Updates from Maret, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:17 am on 21 March 2013 Permalink | Balas  

    doaUntung Saja, Allah Tidak Mengabulkan Doa Kami

    Mengapa seseorang yang do’anya tak dikabulkan, Justru ia bersyukur..?

    Waktu di Masjidil Haram, memang sangat banyak waktu kita untuk bertafakur. Maka bertafakurlah pada hal-hal yang positif untuk melihat Allah. Untuk bertemu dengan Allah. Agar hidup ini menjadi semakin bermakna, dan agar kita akan selalu bisa bersamaNya.

    Ketika aku bertafakur menyendiri, aku teringat pada sebuah kejadian nyata yang sangat perlu untuk aku tuliskan di diskusi ini.

    Suatu saat ada seorang teman yang bercerita tentang pengalamannya yang sangat unik dan menarik.

    Pak Kusuma, pernah naik mobil bersama keluarganya dari kota Malang menuju kota Solo. Mereka berangkat naik mobil pribadi. Berangkatnya malam hari. Dipilihnya malam hari agar perjalanan menjadi nyaman, dengan harapan mereka bisa istirahat dalam perjalanan yang cukup jauh itu.

    Udara malam itu cukup cerah. Sebelum mereka berangkat, kondisi mobil dikontrolnya dengan teliti. Mulai dari kondisi ban mobil sampai dengan peralatan kunci mobil. Setelah semua cukup aman dan sudah lengkap, berangkatlah mereka satu keluarga menuju kota Solo. Mobil itu dikemudikan oleh pak sopir mereka. Dalam kondisi normal perjalanan kedua kota itu akan ditempuh selama lebih kurang enam sampai dengan tujuh jam.

    Pak Kusuma dan keluarganya berangkat sekitar pukul 21.00, dengan harapan menjelang subuh sekitar pukul 04.00 sudah sampai di kota tujuan. Di awal perjalanan mereka tidak menemui kendala dan hambatan yang berarti. Semua lancar-lancar saja. Mobil pun melaju dengan nyaman ke arah kota Solo. Tetapi ketika perjalanan sudah mencapai setengah lebih dari jarak yang ditempuh, yaitu ketika mobil berada di daerah Ngawi, tiba-tiba saja mobil berhenti dan macet. Maka para penumpangpun bangun semua dari tidurnya.

    Kata mereka :

    “ada apa pak Sopir..?”

    “Ndak tahu pak, koq tiba-tiba mobil macet..” Penumpang lain pun menanggapi :

    “wah kenapa ya…? Mogoknya di tempat yang sepi lagi…”

    “iya…,” jawab yang lain.

    “Sekarang masih jam 02.00 dini hari…, wah kemana kita cari pertolongan ?”

    Jawab pak sopir :

    “pak, biar saya yang cari pertolongan. Semua di dalam mobil saja”

    “Saya mau naik bus yang ke arah Solo atau kota terdekat dari sini. Mudah-mudahan secepatnya akan saya dapatkan seorang montir ahli.” Mudah-mudahan pula segera ada bus yang lewat.”

    “Saya nggak tahu kenapa koq tiba-tiba mobil ini macet…padahal sebelum berangkat tadi sudah saya kontrol semuanya.!”

    “Baiklah” jawab yang lain.

    Maka pak sopir pun keluar dari mobil, ia berdiri di pinggir jalan untuk mencegat bus yang ke arah solo.

    Kurang lebih satu jam, pak sopir berdiri, dan tidak satu pun bus lewat. Padahal biasanya sekitar lima belas menit selalu saja ada bus yang lewat. Ada apa gerangan? Pikir para penumpang. Tidak terkecuali pak Kusuma

    Maka semua penumpang pun berdo’a agar secepat-nya ada bus yang lewat, agar kesulitan mereka cepat teratasi.

    Dalam kondisi semacam itu, tiba-tiba ada sebuah pikiran aneh dalam diri pak Kusuma. Ia berbicara pada dirinya sendiri. Katanya :”Bagaimana ya, cara Allah menolong kami yang dalam kondisi seperti ini? Jauh dari keramaian, di tengah malam, tak ada rumah di sekeliling, bahkan bus pun tak ada yang lewat….Tapi sungguh saya yakin bahwa Allah akan menolong hambaNya yang sedang mengalami kesulitan seperti ini. Tetapi bagaimana ya, caranya…? Rasanya seperti nggak mungkin ada pertolongan datang pada saat seperti ini…”

    Waktu pun terus berjalan! Tanpa terasa hampir dua jam mereka menunggu bus lewat. Tetapi tak ada yang kunjung lewat. Sehingga mereka hampir frustasi dibuatnya.

    Ketika semua penumpang dan juga pak sopir yang berdiri menunggu bus lewat hampir putus asa, tiba-tiba terlihat dari kejauhan lampu sebuah sepeda motor yang redup. Setelah sepeda motor tersebut dekat dengan mobil, terlihat seorang pengendara memakai jaket tebal sebagai pelindung tubuh dari dinginnya malam.

    Ketika persis di dekat mobil yang lagi macet itu, pengendara membelokkan sepedanya ke sebelah kiri. Ternyata di dekat mobil mereka itu ada sebuah rumah kecil sederhana yang tidak nampak sebelumnya, karena gelapnya malam. Tambahan lagi banyak pohon-pohon besar yang menutupinya.

    Sang pengendara sepeda motorpun berhenti di depan rumah terpencil itu. Tidak tahu apa penyebabnya, tiba-tiba pak sopir yang belum menemukan bus lewat itu menghampiri pengendara sepeda motor yang lagi mengetuk pintu rumah sederhana.

    Ketika pak sopir sudah dekat dengan si pengendara, dan ketika si pengendara sepeda motor melepas Helm nya….tiba-tiba pak sopir berteriak saking terkejutnya!

    Hei, mas Haris! koq anda di sini? ada keperluan apa?”

    Lho, anda ‘koq juga disini, sedang ngapain?” “Wah, kebetulan sekali mas. Ini Iho, mobil yang saya bawa ini lagi mogok. Dan saya nggak tahu, apa penyebabnya..! Wah, tolong ya mas…!?”

    “…oh, begitu,.. Ada lampu senter?”

    “Ada mas..!”jawab pak sopir!

    Maka diambilnya lampu senter dari dalam mobil mereka. Kemudian mas Haris mulai beraksi memperbaiki mobil tersebut. Anehnya tidak begitu lama, mesin mobil itu sudah bisa diperbaiki. Ternyata kerusakannya tidak terlalu berat. Tetapi kerusakan yang sedang terjadi itu, justru tidak diketahui oleh pak sopir. Tidak lebih dari lima menit, selesailah mobil tersebut diperbaiki oleh pak Haris, si pengendara sepeda motor.

    Sebenarnya siapakah pengendara sepeda motor itu? Mengapa begitu cepat ia bisa memperbaiki mobil yang lagi mogok?

    Ketika aku menuangkan cerita singkat ini, akupun menjadi merinding…

    Ternyata si pengendara sepeda motor itu, adalah montir ahli di sebuah bengkel langganan pak sopir, di kota Malang. Ia lagi menjenguk keluarganya yang rumahnya persis di dekat mobil yang lagi mogok tersebut…

    Maka tidak heran jika ia begitu cepat dapat memperbaiki kerusakan mobil mereka.

    Yang menjadikan aku termangu, adalah :

    Mengapa pengendara sepeda motor itu ke rumah familinya pada waktu malam hari, kenapa tidak siang hari saja? Dan mengapa waktunya persis dengan mobil yang lagi membutuhkan pertolongan? Apa yang menyebabkannya ?

    Mengapa mobil tersebut mogoknya tepat berada di dekat rumah itu? Apa pula yang menyebabkannya ?

    Mengapa kerusakan mobil yang cukup sederhana itu, pak sopir tidak bisa memperbaikinya? Apa yang menyebabkannya ?

    Mengapa sampai lama tidak ada bus lewat, sehingga akhirnya pak sopir bisa bertemu dengan mas Haris sang pengendara sepeda motor yang ahli memperbaiki mobil itu? Apa yang menyebabkan?

    Dan apa pula yang menyebabkan pak Kusuma sekeluarga pergi ke kota Solo, berangkat malam hari, dan jam berangkatnya begitu ‘tepat’ sehingga terjadilah peristiwa yang cukup unik di kota Ngawi itu…?

    Aku-pun berandai-andai,…

    Andaikata dalam waktu singkat ada bus lewat, dan pak sopir ikut bus tersebut untuk mencari montir ke kota berikutnya, sungguh menjadi runyam persoalannya…. Montir belum tentu didapatkan. Para penumpang mobil yang kebanyakan masih anak-anak itu, tentu akan mengalami rasa takut berkepanjangan ditinggal sendirian di tempat yang gelap semacam itu.

    Andaikata mobil tersebut mogok di lokasi lima puluh meter saja, lebih jauh dari tempat terjadinya peristiwa itu, tentu pak sopir tidak akan bertemu dengan si pengendara sepeda motor.

    Andaikata berangkatnya si pengendara sepeda motor, satu jam saja lebih lambat dari saat itu, atau ketika di perjalanan ia mengalami trouble dengan kendaraannya, maka tak akan bertemulah mereka semuanya.

    Andaikata do’a para penumpang mobil itu dikabulkan Allah pada saat itu juga, agar pak sopir bisa pergi ke Solo naik bus …… Akh, sungguh mereka akan kalang-kabut sendiri….

    Andaikata….. andaikata…

    Ah, sungguh terlalu banyak kita berandai-andai. Tetapi ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama. Bahwa setiap kejadian yang ada di muka bumi ini, bahkan juga yang ada di langit, semua tak ada yang terjadi dengan sendirinya. Tak ada yang terjadi dengan sia-sia. Tak ada yang terjadi secara kebetulan. Semua karena kehendak Sang Maha Kuasa, yang mencipta alam raya ini. Yang setiap hari Dia dalam kesibukan mengatur semua urusan dan persoalan para makhlukNya.

    QS. Ar-Rahmaan (55) : 29-30

    Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

    Satu hal lagi yang perlu kita renungkan,

    Mengapa bus-bus yang biasanya sering lewat itu, pada saat itu, tak ada yang lewat? Padahal mereka memiliki penumpang yang sangat banyak. Tentu semuanya menginginkan perjalanannya tidak terhambat dan tidak terlambat sampai pada tujuannya.

    Andaikata terlambatnya para bus itu, dikarenakan para sopirnya masih istirahat di suatu tempat, siapa yang menyuruh mereka istirahat?

    Andaikata terlambatnya para bus itu, dikarenakan ada penumpang yang sakit perut ketika makan malam, dan ia harus ke kamar mandi dalam waktu yang agak lama di suatu rumah makan, siapa yang menyebabkan sakit perut?

    Andaikata ada bus yang bannya gembos terkena paku di jalan, sehingga harus memperbaiki, dan mengganti ban mobil. Siapakah yang menyebabkannya? Mengapa ada paku yang tepat mengenai ban mobil pada bus yang sedang ditunggu oleh pak sopir yang mobilnya lagi mogok di kota Ngawi?

    Andaikata terlambatnya semua bus tersebut, dikarenakan adanya kemacetan lalu lintas yang dikarenakan terlambatnya Kereta Api yang melintasi jalanan, siapa yang menyebabkan itu semua?

    … Sungguh masih banyak hal-hal yang menyebabkan semua itu bisa terjadi. Berpuluh, bahkan mungkin bisa beratus-ratus variable penyebabnya….

    Hal apa yang bisa kita ambil dari peristiwa unik tersebut?

    Sebuah pelajaran menarik, telah kita dapatkan dari peristiwa itu. Andaikata Allah mengabulkan do’a para penumpang mobil mogok, agar ada bus yang lewat, pada saat pak sopir menunggu bus, maka tentu tidak teratasi permasalahan mobil mogok itu.

    Dengan kata lain, Allah telah menolong para penumpang mobil mogok itu dengan cara, ‘tidak mengabulkan do’a mereka!’ Tetapi Allah mengabulkan harapan mereka, menolong mereka dari kesulitan…

    Pak Kusuma menutup ceritanya dengan mata berkaca-kaca menahan jatuhnya setetes air mata…

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 19 March 2013 Permalink | Balas  

    jodohKetika Aku Meminta Sedikit

    Oleh: Rico Atmaka

    Sahabat-sahabat, ketika usiaku 25 tahun, aku sudah memiliki niat untuk menikah, meskipun hanya sekedar niat, tanpa keilmuan yang cukup. Karena itu, aku meminta jodoh kepada Allah dengan banyak kriteria. Dan Allah-pun belum mengabulkan niatku.

    Ketika usiaku 30 tahun, semua orang-orang yang ada di sekelilingku, terutama orang tuaku, mulai bertanya pada diriku dan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri. Maukah aku segera menikah atau mampukah aku menikah? Dalam doaku, aku kurangi permintaanku tentang jodoh kepada Allah. Rupanya masih terlalu banyak. Dan Allah-pun belum mengabulkan niatku.

    Ketika usiaku 35 tahun, aku bertekad, bagaimanapun caranya, aku harus menikah. Saat itulah, aku menyadari, terlalu banyak yang aku minta kepada Allah soal jodoh yang aku inginkan. Mulailah aku mengurangi kriteria yang selama ini menghambat niatku untuk segera menikah, dengan bercermin pada diriku sendiri.

    Ketika aku minta yang cantik, aku berpikir sudah tampankah aku?

    Ketika aku minta yang cukup harta, aku berpikir sudah cukupkah hartaku?

    Ketika aku minta yang baik, aku berpikir sudah cukup baikkah diriku?

    Bahkan ketika aku minta yang solehah, bergetar seluruh tubuhku sambil berpikir keras di hadapan cermin, sudah solehkah aku?

    Ketika aku meminta sedikit…..Ya Allah, berikan aku jodoh yang sehat jasmani dan rohani dan mau menerima aku apa adanya, masih belum ada tanda-tanda Allah akan mengabulkan niatku.

    Dan ketika aku meminta sedikit…sedikit…sedikit…lebih sedikit…..Ya Allah, siapapun wanita yang langsung menerima ajakanku untuk menikah tanpa banyak bertanya, berarti dia jodohku. Dan Allahpun mulai menujukkan tanda-tanda akan mengabulkan niatku untuk segera menikah. Semua urusan begitu cepat dan mudah aku laksanakan. Alhamdulillah, ketika aku meminta sedikit, Allah memberi jauh lebih banyak. Kini, aku menjadi suami dari seorang istri yang melahirkan dua orang anakku.

    Sahabatku, 10 tahun harus aku lewati dengan sia-sia hanya karena permintaanku yang terlalu banyak. Aku yakin, sahabat-sahabat jauh lebih mampu dan lebih baik daripada yang suadh aku jalani. Aku yakin, sahabat-sahabat tidak perlu waktu 10 tahun untuk mengurangi kriteria soal jodoh. Harus lebih cepat!!! Terus berjuang saudaraku, semoga Allah merahmati dan meridhoi kita semua. Amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 18 March 2013 Permalink | Balas  

    cinta di hari tuaCinta di Hari Tua

    Oleh Sakti Wibowo

    Saat itu saya dalam perjalanan pulang kampung. Karena trayek bis hanya sampai kota Ngadirojo, sebuah kota kecil sekitar dua puluh kilo dari tempat tinggal saya, saya harus nyambung angkutan lokal dari Ngadirojo ke Baturetno.

    Matahari belum sempurna terbit saat saya memutuskan memilih sebuah minibus, berbaur dengan para pedagang kerupuk, serabi, tempe, bahkan kambing dan ayam. Untuk kambing, jelas tempatnya terpisah, ditempatkan di bagasi. Sementara, beberapa keranjang berisi ayam yang tak berhenti berkeciap berikut bau kotorannya yang memengapkan ruangan minibus, tumpang tindih dengan kardus-kardus berisi kerupuk dan makanan ringan lainnya, menjejali pintu utama.

    Setelah minibus berjalan sekitar lima belas menit, dua orang penumpang naik. Seorang nenek tua yang terlihat sedang sakit, berjalan dengan menggunakan tongkat bambu wulung yang dipotong seadanya. Melihat warna mengilap di bagian pegangan tongkat, saya menyimpulkan bahwa tongkat itu telah cukup lama dipakai sehingga meninggalkan bekas yang khas. Seorang kakek di belakangnya. Tak kalah renta. Saya menaksir usianya sekitar awal delapan puluhan.

    Minibus penuh sesak. Tak ada bangku kosong. Sang nenek tertatih-tatih saat menaiki minibus. Bahkan, sang kondektur harus mengangkatnya dengan susah payah, sementara si kakek menyusul di belakangnya, membantu sang kondektur-kendati saya yakin, bantuan ‘tenaga’ si kakek tidak berpengaruh apa-apa, malah mungkin justru merepotkan.

    Saya tawarkan tempat duduk saya kepada si nenek, namun ia ragu-ragu. Hanya senyuman-saya merasa senyum ini begitu sedap dan ikhlas-yang dihadiahkannya. Saya mencoba meyakinkannya. “Silakan, Mbah! Saya nggak apa-apa, kok, berdiri. “

    Masih dengan ragu-ragu, si nenek kemudian bercerita bahwa ia hendak periksa ke Dokter ‘X’, seorang dokter yang cukup terkenal di Baturetno.

    Ketika sekali lagi saya menawarkan bangku dengan bergegas berdiri, ia menatap kedua kakinya yang terlihat kaku. “Saya tidak bisa duduk, ” katanya. “Boleh untuk si Mbah saja?” ia menunjuk sang kakek.

    Tentu saja, saya mengangguk, mempersilakan duduk sang kakek. Dan, setelah itu, yang saya lihat adalah hal yang sungguh dramatis. Sang nenek, karena kedua kakinya tidak bisa ditekuk, ternyata memang benar tidak bisa duduk dengan wajar. Suaminyalah yang duduk, dan setengah memangku isterinya itu dengan penuh kasih. Sebelah tangan renta keriputnya-yang tak bisa menyembunyikan gemetar-berpegangan pada sandaran bangku, sedangkan sebelah lagi melingkar di tubuh renta isterinya. Sedangkan sang nenek, berpegangan pada pundak lelakinya.

    Saya tak tahu pasti apa yang lintas dalam pikiran masing-masing. Yang saya lihat hanyalah ‘kesempurnaan’ cinta seorang manusia. Saya begitu terharu dan merasa tak akan mampu menaksir kedalaman cinta keduanya. Cinta yang bertahan hingga di usia senja. Saya hanya sanggup mereka-reka dialog seperti apa yang layak untuk adegan semenakjubkan ini. Begini:

    Si lelaki, dengan bahu kokoh dan lengannya yang perkasa, menawarkan rasa aman kepada isterinya. “Tenanglah, Sayang, tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi. Kau akan aman berada di sampingku. “

    Sementara si wanita, dengan kepasrahan seorang isteri, menyandarkan kepalanya di dada bidang itu, “Bawalah aku ke mana kau pergi, Kekasih! Sebab aku tahu, kaulah waliku di akhirat nanti. Bawalah, dan aku akan serta. Tak peduli sakit ini. Tak usah khawatir, sebab aku tak mengeluhkannya. Bukankah kita hanya semata berusaha mencari kesembuhan-Nya?”

    • * *

    Saya masih melihat-dan tak ingin melewatkannya-saat sang kakek menuntun isterinya menyeberang jalan. Ya, sementara banyak pasangan yang cintanya meredup saat memasuki usia kepala lima, atau malah jauh sebelumnya.

    Saya teringat bagaimana banyak pasangan, di hari tuanya memilih hidup terpisah. Bukan bercerai. Sang ibu mengikut tinggal di rumah anaknya, sedang si kakek di rumah anaknya yang lain. Kalaupun ada yang lebih ‘harmonis’ dari itu, tetap saja saya akan begitu sulit mendapatkan sepasang kakek-nenek membahasakan cinta dengan begitu romantis.

    Sayang, saya lupa tidak menanyakan nama keduanya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 6 March 2013 Permalink | Balas  

    RollFilm1Memutar Video Kehidupan

    Bisakah di Masjidil Haram memutar video…?

    Pak Imran, seorang jamaah dari Makassar, pernah bercerita tentang pengalaman ruhaninya ketika berada di dekat ka’bah. Sejak berangkat dari tanah air pak Imran sudah mempunyai pendirian, bahwa nanti sesampai di Mekah, khususnya ketika di masjidil Haram, ia tidak akan mencium hajar aswad seperti keinginan para jamaah haji pada umumnya.

    Entah apa yang menyebabkan pendiriannya semacam itu. Tetapi satu hal yang pak Imran inginkan yaitu bahwa ia ingin berdo’a senikmat mungkin di dinding Ka’bah. Yang disebut multazam! Keinginan tersebut rupanya sudah terpatri kuat-kuat dalam hatinya sejak pak Imran mengikuti manasik haji.

    Sesampai di Masjidil Haram, begitu pak Imran melihat setiap jamaah ternyata ingin mencium hajar aswad, hati pak Imran tetap tidak tergerak sedikit pun untuk menciumnya. Bahkan ketika ada seorang jamaah perempuan yang ingin mencium hajar aswad, pak Imran dengan gigihnya mengawal orang sebut dari kerumunan jama’ah lainnya. Dan akhirnya orang tersebut berhasil menciumnya. Maka dengan wajah sangat puas, orang tersebut mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga kepada pak Imran.

    Ternyata sudah ada beberapa orang yang tertolong oleh pak Imran berkaitan dengan masalah pencium hajar aswad. Keesokan harinya, pak Imran ternyata tergoda juga untuk ikut merasakan bagaimana rasanya bisa mencium batu hitam itu. Maka dengan teknik dan pengalaman yang ia miliki, ketika ia beberapa kali berhasil menolong orang lain, pak Imran mulai beraksi mendekati hajar aswad.

    Berdesak-desakan di antara kerumunan orang banyak, dan dengan teknik ‘canggih’ yang dimilikinya, pak Imran yang posisinya berada jauh dari ka’bah bisa berangsur-angsur bergerak mendekati hajar aswad. Akh, betapa gembiranya hati pak Imran.

    Dalam hati pak Imran cukup berbangga dengan caranya ia bisa mendekati hajar aswad di tengah keramaian yang luar biasa itu. Ketika dirinya tinggal meraih batu itu untuk diciumnya, ternyata pak Imran merasa kesulitan. Beberapa kali ia mental keluar lagi. Begitu sudah dekat mukanya ke batu tersebut, tinggal menciumnya saja, kembali ada semacam gelombang manusia yang menghantamnya, dan kembali ia terpental dan tidak berhasil untuk menciumnya. Sampai akhirnya pak Imran putus asa.

    Maka ia membiarkan saja ketika dirinya mengikuti putaran thawaf sampai akhirnya ia keluar dan menjauh dari hajar aswad yang ditujunya. Dan pak Imran pun hanya bisa mengeluh seorang diri:

    ” …Kenapa ya, kemarin begitu mudahnya aku menolong orang lain, bahkan beberapa orang bisa aku lindungi untuk membantu mereka bisa mencium hajar aswad. Tetapi sekarang ketika giliranku untuk menciumnya, begitu sulitnya aku mencapainya. Padahal tinggal sejengkal saja…. Tapi tetap saja aku gagal untuk menciumnya…”

    Akhirnya pak Imran merasa betul-betul gagal dalam upayanya mencium batu hitam yang terkenal dengan nama hajar aswad itu.

    Pada keesokan harinya, pak Imran sudah melupakan kejadian itu. Ia dan keluarganya menuju masjid untuk melakukan aktivitas rutin yang berupa thawaf maupun shalat di masjidil Haram.

    Ketika hari menjelang dhuhur, pak Imran mendapat tempat duduk di shaf yang agak dekat dengan ka’bah. Di tengah kerumunan jama’ah yang luar biasa banyaknya itu, pak Imran berusaha mendekati ka’bah. Ia tidak ambil peduli tentang kegagalannya mencium hajar aswad kemarin. Kini pak Imran terfokus ingin sekali mohon ampun atas segala kesalahannya, baik selama ia melakukan perjalanan musim haji ini, atau juga kesalahan masa lalunya.

    Pak Imran begitu gagal mencium hajar aswad kemarin, sudah merasa bahwa ada kesalahan yang besar yang ia lakukan. Yaitu ia telah merasa berbangga diri dapat menolong beberapa jamaah perempuan ketika ia di dekat hajar aswad. Ia merasa bahwa yang membuat beberapa orang tersebut bisa mencium hajar aswad karena berkat pertolongannya. Pak Imran kini merasa sadar. Bahwa semua peristiwa adalah karena Allah semata. Ia sungguh merasa salah. Maka ingin sekali pak Imran saat itu bertaubat, dan mohon ampun kepada Allah atas segala kekeliruannya.

    Tanpa disadarinya, pak Imran berjalan menuju ke arah ka’bah. Yaitu pada suatu area sempit, tetapi begitu banyaknya kerumunan para jama’ah di tempat itu. Pak Imran terus saja maju ke arah kerumunan para jamaah. Hatinya begitu ingin masuk ke dalam kerumunan itu.

    Ketika pak Imran sudah dekat dengan ka’bah, tiba-tiba kerumunan itu ‘membuka’ memberi jalan pada pak Imran. Maka dengan begitu mudahnya pak Imran masuk ke dalam berjubelnya para jamaah, dan iapun langsung menempelkan muka dan tangannya, dan juga seluruh tubuhnya di dinding ka’bah. Sambil tiada hentinya air matanya meleleh membasahi pipinya. Tak tahu apa yang diucapkannya.

    Yang jelas seluruh perasaannya tumpah bersama air matanya membasahi dinding ka’bah. Begitu nikmatnya pak Imran, seluruh persoalan hidupnya seolah tak ada lagi. Semua ia serahkan kepada Sang Penciptanya. Pak Imran pun tenggelam dalam dekapan Sang Kekasih.

    Ketika kutanyakan apa yang dirasakan saat itu, pak Imran hanya bisa menjawab :

    “… Saya barusan memutar video kehidupan saya. Saya melihat dengan jelas betapa banyaknya saya melakukan kesalahan dan kekeliruan. Bahkan saya merasa sering lupa mensyukuri nikmat Allah yang begitu banyak saya terima setiap harinya… Ah, betapa tidak adilnya saya. Allah begitu murahnya memberi apa saja untukku. Sementara aku begitu tak tahu diri. Kemurahan itu, aku tukar dengan pengabdian yang tidak semestinya….”

    Yang aneh, kata pak Imran :

    “…Begitu lamanya saya berada di Multazam. Padahal banyak sekali orang antri, dan banyak yang tidak mempunyai kesempatan meskipun hanya sesaat untuk sekedar berdo’a. Sementara saya bisa begitu lamanya melihat video kehidupan saya…”

    Ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan atau bahkan menjadikan kesimpulan pak Imran.

    Ternyata jika sejak awal hati itu sudah tidak ingin akan sesuatu, ada saja jalannya, sehingga keinginan yang muncul secara spontan, tidak akan tercapai. Karena tidak sesuai dengan maksud hati semula. Contohnya adalah ketika ia sudah sejak awal tidak ingin mencium hajar aswad, sampai berupaya semaksimum apa pun, tetap saja keinginan pak Imran itu tak terwujud. Bahkan ironisnya ia bisa menolong dan membantu beberapa jamaah yang ingin mencium hajar aswad, sampai mereka bisa melakukannya.

    Sebaliknya jika sejak awal hati sudah terfokus akan sesuatu, dan hati sudah begitu inginnya untuk menikmatinya, ada saja jalannya, maka dengan mudahnya akan terwujudlah keinginan itu. Contohnya adalah begitu mudahnya pak Imran meraih multazam. Bahkan ia bisa berlama-lama disitu.

    Menurut pak Imran begitu mudahnya ia mencapai maksud hatinya. Menurut kesimpulan pak Imran, hati memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyatnya. Bisa membuat sesuatu menjadi mudah. Juga bisa membuat sesuatu menjadi sulit. Bergantung bagaimana sikap hati kita.

    Ketika hati tak tergerak untuk mencium hajar maka dengan upaya apa pun tetap saja keinginan itu tak tercapai. Ketika hati sejak awal berangkat sudah dengan ikhlas berniat ingin berdo’a di multazam, maka begitu mudahnya mencapai keinginan itu.

    Bersabda Rasulullah saw :

    Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi Allah melihat langsung dan memperhatikan niat dan keikhlasan dalam hatimu.

    (HR. Muslim, dari Abu Hurairah)

     

    Oleh Sahabat: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 5 March 2013 Permalink | Balas  

    Febi-Ummu-Zaki_produktif3Febiana Kusuma Ariesta: Masuk Islam Setelah Meragukan Natal Yesus

    Ketika hidayah Ilahi datang tak ada kekuatan apapun yang mampu membendung. Potensi akal, kajian ilmiah dan perenungan yang mendalam, menyampaikannya pada hidayah Ilahi. Mantan guru Sekolah Minggu di gereja ini pun berikrar masuk Islam dan memilih jalan tauhid wal jihad. Dahsyatnya ujian dan musibah datang silih berganti, justru menambah kokohnya iman sang muallaf. Allahu Akbar!!!*

    Tiga puluh tiga tahun silam, Febiana Kusuma Ariesta dilahirkan dalam keluarga besar Kristen fanatik. Kakek dan neneknya adalah aktivis gereja. Bahkan ibunya seorang misionaris yang aktif menginjili hingga ke Nusakambangan.

    Dari keluarga aktivis di gereja itulah Febi mengenal Kristen hingga terdidik untuk menjadi aktivis gereja. Semasa kecil, ia beribadah di GPIB Cinere, ketika remaja ia pindah ke Gereja Alfa Omega di Semarang. Pada masa remaja, saat SMA Febi menjadi guru Sekolah Minggu di gereja.

    “Opung saya, laki-laki dan perempuan itu semua aktif di gereja. Dari merekalah saya mengenal Kristen dan aktif di gereja. Sejak saat itu saya mulai aktif di kegiatan gereja, saat natal itu ada drama dan paduan suara,” ujarnya kepada IDC Voa-Islam, Ahad lalu.

    Saat mengikuti drama Natal itulah imannya sedikit demi sedikit mulai goyah. Akal dan hati nuraninya tidak bisa menerima peringatan hari ulang tahun kelahiran Tuhan. Penelitiannya berlanjut ketika ia membaca kisah Natal dalam Alkitab (Bibel).

    …Saat mengikuti drama Natal imannya mulai goyah. Akal dan hati nuraninya tak bisa menerima peringatan hari ulang tahun kelahiran Tuhan…

    Dalam Injil Lukas pasal 2 diceritakan bahwa pada saat kelahiran Yesus, para penggembala ternak berada di padang Yudea.

    *“**Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di** **padang** **menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam”* (Lukas 2:8).

    Menurut ilmu meteorologi dan geofisika, keadaan cuaca di Timur Tengah pada tanggal 25 Desember dan sekitarnya, di wilayah Yudea daerah kelahiran Yesus, adalah musim salju yang sangat dingin. Mustahil para penggembala membawa ternaknya ke padang pada malam hari di musim salju yang sangat dingin?

    Febi menyimpulkan bahwa Yesus tidak mungkin lahir tanggal 25 Desember karena tidak sesuai dengan situasi kelahiran Yesus yang tercatat dalam Bibel.

    “Jadi buat saya ini tidak masuk akal. Sejak saat itu kehidupan saya mulai tidak tenang dan mulai mencari-cari keyakinan yang benar,” jelasnya.

    Dalam kegalauan iman, Febi berusaha lebih aktif ke gereja untuk mencari jawaban. Tapi yang ia dapatkan bukan ketenangan, malah merasakan banyak keganjilan.

    …Dalam kegalauan iman, semakin aktif ke gereja untuk mencari jawaban, yang ia dapatkan bukan ketenangan, malah merasakan banyak keganjilan…

    Sebelum dibabtis Febi mengikuti Katekisasi gereja untuk pendalaman iman. Saat belajar itu Febi makin menemukan banyak pertanyaan dan keraguan yang belum terjawab.

    Salah satu doktrin Kristen yang terasa ganjil di benaknya adalah inkarnasi Tuhan menjadi manusia Yesus untuk ditangkap, diolok-olok, disiksa, dicambuk, disesah, diludahi dan disalib hingga tewas mengenaskan di tiang salib (Markus 10:34).

    “Ini tidak masuk akal, kok ada Tuhan yang menjelma jadi manusia lalu disiksa dan disalib. Kalau Tuhan itu Maha Pengampun dan penuh Kasih, kenapa tidak dia ampuni saja dosa manusia tanpa prosedur sadis seperti itu?” ujarnya.

    Suatu hari Febi diajak keluarganya ke Yogyakarta untuk berziarah rohani di Gua Maria Lourdes. Di situ saya disuruh membaca Doa Bapa Kami: “Bapa kami yang di surga, dipermuliakanlah kiranya nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu, seperti di surga, demikian juga di atas bumi. Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Dan ampunilah kiranya kepada kami segala kesalahan kami, seperti kami ini sudah mengampuni orang yang berkesalahan kepada kami. Dan janganlah membawa kami kepada pencobaan, melainkan lepaskanlah kami daripada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.”

    Setelah merenungi Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus di Taman Getsemani dalam Injil Matius 6:9-13 ini, Febi makin ragu terhadap doktrin Trinitas.

    “Saya kemudian berpikir, sebenarnya Yesus itu siapa? Kok Yesus mengajarkan berdoa kepada Bapak yang ada di surga, Tuhan itu ada berapa?” kenangnya.

    Semakin mendalami Bibel, Febi semakin meragukan doktrin ketuhanan Yesus. Injil Matius 4:1-11 menceritakan bahwa Yesus dibawa Roh ke padang gurun untuk dicobai iblis. Febi semakin meragukan doktrin ketuhanan Yesus. Jika Yesus adalah Tuhan atau penjelmaan Tuhan, mengapa dia bisa dicobai iblis yang jahat? Ini bertentangan dengan Surat Yakobus 1:13, bahwa Tuhan tidak dapat dicobai oleh yang jahat.

    …Kalau Yesus itu Tuhan, kok bisa dia dicobai oleh iblis yang Dia ciptakan sendiri. Keyakinan saya bertambah bahwa agama Kristen ini tidak benar…

    “Bibel mengisahkan Yesus yang penjelmaan Tuhan itu dicobai iblis. Kalau dia Tuhan kok bisa dia dicobai oleh iblis yang Dia ciptakan sendiri. Itu yang membuat keyakinan saya bertambah bahwa agama Kristen ini tidak benar,” simpulnya.

    MENGENAL ISLAM DARI PEMBANTU

    Dalam kegalauan, Allah punya rencana lain, menuntun Febi kepada Islam melalui pembantu rumahnya. Suatu hari Febi melihat pembantunya wudhu dan menunaikan shalat dengan mengenakan mukena putih.

    “Kamu ngapain?” tanya Febi. “Sedang shalat dan berdoa,” jawab sang pembantu.

    “Lalu untuk apa kamu wudhu dulu sebelum shalat?” lanjut Febi. “Karena untuk menghadap Allah Yang Maha Suci kita harus bersih dan suci,” jelasnya.

    Rupanya dialog singkat itu sangat berkesan di hati Febi. Penjelasan sang pembantu itu bisa diterima logikanya. “Kalau mau bertemu orang penting seperti bos saja harus rapih dan bersih, masa mau menghadap Tuhan kita tidak bersih?” pikirnya.

    Sejak itulah Febi mulai membanding-bandingkan Islam dengan Kristen. Beberapa keunggulan Islam dalam benak Febi waktu itu adalah persamaan semua orang di rumah ibadah. Di masjid tidak ada perbedaan shaf antara orang kaya dan orang miskin. Tidak masalah bila konglomerat maupun pejabat shalat di belakang orang miskin. Sementara hal yang sama tidak pernah terjadi di gereja.

    Keistimewaan Islam lainnya, Al-Qur’an biasa dibaca sampai khatam dari surat Al-Fatihah yang pertama sampai ayat terakhir surat An-Nas. Sementara dalam kekristenan tidak ada tradisi membaca secara tuntas dari kitab Kejadian pasal satu sampai kitab Wahyu yang terakhir. “Kalau orang Islam baca Al-Qur’an itu dari awal sampai khatam tapi kalau di Kristen itu bacanya hanya sepenggal-sepenggal,” terangnya.

    …Keraguannya terhadap doktrin ketuhanan Yesus mulai terjawab. Dalam sebuah ayat Injil Yesus berterus terang bahwa dirinya adalah nabi utusan Allah…

    Umat Islam melaksanakan shalat Jum’at karena ada perintahnya dalam Al-Qur’an. Tapi umat Kristen beribadah pada hari Minggu, padahal dalam 10 Firman Bibel ada perintah menguduskan hari Sabat (Sabtu). “Sepuluh Titah Allah itu kan hal yang harus ditaati, salah satunya adalah diperintahkan agar menguduskan hari Sabat. Tapi kenapa orang Kristen itu ke gerejanya hari Minggu?” paparnya.

    Dalam pengembaraan iman itu, keraguan Febi terhadap doktrin ketuhanan Yesus mulai terjawab. Sebuah ayat Injil menjadi kelegaan imannya, di mana Yesus berterus terang bahwa dirinya adalah nabi utusan Allah.

    Dalam Injil Yohanes 12:49 Yesus berkata: “Sebab aku berkata-kata bukan dari diriku sendiri, tetapi Bapa yang mengutus aku, Dialah yang memerintahkan aku untuk mengatakan apa yang harus aku katakan dan aku sampaikan.”

    “Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa Yesus itu adalah utusan Allah,” ujarnya.

    Setamat SMA Febi melanjutkan pendidikan ke Universitas Indonesia (FISIP UI). Di awal kuliah, ia tak bisa mememdam kerinduannya untuk memeluk agama yang benar. Pada tahun 1997 ia pun memutuskan untuk hijrah menjadi pemeluk Islam. Secara formalitas, ia mengikrarkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur pada tahun 1998.

    Setelah masuk Islam, Febi sangat menikmati hidup baru dan ibadahnya, meski masih tinggal satu atap dengan kedua orang tua yang beda akidah. Suatu hari, tanpa sengaja Febi shalat di kamarnya tanpa mengunci pintu. * Qadarullah*, ketika sedang khusyuk shalat ayahnya masuk kamar. Febi pun disidang oleh keluarga.

    …Kalau kamu masuk Islam silakan keluar dari sini. Buat papa tidak masalah kehilangan anak satu, buat papa agama itu prinsip…

    “Kalau kamu masuk Islam silakan keluar dari sini. Buat papa tidak masalah kehilangan anak satu, buat papa agama itu prinsip,” ancam sang ayah.

    Tak gentar dengan ancaman ayahnya, Febi pun angkat kaki dari rumah tanpa membawa perbekalan apapun. Tak ada bekal pakaian, perhiasan maupun uang yang dibawanya, karena semua ditahan ayahnya. Febi meninggalkan rumah hanya dengan sehelai pakaian yang melekat di badan. Febi memilih pergi kepada kerabat jauh yang beragama Islam.

    DIJEBAK MASUK KRISTEN DAN DIPAKSA MAKAN BABI

    Setahun kemudian, tepatnya 1999 Febi menikah dengan pria yang diharapkan bisa membimbing dan menjaganya dalam berislam secara kaffah. Celakanya, Febi salah memilih suami yang diidam-idamkan. Sang suami ber-KTP Islam yang menjadi pendamping hidupnya ternyata seorang pemuja kemusyrikan. Amaliah ibadahnya adalah menyembah Nyai Roro Kidul dan hal-hal beraroma mistis lainnya.

    Aktivitas kemusyrikan ini pun memicu perceraian Febi dengan suaminya. Febi bercerai dengan suaminya setelah dikaruniai seorang anak: Aufa Jhose Zaqi Nugraha. Untuk menafkahi dan membiayai sekolah anaknya, Febi bekerja sebagai pembantu rumah tangga selama 1,5 tahun di Pekanbaru, lalu menjadi pembantu Restoran di Bogor.

    Suatu hari di tahun 2010, Febi mendapat panggilan dari ibunya di Semarang, katanya sedang ada masalah dan minta Febi pulang untuk ikut membantu menyelesaikan masalah. Tanpa pikir panjang, Febi pun meluncur bersama Zaqi ke Semarang memenuhi panggilan ibunya.

    …Febi dikelilingi oleh pendeta dan anggota Komsel. Sambil berkomat kamit doa dalam nama Yesus, sang pendeta memegang kepalanya…

    Sesampai di rumah, ternyata Febi dijebak untuk dipaksa masuk Kristen lagi. Di sana ia disambut oleh pendeta dan para aktivis Kristen yang tergabung dalam Komunitas Sel (Komsel) gereja. Disaksikan Zaqi, Febi dikelilingi oleh pendeta dan anggota Komsel. Sambil berkomat kamit doa dalam nama Yesus, sang pendeta memegang kepala Febi, sementara jemaat lainnya memegang badannya supaya tidak berontak.

    Sang pendeta meneriakkan nama Yesus untuk mengusir roh jahat yang dianggap bersarang dalam diri Febi. Sejurus kemudian ia membisikkan ke telinga Febi dengan setengah memaksa agar mau mengucapkan kalimat untuk menerima Yesus sebagai tuhan dan juruselamat penebus dosa.

    Febi yang sudah tidak berdaya melawan tak bisa berbuat banyak. Tapi Allah memberikan karomah sehingga mulutnya terkunci rapat tak bisa berkata sepatah kata pun.

    “Itu yang membuat saya heran. Saya yakin itu adalah kuasa Allah. Mulut saya tidak bisa terbuka. Demi Allah waktu itu mulut saya seperti terkunci. Saya waktu itu hanya bisa nangis,” kenangnya.

    Seluruh jemaat yang hadir pun tak kehabisan akal. Mereka memaksa Febi makan daging babi sebagai simbol bahwa ia menentang ajaran Islam yang mengharamkan babi. Pada hari itu tak ada menu makanan apapun selain babi.

    …Mereka memaksa Febi makan daging babi sebagai simbol bahwa ia menentang ajaran Islam yang mengharamkan babi…

    Gagal memaksa Febi, Zaqi pun menjadi sasaran kristenisasi oleh neneknya. Ia diajak berdoa bersama dengan cara menirukan doa neneknya yang misionaris itu. Tapi dengan tegas Zaqi menolaknya. “Oma silakan doa sama Yesus, tapi Zaqi mau berdoa sama Allah saja,” ujarnya polos.

    Akhirnya keberanian Febi pun tersulut hingga lahirlah pertengkaran hebat antara Febi dan ibunya. “Mama, saya sayang sama mama tetapi saya lebih sayang sama Allah!” ujar Febi.

    Tak mau kalah, karena malu di hadapan jemaat Komsel gereja, sang ibu pun berteriak menghardiknya. “Pergi kau dari sini, kau tidak sayang sama mama dan kau bukan anak mama lagi!” bentaknya.

    Usai insiden itu, Febi pindah ke Bogor, menikah dengan seorang ikhwan aktivis Islam. Tinggal di rumah petak yang sangat minimalis, Febi merajut rumah tangga bahagia meski serba kekurangan. Berbagai ujian dan musibah datang silih berganti, namun Febi tetap tegar di jalan tauhid dan jihad.

    Betapapun berat ujian yang menimpanya, Febi tak bergeming dari Islam. Tak ada penyesalan apapun hijrah kepada tauhid. “Allah itu Maha Besar. Apa yang menurut manusia tidak bisa terjadi menurut Allah segala hal bisa saja terjadi. Islam itu indah buat saya sekalipun ujiannya berat,” tutupnya. [bornaskopen, ahmed widad, n'mux]

    ***

    Sumber : http://www.voa-islam.com

     
    • Eka Herlina 4:56 am on 12 Maret 2013 Permalink

      Saya berpkiran sm tentang apa yg dituliskan didlm bacaan ini.saya adalah seorang yg beragama hindu masuk kristen karena swami penganut agama itu.banyak pertanyaan2 saya tentng cara ibdh mereka dan saya membandingkannya denga agama islam.saya mohon bimbingannya lebih lanjut!

  • erva kurniawan 1:36 am on 4 March 2013 Permalink | Balas  

    allahKisah Perdebatan A. Hassan Dengan Tokoh Atheis

    Oleh: Artawijaya

    Editor Pustaka Al Kautsar

    Gedung milik organisasi Al-Irsyad, Surabaya, hari itu penuh sesat dipadati massa. Almanak menunjukkan tahun 1955. Kota Surabaya yang panas, serasa makin panas dengan dilangsungkannya debat terbuka antara Muhammad Ahsan, seorang atheis yang berasal dari Malang, dengan Tuan A. Hassan, guru Pesantren Persatuan Islam, Bangil. Meski namanya berbau Islam, Muhammad Ahsan adalah orang atheis yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, dan tidak pula meyakini bahwa alam semesta ini ada Yang Maha Mengaturnya. Ia juga menyatakan manusia berasal dari kera, bukan dari tanah sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an.

    Menurut keterangan Ustadz Abdul Jabbar, guru Pesantren Persis, yang menyaksikan perdebatan itu, hadirin yang datang cukup membludak. Lebih dari ratusan massa datang berkumpul, mengular sampai ke luar gedung. Mereka mengganggap perdebatan ini penting, karena Muhammad Ahsan, telah secara terbuka di Surat Kabar Harian Rakyat, 9 Agustus 1955, meragukan keberadaan Tuhan. Ia juga menolak keyakinan Islam bahwa orang yang berbuat kebaikan di dunia, akan dibalas di akhirat kelak. Ahsan berkeyakinan, segala sesuatu tercipta melalui evolusi alam, dan akan musnah dengan hukum alam juga. Dalam surat kabar itu, ia menyatakan lugas, “Pencipta itu mestinya berbentuk. Tidak mungkin suatu pencipta tidak berbentuk, “tulisnya.

    Atas pernyataan itu, Hasan Aidit, Ketua Front Anti Komunis, menghubungi A. Hassan agar bersedia bertukar pikiran dengan tokoh atheis itu. Sebelumnya, Hasan Aidit dan Bey Arifin sudah melayangkan tantangan debat di forum Study Club Surabaya pada 12 Agustus 1955, namun rencana itu gagal. Ia kemudian menyusun rencana agar Ahsan yang atheis itu dipertemukan dengan A. Hassan, sosok yang dikenal ahli dalam berdebat soal-soal keislaman. A. Hassan dan Muhammad Ahsan bersedia bertemu di forum terbuka.

    Singkat kata, perdebatan terbuka benar-benar terjadi. Karena dikhawatirkan akan berlangsung panas, maka panitia memberikan beberapa peraturan kepada hadirin yang datang menyaksikan. Hadirin tak boleh bertepuk tangan, tidak boleh bersorak sorai, tidak boleh saling berbicara, tidak menampakkan gerak-gerik yang merendahkan salah seorang pembicara, dan tidak boleh mengganggu ketentraman selama berlangsungnya perdebatan.

    Sementara untuk orang yang berdebat dibuat aturan pula. Masing-masing berdiri di satu podium dan diberi mikrophone, kemudian saling bertukar pertanyaan dan jawaban. Sementara pimpinan acara, yaitu Hasan Aidit, duduk di sebuah meja didampingi seorang sekretaris untuk mencatat jalannya perdebatan. Tugas pimpinan acara adalah mengatur jalannya perdebatan, dan menegur siapa saja yang melanggar aturan.

    Setelah dibuka dengan ceramah dari KH. Muhammad Isa Anshary, tokoh Persatuan Islam yang juga petinggi Partai Masyumi, acara pun di mulai. Perdebatan berlangsung dalam format tanya jawab dan saling menyanggah pendapat yang diajukan.

    Berikut point-point penting dari ringkasan perdebatan itu. Tokoh atheis Muhammad Ahsan akan disingkat menjadi (MA), sedangkan A. Hassan disingkat menjadi (AH):

    A.H: Saya berpendirian ada Tuhan. Buat membuktikan keadaan sesuatu, ada beberapa macam cara; dengan panca indera, dengan perhitungan, dengan kepercayaan yang berdasar perhitungan, dengan penetapan akal. Makatentang membuktikan adanya Tuhan, tuan mau cara yang mana? M.A: Saya mau dibuktikan adanya Tuhan dengan panca indera dan perhitungan dan berbentuk. Karena tiap-tiap yang berbentuk, seperti kita semua, mestinya dijadikan oleh yang berbentuk juga.

    A.H: Tidak bisa dibuktikan Tuhan dengan panca indera, karena ada banyakperkara yang kita akui adanya, tetapi tidak dapat dibuktikan dengan panca indera..

    M.A: Seperti apa?

    A.H: Tuan ada punya akal, fikiran, dan kemauan? M.A : Ada

    A.H : Bisakan tuan membuktikan dengan panca indera?

    M.A: Tidak bisa

    A.H: Bukan suatu undang-undang ilmi (ilmiah) dan bukan aqli bahwa tiap-tiapsatu yang berbentuk itu penciptanya mesti berbentuk juga. Ada banyakperkara, yang tidak berbentuk dibikin oleh yang berbentuk.

    M.A: Seperti apa?

    A.H : Saya berkata-kata, perkataan saya tidak berbentuk sedang saya sendiriyang menciptakannya berbentuk. Bom atom berbentuk dan bisa menghancurkan semua yang berbentuk di sekelilingnya, sedang akal yang membikinnya tidakberbentuk. Kekuatan elektrik (listrik) tidak berbentuk, tetapi bisa menghapuskan dan melebur semua yang berbentuk. Jadi, buat mengetahui sesuatu, tidak selamanya dapat dengan panca indera. Dan pencipta sesuatu yang berbentuk, tidak selalu mesti berbentuk.

    • * *

    A.H: Di dalam dunia ini adakah negeri yang dinamai London, Washington, danMoskow?

    M.A: Ada

    A.H: Apakah tuan sudah pernah ke negeri-negeri itu?

    M.A: Belum

    A.H: Maka dari manakah tuan tahu adanya negeri itu?

    M.A: Dari orang-orang

    A.H: Bisa jadi diantara orang-orang itu ada yang belum pernah kesana.Walaupun bagaimanapun keadaannya, buat tuan, adanya negeri- negeri itu, hanya dengan perantaraan percaya, bukan dengan panca indera.

    M.A: Ya, memang begitu.

    A.H: Dari pembicaraan kita, ternyata ada terlalu banyak perkara yang kitaterima dan akui adanya semata-mata dengan kepercayaan danperhitungan, bukan dengan panca indera.

    M.A: Ya memang begitu

    A.H: Oleh itu, tentang adanya Tuhan, tidak usah kita minta bukti dengan pancaindera, tetapi cukup dengan perhitungan dan pertimbangan akal, sebagaimana kita akui adanya ruh, akal, kemauan, fikiran, percintaan,kebenciaan, dan lain-lain.

    M.A: Ya, saya terima.

    A.H: Bila tuan tidak ber-Tuhan, tentulah tidak beragama. Dari itu semua, baikdan jahat tentunya tuan timbang dengan fikiran dan akal. Maka menurutfikiran, apakah tuan merasa perlu ada keadilan dan keadilan itu perludibela hingga tidak tersia-sia?

    M.A: Ya, perlu ada keadilan dan perlu dibela

    A.H: Apakah tuan makan benda berjiwa?

    M.A: Kalau binatang yang sedang berjiwa saya tidak makan

    A.H: Saya tidak maksudkan binatang yang sedang hidup, tetapi daging binatang-binatang: Sapi dan kambing yang dijual dipasar.

    M.A: Ya, saya makan

    A.H: Itu berarti tidak adil, tuan zalim

    M.A: Mengapa tuan berkata begitu?

    A.H: Karena menyembelih binatang itu, menurut fikiran satu kesalahan dan Kezaliman M.A: Saya tidak bunuh binatang-binatang itu, tetapi penjualnya

    A.H : Kalau tuan tidak makan dagingnya, tentu orang-orang tidak sembelih binatangnya. Jadi, tuan adalah seorang dari yang menyebabkan binatang-binatang itu disembelih. Baiklah kita teruskan, apa tuan berbuat (lakukan)kalau tuan digigit nyamuk?

    M.A: Saya bunuh

    A.H: Bukankah itu satu kezaliman?

    M.A: Saya bunuh nyamuk itu lantaran ia gigit saya

    A.H: Menurut keadilan fikiran, jika nyamuk gigit tuan, mestinya tuan balas gigit dia. Balas dengan membunuh itu tidak adil.(tuan M.A tertawa dan hadirin bertepuk tangan. Padahal dalam kesepakatan debat, ini dilarang)

    • * *

    A.H: Tuan ada menulis di “Suara Rakyat” tanggal 9 Agustus 1955 tentang seorang yang keluar buntutnya dan terus memanjang, lalu ia minta pada Rumah Sakit Malang supaya dipotong dan dihilangkan. Karena semakin panjang, semakin menyakitkan. Apakah (dengan tulisan itu) tuan bermaksud dengan itu bahwa manusia berasal dari monyet?

    M.A: Ya, betul

    A.H: Apakah tuan menganggap bahwa buntut orang itu kalau tidak dibuang dan terus memanjang, niscaya dia jadi monyet?

    M.A: Ya, betul begitu

    A.H: Jika demikian berarti monyet berasal dari manusia, bukan manusia berasal dari monyet.(Tuan M.A tertawa, hadirin juga terbahak dan bertepuk tangan, lupa dengan peraturan majelis)

    Perdebatan sengit yang akhirnya diselingi derai tawa dan tepuk tangan karena keahlian A. Hassan yang mampu mematahkan argumen dengan gaya yang santai, lucu, dan ilmiah, ini dikenang sepanjang massa sebagai debat terbaik A. Hassan dengan tokoh atheis tersebut. Perdebatan ini sendiri berlangsung dua kali. Debat pertama berlangsung selama dua setengah jam, dan berakhir dengan pernyataan Ahsan menerima apa yang disampaikan oleh A. Hassan. Ia menyatakan menerima dan kembali pada Islam. Namun dalam pertemuan pertama, A. Hassan meminta Ahsan untuk berpikir dulu, sebelum menerima apa yang disampaikan. Akhirnya pada pertemuan kedua yang berlangsung selama dua jam, Ahsan benar-benar menerima dalil-dalil dan argumentasi yang disampaikan A. Hassan. Tokoh atheis itu akhirnya kembali ke pangkuan Islam. Kisah perdebatan antara A. Hassan dengan tokoh atheis ini kemudian didokumentasikan dalam sebuah buku oleh A. Hassan dengan judul, “Adakah Tuhan?”

    Kini, tradisi meluruskan kekeliruan dan kesesatan dengan cara mengajak bertukar pikiran dalam debat terbuka harus kembali digalakkan. Tujuannya, agar umat bisa tahu, mana yang keliru dan mana yang benar. Yang terpenting, jangan jadikan debat sebagai ajang untuk menghina dan mencaci maki lawan.

    ***

    Sumber : islampos.com

     
    • achmad usman 10:50 am on 5 Maret 2013 Permalink

      orang atheis : tdk percaya Alllah ( Allah GAIB ) , segala sesuatu hrs bisa dinalar dgn akal , men TUHAN kan AKAL , apapun yg tdk bisa dicerna akal dianggap mustahil , mereka lupa bahwa akal sangat terbatas kemampuannya , akal lah yg dianggap tuhan oleh atheis / pendapat manusia berasal dari kera ,itu teori darwin , darwin yahudi tulen , ingin membantah se olah manusia pertama bukan nabi ADAM, tapi kera , maksutnya ingin “melemahkan” isi alquran bahwa Adam manusia pertama , tapi kera…tapi teori darwin terbantahkan , sejak ahli anatomi manusia di inggris menyatakan bahwa kepala manusia pada tubuh kera itu ( kera yg diyakini asal manusia ) di meseum inggis yg tersimpan ratusan tahun , ternyata kepala manusia itu hasil cangkokon yg canggih , artinya tubuh kera di cangkok kepala manusia yg sudah mati.

  • erva kurniawan 1:24 am on 3 March 2013 Permalink | Balas  

    Mati saat SujudSujud Terakhir

    Shaf pertama penuh berdesak-desakan. Habib Abdulqadir bin Abdurrahman as-Saqqaf mengisyaratkan kepada habib Najib bin Taha as-Saqqaf agar maju ke shaf pertama di belakang beliau.

    Melihat shaf pertama yang telah penuh berdesak-desakkan itu habib Najib bin Taha berkata, “Shaf pertama telah penuh, wahai habib.”

    Mendengar jawaban itu habib Abdulqadir menjawab dengan penuh kewibawaan, “Wahai anakku, majulah, kau tak mengetahui maksudku!”

    Jawaban itu menjadikan habib Najib bin Taha spontan maju ke shaf pertama, walaupun harus memaksakan diri mendesak shaf yang telah penuh itu.

    “Allaahu akbar”. Shalat jumat mulai didirikan. Habib Abdulqadir membaca surat al-Fatihah, lalu membaca surat setelahnya dalam keadaan menangis.Di rakaat kedua pada sujud terakhir, beliau tak kunjung bangkit dari sujudnya. Suara nafasnya terdengar dari speaker masjid.

    Karena sujud itu sudah sangat lama, maka habib Najib bin Taha memberanikan diri untuk menggantikan beliau. “Allaahu akbar”, Ucapan salam untuk mengakhiri shalat diucapkan.

    Para jamaah berhamburan lari ke depan ingin mengetahui apa yang terjadi pada habib Abdulqadir. Saat itu mereka mendapati habib Abdulqadir tetap dalam keadaan sujud tak bergerak. Lalu tubuh yang bersujud itu dibalik oleh para jamaah, dan terlihatlah wajah habib Abdulqadir. Maasya-allaah, setiap orang yang melihat wajah beliau, menitikkan air mata. Bagaimana tidak menitikkan air mata? Mereka melihat wajah habib Abdulqadir tersenyum dengan jelas sekali. Tersenyum bahagia.

    Habib Abdulqadir wafat dalam keadaan menikmati amal yang terindah. Di saat melakukan ibadah yang teragung yaitu shalat. Mendirikan shalat itu dalam kondisi yang terutama, yaitu shalat berjamaah. Melakukan shalat yang bermuatan besar, yaitu shalat jumat. Pada saat melaksanakan rukun shalat yang terutama, yaitu sujud. Dalam posisi yang terpenting, yaitu sebagai imam shalat jumat. Di tempat yang paling utama, yaitu masjid. Di hari yang paling utama, yaitu hari jumat.

    ***

    husi – N – abil

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 2 March 2013 Permalink | Balas  

    Tawaf&Ka'bahShalat Subuh dengan Wudhu Isya

    Mengapa seseorang mampu melakukan shalat subuh,

    dengan menggunakan wudhu’ Isya’nya…?

    Pak Imam adalah salah satu jama’ah haji yang aku kunjungi ketika ia pulang dari ibadah haji. Ada sesuatu yang nampak aneh dalam pandanganku terhadap diri pak Imam ini. Ketika berangkat dahulu pak Imam adalah seorang jama’ah yang biasa-biasa saja, tak ada keistimewaan apa pun dalam pandanganku. Tetapi kurang lebih empat puluh hari aku tidak bertemu, kini wajahnya tampak beda. Ada semacam aura yang menyejukkan hati, sehingga membuat orang yang memandangnya menjadi kerasan dan menjadi senang.

    Ketika aku minta oleh-oleh cerita dari pengalamannya ketika di tanah haram, ada sesuatu yang menurutku sangat menarik dan patut untuk direnungkan.

    “Ketika saya di sana, saya menggunakan aji mumpung..,” katanya.

    “Karena sangat sulit untuk bisa ke sana lagi. Di samping biayanya tambah lama menjadi tambah mahal, kesempatan dan kesehatan juga belum tentu bisa menunjangnya.” lanjutnya.

    “Karena itulah, saya menggunakan kesempatan yang ada itu, untuk beribadah semaksimal mungkin yang saya bisa.”

    “Suatu saat, ketika saya ke masjid untuk melakukan shalat isya, ketika mau pulang, sandal saya nggak ketemu. Saya cari kemana-mana, tetap saja tidak ketemu. Padahal sandal itu saya bawa ke dekat tempat saya melakukan shalat…”

    “Karena nggak ada sandal, maka saya putuskan malam itu saya tidak pulang ke hotel, tetapi saya ingin beribadah sebaik-baiknya di malam itu.”

    Maka sejak waktu shalat isya’, saya terus melakukan aktivitas ibadah dengan konsentrasi sebaik-baiknya.”

    “Setelah melakukan shalat isya’ berjamaah, seperti biasanya saya melakukan shalat sunah. Selanjutnya saya membaca Al-Qur’an sebisa saya. Begitu terasa capek, saya pun kembali melakukan shalat sunah lagi. Tiba-tiba terfikir saat itu, bahwa saya ingin shalat di setiap penjuru ka’bah. Maka saya pun shalat dua rakaat berturut-turut berputar ke arah kanan mengelilingi ka’bah. Hal itu terus saya lakukan sampai akhirnya saya kembali pada posisi saya ketika pertama kali melakukan shalat isya’.

    Entah berapa kali dan berapa rakaat saya melakukan shalat-shalat itu. Tanpa terasa tiba-tiba terdengar suara bilal yang sudah mengumandangkan adzan subuh…”

    ” Saya terkejut sekali! Betapa cepatnya waktu satu malam. Sejak waktu isya’ sampai dengan adzan subuh seolah-olah hanya sebentar saja..begitu cepatnya waktu berlalu.”

    “Yang saya sendiri menjadi heran adalah, bahwa saya semalaman insya Allah tidak batal wudhu’ sehingga terus saja melakukan aktivitas di dalam masjid. Ya shalat, ya baca Al-Qur’an…. Dan tiba-tiba waktu subuh pun telah masuk. Barulah kemudian saya pergi ke kamar mandi untuk memperbarui wudhu’ saya, serta untuk keperluan lainnya..”

    Aku pulang dari rumah pak Imam sambil merenung mendengar ceritanya yang cukup unik itu. “Sungguh hebat pak Imam,” kataku dalam hati. Sampai Allah memberlakukan relativitas waktu bagi dirinya. Waktu yang panjang seolah menjadi pendek. Berkat kekhusyu’annya, ia bisa melakukannya dengan ringan dan enak, tidak merasa berat. Bahkan semua itu secara tidak sadar ia lakukan dengan wudhu’nya shalat isya’. Sungguh benar firman Allah! orang yang khusyu’ akan merasa ringan dalam menjalankan aktivitasnya.

    QS. Al-Baqarah (2) : 45

    Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.

    Mungkin demikian pula halnya dengan orang-orang yang khusyu’ dalam hidupnya. Waktu dunia yang cukup lama, misalnya: enam puluh tahun, tujuh puluh tahun, delapan puluh tahun atau bahkan lebih, dalam diri orang yang khusyu’ menjadi terasa sebentar saja. Karena ia sibuk untuk berbuat kebajikan. Sibuk untuk mengabdikan dirinya, agar seluruh aktivitas hidupnya selalu mempunyai nilai ibadah di hadapan Allah Swt.

    QS. Thaha (20) : 104

    Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: “”Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sehari saja.”

    ***

    Oleh Sahabat: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 1 March 2013 Permalink | Balas  

    quranKisah Nyata Karomah: Kulit anggota tubuh yang dibasuh air wudhu berubah warna menjadi putih

    Syahid ketika diserang pasukan Kroasia di Bosnia pada tahun 1993. Berumur pertengahan dua puluhan. Kisah dari orang pertama.

    Seorang pemain bola tangan, ia adalah anggota tim nasional bola tangan Qatar. Ia datang ke Bosnia pada akhir 1992. Abu Khalid menyukai tugas jaga (ribath), ia biasa mengambil tugas jaga double shift selama empat jam di tengah cuaca yang dingin.

    Abu Khalid seorang mujahid yang sangat tawadhu dan shalih. Kulitnya hitam karena ia

    keturunan negro, namun para mujahidin melihat nur (cahaya) pada wajahnya. Ada dua

    buah tanda bekas sujud di keningnya akibat lamanya ia bersujud dalam shalat malamnya yang panjang.

    Suatu hari ia pernah ditanya, “Kapan engkau akan kembali ke negaramu, Abu Khalid?” Abu Khalid menjawab, “Saya ingin syahid di sini.”

    Abu Khalid pernah berkata pada seorang mujahid, “Dulu ketika di Qatar, saya telah membeli pakaian tempur untuk pergi dan berperang di Afghanistan, tetapi ibu saya mencegah kepergian saya. Tetapi insya-Allah, kali ini, dengan pakaian tempur yang sama, saya akan syahid di Bosnia.”

    Sebelum sebuah operasi melawan Kroasia, saat menerima pembagian kelompok oleh Amir, ia berbisik pada seorang mujahid di sampingnya, “Insya-Alllah, kali ini ALLAH akan mengambil saya menjadi seorang syahid.”

    Kemudian ia melakukan perjalanan dengan mobil bersama lima orang mujahidin lainnya,

    salah satunya adalah Wahiuddin al-Misri, Amir Mujahidin (semoga Allah meridhainya).

    Mereka tersesat dan masuk sejauh 7 kilometer ke dalam wilayah musuh. Pasukan Kroasia menembaki mereka dengan senjata anti pesawat hingga mobil mereka terpental 6 meter ke udara. Semua mujahidin di dalamnya keluar dan bertempur hingga syahid.

    Dua bulan kemudian, saat jenazah mereka dikembalikan, para mujahidin dapat mengenali mereka, kecuali jenazah Abu Khalid Al-Qatari. Jenderal Bosnia yang mengantarkan para jenazah mengeluarkan jenazah yang terakhir, jenazah itu berkulit putih dan wajahnya juga berwarna putih. “Ini saudara kalian yang terakhir.”

    Para mujahidin mengatakan, “Ini bukan saudara kami, saudara kami punya kulit yang hitam.”

    Kemudian para mujahidin memeriksa lebih lanjut jenazah itu. Mereka membuka bajunya

    dan menemukan bahwa dari bagian leher ke bawah, kulit jenazah itu berwarna hitam.

    Kemudian mereka membuka lengan bajunya dan menemukan bahwa dari siku ke atas, kulit jenazah itu berwarna hitam, sedangkan pada bagian lengan dan tangannya berwarna putih.

    Kemudian mereka menggulung celana panjangnya, dan menemukan bahwa kakinya

    berkulit putih, namun dari tumit ke atas berwarna hitam.

    Salah satu mujahid yang menyaksikan berkomentar, bahwa sesuai dengan hadits Rasulullah SAW tentang ciri-ciri orang beriman pada hari kiamat ialah bahwa anggota tubuh mereka yang dibasuh air wudhu akan bercahaya. Demikianlah yang terjadi pada jenazah Abu Khalid al-Qatari, semoga Allah SWT menerimanya di antara para syuhada.

    “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada Hari Kiamat dalam keadaan bercahaya

    wajahnya dan amat putih bersih tubuhnya oleh sebab bekas-bekas wudhu. Oleh itu,

    barang siapa di antara kamu hendak memperpanjangkannya (menambah cahaya),

    maka baiklah dia melakukannya dengan sempurna.” (Hadis riwayat Bukhari dan

    Muslim)

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorang pun dari umatku kecuali aku mengenalnya pada hari kiamat kelak.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulallah, bagaimana anda mengenali mereka di tengah banyaknya makhluk?” Beliau menjawab, “Tidakkah kamu lihat, jika di antara sekumpulan kuda yang berwarna hitam terdapat seekor kuda yang berwarna putih di dahi dan kakinya? Bukankah kamu dapat mengenalinya?” “Ya”, jawab shahabat. “Sesungguhnya pada hari itu umatku memancarkan cahaya putih dari wajahnya bekas sujud dan bekas air wudhu’. (HR Ahmad dan Tirmizy)

    ***

    Dikutip dari buku “Biografi dan Karomah Syuhada Jihad Bosnia (Kisah Nyata)”

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 27 February 2013 Permalink | Balas  

    sandal-jepit-butut0-700816Misteri Sandal Japit

    Sandal japit selalu menjadi cerita primadona, ada apa…?

    Sebagaian besar para jama’ah yang pulang dari haji, sering bercerita tentang sandal japit mereka. Hal ini sudah sejak puluhan tahun yang lalu. Apakah hal ini terpengaruh oleh cerita jama’ah haji sebelumnya, ataukah tidak. Tetapi yang jelas setiap kita mengunjungi jama’ah haji yang baru pulang dari ibadahnya, selalu ada cerita tentang sandal japit.

    Pak Adi misalnya, ia sejak berangkat dari tanah air membawa sandal japit sebanyak lima pasang. Ketika seorang temannya bertanya mengapa membawa sebanyak itu, ia hanya tertawa saja, sambil ganti bertanya setengah mengolok temannya:

    “Apa kamu tidak pernah tahu cerita orang-orang haji sebelumnya? Kalau kamu tahu pasti kamu akan membeli dan mempersiapkan sandal lebih banyak dari saya!” katanya. Sang teman pun hanya geleng kepala saja sambil pergi.

    Ketika pak Adi pulang dari ibadah haji, Ia kembali bercerita tentang sandal japitnya. Ternyata benar ‘firasat’nya! Lima pasang sandal yang ia persiapkan dari rumah, di kota Mekah hanya bisa ‘bertahan’ lima hari saja. Setiap hari ia kehilangan sandal japitnya. Selalu lupa di mana menaruh sandalnya tersebut. Sehingga pada hari yang ke enam ia membeli lagi sandal di kota mekah untuk kesehariannya. Dan anehnya sandal yang ia beli tersebut bertahan sampai ia selesai melakukan ibadah di kota Mekah.

    Pak Santo, adalah teman pak Adi. Mereka bekerja pada kantor yang sama. Tetapi karena pak Santo mengikuti rombongan yang berbeda, mereka tidak berada pada kloter yang sama. Meskipun mereka berbeda hotel dan berbeda kloter, ternyata pada hari yang ke enam, mereka bertemu di masjidil Haram. Betapa senangnya mereka. Maka sambil bercerita pengalamannya, mereka pulang ke hotel masing-masing sambil jalan bersama-bersama.

    Pak Adi membuka pembicaraan :

    “Wah, sandal yang kupersiapkan lima pasang dari rumah itu, ternyata sekarang sudah ‘habis’. Setiap hari aku selalu lupa di mana aku menaruhnya. Padahal pintu mana ketika aku memasuki masjid sudah aku ingat-ingat. Tetapi tetap saja sandal yang aku letakkan di tempat yang cukup aman itu ternyata hilang.”

    ” Oh, kalau masalah itu saya tahu betul. Pak Adi kan memang orang yang pelupa, iya toh?” Kata pak Santo.

    ” …nggak heran saya, kalau sandal pak Adi selalu hilang. Kadang kunci mobil yang jelas-jelas baru ditaruh di atas meja kantor beberapa saat saja, pak Adi sudah lupa…!” sambung Pak Santo.

    “…untung saja, saya ditakdirkan menjadi orang yang gampang ingat. Tidak pelupa…ha ha ha… Sejak saya datang di kota Mekah ini, sandal yang saya pakai, ya ini pak! lumayan-lah agak ngirit he he” kata Pak Santo.

    “Baiklah pak, kita berpisah di sini ya. Kan hotel kita berbeda. Besok subuh kita ketemu di dekat sumur zam-zam ya…” kata pak Adi

    “Ok. pak, assalamu’alaikum…” sahut pak Santo sambil menyeberang jalan menuju hotelnya.

    Keesokan paginya, ketika mereka di dalam masjid, ternyata mereka berdua tidak bisa bertemu seperti maksud mereka sebelumnya, karena jama’ah begitu penuh. Maka pak Adi pun tidak berusaha mencari pak Santo lagi. Sekitar jam delapan pagi pak Adi pulang menuju hotelnya, bersama-sama dengan jama’ah rombongannya.

    Ketika pak Adi berjalan, sudah sekitar lima puluh meter dari pintu masjid, ia melihat pak Santo berdiri di dekat salah satu pintu masjid. Ia berdiri saja di dekat pintu tersebut. Maka pak Adi pun mendekati pak Santo, yang saat itu kelihatan agak bingung.

    “Ada apa pak?” Tanya pak Adi

    “Ini pak, sandal saya tadi kan saya taruh di dekat pintu ini, saya ingat betul koq, tidak mungkin-lah saya lupa! Bahkan yang kiri saya pisahkan tempatnya dengan yang sebelah kanan. Supaya tidak terambil orang lain. Tapi dimana ya..? Saya sudah hampir lima belas menit berdiri disini, tapi belum ketemu juga….

    Pak Adi hanya tersenyum saja menyaksikan kebingungan pak Santo. Katanya dalam hati: “….tahu rasa kamu sekarang…!”

    Dan pak Adi-pun pergi meninggalkan pak Santo yang masih kebingungan di dekat pintu masjid. Ketika pak Adi sambil berjalan melayangkan pandangannya ke arah pak Santo, ia melihat pak Santo-pun meninggalkan pintu masjid berjalan pulang tanpa mengenakan alas kaki…

    Lain lagi halnya dengan bu Toni. Ketika ia berjalan pulang dengan beberapa temannya, bu Toni bercerita bahwa ia merasa kasihan melihat bu Fajar, yang baru satu hari di Mekah bu Fajar sudah kehilangan sandalnya. Padahal sandal itu sudah diletakkan di tempat yang aman, di dekat tempat ia shalat katanya. Tapi tetap saja ketika shalat sudah selesai, bu Fajar tidak menemukan sandalnya.

    Kata bu Toni: “..Ya maklumlah, karena pergeseran-pergeseran shaf ketika akan shalat, maka tempat berubah dari posisi semula. Sehingga tentu bu Fajar kesulitan mencari-nya kembali.”

    Tiba-tiba bu Sodiq yang berada di sebelah bu Toni berkomentar: “Kalau saya bu, sejak dari rumah sudah diberi tahu oleh kakak saya yang tahun kemarin berangkat haji. Pokoknya kalau ke masjid kita bawa aja tas kresek. Atau tas apa saja khusus untuk tempat sandal supaya tidak hilang. Sekarang pun saya membawa! Dan selalu siap sedia dengan tas tersebut, sehingga amanlah sandal saya…!”

    Seperti biasanya, keesokan harinya sebelum waktu subuh, rombongan bu Toni sudah berangkat menuju masjid. Mereka masing-masing membawa sandalnya menuju tempat, dimana mereka berada. Sandal mereka letakkan di dekat tempat duduk mereka. Setelah shalat subuh dikumandangkan melalui iqamah bilal, mereka pun tenggelam dalam suasana shalat subuh yang menyejukkan.

    Seusai shalat, mereka tetap beraktivitas di dalam masjid. Ada yang membaca Al-Qur’an ada yang thawaf, ada yang berdzikir, dan sebagainya. Bu Sodiq pun melihat-lihat keindahan arsitektur masjidil Haram. Ia berjalan kesana-kemari, bahkan beberapa kali ke tempat air zam-zam.

    Setelah dirasa cukup dengan aktivitasnya masing-masing, rombongan bu Toni sepakat untuk pulang ke hotel. Para jama’ah bertebaran keluar dari masjid untuk kembali ke hotelnya masing-masing. Bu Toni dan teman-temannya bergegas mau pulang, tetapi mereka masih menunggu bu Sodiq yang belum kembali dari acara jalan-jalannya di dalam masjid tersebut.

    ” Nah, itu dia bu Sodiq, ayo kita pulang..!” kata bu Toni. ” lho, sandal saya dimana toh, tadi kan disini?” kata bu Sodiq setengah terkejut, setelah ia melihat tas sandalnya tidak ada ditempatnya lagi.

    “iya, tadi kan di sini, bersama sandal milik kita semua…, dimana ya? celetuk ibu yang lain. “…yaah, mungkin aja ada orang yang keliru membawa tas sandalnya, dikira miliknya, padahal itu milik bu Sodiq ya…”

    ” Mungkin juga iya…, memang warna tas saya hitam, jadi banyak yang mirip. Sehingga mungkin saja ada orang yang lupa menaruh tasnya, maka diambil-lah tas saya…”jawab ibu Sodiq dengan agak malu kepada ibu-ibu yang lain. Soalnya kemarin ia sudah berbangga bahwa tidak mungkin, sandalnya akan hilang.

    Secara logika, sebenarnya ‘para’ sandal tersebut tidaklah hilang. Tetapi ada saja penyebabnya sehingga pemiliknya kehilangan atau tidak bisa menemukan sandalnya yang sudah ditempatkan di posisi yang aman.

    Pak Adi, Pak Santo, Bu Toni, Bu Fajar, maupun bu Sodiq, mereka adalah contoh kecil dalam hal kehilangan sandal. Setiap tahun setiap saat musim haji selalu ada cerita unik tentang sandal japit. Satu hal, yang rata-rata menjadi kuncinya, ialah masalah kebanggaan dan kesombongan diri.

    Para jama’ah diperintahkan bertamu di rumah Allah adalah untuk melatih ketawadhu’annya. Melatih sabarnya, dan juga melatih ketawakalannya. Bangga, ria, sombong adalah penyakit hati, yang mencerminkan ego yang tinggi.

    Karenanya, penyakit-penyakit itu harus dihilangkan, dengan cara berserah diri kepada Ilahi Rabbi, merasa kecil di hadapan Allah Yang Maha Besar, merasa rendah di hadapan Allah Yang Maha Tinggi.

    QS.Al-Qashash (28) : 76

    Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.

    Inilah salah satu pelajaran dalam perjalanan haji. Misteri tentang sandal japit! Meskipun nampak sederhana, tetapi merupakan pelajaran yang memiliki nilai sangat tinggi di dalamnya…

    ***

    firliana putri

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 22 February 2013 Permalink | Balas  

    Catatan Seorang Isteri

    Oleh Cahaya Khairani

    Sebelum menikah, selain kriteria taqwa, saya tidak punya kriteria khusus untuk calon suami saya nanti. Karena saya menyadari bahwa saya bukanlah wanita yang ideal untuk dijadikan isteri, terutama untuk urusan pekerjaan rumah tangga. Maka saya amat sangat bersyukur pada Allah ketika Dia mengirimkan Lelaki Surga yang penyabar dan pengertian untuk saya.

    Lelaki Surga itu tersenyum dan memandang saya penuh cinta ketika pada malam pertama kami, dengan jujur saya mengatakan bahwa saya tidak terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga. Memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh dua orang pembantu.

    “Biar si bibi yang kerjakan”

    Begitu kata Bunda bila kami anak-anaknya ingin mencuci piring bekas makan kami sendiri. Maka saya pun menjadi terbiasa “terima beres”. Pakaian tinggal pakai, sudah bersih, rapi dan wangi. Mau makan, tinggal ambil di meja makan. Mau minum hangat atau dingin, pembantu yang membuatkan.

    Setiap pagi pembantu akan bertanya minuman apa yang saya ingin dibuatkan. Sekali-sekali saya ke dapur membantu memasak, hitung-hitung sekalian belajar, tapi sedikit saja salah, Bunda akan mengusir saya dari dapur. Aneh memang, bukannya mengajarkan cara memasak yang benar, saya malah tidak dibolehkan di dapur.

    Dengan bicara jujur pada suami, saya berharap ia mempersiapkan kesabaran dan pengertian yang lebih bila nanti, saya memasak makanan yang tidak sedap di lidahnya atau rumah kami menjadi kurang indah dalam penglihatannya.

    “Nanti adek kan bisa belajar”, ujar suami setelah mendengar penuturan saya. Tak ada raut kekhawatiran di wajahnya bila nanti saya tidak dapat mengurusnya dengan baik.

    Belajar. Itulah yang harus saya lakukan. Manusia memang tidak boleh berhenti belajar. Belajar, tidak hanya di bangku kuliah, tapi juga di universitas kehidupan. Dan sekaranglah saatnya saya belajar di kehidupan rumah tangga, yaitu belajar menjadi isteri sholehah.

    Proses belajar pun dimulai. Pekerjaan mencuci, membenahi rumah, menyetrika, ke pasar, memasak, menguras kamar mandi, semua saya lakukan sendiri tanpa bantuan pembantu rumah tangga, hanya suami yang sesekali membantu di sela-sela kesibukannya. Setiap hari selalu ada sayatan luka baru di jari jemari saya. Tubuh mulai mudah masuk angin. Rasa perih, ngilu, pegal-pegal, kaku, kerap menghinggapi telapak tangan saya.

    Tapi jika mengingat betapa Allah sangat menghargai apa yang seorang isteri lakukan untuk suaminya, tidak ada alasan bagi saya untuk mengeluh, apalagi menyerahkan tugas-tugas itu kepada pembantu, rugi rasanya.

    Setelah delapan bulan menikah. Hmm.lumayan juga hasilnya. Pakaian suami selalu rapi dan berbau wangi. Rumah kontrakan kami selalu bersih, lantainya selalu mengkilap. Pemilik rumah kontrakan tidak lagi harus turun tangan menggosok lantai kamar mandi karena saya sudah dapat melakukannya sendiri. Setelah beberapa kali dicontohkan secara tidak langsung oleh pemilik rumah, barulah saya tahu cara menggosok lantai kamar mandi yang baik dan benar.

    Soal masak? Suami bilang saya sudah lebih pandai memasak. Tidak percuma ia rajin membelikan tabloid khusus resep masakan untuk saya pelajari. Tapi tentu saja saya tidak boleh merasa puas. Saya masih harus terus belajar dan belajar.. Mungkin ini lah salah satu rencana Allah menunda menganugerahkan kami seorang anak. Dia Maha Mengetahui kapan saat yang terbaik bagi kami untuk mendapat amanah seorang anak. Saat di mana saya telah menjadi isteri yang baik dan telah siap kembali belajar untuk menjadi Ibu yang baik.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 20 February 2013 Permalink | Balas  

    Dipaksa Memberi Sepuluh Real

    Adakah seorang peminta-minta yang

    berani memaksa kepada pemberinya…?

    Seorang teman bernama Pak Sunaryo yang barusan pulang dari ibadah haji, pernah bercerita. Bahwa ia adalah termasuk orang yang tidak terlalu memperdulikan keberadaan para peminta-minta. Meskipun banyak terlihat di kota mekah, namun ia tidak ambil peduli. Tidak tergerak sedikit pun hatinya untuk memberi uang atau apa pun kepada mereka. Dan hal itu katanya memang sudah menjadi kebiasaannya sejak ia masih muda.

    “Kenapa harus pedulikan mereka, kalau hanya akan membuat mereka jadi malas…” itu yang sering dia katakan.

    Pagi itu, pak Sunaryo pergi ke masjid bersama-sama para jamaah lainnya. Ketika sampai di depan masjid ia bertemu dengan seorang peminta-minta yang menengadahkan tangannya kepada rombongan jamaah tersebut. Para jamaah yang notabene masih teman kerja sekantor itu, rata-rata memberi uang kepada pengemis yang sudah tua.

    Ketika itu pak Sunaryo berjalan di urutan paling belakang. Sampai di dekat pengemis tersebut, ia menjadi begitu bingung. Sebab ia tidak pernah memberi uang atau apa saja kepada para pengemis.

    Berada di dekatnya, pengemis tua itu menyodorkan tangannya ke arah pak Sunaryo. Demi menghindari rasa malu kepada para teman-temannya, pak Sunaryo pun mengambil uang dari balik saku bajunya.

    Ia teringat kalau pada saat itu ada cukup uang di dalam saku bajunya. Hal itu memang sudah ia siapkan untuk belanja, sepulang mereka dari masjid.

    Maka dengan serta merta pak Sunaryo mengambil uang dari saku bajunya. Diambilnya uang satu real-an satu lembar untuk memberi si pengemis. Begitu tangan pak Sunaryo mau mengulurkan tangan untuk memberikan uang satu real tersebut, ternyata yang terambil dari saku bajunya bukan satu real, tetapi sepuluh real.

    Ia terkejut. Maka dibatalkannya pemberian itu. Pak Sunaryo pun kembali memasukkan tangan kanannya ke saku bajunya, untuk menukarkan uang sepuluh real tadi dengan uang satu real yang cukup banyak di dalam sakunya. Ketika tangannya diangkat, pak Sunaryo kembali terkejut. Karena sekali lagi yang terambil adalah uang sepuluh real. Bukan satu real.

    Pak Sunaryo, sedikit merasa malu kepada teman-temannya. Untung banyak temannya yang tidak mengetahui kejadian itu. Maka sambil pura-pura ada sesuatu yang jatuh, pak Sunaryo berhenti sejenak sambil kembali memasukkan uang sepuluh realnya untuk mengganti dengan uang satu real.

    Setelah yakin bahwa yang terambil adalah uang satu real, maka dengan raut muka agak sedikit lega, pak Sunaryo memberikan uang hasil ‘usaha’ yang ketiga kalinya, kepada pengemis tua. Digenggamnya rapat-rapat uang sebesar satu real itu, lantas ia berikan kepada sang pengemis tua yang sejak tadi menyaksikan dengan heran. Ketika pak Sunaryo membuka genggaman tangannya, jarak antara tangannya dan telapak tangan pengemis itu sudah begitu dekatnya, mata pak Sunaryo terbelalak saking terkejutnya…

    Ah, tak terasa ia mengeluarkan suara terkejut setengah mati. Apa yang terjadi ?

    Ternyata uang yang ia ambil itu, kembali sepuluh real! bukan satu real. Tak karuan rasa hati pak Sunaryo. Antara malu, merasa rugi, heran, dan juga cemas menjadi satu.

    Sementara teman-temannya ada yang sudah jauh di depannya, tetapi ada juga yang masih menunggu sambil berjalan pelan-pelan. Maka dalam kondisi semacam itu, pak Sunaryo mencoba berfikir seperti layaknya para jamaah pada umunya. Ia mencoba mengikhlaskannya

    Akhirnya diberikannya juga uang sepuluh real-an itu kepada si pengemis tua. Setelah itu ia cepat-cepat pergi untuk mengejar teman-temannya. ‘Bahkan sebagian temannya sudah ada yang masuk ke masjidil Haram.

    Setelah melakukan shalat dhuhur, pak Sunaryo terus dibayangi oleh peristiwa kecil tersebut. Sambil duduk istirahat pak Sunaryo terus berfikir, mengapa hal itu bisa terjadi? Padahal ia sudah merasakan bahwa yang terambil untuk ke tiga kalinya itu, ia yakini adalah uang satu real. Tetapi mengapa kembali sepuluh real? Ia yakin bahwa yang ada di dalam saku bajunya, sangat banyak uang satu real-an dan hanya ada satu lembar uang sepuluh real. Tetapi kenapa yang terambil selalu yang sepuluh real?

    Tiba-tiba pak Sunaryo, seperti mendapatkan sebuah hidayah. Sesuatu yang selama ini tidak pernah terfikirkan:

    “…ah, ternyata apa yang sudah direncanakan dan disiapkan oleh manusia, sejeli dan seteliti apapun, tidak selalu menghasilkan seperti apa yang diinginkan…”

    Tiba-tiba saja pak Sunaryo mengusap kedua pelupuk matanya yang tanpa terasa sudah basah oleh setetes air, yang ia sendiri tidak mengetahui, mengapa hal itu bisa terjadi…

    Saat pulang, Pak Sunaryo berjanji kepada dirinya sendiri, ia akan memperbaiki segala perilakunya yang kurang terpuji. Terutama kaitannya dengan para pengemis dan orang-orang miskin yang sering ia temui di jalan atau di mana saja. Rupanya Allah memberi pelajaran dan sekaligus hidayah kepada pak Sunaryo, lewat uang sepuluh real tersebut.

    “Alhamdulillah” hanya ucapan itu yang ia sampaikan kepadaku, sambil menutup kisahnya yang cukup unik tersebut.

    Aku pun termangu mendengar kisah sederhana tetapi penuh dengan pelajaran yang sangat berharga itu. Sungguh, jika seseorang telah diberi hidayah oleh Allah, maka apa yang ia berikan insya Allah akan menjadikan dirinya bertambah dekat kepadaNya. Semoga dengan kejadian itu, kini pak Sunaryo telah berubah menjadi manusia baru.

    Semoga pelajaran kecil itu akan membawa manfaat yang besar buat kita semuanya. Manfaat yang paling besar adalah jika setiap pelajaran menimbulkan kedamaian dan ketentraman hati. Sebab hati yang damai dan tentram adalah sebagai indikasi bahwa manusia telah dekat kepada sang penciptanya…insyaAllah.

    QS. Al-Baqarah (2) : 274

    Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

    QS. Ar-Ra’d (13) : 28

    (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 19 February 2013 Permalink | Balas  

    Jangan Bicara

    Sore itu, aku lebih awal dari biasanya sampai di depan ka’bah. Setelah melakukan thawaf, aku mengambil shaf yang tidak jauh dari ka’bah. Aku kebetulan dapat tempat duduk di dekat maqam Ibrahim.

    Tidak berapa lama kemudian datang seorang jama’ah dari Indonesia. “Assalaamu’alaikum, bapak dari embarkasi mana? tanyaku. Ia pun menjawab, bahwa ia dari Jakarta. Barusan datang kemarin pagi. Maka kami pun berbincang-bincang tentang keberadaan kami para jama’ah dari Indonesia.

    Tidak terasa kami begitu asyik berbincang kesana-kemari. Tiba-tiba pandangan kami tertuju pada benda-benda hitam yang bergerak di sekeliling ka’bah. Setelah kami perhatikan dengan seksama ternyata itu adalah gerakan burung-burung yang berterbangan di sekitar ka’bah. Seolah-olah burung-burung kecil itu sedang melakukan thawaf dengan caranya sendiri.

    Ketika itu kami melihat ada sedikit keanehan. Burung-burung itu tidak ada yang berterbangan di atas ka’bah. Mereka sekedar berterbangan mengitari ka’bah. Menyaksikan keanehan burung-burung yang sedang terbang mengitari ka’bah itu, kami berdua pun membicarakannya.

    Ketika kami terlibat dalam pembicaraan itulah, tiba-tiba terdengar suara adzan maghrib. Tetapi karena asyiknya materi pembicaraan kami itu, sampai-sampai suara adzan itu tidak kami hiraukan. Bahkan terus saja kami berbincang dengan agak berbisik-bisik tentang keanehan burung-burung yang ikut thawaf di sore itu.

    Bilal Masjidil Haram mengumandangkan kalimat syahadat yang kedua dalam adzannya “…asyhaduan laa ilaaha illallaah…”, saat itulah kami yang masih berbisik-bisik itu ditegur dan diingatkan oleh seorang jama’ah yang sudah tua, yang duduk di sebelah kanan kami.

    Dengan memberikan isyarat dengan tangan kanannya, Jama’ah tua itu melarang kami untuk berbicara sendiri meskipun dilakukan hanya dengan berbisik-bisik. Wajah tua itu begitu berwibawa. Dengan spontan kami langsung terdiam. Dan kami memperhatikan suara adzan bilal yang masih terus berkumandang dengan merdunya.

    Tiba-tiba saja, entah dari mana datangnya mataku berkaca-kaca. Tiba-tiba aku merasa malu, merasa salah, merasa tidak menghargai kalimat Allah, bahkan saat itu aku merasa telah berbuat dosa yang besar. Aku merasa betapa kalimat tauhid yang diperjuangkan Rasulullah itu aku abaikan begitu saja.

    Padahal Rasulullah menegakkan kalimat itu di kota Mekah saja tidak kurang dari dua belas tahun. Yaitu pada saat periode Mekah.

    Bertambah aku merasa bersalah, bertambah deras air mataku membasahi kelopak mataku. Tujuan aku datang ke tanah Haram adalah selain ingin bertamu di rumah Allah, aku pun ingin mendekat kepada Rasulullah sebagai ungkapan rasa rindu kepadanya. Tetapi kenapa aku tidak menghargai kalimat tauhid yang dikumandangkan oleh Bilal tadi? Kenapa aku terus saja berbincang-bincang?

    Ah, betapa tak tahu dirinya aku ini. Bertambah aku menyesali diri, bertambah pula deras air mata jatuh ke pipi. Dan hal itu terus berlanjut. Bahkan sampai shalat maghrib dimulai pun aku tetap tak kuasa menahan rasa penyesalanku. Ketika imam membaca surat Al-Fatihah (1) : 6-7 dalam raka’at pertama.

    Semakin menjadi-jadi penyesalanku atas kelalaianku tadi. Sebab arti dari ayat tersebut adalah kita mohon jalan yang lurus kepada Allah. Yaitu jalannya orang-orang yang mendapat nikmat, bukan jalan orang-orang yang sesat…

    Sementara saat itu aku sedang berada dalam kelalaian. Begitu sangat terasa kesalahanku saat itu. Sungguh aku terus dibayangi oleh kesalahanku sendiri. Ditambah lagi imam shalat ketika melagukan bacaannya begitu merdu, dan mempesona kalbu. Sehingga derasnya air mata tak kuasa kubendung lagi. Bahkan air mata itu terus mengalir sepanjang shalat maghrib.

    Akh, Begitu cengengkah aku?

    Sampai-sampai suara adzan ‘saja’ menjadikan aku menangis sepanjang shalat maghrib?

    Setelah aku keluar dari suasana itu, lebih-lebih setelah aku berada di tanah air kembali, aku bertambah heran. Mengapa hanya perkara tidak menghiraukan adzan beberapa saat saja aku sudah seperti itu? apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi?

    Sementara ketika kita semua berada di lingkungan kita masing-masing, apakah di rumah, apakah di tempat perkerjaan, apakah di pasar, atau di tempat umum lainnya, hal semacam itu tidak terjadi…

    Betapa seringnya kita mendengar suara adzan dari televisi atau di radio. Atau suara adzan dari musholla di kampung kita. Tetapi sedikit pun kita tidak pernah tersentuh oleh kalimat itu. Padahal ‘ilmu’ yang terkandung di dalam kalimat adzan itu begitu hebatnya. Setiap hari, lima kali! Seolah bilal selalu berkata:

    “…wahai manusia, kalau kamu sekalian menginginkan kemenangan dalam hidupmu, atau kalau kamu menginginkan kebahagiaan dalam perjalanan hidup ini, dirikanlah shalat…Kamu sekalian tidak akan mungkin mencapai kemenangan tanpa melalui shalat…”

    Betapa mesranya panggilan itu, dan betapa hebatnya ilmu yang terkandung di dalamnya. Tetapi tetap saja kita semua tidak pernah menghiraukan panggilan itu. Hati kita tidak tergerak oleh panggilan itu. Padahal kita semua ingin bahagia… ingin menang, dan ingin sukses dalam hidup ini….

    Mungkin Itulah salah satu perbedaan suasana di tanah haram dan di tanah air. Di tanah haram begitu sensitifnya nurani kita, sementara di luar tanah haram begitu tebalnya tabir yang menutupi hati kita.

    QS. Al-Baqarah (2) :

    Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang istikaaf, yang ruku’ dan yang sujud”.

    Sesederhana apa pun yang ada di tanah haram, akan selalu mengingatkan kepada diri kita. Bahwa di dalam perjalanan haji sungguh terkandung banyak sekali pelajaran bagi kita semua. Dengan selalu memohon kepada Allah Swt, kita berdoa dan berharap semoga kita bisa menjalani hidup di tanah air tercinta dengan lebih baik, lebih indah, dan lebih bermakna. insyaAllah…

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
    • praktisprint.com 4:11 pm on 23 Februari 2013 Permalink

      Mau cetak brosur murah dan cepat kami solusinya. Percayakan segala kebutuhan cetak anda kepada kami.

  • erva kurniawan 1:22 am on 17 February 2013 Permalink | Balas  

    Tak Takut Miskin Karena Memberi

    “Apakah kemiskinan itu, Bu? Anak-anak di taman bilang kita miskin. Benarkah itu, Bu?” tanya sang anak.

    “Tidak, kita tidak miskin, Aiko,” jawab ibunya.

    “Apakah kemiskinan itu?” Aiko, sang anak, bertanya lagi.

    “Miskin berarti tidak mempunyai sesuatu apapun untuk diberikan kepada orang lain.” Aiko agak terkejut.

    “Oh? Tapi kita memerlukan semua barang yang kita punyai, apakah yang dapat kita berikan?” katanya menyelidik.

    “Kau ingatkah perempuan pedagang keliling yang ke sini minggu lalu? Kita memberinya sebagian dari makanan kita kepadanya. Karena ia tidak mendapat tempat menginap di kota, ia kembali ke sini dan kita memberinya tempat tidur.”

    “Kita menjadi bersempit-sempitan,” jawab Aiko.

    Tapi sang ibu tak kalah sigap. “Dan kita sering memberikan sebagian dari sayuran kita kepada keluarga Watari, bukan?” katanya.

    “Ibulah yang memberinya. Hanya saya sendiri yang miskin. Saya tak punya apa-apa untuk saya berikan kepada orang lain.”

    Sang ibu tersenyum dan memberikan pandangan teduh pada anaknya.”Oh, kau punya. Setiap orang mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. Pikirkanlah hal itu dan kau akan menemukan sesuatu.”

    Tak lama setelah itu, sang anak pun mendapatkan jawabannya. “Bu! Saya mempunyai sesuatu untuk saya berikan. Saya dapat memberikan cerita-cerita saya kepada teman-teman saya. Saya dapat memberikan kepada mereka cerita-cerita dongeng yang saya dengar dan baca di sekolah.”

    “Tentu! Kau pintar bercerita. Bapakmu juga. Setiap orang senang mendengar cerita.”

    “Saya akan memberikan cerita kepada mereka, sekarang ini juga!”

    **

    Dialog tersebut dapat ditemukan dalam kumpulan kisah-kisah inspiratif, Aiko and Her Cousin Kenichi. Dialog antara ibu dan anak itu, telah meneguhkan sebuah kesadaran besar, bahwa setiap kita bisa memberi. Ini lebih dari sekadar sebuah kesadaran sosial. Tapi kesadaran untuk menjadi berarti lantaran membagi kebahagiaan untuk orang lain.

    Akhlak tentang kesadaran terhadap kehidupan orang lain, dimiliki oleh qudwah yang tak ada bandingnya, yakni Rasulullah saw. Utusan Allah itu bahkan disebut sebagai “orang yang tak takut miskin karena memberi”.

    Dialah yang menanamkan prinsip menolong orang lain untuk menolong diri sendiri. Perhatikanlah bagaimana sabdanya, “Allah swt selalu menolong seoarng hamba, selama hamba itu menolong saudaranya.” Atau, sabdanya yang lain, “Barangsiapa yang memberi kemudahan kepada saudaranya, maka Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat.”

    Itu adalah prinsip memberi dan menerima yang ditanamkan Rasulullah saw. Memberi kepada sesama dan hanya terobsesi untuk menerima dari Allah swt. Sehingga pada praktiknya, prinsip itu berubah menjadi memberi dan memberi, give and give. Sebab penerimaan itu tidak datang dari manusia tapi dari Allah swt.

    Mengajak untuk peduli sosial, memberi bantuan kepada orang lain, menolong atau memberikan jasa, mengeluarkan infaq dan sedekah, sering memunculkan pertanyaan, “Bagaimana saya bisa membantu orang lain? Saya sendiri dalam kondisi kurang dan membutuhkan.” Sementara Rasulullah saw menanamkan nilai bersedekah ini, justru pada saat seseorang sulit mengeluarkannya.

    Suatu hari datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw dan bertanya, “Ya Rasulullah, sedekah apa yang paling besar pahalanya?” Rasulullah saw mengatakan, “Engkau bersedekah sedangkan engkau sedang dalam kondisi sehat, sangat membutuhkan, takut miskin, dan punya obsesi menjadi kaya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hadits ini menjelaskan bahwa dalam situasi sesorang bertanya, “Apa yang bisa saya bantu, karena saya juga dalam kondisi membutuhkan” tadi itulah, bobot pahala sedekah. Semakin seseorang berada pada posisi dilematis antara keinginan dirinya terhadap apa yang akan disedekahkan, semakin tinggi nilai sedekahnya jika benar-benar dilakukan. Tentu saja kesadaran memberi kepada orang lain, tidak selalu berupa benda, materi, uang, atau bantuan yang memiliki nilai nominal. Tapi bisa berupa pikiran, waktu, ide-ide, fisik, atau apapun yang bisa kita beri dan bermanfaat.

    Sekarang, kita layak bertanya pada diri sendiri, apa yang akan kita berikan untuk orang lain? Ingat, setiap kita punya sesuatu yang bisa kita berikan kepada orang lain. Pikirkanlah baik-baik apa sesuatu itu. Niscaya kita akan menemukannya.

    ***

    Sumber: Tarbawi Edisi 146 Th. 8 Dzulhijjah 1427 H / 4 Januari 2007

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 14 February 2013 Permalink | Balas  

    Dzikirnya Alam Semesta

    Apakah alam juga berdzikir..?

    Para jama’ah yang berjubel itu, berebut memenuhi shaf-shaf depan. Sehingga aku mendapatkan shaf di belakang. Hampir di shaf yang paling akhir.

    Ketika aku melakukan shalat sunah, tiba-tiba di sebelah kananku datang seorang jama’ah pakai baju gamis putih-putih, berjenggot panjang menjuntai ke bawah sampai ke dada. Matanya bening, mulutnya selalu senyum.

    Begitu aku selesai shalat, ia mengambil minyak wangi dari dalam bajunya, dan minyak itu dioleskan ke tanganku, dan juga ke bajuku. Ia memberi isyarat agar aku mengoleskan dan meratakan minyak darinya itu ke seluruh tubuhku. Dan kemudian ia menyelinap di antara ribuan jamaah lainnya. Lalu pergi entah kemana. Ah, seorang yang aneh! pikirku.

    Harumnya minyak wangi itu begitu aneh bagiku. Bau yang lembut, tetapi terus merasuk ke nafasku yang mengakibatkan rongga dadaku menjadi nyaman dan lapang. Satu hal lagi, bahwa wajah orang itu begitu akrab dalam benakku. Aku tidak merasa asing dengan wajah itu. Tetapi aku lupa di mana aku pernah bertemu dengan wajah itu…

    Shalat dhuhur rupanya masih lama, maka aku pun kembali berdzikir sambil menunggu waktu shalat tiba. Ketika aku tenggelam dalam dzikirku, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara lamat-lamat dari kejauhan, yang bertambah lama terasa bertambah dekat. Bahkan begitu jelasnya suara itu di telingaku.

    Suara itu ritmenya begitu luar biasa indahnya. Datang bergelombang dengan lembut tetapi jelas. Asal suara itu datang dari atas. Setelah itu datang dari berbagai penjuru. Dari samping kiriku, dari samping kananku, bahkan dari sekelilingku. Aku terbengong sendiri.

    Asalnya aku mengira ada jama’ah khusus di masjid itu yang berdzikir secara serempak bersama-sama. Tetapi anggapanku salah. Karena semua orang, semua jama’ah melakukan aktivitas sendiri-sendiri…

    Suara itu semakin lama semakin menyejukkan hati. Dada menjadi lapang, hati menjadi tentram dan tenang. Bahkan pikiran menjadi jernih.

    Aku berusaha mengikuti irama indah dan agung itu. Tetapi setiap ku ikuti, suara itu tiba-tiba berhenti. Sepertinya ia mengetahui kalau ada orang yang mengikutinya. Ketika aku terdiam. Suara itu kembali muncul dan terdengar di telingaku. Begitu jelasnya dan begitu agungnya. Begitu aku akan mengikutinya ia mendadak berhenti lagi. Dan yang terdengar adalah suara berisiknya para jama’ah yang melakukan aktivitasnya masing-masing. Dan aku pun semakin heran dibuatnya.

    Tetap ada satu pertanyaan yang mengusik dalam hatiku. Suara siapakah itu? Dari mana datangnya?

    Ketika aku berusaha mencari jawabnya, tiba-tiba terdengar suara iqamah dari bilal sebagai pertanda waktu shalat akan dimulai. Dan aku pun melakukan shalat dhuhur bersama para jama’ah lainnya.

    Sesampai di maktab, aku terus berusaha mencari jawabnya. Suara apakah itu, bergemuruh, datang dari jauh, tambah lama tambah dekat dan membentuk suatu ritme yang mempesona. Indah, agung, mesra, dan membentuk harmoni yang luar biasa…

    Begitu penasarannya aku. Maka pada malam itu juga kutulis kejadian itu di dalam buku harianku. Buku yang selalu kubawa kemana saja aku pergi.

    Hari ke dua, dari terjadinya peristiwa itu, aku kembali ke masjid pada jam yang sama. Dan aku menempati shaf agak depan dibanding shaf di hari sebelumnya. Seperti biasanya, sebelum waktu shalat dhuhur tiba, setelah aku lakukan shalat sunah, aku melakukan aktivitas dzikir untuk lebih menghayati dan lebih mendekatkan diri kepada Ilahi Rabbi.

    Saat-saat aku melakukan dzikir itu, tiba-tiba aku tersentak! Dan bulu kudukku merinding…. Ah, ternyata suara itu terdengar kembali di telingaku. Asalnya lamat-lamat. Tetapi tambah lama bertambah jelas. Dan semakin dekat. Begitu dekatnya suara itu. Sampai aku tidak tahu dari mana datangnya. Telingaku kututup dengan tanganku, suara itu semakin jelas. Telingaku kutempelkan di lantai, di sajadahku, suara itu pun sangat jelas. Aku mendongak ke atas, suara itu pun terdengar begitu jelas bahkan seolah memenuhi atap masjid Nabawi.

    Aku berusaha menenangkan diri. Setelah aku tenang, aku mencoba mengikuti suara itu dengan hatiku. Ah! Ternyata suara itu berhenti dan hilang lagi…. Aku pun meratap…” Ya Allah, apa yang terjadi dengan diriku…?” Suara apakah itu? Siapakah yang bersuara itu…

    Akhirnya aku pun pulang kembali ke hotel, tanpa mendapatkan jawaban yang pasti, tentang suara misterius tadi. Berikutnya, hari itu merupakan hari yang ke tiga, sejak terjadinya peristiwa itu. Aku kembali ke masjid untuk berjama’ah shalat dhuhur. Saat itu aku mendapatkan shaf di bagian tengah. Tempatnya sangat berbeda dengan dua hari sebelumnya.

    Setelah shalat sunah, seperti biasanya aku melakukan aktivitas dzikir. Dalam hati aku bertanya dan juga berharap, apakah akan muncul lagi suara itu? ternyata lama aku tunggu, suara itu tidak muncul lagi. Maka aku pun melupakan kejadian itu.

    Selanjutnya aku melakukan shalat sunah lagi. Begitu selesai mengucap salam yang ke dua sebagai penutup shalatku, tiba-tiba hatiku berdegup kencang. Bulu kudukku merinding lagi… Akh, suara itu terdengar lagi. Kini bertambah jelas, bertambah dekat, dan semakin indah iramanya… Aku pun terbuai dibuatnya.

    Dengan perasaan agak takut, aku mencoba mengikuti kalimat itu. Hatiku mulai mengikutinya, Setelah itu bibirku mencoba mengikutinya, Ah! sungguh agung, sungguh menyejukkan… dan sungguh mempesona.

    Dan di hari yang ke tiga itu, aku ternyata bisa mengikuti kalimat indah itu…subhaanallaah… Bibirku mulai bergerak mengikuti suara itu. Suara gemuruh dari berjuta-juta suara, yang membentuk harmoni luar biasa.

    Suara itu, kalimat agung itu berbunyi :

    “..laa ilaaha illallaah,… laa ilaaha illallaah,… laa ilaaha illallaah…”

    Aku pun tenggelam dalam alunan dzikir yang luar biasa indahnya itu. Entah sampai berapa puluh kali atau bahkan berapa ratus kali aku mengikuti dzikir indah itu aku tidak tahu…. Sampai akhirnya aku dikejutkan oleh suara iqamah bilal.

    Aku mulai menyusun shaf untuk shalat berjama’ah, bersama-sama para jama’ah lainnya untuk melakukan shalat dhuhur…

    Sesaat sebelum aku shalat dhuhur, tiba-tiba pikiranku melayang kepada kehadiran seorang jama’ah yang pernah shalat di sebelahku yang

    memberi minyak wangi di sekujur tubuhku dua hari sebelumnya itu. Pandangan matanya, senyumnya, masih begitu kuat tertanam dalam hatiku.

    Apakah peristiwa yang barusan aku alami selama tiga hari berturut-turut itu ada hubungannya dengan orang tersebut?

    Atau juga masih berhubungan dengan pengalamanku ketika pergi ke masjid, dimana saat itu setiap langkah kakiku aku gunakan untuk berdzikir? ..wallahu a’lam!

    Sungguh aku masih bingung…

    Aku pun berusaha untuk melupakan peristiwa itu, karena imam shalat sudah terdengar mengucapkan takbiratul ihram… Allaahu akbar! Kami semua mengikutinya untuk melakukan shalat berjama’ah.

    Setelah usai shalat dhuhur, aku baru menyadari bahwa hari itu adalah hari terakhirku di kota Madinah. Dan saat itu merupakan shalat dhuhur terakhir kami di masjid Nabawi, sebelum menuju Mekah Al-Mukaromah.

    Sesampai di maktab, kembali kubuka buku catatanku. Ku tulis ulang lanjutan pengalaman aneh, indah, dan mempesona yang terjadi selama tiga kali di masjid Rasulullah saw itu.

    Aku tetap masih merasa heran, dan merasa aneh! Siapakah yang berdzikir itu? Ribuan malaikat? Jutaan partikel yang ada di udara? Atau milyaran bio-elektron yang ada di seluruh penjuru dunia ini? Ataukah suara dzikirnya orang-orang shalih terdahulu yang terekam oleh alam, kemudian pada saat itu terdengar olehku, sampai sebanyak tiga kali?

    Aku tidak berani mengambil kesimpulan apapun….

    Yang jelas, yang terdengar oleh telinga lahirku dan oleh telinga bathinku saat itu adalah kalimat indah: ” …laa ilaaha illallaah… ” berulang kali. Bergemuruh, tetapi tidak memekakkan telinga. Bergemuruh, tetapi mendatangkan rasa nyaman di dada. Rasanya baru kali itu aku mendengar dan menyaksikan suatu harmonisasi dari jutaan warna suara yang berbeda, yang menyatu membentuk konfigurasi yang luar biasa indahnya…..

    Dan akupun teringat sabda rasulullah saw :

    Seutama-utama dzikir ialah : Laa ilaaha illallaah”

    (HR. Attirmidzi, Annasa’i, Ibn Majah, Ibn Hibban)

    Rupanya inilah puncak dzikir. Pelajaran terindah bagi seluruh makhluk ciptaan Allah. Semua bertasbih! Seluruh alam berdzikir, untuk mentauhidkan Allah saja…

    QS. Al-Hasyr (59) : 24

    Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana…

    QS. Al Israa’ (17) : 44

    Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 13 February 2013 Permalink | Balas  

    Menyesal Tidak Menangis

    Mengapa menjadi menyesal, jika seorang tidak bisa menangis…?

    Pak Sumo adalah seorang karyawan dalam sebuah perusahaan yang berusia sekitar 35 tahun. Dia termasuk seorang pekerja yang disiplin. Di samping kedisiplinanannya yang sudah diakui oleh manajernya, ia termasuk orang yang keras hati. Apa yang dikehendakinya, selalu ia usahakan untuk bisa meraihnya.

    Ada satu hal yang menurutnya, merupakan kekuatan dari dirinya. Yaitu bahwa ia tidak pernah menangis. Melihat kejadian apa pun, ia mampu melihat dengan biasa-biasa saja. Tanpa tergoda dalam suasana sedih. Jika ada orang menangis karena terhanyut oleh sebuah cerita dalam sebuah sinetron atau drama, ia hanya ketawa saja. Kekuatan hatinya tersebut menjadi kebanggaannya.

    Hari itu pak Sumo adalah sebagai salah satu jama’ah haji di kloterku. Ia berangkat dari maktab menuju masjid Nabawi kadang bersamaku kadang pula tidak. Hari itu di dalam masjid kebetulan dia bertemu denganku. Maka kami ramai dan asyik bercerita saling tukar informasi selama di kota Madinah.

    Sambil menunggu datangnya waktu shalat ashar, kami berbincang-bincang seputar masalah ibadah. Serta saling bertanya bagaimana suasana hati kami ketika berada di tanah Haram ini. Pak Sumo tiba-tiba bertanya kepadaku, apakah aku pernah meneteskan air mata ketika melakukan shalat di masjid Nabawi ini? Aku menjawab sambil lalu saja:

    “…wah, ya tentu saja pernah. Bahkan saya termasuk orang yang sering kali menangis jika melakukan shalat di sini.” Jawabku.

    Pak Sumo menimpali lagi :

    “Sering kali?… Mengapa bisa begitu ?” tukasnya. “Saya juga tidak tahu pak” jawabku singkat. Begitu aku selesai menjawab petanyaannya itu, tiba-tiba di depan kami agak menyerong sebelah kanan, terlihat ada seorang lelaki setengah baya yang berdoa sambil mengangkat kedua tangannya.

    Begitu sejuknya ekspresi wajahnya. Matanya terpejam. Dagunya terangkat sedikit. Dari sela-sela lembar bulu matanya menetes air matanya. Tetesan itu membasahi pipinya yang agak sedikit cekung. Tangannya merapat di depan dadanya dan menengadah ke atas. Mulutnya nampak bergerak-gerak, tanda ia sedang berbisik pelahan.

    Tanpa terasa aku ikut hanyut menyaksikan ekspresi orang tersebut. Sehingga aku agak lama terdiam. Aku lupa kalau di samping kananku ada pak Sumo yang sedang mengajakku untuk berbincang-bincang…

    Tiba-tiba lenganku dipegang oleh pak Sumo. Seraya ia bertanya kepadaku.

    :”Mengapa anda nampaknya ikut terhanyut melihat orang itu? apa yang istimewa pada diri orang itu?”

    Sebelum aku menjawab, pak Sumo pun melanjutkan pertanyaannya lagi:

    “… mengapa ya, sejak kemarin koq banyak orang menangis di sini? Apa yang menyebabkannya?” Saya sendiri tidak pernah mengalami hal semacam itu. Mengapa itu bisa terjadi.? ” Katanya lagi.

    Aku tidak memberi jawaban apa pun kepada pak Sumo atas pertanyaan-pertanyaan itu. Pembicaraan kami terputus, karena terdengar bilal sudah memberi tanda bahwa shalat akan segera dimulai. Akhirnya kami berpisah mencari shaf masing-masing untuk mengikuti shalat berjama’ah.

    Satu hari, dua hari, kami tidak bertemu dengan pak Sumo. Tetapi pada hari terakhir di Madinah, ketika kami melakukan shalat terakhir di masjid Nabawi, aku bertemu lagi dengan pak Sumo. Seperti biasanya ia mengajak duduk bersama sambil nunggu shalat berjama’ah. Menurut pengakuannya, ternyata selama kami tidak bertemu, pak Sumo bertambah sering melihat orang-orang menangis di masjid itu.

    Bahkan katanya ada orang yang hampir pingsan menangis sesenggukan menyesali dosa-dosanya. :”…tetapi hati saya tetap hambar. Saya tidak menemukan alasan untuk menangis. Meski pun dalam hati kecil saya, saya juga ingin merasakannya. Tetapi setes pun saya tidak bisa mengeluarkannya.” Katanya lagi.

    Ketika batasan waktu untuk di Madinah sudah dinyatakan habis, dan kami semua harus berkemas untuk menuju kota Mekah, aku melihat sesekali waktu pada diri pak Sumo. Ku lihat ia sering berdiam. Tidak seperti biasanya. Biasanya ia selalu nampak ceria, lincah, penuh gaya, dan penuh semangat.

    Saat itu nampak serius sekali. Maka aku pun mendekatinya sebagai teman jama’ah se kioter yang berangkat dan pulang kami sering bersama-sama. “Ada apa gerangan pak Sumo?” tanyaku.

    Setelah sejenak mamandang kepadaku, dan sedikit menatap mataku, pak Sumo bercerita. Ternyata selepas kami beberapa hari tidak bertemu di dalam masjid, pak Sumo bertambah sering melihat orang menangis dalam berdo’a. Bahkan ketika pulang dari masjid, ia masih sempat menyaksikan seorang ibu yang matanya masih basah oleh air mata.

    Dan yang lebih menggugah perasaannya adalah, ketika suatu saat pak Sumo berdekatan dengan beberapa jamaah, yang sedang berdiskusi tentang masalah suasana hati. Dari hasil pendengarannya yang tidak sengaja itu, pak Sumo mengambil sebuah kesimpulan, bahwa seharusnya hati seorang mukmin itu adalah sensitif. Gampang trenyuh, gampang peduli, dan gampang melihat kesalahan diri sendiri… Maka sejak itu pak Sumo sering merenung sendiri. Ia mulai melihat ada beberapa keanehan dalam dirinya. Ia mulai merasa betapa salahnya ia. Betapa keras hatinya, betapa tak tahu dirinya ia…

    Penyesalan demi penyesalan ia renungi sendiri.

    Dan tidak ada yang menyuruhnya, tiba-tiba saja jatuhlah air mata pertama pak Sumo selama dalam hidupnya. Air mata yang sangat mahal harganya. Yang akan mengubah suasana hati pak Sumo dalam kehidupannya.

    Dia bertambah sedih, dan merasa sangat besar dosanya, ketika teringat pernah mengejek temannya yang menangis ketika di Raudhah. Bahkan ketika ia melihat orang-orang melelehkan air mata, saat itu ia pernah mengejeknya di dalam hati. Akh, kepingin sekali rasanya pak Sumo mencari orang-orang itu, dan ia ingin memeluk untuk mohon maaf, atas kedangkalan pikiran dan hatinya.

    Hari itu Pak Sumo terus menerungi kesalahannya. Ku lihat sampai ia naik ke dalam bus, dan duduk di bagian belakang, ia tetap menundukkan kepala. Akh, rupanya pak Sumo telah ‘mampu’ menangis! Pak Sumo yang merasa bangga dengan kekerasan hatinya itu, pak Sumo yang selama hidupnya pantang mengeluarkan air mata itu, sekarang terlihat menangis, justru setelah semua orang telah berhenti dari menangisnya…

    Bus kami pun melaju dengan cepat menuju ke kota Mekah Al-Mukaromah. Di dalam bus yang lain, aku duduk bersama teman serombonganku, dan tanpa terasa aku pun terus merenung dan berfikir tentang peristiwa yang terjadi pada diri pak Sumo. Memang masalah hati adalah masalah hidayah. Yang sangat sulit diterobos oleh kata-kata atau kalimat yang tajam sekali pun.

    Firman Allah Swt, dalam Al-Qur’an menunjukkan betapa manusia mempunyai bermacam hati. Ada hati yang berpenyakit, ada hati yang tertutup. Ada hati yang keras membatu, ada pula hati terkunci mati. Bahkan ada hati yang sesat. Bergantung bagaimana mereka mampu melatih dan memenejnya masing-masing.

    QS. Al-Baqarah (2) : 7

    Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

    QS. Al-Baqarah (2) : 10

    Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

    QS. Ali Imran (3) : 8

    (Mereka berdo’a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”

    QS. Al-Maidah (5) : 13

    (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

    QS. Al-An’am (6) : 25

    Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan) mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”.

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 12 February 2013 Permalink | Balas  

    Dikejar Seorang Pengemis

    Ada apa seorang pengemis sampai mengejar seorang jama’ah haji…?

    Seorang kawan ketika melakukan shalat di Masjid Nabawi, suatu saat pernah dikejar oleh seorang pengemis yang terus membuntutinya. Bahkan agar sang ‘target’ mengeluarkan uangnya, si pengemis sampai ‘berganti rupa’…”

    Pak Musa, hari itu bernasib agak sial rupanya. Ketika ia mulai masuk Masjid Nabawi, ada seorang pengemis yang terus mengincarnya. Pak Musa tidak tahu bahwa ia menjadi sasaran ‘tembak’ seorang pengemis muda.

    Ketika pak Musa shalat sunah sambil menunggu waktu shalat dhuhur, selalu saja pengemis tersebut membuntuti dan mendekatinya sambil menengadahkan tangannya sebagai tanda untuk minta uang.

    Pengemis muda itu memberi tanda dengan telunjuknya bahwa ia minta uang satu real saja. Rupanya takut shalatnya tidak khusyu’ pak Musa menghindar dari tempat duduk pengemis berbaju kotor tersebut. Dan pak Musa pun berpindah tempat ke shaf lebih depan sambil melakukan shalat lagi. Harapannya semoga sang pengemis tidak mendekatinya lagi. Rupanya pak Musa tidak membawa uang satu real-an, sehingga permintaan pengemis itu ia abaikan begitu saja. Pikir pak Musa :

    “..ah biarlah, toh nanti ketika pada saatnya saya bawa uang satu real-an, akan saya berikan pada para pengemis yang cukup banyak jumlahnya itu…”

    Tetapi seolah pengemis tersebut mengetahui pikiran pak Musa. Ia terus mengejarnya. Dan terus minta uang satu real. Dan kembali pak Musa menghindar dengan cara ia berpindah ke tempat lain, dan masuk ke shaf yang lebih depan lagi.

    Demi menghindari sang pengemis muda itu, sampai-sampai pak Musa berpindah tempat duduk sebanyak empat kali. Akhirnya ia merasa aman pada suatu shaf yang padat yang tidak mungkin diisi oleh pengemis yang terus mengejarnya itu. Ia lakukan hal itu agar tidak bertemu dengan pengemis yang mengejar terus dan minta uang satu real tersebut… Maka sekarang amanlah pak Musa dari uang satu real yang diinginkan oleh sang pengemis muda itu.

    Pak Musa mendapat tempat duduk di suatu shaf yang betul-betul ‘aman’. Maka berdzikirlah pak Musa dengan khusyu’nya sambil menunggu waktu shalat dhuhur tiba.

    Karena jama’ah di shafnya cukup padat dan rapat, maka ketika shalat dhuhur telah tiba dan semua berdiri untuk melakukan shalat, pada shafnya pak Musa tidak ada perubahan jamaah. Artinya tidak ada orang baru dalam shaf tersebut.

    Maka shalat-lah pak Musa dengan khusyuknya. Tetapi sesekali hatinya masih ada rasa khawatir, akan orangnya pengemis muda yang misterius itu. Yang selalu minta uang satu real.

    Setelah shalat dhuhur selesai, semua mengucap salam sebagai penutup shalat dhuhur. Demikian pula dengan pak Musa. Ia mengucap salam dengan mantapnya. Tanda shalat telah usai.

    Tetapi begitu pak Musa mengucap salam kedua, sambil menoleh ke sebelah kiri, tiba-tiba jama’ah yang ada di sebelah kirinya, berkata kepada pak Musa dengan menggunakan bahasa inggris, yang maksudnya ia minta uang dan sedang membutuhkan uang sebesar sepuluh real

    Ekspresinya menunjukkan bahwa ia benar-benar sedang membutuhkan uang sebesar sepuluh real untuk suatu keperluan yang tidak bisa ditunda lagi. “…ukh!” tanpa terasa pak Musa mengeluarkan suara tersendat tanda terkejut setengah mati akan kejadian yang sangat tiba-tiba tersebut.

    Tanpa banyak bicara pak Musa pun mengeluarkan uang sepuluh real yang memang ada di sakunya. Ia merasa iba juga menyaksikan ekspresi wajah memelas dari orang tersebut.

    Menghindar satu real, ‘terperangkap’ menjadi sepuluh real! Pak Musa hanya tersenyum memikirkan pengalamannya yang sangat unik tersebut.

    Pulang dari masjid, pak Musa terus berpikir. Sungguh aneh pengalamannya hari itu. Ia menjadi semakin sadar bahwa dalam hidup ini ada suatu wilayah yang sangat misterius, yang manusia tidak sanggup menganalisisnya. Tetapi yang penting kita harus bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa.

    Sebuah pelajaran yang berharga adalah kadang tanpa sengaja kita telah berpaling dari orang-orang miskin, yang mungkin saat itu mereka sedang membutuhkan uluran tangan kita. Dan hari itu, pak Musa mendapatkan pelajaran baru. Bahwa siapa pun ternyata perlu untuk diperhatikan, walaupun sekedar seorang miskin, orang kecil yang bukan orang penting…

    Al-Qur’an begitu banyak memberikan peringatan kepada kita tentang kelengahan kita terhadap orang-orang miskin.

    QS. Al-Baqarah (2) : 83

    Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

    Bahkan Allah memperjelas dalam suatu ayat, bahwa tidak menghiraukan anak yatim dan orang miskin, termasuk mendustakan agama.

    QS. Al-Mauun (107) : 1-7

    Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

    Setelah memberi uang kepada orang di sebelahnya itu, pak Musa melanjutkan dzikir dan shalat sunah rawatib. Setelah itu, pak Musa tidak melihat lagi kemana perginya orang sebelah yang minta uang sepuluh real tadi.

    Tetapi yang masih membayang di pikiran pak Musa adalah, betapa proses ia mengeluarkan uang sepuluh real tadi di awali oleh sebuah proses yang cukup unik yaitu munculnya pengemis muda yang minta uang satu real. Dan terus-menerus ia mengejarnya.

    Dengan alasan agar shalat tidak terganggu oleh sang pengemis muda, dihindarinya pengemis itu. Tetapi akhirnya menghindar dari satu real, pak Musa harus mengeluarkan sepuluh real. Dan sang pengemis muda tadi seolah telah berganti wajah untuk ‘memaksa’ pak Musa mengeluarkan uang sepuluh real yang ada di sakunya.

    Yang aneh adalah bahwa pengemis muda itu, sudah ‘menunggu’ di shaf yang akan dimasuki oleh pak Musa. Sungguh aneh, misterius…, tapi nyata. Kalau seseorang sudah ditakdirkan harus mengeluarkan uang, maka pasti akan terjadi juga, meskipun kita lari kemana saja…. pak Musa pun kembali tersenyum mengenang kejadian itu.

    Ketika sampai di maktab berkatalah pak Musa kepada istrinya:

    “…baru saja aku memperoleh sebuah pelajaran baru yang sangat menarik…”

    QS. Ali ‘Imran (3) : 134

    (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
    • achmad usman 9:57 am on 1 Maret 2013 Permalink

      “cobaan” yg berhasil dilalui pak musa…………………………

  • erva kurniawan 1:25 am on 11 February 2013 Permalink | Balas  

    Petruk Dadi Ratu

    Oleh : Fauzi Nugroho

    Ketika berusia delapan tahun untuk pertama kali saya diperkenalkan dengan nama-nama tokoh pewayangan oleh orang tua dari ayah-ibu saya. Selama dua tahun saya tinggal bersama mereka di lingkungan pedesaan yang syarat dengan kultur Jawa. Orang tua mengharapkan agar selain mendapat sekolah umum, saya juga bisa memperoleh ilmu agama dari Eyang Kakung yang memang mempunyai santri cukup banyak. Nilai-nilai agama, akhlak dan anggah-ungguh (tata krama) saya dapatkan dari lingkungan tempat saya tinggal. Seperti keharusan shalat berjamaah ketika adzan shalat telah memanggil, menghormati orang yang lebih tua, tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan miliknya, dan sebagainya. Perilaku kesatria keluarga Pandawa, seperti Bima, Yudhistira pun kerap didongengkan oleh Eyang Putri ketika ke tempat peraduan sambil memijat tubuh kecil saya. Nama tokoh lain seperti Arjuna, Kresna, bahkan para punakawan seperti, Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk menjadi akrab dengan telinga saya. Pertunjukkan

    Wayang Kulit sesekali pernah dipertontonkan kepada warga desa, manakala ada keluarga yang mengadakan hajatan pernikahan atau khitanan. Nama tokoh Semar kerap menjadi teladan bagi penonton karena kearifan dan kebijaksanaannya, sedangkan tokoh seperti Petruk selain sering ngebayol juga merupakan merek rokok favorit yang biasa dihisap oleh warga desa disamping merek Sintren. Namun, anak-anak zaman sekarang sangat jarang disuguhi tontonan seperti itu, mereka lebih mengenal Superman, Batman, Spiderman, atau Power Rangers. Pun bagi orang dewasa, nama-nama tokoh pewayangan seperti di atas mungkin terasa asing di telinga. Pada masa lampau, wayang sering dijadikan media syiar Islam mengingat tanah Jawa penduduknya mayoritas memeluk agama Hindu sebelum masuknya Islam melalui Wali Songo. Sehingga tidak heran bila di Jawa Tengah & Timur bisa dijumpai Wayang Orang dan Wayang Kulit, ataupun di Jawa Barat dikenal dengan Wayang Golek.

    Banyak versi tentang kisah rakyat tersebut, Petruk misalnya ada yang menyebutnya seorang pengeran, putra begawan sakti dengan nama asli Bambang Pecrukpanyukilan, yang gemar guyon dan berkelahi. Pada saat menuju ke tempat Pertapaan dirinya bertemu dengan Bambang Sukakadi (Gareng), kemudian keduanya berkelahi menguji kesaktian. Tubuh keduanya menjadi rusak dan perkelahian itu akhirnya dilerai dan dihentikan oleh Semar beserta anaknya Bagong. Kemudian keduanya diangkat menjadi anak Semar, sedangkan Semar konon merupakan orang suci (dewa). Namun cerita itu berkembang dengan berbagai versi, tokoh Petruk, Gareng, dan Bagong dikenal sebagai punakawan, abdi atau pelayan. Versi ini lebih banyak dikenal daripada sebelumnya, sehingga nama tokoh Petruk menjadi identik dengan pelayan, batur atau abdi dalem. Lalu bagaimana jika seorang abdi dalem menjadi petinggi kerajaan?

    Kisah Petruk Jadi Raja merupakan contoh bagaimana seseorang berubah menjadi angkuh dan sombong bahkan cenderung menjadi lupa diri saat berada di pusat kekuasaan. Petruk mendapatkan keberuntungan menjadi seorang raja, gelimang harta benda dan kekuasaan menyebabkan ia lupa daratan dan mabuk kekuasaan sehingga bersikap sewenang-wenang dan merendahkan orang lain. Dia pun mempergunakan aji mumpung untuk kesenangannya. Karena seorang abdi, ia tidak bisa mengelola kekuasaannya dengan bijak dan tepat. Ia terlalu bergairah untuk duduk di singgasana dan semakin haus dengan kekuasaan, ia pun tidak punya gagasan cemerlang untuk mensejahterakan rakyatnya. Pepatah mengatakan Kere Munggah Bale, adalah sikap aji mumpung ketika si miskin tiba-tiba menjadi penguasa.

    Cerita itu menjadi relevan dengan kondisi saat ini, ketika kita menengok kepada lingkungan sekitar. Arus reformasi telah membawa perubahan format politik, budaya, dan sosial-ekonomi. Jabatan Gubernur, Bupati, Walikota yang semula menjadi hak istimewa institusi, kelas dan orang-orang tertentu, kini terbuka bagi setiap orang. Asumsi politik mengatakan jika pemilihan pejabat dilakukan secara langsung seakan menjadi jaminan terciptanya demokrasi, padahal inti demokrasi muaranya antara lain adalah kesejahteraan rakyat. Senyatanya, kondisi yang diharapkan belum terjadi dan memunculkan fenomena memprihatinkan dari oknum anggota legislatif di pusat atau daerah, yaitu menguatnya perilaku aji mumpung – karena masa jabatan hanya sebentar. Sehingga tidak mengherankan bila Transparency International Indonesia (TII) menempatakan lembaga legislatif sebagai institusi terkorup di negeri ini. Pun tidak sedikit para pejabat eksekutif pusat maupun daerah yang juga menggunakan ajian mumpung untuk memenuhi kesenangannya. Padahal jika kita menengok ke belakangan, bahwa orang-orang yang katanya sukses atau bergelimang harta adalah manusia yang pada awalnya tidak memiliki apa-apa, bahkan Oom Lim sekalipun, dahulunya juga orang susah, miskin dan hidup seadanya.

    Keadaan seperti itu tersurat dalam firman-Nya, “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS. Adh Dhuhaa, 93:8).

    Nenek moyang kita dahulu hanya hidup dari alam, berangsur-angsur keturunannya bisa memperoleh makanan yang lebih baik, mendirikan rumah yang layak, mengeyam pendidikan, dan pada akhirnya bisa membaca serta berilmu pengetahuan. Sebagian dari mereka menjalani profesi yang berbeda sesuai keahlian/pengetahuan yang dimiliki untuk penghidupannya. Semua itu adalah karena karunia-Nya, Dialah yang mencukupi keperluan kita, “(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku,” (QS. Asy Syu’araa, 26:78-79). Namun setelahnya, bukan syukur, tetapi malah kufur seperti lupanya seorang Petruk akan asalnya.

    Cukup banyak contoh orang-orang yang berada di posisi puncak, tetapi malah menunjukkan rasa syukurnya kepada Allah SWT. Mereka menyadari bahwa kepemimpinannya (kekhalifahannya) akan dimintai pertanggunganjawaban. Misalnya, Umar bin Khatab r.a yang lebih memilih menaiki keledai kecil dan dengan pakaian ala kadarnya. Mahatma Gandhi, inspirator gerakan kemerdekaan di Asia pada era 40-an, menyukai berpakaian hanya selembar kain gandum. Bung Hatta menjadi sangat dikenang selain karena intelektualitas juga karena kesederhanaan dan kejujurannya. Ataupun Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, anak seorang tukang pangkas rambut. Kantornya hanyalah sebuah bangunan kecil di kawasan padat di tengah Teheran, bahkan lebih kecil dari kantor Gubernur DKI Jakarta. Pakaian kesehariannya produk dalam negeri, dan hanya memakai jas tanpa dasi. Ia menolak tinggal di rumah dinas presiden, dan lebih memilih tinggal di apartemen sederhana di kawasan kelas menengah bawah di Nurmagi,

    Teheran Tenggara. Kesederhanaan sebagai manifestasi dari bentuk empati dan simpati itulah yang membuat mereka menjadi guru (digugu dan ditiru) bagi rakyat yang dipimpinnya daripada mereka memilih gaya borjuis saat menjadi Ratu. Tangan, pemikiran, dan kedudukannya telah memberi manfaat untuk kemaslahatan rakyat yang dipimpinnya. Semoga pesan ini dapat menggugah keterlenaaan kita sebagai makhluk Allah bahwa kemanfaatan sebagai khalifah di bumi-Nya adalah segalanya, hal itu jualah yang membedakan mana Petruk dan diri kita, dan kita termasuk orang-orang yang senantiasa mau berbuat bagi kemasalahatan umat dan orang banyak. Mudah-mudahan Allah SWT meringankan langkah kita dan meridhoi setiap upaya kita semua. Amin (fn).

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 5 February 2013 Permalink | Balas  

    Tengoklah ke “Dalam” sebelum Bicara

    Oleh Sus Woyo

    Ada sebuah kisah kecil, ketika saya masih aktif bersama teman-teman di organisasi remaja masjid kampung saya. Namun kisah kecil ini telah menjadi ‘prasasti’ indah dalam kehidupan saya sampai sekarang.

    Waktu itu kami sedang giat-giatnya menggelar usaha keagamaan. Tiba-tiba di belakang masjid kami, salah seorang warga membuka rumahnya untuk dijadikan tempat judi togel.

    Setiap malam orang-orang ramai berkumpul di situ. Karena dari pihak desa tidak ada reaksi apa-apa terhadap judi itu, maka kami bersepakat untuk negosiasi dengan warga itu. Agar kegiatan yang banyak merugikan masyarakat itu dihentikan saja.

    Dengan semangat, kami bersepakat untuk mendatangi tempat tersebut.

    Namun sebelum berangkat, ada salah satu senior kami yang mengingatkan.

    Ia berkata pada kami. “Ini kerja besar.Ini perjuangan berat. Jangan gegabah kita melangkah. Kita harus lebih siap lagi untuk maju ke medan ‘jihad’ ini.

    Ada sesuatu yang harus kita laksanakan dulu sebelum kita maju kesana.”

    Senior kami itu menyarankan agar kami mengoreksi diri dulu. Sudah sejauh mana ibadah harian kita kepada Allah. Sudah sejauh mana komitmen kita terhadap apa yang diperintahNya dan apa yang dilarangNya.

    Ahirnya, selama beberapa hari, kami disarankan untuk sebisa mungkin sholat wajib berjamaah. Kita juga harus bangun malam untuk qiamullail.

    Yang biasanya jarang puasa Senin Kamis, sekarang amalan Nabi itu harus dilaksanakan dengan intensif. Pokoknya, senior kami itu menyarankan agar sebisa mungkin mengaplikasikan bentuk ketakwaan dan keimanan kepada Allah SWT. Tidak hanya bentuk “amar ma’ruf” saja, tapi mesti diiringi juga dengan “nahi mungkar.” Seperti yang masih merokok untuk segera meninggalkan perbuatan mubah itu.

    Beberapa hari kemudian, saat hari ‘H’ sudah tiba, kami berkumpul lagi.

    Namun kami tidak jadi menemui bandar togel itu. Sebab, dengan izin Allah, orang itu sudah menutup total usahanya. Rupanya ia sudah kembali berprofesi seperti biasa, yaitu sebagai kuli bangunan. Kami merasa gembira sekali. Dan semua ini sudah jelas merupakan pertolongan dariNya. Entah apa yang terjadi seandainya kami menyikapi perbuatan salah seorang warga di dekat masjid itu dengan emosional pada waktu itu, tanpa mengindahkan nasehat senior kami.

    Apakah ini sebuah kemenangan sebelum bertanding? Tidak juga.

    Sebab kami telah berjuang dulu, berjuang menaklukan napsu diri.

    Bukankah ini juga jihad besar?

    Pantas, jika sahabat Umar ra. sebelum berangkat perang dengan orang kafir, selalu memeriksa pasukannya sedetil mungkin. Mereka yang malamnya tidak qiamullail, sementara jangan ikut ke medan jihad dulu. Kata Khalifah kedua itu: “Saya tidak takut dengan musuh yang banyak, tapi saya lebih takut kepada banyaknya dosa yang kita bawa. Sehingga kita akan kesulitan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.”

    Dan sejarah juga mencatat gemilangnya perang Badar bagi kaum muslimin.

    Padahal erbandingan jumlah pasukan antara kaum muslimin dan kafir sama sekali tidak seimbang. Tentu sudah bisa dipastikan bahwa salah satu faktor kemenangan kaum muslimin adalah karena kwalitas iman orang muslim masa itu yang sangat prima. Dan tentunya sangat minim dengan dosa-dosa. Tidak seperti kami di jaman ini.

    Saya hanya bisa berpikir, seandainya saya, keluarga saya, lingkungan saya, atau skup yang lebih luas lagi negri saya, dalam mengatasi masalah berkiblat dengan cara mereka, mungkin Allah pun akan memberi kemudahan dalam mengatasi berbagai masalah.

    Ya, tentunya harus dimulai dari pribadi masing-masing. Sebab tak mustahil, bahwa saya, kita-kita inipun ternyata ada dalam barisan orang-orang yang menghambat pertolongan Allah.

    Sampai sekarang pesan senior kami di organisasi remaja masjid bertahun-tahun lalu itu, selalu terngiang ditelinga saya, manakala ada sesuatu pekerjaan yang harus berhubungan dengan orang banyak. Pesan yang pendek, namun sangat berarti: “Bacalah dirimu! Sebelum kau baca orang lain!”

    Atau dalam bahasa populer penyanyi ballada Ebiet G Ade: “Tengoklah ke ‘dalam’, sebelum bicara.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 3 February 2013 Permalink | Balas  

    Ya Kayuku, Ya Kayumu

    Oleh: Luthfi Bashori

    Konon menurut shahibul hikayat, di jaman penjajahan Jepang pernah terjadi suatu keajaiban. Saat itu, ada seorang petani yang aktif shalat di sebuah mushalla dekat perkampungan. Sekali pun ia bukanlah penduduk desa itu, namun ia memiliki sebidang tanah sawah yang berada di wilayah tersebut.

    Karena itulah hampir setiap Dhuhur dan Ashar petani itu selalu meluangkan waktunya shalat di mushalla itu, bahkan karena keaktifannya, maka warga setempat menunjuknya sebagai imam shalat khusus Dhuhur dan Ashar.

    Sebenarnya, petani itu bukanlah ahli ilmu agama, namun karena kondisi masyarakat di jaman itu cukup mengenaskan, baik dari segi keilmuan, perekonomian maupun keamanan, maka karena keadaanlah memaksa mereka untuk memanfaatkan apa saja yang dianggap maslahat tanpa harus meninjau syarat-syarat ideal, termasuk dalam mengangkat imam shalat Dhuhur dan Ashar.

    Di sisi lain, kaum lelaki di kampung itu kebanyakan adalah para pejuang kemerdekaan, sehingga bukan urusan gampang mencari kaum lelaki yang senantiasa stand by di kampung halamannya, karena mereka harus bergerilya dan selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, masuk hutan keluar hutan, demi menyusun strategi menghadapi dan menyerang penjajah Jepang.

    Suatu saat, ada serombongan gerilyawan yang berlarian menuju mushalla kampung tersebut. Rupanya mereka sedang dikejar tentara Jepang. Sangat kebetulan, di saat yang bersamaan si petani itu sedang mengimami shalat Dhuhur. Maka kontan para gerilyawan bergabung shalat berjamaah, sekaligus untuk menghilangkan jejak dari kejaran tentara Jepang.

    Sayangnya barisan tentara Jepang itu tetap mencurigai para jamaah shalat Dhuhur di mushala itu, dan menghitungnya sebagai para pejuang yang sedang mereka kejar, maka tanpa ba-bi-bu, tiba-tiba tembakan demi tembakan meletus dan diarahkan kepada para jamaah shalat.

    Tentu saja banyak para jamaah yang bergelimpangan mati syahid, sedangkan mereka yang tidak terkena peluru, secara refleksi menggunakan trik menjatuhkan diri pura-pura mati, agar tidak menjadi sasaran tembak berikutnya.

    Lain halnya dengan si petani yang menjadi imam shalat, ia dengan khusyu` terus menyelesaikan shalatnya, hingga tentara Jepang itupun membrodongkan tembakannya ke arah si petani yang menjadi imam shalat. Anehnya, si petani itu tetap istiqamah dalam shalatnya tanpa terpengaruh apapun, hingga akhirnya tentara barisan Jepang beranjak meninggalkan si petani di saat sedang membaca salam pada tahiyyat akhir.

    Peristiwa ini sangat mengejutkan para pejuang yang masih hidup. Maka Mereka beramai-ramai menanyakan ajian apa yang digunakan oleh si petani hingga dirinya tidak mempan ditembak.

    Dengan polos, si petani mengatakan bahwa konon ia mendapat ijazah dari seorang Kiai yang kebetulan sedang mengajar di kampung tempat tinggalnya, yaitu agar setiap usai shalat fardlu hendaklah selalu membaca : YA KAYUKU YA KAYUMU sebanyak seratus kali, dan jika berada dalam keadaan darurat/genting maka hendaklah dibaca sebanyak-banyaknya tanpa hitungan tertentu. Karena itulah si petani selalu istiqamah membacanya dengan penuh keyakinan `seyakin-yakinnya`, sehingga dalam keadaan darurat tadi si petani merasa dirinya menjadi seperti KAYU yang tidak mempan ditembak.

    Kebetulan ada salah seorang dari kalangan pejuang yang masih hidup itu, konon adalah alumni sebuah pesantren. Maka dengan sedikit senyum ia ingin mengoreksi bacaan sang petani yang merangkap jadi imam shalat > Lantas dengan nada lembut dan hormat alumni pesantren itu mengatakan: Pak, mohon maaf, barangkali bacanya yang benar itu adalah YA HAYYU YA QAYYUM, karena yang bapak baca itu adalah termasuk Asmaul Husna, yaitu nama-nama Allah, bukan YA KAYUKU YA KAYUMU, hingga badan bapak berubah menjadi KAYU.

    Karena keawwaman si petani, ia hanya dapat mengangguk-anggukkan kepala, sedangkan lisan awwamnya tetap saja membaca YA KAYUKU YA KAYUMU dengan penuh keyakinan, hal ini karena lisannya sudah terbiasa dengan bacaan itu.

    Berbeda dengan alumni pesantren tersebut, ia pun berusaha mengamalkan bacaan YA HAYYU YA QAYYUM seperti yang diamalkan si petani, bahkan lisannya jauh lebih baik dan lebih fasih saat membacanya. Hanya saja dari segi keyakinan saat mengamalkan ijazah itu, masih di bawah standar keyakinan si petani awwam tadi.

    Hingga suatu saat, terjadi lagi peristiwa yang hampir sama, bahwa para gerilyawan itu kembali dikejar-kejar tentara Jepang dan dibrondong peluru. Namun karena nasib yang berbeda, alumni pesantren yang fasih mengucapkan YA HAYYU YA QAYYUM itu pun akhirnya mati syahid tertembak peluru tentara Jepang. Innalillahi wa inaa ilaihi raaji`un.

    Penyair mengatakan :

    Idzil fataa hasba`tiqaadihi rufi` # wakullu man lam ya`taqid lan yantafi`

    Seseorang itu akan diangkat derajatnya sesuai kadar keyakinannya, siapa yang tidak yakin terhadap sesuatu, ia tidak akan dapat mengambil manfaatnya.

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 28 January 2013 Permalink | Balas  

    Mimpi Bertemu Rasulullah SAW Sebelum Mati Syahid

    Abu Muslim Al-Turki, berasal dari Inggris. Syahid dalam sebuah pertempuran melawan tentara Kroasia di Bosnia pada tahun 1993, pada umur 51 tahun. Kisah dari orang pertama.

    Abu Muslim adalah seorang muslim keturunan Turki yang dibesarkan di Inggris. Sebelumnya ia menjalani hidupnya bagaikan seorang kafir. Ia menikahi seorang wanita non muslim, begitu pula ia tidak mengerjakan shalat dan menjalankan ibadah lainnya, sampai suatu hari Allah SWT memberikan petunjukNya untuk kembali ke jalan yang benar.

    Tak lama kemudian, Abu Muslim mendengar tentang situasi di Bosnia, dan berkata pada dirinya bahwa saya harus berangkat ke Bosnia, saya harus bertaubat pada Allah dan bertempur melawan pasukan Serbia, semoga dengan demikian Allah mengampuni semua yang telah saya lakukan di masa lampau.

    Ia tiba di Bosnia pada musim gugur 1992 dan mengikuti training pada sebuah kamp di Mehorich. Abu Muslim adalah orang yang paling tua di antara para mujahidin. Saat mujahidin melakukan lari pagi, mereka semua harus menggenggam sebuah senapan, kecuali Abu Muslim, karena usianya yang tua dan kepayahan fisiknya. Orang yang melihat matanya akan mendapatkan mata seorang yang benar dan jujur kepada Allah.

    Dalam sebuah operasi melawan pasukan Kroasia, Amir pasukan tidak memilihnya untuk ikut dalam operasi tersebut karena usianya yang tua. Namun Abu Muslim mulai menangis, meraung-meraung bagaikan seorang bayi hingga Amir pasukan terpaksa memasukkannya untuk ambil bagian dalam operasi tersebut.

    Dalam operasi tersebut Abu Muslim tertembak di lengannya hingga menghancurkan tulangnya dan sebatang logam harus ditanamkan di lengannya selama enam bulan. Abu Muslim rajin melatih lengannya, dan setelah 45 hari dokter mengatakan bahwa logam tersebut sudah dapat diambil dari tangannya. Semua orang terkejut mendengar kabar tersebut.

    Sebelum dilakukan sebuah operasi besar terhadap pasukan Kroasia, Abu Muslim mendapat mimpi, di mana ia melihat Rasulullah SAW dan mencium kakinya. Kemudian Rasulullah SAW berkata padanya,”Janganlah kau cium kakiku.” Kemudian Abu Muslim mencium tangan Rasulullah SAW, hingga Rasulullah berkata padanya,”Jangan kau cium tanganku.” Kemudian Rasulullah SAW bertanya padanya,”Apa yang kamu inginkan hai Abu Muslim?” Abu Muslim menjawab,” Ya Rasulullah, berdoalah pada Allah untukku, agar dalam operasi besok saya mati syahid.”

    Sebelum operasi tersebut dijalankan, Amir pasukan, yaitu Komandan Abul Haris memilih personil yang akan ambil bagian dalam operasi tersebut. Ia menolak Abu Muslim untuk ikut, karena masih terluka dan belum pulih.

    Seorang mujahid yang hadir saat itu berkata,” Aku bersumpah pada Allah bahwa Abu Muslim mulai menangis seperti bayi dan berkata pada Amir, ‘Takutlah pada Allah! Abul Haris, saya akan menuntutmu di hari Kiamat jika engkau tidak mengikutkanku dalam operasi ini.”

    Saat komandan Abul Haris menyuruhnya untuk tidak berteriak karena kuatir didengar musuh, Abu Muslim menjawab, ”Demi Allah, jika engkau tidak memilih saya dalam operasi ini Abul Haris, saya akan menangis keras hingga terdengar ke seluruh negeri.” Lalu ia berkata,”Ikutkan saya dalam operasi ini di mana saja, meskipun sebagai orang yang paling belakang, ikutkanlah saya dalam operasi ini.”

    Akhirnya Abu Muslim diikutkan dalam operasi ini di posisi belakang. Namun jalannya pertempuran berubah, hingga barisan belakang menjadi barisan depan (berhadapan dengan musuh – penerjemah) dan barisan depan menjadi barisan belakang. Abu Muslim menjadi mujahid kedua yang syahid dalam operasi itu oleh sebuah peluru yang mengenai dadanya.

    Tubuhnya baru dikembalikan oleh pasukan Kroasia setelah tiga bulan, bersama tubuh saudara senegaranya Daud al-Britany. Sebuah aroma wangi tercium dari tubuhnya yang tampak tidak berubah meskpun tiga bulan telah berlalu. Semua orang yang menyaksikannya mengatakan bahwa tubuhnya menjadi lebih tampan dan tampak lebih putih daripada ketika terakhir kalinya mereka melihat Abu Muslim.

    Seorang mujahid bertutur bahwa dari semua jenazah para syuhada yang pernah dilihatnya di Bosnia, tidak ada yang lebih tampan daripada jenazah Abu Muslim at-Turki.

    “Barangsiapa yang menderita suatu luka dalam jihad fi sabilillah, kelak ia akan datang pada hari kiamat, baunya seperti bau harum minyak kesturi, dan warnanya seperti warna za’faron, ada ada cap syuhada’ padanya. Barangsiapa yang meminta syahadah dengan tulus, maka Allah akan memberikan padanya pahala orang yang mati syahid meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya.“ (Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan Al Hakim)

    ***

    Disadur dari : ebook Wakaf Kisah Nyata “Biografi dan Karomah Syuhada Jihad Bosnia”

    Silahkan download selengkapnya di abuhamdi.wordpress.com

     
    • what is the best time to try and get pregnant 1:57 am on 31 Januari 2013 Permalink

      I absolutely love your blog.. Pleasant colors & theme.
      Did you build this site yourself? Please reply back as
      I’m planning to create my very own site and want to find out where you got this from or what the theme is named. Thank you!

    • Lia Abduh 5:32 pm on 10 April 2013 Permalink

      Subhanallah*** indahnya mati syahid.

    • VAN roen 5:12 pm on 12 April 2013 Permalink

      Ya ALLAH YA RABB ku tanamkanlah api jihad kpd ENGKAU YANG MAHA SUCI dhati n jiwa hamba Mu yg hina ini sampai ajal menjemput

  • erva kurniawan 1:29 am on 27 January 2013 Permalink | Balas  

    Abraham David Mandey : Pendeta yang mendapat Hidayah Allah

    Barangkali tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa perjalanan hidupnya merupakan suatu kasus yang langka dan unik. Betapa tidak, Abraham David Mandey yang selama 12 tahun mengabdi di gereja sebagai “Pelayan Firman Tuhan “, istilah lain untuk sebutan pendeta, telah memilih Islam sebagai “jalan hidup” akhir dengan segala risiko dan konsekuensinya. Di samping itu, ia yang juga pernah menjadi perwira TNI-AD dengan pangkat mayor, harus mengikhlaskan diri melepas jabatan, dan memulai karir dari bawah lagi sebagai kepala keamanan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. – Cerita Beliau ini, – mohon maaf – tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan Institusi tertentu karena apa yang telah terjadi Beliau terima dengan ikhlas dan tawakal, Beliau hanya ingin menceritakan proses bagaimana Beliau mendapat hidayah dan tantangannya sebagai mualaf – red.

    Saya terlahir dengan nama Abraham David di Manado, 12 Februari 1942. Sedangkan, Mandey adalah nama fam (keluarga) kami sebagai orang Minahasa, Sulawesi Utara. Saya anak bungsu dan tiga bersaudara yang seluruhnya laki-laki. Keluarga kami termasuk keluarga terpandang, baik di lingkungan masyarakat maupun gereja. Maklum, ayah saya yang biasa kami panggil papi, adalah seorang pejabat Direktorat Agraria yang merangkap sebagai Bupati Sulawesi pada awal revolusi kemerdekaan Republik Indonesia yang berkedudukan di Makasar. Sedangkan, ibu yang biasa kami panggil mami, adalah seorang guru SMA di lingkungan sekolah milik gereja Minahasa.

    Sejak kecil saya kagum dengan pahlawan-pahlawan Perang Salib seperti Richard Lion Heart yang legendaris. Saya juga kagum kepada Jenderal Napoleon Bonaparte yang gagah perwira. Semua cerita tentang kepahlawanan, begitu membekas dalam batin saya sehingga saya sering berkhayal menjadi seorang tentara yang bertempur dengan gagah berani di medan laga.

    Singkatnya, saya berangkat ke Jakarta dan mendaftar ke Mabes ABRI. Tanpa menemui banyak kesulitan, saya dinyatakan lulus tes. Setelah itu, saya resmi mengikuti pendidikan dan tinggal di asrama. Tidak banyak yang dapat saya ceritakan dari pendidikan militer yang saya ikuti selama 2 tahun itu, kecuali bahwa disiplin ABRI dengan doktrin “Sapta Marga”-nya telah menempa jiwa saya sebagai perwira remaja yang tangguh, berdisiplin, dan siap melaksanakan tugas negara yang dibebankan kepada saya.

    Meskipun dipersiapkan sebagai perwira pada bagian pembinaan mental, tetapi dalam beberapa operasi tempur saya selalu dilibatkan. Pada saat-saat operasi pembersihan G-30S/PKI di Jakarta, saya ikut bergabung dalam komando yang dipimpin Kol. Sarwo Edhie Wibowo (almarhum).

    Setelah situasinegara pulih yang ditandai dengan lahirnya Orde Baru tahun 1966, oleh kesatuan saya ditugaskan belajar ke STT (Sekolah Tinggi Teologi) milik gereja Katolik yang terletak di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Di STI ini, selama 5 tahun (1966-1972) saya belajar, mendalami, mengkaji, dan diskusi tentang berbagai hal yang diperlukan sebagai seorang pendeta. Di samping belajar sejarah dan filsafat agama Kristen. STT juga memberikan kajian tentang sejarah dan filsafat agama-agama di dumia, termasuk studi tentang Islam.

     

    Menjadi Pendeta.

    Sambil tetap aktif d TNI-AD, oleh Gereja Protestan Indonesia saya ditugaskan menjadi Pendeta II di Gereja P***** (edited) di Jakarta Pusat, bertetangga dengan Masjid Sunda Kelapa. Di gereja inilah, selama kurang lebih 12 tahun (1972-1984) saya memimpin sekitar 8000 jemaat yang hampir 80 persen adalah kaum intelektual atau masyarakat elit.

    Di Gereja P***** (edited) ini, saya tumpahkan seluruh pengabdian untuk pelayanan firman Tuhan. Tugas saya sebagai Pendeta II, selama memberikan khutbah, menyantuni jemaat yang perlu bantuan atau mendapat musibah, juga menikahkan pasangan muda-mudi yang akan berumah tangga.

    Kendati sebagai pendeta, saya juga anggota ABRI yang harus selalu siap ditugaskan di mana saja di wilayah Nusantara. Sebagai perwira ABRI saya sering bertugas ke seluruh pelosok tanah air Bahkan, ke luar negeri dalam rangka tugas belajar dari markas, seperti mengikuti kursus staf Royal Netherland Armed Forces di Negeri Belanda. Kemudian, pada tahun 1969 saya ditugaskan untuk mengikuti Orientasi Pendidikan Negara-negara Berkembang yang disponsoni oleh UNESCO di Paris, Prancis.

     

    Dilema Rumah Tangga

    Kesibukkan saya sebagai anggota ABRI ditambah tugas tugas gereja, membuat saya sibuk luar biasa. Sebagaipendeta, saya lebih banyak memberikan perhatian kepada jemaat. Sementara,kepentingan pribadi dan keluarga nyaris tergeser. Istri saya, yang putri mantan Duta Besar RI di salah satu negara Eropa, sering mengeluh dan menuntut agar saya memberikan perhatian yang lebih banyak buat rumah tangga.

    Tetapi yang namanya wanita, umumnya lebih banyak berbicara atas dasar perasaan. Karena melihat kesibukan saya yang tidak juga berkurang, ia bahkan meminta agar saya mengundurkan diri dan tugas-tugas gereja, dengan alasan supaya lebih banyak waktu untuk keluarga. Tenth saja saya tidak dapat menerima usulannya itu. Sebagai seorang “Pelayan Firman Tuhan” saya telah bersumpah bahwa kepentingan umat di atas segalanya.

    Problem keluarga yang terjadi sekitar tahun 1980 ini kian memanas, sehingga bak api dalam sekam. Kehidupan rumah tangga saya, tidak lagi harmonis. Masalah-masalah yang kecil dan sepele dapat memicu pertengkaran. Tidak ada lagi kedamaian di rumah. Saya sangat mengkhawatirkan Angelique, putri saya satu-satunya. Saya khawatir perkembangan jiwanya akan terganggu dengan masalah yang ditimbulkan kedua orang tuanya. Oleh karenanya, saya bertekad harus merangkul anak saya itu agar ia mau mengerti dengan posisi ayahnya sebagai pendeta yang bertugas melayani umat. Syukur, ia mau mengerti. Hanya Angeliquelah satu-satunya orang di rumah yang menyambut hangat setiap kepulangan saya.

    Dalam kesunyian malam saat bebas dan tugas-tugas gereja, saya sering merenungkan kehidupan ramah tangga saya sendiri. Saya sering berpikir, buat apa saya menjadi pendeta kalau tidak mampu memberikan kedamaian dan kebahagiaan buat rumah tangganya sendiri. Saya sering memberikan khutbah pada setiap kebaktian dan menekankan hendaknya setiap umat Kristen mampu memberikan kasih kepada sesama umat manusia. Lalu, bagaimana dengan saya?

    Pertanyaan-pertanyaan seperti itu semakin membuat batin saya resah. Saya mencoba untuk memperbaiki keadaan. Tetapi, semuanya sudah terlambat. Istri saya bahkan terang terangan tidak mendukung tugas-tugas saya sebagai pendeta. Saya benar-benar dilecehkan. Saya sudah sampal pada kesimpulan bahwa antara kami berdua sudah tidak sejalan lagi.

    Lalu, untuk apa mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak saling sejalan? Ketika niat saya untuk “melepas” istri, saya sampaikan kepada sahabat-sahabat dekat saya sesama pendeta, mereka umumnya menyarankan agar saya bertindak lebih bijak. Mereka mengingatkan saya, bagaimana mungkin seorang pendeta yang sering menikahkan seseorang, tetapi ia sendiri justru menceraikan istrinya? Bagaimana dengan citra pendeta di mata umat? Begitu mereka mengingatkan.

    Apa yang mereka katakan semuanya benar. Tetapi, saya sudah tidak mampu lagi mempertahankan bahtera rumah tangga. Bagi saya yang terpenting saat itu bukan lagi persoalan menjaga citra pendeta. Tetapi, bagaimana agar batin saya dapat damai. Singkatnya, dengan berat hati saya terpaksa menceraikan istri saya. Dan, Angelique, putri saya satu-satunya memilih ikut bersama saya.

     

    Mencari Kedamaian

    Setelah kejadian itu, saya menjadi lebih banyak melakukan introspeksi. Saya menjadi lebih banyak membaca literatur tentang filsafat dan agama. Termasuk kajian tentang filsafat Islam, menjadi bahan yang paling saya sukai. Juga mengkaji pemikiran beberapa tokoh Islam yang banyak dilansir media massa.

    Salah satunya tentang komentar K.H. E.Z. Muttaqin (almarhum) terhadap krisis perang saudara di Timur Tengah, seperti diYerusalem dan Libanon. Waktu itu (tahun 1983), K.H.E.Z. Muttaqin mempertanyakan dalam khutbah Idul Fitrinya, mengapa Timur Tengah selalu menjadi ajang mesiu dan amarah, padahal di tempat itu diturunkan para nabi yang membawa agama wahyu dengan pesan kedamaian?

    Saya begitu tersentuh dengan ungkapan puitis kiai dan Jawa Barat itu. Sehingga, dalam salah satu khutbah saya di gereja, khutbah Idul Fitni K.H. E.Z. Muttaqin itu saya sampaikan kepada para jemaat kebaktian. Saya merasakan ada kekagetan di mata para jemaat. Saya maklum mereka terkejut karena baru pertama kali mereka mendengar khutbah dari seorang pendeta dengan menggunakan referensi seorang kiai Tetapi, bagi saya itu penting, karena pesan perdamaian yang disampaikan beliau amat manusiawi dan universal.

    Sejak khutbah yang kontroversial itu, saya banyak mendapat sorotan. Secara selentingan saya pemah mendengar “Pendeta Mandey telah miring.” Maksudnya, saya dinilai telah memihak kepada salah satu pihak. Tetapi, saya tidak peduli karena yang saya sampaikan adalah nilai-nilai kebenaran.

    Kekaguman saya pada konsep perdamaian Islam yank diangkat oleh KH. E.Z. Muttaqin, semakin menarik saya lebih kuat untuk mendalami konsepsi-konsepsi Islam lainnya. Saya ibarat membuka pintu, lalu masuk ke dalamnya, dan setelah masuk, saya ingin masuk lagi ke pintu yang lebih dalam. Begitulah perumpamaannya. Saya semakin “terseret” untuk mendalami, konsepsi Islam tentang ketuhanan dan peribadahan

    Saya begitu tertarik dengan konsepsi ketuhanan Islam yang disebut “tauhid”. Konsep itu begitu sederhana, lugas, dan tuntas dalam menjelaskan eksistensi Tuhan yang oleh orang Islam disebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga, orang yang paling awam sekalipun akan mampu mencemanya. Berbeda dengan konsepsi ketuhanan Kristen yang disebut Trinitas. Konsepsi ini begitu rumit, sehingga diperlukan argumentasi ilmiah untuk memahaminya.

    Akan halnya konsepsi peribadatan Islam yang disebut syariat, saya melihatnya begitu teratur dan sistematis. Saya berpikir seandainya sistemper ibadatan yang seperti ini benar benar diterapkan, maka dunia yang sedang kacau ini akan mampu di selamatkan.

    Pada tahun 1982 itulah saya benar-benar mencoba mendekati Islam. Selama satu setengah tahun saya melakukar konsultasi dengan K.H. Kosim Nurzeha yang juga aktif di Bintal (Pembinaan Mental) TNI-AD. Saya memang tidak ingin gegabah dan tergesa-gesa, karena di samping saya seorang pendeta, saya juga seorang perwira Bintal Kristen dilingkungan TNI-AD. Saya sudah dapat menduga apa yang akan terjadi seandainya saya masuk Islam.

    Tetapi, suara batin saya yang sedang mencari kebenaran dan kedamaian tidak dapat diajak berlama-lama dalam kebimbangan. Batin saya mendesak kuat agar saya segera meraih kebenaran yang sudah saya temukan itu.

    Oh, ya, di samping Pak Kosim Nurzeha, saya juga sering berkonsultasi dengan kolega saya di TNI-AD. Yaitu, Dra. Nasikhah M., seorang perwira Kowad (Korps.Wanita Angkatan Darat) yang bertugas pada BAIS (Badan Intelijen dan Strategi) ABRI.

    Ia seorang muslimah lulusan UGM (Universilas Gajah Mada) Yogyakarta, jurusan filsafat. Kepadanya saya sering berkonsultasi tentang masalah-masalah pribadi dan keluarga. Ia sering memberi saya buku-buku bacaan tentang pembinaan pribadi dan keluarga dalam Islam. Saya seperti menemukan pegangan dalam kegundahan sebagai duda yang gagal dalam membina rumah tangganya.

    Akhirnya, saya semakin yakin akan hikmah dibalik drama rumah tangga saya. Saya yakin bahwa dengari jalan itu, Tuhan ingin membimbing saya ke jalan yang lurus dan benar. Saya bertekad, apa pun yang terjadi saya tidak akan melepas kebenaran yang telah saya raih ini.

    Akhimya, dengan kepasrahan yang total kepada Tuhan, pada tanggal 4 Mei 1984 saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dengan bimbingan Bapak K.H. Kosim Nurzeha dan saksi Drs. Farouq Nasution di Masjid Istiqial. Allahu Akbar. Hari itu adalah hari yang amat bersejarah dalam hidup saya. Han saat saya menemukan diri saya yang sejati.

     

    Menghadapi Teror

    Berita tentang keislaman saya ternyata amat mengejutkan kalangan gereja, termasuk di tempat kerja saya di TNI-AD. Wajar, karena saya adalah Kepala Bintal (Pembinaan Mental)Kristen TNI-AD dan di gereja, saya adalah pentolan.

    Sejak itu saya mulai memasuki pengalaman baru, yaitu menghadapi tenor dan berbagai pihak. Telepon yang bernada ancaman terus berdening. Bahkan, ada sekelompok pemuda gereja di Tanjung Priok yang bertekad menghabisi nyawa saya, karena dianggapnya telah murtad dan mempermalukan gereja.

    Akan halnya saya, di samping menghadapi teror, juga menghadapi persoalan yang menyangkut tugas saya di TNI AD. DGI (Dewan Gereja Indonesia), bahkan menginim surat ke Bintal TNT-AD, meminta agar saya dipecat dan kedinasan dijajaran ABRl dan agar saya mempertanggungjawabkan perbuatan saya itu di hadapan majelis gereja.

    Saya tidak penlu menjelaskan secara detail bagaimana proses selanjutnya, karena itu menyangkut rahasia Mabes ABRI. Yang jelas setelah itu, saya menerima surat ucapan tenima kasih atas tugas-tugas saya kepada negara, sekaligus pembebastugasan dan jabatan saya di jajaran TNT-AD dengan pangkat akhir Mayor.

    Tidak ada yang dapat saya ucapkan, kecuali tawakal dan ménerima dengan ikhlas semua yang tenjadi pada diri saya. Saya yakin ini ujian iman.

    Saya yang terlahir dengan nama Abraham David Mandey, setelah muslim menjadi Ahmad Dzulkiffi Mandey, mengalami ujian hidup yang cukup berat. Alhamdulillah, berkat kegigihan saya, akhirnya saya diterima bekerja di sebuab perusahaan swasta. Sedikit demi sedikit kanin saya terus menanjak. Setelah itu, beberapa kali saya pindah kerja dan menempati posisi yang cukup penting. Saya pennah menjadi Manajer Divisi Utama FT Putera Dharma. Pernah menjadi Personel/General Affairs Manager Hotel Horison, tahun 1986-1989, Dan, sejak tahun 1990 sampai sekarang saya bekerja di sebuah bank terama di Jakarta sebagai Safety & Security Coordinator.

    Kini, keadaan saya sudah relatif baik, dan saya sudah meraih semua kebahagiaan yang selama sekian tahun saya rindukan. Saya sudah tidak lagi sendiri, sebab Dra. Nasikhah M, perwira Kowad itu, kini menjadi pendamping saya yang setia, insya Allah selama hayat masih di kandung badan. Saya menikahinya tahun 1986. Dan, dan perikahan itu telah lahir seorarig gadis kedil yang manis dan lucu, namariya Achnasya. Sementara, Angelique, putri saya dari istri pertama, sampai hari ini tetap ikut bersama saya, meskipun ia masih tetap sebagai penganut Protestan yang taat.

    Kebahagiaan saya semakin bertambah lengkap, tatkala saya mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama istri tercinta pada tahun 1989.

     
    • andreas 1:53 am on 19 Agustus 2013 Permalink

      Syalom,itu semua pilihan hati anda…
      semoga kehidupan anda lebih baik didalam pilihan anda pak…

      Yudas iskariot seorang murid dari Yesus juga dipilih oleh Yesus tetapi pada akhirnya dia meninggalkan Yesua dan berakhir didalam kematian kekal….

  • erva kurniawan 1:50 am on 20 January 2013 Permalink | Balas  

    Orang Tua Sumbu Pendek

    Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

    Tiba-tiba, saya marah kepada anak saya. Saya membelalakkan mata lebar-lebar, dengan wajah menegangkan dan suara yang menakutkan. Untunglah istri saya segera bertindak.

    Ia panggil anak saya baik-baik, mengajaknya bicara empat mata tanpa amarah yang meluap-luap, lalu menasehatinya dengan lembut dan tegas. Anak saya yang usianya belum mencapai lima tahun itu memerah matanya, merebahkan badannya di pangkuan ibunya tanda bahwa ia menyesal -bukan kesal.

    Entah apa yang dikatakan oleh ibunya, seperti nyaris berbisik, tetapi anak saya segera keluar menemui saya. “Bapak, aku sayang sama Bapak. Aku minta maaf, ya?” katanya.

    Saya pegang tangannya lalu saya pangku. “Iya, Nak. Bapak juga minta maaf. Tadi bapak salah. Bapak nggak boleh marah seperti itu,” kata saya menanggapi, sambil diam-diam merasa malu.

    Ya, saya tidak boleh marah dengan cara yang buruk. Memarahi anak memang boleh jika benar-benar dibutuhkan. Tetapi memarahi berbeda dengan marah. Memarahi tidak selalu karena marah, meski acapkali orangtua memarahi anaknya karena emosi yang meluap-luap, saat hati dan pikiran sama-sama keruh. Memarahi bisa kita lakukan dengan kondisi emosi yang terkontrol, jernih dan tenang.  Lalu, seperti apa marah dengan cara yang buruk? Dan bagaimana pula seharusnya bila kita harus memarahi anak?

    Sumbu Pendek

    Ada beberapa hal buruk yang sering dialami orangtua semacam saya. Mereka cepat tersulut emosinya karena ada hal-hal yang kurang menyenangkan dari anak. Mereka cepat melampiaskan kemarahan hanya karena kejadian-kejadian kecil, tanpa berusaha mengendapkan terlebih dulu untuk mencari jalan paling jernih. Tidak menunggu waktu lama untuk mencubit anak dengan keras, membelalakkan mata secara menakutkan, atau segera menghujaninya dengan kata-kata makian dan umpatan. Begitu anak melakukan sedikit kesalahan, atau bahkan belum tentu merupakan kesalahan, seketika itu pula orangtua menyerangnya dengan kata-kata ancaman, cap yang buruk atau pertanyaan yang memojokkan. Orangtua semacam ini memiliki sumbu pendek, sehingga cepat terbakar tanpa sempat berpikir.

    Sebagian orangtua sumbu pendek menganggap tindakan yang keras, mudah meledak dan reaktif sebagai pilihan terbaik untuk memberi pelajaran pada anak. “Biar anak tidak kurang ajar,” kata seorang ibu, “Mereka harus diajari sopan santun.” Sayangnya, banyak yang merasa mengajarkan sopan santun tanpa pernah menerangkan kepada anak apa yang seharusnya dilakukan. Mereka hanya memberi hukuman yang menyakitkan dan memarahinya habis-habisan ketika anaknya berbuat yang tidak sesuai dengan keinginannya. Padahal, ada kaidah yang mengatakan, “Qubhunal ‘iqab bila bayan.” Adalah buruk menyiksa (menghukum) tanpa memberi penjelasan.  Menghukum dengan memberi penjelasan bukan berarti memukuli atau membentak-bentak sambil menyanyikan lagu cercaan, “Bodoh itu. Awas, kalau kamu melakukan lagi, saya jewer kamu. Ayo, kamu ulangi lagi nggak? Awas kau nanti! Kalau kamu lakukan lagi, saya lempar kamu.”

    Menghukum dengan memberi penjelasan berarti, kita menunjukkan kepada anak apa yang baik, apa yang sepatutnya dilakukan, dan sesudahnya menunjukkan apa yang tidak baik untuk dikerjakan. Kita tunjukkan kepada anak konsekuensinya jika anak mengerjakan yang buruk dan salah. Atau, kita jelaskan kepada anak dengan cara yang lembut dan tegas kesalahan yang baru saja ia lakukan.

    Sikap yang reaktif atau bahkan impulsif dalam menghukum anak akan menjadikan anak belajar menganggap kekerasan sebagai hal yang biasa. Tidak menakutkan. Mereka tidak lagi merasa takut mendapat hukuman orangtua, asal keinginannya terpenuhi. Alhasil, jika Anda sering sekali memarahi anak -apalagi kalau sulit ditebak apa yang membuat Anda memarahinya- jangan salahkan siapa-siapa kalau anak menganggap Anda sebagai macan kertas. Jangan kaget kalau ibunya marah-marah, tetapi anaknya yang kelas empat SD berkata, “Tuh, ibu lagi kumat.”

    Sekalipun memarahi dengan cara ini memang bisa menghentikan perilaku negatif anak, tetapi bukan karena sadar. Anak berhenti melakukan semata-mata karena takut kepada orangtua. Sewaktu-waktu ketakutan itu memudar, atau merasa tak terjangkau oleh pengawasan dan kemarahan orangtua, atau pun merasa sudah punya kekuatan untuk berkata tidak, anak tidak lagi patuh kepada orangtua. Sebaliknya, anak bahkan bisa melawan orangtua.

    Itulah sebabnya kenapa sebagian anak begitu patuh pada orangtua saat mereka kanak-kanak, tetapi berubah menjadi penentang saat remaja. Ada pula yang tetap menjaga kepatuhan sampai masa remaja, tetapi hanya di hadapan orangtua atau berada dalam jangkauan pengawasan orangtua.

    Jika ini terjadi pada anak-anak kita, saya tidak dapat membayangkan bagaimana nasib kita di akhirat kelak. Jangankan di akhirat, ketika uban belum memenuhi kepala pun kita sudah bisa sangat kerepotan. Kita tidak pernah bisa istirahat, meski cuma sejenak. Kita dipaksa mengawasi mereka terus-menerus, padahal kita tidak akan pernah punya kesanggupan untuk mengawasi mereka secara benar-benar sempurna. Karenanya, marilah kita memohon kepada Allah penjagaan atas hati dan iman anak-anak kita. Sesungguhnya, sebaik-baik penjaga adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Selebihnya, marilah kita ingat pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

    Seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw. “Ya Rasul Allah, berpesanlah kepadaku.” Nabi saw berpesan, “Laa taghdhab! Jangan marah.” Laki-laki itu bertanya berulang-ulang, tetapi Nabi saw tetap berpesan berulang kali pula, “Laa taghdhab! Jangan marah.” (HR. Bukhari).

    Ya, jangan marah. Tetapi alangkah sulitnya menahan marah bila hati sedang keruh dan pikiran sedang rusuh. Lebih-lebih jika tak ada keteduhan jiwa antara suami dan istri lantaran kurangnya syukur atau banyaknya keluh kesah. Atau boleh jadi keadaan itu tidak terjadi di rumah kita, tetapi kita masih sulit mengelola emosi sehingga mudah melampiaskan kemarahan secara berapi-api. Dan inilah yang dirasakan oleh banyak orangtua. Mereka sebenarnya ingin menjadi orangtua yang paling lembut, paling sayang dan paling bijak kepada anaknya. Mereka tidak ingin kasar dan bertindak secara tergesa-gesa, tetapi masih saja sering melakukan kegagalan.

    Dalam kasus yang terakhir ini, kerjasama antara suami dan istri sangat penting peranannya. Mereka perlu saling mengingatkan dan saling menyadari keterbatasan.  Berkenaan dengan mengingatkan, ada dua hal penting yang perlu kita perhatikan. Pertama, ingatkanlah kekeliruan yang dilakukannya saat ini tanpa memojokkan. Tanpa menyalahkan. Teguran yang disampaikan dengan baik dan lembut akan lebih mudah diterima. Seperti sore itu, istri saya memberi teguran dengan empatik tanpa suara yang meninggi, sehingga saya segera menyadari kekeliruan atas tindakan saya kepada anak. Kedua, terimalah teguran itu dengan lapang. Bukan sebagai ancaman atau serangan terhadap harga diri. Sebaik dan selembut apa pun nasehat yang diberikan, tapi kalau kita menerimanya dengan penuh kecurigaan (“Tumben, kok dia bicara seperti itu.”), menganggapnya sebagai serangan terhadap harga diri (“Kok sepertinya cuma saya yang bersalah, padahal dia juga melakukan banyak kesalahan.”), apalagi kita tanggapi dengan serangan balik (“Apa kamu merasa tidak pernah melakukan kesalahan?”), maka seluruh upaya yang baik itu akan sia-sia. Komunikasi akan macet dan saling pengertian tidak tercapai. Boleh jadi, ini akan memicu komunikasi yang bernada saling menyerang dan memaksa. Inilah yang disebut coercive communication, salah satu penyebab utama pertengkaran dan perceraian.

    Masih tentang marah. Memarahi anak secara impulsif, tiba-tiba, dan tanpa berpikir jernih justru dapat membuat anak kebal hukuman. Ia tidak lagi takut terkena bentakan, cubitan atau bahkan pukulan yang paling keras sekalipun. Ia merasakannya sebagai ritme hidup yang harus dijalani dan karena itu tidak perlu dirisaukan lagi. Rasa dongkol dan sakit hati memang tetap ada, tetapi tidak membuat anak jera. Jika ini terjadi, kemarahan orangtua akan berkejar-kejaran dengan “kenakalan” anak. Orangtua marah sepanjang hari, berteriak setiap saat, dan mencubit tanpa henti; sementara anak akan tetap melakukan kenakalannya. Bahkan boleh jadi, anak akan berusaha melawan sebisa-bisanya.

    Keadaan ini akan lebih buruk lagi jika orangtua suka marah semata-mata karena mengikuti kata hatinya. Jadi benar tidaknya perbuatan anak, ditentukan oleh suasana hati orangtua. Hari ini satu perbuatan bisa disambut dengan senyuman, atau sekurang-kurangnya dibiarkan tanpa teguran, tetapi besok bisa tiba-tiba mendatangkan amarah yang menakutkan. Ini menyebabkan anak tidak bisa belajar mengambil keputusan yang baik. Sebaliknya, ia hanya mengikuti kemana angin bertiup atau belajar melawan. Ia tidak punya pendirian yang teguh, lemah, mudah terpengaruh atau sebaliknya, ia menjadi orang yang sangat keras kepala.

    Di sisi lain, tindakan kita yang secara reaktif memarahi anak bisa mematikan kreativitas dan potensi unggul anak. Saya pernah melakukan kesalahan. Dua orang anak saya mengambil cucian yang belum selesai dibilas, sehingga pekerjaan justru bertambah. Saya segera bertindak. Cucian itu saya ambil tanpa bertanya kepada anak. Meskipun tanpa memukul dan atau membentak, tetapi anak saya menampakkan tanda ingin berontak. Ia dongkol. Ketika itulah saya tersentak. Saya dekati mereka dan bertanya, “Cuciannya kenapa diambil, Nak?”

    “Aku mau bantu. Biar ibu nggak capek,” kata Husain.  “Aku hati-hati kok ngambilnya, Pak,” kata Fathimah menambahkan, “Aku mau bantu Bapak.”

    Ya. Allah, maksud yang baik tetapi saya sikapi dengan buruk. Dan alangkah sering kita melakukan yang demikian. Karenanya, begitu menyadari kekeliruan yang saya lakukan, saya segera meminta maaf sekaligus ucapan terima kasih kepada mereka. Sesudahnya, saya beri sedikit penjelasan. Bayangkan kalau kesalahan semacam itu terjadi setiap hari, betapa besar potensi kebaikan anak yang terkubur dalam-dalam sebelum sempat berkembang!

    Benarlah kata Rasulullah. Jangan marah! Jangan marah! Jangan marah! Boleh memarahi anak, tetapi bukan untuk memperturutkan emosi. Ini butuh usaha yang keras dan kesediaan saling mengingatkan antara suami dan istri.  Nah, semoga Allah membaguskan akhlak kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Semoga Allah menjaga keturunan kita seluruhnya. Allahumma amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 19 January 2013 Permalink | Balas  

    Beras dari Langit

    Allah mengiriminya “orang tak dikenal dari langit” dengan membawakan berkarung-karung beras. Demikianlah satu balasan yang diberikan Allah sebagaimana janjinya kepada para pejuang agama Nya

    Hidayatullah.com — Perempuan itu terlihat khusyuk di atas sajadahnya. Wajahnya bening, bersahaja memancarkan sinar kemuliaan dari hati yang qona ah. Jari tangannya masih bergerak-gerak mengiringi rentak tasbihnya, puji cinta yang tak pernah bosan ia lantunkan untuk sang kekasih yang Maha Pengasih.

    “Hhhhh…Ukh…..ukh…..”

    Anak lelaki usia 10 tahunan yang terbaring lemah di atas kasur di sampingnya menggeliat. Dia mengigau lagi. Panas tubuhnya belum turun dari tadi malam. Perempuan itu menghentikan zikirnya. Diperhatikannya lalu dengan penuh kasih diusapnya dahi anak itu.

    “Alhamdulillah … panasnya sudah turun”

    “Salman, minum dulu, nak!” Katanya sambil menyodorkan segelas teh.

    Perempuan itu kemudian bangun dari duduknya. Melipat sejadah dan muqananya, lalu beranjak ke dapur.

    Salman hanyalah satu dari puluhan santri yang mondok di rumahnya. Mereka kebanyakan anak-anak usia sekolah dasar, sebagian yatim atau piatu. Di pondok itu mereka diasuh dan dibesarkan, dididik dan diajari shalat, akhlak, mengaji dan menghafal Al-Qur’an. Mereka juga disekolahkan di SD, SMP ataupun MTSN setempat. Santri-santri itu memang diperlakukan layaknya anak kandung sendiri, sehingga bila ada di antara mereka yang sakit, ia sendiri yang akan merawat dan menjaganya sampai sembuh.

    “Ummi …”

    “Ada apa Da?”

    “Hmm… ini Ummi, Ida cuma mau memberitahu. Beras persiapan kita sudah hampir habis.” Ida juga seorang santriwati yang rajin membantunya di dapur.

    “Hmm…, baiklah. Oh ya, sepertinya di luar ada tamu ya, Da? Sudah dibuatkan minum?”

    “Sudah, Ummi”.

    Ia bergegas ke ruang tamu. Di beranda, suaminya tengah beramah-tamah dengan beberapa guru. Ia berhenti di balik pintu, mencoba mencermati percakapan mereka.

    “Ustadz, kami rasa, sistem yang lama sudah tidak bisa diteruskan lagi. Jumlah santri semakin bertambah, sementara sarana yang kita miliki tidak memadai,” ujar salah seorang guru kepada Pimpinan Pondok.

    “Betul, Ustadz, kita harus memungut bayaran dari santri. Minimal untuk menutupi biaya makan mereka. Kami dengar bahkan beras pun sering kali hampir habis. Bagaimana kalau untuk makan saja tidak cukup?” kata yang lain menambahi.

    “Tapi kalian belum pernah betul-betul kelaparan bukan?” jawab beliau, kalem dan bijaksana.

    “Begini, Ustadz … Maksud kami, biar dana yang biasanya untuk makan santri itu dialihkan untuk dana lain.”

    “Iya, asrama santri perlu ditambah. Bangunan yang ada tidak layak lagi untuk menampung para santri yang jumlahnya bertambah terus. Begitu juga ruang belajar dan sarana kebersihan seperti kamar mandi, toilet, dan lain sebagainya.”

    Hening sejenak. Kemudian terdengar helaan nafas yang berat dari lelaki bijaksana itu.

    “Kami akan menyiapkan proposal permohonan bantuan dana ke seorang kaya yang kami dengar sering membantu pesantren, kalau kalian setuju,” ujar salah seorang dari mereka setengah mendesak namun hati-hati, khawatir akan menyinggung perasaan Pak Ustadz.

    Sunyi lagi. Pak Ustadz tetap terdiam. Beliau hanya sesekali menghela nafas sambil melempar pandangan ke luar. Tetapi kemudian,

    “Baiklah, Ustadz, kami pamit dulu,” kata rombongan guru itu.

    “Assalamu ‘alaykum!”

    “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Pak Ustadz.

    Beberapa saat sesudah mereka pergi, perempuan yang tadi berdiri di balik pintu dan menyimak pembicaraan itu keluar, lalu duduk di sebelah suaminya.

    “Saya mengikuti dialog tadi,” katanya memecah keheningan.

    “Dan sudah tahu, bukan, apa jawaban saya. Sampai kapan pun, akan tetap sama, jawab suaminya. Sejak didirikan pada tahun 1975, pesantren itu memang tidak memungut iuran sama sekali walau satu sen pun dari para santri, wali ataupun orangtua mereka. Semuanya gratis, dari mulai makan hingga biaya sekolah.

    “Beras di dapur sudah hampir habis. Hanya cukup untuk hari ini saja,” kata perempuan itu kepada suaminya. Suaranya tetap datar, hanya bermaksud memberitahu. Suaminya hanya terdiam. Tak sepatah kata pun diucapkannya. Janji yang ia ikrarkan kepada Sang Khalik tidak akan berubah, karena ia sangat yakin Allah tidak pernah menyalahi janjiNya: in tanshuru-llaha yanshurkum. Orang yang berjuang menegakkan agama Allah pasti akan ditolong, dijamin dan dimenangkan olehNya.

    Pak Ustadz belum beranjak dari duduknya. Hanya kelihatan bergumam sambil menggerak-gerakan jari-jemarinya, larut dalam zikir dan doa. Tidak lama kemudian terdengar suara riuh rendah. Nampaknya santri-santri telah selesai melakukan olah raga, jalan keliling kampung. Sudah menjadi acara khusus di hari Minggu pagi bagi pesantren tersebut. Perempuan itu melongok ke ruang dalam, melihat jam dinding, sudah jam 10. Bergegas dia masuk, menuju dapur. Hanya ada Ida dan Yati di sana, dia harus membantunya menyiapkan makan siang

    ***

    Selesai sholat zuhur, lingkungan pesantren kembali sepi. Sebagian besar santri sedang beristirahat di pondokan masing-masing. Tiba-tiba sebuah truk berhenti di depan pesantren. Sopir dan seorang lagi temannya menurunkan karung-karung beras dari truk itu. Salah seorang dari mereka melambaikan tangan ke arah santri yang sedang duduk-duduk di kursi kayu di depan salah satu pondokan tidak jauh dari pintu gerbang. Bergegas santri itu mendekati orang tersebut.

    “Panggil temanmu. Angkat karung-karung ini ke dapur”, kata orang tadi. Selesai menurunkan semua karung-karung, tanpa berkata apa-apa lagi, kedua orang itu pun langsung pergi. Belum sempat santri itu bertanya, truk sudah bergerak meninggalkan kepulan asap dan debu. Santri itu hanya melongo sesaat setelah itu segera berlari memanggil kawannya.

    “Ilham, orang yang mengantar beras ini sudah dipersilahkan masuk? Biar Ummi panggil Ustadz sebentar, ya!”

    “Orangnya sudah pergi Ummi,” agak ngos-ngosan anak yang dipanggil Ilham itu menjawab.

    “Lho…, dia bilang atau tidak, dari mana beras-beras ini?” tanya Ummi keheranan.

    “Ilham belum sempat tanya Ummi. Orangnya sudah keburu pergi. Dia hanya menyuruh saya mengangkat karung-karung ini ke dapur”.

    “Ya sudahlah …”.

    Ketika disampaikan perihal kedatangan orang-orang tak dikenal itu, suaminya menjawab singkat: “Oh, itu beras dari langit.”

    Demikianlah satu dari sekian banyak pengalaman yang ia lalui selama mendampingi suaminya membina pesantren yang kini kelihatan sudah berkembang dengan pesat dan mulai dikenal luas di seantero nusantara.

    Siapakah orangnya yang (mahu) memberikan pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman yang baik (yang ikhlas) supaya Allah melipatgandakan balasannya dengan berganda-ganda banyaknya? Dan (ingatlah), Allah jualah Yang menyempit dan Yang meluaskan (pemberian rezeki) dan kepadaNyalah kamu semua dikembalikan. (QS.2:245)

    “Orang-orang mukmin itu hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.S. Al Hujurat :10).

    ***

    Oleh: Andi Sri Suriati Amal

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 2 January 2013 Permalink | Balas  

    Ketika Naira Berjilbab

    Adalah Naira seorang gadis remaja lulus SMU. Naira memiliki wajah yang cantik, tubuhnya langsing, dengan tinggi hampir 170 cm. Naira memilik kegemaran yang jarang dimiliki oleh wanita seusianya yakni berolahraga. Hampir semua bidang olahraga ia kuasai. Ketika teman-temannya mendaftar diperguruan tinggi dengan memilih jurusan yang populer, banyak diminati agar mudah mencari kerja, atau memilih bidang yang bergengsi misalnya; Naira justru memilih untuk kuliah di Universitas Negeri Jakarta [ dulu namanya IKIP] mengambil jurusan ‘langka’, – olahraga -.

    Selama Naira kuliah ia mengambil jurusan olahraga voli. Selain cantik, Naira cerdas, ia berprestasi. Sehingga dimasa kuliahnya ia juga mampu mencari uang sendiri. Misanya memberi pelajaran privat berenang; mengajar ilmu beladiri, senam di kursus-kursus. Kepandaian ber volinya juga memberi dampak bagi lingkungan tempat tinggalnya. Ia melatih warga dan sering memenangkan lomba voli dalam rangka 17-an atau antar RT, kelurahan.

    Puncaknya, ketika Naira terpilih menjadi tim voli dari universitasnya untuk mengikuti acara olahraga antar mahasiswa. Naira bisa berkunjung ke daerah-daerah lain di Indonesia. Naira juga sempat terpilih menjadi anggota tim voli yang mewakili daerah (porda), bahkan nasional. Secara internasional pun Naira sempat merasakannya; bagaimana dieluk-elukan, di puja -puji. Buah keahliannya menghasilan penghargaan; berupa piala, medali, piagam dan tentunya juga materi serta fasilitas lainnya dari universitas.

    Di penghujung masa ia hendak meraih gelar S1 nya, Naira memutuskan untuk berjilbab. Betapa godaan, kesempatan emas untuk berkarir itu justru datang bertubi-tubi padanya ketika ia telah berjilbab. Bermula dari tawaran suatu yayasan kedaerahan di tempat ia tinggal agar Naira bisa mengikuti lomba ‘ratu-ratu-an’. Naira menolak dengan halus. Orangtua Naira yang mempunyai kedekatan dengan personil di AL, memungkinkan Naira bisa merintis karir sedikit mudah untuk menjadi bagian dari korps wanita AL. Kemudian juga ada tawaran untuk menjadi pramugari. Pada karir-karir inilah yang kemudian Naira sempat bimbang. Naira sebenarnya sangat ingin, karena selain menyukai olahraga ia juga senang berpergian. Tapi Naira memutuskan untuk mengatakan tidak, karena untuk profesi ini ia harus menanggalkan jilbabnya; meskipun hanya untuk selama masa pendidikan dan bertugas.

    Selama menganggur setelah menjadi sarjana, ia mendapatkan tawaran dari teman-temannya, lembaga, klub untuk menjadi bagian dari tim voli mereka. Naira menolak, selain harus melepas jilbab, busana resmi voli untuk wanita sangat tidak islami, begitu penuturannya.

    Kini, Naira berprofesi sebagai pengajar di sebuah taman kanak-kanak, menjadi instruktur olahraga bagi anak-anak TK. Naira anak sulung dengan 3 orang adik, berasal dari keluarga sederhana. Umurnya belum 25, ia masih muda tapi ia tak mudah tergoda ketika menentukan arah hidup selanjutnya sesuai yang ia inginkan. Naira menerima banyak pertanyaan dari teman-temannya sehubungan dengan sikapnya ini. Masa sih, seorang atlit bisa dengan mudah berpindah profesi menjadi guru taman kanak-kanak, meninggalkan hiruk pikuk sorak sorai ketenaran, mengabaikan kesempatan profesi yang memungkinkan mendapatkan materi, fasilitas yang lebih menjanjikan sekedar untuk mempertahankan keyakinannya?

    ***

    [Kisah ini nyata, terimakasih untuk 'Naira' yang telah membagi pengalaman hidupnya]

     
    • irahakim 5:38 pm on 7 Januari 2013 Permalink

      Semoga Allah selalu menjagamu, Naira :-)

  • erva kurniawan 1:30 am on 7 December 2012 Permalink | Balas  

    Kerja Itu Cuma Selingan, Untuk Menunggu Waktu Shalat

    Ketika Pak Heru, atasan saya, memerintahkan untuk mencari klien yang bergerak di bidang interior, seketika pikiran saya sampai kepada Pak Azis. Meskipun hati masih meraba-raba, apa mungkin Pak Azis mampu membuat kios internet, dalam bentuk serupa dengan anjungan tunai mandiri dan dari kayu pula, dengan segera saya menuju ke bengkel workshop Pak Azis.

    Setelah beberapa kali keliru masuk jalan, akhirnya saya menemukan bengkel Pak Azis, yang kini ternyata sudah didampingi sebuah masjid. Pak Azispun tampak awet muda, sama seperti dulu, hanya pakaiannya yang sedikit berubah. Kali ini dia selalu memakai kopiah putih. Rautnya cerah, fresh, memancarkan kesan tenang dan lebih santai. Beungeut wudhu-an ( wajah sering wudhu), kata orang sunda. Selalu bercahaya.

    Hidayah Allah ternyata telah sampai sejak lama, jauh sebelum Pak Azis berkecimpung dalam berbagai dinamika kegiatan Islam. Hidayah itu bermula dari peristiwa angin puting-beliung, yang tiba-tiba menyapu seluruh atap bengkel workshop-nya, pada suatu malam kira-kira lima tahun silam. “Atap rumah saya tertiup angin sampai tak tersisa satupun. Terbuka semua.” cerita Pak Azis.”Padahal nggak ada hujan, nggak ada tanda-tanda bakal ada angin besar. Angin berpusar itupun cuma sebentar saja.”

    Batin Pak Azis bergolak setelah peristiwa itu. Walau uang dan pekerjaan masih terus mengalir kepadanya, Pak Azis tetap merasa gelisah, stres & selalu tidak tenang. “Seperti orang patah hati, Ndra. Makan tidak enak, tidur juga susah.”cerita Pak Azis lagi.

    Lama-kelamaan Pak Azis menjadi tidak betah tinggal di rumah dan stres. Padahal, sebelum kejadian angin puting-beliung yang anehnya hanya mengenai bengkel workshop merangkap rumahnya saja, Pak Azis merasa hidupnya sudah sempurna. Dari desainer grafis hingga jadi arsitek. Dengan keserbabisaannya itu, pak Azis merasa puas dan bangga, karena punya penghasilan tinggi. Tapi setelah peristiwa angin puting-beliung itu, pak Azis kembali bangkrut, beliau bertanya dalam hati : “apa sih yang kurang” apa salahku ” ?

    Akhirnya pak Azis menekuni ibadah secara mendalam “Seperti musafir atau walisongo, saya mendatangi masjid-masjid di malam hari. Semua masjid besar dan beberapa masjid di pelosok Bandung ini, sudah pernah saya inapi.” Setahun lebih cara tersebut ia jalani, sampai kemudian akhirnya saya bisa tidur normal, bisa menikmati pekerjaan dan keseharian seperti sediakala.

    “Bahkan lebih tenang dan santai daripada sebelumnya.”

    “Lebih tenang ? Memang Pak Azis dapet hikmah apa dari tidur di masjid itu ?”

    “Di masjid itu ‘kan tidak sekedar tidur, Ndra. Kalau ada shalat malam, kita dibangunkan, lalu pergi wudhu dan tahajjud. Karena terbiasa, tahajjud juga jadi terasa enak. Malah nggak enak kalau tidak shalat malam, dan shalat-shalat wajib yang lima itu jadi kurang enaknya, kalau saya lalaikan. Begitu, Ndra.”

    “Sekarang tidak pernah terlambat atau bolong shalat-nya, Pak Azis ?”

    “Alhamdulillah. Sekarang ini saya menganggap bhw yg utama itu adalah shalat. Jadi, saya dan temen-temen menganggap kerja itu cuma sekedar selingan aja.” “Selingan ?”

    “Ya, selingan yang berguna. Untuk menunggu kewajiban shalat, Ndra.” Untuk beberapa lama saya terdiam, sampai kemudian adzan ashar mengalun jelas dari masjid samping rumah Pak Azis. Pak Azis mengajak saya untuk segera pergi mengambil air wudhu, dan saya lihat para pekerjanyapun sudah pada pergi ke samping rumah, menuju masjid. Bengkel workshop itu menjadi lengang seketika. Sambil memandang seluruh ruangan bengkel, sambil berjalan menuju masjid di samping workshop, terus terngiang-ngiang di benak saya : “Kerja itu cuma selingan, Ndra. Untuk menunggu waktu shalat…”

    Sepulangnya dari tempat workshop, sambil memandang sibuknya lalu lintas di jalan raya, saya merenungi apa yang tadi dikatakan oleh Pak Azis. Sungguh trenyuh saya, bahwa setelah perenungan itu, saya merasa sebagai orang yang sering berlaku sebaliknya. Ya, saya lebih sering menganggap shalat sebagai waktu rehat, cuma selingan, malah saya cenderung lebih mementingkan pekerjaan kantor. Padahal sholat yang akan bantu kita nantinya…(sungguh saya orang yang merugi..) Kadang-kadang waktu shalat dilalaikan sebab pekerjaan belum selesai, atau rapat dengan klien dirasakan tanggung untuk diakhiri.

    Itulah penyebab dari kegersangan hidup saya selama ini. Saya lebih semangat dan habis-habisan berjuang meraih dunia, daripada mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan kekal di akhirat nanti. Padahal dunia ini akan saya tinggalkan juga, kenapa saya begitu bodoh..

    Saya lupa, bahwa shalat adalah yang utama. Mulai saat itu saya berjanji untuk mulai shalat di awal waktu..

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 5 December 2012 Permalink | Balas  

    Lelaki Kubah dan Tukang Pos

    Cerpen Adek Alwi

    Ia lelaki tua pembuat kubah yang bekerja setelah fajar dan berhenti saat pudar matahari. Tujuh hari sepekan, tiga puluh hari sebulan — diseling kegiatan lain yang tak bisa diabaikan: makan, tidur, ke masjid di hari Jumat, bersapaan dengan tetangga atau kenalan yang lewat. Juga dengan tukang pos muda yang selalu berhenti di tepi jalan di luar pagar halaman. Setiap kali sepeda motor tukang pos itu terdengar si tua itu akan menelengkan kepala yang nyaris botak serta beruban. Menegak-negakkan punggung yang bungkuk, dan mendekat tertatih-tatih. “Wah. Kosong, Pak Kubah!” sambut si tukang pos.

    “Kosong?”

    “Mungkin besok,” suara tukang pos seperti membujuk.

    “Ya. Mudah-mudahan.” Pembuat kubah itu manggut-manggut. “Banyak surat diantar hari ini?”

    “Lumayan, Pak Kubah. Semoga isinya pun berita gembira.”

    “Mudah-mudahan. Menyenangkan dapat menggembirakan orang, Pak Pos.”

    “Tapi awak hanya tukang pos, Pak Kubah.”

    “Hehehe. Tidak ada Pak Pos malah kegembiraan tak jadi sampai.”

    “Terima kasih. Mudah-mudahan besok giliran Pak Kubah.”

    “Mudah-mudahan.”

    Tukang pos itu selalu berhenti di luar pagar meski tahu tidak ada surat untuk laki-laki tua itu. Pembuat kubah itu tidak punya siapa-siapa dalam hidupnya. Kecuali tetangga, pemesan kubah, orang lepau tempat makan, serta penjual bahan untuk kubah. Istrinya meninggal belasan tahun lalu. Satu-satunya anaknya, lelaki, mati waktu kecil.

    Tetapi si tua itu mengesankan seolah anak itu masih ada, sudah dewasa, dan merantau seperti lazimnya anak-anak muda kota itu. Begitu didengar si tukang pos muda waktu baru bertugas di kota itu, menggantikan tukang pos tua yang kini pensiun dan berleha-leha dengan cucu.

    “Kurang waras?” tanya tukang pos muda itu mula-mula pada tukang pos tua. “Tidak. Tidak. Bahkan ramah. Juga rajin. Kerja sejak pagi, berhenti menjelang magrib. Bayangkan. Tiap hari begitu, sudah berpuluh tahun.”

    “Sejak muda hanya membuat kubah?”

    “Kata orang, sejak kecil,” ujar tukang pos tua. “Langganannya tidak cuma dari kota ini saja. Tapi tak pernah dia pasang tarif.”

    “Maksud Bapak?”

    “Ia hanya menyebut modal pembuat kubah. Terserah, mau dibayar berapa.”

    “Wah!”

    “Betul. Dan punggungnya tambah bungkuk tiap selesai bikin kubah.” Tukang pos muda itu kembali melongo. “Maksudnya bagaimana?”

    “Punggung si pembuat kubah itu,” ujar tukang pos tua menjelaskan. “Tiap kali selesai membuat kubah tampak makin lengkung, membuat mukanya seperti mendekat terus ke tanah. Seolah-olah ingin mencium tanah!”

    Mungkin karena cerita-cerita itu, atau iba pada kesendirian lelaki tua itu serta takjub melihat ketabahannya menanti surat yang tak kunjung tiba, si tukang pos muda akhirnya memenuhi permintaan tukang pos tua yang sudah pensiun. Kecuali hari libur dan Minggu ia berhenti di pinggir jalan mengucapkan tak ada surat dan bicara sejenak dengan si pembuat kubah. Saat ia melaju lagi di jalan dilihatnya lelaki tua itu kembali bekerja. Punggungnya lengkung — teramat lengkung tidak ubahnya batang-batang padi yang buahnya sudah masak. “Nah! Betul, kan?” sambut si tukang pos tua saat tukang pos muda itu bertamu sore-sore ke rumahnya dan bercerita.

    Tukang pos muda itu membenarkan. “Tapi kenapa bisa begitu?” dia bilang. “Entah, tak ada yang tahu. Sejak tugas di kota ini saya dapati seperti itu. Boleh jadi hanya pembuat kubah itu sendiri yang tahu.” “Tidak pernah Bapak tanya?”

    “Tak tega saya. Dia baik dan ramah sekali,” jawab tukang pos tua. “Saya cuma singgah tiap hari, bicara sebentar saling bertanya kabar, lalu bilang tidak ada surat dan mungkin besok.”

    Tetapi tukang pos muda itu tega bertanya. Dan pembuat kubah tua itu terkekeh mendengarnya. “Ada-ada saja,” dia bilang. “Kalau padi memang seperti itu, Pak Pos. Eh, mestinya hati manusia juga, ya. Tetapi punggung saya, hehehe, ada-ada saja Pak Pos Tua dan orang-orang itu.”

    “Jadi Pak Kubah sama sekali tidak merasa? Bahwa punggung….”

    “Hehehe. Punggung ini tentu saja tambah bungkuk, Pak Pos. Dulu tak begini. Maklumlah, semakin tua. Agaknya setua ayah Pak Pos. Ah, tidak. Pasti saya lebih tua. Pasti. Tapi anak saya itu, ya, anak saya mungkin sebaya dengan Pak Pos. Eh, belum ada tiba surat dia?”

    “Oh. Belum, Pak Kubah. Kosong. Mudah-mudahan besok.”

    “Ya, besok. Mudah-mudahan.” Pembuat kubah itu manggut-manggut.

    Sejak itu si tukang pos muda berhenti tiap hari di pinggir jalan di luar pagar si pembuat kubah. Tidak kecuali hari libur atau Minggu. Apalagi, sebagai orang baru di kota itu belum banyak ia punya kenalan — untuk kawan berbincang seusai kerja atau di saat senggang. Ibunya di kampung sudah mencari gadis yang patut untuk pendamping hidupnya dan ia pun telah setuju tetapi belum berani melamar mengingat gaji yang tak memadai untuk berdua. Tukang pos itu juga tidak mendambakan yang muluk-muluk. Tapi, menurutnya, hidup dalam perkawinan seyogianya lebih baik daripada saat masih sendiri.

    Kadang, tukang pos itu juga memarkir sepeda motornya di halaman sekaligus bengkel lelaki tua itu, hingga mereka leluasa bercakap-cakap. Pembuat kubah itu pun senang ditemani. Kadang-kadang, meski dicegah si tukang pos dia berteriak ke lepau seberang jalan memesan dua gelas teh, juga pisang goreng, dan mereka lalu bercakap-cakap sambil minum teh serta menyantap pisang goreng.

    Pembuat kubah itu bercakap-cakap sambil terus bekerja, dan tukang pos muda itu memperhatikan serta bertanya-tanya. Wajah si tua itu dilihatnya berseri-seri meski kulitnya keriput. Lengannya coklat, dan kukuh serupa kayu. Urat-urat tangannya hijau bertonjolan, melingkar-lingkar bagai cacing. Tangan tua itu amat cekatan melipat atau membulat-bulatkan seng. Menggunting, atau menokok-nokok dengan palu kayu. Atau mematri. Semua dilakukan si pembuat kubah tanpa buru-buru, sambil bercakap-cakap dengan si tukang pos. “Hebat!” puji si tukang pos muda.

    “Ya?”

    “Hebat benar Pak Kubah bekerja!” ulang tukang pos. “Cekatan, seolah mudah saja pekerjaan itu buat Pak Kubah.”

    “O. Hehehe. Alah bisa karena biasa, Pak Pos. Seperti Pak Pos mengantar surat dengan sepeda motor.”

    “Dan ikhlas,” ujar si tukang pos.

    “Hehehe. Kalau tidak tentu berat terasa,” sambut si pembuat kubah. Mereka terus bercakap-cakap. Si tukang pos terus pula memperhatikan tangan si pembuat kubah. Juga tubuhnya. Tubuh lelaki tua itu tentu tampak lebih tinggi, juga besar, kalau saja punggungnya tidak melengkung bungkuk dan badannya lisut. Tetapi wajahnya selalu berseri meski kulitnya keriput. Tukang pos itu berpikir, apakah wajah ayahnya –yang samar-samar saja ia ingat– akan keriput dan berseri andai sempat jadi tua. Jika tak wafat saat ia di sekolah dasar. Wajahnya juga. Apakah nanti keriput, tapi juga berseri-seri, seandainya Tuhan memberi dia usia panjang? “Berapa umur Pak Kubah tahun ini?” tanya tukang pos itu.

    “Hehehe. Tak jelas, Pak Pos. Tapi pasti sudah panjang, sebab punggung ini tak kuat lagi menyangga tubuh.” Pembuat kubah itu tertawa lagi.

    Musim hujan kemudian singgah di kota itu. Meski tidak selalu lebat dan lebih kerap berujud gerimis tapi tiap hari mendesis. Kadang-kadang sore, sepanjang malam, pagi, atau siang hari. Tukang pos itu berteduh di bawah pohon atau emperan toko bila hujan turun deras, dan kembali berkeliling ketika hujan menjelma gerimis. Tubuhnya tertutup mantel, sebatas leher ke atas saja mencogok bak kura-kura. Tapi di kepalanya ada pet. Mukanya ditutupi sapu tangan seperti perampok.

    Pembuat kubah itu sudah menggeser tempat kerjanya dari bawah pohon jambu ke emperan rumah agar terhindar dari hujan maupun tempias. Sedikit jauh dari pagar. Tapi telinganya tajam. Tiap kali terdengar suara sepeda motor tukang pos ia telengkan kepalanya. Tukang pos itu mulanya hendak lewat saja karena sapu tangannya sudah kuyup dan mukanya perih ditusuk-tusuk gerimis. Atau cukup ia melambai, dan teriak, “Kosong, Pak Kubah!” Namun, dia tepikan sepeda motor begitu tiba dekat pagar laki-laki tua itu. Dan pembuat kubah itu mendekat tertatih-tatih setelah menegak-negakkan punggung.

    “Wah. Kosong, Pak Kubah!”

    “Kosong?”

    “Kosong. Tapi, mungkin besok.”

    “Ya, ya. Besok. Mudah-mudahan. Singgahlah dulu. Ngopi.”

    “Terima kasih. Masih banyak surat harus diantar.” Dan tukang pos itu melaju pula. Sejenak dilihatnya lelaki tua itu tertatih-tatih di bawah gerimis, menuju emperan rumah. Punggungnya makin bungkuk seolah ingin sekali mencium tanah.

    Seperti biasa musim hujan cukup lama di kota itu. Atap, pohon, dan jalan-jalan tidak pernah kering. Orang-orang berpayung ke mana-mana. Berbaju hangat, jas, jaket atau mantel, sebab angin pun rajin bertiup meski tak pernah jadi badai.

    Tukang pos itu juga tak lepas-lepas dari mantel, pet serta sapu tangan menutup sebagian wajah. Dan walau sejenak, serta dengan muka terlihat makin putih juga perih ditusuk gerimis, ia berhenti dekat pagar berucap “kosong Pak Kubah, mungkin besok” dengan suara, bibir, dan dada bergetar. Kemudian dilihatnya lagi lelaki tua itu kembali melangkah, terbungkuk-bungkuk di bawah gerimis menuju emperan rumah.

    Tetapi, suatu hari, tukang pos itu merasa jadi manusia paling bahagia sedunia. Meski masih pucat malah makin perih ditusuk gerimis yang terus mendesis, wajahnya berseri. Belum tiga menit lalu ia bersorak kepada pembuat kubah itu, dan kali ini tidak dengan dada serta suara yang bergetar: “Surat Pak Kubah!”

    “Surat?”

    “Ya. Surat! Dari anak Pak Kubah!”

    Pembuat kubah itu menerimanya dengan jemari bergetar. Dan saat tukang pos itu melaju pula di jalan dilihatnya laki-laki tua itu masih berdiri di bawah rinyai hujan, melambai-lambaikan tangan.

    Lenteng Agung, 23 Juli 2005

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 2 December 2012 Permalink | Balas  

    Pengakuan Nakata Khaula

    Menutupt aurat? tak pernah terlintas baginya. Maklum, ia seorang aktifis feminis. Namur wanita asal Jepang ini berubah total dan justru menemukan kedamaian setelah mengenal Islam. Baca pengakuan seorang mantan aktifis feminisme ini

    Ketika saya kembali ke dalam pangkuan Islam, agama asli semua manusia, sebuah perdebatan sengit sedang terjadi di sekolah-sekolah Prancis tentang jilbab di kalangan pelajar perempuan-terutama keturunan imigran TImur-Tengah-hingga beberapa waktu lamanya (hal itu terjadi karena ada kebijakan pelarangan penggunaan jilbab dari otoritas Prancis, pen). Mayoritas pelajar berpendapat, public-dalam hal ini sekolah negeri-seharusnya bersikap netral dalam urusan agama, termasuk tentang tudung kepala (jilbab). Tidak dapat dipungkiri, kelompok Muslim di Prancis turut membayar pajak yang lumayan besar jumlahnya.

    Menurut saya, pihak sekolah hendaknya menghargai keyakinan seseorang atau kelompok dalam menjalankan ajaran agamanya sepanjang orang atau kelompok itu tidak mengganggu kegiatan rutin sekolah, apalagi sampai melanggar disiplin. Namun, tampaknya pemerintah Prancis sedang menghadapi gejolak social dengan meningkatnya jumlah pengangguran. Mereka merasa kehidupan ekonomi mereka terancam dengan makin banyaknya pekerja imigran Arab. Banyaknya penggunaan jilbab di kota-kota atau di sekolah-sekolah semakin memicu perasaan mereka itu.

    Pada kenyataannya, memang semakin banyak perempuan Arab imigran yang memakai jilbab, terlepas dari pandangan bahwa fenomena itu akan segera menghilang seperti halnya ketika sekularisme Barat menanamkan pengaruhnya di dunia Arab (Timur-Tengah). Ketahanan pelaksanaan ajaran Islam itu sering dianggap sebagai upaya kelompok Islam di mana saja untuk mengembalikan kebaggaan dan identitas mereka yang pernah hilang ditelan kolonialisme Barat.

    Di Jepang sendiri, sikap seperti itu mungkin dianggap sama dengan sikap tradisional konservatif orang Jepang yang muncul sebagai perwujudan perasaan anti-Barat. Sesuatu yang dalam pandangan bangsa Jepang adalah serupa dengan pengalaman yang kami rasakan sejak kami berinteraksi dengan budaya Barat pada zaman Restorasi Meiji. Bangsa Jepang saat itu memunculkan sikap penentangan terhadap gaya hidup yang tidak lagi tradisional dan mengikuti model pakaian Barat. Ada kecenderungan dalam suatu masyarakat untuk bersikap konservatif terhadap segala hal yang baru tanpa mau melihat kebaikan atau keburukannya.

    Perasaan seperti itu masih ada diantara kelompok non-Muslim di Prancis yang memandang bahwa penggunaan jilbab menunjukkan ketundukan para penggunanya sebagai budak budaya tradisional seolah-olah jilbab adalah ikon pengekangan. Oleh karena itu, sikap gerakan pembebasan dan pembelaan atas kaum hawa selalu terfokus pada upaya mendorong perempuan Muslim agar melepaskan jilbab-jilbab mereka sebagai tanda pembebasan itu atau mereka belum dianggap bebas sebelum jilbab-jilbab itu lepas dari kepala mereka.

    Pandangan yang naïf seperti itu, bagi kelompok Muslim, menunjukkan dangkalnya pengetahuan mereka tentang Islam di dalam gerakan pembebasan perempuan. Hal ini akibat kebiasaan mencampuradukkan pandangan secular dan nilai-nilai eklektisisme agama sehingga mereka tidak mampu lagi menangkap kesempurnaan Islam sebagai agama yang universal dan abadi.

    Hal itu berbeda sekali dengan kenyataan bahwa semakin banyak perempuan non-Muslim dan non-Arab dari seluruh penjuru dunia yang kembali ke pangkuan Islam. Bahkan, mereka melaksanakan kewajiban berjilbab atas kesadaran mereka sendiri dan bukan atas desakan tradisi yang dipandang berorientasi pada kekuasaan laki-laki atas perempuan (masculine-oriented).

    Saya adalah salah seorang diantara perempuan non-Arab (sebelumnya non-Muslim) yang dengan penuh kesadaran memakai jilbab bukan karena bagian dari identitas kelompok atau tradisi Islam semata atau memiliki signifikansi pada kelompok social dan politik tertentu, melainkan karena jilbab adalah identitas keyakinan saya, yaitu Islam. Bagi kelompok non-Muslim, jilbab tidak hanya dianggap sebagai penutup kepala, tetapi sebagai penghalang yang menyebabkan para perempuan itu tidak punya akses ke dunia yang luas. Seolah-olah, perempuan Muslimah tercerabut dari kebebasan yang seharusnya mereka rengkuh di dunia yang sekular.

    Sebelumnya, saya pernah diperingatkan tentang kemungkinan hilangnya kebebasan saya saat memutuskan untuk kembali ke pangkuan Islam. Saya diberitahu bentuk jilbab itu berbeda-beda menurut daerahnya masing-masing atau pemahaman dan kesadaran agamanya. Di Prancis, saya memakai jilbab yang sederhana-lebih tepat disebut penutup kepala-yang sesuai dengan mode dan sekedar tersampir di kepala sehingga terkesan modis.

    Namun ketika saya berada di Arab Saudi, saya memakai gamis hitam yang menutupi seluruh tubuh saya, termasuk mata. Jadi,saya telah merasakan sendiri penggunaan jilbab dari model yang paling sederhana hingga model yang dianggap kebanyakan orang paling “mengekang”. Mungkin Anda bertanya, apa makna jilbab bagi saya? Meski banyak buku dan artikel tentang jilbab, hampir semuanya cenderung ditulis dari sudut pandang “orang luar” (laki-laki). Saya harap tulisan ini dapat menjelaskan makna jilbab dari sudut pandang “orang dalam” (perempuan).

    Ketika saya memutuskan untuk kembali ke dalam pangkuan Islam, saya tidak berpikir tentang pelaksanaan ibadah shalat lima kali sehari atau tentang penggunaan jilbab. Barangkali saat itu saya khawatir jika saya terlalu dalam memikirkan hal itu, saya tidak akan pernah sampai pada keputusan yang tepat. Bahkan, hal itu mungkin akan mempengaruhi niat saya untuk bepaling ke Islam. Sebelum saya berkunjung ke sebuah masjid di Paris, sebetulnya saya tidak tertarik sama sekali terhadap Islam, termasuk tentang sholat dan penggunaan jilbab. Bahkan, tidak pernah terbayang sedikitpun. Namun sejak itu, keinginan saya kembali ke pangkuan Islam begitu kuat untuk dikalahkan pikiran-pikiran tentang tanggung jawab yang akan saya emban sebagai seorang Muslim, Alhamdulillah.

    Saya baru mulai merasakan keuntungan dan manfaat jilbab sesudah saya mendengarkan khotbah di sebuah masjid di Paris. Bahkan saat itu, saya tetap menggunakan kerudung kepala saya saat keluar dari masjid. Khotbah itu telah menjadi sebuah keputusan spiritual tersendiri seperti pengalaman saya sebelumnya dan saya tidak ingin kepuasan itu hilang. Mungkin karena cuaca yang dingin hingga saya tidak terlalu merasakan adanya kerudung di kepala. Selain itu, saya merasa bersih, suci, dan terjaga dari kotoran dalam arti yang fisik atau psikis. Saya merasa seolah berada di dalam lindungan Allah SWT. Sebagai orang asing di Paris, terkadang saya merasa tidak nyaman dengan pandangan liar laki-laki ke arah saya. Dengan jilbab, saya merasa lebih terlindung dari pandangan liar itu.

    Jilbab membuat saya bahagia sebagai wujud ketaatan dan manifestasi iman saya kepada Allah SWT. Saya tidak perlu meyakinkan diri saya lagi karena jilbab telah menjadi tanda bagi semua orang, terutama sesame Muslim, sehingga memperkuat ikatan persaudaraan Islam (Ukhuwwah Islamiyyah). Memakai jilbab sudah menjadi sesuatu yang spontan saya lakukan, bahkan dengan sukarela. Pada awalnya, saya berpikir tidak ada seorang pun yang dapat memaksa saya untuk memakai jilbab. Jika mereka memaksa, saya pasti menentang mereka. Namun, buku Islam pertama mengenai jilbab yang saya baca sangat moderat. Buku itu hanya menyebutkan, “Allah SWT sangat menekankan pemakaian jilbab.”

    Oleh karena Islam-seperti yang ditunjukkan dengan makna Islam, yaitu penyerahan diri-saya pun melaksanakan kewajiban keislaman saya dengan sukarela dan tanpa merasa kesulitan. Alhamdulillah. Selain itu, jilbab mengingatkan semua manusia bahwa Tuhan itu ada dan senantiasa mengingatkan saya untuk bersikap Islami. Seperti halnya petugas polisi yang tampak lebih professional dengan seragam mereka, saya pun merasa lebih Muslimah dengan jilbab yang saya pakai.

    Dua pekan sesudah saya kembali ke pangkuan Islam, saya pulang ke Jepang untuk menghadiri pernikahan keluarga. Setelah itu, saya memutuskan untuk tidak meneruskan pendidikan di Sastra Perancis yang telah kehilangan daya tariknya. Sebagai gantinya, saya memilih kajian Arab dan Islam.

    Sebagai seorang Muslimah yang baru dengan pemahaman Islam yang belum banyak, tinggal di kota kecil di Jepang dan jauh dari lingkungan Islam membuat saya merasa terisolasi. Namun, keterisolasian itu semakin menguatkan keislaman saya tahu saya tidak sendiri karena Allah SWT senantiasa menemani. Saya harus membuang semua pakaian saya dan, berkat bantuan beberapa teman, saya membuat patokan sendiri yang mirip pakaian orang Pakistan. Saya tidka merasa terganggu dengan pandangan orang yang tertuju kepada saya!

    Sesudah enam bulan berada di Jepang, hasrat untuk mempelajari segala hal tentang Arab tumbuh begitu besar hingga saya memutuskan untuk pergi ke Kairo, Mesir, karena di sana saya punya seorang kenalan. Saya tinggal di rumah keluarga teman saya. Namun, tidak seorang pun keluarga teman saya itu dapat berbahasa Inggris (apalagi Jepang!). Seorang wanita menjabat tangan saya dan mengajak saya masuk ke dalam rumahnya. Ia memakai jubah hitam yang menutupi dirinya dari kepala hingga ujung jari. Bahkan, wajahnya pun tertutup. Meski di Riyadh saya telah terbiasa dengan hal itu, saya ingat saat itu saya terkejut.

    Apalagi, saya teringat dengan kasus jilbab di Prancis. Saat itu, saya memandang perempuan dalam jubah sebagai,” perempuan yang diperbudak budaya Arab karena tidak tahu Islam” (kini saya tahu menutup wajah bukan kewajiban dalam ajaran Islam, melainkan sebagai tradisi etnis semata).

    Saya ingin mengatakan kepada wanita Kairo itu bahwa ia telah berlebihan dalam berpakaian sehingga tampak tidak alami dan tidak lazim. Namun, saya justru diingatkan wanita itu bahwa jilbab buatan saya sendiri tidak cocok digunakan di luar rumah-sesuatu yang tidak saya setujui sebelumnya karena saya merasa sudah memenuhi tuntutan jilbab bagi Muslimah.

    Saya pun membeli beberapa bahan baju dan membuat pakaian wanita dalam ukuran yang lebih panjang, disebut juga khimar, yang menutup sempurna bagian pinggul ke bawah dan tangan. Saya bahkan siap menutup wajah saya, sesuatu yang dipakai sebagian besar saudara Islam saya. Meski demikian, mereka tetaplah minoritas di Kairo.

    Secara umum, pemuda Mesir yang sedkit atau banyak terpengaruh budaya Barat masih menjaga jarak dengan perempuan yang memakai khimar dan memanggil mereka dengan sebutan ukhti. Laki-laki Mesir memperlakukan kami dengan penuh hormat dan sopan. Oleh karena itu, perempuan yang memakai khimar saling menjalin persaudaraan sehingga mereka turut menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW-seorang Muslim hendaknya memberi salaam kepada Muslim lain yang ditemui di jalan, dikenal atau tidak dikenalnya.

    Persaudaraan mereka yang lebih tepat untuk ditekankan itu didasari keimanan kepada Alloh SWT dibandingkan perempuan yang hanya memakai kerudung sebagai bagian dari bagian dari budaya dan bukan bagian dari keimanan. Sebelum berpaling ke pangkuan Islam, saya sangat senang memakai pakaian dengan model celana yang memungkinkan saya bergerak aktif meskipun bukan rok feminine. Namun, long dress yang biasa saya pakai di Kairo cukup nyaman bagi saya. Saya merasa anggun dan lebih santai.

    Dalam budaya Barat, warna hitam adalah warna favorit untuk acara malam karena menguatkan kecantikan pemakainya. Saudara-saudara baru saya yang di Kairo pun tampak sangat cantik dengan khimar hitam mereka dan sangat menunjang cahaya ketakwaan yang terpancar dari wajah-wajah mereka (meski begitu, mereka sangat berbeda dengan suster Katholik Roma yang dulu menjadi eprhatian utama ketika saya berkesempatan mengunjungi Paris tidak berapa lama sesudah saya tinggal di Riyadh, Arab Saudi).

    Saat itu, saya berada dalam satu metro (trem dalam kota) dengan suster-suster itu dan saya tersenyum karena keserupaan pakaian kami. Pakaian yang dipakai suster itu merupakan tanda ketakwaan mereka kepada tuhan seperti halnya Muslimah. Saya etrkadang merasa aneh dengan orang-orang yang tidak banyak mengkritik jubah yang dipakai suster Katholik Roma, tetapi mereka mengkritik dengan tajam jilbab yang dipakai Muslimah, terlepas dari pandangan bahwa keduanya dianggap melambangkan terorisme dan tekanan. Namun, saya tidak bermaksud mengabaikan jilbab dengan warna yang lebih cerah selain hitam karena pada kenyataannya sejak dulu saya bekeinginan memakai pakaian dengan gaya yang relijius seperti suster Katholik Roma jauh sebelum saya berpaling ke pangkuan Islam!

    Meski demikian, saya menolak orang yang menganjurkan saya tetap memakai khimar sekembalinya saya ke Jepang. Saya akan marah kepada setiap Muslimah yang tidak begitu menyadari pentingnya ajaran Islam : sepanjang kita sudah menutup diri kita sesuai tuntunan syariat, kita boleh memakainya sesuai model yang kita inginkan. Apalagi, setiap budaya memiliki cirinya sendiri-sendiri sehingga pemakaian khimar hitam di Jepang hanya akan membuat orang berpikir saya orang gila dan mereka akan emnolak Islam jauh sebelum saya mengenalkan Islam dengan baik kepada mereka. Perdebatan kami biasanya seputar masalah itu.

    Sesudah tinggal selama enam bulan di Kairo, saya sudah terbiasa dengan pakaian long dress sehingga saya mulia berpikir untuk tetap memakainya meskipun di Jepang. Komprominya, saya akan membuat khimar dengan aneka warna yang cerah atau putih dengan harapan orang Jepang tidak akan terlalu kaget dengan hal itu daripada saya hanya memakai khimar warna hitam. Ternyata saya betul. Reaksi orang Jepang lebih baik dengan khimar putih dan mereka lebih cenderung menduga saya sebagai yang relijius. Saya mendengar seorang gadis Jepang yang berkata kepada temannya bahwa saya seorang suster Buddha : betapa miripnya antara Muslimah, suster Buddha, dan suster Katholik Roma!

    Sekali waktu di dalam sebuah kereta, orang tua yang berada dis ebelah saya menanyakan alasan saya memakai baju yang tidak biasa dipakai banyak orang. Ketika saya jelaskan bahwa saya seorang Muslimah dan Islam mengajarkan kepada perempuan agar menutup tubuh mereka supaya terlindung secara fisik maupun psikis, orang tua itu tampaknya sangat tertarik. Saat ia turun dari kereta, ia berterima kasih dan mengatakan bahwa ia ingin sekali berbicara banyak tentang Islam dengan saya.

    Dalam waktu sekejap, ternyata jilbab menjadi factor yang dominant dalam memancing keingintahuan orang tentang Islam. Apalagi, orang Jepang bukanlah orang yang lazim berbicara banyak tentang agama. Sama seperti di Kairo, jilbab berperan sebagai tanda diantara sesama Muslimah, di Jepang pun hal yang sama saya lakukan.

    Pernah suatu kali ketika dalam suatu perjalanan, saya berkeliling dan bertanya-tanya benarkah rute yang saya ambil ini. Pada saat itu, saya melihat sekelompok perempuan memakai jilbab. Saya pun mendekati mereka dan kami bersalaman satu sama lain.

    Namun, ayah saya cemas ketika saya pertama kembali ke Jepang dengan menggunakan pakaian lengan panjang dan kepala tertutup rapat, padahal cuaca sedang panas meskipun saya sendiri merasa bahwa jilbab justru melindungi saya dari sinar matahari. Saya sendiri justru merasa tidak nyaman melihat adik eprempuan saya hanya memakai celana pendek sehingga tampak paha dan kakinya. Saya sering malu-bahkan sebelum saya kembali ke pangkuan Islam-terhadap perempuan yang memperlihatkan pantat dan pinggul mereka dengan pakaian yang ketat dan tipis.

    Saya merasa seperti melihat sesuatu yang seharusnya tersembunyi. Jika pemandangan seperti itu saja membuat saya malu sebagai perempuan, saya tidak dapat membayangkan dampaknya jika dilihat laki-laki. Oleh karena itu, Islam memerintahkan manusia berpakaian sopan dan tidak telanjang di ruang public meskipun di ruangan khusus perempuan atau laki-laki.

    Jelaslah, penerimaan sesuatu yang telanjang dalam suatu masyarakat berbeda-beda menurut pemahaman masyarakat atau individunya. Misalnya, di Jepang limapuluh tahun yang lalu, berenang dengan memakai baju renang yang setengah tertutup sudah dianggap vulgar, tetapi sekarang bikin sudah dianggap biasa. Namun, jika ada perempuan berenang dengan baju renang topless, ia dianggap tidak punya malu.

    Lain halnya jika topless di pantai selatan Prancis yang sudah dianggap biasa. Begitu pun di beberapa pantai di Amerika Serikat. Kaum nudis sudah berani bertelanjang ria seolah-olah mereka baru dilahirkan. Jika kaum nudis ditanya tentang perempuan liberal yang menolak jilbab-mengapa mereka masih menutupi pantat dan pinggul mereka padahal keduanya sama alamiahnya dengan wajah dan tangan-apakah perempuan liberal mau memberikan jawaban yang jujur? Definisi tentang bagia tubuh perempuan yang harus tetap pribadi ternyata sangat bergantung pada fantasi dan ksesenangan laki-laki di sekitar mereka yang mengaku-ngaku sebagai feminis. Namun di dalam Islam, kita tidak akan menemui masalah semacam itu karena Alloh SWT telah menetapkan definisi tentang bagian tubuh perempuan dan laki-laki yang boleh dan tidak boleh diperlihatkan di ruang public. Kita pun patuh dan mengikutinya.

    Jika saya melihat cara berpakaian manusia sekarang (telanjang atau hampir telanjang), buang air sembarangan, atau bercintaan di tempat umum, saya cenderung memandang mereka seperti makhluk yang tidak punya malu sehingga menjatuhkan martabat mereka hingga ke derajat binatang.

    Di Jepang, perempuan hanya memakai make up saat keluar rumah dan sedikit sekali memperhatikan penampilan diri mereka di rumah sendiri. Padahal, Islam mengajarkan perempuan agar selalu tampil cantik bagi suaminya sehingga ia akan berusaha tampil menarik pula baginya. Tentu, dengan begitu muncul keanggunan dalam hubungan antara suami isitri di dalam Islam.

    Muslim sering dituduh sebagai kelompok orang yang terlalu sensitive menyangkut tubuh manusia, tetapi tingkat kejahatan seksual yang terjadi akhir-akhir ini semakin menegaskan pentingnya pakaian sopan. Orang luar mungkin melihat Islam seperti melihat Muslim yang tampak kaku. Padahal jika dilihat dari dalam, ada kedamaian, kebebasan, dan kebahagiaan yang tidak akan pernah mereka rasakan sebelumnya. Menjalankan Islam-bagi Muslim yang terlahir di tengah keluarga Muslim atau orang yang kembali ke dalam pangkuan Islam-lebih disukai daripada jalan hidup bebas yang ditawarkan sekularisme.

    ***

    [ditulis ulang oleh Kartika dari buku "Mereka Yang Kembali", Zenan Asharfillah, penerbit Pustaka Zaman, Jakarta, 2003/Hidayatullah.com]

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 20 November 2012 Permalink | Balas  

    Mendahulukan Ibu

    Ibu Yeni, seorang anggota DPR mengisahkan pengalamannya mengenai sedekah yang membawa keberkahan baginya. Kejadian ini dialaminya sekitar bulan Agustus tahun 2001 yang lalu. Saat itu ia mendapat undangan seminar di Sumatra Selatan. Karena masih masa nifas dan membawa anak bungsunya yang kala itu masih berusia 35 hari, ia memutuskan membawa ibunya.

    Bukan main senangnya sang ibu dibawa pelesiran naik pesawat. Maklum saja, tahun 1972 waktu naik haji, ia cuma naik kapal laut. Di pesawat tak henti ibunda tercintanya menyatakan kesenangannya naik pesawat.

    “Alhamdulillah… kesampaian juga Ibu naik pesawat, “ syukurnya. Yeni yang duduk di sebelahnya tersenyum.

    “Coba Buya (ayah) masih hidup ya… dia pasti senang naik pesawat kayak gini, “ tuturnya lagi dengan mata berkaca-kaca. Yeni menoleh dan mengusap pundak ibunda tercintanya.

    “Sudahlah Bu, Buya pasti sudah bahagia sekarang. Selama hidup Buya kan sangat baik, maka Allah pasti melimpahkan kebahagiaan padanya… “

    “Yah… “ Ibu menganguk-angguk, “Buya emang baik…. “ lanjutnya sendu.

    Tidak lama kemudian mereka tiba di bandara dan diantar oleh panitia ke sebuah penginapan yang sederhana. Ibunya nampak sangat bahagia. Untuk menyenangkan hatinya, Yeni memesankan makanan kesukaannya.

    “Dimakan, Bu… “ kata Yeni. Ibunya mengangguk dan mulai makan dengan lahap.

    Keesokan harinya saat Yeni ikut seminar, Ibu menjaga cucunya yang masih merah di penginapan. Seminar itu untunglah tidak begitu lama. Jeda makan siang, mereka diajak makan di sebuah restoran khas Sumatra Selatan. Konon restoran ini biasa ditongkrongi oleh para pejabat dari pusat.

    Memang suasananya sangat asri, bertingkat dua, dan Subhanallah makanan yang tersaji juga terasa sangat nikmat.

    “Pepes ikan dengan duriannya enak sekali, Yen… “ Ibu memberikan penilaian seraya makan dengan lahap.

    “Kalau di Tangerang, daerah kita durian cuma untuk Kinca teman makan ketan ya, ternyata buat pepes juga enak, “ imbuhnya kemudian.

    “Alhamdulillah… kita di sini jadi nambah ilmu kan, Bu? “ balas Yeni tersenyum.

    Selesai makan, mereka menuju penginapan lagi untuk berkemas. Ya, mereka harus kembali ke Jakarta hari itu juga. Sebelum berangkat, Yeni memeriksa sebuah bungkusan yang diberikan panitia saat seminar tadi.

    “Subhanallah… bagus amat nih kain sutra? “ desisnya takjub sambil menyidik bahan itu dengan teliti. Yeni bertekad akan menjahitnya setiba di Jakarta nanti.

    Saking indahnya kain tersebut, di pesawatpun Yeni tak kuasa membayangkannya. Menjahitnya menjadi baju muslimah yang indah yang akan dikenakannya pada event-event tertentu. Tapi sejenak kemudian hati kecilnya berkata, “Berikan saja pada ibumu…. “

    “Bagaimana, ya…. bagus banget sih? “ sekilas bathinnya tak rela. Rupanya syetan sedang merasuki niat baiknya.

    “Sudah… kasih Ibu saja, supaya dia senang, kamu kan bisa beli nanti lagi… “ hati kecilnya kembali berkata.

    Sejenak Yeni merasa bimbang. Terus-terang saja, ia sangat ingin memiliki bahan itu untuk dirinya. Sudah dibayangkannya begitu manisnya ia dalam balutan baju berbahan sutra itu. Suaminya pasti memuji, anak-anaknya pasti juga bangga. Tapi…

    “Ah, sudahlah biar untuk ibuku saja, “ hati kecilnya memenangkan pergolakan bathin.

    Maka Yeni memberikan kain sutra itu pada ibunya. Mata ibunya bersinar menerima pemberian itu. Paras bahagia yang tak bisa ditutupinya. Yeni tak menyesal memberikannya.

    Sesampainya di Jakarta, Yeni kembali mengisi hari-harinya dengan seabreg aktivitas yang menunggunya. Ia sudah tak teringat lagi kain sutra indah pemberian panitia seminar di Sumatra Selatan itu. Sampai dua hari kemudian seorang temannya kembali dari Malaysia dan membawa titipan dari teman Yeni, yang orang asli Malaysia.

    “Apaan ini? “ Yeni mengerutkan dahinya, menatap bungkusan yang diberikan temannya itu.

    “Titipan dari teman Malaysiamu, aku nggak tahu isinya, buka aja gih… “

    Tanpa menunggu lama, Yeni membuka bungkusan itu dan terbelalak, “Subhanallah bagus banget…. “ serunya takjub. Temannya pun ternganga.

    Selembar bahan sutra yang lebih halus dan lembut warnanya…

    “Benar-benar Allah Maha Besar… “ Yeni berbisik pelan.

    Kain sutranya telah digantikan oleh Allah dengan yang lebih bagus dan manis. Yeni kemudian teringat sebuah hadits Rasulullah Saw, bahwa kebaikan yang cepat mendapatkan balasannya di dunia adalah kebaikan kita kepada orang tua….

    ***

    Sumber: Wisata Hati.

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 14 November 2012 Permalink | Balas  

    Jeruk Busuk Rasa Manis

    Suatu hari, ketika saya sedang menjenguk salah satu saudara yang tengah dirawat di rumah sakit, terdengar suara makian keras dari pasien sebelah, “Bawa jeruk kok busuk, mau ngeracunin saya? biar saya cepat mati?”

    Suara marah itu berasal dari lelaki tua yang kedatangan salah satu keluarganya dengan membawa jeruk. Boleh jadi benar, bahwa beberapa jeruk dalam jinjingan itu busuk atau masam. Meski tidak semua jeruk yang dibawanya itu busuk dan sangat kebetulan yang terambil pertama oleh si pasien yang busuk. Dan tanpa bertanya lagi, marahlah ia kepada si pembawa jeruk.

    Sebenarnya, boleh dibilang wajar jika seorang pasien marah lantaran kondisinya labil dan kesehatannya terganggu. Ketika ia marah karena jeruk yang dibawa salah satu keluarganya itu busuk, mungkin itu hanya pemicu dari segunung emosi yang terpendam selama berhari-hari di rumah sakit. Penat, bosan, jenuh, mual, pusing, panas, dan berbagai perasaan yang menderanya selama berhari-hari, belum lagi ditambah dengan bisingnya rumah sakit, perawat yang kadang tak ramah, keluarga yang mulai uring-uringan karena kepala keluarganya sekian hari tak bekerja, semuanya membuat dadanya bergemuruh. Lalu datanglah salah satu saudaranya dengan setangkai ketulusan berjinjing jeruk. Namun karena jeruk yang dibawanya itu tak bagus, marahlah ia.

    Wajar. Sekali lagi wajar. Tetapi tidak dengan peristiwa lain yang hampir mirip terjadi di acara keluarga besar belum lama ini. Seorang keluarga yang tengah diberi ujian Allah menjalani kehidupannya dalam ekonomi menengah ke bawah, berupaya untuk tetap berpartisipasi dalam acara keluarga besar tersebut. Tiba-tiba, “Kalau nggak mampu beli jeruk yang bagus, mending nggak usah beli. Jeruk asam gini siapa yang mau makan?” suara itu terdengar di tengah-tengah keluarga dan membuat malu keluarga yang baru datang itu.

    Pupuslah senyum keluarga itu, rusaklah acara kangen-kangenan keluarga oleh kalimat tersebut. Si empunya suara mungkin hanya melihat dari jeruk masam itu, tapi ia tak mampu melihat apa yang sudah dilakukan satu keluarga itu untuk bisa membawa sekantong jeruk yang boleh jadi harganya tak seberapa.

    Harga sekantong jeruk mungkin tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Tapi tahukah seberapa besar pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk membelinya?

    Rumahnya sangat jauh dari rumah tempat acara keluarga, dan sedikitnya tiga kali tukar angkutan umum. Sepuluh ribu itu seharusnya bisa untuk makan satu hari satu keluarga. Boleh jadi mereka akan menggadaikan satu hari mereka tanpa lauk pauk di rumah. Atau jangan-jangan pagi hari sebelum berangkat, tak satu pun dari anggota keluarga itu sempat menyantap sarapan karena uangnya dipakai untuk membeli jeruk. Yang lebih parah, mungkin juga mereka rela berjalan kaki dari jarak yang sangat jauh dan memilih tak menumpang satu dari tiga angkutan umum yang seharusnya. “Ongkos bisnya kita belikan jeruk saja ya, buat bawaan. Nggak enak kalau nggak bawa apa-apa,” kata si Ayah kepada keluarganya.

    Kalimat sang Ayah itu, hanya bisa dijawab dengan tegukan ludah kering si kecil yang sudah tak sanggup menahan lelah dan panas berjalan beberapa ratus meter. Tak tega, Ayah yang bijak itu pun menggendong gadis kecil yang hampir pingsan itu. Ia tetap memaksakan hati untuk tega demi bisa membeli harga dari di depan keluarga besarnya walau hanya dengan sekantong jeruk. Menahan tangisnya saat mendengar lenguhan nafas seluruh anggota keluarganya sambil berkali-kali membungkuk, jongkok, atau bahkan singgah sesaat untuk mengumpulkan tenaga. Itu dilakukannya demi mendapatkan sambutan hangat keluarga besar karena menjinjing sesuatu.

    Setibanya di tempat acara, sebuah rumah besar milik salah satu keluarga jauh yang sukses, menebar senyum di depan seluruh keluarga yang sudah hadir sambil bangga bisa membawa sejinjing jeruk, lupa sudah lelah satu setengah jam berjalan kaki, tak ingat lagi terik yang memanggang tenggorokan, bertukar dengan sejumput rindu berjumpa keluarga. Namun, terasa sakit telinga, layaknya dibakar dua matahari siang. Lebih panas dari sengatan yang belum lama memanggang kulit, ketika kalimat itu terdengar, “Jeruk asam begini kok dibawa…”

    Duh. Jika semua tahu pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk bisa menjinjing sekantong jeruk tadi, pastilah semua jeruk asam itu akan terasa manis. Jauh lebih manis dari buah apa pun yang dibawa keluarga lain yang tak punya masalah keuangan. Yang bisa datang dengan kendaraan pribadi atau naik taksi dengan ongkos yang cukup untuk membeli seperti jeruk manis dan segar.

    Mampukah kita melihat sedalam itu? Sungguh, manisnya akan terasa lebih lama, meski jeruknya sudah dimakan berhari-hari yang lalu.

    ***

    Oleh: Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 30 October 2012 Permalink | Balas  

    Anak-anak Kecil Penghuni Surga

    Apabila sebuah keluarga telah kehilangan atas meninggal anaknya, maka ada beberapa ungkapan yang sering kita dengar dari orang-orang sekitar yang mengatakan “Sabar, anak kalian akan menjadi tabungan buat kalian berdua di akherat”, “Tabah, anak kalian akan menolong dan memberi syafaat di akherat untuk kalian berdua”, “Anak kalian akan menunggu di akherat kelak” … dan sebagainya yang sejenis.

    Ungkapan para kerabat tersebut itu tak salah. Ada hadist-hadist yang menyiratkan hal itu. Di antaranya yang “muttafaq ‘alaih” (riwayat Bukhari-Muslim) berikut ini. Diceritakan, ada seorang perempuan mendatangi Rasulullah saw. lalu berkata: “Wahai Rasulullah, kaum laki-laki telah memperoleh hadist-hadist Tuan (dengan arti nasehat atau petuah Tuan -red), maka berilah kami (kaum perempuan -red) hari di mana Tuan memberikan pengajaran kepada kami tentang apa yang telah Allah ajarkan kepada Tuan.”

    Rasulullah menjawab, “Berkumpullah pada hari ini dan ini”. Maka kaum perempuan itu berkumpul dan Rasulullah hadir memberikan pengajaran apa yang diajarkan Allah kepadanya. Kata Rasul: “Tiada di antara kalian perempuan yang ditinggal mati tiga anak-anaknya kecuali ketiga anak tersebut menjadi penghalang (hijab) bagi perempuan itu dari api neraka. Seorang perempuan bertanya, “Dan dua orang anak?” Jawab Rasul, “(Ya) dan dua orang anak.”

    Hadis di atas hanya menyebutkan sampai dua orang anak saja. Bagaimana kalau satu anak saja yang meninggal? Kami kira, seandainya waktu itu ada perempuan lagi yang menanyakan “Bagaimana jika yang meninggal satu anak saja?”, kemungkinan besar Rasul juga akan mengiyakan. Artinya bilangan 2 itu tidak menjadi batas.

    Dalam kontek yang sama, dalam hadist lain yang diriwayatkan al-Nasa’iy, Rasulullan berkata (jika diterjemahkan secara bebas demikian) “Tidakkah menggembirakanmu, bahwa kamu kelak akan melihat anakmu membukakan pintu sorga dan berjalan menjemputmu?”.

    Dalam hadist lain lagi (riwayat Muslim), diceritakan ada seorang -Abu Hissan namanya- yang dua anak laki-lakinya meninggal. Abu Hissan ini dekat dengan Abu Hurairah, hingga ia (Abu Hissan) menganggap Abu Hurairah itu sebagai juru bicaranya Rasul yang senantiasa membawa kabar dari tentang Rasul. Setelah musibah meninggalnya dua anaknya itu, Abu Hissan meminta Abu Harairah agar memberinya hadist-hadist Rasulullah yang menghibur orang-orang yang lagi berduka cita karena keluarganya meninggal. Lantas Abu Hurairah berkata (dengan terjemah bebas begini), “(Oh) iya, anak-anak kecil mereka adalah anak-anak kecilnya sorga.”

    Maksudnya, anak-anak yang meninggal masih kecil akan menjadi penghuni sorga tak akan meninggalkannya. “Salah satu mereka (anak-anak kecil penghuni sorga itu) akan menemui orang tuanya. (Setelah ketemu) dia memegangi kuat-kuat baju orang tuanya, tak akan melepaskannya sampai Allah memasukkannya bersama kedua orang tuanya ke dalam sorga.” Masih ada beberapa hadist lainnya yang isinya tak jauh beda. Singkatnya, tepat seperti anggapan banyak orang, anak kecil yang meninggal itu ibaratnya celengan bagi kedua orang tuanya. Di sini perlu ada yang ditegaskan: namanya celengan, tentu ia bukanlah segala-galanya. Apa untungnya kita punya celengan, jika ternyata kita mempunyai hutang yang lebih besar dari celengan tersebut? Jelasnya, amal perbuatan orang tua -setelah anaknya meninggal- tetap akan ditimbang dan dihisab kelak. Jika kejelekannya lebih berat, walau sudah ditutupi dengan adanya celengan tsb, maka tetap akan masuk neraka lebih dulu. Jika sebaliknya, kebaikannya -dengan dukungan celengan yang telah dimilikinya- akan semakin cepat proses masuk sorga.

    Ketabahan dan kesabaran itu sudah seharusnya sikap yang diambil seseorang yang terkena musibah. Termasuk musibah spt ini. Maka, tentunya hadis ini tak berlaku bagi orang tua yang sengaja menghabisi anak bayinya, karena hal itu bukan musibah. Dengan tabah dan sabar, kita akan menjaga stabilitas mental-spiritual hingga mampu kembali aktif dengan segala kegiatan seperti biasanya.

    Wallaahua’lam.

    ***

    Oleh Sahabat: Wafi Maimoen dan Arif Hidayat

     
    • chan 5:19 pm on 17 Februari 2013 Permalink

      terima kasih sobat atas penjelasan nya karna saya baru mengalami hal yg sama

    • wandri 11:47 am on 4 Oktober 2013 Permalink

      terima kasih juga atas penjelasannya,kami juga baru mengalami hal yang sama,putra tercinta kami pergi meninggalkan kami utk selama2nya tgl 11 september 2013 kemarin,,,,memang begitu berat rasanya kehilangan

  • erva kurniawan 1:51 am on 28 October 2012 Permalink | Balas  

    Memelihara Mimpi

    Seorang teman marah ketika saya membangunkannya dari tidur siangnya. “Gara-gara dibangunin, saya gagal dapat uang dua ratus ribu,” katanya. “Bagaimana bisa?” tanya saya. “Ya, hampir saja saya menerima dua lembar ratusan ribu jika saja kamu tak membangunkan saya,” tambahnya. “Sudahlah, bangun dari mimpimu itu. Kamu bisa mendapatkan jauh lebih banyak dari dua lembar jika tak sedang bermimpi,” segera saya menariknya keluar dari kamar untuk mengajaknya berjalan mencari pekerjaan.

    Fase bermimpi itu pernah sama-sama kami lewati, ketika rasa malas kerap menggelayuti otak kami yang berpikir meraih sukses itu amat mudah. Mungkin kami terlalu banyak menonton televisi, melihat orang-orang muda seusia kami memakai stelan jas mengendari mobil mewah dan menghuni rumah seharga di atas dua milyar. Dengan kemapanan seperti itu, perempuan mana yang tak suka berkenalan atau bergaul dengannya. Tayangan televisi lainnya mengajarkan kami betapa mudahnya mendapatkan uang hanya dengan bermodalkan pengetahuan pas-pasan atau mencoba keberuntungan dan mengundi nasib mengikuti berbagai kuis dengan hadiah menjanjikan.

    Beberapa film lainnya sempat membuat saya dan teman-teman berkhayal ketika tengah berada di pinggir jalan menunggu bis, sebuah mobil mewah yang melintas di depan kami tiba-tiba berhenti karena pengendaranya tiba-tiba terserang penyakit jantung. Kami pun berhamburan menolongnya dan membawanya ke rumah sakit. Singkat cerita, jadilah kami dewa penolong yang mendapat imbalan, “apa pun yang kalian minta akan kami berikan, karena kalian telah menyelamatkan nyawa saya,” Ahay, indahnya hidup jika setiap episode selalu dihiasi keberuntungan seperti itu. Tetapi nyatanya tidak, hidup ini tetap keras dan perlu melalui banyak onak yang terkadang kaki ini tak sanggup menahannya. Nyatanya, meski sudah berjam-jam kami masih tetap di pinggir jalan itu dan tak satu pun mobil mewah melintas yang tersuruk lantaran pemiliknya terserang jantung sehingga kemudian kami menjadi dewa penyelamatnya. Tidak, itu hanya ada dalam film, komik, bahkan mimpi yang seringkali tak nyata.

    Mimpi seringkali membuat orang untuk terus bermimpi, seperti seorang pandir yang selalu mendapat keberuntungan meski pun kebodohannya tak tertandingi, seperti Cinderella yang mendapat keberuntungan dari sepatu kaca pemberian peri cantik, seperti seorang pemulung yang tiba-tiba saja menemukan beberapa batang emas di tempat sampah, sehingga seluruh warga kampung berbondong-bondong ikut memulung di tempat yang sebelumnya teramat menjijikkan bagi mereka. Si pemulung akan berpikir bahwa menjadi pemulung adalah jalan hidupnya, dan ia terus bermimpi menemukan batang emas lainnya di tempat sampah yang berbeda.Dan seperti juga kita, yang masih saja terus ingin melanjutkan tidur berharap mimpi siang tadi berlanjut sehingga dua lembar ratusan ribu berpindah ke tangan kita. Tapi itu dalam mimpi!

    Nyatanya, mungkinkah ada orang yang bisa melanjutkan mimpinya? Bahkan adakah yang mampu mewujudkan mimpinya hanya dengan terus memejamkan matanya dan menyembunyikan wajah di bawah bantal?

    Waktu terus bergulir, detik terus berlari. Sebagian orang masih terlelap berharap mimpi indah dalam tidurnya. Sebagian lainnya berpacu dengan cepatnya waktu untuk meraih sukses. Yang tidur akan bangun dengan tangan hampa, menyesal betapa banyak waktu terbuang untuk meraih mimpi yang tak pernah mampu diwujudkannya hanya dengan terus menerus terlelap. Sementara yang lain, sudah tersenyum karena lebih cepat meninggalkan tempat tidur mereka dan melangkah cepat meraih mimpinya dengan kerja keras.

    Memelihara mimpi, bukanlah dengan melanjutkan mimpi dalam tidur. Melainkan dengan melipat selimut dan bergegas ke luar kamar melangkahkan kakinya menapaki setiap anak tangga kesuksesan. Bukankah matahari terlihat saat ia bersinar, bukankah kokok ayam jantan menunjukkan keberadaannya. Tukang becak akan mendapatkan uang setelah ratusan kali kakinya mengayuh, tukang koran bisa tersenyum setelah semua korannya habis, para pedagang akan menghitung laba setelah uang modalnya terpenuhi, dan para karyawan akan menerima gaji setelah sebulan penuh bekerja.

    Layaknya seorang pemain sepak bola di lapangan. Jika tak bertarung merebut bola, berapa sering ia akan mendapatkan bola jika hanya berharap pemberian bola dari temannya? Dan hitung berapa peluang yang ia peroleh untuk menciptakan gol dari jerih payahnya yang sedikit itu? Akankah timnya menjadi pemenang? Jadi, peliharalah mimpi dengan bergegas beranjak dari mimpi dan khayalan. Karena rezeki lebih senang dihampiri, bukan menghampiri.

    Saya dan teman-teman yang pernah sama-sama bermimpi dulu, hingga kini masih terus memelihara mimpi kami. Tetapi kali ini tidak di tempat tidur. Percaya lah.

    ***

    Oleh Sahabat Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 22 October 2012 Permalink | Balas  

    Sinyal

    “Pesawat handphone –tercanggih sekalipun– membutuhkan sinyal untuk bisa  berfungsi sebagai alat komunikasi. Untuk menjadi pribadi yang efektif, kita  pun harus sensitif terhadap sinyal-sinyal komunikasi yang dipancarkan orang  lain.”

    Dalam sebuah seminar di Makassar, seorang mahasiswa UNHAS yang menemani saya  menceritakan banyak anekdot mengenai petani cengkeh yang biasanya mendadak  kaya sehabis panen. Kebanyakan temanya adalah soal bagaimana mereka  membelanjakan uang mereka yang berlebih itu. Ini salah satunya:

    Ada seorang petani cengkeh dari pedalaman pergi berbelanja ke kota dengan  membawa banyak sekali uang hasil penjualan panenannya. Mereka bermaksud  membelanjakan uang yang berlimpah itu. Datanglah mereka ke sebuah gerai  handphone terbesar di kota itu. “Saya hendak membeli handphone type yang  paling baru dan canggih?” kata petani itu.

    “Oh silahkan Pak, apakah Bapak sudah ada SIM card-nya?” sambut pegawai toko  dengan ramah.

    “Oh perlu SIM juga ya?” tanya petani itu sembil mencabut dompet, mengeluarkan SIM mengemudinya.

    “Oh, bukan SIM mengemudi Pak, tapi nomor dari operatornya … kalau begitu  apa sekalian SIM card-nya Pak?”

    “Oh ya, kalau begitu sekalian SIM card-nya.” jawab petani itu kalem.

    “Tapi Pak, maaf, Bapak tinggal di daerah mana?”

    “Saya? di Sungai Ujung, Kabupaten Kaki Bukit.”

    “Wah, di sana nggak ada sinyal Pak.”

    “Oh ya? kalau begitu tolong dik, dilengkapi dengan sinyal sekalian.”

    Bagaimana pun canggihnya pesawat telepon yang kita miliki, tidak akan  berfungsi dengan baik kalau tidak ada sinyal yang ditangkap. Demikian pula  dalam kehidupan sehari-hari kita, sesungguhnya banyak sekali sinyal-sinyal  komunikasi yang perlu kita tangkap untuk mempertajam keputusan yang hendak  kita ambil.

    Kemampuan untuk secara sensitif menangkap sinyal-sinyal komunikasi itu  kemudian mengolahnya secara internal merupakan ciri khas yang hanya dimiliki  oleh mereka yang mempunyai kepribadian matang. Sebaliknya, secanggih apa pun  penampilan Anda, tetapi nggak pernah nyambung, ya tak lebih dari sebuah  handphone canggih yang nggak bisa dipakai nelpon. Tulalit kan?

    ***

    Sumber : Lightbreakfast

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 19 October 2012 Permalink | Balas  

    Sakinah Mawadah Wa Rahmah

    Dulu, ketika mendengar ceramah atau doa dari ustadz-ustadz(ah) agar keluarga kita menjadi menjadi keluara yang sakinah, mawaddah wa rahmah saya tidak terlalu paham, apa yang dimaksud dengan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Saya hanya tahu sakinah artinya tenang, tentram.

    Pelan-pelan saya faham, sakinah artinya tenang/tentram, mawaddah artinya bahagia, wa = dan, sedangkan rahmah artinya mendapat rahmah/cinta. Hanya itu.

    Sampai beberapa hari yang lalu ketika kami membahas cerita di sebuah buku tentang seorang pemuda yang tidak ingin menikah karena belum menemukan wanita yang sesuai dengan kriterianya ditambah begitu banyaknya persyaratan dari orang tuanya tentang sang calon menantu.

    Menurut pandangan pemuda di cerita tersebut, gadis-gadis jaman sekarang banyak yang tidak lagi menjalankan hidup sesuai dengan islam, dari pakaiannya yang tidak menutup aurat, penampilan dan cara bergaulnya yang ‘kebarat-baratan’, bahkan sampai cara berjalannya yang tidak islami. Kebetulan ia dibesarkan dilingkungan teman-teman yang islami yang telah menikah dengan wanita-wanita islami, namun ia sendiri bukan berasal dari keluarga yang harmonis. Orangtuanya selalu ribut, bersikeras dengan pendapat masing-masing dan memiliki sifat yang tidak sabar.

    Akhirnya pemuda yang kebetulan seorang dokter terkenal tersebut tenggelam dengan kesibukannya sebagai dokter dan mempelajari Al- quran dan sunnah Rasul saw dari buku-buku dan ceramah-ceramah.

    Suatu hari, pemuda tadi mendengarkan radio yang membahas tentang tujuan terbentuknya sebuah keluarga, yakni untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Selama ini, pemuda atau dokter muda yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis tersebut tidak terlalu memperhatikan apa tujuan berkeluarga. Sang penyiar lalu melantunkan sebuah ayat Al-quran.Iapun sering mendengar ayat dari surat Ruum (30:21) tersebut : “Dan dari tanda-tandanya telah Kuciptakan untukmu pasangan-pasanganmu agar kamu hidup tenang bersamanya dengan bahagia dan cinta (mawaddah wa rahmah). Dan itu adalah tanda-tanda bagi orang yang berakal”. Namun baru kali ini ia memperhatikan, merasakan dan menghayati ayat tersebut. Membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah.

    Sejak itu opininya tentang hidup berkeluargapun berubah. Ia lalu mulai memperhatikan dan mencari calon istri. Singkat cerita, akhirnya ia menikahi muridnya yang berpenampilan lain dari murid- murid wanita lainnya, memakai gamis, berjilbab dan menjaga pergaulannya. Kesibukannya mempelajari islam selama ini telah membukakan hatinya dan memperoleh petunjuk dari Allah swt. Di akhir pelajaran ustad kami menanyakan apa perbedaan antara mawaddah dan rahmah. Jawaban kamipun bermacam-macam. Lalu ustadpun menjelaskan, mawaddah adalah cinta dari seorang suami, sedangkan rahmah adalah cinta dari seorang istri.

    Sekarang jelas sudah, apa arti keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Bukan hanya berarti keluarga yang tenang dan bahagia saja, tapi ada sesuatu dibalik itu, perlunya cinta yang diberikan oleh suami kepada istri dan keluarga, dan cinta yang diberikan oleh istri kepada suami dan anak-anak.

    Ustad lalu menambahkan,tujuan berkeluarga yang lain adalah mengurangi kesalahan bahkan kemaksiatan. Contohnya, jika sebelum berkeluarga pemuda atau pemudi lajang dapat berpergian dengan bebas, maka setelah berkeluarga kegiatan mereka menjadi terbatas. Ada prioritas lain yang harus mereka perhatikan, yakni keluarga. Jadi, bila setiap anggota keluarga sibuk dengan kegiatan diluar rumah tanpa memperhatikan keluarganya, lalu apa bedanya menikah dengan tidak menikah? Mungkinkah tercipta keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah apabila setiap orang jarang bertemu dan berkomunikasi? Karena tujuan berkeluarga sebagian orang telah berbeda dengan yang Allah swt ajarkan kepada kita dalam surat Ar Ruum, yakni menciptakan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Walau selama ini kita telah sering membaca ayat tersebut dalam undangan-undangan pernikahan. Wallahu ‘alam.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 11 October 2012 Permalink | Balas  

    Kalimat Terindah

    Setelah berbulan-bulan tak ada kabar yang jelas. Setelah sekian waktu jadwal kepulangan saya ke tanah air belum bisa dipastikan, maka suatu malam saya dipanggil sang majikan untuk berbicara empat mata. Saat pertemuan itu ada kalimat terindah yang pernah saya dengar dari mulutnya. Kalimat itu adalah, “Akhir bulan ini kamu pulang ke Indonesia.”

    Saya terdiam. Tapi saya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang bergejolak di dada ini. Pulang! Sebuah kata yang sangat indah di telinga saya. Setelah dua tahun lebih saya meninggalkan orang-orang yang saya cintai: isteri, anak, keluarga yang lain, teman dan siapa saja orang-orang yang dekat dengan saya sebelum berangkat merantau ke negeri seberang.

    Terlintas dalam pikiran saya, tentang masa lalu. Tentang sepenggal dari episode kehidupan saya pada masa duduk di sekolah menengah. Waktu di mana saya harus meninggalkan kampung halaman yang amat sangat saya cintai.

    Selepas tamat sekolah dasar, orang tua saya mengirim saya untuk meneruskan pendidikan di kota. Karena kampung saya jauh dari kota, maka saya harus kost. Itu saya jalani dari SMP sampai tamat SMA. Dan saya selalu teringat saat yang paling indah, saat yang paling menyenangkan, yaitu saat datang hari Sabtu. Sebab di akhir pekan itu saya pulang kampung. Saking gembiranya kalau datang hari Sabtu, sayasering menyebutnya “Pulang ke pinggir sorga.” Sebab akan bertemu dengan orang tua. Dan biasanya ibu saya sudah menyediakan makanan-makanan kesukaan saya. Yang tentunya sangat jarang saya temui di rumah kost.

    Nah, saat mendengar kalimat dari majikan saya itu, hati saya sama persis seperti ketika mau pulang kampung di masa-masa menempuh pendidikan di kota saya, beberapa tahun yang lalu.

    Sejak itu, hari-hari saya diliputi kegembiraan. Walaupun pekerjan yang saya tangani sebenarnya sangat banyak. Ocehan-ocehan dari majikan yang bersifat memarahipun tak begitu saya pedulikan. Artinya, apa yang ia omongkan hanya saya masukan telinga kanan dan saya keluarkan lewat telinga kiri. Bahkan terkadang, hati dan pikiran saya seolah sudah di kampung sendiri, padahal jasad saya masih bermandi keringat di negeri orang.

    Suatu hari seorang teman menangkap perangai saya. Dan teman saya itu berkomentar. “Duh, gembiranya mau pulang kampung, ya….” Saya senyum-senyum saja mendengar itu. Memang itulah adanya.

    Namun, di siang bolong yang terik mataharinya mencapai titik kulminasi, saat saya merebahkan badan untuk melepas lelah, tiba-tiba saya berpikir keras. Sambil melihat langit-langit kamar, saya bergumam sendiri. “Apakah kegembiraan ini bisa bertahan lama, atau setidaknya sampai ke Indonesia nanti?’

    Saya tak bisa menjawab pertanyaan saya sendiri itu. Bahkan tiba-tiba pikiran saya melayang terlalu jauh ke depan. “Mampukah saya segembira ini jika nanti Allah juga memberikan kalimat itu kepada saya?”

    Ya, setelah merantau, pasti saya akan pulang. Sama juga setelah saya diberi kesempatan hidup di dunia, pasti juga akan dipanggil pulang. Dan kepulangan yang terahir ini jelas tidak mungkin bisa ditawar-tawar lagi. Cepat atau lambat, Allah akan menyapa juga dengan kalimat yang tak beda jauh dengan kalimat majikan saya, walau dengan nuansa yang berbeda, tentunya.

    Kalau pertemuan saya dengan semua keluarga nanti di tanah air mampu memberikan kegembiraan yang luar biasa pada saya, mampukah saya juga berperasaan yang sama tatkala saya nanti akan berjumpa dengan Sang Pencipta?

    Saya tertunduk lama. Lama sekali. Bahkan tak terasa air mata ini memberontak ingin keluar. Seolah memerintahkan saya untuk cepat-cepat berintrospeksi diri, tentang apa yang telah saya perbuat di “rantau” ini.

    Bekal saya belum seberapa. Entah dalam tingkatan yang mana derajat keimanan saya. Komitmen saya terhadap aturanNya belum bisa saya jadikan barometer untuk menjadikan saya tersenyum di hadapanNya. Apalagi merasa gembira.

    Namun, walaupun demikian, mudah-mudahan kepulangan saya ke tanah air tercinta akan menjadi pelajaran besar untuk menyongsong kepulangan saya yang sebenarnya, yaitu pulang ke pangkuanNya. Sehingga ketika kalimat terindah dari Allah, yang dibawa malaikat penyabut nyawa,datang menyapa saya, mudah-mudahan saya bisa menyambutnya dengan senyum kegembiraan. Seperti senyumnya para kekasih Allah ketika dipanggil pulang menuju kampung abadi, kampung akhirat.

    ***

    Oleh Sus Woyo

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 6 October 2012 Permalink | Balas  

    Nasehat Sang Ibunda

    Jam menunjukkan pukul 23.00. Tapi mata belum juga bisa terpejamkan. Setelah menyaksikan adegan istimewa yang disuguhkan Allah Swt di dinding kamar saya, bagaimana upaya seekor cicak menyambut rizkinya. Tiba-tiba tanpa sengaja pikiran saya melayang jauh ke masa lampau. Waktu itu bertepatan dengan hari ke sebelas bulan ramadhan.

    Sosok ibu kami, pada masanya, beliau tidak pernah merasakan bagaimana menjadi seorang murid. Beliau tidak pernah sekolah. Walaupun hanya setingkat sekolah dasar. Tetapi cara-cara beliau mendidik dan memberi pelajaran kepada kami, sungguh sangat mengesankan dan membuat kami selalu kagum pada beliau. Diantara sekian banyak pelajaran kehidupan yang kami terima, ada satu hal yang terus saya ingat, apabila pikiran terbayang pada beliau.

    Pada sore hari yang cerah, saya mau mengambil buah jambu yang ada di halaman rumah kami. Buah jambu itu tampak sudah matang dan begitu menggairahkan. Perlu diketahui bahwa pohon jambu yang kami tanam di depan rumah kami adalah buah ‘jambu jepang’, istilah orang kampung. Pohon itu sangat langka pada saat itu.

    Di kampung tempat kami tinggal hanya ada satu pohon itu saja. Sehingga semua orang yang melihatnya kepingin sekali merasakan bagaimana rasa buah `jambu jepang’ tersebut. Pohon itu kalau berbuah juga tidak terlalu banyak. Kadang-kadang satu pohon hanya ada satu atau dua buah saja yang masak. Perlu diketahui pula bahwa buahnya sangat kecil hanya sebesar buah kelengkeng saja. Tetapi baunya harum dan rasanya manis.

    Pada hari itu, buah jambu yang masak ada dua buah. Ketika sore itu saya mau mengambil buah yang sudah ranum, ibu melarangnya. Sehingga saya agak kecewa karenanya.

    Kata saya : ‘..Mengapa bu, saya tidak boleh mengambil buah tersebut? Kan itu milik kita. Kalau tidak cepat diambil nanti kan membusuk?”

    Jawab ibu : “Nak, kita kan sudah pernah makan buah tersebut. Walaupun dengan menunggu dalam waktu yang cukup lama. Dan memang kadang-kadang kita hanya bisa makan satu atau dua buah saja yang sedang masak. Tetapi tetangga depan rumah kita itu, belum pernah mencicipinya. Kemarin ibu lihat anaknya pingin sekali mengambil jambu itu. Karena itu janganlah diambil. Berikan buah jambu itu kepada mereka. Agar hatinya senang…

    Kembali mata saya berkaca-kaca, mengingat peristiwa sederhana itu. Sebuah peristiwa yang mungkin setiap orang akan pernah menjumpainya dalam keluarganya masing-masing. Atau dalam lingkungan lainnya, dengan model yang berbeda.

    “Dahulukanlah orang lain… ! Begitulah kira-kira inti pelajaran istimewa yang saya terima dari beliau Mengenang peristiwa itu, saya jadi teringat sebuah riwayat yang menceritakan tentang seorang sahabat yang oleh rasulullah disuruh menjamu tamunya. Ceritanya, di rumah sahabat tersebut tidak terdapat sesuatu makanan, kecuali makanan milik anaknya. Karena sang pemilik rumah ingin lebih mengutamakan tamunya dari pada keluarganya, ia memberikan makanan milik anaknya tersebut kepada tamunya dengan cara yang sangat luar biasa.

    Yaitu ketika waktu makan bersama tamunya, sang pemilik rumah pura-pura makan juga, padahal piringnya kosong. Mengapa pura-pura? Supaya sang tamu tidak mengetahui kalau pemilik rumah sebenarnya tidak ikut makan. Untuk maksud itu, maka lampu di dalam rumahnya dipadamkan. Pura-pura kehabisan minyak. Setelah suasana menjadi gelap, maka mereka ‘makan’ bersama-sama. Sang tamu makan sungguhan, sang pemilik rumah makan pura-pura, padahal perutnya sangatlah laparnya.

    Peristiwa itu begitu luar biasanya, sehingga turunlah ayat Al-Qur’an surat Al-Hasyr (59) : 9, sebagai penghargaan terhadap peristiwa tersebut.

    Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

    Kalaulah sampai Allah Swt, menurunkan sebuah ayat lantaran peristiwa tersebut, sungguh betapa hebatnya kejadian itu sehingga perlu diabadikan dalam kitab suci akhir zaman ini. Agar bisa dicontoh dan diteladani oleh umat manusia.

    Demikian pula banyak pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh Rasulullah saw, agar kita selalu berbuat baik kepada orang lain, serta memiliki sifat murah hati terhadap orang lain.

    Anas bin Malik ra, berkata, bahwa rasulullah saw itu, tidak pernah diminta kecuali selalu memberi. Pernah datang seorang lelaki kepada Rasulullah untuk meminta, maka beliau memberikan kambing-kambing yang banyak yang berada diantara dua gunung, kambing sadaqah. Maka lelaki itu pulang dan ia berkata kepada kaumnya…

    Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian semua! Sesungguhnya Muhammad itu amat pemurah. Ia memberi dengan pemberian yang sangat banyak, tidak pernah takut melarat…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 1 October 2012 Permalink | Balas  

    Berusaha Memahami

    Suatu hari seorang nenek berjalan terseok-seok di jalan trotoar yang sempit. Nenek itu menengok ke sebuah toko di sebelah kanan jalan sambil mendorong kereta belanjaan yang telah dipenuhi isi. Entah dia sadari atau tidak, tiba-tiba seorang pemuda sedang berusaha melewatinya. Tapi karena sempitnya trotoar, ditambah lagi dengan kereta dorongnya yang berada di tengah-tengah, membuat pemuda itu kesulitan untuk mendahului.

    Aku yang melihat pemandangan itu jadi berpikir apa yang akan dilakukan pemuda itu. “Pemuda itu akan membunyikan bel sepedanya dan melewati nenek itu,” tebakku. Kenyataan ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Dengan pelan-pelan pemuda itu tetap berada di belakang si Nenek dan tidak membunyikan bel sepedanya. Sampai akhirnya si Nenek menyadari ada seseorang di belakangnya dan dia telah menghambat jalan orang lain. Dengan membungkukkan badannya berkali-kali sambil meminta maaf (kebiasaan yang sering kulihat pada orang Jepang), dia menepi dan memberi jalan untuk pemuda itu. Dan berlalulah pemuda itu dengan anggukan balasan tanpa kudengar suara omelannya.

    Pernah pula saya dan beberapa teman berjalan di trotoar yang lebarnya mungkin hanya 2 meteran, tetapi kami berjalan berjejer sambil mengobrol. Seakan-akan itu jalan milik kami dan tidak ada orang lain yang akan menggunakannya. Atau karena kami tidak mempunyai pikiran untuk berjalan agak ke pinggir dan membaginya untuk orang lain, walaupun saat itu tak ada orang yang lewat. Entahlah, mungkin saat itu di kepala kami tak ada pikiran seperti itu karena asyik mengobrol?

    Tiba-tiba ada orang berkata, “Sumimasen…sumimasen…” Seseorang meminta maaf (permisi) untuk dapat melanjutkan perjalanannya yang terhalang oleh kami. Atau kekhawatiran menabrak salah seorang anak-anak kami yang berkeliaran dengan bebasnya. Tetapi orang itu bukan yang terakhir, masih ada yang merasa tidak enak untuk meminta jalan kepada kami.

    Padahal mereka mempunyai hak yang sama atas jalan trotoar itu. Sama halnya dengan kami.”Ah… sumimasen, gomen nasai…,” kataku meminta maaf sambil menarik tangan anakku untuk menepi dan memberi jalan kepada orang yang sempat turun dari sepedanya. Dia berlalu sambil menganggukkan kepalanya disertai senyuman di bibirnya. “Duh…kok dia nggak marah, ya?” batinku. Padahal biasanya orang marah-marah kalau jalannya terhalang, dan dari jauh sudah membunyikan bel sepedanya nyaring-nyaring. Kadangkala malah keluar kata-kata umpatan yang tidak sedap didengar.

    ***

    Di sekitar tempat tinggalku ini jarang sekali kudengar suara klakson mobil ataupun bel sepeda berdering-dering. Kenapa ya? Apakah mereka sudah sampai pada tahap yang namanya manusia beradab? Atau karena begitu patuhnya pada peraturan? Atau tenggang rasa pada sesama sudah mengakar dalam kehidupan mereka? Atau mereka tidak sudi dianggap orang bodoh karena membunyikan klakson atau bel? Orang Jepang terkenal sangat patuh pada peraturan. Itukah jawabannya?

    “Eh, kenapa ya orang-orang ngga ada yang bunyiin klakson?” tanyaku pada suami, yang kebetulan orang Jepang. “Ngapain bunyiin klakson? Kayak orang bodoh aja? Nanti juga kan dapat gilirannya kalau mau jalan?” suamiku malah balik bertanya. Memang kulihat lalu lintas di Jepang teratur, yang jalan lurus sudah ancang-ancang dari jauh memilih jalur lurus, begitu juga yang ingin belok mengambil jalur sisi jalan agar tak menghalangi mobil yang akan jalan lurus. Mobil yang akan belok kanan akan mendahulukan pengendara yang berlawanan arah, baik itu yang jalan lurus ataupun yang belok kiri.

    ***

    Kemarin sewaktu aku dan teman-temanku ketinggalan bis, kami duduk di sembarang bangku yang berjejer di halte itu. Masih ada waktu 10 menit lagi untuk keberangkatan bis berikutnya. Kami ngobrol sana sini, hingga tak terasa sudah banyak orang yang mulai berdatangan. Mereka hanya melihat sekilas kepada kami dan tetap berdiri, padahal masih banyak bangku yang kosong. Karena yang duduk hanya aku dan anaknya temanku. Sedangkan temanku berjongkok menghadap anaknya dan satu temanku lagi berdiri di belakang kami.

    “Heh…! Kok ada perasaan tak enak ya?” batinku ketika aku melihat seorang nenek berdiri tak jauh dari kami. Tentu saja nenek itu dan orang-orang yang ada di situ tak bisa maju karena biarpun di depan kami masih kosong, tetapi karena kami yang ada di sana lebih dulu, maka mereka akan berada di belakang kami.

    Segera aku mengajak teman-temanku maju ke depan mendekati tempat naiknya bis. Barulah nenek itu dan yang lainnya ikut maju dan duduk di bangku yang tadi kami duduki. Aku menganggukkan kepala dan meminta maaf, “Sumimasen…” Nenek itu hanya tersenyum sambil mengangguk.

    Tak ada kesan marah atau sinis. Anggukan kepala dan senyum, tanpa ada kata-kata umpatan atau omelan malah membuat kita malu sendiri dan sadar telah berlaku ceroboh. Nenek tersebut seolah berusaha memahami kami.

    Dari beberapa contoh di atas, aku merasa ada sebuah kekaguman pada orang Jepang. Mereka yang terkenal dengan sifat individunya, ternyata masih bisa berusaha memahami perasaan orang lain. Dengan caranya, mereka akan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Seolah memberi tanda bahwa tak ada hal yang perlu dirisaukan oleh si pihak lawan akan sikap salahnya. Sesuatu yang kadang masih sulit aku terapkan. Yaitu berusaha memahami perasaan orang lain.

    Tidak salah jika Rasulullah saw sering mengingatkan bahwa saling memahami (tafahum) akan meningkatkan rasa ukhuwah Islamiyah. Karena dari rasa saling memahami inilah akan timbul keinginan saling bekerjasama. Yang kemudian akan berlanjut menjadi mendahulukan kepentingan orang lain, tingkatan yang tertinggi dalam jalinan ukhuwah. Hingga terjalin rasa saling cinta kasih.

    Entah cerita di atas berhubungan atau tidak, tapi dengan kejadian tersebut, kini aku mulai berusaha agar dapat memahami orang lain. Aku berharap dengan berusaha memahami orang lain, dapat meningkatkan diri ke arah insan yang bisa mendahulukan kepentingan orang lain.

    Wallahu`alam bisshowab.

    ***

    Kutipan dari Eramuslim.com

    Oleh Seriyawati

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 24 September 2012 Permalink | Balas  

    Kagum Melihat Cicak Menyambut Rizeki

    Cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap. Datang seekor nyamuk, Hap..! lalu ditangkap

    Inilah sebait lagu yang sangat populer di kalangan anak-anak balita, sebuah lagu yang sederhana tetapi lagu tersebut dapat menyatu dalam kehidupan anak-anak kita.

    Kenapa saya jadi teringat lagu tersebut? Sebab ketika hari sudah menjelang malam, dan ketika saya mau memejamkan mata untuk beristirahat, tiba-tiba di dinding kamar terlihat seekor cicak yang merayap dari tempat persembunyiaannya menuju ‘suatu’ tempat tertentu. Dan …hap! cicak tersebut telah menangkap seekor nyamuk yang datang `menuju’ dirinya.

    Peristiwa ini tampaknya biasa saja, seperti peristiwa lainnya yang sering kita saksikan dalam kehidupan ini. Tetapi kalau kita cermati lebih lanjut, maka tampaklah sesuatu yang istimewa dalam lagu ini. Dan tentu kita menjadi kagum kepada penciptanya.

    Point penting yang terdapat dalam syair lagu tersebut adalah, bahwa nyamuk sebagai makanan dari cicak, justru dia yang aktif menuju/mendekati mulut cicak. Andaikata nyamuk tidak terbang menuju cicak, maka secara logika tidak akan mungkin cicak bisa mendapatkan rezekinya. Sebab nyamuk memiliki sayap dan ia bisa terbang dengan gesitnya, sementara cicak tidak bisa terbang, dan hanya bisa merayap saja.

    Cicak hanya akan bisa menangkap seekor nyamuk, sebagai rezeki yang dikirim oleh Allah Swt, apabila ia mau berusaha dengan cara merayap, menggerakkan dirinya ke arah yang tepat. Yaitu di sekitar manakah posisi ‘rezeki’ itu berada.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 23 September 2012 Permalink | Balas  

    Bertemu Kembali Dengan Rumah

    Setelah seharian, atau lebih, kita meninggalkan rumah dan keluarga, tentu perasaan rindu pada suasana rumah akan muncul kembali. Mungkin makan di luar rumah dengan makanan yang istimewa sudah kita lakukan, tapi kita akan kembali rindu dengan makanan yang lebih istimewa yang ada di atas meja makan di rumah kita. Meskipun hanya dengan lauk pauk sederhana.

    Justru keistimewaan akan muncul pada kesederhanaan itu, jika kerinduan sudah menjalar di hati. Demikian juga dengan keberadaan rumah dan halaman kita. Demikian pula dengan keberadaan anak-anak kita, ibu kita, ayah kita, suami-listri kita, atau anggota keluarga lainnya. Semuanya adalah istimewa.

    Pernah suatu saat mengunjungi teman saya. Salah satu yang dibicarakan dalam obrolan itu adalah tentang kesehatan anak-anaknya. Ia mempunyai lima orang anak, yang paling besar usia tujuh belas tahun, yang paling kecil masih berumur satu tahun. Di sela-sela tawa riangnya, ia selalu merasa bersyukur kepada Allah, bahwa anak-anaknya sehat semuanya. Ketika semua anaknya berkumpul nonton televisi di ruang keluarga, ia melihat anaknya satu persatu, yang tingkahnya berbeda-beda. Alhamdulillah anak-anak sehat semua. Saya selalu merasa menjadi orang yang kaya, begitu melihat anak-anak ada di rumah dan dalam kondisi sehat semua…

    Demikian kata-kata yang sering ia ucapkan. Saya hanya bisa mengambil sebuah kesimpulan, dari kata-kata teman saya itu, bahwa kekayaan yang paling utama adalah kesehatan.

    Kalau kesimpulan itu kita tarik ke atas, maka kesimpulan itu akan menjadi lebih universal. Sehat adalah sebuah kondisi prima. Kalaulah itu dikenakan pada kita sebagai insan yang memiliki lahir dan bathin atau jasmani dan ruhani, maka sehat yang sempurna adalah jika kita memiliki sehat di jasmani kita, dan jugs sehat di ruhani kita.

    Demikian dengan kondisi rumah kita. Ada rumah yang secara fisik nampak sehat, indah dan menawan hati. Ada rumah yang secara ruhani memiliki keindahan yang lebih tinggi. yaitu rumah yang di dalamnya bisa membuat tentramnya hati. Yang itu diakibatkan oleh para penghuninya yang rendah hati.

    Rumah adalah tempat kita kembali dari perjalanan kita. Rumah adalah tempat kita berteduh dari gangguan cuaca. Dengan kembalinya kita setiap hari / setiap waktu, ke rumah kita masing-masing, maka sebenarnya kita sedang berlatih untuk pulang…

    Keteduhan jiwa yang paling hakiki adalah ketika seorang hamba kembali kepada Tuhannya. Kembali mendapatkan kasih sayangNya. Setelah lama merantau kesana kemari, yang kadang tak tentu arah, mengurusi duniawi yang kadang sering salah.

    Dengan melihat rumah kita, mari kita ingat akan rumah kita yang sesungguhnya. Mari kita kembali kepada ridha Ilahi…

    Mencari ilmu, mencari rezeki, adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup ini. Tetapi ketika Sang Khaliq telah memanggil, ketika suara adzan telah diserukan, mari kita penuhi untuk sujud dan rukuk, dalam nikmat yang hakiki…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 22 September 2012 Permalink | Balas  

    Dimana Tempat Sembunyi Yang Aman?

    Tahukah kita, adakah suatu tempat yang paling aman untuk bersembunyi? Dimana tempat itu? Aman bagi seseorang, apakah juga aman bagi orang yang lain? Dari intaian siapa, kita bisa menyembunyikan diri?

    Inilah sebuah cerita yang cukup menarik, lucu, dan mengandung pelajaran bagi kita semua. Saya punya seorang famili, yang cukup lucu dan menarik kalau ia lagi bercerita tentang pengalamannya.

    Cara ia bercerita menyebabkan yang mendengarkannya menjadi begitu tertarik. Ibarat mau pergi menjadi terduduk lagi untuk mendengarkan kisahnya.

    Ketika bulan puasa datang, pada umumnya sebagai hamba Allah yang taat beribadah, orang-orang akan ramai menyambutnya dengan gembira. Tetapi ada juga sekelompok orang yang menjadi repot dan menjadi susah jika ramadhan tiba. Apalagi jika ia berada di lingkungan keluarga muslim yang taat. Atau bertetangga dengan orang-orang alim. Atau berada di lingkungan yang kental dengan suasana religius.

    Seorang yang `setengah-setengah’ Ia akan serba susah dengan datangnya bulan ramadhan. Mau puasa takut kelaparan, tidak puasa malu dengan tetangga. Maka setiap datangnya bulan puasa menjadi sebuah ‘malapetaka’ bagi orang-orang seperti dia. Tidak terkecuali dengan pak ‘NR’ yang pada saat mudanya ia punya pengalaman menarik. Tentang hal itu.

    Ceritanya, terjadi di hari ketiga bulan puasa. Hari itu, pak NR, sejak pagi sudah berpuasa dengan ‘gagah’. Tetapi begitu hari sudah mulai siang, perutnya sudah mulai berbunyi. Ditahan-tahannya rasa lapar itu sekuat-kuatnya, dan iapun berhasil menjalankan puasa sampai dengan jam 15.00

    Tetapi jam berikutnya, ia sudah mulai gelisah. Ingin rasanya berbuka tetapi malu dengan seisi rumah yang semuanya ternyata juga berpuasa.

    Karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya pak NR diam-diam pergi keluar rumah untuk berbuka dengan cara sembunyi di tempat yang paling aman, yang dirasa tidak akan ada orang yang mengetahuinya.

    Maka dipilihnyalah sebuah restoran non muslim. Yang jaraknya dari rumah cukup jauh. Sehingga tidak mungkin ada tetangga atau teman yang melihatnya. Apalagi restoran non muslim, pasti akan aman dari pantauan orang muslim, yang sedang berpuasa.

    Maka setelah sampai di depan restoran tersebut pak NR berindap-indap masuk ke dalam. Di dalam restoran itu ternyata sudah cukup banyak orang yang lagi makan. Tentu dengan menu khususnya masing-masing. Akhirnya pak NR mengambil duduk di tempat yang paling sudut, yang di sebelahnya terdapat papan kayu pembatas kursi.

    Selanjutnya pak NR memesan makanan yang sesuai dengan seleranya. Karena pengunjung cukup banyak, maka makanan yang dipesannya begitu lama sekali baru selesai dibuat oleh juru masaknya.

    Hampir satu jam pak NR menunggu selesainya pesanan yang telah dipilihnya itu. Sehingga setelah waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 lebih barulah makanan yang dipesan itu selesai dibuat.

    Maka meskipun agak sedikit kecewa karena menunggunya terlalu lama, bahkan waktu maghrib pun sebenarnya sudah tinggal beberapa saat lagi. Karena sudah kepalang basah, dimakannya juga pesanan itu. Dan pak NR pun ‘berbuka’ puasa pada waktu yang sudah hampir maghrib.

    Setelah selesai makan dengan perasaan yang tidak karuan, sehingga rasa makanannya pun menjadi tidak enak lagi. Pak NR kembali berindap-indap menuju ke kasir untuk membayar makanan. Takut-takut kalau ia sampai ketahuan oleh orang yang dikenalnya.

    Ketika pak NR menuju ke tempat kasir itulah, ada seseorang yang juga berdiri dari tempat duduknya yang berbatas dinding kayu dengannya, orang itu juga berindap-indap menuju tempat kasir untuk membayar makanan yang telah selesai di santapnya.

    Apa yang terjadi? Ternyata dengan begitu kagetnya, orang tersebut menyapa lebih dulu kepada pak NR. Lho koq mas NR di sini? Lagi apa mas? kata orang itu sambil menutupi mulutnya yang masih ada sedikit bekas makanan.

    Sahut pak NR : Lho kok pak MS juga disini? Lagi beli makanan buat buka pak? Jawab pak MS, i iya mas…!. Mari ya… saya duluan!. Sambil pak MS cepat-cepat pergi meninggalkan pak NR, yang sedang kaget dan juga bengong sembari membayar makanan )..

    Wah…wah..seru sekali pokoknya. Pingin makan di tempat yang tersembunyi, ehh,…nggak taunya juga ada orang yang bersembunyi. Bahkan duduk bersebelahan dengan saya. Eh eh,..lha kok ternyata, la adalah tetangga depan rumah yang sehari-harinya berpenampilan muslim sejati. Wah,… wah, saya malu sekali. Wah, tentu dia lebih malu lagi, ya. He he he. Wah, sungguh sulit ya, mencari tempat yang tersembunyi itu?! Kata pak NR, sambil menutup kisahnya yang diceritakannya kepada saya.

    Apa yang kita dapatkan dari peristiwa yang cukup unik dan konyol itu?

    Benar kata pak NR, ternyata tidak ada tempat yang tersembunyi

    Kalau Allah menghendaki, dimanapun saja kita sembunyi akan bertemu dengan sesuatu yang kita hindari.

    Pak NR sembunyi, pak MS juga sembunyi dari penglihatan orang lain, ternyata keduanya saling mengetahui keadaan masing-masing yang berbuka puasa sebelum waktunya.

    Uniknya, keduanya bersembunyi, tetapi ternyata mereka duduk bersebelahan yang hanya dihalangi oleh dinding kayu sebagai pembatas kursi.

    Kita mungkin juga baru menyadari bahwa, dunia ini begitu kecilnya, dimanakah lagi kita mau sembunyi? Semua telah nyata bagi Allah Swt. Kemana saja kita berlari, disitulah Allah mengetahui.

    Semoga pak NR ikhlas, bahwa kisah uniknya telah tertulis dalam diskusi ini. Dengan harapan akan ditemuinya berapa hikmah yang insya Allah akan mempunyai manfaat di kemudian hari…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 21 September 2012 Permalink | Balas  

    Cara Allah Memberi Rezeki

    Andaikata, uang kita diambil satu bagian, lalu dikembalikan sebanyak tujuh belas kali lipat, maukah kita? Andaikata, yang mengambil tidak memberitahu lebih dahulu, kalau nantinya akan dibayar dengan berlipat ganda, maukah kita?

    Marilah kita ikuti pengalaman nyata seorang bapak muda yang cukup menarik untuk dikaji. Sebutlah Pak A. Sekitar 14 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1988, seorang muda yang baru dikarunia seorang anak, is bekerja sambil menyelesaikan kuliahnya yang tinggal sebentar lagi selesai. Gaji yang didapatkan dari pekerjaannya itu setiap bulannya dapat dikatakan sangat tidak cukup untuk biaya hidupnya beserta istri dan seorang anak kecilnya.

    Suatu hari yang “naas” ia pulang dari kerjanya. Dengan penuh gembira ia membawa pulang gaji pertamanya yang sebesar Rp. 40.000,- (Empat puluh ribu rupiah). Dengan perasaan bangga dan penuh dengan rasa gembira ingin ditunjukkannya hasil kerjanya itu kepada istri tercintanya.

    Ingin sekali ia cepat-cepat sampai di rumah dan dengan uang itu ia ingin belanja bersama istri dan anaknya, maklum gaji pertama adalah gaji yang mempunyai nilai “historis” tinggi.

    Setelah sampai di rumah apa yang terjadi? Ternyata dompet yang berisi gaji satu bulan tersebut sudah tidak ada di saku celananya alias kecopetan ketika ia pulang dari tempat kerjanya.

    Bisa dibayangkan betapa sedih, kecewa dan bingungnya ia ketika itu. Andaikata bisa, mungkin ia akan menangis sejadi-jadinya. Bahkan mungkin ia akan protes kepada tuhan yang telah “mengijinkan” peristiwa itu terjadi. Karena ia telah bekerja dengan keringatnya tanpa kenal lelah dengan penghasilan yang halal demi keluarga tercinta.

    Waktu satu bulan sungguh terasa sangat lama untuk menunggu gaji tersebut. Tapi apa mau dikata gaji pertamanya sudah harus ia relakan untuk tidak ia miliki saat itu. Bagaimana jika peristiwa itu terjadi pada diri kita? Sanggupkah kita menerimanya dengan ikhlas?

    Apa yang ia lakukan selanjutnya? Ia duduk terdiam tanpa bisa berkata apa-apa sambil memandang istri dan anaknya, mengapa hal ini harus terjadi pada dirinya? Dalam kondisi seperti itu dengan hati terasa pedih ia mencoba tegar dan berpikir praktis. Biarlah uangnya hilang, toh peristiwa sudah terjadi, mau diapa lagi….?”

    Akhirnya diambilnya keputusan untuk tetap berusaha kalau-kalau dompet tersebut masih mungkin untuk ditemukan, walaupun secara logika sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan kembali uangnya tersebut. Ia berusaha mengambil hikmah dari kejadian itu meskipun dengan perasaan yang tidak karuan sedihnya.

    Keputusan segera diambilnya, yaitu tetap berusaha untuk mencoba mendapatkan kembali dompetnya karena di dalamnya ada beberapa surat berharga, diantaranya stnk kendaraan bermotor, ktp, dan beberapa surat penting lainnya.

    Akhirnya untuk mendapatkan kembali surat-surat yang hilang tersebut ia menulis surat pembaca pada sebuah surat kabar, yang intinya: biarlah uang itu hilang, asal surat-suratnya dapat kembali, dan ia berharap jika ada orang yang menemukan dompet itu, ia minta tolong agar di antarkan ke alamat yang tertera dalam ktp tersebut.

    Apa yang dilakukan hari-hari berikutnya? Setiap hari ia membaca surat kabar, kalau-kalau ada berita tentang dompetnya yang hilang. Ketemukah dompet tersebut? ternyata tidak!

    Lalu dimanakah keindahannya peristiwa itu? Keindahannya ialah terletak pada keharusannya ia membaca surat kabar tersebut. Seolah-olah Allah menyuruh dia untuk membaca surat kabar setiap hari, dengan cara “mengijinkan” seseorang untuk mengambil dompetnya…

    Lalu apa yang terjadi hari berikutnya? Dengan membaca surat kabar setiap hari, tanpa terasa suatu saat ia menemukan suatu tulisan pada disiplin ilmu yang dikuasainya yang menurut pendapatnya hal itu kurang tepat, akhirnya ia mencoba menulis untuk mengulas dan menyanggahnya.

    Waktu berjalan dengan cepat. Ia telah lupa pada dompetnya yang hilang, dan saat itu ia asyik menulis sesuai dengan kemampuannya yang sesuai pula dengan disiplin ilmunya.

    Hal ini berlangsung beberapa bulan sejak terjadinya peristiwa naas tersebut. Selanjutnya ia sering menulis dan menanggapi tulisan orang lain sampai berulang-ulang sehingga ia menjadi seorang penulis. Meskipun masih pemula, pada surat kabar tersebut. Lalu?

    Karena kemampuannya menulis dinilai cukup baik, oleh pimpinan perusahaan ia dipanggil dan ditawari untuk bekerja diperusahaan tersebut dengan gaji pertama Rp 750.000,- Tujuh belas kali lipat lebih tinggi dibanding uangnya yang telah hilang waktu itu.

    Itulah rupanya jawaban Allah atas kejadian yang menimpa seseorang, bila sabar menerimanya. Allah “meminjam” 1 bagian, dan kini dikembalikan menjadi tujuh belas kali lipat lebih.

    Waktu berjalan terus tanpa terasa, dan pada saat saya menulis ini, ia telah mencapai sukses gemilang dengan penghasilan yang ribuan kali lipat dibanding uang yang hilang dulu.

    Apakah ini merupakan puncak keindahan dari peristiwa yang terjadi di hari “naas” itu, atau bahkan Allah Yang Maha kuasa akan menunjukkan pada sesuatu yang lebih indah lagi….wallahu’alam.

    Yang pasti, ukuran sukses yang paling besar adalah hati yang damai, dan bahagia yang tercapai. Saya yakin setiap orang pernah mengalami kejadian yang senada dengan kejadian diatas. Hanya saja mungkin skala dan situasinya yang berbeda.

    Marilah kita renungkan perjalanan hidup kita masing-masing, pasti kita pernah mengalami suatu kejadian, dimana kejadian tersebut kita sangka sesuatu yang menyusahkan, merugikan, dan menyedihkan.

    Tetapi hal itu akan berubah menjadi sesuatu yang indah, apabila seseorang sabar menerimanya. Akhirnya muncullah hikmah yang sangat besar yang tiada tersangka sebelumnya.

    Sungguh, Allah Maha Perencana dari segala macam kejadian dan peristiwa. Setiap peristiwa yang sudah terjadi, bagi seorang muslim merupakan ketetapan Allah yang sangat indah. Karena disitulah letak ukuran dan ujian kualitas taqwa seseorang…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 17 September 2012 Permalink | Balas  

    Khawatirkanlah Masa Depan, Asalkan…

    Alkisah, Iwan baru saja terkena PHK dan mendapat pesangon yang dicicil enam kali.

    Setelah satu bulan tenggelam dalam keputus-asaan, ia membaca beberapa buku mengenai pengembangan diri. Dari situ, Iwan menanam sekeping pelontar semangat ke dalam dirinya: “Badai pasti berlalu. Bulan depan, mungkin saja aku sudah bebas dari krisis keuangan.” Maka naiklah semangatnya setinggi langit.

    Dengan semangat setinggi langit, Iwan mulai berusaha merintis jalan baru. Cicilan pesangonnya yang kedua ia jadikan modal. Dengan modal ini, ia kirim selusin surat lamaran per minggu ke beberapa perusahaan. “Di antara jutaan perusahaan,” pikir Iwan, “tentulah ada yang membutuhkan aku, lulusan diploma yang berpengalaman.” Namun sampai sebulan, tiada panggilan.

    Bulan berikutnya, Iwan menanam lagi sekeping pengobar semangat di dalam dirinya: “Siapa pun pasti berhasil kalau bersikap penuh semangat menghadapi masa sulit, bahkan walau tampak tiada harapan.” Maka melambunglah kembali kobaran semangat Iwan.

    Dengan kembali berkobarnya semangat dirinya, dikirimnya lagi selusin surat lamaran per minggu. Kali ini ke sejumlah perusahaan yang membutuhkan lulusan diploma tanpa peduli pengalaman kerja. Sampai sebulan, tetap belum ada balasan.

    Bulan selanjutnya, Iwan menanam lagi sekeping peluncur semangat di dalam dirinya: “Roda selalu berputar. Tahun depan, pasti giliranku naik ke atas.” Maka meroketlah spirit Iwan.

    Dengan spirit yang meroket ini, dikirimnya selusin surat lamaran per minggu ke banyak perusahaan yang membutuhkan lulusan SMU yang berpengalaman. Sampai sebulan, keadaan belum berubah.

    Bulan berikutnya, semangat Iwan mulai goyah. Tapi, ia merasa tak punya pilihan lain. Sebab itu, telinganya makin dia buka lebar-lebar, mendengar seruan para suporter: “Jangan menyerah. Teruslah mencoba dan mencoba lagi. Sebab, orang yang tidak pernah mencoba takkan maju. Sebaliknya, yang pantang menyerah pasti sukses.” Maka larilah Iwan mengejar cita-cita.

    Setelah dibawanya cicilan pesangon yang kelima, dikirimnya lagi selusin surat lamaran per minggu. Kali ini ke berbagai perusahaan yang membutuhkan lulusan SMU tanpa peduli pengalaman kerja. Sampai sebulan, akhirnya… (pembaca jangan kaget, ya…), lamarannya masih belum membuahkan hasil!

    Kami tidak terlalu kaget mendapati gigihnya Iwan mengirim surat lamaran. Kami bisa menduga kenapa dia terus berjuang ‘pantang menyerah’ secara begitu. Pasalnya, buku-buku pengembangan diri yang dia baca memang selalu berseru: “Jangan menyerah!”

    Kami pun tidak terlalu kaget mendapati kenapa para penulis buku tersebut selalu menyeru para pembaca untuk jangan menyerah dalam keadaan apa pun. Pasalnya, karena hidup dalam budaya Nasrani, mereka sering mendengar dan mengucap kata-kata dari Injil yang menekankan seruan begitu. Konon, Yesus bersabda: “… Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai keyakinan sebesar biji sawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini, ‘Pindahlah dari tempat ini ke sana, Emaka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Matius 17: 20)

    Hanya saja, Iwan (dan pembaca muslim lainnya) tampaknya belum tahu bahwa Al-Qur’an berkata lain. Ia belum sadar, “takkan ada yang mustahil” itu berlaku hanya bagi Allah. Padahal, di kitab suci kita, Allah telah menyindir: “Apakah manusia memperoleh segala yang dia harapkan? [Tidak!] Maka segala kesudahan dan permulaan itu milik Allah.” (QS an-Najm [53]: 24-25) Jadi, bagi kita manusia, ada (sedikit-banyak) harapan yang mustahil kita capai.

    “Aduh!” mungkin Anda mengaduh, “aku jadi khawatir. Jangan-jangan banyak harapanku yang mustahil tercapai di masa depan.”

    Kalau perasaan Anda begitu, silakan Anda simak untaian kata-kata Buya Hamka di buku Tasauf Modern berikut ini.

    Kalau takut disiksa [di neraka], singkirkan dosa. Kalau takut rugi berniaga, hendaklah hati-hati. Kalau takut pekerjaan ditimpa bahaya, jangan lupa mengawasinya. …

    Karena menurut sunnatullah: dikuncikan rumah [lebih] dahulu, baru orang maling tertahan masuk; ditutupkan pintu kandang [lebih dahulu], baru musang tak mencuri ayam.

    Jadi, boleh-boleh saja Anda khawatirkan masa depan Anda, asalkan Anda berupaya meng-antisipasi-nya secerdas-cerdasnya.

    ***

    Oleh: M. Shodiq Mustika

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 15 September 2012 Permalink | Balas  

    Pergi Haji Modal ‘Seratus Rupiah’

    Tahun 1991, ibadah haji, ONH-nya sekitar enam juta rupiah.

    Bertambah lama seiring dengan perubahan nilai tukar rupiah, ONH semakin misalnya tujuh juta, sembilan juta, dua belas juta, dua puluh satu juta, dua puluh lima juta rupiah,

    Bagaimana kalau ada orang yang pergi haji dengan modal ‘seratus rupiah’ saja…?

    Pada hari minggu pagi yang cerah, seperti biasanya saya pergi belanja di salah satu pasar. Suatu ketika saya belanja palawija pada seorang ibu setengah baya. Ada satu hal yang membuat saya terpana. Saya sangat tertarik melihat cara ibu tersebut melayani pembelinya.

    Karena tertarik, maka setiap saya pergi ke pasar tersebut saya selalu memperhatikan lebih seksama lagi terhadap perilakunya. Beberapa kali saya perhatikan menjadikan saya lebih ‘penasaran’ untuk lebih mengikuti secara rutin kejadian demi kejadian yang ‘diperagakan’ oleh ibu tersebut.

    Katakanlah ia bernama Ibu Asih. Apa yang dilakukannya setiap ia melayani pembelinya? Yang membuat saya kagum tiada habisnya ialah, setiap ia selesai menjual barang dagangannya, secara spontan mulutnya selalu bergumam lirih dengan ucapan “Alhamdulillah”

    Apakah dagangannya laku sedikit atau laku banyak, selalu saja mulutnya bergumam alhamdulilaah sebagai ungkapan rasa syukurnya.

    Yang lebih menarik lagi ialah setiap ada orang peminta-minta yang menengadahkan tangannya, tidak satupun yang tidak diberinya, demikian pula tak satupun seorang pengamen yang lewat yang tidak diberinya.

    Meskipun ia sedang sibuk melayani orang-orang yang sedang membeli barang dagangannya, selalu saja ia menyempatkan tangannya untuk memberi mereka. Diambilnya uang logam seratus rupiah, yang rupanya sudah disediakan untuk orang-orang tersebut. Sayangnya saya tidak pernah bertanya kepadanya kira-kira ada berapa puluh orang dalam satu hari ia memberi orang miskin dan para pengamen tersebut .

    Ini sebuah kejadian yang nampaknya biasa-biasa saja. Tetapi memiliki nilai yang sangat tinggi dalam kehidupan sosial maupun dalam kehidupan religius. Ucapan syukur beserta penghayatan dan sekaligus pengamalannya telah diperagakan oleh ibu Asih. Meskipun dengan cara sederhana dan dengan nilai rupiah yang kecil.

    Hal ini sangat berbeda sekali dengan kondisi sebuah toko yang lebih besar, yang letaknya tidak seberapa jauh dari ibu penjual palawija ini.

    Di depan toko itu tertempel kertas putih bertuliskan kalimat yang cukup ‘sopan’ yaitu : ‘maaf ngamen gratis’

    Sebuah retorika yang cukup sopan dan lembut, tetapi jika dilihat dari sudut pandang yang lebih arif, kita bisa menyimpulkan bahwa hati dan perasaan ibu Asih jauh lebih lembut dari pemilik toko tersebut.

    Saya menaksir bahwa keuntungan yang diraih oleh pemilik toko tersebut nampaknya cukup besar setiap harinya. Tetapi ia tidak mau dan tidak rela ‘berbagi rasa’ dengan para pengamen dan para pengemis, walaupun hanya seratus rupiah saja.

    Sungguh sangat berbeda dengan kondisi ibu Asih, yang dagangannya jauh lebih kecil dibanding toko tersebut, tetapi ia mempunyai hati yang lembut dan rasa welas asih kepada para pengamen dan para peminta-minta.

    Setelah saya amati sekian lama, hasil dari perilaku ibu Asih tersebut sungguh luar biasa. Kami perhatikan barang dagangannya bertambah lama semakin bertambah besar. Dan klimaksnya, beberapa waktu yang lalu ia dapat pergi menunaikan ibadah Haji bersama suaminya.

    Dan saya pun merenung. Allah telah mengganti nilai seratus rupiah yang diperuntukkan bagi orang-orang miskin itu. Sekarang tumbuh menjadi dua buah ONH bu Asih dan suaminya. Sungguh luar biasa!

    Satu lagi yang dapat saya simpulkan, bahwa ucapan alhamdulillaah di bibir ibu Asih mempunyai timbangan setara dengan lima puluh juta rupiah. Subhaanallah…

    Apa janji Allah Swt ?

    QS. Ibrahim : 7

    “Barangsiapa yang mensyukuri nikmatKu, pasti akan Aku tambah, dan barang siapa yang lalai dan kufur terhadap nikmatKu, maka tunggulah siksaKu amatlah pedihnya ”

    Melihat contoh sederhana dalam kehidupan semacam ini, sebagai orang yang beriman tentu hati kita menjadi tergerak untuk menirunya. Meniru kelemah lembutan hatinya. Meniru kepeduliannya. Meniru rasa percaya dirinya akan balasan dari Allah Swt. Dan meniru bagaimana cara mengungkapkan rasa syukurnya.

    Yah, kadang-kadang manusia memang harus banyak belajar dari manusia lainnya. Bahkan dari semua peristiwa yang telah terjadi. Karena semua peristiwa yang telah terjadi di dunia ini adalah contoh berharga yang harus kita pelajari, kita baca, dan kita renungkan. Semua itu merupakan ilmu Allah yang sangat mahal nilainya.

    Dengan ‘modal’ seratus rupiah, bu Asih berangkat Haji bersama suami…!

    QS. Al Baqarah: 152

    Maka ingatlah kepadaKu, supaya Aku juga ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 14 September 2012 Permalink | Balas  

    Misteri Persoalan Manusia

    Insya Allah, setiap orang pernah pergi ke pasar. Entah untuk keperluan belanja, mengantar keluarga, atau karena keperluan lainnya. Jika kita suatu saat berada di pasar, maka lihatlah lalu lalang manusia dengan ekspresinya yang bermacam-macam, yang menunjukkan kepentingan dan emosi yang berbeda-beda pula.

    Bisakah kita melihat kehadiran Allah Yang Maha Kuasa, ketika kita menyaksikan keanekaragaman manusia, dan keanekaragaman barang-barang yang berada di dalam pasar?

    Mungkin yang perlu kita pertanyakan kepada diri sendiri, adalah mengapa ribuan barang yang ada di dalam pasar tersebut selalu ada saja yang membeli dan memerlukannya? Setiap orang yang pergi ke pasar dan perlu untuk membeli atau menjual barang, berarti dia sedang mempunyai persoalan pada dirinya dan keluarganya.

    Apabila di dalam pasar ada seribu saja jenis barang yang berbeda, dan apabila suatu saat barang-barang tersebut laku karena dibutuhkan orang, berarti setidaknya ada seribu persoalan yang berbeda, dalam diri orang-orang yang pergi ke pasar tersebut.

    Yang sangat hebat dan menjadi misteri adalah, bahwa persoalan yang muncul dengan tingkat variasi yang berbeda pada setiap orang, dapat dijawab dan diselesaikan oleh persoalan orang lain dengan variasi yang berbeda pula….

    Putra pak Aman yang masih duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar, suatu saat diberitahu oleh ibu gurunya agar makan sayuran yang cukup supaya badannya tumbuh sehat dan cepat besar. Bu Aman yang kebetulan sedang sakit minta bantuan pak Aman untuk pergi ke pasar agar membeli sayuran atas permintaan anaknya tersebut. Maka pak Aman pagi-pagi berangkat ke pasar naik angkutan umum untuk membeli sayuran yang dimaksud.

    Pada saat yang bersamaan Bagus, seorang anak petani di suatu desa yang jaraknya cukup jauh dari pasar, tidak punya uang untuk membayar sekolahnya. ‘Kebetulan’ saat itu musim petik sayur tiba, maka orang tua Bagus pergi ke pasar untuk menjual sayuran hasil kebunnya. Setelah berada di pasar ‘kebetulan’ lagi ia bertemu dengan pak Aman yang juga sedang membutuhkan sayuran untuk keperluan anaknya. Maka terjadilah transaksi jual beli sayuran antara pak Aman dan bapaknya Bagus.

    Sungguh sederhana kejadian tersebut. Tetapi jika diperhatikan dan direnungkan, sungguh luar biasa!

    Pada ‘moment’ transansaksi itu bertemulah berbagai kepentingan yang saling menolong dan saling memberikan solusi bagi persoalan masing-masing.

    Di sini nampak, bahwa persoalan-persoalan yang kelihatannya tidak memiliki keterkaitan, ternyata setelah diperhatikan dengan seksama menjadi satu rumpun persoalan yang kemudian mempunyai hubungan sangat erat.

    Yaitu :

    • Peristiwa Ibu guru yang menjelaskan ilmunya
    • Kurikulum Sekolah Dasar tentang pentingnya ilmu Gizi
    • Bu Aman yang sedang sakit minta kerelaan suaminya untuk pergi ke pasar
    • Pak Aman yang bersedia pergi ke pasar untuk membeli sayur
    • Sopir angkutan umum yang berangkat bekerja pagi hari
    • Peraturan sekolah yang mengharuskan Bagus membayar uang sekolah
    • Musim petik sayur yang ‘kebetulan’ sedang tiba
    • Putra pak Aman yang tumbuh menjadi sehat

    Dari ilustrasi sederhana ini nampak sekali betapa sebuah persoalan, bisa membias menjadi bermacam-macam persoalan yang antara satu dengan lainnya saling terkait dengan erat, dan saling memberi solusi.

    Kalau hal tersebut dibicarakan dengan logika matematis memang akan menjadi nampak aneh! Tetapi dengan menggunakan logika iman, nampak jelas semua keterkaitan tersebut.

    Bisakah kita mencari jawabnya? Dimanakah letak keterkaitannya? antara kurikulum kelas tiga SD dengan keberangkatan sopir angkot pagi hari? siapa yang membangunkan sopir angkot untuk bangun pagi? antara keikhlasan pak Aman pergi ke Pasar dengan keperluan Bagus membayar sekolah? antara peraturan sekolah dengan musim petik sayur? antara keinginan badan sehat dengan rezeki sopir angkot? siapa yang mengatur persoalan semua itu? apakah semua itu sekedar kebetulan saja? jika hal itu kebetulan, kenapa berjuta peristiwa itu terjadi di setiap saat dan waktu? Dan terus berkelanjutan, sehingga dusnia tetap lestari? berapa ribukah jumlah pasar yang ada di propinsi Jawa Timur? berapa juta persoalan manusia yang ada di pulau Jawa ‘saja’? mungkin semua manusia menganggap persoalannya paling rumit dan paling berat. Tetapi Allah Swt justru menyelesaikan persoalan setiap manusia dengan persoalan manusia yang lain….betapa Dahsyatnya, betapa Agungnya, dan betapa Indahnya Dzat Yang Maha

    Tinggi itu dalam mengatur urusanNya…. ….subhaanallah….wal hamdulillaahi wa laa ilaaha ilallahu Allahu Akbar..!

    Satu kesimpulan yang membuat kita menjadi tertegun adalah, ternyata setiap persoalan yang kita hadapi menjadi solusi bagi persoalan orang lain. Bahkan juga mungkin sekali sebagai jalan keluar bagi persoalan kita lainnya…

    Berarti setiap kita punya persoalan, mungkin itulah sebuah jawaban dari do’a yang sering kita munajatkan sebagai solusi dari persoalan yang lain ….. ? Wallaahua’lam

    Begitulah kiranya, salah satu cara Allah untuk melestarikan kehidupan dunia. Barang siapa yang mampu melihat (persoalan) dirinya, Ia akan mampu melihat (kasih sayang)Tuhannya.

    QS. Al Baqarah : 115

    Dan kepunyaan Allah-lah timur dan beret, make ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 13 September 2012 Permalink | Balas  

    Indahnya Saling Memberi

    Zaman bertambah maju! Demikian sebuah ungkapan tentang zaman sekarang ini. Secara umum hal ini dapat ditengarai dari keadaan masyarakat kita. Kondisi sekarang memang relatif lebih baik’ dibanding zaman dahulu. Sebut saja era 1970-an. Ketika itu, dari sekian keluarga yang ada di kampung saya berada, yang mempunyai pesawat televisi hanya ada dua orang saja.

    Sehingga kalau ada pertandingan sepak bola dunia misalnya, atau ada pertandingan tinju kelas dunia, atau acara menarik lainnya yang ada di televisi, sebagian besar penduduk yang ingin melihat akan berbondong-bondong menuju ke rumah yang mempunyai televisi tersebut.

    Sekitar satu jam sebelum pertunjukkan dimulai, kami semua pemuda maupun orang tua sudah berjubel mencari tempat duduk yang enak di dekat televisi agar bisa melihat dengan jelas. Demikian sekedar gambaran betapa sekarang ini zaman sudah semakin maju.

    Kini, di kampung tempat tinggal saya dahulu -sekitar 900 keluarga – tidak satu pun yang tidak mempunyai televisi. Apakah rumah mewah yang di dalamnya terdapat lebih dari satu pesawat televisi, ataukah gubuk-gubuk kecil sederhana yang hanya punya satu ruangan saja, semua rumah sudah ada televisinya. Zaman sudah berubah!

    Bersamaan dengan ‘kemajuan’ zaman, maka situasi dan kodisi juga berubah secara drastis dan mengejutkan. Tetapi perubahan demi perubahan itu menjadi tidak terasa karena kita semua juga mengikuti perubahan yang terjadi, sehingga terjadilah penyesuaian perubahan pada masing-masing orang.

    Sebagai ilustrasi sederhana, kita ketahui bahwa bumi tempat kita berpijak ini bergerak mengelilingi matahari dengan kecepatan yang sangat tinggi yaitu sekitar 107.000 km/jam. Dan pada saat yang bersamaan pula bumi kita juga berputar pada sumbunya dengan kecepatan sekitar 1.600 km/jam. Baik secara revolusi maupun secara rotasi bumi mengalami perubahan posisi yang sangat cepat dan bermakna.

    Mengapa kita tidak merasakannya? Jawabnya, adalah karena kita juga mengikuti perubahan itu. Kita telah lengket di bumi tempat kita berpijak, disebabkan adanya gravitasi bumi. Bayangkan andaikata kita manusia yang ada dibumi ini tidak dipengaruhi oleh gravitasi bumi. Dan kita berada pada posisi ‘bebas’, padahal bumi terus berputar dan bergerak dengan begitu cepatnya…

    Kira-kira apa yang akan terjadi ? Tentu kita manusia akan hancur berantakan dan ludes, karena akan tertabrak dan ‘tertampar’ oleh ribuan bangunan dan ribuan pohon-pohon besar yang ada di sekitar kita yang ikut berputar karena mengikuti rotasi bumi. Untung saja dengan penuh kasih sayangNya Allah Swt memberlakukan gravitasi bagi manusia. Sehingga manusia juga ikut berputar mengikuti rotasi bumi dengan `nyaman’…

    Berkaitan dengan kemajuan zaman yang semakin modern ini, marilah kita saksikan sebuah kejadian lain…!

    Ternyata kehidupan di sekitar kita semuanya juga berubah. Termasuk pasar tempat kita belanja. Yang dahulu kita belanja di pasar tradisional, kini perilaku kita juga berubah. Kita sering belanja di tempat-tempat belanja modern yaitu di supermarket. Saat ini sudah demikian menjamur dan banyak bermunculan disetiap kota besar maupun kota kecil di seluruh pelosok negeri.

    Jika kita bandingkan kedua pasar itu, ada suatu perbedaan yang sangat menyolok dan cukup signifikan antara situasi pasar tradisional dan supermarket sebagai pasar modern.

    Belanja di supermarket, lebih praktis, lebih efektif, serta lebih bersih keadaannya. Sehingga waktu pun menjadi lebih efisien. Dan suasana belanja mungkin menjadi lebih nyaman. Di supermarket semua barang sudah ada label harganya. Sudah ditimbang sesuai dengan ukurannya. Tak ada tawar menawar antara penjual dan pembeli. Mungkin itulah ciri dari masyarakat modern! Semua ingin serba cepat dan praktis.

    Tetapi, pada kondisi itu kalau kita renungkan, dan kita cermati dengan seksama, ada sesuatu yang hilang, Mari kita kenang kembali, suasana ketika masing-masing dari diri kita pernah belanja di pasar tradisional. Yang sampai sekarangpun sebenarnya masih banyak kita jumpai.

    Pernah suatu ketika saya belanja di pasar ‘pagi’ di kampung saya. Pada saat itu tanpa sengaja saya melihat suatu ‘adegan’ yang cukup menarik untuk ditulis dalam diskusi ini. Seorang ibu setengah baya, membeli buah alpukat di salah satu penjual yang ada di pasar tersebut.

    Setelah terjadi dialog kecil dalam proses jual beli yang cukup akrab, ibu tersebut menawar dengan harga tertentu. Selanjutnya si penjual mengambilkan buah alpukat yang bagus-bagus sebanyak 10 buah ditambah satu. Sehingga buah alpukat yang dibeli menjadi sebelas buah dengan harga kesepakatan untuk sepuluh buah alpukat. (Dalam bahasa jawa, satu biji alpukat yang diberikan oleh si penjual disebut welasan).

    Ada tiga point penting yang cukup menarik untuk diperhatikan dalam proses jual beli tersebut, yang di pasar modern mungkin tidak pernah terjadi.

    Niat baik si penjual (yang sudah merupakan tradisi) memberi welasan pada si pembeli. Niat baik si penjual ketika memilihkan buah yang bagus. Proses komunikasi yang sangat akrab dan saling menghargai antara penjual dan pembeli

    Dalam waktu yang hampir bersamaan, terjadi pula di sebelah kejadian tersebut satu peristiwa yang tidak kalah menariknya.

    Seorang ibu muda membeli gula merah sebanyak satu kg. Yang menarik adalah ketika si penjual menimbang gula merah, daun timbangannya sangat mantap, melebihi berat 1 kg sebagai kesepakatan jumlah gula yang dibeli.

    Di sini terjadi sebuah tradisi budaya yang sangat indah, yaitu budaya memberi dari seorang penjual kepada pembeli.

    Dan yang lebih menarik lagi adalah, dikarenakan si penjual mempunyai niat yang baik ketika melakukan proses penimbangan, maka saya lihat si pembeli juga tidak mau ‘kalah’ dalam hal berbuat baik. Ketika si penjual berupaya mencari uang kecil sebagai uang kembalian dari jual beli tersebut, si pembeli tidak mau menerimanya.

    Kata pembeli : “…kersane bu, mboten usah ngangge susuk, njenengan sampun mantepake timbangan kangge kulo… ( biarlah bu, tidak usah pakai uang kembalian, toh, ibu juga telah memberi cukup banyak kelebihan timbangan gula ini untuk saya…)”,

    Kata penjual: “…maturnuwun bu, nyuwun ikhlase penggalih nggih …?( terima kasih bu, mohon keikhlasan hati, ya…?!)” Balas pembeli : “…oh, inggih bu, sami-sami..,( oh, iya bu, sama-sama…)”

    Inilah sebuah adegan sederhana dalam proses jual beli di pasar tradisional yang sangat menarik dan sangat Islami, yang tentu tidak akan kita jumpai di dalam supermarket. Point yang menarik dari kejadian sederhana itu adalah

    Adanya niat baik si penjual ketika memberi lebih banyak dari berat timbangan yang ditentukan. Niat baik si pembeli ketika membalas pemberian si penjual

    Permohonan maaf, untuk saling mengikhlaskan. Terjadinya proses ‘saling memberi’ yang sangat indah.

    “Saling memberi” adalah kata kunci dalam sebuah kehidupan sosial yang sangat harmonis, yang sangat Islami, yang di zaman modern ini semakin pudar dan semakin langka saja.

    Allah Swt, begitu menghargai orang-orang yang mempunyai semangat untuk memberi. Bahkan kata Allah dalam Al Qur’an Al Karim, salah satu sifat dari orang yang bertaqwa adalah suka memberi, baik ia dalam kondisi sedang lapang mau pun senang. Atau ketika kondisi sedang sempit dan susah.

    Q.S. Ali Imran:134

    (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

    Kejadian itu tampak sederhana. Suatu peristiwa keseharian yang ‘sepele’. Dan merupakan hal yang rutin. Tetapi kalau diamati dengan sesungguhnya, akan tampaklah keindahan peristiwa itu.

    Maka bagi seorang yang beriman dia akan selalu merasa bahwa Allah Yang Maha Kuasa, ternyata selalu ‘hadir Edimana saja dan kapan saja untuk memberi pelajaran kepada hambaNya.

    Timur dan barat adalah kepunyan Allah, oleh sebab itu kemana saja kita hadapkan muka, disana akan bertemu dengan Allah, sesungguhnya Allah Maha Luas kekuasaanNya dan Dia Maha Mengetahui.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 12 September 2012 Permalink | Balas  

    Berapa Harga Diri Kita?

    Adakah uang receh, sudah tersiapkan di mobil kita? Sebab ketika lampu jalanan berwarna merah, anak-anak kecil itu bertebaran mengais rezekinya.

    Suatu ketika kami sekeluarga pergi ke tempat keramaian, sebuah pusat pertokoan. Kami berhenti di salah satu trafic light di tengah kota karena lampu sedang menunjukkan warna merah.

    Pada saat itu seperti biasanya beberapa anak jalanan bertebaran mencari ‘rezeki’ masing-masing dari beberapa pengendara mobil yang lagi berhenti.

    Sebagian besar dari mereka adalah para pengamen jalanan, dengan rata-rata usia sekitar 15 tahunan. Bahkan ada yang masih imut-imut sekitar umur 5 tahunan. Anak-anak kecil tersebut bernyanyi membawa sebatang kayu yang diberi logam bekas penutup botol kecap sehingga kalau digoyang akan mengeluarkan bunyi….

    Ada juga yang tanpa membawa apa-apa, pokoknya nyanyi, sambil mendekati setiap mobil yang berhenti di lampu merah.

    Pemandangan semacam itu menjadi biasa, karena setiap saat kita akan bertemu dengan mereka di jalanan. Sehingga tak akan membekas di hati, karena ya sudah setiap hari kita menemuinya.

    Tetapi marilah kita mencoba, menerobos hati kita yang ‘membaja’ tersebut. Cobalah melihat diri kita yang begitu banyak nikmat yang telah kita terima. Mulai dari nikmat sehat kita, nikmat rezeki kita, nikmat ilmu, nikmat kesempatan, nikmat keluarga yang bahagia. Bandingkan keadaan mereka dengan keadaan kita.

    Ah, sungguh hati ini akan bergetar. Lantas kita menjadi bersyukur, lantas kita menjadi kasihan, lantas kita menjadi merasa agak malu kalau tidak memberi, lantas kita menjadi merasa bersalah kalau membiarkan mereka, lantas kita merasa berdosa kalau kita lewat tanpa berbuat apa-apa untuk mereka…

    Pada saat itu mobil kami berada di urutan ke enam di belakang mobil-mobil yang bagus, bahkan di depan kami salah satunya adalah mobil mewah. Mereka para anak jalanan itu bertebaran menuju ‘mobilnya’ masing-masing. Anak yang ada di deretan mobil kami masih kecil sekitar usia 6 tahunan. Ia menengadahkan tangannya yang kotor dan kurus itu ke kaca mobil-mobil yang ada di depan kami.

    Terjadi sebuah pemandangan yang cukup mengharukan, karena semua mobil yang ada di depan kami ternyata tidak memberi sepeserpun kepada anak-anak kecil ini. Semua kacanya tertutup rapat karena mereka menikmati segarnya udara dingin di dalam mobil. Sementara di luar mobil anak-anak kecil itu juga sedang `menikmati’ panasnya terik matahari. Kami lihat mobil-mobil itu semua acuh tak acuh terhadap anak-anak kecil ini, yang sebenarnya jika mereka memberi seratus rupiah saja, sudah ada kelegaan di hati anak-anak kecil itu.

    Akhirnya anak-anak itu sampai ke mobil kami. Maka saya suruh adik saya yang masih berusia 10 tahun untuk memberikan uang kepada mereka. Uang tersebut memang sudah kami sediakan di mobil untuk anak-anak jalanan dan orang minta-minta lainnya.

    Sambil memberikan uang ‘recehan Ekepada anak-anak jalanan tersebut, adik saya bergumam :”..waduh mobil-mobil di depan kita itu bagus-bagus ya… pasti orang yang punya mobil adalah orang yang banyak duitnya… tetapi kok nggak memberi uang ya…?! Kasihan sekali anak-anak itu, mungkin mereka sudah sejak pagi tadi berdiri di tengah jalan ini…!”

    Mendengar kata-kata adik saya ini, saya jadi terharu. Padahal biasanya kami memberi ya dengan perasaan biasa saja tanpa teringat apa-apa karena semacam itu adalah hal yang rutin dilakukan oleh siapa saja. Tetapi setelah ada kata-kata tersebut maka perasaan trenyuh, haru, kasihan, merasa bersalah, muncul lagi di hati saya. Saya jadi berfikir. Betapa banyaknya orang-orang yang kondisinya lebih dari cukup, yang rezekinya dilebihkan oleh Allah Swt tidak mau peduli dengan kondisi masyarakatnya…

    Saya jadi teringat perkataan nabi Muhammad rasulullah saw. Kata beliau: “Sungguh belum dikatakan sebagai orang yang beriman, apabila ada orang tidur pulas kekenyangan, sementara ada tetangganya yang kelaparan.”

    Menarik sekali apa yang disampaikan Rasulullah Seseorang yang tidak tahu kalau ada tetangganya sedang kelaparan, ia sudah dikategorikan orang yang tidak beriman, ketika ia tertidur karena kekenyangan. Padahal kan orang yang tertidur itu tidak mengetahui kalau ada tetangganya yang sedang kelaparan? Mengapa ia masih dikatakan tidak beriman?

    Insya Allah artinya bahwa kita sebagai manusia yang hidup bersosial dengan manusia lainnya ini, seharusnya selalu aktif memperhatikan kondisi masyarakat kita. Meskipun yang sedang lapar itu tidak berada di hadapan, kita tetap dikategorikan sebagai orang yang salah. Bahkan dikatakan tidak beriman, jika itu terjadi di lingkungan kita.

    Kalaulah dalam keadaan yang tidak tahu saja, sudah dikatakan sebagai orang yang tidak beriman, bagaimana dengan kondisi diatas. Dimana anak-anak itu mendatangi kita menengadahkan tangannya untuk minta secuil rezeki kita?

    Masihkah kita bangga dengan sebutan kita sebagai orang Islam? Satu hal yang sangat ironis, adalah jika mobil-mobil yang acuh tersebut, ternyata di kaca mobilnya tertulis sebuah stiker yang sangat ‘keren': “ISLAM IS OUR LIFE”.

    Ya Semoga dengan merenungi kejadian ‘rutin’ yang sering kita jumpai di masyarakat kita ini, paling tidak kita akan berbuat sesuatu…

    Kejadian di jalan itu tentu hanyalah sekedar contoh kecil saja. Semoga kita sebagai hamba Allah yang diberi rezeki yang cukup olehNya, kita juga ikut andil dalam meringankan beban saudara-saudara kita yang cukup memprihatinkan itu. Walaupun nilainya sangat kecil, walaupun yang kelihatannya tidak berarti apa-apa. Mari kita berbuat sebisa mungkin.

    Kata Ali bin Thalib: “… lebih baik memberi walaupun sedikit, dari pada tidak sama sekali…”

    InsyaAllah kita semua yakin bahwa masih sangat banyak orang-orang yang mempunyai kepedulian tinggi di masyarakat. Masih sangat banyak wali Allah yang dengan kedermawanannya telah berbuat banyak di masyarakat ini. Karena memang disinilah letak ‘harga’ kita dimata Allah Swt.

    Allah Maha Melihat, kepada siapa saja yang berbuat kebajikan, meskipun tangan kirinya tidak melihat ketika tangan kanannya memberikan sesuatu. Allahpun Maha Melihat kepada siapa yang berbuat kerusakan, meskipun dilakukannya di tempat yang tersembunyi tiada orang sama sekali…

    QS. Al Baqarah : 271

    Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 11 September 2012 Permalink | Balas  

    I am a Second Wife

    Sekitar tiga bulan lalu, the Islamic Forum yang diadakan setiap Sabtu di Islamic Center New York kedatangan peserta baru. Pertama kali memasuki ruangan itu saya sangka ia wanita Bosnia. Dengan pakaian Muslimah yang sangat rapih, blue eyes, dan kulit putih bersih. Pembawaannya pun sangat pemalu, dan seolah seseorang yang telah lama paham etika Islam.

    Huda, demikianlah wanita belia itu memanggil dirinya. Menurutnya, baru saja pindah ke New York dari Michigan ikut suami yang berkebangsaan Yaman. Suaminya bekerja pada sebuah perusahaan mainan anak-anak (toys).

    Tak ada menyangka bahwa wanita itu baru masuk Islam sekitar 7 bulan silam. Huda, yang bernama Amerika Bridget Clarkson itu, adalah mantan pekerja biasa sebagai kasir di salah satu tokoh di Michigan. Di toko inilah dia pertama kali mengenal nama Islam dan Muslim.

    Biasanya ketika saya menerima murid baru untuk bergabung pada kelas untuk new reverts, saya tanyakan proses masuk Islamnya, menguji tingkatan pemahaman agamanya, dll. Ketika saya tanyakan ke Huda bagaimana proses masuk Islamnya, dia menjawab dengan istilah-istilah yang hampir tidak menunjukkan bahwa dia baru masuk Islam. Kata- kata “alhamdulillah”.”Masya Allah” dst, meluncur lancar dari bibirmya.

    Dengan berlinang air mata, tanda kebahagiaannya, Huda menceritakan proses dia mengenal Islam.

    “I was really trapped by jaahiliyah (kejahilan)”, mengenang masa lalunya sebagai gadis Amerika.

    “I did not even finish my High School and got pregnant when I was only 17 years old”, katanya dengan suara lirih.

    Menurutnya lagi, demi mengidupi anaknya sebagai `a single mother’ dia harus bekerja. Pekerjaan yang bisa menerima dia hanyalah grocery kecil di pinggiran kota Michigan.

    Suatu ketika, toko tempatnya bekerja kedatangan costumer yang spesial. Menurutnya, pria itu sopan dan menunjukkan `respek’ kepadanya sebagai kasir. Padahal, biasanya, menurut pengalaman, sebagai wanita muda yang manis, setiap kali melayani pria, pasti digoda atau menerima kata-kata yang tidak pantas. Hingga suatu ketika, dia sendiri berinisiatif bertanya kepada costumernya ini, siapa namanya dan tinggal di mana.

    Mendengar namanya yang asing, Abdu Tawwab, Huda semakin bingung. Sebab nama ini sendiri belum pernah didengar. Sejak itu pula setiap pria ini datang ke tokonya, pasti disempatkan bertanya lebih jauh kepadanya, seperti kerja di mana, apakah tinggal dengan keluarga, dll.

    Perkenalannya dengan pria itu ternyata semakin dekat, dan pria itu juga semakin baik kepadanya dengan membawakan apa yang dia sebut `reading materials as a gift”. Huda mengaku, pria itu memberi berbagai buku-buku kecil (booklets).

    Dan hanya dalam masa sekitar tiga bulan ia mempelajari Islam, termasuk berdiskusi dengan pria tersebut. Huda merasa bahwa inilah agama yang akan menyelamatkannya.

    “Pria tersebut bersama isterinya, yang ternyata telah mempunyai 4 orang anak, mengantar saya ke Islamic Center terdekat di Michigan. Imam Islamic Center itu menuntun saya menjadi seorang Muslimah, alhamdulillah!”, kenang Huda dengan muka yang ceria.

    Tapi untuk minggu-minggu selanjutnya, kata Huda, ia tidak berkomunikasi dengan pria tersebut. Huda mengaku justeru lebih dekat dengan isteri dan anak-anaknya. Kebetulan lagi, anaknya juga berusia tiga tahun, maka sering pulalah mereka bermain bersama. “Saya sendiri belajar shalat, dan ilmu-ilmu dasar mengenai Islam dari Sister Shaima, nama isteri pria yang mengenalkannya pada Islam itu.

    Kejamnya Poligami

    Suatu hari, dalam acara The Islamic Forum, minggu lalu, datang seorang tamu dari Bulgaria. Wanita dengan bahasa Inggris seadanya itu mempertanyakan keras tentang konsep poligami dalam Islam. Bahkan sebelum mendapatkan jawaban, perempuan ini sudah menjatuhkan vonis bahwa “Islam tidak menghargai sama sekali kaum wanita”, katanya bersemangat.

    Huda, yang biasanya duduk diam dan lebih banyak menunduk, tiba-tiba angkat tangan dan meminta untuk berbicara. Saya cukup terkejut. Selama ini, Huda tidak akan pernah menyelah pembicaraan apalagi terlibat dalam sebuah dialog yang serius. Saya biasa berfikir bahwa Huda ini sangat terpengaruh oleh etiket Timur Tengah, di mana kaum wanita selalu menunduk ketika berpapasan dengan lawan jenis, termasuk dengan gurunya sendiri.

    “I am sorry Imam Shamsi”, dia memulai.

    “I am bothered enough with this woman’s accusation”, katanya dengan suara agak meninggi.

    Saya segera menyelah: “What bothers you, sister?”.

    Dia kemudian menjelaskan panjang lebar kisah hidupnya, sejak masa kanak-kanak, remaja, hingga kemudian hamil di luar nikah, bahkan hingga kini tidak tahu siapa ayah dari anak lelakinya yang kini berumur hampir 4 tahun itu. Tapi yang sangat mengejutkan saya dan banyak peserta diksusi hari itu adalah ketika mengatakan: “I am a second wife.”

    Bahkan dengan semangat dia menjelaskan, betapa dia jauh lebih bahagia dengan suaminya sekarang ini, walau suaminya itu masih berstatus suami wanita lain dengan 4 anak.

    “I am happier since then”, katanya mantap.

    Dia seolah berda’wah kepada wanita Bulgaria tadi: “Don’t you see what happens to the western women around? You are strongly opposing polygamy, which is halaal, while keeping silence to free sex that has destroyed our people”, jelasnya.

    Saya kemudian menyelah dan menjelaskan kata “halal” kepada wanita Bulgaria itu. “I know, people may say, I have a half of my husband. But that’s not true”, katanya.

    Lebih jauh dia menjelaskan bahwa poligami bukan hanya masalah suami dan isteri. Poligami dan kehidupan keluarga menurutnya, adalah masalah kemasyarakatan. Dan jika seorang isteri rela suaminya beristeri lagi demi kemaslahatan masyarakat, maka itu adalah bagian dari pengorbanannya bagi kepentingan masyarakat dan agama. Kami yang dari tadi mendengarkan penjelasan Huda itu hanya ternganga. Hampir tidak yakin bahwa Huda adalah isteri kedua, dan juga hampir tidak yakin kalau Huda yang pendiam selama ini ternyata memiliki pemahaman agama yang dalam.

    Saya kemudian bertanya kepada Huda: “So who is your husband?”

    Dengan tertawa kecil dia menjawab “the person who introduced me to Islam”.

    Dan lebih mengejutkan lagi: “his wife basically suggested us to marry”, menutup pembicaraan hari itu.

    Diskusi Islamic Forum hari itu kita akhiri dengan penuh bisik-bisik. Ada yang setuju, tapi ada pula yang cukup sinis. Yang pasti, satu lagi rahasia terbuka. Saya sendiri hingga hari ini belum pernah ketemu dengan suami Huda karena menurutnya, “he is a shy person. He came to the Center but did not want to talk to you”, kata Huda ketika saya menyatakan keinginan untuk ketemu suaminya.

    “Huda, may Allah bless you and your family. Be strong, many challenges lay ahead in front of you”, nasehatku. Doa kami menyertaimu Huda, semoga dikuatkan dan dimudahkan!

    ***

    Oleh: M. Syamsi Ali

    Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York.

     
  • erva kurniawan 11:26 am on 9 September 2012 Permalink | Balas  

    Ternyata Tidak Ada Wanita Cantik

    Ketika saya mengurus STNK kendaraan yang sedang habis waktu, saya memarkir kendaraan di depan kantor samsat. Kebetulan waktu itu sedang ramai sekali. Sehingga kendaraan yang parkir pun berjubel sampai keluar batas areal parkir.

    Ketika sudah selesai mengurus administrasi, kami menuju kendaraan yang kami parkir. Sambil menunggu membayar parkir, saya memperhatikan sebuah dialog pendek antara tukang parkir dengan seorang wanita muda yang barusan mengambil sepeda motornya.

    Rupaya sedang terjadi kesalahfahaman tentang besarnya uang parkir. Saya lihat wanita muda itu cemberut sambil membayar ke tukang parkir. Sementara si tukang parkir yang masih muda, mukanya bersungut-sungut sambil ngedumel tiada habisnya. Setelah wanita muda itu pergi, si tukang parkir melampiaskan rasa kecewanya sambil berteriak cukup keras. “…wah, wah, wah,.. sekarang ini tidak ada lagi wanita cantik, semua cemberut, semua makan hati, yaakh, maklumlah baru satu hari harga BBM naik…”

    Saya baru teringat, memang kejadian itu adalah satu hari setelah diumumkannya kenaikkan harga BBM. Begitu mendengar ungkapan dengan nada kesal dari tukang parkir tersebut, saya secara bersamaan tersenyum geli. Dan tukang parkir pun spontan tersenyum juga sambil berkata “… wah, ternyata masih ada wanita yang cantik, meskipun harga BBM naik”

    Senyum memang kunci dari ekspresi seseorang. Senyum adalah `wakil’ suasana hati seseorang. Apalagi kalau senyum itu wajar, tidak dibuat-buat. Sungguh akan mencerminkan kebahagiaan hati.

    Allah dalam merencanakan sebuah ekspresi senyuman, sungguh luar biasa. Senyuman seseorang dapat membias ke seluruh wajah. Sehingga jika seseorang sedang tersenyum, maka semua anggota wajahnya ikut senyum dan ikut gembira. Sebaliknya mulut yang cemberut juga akan membias ke seluruh raut wajah seseorang.

    Jika seseorang sedang cemberut, maka seluruh bagian wajahnya juga ikut cemberut. Mengapa bisa demikian? Karena sumber perubahan wajah seseorang adalah hati.

    Begitu hatinya senang, bibir tersenyum. Coba perhatikan. Semua wajah menjadi ikut tersenyum, riang dan gembira. Orang yang melihatpun ikut jadi senang dan gembira.

    Demikian pula sebaliknya, jika hati cemberut, merasa tidak senang, maka akan mempengaruhi bentuk bibir. Jika bibir sudah menunjukkan ekspresi tidak bagus, maka seluruh anggauta wajahpun ikut cemberut. Ah, luar biasa memang. Jaringan otot yang dibentangkan oleh Allah Swt di seluruh wajah seseorang begitu halus, dan begitu pekanya.

    Kalau pembaca ingin membuktikan betapa sebuah senyuman bisa mempengaruhi seluruh wajah, dan bisa mempengaruhi siapa saja yang melihatnya, buatlah sebuah percobaan sederhana sbb:

    Gambarlah sebuah bulatan, sebagai perumpaan muka seseorang. Buatlah dua mata, hidung, dan dua telinga pada `muka` tersebut.

    Pertama, buatlah sebuah garis mendatar, sebagai wakil dari mulut.

    Maka kesan yang akan kita tangkap dari wajah tersebut adalah sebuah wajah yang serius. Mata, hidung, dahi, pipi, bahkan telinganya, seolah-olah juga ikut serius.

    Kedua, hapuslah mulut tersebut, buatlah sebuah garis melengkung ke bawah di bekas mulut tadi, sebagai wakil dari mulut yang sedang senyum.

    Maka kesan yang akan kita tangkap dari wajah tersebut adalah sebuah wajah yang riang dan gembira. Mata, hidung, dahi, pipi, bahkan telinga dari wajah tersebut, seolah-olah juga ikut riang gembira. Aneh bukan? Padahal matanya tetap, tidak diganti, hidung juga tetap, telinga juga tetap.

    Ketiga, hapuslah kembali mulut tadi, buatlah sebagai penggantinya sebuah garis melengkung ke atas sebagai wakil dari mulut yang sedang cemberut.

    Maka kesan yang akan kita tangkap dari wajah tersebut adalah sebuah wajah yang cemberut, sedih, dan putus asa. Anehnya mata, hidung, dahi, pipi, maupun telinga dari wajah tersebut juga seolah-olah ikut cemberut, dan sedih…

    Manakah, yang harus kita pilih? Sama-sama menggerakkan bibir, kearah mana sudut bibir kita harus kita gerakkan? Ke bawah, yang akan menyebabkan semua orang menjadi senang, ataukah ke atas yang akan membuat semua yang melihatnya ikut menjadi susah.

    Jika anda seorang wanita, kata tukang parkir tadi anda akan menjadi semakin cantik jika anda tersenyum. Sebaliknya, tentu saja akan menjadi jelek, kalau kita terus saja cemberut. Seperti wanita di tempat parkir yang cemberut, sehingga tukang parkirpun kesal dibuatnya.

    Aisyah ra, pernah bercerita. Aku lama sekali tidak pernah melihat rasulullah saw tertawa terbahak-bahak sampai terlihat urat lehernya. Jika beliau tertawa, hanyalah senyum (HR. Bukhari)

    ***

    Dari Sahabat

     
    • cak rynem 12:36 pm on 9 September 2012 Permalink

      tulisannya keren

      postingannya ringan dibaca..:)
      semangat terus untuk menulis

      salam kenal
      saya rynem
      kalau berkenan silahkan mampir ke blog ku……
      folloback juga ya buat nambah temen sesama blogger,,
      kalau mau tukeran LINK silahkan
      salam blogger

  • erva kurniawan 1:13 am on 7 September 2012 Permalink | Balas  

    Bertafakur di Depan Anak Kembar

    “Wah, sungguh seperti pinang dibelah dua,” begitu celetuk teman saya, ketika kami menjenguk istri teman yang barusan melahirkan anak kembarnya.

    Ketika kedua baby itu digendong keluar oleh ibunya untuk menemui kami. Saya melihat betul-betul sama ‘persis’ kedua anak itu. Seolah-olah bagaikan pinang dibelah dua. Tak ada bedanya!

    Ketika itu umur kedua bayi mungil tersebut masih berapa hari saja. Matanya, hidungnya, dahinya, pipinya, telinganya, bahkan rambutnyapun nampak sama. Persis sekali. Maka muncullah sebutan ‘kembar tersebut.

    Tetapi setelah sekarang keduanya besar, saya melihat ada suatu perubahan pada keduanya. Yaitu bahwa wajahnya sekarang sudah bisa dibedakan. Tidak seperti waktu berusia beberapa hari, yang wajah keduanya begitu persisnya.

    Demikian juga dengan saudara saya, ia punya anak kembar dua. Yang diberi nama nina dan nani. Bertambah besar, kedua orang tuanya semakin bisa membedakan keduanya. Sehingga dengan sangat mudahnya kedua orang tuanya bisa mengenali mereka. Siapa yang namanya nina, dan siapakah yang namanya nani. !

    Saya bertambah ta’jub dengan kebesaran Allah Swt dalam mencipta dan ‘memproses’ bentuk tubuh para makhlukNya. Bertambah lama kita memperhatikan dan melihat anak kembar dengan lebih teliti, maka kita akan bertambah mengenalinya.

    Sehingga kita bisa menyimpulkan, bahwa ternyata Allah Swt dalam mencipta bentuk maupun rupa makhluk ciptaanNYa, semua berbeda. Tak ada yang sama persis. Hanya kita saja yang menganggap keduanya kembar. Padahal tidaklah sama.

    Demikian juga dengan makhluk ciptaanNya yang lain, yang sangat luar biasa banyaknya, ternyata semuanya memiliki wajah yang berbeda.

    “…inni wajjahtu wajhiya lilladzii fatharassamawaati wal ardha hanifan musliman wamaa anaa minal musyrikiin.” Kuhadapkan wajah (dan hatiku) kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan berserah diri, dan aku bukanlah dari golongan kaum musryikin.

    Inilah sebuah ikrar yang tulus dari seorang hamba yang sedang melakukan pengabdiannya kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Raja di hari ini dan juga Raja di hari kemudian. Penguasa di dunia ini dan juga Penguasa di hari akhir nanti.

    Wajah sebagai saksi yang dihadapkan ke hadirat Tuhan dari seorang hamba adalah wajah fisiknya dan juga wajah hatinya. Ketika seorang hamba sedang shalat maka wajahnya tertunduk patuh dan taat terhadap apa yang diucapkannya dalam do’a shalatnya.

    Dengan memperhatikan wajah, maka seseorang akan mengetahui bahwa Allah benar-benar Maha Pencipta. Tidak usahlah ‘wajah hati’ yang begitu misteri. Dari ‘wajah fisik’ saja, jika diperhatikan dengan seksama, kita akan menjadi orang yang benar-benar tunduk akan kebesaran Allah Swt.

    Mari kita memperhatikan wajah kita! Katakanlah penduduk bumi saat ini berjumlah lima milyar orang yang terdiri dari berbagai macam bangsa dan suku bangsa. Perhatikan, untuk bangsa Indonesia saja, dan misalnya untuk suku jawa saja. Betapa wajah setiap orang tidak ada yang sama meskipun umurnya sama.

    Meskipun warna kulitnya sama, tetapi ada “sesuatu” yang membuat orang tersebut tidak sama, meskipun dikatakan orang sebagai dua saudara kembar “bagaikan pinang dibelah dua”. Tetap saja ada sesuatu yang membuat orang tuanya mengenali bahwa keduanya tidak sama.

    Itulah Kebesaran dan ketelitian Allah Swt dalam mencipta makhlukNya sangat luar biasa indahnya, dan sangat hebat fungsi dan kegunaannya. Pada suku bangsa yang sama saja, tidak ada wajah yang sama, apa lagi pada penduduk dunia yang berbeda bangsa dan warna kulitnya.

    Seperti halnya wajah manusia yang tak pernah sama, sekarang marilah kita bayangkan bagaimana wajah makhluk l ciptaan Allah lainnya. Berapa milyar jumlah burung yang ada di Indonesia?

    Insya Allah wajahnya juga tak ada yang sama, sehingga setiap induk burung akan mengenali wajah para anaknya yang sedang menunggunya untuk mendapatkan makan darinya.

    Lalu, ada berapa ratus juta jumlah wajah burung yang berbeda di bumi Indonesia `saja’ ? Bagaimana dengan ular, bagaimana dengan semut, bagaimana dengan binatang melata lainnya? Bagaimana dengan kehidupan tumbuhan, misalnya saja bunga mawar dimana setiap lekuk, warna dan indahnya setiap bunga juga tidak sama? Bagaimana dengan kehidupan laut yang luasnya lebih besar dibanding daratan? wajah ikan yang tak sama, batu karang yang tak sama, mutiara yang tak sama, dan tumbuhan laut lainnya yang juga tak terhitung jumlahnya itu?

    Itupun masih benda-benda di Bumi kita, yang besarnya bumi hanya sebesar debu yang melayang di jagad raya yang sangat luar biasa besarnya ini. Masya Allah, semua dicipta dengan tingkat variasi yang sangat luar biasa…

    Dan yang lebih mencengangkan hati, adalah bahwa di setiap ciptaanNya, tidak ada satu bendapun yang tidak berguna bagi lainnya. Semua tak ada yang sia-sia. “…rabbana maa khalaqta hadza bathilan…”

    Itulah ayat-ayat Allah yang tak terhitung jumlahnya yang beserakan di bumi dan dilangit dengan tingkat variasi yang luar bisa, yang manusia tak akan sanggup menghitungnya.

    QS. Al- Kahfi 18 : 109

    Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).

    Sampai disini mungkin kita berhenti sejenak. Dan kita sebagai manusia hanya bisa berucap sambil mata berkaca-kaca, subhanallah…subhanallah…

    Dari menyaksikan peristiwa anak kembar saja, kita telah bertemu dengan kedahsyatan ciptaan Allah. Itupun baru ciptaanNya! Yang ada di bumi saja! Belum di planet yang lain. Belum di matahari, di bintang yang lain, galaxy, di ruang kosong antar galaxy. Lalu di langit kedua, ke tiga, sampai langit ke tujuh….

    Pernahkah ketika shalat, kita menitikkan air mata karena kita sering merasa paling pandai, paling kaya, paling berjasa, paling berkuasa, sehingga dengan tiada terasa kita telah menyombongkan diri kita?

    Mari kita pandang sekali lagi ciptaan Allah yang bertebaran di sekeliling kita, dan kitapun akan menemukan eksistensi Allah di setiap sudut ciptaanNya.

    QS. Al Baqarah : 115

    Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • tiwirahayu 8:12 pm on 14 September 2012 Permalink

      dri bca’an d atas, d katakn bahwa segalany yg d ciptakn allah swt. smua bermanfaat. tapi, apa kgunaan bnatang yg tlah d hramkan allah untk kt, (b1&b2), sdangkn menyntuhny sja udh haram. :)

  • erva kurniawan 1:09 am on 6 September 2012 Permalink | Balas  

    Suara Merdu Sang Pengamen

    Seorang ibu setengah baya, tiba-tiba naik ke dalam bus kota yang beropersi antara jalan Aceh dan Kampus Universitas Padjadjaran di kota Bandung. Para penumpang bus agak heran, sebab selama mereka menumpang bus di route itu, belum pernah melihat pengamen tersebut. Sehingga para penumpang pun memperhatikan keberadaan pengamen ‘asing’ itu meskipun dengan sikap acuh tak acuh.

    Yang menarik adalah, ibu tersebut tidak membawa peralatan apa-apa. Sebelum ia beraksi menyanyikan lagu seperti kebanyakan pengamen, ia memberikan sebuah ‘kata sambutan’ yang cukup menarik.

    Kata sambutan yang cukup singkat itu ternyata bisa menyita perhatian para penumpang bus. Ibu yang penampilannya sangat sederhana ini, menceritakan kondisi keluarganya yang saat itu sedang dilanda musibah tanah longsor di suatu daerah. Maka dengan modal nekat dari rasa malu, ia mencari rezeki dengan jalan menyanyi di dalam bus. Dan hari itu adalah penampilan ‘perdananya’ di dalam bus itu.

    Setelah selesai mengungkapkan suara hatinya, ibu pengamen ini melantunkan sebuah tembang dari daerah jawa barat. Dan seketika, seluruh suara hiruk pikuk di dalam bus menjadi berhenti. Semua penumpang terkesiap mendengarkannya. Seolah-olah semua orang terkena pengaruh ‘magis’.

    Suara ibu ini cukup merdu, tetapi yang membuat semua orang terkesima adalah karena adanya semacam kekuatan tersembunyi dari ekspresi yang sangat menggetarkan hati. Sehingga muncullah sebuah penjiwaan yang luar biasa.

    Mungkin, saat itu ia teringat keadaan anak-anaknya yang sedang terkulai sakit di rumahnya. Begitu ia berhenti melantunkan tembang yang membuat semua orang trenyuh, kontan saja hampir semua penumpang memberi uang dengan nilai yang jauh diatas ‘harga’ pengamen ‘reguler’. Bahkan kawan saya ‘IM’ yang menceritakan kejadian itu, ia memberikan uang sebesar lima ribu rupiah.

    Tentu saja nilai lima ribu rupiah waktu itu, bagi seorang pengamen ‘dadakan’ seperti dia sungguh sangat luar biasa. Belum penumpang-penumpang lainnya… tetapi saya hanya melihat sekali saja wanita itu, sebab hari-hari berikutnya meskipun setiap hari saya naik bus di route tersebut, yang datang adalah pengamen-pengamen tetap lainnya ….. ” Demikian kata menutup ceritanya.

    Dari cerita itu, saya masih bisa merasakan bahwa IM sangat terkesan dengan peristiwa itu. Yang menjadi fokus perhatian saya mendengarkan cerita itu ialah, betapa para penumpang bisa serempak memberikan uangnya dengan nilai yang jauh di atas kebiasaannya.

    Andaikata, saya ambil rata-rata untuk seorang pengamen jalanan ketika itu harganya adalah seratus rupiah, maka nilai lima ribu rupiah yang diberikan kepada ibu pengamen itu, merupakan nilai yang besar, dengan kelipatan lima puluh kalinya. Sungguh luar biasa….!

    Mengapa hal itu bisa terjadi? Ada beberapa kemungkinan yang membuat kondisi dan suasana ajaib itu bisa terjadi.

    Yang pertama, adalah adanya keikhlasan hati seorang ibu yang sedang sedih luar biasa. Ia berani dan tidak malu tampil di dalam bus lantaran teringat anak-anaknya yang berjumlah lima orang, yang kini sedang tergeletak sakit. Keikhlasan dan kondisinya yang sedang dirundung malang itu memberikan kekuatan yang tiada tara kepadanya.

    Yang kedua, adanya keikhlasan hati para penumpang bus dalam memberikan sebagian rezekinya kepada seseorang yang sedang membutuhkannya. Keikhlasan itu muncul setelah mereka mendengar dan bisa menghayati sebuah pesan kemanusiaan.

    Yang ketiga, adanya ‘komunikasi antar hati’ antara seorang ibu yang membutuhkan bantuan demi anak-anaknya, dengan pendengarnya.

    Yang keempat, adanya unsur tepat waktu dan tepat tempat. Andaikata ibu tersebut waktu itu masuk di tempat bus yang lain, mungkin akan berbeda suasananya dengan suasana di bus yang kini sedang kita bahas ini.

    Alasan yang pertama, kedua dan ketiga, adalah alasan kemanusiaan. Hal itu akan bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Secara umum siapa saja yang kondisinya sedang nyaman, bila ia dihadapkan pada suasana lain, dimana ada orang yang sedang membutuhkan uluran tangannya, kemungkinan besar akan berusaha membantunya. Selain itu juga adanya sebuah komunikasi hati yang tepat.

    Kata sebuah kata bijak, “Jika berkata dengan mulut, sampainya ke telinga, Jika berkata dengan hati, sampainya ke nurani..”

    Ibu tersebut dalam berkomunikasi tidak lagi menggunakan mulutnya, tetapi yang ia sampaikan adalah kegundahan hatinya yang begitu mendalam. Sehingga pesan itu tersampaikan tidak terbatas di telinga saja, tetapi bisa menembus hati para pendengarnya.

    Alasan yang keempat, adalah alasan yang sangat spesial. Siapakah yang menuntun dan menggerakkan hati ibu ini untuk menuju bus yang tepat dalam waktu yang tepat pula? Tentu jawabnya hanya ada satu. Yang mengatur semua itu adalah sebuah kehendak yang mempunyai kekuatan luar biasa. Dialah Allah Swt Sang Maha Pengatur Kehidupan Manusia.

    Dialah Dzat Yang Maha berkehendak. Dialah yang berkehendak menyuruh langkah kaki ibu yang sedang susah itu menuju bus yang tepat. Dialah Yang Maha Berkehendak untuk menggerakkan hati para penumpang bus untuk memberikan sebagian rezekinya.

    Dengan melihat peristiwa di dalam bus itu, seolah kita sedang diingatkan oleh Allah Swt. Bahwa di dalam setiap peristiwa yang sedang terjadi Allah ingin melihat, menguji, dan mengukur, siapakah diantara hamba-hambaNya yang sabar, dan siapa pula yang pandai bersyukur.

    Barang siapa yang diuji dengan musibah ia sabar, dan ketika diuji dengan nikmat ia bersyukur, insyaAllah dialah sebenarnya orang-orang yang berhasil dalam menjalankan misi kehidupannya…

    Allah selalu bersama dengan orang-orang yang sabar, dan Allah selalu bersama dengan orang yang pandai bersyukur.

    “Orang yang menikmati makanan lalu ia bersyukur, adalah seperti orang yang sedang berpuasa yang sabar.”

    (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban dari Abu Hurairah)

    Artinya, dalam kehidupan ini kita sedang bermain-main dalam rentang dimensi syukur dan sabar. Semoga dengan selalu berikhtiar dan berdo’a kepada Allah Swt, kita akan bisa berhasil melewatinya. Insya Allah…

    ***

    Dari Sahabat

     
    • bejono777 8:43 pm on 6 September 2012 Permalink

      sabar, syukur adalah ibadah tapi berkeluhkesah di khalayak apakah juga diajarkan kita dianjurkan utk berikhtiar dan bertawakal, tapi itu mungkin yang bisa dilakukan oleh ibu itu

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 689 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: