaca Do’a Istiftah) 

    Samahatusy Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, ”Bagaimana hukum membaca do’a istiftah”?

    Jawab: Do’a istiftah hukumnya sunnah, bukan wajib baik dalam sholat wajib maupun sholat sunnah. Sebaiknya dalam membaca do’a istiftah dibaca secara bergantian diantara do’a-do’a istiftah yang diajarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam agar ia mendapatkan sunnah membaca semua do’a istiftah. Tetapi jika ia hanya hafal satu jenis do’a istiftah dan melazimi bacaannya, maka tidak mengapa. Karena secara dhohir Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bermacam-macam do’a istiftah dan tasyahud adalah untuk memudahkan manusia. Begitu juga dalam dzikir setelah sholat, beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam membaca bermacam bentuk dzikir untuk mendapatkan dua faidah:

    Pertama: Agar manusia tidak terus menerus mengucapkan satu macam dzikir, karena bila terbiasa dengan satu jenis dzikir ucapan dzikir akan menjadi otomatis keluarnya sehingga meskipun ia tidak berkosentrasi lisannya dapat mengucapkan walau tanpa berfikir dikarenakan kebiasaannya tadi. Bila manusia membaca dzikir-dzikir yang ada secara bergantian maka hal itu lebih dapat mengkosentrasikan hati dan ia lebih memahami apa yang ia ucapkan.

    Kedua: Mempermudah manusia, sehingga mereka dapat memilih do’a mana yang sesuai dengannya.

    Karena dua faidah inilah sebagian ibadah tidak hanya satu bentuk saja, seperti do’a istiftah, tasyahud, dan dzikir-dzikir setelah sholat.

    **

    Membaca Do’a Istiftah

    Do’a istiftah yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermacam-macam. Dalam do’a istiftah tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan pujian, sanjungan dan kalimat keagungan untuk Allah.

    Beliau pernah memerintahkan hal ini kepada orang yang salah melakukan sholatnya dengan sabdanya:

    “Tidak sempurna sholat seseorang sebelum ia bertakbir, mengucapkan pujian, mengucapkan kalimat keagungan (do’a istiftah), dan membaca ayat-ayat al Qur-an yang dihafalnya” (HR. Abu Dawud dan Hakim, disahkan oleh Hakim, disetujui oleh Dzahabi).

    Adapun bacaan do’a istiftah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diantaranya adalah:

    “ALLAHUUMMA BA’ID BAINII WA BAINA KHATHAAYAAYA KAMAA BAA’ADTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIBI, ALLAAHUMMA NAQQINII MIN KHATHAAYAAYA KAMAA YUNAQQATS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANAS. ALLAAHUMMAGHSILNII BIL MAA’I WATS TSALJI WAL BARADI”

    artinya:

    “Ya, Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya, Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya, Allah cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Abi Syaibah).

    Atau kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membaca dalam sholat fardhu:

    “WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAN [MUSLIMAN] WA MAA ANA MINAL MUSYRIKIIN. INNA SHOLATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAHI RABBIL ‘ALAMIIN. LAA SYARIIKALAHU WABIDZALIKA UMIRTU WA ANA AWWALUL MUSLIMIIN. ALLAHUMMA ANTAL MALIKU, LAA ILAAHA ILLA ANTA [SUBHAANAKA WA BIHAMDIKA] ANTA RABBII WA ANA ‘ABDUKA, DHALAMTU NAFSII, WA’TARAFTU BIDZAMBI, FAGHFIRLII DZAMBI JAMII’AN, INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLA ANTA. WAHDINII LI AHSANIL AKHLAAQI LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLA ANTA, WASHRIF ‘ANNII SAYYI-AHAA LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI-AHAA ILLA ANTA LABBAIKA WA SA’DAIKA, WAL KHAIRU KULLUHU FII YADAIKA. WASY SYARRULAISA ILAIKA. [WAL MAHDIYYU MAN HADAITA]. ANA BIKA WA ILAIKA [LAA MANJAA WALAA MALJA-A MINKA ILLA ILAIKA. TABAARAKTA WA TA’AALAITA ASTAGHFIRUKA WAATUUBU ILAIKA”

    yang artinya:

    “Aku hadapkan wajahku kepada Pencipta seluruh langit dan bumi dengan penuh kepasrahan dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sesuatu pun yang menyekutui-Nya. Demikianlah aku diperintah dan aku termasuk orang yang pertama-tama menjadi muslim. Ya Allah, Engkau-lah Penguasa, tiada Ilah selain Engkau semata-mata. [Engkau Mahasuci dan Mahaterpuji], Engkaulah Rabb-ku dan aku hamba-Mu, aku telah menganiaya diriku dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah semua dosaku. Sesungguhnya hanya Engkau-lah yang berhak mengampuni semua dosa. Berilah aku petunjuk kepada akhlaq yang paling baik, karena hanya Engkau-lah yang dapat memberi petunjuk kepada akhlaq yang terbaik dan jauhkanlah diriku dari akhlaq buruk. Aku jawab seruan-Mu, sedang segala keburukan tidak datang dari-Mu. [Orang yang terpimpin adalah orang yang Engkau beri petunjuk]. Aku berada dalam kekuasaan-Mu dan akan kembali kepada-Mu, [tiada tempat memohon keselamatan dan perlindungan dari siksa-Mu kecuali hanya Engkau semata]. Engkau Mahamulia dan Mahatinggi, aku mohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (Hadits diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari, Muslim dan Ibnu Abi Syaibah).

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat dan ibnusarijan.blogspot.com

     
  • erva kurniawan 10:09 am on 5 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: keajaiban sholat, keajaiban sujud, sholat, sujud   

    Mari Perbanyak Sujud Agar Otak Kita Sehat dan Selalu Segar 

    sujud“Sholat itu Bikin Otak Kita Sehat” “Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu dan Berkurbanlah”. Q.S Al Kautsar (102) : 2

    “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk”. QS. Al-Baqarah (2) ayat 43.

    Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menghadap Allah (meninggal dunia), sedangkan ia biasa melalaikan Shalatnya, maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)”. Hadist Riwayat Tabrani.

    Tergantung pada kecintaan dalam mengerjakan sholat. Oleh karena itu kenalilah dirimu sendiri wahai hamba Allah! Takutlah kamu jika nanti menghadap Allah Azza Wa Jalla tanpa membawa kualitas keislaman yang baik. Sebab kualitas keislaman dalam hal ini ditentukan oleh kualitas ibadah sholatmu. (Ibn al Qayyim, ash Sholah, hal 42 dan ash Sholah wa hukmu taarikihaa, hal 170-171)

    **

    Shalat dan Otak Manusia

    Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita?

    Seorang Doktor di Amerika (Dr. Fidelma) telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran.

    Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu itu telah membuka sebuah klinik yang bernama “Pengobatan Melalui Al Qur’an” Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.

    Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal.

    Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang diwajibkan oleh Islam.

    Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena Sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.

    **

    Kesimpulannya :

    Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan Secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial Masyarakat saat ini.

    Sumber : National Geographic 2002 Road to Mecca (Ustz. Arifin Ilham)

     
    • elqolam 11:22 am on 18 Desember 2009 Permalink

      Ternyata Allah memerintahkan shalat buat kita juga yah. Tapi aneh banyak juga yang meninggalkannya.

    • sarah 2:52 pm on 3 Mei 2010 Permalink

      wah artikelnya bagus…..saya izin reposting yah mbak

  • erva kurniawan 12:02 pm on 8 September 2009 Permalink | Balas
    Tags: sholat,   

    Orang yang Memperoleh Pahala Shalat Berjamaah 

    SHOLAT BERJAMAAHSahabatku, ada sebuah hadits yang mungkin perlu engkau ketahui. Yaitu tentang keutamaan shalat berjamaah. Hadits itu berbunyi, “Seseorang yang berwudhu dengan sempurna, kemudian pergi ke masjid dan di dapatinya orang-orang telah selesai shalat (berjamaah), maka dia akan menerima pahala sebanyak orang yang mengerjakan shalat berjamaah, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka.” (HR. Abu Daud, Nasa’i, dan Hakim).

    Subhanalllah, ini adalah anugerah besar yang diberikan kepada kita. Ini seperti hidangan yang sangat mahal harganya namun diberikan secara cuma-cuma. Lantas, mengapa sedikit sekali orang yang mau mengambil hidangan itu?

    Sahabatku, kita kadang tidak jadi pergi shalat ke masjid dengan alasan tidak ada orang yang shalat berjamaah. Lantas kita shalat sendirian di rumah. Padahal, menurut hadits ini, jika kita sudah berniat shalat berjamaah di masjid, namun tidak ada lagi yang shalat berjamaah, maka kita tetap mendapatkan pahala shalat berjamaah.

    Tentu saja kita mendapatkan pahala itu dengan satu syarat: Jika kita sudah tahu ada shalat berjamaah di masjid, lalu kita tunda-tunda dengan harapan tidak shalat berjamaah dan dapat shalat sendirian, dengan asumsi bahwa kita akan memperoleh pahala shalat berjamaah, maka hal itu tidak benar. Kita tidak akan mendapatkan pahala shalat berjamaah. Niat seperti ini sudah melenceng dari yang sudah seharusnya, sehingga pahala tersebut tidak kita dapatkan.

    Orang yang terbiasa shalat berjamaah, biasanya akan sangat bersedih apabila ia tidak shalat berjamaah. Ia ingin, bagaimanapun caranya, dapat melaksanakan shalat berjamaah dengan istiqomah. Namun, kadang kala ia lupa dan terhambat karena udzur syar’i. Sehingga sesekali ia terhalang untuk shalat berjamaah. Niatnya yang kuat untuk selalu shalat berjamaah tetap tertambat di dalam hatinya. Ia tidak pernah sedikitpun ingin menghapus niat itu di dalam hatinya. Kemudian Allah memberikan hiburan kepadanya dengan hadits Nabi tersebut.

    Orang yang merindukan rumah Allah akan selalu datang menunaikan shalat fardhu di masjid meskipun sudah tidak ada lagi orang yang shalat berjamaah. Karena mengerjakan shalat fardhu di masjid lebih utama daripada mengerjakannya di dalam rumah.

    ***Sunday

     
    • iboy 6:34 pm on 9 September 2009 Permalink

      assalamu’alaikum..
      Mba erva, sy rutin mmbaca kisah2 islami d blog Mba, sangat brmanfaat untuk sy. terimakasih bnyak y mba.. Sy ada usul sdikit, bgaimana klo mba pasang translator d blog mba, supaya bisa dbaca org2 diluar indonesia jg. Brmanfaat insyaallah.

  • erva kurniawan 7:13 am on 5 May 2009 Permalink | Balas
    Tags: sholat   

    Khusyuk Dalam Sholat 

    sholat-2

     

    Seorang ahli ibadah bernama Isam Bin Yusuf, sangat warak dan khusyuk solatnya. Namun, dia selalu kuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasainya kurang khusyuk. Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Assam dan bertanya, “Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan solat?”.

    Hatim berkata, “Apabila masuk waktu solat, aku berwudlu zahir dan batin.”

    Isam bertanya, “Bagaimana wudlu zahir dan batin itu?”

    Hatim berkata, ” wudlu zahir sebagaimana biasa yaitu membasuh semua anggota wudlu dengan air”. Sementara wudlu batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :

    1. Bertaubat
    2. Menyesali dosa yang telah dilakukan
    3. Tidak tergila-gilakan dunia
    4. Tidak mencari/mengharap pujian orang (riya’)
    5. Tinggalkan sifat berbangga
    6. Tinggalkan sifat khianat dan menipu
    7. Meninggalkan sifat dengki.”

    Seterusnya Hatim berkata, “Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku rasakan aku sedang berhadapan dengan Allah, Syurga di sebelah kananku, Neraka di sebelah kiriku, Malaikat Maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula aku seolah-olah berdiri di atas titian ‘Siratal mustaqim’ dan menganggap bahawa solatku kali Ini adalah solat terakhir bagiku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.”

    “Setiap bacaan dan doa dalam solat, ku faham maknanya, kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawadhuk, aku bertasyahud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat selama 30 tahun”. Apabila Isam mendengar, menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibanding-kan dengan Hatim.

    Bagaimana dengan sholat kita ? apakah sudah khusyuk ?

    Untuk manfaat kita bersama, silahkan sebarkan artikel ini ke sahabat-sahabat anda !

    ***

     
    • sylvi 6:17 pm on 5 Juli 2009 Permalink

      makasih atas tulisannya yg sgt bermanfaat ini..

    • samuel farhan 11:34 am on 15 September 2011 Permalink

      terima ksh,baru kl in sy mrskan khusyukx sholat

  • erva kurniawan 8:22 am on 28 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: keutamaan sholat, keutamaan sholat tahajud, sholat, ,   

    Keutamaan Shalat Tahajud 

    dua1M Wakhid Hidayat

    *** 

    Di antara ajaran Rasulullah SAW yang paling dianjurkan adalah shalat Tahajud. Sehingga, dalam literatur fikih Islam, shalat Tahajud diberi hukum sunah muakkadah (sangat dianjurkan).

    Shalat Tahajud ini dilakukan pada malam hari setelah shalat Isya dan disyaratkan tidur terlebih dahulu. Pelaksanaan Tahajud itu sendiri dikaitkan dengan waktu yang utama, yaitu sepertiga malam terakhir. Bahkan, ada yang menyebut waktu shalat Tahajud adalah di saat ketika kita dapat mendengar suara jarum yang jatuh di atas lantai.

    Allah SWT berfirman, ”Dan di antara waktu malam, maka bertahajudlah sebagai (ibadah) kesunatan bagimu, semoga Tuhan mengangkatmu ke derajat yang mulia.” (Al-Israa': 79).

    Untuk melaksanakan shalat Tahajud memang merupakan perjuangan yang sangat berat. Apalagi ia dilaksanakan pada waktu manusia sedang enak-enaknya tidur, dalam udara yang dingin, bahkan harus perang melawan nafsu dan setan yang akan selalu membisikkan untuk tidur lelap. Namun, Allah Maha Mengetahui setiap ibadah hamba-Nya dan Maha Penyayang terhadap usaha taqarrub kepada-Nya, Dia memberikan fadhilah (keutamaan) yang besar kepada siapa saja yang melakukan ibadah sunah ini, yaitu derajat yang mulia, baik di dunia ini maupun di hadapan-Nya nanti, sebagaimana tersirat dalam ayat di atas.

    Sebuah hadis qudsi tentang fadhilah Tahajud ini, sebagaimana diriwayatkan Bukhari, Muslim, Malik, Turmudzi, dan Abu Dawud, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Tuhanmu yang Maha Pemberi Berkah dan Maha Mulia, selalu turun ke langit dunia setiap malam, pada paruh waktu seperti tiga malam terakhir, dan Dia berfirman, ‘Barang siapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, barangsiapa mengajukan permintaan kepada-Ku akan Aku berikan, dan barangsiapa memohon ampun kepada-Ku akan Aku ampuni’.”

    Mahasuci Allah. Itulah tiga keutamaan shalat Tahajud dan ketiganya pula merupakan harapan setiap hamba. Setiap hamba pasti berharap doanya terkabul, permintaannya diberikan, dan dosa-dosa diampuni. Mustahil bagi seorang hamba berharap bahwa setiap doanya ditolak, permintaannya diabaikan, dan dosa-dosanya terus menumpuk.

    Alangkah indahnya jika setiap kita umat Islam bisa mengumandangkan adzan, lalu shalat Tahajud, dan kemudian dilanjutkan dengan doa. Doa untuk kebaikan dan kesejahteraan bangsa, meminta rezeki yang halal, ilmu yang bermanfaat, serta kehidupan yang baik (hasanah). Kita memohon ampun setiap dosa yang kita sengaja maupun tidak sengaja, dengan segala pengakuan khilaf kepada Rabb yang Maha Pengampun.

    Ya Allah, bagi-Mu segala puji, Engkaulah pendiri langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Raja langit dan bumi, serta segala yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah cahaya langit dan bumi, serta segala yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau-lah al-Haq, janji-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu adalah benar, firman-Mu adalah benar, surga dan neraka-Mu adalah benar, para nabi-Mu adalah benar dan Muhammad SAW adalah benar serta hari kiamat adalah benar. Wallahu a’lam.

     
    • gumes 11:01 pm on 30 Desember 2008 Permalink

      Hal : Minta izin
      From : Gumes
      saya hanya copy_paste tulisan ini kedalam forum saya,
      sasgumes.forum3.biz

    • ervakurniawan 8:09 am on 31 Desember 2008 Permalink

      silahkan :)

    • Sri Mulyati 10:26 pm on 17 Oktober 2010 Permalink

      assalamualaikum wr wb….aku juga izin copi paste ya utk dibgi2kn keteman2ku…trim seblmnya

  • erva kurniawan 2:53 pm on 26 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: rukun sholat, sholat, , syarat sholat, syarat syah sholat   

    Syarat dan Rukun Sholat 

    SYARAT-SYARAT SHALAT

    Shalat tidak akan sah kecuali jika memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun dan hal-hal yang wajib ada padanya serta menghindari hal-hal yang akan membatalkannya. Adapun syarat-syaratnya ada sembilan:

    1. Islam,
    2. Berakal,
    3. Tamyiz (dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk),
    4. Menghilangkan hadats,
    5. Menghilangkan najis,
    6. Menutup aurat,
    7. Masuknya waktu,
    8. Menghadap kiblat,
    9. Niat.

    Secara bahasa, syuruuth (syarat-syarat) adalah bentuk jamak dari kata syarth yang berarti alamat. Sedangkan menurut istilah adalah apa-apa yang ketiadaannya menyebabkan ketidakadaan (tidak sah), tetapi adanya tidak mengharuskan (sesuatu itu) ada (sah). Contohnya, jika tidak ada thaharah (kesucian) maka shalat tidak ada (yakni tidak sah), tetapi adanya thaharah tidak berarti adanya shalat (belum memastikan sahnya shalat, karena masih harus memenuhi syarat-syarat yang lainnya, rukun-rukunnya, hal-hal yang wajibnya dan menghindari hal-hal yang membatalkannya, pent.). Adapun yang dimaksud dengan syarat-syarat shalat di sini ialah syarat-syarat sahnya shalat tersebut.

     

    Penjelasan Sembilan Syarat Sahnya Shalat

    1. Islamsholat-berjamaah1

    Lawannya adalah kafir. Orang kafir amalannya tertolak walaupun dia banyak mengamalkan apa saja, dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik untuk memakmurkan masjid-masjid Allah padahal mereka menyaksikan atas diri mereka kekafiran. Mereka itu, amal-amalnya telah runtuh dan di dalam nerakalah mereka akan kekal.” (At-Taubah:17) Dan firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al-Furqan:23)

    Shalat tidak akan diterima selain dari seorang muslim, dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Aali ‘Imraan:85)

    2. Berakal

    Lawannya adalah gila. Orang gila terangkat darinya pena (tidak dihisab amalannya) hingga dia sadar, dalilnya sabda Rasulullah (yang artinya), “Diangkat pena dari tiga orang: 1. Orang tidur hingga dia bangun, 2. Orang gila hingga dia sadar, 3. Anak-anak sampai ia baligh.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa-i, dan Ibnu Majah).

    3. Tamyiz

    Yaitu anak-anak yang sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, dimulai dari umur sekitar tujuh tahun. Jika sudah berumur tujuh tahun maka mereka diperintahkan untuk melaksanakan shalat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan untuk shalat) dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur mereka masing-masing.” (HR. Al-Hakim, Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud)

    4. Menghilangkan Hadats (Thaharah)

    Hadats ada dua: hadats akbar (hadats besar) seperti janabat dan haidh, dihilangkan dengan mandi (yakni mandi janabah), dan hadats ashghar (hadats kecil) dihilangkan dengan wudhu`, sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci.” (HR. Muslim dan selainnya) Dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Allah tidak akan menerima shalat orang yang berhadats hingga dia berwudlu.” (Muttafaqun ‘alaih)

    5. Menghilangkan Najis

    Menghilangkan najis dari tiga hal: badan, pakaian dan tanah (lantai tempat shalat), dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dan pakaianmu, maka sucikanlah.” (Al-Muddatstsir:4). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Bersucilah dari kencing, sebab kebanyakan adzab kubur disebabkan olehnya.”

    6. Menutup Aurat

    Menutupnya dengan apa yang tidak menampakkan kulit (dan bentuk tubuh), berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Allah tidak akan menerima shalat wanita yang telah haidh (yakni yang telah baligh) kecuali dengan khimar (pakaian yang menutup seluruh tubuh, seperti mukenah).” (HR. Abu Dawud)

    Para ulama sepakat atas batalnya orang yang shalat dalam keadaan terbuka auratnya padahal dia mampu mendapatkan penutup aurat. Batas aurat laki-laki dan budak wanita ialah dari pusar hingga ke lutut, sedangkan wanita merdeka maka seluruh tubuhnya aurat selain wajahnya selama tidak ada ajnaby (orang yang bukan mahramnya) yang melihatnya, namun jika ada ajnaby maka sudah tentu wajib atasnya menutup wajah juga.(terdapat iktilaf pada para Ulama’).Di antara yang menunjukkan tentang mentutup aurat ialah hadits Salamah bin Al-Akwa` radhiyallahu ‘anhu, “Kancinglah ia (baju) walau dengan duri.”Dan firman Allah ‘azza wa jalla, “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al-A’raaf:31) Yakni tatkala shalat.

    7. Masuk Waktu

    Dalil dari As-Sunnah ialah hadits Jibril ‘alaihis salam bahwa dia mengimami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal waktu dan di akhir waktu (esok harinya), lalu dia berkata (yang artinya): “Wahai Muhammad, shalat itu antara dua waktu ini.” Dan firman Allah ‘azza wa jalla, “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa`:103) Artinya diwajibkan dalam waktu-waktu yang telah tertentu. Dalil tentang waktu-waktu itu adalah firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dirikanlah shalat dari sesudah tergelincirnya matahari sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).”  (Al-Israa`:78)

    8. Menghadap Kiblat

    Dalilnya firman Allah (yang artinya), “Sungguh Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke Kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil-Haram, dan di mana saja kalian berada maka palingkanlah wajah kalian ke arahnya.” (Al-Baqarah:144)

    9. Niat

    Tempat niat ialah di dalam hati, sedangkan melafazhkannya adalah bid’ah (karena tidak ada dalilnya). Dalil wajibnya niat adalah hadits yang masyhur (yang artinya), “Sesungguhnya amal-amal itu didasari oleh niat dan sesungguhnya setiap orang akan diberi (balasan) sesuai niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih dari ‘Umar Ibnul Khaththab)

     

    RUKUN-RUKUN SHALAT

    Rukun-rukun shalat ada empat belas:

    1. Berdiri bagi yang mampu,
    2. Takbiiratul-Ihraam,
    3. Membaca Al-Fatihah,
    4. Ruku’,
    5. I’tidal setelah ruku’,
    6. Sujud dengan anggota tubuh yang tujuh,
    7. Bangkit darinya,
    8. Duduk di antara dua sujud,
    9. Thuma’ninah (Tenang) dalam semua amalan,
    10. Tertib rukun-rukunnya,
    11. Tasyahhud Akhir,
    12. Duduk untuk Tahiyyat Akhir,
    13. Shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    14. Salam dua kali.

    Penjelasan Empat Belas Rukun Shalat

    1. Berdiri tegak pada shalat fardhu bagi yang mampusholat-berjamaah-2

    Dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Jagalah shalat-shalat dan shalat wustha (shalat ‘Ashar), serta berdirilah untuk Allah ‘azza wa jalla dengan khusyu’.”  (Al-Baqarah:238) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Shalatlah dengan berdiri…” (HR. Al-Bukhary)

    2. Takbiiratul-ihraam,

    yaitu ucapan: ‘Allahu Akbar’, tidak boleh dengan ucapan lain. Dalilnya hadits (yang artinya), “Pembukaan (dimulainya) shalat dengan takbir dan penutupnya dengan salam.”  (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim) Juga hadits tentang orang yang salah shalatnya (yang artinya), “Jika kamu telah berdiri untuk shalat maka bertakbirlah.” (Idem)

    3. Membaca Al-Fatihah

    Membaca Al-Fatihah adalah rukun pada tiap raka’at, sebagaimana dalam hadits (yang artinya), “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (Muttafaqun ‘alaih)

    4. Ruku’

    5. I’tidal (Berdiri tegak) setelah ruku’

    6. Sujud dengan tujuh anggota tubuh

    7. Bangkit darinya

    8. Duduk di antara dua sujud

    Dalil dari rukun-rukun ini adalah firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman ruku’lah dan sujudlah.” (Al-Hajj:77) Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Saya telah diperintahkan untuk sujud dengan tujuh sendi.” (Muttafaqun ‘alaih)

    9. Thuma’ninah dalam semua amalan

    10. Tertib antara tiap rukun

    Dalil rukun-rukun ini adalah hadits musii’ (orang yang salah shalatnya) (yang artinya), “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk mesjid, lalu seseorang masuk dan melakukan shalat lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: ‘Kembali! Ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, … Orang itu melakukan lagi seperti shalatnya yang tadi, lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: ‘Kembali! Ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, … sampai ia melakukannya tiga kali, lalu ia berkata: ‘Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran sebagai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya tidak sanggup melakukan yang lebih baik dari ini maka ajarilah saya!’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: ‘Jika kamu berdiri hendak melakukan shalat, takbirlah, baca apa yang mudah (yang kamu hafal) dari Al-Qur`an, kemudian ruku’lah hingga kamu tenang dalam ruku’, lalu bangkit hingga kamu tegak berdiri, sujudlah hingga kamu tenang dalam sujud, bangkitlah hingga kamu tenang dalam duduk, lalu lakukanlah hal itu pada semua shalatmu.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim)

    11. Tasyahhud Akhir

    Tasyahhud akhir termasuk rukun shalat sesuai hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata (yang artinya), “Tadinya, sebelum diwajibkan tasyahhud atas kami, kami mengucapkan: ‘Assalaamu ‘alallaahi min ‘ibaadih, assalaamu ‘alaa Jibriil wa Miikaa`iil (Keselamatan atas Allah ‘azza wa jalla dari para hamba-Nya dan keselamatan atas Jibril ‘alaihis salam dan Mikail ‘alaihis salam)’, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian mengatakan, ‘Assalaamu ‘alallaahi min ‘ibaadih (Keselamatan atas Allah ‘azza wa jalla dari para hamba-Nya)’, sebab sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla Dialah As-Salam (Dzat Yang Memberi Keselamatan) akan tetapi katakanlah, ‘Segala penghormatan bagi Allah, shalawat, dan kebaikan’, …” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hadits keseluruhannya. Lafazh tasyahhud bisa dilihat dalam kitab-kitab yang membahas tentang shalat seperti kitab Shifatu Shalaatin Nabiy, karya Asy-Syaikh Al-Albaniy dan kitab yang lainnya.

    12. Duduk Tasyahhud Akhir

    Sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Jika seseorang dari kalian duduk dalam shalat maka hendaklah ia mengucapkan At-Tahiyyat.” (Muttafaqun ‘alaih)

    13. Shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Jika seseorang dari kalian shalat… (hingga ucapannya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam) lalu hendaklah ia bershalawat atas Nabi.”  Pada lafazh yang lain,  “Hendaklah ia bershalawat atas Nabi lalu berdoa.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

    14. Dua Kali Salam

    Sesuai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “… dan penutupnya (shalat) ialah salam.

     

    Inilah penjelasan tentang syarat-syarat dan rukun-rukun shalat yang harus diperhatikan dan dipenuhi dalam setiap melakukan shalat karena kalau meninggalkan salah satu rukun shalat baik dengan sengaja atau pun lupa maka shalatnya batal, harus diulang dari awal.

     Wallaahu A’lam.

     
    • Abdul wahid 10:44 am on 3 November 2009 Permalink

      Sy prnh membaca perukunan bertuliskan arab bahasa melayu. Di sna di katakan niat termasuk kedalam rukun qolbi tetapi sunat di ikrarkan.

    • marwanazis 7:18 pm on 12 Januari 2010 Permalink

      blognya menarik dan bermanfaat…..

    • Vidzas Erdien 2:44 am on 12 Maret 2010 Permalink

      Salam kenal Mas!
      Ditunggun kunjungan baliknya :-)
      Saya mohon izin nyedot gambar nih

    • Bani Adam 9:01 pm on 17 Agustus 2011 Permalink

      jadi niat itu rukun atau syarat sih??

  • erva kurniawan 12:52 pm on 26 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: artikel hikmah sholat dhuha, dhuha, fadhilah sholat dhuha, hikmah sholat dhuha, kemuliaan orang yang sholat dhuha, keutamaan sholat dhuha, rahasia sholat dhuha, rukun sholat dhuha, sholat, sholat dhuha   

    Sholat Dhuha 

    sholat-dhuhaKEUTAMAAN SHALAT DHUHA

    Shalat Dhuha adalah shalat sunat yang dikerjakan pada waktu matahari sedang naik setinggi kurang lebih 7 hasta sampai tergelincirnya (kira-kira antara jam 07 sampai jam 11). ShaLat ini dilakukan rasulullah SAW minimal dua rakaat, dan maksimal dua belas raka’at dengan salam setiap dua rakaatnya.

    Abu Hurairah r.a berkata: “kekasihku Rasulullah SAW berpesan kepada saya supaya berpuasa tiga hari tiap-tiap bulan (puasa ayyaaamul biidh tgl 13, 14 dan 15 di bulan-bulan Hijriyah), dan Shalat Dhuha dua raka’at dan Shalat witir sebelum tidur” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Aisyah r.a berkata:” Rasulullah SAW biasa melaksaNakan Shalat Dhuha empat raka’at, dan kadang-kadang melebihi dari itu sekehendak Allah.” (HR. Ahmad, Muslim dan Ibnu Majalah).

    Dalam riwaYat lain: “Bahwa Nabi SAW mengerjakan Shalat Dhuha sebanyak delapan raka’at dan tiap-tiap dua raKa’at bersalam.” (HR. Abu Daud)

    dari Anas r.a ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang Shalat Dhuha dua belas raka’at, niscaya Allah akan dirikan gedung baginya di surga.” (HR. Turmudzi)

    Adapun di antara fadhilah (keutamaan) Shalat Dhuha adalah sebagai penganti shadaqah, diampuni dosa-dosa orang yang menjalankan dan diluaskan rizkinya. Rasulullah bersabda : “Siapa saja yang dapat mengerjakan Shalat Dhuha dengan langgeng akan diampuni diampuni dosanya oleh Allah, sekali dosa itu sebanyak busa lautan.” (HR. Turmudzi)

    Dalam hadist Qusdi, Nuwas bin Sam’an ra menuturkan bahwa Nabi SAW bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Wahai Anak Adam, jangai sekali-kali engkau malas mengerjakan empat raka’at pada waktu permulaan siang (yakni Shalat Dhuha), nanti pasti kucukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.” (HR. Hakim dan Thabrani)

    Dari Abu Dzar ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda : “hendaklah masing-masing kamu tiap-tiap pagi bershadaqah untuk persendian badannya. maka itap kali bacaan tasbih bacaan tasbih (subhanallah) itu shadaqah, tiap tahmid (alhamdulillah) itu shadaqah, setiap tahlil (laa ilaaha Illallah) itu shadaqah, menyuruh kebaikan dan melarang kejahatan itu shadaqah, dan sebagai ganti itu semua, cukuplah mengerjakan shalat dhuha dua rakaat.” (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Daud)

    Demikianlah fadhilah Shalat Dhuha, adapun tata cara melakssanakan shalat ini seperti shalat sunnah lainya, dengan salam dua raka’at.

    Wallahu A’lam

     

    KEMULIAAN ORANG YANG SHALAT DHUHAkemuliaan-sholat-dhuha

    Orang yang suka memulai di pagi harinya dengan menyebut dan mengagungkan Allah dengan melakukan shalat dhuha yakni shalat sunnat dua rakaat sekali, dua kali, tiga kali atau empat kali sesudah naik matahari kira-kira antara jam 7 sampai dengan jam 11, Allah SWT akan menjamin baginya dengan jaminan istimewa di dunia dan akhirat.

    Perbuatan tersebut adalah kebiasaan yang dilakukan Rasulullah SAW selama hidupnya, sebagaimana beberapa keterangan antara lain :

    “Telah berkata Abu Huraerah : Kekasih saya, (Nabi Muhammad SAW) telah berwasiat tiga perkara kepada saya, yaitu puasa tiga hari tiap-tiap bulan, sembahyang dhuha dua rakaat dan sembahyang witir sebelum tidur”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari Muslim).

    “Ada orang bertanya kepada Aisyah : Adakah Rasulullah SAW sembahyang dhuha? Jawabnya : Ada, empat rakaat, dan terkadang ia tambah yang dikehendaki oleh Allah”. (H.R. Muslim).

    “Telah berkata Ummu Hani : Rasulullah SAW pernah pergi mandi, dan dilindungi oleh Fatimah, kemudian ia ambil kainnya, lalu berselimut dengan itu, kemudian ia sembahyang delapan rakaat, sembahyang Dhuha”. (Riwayat Bukhari Muslim 318 – Pengajaran Shalat).

    Memang SHALAT DHUHA merupakan keistimewaan yang luar biasa, sebab manusia akan merasa berat dan bahkan terlalu berat disaat-saat yang tanggung untuk berangkat kerja atau sedang kerja (sekitar jam 7 hingga jam 11), dia menyempatkan diri dulu buat melakukan shalat sunnat tersebut.

    Padahal dirasa berat hanyalah apabila belum biasa dan belum tahu keistimewaannya. Lain halnya dengan orang yang sudah tahu keistimewaannya dan imannya pun cukup kuat, tentu walau bagaimanapun keadaannya, apakah dia mau berangkat, ataukah sedang dikantor, tentu ia mengutamakan shalat itu barang sebentar, ia merasa sayang akan keutamaan ridha Allah yang ada pada shalat tersebut.

    Keutamaan shalat DHUHA dalam pahalanya memadai buat mensucikan seluruh anggota tubuh yang padanya ada hak untuk dikeluarkan shadaqahnya. Sebagimana keterangan Rasulullah SAW bahwa setiap persendian itu ada hak untuk dikeluarkan shadaqahnya. Sedang dengan tasbih, tahmid, takbir dan amar ma’ruf nahyil munkar, cukuplah memadai buat kafarat kepada haq tersebut. Tapi semua itu cukuplah memadai dengan shalat DHUHA dua rakaat :

    “Dari Abu Huraerah ridliyallhu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda : Pada tiap-tiap persendian itu ada shadaqahnya, setiap tasbih adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah (bacaanya : SUBHANALLAH/ MAHA SUCI ALLAH, ALHAMDULILLAH/ SEGALA PUJI BAGI ALLAH, LAA ILAHA ILLALLAHU/TIADA TUHAN SELAIN ALLAH, ALLHU AKBAR/ALLAH MAHA BESAR), setiap amar ma’ruf nahyil munkar itu shadaqah. Dan cukuplah memadai semua itu dengan memperkuat/melakuka n dua rakaat shalat dhuha” (Riwayat Muslim – Dalilil Falihin Juz III, hal 627).

    Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa shalat empat rakaat dipagi hari, Allah bakal menjamin dan mencukupkan segalanya dengan limpahan barakah sepanjang hari itu, sehingga bathinpun akan terasa damai walau apapun tantangan hidup yang merongrong, karena dia telah sadar semua itu ketetapan Allah :

    “Hai anak Adam, tunaikanlah kewajibanmu untuk KU, yaitu sembahyang empat rakaat pada pagi hari, niscaya Aku akan mencukupi sepanjang harimu” (Hadits Riwayat Imam Ahmad, Abu Ya’la).

    Dengan lafadz lain berbunyi :

    “Hai anak Adam, bersembahyanglah untuk KU empat rakaat pada pagi hari, aku akan mencukupimu sepanjang hari itu” (Riwayat Ahmad dari Abi Murrah).

    Coba renungkankan isi daripada do’a setelah shalat dhuha itu, nadanya seolah-olah memaksa untuk diperkenankan oleh Allah. Dan memang demikianlah lafadz do’a tersebut diajarkan oleh Rasulullah SAW :

    “Ya Allah, bahwasanya waktu dhuha itu waktu dhuha (milik) Mu, kecantikan ialah kencantikan (milik) Mu, keindahan itu keindahan (milik) Mu, kekuatan itu kekuatan (milik) Mu, kekuasaan itu kekuasaan (milik) Mu, dan perlindungan itu perlindungan Mu”.

    Ya Allah, jika rizqiku masih diatas langit, turunkanlah (berlafadz perintah), dan jika ada di didalam bumi, keluarkanlah, jika sukar, mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba Mu yang shaleh”.

    Itulah keistimewaan dan keutamaan shalat DHUHA, didunia memberikan keberkahan hidup kepada pelakunya, diakheratpun /di hari kiamat orang itu dipanggil/dicari Tuhan untuk dimasukkan ke dalam syurga, sebagaimana sabda Nya didalam hadits qudsi :

    “Sesungguhnya di dalam syurga, ada pintu yang dinamakan pintu DHUHA, maka ketika datang hari kiamat memanggillah (yang memanggil Allah), dimanakah orang yang selalu mengerjakan sembahyang atas Ku dengan sembahyang DHUHA? inilah pintu kamu, maka masuklah kamu ke dalam syurga dengan rahmat Allah”. (Riwayat Thabrani dari Abu Huraerah).

     
    • fardian0811 1:54 pm on 22 Januari 2009 Permalink

      Ya Allah , semoga Engkau senantiasa limpahkan lapangkan hati kami untuk selalu mengingat Engkau dalam setiap waktu dhuha Mu…

    • harmadi 10:11 am on 24 Januari 2009 Permalink

      Artikel yang bermanfaat. Semoga kita sesama muslim tau ke istimewaan sholat dhuha. semoga kita termasuk orang-orang yang dirahmati Allah.. Amin.

    • rina 4:11 pm on 15 Maret 2009 Permalink

      narsis bgt dehh………….

    • riya 9:51 am on 1 April 2009 Permalink

      ass
      smoga ni bisa nembh semangat untk sholat

    • faridazahra 8:16 pm on 22 April 2009 Permalink

      sholat dhuhaku masih bolong2 :(

    • Abdul Cholik 3:05 pm on 2 Juni 2009 Permalink

      -Alhamdulillah artikel yang sangat bermanfaat.
      -Insya Allah saya akan mengitiqomahkan sholat dhuha.
      -salam

    • tia 5:32 pm on 3 Juni 2009 Permalink

      nice info mbak erva, thanks banget sharing-nya

    • elka 12:08 pm on 16 Juni 2009 Permalink

      sholat dhuha Q masih bolong2, moga ajach artikel ini bisa membantuQ menyempurnakan sholat dhuha

    • NOE 8:13 pm on 7 Agustus 2009 Permalink

      SAMPAIKANLAH WALAU SATU AYAT………
      SUKRON

    • Faizah 12:34 pm on 2 September 2009 Permalink

      Subhanallah,,, Semoga kita bisa mnjaga keistiqomahan sholat fardhu ditambah sholat dluha yg istimewa ini….

    • hamba allah 7:46 am on 6 Oktober 2009 Permalink

      shalat duha i love u full

    • aie 6:12 pm on 16 Oktober 2009 Permalink

      saya pengen bgt sholat duha
      kmrn”sya raji bribadah….knp ya skrng” males bgt
      ya allah brikanlah saya mujizat untuk melakukan ne smua
      brikan saya ksabaran,k’ikhlasan………………..

    • wahyu 10:22 am on 22 Oktober 2009 Permalink

      subhanallah, ampunillah segala dosa2 q ya allah

    • Nani Siti Aisah 7:52 am on 10 Januari 2010 Permalink

      jika dalam shalat dhuha suratnya bukan surat assyams dan alaail tapi surat yang kita hapal boleh tidak..????

    • wantous 1:54 pm on 22 April 2010 Permalink

      Judul link nya tata cara shalat dhuha, tapi koq ga ada di dalem nya??

    • chelsea wonosobo 7:23 pm on 21 Mei 2010 Permalink

      hemmmmmmmm mantab

    • putra 11:49 am on 21 Oktober 2010 Permalink

      artikelnya bermanfaat sekali bagi kita semoga kita bisa selalu melaksanakan sholat dhuha amien 3x

    • Arifien 9:55 am on 8 November 2010 Permalink

      Betapa bermanfaatnya artikel ini.
      Terima kasih telah memberikan pengetahuan baru untuk saya.
      :)

    • Novie 11:50 am on 11 Oktober 2011 Permalink

      Subhannallah sungguh merugi sekali diriku ini jika meninggalkan Shalat Dhuha sesungguhnya Janji Allah Itu pasti terhadap Mahluknya..semoga saja aku dapat meningkatkan shalat dhuhaku dan shalat sunah Lainnya.Amin Ya Rabbal Alamin

    • Fadly Jalaluddin Rumi 9:15 am on 30 Maret 2012 Permalink

      alhamdulillah,,, syukran info nya :)

    • ami 8:30 pm on 31 Mei 2012 Permalink

      alhamdulillah ini sangat brmamfaat bagi sy … trm kasih

    • Anikha Akhluna 5:46 pm on 28 Agustus 2012 Permalink

      Alhamdulillah yaah.. :)

  • erva kurniawan 6:46 pm on 19 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: rahasia sholat, rahasia sholat 5 waktu, rahasia sholat lima waktu, sholat   

    Rahasia Sholat 5 Waktu 

     

    MakkahAli bin Abi Talib r.a. berkata, “Sewaktu Rasullullah SAW duduk bersama para sahabat Muhajirin dan Ansar, maka dengan tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi lalu berkata, ‘Ya Muhammad, kami hendak bertanya kepada kamu kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa A.S. yang tidak diberikan kecuali kepada para Nabi utusan Allah atau malaikat muqarrab.’

     

    Lalu Rasullullah SAW bersabda, ‘Silahkan bertanya.’

     

    Berkata orang Yahudi, ‘Coba terangkan kepada kami tentang 5 waktu yang diwajibkan oleh Allah ke atas umatmu.’

     

    Sabda Rasullullah saw, ‘Shalat Zuhur jika tergelincir matahari, maka bertasbihlah segala sesuatu kepada Tuhannya. Shalat Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Shalat Maghrib itu adalah saat Allah menerima taubat Nabi Adam a.s. Maka setiap mukmin yang bershalat Maghrib dengan ikhlas dan kemudian dia berdoa meminta sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan mengkabulkan permintaannya. Shalat Isyak itu ialah shalat yang dikerjakan oleh para Rasul sebelumku. Shalat Subuh adalah sebelum terbit matahari. Ini kerana apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan di situ sujudnya setiap orang kafir.’

     

    Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah saw, lalu mereka berkata, ‘Memang benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakanlah kepada kami apakah pahala yang akan diperoleh oleh orang yang shalat.’

     

    Rasullullah SAW bersabda, ‘Jagalah waktu-waktu shalat terutama shalat yang pertengahan. Shalat Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam. Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya uap api neraka Jahanam pada hari Kiamat.’

     

    Sabda Rasullullah saw lagi, ‘Manakala shalat Asar, adalah saat di mana Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.’

     

    Selepas itu Rasullullah saw membaca ayat yang bermaksud, ‘Jagalah waktu-waktu shalat terutama mekkahsekali shalat yang pertengahan. Shalat Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam a.s. diterima. Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan shalat Maghrib kemudian meminta sesuatu daripada Allah, maka Allah akan perkenankan.’

     

    Sabda Rasullullah saw, ‘Shalat Isya’ (atamah). Katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan shalat Isyak berjamaah, Allah S.W.T haramkan dirinya daripada terkena nyala api neraka dan diberikan kepadanya cahaya untuk menyeberangi Titian Sirath.’

     

    Sabda Rasullullah saw seterusnya, ‘Shalat Subuh pula, seseorang mukmin yang mengerjakan shalat Subuh selama 40 hari secara berjamaah, diberikan kepadanya oleh Allah S.W.T dua kebebasan yaitu:

    1. Dibebaskan daripada api neraka.

    2. Dibebaskan dari nifaq.

     

    Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan daripada Rasullullah saw, maka mereka berkata, ‘Memang benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad (saw). Kini katakan pula kepada kami semua, kenapakah Allah S.W.T mewajibkan puasa 30 hari ke atas umatmu?’

     

    Sabda Rasullullah saw, ‘Ketika Nabi Adam memakan buah pohon khuldi yang dilarang, lalu makanan itu tersangkut dalam perut Nabi Adam a.s. selama 30 hari. Kemudian Allah S.W.T mewajibkan ke atas keturunan Adam a.s. berlapar selama 30 hari.

     

    Sementara diizin makan di waktu malam itu adalah sebagai kurnia Allah S.W.T kepada makhluk-Nya.’

     

    Kata orang Yahudi lagi, ‘Wahai Muhammad, memang benarlah apa yang kamu katakan itu. Kini terangkan kepada kami mengenai ganjaran pahala yang diperolehi daripada berpuasa itu.’

     

    Sabda Rasullullah saw, ‘Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Ramadhan dengan ikhlas kepada Allah S.W.T, dia akan diberikan oleh Allah S.W.T 7 perkara:

    1. Akan dicairkan daging haram yang tumbuh dari badannya (daging yang tumbuh daripada makanan yang haram).

    2. Rahmat Allah sentiasa dekat dengannya.

    3. Diberi oleh Allah sebaik-baik amal.

    4. Dijauhkan daripada merasa lapar dan dahaga.

    5. Diringankan baginya siksa kubur (siksa yang amat mengerikan).

    6. Diberikan cahaya oleh Allah S.W.T pada hari Kiamat untuk menyeberang Titian Sirath.

    7. Allah S.W.T akan memberinya kemudian di syurga.’

     

    Kata orang Yahudi, ‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakan kepada kami kelebihanmu di antara semua para nabi.’

     

    Sabda Rasullullah saw, ‘Seorang nabi menggunakan doa mustajabnya untuk membinasakan umatnya, tetapi saya tetap menyimpankan doa saya (untuk saya gunakan memberi syafaat kepada umat saya di hari kiamat).’

     

    Kata orang Yahudi, ‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Kini kami mengakui dengan ucapan Asyhadu Alla illaha illallah, wa annaka Rasulullah (kami percaya bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan engkau utusan Allah).’

     

    Sedikit peringatan untuk kita semua: “Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Surah Al-Baqarah: ayat 155)

     

    “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Surah Al-Baqarah: ayat 286)

    ***

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 669 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: