Updates from Oktober, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:21 am pada 22 October 2012 Permalink | Balas  

    Sinyal

    “Pesawat handphone –tercanggih sekalipun– membutuhkan sinyal untuk bisa  berfungsi sebagai alat komunikasi. Untuk menjadi pribadi yang efektif, kita  pun harus sensitif terhadap sinyal-sinyal komunikasi yang dipancarkan orang  lain.”

    Dalam sebuah seminar di Makassar, seorang mahasiswa UNHAS yang menemani saya  menceritakan banyak anekdot mengenai petani cengkeh yang biasanya mendadak  kaya sehabis panen. Kebanyakan temanya adalah soal bagaimana mereka  membelanjakan uang mereka yang berlebih itu. Ini salah satunya:

    Ada seorang petani cengkeh dari pedalaman pergi berbelanja ke kota dengan  membawa banyak sekali uang hasil penjualan panenannya. Mereka bermaksud  membelanjakan uang yang berlimpah itu. Datanglah mereka ke sebuah gerai  handphone terbesar di kota itu. “Saya hendak membeli handphone type yang  paling baru dan canggih?” kata petani itu.

    “Oh silahkan Pak, apakah Bapak sudah ada SIM card-nya?” sambut pegawai toko  dengan ramah.

    “Oh perlu SIM juga ya?” tanya petani itu sembil mencabut dompet, mengeluarkan SIM mengemudinya.

    “Oh, bukan SIM mengemudi Pak, tapi nomor dari operatornya … kalau begitu  apa sekalian SIM card-nya Pak?”

    “Oh ya, kalau begitu sekalian SIM card-nya.” jawab petani itu kalem.

    “Tapi Pak, maaf, Bapak tinggal di daerah mana?”

    “Saya? di Sungai Ujung, Kabupaten Kaki Bukit.”

    “Wah, di sana nggak ada sinyal Pak.”

    “Oh ya? kalau begitu tolong dik, dilengkapi dengan sinyal sekalian.”

    Bagaimana pun canggihnya pesawat telepon yang kita miliki, tidak akan  berfungsi dengan baik kalau tidak ada sinyal yang ditangkap. Demikian pula  dalam kehidupan sehari-hari kita, sesungguhnya banyak sekali sinyal-sinyal  komunikasi yang perlu kita tangkap untuk mempertajam keputusan yang hendak  kita ambil.

    Kemampuan untuk secara sensitif menangkap sinyal-sinyal komunikasi itu  kemudian mengolahnya secara internal merupakan ciri khas yang hanya dimiliki  oleh mereka yang mempunyai kepribadian matang. Sebaliknya, secanggih apa pun  penampilan Anda, tetapi nggak pernah nyambung, ya tak lebih dari sebuah  handphone canggih yang nggak bisa dipakai nelpon. Tulalit kan?

    ***

    Sumber : Lightbreakfast

     
  • erva kurniawan 1:48 am pada 19 October 2012 Permalink | Balas  

    Sakinah Mawadah Wa Rahmah

    Dulu, ketika mendengar ceramah atau doa dari ustadz-ustadz(ah) agar keluarga kita menjadi menjadi keluara yang sakinah, mawaddah wa rahmah saya tidak terlalu paham, apa yang dimaksud dengan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Saya hanya tahu sakinah artinya tenang, tentram.

    Pelan-pelan saya faham, sakinah artinya tenang/tentram, mawaddah artinya bahagia, wa = dan, sedangkan rahmah artinya mendapat rahmah/cinta. Hanya itu.

    Sampai beberapa hari yang lalu ketika kami membahas cerita di sebuah buku tentang seorang pemuda yang tidak ingin menikah karena belum menemukan wanita yang sesuai dengan kriterianya ditambah begitu banyaknya persyaratan dari orang tuanya tentang sang calon menantu.

    Menurut pandangan pemuda di cerita tersebut, gadis-gadis jaman sekarang banyak yang tidak lagi menjalankan hidup sesuai dengan islam, dari pakaiannya yang tidak menutup aurat, penampilan dan cara bergaulnya yang ‘kebarat-baratan’, bahkan sampai cara berjalannya yang tidak islami. Kebetulan ia dibesarkan dilingkungan teman-teman yang islami yang telah menikah dengan wanita-wanita islami, namun ia sendiri bukan berasal dari keluarga yang harmonis. Orangtuanya selalu ribut, bersikeras dengan pendapat masing-masing dan memiliki sifat yang tidak sabar.

    Akhirnya pemuda yang kebetulan seorang dokter terkenal tersebut tenggelam dengan kesibukannya sebagai dokter dan mempelajari Al- quran dan sunnah Rasul saw dari buku-buku dan ceramah-ceramah.

    Suatu hari, pemuda tadi mendengarkan radio yang membahas tentang tujuan terbentuknya sebuah keluarga, yakni untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Selama ini, pemuda atau dokter muda yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis tersebut tidak terlalu memperhatikan apa tujuan berkeluarga. Sang penyiar lalu melantunkan sebuah ayat Al-quran.Iapun sering mendengar ayat dari surat Ruum (30:21) tersebut : “Dan dari tanda-tandanya telah Kuciptakan untukmu pasangan-pasanganmu agar kamu hidup tenang bersamanya dengan bahagia dan cinta (mawaddah wa rahmah). Dan itu adalah tanda-tanda bagi orang yang berakal”. Namun baru kali ini ia memperhatikan, merasakan dan menghayati ayat tersebut. Membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah.

    Sejak itu opininya tentang hidup berkeluargapun berubah. Ia lalu mulai memperhatikan dan mencari calon istri. Singkat cerita, akhirnya ia menikahi muridnya yang berpenampilan lain dari murid- murid wanita lainnya, memakai gamis, berjilbab dan menjaga pergaulannya. Kesibukannya mempelajari islam selama ini telah membukakan hatinya dan memperoleh petunjuk dari Allah swt. Di akhir pelajaran ustad kami menanyakan apa perbedaan antara mawaddah dan rahmah. Jawaban kamipun bermacam-macam. Lalu ustadpun menjelaskan, mawaddah adalah cinta dari seorang suami, sedangkan rahmah adalah cinta dari seorang istri.

    Sekarang jelas sudah, apa arti keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Bukan hanya berarti keluarga yang tenang dan bahagia saja, tapi ada sesuatu dibalik itu, perlunya cinta yang diberikan oleh suami kepada istri dan keluarga, dan cinta yang diberikan oleh istri kepada suami dan anak-anak.

    Ustad lalu menambahkan,tujuan berkeluarga yang lain adalah mengurangi kesalahan bahkan kemaksiatan. Contohnya, jika sebelum berkeluarga pemuda atau pemudi lajang dapat berpergian dengan bebas, maka setelah berkeluarga kegiatan mereka menjadi terbatas. Ada prioritas lain yang harus mereka perhatikan, yakni keluarga. Jadi, bila setiap anggota keluarga sibuk dengan kegiatan diluar rumah tanpa memperhatikan keluarganya, lalu apa bedanya menikah dengan tidak menikah? Mungkinkah tercipta keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah apabila setiap orang jarang bertemu dan berkomunikasi? Karena tujuan berkeluarga sebagian orang telah berbeda dengan yang Allah swt ajarkan kepada kita dalam surat Ar Ruum, yakni menciptakan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Walau selama ini kita telah sering membaca ayat tersebut dalam undangan-undangan pernikahan. Wallahu ‘alam.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am pada 11 October 2012 Permalink | Balas  

    Kalimat Terindah

    Setelah berbulan-bulan tak ada kabar yang jelas. Setelah sekian waktu jadwal kepulangan saya ke tanah air belum bisa dipastikan, maka suatu malam saya dipanggil sang majikan untuk berbicara empat mata. Saat pertemuan itu ada kalimat terindah yang pernah saya dengar dari mulutnya. Kalimat itu adalah, “Akhir bulan ini kamu pulang ke Indonesia.”

    Saya terdiam. Tapi saya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang bergejolak di dada ini. Pulang! Sebuah kata yang sangat indah di telinga saya. Setelah dua tahun lebih saya meninggalkan orang-orang yang saya cintai: isteri, anak, keluarga yang lain, teman dan siapa saja orang-orang yang dekat dengan saya sebelum berangkat merantau ke negeri seberang.

    Terlintas dalam pikiran saya, tentang masa lalu. Tentang sepenggal dari episode kehidupan saya pada masa duduk di sekolah menengah. Waktu di mana saya harus meninggalkan kampung halaman yang amat sangat saya cintai.

    Selepas tamat sekolah dasar, orang tua saya mengirim saya untuk meneruskan pendidikan di kota. Karena kampung saya jauh dari kota, maka saya harus kost. Itu saya jalani dari SMP sampai tamat SMA. Dan saya selalu teringat saat yang paling indah, saat yang paling menyenangkan, yaitu saat datang hari Sabtu. Sebab di akhir pekan itu saya pulang kampung. Saking gembiranya kalau datang hari Sabtu, sayasering menyebutnya “Pulang ke pinggir sorga.” Sebab akan bertemu dengan orang tua. Dan biasanya ibu saya sudah menyediakan makanan-makanan kesukaan saya. Yang tentunya sangat jarang saya temui di rumah kost.

    Nah, saat mendengar kalimat dari majikan saya itu, hati saya sama persis seperti ketika mau pulang kampung di masa-masa menempuh pendidikan di kota saya, beberapa tahun yang lalu.

    Sejak itu, hari-hari saya diliputi kegembiraan. Walaupun pekerjan yang saya tangani sebenarnya sangat banyak. Ocehan-ocehan dari majikan yang bersifat memarahipun tak begitu saya pedulikan. Artinya, apa yang ia omongkan hanya saya masukan telinga kanan dan saya keluarkan lewat telinga kiri. Bahkan terkadang, hati dan pikiran saya seolah sudah di kampung sendiri, padahal jasad saya masih bermandi keringat di negeri orang.

    Suatu hari seorang teman menangkap perangai saya. Dan teman saya itu berkomentar. “Duh, gembiranya mau pulang kampung, ya….” Saya senyum-senyum saja mendengar itu. Memang itulah adanya.

    Namun, di siang bolong yang terik mataharinya mencapai titik kulminasi, saat saya merebahkan badan untuk melepas lelah, tiba-tiba saya berpikir keras. Sambil melihat langit-langit kamar, saya bergumam sendiri. “Apakah kegembiraan ini bisa bertahan lama, atau setidaknya sampai ke Indonesia nanti?’

    Saya tak bisa menjawab pertanyaan saya sendiri itu. Bahkan tiba-tiba pikiran saya melayang terlalu jauh ke depan. “Mampukah saya segembira ini jika nanti Allah juga memberikan kalimat itu kepada saya?”

    Ya, setelah merantau, pasti saya akan pulang. Sama juga setelah saya diberi kesempatan hidup di dunia, pasti juga akan dipanggil pulang. Dan kepulangan yang terahir ini jelas tidak mungkin bisa ditawar-tawar lagi. Cepat atau lambat, Allah akan menyapa juga dengan kalimat yang tak beda jauh dengan kalimat majikan saya, walau dengan nuansa yang berbeda, tentunya.

    Kalau pertemuan saya dengan semua keluarga nanti di tanah air mampu memberikan kegembiraan yang luar biasa pada saya, mampukah saya juga berperasaan yang sama tatkala saya nanti akan berjumpa dengan Sang Pencipta?

    Saya tertunduk lama. Lama sekali. Bahkan tak terasa air mata ini memberontak ingin keluar. Seolah memerintahkan saya untuk cepat-cepat berintrospeksi diri, tentang apa yang telah saya perbuat di “rantau” ini.

    Bekal saya belum seberapa. Entah dalam tingkatan yang mana derajat keimanan saya. Komitmen saya terhadap aturanNya belum bisa saya jadikan barometer untuk menjadikan saya tersenyum di hadapanNya. Apalagi merasa gembira.

    Namun, walaupun demikian, mudah-mudahan kepulangan saya ke tanah air tercinta akan menjadi pelajaran besar untuk menyongsong kepulangan saya yang sebenarnya, yaitu pulang ke pangkuanNya. Sehingga ketika kalimat terindah dari Allah, yang dibawa malaikat penyabut nyawa,datang menyapa saya, mudah-mudahan saya bisa menyambutnya dengan senyum kegembiraan. Seperti senyumnya para kekasih Allah ketika dipanggil pulang menuju kampung abadi, kampung akhirat.

    ***

    Oleh Sus Woyo

     
  • erva kurniawan 1:14 am pada 6 October 2012 Permalink | Balas  

    Nasehat Sang Ibunda

    Jam menunjukkan pukul 23.00. Tapi mata belum juga bisa terpejamkan. Setelah menyaksikan adegan istimewa yang disuguhkan Allah Swt di dinding kamar saya, bagaimana upaya seekor cicak menyambut rizkinya. Tiba-tiba tanpa sengaja pikiran saya melayang jauh ke masa lampau. Waktu itu bertepatan dengan hari ke sebelas bulan ramadhan.

    Sosok ibu kami, pada masanya, beliau tidak pernah merasakan bagaimana menjadi seorang murid. Beliau tidak pernah sekolah. Walaupun hanya setingkat sekolah dasar. Tetapi cara-cara beliau mendidik dan memberi pelajaran kepada kami, sungguh sangat mengesankan dan membuat kami selalu kagum pada beliau. Diantara sekian banyak pelajaran kehidupan yang kami terima, ada satu hal yang terus saya ingat, apabila pikiran terbayang pada beliau.

    Pada sore hari yang cerah, saya mau mengambil buah jambu yang ada di halaman rumah kami. Buah jambu itu tampak sudah matang dan begitu menggairahkan. Perlu diketahui bahwa pohon jambu yang kami tanam di depan rumah kami adalah buah ‘jambu jepang’, istilah orang kampung. Pohon itu sangat langka pada saat itu.

    Di kampung tempat kami tinggal hanya ada satu pohon itu saja. Sehingga semua orang yang melihatnya kepingin sekali merasakan bagaimana rasa buah `jambu jepang’ tersebut. Pohon itu kalau berbuah juga tidak terlalu banyak. Kadang-kadang satu pohon hanya ada satu atau dua buah saja yang masak. Perlu diketahui pula bahwa buahnya sangat kecil hanya sebesar buah kelengkeng saja. Tetapi baunya harum dan rasanya manis.

    Pada hari itu, buah jambu yang masak ada dua buah. Ketika sore itu saya mau mengambil buah yang sudah ranum, ibu melarangnya. Sehingga saya agak kecewa karenanya.

    Kata saya : ‘..Mengapa bu, saya tidak boleh mengambil buah tersebut? Kan itu milik kita. Kalau tidak cepat diambil nanti kan membusuk?”

    Jawab ibu : “Nak, kita kan sudah pernah makan buah tersebut. Walaupun dengan menunggu dalam waktu yang cukup lama. Dan memang kadang-kadang kita hanya bisa makan satu atau dua buah saja yang sedang masak. Tetapi tetangga depan rumah kita itu, belum pernah mencicipinya. Kemarin ibu lihat anaknya pingin sekali mengambil jambu itu. Karena itu janganlah diambil. Berikan buah jambu itu kepada mereka. Agar hatinya senang…

    Kembali mata saya berkaca-kaca, mengingat peristiwa sederhana itu. Sebuah peristiwa yang mungkin setiap orang akan pernah menjumpainya dalam keluarganya masing-masing. Atau dalam lingkungan lainnya, dengan model yang berbeda.

    “Dahulukanlah orang lain… ! Begitulah kira-kira inti pelajaran istimewa yang saya terima dari beliau Mengenang peristiwa itu, saya jadi teringat sebuah riwayat yang menceritakan tentang seorang sahabat yang oleh rasulullah disuruh menjamu tamunya. Ceritanya, di rumah sahabat tersebut tidak terdapat sesuatu makanan, kecuali makanan milik anaknya. Karena sang pemilik rumah ingin lebih mengutamakan tamunya dari pada keluarganya, ia memberikan makanan milik anaknya tersebut kepada tamunya dengan cara yang sangat luar biasa.

    Yaitu ketika waktu makan bersama tamunya, sang pemilik rumah pura-pura makan juga, padahal piringnya kosong. Mengapa pura-pura? Supaya sang tamu tidak mengetahui kalau pemilik rumah sebenarnya tidak ikut makan. Untuk maksud itu, maka lampu di dalam rumahnya dipadamkan. Pura-pura kehabisan minyak. Setelah suasana menjadi gelap, maka mereka ‘makan’ bersama-sama. Sang tamu makan sungguhan, sang pemilik rumah makan pura-pura, padahal perutnya sangatlah laparnya.

    Peristiwa itu begitu luar biasanya, sehingga turunlah ayat Al-Qur’an surat Al-Hasyr (59) : 9, sebagai penghargaan terhadap peristiwa tersebut.

    Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

    Kalaulah sampai Allah Swt, menurunkan sebuah ayat lantaran peristiwa tersebut, sungguh betapa hebatnya kejadian itu sehingga perlu diabadikan dalam kitab suci akhir zaman ini. Agar bisa dicontoh dan diteladani oleh umat manusia.

    Demikian pula banyak pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh Rasulullah saw, agar kita selalu berbuat baik kepada orang lain, serta memiliki sifat murah hati terhadap orang lain.

    Anas bin Malik ra, berkata, bahwa rasulullah saw itu, tidak pernah diminta kecuali selalu memberi. Pernah datang seorang lelaki kepada Rasulullah untuk meminta, maka beliau memberikan kambing-kambing yang banyak yang berada diantara dua gunung, kambing sadaqah. Maka lelaki itu pulang dan ia berkata kepada kaumnya…

    Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian semua! Sesungguhnya Muhammad itu amat pemurah. Ia memberi dengan pemberian yang sangat banyak, tidak pernah takut melarat…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:00 am pada 1 October 2012 Permalink | Balas  

    Berusaha Memahami

    Suatu hari seorang nenek berjalan terseok-seok di jalan trotoar yang sempit. Nenek itu menengok ke sebuah toko di sebelah kanan jalan sambil mendorong kereta belanjaan yang telah dipenuhi isi. Entah dia sadari atau tidak, tiba-tiba seorang pemuda sedang berusaha melewatinya. Tapi karena sempitnya trotoar, ditambah lagi dengan kereta dorongnya yang berada di tengah-tengah, membuat pemuda itu kesulitan untuk mendahului.

    Aku yang melihat pemandangan itu jadi berpikir apa yang akan dilakukan pemuda itu. “Pemuda itu akan membunyikan bel sepedanya dan melewati nenek itu,” tebakku. Kenyataan ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Dengan pelan-pelan pemuda itu tetap berada di belakang si Nenek dan tidak membunyikan bel sepedanya. Sampai akhirnya si Nenek menyadari ada seseorang di belakangnya dan dia telah menghambat jalan orang lain. Dengan membungkukkan badannya berkali-kali sambil meminta maaf (kebiasaan yang sering kulihat pada orang Jepang), dia menepi dan memberi jalan untuk pemuda itu. Dan berlalulah pemuda itu dengan anggukan balasan tanpa kudengar suara omelannya.

    Pernah pula saya dan beberapa teman berjalan di trotoar yang lebarnya mungkin hanya 2 meteran, tetapi kami berjalan berjejer sambil mengobrol. Seakan-akan itu jalan milik kami dan tidak ada orang lain yang akan menggunakannya. Atau karena kami tidak mempunyai pikiran untuk berjalan agak ke pinggir dan membaginya untuk orang lain, walaupun saat itu tak ada orang yang lewat. Entahlah, mungkin saat itu di kepala kami tak ada pikiran seperti itu karena asyik mengobrol?

    Tiba-tiba ada orang berkata, “Sumimasen…sumimasen…” Seseorang meminta maaf (permisi) untuk dapat melanjutkan perjalanannya yang terhalang oleh kami. Atau kekhawatiran menabrak salah seorang anak-anak kami yang berkeliaran dengan bebasnya. Tetapi orang itu bukan yang terakhir, masih ada yang merasa tidak enak untuk meminta jalan kepada kami.

    Padahal mereka mempunyai hak yang sama atas jalan trotoar itu. Sama halnya dengan kami.”Ah… sumimasen, gomen nasai…,” kataku meminta maaf sambil menarik tangan anakku untuk menepi dan memberi jalan kepada orang yang sempat turun dari sepedanya. Dia berlalu sambil menganggukkan kepalanya disertai senyuman di bibirnya. “Duh…kok dia nggak marah, ya?” batinku. Padahal biasanya orang marah-marah kalau jalannya terhalang, dan dari jauh sudah membunyikan bel sepedanya nyaring-nyaring. Kadangkala malah keluar kata-kata umpatan yang tidak sedap didengar.

    ***

    Di sekitar tempat tinggalku ini jarang sekali kudengar suara klakson mobil ataupun bel sepeda berdering-dering. Kenapa ya? Apakah mereka sudah sampai pada tahap yang namanya manusia beradab? Atau karena begitu patuhnya pada peraturan? Atau tenggang rasa pada sesama sudah mengakar dalam kehidupan mereka? Atau mereka tidak sudi dianggap orang bodoh karena membunyikan klakson atau bel? Orang Jepang terkenal sangat patuh pada peraturan. Itukah jawabannya?

    “Eh, kenapa ya orang-orang ngga ada yang bunyiin klakson?” tanyaku pada suami, yang kebetulan orang Jepang. “Ngapain bunyiin klakson? Kayak orang bodoh aja? Nanti juga kan dapat gilirannya kalau mau jalan?” suamiku malah balik bertanya. Memang kulihat lalu lintas di Jepang teratur, yang jalan lurus sudah ancang-ancang dari jauh memilih jalur lurus, begitu juga yang ingin belok mengambil jalur sisi jalan agar tak menghalangi mobil yang akan jalan lurus. Mobil yang akan belok kanan akan mendahulukan pengendara yang berlawanan arah, baik itu yang jalan lurus ataupun yang belok kiri.

    ***

    Kemarin sewaktu aku dan teman-temanku ketinggalan bis, kami duduk di sembarang bangku yang berjejer di halte itu. Masih ada waktu 10 menit lagi untuk keberangkatan bis berikutnya. Kami ngobrol sana sini, hingga tak terasa sudah banyak orang yang mulai berdatangan. Mereka hanya melihat sekilas kepada kami dan tetap berdiri, padahal masih banyak bangku yang kosong. Karena yang duduk hanya aku dan anaknya temanku. Sedangkan temanku berjongkok menghadap anaknya dan satu temanku lagi berdiri di belakang kami.

    “Heh…! Kok ada perasaan tak enak ya?” batinku ketika aku melihat seorang nenek berdiri tak jauh dari kami. Tentu saja nenek itu dan orang-orang yang ada di situ tak bisa maju karena biarpun di depan kami masih kosong, tetapi karena kami yang ada di sana lebih dulu, maka mereka akan berada di belakang kami.

    Segera aku mengajak teman-temanku maju ke depan mendekati tempat naiknya bis. Barulah nenek itu dan yang lainnya ikut maju dan duduk di bangku yang tadi kami duduki. Aku menganggukkan kepala dan meminta maaf, “Sumimasen…” Nenek itu hanya tersenyum sambil mengangguk.

    Tak ada kesan marah atau sinis. Anggukan kepala dan senyum, tanpa ada kata-kata umpatan atau omelan malah membuat kita malu sendiri dan sadar telah berlaku ceroboh. Nenek tersebut seolah berusaha memahami kami.

    Dari beberapa contoh di atas, aku merasa ada sebuah kekaguman pada orang Jepang. Mereka yang terkenal dengan sifat individunya, ternyata masih bisa berusaha memahami perasaan orang lain. Dengan caranya, mereka akan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Seolah memberi tanda bahwa tak ada hal yang perlu dirisaukan oleh si pihak lawan akan sikap salahnya. Sesuatu yang kadang masih sulit aku terapkan. Yaitu berusaha memahami perasaan orang lain.

    Tidak salah jika Rasulullah saw sering mengingatkan bahwa saling memahami (tafahum) akan meningkatkan rasa ukhuwah Islamiyah. Karena dari rasa saling memahami inilah akan timbul keinginan saling bekerjasama. Yang kemudian akan berlanjut menjadi mendahulukan kepentingan orang lain, tingkatan yang tertinggi dalam jalinan ukhuwah. Hingga terjalin rasa saling cinta kasih.

    Entah cerita di atas berhubungan atau tidak, tapi dengan kejadian tersebut, kini aku mulai berusaha agar dapat memahami orang lain. Aku berharap dengan berusaha memahami orang lain, dapat meningkatkan diri ke arah insan yang bisa mendahulukan kepentingan orang lain.

    Wallahu`alam bisshowab.

    ***

    Kutipan dari Eramuslim.com

    Oleh Seriyawati

     
  • erva kurniawan 1:04 am pada 24 September 2012 Permalink | Balas  

    Kagum Melihat Cicak Menyambut Rizeki

    Cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap. Datang seekor nyamuk, Hap..! lalu ditangkap

    Inilah sebait lagu yang sangat populer di kalangan anak-anak balita, sebuah lagu yang sederhana tetapi lagu tersebut dapat menyatu dalam kehidupan anak-anak kita.

    Kenapa saya jadi teringat lagu tersebut? Sebab ketika hari sudah menjelang malam, dan ketika saya mau memejamkan mata untuk beristirahat, tiba-tiba di dinding kamar terlihat seekor cicak yang merayap dari tempat persembunyiaannya menuju ‘suatu’ tempat tertentu. Dan …hap! cicak tersebut telah menangkap seekor nyamuk yang datang `menuju’ dirinya.

    Peristiwa ini tampaknya biasa saja, seperti peristiwa lainnya yang sering kita saksikan dalam kehidupan ini. Tetapi kalau kita cermati lebih lanjut, maka tampaklah sesuatu yang istimewa dalam lagu ini. Dan tentu kita menjadi kagum kepada penciptanya.

    Point penting yang terdapat dalam syair lagu tersebut adalah, bahwa nyamuk sebagai makanan dari cicak, justru dia yang aktif menuju/mendekati mulut cicak. Andaikata nyamuk tidak terbang menuju cicak, maka secara logika tidak akan mungkin cicak bisa mendapatkan rezekinya. Sebab nyamuk memiliki sayap dan ia bisa terbang dengan gesitnya, sementara cicak tidak bisa terbang, dan hanya bisa merayap saja.

    Cicak hanya akan bisa menangkap seekor nyamuk, sebagai rezeki yang dikirim oleh Allah Swt, apabila ia mau berusaha dengan cara merayap, menggerakkan dirinya ke arah yang tepat. Yaitu di sekitar manakah posisi ‘rezeki’ itu berada.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:02 am pada 23 September 2012 Permalink | Balas  

    Bertemu Kembali Dengan Rumah

    Setelah seharian, atau lebih, kita meninggalkan rumah dan keluarga, tentu perasaan rindu pada suasana rumah akan muncul kembali. Mungkin makan di luar rumah dengan makanan yang istimewa sudah kita lakukan, tapi kita akan kembali rindu dengan makanan yang lebih istimewa yang ada di atas meja makan di rumah kita. Meskipun hanya dengan lauk pauk sederhana.

    Justru keistimewaan akan muncul pada kesederhanaan itu, jika kerinduan sudah menjalar di hati. Demikian juga dengan keberadaan rumah dan halaman kita. Demikian pula dengan keberadaan anak-anak kita, ibu kita, ayah kita, suami-listri kita, atau anggota keluarga lainnya. Semuanya adalah istimewa.

    Pernah suatu saat mengunjungi teman saya. Salah satu yang dibicarakan dalam obrolan itu adalah tentang kesehatan anak-anaknya. Ia mempunyai lima orang anak, yang paling besar usia tujuh belas tahun, yang paling kecil masih berumur satu tahun. Di sela-sela tawa riangnya, ia selalu merasa bersyukur kepada Allah, bahwa anak-anaknya sehat semuanya. Ketika semua anaknya berkumpul nonton televisi di ruang keluarga, ia melihat anaknya satu persatu, yang tingkahnya berbeda-beda. Alhamdulillah anak-anak sehat semua. Saya selalu merasa menjadi orang yang kaya, begitu melihat anak-anak ada di rumah dan dalam kondisi sehat semua…

    Demikian kata-kata yang sering ia ucapkan. Saya hanya bisa mengambil sebuah kesimpulan, dari kata-kata teman saya itu, bahwa kekayaan yang paling utama adalah kesehatan.

    Kalau kesimpulan itu kita tarik ke atas, maka kesimpulan itu akan menjadi lebih universal. Sehat adalah sebuah kondisi prima. Kalaulah itu dikenakan pada kita sebagai insan yang memiliki lahir dan bathin atau jasmani dan ruhani, maka sehat yang sempurna adalah jika kita memiliki sehat di jasmani kita, dan jugs sehat di ruhani kita.

    Demikian dengan kondisi rumah kita. Ada rumah yang secara fisik nampak sehat, indah dan menawan hati. Ada rumah yang secara ruhani memiliki keindahan yang lebih tinggi. yaitu rumah yang di dalamnya bisa membuat tentramnya hati. Yang itu diakibatkan oleh para penghuninya yang rendah hati.

    Rumah adalah tempat kita kembali dari perjalanan kita. Rumah adalah tempat kita berteduh dari gangguan cuaca. Dengan kembalinya kita setiap hari / setiap waktu, ke rumah kita masing-masing, maka sebenarnya kita sedang berlatih untuk pulang…

    Keteduhan jiwa yang paling hakiki adalah ketika seorang hamba kembali kepada Tuhannya. Kembali mendapatkan kasih sayangNya. Setelah lama merantau kesana kemari, yang kadang tak tentu arah, mengurusi duniawi yang kadang sering salah.

    Dengan melihat rumah kita, mari kita ingat akan rumah kita yang sesungguhnya. Mari kita kembali kepada ridha Ilahi…

    Mencari ilmu, mencari rezeki, adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup ini. Tetapi ketika Sang Khaliq telah memanggil, ketika suara adzan telah diserukan, mari kita penuhi untuk sujud dan rukuk, dalam nikmat yang hakiki…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:56 am pada 22 September 2012 Permalink | Balas  

    Dimana Tempat Sembunyi Yang Aman?

    Tahukah kita, adakah suatu tempat yang paling aman untuk bersembunyi? Dimana tempat itu? Aman bagi seseorang, apakah juga aman bagi orang yang lain? Dari intaian siapa, kita bisa menyembunyikan diri?

    Inilah sebuah cerita yang cukup menarik, lucu, dan mengandung pelajaran bagi kita semua. Saya punya seorang famili, yang cukup lucu dan menarik kalau ia lagi bercerita tentang pengalamannya.

    Cara ia bercerita menyebabkan yang mendengarkannya menjadi begitu tertarik. Ibarat mau pergi menjadi terduduk lagi untuk mendengarkan kisahnya.

    Ketika bulan puasa datang, pada umumnya sebagai hamba Allah yang taat beribadah, orang-orang akan ramai menyambutnya dengan gembira. Tetapi ada juga sekelompok orang yang menjadi repot dan menjadi susah jika ramadhan tiba. Apalagi jika ia berada di lingkungan keluarga muslim yang taat. Atau bertetangga dengan orang-orang alim. Atau berada di lingkungan yang kental dengan suasana religius.

    Seorang yang `setengah-setengah’ Ia akan serba susah dengan datangnya bulan ramadhan. Mau puasa takut kelaparan, tidak puasa malu dengan tetangga. Maka setiap datangnya bulan puasa menjadi sebuah ‘malapetaka’ bagi orang-orang seperti dia. Tidak terkecuali dengan pak ‘NR’ yang pada saat mudanya ia punya pengalaman menarik. Tentang hal itu.

    Ceritanya, terjadi di hari ketiga bulan puasa. Hari itu, pak NR, sejak pagi sudah berpuasa dengan ‘gagah’. Tetapi begitu hari sudah mulai siang, perutnya sudah mulai berbunyi. Ditahan-tahannya rasa lapar itu sekuat-kuatnya, dan iapun berhasil menjalankan puasa sampai dengan jam 15.00

    Tetapi jam berikutnya, ia sudah mulai gelisah. Ingin rasanya berbuka tetapi malu dengan seisi rumah yang semuanya ternyata juga berpuasa.

    Karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya pak NR diam-diam pergi keluar rumah untuk berbuka dengan cara sembunyi di tempat yang paling aman, yang dirasa tidak akan ada orang yang mengetahuinya.

    Maka dipilihnyalah sebuah restoran non muslim. Yang jaraknya dari rumah cukup jauh. Sehingga tidak mungkin ada tetangga atau teman yang melihatnya. Apalagi restoran non muslim, pasti akan aman dari pantauan orang muslim, yang sedang berpuasa.

    Maka setelah sampai di depan restoran tersebut pak NR berindap-indap masuk ke dalam. Di dalam restoran itu ternyata sudah cukup banyak orang yang lagi makan. Tentu dengan menu khususnya masing-masing. Akhirnya pak NR mengambil duduk di tempat yang paling sudut, yang di sebelahnya terdapat papan kayu pembatas kursi.

    Selanjutnya pak NR memesan makanan yang sesuai dengan seleranya. Karena pengunjung cukup banyak, maka makanan yang dipesannya begitu lama sekali baru selesai dibuat oleh juru masaknya.

    Hampir satu jam pak NR menunggu selesainya pesanan yang telah dipilihnya itu. Sehingga setelah waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 lebih barulah makanan yang dipesan itu selesai dibuat.

    Maka meskipun agak sedikit kecewa karena menunggunya terlalu lama, bahkan waktu maghrib pun sebenarnya sudah tinggal beberapa saat lagi. Karena sudah kepalang basah, dimakannya juga pesanan itu. Dan pak NR pun ‘berbuka’ puasa pada waktu yang sudah hampir maghrib.

    Setelah selesai makan dengan perasaan yang tidak karuan, sehingga rasa makanannya pun menjadi tidak enak lagi. Pak NR kembali berindap-indap menuju ke kasir untuk membayar makanan. Takut-takut kalau ia sampai ketahuan oleh orang yang dikenalnya.

    Ketika pak NR menuju ke tempat kasir itulah, ada seseorang yang juga berdiri dari tempat duduknya yang berbatas dinding kayu dengannya, orang itu juga berindap-indap menuju tempat kasir untuk membayar makanan yang telah selesai di santapnya.

    Apa yang terjadi? Ternyata dengan begitu kagetnya, orang tersebut menyapa lebih dulu kepada pak NR. Lho koq mas NR di sini? Lagi apa mas? kata orang itu sambil menutupi mulutnya yang masih ada sedikit bekas makanan.

    Sahut pak NR : Lho kok pak MS juga disini? Lagi beli makanan buat buka pak? Jawab pak MS, i iya mas…!. Mari ya… saya duluan!. Sambil pak MS cepat-cepat pergi meninggalkan pak NR, yang sedang kaget dan juga bengong sembari membayar makanan )..

    Wah…wah..seru sekali pokoknya. Pingin makan di tempat yang tersembunyi, ehh,…nggak taunya juga ada orang yang bersembunyi. Bahkan duduk bersebelahan dengan saya. Eh eh,..lha kok ternyata, la adalah tetangga depan rumah yang sehari-harinya berpenampilan muslim sejati. Wah,… wah, saya malu sekali. Wah, tentu dia lebih malu lagi, ya. He he he. Wah, sungguh sulit ya, mencari tempat yang tersembunyi itu?! Kata pak NR, sambil menutup kisahnya yang diceritakannya kepada saya.

    Apa yang kita dapatkan dari peristiwa yang cukup unik dan konyol itu?

    Benar kata pak NR, ternyata tidak ada tempat yang tersembunyi

    Kalau Allah menghendaki, dimanapun saja kita sembunyi akan bertemu dengan sesuatu yang kita hindari.

    Pak NR sembunyi, pak MS juga sembunyi dari penglihatan orang lain, ternyata keduanya saling mengetahui keadaan masing-masing yang berbuka puasa sebelum waktunya.

    Uniknya, keduanya bersembunyi, tetapi ternyata mereka duduk bersebelahan yang hanya dihalangi oleh dinding kayu sebagai pembatas kursi.

    Kita mungkin juga baru menyadari bahwa, dunia ini begitu kecilnya, dimanakah lagi kita mau sembunyi? Semua telah nyata bagi Allah Swt. Kemana saja kita berlari, disitulah Allah mengetahui.

    Semoga pak NR ikhlas, bahwa kisah uniknya telah tertulis dalam diskusi ini. Dengan harapan akan ditemuinya berapa hikmah yang insya Allah akan mempunyai manfaat di kemudian hari…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:54 am pada 21 September 2012 Permalink | Balas  

    Cara Allah Memberi Rezeki

    Andaikata, uang kita diambil satu bagian, lalu dikembalikan sebanyak tujuh belas kali lipat, maukah kita? Andaikata, yang mengambil tidak memberitahu lebih dahulu, kalau nantinya akan dibayar dengan berlipat ganda, maukah kita?

    Marilah kita ikuti pengalaman nyata seorang bapak muda yang cukup menarik untuk dikaji. Sebutlah Pak A. Sekitar 14 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1988, seorang muda yang baru dikarunia seorang anak, is bekerja sambil menyelesaikan kuliahnya yang tinggal sebentar lagi selesai. Gaji yang didapatkan dari pekerjaannya itu setiap bulannya dapat dikatakan sangat tidak cukup untuk biaya hidupnya beserta istri dan seorang anak kecilnya.

    Suatu hari yang “naas” ia pulang dari kerjanya. Dengan penuh gembira ia membawa pulang gaji pertamanya yang sebesar Rp. 40.000,- (Empat puluh ribu rupiah). Dengan perasaan bangga dan penuh dengan rasa gembira ingin ditunjukkannya hasil kerjanya itu kepada istri tercintanya.

    Ingin sekali ia cepat-cepat sampai di rumah dan dengan uang itu ia ingin belanja bersama istri dan anaknya, maklum gaji pertama adalah gaji yang mempunyai nilai “historis” tinggi.

    Setelah sampai di rumah apa yang terjadi? Ternyata dompet yang berisi gaji satu bulan tersebut sudah tidak ada di saku celananya alias kecopetan ketika ia pulang dari tempat kerjanya.

    Bisa dibayangkan betapa sedih, kecewa dan bingungnya ia ketika itu. Andaikata bisa, mungkin ia akan menangis sejadi-jadinya. Bahkan mungkin ia akan protes kepada tuhan yang telah “mengijinkan” peristiwa itu terjadi. Karena ia telah bekerja dengan keringatnya tanpa kenal lelah dengan penghasilan yang halal demi keluarga tercinta.

    Waktu satu bulan sungguh terasa sangat lama untuk menunggu gaji tersebut. Tapi apa mau dikata gaji pertamanya sudah harus ia relakan untuk tidak ia miliki saat itu. Bagaimana jika peristiwa itu terjadi pada diri kita? Sanggupkah kita menerimanya dengan ikhlas?

    Apa yang ia lakukan selanjutnya? Ia duduk terdiam tanpa bisa berkata apa-apa sambil memandang istri dan anaknya, mengapa hal ini harus terjadi pada dirinya? Dalam kondisi seperti itu dengan hati terasa pedih ia mencoba tegar dan berpikir praktis. Biarlah uangnya hilang, toh peristiwa sudah terjadi, mau diapa lagi….?”

    Akhirnya diambilnya keputusan untuk tetap berusaha kalau-kalau dompet tersebut masih mungkin untuk ditemukan, walaupun secara logika sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan kembali uangnya tersebut. Ia berusaha mengambil hikmah dari kejadian itu meskipun dengan perasaan yang tidak karuan sedihnya.

    Keputusan segera diambilnya, yaitu tetap berusaha untuk mencoba mendapatkan kembali dompetnya karena di dalamnya ada beberapa surat berharga, diantaranya stnk kendaraan bermotor, ktp, dan beberapa surat penting lainnya.

    Akhirnya untuk mendapatkan kembali surat-surat yang hilang tersebut ia menulis surat pembaca pada sebuah surat kabar, yang intinya: biarlah uang itu hilang, asal surat-suratnya dapat kembali, dan ia berharap jika ada orang yang menemukan dompet itu, ia minta tolong agar di antarkan ke alamat yang tertera dalam ktp tersebut.

    Apa yang dilakukan hari-hari berikutnya? Setiap hari ia membaca surat kabar, kalau-kalau ada berita tentang dompetnya yang hilang. Ketemukah dompet tersebut? ternyata tidak!

    Lalu dimanakah keindahannya peristiwa itu? Keindahannya ialah terletak pada keharusannya ia membaca surat kabar tersebut. Seolah-olah Allah menyuruh dia untuk membaca surat kabar setiap hari, dengan cara “mengijinkan” seseorang untuk mengambil dompetnya…

    Lalu apa yang terjadi hari berikutnya? Dengan membaca surat kabar setiap hari, tanpa terasa suatu saat ia menemukan suatu tulisan pada disiplin ilmu yang dikuasainya yang menurut pendapatnya hal itu kurang tepat, akhirnya ia mencoba menulis untuk mengulas dan menyanggahnya.

    Waktu berjalan dengan cepat. Ia telah lupa pada dompetnya yang hilang, dan saat itu ia asyik menulis sesuai dengan kemampuannya yang sesuai pula dengan disiplin ilmunya.

    Hal ini berlangsung beberapa bulan sejak terjadinya peristiwa naas tersebut. Selanjutnya ia sering menulis dan menanggapi tulisan orang lain sampai berulang-ulang sehingga ia menjadi seorang penulis. Meskipun masih pemula, pada surat kabar tersebut. Lalu?

    Karena kemampuannya menulis dinilai cukup baik, oleh pimpinan perusahaan ia dipanggil dan ditawari untuk bekerja diperusahaan tersebut dengan gaji pertama Rp 750.000,- Tujuh belas kali lipat lebih tinggi dibanding uangnya yang telah hilang waktu itu.

    Itulah rupanya jawaban Allah atas kejadian yang menimpa seseorang, bila sabar menerimanya. Allah “meminjam” 1 bagian, dan kini dikembalikan menjadi tujuh belas kali lipat lebih.

    Waktu berjalan terus tanpa terasa, dan pada saat saya menulis ini, ia telah mencapai sukses gemilang dengan penghasilan yang ribuan kali lipat dibanding uang yang hilang dulu.

    Apakah ini merupakan puncak keindahan dari peristiwa yang terjadi di hari “naas” itu, atau bahkan Allah Yang Maha kuasa akan menunjukkan pada sesuatu yang lebih indah lagi….wallahu’alam.

    Yang pasti, ukuran sukses yang paling besar adalah hati yang damai, dan bahagia yang tercapai. Saya yakin setiap orang pernah mengalami kejadian yang senada dengan kejadian diatas. Hanya saja mungkin skala dan situasinya yang berbeda.

    Marilah kita renungkan perjalanan hidup kita masing-masing, pasti kita pernah mengalami suatu kejadian, dimana kejadian tersebut kita sangka sesuatu yang menyusahkan, merugikan, dan menyedihkan.

    Tetapi hal itu akan berubah menjadi sesuatu yang indah, apabila seseorang sabar menerimanya. Akhirnya muncullah hikmah yang sangat besar yang tiada tersangka sebelumnya.

    Sungguh, Allah Maha Perencana dari segala macam kejadian dan peristiwa. Setiap peristiwa yang sudah terjadi, bagi seorang muslim merupakan ketetapan Allah yang sangat indah. Karena disitulah letak ukuran dan ujian kualitas taqwa seseorang…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:20 am pada 17 September 2012 Permalink | Balas  

    Khawatirkanlah Masa Depan, Asalkan…

    Alkisah, Iwan baru saja terkena PHK dan mendapat pesangon yang dicicil enam kali.

    Setelah satu bulan tenggelam dalam keputus-asaan, ia membaca beberapa buku mengenai pengembangan diri. Dari situ, Iwan menanam sekeping pelontar semangat ke dalam dirinya: “Badai pasti berlalu. Bulan depan, mungkin saja aku sudah bebas dari krisis keuangan.” Maka naiklah semangatnya setinggi langit.

    Dengan semangat setinggi langit, Iwan mulai berusaha merintis jalan baru. Cicilan pesangonnya yang kedua ia jadikan modal. Dengan modal ini, ia kirim selusin surat lamaran per minggu ke beberapa perusahaan. “Di antara jutaan perusahaan,” pikir Iwan, “tentulah ada yang membutuhkan aku, lulusan diploma yang berpengalaman.” Namun sampai sebulan, tiada panggilan.

    Bulan berikutnya, Iwan menanam lagi sekeping pengobar semangat di dalam dirinya: “Siapa pun pasti berhasil kalau bersikap penuh semangat menghadapi masa sulit, bahkan walau tampak tiada harapan.” Maka melambunglah kembali kobaran semangat Iwan.

    Dengan kembali berkobarnya semangat dirinya, dikirimnya lagi selusin surat lamaran per minggu. Kali ini ke sejumlah perusahaan yang membutuhkan lulusan diploma tanpa peduli pengalaman kerja. Sampai sebulan, tetap belum ada balasan.

    Bulan selanjutnya, Iwan menanam lagi sekeping peluncur semangat di dalam dirinya: “Roda selalu berputar. Tahun depan, pasti giliranku naik ke atas.” Maka meroketlah spirit Iwan.

    Dengan spirit yang meroket ini, dikirimnya selusin surat lamaran per minggu ke banyak perusahaan yang membutuhkan lulusan SMU yang berpengalaman. Sampai sebulan, keadaan belum berubah.

    Bulan berikutnya, semangat Iwan mulai goyah. Tapi, ia merasa tak punya pilihan lain. Sebab itu, telinganya makin dia buka lebar-lebar, mendengar seruan para suporter: “Jangan menyerah. Teruslah mencoba dan mencoba lagi. Sebab, orang yang tidak pernah mencoba takkan maju. Sebaliknya, yang pantang menyerah pasti sukses.” Maka larilah Iwan mengejar cita-cita.

    Setelah dibawanya cicilan pesangon yang kelima, dikirimnya lagi selusin surat lamaran per minggu. Kali ini ke berbagai perusahaan yang membutuhkan lulusan SMU tanpa peduli pengalaman kerja. Sampai sebulan, akhirnya… (pembaca jangan kaget, ya…), lamarannya masih belum membuahkan hasil!

    Kami tidak terlalu kaget mendapati gigihnya Iwan mengirim surat lamaran. Kami bisa menduga kenapa dia terus berjuang ‘pantang menyerah’ secara begitu. Pasalnya, buku-buku pengembangan diri yang dia baca memang selalu berseru: “Jangan menyerah!”

    Kami pun tidak terlalu kaget mendapati kenapa para penulis buku tersebut selalu menyeru para pembaca untuk jangan menyerah dalam keadaan apa pun. Pasalnya, karena hidup dalam budaya Nasrani, mereka sering mendengar dan mengucap kata-kata dari Injil yang menekankan seruan begitu. Konon, Yesus bersabda: “… Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai keyakinan sebesar biji sawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini, ‘Pindahlah dari tempat ini ke sana, Emaka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Matius 17: 20)

    Hanya saja, Iwan (dan pembaca muslim lainnya) tampaknya belum tahu bahwa Al-Qur’an berkata lain. Ia belum sadar, “takkan ada yang mustahil” itu berlaku hanya bagi Allah. Padahal, di kitab suci kita, Allah telah menyindir: “Apakah manusia memperoleh segala yang dia harapkan? [Tidak!] Maka segala kesudahan dan permulaan itu milik Allah.” (QS an-Najm [53]: 24-25) Jadi, bagi kita manusia, ada (sedikit-banyak) harapan yang mustahil kita capai.

    “Aduh!” mungkin Anda mengaduh, “aku jadi khawatir. Jangan-jangan banyak harapanku yang mustahil tercapai di masa depan.”

    Kalau perasaan Anda begitu, silakan Anda simak untaian kata-kata Buya Hamka di buku Tasauf Modern berikut ini.

    Kalau takut disiksa [di neraka], singkirkan dosa. Kalau takut rugi berniaga, hendaklah hati-hati. Kalau takut pekerjaan ditimpa bahaya, jangan lupa mengawasinya. …

    Karena menurut sunnatullah: dikuncikan rumah [lebih] dahulu, baru orang maling tertahan masuk; ditutupkan pintu kandang [lebih dahulu], baru musang tak mencuri ayam.

    Jadi, boleh-boleh saja Anda khawatirkan masa depan Anda, asalkan Anda berupaya meng-antisipasi-nya secerdas-cerdasnya.

    ***

    Oleh: M. Shodiq Mustika

     
  • erva kurniawan 1:32 am pada 15 September 2012 Permalink | Balas  

    Pergi Haji Modal ‘Seratus Rupiah’

    Tahun 1991, ibadah haji, ONH-nya sekitar enam juta rupiah.

    Bertambah lama seiring dengan perubahan nilai tukar rupiah, ONH semakin misalnya tujuh juta, sembilan juta, dua belas juta, dua puluh satu juta, dua puluh lima juta rupiah,

    Bagaimana kalau ada orang yang pergi haji dengan modal ‘seratus rupiah’ saja…?

    Pada hari minggu pagi yang cerah, seperti biasanya saya pergi belanja di salah satu pasar. Suatu ketika saya belanja palawija pada seorang ibu setengah baya. Ada satu hal yang membuat saya terpana. Saya sangat tertarik melihat cara ibu tersebut melayani pembelinya.

    Karena tertarik, maka setiap saya pergi ke pasar tersebut saya selalu memperhatikan lebih seksama lagi terhadap perilakunya. Beberapa kali saya perhatikan menjadikan saya lebih ‘penasaran’ untuk lebih mengikuti secara rutin kejadian demi kejadian yang ‘diperagakan’ oleh ibu tersebut.

    Katakanlah ia bernama Ibu Asih. Apa yang dilakukannya setiap ia melayani pembelinya? Yang membuat saya kagum tiada habisnya ialah, setiap ia selesai menjual barang dagangannya, secara spontan mulutnya selalu bergumam lirih dengan ucapan “Alhamdulillah”

    Apakah dagangannya laku sedikit atau laku banyak, selalu saja mulutnya bergumam alhamdulilaah sebagai ungkapan rasa syukurnya.

    Yang lebih menarik lagi ialah setiap ada orang peminta-minta yang menengadahkan tangannya, tidak satupun yang tidak diberinya, demikian pula tak satupun seorang pengamen yang lewat yang tidak diberinya.

    Meskipun ia sedang sibuk melayani orang-orang yang sedang membeli barang dagangannya, selalu saja ia menyempatkan tangannya untuk memberi mereka. Diambilnya uang logam seratus rupiah, yang rupanya sudah disediakan untuk orang-orang tersebut. Sayangnya saya tidak pernah bertanya kepadanya kira-kira ada berapa puluh orang dalam satu hari ia memberi orang miskin dan para pengamen tersebut .

    Ini sebuah kejadian yang nampaknya biasa-biasa saja. Tetapi memiliki nilai yang sangat tinggi dalam kehidupan sosial maupun dalam kehidupan religius. Ucapan syukur beserta penghayatan dan sekaligus pengamalannya telah diperagakan oleh ibu Asih. Meskipun dengan cara sederhana dan dengan nilai rupiah yang kecil.

    Hal ini sangat berbeda sekali dengan kondisi sebuah toko yang lebih besar, yang letaknya tidak seberapa jauh dari ibu penjual palawija ini.

    Di depan toko itu tertempel kertas putih bertuliskan kalimat yang cukup ‘sopan’ yaitu : ‘maaf ngamen gratis’

    Sebuah retorika yang cukup sopan dan lembut, tetapi jika dilihat dari sudut pandang yang lebih arif, kita bisa menyimpulkan bahwa hati dan perasaan ibu Asih jauh lebih lembut dari pemilik toko tersebut.

    Saya menaksir bahwa keuntungan yang diraih oleh pemilik toko tersebut nampaknya cukup besar setiap harinya. Tetapi ia tidak mau dan tidak rela ‘berbagi rasa’ dengan para pengamen dan para pengemis, walaupun hanya seratus rupiah saja.

    Sungguh sangat berbeda dengan kondisi ibu Asih, yang dagangannya jauh lebih kecil dibanding toko tersebut, tetapi ia mempunyai hati yang lembut dan rasa welas asih kepada para pengamen dan para peminta-minta.

    Setelah saya amati sekian lama, hasil dari perilaku ibu Asih tersebut sungguh luar biasa. Kami perhatikan barang dagangannya bertambah lama semakin bertambah besar. Dan klimaksnya, beberapa waktu yang lalu ia dapat pergi menunaikan ibadah Haji bersama suaminya.

    Dan saya pun merenung. Allah telah mengganti nilai seratus rupiah yang diperuntukkan bagi orang-orang miskin itu. Sekarang tumbuh menjadi dua buah ONH bu Asih dan suaminya. Sungguh luar biasa!

    Satu lagi yang dapat saya simpulkan, bahwa ucapan alhamdulillaah di bibir ibu Asih mempunyai timbangan setara dengan lima puluh juta rupiah. Subhaanallah…

    Apa janji Allah Swt ?

    QS. Ibrahim : 7

    “Barangsiapa yang mensyukuri nikmatKu, pasti akan Aku tambah, dan barang siapa yang lalai dan kufur terhadap nikmatKu, maka tunggulah siksaKu amatlah pedihnya ”

    Melihat contoh sederhana dalam kehidupan semacam ini, sebagai orang yang beriman tentu hati kita menjadi tergerak untuk menirunya. Meniru kelemah lembutan hatinya. Meniru kepeduliannya. Meniru rasa percaya dirinya akan balasan dari Allah Swt. Dan meniru bagaimana cara mengungkapkan rasa syukurnya.

    Yah, kadang-kadang manusia memang harus banyak belajar dari manusia lainnya. Bahkan dari semua peristiwa yang telah terjadi. Karena semua peristiwa yang telah terjadi di dunia ini adalah contoh berharga yang harus kita pelajari, kita baca, dan kita renungkan. Semua itu merupakan ilmu Allah yang sangat mahal nilainya.

    Dengan ‘modal’ seratus rupiah, bu Asih berangkat Haji bersama suami…!

    QS. Al Baqarah: 152

    Maka ingatlah kepadaKu, supaya Aku juga ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:06 am pada 14 September 2012 Permalink | Balas  

    Misteri Persoalan Manusia

    Insya Allah, setiap orang pernah pergi ke pasar. Entah untuk keperluan belanja, mengantar keluarga, atau karena keperluan lainnya. Jika kita suatu saat berada di pasar, maka lihatlah lalu lalang manusia dengan ekspresinya yang bermacam-macam, yang menunjukkan kepentingan dan emosi yang berbeda-beda pula.

    Bisakah kita melihat kehadiran Allah Yang Maha Kuasa, ketika kita menyaksikan keanekaragaman manusia, dan keanekaragaman barang-barang yang berada di dalam pasar?

    Mungkin yang perlu kita pertanyakan kepada diri sendiri, adalah mengapa ribuan barang yang ada di dalam pasar tersebut selalu ada saja yang membeli dan memerlukannya? Setiap orang yang pergi ke pasar dan perlu untuk membeli atau menjual barang, berarti dia sedang mempunyai persoalan pada dirinya dan keluarganya.

    Apabila di dalam pasar ada seribu saja jenis barang yang berbeda, dan apabila suatu saat barang-barang tersebut laku karena dibutuhkan orang, berarti setidaknya ada seribu persoalan yang berbeda, dalam diri orang-orang yang pergi ke pasar tersebut.

    Yang sangat hebat dan menjadi misteri adalah, bahwa persoalan yang muncul dengan tingkat variasi yang berbeda pada setiap orang, dapat dijawab dan diselesaikan oleh persoalan orang lain dengan variasi yang berbeda pula….

    Putra pak Aman yang masih duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar, suatu saat diberitahu oleh ibu gurunya agar makan sayuran yang cukup supaya badannya tumbuh sehat dan cepat besar. Bu Aman yang kebetulan sedang sakit minta bantuan pak Aman untuk pergi ke pasar agar membeli sayuran atas permintaan anaknya tersebut. Maka pak Aman pagi-pagi berangkat ke pasar naik angkutan umum untuk membeli sayuran yang dimaksud.

    Pada saat yang bersamaan Bagus, seorang anak petani di suatu desa yang jaraknya cukup jauh dari pasar, tidak punya uang untuk membayar sekolahnya. ‘Kebetulan’ saat itu musim petik sayur tiba, maka orang tua Bagus pergi ke pasar untuk menjual sayuran hasil kebunnya. Setelah berada di pasar ‘kebetulan’ lagi ia bertemu dengan pak Aman yang juga sedang membutuhkan sayuran untuk keperluan anaknya. Maka terjadilah transaksi jual beli sayuran antara pak Aman dan bapaknya Bagus.

    Sungguh sederhana kejadian tersebut. Tetapi jika diperhatikan dan direnungkan, sungguh luar biasa!

    Pada ‘moment’ transansaksi itu bertemulah berbagai kepentingan yang saling menolong dan saling memberikan solusi bagi persoalan masing-masing.

    Di sini nampak, bahwa persoalan-persoalan yang kelihatannya tidak memiliki keterkaitan, ternyata setelah diperhatikan dengan seksama menjadi satu rumpun persoalan yang kemudian mempunyai hubungan sangat erat.

    Yaitu :

    • Peristiwa Ibu guru yang menjelaskan ilmunya
    • Kurikulum Sekolah Dasar tentang pentingnya ilmu Gizi
    • Bu Aman yang sedang sakit minta kerelaan suaminya untuk pergi ke pasar
    • Pak Aman yang bersedia pergi ke pasar untuk membeli sayur
    • Sopir angkutan umum yang berangkat bekerja pagi hari
    • Peraturan sekolah yang mengharuskan Bagus membayar uang sekolah
    • Musim petik sayur yang ‘kebetulan’ sedang tiba
    • Putra pak Aman yang tumbuh menjadi sehat

    Dari ilustrasi sederhana ini nampak sekali betapa sebuah persoalan, bisa membias menjadi bermacam-macam persoalan yang antara satu dengan lainnya saling terkait dengan erat, dan saling memberi solusi.

    Kalau hal tersebut dibicarakan dengan logika matematis memang akan menjadi nampak aneh! Tetapi dengan menggunakan logika iman, nampak jelas semua keterkaitan tersebut.

    Bisakah kita mencari jawabnya? Dimanakah letak keterkaitannya? antara kurikulum kelas tiga SD dengan keberangkatan sopir angkot pagi hari? siapa yang membangunkan sopir angkot untuk bangun pagi? antara keikhlasan pak Aman pergi ke Pasar dengan keperluan Bagus membayar sekolah? antara peraturan sekolah dengan musim petik sayur? antara keinginan badan sehat dengan rezeki sopir angkot? siapa yang mengatur persoalan semua itu? apakah semua itu sekedar kebetulan saja? jika hal itu kebetulan, kenapa berjuta peristiwa itu terjadi di setiap saat dan waktu? Dan terus berkelanjutan, sehingga dusnia tetap lestari? berapa ribukah jumlah pasar yang ada di propinsi Jawa Timur? berapa juta persoalan manusia yang ada di pulau Jawa ‘saja’? mungkin semua manusia menganggap persoalannya paling rumit dan paling berat. Tetapi Allah Swt justru menyelesaikan persoalan setiap manusia dengan persoalan manusia yang lain….betapa Dahsyatnya, betapa Agungnya, dan betapa Indahnya Dzat Yang Maha

    Tinggi itu dalam mengatur urusanNya…. ….subhaanallah….wal hamdulillaahi wa laa ilaaha ilallahu Allahu Akbar..!

    Satu kesimpulan yang membuat kita menjadi tertegun adalah, ternyata setiap persoalan yang kita hadapi menjadi solusi bagi persoalan orang lain. Bahkan juga mungkin sekali sebagai jalan keluar bagi persoalan kita lainnya…

    Berarti setiap kita punya persoalan, mungkin itulah sebuah jawaban dari do’a yang sering kita munajatkan sebagai solusi dari persoalan yang lain ….. ? Wallaahua’lam

    Begitulah kiranya, salah satu cara Allah untuk melestarikan kehidupan dunia. Barang siapa yang mampu melihat (persoalan) dirinya, Ia akan mampu melihat (kasih sayang)Tuhannya.

    QS. Al Baqarah : 115

    Dan kepunyaan Allah-lah timur dan beret, make ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:55 am pada 13 September 2012 Permalink | Balas  

    Indahnya Saling Memberi

    Zaman bertambah maju! Demikian sebuah ungkapan tentang zaman sekarang ini. Secara umum hal ini dapat ditengarai dari keadaan masyarakat kita. Kondisi sekarang memang relatif lebih baik’ dibanding zaman dahulu. Sebut saja era 1970-an. Ketika itu, dari sekian keluarga yang ada di kampung saya berada, yang mempunyai pesawat televisi hanya ada dua orang saja.

    Sehingga kalau ada pertandingan sepak bola dunia misalnya, atau ada pertandingan tinju kelas dunia, atau acara menarik lainnya yang ada di televisi, sebagian besar penduduk yang ingin melihat akan berbondong-bondong menuju ke rumah yang mempunyai televisi tersebut.

    Sekitar satu jam sebelum pertunjukkan dimulai, kami semua pemuda maupun orang tua sudah berjubel mencari tempat duduk yang enak di dekat televisi agar bisa melihat dengan jelas. Demikian sekedar gambaran betapa sekarang ini zaman sudah semakin maju.

    Kini, di kampung tempat tinggal saya dahulu -sekitar 900 keluarga – tidak satu pun yang tidak mempunyai televisi. Apakah rumah mewah yang di dalamnya terdapat lebih dari satu pesawat televisi, ataukah gubuk-gubuk kecil sederhana yang hanya punya satu ruangan saja, semua rumah sudah ada televisinya. Zaman sudah berubah!

    Bersamaan dengan ‘kemajuan’ zaman, maka situasi dan kodisi juga berubah secara drastis dan mengejutkan. Tetapi perubahan demi perubahan itu menjadi tidak terasa karena kita semua juga mengikuti perubahan yang terjadi, sehingga terjadilah penyesuaian perubahan pada masing-masing orang.

    Sebagai ilustrasi sederhana, kita ketahui bahwa bumi tempat kita berpijak ini bergerak mengelilingi matahari dengan kecepatan yang sangat tinggi yaitu sekitar 107.000 km/jam. Dan pada saat yang bersamaan pula bumi kita juga berputar pada sumbunya dengan kecepatan sekitar 1.600 km/jam. Baik secara revolusi maupun secara rotasi bumi mengalami perubahan posisi yang sangat cepat dan bermakna.

    Mengapa kita tidak merasakannya? Jawabnya, adalah karena kita juga mengikuti perubahan itu. Kita telah lengket di bumi tempat kita berpijak, disebabkan adanya gravitasi bumi. Bayangkan andaikata kita manusia yang ada dibumi ini tidak dipengaruhi oleh gravitasi bumi. Dan kita berada pada posisi ‘bebas’, padahal bumi terus berputar dan bergerak dengan begitu cepatnya…

    Kira-kira apa yang akan terjadi ? Tentu kita manusia akan hancur berantakan dan ludes, karena akan tertabrak dan ‘tertampar’ oleh ribuan bangunan dan ribuan pohon-pohon besar yang ada di sekitar kita yang ikut berputar karena mengikuti rotasi bumi. Untung saja dengan penuh kasih sayangNya Allah Swt memberlakukan gravitasi bagi manusia. Sehingga manusia juga ikut berputar mengikuti rotasi bumi dengan `nyaman’…

    Berkaitan dengan kemajuan zaman yang semakin modern ini, marilah kita saksikan sebuah kejadian lain…!

    Ternyata kehidupan di sekitar kita semuanya juga berubah. Termasuk pasar tempat kita belanja. Yang dahulu kita belanja di pasar tradisional, kini perilaku kita juga berubah. Kita sering belanja di tempat-tempat belanja modern yaitu di supermarket. Saat ini sudah demikian menjamur dan banyak bermunculan disetiap kota besar maupun kota kecil di seluruh pelosok negeri.

    Jika kita bandingkan kedua pasar itu, ada suatu perbedaan yang sangat menyolok dan cukup signifikan antara situasi pasar tradisional dan supermarket sebagai pasar modern.

    Belanja di supermarket, lebih praktis, lebih efektif, serta lebih bersih keadaannya. Sehingga waktu pun menjadi lebih efisien. Dan suasana belanja mungkin menjadi lebih nyaman. Di supermarket semua barang sudah ada label harganya. Sudah ditimbang sesuai dengan ukurannya. Tak ada tawar menawar antara penjual dan pembeli. Mungkin itulah ciri dari masyarakat modern! Semua ingin serba cepat dan praktis.

    Tetapi, pada kondisi itu kalau kita renungkan, dan kita cermati dengan seksama, ada sesuatu yang hilang, Mari kita kenang kembali, suasana ketika masing-masing dari diri kita pernah belanja di pasar tradisional. Yang sampai sekarangpun sebenarnya masih banyak kita jumpai.

    Pernah suatu ketika saya belanja di pasar ‘pagi’ di kampung saya. Pada saat itu tanpa sengaja saya melihat suatu ‘adegan’ yang cukup menarik untuk ditulis dalam diskusi ini. Seorang ibu setengah baya, membeli buah alpukat di salah satu penjual yang ada di pasar tersebut.

    Setelah terjadi dialog kecil dalam proses jual beli yang cukup akrab, ibu tersebut menawar dengan harga tertentu. Selanjutnya si penjual mengambilkan buah alpukat yang bagus-bagus sebanyak 10 buah ditambah satu. Sehingga buah alpukat yang dibeli menjadi sebelas buah dengan harga kesepakatan untuk sepuluh buah alpukat. (Dalam bahasa jawa, satu biji alpukat yang diberikan oleh si penjual disebut welasan).

    Ada tiga point penting yang cukup menarik untuk diperhatikan dalam proses jual beli tersebut, yang di pasar modern mungkin tidak pernah terjadi.

    Niat baik si penjual (yang sudah merupakan tradisi) memberi welasan pada si pembeli. Niat baik si penjual ketika memilihkan buah yang bagus. Proses komunikasi yang sangat akrab dan saling menghargai antara penjual dan pembeli

    Dalam waktu yang hampir bersamaan, terjadi pula di sebelah kejadian tersebut satu peristiwa yang tidak kalah menariknya.

    Seorang ibu muda membeli gula merah sebanyak satu kg. Yang menarik adalah ketika si penjual menimbang gula merah, daun timbangannya sangat mantap, melebihi berat 1 kg sebagai kesepakatan jumlah gula yang dibeli.

    Di sini terjadi sebuah tradisi budaya yang sangat indah, yaitu budaya memberi dari seorang penjual kepada pembeli.

    Dan yang lebih menarik lagi adalah, dikarenakan si penjual mempunyai niat yang baik ketika melakukan proses penimbangan, maka saya lihat si pembeli juga tidak mau ‘kalah’ dalam hal berbuat baik. Ketika si penjual berupaya mencari uang kecil sebagai uang kembalian dari jual beli tersebut, si pembeli tidak mau menerimanya.

    Kata pembeli : “…kersane bu, mboten usah ngangge susuk, njenengan sampun mantepake timbangan kangge kulo… ( biarlah bu, tidak usah pakai uang kembalian, toh, ibu juga telah memberi cukup banyak kelebihan timbangan gula ini untuk saya…)”,

    Kata penjual: “…maturnuwun bu, nyuwun ikhlase penggalih nggih …?( terima kasih bu, mohon keikhlasan hati, ya…?!)” Balas pembeli : “…oh, inggih bu, sami-sami..,( oh, iya bu, sama-sama…)”

    Inilah sebuah adegan sederhana dalam proses jual beli di pasar tradisional yang sangat menarik dan sangat Islami, yang tentu tidak akan kita jumpai di dalam supermarket. Point yang menarik dari kejadian sederhana itu adalah

    Adanya niat baik si penjual ketika memberi lebih banyak dari berat timbangan yang ditentukan. Niat baik si pembeli ketika membalas pemberian si penjual

    Permohonan maaf, untuk saling mengikhlaskan. Terjadinya proses ‘saling memberi’ yang sangat indah.

    “Saling memberi” adalah kata kunci dalam sebuah kehidupan sosial yang sangat harmonis, yang sangat Islami, yang di zaman modern ini semakin pudar dan semakin langka saja.

    Allah Swt, begitu menghargai orang-orang yang mempunyai semangat untuk memberi. Bahkan kata Allah dalam Al Qur’an Al Karim, salah satu sifat dari orang yang bertaqwa adalah suka memberi, baik ia dalam kondisi sedang lapang mau pun senang. Atau ketika kondisi sedang sempit dan susah.

    Q.S. Ali Imran:134

    (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

    Kejadian itu tampak sederhana. Suatu peristiwa keseharian yang ‘sepele’. Dan merupakan hal yang rutin. Tetapi kalau diamati dengan sesungguhnya, akan tampaklah keindahan peristiwa itu.

    Maka bagi seorang yang beriman dia akan selalu merasa bahwa Allah Yang Maha Kuasa, ternyata selalu ‘hadir Edimana saja dan kapan saja untuk memberi pelajaran kepada hambaNya.

    Timur dan barat adalah kepunyan Allah, oleh sebab itu kemana saja kita hadapkan muka, disana akan bertemu dengan Allah, sesungguhnya Allah Maha Luas kekuasaanNya dan Dia Maha Mengetahui.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:31 am pada 12 September 2012 Permalink | Balas  

    Berapa Harga Diri Kita?

    Adakah uang receh, sudah tersiapkan di mobil kita? Sebab ketika lampu jalanan berwarna merah, anak-anak kecil itu bertebaran mengais rezekinya.

    Suatu ketika kami sekeluarga pergi ke tempat keramaian, sebuah pusat pertokoan. Kami berhenti di salah satu trafic light di tengah kota karena lampu sedang menunjukkan warna merah.

    Pada saat itu seperti biasanya beberapa anak jalanan bertebaran mencari ‘rezeki’ masing-masing dari beberapa pengendara mobil yang lagi berhenti.

    Sebagian besar dari mereka adalah para pengamen jalanan, dengan rata-rata usia sekitar 15 tahunan. Bahkan ada yang masih imut-imut sekitar umur 5 tahunan. Anak-anak kecil tersebut bernyanyi membawa sebatang kayu yang diberi logam bekas penutup botol kecap sehingga kalau digoyang akan mengeluarkan bunyi….

    Ada juga yang tanpa membawa apa-apa, pokoknya nyanyi, sambil mendekati setiap mobil yang berhenti di lampu merah.

    Pemandangan semacam itu menjadi biasa, karena setiap saat kita akan bertemu dengan mereka di jalanan. Sehingga tak akan membekas di hati, karena ya sudah setiap hari kita menemuinya.

    Tetapi marilah kita mencoba, menerobos hati kita yang ‘membaja’ tersebut. Cobalah melihat diri kita yang begitu banyak nikmat yang telah kita terima. Mulai dari nikmat sehat kita, nikmat rezeki kita, nikmat ilmu, nikmat kesempatan, nikmat keluarga yang bahagia. Bandingkan keadaan mereka dengan keadaan kita.

    Ah, sungguh hati ini akan bergetar. Lantas kita menjadi bersyukur, lantas kita menjadi kasihan, lantas kita menjadi merasa agak malu kalau tidak memberi, lantas kita menjadi merasa bersalah kalau membiarkan mereka, lantas kita merasa berdosa kalau kita lewat tanpa berbuat apa-apa untuk mereka…

    Pada saat itu mobil kami berada di urutan ke enam di belakang mobil-mobil yang bagus, bahkan di depan kami salah satunya adalah mobil mewah. Mereka para anak jalanan itu bertebaran menuju ‘mobilnya’ masing-masing. Anak yang ada di deretan mobil kami masih kecil sekitar usia 6 tahunan. Ia menengadahkan tangannya yang kotor dan kurus itu ke kaca mobil-mobil yang ada di depan kami.

    Terjadi sebuah pemandangan yang cukup mengharukan, karena semua mobil yang ada di depan kami ternyata tidak memberi sepeserpun kepada anak-anak kecil ini. Semua kacanya tertutup rapat karena mereka menikmati segarnya udara dingin di dalam mobil. Sementara di luar mobil anak-anak kecil itu juga sedang `menikmati’ panasnya terik matahari. Kami lihat mobil-mobil itu semua acuh tak acuh terhadap anak-anak kecil ini, yang sebenarnya jika mereka memberi seratus rupiah saja, sudah ada kelegaan di hati anak-anak kecil itu.

    Akhirnya anak-anak itu sampai ke mobil kami. Maka saya suruh adik saya yang masih berusia 10 tahun untuk memberikan uang kepada mereka. Uang tersebut memang sudah kami sediakan di mobil untuk anak-anak jalanan dan orang minta-minta lainnya.

    Sambil memberikan uang ‘recehan Ekepada anak-anak jalanan tersebut, adik saya bergumam :”..waduh mobil-mobil di depan kita itu bagus-bagus ya… pasti orang yang punya mobil adalah orang yang banyak duitnya… tetapi kok nggak memberi uang ya…?! Kasihan sekali anak-anak itu, mungkin mereka sudah sejak pagi tadi berdiri di tengah jalan ini…!”

    Mendengar kata-kata adik saya ini, saya jadi terharu. Padahal biasanya kami memberi ya dengan perasaan biasa saja tanpa teringat apa-apa karena semacam itu adalah hal yang rutin dilakukan oleh siapa saja. Tetapi setelah ada kata-kata tersebut maka perasaan trenyuh, haru, kasihan, merasa bersalah, muncul lagi di hati saya. Saya jadi berfikir. Betapa banyaknya orang-orang yang kondisinya lebih dari cukup, yang rezekinya dilebihkan oleh Allah Swt tidak mau peduli dengan kondisi masyarakatnya…

    Saya jadi teringat perkataan nabi Muhammad rasulullah saw. Kata beliau: “Sungguh belum dikatakan sebagai orang yang beriman, apabila ada orang tidur pulas kekenyangan, sementara ada tetangganya yang kelaparan.”

    Menarik sekali apa yang disampaikan Rasulullah Seseorang yang tidak tahu kalau ada tetangganya sedang kelaparan, ia sudah dikategorikan orang yang tidak beriman, ketika ia tertidur karena kekenyangan. Padahal kan orang yang tertidur itu tidak mengetahui kalau ada tetangganya yang sedang kelaparan? Mengapa ia masih dikatakan tidak beriman?

    Insya Allah artinya bahwa kita sebagai manusia yang hidup bersosial dengan manusia lainnya ini, seharusnya selalu aktif memperhatikan kondisi masyarakat kita. Meskipun yang sedang lapar itu tidak berada di hadapan, kita tetap dikategorikan sebagai orang yang salah. Bahkan dikatakan tidak beriman, jika itu terjadi di lingkungan kita.

    Kalaulah dalam keadaan yang tidak tahu saja, sudah dikatakan sebagai orang yang tidak beriman, bagaimana dengan kondisi diatas. Dimana anak-anak itu mendatangi kita menengadahkan tangannya untuk minta secuil rezeki kita?

    Masihkah kita bangga dengan sebutan kita sebagai orang Islam? Satu hal yang sangat ironis, adalah jika mobil-mobil yang acuh tersebut, ternyata di kaca mobilnya tertulis sebuah stiker yang sangat ‘keren’: “ISLAM IS OUR LIFE”.

    Ya Semoga dengan merenungi kejadian ‘rutin’ yang sering kita jumpai di masyarakat kita ini, paling tidak kita akan berbuat sesuatu…

    Kejadian di jalan itu tentu hanyalah sekedar contoh kecil saja. Semoga kita sebagai hamba Allah yang diberi rezeki yang cukup olehNya, kita juga ikut andil dalam meringankan beban saudara-saudara kita yang cukup memprihatinkan itu. Walaupun nilainya sangat kecil, walaupun yang kelihatannya tidak berarti apa-apa. Mari kita berbuat sebisa mungkin.

    Kata Ali bin Thalib: “… lebih baik memberi walaupun sedikit, dari pada tidak sama sekali…”

    InsyaAllah kita semua yakin bahwa masih sangat banyak orang-orang yang mempunyai kepedulian tinggi di masyarakat. Masih sangat banyak wali Allah yang dengan kedermawanannya telah berbuat banyak di masyarakat ini. Karena memang disinilah letak ‘harga’ kita dimata Allah Swt.

    Allah Maha Melihat, kepada siapa saja yang berbuat kebajikan, meskipun tangan kirinya tidak melihat ketika tangan kanannya memberikan sesuatu. Allahpun Maha Melihat kepada siapa yang berbuat kerusakan, meskipun dilakukannya di tempat yang tersembunyi tiada orang sama sekali…

    QS. Al Baqarah : 271

    Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:58 am pada 11 September 2012 Permalink | Balas  

    I am a Second Wife

    Sekitar tiga bulan lalu, the Islamic Forum yang diadakan setiap Sabtu di Islamic Center New York kedatangan peserta baru. Pertama kali memasuki ruangan itu saya sangka ia wanita Bosnia. Dengan pakaian Muslimah yang sangat rapih, blue eyes, dan kulit putih bersih. Pembawaannya pun sangat pemalu, dan seolah seseorang yang telah lama paham etika Islam.

    Huda, demikianlah wanita belia itu memanggil dirinya. Menurutnya, baru saja pindah ke New York dari Michigan ikut suami yang berkebangsaan Yaman. Suaminya bekerja pada sebuah perusahaan mainan anak-anak (toys).

    Tak ada menyangka bahwa wanita itu baru masuk Islam sekitar 7 bulan silam. Huda, yang bernama Amerika Bridget Clarkson itu, adalah mantan pekerja biasa sebagai kasir di salah satu tokoh di Michigan. Di toko inilah dia pertama kali mengenal nama Islam dan Muslim.

    Biasanya ketika saya menerima murid baru untuk bergabung pada kelas untuk new reverts, saya tanyakan proses masuk Islamnya, menguji tingkatan pemahaman agamanya, dll. Ketika saya tanyakan ke Huda bagaimana proses masuk Islamnya, dia menjawab dengan istilah-istilah yang hampir tidak menunjukkan bahwa dia baru masuk Islam. Kata- kata “alhamdulillah”.”Masya Allah” dst, meluncur lancar dari bibirmya.

    Dengan berlinang air mata, tanda kebahagiaannya, Huda menceritakan proses dia mengenal Islam.

    “I was really trapped by jaahiliyah (kejahilan)”, mengenang masa lalunya sebagai gadis Amerika.

    “I did not even finish my High School and got pregnant when I was only 17 years old”, katanya dengan suara lirih.

    Menurutnya lagi, demi mengidupi anaknya sebagai `a single mother’ dia harus bekerja. Pekerjaan yang bisa menerima dia hanyalah grocery kecil di pinggiran kota Michigan.

    Suatu ketika, toko tempatnya bekerja kedatangan costumer yang spesial. Menurutnya, pria itu sopan dan menunjukkan `respek’ kepadanya sebagai kasir. Padahal, biasanya, menurut pengalaman, sebagai wanita muda yang manis, setiap kali melayani pria, pasti digoda atau menerima kata-kata yang tidak pantas. Hingga suatu ketika, dia sendiri berinisiatif bertanya kepada costumernya ini, siapa namanya dan tinggal di mana.

    Mendengar namanya yang asing, Abdu Tawwab, Huda semakin bingung. Sebab nama ini sendiri belum pernah didengar. Sejak itu pula setiap pria ini datang ke tokonya, pasti disempatkan bertanya lebih jauh kepadanya, seperti kerja di mana, apakah tinggal dengan keluarga, dll.

    Perkenalannya dengan pria itu ternyata semakin dekat, dan pria itu juga semakin baik kepadanya dengan membawakan apa yang dia sebut `reading materials as a gift”. Huda mengaku, pria itu memberi berbagai buku-buku kecil (booklets).

    Dan hanya dalam masa sekitar tiga bulan ia mempelajari Islam, termasuk berdiskusi dengan pria tersebut. Huda merasa bahwa inilah agama yang akan menyelamatkannya.

    “Pria tersebut bersama isterinya, yang ternyata telah mempunyai 4 orang anak, mengantar saya ke Islamic Center terdekat di Michigan. Imam Islamic Center itu menuntun saya menjadi seorang Muslimah, alhamdulillah!”, kenang Huda dengan muka yang ceria.

    Tapi untuk minggu-minggu selanjutnya, kata Huda, ia tidak berkomunikasi dengan pria tersebut. Huda mengaku justeru lebih dekat dengan isteri dan anak-anaknya. Kebetulan lagi, anaknya juga berusia tiga tahun, maka sering pulalah mereka bermain bersama. “Saya sendiri belajar shalat, dan ilmu-ilmu dasar mengenai Islam dari Sister Shaima, nama isteri pria yang mengenalkannya pada Islam itu.

    Kejamnya Poligami

    Suatu hari, dalam acara The Islamic Forum, minggu lalu, datang seorang tamu dari Bulgaria. Wanita dengan bahasa Inggris seadanya itu mempertanyakan keras tentang konsep poligami dalam Islam. Bahkan sebelum mendapatkan jawaban, perempuan ini sudah menjatuhkan vonis bahwa “Islam tidak menghargai sama sekali kaum wanita”, katanya bersemangat.

    Huda, yang biasanya duduk diam dan lebih banyak menunduk, tiba-tiba angkat tangan dan meminta untuk berbicara. Saya cukup terkejut. Selama ini, Huda tidak akan pernah menyelah pembicaraan apalagi terlibat dalam sebuah dialog yang serius. Saya biasa berfikir bahwa Huda ini sangat terpengaruh oleh etiket Timur Tengah, di mana kaum wanita selalu menunduk ketika berpapasan dengan lawan jenis, termasuk dengan gurunya sendiri.

    “I am sorry Imam Shamsi”, dia memulai.

    “I am bothered enough with this woman’s accusation”, katanya dengan suara agak meninggi.

    Saya segera menyelah: “What bothers you, sister?”.

    Dia kemudian menjelaskan panjang lebar kisah hidupnya, sejak masa kanak-kanak, remaja, hingga kemudian hamil di luar nikah, bahkan hingga kini tidak tahu siapa ayah dari anak lelakinya yang kini berumur hampir 4 tahun itu. Tapi yang sangat mengejutkan saya dan banyak peserta diksusi hari itu adalah ketika mengatakan: “I am a second wife.”

    Bahkan dengan semangat dia menjelaskan, betapa dia jauh lebih bahagia dengan suaminya sekarang ini, walau suaminya itu masih berstatus suami wanita lain dengan 4 anak.

    “I am happier since then”, katanya mantap.

    Dia seolah berda’wah kepada wanita Bulgaria tadi: “Don’t you see what happens to the western women around? You are strongly opposing polygamy, which is halaal, while keeping silence to free sex that has destroyed our people”, jelasnya.

    Saya kemudian menyelah dan menjelaskan kata “halal” kepada wanita Bulgaria itu. “I know, people may say, I have a half of my husband. But that’s not true”, katanya.

    Lebih jauh dia menjelaskan bahwa poligami bukan hanya masalah suami dan isteri. Poligami dan kehidupan keluarga menurutnya, adalah masalah kemasyarakatan. Dan jika seorang isteri rela suaminya beristeri lagi demi kemaslahatan masyarakat, maka itu adalah bagian dari pengorbanannya bagi kepentingan masyarakat dan agama. Kami yang dari tadi mendengarkan penjelasan Huda itu hanya ternganga. Hampir tidak yakin bahwa Huda adalah isteri kedua, dan juga hampir tidak yakin kalau Huda yang pendiam selama ini ternyata memiliki pemahaman agama yang dalam.

    Saya kemudian bertanya kepada Huda: “So who is your husband?”

    Dengan tertawa kecil dia menjawab “the person who introduced me to Islam”.

    Dan lebih mengejutkan lagi: “his wife basically suggested us to marry”, menutup pembicaraan hari itu.

    Diskusi Islamic Forum hari itu kita akhiri dengan penuh bisik-bisik. Ada yang setuju, tapi ada pula yang cukup sinis. Yang pasti, satu lagi rahasia terbuka. Saya sendiri hingga hari ini belum pernah ketemu dengan suami Huda karena menurutnya, “he is a shy person. He came to the Center but did not want to talk to you”, kata Huda ketika saya menyatakan keinginan untuk ketemu suaminya.

    “Huda, may Allah bless you and your family. Be strong, many challenges lay ahead in front of you”, nasehatku. Doa kami menyertaimu Huda, semoga dikuatkan dan dimudahkan!

    ***

    Oleh: M. Syamsi Ali

    Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York.

     
  • erva kurniawan 11:26 am pada 9 September 2012 Permalink | Balas  

    Ternyata Tidak Ada Wanita Cantik

    Ketika saya mengurus STNK kendaraan yang sedang habis waktu, saya memarkir kendaraan di depan kantor samsat. Kebetulan waktu itu sedang ramai sekali. Sehingga kendaraan yang parkir pun berjubel sampai keluar batas areal parkir.

    Ketika sudah selesai mengurus administrasi, kami menuju kendaraan yang kami parkir. Sambil menunggu membayar parkir, saya memperhatikan sebuah dialog pendek antara tukang parkir dengan seorang wanita muda yang barusan mengambil sepeda motornya.

    Rupaya sedang terjadi kesalahfahaman tentang besarnya uang parkir. Saya lihat wanita muda itu cemberut sambil membayar ke tukang parkir. Sementara si tukang parkir yang masih muda, mukanya bersungut-sungut sambil ngedumel tiada habisnya. Setelah wanita muda itu pergi, si tukang parkir melampiaskan rasa kecewanya sambil berteriak cukup keras. “…wah, wah, wah,.. sekarang ini tidak ada lagi wanita cantik, semua cemberut, semua makan hati, yaakh, maklumlah baru satu hari harga BBM naik…”

    Saya baru teringat, memang kejadian itu adalah satu hari setelah diumumkannya kenaikkan harga BBM. Begitu mendengar ungkapan dengan nada kesal dari tukang parkir tersebut, saya secara bersamaan tersenyum geli. Dan tukang parkir pun spontan tersenyum juga sambil berkata “… wah, ternyata masih ada wanita yang cantik, meskipun harga BBM naik”

    Senyum memang kunci dari ekspresi seseorang. Senyum adalah `wakil’ suasana hati seseorang. Apalagi kalau senyum itu wajar, tidak dibuat-buat. Sungguh akan mencerminkan kebahagiaan hati.

    Allah dalam merencanakan sebuah ekspresi senyuman, sungguh luar biasa. Senyuman seseorang dapat membias ke seluruh wajah. Sehingga jika seseorang sedang tersenyum, maka semua anggota wajahnya ikut senyum dan ikut gembira. Sebaliknya mulut yang cemberut juga akan membias ke seluruh raut wajah seseorang.

    Jika seseorang sedang cemberut, maka seluruh bagian wajahnya juga ikut cemberut. Mengapa bisa demikian? Karena sumber perubahan wajah seseorang adalah hati.

    Begitu hatinya senang, bibir tersenyum. Coba perhatikan. Semua wajah menjadi ikut tersenyum, riang dan gembira. Orang yang melihatpun ikut jadi senang dan gembira.

    Demikian pula sebaliknya, jika hati cemberut, merasa tidak senang, maka akan mempengaruhi bentuk bibir. Jika bibir sudah menunjukkan ekspresi tidak bagus, maka seluruh anggauta wajahpun ikut cemberut. Ah, luar biasa memang. Jaringan otot yang dibentangkan oleh Allah Swt di seluruh wajah seseorang begitu halus, dan begitu pekanya.

    Kalau pembaca ingin membuktikan betapa sebuah senyuman bisa mempengaruhi seluruh wajah, dan bisa mempengaruhi siapa saja yang melihatnya, buatlah sebuah percobaan sederhana sbb:

    Gambarlah sebuah bulatan, sebagai perumpaan muka seseorang. Buatlah dua mata, hidung, dan dua telinga pada `muka` tersebut.

    Pertama, buatlah sebuah garis mendatar, sebagai wakil dari mulut.

    Maka kesan yang akan kita tangkap dari wajah tersebut adalah sebuah wajah yang serius. Mata, hidung, dahi, pipi, bahkan telinganya, seolah-olah juga ikut serius.

    Kedua, hapuslah mulut tersebut, buatlah sebuah garis melengkung ke bawah di bekas mulut tadi, sebagai wakil dari mulut yang sedang senyum.

    Maka kesan yang akan kita tangkap dari wajah tersebut adalah sebuah wajah yang riang dan gembira. Mata, hidung, dahi, pipi, bahkan telinga dari wajah tersebut, seolah-olah juga ikut riang gembira. Aneh bukan? Padahal matanya tetap, tidak diganti, hidung juga tetap, telinga juga tetap.

    Ketiga, hapuslah kembali mulut tadi, buatlah sebagai penggantinya sebuah garis melengkung ke atas sebagai wakil dari mulut yang sedang cemberut.

    Maka kesan yang akan kita tangkap dari wajah tersebut adalah sebuah wajah yang cemberut, sedih, dan putus asa. Anehnya mata, hidung, dahi, pipi, maupun telinga dari wajah tersebut juga seolah-olah ikut cemberut, dan sedih…

    Manakah, yang harus kita pilih? Sama-sama menggerakkan bibir, kearah mana sudut bibir kita harus kita gerakkan? Ke bawah, yang akan menyebabkan semua orang menjadi senang, ataukah ke atas yang akan membuat semua yang melihatnya ikut menjadi susah.

    Jika anda seorang wanita, kata tukang parkir tadi anda akan menjadi semakin cantik jika anda tersenyum. Sebaliknya, tentu saja akan menjadi jelek, kalau kita terus saja cemberut. Seperti wanita di tempat parkir yang cemberut, sehingga tukang parkirpun kesal dibuatnya.

    Aisyah ra, pernah bercerita. Aku lama sekali tidak pernah melihat rasulullah saw tertawa terbahak-bahak sampai terlihat urat lehernya. Jika beliau tertawa, hanyalah senyum (HR. Bukhari)

    ***

    Dari Sahabat

     
    • cak rynem 12:36 pm pada 9 September 2012 Permalink

      tulisannya keren

      postingannya ringan dibaca..:)
      semangat terus untuk menulis

      salam kenal
      saya rynem
      kalau berkenan silahkan mampir ke blog ku……
      folloback juga ya buat nambah temen sesama blogger,,
      kalau mau tukeran LINK silahkan
      salam blogger

  • erva kurniawan 1:13 am pada 7 September 2012 Permalink | Balas  

    Bertafakur di Depan Anak Kembar

    “Wah, sungguh seperti pinang dibelah dua,” begitu celetuk teman saya, ketika kami menjenguk istri teman yang barusan melahirkan anak kembarnya.

    Ketika kedua baby itu digendong keluar oleh ibunya untuk menemui kami. Saya melihat betul-betul sama ‘persis’ kedua anak itu. Seolah-olah bagaikan pinang dibelah dua. Tak ada bedanya!

    Ketika itu umur kedua bayi mungil tersebut masih berapa hari saja. Matanya, hidungnya, dahinya, pipinya, telinganya, bahkan rambutnyapun nampak sama. Persis sekali. Maka muncullah sebutan ‘kembar tersebut.

    Tetapi setelah sekarang keduanya besar, saya melihat ada suatu perubahan pada keduanya. Yaitu bahwa wajahnya sekarang sudah bisa dibedakan. Tidak seperti waktu berusia beberapa hari, yang wajah keduanya begitu persisnya.

    Demikian juga dengan saudara saya, ia punya anak kembar dua. Yang diberi nama nina dan nani. Bertambah besar, kedua orang tuanya semakin bisa membedakan keduanya. Sehingga dengan sangat mudahnya kedua orang tuanya bisa mengenali mereka. Siapa yang namanya nina, dan siapakah yang namanya nani. !

    Saya bertambah ta’jub dengan kebesaran Allah Swt dalam mencipta dan ‘memproses’ bentuk tubuh para makhlukNya. Bertambah lama kita memperhatikan dan melihat anak kembar dengan lebih teliti, maka kita akan bertambah mengenalinya.

    Sehingga kita bisa menyimpulkan, bahwa ternyata Allah Swt dalam mencipta bentuk maupun rupa makhluk ciptaanNYa, semua berbeda. Tak ada yang sama persis. Hanya kita saja yang menganggap keduanya kembar. Padahal tidaklah sama.

    Demikian juga dengan makhluk ciptaanNya yang lain, yang sangat luar biasa banyaknya, ternyata semuanya memiliki wajah yang berbeda.

    “…inni wajjahtu wajhiya lilladzii fatharassamawaati wal ardha hanifan musliman wamaa anaa minal musyrikiin.” Kuhadapkan wajah (dan hatiku) kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan berserah diri, dan aku bukanlah dari golongan kaum musryikin.

    Inilah sebuah ikrar yang tulus dari seorang hamba yang sedang melakukan pengabdiannya kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Raja di hari ini dan juga Raja di hari kemudian. Penguasa di dunia ini dan juga Penguasa di hari akhir nanti.

    Wajah sebagai saksi yang dihadapkan ke hadirat Tuhan dari seorang hamba adalah wajah fisiknya dan juga wajah hatinya. Ketika seorang hamba sedang shalat maka wajahnya tertunduk patuh dan taat terhadap apa yang diucapkannya dalam do’a shalatnya.

    Dengan memperhatikan wajah, maka seseorang akan mengetahui bahwa Allah benar-benar Maha Pencipta. Tidak usahlah ‘wajah hati’ yang begitu misteri. Dari ‘wajah fisik’ saja, jika diperhatikan dengan seksama, kita akan menjadi orang yang benar-benar tunduk akan kebesaran Allah Swt.

    Mari kita memperhatikan wajah kita! Katakanlah penduduk bumi saat ini berjumlah lima milyar orang yang terdiri dari berbagai macam bangsa dan suku bangsa. Perhatikan, untuk bangsa Indonesia saja, dan misalnya untuk suku jawa saja. Betapa wajah setiap orang tidak ada yang sama meskipun umurnya sama.

    Meskipun warna kulitnya sama, tetapi ada “sesuatu” yang membuat orang tersebut tidak sama, meskipun dikatakan orang sebagai dua saudara kembar “bagaikan pinang dibelah dua”. Tetap saja ada sesuatu yang membuat orang tuanya mengenali bahwa keduanya tidak sama.

    Itulah Kebesaran dan ketelitian Allah Swt dalam mencipta makhlukNya sangat luar biasa indahnya, dan sangat hebat fungsi dan kegunaannya. Pada suku bangsa yang sama saja, tidak ada wajah yang sama, apa lagi pada penduduk dunia yang berbeda bangsa dan warna kulitnya.

    Seperti halnya wajah manusia yang tak pernah sama, sekarang marilah kita bayangkan bagaimana wajah makhluk l ciptaan Allah lainnya. Berapa milyar jumlah burung yang ada di Indonesia?

    Insya Allah wajahnya juga tak ada yang sama, sehingga setiap induk burung akan mengenali wajah para anaknya yang sedang menunggunya untuk mendapatkan makan darinya.

    Lalu, ada berapa ratus juta jumlah wajah burung yang berbeda di bumi Indonesia `saja’ ? Bagaimana dengan ular, bagaimana dengan semut, bagaimana dengan binatang melata lainnya? Bagaimana dengan kehidupan tumbuhan, misalnya saja bunga mawar dimana setiap lekuk, warna dan indahnya setiap bunga juga tidak sama? Bagaimana dengan kehidupan laut yang luasnya lebih besar dibanding daratan? wajah ikan yang tak sama, batu karang yang tak sama, mutiara yang tak sama, dan tumbuhan laut lainnya yang juga tak terhitung jumlahnya itu?

    Itupun masih benda-benda di Bumi kita, yang besarnya bumi hanya sebesar debu yang melayang di jagad raya yang sangat luar biasa besarnya ini. Masya Allah, semua dicipta dengan tingkat variasi yang sangat luar biasa…

    Dan yang lebih mencengangkan hati, adalah bahwa di setiap ciptaanNya, tidak ada satu bendapun yang tidak berguna bagi lainnya. Semua tak ada yang sia-sia. “…rabbana maa khalaqta hadza bathilan…”

    Itulah ayat-ayat Allah yang tak terhitung jumlahnya yang beserakan di bumi dan dilangit dengan tingkat variasi yang luar bisa, yang manusia tak akan sanggup menghitungnya.

    QS. Al- Kahfi 18 : 109

    Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).

    Sampai disini mungkin kita berhenti sejenak. Dan kita sebagai manusia hanya bisa berucap sambil mata berkaca-kaca, subhanallah…subhanallah…

    Dari menyaksikan peristiwa anak kembar saja, kita telah bertemu dengan kedahsyatan ciptaan Allah. Itupun baru ciptaanNya! Yang ada di bumi saja! Belum di planet yang lain. Belum di matahari, di bintang yang lain, galaxy, di ruang kosong antar galaxy. Lalu di langit kedua, ke tiga, sampai langit ke tujuh….

    Pernahkah ketika shalat, kita menitikkan air mata karena kita sering merasa paling pandai, paling kaya, paling berjasa, paling berkuasa, sehingga dengan tiada terasa kita telah menyombongkan diri kita?

    Mari kita pandang sekali lagi ciptaan Allah yang bertebaran di sekeliling kita, dan kitapun akan menemukan eksistensi Allah di setiap sudut ciptaanNya.

    QS. Al Baqarah : 115

    Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • tiwirahayu 8:12 pm pada 14 September 2012 Permalink

      dri bca’an d atas, d katakn bahwa segalany yg d ciptakn allah swt. smua bermanfaat. tapi, apa kgunaan bnatang yg tlah d hramkan allah untk kt, (b1&b2), sdangkn menyntuhny sja udh haram. :)

  • erva kurniawan 1:09 am pada 6 September 2012 Permalink | Balas  

    Suara Merdu Sang Pengamen

    Seorang ibu setengah baya, tiba-tiba naik ke dalam bus kota yang beropersi antara jalan Aceh dan Kampus Universitas Padjadjaran di kota Bandung. Para penumpang bus agak heran, sebab selama mereka menumpang bus di route itu, belum pernah melihat pengamen tersebut. Sehingga para penumpang pun memperhatikan keberadaan pengamen ‘asing’ itu meskipun dengan sikap acuh tak acuh.

    Yang menarik adalah, ibu tersebut tidak membawa peralatan apa-apa. Sebelum ia beraksi menyanyikan lagu seperti kebanyakan pengamen, ia memberikan sebuah ‘kata sambutan’ yang cukup menarik.

    Kata sambutan yang cukup singkat itu ternyata bisa menyita perhatian para penumpang bus. Ibu yang penampilannya sangat sederhana ini, menceritakan kondisi keluarganya yang saat itu sedang dilanda musibah tanah longsor di suatu daerah. Maka dengan modal nekat dari rasa malu, ia mencari rezeki dengan jalan menyanyi di dalam bus. Dan hari itu adalah penampilan ‘perdananya’ di dalam bus itu.

    Setelah selesai mengungkapkan suara hatinya, ibu pengamen ini melantunkan sebuah tembang dari daerah jawa barat. Dan seketika, seluruh suara hiruk pikuk di dalam bus menjadi berhenti. Semua penumpang terkesiap mendengarkannya. Seolah-olah semua orang terkena pengaruh ‘magis’.

    Suara ibu ini cukup merdu, tetapi yang membuat semua orang terkesima adalah karena adanya semacam kekuatan tersembunyi dari ekspresi yang sangat menggetarkan hati. Sehingga muncullah sebuah penjiwaan yang luar biasa.

    Mungkin, saat itu ia teringat keadaan anak-anaknya yang sedang terkulai sakit di rumahnya. Begitu ia berhenti melantunkan tembang yang membuat semua orang trenyuh, kontan saja hampir semua penumpang memberi uang dengan nilai yang jauh diatas ‘harga’ pengamen ‘reguler’. Bahkan kawan saya ‘IM’ yang menceritakan kejadian itu, ia memberikan uang sebesar lima ribu rupiah.

    Tentu saja nilai lima ribu rupiah waktu itu, bagi seorang pengamen ‘dadakan’ seperti dia sungguh sangat luar biasa. Belum penumpang-penumpang lainnya… tetapi saya hanya melihat sekali saja wanita itu, sebab hari-hari berikutnya meskipun setiap hari saya naik bus di route tersebut, yang datang adalah pengamen-pengamen tetap lainnya ….. ” Demikian kata menutup ceritanya.

    Dari cerita itu, saya masih bisa merasakan bahwa IM sangat terkesan dengan peristiwa itu. Yang menjadi fokus perhatian saya mendengarkan cerita itu ialah, betapa para penumpang bisa serempak memberikan uangnya dengan nilai yang jauh di atas kebiasaannya.

    Andaikata, saya ambil rata-rata untuk seorang pengamen jalanan ketika itu harganya adalah seratus rupiah, maka nilai lima ribu rupiah yang diberikan kepada ibu pengamen itu, merupakan nilai yang besar, dengan kelipatan lima puluh kalinya. Sungguh luar biasa….!

    Mengapa hal itu bisa terjadi? Ada beberapa kemungkinan yang membuat kondisi dan suasana ajaib itu bisa terjadi.

    Yang pertama, adalah adanya keikhlasan hati seorang ibu yang sedang sedih luar biasa. Ia berani dan tidak malu tampil di dalam bus lantaran teringat anak-anaknya yang berjumlah lima orang, yang kini sedang tergeletak sakit. Keikhlasan dan kondisinya yang sedang dirundung malang itu memberikan kekuatan yang tiada tara kepadanya.

    Yang kedua, adanya keikhlasan hati para penumpang bus dalam memberikan sebagian rezekinya kepada seseorang yang sedang membutuhkannya. Keikhlasan itu muncul setelah mereka mendengar dan bisa menghayati sebuah pesan kemanusiaan.

    Yang ketiga, adanya ‘komunikasi antar hati’ antara seorang ibu yang membutuhkan bantuan demi anak-anaknya, dengan pendengarnya.

    Yang keempat, adanya unsur tepat waktu dan tepat tempat. Andaikata ibu tersebut waktu itu masuk di tempat bus yang lain, mungkin akan berbeda suasananya dengan suasana di bus yang kini sedang kita bahas ini.

    Alasan yang pertama, kedua dan ketiga, adalah alasan kemanusiaan. Hal itu akan bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Secara umum siapa saja yang kondisinya sedang nyaman, bila ia dihadapkan pada suasana lain, dimana ada orang yang sedang membutuhkan uluran tangannya, kemungkinan besar akan berusaha membantunya. Selain itu juga adanya sebuah komunikasi hati yang tepat.

    Kata sebuah kata bijak, “Jika berkata dengan mulut, sampainya ke telinga, Jika berkata dengan hati, sampainya ke nurani..”

    Ibu tersebut dalam berkomunikasi tidak lagi menggunakan mulutnya, tetapi yang ia sampaikan adalah kegundahan hatinya yang begitu mendalam. Sehingga pesan itu tersampaikan tidak terbatas di telinga saja, tetapi bisa menembus hati para pendengarnya.

    Alasan yang keempat, adalah alasan yang sangat spesial. Siapakah yang menuntun dan menggerakkan hati ibu ini untuk menuju bus yang tepat dalam waktu yang tepat pula? Tentu jawabnya hanya ada satu. Yang mengatur semua itu adalah sebuah kehendak yang mempunyai kekuatan luar biasa. Dialah Allah Swt Sang Maha Pengatur Kehidupan Manusia.

    Dialah Dzat Yang Maha berkehendak. Dialah yang berkehendak menyuruh langkah kaki ibu yang sedang susah itu menuju bus yang tepat. Dialah Yang Maha Berkehendak untuk menggerakkan hati para penumpang bus untuk memberikan sebagian rezekinya.

    Dengan melihat peristiwa di dalam bus itu, seolah kita sedang diingatkan oleh Allah Swt. Bahwa di dalam setiap peristiwa yang sedang terjadi Allah ingin melihat, menguji, dan mengukur, siapakah diantara hamba-hambaNya yang sabar, dan siapa pula yang pandai bersyukur.

    Barang siapa yang diuji dengan musibah ia sabar, dan ketika diuji dengan nikmat ia bersyukur, insyaAllah dialah sebenarnya orang-orang yang berhasil dalam menjalankan misi kehidupannya…

    Allah selalu bersama dengan orang-orang yang sabar, dan Allah selalu bersama dengan orang yang pandai bersyukur.

    “Orang yang menikmati makanan lalu ia bersyukur, adalah seperti orang yang sedang berpuasa yang sabar.”

    (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban dari Abu Hurairah)

    Artinya, dalam kehidupan ini kita sedang bermain-main dalam rentang dimensi syukur dan sabar. Semoga dengan selalu berikhtiar dan berdo’a kepada Allah Swt, kita akan bisa berhasil melewatinya. Insya Allah…

    ***

    Dari Sahabat

     
    • bejono777 8:43 pm pada 6 September 2012 Permalink

      sabar, syukur adalah ibadah tapi berkeluhkesah di khalayak apakah juga diajarkan kita dianjurkan utk berikhtiar dan bertawakal, tapi itu mungkin yang bisa dilakukan oleh ibu itu

  • erva kurniawan 1:00 am pada 5 September 2012 Permalink | Balas  

    Perbedaan di Ranting Pohon

    Adakah tanaman yang tumbuh di depan rumah kita? Atau samping rumah? Atau di belakang rumah? Baik yang sengaja kita tanam dengan teratur sehingga nampak begitu indahnya, atau yang tumbuh liar dengan sendirinya. Pernahkah kita memperhatikannya?

    Sambil membaca diskusi ini, jika anda sedang di perhatikan tanaman yang ada di sekitar rumah. Atau tanaman dimana saja berada. Bisakah kita melihat sesuatu yang sangat berharga disana?

    Bisa jenis rerumputan, jenis perdu, atau jenis tanaman keras yang berbuah, seperti pohon mangga, pohon rambutan, pohon durian. Atau jenis tanaman berbunga seperti mawar, anggrek, melati, bougenvile, kembang sepatu, …dsb.

    Pada suatu minggu pagi, saya bersih-bersih halaman di depan rumah. Seperti biasanya saya membersihkan halaman rumah sekedarnya, hitung-hitung sambil olah raga pagi.

    Ketika saya merapikan tanaman bougenvile yang ada di depan rumah, kebetulan ada bagian ranting yang terpotong sepanjang lebih kurang 20 cm. Di ujungnya masih ada beberapa bunga yang berwarna merah tua.

    Saya ambil untuk ke tempat sampah. Tapi, tiba-tiba terpikir oleh saya sesuatu. Kemudian, saya hitung jumlah daun yang ada di ranting kecil itu. Dan juga menghitung bunga yang masih ada di bagian ujung ranting itu.

    Ternyata jumlah daunnya masih ada 40 daun, jumlah bunganya ada 15 Helai. Yang sangat menarik dari sebatang ranting kecil itu adalah keadaan dan posisi daun maupun bunganya yang berbeda antara satu dengan lainnya. Semakin saya perhatikan, semakin nampak berbagai perbedaan yang terdapat pada daun-daun maupun pada bunga-bunga bougenvile itu.

    Karakteristik daunnya :

    • Ada yang berwarna hijau tua,
    • Ada yang berwarna hijau setengah tua,
    • Ada yang berwarna hijau agak muda,
    • Ada yang berwarna hijau muda agak kekuningan.
    • Ada yang basah bekas terkena air hujan, Ada yang kering,
    • Ada yang kotor terkena debu jalanan, Ada yang masih bersih,
    • Ada yang miring ke arah kiri,
    • Ada yang ke kanan,
    • Ada yang posisinya di bawah,
    • Ada yang berada di pucuk ranting,…..

    Demikian pula dengan keadaan bunganya

    • Ada yang warna merah tua,
    • Ada yang merah agak muda,
    • Ada yang masih kuncup,
    • Ada yang sudah hampir layu,… dsb..

    Betapa banyak karakteristik yang berbeda dari daun-daun itu. Demikian juga dengan bunganya, satu dengan yang lain tidak ada yang sama. Semua berbeda. Tetapi justru dengan adanya berbagai perbedaan itu, pohon bougenvile itu menjadi nampak indah mempesona.

    Yang menjadi pikiran saya, jika pada ranting yang hanya sepanjang 20 cm saja sudah memiliki perbedaan sebanyak 40 buah, dan pada bunganya terdapat perbedaan sebanyak 15 buah. Saya jadi merenung, kalau begitu pada seluruh pohon bougenvile itu terdapat berapa daun yang berbeda? Ada berapa bunga yang juga berbeda?

    Sekali lagi justru dengan adanya perbedaan-perbedaan itu pohon menjadi nampak lebih indah. Nampaklah dari ‘kejadian Eitu bahwa masing-masing daun dapat ‘menghargai’ perbedaan yang terjadi. Demikian pula masing-masing bunga juga bisa ‘menghargai’ perbedaan yang ada. Kembali saya merenung.

    Bagaimana dengan pohon-pohon yang lebih besar lagi? Yang jumlah daunnya tak terhitung banyaknya? Pasti perbedaan itu lebih, hebat lagi..

    Dari peristiwa tidak sengaja itu, beberapa hari kemudian saya mengamati pohon cemara. Seperti pada pohon bougenvile, saya juga mengamati ranting daun cemara sepanjang lebih kurang 20 cm. Saya semakin tertegun, dan berdecak kagum terhadap ciptaan Allah yang kita sebut ‘pohon’ itu

    Pada sebuah ranting kecil sepanjang 20 cm yang saya amati, ternyata setelah saya hitung berisi 54 tangkai daun cemara. Dimana setiap tangkai kecil tadi terdapat rata-rata 140 daun cemara. Sehingga pada setangkai ranting cemara yang panjangnya hanya 20 cm, terdapat daun cemara sebanyak : 54 x 140 daun == 7.560 daun cemara. Selanjutnya saya mencoba berhitung sederhana. Ketika saya memperhatikan sebatang pohon cemara yang tingginya sekitar 10 meter ‘saja’ dengan perkiraan diameter rimbun daun rata-rata 1 meter, maka pada pohon tersebut akan terdapat sekitar : 37.800.000 daun cemara. Subhaanallah.

    Lalu apa yang membuat saya tertegun ?

    Seperti hal pada pohon bougenvile, ternyata dari sebatang pohon cemara yang daunnya berjumlah sekitar 37.800.000 tersebut, tidak satupun daun, yang memiliki karakteristik yang sama dengan daun lainnya. Baik dilihat dari posisi daunnya, maupun ditinjau dari jumlah zat pewarnanya…perhatikanlah

    Ada daun yang posisinya diatas, ditengah, ataupun dibawah. Ada daun yang miring ke kiri, ada yang ke kanan Ada daun yang bergerak lembut diterpa angin, ada yang diam saja.

    Ada daun yang warnanya hijau tua, hijau muda, agak kering, tersiram embun pagi, terbungkus debu, terjatuh karena angin, ….dsb. semua daun memiliki ciri yang tidak sama… subhaanallah…

    Sungguh, di dalam diri sebatang pohon cemara saja, Allah telah menunjukkan kehebatanNya. Dia mencipta makhluk yang namanya daun dengan tingkat variasi yang luar biasa hebatnya.

    Semua berbeda, tetapi justru dengan perbedaan posisi dan karakteristik tersebut menjadikan pohon cemara menjadi nampak indah dan menawan. Dari penciptaan sebatang pohon cemara ini, Allah menunjukkan pada kita betapa dari hal perbedaan yang sebanyak 37.800.000 itu menjadikan alam ini menjadi indah mempesona

    Lalu ada berapa ratus juta pohon cemara, di perbukitan dan gunung yang ada di jawa timur saja? subhaanallah. Lalu bagaimana dengan daun pada jenis pohon lainnya? Pohon beringin, pohon jambu, pohon kelapa, dan lain-lainnya…? Yang ada di Pulau Jawa, di hutan-hutan di Kalimantan, di Sumatera, di Papua, atau bahkan di seluruh permukan bumi ini?

    Allahu Akbar walillahil hamd,

    Hanya orang-orang yang bertaqwalah yang bisa mengambil pelajaran dari itu semua. Point penting yang dapat kita ambit adalah : “Perbedaan yang luar biasa itu justru menjadikan indahnya alam raya”

    Bisakah kita mengambil hikmah dan manfaat dari keberadaan daun yang kecil tersebut? Bisakah kita melihat indahnya perbedaan pada kehidupan kita? di keluarga kita, di masyarakat kita, di bangsa tercinta ini? Satu hal yang perlu kita renungkan bersama,…

    Semua perbedaan tersebut adalah dilihat dari sudut pandang manusia, dengan kaca mata ‘apa adanya’. Tetapi kalau kita mencoba melihatnya secara agak mendalam, maka pada hakekatnya semua yang nampak beda tadi adalah sama, yaitu semua dicipta oleh Allah Swt, melalui zat cemara yang sama, dari bumi yang sama, dari air yang sama…dengan firmanNya “kun fayakun” maka melalui proses yang ‘sangat rumit’ jadilah apa yang dikehendaki Allah…

    Allah-lah yang menumbuhkan itu semua. Pohon-pohon itu tumbuh bukan kehendak kita. Tetapi tumbuh karena kehendak Allah Swt. Untuk memberi pelajaran pada manusia agar memperoleh ilmu tentang EksistensiNya.

    Semua Ciptaan Allah, baik benda, maupun peristiwa, lebih-lebih tentang keberadaan manusia yang nampak beda itu, ternyata pada hakekatnya adalah sama dalam pandangan Allah. Tidak ada perbedaan yang signifikan, kecuali amal perbuatan dan taqwanya kepada Allah Swt.

    QS. Al-Waqi’ah ; 63-64

    “…Inna akramakum ‘indallaahi atqaakum…”

    Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:50 am pada 4 September 2012 Permalink | Balas  

    Siapa Penjahit Ahli Itu?

    Untunglah penjahitnya sangat ahli. Kalau tidak, tentulah bahan yang sudah jelek, robek-robek dan kotor ini akan menjadi pakaian yang sangat jelek pula.

    Pak JK, awalnya adalah seorang pemuda yang sangat ‘aktif Edalam kehidupan ‘abu-abu’. Atau bahkan kehidupan yang agak gelap. Ia berkecimpung dalam kehidupan itu cukup lama.

    “Saat itu, pergaulan saya, cara mencari rezeki, sampai dalam ibadah, semua tak ada yang benar. Kenangnya.

    “Alhamdulillah, sekarang, meskipun dalam hal ekonomi saya dan keluarga saat ini sedang kesulitan, tetapi hati kami gembira. Yah, semua kita buat ketawa ajalah…”sahut Yn, istri pak Jk.

    Pak Jk dan istrinya Yn sudah lama membina rumah tangga. Saat ini mereka sedang membesarkan kedua anaknya yang sudah beranjak remaja.

    Ketika malam itu saya mampir ke rumahnya, mereka berdua menyambut dengan penuh antusias. Maklum sudah kurang lebih dua tahun kami nggak pernah ke rumahnya.

    Saat berada di rumahnya, saya perhatikan ada sesuatu yang lain dibanding dua atau tiga tahun yang lalu. Kalau dahulu rumahnya penuh dengan barang-barang dagangan, tetapi gersang dari suasana keagamaan, kini rumah itu telah ‘berisi’.

    Selama dua tahun terakhir, setelah mereka datang dari ibadah haji, sebetulnya saya sudah beberapa kali mampir kerumahnya, tetapi tidak jadi masuk ke rumah sebab selalu bersamaan dengan adanya aktifitas pengajian.

    Dahulu kehidupan ekonominya menjulang, kehidupan spiritual tidak nampak sama sekali. Mungkin tertutup oleh sibuknya mengurusi duniawi. Sekarang ketika kehidupan ekonominya menurun, justru kehidupan rumah tangga mereka nampak meningkat dan lebih harmonis. Bahkan kami rasakan, keluarga itu kini ‘lebih hidup’ dan lebih berisi dalam menjalankan amanah Ilahi.

    Kurang lebih satu setengah jam kami ngobrol, sungguh asyik sekali. Sehingga waktu 90 menit itu terasa kurang. Malam itu mereka berdua ‘melampiaskan Ecerita-cerita unik yang mereka temui sejak mereka mau berangkat ibadah haji. Padahal ketika itu mereka tidak punya uang sepereserpun. Termasuk pengalaman-pengalaman spiritual yang mereka temui di sepanjang perjalanan haji.

    Mereka bergantian, memberikan informasi seputar kehidupan mereka yang dirasa sangat aneh. Mulai dari awal perkawinannya yang tidak punya pekerjaan tetap, sampai dengan kesuksesan ekonomi. Saat itu omsetnya sampai ratusan juta rupiah. Ironisnya ketika mereka akan melakukan ibadah haji, justru kondisi ekonominya menurun tajam.

    Ada saja yang menyebabkan kami rugi, dan akhirnya kami terpuruk dalam kondisi yang cukup memprihatinkan. Tetapi satu hal yang menjadi prinsip kami. Bahwa ONH yang kami bayarkan untuk pergi ibadah itu, betul-betul kami saring. Jangan sampai sedikit pun terkena uang yang tidak benar.

    Kami tidak perduli dengan kondisi kami yang saat itu tidak punya uang. Modal kami dan tekad kami pergi haji hanya satu, yaitu mohon ampun kepada yang membuat hidup. Kami merasa sudah terlalu banyak berbuat khilaf dan salah. Tapi tekad dan keinginan tersebut ternyata betul-betul berat.

    Sebab setelah itu datanglah berbagai cobaan demi cobaan secara bergantian. Bersamaan itu kondisi ekonomi pun semakin menurun”

    “Tetapi anehnya, kami bisa menerima cobaan dan ujian itu dengan tabah dan tawakal” kata pak Jk. Semua cobaan itu kami ikuti aja, seperti mengikuti aliran air, yang kami tidak tahu, kemana kami akan dibawa…”

    Pokoknya kami ikut ajalah, sambil belajar hidup..” Sampai sekarang ini sudah berjalan dua tahun. Tapi kami merasa waktu berjalan begitu cepatnya….! Pokoknya setelah pulang dari haji, kehidupan ekonomi kami, tambah hancur deh, kayak mimpi aja ya..” kata mereka.

    Tetapi anehnya, dengan kondisi kami yang sedang turun kami jadi lebih bersyukur. Sebab, berawal dari menurunnya ekonomi itulah, kami menjadi sadar. Dan alhamdulillah Mas..Jk bisa berubah menjadi seperti itu. Hati sayapun mengalami perubahan yang sangat berarti.

    Kalau dahulu, wah, jangankan shalat! Tapi sekarang, dengan kondisi ekonomi yang sangat sulit ini, justru kami rajin menjalankan shalat malam! Saya lebih tentram seperti ini dari pada seperti dahulu, yang selalu berurusan dengan dagangan yang tak ada henti-hentinya, sampai-sampai lupa pada segala sesuatu…” katanya Yn.

    “Tetapi sebagai manusia biasa, ujian dan cobaan ini sungguh berat lho…! Bayangkan aja kalau dahulu seperti itu, kini seperti Andaikata bisa memilih, tentu saya kepingin rezekinya seperti dahulu, hatinya seperti sekarang…he he he.. “kata Yn. Insya Allaah…, sahut saya.

    Satu hal yang tak akan dapat dilupakan oleh mereka, adalah terjadinya suatu peristiwa ketika mereka mau berangkat haji. Ketika semua orang sekitarnya mengerti bahwa keluarga pak Jk, ini mau berangkat haji. Para tetangganya selalu bertanya

    Kapan pak, kapan bu, syukurannya? Waduh rasanya hati ini seperti diiris pisau.” kata pak Jk.

    Bayangkan duit sepeserpun tidak punya, bagaimana mau ngadakan syukuran? Ketika itu uang yang ada, hanya tinggal dua ratus lima puluh ribu rupiah saja. Akhirnya uang yang tinggal sekian itu, mereka titipkan di acara syukuran RT. untuk ikut ‘nebeng’ syukuran haji.

    “Ketika acara resmi sudah selesai, dan tiba waktunya makan, sungguh kami berdua menjadi deg-degan setengah mati. Semua orang menikmati makanan dengan lahapnya, sungguh kami tidak berani makan.!

    Kami takut kalau makanan yang tersedia tidak cukup. Apalagi setelah kami melihat jumlah mereka yang datang. Betapa gemetarnya hati kami. Perkiraan tamu yang datang hanya sekitar tetangga kanan kiri saja. Itupun sudah berjumlah dua ratus lima puluh orang

    Tetapi malam itu yang datang tidak kurang dari enam ratus orang. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh kami. Bahkan saya sempat bersembunyi dibawah meja untuk melihat orang-orang yang makan, dan melihat apakah masih cukup makanan yang tersedia itu, kata Yn.

    Kami hanya bisa berucap “.. ya Allah, ya Allah, berkali-kali..”tidak bisa berucap lainnya, saking gugup dan takutnya. Tetapi ada satu keanehan yang terjadi saat itu. Ternyata semua tamu bisa makan, bahkan masih ada kelebihan makan yang cukup banyak setelah acara selesai…”

    Kami berdua, hanya bengong. Sungguh, kami hanya bisa menangis saja. Tidak percaya dengan kejadian yang baru saja kami alami. Ya Allah, ya Allah…”

    Demikian salah satu kejadian mau berangkat haji…yang tak kan terlupakan selamanya…”Kata pak Jk dan Mbak Yn hampir bersamaan.

    Wah, kalau melihat kehidupan kami dahulu seperti itu, dan sekarang bisa seperti kami hanya bisa bertanya pada diri sendiri, kok bisa ya? Sekarang

    Mas Jk, menjadi orang yang Pinter masak…lho” kata Yn sambil menahan ketawanya.

    Malam itu ketika kami ke rumahnya, saya lihat Pak Jk, dan Mbak Yn berbinar-binar. Mereka saat itu nampak gembira, selalu berseri. Meskipun kondisi ekonominya sangat sulit….

    Saya hanya bisa mengatakan ;”Pak Jk, mbak Yn, jangan kuatirlah., ujian itu hanya sebentar kok. Buktinya secara bathin kalian berdua beserta keluarga sekarang bahagia sekali. Toh, memiliki uang banyak itu kan maksudnya juga untuk mambahagiakan bathin kita, kalau bathin sudah bahagia, dan semua kebutuhan juga sudah terpenuhi..walaupun mencarinya dengan perjuangan yang sangat sulit, kan sama saja..! Dengan kesabaran pak Jk sekarang semua yang nampaknya sulit itu rupanya menjadi mudah, Iya kan…? Dengan izin Allah, insya Allah semuanya akan menjadi lebih baik lagi Eok, hibur saya. Kamipun tertawa bersama.

    Hari sudah cukup malam. Saya lihat beberapa orang sudah mulai berdatangan ke rumah pak Jk membawa kitab Al-Qur’an. Rupanya malam itu di rumah pak Jk sedang ada aktifitas rutin kajian al-qur’an bersama. Maka sayapun mohon pamit…

    Pak Jk. Menutup pembicaraan saya, sambil mengantar saya keluar dari rumahnya.

    Hebat ya ‘PENJAHIT’nya! Kain yang sudah rusak, robek, dan kotor seperti saya masih bisa diubah menjadi baju yang layak untuk dipakai…” katanya sambil tertawa lepas. Alhamdulillaah…; jawab saya….!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:44 am pada 3 September 2012 Permalink | Balas  

    Nikmatnya Tidur di Atas Becak

    Ranjang mewah, atau tikar kasar, keduanya adalah sama. Mobil mewah, atau becak, keduanya juga sama. Rumah mewah di tengah kota, atau gubuk reyot dipinggir sawah, keduanya juga sama….

    Saya membeli kursi makan satu set. Ketika kursi itu didatangkan ke rumah, ada tetangga sebelah rumah yang mengetahuinya. Beberapa hari kemudian ia ‘bertamu’ ke rumah saya, sambil menyengajakan diri untuk duduk di kursi makan yang baru kami beli itu. Duduk di kursi baru itu, ia bercanda dengan menggoyang-ngoyangkan tubuhnya.

    Waduh, enaknya kursi ini. Empuk, nyaman, membuat orang kerasan saja ya. Wah, pasti dengan duduk dikursi ini makanan menjadi enak, makan tempe akan terasa sate ya…he he he,.”

    Pada waktu itu, di daerah saya, makanan sate dianggap sangat bergengsi. Sedangkan tempe sebagai makanan sehari-hari dianggap bermartabat jauh dibawah sate.

    Demikianlah kata-kata yang secara spontan muncul dari ucapannya. Kata-kata itu tanpa sengaja tertanam begitu kuat di hati saya. Sehingga pada saat-saat tertentu, kata-kata itu sering muncul lagi. Bahkan kadang-kadang sebagai kata-kata yang memiliki makna.

    Memang dalam waktu satu atau dua hari, ketika kami menikmati kursi baru tersebut, rasanya setiap makanan menjadi lebih enak dan lebih nikmat. Tetapi rupanya itu hanya berlaku sekitar tiga hari saja. Setelah terjalanani hari-hari berikutnya, perasaan kami kembali seperti semula. Lauk tempe, ya tetap seperti tempe! Tidak seperti sate lagi…

    Keberadaan ‘lauk tempe terasa sate’ paling-paling hanya berlaku 3 hari. Setelah itu tidak lagi Apalagi ketika perasaan sedang nggak enak. Lagi sedih. Lagi ada persoalan. Wah, wah,.. keadaan bisa terbalik. Makan sate jadi terasa tempe. Atau ‘gula menjadi pahit rasanya’.

    Artinya, ‘hebat’nya dunia materi, seindah dan sebagus apapun, posisinya masih kalah, dan masih sangat jauh dibawah dunia non materi kita. Misalkan saja kita yang baru saja membeli baju bagus. Betapa senangnya hati. Apalagi kalau warna dan ukurannya cocok. Begitu ‘PD’nya kita. Ke mana pun kita pergi, hati selalu gembira dan senang.

    Kalau kita baru membeli mobil bagus, betapa nikmatnya duduk menyetir mobil itu. Hati berbunga-bunga. Mengemudikan mobil kemana saja tiada capek. Gembira dan bahagia.

    Kalau kita baru membeli ranjang yang bagus, mungkin yang sedikit mewah dibanding milik kita sebelumnya, wah, betapa nikmatnya tidur di atasnya..

    Beberapa hal tersebut di atas, sekedar contoh betapa saat-saat kita baru memiliki harta benda yang sebelumnya kita inginkan, begitu senangnya hati. Begitu gembira.

    Tetapi setelah waktu berjalan ‘sedikit’ saja, ternyata telah terjadi perubahan rasa pada diri kita. Setelah apa yang kita inginkan sudah menjadi milik kita, ternyata hanya dalam hitungan hari saja, semua itu menjadi ‘biasa’ kembali tidak memberikan kontribusi perasaan bahagia lagi.

    Kalau melihat dari beberapa hal tersebut, maka ada sebuah kesimpulan yang cukup menarik. Yaitu bahwa perasaan senang atau bahagia, ternyata letaknya hanya berada di angan-angan kita. Atau bahkan berada pada ‘permainan’ perasaan kita.

    Apa saja yang kita miliki, akan menjadikan kita bahagia, jika kita bisa ‘noto ati’ dalam menyikapinya. Baju baru, mobil baru, ranjang baru, rumah baru, semua benda itu sekedar memberi kontribusi sesaat saja. Setelah itu tidak sama sekali. Dan kembali bergantung pada bagaimana kita bisa menata hati. Disinilah nampak bagaimana ajaibnya sang waktu.

    Dengan berjalanannya sang waktu, maka perasaan bisa berubah. Sikap marah, bisa berubah menjadi sabar, perasaan gembira bisa berubah menjadi sedih. Semua berada pada kisaran sang waktu.

    Saya teringat ketika dulu masih duduk di bangku SMP, banyak di antara teman-teman saya yang sekolah membawa sepeda pancal. Begitu keren dan bahagianya mereka. Begitu perasaan saya.

    Ingin rasanya bisa sekolah membawa sepeda seperti mereka. Ketika saya sudah duduk di SMA, banyak sekali teman-teman yang ke sekolah membawa sepeda motor. Ah, begitu senang dan bahagianya hati ini jika bisa sekolah membawa sepeda motor seperti mereka…

    Dan ketika saya berada di Perguruan Tinggi, ada diantara teman saya yang membawa mobil ketika kuliah. Betapa hebatnya. Mereka bisa membawa mobil ketika kuliah. Sementara saya tetap jalan kaki seperti dulu, ketika duduk di bangku Sekolah Dasar…

    Tetapi setelah saya sedikit demi sedikit bisa membeli beberapa hal yang saya inginkan itu, ternyata perasaan bahagia seperti yang saya bayangkan waktu itu, tidak ada lagi. Kalaupun ada nilainya sudah merosot jauh dari bayangan semula. Jadi nilai bahagia pada sebuah material, begitu cepatnya terkikis oleh `waktu’.

    Saya jadi teringat pada ‘ilmu puasa’. Ketika seseorang sedang berpuasa, sering kita jumpai, pada siang harinya ia kepingin segala macam makanan yang enak-enak. Misalnya : ketika seseorang pada siang hari kebetulan melihat ice juice kesukaannya, ia akan membayangkan betapa nikmatnya apabila nanti malam, ia bisa minum ice juice tersebut.

    Jika pada siang ia melihat nasi gudeg kesukaannya, ia juga akan membayangkan betapa nikmatnya apabila nanti malam ia mendapatkan nasi gudeg itu.

    Demikian pula dengan makanan atau minuman lainnya. Ia akan membayangkan betapa nikmat saat ‘nanti’ malam itu telah tiba.

    Tetapi rupanya suasana hati kepingin bahagia itu ‘hanya’ terjadi pada waktu siang saja. Yaitu ketika seseorang bisa ber’imajinasi’ tentang bahagia.

    Apa yang terjadi? Setelah sampai waktunya, semua keinginan itu nilainya merosot tajam. Rasa ice juice, kalau sudah sampai waktunya, tidak ‘sehebat’ yang dibayangkan sebelumnya. Rasa nasi gudeg, atau makanan apa saja setelah kita dapatkan, ternyata rasanya juga biasa-biasa saja. Itulah umumnya perasaan manusia.

    Apa saja yang belum berada di tangan, nampaknya sangat indah dan mempesona, seakan-akan kita pasti akan bahagia jika mendapatkannya. Tetapi setelah kita dapatkan semua itu ternyata biasa-biasa saja. Dan kembali kita kepingin lagi dengan sesuatu yang belum kita dapatkan. Demikian seterusnya. Sehingga kepuasan pun tak akan pernah kita dapatkan. Kebahagiaan yang dikejar-kejar itu, ternyata hanya terdapat dalam bayangan saja.

    Kata Allah dalam Al Qur’an al Kariim

    QS. Al-Alaq : 6-7

    Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.

    Kita diingatkan oleh Allah Swt, bahwa jika manusia berada dalam keadaan serba cukup, sering tidak bisa melihat kecukupan yang ada pada dirinya. Yang nampak justru ‘milik’ orang lain. Sehingga dengan berbagai cara dikejarnya sesuatu yang belum jadi miliknya itu.

    Maka oleh Al-Qur’an orang-orang itu disindir sebagai orang yang melampaui batas..

    Tentu, hal itu insya Allah tidak terjadi bagi orang yang beriman. Karena selalu menyandarkan semua persoalannya pada Allah Swt. Seorang yang beriman, insya Allah mampu melihat apa yang telah diperolehnya sebagai anugerah yang digunakan untuk kepentingan di jalan Allah. Sehingga akan selalu membantu manusia lainnya yang memerlukan uluran tangannya.

    Sekitar sebulan yang lalu, saat hari sudah mulai malam, saya pergi ke sebuah pasar yang letaknya berada di dekat tempat tinggal saya. Ketika itu di pojok serambi sebuah toko, terlihat oleh saya seorang tua tertidur pulas di atas becaknya…. Nikmat sekali nampaknya.

    Entah karena capek atau nunggu penumpang, pak tua ini tidur begitu pulas. Sampai sedikit mendengkur. Saya perhatikan, dalam tidurnya itu, bapak tua itu berselimutkan kain sarung, dan berbantalkan tangannya sendiri. Dengan posisi badan yang agak terbungkuk karena tempat duduk becak tidak bisa memuat seluruh tubuhnya.

    Begitu besar kekuasaan dan keadilan Allah Swt, Dia memberikan anugerahNya kepada pengayuh becak, dengan suatu nilai yang tidak dimiliki oleh orang yang serba kecukupan.

    Orang yang serba kekurangan itu, mampu meraih nikmatnya tidur di tengah keramaian orang-orang yang lagi berbelanja. Dengan begitu nyamannya. Sementara banyak orang yang ranjangnya mewah, tetapi ia tidak mendapatkan nikmatnya tidur, seperti yang dimiliki bapak tua pengayuh becak itu…..

    Dengan uang, memang kita bisa membeli ranjang atau tempat tidur yang mewah beserta dengan segala aksesorisnya. Tetapi uang itu tidak bisa membeli nikmatnya tidur seperti yang diperagakan oleh pak tua pengayuh becak itu.

    Andaikata nikmat tidur harus dibeli dengan uang, sungguh kasihan orang yang tiada punya kekayaan untuk membelinya….

    Jika ada seseorang bisa tidur nyenyak di dalam kamar mewahnya, sementara ada seorang lain yang juga bisa tidur nyenyak di dalam gubuk reyotnya maka rumah mewah dan gubuk reyot itu pun menjadi sama.

    Berarti, kamar mewah, gubuk reyot, dan becak, menjadi sama. Karena semuanya bisa menjadikan seseorang tertidur nyenyak di dalamnya…

    Sungguh sifat Adil dan Kasih Sayang dari Sang Maha Pencipta, telah kita temukan pada diri tukang becak yang sedang tertidur pulas ini

    Dengan menyaksikan seseorang yang bisa tidur pulas di atas becaknya, sungguh kita kembali bertemu dengan Kekuasaan Allah Swt.

    QS. Al Baqarah : 115

    “Timur dan barat adalah kepunyan Allah, oleh sebab itu kemana saja engkau hadapkan mukamu, disana akan bertemu dengan Allah, sesungguhnya Allah Maha Luas kekuasaanNya dan Dia Maha Mengetahui.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:42 am pada 2 September 2012 Permalink | Balas  

    Melihat Peristiwa Di ‘Alam Gaib’

    Bisakah kita melihat ‘makhluk’ dimensi lain? Bagaimana rupa mereka itu? Apakah mereka juga memakai kendaraan seperti kita? Apakah mereka juga bersosialisasi? Apakah mereka juga bisa terluka ?

    Inilah sebuah peristiwa yang sangat unik. Bukan penggalan cerita televisi, yang lagi ‘musim’ menceritakan keberadaan alam gaib. Seperti sinetron Jinny oh Jinny, tuyul mbak yul, Jin dan Jun, atau sinetron sejenisnya….

    Waktu itu sore hari, hujan sedang rintik-rintik membasahi bumi. Matahari sudah turun di ufuk barat, menunjukkan waktu maghrib hampir tiba. Para binatang ternak sudah masuk ke kandangnya masing-masing, bahkan yang namanya ayam, tidak berani lagi berkeliaran di pelataran karena matanya tidak lagi bisa melihat ketika senja telah tiba.

    Para santri dan jamaah masjid keluar dari rumahnya untuk menuju masjid atau mushalla atau surau tempat mereka melakukan shalat berjamaah. Pada saat itu saya sedang berada di perjalanan. Kendaraan yang saya kemudikan melintasi sebuah daerah yang tidak asing bagi saya. Saya sering kali melalui jalan tengah kota.

    Mobil bergerak perlahan, karena cuaca lagi remang-remang disertai hujan rintik. Di depan sebuah bangunan yang agak tua, tiba-tiba kipas pembersih kaca mobil sebelah kiri terlepas dan jatuh.

    Maka dengan perlahan saya hentikan mobil. Kira-kira berjarak lima puluh meter ke depan. Saya pun mencari kipas yang terjatuh.

    Anehnya, dalam waktu yang cukup lama, saya tidak juga menemukan kipasnya. Bahkan sampai berjalan dengan jongkok dalam jarak yang cukup jauh dari kejadian itu, tidak juga benda itu saya temukan.

    Hari sudah mulai gelap. Suara adzan maghrib dari surau terdekat lamat-lamat sudah mulai menghilang. Mungkin, orang–orang di masjid sudah mulai melakukan shalat berjamaah.

    Karena sampai jauh tidak juga saya temukan benda yang saya cari itu, maka dengan agak frustasi saya kembali ke tempat mobil yang saya hentikan itu.

    Saya memutuskan balik ke mobil. Ketika berjalan ke arah mobil, dari arah belakang saya melaju sebuah mobil berwarna putih. Kira-kira hanya berjarak satu meter dari tempat saya berjalan.

    Persis di samping saya, mobil putih itu menabrak dua orang yang lagi menyeberang jalan. Maka terjadilah peristiwa tabrakan itu dengan diikuti suara yang sangat keras.

    Tentu saja saya terkejut. Kejadiannya sangat tiba-tiba. Saya saksikan semua kejadian itu dengan begitu jelas. Mobil berwarna putih itu berhenti sekitar satu meter dari tempat saya berdiri.

    Yang tragis adalah, di bawah ban mobil depan masih tergeletak seorang wanita tua. Ia mengenakan kain panjang bermotif batik. Darah berceceran di sekitar tubuhnya. Sementara, seorang lelaki tua juga tergeletak di depan mobil dengan jarak sekitar dua meter dari mobil itu. Di dekat laki-laki itu terdapat keranjang yang berisi beberapa kain yang juga tercecer berserakan di tengah jalan. Sungguh pemandangan yang sangat menggiriskan hati di cuaca yang agak remang-remang.

    Begitu paniknya saya menyaksikan kejadian itu. Tak ayal lagi saya berteriak minta bantuan orang-orang di sekitar. Saya bergegas menghentikan setiap mobil yang lewat agar menolongnya. Saya masih ingat bahwa mobil yang saya hentikan waktu itu, yang pertama kali lewat adalah mobil kijang warna biru metalik. Kemudian mobil taft warna hijau tua. Kemudian masih ada dua mobil lagi di belakangnya yang ikut berhenti.

    Ketika saya menghentikan mobil taft warna hijau tua itu saya sempat memegang tangan seorang laki-laki yang duduk di kursi depan sebelah kiri, dan saya tarik dia supaya keluar dari mobilnya untuk menolong kecelakaan itu.

    Bahkan saya sempat mencegat mobil angkutan umum di deretan paling belakang. Saya masuk ke dalam mobil angkutan itu. Di dalamnya banyak sekali penumpang duduk berjubel. Saya minta tolong pada mereka, tetapi para penumpang itu tidak memperdulikan saya, mereka hanya berdiam diri tanpa komentar apa-apa…..

    Sayapun turun dari angkot itu dan saya bergegas lagi menuju ke tempat kecelakaan yang jaraknya hanya beberapa meter. Saya berjalan agak cepat kearah kejadian dengan menerobos keramaian orang-orang yang berkerumun. Sambil sesekali menoleh kearah belakang, kalau-kalau ada bantuan lain yang datang menolong.

    Ketika sampai di titik kejadian, setelah melewati kerumunan banyak orang, saya menjadi terbengong dan terpaku. Ternyata orang yang tertabrak itu sudah tidak ada lagi di tempatnya. Tidak ada darah. Tidak ada keranjang. dan tidak ada pakaian yang tercecer.

    Saya menoleh ke arah mobil warna putih itu. Ternyata mobil itu juga tidak ada. Mobil kijang biru, juga tidak ada. Mobil taft juga tidak ada. Termasuk angkutan umum yang disesaki penumpang…

    Saya pun menoleh ke tempat orang-orang yang berkerumun. Ah, mereka juga tidak ada semuanya…. Keadaan di jalan itu sunyi senyap. Tak ada seorangpun yang berdiri disitu. Tak ada sebuah pun mobil yang lewat. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan baru terjadi sebuah peristiwa. Saya terkesiap, tidak mampu berkata-kata. Apa sebenarnya yang sedang terjadi …?

    Di tengah-tengah kondisi hati yang berkecamuk, saya melihat di dekat kejadian itu ada sebuah warung kecil. Di dalamnya ada seorang bapak tua yang berjualan rokok. Dia menggunakan ikat kepala, layaknya orang yang berasal dari daerah jawa tengah. Orang tua itu sedang asyik mengisap rokoknya, sambil melayangkan pandangannya lurus-lurus kedepan, seperti orang yang lagi melamun.

    Saya dekati bapak tua itu, dan saya pun bertanya kepadanya : “…Pak, kemana orang-orang itu semua, bapak melihat kejadian tadi? ‘Orang tua itu tidak sedikit pun menoleh ke arah saya. Tapi ia menjawab: kejadian apa? Saya sejak tadi di sini tidak ada kejadian apa-apa…! “

    Bulu kuduk saya berdiri, mendengar jawaban itu. Saya usap kedua mata saya, saya cubit lengan saya. Saya tidak sedang bermimpi. Tapi saya baru saja menyaksikan suatu peristiwa yang luar biasa.

    Akhirnya dengan perasaan yang tidak karuan, saya cepat-cepat pulang menuju rumah. Saya masih penasaran. Keesokan harinya pagi-pagi sekali saya menuju ke tempat kejadian itu untuk mencari kembali kipas kaca mobil yang terlepas tadi malam. Sekalian sambil ingin menyaksikan ulang bekas peristiwa tadi malam. Sesampai di tempat kejadian itu saya bertambah merinding…!

    Ternyata, selain kipas mobil tidak saya temukan, satu lagi yang membuat saya termangu adalah, di tempat itu ternyata sunyi sekali. Tidak ada seorang pun yang berjualan, tidak ada bekas-bekas kecelakaan, bahkan penjual rokok beserta warungnya pun tidak ada …!

    Saya tetap penasaran. Saking tidak kuatnya menahan gejolak hati, keesokan harinya saya bercerita kepada beberapa orang teman dekat.

    Satu hal lagi yang membuat bulu kuduk menjadi berdiri…!

    Ketika saya bercerita tentang hal itu, ada seseorang yang memberikan kesaksiannya. Ia pernah diberi tahu oleh orang tuanya, bahwa di tempat kejadian yang saya ceritakan itu memang pernah terjadi peristiwa yang persis seperti apa yang saya lihat itu. Tetapi katanya, peristiwa itu sudah terjadi sekitar dua belas tahun yang lalu…. Subhaanallah! Mendengar kesaksian itu semua orang saling pandang….! Berbagai perasaan berkecamuk jadi satu. Antara percaya dan tidak percaya. Antara heran dan penasaran.

    Ada satu lagi yang lebih aneh, ternyata penjual rokok beserta warungnya itu juga misterius. Ia tidak mengetahui kalau ada kejadian yang `begitu hebat’ di dekatnya! Berarti antara penjual rokok dan kecelakaan itu terjadi pada dua dunia yang berbeda, sebab mereka tidak saling mengetahui….

    Pembaca, dari kejadian itu, apa yang terpikir di benak kita? Semoga kita semakin mengakui bahwa betapa kecilnya diri kita ini.

    Ada satu kesimpulan menarik darinya, yaitu ternyata ada dunia lain yang sedang berlangsung di samping dunia kita ini. Allah Swt telah sedikit membuka tabir tentang rahasia alam ciptaanNya yang luar biasa itu kepada kita semua.

    Bahwa di balik dunia kita, ternyata memang ada suatu kehidupan lain. Bahwa kehidupan itu, satu dengan lainnya, berada pada tingkatan atau pada dimensi yang berbeda. Sehingga penjual rokok yang penuh misteri itupun tidak mengetahui terjadinya kecelakaan yang ada di dekatnya.

    Antara peristiwa kecelakaan, dengan penjual rokok itu, terpisah oleh sebuah tabir. Saat saya menyaksikan kejadian itu, rupanya Allah sedang menyingkap tabir itu sedikit, sehingga saya bisa ‘menonton’ dunia yang tidak sama secara bersamaan di waktu maghrib itu….

    Terjadi adanya relatifitas waktu antara kejadian yang saat itu saya saksikan dengan kejadian sesungguhnya, yang katanya peristiwa itu terjadi sudah dua belas tahun yang telah lalu.(…wallahu ‘alam)

    Waktu maghrib adalah waktu khusus yang mungkin harus diperhatikan oleh setiap manusia. Saat itu matahari telah turun, dimana akan terjadi pergantian dari siang menuju malam. Waktu semacam itu oleh agama kita disebut waktu maghrib, yang perlu sekali pada saat itu manusia menyembah dan mengagungkan Tuhannya. Allaahu Akbar..!

    Dengan mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, membuktikan bahwa manusia tak mempunyai daya apa-apa. Saya jadi teringat petuah para orang tua kepada anak-anaknya di zaman dahulu. Jika waktu senja telah datang, jika waktu shalat maghrib telah tiba, janganlah lagi ada yang diluar rumah…masuklah ke dalam rumah, cepat ambil air wudhu’ untuk melakukan shalat maghrib dalam rangka mengabdi dan menyembah kepada Tuhannya langit dan bumi ini.

    Semoga dari peristiwa aneh tersebut, kita dapat mengambil positifnya. Semoga kita bertambah yakin akan datangnya hari perhitungan, yang akan terjadi pada dunia lain setelah terjadinya hari berbangkit kelak.

    Semoga semua itu akan menjadikan kita semakin yakin akan Kekuasaan Allah yang tiada terhingga. Dan semoga menjadikan kita semua lebih berhati-hati dalam menjalani hidup ini… Insya Allah..

    ***

    Dari Sahabat

     
    • dewa 2:32 am pada 25 Februari 2013 Permalink

      di dunia ini,
      tidak ada yang tidak mungkin,
      niat, yakin, dan sabar,
      adalah kunci berbagai kemungkinan,
      konsultasikan.
      085729111654

    • Satya 11:12 pm pada 8 Maret 2013 Permalink

      Setiap kecelakaan di manapun, jika terdapat darah, maka darah itu akan menjadi Alam,
      darah merupakan sebuah alam di dalam diri manusia. waktu maghrib adalah waktu keluarnya mahluk halus dan jiwa2 yang terpenjara
      Alhamdulillah anda masih di beri keselamatan

    • esdua 4:56 pm pada 16 April 2013 Permalink

      terlepas dr benar/tidaknya cerita diatas, sy sarankan kpd siapa saja untuk tidak terkecoh tipuan syetan yg menyesatkan. yakinlah kpd firman alloh swt bhw kita manusia adalah makhluk ciptaannya yg diberi mandat untuk memakmurkan bumi. jadi apapun diluar itu, abaikan saja dan kembalilah kpd mandat yg sudah dibebankan diatas pundak kita. manusia..

  • erva kurniawan 1:30 am pada 1 September 2012 Permalink | Balas  

    Do’a Seorang Tukang Becak

    Pak Samin, seorang tukang becak. Ia sudah lama menggeluti pekerjaannya. Dan mempunyai prestasi yang cukup mencengangkan. Sejak kecil ia tidak pernah mengenal bangku sekolah. Tetapi kini ia telah menjadi seorang sukses dengan menikmati kehidupan hari tuanya yang penuh damai dan sejahtera.

    Cerita ini saya dapatkan dari seorang kawan, ketika kami ngobrol. Pak ‘DJ’ Kawan saya ini, dengan penuh antusias menceritakan ‘sejarah’nya Samin.

    Pak Samin mempunyai dua orang anak lelaki, yang dua-duanya kini sudah menjadi perwira Angkatan Darat. Kedua anak tersebut lulus SMA, dan dua-duanya masuk pendidikan militer, AKABRI.

    Sebagai seorang yang tidak punya biaya, untuk bisa menyekolahkan kedua orang anaknya pak Samin mencari biaya dengan cara yang lain. Cara apa yang bisa diterapkan oleh seorang tukang becak seperti dia? Ia tidak punya pekerjaan sampingan. Juga tidak berpendidikan?

    Ketika pak DJ bertanya, “…Pak Samin!, kok bisa ya, bapak menyekolahkan kedua anak bapak, sampai di AKABRI? Wah, berapa biaya yang bapak keluarkan, dan bagaimana cara bapak mendapatkan biaya itu ?”

    “Pak DJ, saya ini kan tukang becak, dari mana saya dapatkan biaya? Sejak anak saya sekolah di SMP, saya sudah kewalahan mencarikan biaya. Tetapi alhamdulillah sejak saat itu saya bisa terus menyekolahkannya dengan cara saya sendiri. Yaitu saya terus berdo’a tidak kenal putus sepanjang hari dan malam. Itu saya lakukan selama puluhan tahun. Sejak saya menyadari bahwa tidak mungkin saya mencari biaya sendiri untuk menyekolahkan kedua anak saya. Tentu harus ada yang menolong saya untuk menyekolahkan.”

    Tanya Pak DJ : Siapa yang bapak maksud dapat menolong untuk mencarikan biaya itu? Siapa lagi kalau bukan Gusti Allah kang Maha Kuasa? katanya.

    Pak DJ berdecak kagum. ”pak Samin, kalau boleh saya tahu, do’a apa yang bapak sampaikan selama puluhan tahun itu, sehingga bapak bisa seperti ini?”

    Jawab pak Samin : “..saya juga nggak bisa do’a yang panjang-panjang pak. Saya hanya berdo’a kepada Gusti Allah yang Maha Kuasa, agar kami sekeluarga mendapatkan ridhaNya…”

    Pak Samin menambahkan: “…Saya menangis sepanjang malam untuk mendapatkan ridhaNYa, selain itu tidak! Saya tidak pernah minta untuk mendapatkan biaya sekolah. Saya tidak pernah untuk minta agar saya kaya, bahkan saya tidak berani minta agar saya bahagia…saya takut minta yang macam-macam, saya hanya minta untuk mendapatkan ridhaNya saja…”

    Mendengar jawaban itu, pak Dj termangu. Dan terdiam dalam seribu bahasa. Sungguh luar biasa do’a itu. Seorang yang miskin, yang secara ekonomi serba kesulitan dalam hidupnya. Tetapi do’a yang dipanjatkannya bukan minta kemudahan dalam kehidupan. Yang diminta sangat simpel. Tetapi justru nilainya jauh lebih tinggi dari kebutuhannya saat itu. Yang dimintanya adalah keridhaan Allah Yang Maha Kuasa….subhaanallah.

    Kalaulah Allah Swt, sebagai Dzat Yang Berkuasa atas segala sesuatu sudah meridhainya, maka tak ada kata mustahil. Semua yang mengatur Dia. Apa yang dibutuhkan oleh hambaNya, Dialah yang memproses.

    Jika seorang yang dicintaiNya sedang membutuhkan biaya, maka Dialah Dzat Yang Maha Kaya itu. Jika seorang HambaNya sedang kesulitan akan sesuatu, maka Dialah yang akan memudahkannya. Dengan menjadi hambaNya, sungguh manusia akan mendapatkan sesuatu dariNya sebelum ia memintanya.

    Hadits Qudsi:

    “Apabila seorang hamba datang kepadaku, dan ia sibuk mengingatKu sampai lupa memohon keperluannya sendiri, maka Aku akan memberikan sesuatu yang terbaik baginya sebelum minta kepadaKu.”

    (HR. Bukhari, Baihaqi)

    Sungguh kita semua menjadi malu kepada diri sendiri. Kita sering minta kepada Allah yang macam-macam, lebih-lebih ketika kita sedang dirundung kesulitan.

    Do’a pak Samin sungguh sangat indah dan sangat universal. Ia ‘hanya’ meminta ridha. Dengan mendapatkan ridhaNya itulah, insyaAllah semua kebutuhan manusia akan terkandung di dalamnya. Dan itu telah dibuktikan oleh seorang tukang becak yang luar biasa

    Sebagai tetangga, pak DJ kagum luar biasa. Dan sangat bangga serta sangat bersyukur punya tetangga seperti pak Samin. Pak Samin kini menjadi orang yang bahagia dalam kehidupannya. Ia menempati rumah yang cukup layak. Bapak dari dua orang perwira….

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:28 am pada 31 August 2012 Permalink | Balas  

    Kasih Ibu di dalam Bus

    Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan. Siapakah yang pantas disebut sebagai seorang ibu? Apakah, hanya sosok wanita yang pernah melahirkan kita saja? Adakah wanita yang mengasihi seorang anak sedemikian rupa, meskipun bukan anaknya sendiri?

    Untuk merenung lebih jauh tentang sebuah cinta kasih, Saya teringat penggalan kalimat dari sebuah syair lagu yang diciptakan oleh grup musik ternama “DEWA” aku mencintaimu, lebih dari yang kau tahu.

    Syair ini begitu luar biasa. Mencintai seseorang lebih dari yang diketahuinya. Rasanya begitu pas dan sekali bagi seorang ibu, yang tidak pernah menghitung-hitung ‘jasa’ demi anak-anaknya…!

    Pagi itu, setelah saya selesai memberi Ceramah Dhuha di salah satu Masjid yang cukup megah di kota Lumajang Jawa Timur, saya diantar teman-teman panitia menuju terminal Bus. Selanjutnya, saya naik angkutan umum Bus Antar Kota untuk kembali pulang ke kota tempat tinggal saya.

    Ketika Bus yang saya naiki sampai di kota Probolinggo, bus berhenti di terminal beberapa menit. Kemudian berangkat lagi menuju kota Malang dengan melalui beberapa kota.

    Ada hal menarik bagi saya ketika bus berhenti di terminal Probolinggo yang hanya beberapa saat itu. Yang pertama, saya iseng-iseng menghitung jumlah penjaja makanan yang naik ke dalam bus, ketika bus berhenti. Saya hitung ada sebanyak dua puluh delapan orang dengan membawa berbagai macam barang dagangan. Mulai dari minuman air mineral, makanan bungkus, kue-kue, topi, majalah, mainan anak-anak, rokok, sampai dengan barang-barang souvenir khas daerah.

    Semua dijajakan dengan ekspresi masing-masing. Dan tentu saja yang tidak ketinggalan adalah para anak-anak muda pengamen jalanan. Mereka menunjukkan kebolehannya dalam ‘berolah vokal’ melantunkan lagu-lagunya.

    Nah, di tengah-tengah riuh rendahnya suara berbagai macam orang dengan aktifitasnya masing-masing itulah saya memperhatikan sebuah ekspresi yang cukup menarik dari beberapa wajah.

    Di kursi seberang di sebelah kanan saya, ada seorang ibu muda menggendong anaknya, berumur sekitar tiga tahun. Raut wajah anak itu gelisah. Rupanya ia merasa gerah, haus dan lapar. Bahkan, akhirnya ia menangis meskipun tidak mengeluarkan suara keras.

    Sang ibu mengerti apa yang terjadi dengan anaknya. Tetapi ia tidak juga beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil suatu keputusan, misalnya membelikan makanan atau minuman.

    Setelah agak lama, akhirnya saya lihat ibu tersebut mengeluarkan uang dari balik bajunya, sebesar lima ribu rupiah. Uang itu digenggamnya erat-erat. Mungkin supaya tidak lepas atau tidak hilang di tengah berjubelnya para penumpang dan penjaja makanan yang sangat padat.

    ‘Adegan’ berikutnya adalah, dengan penuh keragu-raguan ibu tersebut memanggil penjual nasi bungkus yang sedang berdiri di dekat saya. Seorang ibu setengah baya. Ibu itu bertanya kepada penjual nasi bungkus. Berapa harga satu bungkus makanan yang dijajakannya itu.

    Si penjual nasi bungkus menjawab dengan logat daerah yang sangat kental. Ia mengatakan harganya Rp.2.500,- per bungkus. Saya tidak mengetahui secara pasti apa yang terpikir dalam benak sang ibu pembeli tersebut. Dengan penuh keraguan, bercampur rasa khawatir ia menawar nasi tersebut dengan harga Rp.1.500,-/ bungkus.

    Saya terus mengikuti dengan seksama ‘adegan’ menarik yang terjadi di hadapan saya itu. Saya berfikir tentu sang ibu penjual tidak akan memberikan barang dagangannya, sebab rasanya tidak mungkin nasi satu bungkus dihargai hanya seribu lima ratus rupiah.

    Benar dugaan saya. Si penjual tidak memberikannya. Ketika si penjual nasi mau beranjak ke kursi lain, ibu penjual tersebut tanpa sengaja menatap wajah si anak kecil yang sedang gelisah di pangkuan ibunya.

    Hanya selang beberapa detik, sang ibu penjual nasi seperti terkena ‘hipnotis’ oleh wajah sedih yang haus dan lapar dari anak kecil tersebut. Akhirnya ibu penjual pun membalikkan tubuhnya menghadap ke ibu yang menggendong anaknya itu. Dan dengan penuh rasa iba ia relakan nasi bungkusnya dibeli dengan harga Rp.1.500,-

    Saya fikir kejadian itu sudah selesai. Dan sudah berakhir sampai disitu saja. Ternyata perkiraan saya salah. Karena kejadian itu terus berlanjut dengan ‘episode-episode’ yang lebih menarik lagi…

    Berikutnya saya lihat ibu pembeli, memberikan lembaran uang kertas sebesar lima ribu rupiah yang rupanya uang itu merupakan satu-satunya uang yang ia miliki saat itu. Karena harga nasi bungkus Rp.1500,- berarti si penjual harus mengembalikan uang sebesar Rp.3.500,- kepada si pembeli.

    Apa yang terjadi berikutnya? Ternyata ibu penjual nasi bungkus tidak memiliki uang kembalian, sebab saat itu barang dagangannya belum laku sama sekali. Maka si penjual nasi bungkus pun berupaya untuk menukarkan uang lima ribuan tersebut kepada para pedagang lainnya yang ada di sekitarnya.

    Beberapa kali ia mencoba menukarkan uang tersebut kepada para pedagang disekitarnya, tapi tidak satupun yang mau menukar uang tersebut. Sampai-sampai penjual nasi bungkus itu menjadi kebingungan, sebab bus beberapa saat lagi akan berangkat.

    Agak lama si penjual kebingungan. Dan rupanya bus sudah mau berangkat. Saat itu, datang seorang ibu penjual onde-onde yang sudah agak tua. Saya lihat Ibu penjual nasi bungkus melakukan pembicaraan singkat dengan ibu penjual onde-onde dengan logat bahasa daerah yang sangat kental sambil menunjuk kepada anak kecil yang ada di pangkuan ibunya.

    Saya lihat ibu penjual onde-onde itu langsung mencari uang yang terselip di bawah barang dagangannya. Dan iapun menukar uang lima ribuan tadi dengan uangnya. Sehingga ibu penjual nasi bungkus tersebut akhirnya bisa memberikan uang kembalian kepada ibu pembeli nasi yang masih memangku anaknya.

    Dari kejadian singkat itu, saya mendapat satu pengalaman yang menarik dan berharga. Sebuah kejadian dari sekian ratus kejadian serupa di tempat-tempat lain. Yang mungkin tidak sempat terperhatikan. Point apa yang bisa kita ambil dari kejadian sederhana itu?

    Bahwa perasaan cinta kasih seorang ibu, senantiasa bisa ‘menembus batas’ kesulitan yang dialaminya.

    Mari kita lihat kesulitan apa yang dialami oleh masing-masing ibu tersebut.

    Ibu muda (pembeli) yang uangnya tinggal lima ribu rupiah.

    Duit satu lembar lima ribu rupiah itu rupanya akan dipakai untuk keperluan lain yang sudah direncanakannya. Mungkin saja untuk transport setelah turun dari bus.Tetapi karena anaknya lapar, maka iapun merasa kesulitan untuk mengambil keputusan. Apabila uang itu dipakai untuk membeli nasi seharga dua ribu lima ratus, berarti sisa uang tinggal dua ribu lima ratus rupiah saja yang mungkin tidak cukup untuk keperluan lainnya. Tetapi akhirnya toh, ia lakukan juga membeli nasi bungkus demi anaknya yang sedang kelaparan. Ia `nekat’ membeli nasi bungkus dengan menawar pada harga yang bukan pada tempatnya, demi anaknya! Meskipun dengan perasaan agak malu, terpaksa juga ia lakukan. Hal itu dilaksanakan demi kasih sayangnya kepada buah hatinya.

    Ibu setengah baya, penjual nasi bungkus.

    Ia mau dan mampu menjual barang dagangannya dibawah harga normal, yang mungkin akan menyebabkan ia rugi. Hal itu bisa ia lakukan setelah ia melihat sorot mata iba dari sang anak yang sedang kelaparan. Mungkin saja, ia teringat kepada anaknya yang ada di rumah, yang suatu saat mungkin juga akan mengalami peristiwa semacam itu

    Ibu tua, penjual onde-onde

    Ia mau menukar uang penjual nasi bungkus, setelah ia juga ikut menyaksikan / merasakan kegelisahan sang anak. Meskipun dagangannya tidak ikut laku, iapun rela repot mencarikan uang untuk menukar uang si penjual nasi. Padahal bus sudah mau berjalan, tetapi ia tetap berkeinginan untuk menolong orang lain.

    Kalau kita perhatikan, kejadian itu cukup singkat. Tetapi ada suatu nilai yang tersembunyi di dalamnya. Peristiwa kecil itu bagaikan drama singkat satu babak, yang diperankan oleh tiga orang ibu dengan usia yang berbeda.

    1. Ibu muda pembeli nasi bungkus
    2. Ibu setengah baya penjual nasi bungkus
    3. Ibu tua si penjual onde-onde

    Semuanya mempunyai ‘kasus’ yang sama. Mereka asalnya merasa keberatan dan kesulitan untuk mengambil jalan keluar dari sebuah persoalan.Tetapi pada akhirnya semuanya mau berbuat sesuatu untuk menolong sang anak, yaitu setelah mereka memahami dan ikut merasakah perasaan sang anak yang sedang gelisah karena haus dan lapar…

    Ibu pembeli rela duitnya berkurang, demi anak, Ibu penjual nasi bungkus rela rugi, demi anak, Ibu penjual onde-onde rela repot, demi anak.

    Seorang ibu…,

    dimanapun, kapanpun, dan kemanapun ia akan selalu memiliki kasih sayang. Lebih-lebih kepada seorang anak yang membutuhkan bantuannya. Seseorang disebut sebagai ibu, bukan sekedar karena ia pernah melahirkan anak, tetapi karena ia memiliki kasih sayang kepada setiap insan. Apakah kepada anak kandungnya sendiri, ataukah kepada anak orang lain. Tiga orang ibu di dalam bus tersebut telah membuktikan kepada kita semua, bahwa benar “…kasih ibu adalah sepanjang jalan…”

    Pernahkah kita mencoba membaca keadaan ibunda kita masing-masing ?

    Mungkin saja, banyak sekali peristiwa-peristiwa kecil semacam itu yang terjadi pada ibu kita masing-masing pada zamannya dahulu. Hanya saja kita tidak mengetahuinya atau tidak mendapatkan informasinya. Tetapi yakinlah bahwa ibu kita bisa membesarkan diri kita sampai dengan kita dewasa ini tentu melalui berbagai macam peristiwa ‘luar biasa’ yang pahit dan manisnya menjadi kenangan tersendiri bagi mereka…

    Pernahkah suatu malam, kita melewati pasar subuh? Betapa banyaknya para ibu penjual sayuran atau sejenisnya, yang tertidur menunggu pembeli sambil mendekap anaknya yang masih balita. Sang ibu rela tidak menggunakan kain sarungnya untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan, sebab kain itu ia selimutkan kepada buah hatinya yang tertidur lelap di dekatnya…

    Pernakah kita mengingat kembali, peristiwa-peristiwa sepele ketika kita masih sebagai anak-anak dahulu?

    Ingatkah kita ketika ibu kita mengupas buah mangga, bagian yang manis ia berikan kepada anak-anaknya, sementara bagian yang masam untuknya? Bahkan beliau makan bagian yang masam itu sambil tertawa lucu dan bahagia ?

    Atau ingatkah kita dengan peristiwa-peristiwa senada itu, dimana sang ibunda kita melakukamsesuatu yang lebih mengutamakan kepentingan anaknya daripada kepentingan dirinya sendiri? Subhaanallah

    “…Ya Allah, ampunilah dan maafkan dosa dan kesalahan ibu kami, sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi kami ketika kami masih kecil”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • suamanah 3:02 pm pada 31 Agustus 2012 Permalink

      Kata Mutiara Islam adalah kata kata mutiara yang indah dan bagus di ucapkan kepada orang. disini sobat bisa melihat kata mutiara islami yang paling indah diantara untaian kata kata bijak islami. Jika sobat adalah seorang muslim, katakanlah jika hidup hanyalah untukNya dan ucapkan kata kata indah islami dalam setiap ucapan kita Kata mutiara Islam terbaru ini alangkah baiknya kita terapkan didalam kehidupan kita yang dapat mendekatkan kita sekaligus mengigatkan kita atas kebesaran Allah SWT. kata mutiara islam “Waspadalah terhadap tiga orang: pengkhianat, pelaku zalim, dan pengadu domba. Sebab, seorang yang berkhianat demi dirimu, ia akan berkhianat terhadapmu dan seorang yang berbuat zalim demi dirimu, ia akan berbuat zalim terhadapmu. Juga seorang yang mengadu domba demi dirimu, ia pun akan melakukan hal yang sama terhadapmu.” “Tiga manusia adalah sumber kebaikan: manusia yang mengutamakan diam (tidak banyak bicara), manusia yang tidak melakukan ancaman, dan manusia yang banyak berzikir kepada Allah.” “Sesungguhnya puncak keteguhan adalah tawadhu’.” Salah seorang bertanya kepada Imam, “Apakah tanda-tanda tawadhu’ itu?” Beliau menjawab, “Hendaknya kau senang pada majlis yang tidak memuliakanmu, memberi salam kepada orang yang kau jumpai, dan meninggalkan perdebatan sekalipun engkau di atas kebenaran.” Seorang laki-laki seringkali mendatangi Imam Ja‘far as, kemudian dia tidak pernah lagi datang. Tatkala Imam as menanyakan keadaannya, seseorang menjawab dengan nada sinis, “Dia seorang penggali sumur.” Imam as membalasnya, “Hakekat seorang lelaki ada pada akal budinya, kehormatannya ada pada agamanya, kemuliannya ada pada ketakwaannya, dan semua manusia sama-sama sebagai Bani Adam.” “Hati-hatilah terhadap orang yang teraniaya, karena doanya akan terangkat sampai ke langit.” “Ulama adalah kepercayaan para rasul. Dan bila kau temukan mereka telah percaya pada penguasa, maka curigailah ketakwaan mereka.” “Tiga perkara dapat mengeruhkan kehidupan: penguasa zalim, tetangga yang buruk, dan perempuan pencarut. Dan tiga perkara yang tidak akan damai dunia ini tanpanya, yaitu keamanan, keadilan, dan kemakmuran.” “Kuwasiatkan lima hal kepadamu: (1) jika engkau dizalimi, jangan berbuat zalim, (2) jika mereka mengkhianatimu, janganlah engkau berkhianat, (3) jika engkau dianggap pembohong, janganlah marah, (4) jika engkau dipuji, janganlah gembira, dan (5) jika engkau dicela, kontrollah dirimu”. “Alangkah mungkin orang yang tamak kepada dunia akan mendapatkannya di dunia. Akan tetapi, ketika ia mendapatkan seluruhnya, dunia itu akan menjadi bala` baginya dan ia menjadi sengsara karenanya. Dan alangkah mungkin seorang membenci urusan akhirat. Akan tetapi, ia dapat menggapainya kemudian dan ia hidup bahagia karenanya”. “Tiada keutamaan seperti jihad dan tiada jihad seperti menentang hawa nafsu”. “Ambillah nasihat baik dari orang yang mengucapkannya meskipun ia tidak mengamalkannya”. “(Jika sesuatu digabung dengan yang lain), tidak ada gabungan yang lebih indah dari kesabaran yang digabung dengan ilmu”. “Kesempurnaan yang paling sempurna adalah tafakkuh (mendalami) agama, sabar menghadapi musibah dan ekonomis dalam mengeluarkan biaya hidup”. “Tiga hal adalah kemuliaan dunia dan akhirat: memaafkan orang yang menzalimimu, menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, dan sabar ketika engkau diperlakukan sebagai orang bodoh”. “Sesungguhnya Allah membenci seseorang yang meminta-minta kepada orang lain berkenaan dengan kebutuhannya, dan menyukai hal itu (jika ia meminta kepada)-Nya. Sesungguhnya Ia suka untuk diminta setiap yang dimiliki-Nya”. “Seorang alim yang dapat dimanfaatkan ilmunya lebih utama dari tujuh puluh ribu ‘abid”. “Seorang hamba bisa dikatakan alim jika ia tidak iri kepada orang yang berada di atasnya dan tidak menghina orang yang berada di bawahnya”. “Jika mulut seseorang berkata jujur, maka perilakunya akan bersih, jika niatnya baik, maka rezekinya akan ditambah, dan jika ia berbuat baik kepada keluarganya, maka umurnya akan ditambah”. “Janganlah malas dan suka marah, karena keduanya adalah kunci segala keburukan. Barang siapa yang malas, ia tidak akan dapat melaksanakan hak (orang lain), dan barang siapa yang suka marah, maka ia tidak akan sabar mengemban kebenaran”. “Orang yang paling menyesal di hari kiamat adalah orang yang berbicara keadilan dan ia sendiri tidak melaksanakannya”. “Silaturahmi dapat membersihkan amalan, memperbanyak harta, menghindarkan bala`, mempermudah hisab (di hari kiamat) dan menunda ajal tiba”. “Ucapkanlah kepada orang lain kata-kata terbaik yang kalian senang jika mereka mengatakan itu kepadamu”. “Allah akan memberikan hadiah bala` kepada hamba-Nya yang mukmin sebagaimana orang yang bepergian akan selalu membawa hadiah bagi keluarganya, dan menjaganya dari (godaan) dunia sebagaimana seorang dokter menjaga orang yang sakit”. “Bersikaplah wara’, berusahalah selalu, jujurlah, dan berikanlah amanat kepada orangnya, baik ia adalah orang baik maupun orang fasik. Seandainya pembunuh Ali bin Abi Thalib a.s. menitipkan amanat kepadaku, niscaya akan kuberikan kepadanya”. “Ghibah adalah engkau membicarakan aib (yang dimiliki oleh saudaramu) yang Allah telah menutupnya (sehingga tidak diketahui oleh orang lain), dan menuduh adalah engkau membicarakan aib yang tidak dimiliki olehnya”. “Allah membenci pencela yang tidak memiliki harga diri”. “(Engkau dapat dikatakan rendah hati jika) engkau rela duduk di sebuah majelis yang lebih rendah dari kedudukanmu, mengucapkan salam kepada orang yang kau jumpai, dan menghindari debat meskipun engkau benar”. “Ibadah yang terbaik adalah menjaga perut dan kemaluan”. “Tidak akan bermaksiat kepada Allah orang yang mengenal-Nya”. “Ketika Allah menciptakan akal, Ia berfirman kepadanya: “Kemarilah!” Ia pun menghadap. Ia berfirman kembali: “Mundurlah!” Ia pun mundur. Kemudian Ia berfirman: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak pernah menciptakan makhluk yang lebih Kucintai darimu, dan Aku tidak akan menyempurnakanmu kecuali bagi orang yang Kucintai. Semua perintah, larangan, siksa dan pahala-Ku tertuju kepadamu”. “Sesungguhnya Allah akan menghisab hamba-hamba-Nya pada hari kiamat sesuai dengan kadar akal yang telah dianugerahkan kepada mereka di dunia.” “Sesungguhnya pahala orang yang mengajarkan ilmu adalah seperti pahala orang yang belajar darinya, dan ia masih memiliki kelebihan darinya. Oleh karena itu, pelajarilah ilmu dari ahlinya dan ajarkanlah kepada saudara-saudaramu sebagaimana ulama telah mengajarkannya kepadamu”. “Barang siapa yang mengeluarkan fatwa tanpa ilmu yang cukup, maka ia akan dilaknat oleh malaikat rahmat dan azab serta dosa orang yang mengamalkan fatwanya akan dipikul olehnya”. “Orang yang mencari ilmu dengan tujuan mendebat ulama (lain), mempermalukan orang-orang bodoh atau mencari perhatian manusia, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka. Kepemimpinan tidak berhak dimiliki kecuali oleh ahlinya”. “Faqih yang sebenarnya adalah orang yang zahid terhadap dunia, rindu akhirat dan berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah SAWW”. “Sesungguhnya Allah azza wa jalla menyukai orang-orang yang suka bergurau dengan orang lain dengan syarat tanpa cela-mencela”. “Tiga kriteria yang penyandangnya tidak akan meninggal dunia kecuali ia telah merasakan siksanya: kezaliman, memutuskan tali silaturahmi dan bersumpah bohong, yang dengan sumpah tersebut berarti ia telah berperang melawan Allah”. “Sesuatu yang paling utama di sisi Allah adalah engkau meminta segala yang dimiliki-Nya”. “Demi Allah, seorang hamba tidak berdoa kepada-Nya terus menerus kecuali Ia akan mengabulkannya”. “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang banyak berdoa. Oleh karena itu, berdoalah pada waktu ashar hingga matahari terbit, karena pada waktu itu pintu-pintu langit terbuka, rezeki-rezeki dibagikan dan hajat-hajat penting dikabulkan” Berdoa untuk orang lain “Doa yang paling cepat dikabulkan adalah doa seorang hamba untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya”. Mata-mata yang tidak akan menangis “Semua mata pasti akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga mata: mata yang bangun malam di jalan Allah, mata yang menangis karena takut kepada-Nya dan mata yang tidak pernah melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah”. Orang yang tamak bak ulat sutra “Perumpamaan orang yang tamak bagaikan ulat sutra. Ketika sutra yang melilitnya bertambah banyak, sangat jauh kemungkinan baginya untuk bisa keluar sehingga ia akan mati kesedihan di dalam sarangnya sendiri”. Jangan berwajah dua “Hamba yang paling celaka adalah hamba yang berwajah dan bermulut dua; ia memuji saudaranya di hadapannya dan menghibahnya di belakangnya, jika saudaranya itu dianugerahi nikmat, ia iri dan jika ia ditimpa musibah, ia menghinanya”. Perbanyaklah kamu mengingat mati, karena hal itu bisa membersihkan dosa dan menyebabkan kamu zuhud atau tidak cinta kepada dunia.(Rasulullah) Keluarlah dari dirimu dan serahkanlah semuanya pada Allah, lalu penuhi hatimu dengan Allah. Patuhilah kepada perintahNya, dan larikanlah dirimu dari laranganNya, supaya nafsu badaniahmu tidak memasuki hatimu, setelah itu keluar, untuk membuang nafsu-nafsu badaniah dari hatimu, kamu harus berjuang dan jangan menyerah kepadanya dalam keadaan bgaimanapun juga dan dalam tempo kapanpun juga.(Syekh Abdul Qodir al-Jaelani) Berteman dengan orang bodoh yang tidak mengikuti ajakan hawa nafsunya adalah lebih baik bagi kalian, daripada berteman dengan orang alim tapi selalu suka terhadap hawa nafsunya.(Ibnu Attailllah as Sakandari) Orang yang suka berkata jujur akan mendapatkan 3 hal, yaitu : KEPERCAYAN, CINTA dan RASA HORMAT (Sayidina Ali bin Abi Thalib) Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. (Sayidina Ali bin Abi Thalib) Kejahatan yang dibalas dengan kejahatan pula adalah sebuah akhlaq ular, dan kalau kebajikan dibalas dengan kejahatan itulah akhlaq buaya, lalu bila kebajikan dibalas dengan kebajkan adalah akhlaq anjing, tetapi kalau kejahatan dibalas dengan kebajikan itulah akhlaq manusia.(Nasirin) Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) sedangkan harta terhukum. Kalau harta itu akan berkurang apabila dibelanjakan, tetapi ilmu akan bertambah apabila dibelanjakan.(Sayidina Ali bin Abi Thalib) Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah. (Ibnu Mas’ud) Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat inilah saksimu adalah juga hakimmu. (Ali bin Abi Thalib) Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku.(Umar bin Khattab) Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk. (Imam An Nawawi) Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar. (Umar bin Kattab) Read more at: http://operatorku.blogspot.com/2012/07/kata-mutiara-islami-terbaru-2012.html Copyright by operatorku.blogspot.com Terima kasih sudah menyebarluaskan aritkel ini

  • erva kurniawan 1:00 am pada 27 August 2012 Permalink | Balas  

    Shalat Dhuha Mendatangkan Rezeki?

    Ketika mobil sudah lolos dari kemacetan, kami kembali bisa menikmati perjalanan santai keliling kota. Sambil menikmati suasana santai di dalam mobil, seorang famili yang bernama ‘MF’ bercerita tentang pengalamannya yang cukup unik. Katanya, sebuah pengalaman yang sangat istimewa telah ia dapatkan ketika melakukan shalat dhuha.

    Dari berbagai sumber, keterangan dan penjelasan yang ia dapatkan, baik ketika mendengarkan ceramah-ceramah, atau dari membaca diskusi-diskusi literatur. Ia mengambil sebuah kesimpulan, bahwa shalat dhuha itu dipakai untuk mencari rezeki. Begitulah kesimpulan yang ia dapatkan.

    Kata MF, pagi itu ia benar-benar bisa tenggelam dalam kekhusyukan. Sebab, sebelumnya ia mempunyai permasalahan ekonomi yang cukup serius. Maka dengan melakukan shalat dhuha, ia berharap akan mendapat rezeki kontan dari Allah Swt, sehingga bisa menyelesaikan permasalahannya dengan cepat.

    Saat itu, do’a yang dipanjatkan sangat panjang. Sujud yang dilakukan begitu khusyuk. Harapannya hanya satu. Ia ingin mendapat rezeki secepatnya untuk segera menutupi hutang-hutangnya yang katanya sudah sangat menumpuk.

    Beberapa hari ia lakukan shalat dhuha tersebut dengan penuh khusyu’ dan tawadhu’. Setiap selesai shalat dhuha ia selalu berharap-harap cemas untuk mendapatkan rezeki dari Allah Swt.

    Pada pagi yang cerah, ketika waktu dhuha sudah masuk, seperti biasanya ia mengambil air wudhu’, lalu ia menggelar sajadahnya. Hari itu benar-benar ia bisa melakukan shalat lebih khusyu’ dari waktu-waktu sebelumnya. Do’a pun dipanjangkan lebih dari hari-hari sebelumnya. Ia betul-betul merasa puas dengan shalat dhuhanya .

    Ketika menutup do’a khusyu’nya, sebelum melipat sajadahnya, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk perlahan. Dan terdengar suara ucap salam dari seorang tamu yang berada di luar. Kontan MF bangkit dari tempat shalatnya, dan ia menjawab salam dengan penuh gembira.

    “…wa ‘alaikum salaam warahmatullaahi wabarakaatuh…”

    Begitu fasihnya MF menjawab salam tersebut. Dengan penuh gembira dipersilahkannya tamu itu masuk kedalam rumahnya. Dalam hatinya MF berkata, Wah, inilah rezeki yang ia harapkan itu. Ia berfikir begitu kontannya Allah kalau memberi rezeki. Belum satu menit do’a panjang itu ia tutup, belum selesai ia melipat sajadahnya, tiba-tiba didepan pintu sudah menunggu rezeki itu…

    ” Silakan masuk pak,. .” kata MF. ” Oh, iya terima kasih…” sahut tamunya. Bapak siapa ya, koq saya agak lupa…” kata MF. Ini pak…, saya memang belum pernah ketemu bapak. Saya adalah utusan dari majikan saya bapak HR. Saya kesini disuruh menagih hutang kepada bapak yang memang belum terbayar sejak lima bulan yang lalu. Mohon maaf kalau saya mengganggu…”

    Ah, betapa pucat muka MF mendengar hal ini. Ternyata yang datang bukan rezeki yang diharapkan, tetapi justru orang sedang menagih hutang! Ingin rasanya ia menangis waktu itu. Betapa saat itu ia tidak punya uang sama sekali, Shalat dhuha sudah ia lakukan dengan penuh khusyuk ternyata yang datang bukan seperti harapannya. Sambil menutup ceritanya, MF mengatakan pada saya :”..ternyata shalat dhuha tidak bisa dipakai untuk mencari rezeki ya…”

    Saya hanya tersenyum, menyaksikan MF mengambil kesimpulan sendiri dari ceritanya itu. Rupanya ada sesuatu yang salah dalam pemahaman shalat dhuha. Allah Swt, sebagai Tuhannya Alam Semesta, Dzat Yang Maha Agung, oleh MF dimintai uang untuk membayarkan hutangnya.

    Kira-kira saja, para malaikat menjadi ‘tersinggung’ mendengar perilaku MF ini. Betapa Sang Pencipta Jagad Raya, yang memiliki Arasy yang tinggi, yang mengatur jalannya bintang-bintang raksasa, di seluruh galaksi, yang mengatur hidup dan mati seluruh ciptaanNya, disuruh membayarkan hutangnya…?

    MF memang belum mengerti, ia tidak menyadari akan kesalahannya. Maka Allah Swt memberinya pelajaran praktis pada pagi itu. Yang datang bukanlah rezeki, tetapi sebaliknya yang datang adalah orang yang menagih hutang.

    Sejak memulai shalat, yang di bayangkannya oleh MF adalah rezeki melimpah. Bukan mengagungkan Allah. Rupanya MF telah melakukan kesalahan dalam mengartikan substansinya shalat dhuha.

    Bahwa dengan shalat dhuha seseorang akan mendapatkan rezeki yang barokah, insyaAllah adalah benar. Tetapi yang menjadi masalahnya, shalat bukanlah untuk mencari rezeki. Shalat adalah sebuah pengabdian yang sangat indah dari seorang hamba kepada Tuhannya.

    Mengabdi bukanlah minta rezeki. Mengabdi adalah mendekatkan diri pada Ilahi. Mengabdi adalah mensyukuri nikmat diri yang tiada terhitung lagi saking banyaknya yang telah diterima bleh manusia.

    Allah melalui rasulNya, menyuruh kepada kita semua, agar di waktu dhuha kita menyembahNya. Kita MengagungkanNya. Apabila pada saat semua orang sibuk mencari rezeki dan sibuk mengurusi duniawi, pada saat itu ada seorang hamba yang menyempatkan diri untuk mengagung-kanNya, dengan melakukan shalat dhuha, maka dia itulah orang yang sangat istimewa.

    Sungguh Allah sangatlah mencintainya. Sebab ketika semua orang memanfaatkan `waktu efektif’ untuk bekerja, ‘waktu efektif’ untuk berusaha, ternyata pada saat itu ada orang yang mau dan rela mengorbankan waktunya demi mencari ridha Allah. Mohon ampun atas segala kekhilafannya. Mengagungkan Dzat Yang Maha Perkasa. Bukan sekedar untuk minta rezeki. Sungguh orang itu berhak mendapatkan rezeki yang barokah dari Allah Swt…

    Barang siapa yang rajin menjaga shalat dhuha, maka akan diampunkan dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih di lautan.

    (HR. Ahmad, Attirmidzi)

    Barang siapa yang disibukkan oleh dzikirnya untuk mengingatKu, sampai ia lupa memohon kepadaKu, maka Aku memberinya sebelum ia memohon kepadaKu.

    (Hadits Qudsi, Abu Nu’aim, Dailami)

    ***

    Dari Sahabat

     
    • abdulsabar86 4:59 am pada 27 Agustus 2012 Permalink

      ah ,bapak ini khyal saja,sebab ALLAH selalu mengharapkan kita meminta SEMUA KEPADA NYA.Bahkan ada DOA agar hutang dilunalsi

    • abdul rahman 11:44 pm pada 29 Januari 2013 Permalink

      apa doa nya

    • ary 10:55 am pada 8 April 2013 Permalink

      sangat bagus sekali web ini,,, membimbing agar kita mengerti konteks dari sholat duha,,
      saya sangat paham arti dari tulisan di atas,, dengan kita sholat duha mengagungkan allah swt ,,
      memohon dengan sangat,, maka allah akan memberikan kita rezeki…
      bukan sholat duha yang memberi rezeki,, tapi allah yang memberi rezeki dengan cara ketawaduan kita melaksanakan sholat duha
      terimakasih tulisannya,,,

    • riyan kur nia 11:54 am pada 9 Agustus 2013 Permalink

      insy ALLAH smg kita bisa ber iman dn bertkw kpd tuhan yangg maha esa,,,selalu berusaha mendekatkn dr kpd ALLAH SWT,trmksh artikely sangat bagus,bisa sy fhmi dn mgrti,wassallam

  • erva kurniawan 1:00 am pada 26 August 2012 Permalink | Balas  

    Belajar Tasawuf Kepada Anak Kecil

    Hidup memang penuh misteri.  Demikian kata-kata yang sering kita dengar dari para ulama. Ada orang yang bekerja keras setengah mati,  padahal tidak malas, rezeki yang didapatnya kadang-kadang tidak mencukupi.

    Sebagian orang lagi, ada yang kerjanya begitu ‘mudah’, tetapi rezeki yang diperolehnya sangat melimpah. Dan ada sebagian orang lagi, yang dalam mencari uang begitu ‘brutal’nya sehingga semua aturan-aturan dilanggarnya, tetapi dia tampak ‘bahagia-bahagia’ saja.Tapi sebaliknya, ada orang yang mencari uang dengan sangat hati-hati. Ia ingin bersih. Namun begitu banyaknya ia mendapat persoalan dan cobaan dalam hidup ini.

    Hidup memang penuh misteri. Maka, perlu bagi kita sebagai manusia untuk mencoba menguak tabir itu Untuk itu, yang paling tajam adalah mata hati, bukan mata jasmani!

    Dalam wilayah inilah, para guru kita mengajari untuk melihat hal itu semua. Mulai umur berapa kira-kira, setiap orang bisa dan mampu mempelajari nilai-nilai kehidupan? Siapa guru kita? Dimana guru itu berada?

    Rupanya, selain guru yang berada di sekitar kita, guru yang paling tahu tentang keberadaan kita adalah diri kita sendiri. Karenanya, mari kita mencoba berguru pada diri sendiri.

    Pada Minggu pagi yang cerah, saya melakukan olah raga, jalan pagi. Saya bertemu dengan seorang pembantu rumah tangga yang sedang mengasuh anak majikannya. Usia anak itu sekitar satu tahun. Begitu lucunya, begitu menggemaskan. Apalagi kalau sedang belajar berjalan. Sempoyongan sana sini, mau jatuh tidak jadi, terduduk, terjatuh, bahkan sempat juga sampai terjungkal.

    Anehnya, tidak sekalipun ia menangis, atau kapok! Setiap kali terjatuh, ia bangkit kembali. Berjalan lagi, terjatuh lagi. Dan seterusnya ia selalu bangkit, untuk mencoba berjalan lagi…. Melihat peristiwa ini, saya menjadi teringat masa kecil saya, dan juga masa kecil setiap orang yang kini sudah beranjak dewasa.

    Saat ini, ketika kita sudah dewasa, yang nota bene kita sudah lebih pintar dari anak balita, justru kita perlu belajar banyak dari mereka. Lebih tepatnya, kita perlu belajar kepada diri sendiri. Sambil mengenang ketika umur kita masih sekitar satu tahun. Kenapa manusia dewasa perlu belajar pada anak balita?

    Sebab manusia dewasa,  sering dihinggapi rasa khawatiir yang berlebihan,  gampang putus asa,  jarang yang berani mengambil keputusan, merasa minder, malas, merasa gagal dan tidak mau mencoba lagi  sering frustasi akan kegagalannya pesimistik … bahkan kadang-kadang buruk sangka terhadap Penciptanya, mungkin masih banyak lagi

    Mari kita lihat diri kita sendiri, yaitu sekian tahun yang lalu ketika kita sedang belajar berjalan untuk meraih sukses dalam cita-cita, bisa berjalan. Begitu hebat dan luar biasanya Allah Swt, memberi dan mengajarkan ilmuNya kepada diri kita waktu itu. ‘allamal insaana maa lam ya’lam. (Tuhanlah) yang mengajarkan pada manusia, apa-apa yang belum pernah diketahuinya. ( Al-Alaq : 5 )

    Seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa, yang belum sekolah, bahkan berbicarapun belum bisa, ternyata dengan ‘ilmu’nya yang telah Allah ajarkan kepadanya, dia sudah bisa berfikir cerdas melampaui orang dewasa.

    Anak kecil itu, diri kita itu, telah memberi contoh yang sangat banyak kepada manusia dewasa lainnya.

    Apa saja yang diajarkan ‘anak kecil’ itu kepada kita semua ?

    1. Bahwa sebagai manusia, kita harus belajar terus sepanjang hidup, tak ada kata berhenti untuk belajar. Tak kenal susah, tak kenal lelah
    2. Apabila suatu saat kita jatuh, dan pasti pernah jatuh, maka janganlah pernah putus asa, bangkitlah. Dan coba lagi. Jika kembali jatuh, bangkitlah lagi. Dan coba lagi…
    3. Tidak ada kata gagal dalam konsep hidupnya, sebab yang disebut gagal adalah apabila seseorang tidak mau mencoba lagi.
    4. Memiliki rasa optimis yang tinggi untuk mencapai cita-citanya.
    5. Apabila sudah yakin benar, tidak perlu merasa takut, sebab Allah Swt sebagai Dzat Yang Maha Pemberi Pertolongan, akan selalu melindungi hambaNYa yang berbuat benar.
    6. Rajin belajar, tidak mengenal konsep malas.
    7. Tidak pernah minder dalam kehidupan, sebab semua orang di hadapan Allah adalah sama.
    8. Selalu berbaik sangka dalam hidupnya. Dia ‘tidak takut’ jatuh, tidak takut terlanggar sepeda atau kendaran lainnya, bahkan tidak takut ia dibawa orang yang tak dikenalnya.

    Mungkin masih banyak lagi ilmu yang perlu kita gali dari diri anak kecil itu. Selain dengan hal-hal diatas: terus belajar, tidak pernah putus asa, tidak pernah merasa gagal, selalu optimis, yakin akan datangnya pertolongan Allah, rajin belajar, tidak minder, selalu berbaik sangka…, ada satu lagi yang perlu kita ambil dan kita pelajari dari diri anak kecil itu. Ialah tentang kejujuran. Dalam diri anak kecil, kita akan melihat sebuah perilaku yang begitu jujurnya.

    1. Ketika menangis, memang seharusnya ia menangis. Tidak dibuat-buat.
    2. Ketika tertawa, memang seharusnya ia tertawa, senang dan gembira. Tidak pernah ia merekayasanya.
    3. Ketika terjatuh, ia mengakui bahwa memang ia belum bisa.
    4. Ketika lapar, memang betul-betul perutnya belum terisi.
    5. Ketika haus, memang saat itu tenggorokannya lagi kering… dlsb

    Dengan memperhatikan anak balita yang sedang belajar berjalan, kita seperti masuk dalam sebuah kursus pelatihan tasawuf. Begitu banyak yang bisa kita serap ilmunya. Dan, guru kita itu bukan orang lain. Dia adalah diri kita sendiri.

    Dengan belajar kepada diri sendiri, sama halnya dengan kita mendekatkan diri pada Ilahi. Karena Allah Swt sebagai Tuhannya manusia, tidak pernah jauh dari hambaNya.

    QS. Qaaf : 16

    Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya

    Dengan melihat dan memperhatikan diri sendiri, kembali kita bertemu dengan Allah Swt.

    Al Baqarah : 115

    Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • kisah bagus 8:35 am pada 5 September 2012 Permalink

      kita manusia mesti terus berusaha, jatuh dan gagal adalah hal biasa. terus mencoba dan mencoba. kita tidak tahu keberhasilan itu sudah sedekat apa dgn kita.
      akan menyedihkan jika kita berhenti berusaha ketika keberhasilan sudah di depan pintu kita.

  • erva kurniawan 1:10 am pada 22 August 2012 Permalink | Balas  

    Berat Langkah Si Tukang Siomay

    Kepulangan ke rumah harus tertunda, ketika pimpinan kantor meminta seluruh tim rapat mendadak. Berbagai bencana yang terjadi di negeri ini, juga gejolak yang tengah bergemuruh di Palestina meski disikapi secara cepat. Sebagai sebuah lembaga kemanusiaan yang memseriusi programnya dalam penanganan bencana, menjadi keharusan tersendiri untuk merespon secara cepat setiap bencana yang terjadi.

    Namun bukan pentingnya rapat ini yang ingin saya ceritakan, bukan pula isi dan serunya rapat yang memakan waktu cukup lama hingga larut. Adalah sepuluh menit menjelang rapat dimulai, saat saya memesan sepiring siomay kepada tukang siomay langganan di depan kantor. Sesaat menjelang rapat, perut ini terasa berdendang minta diisi. Makanan ringan itulah yang menjadi pilihan, satu porsi pun terpesan.

    Panggilan pun datang, rapat dimulai. Rapat dilanjutkan usai sholat Maghrib, dan terus berlangsung. Ada yang resah di bawah, ada yang bolak-balik masuk ruang kantor. Ianya hanya menemukan piring kosong di bawah meja saya. Setiap lima menit kembali balik ke dalam kantor berharap orang yang tadi memesan siomay nya sudah ada di tempat. Ternyata yang ditunggu masih di atas, terlupa oleh riuh rendah suasana rapat yang bersemangat.

    Waktu terus bertambah, hingga seorang teman yang baru saja dari lantai dasar berbisik, “Sudah bayar siomay belum?” astaghfirullah…

    Tak menunggu rapat selesai, acung tangan langsung bergegas ke bawah. Terhenti nafas ini tak mendapatkan orang yang dicari; si tukang siomay. Melirik sedikit ke bawah meja, piring kosongnya sudah tak ada. Mungkin ia pulang, tapi saya tak bisa berkata apa-apa sambil terus menggenggam empat lembar ribuan di tangan.

    Cuma empat ribu memang. Tapi ia sebegitu pentingnya untuk bolak-balik ke dalam kantor berharap saya akan membayarnya. Terbayang saya betapa berat langkah si tukang siomay mendorong gerobaknya. Berpikir ia tentang uang belanja yang dinanti sang istri, resah hatinya tak membawa mainan yang dipesan anak tercintanya. Mungkin semua karena empat ribu yang belum saya bayarkan. Dan boleh jadi, empat ribu itulah keuntungan hasil jualannya setelah disisihkan untuk setoran.

    Berat langkah si tukang siomay. Itu terus tergambar dalam benak saya, sambil terus menggenggam empat lembar ribuan dan sesekali melirik ke bawah meja tempat piring bekas makan. Terbayang sedihnya sang isteri lantaran suaminya tak membawa uang belanja untuk esok, “Mau makan apa besok pak?”

    Terlintas tangisan si anak yang mendapati bapaknya tak membawa serta mobil mainan plastik yang dipesannya. Bagaimana jika besok ia tak bisa berdagang karena uang setorannya kurang malam itu? Tuhan, berdosa lah hamba.

    Tak lebih dari setengah jam, seseorang masuk ke dalam kantor. Senyumnya yang khas menyapa lembut. Saya tahu yang dinantinya. Sudah semalam ini, duh ternyata betapa pentingnya empat lembar ribuan itu baginya. Maafkan saya mas, nyaris bibir ini tak mampu berucap apa pun.

    ***

    Oleh: Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:59 am pada 21 August 2012 Permalink | Balas  

    Para Pengamen Itu Ternyata

    Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

    Peristiwa ini terjadi beberapa tahun yang lalu saat saya, yang saat itu baru saja lulus dan mulai bekerja di Jakarta. Sebagai pendatang dari daerah saya sering mendengar mengenai berita miring tentang kelakuan para pengamen.

    Saat itu saya bermaksud pulang dengan naik bis jurusan Blok M – Bekasi. Saat itu waktu menunjukkan pukul 17.45, sekelompok pengamen [sekitar 6 orang] naik ke bis yang saya tumpangi. Perawakan mereka menunjukkan muka yang tidak bersahabat. Hati saya sudah berdebar2 karena mendengar cerita tentang penodongan yang dilakukan sekelompok pengamen.

    Saat saya mulai berpikir yang kurang baik. Mereka mulai bercakap-cakap. Percakapan mereka sebenarnya sangat perlahan dan dilakukan di dekat pintu. Tetapi karena saya ada disamping mereka saya bisa mendengarkan percakapan mereka. Percakapan itu diawali

    “Eh udah jam berapa?,” tanya salah satu pengamen itu pada temannya.

    Yang lain menyahut,”Jam 17.45.”

    Kemudian tiba-tiba muncul suatu ucapan yang akan selalu teringat dalam ingatan saya.

    Ucapannya adalah dari salah satu pengamen “Wah kalo gitu udah hampir maghrib dong, gimana nich.”

    Yang lain menjawab, “Kita ngamen aja nanti turun di komdak.”

    Seorang pengamen yang lain berkata, “Wah nanggung kalo macet bisa-bisa kita ngak bisa salat tepat waktu dong.”

    Yang lain menimpali, “Iya benar nanti kita nggak bisa jamaah dengan yang lain, kalo gitu kita turun aja dech.” Dan mereka segera turun dari bis tersebut.

    Astaghfirullah, ternyata saya telah suudzon terhadap mereka. Saya lalu berfikir mereka jauh lebih baik dari saya karena mereka menjaga salat jamaah dan tepat waktu. Mereka benar-benar menjaga tiang agama jauh lebih baik daripada mereka yang ada di bis tersebut. Padahal banyak orang memandang para pengamen sebagai pengganggu, apalagi kalo yang bernyanyi berkelompok, yang sudah mulai berfikir yang tidak-tidak seperti saya.

    Memang ada sejumlah preman yang menyamar sebagai pengamen, tetapi ada juga pengamen yang berhati emas. Memang ada pengamen yang jahat tetapi ada juga pengamen yang mungkin ketakwaannya jauh diatas kita

    Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:16 am pada 16 August 2012 Permalink | Balas  

    Sebuah Renungan Tentang Memaknai Kemerdekaan

    Memasuki bulan Agustus ini, kita mulai menyaksikan adanya sesuatu yang berbeda di jalan-jalan, di ujung-ujung gang, dan di jalan-jalan perkampungan. Warna merah putih menghiasi jalan-jalan dan perkampungan. Mulai melangkah lebih jauh lagi pada bulan Agustus, kita mulai saksikan perlombaan-perlombaan digelar di gang-gang perkampungan. Anak-anak larut dalam kegembiraan merayakan peringatan hari kemerdekaan yang sebenarnya belum mereka ketahui. Wajarlah, masih anak-anak. Mereka hanya berkeinginan untuk mendapatkan hadiah dan merasa senang saat mengikuti lomba.

    Tak ketinggalan dengan anak-anak mereka yang berkompetisi dalam lomba balap karung, makan kerupuk, memasukkan ballpoint ke dalam botol, mengambil koin dari labu, pecah air, membawa kelereng, pecah balon, dan juga memindah belut; orang tua dan kakak-kakak mereka pun juga ikut larut dalam perayaan-perayaan lomba. Ya, semua rakyat dari seluruh lapisan larut dalam perlombaan-perlombaan merayakan hari kemerdekaan RI mulai dari kampung, pedesaan, perkotaan, pabrik, pasar, kantor, dan seluruh pelosok tanah air.

    Puncak dari segala puncak itu nantinya adalah pada saat peringatan Detik-detik Proklamasi yang akan berlangsung pada tanggal 17 Agustus tepat pada puku 10.00 WIB. Dan sebagai penutup dari perayaan proklamasi kemerdekaan itu nantinya biasanya akan diisi dengan pawai dan karnaval hari kemerdekaan di jalan-jalan perkotaan.

    Terlihat sejenak berpikir di ujung jalan sesosok bayangan dengan perawakan biasa memandang jauh seolah tak bertepi. Dari sudut matanya terlihat tatapan yang menerobos memandang relung-relung kehidupan.

    Bisik dalam hatinya lirih berkata,”Apa ini yang disebut kemerdekaan?”

    Tak berapa lama, ia ayunkan kakinya menuju sebuah masjid. Ia duduk dan terlihat mulai diam merenung tentang sesuatu. Saraf-saraf dalam otaknya mulai bergerak-gerak memutar klise-klise memori sejarah dan analisa. Ia coba mengingat kembali lembaran-lembaran sejarah bangsa dan negaranya tercinta, Indonesia. Ia perintahkan otaknya memutar kembali file-file pelajaran-pelajaran sejarah yang telah ia rekam dari pelajaran di sekolah dan bacaan-bacaan yang dibacanya.

    Ia ingat bagaimana dahulu para pejuang-pejuang mengangkat senjata. Memorinya mengenang keperkasaan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien melawan Penjajah. Ia ingat betul bagaimana masyarakat Aceh adalah masyarakat yang paling kuat dalam melawan penjajah. Ia juga ingat betul bagaimana masyarakat Aceh rela memberikan derma mereka untuk membangun Indonesia melalui urunan uang mereka.

    Memori sang pria pun tiba-tiba berbalik kepada kenangan cerita sejarah Imam Bonjol yang dikalahkan oleh pengkhianat bangsa, kenangan sejarah Pangeran Diponegoro yang dikhianati oleh orang sebangsa sendiri. Berturut-turut ia ingat kembali akan perjuangan Sultan Hasanudin, Sultan Agung, dan Patimura. Selanjutnya, bayangnya melihat peranan Syarekat Dagang Islam sebagai organisasi pergerakan pertama yang berdiri di Indonesia yang berorientasi pada rakyat secara nasional.

    “Bukan Budi Utomo yang pertama kali berdiri” katanya lirih dalam hati.

    “Budi Utomo adalah organisasi lokal yang berdiri jauh sesudah berdirinya Syarekat dagang Islam.” keluhnya.

    “Ia hanya berorientasi lokal dan tidak memiliki program kerakyatan. Dia hanya kumpulan para bangsawan yang sok pahlawan mengklaim diri sebagai organisasi pertama yang bergerak merebut kemerdekaan. Bohong besar!” batinnya berkata lantang.

    Tak berapa lama, ia terbangun dari lamunannya. Ia lihat beberapa meter dari masjid tempat duduknya, sebuah perayaan kemerdekaan. Dengan diiringi musik-musik, terlihat seorang wanita berjoget menyanyikan lagu dangdut, lalu berturut-turut sepasang suami istri berkaraoke bernyanyi tembang kenangan, dan tak ketinggalan seorang bocah berjoget mengikuti gaya joget para penyanyi dangdut di negara ini mengiringi nyanyian. Sang bocah dengan perasaan senang meliuk-liukkan tubuhnya dan memutar-mutar kepalanya. Gaya jogetnya seperti gaya penyanyi yang dikritik oleh Sang Raja Dangdut hingga menangis.

    “Apa ini arti kemerdekaan?” kata sang pria.

    “Mau dibawa kemana bangsa ini? Tak kudapatkan sejarah cerita adanya pesta semacam ini di zaman perjuangan dulu. Dimana sisa-sisa cucuran keringat dan darah serta nyanyian peluru dan dentuman meriam para pendahulu?” kata batinnya.

    “Bangsa ini belum merdeka!!! Belum merdeka!!!” bisiknya lirih.

    “Bangsa ini masih dibelenggu oleh kekuasan kapitalis, dan dijajah oleh para pengkhianat-pengkhianat bangsa yang mengklaim dirinya nasionalis atau pejuang. Padahal kalian adalah anak keturunan para pengkhianat yang menyerahkan nyawa para pejuang Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, dan lainnya kepada sekutunya, sang penjajah Belanda yang menyebarkan misi suci 3G. Gold, Glory, dan Gospel. Kalianlah yang menipu rakyat dengan jiwa sok nasionalis yang mengahabiskan waktu kalian untuk pesta dan uang semata. Kalianlah yang memfitnah para pejuang dengan sebutan para pemberontak, teroris, dan gerombolan. Kalian yang berkuasa tak beda dengan para pengkhianat bangsa di zaman Perang Paderi, yang justru membawa kehancuran bangsa ini. Bangsa ini belum merdeka! Bangsa ini hanya merdeka jika rakyat ini telah menikmati udara hukum sang Maha Kuasa terlaksana!!!” berontaknya di dalam hati.

    Tak kuat melihat perayaan peringatan penuh kedustaan itu, sang pria tersebut pun bangun dari duduknya. Ia ayunkan kakinya segera melangkah menjauh dari riuh-rendah musik peringatan hari kemerdekaan itu. Di ujung lorong jalan, tak berapa lama, ia pun hilang dalam bayangan gelap malam. (fikreatif)

     
  • erva kurniawan 1:48 am pada 15 August 2012 Permalink | Balas  

    Eko Prasetyo : Sujud Syukur di Akhir Ramadhan

    Malam tak pernah seindah itu. Suara-suara orang mengaji bergaung dan bergema di seluruh pelosok Kota Pahlawan. Langit dan bumi merendah bak menyambut malaikat yang bertasbih memuji Ar-Rahman. Sepuluh malam terakhir di bulan suci Ramadhan menjadi saksi kebahagiaan tak terperi dalam hidup saya, Eko Prasetyo.

    Saya lahir dan besar di keluarga penganut Katolik yang taat. Kami tinggal di Bekasi. Tiap Minggu, tak pernah alpa kami beribadat ke gereja. Masa kecil sampai remaja terasa begitu membekas dengan kebahagiaan keluarga kami. Nama baptis saya adalah Yohanes. Nama tersebut masih menempel di ijazah terakhir saya sebelum akhirnya hidayah itu menyapa pada 2005.

    Pada Agustus 1999, saya hijrah ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa, dulu IKIP Negeri Surabaya).

    Singkatnya, saya kemudian tinggal bersama kakek dan nenek saya.

    Hari-hari awal menjadi arek Suroboyo begitu saya nikmati. Jauh dari orangtua adalah awal saya belajar untuk mandiri. Meski selalu mendapat uang saku tiap bulan, saya mulai kasihan dengan ibu yang cuma berjualan kue dan menjadi penjaga kantin sebuah sekolah menengah pertama di Bekasi. Saya ingin bisa memiliki pendapatan sendiri.

    Singkatnya, saya kemudian nyambi mengajar privat selepas kuliah. Lumayan, dari hasil memberi les privat tersebut, saya bisa menambah uang saku dan beli bensin. Sempat cuti kuliah pada semester lima karena telat membayar SPP, saya pernah bekerja sebagai cleaning service di sebuah toko buku. Sebagai mahasiswa, saya mulai menyadari bahwa betapa berbedanya dunia kerja dengan dunia mahasiswa yang penuh dengan idealismenya.

    Sungguh, saya menyadari betapa susahnya hidup di kota besar seperti Surabaya. Apalagi, gaji sebagai cleaning service itu tak sampai Rp. 500 ribu saat itu! Namun, semua itu memiliki hikmah bagi saya. Sukses itu tidak turun langsung dari langit, tapi harus ada usaha! Do’a, usaha, dan kerja keras. Itulah fondasi sukses. Karena itu, tekad saya bulat, saya harus bisa menjadi sarjana, meski sarjana pun terkadang sulit untuk mencari kerja.

    April 2004, kebahagiaan menyelimuti saya dan keluarga. Ya, saya resmi mengakhiri pendidikan di Unesa bersama ribuan wisudawan lain di Islamic Center, Surabaya. Tak pernah terbayang di benak saya bahwa anak seorang ibu penjaga kantin dan bapak supir bisa jadi sarjana. Menjadi raja sehari sebelum esoknya bingung harus membuat lamaran kerja ke sana-sini. Meski demikian, rasa haru dan bangga menyelinap di hati saat saya kali pertama memakai toga.

    Setelah lulus, saya memutuskan untuk tetap tinggal di Jawa Timur. Saya bersyukur, setelah menganggur beberapa lama, akhirnya saya mendapat pekerjaan sebagai guru SMP di Kabupaten Malang. Meski penghasilan sebagai guru sangat kecil, saya begitu menikmati profesi tersebut.

    Awal 2005, nenek saya sakit dan diopname di RS RKZ Surabaya. Saat itu, karena tak ada di antara anak-anaknya yang bisa jaga malam, akhirnya saya memutuskan ke Surabaya dan menjaga beliau. Meski, konsekuensinya saya harus keluar dari pekerjaan saya. Dan di situlah awal saya mengalami hal yang kemudian mengubah hidup saya.

    Tiap pukul empat sore, saat jam besuk, saya sudah ada di RKZ untuk menjaga nenek. Menyuapi saat beliau makan dan mengambilkan pispot saat beliau buang air kecil, menjadi pengalaman pertama saya merawat orang sakit.

    Malam ketiga nenek sakit, saya tak kuat menahan kantuk tertidur dengan posisi duduk di samping paviliun beliau. Jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Saat itulah, saya bermimpi yang menurut saya aneh. Dalam mimpi tersebut, saya melihat diri saya yang seolah-olah melakukan gerakan-gerakan yang kelak saya ketahui adalah shalat. Ketika terbangun, saya tak menghiraukannya. Saya berpikir, mungkin itu hanya bunga tidur saja karena terlalu capai.

    Namun, saya tak menyangka, pada malam keempat mimpi itu datang lagi. Saya bermimpi melihat diri saya melakukan ruku yang kelak saya ketahui juga bagian dari shalat. Begitu cepat sehingga saya terbangun dan ketakutan. “Ada apa ini, Tuhan?” ucap saya dalam hati setengah ketakutan.

    Entahlah, saat itu mulai terlintas rasa penasaran saya terhadap Islam. Ketakutan saya masih berlanjut. Malam kelima, mimpi itu datang lagi dan kali ini saya melihat diri saya bersujud. Setelah tiga malam berturut-turut bermimpi aneh, saya sadar bermimpi melihat diri saya sedang shalat. Keinginan saya mengetahui Islam menjadi besar mulai saat itu.

    Setelah nenek sembuh, kejadian itu berlalu dan hanya saya simpan dalam hati. Diam-diam, saya mulai mempelajari Islam dari buku-buku yang saya beli. Puncaknya, keluarga kami merayakan Paskah dan saya sempat bermalam di Gereja Katedral Surabaya. Menjelang subuh, saya hendak keluar dan membeli makan. Ketika bersiap menggeber motor, saya mendengar sayup-sayup adzan Subuh. Entah mengapa, saya mendadak mematikan mesin motor dan mendengarkan kumandang adzan tersebut. Mulai Allaahu Akbar sampai Laa ilaaha illallaah, meski tak tahu artinya saat itu, hati saya bergetar hebat. Indah sekali lantunan suara adzan Subuh tersebut.

    Kepada seorang kawan, saya mulai mengutarakan niat untuk masuk Islam. Meski, saya tahu bahwa keputusan itu akan sangat berisiko karena keluarga saya adalah pemeluk Katolik yang sangat taat. Tiga hari setelah peristiwa itu, saya mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Al-Akbar Surabaya. Hanya ada saya, dua sahabat saya, dan seorang ustadz pembimbing. Allahu Akbar! Saya menjadi muslim. Damai sekali. Dua sahabat saya memeluk saya dan menangis. Suasana begitu mengharukan kala itu.

    Saat saya berterus terang kepada orangtua bahwa saya telah menjadi mualaf, ayah saya sangat murka. Begitu marahnya hingga saya mendapat tamparan di wajah. Hari-hari awal menjadi muslim begitu berat saya rasakan. Namun, saya yakin bahwa Allah Mahatahu. Saya menghormati dan sangat menyayangi orangtua saya. Ketika itu, yang bisa saya lakukan hanya berdo’a bagi ibu dan bapak saya. Di Surabaya, suasana diskriminasi dari keluarga sempat saya rasakan. Hal yang wajar karena menjadi muslim saya dicap sebagai pengkhianat. Meski demikian, semua saya syukuri tanpa henti mendo’akan kedua orangtua tercinta.

    Akhirnya, malam membahagiakan bagi kami itu datang di bulan suci Ramadhan pada 2006. Malam setelah mengikuti shalat tarawih menjelang Ramadhan berlalu, saya mendapat telepon dari ibu di Bekasi. Secara mengejutkan ibu mengatakan bahwa beliau dan bapak telah masuk Islam setelah bermimpi melihat saya shalat.

    Allahu Akbar! Mahaindah Engkau, ya Allah. Tak sanggup berucap sepatah kata, malam itu juga saya sujud syukur dan tiada henti menangis. Menangis bahagia. Cinta itu datang berupa hidayah yang tak ternilai dengan apa pun di dunia ini. Teriring salam terindah untuk Rasulullah, kuucapkan syukur Alhamdulillah atas karunia ini.

    ***

    Katagori : Journey to Islam Oleh : Redaksi kotasantri

     
  • erva kurniawan 1:21 am pada 12 August 2012 Permalink | Balas  

    Ungkapan Jujur Seorang Anak

    Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.

    Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika:

    “Apa yang kamu inginkan ?” Dika hanya menggeleng.

    “Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?” tanya saya.

    “Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat.

    Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

    Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.

    Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 – 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

    Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

    Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.

    Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

    Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku :….”

    Dika pun menjawab : “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja”

    Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

    Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku …”

    Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu”

    Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

    Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak …”

    Maka Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya”

    Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

    Ketika Psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak : ..”

    Dika pun menjawab “Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa”

    Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

    Ketika Psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang …..”

    Dika pun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting saja”.

    Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

    Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang …..”,

    Dika pun menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku”.

    Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

    Ketika Psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari …..”

    Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar “Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku”

    Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

    Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari ….”

    Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata “tersenyum”

    Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

    Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku….”

    Dika pun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus”

    Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang.

    Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki.

    Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku memanggilku ..”

    Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”.

    Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo” karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. “Persis Paijo, tukang sayur keliling” kata suami saya.

    Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan “To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice” sebuah seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan”.

    Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.

    Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik.

    ***

    (Ditulis oleh : Lesminingtyas)

     
    • Ichink 12:11 pm pada 12 Agustus 2012 Permalink

      Saat anak-anak, saat yang tepat untuk bermain dan juga mengcopy apa yang dilihat….

    • aprie 11:23 am pada 13 Agustus 2012 Permalink

      sharingnya bagus banget mba.
      “jadikanlah anak-anak tetap menjadi anak-anak”, walau belum merasakan rumitnya jadi ortu.
      tentang itu saya bikinkan puisi :D http://aprilecuma.blogspot.com/2012/07/anak-anak.html

    • dykapede 5:36 am pada 17 Agustus 2012 Permalink

      Namaku juga dika, tapi pake Y.
      Saya begitu meyukai senyum dan tawa anak2, apalagi sudah menangis, semakin semangat deh walopun belum merasakan menjadi orang tua sesungguhnya :))

    • Ayu Oktariani 1:40 pm pada 2 Oktober 2012 Permalink

      semoga aku ibu yang cukup baik. :’)

  • erva kurniawan 1:17 am pada 6 August 2012 Permalink | Balas  

    Nenek tua diangkot M26

    Pagi ini Saya pergi ke kantor sedikit dengan perasaan yang berbeda dari biasanya. Bukan karena hari Senin yang lebih padat dari biasanya atau kemacetan karena pembangunan Bus Way, tapi karena seorang nenek tua yang kebetulan satu angkot dengan Saya di M26.

    Si Nenek yang kira-kira berumur 70an itu naik M26 tidak lama setelah Saya naik, di daerah Cawang. Kebetulan keadaan angkot hampir penuh dan yang tersisa hanya bangku ulang tahun (bangku extension yg menghadap ke belakang – red). Untunglah salah satu penumpang yg duduk didalam mengalah memberikan tempat duduknya, yang lumayan aman buat Si Nenek. Dengan susah payah si Nenek, yang sudah agak bongkok itu masuk ke dalam angkot dibantu oleh beberapa penumpang, bersyukur juga si abang sopir cukup sabar menunggu sampe si Nenek duduk dengan tenang.

    Sempet terlintas dibenak Saya, kok tega-teganya anggota keluarganya membiarkannya pergi sendirian tanpa ada yang menemani. Bagaimana nanti kalo nyebrang atau turun naik angkot.

    Tidak lama setelah duduk si Nenek, berkata dengan logat betawi yang kental: “Terima Kasih, yak. Emang ribet kalo nenek-nenek pergi jalan”.

    “Mau ambil pensiun Nek?”, salah seorang penumpang bertanya.

    “Kagak…mau ke rumah sodara di pisangan”, jawab si Nenek

    “Kok perginya sendirian nek? emang anaknya kemana? nggak nganterin?”, tanya penumpang lainnya.

    ” Lah…anak emak dah pada jauh ngikut suaminya, trus yang bungsu kagak sempet, dari pagi-pagi dah berangkat gawe pulangnya malem. Cucu juga udah pada berangkat sekolah”

    Deg….Saya yang dari tadi cuma mendengarkan langsung miris mendengar jawaban si Nenek. Pikiran Saya langsung melayang teringat Mama di kampung. Akankah Mama akan mengatakan demikian bila di usia tuanya nanti pergi sendiri tanpa ditemani oleh siapapun?

    Saat ini saja Saya pulang kampung hanya setahun sekali, sementara adik Saya yang cuma 2 orang sudah sibuk dengan kuliahnya. Tak jarang Mama mengeluh kesepian di rumah karena adik-adik pulang ke rumah hanya untuk singgah lalu pergi lagi. Bahkan Mama juga sempet sedih jika makanan yang Beliau masak masih utuh karena anak-anaknya sering makan di luar. Istilahnya, dimasak sendiri…dimakan sendiri….. Kalo sudah begitu, Saya cuma bisa menghibur lewat telepon.

    Duh, Gusti betapa hamba belum bisa membalas kasih sayang Mama. Bahkan untuk mengisi kesepian dan kesendiriannya saja hamba belum bisa. Semoga Mama mengerti bahwa anaknya disini tidak pernah meninggalkannya sendiri. Mungkin tidak dalam kehadiran secara fisik, tetapi cinta dan untaian do’a selalu menyertai kemanapun Mama pergi.

    “Ya…Alloh, sayangilah kedua orangtua ku seperti mereka menyanyangiku waktu kecil. Amin”

    ***

    Bunda Naila

    -Tak sabar menunggu Lebaran, untuk bertemu Mama-

     
  • erva kurniawan 1:00 am pada 29 July 2012 Permalink | Balas  

    Bingkailah Puasamu dengan Cinta

    “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tanganNya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih disukai Allah daripada harum minyak kasturi.” (HR. Bukhari).

    “Ada anak bertanya pada bapaknya, buat apa berlapar-lapar puasa”, lagu Bimbo itu kunyanyikan di depan Ayah berulang-ulang di tengah sebuah siang bulan Ramadhan yang panas. Sebenarnya aku tidak berniat apa-apa. Kebetulan lagu itu sedang hits dan sering muncul di radio sehingga mulutku yang hobi nyanyi ini latah dan terus menerus menyanyikannya. Tapi terus terang sebagai anak kecil yang baru belajar puasa, terkadang teks lagu itu ingin sekali kutanyakan kepada Ayah.

    Ayah melambaikan tangannya kepadaku dan akupun mendekat.”Panggil uda dan uni semua ke sini. Ayah ingin bicara., ya.” Maka akupun keliling ke kamar atas, kamar bawah dan juga ke tetangga sebelah mencari uda dan uniku. Alhamdulillah dalam beberapa menit saja tugas itu dapat kuselesaikan. Mereka semua kini duduk bersila di hadapan Ayah.

    “Anak-anakku. Kini kalian sedang berpuasa dan berusaha menahan haus, lapar bahkan juga menjaga mata dan telinga dari seluruh keburukan. Ayah ingin tahu apa tujuan kalian berpuasa?”, Ayah menunjuk salah seorang anaknya. “Ya untuk menjalani perintah Allah, Ayah”.”Hmm..Kita kan hamba Allah, maka kita wajib menjalankan perintahNya”, jawab yang lain.

    Ayah tersenyum bangga dengan kesungguhan jawaban yang diberikan. “Jawaban kalian sesungguhnya bagus dan tidak salah sama sekali. Benar kita menjalankan ibadah puasa karena memenuhi perintah Allah. Kita ini hamba Allah. Hamba itu artinya budak. Seorang budak tentulah harus memenuhi kehendak tuannya tanpa boleh bertanya-tanya. Jika seorang budak selalu bertanya terhadap perintah-perintah tuannya tentulah budak itu akan dimarahi oleh tuannya. Terlebih lagi jika budak itu menentang perintah tuannya dan mematuhi tuan yang lain. Wajar lah jika tuan tersebut menghukumnya dengan keras.”Demikianlah nuansa hati yang harus ditumbuhkan saat kita mengerjakan seluruh perintah Allah. Jangan pernah terdetik di hati untuk bertanya-tanya kenapa harus begini dan mengapa tidak begitu. Jawaban yang mutlak untuk semua perintah itu adalah: karena Allah Tuhan yang menciptakan saya, Tuhan yang saya sembah, Tuhan yang saya harapkan kasihNya di dunia dan di akhirat, telah memerintahkannya kepada saya, hambaNya dan budakNya.

    “Kita ini ada di dunia karena diciptakan Allah. Bisa hidup karena diberi makan, minum dan udara oleh Allah. Sungguh celaka kita jika terdetik niat lain sewaktu beribadah selain karena memenuhi kehendak dan perintah Allah. Oleh itu, jangan pernah memotivasi dirimu dalam menjalankan ibadah puasa ini karena hikmah-hikmah duniawi. Seperti kata orang-orang, puasa itu untuk diet, supaya hemat, supaya sehat, supaya ini, supaya itu. Seluruh kata-kata itu akan mencemarkan ketulusan niatmu dalam berpuasa untuk mencapai syurga dan ridho Allah SWT.

    “Namun anak-anakku dalam perintah berpuasa ini ada nuansa lain yang Allah inginkan dari kita. Puasa ini bukan hanya sebuah perintah yang diwajibkan Allah Tuhan semesta alam kepada manusia sebagai hambaNya. Justru kita dapat merasakan getaran cinta Penguasa Alam Raya dalam perintah puasa ini. Pahami getaran cinta dan kasih Allah itu dapat dirasakan pada ayat dan hadits berikut:

    1. FirmanNya dalam surah al-Baqarah 183 – 184.

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (183). (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka bagi siapa saja diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.”(184)

    Subhanallah, lihatlah betapa tegasnya Allah memerintahkan kewajiban berpuasa ini Allah pada ayat 183. Namun pada ayat 184 Allah mengeluarkan statemen yang toleran: “Bagi siapa saja yang sakit atau sedang dalam perjalanan bolehlah menggantinya pada hari yang lain”. Subhanallah..Allah itu Tuhan Penguasa Alam. Seluruh makhluk perlu kepadaNya dan Dia tidak ada keperluan kepada satu makhluk pun. Allah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada pada keduanya. Allah berkuasa penuh untuk menghidupkan atau menghancurkan kita. Tapi kenapa Raja segala Raja itu mewajibkan sesuatu dengan tegasnya, tetapi kemudian malah mengeluarkan pengecualian-pengecualian?

    Seorang raja yang memiliki kekuasaan tidak akan pernah melakukan hal itu saat mengeluarkan titah perintahnya. Bahkan seorang bos atau majikan tidak akan berbuat demikian. Dalam ilmu manajemen sebuah Surat Keputusan berlapis seperti itu justru dikhawatirkan dapat melahirkan nuansa ketidakdisiplinan di kalangan pekerja. Tapi Allah bukan raja, bukan bos dan bukan majikan. Allah Tuhan yang menjalin hubungan kasih dengan makhluk yang diciptakanNya. Allah memerintahkan puasa dengan nuansa cinta dan kasihNya yang dalam terhadap para hambaNya.

    2. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari Nabi Muhammad SAW bersabda :

    “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tanganNya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih disukai Allah daripada harum minyak kasturi.” (HR. Bukhari)

    Cobalah pahami oleh kalian, apa arti ungkapan dalam hadits ini. Bukankah ini ungkapan cinta yang melimpah dari Allah kepada orang yang berpuasa? Kita semua juga paham bahwa bau mulut orang yang berpuasa di bumi manapun pasti sangat busuk. Itu wajar karena perutnya sedang kosong sehingga asam lambung dapat memanjat sampai ke dinding mulut. Saat berbicara, menguap atau bahkan sekedar membuka mulut saja langsung mulut akan menyebarkan aroma yang membuat orang menutup hidungnya.

    “Namun di sisi Allah, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari minyak kasturi. Bukankah ini ungkapan cinta Allah yang berlimpah terhadap orang-orang yang berpuasa? Maaf, nanti kalau kalian sudah menikah dan cinta kasih yang mendalam sudah tumbuh antara suami dan istri hal-hal ini baru dapat dipahami dengan sempurna. Banyak sekali suami yang sedang cinta setengah mati dengan istrinya akan mengatakan, “Aduhai..istriku, harum sekali bau mulutmu”. Padahal istrinya baru bangun tidur dan belum gosok gigi. Mengapa? Tentulah karena cintanya yang begitu mendalam terhadap sang istri.

    3. Dalam sebuah hadits Qudsi:

    “Puasa itu untukKu dan biarkan Aku yang akan menganugerahkan pahalanya.” (HR. Muslim)

    Lagi dan lagi kita harus memuji Allah atas besarnya cinta kasih Allah terhadap orang yang berpuasa. Banyak sekali amal perbuatan kita ini yang pahalanya dijanjikan Allah kepada kita secara kalkulatif. Contoh, sholat jama’ah menaikkan derajat kita di sisi Allah hingga 27 derajat. Bersedekah dilipat gandakan Allah pahalanya hingga 700 kali lipat. Begitu pula sholat di Masjidil Haram yang pahalanya 100.000 lebih utama dibandingkan sholat di masjid biasa. Semuanya dijanjikan Allah dalam hitungan-hitungan yang jelas. Tapi, untuk puasa Allah mengungkapkan apresiasiNya yang tinggi. “Puasa itu untukKu dan biar Aku yang menganugerahkan pahalanya.””Bukankah ini sebuah ungkapan sentimental yang diwarnai dengan kecintaan? Bagaikan seorang raja yang menentukan imbalan dan gaji standar bagi seluruh rakyatnya. Semua rakyat mendapat imbalan yang sama untuk pekerjaannya. Raja sendiri tidak pernah menyampaikan upah itu secara langsung ketangan rakyatnya. Ia hanya memerintahkan menteri dan bawahannya untuk memberikan imbalan tersebut. Tetapi ada sebuah tugas khusus yang sangat disukai oleh raja. Siapa saja yang mengerjakannya raja itu sendiri yang akan turun untuk menyerahkan imbalannya secara langsung. Bahkan raja itu juga merahasiakan jumlah imbalan yang akan diterima oleh orang yang menyelesaikan tugas khusus itu.”Allah memiliki perumpamaan yang tidak akan dapat kita bayangkan.

    Contoh-contoh tadi itu hanya agar kamu paham. Agar kamu mengerti betapa sentimentilnya puasa ini di sisi Allah. Ada rona-rona cinta berserakan di udara Ramadhan. Meskipun matahari begitu panas memanggang kulit kita, dan rasa haus begitu tega mendera kerongkongan kita. Terutama jika melihat botol-botol air di kulkas yang dingin berembun. MasyaAllah, rasanya copot jantung! Tapi kita menyingkirkan itu semua dan menderita untuk menjalin cinta dengan Allah yang amat besar cintaNya di bulan puasa ini.”Anak-anakku, kalian memang hanya hamba Allah SWT. Namun di bulan Ramadhan ini Allah menebar kasih dan cintaNya bahkan untuk hamba-hambaNya yang hina seperti kita ini. Maka jangan biarkan cinta Allah bertepuk sebelah tangan. Allah cinta dan sayang kepadamu, maka sambutlah cintanya dengan ikhlas berpuasalah hanya untuk ZatNya.”Orang yang sedang dalam bercinta tidak akan pernah mengeluh meski harus berkorban banyak. Pengorbanan justru menjadi sebuah tantangan yang makin mengobarkan api cinta dan rindu. Para sahabat dahulu berpuasa di hari yang panas dan tetap menjaga puasanya meskipun harus berperang melawan musuh Allah. Ada seorang sahabat yang terluka parah dan dibawa ke belakang. Namun ia tetap tidak ingin membatalkan puasanya. Saat hari sudah mulai senja keadaannya sudah amat kritis. Para sahabat yang lain amat kasihan melihat dirinya.”Berbukalah wahai fulan, engkau tetap akan mendapat ganjaran Allah”.”Jika aku berbuka dan ditakdirkan Allah meninggal dunia hari ini, maka kapankah aku dapat menggantikan puasaku itu? Tapi karena waktu berbuka sudah hampir tiba, carikanlah sedikit air untukku. Bawalah tamengku ini untuk menampung air minum.”

    Maka beberapa sahabat pergi mencari air untuk berbuka puasa sahabatnya yang sedang sekarat. Tak berapa lama mereka berhasil menemukan sumber air. Maka dicucilah perisai cembung itu dan diisi dengan air bersih. Namun alangkah terkejutnya mereka, ketika hendak menegukkan air ke mulut sahabat itu, ternyata ia telah meninggal dunia. Ia telah pergi berbuka di syurga bersama para bidadari. Masya Allah, inilah orang-orang yang benar hatinya dalam bercinta denganMu”.

    Ayah meneteskan air mata saat mengakhiri ceritanya mengenai kekentalan cinta para sahabat Rasulullah SAW terhadap Allah SWT. Semoga setiap Ramadhan kita rindui kehadirannya agar kembali terbuka peluang menjalin cinta kasih dengan Allah.

    Allahumma baarik lanaa fi Sya’banWa Ballighnaa Ramadhaan..

    (Ya Allah, berkahilah hidup kami di bulan Sya’ban dan sampaikan usia kami ke bulan Ramadhan) Amin Ya Mujibas Saailin.

    ***

    Kolom : Ust. H. Arsil Ibrahim, MA

     
    • Riska andani simargolang 12:10 am pada 5 Agustus 2012 Permalink

      Assalamualikum wr.wb
      subhanallah artikelnya bagus banget…
      :)

      tp sebelumnya maaf saya mau bertanya, karna saya sdikit bingung..
      dlam artikel tersebut dikatakan..

      3. Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:

      “Puasa itu untukKu dan biarkan Aku yang akan menganugerahkan pahalanya.” (HR. Muslim)

      Bukan’a firman tu adalah perkataan Allah dalam AL Qur’a, sedangkan Hadist adalah perkataan rasul??

      tlg di jawab ya admin…
      trmksih sblm’a..

      waalaikumsalam…

    • erva kurniawan 3:42 pm pada 6 Agustus 2012 Permalink

      Terima kasih atas masukannya :)

  • erva kurniawan 1:48 am pada 28 July 2012 Permalink | Balas  

    Analogi Puasa

    Tadi pagi selepas Sholat Subuh, saya bertemu dengan seorang Bapak (sebut saja Beliau). Dari sejak azan Subuh ketika saya datang ke mesjid, Beliau selalu duduk di pojokkan saf kedua dan tampak khusu’ berdoa. Setelah selesai Sholat, beliau tetap berada di tempatnya dengan terdiam dan tampak sedang bertafakur. Ketika saya sedang menuju ke bawah (mesjid kami 2 tingkat dimana tingkat dua dipakai untuk ibadah sholat sementara bagian bawah untuk pengajian anak-anak (TPA)), ada suara yang memanggil saya, “Dik sebentar dik!”.

    Saya terkejut dan mencari suara itu datangnya darimana. Ternyata Beliau yang memanggil saya. Kemudian saya menghampirinya.

    “Ada apa, Pak?”

    Beliau menjawab,”Boleh mengganggu sebentar”.

    Jawab saya,”Oh tidak apa-apa lagipula ini masih pagi dan masih ada waktu untuk ngobrol-ngobrol”. Akhirnya mengucapkan terima kasih atas berkenannya saya untuk menemaninya ngobrol.

    “Tahu ga dik? Saya tahu adik dari tadi selalu memperhatikan saya sejak masuk mesjid sampai selesai sholat tadi” kata Beliau.

    Terkejut saya mendengarnya karena perasaan saya, Beliau dari awal sampai akhir selalu menunduk dan dengan khusu’nya berdoa tapi kok tahu saya memperhatikannya.

    “Kok Bapak tahu sih?” kata saya.

    Beliau tidak menjawab tetapi hanya tersenyum. Kemudian Beliau memperkenalkan diri dan namanya sama dengan sahabat Rasul SAW yang menjadi Khalifah ke-dua pada jaman setelah Rasul SAW wafat. Beliau juga bertanya nama, alamat dan sudah berapa saya tinggal.

    Setelah bicara kesana kemari, Beliau bertanya,”Kapan mulai Puasa Ramadhan?”.

    Jawab saya ” Ya tinggal sekitar 1 bulan lagi pak”.

    “Alhamdulillah” jawab Beliau. “Bagaimana puasa ramadhan tahun lalu dik? Lancar?” tanya Beliau.

    “Puasa Ramadhan tahun lalu saya tidak mendapatkan apa-apa Pak selain lapar dan haus”, jawab saya dengan polosnya.

    “Jarang saya mendapatkan jawaban seperti ini dik” kata Beliau. Kok bisa sih apa ada yang aneh dalam hati saya. Kata Beliau banyak orang yang belum bisa menjawab apabila ada pertanyaan seperti itu. Setelah itu Beliau dengan lancarnya menjelaskan tentang analogi puasa. Nah ini cerita serunya (pikir saya saat itu) Beliau menganalogikan antara puasa dengan Pesta Olahraga seperti Olimpiade, Asian Games, Sea Games, Piala Dunia, Euro sampai Piala Thomas-Uber dan lain-lain. Beliau menjelaskannya seperti ini:

    1. Puasa dan Pesta Olahraga pada akhir/ujungnya yang ingin dicapai adalah prestasi.

    Prestasi dalam olahraga adalah medali (emas,perak dan perunggu), Piala Kejuaraan dan lain-lain. Kalau puasa adalah diterimanya puasa oleh Allah secara utuh tanpa ada yang kurang maupun lebih (maaf saya kurang bisa menjelaskan dengan dalil-dalil dalam Qur’an dan Hadist seperti Beliau jelaskan kepada saya).

    2. Bagaimana prestasi dapat diraih dengan hasil yang luar biasa?

    Prestasi diperoleh dengan latihan/kerja keras dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan sampai pada hari H (hari pertandingan) Kalau kita latihannya benar dan mengikuti apa yang telah diprogramkan seperti atlet Cina, Rusia dan Amerika Serikat dengan program yang terstruktur maka tidak heran mereka selalu menjadi nomor satu (wahid). Puasa pun juga begitu, selama 11 bulan sebelum Puasa Ramadhan seharusnya kita latih tanding dengan melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Nabi Daud, Puasa Muharram dan lain-lain sehingga ketika pada hari H-nya (bulan Ramadhan) kita akan mendapatkan prestasi yang paling baik dihadapan Allah SWT.

    3. Prestasi selama pertandingan juga bisa diperoleh dengan konsentrasi.

    Nah ini yang kadang-kadang atlet sering blunder yang harusnya dapat emas malah hanya dapat perak atau perunggu atau tidak mendapatkan apa-apa. Puasa pun demikian, konsentrasi kita harus dimulai dari sahur sampai azan maghrib, biasanya yang mengakibatkan konsentrasi puasa kita buyar adalah saat terakhir yaitu menjelang berbuka. Coba kita jujur dengan sendiri, saking sudah laparnya akhirnya kadang-kadang kita selalu lihat jam, bernafsu ingin beli makanan ini itu, dan kadang-kadang nungguin makanan di meja makan. Padahal Rasul mencontohkan kita untuk berbuka dengan teh manis dan tiga butir korma. Perkataan beliau membuat pikiran saya ke pertandingan Piala Champion MU VS Munchen tahun 1999, dimana menit terakhir pada kedudukan 1-1 Ole Gunnar Solkjaer membobol gawang Kahn. Gol itulah memupuskan harapan Munchen menjadi juara karena kurang konsentrasinya pemain-pemain Munchen pada menit-menit terakhir. Hahahahaha kayak pengamat bola aja.

    4. Prestasi itu diperoleh melalui kerja keras, latih tanding dan disiplin.

    Fokusnya adalah ke pertandingan yang sebenarnya dan tidak memikirkan lagi hal-hal yang remeh temeh karena sudah direncanakan secara matang. Itulah gunannya perencanaan yang sistematis menurut versi Beliau. Puasa Ramadhanpun demikian. Beliau menjelaskan bagaimana puasa hanya dijadikan ajang untuk mengumbar umbar uang (coba dipikir besaran mana pengeluaran selama bulan puasa atau bukan bulan puasa), yang dipikirkan THR, jarang orang bisa beritikaf di mesjid selama 10 hari terakhir karena semua berkonsentrasi mencari uang untuk lebaran (jadi selama 11 bulan ngapain kata Beliau, wah dalam hati saya berat nih karena kebutuhan dan pendapatan tidak seimbang tiap bulannya tapi boleh juga kalau ga dicoba khan ga pernah tahu) Saya berpikir bisa, bagaimana kalau tiap hari saya masukkan ke celengan rata-rata Rp 20 ribu-30 ribu tanpa pernah saya colek-colek tuh celengan sampai bulan Ramadan kalau dihitung bisa mencapai Rp 6-7 juta. Wah benar juga tuh Bapak. Istilah Beliau mengenai puasa bulan Ramadhan bagi orang jaman sekarang : 10 hari pertama ramai di mesjid, 10 hari kedua ramai di mall-mall/pusat perbelanjaan dan 10 hari terakhir ramai di terminal/stasiun/bandara (yang seharusnya bulan penuh rahmat, penuh pengampunan dan menjauhkan kita dari api neraka)

    5. Yang lebih penting lagi, prestasi dapat diperoleh dengan dukungan dan doa dari orang tua, saudara, teman sampai Presiden seperti atlet Indonesia yang mau ke Olimpiade Beijing mohon doa restu dan pamitan dengan Presiden SBY dengan harapan mendapatkan prestasi yang terbaik.

    Puasa pun juga demikian, sebelum puasa Ramadhan, kita berziarah ke makam orang tua kita yang telah meninggal atau berkunjung ke orang tua yang masih hidup, saudara, teman, dan tetangga disekitar lingkungan kita untuk memohonkan maaf atas kesalahan kita selama 11 bulan, mohon doa restu agar dimudahkan ibadah kita selama bulan puasa karena makin banyak orang yang mendoakan kita makin makbul ibadah kita sehingga dapat diterima Allah SWT.(Sirothol mustaqim – jalan lurus/jalan tol)

    6. Jadi kalau sudah prestasi dicapai orang tidak perlu bertanya-tanya lagi karena sudah tersiar di koran-koran, majalah, radio, tv dan internet serta ditambah hadiah dari mana-mana.

    Semua orang bangga dengan prestasi kita terutama orang tua, orang-orang terdekat sampai Presiden karena membawa nama baik bangsa dan negara. Sama dengan puasa ketika prestasi puasa kita dijalankan dengan baik sesuai dengan Standar Operation Procedur (SOP) dari Allah SWT maka tampak dari penampilan, tingkah laku, amal perbuatan dan rejeki akan selalu mengalir. Jadi kalau ditanya oleh orang tua ataupun orang lain, bagaimana puasa Ramadhan kemarin atau apa yang didapat selama bulan puasa Ramadhan maka kita bercerita dengan lancar, gembira, panjang lebar karena kita telah mendapatkan puncak prestasi tertinggi dari Allah SWT.

    Itulah penjelasan Beliau tentang analogi Puasa Ramadhan. Persis jam 6.30 pagi saya pamitan dan saya katakan nanti saya kembali lagi karena mau pesan kopi dan makanan kecil. Tidak enak dan nikmat ngobrol tanpa kopi dan pisang goreng hehehehe. Sekitar 30 menit kemudian saya kembali lagi ke mesjid dengan harapan akan dapat ilmu pengetahuan dan pengalaman dari Beliau dan sayang untuk dilewatkan. Ternyata beliau sudah tidak ada di tempat ketika saya tanyakan ke penjaga mesjid tentang Beliau. Penjaga mesjid mengatakan sejak selesai subuh tadi mesjid kosong tidak ada siapa-siapa. Lho kok begitu khan dari subuh saya ngobrol dengan seorang Bapak sambil menyebutkan ciri-cirinya. Apakah penjaga tadi tidak mendengar suara kami berbicara. Penjaga mesjid mengatakan tidak mendengar apa-apa dan juga tidak tidur dari subuh serta selalu membersihkan lantai dua setiap selesai sholat subuh. Aneh. Jadi sejak subuh tadi saya berdiskusi dengan siapa. Manusia atau makhluk gaib. Dalam hati masa bodo lah tetapi saya bersyukur mendapatkan ilmu tentang puasa dan dapat menambah wawasan pikiran tentang agama yang saya anut. Begitulah ceritanya dan mudah-mudahan mendapatkan manfaat dari cerita ini.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:27 am pada 4 July 2012 Permalink | Balas  

    Renungan: Kisah yang Menyentuh

    Ada seorang istri memberikan tantangan kepada suaminya untuk hidup tanpa dirinya. Dia minta kepada suaminya untuk tidak ada komunikasi sama sekali di antara mereka selama sehari.

    Si istri berkata kepada suaminya itu, “Bila kamu bisa melewati itu, aku akan mencintaimu selamanya”. Dan sang suami pun setuju. Dia tidak sms/ telpon istrinya seharian.

    Tanpa dia ketahui bahwa istrinya hanya memiliki 24 jam untuk hidup, karena dia terkena kanker.  Keesokan harinya sang suami itu pulang ke rumah. Air matanya pun tiba2 menetes melihat istrinya sudah terbaring dengan surat di tangan yang bertuliskan:

    “Kamu Berhasil Sayang, bisakah kamu lakukan itu setiap hari.??”

    Don’t Ever lost contact with someone you love,  you’ll never know what’s gonna happen the next day, or the day after that.. Even a single “hi” or a “good morning”  Before you know that someone is no longer there….

    ***

    Dari Sahabat di Kaskus

     
  • erva kurniawan 1:44 am pada 3 July 2012 Permalink | Balas  

    dan Diapun tak Pernah Lagi Berani Menatap Wajah Suaminya 

    dan diapun tak pernah Lagi Berani Menatap Wajah Suaminya

    Pernikahan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.

    Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.

    Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran.

    Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.

    Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”.

    Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”.Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

    Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”.Sang istri pun bad rest di rumah sakit.

    Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”.“Haah, pergi?”. Kata sang istri.“Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri.

    Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.

    Dan subhanallah …Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan.

    Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.Hamper saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.

    Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.(Diterjemahkan dari kisahk yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya)

    Sumber : kembanganggrek.com

     
    • Abdullah 5:34 am pada 3 Juli 2012 Permalink

      Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

      sangat terharu mendengar ceritanya.
      cerita yg penuh dengan pesan moral dan teguran untuk kita semua..
      :)
      thx sobat, sudah mau berbagi kisah yg patut kita renungi.

    • maulana said 10:43 pm pada 6 Juli 2012 Permalink

      subhanallah,,,, inikah laki laki yg sebenarnya, bersabar atas kehendak negatif sang istri pun dalam keadaan yang pahit pun dia terus berabar..
      sungguh nyata bagi ku sekarang bahwa bersabar terhadap sesuatu maka Allah akan berikan inayahnya…

    • tover pjtn 11:53 am pada 7 Juli 2012 Permalink

      kehidupan nyata terkadang lebih aneh dari cerita fiksi….
      itulah sosok pemimpin yang di cari…

    • van rame 7:19 pm pada 7 Juli 2012 Permalink

      ijin share……… :)

    • epmaster 10:08 am pada 21 November 2012 Permalink

      subhanallah..mengharukan sekali..

  • erva kurniawan 1:35 am pada 23 June 2012 Permalink | Balas  

    Indahnya Sinergi

    Sering menyaksikan pertandingan sepak bola? tidak semua menjadi penjaga gawang, dan tak semua pula ingin menjebol gawang. Sebelas pemain dalam satu tim, punya peran masing-masing yang mesti dijalankan sebaik-baiknya. Tak semuanya harus maju ke depan, begitu pun sebaliknya, tak perlu sebelas pemain menjaga daerah pertahanan. Namun, mereka tetap bersinergi untuk satu tujuan, mencetak gol demi kemenangan.

    Sering menonton sebuah film? ada yang berperan sebagai aktor utama, ada juga yang cuma memainkan peran pembantu, peran kecil dan peran figuran. Ada yang berperan protagonis, dan ada yang rela berperan antagonis. Layaknya sebuah drama, ada yang disuka, dan dipuja karena selalu memerankan tokoh baik. Namun ada pula aktor yang rela dicaci dan dibenci di luar perannya, hanya karena kerelaannya berperan tokoh jahat. Namun itu semua hanya sebuah film, sebuah kisah layar kaca yang memiliki satu tujuan; menghibur penonton.

    Tak semua manusia di muka bumi ini berprofesi sebagai kepala negara, karenanya ada lebih banyak yang membantunya dalam menjalankan negara. Dan jauh lebih banyak orang yang berperan sebagai rakyat. Para rakyat ini pun menjalankan perannya masing-masing. Tak semuanya menjadi dokter, tak seluruhnya menjadi guru, dan tak mungkin semua orang melakoni satu profesi saja.

    Ada yang punya kendaraan bermotor, banyak pula yang hanya mampu berjalan kaki atau menggunakan jasa angkutan umum. Maka bergunalah para pengusaha jasa angkutan, maka bermanfaatlah mereka yang berprofesi sebagai supir dan kondektur angkutan umum atau tukang ojeg sekali pun. Berguna pula para penambal ban di pinggir jalan, para mekanik di bengkel, termasuk para petugas lalu lintas.

    Tak sedikit yang memiliki lebih dari satu tempat tinggal, namun jauh lebih banyak yang tak memiliki tempat untuk berteduh. Ada yang hidup berlebihan, ada yang berkecukupan, dan pasti pula banyak yang kekurangan. Karenanya, mereka yang berlebih pun tahu kebutuhan yang kekurangan, dibuatlah rumah-rumah sewaan agar yang lain tak lagi kehujanan dan kepanasan.

    Seseorang bisa disebut `kaya` karena ada orang yang disebut miskin. Seseorang bisa berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, karena ada yang membutuhkan tenaganya. Ada yang menjadi tukang sampah, karena banyak sampah bertebaran. Jika satu bulan sampah di rumah tak ada yang mengangkutnya, bayangkan betapa besar kebutuhan kita terhadap para tukang sampah itu.

    Sungguh, Allah telah menciptakan sinergi yang luar biasa indah. Masing-masing menjalankan perannya dengan baik agar tetap seimbang. Ketika banyak orang membutuhkan pertolongan, semestinya banyak pula yang menjadi penolong. Saat begitu banyak yang mendapat musibah, seharusnya tak kalah banyaknya tangan-tangan yang terhulur memberi bantuan.

    Kadang, tak semua pendaki gunung harus mencapai puncaknya. Ada satu atau sebagian yang menjadi camper, namun tetap mendukung rekannya yang menjadi climber. Memang tak semua orang harus datang langsung dan menemui para korban bencana di lokasi musibah. Karenanya, ada orang-orang yang mendedikasinya dirinya untuk masuk menembus lokasi bencana. Cukup sambungkan tangan peduli itu dengan tangan yang beraksi di lapangan, maka sempurnalah sinergi itu. Ketika simpati bersinergi dengan aksi, inilah yang disebut peduli. duh, indahnya.

    ***

    Oleh Sahabat Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:25 am pada 21 June 2012 Permalink | Balas  

    Tiga Kata yang Terlupakan

    Hudzaifah.org – Ardi berlalu begitu saja setelah ia membayar ongkos ojeg yang ia tumpangi, jalannya tergesa-gesa. Yup, ia terburu-buru karena hampir terlambat masuk kelas, alasannya klasik, “MACET”. Dalam hatinya berkata beruntung ia terbantu oleh fasilitas ojeg yang mahir berselap-selip diantara kerumunan kendaraan-kendaraan mewah Jakarta. Ups, tapi ia lupa sesuatu, berkata TERIMA KASIH pada pak ojeg. Hal yang remeh memang, dan cenderung sering diremehkan oleh kebanyakan orang.

    Yuli, seorang akhwat yang selalu sibuk dengan agenda-agendanya yang padat, datang telat satu jam kerapat organisasi. Simple juga, hanya ucapkan “Assalamu’alaikum” lalu duduk dengan manis di kerumunan teman-temannya tanpa pernah berpikir untuk mengucapkan MAAF. Padahal ia termasuk orang yang ditunggu-tunggu dalam rapat itu. Maklum dia adalah ketua sie acara yang notabene harus selalu memberikan progress report yang berkala.

    Irman adalah seorang Presiden Mahasiswa di kampusnya. Ia termasuk orang yang lugas dalam memberikan instruksi. “Anto, bawakan proposal yang harus saya tandatangani keruangan saya”. “Rina, ketik surat ini dan secepatnya kirim!” “Mas somay, pesen somay sepiring, gak make lama ya..!!” Wah, sangking lugasnya ada sebuah kata berharga yang ia lupa. TOLONG.

    Fenomena-fenomena diatas sering kita temui di sekeliling kita. Mungkin bahkan tidak jauh-jauh, kita juga sering melakukannya. Betul?

    TERIMA KASIH, atau bahasa aktivis gaulnya syukron, seringkali terlupa. Dalam surat Al A’raaf ayat 58 Allah berfirman:

    “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang BERSYUKUR.”

    Dalam ayat ini Allah mengajarkan kita untuk berterimakasih atas semua yang kita terima. Dalam psikologi, orang yang menerima ucapan “TERIMA KASIH” akan senang dan merasa usahanya dihargai.

    Kata berikutnya yang jarang kita ucapkan adalah kata “MAAF”. Atau akrab disebut “AFWAN…”.

    “Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat.” (QS. Al Baqarah:178)

    Dalam ilmu psikologinya kata MAAF sangat efektif untuk meredam rasa kekesalan orang yang dirugikan. Kata MAAF pun sebaiknya dari hati yang tulus dan diiringi dengan senyum yang ikhlas.

    Kata terakhir yang sering terlupakan adalah kata “TOLONG”.

    “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maaidah:2)

    Dalam ilmu psikologinya kata TOLONG adalah sebuah kata yang membuat orang yang dimintai pertolongan merasa dibutuhkan dan merasa dipentingkan. Bagi sebagian besar orang perasaan tersebut sangat membahagiakan hatinya. Apalagi kalau diucapkan dengan lembut.

    Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS. Ali ‘Imran:159) [DAI]

    ***

    Dari Sahabat

     
    • ANAK JAIL 12:55 pm pada 17 Januari 2013 Permalink

      SALUTTTT, MEMBACA TULISAN ANDA.
      DIJAMIN, APABILA 50 % SAJA KAUM MUSLIM DI NEGERI INI, BERSIKAP SEPERTI ANDA PASTI NEGERI INI MENJADI AMAN TENTERAM. Tetapi dalam hidup berangsa sampai hari ini yang ada adalah, kebencian, dendam kesumat, menang sendiri, dan benar sendiri. sampai kapan bisa kembali ke budaya asli indonesia, tepok seliro, dan gotong royong. semoga

  • erva kurniawan 1:34 am pada 20 June 2012 Permalink | Balas  

    Pendeta Masuk Islam (Dr. Muhammad Yahya Waloni)   

    Adaha Nadjemuddin, Tolitoli : PAGI menjelang siang hari itu, nuansa Idul Fitri 1427 Hijriah masih terasa di Tolitoli. Hari itu baru memasuki hari ke-9 lebaran. Kendati terik panas matahari masih mengitari Tolitoli dan sekitarnya, tetapi denyut aktivitas warga tetap seperti biasa.

    Begitupun di sekitar Jalan Bangau, Kelurahan Tuweley, Kelurahan Baru, Kabupaten Tolitoli. Aktivitas sehari-hari warga berjalan seperti biasa.

    Kecuali di salah satu rumah kost di jalan itu, pintunya tampak masih tertutup rapat. Di rumah kost inilah, Yahya Yopie Waloni (36), bersama istrinya Lusiana (33) dan tiga orang anaknya tinggal sementara. “Pak Yahya bersama istrinya baru saja keluar. Sebaiknya bapak tunggu saja di sini, sebelum banyak orang. Karena kalau pak Yahya ada di sini banyak sekali tamunya. Nanti bapak sulit ketemu beliau,” jelas ibu Ani, tetangga depan rumah Yahya kepada Radar Sulteng.

    Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan A. Qomarun Shofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat syahadat.

    Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan Mutmainnah. Begitupun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun) diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.

    Mohammad Yahya sebelum memeluk Islam, pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004. Saat itu juga ia sebagai pendeta dengan status sebagai pelayan umum dan terdaftar pada Badan Pengelola Am Sinode GKI di tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana. Ia menetap di Sorong sejak tahun 1997. Tahun 2004 ia kemudian pindah ke Balikpapan. Di sana ia menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba) sampai tahun 2006. Yahya menginjakkan kaki di kota Cengkeh, Tolitoli, tanggal 16 Agustus 2006.

    Sambil menunggu kedatangan Yahya, ibu Ani mempersilakan Radar Sulteng masuk ke rumahnya. Sebagai tetangga, Ibu Ani tahu banyak aktivitas yang terjadi rumah kontrakan Yahya. “Pak Yahya pindah di sini kira-kira baru tiga minggu lalu. Sejak pindah, di sini rame terus. Orang-orang bergantian datang. Ada yang datang dengan keluarganya. Malah ada yang rombongan dengan truk dan Kijang pickup. Karena rame sekali terpaksa dibuat sabua (tenda, red) dan drop kursi dari kantor Lurah Tuweley,” cerita ibu Ani.

    Hari pertama Yahya pindah di Jalan Bangau itu, orang-orang berdatangan sambil membawa sumbangan. Ada menyumbang belanga, kompor, kasur, televisi, Alquran, gorden dan kursi. Mereka bersimpati karena Yahya sekeluarga saat pindah dari tempat tinggal pertamanya hanya pakaian di badan. Rumah yang mereka tempati sebelumnya di Tanah Abang, Kelurahan Panasakan adalah fasilitas yang diperoleh atas bantuan gereja. Sehingga barang yang bukan miliknya ia tanggalkan semuanya.

    Tidak lama menunggu di rumah Ibu Ani, datang dua orang ibu-ibu yang berpakaian dinas pegawai negeri sipil. Keduanya juga mampir di rumah Ibu Ani. Salah satu dari mereka adalah Hj Nurdiana, pegawai di Balitbang Diklat, Pemkab Tolitoli. Ibu berjilbab ini ternyata guru mengaji. Dia adalah guru mengaji yang khusus membimbing istri Yahya. “Saya baru tiga kali pertemuan dengan ibu Yahya. Supaya ibu Yahya mudah memahami huruf hijjaiyah, saya menggunakan metode albarqy. Alhamdulillah sekarang sedikit sudah bisa,” kata Nurdiana.

    Menurutnya, dia tidak kesulitan mengajari ibu Yahya. Malah, katanya, ibu Yahya cepat sekali memahami huruf-huruf hijaiyah yang diajarkan. Karena itu dia memperkirakan kemungkinan dalam waktu tidak lama ibu Yahya sudah bisa lancar mengaji.

    Hanya sekitar 20 menit menunggu di rumah ibu Ani, bunyi kendaraan sepeda motor butut milik Yahya terdengar memasuki halaman rumah kontrakannya. Radar Sulteng diterima dengan senang hati, lalu dipersilakan duduk di sofa. Sementara Yahya memilih duduk di lantai alas karpet. Badannya disandarkan ke kursi sofa. “Kita lebih senang duduk di bawah sini,” tuturnya dengan logat kental Manado.

    Cara duduk Yahya, tampak tidak tenang. Sesekali ia membuka kedua selangkangnya. Ternyata karena baru beberapa hari selesai disunat. “Setelah tiga hari saya masuk Islam, saya langsung minta disunat di rumah ini,” cerita Yahya, sesekali disertai canda.

    Penataan interior rumah kost Yahya tampak apik. Di dinding ruang tamu tampak terpampang kaligrafi ayat kursi yang dibingkai dengan warna keemasan. Di sisi lain, kaligrafi Allah-Muhammad juga terpampang. Di meja ruang tamu terdapat dua buah Alquran lengkap terjemahannya. Di tengah meja itu, juga masih ada tiga toples kue lebaran. “Rumah ini saya kontrak sementara. Saya sudah bayar Rp2,5 juta,” rinci Yahya.

    Di tengah asiknya bercerita, istri Yahya, Mutmainnah menyuguhkan beberapa cangkir teh panas. “Silakan diminum air panasnya,” kata ibu tiga anak ini yang saat itu mengenakan jilbab cokelat.

    Tidak lama kemudian, dia masuk di salah satu kamar dan mengajak guru mengajinya Hj Nurdiana bersama rekannya. Dari balik kamar itulah terdengar suara Mutmainnah yang sedang mengeja satu per satu huruf hijaiyah. Terdengar memang masih kaku, tetapi berulang-ulang satu per satu huruf-huruf Alquran itu dilafalkannya.

    Lain halnya dengan suaminya, Yahya. Pria kelahiran Manado ini mengaku sudah bisa melafalkan beberapa ayat setelah beberapa kali diajarkan mengaji oleh A. Qomarun Shofa. Selain A. Qomarun Shofa, selama ini ia juga mendapat bimbingan dari ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tolitoli, Yusuf Yamani. “Hanya lima menit saya diajarkan. Saya langsung paham. Surat Fatihah saya sudah hafal,” ujar Yahya.

    Selain belajar mengaji dan menerima tamu, aktivitas Yahya juga kerap menghadiri undangan di beberapa masjid. Tidak hanya dalam kota, tetapi sampai ke desa-desa di Kabupaten Tolitoli. “Saya ditemani beberapa orang. Ada juga dari Departemen Agama,” katanya.

    Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan A. Qomarun Shofa, sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. “Hari itu saya sudah mengucapkan dua kalimat syahadat yang dituntun Pak A. Qomarun Shofa,” cerita Yahya. Apa yang melatari sampai Yahya dan keluarganya memeluk Islam.

    Mengalami Mimpi yang Sama dengan Istrinya

    Pak Yahya, begitu sapaan akrabnya. Pria kelahiran Manado tahun 1970 ini lahir dari kalangan terdidik dan disiplin. Ayahnya seorang pensiunan tentara. Sekarang menjabat anggota DPRD di salah satu kabupaten baru di Sulawesi Utara. Sebagai putra bungsu dari tujuh bersaudara, Yahya saat bujang termasuk salah seorang generasi yang nakal. “Saya tidak perlu cerita masa lalu saya. Yang pasti saya juga dulu pernah nakal,” tukasnya.

    Lantaran kenakalannya itulah mungkin, sehingga beberapa bagian badannya terdapat bekas tato. Di lengannya terdapat bekas luka setrika untuk menghilangkan tatonya. “Ini dulu bekas tato. Tapi semua sudah saya setrika,” katanya sambil menunjuk bekas-bekas tatonya itu.

    Postur tubuhnya memang tampak mendukung. Tinggi dan tegap. Meski ia pernah nakal, tetapi pendidikan formalnya sampai ke tingkat doktor. Ia menyandang gelar doktor teologi jurusan filsafat. Saat ditemui, Yahya memperlihatkan ijazah asli yang dikeluarkan Institut Theologia Oikumene Imanuel Manado tertanggal 10 Januari 2004. Sehingga titel yang didapatnya pun akhirnya lengkap menjadi Dr. Yahya Yopie Waloni, S.TH, M.TH.

    Sebelum menyatakan dirinya masuk Islam, beberapa hari sebelumnya Yahya mengaku sempat bertemu dengan seorang penjual ikan, di rumah lamanya, kompleks Tanah Abang, Kelurahan Panasakan, Tolitoli. Pertemuannya dengan si penjual ikan berlangsung tiga kali berturut-turut. Dan anehnya lagi, jam pertemuannya dengan si penjual ikan itu, tidak pernah meleset dari pukul 09.45 Wita.

    “Kepada saya, si penjual ikan itu mengaku namanya Sappo (dalam bahasa Bugis artinya sepupu). Dia juga panggil saya Sappo. Tapi dia baik sekali dengan saya,” cerita Yahya.

    Setiap kali ketemu dengan si penjual ikan itu, Yahya mengaku berdialog panjang soal Islam. Tapi Yahya mengaku aneh, karena si penjual ikan yang mengaku tidak lulus Sekolah Dasar (SD) tetapi begitu mahir dalam menceritakan soal Islam.

    Pertemuan ketiga kalinya, lanjut Yahya, si penjual ikan itu sudah tampak lelah. “Karena saya lihat sudah lelah, saya bilang, buka puasa saja. Tapi si penjual ikan itu tetap ngotot tidak mau buka puasanya,” cerita Yahya.

    Sampai saat ini Yahya mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu. Si penjual ikan mengaku dari dusun Doyan, desa Sandana (salah satu desa di sebelah utara kota Tolitoli). Meski sudah beberapa orang yang mencarinya hingga ke Doyan, dengan ciri-ciri yang dijelaskan Yahya, tapi si penjual ikan itu tetap tidak ditemukan.

    Sejak pertemuannya dengan si penjual ikan itulah katanya, konflik internal keluarga Yahya dengan istrinya meruncing. Istrinya, Lusiana (sekarang Mutmainnah, red), tetap ngotot untuk tidak memeluk Islam. Ia tetap bertahan pada agama yang dianut sebelumnya. “Malah saya dianggap sudah gila,” katanya. Tidak lama setelah itu, kata Yahya, tepatnya 17 Ramadan 1427 Hijriah atau tanggal 10 Oktober sekitar pukul 23.00 Wita. Ia antara sadar dengan tidak mengaku mimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba putih, duduk di atas kursi. Sementara Yahya di lantai dengan posisi duduk bersila dan berhadap-hadapan dengan seseorang yang berpakaian serba putih itu. “Saya dialog dengan bapak itu. Namanya, katanya Lailatulkadar,” ujar Yahya mengisahkan.

    Setelah dari itu, Yahya kemudian berada di satu tempat yang dia sendiri tidak pernah melihat tempat itu sebelumnya. Di tempat itulah, Yahya menengadah ke atas dan melihat ada pintu buka-tutup. Tidak lama berselang, dua perempuan masuk ke dalam. Perempuan yang pertama masuk, tanpa hambatan apa-apa. Namun perempuan yang kedua, tersengat api panas.

    “Setelah saya sadar dari mimpi itu, seluruh badan saya, mulai dari ujung kaki sampai kepala berkeringat. Saya seperti orang yang kena malaria. Saya sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan. Tetap saja begitu,” cerita Yahya.

    Sekitar dua jam dari peristiwa itu, di sebelah kamar, dia mendengar suara tangisan. Orang itu menangis terus seperti layaknya anak kecil. Yahya yang masih dalam kondisi panas-dingin, menghampiri suara tangisan itu. Ternyata, yang menangis itu adalah istrinya, Lusiana.

    “Saya kaget. Kenapa istri saya tiba-tiba menangis. Saya tanya kenapa menangis. Dia tidak menjawab, malah langsung memeluk saya,” tutur Yahya.

    Ternyata tangisan istri Yahya itu mengandung arti yang luar biasa. Ia menangis karena mimpi yang diceritakan suaminya kepadanya, sama dengan apa yang dimimpikan Mutmainnah. “Tadinya saya sudah hampir cerai dengan istri, karena dia tetap bertahan pada agama yang ia anut. Tapi karena mimpi itulah, malah akhirnya istri saya yang mengajak,” tandasnya.

    Akhirnya, Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan A. Qomarun Shofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat syahadat.

    Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan Mutmainnah. Begitu pun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun) diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.

    Masuknya Yahya ke agama Islam, menimbulkan banyak interpretasi. Menurut Yahya, ada yang menyebut dirinya orang gila. Ada juga yang meragukannya, dan mungkin masih banyak interpretasi lain lagi tentang dirinya. “Tapi cukup saja sampai pada interpretasi, jangan lagi melebar ke yang lain,” pungkasnya.

    ***

    Sabtu, 4 November 2006

    Sumber :

     
    • erensdh 6:43 am pada 21 Juni 2012 Permalink

      Sepertinya begitu menyenangkan bila ada yg berpindah keyakinan ke Islam… Maka stop intimidasi atau pembunuhan juga untuk yg beralih dari Islam ke keyakinan lain (yg disebut murtad)

    • jauhari 9:06 am pada 10 Juli 2012 Permalink

      islam di anut oleh orang yg mendapat hidayah ALLAH ,dan dia menuju pada hidayah itu dg izin ALLAH. bukan dengan paksaan dari luar(islam lainnya) tugas seorang islam hanya berkewajiban memberi tau tentang iman dan islam serta cara mengamalkan syari’at yg ada pada kitabuLLAH dan sunnah RASULLULLAH MUHAMMAD SAW dg jujur dan benar, tapi tidak berhak memaksakan agar orang jadi memeluk nya., karena hidayah ALLAH itu diberikannya pada siapa yg dikehendakinya.

    • .umum 6:34 am pada 4 September 2012 Permalink

      .kita yg sudah islam sejak lahir

    • kisah bagus 8:30 am pada 5 September 2012 Permalink

      hidayah mmg bisa datang kepada siapa saja, Allahu Akbar!

    • putra haryadi 12:51 pm pada 16 Oktober 2012 Permalink

      Sepertinya begitu menyenangkan bila ada yg berpindah keyakinan ke Islam… Maka stop intimidasi atau pembunuhan juga untuk yg beralih dari Islam ke keyakinan lain (yg disebut murtad)

      karena mereka sangat memusuhi agama Islam makanya dibunuh. lagian apa gw harus ikutin kemauan lw. menyelamatkan diri lw dari azab Allah aja lw nggak bisa apalagi menyalamatkan diri gw?

    • JURTUL 10:20 am pada 17 Oktober 2012 Permalink

      Sdr . Erensh. Kejadian ini adalah penggenapan berita baik (Injil) itu. ni ayatnya.

      Yohanes 17:12
      Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa SELAIN DARI PADA DIA (yang menolak) YANG TELAH DITETAPKAN UNTUK BINASa., supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.

      Beliau sudah dipanggil dan melakukan panggilan itu, tetapi tidak dilih.
      Matius 22:14
      Sebab BA NYAK yang dipanggil, tetapi SEDIKIT yang dipilih.”

      Demikian Juga Bp. DR Yahya YW. STH, MTH. kalau ditinju dari Gelar sudah Full Gelar, Kalu ditInjau dari PANGGILAN, sudah Taat, ternyata beliau tidak DIPILIH.

      Karena Beliau mantan nakal ( Yang pasti saya juga dulu pernah nakal,” tukasnya.
      “Ini dulu bekas tato. Tapi semua sudah saya setrika,” katanya sambil menunjuk bekas-bekas tatonya itu.)
      Rupanya Kenakalannya ikut mengawal Dia trus, dan tidak bertobat / hidup baru.

      Tarbukti TANPA Hidup baru (meninggalkan yang lama menerima yang bau secara trus menerus) keselamatan itu akan LEPAS, pindah ke tempat lain.

      mungkin Beliau tidak menghayati dan mengimani ayat ini (kalau baca pasti sudah karena beliau jam pelayanannya sudah panjang dengan titel Full) ni ayatnya.

      Gal 6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya DIPEMAINKAN. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

      Ibrani 6 4-6 (inilah tuaian orang murtad itu)
      Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, 5 dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, 6 namun YANG MURTAD lagi, TIDAK MUNGKIN dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, SEBAB mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya DIMUKA UMUM. > Beliau TIDAK meng Imani dan meng Amini surat ini.

      LUAR BIASA SAMBUTAN SAMA BELIAU ITU . ( Orang-orang bergantian datang. Ada yang datang dengan keluarganya. Malah ada yang rombongan dengan truk dan Kijang pickup. Karena rame sekali terpaksa dibuat sabua (tenda, red) dan drop kursi dari kantor Lurah Tuweley,”

      KalAu Pengikut Ajaran Tuhan Yesus bertobat. SANGAT BERBEDA Pelaku dan tempatnya. ni ayat.

      Lukas 15:10
      Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada SUKA CITA pada MALAIKAT-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang BERTOBAT.” >> beda kan.

      Ini tanggapan saya, Khususnya buat srku seIman. SYALOM

    • JURTUL 11:01 am pada 17 Oktober 2012 Permalink

      Koreksi ya.
      (meninggalkan yang lama menerima yang bau > seharusnya BARU)

    • JURTUL 1:04 pm pada 17 Oktober 2012 Permalink

      Sdr Erensh,

      Saya Umpamakan. sekarang Bp. Dr. Yahya Yopie Waloni, S.TH, M.TH. lagi berkhotah di Pelayanannya.
      Beliau DULU. Dia mengambil Topiknya dari

      Mat 20: 20 -23
      20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
      21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
      22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
      23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! ENYAHLAH DARI PADAKU , kamu sekalian pembuat kejahatan!”

      Kesimpulan Khotbahnya. siapa Yang berseru itu ????? itulah Dia Para GEMBALA JEMAAT , GURU PENGAJAR ALKITAB, PENDETA ,>>” PENYESAT atau PALSU ”

      Oleh karena itu mari kita ingat pesan Tuhan Yesus ini : Aku datang segera. PEGANGLAH apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu. (Wahyu 3:11)

      Ini tanggapan Firman Tuhan mengenai kasus diatas. jangan heran ya. SYALOM

    • ady pradana 8:04 pm pada 28 Oktober 2012 Permalink

      SMOGA BAPAK SLALU DI RAHMATI ALLAH SWT.

    • JURTUL 8:05 am pada 29 Oktober 2012 Permalink

      SDR ADY.
      Saya TOLAK rahmat dari Allah swt.
      Penolakan saya berdasarkan 109. Al Kaafiirun. >> Tuhanmu bukan TuhanKu

      Agama Boleh banyak dan bereda beda, Nabi boleh Besar sampai pengikutnya buuanyaakkkk bangat, tetapi kepastian masuk sorga nanti hanya JANJI dari yang punya sorga ” Yesus” namanya.

    • oldfartjoseph 8:19 am pada 12 November 2012 Permalink

      jika saudara masuk islam , saudara tetap bisa mencintai yesus, bukan sebagai tuhan tapi sebagai nabi … sebagai juru selamat bersama 25 nabi yang lain

    • joel 2:30 am pada 13 November 2012 Permalink

      “ALLAHUAKBAR..”
      JURTUL sok taw lu ah.. kalau mmg bener jumpain aja tu DR. Muhammad yahya nya.. suruh dia betobat kyk yg lu bilang.. Banyak Cito Dikaw neh..

    • bismillahirohmanirohim 4:29 pm pada 13 November 2012 Permalink

      Hi JURTUL,How are you?
      mau tanya nih ^_^ kenapa kalian menyembah sesama manusia? dia itu sama seperti anda yaitu “manusia” kenapa disembah? karena dia suci? punya mukjizat? di dunia ini bukan hanya yesus yang suci dan punya mukjizat, mengapa yg kalian sembah cuma yesus aja?
      dia hanya manusia biasa? apa ada di alkitab kalian bahwa DIA yang manusia sama seperti kita itu yang telah menciptakan segala alam semesta ini? tuhan kalian memiliki seorang ibu, mengapa tidak kalian anggap dia tuhan juga, karena ibunya telah melahirkan yesus kalian? Mengapa tuhan kalian bisa mati sama seperti manusia pada umumnya?

      Dan sekarang yang paling saya pertanyakan mengapa umat kalian dulunya bermusuhan sekarang malah berteman dengan umat yahudi? sementara umat yahudi-lah yang telah membunuh/menyalib yesus kalian? bukankah di kitab kalian yahudi adalah musuh? tetapi sekarang kalian malah bersatu untuk menghancurkan islam contohnya amerika dan israel bersatu untuk menghancurkan kaum kami yaitu Islam.

      Yesus yang disalib itu adalah bukan tuhan kalian yang sebenarnya, karena tuhan kalian yang sebenarnya (nabi Isa) telah di selamatkan oleh tuhan kami yaitu “ALLAH” ketika akan di siksa oleh kaum yahudi untuk di salib.
      Yang disalib dan kalian sembah itu adalah “Judas” sahabat tuhan kalian “nabi Isa” yang telah berkhianat kepada nabi Isa dan tuhan kami “ALLAH” melaknat “JUDAS” dan mengutuknya menjadi berwajah mirip seperti nabi Isa sehingga bangsa yahudi menyalib “JUDAS” karena mereka mengira itu adalah nabi Isa/yesus kalian.

      Kita hidup didunia ini tidak bisa berpegang teguh pada 1 kitab saja, cobalah anda membaca kitab kami yang paling sempurna ini dan bandingkan makna isinya dengan alkitab kalian :)

      Mau beragama Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu itu adalah terserah pada orang yang ingin menganutnya :)

      Semoga orang yang non muslim setelah membaca ini mendapatkan hidayah dan pikirannya terbuka akan kebenaran. Amin ya robbal alamin :)

      Jangan ada musuh-musuhan lagi ya, semoga kita bisa tenang, damai, dan saling toleransi hidup didunia ini :)

      Wassalam.

    • Awam 11:19 am pada 18 November 2012 Permalink

      Sewaktu Islam masih berkuasa di Spanyol,tidak ada rasa takut dan mereka (umat Kristen) bisa menjalankan ibadah mereka dengan damai dan aman. Tidak ada paksaan pada mereka untuk memeluk Islam. Tapi ketika Kristen(ma’af,saya menyebut Kristen,bukan Nasrani,karena Nasrani mengakui dan memuliakan Isa AS/Yesus sebagai Nabi,bukan Tuhan) berkuasa,umat Islam dipaksa masuk Kristen,bagi yang tidak mau,mereka harus keluar dari Spanyol,dan bagi yang tetap tinggal,mereka dibunuh.
      Nabi pernah marah pada salah satu gubernurnya,karena dia telah mengzhalimi seorang Yahudi yang mau hidup berdampingan dalam damai dengan kaum muslim.

    • Ema 8:26 pm pada 22 November 2012 Permalink

      Sesungguhnya Allah itu Maha Tau,,, Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada Dr. Muhammad Yahya Waloni,,,,

    • JURTUL 7:50 pm pada 25 November 2012 Permalink

      Hi JURTUL,How are you? Fine Tq

      Kami Bukan menyembah sesama Manusia tetapi Menyembah SATU (esa) Tuhan. Yesus Namanya.

      Siapa Yang memeberi nama Yesus, Yesus itu Tuhan, Yesus itu anak Allah.

      1. Namam Yesus.

      Lukas 1: 26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, 27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. 28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” 29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. 30 Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia YESUS.

      2. YESUS TUHAN
      Lukas 1: 9 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. 10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:
      11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, TUHAN, di kota Daud.

      3. YESUS ANAK ALLAH.
      Lukas 2: 21 Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit 22 dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah ANAK-KU yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

      Berdasarkan surat Injil, yang ditulis Lukas, Murid Yesus, saksi Hidup. Orang Kristen Mengatakan, seperti di surat tersebut, BUKAN karangan.

    • theo 12:49 pm pada 26 November 2012 Permalink

      syalom saudara..

      Debat yang seperti ini tidak ada titik temunya.
      percaya ga percaya debat ini akan menimbulkan perselisihan satu sama lain.

      seseorang percaya pada Tuhan Yesus hanyalah anugerah.

    • jurtul 1:47 pm pada 26 November 2012 Permalink

      INI CERITA DONGENG ARAB MU
      Yang disalib dan kalian sembah itu adalah “Judas” sahabat tuhan kalian “nabi Isa” yang telah berkhianat kepada nabi Isa dan tuhan kami “ALLAH” melaknat “JUDAS” dan mengutuknya menjadi berwajah mirip seperti nabi Isa sehingga bangsa yahudi menyalib “JUDAS” karena mereka mengira itu adalah nabi Isa/yesus kalian.

      LANJUTANNYA.
      وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ (Qs Al-i ‘Imran 3:54) Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan ALLAH SEAIK-BAIKNYA PEMBAAS TIPU DAYA .
      <<< JUDAS MAIN TIPU2 AN SAMA ALLAH << Yang mencipta menipu yang dicipta ??<> AKHIR AJALMU<> LIHAT DISINI DISEBUT ISA SAMPAI AKHIR AJALNYA alias MATI << yang benar mana bung<<> bismillahirohmanirohim << tolong jelaskan hubungan surat2 diatas mengenai Isa itu, yang benar yang mana.

    • eben 11:33 pm pada 27 November 2012 Permalink

      jurtul…..
      kalau kamu memang ingin kebenaran…. perbaiki dulu hatimu……
      dan niatkan di hatimu untuk mencari kebenaran… setelah kamu dapatkan kebenaran ikuti itu…. jangan kamu sangkal…
      sebab kamu tidak akan dapat memahami ayat al quran dengan hati yang menolak kebenaran…..

    • bengkelmobiljakartatimur 8:54 am pada 6 Desember 2012 Permalink

      Bung eben
      Kebenaran itu adalah, Yesus itu hidup di Sorga sampai selama lamanya, karena Dia Tuhan
      dan hanya Dia yang berani memberikan KEPASTIAN manusia bisa masuk sorgaNya.

      Bukan sorga yang dijanjikan Nabi. M, melalui Qs nya, yang masih berisi kehidupan duniawi seperti SEX, dan makan minum.

    • JURTUL 9:19 am pada 6 Desember 2012 Permalink

      Bung Eben,
      “” kalau kamu memang ingin kebenaran…. perbaiki dulu hatimu……
      dan niatkan di hatimu untuk mencari kebenaran… setelah kamu dapatkan kebenaran ikuti itu…. jangan kamu sangkal… “”

      Ya……….. inilah kebenaran itu.

      Yohanes 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan KEBENARAN<<.

    • eben 8:18 pm pada 7 Desember 2012 Permalink

      @ bengkelmobiljakartatimur : dimana Qs yang mengatakan kalau Nabi . M mengajarkan sex dan makan minum,

      kalau sex sebenarnya ini bunyinya :
      “Tetapi orang tahu anak-anaknya nanti tidak akan menjadi miliknya. Jadi setiap kali ia bersetubuh dengan janda abangnya itu, dibiarkan maninya ditumpahkan di luar, supaya abangnya tidak akan mendapat keturunan.” (Kejadian 38: 9)

      Aku punya adik wanita yang kecil buah dadanya.” (Kidung 8: 8)

      masa sih ada orang yang mempermasalahkan buah dada adiknya yang kecil… sampai2 ada di kitab suci lagi….

      Hai @jurtul :
      kalau ayat yang ini bagaimana???

      Yohanes pasal 10 ayat 30, menerangkan bahwa Allah dan Yesus (Isa) bersatu, yaitu, “Aku dan Bapa adalah satu.” Sedangkan, pada Matius pasal 27 ayat 46 menjelaskan bahwa Yesus dan Allah berpisah, yaitu, “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” ‘Artinya, “Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”

      Roma 3:7
      Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa

      sebenarnya siapa yang tuhan?? Tuan Yesus atau???

      dan roma 3:7 itu apa ya?? itu maksudnya apa ya?? tolong bantu dong.. sebab kalau aku yang menterjemahkan ya seperti ini…. ” masak sih untuk membangun kerajaan Allah dengan berdusta di bilang pendosa.. padahal kan walaupun berdusta tetap untuk membangun kerajaan Allah”
      wah berarti berdusta boleh dong.. :)

      bengkelmobiljakartatimur dan jurtul : maaf ya… silahkan dikoreksi bila saya salah…..

    • Baehaqi 11:53 pm pada 7 Desember 2012 Permalink

      Hendklh kalian mjd mnusia mulia bkn mjd domba-domba yesus.
      Krn domba adlh binatang yg tdk mempunyai akal fikirn sprti manusia,mk lebih baik and brwjud binatang dr pd brwujud mnusia.

    • agus 12:56 am pada 9 Desember 2012 Permalink

      kepada sdr. jurtul
      sebaiknya anda coba dengarkan ceramah bpk. M.yahya beliau lebih hapal bible luar kepala beliau adalah mantan pendeta, dan beliau mengakui semua kebohongan nasrani, saya bener-2 terpukau setelah mendengar beliau. silahkan anda searching di google tentang pidato beliau atau anda bisa membeli buku yg beliau terbitkan.

    • lgsial 12:33 pm pada 16 Desember 2012 Permalink

      gak ada hukum bunuh murtad di Quran, tapi ada di injil , silahkan baca Deuteronomy 13:6-9 , Deuteronomy 13:12-17 , 2 Chronicles 15:13, Luke 19:27

    • Lily Fauziah A.Q Shofa 11:09 am pada 17 Desember 2012 Permalink

      Untuk penulisnya mohon diperbaiki nama yg menuntun Bapak Yahya W masuk islam, nama beliau bukan komarudin sofa tetapi A.Qomarun Shofa. Terima kasih

    • iye' 2:42 pm pada 26 Desember 2012 Permalink

      Telah menceritakan kepada kami Bisyr, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yaziid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid, dari Qataadah tentang firman-Nya : ‘Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar’ (QS. Al-Israa’ : 33), ia berkata : “Kami tidak mengetahui darah seorang muslim dihalalkan kecuali dengan satu di antara tiga sebab : seorang yang membunuh secara sengaja, maka wajib baginya ditegakkan qishaash; atau orang yang telah menikah yang berzina, maka baginya hukum rajam; dan kafir setelah Islamnya, maka baginya hukum bunuh” [Tafsiir Ath-Thabariy, 17/439; shahih].

      “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar” [QS. Al-Maaidah : 33].

    • ANAK JAIL 12:13 am pada 17 Januari 2013 Permalink

      >> lgsial , baca itu tulisan si iye, kalian sama 2 muslim saling silang pendepat. gimana sih.

      >> Apa Ya definisi Penyembah Berhala, Karena kelihatannya Muslim memberhalakan Kaabah
      >> Apa Ya definisi Penjajah, Kelihatannya Muslim menjajah total kebebasan Jemaatnya.

      karena jemaatnya harus mengikuti bahasa, Tulisan, budaya dan penampilan rakyat asal agama itu. tidak seperti agama non muslim yang masih tetap mempertahankan budayanya walaupun ajaran agamanya import dari negeri lain.

    • ANAK JAIL 11:17 am pada 17 Januari 2013 Permalink

      lgsial >>gak ada hukum bunuh murtad di Quran

      ni Ayatnya.
      QS 2:191. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah[117] itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka BUNUHLAH mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.

      QS 2: 54. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan BUNUHLAH DIRIMU[49]. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka ALLAH AKAN MENERIMA TAUBATMU. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
      (ALLAH MUSLIM MENRIMA TAUBAT ORANG YANG BUNUH DIRI ????

      QS 9: 5. Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu[630], maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan[631]. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.

      Iqsial >> PERNAH BACA AYAT DIATAS BELUM, BEARTI KAMU BLUM KATAM.

    • TUKANG JEWER ANAK JAIL 7:00 am pada 19 Januari 2013 Permalink

      ini sambungan ayat diatas……kalo nampilin ayat jangan sepotong2… jangan ntar ane lagi potong kepala ayam…ente bilang ane lagi potong kepala ma orang2 lain wkwkwkkw

      Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.

      At-Taubah:7
      Tweet

      Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidilharaam [632]? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

      At-Taubah:8
      Tweet

      Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menepati perjanjian).

      At-Taubah:9
      Tweet

      Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu .( INI YANG BARU ANDA LAKUKAN BRO….SEMUA TINGKAH LAKU “GEMBALA” SUDAH TERSIRAT DALAM ALQUR’AN )<<<<<<BRO ANAK JAIL WAJIB BACA DAN PAHAMI INI.

      At-Taubah:10
      Tweet

      Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mu`min dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

      =AYAt diatas menceritakan tentang perjanjian damai antara kaum muslimin dengan kaum musryikin saat penaklukan mekkah, yang dimana sebenarnya kaum muslimin sudah diatas angin tapi rasullullah SAW lebih memilih menaklukan makkah dengan jalan damai. tapi intinya adalah BERSIKAPA LEMBUT KEPADA YANG LEMBUT ,DAN BERSIKAP KERAS PADA YG HARUS DIKERASI. DAN KAREna pada saat itu masih dalam suasana perang bahwa diwajibkan bersikap hati2 dan keras kepada musuh dalam selimut………andaikata dipakai tampar pipi kiri beri pipi kanan ,pastilah arab dah dijajah romawi.

    • TUKANG JEWER ANAK JAIL 7:22 am pada 19 Januari 2013 Permalink

      JURTUL DAN ANAK JAIL ,,,,mengunakan ayat alquran sepotong2. sia2 bro ayat alquran terjaga kemurnian nya,,,,,karana ada jutaan para hafizz yang mampu mengahapal alquran diluar kepala.itulah sebabnya alquran terjaga keaslian dan kemurniaanya. Rasulullah SAW memelihara Alquran dengan menghafalkan setiap ayat yang diwahyukan kepadanya.

      Bahkan, Allah SWT telah menjamin terpeliharanya hafalan Nabi SAW terhadap ayat-ayat Alquran. “Janganlah kamu menggerakan lidahmu untuk (membaca] Alquran karena hendak cepat-cepat menguasainya, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. (QS Al-Qiyamah 16-17]


      http://www.youtube.com/watch?v=VoW97QBCcV8
      BAGAIMANA MUNGKIN KALIAN BISA MENGIMANI FIRMAN TUHAN YANG BISA BERUBAH2, BAGAIMANA MUNGKIN ALKITAB DIKATAKAN KITAB SUCI (MURNI/ASLI) JIKA ISINYA TELAH DIEDIT DAN DIREKAYASA

    • JURI AKHIR 7:30 pm pada 19 Januari 2013 Permalink

      KEMBALI KE TOPIK.

      SESUNGGUHNYA Bp. Dr. YW, inilah yang disebut oleh alkitab ” antikristus “: asli, asli banget.
      jadi dengarkanlah peringatan alkitab ini.

      1 Yohanes 2:18
      Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah ” BANGKIT BANYAK ANTIKRISTUS “. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.

      UNTUK ANAK2 TUHAN, TIDAK ADA GUNANYA KAMU MENGOMENTARI ATAU NIMBRUNG DISINI, khususnya buat jurtul dan anak jail ” jauh lebih baik menyiapkan diri untuk menyambut kedatangannya, jangan sampai kamu didapatNYA bercacat cela. INGAT !!.

      Wahyu 3:11
      Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.

    • ANAK JAIL. 6:39 pm pada 25 Januari 2013 Permalink

      Kriteria sifat dan Karakter MULIA versi muhammad adalah.

      1. Berperang, Membunuh dan Merampas
      2. Poligami, . (punya istri banyak, ngembat anak mantu, dan anak kecil umur 9 thn)
      3. Menjajah lalu membodohi pengikutnya. (mengharuskan pengikutnya memakai tulisan, Bahasa, Budaya yaitu Arab, dan penampilan dirinya, seperti berjenggot. >> minta pengikutnya mendokannya sepanjang hidup ) >> kok pengikut mendoakan yang diikuti << Pembodohan orang Tolol<<

    • coba diingat2 1:05 am pada 28 Januari 2013 Permalink

      coba diingat2 lagi, dicari di berbagai referensi(web/buku/koran)
      org yg sebelumnya muslim pindah ke agama lain, pasti waktu jadi muslim bukan muslim yg taat..(islam KTP atau muslim yg pura2 taat padahal sebenarnya enggak)
      sedangkan utk penganut agama diluar islam yg kemudian pindah jadi muslim..banyak diantaranya berasal dari kalangan yg taat (misal pendeta/pastur atau org biasa yg taat beribadah)
      mereka sdh mendalami ajaran agama sebelumnya lebih dalam..

    • ANAK JAIL. 8:24 pm pada 31 Januari 2013 Permalink

      >> sedangkan utk penganut agama diluar islam yg kemudian pindah jadi muslim..banyak diantaranya berasal dari kalangan yg taat (misal pendeta/pastur atau org biasa yg taat beribadah) <> ” ANTIKRISTUS “

    • Oceania 10:29 pm pada 9 Februari 2013 Permalink

      coba diingat2 lagi, dicari di berbagai referensi(web/buku/koran)
      org yg sebelumnya muslim pindah ke agama lain, pasti waktu jadi muslim bukan muslim yg taat..(islam KTP atau muslim yg pura2 taat padahal sebenarnya enggak)
      sedangkan utk penganut agama diluar islam yg kemudian pindah jadi muslim..banyak diantaranya berasal dari kalangan yg taat (misal pendeta/pastur atau org biasa yg taat beribadah)
      mereka sdh mendalami ajaran agama sebelumnya lebih dalam..

      ———————————————————————————————————————————

      hehe.. saya kebalikan dari yang ada bilang..

      setelah saya tau semua tentang isi alquran dan hadist.. saya malah mulai tinggalkan islam

      ISLAM IBARATKAN = IKUT SETAN LEWAT AJARAN MUHAMMAD

    • miskin tapi kaya 4:33 pm pada 14 Februari 2013 Permalink

      Benar dan betul sekali….setelah saya telaah dan pelajari mendalam…ternyata saya lebih condong mengikuti ajaran Kristus…karena didalam ajaranNya mengajarkan Kasih yg sesungguhNya dr Tuhan Allah yg menyelamatkan saya dan semua umat yg percaya pdNya…Jd pengorbananNya dikayu salib tidaklah sia2…walaupun banyak yg menentang ajaran Kristus bahwa yg mati diatas kayu salib bukanlah Yesus…itu tidak benar!!Padahal banyak saksi2 pd zaman itu yg menyaksikan penyaliban Yesus…

    • biji sesawi 7:41 pm pada 7 Maret 2013 Permalink

      => Oceania … Selamat anda sudah mendorong diri anda pada jalan kehidupan yang kekal
      => miskin tp kaya .. JBU … injil selalu mengajarkan cinta dan kasih

    • yesus islam 7:52 pm pada 21 Maret 2013 Permalink

      yg ajaib banget dari Yesus apa sampe dia jadi Tuhan? Karena Yesus lahir tanpa

      ayah?? Masih lebih ajaib Adam yg lahir tanpa ayah dan ibu. Harusnya Adam jd

      Tuhan juga dong. Karena bisa nyembuhin penyakit, bangkitin orang mati, dll?

      Musa bisa belah laut, tongkat kayu bisa dia ubah jadi uler, Sulaiman bahkan

      bisa ngomong sama semut?? Artinya adalah Yesus sama mulia dengan semua nabi2

      mulia yg ajaib lainnya, tapi tidak sebagai Tuhan

    • All Pilowo 11:33 pm pada 29 Maret 2013 Permalink

      Yg pertama: klo memang Yesus yg menurut kristen itu Tuhan, knapa di dlm Injil mulai dri perjanjian lama sampai perjanjian baru, yesus tdk tahu Kiamat datang? Kenapa ya? Padahal yg membuat Kiamat itu dia klo dia Tuhan?
      Yg ke dua: Sayangnya orang kristen itu tdk konsisten, krn menganggap yesus itu tuhan krn ada proses kelahirannya tdk berayah. Seharusnya setiap anak yg lahir tdk berayah sekarag ini tuhan juga itu.
      Yg ke tiga: Jika memang yesus itu tuhan sebagai sang maha kuasa dn pencabut nyawa. Suru yesus mencabut nyawa ku sekarang agr membuktikan kebenarannya jika dia tuhan.
      Yg ke empat:
      silahkan pelajari isi Injil perjanjian lama dn perjanjian baru yg sudh direvisi olh tangan2 manusia itu, yesus tdk mengklaim dirinya sebagai tuhan.
      Dn yg ke lima: unsur Trinitas tdk ada dlm Injil. Dn secara ilmiah yesus BUKAN TUHAN tetapi dia Nabi dn Rasul Allah, yg kemudian di Daulat olh Paulus biadap menjadi Tuhan dn itu terjadi sekitar thn 352 masehi.
      QULHUALLAU AHAD. Tuhan hanya Dia satu2Nya (ALLAH SWT).

    • All Pilowo 7:34 am pada 30 Maret 2013 Permalink

      Assalamu’alaikum,,,
      Jika berbicara menyangkut ketuhanan yesuahamasia/yesus, menurut sya tdk Ilmiah dlm segi pandang apa saja. Kenapa? Krn sya juga mantan kristen.
      Sya bkn pendeta, tpi sya belajar alkitab mulai dri usia 9 thn. Dn akhirnya usia 20 thn Iman sya di kristen mulai terobrak-abrik olh theologia sinting!
      Maaf bukan menyinggung tapi itu Fakta yg sya temukan dlm kitab kristen.

      Dlm kitap perjanjian lama sampai perjanjian baru, coba kalian buka satu/satu. Yesus yg menurut umat kristen itu tuhan tpi menurut ummat islam dia Nabi dn Rasul Allah. Dari sinilah sudut pandang permasalahan kita.
      Saya tdk pernah menjumpai satu ayatpun dlm alkitab bhwa yesus mengklaem dirinya tuhan. Dn klo memang dirinya tuhan, kenapa dia tdk tw kapan hari Kiamat terjadi? Padahal katanya dia tuhan.
      Sebenarnya iman kristen olh Paulus yg mendaulat yesus itu tuhan terjadi sekitar 352 masehi, dn sebelum di daulat olh paulus, yesus blm menjadi tuhan. Tdk ilmiah.
      Yg berikut, apa makna dri YESUS? YESUS adlh YERUSSALEEM, itu kepanjangannya. Krn yesus di angkat menjadi tuhan itu di yerussalem/israel. Ini juga tdk ilmiah.
      Sebenarnya orang kristen itu tdk konsisten terhadap tuhan mereka, kenapa? Yesus terlahir krn tdk mempunyai ayah, klo memang dia tuhan kenapa dia lahir ke dunia harus minjam di rahim manusia? Itukah tuhan?
      Dn seharusnya setiap anak yg lahir tdk mempunyai ayah, itu jga tuhan. Knapa? Ya krn yesus tdk punya ayah. Ini juga tdk ilmiah. Coba orang kristen ambil alkitab sebanyak 10, dn Alqur’an sebanyak 10 trus bandingkan mana yg masih tetap asli dn mana yg sdh di ganti ayat2 tuhan? Pasti Alqur’an unggul dimana-mana. Krn ALQUR’AN adlh kitap literatur tertinggi yg msih mempertahankan kemurniannya. So, yesus itu adlh Isa as. Nabi dn Rasul Allah yg kita yakini selamanya.

      Wassalamu’alaikum…..

    • All Pilowo 7:56 am pada 30 Maret 2013 Permalink

      Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu..
      Hai orang2 KRISTEN/NASRANI… Pendeta2 kalian telah membodohi kalian. Mereka telah menyimpan kebenaran ats kalian yg goblok2. Akhirnya kalian tetap dn tetap menerima kebodohan secara ilmiah dlm kitab2 kalian itu. Tuhan itu Esa, tdk ada ayah, tdk ada anak, dn tdk di peranakkan. Tdk terlahirkan, tdk mati, dn apalagi disalib. Semua isi alkitab kalian telah dipalsukan olh tokoh2 terdahulu. Jika memang bhs alkitab itu bhs tuhan, knpa ada kontraversi di dlm alkitab? Apakh tuhan sdh kehabisan cara untk mengajak manusia agar menyembahnya kok boro2 dia dtang ke dunia sebagai wujud manusia dn mw menerima dosa manusia yg kendati tdk cebok di tumplakan padanya, kemudian rela mati demi hambanya di kayu salib?
      Dimana akal sehat kalian? Kalian telah ditipu olh Paulus biadap.

      “Do’a ku”,,, Ya Allah yg Maha Pengampun dn Maha Pemberi Hidayah, berikanlah hidayahMu pada saudara2 ku yg kristen agr mereka kembali ke jalanMu. Sesungguhnya akal mereka telah tertutup olh kebodohan kitab2 mereka yg bukan KitabMu lagi. Tpi klo bole jgn semua KAU berikan HidayahMu. Sisakan sedikit buat Kau campakkan mereka ke dlm NerakaMu ya Rabbi.. Aamiin ya Rabbal’alamin….

      Wassalamu’alaikum..

    • sendal onta 9:39 pm pada 2 April 2013 Permalink

      semoga allah swt memberi hidayah kepada mereka yang belum tersentuh islam…

    • rose 6:17 pm pada 16 Mei 2013 Permalink

      ikut nimbrung yaa..
      assalamualaikum..

      sbnrnya yg jadi prbedaan trbesar antara kristen dan islam adalah mengenai siapa Yesus. Menurut ajaran Islam Yesus adalah seorang Nabi yang mengajarkan agama Allah. tetapi menurut ajaran kristen, Yesus adlah Tuhan.
      sampai kpnpun tetap tdk akn ada titik temu untuk membahas hal ini.
      tetapi ijinkanlah saya brtanya kepada Anda kaum Kristiani, kenapa Yesus itu Anda Tuhankan?
      1. apakah karena dia melakukan mujizat2?
      nabi musa pun melakukan banyak mujizat saat membawa umat Israel keluar dri Tanah Mesir menuju Kanaan. kenapa bukan dia sja yg dijadikan Tuhan?

      2. apakah karena dia mati dan terangkat ke sorga?
      nabi Elia terangkat ke sorga hidup2 tnpa mengalami kematian menggunakan kereta dari api. kenapa bukan dia yg dijadikan Tuhan?
      3. apakah karena Yesus tidak memiliki Ayah? melkisedek, raja salem tidak memiliki ayah dan ibu. jg tdk mmiliki silsilah. knp bukan dia yg dijadikan Tuhan?

      Mengapa klian meributkan nabi kami yg memiliki 13 istri, tetapi Salomo yg memiliki 700 istri dan 300 gundik tdk kalian prsoalkan?

      saya menghargai setiap pemeluk agama, tetapi keselamatan hanya milik Allah.
      tiada Tuhan selain Allah..
      Allahhu Akbar

    • PATAR 4:53 pm pada 10 Juni 2013 Permalink

      ROSE, ALL PILOWO > pembohong kamu pernah membaca alkitab < saya akan menjawab pertanyaan anda sesuai yang ada tertulis di Alkitab yang saya percayai.

      1.NAMA YESUS.

      Luk 1:31
      Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. (suara Tuhan melalui malikatNya)

      2. YESUS TUHAN

      Luk. 2: 11
      Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, TUHAN, di kota Daud. (suara tuhan melalui malaikatNya

      Yoh 13:13.
      Kamu menyebut Aku Guru dan TUHAN, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan TUHAN. (suara Tuhan Yesus sendiri)

      3. YESUS ANAK ALLAH

      Luk 3:22 (suara Tuhan)
      dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah ANAK-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." (Suara Tuhan )

      Makanya Yesus sering menyebut Bapaku . dan diikuti oleh pengikutnya.
      Dan pengikut Yesus memanggilnya Anak Allah

      4. Nama Bapa

      Yoh. 17 : 11
      Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam NAMA- MU- , yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.

      (hubungkan Luk 1:31 dengan ayat ini)

      5. Kuasa nama Yesus
      Kisah 4:12
      Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."

      Makanya doa Kristen selalu didalam nama Yesus.

      saya harap bisa menjawab pertanyaan anda.

    • PATAR 5:06 pm pada 10 Juni 2013 Permalink

      Bung All Pilowo

      Agama TIDAK pernah bisa menyelamatkan. Buktinya anda sendiri.
      Biar Pindah Agama APApun kamu di muka bumi INI kamu tidak akan pernah Selamat dari Penghakiman di akhirat.

      1. Kamu bilang TIDAK ayat Yesus mengclaim dirinya Tuhan, itu ada diatas kan. < dan saya sudah tau jawabanmu itu Palsu.

      2. Saya Tidak Perduli Agama, karena agama hanya menghasilkan Orang2, Pelanggar Aturan Agama. Mau Islam, Mau Kristen dll, dll.
      disi TERBUKTI hasil produknya. Menjadi Juri dan Hakim kepada AGAMA orang lain.

      3. Bagaikan Seorang Memakai BajU Pemain Bola kelas dunia, berjalan dengan gayanya, padahal nendang bola saja tidak bejus.

      4. Kamu Muslimer, dan Kristener, Pelajari kitab suci mu dengan baik. tidak satu ajaran pun dalam kitab suci itu. mengajarkan Jadilah Juri dan Hakim buat jemaat Agama lain

      5. AGAMAMU, KRISTENER MUSLIMER SUDAH GAGAL TOTAL MENJADIKAN KALIAN BERDUA MENJADI JEMAATNYA. LUCIFER SUDAH TERTAWA MELIHAT KRISTENER DAN MUSLIMER DI BLOK INI, tetapi Nabi dan Tuhan yang kalian sebut Sedih dan mungkin menangis disana, melihat kelakuanmu kristener dan muslimer yang sudah menjadi juri dan hakim kepada agama lain.

      TOBATLAH SOBAT.

    • Nento Luki 8:31 am pada 2 Juli 2013 Permalink

      Kisah pendeta masuk Islam bukanlah cerita baru, sudah sejak awal zaman Nabi sebelum Hijrah Ke Madina. Pendek cerita Kaisar Romawi dan Pendetanya sudah yakin bahwa yang katanya mangaku Nabi itu memang benar-benar Nabi. Pendetanya bersyahadat, kaisarnya tidak mau karena sayang dengan tahtanya. Pendetanya mendapat petunjuk Kaisarnya tidak. Jadi bukan persoalan kebenaran Islam atau tidak, tapi sang pendeta masuk Islam karena ada petenjuk dari Allah swt. Para Ilmuwan non-Muslim mengakui kebenaran Islam, tapi yang mendapat petunjuk bersyahadat dan yang tidak, tetap pada agamanya bahkan memusuhi Islam.
      Tidak perlu ngotot dengan perdebatan, hanya akan berahir dengan kebencian sesama manusia, yang tidak lain adalah makhluk Allah swt juga. “Faminkum kafiru wa minkun mu’min”. Mu’min dan kafir sama sama punya hak numpang di bumi Allah swt.
      Tks was.

    • Kristen adlh agama ku & TUHAN adlh kepercayaan ku 1:43 pm pada 14 Februari 2014 Permalink

      Knp manusia di dunia ini saling bertentangan soal agama?
      Seharus nya kita itu sadar trhadap diri kita sndri,jgn memandang agama org lain.baik kristen maupun islam,dll.
      Yg sebenar & sesunguh sungguh nya kita ini manusia yg di ciptakan oleh satu TUHAN . Mengapa kita slalu meremehkn TUHAN nya islam & kristen..
      Sadar lah dgn ucapan2 kasar mu tentang TUHAN.sgeralah minta ampun kpd nya atas ketidak percayaan mu.
      Kita ini manusia yg di ciptakan dari tanah & debu,jika kita mati nanti maka kita akan kembali lg menjadi debu.yg menciptakan kita adlh SATU yaitu TUHAN ALLAH YG MAHA KUASA.
      Tidak ada yg nama nya di dunia ini TUHAN nya islam & kristen itu beda. TUHAN itu hanya SATU.
      Yg membedakan kita adlh cara penyembahan kita & kpda siapa kita percaya. Jgn saling menghakimi tentang agama.

  • erva kurniawan 1:21 am pada 8 June 2012 Permalink | Balas  

    Belajar dari Semut

    Mengikuti jejak K.H. Zainuddin MZ yang tenar sebagai da’i sejuta umat, Aa Gym da’i “sejuta hati”, atau ustad Arifin Ilham yang identik dengan majelis zikir, nama Yusuf Mansur belakangan beken sebagai da’i penganjur sedekah.

    Dalam setiap tausiyahnya, penulis 30-an buku ini selalu mendengungkan kekuatan sedekah. Tema sedekah – dihubungkan dengan pemberdayaan ekonomi umat – tampak mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Penceramah jebolan IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat (“Ane enggak punya ijazah, brenti waktu nyusun skripsi,” katanya buka kartu dalam logat Betawi kental) ini pun laris bak kacang goreng.

    “Bulan ini (Agustus 2006 – Red.), enggak ada hari tanpa tausiyah. Satu hari bisa lima sampai enam tempat,” aku seorang stafnya.

    Yusuf kian identik dengan sedekah, setelah bareng rumah produksi Sinemart menggagas sinetron Maha Kasih. Sinetron yang ditayangkan sebuah stasiun teve swasta itu diangkat berdasarkan kisah nyata dan sarat pesan hikmah sedekah.

    Yusuf juga pernah menjadi Duta Dompet Dhuafa dan Duta Bank Muamalat. Tahun 1999 – 2000, Yusuf bahkan aktif di Majelis Syifa, yang mempraktikkan terapi sedekah untuk penyembuhan penyakit fisik. Ceramah Yusuf terasa hidup, karena bapak dari dua orang anak ini selalu menyelipkan kisah nyata.

    Sekali waktu, ia berkisah tentang seorang buruh yang bersedekah Rp 5.000,- di sebuah acara tausiyah. Eh, begitu sampai di rumah, ada orang kaya numpang buang hajat di kamar mandinya. Setelah berhajat, musafir tadi menyerahkan Rp 50 ribu buat “jajan” anak si empunya rumah. “Pak ustad, sedekah saya dibalas 10 kali lipat hari itu juga,” tutur sang buruh berkaca-kaca.

    Yusuf juga fasih bertutur tentang kesaksian seorang office boy yang menyetor seluruh gaji pertamanya untuk ibunda tercinta. Esoknya, ia diganjar balasan setimpal, tak lebih tak kurang, Rp 600.000,-. Duit pengganti gaji itu didapatnya sebagai komisi jerih payah membantu menjualkan motor seorang teman. Setelah itu, selalu saja ada rezeki yang masuk ke kantung si office boy. Total jenderal di akhir bulan istimewa itu, ia “gajian” sampai Rp 5 juta – Rp 6 juta.

    Kesaksian orang-orang yang pernah terbantu oleh sedekah itu ikut membentuk keyakinan Yusuf, bahwa kekuatan sedekah tidak main-main. Apalagi ia juga punya kisah sendiri. Akhir 1990-an, selama beberapa bulan, Yusuf sempat merasakan pahitnya tinggal di rumah tahanan. Ia terbelit utang.

    “Pinjaman usaha yang mulanya sedikit, karena kebodohan saya, berbunga dan membengkak jadi lebih dari satu miliar. Orang Betawi bilang, bukan lagi gali lubang tutup lubang, tapi gali lubang tutup empang,” ujar pemilik blog beradres wisatahati.multiply.com ini menerawang.

    Saat dibekap kesulitan itulah, ia mengalami dua pengalaman luar biasa. “Di tahanan suatu kali saya merasa sangat lapar. Enggak ada makanan. Yang ada cuma sedikit sisa roti, saya simpan di bawah bantal. Tapi begitu roti mau saya makan, tampak semut berbaris di tembok sampai lantai. Saya merasakan itu sebagai pertanda alam, lalu teringat hadis, yang artinya kira-kira, Allah akan membantu hambanya, selama hamba itu mau membantu yang lain.”

    Tanpa pikir panjang, Yusuf menyerahkan sejumput roti itu pada gerombolan semut. Entah mengapa, ia begitu ingin bersedekah saat itu. “Lima menit kemudian, seorang sipir datang bertanya, ‘Suf, udah makan apa belum?’ Setengah percaya, saya menggelengkan kepala. Alhamdulillah, dalam hati saya tak putus-putusnya mengucap syukur,” imbuh Yusuf.

    ***

    Dari Sahabat

    t-wei� 9 o0� �� ter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; -webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: rgb(255, 255, 255); “>selalu saja ada rezeki yang masuk ke kantung si office boy. Total jenderal di
    akhir bulan istimewa itu, ia “gajian” sampai Rp 5 juta – Rp 6 juta.
    Kesaksian orang-orang yang pernah terbantu oleh sedekah itu ikut membentuk
    keyakinan Yusuf, bahwa kekuatan sedekah tidak main-main. Apalagi ia juga punya
    setori sendiri. Akhir 1990-an, selama beberapa bulan, Yusuf sempat merasakan
    pahitnya tinggal di rumah tahanan. Ia terbelit utang. “Pinjaman usaha yang
    mulanya sedikit, karena kebodohan saya, berbunga dan membengkak jadi lebih dari
    satu miliar. Orang Betawi bilang, bukan lagi gali lubang tutup lubang, tapi gali
    lubang tutup empang,” ujar pemilik blog beradres wisatahati.multiply.com ini
    menerawang.
    Saat dibekap kesulitan itulah, ia mengalami dua pengalaman luar biasa. “Di
    tahanan suatu kali saya merasa sangat lapar. Enggak ada makanan. Yang ada cuma
    sedikit sisa roti, saya simpan di bawah bantal. Tapi begitu roti mau saya makan,
    tampak semut berbaris di tembok sampai lantai. Saya merasakan itu sebagai
    pertanda alam, lalu teringat hadis, yang artinya kira-kira, Allah akan membantu
    hambanya, selama hamba itu mau membantu yang lain.”
    Tanpa pikir panjang, Yusuf menyerahkan sejumput roti itu pada gerombolan semut.
    Entah mengapa, ia begitu ingin bersedekah saat itu. “Lima menit kemudian,
    seorang sipir datang bertanya, ‘Suf, udah makan apa belum?’ Setengah percaya,
    saya menggelengkan kepala. Alhamdulillah, dalam hati saya tak putus-putusnya
    mengucap syukur,” imbuh Yusuf.

     
  • erva kurniawan 1:42 am pada 3 June 2012 Permalink | Balas  

    Beratnya Memakai Kerudung

    Firman Allah SWT: “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung” (QS. An-Nur/24:31)

    Pada masa remaja dan saat menjadi seorang pria dewasa muda, yang “jauh” dari Allah, saya suka berbuat iseng, mengganggu, dan meledek teman-teman saya yang memakai kerudung. Pada saat itu masih sangat sedikit wanita yang menggunakan kerudung dalam kehidupan sehari-hari. Ketika itu, wanita yang menggunakan kerudung dipandang sebagai orang-orang yang ikut aliran tertentu.

    Pada saat kehidupan saya mulai “dekat” dengan Allah, saya baru menyadari betapa jahiliyah-nya saya ketika itu. Saya baru sadar, bahwa ternyata berkerudung bagi wanita merupakan kewajiban yang tercantum dalam Al Qur’an. Jadi berkerudung (menutup aurat) bagi wanita sama wajibnya seperti perintah sholat, puasa, dan ibadah lainnya.

    Ketika saya mendekatkan diri dengan Allah dan berjuang menjauhi semua maksiat yang pernah saya lakukan, saya benar-benar meniatkan diri untuk menjadi Muslim yang “kaffah”. Setelah saya naik haji tahun 1995, dan mendapatkan pengarahan dari “guru” saya, saya meniatkan untuk meninggalkan bank konvensional tempat saya bekerja hingga terwujud 4 tahun kemudian (tahun 1999) untuk resign dari bank konvensional tersebut. Demikian pula saya ingin penampilan isteri saya berubah dari memakai pakaian “konvensional” menjadi memakai pakaian yang “syariah”. Namun ternyata tidak mudah untuk mewujudkan hal tersebut. Isteri saya yang sudah terbiasa memakai pakaian “konvensional” dan lingkungan serta keluarganya yang juga terbiasa memakai pakaian “konvensional” sejak dia kecil hingga menjadi isteri saya, membutuhkan perjuangan yang berat dan panjang hingga benar-benar mantap memakai pakaian yang “syariah”.

    Isteri saya baru siap berpakaian “syariah” dengan kerudung di kepala setelah 6 tahun pulang dari “tanah suci”. Isteri saya pergi ke “Makkah” pada tahun 1997 bersama saya yang masih bekerja di bank “konvensional” saat itu. Pulang dari “Mekkah”, isteri saya masih belum “siap” untuk memakai pakaian lengkap dengan kerudungnya. Dia baru mampu menggunakan pakaian yang cukup “tertutup”. Berbagai alasan yang “menguatkan” isteri saya untuk tidak siap berkerudung. Hal utama yang “menguatkan” untuk tidak berkerudung adalah rasa “percaya diri” (PD) yang rendah untuk memakai kerudung. Dia merasa wajahnya tidak pas untuk bekerudung. Ada saja rasa “kurang” setiap kali memakai kerudung. Padahal di mata saya, isteri saya tambah cantik saat memakai kerudung. Namun dia tetap tidak “PD” berkerudung. Namun akhirnya setelah dengan niat yang “mantap” di hati isteri saya, dia berhasil pada kuartal ketiga 2003 memakai kerudung sebagai bagian dari pakaiannya sehari-hari hingga hari ini.

    Alasan tidak “PD” untuk berkerudung bukan hanya menimpa isteri saya saja, tetapi juga kakak perempuan saya satu-satunya, serta isteri-isteri saudara-saudara laki-laki saya. Namun, alhamdulillah, setelah mereka berniat dengan “mantap” dengan dorongan suami-suami mereka, akhirnya saat ini mereka telah menggunakan kerudung. Saya sangat bahagia melihat photo keluarga besar saya yang lengkap pada “Idul Fitri” tahun lalu (1428 H), semua wanita dewasa memakai kerudung dalam photo tersebut. Photo itu adalah photo keluarga terakhir yang lengkap bersama “Ibunda” kami (3 bulan setelah itu Ibunda berpulang ke rahmatullah). Photo tersebut sangat berbeda dengan photo keluarga kami pada tahun 2002 yang hampir semua wanitanya tidak menggunakan kerudung.

    Di sisi lain, banyak pula wanita yang sudah punya kesadaran penuh untuk berkerudung, namun banyak tantangan yang harus mereka hadapi untuk dapat menggunakan kerudung dalam kehidupan sehari-hari. Betapa banyak wanita yang ingin berkerudung tetapi mempunyai kendala karena tempat kerjanya yang tidak dapat “menerima” pegawai yang berkerudung. Mereka benar-benar merindukan lingkungan yang dapat menerima mereka berkerudung secara “utuh”.

    Pengalaman isteri dan saudara-saudara saya yang “berat” untuk menggunakan kerudung baik karena tidak “PD” maupun lingkungan yang “tidak mendukung”, membuat saya sedih setiap melihat adanya pegawai “lembaga syariah” yang hanya berkerudung pada hari dan jam kerja saja. Menurut pendapat saya pribadi, sungguh sangat sayang jika 5 hari dalam sepekan dan 10 jam dalam hari-hari tersebut menggunakan kerudung karena “tuntutan” pekerjaan. Dan membuka kerudung di depan umum pada 2 hari lain dalam satu pekan. Betapa sayangnya kesempatan yang dimiliki untuk dapat mematuhi perintah Allah terbuang sia-sia. Mengapa masih ada pegawai “lembaga syariah” tidak mampu menggunakan kerudung hanya 2 hari sepekan dan beberapa jam di hari-hari lain, padahal lingkungan sudah mendukung. Mengapa mereka lebih “takut” pada peraturan perusahaan yang “mewajibkan” mereka berkerudung saat bekerja, dibandingkan takut dengan “perintah” Allah untuk menutup “aurat” dengan berkerudung setiap saat…….?????

    Entahlah, mungkin saya yang terlalu hipokrit karena dahulu hidup saya jauh dari “Allah”. Sehingga ketika kehidupan saya mendekat kepada “Allah”, saya merasa sangat sayang jika ada orang-orang yang punya kesempatan dekat dengan Allah, tetapi tidak mengikuti perintah Allah secara “kaffah”.

    Wallahualam bishowab

    ***

    Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)

     

     
  • erva kurniawan 1:22 am pada 31 May 2012 Permalink | Balas  

    Menjemput Surga

    Wito namanya. Ia seorang yatim. Ayahnya meninggal saat ia masih di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Sedih tentu. Tapi, ia dan keluarga bukan tipe manusia yang gampang patah. Ibunya pekerja keras, biasa membantu keluarga tetangga memasak untuk hajatan. Wito kecil itu juga seorang ulet. Ia bekerja keras membantu siapa pun sambil bersekolah. Lulus SMA swasta di kampungnya, ia hijrah ke Jakarta untuk ‘ikut orang’. Ia bukan saja andalan keluarga yang diikutinya untuk tugas-tugas domestik, namun juga andalan masjid untuk menjaga kebersihan. Masih sempat pula ia kuliah. Meskipun dengan tertatih-tatih, ia mampu merampungkan kuliahnya. Sebuah bekal untuk memperoleh pekerjaan di sebuah kantor di Solo.

    Di kantor itu, ia pekerja andalan. Ia sanggup mengerjakan tugas apa pun tanpa pilih-pilih. Kepala Bagian Umum menjadi tempat yang pas baginya, sampai kemudian perusahaan itu bangkrut. Ia harus kehilangan pekerjaan, saat sudah harus menanggung beban keluarga dengan satu anak. Limbung? Wito bukan seorang yang suka memikirkan nasib. Apalagi, meratapi dan mengasihani diri sendiri sebagaimana jutaan manusia lain. Ia memilih berbuat dan berbuat. Ia tahu persis bahwa perbuatanlah, dalam istilah agama adalah amal, yang akan dinilai di Hari Akhir nanti. Bukan pikiran, apalagi ratapan. Mushala kecil di sekitarnya ia rawat dengan baik. Anak-anak di sekitar itu diajarinya mengaji, tanpa bayaran sama sekali. Untuk penghidupannya sendiri, ia menyewa becak dari tetangganya. Tanpa ragu dan malu sama sekali serta tanpa mempersoalkan bahwa dirinya sarjana, ia menarik becak itu. Sebuah becak yang kemudian menjadi miliknya.

    Sang istri semestinya bisa membantunya. Tapi, kondisi fisik istrinya ternyata sangat lemah. Apalagi, saat istrinya hamil. Dengan riang hati, Wito menyampaikan pada istrinya untuk berhati-hati dan menjaga kesehatannya sendiri. Seluruh urusan pekerjaan rumah ia tangani sendiri pula. Seusai jamaah Subuh di mushala, ia akan masak untuk keluarga, mencuci pakaian, serta menyapu rumah dan halaman sekitar. Lalu, ia mandi dan menarik becak hingga sekitar pukul 10 pagi. Saat itulah ia akan membelokkan becaknya ke pasar untuk berbelanja kelapa.

    Dengan tangannya sendiri, ia membuat gerobak untuk berjualan es kelapa di dekat rumahnya. Sendiri ia berjualan es kelapa. Dengan harga murah, tempatnya menjadi pilihan para pengendara motor untuk istirahat sejenak, menghapus dahaga. Malam hari, setelah mengajar mengaji, ia sempatkan diri untuk mengikuti kursus pijat terapi. Ia terus perdalam sampai menjadi pemijat mahir. Jam berapa pun diminta untuk memijat, ia akan berangkat tanpa pernah mau menetapkan ongkosnya. Berapa pun yang ia dapatkan, akan ia syukuri.

    Menarik becak, jualan es kelapa, hingga menjadi pemijat menjadi ladang rezeki yang terus ditekuninya dengan riang. Hasilnya, di antara banyak teman seangkatannya, kehidupannya relatif berkah. Ia punya rumah dengan tanah hampir seluas 300 meter di tepi salah satu jalan penting di Kota Solo. Ia dapat menyekolahkan anaknya ke sekolah yang bagus, yang oleh kalangan kebanyakan sudah dipandang elite. Lebih dari itu, praktis shalat lima waktunya terjaga untuk selalu berjamaah. Hal yang sekarang semakin sulit dijaga oleh kita yang kadang merasa menjaga agama sekalipun.

    Di tengah jutaan para sarjana yang lebih banyak hilir mudik mencari pekerjaan; di tengah jutaan pegawai negeri ataupun swasta yang kegembiraan utamanya memperoleh komisi; di tengah banyak pebisnis besar yang sebenarnya cuma calo; di tengah banyak orang-orang terhormat yang seolah bekerja untuk rakyat, tapi kesibukan utamanya mencari jalan untuk ‘mencuri’ uang rakyat; Wito sungguh penjemput surga yang efektif. Ia seorang yang riang untuk selalu berbuat dan berbuat.

    Hanya sesekali ia tampak sedih, dengan alasan yang istimewa. Di antaranya, setelah pemerintah menaikkan harga BBM secara mendadak. Tanpa bertahap. Setelah kenaikan harga BBM itu, ia sebagaimana ratusan ribu pedagang kecil lainnya harus berhenti berdagang. Harga jual es-nya tak lagi cukup untuk membeli kelapa di pasar. Ketika ia mencoba menaikkan sedikit harga itu, orang-orang tak lagi mampu membeli. Maka, ia pun menutup usaha. “Kasihan, pelanggan saya tak kuat lagi membeli,” katanya. Ia, sekali lagi, lebih mengasihani orang lain ketimbang diri sendiri.

    Adakah di antara kita yang lebih dekat ke jalan surga ketimbang Wito? Adakah jalan untuk menjadikan seluruh bangsa ini menjadi pribadi-pribadi penjemput surga? Yakni, pribadi yang tak punya rasa sakit hati, kecewa, apalagi putus atas. Juga pribadi yang tidak malas, namun justru antusias untuk terus berbuat dan berbuat.

    “Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, paling sering beramar ma’ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan silaturahmi.” (Muhammad SAW).

    ***

    Oleh: Zaim Uchrowi

     
  • erva kurniawan 1:50 am pada 17 May 2012 Permalink | Balas  

    Kunjungan BJ Habibie ke Kantor Manajemen Garuda Indonesia

    Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta, 12 Januari 2012

    Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo.

    Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

    Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

    Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

    Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

    Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

    Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

    N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan………………

    Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

    “Dik, anda tahu…………..saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan……………..“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, …….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur………Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.

    Sekarang Dik,…………anda semua lihat sendiri…………..N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’

    Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

    Dik tahu…………….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia………….

    Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….

    Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?

    Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.

    Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

    Pak Habibie menghela nafas…………………..

    Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

    Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

    Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama……………..

    N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu………bahkan hingga kini.

    Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

    ***

    Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya………………..

    “Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

    “Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD? Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

    Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

    “Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik………….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………”

    Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ………………………

    “Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”

    Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam………………………..seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

    Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan……………………

    “Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah.

    Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

    Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

    1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!

    2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus……………

    3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

    Saya pilih opsi yang ketiga……………………….”

    Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya;

    “Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia………….

    Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat…………. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

    Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata…………………………

    Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

    “Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…………………

    Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

    Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

    Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

    Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif……………….”

    (pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).

    Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

    ***

    Jakarta, 12 Januari 2012

    Salam,

    Capt. Novianto Herupratomo

    Sumber : kaskus.us, http://brosurkilat.com

     

     
  • erva kurniawan 1:26 am pada 10 May 2012 Permalink | Balas  

    Saya yang akan Menanggung Beban

    Di Cilandak Jakarta Selatan ada seorang tetangga asal Sumatera Barat yang memiliki usaha cukup berkah. Dia adalah tetangga saya. Orangnya santun, ramah dan bersahaja. Namanya Haji Bisri, sebutlah demikian. Setiap Shubuh, Maghrib & Isya saya selalu melihatnya berada di masjid. Tak pernah ia luput menghadiri shalat berjamaah di Masjid Al Barkah di lingkungan kami. Saya kagum atas kepribadiannya. Dia begitu mengutamakan Allah, padahal kami semua warga di kampung tahu kesibukannya sebagai seorang pengusaha yang memiliki beberapa toko di Jakarta. Haji Bisri memulai usahanya di sebuah pasar di daerah Jakarta Selatan pada tahun 2004. Saat ini belum genap 4 tahun dari usahanya, kini ia memiliki 9 toko yang tersebar di beberapa pasar dan pusat perbelanjaan. Rezeki semakin bertambah dan usaha terus lancar. Saya pun bertanya dalam hati, “Apa rahasia sukses Haji Bisri sehingga ia bisa mengembangkan usahanya begitu cepat?”

    Hari itu kami sedang beri’tikaf antara waktu Maghrib dan Isya. Sambil berbicara di beranda masjid, seorang tetangga bertanya kepada Haji Bisri mengenai kemajuan usahanya. Haji Bisri terdiam. Matanya menerawang. Mungkin ia mencoba mengenang apa yang telah membuat usaha dan hidupnya penuh keberkahan.

    Dalam beliau menghela nafas. “Saya mengikuti jalan Allah saja”, beliau memulai pembicaraan. “Jangan tanya saya, bagaimana saya bisa mengembangkan usaha, semuanya Allah yang atur!”

    Beliau lalu membentangkan apa yang beliau alami dalam berusaha. Banyak pelajaran yang kami ambil dari perbincangan bersamanya yang hanya dalam beberapa menit. Beberapa kalimat hikmah meluncur berkali-kali dari mulutnya dengan begitu deras namun menghujam. Beberapa di antaranya saya masih hapal, “Benar rezeki itu sudah diatur Allah, tapi rezeki bisa ditambahkan bila kita gemar bersedekah,.” “Perluaslah rezeki itu dengan memudahkan jalan orang.”

    Untuk kalimat yang terakhir ini saya masih mengingatnya, dan ini sejurus dengan hadits Nabi Saw yang sering saya ajarkan kepada santri-santri di pesantren tempat saya mengajar:

    “Siapa saja yang memudahkan urusan orang yang mengalami kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya baik di dunia maupun di akhirat.” HR. Bukhari & Muslim

    Haji Bisri mengulas kisahnya, bahwa tahun 2004 beliau baru merintis toko di sebuah pasar Jakarta Selatan. Barang yang ia dagangkan adalah tas, dompet dan sejenisnya. Toko baru buka dan hanya sedikit pelanggan yang suka datang. Namun meski sepahit apapun kondisi jualan beliau selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan dan beliau selalu bertawakkal kepadaNya.

    “Alhamdulillah, Allah cukupi segala kebutuhan kami sekeluarga rupanya,!” jelas Haji Bisri. Namun pada tahun yang sama seorang sepupu jatuh sakit hingga harus cuci darah seminggu 3 kali. Padahal untuk sekali cuci darah saja tidak kurang dari 1 juta rupiah biayanya. Kami sekeluarga besar berkumpul di rumah seorang kerabat. Malam itu kami sengaja diundang untuk membicarakan beban yang ditanggung oleh sepupu saya tadi. Dia hanyalah seorang pegawai swasta rendahan. Gaji tak seberapa. Hari-hari harus menanggung biaya seorang istri dan 3 orang anak. Apalagi perusahaan tempat dia bekerja tidak memberi jaminan kesehatan. 3 kali seminggu harus cuci darah, maka dalam sebulan minimal harus 12 kali cuci. Setidaknya maka harus ada dana yang tersedia minimal Rp 12 juta untuk biaya cuci darah dalam sebulan.”

    Semua yang hadir malam itu hanya bisa terdiam.

    “Kebetulan kami semua adalah perantauan yang belum sukses” ujar Haji Bisri.

    “Saya yakin semua dari kami berkeinginan untuk membantu. Namun seperti yang saya lakukan, mungkin semua kerabat berhitung tentang pendapatan dan kebutuhan hidup mereka, namun tidak ada kelebihan harta yang dapat disumbangkan.”

    Beberapa lama kami semua terdiam.

    “Terlihat ada beberapa orang kerabat yang bermusyawarah dengan pasangannya tentang jumlah yang akan mereka sumbangkan. Namun tidak seorang pun yang berkata bahwa ia akan menyumbang.” Ungkap Haji Bisri

    “Entah ada dorongan apa, saya tiba-tiba berkata dalam pertemuan itu, Saya yang akan menanggung beban itu!”

    “Bukan mau jadi sok pahlawan, tapi kalimat itu terungkap begitu saja dari mulut saya” ujar Haji Bisri.

    Maka hari-hari pun dilalui dengan penuh kesulitan, baik bagi Haji Bisri maupun bagi keluarga adik sepupunya. Namun diluar dugaan, rupanya niat untuk membantu saudara itu betul-betul dipermudah Allah Swt. Setiap kali harus mengantar adik sepupu untuk cuci darah di rumah sakit, pasti ada saja order pembelian barang yang ia terima dalam jumlah besar.

    Beberapa langganan memesan dalam partai besar, hingga Allah Swt pun mempermudah jalan Haji Bisri untuk mencari pabrik barang-barang yang ia dagangkan sehingga ia dapat mengambil barang dengan harga semurah mungkin.

    “Sungguh Allah benar-benar memudahkan jalan usaha saya” ujar Haji Bisri dengan mata berkaca-kaca.

    “Hingga saat ini pun saya terus bersyukur kepada Allah Swt bahwa ia kini telah mengamanahi saya 9 toko yang dikelola oleh saya dan keluarga.”

    ***

    Adzan Isya berkumandang. Kami pun mengakhiri pembicaraan. Malam ini saya merasa mendapatkan pelajaran yang teramat berharga dari Haji Bisri mengenai cara hidup berbagi dan berlapang dada untuk membantu orang lain. Sungguh Allah tak akan pernah menyia-nyiakan amal yang dikerjakan hamba-Nya!

    Jazakumullah untuk guruku Ustadz Radiyallah atas cerita yang mencerahkan.

    ***

    Oleh Sahabat: Bobby Herwibowo

     
    • LPKI JATENG 1:54 am pada 10 Mei 2012 Permalink

      :)

  • erva kurniawan 1:03 am pada 24 April 2012 Permalink | Balas  

    Orang Yang Benar Tidak Wajib Membayar Zakat

    Awal abad 19, di alun-alun Bandung , Seorang Panghulu Besar Bandung menulis di pagar seng alun-alun grafiti “Orang Yang Benar Tidak Wajib Membayar Zakat”.

    Semua orang yang melewati tempat itu bertanya-tanya dan menganggap hal itu sudah berlebihan. Beberapa kyai datang ke tempat dinasnya dan mengajukan pertanyaan ” Apa dalilnya ? Apakah ada rujukan Nashnya ?”

    Sang Panghulu Besar tersenyum , bukan menjawab, malah balik bertanya ” Lho Kyai, ayo sekarang, Siapa di antara kita ini yang sudah tergolong orang yang benar ? ” Para Kyai tidak ada yang menjawab . ” Justru karena tidak ada seorang pun di antara kita yang mengaku sebagai Orang yang Benar, maka kita wajib zakat, iya toh “.

    Para kyai pulang dari tempat dinas sang panghulu besar sambil kesal karena ditipu permainan logika sang panghulu besar.

    ***

    Dari Sahabat benar

     
  • erva kurniawan 1:19 am pada 22 April 2012 Permalink | Balas  

    Putri Yang Sombong

    Tersebutlah seorang putri raja dari cina yang sangat cerdas. Dia menjadi sombong dengan kecerdasannya itu. Ketika usia telah cukup untuk menikah sang raja bermaksud untuk mengadakan sayembara, sang putri tidak keberatan namun dia mengajukan syarat bagi mereka yang ingin menikahinya.. Setiap laki laki yang ingin mempersuntingnya harus mampu menjawab 3 pertanyaan yang dia ajukan. Bagi yang tidak mampu menjawab maka tiang gantungan telah menanti sebagai hukuman.

    Demikianlah, puluhan pemuda mengakhiri hidup mereka ditiang gantungan tersebut karena tak mampu menjawab pertanyaan sang putri. Raja menjadi sangat khawatir dengan kondisi putrinya yang semakin menikmati permainannya, juga khawatir dengan usianya yang semakin bertambah namun tidak ada tanda tanda bahwa dia akan mengakhiri permainan gilanya itu serta khawatir semua pemuda terbaiknya mati sia-sia ditiang gantungan.

    Suatu hari datanglah seorang pemuda pengembara dari tanah Bharata, dia mendengar cerita tentang sang putri dan berniat untuk mengakhiri permainannya. Dia mendaftar untuk bertanding dengan sang putri. Mendengar hal ini sang raja jadi gelisah karena pasti pemuda pengembara ini hidupnya akan berakhir pula ditiang gantungan. Dia menasehati sang pemuda agar mengurungkan niatnya untuk mengikuti pertandingan namun ditampik oleh sang pemuda yang telah bulat tekadnya untuk menghentikan kecongkakan sang putri.

    Tibalah hari yang telah ditentukan, sang pemuda dan para penonton telah hadir dipendopo istana bersiap untuk mengikuti acara yang sangat menegangkan itu, namun sang pemuda tidak kelihatan tegang bahkan sebaliknya, dia duduk tegak bersila dengan tenangnya sambil terus menebar senyum. Sang raja dan para juri yang terdiri dari para pendeta dan penasehat istana telah duduk di masing masing tempat yang tersedia dengan harap-harap cemas. Tak berapa lama berselang datanglah sang putri berjalan ketengah-tengah pendopo dengan keangkuhan tersirat yang disebabkan oleh kecerdasannya. Duduk dengan kaki terlipat diatas kursi dan senyum sinis menghiasi wajah yang seharusnya sangat cantik itu dia melirik kearah sang pemuda.

    Sayembara segera dimulai. Tampak sang putri berbisik ditelinga penterjemah yang segera berkata, Wahai pemuda yang berani datang menantang sang putri, apakah engkau tidak takut digantung? Apakah engkau tidak sayang akan nyawamu berakhir sia-sia ditiang gantungan? Apakah engkau tidak sayang akan ketampananmu serta masa depanmu? Pulanglah sebelum terlambat. Demikian kata penterjemah menyampaikan apa yang dibisikkan oleh sang putri, tampak sangat jelas dia memandang rendah sang pemuda. Walau kelihatan seperti menyayangkan keikut sertaan sang pemuda namun dari kata-katanya jelas tersirat bahwa sang putri sangat senang akan ada lagi korban yang jatuh dan dia tidak ingin sang pemuda mundur dari pendopo.

    Sang pemuda hanya tersenyum sambil mempersilakan sang putri untuk menyampaikan pertanyaannya karena dia sudah tidak sabar lagi untuk menjawab.

    Sang penterjemah membacakan pertanyaan pertama sang putri yang berbunyi, Siapakah bapak yang mampu memperlakukan semua secara adil?

    Pemuda itu dengan suara tenang menjawab, Dia adalah Matahari.

    Para juri terperangah karena untuk pertama kalinya ada orang yang mampu menjawab dengan tepat dengan santainya. Biasanya para pemuda terdahulu kalah pada pertanyaan pertama.

    Pertanyaan kedua, Siapakah ibu yang memakan anaknya setelah sang anak dilahirkannya?

    Kembali sang pemuda dengan tenangnya mengawab, Dia adalah laut.

    Kini giliran sang putri yang keluar keringat dingin karena dua pertanyaannya dijawab dengan mudahnya. Dia berpikir sejenak sebelum mengajukan pertanyaannya yang ketiga. Setelah berpikir keras dia tersenyum karena merasa mendapatkan satu pertanyaan yang mustahil dijawab oleh siapapun, bahkan oleh para pendeta terpelajar sekalipun.

    Pertanyaan ketiga adalah, Pohon apakah yang setiap daunnya memiliki dua warna, hitam dan putih?

    Melihat sang putri tersenyum bahagia karena merasa yakin pertanyaannya tidak bakalan bisa dijawab, sang pemuda sengaja berlagak seperti orang yang sedang berpikir keras mencari jawaban, membiarkan sang putri menikmati angannya yang akan berakhir sebentar lagi. Hal ini ternyata membuat para hadirin dan juga sang raja menjadi sangat cemas, padahal tadi telah muncul harapan bahwa sang pemuda akan memenangkan sayembara ini. Setiap jawaban disambut tengan tepuk tangan yang sangat meriah. Namun berbeda dengan sekarang, suasana jadi sangat hening mencekam, setiap hati melantunkan doa kemenangan buat sang pemuda sehingga tidak akan ada lagi korban berjatuhan. Namun sang pemuda tidak segera menjawab, bahkan dia kelihatan berpikir semakin keras. Sengaja dia lakukan untuk memberikan kesempatan kepada sang putri menikmati angan kemenangannya lebih lama..

    Sang putri yang merasa pasti menang menebar senyum bangga kearah hadirin namun ketika dia berpaling kearah sang pemuda senyum itu berubah menjadi sinis. Dia sangat senang atas hal ini dan berkata, Wahai anak muda, sampai kapan engkau akan membisu seperti itu, akuilah bahwa engkau tidak menemukan jawabannya, orang-orang hebat seperti para pendeta yang telah renta karena ilmupun tidak tahu jawabannya apalagi anak kemarin sore sepertimu, oleh karena itu menyerahlah dan bersiaplah untuk menuju tiang gantungan, algojo telah tidak sabar menanti untuk memasang tali dilehermu, kasihan mereka terlalu lama menunggu sesuatu untuk dikerjakan, pekerjaan mereka hanya datang sesekali.

    Dengan tatapan tenang kearah sang putri sembari tersenyum, sang pemuda berkata, Tuan Putri, jawaban hamba atas pertanyaan Tuan Putri yang ke tiga adalah “Tahun”.

    Gemuruh sorak sorai para hadirin karena akhirnya pertanyaan terakhir sang Putri terjawab juga walau mereka belum yakin jawaban itu benar, namun paling tidak mereka telah melihat guratan senyum disudut bibir para juri pertanda jawaban tersebut benar adanya.

    Sementara dilain pihak, wajah sang Putri tiba tiba menjadi merah padam, marah dan kecewa setelah mendengar jawaban gamblang dari sang pemuda. Dia tidak habis pikir bagaimana si pemuda bisa tahu jawaban itu, sementara dia kelihatan berpikir keras dari tadi tapi ternyata dia dengan tenangnya dapat menjawab, sang Putri jadi curiga mungkin jawabannya itu hanya tebakan. Kemudian dia bertanya, Kenapa jawabanmu Tahun, jelaskan!

    Bagai sebatang pohon yang terus bertumbuh, tahun juga terus berjalan tanpa dapat dihentikan, daunnya adalah siang yang putih dan malam yang hitam. Demikian jawaban sang pemuda pengembara. Sekali lagi hadirin bersorak riang gembira. Namun berbeda dengan sang Putri yang takabur itu, dia berteriak tidak terima kalah dan tidak mau menikah sembari ingin mengajukan pertanyaan lagi akan tetapi permohonannya ditolak sang Raja yang mengatakan bahwa jika Putri tidak mau mengaku kalah dan tidak mau menikah dengan sang pemuda maka dia harus mendapat hukuman yang sama seperti para pemuda yang kalah sebelumnya, hukuman gantung.

    Akhirnya sang Putri mengaku kalah walau dengan terpaksa dan kemudian dipersunting oleh si pemuda dan diboyong kenegaranya yaitu Bharatawarsa.

    Makna dari dunia itu sendiri adalah kehidupan karna tanpa hidup kita ga akan pernah tau dunia itu seperti apa,,,,tidak selamanya apa yang kita anggap benar itu ..tidak salah juga di mata kehidupan dalam bingkai dunia..

    ***

    Dari Sahabat di Kaskus.us

     
  • erva kurniawan 1:33 am pada 19 April 2012 Permalink | Balas  

    Karir Muslimah

    Oleh Siti Aisyah Nurmi

    Ummati….ummati…..

    Rintihan seorang yang mulia yang hatinya amat lembut. Dalam nubuwwah Beliau SAW telah melihat kenyataan ini…..

    Seorang wanita duduk murung di sudut ruang tamunya. Lampu dimatikan. Di kamar, sang suami terbaring gelisah. Tidak ada yang tertidur kecuali si kecil yang nafasnya masih tersengal karena sakit. Ayah dan ibu sedang bertengkar gara-gara saling menyalahkan, siapa yang seharusnya pulang dari kantor saat Annisa dikabarkan sakit. Rita sang ibu, manajer sebuah perusahaan asing yang bergengsi. Jabatan cukup tinggi dan prestasi karir cemerlang. Agus, sang ayah hanya bisa menyumbang sepertiga dari kebutuhan finansial rumahtangga, maklum, sebagai eselon tiga di departemen yang ‘kering’, tak banyak yang bisa diharapkan. Agus belum bersedia melepas status PNS-nya dengan berbagai alasan. Namun ia juga sibuk di kantor, karena ia sering diandalkan oleh bossnya yang malas dan punya obyekan banyak. Buah hati mereka (Alhamdulillah) baru satu, Annisa, dua tahun.

    Problem keluarga masa kini: pertengkaran suami isteri karena konflik kepentingan antara karir dan rumahtangga.

    Wahai wanita, wahai ibu! Apa sih arti ‘karir’? Dari katanya sendiri bisa kita artikan secara bebas bahwa ia berarti sesuatu yang kita lakukan dengan motivasi tinggi sehingga menghasilkan suatu ‘karya’. Begitu ‘kan?

    Suatu hari penulis diminta mengisi data diri yang pada salah satu kolomnya terdapat: pekerjaan: pilihannya: a) Pegawai negeri b) swasta c) tidak bekerja. Penulis tanyakan kepada petugasnya: Di mana tempat untuk menuliskan karir saya sebagai ibu rumahtangga? Semua jawaban petugas itu tak dapat memuaskan saya.

    Seorang wanita yang mengurus rumahtangganya, siang malam ia bekerja. * Fullday*! Nyaris 24 jam! Apakah itu dikatakan TIDAK BEKERJA? Lebih menyakitkan lagi, ada yang menggolongkan pekerjaan ini sebagai “TIDAK PRODUKTIF”?!?

    Apa hasil kerja seorang ibu rumahtangga?

    Banyak sekali, namun sayangnya tidak pernah diekspos dan diangkat ke dalam diskusi besar-besaran. Tidak juga ada lembaga besar yang mau mengadakan penelitian seputar hal ini. Sebaliknya, ada ribuan seminar tentang wanita bekerja yang mempromosikan wanita untuk keluar rumah mengejar karir kantoran. Bahkan di negeri ini sedang ada diskusi tentang perlunya meningkatkan keterwakilan wanita di parlemen. *That means*: harus ada lebih banyak lagi wanita yang berkarir politik di negeri yang pernah punya presiden wanita ini.

    Apakah wanita tidak boleh bekerja di luar rumah? Wah nanti dulu, di sini bukan porsinya untuk membicarakan fatwa.

    Coba kita tinjau dari sudut lain: apa alasan wanita bekerja di luar rumah. Pertama ada alasan finansial, ini yang terbanyak. Kedua, alasan mencari aktualisasi diri, ketiga, alasan jenuh di rumah, dan terakhir: dibutuhkan di masyarakat. Untuk orang-orang tertentu, alasan terakhir sangat kuat. Misalnya karir sebagai guru TK, hampir tak bisa ditemukan guru TK yang pria, dan memang wajar, tidak cocok. Dokter wanita juga termasuk yang sangat dibutuhkan di masyarakat. Alasannya sederhana, wanita seringkali malu jika dokternya pria. Menjadi perawat juga diperlukan. Bahkan di zaman Nabi SAW, para isteri beliau diundi berangkat bersama Nabi SAW ke medan jihad untuk merawat yang sakit.

    Dari empat alasan di atas, dua yang pertama adalah yang terbanyak. Apakah seorang wanita benar-benar perlu membantu mencari nafkah? Sangat relatif. Jika suaminya masih bisa memenuhi sandang pangan dan papan dengan standar cukup yang normal, maka kebutuhan tersebut tidak ada lagi. Kita dapat memaklumi mbok-mbok jamu yang terpaksa keluar masuk kampung dengan jamu gendongnya, sebab dalam hitungan kasat mata kita dapat melihat bahwa kebutuhan rumahtangganya pasti tak mencukupi jika ia tak berjualan. Masing-masing kita bisa menilai sendiri apakah standar minimal tersebut sudah terpenuhi atau belum. Namun bagaimana dengan yang beralasan ‘aktualisasi diri’?

    Istilahnya saja diambil dari filsuf barat, Maslow. Jauh dari hidayah Islam. Namun lebih jauh lagi, ‘aktualisasi diri’ sekarang diartikan sangat jauh kepada karir dengan format materialisme. Seseorang tidak dikatakan sampai derajat mencapai aktualisasi diri jika belum mendapatkan format kerja yang menghasilkan karya materi. Apakah itu berupa penghasilan tinggi, atau prestasi ilmiah, atau prestasi di bidang apa saja yang bisa masuk ke dalam katagori pengakuan dari masyarakat. Jadi, jika ia hidup di masyarakat yang sudah tidak lagi menghargai karya seorang ibu rumahtangga, maka ia tak akan pernah mencapai aktualisasi diri. Meskipun semua anaknya sholeh dan cerdas, rumahtangganya tak pernah meresahkan orang lain dan sebagainya. Bahkan suaminya amat menghargai sang isteri karena kontribusinya sebagai pasangan hidup terbaik.

    Sebaliknya, seorang wanita yang sukses karir dan merasa sudah mendapatkan kepuasan dan aktualisasi diri, mungkin saja mempunyai kisah hidup memilukan, anak-anaknya yang tak bisa menghargai dirinya, ketika sudah jompo iapun terdampar di panti wredha. Konsep Maslow tentang aktualisasi diri itupun masih belum “sempurna”, sebab pengakuan yang dicarinya masih terbatas pengakuan manusia. Siapakah manusia? Makhluk fana yang sering berbohong. Islam menghendaki seseorang mencari pengakuan dari Pihak Yang Tak Pernah Mengingkari Janji, apalagi berbohong. Ridha Allah adalah sukses tertinggi yang bisa dicapai makhluk di hadapan Khalik. Imbalannya-pun bukan milyaran dollar, tidak. Itu terlalu kecil, sebab Syurga diwariskan kepada para hamba sholeh luasnya seluas langit dan bumi, masih ditambah kelak dipuji puji oleh para malaikat mulia yang berbakti.

    Suatu saat Nabi SAW ditanya oleh seseorang: siapakah orang pertama yang harus aku muliakan, ya Rasulullah? Jawab beliau: Ibumu (1x) ibumu (ke 2 x) dan ibumu (ke 3 x), kemudian baru ayahmu.

    Alangkah indahnya Islam, alangkah mulianya kedudukan wanita dalam Islam.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:30 am pada 14 April 2012 Permalink | Balas  

    Kisah Kapten Couesteau

    ALQURAN turun di Makah (Arab Saudi), di tengah-tengah masyarakat yang hidup dalam peradaban jahiliyah. Yakni, masyarakat yang menuhankan hawa nafsu, materi, kehormatan, dan pangkat-jabatan.

    Dalam masyarakat ini, akal sehat tidak berjalan lagi, hati nurani tidak bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan. Kekerasan merajalela. Kekayaan, kehormatan, dan kemasyhuran adalah cita-cita hidup dan nilai-nilai yang berkembang. Masyarakat kecil tertindas. Tidak ada tempat bagi kaum lemah. Yatim piatu, janda-janda tua, menjadi bulan-bulanan korban kezaliman. Banyak surat-surat (dalam Alquran-Red) yang turun di Makah menyuarakan pembebasan atau liberation, yakni tentang hak-hak yatim piatu, kaum lemah, yang secara umum ayatnya ditujukan pada manusia atau naas, sebuah ajakan universal yang tidak terbatas pada kaum beriman.

    Surat Al-Maaun, Al-Humazah, serta Abasa adalah surat-surat Makkiyah yang secara eksplisit memihak kaum lemah di Makah.

    Alquran memperkenalkan akal sehat sebagai inti keberagaman seseorang. Ayat tentang pentingnya budaya baca, iqra’, adalah wahyu Allah pertama yang diterima Rasul Muhammad. Ayat ini mengajarkan la diina liman la aqla lah (tidak beragama mereka yang tidak menggunakan akal sehatnya).

    Dengan kehadiran Alquran, bangsa Arab yang tadinya tidak diperhitungkan dalam peradaban dunia, kemudian menjadi bangsa yang terpandang, dan Hijaz menjadi pusat inspirasi serta starting point kemajuan dunia Islam pada abad-abad berikutnya (abad ke-7 – abad ke-12).

    Budaya Baca

    Alquran memberikan pedoman bagi umat Islam untuk menyikapi dunia dengan benar sesuai dengan sunnatullah. Ajaran tentang pentingnya budaya baca, iqra’ misalnya, jika dilaksanakan secara konsisten dan proporsional akan membawa kemajuan pada individu, masyarakat, dan peradaban bangsa secara keseluruhan. Jika dewasa ini budaya baca berpindah ke Amerika Serikat, yakni perpustakaan-perpustakaan kampus buka sampai tengah malam, maka tidak bisa disangkal lagi bahwa bangsa Amerikalah yang menjadi bangsa yang terdepan dan terkuat saat ini.

    Nabi Muhammad dengan ajaran Alqurannya menekankan bahwa orang yang beriman dan kuat (berkualitas) lebih mulia dalam pandangan Allah dibanding dengan mukmin yang lemah. Menjadi mukmin idealnya menjadi manusia yang berkualitas. Surat Mu’minun mengajarkan bahwa mukmin adalah individu yang menang, sukses dengan ciri-ciri melakukan salat secara khusuk, produktif, mengendalikan hawa nafsu, menjaga amanah dan salat-salatnya, serta menepati janji.

    Ciri lain orang yang beriman adalah tatkala nama Allah disebutkan, hati dia akan bergetar dan saat Alquran dibacakan, imannya akan bertambah (Al-Anfal: 2).

    Ajaran Alquran yang terakhir disebut juga telah dialami oleh Kapten Couesteau, penjelajah bawah laut termasyhur level internasional, dari Prancis. Yang mendorong dia masuk Islam adalah setelah dia sekian lama melakukan eksplorasi dan observasi dunia bawah laut, yakni tempat pertemuan air laut Atlantik dan Mediterania. Ternyata pertemuan air dua laut tersebut tidak membawa percampuran satu sama lain. Dua air ini telah bertemu satu sama lain di Gibraltar ribuan tahun.

    Semestinya jumlah besar dua air ini akan bercampur satu sama lain dan memiliki identitas yang sama atau paling tidak ada percampuran salinitas serta densitas. Tapi anehnya, hal itu tidak terjadi.

    Sewaktu Captain Cousteau bercerita keajaiban fenomena ini pada Prof Maurice Bucaille yang ahli Alquran itu, dia memperoleh jawaban bahwa fenomena tersebut tidak aneh karena sudah tertulis dalam Alquran secara jelas. Memperoleh jawaban ini, Captain Cousteau yakin bahwa Alquran Al-Karim adalah kalam Ilahi. Tepatnya, ayat yang dimaksud adalah surat Al-Rahman 19-20, dan 22 yang artinya: ”Dan ketika dua lautan bertemu, antara keduanya terdapat batas yang tidak saling melewati, maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau ingkari (subhanallah).”

    Bagi kita rakyat Indonesia yang saat ini mengalami krisis dalam banyak hal, Alquran mendorong kita untuk bekerja sama, tolong-menolong dalam meraih kebaikan.

    Nabi juga memberikan contoh upaya menggalakkan solidaritas sosial. Tidaklah termasuk orang yang beriman, mereka yang tidak menyayangi sesamanya. Juga imannya dipertanyakan, mereka yang tidak mencintai tetangganya atau lingkungannya. Ajaran yang terakhir ini tentu bisa kita kiyaskan bahwa kepedulian lingkungan, cinta Jawa Tengah, dan cinta Tanah Air adalah bagian dari iman. Kegiatan siskamling, jika didasari niat tulus cinta lingkungan, lillahi ta’aala, maka termasuk dalam kategori ibadah dengan landasan iman. Sebaliknya, jika seseorang tidak peduli terhadap lingkungannya, imannya diragukan.

    Sesungguhnya, kata kaum bijak, tanda-tanda iman bisa dilihat dari takwa, malu, syukur, serta sabar, pengendalian diri. Seperti urutan pertama yang terlihat, takwa adalah ciri utama kaum yang beriman. Takwa pada dasarnya adalah kedekatan diri secara ma’nawi pada Allah. Kedekatan diri secara ma’nawi tidak dibatasi ruang dan waktu, di mana saja, kapan saja Allah bersama orang yang bertakwa. Dengan kata lain, manusia takwa adalah manusia yang bisa diandalkan tatkala diberi kepercayaan oleh orang lain. Sifat inilah yang harus ditegakkan saat reformasi sekarang.

    ***

    Dr Abdurrahman Mas’ud, dosen IAIN Walisongo, dikutip dari: Harian Suara Merdeka Selasa, 28 Desember 1999

     
  • erva kurniawan 1:15 am pada 12 April 2012 Permalink | Balas  

    Pemuda yang Digoda

    Pada zaman entah kapan, inilah kisah seorang pemuda Bani Israil penjual keranjang. Seperti tukang kelontong dari Tasikmalaya, ia keluar-masuk kampung menjajakan dagangan. Tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang dayang, tidak jauh dari istana. Perempuan itu terkesiap. Tapi hanya sesaat: bergegas balik ke istana.

    “Aku lihat pemuda tampan, Tuan Putri,” katanya terengah-engah. “Rasanya belum pernah aku melihat orang setampan dia.”

    “Panggil dia kemari,” kata yang dilapori.

    Pemuda itu pun mengikuti sang dayang. Dan setelah melewati pintu pertama, kedua, dan ketiga, barulah dia berjumpa dengan sang putri.

    “Silakan, kalau ada yang mau beli keranjang ini. Murah, kok,” kata pedagang keliling itu, sedikit grogi. Maklum, Tuan Putri baru saja memerintahkan pintu-pintu yang barusan ia lewati dikunci, dan ia kehilangan omongan.

    “Aku mengundangmu bukan untuk membeli daganganmu,” kata Putri, seraya melempar senyum.

    “Lho, untuk apa?”

    “Aku tertarik akan ketampananmu. Maukah kamu…?”

    “Putri,” kata si pedagang, yang mulai menangkap gelagat. “Takutlah kepada Allah. Janganlah berbuat sesuatu yang dimurkai-Nya.”

    “Kalau tidak mau, aku akan berteriak bahwa kau akan memperkosaku.”

    Namun pemuda itu tidak peduli. Bahkan terus berupaya mengingatkan putri raja itu. Sebaliknya sang putri tidak menggubris: hasratnya sudah mencapai puncak. Merasa kata-katanya tidak dihiraukan, sang pemuda minta izin berwudu. Sang putri memanggil pelayan untuk menyediakan air. Selesai wudu, pemuda itu berdoa:

    “Ya, Allah. Aku diajak bermaksiat. Aku lebih suka jatuh dari loteng ini daripada berbuat dosa kepada-Mu.”

    Lalu ia membaca basmalah. Dan, oops, dari ketinggian, pemuda itu terjun bebas. Tapi mahakuasa Allah, yang lebih cepat mengirimkan malaikat-Nya untuk menyelamatkan sang pemuda.

    “Ya, Allah. Jika Engkau kehendaki, berilah aku rezeki yang cukup sehingga aku tidak berjualan keranjang lagi,” begitu doanya sekarang.

    Arkian, Allah mengirim belalang emas. Maka dengan suka cita pemuda itu memasukkannya ke dalam sakunya, sampai penuh.

    “Ya, Allah. Jika Engkau memberiku rezeki di dunia, maka berkahilah rezeki ini.”

    “Yang Allah berikan kepadamu,” begitu tiba-tiba terdengar suara, entah dari mana, “hanya seperempat dari pahala kesabaranmu bertahan dari gejolak nafsumu, sampai-sampai kau rela menjatuhkan diri dari loteng.”

    “Ya, Allah,” katanya lagi, “aku tidak menginginkan sesuatu yang akan mengurangi pahalaku di akhirat nanti.”

    Selesai dengan doa itu, tiba-tiba belalang emas di sakunya lenyap. Tapi pemuda itu tidak menyesal. Dia segera pulang, sementara dagangannya tertinggal di istana.

    Setan, yang detik per detik mengikuti peristiwa itu, ditanya malaikat: “Mengapa kamu tidak mampu menyesatkan tukang keranjang itu?”

    “Susah, Bung,” jawabnya. “Orang itu berani mengorbankan dirinya untuk keridhaan Tuhannya.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:01 am pada 8 April 2012 Permalink | Balas  

    Karir Wanita Karir

    Tiap membicarakan wanita karir, biasanya melintas sosok yang sudah baku dibenak kita. Tubuh tinggi langsing berbalut stelan blazer. Dia memakai rok mini–kadang super mini—membuat hidup kaum lelaki semakin complicated saja. Dia juga bersepatu hak tinggi yang mempermudah datangnya penyakit varises. Warna-warni kosmetiknya begitu semarak dan semerbak. Pokoknya, ilmunya tentang bersolek dan mematut diri tak kalah canggih dari ahli tata rias dan perancang busana.

    Tak cukup mendandani fisik, ia juga mematut psikisnya. Cara hidup, cara gaul, cita dan impiannya mencangkok budaya jahiliyah moderniyah. Persis dan tuntas sampai ke akarnya. Tak ada batas muhrim dan non muhrim. Tak ada batas halal dan haram. Semua serba boleh.

    Kehidupan karir seperti ini tak lepas dari peran sentral–kafirin, fasiqin, munafiqin—pemilik modal yang kapitalistik. Di tangan mereka terkonsentrasi uang melimpah dengan daya menjajah. Sebagian besar wanita pekerja didikte cara berbusana bahkan sampai berapa cm panjang rok mereka oleh raja-raja uang dan kapten-kapten industri ini. Sayangnya, para wanita ini happy-happy saja meski dijajah, karena ada imbalan uang. Demi uang ini pula ada muslimah yang menanggalkan kerudungnya. “Aku sudah ke sana ke mari melamar kerja, tapi ditolak terus. Terpaksa deh buka kerudung biar gampang cari kerja. Habis, gimana dong, Mbak? (Lho, kok malah ngasih PR ke penulis).

    Kalau begitu, jadi wanita karir itu haram, ya? Sebenarnya berkarir itu halal jika berada dalam koridor syar’i. Ada tiga hal yang harus dipenuhi muslimah jika ingin berkarir. Niatnya berkarir halal; caranya berkarir halal; dan tujuannya berkarir halal. Wuih, susah! Memang susah, karena kita berada dalam sistem yang tidak islami. Kita berada di lingkungan orang-orang ngueyeell. “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50).

    Ngomong-ngomong, ada nggak sih wanita karir yang tidak dijajah meski menjadi manajer di perusahaan multi nasional? Tidak punya stelan blazer, malah berbusana muslimah gombrong. Tidak punya berbagai sepatu hak tinggi, malah cuma memakai sepasang sepatu bertahun-tahun. Tidak memiliki emas perhiasan se-gram pun, malah gajinya yang jutaan diinfaqkan. Tidak dipoles kosmetik, tapi natural, apa adanya. Tidak mencangklong tas kerja trendy, malah membawa dompet kecil saja.

    Alhamdulillah ada. Dan semoga semakin banyak muslimah yang bisa semerdeka dia. Wanita karir ini berprinsip Hasbunallahu wani’mal wakil. Dan tentu saja tidak cengeng. Allah tidak akan menolong hambaNya yang ongkang-ongkang. Tidak ada jihad tanpa kerja keras lahir batin.

    Sungguh, dia tidak dijajah bosnya yang orang Hong Kong. Dia merdeka dengan karirnya sebagai seorang muslimah. Sang Bos sangat menghargai cara hidupnya sebagai muslimah. Tidak bersalaman dengan lelaki non muhrim meskipun dia presiden direktur. Tidak mengucapkan selamat natal meskipun sehari-hari bertemu. Tidak menghadiri ulang tahun meskipun sudah disediakan meja khusus di restoran terkenal. Tidak datang ketika dijamu di klub karaoke terkenal di Jakarta Barat.

    Ini kisah nyatanya….

    Baru setahun lebih menikah dengan seorang ustadz, suaminya dipenjara rezim Orde Baru karena ceramah agama di Tanjung Priok (lebih kurang tahun 1986). Wanita ini masih kuliah di FHUI tingkat III ketika itu dan memiliki seorang bayi. Awal suami di penjara, santunan dari keluarga dan teman-teman masih lancar. Lama kelamaan berkurang dan rasa malu membuatnya rikuh meminta-minta. Berhari-hari ia hanya menggenggam uang seribu perak kadang malah cuma cepek. Ia sering mengutang sayur di warung tetangga milik penjaga penjara di Cipinang, Jakarta Timur.

    Meski biaya terseok-seok, kuliahnya bisa selesai juga. Saking tak punya uang, biaya wisuda dibayari oleh dosennya, Ibu Chandra Motik. Setelah itu dia mulai melamar kerja. Benar saudara-saudara. Lamarannya ditolak karena cara berbusananya yang tidak fashionable (1988). Dia pantang menyerah karena prinsipnya: Lebih baik mati kelaparan karena berkerudung daripada bekerja tanpa berbusana muslimah. No way buka kerudung!

    Alhamdulillah. Hasbunallahu wa ni’mal wakil. Dia diterima bekerja di Yayasan Al-Muslim dengan gaji Rp. 150.000 per bulan. Karena harus sering besuk ke penjara–tentu saja membutuhkan banyak biaya–si ibu berusaha menambah penghasilan. Dia mengajar ngaji karyawati Hotel Mandarin dengan honor Rp. 20.000 per pertemuan. Si ibu sering membawa bocahnya bekerja dan pergi mengajar agar si anak merasakan nikmatnya hidup sebagai muslim dan merasakan jihad. Learning by doing, istilahnya.

    Cukup setahun dia pindah kerja ke Yayasan Pembinaan Manajemen dan setelah itu ke perusahaan eksportir rotan ke Eropa. Gajinya Rp. 250.000 per bulan. Dia juga mencari tambahan penghasilan dengan menerima catering makan siang dari kantor sebelah. Petugas pengantar makanan adalah bocah balitanya plus sebagai khadimah. Dia juga berjualan majalah Aku Anak Saleh dengan jumlah ratusan eksemplar. Si bocah balita ikut menjadi pengantar majalah kepada para langganan. Si anak memang selalu terlibat dalam setiap kegiatan ibunya. Subhanallah. Penghasilannya bisa mencapai satu juta rupiah per bulan.

    Karena usaha catering mulai goyah lantaran kantor itu mau tutup, si ibu melamar kerja ke kedutaan Amerika. Ada jabatan lowong sebagai asisten Kepala Penerangan Kedutaan AS. Tes demi tes bisa lolos namun tanpa penjelasan rinci, dirinya ditolak begitu saja. Boleh jadi gara-gara jilbab. Nggak ngaruh. No way buka kerudung. Allah memuliakanku dengan dien-Nya. Dan cukuplah itu bagiku.

    Tak lama kemudian dia bekerja di perusahaan Taiwan sebagai sekretaris Direktur Pabrik. Gajinya setengah juta rupiah (1991). Dia tetap berjualan majalah dan mengirim artikel ke majalah SABILI sebagai upaya mencari tambahan penghasilan.

    Baru dua bulan, manajemen pabrik itu goncang. Dia kemudian melamar kerja di perusahaan garmen eksportir dengan 500 pekerja yang 99 % nya terdiri dari wanita. Pertama wawancara, Sang General Manager “a little bit shock”, karena si ibu menolak bersalaman sebagai tanda perkenalan baku di dunia karir. Alhamdulillah, Allah yang merupakan sentral dari segala sesuatu, menggerakkan hati sang GM. Anda diterima bekerja di pabrik baru kami di Cakung sebagai Kepala Personalia.

    Tapi, bagaimana tanggapan para pekerjanya? Alhamdulillah, justru beberapa orang pekerjanya yang beragama lain kembali ke agama fitrah, Islam. Ia sekuat tenaga menerapkan suasana islami di lingkungan pabrik. Tak heran jika kemudian ada beberapa pekerja non muslim dengan suka rela memeluk Islam. Bahkan pekerja non muslim setiap memasuki ruang kerjanya mengucapkan “Assalamu’alaikum. Ibu….”

    Jangan dikata pekerja yang mengenakan busana muslimah. Mereka dapat bekerja dengan tenang, meski di pabrik tetangga masih ada yang alergi dengan busana muslimah yang dipakainya. Namun tetap saja semakin banyak pekerja yang menutup auratnya.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Hanan Lutfi 11:22 am pada 8 April 2012 Permalink

      subhanaallaah…
      bermanfaat & mantab…^_^
      ijin share ya…..

    • susi 8:23 am pada 10 April 2012 Permalink

      subhanallah… kisah nyata nya membuat saya terharu

    • "A" 9:43 am pada 10 April 2012 Permalink

      subhanallaah..

      alhamdulillah lingkungan tempat saya bekerja tidak mempermasalahkan busana muslimah yang saya kenakan sehari-hari..

c
Compose new post
j
Postingan berikutnya/Komentar berikutnya
k
Postingan sebelumnya/Komentar sebelumnya
r
Balas
e
Edit
o
Tampilkan/Sembunyikan komentar
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 640 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: