Updates from Februari, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:08 am on 12 February 2013 Permalink | Balas  

    Dikejar Seorang Pengemis

    Ada apa seorang pengemis sampai mengejar seorang jama’ah haji…?

    Seorang kawan ketika melakukan shalat di Masjid Nabawi, suatu saat pernah dikejar oleh seorang pengemis yang terus membuntutinya. Bahkan agar sang ‘target’ mengeluarkan uangnya, si pengemis sampai ‘berganti rupa’…”

    Pak Musa, hari itu bernasib agak sial rupanya. Ketika ia mulai masuk Masjid Nabawi, ada seorang pengemis yang terus mengincarnya. Pak Musa tidak tahu bahwa ia menjadi sasaran ‘tembak’ seorang pengemis muda.

    Ketika pak Musa shalat sunah sambil menunggu waktu shalat dhuhur, selalu saja pengemis tersebut membuntuti dan mendekatinya sambil menengadahkan tangannya sebagai tanda untuk minta uang.

    Pengemis muda itu memberi tanda dengan telunjuknya bahwa ia minta uang satu real saja. Rupanya takut shalatnya tidak khusyu’ pak Musa menghindar dari tempat duduk pengemis berbaju kotor tersebut. Dan pak Musa pun berpindah tempat ke shaf lebih depan sambil melakukan shalat lagi. Harapannya semoga sang pengemis tidak mendekatinya lagi. Rupanya pak Musa tidak membawa uang satu real-an, sehingga permintaan pengemis itu ia abaikan begitu saja. Pikir pak Musa :

    “..ah biarlah, toh nanti ketika pada saatnya saya bawa uang satu real-an, akan saya berikan pada para pengemis yang cukup banyak jumlahnya itu…”

    Tetapi seolah pengemis tersebut mengetahui pikiran pak Musa. Ia terus mengejarnya. Dan terus minta uang satu real. Dan kembali pak Musa menghindar dengan cara ia berpindah ke tempat lain, dan masuk ke shaf yang lebih depan lagi.

    Demi menghindari sang pengemis muda itu, sampai-sampai pak Musa berpindah tempat duduk sebanyak empat kali. Akhirnya ia merasa aman pada suatu shaf yang padat yang tidak mungkin diisi oleh pengemis yang terus mengejarnya itu. Ia lakukan hal itu agar tidak bertemu dengan pengemis yang mengejar terus dan minta uang satu real tersebut… Maka sekarang amanlah pak Musa dari uang satu real yang diinginkan oleh sang pengemis muda itu.

    Pak Musa mendapat tempat duduk di suatu shaf yang betul-betul ‘aman’. Maka berdzikirlah pak Musa dengan khusyu’nya sambil menunggu waktu shalat dhuhur tiba.

    Karena jama’ah di shafnya cukup padat dan rapat, maka ketika shalat dhuhur telah tiba dan semua berdiri untuk melakukan shalat, pada shafnya pak Musa tidak ada perubahan jamaah. Artinya tidak ada orang baru dalam shaf tersebut.

    Maka shalat-lah pak Musa dengan khusyuknya. Tetapi sesekali hatinya masih ada rasa khawatir, akan orangnya pengemis muda yang misterius itu. Yang selalu minta uang satu real.

    Setelah shalat dhuhur selesai, semua mengucap salam sebagai penutup shalat dhuhur. Demikian pula dengan pak Musa. Ia mengucap salam dengan mantapnya. Tanda shalat telah usai.

    Tetapi begitu pak Musa mengucap salam kedua, sambil menoleh ke sebelah kiri, tiba-tiba jama’ah yang ada di sebelah kirinya, berkata kepada pak Musa dengan menggunakan bahasa inggris, yang maksudnya ia minta uang dan sedang membutuhkan uang sebesar sepuluh real

    Ekspresinya menunjukkan bahwa ia benar-benar sedang membutuhkan uang sebesar sepuluh real untuk suatu keperluan yang tidak bisa ditunda lagi. “…ukh!” tanpa terasa pak Musa mengeluarkan suara tersendat tanda terkejut setengah mati akan kejadian yang sangat tiba-tiba tersebut.

    Tanpa banyak bicara pak Musa pun mengeluarkan uang sepuluh real yang memang ada di sakunya. Ia merasa iba juga menyaksikan ekspresi wajah memelas dari orang tersebut.

    Menghindar satu real, ‘terperangkap’ menjadi sepuluh real! Pak Musa hanya tersenyum memikirkan pengalamannya yang sangat unik tersebut.

    Pulang dari masjid, pak Musa terus berpikir. Sungguh aneh pengalamannya hari itu. Ia menjadi semakin sadar bahwa dalam hidup ini ada suatu wilayah yang sangat misterius, yang manusia tidak sanggup menganalisisnya. Tetapi yang penting kita harus bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa.

    Sebuah pelajaran yang berharga adalah kadang tanpa sengaja kita telah berpaling dari orang-orang miskin, yang mungkin saat itu mereka sedang membutuhkan uluran tangan kita. Dan hari itu, pak Musa mendapatkan pelajaran baru. Bahwa siapa pun ternyata perlu untuk diperhatikan, walaupun sekedar seorang miskin, orang kecil yang bukan orang penting…

    Al-Qur’an begitu banyak memberikan peringatan kepada kita tentang kelengahan kita terhadap orang-orang miskin.

    QS. Al-Baqarah (2) : 83

    Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

    Bahkan Allah memperjelas dalam suatu ayat, bahwa tidak menghiraukan anak yatim dan orang miskin, termasuk mendustakan agama.

    QS. Al-Mauun (107) : 1-7

    Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

    Setelah memberi uang kepada orang di sebelahnya itu, pak Musa melanjutkan dzikir dan shalat sunah rawatib. Setelah itu, pak Musa tidak melihat lagi kemana perginya orang sebelah yang minta uang sepuluh real tadi.

    Tetapi yang masih membayang di pikiran pak Musa adalah, betapa proses ia mengeluarkan uang sepuluh real tadi di awali oleh sebuah proses yang cukup unik yaitu munculnya pengemis muda yang minta uang satu real. Dan terus-menerus ia mengejarnya.

    Dengan alasan agar shalat tidak terganggu oleh sang pengemis muda, dihindarinya pengemis itu. Tetapi akhirnya menghindar dari satu real, pak Musa harus mengeluarkan sepuluh real. Dan sang pengemis muda tadi seolah telah berganti wajah untuk ‘memaksa’ pak Musa mengeluarkan uang sepuluh real yang ada di sakunya.

    Yang aneh adalah bahwa pengemis muda itu, sudah ‘menunggu’ di shaf yang akan dimasuki oleh pak Musa. Sungguh aneh, misterius…, tapi nyata. Kalau seseorang sudah ditakdirkan harus mengeluarkan uang, maka pasti akan terjadi juga, meskipun kita lari kemana saja…. pak Musa pun kembali tersenyum mengenang kejadian itu.

    Ketika sampai di maktab berkatalah pak Musa kepada istrinya:

    “…baru saja aku memperoleh sebuah pelajaran baru yang sangat menarik…”

    QS. Ali ‘Imran (3) : 134

    (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
    • achmad usman 9:57 am on 1 Maret 2013 Permalink

      “cobaan” yg berhasil dilalui pak musa…………………………

  • erva kurniawan 1:25 am on 11 February 2013 Permalink | Balas  

    Petruk Dadi Ratu

    Oleh : Fauzi Nugroho

    Ketika berusia delapan tahun untuk pertama kali saya diperkenalkan dengan nama-nama tokoh pewayangan oleh orang tua dari ayah-ibu saya. Selama dua tahun saya tinggal bersama mereka di lingkungan pedesaan yang syarat dengan kultur Jawa. Orang tua mengharapkan agar selain mendapat sekolah umum, saya juga bisa memperoleh ilmu agama dari Eyang Kakung yang memang mempunyai santri cukup banyak. Nilai-nilai agama, akhlak dan anggah-ungguh (tata krama) saya dapatkan dari lingkungan tempat saya tinggal. Seperti keharusan shalat berjamaah ketika adzan shalat telah memanggil, menghormati orang yang lebih tua, tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan miliknya, dan sebagainya. Perilaku kesatria keluarga Pandawa, seperti Bima, Yudhistira pun kerap didongengkan oleh Eyang Putri ketika ke tempat peraduan sambil memijat tubuh kecil saya. Nama tokoh lain seperti Arjuna, Kresna, bahkan para punakawan seperti, Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk menjadi akrab dengan telinga saya. Pertunjukkan

    Wayang Kulit sesekali pernah dipertontonkan kepada warga desa, manakala ada keluarga yang mengadakan hajatan pernikahan atau khitanan. Nama tokoh Semar kerap menjadi teladan bagi penonton karena kearifan dan kebijaksanaannya, sedangkan tokoh seperti Petruk selain sering ngebayol juga merupakan merek rokok favorit yang biasa dihisap oleh warga desa disamping merek Sintren. Namun, anak-anak zaman sekarang sangat jarang disuguhi tontonan seperti itu, mereka lebih mengenal Superman, Batman, Spiderman, atau Power Rangers. Pun bagi orang dewasa, nama-nama tokoh pewayangan seperti di atas mungkin terasa asing di telinga. Pada masa lampau, wayang sering dijadikan media syiar Islam mengingat tanah Jawa penduduknya mayoritas memeluk agama Hindu sebelum masuknya Islam melalui Wali Songo. Sehingga tidak heran bila di Jawa Tengah & Timur bisa dijumpai Wayang Orang dan Wayang Kulit, ataupun di Jawa Barat dikenal dengan Wayang Golek.

    Banyak versi tentang kisah rakyat tersebut, Petruk misalnya ada yang menyebutnya seorang pengeran, putra begawan sakti dengan nama asli Bambang Pecrukpanyukilan, yang gemar guyon dan berkelahi. Pada saat menuju ke tempat Pertapaan dirinya bertemu dengan Bambang Sukakadi (Gareng), kemudian keduanya berkelahi menguji kesaktian. Tubuh keduanya menjadi rusak dan perkelahian itu akhirnya dilerai dan dihentikan oleh Semar beserta anaknya Bagong. Kemudian keduanya diangkat menjadi anak Semar, sedangkan Semar konon merupakan orang suci (dewa). Namun cerita itu berkembang dengan berbagai versi, tokoh Petruk, Gareng, dan Bagong dikenal sebagai punakawan, abdi atau pelayan. Versi ini lebih banyak dikenal daripada sebelumnya, sehingga nama tokoh Petruk menjadi identik dengan pelayan, batur atau abdi dalem. Lalu bagaimana jika seorang abdi dalem menjadi petinggi kerajaan?

    Kisah Petruk Jadi Raja merupakan contoh bagaimana seseorang berubah menjadi angkuh dan sombong bahkan cenderung menjadi lupa diri saat berada di pusat kekuasaan. Petruk mendapatkan keberuntungan menjadi seorang raja, gelimang harta benda dan kekuasaan menyebabkan ia lupa daratan dan mabuk kekuasaan sehingga bersikap sewenang-wenang dan merendahkan orang lain. Dia pun mempergunakan aji mumpung untuk kesenangannya. Karena seorang abdi, ia tidak bisa mengelola kekuasaannya dengan bijak dan tepat. Ia terlalu bergairah untuk duduk di singgasana dan semakin haus dengan kekuasaan, ia pun tidak punya gagasan cemerlang untuk mensejahterakan rakyatnya. Pepatah mengatakan Kere Munggah Bale, adalah sikap aji mumpung ketika si miskin tiba-tiba menjadi penguasa.

    Cerita itu menjadi relevan dengan kondisi saat ini, ketika kita menengok kepada lingkungan sekitar. Arus reformasi telah membawa perubahan format politik, budaya, dan sosial-ekonomi. Jabatan Gubernur, Bupati, Walikota yang semula menjadi hak istimewa institusi, kelas dan orang-orang tertentu, kini terbuka bagi setiap orang. Asumsi politik mengatakan jika pemilihan pejabat dilakukan secara langsung seakan menjadi jaminan terciptanya demokrasi, padahal inti demokrasi muaranya antara lain adalah kesejahteraan rakyat. Senyatanya, kondisi yang diharapkan belum terjadi dan memunculkan fenomena memprihatinkan dari oknum anggota legislatif di pusat atau daerah, yaitu menguatnya perilaku aji mumpung – karena masa jabatan hanya sebentar. Sehingga tidak mengherankan bila Transparency International Indonesia (TII) menempatakan lembaga legislatif sebagai institusi terkorup di negeri ini. Pun tidak sedikit para pejabat eksekutif pusat maupun daerah yang juga menggunakan ajian mumpung untuk memenuhi kesenangannya. Padahal jika kita menengok ke belakangan, bahwa orang-orang yang katanya sukses atau bergelimang harta adalah manusia yang pada awalnya tidak memiliki apa-apa, bahkan Oom Lim sekalipun, dahulunya juga orang susah, miskin dan hidup seadanya.

    Keadaan seperti itu tersurat dalam firman-Nya, “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS. Adh Dhuhaa, 93:8).

    Nenek moyang kita dahulu hanya hidup dari alam, berangsur-angsur keturunannya bisa memperoleh makanan yang lebih baik, mendirikan rumah yang layak, mengeyam pendidikan, dan pada akhirnya bisa membaca serta berilmu pengetahuan. Sebagian dari mereka menjalani profesi yang berbeda sesuai keahlian/pengetahuan yang dimiliki untuk penghidupannya. Semua itu adalah karena karunia-Nya, Dialah yang mencukupi keperluan kita, “(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku,” (QS. Asy Syu’araa, 26:78-79). Namun setelahnya, bukan syukur, tetapi malah kufur seperti lupanya seorang Petruk akan asalnya.

    Cukup banyak contoh orang-orang yang berada di posisi puncak, tetapi malah menunjukkan rasa syukurnya kepada Allah SWT. Mereka menyadari bahwa kepemimpinannya (kekhalifahannya) akan dimintai pertanggunganjawaban. Misalnya, Umar bin Khatab r.a yang lebih memilih menaiki keledai kecil dan dengan pakaian ala kadarnya. Mahatma Gandhi, inspirator gerakan kemerdekaan di Asia pada era 40-an, menyukai berpakaian hanya selembar kain gandum. Bung Hatta menjadi sangat dikenang selain karena intelektualitas juga karena kesederhanaan dan kejujurannya. Ataupun Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, anak seorang tukang pangkas rambut. Kantornya hanyalah sebuah bangunan kecil di kawasan padat di tengah Teheran, bahkan lebih kecil dari kantor Gubernur DKI Jakarta. Pakaian kesehariannya produk dalam negeri, dan hanya memakai jas tanpa dasi. Ia menolak tinggal di rumah dinas presiden, dan lebih memilih tinggal di apartemen sederhana di kawasan kelas menengah bawah di Nurmagi,

    Teheran Tenggara. Kesederhanaan sebagai manifestasi dari bentuk empati dan simpati itulah yang membuat mereka menjadi guru (digugu dan ditiru) bagi rakyat yang dipimpinnya daripada mereka memilih gaya borjuis saat menjadi Ratu. Tangan, pemikiran, dan kedudukannya telah memberi manfaat untuk kemaslahatan rakyat yang dipimpinnya. Semoga pesan ini dapat menggugah keterlenaaan kita sebagai makhluk Allah bahwa kemanfaatan sebagai khalifah di bumi-Nya adalah segalanya, hal itu jualah yang membedakan mana Petruk dan diri kita, dan kita termasuk orang-orang yang senantiasa mau berbuat bagi kemasalahatan umat dan orang banyak. Mudah-mudahan Allah SWT meringankan langkah kita dan meridhoi setiap upaya kita semua. Amin (fn).

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 5 February 2013 Permalink | Balas  

    Tengoklah ke “Dalam” sebelum Bicara

    Oleh Sus Woyo

    Ada sebuah kisah kecil, ketika saya masih aktif bersama teman-teman di organisasi remaja masjid kampung saya. Namun kisah kecil ini telah menjadi ‘prasasti’ indah dalam kehidupan saya sampai sekarang.

    Waktu itu kami sedang giat-giatnya menggelar usaha keagamaan. Tiba-tiba di belakang masjid kami, salah seorang warga membuka rumahnya untuk dijadikan tempat judi togel.

    Setiap malam orang-orang ramai berkumpul di situ. Karena dari pihak desa tidak ada reaksi apa-apa terhadap judi itu, maka kami bersepakat untuk negosiasi dengan warga itu. Agar kegiatan yang banyak merugikan masyarakat itu dihentikan saja.

    Dengan semangat, kami bersepakat untuk mendatangi tempat tersebut.

    Namun sebelum berangkat, ada salah satu senior kami yang mengingatkan.

    Ia berkata pada kami. “Ini kerja besar.Ini perjuangan berat. Jangan gegabah kita melangkah. Kita harus lebih siap lagi untuk maju ke medan ‘jihad’ ini.

    Ada sesuatu yang harus kita laksanakan dulu sebelum kita maju kesana.”

    Senior kami itu menyarankan agar kami mengoreksi diri dulu. Sudah sejauh mana ibadah harian kita kepada Allah. Sudah sejauh mana komitmen kita terhadap apa yang diperintahNya dan apa yang dilarangNya.

    Ahirnya, selama beberapa hari, kami disarankan untuk sebisa mungkin sholat wajib berjamaah. Kita juga harus bangun malam untuk qiamullail.

    Yang biasanya jarang puasa Senin Kamis, sekarang amalan Nabi itu harus dilaksanakan dengan intensif. Pokoknya, senior kami itu menyarankan agar sebisa mungkin mengaplikasikan bentuk ketakwaan dan keimanan kepada Allah SWT. Tidak hanya bentuk “amar ma’ruf” saja, tapi mesti diiringi juga dengan “nahi mungkar.” Seperti yang masih merokok untuk segera meninggalkan perbuatan mubah itu.

    Beberapa hari kemudian, saat hari ‘H’ sudah tiba, kami berkumpul lagi.

    Namun kami tidak jadi menemui bandar togel itu. Sebab, dengan izin Allah, orang itu sudah menutup total usahanya. Rupanya ia sudah kembali berprofesi seperti biasa, yaitu sebagai kuli bangunan. Kami merasa gembira sekali. Dan semua ini sudah jelas merupakan pertolongan dariNya. Entah apa yang terjadi seandainya kami menyikapi perbuatan salah seorang warga di dekat masjid itu dengan emosional pada waktu itu, tanpa mengindahkan nasehat senior kami.

    Apakah ini sebuah kemenangan sebelum bertanding? Tidak juga.

    Sebab kami telah berjuang dulu, berjuang menaklukan napsu diri.

    Bukankah ini juga jihad besar?

    Pantas, jika sahabat Umar ra. sebelum berangkat perang dengan orang kafir, selalu memeriksa pasukannya sedetil mungkin. Mereka yang malamnya tidak qiamullail, sementara jangan ikut ke medan jihad dulu. Kata Khalifah kedua itu: “Saya tidak takut dengan musuh yang banyak, tapi saya lebih takut kepada banyaknya dosa yang kita bawa. Sehingga kita akan kesulitan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.”

    Dan sejarah juga mencatat gemilangnya perang Badar bagi kaum muslimin.

    Padahal erbandingan jumlah pasukan antara kaum muslimin dan kafir sama sekali tidak seimbang. Tentu sudah bisa dipastikan bahwa salah satu faktor kemenangan kaum muslimin adalah karena kwalitas iman orang muslim masa itu yang sangat prima. Dan tentunya sangat minim dengan dosa-dosa. Tidak seperti kami di jaman ini.

    Saya hanya bisa berpikir, seandainya saya, keluarga saya, lingkungan saya, atau skup yang lebih luas lagi negri saya, dalam mengatasi masalah berkiblat dengan cara mereka, mungkin Allah pun akan memberi kemudahan dalam mengatasi berbagai masalah.

    Ya, tentunya harus dimulai dari pribadi masing-masing. Sebab tak mustahil, bahwa saya, kita-kita inipun ternyata ada dalam barisan orang-orang yang menghambat pertolongan Allah.

    Sampai sekarang pesan senior kami di organisasi remaja masjid bertahun-tahun lalu itu, selalu terngiang ditelinga saya, manakala ada sesuatu pekerjaan yang harus berhubungan dengan orang banyak. Pesan yang pendek, namun sangat berarti: “Bacalah dirimu! Sebelum kau baca orang lain!”

    Atau dalam bahasa populer penyanyi ballada Ebiet G Ade: “Tengoklah ke ‘dalam’, sebelum bicara.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 3 February 2013 Permalink | Balas  

    Ya Kayuku, Ya Kayumu

    Oleh: Luthfi Bashori

    Konon menurut shahibul hikayat, di jaman penjajahan Jepang pernah terjadi suatu keajaiban. Saat itu, ada seorang petani yang aktif shalat di sebuah mushalla dekat perkampungan. Sekali pun ia bukanlah penduduk desa itu, namun ia memiliki sebidang tanah sawah yang berada di wilayah tersebut.

    Karena itulah hampir setiap Dhuhur dan Ashar petani itu selalu meluangkan waktunya shalat di mushalla itu, bahkan karena keaktifannya, maka warga setempat menunjuknya sebagai imam shalat khusus Dhuhur dan Ashar.

    Sebenarnya, petani itu bukanlah ahli ilmu agama, namun karena kondisi masyarakat di jaman itu cukup mengenaskan, baik dari segi keilmuan, perekonomian maupun keamanan, maka karena keadaanlah memaksa mereka untuk memanfaatkan apa saja yang dianggap maslahat tanpa harus meninjau syarat-syarat ideal, termasuk dalam mengangkat imam shalat Dhuhur dan Ashar.

    Di sisi lain, kaum lelaki di kampung itu kebanyakan adalah para pejuang kemerdekaan, sehingga bukan urusan gampang mencari kaum lelaki yang senantiasa stand by di kampung halamannya, karena mereka harus bergerilya dan selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, masuk hutan keluar hutan, demi menyusun strategi menghadapi dan menyerang penjajah Jepang.

    Suatu saat, ada serombongan gerilyawan yang berlarian menuju mushalla kampung tersebut. Rupanya mereka sedang dikejar tentara Jepang. Sangat kebetulan, di saat yang bersamaan si petani itu sedang mengimami shalat Dhuhur. Maka kontan para gerilyawan bergabung shalat berjamaah, sekaligus untuk menghilangkan jejak dari kejaran tentara Jepang.

    Sayangnya barisan tentara Jepang itu tetap mencurigai para jamaah shalat Dhuhur di mushala itu, dan menghitungnya sebagai para pejuang yang sedang mereka kejar, maka tanpa ba-bi-bu, tiba-tiba tembakan demi tembakan meletus dan diarahkan kepada para jamaah shalat.

    Tentu saja banyak para jamaah yang bergelimpangan mati syahid, sedangkan mereka yang tidak terkena peluru, secara refleksi menggunakan trik menjatuhkan diri pura-pura mati, agar tidak menjadi sasaran tembak berikutnya.

    Lain halnya dengan si petani yang menjadi imam shalat, ia dengan khusyu` terus menyelesaikan shalatnya, hingga tentara Jepang itupun membrodongkan tembakannya ke arah si petani yang menjadi imam shalat. Anehnya, si petani itu tetap istiqamah dalam shalatnya tanpa terpengaruh apapun, hingga akhirnya tentara barisan Jepang beranjak meninggalkan si petani di saat sedang membaca salam pada tahiyyat akhir.

    Peristiwa ini sangat mengejutkan para pejuang yang masih hidup. Maka Mereka beramai-ramai menanyakan ajian apa yang digunakan oleh si petani hingga dirinya tidak mempan ditembak.

    Dengan polos, si petani mengatakan bahwa konon ia mendapat ijazah dari seorang Kiai yang kebetulan sedang mengajar di kampung tempat tinggalnya, yaitu agar setiap usai shalat fardlu hendaklah selalu membaca : YA KAYUKU YA KAYUMU sebanyak seratus kali, dan jika berada dalam keadaan darurat/genting maka hendaklah dibaca sebanyak-banyaknya tanpa hitungan tertentu. Karena itulah si petani selalu istiqamah membacanya dengan penuh keyakinan `seyakin-yakinnya`, sehingga dalam keadaan darurat tadi si petani merasa dirinya menjadi seperti KAYU yang tidak mempan ditembak.

    Kebetulan ada salah seorang dari kalangan pejuang yang masih hidup itu, konon adalah alumni sebuah pesantren. Maka dengan sedikit senyum ia ingin mengoreksi bacaan sang petani yang merangkap jadi imam shalat > Lantas dengan nada lembut dan hormat alumni pesantren itu mengatakan: Pak, mohon maaf, barangkali bacanya yang benar itu adalah YA HAYYU YA QAYYUM, karena yang bapak baca itu adalah termasuk Asmaul Husna, yaitu nama-nama Allah, bukan YA KAYUKU YA KAYUMU, hingga badan bapak berubah menjadi KAYU.

    Karena keawwaman si petani, ia hanya dapat mengangguk-anggukkan kepala, sedangkan lisan awwamnya tetap saja membaca YA KAYUKU YA KAYUMU dengan penuh keyakinan, hal ini karena lisannya sudah terbiasa dengan bacaan itu.

    Berbeda dengan alumni pesantren tersebut, ia pun berusaha mengamalkan bacaan YA HAYYU YA QAYYUM seperti yang diamalkan si petani, bahkan lisannya jauh lebih baik dan lebih fasih saat membacanya. Hanya saja dari segi keyakinan saat mengamalkan ijazah itu, masih di bawah standar keyakinan si petani awwam tadi.

    Hingga suatu saat, terjadi lagi peristiwa yang hampir sama, bahwa para gerilyawan itu kembali dikejar-kejar tentara Jepang dan dibrondong peluru. Namun karena nasib yang berbeda, alumni pesantren yang fasih mengucapkan YA HAYYU YA QAYYUM itu pun akhirnya mati syahid tertembak peluru tentara Jepang. Innalillahi wa inaa ilaihi raaji`un.

    Penyair mengatakan :

    Idzil fataa hasba`tiqaadihi rufi` # wakullu man lam ya`taqid lan yantafi`

    Seseorang itu akan diangkat derajatnya sesuai kadar keyakinannya, siapa yang tidak yakin terhadap sesuatu, ia tidak akan dapat mengambil manfaatnya.

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 28 January 2013 Permalink | Balas  

    Mimpi Bertemu Rasulullah SAW Sebelum Mati Syahid

    Abu Muslim Al-Turki, berasal dari Inggris. Syahid dalam sebuah pertempuran melawan tentara Kroasia di Bosnia pada tahun 1993, pada umur 51 tahun. Kisah dari orang pertama.

    Abu Muslim adalah seorang muslim keturunan Turki yang dibesarkan di Inggris. Sebelumnya ia menjalani hidupnya bagaikan seorang kafir. Ia menikahi seorang wanita non muslim, begitu pula ia tidak mengerjakan shalat dan menjalankan ibadah lainnya, sampai suatu hari Allah SWT memberikan petunjukNya untuk kembali ke jalan yang benar.

    Tak lama kemudian, Abu Muslim mendengar tentang situasi di Bosnia, dan berkata pada dirinya bahwa saya harus berangkat ke Bosnia, saya harus bertaubat pada Allah dan bertempur melawan pasukan Serbia, semoga dengan demikian Allah mengampuni semua yang telah saya lakukan di masa lampau.

    Ia tiba di Bosnia pada musim gugur 1992 dan mengikuti training pada sebuah kamp di Mehorich. Abu Muslim adalah orang yang paling tua di antara para mujahidin. Saat mujahidin melakukan lari pagi, mereka semua harus menggenggam sebuah senapan, kecuali Abu Muslim, karena usianya yang tua dan kepayahan fisiknya. Orang yang melihat matanya akan mendapatkan mata seorang yang benar dan jujur kepada Allah.

    Dalam sebuah operasi melawan pasukan Kroasia, Amir pasukan tidak memilihnya untuk ikut dalam operasi tersebut karena usianya yang tua. Namun Abu Muslim mulai menangis, meraung-meraung bagaikan seorang bayi hingga Amir pasukan terpaksa memasukkannya untuk ambil bagian dalam operasi tersebut.

    Dalam operasi tersebut Abu Muslim tertembak di lengannya hingga menghancurkan tulangnya dan sebatang logam harus ditanamkan di lengannya selama enam bulan. Abu Muslim rajin melatih lengannya, dan setelah 45 hari dokter mengatakan bahwa logam tersebut sudah dapat diambil dari tangannya. Semua orang terkejut mendengar kabar tersebut.

    Sebelum dilakukan sebuah operasi besar terhadap pasukan Kroasia, Abu Muslim mendapat mimpi, di mana ia melihat Rasulullah SAW dan mencium kakinya. Kemudian Rasulullah SAW berkata padanya,”Janganlah kau cium kakiku.” Kemudian Abu Muslim mencium tangan Rasulullah SAW, hingga Rasulullah berkata padanya,”Jangan kau cium tanganku.” Kemudian Rasulullah SAW bertanya padanya,”Apa yang kamu inginkan hai Abu Muslim?” Abu Muslim menjawab,” Ya Rasulullah, berdoalah pada Allah untukku, agar dalam operasi besok saya mati syahid.”

    Sebelum operasi tersebut dijalankan, Amir pasukan, yaitu Komandan Abul Haris memilih personil yang akan ambil bagian dalam operasi tersebut. Ia menolak Abu Muslim untuk ikut, karena masih terluka dan belum pulih.

    Seorang mujahid yang hadir saat itu berkata,” Aku bersumpah pada Allah bahwa Abu Muslim mulai menangis seperti bayi dan berkata pada Amir, ‘Takutlah pada Allah! Abul Haris, saya akan menuntutmu di hari Kiamat jika engkau tidak mengikutkanku dalam operasi ini.”

    Saat komandan Abul Haris menyuruhnya untuk tidak berteriak karena kuatir didengar musuh, Abu Muslim menjawab, ”Demi Allah, jika engkau tidak memilih saya dalam operasi ini Abul Haris, saya akan menangis keras hingga terdengar ke seluruh negeri.” Lalu ia berkata,”Ikutkan saya dalam operasi ini di mana saja, meskipun sebagai orang yang paling belakang, ikutkanlah saya dalam operasi ini.”

    Akhirnya Abu Muslim diikutkan dalam operasi ini di posisi belakang. Namun jalannya pertempuran berubah, hingga barisan belakang menjadi barisan depan (berhadapan dengan musuh – penerjemah) dan barisan depan menjadi barisan belakang. Abu Muslim menjadi mujahid kedua yang syahid dalam operasi itu oleh sebuah peluru yang mengenai dadanya.

    Tubuhnya baru dikembalikan oleh pasukan Kroasia setelah tiga bulan, bersama tubuh saudara senegaranya Daud al-Britany. Sebuah aroma wangi tercium dari tubuhnya yang tampak tidak berubah meskpun tiga bulan telah berlalu. Semua orang yang menyaksikannya mengatakan bahwa tubuhnya menjadi lebih tampan dan tampak lebih putih daripada ketika terakhir kalinya mereka melihat Abu Muslim.

    Seorang mujahid bertutur bahwa dari semua jenazah para syuhada yang pernah dilihatnya di Bosnia, tidak ada yang lebih tampan daripada jenazah Abu Muslim at-Turki.

    “Barangsiapa yang menderita suatu luka dalam jihad fi sabilillah, kelak ia akan datang pada hari kiamat, baunya seperti bau harum minyak kesturi, dan warnanya seperti warna za’faron, ada ada cap syuhada’ padanya. Barangsiapa yang meminta syahadah dengan tulus, maka Allah akan memberikan padanya pahala orang yang mati syahid meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya.“ (Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan Al Hakim)

    ***

    Disadur dari : ebook Wakaf Kisah Nyata “Biografi dan Karomah Syuhada Jihad Bosnia”

    Silahkan download selengkapnya di abuhamdi.wordpress.com

     
    • what is the best time to try and get pregnant 1:57 am on 31 Januari 2013 Permalink

      I absolutely love your blog.. Pleasant colors & theme.
      Did you build this site yourself? Please reply back as
      I’m planning to create my very own site and want to find out where you got this from or what the theme is named. Thank you!

    • Lia Abduh 5:32 pm on 10 April 2013 Permalink

      Subhanallah*** indahnya mati syahid.

    • VAN roen 5:12 pm on 12 April 2013 Permalink

      Ya ALLAH YA RABB ku tanamkanlah api jihad kpd ENGKAU YANG MAHA SUCI dhati n jiwa hamba Mu yg hina ini sampai ajal menjemput

  • erva kurniawan 1:29 am on 27 January 2013 Permalink | Balas  

    Abraham David Mandey : Pendeta yang mendapat Hidayah Allah

    Barangkali tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa perjalanan hidupnya merupakan suatu kasus yang langka dan unik. Betapa tidak, Abraham David Mandey yang selama 12 tahun mengabdi di gereja sebagai “Pelayan Firman Tuhan “, istilah lain untuk sebutan pendeta, telah memilih Islam sebagai “jalan hidup” akhir dengan segala risiko dan konsekuensinya. Di samping itu, ia yang juga pernah menjadi perwira TNI-AD dengan pangkat mayor, harus mengikhlaskan diri melepas jabatan, dan memulai karir dari bawah lagi sebagai kepala keamanan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. – Cerita Beliau ini, – mohon maaf – tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan Institusi tertentu karena apa yang telah terjadi Beliau terima dengan ikhlas dan tawakal, Beliau hanya ingin menceritakan proses bagaimana Beliau mendapat hidayah dan tantangannya sebagai mualaf – red.

    Saya terlahir dengan nama Abraham David di Manado, 12 Februari 1942. Sedangkan, Mandey adalah nama fam (keluarga) kami sebagai orang Minahasa, Sulawesi Utara. Saya anak bungsu dan tiga bersaudara yang seluruhnya laki-laki. Keluarga kami termasuk keluarga terpandang, baik di lingkungan masyarakat maupun gereja. Maklum, ayah saya yang biasa kami panggil papi, adalah seorang pejabat Direktorat Agraria yang merangkap sebagai Bupati Sulawesi pada awal revolusi kemerdekaan Republik Indonesia yang berkedudukan di Makasar. Sedangkan, ibu yang biasa kami panggil mami, adalah seorang guru SMA di lingkungan sekolah milik gereja Minahasa.

    Sejak kecil saya kagum dengan pahlawan-pahlawan Perang Salib seperti Richard Lion Heart yang legendaris. Saya juga kagum kepada Jenderal Napoleon Bonaparte yang gagah perwira. Semua cerita tentang kepahlawanan, begitu membekas dalam batin saya sehingga saya sering berkhayal menjadi seorang tentara yang bertempur dengan gagah berani di medan laga.

    Singkatnya, saya berangkat ke Jakarta dan mendaftar ke Mabes ABRI. Tanpa menemui banyak kesulitan, saya dinyatakan lulus tes. Setelah itu, saya resmi mengikuti pendidikan dan tinggal di asrama. Tidak banyak yang dapat saya ceritakan dari pendidikan militer yang saya ikuti selama 2 tahun itu, kecuali bahwa disiplin ABRI dengan doktrin “Sapta Marga”-nya telah menempa jiwa saya sebagai perwira remaja yang tangguh, berdisiplin, dan siap melaksanakan tugas negara yang dibebankan kepada saya.

    Meskipun dipersiapkan sebagai perwira pada bagian pembinaan mental, tetapi dalam beberapa operasi tempur saya selalu dilibatkan. Pada saat-saat operasi pembersihan G-30S/PKI di Jakarta, saya ikut bergabung dalam komando yang dipimpin Kol. Sarwo Edhie Wibowo (almarhum).

    Setelah situasinegara pulih yang ditandai dengan lahirnya Orde Baru tahun 1966, oleh kesatuan saya ditugaskan belajar ke STT (Sekolah Tinggi Teologi) milik gereja Katolik yang terletak di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Di STI ini, selama 5 tahun (1966-1972) saya belajar, mendalami, mengkaji, dan diskusi tentang berbagai hal yang diperlukan sebagai seorang pendeta. Di samping belajar sejarah dan filsafat agama Kristen. STT juga memberikan kajian tentang sejarah dan filsafat agama-agama di dumia, termasuk studi tentang Islam.

     

    Menjadi Pendeta.

    Sambil tetap aktif d TNI-AD, oleh Gereja Protestan Indonesia saya ditugaskan menjadi Pendeta II di Gereja P***** (edited) di Jakarta Pusat, bertetangga dengan Masjid Sunda Kelapa. Di gereja inilah, selama kurang lebih 12 tahun (1972-1984) saya memimpin sekitar 8000 jemaat yang hampir 80 persen adalah kaum intelektual atau masyarakat elit.

    Di Gereja P***** (edited) ini, saya tumpahkan seluruh pengabdian untuk pelayanan firman Tuhan. Tugas saya sebagai Pendeta II, selama memberikan khutbah, menyantuni jemaat yang perlu bantuan atau mendapat musibah, juga menikahkan pasangan muda-mudi yang akan berumah tangga.

    Kendati sebagai pendeta, saya juga anggota ABRI yang harus selalu siap ditugaskan di mana saja di wilayah Nusantara. Sebagai perwira ABRI saya sering bertugas ke seluruh pelosok tanah air Bahkan, ke luar negeri dalam rangka tugas belajar dari markas, seperti mengikuti kursus staf Royal Netherland Armed Forces di Negeri Belanda. Kemudian, pada tahun 1969 saya ditugaskan untuk mengikuti Orientasi Pendidikan Negara-negara Berkembang yang disponsoni oleh UNESCO di Paris, Prancis.

     

    Dilema Rumah Tangga

    Kesibukkan saya sebagai anggota ABRI ditambah tugas tugas gereja, membuat saya sibuk luar biasa. Sebagaipendeta, saya lebih banyak memberikan perhatian kepada jemaat. Sementara,kepentingan pribadi dan keluarga nyaris tergeser. Istri saya, yang putri mantan Duta Besar RI di salah satu negara Eropa, sering mengeluh dan menuntut agar saya memberikan perhatian yang lebih banyak buat rumah tangga.

    Tetapi yang namanya wanita, umumnya lebih banyak berbicara atas dasar perasaan. Karena melihat kesibukan saya yang tidak juga berkurang, ia bahkan meminta agar saya mengundurkan diri dan tugas-tugas gereja, dengan alasan supaya lebih banyak waktu untuk keluarga. Tenth saja saya tidak dapat menerima usulannya itu. Sebagai seorang “Pelayan Firman Tuhan” saya telah bersumpah bahwa kepentingan umat di atas segalanya.

    Problem keluarga yang terjadi sekitar tahun 1980 ini kian memanas, sehingga bak api dalam sekam. Kehidupan rumah tangga saya, tidak lagi harmonis. Masalah-masalah yang kecil dan sepele dapat memicu pertengkaran. Tidak ada lagi kedamaian di rumah. Saya sangat mengkhawatirkan Angelique, putri saya satu-satunya. Saya khawatir perkembangan jiwanya akan terganggu dengan masalah yang ditimbulkan kedua orang tuanya. Oleh karenanya, saya bertekad harus merangkul anak saya itu agar ia mau mengerti dengan posisi ayahnya sebagai pendeta yang bertugas melayani umat. Syukur, ia mau mengerti. Hanya Angeliquelah satu-satunya orang di rumah yang menyambut hangat setiap kepulangan saya.

    Dalam kesunyian malam saat bebas dan tugas-tugas gereja, saya sering merenungkan kehidupan ramah tangga saya sendiri. Saya sering berpikir, buat apa saya menjadi pendeta kalau tidak mampu memberikan kedamaian dan kebahagiaan buat rumah tangganya sendiri. Saya sering memberikan khutbah pada setiap kebaktian dan menekankan hendaknya setiap umat Kristen mampu memberikan kasih kepada sesama umat manusia. Lalu, bagaimana dengan saya?

    Pertanyaan-pertanyaan seperti itu semakin membuat batin saya resah. Saya mencoba untuk memperbaiki keadaan. Tetapi, semuanya sudah terlambat. Istri saya bahkan terang terangan tidak mendukung tugas-tugas saya sebagai pendeta. Saya benar-benar dilecehkan. Saya sudah sampal pada kesimpulan bahwa antara kami berdua sudah tidak sejalan lagi.

    Lalu, untuk apa mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak saling sejalan? Ketika niat saya untuk “melepas” istri, saya sampaikan kepada sahabat-sahabat dekat saya sesama pendeta, mereka umumnya menyarankan agar saya bertindak lebih bijak. Mereka mengingatkan saya, bagaimana mungkin seorang pendeta yang sering menikahkan seseorang, tetapi ia sendiri justru menceraikan istrinya? Bagaimana dengan citra pendeta di mata umat? Begitu mereka mengingatkan.

    Apa yang mereka katakan semuanya benar. Tetapi, saya sudah tidak mampu lagi mempertahankan bahtera rumah tangga. Bagi saya yang terpenting saat itu bukan lagi persoalan menjaga citra pendeta. Tetapi, bagaimana agar batin saya dapat damai. Singkatnya, dengan berat hati saya terpaksa menceraikan istri saya. Dan, Angelique, putri saya satu-satunya memilih ikut bersama saya.

     

    Mencari Kedamaian

    Setelah kejadian itu, saya menjadi lebih banyak melakukan introspeksi. Saya menjadi lebih banyak membaca literatur tentang filsafat dan agama. Termasuk kajian tentang filsafat Islam, menjadi bahan yang paling saya sukai. Juga mengkaji pemikiran beberapa tokoh Islam yang banyak dilansir media massa.

    Salah satunya tentang komentar K.H. E.Z. Muttaqin (almarhum) terhadap krisis perang saudara di Timur Tengah, seperti diYerusalem dan Libanon. Waktu itu (tahun 1983), K.H.E.Z. Muttaqin mempertanyakan dalam khutbah Idul Fitrinya, mengapa Timur Tengah selalu menjadi ajang mesiu dan amarah, padahal di tempat itu diturunkan para nabi yang membawa agama wahyu dengan pesan kedamaian?

    Saya begitu tersentuh dengan ungkapan puitis kiai dan Jawa Barat itu. Sehingga, dalam salah satu khutbah saya di gereja, khutbah Idul Fitni K.H. E.Z. Muttaqin itu saya sampaikan kepada para jemaat kebaktian. Saya merasakan ada kekagetan di mata para jemaat. Saya maklum mereka terkejut karena baru pertama kali mereka mendengar khutbah dari seorang pendeta dengan menggunakan referensi seorang kiai Tetapi, bagi saya itu penting, karena pesan perdamaian yang disampaikan beliau amat manusiawi dan universal.

    Sejak khutbah yang kontroversial itu, saya banyak mendapat sorotan. Secara selentingan saya pemah mendengar “Pendeta Mandey telah miring.” Maksudnya, saya dinilai telah memihak kepada salah satu pihak. Tetapi, saya tidak peduli karena yang saya sampaikan adalah nilai-nilai kebenaran.

    Kekaguman saya pada konsep perdamaian Islam yank diangkat oleh KH. E.Z. Muttaqin, semakin menarik saya lebih kuat untuk mendalami konsepsi-konsepsi Islam lainnya. Saya ibarat membuka pintu, lalu masuk ke dalamnya, dan setelah masuk, saya ingin masuk lagi ke pintu yang lebih dalam. Begitulah perumpamaannya. Saya semakin “terseret” untuk mendalami, konsepsi Islam tentang ketuhanan dan peribadahan

    Saya begitu tertarik dengan konsepsi ketuhanan Islam yang disebut “tauhid”. Konsep itu begitu sederhana, lugas, dan tuntas dalam menjelaskan eksistensi Tuhan yang oleh orang Islam disebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga, orang yang paling awam sekalipun akan mampu mencemanya. Berbeda dengan konsepsi ketuhanan Kristen yang disebut Trinitas. Konsepsi ini begitu rumit, sehingga diperlukan argumentasi ilmiah untuk memahaminya.

    Akan halnya konsepsi peribadatan Islam yang disebut syariat, saya melihatnya begitu teratur dan sistematis. Saya berpikir seandainya sistemper ibadatan yang seperti ini benar benar diterapkan, maka dunia yang sedang kacau ini akan mampu di selamatkan.

    Pada tahun 1982 itulah saya benar-benar mencoba mendekati Islam. Selama satu setengah tahun saya melakukar konsultasi dengan K.H. Kosim Nurzeha yang juga aktif di Bintal (Pembinaan Mental) TNI-AD. Saya memang tidak ingin gegabah dan tergesa-gesa, karena di samping saya seorang pendeta, saya juga seorang perwira Bintal Kristen dilingkungan TNI-AD. Saya sudah dapat menduga apa yang akan terjadi seandainya saya masuk Islam.

    Tetapi, suara batin saya yang sedang mencari kebenaran dan kedamaian tidak dapat diajak berlama-lama dalam kebimbangan. Batin saya mendesak kuat agar saya segera meraih kebenaran yang sudah saya temukan itu.

    Oh, ya, di samping Pak Kosim Nurzeha, saya juga sering berkonsultasi dengan kolega saya di TNI-AD. Yaitu, Dra. Nasikhah M., seorang perwira Kowad (Korps.Wanita Angkatan Darat) yang bertugas pada BAIS (Badan Intelijen dan Strategi) ABRI.

    Ia seorang muslimah lulusan UGM (Universilas Gajah Mada) Yogyakarta, jurusan filsafat. Kepadanya saya sering berkonsultasi tentang masalah-masalah pribadi dan keluarga. Ia sering memberi saya buku-buku bacaan tentang pembinaan pribadi dan keluarga dalam Islam. Saya seperti menemukan pegangan dalam kegundahan sebagai duda yang gagal dalam membina rumah tangganya.

    Akhirnya, saya semakin yakin akan hikmah dibalik drama rumah tangga saya. Saya yakin bahwa dengari jalan itu, Tuhan ingin membimbing saya ke jalan yang lurus dan benar. Saya bertekad, apa pun yang terjadi saya tidak akan melepas kebenaran yang telah saya raih ini.

    Akhimya, dengan kepasrahan yang total kepada Tuhan, pada tanggal 4 Mei 1984 saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dengan bimbingan Bapak K.H. Kosim Nurzeha dan saksi Drs. Farouq Nasution di Masjid Istiqial. Allahu Akbar. Hari itu adalah hari yang amat bersejarah dalam hidup saya. Han saat saya menemukan diri saya yang sejati.

     

    Menghadapi Teror

    Berita tentang keislaman saya ternyata amat mengejutkan kalangan gereja, termasuk di tempat kerja saya di TNI-AD. Wajar, karena saya adalah Kepala Bintal (Pembinaan Mental)Kristen TNI-AD dan di gereja, saya adalah pentolan.

    Sejak itu saya mulai memasuki pengalaman baru, yaitu menghadapi tenor dan berbagai pihak. Telepon yang bernada ancaman terus berdening. Bahkan, ada sekelompok pemuda gereja di Tanjung Priok yang bertekad menghabisi nyawa saya, karena dianggapnya telah murtad dan mempermalukan gereja.

    Akan halnya saya, di samping menghadapi teror, juga menghadapi persoalan yang menyangkut tugas saya di TNI AD. DGI (Dewan Gereja Indonesia), bahkan menginim surat ke Bintal TNT-AD, meminta agar saya dipecat dan kedinasan dijajaran ABRl dan agar saya mempertanggungjawabkan perbuatan saya itu di hadapan majelis gereja.

    Saya tidak penlu menjelaskan secara detail bagaimana proses selanjutnya, karena itu menyangkut rahasia Mabes ABRI. Yang jelas setelah itu, saya menerima surat ucapan tenima kasih atas tugas-tugas saya kepada negara, sekaligus pembebastugasan dan jabatan saya di jajaran TNT-AD dengan pangkat akhir Mayor.

    Tidak ada yang dapat saya ucapkan, kecuali tawakal dan ménerima dengan ikhlas semua yang tenjadi pada diri saya. Saya yakin ini ujian iman.

    Saya yang terlahir dengan nama Abraham David Mandey, setelah muslim menjadi Ahmad Dzulkiffi Mandey, mengalami ujian hidup yang cukup berat. Alhamdulillah, berkat kegigihan saya, akhirnya saya diterima bekerja di sebuab perusahaan swasta. Sedikit demi sedikit kanin saya terus menanjak. Setelah itu, beberapa kali saya pindah kerja dan menempati posisi yang cukup penting. Saya pennah menjadi Manajer Divisi Utama FT Putera Dharma. Pernah menjadi Personel/General Affairs Manager Hotel Horison, tahun 1986-1989, Dan, sejak tahun 1990 sampai sekarang saya bekerja di sebuah bank terama di Jakarta sebagai Safety & Security Coordinator.

    Kini, keadaan saya sudah relatif baik, dan saya sudah meraih semua kebahagiaan yang selama sekian tahun saya rindukan. Saya sudah tidak lagi sendiri, sebab Dra. Nasikhah M, perwira Kowad itu, kini menjadi pendamping saya yang setia, insya Allah selama hayat masih di kandung badan. Saya menikahinya tahun 1986. Dan, dan perikahan itu telah lahir seorarig gadis kedil yang manis dan lucu, namariya Achnasya. Sementara, Angelique, putri saya dari istri pertama, sampai hari ini tetap ikut bersama saya, meskipun ia masih tetap sebagai penganut Protestan yang taat.

    Kebahagiaan saya semakin bertambah lengkap, tatkala saya mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama istri tercinta pada tahun 1989.

     
    • andreas 1:53 am on 19 Agustus 2013 Permalink

      Syalom,itu semua pilihan hati anda…
      semoga kehidupan anda lebih baik didalam pilihan anda pak…

      Yudas iskariot seorang murid dari Yesus juga dipilih oleh Yesus tetapi pada akhirnya dia meninggalkan Yesua dan berakhir didalam kematian kekal….

  • erva kurniawan 1:50 am on 20 January 2013 Permalink | Balas  

    Orang Tua Sumbu Pendek

    Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

    Tiba-tiba, saya marah kepada anak saya. Saya membelalakkan mata lebar-lebar, dengan wajah menegangkan dan suara yang menakutkan. Untunglah istri saya segera bertindak.

    Ia panggil anak saya baik-baik, mengajaknya bicara empat mata tanpa amarah yang meluap-luap, lalu menasehatinya dengan lembut dan tegas. Anak saya yang usianya belum mencapai lima tahun itu memerah matanya, merebahkan badannya di pangkuan ibunya tanda bahwa ia menyesal -bukan kesal.

    Entah apa yang dikatakan oleh ibunya, seperti nyaris berbisik, tetapi anak saya segera keluar menemui saya. “Bapak, aku sayang sama Bapak. Aku minta maaf, ya?” katanya.

    Saya pegang tangannya lalu saya pangku. “Iya, Nak. Bapak juga minta maaf. Tadi bapak salah. Bapak nggak boleh marah seperti itu,” kata saya menanggapi, sambil diam-diam merasa malu.

    Ya, saya tidak boleh marah dengan cara yang buruk. Memarahi anak memang boleh jika benar-benar dibutuhkan. Tetapi memarahi berbeda dengan marah. Memarahi tidak selalu karena marah, meski acapkali orangtua memarahi anaknya karena emosi yang meluap-luap, saat hati dan pikiran sama-sama keruh. Memarahi bisa kita lakukan dengan kondisi emosi yang terkontrol, jernih dan tenang.  Lalu, seperti apa marah dengan cara yang buruk? Dan bagaimana pula seharusnya bila kita harus memarahi anak?

    Sumbu Pendek

    Ada beberapa hal buruk yang sering dialami orangtua semacam saya. Mereka cepat tersulut emosinya karena ada hal-hal yang kurang menyenangkan dari anak. Mereka cepat melampiaskan kemarahan hanya karena kejadian-kejadian kecil, tanpa berusaha mengendapkan terlebih dulu untuk mencari jalan paling jernih. Tidak menunggu waktu lama untuk mencubit anak dengan keras, membelalakkan mata secara menakutkan, atau segera menghujaninya dengan kata-kata makian dan umpatan. Begitu anak melakukan sedikit kesalahan, atau bahkan belum tentu merupakan kesalahan, seketika itu pula orangtua menyerangnya dengan kata-kata ancaman, cap yang buruk atau pertanyaan yang memojokkan. Orangtua semacam ini memiliki sumbu pendek, sehingga cepat terbakar tanpa sempat berpikir.

    Sebagian orangtua sumbu pendek menganggap tindakan yang keras, mudah meledak dan reaktif sebagai pilihan terbaik untuk memberi pelajaran pada anak. “Biar anak tidak kurang ajar,” kata seorang ibu, “Mereka harus diajari sopan santun.” Sayangnya, banyak yang merasa mengajarkan sopan santun tanpa pernah menerangkan kepada anak apa yang seharusnya dilakukan. Mereka hanya memberi hukuman yang menyakitkan dan memarahinya habis-habisan ketika anaknya berbuat yang tidak sesuai dengan keinginannya. Padahal, ada kaidah yang mengatakan, “Qubhunal ‘iqab bila bayan.” Adalah buruk menyiksa (menghukum) tanpa memberi penjelasan.  Menghukum dengan memberi penjelasan bukan berarti memukuli atau membentak-bentak sambil menyanyikan lagu cercaan, “Bodoh itu. Awas, kalau kamu melakukan lagi, saya jewer kamu. Ayo, kamu ulangi lagi nggak? Awas kau nanti! Kalau kamu lakukan lagi, saya lempar kamu.”

    Menghukum dengan memberi penjelasan berarti, kita menunjukkan kepada anak apa yang baik, apa yang sepatutnya dilakukan, dan sesudahnya menunjukkan apa yang tidak baik untuk dikerjakan. Kita tunjukkan kepada anak konsekuensinya jika anak mengerjakan yang buruk dan salah. Atau, kita jelaskan kepada anak dengan cara yang lembut dan tegas kesalahan yang baru saja ia lakukan.

    Sikap yang reaktif atau bahkan impulsif dalam menghukum anak akan menjadikan anak belajar menganggap kekerasan sebagai hal yang biasa. Tidak menakutkan. Mereka tidak lagi merasa takut mendapat hukuman orangtua, asal keinginannya terpenuhi. Alhasil, jika Anda sering sekali memarahi anak -apalagi kalau sulit ditebak apa yang membuat Anda memarahinya- jangan salahkan siapa-siapa kalau anak menganggap Anda sebagai macan kertas. Jangan kaget kalau ibunya marah-marah, tetapi anaknya yang kelas empat SD berkata, “Tuh, ibu lagi kumat.”

    Sekalipun memarahi dengan cara ini memang bisa menghentikan perilaku negatif anak, tetapi bukan karena sadar. Anak berhenti melakukan semata-mata karena takut kepada orangtua. Sewaktu-waktu ketakutan itu memudar, atau merasa tak terjangkau oleh pengawasan dan kemarahan orangtua, atau pun merasa sudah punya kekuatan untuk berkata tidak, anak tidak lagi patuh kepada orangtua. Sebaliknya, anak bahkan bisa melawan orangtua.

    Itulah sebabnya kenapa sebagian anak begitu patuh pada orangtua saat mereka kanak-kanak, tetapi berubah menjadi penentang saat remaja. Ada pula yang tetap menjaga kepatuhan sampai masa remaja, tetapi hanya di hadapan orangtua atau berada dalam jangkauan pengawasan orangtua.

    Jika ini terjadi pada anak-anak kita, saya tidak dapat membayangkan bagaimana nasib kita di akhirat kelak. Jangankan di akhirat, ketika uban belum memenuhi kepala pun kita sudah bisa sangat kerepotan. Kita tidak pernah bisa istirahat, meski cuma sejenak. Kita dipaksa mengawasi mereka terus-menerus, padahal kita tidak akan pernah punya kesanggupan untuk mengawasi mereka secara benar-benar sempurna. Karenanya, marilah kita memohon kepada Allah penjagaan atas hati dan iman anak-anak kita. Sesungguhnya, sebaik-baik penjaga adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Selebihnya, marilah kita ingat pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

    Seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw. “Ya Rasul Allah, berpesanlah kepadaku.” Nabi saw berpesan, “Laa taghdhab! Jangan marah.” Laki-laki itu bertanya berulang-ulang, tetapi Nabi saw tetap berpesan berulang kali pula, “Laa taghdhab! Jangan marah.” (HR. Bukhari).

    Ya, jangan marah. Tetapi alangkah sulitnya menahan marah bila hati sedang keruh dan pikiran sedang rusuh. Lebih-lebih jika tak ada keteduhan jiwa antara suami dan istri lantaran kurangnya syukur atau banyaknya keluh kesah. Atau boleh jadi keadaan itu tidak terjadi di rumah kita, tetapi kita masih sulit mengelola emosi sehingga mudah melampiaskan kemarahan secara berapi-api. Dan inilah yang dirasakan oleh banyak orangtua. Mereka sebenarnya ingin menjadi orangtua yang paling lembut, paling sayang dan paling bijak kepada anaknya. Mereka tidak ingin kasar dan bertindak secara tergesa-gesa, tetapi masih saja sering melakukan kegagalan.

    Dalam kasus yang terakhir ini, kerjasama antara suami dan istri sangat penting peranannya. Mereka perlu saling mengingatkan dan saling menyadari keterbatasan.  Berkenaan dengan mengingatkan, ada dua hal penting yang perlu kita perhatikan. Pertama, ingatkanlah kekeliruan yang dilakukannya saat ini tanpa memojokkan. Tanpa menyalahkan. Teguran yang disampaikan dengan baik dan lembut akan lebih mudah diterima. Seperti sore itu, istri saya memberi teguran dengan empatik tanpa suara yang meninggi, sehingga saya segera menyadari kekeliruan atas tindakan saya kepada anak. Kedua, terimalah teguran itu dengan lapang. Bukan sebagai ancaman atau serangan terhadap harga diri. Sebaik dan selembut apa pun nasehat yang diberikan, tapi kalau kita menerimanya dengan penuh kecurigaan (“Tumben, kok dia bicara seperti itu.”), menganggapnya sebagai serangan terhadap harga diri (“Kok sepertinya cuma saya yang bersalah, padahal dia juga melakukan banyak kesalahan.”), apalagi kita tanggapi dengan serangan balik (“Apa kamu merasa tidak pernah melakukan kesalahan?”), maka seluruh upaya yang baik itu akan sia-sia. Komunikasi akan macet dan saling pengertian tidak tercapai. Boleh jadi, ini akan memicu komunikasi yang bernada saling menyerang dan memaksa. Inilah yang disebut coercive communication, salah satu penyebab utama pertengkaran dan perceraian.

    Masih tentang marah. Memarahi anak secara impulsif, tiba-tiba, dan tanpa berpikir jernih justru dapat membuat anak kebal hukuman. Ia tidak lagi takut terkena bentakan, cubitan atau bahkan pukulan yang paling keras sekalipun. Ia merasakannya sebagai ritme hidup yang harus dijalani dan karena itu tidak perlu dirisaukan lagi. Rasa dongkol dan sakit hati memang tetap ada, tetapi tidak membuat anak jera. Jika ini terjadi, kemarahan orangtua akan berkejar-kejaran dengan “kenakalan” anak. Orangtua marah sepanjang hari, berteriak setiap saat, dan mencubit tanpa henti; sementara anak akan tetap melakukan kenakalannya. Bahkan boleh jadi, anak akan berusaha melawan sebisa-bisanya.

    Keadaan ini akan lebih buruk lagi jika orangtua suka marah semata-mata karena mengikuti kata hatinya. Jadi benar tidaknya perbuatan anak, ditentukan oleh suasana hati orangtua. Hari ini satu perbuatan bisa disambut dengan senyuman, atau sekurang-kurangnya dibiarkan tanpa teguran, tetapi besok bisa tiba-tiba mendatangkan amarah yang menakutkan. Ini menyebabkan anak tidak bisa belajar mengambil keputusan yang baik. Sebaliknya, ia hanya mengikuti kemana angin bertiup atau belajar melawan. Ia tidak punya pendirian yang teguh, lemah, mudah terpengaruh atau sebaliknya, ia menjadi orang yang sangat keras kepala.

    Di sisi lain, tindakan kita yang secara reaktif memarahi anak bisa mematikan kreativitas dan potensi unggul anak. Saya pernah melakukan kesalahan. Dua orang anak saya mengambil cucian yang belum selesai dibilas, sehingga pekerjaan justru bertambah. Saya segera bertindak. Cucian itu saya ambil tanpa bertanya kepada anak. Meskipun tanpa memukul dan atau membentak, tetapi anak saya menampakkan tanda ingin berontak. Ia dongkol. Ketika itulah saya tersentak. Saya dekati mereka dan bertanya, “Cuciannya kenapa diambil, Nak?”

    “Aku mau bantu. Biar ibu nggak capek,” kata Husain.  “Aku hati-hati kok ngambilnya, Pak,” kata Fathimah menambahkan, “Aku mau bantu Bapak.”

    Ya. Allah, maksud yang baik tetapi saya sikapi dengan buruk. Dan alangkah sering kita melakukan yang demikian. Karenanya, begitu menyadari kekeliruan yang saya lakukan, saya segera meminta maaf sekaligus ucapan terima kasih kepada mereka. Sesudahnya, saya beri sedikit penjelasan. Bayangkan kalau kesalahan semacam itu terjadi setiap hari, betapa besar potensi kebaikan anak yang terkubur dalam-dalam sebelum sempat berkembang!

    Benarlah kata Rasulullah. Jangan marah! Jangan marah! Jangan marah! Boleh memarahi anak, tetapi bukan untuk memperturutkan emosi. Ini butuh usaha yang keras dan kesediaan saling mengingatkan antara suami dan istri.  Nah, semoga Allah membaguskan akhlak kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Semoga Allah menjaga keturunan kita seluruhnya. Allahumma amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 19 January 2013 Permalink | Balas  

    Beras dari Langit

    Allah mengiriminya “orang tak dikenal dari langit” dengan membawakan berkarung-karung beras. Demikianlah satu balasan yang diberikan Allah sebagaimana janjinya kepada para pejuang agama Nya

    Hidayatullah.com — Perempuan itu terlihat khusyuk di atas sajadahnya. Wajahnya bening, bersahaja memancarkan sinar kemuliaan dari hati yang qona ah. Jari tangannya masih bergerak-gerak mengiringi rentak tasbihnya, puji cinta yang tak pernah bosan ia lantunkan untuk sang kekasih yang Maha Pengasih.

    “Hhhhh…Ukh…..ukh…..”

    Anak lelaki usia 10 tahunan yang terbaring lemah di atas kasur di sampingnya menggeliat. Dia mengigau lagi. Panas tubuhnya belum turun dari tadi malam. Perempuan itu menghentikan zikirnya. Diperhatikannya lalu dengan penuh kasih diusapnya dahi anak itu.

    “Alhamdulillah … panasnya sudah turun”

    “Salman, minum dulu, nak!” Katanya sambil menyodorkan segelas teh.

    Perempuan itu kemudian bangun dari duduknya. Melipat sejadah dan muqananya, lalu beranjak ke dapur.

    Salman hanyalah satu dari puluhan santri yang mondok di rumahnya. Mereka kebanyakan anak-anak usia sekolah dasar, sebagian yatim atau piatu. Di pondok itu mereka diasuh dan dibesarkan, dididik dan diajari shalat, akhlak, mengaji dan menghafal Al-Qur’an. Mereka juga disekolahkan di SD, SMP ataupun MTSN setempat. Santri-santri itu memang diperlakukan layaknya anak kandung sendiri, sehingga bila ada di antara mereka yang sakit, ia sendiri yang akan merawat dan menjaganya sampai sembuh.

    “Ummi …”

    “Ada apa Da?”

    “Hmm… ini Ummi, Ida cuma mau memberitahu. Beras persiapan kita sudah hampir habis.” Ida juga seorang santriwati yang rajin membantunya di dapur.

    “Hmm…, baiklah. Oh ya, sepertinya di luar ada tamu ya, Da? Sudah dibuatkan minum?”

    “Sudah, Ummi”.

    Ia bergegas ke ruang tamu. Di beranda, suaminya tengah beramah-tamah dengan beberapa guru. Ia berhenti di balik pintu, mencoba mencermati percakapan mereka.

    “Ustadz, kami rasa, sistem yang lama sudah tidak bisa diteruskan lagi. Jumlah santri semakin bertambah, sementara sarana yang kita miliki tidak memadai,” ujar salah seorang guru kepada Pimpinan Pondok.

    “Betul, Ustadz, kita harus memungut bayaran dari santri. Minimal untuk menutupi biaya makan mereka. Kami dengar bahkan beras pun sering kali hampir habis. Bagaimana kalau untuk makan saja tidak cukup?” kata yang lain menambahi.

    “Tapi kalian belum pernah betul-betul kelaparan bukan?” jawab beliau, kalem dan bijaksana.

    “Begini, Ustadz … Maksud kami, biar dana yang biasanya untuk makan santri itu dialihkan untuk dana lain.”

    “Iya, asrama santri perlu ditambah. Bangunan yang ada tidak layak lagi untuk menampung para santri yang jumlahnya bertambah terus. Begitu juga ruang belajar dan sarana kebersihan seperti kamar mandi, toilet, dan lain sebagainya.”

    Hening sejenak. Kemudian terdengar helaan nafas yang berat dari lelaki bijaksana itu.

    “Kami akan menyiapkan proposal permohonan bantuan dana ke seorang kaya yang kami dengar sering membantu pesantren, kalau kalian setuju,” ujar salah seorang dari mereka setengah mendesak namun hati-hati, khawatir akan menyinggung perasaan Pak Ustadz.

    Sunyi lagi. Pak Ustadz tetap terdiam. Beliau hanya sesekali menghela nafas sambil melempar pandangan ke luar. Tetapi kemudian,

    “Baiklah, Ustadz, kami pamit dulu,” kata rombongan guru itu.

    “Assalamu ‘alaykum!”

    “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Pak Ustadz.

    Beberapa saat sesudah mereka pergi, perempuan yang tadi berdiri di balik pintu dan menyimak pembicaraan itu keluar, lalu duduk di sebelah suaminya.

    “Saya mengikuti dialog tadi,” katanya memecah keheningan.

    “Dan sudah tahu, bukan, apa jawaban saya. Sampai kapan pun, akan tetap sama, jawab suaminya. Sejak didirikan pada tahun 1975, pesantren itu memang tidak memungut iuran sama sekali walau satu sen pun dari para santri, wali ataupun orangtua mereka. Semuanya gratis, dari mulai makan hingga biaya sekolah.

    “Beras di dapur sudah hampir habis. Hanya cukup untuk hari ini saja,” kata perempuan itu kepada suaminya. Suaranya tetap datar, hanya bermaksud memberitahu. Suaminya hanya terdiam. Tak sepatah kata pun diucapkannya. Janji yang ia ikrarkan kepada Sang Khalik tidak akan berubah, karena ia sangat yakin Allah tidak pernah menyalahi janjiNya: in tanshuru-llaha yanshurkum. Orang yang berjuang menegakkan agama Allah pasti akan ditolong, dijamin dan dimenangkan olehNya.

    Pak Ustadz belum beranjak dari duduknya. Hanya kelihatan bergumam sambil menggerak-gerakan jari-jemarinya, larut dalam zikir dan doa. Tidak lama kemudian terdengar suara riuh rendah. Nampaknya santri-santri telah selesai melakukan olah raga, jalan keliling kampung. Sudah menjadi acara khusus di hari Minggu pagi bagi pesantren tersebut. Perempuan itu melongok ke ruang dalam, melihat jam dinding, sudah jam 10. Bergegas dia masuk, menuju dapur. Hanya ada Ida dan Yati di sana, dia harus membantunya menyiapkan makan siang

    ***

    Selesai sholat zuhur, lingkungan pesantren kembali sepi. Sebagian besar santri sedang beristirahat di pondokan masing-masing. Tiba-tiba sebuah truk berhenti di depan pesantren. Sopir dan seorang lagi temannya menurunkan karung-karung beras dari truk itu. Salah seorang dari mereka melambaikan tangan ke arah santri yang sedang duduk-duduk di kursi kayu di depan salah satu pondokan tidak jauh dari pintu gerbang. Bergegas santri itu mendekati orang tersebut.

    “Panggil temanmu. Angkat karung-karung ini ke dapur”, kata orang tadi. Selesai menurunkan semua karung-karung, tanpa berkata apa-apa lagi, kedua orang itu pun langsung pergi. Belum sempat santri itu bertanya, truk sudah bergerak meninggalkan kepulan asap dan debu. Santri itu hanya melongo sesaat setelah itu segera berlari memanggil kawannya.

    “Ilham, orang yang mengantar beras ini sudah dipersilahkan masuk? Biar Ummi panggil Ustadz sebentar, ya!”

    “Orangnya sudah pergi Ummi,” agak ngos-ngosan anak yang dipanggil Ilham itu menjawab.

    “Lho…, dia bilang atau tidak, dari mana beras-beras ini?” tanya Ummi keheranan.

    “Ilham belum sempat tanya Ummi. Orangnya sudah keburu pergi. Dia hanya menyuruh saya mengangkat karung-karung ini ke dapur”.

    “Ya sudahlah …”.

    Ketika disampaikan perihal kedatangan orang-orang tak dikenal itu, suaminya menjawab singkat: “Oh, itu beras dari langit.”

    Demikianlah satu dari sekian banyak pengalaman yang ia lalui selama mendampingi suaminya membina pesantren yang kini kelihatan sudah berkembang dengan pesat dan mulai dikenal luas di seantero nusantara.

    Siapakah orangnya yang (mahu) memberikan pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman yang baik (yang ikhlas) supaya Allah melipatgandakan balasannya dengan berganda-ganda banyaknya? Dan (ingatlah), Allah jualah Yang menyempit dan Yang meluaskan (pemberian rezeki) dan kepadaNyalah kamu semua dikembalikan. (QS.2:245)

    “Orang-orang mukmin itu hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.S. Al Hujurat :10).

    ***

    Oleh: Andi Sri Suriati Amal

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 2 January 2013 Permalink | Balas  

    Ketika Naira Berjilbab

    Adalah Naira seorang gadis remaja lulus SMU. Naira memiliki wajah yang cantik, tubuhnya langsing, dengan tinggi hampir 170 cm. Naira memilik kegemaran yang jarang dimiliki oleh wanita seusianya yakni berolahraga. Hampir semua bidang olahraga ia kuasai. Ketika teman-temannya mendaftar diperguruan tinggi dengan memilih jurusan yang populer, banyak diminati agar mudah mencari kerja, atau memilih bidang yang bergengsi misalnya; Naira justru memilih untuk kuliah di Universitas Negeri Jakarta [ dulu namanya IKIP] mengambil jurusan ‘langka’, – olahraga -.

    Selama Naira kuliah ia mengambil jurusan olahraga voli. Selain cantik, Naira cerdas, ia berprestasi. Sehingga dimasa kuliahnya ia juga mampu mencari uang sendiri. Misanya memberi pelajaran privat berenang; mengajar ilmu beladiri, senam di kursus-kursus. Kepandaian ber volinya juga memberi dampak bagi lingkungan tempat tinggalnya. Ia melatih warga dan sering memenangkan lomba voli dalam rangka 17-an atau antar RT, kelurahan.

    Puncaknya, ketika Naira terpilih menjadi tim voli dari universitasnya untuk mengikuti acara olahraga antar mahasiswa. Naira bisa berkunjung ke daerah-daerah lain di Indonesia. Naira juga sempat terpilih menjadi anggota tim voli yang mewakili daerah (porda), bahkan nasional. Secara internasional pun Naira sempat merasakannya; bagaimana dieluk-elukan, di puja -puji. Buah keahliannya menghasilan penghargaan; berupa piala, medali, piagam dan tentunya juga materi serta fasilitas lainnya dari universitas.

    Di penghujung masa ia hendak meraih gelar S1 nya, Naira memutuskan untuk berjilbab. Betapa godaan, kesempatan emas untuk berkarir itu justru datang bertubi-tubi padanya ketika ia telah berjilbab. Bermula dari tawaran suatu yayasan kedaerahan di tempat ia tinggal agar Naira bisa mengikuti lomba ‘ratu-ratu-an’. Naira menolak dengan halus. Orangtua Naira yang mempunyai kedekatan dengan personil di AL, memungkinkan Naira bisa merintis karir sedikit mudah untuk menjadi bagian dari korps wanita AL. Kemudian juga ada tawaran untuk menjadi pramugari. Pada karir-karir inilah yang kemudian Naira sempat bimbang. Naira sebenarnya sangat ingin, karena selain menyukai olahraga ia juga senang berpergian. Tapi Naira memutuskan untuk mengatakan tidak, karena untuk profesi ini ia harus menanggalkan jilbabnya; meskipun hanya untuk selama masa pendidikan dan bertugas.

    Selama menganggur setelah menjadi sarjana, ia mendapatkan tawaran dari teman-temannya, lembaga, klub untuk menjadi bagian dari tim voli mereka. Naira menolak, selain harus melepas jilbab, busana resmi voli untuk wanita sangat tidak islami, begitu penuturannya.

    Kini, Naira berprofesi sebagai pengajar di sebuah taman kanak-kanak, menjadi instruktur olahraga bagi anak-anak TK. Naira anak sulung dengan 3 orang adik, berasal dari keluarga sederhana. Umurnya belum 25, ia masih muda tapi ia tak mudah tergoda ketika menentukan arah hidup selanjutnya sesuai yang ia inginkan. Naira menerima banyak pertanyaan dari teman-temannya sehubungan dengan sikapnya ini. Masa sih, seorang atlit bisa dengan mudah berpindah profesi menjadi guru taman kanak-kanak, meninggalkan hiruk pikuk sorak sorai ketenaran, mengabaikan kesempatan profesi yang memungkinkan mendapatkan materi, fasilitas yang lebih menjanjikan sekedar untuk mempertahankan keyakinannya?

    ***

    [Kisah ini nyata, terimakasih untuk 'Naira' yang telah membagi pengalaman hidupnya]

     
    • irahakim 5:38 pm on 7 Januari 2013 Permalink

      Semoga Allah selalu menjagamu, Naira :-)

  • erva kurniawan 1:30 am on 7 December 2012 Permalink | Balas  

    Kerja Itu Cuma Selingan, Untuk Menunggu Waktu Shalat

    Ketika Pak Heru, atasan saya, memerintahkan untuk mencari klien yang bergerak di bidang interior, seketika pikiran saya sampai kepada Pak Azis. Meskipun hati masih meraba-raba, apa mungkin Pak Azis mampu membuat kios internet, dalam bentuk serupa dengan anjungan tunai mandiri dan dari kayu pula, dengan segera saya menuju ke bengkel workshop Pak Azis.

    Setelah beberapa kali keliru masuk jalan, akhirnya saya menemukan bengkel Pak Azis, yang kini ternyata sudah didampingi sebuah masjid. Pak Azispun tampak awet muda, sama seperti dulu, hanya pakaiannya yang sedikit berubah. Kali ini dia selalu memakai kopiah putih. Rautnya cerah, fresh, memancarkan kesan tenang dan lebih santai. Beungeut wudhu-an ( wajah sering wudhu), kata orang sunda. Selalu bercahaya.

    Hidayah Allah ternyata telah sampai sejak lama, jauh sebelum Pak Azis berkecimpung dalam berbagai dinamika kegiatan Islam. Hidayah itu bermula dari peristiwa angin puting-beliung, yang tiba-tiba menyapu seluruh atap bengkel workshop-nya, pada suatu malam kira-kira lima tahun silam. “Atap rumah saya tertiup angin sampai tak tersisa satupun. Terbuka semua.” cerita Pak Azis.”Padahal nggak ada hujan, nggak ada tanda-tanda bakal ada angin besar. Angin berpusar itupun cuma sebentar saja.”

    Batin Pak Azis bergolak setelah peristiwa itu. Walau uang dan pekerjaan masih terus mengalir kepadanya, Pak Azis tetap merasa gelisah, stres & selalu tidak tenang. “Seperti orang patah hati, Ndra. Makan tidak enak, tidur juga susah.”cerita Pak Azis lagi.

    Lama-kelamaan Pak Azis menjadi tidak betah tinggal di rumah dan stres. Padahal, sebelum kejadian angin puting-beliung yang anehnya hanya mengenai bengkel workshop merangkap rumahnya saja, Pak Azis merasa hidupnya sudah sempurna. Dari desainer grafis hingga jadi arsitek. Dengan keserbabisaannya itu, pak Azis merasa puas dan bangga, karena punya penghasilan tinggi. Tapi setelah peristiwa angin puting-beliung itu, pak Azis kembali bangkrut, beliau bertanya dalam hati : “apa sih yang kurang” apa salahku ” ?

    Akhirnya pak Azis menekuni ibadah secara mendalam “Seperti musafir atau walisongo, saya mendatangi masjid-masjid di malam hari. Semua masjid besar dan beberapa masjid di pelosok Bandung ini, sudah pernah saya inapi.” Setahun lebih cara tersebut ia jalani, sampai kemudian akhirnya saya bisa tidur normal, bisa menikmati pekerjaan dan keseharian seperti sediakala.

    “Bahkan lebih tenang dan santai daripada sebelumnya.”

    “Lebih tenang ? Memang Pak Azis dapet hikmah apa dari tidur di masjid itu ?”

    “Di masjid itu ‘kan tidak sekedar tidur, Ndra. Kalau ada shalat malam, kita dibangunkan, lalu pergi wudhu dan tahajjud. Karena terbiasa, tahajjud juga jadi terasa enak. Malah nggak enak kalau tidak shalat malam, dan shalat-shalat wajib yang lima itu jadi kurang enaknya, kalau saya lalaikan. Begitu, Ndra.”

    “Sekarang tidak pernah terlambat atau bolong shalat-nya, Pak Azis ?”

    “Alhamdulillah. Sekarang ini saya menganggap bhw yg utama itu adalah shalat. Jadi, saya dan temen-temen menganggap kerja itu cuma sekedar selingan aja.” “Selingan ?”

    “Ya, selingan yang berguna. Untuk menunggu kewajiban shalat, Ndra.” Untuk beberapa lama saya terdiam, sampai kemudian adzan ashar mengalun jelas dari masjid samping rumah Pak Azis. Pak Azis mengajak saya untuk segera pergi mengambil air wudhu, dan saya lihat para pekerjanyapun sudah pada pergi ke samping rumah, menuju masjid. Bengkel workshop itu menjadi lengang seketika. Sambil memandang seluruh ruangan bengkel, sambil berjalan menuju masjid di samping workshop, terus terngiang-ngiang di benak saya : “Kerja itu cuma selingan, Ndra. Untuk menunggu waktu shalat…”

    Sepulangnya dari tempat workshop, sambil memandang sibuknya lalu lintas di jalan raya, saya merenungi apa yang tadi dikatakan oleh Pak Azis. Sungguh trenyuh saya, bahwa setelah perenungan itu, saya merasa sebagai orang yang sering berlaku sebaliknya. Ya, saya lebih sering menganggap shalat sebagai waktu rehat, cuma selingan, malah saya cenderung lebih mementingkan pekerjaan kantor. Padahal sholat yang akan bantu kita nantinya…(sungguh saya orang yang merugi..) Kadang-kadang waktu shalat dilalaikan sebab pekerjaan belum selesai, atau rapat dengan klien dirasakan tanggung untuk diakhiri.

    Itulah penyebab dari kegersangan hidup saya selama ini. Saya lebih semangat dan habis-habisan berjuang meraih dunia, daripada mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan kekal di akhirat nanti. Padahal dunia ini akan saya tinggalkan juga, kenapa saya begitu bodoh..

    Saya lupa, bahwa shalat adalah yang utama. Mulai saat itu saya berjanji untuk mulai shalat di awal waktu..

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 5 December 2012 Permalink | Balas  

    Lelaki Kubah dan Tukang Pos

    Cerpen Adek Alwi

    Ia lelaki tua pembuat kubah yang bekerja setelah fajar dan berhenti saat pudar matahari. Tujuh hari sepekan, tiga puluh hari sebulan — diseling kegiatan lain yang tak bisa diabaikan: makan, tidur, ke masjid di hari Jumat, bersapaan dengan tetangga atau kenalan yang lewat. Juga dengan tukang pos muda yang selalu berhenti di tepi jalan di luar pagar halaman. Setiap kali sepeda motor tukang pos itu terdengar si tua itu akan menelengkan kepala yang nyaris botak serta beruban. Menegak-negakkan punggung yang bungkuk, dan mendekat tertatih-tatih. “Wah. Kosong, Pak Kubah!” sambut si tukang pos.

    “Kosong?”

    “Mungkin besok,” suara tukang pos seperti membujuk.

    “Ya. Mudah-mudahan.” Pembuat kubah itu manggut-manggut. “Banyak surat diantar hari ini?”

    “Lumayan, Pak Kubah. Semoga isinya pun berita gembira.”

    “Mudah-mudahan. Menyenangkan dapat menggembirakan orang, Pak Pos.”

    “Tapi awak hanya tukang pos, Pak Kubah.”

    “Hehehe. Tidak ada Pak Pos malah kegembiraan tak jadi sampai.”

    “Terima kasih. Mudah-mudahan besok giliran Pak Kubah.”

    “Mudah-mudahan.”

    Tukang pos itu selalu berhenti di luar pagar meski tahu tidak ada surat untuk laki-laki tua itu. Pembuat kubah itu tidak punya siapa-siapa dalam hidupnya. Kecuali tetangga, pemesan kubah, orang lepau tempat makan, serta penjual bahan untuk kubah. Istrinya meninggal belasan tahun lalu. Satu-satunya anaknya, lelaki, mati waktu kecil.

    Tetapi si tua itu mengesankan seolah anak itu masih ada, sudah dewasa, dan merantau seperti lazimnya anak-anak muda kota itu. Begitu didengar si tukang pos muda waktu baru bertugas di kota itu, menggantikan tukang pos tua yang kini pensiun dan berleha-leha dengan cucu.

    “Kurang waras?” tanya tukang pos muda itu mula-mula pada tukang pos tua. “Tidak. Tidak. Bahkan ramah. Juga rajin. Kerja sejak pagi, berhenti menjelang magrib. Bayangkan. Tiap hari begitu, sudah berpuluh tahun.”

    “Sejak muda hanya membuat kubah?”

    “Kata orang, sejak kecil,” ujar tukang pos tua. “Langganannya tidak cuma dari kota ini saja. Tapi tak pernah dia pasang tarif.”

    “Maksud Bapak?”

    “Ia hanya menyebut modal pembuat kubah. Terserah, mau dibayar berapa.”

    “Wah!”

    “Betul. Dan punggungnya tambah bungkuk tiap selesai bikin kubah.” Tukang pos muda itu kembali melongo. “Maksudnya bagaimana?”

    “Punggung si pembuat kubah itu,” ujar tukang pos tua menjelaskan. “Tiap kali selesai membuat kubah tampak makin lengkung, membuat mukanya seperti mendekat terus ke tanah. Seolah-olah ingin mencium tanah!”

    Mungkin karena cerita-cerita itu, atau iba pada kesendirian lelaki tua itu serta takjub melihat ketabahannya menanti surat yang tak kunjung tiba, si tukang pos muda akhirnya memenuhi permintaan tukang pos tua yang sudah pensiun. Kecuali hari libur dan Minggu ia berhenti di pinggir jalan mengucapkan tak ada surat dan bicara sejenak dengan si pembuat kubah. Saat ia melaju lagi di jalan dilihatnya lelaki tua itu kembali bekerja. Punggungnya lengkung — teramat lengkung tidak ubahnya batang-batang padi yang buahnya sudah masak. “Nah! Betul, kan?” sambut si tukang pos tua saat tukang pos muda itu bertamu sore-sore ke rumahnya dan bercerita.

    Tukang pos muda itu membenarkan. “Tapi kenapa bisa begitu?” dia bilang. “Entah, tak ada yang tahu. Sejak tugas di kota ini saya dapati seperti itu. Boleh jadi hanya pembuat kubah itu sendiri yang tahu.” “Tidak pernah Bapak tanya?”

    “Tak tega saya. Dia baik dan ramah sekali,” jawab tukang pos tua. “Saya cuma singgah tiap hari, bicara sebentar saling bertanya kabar, lalu bilang tidak ada surat dan mungkin besok.”

    Tetapi tukang pos muda itu tega bertanya. Dan pembuat kubah tua itu terkekeh mendengarnya. “Ada-ada saja,” dia bilang. “Kalau padi memang seperti itu, Pak Pos. Eh, mestinya hati manusia juga, ya. Tetapi punggung saya, hehehe, ada-ada saja Pak Pos Tua dan orang-orang itu.”

    “Jadi Pak Kubah sama sekali tidak merasa? Bahwa punggung….”

    “Hehehe. Punggung ini tentu saja tambah bungkuk, Pak Pos. Dulu tak begini. Maklumlah, semakin tua. Agaknya setua ayah Pak Pos. Ah, tidak. Pasti saya lebih tua. Pasti. Tapi anak saya itu, ya, anak saya mungkin sebaya dengan Pak Pos. Eh, belum ada tiba surat dia?”

    “Oh. Belum, Pak Kubah. Kosong. Mudah-mudahan besok.”

    “Ya, besok. Mudah-mudahan.” Pembuat kubah itu manggut-manggut.

    Sejak itu si tukang pos muda berhenti tiap hari di pinggir jalan di luar pagar si pembuat kubah. Tidak kecuali hari libur atau Minggu. Apalagi, sebagai orang baru di kota itu belum banyak ia punya kenalan — untuk kawan berbincang seusai kerja atau di saat senggang. Ibunya di kampung sudah mencari gadis yang patut untuk pendamping hidupnya dan ia pun telah setuju tetapi belum berani melamar mengingat gaji yang tak memadai untuk berdua. Tukang pos itu juga tidak mendambakan yang muluk-muluk. Tapi, menurutnya, hidup dalam perkawinan seyogianya lebih baik daripada saat masih sendiri.

    Kadang, tukang pos itu juga memarkir sepeda motornya di halaman sekaligus bengkel lelaki tua itu, hingga mereka leluasa bercakap-cakap. Pembuat kubah itu pun senang ditemani. Kadang-kadang, meski dicegah si tukang pos dia berteriak ke lepau seberang jalan memesan dua gelas teh, juga pisang goreng, dan mereka lalu bercakap-cakap sambil minum teh serta menyantap pisang goreng.

    Pembuat kubah itu bercakap-cakap sambil terus bekerja, dan tukang pos muda itu memperhatikan serta bertanya-tanya. Wajah si tua itu dilihatnya berseri-seri meski kulitnya keriput. Lengannya coklat, dan kukuh serupa kayu. Urat-urat tangannya hijau bertonjolan, melingkar-lingkar bagai cacing. Tangan tua itu amat cekatan melipat atau membulat-bulatkan seng. Menggunting, atau menokok-nokok dengan palu kayu. Atau mematri. Semua dilakukan si pembuat kubah tanpa buru-buru, sambil bercakap-cakap dengan si tukang pos. “Hebat!” puji si tukang pos muda.

    “Ya?”

    “Hebat benar Pak Kubah bekerja!” ulang tukang pos. “Cekatan, seolah mudah saja pekerjaan itu buat Pak Kubah.”

    “O. Hehehe. Alah bisa karena biasa, Pak Pos. Seperti Pak Pos mengantar surat dengan sepeda motor.”

    “Dan ikhlas,” ujar si tukang pos.

    “Hehehe. Kalau tidak tentu berat terasa,” sambut si pembuat kubah. Mereka terus bercakap-cakap. Si tukang pos terus pula memperhatikan tangan si pembuat kubah. Juga tubuhnya. Tubuh lelaki tua itu tentu tampak lebih tinggi, juga besar, kalau saja punggungnya tidak melengkung bungkuk dan badannya lisut. Tetapi wajahnya selalu berseri meski kulitnya keriput. Tukang pos itu berpikir, apakah wajah ayahnya –yang samar-samar saja ia ingat– akan keriput dan berseri andai sempat jadi tua. Jika tak wafat saat ia di sekolah dasar. Wajahnya juga. Apakah nanti keriput, tapi juga berseri-seri, seandainya Tuhan memberi dia usia panjang? “Berapa umur Pak Kubah tahun ini?” tanya tukang pos itu.

    “Hehehe. Tak jelas, Pak Pos. Tapi pasti sudah panjang, sebab punggung ini tak kuat lagi menyangga tubuh.” Pembuat kubah itu tertawa lagi.

    Musim hujan kemudian singgah di kota itu. Meski tidak selalu lebat dan lebih kerap berujud gerimis tapi tiap hari mendesis. Kadang-kadang sore, sepanjang malam, pagi, atau siang hari. Tukang pos itu berteduh di bawah pohon atau emperan toko bila hujan turun deras, dan kembali berkeliling ketika hujan menjelma gerimis. Tubuhnya tertutup mantel, sebatas leher ke atas saja mencogok bak kura-kura. Tapi di kepalanya ada pet. Mukanya ditutupi sapu tangan seperti perampok.

    Pembuat kubah itu sudah menggeser tempat kerjanya dari bawah pohon jambu ke emperan rumah agar terhindar dari hujan maupun tempias. Sedikit jauh dari pagar. Tapi telinganya tajam. Tiap kali terdengar suara sepeda motor tukang pos ia telengkan kepalanya. Tukang pos itu mulanya hendak lewat saja karena sapu tangannya sudah kuyup dan mukanya perih ditusuk-tusuk gerimis. Atau cukup ia melambai, dan teriak, “Kosong, Pak Kubah!” Namun, dia tepikan sepeda motor begitu tiba dekat pagar laki-laki tua itu. Dan pembuat kubah itu mendekat tertatih-tatih setelah menegak-negakkan punggung.

    “Wah. Kosong, Pak Kubah!”

    “Kosong?”

    “Kosong. Tapi, mungkin besok.”

    “Ya, ya. Besok. Mudah-mudahan. Singgahlah dulu. Ngopi.”

    “Terima kasih. Masih banyak surat harus diantar.” Dan tukang pos itu melaju pula. Sejenak dilihatnya lelaki tua itu tertatih-tatih di bawah gerimis, menuju emperan rumah. Punggungnya makin bungkuk seolah ingin sekali mencium tanah.

    Seperti biasa musim hujan cukup lama di kota itu. Atap, pohon, dan jalan-jalan tidak pernah kering. Orang-orang berpayung ke mana-mana. Berbaju hangat, jas, jaket atau mantel, sebab angin pun rajin bertiup meski tak pernah jadi badai.

    Tukang pos itu juga tak lepas-lepas dari mantel, pet serta sapu tangan menutup sebagian wajah. Dan walau sejenak, serta dengan muka terlihat makin putih juga perih ditusuk gerimis, ia berhenti dekat pagar berucap “kosong Pak Kubah, mungkin besok” dengan suara, bibir, dan dada bergetar. Kemudian dilihatnya lagi lelaki tua itu kembali melangkah, terbungkuk-bungkuk di bawah gerimis menuju emperan rumah.

    Tetapi, suatu hari, tukang pos itu merasa jadi manusia paling bahagia sedunia. Meski masih pucat malah makin perih ditusuk gerimis yang terus mendesis, wajahnya berseri. Belum tiga menit lalu ia bersorak kepada pembuat kubah itu, dan kali ini tidak dengan dada serta suara yang bergetar: “Surat Pak Kubah!”

    “Surat?”

    “Ya. Surat! Dari anak Pak Kubah!”

    Pembuat kubah itu menerimanya dengan jemari bergetar. Dan saat tukang pos itu melaju pula di jalan dilihatnya laki-laki tua itu masih berdiri di bawah rinyai hujan, melambai-lambaikan tangan.

    Lenteng Agung, 23 Juli 2005

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 2 December 2012 Permalink | Balas  

    Pengakuan Nakata Khaula

    Menutupt aurat? tak pernah terlintas baginya. Maklum, ia seorang aktifis feminis. Namur wanita asal Jepang ini berubah total dan justru menemukan kedamaian setelah mengenal Islam. Baca pengakuan seorang mantan aktifis feminisme ini

    Ketika saya kembali ke dalam pangkuan Islam, agama asli semua manusia, sebuah perdebatan sengit sedang terjadi di sekolah-sekolah Prancis tentang jilbab di kalangan pelajar perempuan-terutama keturunan imigran TImur-Tengah-hingga beberapa waktu lamanya (hal itu terjadi karena ada kebijakan pelarangan penggunaan jilbab dari otoritas Prancis, pen). Mayoritas pelajar berpendapat, public-dalam hal ini sekolah negeri-seharusnya bersikap netral dalam urusan agama, termasuk tentang tudung kepala (jilbab). Tidak dapat dipungkiri, kelompok Muslim di Prancis turut membayar pajak yang lumayan besar jumlahnya.

    Menurut saya, pihak sekolah hendaknya menghargai keyakinan seseorang atau kelompok dalam menjalankan ajaran agamanya sepanjang orang atau kelompok itu tidak mengganggu kegiatan rutin sekolah, apalagi sampai melanggar disiplin. Namun, tampaknya pemerintah Prancis sedang menghadapi gejolak social dengan meningkatnya jumlah pengangguran. Mereka merasa kehidupan ekonomi mereka terancam dengan makin banyaknya pekerja imigran Arab. Banyaknya penggunaan jilbab di kota-kota atau di sekolah-sekolah semakin memicu perasaan mereka itu.

    Pada kenyataannya, memang semakin banyak perempuan Arab imigran yang memakai jilbab, terlepas dari pandangan bahwa fenomena itu akan segera menghilang seperti halnya ketika sekularisme Barat menanamkan pengaruhnya di dunia Arab (Timur-Tengah). Ketahanan pelaksanaan ajaran Islam itu sering dianggap sebagai upaya kelompok Islam di mana saja untuk mengembalikan kebaggaan dan identitas mereka yang pernah hilang ditelan kolonialisme Barat.

    Di Jepang sendiri, sikap seperti itu mungkin dianggap sama dengan sikap tradisional konservatif orang Jepang yang muncul sebagai perwujudan perasaan anti-Barat. Sesuatu yang dalam pandangan bangsa Jepang adalah serupa dengan pengalaman yang kami rasakan sejak kami berinteraksi dengan budaya Barat pada zaman Restorasi Meiji. Bangsa Jepang saat itu memunculkan sikap penentangan terhadap gaya hidup yang tidak lagi tradisional dan mengikuti model pakaian Barat. Ada kecenderungan dalam suatu masyarakat untuk bersikap konservatif terhadap segala hal yang baru tanpa mau melihat kebaikan atau keburukannya.

    Perasaan seperti itu masih ada diantara kelompok non-Muslim di Prancis yang memandang bahwa penggunaan jilbab menunjukkan ketundukan para penggunanya sebagai budak budaya tradisional seolah-olah jilbab adalah ikon pengekangan. Oleh karena itu, sikap gerakan pembebasan dan pembelaan atas kaum hawa selalu terfokus pada upaya mendorong perempuan Muslim agar melepaskan jilbab-jilbab mereka sebagai tanda pembebasan itu atau mereka belum dianggap bebas sebelum jilbab-jilbab itu lepas dari kepala mereka.

    Pandangan yang naïf seperti itu, bagi kelompok Muslim, menunjukkan dangkalnya pengetahuan mereka tentang Islam di dalam gerakan pembebasan perempuan. Hal ini akibat kebiasaan mencampuradukkan pandangan secular dan nilai-nilai eklektisisme agama sehingga mereka tidak mampu lagi menangkap kesempurnaan Islam sebagai agama yang universal dan abadi.

    Hal itu berbeda sekali dengan kenyataan bahwa semakin banyak perempuan non-Muslim dan non-Arab dari seluruh penjuru dunia yang kembali ke pangkuan Islam. Bahkan, mereka melaksanakan kewajiban berjilbab atas kesadaran mereka sendiri dan bukan atas desakan tradisi yang dipandang berorientasi pada kekuasaan laki-laki atas perempuan (masculine-oriented).

    Saya adalah salah seorang diantara perempuan non-Arab (sebelumnya non-Muslim) yang dengan penuh kesadaran memakai jilbab bukan karena bagian dari identitas kelompok atau tradisi Islam semata atau memiliki signifikansi pada kelompok social dan politik tertentu, melainkan karena jilbab adalah identitas keyakinan saya, yaitu Islam. Bagi kelompok non-Muslim, jilbab tidak hanya dianggap sebagai penutup kepala, tetapi sebagai penghalang yang menyebabkan para perempuan itu tidak punya akses ke dunia yang luas. Seolah-olah, perempuan Muslimah tercerabut dari kebebasan yang seharusnya mereka rengkuh di dunia yang sekular.

    Sebelumnya, saya pernah diperingatkan tentang kemungkinan hilangnya kebebasan saya saat memutuskan untuk kembali ke pangkuan Islam. Saya diberitahu bentuk jilbab itu berbeda-beda menurut daerahnya masing-masing atau pemahaman dan kesadaran agamanya. Di Prancis, saya memakai jilbab yang sederhana-lebih tepat disebut penutup kepala-yang sesuai dengan mode dan sekedar tersampir di kepala sehingga terkesan modis.

    Namun ketika saya berada di Arab Saudi, saya memakai gamis hitam yang menutupi seluruh tubuh saya, termasuk mata. Jadi,saya telah merasakan sendiri penggunaan jilbab dari model yang paling sederhana hingga model yang dianggap kebanyakan orang paling “mengekang”. Mungkin Anda bertanya, apa makna jilbab bagi saya? Meski banyak buku dan artikel tentang jilbab, hampir semuanya cenderung ditulis dari sudut pandang “orang luar” (laki-laki). Saya harap tulisan ini dapat menjelaskan makna jilbab dari sudut pandang “orang dalam” (perempuan).

    Ketika saya memutuskan untuk kembali ke dalam pangkuan Islam, saya tidak berpikir tentang pelaksanaan ibadah shalat lima kali sehari atau tentang penggunaan jilbab. Barangkali saat itu saya khawatir jika saya terlalu dalam memikirkan hal itu, saya tidak akan pernah sampai pada keputusan yang tepat. Bahkan, hal itu mungkin akan mempengaruhi niat saya untuk bepaling ke Islam. Sebelum saya berkunjung ke sebuah masjid di Paris, sebetulnya saya tidak tertarik sama sekali terhadap Islam, termasuk tentang sholat dan penggunaan jilbab. Bahkan, tidak pernah terbayang sedikitpun. Namun sejak itu, keinginan saya kembali ke pangkuan Islam begitu kuat untuk dikalahkan pikiran-pikiran tentang tanggung jawab yang akan saya emban sebagai seorang Muslim, Alhamdulillah.

    Saya baru mulai merasakan keuntungan dan manfaat jilbab sesudah saya mendengarkan khotbah di sebuah masjid di Paris. Bahkan saat itu, saya tetap menggunakan kerudung kepala saya saat keluar dari masjid. Khotbah itu telah menjadi sebuah keputusan spiritual tersendiri seperti pengalaman saya sebelumnya dan saya tidak ingin kepuasan itu hilang. Mungkin karena cuaca yang dingin hingga saya tidak terlalu merasakan adanya kerudung di kepala. Selain itu, saya merasa bersih, suci, dan terjaga dari kotoran dalam arti yang fisik atau psikis. Saya merasa seolah berada di dalam lindungan Allah SWT. Sebagai orang asing di Paris, terkadang saya merasa tidak nyaman dengan pandangan liar laki-laki ke arah saya. Dengan jilbab, saya merasa lebih terlindung dari pandangan liar itu.

    Jilbab membuat saya bahagia sebagai wujud ketaatan dan manifestasi iman saya kepada Allah SWT. Saya tidak perlu meyakinkan diri saya lagi karena jilbab telah menjadi tanda bagi semua orang, terutama sesame Muslim, sehingga memperkuat ikatan persaudaraan Islam (Ukhuwwah Islamiyyah). Memakai jilbab sudah menjadi sesuatu yang spontan saya lakukan, bahkan dengan sukarela. Pada awalnya, saya berpikir tidak ada seorang pun yang dapat memaksa saya untuk memakai jilbab. Jika mereka memaksa, saya pasti menentang mereka. Namun, buku Islam pertama mengenai jilbab yang saya baca sangat moderat. Buku itu hanya menyebutkan, “Allah SWT sangat menekankan pemakaian jilbab.”

    Oleh karena Islam-seperti yang ditunjukkan dengan makna Islam, yaitu penyerahan diri-saya pun melaksanakan kewajiban keislaman saya dengan sukarela dan tanpa merasa kesulitan. Alhamdulillah. Selain itu, jilbab mengingatkan semua manusia bahwa Tuhan itu ada dan senantiasa mengingatkan saya untuk bersikap Islami. Seperti halnya petugas polisi yang tampak lebih professional dengan seragam mereka, saya pun merasa lebih Muslimah dengan jilbab yang saya pakai.

    Dua pekan sesudah saya kembali ke pangkuan Islam, saya pulang ke Jepang untuk menghadiri pernikahan keluarga. Setelah itu, saya memutuskan untuk tidak meneruskan pendidikan di Sastra Perancis yang telah kehilangan daya tariknya. Sebagai gantinya, saya memilih kajian Arab dan Islam.

    Sebagai seorang Muslimah yang baru dengan pemahaman Islam yang belum banyak, tinggal di kota kecil di Jepang dan jauh dari lingkungan Islam membuat saya merasa terisolasi. Namun, keterisolasian itu semakin menguatkan keislaman saya tahu saya tidak sendiri karena Allah SWT senantiasa menemani. Saya harus membuang semua pakaian saya dan, berkat bantuan beberapa teman, saya membuat patokan sendiri yang mirip pakaian orang Pakistan. Saya tidka merasa terganggu dengan pandangan orang yang tertuju kepada saya!

    Sesudah enam bulan berada di Jepang, hasrat untuk mempelajari segala hal tentang Arab tumbuh begitu besar hingga saya memutuskan untuk pergi ke Kairo, Mesir, karena di sana saya punya seorang kenalan. Saya tinggal di rumah keluarga teman saya. Namun, tidak seorang pun keluarga teman saya itu dapat berbahasa Inggris (apalagi Jepang!). Seorang wanita menjabat tangan saya dan mengajak saya masuk ke dalam rumahnya. Ia memakai jubah hitam yang menutupi dirinya dari kepala hingga ujung jari. Bahkan, wajahnya pun tertutup. Meski di Riyadh saya telah terbiasa dengan hal itu, saya ingat saat itu saya terkejut.

    Apalagi, saya teringat dengan kasus jilbab di Prancis. Saat itu, saya memandang perempuan dalam jubah sebagai,” perempuan yang diperbudak budaya Arab karena tidak tahu Islam” (kini saya tahu menutup wajah bukan kewajiban dalam ajaran Islam, melainkan sebagai tradisi etnis semata).

    Saya ingin mengatakan kepada wanita Kairo itu bahwa ia telah berlebihan dalam berpakaian sehingga tampak tidak alami dan tidak lazim. Namun, saya justru diingatkan wanita itu bahwa jilbab buatan saya sendiri tidak cocok digunakan di luar rumah-sesuatu yang tidak saya setujui sebelumnya karena saya merasa sudah memenuhi tuntutan jilbab bagi Muslimah.

    Saya pun membeli beberapa bahan baju dan membuat pakaian wanita dalam ukuran yang lebih panjang, disebut juga khimar, yang menutup sempurna bagian pinggul ke bawah dan tangan. Saya bahkan siap menutup wajah saya, sesuatu yang dipakai sebagian besar saudara Islam saya. Meski demikian, mereka tetaplah minoritas di Kairo.

    Secara umum, pemuda Mesir yang sedkit atau banyak terpengaruh budaya Barat masih menjaga jarak dengan perempuan yang memakai khimar dan memanggil mereka dengan sebutan ukhti. Laki-laki Mesir memperlakukan kami dengan penuh hormat dan sopan. Oleh karena itu, perempuan yang memakai khimar saling menjalin persaudaraan sehingga mereka turut menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW-seorang Muslim hendaknya memberi salaam kepada Muslim lain yang ditemui di jalan, dikenal atau tidak dikenalnya.

    Persaudaraan mereka yang lebih tepat untuk ditekankan itu didasari keimanan kepada Alloh SWT dibandingkan perempuan yang hanya memakai kerudung sebagai bagian dari bagian dari budaya dan bukan bagian dari keimanan. Sebelum berpaling ke pangkuan Islam, saya sangat senang memakai pakaian dengan model celana yang memungkinkan saya bergerak aktif meskipun bukan rok feminine. Namun, long dress yang biasa saya pakai di Kairo cukup nyaman bagi saya. Saya merasa anggun dan lebih santai.

    Dalam budaya Barat, warna hitam adalah warna favorit untuk acara malam karena menguatkan kecantikan pemakainya. Saudara-saudara baru saya yang di Kairo pun tampak sangat cantik dengan khimar hitam mereka dan sangat menunjang cahaya ketakwaan yang terpancar dari wajah-wajah mereka (meski begitu, mereka sangat berbeda dengan suster Katholik Roma yang dulu menjadi eprhatian utama ketika saya berkesempatan mengunjungi Paris tidak berapa lama sesudah saya tinggal di Riyadh, Arab Saudi).

    Saat itu, saya berada dalam satu metro (trem dalam kota) dengan suster-suster itu dan saya tersenyum karena keserupaan pakaian kami. Pakaian yang dipakai suster itu merupakan tanda ketakwaan mereka kepada tuhan seperti halnya Muslimah. Saya etrkadang merasa aneh dengan orang-orang yang tidak banyak mengkritik jubah yang dipakai suster Katholik Roma, tetapi mereka mengkritik dengan tajam jilbab yang dipakai Muslimah, terlepas dari pandangan bahwa keduanya dianggap melambangkan terorisme dan tekanan. Namun, saya tidak bermaksud mengabaikan jilbab dengan warna yang lebih cerah selain hitam karena pada kenyataannya sejak dulu saya bekeinginan memakai pakaian dengan gaya yang relijius seperti suster Katholik Roma jauh sebelum saya berpaling ke pangkuan Islam!

    Meski demikian, saya menolak orang yang menganjurkan saya tetap memakai khimar sekembalinya saya ke Jepang. Saya akan marah kepada setiap Muslimah yang tidak begitu menyadari pentingnya ajaran Islam : sepanjang kita sudah menutup diri kita sesuai tuntunan syariat, kita boleh memakainya sesuai model yang kita inginkan. Apalagi, setiap budaya memiliki cirinya sendiri-sendiri sehingga pemakaian khimar hitam di Jepang hanya akan membuat orang berpikir saya orang gila dan mereka akan emnolak Islam jauh sebelum saya mengenalkan Islam dengan baik kepada mereka. Perdebatan kami biasanya seputar masalah itu.

    Sesudah tinggal selama enam bulan di Kairo, saya sudah terbiasa dengan pakaian long dress sehingga saya mulia berpikir untuk tetap memakainya meskipun di Jepang. Komprominya, saya akan membuat khimar dengan aneka warna yang cerah atau putih dengan harapan orang Jepang tidak akan terlalu kaget dengan hal itu daripada saya hanya memakai khimar warna hitam. Ternyata saya betul. Reaksi orang Jepang lebih baik dengan khimar putih dan mereka lebih cenderung menduga saya sebagai yang relijius. Saya mendengar seorang gadis Jepang yang berkata kepada temannya bahwa saya seorang suster Buddha : betapa miripnya antara Muslimah, suster Buddha, dan suster Katholik Roma!

    Sekali waktu di dalam sebuah kereta, orang tua yang berada dis ebelah saya menanyakan alasan saya memakai baju yang tidak biasa dipakai banyak orang. Ketika saya jelaskan bahwa saya seorang Muslimah dan Islam mengajarkan kepada perempuan agar menutup tubuh mereka supaya terlindung secara fisik maupun psikis, orang tua itu tampaknya sangat tertarik. Saat ia turun dari kereta, ia berterima kasih dan mengatakan bahwa ia ingin sekali berbicara banyak tentang Islam dengan saya.

    Dalam waktu sekejap, ternyata jilbab menjadi factor yang dominant dalam memancing keingintahuan orang tentang Islam. Apalagi, orang Jepang bukanlah orang yang lazim berbicara banyak tentang agama. Sama seperti di Kairo, jilbab berperan sebagai tanda diantara sesama Muslimah, di Jepang pun hal yang sama saya lakukan.

    Pernah suatu kali ketika dalam suatu perjalanan, saya berkeliling dan bertanya-tanya benarkah rute yang saya ambil ini. Pada saat itu, saya melihat sekelompok perempuan memakai jilbab. Saya pun mendekati mereka dan kami bersalaman satu sama lain.

    Namun, ayah saya cemas ketika saya pertama kembali ke Jepang dengan menggunakan pakaian lengan panjang dan kepala tertutup rapat, padahal cuaca sedang panas meskipun saya sendiri merasa bahwa jilbab justru melindungi saya dari sinar matahari. Saya sendiri justru merasa tidak nyaman melihat adik eprempuan saya hanya memakai celana pendek sehingga tampak paha dan kakinya. Saya sering malu-bahkan sebelum saya kembali ke pangkuan Islam-terhadap perempuan yang memperlihatkan pantat dan pinggul mereka dengan pakaian yang ketat dan tipis.

    Saya merasa seperti melihat sesuatu yang seharusnya tersembunyi. Jika pemandangan seperti itu saja membuat saya malu sebagai perempuan, saya tidak dapat membayangkan dampaknya jika dilihat laki-laki. Oleh karena itu, Islam memerintahkan manusia berpakaian sopan dan tidak telanjang di ruang public meskipun di ruangan khusus perempuan atau laki-laki.

    Jelaslah, penerimaan sesuatu yang telanjang dalam suatu masyarakat berbeda-beda menurut pemahaman masyarakat atau individunya. Misalnya, di Jepang limapuluh tahun yang lalu, berenang dengan memakai baju renang yang setengah tertutup sudah dianggap vulgar, tetapi sekarang bikin sudah dianggap biasa. Namun, jika ada perempuan berenang dengan baju renang topless, ia dianggap tidak punya malu.

    Lain halnya jika topless di pantai selatan Prancis yang sudah dianggap biasa. Begitu pun di beberapa pantai di Amerika Serikat. Kaum nudis sudah berani bertelanjang ria seolah-olah mereka baru dilahirkan. Jika kaum nudis ditanya tentang perempuan liberal yang menolak jilbab-mengapa mereka masih menutupi pantat dan pinggul mereka padahal keduanya sama alamiahnya dengan wajah dan tangan-apakah perempuan liberal mau memberikan jawaban yang jujur? Definisi tentang bagia tubuh perempuan yang harus tetap pribadi ternyata sangat bergantung pada fantasi dan ksesenangan laki-laki di sekitar mereka yang mengaku-ngaku sebagai feminis. Namun di dalam Islam, kita tidak akan menemui masalah semacam itu karena Alloh SWT telah menetapkan definisi tentang bagian tubuh perempuan dan laki-laki yang boleh dan tidak boleh diperlihatkan di ruang public. Kita pun patuh dan mengikutinya.

    Jika saya melihat cara berpakaian manusia sekarang (telanjang atau hampir telanjang), buang air sembarangan, atau bercintaan di tempat umum, saya cenderung memandang mereka seperti makhluk yang tidak punya malu sehingga menjatuhkan martabat mereka hingga ke derajat binatang.

    Di Jepang, perempuan hanya memakai make up saat keluar rumah dan sedikit sekali memperhatikan penampilan diri mereka di rumah sendiri. Padahal, Islam mengajarkan perempuan agar selalu tampil cantik bagi suaminya sehingga ia akan berusaha tampil menarik pula baginya. Tentu, dengan begitu muncul keanggunan dalam hubungan antara suami isitri di dalam Islam.

    Muslim sering dituduh sebagai kelompok orang yang terlalu sensitive menyangkut tubuh manusia, tetapi tingkat kejahatan seksual yang terjadi akhir-akhir ini semakin menegaskan pentingnya pakaian sopan. Orang luar mungkin melihat Islam seperti melihat Muslim yang tampak kaku. Padahal jika dilihat dari dalam, ada kedamaian, kebebasan, dan kebahagiaan yang tidak akan pernah mereka rasakan sebelumnya. Menjalankan Islam-bagi Muslim yang terlahir di tengah keluarga Muslim atau orang yang kembali ke dalam pangkuan Islam-lebih disukai daripada jalan hidup bebas yang ditawarkan sekularisme.

    ***

    [ditulis ulang oleh Kartika dari buku "Mereka Yang Kembali", Zenan Asharfillah, penerbit Pustaka Zaman, Jakarta, 2003/Hidayatullah.com]

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 20 November 2012 Permalink | Balas  

    Mendahulukan Ibu

    Ibu Yeni, seorang anggota DPR mengisahkan pengalamannya mengenai sedekah yang membawa keberkahan baginya. Kejadian ini dialaminya sekitar bulan Agustus tahun 2001 yang lalu. Saat itu ia mendapat undangan seminar di Sumatra Selatan. Karena masih masa nifas dan membawa anak bungsunya yang kala itu masih berusia 35 hari, ia memutuskan membawa ibunya.

    Bukan main senangnya sang ibu dibawa pelesiran naik pesawat. Maklum saja, tahun 1972 waktu naik haji, ia cuma naik kapal laut. Di pesawat tak henti ibunda tercintanya menyatakan kesenangannya naik pesawat.

    “Alhamdulillah… kesampaian juga Ibu naik pesawat, “ syukurnya. Yeni yang duduk di sebelahnya tersenyum.

    “Coba Buya (ayah) masih hidup ya… dia pasti senang naik pesawat kayak gini, “ tuturnya lagi dengan mata berkaca-kaca. Yeni menoleh dan mengusap pundak ibunda tercintanya.

    “Sudahlah Bu, Buya pasti sudah bahagia sekarang. Selama hidup Buya kan sangat baik, maka Allah pasti melimpahkan kebahagiaan padanya… “

    “Yah… “ Ibu menganguk-angguk, “Buya emang baik…. “ lanjutnya sendu.

    Tidak lama kemudian mereka tiba di bandara dan diantar oleh panitia ke sebuah penginapan yang sederhana. Ibunya nampak sangat bahagia. Untuk menyenangkan hatinya, Yeni memesankan makanan kesukaannya.

    “Dimakan, Bu… “ kata Yeni. Ibunya mengangguk dan mulai makan dengan lahap.

    Keesokan harinya saat Yeni ikut seminar, Ibu menjaga cucunya yang masih merah di penginapan. Seminar itu untunglah tidak begitu lama. Jeda makan siang, mereka diajak makan di sebuah restoran khas Sumatra Selatan. Konon restoran ini biasa ditongkrongi oleh para pejabat dari pusat.

    Memang suasananya sangat asri, bertingkat dua, dan Subhanallah makanan yang tersaji juga terasa sangat nikmat.

    “Pepes ikan dengan duriannya enak sekali, Yen… “ Ibu memberikan penilaian seraya makan dengan lahap.

    “Kalau di Tangerang, daerah kita durian cuma untuk Kinca teman makan ketan ya, ternyata buat pepes juga enak, “ imbuhnya kemudian.

    “Alhamdulillah… kita di sini jadi nambah ilmu kan, Bu? “ balas Yeni tersenyum.

    Selesai makan, mereka menuju penginapan lagi untuk berkemas. Ya, mereka harus kembali ke Jakarta hari itu juga. Sebelum berangkat, Yeni memeriksa sebuah bungkusan yang diberikan panitia saat seminar tadi.

    “Subhanallah… bagus amat nih kain sutra? “ desisnya takjub sambil menyidik bahan itu dengan teliti. Yeni bertekad akan menjahitnya setiba di Jakarta nanti.

    Saking indahnya kain tersebut, di pesawatpun Yeni tak kuasa membayangkannya. Menjahitnya menjadi baju muslimah yang indah yang akan dikenakannya pada event-event tertentu. Tapi sejenak kemudian hati kecilnya berkata, “Berikan saja pada ibumu…. “

    “Bagaimana, ya…. bagus banget sih? “ sekilas bathinnya tak rela. Rupanya syetan sedang merasuki niat baiknya.

    “Sudah… kasih Ibu saja, supaya dia senang, kamu kan bisa beli nanti lagi… “ hati kecilnya kembali berkata.

    Sejenak Yeni merasa bimbang. Terus-terang saja, ia sangat ingin memiliki bahan itu untuk dirinya. Sudah dibayangkannya begitu manisnya ia dalam balutan baju berbahan sutra itu. Suaminya pasti memuji, anak-anaknya pasti juga bangga. Tapi…

    “Ah, sudahlah biar untuk ibuku saja, “ hati kecilnya memenangkan pergolakan bathin.

    Maka Yeni memberikan kain sutra itu pada ibunya. Mata ibunya bersinar menerima pemberian itu. Paras bahagia yang tak bisa ditutupinya. Yeni tak menyesal memberikannya.

    Sesampainya di Jakarta, Yeni kembali mengisi hari-harinya dengan seabreg aktivitas yang menunggunya. Ia sudah tak teringat lagi kain sutra indah pemberian panitia seminar di Sumatra Selatan itu. Sampai dua hari kemudian seorang temannya kembali dari Malaysia dan membawa titipan dari teman Yeni, yang orang asli Malaysia.

    “Apaan ini? “ Yeni mengerutkan dahinya, menatap bungkusan yang diberikan temannya itu.

    “Titipan dari teman Malaysiamu, aku nggak tahu isinya, buka aja gih… “

    Tanpa menunggu lama, Yeni membuka bungkusan itu dan terbelalak, “Subhanallah bagus banget…. “ serunya takjub. Temannya pun ternganga.

    Selembar bahan sutra yang lebih halus dan lembut warnanya…

    “Benar-benar Allah Maha Besar… “ Yeni berbisik pelan.

    Kain sutranya telah digantikan oleh Allah dengan yang lebih bagus dan manis. Yeni kemudian teringat sebuah hadits Rasulullah Saw, bahwa kebaikan yang cepat mendapatkan balasannya di dunia adalah kebaikan kita kepada orang tua….

    ***

    Sumber: Wisata Hati.

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 14 November 2012 Permalink | Balas  

    Jeruk Busuk Rasa Manis

    Suatu hari, ketika saya sedang menjenguk salah satu saudara yang tengah dirawat di rumah sakit, terdengar suara makian keras dari pasien sebelah, “Bawa jeruk kok busuk, mau ngeracunin saya? biar saya cepat mati?”

    Suara marah itu berasal dari lelaki tua yang kedatangan salah satu keluarganya dengan membawa jeruk. Boleh jadi benar, bahwa beberapa jeruk dalam jinjingan itu busuk atau masam. Meski tidak semua jeruk yang dibawanya itu busuk dan sangat kebetulan yang terambil pertama oleh si pasien yang busuk. Dan tanpa bertanya lagi, marahlah ia kepada si pembawa jeruk.

    Sebenarnya, boleh dibilang wajar jika seorang pasien marah lantaran kondisinya labil dan kesehatannya terganggu. Ketika ia marah karena jeruk yang dibawa salah satu keluarganya itu busuk, mungkin itu hanya pemicu dari segunung emosi yang terpendam selama berhari-hari di rumah sakit. Penat, bosan, jenuh, mual, pusing, panas, dan berbagai perasaan yang menderanya selama berhari-hari, belum lagi ditambah dengan bisingnya rumah sakit, perawat yang kadang tak ramah, keluarga yang mulai uring-uringan karena kepala keluarganya sekian hari tak bekerja, semuanya membuat dadanya bergemuruh. Lalu datanglah salah satu saudaranya dengan setangkai ketulusan berjinjing jeruk. Namun karena jeruk yang dibawanya itu tak bagus, marahlah ia.

    Wajar. Sekali lagi wajar. Tetapi tidak dengan peristiwa lain yang hampir mirip terjadi di acara keluarga besar belum lama ini. Seorang keluarga yang tengah diberi ujian Allah menjalani kehidupannya dalam ekonomi menengah ke bawah, berupaya untuk tetap berpartisipasi dalam acara keluarga besar tersebut. Tiba-tiba, “Kalau nggak mampu beli jeruk yang bagus, mending nggak usah beli. Jeruk asam gini siapa yang mau makan?” suara itu terdengar di tengah-tengah keluarga dan membuat malu keluarga yang baru datang itu.

    Pupuslah senyum keluarga itu, rusaklah acara kangen-kangenan keluarga oleh kalimat tersebut. Si empunya suara mungkin hanya melihat dari jeruk masam itu, tapi ia tak mampu melihat apa yang sudah dilakukan satu keluarga itu untuk bisa membawa sekantong jeruk yang boleh jadi harganya tak seberapa.

    Harga sekantong jeruk mungkin tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Tapi tahukah seberapa besar pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk membelinya?

    Rumahnya sangat jauh dari rumah tempat acara keluarga, dan sedikitnya tiga kali tukar angkutan umum. Sepuluh ribu itu seharusnya bisa untuk makan satu hari satu keluarga. Boleh jadi mereka akan menggadaikan satu hari mereka tanpa lauk pauk di rumah. Atau jangan-jangan pagi hari sebelum berangkat, tak satu pun dari anggota keluarga itu sempat menyantap sarapan karena uangnya dipakai untuk membeli jeruk. Yang lebih parah, mungkin juga mereka rela berjalan kaki dari jarak yang sangat jauh dan memilih tak menumpang satu dari tiga angkutan umum yang seharusnya. “Ongkos bisnya kita belikan jeruk saja ya, buat bawaan. Nggak enak kalau nggak bawa apa-apa,” kata si Ayah kepada keluarganya.

    Kalimat sang Ayah itu, hanya bisa dijawab dengan tegukan ludah kering si kecil yang sudah tak sanggup menahan lelah dan panas berjalan beberapa ratus meter. Tak tega, Ayah yang bijak itu pun menggendong gadis kecil yang hampir pingsan itu. Ia tetap memaksakan hati untuk tega demi bisa membeli harga dari di depan keluarga besarnya walau hanya dengan sekantong jeruk. Menahan tangisnya saat mendengar lenguhan nafas seluruh anggota keluarganya sambil berkali-kali membungkuk, jongkok, atau bahkan singgah sesaat untuk mengumpulkan tenaga. Itu dilakukannya demi mendapatkan sambutan hangat keluarga besar karena menjinjing sesuatu.

    Setibanya di tempat acara, sebuah rumah besar milik salah satu keluarga jauh yang sukses, menebar senyum di depan seluruh keluarga yang sudah hadir sambil bangga bisa membawa sejinjing jeruk, lupa sudah lelah satu setengah jam berjalan kaki, tak ingat lagi terik yang memanggang tenggorokan, bertukar dengan sejumput rindu berjumpa keluarga. Namun, terasa sakit telinga, layaknya dibakar dua matahari siang. Lebih panas dari sengatan yang belum lama memanggang kulit, ketika kalimat itu terdengar, “Jeruk asam begini kok dibawa…”

    Duh. Jika semua tahu pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk bisa menjinjing sekantong jeruk tadi, pastilah semua jeruk asam itu akan terasa manis. Jauh lebih manis dari buah apa pun yang dibawa keluarga lain yang tak punya masalah keuangan. Yang bisa datang dengan kendaraan pribadi atau naik taksi dengan ongkos yang cukup untuk membeli seperti jeruk manis dan segar.

    Mampukah kita melihat sedalam itu? Sungguh, manisnya akan terasa lebih lama, meski jeruknya sudah dimakan berhari-hari yang lalu.

    ***

    Oleh: Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 30 October 2012 Permalink | Balas  

    Anak-anak Kecil Penghuni Surga

    Apabila sebuah keluarga telah kehilangan atas meninggal anaknya, maka ada beberapa ungkapan yang sering kita dengar dari orang-orang sekitar yang mengatakan “Sabar, anak kalian akan menjadi tabungan buat kalian berdua di akherat”, “Tabah, anak kalian akan menolong dan memberi syafaat di akherat untuk kalian berdua”, “Anak kalian akan menunggu di akherat kelak” … dan sebagainya yang sejenis.

    Ungkapan para kerabat tersebut itu tak salah. Ada hadist-hadist yang menyiratkan hal itu. Di antaranya yang “muttafaq ‘alaih” (riwayat Bukhari-Muslim) berikut ini. Diceritakan, ada seorang perempuan mendatangi Rasulullah saw. lalu berkata: “Wahai Rasulullah, kaum laki-laki telah memperoleh hadist-hadist Tuan (dengan arti nasehat atau petuah Tuan -red), maka berilah kami (kaum perempuan -red) hari di mana Tuan memberikan pengajaran kepada kami tentang apa yang telah Allah ajarkan kepada Tuan.”

    Rasulullah menjawab, “Berkumpullah pada hari ini dan ini”. Maka kaum perempuan itu berkumpul dan Rasulullah hadir memberikan pengajaran apa yang diajarkan Allah kepadanya. Kata Rasul: “Tiada di antara kalian perempuan yang ditinggal mati tiga anak-anaknya kecuali ketiga anak tersebut menjadi penghalang (hijab) bagi perempuan itu dari api neraka. Seorang perempuan bertanya, “Dan dua orang anak?” Jawab Rasul, “(Ya) dan dua orang anak.”

    Hadis di atas hanya menyebutkan sampai dua orang anak saja. Bagaimana kalau satu anak saja yang meninggal? Kami kira, seandainya waktu itu ada perempuan lagi yang menanyakan “Bagaimana jika yang meninggal satu anak saja?”, kemungkinan besar Rasul juga akan mengiyakan. Artinya bilangan 2 itu tidak menjadi batas.

    Dalam kontek yang sama, dalam hadist lain yang diriwayatkan al-Nasa’iy, Rasulullan berkata (jika diterjemahkan secara bebas demikian) “Tidakkah menggembirakanmu, bahwa kamu kelak akan melihat anakmu membukakan pintu sorga dan berjalan menjemputmu?”.

    Dalam hadist lain lagi (riwayat Muslim), diceritakan ada seorang -Abu Hissan namanya- yang dua anak laki-lakinya meninggal. Abu Hissan ini dekat dengan Abu Hurairah, hingga ia (Abu Hissan) menganggap Abu Hurairah itu sebagai juru bicaranya Rasul yang senantiasa membawa kabar dari tentang Rasul. Setelah musibah meninggalnya dua anaknya itu, Abu Hissan meminta Abu Harairah agar memberinya hadist-hadist Rasulullah yang menghibur orang-orang yang lagi berduka cita karena keluarganya meninggal. Lantas Abu Hurairah berkata (dengan terjemah bebas begini), “(Oh) iya, anak-anak kecil mereka adalah anak-anak kecilnya sorga.”

    Maksudnya, anak-anak yang meninggal masih kecil akan menjadi penghuni sorga tak akan meninggalkannya. “Salah satu mereka (anak-anak kecil penghuni sorga itu) akan menemui orang tuanya. (Setelah ketemu) dia memegangi kuat-kuat baju orang tuanya, tak akan melepaskannya sampai Allah memasukkannya bersama kedua orang tuanya ke dalam sorga.” Masih ada beberapa hadist lainnya yang isinya tak jauh beda. Singkatnya, tepat seperti anggapan banyak orang, anak kecil yang meninggal itu ibaratnya celengan bagi kedua orang tuanya. Di sini perlu ada yang ditegaskan: namanya celengan, tentu ia bukanlah segala-galanya. Apa untungnya kita punya celengan, jika ternyata kita mempunyai hutang yang lebih besar dari celengan tersebut? Jelasnya, amal perbuatan orang tua -setelah anaknya meninggal- tetap akan ditimbang dan dihisab kelak. Jika kejelekannya lebih berat, walau sudah ditutupi dengan adanya celengan tsb, maka tetap akan masuk neraka lebih dulu. Jika sebaliknya, kebaikannya -dengan dukungan celengan yang telah dimilikinya- akan semakin cepat proses masuk sorga.

    Ketabahan dan kesabaran itu sudah seharusnya sikap yang diambil seseorang yang terkena musibah. Termasuk musibah spt ini. Maka, tentunya hadis ini tak berlaku bagi orang tua yang sengaja menghabisi anak bayinya, karena hal itu bukan musibah. Dengan tabah dan sabar, kita akan menjaga stabilitas mental-spiritual hingga mampu kembali aktif dengan segala kegiatan seperti biasanya.

    Wallaahua’lam.

    ***

    Oleh Sahabat: Wafi Maimoen dan Arif Hidayat

     
    • chan 5:19 pm on 17 Februari 2013 Permalink

      terima kasih sobat atas penjelasan nya karna saya baru mengalami hal yg sama

    • wandri 11:47 am on 4 Oktober 2013 Permalink

      terima kasih juga atas penjelasannya,kami juga baru mengalami hal yang sama,putra tercinta kami pergi meninggalkan kami utk selama2nya tgl 11 september 2013 kemarin,,,,memang begitu berat rasanya kehilangan

  • erva kurniawan 1:51 am on 28 October 2012 Permalink | Balas  

    Memelihara Mimpi

    Seorang teman marah ketika saya membangunkannya dari tidur siangnya. “Gara-gara dibangunin, saya gagal dapat uang dua ratus ribu,” katanya. “Bagaimana bisa?” tanya saya. “Ya, hampir saja saya menerima dua lembar ratusan ribu jika saja kamu tak membangunkan saya,” tambahnya. “Sudahlah, bangun dari mimpimu itu. Kamu bisa mendapatkan jauh lebih banyak dari dua lembar jika tak sedang bermimpi,” segera saya menariknya keluar dari kamar untuk mengajaknya berjalan mencari pekerjaan.

    Fase bermimpi itu pernah sama-sama kami lewati, ketika rasa malas kerap menggelayuti otak kami yang berpikir meraih sukses itu amat mudah. Mungkin kami terlalu banyak menonton televisi, melihat orang-orang muda seusia kami memakai stelan jas mengendari mobil mewah dan menghuni rumah seharga di atas dua milyar. Dengan kemapanan seperti itu, perempuan mana yang tak suka berkenalan atau bergaul dengannya. Tayangan televisi lainnya mengajarkan kami betapa mudahnya mendapatkan uang hanya dengan bermodalkan pengetahuan pas-pasan atau mencoba keberuntungan dan mengundi nasib mengikuti berbagai kuis dengan hadiah menjanjikan.

    Beberapa film lainnya sempat membuat saya dan teman-teman berkhayal ketika tengah berada di pinggir jalan menunggu bis, sebuah mobil mewah yang melintas di depan kami tiba-tiba berhenti karena pengendaranya tiba-tiba terserang penyakit jantung. Kami pun berhamburan menolongnya dan membawanya ke rumah sakit. Singkat cerita, jadilah kami dewa penolong yang mendapat imbalan, “apa pun yang kalian minta akan kami berikan, karena kalian telah menyelamatkan nyawa saya,” Ahay, indahnya hidup jika setiap episode selalu dihiasi keberuntungan seperti itu. Tetapi nyatanya tidak, hidup ini tetap keras dan perlu melalui banyak onak yang terkadang kaki ini tak sanggup menahannya. Nyatanya, meski sudah berjam-jam kami masih tetap di pinggir jalan itu dan tak satu pun mobil mewah melintas yang tersuruk lantaran pemiliknya terserang jantung sehingga kemudian kami menjadi dewa penyelamatnya. Tidak, itu hanya ada dalam film, komik, bahkan mimpi yang seringkali tak nyata.

    Mimpi seringkali membuat orang untuk terus bermimpi, seperti seorang pandir yang selalu mendapat keberuntungan meski pun kebodohannya tak tertandingi, seperti Cinderella yang mendapat keberuntungan dari sepatu kaca pemberian peri cantik, seperti seorang pemulung yang tiba-tiba saja menemukan beberapa batang emas di tempat sampah, sehingga seluruh warga kampung berbondong-bondong ikut memulung di tempat yang sebelumnya teramat menjijikkan bagi mereka. Si pemulung akan berpikir bahwa menjadi pemulung adalah jalan hidupnya, dan ia terus bermimpi menemukan batang emas lainnya di tempat sampah yang berbeda.Dan seperti juga kita, yang masih saja terus ingin melanjutkan tidur berharap mimpi siang tadi berlanjut sehingga dua lembar ratusan ribu berpindah ke tangan kita. Tapi itu dalam mimpi!

    Nyatanya, mungkinkah ada orang yang bisa melanjutkan mimpinya? Bahkan adakah yang mampu mewujudkan mimpinya hanya dengan terus memejamkan matanya dan menyembunyikan wajah di bawah bantal?

    Waktu terus bergulir, detik terus berlari. Sebagian orang masih terlelap berharap mimpi indah dalam tidurnya. Sebagian lainnya berpacu dengan cepatnya waktu untuk meraih sukses. Yang tidur akan bangun dengan tangan hampa, menyesal betapa banyak waktu terbuang untuk meraih mimpi yang tak pernah mampu diwujudkannya hanya dengan terus menerus terlelap. Sementara yang lain, sudah tersenyum karena lebih cepat meninggalkan tempat tidur mereka dan melangkah cepat meraih mimpinya dengan kerja keras.

    Memelihara mimpi, bukanlah dengan melanjutkan mimpi dalam tidur. Melainkan dengan melipat selimut dan bergegas ke luar kamar melangkahkan kakinya menapaki setiap anak tangga kesuksesan. Bukankah matahari terlihat saat ia bersinar, bukankah kokok ayam jantan menunjukkan keberadaannya. Tukang becak akan mendapatkan uang setelah ratusan kali kakinya mengayuh, tukang koran bisa tersenyum setelah semua korannya habis, para pedagang akan menghitung laba setelah uang modalnya terpenuhi, dan para karyawan akan menerima gaji setelah sebulan penuh bekerja.

    Layaknya seorang pemain sepak bola di lapangan. Jika tak bertarung merebut bola, berapa sering ia akan mendapatkan bola jika hanya berharap pemberian bola dari temannya? Dan hitung berapa peluang yang ia peroleh untuk menciptakan gol dari jerih payahnya yang sedikit itu? Akankah timnya menjadi pemenang? Jadi, peliharalah mimpi dengan bergegas beranjak dari mimpi dan khayalan. Karena rezeki lebih senang dihampiri, bukan menghampiri.

    Saya dan teman-teman yang pernah sama-sama bermimpi dulu, hingga kini masih terus memelihara mimpi kami. Tetapi kali ini tidak di tempat tidur. Percaya lah.

    ***

    Oleh Sahabat Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 22 October 2012 Permalink | Balas  

    Sinyal

    “Pesawat handphone –tercanggih sekalipun– membutuhkan sinyal untuk bisa  berfungsi sebagai alat komunikasi. Untuk menjadi pribadi yang efektif, kita  pun harus sensitif terhadap sinyal-sinyal komunikasi yang dipancarkan orang  lain.”

    Dalam sebuah seminar di Makassar, seorang mahasiswa UNHAS yang menemani saya  menceritakan banyak anekdot mengenai petani cengkeh yang biasanya mendadak  kaya sehabis panen. Kebanyakan temanya adalah soal bagaimana mereka  membelanjakan uang mereka yang berlebih itu. Ini salah satunya:

    Ada seorang petani cengkeh dari pedalaman pergi berbelanja ke kota dengan  membawa banyak sekali uang hasil penjualan panenannya. Mereka bermaksud  membelanjakan uang yang berlimpah itu. Datanglah mereka ke sebuah gerai  handphone terbesar di kota itu. “Saya hendak membeli handphone type yang  paling baru dan canggih?” kata petani itu.

    “Oh silahkan Pak, apakah Bapak sudah ada SIM card-nya?” sambut pegawai toko  dengan ramah.

    “Oh perlu SIM juga ya?” tanya petani itu sembil mencabut dompet, mengeluarkan SIM mengemudinya.

    “Oh, bukan SIM mengemudi Pak, tapi nomor dari operatornya … kalau begitu  apa sekalian SIM card-nya Pak?”

    “Oh ya, kalau begitu sekalian SIM card-nya.” jawab petani itu kalem.

    “Tapi Pak, maaf, Bapak tinggal di daerah mana?”

    “Saya? di Sungai Ujung, Kabupaten Kaki Bukit.”

    “Wah, di sana nggak ada sinyal Pak.”

    “Oh ya? kalau begitu tolong dik, dilengkapi dengan sinyal sekalian.”

    Bagaimana pun canggihnya pesawat telepon yang kita miliki, tidak akan  berfungsi dengan baik kalau tidak ada sinyal yang ditangkap. Demikian pula  dalam kehidupan sehari-hari kita, sesungguhnya banyak sekali sinyal-sinyal  komunikasi yang perlu kita tangkap untuk mempertajam keputusan yang hendak  kita ambil.

    Kemampuan untuk secara sensitif menangkap sinyal-sinyal komunikasi itu  kemudian mengolahnya secara internal merupakan ciri khas yang hanya dimiliki  oleh mereka yang mempunyai kepribadian matang. Sebaliknya, secanggih apa pun  penampilan Anda, tetapi nggak pernah nyambung, ya tak lebih dari sebuah  handphone canggih yang nggak bisa dipakai nelpon. Tulalit kan?

    ***

    Sumber : Lightbreakfast

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 19 October 2012 Permalink | Balas  

    Sakinah Mawadah Wa Rahmah

    Dulu, ketika mendengar ceramah atau doa dari ustadz-ustadz(ah) agar keluarga kita menjadi menjadi keluara yang sakinah, mawaddah wa rahmah saya tidak terlalu paham, apa yang dimaksud dengan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Saya hanya tahu sakinah artinya tenang, tentram.

    Pelan-pelan saya faham, sakinah artinya tenang/tentram, mawaddah artinya bahagia, wa = dan, sedangkan rahmah artinya mendapat rahmah/cinta. Hanya itu.

    Sampai beberapa hari yang lalu ketika kami membahas cerita di sebuah buku tentang seorang pemuda yang tidak ingin menikah karena belum menemukan wanita yang sesuai dengan kriterianya ditambah begitu banyaknya persyaratan dari orang tuanya tentang sang calon menantu.

    Menurut pandangan pemuda di cerita tersebut, gadis-gadis jaman sekarang banyak yang tidak lagi menjalankan hidup sesuai dengan islam, dari pakaiannya yang tidak menutup aurat, penampilan dan cara bergaulnya yang ‘kebarat-baratan’, bahkan sampai cara berjalannya yang tidak islami. Kebetulan ia dibesarkan dilingkungan teman-teman yang islami yang telah menikah dengan wanita-wanita islami, namun ia sendiri bukan berasal dari keluarga yang harmonis. Orangtuanya selalu ribut, bersikeras dengan pendapat masing-masing dan memiliki sifat yang tidak sabar.

    Akhirnya pemuda yang kebetulan seorang dokter terkenal tersebut tenggelam dengan kesibukannya sebagai dokter dan mempelajari Al- quran dan sunnah Rasul saw dari buku-buku dan ceramah-ceramah.

    Suatu hari, pemuda tadi mendengarkan radio yang membahas tentang tujuan terbentuknya sebuah keluarga, yakni untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Selama ini, pemuda atau dokter muda yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis tersebut tidak terlalu memperhatikan apa tujuan berkeluarga. Sang penyiar lalu melantunkan sebuah ayat Al-quran.Iapun sering mendengar ayat dari surat Ruum (30:21) tersebut : “Dan dari tanda-tandanya telah Kuciptakan untukmu pasangan-pasanganmu agar kamu hidup tenang bersamanya dengan bahagia dan cinta (mawaddah wa rahmah). Dan itu adalah tanda-tanda bagi orang yang berakal”. Namun baru kali ini ia memperhatikan, merasakan dan menghayati ayat tersebut. Membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah.

    Sejak itu opininya tentang hidup berkeluargapun berubah. Ia lalu mulai memperhatikan dan mencari calon istri. Singkat cerita, akhirnya ia menikahi muridnya yang berpenampilan lain dari murid- murid wanita lainnya, memakai gamis, berjilbab dan menjaga pergaulannya. Kesibukannya mempelajari islam selama ini telah membukakan hatinya dan memperoleh petunjuk dari Allah swt. Di akhir pelajaran ustad kami menanyakan apa perbedaan antara mawaddah dan rahmah. Jawaban kamipun bermacam-macam. Lalu ustadpun menjelaskan, mawaddah adalah cinta dari seorang suami, sedangkan rahmah adalah cinta dari seorang istri.

    Sekarang jelas sudah, apa arti keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Bukan hanya berarti keluarga yang tenang dan bahagia saja, tapi ada sesuatu dibalik itu, perlunya cinta yang diberikan oleh suami kepada istri dan keluarga, dan cinta yang diberikan oleh istri kepada suami dan anak-anak.

    Ustad lalu menambahkan,tujuan berkeluarga yang lain adalah mengurangi kesalahan bahkan kemaksiatan. Contohnya, jika sebelum berkeluarga pemuda atau pemudi lajang dapat berpergian dengan bebas, maka setelah berkeluarga kegiatan mereka menjadi terbatas. Ada prioritas lain yang harus mereka perhatikan, yakni keluarga. Jadi, bila setiap anggota keluarga sibuk dengan kegiatan diluar rumah tanpa memperhatikan keluarganya, lalu apa bedanya menikah dengan tidak menikah? Mungkinkah tercipta keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah apabila setiap orang jarang bertemu dan berkomunikasi? Karena tujuan berkeluarga sebagian orang telah berbeda dengan yang Allah swt ajarkan kepada kita dalam surat Ar Ruum, yakni menciptakan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Walau selama ini kita telah sering membaca ayat tersebut dalam undangan-undangan pernikahan. Wallahu ‘alam.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 11 October 2012 Permalink | Balas  

    Kalimat Terindah

    Setelah berbulan-bulan tak ada kabar yang jelas. Setelah sekian waktu jadwal kepulangan saya ke tanah air belum bisa dipastikan, maka suatu malam saya dipanggil sang majikan untuk berbicara empat mata. Saat pertemuan itu ada kalimat terindah yang pernah saya dengar dari mulutnya. Kalimat itu adalah, “Akhir bulan ini kamu pulang ke Indonesia.”

    Saya terdiam. Tapi saya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang bergejolak di dada ini. Pulang! Sebuah kata yang sangat indah di telinga saya. Setelah dua tahun lebih saya meninggalkan orang-orang yang saya cintai: isteri, anak, keluarga yang lain, teman dan siapa saja orang-orang yang dekat dengan saya sebelum berangkat merantau ke negeri seberang.

    Terlintas dalam pikiran saya, tentang masa lalu. Tentang sepenggal dari episode kehidupan saya pada masa duduk di sekolah menengah. Waktu di mana saya harus meninggalkan kampung halaman yang amat sangat saya cintai.

    Selepas tamat sekolah dasar, orang tua saya mengirim saya untuk meneruskan pendidikan di kota. Karena kampung saya jauh dari kota, maka saya harus kost. Itu saya jalani dari SMP sampai tamat SMA. Dan saya selalu teringat saat yang paling indah, saat yang paling menyenangkan, yaitu saat datang hari Sabtu. Sebab di akhir pekan itu saya pulang kampung. Saking gembiranya kalau datang hari Sabtu, sayasering menyebutnya “Pulang ke pinggir sorga.” Sebab akan bertemu dengan orang tua. Dan biasanya ibu saya sudah menyediakan makanan-makanan kesukaan saya. Yang tentunya sangat jarang saya temui di rumah kost.

    Nah, saat mendengar kalimat dari majikan saya itu, hati saya sama persis seperti ketika mau pulang kampung di masa-masa menempuh pendidikan di kota saya, beberapa tahun yang lalu.

    Sejak itu, hari-hari saya diliputi kegembiraan. Walaupun pekerjan yang saya tangani sebenarnya sangat banyak. Ocehan-ocehan dari majikan yang bersifat memarahipun tak begitu saya pedulikan. Artinya, apa yang ia omongkan hanya saya masukan telinga kanan dan saya keluarkan lewat telinga kiri. Bahkan terkadang, hati dan pikiran saya seolah sudah di kampung sendiri, padahal jasad saya masih bermandi keringat di negeri orang.

    Suatu hari seorang teman menangkap perangai saya. Dan teman saya itu berkomentar. “Duh, gembiranya mau pulang kampung, ya….” Saya senyum-senyum saja mendengar itu. Memang itulah adanya.

    Namun, di siang bolong yang terik mataharinya mencapai titik kulminasi, saat saya merebahkan badan untuk melepas lelah, tiba-tiba saya berpikir keras. Sambil melihat langit-langit kamar, saya bergumam sendiri. “Apakah kegembiraan ini bisa bertahan lama, atau setidaknya sampai ke Indonesia nanti?’

    Saya tak bisa menjawab pertanyaan saya sendiri itu. Bahkan tiba-tiba pikiran saya melayang terlalu jauh ke depan. “Mampukah saya segembira ini jika nanti Allah juga memberikan kalimat itu kepada saya?”

    Ya, setelah merantau, pasti saya akan pulang. Sama juga setelah saya diberi kesempatan hidup di dunia, pasti juga akan dipanggil pulang. Dan kepulangan yang terahir ini jelas tidak mungkin bisa ditawar-tawar lagi. Cepat atau lambat, Allah akan menyapa juga dengan kalimat yang tak beda jauh dengan kalimat majikan saya, walau dengan nuansa yang berbeda, tentunya.

    Kalau pertemuan saya dengan semua keluarga nanti di tanah air mampu memberikan kegembiraan yang luar biasa pada saya, mampukah saya juga berperasaan yang sama tatkala saya nanti akan berjumpa dengan Sang Pencipta?

    Saya tertunduk lama. Lama sekali. Bahkan tak terasa air mata ini memberontak ingin keluar. Seolah memerintahkan saya untuk cepat-cepat berintrospeksi diri, tentang apa yang telah saya perbuat di “rantau” ini.

    Bekal saya belum seberapa. Entah dalam tingkatan yang mana derajat keimanan saya. Komitmen saya terhadap aturanNya belum bisa saya jadikan barometer untuk menjadikan saya tersenyum di hadapanNya. Apalagi merasa gembira.

    Namun, walaupun demikian, mudah-mudahan kepulangan saya ke tanah air tercinta akan menjadi pelajaran besar untuk menyongsong kepulangan saya yang sebenarnya, yaitu pulang ke pangkuanNya. Sehingga ketika kalimat terindah dari Allah, yang dibawa malaikat penyabut nyawa,datang menyapa saya, mudah-mudahan saya bisa menyambutnya dengan senyum kegembiraan. Seperti senyumnya para kekasih Allah ketika dipanggil pulang menuju kampung abadi, kampung akhirat.

    ***

    Oleh Sus Woyo

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 6 October 2012 Permalink | Balas  

    Nasehat Sang Ibunda

    Jam menunjukkan pukul 23.00. Tapi mata belum juga bisa terpejamkan. Setelah menyaksikan adegan istimewa yang disuguhkan Allah Swt di dinding kamar saya, bagaimana upaya seekor cicak menyambut rizkinya. Tiba-tiba tanpa sengaja pikiran saya melayang jauh ke masa lampau. Waktu itu bertepatan dengan hari ke sebelas bulan ramadhan.

    Sosok ibu kami, pada masanya, beliau tidak pernah merasakan bagaimana menjadi seorang murid. Beliau tidak pernah sekolah. Walaupun hanya setingkat sekolah dasar. Tetapi cara-cara beliau mendidik dan memberi pelajaran kepada kami, sungguh sangat mengesankan dan membuat kami selalu kagum pada beliau. Diantara sekian banyak pelajaran kehidupan yang kami terima, ada satu hal yang terus saya ingat, apabila pikiran terbayang pada beliau.

    Pada sore hari yang cerah, saya mau mengambil buah jambu yang ada di halaman rumah kami. Buah jambu itu tampak sudah matang dan begitu menggairahkan. Perlu diketahui bahwa pohon jambu yang kami tanam di depan rumah kami adalah buah ‘jambu jepang’, istilah orang kampung. Pohon itu sangat langka pada saat itu.

    Di kampung tempat kami tinggal hanya ada satu pohon itu saja. Sehingga semua orang yang melihatnya kepingin sekali merasakan bagaimana rasa buah `jambu jepang’ tersebut. Pohon itu kalau berbuah juga tidak terlalu banyak. Kadang-kadang satu pohon hanya ada satu atau dua buah saja yang masak. Perlu diketahui pula bahwa buahnya sangat kecil hanya sebesar buah kelengkeng saja. Tetapi baunya harum dan rasanya manis.

    Pada hari itu, buah jambu yang masak ada dua buah. Ketika sore itu saya mau mengambil buah yang sudah ranum, ibu melarangnya. Sehingga saya agak kecewa karenanya.

    Kata saya : ‘..Mengapa bu, saya tidak boleh mengambil buah tersebut? Kan itu milik kita. Kalau tidak cepat diambil nanti kan membusuk?”

    Jawab ibu : “Nak, kita kan sudah pernah makan buah tersebut. Walaupun dengan menunggu dalam waktu yang cukup lama. Dan memang kadang-kadang kita hanya bisa makan satu atau dua buah saja yang sedang masak. Tetapi tetangga depan rumah kita itu, belum pernah mencicipinya. Kemarin ibu lihat anaknya pingin sekali mengambil jambu itu. Karena itu janganlah diambil. Berikan buah jambu itu kepada mereka. Agar hatinya senang…

    Kembali mata saya berkaca-kaca, mengingat peristiwa sederhana itu. Sebuah peristiwa yang mungkin setiap orang akan pernah menjumpainya dalam keluarganya masing-masing. Atau dalam lingkungan lainnya, dengan model yang berbeda.

    “Dahulukanlah orang lain… ! Begitulah kira-kira inti pelajaran istimewa yang saya terima dari beliau Mengenang peristiwa itu, saya jadi teringat sebuah riwayat yang menceritakan tentang seorang sahabat yang oleh rasulullah disuruh menjamu tamunya. Ceritanya, di rumah sahabat tersebut tidak terdapat sesuatu makanan, kecuali makanan milik anaknya. Karena sang pemilik rumah ingin lebih mengutamakan tamunya dari pada keluarganya, ia memberikan makanan milik anaknya tersebut kepada tamunya dengan cara yang sangat luar biasa.

    Yaitu ketika waktu makan bersama tamunya, sang pemilik rumah pura-pura makan juga, padahal piringnya kosong. Mengapa pura-pura? Supaya sang tamu tidak mengetahui kalau pemilik rumah sebenarnya tidak ikut makan. Untuk maksud itu, maka lampu di dalam rumahnya dipadamkan. Pura-pura kehabisan minyak. Setelah suasana menjadi gelap, maka mereka ‘makan’ bersama-sama. Sang tamu makan sungguhan, sang pemilik rumah makan pura-pura, padahal perutnya sangatlah laparnya.

    Peristiwa itu begitu luar biasanya, sehingga turunlah ayat Al-Qur’an surat Al-Hasyr (59) : 9, sebagai penghargaan terhadap peristiwa tersebut.

    Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

    Kalaulah sampai Allah Swt, menurunkan sebuah ayat lantaran peristiwa tersebut, sungguh betapa hebatnya kejadian itu sehingga perlu diabadikan dalam kitab suci akhir zaman ini. Agar bisa dicontoh dan diteladani oleh umat manusia.

    Demikian pula banyak pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh Rasulullah saw, agar kita selalu berbuat baik kepada orang lain, serta memiliki sifat murah hati terhadap orang lain.

    Anas bin Malik ra, berkata, bahwa rasulullah saw itu, tidak pernah diminta kecuali selalu memberi. Pernah datang seorang lelaki kepada Rasulullah untuk meminta, maka beliau memberikan kambing-kambing yang banyak yang berada diantara dua gunung, kambing sadaqah. Maka lelaki itu pulang dan ia berkata kepada kaumnya…

    Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian semua! Sesungguhnya Muhammad itu amat pemurah. Ia memberi dengan pemberian yang sangat banyak, tidak pernah takut melarat…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 1 October 2012 Permalink | Balas  

    Berusaha Memahami

    Suatu hari seorang nenek berjalan terseok-seok di jalan trotoar yang sempit. Nenek itu menengok ke sebuah toko di sebelah kanan jalan sambil mendorong kereta belanjaan yang telah dipenuhi isi. Entah dia sadari atau tidak, tiba-tiba seorang pemuda sedang berusaha melewatinya. Tapi karena sempitnya trotoar, ditambah lagi dengan kereta dorongnya yang berada di tengah-tengah, membuat pemuda itu kesulitan untuk mendahului.

    Aku yang melihat pemandangan itu jadi berpikir apa yang akan dilakukan pemuda itu. “Pemuda itu akan membunyikan bel sepedanya dan melewati nenek itu,” tebakku. Kenyataan ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Dengan pelan-pelan pemuda itu tetap berada di belakang si Nenek dan tidak membunyikan bel sepedanya. Sampai akhirnya si Nenek menyadari ada seseorang di belakangnya dan dia telah menghambat jalan orang lain. Dengan membungkukkan badannya berkali-kali sambil meminta maaf (kebiasaan yang sering kulihat pada orang Jepang), dia menepi dan memberi jalan untuk pemuda itu. Dan berlalulah pemuda itu dengan anggukan balasan tanpa kudengar suara omelannya.

    Pernah pula saya dan beberapa teman berjalan di trotoar yang lebarnya mungkin hanya 2 meteran, tetapi kami berjalan berjejer sambil mengobrol. Seakan-akan itu jalan milik kami dan tidak ada orang lain yang akan menggunakannya. Atau karena kami tidak mempunyai pikiran untuk berjalan agak ke pinggir dan membaginya untuk orang lain, walaupun saat itu tak ada orang yang lewat. Entahlah, mungkin saat itu di kepala kami tak ada pikiran seperti itu karena asyik mengobrol?

    Tiba-tiba ada orang berkata, “Sumimasen…sumimasen…” Seseorang meminta maaf (permisi) untuk dapat melanjutkan perjalanannya yang terhalang oleh kami. Atau kekhawatiran menabrak salah seorang anak-anak kami yang berkeliaran dengan bebasnya. Tetapi orang itu bukan yang terakhir, masih ada yang merasa tidak enak untuk meminta jalan kepada kami.

    Padahal mereka mempunyai hak yang sama atas jalan trotoar itu. Sama halnya dengan kami.”Ah… sumimasen, gomen nasai…,” kataku meminta maaf sambil menarik tangan anakku untuk menepi dan memberi jalan kepada orang yang sempat turun dari sepedanya. Dia berlalu sambil menganggukkan kepalanya disertai senyuman di bibirnya. “Duh…kok dia nggak marah, ya?” batinku. Padahal biasanya orang marah-marah kalau jalannya terhalang, dan dari jauh sudah membunyikan bel sepedanya nyaring-nyaring. Kadangkala malah keluar kata-kata umpatan yang tidak sedap didengar.

    ***

    Di sekitar tempat tinggalku ini jarang sekali kudengar suara klakson mobil ataupun bel sepeda berdering-dering. Kenapa ya? Apakah mereka sudah sampai pada tahap yang namanya manusia beradab? Atau karena begitu patuhnya pada peraturan? Atau tenggang rasa pada sesama sudah mengakar dalam kehidupan mereka? Atau mereka tidak sudi dianggap orang bodoh karena membunyikan klakson atau bel? Orang Jepang terkenal sangat patuh pada peraturan. Itukah jawabannya?

    “Eh, kenapa ya orang-orang ngga ada yang bunyiin klakson?” tanyaku pada suami, yang kebetulan orang Jepang. “Ngapain bunyiin klakson? Kayak orang bodoh aja? Nanti juga kan dapat gilirannya kalau mau jalan?” suamiku malah balik bertanya. Memang kulihat lalu lintas di Jepang teratur, yang jalan lurus sudah ancang-ancang dari jauh memilih jalur lurus, begitu juga yang ingin belok mengambil jalur sisi jalan agar tak menghalangi mobil yang akan jalan lurus. Mobil yang akan belok kanan akan mendahulukan pengendara yang berlawanan arah, baik itu yang jalan lurus ataupun yang belok kiri.

    ***

    Kemarin sewaktu aku dan teman-temanku ketinggalan bis, kami duduk di sembarang bangku yang berjejer di halte itu. Masih ada waktu 10 menit lagi untuk keberangkatan bis berikutnya. Kami ngobrol sana sini, hingga tak terasa sudah banyak orang yang mulai berdatangan. Mereka hanya melihat sekilas kepada kami dan tetap berdiri, padahal masih banyak bangku yang kosong. Karena yang duduk hanya aku dan anaknya temanku. Sedangkan temanku berjongkok menghadap anaknya dan satu temanku lagi berdiri di belakang kami.

    “Heh…! Kok ada perasaan tak enak ya?” batinku ketika aku melihat seorang nenek berdiri tak jauh dari kami. Tentu saja nenek itu dan orang-orang yang ada di situ tak bisa maju karena biarpun di depan kami masih kosong, tetapi karena kami yang ada di sana lebih dulu, maka mereka akan berada di belakang kami.

    Segera aku mengajak teman-temanku maju ke depan mendekati tempat naiknya bis. Barulah nenek itu dan yang lainnya ikut maju dan duduk di bangku yang tadi kami duduki. Aku menganggukkan kepala dan meminta maaf, “Sumimasen…” Nenek itu hanya tersenyum sambil mengangguk.

    Tak ada kesan marah atau sinis. Anggukan kepala dan senyum, tanpa ada kata-kata umpatan atau omelan malah membuat kita malu sendiri dan sadar telah berlaku ceroboh. Nenek tersebut seolah berusaha memahami kami.

    Dari beberapa contoh di atas, aku merasa ada sebuah kekaguman pada orang Jepang. Mereka yang terkenal dengan sifat individunya, ternyata masih bisa berusaha memahami perasaan orang lain. Dengan caranya, mereka akan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Seolah memberi tanda bahwa tak ada hal yang perlu dirisaukan oleh si pihak lawan akan sikap salahnya. Sesuatu yang kadang masih sulit aku terapkan. Yaitu berusaha memahami perasaan orang lain.

    Tidak salah jika Rasulullah saw sering mengingatkan bahwa saling memahami (tafahum) akan meningkatkan rasa ukhuwah Islamiyah. Karena dari rasa saling memahami inilah akan timbul keinginan saling bekerjasama. Yang kemudian akan berlanjut menjadi mendahulukan kepentingan orang lain, tingkatan yang tertinggi dalam jalinan ukhuwah. Hingga terjalin rasa saling cinta kasih.

    Entah cerita di atas berhubungan atau tidak, tapi dengan kejadian tersebut, kini aku mulai berusaha agar dapat memahami orang lain. Aku berharap dengan berusaha memahami orang lain, dapat meningkatkan diri ke arah insan yang bisa mendahulukan kepentingan orang lain.

    Wallahu`alam bisshowab.

    ***

    Kutipan dari Eramuslim.com

    Oleh Seriyawati

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 24 September 2012 Permalink | Balas  

    Kagum Melihat Cicak Menyambut Rizeki

    Cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap. Datang seekor nyamuk, Hap..! lalu ditangkap

    Inilah sebait lagu yang sangat populer di kalangan anak-anak balita, sebuah lagu yang sederhana tetapi lagu tersebut dapat menyatu dalam kehidupan anak-anak kita.

    Kenapa saya jadi teringat lagu tersebut? Sebab ketika hari sudah menjelang malam, dan ketika saya mau memejamkan mata untuk beristirahat, tiba-tiba di dinding kamar terlihat seekor cicak yang merayap dari tempat persembunyiaannya menuju ‘suatu’ tempat tertentu. Dan …hap! cicak tersebut telah menangkap seekor nyamuk yang datang `menuju’ dirinya.

    Peristiwa ini tampaknya biasa saja, seperti peristiwa lainnya yang sering kita saksikan dalam kehidupan ini. Tetapi kalau kita cermati lebih lanjut, maka tampaklah sesuatu yang istimewa dalam lagu ini. Dan tentu kita menjadi kagum kepada penciptanya.

    Point penting yang terdapat dalam syair lagu tersebut adalah, bahwa nyamuk sebagai makanan dari cicak, justru dia yang aktif menuju/mendekati mulut cicak. Andaikata nyamuk tidak terbang menuju cicak, maka secara logika tidak akan mungkin cicak bisa mendapatkan rezekinya. Sebab nyamuk memiliki sayap dan ia bisa terbang dengan gesitnya, sementara cicak tidak bisa terbang, dan hanya bisa merayap saja.

    Cicak hanya akan bisa menangkap seekor nyamuk, sebagai rezeki yang dikirim oleh Allah Swt, apabila ia mau berusaha dengan cara merayap, menggerakkan dirinya ke arah yang tepat. Yaitu di sekitar manakah posisi ‘rezeki’ itu berada.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 23 September 2012 Permalink | Balas  

    Bertemu Kembali Dengan Rumah

    Setelah seharian, atau lebih, kita meninggalkan rumah dan keluarga, tentu perasaan rindu pada suasana rumah akan muncul kembali. Mungkin makan di luar rumah dengan makanan yang istimewa sudah kita lakukan, tapi kita akan kembali rindu dengan makanan yang lebih istimewa yang ada di atas meja makan di rumah kita. Meskipun hanya dengan lauk pauk sederhana.

    Justru keistimewaan akan muncul pada kesederhanaan itu, jika kerinduan sudah menjalar di hati. Demikian juga dengan keberadaan rumah dan halaman kita. Demikian pula dengan keberadaan anak-anak kita, ibu kita, ayah kita, suami-listri kita, atau anggota keluarga lainnya. Semuanya adalah istimewa.

    Pernah suatu saat mengunjungi teman saya. Salah satu yang dibicarakan dalam obrolan itu adalah tentang kesehatan anak-anaknya. Ia mempunyai lima orang anak, yang paling besar usia tujuh belas tahun, yang paling kecil masih berumur satu tahun. Di sela-sela tawa riangnya, ia selalu merasa bersyukur kepada Allah, bahwa anak-anaknya sehat semuanya. Ketika semua anaknya berkumpul nonton televisi di ruang keluarga, ia melihat anaknya satu persatu, yang tingkahnya berbeda-beda. Alhamdulillah anak-anak sehat semua. Saya selalu merasa menjadi orang yang kaya, begitu melihat anak-anak ada di rumah dan dalam kondisi sehat semua…

    Demikian kata-kata yang sering ia ucapkan. Saya hanya bisa mengambil sebuah kesimpulan, dari kata-kata teman saya itu, bahwa kekayaan yang paling utama adalah kesehatan.

    Kalau kesimpulan itu kita tarik ke atas, maka kesimpulan itu akan menjadi lebih universal. Sehat adalah sebuah kondisi prima. Kalaulah itu dikenakan pada kita sebagai insan yang memiliki lahir dan bathin atau jasmani dan ruhani, maka sehat yang sempurna adalah jika kita memiliki sehat di jasmani kita, dan jugs sehat di ruhani kita.

    Demikian dengan kondisi rumah kita. Ada rumah yang secara fisik nampak sehat, indah dan menawan hati. Ada rumah yang secara ruhani memiliki keindahan yang lebih tinggi. yaitu rumah yang di dalamnya bisa membuat tentramnya hati. Yang itu diakibatkan oleh para penghuninya yang rendah hati.

    Rumah adalah tempat kita kembali dari perjalanan kita. Rumah adalah tempat kita berteduh dari gangguan cuaca. Dengan kembalinya kita setiap hari / setiap waktu, ke rumah kita masing-masing, maka sebenarnya kita sedang berlatih untuk pulang…

    Keteduhan jiwa yang paling hakiki adalah ketika seorang hamba kembali kepada Tuhannya. Kembali mendapatkan kasih sayangNya. Setelah lama merantau kesana kemari, yang kadang tak tentu arah, mengurusi duniawi yang kadang sering salah.

    Dengan melihat rumah kita, mari kita ingat akan rumah kita yang sesungguhnya. Mari kita kembali kepada ridha Ilahi…

    Mencari ilmu, mencari rezeki, adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup ini. Tetapi ketika Sang Khaliq telah memanggil, ketika suara adzan telah diserukan, mari kita penuhi untuk sujud dan rukuk, dalam nikmat yang hakiki…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 22 September 2012 Permalink | Balas  

    Dimana Tempat Sembunyi Yang Aman?

    Tahukah kita, adakah suatu tempat yang paling aman untuk bersembunyi? Dimana tempat itu? Aman bagi seseorang, apakah juga aman bagi orang yang lain? Dari intaian siapa, kita bisa menyembunyikan diri?

    Inilah sebuah cerita yang cukup menarik, lucu, dan mengandung pelajaran bagi kita semua. Saya punya seorang famili, yang cukup lucu dan menarik kalau ia lagi bercerita tentang pengalamannya.

    Cara ia bercerita menyebabkan yang mendengarkannya menjadi begitu tertarik. Ibarat mau pergi menjadi terduduk lagi untuk mendengarkan kisahnya.

    Ketika bulan puasa datang, pada umumnya sebagai hamba Allah yang taat beribadah, orang-orang akan ramai menyambutnya dengan gembira. Tetapi ada juga sekelompok orang yang menjadi repot dan menjadi susah jika ramadhan tiba. Apalagi jika ia berada di lingkungan keluarga muslim yang taat. Atau bertetangga dengan orang-orang alim. Atau berada di lingkungan yang kental dengan suasana religius.

    Seorang yang `setengah-setengah’ Ia akan serba susah dengan datangnya bulan ramadhan. Mau puasa takut kelaparan, tidak puasa malu dengan tetangga. Maka setiap datangnya bulan puasa menjadi sebuah ‘malapetaka’ bagi orang-orang seperti dia. Tidak terkecuali dengan pak ‘NR’ yang pada saat mudanya ia punya pengalaman menarik. Tentang hal itu.

    Ceritanya, terjadi di hari ketiga bulan puasa. Hari itu, pak NR, sejak pagi sudah berpuasa dengan ‘gagah’. Tetapi begitu hari sudah mulai siang, perutnya sudah mulai berbunyi. Ditahan-tahannya rasa lapar itu sekuat-kuatnya, dan iapun berhasil menjalankan puasa sampai dengan jam 15.00

    Tetapi jam berikutnya, ia sudah mulai gelisah. Ingin rasanya berbuka tetapi malu dengan seisi rumah yang semuanya ternyata juga berpuasa.

    Karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya pak NR diam-diam pergi keluar rumah untuk berbuka dengan cara sembunyi di tempat yang paling aman, yang dirasa tidak akan ada orang yang mengetahuinya.

    Maka dipilihnyalah sebuah restoran non muslim. Yang jaraknya dari rumah cukup jauh. Sehingga tidak mungkin ada tetangga atau teman yang melihatnya. Apalagi restoran non muslim, pasti akan aman dari pantauan orang muslim, yang sedang berpuasa.

    Maka setelah sampai di depan restoran tersebut pak NR berindap-indap masuk ke dalam. Di dalam restoran itu ternyata sudah cukup banyak orang yang lagi makan. Tentu dengan menu khususnya masing-masing. Akhirnya pak NR mengambil duduk di tempat yang paling sudut, yang di sebelahnya terdapat papan kayu pembatas kursi.

    Selanjutnya pak NR memesan makanan yang sesuai dengan seleranya. Karena pengunjung cukup banyak, maka makanan yang dipesannya begitu lama sekali baru selesai dibuat oleh juru masaknya.

    Hampir satu jam pak NR menunggu selesainya pesanan yang telah dipilihnya itu. Sehingga setelah waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 lebih barulah makanan yang dipesan itu selesai dibuat.

    Maka meskipun agak sedikit kecewa karena menunggunya terlalu lama, bahkan waktu maghrib pun sebenarnya sudah tinggal beberapa saat lagi. Karena sudah kepalang basah, dimakannya juga pesanan itu. Dan pak NR pun ‘berbuka’ puasa pada waktu yang sudah hampir maghrib.

    Setelah selesai makan dengan perasaan yang tidak karuan, sehingga rasa makanannya pun menjadi tidak enak lagi. Pak NR kembali berindap-indap menuju ke kasir untuk membayar makanan. Takut-takut kalau ia sampai ketahuan oleh orang yang dikenalnya.

    Ketika pak NR menuju ke tempat kasir itulah, ada seseorang yang juga berdiri dari tempat duduknya yang berbatas dinding kayu dengannya, orang itu juga berindap-indap menuju tempat kasir untuk membayar makanan yang telah selesai di santapnya.

    Apa yang terjadi? Ternyata dengan begitu kagetnya, orang tersebut menyapa lebih dulu kepada pak NR. Lho koq mas NR di sini? Lagi apa mas? kata orang itu sambil menutupi mulutnya yang masih ada sedikit bekas makanan.

    Sahut pak NR : Lho kok pak MS juga disini? Lagi beli makanan buat buka pak? Jawab pak MS, i iya mas…!. Mari ya… saya duluan!. Sambil pak MS cepat-cepat pergi meninggalkan pak NR, yang sedang kaget dan juga bengong sembari membayar makanan )..

    Wah…wah..seru sekali pokoknya. Pingin makan di tempat yang tersembunyi, ehh,…nggak taunya juga ada orang yang bersembunyi. Bahkan duduk bersebelahan dengan saya. Eh eh,..lha kok ternyata, la adalah tetangga depan rumah yang sehari-harinya berpenampilan muslim sejati. Wah,… wah, saya malu sekali. Wah, tentu dia lebih malu lagi, ya. He he he. Wah, sungguh sulit ya, mencari tempat yang tersembunyi itu?! Kata pak NR, sambil menutup kisahnya yang diceritakannya kepada saya.

    Apa yang kita dapatkan dari peristiwa yang cukup unik dan konyol itu?

    Benar kata pak NR, ternyata tidak ada tempat yang tersembunyi

    Kalau Allah menghendaki, dimanapun saja kita sembunyi akan bertemu dengan sesuatu yang kita hindari.

    Pak NR sembunyi, pak MS juga sembunyi dari penglihatan orang lain, ternyata keduanya saling mengetahui keadaan masing-masing yang berbuka puasa sebelum waktunya.

    Uniknya, keduanya bersembunyi, tetapi ternyata mereka duduk bersebelahan yang hanya dihalangi oleh dinding kayu sebagai pembatas kursi.

    Kita mungkin juga baru menyadari bahwa, dunia ini begitu kecilnya, dimanakah lagi kita mau sembunyi? Semua telah nyata bagi Allah Swt. Kemana saja kita berlari, disitulah Allah mengetahui.

    Semoga pak NR ikhlas, bahwa kisah uniknya telah tertulis dalam diskusi ini. Dengan harapan akan ditemuinya berapa hikmah yang insya Allah akan mempunyai manfaat di kemudian hari…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 21 September 2012 Permalink | Balas  

    Cara Allah Memberi Rezeki

    Andaikata, uang kita diambil satu bagian, lalu dikembalikan sebanyak tujuh belas kali lipat, maukah kita? Andaikata, yang mengambil tidak memberitahu lebih dahulu, kalau nantinya akan dibayar dengan berlipat ganda, maukah kita?

    Marilah kita ikuti pengalaman nyata seorang bapak muda yang cukup menarik untuk dikaji. Sebutlah Pak A. Sekitar 14 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1988, seorang muda yang baru dikarunia seorang anak, is bekerja sambil menyelesaikan kuliahnya yang tinggal sebentar lagi selesai. Gaji yang didapatkan dari pekerjaannya itu setiap bulannya dapat dikatakan sangat tidak cukup untuk biaya hidupnya beserta istri dan seorang anak kecilnya.

    Suatu hari yang “naas” ia pulang dari kerjanya. Dengan penuh gembira ia membawa pulang gaji pertamanya yang sebesar Rp. 40.000,- (Empat puluh ribu rupiah). Dengan perasaan bangga dan penuh dengan rasa gembira ingin ditunjukkannya hasil kerjanya itu kepada istri tercintanya.

    Ingin sekali ia cepat-cepat sampai di rumah dan dengan uang itu ia ingin belanja bersama istri dan anaknya, maklum gaji pertama adalah gaji yang mempunyai nilai “historis” tinggi.

    Setelah sampai di rumah apa yang terjadi? Ternyata dompet yang berisi gaji satu bulan tersebut sudah tidak ada di saku celananya alias kecopetan ketika ia pulang dari tempat kerjanya.

    Bisa dibayangkan betapa sedih, kecewa dan bingungnya ia ketika itu. Andaikata bisa, mungkin ia akan menangis sejadi-jadinya. Bahkan mungkin ia akan protes kepada tuhan yang telah “mengijinkan” peristiwa itu terjadi. Karena ia telah bekerja dengan keringatnya tanpa kenal lelah dengan penghasilan yang halal demi keluarga tercinta.

    Waktu satu bulan sungguh terasa sangat lama untuk menunggu gaji tersebut. Tapi apa mau dikata gaji pertamanya sudah harus ia relakan untuk tidak ia miliki saat itu. Bagaimana jika peristiwa itu terjadi pada diri kita? Sanggupkah kita menerimanya dengan ikhlas?

    Apa yang ia lakukan selanjutnya? Ia duduk terdiam tanpa bisa berkata apa-apa sambil memandang istri dan anaknya, mengapa hal ini harus terjadi pada dirinya? Dalam kondisi seperti itu dengan hati terasa pedih ia mencoba tegar dan berpikir praktis. Biarlah uangnya hilang, toh peristiwa sudah terjadi, mau diapa lagi….?”

    Akhirnya diambilnya keputusan untuk tetap berusaha kalau-kalau dompet tersebut masih mungkin untuk ditemukan, walaupun secara logika sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan kembali uangnya tersebut. Ia berusaha mengambil hikmah dari kejadian itu meskipun dengan perasaan yang tidak karuan sedihnya.

    Keputusan segera diambilnya, yaitu tetap berusaha untuk mencoba mendapatkan kembali dompetnya karena di dalamnya ada beberapa surat berharga, diantaranya stnk kendaraan bermotor, ktp, dan beberapa surat penting lainnya.

    Akhirnya untuk mendapatkan kembali surat-surat yang hilang tersebut ia menulis surat pembaca pada sebuah surat kabar, yang intinya: biarlah uang itu hilang, asal surat-suratnya dapat kembali, dan ia berharap jika ada orang yang menemukan dompet itu, ia minta tolong agar di antarkan ke alamat yang tertera dalam ktp tersebut.

    Apa yang dilakukan hari-hari berikutnya? Setiap hari ia membaca surat kabar, kalau-kalau ada berita tentang dompetnya yang hilang. Ketemukah dompet tersebut? ternyata tidak!

    Lalu dimanakah keindahannya peristiwa itu? Keindahannya ialah terletak pada keharusannya ia membaca surat kabar tersebut. Seolah-olah Allah menyuruh dia untuk membaca surat kabar setiap hari, dengan cara “mengijinkan” seseorang untuk mengambil dompetnya…

    Lalu apa yang terjadi hari berikutnya? Dengan membaca surat kabar setiap hari, tanpa terasa suatu saat ia menemukan suatu tulisan pada disiplin ilmu yang dikuasainya yang menurut pendapatnya hal itu kurang tepat, akhirnya ia mencoba menulis untuk mengulas dan menyanggahnya.

    Waktu berjalan dengan cepat. Ia telah lupa pada dompetnya yang hilang, dan saat itu ia asyik menulis sesuai dengan kemampuannya yang sesuai pula dengan disiplin ilmunya.

    Hal ini berlangsung beberapa bulan sejak terjadinya peristiwa naas tersebut. Selanjutnya ia sering menulis dan menanggapi tulisan orang lain sampai berulang-ulang sehingga ia menjadi seorang penulis. Meskipun masih pemula, pada surat kabar tersebut. Lalu?

    Karena kemampuannya menulis dinilai cukup baik, oleh pimpinan perusahaan ia dipanggil dan ditawari untuk bekerja diperusahaan tersebut dengan gaji pertama Rp 750.000,- Tujuh belas kali lipat lebih tinggi dibanding uangnya yang telah hilang waktu itu.

    Itulah rupanya jawaban Allah atas kejadian yang menimpa seseorang, bila sabar menerimanya. Allah “meminjam” 1 bagian, dan kini dikembalikan menjadi tujuh belas kali lipat lebih.

    Waktu berjalan terus tanpa terasa, dan pada saat saya menulis ini, ia telah mencapai sukses gemilang dengan penghasilan yang ribuan kali lipat dibanding uang yang hilang dulu.

    Apakah ini merupakan puncak keindahan dari peristiwa yang terjadi di hari “naas” itu, atau bahkan Allah Yang Maha kuasa akan menunjukkan pada sesuatu yang lebih indah lagi….wallahu’alam.

    Yang pasti, ukuran sukses yang paling besar adalah hati yang damai, dan bahagia yang tercapai. Saya yakin setiap orang pernah mengalami kejadian yang senada dengan kejadian diatas. Hanya saja mungkin skala dan situasinya yang berbeda.

    Marilah kita renungkan perjalanan hidup kita masing-masing, pasti kita pernah mengalami suatu kejadian, dimana kejadian tersebut kita sangka sesuatu yang menyusahkan, merugikan, dan menyedihkan.

    Tetapi hal itu akan berubah menjadi sesuatu yang indah, apabila seseorang sabar menerimanya. Akhirnya muncullah hikmah yang sangat besar yang tiada tersangka sebelumnya.

    Sungguh, Allah Maha Perencana dari segala macam kejadian dan peristiwa. Setiap peristiwa yang sudah terjadi, bagi seorang muslim merupakan ketetapan Allah yang sangat indah. Karena disitulah letak ukuran dan ujian kualitas taqwa seseorang…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 17 September 2012 Permalink | Balas  

    Khawatirkanlah Masa Depan, Asalkan…

    Alkisah, Iwan baru saja terkena PHK dan mendapat pesangon yang dicicil enam kali.

    Setelah satu bulan tenggelam dalam keputus-asaan, ia membaca beberapa buku mengenai pengembangan diri. Dari situ, Iwan menanam sekeping pelontar semangat ke dalam dirinya: “Badai pasti berlalu. Bulan depan, mungkin saja aku sudah bebas dari krisis keuangan.” Maka naiklah semangatnya setinggi langit.

    Dengan semangat setinggi langit, Iwan mulai berusaha merintis jalan baru. Cicilan pesangonnya yang kedua ia jadikan modal. Dengan modal ini, ia kirim selusin surat lamaran per minggu ke beberapa perusahaan. “Di antara jutaan perusahaan,” pikir Iwan, “tentulah ada yang membutuhkan aku, lulusan diploma yang berpengalaman.” Namun sampai sebulan, tiada panggilan.

    Bulan berikutnya, Iwan menanam lagi sekeping pengobar semangat di dalam dirinya: “Siapa pun pasti berhasil kalau bersikap penuh semangat menghadapi masa sulit, bahkan walau tampak tiada harapan.” Maka melambunglah kembali kobaran semangat Iwan.

    Dengan kembali berkobarnya semangat dirinya, dikirimnya lagi selusin surat lamaran per minggu. Kali ini ke sejumlah perusahaan yang membutuhkan lulusan diploma tanpa peduli pengalaman kerja. Sampai sebulan, tetap belum ada balasan.

    Bulan selanjutnya, Iwan menanam lagi sekeping peluncur semangat di dalam dirinya: “Roda selalu berputar. Tahun depan, pasti giliranku naik ke atas.” Maka meroketlah spirit Iwan.

    Dengan spirit yang meroket ini, dikirimnya selusin surat lamaran per minggu ke banyak perusahaan yang membutuhkan lulusan SMU yang berpengalaman. Sampai sebulan, keadaan belum berubah.

    Bulan berikutnya, semangat Iwan mulai goyah. Tapi, ia merasa tak punya pilihan lain. Sebab itu, telinganya makin dia buka lebar-lebar, mendengar seruan para suporter: “Jangan menyerah. Teruslah mencoba dan mencoba lagi. Sebab, orang yang tidak pernah mencoba takkan maju. Sebaliknya, yang pantang menyerah pasti sukses.” Maka larilah Iwan mengejar cita-cita.

    Setelah dibawanya cicilan pesangon yang kelima, dikirimnya lagi selusin surat lamaran per minggu. Kali ini ke berbagai perusahaan yang membutuhkan lulusan SMU tanpa peduli pengalaman kerja. Sampai sebulan, akhirnya… (pembaca jangan kaget, ya…), lamarannya masih belum membuahkan hasil!

    Kami tidak terlalu kaget mendapati gigihnya Iwan mengirim surat lamaran. Kami bisa menduga kenapa dia terus berjuang ‘pantang menyerah’ secara begitu. Pasalnya, buku-buku pengembangan diri yang dia baca memang selalu berseru: “Jangan menyerah!”

    Kami pun tidak terlalu kaget mendapati kenapa para penulis buku tersebut selalu menyeru para pembaca untuk jangan menyerah dalam keadaan apa pun. Pasalnya, karena hidup dalam budaya Nasrani, mereka sering mendengar dan mengucap kata-kata dari Injil yang menekankan seruan begitu. Konon, Yesus bersabda: “… Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai keyakinan sebesar biji sawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini, ‘Pindahlah dari tempat ini ke sana, Emaka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Matius 17: 20)

    Hanya saja, Iwan (dan pembaca muslim lainnya) tampaknya belum tahu bahwa Al-Qur’an berkata lain. Ia belum sadar, “takkan ada yang mustahil” itu berlaku hanya bagi Allah. Padahal, di kitab suci kita, Allah telah menyindir: “Apakah manusia memperoleh segala yang dia harapkan? [Tidak!] Maka segala kesudahan dan permulaan itu milik Allah.” (QS an-Najm [53]: 24-25) Jadi, bagi kita manusia, ada (sedikit-banyak) harapan yang mustahil kita capai.

    “Aduh!” mungkin Anda mengaduh, “aku jadi khawatir. Jangan-jangan banyak harapanku yang mustahil tercapai di masa depan.”

    Kalau perasaan Anda begitu, silakan Anda simak untaian kata-kata Buya Hamka di buku Tasauf Modern berikut ini.

    Kalau takut disiksa [di neraka], singkirkan dosa. Kalau takut rugi berniaga, hendaklah hati-hati. Kalau takut pekerjaan ditimpa bahaya, jangan lupa mengawasinya. …

    Karena menurut sunnatullah: dikuncikan rumah [lebih] dahulu, baru orang maling tertahan masuk; ditutupkan pintu kandang [lebih dahulu], baru musang tak mencuri ayam.

    Jadi, boleh-boleh saja Anda khawatirkan masa depan Anda, asalkan Anda berupaya meng-antisipasi-nya secerdas-cerdasnya.

    ***

    Oleh: M. Shodiq Mustika

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 15 September 2012 Permalink | Balas  

    Pergi Haji Modal ‘Seratus Rupiah’

    Tahun 1991, ibadah haji, ONH-nya sekitar enam juta rupiah.

    Bertambah lama seiring dengan perubahan nilai tukar rupiah, ONH semakin misalnya tujuh juta, sembilan juta, dua belas juta, dua puluh satu juta, dua puluh lima juta rupiah,

    Bagaimana kalau ada orang yang pergi haji dengan modal ‘seratus rupiah’ saja…?

    Pada hari minggu pagi yang cerah, seperti biasanya saya pergi belanja di salah satu pasar. Suatu ketika saya belanja palawija pada seorang ibu setengah baya. Ada satu hal yang membuat saya terpana. Saya sangat tertarik melihat cara ibu tersebut melayani pembelinya.

    Karena tertarik, maka setiap saya pergi ke pasar tersebut saya selalu memperhatikan lebih seksama lagi terhadap perilakunya. Beberapa kali saya perhatikan menjadikan saya lebih ‘penasaran’ untuk lebih mengikuti secara rutin kejadian demi kejadian yang ‘diperagakan’ oleh ibu tersebut.

    Katakanlah ia bernama Ibu Asih. Apa yang dilakukannya setiap ia melayani pembelinya? Yang membuat saya kagum tiada habisnya ialah, setiap ia selesai menjual barang dagangannya, secara spontan mulutnya selalu bergumam lirih dengan ucapan “Alhamdulillah”

    Apakah dagangannya laku sedikit atau laku banyak, selalu saja mulutnya bergumam alhamdulilaah sebagai ungkapan rasa syukurnya.

    Yang lebih menarik lagi ialah setiap ada orang peminta-minta yang menengadahkan tangannya, tidak satupun yang tidak diberinya, demikian pula tak satupun seorang pengamen yang lewat yang tidak diberinya.

    Meskipun ia sedang sibuk melayani orang-orang yang sedang membeli barang dagangannya, selalu saja ia menyempatkan tangannya untuk memberi mereka. Diambilnya uang logam seratus rupiah, yang rupanya sudah disediakan untuk orang-orang tersebut. Sayangnya saya tidak pernah bertanya kepadanya kira-kira ada berapa puluh orang dalam satu hari ia memberi orang miskin dan para pengamen tersebut .

    Ini sebuah kejadian yang nampaknya biasa-biasa saja. Tetapi memiliki nilai yang sangat tinggi dalam kehidupan sosial maupun dalam kehidupan religius. Ucapan syukur beserta penghayatan dan sekaligus pengamalannya telah diperagakan oleh ibu Asih. Meskipun dengan cara sederhana dan dengan nilai rupiah yang kecil.

    Hal ini sangat berbeda sekali dengan kondisi sebuah toko yang lebih besar, yang letaknya tidak seberapa jauh dari ibu penjual palawija ini.

    Di depan toko itu tertempel kertas putih bertuliskan kalimat yang cukup ‘sopan’ yaitu : ‘maaf ngamen gratis’

    Sebuah retorika yang cukup sopan dan lembut, tetapi jika dilihat dari sudut pandang yang lebih arif, kita bisa menyimpulkan bahwa hati dan perasaan ibu Asih jauh lebih lembut dari pemilik toko tersebut.

    Saya menaksir bahwa keuntungan yang diraih oleh pemilik toko tersebut nampaknya cukup besar setiap harinya. Tetapi ia tidak mau dan tidak rela ‘berbagi rasa’ dengan para pengamen dan para pengemis, walaupun hanya seratus rupiah saja.

    Sungguh sangat berbeda dengan kondisi ibu Asih, yang dagangannya jauh lebih kecil dibanding toko tersebut, tetapi ia mempunyai hati yang lembut dan rasa welas asih kepada para pengamen dan para peminta-minta.

    Setelah saya amati sekian lama, hasil dari perilaku ibu Asih tersebut sungguh luar biasa. Kami perhatikan barang dagangannya bertambah lama semakin bertambah besar. Dan klimaksnya, beberapa waktu yang lalu ia dapat pergi menunaikan ibadah Haji bersama suaminya.

    Dan saya pun merenung. Allah telah mengganti nilai seratus rupiah yang diperuntukkan bagi orang-orang miskin itu. Sekarang tumbuh menjadi dua buah ONH bu Asih dan suaminya. Sungguh luar biasa!

    Satu lagi yang dapat saya simpulkan, bahwa ucapan alhamdulillaah di bibir ibu Asih mempunyai timbangan setara dengan lima puluh juta rupiah. Subhaanallah…

    Apa janji Allah Swt ?

    QS. Ibrahim : 7

    “Barangsiapa yang mensyukuri nikmatKu, pasti akan Aku tambah, dan barang siapa yang lalai dan kufur terhadap nikmatKu, maka tunggulah siksaKu amatlah pedihnya ”

    Melihat contoh sederhana dalam kehidupan semacam ini, sebagai orang yang beriman tentu hati kita menjadi tergerak untuk menirunya. Meniru kelemah lembutan hatinya. Meniru kepeduliannya. Meniru rasa percaya dirinya akan balasan dari Allah Swt. Dan meniru bagaimana cara mengungkapkan rasa syukurnya.

    Yah, kadang-kadang manusia memang harus banyak belajar dari manusia lainnya. Bahkan dari semua peristiwa yang telah terjadi. Karena semua peristiwa yang telah terjadi di dunia ini adalah contoh berharga yang harus kita pelajari, kita baca, dan kita renungkan. Semua itu merupakan ilmu Allah yang sangat mahal nilainya.

    Dengan ‘modal’ seratus rupiah, bu Asih berangkat Haji bersama suami…!

    QS. Al Baqarah: 152

    Maka ingatlah kepadaKu, supaya Aku juga ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 14 September 2012 Permalink | Balas  

    Misteri Persoalan Manusia

    Insya Allah, setiap orang pernah pergi ke pasar. Entah untuk keperluan belanja, mengantar keluarga, atau karena keperluan lainnya. Jika kita suatu saat berada di pasar, maka lihatlah lalu lalang manusia dengan ekspresinya yang bermacam-macam, yang menunjukkan kepentingan dan emosi yang berbeda-beda pula.

    Bisakah kita melihat kehadiran Allah Yang Maha Kuasa, ketika kita menyaksikan keanekaragaman manusia, dan keanekaragaman barang-barang yang berada di dalam pasar?

    Mungkin yang perlu kita pertanyakan kepada diri sendiri, adalah mengapa ribuan barang yang ada di dalam pasar tersebut selalu ada saja yang membeli dan memerlukannya? Setiap orang yang pergi ke pasar dan perlu untuk membeli atau menjual barang, berarti dia sedang mempunyai persoalan pada dirinya dan keluarganya.

    Apabila di dalam pasar ada seribu saja jenis barang yang berbeda, dan apabila suatu saat barang-barang tersebut laku karena dibutuhkan orang, berarti setidaknya ada seribu persoalan yang berbeda, dalam diri orang-orang yang pergi ke pasar tersebut.

    Yang sangat hebat dan menjadi misteri adalah, bahwa persoalan yang muncul dengan tingkat variasi yang berbeda pada setiap orang, dapat dijawab dan diselesaikan oleh persoalan orang lain dengan variasi yang berbeda pula….

    Putra pak Aman yang masih duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar, suatu saat diberitahu oleh ibu gurunya agar makan sayuran yang cukup supaya badannya tumbuh sehat dan cepat besar. Bu Aman yang kebetulan sedang sakit minta bantuan pak Aman untuk pergi ke pasar agar membeli sayuran atas permintaan anaknya tersebut. Maka pak Aman pagi-pagi berangkat ke pasar naik angkutan umum untuk membeli sayuran yang dimaksud.

    Pada saat yang bersamaan Bagus, seorang anak petani di suatu desa yang jaraknya cukup jauh dari pasar, tidak punya uang untuk membayar sekolahnya. ‘Kebetulan’ saat itu musim petik sayur tiba, maka orang tua Bagus pergi ke pasar untuk menjual sayuran hasil kebunnya. Setelah berada di pasar ‘kebetulan’ lagi ia bertemu dengan pak Aman yang juga sedang membutuhkan sayuran untuk keperluan anaknya. Maka terjadilah transaksi jual beli sayuran antara pak Aman dan bapaknya Bagus.

    Sungguh sederhana kejadian tersebut. Tetapi jika diperhatikan dan direnungkan, sungguh luar biasa!

    Pada ‘moment’ transansaksi itu bertemulah berbagai kepentingan yang saling menolong dan saling memberikan solusi bagi persoalan masing-masing.

    Di sini nampak, bahwa persoalan-persoalan yang kelihatannya tidak memiliki keterkaitan, ternyata setelah diperhatikan dengan seksama menjadi satu rumpun persoalan yang kemudian mempunyai hubungan sangat erat.

    Yaitu :

    • Peristiwa Ibu guru yang menjelaskan ilmunya
    • Kurikulum Sekolah Dasar tentang pentingnya ilmu Gizi
    • Bu Aman yang sedang sakit minta kerelaan suaminya untuk pergi ke pasar
    • Pak Aman yang bersedia pergi ke pasar untuk membeli sayur
    • Sopir angkutan umum yang berangkat bekerja pagi hari
    • Peraturan sekolah yang mengharuskan Bagus membayar uang sekolah
    • Musim petik sayur yang ‘kebetulan’ sedang tiba
    • Putra pak Aman yang tumbuh menjadi sehat

    Dari ilustrasi sederhana ini nampak sekali betapa sebuah persoalan, bisa membias menjadi bermacam-macam persoalan yang antara satu dengan lainnya saling terkait dengan erat, dan saling memberi solusi.

    Kalau hal tersebut dibicarakan dengan logika matematis memang akan menjadi nampak aneh! Tetapi dengan menggunakan logika iman, nampak jelas semua keterkaitan tersebut.

    Bisakah kita mencari jawabnya? Dimanakah letak keterkaitannya? antara kurikulum kelas tiga SD dengan keberangkatan sopir angkot pagi hari? siapa yang membangunkan sopir angkot untuk bangun pagi? antara keikhlasan pak Aman pergi ke Pasar dengan keperluan Bagus membayar sekolah? antara peraturan sekolah dengan musim petik sayur? antara keinginan badan sehat dengan rezeki sopir angkot? siapa yang mengatur persoalan semua itu? apakah semua itu sekedar kebetulan saja? jika hal itu kebetulan, kenapa berjuta peristiwa itu terjadi di setiap saat dan waktu? Dan terus berkelanjutan, sehingga dusnia tetap lestari? berapa ribukah jumlah pasar yang ada di propinsi Jawa Timur? berapa juta persoalan manusia yang ada di pulau Jawa ‘saja’? mungkin semua manusia menganggap persoalannya paling rumit dan paling berat. Tetapi Allah Swt justru menyelesaikan persoalan setiap manusia dengan persoalan manusia yang lain….betapa Dahsyatnya, betapa Agungnya, dan betapa Indahnya Dzat Yang Maha

    Tinggi itu dalam mengatur urusanNya…. ….subhaanallah….wal hamdulillaahi wa laa ilaaha ilallahu Allahu Akbar..!

    Satu kesimpulan yang membuat kita menjadi tertegun adalah, ternyata setiap persoalan yang kita hadapi menjadi solusi bagi persoalan orang lain. Bahkan juga mungkin sekali sebagai jalan keluar bagi persoalan kita lainnya…

    Berarti setiap kita punya persoalan, mungkin itulah sebuah jawaban dari do’a yang sering kita munajatkan sebagai solusi dari persoalan yang lain ….. ? Wallaahua’lam

    Begitulah kiranya, salah satu cara Allah untuk melestarikan kehidupan dunia. Barang siapa yang mampu melihat (persoalan) dirinya, Ia akan mampu melihat (kasih sayang)Tuhannya.

    QS. Al Baqarah : 115

    Dan kepunyaan Allah-lah timur dan beret, make ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 13 September 2012 Permalink | Balas  

    Indahnya Saling Memberi

    Zaman bertambah maju! Demikian sebuah ungkapan tentang zaman sekarang ini. Secara umum hal ini dapat ditengarai dari keadaan masyarakat kita. Kondisi sekarang memang relatif lebih baik’ dibanding zaman dahulu. Sebut saja era 1970-an. Ketika itu, dari sekian keluarga yang ada di kampung saya berada, yang mempunyai pesawat televisi hanya ada dua orang saja.

    Sehingga kalau ada pertandingan sepak bola dunia misalnya, atau ada pertandingan tinju kelas dunia, atau acara menarik lainnya yang ada di televisi, sebagian besar penduduk yang ingin melihat akan berbondong-bondong menuju ke rumah yang mempunyai televisi tersebut.

    Sekitar satu jam sebelum pertunjukkan dimulai, kami semua pemuda maupun orang tua sudah berjubel mencari tempat duduk yang enak di dekat televisi agar bisa melihat dengan jelas. Demikian sekedar gambaran betapa sekarang ini zaman sudah semakin maju.

    Kini, di kampung tempat tinggal saya dahulu -sekitar 900 keluarga – tidak satu pun yang tidak mempunyai televisi. Apakah rumah mewah yang di dalamnya terdapat lebih dari satu pesawat televisi, ataukah gubuk-gubuk kecil sederhana yang hanya punya satu ruangan saja, semua rumah sudah ada televisinya. Zaman sudah berubah!

    Bersamaan dengan ‘kemajuan’ zaman, maka situasi dan kodisi juga berubah secara drastis dan mengejutkan. Tetapi perubahan demi perubahan itu menjadi tidak terasa karena kita semua juga mengikuti perubahan yang terjadi, sehingga terjadilah penyesuaian perubahan pada masing-masing orang.

    Sebagai ilustrasi sederhana, kita ketahui bahwa bumi tempat kita berpijak ini bergerak mengelilingi matahari dengan kecepatan yang sangat tinggi yaitu sekitar 107.000 km/jam. Dan pada saat yang bersamaan pula bumi kita juga berputar pada sumbunya dengan kecepatan sekitar 1.600 km/jam. Baik secara revolusi maupun secara rotasi bumi mengalami perubahan posisi yang sangat cepat dan bermakna.

    Mengapa kita tidak merasakannya? Jawabnya, adalah karena kita juga mengikuti perubahan itu. Kita telah lengket di bumi tempat kita berpijak, disebabkan adanya gravitasi bumi. Bayangkan andaikata kita manusia yang ada dibumi ini tidak dipengaruhi oleh gravitasi bumi. Dan kita berada pada posisi ‘bebas’, padahal bumi terus berputar dan bergerak dengan begitu cepatnya…

    Kira-kira apa yang akan terjadi ? Tentu kita manusia akan hancur berantakan dan ludes, karena akan tertabrak dan ‘tertampar’ oleh ribuan bangunan dan ribuan pohon-pohon besar yang ada di sekitar kita yang ikut berputar karena mengikuti rotasi bumi. Untung saja dengan penuh kasih sayangNya Allah Swt memberlakukan gravitasi bagi manusia. Sehingga manusia juga ikut berputar mengikuti rotasi bumi dengan `nyaman’…

    Berkaitan dengan kemajuan zaman yang semakin modern ini, marilah kita saksikan sebuah kejadian lain…!

    Ternyata kehidupan di sekitar kita semuanya juga berubah. Termasuk pasar tempat kita belanja. Yang dahulu kita belanja di pasar tradisional, kini perilaku kita juga berubah. Kita sering belanja di tempat-tempat belanja modern yaitu di supermarket. Saat ini sudah demikian menjamur dan banyak bermunculan disetiap kota besar maupun kota kecil di seluruh pelosok negeri.

    Jika kita bandingkan kedua pasar itu, ada suatu perbedaan yang sangat menyolok dan cukup signifikan antara situasi pasar tradisional dan supermarket sebagai pasar modern.

    Belanja di supermarket, lebih praktis, lebih efektif, serta lebih bersih keadaannya. Sehingga waktu pun menjadi lebih efisien. Dan suasana belanja mungkin menjadi lebih nyaman. Di supermarket semua barang sudah ada label harganya. Sudah ditimbang sesuai dengan ukurannya. Tak ada tawar menawar antara penjual dan pembeli. Mungkin itulah ciri dari masyarakat modern! Semua ingin serba cepat dan praktis.

    Tetapi, pada kondisi itu kalau kita renungkan, dan kita cermati dengan seksama, ada sesuatu yang hilang, Mari kita kenang kembali, suasana ketika masing-masing dari diri kita pernah belanja di pasar tradisional. Yang sampai sekarangpun sebenarnya masih banyak kita jumpai.

    Pernah suatu ketika saya belanja di pasar ‘pagi’ di kampung saya. Pada saat itu tanpa sengaja saya melihat suatu ‘adegan’ yang cukup menarik untuk ditulis dalam diskusi ini. Seorang ibu setengah baya, membeli buah alpukat di salah satu penjual yang ada di pasar tersebut.

    Setelah terjadi dialog kecil dalam proses jual beli yang cukup akrab, ibu tersebut menawar dengan harga tertentu. Selanjutnya si penjual mengambilkan buah alpukat yang bagus-bagus sebanyak 10 buah ditambah satu. Sehingga buah alpukat yang dibeli menjadi sebelas buah dengan harga kesepakatan untuk sepuluh buah alpukat. (Dalam bahasa jawa, satu biji alpukat yang diberikan oleh si penjual disebut welasan).

    Ada tiga point penting yang cukup menarik untuk diperhatikan dalam proses jual beli tersebut, yang di pasar modern mungkin tidak pernah terjadi.

    Niat baik si penjual (yang sudah merupakan tradisi) memberi welasan pada si pembeli. Niat baik si penjual ketika memilihkan buah yang bagus. Proses komunikasi yang sangat akrab dan saling menghargai antara penjual dan pembeli

    Dalam waktu yang hampir bersamaan, terjadi pula di sebelah kejadian tersebut satu peristiwa yang tidak kalah menariknya.

    Seorang ibu muda membeli gula merah sebanyak satu kg. Yang menarik adalah ketika si penjual menimbang gula merah, daun timbangannya sangat mantap, melebihi berat 1 kg sebagai kesepakatan jumlah gula yang dibeli.

    Di sini terjadi sebuah tradisi budaya yang sangat indah, yaitu budaya memberi dari seorang penjual kepada pembeli.

    Dan yang lebih menarik lagi adalah, dikarenakan si penjual mempunyai niat yang baik ketika melakukan proses penimbangan, maka saya lihat si pembeli juga tidak mau ‘kalah’ dalam hal berbuat baik. Ketika si penjual berupaya mencari uang kecil sebagai uang kembalian dari jual beli tersebut, si pembeli tidak mau menerimanya.

    Kata pembeli : “…kersane bu, mboten usah ngangge susuk, njenengan sampun mantepake timbangan kangge kulo… ( biarlah bu, tidak usah pakai uang kembalian, toh, ibu juga telah memberi cukup banyak kelebihan timbangan gula ini untuk saya…)”,

    Kata penjual: “…maturnuwun bu, nyuwun ikhlase penggalih nggih …?( terima kasih bu, mohon keikhlasan hati, ya…?!)” Balas pembeli : “…oh, inggih bu, sami-sami..,( oh, iya bu, sama-sama…)”

    Inilah sebuah adegan sederhana dalam proses jual beli di pasar tradisional yang sangat menarik dan sangat Islami, yang tentu tidak akan kita jumpai di dalam supermarket. Point yang menarik dari kejadian sederhana itu adalah

    Adanya niat baik si penjual ketika memberi lebih banyak dari berat timbangan yang ditentukan. Niat baik si pembeli ketika membalas pemberian si penjual

    Permohonan maaf, untuk saling mengikhlaskan. Terjadinya proses ‘saling memberi’ yang sangat indah.

    “Saling memberi” adalah kata kunci dalam sebuah kehidupan sosial yang sangat harmonis, yang sangat Islami, yang di zaman modern ini semakin pudar dan semakin langka saja.

    Allah Swt, begitu menghargai orang-orang yang mempunyai semangat untuk memberi. Bahkan kata Allah dalam Al Qur’an Al Karim, salah satu sifat dari orang yang bertaqwa adalah suka memberi, baik ia dalam kondisi sedang lapang mau pun senang. Atau ketika kondisi sedang sempit dan susah.

    Q.S. Ali Imran:134

    (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

    Kejadian itu tampak sederhana. Suatu peristiwa keseharian yang ‘sepele’. Dan merupakan hal yang rutin. Tetapi kalau diamati dengan sesungguhnya, akan tampaklah keindahan peristiwa itu.

    Maka bagi seorang yang beriman dia akan selalu merasa bahwa Allah Yang Maha Kuasa, ternyata selalu ‘hadir Edimana saja dan kapan saja untuk memberi pelajaran kepada hambaNya.

    Timur dan barat adalah kepunyan Allah, oleh sebab itu kemana saja kita hadapkan muka, disana akan bertemu dengan Allah, sesungguhnya Allah Maha Luas kekuasaanNya dan Dia Maha Mengetahui.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 12 September 2012 Permalink | Balas  

    Berapa Harga Diri Kita?

    Adakah uang receh, sudah tersiapkan di mobil kita? Sebab ketika lampu jalanan berwarna merah, anak-anak kecil itu bertebaran mengais rezekinya.

    Suatu ketika kami sekeluarga pergi ke tempat keramaian, sebuah pusat pertokoan. Kami berhenti di salah satu trafic light di tengah kota karena lampu sedang menunjukkan warna merah.

    Pada saat itu seperti biasanya beberapa anak jalanan bertebaran mencari ‘rezeki’ masing-masing dari beberapa pengendara mobil yang lagi berhenti.

    Sebagian besar dari mereka adalah para pengamen jalanan, dengan rata-rata usia sekitar 15 tahunan. Bahkan ada yang masih imut-imut sekitar umur 5 tahunan. Anak-anak kecil tersebut bernyanyi membawa sebatang kayu yang diberi logam bekas penutup botol kecap sehingga kalau digoyang akan mengeluarkan bunyi….

    Ada juga yang tanpa membawa apa-apa, pokoknya nyanyi, sambil mendekati setiap mobil yang berhenti di lampu merah.

    Pemandangan semacam itu menjadi biasa, karena setiap saat kita akan bertemu dengan mereka di jalanan. Sehingga tak akan membekas di hati, karena ya sudah setiap hari kita menemuinya.

    Tetapi marilah kita mencoba, menerobos hati kita yang ‘membaja’ tersebut. Cobalah melihat diri kita yang begitu banyak nikmat yang telah kita terima. Mulai dari nikmat sehat kita, nikmat rezeki kita, nikmat ilmu, nikmat kesempatan, nikmat keluarga yang bahagia. Bandingkan keadaan mereka dengan keadaan kita.

    Ah, sungguh hati ini akan bergetar. Lantas kita menjadi bersyukur, lantas kita menjadi kasihan, lantas kita menjadi merasa agak malu kalau tidak memberi, lantas kita menjadi merasa bersalah kalau membiarkan mereka, lantas kita merasa berdosa kalau kita lewat tanpa berbuat apa-apa untuk mereka…

    Pada saat itu mobil kami berada di urutan ke enam di belakang mobil-mobil yang bagus, bahkan di depan kami salah satunya adalah mobil mewah. Mereka para anak jalanan itu bertebaran menuju ‘mobilnya’ masing-masing. Anak yang ada di deretan mobil kami masih kecil sekitar usia 6 tahunan. Ia menengadahkan tangannya yang kotor dan kurus itu ke kaca mobil-mobil yang ada di depan kami.

    Terjadi sebuah pemandangan yang cukup mengharukan, karena semua mobil yang ada di depan kami ternyata tidak memberi sepeserpun kepada anak-anak kecil ini. Semua kacanya tertutup rapat karena mereka menikmati segarnya udara dingin di dalam mobil. Sementara di luar mobil anak-anak kecil itu juga sedang `menikmati’ panasnya terik matahari. Kami lihat mobil-mobil itu semua acuh tak acuh terhadap anak-anak kecil ini, yang sebenarnya jika mereka memberi seratus rupiah saja, sudah ada kelegaan di hati anak-anak kecil itu.

    Akhirnya anak-anak itu sampai ke mobil kami. Maka saya suruh adik saya yang masih berusia 10 tahun untuk memberikan uang kepada mereka. Uang tersebut memang sudah kami sediakan di mobil untuk anak-anak jalanan dan orang minta-minta lainnya.

    Sambil memberikan uang ‘recehan Ekepada anak-anak jalanan tersebut, adik saya bergumam :”..waduh mobil-mobil di depan kita itu bagus-bagus ya… pasti orang yang punya mobil adalah orang yang banyak duitnya… tetapi kok nggak memberi uang ya…?! Kasihan sekali anak-anak itu, mungkin mereka sudah sejak pagi tadi berdiri di tengah jalan ini…!”

    Mendengar kata-kata adik saya ini, saya jadi terharu. Padahal biasanya kami memberi ya dengan perasaan biasa saja tanpa teringat apa-apa karena semacam itu adalah hal yang rutin dilakukan oleh siapa saja. Tetapi setelah ada kata-kata tersebut maka perasaan trenyuh, haru, kasihan, merasa bersalah, muncul lagi di hati saya. Saya jadi berfikir. Betapa banyaknya orang-orang yang kondisinya lebih dari cukup, yang rezekinya dilebihkan oleh Allah Swt tidak mau peduli dengan kondisi masyarakatnya…

    Saya jadi teringat perkataan nabi Muhammad rasulullah saw. Kata beliau: “Sungguh belum dikatakan sebagai orang yang beriman, apabila ada orang tidur pulas kekenyangan, sementara ada tetangganya yang kelaparan.”

    Menarik sekali apa yang disampaikan Rasulullah Seseorang yang tidak tahu kalau ada tetangganya sedang kelaparan, ia sudah dikategorikan orang yang tidak beriman, ketika ia tertidur karena kekenyangan. Padahal kan orang yang tertidur itu tidak mengetahui kalau ada tetangganya yang sedang kelaparan? Mengapa ia masih dikatakan tidak beriman?

    Insya Allah artinya bahwa kita sebagai manusia yang hidup bersosial dengan manusia lainnya ini, seharusnya selalu aktif memperhatikan kondisi masyarakat kita. Meskipun yang sedang lapar itu tidak berada di hadapan, kita tetap dikategorikan sebagai orang yang salah. Bahkan dikatakan tidak beriman, jika itu terjadi di lingkungan kita.

    Kalaulah dalam keadaan yang tidak tahu saja, sudah dikatakan sebagai orang yang tidak beriman, bagaimana dengan kondisi diatas. Dimana anak-anak itu mendatangi kita menengadahkan tangannya untuk minta secuil rezeki kita?

    Masihkah kita bangga dengan sebutan kita sebagai orang Islam? Satu hal yang sangat ironis, adalah jika mobil-mobil yang acuh tersebut, ternyata di kaca mobilnya tertulis sebuah stiker yang sangat ‘keren’: “ISLAM IS OUR LIFE”.

    Ya Semoga dengan merenungi kejadian ‘rutin’ yang sering kita jumpai di masyarakat kita ini, paling tidak kita akan berbuat sesuatu…

    Kejadian di jalan itu tentu hanyalah sekedar contoh kecil saja. Semoga kita sebagai hamba Allah yang diberi rezeki yang cukup olehNya, kita juga ikut andil dalam meringankan beban saudara-saudara kita yang cukup memprihatinkan itu. Walaupun nilainya sangat kecil, walaupun yang kelihatannya tidak berarti apa-apa. Mari kita berbuat sebisa mungkin.

    Kata Ali bin Thalib: “… lebih baik memberi walaupun sedikit, dari pada tidak sama sekali…”

    InsyaAllah kita semua yakin bahwa masih sangat banyak orang-orang yang mempunyai kepedulian tinggi di masyarakat. Masih sangat banyak wali Allah yang dengan kedermawanannya telah berbuat banyak di masyarakat ini. Karena memang disinilah letak ‘harga’ kita dimata Allah Swt.

    Allah Maha Melihat, kepada siapa saja yang berbuat kebajikan, meskipun tangan kirinya tidak melihat ketika tangan kanannya memberikan sesuatu. Allahpun Maha Melihat kepada siapa yang berbuat kerusakan, meskipun dilakukannya di tempat yang tersembunyi tiada orang sama sekali…

    QS. Al Baqarah : 271

    Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 11 September 2012 Permalink | Balas  

    I am a Second Wife

    Sekitar tiga bulan lalu, the Islamic Forum yang diadakan setiap Sabtu di Islamic Center New York kedatangan peserta baru. Pertama kali memasuki ruangan itu saya sangka ia wanita Bosnia. Dengan pakaian Muslimah yang sangat rapih, blue eyes, dan kulit putih bersih. Pembawaannya pun sangat pemalu, dan seolah seseorang yang telah lama paham etika Islam.

    Huda, demikianlah wanita belia itu memanggil dirinya. Menurutnya, baru saja pindah ke New York dari Michigan ikut suami yang berkebangsaan Yaman. Suaminya bekerja pada sebuah perusahaan mainan anak-anak (toys).

    Tak ada menyangka bahwa wanita itu baru masuk Islam sekitar 7 bulan silam. Huda, yang bernama Amerika Bridget Clarkson itu, adalah mantan pekerja biasa sebagai kasir di salah satu tokoh di Michigan. Di toko inilah dia pertama kali mengenal nama Islam dan Muslim.

    Biasanya ketika saya menerima murid baru untuk bergabung pada kelas untuk new reverts, saya tanyakan proses masuk Islamnya, menguji tingkatan pemahaman agamanya, dll. Ketika saya tanyakan ke Huda bagaimana proses masuk Islamnya, dia menjawab dengan istilah-istilah yang hampir tidak menunjukkan bahwa dia baru masuk Islam. Kata- kata “alhamdulillah”.”Masya Allah” dst, meluncur lancar dari bibirmya.

    Dengan berlinang air mata, tanda kebahagiaannya, Huda menceritakan proses dia mengenal Islam.

    “I was really trapped by jaahiliyah (kejahilan)”, mengenang masa lalunya sebagai gadis Amerika.

    “I did not even finish my High School and got pregnant when I was only 17 years old”, katanya dengan suara lirih.

    Menurutnya lagi, demi mengidupi anaknya sebagai `a single mother’ dia harus bekerja. Pekerjaan yang bisa menerima dia hanyalah grocery kecil di pinggiran kota Michigan.

    Suatu ketika, toko tempatnya bekerja kedatangan costumer yang spesial. Menurutnya, pria itu sopan dan menunjukkan `respek’ kepadanya sebagai kasir. Padahal, biasanya, menurut pengalaman, sebagai wanita muda yang manis, setiap kali melayani pria, pasti digoda atau menerima kata-kata yang tidak pantas. Hingga suatu ketika, dia sendiri berinisiatif bertanya kepada costumernya ini, siapa namanya dan tinggal di mana.

    Mendengar namanya yang asing, Abdu Tawwab, Huda semakin bingung. Sebab nama ini sendiri belum pernah didengar. Sejak itu pula setiap pria ini datang ke tokonya, pasti disempatkan bertanya lebih jauh kepadanya, seperti kerja di mana, apakah tinggal dengan keluarga, dll.

    Perkenalannya dengan pria itu ternyata semakin dekat, dan pria itu juga semakin baik kepadanya dengan membawakan apa yang dia sebut `reading materials as a gift”. Huda mengaku, pria itu memberi berbagai buku-buku kecil (booklets).

    Dan hanya dalam masa sekitar tiga bulan ia mempelajari Islam, termasuk berdiskusi dengan pria tersebut. Huda merasa bahwa inilah agama yang akan menyelamatkannya.

    “Pria tersebut bersama isterinya, yang ternyata telah mempunyai 4 orang anak, mengantar saya ke Islamic Center terdekat di Michigan. Imam Islamic Center itu menuntun saya menjadi seorang Muslimah, alhamdulillah!”, kenang Huda dengan muka yang ceria.

    Tapi untuk minggu-minggu selanjutnya, kata Huda, ia tidak berkomunikasi dengan pria tersebut. Huda mengaku justeru lebih dekat dengan isteri dan anak-anaknya. Kebetulan lagi, anaknya juga berusia tiga tahun, maka sering pulalah mereka bermain bersama. “Saya sendiri belajar shalat, dan ilmu-ilmu dasar mengenai Islam dari Sister Shaima, nama isteri pria yang mengenalkannya pada Islam itu.

    Kejamnya Poligami

    Suatu hari, dalam acara The Islamic Forum, minggu lalu, datang seorang tamu dari Bulgaria. Wanita dengan bahasa Inggris seadanya itu mempertanyakan keras tentang konsep poligami dalam Islam. Bahkan sebelum mendapatkan jawaban, perempuan ini sudah menjatuhkan vonis bahwa “Islam tidak menghargai sama sekali kaum wanita”, katanya bersemangat.

    Huda, yang biasanya duduk diam dan lebih banyak menunduk, tiba-tiba angkat tangan dan meminta untuk berbicara. Saya cukup terkejut. Selama ini, Huda tidak akan pernah menyelah pembicaraan apalagi terlibat dalam sebuah dialog yang serius. Saya biasa berfikir bahwa Huda ini sangat terpengaruh oleh etiket Timur Tengah, di mana kaum wanita selalu menunduk ketika berpapasan dengan lawan jenis, termasuk dengan gurunya sendiri.

    “I am sorry Imam Shamsi”, dia memulai.

    “I am bothered enough with this woman’s accusation”, katanya dengan suara agak meninggi.

    Saya segera menyelah: “What bothers you, sister?”.

    Dia kemudian menjelaskan panjang lebar kisah hidupnya, sejak masa kanak-kanak, remaja, hingga kemudian hamil di luar nikah, bahkan hingga kini tidak tahu siapa ayah dari anak lelakinya yang kini berumur hampir 4 tahun itu. Tapi yang sangat mengejutkan saya dan banyak peserta diksusi hari itu adalah ketika mengatakan: “I am a second wife.”

    Bahkan dengan semangat dia menjelaskan, betapa dia jauh lebih bahagia dengan suaminya sekarang ini, walau suaminya itu masih berstatus suami wanita lain dengan 4 anak.

    “I am happier since then”, katanya mantap.

    Dia seolah berda’wah kepada wanita Bulgaria tadi: “Don’t you see what happens to the western women around? You are strongly opposing polygamy, which is halaal, while keeping silence to free sex that has destroyed our people”, jelasnya.

    Saya kemudian menyelah dan menjelaskan kata “halal” kepada wanita Bulgaria itu. “I know, people may say, I have a half of my husband. But that’s not true”, katanya.

    Lebih jauh dia menjelaskan bahwa poligami bukan hanya masalah suami dan isteri. Poligami dan kehidupan keluarga menurutnya, adalah masalah kemasyarakatan. Dan jika seorang isteri rela suaminya beristeri lagi demi kemaslahatan masyarakat, maka itu adalah bagian dari pengorbanannya bagi kepentingan masyarakat dan agama. Kami yang dari tadi mendengarkan penjelasan Huda itu hanya ternganga. Hampir tidak yakin bahwa Huda adalah isteri kedua, dan juga hampir tidak yakin kalau Huda yang pendiam selama ini ternyata memiliki pemahaman agama yang dalam.

    Saya kemudian bertanya kepada Huda: “So who is your husband?”

    Dengan tertawa kecil dia menjawab “the person who introduced me to Islam”.

    Dan lebih mengejutkan lagi: “his wife basically suggested us to marry”, menutup pembicaraan hari itu.

    Diskusi Islamic Forum hari itu kita akhiri dengan penuh bisik-bisik. Ada yang setuju, tapi ada pula yang cukup sinis. Yang pasti, satu lagi rahasia terbuka. Saya sendiri hingga hari ini belum pernah ketemu dengan suami Huda karena menurutnya, “he is a shy person. He came to the Center but did not want to talk to you”, kata Huda ketika saya menyatakan keinginan untuk ketemu suaminya.

    “Huda, may Allah bless you and your family. Be strong, many challenges lay ahead in front of you”, nasehatku. Doa kami menyertaimu Huda, semoga dikuatkan dan dimudahkan!

    ***

    Oleh: M. Syamsi Ali

    Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York.

     
  • erva kurniawan 11:26 am on 9 September 2012 Permalink | Balas  

    Ternyata Tidak Ada Wanita Cantik

    Ketika saya mengurus STNK kendaraan yang sedang habis waktu, saya memarkir kendaraan di depan kantor samsat. Kebetulan waktu itu sedang ramai sekali. Sehingga kendaraan yang parkir pun berjubel sampai keluar batas areal parkir.

    Ketika sudah selesai mengurus administrasi, kami menuju kendaraan yang kami parkir. Sambil menunggu membayar parkir, saya memperhatikan sebuah dialog pendek antara tukang parkir dengan seorang wanita muda yang barusan mengambil sepeda motornya.

    Rupaya sedang terjadi kesalahfahaman tentang besarnya uang parkir. Saya lihat wanita muda itu cemberut sambil membayar ke tukang parkir. Sementara si tukang parkir yang masih muda, mukanya bersungut-sungut sambil ngedumel tiada habisnya. Setelah wanita muda itu pergi, si tukang parkir melampiaskan rasa kecewanya sambil berteriak cukup keras. “…wah, wah, wah,.. sekarang ini tidak ada lagi wanita cantik, semua cemberut, semua makan hati, yaakh, maklumlah baru satu hari harga BBM naik…”

    Saya baru teringat, memang kejadian itu adalah satu hari setelah diumumkannya kenaikkan harga BBM. Begitu mendengar ungkapan dengan nada kesal dari tukang parkir tersebut, saya secara bersamaan tersenyum geli. Dan tukang parkir pun spontan tersenyum juga sambil berkata “… wah, ternyata masih ada wanita yang cantik, meskipun harga BBM naik”

    Senyum memang kunci dari ekspresi seseorang. Senyum adalah `wakil’ suasana hati seseorang. Apalagi kalau senyum itu wajar, tidak dibuat-buat. Sungguh akan mencerminkan kebahagiaan hati.

    Allah dalam merencanakan sebuah ekspresi senyuman, sungguh luar biasa. Senyuman seseorang dapat membias ke seluruh wajah. Sehingga jika seseorang sedang tersenyum, maka semua anggota wajahnya ikut senyum dan ikut gembira. Sebaliknya mulut yang cemberut juga akan membias ke seluruh raut wajah seseorang.

    Jika seseorang sedang cemberut, maka seluruh bagian wajahnya juga ikut cemberut. Mengapa bisa demikian? Karena sumber perubahan wajah seseorang adalah hati.

    Begitu hatinya senang, bibir tersenyum. Coba perhatikan. Semua wajah menjadi ikut tersenyum, riang dan gembira. Orang yang melihatpun ikut jadi senang dan gembira.

    Demikian pula sebaliknya, jika hati cemberut, merasa tidak senang, maka akan mempengaruhi bentuk bibir. Jika bibir sudah menunjukkan ekspresi tidak bagus, maka seluruh anggauta wajahpun ikut cemberut. Ah, luar biasa memang. Jaringan otot yang dibentangkan oleh Allah Swt di seluruh wajah seseorang begitu halus, dan begitu pekanya.

    Kalau pembaca ingin membuktikan betapa sebuah senyuman bisa mempengaruhi seluruh wajah, dan bisa mempengaruhi siapa saja yang melihatnya, buatlah sebuah percobaan sederhana sbb:

    Gambarlah sebuah bulatan, sebagai perumpaan muka seseorang. Buatlah dua mata, hidung, dan dua telinga pada `muka` tersebut.

    Pertama, buatlah sebuah garis mendatar, sebagai wakil dari mulut.

    Maka kesan yang akan kita tangkap dari wajah tersebut adalah sebuah wajah yang serius. Mata, hidung, dahi, pipi, bahkan telinganya, seolah-olah juga ikut serius.

    Kedua, hapuslah mulut tersebut, buatlah sebuah garis melengkung ke bawah di bekas mulut tadi, sebagai wakil dari mulut yang sedang senyum.

    Maka kesan yang akan kita tangkap dari wajah tersebut adalah sebuah wajah yang riang dan gembira. Mata, hidung, dahi, pipi, bahkan telinga dari wajah tersebut, seolah-olah juga ikut riang gembira. Aneh bukan? Padahal matanya tetap, tidak diganti, hidung juga tetap, telinga juga tetap.

    Ketiga, hapuslah kembali mulut tadi, buatlah sebagai penggantinya sebuah garis melengkung ke atas sebagai wakil dari mulut yang sedang cemberut.

    Maka kesan yang akan kita tangkap dari wajah tersebut adalah sebuah wajah yang cemberut, sedih, dan putus asa. Anehnya mata, hidung, dahi, pipi, maupun telinga dari wajah tersebut juga seolah-olah ikut cemberut, dan sedih…

    Manakah, yang harus kita pilih? Sama-sama menggerakkan bibir, kearah mana sudut bibir kita harus kita gerakkan? Ke bawah, yang akan menyebabkan semua orang menjadi senang, ataukah ke atas yang akan membuat semua yang melihatnya ikut menjadi susah.

    Jika anda seorang wanita, kata tukang parkir tadi anda akan menjadi semakin cantik jika anda tersenyum. Sebaliknya, tentu saja akan menjadi jelek, kalau kita terus saja cemberut. Seperti wanita di tempat parkir yang cemberut, sehingga tukang parkirpun kesal dibuatnya.

    Aisyah ra, pernah bercerita. Aku lama sekali tidak pernah melihat rasulullah saw tertawa terbahak-bahak sampai terlihat urat lehernya. Jika beliau tertawa, hanyalah senyum (HR. Bukhari)

    ***

    Dari Sahabat

     
    • cak rynem 12:36 pm on 9 September 2012 Permalink

      tulisannya keren

      postingannya ringan dibaca..:)
      semangat terus untuk menulis

      salam kenal
      saya rynem
      kalau berkenan silahkan mampir ke blog ku……
      folloback juga ya buat nambah temen sesama blogger,,
      kalau mau tukeran LINK silahkan
      salam blogger

  • erva kurniawan 1:13 am on 7 September 2012 Permalink | Balas  

    Bertafakur di Depan Anak Kembar

    “Wah, sungguh seperti pinang dibelah dua,” begitu celetuk teman saya, ketika kami menjenguk istri teman yang barusan melahirkan anak kembarnya.

    Ketika kedua baby itu digendong keluar oleh ibunya untuk menemui kami. Saya melihat betul-betul sama ‘persis’ kedua anak itu. Seolah-olah bagaikan pinang dibelah dua. Tak ada bedanya!

    Ketika itu umur kedua bayi mungil tersebut masih berapa hari saja. Matanya, hidungnya, dahinya, pipinya, telinganya, bahkan rambutnyapun nampak sama. Persis sekali. Maka muncullah sebutan ‘kembar tersebut.

    Tetapi setelah sekarang keduanya besar, saya melihat ada suatu perubahan pada keduanya. Yaitu bahwa wajahnya sekarang sudah bisa dibedakan. Tidak seperti waktu berusia beberapa hari, yang wajah keduanya begitu persisnya.

    Demikian juga dengan saudara saya, ia punya anak kembar dua. Yang diberi nama nina dan nani. Bertambah besar, kedua orang tuanya semakin bisa membedakan keduanya. Sehingga dengan sangat mudahnya kedua orang tuanya bisa mengenali mereka. Siapa yang namanya nina, dan siapakah yang namanya nani. !

    Saya bertambah ta’jub dengan kebesaran Allah Swt dalam mencipta dan ‘memproses’ bentuk tubuh para makhlukNya. Bertambah lama kita memperhatikan dan melihat anak kembar dengan lebih teliti, maka kita akan bertambah mengenalinya.

    Sehingga kita bisa menyimpulkan, bahwa ternyata Allah Swt dalam mencipta bentuk maupun rupa makhluk ciptaanNYa, semua berbeda. Tak ada yang sama persis. Hanya kita saja yang menganggap keduanya kembar. Padahal tidaklah sama.

    Demikian juga dengan makhluk ciptaanNya yang lain, yang sangat luar biasa banyaknya, ternyata semuanya memiliki wajah yang berbeda.

    “…inni wajjahtu wajhiya lilladzii fatharassamawaati wal ardha hanifan musliman wamaa anaa minal musyrikiin.” Kuhadapkan wajah (dan hatiku) kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan berserah diri, dan aku bukanlah dari golongan kaum musryikin.

    Inilah sebuah ikrar yang tulus dari seorang hamba yang sedang melakukan pengabdiannya kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Raja di hari ini dan juga Raja di hari kemudian. Penguasa di dunia ini dan juga Penguasa di hari akhir nanti.

    Wajah sebagai saksi yang dihadapkan ke hadirat Tuhan dari seorang hamba adalah wajah fisiknya dan juga wajah hatinya. Ketika seorang hamba sedang shalat maka wajahnya tertunduk patuh dan taat terhadap apa yang diucapkannya dalam do’a shalatnya.

    Dengan memperhatikan wajah, maka seseorang akan mengetahui bahwa Allah benar-benar Maha Pencipta. Tidak usahlah ‘wajah hati’ yang begitu misteri. Dari ‘wajah fisik’ saja, jika diperhatikan dengan seksama, kita akan menjadi orang yang benar-benar tunduk akan kebesaran Allah Swt.

    Mari kita memperhatikan wajah kita! Katakanlah penduduk bumi saat ini berjumlah lima milyar orang yang terdiri dari berbagai macam bangsa dan suku bangsa. Perhatikan, untuk bangsa Indonesia saja, dan misalnya untuk suku jawa saja. Betapa wajah setiap orang tidak ada yang sama meskipun umurnya sama.

    Meskipun warna kulitnya sama, tetapi ada “sesuatu” yang membuat orang tersebut tidak sama, meskipun dikatakan orang sebagai dua saudara kembar “bagaikan pinang dibelah dua”. Tetap saja ada sesuatu yang membuat orang tuanya mengenali bahwa keduanya tidak sama.

    Itulah Kebesaran dan ketelitian Allah Swt dalam mencipta makhlukNya sangat luar biasa indahnya, dan sangat hebat fungsi dan kegunaannya. Pada suku bangsa yang sama saja, tidak ada wajah yang sama, apa lagi pada penduduk dunia yang berbeda bangsa dan warna kulitnya.

    Seperti halnya wajah manusia yang tak pernah sama, sekarang marilah kita bayangkan bagaimana wajah makhluk l ciptaan Allah lainnya. Berapa milyar jumlah burung yang ada di Indonesia?

    Insya Allah wajahnya juga tak ada yang sama, sehingga setiap induk burung akan mengenali wajah para anaknya yang sedang menunggunya untuk mendapatkan makan darinya.

    Lalu, ada berapa ratus juta jumlah wajah burung yang berbeda di bumi Indonesia `saja’ ? Bagaimana dengan ular, bagaimana dengan semut, bagaimana dengan binatang melata lainnya? Bagaimana dengan kehidupan tumbuhan, misalnya saja bunga mawar dimana setiap lekuk, warna dan indahnya setiap bunga juga tidak sama? Bagaimana dengan kehidupan laut yang luasnya lebih besar dibanding daratan? wajah ikan yang tak sama, batu karang yang tak sama, mutiara yang tak sama, dan tumbuhan laut lainnya yang juga tak terhitung jumlahnya itu?

    Itupun masih benda-benda di Bumi kita, yang besarnya bumi hanya sebesar debu yang melayang di jagad raya yang sangat luar biasa besarnya ini. Masya Allah, semua dicipta dengan tingkat variasi yang sangat luar biasa…

    Dan yang lebih mencengangkan hati, adalah bahwa di setiap ciptaanNya, tidak ada satu bendapun yang tidak berguna bagi lainnya. Semua tak ada yang sia-sia. “…rabbana maa khalaqta hadza bathilan…”

    Itulah ayat-ayat Allah yang tak terhitung jumlahnya yang beserakan di bumi dan dilangit dengan tingkat variasi yang luar bisa, yang manusia tak akan sanggup menghitungnya.

    QS. Al- Kahfi 18 : 109

    Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).

    Sampai disini mungkin kita berhenti sejenak. Dan kita sebagai manusia hanya bisa berucap sambil mata berkaca-kaca, subhanallah…subhanallah…

    Dari menyaksikan peristiwa anak kembar saja, kita telah bertemu dengan kedahsyatan ciptaan Allah. Itupun baru ciptaanNya! Yang ada di bumi saja! Belum di planet yang lain. Belum di matahari, di bintang yang lain, galaxy, di ruang kosong antar galaxy. Lalu di langit kedua, ke tiga, sampai langit ke tujuh….

    Pernahkah ketika shalat, kita menitikkan air mata karena kita sering merasa paling pandai, paling kaya, paling berjasa, paling berkuasa, sehingga dengan tiada terasa kita telah menyombongkan diri kita?

    Mari kita pandang sekali lagi ciptaan Allah yang bertebaran di sekeliling kita, dan kitapun akan menemukan eksistensi Allah di setiap sudut ciptaanNya.

    QS. Al Baqarah : 115

    Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • tiwirahayu 8:12 pm on 14 September 2012 Permalink

      dri bca’an d atas, d katakn bahwa segalany yg d ciptakn allah swt. smua bermanfaat. tapi, apa kgunaan bnatang yg tlah d hramkan allah untk kt, (b1&b2), sdangkn menyntuhny sja udh haram. :)

  • erva kurniawan 1:09 am on 6 September 2012 Permalink | Balas  

    Suara Merdu Sang Pengamen

    Seorang ibu setengah baya, tiba-tiba naik ke dalam bus kota yang beropersi antara jalan Aceh dan Kampus Universitas Padjadjaran di kota Bandung. Para penumpang bus agak heran, sebab selama mereka menumpang bus di route itu, belum pernah melihat pengamen tersebut. Sehingga para penumpang pun memperhatikan keberadaan pengamen ‘asing’ itu meskipun dengan sikap acuh tak acuh.

    Yang menarik adalah, ibu tersebut tidak membawa peralatan apa-apa. Sebelum ia beraksi menyanyikan lagu seperti kebanyakan pengamen, ia memberikan sebuah ‘kata sambutan’ yang cukup menarik.

    Kata sambutan yang cukup singkat itu ternyata bisa menyita perhatian para penumpang bus. Ibu yang penampilannya sangat sederhana ini, menceritakan kondisi keluarganya yang saat itu sedang dilanda musibah tanah longsor di suatu daerah. Maka dengan modal nekat dari rasa malu, ia mencari rezeki dengan jalan menyanyi di dalam bus. Dan hari itu adalah penampilan ‘perdananya’ di dalam bus itu.

    Setelah selesai mengungkapkan suara hatinya, ibu pengamen ini melantunkan sebuah tembang dari daerah jawa barat. Dan seketika, seluruh suara hiruk pikuk di dalam bus menjadi berhenti. Semua penumpang terkesiap mendengarkannya. Seolah-olah semua orang terkena pengaruh ‘magis’.

    Suara ibu ini cukup merdu, tetapi yang membuat semua orang terkesima adalah karena adanya semacam kekuatan tersembunyi dari ekspresi yang sangat menggetarkan hati. Sehingga muncullah sebuah penjiwaan yang luar biasa.

    Mungkin, saat itu ia teringat keadaan anak-anaknya yang sedang terkulai sakit di rumahnya. Begitu ia berhenti melantunkan tembang yang membuat semua orang trenyuh, kontan saja hampir semua penumpang memberi uang dengan nilai yang jauh diatas ‘harga’ pengamen ‘reguler’. Bahkan kawan saya ‘IM’ yang menceritakan kejadian itu, ia memberikan uang sebesar lima ribu rupiah.

    Tentu saja nilai lima ribu rupiah waktu itu, bagi seorang pengamen ‘dadakan’ seperti dia sungguh sangat luar biasa. Belum penumpang-penumpang lainnya… tetapi saya hanya melihat sekali saja wanita itu, sebab hari-hari berikutnya meskipun setiap hari saya naik bus di route tersebut, yang datang adalah pengamen-pengamen tetap lainnya ….. ” Demikian kata menutup ceritanya.

    Dari cerita itu, saya masih bisa merasakan bahwa IM sangat terkesan dengan peristiwa itu. Yang menjadi fokus perhatian saya mendengarkan cerita itu ialah, betapa para penumpang bisa serempak memberikan uangnya dengan nilai yang jauh di atas kebiasaannya.

    Andaikata, saya ambil rata-rata untuk seorang pengamen jalanan ketika itu harganya adalah seratus rupiah, maka nilai lima ribu rupiah yang diberikan kepada ibu pengamen itu, merupakan nilai yang besar, dengan kelipatan lima puluh kalinya. Sungguh luar biasa….!

    Mengapa hal itu bisa terjadi? Ada beberapa kemungkinan yang membuat kondisi dan suasana ajaib itu bisa terjadi.

    Yang pertama, adalah adanya keikhlasan hati seorang ibu yang sedang sedih luar biasa. Ia berani dan tidak malu tampil di dalam bus lantaran teringat anak-anaknya yang berjumlah lima orang, yang kini sedang tergeletak sakit. Keikhlasan dan kondisinya yang sedang dirundung malang itu memberikan kekuatan yang tiada tara kepadanya.

    Yang kedua, adanya keikhlasan hati para penumpang bus dalam memberikan sebagian rezekinya kepada seseorang yang sedang membutuhkannya. Keikhlasan itu muncul setelah mereka mendengar dan bisa menghayati sebuah pesan kemanusiaan.

    Yang ketiga, adanya ‘komunikasi antar hati’ antara seorang ibu yang membutuhkan bantuan demi anak-anaknya, dengan pendengarnya.

    Yang keempat, adanya unsur tepat waktu dan tepat tempat. Andaikata ibu tersebut waktu itu masuk di tempat bus yang lain, mungkin akan berbeda suasananya dengan suasana di bus yang kini sedang kita bahas ini.

    Alasan yang pertama, kedua dan ketiga, adalah alasan kemanusiaan. Hal itu akan bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Secara umum siapa saja yang kondisinya sedang nyaman, bila ia dihadapkan pada suasana lain, dimana ada orang yang sedang membutuhkan uluran tangannya, kemungkinan besar akan berusaha membantunya. Selain itu juga adanya sebuah komunikasi hati yang tepat.

    Kata sebuah kata bijak, “Jika berkata dengan mulut, sampainya ke telinga, Jika berkata dengan hati, sampainya ke nurani..”

    Ibu tersebut dalam berkomunikasi tidak lagi menggunakan mulutnya, tetapi yang ia sampaikan adalah kegundahan hatinya yang begitu mendalam. Sehingga pesan itu tersampaikan tidak terbatas di telinga saja, tetapi bisa menembus hati para pendengarnya.

    Alasan yang keempat, adalah alasan yang sangat spesial. Siapakah yang menuntun dan menggerakkan hati ibu ini untuk menuju bus yang tepat dalam waktu yang tepat pula? Tentu jawabnya hanya ada satu. Yang mengatur semua itu adalah sebuah kehendak yang mempunyai kekuatan luar biasa. Dialah Allah Swt Sang Maha Pengatur Kehidupan Manusia.

    Dialah Dzat Yang Maha berkehendak. Dialah yang berkehendak menyuruh langkah kaki ibu yang sedang susah itu menuju bus yang tepat. Dialah Yang Maha Berkehendak untuk menggerakkan hati para penumpang bus untuk memberikan sebagian rezekinya.

    Dengan melihat peristiwa di dalam bus itu, seolah kita sedang diingatkan oleh Allah Swt. Bahwa di dalam setiap peristiwa yang sedang terjadi Allah ingin melihat, menguji, dan mengukur, siapakah diantara hamba-hambaNya yang sabar, dan siapa pula yang pandai bersyukur.

    Barang siapa yang diuji dengan musibah ia sabar, dan ketika diuji dengan nikmat ia bersyukur, insyaAllah dialah sebenarnya orang-orang yang berhasil dalam menjalankan misi kehidupannya…

    Allah selalu bersama dengan orang-orang yang sabar, dan Allah selalu bersama dengan orang yang pandai bersyukur.

    “Orang yang menikmati makanan lalu ia bersyukur, adalah seperti orang yang sedang berpuasa yang sabar.”

    (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban dari Abu Hurairah)

    Artinya, dalam kehidupan ini kita sedang bermain-main dalam rentang dimensi syukur dan sabar. Semoga dengan selalu berikhtiar dan berdo’a kepada Allah Swt, kita akan bisa berhasil melewatinya. Insya Allah…

    ***

    Dari Sahabat

     
    • bejono777 8:43 pm on 6 September 2012 Permalink

      sabar, syukur adalah ibadah tapi berkeluhkesah di khalayak apakah juga diajarkan kita dianjurkan utk berikhtiar dan bertawakal, tapi itu mungkin yang bisa dilakukan oleh ibu itu

  • erva kurniawan 1:00 am on 5 September 2012 Permalink | Balas  

    Perbedaan di Ranting Pohon

    Adakah tanaman yang tumbuh di depan rumah kita? Atau samping rumah? Atau di belakang rumah? Baik yang sengaja kita tanam dengan teratur sehingga nampak begitu indahnya, atau yang tumbuh liar dengan sendirinya. Pernahkah kita memperhatikannya?

    Sambil membaca diskusi ini, jika anda sedang di perhatikan tanaman yang ada di sekitar rumah. Atau tanaman dimana saja berada. Bisakah kita melihat sesuatu yang sangat berharga disana?

    Bisa jenis rerumputan, jenis perdu, atau jenis tanaman keras yang berbuah, seperti pohon mangga, pohon rambutan, pohon durian. Atau jenis tanaman berbunga seperti mawar, anggrek, melati, bougenvile, kembang sepatu, …dsb.

    Pada suatu minggu pagi, saya bersih-bersih halaman di depan rumah. Seperti biasanya saya membersihkan halaman rumah sekedarnya, hitung-hitung sambil olah raga pagi.

    Ketika saya merapikan tanaman bougenvile yang ada di depan rumah, kebetulan ada bagian ranting yang terpotong sepanjang lebih kurang 20 cm. Di ujungnya masih ada beberapa bunga yang berwarna merah tua.

    Saya ambil untuk ke tempat sampah. Tapi, tiba-tiba terpikir oleh saya sesuatu. Kemudian, saya hitung jumlah daun yang ada di ranting kecil itu. Dan juga menghitung bunga yang masih ada di bagian ujung ranting itu.

    Ternyata jumlah daunnya masih ada 40 daun, jumlah bunganya ada 15 Helai. Yang sangat menarik dari sebatang ranting kecil itu adalah keadaan dan posisi daun maupun bunganya yang berbeda antara satu dengan lainnya. Semakin saya perhatikan, semakin nampak berbagai perbedaan yang terdapat pada daun-daun maupun pada bunga-bunga bougenvile itu.

    Karakteristik daunnya :

    • Ada yang berwarna hijau tua,
    • Ada yang berwarna hijau setengah tua,
    • Ada yang berwarna hijau agak muda,
    • Ada yang berwarna hijau muda agak kekuningan.
    • Ada yang basah bekas terkena air hujan, Ada yang kering,
    • Ada yang kotor terkena debu jalanan, Ada yang masih bersih,
    • Ada yang miring ke arah kiri,
    • Ada yang ke kanan,
    • Ada yang posisinya di bawah,
    • Ada yang berada di pucuk ranting,…..

    Demikian pula dengan keadaan bunganya

    • Ada yang warna merah tua,
    • Ada yang merah agak muda,
    • Ada yang masih kuncup,
    • Ada yang sudah hampir layu,… dsb..

    Betapa banyak karakteristik yang berbeda dari daun-daun itu. Demikian juga dengan bunganya, satu dengan yang lain tidak ada yang sama. Semua berbeda. Tetapi justru dengan adanya berbagai perbedaan itu, pohon bougenvile itu menjadi nampak indah mempesona.

    Yang menjadi pikiran saya, jika pada ranting yang hanya sepanjang 20 cm saja sudah memiliki perbedaan sebanyak 40 buah, dan pada bunganya terdapat perbedaan sebanyak 15 buah. Saya jadi merenung, kalau begitu pada seluruh pohon bougenvile itu terdapat berapa daun yang berbeda? Ada berapa bunga yang juga berbeda?

    Sekali lagi justru dengan adanya perbedaan-perbedaan itu pohon menjadi nampak lebih indah. Nampaklah dari ‘kejadian Eitu bahwa masing-masing daun dapat ‘menghargai’ perbedaan yang terjadi. Demikian pula masing-masing bunga juga bisa ‘menghargai’ perbedaan yang ada. Kembali saya merenung.

    Bagaimana dengan pohon-pohon yang lebih besar lagi? Yang jumlah daunnya tak terhitung banyaknya? Pasti perbedaan itu lebih, hebat lagi..

    Dari peristiwa tidak sengaja itu, beberapa hari kemudian saya mengamati pohon cemara. Seperti pada pohon bougenvile, saya juga mengamati ranting daun cemara sepanjang lebih kurang 20 cm. Saya semakin tertegun, dan berdecak kagum terhadap ciptaan Allah yang kita sebut ‘pohon’ itu

    Pada sebuah ranting kecil sepanjang 20 cm yang saya amati, ternyata setelah saya hitung berisi 54 tangkai daun cemara. Dimana setiap tangkai kecil tadi terdapat rata-rata 140 daun cemara. Sehingga pada setangkai ranting cemara yang panjangnya hanya 20 cm, terdapat daun cemara sebanyak : 54 x 140 daun == 7.560 daun cemara. Selanjutnya saya mencoba berhitung sederhana. Ketika saya memperhatikan sebatang pohon cemara yang tingginya sekitar 10 meter ‘saja’ dengan perkiraan diameter rimbun daun rata-rata 1 meter, maka pada pohon tersebut akan terdapat sekitar : 37.800.000 daun cemara. Subhaanallah.

    Lalu apa yang membuat saya tertegun ?

    Seperti hal pada pohon bougenvile, ternyata dari sebatang pohon cemara yang daunnya berjumlah sekitar 37.800.000 tersebut, tidak satupun daun, yang memiliki karakteristik yang sama dengan daun lainnya. Baik dilihat dari posisi daunnya, maupun ditinjau dari jumlah zat pewarnanya…perhatikanlah

    Ada daun yang posisinya diatas, ditengah, ataupun dibawah. Ada daun yang miring ke kiri, ada yang ke kanan Ada daun yang bergerak lembut diterpa angin, ada yang diam saja.

    Ada daun yang warnanya hijau tua, hijau muda, agak kering, tersiram embun pagi, terbungkus debu, terjatuh karena angin, ….dsb. semua daun memiliki ciri yang tidak sama… subhaanallah…

    Sungguh, di dalam diri sebatang pohon cemara saja, Allah telah menunjukkan kehebatanNya. Dia mencipta makhluk yang namanya daun dengan tingkat variasi yang luar biasa hebatnya.

    Semua berbeda, tetapi justru dengan perbedaan posisi dan karakteristik tersebut menjadikan pohon cemara menjadi nampak indah dan menawan. Dari penciptaan sebatang pohon cemara ini, Allah menunjukkan pada kita betapa dari hal perbedaan yang sebanyak 37.800.000 itu menjadikan alam ini menjadi indah mempesona

    Lalu ada berapa ratus juta pohon cemara, di perbukitan dan gunung yang ada di jawa timur saja? subhaanallah. Lalu bagaimana dengan daun pada jenis pohon lainnya? Pohon beringin, pohon jambu, pohon kelapa, dan lain-lainnya…? Yang ada di Pulau Jawa, di hutan-hutan di Kalimantan, di Sumatera, di Papua, atau bahkan di seluruh permukan bumi ini?

    Allahu Akbar walillahil hamd,

    Hanya orang-orang yang bertaqwalah yang bisa mengambil pelajaran dari itu semua. Point penting yang dapat kita ambit adalah : “Perbedaan yang luar biasa itu justru menjadikan indahnya alam raya”

    Bisakah kita mengambil hikmah dan manfaat dari keberadaan daun yang kecil tersebut? Bisakah kita melihat indahnya perbedaan pada kehidupan kita? di keluarga kita, di masyarakat kita, di bangsa tercinta ini? Satu hal yang perlu kita renungkan bersama,…

    Semua perbedaan tersebut adalah dilihat dari sudut pandang manusia, dengan kaca mata ‘apa adanya’. Tetapi kalau kita mencoba melihatnya secara agak mendalam, maka pada hakekatnya semua yang nampak beda tadi adalah sama, yaitu semua dicipta oleh Allah Swt, melalui zat cemara yang sama, dari bumi yang sama, dari air yang sama…dengan firmanNya “kun fayakun” maka melalui proses yang ‘sangat rumit’ jadilah apa yang dikehendaki Allah…

    Allah-lah yang menumbuhkan itu semua. Pohon-pohon itu tumbuh bukan kehendak kita. Tetapi tumbuh karena kehendak Allah Swt. Untuk memberi pelajaran pada manusia agar memperoleh ilmu tentang EksistensiNya.

    Semua Ciptaan Allah, baik benda, maupun peristiwa, lebih-lebih tentang keberadaan manusia yang nampak beda itu, ternyata pada hakekatnya adalah sama dalam pandangan Allah. Tidak ada perbedaan yang signifikan, kecuali amal perbuatan dan taqwanya kepada Allah Swt.

    QS. Al-Waqi’ah ; 63-64

    “…Inna akramakum ‘indallaahi atqaakum…”

    Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 4 September 2012 Permalink | Balas  

    Siapa Penjahit Ahli Itu?

    Untunglah penjahitnya sangat ahli. Kalau tidak, tentulah bahan yang sudah jelek, robek-robek dan kotor ini akan menjadi pakaian yang sangat jelek pula.

    Pak JK, awalnya adalah seorang pemuda yang sangat ‘aktif Edalam kehidupan ‘abu-abu’. Atau bahkan kehidupan yang agak gelap. Ia berkecimpung dalam kehidupan itu cukup lama.

    “Saat itu, pergaulan saya, cara mencari rezeki, sampai dalam ibadah, semua tak ada yang benar. Kenangnya.

    “Alhamdulillah, sekarang, meskipun dalam hal ekonomi saya dan keluarga saat ini sedang kesulitan, tetapi hati kami gembira. Yah, semua kita buat ketawa ajalah…”sahut Yn, istri pak Jk.

    Pak Jk dan istrinya Yn sudah lama membina rumah tangga. Saat ini mereka sedang membesarkan kedua anaknya yang sudah beranjak remaja.

    Ketika malam itu saya mampir ke rumahnya, mereka berdua menyambut dengan penuh antusias. Maklum sudah kurang lebih dua tahun kami nggak pernah ke rumahnya.

    Saat berada di rumahnya, saya perhatikan ada sesuatu yang lain dibanding dua atau tiga tahun yang lalu. Kalau dahulu rumahnya penuh dengan barang-barang dagangan, tetapi gersang dari suasana keagamaan, kini rumah itu telah ‘berisi’.

    Selama dua tahun terakhir, setelah mereka datang dari ibadah haji, sebetulnya saya sudah beberapa kali mampir kerumahnya, tetapi tidak jadi masuk ke rumah sebab selalu bersamaan dengan adanya aktifitas pengajian.

    Dahulu kehidupan ekonominya menjulang, kehidupan spiritual tidak nampak sama sekali. Mungkin tertutup oleh sibuknya mengurusi duniawi. Sekarang ketika kehidupan ekonominya menurun, justru kehidupan rumah tangga mereka nampak meningkat dan lebih harmonis. Bahkan kami rasakan, keluarga itu kini ‘lebih hidup’ dan lebih berisi dalam menjalankan amanah Ilahi.

    Kurang lebih satu setengah jam kami ngobrol, sungguh asyik sekali. Sehingga waktu 90 menit itu terasa kurang. Malam itu mereka berdua ‘melampiaskan Ecerita-cerita unik yang mereka temui sejak mereka mau berangkat ibadah haji. Padahal ketika itu mereka tidak punya uang sepereserpun. Termasuk pengalaman-pengalaman spiritual yang mereka temui di sepanjang perjalanan haji.

    Mereka bergantian, memberikan informasi seputar kehidupan mereka yang dirasa sangat aneh. Mulai dari awal perkawinannya yang tidak punya pekerjaan tetap, sampai dengan kesuksesan ekonomi. Saat itu omsetnya sampai ratusan juta rupiah. Ironisnya ketika mereka akan melakukan ibadah haji, justru kondisi ekonominya menurun tajam.

    Ada saja yang menyebabkan kami rugi, dan akhirnya kami terpuruk dalam kondisi yang cukup memprihatinkan. Tetapi satu hal yang menjadi prinsip kami. Bahwa ONH yang kami bayarkan untuk pergi ibadah itu, betul-betul kami saring. Jangan sampai sedikit pun terkena uang yang tidak benar.

    Kami tidak perduli dengan kondisi kami yang saat itu tidak punya uang. Modal kami dan tekad kami pergi haji hanya satu, yaitu mohon ampun kepada yang membuat hidup. Kami merasa sudah terlalu banyak berbuat khilaf dan salah. Tapi tekad dan keinginan tersebut ternyata betul-betul berat.

    Sebab setelah itu datanglah berbagai cobaan demi cobaan secara bergantian. Bersamaan itu kondisi ekonomi pun semakin menurun”

    “Tetapi anehnya, kami bisa menerima cobaan dan ujian itu dengan tabah dan tawakal” kata pak Jk. Semua cobaan itu kami ikuti aja, seperti mengikuti aliran air, yang kami tidak tahu, kemana kami akan dibawa…”

    Pokoknya kami ikut ajalah, sambil belajar hidup..” Sampai sekarang ini sudah berjalan dua tahun. Tapi kami merasa waktu berjalan begitu cepatnya….! Pokoknya setelah pulang dari haji, kehidupan ekonomi kami, tambah hancur deh, kayak mimpi aja ya..” kata mereka.

    Tetapi anehnya, dengan kondisi kami yang sedang turun kami jadi lebih bersyukur. Sebab, berawal dari menurunnya ekonomi itulah, kami menjadi sadar. Dan alhamdulillah Mas..Jk bisa berubah menjadi seperti itu. Hati sayapun mengalami perubahan yang sangat berarti.

    Kalau dahulu, wah, jangankan shalat! Tapi sekarang, dengan kondisi ekonomi yang sangat sulit ini, justru kami rajin menjalankan shalat malam! Saya lebih tentram seperti ini dari pada seperti dahulu, yang selalu berurusan dengan dagangan yang tak ada henti-hentinya, sampai-sampai lupa pada segala sesuatu…” katanya Yn.

    “Tetapi sebagai manusia biasa, ujian dan cobaan ini sungguh berat lho…! Bayangkan aja kalau dahulu seperti itu, kini seperti Andaikata bisa memilih, tentu saya kepingin rezekinya seperti dahulu, hatinya seperti sekarang…he he he.. “kata Yn. Insya Allaah…, sahut saya.

    Satu hal yang tak akan dapat dilupakan oleh mereka, adalah terjadinya suatu peristiwa ketika mereka mau berangkat haji. Ketika semua orang sekitarnya mengerti bahwa keluarga pak Jk, ini mau berangkat haji. Para tetangganya selalu bertanya

    Kapan pak, kapan bu, syukurannya? Waduh rasanya hati ini seperti diiris pisau.” kata pak Jk.

    Bayangkan duit sepeserpun tidak punya, bagaimana mau ngadakan syukuran? Ketika itu uang yang ada, hanya tinggal dua ratus lima puluh ribu rupiah saja. Akhirnya uang yang tinggal sekian itu, mereka titipkan di acara syukuran RT. untuk ikut ‘nebeng’ syukuran haji.

    “Ketika acara resmi sudah selesai, dan tiba waktunya makan, sungguh kami berdua menjadi deg-degan setengah mati. Semua orang menikmati makanan dengan lahapnya, sungguh kami tidak berani makan.!

    Kami takut kalau makanan yang tersedia tidak cukup. Apalagi setelah kami melihat jumlah mereka yang datang. Betapa gemetarnya hati kami. Perkiraan tamu yang datang hanya sekitar tetangga kanan kiri saja. Itupun sudah berjumlah dua ratus lima puluh orang

    Tetapi malam itu yang datang tidak kurang dari enam ratus orang. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh kami. Bahkan saya sempat bersembunyi dibawah meja untuk melihat orang-orang yang makan, dan melihat apakah masih cukup makanan yang tersedia itu, kata Yn.

    Kami hanya bisa berucap “.. ya Allah, ya Allah, berkali-kali..”tidak bisa berucap lainnya, saking gugup dan takutnya. Tetapi ada satu keanehan yang terjadi saat itu. Ternyata semua tamu bisa makan, bahkan masih ada kelebihan makan yang cukup banyak setelah acara selesai…”

    Kami berdua, hanya bengong. Sungguh, kami hanya bisa menangis saja. Tidak percaya dengan kejadian yang baru saja kami alami. Ya Allah, ya Allah…”

    Demikian salah satu kejadian mau berangkat haji…yang tak kan terlupakan selamanya…”Kata pak Jk dan Mbak Yn hampir bersamaan.

    Wah, kalau melihat kehidupan kami dahulu seperti itu, dan sekarang bisa seperti kami hanya bisa bertanya pada diri sendiri, kok bisa ya? Sekarang

    Mas Jk, menjadi orang yang Pinter masak…lho” kata Yn sambil menahan ketawanya.

    Malam itu ketika kami ke rumahnya, saya lihat Pak Jk, dan Mbak Yn berbinar-binar. Mereka saat itu nampak gembira, selalu berseri. Meskipun kondisi ekonominya sangat sulit….

    Saya hanya bisa mengatakan ;”Pak Jk, mbak Yn, jangan kuatirlah., ujian itu hanya sebentar kok. Buktinya secara bathin kalian berdua beserta keluarga sekarang bahagia sekali. Toh, memiliki uang banyak itu kan maksudnya juga untuk mambahagiakan bathin kita, kalau bathin sudah bahagia, dan semua kebutuhan juga sudah terpenuhi..walaupun mencarinya dengan perjuangan yang sangat sulit, kan sama saja..! Dengan kesabaran pak Jk sekarang semua yang nampaknya sulit itu rupanya menjadi mudah, Iya kan…? Dengan izin Allah, insya Allah semuanya akan menjadi lebih baik lagi Eok, hibur saya. Kamipun tertawa bersama.

    Hari sudah cukup malam. Saya lihat beberapa orang sudah mulai berdatangan ke rumah pak Jk membawa kitab Al-Qur’an. Rupanya malam itu di rumah pak Jk sedang ada aktifitas rutin kajian al-qur’an bersama. Maka sayapun mohon pamit…

    Pak Jk. Menutup pembicaraan saya, sambil mengantar saya keluar dari rumahnya.

    Hebat ya ‘PENJAHIT’nya! Kain yang sudah rusak, robek, dan kotor seperti saya masih bisa diubah menjadi baju yang layak untuk dipakai…” katanya sambil tertawa lepas. Alhamdulillaah…; jawab saya….!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 3 September 2012 Permalink | Balas  

    Nikmatnya Tidur di Atas Becak

    Ranjang mewah, atau tikar kasar, keduanya adalah sama. Mobil mewah, atau becak, keduanya juga sama. Rumah mewah di tengah kota, atau gubuk reyot dipinggir sawah, keduanya juga sama….

    Saya membeli kursi makan satu set. Ketika kursi itu didatangkan ke rumah, ada tetangga sebelah rumah yang mengetahuinya. Beberapa hari kemudian ia ‘bertamu’ ke rumah saya, sambil menyengajakan diri untuk duduk di kursi makan yang baru kami beli itu. Duduk di kursi baru itu, ia bercanda dengan menggoyang-ngoyangkan tubuhnya.

    Waduh, enaknya kursi ini. Empuk, nyaman, membuat orang kerasan saja ya. Wah, pasti dengan duduk dikursi ini makanan menjadi enak, makan tempe akan terasa sate ya…he he he,.”

    Pada waktu itu, di daerah saya, makanan sate dianggap sangat bergengsi. Sedangkan tempe sebagai makanan sehari-hari dianggap bermartabat jauh dibawah sate.

    Demikianlah kata-kata yang secara spontan muncul dari ucapannya. Kata-kata itu tanpa sengaja tertanam begitu kuat di hati saya. Sehingga pada saat-saat tertentu, kata-kata itu sering muncul lagi. Bahkan kadang-kadang sebagai kata-kata yang memiliki makna.

    Memang dalam waktu satu atau dua hari, ketika kami menikmati kursi baru tersebut, rasanya setiap makanan menjadi lebih enak dan lebih nikmat. Tetapi rupanya itu hanya berlaku sekitar tiga hari saja. Setelah terjalanani hari-hari berikutnya, perasaan kami kembali seperti semula. Lauk tempe, ya tetap seperti tempe! Tidak seperti sate lagi…

    Keberadaan ‘lauk tempe terasa sate’ paling-paling hanya berlaku 3 hari. Setelah itu tidak lagi Apalagi ketika perasaan sedang nggak enak. Lagi sedih. Lagi ada persoalan. Wah, wah,.. keadaan bisa terbalik. Makan sate jadi terasa tempe. Atau ‘gula menjadi pahit rasanya’.

    Artinya, ‘hebat’nya dunia materi, seindah dan sebagus apapun, posisinya masih kalah, dan masih sangat jauh dibawah dunia non materi kita. Misalkan saja kita yang baru saja membeli baju bagus. Betapa senangnya hati. Apalagi kalau warna dan ukurannya cocok. Begitu ‘PD’nya kita. Ke mana pun kita pergi, hati selalu gembira dan senang.

    Kalau kita baru membeli mobil bagus, betapa nikmatnya duduk menyetir mobil itu. Hati berbunga-bunga. Mengemudikan mobil kemana saja tiada capek. Gembira dan bahagia.

    Kalau kita baru membeli ranjang yang bagus, mungkin yang sedikit mewah dibanding milik kita sebelumnya, wah, betapa nikmatnya tidur di atasnya..

    Beberapa hal tersebut di atas, sekedar contoh betapa saat-saat kita baru memiliki harta benda yang sebelumnya kita inginkan, begitu senangnya hati. Begitu gembira.

    Tetapi setelah waktu berjalan ‘sedikit’ saja, ternyata telah terjadi perubahan rasa pada diri kita. Setelah apa yang kita inginkan sudah menjadi milik kita, ternyata hanya dalam hitungan hari saja, semua itu menjadi ‘biasa’ kembali tidak memberikan kontribusi perasaan bahagia lagi.

    Kalau melihat dari beberapa hal tersebut, maka ada sebuah kesimpulan yang cukup menarik. Yaitu bahwa perasaan senang atau bahagia, ternyata letaknya hanya berada di angan-angan kita. Atau bahkan berada pada ‘permainan’ perasaan kita.

    Apa saja yang kita miliki, akan menjadikan kita bahagia, jika kita bisa ‘noto ati’ dalam menyikapinya. Baju baru, mobil baru, ranjang baru, rumah baru, semua benda itu sekedar memberi kontribusi sesaat saja. Setelah itu tidak sama sekali. Dan kembali bergantung pada bagaimana kita bisa menata hati. Disinilah nampak bagaimana ajaibnya sang waktu.

    Dengan berjalanannya sang waktu, maka perasaan bisa berubah. Sikap marah, bisa berubah menjadi sabar, perasaan gembira bisa berubah menjadi sedih. Semua berada pada kisaran sang waktu.

    Saya teringat ketika dulu masih duduk di bangku SMP, banyak di antara teman-teman saya yang sekolah membawa sepeda pancal. Begitu keren dan bahagianya mereka. Begitu perasaan saya.

    Ingin rasanya bisa sekolah membawa sepeda seperti mereka. Ketika saya sudah duduk di SMA, banyak sekali teman-teman yang ke sekolah membawa sepeda motor. Ah, begitu senang dan bahagianya hati ini jika bisa sekolah membawa sepeda motor seperti mereka…

    Dan ketika saya berada di Perguruan Tinggi, ada diantara teman saya yang membawa mobil ketika kuliah. Betapa hebatnya. Mereka bisa membawa mobil ketika kuliah. Sementara saya tetap jalan kaki seperti dulu, ketika duduk di bangku Sekolah Dasar…

    Tetapi setelah saya sedikit demi sedikit bisa membeli beberapa hal yang saya inginkan itu, ternyata perasaan bahagia seperti yang saya bayangkan waktu itu, tidak ada lagi. Kalaupun ada nilainya sudah merosot jauh dari bayangan semula. Jadi nilai bahagia pada sebuah material, begitu cepatnya terkikis oleh `waktu’.

    Saya jadi teringat pada ‘ilmu puasa’. Ketika seseorang sedang berpuasa, sering kita jumpai, pada siang harinya ia kepingin segala macam makanan yang enak-enak. Misalnya : ketika seseorang pada siang hari kebetulan melihat ice juice kesukaannya, ia akan membayangkan betapa nikmatnya apabila nanti malam, ia bisa minum ice juice tersebut.

    Jika pada siang ia melihat nasi gudeg kesukaannya, ia juga akan membayangkan betapa nikmatnya apabila nanti malam ia mendapatkan nasi gudeg itu.

    Demikian pula dengan makanan atau minuman lainnya. Ia akan membayangkan betapa nikmat saat ‘nanti’ malam itu telah tiba.

    Tetapi rupanya suasana hati kepingin bahagia itu ‘hanya’ terjadi pada waktu siang saja. Yaitu ketika seseorang bisa ber’imajinasi’ tentang bahagia.

    Apa yang terjadi? Setelah sampai waktunya, semua keinginan itu nilainya merosot tajam. Rasa ice juice, kalau sudah sampai waktunya, tidak ‘sehebat’ yang dibayangkan sebelumnya. Rasa nasi gudeg, atau makanan apa saja setelah kita dapatkan, ternyata rasanya juga biasa-biasa saja. Itulah umumnya perasaan manusia.

    Apa saja yang belum berada di tangan, nampaknya sangat indah dan mempesona, seakan-akan kita pasti akan bahagia jika mendapatkannya. Tetapi setelah kita dapatkan semua itu ternyata biasa-biasa saja. Dan kembali kita kepingin lagi dengan sesuatu yang belum kita dapatkan. Demikian seterusnya. Sehingga kepuasan pun tak akan pernah kita dapatkan. Kebahagiaan yang dikejar-kejar itu, ternyata hanya terdapat dalam bayangan saja.

    Kata Allah dalam Al Qur’an al Kariim

    QS. Al-Alaq : 6-7

    Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.

    Kita diingatkan oleh Allah Swt, bahwa jika manusia berada dalam keadaan serba cukup, sering tidak bisa melihat kecukupan yang ada pada dirinya. Yang nampak justru ‘milik’ orang lain. Sehingga dengan berbagai cara dikejarnya sesuatu yang belum jadi miliknya itu.

    Maka oleh Al-Qur’an orang-orang itu disindir sebagai orang yang melampaui batas..

    Tentu, hal itu insya Allah tidak terjadi bagi orang yang beriman. Karena selalu menyandarkan semua persoalannya pada Allah Swt. Seorang yang beriman, insya Allah mampu melihat apa yang telah diperolehnya sebagai anugerah yang digunakan untuk kepentingan di jalan Allah. Sehingga akan selalu membantu manusia lainnya yang memerlukan uluran tangannya.

    Sekitar sebulan yang lalu, saat hari sudah mulai malam, saya pergi ke sebuah pasar yang letaknya berada di dekat tempat tinggal saya. Ketika itu di pojok serambi sebuah toko, terlihat oleh saya seorang tua tertidur pulas di atas becaknya…. Nikmat sekali nampaknya.

    Entah karena capek atau nunggu penumpang, pak tua ini tidur begitu pulas. Sampai sedikit mendengkur. Saya perhatikan, dalam tidurnya itu, bapak tua itu berselimutkan kain sarung, dan berbantalkan tangannya sendiri. Dengan posisi badan yang agak terbungkuk karena tempat duduk becak tidak bisa memuat seluruh tubuhnya.

    Begitu besar kekuasaan dan keadilan Allah Swt, Dia memberikan anugerahNya kepada pengayuh becak, dengan suatu nilai yang tidak dimiliki oleh orang yang serba kecukupan.

    Orang yang serba kekurangan itu, mampu meraih nikmatnya tidur di tengah keramaian orang-orang yang lagi berbelanja. Dengan begitu nyamannya. Sementara banyak orang yang ranjangnya mewah, tetapi ia tidak mendapatkan nikmatnya tidur, seperti yang dimiliki bapak tua pengayuh becak itu…..

    Dengan uang, memang kita bisa membeli ranjang atau tempat tidur yang mewah beserta dengan segala aksesorisnya. Tetapi uang itu tidak bisa membeli nikmatnya tidur seperti yang diperagakan oleh pak tua pengayuh becak itu.

    Andaikata nikmat tidur harus dibeli dengan uang, sungguh kasihan orang yang tiada punya kekayaan untuk membelinya….

    Jika ada seseorang bisa tidur nyenyak di dalam kamar mewahnya, sementara ada seorang lain yang juga bisa tidur nyenyak di dalam gubuk reyotnya maka rumah mewah dan gubuk reyot itu pun menjadi sama.

    Berarti, kamar mewah, gubuk reyot, dan becak, menjadi sama. Karena semuanya bisa menjadikan seseorang tertidur nyenyak di dalamnya…

    Sungguh sifat Adil dan Kasih Sayang dari Sang Maha Pencipta, telah kita temukan pada diri tukang becak yang sedang tertidur pulas ini

    Dengan menyaksikan seseorang yang bisa tidur pulas di atas becaknya, sungguh kita kembali bertemu dengan Kekuasaan Allah Swt.

    QS. Al Baqarah : 115

    “Timur dan barat adalah kepunyan Allah, oleh sebab itu kemana saja engkau hadapkan mukamu, disana akan bertemu dengan Allah, sesungguhnya Allah Maha Luas kekuasaanNya dan Dia Maha Mengetahui.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 2 September 2012 Permalink | Balas  

    Melihat Peristiwa Di ‘Alam Gaib’

    Bisakah kita melihat ‘makhluk’ dimensi lain? Bagaimana rupa mereka itu? Apakah mereka juga memakai kendaraan seperti kita? Apakah mereka juga bersosialisasi? Apakah mereka juga bisa terluka ?

    Inilah sebuah peristiwa yang sangat unik. Bukan penggalan cerita televisi, yang lagi ‘musim’ menceritakan keberadaan alam gaib. Seperti sinetron Jinny oh Jinny, tuyul mbak yul, Jin dan Jun, atau sinetron sejenisnya….

    Waktu itu sore hari, hujan sedang rintik-rintik membasahi bumi. Matahari sudah turun di ufuk barat, menunjukkan waktu maghrib hampir tiba. Para binatang ternak sudah masuk ke kandangnya masing-masing, bahkan yang namanya ayam, tidak berani lagi berkeliaran di pelataran karena matanya tidak lagi bisa melihat ketika senja telah tiba.

    Para santri dan jamaah masjid keluar dari rumahnya untuk menuju masjid atau mushalla atau surau tempat mereka melakukan shalat berjamaah. Pada saat itu saya sedang berada di perjalanan. Kendaraan yang saya kemudikan melintasi sebuah daerah yang tidak asing bagi saya. Saya sering kali melalui jalan tengah kota.

    Mobil bergerak perlahan, karena cuaca lagi remang-remang disertai hujan rintik. Di depan sebuah bangunan yang agak tua, tiba-tiba kipas pembersih kaca mobil sebelah kiri terlepas dan jatuh.

    Maka dengan perlahan saya hentikan mobil. Kira-kira berjarak lima puluh meter ke depan. Saya pun mencari kipas yang terjatuh.

    Anehnya, dalam waktu yang cukup lama, saya tidak juga menemukan kipasnya. Bahkan sampai berjalan dengan jongkok dalam jarak yang cukup jauh dari kejadian itu, tidak juga benda itu saya temukan.

    Hari sudah mulai gelap. Suara adzan maghrib dari surau terdekat lamat-lamat sudah mulai menghilang. Mungkin, orang–orang di masjid sudah mulai melakukan shalat berjamaah.

    Karena sampai jauh tidak juga saya temukan benda yang saya cari itu, maka dengan agak frustasi saya kembali ke tempat mobil yang saya hentikan itu.

    Saya memutuskan balik ke mobil. Ketika berjalan ke arah mobil, dari arah belakang saya melaju sebuah mobil berwarna putih. Kira-kira hanya berjarak satu meter dari tempat saya berjalan.

    Persis di samping saya, mobil putih itu menabrak dua orang yang lagi menyeberang jalan. Maka terjadilah peristiwa tabrakan itu dengan diikuti suara yang sangat keras.

    Tentu saja saya terkejut. Kejadiannya sangat tiba-tiba. Saya saksikan semua kejadian itu dengan begitu jelas. Mobil berwarna putih itu berhenti sekitar satu meter dari tempat saya berdiri.

    Yang tragis adalah, di bawah ban mobil depan masih tergeletak seorang wanita tua. Ia mengenakan kain panjang bermotif batik. Darah berceceran di sekitar tubuhnya. Sementara, seorang lelaki tua juga tergeletak di depan mobil dengan jarak sekitar dua meter dari mobil itu. Di dekat laki-laki itu terdapat keranjang yang berisi beberapa kain yang juga tercecer berserakan di tengah jalan. Sungguh pemandangan yang sangat menggiriskan hati di cuaca yang agak remang-remang.

    Begitu paniknya saya menyaksikan kejadian itu. Tak ayal lagi saya berteriak minta bantuan orang-orang di sekitar. Saya bergegas menghentikan setiap mobil yang lewat agar menolongnya. Saya masih ingat bahwa mobil yang saya hentikan waktu itu, yang pertama kali lewat adalah mobil kijang warna biru metalik. Kemudian mobil taft warna hijau tua. Kemudian masih ada dua mobil lagi di belakangnya yang ikut berhenti.

    Ketika saya menghentikan mobil taft warna hijau tua itu saya sempat memegang tangan seorang laki-laki yang duduk di kursi depan sebelah kiri, dan saya tarik dia supaya keluar dari mobilnya untuk menolong kecelakaan itu.

    Bahkan saya sempat mencegat mobil angkutan umum di deretan paling belakang. Saya masuk ke dalam mobil angkutan itu. Di dalamnya banyak sekali penumpang duduk berjubel. Saya minta tolong pada mereka, tetapi para penumpang itu tidak memperdulikan saya, mereka hanya berdiam diri tanpa komentar apa-apa…..

    Sayapun turun dari angkot itu dan saya bergegas lagi menuju ke tempat kecelakaan yang jaraknya hanya beberapa meter. Saya berjalan agak cepat kearah kejadian dengan menerobos keramaian orang-orang yang berkerumun. Sambil sesekali menoleh kearah belakang, kalau-kalau ada bantuan lain yang datang menolong.

    Ketika sampai di titik kejadian, setelah melewati kerumunan banyak orang, saya menjadi terbengong dan terpaku. Ternyata orang yang tertabrak itu sudah tidak ada lagi di tempatnya. Tidak ada darah. Tidak ada keranjang. dan tidak ada pakaian yang tercecer.

    Saya menoleh ke arah mobil warna putih itu. Ternyata mobil itu juga tidak ada. Mobil kijang biru, juga tidak ada. Mobil taft juga tidak ada. Termasuk angkutan umum yang disesaki penumpang…

    Saya pun menoleh ke tempat orang-orang yang berkerumun. Ah, mereka juga tidak ada semuanya…. Keadaan di jalan itu sunyi senyap. Tak ada seorangpun yang berdiri disitu. Tak ada sebuah pun mobil yang lewat. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan baru terjadi sebuah peristiwa. Saya terkesiap, tidak mampu berkata-kata. Apa sebenarnya yang sedang terjadi …?

    Di tengah-tengah kondisi hati yang berkecamuk, saya melihat di dekat kejadian itu ada sebuah warung kecil. Di dalamnya ada seorang bapak tua yang berjualan rokok. Dia menggunakan ikat kepala, layaknya orang yang berasal dari daerah jawa tengah. Orang tua itu sedang asyik mengisap rokoknya, sambil melayangkan pandangannya lurus-lurus kedepan, seperti orang yang lagi melamun.

    Saya dekati bapak tua itu, dan saya pun bertanya kepadanya : “…Pak, kemana orang-orang itu semua, bapak melihat kejadian tadi? ‘Orang tua itu tidak sedikit pun menoleh ke arah saya. Tapi ia menjawab: kejadian apa? Saya sejak tadi di sini tidak ada kejadian apa-apa…! “

    Bulu kuduk saya berdiri, mendengar jawaban itu. Saya usap kedua mata saya, saya cubit lengan saya. Saya tidak sedang bermimpi. Tapi saya baru saja menyaksikan suatu peristiwa yang luar biasa.

    Akhirnya dengan perasaan yang tidak karuan, saya cepat-cepat pulang menuju rumah. Saya masih penasaran. Keesokan harinya pagi-pagi sekali saya menuju ke tempat kejadian itu untuk mencari kembali kipas kaca mobil yang terlepas tadi malam. Sekalian sambil ingin menyaksikan ulang bekas peristiwa tadi malam. Sesampai di tempat kejadian itu saya bertambah merinding…!

    Ternyata, selain kipas mobil tidak saya temukan, satu lagi yang membuat saya termangu adalah, di tempat itu ternyata sunyi sekali. Tidak ada seorang pun yang berjualan, tidak ada bekas-bekas kecelakaan, bahkan penjual rokok beserta warungnya pun tidak ada …!

    Saya tetap penasaran. Saking tidak kuatnya menahan gejolak hati, keesokan harinya saya bercerita kepada beberapa orang teman dekat.

    Satu hal lagi yang membuat bulu kuduk menjadi berdiri…!

    Ketika saya bercerita tentang hal itu, ada seseorang yang memberikan kesaksiannya. Ia pernah diberi tahu oleh orang tuanya, bahwa di tempat kejadian yang saya ceritakan itu memang pernah terjadi peristiwa yang persis seperti apa yang saya lihat itu. Tetapi katanya, peristiwa itu sudah terjadi sekitar dua belas tahun yang lalu…. Subhaanallah! Mendengar kesaksian itu semua orang saling pandang….! Berbagai perasaan berkecamuk jadi satu. Antara percaya dan tidak percaya. Antara heran dan penasaran.

    Ada satu lagi yang lebih aneh, ternyata penjual rokok beserta warungnya itu juga misterius. Ia tidak mengetahui kalau ada kejadian yang `begitu hebat’ di dekatnya! Berarti antara penjual rokok dan kecelakaan itu terjadi pada dua dunia yang berbeda, sebab mereka tidak saling mengetahui….

    Pembaca, dari kejadian itu, apa yang terpikir di benak kita? Semoga kita semakin mengakui bahwa betapa kecilnya diri kita ini.

    Ada satu kesimpulan menarik darinya, yaitu ternyata ada dunia lain yang sedang berlangsung di samping dunia kita ini. Allah Swt telah sedikit membuka tabir tentang rahasia alam ciptaanNya yang luar biasa itu kepada kita semua.

    Bahwa di balik dunia kita, ternyata memang ada suatu kehidupan lain. Bahwa kehidupan itu, satu dengan lainnya, berada pada tingkatan atau pada dimensi yang berbeda. Sehingga penjual rokok yang penuh misteri itupun tidak mengetahui terjadinya kecelakaan yang ada di dekatnya.

    Antara peristiwa kecelakaan, dengan penjual rokok itu, terpisah oleh sebuah tabir. Saat saya menyaksikan kejadian itu, rupanya Allah sedang menyingkap tabir itu sedikit, sehingga saya bisa ‘menonton’ dunia yang tidak sama secara bersamaan di waktu maghrib itu….

    Terjadi adanya relatifitas waktu antara kejadian yang saat itu saya saksikan dengan kejadian sesungguhnya, yang katanya peristiwa itu terjadi sudah dua belas tahun yang telah lalu.(…wallahu ‘alam)

    Waktu maghrib adalah waktu khusus yang mungkin harus diperhatikan oleh setiap manusia. Saat itu matahari telah turun, dimana akan terjadi pergantian dari siang menuju malam. Waktu semacam itu oleh agama kita disebut waktu maghrib, yang perlu sekali pada saat itu manusia menyembah dan mengagungkan Tuhannya. Allaahu Akbar..!

    Dengan mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, membuktikan bahwa manusia tak mempunyai daya apa-apa. Saya jadi teringat petuah para orang tua kepada anak-anaknya di zaman dahulu. Jika waktu senja telah datang, jika waktu shalat maghrib telah tiba, janganlah lagi ada yang diluar rumah…masuklah ke dalam rumah, cepat ambil air wudhu’ untuk melakukan shalat maghrib dalam rangka mengabdi dan menyembah kepada Tuhannya langit dan bumi ini.

    Semoga dari peristiwa aneh tersebut, kita dapat mengambil positifnya. Semoga kita bertambah yakin akan datangnya hari perhitungan, yang akan terjadi pada dunia lain setelah terjadinya hari berbangkit kelak.

    Semoga semua itu akan menjadikan kita semakin yakin akan Kekuasaan Allah yang tiada terhingga. Dan semoga menjadikan kita semua lebih berhati-hati dalam menjalani hidup ini… Insya Allah..

    ***

    Dari Sahabat

     
    • dewa 2:32 am on 25 Februari 2013 Permalink

      di dunia ini,
      tidak ada yang tidak mungkin,
      niat, yakin, dan sabar,
      adalah kunci berbagai kemungkinan,
      konsultasikan.
      085729111654

    • Satya 11:12 pm on 8 Maret 2013 Permalink

      Setiap kecelakaan di manapun, jika terdapat darah, maka darah itu akan menjadi Alam,
      darah merupakan sebuah alam di dalam diri manusia. waktu maghrib adalah waktu keluarnya mahluk halus dan jiwa2 yang terpenjara
      Alhamdulillah anda masih di beri keselamatan

    • esdua 4:56 pm on 16 April 2013 Permalink

      terlepas dr benar/tidaknya cerita diatas, sy sarankan kpd siapa saja untuk tidak terkecoh tipuan syetan yg menyesatkan. yakinlah kpd firman alloh swt bhw kita manusia adalah makhluk ciptaannya yg diberi mandat untuk memakmurkan bumi. jadi apapun diluar itu, abaikan saja dan kembalilah kpd mandat yg sudah dibebankan diatas pundak kita. manusia..

  • erva kurniawan 1:30 am on 1 September 2012 Permalink | Balas  

    Do’a Seorang Tukang Becak

    Pak Samin, seorang tukang becak. Ia sudah lama menggeluti pekerjaannya. Dan mempunyai prestasi yang cukup mencengangkan. Sejak kecil ia tidak pernah mengenal bangku sekolah. Tetapi kini ia telah menjadi seorang sukses dengan menikmati kehidupan hari tuanya yang penuh damai dan sejahtera.

    Cerita ini saya dapatkan dari seorang kawan, ketika kami ngobrol. Pak ‘DJ’ Kawan saya ini, dengan penuh antusias menceritakan ‘sejarah’nya Samin.

    Pak Samin mempunyai dua orang anak lelaki, yang dua-duanya kini sudah menjadi perwira Angkatan Darat. Kedua anak tersebut lulus SMA, dan dua-duanya masuk pendidikan militer, AKABRI.

    Sebagai seorang yang tidak punya biaya, untuk bisa menyekolahkan kedua orang anaknya pak Samin mencari biaya dengan cara yang lain. Cara apa yang bisa diterapkan oleh seorang tukang becak seperti dia? Ia tidak punya pekerjaan sampingan. Juga tidak berpendidikan?

    Ketika pak DJ bertanya, “…Pak Samin!, kok bisa ya, bapak menyekolahkan kedua anak bapak, sampai di AKABRI? Wah, berapa biaya yang bapak keluarkan, dan bagaimana cara bapak mendapatkan biaya itu ?”

    “Pak DJ, saya ini kan tukang becak, dari mana saya dapatkan biaya? Sejak anak saya sekolah di SMP, saya sudah kewalahan mencarikan biaya. Tetapi alhamdulillah sejak saat itu saya bisa terus menyekolahkannya dengan cara saya sendiri. Yaitu saya terus berdo’a tidak kenal putus sepanjang hari dan malam. Itu saya lakukan selama puluhan tahun. Sejak saya menyadari bahwa tidak mungkin saya mencari biaya sendiri untuk menyekolahkan kedua anak saya. Tentu harus ada yang menolong saya untuk menyekolahkan.”

    Tanya Pak DJ : Siapa yang bapak maksud dapat menolong untuk mencarikan biaya itu? Siapa lagi kalau bukan Gusti Allah kang Maha Kuasa? katanya.

    Pak DJ berdecak kagum. ”pak Samin, kalau boleh saya tahu, do’a apa yang bapak sampaikan selama puluhan tahun itu, sehingga bapak bisa seperti ini?”

    Jawab pak Samin : “..saya juga nggak bisa do’a yang panjang-panjang pak. Saya hanya berdo’a kepada Gusti Allah yang Maha Kuasa, agar kami sekeluarga mendapatkan ridhaNya…”

    Pak Samin menambahkan: “…Saya menangis sepanjang malam untuk mendapatkan ridhaNYa, selain itu tidak! Saya tidak pernah minta untuk mendapatkan biaya sekolah. Saya tidak pernah untuk minta agar saya kaya, bahkan saya tidak berani minta agar saya bahagia…saya takut minta yang macam-macam, saya hanya minta untuk mendapatkan ridhaNya saja…”

    Mendengar jawaban itu, pak Dj termangu. Dan terdiam dalam seribu bahasa. Sungguh luar biasa do’a itu. Seorang yang miskin, yang secara ekonomi serba kesulitan dalam hidupnya. Tetapi do’a yang dipanjatkannya bukan minta kemudahan dalam kehidupan. Yang diminta sangat simpel. Tetapi justru nilainya jauh lebih tinggi dari kebutuhannya saat itu. Yang dimintanya adalah keridhaan Allah Yang Maha Kuasa….subhaanallah.

    Kalaulah Allah Swt, sebagai Dzat Yang Berkuasa atas segala sesuatu sudah meridhainya, maka tak ada kata mustahil. Semua yang mengatur Dia. Apa yang dibutuhkan oleh hambaNya, Dialah yang memproses.

    Jika seorang yang dicintaiNya sedang membutuhkan biaya, maka Dialah Dzat Yang Maha Kaya itu. Jika seorang HambaNya sedang kesulitan akan sesuatu, maka Dialah yang akan memudahkannya. Dengan menjadi hambaNya, sungguh manusia akan mendapatkan sesuatu dariNya sebelum ia memintanya.

    Hadits Qudsi:

    “Apabila seorang hamba datang kepadaku, dan ia sibuk mengingatKu sampai lupa memohon keperluannya sendiri, maka Aku akan memberikan sesuatu yang terbaik baginya sebelum minta kepadaKu.”

    (HR. Bukhari, Baihaqi)

    Sungguh kita semua menjadi malu kepada diri sendiri. Kita sering minta kepada Allah yang macam-macam, lebih-lebih ketika kita sedang dirundung kesulitan.

    Do’a pak Samin sungguh sangat indah dan sangat universal. Ia ‘hanya’ meminta ridha. Dengan mendapatkan ridhaNya itulah, insyaAllah semua kebutuhan manusia akan terkandung di dalamnya. Dan itu telah dibuktikan oleh seorang tukang becak yang luar biasa

    Sebagai tetangga, pak DJ kagum luar biasa. Dan sangat bangga serta sangat bersyukur punya tetangga seperti pak Samin. Pak Samin kini menjadi orang yang bahagia dalam kehidupannya. Ia menempati rumah yang cukup layak. Bapak dari dua orang perwira….

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 31 August 2012 Permalink | Balas  

    Kasih Ibu di dalam Bus

    Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan. Siapakah yang pantas disebut sebagai seorang ibu? Apakah, hanya sosok wanita yang pernah melahirkan kita saja? Adakah wanita yang mengasihi seorang anak sedemikian rupa, meskipun bukan anaknya sendiri?

    Untuk merenung lebih jauh tentang sebuah cinta kasih, Saya teringat penggalan kalimat dari sebuah syair lagu yang diciptakan oleh grup musik ternama “DEWA” aku mencintaimu, lebih dari yang kau tahu.

    Syair ini begitu luar biasa. Mencintai seseorang lebih dari yang diketahuinya. Rasanya begitu pas dan sekali bagi seorang ibu, yang tidak pernah menghitung-hitung ‘jasa’ demi anak-anaknya…!

    Pagi itu, setelah saya selesai memberi Ceramah Dhuha di salah satu Masjid yang cukup megah di kota Lumajang Jawa Timur, saya diantar teman-teman panitia menuju terminal Bus. Selanjutnya, saya naik angkutan umum Bus Antar Kota untuk kembali pulang ke kota tempat tinggal saya.

    Ketika Bus yang saya naiki sampai di kota Probolinggo, bus berhenti di terminal beberapa menit. Kemudian berangkat lagi menuju kota Malang dengan melalui beberapa kota.

    Ada hal menarik bagi saya ketika bus berhenti di terminal Probolinggo yang hanya beberapa saat itu. Yang pertama, saya iseng-iseng menghitung jumlah penjaja makanan yang naik ke dalam bus, ketika bus berhenti. Saya hitung ada sebanyak dua puluh delapan orang dengan membawa berbagai macam barang dagangan. Mulai dari minuman air mineral, makanan bungkus, kue-kue, topi, majalah, mainan anak-anak, rokok, sampai dengan barang-barang souvenir khas daerah.

    Semua dijajakan dengan ekspresi masing-masing. Dan tentu saja yang tidak ketinggalan adalah para anak-anak muda pengamen jalanan. Mereka menunjukkan kebolehannya dalam ‘berolah vokal’ melantunkan lagu-lagunya.

    Nah, di tengah-tengah riuh rendahnya suara berbagai macam orang dengan aktifitasnya masing-masing itulah saya memperhatikan sebuah ekspresi yang cukup menarik dari beberapa wajah.

    Di kursi seberang di sebelah kanan saya, ada seorang ibu muda menggendong anaknya, berumur sekitar tiga tahun. Raut wajah anak itu gelisah. Rupanya ia merasa gerah, haus dan lapar. Bahkan, akhirnya ia menangis meskipun tidak mengeluarkan suara keras.

    Sang ibu mengerti apa yang terjadi dengan anaknya. Tetapi ia tidak juga beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil suatu keputusan, misalnya membelikan makanan atau minuman.

    Setelah agak lama, akhirnya saya lihat ibu tersebut mengeluarkan uang dari balik bajunya, sebesar lima ribu rupiah. Uang itu digenggamnya erat-erat. Mungkin supaya tidak lepas atau tidak hilang di tengah berjubelnya para penumpang dan penjaja makanan yang sangat padat.

    ‘Adegan’ berikutnya adalah, dengan penuh keragu-raguan ibu tersebut memanggil penjual nasi bungkus yang sedang berdiri di dekat saya. Seorang ibu setengah baya. Ibu itu bertanya kepada penjual nasi bungkus. Berapa harga satu bungkus makanan yang dijajakannya itu.

    Si penjual nasi bungkus menjawab dengan logat daerah yang sangat kental. Ia mengatakan harganya Rp.2.500,- per bungkus. Saya tidak mengetahui secara pasti apa yang terpikir dalam benak sang ibu pembeli tersebut. Dengan penuh keraguan, bercampur rasa khawatir ia menawar nasi tersebut dengan harga Rp.1.500,-/ bungkus.

    Saya terus mengikuti dengan seksama ‘adegan’ menarik yang terjadi di hadapan saya itu. Saya berfikir tentu sang ibu penjual tidak akan memberikan barang dagangannya, sebab rasanya tidak mungkin nasi satu bungkus dihargai hanya seribu lima ratus rupiah.

    Benar dugaan saya. Si penjual tidak memberikannya. Ketika si penjual nasi mau beranjak ke kursi lain, ibu penjual tersebut tanpa sengaja menatap wajah si anak kecil yang sedang gelisah di pangkuan ibunya.

    Hanya selang beberapa detik, sang ibu penjual nasi seperti terkena ‘hipnotis’ oleh wajah sedih yang haus dan lapar dari anak kecil tersebut. Akhirnya ibu penjual pun membalikkan tubuhnya menghadap ke ibu yang menggendong anaknya itu. Dan dengan penuh rasa iba ia relakan nasi bungkusnya dibeli dengan harga Rp.1.500,-

    Saya fikir kejadian itu sudah selesai. Dan sudah berakhir sampai disitu saja. Ternyata perkiraan saya salah. Karena kejadian itu terus berlanjut dengan ‘episode-episode’ yang lebih menarik lagi…

    Berikutnya saya lihat ibu pembeli, memberikan lembaran uang kertas sebesar lima ribu rupiah yang rupanya uang itu merupakan satu-satunya uang yang ia miliki saat itu. Karena harga nasi bungkus Rp.1500,- berarti si penjual harus mengembalikan uang sebesar Rp.3.500,- kepada si pembeli.

    Apa yang terjadi berikutnya? Ternyata ibu penjual nasi bungkus tidak memiliki uang kembalian, sebab saat itu barang dagangannya belum laku sama sekali. Maka si penjual nasi bungkus pun berupaya untuk menukarkan uang lima ribuan tersebut kepada para pedagang lainnya yang ada di sekitarnya.

    Beberapa kali ia mencoba menukarkan uang tersebut kepada para pedagang disekitarnya, tapi tidak satupun yang mau menukar uang tersebut. Sampai-sampai penjual nasi bungkus itu menjadi kebingungan, sebab bus beberapa saat lagi akan berangkat.

    Agak lama si penjual kebingungan. Dan rupanya bus sudah mau berangkat. Saat itu, datang seorang ibu penjual onde-onde yang sudah agak tua. Saya lihat Ibu penjual nasi bungkus melakukan pembicaraan singkat dengan ibu penjual onde-onde dengan logat bahasa daerah yang sangat kental sambil menunjuk kepada anak kecil yang ada di pangkuan ibunya.

    Saya lihat ibu penjual onde-onde itu langsung mencari uang yang terselip di bawah barang dagangannya. Dan iapun menukar uang lima ribuan tadi dengan uangnya. Sehingga ibu penjual nasi bungkus tersebut akhirnya bisa memberikan uang kembalian kepada ibu pembeli nasi yang masih memangku anaknya.

    Dari kejadian singkat itu, saya mendapat satu pengalaman yang menarik dan berharga. Sebuah kejadian dari sekian ratus kejadian serupa di tempat-tempat lain. Yang mungkin tidak sempat terperhatikan. Point apa yang bisa kita ambil dari kejadian sederhana itu?

    Bahwa perasaan cinta kasih seorang ibu, senantiasa bisa ‘menembus batas’ kesulitan yang dialaminya.

    Mari kita lihat kesulitan apa yang dialami oleh masing-masing ibu tersebut.

    Ibu muda (pembeli) yang uangnya tinggal lima ribu rupiah.

    Duit satu lembar lima ribu rupiah itu rupanya akan dipakai untuk keperluan lain yang sudah direncanakannya. Mungkin saja untuk transport setelah turun dari bus.Tetapi karena anaknya lapar, maka iapun merasa kesulitan untuk mengambil keputusan. Apabila uang itu dipakai untuk membeli nasi seharga dua ribu lima ratus, berarti sisa uang tinggal dua ribu lima ratus rupiah saja yang mungkin tidak cukup untuk keperluan lainnya. Tetapi akhirnya toh, ia lakukan juga membeli nasi bungkus demi anaknya yang sedang kelaparan. Ia `nekat’ membeli nasi bungkus dengan menawar pada harga yang bukan pada tempatnya, demi anaknya! Meskipun dengan perasaan agak malu, terpaksa juga ia lakukan. Hal itu dilaksanakan demi kasih sayangnya kepada buah hatinya.

    Ibu setengah baya, penjual nasi bungkus.

    Ia mau dan mampu menjual barang dagangannya dibawah harga normal, yang mungkin akan menyebabkan ia rugi. Hal itu bisa ia lakukan setelah ia melihat sorot mata iba dari sang anak yang sedang kelaparan. Mungkin saja, ia teringat kepada anaknya yang ada di rumah, yang suatu saat mungkin juga akan mengalami peristiwa semacam itu

    Ibu tua, penjual onde-onde

    Ia mau menukar uang penjual nasi bungkus, setelah ia juga ikut menyaksikan / merasakan kegelisahan sang anak. Meskipun dagangannya tidak ikut laku, iapun rela repot mencarikan uang untuk menukar uang si penjual nasi. Padahal bus sudah mau berjalan, tetapi ia tetap berkeinginan untuk menolong orang lain.

    Kalau kita perhatikan, kejadian itu cukup singkat. Tetapi ada suatu nilai yang tersembunyi di dalamnya. Peristiwa kecil itu bagaikan drama singkat satu babak, yang diperankan oleh tiga orang ibu dengan usia yang berbeda.

    1. Ibu muda pembeli nasi bungkus
    2. Ibu setengah baya penjual nasi bungkus
    3. Ibu tua si penjual onde-onde

    Semuanya mempunyai ‘kasus’ yang sama. Mereka asalnya merasa keberatan dan kesulitan untuk mengambil jalan keluar dari sebuah persoalan.Tetapi pada akhirnya semuanya mau berbuat sesuatu untuk menolong sang anak, yaitu setelah mereka memahami dan ikut merasakah perasaan sang anak yang sedang gelisah karena haus dan lapar…

    Ibu pembeli rela duitnya berkurang, demi anak, Ibu penjual nasi bungkus rela rugi, demi anak, Ibu penjual onde-onde rela repot, demi anak.

    Seorang ibu…,

    dimanapun, kapanpun, dan kemanapun ia akan selalu memiliki kasih sayang. Lebih-lebih kepada seorang anak yang membutuhkan bantuannya. Seseorang disebut sebagai ibu, bukan sekedar karena ia pernah melahirkan anak, tetapi karena ia memiliki kasih sayang kepada setiap insan. Apakah kepada anak kandungnya sendiri, ataukah kepada anak orang lain. Tiga orang ibu di dalam bus tersebut telah membuktikan kepada kita semua, bahwa benar “…kasih ibu adalah sepanjang jalan…”

    Pernahkah kita mencoba membaca keadaan ibunda kita masing-masing ?

    Mungkin saja, banyak sekali peristiwa-peristiwa kecil semacam itu yang terjadi pada ibu kita masing-masing pada zamannya dahulu. Hanya saja kita tidak mengetahuinya atau tidak mendapatkan informasinya. Tetapi yakinlah bahwa ibu kita bisa membesarkan diri kita sampai dengan kita dewasa ini tentu melalui berbagai macam peristiwa ‘luar biasa’ yang pahit dan manisnya menjadi kenangan tersendiri bagi mereka…

    Pernahkah suatu malam, kita melewati pasar subuh? Betapa banyaknya para ibu penjual sayuran atau sejenisnya, yang tertidur menunggu pembeli sambil mendekap anaknya yang masih balita. Sang ibu rela tidak menggunakan kain sarungnya untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan, sebab kain itu ia selimutkan kepada buah hatinya yang tertidur lelap di dekatnya…

    Pernakah kita mengingat kembali, peristiwa-peristiwa sepele ketika kita masih sebagai anak-anak dahulu?

    Ingatkah kita ketika ibu kita mengupas buah mangga, bagian yang manis ia berikan kepada anak-anaknya, sementara bagian yang masam untuknya? Bahkan beliau makan bagian yang masam itu sambil tertawa lucu dan bahagia ?

    Atau ingatkah kita dengan peristiwa-peristiwa senada itu, dimana sang ibunda kita melakukamsesuatu yang lebih mengutamakan kepentingan anaknya daripada kepentingan dirinya sendiri? Subhaanallah

    “…Ya Allah, ampunilah dan maafkan dosa dan kesalahan ibu kami, sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi kami ketika kami masih kecil”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • suamanah 3:02 pm on 31 Agustus 2012 Permalink

      Kata Mutiara Islam adalah kata kata mutiara yang indah dan bagus di ucapkan kepada orang. disini sobat bisa melihat kata mutiara islami yang paling indah diantara untaian kata kata bijak islami. Jika sobat adalah seorang muslim, katakanlah jika hidup hanyalah untukNya dan ucapkan kata kata indah islami dalam setiap ucapan kita Kata mutiara Islam terbaru ini alangkah baiknya kita terapkan didalam kehidupan kita yang dapat mendekatkan kita sekaligus mengigatkan kita atas kebesaran Allah SWT. kata mutiara islam “Waspadalah terhadap tiga orang: pengkhianat, pelaku zalim, dan pengadu domba. Sebab, seorang yang berkhianat demi dirimu, ia akan berkhianat terhadapmu dan seorang yang berbuat zalim demi dirimu, ia akan berbuat zalim terhadapmu. Juga seorang yang mengadu domba demi dirimu, ia pun akan melakukan hal yang sama terhadapmu.” “Tiga manusia adalah sumber kebaikan: manusia yang mengutamakan diam (tidak banyak bicara), manusia yang tidak melakukan ancaman, dan manusia yang banyak berzikir kepada Allah.” “Sesungguhnya puncak keteguhan adalah tawadhu’.” Salah seorang bertanya kepada Imam, “Apakah tanda-tanda tawadhu’ itu?” Beliau menjawab, “Hendaknya kau senang pada majlis yang tidak memuliakanmu, memberi salam kepada orang yang kau jumpai, dan meninggalkan perdebatan sekalipun engkau di atas kebenaran.” Seorang laki-laki seringkali mendatangi Imam Ja‘far as, kemudian dia tidak pernah lagi datang. Tatkala Imam as menanyakan keadaannya, seseorang menjawab dengan nada sinis, “Dia seorang penggali sumur.” Imam as membalasnya, “Hakekat seorang lelaki ada pada akal budinya, kehormatannya ada pada agamanya, kemuliannya ada pada ketakwaannya, dan semua manusia sama-sama sebagai Bani Adam.” “Hati-hatilah terhadap orang yang teraniaya, karena doanya akan terangkat sampai ke langit.” “Ulama adalah kepercayaan para rasul. Dan bila kau temukan mereka telah percaya pada penguasa, maka curigailah ketakwaan mereka.” “Tiga perkara dapat mengeruhkan kehidupan: penguasa zalim, tetangga yang buruk, dan perempuan pencarut. Dan tiga perkara yang tidak akan damai dunia ini tanpanya, yaitu keamanan, keadilan, dan kemakmuran.” “Kuwasiatkan lima hal kepadamu: (1) jika engkau dizalimi, jangan berbuat zalim, (2) jika mereka mengkhianatimu, janganlah engkau berkhianat, (3) jika engkau dianggap pembohong, janganlah marah, (4) jika engkau dipuji, janganlah gembira, dan (5) jika engkau dicela, kontrollah dirimu”. “Alangkah mungkin orang yang tamak kepada dunia akan mendapatkannya di dunia. Akan tetapi, ketika ia mendapatkan seluruhnya, dunia itu akan menjadi bala` baginya dan ia menjadi sengsara karenanya. Dan alangkah mungkin seorang membenci urusan akhirat. Akan tetapi, ia dapat menggapainya kemudian dan ia hidup bahagia karenanya”. “Tiada keutamaan seperti jihad dan tiada jihad seperti menentang hawa nafsu”. “Ambillah nasihat baik dari orang yang mengucapkannya meskipun ia tidak mengamalkannya”. “(Jika sesuatu digabung dengan yang lain), tidak ada gabungan yang lebih indah dari kesabaran yang digabung dengan ilmu”. “Kesempurnaan yang paling sempurna adalah tafakkuh (mendalami) agama, sabar menghadapi musibah dan ekonomis dalam mengeluarkan biaya hidup”. “Tiga hal adalah kemuliaan dunia dan akhirat: memaafkan orang yang menzalimimu, menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, dan sabar ketika engkau diperlakukan sebagai orang bodoh”. “Sesungguhnya Allah membenci seseorang yang meminta-minta kepada orang lain berkenaan dengan kebutuhannya, dan menyukai hal itu (jika ia meminta kepada)-Nya. Sesungguhnya Ia suka untuk diminta setiap yang dimiliki-Nya”. “Seorang alim yang dapat dimanfaatkan ilmunya lebih utama dari tujuh puluh ribu ‘abid”. “Seorang hamba bisa dikatakan alim jika ia tidak iri kepada orang yang berada di atasnya dan tidak menghina orang yang berada di bawahnya”. “Jika mulut seseorang berkata jujur, maka perilakunya akan bersih, jika niatnya baik, maka rezekinya akan ditambah, dan jika ia berbuat baik kepada keluarganya, maka umurnya akan ditambah”. “Janganlah malas dan suka marah, karena keduanya adalah kunci segala keburukan. Barang siapa yang malas, ia tidak akan dapat melaksanakan hak (orang lain), dan barang siapa yang suka marah, maka ia tidak akan sabar mengemban kebenaran”. “Orang yang paling menyesal di hari kiamat adalah orang yang berbicara keadilan dan ia sendiri tidak melaksanakannya”. “Silaturahmi dapat membersihkan amalan, memperbanyak harta, menghindarkan bala`, mempermudah hisab (di hari kiamat) dan menunda ajal tiba”. “Ucapkanlah kepada orang lain kata-kata terbaik yang kalian senang jika mereka mengatakan itu kepadamu”. “Allah akan memberikan hadiah bala` kepada hamba-Nya yang mukmin sebagaimana orang yang bepergian akan selalu membawa hadiah bagi keluarganya, dan menjaganya dari (godaan) dunia sebagaimana seorang dokter menjaga orang yang sakit”. “Bersikaplah wara’, berusahalah selalu, jujurlah, dan berikanlah amanat kepada orangnya, baik ia adalah orang baik maupun orang fasik. Seandainya pembunuh Ali bin Abi Thalib a.s. menitipkan amanat kepadaku, niscaya akan kuberikan kepadanya”. “Ghibah adalah engkau membicarakan aib (yang dimiliki oleh saudaramu) yang Allah telah menutupnya (sehingga tidak diketahui oleh orang lain), dan menuduh adalah engkau membicarakan aib yang tidak dimiliki olehnya”. “Allah membenci pencela yang tidak memiliki harga diri”. “(Engkau dapat dikatakan rendah hati jika) engkau rela duduk di sebuah majelis yang lebih rendah dari kedudukanmu, mengucapkan salam kepada orang yang kau jumpai, dan menghindari debat meskipun engkau benar”. “Ibadah yang terbaik adalah menjaga perut dan kemaluan”. “Tidak akan bermaksiat kepada Allah orang yang mengenal-Nya”. “Ketika Allah menciptakan akal, Ia berfirman kepadanya: “Kemarilah!” Ia pun menghadap. Ia berfirman kembali: “Mundurlah!” Ia pun mundur. Kemudian Ia berfirman: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak pernah menciptakan makhluk yang lebih Kucintai darimu, dan Aku tidak akan menyempurnakanmu kecuali bagi orang yang Kucintai. Semua perintah, larangan, siksa dan pahala-Ku tertuju kepadamu”. “Sesungguhnya Allah akan menghisab hamba-hamba-Nya pada hari kiamat sesuai dengan kadar akal yang telah dianugerahkan kepada mereka di dunia.” “Sesungguhnya pahala orang yang mengajarkan ilmu adalah seperti pahala orang yang belajar darinya, dan ia masih memiliki kelebihan darinya. Oleh karena itu, pelajarilah ilmu dari ahlinya dan ajarkanlah kepada saudara-saudaramu sebagaimana ulama telah mengajarkannya kepadamu”. “Barang siapa yang mengeluarkan fatwa tanpa ilmu yang cukup, maka ia akan dilaknat oleh malaikat rahmat dan azab serta dosa orang yang mengamalkan fatwanya akan dipikul olehnya”. “Orang yang mencari ilmu dengan tujuan mendebat ulama (lain), mempermalukan orang-orang bodoh atau mencari perhatian manusia, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka. Kepemimpinan tidak berhak dimiliki kecuali oleh ahlinya”. “Faqih yang sebenarnya adalah orang yang zahid terhadap dunia, rindu akhirat dan berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah SAWW”. “Sesungguhnya Allah azza wa jalla menyukai orang-orang yang suka bergurau dengan orang lain dengan syarat tanpa cela-mencela”. “Tiga kriteria yang penyandangnya tidak akan meninggal dunia kecuali ia telah merasakan siksanya: kezaliman, memutuskan tali silaturahmi dan bersumpah bohong, yang dengan sumpah tersebut berarti ia telah berperang melawan Allah”. “Sesuatu yang paling utama di sisi Allah adalah engkau meminta segala yang dimiliki-Nya”. “Demi Allah, seorang hamba tidak berdoa kepada-Nya terus menerus kecuali Ia akan mengabulkannya”. “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang banyak berdoa. Oleh karena itu, berdoalah pada waktu ashar hingga matahari terbit, karena pada waktu itu pintu-pintu langit terbuka, rezeki-rezeki dibagikan dan hajat-hajat penting dikabulkan” Berdoa untuk orang lain “Doa yang paling cepat dikabulkan adalah doa seorang hamba untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya”. Mata-mata yang tidak akan menangis “Semua mata pasti akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga mata: mata yang bangun malam di jalan Allah, mata yang menangis karena takut kepada-Nya dan mata yang tidak pernah melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah”. Orang yang tamak bak ulat sutra “Perumpamaan orang yang tamak bagaikan ulat sutra. Ketika sutra yang melilitnya bertambah banyak, sangat jauh kemungkinan baginya untuk bisa keluar sehingga ia akan mati kesedihan di dalam sarangnya sendiri”. Jangan berwajah dua “Hamba yang paling celaka adalah hamba yang berwajah dan bermulut dua; ia memuji saudaranya di hadapannya dan menghibahnya di belakangnya, jika saudaranya itu dianugerahi nikmat, ia iri dan jika ia ditimpa musibah, ia menghinanya”. Perbanyaklah kamu mengingat mati, karena hal itu bisa membersihkan dosa dan menyebabkan kamu zuhud atau tidak cinta kepada dunia.(Rasulullah) Keluarlah dari dirimu dan serahkanlah semuanya pada Allah, lalu penuhi hatimu dengan Allah. Patuhilah kepada perintahNya, dan larikanlah dirimu dari laranganNya, supaya nafsu badaniahmu tidak memasuki hatimu, setelah itu keluar, untuk membuang nafsu-nafsu badaniah dari hatimu, kamu harus berjuang dan jangan menyerah kepadanya dalam keadaan bgaimanapun juga dan dalam tempo kapanpun juga.(Syekh Abdul Qodir al-Jaelani) Berteman dengan orang bodoh yang tidak mengikuti ajakan hawa nafsunya adalah lebih baik bagi kalian, daripada berteman dengan orang alim tapi selalu suka terhadap hawa nafsunya.(Ibnu Attailllah as Sakandari) Orang yang suka berkata jujur akan mendapatkan 3 hal, yaitu : KEPERCAYAN, CINTA dan RASA HORMAT (Sayidina Ali bin Abi Thalib) Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. (Sayidina Ali bin Abi Thalib) Kejahatan yang dibalas dengan kejahatan pula adalah sebuah akhlaq ular, dan kalau kebajikan dibalas dengan kejahatan itulah akhlaq buaya, lalu bila kebajikan dibalas dengan kebajkan adalah akhlaq anjing, tetapi kalau kejahatan dibalas dengan kebajikan itulah akhlaq manusia.(Nasirin) Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) sedangkan harta terhukum. Kalau harta itu akan berkurang apabila dibelanjakan, tetapi ilmu akan bertambah apabila dibelanjakan.(Sayidina Ali bin Abi Thalib) Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah. (Ibnu Mas’ud) Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat inilah saksimu adalah juga hakimmu. (Ali bin Abi Thalib) Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku.(Umar bin Khattab) Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk. (Imam An Nawawi) Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar. (Umar bin Kattab) Read more at: http://operatorku.blogspot.com/2012/07/kata-mutiara-islami-terbaru-2012.html Copyright by operatorku.blogspot.com Terima kasih sudah menyebarluaskan aritkel ini

  • erva kurniawan 1:00 am on 27 August 2012 Permalink | Balas  

    Shalat Dhuha Mendatangkan Rezeki?

    Ketika mobil sudah lolos dari kemacetan, kami kembali bisa menikmati perjalanan santai keliling kota. Sambil menikmati suasana santai di dalam mobil, seorang famili yang bernama ‘MF’ bercerita tentang pengalamannya yang cukup unik. Katanya, sebuah pengalaman yang sangat istimewa telah ia dapatkan ketika melakukan shalat dhuha.

    Dari berbagai sumber, keterangan dan penjelasan yang ia dapatkan, baik ketika mendengarkan ceramah-ceramah, atau dari membaca diskusi-diskusi literatur. Ia mengambil sebuah kesimpulan, bahwa shalat dhuha itu dipakai untuk mencari rezeki. Begitulah kesimpulan yang ia dapatkan.

    Kata MF, pagi itu ia benar-benar bisa tenggelam dalam kekhusyukan. Sebab, sebelumnya ia mempunyai permasalahan ekonomi yang cukup serius. Maka dengan melakukan shalat dhuha, ia berharap akan mendapat rezeki kontan dari Allah Swt, sehingga bisa menyelesaikan permasalahannya dengan cepat.

    Saat itu, do’a yang dipanjatkan sangat panjang. Sujud yang dilakukan begitu khusyuk. Harapannya hanya satu. Ia ingin mendapat rezeki secepatnya untuk segera menutupi hutang-hutangnya yang katanya sudah sangat menumpuk.

    Beberapa hari ia lakukan shalat dhuha tersebut dengan penuh khusyu’ dan tawadhu’. Setiap selesai shalat dhuha ia selalu berharap-harap cemas untuk mendapatkan rezeki dari Allah Swt.

    Pada pagi yang cerah, ketika waktu dhuha sudah masuk, seperti biasanya ia mengambil air wudhu’, lalu ia menggelar sajadahnya. Hari itu benar-benar ia bisa melakukan shalat lebih khusyu’ dari waktu-waktu sebelumnya. Do’a pun dipanjangkan lebih dari hari-hari sebelumnya. Ia betul-betul merasa puas dengan shalat dhuhanya .

    Ketika menutup do’a khusyu’nya, sebelum melipat sajadahnya, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk perlahan. Dan terdengar suara ucap salam dari seorang tamu yang berada di luar. Kontan MF bangkit dari tempat shalatnya, dan ia menjawab salam dengan penuh gembira.

    “…wa ‘alaikum salaam warahmatullaahi wabarakaatuh…”

    Begitu fasihnya MF menjawab salam tersebut. Dengan penuh gembira dipersilahkannya tamu itu masuk kedalam rumahnya. Dalam hatinya MF berkata, Wah, inilah rezeki yang ia harapkan itu. Ia berfikir begitu kontannya Allah kalau memberi rezeki. Belum satu menit do’a panjang itu ia tutup, belum selesai ia melipat sajadahnya, tiba-tiba didepan pintu sudah menunggu rezeki itu…

    ” Silakan masuk pak,. .” kata MF. ” Oh, iya terima kasih…” sahut tamunya. Bapak siapa ya, koq saya agak lupa…” kata MF. Ini pak…, saya memang belum pernah ketemu bapak. Saya adalah utusan dari majikan saya bapak HR. Saya kesini disuruh menagih hutang kepada bapak yang memang belum terbayar sejak lima bulan yang lalu. Mohon maaf kalau saya mengganggu…”

    Ah, betapa pucat muka MF mendengar hal ini. Ternyata yang datang bukan rezeki yang diharapkan, tetapi justru orang sedang menagih hutang! Ingin rasanya ia menangis waktu itu. Betapa saat itu ia tidak punya uang sama sekali, Shalat dhuha sudah ia lakukan dengan penuh khusyuk ternyata yang datang bukan seperti harapannya. Sambil menutup ceritanya, MF mengatakan pada saya :”..ternyata shalat dhuha tidak bisa dipakai untuk mencari rezeki ya…”

    Saya hanya tersenyum, menyaksikan MF mengambil kesimpulan sendiri dari ceritanya itu. Rupanya ada sesuatu yang salah dalam pemahaman shalat dhuha. Allah Swt, sebagai Tuhannya Alam Semesta, Dzat Yang Maha Agung, oleh MF dimintai uang untuk membayarkan hutangnya.

    Kira-kira saja, para malaikat menjadi ‘tersinggung’ mendengar perilaku MF ini. Betapa Sang Pencipta Jagad Raya, yang memiliki Arasy yang tinggi, yang mengatur jalannya bintang-bintang raksasa, di seluruh galaksi, yang mengatur hidup dan mati seluruh ciptaanNya, disuruh membayarkan hutangnya…?

    MF memang belum mengerti, ia tidak menyadari akan kesalahannya. Maka Allah Swt memberinya pelajaran praktis pada pagi itu. Yang datang bukanlah rezeki, tetapi sebaliknya yang datang adalah orang yang menagih hutang.

    Sejak memulai shalat, yang di bayangkannya oleh MF adalah rezeki melimpah. Bukan mengagungkan Allah. Rupanya MF telah melakukan kesalahan dalam mengartikan substansinya shalat dhuha.

    Bahwa dengan shalat dhuha seseorang akan mendapatkan rezeki yang barokah, insyaAllah adalah benar. Tetapi yang menjadi masalahnya, shalat bukanlah untuk mencari rezeki. Shalat adalah sebuah pengabdian yang sangat indah dari seorang hamba kepada Tuhannya.

    Mengabdi bukanlah minta rezeki. Mengabdi adalah mendekatkan diri pada Ilahi. Mengabdi adalah mensyukuri nikmat diri yang tiada terhitung lagi saking banyaknya yang telah diterima bleh manusia.

    Allah melalui rasulNya, menyuruh kepada kita semua, agar di waktu dhuha kita menyembahNya. Kita MengagungkanNya. Apabila pada saat semua orang sibuk mencari rezeki dan sibuk mengurusi duniawi, pada saat itu ada seorang hamba yang menyempatkan diri untuk mengagung-kanNya, dengan melakukan shalat dhuha, maka dia itulah orang yang sangat istimewa.

    Sungguh Allah sangatlah mencintainya. Sebab ketika semua orang memanfaatkan `waktu efektif’ untuk bekerja, ‘waktu efektif’ untuk berusaha, ternyata pada saat itu ada orang yang mau dan rela mengorbankan waktunya demi mencari ridha Allah. Mohon ampun atas segala kekhilafannya. Mengagungkan Dzat Yang Maha Perkasa. Bukan sekedar untuk minta rezeki. Sungguh orang itu berhak mendapatkan rezeki yang barokah dari Allah Swt…

    Barang siapa yang rajin menjaga shalat dhuha, maka akan diampunkan dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih di lautan.

    (HR. Ahmad, Attirmidzi)

    Barang siapa yang disibukkan oleh dzikirnya untuk mengingatKu, sampai ia lupa memohon kepadaKu, maka Aku memberinya sebelum ia memohon kepadaKu.

    (Hadits Qudsi, Abu Nu’aim, Dailami)

    ***

    Dari Sahabat

     
    • abdulsabar86 4:59 am on 27 Agustus 2012 Permalink

      ah ,bapak ini khyal saja,sebab ALLAH selalu mengharapkan kita meminta SEMUA KEPADA NYA.Bahkan ada DOA agar hutang dilunalsi

    • abdul rahman 11:44 pm on 29 Januari 2013 Permalink

      apa doa nya

    • ary 10:55 am on 8 April 2013 Permalink

      sangat bagus sekali web ini,,, membimbing agar kita mengerti konteks dari sholat duha,,
      saya sangat paham arti dari tulisan di atas,, dengan kita sholat duha mengagungkan allah swt ,,
      memohon dengan sangat,, maka allah akan memberikan kita rezeki…
      bukan sholat duha yang memberi rezeki,, tapi allah yang memberi rezeki dengan cara ketawaduan kita melaksanakan sholat duha
      terimakasih tulisannya,,,

    • riyan kur nia 11:54 am on 9 Agustus 2013 Permalink

      insy ALLAH smg kita bisa ber iman dn bertkw kpd tuhan yangg maha esa,,,selalu berusaha mendekatkn dr kpd ALLAH SWT,trmksh artikely sangat bagus,bisa sy fhmi dn mgrti,wassallam

  • erva kurniawan 1:00 am on 26 August 2012 Permalink | Balas  

    Belajar Tasawuf Kepada Anak Kecil

    Hidup memang penuh misteri.  Demikian kata-kata yang sering kita dengar dari para ulama. Ada orang yang bekerja keras setengah mati,  padahal tidak malas, rezeki yang didapatnya kadang-kadang tidak mencukupi.

    Sebagian orang lagi, ada yang kerjanya begitu ‘mudah’, tetapi rezeki yang diperolehnya sangat melimpah. Dan ada sebagian orang lagi, yang dalam mencari uang begitu ‘brutal’nya sehingga semua aturan-aturan dilanggarnya, tetapi dia tampak ‘bahagia-bahagia’ saja.Tapi sebaliknya, ada orang yang mencari uang dengan sangat hati-hati. Ia ingin bersih. Namun begitu banyaknya ia mendapat persoalan dan cobaan dalam hidup ini.

    Hidup memang penuh misteri. Maka, perlu bagi kita sebagai manusia untuk mencoba menguak tabir itu Untuk itu, yang paling tajam adalah mata hati, bukan mata jasmani!

    Dalam wilayah inilah, para guru kita mengajari untuk melihat hal itu semua. Mulai umur berapa kira-kira, setiap orang bisa dan mampu mempelajari nilai-nilai kehidupan? Siapa guru kita? Dimana guru itu berada?

    Rupanya, selain guru yang berada di sekitar kita, guru yang paling tahu tentang keberadaan kita adalah diri kita sendiri. Karenanya, mari kita mencoba berguru pada diri sendiri.

    Pada Minggu pagi yang cerah, saya melakukan olah raga, jalan pagi. Saya bertemu dengan seorang pembantu rumah tangga yang sedang mengasuh anak majikannya. Usia anak itu sekitar satu tahun. Begitu lucunya, begitu menggemaskan. Apalagi kalau sedang belajar berjalan. Sempoyongan sana sini, mau jatuh tidak jadi, terduduk, terjatuh, bahkan sempat juga sampai terjungkal.

    Anehnya, tidak sekalipun ia menangis, atau kapok! Setiap kali terjatuh, ia bangkit kembali. Berjalan lagi, terjatuh lagi. Dan seterusnya ia selalu bangkit, untuk mencoba berjalan lagi…. Melihat peristiwa ini, saya menjadi teringat masa kecil saya, dan juga masa kecil setiap orang yang kini sudah beranjak dewasa.

    Saat ini, ketika kita sudah dewasa, yang nota bene kita sudah lebih pintar dari anak balita, justru kita perlu belajar banyak dari mereka. Lebih tepatnya, kita perlu belajar kepada diri sendiri. Sambil mengenang ketika umur kita masih sekitar satu tahun. Kenapa manusia dewasa perlu belajar pada anak balita?

    Sebab manusia dewasa,  sering dihinggapi rasa khawatiir yang berlebihan,  gampang putus asa,  jarang yang berani mengambil keputusan, merasa minder, malas, merasa gagal dan tidak mau mencoba lagi  sering frustasi akan kegagalannya pesimistik … bahkan kadang-kadang buruk sangka terhadap Penciptanya, mungkin masih banyak lagi

    Mari kita lihat diri kita sendiri, yaitu sekian tahun yang lalu ketika kita sedang belajar berjalan untuk meraih sukses dalam cita-cita, bisa berjalan. Begitu hebat dan luar biasanya Allah Swt, memberi dan mengajarkan ilmuNya kepada diri kita waktu itu. ‘allamal insaana maa lam ya’lam. (Tuhanlah) yang mengajarkan pada manusia, apa-apa yang belum pernah diketahuinya. ( Al-Alaq : 5 )

    Seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa, yang belum sekolah, bahkan berbicarapun belum bisa, ternyata dengan ‘ilmu’nya yang telah Allah ajarkan kepadanya, dia sudah bisa berfikir cerdas melampaui orang dewasa.

    Anak kecil itu, diri kita itu, telah memberi contoh yang sangat banyak kepada manusia dewasa lainnya.

    Apa saja yang diajarkan ‘anak kecil’ itu kepada kita semua ?

    1. Bahwa sebagai manusia, kita harus belajar terus sepanjang hidup, tak ada kata berhenti untuk belajar. Tak kenal susah, tak kenal lelah
    2. Apabila suatu saat kita jatuh, dan pasti pernah jatuh, maka janganlah pernah putus asa, bangkitlah. Dan coba lagi. Jika kembali jatuh, bangkitlah lagi. Dan coba lagi…
    3. Tidak ada kata gagal dalam konsep hidupnya, sebab yang disebut gagal adalah apabila seseorang tidak mau mencoba lagi.
    4. Memiliki rasa optimis yang tinggi untuk mencapai cita-citanya.
    5. Apabila sudah yakin benar, tidak perlu merasa takut, sebab Allah Swt sebagai Dzat Yang Maha Pemberi Pertolongan, akan selalu melindungi hambaNYa yang berbuat benar.
    6. Rajin belajar, tidak mengenal konsep malas.
    7. Tidak pernah minder dalam kehidupan, sebab semua orang di hadapan Allah adalah sama.
    8. Selalu berbaik sangka dalam hidupnya. Dia ‘tidak takut’ jatuh, tidak takut terlanggar sepeda atau kendaran lainnya, bahkan tidak takut ia dibawa orang yang tak dikenalnya.

    Mungkin masih banyak lagi ilmu yang perlu kita gali dari diri anak kecil itu. Selain dengan hal-hal diatas: terus belajar, tidak pernah putus asa, tidak pernah merasa gagal, selalu optimis, yakin akan datangnya pertolongan Allah, rajin belajar, tidak minder, selalu berbaik sangka…, ada satu lagi yang perlu kita ambil dan kita pelajari dari diri anak kecil itu. Ialah tentang kejujuran. Dalam diri anak kecil, kita akan melihat sebuah perilaku yang begitu jujurnya.

    1. Ketika menangis, memang seharusnya ia menangis. Tidak dibuat-buat.
    2. Ketika tertawa, memang seharusnya ia tertawa, senang dan gembira. Tidak pernah ia merekayasanya.
    3. Ketika terjatuh, ia mengakui bahwa memang ia belum bisa.
    4. Ketika lapar, memang betul-betul perutnya belum terisi.
    5. Ketika haus, memang saat itu tenggorokannya lagi kering… dlsb

    Dengan memperhatikan anak balita yang sedang belajar berjalan, kita seperti masuk dalam sebuah kursus pelatihan tasawuf. Begitu banyak yang bisa kita serap ilmunya. Dan, guru kita itu bukan orang lain. Dia adalah diri kita sendiri.

    Dengan belajar kepada diri sendiri, sama halnya dengan kita mendekatkan diri pada Ilahi. Karena Allah Swt sebagai Tuhannya manusia, tidak pernah jauh dari hambaNya.

    QS. Qaaf : 16

    Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya

    Dengan melihat dan memperhatikan diri sendiri, kembali kita bertemu dengan Allah Swt.

    Al Baqarah : 115

    Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • kisah bagus 8:35 am on 5 September 2012 Permalink

      kita manusia mesti terus berusaha, jatuh dan gagal adalah hal biasa. terus mencoba dan mencoba. kita tidak tahu keberhasilan itu sudah sedekat apa dgn kita.
      akan menyedihkan jika kita berhenti berusaha ketika keberhasilan sudah di depan pintu kita.

  • erva kurniawan 1:10 am on 22 August 2012 Permalink | Balas  

    Berat Langkah Si Tukang Siomay

    Kepulangan ke rumah harus tertunda, ketika pimpinan kantor meminta seluruh tim rapat mendadak. Berbagai bencana yang terjadi di negeri ini, juga gejolak yang tengah bergemuruh di Palestina meski disikapi secara cepat. Sebagai sebuah lembaga kemanusiaan yang memseriusi programnya dalam penanganan bencana, menjadi keharusan tersendiri untuk merespon secara cepat setiap bencana yang terjadi.

    Namun bukan pentingnya rapat ini yang ingin saya ceritakan, bukan pula isi dan serunya rapat yang memakan waktu cukup lama hingga larut. Adalah sepuluh menit menjelang rapat dimulai, saat saya memesan sepiring siomay kepada tukang siomay langganan di depan kantor. Sesaat menjelang rapat, perut ini terasa berdendang minta diisi. Makanan ringan itulah yang menjadi pilihan, satu porsi pun terpesan.

    Panggilan pun datang, rapat dimulai. Rapat dilanjutkan usai sholat Maghrib, dan terus berlangsung. Ada yang resah di bawah, ada yang bolak-balik masuk ruang kantor. Ianya hanya menemukan piring kosong di bawah meja saya. Setiap lima menit kembali balik ke dalam kantor berharap orang yang tadi memesan siomay nya sudah ada di tempat. Ternyata yang ditunggu masih di atas, terlupa oleh riuh rendah suasana rapat yang bersemangat.

    Waktu terus bertambah, hingga seorang teman yang baru saja dari lantai dasar berbisik, “Sudah bayar siomay belum?” astaghfirullah…

    Tak menunggu rapat selesai, acung tangan langsung bergegas ke bawah. Terhenti nafas ini tak mendapatkan orang yang dicari; si tukang siomay. Melirik sedikit ke bawah meja, piring kosongnya sudah tak ada. Mungkin ia pulang, tapi saya tak bisa berkata apa-apa sambil terus menggenggam empat lembar ribuan di tangan.

    Cuma empat ribu memang. Tapi ia sebegitu pentingnya untuk bolak-balik ke dalam kantor berharap saya akan membayarnya. Terbayang saya betapa berat langkah si tukang siomay mendorong gerobaknya. Berpikir ia tentang uang belanja yang dinanti sang istri, resah hatinya tak membawa mainan yang dipesan anak tercintanya. Mungkin semua karena empat ribu yang belum saya bayarkan. Dan boleh jadi, empat ribu itulah keuntungan hasil jualannya setelah disisihkan untuk setoran.

    Berat langkah si tukang siomay. Itu terus tergambar dalam benak saya, sambil terus menggenggam empat lembar ribuan dan sesekali melirik ke bawah meja tempat piring bekas makan. Terbayang sedihnya sang isteri lantaran suaminya tak membawa uang belanja untuk esok, “Mau makan apa besok pak?”

    Terlintas tangisan si anak yang mendapati bapaknya tak membawa serta mobil mainan plastik yang dipesannya. Bagaimana jika besok ia tak bisa berdagang karena uang setorannya kurang malam itu? Tuhan, berdosa lah hamba.

    Tak lebih dari setengah jam, seseorang masuk ke dalam kantor. Senyumnya yang khas menyapa lembut. Saya tahu yang dinantinya. Sudah semalam ini, duh ternyata betapa pentingnya empat lembar ribuan itu baginya. Maafkan saya mas, nyaris bibir ini tak mampu berucap apa pun.

    ***

    Oleh: Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 21 August 2012 Permalink | Balas  

    Para Pengamen Itu Ternyata

    Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

    Peristiwa ini terjadi beberapa tahun yang lalu saat saya, yang saat itu baru saja lulus dan mulai bekerja di Jakarta. Sebagai pendatang dari daerah saya sering mendengar mengenai berita miring tentang kelakuan para pengamen.

    Saat itu saya bermaksud pulang dengan naik bis jurusan Blok M – Bekasi. Saat itu waktu menunjukkan pukul 17.45, sekelompok pengamen [sekitar 6 orang] naik ke bis yang saya tumpangi. Perawakan mereka menunjukkan muka yang tidak bersahabat. Hati saya sudah berdebar2 karena mendengar cerita tentang penodongan yang dilakukan sekelompok pengamen.

    Saat saya mulai berpikir yang kurang baik. Mereka mulai bercakap-cakap. Percakapan mereka sebenarnya sangat perlahan dan dilakukan di dekat pintu. Tetapi karena saya ada disamping mereka saya bisa mendengarkan percakapan mereka. Percakapan itu diawali

    “Eh udah jam berapa?,” tanya salah satu pengamen itu pada temannya.

    Yang lain menyahut,”Jam 17.45.”

    Kemudian tiba-tiba muncul suatu ucapan yang akan selalu teringat dalam ingatan saya.

    Ucapannya adalah dari salah satu pengamen “Wah kalo gitu udah hampir maghrib dong, gimana nich.”

    Yang lain menjawab, “Kita ngamen aja nanti turun di komdak.”

    Seorang pengamen yang lain berkata, “Wah nanggung kalo macet bisa-bisa kita ngak bisa salat tepat waktu dong.”

    Yang lain menimpali, “Iya benar nanti kita nggak bisa jamaah dengan yang lain, kalo gitu kita turun aja dech.” Dan mereka segera turun dari bis tersebut.

    Astaghfirullah, ternyata saya telah suudzon terhadap mereka. Saya lalu berfikir mereka jauh lebih baik dari saya karena mereka menjaga salat jamaah dan tepat waktu. Mereka benar-benar menjaga tiang agama jauh lebih baik daripada mereka yang ada di bis tersebut. Padahal banyak orang memandang para pengamen sebagai pengganggu, apalagi kalo yang bernyanyi berkelompok, yang sudah mulai berfikir yang tidak-tidak seperti saya.

    Memang ada sejumlah preman yang menyamar sebagai pengamen, tetapi ada juga pengamen yang berhati emas. Memang ada pengamen yang jahat tetapi ada juga pengamen yang mungkin ketakwaannya jauh diatas kita

    Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 16 August 2012 Permalink | Balas  

    Sebuah Renungan Tentang Memaknai Kemerdekaan

    Memasuki bulan Agustus ini, kita mulai menyaksikan adanya sesuatu yang berbeda di jalan-jalan, di ujung-ujung gang, dan di jalan-jalan perkampungan. Warna merah putih menghiasi jalan-jalan dan perkampungan. Mulai melangkah lebih jauh lagi pada bulan Agustus, kita mulai saksikan perlombaan-perlombaan digelar di gang-gang perkampungan. Anak-anak larut dalam kegembiraan merayakan peringatan hari kemerdekaan yang sebenarnya belum mereka ketahui. Wajarlah, masih anak-anak. Mereka hanya berkeinginan untuk mendapatkan hadiah dan merasa senang saat mengikuti lomba.

    Tak ketinggalan dengan anak-anak mereka yang berkompetisi dalam lomba balap karung, makan kerupuk, memasukkan ballpoint ke dalam botol, mengambil koin dari labu, pecah air, membawa kelereng, pecah balon, dan juga memindah belut; orang tua dan kakak-kakak mereka pun juga ikut larut dalam perayaan-perayaan lomba. Ya, semua rakyat dari seluruh lapisan larut dalam perlombaan-perlombaan merayakan hari kemerdekaan RI mulai dari kampung, pedesaan, perkotaan, pabrik, pasar, kantor, dan seluruh pelosok tanah air.

    Puncak dari segala puncak itu nantinya adalah pada saat peringatan Detik-detik Proklamasi yang akan berlangsung pada tanggal 17 Agustus tepat pada puku 10.00 WIB. Dan sebagai penutup dari perayaan proklamasi kemerdekaan itu nantinya biasanya akan diisi dengan pawai dan karnaval hari kemerdekaan di jalan-jalan perkotaan.

    Terlihat sejenak berpikir di ujung jalan sesosok bayangan dengan perawakan biasa memandang jauh seolah tak bertepi. Dari sudut matanya terlihat tatapan yang menerobos memandang relung-relung kehidupan.

    Bisik dalam hatinya lirih berkata,”Apa ini yang disebut kemerdekaan?”

    Tak berapa lama, ia ayunkan kakinya menuju sebuah masjid. Ia duduk dan terlihat mulai diam merenung tentang sesuatu. Saraf-saraf dalam otaknya mulai bergerak-gerak memutar klise-klise memori sejarah dan analisa. Ia coba mengingat kembali lembaran-lembaran sejarah bangsa dan negaranya tercinta, Indonesia. Ia perintahkan otaknya memutar kembali file-file pelajaran-pelajaran sejarah yang telah ia rekam dari pelajaran di sekolah dan bacaan-bacaan yang dibacanya.

    Ia ingat bagaimana dahulu para pejuang-pejuang mengangkat senjata. Memorinya mengenang keperkasaan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien melawan Penjajah. Ia ingat betul bagaimana masyarakat Aceh adalah masyarakat yang paling kuat dalam melawan penjajah. Ia juga ingat betul bagaimana masyarakat Aceh rela memberikan derma mereka untuk membangun Indonesia melalui urunan uang mereka.

    Memori sang pria pun tiba-tiba berbalik kepada kenangan cerita sejarah Imam Bonjol yang dikalahkan oleh pengkhianat bangsa, kenangan sejarah Pangeran Diponegoro yang dikhianati oleh orang sebangsa sendiri. Berturut-turut ia ingat kembali akan perjuangan Sultan Hasanudin, Sultan Agung, dan Patimura. Selanjutnya, bayangnya melihat peranan Syarekat Dagang Islam sebagai organisasi pergerakan pertama yang berdiri di Indonesia yang berorientasi pada rakyat secara nasional.

    “Bukan Budi Utomo yang pertama kali berdiri” katanya lirih dalam hati.

    “Budi Utomo adalah organisasi lokal yang berdiri jauh sesudah berdirinya Syarekat dagang Islam.” keluhnya.

    “Ia hanya berorientasi lokal dan tidak memiliki program kerakyatan. Dia hanya kumpulan para bangsawan yang sok pahlawan mengklaim diri sebagai organisasi pertama yang bergerak merebut kemerdekaan. Bohong besar!” batinnya berkata lantang.

    Tak berapa lama, ia terbangun dari lamunannya. Ia lihat beberapa meter dari masjid tempat duduknya, sebuah perayaan kemerdekaan. Dengan diiringi musik-musik, terlihat seorang wanita berjoget menyanyikan lagu dangdut, lalu berturut-turut sepasang suami istri berkaraoke bernyanyi tembang kenangan, dan tak ketinggalan seorang bocah berjoget mengikuti gaya joget para penyanyi dangdut di negara ini mengiringi nyanyian. Sang bocah dengan perasaan senang meliuk-liukkan tubuhnya dan memutar-mutar kepalanya. Gaya jogetnya seperti gaya penyanyi yang dikritik oleh Sang Raja Dangdut hingga menangis.

    “Apa ini arti kemerdekaan?” kata sang pria.

    “Mau dibawa kemana bangsa ini? Tak kudapatkan sejarah cerita adanya pesta semacam ini di zaman perjuangan dulu. Dimana sisa-sisa cucuran keringat dan darah serta nyanyian peluru dan dentuman meriam para pendahulu?” kata batinnya.

    “Bangsa ini belum merdeka!!! Belum merdeka!!!” bisiknya lirih.

    “Bangsa ini masih dibelenggu oleh kekuasan kapitalis, dan dijajah oleh para pengkhianat-pengkhianat bangsa yang mengklaim dirinya nasionalis atau pejuang. Padahal kalian adalah anak keturunan para pengkhianat yang menyerahkan nyawa para pejuang Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, dan lainnya kepada sekutunya, sang penjajah Belanda yang menyebarkan misi suci 3G. Gold, Glory, dan Gospel. Kalianlah yang menipu rakyat dengan jiwa sok nasionalis yang mengahabiskan waktu kalian untuk pesta dan uang semata. Kalianlah yang memfitnah para pejuang dengan sebutan para pemberontak, teroris, dan gerombolan. Kalian yang berkuasa tak beda dengan para pengkhianat bangsa di zaman Perang Paderi, yang justru membawa kehancuran bangsa ini. Bangsa ini belum merdeka! Bangsa ini hanya merdeka jika rakyat ini telah menikmati udara hukum sang Maha Kuasa terlaksana!!!” berontaknya di dalam hati.

    Tak kuat melihat perayaan peringatan penuh kedustaan itu, sang pria tersebut pun bangun dari duduknya. Ia ayunkan kakinya segera melangkah menjauh dari riuh-rendah musik peringatan hari kemerdekaan itu. Di ujung lorong jalan, tak berapa lama, ia pun hilang dalam bayangan gelap malam. (fikreatif)

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 15 August 2012 Permalink | Balas  

    Eko Prasetyo : Sujud Syukur di Akhir Ramadhan

    Malam tak pernah seindah itu. Suara-suara orang mengaji bergaung dan bergema di seluruh pelosok Kota Pahlawan. Langit dan bumi merendah bak menyambut malaikat yang bertasbih memuji Ar-Rahman. Sepuluh malam terakhir di bulan suci Ramadhan menjadi saksi kebahagiaan tak terperi dalam hidup saya, Eko Prasetyo.

    Saya lahir dan besar di keluarga penganut Katolik yang taat. Kami tinggal di Bekasi. Tiap Minggu, tak pernah alpa kami beribadat ke gereja. Masa kecil sampai remaja terasa begitu membekas dengan kebahagiaan keluarga kami. Nama baptis saya adalah Yohanes. Nama tersebut masih menempel di ijazah terakhir saya sebelum akhirnya hidayah itu menyapa pada 2005.

    Pada Agustus 1999, saya hijrah ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa, dulu IKIP Negeri Surabaya).

    Singkatnya, saya kemudian tinggal bersama kakek dan nenek saya.

    Hari-hari awal menjadi arek Suroboyo begitu saya nikmati. Jauh dari orangtua adalah awal saya belajar untuk mandiri. Meski selalu mendapat uang saku tiap bulan, saya mulai kasihan dengan ibu yang cuma berjualan kue dan menjadi penjaga kantin sebuah sekolah menengah pertama di Bekasi. Saya ingin bisa memiliki pendapatan sendiri.

    Singkatnya, saya kemudian nyambi mengajar privat selepas kuliah. Lumayan, dari hasil memberi les privat tersebut, saya bisa menambah uang saku dan beli bensin. Sempat cuti kuliah pada semester lima karena telat membayar SPP, saya pernah bekerja sebagai cleaning service di sebuah toko buku. Sebagai mahasiswa, saya mulai menyadari bahwa betapa berbedanya dunia kerja dengan dunia mahasiswa yang penuh dengan idealismenya.

    Sungguh, saya menyadari betapa susahnya hidup di kota besar seperti Surabaya. Apalagi, gaji sebagai cleaning service itu tak sampai Rp. 500 ribu saat itu! Namun, semua itu memiliki hikmah bagi saya. Sukses itu tidak turun langsung dari langit, tapi harus ada usaha! Do’a, usaha, dan kerja keras. Itulah fondasi sukses. Karena itu, tekad saya bulat, saya harus bisa menjadi sarjana, meski sarjana pun terkadang sulit untuk mencari kerja.

    April 2004, kebahagiaan menyelimuti saya dan keluarga. Ya, saya resmi mengakhiri pendidikan di Unesa bersama ribuan wisudawan lain di Islamic Center, Surabaya. Tak pernah terbayang di benak saya bahwa anak seorang ibu penjaga kantin dan bapak supir bisa jadi sarjana. Menjadi raja sehari sebelum esoknya bingung harus membuat lamaran kerja ke sana-sini. Meski demikian, rasa haru dan bangga menyelinap di hati saat saya kali pertama memakai toga.

    Setelah lulus, saya memutuskan untuk tetap tinggal di Jawa Timur. Saya bersyukur, setelah menganggur beberapa lama, akhirnya saya mendapat pekerjaan sebagai guru SMP di Kabupaten Malang. Meski penghasilan sebagai guru sangat kecil, saya begitu menikmati profesi tersebut.

    Awal 2005, nenek saya sakit dan diopname di RS RKZ Surabaya. Saat itu, karena tak ada di antara anak-anaknya yang bisa jaga malam, akhirnya saya memutuskan ke Surabaya dan menjaga beliau. Meski, konsekuensinya saya harus keluar dari pekerjaan saya. Dan di situlah awal saya mengalami hal yang kemudian mengubah hidup saya.

    Tiap pukul empat sore, saat jam besuk, saya sudah ada di RKZ untuk menjaga nenek. Menyuapi saat beliau makan dan mengambilkan pispot saat beliau buang air kecil, menjadi pengalaman pertama saya merawat orang sakit.

    Malam ketiga nenek sakit, saya tak kuat menahan kantuk tertidur dengan posisi duduk di samping paviliun beliau. Jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Saat itulah, saya bermimpi yang menurut saya aneh. Dalam mimpi tersebut, saya melihat diri saya yang seolah-olah melakukan gerakan-gerakan yang kelak saya ketahui adalah shalat. Ketika terbangun, saya tak menghiraukannya. Saya berpikir, mungkin itu hanya bunga tidur saja karena terlalu capai.

    Namun, saya tak menyangka, pada malam keempat mimpi itu datang lagi. Saya bermimpi melihat diri saya melakukan ruku yang kelak saya ketahui juga bagian dari shalat. Begitu cepat sehingga saya terbangun dan ketakutan. “Ada apa ini, Tuhan?” ucap saya dalam hati setengah ketakutan.

    Entahlah, saat itu mulai terlintas rasa penasaran saya terhadap Islam. Ketakutan saya masih berlanjut. Malam kelima, mimpi itu datang lagi dan kali ini saya melihat diri saya bersujud. Setelah tiga malam berturut-turut bermimpi aneh, saya sadar bermimpi melihat diri saya sedang shalat. Keinginan saya mengetahui Islam menjadi besar mulai saat itu.

    Setelah nenek sembuh, kejadian itu berlalu dan hanya saya simpan dalam hati. Diam-diam, saya mulai mempelajari Islam dari buku-buku yang saya beli. Puncaknya, keluarga kami merayakan Paskah dan saya sempat bermalam di Gereja Katedral Surabaya. Menjelang subuh, saya hendak keluar dan membeli makan. Ketika bersiap menggeber motor, saya mendengar sayup-sayup adzan Subuh. Entah mengapa, saya mendadak mematikan mesin motor dan mendengarkan kumandang adzan tersebut. Mulai Allaahu Akbar sampai Laa ilaaha illallaah, meski tak tahu artinya saat itu, hati saya bergetar hebat. Indah sekali lantunan suara adzan Subuh tersebut.

    Kepada seorang kawan, saya mulai mengutarakan niat untuk masuk Islam. Meski, saya tahu bahwa keputusan itu akan sangat berisiko karena keluarga saya adalah pemeluk Katolik yang sangat taat. Tiga hari setelah peristiwa itu, saya mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Al-Akbar Surabaya. Hanya ada saya, dua sahabat saya, dan seorang ustadz pembimbing. Allahu Akbar! Saya menjadi muslim. Damai sekali. Dua sahabat saya memeluk saya dan menangis. Suasana begitu mengharukan kala itu.

    Saat saya berterus terang kepada orangtua bahwa saya telah menjadi mualaf, ayah saya sangat murka. Begitu marahnya hingga saya mendapat tamparan di wajah. Hari-hari awal menjadi muslim begitu berat saya rasakan. Namun, saya yakin bahwa Allah Mahatahu. Saya menghormati dan sangat menyayangi orangtua saya. Ketika itu, yang bisa saya lakukan hanya berdo’a bagi ibu dan bapak saya. Di Surabaya, suasana diskriminasi dari keluarga sempat saya rasakan. Hal yang wajar karena menjadi muslim saya dicap sebagai pengkhianat. Meski demikian, semua saya syukuri tanpa henti mendo’akan kedua orangtua tercinta.

    Akhirnya, malam membahagiakan bagi kami itu datang di bulan suci Ramadhan pada 2006. Malam setelah mengikuti shalat tarawih menjelang Ramadhan berlalu, saya mendapat telepon dari ibu di Bekasi. Secara mengejutkan ibu mengatakan bahwa beliau dan bapak telah masuk Islam setelah bermimpi melihat saya shalat.

    Allahu Akbar! Mahaindah Engkau, ya Allah. Tak sanggup berucap sepatah kata, malam itu juga saya sujud syukur dan tiada henti menangis. Menangis bahagia. Cinta itu datang berupa hidayah yang tak ternilai dengan apa pun di dunia ini. Teriring salam terindah untuk Rasulullah, kuucapkan syukur Alhamdulillah atas karunia ini.

    ***

    Katagori : Journey to Islam Oleh : Redaksi kotasantri

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 12 August 2012 Permalink | Balas  

    Ungkapan Jujur Seorang Anak

    Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.

    Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika:

    “Apa yang kamu inginkan ?” Dika hanya menggeleng.

    “Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?” tanya saya.

    “Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat.

    Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

    Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.

    Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 – 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

    Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

    Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.

    Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

    Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku :….”

    Dika pun menjawab : “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja”

    Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

    Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku …”

    Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu”

    Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

    Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak …”

    Maka Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya”

    Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

    Ketika Psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak : ..”

    Dika pun menjawab “Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa”

    Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

    Ketika Psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang …..”

    Dika pun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting saja”.

    Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

    Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang …..”,

    Dika pun menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku”.

    Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

    Ketika Psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari …..”

    Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar “Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku”

    Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

    Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari ….”

    Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata “tersenyum”

    Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

    Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku….”

    Dika pun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus”

    Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang.

    Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki.

    Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku memanggilku ..”

    Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”.

    Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo” karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. “Persis Paijo, tukang sayur keliling” kata suami saya.

    Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan “To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice” sebuah seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan”.

    Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.

    Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik.

    ***

    (Ditulis oleh : Lesminingtyas)

     
    • Ichink 12:11 pm on 12 Agustus 2012 Permalink

      Saat anak-anak, saat yang tepat untuk bermain dan juga mengcopy apa yang dilihat….

    • aprie 11:23 am on 13 Agustus 2012 Permalink

      sharingnya bagus banget mba.
      “jadikanlah anak-anak tetap menjadi anak-anak”, walau belum merasakan rumitnya jadi ortu.
      tentang itu saya bikinkan puisi :D http://aprilecuma.blogspot.com/2012/07/anak-anak.html

    • dykapede 5:36 am on 17 Agustus 2012 Permalink

      Namaku juga dika, tapi pake Y.
      Saya begitu meyukai senyum dan tawa anak2, apalagi sudah menangis, semakin semangat deh walopun belum merasakan menjadi orang tua sesungguhnya :))

    • Ayu Oktariani 1:40 pm on 2 Oktober 2012 Permalink

      semoga aku ibu yang cukup baik. :’)

  • erva kurniawan 1:17 am on 6 August 2012 Permalink | Balas  

    Nenek tua diangkot M26

    Pagi ini Saya pergi ke kantor sedikit dengan perasaan yang berbeda dari biasanya. Bukan karena hari Senin yang lebih padat dari biasanya atau kemacetan karena pembangunan Bus Way, tapi karena seorang nenek tua yang kebetulan satu angkot dengan Saya di M26.

    Si Nenek yang kira-kira berumur 70an itu naik M26 tidak lama setelah Saya naik, di daerah Cawang. Kebetulan keadaan angkot hampir penuh dan yang tersisa hanya bangku ulang tahun (bangku extension yg menghadap ke belakang – red). Untunglah salah satu penumpang yg duduk didalam mengalah memberikan tempat duduknya, yang lumayan aman buat Si Nenek. Dengan susah payah si Nenek, yang sudah agak bongkok itu masuk ke dalam angkot dibantu oleh beberapa penumpang, bersyukur juga si abang sopir cukup sabar menunggu sampe si Nenek duduk dengan tenang.

    Sempet terlintas dibenak Saya, kok tega-teganya anggota keluarganya membiarkannya pergi sendirian tanpa ada yang menemani. Bagaimana nanti kalo nyebrang atau turun naik angkot.

    Tidak lama setelah duduk si Nenek, berkata dengan logat betawi yang kental: “Terima Kasih, yak. Emang ribet kalo nenek-nenek pergi jalan”.

    “Mau ambil pensiun Nek?”, salah seorang penumpang bertanya.

    “Kagak…mau ke rumah sodara di pisangan”, jawab si Nenek

    “Kok perginya sendirian nek? emang anaknya kemana? nggak nganterin?”, tanya penumpang lainnya.

    ” Lah…anak emak dah pada jauh ngikut suaminya, trus yang bungsu kagak sempet, dari pagi-pagi dah berangkat gawe pulangnya malem. Cucu juga udah pada berangkat sekolah”

    Deg….Saya yang dari tadi cuma mendengarkan langsung miris mendengar jawaban si Nenek. Pikiran Saya langsung melayang teringat Mama di kampung. Akankah Mama akan mengatakan demikian bila di usia tuanya nanti pergi sendiri tanpa ditemani oleh siapapun?

    Saat ini saja Saya pulang kampung hanya setahun sekali, sementara adik Saya yang cuma 2 orang sudah sibuk dengan kuliahnya. Tak jarang Mama mengeluh kesepian di rumah karena adik-adik pulang ke rumah hanya untuk singgah lalu pergi lagi. Bahkan Mama juga sempet sedih jika makanan yang Beliau masak masih utuh karena anak-anaknya sering makan di luar. Istilahnya, dimasak sendiri…dimakan sendiri….. Kalo sudah begitu, Saya cuma bisa menghibur lewat telepon.

    Duh, Gusti betapa hamba belum bisa membalas kasih sayang Mama. Bahkan untuk mengisi kesepian dan kesendiriannya saja hamba belum bisa. Semoga Mama mengerti bahwa anaknya disini tidak pernah meninggalkannya sendiri. Mungkin tidak dalam kehadiran secara fisik, tetapi cinta dan untaian do’a selalu menyertai kemanapun Mama pergi.

    “Ya…Alloh, sayangilah kedua orangtua ku seperti mereka menyanyangiku waktu kecil. Amin”

    ***

    Bunda Naila

    -Tak sabar menunggu Lebaran, untuk bertemu Mama-

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 29 July 2012 Permalink | Balas  

    Bingkailah Puasamu dengan Cinta

    “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tanganNya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih disukai Allah daripada harum minyak kasturi.” (HR. Bukhari).

    “Ada anak bertanya pada bapaknya, buat apa berlapar-lapar puasa”, lagu Bimbo itu kunyanyikan di depan Ayah berulang-ulang di tengah sebuah siang bulan Ramadhan yang panas. Sebenarnya aku tidak berniat apa-apa. Kebetulan lagu itu sedang hits dan sering muncul di radio sehingga mulutku yang hobi nyanyi ini latah dan terus menerus menyanyikannya. Tapi terus terang sebagai anak kecil yang baru belajar puasa, terkadang teks lagu itu ingin sekali kutanyakan kepada Ayah.

    Ayah melambaikan tangannya kepadaku dan akupun mendekat.”Panggil uda dan uni semua ke sini. Ayah ingin bicara., ya.” Maka akupun keliling ke kamar atas, kamar bawah dan juga ke tetangga sebelah mencari uda dan uniku. Alhamdulillah dalam beberapa menit saja tugas itu dapat kuselesaikan. Mereka semua kini duduk bersila di hadapan Ayah.

    “Anak-anakku. Kini kalian sedang berpuasa dan berusaha menahan haus, lapar bahkan juga menjaga mata dan telinga dari seluruh keburukan. Ayah ingin tahu apa tujuan kalian berpuasa?”, Ayah menunjuk salah seorang anaknya. “Ya untuk menjalani perintah Allah, Ayah”.”Hmm..Kita kan hamba Allah, maka kita wajib menjalankan perintahNya”, jawab yang lain.

    Ayah tersenyum bangga dengan kesungguhan jawaban yang diberikan. “Jawaban kalian sesungguhnya bagus dan tidak salah sama sekali. Benar kita menjalankan ibadah puasa karena memenuhi perintah Allah. Kita ini hamba Allah. Hamba itu artinya budak. Seorang budak tentulah harus memenuhi kehendak tuannya tanpa boleh bertanya-tanya. Jika seorang budak selalu bertanya terhadap perintah-perintah tuannya tentulah budak itu akan dimarahi oleh tuannya. Terlebih lagi jika budak itu menentang perintah tuannya dan mematuhi tuan yang lain. Wajar lah jika tuan tersebut menghukumnya dengan keras.”Demikianlah nuansa hati yang harus ditumbuhkan saat kita mengerjakan seluruh perintah Allah. Jangan pernah terdetik di hati untuk bertanya-tanya kenapa harus begini dan mengapa tidak begitu. Jawaban yang mutlak untuk semua perintah itu adalah: karena Allah Tuhan yang menciptakan saya, Tuhan yang saya sembah, Tuhan yang saya harapkan kasihNya di dunia dan di akhirat, telah memerintahkannya kepada saya, hambaNya dan budakNya.

    “Kita ini ada di dunia karena diciptakan Allah. Bisa hidup karena diberi makan, minum dan udara oleh Allah. Sungguh celaka kita jika terdetik niat lain sewaktu beribadah selain karena memenuhi kehendak dan perintah Allah. Oleh itu, jangan pernah memotivasi dirimu dalam menjalankan ibadah puasa ini karena hikmah-hikmah duniawi. Seperti kata orang-orang, puasa itu untuk diet, supaya hemat, supaya sehat, supaya ini, supaya itu. Seluruh kata-kata itu akan mencemarkan ketulusan niatmu dalam berpuasa untuk mencapai syurga dan ridho Allah SWT.

    “Namun anak-anakku dalam perintah berpuasa ini ada nuansa lain yang Allah inginkan dari kita. Puasa ini bukan hanya sebuah perintah yang diwajibkan Allah Tuhan semesta alam kepada manusia sebagai hambaNya. Justru kita dapat merasakan getaran cinta Penguasa Alam Raya dalam perintah puasa ini. Pahami getaran cinta dan kasih Allah itu dapat dirasakan pada ayat dan hadits berikut:

    1. FirmanNya dalam surah al-Baqarah 183 – 184.

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (183). (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka bagi siapa saja diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.”(184)

    Subhanallah, lihatlah betapa tegasnya Allah memerintahkan kewajiban berpuasa ini Allah pada ayat 183. Namun pada ayat 184 Allah mengeluarkan statemen yang toleran: “Bagi siapa saja yang sakit atau sedang dalam perjalanan bolehlah menggantinya pada hari yang lain”. Subhanallah..Allah itu Tuhan Penguasa Alam. Seluruh makhluk perlu kepadaNya dan Dia tidak ada keperluan kepada satu makhluk pun. Allah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada pada keduanya. Allah berkuasa penuh untuk menghidupkan atau menghancurkan kita. Tapi kenapa Raja segala Raja itu mewajibkan sesuatu dengan tegasnya, tetapi kemudian malah mengeluarkan pengecualian-pengecualian?

    Seorang raja yang memiliki kekuasaan tidak akan pernah melakukan hal itu saat mengeluarkan titah perintahnya. Bahkan seorang bos atau majikan tidak akan berbuat demikian. Dalam ilmu manajemen sebuah Surat Keputusan berlapis seperti itu justru dikhawatirkan dapat melahirkan nuansa ketidakdisiplinan di kalangan pekerja. Tapi Allah bukan raja, bukan bos dan bukan majikan. Allah Tuhan yang menjalin hubungan kasih dengan makhluk yang diciptakanNya. Allah memerintahkan puasa dengan nuansa cinta dan kasihNya yang dalam terhadap para hambaNya.

    2. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari Nabi Muhammad SAW bersabda :

    “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tanganNya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih disukai Allah daripada harum minyak kasturi.” (HR. Bukhari)

    Cobalah pahami oleh kalian, apa arti ungkapan dalam hadits ini. Bukankah ini ungkapan cinta yang melimpah dari Allah kepada orang yang berpuasa? Kita semua juga paham bahwa bau mulut orang yang berpuasa di bumi manapun pasti sangat busuk. Itu wajar karena perutnya sedang kosong sehingga asam lambung dapat memanjat sampai ke dinding mulut. Saat berbicara, menguap atau bahkan sekedar membuka mulut saja langsung mulut akan menyebarkan aroma yang membuat orang menutup hidungnya.

    “Namun di sisi Allah, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari minyak kasturi. Bukankah ini ungkapan cinta Allah yang berlimpah terhadap orang-orang yang berpuasa? Maaf, nanti kalau kalian sudah menikah dan cinta kasih yang mendalam sudah tumbuh antara suami dan istri hal-hal ini baru dapat dipahami dengan sempurna. Banyak sekali suami yang sedang cinta setengah mati dengan istrinya akan mengatakan, “Aduhai..istriku, harum sekali bau mulutmu”. Padahal istrinya baru bangun tidur dan belum gosok gigi. Mengapa? Tentulah karena cintanya yang begitu mendalam terhadap sang istri.

    3. Dalam sebuah hadits Qudsi:

    “Puasa itu untukKu dan biarkan Aku yang akan menganugerahkan pahalanya.” (HR. Muslim)

    Lagi dan lagi kita harus memuji Allah atas besarnya cinta kasih Allah terhadap orang yang berpuasa. Banyak sekali amal perbuatan kita ini yang pahalanya dijanjikan Allah kepada kita secara kalkulatif. Contoh, sholat jama’ah menaikkan derajat kita di sisi Allah hingga 27 derajat. Bersedekah dilipat gandakan Allah pahalanya hingga 700 kali lipat. Begitu pula sholat di Masjidil Haram yang pahalanya 100.000 lebih utama dibandingkan sholat di masjid biasa. Semuanya dijanjikan Allah dalam hitungan-hitungan yang jelas. Tapi, untuk puasa Allah mengungkapkan apresiasiNya yang tinggi. “Puasa itu untukKu dan biar Aku yang menganugerahkan pahalanya.””Bukankah ini sebuah ungkapan sentimental yang diwarnai dengan kecintaan? Bagaikan seorang raja yang menentukan imbalan dan gaji standar bagi seluruh rakyatnya. Semua rakyat mendapat imbalan yang sama untuk pekerjaannya. Raja sendiri tidak pernah menyampaikan upah itu secara langsung ketangan rakyatnya. Ia hanya memerintahkan menteri dan bawahannya untuk memberikan imbalan tersebut. Tetapi ada sebuah tugas khusus yang sangat disukai oleh raja. Siapa saja yang mengerjakannya raja itu sendiri yang akan turun untuk menyerahkan imbalannya secara langsung. Bahkan raja itu juga merahasiakan jumlah imbalan yang akan diterima oleh orang yang menyelesaikan tugas khusus itu.”Allah memiliki perumpamaan yang tidak akan dapat kita bayangkan.

    Contoh-contoh tadi itu hanya agar kamu paham. Agar kamu mengerti betapa sentimentilnya puasa ini di sisi Allah. Ada rona-rona cinta berserakan di udara Ramadhan. Meskipun matahari begitu panas memanggang kulit kita, dan rasa haus begitu tega mendera kerongkongan kita. Terutama jika melihat botol-botol air di kulkas yang dingin berembun. MasyaAllah, rasanya copot jantung! Tapi kita menyingkirkan itu semua dan menderita untuk menjalin cinta dengan Allah yang amat besar cintaNya di bulan puasa ini.”Anak-anakku, kalian memang hanya hamba Allah SWT. Namun di bulan Ramadhan ini Allah menebar kasih dan cintaNya bahkan untuk hamba-hambaNya yang hina seperti kita ini. Maka jangan biarkan cinta Allah bertepuk sebelah tangan. Allah cinta dan sayang kepadamu, maka sambutlah cintanya dengan ikhlas berpuasalah hanya untuk ZatNya.”Orang yang sedang dalam bercinta tidak akan pernah mengeluh meski harus berkorban banyak. Pengorbanan justru menjadi sebuah tantangan yang makin mengobarkan api cinta dan rindu. Para sahabat dahulu berpuasa di hari yang panas dan tetap menjaga puasanya meskipun harus berperang melawan musuh Allah. Ada seorang sahabat yang terluka parah dan dibawa ke belakang. Namun ia tetap tidak ingin membatalkan puasanya. Saat hari sudah mulai senja keadaannya sudah amat kritis. Para sahabat yang lain amat kasihan melihat dirinya.”Berbukalah wahai fulan, engkau tetap akan mendapat ganjaran Allah”.”Jika aku berbuka dan ditakdirkan Allah meninggal dunia hari ini, maka kapankah aku dapat menggantikan puasaku itu? Tapi karena waktu berbuka sudah hampir tiba, carikanlah sedikit air untukku. Bawalah tamengku ini untuk menampung air minum.”

    Maka beberapa sahabat pergi mencari air untuk berbuka puasa sahabatnya yang sedang sekarat. Tak berapa lama mereka berhasil menemukan sumber air. Maka dicucilah perisai cembung itu dan diisi dengan air bersih. Namun alangkah terkejutnya mereka, ketika hendak menegukkan air ke mulut sahabat itu, ternyata ia telah meninggal dunia. Ia telah pergi berbuka di syurga bersama para bidadari. Masya Allah, inilah orang-orang yang benar hatinya dalam bercinta denganMu”.

    Ayah meneteskan air mata saat mengakhiri ceritanya mengenai kekentalan cinta para sahabat Rasulullah SAW terhadap Allah SWT. Semoga setiap Ramadhan kita rindui kehadirannya agar kembali terbuka peluang menjalin cinta kasih dengan Allah.

    Allahumma baarik lanaa fi Sya’banWa Ballighnaa Ramadhaan..

    (Ya Allah, berkahilah hidup kami di bulan Sya’ban dan sampaikan usia kami ke bulan Ramadhan) Amin Ya Mujibas Saailin.

    ***

    Kolom : Ust. H. Arsil Ibrahim, MA

     
    • Riska andani simargolang 12:10 am on 5 Agustus 2012 Permalink

      Assalamualikum wr.wb
      subhanallah artikelnya bagus banget…
      :)

      tp sebelumnya maaf saya mau bertanya, karna saya sdikit bingung..
      dlam artikel tersebut dikatakan..

      3. Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:

      “Puasa itu untukKu dan biarkan Aku yang akan menganugerahkan pahalanya.” (HR. Muslim)

      Bukan’a firman tu adalah perkataan Allah dalam AL Qur’a, sedangkan Hadist adalah perkataan rasul??

      tlg di jawab ya admin…
      trmksih sblm’a..

      waalaikumsalam…

    • erva kurniawan 3:42 pm on 6 Agustus 2012 Permalink

      Terima kasih atas masukannya :)

  • erva kurniawan 1:48 am on 28 July 2012 Permalink | Balas  

    Analogi Puasa

    Tadi pagi selepas Sholat Subuh, saya bertemu dengan seorang Bapak (sebut saja Beliau). Dari sejak azan Subuh ketika saya datang ke mesjid, Beliau selalu duduk di pojokkan saf kedua dan tampak khusu’ berdoa. Setelah selesai Sholat, beliau tetap berada di tempatnya dengan terdiam dan tampak sedang bertafakur. Ketika saya sedang menuju ke bawah (mesjid kami 2 tingkat dimana tingkat dua dipakai untuk ibadah sholat sementara bagian bawah untuk pengajian anak-anak (TPA)), ada suara yang memanggil saya, “Dik sebentar dik!”.

    Saya terkejut dan mencari suara itu datangnya darimana. Ternyata Beliau yang memanggil saya. Kemudian saya menghampirinya.

    “Ada apa, Pak?”

    Beliau menjawab,”Boleh mengganggu sebentar”.

    Jawab saya,”Oh tidak apa-apa lagipula ini masih pagi dan masih ada waktu untuk ngobrol-ngobrol”. Akhirnya mengucapkan terima kasih atas berkenannya saya untuk menemaninya ngobrol.

    “Tahu ga dik? Saya tahu adik dari tadi selalu memperhatikan saya sejak masuk mesjid sampai selesai sholat tadi” kata Beliau.

    Terkejut saya mendengarnya karena perasaan saya, Beliau dari awal sampai akhir selalu menunduk dan dengan khusu’nya berdoa tapi kok tahu saya memperhatikannya.

    “Kok Bapak tahu sih?” kata saya.

    Beliau tidak menjawab tetapi hanya tersenyum. Kemudian Beliau memperkenalkan diri dan namanya sama dengan sahabat Rasul SAW yang menjadi Khalifah ke-dua pada jaman setelah Rasul SAW wafat. Beliau juga bertanya nama, alamat dan sudah berapa saya tinggal.

    Setelah bicara kesana kemari, Beliau bertanya,”Kapan mulai Puasa Ramadhan?”.

    Jawab saya ” Ya tinggal sekitar 1 bulan lagi pak”.

    “Alhamdulillah” jawab Beliau. “Bagaimana puasa ramadhan tahun lalu dik? Lancar?” tanya Beliau.

    “Puasa Ramadhan tahun lalu saya tidak mendapatkan apa-apa Pak selain lapar dan haus”, jawab saya dengan polosnya.

    “Jarang saya mendapatkan jawaban seperti ini dik” kata Beliau. Kok bisa sih apa ada yang aneh dalam hati saya. Kata Beliau banyak orang yang belum bisa menjawab apabila ada pertanyaan seperti itu. Setelah itu Beliau dengan lancarnya menjelaskan tentang analogi puasa. Nah ini cerita serunya (pikir saya saat itu) Beliau menganalogikan antara puasa dengan Pesta Olahraga seperti Olimpiade, Asian Games, Sea Games, Piala Dunia, Euro sampai Piala Thomas-Uber dan lain-lain. Beliau menjelaskannya seperti ini:

    1. Puasa dan Pesta Olahraga pada akhir/ujungnya yang ingin dicapai adalah prestasi.

    Prestasi dalam olahraga adalah medali (emas,perak dan perunggu), Piala Kejuaraan dan lain-lain. Kalau puasa adalah diterimanya puasa oleh Allah secara utuh tanpa ada yang kurang maupun lebih (maaf saya kurang bisa menjelaskan dengan dalil-dalil dalam Qur’an dan Hadist seperti Beliau jelaskan kepada saya).

    2. Bagaimana prestasi dapat diraih dengan hasil yang luar biasa?

    Prestasi diperoleh dengan latihan/kerja keras dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan sampai pada hari H (hari pertandingan) Kalau kita latihannya benar dan mengikuti apa yang telah diprogramkan seperti atlet Cina, Rusia dan Amerika Serikat dengan program yang terstruktur maka tidak heran mereka selalu menjadi nomor satu (wahid). Puasa pun juga begitu, selama 11 bulan sebelum Puasa Ramadhan seharusnya kita latih tanding dengan melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Nabi Daud, Puasa Muharram dan lain-lain sehingga ketika pada hari H-nya (bulan Ramadhan) kita akan mendapatkan prestasi yang paling baik dihadapan Allah SWT.

    3. Prestasi selama pertandingan juga bisa diperoleh dengan konsentrasi.

    Nah ini yang kadang-kadang atlet sering blunder yang harusnya dapat emas malah hanya dapat perak atau perunggu atau tidak mendapatkan apa-apa. Puasa pun demikian, konsentrasi kita harus dimulai dari sahur sampai azan maghrib, biasanya yang mengakibatkan konsentrasi puasa kita buyar adalah saat terakhir yaitu menjelang berbuka. Coba kita jujur dengan sendiri, saking sudah laparnya akhirnya kadang-kadang kita selalu lihat jam, bernafsu ingin beli makanan ini itu, dan kadang-kadang nungguin makanan di meja makan. Padahal Rasul mencontohkan kita untuk berbuka dengan teh manis dan tiga butir korma. Perkataan beliau membuat pikiran saya ke pertandingan Piala Champion MU VS Munchen tahun 1999, dimana menit terakhir pada kedudukan 1-1 Ole Gunnar Solkjaer membobol gawang Kahn. Gol itulah memupuskan harapan Munchen menjadi juara karena kurang konsentrasinya pemain-pemain Munchen pada menit-menit terakhir. Hahahahaha kayak pengamat bola aja.

    4. Prestasi itu diperoleh melalui kerja keras, latih tanding dan disiplin.

    Fokusnya adalah ke pertandingan yang sebenarnya dan tidak memikirkan lagi hal-hal yang remeh temeh karena sudah direncanakan secara matang. Itulah gunannya perencanaan yang sistematis menurut versi Beliau. Puasa Ramadhanpun demikian. Beliau menjelaskan bagaimana puasa hanya dijadikan ajang untuk mengumbar umbar uang (coba dipikir besaran mana pengeluaran selama bulan puasa atau bukan bulan puasa), yang dipikirkan THR, jarang orang bisa beritikaf di mesjid selama 10 hari terakhir karena semua berkonsentrasi mencari uang untuk lebaran (jadi selama 11 bulan ngapain kata Beliau, wah dalam hati saya berat nih karena kebutuhan dan pendapatan tidak seimbang tiap bulannya tapi boleh juga kalau ga dicoba khan ga pernah tahu) Saya berpikir bisa, bagaimana kalau tiap hari saya masukkan ke celengan rata-rata Rp 20 ribu-30 ribu tanpa pernah saya colek-colek tuh celengan sampai bulan Ramadan kalau dihitung bisa mencapai Rp 6-7 juta. Wah benar juga tuh Bapak. Istilah Beliau mengenai puasa bulan Ramadhan bagi orang jaman sekarang : 10 hari pertama ramai di mesjid, 10 hari kedua ramai di mall-mall/pusat perbelanjaan dan 10 hari terakhir ramai di terminal/stasiun/bandara (yang seharusnya bulan penuh rahmat, penuh pengampunan dan menjauhkan kita dari api neraka)

    5. Yang lebih penting lagi, prestasi dapat diperoleh dengan dukungan dan doa dari orang tua, saudara, teman sampai Presiden seperti atlet Indonesia yang mau ke Olimpiade Beijing mohon doa restu dan pamitan dengan Presiden SBY dengan harapan mendapatkan prestasi yang terbaik.

    Puasa pun juga demikian, sebelum puasa Ramadhan, kita berziarah ke makam orang tua kita yang telah meninggal atau berkunjung ke orang tua yang masih hidup, saudara, teman, dan tetangga disekitar lingkungan kita untuk memohonkan maaf atas kesalahan kita selama 11 bulan, mohon doa restu agar dimudahkan ibadah kita selama bulan puasa karena makin banyak orang yang mendoakan kita makin makbul ibadah kita sehingga dapat diterima Allah SWT.(Sirothol mustaqim – jalan lurus/jalan tol)

    6. Jadi kalau sudah prestasi dicapai orang tidak perlu bertanya-tanya lagi karena sudah tersiar di koran-koran, majalah, radio, tv dan internet serta ditambah hadiah dari mana-mana.

    Semua orang bangga dengan prestasi kita terutama orang tua, orang-orang terdekat sampai Presiden karena membawa nama baik bangsa dan negara. Sama dengan puasa ketika prestasi puasa kita dijalankan dengan baik sesuai dengan Standar Operation Procedur (SOP) dari Allah SWT maka tampak dari penampilan, tingkah laku, amal perbuatan dan rejeki akan selalu mengalir. Jadi kalau ditanya oleh orang tua ataupun orang lain, bagaimana puasa Ramadhan kemarin atau apa yang didapat selama bulan puasa Ramadhan maka kita bercerita dengan lancar, gembira, panjang lebar karena kita telah mendapatkan puncak prestasi tertinggi dari Allah SWT.

    Itulah penjelasan Beliau tentang analogi Puasa Ramadhan. Persis jam 6.30 pagi saya pamitan dan saya katakan nanti saya kembali lagi karena mau pesan kopi dan makanan kecil. Tidak enak dan nikmat ngobrol tanpa kopi dan pisang goreng hehehehe. Sekitar 30 menit kemudian saya kembali lagi ke mesjid dengan harapan akan dapat ilmu pengetahuan dan pengalaman dari Beliau dan sayang untuk dilewatkan. Ternyata beliau sudah tidak ada di tempat ketika saya tanyakan ke penjaga mesjid tentang Beliau. Penjaga mesjid mengatakan sejak selesai subuh tadi mesjid kosong tidak ada siapa-siapa. Lho kok begitu khan dari subuh saya ngobrol dengan seorang Bapak sambil menyebutkan ciri-cirinya. Apakah penjaga tadi tidak mendengar suara kami berbicara. Penjaga mesjid mengatakan tidak mendengar apa-apa dan juga tidak tidur dari subuh serta selalu membersihkan lantai dua setiap selesai sholat subuh. Aneh. Jadi sejak subuh tadi saya berdiskusi dengan siapa. Manusia atau makhluk gaib. Dalam hati masa bodo lah tetapi saya bersyukur mendapatkan ilmu tentang puasa dan dapat menambah wawasan pikiran tentang agama yang saya anut. Begitulah ceritanya dan mudah-mudahan mendapatkan manfaat dari cerita ini.

    ***

    Dari Sahabat

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 660 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: