Updates from November, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 3:07 am on 10 November 2013 Permalink | Balas  

    keluarga-muslimMeja Kayu

    Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

    Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

    Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

    Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

    Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

    Teman, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

    Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

    Baaraka-llahu fiekum – wa shalla-llahu wa-ssallamuh ‘alaa nabiyyinaa muhammad, subhanaka-llahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atuubuilaik. wa ssalaam ‘alaikum wa rahmatu-llahi wa-barakatuh.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 5:45 am on 5 November 2013 Permalink | Balas  

    danau-siluetGaram dan Telaga

    Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Beliau lalu mengambil segenggam garam dan segelas air. Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduk perlahan.

    “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya, “ujar Pak tua itu. “Asin. Asin sekali, “jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Beliau lalu mengajak sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal Beliau. Sesampai di tepi telaga, Pak Tua menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah.”

    Saat pemuda itu selesai mereguk air itu, Beliau bertanya, “Bagaimana rasanya?”

    “Segar,” sahut sang pemuda. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” tanya Beliau lagi.

    “Tidak,” jawab si anak muda. Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda.

    “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi, tak lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air yang kau rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita rasakan dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

    Beliau melanjutkan nasehatnya. “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu Adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan bahagiaan.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:35 am on 4 November 2013 Permalink | Balas  

    Arti Sebuah Kehadiran

    Seorang laki-laki pergi ke luar negesuratri untuk bekerja dan meninggalkan gadis tunangannya tersedu-sedu. “Jangan khawatir, aku akan menulis surat untukmu setiap hari”, katanya. Selama ber-tahun laki-laki itu memang menulis surat untuk tunangannya. Tetapi karena dia senang dengan pekerjaannya, dia tidak merencanakan untuk pulang dalam waktu dekat.

    Suatu hari, dia menerima undangan pernikahan. Ternyata kekasihnya akan segera menikah. Dengan siapa? Dengan tukang pos yang tiap hari mengantar surat yang dia tulis. Jarak pemisah telah membuat hati berubah.

    Lelaki malang itu merenung, “Lho, apa salahku. Aku mengiriminya surat, coklat, dan bahkan bunga-bunga”. Ketika dalam suatu hubungan terjadi masalah, daftar barang yang telah diberikan atau hal yang telah dilakukan untuk seseorang, akan tiba-tiba muncul untuk dipermasalahkan. Kita akan berkata: “Saya telah memberimu ini dan itu… Saya telah melakukan semuanya demi kamu”. Tampaknya cinta dapat dibuktikan secara mudah hanya dengan pemberian hadiah dan perbuatan baik.

    Namun, walaupun hadiah itu penting juga, cinta memerlukan hal yang mendasar: KEHADIRAN. Kehadiran sang kekasih, kehadiran orang yang dicintai. Pengamatan saya terhadap anggrek ibu saya dapat dijadikan contoh. Saat ibu saya pergi agak lama, bunga itu tampak tak subur dan banyak diantaranya yang layu. Tapi saat ia kembali hadir,bunga itu mekar dengan indahnya. Padahal ibu saya tidak melakukan hal yang luar biasa. Ia hanya memberikan banyak waktunya untuk berbicara dan merawat mereka.

    Saya kira, orang lebih memerlukan kehadiran perhatian dan kepedulian.Cinta secara fundamental adalah sebuah komitmen terhadap seseorang. Kita dapat mempunyai komitmen terhadap bisnis, pekerjaan, hobi, olahraga, maupun keanggotaan di klub, tetapi dapat dikatakan dengan tegas: semua itu tidak dapat mencintai kita. Hanya orang lain yang dapat membalas cinta kita, dan untuk itu, komitmen tertinggi sebagai manusia adalah memberikan waktu kita dengan orang yang kita cintai. Dan karena manusia memerlukan kasih sayang dan makanan, hadiah material hanya dapat – secara terbatas – membantu untuk mengembangkan cinta.

    Tapi itu semua tidak dapat menggantikan kehadiran pribadi,yang merupakan hadiah terbesar!

    Martha sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia yakin harus bekerja keras,karena ia mencintai ayahnya yang sedang sakit kanker. Dia harus membeli obatan yang mahal. Saudaranya yang lain tetap tinggal dengan ayah mereka hampir setiap saat. Mereka memandikannya, bernyanyi untuknya, menyuapi makan, ataupun sekedar menemani sang ayah.

    Suatu hari Martha sakit hati. Dia mendengar sang ayah berkata kepada ibunya, “Semua anak kita mencintaiku kecuali Martha”.”Bagaimana mungkin?”, pikir Martha. “Bukankah aku yang bekerja matian untuk mendapatkan uang guna membeli semua obatan? Saudaraku bahkan tidak berbagi sebesar yang aku berikan”.

    Suatu hari, Martha pulang larut malam seperti biasanya. Dia mengintip untuk pertama kalinya, ke dalam kamar dimana ayahnya berbaring. Dia melihat ayahnya masih terjaga, maka dia memutuskan untuk datang mendekat di samping tempat tidur ayahnya. Ayahnya memegang kedua tangan Martha dan berkata, “Aku merindukanmu. Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi. Tinggalah dan temani aku”. Dan itu yang ia lakukan, semalaman ia tinggal menemani ayahnya, berpegang, menggenggam tangannya.

    Pagi harinya martha berkata pada semua orang, “Aku mengambil cuti. Aku ingin menemani Ayah. Mulai saat ini aku akan memandikan dan bernyanyi untuknya”. Sebuah senyum bahagia muncul menghias wajah ayahnya. Kali ini ia tahu Martha mencintainya.

    ***

    Dari: Sandman

     
  • erva kurniawan 3:46 am on 2 November 2013 Permalink | Balas  

    pasangan_serasiBerpikir Sederhana

    Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.

    Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, “untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?”

    Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, “Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.” Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh,tetapi ternyata, ah… kijang. Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur.

    Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, Rusa!!!” sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

    Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

    Demikian juga dengan seseorang yang mengidamkan pasangan hidup, yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang alim, baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:31 am on 31 October 2013 Permalink | Balas  

    cincin-kawinCinta dan Perkawinan Menurut Plato

    Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?

    Gurunya menjawab, Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”

    Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

    Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”

    Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan,tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana,jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”

    Gurunya kemudian menjawab “Jadi ya itulah cinta”

    Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

    Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

    Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/ subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

    Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?” Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan,ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat,jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”

    Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

    Catatan kecil:

    Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.

    Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, Ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, Karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

    Wassalam

     
  • erva kurniawan 4:56 am on 27 October 2013 Permalink | Balas  

    kentangKentang

    Suatu ketika, ada seorang guru yang meminta murid-muridnya untuk membawa satu kantung plastik bening ke sekolah. Lalu, ia meminta setiap anak untuk memasukkan beberapa kentang di dalamnya. Setiap anak, diminta untuk memasukkan sebuah kentang, untuk setiap orang yang tak mau mereka maafkan.

    Mereka diminta untuk menuliskan nama orang itu, dan mencantumkan tanggal di dalamnya. Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, walau banyak juga yang memiliki plastik kelebihan beban.

    Mereka diminta untuk membawa kantung bening itu siang dan malam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Kantung itu, harus ada di sisi mereka kala tidur, diletakkan di meja saat belajar, dan ditenteng saat berjalan.

    Lama-kelamaan kondisi kentang itu makin tak menentu. Banyak dari kentang itu yang membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Hampir semua anak mengeluh dengan pekerjaan ini. Akhirnya, waktu satu minggu itu selesai.

    Dari semua anak, agaknya banyak yang memilih untuk membuangnya daripada menyimpannya terus menerus.

    Pekerjaan ini, setidaknya, memberikan hikmah spiritual yang besar sekali buat anak-anak. Suka-duka saat membawa-bawa kantung yang berat, akan menjelaskan pada mereka, bahwa, membawa beban itu, sesungguhnya sangat tidak menyenangkan. Memaafkan, sebenarnya, adalah pekerjaan yang lebih mudah, daripada membawa semua beban itu kemana saja kita melangkah.

    Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan, dan dendam yang kita genggam terus menerus. Getir, berat, dan meruapkan aroma yang tak sedap, bisa jadi, itulah nilai yang akan kita dapatkan saat memendam amarah dan kebencian.

    Sering kita berpikir, memaafkan adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf. Namun, kita harus kembali belajar, bahwa, pemberian itu, adalah juga hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah, untuk sebuah kebebasan.

    Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, dan kedegilan hati.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:38 am on 24 October 2013 Permalink | Balas  

    pianoKisah Pianis Muda

    Kisah ini terjadi di Rusia. Seorang ayah, yang memiliki putra yang berusia kurang lebih 5 tahun, memasukkan putranya tersebut ke sekolah musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal. Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu singkat tiket konser telah terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.

    Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser dimulai, kursi telah terisi penuh, sang ayah duduk dan putranya tepat berada di sampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak ini pun tidak betah duduk diam terlalu lama, tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi. Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah terkejut menyadari bahwa putranya tidak ada di sampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan, dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut. Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa takut anak tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana, twinkle2 little star.

    Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba-aba terlebih dahulu, dan ia langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan sang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis pun terkejut, dan bergegas naik ke atas panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum dan berkata “Teruslah bermain”, dan sang anak yang mendapat ijin, meneruskan permainannya. Sang pianis lalu duduk, di samping anak itu, dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut. Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung. Sang anak jadi GR (Gede Rasa), pikirnya “Gila, baru belajar piano sebulan saja sudah hebat!” Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.

    Apa implikasinya dalam hidup kita

    Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita buat, perbuatan-perbuatan besar yang telah berhasil kita lakukan. Tapi kita lupa, bahwa semua itu terjadi karena Allah ada di samping kita. Kita adalah anak kecil tadi, tanpa ada Allah di samping kita, semua yang kita lakukan akan sia-sia. Tapi bila Allah ada di samping kita, sesederhana apapun hal yang kita lakukan hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan saja buat diri kita sendiri tapi juga baik bagi orang di sekitar kita.

    Semoga kita tidak pernah lupa bahwa ada Allah di samping kita.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:38 am on 1 October 2013 Permalink | Balas  

    siluet menjemputHantu

    Tentu bukan karena didatangi peri, kuntilanak, genderuwo atau makhluk-makhluk sejenisnya jika Paijo dan kawan-kawan malam itu sibuk ngobrol soal hantu. Dan tentu juga bukan karena lagu ndangdut ‘Mbah Dukun’ yang sedang ngetop yang kemudian lantas menyeret anak-anak itu ke dunia klenik.

    Hantu semata-mata soal percaya atau tidak. Hantu, bagi yang percaya, adalah lelembut yang tidak tersentuh panca indera secara normal, dan akan muncul pada saat, kondisi atau tempat tertentu. Sedang bagi yang tidak percaya, hantu sekedar halusinasi, atau sekedar akibat adanya gelombang elektromagnetik berlebihan (seperti pernah ditayangkan oleh Discovery Channel) dari orang yang merasa melihat atau mendengar sesuatu yang aneh-aneh. Dan yang aneh-aneh itu sering digambarkan sebagai sesuatu yang menyeramkan. Hantu adalah sesuatu yang “entah”. Entah benar-benar ada atau tidak. Keberadaan hantu, meski dipercayai dan diklaim pernah dilihat atau didengar oleh sementara orang, tetap tidak bisa dibuktikan.

    Namun lepas dari kontroversi hantu ada atau tidak, yang pasti hantu telah sukses dijadikan sementara orang tua untuk menakut-nakuti anaknya, terutama yang tidak mau segera tidur meski hari sudah malam. Hantu juga sukses ‘diperalat’ sebagai senjata pamungkas orangtua yang tidak ingin anaknya main ke tempat-tempat tertentu. Tentu tidak ada niatan buruk dari orangtua yang melakukan hal seperti itu. Tapi, kadang yang kurang disadari orangtua adalah dampak jangka panjang bagi si anak. Sesuatu yang ditanamkan sejak dini dan secara terus-menerus pada akhirnya akan diam dan mengendap di benak si anak, dan selanjutnya akan dianggap sebagai kebenaran. Apalagi secara naluriah, setiap orang ada kecenderungan untuk tertarik dan mereka-reka pada sesuatu yang ‘ghaib’.

    Begitulah, setelah ngobrol ngalor-ngidul soal hantu yang menghuni dunia klenik itu, Paijo dan kawan-kawan akhirnya sampai juga di topik hantu dalam tataran psikologis.

    “Apa maksudmu dengan hantu dalam tataran psikologis Jo ?” tanya Blothong.

    “Maksudku, ya bayangan menakutkan yang menghinggapi pikiran orang.”

    “Bayangan menakutkan .. dalam hal apa ?” gantian Budi bertanya.

    “Nyaris dalam segala hal. Segala sesuatu yang menakutkan, yang sebenarnya belum tentu ada. Dan rasa takut itu lebih disebabkan dorongan dari dalam diri kita sendiri.”

    “Misalnya ?”

    “Misalnya .. kamu takut menghadap pak Lurah. Kamu takut nanti kalau di depan pak Lurah, begini-begitu. Padahal yang begini-begitu itu belum tentu. Dalam hal itu pak Lurah, dengan segala kemungkinan yang belum pasti, bahkan bisa jadi sekedar angan-angan kosong itu telah menjelma menjadi ‘hantu’ dalam benakmu.”

    “Apa ini menyangkut soal kepercayaan diri Jo ?” kali ini Rakhmat yang bertanya.

    “Ya ! Cuman, kepercayaan diri itu kan hasil. Berarti ada proses panjang yang melatar belakangi hasil itu.”

    “Proses panjang .. ?” Blothong mengerutkan dahinya.

    “Ya proses panjang yang membentuk kepercayaan diri itu,” jawab Paijo. “Termasuk informasi maupun nilai-nilai yang ditanamkan secara keliru dan terus-menerus tadi.”

    “Oleh siapa, orang tua ?”

    “Salah satunya,” jawab Paijo. “Bisa jadi juga oleh teman, guru, atasan, dan lain sebagainya. Dan repotnya, orang yang sudah kehilangan kepercayaan diri, suka menularkan ketidakpercayan dirinya itu ke orang lain. Orang yang sudah dibayang-bayangi hantu biasanya suka mentransfernya ke orang lain, terutama orang-orang yang berada dalam ‘kekuasaannya’. Jika perlu disertai dengan informasi yang seolah-olah meyakinkan tentang hantu itu, padahal ia sebenarnya berasal dari rasa ketakutannya sendiri. Bayangkan jika seandainya hal itu dilakukan secara intens dan terus menerus, apa hasilnya ?”

    “Lha apa ? malah nanya. Dasar cah gemblung !” komentar Blothong sambil nyengenges.

    “Hasilnya, ya hantu itu akan dianggap sebagai sesuatu yang nyata. Hasilnya adalah orang-orang yang terjajah secara psikologis, karena berhasil ditakut-takuti dengan hantu-hantuan itu.”

    “Jo, kamu tadi bilang hantu di tataran psikologis itu ada di segala hal ?” tanya Rakmat.

    “Betul.”

    “Apa agama termasuk juga di situ ?”

    “Ha..ha..ha.. Kamu tentu juga tahu Mat, kalau agama itu salah satu lahan subur buat menciptakan ‘hantu-hantu’. Orang atau pemikiran yang tidak disetujui bisa disulap jadi hantu. Bahkan Tuhan pun kadang digambarkan seperti hantu. Kok ya kebetulan, hantu sama tuhan itu kalau diucapkan berulang-ulang nggak ada bedanya. Han-tu-han-tu-han-tu-han-tu-han-tu-han-tu .. he..he..he…”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:18 am on 27 September 2013 Permalink | Balas  

    sabarJangan Buat Allah Cemburu

    Diambil dari buku “Memoar Hasan Al-Banna”, semoga kita bisa meneladaninya….amin.

    Sudah menjadi kebiasaan kami, dalam rangka memperingati maulid Nabi setiap malam sejak tanggal 1 hingga 12 Rabi’ul Awal secara berombongan dan bergiliran selalu mengunjungi rumah salah seorang ikhwan. Malam itu tibalah giliran rumah Syaikh Syalbi Ar-Rijal yang menjadi jadwal kunjungan.

    Kamipun berangkat seperti biasanya,setelah Isya. Kami berangkat secara berombongan dengan mengalunkan qasidah (nasyid) dengan penuh gembira. Saya melihat rumah Syaikh Syalbi sangat terang, bersih dan rapi. Dihidangkanlah serbat, kopi, dan qirfah seperti biasanya. Kami duduk dan meminta nasihat-nasihat Syaikh Syalbi.

    Ketika kami hendak pergi, ia berkata dengan senyum yang lembut,” Datanglah kalian besok pagi-pagi sekali, agar kita bisa menguburkan Ruhiyah bersama-sama.” Ruhiyah adalah putri beliau satu-satunya. Allah mengaruniakan Ruhiyah kepadanya kurang lebih setelah sebelas tahun dari usia pernikahannya. Ia sangat mencintainya, sehingga ia tidak pernah meninggalkan sekalipun sedang sibuk bekerja.

    Ruhiyah kemudian tumbuh menjadi seorang gadis. Ia menamai “RUHIYAH” karena putrinya ini menempati kedudukan “ruh” pada dirinya. Tentu kami terperanjat.

    “Kapan ia meninggal?” tanya kami spontan. “Tadi, menjelang maghrib!” jawabnya tenang. “Kenapa Syaikh tidak memberi tahu kami semenjak tadi, sehingga kami dapat mengajak kawan yang lain untuk kemari bersama-sama?”

    Ia menjawab,”Apa yang terjadi telah meringankan kesedihanku. Pemakaman telah berubah menjadi peristiwa yang membahagiakan. Apakah kalian masih menginginkan nikmat Allah yang lebih besar lagi dari pada nikmat ini?”

    Pembicaraanpun akhirnya berubah menjadi pelajaran tasawuf yang disampaikan oleh Syaikh Syalbi. Beliau mengemukakan bahwa kematian putrinya itu adalah kecemburuan Allah kepada hatinya. Memang sesungguhnya Allah SWT. merasa cemburu kepada hati para hamba-Nya yang shalih, apabila sampai terikat dengan selain-Nya, atau apabila ia berpaling kepada selain-Nya.

    Beliau mengambil bukti dalil dengan kisah Ibrahim AS. Hati Ibrahim terikat dengan Ismail, sehingga akhirnya Allah swt. memerintahkannya untuk menyembelih putranya Ismail. Ketika hati nabi Ya’qub terikat dengan Yusuf, Allah swt. pun membuat Yusuf hilang dari sisinya sekian tahun. Oleh karena itu, seharusnya jangan sampai hati seorang hamba itu terikat dengan selain Allah swt. Kalau tidak demikian, maka sebenarnya ia adalah pendusta dalam hal pengakuan kecintaannya.

    Beliau juga membawakan kisah Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Fudhail pernah memegang tangan putrinya yang terkecil dan mengecupnya, lalu putrinya itu bertanya kepadanya, “Wahai ayahanda, apakah ayah mencintaiku?” “Tentu saja putriku,” jawab sang ayah. Lalu ia berkata,”Demi Allah, sebelum hari ini, saya tidak pernah mengira bahwa ayah sebagai seorang pendusta.” Fudhail bertanya,” Bagaimana bisa begitu? Berapa kali saya berdusta?” Ia menjawab,”Saya telah mengira bahwa dengan keberadaan ayah yang seperti ini dalam berhubungan dengan Allah, berarti ayah tidak mencintai seorang pun selain-Nya. Fudhail pun menangis seraya berkata,”Duhai Tuhanku, sampai anak sekecil ini dapat membongkar riya’ hamba-Mu yang bernama Fudahil ini?”

    Demikianlah pelajaran Syaikh Syalbi dari sebuah pembicaraan menjadi sebuah pelajaran. Syaikh Syalbi berupaya membahagiakan dan melembutkan hati kami seraya memalingkannya dari kepedihan musibah ini. Setelah itu kami pun pulang. Kami tidak mendengar sama sekali suara wanita yang meratap dan tidak mendengar adanya kata-kata kotor. Yang kami lihat hanyalah ekspresi kesabaran dan kepasrahan kepada Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar.

    Get the point…

     
  • erva kurniawan 4:36 am on 19 September 2013 Permalink | Balas  

    nasehat-quran1Episode Abdullah

    Abdullah menatap penuh harap ingin diberi roti ketika menyaksikan teman-temannya dengan lahap mengunyah roti yang terlihat amat lezat. Abdullah kembali harus menahan air liurnya kala teman-temannya menyeruput aneka sirop dan berebut coklat. Tak tahan menyaksikan semua itu, bocah berusia tujuh tahun itu akhirnya berlari meninggalkan kerumunan bocah-bocah yang tengah berpesta menuju sang Ummi dalam tenda pengungsi.

    “Ummi…. lapar…,” seru bocah Somalia yang tinggal tulang belulang itu. Bocah hitam yang amat kurus itu menekan perut kempisnya kuat-kuat untuk mengurangi rasa lapar yang melilit. Abdullah lantas menarik lengan sang Ummi dan menuntunnya ke luar tenda untuk memperlihatkan apa yang dilakukan teman-taman sebayanya. “Mi… lihatlah mereka makan dengan lahapnya. Mereka kenyang dan mereka bahagia,” ucapnya dengan nada seolah minta persetujuan sang Ummi agar ia boleh bergabung dengan mereka. “Tidak! Tidak nak…! Kau tak boleh melakukan itu. Kita tak boleh menjual aqidah hanya dengan segenggam roti, sepotong coklat dan segelas sirop,” sang Ummi berucap lembut namun bernada tegas. “Dulu para sahabat pun pernah mengalami kelaparan seperti kita, dan mereka tetap sabar. Mereka tetap memegang teguh Islam. Rasulullah yang kita cintai mengabarkan ‘syurga’ buat orang-orang yang lapar dalam membela Islam. Lalu kenapa kita harus menukar syurga itu dengan kesenangan dunia yang hina dan sementara ini, Nak…? Masih ingatkah ….. ketika Abimu masih ada beliau pernah bercerita tentang ‘Ahlus Suffah’? Orang-orang yang belajar hadits pada Rasul dan mereka tinggal di masjid karena mereka rata-rata miskin. Mereka kelaparan kemudian jatuh waktu melakukan shalat saking tak kuatnya menahan lapar dan lemahnya badan. Melihat itu, Rasul datang menghampiri sambil berkata: “Jika engkau tahu balasan lapar yang kau derita ini (balasan syurga) pasti engkau ingin lebih lapar dari ini. Ahlus Suffah pun menjawab: “Ya Rasulullah, saya tidak menyesal dengan keadaan ini, dan saya ingin lebih lapar lagi.” Ummi berharap, kau bisa setegar Ahlus Suffah tersebut”, ucap sang Ummi penuh harap.

    Mendengar kisah Ahlus Suffah itu, Abdullah menjadi bersemangat kembali. Kini terlihat binar terang dalam mata cekungnya. “Ummi, aku pamit mau muraja’ah hafalan Quran. Sudah tiga hari ini aku lalai,” ucap Abdullah seraya menghambur ke luar tenda. Bocah kecil yang sudah hafal sepuluh juz itu menuju tempat sunyi sambil menggenggam Quran kecil.

    **

    Mendung kelabu masih saja menggayuti kota Wajir, wilayah terburuk para pengungsi Somalia. Kekumuhan dan kelaparan sudah teramat akrab dengan orang-orang yang menempati wilayah ini. Sudah tak heran lagi bila di sini terlihat seonggok mayat yang dikerumuni lalat lantas membusuk menebarkan baunya kemana-mana. Dan bukan hal asing pula menyaksikan bocah-bocah telanjang karena tak memiliki baju berlarian tersaruk-saruk ke sana ke mari sambil mengorek-ngorek timbunan sampah untuk mencari sesuap makanan yang bisa dimasukkan ke dalam mulutnya. Itulah keadaan sebagian besar orang-orang Somalia yang komit terhadap Islam. Negeri yang terkenal dengan julukan ‘gudang para hafidz’ itu di ambang kehancuran.

    Kelaparan dan kehausan rupanya tak menimpa seluruh orang Somelia. Sebagian mereka ada yang bersahabat dengan organisasi yang mengibarkan bendera ‘Penyelamat Manusia’. Mereka yang mau bergabung dengan organisasi tersebut akan dapat menikmati roti lezat dan segelas susu setiap pagi dan sore. Sebagian imbalan atas roti dan susu itu, mereka menerima buku-buku cerita tentang sesuatu yang bisa menyelamatkan manusia dari muka bumi.

    Abdullah berjalan tenang sembil mengulang-ulang hafalan Quran. Ketika melewati sekelompok anak-anak yang tengah mengunyah roti dan coklat, tak ada rasa iri di hatinya. Di antara gerombolan anak-anak itu tampak seorang pemuda gagah tengah membacakan sebuah buku cerita bergambar. Anak-anak Somalia itu asyik menyimak dongengan sang pemuda berkulit putih. Tampaknya, cerita yang dibawakan sang pemuda begitu serunya sampai-sampai terdengar anak-anak bersuara riuh rendah.

    Di antara gerombolan anak-anak itu ada yang memanggil Abdullah ketika ia berlalu di hadapan mereka. “Abdullah ini roti dan coklat untukmu. Mari duduk di sini kita mendengarkan cerita yang menarik,” ucap bocah itu sambil mengacung-acungkan roti dan coklat di tangannya. Sang pemuda -menghentikan kisahnya. Dengan senyum manis, ia melambaikan tangan agar Abdullah mendekat dan bergabung bersama mereka. Mendengar tawaran mereka, Abdullah menggeleng penuh izzah. “Tidak, aku tidak doyan roti dan coklat itu. Aku mau makan roti dan coklat yang disediakan Allah di syurga saja. Lagi pula, aku sibuk mau menghafal Quran. Untuk apa duduk bersenang-senang mendengarkan cerita tak berarti,” ucap Abdullah sambil berlalu. Sementara teman-temannya hanya dapat menatap punggung kurus itu dengan tatap hampa.

    “Anak siapa Abdullah itu…..?,” tanya sang pemuda pada anak-anak yang mengerumuninya. “Ia anak syaikh Ahmad,” jawab bocah-bocah itu serempak “Syaikh Ahmad ustadz di wilayah ini. Beliau terkenal sebagai hafidz Quran yang mengajarkan ilmunya pada kami semua. Abdullah sekarang sudah hafal sepuluh juz, sedang kami baru hafal juz ‘amma,” ucap mereka lagi. Pemuda bule itu cuma bisa menganggukan kepala mendengar cerita bocah-bocah itu tentang Abdullah, bocah kurus yang berani menolak tawaran roti dan coklat.

    ***

    Kehadiran pasukan PBB yang diawali dengan kedatangan tentara AS itu terasa juga pengaruhnya di Wajir. Walaupun konsentrasi pasukan PBB itu ada di Mogadishu, ibukota Somalia, beberapa divisi tentara AS juga mengadakan operasi di desa-desa, termasuk di Wajir. Bahkan setelah upaya AS menangkap Jenderal Farah Aidid gagal, operasi mencari pimpinan yang dicintai rakyat Somalia itu makin intensif dilakukan. Beberapa pekan terakhir ini, jalan-jalan di kota Wajir mulai dipenuhi oleh lalu lalangnya kendaraan lapis baja dan pasukan yang menginterogasi penduduk yang dicurigai sebagai pendukung Jenderal Aidid.

    Sepak terjang pasukan AS ini amat menyakitkan rakyat Somalia. Beberapa pemuda yang dicurigai mendapat perlakuan tak manusiawi. Perempuan dan anak-anak tak terkecuali. Protes yang dilakukan pemuka desa sama sekali tak digubris. Balasan bagi mereka yang melawan adalah mati. Beberapa hari yang lalu, seorang ustadz dibunuh hanya karena keluar malam, yakni untuk memberi ta’lim di suatu masjid. ‘Operasi Harapan’ yang selama ini digaungkan tak lebih hanyalah menjadikan banyak wilayah Somalia menjadi neraka.

    Dalam perjalanan pulang menuju tenda pengungsian, Abdullah bertemu dengan beberapa serdadu kulit putih yang tengah berkumpul menikmati makanan. Sambil tertawa dan bernyanyi riuh mereka menarik perhatian para pejalan kaki. Abdullah menatap sinis pada tentara kafir itu. Seorang serdadu berdiri dan melambaikan tangan menyuruh Abdullah mendekat. Karena penasaran, bocah itu mendekat. Oh, rupanya serdadu itu bermaksud memberinya makanan. Abdullah menggeleng ketika serdadu itu menyodorkan sekantong makanan. Ia ragu, jangan-jangan terdapat makanan haram di dalamnya, apalagi ia melihat minuman yang mereka teguk semuanya dari jenis khamar. Ia pun menggeleng ketika serdadu kulit putih itu menghadiahinya buku-buku bergambar menarik yang mengisahkan kasih sayang kaum yang menyebut dirinya pengikut Sang Penyelamat Manusia. “Aku sudah punya ini!”, ucap Abdullah dengan bangganya mengacungkan Quran pemberian Umminya. “Aku tak butuh buku-buku jelek itu,” katanya lagi dengan tatap mata menghujam. Anak Syaikh Ahmad itu lantas berlari meninggalkan gerombolan serdadu asing. Namun, baru beberapa langkah kaki kurus itu berlari, tubuhnya keburu terkapar bersimbah darah. Ya, sebutir peluru telah menembus punggungnya. Peluru serdadu bule itu telah menelan nyawa bocah kurus yang telah hafal sepuluh juz al-Qur’an, namun tak seorang pun memprotes dan membalas dendam atas kematian bocah ini. Semua bisu, bungkam dan diam .

    Para serdadu yang mengaku pengibar panji-panji demokrasi, pembela hak asasi manusia dan penyebar kasih sayang ini ternyata begitu biadab. Mayat Abdullah mereka angkut lalu dilemparkan di antara tumpukan sampah.

    • * * *

    Wanita setengah baya itu berjalan terseok. Ia tengah mencari sang putra yang sejak pagi belum kembali. Seorang diri ia menyusuri lorong-lorong Wajir yang kumuh. Mata bening wanita itu terbelalak ketika melihat sesosok tubuh mungil tergeletak di antara tumpukan sampah yang membusuk dan penuh lalat.

    Ia semakin mendekat ke arah tubuh kecil kurus itu. Ya, semakin dekat wanita itu semakin hafal dengan bentuk tubuh yang tergeletak itu. Sampai kemudian ia yakin tubuh itu adalah tubuh anaknya. Direngkuhnya tubuh kecil itu, lalu dipeluknya erat-erat. Air matanya tak kuasa untuk tidak menitik. Darah kering menghiasi tubuh kaku dan dingin itu. Ya …. anak dambaan jiwa penerus perjuangan suminya itu kini telah mati bersimbah darah. Namun wanita itu segera tersenyum ketika melihat tangan anaknya yang sudah jadi mayat itu menggenggam erat alqur’an pemberiannya. Dengan langkah tegap, Ummu Abdullah memangku tubuh putranya yang telah syahid.

    “Aku harus bersyukur karena punya anak tidak mati sia-sia. Sementara banyak teman seusianya mati sambil memeluk buku berjudul ‘Sang Penyelamat Manusia’. Tapi Abdullah mati sambil mendekap alqur’an…”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:19 am on 11 September 2013 Permalink | Balas  

    berdoa-2Satu Doa Ketika Gelisah Meruyak

    “Hasbunallah wani’mal Wakil”

    (Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung) (QS. Ali Imron 3:173)

    April kelabu di musim tak tentu. Bukankah panas yang terik dan hujan yang deras seringkali bertukar kulit di beberapa bulan terakhir ini? Pun kabar mala dan petaka di hidup keseharian kita. Semua kian akrab di telinga. Tapi April, segala ketidak menentuan itu kian berkelindan bagi beberapa persona yang dilanda musibah, yang dirundung gelisah. Dan sejumlah sahabat saya diantaranya.

    Sahabat pertama; Aziz, begitu kerap saya memanggilnya, nampak begitu layu di pertengahan April. Air mukanya keruh. Matanya mengabarkan hampa. Ia tidak lagi tampil ekspresif seperti dulu. Ia tiba-tiba menjadi sosok yang rapuh. Kepada saya, Aziz menuturkan pangkal soal kegundahannya itu: “Inilah minggu terberat dalam hidupku. Aku shock! Tanpa pemberitahuan sedikitpun, aku dan beberapa teman di PHK secara tiba-tiba. Aku stres, stres bagai petir di siang bolong”

    Saat itu, suaranya seperti menghimpun amarah, resah dan lelah dalam satu wadah, yang kemudian dihempaskan ke saya. Maka saya pun bersetia hati menjadi ‘tong sampah’-nya. Sejak itulah, saya tahu, ia menimang-nimang kegelisahan dari hari ke hari.

    Sahabat kedua; Dinda namanya. Cantik, solehah dan seorang mahasiswi S2 sebuah perguruan tinggi negeri yang tengah menanam rasa serupa; gelisah dan cemas yang tak berbeda. Di ujung telepon, saya mendengar isak tangisnya yang pilu seraya berkata: “A…a…ku tak sanggup lagi. Ha…tiku tak sanggup menampung penyesalan ini. Pa…dahal, pernikahan itu tinggal selangkah lagi. Tapi ia me..mutuskan komitmen karena hal se..pele…”

    Kala itu, getaran sesak yang merasuki dadanya juga menghujam batin saya. Setiap kata yang meluncur di bibirnya seperti kidung nestapa yang sendu. Selanjutnya, saya menerima pesan-pesan pendek (sms) kekecewaan dan kegelisahan yang belum juga musnah.

    Saya yakin, anda mahfum, kenapa Aziz dan Dinda akhirnya larut dalam kecamuk gelisah itu. Sebab setiap kata, mungkin, pernah mengecapnya di suatu masa. Terlebih bila gelisah itu sudah berkecambah di segala ranah. Ia, diam-diam, merasuki setiap lini kehidupan kita. Semua terasa buram dan muram. Kondisi inilah yang saya khawatirkan juga meruyak di ceruk-ceruk jiwa Aziz dan Dinda dan saudara-saudara seiman lainnya.

    Saya jadi teringat lirik lagu bertajuk Kembali Pada Allah yang didendangkan Opick: Bila hati gelisah / Tak tenang, tak tentram / Bila hatimu goyah / Terluka, merana / Jauhkah hati ini dari Tuhan, dari Allah? / Hilangkah dalam hati zikirku, imanku? / Hanya dengan Allah, hatimu akan menjadi tenang / Dengan mengingat Allah / Hilanglah semua kegelisahan / Cukuplah hanya Allah / Hati bergantung, berserah diri / Hasbulallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wani’ma nashir…

    Hmm. Saya tercekat di lengkingan merdu Opick tatkala ia melafalkan hasbulallah wa ni’mal wakil. Bukankah sebaris kalimat ini pernah dzikir-zikir Nabi Ibrahim ketika maut tengah mengintainya?

    Di negeri Babilonia hidup seorang raja yang sangat zalim. Namrud bin Kan’an bin Kusy, namanya. Seturut catatan sejarah, Namrud dan segenap rakyatnya adalah para penyembah patung. Konon, dalam lingkungan sosial seperti inilah Nabi Ibrahim as lahir dan tumbuh dewasa. Tak aneh bila ayahanda Ibrahim sendiri pun seorang penyembah berhala sejati. Kendati demikian, Ibrahim sendiri bukanlah sosok yang mudah manut dengan keadaan yang menyesatkan. Ia bukanlah tipikal anak yang takluk pada kehendak semena-mena orang tua. Di matanya, kebiasaan ayah dan rakyat Babilonia menjadikan benda mati sebagai Tuhan itu jelas-jelas sebuah kedunguan. Sesuatu yang tidak logis. Irasional, tak masuk akal. Maka ia pun berontak. Ia bertekad menghancurkan patung-patung sesembahan rakyat Babilonia tersebut. Dengan sebilah kapak tajam yang terhunus di tangannya, ia merangsek masuk ke tempat dimana berhala-berhala itu di pancangkan. Sejurus kemudian kapak Ibrahim telah berayun-ayun, melesat-lesat, menghantam patung-patung itu. Semua roboh, hancur berkeping-keping, kecuali satu patung yang paling besar. Di patung besar itulah, Ibrahim mengalungkan kapak sebagai sebuah taktik jitu menguji keyakinan rakyat Babilonia.

    Keesokan harinya ketika rakyat Babilonia hendak beribadah, semua tiba-tiba histeris dan terperanjat bukan kepalang melihat tuhan-tuhan mereka telah roboh dan hancur. Mereka kalap, marah dan langsung menyelidiki siapa gerangan pelakunya. Setelah mengorek informasi ke sana sini, sosok Ibrahim pun terkuak sebagai tersangka. Ia pun disidang di pengadilan babilonia. Kepada para hakim Ibrahim berkilah. Ia tidak mengakui bahwa tindakan anarki itu perbuatannya. Ia berdalih bahwa patung yang paling besar itulah yang berbuat:

    “Bukankah kapak itu tergantung di lehernya? Tanyalah padanya!” mereka tercengang dan meradang atas jawaban Ibrahim.

    “Mana bisa patung itu bicara?” jawab mereka kesal.

    Akhirnya Ibrahim berkata kembali: “Tidak bisa? Lalu kenapa kalian menyembahnya? Setan telah memperdaya kalian. Kembalilah kepada Allah! Dialah Tuhan Yang Maha Esa.”

    Namun orang-orang yang sesat memang tidak mau mengakui kekalahannya. Akhirnya, para hakim tetap memutuskan vonis mati Ibrahim dengan cara membakarnya hidup-hidup. Kita tahu, akhirnya, Ibrahim pun tak bisa melawan. Ia rela raganya dijilati api, tapi ia tidak ridho jiwanya terlalap si jago merah. Maka Ibrahim pun berpasrah diri. Pada detik-detik genting inilah, mulutnya dan hatinya basah oleh lafal ‘hasbunallah wa ni’mal wakil’ (cukup Allah sebagai penolongku, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung). Dan Allah mendengar doa lirih Ibrahim, hingga satu firman pun turun: “Hai api, jadilah dingin! Jadilah keselamatan bagi Ibrahim!” dan api itu akhirnya tak mampu melahap tubuh Ibrahim. Ia selamat. Ia menumpas segala kegundahannya bersama kekuatan Illahi yang bersemayam di qolbunya.

    Ibrahim tak sendiri. Junjungan kita, Rasulullah saw, pun mendedahkan doa senada tatkala sebagian tentaranya bersikap setengah hati menghadapi pasukan musyrik yang senjata dan bekal perangnya lebih bayak. Ternyata kata hasbunallah wa ni’mal wakil yang ditutur Rasul Muhammad saw itu langsung menepis rasa takut pasukannya sehingga mereka mengucap hal yang serupa dan iman mereka pun kian berkembang.

    Begitulah, Ibrahim dan Muhammad akhirnya mampu menggerus kecemasan jiwanya bersama energi Ilahi hasbunallah wa ni’mal wakil. Wajar bila keajaiban sukses pun berpihak di sisi mereka. Padahal kita tahu, rasa gelisah mereka adalah bahaya maha dahsyat bernama maut. Dan kita, umatnya, juga Aziz dan Dinda, kadangkala menggelepar sekarat bila sejumlah harapan duniawi kita punah sebelum waktunya. Kita tiba-tiba menjadi manusia yang paling malang. Sepi, sendiri dan hidup dalam jeri. Tidak hanya itu, kita -acapkali- menggugat Sang Kholiq: ‘Ya Allah, kenapa hal ini terjadi dalam hidupku?’ Pada titik inilah, saya pikir, lirik Opick di atas terasa menggedor-gedor nurani: Bila hati mulai goyah/ terluka, merana/ Jauhkah hati ni dari Tuhan, dari Allah?

    Kegelisahan Negatif atau Kegelisahan Positif

    Heidegger, seorang filsuf Jerman abad 20, suatu kali pernah menta’rifkan kegelisahan atau kecemasan (angst) sebagai berikut: suasana hati dasariah yang menyingkap ketakberumahan dan ketakberkampunghalaman manusia. Bila kondisi ini bermukim di dalam hati kita, maka itu sebuah proses tersingkapnya kesadaran diri kita dari ketakberumahannya kita di dunia ini.

    Oleh karena itu, rasa ini sejatinya semakin meneguhkan ihwal kefanaan manusia, ketidakkekalan dirinya di jagad dunia ini. Tak aneh, bila Allah mencap ciptaan-Nya ini sebagai makhluk yang berselimut keluh kesah dan gelisah. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah…” (QS. Al-Ma’aarij: 19)

    Sayangnya, suasana gelisah ini seringkali menggiring manusia pada keyakinan bahwa rumah dan kampung halaman yang hakiki itu berada di dunia. Hal ini, bisa dilihat dari kenestapaan yang umumnya membuat kita larut dalam kecemasan dan kegelisahan yang parah. Saya menyebut kondisi ini dengan kegelisahan negatif, sejenis kegelisahan yang meringkus harapan dan semangat hidup seseorang untuk berani melangkah lagi. Pada titik ini, lazimnya orang akan cenderung tidak kreatif, mengeluh, marah-marah, dan bertindak impulsif. Jiwanya tidak tenang, dan hatinya rusuh oleh segenap peristiwa pahit yang menimpanya. Ia lupa bahwa kemalangan, kekecewaan dan kegelisahan ini adalah kesementaraan. Karena itulah, saya sepakat ketika filsuf Epictetus mengatakan bahwa manusia tidak diganggu oleh peristiwa-peristiwa, melainkan oleh pandangannya sendiri tentang peristiwa-peristiwa itu. Begitu pula dengan manusia yang mengelola kegelisahannya secara negatif. Ia melihat peristiwa yang tengah menyusahkannya itu semisal kutukan, selayak kelam yang berjelaga.

    Sebaliknya, bila seseorang melihat kejadihan pahit yang melandanya itu sebagai sebuah berkah, seumpama anugerah tersembunyi yang suatu saat akan menyembul tiba-tiba, maka ialah sosok yang saya sebut sebagai manusia yang memiliki kegelisahan positif. Pada titik ini, seseorang berusaha mengoptimalkan energi kreatifnya semaksimal mungkin. Ia berpikir positif, tidak mengeluh, dan tidak larut dalam kecemasan, dalam keterpurukan. Ia, menurut sufi Hazrat Salahedin Ali Nader Angha, adalah karakter yang senantiasa menganggap peristiwa-peristiwa pahit sebagai sesuatu yang tidak “buruk”, melainkan lebih merupakan pengalaman-pengalaman yang darinya kita bisa belajar untuk lebih dewasa.

    Ia percaya bahwa Sang Pemilik Maha, Allah azza wajalla, tengah menyingkap tabir mukjizat-Nya, ia yakin bahwa Allah sedang menyibak sendi-sendi rahasia-Nya hingga ia menemukan sebuah pintu keberkahan yang tidak disangka-sangkanya. Pada momen seperti inilah ia berusaha menjadi manusia yang mengaktualisasikan dirinya sebesar mungkin. Ia menggali potensi, bakat, dan kapasitas kemampuan yang selama ini dimilikinya. Bahkan seorang psikolog bernama Abraham Maslow dalam buku Motivation and Personality-nya menganggap orang-orang seperti inilah yang layak disebut orang-orang sukses.

    Dan saya yakin, kegelisahan positif ini tidak tumbuh menyelubungi jiwa seseorang begitu saja. Ia bukan sesuatu yang taken for granted. Ia hadir ketika keyakinan hati seorang hamba menerbitkan Allah di sisinya. Ia tempatkan sang Rahman sebagai Sahabat dan Penolong sejatinya seraya terus melafal-lafal hasbunallah wa ni’mal wakil di hatinya.

    Barangkali, tak aneh bila Simone Weil, intelektual kiri yang berubah menjadi seorang mistikus abad 20, berkata begini, “Bagi manusia spiritual (beriman), kemalangan menimbulkan perasaan bahwa Tuhan telah meninggalkan anda. Tetapi, jika Anda bisa bangkit dari kegelapan, iman Anda akan jadi lebih dalam dan Anda akan merasakan salah satu misteri besar kehidupan.”

    Semoga saja Aziz, Dinda, dan siapapun yang tengah dilanda gelisah tengah bersiap menyongsong datu misteri besar itu. Amin.

    ***

    Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 4:43 am on 30 August 2013 Permalink | Balas  

    kado6Kado Terindah

    Oleh Lizsa Anggraeny

    Mencari hadiah, ternyata bukan hal yang mudah. Sudah berkali-kali berputar di sepanjang pertokoan, tetap belum menemukan sesuatu yang sreg. Ingin rasanya mendapatkan kado terindah yang dapat membuat hati sang penerima merasa senang. Terutama jika kado tersebut akan diberikan pada seseorang yang teristimewa, sahabat dekat.

    Menyebut nama sahabat tersebut, rasanya begitu banyak kebaikan yang telah saya terima. Tak terhitung pula, barang pemberian darinya. Tanpa diminta, sepertinya ia selalu tahu apa yang sedang saya perlukan. Ketika saya belum memiliki overcoat untuk penahan di musim dingin, dengan baik hati, ia ‘melungsurkan’ satu overcoatnya untuk saya. Begitu juga ketika pindahan rumah, dengan baik hatinya ia ‘mewariskan’ beberapa peralatan rumah tangga. Pun ketika pulang dari berwisata, saya selalu kebagian oleh-oleh. Tak hanya barang, sahabat inipun akan memberikan bantuan berupa kata-kata penyemangat serta doa jika saya ‘curhat’. Dengan alasan itulah, saya ingin mencari kado untuknya. Sebagai balas budi dan untuk lebih mengakrabkan tali ukhuwah.

    Kembali ke pencarian kado, ketika sedang serius memilih barang, tiba-tiba dari arah belakang, kaki terasa ada yang menubruk. Reflek badan membalik ke belakang. Dan nampaklah, satu orang wanita muda Jepang dengan kursi rodanya. Dilihat dari penampilan, tubuhnya cacat tak bisa digerakkan. Hanya tangannya saja yang masih berfungsi untuk menggerakkan kursi roda otomatisnya. “Sumimasen… (Maaf…), ” berat terdengar suaranya disertai mimik bersalah ketika saya membalikan badan. Wajahnya tampak mulai tersenyum ketika saya katakan, “tidak apa-apa. “

    Saya perhatikan, kursi rodanya nampak berjalan ke arah etalase lain. Dan mulai memperhatikan barang di sana. Tak tega membiarkanya sendiri, saya berlari kecil ke arahnya dan berkata, “Jika ada yang perlu diambilkan, saya akan bantu, ” Sesaat matanya memandang ke arah saya. Kemudian wajahnya tampak sumringah, terlihat hendak menganggukkan kepalanya yang sulit digerakan, sebagai tanda terima kasih.

    Entah kenapa, hari itu jadilah saya dan wanita Jepang berkursi roda tersebut melakukan windowshopping bersama. Dari ceritanya, ia telah mengalami cacat sejak kecil. Beberapa syarafnya tidak berkembang normal. Namun, ia tak pernah menyesal keadaan. Ia bersyukur masih diberi kesempatan hidup dengan ketidakberdayaannya. “Hidup harus disyukuri, ” begitu ucapnya. Cerita terputus ketika, seorang berseragam putih mendatangi. Perawat dari panti rehabilitasi-tempat tinggalnya sudah menjemput. Kami berpisah, tanpa sempat saling menanyakan tempat tinggal.

    Saya terduduk di bangku istirahat. Mulai mengamati diri. Mata dapat melihat, telinga mendengar, kaki bergerak bebas, tubuh normal. Tidak hanya itu, saya diberi kebebasan 24 jam menghirup udara gratis, diberi rizki, diberi kesehatan…. Subhanallah, begitu besar pemberian yang telah Allah berikan. Pemberian yang tak mungkin dapat dihitung. Tidak hanya jumlah, Allah swt pun telah memberikan sesuatu yang sangat berharga pada saya, yaitu memiliki iman Islam. Sebuah pemberian yang tak dapat diwariskan dari siapapun kecuali dari hidayah Allah.

    Untuk balas budi atas pemberian-Nya, apa yang telah saya berikan? Sudahkan saya memberikan kado istimewa yang indah, bagus yang dapat diterima oleh-Nya? Yang dapat mendekatkan diri saya pada-Nya? Bersyukur dan berterima kasih pada-Nya dengan hati yang ikhlas?

    Saya mulai mengingat-ngingat, terkadang shalat saya masih tidak tepat waktu. Sedekah hanya dilakukan ala kadarnya, puasa kadang hanya sebatas memenuhi yang wajib, dalam amalan pun mungkin terselip ria tanpa keikhlasan. Betapa saya belum bisa memberikan kado terindah atas semua pemberian dari-Nya. Ibadah, rasa syukur saya masih belum sebanding. Padahal dengan rasa cinta-Nya, Dia selalu memberi… Memberi dan Maha Pemberi.

    Saya kembali teringat wanita Jepang dengan kursi rodanya. Yang tetap bersyukur dengan semua keberadaannya. Teringat pula sahabat karib yang selalu selalu memberi. Betapa bahagianya saya bisa mengenal kedua orang tersebut. Yang secara tidak langsung mengingatkan diri, betapa banyak hal yang harus saya syukuri.

    Seolah tersadar, saya melirik jam tangan. Waktu ashar telah tiba. Bergegas saya meninggalkan bangku istirahat pertokoan tersebut. Mencari tempat yang kira-kira aman untuk shalat. Tak ingin rasanya waktu berharga ini dilewatkan. Karena saat inilah kesempatan saya untuk menumpahkan rasa syukur. Berterima kasih atas semua yang telah diberikan-Nya selama ini. Mudah-mudahan ini dapat menjadi amalan ‘kado’ terindah, yang dapat menunjukan bukti kecintaan saya pada Allah, Sang Maha Pemberi.

    ***

    “Adalah Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam shalat hingga kedua telapak kaki dan betisnya bengkak. Aisyah ra berkata kepada beliau, “Mengapa Anda mengerjakan yang demikian? Bukankah dosa Anda yang telah lalu maupun yang akan datang telah diampuni?” Beliau Rasulullah saw menjawab, “Apakah tidak sepantasnya jika aku menjadi seorang hamba yang selalu bersyukur?”(HR bukhari dan Muslim)

    Tokyo, aishliz et FLP-Jepang

    eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 4:32 am on 19 August 2013 Permalink | Balas  

    mati-suri-dalam-buzzleAkhir yang Berbeda

    Dari Seorang Sahabat

    Semoga kita termasuk dalam orang2 yang khusnul khotimah….amien….

    Tatkala masih dibangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

    Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri : “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan! ” Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk munajat kepada Allah.

    Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.

    Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan,tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.

    Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian … banyak waktu luang … pengetahuanku terbatas. Aku mulai jenuh … tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain.

    Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan. Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas disebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol … tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh tragis.

    Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah … Laailaaha Illallaah ..” perintah temanku. Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding. Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat … Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi … keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.

    Tak ada gunanya … Suara lagunya terdengar semakin melemah … lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak … keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun. Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening… Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk).

    Ia berkata “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia. “Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaiman seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin. Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu’ sekali.

    Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali pada kebiasaanku semula … Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan!.

    Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu …. sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika. Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan.Dia masih sangat muda, wajahnya begitu bersih.Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.

    Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an … dengan suara amat lemah. “Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur’an seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian “Aku akan menuntunya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu … apalagi aku sudah punya pengalaman.” aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang.

    Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meningal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras mengalir.Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan..Sampai di rumah sakit …..Kepada orang-orang di sana, kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan.

    Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan di shalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah. Semua ingin ikut menyolatinya. Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin.

    Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawa permen untuk dibagikan kepada anak-anak kecil.

    Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa. hanya ada satu harap, semoga kita menjadi penghuni surga. Biarlah dunia jadi kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan pertaubatan. Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, dengan amal-amal yang nyata : “memperbaiki diri dan mengajak orang lain ” Allah Swt berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Al-Imran :185)

    Rasulullah Saw telah mengingatkan dalam sabadanya, “Barangsiapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.”

    Saudaraku Siapa yang tau kapan, dimana, bagaimana, sedang apa, kita menemuai tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap Allah SWT, Orang yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian dalam waktu waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan untuk menghadapinya.

    **

    Note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat.

    Begitulah hendaknya engkau nasehati dirimu setiap hari karena engkau tidak menyangka mati itu dekat kepadamu bahkan engkau mengira engkau mungkin hidup lima puluh tahun lagi, Kemudian engkau menyuruh dirimu berbuat taat, sudah pasti dirimu tidak akan patuh kepadamu dan pasti ia akan menolak dan merasa berat untuk mengerjakan ketaatan.

    Nasehat ini terutama untuk diri saya sendiri, dan saudara-saudaraku seiman pada umumnya.

    Jazakumullah khairan katsiran

    Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

     
  • erva kurniawan 4:28 am on 18 August 2013 Permalink | Balas  

    cinta di hari tuaMemikat Cinta

    Oleh Indah Prihanande

    “Aku nyari – nyari koki yang cocok buat lidahmu, ternyata ada di dalam diriku! He… He, masakan spesial untukmu malam ini”

    SMS dari suami saya yang terlalu Pede ini datang begitu melambungkan rasa bahagia. Kejutan yang bagi saya tidaklah kecil nilainya. Amat berharga dan bernilai emosi tinggi.

    Saya hafal dengan kebiasaannya. Ketika dia mengirimkan pesannya tersebut, hampir bisa dipastikan dia tengah berkutat didapur. Meramu masakan yang entah apa namanya. Biasanya semua bumbu instant dicampur ke dalam masakan: kecap asin, minyak wijen, garam, bawang goreng siap pakai, dan lain-lainnya. Hanya dia saja yang tahu persis rumus masakannya. “Rahasia” katanya setiap kali saya iseng menanyakan kunci keberhasilannya.

    Padahal saya tidak serius untuk sungguh-sungguh ingin mengetahui racikannya tersebut. Saya tahu pasti, bumbu racikannya adalah campuran dari semua bumbu instant yang ada didapur kami.

    Tapi saya tak perduli, itu tak teramat penting. Yang terpenting adalah nilai-nilai kejutan yang selalu disodorkannya selama ini membuat hidup saya terasa lebih hidup dan penuh warna.

    Suami saya mempunyai cara sederhana dan memikat untuk menunjukan perhatiannya. Selama ini, saya terhipnotis dengan kejutan-kejutan yang disampaikannya dengan gaya yang segar dan menyenangkan itu.

    Kali ini saya tengah sibuk dikejar dengan tugas di kantor. Dan dari pagi saya belum sempat memberi kabar apapun untuknya. Tanpa diminta dengan sukarela dia mengirimkan setangkai bunga mawar yang indah lengkap dengan sebaris kalimat yang tertulis:

    “Hai, terima aja apa adanya ya. Tq”

    Ada tawa yang nyaris meledak! Saya tergelitik dengan usaha dan kerja kerasnya untuk menjadi sedikit romantis. Apa yang dikirimnya itu seketika menyegarkan fikiran dan perasaan. Walau hanya melalui SMS, mawar itu telah saya terima dengan rasa syukur tak terhingga.

    ***

    Ya, begitulah. Dia telah banyak mengajarkan tentang sebuah perhatian kecil di tengah keterbatasan waktu dan materi yang kami miliki.

    Ketika kita tidak bisa memberikan hal-hal besar menyenangkan yang membutuhkan ketersediaan materi untuk pasangan kita, kita harus bisa mencari, menemukan, untuk kemudian mengaplikasikan perhatian kecil tersebut dalam keseharian kita. Tak perduli betapa padatnya kesibukan yang kita miliki, seharusnya hal tersebut menjadi perhatian khusus yang tidak terganggu oleh alasan apapun.

    Bukankah di tengah perjalanan kita bisa berkirim SMS dengan kata-kata menyenangkan dan kalimat motivasi yang membuatnya bersemangat? Bukankah kita bisa memberikan kejutan dengan mengirimkan surat pujian kita untuknya yang dikirim lewat pos ke alamat kantornya? Atau jika ada sedikit uang, pergi saja ketoko buku, belikan buku yang terkait dengan hobi dan minatnya. Tidak sulit bukan?

    Kita bisa melakukannya dengan cara dan gaya dan menurut kemampuan masing-masing. Yang dibutuhkan hanyalah mau atau tidak untuk melakukannya.

    Yuk, kita buat proyek ini berjalan ditahun ini. Kita beri judul: Proyek Sederhana, Memikat dan Penuh Cinta!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 11 July 2013 Permalink | Balas  

    Puasaku Tahun-Tahun Lalu

    Sore itu, bulan Ramadhan tahun lalu adalah hari pertama puasa. Meskipun aku biasa berpuasa Senin dan Kamis, tetapi puasa Ramadhan selalu membawa kegembiraan dan suasana yang berbeda. Apalagi anak kami yang bungsu hari itu mulai belajar berpuasa. Aku menjanjikannya jika puasanya penuh akan kuberikan hadiah, seperti juga aku menghadiahi abangnya ketika mula pertama dia bisa berpuasa.

    Aku bergegas menepikan motorku ketika kurasakan getar ponsel disaku jaketku. Rupanya dari isteriku. “Jangan lupa ayah beli blewah atau timun suri 2 kemudian beli kelapa muda 4, minta pada penjualnya untuk dituang ke plastik jadi tidak sulit bawanya, saya sedang di toko dekat rumah beli sirup, beli kue-kue basah”

    ” Pasti”, jawabku, “Jangan lupa beli juga kue lapis beras dan lupis, kelapanya yang banyak. “

    Sesampai di rumah; meja makan telah sarat dipenuhi berbagai penganan, lauk, nasi, minuman. Begitulah hampir selama sebulan, kami makan berlebihan; sehingga mudah mengantuk. Isteriku setiap sore hari rajin ke rumah makan membeli makanan jadi yang kemudian selalu bersisa. Pagi hari ketika sahur kami sibuk makan dan menonton acara hiburan di TV yang penuh candaria. Akibatnya ketika dikantor, aku merasakan produktivitas kerjaku menurun.

    Padahal kantorku telah memberikan kelonggaran selama bulan puasa kantor dimulai setengah jam lebih lambat, pulang juga demikian setengah jam lebih awal. Aku lebih banyak duduk-duduk saja atau melama-lamakan diri berada di masjid lingkungan perkantoran. Bukan untuk berzikir, mengingat DIA atau membaca-baca buku agama tetapi membiarkan tubuhku berbaring di lantai masjid yang sejuk itu. Meskipun telah ada peringatan dilarang tiduran di masjid, tetapi selama puasa larangan itu seolah tidak ada artinya.

    Beberapa hari kemudian aku dan isteriku menghadiri undangan berbuka bersama yang diselenggarakan oleh teman sekolahku yang mempunyai rizki berlebih sekaligus ia mempromosikan biro perjalanan hajinya. Acara ini diadakan di sebuah hotel berbintang. Hidangan beraneka ragam dan sangat berlimpah ruah. Sebelum bedug berbunyi kami dan semua tamu sudah berdatangan dan segera sibuk mengambil berbagai macam tajil yang tersedia.

    Kami seperti layaknya orang-orang yang sangat kelaparan. Menyendok kolak ke mangkuk, mengambil piring yang berisi kue-kue, puding dan kurma; mengambil cangkir, gelas-gelas minuman hangat dan dingin.

    Ketika tanda berbuka terdengar serentak kami menyesap minuman dengan tergesa kemudian bergegas sholat. Sholatpun kurang khusyu, memikirkan makanan yang sangat menggoda selera. Saat mengambil makanan, kami memenuhi piring lebar itu dengan nasi dan lauk yang menggunung. Mengisi penuh mangkuk-mangkuk dengan beraneka supjagung, sotomadura, tekwan…. Kami makan dengan ribut, mulut berkecipak, ditingkahi bunyi sendok dan piring yang beradu, gelak tawa, obrolan-obrolan, lalu lalang ke meja hidangan untuk mencicipi semua makanan yang tersedia.

    Namun demikian kapasitas perut ada batasnya; makanan itu tersisa berserakan di piring dan mangkuk. Ketika kami pulang kami melihat betapa banyak makanan yang berlebih yang tidak bisa dimakan lagi akibat penyakit ‘lapar mata’ yang parah dari hampir semua undangan. Jika dikumpulkan mungkin bisa untuk memberi makan kaum yang jarang makan lebih banyak lagi.

    Begitulah dahulu; selalu setiap puasa ramadhan berlangsung kami hanya sekedar menunda makan dan minum. Kami belum bisa menahan hawa nafsu yang berhubungan dengan urusan perut.

    Kami tidak bisa merasakan penderitaan orang yang kekurangan. Setiap berbuka puasa kami selalu merasa tidak cukup hanya berbuka dengan minum segelas teh manis hangat saja. Puasa sekarang; aku, isteri dan anak-anakku akan berusaha menjalaninya seperti semangat puasa sebenarnya. Berpuasa yang penuh kebaikan, mendapat ridha dan maghfirahNya, insya Allah.

    Latihan berempati merasakan penderitaan orang yang kekurangan, orang-orang yang berpuasa di daerah bencana. Lebih giat mengumpulkan uang bujet pembeli segala makanan yang berlebihan untuk disedekahkan. Tidak melihat acara hiburan TV; waktu-waktu itu bisa aku pergunakan untuk mengkaji ilmu agama, mengaji, bersama anak-anak.

    Bukankah jika puasa Senin atau Kamis aku juga tidak melihat TV di pagi hari buta. Makan minum di hari puasa Senin dan Kamis itu aku juga tidak menuntut yang istimewa. Isteriku juga akan berusaha lebih cerdas membelanjakan uang dapur untuk urusan makan dan minum. Karena setiap puasa justru timbangan badannya menjadi mekar karena ia merasa sayang melihat makanan yang berlebihan, mau di sedekahkan tidak layak, sehingga ia makan sendiri, begitu alasannya :-)

    Bulan puasa seharusnya pengeluaran belanja makan dan minum tidak bertambah bahkan sebaiknya ada kelebihan. Bukankah kita makan hanya 2 kali. Tapi mengapa justru selama puasa pengeluaran untuk belanja dapur selalu membengkak sampai dua kali lipat bahkan lebih?

    Teman sekantorku justru ada yang berhutang setiap bulan puasa hanya untuk keperluan makan dan minum. Sehingga dimanakah nilai puasa yang sebenarnya? Jika puasa hanya sekedar menunda makan dan minum; tapi ketika ada kesempatan untuk bersantap, kita seolah ‘membalasdendam’ – dan terlalu berlebihan?

    ***

    [Sebagian besar kisah nyata ini berdasarkan penuturan seorang teman]

    “………Makan dan minumlah, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” [Al 'Araaf;7:31]

     
  • erva kurniawan 4:17 am on 24 June 2013 Permalink | Balas  

    alquranKisah Nyata Keajaiban 6 Amalan: Hutang Lunas, Istri Kembali

    “Lik, kalau besuk kamu nggak bisa melunasi utangmu, lebih baik kamu mengosongi rumah ini. Atau, aku yang akan mengosongi rumahmu ini” ancam rentenir, Ahad pagi itu. Dunia makin terasa sempit bagi Malik. Sudah tiga tahun ini ia bergelut dengan masalahnya, namun tak juga ia sanggup mengatasi masalah-masalah yang membelitnya, termasuk hutang tersebut. Malik sudah berusaha mencari pinjaman, tapi hasilnya nihil. Kurang dari 24 jam lagi rumah satu-satunya itu akan disita.

    Setelah si rentenir pergi, datanglah tamu kedua yang tidak lain adalah istrinya sendiri. Sudah 2 tahun suami istri itu pisah ranjang.

    “Kalau Abang belum juga menandatangani surat cerai saya, insya Allah besuk siang ada yang akan datang menjemput paksa Abang. Jadi besuk pukul 12 siang, saya tunggu di Pengadilan Agama untuk tanda tangan surat cerai!” Malik makin bongkok mendengar tuntutan istrinya itu. Ah… kalau saja si Malik tidak selingkuh. Ia masih ingat masa itu, ketika masih jaya-jayanya, Malik punya hobi main judi dan minum. Ketika usahanya bangkrut, hobi itu menjadi pelarian. Di tahun kedua ia main judi dan mabuk, terjadilah ‘perselingkuhan’ itu. Malik sudah menjelaskan bahwa ia selingkuh tidak sengaja, tetapi istrinya tidak terima. Pulang ke rumah orangtuanya dan meminta cerai.

    Setelah Asar, anak pertama datang ke rumah. “Pak, besuk aku sudah nggak bisa sekolah lagi!”

    “Kenapa?” tanya Malik

    “Habis Bapak tidak membayarkan uang sekolah. Sudah tujuh bulan nunggak.”

    Malik semakin bingung. Tiga masalah menumpuk dan memuncak di hari itu. Pikiran Malik semakin gelap seiring hari yang juga mulai gelap. Akhirnya malam itu, Malik memutuskan untuk bunuh diri.

    Untunglah Malik masih punya sedikit iman. Sebelum bunuh diri, ia ingat belum Shalat Isya’. Sudah lama sebenarnya Malik tidak shalat, dan ia ingin shalat untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggal. Keinginan untuk shalat ini rupanya adalah taufik dari Allah yang membuat Malik secara tak sengaja mengamalkan 6 amalan yang diwasiatkan Rasulullah kepada umatnya jika sedang dilanda gelisah. Fal yatawadh-dha’, langkah pertama adalah berwudhu.

    Setelah berwudhu, tiba-tiba hati Malik mulai tenang. “Ya Allah… saya belum pernah dapat ketenangan seperti ini!”

    Malik kemudian menunaikan shalat Isya’. Langkah kedua dalam wasiat Rasulullah: wal yushalli rak’atain dikerjakan oleh Malik. Meskipun yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Shalat Hajat, namun esensinya sama dengan Shalat Isya’ yang dilakukan Malik.

    Setelah shalat, Malik melihat Al Qur’an di atas rak bukunya. “Mengaji dulu ah, untuk terakhir kali,” kata Malik yang kemudian secara tak sengaja membuka Surat Ali Imran ayat 26.

    ”Katakanlah, ‘Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Seakan-akan Allah mengatakan kepada Malik: “Lik, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kata siapa rumahmu akan disita jika Allah mengamankannya? Kata siapa kau aka bercerai jika Allah menyatukan kalian? Kata siapa anakmu akan putus sekolah jika Allah memberi rezeki? Semua keputusan ada di tangan-Ku”

    Namun Malik tetap belum percaya. Bagaimana mungkin uang 15 juta bisa ia dapatkan dalam hitungan jam. Bagaimana mungkin ia bisa kembali harmonis dengan istrinya jika jam 12 besuk ia harus bercerai di pengadilan.

    Kemudian Malik meneruskan bacaannya. Ternyata artinya: ”Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki, tanpa batas.” (QS. Ali Imran : 27)

    Malik masih ragu. Ia pun membuka lembaran mushaf yang lain dan membaca Surat Faathir ayat 2-3.

    ”Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yan dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling?”

    Setelah membaca ayat ini, Malik pun sadar. Ia memohon ampun kepada Allah karena telah berniat bunuh diri yang dosanya sangat besar. “Kalau semua urusan adalah kehendak Allah, saya tidak jadi bunuh diri deh,” kata Malik sambil menutup mushafnya.

    Malik kemudian mematikan seluruh lampu rumahnya, kecuali kamarnya dan kamar anaknya. Ia ingin bermunajat kepada Allah. Yang ternyata, itu amal keempat dalam wasiat Nabi setelah berwudhu, shalat dan membaca Qur’an.

    Malik berdoa dengan khusyu’ memohon kepada Allah agar rumahnya tidak jadi disita, tidak jadi cerai dengan istrinya dan anaknya bisa tetap sekolah. Malik mengiringi doanya dengan membaca asmaul husna yang dihafalnya: Ya Aziizu ya Hakiim, ya Ghafuru ya Rahiim.

    Malik terus berdoa dan membaca asmaul husna hingga jam 1. Mata terasa ngantuk, tetapi Malik tidak menyerah. Ia pun berwudhu dan membaca Qur’an lagi. Kali ini ayat yang dibuka tepat tentang keutamaan taqwa dan tawakkal. Surat Ath Thalaq ayat 2-3.

    ”Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”

    Selesai membaca ayat ini, Malik kembali berdoa. Namun, kali ini doanya berbeda dari doa sebelumnya. Ia benar-benar bertawakkal dalam doanya. “Ya Allah… ampunilah dosaku. Jika besuk para rentenir itu datang, aku memasrahkan rumah ini. Aku telah menyerahkan semuanya kepadaMu…”

    Setelah bertawakkal, kini Malik mendapatkan petunjuk untuk melakukan amalan keenam yang diwasiatkan Nabi, yaitu wal yatashaddaq, bersedekahlah. Malik ingat bahwa yang akan disita dalah rumahnya saja, sedangkan isinya tidak. Maka ia pun berencana menyedekahkan isi rumah itu. Ia akan keluar dari rumah itu hanya membawa pakaian saja.

    Adzan Subuh terdengar. Malik yang sebelumnya lama tidak ke masjid, kini pergi ke rumah Allah itu untuk shalat berjamaah. Selesai shalat, dzikir dan doa, Malik tidak langsung pulang. Ia ingin terus menenangkan hatinya di masjid. Ia pun membaca surat Al Waqi’ah. Ia pernah mendengar, siapa yang membaca surat Al Waqi’ah akan dijauhkan dari kefakiran.

    Tepat pukul 6 pagi, Malik keluar dari masjid. Begitu nyampai rumah, ia melihat sudah ada orang yang menunggunya. “keterlaluan si rentenir, janji datang jam 10, jam 6 sudah di sini,” kata Malik. Namun, ia tetap merasa tenang. Tak lupa ia membaca basmalah.

    Ternyata tamu pagi-pagi ini bukan rentenir, melainkan teman lamanya. Singkat cerita, setelah saling sapa dan dibuatkan minum, sang teman menyampaikan maksud kedatangannya.

    “Sebenarnya gue ada order Lik. Elu kan jago naksir alat-alat berat, bantu gue ya,” kata sang teman. Malik yang memang jago menaksir harga dimintanya untuk menemani ke luar kota yang mau mengadakan lelang alat berat.

    “Maaf, nggak bisa. Gue lagi males,” jawab Malik.

    “Aduh Lik, tolong dong… bisa rugi gue kalau elu nggak ikut”

    Karena Malik tidak mau ikut temannya, ia pun iseng mengatakan, “Begini, deh. Kalau memang elu mau tetap ngajakgue juga, siapkan duit 50 juta cash di meja gue”

    Perkiraan Malik, tidak mungkin temannya menyanggupi hal itu. Namun bagi Allah, semuanya bisa terjadi atas kehendakNya. Kun fayakun.

    “Lik, kalau 50 juta mah nggak ada. Tapi kalau 25 juta ada, pagi ini cash pun gue siapin”

    “Tolong diulang yang tadi,” kata Si Malik yang tersedak mendengar kesanggupan sang teman.

    “Kalau 25 juta, bisa langsung gue siapin. Cash”

    Alhamdulillah… selesailah masalah pertama. Masalah utang 15 juta itu beres, bahkan ada sisa 10 juta. Tinggal dua masalah lagi. Istri dan anak.

    Rupanya, ketika Malik berdoa di malam hari, anaknya yang bungsu tak bisa tidur, ia nangis terus. Orang tua dari istri Malik menyarankan agar si anak dipertemukan dengan Malik pagi-pagi. “Barangkali anakmu kangen bapaknya, ajaklah bertemu besuk pagi sebelum kalian bercerai.”

    Setelah mendapatkan uang 25 juta tersebut, datanglah si istri ke rumah Malik sesuai saran orangtuanya. Malik tersenyum lebar menyambutnya. Si istri pun terheran-heran. Namun belum lagi hilang penasarannya, Malik segera memeluknya dan berkata: “Alhamdulillah, Mah, kita selamat!”

    “Selamat apa Bang?”

    “Abang dapat duit, nih 25 juta. Mamah tahu kan rumah kita diincar rentenir gara-gara utang Abang 15 juta. Ini uang 15 juta nanti Mamah pegang, bayarkan ke rentenir biar nggak datang lagi selamanya. Katanya mau datang jam 10. Sisanya kita bagi dua. 5 juta buat ongkos Abang ke Riau, yang 5 juta Mamah pegang buat urusan anak-anak. Selama Abang di Riau, tolong jaga anak-anak ya”

    “Iya Bang” entah mengapa tiba-tiba kata-kata itu yang keluar dari bibir istrinya. Istri yang tadinya bersikeras meminta cerai tiba-tiba lulu hatinya.

    Permasalahan kedua pun selesai. Tinggal permasalahan ketiga, yaitu masalah SPP anak. Masalah ini justru yang paling ringan karena tunggakan SPP hanya 7 bulan, sebulannya Rp 50 ribu. Jadi totalnya hanya Rp 350 ribu.

    ***

    [Disarikan dari Buku Kun Fayakun 2 karya Ustadz Yusuf Mansur]

     
  • erva kurniawan 3:34 am on 20 June 2013 Permalink | Balas  

    hidayah-allahKisah nyata Sarimin & Hendri, Bagaimana kelembutan akhlak menjadikan jalan hidayah

    Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu, Allah yang maha memberikan jalan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

    Alkisah di kota Cilacap, ada seorang anak SMP yang bernama Sarimin. Kemudian di sekolah itu ada seorang anak murid yang bernama Hendri. Dia beragama Katolik. Hendri minder karena dia merasakan anak-anak islam yang lainnya galak. Sering memusuhinya, sering menakali dan disisihkan dari pergaulan. Satu-satunya anak yang mau berteman dengan Hendri adalah Sarimin yang anak miskin dan sederhana. Namun sikap Sarimin sangat baik sekali kepada Hendri. Kalau ada yang mengganggu Hendri, Sarimin yang melindungi seraya berkata, “Hayo jangan gitu dong, kita ini kan sama-sama sedang belajar disini”.

    Sampai merekapun menjadi dua orang sahabat karib. Dimana ada Hendri, disitu ada Sarimin. Dimana ada Sarimin, disitu ada Hendri. Sampailah persahabatan mereka berlanjut ketika SMA. Di SMA, Hendri juga bernasib sama ketika dia di SMP. Hendri adalah seorang minoritas diantara banyak teman-temannya yang muslim. Kalau Hendri sakit, hanya Sariminlah yang menjenguk dan memijat kakinya.

    Sampai suatu saat, Sarimin bermaksud ingin mengajak Hendri untuk main ke rumahnya. Hendri pun panik seraya berkata dalam hati, “Wah jangan-jangan yang baik hanya Sarimin saja nih. kakaknya, bapaknya serta anggota keluarga Sarimin yang lain jangan-jangan galak. Kan orang Islam”. Tapi karena undangan dari seorang sahabat Hendri mau datang. Alangkah terkejutnya Hendri karena begitu datang, bapaknya menyambut dengan sangat baik kepada Hendri. Kakak Sarimin juga berlaku lembut kepada Hendri. Sampai ketika akan makan bersama di depan meja makan, bapak Sarimin berkata, “Nak Hendri, kami mau berdoa menurut agama Islam. Kalau nak Hendri mau berdoa sesuai agama Katolik, silahkan sebelum kita makan”. Begitu mau pulang kakak Sarimin berkata, “Hendri, jangan sungkan-sungkan ya, kapan-kapan mampirlah ke gubuk kami lagi”. Persahabatan mereka berdua berlangsung sampai kelas tiga SMA.

    Yang memisahkan mereka berdua adalah sarimin kuliah di Univ. Syarif Hidayatullah Jakarta dan Hendri kuliah di Theologi Yogyakarta. Pada jaman itu belum ada handphone seperti sekarang ini. Sampai akhirnya pada semester 6, benar-benar di kampus Theologi itu orang-orang terbeli dengan akhlak Hendri. Begitu lembut, begitu baik, begitu mau menghormati orang lain.

    Sampai suatu ketika pasturnya bertanya, “Hendri, kamu kok baik banget. Saya ingin bertanya, siapa pastur kamu dulu ketika di SMA?”.

    Lalu Hendri menjawab, “Maaf pastur, guru saya adalah Sarimin”.

    “Siapa Sarimin? Masa ada pastur namanya Sarimin?”.

    “Memang Sarimin bukan seorang pastur. Tapi Sarimin adalah sahabat saya. Dia seorang Islam”.

    Sampailah semester 8, Hendri belajar tentang perbandingan agama. Dan dia belajar tentang biografi Nabi Muhammad SAW. Begitu lembar demi lembar dia baca tiap malam, tak terasa air matanya bercucur deras, berlinang membasahi buku itu. Dan sampai mulutnya bergetar seraya berkata, “Ya Tuhan, pantas begitu mulianya akhlak Sarimin. Ini nabinya luar biasa, belum pernah saya temukan tokoh semulia akhlak Muhammad SAW. Luar biasa, pantas akhlak Sarimin begitu bagus”.

    Saudaraku, sampailah saat Hendri diwisuda. Dan ketika selesai diwisuda, dia letakkan toga wisudanya dan bergegas menuju ke suatu masjid. Apa yang dilakukan Hendri? Hendri langsung mengucapkan dua kalimah syahadat. Asyhaduallaaa Ilaa Ha Illallaah… wa Asyhaduallaaa Muhammadarrasuulllah…

    Setelah itu, Hendri langsung pulang ke Cilacap. Dan sebelum Hendri sampai ke rumahnya, dia sempatkan untuk mampir terlebih dahulu ke rumah Sarimin. ”Assalamualaikum… assalamualaikum…”.

    Lalu bapak Sariminlah yang keluar. “Waalaikumsalam…. Oh, nak Hendri …”.

    ”Tapi kok nak Hendri Assalamualaikum??”, tanya bapak Sarimin kepada Hendri.

    “Iya pak, saya sekarang sudah menjadi seorang muslim pak”, jawab Hendri.

    “Alhamdulillah… bapak senang nak..” ujar bapak Sarimin senang mendengar jawaban dari Hendri.

    Hendri lalu menanyakan Sarimin, “Pak, mana Sarimin? Sudah selesai belum kuliahnya pak? Saya kangen sekali dengan dia pak, saya ingin ketemu pak, dimana alamatnya pak”.

    Bapak Sarimin masih terdiam belum menjawabnya. “Pak, dimana alamatnya pak? nomor teleponnya berapa pak?”.

    Bapak Sarimin juga belum menjawabnya. Sampai akhirnya Hendri berkata, “Pak, kenapa bapak diam saja? Saya bertanya tentang Sarimin Pak?!”.

    Lalu bapak Sarimin baru menjawabnya, “Nak Hendri, mau ketemu Sarimin?”.

    “Betul Pak !” jawab Hendri.

    “Mari nak, kita ke belakang rumah” jawab bapak Sarimin.

    Dan saudaraku, ditunjukkanlah sebuah kubur di belakang rumah itu. Di batu Nisan bertuliskan Sarimin. Hendri langsung tertunduk lemas dan mulai keluarlah air matanya.

    Dia bertanya lagi kepada bapak Sarimin, “Kapan dia meninggal paak..”.

    Lalu Bapak menjawab dengan lirih “Dua tahun yang lalu ketika Sarimin semester 5. Dia terserang penyakit tifus”.

    Hendri langsung duduk bersimpuh. Sambil menangis Hendri berkata, “Yaa… Allah…. perjumpakanlah Sarimin dengan-Mu yaa… Rabb… Perjumpakanlah dia dengan Nabi-Mu, Kekasih-Mu, Rasulullah…, Demi Allah yaa Allah…. Saya Islam, mendapat hidayah karena kemuliaan akhlak Sarimin. Sayalah saksinya yaa… Allah…. bahwa sarimin cinta… cinta…. kepadamu yaa… Allah… yaa… Rasulullah….”.

    Allahu Akbar…

    Sarimin tidak banyak bicara tentang Islam. Tetapi Sarimin sudah menjadi bukti tentang kemuliaan Islam.

    ***

    (Ustadz Komar, Daarut Tauhiid Bandung)

     
    • mizsemberpink 11:15 am on 20 Juni 2013 Permalink

      Ini kisah nyata ya? MasyaAllah Subhanallah…kisah yg menggugah dan mengingatkan bahwa mengaku Islam seyogyanya tercermin dalam akhlak karimah, tingkah laku sehari-hari…mohon ijin co-paste ya :)

    • mizsemberpink 11:18 am on 20 Juni 2013 Permalink

      Reblogged this on Playgroup Surga and commented:
      Tidak banyak bicara tentang Islam. Tetapi Sarimin sudah menjadi bukti tentang kemuliaan Islam. Dengan berakhlak karimah yang tercermin dalam tingkah laku sehari-hari yang mampu menggetarkan hati siapapun…:)

  • erva kurniawan 4:43 am on 11 June 2013 Permalink | Balas  

    siluet masjid 5Bagaimanakah Sebenarnya Pengelolaan Masjid?

    Di suatu sore yang mendung saya ditelepon seorang teman. Setelah ngobrol ini dan itu, ia tiba pada pokok tujuannya menelpon.

    “Mei, bisakah bantu saya; kasih tahu caranya menyusun neraca, laporan laba rugi?”

    Saya sedikit terperangah; apakah teman yang memutuskan menjadi evangelis, [islam: daiyah] mengabdikan hidupnya untuk kegiatan gereja; seperti memberi pencerahan bagi orang-orang yang terpinggirkan; di kolong jembatan, pada mereka yang tinggal di bantaran sungai, di tempat pembuangan sampah; penghiburan bagi yang sakit dirumah, di rumah sakit juga pada mereka yang tertimpa musibah. Menyemangati mereka yg berada di lapas, panti rehabilitasi, di panti jompo dan lainnya yang jauh dari hiruk pikuk pemberitaan dan menjadi tempat curhat bagi mereka yang terlupakan dikehidupan ini. Apakah sekarang ia kembali bekerja ?

    Latar belakang pendidikan teman ini adalah kesekretariatan, PR yang diperolehnya di negeri Paman Sam. Sebelum memutuskan untuk mengabdi, bekerja bagi Tuhan ia pernah menjadi pegawai pada perusahaan asing, perusahaan multi nasional yang memberinya banyak kelimpahan materi. Rupanya teman ini bisa membaca pikiran saya dan iapun mengatakan, bahwa untuk sementara waktu ia mendapat tugas untuk membereskan pembukuan gereja karena yang biasanya bertugas pindah keluar kota.

    Beberapa hari kemudian di sebuah koran besar berskala nasional, saya membaca iklan lowongan pekerjaan yang cukup mencolok. – Di cari seorang sekretaris gereja berpendidikan SI Akuntansi, menguasai MS Word-Excel, bisa berbahasa asing.

    Setelah membaca iklan itu saya tercenung, bertanya-tanya dalam hati. Bagaimanakah dengan masjid? Sebenarnya pengelolaan masjid di masa kini itu seperti apa? Seorang kerabat ada yang menjadi pengurus sebuah masjid di lingkungan kami tinggal mengatakan, bahwa masjid pada umumnya dikelola dengan prinsip manajemen rumah tangga. Pegawai/pengurus/petugas masjid datang dan pergi. Karena biasanya mereka bekerja tidak profesional; hanya jika punya waktu dan belum punya pekerjaan tetap daripada menganggur, mereka bekerja secara sukarela, lillahi ta’ala di masjid-mushala. Bagaimanakah dana sebuah masjid dihimpun untuk membayar biaya operasional rutin seperti listrik, air, kebersihan? Bagaimanakah mempertanggungjawabkan dana yang terhimpun [kencleng masjid] kepada jamaah, hanya setahun sekali sajakah, tiap shalat hari raya?

    Telepon di sore yang mendung memberikan suatu pandangan bagi saya bahwa rumah ibadah -masjid di masa kini idealnya juga bisa melahirkan, membentuk pribadi-pribadi yang siap melakukan pekerjaan/karir ibadah sosial bagi sesamanya yang kurang beruntung. Masjid harus dikelola seperti sebuah ‘badan usaha’, ada pekerja ‘karir’ yang bertugas memakmurkan masjid dan digaji minimal sesuai standar UMR misalnya.

    Masjid juga seharusnya bisa memberi ruang untuk mereka yang terpinggirkan, mereka yang kumuh, yang papa. Ironis, ketika saya melewati sebuah masjid saat shalat Jum’at tiba. Seorang pemulung yang kumal hanya mendengarkan khutbah sambil duduk di bawah pohon yang berada di lingkungan masjid. “Mengapa bapak tidak ikut shalat?” Lelaki itupun menjawab bahwa ia tidak punya pakaian yang layak dan bersih untuk bisa bersama shalat dalam masjid yang megah itu. Bagaimana mungkin sebuah masjid yang besar tidak terpikirkan menyediakan seperangkat pakaian bersih untuk shalat, yang bisa dipinjamkan pada jamaah yang membutuhkan?

    Untuk siapakah masjid itu sebenarnya?

    ***

    Oleh: Meilany

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 27 May 2013 Permalink | Balas  

    sabar (1)Bukan Tamu Undangan

    Si musya menangis,terisak tertunduk ke arah tanah di plataran masjid,seolah olah dia sedang mengadu padanya “aku menyesal,aku telah lalai”..

    “Ada apa denganmu?” Sahut sahabatnya yang mengejar dibelakang,dengan raut wajah yang terlihat cemas dan ingin tahu.

    Musya, “Tidak kah kau dengar seruan adzan sebelum shalat tadi?”

    “Dengar, adakah yang salah?”

    Musya, “Tidak, hanya saja saat itu aku sedang asik dengan kemalasanku,mengulur waktu karena enggan menyambut seruannya”

    “Lalu?”

    Musya, “Ketika aku sampai di masjid dengan terburu-buru, kudapati sisa raka’at menghujung terakhir, sehingga aku mempercepat wudlu dan masuk dalam shaf dengan takbir asal-asalan dan kurang sempurna, oleh karena itulah ALLAH tidak ridho atas kedatanganku. DIA mengusirku dengan mengeluarkan hadats yg tak kuasa ku tahan, astaghfirullah, dan seketika itu aku sadar bahwa aku bukan tamunya maghrib ini. Aku tertolak, aku terbuang, tahu kah kamu rasanya diusir oleh orang yang paling kamu cintai lantaran kesalahanmu sendiri??”

    Sahabatnya hanya diam dengan mencoba merasakan apa yang dirasa si Musya.

    Musya, “Sangat menyedihkan kawan, bahkan saat itu kau sangat membenci dirimu sendiri!”

    ***

    Kumpulan humor “Gus Dur”

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 25 May 2013 Permalink | Balas  

    doaDarah Hitam

    Orang-orang terheran, bahkan menganggapnya gila.

    Bagaimana tidak, tangannya terluka dengan darah yang terus mengalir tapi diwajahnya tak teraut wajah ketakutan sedikitpun, melainkan sebuah senyum sumringah dengan mata yang berkaca-kaca..

    Maka seorang maju selangkah dari kerumunan orang-orang bisu itu, dan sepatah kata pertanyaan diucap dengan penuh penasaran.

    “Hei Hamka,bagaimana kau bisa melakukan itu?”

    Hamka: “Semua orang bisa melakukannya, yaitu ketika seseorang sangat bahagia karena mendapatkan apa yang sangat ia nantikan kedatangannya.”

    “Lalu apa yang kau nantikan sehingga kau tertawa dalam lukamu?”

    Maka Hamka menyodorkan tangannya yang terluka dan berkata “Lihatlah darah merah ini, sesungguhnya ia berwarna hitam yang terwarna dari makanan haram yang tak sengaja kumakan kemarin, maka aku bertaubat dan memohon ampunan kepada ALLAH yang maha bijaksana, sehingga ALLAH menerima taubatku hari ini dan mensucikan aku dengan mengeluarka darah yang tercemar dosa ini”

    “Lalu bagaimana kau tahu luka itu adalah ampunanNya?”

    Hamka: “Bukankah Rasulullah pernah bersabda bahwa ada ampunan disetiap kesakitan?!?!”

    Silahkan fikirkan hikmah kisah diatas sesuai fikiran masing-masing,agar hati terlatih dan peka akan suatu pelajaran.

    ***

    Dari: Kumpulan humor “Gus Dur”

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 22 May 2013 Permalink | Balas  

    hidayah-allahJalan Hidayah Mantan Bromocorah

    Lafadz shalawat terdengar berkumandang dari Mushala At Taubah. Bangunan ini berukuran 8×10 meter persegi terletak di perbatasan daerah Delima dan Teratai Putih, Perumnas Klender, Jaktim. Di sekitar mushala yang bediri di tanah milik Perumnas ini, terdapat rumah-rumah kumuh yang dihuni 20 keluarga.

    Mushala ini tidak pernah sepi dari agenda keagamaan. Sepintas, mushala ini tidak tampak istimewa. Padahal, tempat ibadah ini merupakan pelabuhan hidup bagi para mantan residivis dan mantan preman yang mendapatkan hidayah. Sebagian besar pengurus mushala ini adalah mereka yang dulu dunianya sangat kelam.

    Di mushala ini, mereka senantiasa menegakkan shalat lima waktu secara berjamaah. Mereka juga sering menggelar diskusi keagamaan untuk menyirami batin yang seringkali kering. Di mushala ini pula, para mantan ‘orang jahat’ itu menjalankan pendidikan Alquran untuk anak-anak yang tinggal di daerah kumuh dekat mushala.

    Kamis (5/3), Republika turut serta dalam majlis shalawat yang digelar di mushala itu. Jamaah yang hadir mayoritas pemuda jalanan. Meski begitu, mereka sangat khusyu dalam melafadzkan dan mengikuti bacaan shalawat selama dua jam lebih. Sesekali butiran air mata jatuh ke pipi mereka. Usai shalawat dan pembacaan doa, salah satu di antara mereka mengumpulkan uang dari para jamaah dengan peci yang dikenakannya.

    Menurut salah seorang pengurus mushala, Sukarya, dana yang terkumpul itu sebagian digunakan untuk pembangunan mushala dan sisanya diberikan kepada 135 anak yatim. Sukarya, dulunya sering berurusan dengan aparat kepolisian karena kasus perkelahian dan penodongan.

    ”Tadinya orang nggak percaya sama kami. Tapi, mungkin karena melihat kami sering bikin acara buat anak yatim, ada beberapa donatur dari luar yang menitip infak,” ungkap dia dengan wajah sumringah. Selanjutnya, Sukarya bercerita pengurus Mushala At Taubah ini dulunya adalah pemuda-pemuda yang gemar dengan alkohol dan sering membuat keresahan di masyarakat. Namun, sejak tujuh tahun silam, pemuda-pemuda ini aktif dalam majlis shalawat yang digelar di Masjid Nurul Iman, Teratai Putih, Klender.

    Namun, karena ingin memiliki tempat sendiri untuk berkumpul, para mantan residivis ini berusaha sekuat tenaga membangun mushala. Keinginan itu terwujud pada 2005. Apakah dana pembangunan mushala berasal dari uang haram? Sukarya menampik. Menurut dia, dana pembangunan sekitar Rp 20 juta diperoleh murni dari iuran dan satu orang donatur yang bekerja di Polairud di Surabaya.

    Awal proses pembangunan mushala ini, kata Sukarya, selain terbentur pada pengadaan dana, juga pernah bermasalah dengan Dinas Tata Kota Jaktim terkait penggunaan tanah. Namun, berkat bantuan tokoh masyarakat setempat, akhirnya proses pembangunan berjalan lancar. Untuk bisa iuran, jamaah mushala bekerja serabutan.

    Warga sekitar mushala, Bambang (50 tahun), mengaku sangat senang dengan keberadaan mushala baru di tempatnya. Selain mempermudah jarak untuk shalat jamaah, tempat tersebut juga bermanfaat sebagai tempat mengaji bagi anaknya.

    Firman Hidayat, salah satu pemuda yang aktif di Mushala At Taubah menceritakan, awal hadirnya shalawatan tersebut digagas oleh enam orang, di antaranya KH Ayip Abdul Abaz yang berasal dari Pesantren Buntet, Cirebon. Pada 1990, Kiai Ayip berniat mengadakan shalawat akbar berskala nasional di Masjid Istiqlal, namun kala itu yang hadir hanya enam orang.

    ”Mungkin merasa gak berkembang, Kiai Ayip akhirnya menyebarkan shalawat kepada pemuda-pemuda jalanan, ke terminal-terminal dan pasar-pasar. Akhirnya shalawat akbar tahun 2006 di Masjid Istiqlal dihadiri ribuan orang, dan sekitar 75 persennya mantan peminum dan pemuda jalanan,” kata Pema, sapaan akrab Firman.

    Firman yang kini berusia 34 tahun, semula sering keluar masuk penjara karena tindak kriminal yang dilakukannya. Sedikit pun dia dulu tidak pernah membayangkan mulutnya bakal bisa mengumandangkan ayat-ayat Alquran. Namun, ternyata pintu hidayah terbuka lebar untuknya. Begitu mendengar shalawat dan ayat-ayat yang berkumandang di masjid-masjid, hatinya luluh. Dia kemudian mulai aktif di Mushala At Taubah yang memang tidak jauh dari tempat tinggalnya. ”/Gue/ masih ingat, paling tidak sudah tiga kali keluar masuk LP Cipinang. Paling sering karena kasus pencurian dan kekerasan,” aku Pema.

    Perjalanan hidup yang hampir sama juga dilalui mantan pelaku kriminal asal Sunter, Jakut, Alova (40 tahun), yang ikut hadir dalam acara shalawat di mushala tersebut. Penasaran dengan alunan shalawat yang didengarnya, dia mengunjungi mushala tersebut untuk bergabung. Akhirnya hingga kini dia aktif mengembangkan majelis shalawat dan mengajak rekannya mendekatkan diri pada Allah.

    ”Waktu itu gue nggak tau ada brisik-brisik di mushala, ternyata pada shalawatan. Gue ikut dan hati gue tersentuh, sejak itu nggak mau jahat lagi,” tutur dia.

    Pengakuan serupa dikemukakan Sansan Sanro Roni (43 tahun). Selama bertahun-tahun dia selalu diajak bershalawat oleh adik dan rekannya. Namun, dia menolak dan lebih memilih menggeluti pekerjaannya sebagai pengecer judi togel. Sebelum sang adik mengembuskan napas terakhirnya di pangkuan Sansan pada Ramadhan 1427 H lalu, dia dihadiahi sebuah peci dan diminta untuk mencintai Nabi dengan mengikuti sunahnya. Kenang-kenangan itu ternyata sangat berkesan dan menuntun Sansan membaktikan dirinya pada aktivitas keagamaan.

    ”Sekarang bawaannya jadi /pengen/ memperdalam agama dan jadi benci banget sama minum dan judi,” kata pria asal Duren Sawit, Jaktim, itu.

    (mg01 )

    ***

    sumber : republika.co.id

     
    • wondo 6:49 am on 22 Mei 2013 Permalink

      Bisa kirimkan saya teks sholawatnya?? Trimakasih

  • erva kurniawan 1:34 am on 21 May 2013 Permalink | Balas  

    Taman-bungaKesempurnaan Hidup

    Suatu hari Kahlil Gibran bertanya kepada gurunya.

    “Gibran : Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup…???”

    “Sang Guru : Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali kebelakang…!!!”

    “Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Gibran kembali dengan tangan hampa…”

    “Lalu guru bertanya : Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun…???”

    “Gibran : Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya tapi aku tidak memetiknya karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yg lebih indah, namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali kebelakang lagi…!!!”

    “Sambil tersenyum Sang Guru berkata : Yaa, itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan…!!!”

    Sahabat yang budiman…

    Marilah kita sadari bahwa apa yang kita dapatkan hari ini adalah yang terbaik menurut Tuhan dan jangan pernah ragu, karena kesadaran itu akan menjadikan kita nikmat menjalani hidup ini… Aamiin… (sen)

    ***

    Sumber : Patut Anda Ketahui

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 16 May 2013 Permalink | Balas  

    hayyu qoyuumDua Nama yang Melumpuhkan Perih

    Ya Hayyu…Ya Qayyum…

    (Wahai Sang Maha Hidup Kekal… Wahai Sang Maha yang Senantiasa Mengurus Mahluk-Nya)

    Ia merintih. Ia memendam perih. Sebuah luka hampir saja meringkus jiwanya, melahap mimpi-mimpinya. Seorang laki-laki saleh nyaris luruh di dunia kuldesak (jalan buntu, red), dunia ketika jalan terasa gelap dan buntu. Matanya begitu pedih. Sebuah penyakit -yang entah apa- mengendap di kelopaknya. Tiga bulan sudah penyakit itu bersetia mukim di satu biji matanya.

    Bila rasa sakit itu meradang, ia menjerit-jerit. Serupa jeruk nipis bercampur garam dan cuka masam meresap ke dalam matanya. Ia merintih-rintih seraya melafal-lafal asma Allah, meminta belas kasih-Nya. Sudah sekian dokter ia datangi, telah sekian pula berita nihil didapatnya. Para dokter itu tak mampu mendiagnosa penyakitnya. Ia merasa hidupnya dan mimpinya dan jiwanya, lamat-lamat akan tenggelam di pusara sakit mata. Ia pun akhirnya bisa berdoa dan memunajatkan hati kepadaNya.

    Hingga pada satu momen, ia mulai bangkit kembali. Ia pergi ke sebuah rumah sakit dan didiagnosis oleh seorang asisten dokter bernama dokter Muhriz. Ternyata, jalan menumpas perih yang menjelaga di matanya belum juga berakhir. Seminggu selepas diidentifikasi sang dokter, ia hanya diberi resep guna meringankan rasa sakit yang dideranya. Ia pun terpaksa melewati hari dalam jeri, dalam cemas yang kelam. Kala itu, yang bisa dilakukannya hanya berdoa dan menzikir-zikir nama Allah.

    Dua bulan setelah itu, dokter Thuwaihi, dokter berpangkat profesor di sebuah fakukas kedokteran, bersama segenap mahasiswanya menjumpainya. Ia bermaksud mendeteksi penyakitnya sekaligus mengajarkan kepada mahasiswanya itu ihwal metode penyembuhan penyakit yang sudah lama mengendap di matanya.

    Saat itulah, sang Profesor menuturkan petuah sakti yang memasygulkan batinnya. “Daya lihat mata yang menderita penyakit seperti ini telah hilang secara total. Karena itu, kehadiran kita di sini sekadar membatasi pengaruhnya agar penyakit ini tidak menyebar ke mata yang satunya lagi, mata yang masih bisa melihat…”

    Kesimpulan sang Profesor kepada mahasiswanya itu kontan saja, mengiris-iris kalbu lelaki saleh ini. Ia seperti dilesakkan ke palung bumi yang paling gulita. Ia merasa benar-benar sendiri dan sepi. Air mata berderai-derai di pelupuknya. Betapa tidak! Seorang yang dipikirnya mampu mengusir ‘setan’ di matanya. malah melukai jiwanya. Saat itu, gejolak batinnya tidak lagi berwarna kelabu, tapi hitam pekat dan kelam. Maka Allah-lah menjadi sahabat sejatinya, menjadi tempat dia menumpahkan perih dan pedih.

    Beberapa hari kemudian, si Profesor dan gerombolan mahasiswanya kembali mengunjunginya. Kali ini, Profesor itu meletakkan sebuah mikroskop di atas matanya. Memantau kembali kelopaknya. Dan, tiba-tiba, Profesor itu terperanjat. Ia geleng-geleng kepada. Ia terkagum-kagum. “Demi Allah! Ini adalah mukjizat. Apa yang Anda perbuat hingga hal ini bisa terjadi? Mata Anda yang kemarin rusak, kenapa sekarang bisa pulih?” tanya Profesor penasaran.

    “Saya tidak melakukan apapun. Saya hanya terpengaruh ucapan Anda kemarin, sehingga saya menangis cukup lama. Namun demikian, harapan saya kepada Allah tidak pernah hilang, sebab kesembuhan semata-mata berasal dari-Nya,” jawab lelaki saleh itu penuh harap “Tampaknya, doa tulus Anda telah dikabulkan Allah”, Ujar Profesor penuh decak takjub.

    Begitulah, penuturan lelaki saleh bernama Ibrahim Muhammad Hasan Al-Jamal dalam bukunya yang bertajuk Al-istisyfaa’ bid Du’a (Meraih Kesembuhan dengan Doa -versi terjemahannya). Saya sengaja menuturkan kisahnya lantaran doa yang senantiasa dibacanya bukanlah doa yang panjang dan sulit dikenang-kenang. Doa itu Cuma dua nama Ilahi, Ya Hayyu dan Ya Qoyyum; dua nama yang berfaedah selaik dua “mantra’ ajaib yang dapat melumpuhkan perih dan pedih.

    Dan Ibrahim sendiri, hingga kini, tak menduga bila dua nama yang dianjurkan syekhnya itu bakal sedahsyat melampaui dokter dan profesor hebat yang dilaluinya. Tak aneh, dalam sabda Nabi Muhammad saw, dua nama Ilahi itu dijuluki Ismullah al-A’dzham (Nama Allah yang Paling Agung). Begini bunyinya:

    Rasulullah saw bersabda, ” Ismullah al-A’dzham yang jika digunakan untuk berdoa, maka Allah swt akan mengabulkan doanya, (yakni) yang terdapat dalam tiga surat Al-Qur’an: surat Al-Baqoroh, surat Al-Imron, dan surat Thoha (HR. Ibnu Majah, Hakim dan Thabrani)

    Setelah saya telusuri, tiga surat itu ada dalam ayat: Al-baqoroh ayat 255, Ali Imron ayat 2, dan Thoha ayat 111. khusus untuk ayat 255 surat Al-Baqoroh, dua nama Ilahi yang agung itu melekat dalam rangkaian bernama ayat Kursi, satu ayat yang saya yakin anda begitu fasih telah menghafalnya. Dan kita luput. Padahal bila ayat Kursi itu terasa panjang untuk dzikir-dzikir bibir, kita cukup menyebut-nyebut Ismullah al-A’dzham itu sebagai doa.

    Nah, ketika saya buka Tafsir Misbah, Prof. Dr. M Quraish Shihab seperti meneguhkan energi magis dua nama Allah yang agung itu.

    Bahwa tatkala membaca ayat Kursi, seseorang akan menyerahkan jiwa dan raganya kepada Allah swt. kepadaNya ia akan menghiba-hiba perlindungan. Dan saat itu, bisa jadi bisikan iblis melintas di dalam benaknya dan berkata “Yang dimohonkan pertolongan dan perlindungan itu memang dulu pernah ada, tetapi kini telah mati, Maka, penggalan ayat berikutnyalah yang meyakinkan ihwal kekeliruan bisikan makhluk terkutuk itu, yakni ayat berbunyi Al-Hayyu (yang Maha Hidup dengan kehidupan yang kekal). Namun imbuh Quraish, si iblis belum tentu menyerah begitu saja, ia bisa datang lagi guna menerbitkan waham dan prasangka seraya berkata, “Memang Dia hidup kekal, tetapi Dia pusing dengan urusan manusia, apalagi si pemohon. Pada titik krusial itulah, sepenggal ayat berbunyi “Qayyum’ (Sang Maha yang senantiasa menjaga makhluk-Nya) menampik bisikan dusta iblis itu.

    Dari sini saya mahfum kenapa Rasulullah saw, akhirnya memuji Abu Mundzir. Beliau bertanya, “Hai Abu Mundzir, tahukah kau ayat Al-Qur’an yang menurutmu paling agung?, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu., Rasulullah saw bertanya lagi. “Hai Abu Mundzir, tahukah kamu ayat Al-Qur’an yang menurutmu paling agung?, Abu Mundzir menjawab, “Yaitu ayat,,Dia-lah Allah, Tiada Tuhan selain Dia, Yang Hidup, Yang Berdiri Sendiri (Al-Hayyu, Al-Qayyum), Abu Mundzir kemudian berkata,, Kemudian Rasulullah saw menepuk dada saya seraya berkata, “Demi Allah, sungguh dalam ilmumu, wahai Abu Mundzir!,

    Karena itulah, mencermati dua nama agung tersebut, saya semakin yakin kenapa Ibrahim membacanya. Ia tahu bahwa perih yang mengendap di kelopak matanya bakal meringkus nafasnya. Maka, ia teringat nasehat gurunya untuk membaca Ismullah al-A’dzham itu. Pada dua nama inilah, cadangan asa yang dimilikinya menggeliat dahsyat: ya Hayyu dan ya Qayyum benar-benar serupa oase yang mempertahankan spirit hidupnya. Barangkali saat itu, Ibrahim sedang menghikmati apa yang dituturkan sufi Syekh Kabir bahwa “Nafas yang tidak menyebut-nyebut nama Allah adalah nafas yang sia-sia.,

    Dalam pada itu saya mencatat semangat penting ihwal sakit Ibrahim dan doa bernama Ismullah al-A’dzham ini.

    Suatu kali, filsuf masyhur bernama Socrates pernah berpesan: “Hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi, hanya ada satu tempat di dunia ini dimana manusia terbebas dari segala ujian hidup, yakni kuburan. Tanda manusia masih hidup adalah ketika ia mengalami ujian, kegagalan, dan penderitaan.,

    Dan Ibrahim, juga kisah orang-orang shaleh berabad-abad silam yang pernah memendam perih, saya kira sudah begitu lama menyerap petuah sang filsuf tersebut. Baginya, semangat hidup harus terus menyala meski dalam kondisi apapun. Ia tidak menjamah putus asa walau kondisi genting tengah menghimpitnya.

    Bahkan, ketika sebuah vonis sang profesor merajam qolbunya, ia masih bisa mengumpulkan energi harapan dengan doa Ismullah al-A’dzham. Ternyata, Ya Hayyu”Ya Qayyum itu benar-benar memberi kehidupan baru, benar-benar tak luput untuk menjaga dari segenap perih. Peristiwa Ibrahim semakin meyakinkan saya bahwa harapanlah, seberapapun bentuknya, yang membuat rasa sakit yang kita alami semakin melumpuhkan atau menyembuhkan.

    Dan harapan kecil yang meliputi jiwa Ibrahim itu bersenyawa dalam doa yang acapkali membasahi bibir dan hatinya. Tak aneh bila beberapa penelitian ilmuan barat mengungkap bahwa ada korelasi antara spiritualitas (doa) dan kesehatan fisik seseorang. David Larson misalnya, mengeluarkan statistik luar biasa untuk meyakinkan orang tentang pentingnya mempertimbangkan dimensi keagamaan. “sebanyak 90% orang Amerika percaya bahwa Tuhan dan atau berdoa dapat membantu mereka untuk sembuh dari penyakitnya”sementara orang yang tidak berdoa besar kemungkinan untuk bunuh diri”,

    Wajar bila ST. Agustinus, filsuf yang pernah berkubang dalam dunia jadah itu dalam karya bertajuk Confession, menyadari bahwa semakin dekat dengan Tuhan, maka kesengsaraan dan penderitaan dapat dilenyapkan. “Karena kemanapun jiwa manusia berpaling, kecuali jika berpaling kepada-Mu, ia akan terpancang kesedihan,, tegas agustibus ketika bersimpuh di hadirat Tuhannya.

    Di luar itu semua, jauh-jauh hari, Rasulullah saw, telah mengingatkan bahwa seorang muslim yang sakit dan menderita sebetulnya tengah menikmati betapa welas asih dan kasihannya Allah azza wa jalla. Dia yang Hayyu dan Qayyum, kata Nabi, tengah membersihkan jiwa hamba-Nya yang pekat oleh dosa. Lebih lengkap begini bunyi pesan Rasulullah saw

    Suatu kali Abdullah bin Mas’ud berkata: “Aku berkunjung ke rumah Rasulullah saw, ketika beliau tengah dilanda sakit parah. Kuusapkan tanganku pada tubuhnya seraya bertanya, “Ya Rasulullah, Anda menderita sakit parah? Rasulullah menjawab, “Ya, aku menderita sakit berat seperti sakitnya dua orang diantara kalian’. Aku bertanya kembali: “Apakah itu karena Anda mendapat dua kali lipat pahala?’ Rasul pun menjawab “Ya”, Lalu Rasulullah bersabda, “Tiadalah seorang muslim tertimpa rasa sakit melainkan dengan itu Allah menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.,

    Dapatkah anda membayangkan betapa sang Nabi Pamungkas nan mulia -yang dijanjikan Allah bebas dosa itu- masih menyadari segugus dosa-dosanya? Ia yang ma’sum itu masih bermunajat pada ilahi agar perih yang sedang menjalar di tubuhnya adalah penggugur dosanya.

    Dan kita? Semoga kita segera menyimpan rapat-rapat petuah itu di lubuk benak kita, agar kelak bila ada perih yang meluruh di tubuh kita, bukan hanya Ismullah al-A’dzham yang membadahi hati kita, tapi juga nasehatnya yang indah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 13 May 2013 Permalink | Balas  

    siluet harimauKisah Orang Shalih dan Harimau

    Ada seorang salih, ia mempunyai saudara (kawan) yang salih pula. Setiap tahun ia berkunjung kepadanya. Suatu hari ia mengunjunginya lagi, sampai ke rumah yang dituju pintunya masih tertutup. Ia ketuk pintu rumah itu. Dari dalam terdengar suara wanita: “Siapa itu?” Orang yang salih menjawab: “Aku, saudara suamimu. Aku datang untuk mengunjunginya, hanya karena Allah semata.”

    “Dia sedang keluar mencari kayu bakar,” balas istri sahabatnya. “Mudah-mudahan ia tidak kembali.” Lanjut wanita tersebut sambil terus bergumam memaki-maki suaminya.

    Ketika mereka sedang terlibat perbincangan, tiba-tiba orang yang salih itu datang sambil menuntun seekor harimau yang sedang membawa seikat kayu bakar. Begitu melihat saudaranya datang mengunjunginya, ia menghambur kepadanya seraya bersalaman.

    Kayu bakar itu lalu diturunkan dari punggung harimau tersebut. Katanya kemudian: “Sekarang pergilah kamu, mudah-mudahan Allah memberkahimu.”

    Orang yang salih itu (yakni yang empunya rumah) lalu mempersilakan saudaranya masuk. Sementara isterinya masih bergumam memaki-maki dirinya. Namun sebegitu jauh ia hanya berdiam, tanpa menunjukkan reaksi kebencian. Setelah terlibat perbincangan beberapa saat lamanya, hidangan keluar disuguhkan. Dilanjutkan berbincang-bincang hingga beberapa saat.

    Setelah itu saudaranya berpamitan dengan menyimpan kekaguman yang sangat berkesan. Ia sangat kagum sebab saudaranya sanggup menekan kesabarannya menghadap isteri yang begitu cerewet dan berlidah panjang.

    Tahun berikutnya ia berkunjung lagi. Sampai di depan pintu ia mencoba mengetuknya. Isterinya keluar dan menyapa: “Tuan siapa?”

    “Aku adalah saudara suamimu,“ balasnya. “Kedatanganku ini semata untuk mengunjunginya”

    “Oh, selamat datang, tuan” kata isteri saudaranya seraya mempersilahkan masuk penuh keramahan. Tidak begitu lama saudara salih yang ditunggunya tiba juga sambil memanggul seikat kayu bakar. Mereka segera terlibat perbincangan sambil menikmati hidangan yang disuguhkan.

    Setelah semuanya dirasa cukup, dan ketika ia hendak kembali, ia sempatkan bertanya tentang beberapa hal. Bagaimana dahulu ia dapat menundukkan seekor harimau dan mau diperintah membawakan kayu bakar. Sedang sekarang ini ia hanya datang sendirian sambil memanggul kayu bakar.

    “Kenapa bisa begitu?” tanya saudaranya.

    Saudaranya menjawab: ”Ketahuilah saudaraku, isteriku yang dahulu berlidah panjang itu sudah meninggal. Sedapat mungkin aku berusaha bersabar atas perangai buruknya. Sehingga Allah memberi kemudahan diriku untuk menundukkan seekor harimau, sebagaimana pernah kau lihat sendiri sambil membawa kayu bakar itu. Semuanya terjadi lantaran kesabaranku padanya. Lalu aku menikah lagi dengan perempuan yang shalihah ini. Aku sangat gembira mendapatkannya. Maka harimau itupun dijadikan jauh dariku, karena itu aku memanggul sendiri kayu bakar itu, lantaran kegembiraanku terhadap isteriku yang shalihah ini.”

    ***

    by: Lintas Islam

    Diambil dari kitab UQUD AL-LUJAIN FIY BAYAANI HUQUQ AL-ZAUJAIN, karya Syekh Nawawi Al Bantani.

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 11 May 2013 Permalink | Balas  

    angkot bogorSebuah Kisah Nyata Tentang Kebaikan

    Suatu hari saya naik angkutan kota dari Darmaga menuju Terminal Baranangsiang, Bogor. Pengemudi angkot itu seorang anak muda. Di dalam angkot duduk 7 penumpang, termasuk saya. Masih ada 5 kursi yang belum terisi.

    Di tengah jalan, angkot-angkot saling menyalip untuk berebut penumpang. Tapi ada pemandangan aneh. Di depan angkot yang kami tumpangi, ada seorang ibu dengan 3 orang anak remaja berdiri di tepi jalan. Tiap ada angkot yang berhenti dihadapannya, dari jauh kami bisa melihat si ibu bicara kepada supir angkot, lalu angkot itu melaju kembali.

    Kejadian ini terulang beberapa kali. Ketika angkot yang kami tumpangi berhenti, si ibu bertanya: “Dik, lewat terminal bis ya?”, supir tentu menjawab “Ya”. Yang aneh si ibu tidak segera naik. Ia bilang ” Tapi saya dan ke 3 anak saya tidak punya ongkos.” Sambil tersenyum, supir itu menjawab “Gak pa-pa Bu, naik saja”, ketika si Ibu tampak ragu2, supir mengulangi perkataannya “ayo bu, naik saja, gak pa-pa ..”

    Saya terpesona dengan kebaikan Supir angkot yang masih muda itu, di saat jam sibuk dan angkot lain saling berlomba untuk mencari penumpang, tapi si Supir muda ini merelakan 4 kursi penumpangnya untuk si ibu & anak-anaknya.

    Ketika sampai di terminal bis, 4 penumpang gratisan ini turun. Si Ibu mengucapkan terima kasih kepada Supir. Di belakang ibu itu, seorang penumpang pria turun lalu membayar dengan uang Rp. 20 ribu.

    Ketika supir hendak memberi kembalian (ongkos angkot hanya Rp.4 ribu) Pria ini bilang bahwa uang itu untuk ongkos dirinya dan 4 penumpang gratisan tadi.

    “Terus jadi orang baik ya, Dik ” kata pria tersebut kepada sopir angkot muda itu.

    Sore itu saya benar-benar dibuat kagum dengan kebaikan-kebaikan kecil yang saya lihat. Seorang Ibu miskin yang jujur, seorang Supir yang baik hati dan seorang penumpang yang budiman. Mereka saling mendukung untuk kebaikan.

    Andai separuh saja bangsa kita seperti ini, maka dunia akan takluk oleh kebaikan kita!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 5 May 2013 Permalink | Balas  

    uluran tanganArti Sebuah Sepi

    Oleh Febty Febriani

    Malam itu untuk kesekian kalinya aku berada di tempat itu. Sebuah tempat yang jaraknya tidak cukup jauh dengan letak kantorku. Namun, karena rute angkot di kota Kembang, maka untuk menuju ke tempat itu tidak cukup hanya dengan menggunakan satu kali angkot, harus dua kali.

    Tidak sengaja awalnya aku berada di tempat itu, setiap seminggu sekali selepas jam kerja. Aku ke tempat itu tidak sendirian. Selalu berdua bersama teman kantorku, aku berkunjung ke tempat itu. Dialah yang pertama kali mengajakku untuk berada di tempat itu seminggu sekali, meluangkan waktu istirahatku sekitar dua jam dalam seminggu. Ketika dia pertama kali bercerita tentang tempat itu dan kemudian mengajakku untuk berkunjung rutin ke tempat itu, aku tertarik dengan ajakannya. Suatu kegiatan yang aku pikir bisa membuatku terbebas sejenak dari semua hal yang berbau rutinitas dan kepenatan.

    Biasanya, kami lebih suka menggunakan satu kali angkot saja. Konsekuensinya, perjalanan kami ke tempat itu harus di awali dengan berjalan kaki dulu. Tidak lama, kira-kira lima belas menit dengan berjalan santai. Hal ini bukan sebuah keterpaksaan untuk kami. Rasanya, pilihan berjalan kaki adalah sebuah pilihan yang bisa sekedar menggerakan otot-otot kaki kami. Pilihan yang sehat, bukan?

    Malam itu, sama seperti malam-malam yang lain pada minggu-minggu yang lalu, aku berada di sebuah ruangan yang cukup luas di tempat itu. Mungkin ruangan itu adalah ruangan semacam aula. Di sebuah pojok dari ruangan itu, aku bersama lima orang anak

    Pojok ruangan itu adalah tempat favorit kami berenam, sejak pertemuan pertama kami: empat orang anak putri, seorang anak laki-laki dan aku. Kelimanya berusia sekitar kurang lebih 12 tahun. Sekarang, semuanya duduk di kelas enam sekolah dasar. Di tempat itu, mereka sendirian. Terpisah dari orang-orang yang mereka cintai. Keluarga mereka. Kedua orang tua mereka. Adik dan kakak mereka. Bagi mereka, orang tua adalah para bapak dan ibu yang mengasuh mereka di tempat itu. Kakak mereka adalah saudara-saudari mereka yang juga berada di tempat yang berusia lebih tua dari mereka. Adik mereka adalah saudara-saudari mereka yang berusia lebih muda dari mereka. Sebuah keluarga yang mereka temukan ketika di usia belasan tahun.

    Biasanya, sekitar dua jam, kami akan belajar matematika, sebuah pelajaran yang mungkin masih menjadi momok bagi anak-anak seusia mereka. Kami sudah membuat kesepakatan bersama. Pokok bahasan matematika setiap pertemuan kami ditentukan oleh kelima anak itu secara bergiliran. Biasanya, mereka akan bertanya tentang hal-hal yang belum mereka mengerti. Dan tugasku mendampingi mereka untuk bisa mengerti pokok bahasan-pokok bahasan yang belum mereka mengerti secara detail. Walaupun, kegiatan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaanku sehari-hari tapi kegiatan ini adalah kegiatan yang menyenangkan untukku. Bisa sejenak masuk ke dunia mereka yang senantiasa berwarna pelangi. Juga, sebuah sarana untuk belajar menjadi ibu dalam arti sesungguhnya.

    Malam itu tidak seperti malam-malam sebelumnya. Malam itu, kami hanya belajar dua soal matematika. Itupun soal-soal yang aku berikan sebagai bentuk pekerjaan rumah untuk mereka. Beberapa anak mulai menguap. Mungkin, mereka sedang capek. Atau juga, mungkin, mereka sedang bosan berhadapan dengan rumus-rumus yang njelimet.

    Kebosanan memang milik siapa saja, tidak mengenal umur. Pun juga, milik mereka.

    Akhirnya, sisa pertemuan malam itu, kami manfaatkan dengan dongeng bersama. Itupun mereka yang meminta. Mulailah aku mendongeng beberapa cerita yang masih berada di memoriku. Dongeng malam itu kuawali dengan dongeng sebuah cerita moral. Kemudian, suasana malam itu berjalan seperti air mengalir. Mereka yang meminta, aku yang mendongeng. Mereka meminta cerita Nabi Yunus a. S, akupun mulai bercerita. Mereka meminta cerita Nabi Musa a. S, akupun mulai memenuhi keinginan mereka. Dan akhirnya, mereka juga berani bercerita kepada kawan-kawannya sendiri. Suasana di pojok ruangan itu pada malam itu mulai hangat dan akrab.

    Tak terasa, malam sudah beranjak. Waktu pertemuan kami malam itu sudah hampir sekitar dua jam Dan acara mendongeng dan berceritapun selesai sudah.

    ***

    Mengingat mereka sering terfikir di benakku. Apakah mereka masih mengenal kasih yang yang utuh dari kedua orang tua mereka? Dari ibu kandung mereka? Dari bapak kandung mereka? Dari kakak atau adik kandung mereka? Seusia sekecil itu mereka sudah harus berpisah dari keluarga yang mungkin sangat mereka sayangi. Dengan jarak beratus-ratus kilometer, atau mungkin bahkan lebih.

    Mengingat mereka sering terfikir di benakku, seperti apakah wujud tangis kerinduan mereka pada ibu yang melahirkan mereka, pada bapak yang mengadzani dan mengiqamahi pada kedua telinga mereka, serta pada kakak dan adik yang memanggil mereka dengan panggilan sayang? Aku mengenal betul sebuah tangis kerinduan pada keluarga yang kita cintai. Tujuh tahun berpisah dengan orang-orang yang aku cintai, cukup sudah mengajarkan padaku sebuah kata yang bernama kerinduan. Aku bisa mengungkapkan tangis kerinduan itu dengan menelepon atau mengsms orang-orang yang aku cintai. Namun, untuk mereka dalam bentuk apakah wujud kerinduan itu harus terungkap?

    Mengingat mereka sering terfikir di benakku, seperti apakah wujud pembunuh rasa sepi yang mungkin senantiasa hadir di hari-hari mereka? Rasa sepi karena seusia sekecil itu mereka tidak lagi mendapatkan sentuhan kasih sayang dari tangan seorang ibu. Rasa sepi karena seusia sekecil itu mereka harus berpisah dengan bapak tercinta. Rasa sepi karena mereka harus berada jauh dari kakak dan adik mereka. Rasa sepi karena ketidakhadiran seorang ibu yang membangunkan mereka, menyiapkan baju sekolah, menyiapkan sarapan, mengantar mereka ke sekolah dengan lambaian tangan kasih sayang, menemani mereka belajar, dan mendongeng untuk mereka menjelang tidur. Juga rasa sepi karena ketidakhadiran seorang ayah yang mengajak mereka jalan-jalan, merayakan ulang tahun mereka, memberikan untuk mereka hadiah kenaikan kelas dan membelikan baju atau peralatan sekolah untuk mereka.

    Mengingat mereka sering terfikir di benakku, apakah ketika usia dewasa mereka juga akan mengenal konflik dengan kedua orang tua karena sesuatu hal yang terkadang disebabkan oleh keegoisan kita yang tidak mau mengalah sejenak pada kedua orang tua kita? Aku jadi teringat pada teman-teman yang sering bercerita tentang konflik yang mereka hadapi dengan kedua orang tua mereka. Dan sepertinya tidak ada yang menyalahkan diri sendiri karena konflik itu. Kita teramat sering mengarahkan telunjuk kesalahan itu kedua orang tua kita. Akupun juga tidak terbebas dari kondisi ini. Sekitar lima tahun yang lalu, aku juga menyalahkan kedua orang tuaku yang tidak mengizinkanku berjilbab, ketika aku memutuskan untuk mengenakannya. Keegoisanku juga yang membuat ada jarak antara diriku dengan kedua orang tuaku saat itu.

    Aku jadi teringat dengan perkataan seorang teman. Bersyukurlah masih punya orang tua. Jadi yatim piatu kayak aku gak enak lho. Sunyi. Itu kata-katanya padaku saat itu. Kata-kata itu mungkin hadir dari hatinya yang paling dalam, wujud kerinduannya pada kedua orang tuanya yang telah meninggalkannya lebih dahulu menuju ke rumah abadi. Rasanya, sekarang, aku pun juga sependapat dengan pendapatnya. Kita memang patut bersyukur pada Allah karena masih diberi kesempatan oleh-Nya melewati hari-hari kita bersama dengan orang-orang yang kita cintai. Kedua orang tua. Kakak kita. Adik kita. Keluarga besar kita. Ternyata, kesempatan itu tidak dimiliki oleh setiap orang. Kelima ’adik kecilku’ di atas, contohnya.

    ***

    Bandung, Maret 2006

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 24 April 2013 Permalink | Balas  

    cahaya-kebenaranDi Bengkel Itu Ada Ayat Allah

    Oleh: Ahmad Syafii Maarif

    Jika orang punya mata batin yang tajam dan rindu menemukan ayat-ayat Allah, yang tersebar di mana-mana, tak usahlah menguasai teori Big Bang (Ledakan Dahsyat). Atau harus paham karya fisikawan invalid Inggris, Stephen Hawking – A Brief History of Time – yang belum tentu mudah dicerna.

    Ayat Allah dapat dijumpai pada peristiwa atau fenomena alam atau sosial yang sifatnya sangat sederhana. Bisa diamati pada air serasah yang terjun, pada semut yang beriring, pada lebah yang bergantungan, pada bunyi siamang ketika subuh, atau pada kicau murai di pagi hari. Juga pada dengungan kipasan sayap enggang saat terbang tinggi, pada percakapan seorang bocah dengan orangtuanya, serta pada sikap Pak Bengkel yang lugu, tulus, dan murah hati.

    Kepatuhan alami

    Demikianlah di hari Natal lalu, 25 Desember 2012, menjelang dzuhur saya bersepeda di kitaran Desa Trihanggo, Sleman, Yogyakarta, untuk mencari onderdil komponen rantai sepeda yang harus segera diganti. Jika tuan dan puan melewati jalan Kabupaten Sleman dari Jalan Godean mengarah ke utara, dalam jarak sekitar 2 kilometer akan dijumpai pohon beringin besar, persis di persimpangan empat jalan. Melaju ke arah timur pada jarak sekitar 1 kilometer di kanan jalan sebelum jembatan, ada bengkel sepeda yang laris dikunjungi langganannya. Di bengkel inilah saya memerhatikan ayat Allah dalam dua fenomena sederhana yang saling berkaitan. Keterkaitan itu tampak terjalin akrab sekali.

    Ada seorang ayah bersama anak perempuannya yang masih belajar di taman kanak-kanak milik A’isyiyah sedang mengganti pedal sepeda bocah ini yang tak lagi bisa dipakai. Warna pedal itu dipilih yang merah jambu agar serasi dengan warna sepedanya. Saya perhatikan baik-baik tingkah bocah alit itu, tampaknya bahagia sekali karena pedal sepedanya diganti dengan yang baru. Sebuah kebahagiaan yang sangat tulus dari sebuah keluarga kebanyakan.

    Tiba-tiba penjaja es krim lewat. Si bocah minta kepada ayahnya agar dibelikan es kesukaannya itu. Ayahnya, dalam bahasa Jawa, dengan lembut menjawab, ”Marahi watuk (bisa menyebabkan batuk).”

    Si bocah sama sekali tidak berontak agar ayahnya memenuhi juga permintaannya. Tak ada rengut, tak ada gerutu. Malah bocah ini senyum-senyum sambil dengan lincah mengitari ayahnya. Bukankah sebenarnya seorang bocah sulit sekali dipisahkan dengan es krim?

    Dalam batin saya menduga bahwa suasana rumah tangga keluarga bocah ini tenteram sekali. Ayat Allah terlihat pada sikap ayah yang lembut terhadap anak dan sikap anak yang patuh kepada orangtua: sebuah kepatuhan alami hasil didikan dini yang teratur dan santun.

    Tidak mudah ditemukan di kawasan modern buah didikan anak semacam ini. Kegirangan bocah ini kian memuncak ketika ayahnya melengkapi sepedanya dengan sebuah bel yang dipasang pada bagian kanan setang. Untuk keseluruhan ongkos plus onderdil, Pak Bengkel cuma meminta Rp 25.000, sebuah angka kacang goreng di kawasan kota.

    Sikap Pak Bengkel yang satu ini tak kurang memukau untuk dicatat. Semua serba murah. Ada lagi seorang laki-laki setengah baya (rupanya kenal dengan saya) menambalkan ban sepeda motornya yang bocor. Setelah rampung, Pak Bengkel saya tanya berapa ongkosnya. Dijawab, antara Rp 5.000 dan Rp 6.000, padahal pengerjaannya cukup lama karena karet penambal ban harus dipanaskan lebih dulu.

    Sekarang tibalah giliran sepeda saya ganti onderdil. Kebetulan barang yang diperlukan tersedia. Ada dua yang boleh diganti. Pak Bengkel bertanya, apakah diganti satu atau dua sekaligus? Jawab saya: mana yang baiklah. Lalu diperiksa: cukup satu saja, katanya. Tak terbetik pada pikiran Pak Bengkel untuk melariskan barang dagangannya, toh, saya tidak akan bertanya jika keduanya diganti.

    Setelah rampung, ongkos plus harga onderdil yang diminta hanya Rp 5.000. Saya terkejut, mengapa terlalu murah, di mana ongkos teknisi dan keringat? Tentu secara moral saya tidak boleh hanya memberi ongkos hanya sejumlah yang diminta.

    Di luar pola umum

    Sebagai bengkel yang laris, saya tanya mengapa tidak sekalian jualan bensin. Jawab Pak Bengkel polos: agar berbagi rezeki dengan tetangga yang punya kedai bensin, sekalipun banyak orang menanyakan BBM itu kepadanya.

    Pada sikap Pak Bengkel ini jelas sekali terbaca ayat Allah: rezeki teman jangan direbut, sekalipun peluang untuk menambah pendapatan terbuka lebar. Kearifan Pak Bengkel ini adalah penyimpangan dari pola umum yang sedang berlaku di Indonesia: saling menelikung, saling gasak, dan jika perlu saling menghancurkan demi berebut rezeki.

    Perkara haram atau halal sudah berada di luar pertimbangan. Kultur Pak Bengkel yang masih bebas dari pencemaran ini mungkin merupakan sisa-sisa sifat asli Indonesia yang belum tergerus oleh ganasnya sisi buruk proses modernisasi.

    ***

    Ahmad Syafii Maarif, Pendiri Maarif Institute

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 15 April 2013 Permalink | Balas  

    pengantin muslimKisah Pengantin Wanita

    Kisah nyata yang diceritakan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al Ahmad ini terjadi di Abha, ibu kota Provinsi Asir Arab Saudi.

    “Setelah melaksanakan shalat Maghrib dia berhias, menggunakan gaun pengantin putih yang indah, mempersiapkan diri untuk pesta pernikahannya. Lalu dia mendengar azan Isya, dan dia sadar kalau wudhunya telah batal.

    Dia berkata pada ibunya : “Bu, saya mau berwudhu dan shalat Isya.”

    Ibunya terkejut : “Apa kamu sudah gila? Tamu telah menunggumu untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu? Semuanya akan terbasuh oleh air.”

    Lalu ibunya menambahkan : “Aku ibumu, dan ibu katakan jangan shalat sekarang! Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, ibu akan marah kepadamu”

    Anaknya menjawab : “Demi Allah, saya tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga saya shalat. Ibu, ibu harus tahu “bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Pencipta”!!

    Ibunya berkata : “ Apa yang akan dikatakan tamu-tamu kita tentang mu, ketika kamu tampil dalam pesta pernikahanmu tanpa make-up?? Kamu tidak akan terlihat cantik dimata mereka! dan mereka akan mengolok-olok dirimu !

    Anak nya berkata dengan tersenyum : “Apakah ibu takut karena saya tidak akan terrlihat cantik di mata makhluk? Bagaimana dengan Penciptaku? Yang saya takuti adalah jika dengan sebab kehilangan shalat, saya tidak akan tampak cantik dimata-Nya”.

    Lalu dia berwudhu, dan seluruh make-up nya terbasuh. Tapi dia tidak merasa bermasalah dengan itu.

    Lalu dia memulai shalatnya. Dan pada saat itu dia bersujud, dia tidak menyadari itu, bahwa itu akan menjadi sujud terakhirnya.

    Pengantin wanita itu wafat dengan cara yang indah, bersujud di hadapan Pencipta-Nya.

    Ya, ia wafat dalam keadaan bersujud. Betapa akhir yang luar biasa bagi seorang muslimah yang teguh untuk mematuhi Tuhannya!

    Banyak orang tersentuh mendengarkan kisah ini. Ia telah menjadikan Allah dan ketaatan kepada-Nya sebagai prioritas pertama.

    “Subhanallah”

    ***

    Dari: Andrian Jumari

     
  • erva kurniawan 2:04 am on 12 April 2013 Permalink | Balas  

    siluet-muslimah-laut-biru-soreMeja Telepon Ibu

    Oleh: Siti Horiah (Mahasiswa Program Studi Teknik Nuklir 2012)

    Disudut ruang tamu kami, yang luasnya tidak lebih dari 4m2 itu terletak sebuah meja kecil berwarna hitam. Meja itu adalah sebuah meja telepon rumah yang sudah beralih fungsi sebagai meja belajarku. Meja itu adalah satu-satunya meja yang ada di rumah kami, meja yang sampai saat ini masih dibiarkan ibuku tetap berdiri tegak dan masih tetap berada dirumah kami dengan sebuah alasan yang tak aku ketahui.

    Beginilah kondisi rumah kami setelah peristiwa kebangkrutan usaha ayahku. Demi menyambung nyawa keluarga kami, ibu rela menjual barang-barang berharga yanga ada di rumah kami pada tetangga sekitar. Ibuku tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membeli beras. Beliau menjual satu persatu barang-barang berharga kami, setiap kali datang waktu makan. Mulai dari beberapa pakaian ibuku yang paling beliau suka, alat-alat dapur seperti gelas, piring, panci, dispenser, bahkan sendok dan garpu pun ikut habis terjual.

    Ayahku tidak dapat berbuat banyak setelah peristiwa kebangkrutan usahanya. Beliau hanya mampu menjadi kuli dipasar tradisional di kota kami. Upah yang dia terima tidak mampu menutupi kebutuhan keluarga besar kami.

    ***

    Suatu siang, aku melihat adikku Rafi menangis sambil menghampiri ibu yang sedang duduk lemas menonton tv tanpa antena itu. Aku memperhatikan gerak-gerik ibu yang kepanikan, beliau tidak ingin membiarkan Rafi adikku menangis terlalu lama.

    “ibu, ibu aku lapar!” jerit Rafi.

    Ibu yang tak bisa berkata apa-apa langsung pergi menuju dapur, mengambil beberapa piring. Aku pun terus memperhatikan gerak-gerik ibu. Aku heran apa yang akan ibu lakukan dengan kelima buah piring itu. Sempat aku berpikir kalau ibu akan mengambilkan nasi untuk Rafi, namun aku teringat kalau dari kemarin aku belum memasak nasi untuk keluarga kami. Dengan masih tetap memperhatikannya dari balik pintu, aku melihat air mata ibuku jatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat, namun dengan cepat beliau langsung menghapusnya takut-takut kalau air matanya akan terlihat olehku. Aku pura-pura tidak sadar dengan apa yang ibu lakukan didapur, aku menyibukan diriku dengan menggendong dan menimang Rafi agar dia tidak menangis.

    Kubiarkan ibu dengan kesibukannya, kulihat beliau keluar rumah dengan kelima piringnya itu. Tak beberapa lama kemudian beliau kembali dengan uang ribuan yang lusuh sebanyak lima lembar. Aku terheran-heran atas apa yang ibu lakukan. Ibu langsung menyuruhku pergi kewarung membeli setengah liter beras, dan satu butir telur. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung pergi menuruti perintah ibu.

    Aku kembali dengan apa yang ibu minta dan ibu langsung menyuruhku memasaknya. Ibu menyuruhku membuat telur dadar dengan mencampurkan telur itu dengan terigu, agar satu telur itu menjadi besar dan cukup untuk dimakan oleh kami bersembilan. Aku menarik napas dalam-dalam, air mataku pun tak kuat dibendung, menetes jatuh. Aku tak kuat menahan ini semua, bagaimana tidak, setiap harinya kami hanya makan satu kali sehari. Berbagi setengah liter nasi untuk sembilan orang, satu butir telur saja harus dibagi sembilan, sering kamipun membagi 2 bungkus mie instans untuk sembilan orang. Terkadang ayah memilih pergi dari rumah saat tiba waktu makan, beliau pergi sambil menitip pesan padaku agar jatah makanannya diberikan pada adik-adikku saja.

    Ibu sangat sayang pada kami, beliau tidak pernah membagi penderitaanya pada kami semua. Selagi ayah menjadi kuli dipasar, ibu selalu menggantikan peran ayah. Ibu tak pernah terlihat sedih dengan penderitaanya. Ibu rela berkorban demi kami semua. Ibu rela menjual tempat tidurnya dan memilih tidur dilantai dengan beralaskan kasur yang tipis saja.

    Hampir seluruh barang berharga dirumah kami terpaksa beliau jual, demi menutupi pendapatan ayah yang besarnya tak kurang dari sepuluh ribu rupiah. Hanya satu buah meja telepon yang ibu sisakan diruang tamu kami. Aku heran kenapa ibu tidak pernah mau menjual meja tersebut, beliau lebih memilih menjual beberapa pakaiannya ketimbang menjual meja tersebut. Sampai pada saatnya aku tak sanggup melihat pakaian terbaik ibu harus ikut terjual, akupun menawarkan meja telepon itu untuk dijual pada ibu. Namun ibu menolak dengan kata-kata yang membuatku menangis sendiri.

    “Selapar apapun kita nanti, ibu tidak akan menjual tempat yang kau gunakan untuk mengantungkan cita-citamu itu nak, pakailah terus meja itu.” Ungkapnya sambil pergi kerumah tetangga untuk menjual baju terbaiknya selama ini, demi sepiring nasi untuk keenam adikku.

    Aku lemas mendengarnya, jadi selama ini ibu tidak mau menjualnya hanya karena aku sering memakai meja yang panjangnya tidak lebih dari 30 cm itu untuk belajar. Aku tersadar selama ini aku memang selalu menggunakan meja itu untuk belajar karena itu adalah satu-satunya meja yang ada dirumah kami.

    Itulah kondisi yang selama ini aku alami, tak ada yang bisa aku lakukan banyak ketika itu. Saat itu kondisinya aku sedang duduk dikelas tiga. Ditengah kondisi seperti ini aku harus tetap berjuang untuk bisa lulus SMA. Setiap malam aku bangun untuk belajar dan mengerjakan tugas, aku menggunakan meja telepon itu sebagai alasku belajar. Terbayang betapa menderitanya belajar di atas meja yang luasnya lebih kecil dari luas buku tulisku. Namun tidak ada pilihan lain bagiku, aku tak mampu menunduk lama untuk belajar bila memilih belajar diatas lantai yang dingin. Meja itu adalah teman terbaik bagiku. Dia selalu menemaniku dimalam hari disaat semua orang terlelap, aku harus bangun untuk belajar. Semua itu aku lakukan karena aku tidak memiliki waktu disiang hari untuk belajar.

    Benar kata ibuku meja itu adalah tempat aku menggantungkan semua cita-citaku. Tempat aku memulai perubahan pada hidup keluargaku. Ibuku berharap besar padaku, karena aku adalah anak pertama. Jadi setelah aku lulus SMA nanti aku bisa langsung bekerja, dan ibu optimis terhadap diriku kalau aku nanti akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena ibu tahu aku termasuk murid yang berprestasi disekolah.

    Tanpa disadari aku memang menyayangi meja kecil hitam itu, meja itu selalu aku bersihkan setiap harinya, walaupun meja itu kecil dan sempit tapi aku masih bersyukur bisa tetap menulis diatas meja. Meja itu adalah satu-satunya tempat aku berbagi rahasia, tempat aku mengukir sebuah mimpi. Hanya meja itu yang menjadi saksi kalau aku memiliki sebuah mimpi yang selama ini aku rahasiakan dari dunia.

    Aku punya sebuah mimpi yang benar-benar tidak bisa aku ungkapkan pada siapapun. Aku takut kalau mimpiku yang satu ini kuberitahu pada orang tuaku itu akan menjadi beban padanya, kalau aku beritahu pada teman-teman atau orang banyak aku takut mimpiku yang ini akan ditertawakan mereka. Jadi selama ini hanya meja kecil ini yang bersaksi kalau aku sering mengukir sebuah nama Universitas yang aku impikan pada catatan sekolahku. Ya, mimpiku yang tidak dapat aku beritahukan kepada siapa pun termasuk orang tuaku sendiri adalah duduk di bangku KULIAH.

    Sebenarnya setiap kali orang tuaku membahas tentang pekerjaan yang nantinya aku lakoni setelah lulus SMA, hati kecilku menangis merintih tak terdengar siapapun.

    “ayah, mama, aku gak mau kerja aku mau kuliah kaya temen-temen, aku mau masuk UGM aku mau ke Jogja, aku gak bisa KERJA!” jerit hati kecil ini.

    ***

    Saat-saat seperti ini semua teman-temanku sibuk mencari tempat bimbel yang terbaik dikota kami, sebagai salah satu persiapan sebelum menghadapi SNMPTN. Bagi seorang Siti Horiah jangankan mengikuti program bimbel, buku paduan SNMPTN saja tak punya. Aku tak pernah memiliki niat untuk membeli buku SNMPTN yang harganya selangit itu. Untuk makan adik-adiku saja setiap subhu aku dan ibu masih harus keliling pasar untuk menjajakan kue cucur buatan ibuku. Bagaimana aku mau menabung, uang jajan yang ibu berikan itu hanya sebesar tiga ribu rupiah saja, itupun hanya cukup untuk ongkos naik angkutan umum. Kalau kue kami tidak terjual satupun itu berarti aku harus berjalan kaki sejauh 3 km untuk sekolah. Aku tak sanggup meminta uang sepeserpun unutuk membeli buku SNMPTN pada ayahku yang menjadi kuli dipasar, apalagi berkata pada ayah kalau aku ingin kuliah ke JOGJA. Sudahlah bagiku kuliah adalah mimpi-mimpi basi seorang siswa SMA kelas 3 seperti aku ini.

    Itulah sebabnya aku menyembunyikan mimpi besar hidupku ini dari orang banyak. Bagiku mimpi ini hanya akan menjadi pisau kecil bagi keluarga kami. Mimpi yang akan menusuk dan mengiris perasaan kedua orang tuaku. Tak pernah sekalipun aku berniat untuk mengkhayal menduduki bangku kuliah. Aku takut kalau kedua orang tuaku tahu tentang mimpi ini, mereka pasti akan merasa kalau mereka bukan orang tua yang baik, orang tua yang tidak bisa membahagiakan anak-anaknya. Biarlah mimpiku yang ini hanya aku, meja kecil itu dan Tuhan yang tahu.

    ***

    Sahabatku Ana selalu ada untukku, memberika support. Cita-citanya menjadi dokter membuat aku tersenyum miris sendiri. Aku selalu berpikir kenapa aku tidak seberani dirinya bermimpi dan bercita-cita. Namun aku sadar aku tidak seperti dirinya, aku bukan anak siapa-siapa yang boleh bermimpi setinggi itu. Kalau kata adikku yang pertama “MIMPI ITU MAHAL KAK!” buat bermimpi saja itu sulit apa lagi merealisasikannya pada kenyataan. Sesulit itukah bermimpi pikirku kalau mimpi saja dianalogikan dan disamakan dengan kata mahal. Kata-kata yang membuat keluarga miskin seperti kami gempar mendengarnya. Kata mahal itu bagi kami berarti mustahil dijangkau. Maklumlah, bagi keluarga miskin seperti kami harga sebutir telur naik seratus rupiah pun sudah membuat kepala ayahku sakit.

    Saat aku berkunjung kerumah Ana, orang tuanya memberikanku uang sebesar seratus ribu rupiah. Tanganku gemetar menerimanya. Orang tua Ana memberikan uang itu untuk aku gunakan sebagai ongkos pulang kerumah, yang pada kenyataannya ongkos yang aku gunakan hanya empat ribu rupiah. Setelah kuputuskan sisa uang tersebut kuberanikan saja untuk kubelikan sebuah buku SNMPTN bekas dipasar. Agar harganya tidak mahal dan aku dapat memberikan sisa uangnya pada ibuku. Aku sangat senang sekali saat itu, aku berpikir walaupun aku tak ada niat untuk kuliah namun apa salahnya kalau aku juga ikut menimba ilmu seperti teman-temanku.

    ***

    “Kamu mau kuliah?” sahut ayahku didepan ibu dan adik-adiku.

    Aku kaget bukan main terhadap pertanyaan itu, dari mana ayah tahu mimpi yang aku sembunyikan dari dunia itu, mimpi yang tidak pernah terucap oleh lidahku sendiri walau dalam doa di sholatku, mimpi yang hanya ikut mengalir bersama air mata sebelum tidurku, mimpi yang bahkan akupun sendiri malu bercerita pada Tuhan. Ternyata ayah menyadari hal itu semua karena buku SNMPTN yang baru aku beli kemarin ku letakan diatas meja kecil hitam itu. Ibuku yang hanya lulusan SD menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan ayah. Ibu marah mendengar hal itu, ibu menyuruhku mengubur mimpi tersebut, ibu takut kalau nantinya aku stress karena mimpiku yang ini tidak akan pernah terwujud. Aku tertunduk menangis, adik-adiku iba melihat kearahku. Ayah menenangkanku tersenyum padaku, ayah berkata padaku agar aku belajar yang baik dan mencari tempat kuliah yang aku inginkan. Ayah berkata kalau beliau akan berusaha mati-matian agar aku bisa kuliah. Aku tersenyum melihat ayah yang bijak berkata seperti itu, entahlah aku sempat berpikir kalau ayah hanya ingin menenangkan diriku saja.

    ***

    Suatu sore saat aku sedang menyapu halaman rumah, seorang ibu yang sebaya dengan ibuku menegurku.

    “kamu mau kuliah yah neng?”. Tegurnya sambil tertawa kecil.

    Aku kaget dibuatnya, Ibu itu berkata kalau kemarin ibuku bercerita pada dirinya bahwa aku merengek meminta meneruskan sekolah. Ibu itu menasihati diriku, dia berkata padaku kalau kita sebagai orang susah jangan ‘kebanyakan tingkah’, aku sebagi anak pertama jangan menyusahkan kedua orangtua dengan merengek-rengek minta kuliah. Kuliah itu mahal katanya, upah ayahmu itu tidak cukup untuk makan dua kali sehari, apalagi untuk biaya kuliah. Kasihan adikmu ada banyak mau makan apa mereka.

    Hatiku bergetar, ingin rasanya aku membentaknya. Namun aku hanya mampu membalas perkataannya dengan senyum termanis yang aku miliki.

    Keesokan harinya ibuku bercerita, kalau teman-teman ayahku dipasar itu mengolok-olok ayahku karena ayahku bercerita pada mereka kalau aku ingin kuliah. Mereka berkata pada ayahku kalau tidak akan ada universitas yang mau menerima orang miskin seperti aku ini.

    Aku berlari menuju meja kecil hitam di ruang tamuku, ku buka buku catatanku yang pernah kutulisi tulisan grafiti nama sebuah universitas impianku. Kurobek dan kulempar bukunya, aku marah saat itu. Karena orang yang paling aku sayang itu dihina oleh orang lain, dicaci maki. Aku tersadar kalau itu semua karena mimpi ‘konyolku’ berkuliah. Itulah sebabnya selama ini aku malu dan memutuskan untuk menguburkan niat dan impianku berkuliah sedalam-dalamnya. Sudah kukira akan berakhir dengan penghinaan kedua orangtuaku seperti ini. Aku kesal, orang tuaku dihina seperti itu. Aku malu karena itu semua adalah ulah dari mimpi tidur indahku.

    ***

    Keesokan harinya disekolah teman-temanku bersorak dan memanggilku.

    “Selamat yah sit, lu masuk daftar undangan SNMPTN tuh!” ucap Lidia

    Jantungku bergetar, aku tak percaya kalau namaku bisa masuk dalam jajaran murid-murid pintar yang bisa mengikuti SNMPTN undangan. Aku pun girang bukan main, ku hampiri guru bimbingan konselingku. Aku menceritakan masalah keluargaku selama ini, awalnya aku tak mau bercerita namun karena mimpiku berkuliah saat ini sudah ada di depan pelupuk mata. Maka akupun memutuskan untuk menceritakan semuanya agar aku mendapatkan jalan keluar yang terbaik.

    Guruku itu langsung memeluk tubuhku yang kaku, dia memiliki impian besar terhadap diriku. Dia mencarikan solusi untuk masalahku ini dengan menawarkan beasiswa BIDIKMISI. Tanpa berpikir panjang aku menyetuji ajakannya. Aku pulang kerumah dan menyiapkan berkas-berkas yang ada, saat itu aku merasa bersyukur sekali karena impianku yang kurasa buruk itu akan segera terwujud. Aku sengaja tidak memberitahu informasi ini pada kedua orangtuaku, aku ingin membuat semua ini menjadi kejutan bagi mereka.

    Segala macam persyaratan pendaftaran SNMPTN itu pun telah dipenuhi, aku memutuskan untuk memilih UNIVERSITAS GADJAH MADA dan prodi TEKNIK NUKLIR pada pilihan pertama. Entahlah dengan hanya bermodal menyukai kimia dan fisika. Maka aku putuskan untuk memilih program studi ini. Besar harapanku untuk diterima. Setelah semuanya selesai , baru ku beritahu ayah dan mama. Mereka sangat senang karena beasiswa Bidik Misi ini mereka berdua tidak perlu mengeluarkan uang sampai aku lulus nanti. Kedua orang tuaku pun senang dengan pilihan program studi yang aku pilih itu. Semuanya tinggal ku pasrahkan pada Tuhan. Kalau memang rezeki aku pasti akan mendaptkannya pesan ayah padaku yang selalu ku ingat.Aku senang dan aku ingin membuktikan pada semua orang yang telah menghina mimpiku.Aku ingin membuktikan kalau impianku ini akan segera terwujud.

    ***

    Dua bulan lamanya aku menunggu pengumuman, selama itu aku mempersiapkan diriku untuk bisa mengikuti SNMPTN tulis, aku belajar sedikit demi sedikit dari buku soal-soal SNMPTN yang aku miliki. Semangatku berkuliah setiap harinya semakin kencang. Ditengah-tengah semangatku ini, masih saja ada tetangga yang mengolok-olok mimpiku. Ada tetangga yang berkata pada ibuku seperti ini.

    “Hati-hati bu, itu anaknya bukan mau kuliah tapi mau jual diri.” Ucapnya sinis

    Ingin rasanya aku menampar orang yang berbicara seperti itu pada ibuku, tapi ibuku menyadarkanku kalau ucapan mereka adalah batu loncatan bagi prestasiku. Aku harus tetap rajin belajar dan membuktikan pada dunia kalau mimpiku itu akan mengubah dunia menjadi lebih baik.

    ***

    Semua hinaan, cacian maki tetangga-tetangga sampai saudara-saudara terdekat kami kemarin terhadap mimpi besarku, kini lenyap sudah. Air mata kedua orang tuaku kini warnanya berubah sebening permata, keringatnya yang bercucuran itu menjadi keringat kebanggaan mereka terhadapku, simpulan senyum guru-guruku mengguratkan harapan besar padaku. Ya, aku diterima di Universitas kerakyatan yang menjadi kebanggaan negara ini. Universitas bergengsi dan nomor satu terbaik di Negri ini. Gadjah Mada namanya, di sana namaku tertera di Teknik Nuklir. Program studi sarjana Nuklir satu-satunya di ASEAN dan memiliki lulusan terbaik se-Asia.

    Aku tak bisa berkata apa-apa, melihat kebahagiaan kedua orang tuaku. Melihat mimpiku yang kini menjadi nyata, mimpi yang tak pernah berani aku ungkapkan pada dunia. Mimpi yang tak seharusnya aku tutupi dari orang lain. Sekarang aku sadar kalau semua itu memang berasal dari mimpi. Mimpi yang bukan hanya sekedar mimpi, mimpi yang harus segera diwujudkan, bukan dibiarkan tetap tidur bersama angan-angan semata. Aku pun tersadar sekarang kalau tak ada satupun hal yang mustahil dalam hidup ini, aku masih memiliki Allah. Tuhanku yang tak pernah tidur, yang selalu mau mendengarkan mimpi kecil kita. Aku tak akan menyia-nyiakan amanat besarmu ini Tuhan. Aku tersenyum mengingat semua pengorbanan aku dan kedua orangtuaku demi mimpi manis ini kemarin. Terimakasih meja kecilku yang setia menemaniku merogoh mimpi ini. Terimakasih Tuhan mengijinkanku merajut asa ini untuk meraih impian.

    ***

    SitiHoriah (1)Siti Horiah mahasiswa dari Program Studi Teknik Nuklir 2012 mendapat penghargaan sebagai pemenang pertama dalam Lomba Menulis Kisah Inspiratif Kamakarya 2013 yang diadakan dalam rangkaian acara Seminar Motivasi Nasional oleh divisi keilmuan Kamadiksi dalam rangka meningkatkan motivasi penerima beasiswa Bidik Misi. Acara yang memiliki tema “Menembus Batas, Memetik untaian mimpi ” ini diselenggarakan pada hari Minggu, 7 April 2013 bertempat di Gedung Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada dengan pembicara Dr. Revrisond Baswir (pakar Ekonomi Kerakyatan), Dr. Widyo Winarso (Kepala Subdirektorat Kemahasiswaan DIKTI) dan Bapak Eko Prasetyo. Talkshow dengan narasumber tersebut sangat menginspirasi dan memotivasi para peserta seminar yang jumlahnya kurang lebih 1100 orang, di mana para peserta tersebut didominasi oleh mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi UGM ditambah dari universitas lain di sekitar Yogyakarta.

    Dalam Lomba Menulis Kisah Inspiratif Kamakarya 2013 ini, peserta wajib menuliskan kisah nyata perjuangan mereka dalam merajut asa dan meraih impiannya masing-masing. Kisah yang harus menginspirasi banyak orang nantinya, kisah yang dapat memeberikan gambaran banyak orang betapa kita tak boleh berputus asa dalam meraih impian. Siti Horiah sendiri mengaku bahwa dirinya tidak menyangka dapat memenangkan lomba kepenulisan ini, karena latar belakang jurusan sebagai anak teknik yang harus bersaing dengan orang-orang hebat yang memang bergelut dalam bidang kepenulisan. Namun tanpa disangka dirinya dapat berprestasi dan bisa produktif dalam menghasilkan cipta dan karya yang terbaik. Inspirasi dan bakat itu memang akan selalu ada dalam diri seseorang tanpa terkecuali selagi ada motivasi yang kuat dalam diri untuk menciptakan karya terbaik untuk bangsa ini.

    Sumber: http://tf.ugm.ac.id/index.php/14-prestasi/112-mahasiswa-teknik-fisika-ft-ugm-memenangi-lomba-menulis-kisah-inspiratif-kamakarya-2013

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 10 April 2013 Permalink | Balas  

    pompeiiPompeii Mengulang Sejarah Kaum Luth

    Oleh: HARUN YAHYA

    Alqur’an mengisahkan kepada kita bahwa tidak ada perubahan dalam hukum Allah (sunnatullah):

    “Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah mereka kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu” (QS. Al- Faathir, 35:42-43).

    Begitulah, “sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah”. Siapapun yang menentang hukum Allah dan berusaha melawan-Nya akan terkena sunatullah yang sama. Pompeii, yang merupakan simbol dari degradasi akhlaq yang dialami kekaisaran Romawi, adalah pusat perzinaan dan homoseks. Nasib Pompeii mirip dengan kaum Nabi Luth. Kehancuran Pompeii terjadi melalui letusan gunung berapi Vesuvius.

    Gunung Vesuvius adalah simbol negara Italia, khususnya kota Naples. Gunung yang telah membisu sejak dua ribu tahun yang lalu itu juga dinamai “The Mountain of Warning” (Gunung Peringatan). Tentunya pemberian nama ini bukanlah tanpa sebab. Adzab yang menimpa penduduk Sodom dan Gommorah, yakni kaum Nabi Luth as, sangatlah mirip dengan bencana yang menghancurkan kota Pompeii.

    Di sebelah kanan gunung Vesuvius terletak kota Naples, sedangkan kota Pompeii berada di sebelah timur gunung tersebut. Lava dan debu dari letusan maha dasyat gunung tersebut yang terjadi dua milenia yang lalu membumihanguskan penduduk kota. Malapetaka itu terjadi dalam waktu yang sangat mendadak sehingga menimpa segala sesuatu yang ada di kota termasuk segala aktifitas sehari-hari yang tengah berlangsung. Aktifitas yang dilakukan penduduk dan segala peninggalan yang ada ketika bencana terjadi kini masih tertinggal persis sama seperti ketika bencana tersebut terjadi dua ribu tahun yang lalu, seolah-olah waktu tidak bergeser dari tempatnya.

    Pemusnahan Pompeii dari muka bumi oleh bencana yang demikian dasyat ini tentunya bukan tanpa maksud. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Saking banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak diketahui. Organ-organ kemaluan pria dengan ukurannya yang asli digantung di pintu tempat-tempat pelacuran tersebut. Menurut tradisi ini, yang berakar pada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya tidaklah tabu dan dilakukan di tempat tersembunyi; akan tetapi hendaknya dipertontonkan secara terbuka.

    Lava gunung Vesuvius menghapuskan keseluruhan kota tersebut dari peta bumi dalam waktu sekejap. Yang paling menarik dari peristiwa ini adalah tak seorang pun mampu meloloskan diri dari keganasan letusan Vesuvius. Hampir bisa dipastikan bahwa para penduduk yang ada di kota tersebut tidak mengetahui terjadinya bencana yang sangat sekejap tersebut, wajah mereka terlihat berseri-seri. Jasad dari satu keluarga yang sedang asyik menyantap makanan terawetkan pada detik tersebut. Banyak sekali pasangan-pasangan yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi sedang melakukan persetubuhan. Yang paling mengagetkan adalah terdapat sejumlah pasangan yang berkelamin sama, dengan kata lain mereka melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseks). Ada pula pasangan-pasangan pria dan wanita yang masih ABG. Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang masih utuh. Secara umum, raut-raut muka mereka menunjukkan ekspresi keterkejutan, seolah bencana yang terjadi datang secara tiba-tiba dalam sekejab.

    Dalam konteks ini, terdapat aspek dari bencana tersebut yang sangat sulit untuk dimengerti. Bagaimana bisa terjadi ribuan manusia tertimpa maut tanpa melihat dan mendengar sesuatu apapun?

    Aspek ini menunjukkan bahwa penghancuran Pompeii mirip dengan peristiwa-peristiwa adzab yang dikisahkan dalam Alqur’an, sebab Alqur’an secara khusus mengisyaratkan “pemusnahan secara tiba-tiba” ketika mengisahkan peristiwa yang demikian ini. Misalnya, “penduduk suatu negeri” sebagaimana disebut dalam surat Yaasiin ayat 13 musnah bersama-sama secara keseluruhan dalam waktu sekejap. Keadaan ini diceritakan sebagaimana berikut:

    “Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.” (QS. Yaasiin, 36:29)

    Di surat Al-Qamar ayat 31, pemusnahan dalam waktu yang singkat kembali disebut ketika kehancuran kaum Tsamud dikisahkan:

    “Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.”

    Kematian masal penduduk kota Pompeii terjadi dalam waktu yang sangat singkat persis sebagaimana adzab yang dikisahkan dalam kedua ayat di atas.

    Kendatipun semua peringatan ini, tidak banyak yang berubah di wilayah di mana Pompeii dulunya pernah ada. Distrik-distrik Naples tempat segala kemaksiatan tersebar luas tidaklah jauh berbeda dengan distrik- distrik bejat di Pompeii. Pulau Capri adalah tempat di mana para kaum homoseksual dan nudis (orang-orang yang hidup telanjang tanpa busana) tinggal. Pulau Capri diiklankan sebagai “surga kaum homoseks” di industri wisata. Tidak hanya di pulau Capri dan di Italia, bahkan hampir di seantero dunia, kerusakan moral tengah terjadi dan sayangnya mereka tetap saja tidak mau mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang dialami kaum-kaum terdahulu.

    ***

    harunyahya.com

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 3 April 2013 Permalink | Balas  

    siluet petaniMembaca Kemalangan

    Ini kisah tentang seorang petani tua yang bekerja di ladangnya. Suatu hari kudanya melarikan diri. Mendengar ini, tetangga si petani tua datang mengunjunginya, dan dengan penuh simpati berkata, “Oh, petani tua. Sungguh malang nasibmu.”

    Sang petani pun menjawab, “Mungkin saja.”

    Keesokan harinya, kuda itu kembali, bersama tiga kuda liar lainnya. “Sungguh menakjubkan. Betapa beruntungnya nasibmu,” seru tetangganya.

    Sang petani menjawab, “Mungkin saja.”

    Hari berikutnya, anak si petani tua mencoba menaiki salah satu kuda yang masih liar itu. Sang anak terlempar dari punggung kuda yang belum jinak itu. Kakinya patah. Mendengar ini, tetangganya datang mengunjunginya untuk memberi simpati atas kemalangannya,

    “Oh, petani tua. Betapa malang nasibmu.”

    Lagi-lagi sang petani menjawab, “Mungkin saja.”

    Keesokan harinya, seorang pejabat militer datang ke desa dan menyerukan kewajiban bagi setiap pemuda untuk berperang membela negara. Mengetahui bahwa kaki anak laki-lakinya patah, pejabat militer itu pun melewatinya. Para tetangga pun memberi selamat kepada si petani tua atas keberuntungan nasibnya.

    Sang petani tua pun menjawab, “Mungkin saja.”

    Cerita yang menggugah bukan? Nasib baik dan buruk sebenarnya tergantung dari cara kita memandangnya. Sepanjang kita bersyukur, tidak pernah ada yang buruk yang datang dari-Nya.

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Quran [2]:216).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 26 March 2013 Permalink | Balas  

    siluet keluarga 2Orang Tua Kita

    Pagi ini berangkat kantor ketika turun dari bus aku lihat bapak tua yang sedang memikul beban berat di pundaknya, dari fisiknya yang sudah renta mungkin umur bapak ini sudah hampir 70 tahun, tapi ketika aku melihat beliau sedang memikul pisang dagangan nya mungkin untuk di jual atau barusan habis belanja. Tampak sekali bapak ini kepayahan. Pingin sekali aku bisa membantu tapi akhirnya aku hanya bisa menatap iba, dan berdoa Ya Robb muliakan beliau

    Dan kemarin di bus aku bareng dengan seorang ibu, melihat dari keriput kulitnya umur ibu ini mungkin dah hampir 60 tahun tapi waktu itu beliau naik metromini dan dengan membawa beban belanjaan yang habis di belinya di pasar kebayoran, sudah kelihatan letih si ibu harus berdiri di bus karena memang tak ada lagi tempat duduk bahkan bus penuh sesak.

    Beberapa malam yang lalu aku sempat menyaksikan sekilas acara di TV, semacem reality Show yang di kemas dalam format humor. Acara yang di pandu oleh tokoh pelawak yang lagi hit di negeri ini, menghadirkan bintang tamu ayah kandung si presenter ini. Aku sedih melihat si bapak yang memang kelihatan orang dari kampung jadi bahan tertawaan dan candaan oleh anak nya sendiri.

    Sahabat..

    Pernahkah berfikir seperti apa perjuangan orang tua kita untuk memberi makan kita, melindungi kita, membahagiakan kita. Dengan tetesan darah, keringat dan airmata mereka berjuang, mungkin sosok2 diatas hanya segelintir contoh. Bahkan ada yang lebih berat lagi perjuangannya.

    Pernahkah kita membayangkan bagaimana orang tua kita dulu mencari uang untuk menyekolahkan kita, membelikan baju baru, membelikan apapun yang kita inginkan tanpa mengharap balas, setiap hari kita hanya menerima kebaikannya, kasih sayangnya yang tiada lelah dan tiada bosan.

    Pernahkah kita renungkan mungkin demi kita ayah dan ibu kita rela di caci maki orang, mungkin demi kita ayah ibu kita rela menahan malu mencari pinjaman uang, pernahkan kita renungkan itu???. Bahkan mungkin demi kita ayah ibu kita rela menahan lapar, menahan keinginan untuk memiliki baju yang bagus, untuk memiliki barang yang mewah. Tapi apa yang telah kita berikan pada mereka?? Sanggupkah kita membalas segala budinya, bahkan untuk bericara dengan lembut pun terasa begitu berat bibir ini. Bahkan mungkin kita sering menolak perintahnya, mengabaikan nasehatnya.

    Sahabat….

    Pepatah mengatakan ” orang tua kaya anak jadi raja, anak kaya orang tua jadi pembantu” pepatah ini bukan omong kosong belaka, karena banyak fakta yang membuktikan seperti itu. Ketika orang tua kaya segala keinginan anak dipenuhi tetapi ketika anak kaya tak jarang orang tua di perlakukan seperti pembantu, untuk mengurus anak, menjaga anak, bahkan menjaga rumah. Akankah kita juga seperti itu??

    Sahabat…

    Mari kita renungkan, dan intropeksi diri masing-masing terutama untuk diriku sendiri bagaimana perilaku kita selama ini, sudah kah kita termasuk anak yang berbakti, sudah sanggupkah kita menjaga lisan ini agar tidak menyakiti hati mereka, dan apa yang sudah kita lakukan untuk mebahagiakan mereka??, sudah kah kita mendoakan mereka di setiap sholat kita??

    Semoga kita termasuk anak yang berbakti dan bisa menjadi seorang anak yang soleh & solehah sehingga kita bisa menjadi penolong kedua orang tua kita kelak di yaumil akhir. Semoga kita bisa Mebahagiakan mereka di dunia dan akherat. Amiin

    “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh , dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” Q.S 4/36

    Wass

    Zrie_Kla

    ***

    Dari Sri Mulyani

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 25 March 2013 Permalink | Balas  

    syukurPengalaman Rohani: Mowo Purwito Disadarkan Sifat Wajib Allah

    Untuk sebagian besar umat Islam, terutama mereka yang tinggal di kampung, 20 sifat wajib Allah merupakan lafal yang sering diucapkan. Apalagi, buat mereka yang belajar di madrasah-madrasah maupun di majelis taklim. Bahkan kadang, 20 sifat wajib Allah ini dibaca dengan irama menarik, untuk mempermudah diingat dan dihafal.

    Lain lagi, buat Mowo Purwito Rahardjo. Bagi pria kelahiran Situbondo 28 Oktober 1965 ini, 20 sifat wajib bagi Allah tersebut telah membimbingnya menjadi seorang Muslim. ”Saya belajar teologi sudah lama tetapi yang saya pakai untuk perbandingan karena saya ingin melihat Islam justru pelajaran anak kelas 6 SD yang berbicara tentang 20 sifat wajib Allah kemudian ada asma al husna. Saya coba pelajari. Setelah saya dalami sifat wajib Allah, di situ saya membaca sifat-sifat Allah dari wujud, qidam, baqa, dan ada sebuah pernyataan yang sangat mengganggu pikiran saya bahwa Allah itu bersifat mukhalafatu lil hawadisi (berbada dengan makhluknya),” ungkap Mowo ketika mengisahkan pengalamannya menjadi seorang Muslim di Jakarta Rabu (14/2) malam.

    Suami dari Amik S Fatmawati SH ini pun tercengang membaca sifat wajib Allah tersebut. ”Saya tercengang, agak bingung juga dengan pernyataan ini membuat saya gelisah. Teryata zat Allah ini zat yang tidak sama setiap makhluk, zat yang tidak berfisik, zat yang tidak berjasad, yang sangat dibedakan dengan siapapun,” ujarnya.

    Bagi Mowo, ini sangat masuk akal juga karena Allah tidak berjasad dan berada di ruang yang tidak dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu mustahil Allah itu masuk ke dalam konsep ruang dan waktu. “Mustahil, Allah itu melakukan degradasi nature dari Sang Pencipta menyerupai ciptaannya.”

    Kekaguman tentang sifat-sifat wajib bagi Allah, terus menyentak sanubari ayah tiga putra ini. ”Saya juga menjumpai sifat Allah yang lain yaitu Allah qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri). Allah itu independen, berdiri sendiri, tidak bergantung kepada kita. Jadi untuk menyelamatkan manusia dengan kalamnya kun fayakun dengan kehendaknya maka jadilah.”

    Allah itu kekuasaannya tidak dibatasi oleh siapapun. Pemikiran ini membawa Mowo pada perenungan mengenai konsep Allah dan “proses tiga dalam satu” (trinitas). Dalam agamanya yang lama, konsep tentang Tuhan terjawab dalam polemik yang cukup panjang.

    Menilik ke belakang, tak mudah bagi Mowo untuk menjadi seorang Muslim. Semua bermula sejak tahun 2004, saat ia masih menjadi dosen sosiologi agama, fenomenologi agama, dan etika Kristen. Suatu hari, rekannya yang mengajar Islamologi (keislaman), meninggal dunia.

    Mencari dosen dalam waktu singkat tidak mudah. Apalagi untuk Islamologi, kendati mengajarkan keislaman, sang dosen harus beragama Kristen. “Akhirnya diputuskan secara darurat, sayalah yang menggantikan beliau mengajar tentang keislaman.”

    Ia bersyukur almarhum rekannya itu meningalkan modul dan diktat yang lengkap. Ajaran Islam-Kristen dikomparasi secara doktrinal. “Kita tahu bahwa ada beberapa titik-titik krusial yang menjadi polemik antara Islam dan Kristen khususnya kalau kita belajar tentang teos (Tuhan) dan logos (manusia) serta cosmos (alam semesta). Belum lagi kalau bicara kitab suci dan angelos (malaikat),” tambahnya.

    Tak ingin memberi pengertian yang salah pada mahasiswanya, ia mendalami Islam, khususnya bagaimana Islam menyoroti Kristen dari sudut ketuhanan. Sampai akhirnya menemukan “teori” 20 sifat wajib bagi Allah. September 2006 lalu ia bersyahadat.

    Mowo berlatar belakang pendidikan sosiologi. Kandidat Master of Art Religion ini dikenal sebagai pengajar teologi di Perguruan Tinggi Nusantara Malang, Jawa Timur dan beberapa STT di Malang. “Saya belajar di sekolah keteologian sampai mendapat gelar sarjana teologi,” ungkapnya yang mengaku mestinya 14 Februari lalu ia sudah diwisuda sebagai Master of Art Religion.

    Mowo sendiri tidak mempermasalahkan kenapa gelar tersebut belum disandangnya. Bagi dia, hidayah Islam yang diterimanya sudah lebih dari segalanya.

    Menurut dia, masing-masing agama punya klaim sendiri-sendiri. “Tapi kenapa saya harus memilih, ini tentang sebuah pilihan. Untuk memilih ini perlu perjalanan, perjuangan, perlu sebuah perenungan yang cukup dalam yang saya lakukan dari waktu ke waktu,” tegas pria yang pernah menjabat wakil sekretaris DPC Partai Damai Sejahtera (PDS) Malang, Jawa Timur ini.

    Lelaki ini memang dikenal aktif berorganisasi. Berbagai posisi penting dalam organisasi Kristen pernah dijalankannya. Selain pernah dipercaya sebagai pengurus DPC Partai Damai Sejahtera, Mowo pun pernah aktif di LSM Kristen bernama The Nation Care of Indonesia. Ia menjabat sebagai ketua Departemen Pengembangan Spiritualitas periode 2002-2006. Ia juga menjadi pengurus di Departemen Pemberdayaan Masyarakat di Gereja Kristen Injil Nusantara yang berkedudukan di kota Malang. n dam

    ***

    Drs Mowo Purwito R Dip HRD STh

    Tempat/Tgl. Lahir : Situbondo, 28-Oktober-1965

    Istri: Amik S Fatmawati SH

    Anak: Dida Nafiri (16 tahun) Dinar Naufal (12 tahun) Delpbel Oktobrian (8 tahun)

    Pendidikan: – S1 – FISIP Univ Merdeka Malang lulus tahun 1988 – Diploma Human Resources Development, tahun 1993 – Sarjana Theologia (STh)

    Seminari Alkitab Nusantara Malang –

    Kandidat Master of Art Religion (MAR), seharusnya diwisuda bulan Februari 2007 (drop out karena pindah agama)

    Sertifikat : Mendapat sertifikat dari Fuller Housing Minsitry, California, 2006 untuk terjun pada pelayanan Christianity Development, di Louisiana, USA, yang seharusnya berangkat bersama keluarga bulan Desember 2006 (dibatalkan karena pindah agama)

    Pekerjaan Sekarang: – Ketua Departemen Sumber Daya Manusia Forum Arimatea Jakarta – Kristolog dan Pemerhati Masalah Sosial Agama (dam)

    ***

    Republika Online

     
    • bejono777 6:11 am on 25 Maret 2013 Permalink

      hidayah melalui tradisi Islam di daerah, alhamdulillah

  • erva kurniawan 1:34 am on 23 March 2013 Permalink | Balas  

    pedagang kereta apiDan Gerbong Kereta Pun Bersaksi

    “Kemarin kau tak mengaji. Hari ini tak mengaji, tak sembahyang pula kau, mau jadi manusia macam apa kau nak,” tegur seorang ibu kepada anak lelakinya yang baru berusia sekitar delapan tahun.

    “Bukannya tak mau sembahyang mak. Di kereta banyak pembeli, kan sayang. Lagipula itu kan rejeki,” sanggah sang anak yang masih menggendong kotak rokok dan permen dagangannya.

    “Hey , apa kau bilang??? Rejeki tu sudah ada yang mengaturnya. Bukan kau yang menentukan apa kau dapat rejeki atau tidak hari ini. Kalau kau tak berdoa pada-Nya, mungkin esok kau tak seberuntung hari ini,”.

    Kata-kata itu, sungguh membuat ku terkesima. Sebuah cuplikan fragmen keimanan yang kutangkap hanya beberapa menit saat kuberdiri di Stasiun Kereta Api Pasar Minggu, Jakarta, tak seberapa masa menjelang Maghrib. Ada gemuruh yang menderu di dalam dada ini melihat pemandangan menakjubkan di depanku, terlebih mendengar dialog yang lumayan menggetarkan itu. Betapa tidak, seorang ibu yang tengah menggendong anaknya yang masih balita, ditemani putri sulungnya yang berusia tidak lebih dari dua belas tahun, meski tidak serapih muslimah-muslimah yang biasa kutemui di kampus-kampus atau perkantoran, tapi ia berusaha untuk menutupi bagian kepalanya dengan jilbab lusuh, bahu membahu bersama sang Ayah berdagang di emperan stasiun KA Pasar Minggu. Sementara anaknya yang lelaki, diberinya tanggungjawab berjualan rokok, tissue dan permen di gerbong KA Jabotabek.

    Mari, ingin sekali kuajak Anda merenung tentang mereka sebelum bicara tentang diri kita sendiri. Setiap dini hari mata terjaga mendahului kokok ayam paling pagi untuk mengepak barang-barang yang akan digelar di stasiun kereta api yang berdebu, kadang sesak di pagi dan sore hari saat jam pergi dan pulang kantor, yang sudah pasti tak berpengatur udara. Tak ada kursi empuk selain alas koran yang tidak jarang membuat pinggang dan tulang bokong mereka pegal-pegal sekaligus panas, jika tak sering-sering bangun, kemudian duduk kembali sekedar melancarkan peredaran darah. Keringat yang keluar tak bisa diukur dari nine to five seperti kebanyakan kita. Sedangkan si bocah lelaki keluar masuk dan turun naik dari gerbong ke gerbong, dari pagi hingga sore menjelang dengan segala bentuk bahaya yang senantiasa menanti.

    Tapi, tak sedikitpun mereka ragu bahwa Dia-lah yang mengatur semua rizki bagi manusia, tidak terkecuali mereka. Sehingga sedemikian marahnya si ibu setelah mendapat laporan dari si sulung bahwa anak lelakinya sudah dua hari tak mengaji, dan hari ini kedapatan tak sembahyang Dzuhur.

    Kemudian mari tengok diri ini. Di pagi hari tak perlu memanggul karung dan dus yang berat, untuk menggelarnya terpal di emperan manapun. Kita hanya perlu naik kendaraan menuju kantor, duduk di kursi yang empuk, mungkin tak ada peluh yang harus dibasuh karena seharian bekerja di ruangan ber-AC, dan tidak jarang masih mendapatkan pelayanan khusus dari office boy.

    Namun dengan kondisi yang demikian lebih baik, tidak jarang dzuhur dan ashar tertinggal, minimal sholat dzuhurnya menjelang ashar. Itu pun jika sempat. Seringkali kesibukan dan terlalu banyak pekerjaan menjadi alasan untuk tak melafazkan barang satu ayatpun kalimah-Nya. Tak mengertikah kita bahwa mungkin saja Dia yang maha mengatur rizki itu tak lagi memberikan kita semua kesibukan yang hari ini menjadi alasan untuk tak mendekati-Nya?

    Sungguh, enggankah kita membiarkan semua pekerjaan, komputer, meja kerja, kursi empuk, telepon yang berdering-dering itu kelak menjadi saksi di hadapan Allah, bahwa mereka pernah ditinggal oleh pemiliknya di waktu-waktu tertentu saat kita bermunajat pada-Nya?

    Adzan Maghrib pun berkumandang, kuikuti punggung-punggung mereka yang menuruti langkah-langkah kecil menuju mushola.

    ***

    Oleh: Bayu Gawt

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 21 March 2013 Permalink | Balas  

    doaUntung Saja, Allah Tidak Mengabulkan Doa Kami

    Mengapa seseorang yang do’anya tak dikabulkan, Justru ia bersyukur..?

    Waktu di Masjidil Haram, memang sangat banyak waktu kita untuk bertafakur. Maka bertafakurlah pada hal-hal yang positif untuk melihat Allah. Untuk bertemu dengan Allah. Agar hidup ini menjadi semakin bermakna, dan agar kita akan selalu bisa bersamaNya.

    Ketika aku bertafakur menyendiri, aku teringat pada sebuah kejadian nyata yang sangat perlu untuk aku tuliskan di diskusi ini.

    Suatu saat ada seorang teman yang bercerita tentang pengalamannya yang sangat unik dan menarik.

    Pak Kusuma, pernah naik mobil bersama keluarganya dari kota Malang menuju kota Solo. Mereka berangkat naik mobil pribadi. Berangkatnya malam hari. Dipilihnya malam hari agar perjalanan menjadi nyaman, dengan harapan mereka bisa istirahat dalam perjalanan yang cukup jauh itu.

    Udara malam itu cukup cerah. Sebelum mereka berangkat, kondisi mobil dikontrolnya dengan teliti. Mulai dari kondisi ban mobil sampai dengan peralatan kunci mobil. Setelah semua cukup aman dan sudah lengkap, berangkatlah mereka satu keluarga menuju kota Solo. Mobil itu dikemudikan oleh pak sopir mereka. Dalam kondisi normal perjalanan kedua kota itu akan ditempuh selama lebih kurang enam sampai dengan tujuh jam.

    Pak Kusuma dan keluarganya berangkat sekitar pukul 21.00, dengan harapan menjelang subuh sekitar pukul 04.00 sudah sampai di kota tujuan. Di awal perjalanan mereka tidak menemui kendala dan hambatan yang berarti. Semua lancar-lancar saja. Mobil pun melaju dengan nyaman ke arah kota Solo. Tetapi ketika perjalanan sudah mencapai setengah lebih dari jarak yang ditempuh, yaitu ketika mobil berada di daerah Ngawi, tiba-tiba saja mobil berhenti dan macet. Maka para penumpangpun bangun semua dari tidurnya.

    Kata mereka :

    “ada apa pak Sopir..?”

    “Ndak tahu pak, koq tiba-tiba mobil macet..” Penumpang lain pun menanggapi :

    “wah kenapa ya…? Mogoknya di tempat yang sepi lagi…”

    “iya…,” jawab yang lain.

    “Sekarang masih jam 02.00 dini hari…, wah kemana kita cari pertolongan ?”

    Jawab pak sopir :

    “pak, biar saya yang cari pertolongan. Semua di dalam mobil saja”

    “Saya mau naik bus yang ke arah Solo atau kota terdekat dari sini. Mudah-mudahan secepatnya akan saya dapatkan seorang montir ahli.” Mudah-mudahan pula segera ada bus yang lewat.”

    “Saya nggak tahu kenapa koq tiba-tiba mobil ini macet…padahal sebelum berangkat tadi sudah saya kontrol semuanya.!”

    “Baiklah” jawab yang lain.

    Maka pak sopir pun keluar dari mobil, ia berdiri di pinggir jalan untuk mencegat bus yang ke arah solo.

    Kurang lebih satu jam, pak sopir berdiri, dan tidak satu pun bus lewat. Padahal biasanya sekitar lima belas menit selalu saja ada bus yang lewat. Ada apa gerangan? Pikir para penumpang. Tidak terkecuali pak Kusuma

    Maka semua penumpang pun berdo’a agar secepat-nya ada bus yang lewat, agar kesulitan mereka cepat teratasi.

    Dalam kondisi semacam itu, tiba-tiba ada sebuah pikiran aneh dalam diri pak Kusuma. Ia berbicara pada dirinya sendiri. Katanya :”Bagaimana ya, cara Allah menolong kami yang dalam kondisi seperti ini? Jauh dari keramaian, di tengah malam, tak ada rumah di sekeliling, bahkan bus pun tak ada yang lewat….Tapi sungguh saya yakin bahwa Allah akan menolong hambaNya yang sedang mengalami kesulitan seperti ini. Tetapi bagaimana ya, caranya…? Rasanya seperti nggak mungkin ada pertolongan datang pada saat seperti ini…”

    Waktu pun terus berjalan! Tanpa terasa hampir dua jam mereka menunggu bus lewat. Tetapi tak ada yang kunjung lewat. Sehingga mereka hampir frustasi dibuatnya.

    Ketika semua penumpang dan juga pak sopir yang berdiri menunggu bus lewat hampir putus asa, tiba-tiba terlihat dari kejauhan lampu sebuah sepeda motor yang redup. Setelah sepeda motor tersebut dekat dengan mobil, terlihat seorang pengendara memakai jaket tebal sebagai pelindung tubuh dari dinginnya malam.

    Ketika persis di dekat mobil yang lagi macet itu, pengendara membelokkan sepedanya ke sebelah kiri. Ternyata di dekat mobil mereka itu ada sebuah rumah kecil sederhana yang tidak nampak sebelumnya, karena gelapnya malam. Tambahan lagi banyak pohon-pohon besar yang menutupinya.

    Sang pengendara sepeda motorpun berhenti di depan rumah terpencil itu. Tidak tahu apa penyebabnya, tiba-tiba pak sopir yang belum menemukan bus lewat itu menghampiri pengendara sepeda motor yang lagi mengetuk pintu rumah sederhana.

    Ketika pak sopir sudah dekat dengan si pengendara, dan ketika si pengendara sepeda motor melepas Helm nya….tiba-tiba pak sopir berteriak saking terkejutnya!

    Hei, mas Haris! koq anda di sini? ada keperluan apa?”

    Lho, anda ‘koq juga disini, sedang ngapain?” “Wah, kebetulan sekali mas. Ini Iho, mobil yang saya bawa ini lagi mogok. Dan saya nggak tahu, apa penyebabnya..! Wah, tolong ya mas…!?”

    “…oh, begitu,.. Ada lampu senter?”

    “Ada mas..!”jawab pak sopir!

    Maka diambilnya lampu senter dari dalam mobil mereka. Kemudian mas Haris mulai beraksi memperbaiki mobil tersebut. Anehnya tidak begitu lama, mesin mobil itu sudah bisa diperbaiki. Ternyata kerusakannya tidak terlalu berat. Tetapi kerusakan yang sedang terjadi itu, justru tidak diketahui oleh pak sopir. Tidak lebih dari lima menit, selesailah mobil tersebut diperbaiki oleh pak Haris, si pengendara sepeda motor.

    Sebenarnya siapakah pengendara sepeda motor itu? Mengapa begitu cepat ia bisa memperbaiki mobil yang lagi mogok?

    Ketika aku menuangkan cerita singkat ini, akupun menjadi merinding…

    Ternyata si pengendara sepeda motor itu, adalah montir ahli di sebuah bengkel langganan pak sopir, di kota Malang. Ia lagi menjenguk keluarganya yang rumahnya persis di dekat mobil yang lagi mogok tersebut…

    Maka tidak heran jika ia begitu cepat dapat memperbaiki kerusakan mobil mereka.

    Yang menjadikan aku termangu, adalah :

    Mengapa pengendara sepeda motor itu ke rumah familinya pada waktu malam hari, kenapa tidak siang hari saja? Dan mengapa waktunya persis dengan mobil yang lagi membutuhkan pertolongan? Apa yang menyebabkannya ?

    Mengapa mobil tersebut mogoknya tepat berada di dekat rumah itu? Apa pula yang menyebabkannya ?

    Mengapa kerusakan mobil yang cukup sederhana itu, pak sopir tidak bisa memperbaikinya? Apa yang menyebabkannya ?

    Mengapa sampai lama tidak ada bus lewat, sehingga akhirnya pak sopir bisa bertemu dengan mas Haris sang pengendara sepeda motor yang ahli memperbaiki mobil itu? Apa yang menyebabkan?

    Dan apa pula yang menyebabkan pak Kusuma sekeluarga pergi ke kota Solo, berangkat malam hari, dan jam berangkatnya begitu ‘tepat’ sehingga terjadilah peristiwa yang cukup unik di kota Ngawi itu…?

    Aku-pun berandai-andai,…

    Andaikata dalam waktu singkat ada bus lewat, dan pak sopir ikut bus tersebut untuk mencari montir ke kota berikutnya, sungguh menjadi runyam persoalannya…. Montir belum tentu didapatkan. Para penumpang mobil yang kebanyakan masih anak-anak itu, tentu akan mengalami rasa takut berkepanjangan ditinggal sendirian di tempat yang gelap semacam itu.

    Andaikata mobil tersebut mogok di lokasi lima puluh meter saja, lebih jauh dari tempat terjadinya peristiwa itu, tentu pak sopir tidak akan bertemu dengan si pengendara sepeda motor.

    Andaikata berangkatnya si pengendara sepeda motor, satu jam saja lebih lambat dari saat itu, atau ketika di perjalanan ia mengalami trouble dengan kendaraannya, maka tak akan bertemulah mereka semuanya.

    Andaikata do’a para penumpang mobil itu dikabulkan Allah pada saat itu juga, agar pak sopir bisa pergi ke Solo naik bus …… Akh, sungguh mereka akan kalang-kabut sendiri….

    Andaikata….. andaikata…

    Ah, sungguh terlalu banyak kita berandai-andai. Tetapi ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama. Bahwa setiap kejadian yang ada di muka bumi ini, bahkan juga yang ada di langit, semua tak ada yang terjadi dengan sendirinya. Tak ada yang terjadi dengan sia-sia. Tak ada yang terjadi secara kebetulan. Semua karena kehendak Sang Maha Kuasa, yang mencipta alam raya ini. Yang setiap hari Dia dalam kesibukan mengatur semua urusan dan persoalan para makhlukNya.

    QS. Ar-Rahmaan (55) : 29-30

    Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

    Satu hal lagi yang perlu kita renungkan,

    Mengapa bus-bus yang biasanya sering lewat itu, pada saat itu, tak ada yang lewat? Padahal mereka memiliki penumpang yang sangat banyak. Tentu semuanya menginginkan perjalanannya tidak terhambat dan tidak terlambat sampai pada tujuannya.

    Andaikata terlambatnya para bus itu, dikarenakan para sopirnya masih istirahat di suatu tempat, siapa yang menyuruh mereka istirahat?

    Andaikata terlambatnya para bus itu, dikarenakan ada penumpang yang sakit perut ketika makan malam, dan ia harus ke kamar mandi dalam waktu yang agak lama di suatu rumah makan, siapa yang menyebabkan sakit perut?

    Andaikata ada bus yang bannya gembos terkena paku di jalan, sehingga harus memperbaiki, dan mengganti ban mobil. Siapakah yang menyebabkannya? Mengapa ada paku yang tepat mengenai ban mobil pada bus yang sedang ditunggu oleh pak sopir yang mobilnya lagi mogok di kota Ngawi?

    Andaikata terlambatnya semua bus tersebut, dikarenakan adanya kemacetan lalu lintas yang dikarenakan terlambatnya Kereta Api yang melintasi jalanan, siapa yang menyebabkan itu semua?

    … Sungguh masih banyak hal-hal yang menyebabkan semua itu bisa terjadi. Berpuluh, bahkan mungkin bisa beratus-ratus variable penyebabnya….

    Hal apa yang bisa kita ambil dari peristiwa unik tersebut?

    Sebuah pelajaran menarik, telah kita dapatkan dari peristiwa itu. Andaikata Allah mengabulkan do’a para penumpang mobil mogok, agar ada bus yang lewat, pada saat pak sopir menunggu bus, maka tentu tidak teratasi permasalahan mobil mogok itu.

    Dengan kata lain, Allah telah menolong para penumpang mobil mogok itu dengan cara, ‘tidak mengabulkan do’a mereka!’ Tetapi Allah mengabulkan harapan mereka, menolong mereka dari kesulitan…

    Pak Kusuma menutup ceritanya dengan mata berkaca-kaca menahan jatuhnya setetes air mata…

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 19 March 2013 Permalink | Balas  

    jodohKetika Aku Meminta Sedikit

    Oleh: Rico Atmaka

    Sahabat-sahabat, ketika usiaku 25 tahun, aku sudah memiliki niat untuk menikah, meskipun hanya sekedar niat, tanpa keilmuan yang cukup. Karena itu, aku meminta jodoh kepada Allah dengan banyak kriteria. Dan Allah-pun belum mengabulkan niatku.

    Ketika usiaku 30 tahun, semua orang-orang yang ada di sekelilingku, terutama orang tuaku, mulai bertanya pada diriku dan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri. Maukah aku segera menikah atau mampukah aku menikah? Dalam doaku, aku kurangi permintaanku tentang jodoh kepada Allah. Rupanya masih terlalu banyak. Dan Allah-pun belum mengabulkan niatku.

    Ketika usiaku 35 tahun, aku bertekad, bagaimanapun caranya, aku harus menikah. Saat itulah, aku menyadari, terlalu banyak yang aku minta kepada Allah soal jodoh yang aku inginkan. Mulailah aku mengurangi kriteria yang selama ini menghambat niatku untuk segera menikah, dengan bercermin pada diriku sendiri.

    Ketika aku minta yang cantik, aku berpikir sudah tampankah aku?

    Ketika aku minta yang cukup harta, aku berpikir sudah cukupkah hartaku?

    Ketika aku minta yang baik, aku berpikir sudah cukup baikkah diriku?

    Bahkan ketika aku minta yang solehah, bergetar seluruh tubuhku sambil berpikir keras di hadapan cermin, sudah solehkah aku?

    Ketika aku meminta sedikit…..Ya Allah, berikan aku jodoh yang sehat jasmani dan rohani dan mau menerima aku apa adanya, masih belum ada tanda-tanda Allah akan mengabulkan niatku.

    Dan ketika aku meminta sedikit…sedikit…sedikit…lebih sedikit…..Ya Allah, siapapun wanita yang langsung menerima ajakanku untuk menikah tanpa banyak bertanya, berarti dia jodohku. Dan Allahpun mulai menujukkan tanda-tanda akan mengabulkan niatku untuk segera menikah. Semua urusan begitu cepat dan mudah aku laksanakan. Alhamdulillah, ketika aku meminta sedikit, Allah memberi jauh lebih banyak. Kini, aku menjadi suami dari seorang istri yang melahirkan dua orang anakku.

    Sahabatku, 10 tahun harus aku lewati dengan sia-sia hanya karena permintaanku yang terlalu banyak. Aku yakin, sahabat-sahabat jauh lebih mampu dan lebih baik daripada yang suadh aku jalani. Aku yakin, sahabat-sahabat tidak perlu waktu 10 tahun untuk mengurangi kriteria soal jodoh. Harus lebih cepat!!! Terus berjuang saudaraku, semoga Allah merahmati dan meridhoi kita semua. Amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 18 March 2013 Permalink | Balas  

    cinta di hari tuaCinta di Hari Tua

    Oleh Sakti Wibowo

    Saat itu saya dalam perjalanan pulang kampung. Karena trayek bis hanya sampai kota Ngadirojo, sebuah kota kecil sekitar dua puluh kilo dari tempat tinggal saya, saya harus nyambung angkutan lokal dari Ngadirojo ke Baturetno.

    Matahari belum sempurna terbit saat saya memutuskan memilih sebuah minibus, berbaur dengan para pedagang kerupuk, serabi, tempe, bahkan kambing dan ayam. Untuk kambing, jelas tempatnya terpisah, ditempatkan di bagasi. Sementara, beberapa keranjang berisi ayam yang tak berhenti berkeciap berikut bau kotorannya yang memengapkan ruangan minibus, tumpang tindih dengan kardus-kardus berisi kerupuk dan makanan ringan lainnya, menjejali pintu utama.

    Setelah minibus berjalan sekitar lima belas menit, dua orang penumpang naik. Seorang nenek tua yang terlihat sedang sakit, berjalan dengan menggunakan tongkat bambu wulung yang dipotong seadanya. Melihat warna mengilap di bagian pegangan tongkat, saya menyimpulkan bahwa tongkat itu telah cukup lama dipakai sehingga meninggalkan bekas yang khas. Seorang kakek di belakangnya. Tak kalah renta. Saya menaksir usianya sekitar awal delapan puluhan.

    Minibus penuh sesak. Tak ada bangku kosong. Sang nenek tertatih-tatih saat menaiki minibus. Bahkan, sang kondektur harus mengangkatnya dengan susah payah, sementara si kakek menyusul di belakangnya, membantu sang kondektur-kendati saya yakin, bantuan ‘tenaga’ si kakek tidak berpengaruh apa-apa, malah mungkin justru merepotkan.

    Saya tawarkan tempat duduk saya kepada si nenek, namun ia ragu-ragu. Hanya senyuman-saya merasa senyum ini begitu sedap dan ikhlas-yang dihadiahkannya. Saya mencoba meyakinkannya. “Silakan, Mbah! Saya nggak apa-apa, kok, berdiri. “

    Masih dengan ragu-ragu, si nenek kemudian bercerita bahwa ia hendak periksa ke Dokter ‘X’, seorang dokter yang cukup terkenal di Baturetno.

    Ketika sekali lagi saya menawarkan bangku dengan bergegas berdiri, ia menatap kedua kakinya yang terlihat kaku. “Saya tidak bisa duduk, ” katanya. “Boleh untuk si Mbah saja?” ia menunjuk sang kakek.

    Tentu saja, saya mengangguk, mempersilakan duduk sang kakek. Dan, setelah itu, yang saya lihat adalah hal yang sungguh dramatis. Sang nenek, karena kedua kakinya tidak bisa ditekuk, ternyata memang benar tidak bisa duduk dengan wajar. Suaminyalah yang duduk, dan setengah memangku isterinya itu dengan penuh kasih. Sebelah tangan renta keriputnya-yang tak bisa menyembunyikan gemetar-berpegangan pada sandaran bangku, sedangkan sebelah lagi melingkar di tubuh renta isterinya. Sedangkan sang nenek, berpegangan pada pundak lelakinya.

    Saya tak tahu pasti apa yang lintas dalam pikiran masing-masing. Yang saya lihat hanyalah ‘kesempurnaan’ cinta seorang manusia. Saya begitu terharu dan merasa tak akan mampu menaksir kedalaman cinta keduanya. Cinta yang bertahan hingga di usia senja. Saya hanya sanggup mereka-reka dialog seperti apa yang layak untuk adegan semenakjubkan ini. Begini:

    Si lelaki, dengan bahu kokoh dan lengannya yang perkasa, menawarkan rasa aman kepada isterinya. “Tenanglah, Sayang, tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi. Kau akan aman berada di sampingku. “

    Sementara si wanita, dengan kepasrahan seorang isteri, menyandarkan kepalanya di dada bidang itu, “Bawalah aku ke mana kau pergi, Kekasih! Sebab aku tahu, kaulah waliku di akhirat nanti. Bawalah, dan aku akan serta. Tak peduli sakit ini. Tak usah khawatir, sebab aku tak mengeluhkannya. Bukankah kita hanya semata berusaha mencari kesembuhan-Nya?”

    • * *

    Saya masih melihat-dan tak ingin melewatkannya-saat sang kakek menuntun isterinya menyeberang jalan. Ya, sementara banyak pasangan yang cintanya meredup saat memasuki usia kepala lima, atau malah jauh sebelumnya.

    Saya teringat bagaimana banyak pasangan, di hari tuanya memilih hidup terpisah. Bukan bercerai. Sang ibu mengikut tinggal di rumah anaknya, sedang si kakek di rumah anaknya yang lain. Kalaupun ada yang lebih ‘harmonis’ dari itu, tetap saja saya akan begitu sulit mendapatkan sepasang kakek-nenek membahasakan cinta dengan begitu romantis.

    Sayang, saya lupa tidak menanyakan nama keduanya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 6 March 2013 Permalink | Balas  

    RollFilm1Memutar Video Kehidupan

    Bisakah di Masjidil Haram memutar video…?

    Pak Imran, seorang jamaah dari Makassar, pernah bercerita tentang pengalaman ruhaninya ketika berada di dekat ka’bah. Sejak berangkat dari tanah air pak Imran sudah mempunyai pendirian, bahwa nanti sesampai di Mekah, khususnya ketika di masjidil Haram, ia tidak akan mencium hajar aswad seperti keinginan para jamaah haji pada umumnya.

    Entah apa yang menyebabkan pendiriannya semacam itu. Tetapi satu hal yang pak Imran inginkan yaitu bahwa ia ingin berdo’a senikmat mungkin di dinding Ka’bah. Yang disebut multazam! Keinginan tersebut rupanya sudah terpatri kuat-kuat dalam hatinya sejak pak Imran mengikuti manasik haji.

    Sesampai di Masjidil Haram, begitu pak Imran melihat setiap jamaah ternyata ingin mencium hajar aswad, hati pak Imran tetap tidak tergerak sedikit pun untuk menciumnya. Bahkan ketika ada seorang jamaah perempuan yang ingin mencium hajar aswad, pak Imran dengan gigihnya mengawal orang sebut dari kerumunan jama’ah lainnya. Dan akhirnya orang tersebut berhasil menciumnya. Maka dengan wajah sangat puas, orang tersebut mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga kepada pak Imran.

    Ternyata sudah ada beberapa orang yang tertolong oleh pak Imran berkaitan dengan masalah pencium hajar aswad. Keesokan harinya, pak Imran ternyata tergoda juga untuk ikut merasakan bagaimana rasanya bisa mencium batu hitam itu. Maka dengan teknik dan pengalaman yang ia miliki, ketika ia beberapa kali berhasil menolong orang lain, pak Imran mulai beraksi mendekati hajar aswad.

    Berdesak-desakan di antara kerumunan orang banyak, dan dengan teknik ‘canggih’ yang dimilikinya, pak Imran yang posisinya berada jauh dari ka’bah bisa berangsur-angsur bergerak mendekati hajar aswad. Akh, betapa gembiranya hati pak Imran.

    Dalam hati pak Imran cukup berbangga dengan caranya ia bisa mendekati hajar aswad di tengah keramaian yang luar biasa itu. Ketika dirinya tinggal meraih batu itu untuk diciumnya, ternyata pak Imran merasa kesulitan. Beberapa kali ia mental keluar lagi. Begitu sudah dekat mukanya ke batu tersebut, tinggal menciumnya saja, kembali ada semacam gelombang manusia yang menghantamnya, dan kembali ia terpental dan tidak berhasil untuk menciumnya. Sampai akhirnya pak Imran putus asa.

    Maka ia membiarkan saja ketika dirinya mengikuti putaran thawaf sampai akhirnya ia keluar dan menjauh dari hajar aswad yang ditujunya. Dan pak Imran pun hanya bisa mengeluh seorang diri:

    ” …Kenapa ya, kemarin begitu mudahnya aku menolong orang lain, bahkan beberapa orang bisa aku lindungi untuk membantu mereka bisa mencium hajar aswad. Tetapi sekarang ketika giliranku untuk menciumnya, begitu sulitnya aku mencapainya. Padahal tinggal sejengkal saja…. Tapi tetap saja aku gagal untuk menciumnya…”

    Akhirnya pak Imran merasa betul-betul gagal dalam upayanya mencium batu hitam yang terkenal dengan nama hajar aswad itu.

    Pada keesokan harinya, pak Imran sudah melupakan kejadian itu. Ia dan keluarganya menuju masjid untuk melakukan aktivitas rutin yang berupa thawaf maupun shalat di masjidil Haram.

    Ketika hari menjelang dhuhur, pak Imran mendapat tempat duduk di shaf yang agak dekat dengan ka’bah. Di tengah kerumunan jama’ah yang luar biasa banyaknya itu, pak Imran berusaha mendekati ka’bah. Ia tidak ambil peduli tentang kegagalannya mencium hajar aswad kemarin. Kini pak Imran terfokus ingin sekali mohon ampun atas segala kesalahannya, baik selama ia melakukan perjalanan musim haji ini, atau juga kesalahan masa lalunya.

    Pak Imran begitu gagal mencium hajar aswad kemarin, sudah merasa bahwa ada kesalahan yang besar yang ia lakukan. Yaitu ia telah merasa berbangga diri dapat menolong beberapa jamaah perempuan ketika ia di dekat hajar aswad. Ia merasa bahwa yang membuat beberapa orang tersebut bisa mencium hajar aswad karena berkat pertolongannya. Pak Imran kini merasa sadar. Bahwa semua peristiwa adalah karena Allah semata. Ia sungguh merasa salah. Maka ingin sekali pak Imran saat itu bertaubat, dan mohon ampun kepada Allah atas segala kekeliruannya.

    Tanpa disadarinya, pak Imran berjalan menuju ke arah ka’bah. Yaitu pada suatu area sempit, tetapi begitu banyaknya kerumunan para jama’ah di tempat itu. Pak Imran terus saja maju ke arah kerumunan para jamaah. Hatinya begitu ingin masuk ke dalam kerumunan itu.

    Ketika pak Imran sudah dekat dengan ka’bah, tiba-tiba kerumunan itu ‘membuka’ memberi jalan pada pak Imran. Maka dengan begitu mudahnya pak Imran masuk ke dalam berjubelnya para jamaah, dan iapun langsung menempelkan muka dan tangannya, dan juga seluruh tubuhnya di dinding ka’bah. Sambil tiada hentinya air matanya meleleh membasahi pipinya. Tak tahu apa yang diucapkannya.

    Yang jelas seluruh perasaannya tumpah bersama air matanya membasahi dinding ka’bah. Begitu nikmatnya pak Imran, seluruh persoalan hidupnya seolah tak ada lagi. Semua ia serahkan kepada Sang Penciptanya. Pak Imran pun tenggelam dalam dekapan Sang Kekasih.

    Ketika kutanyakan apa yang dirasakan saat itu, pak Imran hanya bisa menjawab :

    “… Saya barusan memutar video kehidupan saya. Saya melihat dengan jelas betapa banyaknya saya melakukan kesalahan dan kekeliruan. Bahkan saya merasa sering lupa mensyukuri nikmat Allah yang begitu banyak saya terima setiap harinya… Ah, betapa tidak adilnya saya. Allah begitu murahnya memberi apa saja untukku. Sementara aku begitu tak tahu diri. Kemurahan itu, aku tukar dengan pengabdian yang tidak semestinya….”

    Yang aneh, kata pak Imran :

    “…Begitu lamanya saya berada di Multazam. Padahal banyak sekali orang antri, dan banyak yang tidak mempunyai kesempatan meskipun hanya sesaat untuk sekedar berdo’a. Sementara saya bisa begitu lamanya melihat video kehidupan saya…”

    Ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan atau bahkan menjadikan kesimpulan pak Imran.

    Ternyata jika sejak awal hati itu sudah tidak ingin akan sesuatu, ada saja jalannya, sehingga keinginan yang muncul secara spontan, tidak akan tercapai. Karena tidak sesuai dengan maksud hati semula. Contohnya adalah ketika ia sudah sejak awal tidak ingin mencium hajar aswad, sampai berupaya semaksimum apa pun, tetap saja keinginan pak Imran itu tak terwujud. Bahkan ironisnya ia bisa menolong dan membantu beberapa jamaah yang ingin mencium hajar aswad, sampai mereka bisa melakukannya.

    Sebaliknya jika sejak awal hati sudah terfokus akan sesuatu, dan hati sudah begitu inginnya untuk menikmatinya, ada saja jalannya, maka dengan mudahnya akan terwujudlah keinginan itu. Contohnya adalah begitu mudahnya pak Imran meraih multazam. Bahkan ia bisa berlama-lama disitu.

    Menurut pak Imran begitu mudahnya ia mencapai maksud hatinya. Menurut kesimpulan pak Imran, hati memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyatnya. Bisa membuat sesuatu menjadi mudah. Juga bisa membuat sesuatu menjadi sulit. Bergantung bagaimana sikap hati kita.

    Ketika hati tak tergerak untuk mencium hajar maka dengan upaya apa pun tetap saja keinginan itu tak tercapai. Ketika hati sejak awal berangkat sudah dengan ikhlas berniat ingin berdo’a di multazam, maka begitu mudahnya mencapai keinginan itu.

    Bersabda Rasulullah saw :

    Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi Allah melihat langsung dan memperhatikan niat dan keikhlasan dalam hatimu.

    (HR. Muslim, dari Abu Hurairah)

     

    Oleh Sahabat: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 5 March 2013 Permalink | Balas  

    Febi-Ummu-Zaki_produktif3Febiana Kusuma Ariesta: Masuk Islam Setelah Meragukan Natal Yesus

    Ketika hidayah Ilahi datang tak ada kekuatan apapun yang mampu membendung. Potensi akal, kajian ilmiah dan perenungan yang mendalam, menyampaikannya pada hidayah Ilahi. Mantan guru Sekolah Minggu di gereja ini pun berikrar masuk Islam dan memilih jalan tauhid wal jihad. Dahsyatnya ujian dan musibah datang silih berganti, justru menambah kokohnya iman sang muallaf. Allahu Akbar!!!*

    Tiga puluh tiga tahun silam, Febiana Kusuma Ariesta dilahirkan dalam keluarga besar Kristen fanatik. Kakek dan neneknya adalah aktivis gereja. Bahkan ibunya seorang misionaris yang aktif menginjili hingga ke Nusakambangan.

    Dari keluarga aktivis di gereja itulah Febi mengenal Kristen hingga terdidik untuk menjadi aktivis gereja. Semasa kecil, ia beribadah di GPIB Cinere, ketika remaja ia pindah ke Gereja Alfa Omega di Semarang. Pada masa remaja, saat SMA Febi menjadi guru Sekolah Minggu di gereja.

    “Opung saya, laki-laki dan perempuan itu semua aktif di gereja. Dari merekalah saya mengenal Kristen dan aktif di gereja. Sejak saat itu saya mulai aktif di kegiatan gereja, saat natal itu ada drama dan paduan suara,” ujarnya kepada IDC Voa-Islam, Ahad lalu.

    Saat mengikuti drama Natal itulah imannya sedikit demi sedikit mulai goyah. Akal dan hati nuraninya tidak bisa menerima peringatan hari ulang tahun kelahiran Tuhan. Penelitiannya berlanjut ketika ia membaca kisah Natal dalam Alkitab (Bibel).

    …Saat mengikuti drama Natal imannya mulai goyah. Akal dan hati nuraninya tak bisa menerima peringatan hari ulang tahun kelahiran Tuhan…

    Dalam Injil Lukas pasal 2 diceritakan bahwa pada saat kelahiran Yesus, para penggembala ternak berada di padang Yudea.

    *“**Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di** **padang** **menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam”* (Lukas 2:8).

    Menurut ilmu meteorologi dan geofisika, keadaan cuaca di Timur Tengah pada tanggal 25 Desember dan sekitarnya, di wilayah Yudea daerah kelahiran Yesus, adalah musim salju yang sangat dingin. Mustahil para penggembala membawa ternaknya ke padang pada malam hari di musim salju yang sangat dingin?

    Febi menyimpulkan bahwa Yesus tidak mungkin lahir tanggal 25 Desember karena tidak sesuai dengan situasi kelahiran Yesus yang tercatat dalam Bibel.

    “Jadi buat saya ini tidak masuk akal. Sejak saat itu kehidupan saya mulai tidak tenang dan mulai mencari-cari keyakinan yang benar,” jelasnya.

    Dalam kegalauan iman, Febi berusaha lebih aktif ke gereja untuk mencari jawaban. Tapi yang ia dapatkan bukan ketenangan, malah merasakan banyak keganjilan.

    …Dalam kegalauan iman, semakin aktif ke gereja untuk mencari jawaban, yang ia dapatkan bukan ketenangan, malah merasakan banyak keganjilan…

    Sebelum dibabtis Febi mengikuti Katekisasi gereja untuk pendalaman iman. Saat belajar itu Febi makin menemukan banyak pertanyaan dan keraguan yang belum terjawab.

    Salah satu doktrin Kristen yang terasa ganjil di benaknya adalah inkarnasi Tuhan menjadi manusia Yesus untuk ditangkap, diolok-olok, disiksa, dicambuk, disesah, diludahi dan disalib hingga tewas mengenaskan di tiang salib (Markus 10:34).

    “Ini tidak masuk akal, kok ada Tuhan yang menjelma jadi manusia lalu disiksa dan disalib. Kalau Tuhan itu Maha Pengampun dan penuh Kasih, kenapa tidak dia ampuni saja dosa manusia tanpa prosedur sadis seperti itu?” ujarnya.

    Suatu hari Febi diajak keluarganya ke Yogyakarta untuk berziarah rohani di Gua Maria Lourdes. Di situ saya disuruh membaca Doa Bapa Kami: “Bapa kami yang di surga, dipermuliakanlah kiranya nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu, seperti di surga, demikian juga di atas bumi. Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Dan ampunilah kiranya kepada kami segala kesalahan kami, seperti kami ini sudah mengampuni orang yang berkesalahan kepada kami. Dan janganlah membawa kami kepada pencobaan, melainkan lepaskanlah kami daripada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.”

    Setelah merenungi Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus di Taman Getsemani dalam Injil Matius 6:9-13 ini, Febi makin ragu terhadap doktrin Trinitas.

    “Saya kemudian berpikir, sebenarnya Yesus itu siapa? Kok Yesus mengajarkan berdoa kepada Bapak yang ada di surga, Tuhan itu ada berapa?” kenangnya.

    Semakin mendalami Bibel, Febi semakin meragukan doktrin ketuhanan Yesus. Injil Matius 4:1-11 menceritakan bahwa Yesus dibawa Roh ke padang gurun untuk dicobai iblis. Febi semakin meragukan doktrin ketuhanan Yesus. Jika Yesus adalah Tuhan atau penjelmaan Tuhan, mengapa dia bisa dicobai iblis yang jahat? Ini bertentangan dengan Surat Yakobus 1:13, bahwa Tuhan tidak dapat dicobai oleh yang jahat.

    …Kalau Yesus itu Tuhan, kok bisa dia dicobai oleh iblis yang Dia ciptakan sendiri. Keyakinan saya bertambah bahwa agama Kristen ini tidak benar…

    “Bibel mengisahkan Yesus yang penjelmaan Tuhan itu dicobai iblis. Kalau dia Tuhan kok bisa dia dicobai oleh iblis yang Dia ciptakan sendiri. Itu yang membuat keyakinan saya bertambah bahwa agama Kristen ini tidak benar,” simpulnya.

    MENGENAL ISLAM DARI PEMBANTU

    Dalam kegalauan, Allah punya rencana lain, menuntun Febi kepada Islam melalui pembantu rumahnya. Suatu hari Febi melihat pembantunya wudhu dan menunaikan shalat dengan mengenakan mukena putih.

    “Kamu ngapain?” tanya Febi. “Sedang shalat dan berdoa,” jawab sang pembantu.

    “Lalu untuk apa kamu wudhu dulu sebelum shalat?” lanjut Febi. “Karena untuk menghadap Allah Yang Maha Suci kita harus bersih dan suci,” jelasnya.

    Rupanya dialog singkat itu sangat berkesan di hati Febi. Penjelasan sang pembantu itu bisa diterima logikanya. “Kalau mau bertemu orang penting seperti bos saja harus rapih dan bersih, masa mau menghadap Tuhan kita tidak bersih?” pikirnya.

    Sejak itulah Febi mulai membanding-bandingkan Islam dengan Kristen. Beberapa keunggulan Islam dalam benak Febi waktu itu adalah persamaan semua orang di rumah ibadah. Di masjid tidak ada perbedaan shaf antara orang kaya dan orang miskin. Tidak masalah bila konglomerat maupun pejabat shalat di belakang orang miskin. Sementara hal yang sama tidak pernah terjadi di gereja.

    Keistimewaan Islam lainnya, Al-Qur’an biasa dibaca sampai khatam dari surat Al-Fatihah yang pertama sampai ayat terakhir surat An-Nas. Sementara dalam kekristenan tidak ada tradisi membaca secara tuntas dari kitab Kejadian pasal satu sampai kitab Wahyu yang terakhir. “Kalau orang Islam baca Al-Qur’an itu dari awal sampai khatam tapi kalau di Kristen itu bacanya hanya sepenggal-sepenggal,” terangnya.

    …Keraguannya terhadap doktrin ketuhanan Yesus mulai terjawab. Dalam sebuah ayat Injil Yesus berterus terang bahwa dirinya adalah nabi utusan Allah…

    Umat Islam melaksanakan shalat Jum’at karena ada perintahnya dalam Al-Qur’an. Tapi umat Kristen beribadah pada hari Minggu, padahal dalam 10 Firman Bibel ada perintah menguduskan hari Sabat (Sabtu). “Sepuluh Titah Allah itu kan hal yang harus ditaati, salah satunya adalah diperintahkan agar menguduskan hari Sabat. Tapi kenapa orang Kristen itu ke gerejanya hari Minggu?” paparnya.

    Dalam pengembaraan iman itu, keraguan Febi terhadap doktrin ketuhanan Yesus mulai terjawab. Sebuah ayat Injil menjadi kelegaan imannya, di mana Yesus berterus terang bahwa dirinya adalah nabi utusan Allah.

    Dalam Injil Yohanes 12:49 Yesus berkata: “Sebab aku berkata-kata bukan dari diriku sendiri, tetapi Bapa yang mengutus aku, Dialah yang memerintahkan aku untuk mengatakan apa yang harus aku katakan dan aku sampaikan.”

    “Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa Yesus itu adalah utusan Allah,” ujarnya.

    Setamat SMA Febi melanjutkan pendidikan ke Universitas Indonesia (FISIP UI). Di awal kuliah, ia tak bisa mememdam kerinduannya untuk memeluk agama yang benar. Pada tahun 1997 ia pun memutuskan untuk hijrah menjadi pemeluk Islam. Secara formalitas, ia mengikrarkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur pada tahun 1998.

    Setelah masuk Islam, Febi sangat menikmati hidup baru dan ibadahnya, meski masih tinggal satu atap dengan kedua orang tua yang beda akidah. Suatu hari, tanpa sengaja Febi shalat di kamarnya tanpa mengunci pintu. * Qadarullah*, ketika sedang khusyuk shalat ayahnya masuk kamar. Febi pun disidang oleh keluarga.

    …Kalau kamu masuk Islam silakan keluar dari sini. Buat papa tidak masalah kehilangan anak satu, buat papa agama itu prinsip…

    “Kalau kamu masuk Islam silakan keluar dari sini. Buat papa tidak masalah kehilangan anak satu, buat papa agama itu prinsip,” ancam sang ayah.

    Tak gentar dengan ancaman ayahnya, Febi pun angkat kaki dari rumah tanpa membawa perbekalan apapun. Tak ada bekal pakaian, perhiasan maupun uang yang dibawanya, karena semua ditahan ayahnya. Febi meninggalkan rumah hanya dengan sehelai pakaian yang melekat di badan. Febi memilih pergi kepada kerabat jauh yang beragama Islam.

    DIJEBAK MASUK KRISTEN DAN DIPAKSA MAKAN BABI

    Setahun kemudian, tepatnya 1999 Febi menikah dengan pria yang diharapkan bisa membimbing dan menjaganya dalam berislam secara kaffah. Celakanya, Febi salah memilih suami yang diidam-idamkan. Sang suami ber-KTP Islam yang menjadi pendamping hidupnya ternyata seorang pemuja kemusyrikan. Amaliah ibadahnya adalah menyembah Nyai Roro Kidul dan hal-hal beraroma mistis lainnya.

    Aktivitas kemusyrikan ini pun memicu perceraian Febi dengan suaminya. Febi bercerai dengan suaminya setelah dikaruniai seorang anak: Aufa Jhose Zaqi Nugraha. Untuk menafkahi dan membiayai sekolah anaknya, Febi bekerja sebagai pembantu rumah tangga selama 1,5 tahun di Pekanbaru, lalu menjadi pembantu Restoran di Bogor.

    Suatu hari di tahun 2010, Febi mendapat panggilan dari ibunya di Semarang, katanya sedang ada masalah dan minta Febi pulang untuk ikut membantu menyelesaikan masalah. Tanpa pikir panjang, Febi pun meluncur bersama Zaqi ke Semarang memenuhi panggilan ibunya.

    …Febi dikelilingi oleh pendeta dan anggota Komsel. Sambil berkomat kamit doa dalam nama Yesus, sang pendeta memegang kepalanya…

    Sesampai di rumah, ternyata Febi dijebak untuk dipaksa masuk Kristen lagi. Di sana ia disambut oleh pendeta dan para aktivis Kristen yang tergabung dalam Komunitas Sel (Komsel) gereja. Disaksikan Zaqi, Febi dikelilingi oleh pendeta dan anggota Komsel. Sambil berkomat kamit doa dalam nama Yesus, sang pendeta memegang kepala Febi, sementara jemaat lainnya memegang badannya supaya tidak berontak.

    Sang pendeta meneriakkan nama Yesus untuk mengusir roh jahat yang dianggap bersarang dalam diri Febi. Sejurus kemudian ia membisikkan ke telinga Febi dengan setengah memaksa agar mau mengucapkan kalimat untuk menerima Yesus sebagai tuhan dan juruselamat penebus dosa.

    Febi yang sudah tidak berdaya melawan tak bisa berbuat banyak. Tapi Allah memberikan karomah sehingga mulutnya terkunci rapat tak bisa berkata sepatah kata pun.

    “Itu yang membuat saya heran. Saya yakin itu adalah kuasa Allah. Mulut saya tidak bisa terbuka. Demi Allah waktu itu mulut saya seperti terkunci. Saya waktu itu hanya bisa nangis,” kenangnya.

    Seluruh jemaat yang hadir pun tak kehabisan akal. Mereka memaksa Febi makan daging babi sebagai simbol bahwa ia menentang ajaran Islam yang mengharamkan babi. Pada hari itu tak ada menu makanan apapun selain babi.

    …Mereka memaksa Febi makan daging babi sebagai simbol bahwa ia menentang ajaran Islam yang mengharamkan babi…

    Gagal memaksa Febi, Zaqi pun menjadi sasaran kristenisasi oleh neneknya. Ia diajak berdoa bersama dengan cara menirukan doa neneknya yang misionaris itu. Tapi dengan tegas Zaqi menolaknya. “Oma silakan doa sama Yesus, tapi Zaqi mau berdoa sama Allah saja,” ujarnya polos.

    Akhirnya keberanian Febi pun tersulut hingga lahirlah pertengkaran hebat antara Febi dan ibunya. “Mama, saya sayang sama mama tetapi saya lebih sayang sama Allah!” ujar Febi.

    Tak mau kalah, karena malu di hadapan jemaat Komsel gereja, sang ibu pun berteriak menghardiknya. “Pergi kau dari sini, kau tidak sayang sama mama dan kau bukan anak mama lagi!” bentaknya.

    Usai insiden itu, Febi pindah ke Bogor, menikah dengan seorang ikhwan aktivis Islam. Tinggal di rumah petak yang sangat minimalis, Febi merajut rumah tangga bahagia meski serba kekurangan. Berbagai ujian dan musibah datang silih berganti, namun Febi tetap tegar di jalan tauhid dan jihad.

    Betapapun berat ujian yang menimpanya, Febi tak bergeming dari Islam. Tak ada penyesalan apapun hijrah kepada tauhid. “Allah itu Maha Besar. Apa yang menurut manusia tidak bisa terjadi menurut Allah segala hal bisa saja terjadi. Islam itu indah buat saya sekalipun ujiannya berat,” tutupnya. [bornaskopen, ahmed widad, n'mux]

    ***

    Sumber : http://www.voa-islam.com

     
    • Eka Herlina 4:56 am on 12 Maret 2013 Permalink

      Saya berpkiran sm tentang apa yg dituliskan didlm bacaan ini.saya adalah seorang yg beragama hindu masuk kristen karena swami penganut agama itu.banyak pertanyaan2 saya tentng cara ibdh mereka dan saya membandingkannya denga agama islam.saya mohon bimbingannya lebih lanjut!

  • erva kurniawan 1:36 am on 4 March 2013 Permalink | Balas  

    allahKisah Perdebatan A. Hassan Dengan Tokoh Atheis

    Oleh: Artawijaya

    Editor Pustaka Al Kautsar

    Gedung milik organisasi Al-Irsyad, Surabaya, hari itu penuh sesat dipadati massa. Almanak menunjukkan tahun 1955. Kota Surabaya yang panas, serasa makin panas dengan dilangsungkannya debat terbuka antara Muhammad Ahsan, seorang atheis yang berasal dari Malang, dengan Tuan A. Hassan, guru Pesantren Persatuan Islam, Bangil. Meski namanya berbau Islam, Muhammad Ahsan adalah orang atheis yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, dan tidak pula meyakini bahwa alam semesta ini ada Yang Maha Mengaturnya. Ia juga menyatakan manusia berasal dari kera, bukan dari tanah sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an.

    Menurut keterangan Ustadz Abdul Jabbar, guru Pesantren Persis, yang menyaksikan perdebatan itu, hadirin yang datang cukup membludak. Lebih dari ratusan massa datang berkumpul, mengular sampai ke luar gedung. Mereka mengganggap perdebatan ini penting, karena Muhammad Ahsan, telah secara terbuka di Surat Kabar Harian Rakyat, 9 Agustus 1955, meragukan keberadaan Tuhan. Ia juga menolak keyakinan Islam bahwa orang yang berbuat kebaikan di dunia, akan dibalas di akhirat kelak. Ahsan berkeyakinan, segala sesuatu tercipta melalui evolusi alam, dan akan musnah dengan hukum alam juga. Dalam surat kabar itu, ia menyatakan lugas, “Pencipta itu mestinya berbentuk. Tidak mungkin suatu pencipta tidak berbentuk, “tulisnya.

    Atas pernyataan itu, Hasan Aidit, Ketua Front Anti Komunis, menghubungi A. Hassan agar bersedia bertukar pikiran dengan tokoh atheis itu. Sebelumnya, Hasan Aidit dan Bey Arifin sudah melayangkan tantangan debat di forum Study Club Surabaya pada 12 Agustus 1955, namun rencana itu gagal. Ia kemudian menyusun rencana agar Ahsan yang atheis itu dipertemukan dengan A. Hassan, sosok yang dikenal ahli dalam berdebat soal-soal keislaman. A. Hassan dan Muhammad Ahsan bersedia bertemu di forum terbuka.

    Singkat kata, perdebatan terbuka benar-benar terjadi. Karena dikhawatirkan akan berlangsung panas, maka panitia memberikan beberapa peraturan kepada hadirin yang datang menyaksikan. Hadirin tak boleh bertepuk tangan, tidak boleh bersorak sorai, tidak boleh saling berbicara, tidak menampakkan gerak-gerik yang merendahkan salah seorang pembicara, dan tidak boleh mengganggu ketentraman selama berlangsungnya perdebatan.

    Sementara untuk orang yang berdebat dibuat aturan pula. Masing-masing berdiri di satu podium dan diberi mikrophone, kemudian saling bertukar pertanyaan dan jawaban. Sementara pimpinan acara, yaitu Hasan Aidit, duduk di sebuah meja didampingi seorang sekretaris untuk mencatat jalannya perdebatan. Tugas pimpinan acara adalah mengatur jalannya perdebatan, dan menegur siapa saja yang melanggar aturan.

    Setelah dibuka dengan ceramah dari KH. Muhammad Isa Anshary, tokoh Persatuan Islam yang juga petinggi Partai Masyumi, acara pun di mulai. Perdebatan berlangsung dalam format tanya jawab dan saling menyanggah pendapat yang diajukan.

    Berikut point-point penting dari ringkasan perdebatan itu. Tokoh atheis Muhammad Ahsan akan disingkat menjadi (MA), sedangkan A. Hassan disingkat menjadi (AH):

    A.H: Saya berpendirian ada Tuhan. Buat membuktikan keadaan sesuatu, ada beberapa macam cara; dengan panca indera, dengan perhitungan, dengan kepercayaan yang berdasar perhitungan, dengan penetapan akal. Makatentang membuktikan adanya Tuhan, tuan mau cara yang mana? M.A: Saya mau dibuktikan adanya Tuhan dengan panca indera dan perhitungan dan berbentuk. Karena tiap-tiap yang berbentuk, seperti kita semua, mestinya dijadikan oleh yang berbentuk juga.

    A.H: Tidak bisa dibuktikan Tuhan dengan panca indera, karena ada banyakperkara yang kita akui adanya, tetapi tidak dapat dibuktikan dengan panca indera..

    M.A: Seperti apa?

    A.H: Tuan ada punya akal, fikiran, dan kemauan? M.A : Ada

    A.H : Bisakan tuan membuktikan dengan panca indera?

    M.A: Tidak bisa

    A.H: Bukan suatu undang-undang ilmi (ilmiah) dan bukan aqli bahwa tiap-tiapsatu yang berbentuk itu penciptanya mesti berbentuk juga. Ada banyakperkara, yang tidak berbentuk dibikin oleh yang berbentuk.

    M.A: Seperti apa?

    A.H : Saya berkata-kata, perkataan saya tidak berbentuk sedang saya sendiriyang menciptakannya berbentuk. Bom atom berbentuk dan bisa menghancurkan semua yang berbentuk di sekelilingnya, sedang akal yang membikinnya tidakberbentuk. Kekuatan elektrik (listrik) tidak berbentuk, tetapi bisa menghapuskan dan melebur semua yang berbentuk. Jadi, buat mengetahui sesuatu, tidak selamanya dapat dengan panca indera. Dan pencipta sesuatu yang berbentuk, tidak selalu mesti berbentuk.

    • * *

    A.H: Di dalam dunia ini adakah negeri yang dinamai London, Washington, danMoskow?

    M.A: Ada

    A.H: Apakah tuan sudah pernah ke negeri-negeri itu?

    M.A: Belum

    A.H: Maka dari manakah tuan tahu adanya negeri itu?

    M.A: Dari orang-orang

    A.H: Bisa jadi diantara orang-orang itu ada yang belum pernah kesana.Walaupun bagaimanapun keadaannya, buat tuan, adanya negeri- negeri itu, hanya dengan perantaraan percaya, bukan dengan panca indera.

    M.A: Ya, memang begitu.

    A.H: Dari pembicaraan kita, ternyata ada terlalu banyak perkara yang kitaterima dan akui adanya semata-mata dengan kepercayaan danperhitungan, bukan dengan panca indera.

    M.A: Ya memang begitu

    A.H: Oleh itu, tentang adanya Tuhan, tidak usah kita minta bukti dengan pancaindera, tetapi cukup dengan perhitungan dan pertimbangan akal, sebagaimana kita akui adanya ruh, akal, kemauan, fikiran, percintaan,kebenciaan, dan lain-lain.

    M.A: Ya, saya terima.

    A.H: Bila tuan tidak ber-Tuhan, tentulah tidak beragama. Dari itu semua, baikdan jahat tentunya tuan timbang dengan fikiran dan akal. Maka menurutfikiran, apakah tuan merasa perlu ada keadilan dan keadilan itu perludibela hingga tidak tersia-sia?

    M.A: Ya, perlu ada keadilan dan perlu dibela

    A.H: Apakah tuan makan benda berjiwa?

    M.A: Kalau binatang yang sedang berjiwa saya tidak makan

    A.H: Saya tidak maksudkan binatang yang sedang hidup, tetapi daging binatang-binatang: Sapi dan kambing yang dijual dipasar.

    M.A: Ya, saya makan

    A.H: Itu berarti tidak adil, tuan zalim

    M.A: Mengapa tuan berkata begitu?

    A.H: Karena menyembelih binatang itu, menurut fikiran satu kesalahan dan Kezaliman M.A: Saya tidak bunuh binatang-binatang itu, tetapi penjualnya

    A.H : Kalau tuan tidak makan dagingnya, tentu orang-orang tidak sembelih binatangnya. Jadi, tuan adalah seorang dari yang menyebabkan binatang-binatang itu disembelih. Baiklah kita teruskan, apa tuan berbuat (lakukan)kalau tuan digigit nyamuk?

    M.A: Saya bunuh

    A.H: Bukankah itu satu kezaliman?

    M.A: Saya bunuh nyamuk itu lantaran ia gigit saya

    A.H: Menurut keadilan fikiran, jika nyamuk gigit tuan, mestinya tuan balas gigit dia. Balas dengan membunuh itu tidak adil.(tuan M.A tertawa dan hadirin bertepuk tangan. Padahal dalam kesepakatan debat, ini dilarang)

    • * *

    A.H: Tuan ada menulis di “Suara Rakyat” tanggal 9 Agustus 1955 tentang seorang yang keluar buntutnya dan terus memanjang, lalu ia minta pada Rumah Sakit Malang supaya dipotong dan dihilangkan. Karena semakin panjang, semakin menyakitkan. Apakah (dengan tulisan itu) tuan bermaksud dengan itu bahwa manusia berasal dari monyet?

    M.A: Ya, betul

    A.H: Apakah tuan menganggap bahwa buntut orang itu kalau tidak dibuang dan terus memanjang, niscaya dia jadi monyet?

    M.A: Ya, betul begitu

    A.H: Jika demikian berarti monyet berasal dari manusia, bukan manusia berasal dari monyet.(Tuan M.A tertawa, hadirin juga terbahak dan bertepuk tangan, lupa dengan peraturan majelis)

    Perdebatan sengit yang akhirnya diselingi derai tawa dan tepuk tangan karena keahlian A. Hassan yang mampu mematahkan argumen dengan gaya yang santai, lucu, dan ilmiah, ini dikenang sepanjang massa sebagai debat terbaik A. Hassan dengan tokoh atheis tersebut. Perdebatan ini sendiri berlangsung dua kali. Debat pertama berlangsung selama dua setengah jam, dan berakhir dengan pernyataan Ahsan menerima apa yang disampaikan oleh A. Hassan. Ia menyatakan menerima dan kembali pada Islam. Namun dalam pertemuan pertama, A. Hassan meminta Ahsan untuk berpikir dulu, sebelum menerima apa yang disampaikan. Akhirnya pada pertemuan kedua yang berlangsung selama dua jam, Ahsan benar-benar menerima dalil-dalil dan argumentasi yang disampaikan A. Hassan. Tokoh atheis itu akhirnya kembali ke pangkuan Islam. Kisah perdebatan antara A. Hassan dengan tokoh atheis ini kemudian didokumentasikan dalam sebuah buku oleh A. Hassan dengan judul, “Adakah Tuhan?”

    Kini, tradisi meluruskan kekeliruan dan kesesatan dengan cara mengajak bertukar pikiran dalam debat terbuka harus kembali digalakkan. Tujuannya, agar umat bisa tahu, mana yang keliru dan mana yang benar. Yang terpenting, jangan jadikan debat sebagai ajang untuk menghina dan mencaci maki lawan.

    ***

    Sumber : islampos.com

     
    • achmad usman 10:50 am on 5 Maret 2013 Permalink

      orang atheis : tdk percaya Alllah ( Allah GAIB ) , segala sesuatu hrs bisa dinalar dgn akal , men TUHAN kan AKAL , apapun yg tdk bisa dicerna akal dianggap mustahil , mereka lupa bahwa akal sangat terbatas kemampuannya , akal lah yg dianggap tuhan oleh atheis / pendapat manusia berasal dari kera ,itu teori darwin , darwin yahudi tulen , ingin membantah se olah manusia pertama bukan nabi ADAM, tapi kera , maksutnya ingin “melemahkan” isi alquran bahwa Adam manusia pertama , tapi kera…tapi teori darwin terbantahkan , sejak ahli anatomi manusia di inggris menyatakan bahwa kepala manusia pada tubuh kera itu ( kera yg diyakini asal manusia ) di meseum inggis yg tersimpan ratusan tahun , ternyata kepala manusia itu hasil cangkokon yg canggih , artinya tubuh kera di cangkok kepala manusia yg sudah mati.

  • erva kurniawan 1:24 am on 3 March 2013 Permalink | Balas  

    Mati saat SujudSujud Terakhir

    Shaf pertama penuh berdesak-desakan. Habib Abdulqadir bin Abdurrahman as-Saqqaf mengisyaratkan kepada habib Najib bin Taha as-Saqqaf agar maju ke shaf pertama di belakang beliau.

    Melihat shaf pertama yang telah penuh berdesak-desakkan itu habib Najib bin Taha berkata, “Shaf pertama telah penuh, wahai habib.”

    Mendengar jawaban itu habib Abdulqadir menjawab dengan penuh kewibawaan, “Wahai anakku, majulah, kau tak mengetahui maksudku!”

    Jawaban itu menjadikan habib Najib bin Taha spontan maju ke shaf pertama, walaupun harus memaksakan diri mendesak shaf yang telah penuh itu.

    “Allaahu akbar”. Shalat jumat mulai didirikan. Habib Abdulqadir membaca surat al-Fatihah, lalu membaca surat setelahnya dalam keadaan menangis.Di rakaat kedua pada sujud terakhir, beliau tak kunjung bangkit dari sujudnya. Suara nafasnya terdengar dari speaker masjid.

    Karena sujud itu sudah sangat lama, maka habib Najib bin Taha memberanikan diri untuk menggantikan beliau. “Allaahu akbar”, Ucapan salam untuk mengakhiri shalat diucapkan.

    Para jamaah berhamburan lari ke depan ingin mengetahui apa yang terjadi pada habib Abdulqadir. Saat itu mereka mendapati habib Abdulqadir tetap dalam keadaan sujud tak bergerak. Lalu tubuh yang bersujud itu dibalik oleh para jamaah, dan terlihatlah wajah habib Abdulqadir. Maasya-allaah, setiap orang yang melihat wajah beliau, menitikkan air mata. Bagaimana tidak menitikkan air mata? Mereka melihat wajah habib Abdulqadir tersenyum dengan jelas sekali. Tersenyum bahagia.

    Habib Abdulqadir wafat dalam keadaan menikmati amal yang terindah. Di saat melakukan ibadah yang teragung yaitu shalat. Mendirikan shalat itu dalam kondisi yang terutama, yaitu shalat berjamaah. Melakukan shalat yang bermuatan besar, yaitu shalat jumat. Pada saat melaksanakan rukun shalat yang terutama, yaitu sujud. Dalam posisi yang terpenting, yaitu sebagai imam shalat jumat. Di tempat yang paling utama, yaitu masjid. Di hari yang paling utama, yaitu hari jumat.

    ***

    husi – N – abil

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 2 March 2013 Permalink | Balas  

    Tawaf&Ka'bahShalat Subuh dengan Wudhu Isya

    Mengapa seseorang mampu melakukan shalat subuh,

    dengan menggunakan wudhu’ Isya’nya…?

    Pak Imam adalah salah satu jama’ah haji yang aku kunjungi ketika ia pulang dari ibadah haji. Ada sesuatu yang nampak aneh dalam pandanganku terhadap diri pak Imam ini. Ketika berangkat dahulu pak Imam adalah seorang jama’ah yang biasa-biasa saja, tak ada keistimewaan apa pun dalam pandanganku. Tetapi kurang lebih empat puluh hari aku tidak bertemu, kini wajahnya tampak beda. Ada semacam aura yang menyejukkan hati, sehingga membuat orang yang memandangnya menjadi kerasan dan menjadi senang.

    Ketika aku minta oleh-oleh cerita dari pengalamannya ketika di tanah haram, ada sesuatu yang menurutku sangat menarik dan patut untuk direnungkan.

    “Ketika saya di sana, saya menggunakan aji mumpung..,” katanya.

    “Karena sangat sulit untuk bisa ke sana lagi. Di samping biayanya tambah lama menjadi tambah mahal, kesempatan dan kesehatan juga belum tentu bisa menunjangnya.” lanjutnya.

    “Karena itulah, saya menggunakan kesempatan yang ada itu, untuk beribadah semaksimal mungkin yang saya bisa.”

    “Suatu saat, ketika saya ke masjid untuk melakukan shalat isya, ketika mau pulang, sandal saya nggak ketemu. Saya cari kemana-mana, tetap saja tidak ketemu. Padahal sandal itu saya bawa ke dekat tempat saya melakukan shalat…”

    “Karena nggak ada sandal, maka saya putuskan malam itu saya tidak pulang ke hotel, tetapi saya ingin beribadah sebaik-baiknya di malam itu.”

    Maka sejak waktu shalat isya’, saya terus melakukan aktivitas ibadah dengan konsentrasi sebaik-baiknya.”

    “Setelah melakukan shalat isya’ berjamaah, seperti biasanya saya melakukan shalat sunah. Selanjutnya saya membaca Al-Qur’an sebisa saya. Begitu terasa capek, saya pun kembali melakukan shalat sunah lagi. Tiba-tiba terfikir saat itu, bahwa saya ingin shalat di setiap penjuru ka’bah. Maka saya pun shalat dua rakaat berturut-turut berputar ke arah kanan mengelilingi ka’bah. Hal itu terus saya lakukan sampai akhirnya saya kembali pada posisi saya ketika pertama kali melakukan shalat isya’.

    Entah berapa kali dan berapa rakaat saya melakukan shalat-shalat itu. Tanpa terasa tiba-tiba terdengar suara bilal yang sudah mengumandangkan adzan subuh…”

    ” Saya terkejut sekali! Betapa cepatnya waktu satu malam. Sejak waktu isya’ sampai dengan adzan subuh seolah-olah hanya sebentar saja..begitu cepatnya waktu berlalu.”

    “Yang saya sendiri menjadi heran adalah, bahwa saya semalaman insya Allah tidak batal wudhu’ sehingga terus saja melakukan aktivitas di dalam masjid. Ya shalat, ya baca Al-Qur’an…. Dan tiba-tiba waktu subuh pun telah masuk. Barulah kemudian saya pergi ke kamar mandi untuk memperbarui wudhu’ saya, serta untuk keperluan lainnya..”

    Aku pulang dari rumah pak Imam sambil merenung mendengar ceritanya yang cukup unik itu. “Sungguh hebat pak Imam,” kataku dalam hati. Sampai Allah memberlakukan relativitas waktu bagi dirinya. Waktu yang panjang seolah menjadi pendek. Berkat kekhusyu’annya, ia bisa melakukannya dengan ringan dan enak, tidak merasa berat. Bahkan semua itu secara tidak sadar ia lakukan dengan wudhu’nya shalat isya’. Sungguh benar firman Allah! orang yang khusyu’ akan merasa ringan dalam menjalankan aktivitasnya.

    QS. Al-Baqarah (2) : 45

    Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.

    Mungkin demikian pula halnya dengan orang-orang yang khusyu’ dalam hidupnya. Waktu dunia yang cukup lama, misalnya: enam puluh tahun, tujuh puluh tahun, delapan puluh tahun atau bahkan lebih, dalam diri orang yang khusyu’ menjadi terasa sebentar saja. Karena ia sibuk untuk berbuat kebajikan. Sibuk untuk mengabdikan dirinya, agar seluruh aktivitas hidupnya selalu mempunyai nilai ibadah di hadapan Allah Swt.

    QS. Thaha (20) : 104

    Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: “”Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sehari saja.”

    ***

    Oleh Sahabat: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 1 March 2013 Permalink | Balas  

    quranKisah Nyata Karomah: Kulit anggota tubuh yang dibasuh air wudhu berubah warna menjadi putih

    Syahid ketika diserang pasukan Kroasia di Bosnia pada tahun 1993. Berumur pertengahan dua puluhan. Kisah dari orang pertama.

    Seorang pemain bola tangan, ia adalah anggota tim nasional bola tangan Qatar. Ia datang ke Bosnia pada akhir 1992. Abu Khalid menyukai tugas jaga (ribath), ia biasa mengambil tugas jaga double shift selama empat jam di tengah cuaca yang dingin.

    Abu Khalid seorang mujahid yang sangat tawadhu dan shalih. Kulitnya hitam karena ia

    keturunan negro, namun para mujahidin melihat nur (cahaya) pada wajahnya. Ada dua

    buah tanda bekas sujud di keningnya akibat lamanya ia bersujud dalam shalat malamnya yang panjang.

    Suatu hari ia pernah ditanya, “Kapan engkau akan kembali ke negaramu, Abu Khalid?” Abu Khalid menjawab, “Saya ingin syahid di sini.”

    Abu Khalid pernah berkata pada seorang mujahid, “Dulu ketika di Qatar, saya telah membeli pakaian tempur untuk pergi dan berperang di Afghanistan, tetapi ibu saya mencegah kepergian saya. Tetapi insya-Allah, kali ini, dengan pakaian tempur yang sama, saya akan syahid di Bosnia.”

    Sebelum sebuah operasi melawan Kroasia, saat menerima pembagian kelompok oleh Amir, ia berbisik pada seorang mujahid di sampingnya, “Insya-Alllah, kali ini ALLAH akan mengambil saya menjadi seorang syahid.”

    Kemudian ia melakukan perjalanan dengan mobil bersama lima orang mujahidin lainnya,

    salah satunya adalah Wahiuddin al-Misri, Amir Mujahidin (semoga Allah meridhainya).

    Mereka tersesat dan masuk sejauh 7 kilometer ke dalam wilayah musuh. Pasukan Kroasia menembaki mereka dengan senjata anti pesawat hingga mobil mereka terpental 6 meter ke udara. Semua mujahidin di dalamnya keluar dan bertempur hingga syahid.

    Dua bulan kemudian, saat jenazah mereka dikembalikan, para mujahidin dapat mengenali mereka, kecuali jenazah Abu Khalid Al-Qatari. Jenderal Bosnia yang mengantarkan para jenazah mengeluarkan jenazah yang terakhir, jenazah itu berkulit putih dan wajahnya juga berwarna putih. “Ini saudara kalian yang terakhir.”

    Para mujahidin mengatakan, “Ini bukan saudara kami, saudara kami punya kulit yang hitam.”

    Kemudian para mujahidin memeriksa lebih lanjut jenazah itu. Mereka membuka bajunya

    dan menemukan bahwa dari bagian leher ke bawah, kulit jenazah itu berwarna hitam.

    Kemudian mereka membuka lengan bajunya dan menemukan bahwa dari siku ke atas, kulit jenazah itu berwarna hitam, sedangkan pada bagian lengan dan tangannya berwarna putih.

    Kemudian mereka menggulung celana panjangnya, dan menemukan bahwa kakinya

    berkulit putih, namun dari tumit ke atas berwarna hitam.

    Salah satu mujahid yang menyaksikan berkomentar, bahwa sesuai dengan hadits Rasulullah SAW tentang ciri-ciri orang beriman pada hari kiamat ialah bahwa anggota tubuh mereka yang dibasuh air wudhu akan bercahaya. Demikianlah yang terjadi pada jenazah Abu Khalid al-Qatari, semoga Allah SWT menerimanya di antara para syuhada.

    “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada Hari Kiamat dalam keadaan bercahaya

    wajahnya dan amat putih bersih tubuhnya oleh sebab bekas-bekas wudhu. Oleh itu,

    barang siapa di antara kamu hendak memperpanjangkannya (menambah cahaya),

    maka baiklah dia melakukannya dengan sempurna.” (Hadis riwayat Bukhari dan

    Muslim)

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorang pun dari umatku kecuali aku mengenalnya pada hari kiamat kelak.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulallah, bagaimana anda mengenali mereka di tengah banyaknya makhluk?” Beliau menjawab, “Tidakkah kamu lihat, jika di antara sekumpulan kuda yang berwarna hitam terdapat seekor kuda yang berwarna putih di dahi dan kakinya? Bukankah kamu dapat mengenalinya?” “Ya”, jawab shahabat. “Sesungguhnya pada hari itu umatku memancarkan cahaya putih dari wajahnya bekas sujud dan bekas air wudhu’. (HR Ahmad dan Tirmizy)

    ***

    Dikutip dari buku “Biografi dan Karomah Syuhada Jihad Bosnia (Kisah Nyata)”

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 27 February 2013 Permalink | Balas  

    sandal-jepit-butut0-700816Misteri Sandal Japit

    Sandal japit selalu menjadi cerita primadona, ada apa…?

    Sebagaian besar para jama’ah yang pulang dari haji, sering bercerita tentang sandal japit mereka. Hal ini sudah sejak puluhan tahun yang lalu. Apakah hal ini terpengaruh oleh cerita jama’ah haji sebelumnya, ataukah tidak. Tetapi yang jelas setiap kita mengunjungi jama’ah haji yang baru pulang dari ibadahnya, selalu ada cerita tentang sandal japit.

    Pak Adi misalnya, ia sejak berangkat dari tanah air membawa sandal japit sebanyak lima pasang. Ketika seorang temannya bertanya mengapa membawa sebanyak itu, ia hanya tertawa saja, sambil ganti bertanya setengah mengolok temannya:

    “Apa kamu tidak pernah tahu cerita orang-orang haji sebelumnya? Kalau kamu tahu pasti kamu akan membeli dan mempersiapkan sandal lebih banyak dari saya!” katanya. Sang teman pun hanya geleng kepala saja sambil pergi.

    Ketika pak Adi pulang dari ibadah haji, Ia kembali bercerita tentang sandal japitnya. Ternyata benar ‘firasat’nya! Lima pasang sandal yang ia persiapkan dari rumah, di kota Mekah hanya bisa ‘bertahan’ lima hari saja. Setiap hari ia kehilangan sandal japitnya. Selalu lupa di mana menaruh sandalnya tersebut. Sehingga pada hari yang ke enam ia membeli lagi sandal di kota mekah untuk kesehariannya. Dan anehnya sandal yang ia beli tersebut bertahan sampai ia selesai melakukan ibadah di kota Mekah.

    Pak Santo, adalah teman pak Adi. Mereka bekerja pada kantor yang sama. Tetapi karena pak Santo mengikuti rombongan yang berbeda, mereka tidak berada pada kloter yang sama. Meskipun mereka berbeda hotel dan berbeda kloter, ternyata pada hari yang ke enam, mereka bertemu di masjidil Haram. Betapa senangnya mereka. Maka sambil bercerita pengalamannya, mereka pulang ke hotel masing-masing sambil jalan bersama-bersama.

    Pak Adi membuka pembicaraan :

    “Wah, sandal yang kupersiapkan lima pasang dari rumah itu, ternyata sekarang sudah ‘habis’. Setiap hari aku selalu lupa di mana aku menaruhnya. Padahal pintu mana ketika aku memasuki masjid sudah aku ingat-ingat. Tetapi tetap saja sandal yang aku letakkan di tempat yang cukup aman itu ternyata hilang.”

    ” Oh, kalau masalah itu saya tahu betul. Pak Adi kan memang orang yang pelupa, iya toh?” Kata pak Santo.

    ” …nggak heran saya, kalau sandal pak Adi selalu hilang. Kadang kunci mobil yang jelas-jelas baru ditaruh di atas meja kantor beberapa saat saja, pak Adi sudah lupa…!” sambung Pak Santo.

    “…untung saja, saya ditakdirkan menjadi orang yang gampang ingat. Tidak pelupa…ha ha ha… Sejak saya datang di kota Mekah ini, sandal yang saya pakai, ya ini pak! lumayan-lah agak ngirit he he” kata Pak Santo.

    “Baiklah pak, kita berpisah di sini ya. Kan hotel kita berbeda. Besok subuh kita ketemu di dekat sumur zam-zam ya…” kata pak Adi

    “Ok. pak, assalamu’alaikum…” sahut pak Santo sambil menyeberang jalan menuju hotelnya.

    Keesokan paginya, ketika mereka di dalam masjid, ternyata mereka berdua tidak bisa bertemu seperti maksud mereka sebelumnya, karena jama’ah begitu penuh. Maka pak Adi pun tidak berusaha mencari pak Santo lagi. Sekitar jam delapan pagi pak Adi pulang menuju hotelnya, bersama-sama dengan jama’ah rombongannya.

    Ketika pak Adi berjalan, sudah sekitar lima puluh meter dari pintu masjid, ia melihat pak Santo berdiri di dekat salah satu pintu masjid. Ia berdiri saja di dekat pintu tersebut. Maka pak Adi pun mendekati pak Santo, yang saat itu kelihatan agak bingung.

    “Ada apa pak?” Tanya pak Adi

    “Ini pak, sandal saya tadi kan saya taruh di dekat pintu ini, saya ingat betul koq, tidak mungkin-lah saya lupa! Bahkan yang kiri saya pisahkan tempatnya dengan yang sebelah kanan. Supaya tidak terambil orang lain. Tapi dimana ya..? Saya sudah hampir lima belas menit berdiri disini, tapi belum ketemu juga….

    Pak Adi hanya tersenyum saja menyaksikan kebingungan pak Santo. Katanya dalam hati: “….tahu rasa kamu sekarang…!”

    Dan pak Adi-pun pergi meninggalkan pak Santo yang masih kebingungan di dekat pintu masjid. Ketika pak Adi sambil berjalan melayangkan pandangannya ke arah pak Santo, ia melihat pak Santo-pun meninggalkan pintu masjid berjalan pulang tanpa mengenakan alas kaki…

    Lain lagi halnya dengan bu Toni. Ketika ia berjalan pulang dengan beberapa temannya, bu Toni bercerita bahwa ia merasa kasihan melihat bu Fajar, yang baru satu hari di Mekah bu Fajar sudah kehilangan sandalnya. Padahal sandal itu sudah diletakkan di tempat yang aman, di dekat tempat ia shalat katanya. Tapi tetap saja ketika shalat sudah selesai, bu Fajar tidak menemukan sandalnya.

    Kata bu Toni: “..Ya maklumlah, karena pergeseran-pergeseran shaf ketika akan shalat, maka tempat berubah dari posisi semula. Sehingga tentu bu Fajar kesulitan mencari-nya kembali.”

    Tiba-tiba bu Sodiq yang berada di sebelah bu Toni berkomentar: “Kalau saya bu, sejak dari rumah sudah diberi tahu oleh kakak saya yang tahun kemarin berangkat haji. Pokoknya kalau ke masjid kita bawa aja tas kresek. Atau tas apa saja khusus untuk tempat sandal supaya tidak hilang. Sekarang pun saya membawa! Dan selalu siap sedia dengan tas tersebut, sehingga amanlah sandal saya…!”

    Seperti biasanya, keesokan harinya sebelum waktu subuh, rombongan bu Toni sudah berangkat menuju masjid. Mereka masing-masing membawa sandalnya menuju tempat, dimana mereka berada. Sandal mereka letakkan di dekat tempat duduk mereka. Setelah shalat subuh dikumandangkan melalui iqamah bilal, mereka pun tenggelam dalam suasana shalat subuh yang menyejukkan.

    Seusai shalat, mereka tetap beraktivitas di dalam masjid. Ada yang membaca Al-Qur’an ada yang thawaf, ada yang berdzikir, dan sebagainya. Bu Sodiq pun melihat-lihat keindahan arsitektur masjidil Haram. Ia berjalan kesana-kemari, bahkan beberapa kali ke tempat air zam-zam.

    Setelah dirasa cukup dengan aktivitasnya masing-masing, rombongan bu Toni sepakat untuk pulang ke hotel. Para jama’ah bertebaran keluar dari masjid untuk kembali ke hotelnya masing-masing. Bu Toni dan teman-temannya bergegas mau pulang, tetapi mereka masih menunggu bu Sodiq yang belum kembali dari acara jalan-jalannya di dalam masjid tersebut.

    ” Nah, itu dia bu Sodiq, ayo kita pulang..!” kata bu Toni. ” lho, sandal saya dimana toh, tadi kan disini?” kata bu Sodiq setengah terkejut, setelah ia melihat tas sandalnya tidak ada ditempatnya lagi.

    “iya, tadi kan di sini, bersama sandal milik kita semua…, dimana ya? celetuk ibu yang lain. “…yaah, mungkin aja ada orang yang keliru membawa tas sandalnya, dikira miliknya, padahal itu milik bu Sodiq ya…”

    ” Mungkin juga iya…, memang warna tas saya hitam, jadi banyak yang mirip. Sehingga mungkin saja ada orang yang lupa menaruh tasnya, maka diambil-lah tas saya…”jawab ibu Sodiq dengan agak malu kepada ibu-ibu yang lain. Soalnya kemarin ia sudah berbangga bahwa tidak mungkin, sandalnya akan hilang.

    Secara logika, sebenarnya ‘para’ sandal tersebut tidaklah hilang. Tetapi ada saja penyebabnya sehingga pemiliknya kehilangan atau tidak bisa menemukan sandalnya yang sudah ditempatkan di posisi yang aman.

    Pak Adi, Pak Santo, Bu Toni, Bu Fajar, maupun bu Sodiq, mereka adalah contoh kecil dalam hal kehilangan sandal. Setiap tahun setiap saat musim haji selalu ada cerita unik tentang sandal japit. Satu hal, yang rata-rata menjadi kuncinya, ialah masalah kebanggaan dan kesombongan diri.

    Para jama’ah diperintahkan bertamu di rumah Allah adalah untuk melatih ketawadhu’annya. Melatih sabarnya, dan juga melatih ketawakalannya. Bangga, ria, sombong adalah penyakit hati, yang mencerminkan ego yang tinggi.

    Karenanya, penyakit-penyakit itu harus dihilangkan, dengan cara berserah diri kepada Ilahi Rabbi, merasa kecil di hadapan Allah Yang Maha Besar, merasa rendah di hadapan Allah Yang Maha Tinggi.

    QS.Al-Qashash (28) : 76

    Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.

    Inilah salah satu pelajaran dalam perjalanan haji. Misteri tentang sandal japit! Meskipun nampak sederhana, tetapi merupakan pelajaran yang memiliki nilai sangat tinggi di dalamnya…

    ***

    firliana putri

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 22 February 2013 Permalink | Balas  

    Catatan Seorang Isteri

    Oleh Cahaya Khairani

    Sebelum menikah, selain kriteria taqwa, saya tidak punya kriteria khusus untuk calon suami saya nanti. Karena saya menyadari bahwa saya bukanlah wanita yang ideal untuk dijadikan isteri, terutama untuk urusan pekerjaan rumah tangga. Maka saya amat sangat bersyukur pada Allah ketika Dia mengirimkan Lelaki Surga yang penyabar dan pengertian untuk saya.

    Lelaki Surga itu tersenyum dan memandang saya penuh cinta ketika pada malam pertama kami, dengan jujur saya mengatakan bahwa saya tidak terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga. Memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh dua orang pembantu.

    “Biar si bibi yang kerjakan”

    Begitu kata Bunda bila kami anak-anaknya ingin mencuci piring bekas makan kami sendiri. Maka saya pun menjadi terbiasa “terima beres”. Pakaian tinggal pakai, sudah bersih, rapi dan wangi. Mau makan, tinggal ambil di meja makan. Mau minum hangat atau dingin, pembantu yang membuatkan.

    Setiap pagi pembantu akan bertanya minuman apa yang saya ingin dibuatkan. Sekali-sekali saya ke dapur membantu memasak, hitung-hitung sekalian belajar, tapi sedikit saja salah, Bunda akan mengusir saya dari dapur. Aneh memang, bukannya mengajarkan cara memasak yang benar, saya malah tidak dibolehkan di dapur.

    Dengan bicara jujur pada suami, saya berharap ia mempersiapkan kesabaran dan pengertian yang lebih bila nanti, saya memasak makanan yang tidak sedap di lidahnya atau rumah kami menjadi kurang indah dalam penglihatannya.

    “Nanti adek kan bisa belajar”, ujar suami setelah mendengar penuturan saya. Tak ada raut kekhawatiran di wajahnya bila nanti saya tidak dapat mengurusnya dengan baik.

    Belajar. Itulah yang harus saya lakukan. Manusia memang tidak boleh berhenti belajar. Belajar, tidak hanya di bangku kuliah, tapi juga di universitas kehidupan. Dan sekaranglah saatnya saya belajar di kehidupan rumah tangga, yaitu belajar menjadi isteri sholehah.

    Proses belajar pun dimulai. Pekerjaan mencuci, membenahi rumah, menyetrika, ke pasar, memasak, menguras kamar mandi, semua saya lakukan sendiri tanpa bantuan pembantu rumah tangga, hanya suami yang sesekali membantu di sela-sela kesibukannya. Setiap hari selalu ada sayatan luka baru di jari jemari saya. Tubuh mulai mudah masuk angin. Rasa perih, ngilu, pegal-pegal, kaku, kerap menghinggapi telapak tangan saya.

    Tapi jika mengingat betapa Allah sangat menghargai apa yang seorang isteri lakukan untuk suaminya, tidak ada alasan bagi saya untuk mengeluh, apalagi menyerahkan tugas-tugas itu kepada pembantu, rugi rasanya.

    Setelah delapan bulan menikah. Hmm.lumayan juga hasilnya. Pakaian suami selalu rapi dan berbau wangi. Rumah kontrakan kami selalu bersih, lantainya selalu mengkilap. Pemilik rumah kontrakan tidak lagi harus turun tangan menggosok lantai kamar mandi karena saya sudah dapat melakukannya sendiri. Setelah beberapa kali dicontohkan secara tidak langsung oleh pemilik rumah, barulah saya tahu cara menggosok lantai kamar mandi yang baik dan benar.

    Soal masak? Suami bilang saya sudah lebih pandai memasak. Tidak percuma ia rajin membelikan tabloid khusus resep masakan untuk saya pelajari. Tapi tentu saja saya tidak boleh merasa puas. Saya masih harus terus belajar dan belajar.. Mungkin ini lah salah satu rencana Allah menunda menganugerahkan kami seorang anak. Dia Maha Mengetahui kapan saat yang terbaik bagi kami untuk mendapat amanah seorang anak. Saat di mana saya telah menjadi isteri yang baik dan telah siap kembali belajar untuk menjadi Ibu yang baik.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 20 February 2013 Permalink | Balas  

    Dipaksa Memberi Sepuluh Real

    Adakah seorang peminta-minta yang

    berani memaksa kepada pemberinya…?

    Seorang teman bernama Pak Sunaryo yang barusan pulang dari ibadah haji, pernah bercerita. Bahwa ia adalah termasuk orang yang tidak terlalu memperdulikan keberadaan para peminta-minta. Meskipun banyak terlihat di kota mekah, namun ia tidak ambil peduli. Tidak tergerak sedikit pun hatinya untuk memberi uang atau apa pun kepada mereka. Dan hal itu katanya memang sudah menjadi kebiasaannya sejak ia masih muda.

    “Kenapa harus pedulikan mereka, kalau hanya akan membuat mereka jadi malas…” itu yang sering dia katakan.

    Pagi itu, pak Sunaryo pergi ke masjid bersama-sama para jamaah lainnya. Ketika sampai di depan masjid ia bertemu dengan seorang peminta-minta yang menengadahkan tangannya kepada rombongan jamaah tersebut. Para jamaah yang notabene masih teman kerja sekantor itu, rata-rata memberi uang kepada pengemis yang sudah tua.

    Ketika itu pak Sunaryo berjalan di urutan paling belakang. Sampai di dekat pengemis tersebut, ia menjadi begitu bingung. Sebab ia tidak pernah memberi uang atau apa saja kepada para pengemis.

    Berada di dekatnya, pengemis tua itu menyodorkan tangannya ke arah pak Sunaryo. Demi menghindari rasa malu kepada para teman-temannya, pak Sunaryo pun mengambil uang dari balik saku bajunya.

    Ia teringat kalau pada saat itu ada cukup uang di dalam saku bajunya. Hal itu memang sudah ia siapkan untuk belanja, sepulang mereka dari masjid.

    Maka dengan serta merta pak Sunaryo mengambil uang dari saku bajunya. Diambilnya uang satu real-an satu lembar untuk memberi si pengemis. Begitu tangan pak Sunaryo mau mengulurkan tangan untuk memberikan uang satu real tersebut, ternyata yang terambil dari saku bajunya bukan satu real, tetapi sepuluh real.

    Ia terkejut. Maka dibatalkannya pemberian itu. Pak Sunaryo pun kembali memasukkan tangan kanannya ke saku bajunya, untuk menukarkan uang sepuluh real tadi dengan uang satu real yang cukup banyak di dalam sakunya. Ketika tangannya diangkat, pak Sunaryo kembali terkejut. Karena sekali lagi yang terambil adalah uang sepuluh real. Bukan satu real.

    Pak Sunaryo, sedikit merasa malu kepada teman-temannya. Untung banyak temannya yang tidak mengetahui kejadian itu. Maka sambil pura-pura ada sesuatu yang jatuh, pak Sunaryo berhenti sejenak sambil kembali memasukkan uang sepuluh realnya untuk mengganti dengan uang satu real.

    Setelah yakin bahwa yang terambil adalah uang satu real, maka dengan raut muka agak sedikit lega, pak Sunaryo memberikan uang hasil ‘usaha’ yang ketiga kalinya, kepada pengemis tua. Digenggamnya rapat-rapat uang sebesar satu real itu, lantas ia berikan kepada sang pengemis tua yang sejak tadi menyaksikan dengan heran. Ketika pak Sunaryo membuka genggaman tangannya, jarak antara tangannya dan telapak tangan pengemis itu sudah begitu dekatnya, mata pak Sunaryo terbelalak saking terkejutnya…

    Ah, tak terasa ia mengeluarkan suara terkejut setengah mati. Apa yang terjadi ?

    Ternyata uang yang ia ambil itu, kembali sepuluh real! bukan satu real. Tak karuan rasa hati pak Sunaryo. Antara malu, merasa rugi, heran, dan juga cemas menjadi satu.

    Sementara teman-temannya ada yang sudah jauh di depannya, tetapi ada juga yang masih menunggu sambil berjalan pelan-pelan. Maka dalam kondisi semacam itu, pak Sunaryo mencoba berfikir seperti layaknya para jamaah pada umunya. Ia mencoba mengikhlaskannya

    Akhirnya diberikannya juga uang sepuluh real-an itu kepada si pengemis tua. Setelah itu ia cepat-cepat pergi untuk mengejar teman-temannya. ‘Bahkan sebagian temannya sudah ada yang masuk ke masjidil Haram.

    Setelah melakukan shalat dhuhur, pak Sunaryo terus dibayangi oleh peristiwa kecil tersebut. Sambil duduk istirahat pak Sunaryo terus berfikir, mengapa hal itu bisa terjadi? Padahal ia sudah merasakan bahwa yang terambil untuk ke tiga kalinya itu, ia yakini adalah uang satu real. Tetapi mengapa kembali sepuluh real? Ia yakin bahwa yang ada di dalam saku bajunya, sangat banyak uang satu real-an dan hanya ada satu lembar uang sepuluh real. Tetapi kenapa yang terambil selalu yang sepuluh real?

    Tiba-tiba pak Sunaryo, seperti mendapatkan sebuah hidayah. Sesuatu yang selama ini tidak pernah terfikirkan:

    “…ah, ternyata apa yang sudah direncanakan dan disiapkan oleh manusia, sejeli dan seteliti apapun, tidak selalu menghasilkan seperti apa yang diinginkan…”

    Tiba-tiba saja pak Sunaryo mengusap kedua pelupuk matanya yang tanpa terasa sudah basah oleh setetes air, yang ia sendiri tidak mengetahui, mengapa hal itu bisa terjadi…

    Saat pulang, Pak Sunaryo berjanji kepada dirinya sendiri, ia akan memperbaiki segala perilakunya yang kurang terpuji. Terutama kaitannya dengan para pengemis dan orang-orang miskin yang sering ia temui di jalan atau di mana saja. Rupanya Allah memberi pelajaran dan sekaligus hidayah kepada pak Sunaryo, lewat uang sepuluh real tersebut.

    “Alhamdulillah” hanya ucapan itu yang ia sampaikan kepadaku, sambil menutup kisahnya yang cukup unik tersebut.

    Aku pun termangu mendengar kisah sederhana tetapi penuh dengan pelajaran yang sangat berharga itu. Sungguh, jika seseorang telah diberi hidayah oleh Allah, maka apa yang ia berikan insya Allah akan menjadikan dirinya bertambah dekat kepadaNya. Semoga dengan kejadian itu, kini pak Sunaryo telah berubah menjadi manusia baru.

    Semoga pelajaran kecil itu akan membawa manfaat yang besar buat kita semuanya. Manfaat yang paling besar adalah jika setiap pelajaran menimbulkan kedamaian dan ketentraman hati. Sebab hati yang damai dan tentram adalah sebagai indikasi bahwa manusia telah dekat kepada sang penciptanya…insyaAllah.

    QS. Al-Baqarah (2) : 274

    Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

    QS. Ar-Ra’d (13) : 28

    (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 19 February 2013 Permalink | Balas  

    Jangan Bicara

    Sore itu, aku lebih awal dari biasanya sampai di depan ka’bah. Setelah melakukan thawaf, aku mengambil shaf yang tidak jauh dari ka’bah. Aku kebetulan dapat tempat duduk di dekat maqam Ibrahim.

    Tidak berapa lama kemudian datang seorang jama’ah dari Indonesia. “Assalaamu’alaikum, bapak dari embarkasi mana? tanyaku. Ia pun menjawab, bahwa ia dari Jakarta. Barusan datang kemarin pagi. Maka kami pun berbincang-bincang tentang keberadaan kami para jama’ah dari Indonesia.

    Tidak terasa kami begitu asyik berbincang kesana-kemari. Tiba-tiba pandangan kami tertuju pada benda-benda hitam yang bergerak di sekeliling ka’bah. Setelah kami perhatikan dengan seksama ternyata itu adalah gerakan burung-burung yang berterbangan di sekitar ka’bah. Seolah-olah burung-burung kecil itu sedang melakukan thawaf dengan caranya sendiri.

    Ketika itu kami melihat ada sedikit keanehan. Burung-burung itu tidak ada yang berterbangan di atas ka’bah. Mereka sekedar berterbangan mengitari ka’bah. Menyaksikan keanehan burung-burung yang sedang terbang mengitari ka’bah itu, kami berdua pun membicarakannya.

    Ketika kami terlibat dalam pembicaraan itulah, tiba-tiba terdengar suara adzan maghrib. Tetapi karena asyiknya materi pembicaraan kami itu, sampai-sampai suara adzan itu tidak kami hiraukan. Bahkan terus saja kami berbincang dengan agak berbisik-bisik tentang keanehan burung-burung yang ikut thawaf di sore itu.

    Bilal Masjidil Haram mengumandangkan kalimat syahadat yang kedua dalam adzannya “…asyhaduan laa ilaaha illallaah…”, saat itulah kami yang masih berbisik-bisik itu ditegur dan diingatkan oleh seorang jama’ah yang sudah tua, yang duduk di sebelah kanan kami.

    Dengan memberikan isyarat dengan tangan kanannya, Jama’ah tua itu melarang kami untuk berbicara sendiri meskipun dilakukan hanya dengan berbisik-bisik. Wajah tua itu begitu berwibawa. Dengan spontan kami langsung terdiam. Dan kami memperhatikan suara adzan bilal yang masih terus berkumandang dengan merdunya.

    Tiba-tiba saja, entah dari mana datangnya mataku berkaca-kaca. Tiba-tiba aku merasa malu, merasa salah, merasa tidak menghargai kalimat Allah, bahkan saat itu aku merasa telah berbuat dosa yang besar. Aku merasa betapa kalimat tauhid yang diperjuangkan Rasulullah itu aku abaikan begitu saja.

    Padahal Rasulullah menegakkan kalimat itu di kota Mekah saja tidak kurang dari dua belas tahun. Yaitu pada saat periode Mekah.

    Bertambah aku merasa bersalah, bertambah deras air mataku membasahi kelopak mataku. Tujuan aku datang ke tanah Haram adalah selain ingin bertamu di rumah Allah, aku pun ingin mendekat kepada Rasulullah sebagai ungkapan rasa rindu kepadanya. Tetapi kenapa aku tidak menghargai kalimat tauhid yang dikumandangkan oleh Bilal tadi? Kenapa aku terus saja berbincang-bincang?

    Ah, betapa tak tahu dirinya aku ini. Bertambah aku menyesali diri, bertambah pula deras air mata jatuh ke pipi. Dan hal itu terus berlanjut. Bahkan sampai shalat maghrib dimulai pun aku tetap tak kuasa menahan rasa penyesalanku. Ketika imam membaca surat Al-Fatihah (1) : 6-7 dalam raka’at pertama.

    Semakin menjadi-jadi penyesalanku atas kelalaianku tadi. Sebab arti dari ayat tersebut adalah kita mohon jalan yang lurus kepada Allah. Yaitu jalannya orang-orang yang mendapat nikmat, bukan jalan orang-orang yang sesat…

    Sementara saat itu aku sedang berada dalam kelalaian. Begitu sangat terasa kesalahanku saat itu. Sungguh aku terus dibayangi oleh kesalahanku sendiri. Ditambah lagi imam shalat ketika melagukan bacaannya begitu merdu, dan mempesona kalbu. Sehingga derasnya air mata tak kuasa kubendung lagi. Bahkan air mata itu terus mengalir sepanjang shalat maghrib.

    Akh, Begitu cengengkah aku?

    Sampai-sampai suara adzan ‘saja’ menjadikan aku menangis sepanjang shalat maghrib?

    Setelah aku keluar dari suasana itu, lebih-lebih setelah aku berada di tanah air kembali, aku bertambah heran. Mengapa hanya perkara tidak menghiraukan adzan beberapa saat saja aku sudah seperti itu? apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi?

    Sementara ketika kita semua berada di lingkungan kita masing-masing, apakah di rumah, apakah di tempat perkerjaan, apakah di pasar, atau di tempat umum lainnya, hal semacam itu tidak terjadi…

    Betapa seringnya kita mendengar suara adzan dari televisi atau di radio. Atau suara adzan dari musholla di kampung kita. Tetapi sedikit pun kita tidak pernah tersentuh oleh kalimat itu. Padahal ‘ilmu’ yang terkandung di dalam kalimat adzan itu begitu hebatnya. Setiap hari, lima kali! Seolah bilal selalu berkata:

    “…wahai manusia, kalau kamu sekalian menginginkan kemenangan dalam hidupmu, atau kalau kamu menginginkan kebahagiaan dalam perjalanan hidup ini, dirikanlah shalat…Kamu sekalian tidak akan mungkin mencapai kemenangan tanpa melalui shalat…”

    Betapa mesranya panggilan itu, dan betapa hebatnya ilmu yang terkandung di dalamnya. Tetapi tetap saja kita semua tidak pernah menghiraukan panggilan itu. Hati kita tidak tergerak oleh panggilan itu. Padahal kita semua ingin bahagia… ingin menang, dan ingin sukses dalam hidup ini….

    Mungkin Itulah salah satu perbedaan suasana di tanah haram dan di tanah air. Di tanah haram begitu sensitifnya nurani kita, sementara di luar tanah haram begitu tebalnya tabir yang menutupi hati kita.

    QS. Al-Baqarah (2) :

    Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang istikaaf, yang ruku’ dan yang sujud”.

    Sesederhana apa pun yang ada di tanah haram, akan selalu mengingatkan kepada diri kita. Bahwa di dalam perjalanan haji sungguh terkandung banyak sekali pelajaran bagi kita semua. Dengan selalu memohon kepada Allah Swt, kita berdoa dan berharap semoga kita bisa menjalani hidup di tanah air tercinta dengan lebih baik, lebih indah, dan lebih bermakna. insyaAllah…

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
    • praktisprint.com 4:11 pm on 23 Februari 2013 Permalink

      Mau cetak brosur murah dan cepat kami solusinya. Percayakan segala kebutuhan cetak anda kepada kami.

  • erva kurniawan 1:22 am on 17 February 2013 Permalink | Balas  

    Tak Takut Miskin Karena Memberi

    “Apakah kemiskinan itu, Bu? Anak-anak di taman bilang kita miskin. Benarkah itu, Bu?” tanya sang anak.

    “Tidak, kita tidak miskin, Aiko,” jawab ibunya.

    “Apakah kemiskinan itu?” Aiko, sang anak, bertanya lagi.

    “Miskin berarti tidak mempunyai sesuatu apapun untuk diberikan kepada orang lain.” Aiko agak terkejut.

    “Oh? Tapi kita memerlukan semua barang yang kita punyai, apakah yang dapat kita berikan?” katanya menyelidik.

    “Kau ingatkah perempuan pedagang keliling yang ke sini minggu lalu? Kita memberinya sebagian dari makanan kita kepadanya. Karena ia tidak mendapat tempat menginap di kota, ia kembali ke sini dan kita memberinya tempat tidur.”

    “Kita menjadi bersempit-sempitan,” jawab Aiko.

    Tapi sang ibu tak kalah sigap. “Dan kita sering memberikan sebagian dari sayuran kita kepada keluarga Watari, bukan?” katanya.

    “Ibulah yang memberinya. Hanya saya sendiri yang miskin. Saya tak punya apa-apa untuk saya berikan kepada orang lain.”

    Sang ibu tersenyum dan memberikan pandangan teduh pada anaknya.”Oh, kau punya. Setiap orang mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. Pikirkanlah hal itu dan kau akan menemukan sesuatu.”

    Tak lama setelah itu, sang anak pun mendapatkan jawabannya. “Bu! Saya mempunyai sesuatu untuk saya berikan. Saya dapat memberikan cerita-cerita saya kepada teman-teman saya. Saya dapat memberikan kepada mereka cerita-cerita dongeng yang saya dengar dan baca di sekolah.”

    “Tentu! Kau pintar bercerita. Bapakmu juga. Setiap orang senang mendengar cerita.”

    “Saya akan memberikan cerita kepada mereka, sekarang ini juga!”

    **

    Dialog tersebut dapat ditemukan dalam kumpulan kisah-kisah inspiratif, Aiko and Her Cousin Kenichi. Dialog antara ibu dan anak itu, telah meneguhkan sebuah kesadaran besar, bahwa setiap kita bisa memberi. Ini lebih dari sekadar sebuah kesadaran sosial. Tapi kesadaran untuk menjadi berarti lantaran membagi kebahagiaan untuk orang lain.

    Akhlak tentang kesadaran terhadap kehidupan orang lain, dimiliki oleh qudwah yang tak ada bandingnya, yakni Rasulullah saw. Utusan Allah itu bahkan disebut sebagai “orang yang tak takut miskin karena memberi”.

    Dialah yang menanamkan prinsip menolong orang lain untuk menolong diri sendiri. Perhatikanlah bagaimana sabdanya, “Allah swt selalu menolong seoarng hamba, selama hamba itu menolong saudaranya.” Atau, sabdanya yang lain, “Barangsiapa yang memberi kemudahan kepada saudaranya, maka Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat.”

    Itu adalah prinsip memberi dan menerima yang ditanamkan Rasulullah saw. Memberi kepada sesama dan hanya terobsesi untuk menerima dari Allah swt. Sehingga pada praktiknya, prinsip itu berubah menjadi memberi dan memberi, give and give. Sebab penerimaan itu tidak datang dari manusia tapi dari Allah swt.

    Mengajak untuk peduli sosial, memberi bantuan kepada orang lain, menolong atau memberikan jasa, mengeluarkan infaq dan sedekah, sering memunculkan pertanyaan, “Bagaimana saya bisa membantu orang lain? Saya sendiri dalam kondisi kurang dan membutuhkan.” Sementara Rasulullah saw menanamkan nilai bersedekah ini, justru pada saat seseorang sulit mengeluarkannya.

    Suatu hari datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw dan bertanya, “Ya Rasulullah, sedekah apa yang paling besar pahalanya?” Rasulullah saw mengatakan, “Engkau bersedekah sedangkan engkau sedang dalam kondisi sehat, sangat membutuhkan, takut miskin, dan punya obsesi menjadi kaya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hadits ini menjelaskan bahwa dalam situasi sesorang bertanya, “Apa yang bisa saya bantu, karena saya juga dalam kondisi membutuhkan” tadi itulah, bobot pahala sedekah. Semakin seseorang berada pada posisi dilematis antara keinginan dirinya terhadap apa yang akan disedekahkan, semakin tinggi nilai sedekahnya jika benar-benar dilakukan. Tentu saja kesadaran memberi kepada orang lain, tidak selalu berupa benda, materi, uang, atau bantuan yang memiliki nilai nominal. Tapi bisa berupa pikiran, waktu, ide-ide, fisik, atau apapun yang bisa kita beri dan bermanfaat.

    Sekarang, kita layak bertanya pada diri sendiri, apa yang akan kita berikan untuk orang lain? Ingat, setiap kita punya sesuatu yang bisa kita berikan kepada orang lain. Pikirkanlah baik-baik apa sesuatu itu. Niscaya kita akan menemukannya.

    ***

    Sumber: Tarbawi Edisi 146 Th. 8 Dzulhijjah 1427 H / 4 Januari 2007

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 14 February 2013 Permalink | Balas  

    Dzikirnya Alam Semesta

    Apakah alam juga berdzikir..?

    Para jama’ah yang berjubel itu, berebut memenuhi shaf-shaf depan. Sehingga aku mendapatkan shaf di belakang. Hampir di shaf yang paling akhir.

    Ketika aku melakukan shalat sunah, tiba-tiba di sebelah kananku datang seorang jama’ah pakai baju gamis putih-putih, berjenggot panjang menjuntai ke bawah sampai ke dada. Matanya bening, mulutnya selalu senyum.

    Begitu aku selesai shalat, ia mengambil minyak wangi dari dalam bajunya, dan minyak itu dioleskan ke tanganku, dan juga ke bajuku. Ia memberi isyarat agar aku mengoleskan dan meratakan minyak darinya itu ke seluruh tubuhku. Dan kemudian ia menyelinap di antara ribuan jamaah lainnya. Lalu pergi entah kemana. Ah, seorang yang aneh! pikirku.

    Harumnya minyak wangi itu begitu aneh bagiku. Bau yang lembut, tetapi terus merasuk ke nafasku yang mengakibatkan rongga dadaku menjadi nyaman dan lapang. Satu hal lagi, bahwa wajah orang itu begitu akrab dalam benakku. Aku tidak merasa asing dengan wajah itu. Tetapi aku lupa di mana aku pernah bertemu dengan wajah itu…

    Shalat dhuhur rupanya masih lama, maka aku pun kembali berdzikir sambil menunggu waktu shalat tiba. Ketika aku tenggelam dalam dzikirku, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara lamat-lamat dari kejauhan, yang bertambah lama terasa bertambah dekat. Bahkan begitu jelasnya suara itu di telingaku.

    Suara itu ritmenya begitu luar biasa indahnya. Datang bergelombang dengan lembut tetapi jelas. Asal suara itu datang dari atas. Setelah itu datang dari berbagai penjuru. Dari samping kiriku, dari samping kananku, bahkan dari sekelilingku. Aku terbengong sendiri.

    Asalnya aku mengira ada jama’ah khusus di masjid itu yang berdzikir secara serempak bersama-sama. Tetapi anggapanku salah. Karena semua orang, semua jama’ah melakukan aktivitas sendiri-sendiri…

    Suara itu semakin lama semakin menyejukkan hati. Dada menjadi lapang, hati menjadi tentram dan tenang. Bahkan pikiran menjadi jernih.

    Aku berusaha mengikuti irama indah dan agung itu. Tetapi setiap ku ikuti, suara itu tiba-tiba berhenti. Sepertinya ia mengetahui kalau ada orang yang mengikutinya. Ketika aku terdiam. Suara itu kembali muncul dan terdengar di telingaku. Begitu jelasnya dan begitu agungnya. Begitu aku akan mengikutinya ia mendadak berhenti lagi. Dan yang terdengar adalah suara berisiknya para jama’ah yang melakukan aktivitasnya masing-masing. Dan aku pun semakin heran dibuatnya.

    Tetap ada satu pertanyaan yang mengusik dalam hatiku. Suara siapakah itu? Dari mana datangnya?

    Ketika aku berusaha mencari jawabnya, tiba-tiba terdengar suara iqamah dari bilal sebagai pertanda waktu shalat akan dimulai. Dan aku pun melakukan shalat dhuhur bersama para jama’ah lainnya.

    Sesampai di maktab, aku terus berusaha mencari jawabnya. Suara apakah itu, bergemuruh, datang dari jauh, tambah lama tambah dekat dan membentuk suatu ritme yang mempesona. Indah, agung, mesra, dan membentuk harmoni yang luar biasa…

    Begitu penasarannya aku. Maka pada malam itu juga kutulis kejadian itu di dalam buku harianku. Buku yang selalu kubawa kemana saja aku pergi.

    Hari ke dua, dari terjadinya peristiwa itu, aku kembali ke masjid pada jam yang sama. Dan aku menempati shaf agak depan dibanding shaf di hari sebelumnya. Seperti biasanya, sebelum waktu shalat dhuhur tiba, setelah aku lakukan shalat sunah, aku melakukan aktivitas dzikir untuk lebih menghayati dan lebih mendekatkan diri kepada Ilahi Rabbi.

    Saat-saat aku melakukan dzikir itu, tiba-tiba aku tersentak! Dan bulu kudukku merinding…. Ah, ternyata suara itu terdengar kembali di telingaku. Asalnya lamat-lamat. Tetapi tambah lama bertambah jelas. Dan semakin dekat. Begitu dekatnya suara itu. Sampai aku tidak tahu dari mana datangnya. Telingaku kututup dengan tanganku, suara itu semakin jelas. Telingaku kutempelkan di lantai, di sajadahku, suara itu pun sangat jelas. Aku mendongak ke atas, suara itu pun terdengar begitu jelas bahkan seolah memenuhi atap masjid Nabawi.

    Aku berusaha menenangkan diri. Setelah aku tenang, aku mencoba mengikuti suara itu dengan hatiku. Ah! Ternyata suara itu berhenti dan hilang lagi…. Aku pun meratap…” Ya Allah, apa yang terjadi dengan diriku…?” Suara apakah itu? Siapakah yang bersuara itu…

    Akhirnya aku pun pulang kembali ke hotel, tanpa mendapatkan jawaban yang pasti, tentang suara misterius tadi. Berikutnya, hari itu merupakan hari yang ke tiga, sejak terjadinya peristiwa itu. Aku kembali ke masjid untuk berjama’ah shalat dhuhur. Saat itu aku mendapatkan shaf di bagian tengah. Tempatnya sangat berbeda dengan dua hari sebelumnya.

    Setelah shalat sunah, seperti biasanya aku melakukan aktivitas dzikir. Dalam hati aku bertanya dan juga berharap, apakah akan muncul lagi suara itu? ternyata lama aku tunggu, suara itu tidak muncul lagi. Maka aku pun melupakan kejadian itu.

    Selanjutnya aku melakukan shalat sunah lagi. Begitu selesai mengucap salam yang ke dua sebagai penutup shalatku, tiba-tiba hatiku berdegup kencang. Bulu kudukku merinding lagi… Akh, suara itu terdengar lagi. Kini bertambah jelas, bertambah dekat, dan semakin indah iramanya… Aku pun terbuai dibuatnya.

    Dengan perasaan agak takut, aku mencoba mengikuti kalimat itu. Hatiku mulai mengikutinya, Setelah itu bibirku mencoba mengikutinya, Ah! sungguh agung, sungguh menyejukkan… dan sungguh mempesona.

    Dan di hari yang ke tiga itu, aku ternyata bisa mengikuti kalimat indah itu…subhaanallaah… Bibirku mulai bergerak mengikuti suara itu. Suara gemuruh dari berjuta-juta suara, yang membentuk harmoni luar biasa.

    Suara itu, kalimat agung itu berbunyi :

    “..laa ilaaha illallaah,… laa ilaaha illallaah,… laa ilaaha illallaah…”

    Aku pun tenggelam dalam alunan dzikir yang luar biasa indahnya itu. Entah sampai berapa puluh kali atau bahkan berapa ratus kali aku mengikuti dzikir indah itu aku tidak tahu…. Sampai akhirnya aku dikejutkan oleh suara iqamah bilal.

    Aku mulai menyusun shaf untuk shalat berjama’ah, bersama-sama para jama’ah lainnya untuk melakukan shalat dhuhur…

    Sesaat sebelum aku shalat dhuhur, tiba-tiba pikiranku melayang kepada kehadiran seorang jama’ah yang pernah shalat di sebelahku yang

    memberi minyak wangi di sekujur tubuhku dua hari sebelumnya itu. Pandangan matanya, senyumnya, masih begitu kuat tertanam dalam hatiku.

    Apakah peristiwa yang barusan aku alami selama tiga hari berturut-turut itu ada hubungannya dengan orang tersebut?

    Atau juga masih berhubungan dengan pengalamanku ketika pergi ke masjid, dimana saat itu setiap langkah kakiku aku gunakan untuk berdzikir? ..wallahu a’lam!

    Sungguh aku masih bingung…

    Aku pun berusaha untuk melupakan peristiwa itu, karena imam shalat sudah terdengar mengucapkan takbiratul ihram… Allaahu akbar! Kami semua mengikutinya untuk melakukan shalat berjama’ah.

    Setelah usai shalat dhuhur, aku baru menyadari bahwa hari itu adalah hari terakhirku di kota Madinah. Dan saat itu merupakan shalat dhuhur terakhir kami di masjid Nabawi, sebelum menuju Mekah Al-Mukaromah.

    Sesampai di maktab, kembali kubuka buku catatanku. Ku tulis ulang lanjutan pengalaman aneh, indah, dan mempesona yang terjadi selama tiga kali di masjid Rasulullah saw itu.

    Aku tetap masih merasa heran, dan merasa aneh! Siapakah yang berdzikir itu? Ribuan malaikat? Jutaan partikel yang ada di udara? Atau milyaran bio-elektron yang ada di seluruh penjuru dunia ini? Ataukah suara dzikirnya orang-orang shalih terdahulu yang terekam oleh alam, kemudian pada saat itu terdengar olehku, sampai sebanyak tiga kali?

    Aku tidak berani mengambil kesimpulan apapun….

    Yang jelas, yang terdengar oleh telinga lahirku dan oleh telinga bathinku saat itu adalah kalimat indah: ” …laa ilaaha illallaah… ” berulang kali. Bergemuruh, tetapi tidak memekakkan telinga. Bergemuruh, tetapi mendatangkan rasa nyaman di dada. Rasanya baru kali itu aku mendengar dan menyaksikan suatu harmonisasi dari jutaan warna suara yang berbeda, yang menyatu membentuk konfigurasi yang luar biasa indahnya…..

    Dan akupun teringat sabda rasulullah saw :

    Seutama-utama dzikir ialah : Laa ilaaha illallaah”

    (HR. Attirmidzi, Annasa’i, Ibn Majah, Ibn Hibban)

    Rupanya inilah puncak dzikir. Pelajaran terindah bagi seluruh makhluk ciptaan Allah. Semua bertasbih! Seluruh alam berdzikir, untuk mentauhidkan Allah saja…

    QS. Al-Hasyr (59) : 24

    Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana…

    QS. Al Israa’ (17) : 44

    Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 13 February 2013 Permalink | Balas  

    Menyesal Tidak Menangis

    Mengapa menjadi menyesal, jika seorang tidak bisa menangis…?

    Pak Sumo adalah seorang karyawan dalam sebuah perusahaan yang berusia sekitar 35 tahun. Dia termasuk seorang pekerja yang disiplin. Di samping kedisiplinanannya yang sudah diakui oleh manajernya, ia termasuk orang yang keras hati. Apa yang dikehendakinya, selalu ia usahakan untuk bisa meraihnya.

    Ada satu hal yang menurutnya, merupakan kekuatan dari dirinya. Yaitu bahwa ia tidak pernah menangis. Melihat kejadian apa pun, ia mampu melihat dengan biasa-biasa saja. Tanpa tergoda dalam suasana sedih. Jika ada orang menangis karena terhanyut oleh sebuah cerita dalam sebuah sinetron atau drama, ia hanya ketawa saja. Kekuatan hatinya tersebut menjadi kebanggaannya.

    Hari itu pak Sumo adalah sebagai salah satu jama’ah haji di kloterku. Ia berangkat dari maktab menuju masjid Nabawi kadang bersamaku kadang pula tidak. Hari itu di dalam masjid kebetulan dia bertemu denganku. Maka kami ramai dan asyik bercerita saling tukar informasi selama di kota Madinah.

    Sambil menunggu datangnya waktu shalat ashar, kami berbincang-bincang seputar masalah ibadah. Serta saling bertanya bagaimana suasana hati kami ketika berada di tanah Haram ini. Pak Sumo tiba-tiba bertanya kepadaku, apakah aku pernah meneteskan air mata ketika melakukan shalat di masjid Nabawi ini? Aku menjawab sambil lalu saja:

    “…wah, ya tentu saja pernah. Bahkan saya termasuk orang yang sering kali menangis jika melakukan shalat di sini.” Jawabku.

    Pak Sumo menimpali lagi :

    “Sering kali?… Mengapa bisa begitu ?” tukasnya. “Saya juga tidak tahu pak” jawabku singkat. Begitu aku selesai menjawab petanyaannya itu, tiba-tiba di depan kami agak menyerong sebelah kanan, terlihat ada seorang lelaki setengah baya yang berdoa sambil mengangkat kedua tangannya.

    Begitu sejuknya ekspresi wajahnya. Matanya terpejam. Dagunya terangkat sedikit. Dari sela-sela lembar bulu matanya menetes air matanya. Tetesan itu membasahi pipinya yang agak sedikit cekung. Tangannya merapat di depan dadanya dan menengadah ke atas. Mulutnya nampak bergerak-gerak, tanda ia sedang berbisik pelahan.

    Tanpa terasa aku ikut hanyut menyaksikan ekspresi orang tersebut. Sehingga aku agak lama terdiam. Aku lupa kalau di samping kananku ada pak Sumo yang sedang mengajakku untuk berbincang-bincang…

    Tiba-tiba lenganku dipegang oleh pak Sumo. Seraya ia bertanya kepadaku.

    :”Mengapa anda nampaknya ikut terhanyut melihat orang itu? apa yang istimewa pada diri orang itu?”

    Sebelum aku menjawab, pak Sumo pun melanjutkan pertanyaannya lagi:

    “… mengapa ya, sejak kemarin koq banyak orang menangis di sini? Apa yang menyebabkannya?” Saya sendiri tidak pernah mengalami hal semacam itu. Mengapa itu bisa terjadi.? ” Katanya lagi.

    Aku tidak memberi jawaban apa pun kepada pak Sumo atas pertanyaan-pertanyaan itu. Pembicaraan kami terputus, karena terdengar bilal sudah memberi tanda bahwa shalat akan segera dimulai. Akhirnya kami berpisah mencari shaf masing-masing untuk mengikuti shalat berjama’ah.

    Satu hari, dua hari, kami tidak bertemu dengan pak Sumo. Tetapi pada hari terakhir di Madinah, ketika kami melakukan shalat terakhir di masjid Nabawi, aku bertemu lagi dengan pak Sumo. Seperti biasanya ia mengajak duduk bersama sambil nunggu shalat berjama’ah. Menurut pengakuannya, ternyata selama kami tidak bertemu, pak Sumo bertambah sering melihat orang-orang menangis di masjid itu.

    Bahkan katanya ada orang yang hampir pingsan menangis sesenggukan menyesali dosa-dosanya. :”…tetapi hati saya tetap hambar. Saya tidak menemukan alasan untuk menangis. Meski pun dalam hati kecil saya, saya juga ingin merasakannya. Tetapi setes pun saya tidak bisa mengeluarkannya.” Katanya lagi.

    Ketika batasan waktu untuk di Madinah sudah dinyatakan habis, dan kami semua harus berkemas untuk menuju kota Mekah, aku melihat sesekali waktu pada diri pak Sumo. Ku lihat ia sering berdiam. Tidak seperti biasanya. Biasanya ia selalu nampak ceria, lincah, penuh gaya, dan penuh semangat.

    Saat itu nampak serius sekali. Maka aku pun mendekatinya sebagai teman jama’ah se kioter yang berangkat dan pulang kami sering bersama-sama. “Ada apa gerangan pak Sumo?” tanyaku.

    Setelah sejenak mamandang kepadaku, dan sedikit menatap mataku, pak Sumo bercerita. Ternyata selepas kami beberapa hari tidak bertemu di dalam masjid, pak Sumo bertambah sering melihat orang menangis dalam berdo’a. Bahkan ketika pulang dari masjid, ia masih sempat menyaksikan seorang ibu yang matanya masih basah oleh air mata.

    Dan yang lebih menggugah perasaannya adalah, ketika suatu saat pak Sumo berdekatan dengan beberapa jamaah, yang sedang berdiskusi tentang masalah suasana hati. Dari hasil pendengarannya yang tidak sengaja itu, pak Sumo mengambil sebuah kesimpulan, bahwa seharusnya hati seorang mukmin itu adalah sensitif. Gampang trenyuh, gampang peduli, dan gampang melihat kesalahan diri sendiri… Maka sejak itu pak Sumo sering merenung sendiri. Ia mulai melihat ada beberapa keanehan dalam dirinya. Ia mulai merasa betapa salahnya ia. Betapa keras hatinya, betapa tak tahu dirinya ia…

    Penyesalan demi penyesalan ia renungi sendiri.

    Dan tidak ada yang menyuruhnya, tiba-tiba saja jatuhlah air mata pertama pak Sumo selama dalam hidupnya. Air mata yang sangat mahal harganya. Yang akan mengubah suasana hati pak Sumo dalam kehidupannya.

    Dia bertambah sedih, dan merasa sangat besar dosanya, ketika teringat pernah mengejek temannya yang menangis ketika di Raudhah. Bahkan ketika ia melihat orang-orang melelehkan air mata, saat itu ia pernah mengejeknya di dalam hati. Akh, kepingin sekali rasanya pak Sumo mencari orang-orang itu, dan ia ingin memeluk untuk mohon maaf, atas kedangkalan pikiran dan hatinya.

    Hari itu Pak Sumo terus menerungi kesalahannya. Ku lihat sampai ia naik ke dalam bus, dan duduk di bagian belakang, ia tetap menundukkan kepala. Akh, rupanya pak Sumo telah ‘mampu’ menangis! Pak Sumo yang merasa bangga dengan kekerasan hatinya itu, pak Sumo yang selama hidupnya pantang mengeluarkan air mata itu, sekarang terlihat menangis, justru setelah semua orang telah berhenti dari menangisnya…

    Bus kami pun melaju dengan cepat menuju ke kota Mekah Al-Mukaromah. Di dalam bus yang lain, aku duduk bersama teman serombonganku, dan tanpa terasa aku pun terus merenung dan berfikir tentang peristiwa yang terjadi pada diri pak Sumo. Memang masalah hati adalah masalah hidayah. Yang sangat sulit diterobos oleh kata-kata atau kalimat yang tajam sekali pun.

    Firman Allah Swt, dalam Al-Qur’an menunjukkan betapa manusia mempunyai bermacam hati. Ada hati yang berpenyakit, ada hati yang tertutup. Ada hati yang keras membatu, ada pula hati terkunci mati. Bahkan ada hati yang sesat. Bergantung bagaimana mereka mampu melatih dan memenejnya masing-masing.

    QS. Al-Baqarah (2) : 7

    Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

    QS. Al-Baqarah (2) : 10

    Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

    QS. Ali Imran (3) : 8

    (Mereka berdo’a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”

    QS. Al-Maidah (5) : 13

    (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

    QS. Al-An’am (6) : 25

    Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan) mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”.

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 660 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: