Updates from Juni, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 3:34 am pada 20 June 2013 Permalink | Balas  

    hidayah-allahKisah nyata Sarimin & Hendri, Bagaimana kelembutan akhlak menjadikan jalan hidayah

    Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu, Allah yang maha memberikan jalan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

    Alkisah di kota Cilacap, ada seorang anak SMP yang bernama Sarimin. Kemudian di sekolah itu ada seorang anak murid yang bernama Hendri. Dia beragama Katolik. Hendri minder karena dia merasakan anak-anak islam yang lainnya galak. Sering memusuhinya, sering menakali dan disisihkan dari pergaulan. Satu-satunya anak yang mau berteman dengan Hendri adalah Sarimin yang anak miskin dan sederhana. Namun sikap Sarimin sangat baik sekali kepada Hendri. Kalau ada yang mengganggu Hendri, Sarimin yang melindungi seraya berkata, “Hayo jangan gitu dong, kita ini kan sama-sama sedang belajar disini”.

    Sampai merekapun menjadi dua orang sahabat karib. Dimana ada Hendri, disitu ada Sarimin. Dimana ada Sarimin, disitu ada Hendri. Sampailah persahabatan mereka berlanjut ketika SMA. Di SMA, Hendri juga bernasib sama ketika dia di SMP. Hendri adalah seorang minoritas diantara banyak teman-temannya yang muslim. Kalau Hendri sakit, hanya Sariminlah yang menjenguk dan memijat kakinya.

    Sampai suatu saat, Sarimin bermaksud ingin mengajak Hendri untuk main ke rumahnya. Hendri pun panik seraya berkata dalam hati, “Wah jangan-jangan yang baik hanya Sarimin saja nih. kakaknya, bapaknya serta anggota keluarga Sarimin yang lain jangan-jangan galak. Kan orang Islam”. Tapi karena undangan dari seorang sahabat Hendri mau datang. Alangkah terkejutnya Hendri karena begitu datang, bapaknya menyambut dengan sangat baik kepada Hendri. Kakak Sarimin juga berlaku lembut kepada Hendri. Sampai ketika akan makan bersama di depan meja makan, bapak Sarimin berkata, “Nak Hendri, kami mau berdoa menurut agama Islam. Kalau nak Hendri mau berdoa sesuai agama Katolik, silahkan sebelum kita makan”. Begitu mau pulang kakak Sarimin berkata, “Hendri, jangan sungkan-sungkan ya, kapan-kapan mampirlah ke gubuk kami lagi”. Persahabatan mereka berdua berlangsung sampai kelas tiga SMA.

    Yang memisahkan mereka berdua adalah sarimin kuliah di Univ. Syarif Hidayatullah Jakarta dan Hendri kuliah di Theologi Yogyakarta. Pada jaman itu belum ada handphone seperti sekarang ini. Sampai akhirnya pada semester 6, benar-benar di kampus Theologi itu orang-orang terbeli dengan akhlak Hendri. Begitu lembut, begitu baik, begitu mau menghormati orang lain.

    Sampai suatu ketika pasturnya bertanya, “Hendri, kamu kok baik banget. Saya ingin bertanya, siapa pastur kamu dulu ketika di SMA?”.

    Lalu Hendri menjawab, “Maaf pastur, guru saya adalah Sarimin”.

    “Siapa Sarimin? Masa ada pastur namanya Sarimin?”.

    “Memang Sarimin bukan seorang pastur. Tapi Sarimin adalah sahabat saya. Dia seorang Islam”.

    Sampailah semester 8, Hendri belajar tentang perbandingan agama. Dan dia belajar tentang biografi Nabi Muhammad SAW. Begitu lembar demi lembar dia baca tiap malam, tak terasa air matanya bercucur deras, berlinang membasahi buku itu. Dan sampai mulutnya bergetar seraya berkata, “Ya Tuhan, pantas begitu mulianya akhlak Sarimin. Ini nabinya luar biasa, belum pernah saya temukan tokoh semulia akhlak Muhammad SAW. Luar biasa, pantas akhlak Sarimin begitu bagus”.

    Saudaraku, sampailah saat Hendri diwisuda. Dan ketika selesai diwisuda, dia letakkan toga wisudanya dan bergegas menuju ke suatu masjid. Apa yang dilakukan Hendri? Hendri langsung mengucapkan dua kalimah syahadat. Asyhaduallaaa Ilaa Ha Illallaah… wa Asyhaduallaaa Muhammadarrasuulllah…

    Setelah itu, Hendri langsung pulang ke Cilacap. Dan sebelum Hendri sampai ke rumahnya, dia sempatkan untuk mampir terlebih dahulu ke rumah Sarimin. ”Assalamualaikum… assalamualaikum…”.

    Lalu bapak Sariminlah yang keluar. “Waalaikumsalam…. Oh, nak Hendri …”.

    ”Tapi kok nak Hendri Assalamualaikum??”, tanya bapak Sarimin kepada Hendri.

    “Iya pak, saya sekarang sudah menjadi seorang muslim pak”, jawab Hendri.

    “Alhamdulillah… bapak senang nak..” ujar bapak Sarimin senang mendengar jawaban dari Hendri.

    Hendri lalu menanyakan Sarimin, “Pak, mana Sarimin? Sudah selesai belum kuliahnya pak? Saya kangen sekali dengan dia pak, saya ingin ketemu pak, dimana alamatnya pak”.

    Bapak Sarimin masih terdiam belum menjawabnya. “Pak, dimana alamatnya pak? nomor teleponnya berapa pak?”.

    Bapak Sarimin juga belum menjawabnya. Sampai akhirnya Hendri berkata, “Pak, kenapa bapak diam saja? Saya bertanya tentang Sarimin Pak?!”.

    Lalu bapak Sarimin baru menjawabnya, “Nak Hendri, mau ketemu Sarimin?”.

    “Betul Pak !” jawab Hendri.

    “Mari nak, kita ke belakang rumah” jawab bapak Sarimin.

    Dan saudaraku, ditunjukkanlah sebuah kubur di belakang rumah itu. Di batu Nisan bertuliskan Sarimin. Hendri langsung tertunduk lemas dan mulai keluarlah air matanya.

    Dia bertanya lagi kepada bapak Sarimin, “Kapan dia meninggal paak..”.

    Lalu Bapak menjawab dengan lirih “Dua tahun yang lalu ketika Sarimin semester 5. Dia terserang penyakit tifus”.

    Hendri langsung duduk bersimpuh. Sambil menangis Hendri berkata, “Yaa… Allah…. perjumpakanlah Sarimin dengan-Mu yaa… Rabb… Perjumpakanlah dia dengan Nabi-Mu, Kekasih-Mu, Rasulullah…, Demi Allah yaa Allah…. Saya Islam, mendapat hidayah karena kemuliaan akhlak Sarimin. Sayalah saksinya yaa… Allah…. bahwa sarimin cinta… cinta…. kepadamu yaa… Allah… yaa… Rasulullah….”.

    Allahu Akbar…

    Sarimin tidak banyak bicara tentang Islam. Tetapi Sarimin sudah menjadi bukti tentang kemuliaan Islam.

    ***

    (Ustadz Komar, Daarut Tauhiid Bandung)

     
    • mizsemberpink 11:15 am pada 20 Juni 2013 Permalink

      Ini kisah nyata ya? MasyaAllah Subhanallah…kisah yg menggugah dan mengingatkan bahwa mengaku Islam seyogyanya tercermin dalam akhlak karimah, tingkah laku sehari-hari…mohon ijin co-paste ya :)

    • mizsemberpink 11:18 am pada 20 Juni 2013 Permalink

      Reblogged this on Playgroup Surga and commented:
      Tidak banyak bicara tentang Islam. Tetapi Sarimin sudah menjadi bukti tentang kemuliaan Islam. Dengan berakhlak karimah yang tercermin dalam tingkah laku sehari-hari yang mampu menggetarkan hati siapapun…:)

  • erva kurniawan 4:43 am pada 11 June 2013 Permalink | Balas  

    siluet masjid 5Bagaimanakah Sebenarnya Pengelolaan Masjid?

    Di suatu sore yang mendung saya ditelepon seorang teman. Setelah ngobrol ini dan itu, ia tiba pada pokok tujuannya menelpon.

    “Mei, bisakah bantu saya; kasih tahu caranya menyusun neraca, laporan laba rugi?”

    Saya sedikit terperangah; apakah teman yang memutuskan menjadi evangelis, [islam: daiyah] mengabdikan hidupnya untuk kegiatan gereja; seperti memberi pencerahan bagi orang-orang yang terpinggirkan; di kolong jembatan, pada mereka yang tinggal di bantaran sungai, di tempat pembuangan sampah; penghiburan bagi yang sakit dirumah, di rumah sakit juga pada mereka yang tertimpa musibah. Menyemangati mereka yg berada di lapas, panti rehabilitasi, di panti jompo dan lainnya yang jauh dari hiruk pikuk pemberitaan dan menjadi tempat curhat bagi mereka yang terlupakan dikehidupan ini. Apakah sekarang ia kembali bekerja ?

    Latar belakang pendidikan teman ini adalah kesekretariatan, PR yang diperolehnya di negeri Paman Sam. Sebelum memutuskan untuk mengabdi, bekerja bagi Tuhan ia pernah menjadi pegawai pada perusahaan asing, perusahaan multi nasional yang memberinya banyak kelimpahan materi. Rupanya teman ini bisa membaca pikiran saya dan iapun mengatakan, bahwa untuk sementara waktu ia mendapat tugas untuk membereskan pembukuan gereja karena yang biasanya bertugas pindah keluar kota.

    Beberapa hari kemudian di sebuah koran besar berskala nasional, saya membaca iklan lowongan pekerjaan yang cukup mencolok. – Di cari seorang sekretaris gereja berpendidikan SI Akuntansi, menguasai MS Word-Excel, bisa berbahasa asing.

    Setelah membaca iklan itu saya tercenung, bertanya-tanya dalam hati. Bagaimanakah dengan masjid? Sebenarnya pengelolaan masjid di masa kini itu seperti apa? Seorang kerabat ada yang menjadi pengurus sebuah masjid di lingkungan kami tinggal mengatakan, bahwa masjid pada umumnya dikelola dengan prinsip manajemen rumah tangga. Pegawai/pengurus/petugas masjid datang dan pergi. Karena biasanya mereka bekerja tidak profesional; hanya jika punya waktu dan belum punya pekerjaan tetap daripada menganggur, mereka bekerja secara sukarela, lillahi ta’ala di masjid-mushala. Bagaimanakah dana sebuah masjid dihimpun untuk membayar biaya operasional rutin seperti listrik, air, kebersihan? Bagaimanakah mempertanggungjawabkan dana yang terhimpun [kencleng masjid] kepada jamaah, hanya setahun sekali sajakah, tiap shalat hari raya?

    Telepon di sore yang mendung memberikan suatu pandangan bagi saya bahwa rumah ibadah -masjid di masa kini idealnya juga bisa melahirkan, membentuk pribadi-pribadi yang siap melakukan pekerjaan/karir ibadah sosial bagi sesamanya yang kurang beruntung. Masjid harus dikelola seperti sebuah ‘badan usaha’, ada pekerja ‘karir’ yang bertugas memakmurkan masjid dan digaji minimal sesuai standar UMR misalnya.

    Masjid juga seharusnya bisa memberi ruang untuk mereka yang terpinggirkan, mereka yang kumuh, yang papa. Ironis, ketika saya melewati sebuah masjid saat shalat Jum’at tiba. Seorang pemulung yang kumal hanya mendengarkan khutbah sambil duduk di bawah pohon yang berada di lingkungan masjid. “Mengapa bapak tidak ikut shalat?” Lelaki itupun menjawab bahwa ia tidak punya pakaian yang layak dan bersih untuk bisa bersama shalat dalam masjid yang megah itu. Bagaimana mungkin sebuah masjid yang besar tidak terpikirkan menyediakan seperangkat pakaian bersih untuk shalat, yang bisa dipinjamkan pada jamaah yang membutuhkan?

    Untuk siapakah masjid itu sebenarnya?

    ***

    Oleh: Meilany

     
  • erva kurniawan 1:14 am pada 27 May 2013 Permalink | Balas  

    sabar (1)Bukan Tamu Undangan

    Si musya menangis,terisak tertunduk ke arah tanah di plataran masjid,seolah olah dia sedang mengadu padanya “aku menyesal,aku telah lalai”..

    “Ada apa denganmu?” Sahut sahabatnya yang mengejar dibelakang,dengan raut wajah yang terlihat cemas dan ingin tahu.

    Musya, “Tidak kah kau dengar seruan adzan sebelum shalat tadi?”

    “Dengar, adakah yang salah?”

    Musya, “Tidak, hanya saja saat itu aku sedang asik dengan kemalasanku,mengulur waktu karena enggan menyambut seruannya”

    “Lalu?”

    Musya, “Ketika aku sampai di masjid dengan terburu-buru, kudapati sisa raka’at menghujung terakhir, sehingga aku mempercepat wudlu dan masuk dalam shaf dengan takbir asal-asalan dan kurang sempurna, oleh karena itulah ALLAH tidak ridho atas kedatanganku. DIA mengusirku dengan mengeluarkan hadats yg tak kuasa ku tahan, astaghfirullah, dan seketika itu aku sadar bahwa aku bukan tamunya maghrib ini. Aku tertolak, aku terbuang, tahu kah kamu rasanya diusir oleh orang yang paling kamu cintai lantaran kesalahanmu sendiri??”

    Sahabatnya hanya diam dengan mencoba merasakan apa yang dirasa si Musya.

    Musya, “Sangat menyedihkan kawan, bahkan saat itu kau sangat membenci dirimu sendiri!”

    ***

    Kumpulan humor “Gus Dur”

     
  • erva kurniawan 1:05 am pada 25 May 2013 Permalink | Balas  

    doaDarah Hitam

    Orang-orang terheran, bahkan menganggapnya gila.

    Bagaimana tidak, tangannya terluka dengan darah yang terus mengalir tapi diwajahnya tak teraut wajah ketakutan sedikitpun, melainkan sebuah senyum sumringah dengan mata yang berkaca-kaca..

    Maka seorang maju selangkah dari kerumunan orang-orang bisu itu, dan sepatah kata pertanyaan diucap dengan penuh penasaran.

    “Hei Hamka,bagaimana kau bisa melakukan itu?”

    Hamka: “Semua orang bisa melakukannya, yaitu ketika seseorang sangat bahagia karena mendapatkan apa yang sangat ia nantikan kedatangannya.”

    “Lalu apa yang kau nantikan sehingga kau tertawa dalam lukamu?”

    Maka Hamka menyodorkan tangannya yang terluka dan berkata “Lihatlah darah merah ini, sesungguhnya ia berwarna hitam yang terwarna dari makanan haram yang tak sengaja kumakan kemarin, maka aku bertaubat dan memohon ampunan kepada ALLAH yang maha bijaksana, sehingga ALLAH menerima taubatku hari ini dan mensucikan aku dengan mengeluarka darah yang tercemar dosa ini”

    “Lalu bagaimana kau tahu luka itu adalah ampunanNya?”

    Hamka: “Bukankah Rasulullah pernah bersabda bahwa ada ampunan disetiap kesakitan?!?!”

    Silahkan fikirkan hikmah kisah diatas sesuai fikiran masing-masing,agar hati terlatih dan peka akan suatu pelajaran.

    ***

    Dari: Kumpulan humor “Gus Dur”

     
  • erva kurniawan 1:52 am pada 22 May 2013 Permalink | Balas  

    hidayah-allahJalan Hidayah Mantan Bromocorah

    Lafadz shalawat terdengar berkumandang dari Mushala At Taubah. Bangunan ini berukuran 8×10 meter persegi terletak di perbatasan daerah Delima dan Teratai Putih, Perumnas Klender, Jaktim. Di sekitar mushala yang bediri di tanah milik Perumnas ini, terdapat rumah-rumah kumuh yang dihuni 20 keluarga.

    Mushala ini tidak pernah sepi dari agenda keagamaan. Sepintas, mushala ini tidak tampak istimewa. Padahal, tempat ibadah ini merupakan pelabuhan hidup bagi para mantan residivis dan mantan preman yang mendapatkan hidayah. Sebagian besar pengurus mushala ini adalah mereka yang dulu dunianya sangat kelam.

    Di mushala ini, mereka senantiasa menegakkan shalat lima waktu secara berjamaah. Mereka juga sering menggelar diskusi keagamaan untuk menyirami batin yang seringkali kering. Di mushala ini pula, para mantan ‘orang jahat’ itu menjalankan pendidikan Alquran untuk anak-anak yang tinggal di daerah kumuh dekat mushala.

    Kamis (5/3), Republika turut serta dalam majlis shalawat yang digelar di mushala itu. Jamaah yang hadir mayoritas pemuda jalanan. Meski begitu, mereka sangat khusyu dalam melafadzkan dan mengikuti bacaan shalawat selama dua jam lebih. Sesekali butiran air mata jatuh ke pipi mereka. Usai shalawat dan pembacaan doa, salah satu di antara mereka mengumpulkan uang dari para jamaah dengan peci yang dikenakannya.

    Menurut salah seorang pengurus mushala, Sukarya, dana yang terkumpul itu sebagian digunakan untuk pembangunan mushala dan sisanya diberikan kepada 135 anak yatim. Sukarya, dulunya sering berurusan dengan aparat kepolisian karena kasus perkelahian dan penodongan.

    ”Tadinya orang nggak percaya sama kami. Tapi, mungkin karena melihat kami sering bikin acara buat anak yatim, ada beberapa donatur dari luar yang menitip infak,” ungkap dia dengan wajah sumringah. Selanjutnya, Sukarya bercerita pengurus Mushala At Taubah ini dulunya adalah pemuda-pemuda yang gemar dengan alkohol dan sering membuat keresahan di masyarakat. Namun, sejak tujuh tahun silam, pemuda-pemuda ini aktif dalam majlis shalawat yang digelar di Masjid Nurul Iman, Teratai Putih, Klender.

    Namun, karena ingin memiliki tempat sendiri untuk berkumpul, para mantan residivis ini berusaha sekuat tenaga membangun mushala. Keinginan itu terwujud pada 2005. Apakah dana pembangunan mushala berasal dari uang haram? Sukarya menampik. Menurut dia, dana pembangunan sekitar Rp 20 juta diperoleh murni dari iuran dan satu orang donatur yang bekerja di Polairud di Surabaya.

    Awal proses pembangunan mushala ini, kata Sukarya, selain terbentur pada pengadaan dana, juga pernah bermasalah dengan Dinas Tata Kota Jaktim terkait penggunaan tanah. Namun, berkat bantuan tokoh masyarakat setempat, akhirnya proses pembangunan berjalan lancar. Untuk bisa iuran, jamaah mushala bekerja serabutan.

    Warga sekitar mushala, Bambang (50 tahun), mengaku sangat senang dengan keberadaan mushala baru di tempatnya. Selain mempermudah jarak untuk shalat jamaah, tempat tersebut juga bermanfaat sebagai tempat mengaji bagi anaknya.

    Firman Hidayat, salah satu pemuda yang aktif di Mushala At Taubah menceritakan, awal hadirnya shalawatan tersebut digagas oleh enam orang, di antaranya KH Ayip Abdul Abaz yang berasal dari Pesantren Buntet, Cirebon. Pada 1990, Kiai Ayip berniat mengadakan shalawat akbar berskala nasional di Masjid Istiqlal, namun kala itu yang hadir hanya enam orang.

    ”Mungkin merasa gak berkembang, Kiai Ayip akhirnya menyebarkan shalawat kepada pemuda-pemuda jalanan, ke terminal-terminal dan pasar-pasar. Akhirnya shalawat akbar tahun 2006 di Masjid Istiqlal dihadiri ribuan orang, dan sekitar 75 persennya mantan peminum dan pemuda jalanan,” kata Pema, sapaan akrab Firman.

    Firman yang kini berusia 34 tahun, semula sering keluar masuk penjara karena tindak kriminal yang dilakukannya. Sedikit pun dia dulu tidak pernah membayangkan mulutnya bakal bisa mengumandangkan ayat-ayat Alquran. Namun, ternyata pintu hidayah terbuka lebar untuknya. Begitu mendengar shalawat dan ayat-ayat yang berkumandang di masjid-masjid, hatinya luluh. Dia kemudian mulai aktif di Mushala At Taubah yang memang tidak jauh dari tempat tinggalnya. ”/Gue/ masih ingat, paling tidak sudah tiga kali keluar masuk LP Cipinang. Paling sering karena kasus pencurian dan kekerasan,” aku Pema.

    Perjalanan hidup yang hampir sama juga dilalui mantan pelaku kriminal asal Sunter, Jakut, Alova (40 tahun), yang ikut hadir dalam acara shalawat di mushala tersebut. Penasaran dengan alunan shalawat yang didengarnya, dia mengunjungi mushala tersebut untuk bergabung. Akhirnya hingga kini dia aktif mengembangkan majelis shalawat dan mengajak rekannya mendekatkan diri pada Allah.

    ”Waktu itu gue nggak tau ada brisik-brisik di mushala, ternyata pada shalawatan. Gue ikut dan hati gue tersentuh, sejak itu nggak mau jahat lagi,” tutur dia.

    Pengakuan serupa dikemukakan Sansan Sanro Roni (43 tahun). Selama bertahun-tahun dia selalu diajak bershalawat oleh adik dan rekannya. Namun, dia menolak dan lebih memilih menggeluti pekerjaannya sebagai pengecer judi togel. Sebelum sang adik mengembuskan napas terakhirnya di pangkuan Sansan pada Ramadhan 1427 H lalu, dia dihadiahi sebuah peci dan diminta untuk mencintai Nabi dengan mengikuti sunahnya. Kenang-kenangan itu ternyata sangat berkesan dan menuntun Sansan membaktikan dirinya pada aktivitas keagamaan.

    ”Sekarang bawaannya jadi /pengen/ memperdalam agama dan jadi benci banget sama minum dan judi,” kata pria asal Duren Sawit, Jaktim, itu.

    (mg01 )

    ***

    sumber : republika.co.id

     
    • wondo 6:49 am pada 22 Mei 2013 Permalink

      Bisa kirimkan saya teks sholawatnya?? Trimakasih

  • erva kurniawan 1:34 am pada 21 May 2013 Permalink | Balas  

    Taman-bungaKesempurnaan Hidup

    Suatu hari Kahlil Gibran bertanya kepada gurunya.

    “Gibran : Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup…???”

    “Sang Guru : Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali kebelakang…!!!”

    “Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Gibran kembali dengan tangan hampa…”

    “Lalu guru bertanya : Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun…???”

    “Gibran : Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya tapi aku tidak memetiknya karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yg lebih indah, namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali kebelakang lagi…!!!”

    “Sambil tersenyum Sang Guru berkata : Yaa, itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan…!!!”

    Sahabat yang budiman…

    Marilah kita sadari bahwa apa yang kita dapatkan hari ini adalah yang terbaik menurut Tuhan dan jangan pernah ragu, karena kesadaran itu akan menjadikan kita nikmat menjalani hidup ini… Aamiin… (sen)

    ***

    Sumber : Patut Anda Ketahui

     
  • erva kurniawan 1:14 am pada 16 May 2013 Permalink | Balas  

    hayyu qoyuumDua Nama yang Melumpuhkan Perih

    Ya Hayyu…Ya Qayyum…

    (Wahai Sang Maha Hidup Kekal… Wahai Sang Maha yang Senantiasa Mengurus Mahluk-Nya)

    Ia merintih. Ia memendam perih. Sebuah luka hampir saja meringkus jiwanya, melahap mimpi-mimpinya. Seorang laki-laki saleh nyaris luruh di dunia kuldesak (jalan buntu, red), dunia ketika jalan terasa gelap dan buntu. Matanya begitu pedih. Sebuah penyakit -yang entah apa- mengendap di kelopaknya. Tiga bulan sudah penyakit itu bersetia mukim di satu biji matanya.

    Bila rasa sakit itu meradang, ia menjerit-jerit. Serupa jeruk nipis bercampur garam dan cuka masam meresap ke dalam matanya. Ia merintih-rintih seraya melafal-lafal asma Allah, meminta belas kasih-Nya. Sudah sekian dokter ia datangi, telah sekian pula berita nihil didapatnya. Para dokter itu tak mampu mendiagnosa penyakitnya. Ia merasa hidupnya dan mimpinya dan jiwanya, lamat-lamat akan tenggelam di pusara sakit mata. Ia pun akhirnya bisa berdoa dan memunajatkan hati kepadaNya.

    Hingga pada satu momen, ia mulai bangkit kembali. Ia pergi ke sebuah rumah sakit dan didiagnosis oleh seorang asisten dokter bernama dokter Muhriz. Ternyata, jalan menumpas perih yang menjelaga di matanya belum juga berakhir. Seminggu selepas diidentifikasi sang dokter, ia hanya diberi resep guna meringankan rasa sakit yang dideranya. Ia pun terpaksa melewati hari dalam jeri, dalam cemas yang kelam. Kala itu, yang bisa dilakukannya hanya berdoa dan menzikir-zikir nama Allah.

    Dua bulan setelah itu, dokter Thuwaihi, dokter berpangkat profesor di sebuah fakukas kedokteran, bersama segenap mahasiswanya menjumpainya. Ia bermaksud mendeteksi penyakitnya sekaligus mengajarkan kepada mahasiswanya itu ihwal metode penyembuhan penyakit yang sudah lama mengendap di matanya.

    Saat itulah, sang Profesor menuturkan petuah sakti yang memasygulkan batinnya. “Daya lihat mata yang menderita penyakit seperti ini telah hilang secara total. Karena itu, kehadiran kita di sini sekadar membatasi pengaruhnya agar penyakit ini tidak menyebar ke mata yang satunya lagi, mata yang masih bisa melihat…”

    Kesimpulan sang Profesor kepada mahasiswanya itu kontan saja, mengiris-iris kalbu lelaki saleh ini. Ia seperti dilesakkan ke palung bumi yang paling gulita. Ia merasa benar-benar sendiri dan sepi. Air mata berderai-derai di pelupuknya. Betapa tidak! Seorang yang dipikirnya mampu mengusir ‘setan’ di matanya. malah melukai jiwanya. Saat itu, gejolak batinnya tidak lagi berwarna kelabu, tapi hitam pekat dan kelam. Maka Allah-lah menjadi sahabat sejatinya, menjadi tempat dia menumpahkan perih dan pedih.

    Beberapa hari kemudian, si Profesor dan gerombolan mahasiswanya kembali mengunjunginya. Kali ini, Profesor itu meletakkan sebuah mikroskop di atas matanya. Memantau kembali kelopaknya. Dan, tiba-tiba, Profesor itu terperanjat. Ia geleng-geleng kepada. Ia terkagum-kagum. “Demi Allah! Ini adalah mukjizat. Apa yang Anda perbuat hingga hal ini bisa terjadi? Mata Anda yang kemarin rusak, kenapa sekarang bisa pulih?” tanya Profesor penasaran.

    “Saya tidak melakukan apapun. Saya hanya terpengaruh ucapan Anda kemarin, sehingga saya menangis cukup lama. Namun demikian, harapan saya kepada Allah tidak pernah hilang, sebab kesembuhan semata-mata berasal dari-Nya,” jawab lelaki saleh itu penuh harap “Tampaknya, doa tulus Anda telah dikabulkan Allah”, Ujar Profesor penuh decak takjub.

    Begitulah, penuturan lelaki saleh bernama Ibrahim Muhammad Hasan Al-Jamal dalam bukunya yang bertajuk Al-istisyfaa’ bid Du’a (Meraih Kesembuhan dengan Doa -versi terjemahannya). Saya sengaja menuturkan kisahnya lantaran doa yang senantiasa dibacanya bukanlah doa yang panjang dan sulit dikenang-kenang. Doa itu Cuma dua nama Ilahi, Ya Hayyu dan Ya Qoyyum; dua nama yang berfaedah selaik dua “mantra’ ajaib yang dapat melumpuhkan perih dan pedih.

    Dan Ibrahim sendiri, hingga kini, tak menduga bila dua nama yang dianjurkan syekhnya itu bakal sedahsyat melampaui dokter dan profesor hebat yang dilaluinya. Tak aneh, dalam sabda Nabi Muhammad saw, dua nama Ilahi itu dijuluki Ismullah al-A’dzham (Nama Allah yang Paling Agung). Begini bunyinya:

    Rasulullah saw bersabda, ” Ismullah al-A’dzham yang jika digunakan untuk berdoa, maka Allah swt akan mengabulkan doanya, (yakni) yang terdapat dalam tiga surat Al-Qur’an: surat Al-Baqoroh, surat Al-Imron, dan surat Thoha (HR. Ibnu Majah, Hakim dan Thabrani)

    Setelah saya telusuri, tiga surat itu ada dalam ayat: Al-baqoroh ayat 255, Ali Imron ayat 2, dan Thoha ayat 111. khusus untuk ayat 255 surat Al-Baqoroh, dua nama Ilahi yang agung itu melekat dalam rangkaian bernama ayat Kursi, satu ayat yang saya yakin anda begitu fasih telah menghafalnya. Dan kita luput. Padahal bila ayat Kursi itu terasa panjang untuk dzikir-dzikir bibir, kita cukup menyebut-nyebut Ismullah al-A’dzham itu sebagai doa.

    Nah, ketika saya buka Tafsir Misbah, Prof. Dr. M Quraish Shihab seperti meneguhkan energi magis dua nama Allah yang agung itu.

    Bahwa tatkala membaca ayat Kursi, seseorang akan menyerahkan jiwa dan raganya kepada Allah swt. kepadaNya ia akan menghiba-hiba perlindungan. Dan saat itu, bisa jadi bisikan iblis melintas di dalam benaknya dan berkata “Yang dimohonkan pertolongan dan perlindungan itu memang dulu pernah ada, tetapi kini telah mati, Maka, penggalan ayat berikutnyalah yang meyakinkan ihwal kekeliruan bisikan makhluk terkutuk itu, yakni ayat berbunyi Al-Hayyu (yang Maha Hidup dengan kehidupan yang kekal). Namun imbuh Quraish, si iblis belum tentu menyerah begitu saja, ia bisa datang lagi guna menerbitkan waham dan prasangka seraya berkata, “Memang Dia hidup kekal, tetapi Dia pusing dengan urusan manusia, apalagi si pemohon. Pada titik krusial itulah, sepenggal ayat berbunyi “Qayyum’ (Sang Maha yang senantiasa menjaga makhluk-Nya) menampik bisikan dusta iblis itu.

    Dari sini saya mahfum kenapa Rasulullah saw, akhirnya memuji Abu Mundzir. Beliau bertanya, “Hai Abu Mundzir, tahukah kau ayat Al-Qur’an yang menurutmu paling agung?, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu., Rasulullah saw bertanya lagi. “Hai Abu Mundzir, tahukah kamu ayat Al-Qur’an yang menurutmu paling agung?, Abu Mundzir menjawab, “Yaitu ayat,,Dia-lah Allah, Tiada Tuhan selain Dia, Yang Hidup, Yang Berdiri Sendiri (Al-Hayyu, Al-Qayyum), Abu Mundzir kemudian berkata,, Kemudian Rasulullah saw menepuk dada saya seraya berkata, “Demi Allah, sungguh dalam ilmumu, wahai Abu Mundzir!,

    Karena itulah, mencermati dua nama agung tersebut, saya semakin yakin kenapa Ibrahim membacanya. Ia tahu bahwa perih yang mengendap di kelopak matanya bakal meringkus nafasnya. Maka, ia teringat nasehat gurunya untuk membaca Ismullah al-A’dzham itu. Pada dua nama inilah, cadangan asa yang dimilikinya menggeliat dahsyat: ya Hayyu dan ya Qayyum benar-benar serupa oase yang mempertahankan spirit hidupnya. Barangkali saat itu, Ibrahim sedang menghikmati apa yang dituturkan sufi Syekh Kabir bahwa “Nafas yang tidak menyebut-nyebut nama Allah adalah nafas yang sia-sia.,

    Dalam pada itu saya mencatat semangat penting ihwal sakit Ibrahim dan doa bernama Ismullah al-A’dzham ini.

    Suatu kali, filsuf masyhur bernama Socrates pernah berpesan: “Hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi, hanya ada satu tempat di dunia ini dimana manusia terbebas dari segala ujian hidup, yakni kuburan. Tanda manusia masih hidup adalah ketika ia mengalami ujian, kegagalan, dan penderitaan.,

    Dan Ibrahim, juga kisah orang-orang shaleh berabad-abad silam yang pernah memendam perih, saya kira sudah begitu lama menyerap petuah sang filsuf tersebut. Baginya, semangat hidup harus terus menyala meski dalam kondisi apapun. Ia tidak menjamah putus asa walau kondisi genting tengah menghimpitnya.

    Bahkan, ketika sebuah vonis sang profesor merajam qolbunya, ia masih bisa mengumpulkan energi harapan dengan doa Ismullah al-A’dzham. Ternyata, Ya Hayyu”Ya Qayyum itu benar-benar memberi kehidupan baru, benar-benar tak luput untuk menjaga dari segenap perih. Peristiwa Ibrahim semakin meyakinkan saya bahwa harapanlah, seberapapun bentuknya, yang membuat rasa sakit yang kita alami semakin melumpuhkan atau menyembuhkan.

    Dan harapan kecil yang meliputi jiwa Ibrahim itu bersenyawa dalam doa yang acapkali membasahi bibir dan hatinya. Tak aneh bila beberapa penelitian ilmuan barat mengungkap bahwa ada korelasi antara spiritualitas (doa) dan kesehatan fisik seseorang. David Larson misalnya, mengeluarkan statistik luar biasa untuk meyakinkan orang tentang pentingnya mempertimbangkan dimensi keagamaan. “sebanyak 90% orang Amerika percaya bahwa Tuhan dan atau berdoa dapat membantu mereka untuk sembuh dari penyakitnya”sementara orang yang tidak berdoa besar kemungkinan untuk bunuh diri”,

    Wajar bila ST. Agustinus, filsuf yang pernah berkubang dalam dunia jadah itu dalam karya bertajuk Confession, menyadari bahwa semakin dekat dengan Tuhan, maka kesengsaraan dan penderitaan dapat dilenyapkan. “Karena kemanapun jiwa manusia berpaling, kecuali jika berpaling kepada-Mu, ia akan terpancang kesedihan,, tegas agustibus ketika bersimpuh di hadirat Tuhannya.

    Di luar itu semua, jauh-jauh hari, Rasulullah saw, telah mengingatkan bahwa seorang muslim yang sakit dan menderita sebetulnya tengah menikmati betapa welas asih dan kasihannya Allah azza wa jalla. Dia yang Hayyu dan Qayyum, kata Nabi, tengah membersihkan jiwa hamba-Nya yang pekat oleh dosa. Lebih lengkap begini bunyi pesan Rasulullah saw

    Suatu kali Abdullah bin Mas’ud berkata: “Aku berkunjung ke rumah Rasulullah saw, ketika beliau tengah dilanda sakit parah. Kuusapkan tanganku pada tubuhnya seraya bertanya, “Ya Rasulullah, Anda menderita sakit parah? Rasulullah menjawab, “Ya, aku menderita sakit berat seperti sakitnya dua orang diantara kalian’. Aku bertanya kembali: “Apakah itu karena Anda mendapat dua kali lipat pahala?’ Rasul pun menjawab “Ya”, Lalu Rasulullah bersabda, “Tiadalah seorang muslim tertimpa rasa sakit melainkan dengan itu Allah menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.,

    Dapatkah anda membayangkan betapa sang Nabi Pamungkas nan mulia -yang dijanjikan Allah bebas dosa itu- masih menyadari segugus dosa-dosanya? Ia yang ma’sum itu masih bermunajat pada ilahi agar perih yang sedang menjalar di tubuhnya adalah penggugur dosanya.

    Dan kita? Semoga kita segera menyimpan rapat-rapat petuah itu di lubuk benak kita, agar kelak bila ada perih yang meluruh di tubuh kita, bukan hanya Ismullah al-A’dzham yang membadahi hati kita, tapi juga nasehatnya yang indah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:33 am pada 13 May 2013 Permalink | Balas  

    siluet harimauKisah Orang Shalih dan Harimau

    Ada seorang salih, ia mempunyai saudara (kawan) yang salih pula. Setiap tahun ia berkunjung kepadanya. Suatu hari ia mengunjunginya lagi, sampai ke rumah yang dituju pintunya masih tertutup. Ia ketuk pintu rumah itu. Dari dalam terdengar suara wanita: “Siapa itu?” Orang yang salih menjawab: “Aku, saudara suamimu. Aku datang untuk mengunjunginya, hanya karena Allah semata.”

    “Dia sedang keluar mencari kayu bakar,” balas istri sahabatnya. “Mudah-mudahan ia tidak kembali.” Lanjut wanita tersebut sambil terus bergumam memaki-maki suaminya.

    Ketika mereka sedang terlibat perbincangan, tiba-tiba orang yang salih itu datang sambil menuntun seekor harimau yang sedang membawa seikat kayu bakar. Begitu melihat saudaranya datang mengunjunginya, ia menghambur kepadanya seraya bersalaman.

    Kayu bakar itu lalu diturunkan dari punggung harimau tersebut. Katanya kemudian: “Sekarang pergilah kamu, mudah-mudahan Allah memberkahimu.”

    Orang yang salih itu (yakni yang empunya rumah) lalu mempersilakan saudaranya masuk. Sementara isterinya masih bergumam memaki-maki dirinya. Namun sebegitu jauh ia hanya berdiam, tanpa menunjukkan reaksi kebencian. Setelah terlibat perbincangan beberapa saat lamanya, hidangan keluar disuguhkan. Dilanjutkan berbincang-bincang hingga beberapa saat.

    Setelah itu saudaranya berpamitan dengan menyimpan kekaguman yang sangat berkesan. Ia sangat kagum sebab saudaranya sanggup menekan kesabarannya menghadap isteri yang begitu cerewet dan berlidah panjang.

    Tahun berikutnya ia berkunjung lagi. Sampai di depan pintu ia mencoba mengetuknya. Isterinya keluar dan menyapa: “Tuan siapa?”

    “Aku adalah saudara suamimu,“ balasnya. “Kedatanganku ini semata untuk mengunjunginya”

    “Oh, selamat datang, tuan” kata isteri saudaranya seraya mempersilahkan masuk penuh keramahan. Tidak begitu lama saudara salih yang ditunggunya tiba juga sambil memanggul seikat kayu bakar. Mereka segera terlibat perbincangan sambil menikmati hidangan yang disuguhkan.

    Setelah semuanya dirasa cukup, dan ketika ia hendak kembali, ia sempatkan bertanya tentang beberapa hal. Bagaimana dahulu ia dapat menundukkan seekor harimau dan mau diperintah membawakan kayu bakar. Sedang sekarang ini ia hanya datang sendirian sambil memanggul kayu bakar.

    “Kenapa bisa begitu?” tanya saudaranya.

    Saudaranya menjawab: ”Ketahuilah saudaraku, isteriku yang dahulu berlidah panjang itu sudah meninggal. Sedapat mungkin aku berusaha bersabar atas perangai buruknya. Sehingga Allah memberi kemudahan diriku untuk menundukkan seekor harimau, sebagaimana pernah kau lihat sendiri sambil membawa kayu bakar itu. Semuanya terjadi lantaran kesabaranku padanya. Lalu aku menikah lagi dengan perempuan yang shalihah ini. Aku sangat gembira mendapatkannya. Maka harimau itupun dijadikan jauh dariku, karena itu aku memanggul sendiri kayu bakar itu, lantaran kegembiraanku terhadap isteriku yang shalihah ini.”

    ***

    by: Lintas Islam

    Diambil dari kitab UQUD AL-LUJAIN FIY BAYAANI HUQUQ AL-ZAUJAIN, karya Syekh Nawawi Al Bantani.

     
  • erva kurniawan 1:53 am pada 11 May 2013 Permalink | Balas  

    angkot bogorSebuah Kisah Nyata Tentang Kebaikan

    Suatu hari saya naik angkutan kota dari Darmaga menuju Terminal Baranangsiang, Bogor. Pengemudi angkot itu seorang anak muda. Di dalam angkot duduk 7 penumpang, termasuk saya. Masih ada 5 kursi yang belum terisi.

    Di tengah jalan, angkot-angkot saling menyalip untuk berebut penumpang. Tapi ada pemandangan aneh. Di depan angkot yang kami tumpangi, ada seorang ibu dengan 3 orang anak remaja berdiri di tepi jalan. Tiap ada angkot yang berhenti dihadapannya, dari jauh kami bisa melihat si ibu bicara kepada supir angkot, lalu angkot itu melaju kembali.

    Kejadian ini terulang beberapa kali. Ketika angkot yang kami tumpangi berhenti, si ibu bertanya: “Dik, lewat terminal bis ya?”, supir tentu menjawab “Ya”. Yang aneh si ibu tidak segera naik. Ia bilang ” Tapi saya dan ke 3 anak saya tidak punya ongkos.” Sambil tersenyum, supir itu menjawab “Gak pa-pa Bu, naik saja”, ketika si Ibu tampak ragu2, supir mengulangi perkataannya “ayo bu, naik saja, gak pa-pa ..”

    Saya terpesona dengan kebaikan Supir angkot yang masih muda itu, di saat jam sibuk dan angkot lain saling berlomba untuk mencari penumpang, tapi si Supir muda ini merelakan 4 kursi penumpangnya untuk si ibu & anak-anaknya.

    Ketika sampai di terminal bis, 4 penumpang gratisan ini turun. Si Ibu mengucapkan terima kasih kepada Supir. Di belakang ibu itu, seorang penumpang pria turun lalu membayar dengan uang Rp. 20 ribu.

    Ketika supir hendak memberi kembalian (ongkos angkot hanya Rp.4 ribu) Pria ini bilang bahwa uang itu untuk ongkos dirinya dan 4 penumpang gratisan tadi.

    “Terus jadi orang baik ya, Dik ” kata pria tersebut kepada sopir angkot muda itu.

    Sore itu saya benar-benar dibuat kagum dengan kebaikan-kebaikan kecil yang saya lihat. Seorang Ibu miskin yang jujur, seorang Supir yang baik hati dan seorang penumpang yang budiman. Mereka saling mendukung untuk kebaikan.

    Andai separuh saja bangsa kita seperti ini, maka dunia akan takluk oleh kebaikan kita!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:48 am pada 5 May 2013 Permalink | Balas  

    uluran tanganArti Sebuah Sepi

    Oleh Febty Febriani

    Malam itu untuk kesekian kalinya aku berada di tempat itu. Sebuah tempat yang jaraknya tidak cukup jauh dengan letak kantorku. Namun, karena rute angkot di kota Kembang, maka untuk menuju ke tempat itu tidak cukup hanya dengan menggunakan satu kali angkot, harus dua kali.

    Tidak sengaja awalnya aku berada di tempat itu, setiap seminggu sekali selepas jam kerja. Aku ke tempat itu tidak sendirian. Selalu berdua bersama teman kantorku, aku berkunjung ke tempat itu. Dialah yang pertama kali mengajakku untuk berada di tempat itu seminggu sekali, meluangkan waktu istirahatku sekitar dua jam dalam seminggu. Ketika dia pertama kali bercerita tentang tempat itu dan kemudian mengajakku untuk berkunjung rutin ke tempat itu, aku tertarik dengan ajakannya. Suatu kegiatan yang aku pikir bisa membuatku terbebas sejenak dari semua hal yang berbau rutinitas dan kepenatan.

    Biasanya, kami lebih suka menggunakan satu kali angkot saja. Konsekuensinya, perjalanan kami ke tempat itu harus di awali dengan berjalan kaki dulu. Tidak lama, kira-kira lima belas menit dengan berjalan santai. Hal ini bukan sebuah keterpaksaan untuk kami. Rasanya, pilihan berjalan kaki adalah sebuah pilihan yang bisa sekedar menggerakan otot-otot kaki kami. Pilihan yang sehat, bukan?

    Malam itu, sama seperti malam-malam yang lain pada minggu-minggu yang lalu, aku berada di sebuah ruangan yang cukup luas di tempat itu. Mungkin ruangan itu adalah ruangan semacam aula. Di sebuah pojok dari ruangan itu, aku bersama lima orang anak

    Pojok ruangan itu adalah tempat favorit kami berenam, sejak pertemuan pertama kami: empat orang anak putri, seorang anak laki-laki dan aku. Kelimanya berusia sekitar kurang lebih 12 tahun. Sekarang, semuanya duduk di kelas enam sekolah dasar. Di tempat itu, mereka sendirian. Terpisah dari orang-orang yang mereka cintai. Keluarga mereka. Kedua orang tua mereka. Adik dan kakak mereka. Bagi mereka, orang tua adalah para bapak dan ibu yang mengasuh mereka di tempat itu. Kakak mereka adalah saudara-saudari mereka yang juga berada di tempat yang berusia lebih tua dari mereka. Adik mereka adalah saudara-saudari mereka yang berusia lebih muda dari mereka. Sebuah keluarga yang mereka temukan ketika di usia belasan tahun.

    Biasanya, sekitar dua jam, kami akan belajar matematika, sebuah pelajaran yang mungkin masih menjadi momok bagi anak-anak seusia mereka. Kami sudah membuat kesepakatan bersama. Pokok bahasan matematika setiap pertemuan kami ditentukan oleh kelima anak itu secara bergiliran. Biasanya, mereka akan bertanya tentang hal-hal yang belum mereka mengerti. Dan tugasku mendampingi mereka untuk bisa mengerti pokok bahasan-pokok bahasan yang belum mereka mengerti secara detail. Walaupun, kegiatan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaanku sehari-hari tapi kegiatan ini adalah kegiatan yang menyenangkan untukku. Bisa sejenak masuk ke dunia mereka yang senantiasa berwarna pelangi. Juga, sebuah sarana untuk belajar menjadi ibu dalam arti sesungguhnya.

    Malam itu tidak seperti malam-malam sebelumnya. Malam itu, kami hanya belajar dua soal matematika. Itupun soal-soal yang aku berikan sebagai bentuk pekerjaan rumah untuk mereka. Beberapa anak mulai menguap. Mungkin, mereka sedang capek. Atau juga, mungkin, mereka sedang bosan berhadapan dengan rumus-rumus yang njelimet.

    Kebosanan memang milik siapa saja, tidak mengenal umur. Pun juga, milik mereka.

    Akhirnya, sisa pertemuan malam itu, kami manfaatkan dengan dongeng bersama. Itupun mereka yang meminta. Mulailah aku mendongeng beberapa cerita yang masih berada di memoriku. Dongeng malam itu kuawali dengan dongeng sebuah cerita moral. Kemudian, suasana malam itu berjalan seperti air mengalir. Mereka yang meminta, aku yang mendongeng. Mereka meminta cerita Nabi Yunus a. S, akupun mulai bercerita. Mereka meminta cerita Nabi Musa a. S, akupun mulai memenuhi keinginan mereka. Dan akhirnya, mereka juga berani bercerita kepada kawan-kawannya sendiri. Suasana di pojok ruangan itu pada malam itu mulai hangat dan akrab.

    Tak terasa, malam sudah beranjak. Waktu pertemuan kami malam itu sudah hampir sekitar dua jam Dan acara mendongeng dan berceritapun selesai sudah.

    ***

    Mengingat mereka sering terfikir di benakku. Apakah mereka masih mengenal kasih yang yang utuh dari kedua orang tua mereka? Dari ibu kandung mereka? Dari bapak kandung mereka? Dari kakak atau adik kandung mereka? Seusia sekecil itu mereka sudah harus berpisah dari keluarga yang mungkin sangat mereka sayangi. Dengan jarak beratus-ratus kilometer, atau mungkin bahkan lebih.

    Mengingat mereka sering terfikir di benakku, seperti apakah wujud tangis kerinduan mereka pada ibu yang melahirkan mereka, pada bapak yang mengadzani dan mengiqamahi pada kedua telinga mereka, serta pada kakak dan adik yang memanggil mereka dengan panggilan sayang? Aku mengenal betul sebuah tangis kerinduan pada keluarga yang kita cintai. Tujuh tahun berpisah dengan orang-orang yang aku cintai, cukup sudah mengajarkan padaku sebuah kata yang bernama kerinduan. Aku bisa mengungkapkan tangis kerinduan itu dengan menelepon atau mengsms orang-orang yang aku cintai. Namun, untuk mereka dalam bentuk apakah wujud kerinduan itu harus terungkap?

    Mengingat mereka sering terfikir di benakku, seperti apakah wujud pembunuh rasa sepi yang mungkin senantiasa hadir di hari-hari mereka? Rasa sepi karena seusia sekecil itu mereka tidak lagi mendapatkan sentuhan kasih sayang dari tangan seorang ibu. Rasa sepi karena seusia sekecil itu mereka harus berpisah dengan bapak tercinta. Rasa sepi karena mereka harus berada jauh dari kakak dan adik mereka. Rasa sepi karena ketidakhadiran seorang ibu yang membangunkan mereka, menyiapkan baju sekolah, menyiapkan sarapan, mengantar mereka ke sekolah dengan lambaian tangan kasih sayang, menemani mereka belajar, dan mendongeng untuk mereka menjelang tidur. Juga rasa sepi karena ketidakhadiran seorang ayah yang mengajak mereka jalan-jalan, merayakan ulang tahun mereka, memberikan untuk mereka hadiah kenaikan kelas dan membelikan baju atau peralatan sekolah untuk mereka.

    Mengingat mereka sering terfikir di benakku, apakah ketika usia dewasa mereka juga akan mengenal konflik dengan kedua orang tua karena sesuatu hal yang terkadang disebabkan oleh keegoisan kita yang tidak mau mengalah sejenak pada kedua orang tua kita? Aku jadi teringat pada teman-teman yang sering bercerita tentang konflik yang mereka hadapi dengan kedua orang tua mereka. Dan sepertinya tidak ada yang menyalahkan diri sendiri karena konflik itu. Kita teramat sering mengarahkan telunjuk kesalahan itu kedua orang tua kita. Akupun juga tidak terbebas dari kondisi ini. Sekitar lima tahun yang lalu, aku juga menyalahkan kedua orang tuaku yang tidak mengizinkanku berjilbab, ketika aku memutuskan untuk mengenakannya. Keegoisanku juga yang membuat ada jarak antara diriku dengan kedua orang tuaku saat itu.

    Aku jadi teringat dengan perkataan seorang teman. Bersyukurlah masih punya orang tua. Jadi yatim piatu kayak aku gak enak lho. Sunyi. Itu kata-katanya padaku saat itu. Kata-kata itu mungkin hadir dari hatinya yang paling dalam, wujud kerinduannya pada kedua orang tuanya yang telah meninggalkannya lebih dahulu menuju ke rumah abadi. Rasanya, sekarang, aku pun juga sependapat dengan pendapatnya. Kita memang patut bersyukur pada Allah karena masih diberi kesempatan oleh-Nya melewati hari-hari kita bersama dengan orang-orang yang kita cintai. Kedua orang tua. Kakak kita. Adik kita. Keluarga besar kita. Ternyata, kesempatan itu tidak dimiliki oleh setiap orang. Kelima ’adik kecilku’ di atas, contohnya.

    ***

    Bandung, Maret 2006

     
  • erva kurniawan 1:34 am pada 24 April 2013 Permalink | Balas  

    cahaya-kebenaranDi Bengkel Itu Ada Ayat Allah

    Oleh: Ahmad Syafii Maarif

    Jika orang punya mata batin yang tajam dan rindu menemukan ayat-ayat Allah, yang tersebar di mana-mana, tak usahlah menguasai teori Big Bang (Ledakan Dahsyat). Atau harus paham karya fisikawan invalid Inggris, Stephen Hawking – A Brief History of Time – yang belum tentu mudah dicerna.

    Ayat Allah dapat dijumpai pada peristiwa atau fenomena alam atau sosial yang sifatnya sangat sederhana. Bisa diamati pada air serasah yang terjun, pada semut yang beriring, pada lebah yang bergantungan, pada bunyi siamang ketika subuh, atau pada kicau murai di pagi hari. Juga pada dengungan kipasan sayap enggang saat terbang tinggi, pada percakapan seorang bocah dengan orangtuanya, serta pada sikap Pak Bengkel yang lugu, tulus, dan murah hati.

    Kepatuhan alami

    Demikianlah di hari Natal lalu, 25 Desember 2012, menjelang dzuhur saya bersepeda di kitaran Desa Trihanggo, Sleman, Yogyakarta, untuk mencari onderdil komponen rantai sepeda yang harus segera diganti. Jika tuan dan puan melewati jalan Kabupaten Sleman dari Jalan Godean mengarah ke utara, dalam jarak sekitar 2 kilometer akan dijumpai pohon beringin besar, persis di persimpangan empat jalan. Melaju ke arah timur pada jarak sekitar 1 kilometer di kanan jalan sebelum jembatan, ada bengkel sepeda yang laris dikunjungi langganannya. Di bengkel inilah saya memerhatikan ayat Allah dalam dua fenomena sederhana yang saling berkaitan. Keterkaitan itu tampak terjalin akrab sekali.

    Ada seorang ayah bersama anak perempuannya yang masih belajar di taman kanak-kanak milik A’isyiyah sedang mengganti pedal sepeda bocah ini yang tak lagi bisa dipakai. Warna pedal itu dipilih yang merah jambu agar serasi dengan warna sepedanya. Saya perhatikan baik-baik tingkah bocah alit itu, tampaknya bahagia sekali karena pedal sepedanya diganti dengan yang baru. Sebuah kebahagiaan yang sangat tulus dari sebuah keluarga kebanyakan.

    Tiba-tiba penjaja es krim lewat. Si bocah minta kepada ayahnya agar dibelikan es kesukaannya itu. Ayahnya, dalam bahasa Jawa, dengan lembut menjawab, ”Marahi watuk (bisa menyebabkan batuk).”

    Si bocah sama sekali tidak berontak agar ayahnya memenuhi juga permintaannya. Tak ada rengut, tak ada gerutu. Malah bocah ini senyum-senyum sambil dengan lincah mengitari ayahnya. Bukankah sebenarnya seorang bocah sulit sekali dipisahkan dengan es krim?

    Dalam batin saya menduga bahwa suasana rumah tangga keluarga bocah ini tenteram sekali. Ayat Allah terlihat pada sikap ayah yang lembut terhadap anak dan sikap anak yang patuh kepada orangtua: sebuah kepatuhan alami hasil didikan dini yang teratur dan santun.

    Tidak mudah ditemukan di kawasan modern buah didikan anak semacam ini. Kegirangan bocah ini kian memuncak ketika ayahnya melengkapi sepedanya dengan sebuah bel yang dipasang pada bagian kanan setang. Untuk keseluruhan ongkos plus onderdil, Pak Bengkel cuma meminta Rp 25.000, sebuah angka kacang goreng di kawasan kota.

    Sikap Pak Bengkel yang satu ini tak kurang memukau untuk dicatat. Semua serba murah. Ada lagi seorang laki-laki setengah baya (rupanya kenal dengan saya) menambalkan ban sepeda motornya yang bocor. Setelah rampung, Pak Bengkel saya tanya berapa ongkosnya. Dijawab, antara Rp 5.000 dan Rp 6.000, padahal pengerjaannya cukup lama karena karet penambal ban harus dipanaskan lebih dulu.

    Sekarang tibalah giliran sepeda saya ganti onderdil. Kebetulan barang yang diperlukan tersedia. Ada dua yang boleh diganti. Pak Bengkel bertanya, apakah diganti satu atau dua sekaligus? Jawab saya: mana yang baiklah. Lalu diperiksa: cukup satu saja, katanya. Tak terbetik pada pikiran Pak Bengkel untuk melariskan barang dagangannya, toh, saya tidak akan bertanya jika keduanya diganti.

    Setelah rampung, ongkos plus harga onderdil yang diminta hanya Rp 5.000. Saya terkejut, mengapa terlalu murah, di mana ongkos teknisi dan keringat? Tentu secara moral saya tidak boleh hanya memberi ongkos hanya sejumlah yang diminta.

    Di luar pola umum

    Sebagai bengkel yang laris, saya tanya mengapa tidak sekalian jualan bensin. Jawab Pak Bengkel polos: agar berbagi rezeki dengan tetangga yang punya kedai bensin, sekalipun banyak orang menanyakan BBM itu kepadanya.

    Pada sikap Pak Bengkel ini jelas sekali terbaca ayat Allah: rezeki teman jangan direbut, sekalipun peluang untuk menambah pendapatan terbuka lebar. Kearifan Pak Bengkel ini adalah penyimpangan dari pola umum yang sedang berlaku di Indonesia: saling menelikung, saling gasak, dan jika perlu saling menghancurkan demi berebut rezeki.

    Perkara haram atau halal sudah berada di luar pertimbangan. Kultur Pak Bengkel yang masih bebas dari pencemaran ini mungkin merupakan sisa-sisa sifat asli Indonesia yang belum tergerus oleh ganasnya sisi buruk proses modernisasi.

    ***

    Ahmad Syafii Maarif, Pendiri Maarif Institute

     
  • erva kurniawan 1:08 am pada 15 April 2013 Permalink | Balas  

    pengantin muslimKisah Pengantin Wanita

    Kisah nyata yang diceritakan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al Ahmad ini terjadi di Abha, ibu kota Provinsi Asir Arab Saudi.

    “Setelah melaksanakan shalat Maghrib dia berhias, menggunakan gaun pengantin putih yang indah, mempersiapkan diri untuk pesta pernikahannya. Lalu dia mendengar azan Isya, dan dia sadar kalau wudhunya telah batal.

    Dia berkata pada ibunya : “Bu, saya mau berwudhu dan shalat Isya.”

    Ibunya terkejut : “Apa kamu sudah gila? Tamu telah menunggumu untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu? Semuanya akan terbasuh oleh air.”

    Lalu ibunya menambahkan : “Aku ibumu, dan ibu katakan jangan shalat sekarang! Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, ibu akan marah kepadamu”

    Anaknya menjawab : “Demi Allah, saya tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga saya shalat. Ibu, ibu harus tahu “bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Pencipta”!!

    Ibunya berkata : “ Apa yang akan dikatakan tamu-tamu kita tentang mu, ketika kamu tampil dalam pesta pernikahanmu tanpa make-up?? Kamu tidak akan terlihat cantik dimata mereka! dan mereka akan mengolok-olok dirimu !

    Anak nya berkata dengan tersenyum : “Apakah ibu takut karena saya tidak akan terrlihat cantik di mata makhluk? Bagaimana dengan Penciptaku? Yang saya takuti adalah jika dengan sebab kehilangan shalat, saya tidak akan tampak cantik dimata-Nya”.

    Lalu dia berwudhu, dan seluruh make-up nya terbasuh. Tapi dia tidak merasa bermasalah dengan itu.

    Lalu dia memulai shalatnya. Dan pada saat itu dia bersujud, dia tidak menyadari itu, bahwa itu akan menjadi sujud terakhirnya.

    Pengantin wanita itu wafat dengan cara yang indah, bersujud di hadapan Pencipta-Nya.

    Ya, ia wafat dalam keadaan bersujud. Betapa akhir yang luar biasa bagi seorang muslimah yang teguh untuk mematuhi Tuhannya!

    Banyak orang tersentuh mendengarkan kisah ini. Ia telah menjadikan Allah dan ketaatan kepada-Nya sebagai prioritas pertama.

    “Subhanallah”

    ***

    Dari: Andrian Jumari

     
  • erva kurniawan 2:04 am pada 12 April 2013 Permalink | Balas  

    siluet-muslimah-laut-biru-soreMeja Telepon Ibu

    Oleh: Siti Horiah (Mahasiswa Program Studi Teknik Nuklir 2012)

    Disudut ruang tamu kami, yang luasnya tidak lebih dari 4m2 itu terletak sebuah meja kecil berwarna hitam. Meja itu adalah sebuah meja telepon rumah yang sudah beralih fungsi sebagai meja belajarku. Meja itu adalah satu-satunya meja yang ada di rumah kami, meja yang sampai saat ini masih dibiarkan ibuku tetap berdiri tegak dan masih tetap berada dirumah kami dengan sebuah alasan yang tak aku ketahui.

    Beginilah kondisi rumah kami setelah peristiwa kebangkrutan usaha ayahku. Demi menyambung nyawa keluarga kami, ibu rela menjual barang-barang berharga yanga ada di rumah kami pada tetangga sekitar. Ibuku tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membeli beras. Beliau menjual satu persatu barang-barang berharga kami, setiap kali datang waktu makan. Mulai dari beberapa pakaian ibuku yang paling beliau suka, alat-alat dapur seperti gelas, piring, panci, dispenser, bahkan sendok dan garpu pun ikut habis terjual.

    Ayahku tidak dapat berbuat banyak setelah peristiwa kebangkrutan usahanya. Beliau hanya mampu menjadi kuli dipasar tradisional di kota kami. Upah yang dia terima tidak mampu menutupi kebutuhan keluarga besar kami.

    ***

    Suatu siang, aku melihat adikku Rafi menangis sambil menghampiri ibu yang sedang duduk lemas menonton tv tanpa antena itu. Aku memperhatikan gerak-gerik ibu yang kepanikan, beliau tidak ingin membiarkan Rafi adikku menangis terlalu lama.

    “ibu, ibu aku lapar!” jerit Rafi.

    Ibu yang tak bisa berkata apa-apa langsung pergi menuju dapur, mengambil beberapa piring. Aku pun terus memperhatikan gerak-gerik ibu. Aku heran apa yang akan ibu lakukan dengan kelima buah piring itu. Sempat aku berpikir kalau ibu akan mengambilkan nasi untuk Rafi, namun aku teringat kalau dari kemarin aku belum memasak nasi untuk keluarga kami. Dengan masih tetap memperhatikannya dari balik pintu, aku melihat air mata ibuku jatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat, namun dengan cepat beliau langsung menghapusnya takut-takut kalau air matanya akan terlihat olehku. Aku pura-pura tidak sadar dengan apa yang ibu lakukan didapur, aku menyibukan diriku dengan menggendong dan menimang Rafi agar dia tidak menangis.

    Kubiarkan ibu dengan kesibukannya, kulihat beliau keluar rumah dengan kelima piringnya itu. Tak beberapa lama kemudian beliau kembali dengan uang ribuan yang lusuh sebanyak lima lembar. Aku terheran-heran atas apa yang ibu lakukan. Ibu langsung menyuruhku pergi kewarung membeli setengah liter beras, dan satu butir telur. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung pergi menuruti perintah ibu.

    Aku kembali dengan apa yang ibu minta dan ibu langsung menyuruhku memasaknya. Ibu menyuruhku membuat telur dadar dengan mencampurkan telur itu dengan terigu, agar satu telur itu menjadi besar dan cukup untuk dimakan oleh kami bersembilan. Aku menarik napas dalam-dalam, air mataku pun tak kuat dibendung, menetes jatuh. Aku tak kuat menahan ini semua, bagaimana tidak, setiap harinya kami hanya makan satu kali sehari. Berbagi setengah liter nasi untuk sembilan orang, satu butir telur saja harus dibagi sembilan, sering kamipun membagi 2 bungkus mie instans untuk sembilan orang. Terkadang ayah memilih pergi dari rumah saat tiba waktu makan, beliau pergi sambil menitip pesan padaku agar jatah makanannya diberikan pada adik-adikku saja.

    Ibu sangat sayang pada kami, beliau tidak pernah membagi penderitaanya pada kami semua. Selagi ayah menjadi kuli dipasar, ibu selalu menggantikan peran ayah. Ibu tak pernah terlihat sedih dengan penderitaanya. Ibu rela berkorban demi kami semua. Ibu rela menjual tempat tidurnya dan memilih tidur dilantai dengan beralaskan kasur yang tipis saja.

    Hampir seluruh barang berharga dirumah kami terpaksa beliau jual, demi menutupi pendapatan ayah yang besarnya tak kurang dari sepuluh ribu rupiah. Hanya satu buah meja telepon yang ibu sisakan diruang tamu kami. Aku heran kenapa ibu tidak pernah mau menjual meja tersebut, beliau lebih memilih menjual beberapa pakaiannya ketimbang menjual meja tersebut. Sampai pada saatnya aku tak sanggup melihat pakaian terbaik ibu harus ikut terjual, akupun menawarkan meja telepon itu untuk dijual pada ibu. Namun ibu menolak dengan kata-kata yang membuatku menangis sendiri.

    “Selapar apapun kita nanti, ibu tidak akan menjual tempat yang kau gunakan untuk mengantungkan cita-citamu itu nak, pakailah terus meja itu.” Ungkapnya sambil pergi kerumah tetangga untuk menjual baju terbaiknya selama ini, demi sepiring nasi untuk keenam adikku.

    Aku lemas mendengarnya, jadi selama ini ibu tidak mau menjualnya hanya karena aku sering memakai meja yang panjangnya tidak lebih dari 30 cm itu untuk belajar. Aku tersadar selama ini aku memang selalu menggunakan meja itu untuk belajar karena itu adalah satu-satunya meja yang ada dirumah kami.

    Itulah kondisi yang selama ini aku alami, tak ada yang bisa aku lakukan banyak ketika itu. Saat itu kondisinya aku sedang duduk dikelas tiga. Ditengah kondisi seperti ini aku harus tetap berjuang untuk bisa lulus SMA. Setiap malam aku bangun untuk belajar dan mengerjakan tugas, aku menggunakan meja telepon itu sebagai alasku belajar. Terbayang betapa menderitanya belajar di atas meja yang luasnya lebih kecil dari luas buku tulisku. Namun tidak ada pilihan lain bagiku, aku tak mampu menunduk lama untuk belajar bila memilih belajar diatas lantai yang dingin. Meja itu adalah teman terbaik bagiku. Dia selalu menemaniku dimalam hari disaat semua orang terlelap, aku harus bangun untuk belajar. Semua itu aku lakukan karena aku tidak memiliki waktu disiang hari untuk belajar.

    Benar kata ibuku meja itu adalah tempat aku menggantungkan semua cita-citaku. Tempat aku memulai perubahan pada hidup keluargaku. Ibuku berharap besar padaku, karena aku adalah anak pertama. Jadi setelah aku lulus SMA nanti aku bisa langsung bekerja, dan ibu optimis terhadap diriku kalau aku nanti akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena ibu tahu aku termasuk murid yang berprestasi disekolah.

    Tanpa disadari aku memang menyayangi meja kecil hitam itu, meja itu selalu aku bersihkan setiap harinya, walaupun meja itu kecil dan sempit tapi aku masih bersyukur bisa tetap menulis diatas meja. Meja itu adalah satu-satunya tempat aku berbagi rahasia, tempat aku mengukir sebuah mimpi. Hanya meja itu yang menjadi saksi kalau aku memiliki sebuah mimpi yang selama ini aku rahasiakan dari dunia.

    Aku punya sebuah mimpi yang benar-benar tidak bisa aku ungkapkan pada siapapun. Aku takut kalau mimpiku yang satu ini kuberitahu pada orang tuaku itu akan menjadi beban padanya, kalau aku beritahu pada teman-teman atau orang banyak aku takut mimpiku yang ini akan ditertawakan mereka. Jadi selama ini hanya meja kecil ini yang bersaksi kalau aku sering mengukir sebuah nama Universitas yang aku impikan pada catatan sekolahku. Ya, mimpiku yang tidak dapat aku beritahukan kepada siapa pun termasuk orang tuaku sendiri adalah duduk di bangku KULIAH.

    Sebenarnya setiap kali orang tuaku membahas tentang pekerjaan yang nantinya aku lakoni setelah lulus SMA, hati kecilku menangis merintih tak terdengar siapapun.

    “ayah, mama, aku gak mau kerja aku mau kuliah kaya temen-temen, aku mau masuk UGM aku mau ke Jogja, aku gak bisa KERJA!” jerit hati kecil ini.

    ***

    Saat-saat seperti ini semua teman-temanku sibuk mencari tempat bimbel yang terbaik dikota kami, sebagai salah satu persiapan sebelum menghadapi SNMPTN. Bagi seorang Siti Horiah jangankan mengikuti program bimbel, buku paduan SNMPTN saja tak punya. Aku tak pernah memiliki niat untuk membeli buku SNMPTN yang harganya selangit itu. Untuk makan adik-adiku saja setiap subhu aku dan ibu masih harus keliling pasar untuk menjajakan kue cucur buatan ibuku. Bagaimana aku mau menabung, uang jajan yang ibu berikan itu hanya sebesar tiga ribu rupiah saja, itupun hanya cukup untuk ongkos naik angkutan umum. Kalau kue kami tidak terjual satupun itu berarti aku harus berjalan kaki sejauh 3 km untuk sekolah. Aku tak sanggup meminta uang sepeserpun unutuk membeli buku SNMPTN pada ayahku yang menjadi kuli dipasar, apalagi berkata pada ayah kalau aku ingin kuliah ke JOGJA. Sudahlah bagiku kuliah adalah mimpi-mimpi basi seorang siswa SMA kelas 3 seperti aku ini.

    Itulah sebabnya aku menyembunyikan mimpi besar hidupku ini dari orang banyak. Bagiku mimpi ini hanya akan menjadi pisau kecil bagi keluarga kami. Mimpi yang akan menusuk dan mengiris perasaan kedua orang tuaku. Tak pernah sekalipun aku berniat untuk mengkhayal menduduki bangku kuliah. Aku takut kalau kedua orang tuaku tahu tentang mimpi ini, mereka pasti akan merasa kalau mereka bukan orang tua yang baik, orang tua yang tidak bisa membahagiakan anak-anaknya. Biarlah mimpiku yang ini hanya aku, meja kecil itu dan Tuhan yang tahu.

    ***

    Sahabatku Ana selalu ada untukku, memberika support. Cita-citanya menjadi dokter membuat aku tersenyum miris sendiri. Aku selalu berpikir kenapa aku tidak seberani dirinya bermimpi dan bercita-cita. Namun aku sadar aku tidak seperti dirinya, aku bukan anak siapa-siapa yang boleh bermimpi setinggi itu. Kalau kata adikku yang pertama “MIMPI ITU MAHAL KAK!” buat bermimpi saja itu sulit apa lagi merealisasikannya pada kenyataan. Sesulit itukah bermimpi pikirku kalau mimpi saja dianalogikan dan disamakan dengan kata mahal. Kata-kata yang membuat keluarga miskin seperti kami gempar mendengarnya. Kata mahal itu bagi kami berarti mustahil dijangkau. Maklumlah, bagi keluarga miskin seperti kami harga sebutir telur naik seratus rupiah pun sudah membuat kepala ayahku sakit.

    Saat aku berkunjung kerumah Ana, orang tuanya memberikanku uang sebesar seratus ribu rupiah. Tanganku gemetar menerimanya. Orang tua Ana memberikan uang itu untuk aku gunakan sebagai ongkos pulang kerumah, yang pada kenyataannya ongkos yang aku gunakan hanya empat ribu rupiah. Setelah kuputuskan sisa uang tersebut kuberanikan saja untuk kubelikan sebuah buku SNMPTN bekas dipasar. Agar harganya tidak mahal dan aku dapat memberikan sisa uangnya pada ibuku. Aku sangat senang sekali saat itu, aku berpikir walaupun aku tak ada niat untuk kuliah namun apa salahnya kalau aku juga ikut menimba ilmu seperti teman-temanku.

    ***

    “Kamu mau kuliah?” sahut ayahku didepan ibu dan adik-adiku.

    Aku kaget bukan main terhadap pertanyaan itu, dari mana ayah tahu mimpi yang aku sembunyikan dari dunia itu, mimpi yang tidak pernah terucap oleh lidahku sendiri walau dalam doa di sholatku, mimpi yang hanya ikut mengalir bersama air mata sebelum tidurku, mimpi yang bahkan akupun sendiri malu bercerita pada Tuhan. Ternyata ayah menyadari hal itu semua karena buku SNMPTN yang baru aku beli kemarin ku letakan diatas meja kecil hitam itu. Ibuku yang hanya lulusan SD menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan ayah. Ibu marah mendengar hal itu, ibu menyuruhku mengubur mimpi tersebut, ibu takut kalau nantinya aku stress karena mimpiku yang ini tidak akan pernah terwujud. Aku tertunduk menangis, adik-adiku iba melihat kearahku. Ayah menenangkanku tersenyum padaku, ayah berkata padaku agar aku belajar yang baik dan mencari tempat kuliah yang aku inginkan. Ayah berkata kalau beliau akan berusaha mati-matian agar aku bisa kuliah. Aku tersenyum melihat ayah yang bijak berkata seperti itu, entahlah aku sempat berpikir kalau ayah hanya ingin menenangkan diriku saja.

    ***

    Suatu sore saat aku sedang menyapu halaman rumah, seorang ibu yang sebaya dengan ibuku menegurku.

    “kamu mau kuliah yah neng?”. Tegurnya sambil tertawa kecil.

    Aku kaget dibuatnya, Ibu itu berkata kalau kemarin ibuku bercerita pada dirinya bahwa aku merengek meminta meneruskan sekolah. Ibu itu menasihati diriku, dia berkata padaku kalau kita sebagai orang susah jangan ‘kebanyakan tingkah’, aku sebagi anak pertama jangan menyusahkan kedua orangtua dengan merengek-rengek minta kuliah. Kuliah itu mahal katanya, upah ayahmu itu tidak cukup untuk makan dua kali sehari, apalagi untuk biaya kuliah. Kasihan adikmu ada banyak mau makan apa mereka.

    Hatiku bergetar, ingin rasanya aku membentaknya. Namun aku hanya mampu membalas perkataannya dengan senyum termanis yang aku miliki.

    Keesokan harinya ibuku bercerita, kalau teman-teman ayahku dipasar itu mengolok-olok ayahku karena ayahku bercerita pada mereka kalau aku ingin kuliah. Mereka berkata pada ayahku kalau tidak akan ada universitas yang mau menerima orang miskin seperti aku ini.

    Aku berlari menuju meja kecil hitam di ruang tamuku, ku buka buku catatanku yang pernah kutulisi tulisan grafiti nama sebuah universitas impianku. Kurobek dan kulempar bukunya, aku marah saat itu. Karena orang yang paling aku sayang itu dihina oleh orang lain, dicaci maki. Aku tersadar kalau itu semua karena mimpi ‘konyolku’ berkuliah. Itulah sebabnya selama ini aku malu dan memutuskan untuk menguburkan niat dan impianku berkuliah sedalam-dalamnya. Sudah kukira akan berakhir dengan penghinaan kedua orangtuaku seperti ini. Aku kesal, orang tuaku dihina seperti itu. Aku malu karena itu semua adalah ulah dari mimpi tidur indahku.

    ***

    Keesokan harinya disekolah teman-temanku bersorak dan memanggilku.

    “Selamat yah sit, lu masuk daftar undangan SNMPTN tuh!” ucap Lidia

    Jantungku bergetar, aku tak percaya kalau namaku bisa masuk dalam jajaran murid-murid pintar yang bisa mengikuti SNMPTN undangan. Aku pun girang bukan main, ku hampiri guru bimbingan konselingku. Aku menceritakan masalah keluargaku selama ini, awalnya aku tak mau bercerita namun karena mimpiku berkuliah saat ini sudah ada di depan pelupuk mata. Maka akupun memutuskan untuk menceritakan semuanya agar aku mendapatkan jalan keluar yang terbaik.

    Guruku itu langsung memeluk tubuhku yang kaku, dia memiliki impian besar terhadap diriku. Dia mencarikan solusi untuk masalahku ini dengan menawarkan beasiswa BIDIKMISI. Tanpa berpikir panjang aku menyetuji ajakannya. Aku pulang kerumah dan menyiapkan berkas-berkas yang ada, saat itu aku merasa bersyukur sekali karena impianku yang kurasa buruk itu akan segera terwujud. Aku sengaja tidak memberitahu informasi ini pada kedua orangtuaku, aku ingin membuat semua ini menjadi kejutan bagi mereka.

    Segala macam persyaratan pendaftaran SNMPTN itu pun telah dipenuhi, aku memutuskan untuk memilih UNIVERSITAS GADJAH MADA dan prodi TEKNIK NUKLIR pada pilihan pertama. Entahlah dengan hanya bermodal menyukai kimia dan fisika. Maka aku putuskan untuk memilih program studi ini. Besar harapanku untuk diterima. Setelah semuanya selesai , baru ku beritahu ayah dan mama. Mereka sangat senang karena beasiswa Bidik Misi ini mereka berdua tidak perlu mengeluarkan uang sampai aku lulus nanti. Kedua orang tuaku pun senang dengan pilihan program studi yang aku pilih itu. Semuanya tinggal ku pasrahkan pada Tuhan. Kalau memang rezeki aku pasti akan mendaptkannya pesan ayah padaku yang selalu ku ingat.Aku senang dan aku ingin membuktikan pada semua orang yang telah menghina mimpiku.Aku ingin membuktikan kalau impianku ini akan segera terwujud.

    ***

    Dua bulan lamanya aku menunggu pengumuman, selama itu aku mempersiapkan diriku untuk bisa mengikuti SNMPTN tulis, aku belajar sedikit demi sedikit dari buku soal-soal SNMPTN yang aku miliki. Semangatku berkuliah setiap harinya semakin kencang. Ditengah-tengah semangatku ini, masih saja ada tetangga yang mengolok-olok mimpiku. Ada tetangga yang berkata pada ibuku seperti ini.

    “Hati-hati bu, itu anaknya bukan mau kuliah tapi mau jual diri.” Ucapnya sinis

    Ingin rasanya aku menampar orang yang berbicara seperti itu pada ibuku, tapi ibuku menyadarkanku kalau ucapan mereka adalah batu loncatan bagi prestasiku. Aku harus tetap rajin belajar dan membuktikan pada dunia kalau mimpiku itu akan mengubah dunia menjadi lebih baik.

    ***

    Semua hinaan, cacian maki tetangga-tetangga sampai saudara-saudara terdekat kami kemarin terhadap mimpi besarku, kini lenyap sudah. Air mata kedua orang tuaku kini warnanya berubah sebening permata, keringatnya yang bercucuran itu menjadi keringat kebanggaan mereka terhadapku, simpulan senyum guru-guruku mengguratkan harapan besar padaku. Ya, aku diterima di Universitas kerakyatan yang menjadi kebanggaan negara ini. Universitas bergengsi dan nomor satu terbaik di Negri ini. Gadjah Mada namanya, di sana namaku tertera di Teknik Nuklir. Program studi sarjana Nuklir satu-satunya di ASEAN dan memiliki lulusan terbaik se-Asia.

    Aku tak bisa berkata apa-apa, melihat kebahagiaan kedua orang tuaku. Melihat mimpiku yang kini menjadi nyata, mimpi yang tak pernah berani aku ungkapkan pada dunia. Mimpi yang tak seharusnya aku tutupi dari orang lain. Sekarang aku sadar kalau semua itu memang berasal dari mimpi. Mimpi yang bukan hanya sekedar mimpi, mimpi yang harus segera diwujudkan, bukan dibiarkan tetap tidur bersama angan-angan semata. Aku pun tersadar sekarang kalau tak ada satupun hal yang mustahil dalam hidup ini, aku masih memiliki Allah. Tuhanku yang tak pernah tidur, yang selalu mau mendengarkan mimpi kecil kita. Aku tak akan menyia-nyiakan amanat besarmu ini Tuhan. Aku tersenyum mengingat semua pengorbanan aku dan kedua orangtuaku demi mimpi manis ini kemarin. Terimakasih meja kecilku yang setia menemaniku merogoh mimpi ini. Terimakasih Tuhan mengijinkanku merajut asa ini untuk meraih impian.

    ***

    SitiHoriah (1)Siti Horiah mahasiswa dari Program Studi Teknik Nuklir 2012 mendapat penghargaan sebagai pemenang pertama dalam Lomba Menulis Kisah Inspiratif Kamakarya 2013 yang diadakan dalam rangkaian acara Seminar Motivasi Nasional oleh divisi keilmuan Kamadiksi dalam rangka meningkatkan motivasi penerima beasiswa Bidik Misi. Acara yang memiliki tema “Menembus Batas, Memetik untaian mimpi ” ini diselenggarakan pada hari Minggu, 7 April 2013 bertempat di Gedung Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada dengan pembicara Dr. Revrisond Baswir (pakar Ekonomi Kerakyatan), Dr. Widyo Winarso (Kepala Subdirektorat Kemahasiswaan DIKTI) dan Bapak Eko Prasetyo. Talkshow dengan narasumber tersebut sangat menginspirasi dan memotivasi para peserta seminar yang jumlahnya kurang lebih 1100 orang, di mana para peserta tersebut didominasi oleh mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi UGM ditambah dari universitas lain di sekitar Yogyakarta.

    Dalam Lomba Menulis Kisah Inspiratif Kamakarya 2013 ini, peserta wajib menuliskan kisah nyata perjuangan mereka dalam merajut asa dan meraih impiannya masing-masing. Kisah yang harus menginspirasi banyak orang nantinya, kisah yang dapat memeberikan gambaran banyak orang betapa kita tak boleh berputus asa dalam meraih impian. Siti Horiah sendiri mengaku bahwa dirinya tidak menyangka dapat memenangkan lomba kepenulisan ini, karena latar belakang jurusan sebagai anak teknik yang harus bersaing dengan orang-orang hebat yang memang bergelut dalam bidang kepenulisan. Namun tanpa disangka dirinya dapat berprestasi dan bisa produktif dalam menghasilkan cipta dan karya yang terbaik. Inspirasi dan bakat itu memang akan selalu ada dalam diri seseorang tanpa terkecuali selagi ada motivasi yang kuat dalam diri untuk menciptakan karya terbaik untuk bangsa ini.

    Sumber: http://tf.ugm.ac.id/index.php/14-prestasi/112-mahasiswa-teknik-fisika-ft-ugm-memenangi-lomba-menulis-kisah-inspiratif-kamakarya-2013

     
  • erva kurniawan 1:44 am pada 10 April 2013 Permalink | Balas  

    pompeiiPompeii Mengulang Sejarah Kaum Luth

    Oleh: HARUN YAHYA

    Alqur’an mengisahkan kepada kita bahwa tidak ada perubahan dalam hukum Allah (sunnatullah):

    “Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah mereka kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu” (QS. Al- Faathir, 35:42-43).

    Begitulah, “sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah”. Siapapun yang menentang hukum Allah dan berusaha melawan-Nya akan terkena sunatullah yang sama. Pompeii, yang merupakan simbol dari degradasi akhlaq yang dialami kekaisaran Romawi, adalah pusat perzinaan dan homoseks. Nasib Pompeii mirip dengan kaum Nabi Luth. Kehancuran Pompeii terjadi melalui letusan gunung berapi Vesuvius.

    Gunung Vesuvius adalah simbol negara Italia, khususnya kota Naples. Gunung yang telah membisu sejak dua ribu tahun yang lalu itu juga dinamai “The Mountain of Warning” (Gunung Peringatan). Tentunya pemberian nama ini bukanlah tanpa sebab. Adzab yang menimpa penduduk Sodom dan Gommorah, yakni kaum Nabi Luth as, sangatlah mirip dengan bencana yang menghancurkan kota Pompeii.

    Di sebelah kanan gunung Vesuvius terletak kota Naples, sedangkan kota Pompeii berada di sebelah timur gunung tersebut. Lava dan debu dari letusan maha dasyat gunung tersebut yang terjadi dua milenia yang lalu membumihanguskan penduduk kota. Malapetaka itu terjadi dalam waktu yang sangat mendadak sehingga menimpa segala sesuatu yang ada di kota termasuk segala aktifitas sehari-hari yang tengah berlangsung. Aktifitas yang dilakukan penduduk dan segala peninggalan yang ada ketika bencana terjadi kini masih tertinggal persis sama seperti ketika bencana tersebut terjadi dua ribu tahun yang lalu, seolah-olah waktu tidak bergeser dari tempatnya.

    Pemusnahan Pompeii dari muka bumi oleh bencana yang demikian dasyat ini tentunya bukan tanpa maksud. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Saking banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak diketahui. Organ-organ kemaluan pria dengan ukurannya yang asli digantung di pintu tempat-tempat pelacuran tersebut. Menurut tradisi ini, yang berakar pada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya tidaklah tabu dan dilakukan di tempat tersembunyi; akan tetapi hendaknya dipertontonkan secara terbuka.

    Lava gunung Vesuvius menghapuskan keseluruhan kota tersebut dari peta bumi dalam waktu sekejap. Yang paling menarik dari peristiwa ini adalah tak seorang pun mampu meloloskan diri dari keganasan letusan Vesuvius. Hampir bisa dipastikan bahwa para penduduk yang ada di kota tersebut tidak mengetahui terjadinya bencana yang sangat sekejap tersebut, wajah mereka terlihat berseri-seri. Jasad dari satu keluarga yang sedang asyik menyantap makanan terawetkan pada detik tersebut. Banyak sekali pasangan-pasangan yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi sedang melakukan persetubuhan. Yang paling mengagetkan adalah terdapat sejumlah pasangan yang berkelamin sama, dengan kata lain mereka melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseks). Ada pula pasangan-pasangan pria dan wanita yang masih ABG. Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang masih utuh. Secara umum, raut-raut muka mereka menunjukkan ekspresi keterkejutan, seolah bencana yang terjadi datang secara tiba-tiba dalam sekejab.

    Dalam konteks ini, terdapat aspek dari bencana tersebut yang sangat sulit untuk dimengerti. Bagaimana bisa terjadi ribuan manusia tertimpa maut tanpa melihat dan mendengar sesuatu apapun?

    Aspek ini menunjukkan bahwa penghancuran Pompeii mirip dengan peristiwa-peristiwa adzab yang dikisahkan dalam Alqur’an, sebab Alqur’an secara khusus mengisyaratkan “pemusnahan secara tiba-tiba” ketika mengisahkan peristiwa yang demikian ini. Misalnya, “penduduk suatu negeri” sebagaimana disebut dalam surat Yaasiin ayat 13 musnah bersama-sama secara keseluruhan dalam waktu sekejap. Keadaan ini diceritakan sebagaimana berikut:

    “Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.” (QS. Yaasiin, 36:29)

    Di surat Al-Qamar ayat 31, pemusnahan dalam waktu yang singkat kembali disebut ketika kehancuran kaum Tsamud dikisahkan:

    “Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.”

    Kematian masal penduduk kota Pompeii terjadi dalam waktu yang sangat singkat persis sebagaimana adzab yang dikisahkan dalam kedua ayat di atas.

    Kendatipun semua peringatan ini, tidak banyak yang berubah di wilayah di mana Pompeii dulunya pernah ada. Distrik-distrik Naples tempat segala kemaksiatan tersebar luas tidaklah jauh berbeda dengan distrik- distrik bejat di Pompeii. Pulau Capri adalah tempat di mana para kaum homoseksual dan nudis (orang-orang yang hidup telanjang tanpa busana) tinggal. Pulau Capri diiklankan sebagai “surga kaum homoseks” di industri wisata. Tidak hanya di pulau Capri dan di Italia, bahkan hampir di seantero dunia, kerusakan moral tengah terjadi dan sayangnya mereka tetap saja tidak mau mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang dialami kaum-kaum terdahulu.

    ***

    harunyahya.com

     
  • erva kurniawan 1:40 am pada 3 April 2013 Permalink | Balas  

    siluet petaniMembaca Kemalangan

    Ini kisah tentang seorang petani tua yang bekerja di ladangnya. Suatu hari kudanya melarikan diri. Mendengar ini, tetangga si petani tua datang mengunjunginya, dan dengan penuh simpati berkata, “Oh, petani tua. Sungguh malang nasibmu.”

    Sang petani pun menjawab, “Mungkin saja.”

    Keesokan harinya, kuda itu kembali, bersama tiga kuda liar lainnya. “Sungguh menakjubkan. Betapa beruntungnya nasibmu,” seru tetangganya.

    Sang petani menjawab, “Mungkin saja.”

    Hari berikutnya, anak si petani tua mencoba menaiki salah satu kuda yang masih liar itu. Sang anak terlempar dari punggung kuda yang belum jinak itu. Kakinya patah. Mendengar ini, tetangganya datang mengunjunginya untuk memberi simpati atas kemalangannya,

    “Oh, petani tua. Betapa malang nasibmu.”

    Lagi-lagi sang petani menjawab, “Mungkin saja.”

    Keesokan harinya, seorang pejabat militer datang ke desa dan menyerukan kewajiban bagi setiap pemuda untuk berperang membela negara. Mengetahui bahwa kaki anak laki-lakinya patah, pejabat militer itu pun melewatinya. Para tetangga pun memberi selamat kepada si petani tua atas keberuntungan nasibnya.

    Sang petani tua pun menjawab, “Mungkin saja.”

    Cerita yang menggugah bukan? Nasib baik dan buruk sebenarnya tergantung dari cara kita memandangnya. Sepanjang kita bersyukur, tidak pernah ada yang buruk yang datang dari-Nya.

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Quran [2]:216).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:16 am pada 26 March 2013 Permalink | Balas  

    siluet keluarga 2Orang Tua Kita

    Pagi ini berangkat kantor ketika turun dari bus aku lihat bapak tua yang sedang memikul beban berat di pundaknya, dari fisiknya yang sudah renta mungkin umur bapak ini sudah hampir 70 tahun, tapi ketika aku melihat beliau sedang memikul pisang dagangan nya mungkin untuk di jual atau barusan habis belanja. Tampak sekali bapak ini kepayahan. Pingin sekali aku bisa membantu tapi akhirnya aku hanya bisa menatap iba, dan berdoa Ya Robb muliakan beliau

    Dan kemarin di bus aku bareng dengan seorang ibu, melihat dari keriput kulitnya umur ibu ini mungkin dah hampir 60 tahun tapi waktu itu beliau naik metromini dan dengan membawa beban belanjaan yang habis di belinya di pasar kebayoran, sudah kelihatan letih si ibu harus berdiri di bus karena memang tak ada lagi tempat duduk bahkan bus penuh sesak.

    Beberapa malam yang lalu aku sempat menyaksikan sekilas acara di TV, semacem reality Show yang di kemas dalam format humor. Acara yang di pandu oleh tokoh pelawak yang lagi hit di negeri ini, menghadirkan bintang tamu ayah kandung si presenter ini. Aku sedih melihat si bapak yang memang kelihatan orang dari kampung jadi bahan tertawaan dan candaan oleh anak nya sendiri.

    Sahabat..

    Pernahkah berfikir seperti apa perjuangan orang tua kita untuk memberi makan kita, melindungi kita, membahagiakan kita. Dengan tetesan darah, keringat dan airmata mereka berjuang, mungkin sosok2 diatas hanya segelintir contoh. Bahkan ada yang lebih berat lagi perjuangannya.

    Pernahkah kita membayangkan bagaimana orang tua kita dulu mencari uang untuk menyekolahkan kita, membelikan baju baru, membelikan apapun yang kita inginkan tanpa mengharap balas, setiap hari kita hanya menerima kebaikannya, kasih sayangnya yang tiada lelah dan tiada bosan.

    Pernahkah kita renungkan mungkin demi kita ayah dan ibu kita rela di caci maki orang, mungkin demi kita ayah ibu kita rela menahan malu mencari pinjaman uang, pernahkan kita renungkan itu???. Bahkan mungkin demi kita ayah ibu kita rela menahan lapar, menahan keinginan untuk memiliki baju yang bagus, untuk memiliki barang yang mewah. Tapi apa yang telah kita berikan pada mereka?? Sanggupkah kita membalas segala budinya, bahkan untuk bericara dengan lembut pun terasa begitu berat bibir ini. Bahkan mungkin kita sering menolak perintahnya, mengabaikan nasehatnya.

    Sahabat….

    Pepatah mengatakan ” orang tua kaya anak jadi raja, anak kaya orang tua jadi pembantu” pepatah ini bukan omong kosong belaka, karena banyak fakta yang membuktikan seperti itu. Ketika orang tua kaya segala keinginan anak dipenuhi tetapi ketika anak kaya tak jarang orang tua di perlakukan seperti pembantu, untuk mengurus anak, menjaga anak, bahkan menjaga rumah. Akankah kita juga seperti itu??

    Sahabat…

    Mari kita renungkan, dan intropeksi diri masing-masing terutama untuk diriku sendiri bagaimana perilaku kita selama ini, sudah kah kita termasuk anak yang berbakti, sudah sanggupkah kita menjaga lisan ini agar tidak menyakiti hati mereka, dan apa yang sudah kita lakukan untuk mebahagiakan mereka??, sudah kah kita mendoakan mereka di setiap sholat kita??

    Semoga kita termasuk anak yang berbakti dan bisa menjadi seorang anak yang soleh & solehah sehingga kita bisa menjadi penolong kedua orang tua kita kelak di yaumil akhir. Semoga kita bisa Mebahagiakan mereka di dunia dan akherat. Amiin

    “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh , dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” Q.S 4/36

    Wass

    Zrie_Kla

    ***

    Dari Sri Mulyani

     
  • erva kurniawan 1:37 am pada 25 March 2013 Permalink | Balas  

    syukurPengalaman Rohani: Mowo Purwito Disadarkan Sifat Wajib Allah

    Untuk sebagian besar umat Islam, terutama mereka yang tinggal di kampung, 20 sifat wajib Allah merupakan lafal yang sering diucapkan. Apalagi, buat mereka yang belajar di madrasah-madrasah maupun di majelis taklim. Bahkan kadang, 20 sifat wajib Allah ini dibaca dengan irama menarik, untuk mempermudah diingat dan dihafal.

    Lain lagi, buat Mowo Purwito Rahardjo. Bagi pria kelahiran Situbondo 28 Oktober 1965 ini, 20 sifat wajib bagi Allah tersebut telah membimbingnya menjadi seorang Muslim. ”Saya belajar teologi sudah lama tetapi yang saya pakai untuk perbandingan karena saya ingin melihat Islam justru pelajaran anak kelas 6 SD yang berbicara tentang 20 sifat wajib Allah kemudian ada asma al husna. Saya coba pelajari. Setelah saya dalami sifat wajib Allah, di situ saya membaca sifat-sifat Allah dari wujud, qidam, baqa, dan ada sebuah pernyataan yang sangat mengganggu pikiran saya bahwa Allah itu bersifat mukhalafatu lil hawadisi (berbada dengan makhluknya),” ungkap Mowo ketika mengisahkan pengalamannya menjadi seorang Muslim di Jakarta Rabu (14/2) malam.

    Suami dari Amik S Fatmawati SH ini pun tercengang membaca sifat wajib Allah tersebut. ”Saya tercengang, agak bingung juga dengan pernyataan ini membuat saya gelisah. Teryata zat Allah ini zat yang tidak sama setiap makhluk, zat yang tidak berfisik, zat yang tidak berjasad, yang sangat dibedakan dengan siapapun,” ujarnya.

    Bagi Mowo, ini sangat masuk akal juga karena Allah tidak berjasad dan berada di ruang yang tidak dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu mustahil Allah itu masuk ke dalam konsep ruang dan waktu. “Mustahil, Allah itu melakukan degradasi nature dari Sang Pencipta menyerupai ciptaannya.”

    Kekaguman tentang sifat-sifat wajib bagi Allah, terus menyentak sanubari ayah tiga putra ini. ”Saya juga menjumpai sifat Allah yang lain yaitu Allah qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri). Allah itu independen, berdiri sendiri, tidak bergantung kepada kita. Jadi untuk menyelamatkan manusia dengan kalamnya kun fayakun dengan kehendaknya maka jadilah.”

    Allah itu kekuasaannya tidak dibatasi oleh siapapun. Pemikiran ini membawa Mowo pada perenungan mengenai konsep Allah dan “proses tiga dalam satu” (trinitas). Dalam agamanya yang lama, konsep tentang Tuhan terjawab dalam polemik yang cukup panjang.

    Menilik ke belakang, tak mudah bagi Mowo untuk menjadi seorang Muslim. Semua bermula sejak tahun 2004, saat ia masih menjadi dosen sosiologi agama, fenomenologi agama, dan etika Kristen. Suatu hari, rekannya yang mengajar Islamologi (keislaman), meninggal dunia.

    Mencari dosen dalam waktu singkat tidak mudah. Apalagi untuk Islamologi, kendati mengajarkan keislaman, sang dosen harus beragama Kristen. “Akhirnya diputuskan secara darurat, sayalah yang menggantikan beliau mengajar tentang keislaman.”

    Ia bersyukur almarhum rekannya itu meningalkan modul dan diktat yang lengkap. Ajaran Islam-Kristen dikomparasi secara doktrinal. “Kita tahu bahwa ada beberapa titik-titik krusial yang menjadi polemik antara Islam dan Kristen khususnya kalau kita belajar tentang teos (Tuhan) dan logos (manusia) serta cosmos (alam semesta). Belum lagi kalau bicara kitab suci dan angelos (malaikat),” tambahnya.

    Tak ingin memberi pengertian yang salah pada mahasiswanya, ia mendalami Islam, khususnya bagaimana Islam menyoroti Kristen dari sudut ketuhanan. Sampai akhirnya menemukan “teori” 20 sifat wajib bagi Allah. September 2006 lalu ia bersyahadat.

    Mowo berlatar belakang pendidikan sosiologi. Kandidat Master of Art Religion ini dikenal sebagai pengajar teologi di Perguruan Tinggi Nusantara Malang, Jawa Timur dan beberapa STT di Malang. “Saya belajar di sekolah keteologian sampai mendapat gelar sarjana teologi,” ungkapnya yang mengaku mestinya 14 Februari lalu ia sudah diwisuda sebagai Master of Art Religion.

    Mowo sendiri tidak mempermasalahkan kenapa gelar tersebut belum disandangnya. Bagi dia, hidayah Islam yang diterimanya sudah lebih dari segalanya.

    Menurut dia, masing-masing agama punya klaim sendiri-sendiri. “Tapi kenapa saya harus memilih, ini tentang sebuah pilihan. Untuk memilih ini perlu perjalanan, perjuangan, perlu sebuah perenungan yang cukup dalam yang saya lakukan dari waktu ke waktu,” tegas pria yang pernah menjabat wakil sekretaris DPC Partai Damai Sejahtera (PDS) Malang, Jawa Timur ini.

    Lelaki ini memang dikenal aktif berorganisasi. Berbagai posisi penting dalam organisasi Kristen pernah dijalankannya. Selain pernah dipercaya sebagai pengurus DPC Partai Damai Sejahtera, Mowo pun pernah aktif di LSM Kristen bernama The Nation Care of Indonesia. Ia menjabat sebagai ketua Departemen Pengembangan Spiritualitas periode 2002-2006. Ia juga menjadi pengurus di Departemen Pemberdayaan Masyarakat di Gereja Kristen Injil Nusantara yang berkedudukan di kota Malang. n dam

    ***

    Drs Mowo Purwito R Dip HRD STh

    Tempat/Tgl. Lahir : Situbondo, 28-Oktober-1965

    Istri: Amik S Fatmawati SH

    Anak: Dida Nafiri (16 tahun) Dinar Naufal (12 tahun) Delpbel Oktobrian (8 tahun)

    Pendidikan: – S1 – FISIP Univ Merdeka Malang lulus tahun 1988 – Diploma Human Resources Development, tahun 1993 – Sarjana Theologia (STh)

    Seminari Alkitab Nusantara Malang –

    Kandidat Master of Art Religion (MAR), seharusnya diwisuda bulan Februari 2007 (drop out karena pindah agama)

    Sertifikat : Mendapat sertifikat dari Fuller Housing Minsitry, California, 2006 untuk terjun pada pelayanan Christianity Development, di Louisiana, USA, yang seharusnya berangkat bersama keluarga bulan Desember 2006 (dibatalkan karena pindah agama)

    Pekerjaan Sekarang: – Ketua Departemen Sumber Daya Manusia Forum Arimatea Jakarta – Kristolog dan Pemerhati Masalah Sosial Agama (dam)

    ***

    Republika Online

     
    • bejono777 6:11 am pada 25 Maret 2013 Permalink

      hidayah melalui tradisi Islam di daerah, alhamdulillah

  • erva kurniawan 1:34 am pada 23 March 2013 Permalink | Balas  

    pedagang kereta apiDan Gerbong Kereta Pun Bersaksi

    “Kemarin kau tak mengaji. Hari ini tak mengaji, tak sembahyang pula kau, mau jadi manusia macam apa kau nak,” tegur seorang ibu kepada anak lelakinya yang baru berusia sekitar delapan tahun.

    “Bukannya tak mau sembahyang mak. Di kereta banyak pembeli, kan sayang. Lagipula itu kan rejeki,” sanggah sang anak yang masih menggendong kotak rokok dan permen dagangannya.

    “Hey , apa kau bilang??? Rejeki tu sudah ada yang mengaturnya. Bukan kau yang menentukan apa kau dapat rejeki atau tidak hari ini. Kalau kau tak berdoa pada-Nya, mungkin esok kau tak seberuntung hari ini,”.

    Kata-kata itu, sungguh membuat ku terkesima. Sebuah cuplikan fragmen keimanan yang kutangkap hanya beberapa menit saat kuberdiri di Stasiun Kereta Api Pasar Minggu, Jakarta, tak seberapa masa menjelang Maghrib. Ada gemuruh yang menderu di dalam dada ini melihat pemandangan menakjubkan di depanku, terlebih mendengar dialog yang lumayan menggetarkan itu. Betapa tidak, seorang ibu yang tengah menggendong anaknya yang masih balita, ditemani putri sulungnya yang berusia tidak lebih dari dua belas tahun, meski tidak serapih muslimah-muslimah yang biasa kutemui di kampus-kampus atau perkantoran, tapi ia berusaha untuk menutupi bagian kepalanya dengan jilbab lusuh, bahu membahu bersama sang Ayah berdagang di emperan stasiun KA Pasar Minggu. Sementara anaknya yang lelaki, diberinya tanggungjawab berjualan rokok, tissue dan permen di gerbong KA Jabotabek.

    Mari, ingin sekali kuajak Anda merenung tentang mereka sebelum bicara tentang diri kita sendiri. Setiap dini hari mata terjaga mendahului kokok ayam paling pagi untuk mengepak barang-barang yang akan digelar di stasiun kereta api yang berdebu, kadang sesak di pagi dan sore hari saat jam pergi dan pulang kantor, yang sudah pasti tak berpengatur udara. Tak ada kursi empuk selain alas koran yang tidak jarang membuat pinggang dan tulang bokong mereka pegal-pegal sekaligus panas, jika tak sering-sering bangun, kemudian duduk kembali sekedar melancarkan peredaran darah. Keringat yang keluar tak bisa diukur dari nine to five seperti kebanyakan kita. Sedangkan si bocah lelaki keluar masuk dan turun naik dari gerbong ke gerbong, dari pagi hingga sore menjelang dengan segala bentuk bahaya yang senantiasa menanti.

    Tapi, tak sedikitpun mereka ragu bahwa Dia-lah yang mengatur semua rizki bagi manusia, tidak terkecuali mereka. Sehingga sedemikian marahnya si ibu setelah mendapat laporan dari si sulung bahwa anak lelakinya sudah dua hari tak mengaji, dan hari ini kedapatan tak sembahyang Dzuhur.

    Kemudian mari tengok diri ini. Di pagi hari tak perlu memanggul karung dan dus yang berat, untuk menggelarnya terpal di emperan manapun. Kita hanya perlu naik kendaraan menuju kantor, duduk di kursi yang empuk, mungkin tak ada peluh yang harus dibasuh karena seharian bekerja di ruangan ber-AC, dan tidak jarang masih mendapatkan pelayanan khusus dari office boy.

    Namun dengan kondisi yang demikian lebih baik, tidak jarang dzuhur dan ashar tertinggal, minimal sholat dzuhurnya menjelang ashar. Itu pun jika sempat. Seringkali kesibukan dan terlalu banyak pekerjaan menjadi alasan untuk tak melafazkan barang satu ayatpun kalimah-Nya. Tak mengertikah kita bahwa mungkin saja Dia yang maha mengatur rizki itu tak lagi memberikan kita semua kesibukan yang hari ini menjadi alasan untuk tak mendekati-Nya?

    Sungguh, enggankah kita membiarkan semua pekerjaan, komputer, meja kerja, kursi empuk, telepon yang berdering-dering itu kelak menjadi saksi di hadapan Allah, bahwa mereka pernah ditinggal oleh pemiliknya di waktu-waktu tertentu saat kita bermunajat pada-Nya?

    Adzan Maghrib pun berkumandang, kuikuti punggung-punggung mereka yang menuruti langkah-langkah kecil menuju mushola.

    ***

    Oleh: Bayu Gawt

     
  • erva kurniawan 1:17 am pada 21 March 2013 Permalink | Balas  

    doaUntung Saja, Allah Tidak Mengabulkan Doa Kami

    Mengapa seseorang yang do’anya tak dikabulkan, Justru ia bersyukur..?

    Waktu di Masjidil Haram, memang sangat banyak waktu kita untuk bertafakur. Maka bertafakurlah pada hal-hal yang positif untuk melihat Allah. Untuk bertemu dengan Allah. Agar hidup ini menjadi semakin bermakna, dan agar kita akan selalu bisa bersamaNya.

    Ketika aku bertafakur menyendiri, aku teringat pada sebuah kejadian nyata yang sangat perlu untuk aku tuliskan di diskusi ini.

    Suatu saat ada seorang teman yang bercerita tentang pengalamannya yang sangat unik dan menarik.

    Pak Kusuma, pernah naik mobil bersama keluarganya dari kota Malang menuju kota Solo. Mereka berangkat naik mobil pribadi. Berangkatnya malam hari. Dipilihnya malam hari agar perjalanan menjadi nyaman, dengan harapan mereka bisa istirahat dalam perjalanan yang cukup jauh itu.

    Udara malam itu cukup cerah. Sebelum mereka berangkat, kondisi mobil dikontrolnya dengan teliti. Mulai dari kondisi ban mobil sampai dengan peralatan kunci mobil. Setelah semua cukup aman dan sudah lengkap, berangkatlah mereka satu keluarga menuju kota Solo. Mobil itu dikemudikan oleh pak sopir mereka. Dalam kondisi normal perjalanan kedua kota itu akan ditempuh selama lebih kurang enam sampai dengan tujuh jam.

    Pak Kusuma dan keluarganya berangkat sekitar pukul 21.00, dengan harapan menjelang subuh sekitar pukul 04.00 sudah sampai di kota tujuan. Di awal perjalanan mereka tidak menemui kendala dan hambatan yang berarti. Semua lancar-lancar saja. Mobil pun melaju dengan nyaman ke arah kota Solo. Tetapi ketika perjalanan sudah mencapai setengah lebih dari jarak yang ditempuh, yaitu ketika mobil berada di daerah Ngawi, tiba-tiba saja mobil berhenti dan macet. Maka para penumpangpun bangun semua dari tidurnya.

    Kata mereka :

    “ada apa pak Sopir..?”

    “Ndak tahu pak, koq tiba-tiba mobil macet..” Penumpang lain pun menanggapi :

    “wah kenapa ya…? Mogoknya di tempat yang sepi lagi…”

    “iya…,” jawab yang lain.

    “Sekarang masih jam 02.00 dini hari…, wah kemana kita cari pertolongan ?”

    Jawab pak sopir :

    “pak, biar saya yang cari pertolongan. Semua di dalam mobil saja”

    “Saya mau naik bus yang ke arah Solo atau kota terdekat dari sini. Mudah-mudahan secepatnya akan saya dapatkan seorang montir ahli.” Mudah-mudahan pula segera ada bus yang lewat.”

    “Saya nggak tahu kenapa koq tiba-tiba mobil ini macet…padahal sebelum berangkat tadi sudah saya kontrol semuanya.!”

    “Baiklah” jawab yang lain.

    Maka pak sopir pun keluar dari mobil, ia berdiri di pinggir jalan untuk mencegat bus yang ke arah solo.

    Kurang lebih satu jam, pak sopir berdiri, dan tidak satu pun bus lewat. Padahal biasanya sekitar lima belas menit selalu saja ada bus yang lewat. Ada apa gerangan? Pikir para penumpang. Tidak terkecuali pak Kusuma

    Maka semua penumpang pun berdo’a agar secepat-nya ada bus yang lewat, agar kesulitan mereka cepat teratasi.

    Dalam kondisi semacam itu, tiba-tiba ada sebuah pikiran aneh dalam diri pak Kusuma. Ia berbicara pada dirinya sendiri. Katanya :”Bagaimana ya, cara Allah menolong kami yang dalam kondisi seperti ini? Jauh dari keramaian, di tengah malam, tak ada rumah di sekeliling, bahkan bus pun tak ada yang lewat….Tapi sungguh saya yakin bahwa Allah akan menolong hambaNya yang sedang mengalami kesulitan seperti ini. Tetapi bagaimana ya, caranya…? Rasanya seperti nggak mungkin ada pertolongan datang pada saat seperti ini…”

    Waktu pun terus berjalan! Tanpa terasa hampir dua jam mereka menunggu bus lewat. Tetapi tak ada yang kunjung lewat. Sehingga mereka hampir frustasi dibuatnya.

    Ketika semua penumpang dan juga pak sopir yang berdiri menunggu bus lewat hampir putus asa, tiba-tiba terlihat dari kejauhan lampu sebuah sepeda motor yang redup. Setelah sepeda motor tersebut dekat dengan mobil, terlihat seorang pengendara memakai jaket tebal sebagai pelindung tubuh dari dinginnya malam.

    Ketika persis di dekat mobil yang lagi macet itu, pengendara membelokkan sepedanya ke sebelah kiri. Ternyata di dekat mobil mereka itu ada sebuah rumah kecil sederhana yang tidak nampak sebelumnya, karena gelapnya malam. Tambahan lagi banyak pohon-pohon besar yang menutupinya.

    Sang pengendara sepeda motorpun berhenti di depan rumah terpencil itu. Tidak tahu apa penyebabnya, tiba-tiba pak sopir yang belum menemukan bus lewat itu menghampiri pengendara sepeda motor yang lagi mengetuk pintu rumah sederhana.

    Ketika pak sopir sudah dekat dengan si pengendara, dan ketika si pengendara sepeda motor melepas Helm nya….tiba-tiba pak sopir berteriak saking terkejutnya!

    Hei, mas Haris! koq anda di sini? ada keperluan apa?”

    Lho, anda ‘koq juga disini, sedang ngapain?” “Wah, kebetulan sekali mas. Ini Iho, mobil yang saya bawa ini lagi mogok. Dan saya nggak tahu, apa penyebabnya..! Wah, tolong ya mas…!?”

    “…oh, begitu,.. Ada lampu senter?”

    “Ada mas..!”jawab pak sopir!

    Maka diambilnya lampu senter dari dalam mobil mereka. Kemudian mas Haris mulai beraksi memperbaiki mobil tersebut. Anehnya tidak begitu lama, mesin mobil itu sudah bisa diperbaiki. Ternyata kerusakannya tidak terlalu berat. Tetapi kerusakan yang sedang terjadi itu, justru tidak diketahui oleh pak sopir. Tidak lebih dari lima menit, selesailah mobil tersebut diperbaiki oleh pak Haris, si pengendara sepeda motor.

    Sebenarnya siapakah pengendara sepeda motor itu? Mengapa begitu cepat ia bisa memperbaiki mobil yang lagi mogok?

    Ketika aku menuangkan cerita singkat ini, akupun menjadi merinding…

    Ternyata si pengendara sepeda motor itu, adalah montir ahli di sebuah bengkel langganan pak sopir, di kota Malang. Ia lagi menjenguk keluarganya yang rumahnya persis di dekat mobil yang lagi mogok tersebut…

    Maka tidak heran jika ia begitu cepat dapat memperbaiki kerusakan mobil mereka.

    Yang menjadikan aku termangu, adalah :

    Mengapa pengendara sepeda motor itu ke rumah familinya pada waktu malam hari, kenapa tidak siang hari saja? Dan mengapa waktunya persis dengan mobil yang lagi membutuhkan pertolongan? Apa yang menyebabkannya ?

    Mengapa mobil tersebut mogoknya tepat berada di dekat rumah itu? Apa pula yang menyebabkannya ?

    Mengapa kerusakan mobil yang cukup sederhana itu, pak sopir tidak bisa memperbaikinya? Apa yang menyebabkannya ?

    Mengapa sampai lama tidak ada bus lewat, sehingga akhirnya pak sopir bisa bertemu dengan mas Haris sang pengendara sepeda motor yang ahli memperbaiki mobil itu? Apa yang menyebabkan?

    Dan apa pula yang menyebabkan pak Kusuma sekeluarga pergi ke kota Solo, berangkat malam hari, dan jam berangkatnya begitu ‘tepat’ sehingga terjadilah peristiwa yang cukup unik di kota Ngawi itu…?

    Aku-pun berandai-andai,…

    Andaikata dalam waktu singkat ada bus lewat, dan pak sopir ikut bus tersebut untuk mencari montir ke kota berikutnya, sungguh menjadi runyam persoalannya…. Montir belum tentu didapatkan. Para penumpang mobil yang kebanyakan masih anak-anak itu, tentu akan mengalami rasa takut berkepanjangan ditinggal sendirian di tempat yang gelap semacam itu.

    Andaikata mobil tersebut mogok di lokasi lima puluh meter saja, lebih jauh dari tempat terjadinya peristiwa itu, tentu pak sopir tidak akan bertemu dengan si pengendara sepeda motor.

    Andaikata berangkatnya si pengendara sepeda motor, satu jam saja lebih lambat dari saat itu, atau ketika di perjalanan ia mengalami trouble dengan kendaraannya, maka tak akan bertemulah mereka semuanya.

    Andaikata do’a para penumpang mobil itu dikabulkan Allah pada saat itu juga, agar pak sopir bisa pergi ke Solo naik bus …… Akh, sungguh mereka akan kalang-kabut sendiri….

    Andaikata….. andaikata…

    Ah, sungguh terlalu banyak kita berandai-andai. Tetapi ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama. Bahwa setiap kejadian yang ada di muka bumi ini, bahkan juga yang ada di langit, semua tak ada yang terjadi dengan sendirinya. Tak ada yang terjadi dengan sia-sia. Tak ada yang terjadi secara kebetulan. Semua karena kehendak Sang Maha Kuasa, yang mencipta alam raya ini. Yang setiap hari Dia dalam kesibukan mengatur semua urusan dan persoalan para makhlukNya.

    QS. Ar-Rahmaan (55) : 29-30

    Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

    Satu hal lagi yang perlu kita renungkan,

    Mengapa bus-bus yang biasanya sering lewat itu, pada saat itu, tak ada yang lewat? Padahal mereka memiliki penumpang yang sangat banyak. Tentu semuanya menginginkan perjalanannya tidak terhambat dan tidak terlambat sampai pada tujuannya.

    Andaikata terlambatnya para bus itu, dikarenakan para sopirnya masih istirahat di suatu tempat, siapa yang menyuruh mereka istirahat?

    Andaikata terlambatnya para bus itu, dikarenakan ada penumpang yang sakit perut ketika makan malam, dan ia harus ke kamar mandi dalam waktu yang agak lama di suatu rumah makan, siapa yang menyebabkan sakit perut?

    Andaikata ada bus yang bannya gembos terkena paku di jalan, sehingga harus memperbaiki, dan mengganti ban mobil. Siapakah yang menyebabkannya? Mengapa ada paku yang tepat mengenai ban mobil pada bus yang sedang ditunggu oleh pak sopir yang mobilnya lagi mogok di kota Ngawi?

    Andaikata terlambatnya semua bus tersebut, dikarenakan adanya kemacetan lalu lintas yang dikarenakan terlambatnya Kereta Api yang melintasi jalanan, siapa yang menyebabkan itu semua?

    … Sungguh masih banyak hal-hal yang menyebabkan semua itu bisa terjadi. Berpuluh, bahkan mungkin bisa beratus-ratus variable penyebabnya….

    Hal apa yang bisa kita ambil dari peristiwa unik tersebut?

    Sebuah pelajaran menarik, telah kita dapatkan dari peristiwa itu. Andaikata Allah mengabulkan do’a para penumpang mobil mogok, agar ada bus yang lewat, pada saat pak sopir menunggu bus, maka tentu tidak teratasi permasalahan mobil mogok itu.

    Dengan kata lain, Allah telah menolong para penumpang mobil mogok itu dengan cara, ‘tidak mengabulkan do’a mereka!’ Tetapi Allah mengabulkan harapan mereka, menolong mereka dari kesulitan…

    Pak Kusuma menutup ceritanya dengan mata berkaca-kaca menahan jatuhnya setetes air mata…

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:48 am pada 19 March 2013 Permalink | Balas  

    jodohKetika Aku Meminta Sedikit

    Oleh: Rico Atmaka

    Sahabat-sahabat, ketika usiaku 25 tahun, aku sudah memiliki niat untuk menikah, meskipun hanya sekedar niat, tanpa keilmuan yang cukup. Karena itu, aku meminta jodoh kepada Allah dengan banyak kriteria. Dan Allah-pun belum mengabulkan niatku.

    Ketika usiaku 30 tahun, semua orang-orang yang ada di sekelilingku, terutama orang tuaku, mulai bertanya pada diriku dan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri. Maukah aku segera menikah atau mampukah aku menikah? Dalam doaku, aku kurangi permintaanku tentang jodoh kepada Allah. Rupanya masih terlalu banyak. Dan Allah-pun belum mengabulkan niatku.

    Ketika usiaku 35 tahun, aku bertekad, bagaimanapun caranya, aku harus menikah. Saat itulah, aku menyadari, terlalu banyak yang aku minta kepada Allah soal jodoh yang aku inginkan. Mulailah aku mengurangi kriteria yang selama ini menghambat niatku untuk segera menikah, dengan bercermin pada diriku sendiri.

    Ketika aku minta yang cantik, aku berpikir sudah tampankah aku?

    Ketika aku minta yang cukup harta, aku berpikir sudah cukupkah hartaku?

    Ketika aku minta yang baik, aku berpikir sudah cukup baikkah diriku?

    Bahkan ketika aku minta yang solehah, bergetar seluruh tubuhku sambil berpikir keras di hadapan cermin, sudah solehkah aku?

    Ketika aku meminta sedikit…..Ya Allah, berikan aku jodoh yang sehat jasmani dan rohani dan mau menerima aku apa adanya, masih belum ada tanda-tanda Allah akan mengabulkan niatku.

    Dan ketika aku meminta sedikit…sedikit…sedikit…lebih sedikit…..Ya Allah, siapapun wanita yang langsung menerima ajakanku untuk menikah tanpa banyak bertanya, berarti dia jodohku. Dan Allahpun mulai menujukkan tanda-tanda akan mengabulkan niatku untuk segera menikah. Semua urusan begitu cepat dan mudah aku laksanakan. Alhamdulillah, ketika aku meminta sedikit, Allah memberi jauh lebih banyak. Kini, aku menjadi suami dari seorang istri yang melahirkan dua orang anakku.

    Sahabatku, 10 tahun harus aku lewati dengan sia-sia hanya karena permintaanku yang terlalu banyak. Aku yakin, sahabat-sahabat jauh lebih mampu dan lebih baik daripada yang suadh aku jalani. Aku yakin, sahabat-sahabat tidak perlu waktu 10 tahun untuk mengurangi kriteria soal jodoh. Harus lebih cepat!!! Terus berjuang saudaraku, semoga Allah merahmati dan meridhoi kita semua. Amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:46 am pada 18 March 2013 Permalink | Balas  

    cinta di hari tuaCinta di Hari Tua

    Oleh Sakti Wibowo

    Saat itu saya dalam perjalanan pulang kampung. Karena trayek bis hanya sampai kota Ngadirojo, sebuah kota kecil sekitar dua puluh kilo dari tempat tinggal saya, saya harus nyambung angkutan lokal dari Ngadirojo ke Baturetno.

    Matahari belum sempurna terbit saat saya memutuskan memilih sebuah minibus, berbaur dengan para pedagang kerupuk, serabi, tempe, bahkan kambing dan ayam. Untuk kambing, jelas tempatnya terpisah, ditempatkan di bagasi. Sementara, beberapa keranjang berisi ayam yang tak berhenti berkeciap berikut bau kotorannya yang memengapkan ruangan minibus, tumpang tindih dengan kardus-kardus berisi kerupuk dan makanan ringan lainnya, menjejali pintu utama.

    Setelah minibus berjalan sekitar lima belas menit, dua orang penumpang naik. Seorang nenek tua yang terlihat sedang sakit, berjalan dengan menggunakan tongkat bambu wulung yang dipotong seadanya. Melihat warna mengilap di bagian pegangan tongkat, saya menyimpulkan bahwa tongkat itu telah cukup lama dipakai sehingga meninggalkan bekas yang khas. Seorang kakek di belakangnya. Tak kalah renta. Saya menaksir usianya sekitar awal delapan puluhan.

    Minibus penuh sesak. Tak ada bangku kosong. Sang nenek tertatih-tatih saat menaiki minibus. Bahkan, sang kondektur harus mengangkatnya dengan susah payah, sementara si kakek menyusul di belakangnya, membantu sang kondektur-kendati saya yakin, bantuan ‘tenaga’ si kakek tidak berpengaruh apa-apa, malah mungkin justru merepotkan.

    Saya tawarkan tempat duduk saya kepada si nenek, namun ia ragu-ragu. Hanya senyuman-saya merasa senyum ini begitu sedap dan ikhlas-yang dihadiahkannya. Saya mencoba meyakinkannya. “Silakan, Mbah! Saya nggak apa-apa, kok, berdiri. “

    Masih dengan ragu-ragu, si nenek kemudian bercerita bahwa ia hendak periksa ke Dokter ‘X’, seorang dokter yang cukup terkenal di Baturetno.

    Ketika sekali lagi saya menawarkan bangku dengan bergegas berdiri, ia menatap kedua kakinya yang terlihat kaku. “Saya tidak bisa duduk, ” katanya. “Boleh untuk si Mbah saja?” ia menunjuk sang kakek.

    Tentu saja, saya mengangguk, mempersilakan duduk sang kakek. Dan, setelah itu, yang saya lihat adalah hal yang sungguh dramatis. Sang nenek, karena kedua kakinya tidak bisa ditekuk, ternyata memang benar tidak bisa duduk dengan wajar. Suaminyalah yang duduk, dan setengah memangku isterinya itu dengan penuh kasih. Sebelah tangan renta keriputnya-yang tak bisa menyembunyikan gemetar-berpegangan pada sandaran bangku, sedangkan sebelah lagi melingkar di tubuh renta isterinya. Sedangkan sang nenek, berpegangan pada pundak lelakinya.

    Saya tak tahu pasti apa yang lintas dalam pikiran masing-masing. Yang saya lihat hanyalah ‘kesempurnaan’ cinta seorang manusia. Saya begitu terharu dan merasa tak akan mampu menaksir kedalaman cinta keduanya. Cinta yang bertahan hingga di usia senja. Saya hanya sanggup mereka-reka dialog seperti apa yang layak untuk adegan semenakjubkan ini. Begini:

    Si lelaki, dengan bahu kokoh dan lengannya yang perkasa, menawarkan rasa aman kepada isterinya. “Tenanglah, Sayang, tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi. Kau akan aman berada di sampingku. “

    Sementara si wanita, dengan kepasrahan seorang isteri, menyandarkan kepalanya di dada bidang itu, “Bawalah aku ke mana kau pergi, Kekasih! Sebab aku tahu, kaulah waliku di akhirat nanti. Bawalah, dan aku akan serta. Tak peduli sakit ini. Tak usah khawatir, sebab aku tak mengeluhkannya. Bukankah kita hanya semata berusaha mencari kesembuhan-Nya?”

    • * *

    Saya masih melihat-dan tak ingin melewatkannya-saat sang kakek menuntun isterinya menyeberang jalan. Ya, sementara banyak pasangan yang cintanya meredup saat memasuki usia kepala lima, atau malah jauh sebelumnya.

    Saya teringat bagaimana banyak pasangan, di hari tuanya memilih hidup terpisah. Bukan bercerai. Sang ibu mengikut tinggal di rumah anaknya, sedang si kakek di rumah anaknya yang lain. Kalaupun ada yang lebih ‘harmonis’ dari itu, tetap saja saya akan begitu sulit mendapatkan sepasang kakek-nenek membahasakan cinta dengan begitu romantis.

    Sayang, saya lupa tidak menanyakan nama keduanya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:48 am pada 6 March 2013 Permalink | Balas  

    RollFilm1Memutar Video Kehidupan

    Bisakah di Masjidil Haram memutar video…?

    Pak Imran, seorang jamaah dari Makassar, pernah bercerita tentang pengalaman ruhaninya ketika berada di dekat ka’bah. Sejak berangkat dari tanah air pak Imran sudah mempunyai pendirian, bahwa nanti sesampai di Mekah, khususnya ketika di masjidil Haram, ia tidak akan mencium hajar aswad seperti keinginan para jamaah haji pada umumnya.

    Entah apa yang menyebabkan pendiriannya semacam itu. Tetapi satu hal yang pak Imran inginkan yaitu bahwa ia ingin berdo’a senikmat mungkin di dinding Ka’bah. Yang disebut multazam! Keinginan tersebut rupanya sudah terpatri kuat-kuat dalam hatinya sejak pak Imran mengikuti manasik haji.

    Sesampai di Masjidil Haram, begitu pak Imran melihat setiap jamaah ternyata ingin mencium hajar aswad, hati pak Imran tetap tidak tergerak sedikit pun untuk menciumnya. Bahkan ketika ada seorang jamaah perempuan yang ingin mencium hajar aswad, pak Imran dengan gigihnya mengawal orang sebut dari kerumunan jama’ah lainnya. Dan akhirnya orang tersebut berhasil menciumnya. Maka dengan wajah sangat puas, orang tersebut mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga kepada pak Imran.

    Ternyata sudah ada beberapa orang yang tertolong oleh pak Imran berkaitan dengan masalah pencium hajar aswad. Keesokan harinya, pak Imran ternyata tergoda juga untuk ikut merasakan bagaimana rasanya bisa mencium batu hitam itu. Maka dengan teknik dan pengalaman yang ia miliki, ketika ia beberapa kali berhasil menolong orang lain, pak Imran mulai beraksi mendekati hajar aswad.

    Berdesak-desakan di antara kerumunan orang banyak, dan dengan teknik ‘canggih’ yang dimilikinya, pak Imran yang posisinya berada jauh dari ka’bah bisa berangsur-angsur bergerak mendekati hajar aswad. Akh, betapa gembiranya hati pak Imran.

    Dalam hati pak Imran cukup berbangga dengan caranya ia bisa mendekati hajar aswad di tengah keramaian yang luar biasa itu. Ketika dirinya tinggal meraih batu itu untuk diciumnya, ternyata pak Imran merasa kesulitan. Beberapa kali ia mental keluar lagi. Begitu sudah dekat mukanya ke batu tersebut, tinggal menciumnya saja, kembali ada semacam gelombang manusia yang menghantamnya, dan kembali ia terpental dan tidak berhasil untuk menciumnya. Sampai akhirnya pak Imran putus asa.

    Maka ia membiarkan saja ketika dirinya mengikuti putaran thawaf sampai akhirnya ia keluar dan menjauh dari hajar aswad yang ditujunya. Dan pak Imran pun hanya bisa mengeluh seorang diri:

    ” …Kenapa ya, kemarin begitu mudahnya aku menolong orang lain, bahkan beberapa orang bisa aku lindungi untuk membantu mereka bisa mencium hajar aswad. Tetapi sekarang ketika giliranku untuk menciumnya, begitu sulitnya aku mencapainya. Padahal tinggal sejengkal saja…. Tapi tetap saja aku gagal untuk menciumnya…”

    Akhirnya pak Imran merasa betul-betul gagal dalam upayanya mencium batu hitam yang terkenal dengan nama hajar aswad itu.

    Pada keesokan harinya, pak Imran sudah melupakan kejadian itu. Ia dan keluarganya menuju masjid untuk melakukan aktivitas rutin yang berupa thawaf maupun shalat di masjidil Haram.

    Ketika hari menjelang dhuhur, pak Imran mendapat tempat duduk di shaf yang agak dekat dengan ka’bah. Di tengah kerumunan jama’ah yang luar biasa banyaknya itu, pak Imran berusaha mendekati ka’bah. Ia tidak ambil peduli tentang kegagalannya mencium hajar aswad kemarin. Kini pak Imran terfokus ingin sekali mohon ampun atas segala kesalahannya, baik selama ia melakukan perjalanan musim haji ini, atau juga kesalahan masa lalunya.

    Pak Imran begitu gagal mencium hajar aswad kemarin, sudah merasa bahwa ada kesalahan yang besar yang ia lakukan. Yaitu ia telah merasa berbangga diri dapat menolong beberapa jamaah perempuan ketika ia di dekat hajar aswad. Ia merasa bahwa yang membuat beberapa orang tersebut bisa mencium hajar aswad karena berkat pertolongannya. Pak Imran kini merasa sadar. Bahwa semua peristiwa adalah karena Allah semata. Ia sungguh merasa salah. Maka ingin sekali pak Imran saat itu bertaubat, dan mohon ampun kepada Allah atas segala kekeliruannya.

    Tanpa disadarinya, pak Imran berjalan menuju ke arah ka’bah. Yaitu pada suatu area sempit, tetapi begitu banyaknya kerumunan para jama’ah di tempat itu. Pak Imran terus saja maju ke arah kerumunan para jamaah. Hatinya begitu ingin masuk ke dalam kerumunan itu.

    Ketika pak Imran sudah dekat dengan ka’bah, tiba-tiba kerumunan itu ‘membuka’ memberi jalan pada pak Imran. Maka dengan begitu mudahnya pak Imran masuk ke dalam berjubelnya para jamaah, dan iapun langsung menempelkan muka dan tangannya, dan juga seluruh tubuhnya di dinding ka’bah. Sambil tiada hentinya air matanya meleleh membasahi pipinya. Tak tahu apa yang diucapkannya.

    Yang jelas seluruh perasaannya tumpah bersama air matanya membasahi dinding ka’bah. Begitu nikmatnya pak Imran, seluruh persoalan hidupnya seolah tak ada lagi. Semua ia serahkan kepada Sang Penciptanya. Pak Imran pun tenggelam dalam dekapan Sang Kekasih.

    Ketika kutanyakan apa yang dirasakan saat itu, pak Imran hanya bisa menjawab :

    “… Saya barusan memutar video kehidupan saya. Saya melihat dengan jelas betapa banyaknya saya melakukan kesalahan dan kekeliruan. Bahkan saya merasa sering lupa mensyukuri nikmat Allah yang begitu banyak saya terima setiap harinya… Ah, betapa tidak adilnya saya. Allah begitu murahnya memberi apa saja untukku. Sementara aku begitu tak tahu diri. Kemurahan itu, aku tukar dengan pengabdian yang tidak semestinya….”

    Yang aneh, kata pak Imran :

    “…Begitu lamanya saya berada di Multazam. Padahal banyak sekali orang antri, dan banyak yang tidak mempunyai kesempatan meskipun hanya sesaat untuk sekedar berdo’a. Sementara saya bisa begitu lamanya melihat video kehidupan saya…”

    Ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan atau bahkan menjadikan kesimpulan pak Imran.

    Ternyata jika sejak awal hati itu sudah tidak ingin akan sesuatu, ada saja jalannya, sehingga keinginan yang muncul secara spontan, tidak akan tercapai. Karena tidak sesuai dengan maksud hati semula. Contohnya adalah ketika ia sudah sejak awal tidak ingin mencium hajar aswad, sampai berupaya semaksimum apa pun, tetap saja keinginan pak Imran itu tak terwujud. Bahkan ironisnya ia bisa menolong dan membantu beberapa jamaah yang ingin mencium hajar aswad, sampai mereka bisa melakukannya.

    Sebaliknya jika sejak awal hati sudah terfokus akan sesuatu, dan hati sudah begitu inginnya untuk menikmatinya, ada saja jalannya, maka dengan mudahnya akan terwujudlah keinginan itu. Contohnya adalah begitu mudahnya pak Imran meraih multazam. Bahkan ia bisa berlama-lama disitu.

    Menurut pak Imran begitu mudahnya ia mencapai maksud hatinya. Menurut kesimpulan pak Imran, hati memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyatnya. Bisa membuat sesuatu menjadi mudah. Juga bisa membuat sesuatu menjadi sulit. Bergantung bagaimana sikap hati kita.

    Ketika hati tak tergerak untuk mencium hajar maka dengan upaya apa pun tetap saja keinginan itu tak tercapai. Ketika hati sejak awal berangkat sudah dengan ikhlas berniat ingin berdo’a di multazam, maka begitu mudahnya mencapai keinginan itu.

    Bersabda Rasulullah saw :

    Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi Allah melihat langsung dan memperhatikan niat dan keikhlasan dalam hatimu.

    (HR. Muslim, dari Abu Hurairah)

     

    Oleh Sahabat: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:45 am pada 5 March 2013 Permalink | Balas  

    Febi-Ummu-Zaki_produktif3Febiana Kusuma Ariesta: Masuk Islam Setelah Meragukan Natal Yesus

    Ketika hidayah Ilahi datang tak ada kekuatan apapun yang mampu membendung. Potensi akal, kajian ilmiah dan perenungan yang mendalam, menyampaikannya pada hidayah Ilahi. Mantan guru Sekolah Minggu di gereja ini pun berikrar masuk Islam dan memilih jalan tauhid wal jihad. Dahsyatnya ujian dan musibah datang silih berganti, justru menambah kokohnya iman sang muallaf. Allahu Akbar!!!*

    Tiga puluh tiga tahun silam, Febiana Kusuma Ariesta dilahirkan dalam keluarga besar Kristen fanatik. Kakek dan neneknya adalah aktivis gereja. Bahkan ibunya seorang misionaris yang aktif menginjili hingga ke Nusakambangan.

    Dari keluarga aktivis di gereja itulah Febi mengenal Kristen hingga terdidik untuk menjadi aktivis gereja. Semasa kecil, ia beribadah di GPIB Cinere, ketika remaja ia pindah ke Gereja Alfa Omega di Semarang. Pada masa remaja, saat SMA Febi menjadi guru Sekolah Minggu di gereja.

    “Opung saya, laki-laki dan perempuan itu semua aktif di gereja. Dari merekalah saya mengenal Kristen dan aktif di gereja. Sejak saat itu saya mulai aktif di kegiatan gereja, saat natal itu ada drama dan paduan suara,” ujarnya kepada IDC Voa-Islam, Ahad lalu.

    Saat mengikuti drama Natal itulah imannya sedikit demi sedikit mulai goyah. Akal dan hati nuraninya tidak bisa menerima peringatan hari ulang tahun kelahiran Tuhan. Penelitiannya berlanjut ketika ia membaca kisah Natal dalam Alkitab (Bibel).

    …Saat mengikuti drama Natal imannya mulai goyah. Akal dan hati nuraninya tak bisa menerima peringatan hari ulang tahun kelahiran Tuhan…

    Dalam Injil Lukas pasal 2 diceritakan bahwa pada saat kelahiran Yesus, para penggembala ternak berada di padang Yudea.

    *“**Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di** **padang** **menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam”* (Lukas 2:8).

    Menurut ilmu meteorologi dan geofisika, keadaan cuaca di Timur Tengah pada tanggal 25 Desember dan sekitarnya, di wilayah Yudea daerah kelahiran Yesus, adalah musim salju yang sangat dingin. Mustahil para penggembala membawa ternaknya ke padang pada malam hari di musim salju yang sangat dingin?

    Febi menyimpulkan bahwa Yesus tidak mungkin lahir tanggal 25 Desember karena tidak sesuai dengan situasi kelahiran Yesus yang tercatat dalam Bibel.

    “Jadi buat saya ini tidak masuk akal. Sejak saat itu kehidupan saya mulai tidak tenang dan mulai mencari-cari keyakinan yang benar,” jelasnya.

    Dalam kegalauan iman, Febi berusaha lebih aktif ke gereja untuk mencari jawaban. Tapi yang ia dapatkan bukan ketenangan, malah merasakan banyak keganjilan.

    …Dalam kegalauan iman, semakin aktif ke gereja untuk mencari jawaban, yang ia dapatkan bukan ketenangan, malah merasakan banyak keganjilan…

    Sebelum dibabtis Febi mengikuti Katekisasi gereja untuk pendalaman iman. Saat belajar itu Febi makin menemukan banyak pertanyaan dan keraguan yang belum terjawab.

    Salah satu doktrin Kristen yang terasa ganjil di benaknya adalah inkarnasi Tuhan menjadi manusia Yesus untuk ditangkap, diolok-olok, disiksa, dicambuk, disesah, diludahi dan disalib hingga tewas mengenaskan di tiang salib (Markus 10:34).

    “Ini tidak masuk akal, kok ada Tuhan yang menjelma jadi manusia lalu disiksa dan disalib. Kalau Tuhan itu Maha Pengampun dan penuh Kasih, kenapa tidak dia ampuni saja dosa manusia tanpa prosedur sadis seperti itu?” ujarnya.

    Suatu hari Febi diajak keluarganya ke Yogyakarta untuk berziarah rohani di Gua Maria Lourdes. Di situ saya disuruh membaca Doa Bapa Kami: “Bapa kami yang di surga, dipermuliakanlah kiranya nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu, seperti di surga, demikian juga di atas bumi. Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Dan ampunilah kiranya kepada kami segala kesalahan kami, seperti kami ini sudah mengampuni orang yang berkesalahan kepada kami. Dan janganlah membawa kami kepada pencobaan, melainkan lepaskanlah kami daripada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.”

    Setelah merenungi Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus di Taman Getsemani dalam Injil Matius 6:9-13 ini, Febi makin ragu terhadap doktrin Trinitas.

    “Saya kemudian berpikir, sebenarnya Yesus itu siapa? Kok Yesus mengajarkan berdoa kepada Bapak yang ada di surga, Tuhan itu ada berapa?” kenangnya.

    Semakin mendalami Bibel, Febi semakin meragukan doktrin ketuhanan Yesus. Injil Matius 4:1-11 menceritakan bahwa Yesus dibawa Roh ke padang gurun untuk dicobai iblis. Febi semakin meragukan doktrin ketuhanan Yesus. Jika Yesus adalah Tuhan atau penjelmaan Tuhan, mengapa dia bisa dicobai iblis yang jahat? Ini bertentangan dengan Surat Yakobus 1:13, bahwa Tuhan tidak dapat dicobai oleh yang jahat.

    …Kalau Yesus itu Tuhan, kok bisa dia dicobai oleh iblis yang Dia ciptakan sendiri. Keyakinan saya bertambah bahwa agama Kristen ini tidak benar…

    “Bibel mengisahkan Yesus yang penjelmaan Tuhan itu dicobai iblis. Kalau dia Tuhan kok bisa dia dicobai oleh iblis yang Dia ciptakan sendiri. Itu yang membuat keyakinan saya bertambah bahwa agama Kristen ini tidak benar,” simpulnya.

    MENGENAL ISLAM DARI PEMBANTU

    Dalam kegalauan, Allah punya rencana lain, menuntun Febi kepada Islam melalui pembantu rumahnya. Suatu hari Febi melihat pembantunya wudhu dan menunaikan shalat dengan mengenakan mukena putih.

    “Kamu ngapain?” tanya Febi. “Sedang shalat dan berdoa,” jawab sang pembantu.

    “Lalu untuk apa kamu wudhu dulu sebelum shalat?” lanjut Febi. “Karena untuk menghadap Allah Yang Maha Suci kita harus bersih dan suci,” jelasnya.

    Rupanya dialog singkat itu sangat berkesan di hati Febi. Penjelasan sang pembantu itu bisa diterima logikanya. “Kalau mau bertemu orang penting seperti bos saja harus rapih dan bersih, masa mau menghadap Tuhan kita tidak bersih?” pikirnya.

    Sejak itulah Febi mulai membanding-bandingkan Islam dengan Kristen. Beberapa keunggulan Islam dalam benak Febi waktu itu adalah persamaan semua orang di rumah ibadah. Di masjid tidak ada perbedaan shaf antara orang kaya dan orang miskin. Tidak masalah bila konglomerat maupun pejabat shalat di belakang orang miskin. Sementara hal yang sama tidak pernah terjadi di gereja.

    Keistimewaan Islam lainnya, Al-Qur’an biasa dibaca sampai khatam dari surat Al-Fatihah yang pertama sampai ayat terakhir surat An-Nas. Sementara dalam kekristenan tidak ada tradisi membaca secara tuntas dari kitab Kejadian pasal satu sampai kitab Wahyu yang terakhir. “Kalau orang Islam baca Al-Qur’an itu dari awal sampai khatam tapi kalau di Kristen itu bacanya hanya sepenggal-sepenggal,” terangnya.

    …Keraguannya terhadap doktrin ketuhanan Yesus mulai terjawab. Dalam sebuah ayat Injil Yesus berterus terang bahwa dirinya adalah nabi utusan Allah…

    Umat Islam melaksanakan shalat Jum’at karena ada perintahnya dalam Al-Qur’an. Tapi umat Kristen beribadah pada hari Minggu, padahal dalam 10 Firman Bibel ada perintah menguduskan hari Sabat (Sabtu). “Sepuluh Titah Allah itu kan hal yang harus ditaati, salah satunya adalah diperintahkan agar menguduskan hari Sabat. Tapi kenapa orang Kristen itu ke gerejanya hari Minggu?” paparnya.

    Dalam pengembaraan iman itu, keraguan Febi terhadap doktrin ketuhanan Yesus mulai terjawab. Sebuah ayat Injil menjadi kelegaan imannya, di mana Yesus berterus terang bahwa dirinya adalah nabi utusan Allah.

    Dalam Injil Yohanes 12:49 Yesus berkata: “Sebab aku berkata-kata bukan dari diriku sendiri, tetapi Bapa yang mengutus aku, Dialah yang memerintahkan aku untuk mengatakan apa yang harus aku katakan dan aku sampaikan.”

    “Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa Yesus itu adalah utusan Allah,” ujarnya.

    Setamat SMA Febi melanjutkan pendidikan ke Universitas Indonesia (FISIP UI). Di awal kuliah, ia tak bisa mememdam kerinduannya untuk memeluk agama yang benar. Pada tahun 1997 ia pun memutuskan untuk hijrah menjadi pemeluk Islam. Secara formalitas, ia mengikrarkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur pada tahun 1998.

    Setelah masuk Islam, Febi sangat menikmati hidup baru dan ibadahnya, meski masih tinggal satu atap dengan kedua orang tua yang beda akidah. Suatu hari, tanpa sengaja Febi shalat di kamarnya tanpa mengunci pintu. * Qadarullah*, ketika sedang khusyuk shalat ayahnya masuk kamar. Febi pun disidang oleh keluarga.

    …Kalau kamu masuk Islam silakan keluar dari sini. Buat papa tidak masalah kehilangan anak satu, buat papa agama itu prinsip…

    “Kalau kamu masuk Islam silakan keluar dari sini. Buat papa tidak masalah kehilangan anak satu, buat papa agama itu prinsip,” ancam sang ayah.

    Tak gentar dengan ancaman ayahnya, Febi pun angkat kaki dari rumah tanpa membawa perbekalan apapun. Tak ada bekal pakaian, perhiasan maupun uang yang dibawanya, karena semua ditahan ayahnya. Febi meninggalkan rumah hanya dengan sehelai pakaian yang melekat di badan. Febi memilih pergi kepada kerabat jauh yang beragama Islam.

    DIJEBAK MASUK KRISTEN DAN DIPAKSA MAKAN BABI

    Setahun kemudian, tepatnya 1999 Febi menikah dengan pria yang diharapkan bisa membimbing dan menjaganya dalam berislam secara kaffah. Celakanya, Febi salah memilih suami yang diidam-idamkan. Sang suami ber-KTP Islam yang menjadi pendamping hidupnya ternyata seorang pemuja kemusyrikan. Amaliah ibadahnya adalah menyembah Nyai Roro Kidul dan hal-hal beraroma mistis lainnya.

    Aktivitas kemusyrikan ini pun memicu perceraian Febi dengan suaminya. Febi bercerai dengan suaminya setelah dikaruniai seorang anak: Aufa Jhose Zaqi Nugraha. Untuk menafkahi dan membiayai sekolah anaknya, Febi bekerja sebagai pembantu rumah tangga selama 1,5 tahun di Pekanbaru, lalu menjadi pembantu Restoran di Bogor.

    Suatu hari di tahun 2010, Febi mendapat panggilan dari ibunya di Semarang, katanya sedang ada masalah dan minta Febi pulang untuk ikut membantu menyelesaikan masalah. Tanpa pikir panjang, Febi pun meluncur bersama Zaqi ke Semarang memenuhi panggilan ibunya.

    …Febi dikelilingi oleh pendeta dan anggota Komsel. Sambil berkomat kamit doa dalam nama Yesus, sang pendeta memegang kepalanya…

    Sesampai di rumah, ternyata Febi dijebak untuk dipaksa masuk Kristen lagi. Di sana ia disambut oleh pendeta dan para aktivis Kristen yang tergabung dalam Komunitas Sel (Komsel) gereja. Disaksikan Zaqi, Febi dikelilingi oleh pendeta dan anggota Komsel. Sambil berkomat kamit doa dalam nama Yesus, sang pendeta memegang kepala Febi, sementara jemaat lainnya memegang badannya supaya tidak berontak.

    Sang pendeta meneriakkan nama Yesus untuk mengusir roh jahat yang dianggap bersarang dalam diri Febi. Sejurus kemudian ia membisikkan ke telinga Febi dengan setengah memaksa agar mau mengucapkan kalimat untuk menerima Yesus sebagai tuhan dan juruselamat penebus dosa.

    Febi yang sudah tidak berdaya melawan tak bisa berbuat banyak. Tapi Allah memberikan karomah sehingga mulutnya terkunci rapat tak bisa berkata sepatah kata pun.

    “Itu yang membuat saya heran. Saya yakin itu adalah kuasa Allah. Mulut saya tidak bisa terbuka. Demi Allah waktu itu mulut saya seperti terkunci. Saya waktu itu hanya bisa nangis,” kenangnya.

    Seluruh jemaat yang hadir pun tak kehabisan akal. Mereka memaksa Febi makan daging babi sebagai simbol bahwa ia menentang ajaran Islam yang mengharamkan babi. Pada hari itu tak ada menu makanan apapun selain babi.

    …Mereka memaksa Febi makan daging babi sebagai simbol bahwa ia menentang ajaran Islam yang mengharamkan babi…

    Gagal memaksa Febi, Zaqi pun menjadi sasaran kristenisasi oleh neneknya. Ia diajak berdoa bersama dengan cara menirukan doa neneknya yang misionaris itu. Tapi dengan tegas Zaqi menolaknya. “Oma silakan doa sama Yesus, tapi Zaqi mau berdoa sama Allah saja,” ujarnya polos.

    Akhirnya keberanian Febi pun tersulut hingga lahirlah pertengkaran hebat antara Febi dan ibunya. “Mama, saya sayang sama mama tetapi saya lebih sayang sama Allah!” ujar Febi.

    Tak mau kalah, karena malu di hadapan jemaat Komsel gereja, sang ibu pun berteriak menghardiknya. “Pergi kau dari sini, kau tidak sayang sama mama dan kau bukan anak mama lagi!” bentaknya.

    Usai insiden itu, Febi pindah ke Bogor, menikah dengan seorang ikhwan aktivis Islam. Tinggal di rumah petak yang sangat minimalis, Febi merajut rumah tangga bahagia meski serba kekurangan. Berbagai ujian dan musibah datang silih berganti, namun Febi tetap tegar di jalan tauhid dan jihad.

    Betapapun berat ujian yang menimpanya, Febi tak bergeming dari Islam. Tak ada penyesalan apapun hijrah kepada tauhid. “Allah itu Maha Besar. Apa yang menurut manusia tidak bisa terjadi menurut Allah segala hal bisa saja terjadi. Islam itu indah buat saya sekalipun ujiannya berat,” tutupnya. [bornaskopen, ahmed widad, n'mux]

    ***

    Sumber : http://www.voa-islam.com

     
    • Eka Herlina 4:56 am pada 12 Maret 2013 Permalink

      Saya berpkiran sm tentang apa yg dituliskan didlm bacaan ini.saya adalah seorang yg beragama hindu masuk kristen karena swami penganut agama itu.banyak pertanyaan2 saya tentng cara ibdh mereka dan saya membandingkannya denga agama islam.saya mohon bimbingannya lebih lanjut!

  • erva kurniawan 1:36 am pada 4 March 2013 Permalink | Balas  

    allahKisah Perdebatan A. Hassan Dengan Tokoh Atheis

    Oleh: Artawijaya

    Editor Pustaka Al Kautsar

    Gedung milik organisasi Al-Irsyad, Surabaya, hari itu penuh sesat dipadati massa. Almanak menunjukkan tahun 1955. Kota Surabaya yang panas, serasa makin panas dengan dilangsungkannya debat terbuka antara Muhammad Ahsan, seorang atheis yang berasal dari Malang, dengan Tuan A. Hassan, guru Pesantren Persatuan Islam, Bangil. Meski namanya berbau Islam, Muhammad Ahsan adalah orang atheis yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, dan tidak pula meyakini bahwa alam semesta ini ada Yang Maha Mengaturnya. Ia juga menyatakan manusia berasal dari kera, bukan dari tanah sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an.

    Menurut keterangan Ustadz Abdul Jabbar, guru Pesantren Persis, yang menyaksikan perdebatan itu, hadirin yang datang cukup membludak. Lebih dari ratusan massa datang berkumpul, mengular sampai ke luar gedung. Mereka mengganggap perdebatan ini penting, karena Muhammad Ahsan, telah secara terbuka di Surat Kabar Harian Rakyat, 9 Agustus 1955, meragukan keberadaan Tuhan. Ia juga menolak keyakinan Islam bahwa orang yang berbuat kebaikan di dunia, akan dibalas di akhirat kelak. Ahsan berkeyakinan, segala sesuatu tercipta melalui evolusi alam, dan akan musnah dengan hukum alam juga. Dalam surat kabar itu, ia menyatakan lugas, “Pencipta itu mestinya berbentuk. Tidak mungkin suatu pencipta tidak berbentuk, “tulisnya.

    Atas pernyataan itu, Hasan Aidit, Ketua Front Anti Komunis, menghubungi A. Hassan agar bersedia bertukar pikiran dengan tokoh atheis itu. Sebelumnya, Hasan Aidit dan Bey Arifin sudah melayangkan tantangan debat di forum Study Club Surabaya pada 12 Agustus 1955, namun rencana itu gagal. Ia kemudian menyusun rencana agar Ahsan yang atheis itu dipertemukan dengan A. Hassan, sosok yang dikenal ahli dalam berdebat soal-soal keislaman. A. Hassan dan Muhammad Ahsan bersedia bertemu di forum terbuka.

    Singkat kata, perdebatan terbuka benar-benar terjadi. Karena dikhawatirkan akan berlangsung panas, maka panitia memberikan beberapa peraturan kepada hadirin yang datang menyaksikan. Hadirin tak boleh bertepuk tangan, tidak boleh bersorak sorai, tidak boleh saling berbicara, tidak menampakkan gerak-gerik yang merendahkan salah seorang pembicara, dan tidak boleh mengganggu ketentraman selama berlangsungnya perdebatan.

    Sementara untuk orang yang berdebat dibuat aturan pula. Masing-masing berdiri di satu podium dan diberi mikrophone, kemudian saling bertukar pertanyaan dan jawaban. Sementara pimpinan acara, yaitu Hasan Aidit, duduk di sebuah meja didampingi seorang sekretaris untuk mencatat jalannya perdebatan. Tugas pimpinan acara adalah mengatur jalannya perdebatan, dan menegur siapa saja yang melanggar aturan.

    Setelah dibuka dengan ceramah dari KH. Muhammad Isa Anshary, tokoh Persatuan Islam yang juga petinggi Partai Masyumi, acara pun di mulai. Perdebatan berlangsung dalam format tanya jawab dan saling menyanggah pendapat yang diajukan.

    Berikut point-point penting dari ringkasan perdebatan itu. Tokoh atheis Muhammad Ahsan akan disingkat menjadi (MA), sedangkan A. Hassan disingkat menjadi (AH):

    A.H: Saya berpendirian ada Tuhan. Buat membuktikan keadaan sesuatu, ada beberapa macam cara; dengan panca indera, dengan perhitungan, dengan kepercayaan yang berdasar perhitungan, dengan penetapan akal. Makatentang membuktikan adanya Tuhan, tuan mau cara yang mana? M.A: Saya mau dibuktikan adanya Tuhan dengan panca indera dan perhitungan dan berbentuk. Karena tiap-tiap yang berbentuk, seperti kita semua, mestinya dijadikan oleh yang berbentuk juga.

    A.H: Tidak bisa dibuktikan Tuhan dengan panca indera, karena ada banyakperkara yang kita akui adanya, tetapi tidak dapat dibuktikan dengan panca indera..

    M.A: Seperti apa?

    A.H: Tuan ada punya akal, fikiran, dan kemauan? M.A : Ada

    A.H : Bisakan tuan membuktikan dengan panca indera?

    M.A: Tidak bisa

    A.H: Bukan suatu undang-undang ilmi (ilmiah) dan bukan aqli bahwa tiap-tiapsatu yang berbentuk itu penciptanya mesti berbentuk juga. Ada banyakperkara, yang tidak berbentuk dibikin oleh yang berbentuk.

    M.A: Seperti apa?

    A.H : Saya berkata-kata, perkataan saya tidak berbentuk sedang saya sendiriyang menciptakannya berbentuk. Bom atom berbentuk dan bisa menghancurkan semua yang berbentuk di sekelilingnya, sedang akal yang membikinnya tidakberbentuk. Kekuatan elektrik (listrik) tidak berbentuk, tetapi bisa menghapuskan dan melebur semua yang berbentuk. Jadi, buat mengetahui sesuatu, tidak selamanya dapat dengan panca indera. Dan pencipta sesuatu yang berbentuk, tidak selalu mesti berbentuk.

    • * *

    A.H: Di dalam dunia ini adakah negeri yang dinamai London, Washington, danMoskow?

    M.A: Ada

    A.H: Apakah tuan sudah pernah ke negeri-negeri itu?

    M.A: Belum

    A.H: Maka dari manakah tuan tahu adanya negeri itu?

    M.A: Dari orang-orang

    A.H: Bisa jadi diantara orang-orang itu ada yang belum pernah kesana.Walaupun bagaimanapun keadaannya, buat tuan, adanya negeri- negeri itu, hanya dengan perantaraan percaya, bukan dengan panca indera.

    M.A: Ya, memang begitu.

    A.H: Dari pembicaraan kita, ternyata ada terlalu banyak perkara yang kitaterima dan akui adanya semata-mata dengan kepercayaan danperhitungan, bukan dengan panca indera.

    M.A: Ya memang begitu

    A.H: Oleh itu, tentang adanya Tuhan, tidak usah kita minta bukti dengan pancaindera, tetapi cukup dengan perhitungan dan pertimbangan akal, sebagaimana kita akui adanya ruh, akal, kemauan, fikiran, percintaan,kebenciaan, dan lain-lain.

    M.A: Ya, saya terima.

    A.H: Bila tuan tidak ber-Tuhan, tentulah tidak beragama. Dari itu semua, baikdan jahat tentunya tuan timbang dengan fikiran dan akal. Maka menurutfikiran, apakah tuan merasa perlu ada keadilan dan keadilan itu perludibela hingga tidak tersia-sia?

    M.A: Ya, perlu ada keadilan dan perlu dibela

    A.H: Apakah tuan makan benda berjiwa?

    M.A: Kalau binatang yang sedang berjiwa saya tidak makan

    A.H: Saya tidak maksudkan binatang yang sedang hidup, tetapi daging binatang-binatang: Sapi dan kambing yang dijual dipasar.

    M.A: Ya, saya makan

    A.H: Itu berarti tidak adil, tuan zalim

    M.A: Mengapa tuan berkata begitu?

    A.H: Karena menyembelih binatang itu, menurut fikiran satu kesalahan dan Kezaliman M.A: Saya tidak bunuh binatang-binatang itu, tetapi penjualnya

    A.H : Kalau tuan tidak makan dagingnya, tentu orang-orang tidak sembelih binatangnya. Jadi, tuan adalah seorang dari yang menyebabkan binatang-binatang itu disembelih. Baiklah kita teruskan, apa tuan berbuat (lakukan)kalau tuan digigit nyamuk?

    M.A: Saya bunuh

    A.H: Bukankah itu satu kezaliman?

    M.A: Saya bunuh nyamuk itu lantaran ia gigit saya

    A.H: Menurut keadilan fikiran, jika nyamuk gigit tuan, mestinya tuan balas gigit dia. Balas dengan membunuh itu tidak adil.(tuan M.A tertawa dan hadirin bertepuk tangan. Padahal dalam kesepakatan debat, ini dilarang)

    • * *

    A.H: Tuan ada menulis di “Suara Rakyat” tanggal 9 Agustus 1955 tentang seorang yang keluar buntutnya dan terus memanjang, lalu ia minta pada Rumah Sakit Malang supaya dipotong dan dihilangkan. Karena semakin panjang, semakin menyakitkan. Apakah (dengan tulisan itu) tuan bermaksud dengan itu bahwa manusia berasal dari monyet?

    M.A: Ya, betul

    A.H: Apakah tuan menganggap bahwa buntut orang itu kalau tidak dibuang dan terus memanjang, niscaya dia jadi monyet?

    M.A: Ya, betul begitu

    A.H: Jika demikian berarti monyet berasal dari manusia, bukan manusia berasal dari monyet.(Tuan M.A tertawa, hadirin juga terbahak dan bertepuk tangan, lupa dengan peraturan majelis)

    Perdebatan sengit yang akhirnya diselingi derai tawa dan tepuk tangan karena keahlian A. Hassan yang mampu mematahkan argumen dengan gaya yang santai, lucu, dan ilmiah, ini dikenang sepanjang massa sebagai debat terbaik A. Hassan dengan tokoh atheis tersebut. Perdebatan ini sendiri berlangsung dua kali. Debat pertama berlangsung selama dua setengah jam, dan berakhir dengan pernyataan Ahsan menerima apa yang disampaikan oleh A. Hassan. Ia menyatakan menerima dan kembali pada Islam. Namun dalam pertemuan pertama, A. Hassan meminta Ahsan untuk berpikir dulu, sebelum menerima apa yang disampaikan. Akhirnya pada pertemuan kedua yang berlangsung selama dua jam, Ahsan benar-benar menerima dalil-dalil dan argumentasi yang disampaikan A. Hassan. Tokoh atheis itu akhirnya kembali ke pangkuan Islam. Kisah perdebatan antara A. Hassan dengan tokoh atheis ini kemudian didokumentasikan dalam sebuah buku oleh A. Hassan dengan judul, “Adakah Tuhan?”

    Kini, tradisi meluruskan kekeliruan dan kesesatan dengan cara mengajak bertukar pikiran dalam debat terbuka harus kembali digalakkan. Tujuannya, agar umat bisa tahu, mana yang keliru dan mana yang benar. Yang terpenting, jangan jadikan debat sebagai ajang untuk menghina dan mencaci maki lawan.

    ***

    Sumber : islampos.com

     
    • achmad usman 10:50 am pada 5 Maret 2013 Permalink

      orang atheis : tdk percaya Alllah ( Allah GAIB ) , segala sesuatu hrs bisa dinalar dgn akal , men TUHAN kan AKAL , apapun yg tdk bisa dicerna akal dianggap mustahil , mereka lupa bahwa akal sangat terbatas kemampuannya , akal lah yg dianggap tuhan oleh atheis / pendapat manusia berasal dari kera ,itu teori darwin , darwin yahudi tulen , ingin membantah se olah manusia pertama bukan nabi ADAM, tapi kera , maksutnya ingin “melemahkan” isi alquran bahwa Adam manusia pertama , tapi kera…tapi teori darwin terbantahkan , sejak ahli anatomi manusia di inggris menyatakan bahwa kepala manusia pada tubuh kera itu ( kera yg diyakini asal manusia ) di meseum inggis yg tersimpan ratusan tahun , ternyata kepala manusia itu hasil cangkokon yg canggih , artinya tubuh kera di cangkok kepala manusia yg sudah mati.

  • erva kurniawan 1:24 am pada 3 March 2013 Permalink | Balas  

    Mati saat SujudSujud Terakhir

    Shaf pertama penuh berdesak-desakan. Habib Abdulqadir bin Abdurrahman as-Saqqaf mengisyaratkan kepada habib Najib bin Taha as-Saqqaf agar maju ke shaf pertama di belakang beliau.

    Melihat shaf pertama yang telah penuh berdesak-desakkan itu habib Najib bin Taha berkata, “Shaf pertama telah penuh, wahai habib.”

    Mendengar jawaban itu habib Abdulqadir menjawab dengan penuh kewibawaan, “Wahai anakku, majulah, kau tak mengetahui maksudku!”

    Jawaban itu menjadikan habib Najib bin Taha spontan maju ke shaf pertama, walaupun harus memaksakan diri mendesak shaf yang telah penuh itu.

    “Allaahu akbar”. Shalat jumat mulai didirikan. Habib Abdulqadir membaca surat al-Fatihah, lalu membaca surat setelahnya dalam keadaan menangis.Di rakaat kedua pada sujud terakhir, beliau tak kunjung bangkit dari sujudnya. Suara nafasnya terdengar dari speaker masjid.

    Karena sujud itu sudah sangat lama, maka habib Najib bin Taha memberanikan diri untuk menggantikan beliau. “Allaahu akbar”, Ucapan salam untuk mengakhiri shalat diucapkan.

    Para jamaah berhamburan lari ke depan ingin mengetahui apa yang terjadi pada habib Abdulqadir. Saat itu mereka mendapati habib Abdulqadir tetap dalam keadaan sujud tak bergerak. Lalu tubuh yang bersujud itu dibalik oleh para jamaah, dan terlihatlah wajah habib Abdulqadir. Maasya-allaah, setiap orang yang melihat wajah beliau, menitikkan air mata. Bagaimana tidak menitikkan air mata? Mereka melihat wajah habib Abdulqadir tersenyum dengan jelas sekali. Tersenyum bahagia.

    Habib Abdulqadir wafat dalam keadaan menikmati amal yang terindah. Di saat melakukan ibadah yang teragung yaitu shalat. Mendirikan shalat itu dalam kondisi yang terutama, yaitu shalat berjamaah. Melakukan shalat yang bermuatan besar, yaitu shalat jumat. Pada saat melaksanakan rukun shalat yang terutama, yaitu sujud. Dalam posisi yang terpenting, yaitu sebagai imam shalat jumat. Di tempat yang paling utama, yaitu masjid. Di hari yang paling utama, yaitu hari jumat.

    ***

    husi – N – abil

     
  • erva kurniawan 1:48 am pada 2 March 2013 Permalink | Balas  

    Tawaf&Ka'bahShalat Subuh dengan Wudhu Isya

    Mengapa seseorang mampu melakukan shalat subuh,

    dengan menggunakan wudhu’ Isya’nya…?

    Pak Imam adalah salah satu jama’ah haji yang aku kunjungi ketika ia pulang dari ibadah haji. Ada sesuatu yang nampak aneh dalam pandanganku terhadap diri pak Imam ini. Ketika berangkat dahulu pak Imam adalah seorang jama’ah yang biasa-biasa saja, tak ada keistimewaan apa pun dalam pandanganku. Tetapi kurang lebih empat puluh hari aku tidak bertemu, kini wajahnya tampak beda. Ada semacam aura yang menyejukkan hati, sehingga membuat orang yang memandangnya menjadi kerasan dan menjadi senang.

    Ketika aku minta oleh-oleh cerita dari pengalamannya ketika di tanah haram, ada sesuatu yang menurutku sangat menarik dan patut untuk direnungkan.

    “Ketika saya di sana, saya menggunakan aji mumpung..,” katanya.

    “Karena sangat sulit untuk bisa ke sana lagi. Di samping biayanya tambah lama menjadi tambah mahal, kesempatan dan kesehatan juga belum tentu bisa menunjangnya.” lanjutnya.

    “Karena itulah, saya menggunakan kesempatan yang ada itu, untuk beribadah semaksimal mungkin yang saya bisa.”

    “Suatu saat, ketika saya ke masjid untuk melakukan shalat isya, ketika mau pulang, sandal saya nggak ketemu. Saya cari kemana-mana, tetap saja tidak ketemu. Padahal sandal itu saya bawa ke dekat tempat saya melakukan shalat…”

    “Karena nggak ada sandal, maka saya putuskan malam itu saya tidak pulang ke hotel, tetapi saya ingin beribadah sebaik-baiknya di malam itu.”

    Maka sejak waktu shalat isya’, saya terus melakukan aktivitas ibadah dengan konsentrasi sebaik-baiknya.”

    “Setelah melakukan shalat isya’ berjamaah, seperti biasanya saya melakukan shalat sunah. Selanjutnya saya membaca Al-Qur’an sebisa saya. Begitu terasa capek, saya pun kembali melakukan shalat sunah lagi. Tiba-tiba terfikir saat itu, bahwa saya ingin shalat di setiap penjuru ka’bah. Maka saya pun shalat dua rakaat berturut-turut berputar ke arah kanan mengelilingi ka’bah. Hal itu terus saya lakukan sampai akhirnya saya kembali pada posisi saya ketika pertama kali melakukan shalat isya’.

    Entah berapa kali dan berapa rakaat saya melakukan shalat-shalat itu. Tanpa terasa tiba-tiba terdengar suara bilal yang sudah mengumandangkan adzan subuh…”

    ” Saya terkejut sekali! Betapa cepatnya waktu satu malam. Sejak waktu isya’ sampai dengan adzan subuh seolah-olah hanya sebentar saja..begitu cepatnya waktu berlalu.”

    “Yang saya sendiri menjadi heran adalah, bahwa saya semalaman insya Allah tidak batal wudhu’ sehingga terus saja melakukan aktivitas di dalam masjid. Ya shalat, ya baca Al-Qur’an…. Dan tiba-tiba waktu subuh pun telah masuk. Barulah kemudian saya pergi ke kamar mandi untuk memperbarui wudhu’ saya, serta untuk keperluan lainnya..”

    Aku pulang dari rumah pak Imam sambil merenung mendengar ceritanya yang cukup unik itu. “Sungguh hebat pak Imam,” kataku dalam hati. Sampai Allah memberlakukan relativitas waktu bagi dirinya. Waktu yang panjang seolah menjadi pendek. Berkat kekhusyu’annya, ia bisa melakukannya dengan ringan dan enak, tidak merasa berat. Bahkan semua itu secara tidak sadar ia lakukan dengan wudhu’nya shalat isya’. Sungguh benar firman Allah! orang yang khusyu’ akan merasa ringan dalam menjalankan aktivitasnya.

    QS. Al-Baqarah (2) : 45

    Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.

    Mungkin demikian pula halnya dengan orang-orang yang khusyu’ dalam hidupnya. Waktu dunia yang cukup lama, misalnya: enam puluh tahun, tujuh puluh tahun, delapan puluh tahun atau bahkan lebih, dalam diri orang yang khusyu’ menjadi terasa sebentar saja. Karena ia sibuk untuk berbuat kebajikan. Sibuk untuk mengabdikan dirinya, agar seluruh aktivitas hidupnya selalu mempunyai nilai ibadah di hadapan Allah Swt.

    QS. Thaha (20) : 104

    Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: “”Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sehari saja.”

    ***

    Oleh Sahabat: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:16 am pada 1 March 2013 Permalink | Balas  

    quranKisah Nyata Karomah: Kulit anggota tubuh yang dibasuh air wudhu berubah warna menjadi putih

    Syahid ketika diserang pasukan Kroasia di Bosnia pada tahun 1993. Berumur pertengahan dua puluhan. Kisah dari orang pertama.

    Seorang pemain bola tangan, ia adalah anggota tim nasional bola tangan Qatar. Ia datang ke Bosnia pada akhir 1992. Abu Khalid menyukai tugas jaga (ribath), ia biasa mengambil tugas jaga double shift selama empat jam di tengah cuaca yang dingin.

    Abu Khalid seorang mujahid yang sangat tawadhu dan shalih. Kulitnya hitam karena ia

    keturunan negro, namun para mujahidin melihat nur (cahaya) pada wajahnya. Ada dua

    buah tanda bekas sujud di keningnya akibat lamanya ia bersujud dalam shalat malamnya yang panjang.

    Suatu hari ia pernah ditanya, “Kapan engkau akan kembali ke negaramu, Abu Khalid?” Abu Khalid menjawab, “Saya ingin syahid di sini.”

    Abu Khalid pernah berkata pada seorang mujahid, “Dulu ketika di Qatar, saya telah membeli pakaian tempur untuk pergi dan berperang di Afghanistan, tetapi ibu saya mencegah kepergian saya. Tetapi insya-Allah, kali ini, dengan pakaian tempur yang sama, saya akan syahid di Bosnia.”

    Sebelum sebuah operasi melawan Kroasia, saat menerima pembagian kelompok oleh Amir, ia berbisik pada seorang mujahid di sampingnya, “Insya-Alllah, kali ini ALLAH akan mengambil saya menjadi seorang syahid.”

    Kemudian ia melakukan perjalanan dengan mobil bersama lima orang mujahidin lainnya,

    salah satunya adalah Wahiuddin al-Misri, Amir Mujahidin (semoga Allah meridhainya).

    Mereka tersesat dan masuk sejauh 7 kilometer ke dalam wilayah musuh. Pasukan Kroasia menembaki mereka dengan senjata anti pesawat hingga mobil mereka terpental 6 meter ke udara. Semua mujahidin di dalamnya keluar dan bertempur hingga syahid.

    Dua bulan kemudian, saat jenazah mereka dikembalikan, para mujahidin dapat mengenali mereka, kecuali jenazah Abu Khalid Al-Qatari. Jenderal Bosnia yang mengantarkan para jenazah mengeluarkan jenazah yang terakhir, jenazah itu berkulit putih dan wajahnya juga berwarna putih. “Ini saudara kalian yang terakhir.”

    Para mujahidin mengatakan, “Ini bukan saudara kami, saudara kami punya kulit yang hitam.”

    Kemudian para mujahidin memeriksa lebih lanjut jenazah itu. Mereka membuka bajunya

    dan menemukan bahwa dari bagian leher ke bawah, kulit jenazah itu berwarna hitam.

    Kemudian mereka membuka lengan bajunya dan menemukan bahwa dari siku ke atas, kulit jenazah itu berwarna hitam, sedangkan pada bagian lengan dan tangannya berwarna putih.

    Kemudian mereka menggulung celana panjangnya, dan menemukan bahwa kakinya

    berkulit putih, namun dari tumit ke atas berwarna hitam.

    Salah satu mujahid yang menyaksikan berkomentar, bahwa sesuai dengan hadits Rasulullah SAW tentang ciri-ciri orang beriman pada hari kiamat ialah bahwa anggota tubuh mereka yang dibasuh air wudhu akan bercahaya. Demikianlah yang terjadi pada jenazah Abu Khalid al-Qatari, semoga Allah SWT menerimanya di antara para syuhada.

    “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada Hari Kiamat dalam keadaan bercahaya

    wajahnya dan amat putih bersih tubuhnya oleh sebab bekas-bekas wudhu. Oleh itu,

    barang siapa di antara kamu hendak memperpanjangkannya (menambah cahaya),

    maka baiklah dia melakukannya dengan sempurna.” (Hadis riwayat Bukhari dan

    Muslim)

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorang pun dari umatku kecuali aku mengenalnya pada hari kiamat kelak.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulallah, bagaimana anda mengenali mereka di tengah banyaknya makhluk?” Beliau menjawab, “Tidakkah kamu lihat, jika di antara sekumpulan kuda yang berwarna hitam terdapat seekor kuda yang berwarna putih di dahi dan kakinya? Bukankah kamu dapat mengenalinya?” “Ya”, jawab shahabat. “Sesungguhnya pada hari itu umatku memancarkan cahaya putih dari wajahnya bekas sujud dan bekas air wudhu’. (HR Ahmad dan Tirmizy)

    ***

    Dikutip dari buku “Biografi dan Karomah Syuhada Jihad Bosnia (Kisah Nyata)”

     
  • erva kurniawan 1:58 am pada 27 February 2013 Permalink | Balas  

    sandal-jepit-butut0-700816Misteri Sandal Japit

    Sandal japit selalu menjadi cerita primadona, ada apa…?

    Sebagaian besar para jama’ah yang pulang dari haji, sering bercerita tentang sandal japit mereka. Hal ini sudah sejak puluhan tahun yang lalu. Apakah hal ini terpengaruh oleh cerita jama’ah haji sebelumnya, ataukah tidak. Tetapi yang jelas setiap kita mengunjungi jama’ah haji yang baru pulang dari ibadahnya, selalu ada cerita tentang sandal japit.

    Pak Adi misalnya, ia sejak berangkat dari tanah air membawa sandal japit sebanyak lima pasang. Ketika seorang temannya bertanya mengapa membawa sebanyak itu, ia hanya tertawa saja, sambil ganti bertanya setengah mengolok temannya:

    “Apa kamu tidak pernah tahu cerita orang-orang haji sebelumnya? Kalau kamu tahu pasti kamu akan membeli dan mempersiapkan sandal lebih banyak dari saya!” katanya. Sang teman pun hanya geleng kepala saja sambil pergi.

    Ketika pak Adi pulang dari ibadah haji, Ia kembali bercerita tentang sandal japitnya. Ternyata benar ‘firasat’nya! Lima pasang sandal yang ia persiapkan dari rumah, di kota Mekah hanya bisa ‘bertahan’ lima hari saja. Setiap hari ia kehilangan sandal japitnya. Selalu lupa di mana menaruh sandalnya tersebut. Sehingga pada hari yang ke enam ia membeli lagi sandal di kota mekah untuk kesehariannya. Dan anehnya sandal yang ia beli tersebut bertahan sampai ia selesai melakukan ibadah di kota Mekah.

    Pak Santo, adalah teman pak Adi. Mereka bekerja pada kantor yang sama. Tetapi karena pak Santo mengikuti rombongan yang berbeda, mereka tidak berada pada kloter yang sama. Meskipun mereka berbeda hotel dan berbeda kloter, ternyata pada hari yang ke enam, mereka bertemu di masjidil Haram. Betapa senangnya mereka. Maka sambil bercerita pengalamannya, mereka pulang ke hotel masing-masing sambil jalan bersama-bersama.

    Pak Adi membuka pembicaraan :

    “Wah, sandal yang kupersiapkan lima pasang dari rumah itu, ternyata sekarang sudah ‘habis’. Setiap hari aku selalu lupa di mana aku menaruhnya. Padahal pintu mana ketika aku memasuki masjid sudah aku ingat-ingat. Tetapi tetap saja sandal yang aku letakkan di tempat yang cukup aman itu ternyata hilang.”

    ” Oh, kalau masalah itu saya tahu betul. Pak Adi kan memang orang yang pelupa, iya toh?” Kata pak Santo.

    ” …nggak heran saya, kalau sandal pak Adi selalu hilang. Kadang kunci mobil yang jelas-jelas baru ditaruh di atas meja kantor beberapa saat saja, pak Adi sudah lupa…!” sambung Pak Santo.

    “…untung saja, saya ditakdirkan menjadi orang yang gampang ingat. Tidak pelupa…ha ha ha… Sejak saya datang di kota Mekah ini, sandal yang saya pakai, ya ini pak! lumayan-lah agak ngirit he he” kata Pak Santo.

    “Baiklah pak, kita berpisah di sini ya. Kan hotel kita berbeda. Besok subuh kita ketemu di dekat sumur zam-zam ya…” kata pak Adi

    “Ok. pak, assalamu’alaikum…” sahut pak Santo sambil menyeberang jalan menuju hotelnya.

    Keesokan paginya, ketika mereka di dalam masjid, ternyata mereka berdua tidak bisa bertemu seperti maksud mereka sebelumnya, karena jama’ah begitu penuh. Maka pak Adi pun tidak berusaha mencari pak Santo lagi. Sekitar jam delapan pagi pak Adi pulang menuju hotelnya, bersama-sama dengan jama’ah rombongannya.

    Ketika pak Adi berjalan, sudah sekitar lima puluh meter dari pintu masjid, ia melihat pak Santo berdiri di dekat salah satu pintu masjid. Ia berdiri saja di dekat pintu tersebut. Maka pak Adi pun mendekati pak Santo, yang saat itu kelihatan agak bingung.

    “Ada apa pak?” Tanya pak Adi

    “Ini pak, sandal saya tadi kan saya taruh di dekat pintu ini, saya ingat betul koq, tidak mungkin-lah saya lupa! Bahkan yang kiri saya pisahkan tempatnya dengan yang sebelah kanan. Supaya tidak terambil orang lain. Tapi dimana ya..? Saya sudah hampir lima belas menit berdiri disini, tapi belum ketemu juga….

    Pak Adi hanya tersenyum saja menyaksikan kebingungan pak Santo. Katanya dalam hati: “….tahu rasa kamu sekarang…!”

    Dan pak Adi-pun pergi meninggalkan pak Santo yang masih kebingungan di dekat pintu masjid. Ketika pak Adi sambil berjalan melayangkan pandangannya ke arah pak Santo, ia melihat pak Santo-pun meninggalkan pintu masjid berjalan pulang tanpa mengenakan alas kaki…

    Lain lagi halnya dengan bu Toni. Ketika ia berjalan pulang dengan beberapa temannya, bu Toni bercerita bahwa ia merasa kasihan melihat bu Fajar, yang baru satu hari di Mekah bu Fajar sudah kehilangan sandalnya. Padahal sandal itu sudah diletakkan di tempat yang aman, di dekat tempat ia shalat katanya. Tapi tetap saja ketika shalat sudah selesai, bu Fajar tidak menemukan sandalnya.

    Kata bu Toni: “..Ya maklumlah, karena pergeseran-pergeseran shaf ketika akan shalat, maka tempat berubah dari posisi semula. Sehingga tentu bu Fajar kesulitan mencari-nya kembali.”

    Tiba-tiba bu Sodiq yang berada di sebelah bu Toni berkomentar: “Kalau saya bu, sejak dari rumah sudah diberi tahu oleh kakak saya yang tahun kemarin berangkat haji. Pokoknya kalau ke masjid kita bawa aja tas kresek. Atau tas apa saja khusus untuk tempat sandal supaya tidak hilang. Sekarang pun saya membawa! Dan selalu siap sedia dengan tas tersebut, sehingga amanlah sandal saya…!”

    Seperti biasanya, keesokan harinya sebelum waktu subuh, rombongan bu Toni sudah berangkat menuju masjid. Mereka masing-masing membawa sandalnya menuju tempat, dimana mereka berada. Sandal mereka letakkan di dekat tempat duduk mereka. Setelah shalat subuh dikumandangkan melalui iqamah bilal, mereka pun tenggelam dalam suasana shalat subuh yang menyejukkan.

    Seusai shalat, mereka tetap beraktivitas di dalam masjid. Ada yang membaca Al-Qur’an ada yang thawaf, ada yang berdzikir, dan sebagainya. Bu Sodiq pun melihat-lihat keindahan arsitektur masjidil Haram. Ia berjalan kesana-kemari, bahkan beberapa kali ke tempat air zam-zam.

    Setelah dirasa cukup dengan aktivitasnya masing-masing, rombongan bu Toni sepakat untuk pulang ke hotel. Para jama’ah bertebaran keluar dari masjid untuk kembali ke hotelnya masing-masing. Bu Toni dan teman-temannya bergegas mau pulang, tetapi mereka masih menunggu bu Sodiq yang belum kembali dari acara jalan-jalannya di dalam masjid tersebut.

    ” Nah, itu dia bu Sodiq, ayo kita pulang..!” kata bu Toni. ” lho, sandal saya dimana toh, tadi kan disini?” kata bu Sodiq setengah terkejut, setelah ia melihat tas sandalnya tidak ada ditempatnya lagi.

    “iya, tadi kan di sini, bersama sandal milik kita semua…, dimana ya? celetuk ibu yang lain. “…yaah, mungkin aja ada orang yang keliru membawa tas sandalnya, dikira miliknya, padahal itu milik bu Sodiq ya…”

    ” Mungkin juga iya…, memang warna tas saya hitam, jadi banyak yang mirip. Sehingga mungkin saja ada orang yang lupa menaruh tasnya, maka diambil-lah tas saya…”jawab ibu Sodiq dengan agak malu kepada ibu-ibu yang lain. Soalnya kemarin ia sudah berbangga bahwa tidak mungkin, sandalnya akan hilang.

    Secara logika, sebenarnya ‘para’ sandal tersebut tidaklah hilang. Tetapi ada saja penyebabnya sehingga pemiliknya kehilangan atau tidak bisa menemukan sandalnya yang sudah ditempatkan di posisi yang aman.

    Pak Adi, Pak Santo, Bu Toni, Bu Fajar, maupun bu Sodiq, mereka adalah contoh kecil dalam hal kehilangan sandal. Setiap tahun setiap saat musim haji selalu ada cerita unik tentang sandal japit. Satu hal, yang rata-rata menjadi kuncinya, ialah masalah kebanggaan dan kesombongan diri.

    Para jama’ah diperintahkan bertamu di rumah Allah adalah untuk melatih ketawadhu’annya. Melatih sabarnya, dan juga melatih ketawakalannya. Bangga, ria, sombong adalah penyakit hati, yang mencerminkan ego yang tinggi.

    Karenanya, penyakit-penyakit itu harus dihilangkan, dengan cara berserah diri kepada Ilahi Rabbi, merasa kecil di hadapan Allah Yang Maha Besar, merasa rendah di hadapan Allah Yang Maha Tinggi.

    QS.Al-Qashash (28) : 76

    Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.

    Inilah salah satu pelajaran dalam perjalanan haji. Misteri tentang sandal japit! Meskipun nampak sederhana, tetapi merupakan pelajaran yang memiliki nilai sangat tinggi di dalamnya…

    ***

    firliana putri

     
  • erva kurniawan 1:27 am pada 22 February 2013 Permalink | Balas  

    Catatan Seorang Isteri

    Oleh Cahaya Khairani

    Sebelum menikah, selain kriteria taqwa, saya tidak punya kriteria khusus untuk calon suami saya nanti. Karena saya menyadari bahwa saya bukanlah wanita yang ideal untuk dijadikan isteri, terutama untuk urusan pekerjaan rumah tangga. Maka saya amat sangat bersyukur pada Allah ketika Dia mengirimkan Lelaki Surga yang penyabar dan pengertian untuk saya.

    Lelaki Surga itu tersenyum dan memandang saya penuh cinta ketika pada malam pertama kami, dengan jujur saya mengatakan bahwa saya tidak terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga. Memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh dua orang pembantu.

    “Biar si bibi yang kerjakan”

    Begitu kata Bunda bila kami anak-anaknya ingin mencuci piring bekas makan kami sendiri. Maka saya pun menjadi terbiasa “terima beres”. Pakaian tinggal pakai, sudah bersih, rapi dan wangi. Mau makan, tinggal ambil di meja makan. Mau minum hangat atau dingin, pembantu yang membuatkan.

    Setiap pagi pembantu akan bertanya minuman apa yang saya ingin dibuatkan. Sekali-sekali saya ke dapur membantu memasak, hitung-hitung sekalian belajar, tapi sedikit saja salah, Bunda akan mengusir saya dari dapur. Aneh memang, bukannya mengajarkan cara memasak yang benar, saya malah tidak dibolehkan di dapur.

    Dengan bicara jujur pada suami, saya berharap ia mempersiapkan kesabaran dan pengertian yang lebih bila nanti, saya memasak makanan yang tidak sedap di lidahnya atau rumah kami menjadi kurang indah dalam penglihatannya.

    “Nanti adek kan bisa belajar”, ujar suami setelah mendengar penuturan saya. Tak ada raut kekhawatiran di wajahnya bila nanti saya tidak dapat mengurusnya dengan baik.

    Belajar. Itulah yang harus saya lakukan. Manusia memang tidak boleh berhenti belajar. Belajar, tidak hanya di bangku kuliah, tapi juga di universitas kehidupan. Dan sekaranglah saatnya saya belajar di kehidupan rumah tangga, yaitu belajar menjadi isteri sholehah.

    Proses belajar pun dimulai. Pekerjaan mencuci, membenahi rumah, menyetrika, ke pasar, memasak, menguras kamar mandi, semua saya lakukan sendiri tanpa bantuan pembantu rumah tangga, hanya suami yang sesekali membantu di sela-sela kesibukannya. Setiap hari selalu ada sayatan luka baru di jari jemari saya. Tubuh mulai mudah masuk angin. Rasa perih, ngilu, pegal-pegal, kaku, kerap menghinggapi telapak tangan saya.

    Tapi jika mengingat betapa Allah sangat menghargai apa yang seorang isteri lakukan untuk suaminya, tidak ada alasan bagi saya untuk mengeluh, apalagi menyerahkan tugas-tugas itu kepada pembantu, rugi rasanya.

    Setelah delapan bulan menikah. Hmm.lumayan juga hasilnya. Pakaian suami selalu rapi dan berbau wangi. Rumah kontrakan kami selalu bersih, lantainya selalu mengkilap. Pemilik rumah kontrakan tidak lagi harus turun tangan menggosok lantai kamar mandi karena saya sudah dapat melakukannya sendiri. Setelah beberapa kali dicontohkan secara tidak langsung oleh pemilik rumah, barulah saya tahu cara menggosok lantai kamar mandi yang baik dan benar.

    Soal masak? Suami bilang saya sudah lebih pandai memasak. Tidak percuma ia rajin membelikan tabloid khusus resep masakan untuk saya pelajari. Tapi tentu saja saya tidak boleh merasa puas. Saya masih harus terus belajar dan belajar.. Mungkin ini lah salah satu rencana Allah menunda menganugerahkan kami seorang anak. Dia Maha Mengetahui kapan saat yang terbaik bagi kami untuk mendapat amanah seorang anak. Saat di mana saya telah menjadi isteri yang baik dan telah siap kembali belajar untuk menjadi Ibu yang baik.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:41 am pada 20 February 2013 Permalink | Balas  

    Dipaksa Memberi Sepuluh Real

    Adakah seorang peminta-minta yang

    berani memaksa kepada pemberinya…?

    Seorang teman bernama Pak Sunaryo yang barusan pulang dari ibadah haji, pernah bercerita. Bahwa ia adalah termasuk orang yang tidak terlalu memperdulikan keberadaan para peminta-minta. Meskipun banyak terlihat di kota mekah, namun ia tidak ambil peduli. Tidak tergerak sedikit pun hatinya untuk memberi uang atau apa pun kepada mereka. Dan hal itu katanya memang sudah menjadi kebiasaannya sejak ia masih muda.

    “Kenapa harus pedulikan mereka, kalau hanya akan membuat mereka jadi malas…” itu yang sering dia katakan.

    Pagi itu, pak Sunaryo pergi ke masjid bersama-sama para jamaah lainnya. Ketika sampai di depan masjid ia bertemu dengan seorang peminta-minta yang menengadahkan tangannya kepada rombongan jamaah tersebut. Para jamaah yang notabene masih teman kerja sekantor itu, rata-rata memberi uang kepada pengemis yang sudah tua.

    Ketika itu pak Sunaryo berjalan di urutan paling belakang. Sampai di dekat pengemis tersebut, ia menjadi begitu bingung. Sebab ia tidak pernah memberi uang atau apa saja kepada para pengemis.

    Berada di dekatnya, pengemis tua itu menyodorkan tangannya ke arah pak Sunaryo. Demi menghindari rasa malu kepada para teman-temannya, pak Sunaryo pun mengambil uang dari balik saku bajunya.

    Ia teringat kalau pada saat itu ada cukup uang di dalam saku bajunya. Hal itu memang sudah ia siapkan untuk belanja, sepulang mereka dari masjid.

    Maka dengan serta merta pak Sunaryo mengambil uang dari saku bajunya. Diambilnya uang satu real-an satu lembar untuk memberi si pengemis. Begitu tangan pak Sunaryo mau mengulurkan tangan untuk memberikan uang satu real tersebut, ternyata yang terambil dari saku bajunya bukan satu real, tetapi sepuluh real.

    Ia terkejut. Maka dibatalkannya pemberian itu. Pak Sunaryo pun kembali memasukkan tangan kanannya ke saku bajunya, untuk menukarkan uang sepuluh real tadi dengan uang satu real yang cukup banyak di dalam sakunya. Ketika tangannya diangkat, pak Sunaryo kembali terkejut. Karena sekali lagi yang terambil adalah uang sepuluh real. Bukan satu real.

    Pak Sunaryo, sedikit merasa malu kepada teman-temannya. Untung banyak temannya yang tidak mengetahui kejadian itu. Maka sambil pura-pura ada sesuatu yang jatuh, pak Sunaryo berhenti sejenak sambil kembali memasukkan uang sepuluh realnya untuk mengganti dengan uang satu real.

    Setelah yakin bahwa yang terambil adalah uang satu real, maka dengan raut muka agak sedikit lega, pak Sunaryo memberikan uang hasil ‘usaha’ yang ketiga kalinya, kepada pengemis tua. Digenggamnya rapat-rapat uang sebesar satu real itu, lantas ia berikan kepada sang pengemis tua yang sejak tadi menyaksikan dengan heran. Ketika pak Sunaryo membuka genggaman tangannya, jarak antara tangannya dan telapak tangan pengemis itu sudah begitu dekatnya, mata pak Sunaryo terbelalak saking terkejutnya…

    Ah, tak terasa ia mengeluarkan suara terkejut setengah mati. Apa yang terjadi ?

    Ternyata uang yang ia ambil itu, kembali sepuluh real! bukan satu real. Tak karuan rasa hati pak Sunaryo. Antara malu, merasa rugi, heran, dan juga cemas menjadi satu.

    Sementara teman-temannya ada yang sudah jauh di depannya, tetapi ada juga yang masih menunggu sambil berjalan pelan-pelan. Maka dalam kondisi semacam itu, pak Sunaryo mencoba berfikir seperti layaknya para jamaah pada umunya. Ia mencoba mengikhlaskannya

    Akhirnya diberikannya juga uang sepuluh real-an itu kepada si pengemis tua. Setelah itu ia cepat-cepat pergi untuk mengejar teman-temannya. ‘Bahkan sebagian temannya sudah ada yang masuk ke masjidil Haram.

    Setelah melakukan shalat dhuhur, pak Sunaryo terus dibayangi oleh peristiwa kecil tersebut. Sambil duduk istirahat pak Sunaryo terus berfikir, mengapa hal itu bisa terjadi? Padahal ia sudah merasakan bahwa yang terambil untuk ke tiga kalinya itu, ia yakini adalah uang satu real. Tetapi mengapa kembali sepuluh real? Ia yakin bahwa yang ada di dalam saku bajunya, sangat banyak uang satu real-an dan hanya ada satu lembar uang sepuluh real. Tetapi kenapa yang terambil selalu yang sepuluh real?

    Tiba-tiba pak Sunaryo, seperti mendapatkan sebuah hidayah. Sesuatu yang selama ini tidak pernah terfikirkan:

    “…ah, ternyata apa yang sudah direncanakan dan disiapkan oleh manusia, sejeli dan seteliti apapun, tidak selalu menghasilkan seperti apa yang diinginkan…”

    Tiba-tiba saja pak Sunaryo mengusap kedua pelupuk matanya yang tanpa terasa sudah basah oleh setetes air, yang ia sendiri tidak mengetahui, mengapa hal itu bisa terjadi…

    Saat pulang, Pak Sunaryo berjanji kepada dirinya sendiri, ia akan memperbaiki segala perilakunya yang kurang terpuji. Terutama kaitannya dengan para pengemis dan orang-orang miskin yang sering ia temui di jalan atau di mana saja. Rupanya Allah memberi pelajaran dan sekaligus hidayah kepada pak Sunaryo, lewat uang sepuluh real tersebut.

    “Alhamdulillah” hanya ucapan itu yang ia sampaikan kepadaku, sambil menutup kisahnya yang cukup unik tersebut.

    Aku pun termangu mendengar kisah sederhana tetapi penuh dengan pelajaran yang sangat berharga itu. Sungguh, jika seseorang telah diberi hidayah oleh Allah, maka apa yang ia berikan insya Allah akan menjadikan dirinya bertambah dekat kepadaNya. Semoga dengan kejadian itu, kini pak Sunaryo telah berubah menjadi manusia baru.

    Semoga pelajaran kecil itu akan membawa manfaat yang besar buat kita semuanya. Manfaat yang paling besar adalah jika setiap pelajaran menimbulkan kedamaian dan ketentraman hati. Sebab hati yang damai dan tentram adalah sebagai indikasi bahwa manusia telah dekat kepada sang penciptanya…insyaAllah.

    QS. Al-Baqarah (2) : 274

    Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

    QS. Ar-Ra’d (13) : 28

    (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:33 am pada 19 February 2013 Permalink | Balas  

    Jangan Bicara

    Sore itu, aku lebih awal dari biasanya sampai di depan ka’bah. Setelah melakukan thawaf, aku mengambil shaf yang tidak jauh dari ka’bah. Aku kebetulan dapat tempat duduk di dekat maqam Ibrahim.

    Tidak berapa lama kemudian datang seorang jama’ah dari Indonesia. “Assalaamu’alaikum, bapak dari embarkasi mana? tanyaku. Ia pun menjawab, bahwa ia dari Jakarta. Barusan datang kemarin pagi. Maka kami pun berbincang-bincang tentang keberadaan kami para jama’ah dari Indonesia.

    Tidak terasa kami begitu asyik berbincang kesana-kemari. Tiba-tiba pandangan kami tertuju pada benda-benda hitam yang bergerak di sekeliling ka’bah. Setelah kami perhatikan dengan seksama ternyata itu adalah gerakan burung-burung yang berterbangan di sekitar ka’bah. Seolah-olah burung-burung kecil itu sedang melakukan thawaf dengan caranya sendiri.

    Ketika itu kami melihat ada sedikit keanehan. Burung-burung itu tidak ada yang berterbangan di atas ka’bah. Mereka sekedar berterbangan mengitari ka’bah. Menyaksikan keanehan burung-burung yang sedang terbang mengitari ka’bah itu, kami berdua pun membicarakannya.

    Ketika kami terlibat dalam pembicaraan itulah, tiba-tiba terdengar suara adzan maghrib. Tetapi karena asyiknya materi pembicaraan kami itu, sampai-sampai suara adzan itu tidak kami hiraukan. Bahkan terus saja kami berbincang dengan agak berbisik-bisik tentang keanehan burung-burung yang ikut thawaf di sore itu.

    Bilal Masjidil Haram mengumandangkan kalimat syahadat yang kedua dalam adzannya “…asyhaduan laa ilaaha illallaah…”, saat itulah kami yang masih berbisik-bisik itu ditegur dan diingatkan oleh seorang jama’ah yang sudah tua, yang duduk di sebelah kanan kami.

    Dengan memberikan isyarat dengan tangan kanannya, Jama’ah tua itu melarang kami untuk berbicara sendiri meskipun dilakukan hanya dengan berbisik-bisik. Wajah tua itu begitu berwibawa. Dengan spontan kami langsung terdiam. Dan kami memperhatikan suara adzan bilal yang masih terus berkumandang dengan merdunya.

    Tiba-tiba saja, entah dari mana datangnya mataku berkaca-kaca. Tiba-tiba aku merasa malu, merasa salah, merasa tidak menghargai kalimat Allah, bahkan saat itu aku merasa telah berbuat dosa yang besar. Aku merasa betapa kalimat tauhid yang diperjuangkan Rasulullah itu aku abaikan begitu saja.

    Padahal Rasulullah menegakkan kalimat itu di kota Mekah saja tidak kurang dari dua belas tahun. Yaitu pada saat periode Mekah.

    Bertambah aku merasa bersalah, bertambah deras air mataku membasahi kelopak mataku. Tujuan aku datang ke tanah Haram adalah selain ingin bertamu di rumah Allah, aku pun ingin mendekat kepada Rasulullah sebagai ungkapan rasa rindu kepadanya. Tetapi kenapa aku tidak menghargai kalimat tauhid yang dikumandangkan oleh Bilal tadi? Kenapa aku terus saja berbincang-bincang?

    Ah, betapa tak tahu dirinya aku ini. Bertambah aku menyesali diri, bertambah pula deras air mata jatuh ke pipi. Dan hal itu terus berlanjut. Bahkan sampai shalat maghrib dimulai pun aku tetap tak kuasa menahan rasa penyesalanku. Ketika imam membaca surat Al-Fatihah (1) : 6-7 dalam raka’at pertama.

    Semakin menjadi-jadi penyesalanku atas kelalaianku tadi. Sebab arti dari ayat tersebut adalah kita mohon jalan yang lurus kepada Allah. Yaitu jalannya orang-orang yang mendapat nikmat, bukan jalan orang-orang yang sesat…

    Sementara saat itu aku sedang berada dalam kelalaian. Begitu sangat terasa kesalahanku saat itu. Sungguh aku terus dibayangi oleh kesalahanku sendiri. Ditambah lagi imam shalat ketika melagukan bacaannya begitu merdu, dan mempesona kalbu. Sehingga derasnya air mata tak kuasa kubendung lagi. Bahkan air mata itu terus mengalir sepanjang shalat maghrib.

    Akh, Begitu cengengkah aku?

    Sampai-sampai suara adzan ‘saja’ menjadikan aku menangis sepanjang shalat maghrib?

    Setelah aku keluar dari suasana itu, lebih-lebih setelah aku berada di tanah air kembali, aku bertambah heran. Mengapa hanya perkara tidak menghiraukan adzan beberapa saat saja aku sudah seperti itu? apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi?

    Sementara ketika kita semua berada di lingkungan kita masing-masing, apakah di rumah, apakah di tempat perkerjaan, apakah di pasar, atau di tempat umum lainnya, hal semacam itu tidak terjadi…

    Betapa seringnya kita mendengar suara adzan dari televisi atau di radio. Atau suara adzan dari musholla di kampung kita. Tetapi sedikit pun kita tidak pernah tersentuh oleh kalimat itu. Padahal ‘ilmu’ yang terkandung di dalam kalimat adzan itu begitu hebatnya. Setiap hari, lima kali! Seolah bilal selalu berkata:

    “…wahai manusia, kalau kamu sekalian menginginkan kemenangan dalam hidupmu, atau kalau kamu menginginkan kebahagiaan dalam perjalanan hidup ini, dirikanlah shalat…Kamu sekalian tidak akan mungkin mencapai kemenangan tanpa melalui shalat…”

    Betapa mesranya panggilan itu, dan betapa hebatnya ilmu yang terkandung di dalamnya. Tetapi tetap saja kita semua tidak pernah menghiraukan panggilan itu. Hati kita tidak tergerak oleh panggilan itu. Padahal kita semua ingin bahagia… ingin menang, dan ingin sukses dalam hidup ini….

    Mungkin Itulah salah satu perbedaan suasana di tanah haram dan di tanah air. Di tanah haram begitu sensitifnya nurani kita, sementara di luar tanah haram begitu tebalnya tabir yang menutupi hati kita.

    QS. Al-Baqarah (2) :

    Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang istikaaf, yang ruku’ dan yang sujud”.

    Sesederhana apa pun yang ada di tanah haram, akan selalu mengingatkan kepada diri kita. Bahwa di dalam perjalanan haji sungguh terkandung banyak sekali pelajaran bagi kita semua. Dengan selalu memohon kepada Allah Swt, kita berdoa dan berharap semoga kita bisa menjalani hidup di tanah air tercinta dengan lebih baik, lebih indah, dan lebih bermakna. insyaAllah…

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
    • praktisprint.com 4:11 pm pada 23 Februari 2013 Permalink

      Mau cetak brosur murah dan cepat kami solusinya. Percayakan segala kebutuhan cetak anda kepada kami.

  • erva kurniawan 1:22 am pada 17 February 2013 Permalink | Balas  

    Tak Takut Miskin Karena Memberi

    “Apakah kemiskinan itu, Bu? Anak-anak di taman bilang kita miskin. Benarkah itu, Bu?” tanya sang anak.

    “Tidak, kita tidak miskin, Aiko,” jawab ibunya.

    “Apakah kemiskinan itu?” Aiko, sang anak, bertanya lagi.

    “Miskin berarti tidak mempunyai sesuatu apapun untuk diberikan kepada orang lain.” Aiko agak terkejut.

    “Oh? Tapi kita memerlukan semua barang yang kita punyai, apakah yang dapat kita berikan?” katanya menyelidik.

    “Kau ingatkah perempuan pedagang keliling yang ke sini minggu lalu? Kita memberinya sebagian dari makanan kita kepadanya. Karena ia tidak mendapat tempat menginap di kota, ia kembali ke sini dan kita memberinya tempat tidur.”

    “Kita menjadi bersempit-sempitan,” jawab Aiko.

    Tapi sang ibu tak kalah sigap. “Dan kita sering memberikan sebagian dari sayuran kita kepada keluarga Watari, bukan?” katanya.

    “Ibulah yang memberinya. Hanya saya sendiri yang miskin. Saya tak punya apa-apa untuk saya berikan kepada orang lain.”

    Sang ibu tersenyum dan memberikan pandangan teduh pada anaknya.”Oh, kau punya. Setiap orang mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. Pikirkanlah hal itu dan kau akan menemukan sesuatu.”

    Tak lama setelah itu, sang anak pun mendapatkan jawabannya. “Bu! Saya mempunyai sesuatu untuk saya berikan. Saya dapat memberikan cerita-cerita saya kepada teman-teman saya. Saya dapat memberikan kepada mereka cerita-cerita dongeng yang saya dengar dan baca di sekolah.”

    “Tentu! Kau pintar bercerita. Bapakmu juga. Setiap orang senang mendengar cerita.”

    “Saya akan memberikan cerita kepada mereka, sekarang ini juga!”

    **

    Dialog tersebut dapat ditemukan dalam kumpulan kisah-kisah inspiratif, Aiko and Her Cousin Kenichi. Dialog antara ibu dan anak itu, telah meneguhkan sebuah kesadaran besar, bahwa setiap kita bisa memberi. Ini lebih dari sekadar sebuah kesadaran sosial. Tapi kesadaran untuk menjadi berarti lantaran membagi kebahagiaan untuk orang lain.

    Akhlak tentang kesadaran terhadap kehidupan orang lain, dimiliki oleh qudwah yang tak ada bandingnya, yakni Rasulullah saw. Utusan Allah itu bahkan disebut sebagai “orang yang tak takut miskin karena memberi”.

    Dialah yang menanamkan prinsip menolong orang lain untuk menolong diri sendiri. Perhatikanlah bagaimana sabdanya, “Allah swt selalu menolong seoarng hamba, selama hamba itu menolong saudaranya.” Atau, sabdanya yang lain, “Barangsiapa yang memberi kemudahan kepada saudaranya, maka Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat.”

    Itu adalah prinsip memberi dan menerima yang ditanamkan Rasulullah saw. Memberi kepada sesama dan hanya terobsesi untuk menerima dari Allah swt. Sehingga pada praktiknya, prinsip itu berubah menjadi memberi dan memberi, give and give. Sebab penerimaan itu tidak datang dari manusia tapi dari Allah swt.

    Mengajak untuk peduli sosial, memberi bantuan kepada orang lain, menolong atau memberikan jasa, mengeluarkan infaq dan sedekah, sering memunculkan pertanyaan, “Bagaimana saya bisa membantu orang lain? Saya sendiri dalam kondisi kurang dan membutuhkan.” Sementara Rasulullah saw menanamkan nilai bersedekah ini, justru pada saat seseorang sulit mengeluarkannya.

    Suatu hari datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw dan bertanya, “Ya Rasulullah, sedekah apa yang paling besar pahalanya?” Rasulullah saw mengatakan, “Engkau bersedekah sedangkan engkau sedang dalam kondisi sehat, sangat membutuhkan, takut miskin, dan punya obsesi menjadi kaya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hadits ini menjelaskan bahwa dalam situasi sesorang bertanya, “Apa yang bisa saya bantu, karena saya juga dalam kondisi membutuhkan” tadi itulah, bobot pahala sedekah. Semakin seseorang berada pada posisi dilematis antara keinginan dirinya terhadap apa yang akan disedekahkan, semakin tinggi nilai sedekahnya jika benar-benar dilakukan. Tentu saja kesadaran memberi kepada orang lain, tidak selalu berupa benda, materi, uang, atau bantuan yang memiliki nilai nominal. Tapi bisa berupa pikiran, waktu, ide-ide, fisik, atau apapun yang bisa kita beri dan bermanfaat.

    Sekarang, kita layak bertanya pada diri sendiri, apa yang akan kita berikan untuk orang lain? Ingat, setiap kita punya sesuatu yang bisa kita berikan kepada orang lain. Pikirkanlah baik-baik apa sesuatu itu. Niscaya kita akan menemukannya.

    ***

    Sumber: Tarbawi Edisi 146 Th. 8 Dzulhijjah 1427 H / 4 Januari 2007

     
  • erva kurniawan 1:45 am pada 14 February 2013 Permalink | Balas  

    Dzikirnya Alam Semesta

    Apakah alam juga berdzikir..?

    Para jama’ah yang berjubel itu, berebut memenuhi shaf-shaf depan. Sehingga aku mendapatkan shaf di belakang. Hampir di shaf yang paling akhir.

    Ketika aku melakukan shalat sunah, tiba-tiba di sebelah kananku datang seorang jama’ah pakai baju gamis putih-putih, berjenggot panjang menjuntai ke bawah sampai ke dada. Matanya bening, mulutnya selalu senyum.

    Begitu aku selesai shalat, ia mengambil minyak wangi dari dalam bajunya, dan minyak itu dioleskan ke tanganku, dan juga ke bajuku. Ia memberi isyarat agar aku mengoleskan dan meratakan minyak darinya itu ke seluruh tubuhku. Dan kemudian ia menyelinap di antara ribuan jamaah lainnya. Lalu pergi entah kemana. Ah, seorang yang aneh! pikirku.

    Harumnya minyak wangi itu begitu aneh bagiku. Bau yang lembut, tetapi terus merasuk ke nafasku yang mengakibatkan rongga dadaku menjadi nyaman dan lapang. Satu hal lagi, bahwa wajah orang itu begitu akrab dalam benakku. Aku tidak merasa asing dengan wajah itu. Tetapi aku lupa di mana aku pernah bertemu dengan wajah itu…

    Shalat dhuhur rupanya masih lama, maka aku pun kembali berdzikir sambil menunggu waktu shalat tiba. Ketika aku tenggelam dalam dzikirku, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara lamat-lamat dari kejauhan, yang bertambah lama terasa bertambah dekat. Bahkan begitu jelasnya suara itu di telingaku.

    Suara itu ritmenya begitu luar biasa indahnya. Datang bergelombang dengan lembut tetapi jelas. Asal suara itu datang dari atas. Setelah itu datang dari berbagai penjuru. Dari samping kiriku, dari samping kananku, bahkan dari sekelilingku. Aku terbengong sendiri.

    Asalnya aku mengira ada jama’ah khusus di masjid itu yang berdzikir secara serempak bersama-sama. Tetapi anggapanku salah. Karena semua orang, semua jama’ah melakukan aktivitas sendiri-sendiri…

    Suara itu semakin lama semakin menyejukkan hati. Dada menjadi lapang, hati menjadi tentram dan tenang. Bahkan pikiran menjadi jernih.

    Aku berusaha mengikuti irama indah dan agung itu. Tetapi setiap ku ikuti, suara itu tiba-tiba berhenti. Sepertinya ia mengetahui kalau ada orang yang mengikutinya. Ketika aku terdiam. Suara itu kembali muncul dan terdengar di telingaku. Begitu jelasnya dan begitu agungnya. Begitu aku akan mengikutinya ia mendadak berhenti lagi. Dan yang terdengar adalah suara berisiknya para jama’ah yang melakukan aktivitasnya masing-masing. Dan aku pun semakin heran dibuatnya.

    Tetap ada satu pertanyaan yang mengusik dalam hatiku. Suara siapakah itu? Dari mana datangnya?

    Ketika aku berusaha mencari jawabnya, tiba-tiba terdengar suara iqamah dari bilal sebagai pertanda waktu shalat akan dimulai. Dan aku pun melakukan shalat dhuhur bersama para jama’ah lainnya.

    Sesampai di maktab, aku terus berusaha mencari jawabnya. Suara apakah itu, bergemuruh, datang dari jauh, tambah lama tambah dekat dan membentuk suatu ritme yang mempesona. Indah, agung, mesra, dan membentuk harmoni yang luar biasa…

    Begitu penasarannya aku. Maka pada malam itu juga kutulis kejadian itu di dalam buku harianku. Buku yang selalu kubawa kemana saja aku pergi.

    Hari ke dua, dari terjadinya peristiwa itu, aku kembali ke masjid pada jam yang sama. Dan aku menempati shaf agak depan dibanding shaf di hari sebelumnya. Seperti biasanya, sebelum waktu shalat dhuhur tiba, setelah aku lakukan shalat sunah, aku melakukan aktivitas dzikir untuk lebih menghayati dan lebih mendekatkan diri kepada Ilahi Rabbi.

    Saat-saat aku melakukan dzikir itu, tiba-tiba aku tersentak! Dan bulu kudukku merinding…. Ah, ternyata suara itu terdengar kembali di telingaku. Asalnya lamat-lamat. Tetapi tambah lama bertambah jelas. Dan semakin dekat. Begitu dekatnya suara itu. Sampai aku tidak tahu dari mana datangnya. Telingaku kututup dengan tanganku, suara itu semakin jelas. Telingaku kutempelkan di lantai, di sajadahku, suara itu pun sangat jelas. Aku mendongak ke atas, suara itu pun terdengar begitu jelas bahkan seolah memenuhi atap masjid Nabawi.

    Aku berusaha menenangkan diri. Setelah aku tenang, aku mencoba mengikuti suara itu dengan hatiku. Ah! Ternyata suara itu berhenti dan hilang lagi…. Aku pun meratap…” Ya Allah, apa yang terjadi dengan diriku…?” Suara apakah itu? Siapakah yang bersuara itu…

    Akhirnya aku pun pulang kembali ke hotel, tanpa mendapatkan jawaban yang pasti, tentang suara misterius tadi. Berikutnya, hari itu merupakan hari yang ke tiga, sejak terjadinya peristiwa itu. Aku kembali ke masjid untuk berjama’ah shalat dhuhur. Saat itu aku mendapatkan shaf di bagian tengah. Tempatnya sangat berbeda dengan dua hari sebelumnya.

    Setelah shalat sunah, seperti biasanya aku melakukan aktivitas dzikir. Dalam hati aku bertanya dan juga berharap, apakah akan muncul lagi suara itu? ternyata lama aku tunggu, suara itu tidak muncul lagi. Maka aku pun melupakan kejadian itu.

    Selanjutnya aku melakukan shalat sunah lagi. Begitu selesai mengucap salam yang ke dua sebagai penutup shalatku, tiba-tiba hatiku berdegup kencang. Bulu kudukku merinding lagi… Akh, suara itu terdengar lagi. Kini bertambah jelas, bertambah dekat, dan semakin indah iramanya… Aku pun terbuai dibuatnya.

    Dengan perasaan agak takut, aku mencoba mengikuti kalimat itu. Hatiku mulai mengikutinya, Setelah itu bibirku mencoba mengikutinya, Ah! sungguh agung, sungguh menyejukkan… dan sungguh mempesona.

    Dan di hari yang ke tiga itu, aku ternyata bisa mengikuti kalimat indah itu…subhaanallaah… Bibirku mulai bergerak mengikuti suara itu. Suara gemuruh dari berjuta-juta suara, yang membentuk harmoni luar biasa.

    Suara itu, kalimat agung itu berbunyi :

    “..laa ilaaha illallaah,… laa ilaaha illallaah,… laa ilaaha illallaah…”

    Aku pun tenggelam dalam alunan dzikir yang luar biasa indahnya itu. Entah sampai berapa puluh kali atau bahkan berapa ratus kali aku mengikuti dzikir indah itu aku tidak tahu…. Sampai akhirnya aku dikejutkan oleh suara iqamah bilal.

    Aku mulai menyusun shaf untuk shalat berjama’ah, bersama-sama para jama’ah lainnya untuk melakukan shalat dhuhur…

    Sesaat sebelum aku shalat dhuhur, tiba-tiba pikiranku melayang kepada kehadiran seorang jama’ah yang pernah shalat di sebelahku yang

    memberi minyak wangi di sekujur tubuhku dua hari sebelumnya itu. Pandangan matanya, senyumnya, masih begitu kuat tertanam dalam hatiku.

    Apakah peristiwa yang barusan aku alami selama tiga hari berturut-turut itu ada hubungannya dengan orang tersebut?

    Atau juga masih berhubungan dengan pengalamanku ketika pergi ke masjid, dimana saat itu setiap langkah kakiku aku gunakan untuk berdzikir? ..wallahu a’lam!

    Sungguh aku masih bingung…

    Aku pun berusaha untuk melupakan peristiwa itu, karena imam shalat sudah terdengar mengucapkan takbiratul ihram… Allaahu akbar! Kami semua mengikutinya untuk melakukan shalat berjama’ah.

    Setelah usai shalat dhuhur, aku baru menyadari bahwa hari itu adalah hari terakhirku di kota Madinah. Dan saat itu merupakan shalat dhuhur terakhir kami di masjid Nabawi, sebelum menuju Mekah Al-Mukaromah.

    Sesampai di maktab, kembali kubuka buku catatanku. Ku tulis ulang lanjutan pengalaman aneh, indah, dan mempesona yang terjadi selama tiga kali di masjid Rasulullah saw itu.

    Aku tetap masih merasa heran, dan merasa aneh! Siapakah yang berdzikir itu? Ribuan malaikat? Jutaan partikel yang ada di udara? Atau milyaran bio-elektron yang ada di seluruh penjuru dunia ini? Ataukah suara dzikirnya orang-orang shalih terdahulu yang terekam oleh alam, kemudian pada saat itu terdengar olehku, sampai sebanyak tiga kali?

    Aku tidak berani mengambil kesimpulan apapun….

    Yang jelas, yang terdengar oleh telinga lahirku dan oleh telinga bathinku saat itu adalah kalimat indah: ” …laa ilaaha illallaah… ” berulang kali. Bergemuruh, tetapi tidak memekakkan telinga. Bergemuruh, tetapi mendatangkan rasa nyaman di dada. Rasanya baru kali itu aku mendengar dan menyaksikan suatu harmonisasi dari jutaan warna suara yang berbeda, yang menyatu membentuk konfigurasi yang luar biasa indahnya…..

    Dan akupun teringat sabda rasulullah saw :

    Seutama-utama dzikir ialah : Laa ilaaha illallaah”

    (HR. Attirmidzi, Annasa’i, Ibn Majah, Ibn Hibban)

    Rupanya inilah puncak dzikir. Pelajaran terindah bagi seluruh makhluk ciptaan Allah. Semua bertasbih! Seluruh alam berdzikir, untuk mentauhidkan Allah saja…

    QS. Al-Hasyr (59) : 24

    Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana…

    QS. Al Israa’ (17) : 44

    Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:34 am pada 13 February 2013 Permalink | Balas  

    Menyesal Tidak Menangis

    Mengapa menjadi menyesal, jika seorang tidak bisa menangis…?

    Pak Sumo adalah seorang karyawan dalam sebuah perusahaan yang berusia sekitar 35 tahun. Dia termasuk seorang pekerja yang disiplin. Di samping kedisiplinanannya yang sudah diakui oleh manajernya, ia termasuk orang yang keras hati. Apa yang dikehendakinya, selalu ia usahakan untuk bisa meraihnya.

    Ada satu hal yang menurutnya, merupakan kekuatan dari dirinya. Yaitu bahwa ia tidak pernah menangis. Melihat kejadian apa pun, ia mampu melihat dengan biasa-biasa saja. Tanpa tergoda dalam suasana sedih. Jika ada orang menangis karena terhanyut oleh sebuah cerita dalam sebuah sinetron atau drama, ia hanya ketawa saja. Kekuatan hatinya tersebut menjadi kebanggaannya.

    Hari itu pak Sumo adalah sebagai salah satu jama’ah haji di kloterku. Ia berangkat dari maktab menuju masjid Nabawi kadang bersamaku kadang pula tidak. Hari itu di dalam masjid kebetulan dia bertemu denganku. Maka kami ramai dan asyik bercerita saling tukar informasi selama di kota Madinah.

    Sambil menunggu datangnya waktu shalat ashar, kami berbincang-bincang seputar masalah ibadah. Serta saling bertanya bagaimana suasana hati kami ketika berada di tanah Haram ini. Pak Sumo tiba-tiba bertanya kepadaku, apakah aku pernah meneteskan air mata ketika melakukan shalat di masjid Nabawi ini? Aku menjawab sambil lalu saja:

    “…wah, ya tentu saja pernah. Bahkan saya termasuk orang yang sering kali menangis jika melakukan shalat di sini.” Jawabku.

    Pak Sumo menimpali lagi :

    “Sering kali?… Mengapa bisa begitu ?” tukasnya. “Saya juga tidak tahu pak” jawabku singkat. Begitu aku selesai menjawab petanyaannya itu, tiba-tiba di depan kami agak menyerong sebelah kanan, terlihat ada seorang lelaki setengah baya yang berdoa sambil mengangkat kedua tangannya.

    Begitu sejuknya ekspresi wajahnya. Matanya terpejam. Dagunya terangkat sedikit. Dari sela-sela lembar bulu matanya menetes air matanya. Tetesan itu membasahi pipinya yang agak sedikit cekung. Tangannya merapat di depan dadanya dan menengadah ke atas. Mulutnya nampak bergerak-gerak, tanda ia sedang berbisik pelahan.

    Tanpa terasa aku ikut hanyut menyaksikan ekspresi orang tersebut. Sehingga aku agak lama terdiam. Aku lupa kalau di samping kananku ada pak Sumo yang sedang mengajakku untuk berbincang-bincang…

    Tiba-tiba lenganku dipegang oleh pak Sumo. Seraya ia bertanya kepadaku.

    :”Mengapa anda nampaknya ikut terhanyut melihat orang itu? apa yang istimewa pada diri orang itu?”

    Sebelum aku menjawab, pak Sumo pun melanjutkan pertanyaannya lagi:

    “… mengapa ya, sejak kemarin koq banyak orang menangis di sini? Apa yang menyebabkannya?” Saya sendiri tidak pernah mengalami hal semacam itu. Mengapa itu bisa terjadi.? ” Katanya lagi.

    Aku tidak memberi jawaban apa pun kepada pak Sumo atas pertanyaan-pertanyaan itu. Pembicaraan kami terputus, karena terdengar bilal sudah memberi tanda bahwa shalat akan segera dimulai. Akhirnya kami berpisah mencari shaf masing-masing untuk mengikuti shalat berjama’ah.

    Satu hari, dua hari, kami tidak bertemu dengan pak Sumo. Tetapi pada hari terakhir di Madinah, ketika kami melakukan shalat terakhir di masjid Nabawi, aku bertemu lagi dengan pak Sumo. Seperti biasanya ia mengajak duduk bersama sambil nunggu shalat berjama’ah. Menurut pengakuannya, ternyata selama kami tidak bertemu, pak Sumo bertambah sering melihat orang-orang menangis di masjid itu.

    Bahkan katanya ada orang yang hampir pingsan menangis sesenggukan menyesali dosa-dosanya. :”…tetapi hati saya tetap hambar. Saya tidak menemukan alasan untuk menangis. Meski pun dalam hati kecil saya, saya juga ingin merasakannya. Tetapi setes pun saya tidak bisa mengeluarkannya.” Katanya lagi.

    Ketika batasan waktu untuk di Madinah sudah dinyatakan habis, dan kami semua harus berkemas untuk menuju kota Mekah, aku melihat sesekali waktu pada diri pak Sumo. Ku lihat ia sering berdiam. Tidak seperti biasanya. Biasanya ia selalu nampak ceria, lincah, penuh gaya, dan penuh semangat.

    Saat itu nampak serius sekali. Maka aku pun mendekatinya sebagai teman jama’ah se kioter yang berangkat dan pulang kami sering bersama-sama. “Ada apa gerangan pak Sumo?” tanyaku.

    Setelah sejenak mamandang kepadaku, dan sedikit menatap mataku, pak Sumo bercerita. Ternyata selepas kami beberapa hari tidak bertemu di dalam masjid, pak Sumo bertambah sering melihat orang menangis dalam berdo’a. Bahkan ketika pulang dari masjid, ia masih sempat menyaksikan seorang ibu yang matanya masih basah oleh air mata.

    Dan yang lebih menggugah perasaannya adalah, ketika suatu saat pak Sumo berdekatan dengan beberapa jamaah, yang sedang berdiskusi tentang masalah suasana hati. Dari hasil pendengarannya yang tidak sengaja itu, pak Sumo mengambil sebuah kesimpulan, bahwa seharusnya hati seorang mukmin itu adalah sensitif. Gampang trenyuh, gampang peduli, dan gampang melihat kesalahan diri sendiri… Maka sejak itu pak Sumo sering merenung sendiri. Ia mulai melihat ada beberapa keanehan dalam dirinya. Ia mulai merasa betapa salahnya ia. Betapa keras hatinya, betapa tak tahu dirinya ia…

    Penyesalan demi penyesalan ia renungi sendiri.

    Dan tidak ada yang menyuruhnya, tiba-tiba saja jatuhlah air mata pertama pak Sumo selama dalam hidupnya. Air mata yang sangat mahal harganya. Yang akan mengubah suasana hati pak Sumo dalam kehidupannya.

    Dia bertambah sedih, dan merasa sangat besar dosanya, ketika teringat pernah mengejek temannya yang menangis ketika di Raudhah. Bahkan ketika ia melihat orang-orang melelehkan air mata, saat itu ia pernah mengejeknya di dalam hati. Akh, kepingin sekali rasanya pak Sumo mencari orang-orang itu, dan ia ingin memeluk untuk mohon maaf, atas kedangkalan pikiran dan hatinya.

    Hari itu Pak Sumo terus menerungi kesalahannya. Ku lihat sampai ia naik ke dalam bus, dan duduk di bagian belakang, ia tetap menundukkan kepala. Akh, rupanya pak Sumo telah ‘mampu’ menangis! Pak Sumo yang merasa bangga dengan kekerasan hatinya itu, pak Sumo yang selama hidupnya pantang mengeluarkan air mata itu, sekarang terlihat menangis, justru setelah semua orang telah berhenti dari menangisnya…

    Bus kami pun melaju dengan cepat menuju ke kota Mekah Al-Mukaromah. Di dalam bus yang lain, aku duduk bersama teman serombonganku, dan tanpa terasa aku pun terus merenung dan berfikir tentang peristiwa yang terjadi pada diri pak Sumo. Memang masalah hati adalah masalah hidayah. Yang sangat sulit diterobos oleh kata-kata atau kalimat yang tajam sekali pun.

    Firman Allah Swt, dalam Al-Qur’an menunjukkan betapa manusia mempunyai bermacam hati. Ada hati yang berpenyakit, ada hati yang tertutup. Ada hati yang keras membatu, ada pula hati terkunci mati. Bahkan ada hati yang sesat. Bergantung bagaimana mereka mampu melatih dan memenejnya masing-masing.

    QS. Al-Baqarah (2) : 7

    Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

    QS. Al-Baqarah (2) : 10

    Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

    QS. Ali Imran (3) : 8

    (Mereka berdo’a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”

    QS. Al-Maidah (5) : 13

    (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

    QS. Al-An’am (6) : 25

    Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan) mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”.

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:08 am pada 12 February 2013 Permalink | Balas  

    Dikejar Seorang Pengemis

    Ada apa seorang pengemis sampai mengejar seorang jama’ah haji…?

    Seorang kawan ketika melakukan shalat di Masjid Nabawi, suatu saat pernah dikejar oleh seorang pengemis yang terus membuntutinya. Bahkan agar sang ‘target’ mengeluarkan uangnya, si pengemis sampai ‘berganti rupa’…”

    Pak Musa, hari itu bernasib agak sial rupanya. Ketika ia mulai masuk Masjid Nabawi, ada seorang pengemis yang terus mengincarnya. Pak Musa tidak tahu bahwa ia menjadi sasaran ‘tembak’ seorang pengemis muda.

    Ketika pak Musa shalat sunah sambil menunggu waktu shalat dhuhur, selalu saja pengemis tersebut membuntuti dan mendekatinya sambil menengadahkan tangannya sebagai tanda untuk minta uang.

    Pengemis muda itu memberi tanda dengan telunjuknya bahwa ia minta uang satu real saja. Rupanya takut shalatnya tidak khusyu’ pak Musa menghindar dari tempat duduk pengemis berbaju kotor tersebut. Dan pak Musa pun berpindah tempat ke shaf lebih depan sambil melakukan shalat lagi. Harapannya semoga sang pengemis tidak mendekatinya lagi. Rupanya pak Musa tidak membawa uang satu real-an, sehingga permintaan pengemis itu ia abaikan begitu saja. Pikir pak Musa :

    “..ah biarlah, toh nanti ketika pada saatnya saya bawa uang satu real-an, akan saya berikan pada para pengemis yang cukup banyak jumlahnya itu…”

    Tetapi seolah pengemis tersebut mengetahui pikiran pak Musa. Ia terus mengejarnya. Dan terus minta uang satu real. Dan kembali pak Musa menghindar dengan cara ia berpindah ke tempat lain, dan masuk ke shaf yang lebih depan lagi.

    Demi menghindari sang pengemis muda itu, sampai-sampai pak Musa berpindah tempat duduk sebanyak empat kali. Akhirnya ia merasa aman pada suatu shaf yang padat yang tidak mungkin diisi oleh pengemis yang terus mengejarnya itu. Ia lakukan hal itu agar tidak bertemu dengan pengemis yang mengejar terus dan minta uang satu real tersebut… Maka sekarang amanlah pak Musa dari uang satu real yang diinginkan oleh sang pengemis muda itu.

    Pak Musa mendapat tempat duduk di suatu shaf yang betul-betul ‘aman’. Maka berdzikirlah pak Musa dengan khusyu’nya sambil menunggu waktu shalat dhuhur tiba.

    Karena jama’ah di shafnya cukup padat dan rapat, maka ketika shalat dhuhur telah tiba dan semua berdiri untuk melakukan shalat, pada shafnya pak Musa tidak ada perubahan jamaah. Artinya tidak ada orang baru dalam shaf tersebut.

    Maka shalat-lah pak Musa dengan khusyuknya. Tetapi sesekali hatinya masih ada rasa khawatir, akan orangnya pengemis muda yang misterius itu. Yang selalu minta uang satu real.

    Setelah shalat dhuhur selesai, semua mengucap salam sebagai penutup shalat dhuhur. Demikian pula dengan pak Musa. Ia mengucap salam dengan mantapnya. Tanda shalat telah usai.

    Tetapi begitu pak Musa mengucap salam kedua, sambil menoleh ke sebelah kiri, tiba-tiba jama’ah yang ada di sebelah kirinya, berkata kepada pak Musa dengan menggunakan bahasa inggris, yang maksudnya ia minta uang dan sedang membutuhkan uang sebesar sepuluh real

    Ekspresinya menunjukkan bahwa ia benar-benar sedang membutuhkan uang sebesar sepuluh real untuk suatu keperluan yang tidak bisa ditunda lagi. “…ukh!” tanpa terasa pak Musa mengeluarkan suara tersendat tanda terkejut setengah mati akan kejadian yang sangat tiba-tiba tersebut.

    Tanpa banyak bicara pak Musa pun mengeluarkan uang sepuluh real yang memang ada di sakunya. Ia merasa iba juga menyaksikan ekspresi wajah memelas dari orang tersebut.

    Menghindar satu real, ‘terperangkap’ menjadi sepuluh real! Pak Musa hanya tersenyum memikirkan pengalamannya yang sangat unik tersebut.

    Pulang dari masjid, pak Musa terus berpikir. Sungguh aneh pengalamannya hari itu. Ia menjadi semakin sadar bahwa dalam hidup ini ada suatu wilayah yang sangat misterius, yang manusia tidak sanggup menganalisisnya. Tetapi yang penting kita harus bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa.

    Sebuah pelajaran yang berharga adalah kadang tanpa sengaja kita telah berpaling dari orang-orang miskin, yang mungkin saat itu mereka sedang membutuhkan uluran tangan kita. Dan hari itu, pak Musa mendapatkan pelajaran baru. Bahwa siapa pun ternyata perlu untuk diperhatikan, walaupun sekedar seorang miskin, orang kecil yang bukan orang penting…

    Al-Qur’an begitu banyak memberikan peringatan kepada kita tentang kelengahan kita terhadap orang-orang miskin.

    QS. Al-Baqarah (2) : 83

    Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

    Bahkan Allah memperjelas dalam suatu ayat, bahwa tidak menghiraukan anak yatim dan orang miskin, termasuk mendustakan agama.

    QS. Al-Mauun (107) : 1-7

    Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

    Setelah memberi uang kepada orang di sebelahnya itu, pak Musa melanjutkan dzikir dan shalat sunah rawatib. Setelah itu, pak Musa tidak melihat lagi kemana perginya orang sebelah yang minta uang sepuluh real tadi.

    Tetapi yang masih membayang di pikiran pak Musa adalah, betapa proses ia mengeluarkan uang sepuluh real tadi di awali oleh sebuah proses yang cukup unik yaitu munculnya pengemis muda yang minta uang satu real. Dan terus-menerus ia mengejarnya.

    Dengan alasan agar shalat tidak terganggu oleh sang pengemis muda, dihindarinya pengemis itu. Tetapi akhirnya menghindar dari satu real, pak Musa harus mengeluarkan sepuluh real. Dan sang pengemis muda tadi seolah telah berganti wajah untuk ‘memaksa’ pak Musa mengeluarkan uang sepuluh real yang ada di sakunya.

    Yang aneh adalah bahwa pengemis muda itu, sudah ‘menunggu’ di shaf yang akan dimasuki oleh pak Musa. Sungguh aneh, misterius…, tapi nyata. Kalau seseorang sudah ditakdirkan harus mengeluarkan uang, maka pasti akan terjadi juga, meskipun kita lari kemana saja…. pak Musa pun kembali tersenyum mengenang kejadian itu.

    Ketika sampai di maktab berkatalah pak Musa kepada istrinya:

    “…baru saja aku memperoleh sebuah pelajaran baru yang sangat menarik…”

    QS. Ali ‘Imran (3) : 134

    (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
    • achmad usman 9:57 am pada 1 Maret 2013 Permalink

      “cobaan” yg berhasil dilalui pak musa…………………………

  • erva kurniawan 1:25 am pada 11 February 2013 Permalink | Balas  

    Petruk Dadi Ratu

    Oleh : Fauzi Nugroho

    Ketika berusia delapan tahun untuk pertama kali saya diperkenalkan dengan nama-nama tokoh pewayangan oleh orang tua dari ayah-ibu saya. Selama dua tahun saya tinggal bersama mereka di lingkungan pedesaan yang syarat dengan kultur Jawa. Orang tua mengharapkan agar selain mendapat sekolah umum, saya juga bisa memperoleh ilmu agama dari Eyang Kakung yang memang mempunyai santri cukup banyak. Nilai-nilai agama, akhlak dan anggah-ungguh (tata krama) saya dapatkan dari lingkungan tempat saya tinggal. Seperti keharusan shalat berjamaah ketika adzan shalat telah memanggil, menghormati orang yang lebih tua, tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan miliknya, dan sebagainya. Perilaku kesatria keluarga Pandawa, seperti Bima, Yudhistira pun kerap didongengkan oleh Eyang Putri ketika ke tempat peraduan sambil memijat tubuh kecil saya. Nama tokoh lain seperti Arjuna, Kresna, bahkan para punakawan seperti, Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk menjadi akrab dengan telinga saya. Pertunjukkan

    Wayang Kulit sesekali pernah dipertontonkan kepada warga desa, manakala ada keluarga yang mengadakan hajatan pernikahan atau khitanan. Nama tokoh Semar kerap menjadi teladan bagi penonton karena kearifan dan kebijaksanaannya, sedangkan tokoh seperti Petruk selain sering ngebayol juga merupakan merek rokok favorit yang biasa dihisap oleh warga desa disamping merek Sintren. Namun, anak-anak zaman sekarang sangat jarang disuguhi tontonan seperti itu, mereka lebih mengenal Superman, Batman, Spiderman, atau Power Rangers. Pun bagi orang dewasa, nama-nama tokoh pewayangan seperti di atas mungkin terasa asing di telinga. Pada masa lampau, wayang sering dijadikan media syiar Islam mengingat tanah Jawa penduduknya mayoritas memeluk agama Hindu sebelum masuknya Islam melalui Wali Songo. Sehingga tidak heran bila di Jawa Tengah & Timur bisa dijumpai Wayang Orang dan Wayang Kulit, ataupun di Jawa Barat dikenal dengan Wayang Golek.

    Banyak versi tentang kisah rakyat tersebut, Petruk misalnya ada yang menyebutnya seorang pengeran, putra begawan sakti dengan nama asli Bambang Pecrukpanyukilan, yang gemar guyon dan berkelahi. Pada saat menuju ke tempat Pertapaan dirinya bertemu dengan Bambang Sukakadi (Gareng), kemudian keduanya berkelahi menguji kesaktian. Tubuh keduanya menjadi rusak dan perkelahian itu akhirnya dilerai dan dihentikan oleh Semar beserta anaknya Bagong. Kemudian keduanya diangkat menjadi anak Semar, sedangkan Semar konon merupakan orang suci (dewa). Namun cerita itu berkembang dengan berbagai versi, tokoh Petruk, Gareng, dan Bagong dikenal sebagai punakawan, abdi atau pelayan. Versi ini lebih banyak dikenal daripada sebelumnya, sehingga nama tokoh Petruk menjadi identik dengan pelayan, batur atau abdi dalem. Lalu bagaimana jika seorang abdi dalem menjadi petinggi kerajaan?

    Kisah Petruk Jadi Raja merupakan contoh bagaimana seseorang berubah menjadi angkuh dan sombong bahkan cenderung menjadi lupa diri saat berada di pusat kekuasaan. Petruk mendapatkan keberuntungan menjadi seorang raja, gelimang harta benda dan kekuasaan menyebabkan ia lupa daratan dan mabuk kekuasaan sehingga bersikap sewenang-wenang dan merendahkan orang lain. Dia pun mempergunakan aji mumpung untuk kesenangannya. Karena seorang abdi, ia tidak bisa mengelola kekuasaannya dengan bijak dan tepat. Ia terlalu bergairah untuk duduk di singgasana dan semakin haus dengan kekuasaan, ia pun tidak punya gagasan cemerlang untuk mensejahterakan rakyatnya. Pepatah mengatakan Kere Munggah Bale, adalah sikap aji mumpung ketika si miskin tiba-tiba menjadi penguasa.

    Cerita itu menjadi relevan dengan kondisi saat ini, ketika kita menengok kepada lingkungan sekitar. Arus reformasi telah membawa perubahan format politik, budaya, dan sosial-ekonomi. Jabatan Gubernur, Bupati, Walikota yang semula menjadi hak istimewa institusi, kelas dan orang-orang tertentu, kini terbuka bagi setiap orang. Asumsi politik mengatakan jika pemilihan pejabat dilakukan secara langsung seakan menjadi jaminan terciptanya demokrasi, padahal inti demokrasi muaranya antara lain adalah kesejahteraan rakyat. Senyatanya, kondisi yang diharapkan belum terjadi dan memunculkan fenomena memprihatinkan dari oknum anggota legislatif di pusat atau daerah, yaitu menguatnya perilaku aji mumpung – karena masa jabatan hanya sebentar. Sehingga tidak mengherankan bila Transparency International Indonesia (TII) menempatakan lembaga legislatif sebagai institusi terkorup di negeri ini. Pun tidak sedikit para pejabat eksekutif pusat maupun daerah yang juga menggunakan ajian mumpung untuk memenuhi kesenangannya. Padahal jika kita menengok ke belakangan, bahwa orang-orang yang katanya sukses atau bergelimang harta adalah manusia yang pada awalnya tidak memiliki apa-apa, bahkan Oom Lim sekalipun, dahulunya juga orang susah, miskin dan hidup seadanya.

    Keadaan seperti itu tersurat dalam firman-Nya, “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS. Adh Dhuhaa, 93:8).

    Nenek moyang kita dahulu hanya hidup dari alam, berangsur-angsur keturunannya bisa memperoleh makanan yang lebih baik, mendirikan rumah yang layak, mengeyam pendidikan, dan pada akhirnya bisa membaca serta berilmu pengetahuan. Sebagian dari mereka menjalani profesi yang berbeda sesuai keahlian/pengetahuan yang dimiliki untuk penghidupannya. Semua itu adalah karena karunia-Nya, Dialah yang mencukupi keperluan kita, “(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku,” (QS. Asy Syu’araa, 26:78-79). Namun setelahnya, bukan syukur, tetapi malah kufur seperti lupanya seorang Petruk akan asalnya.

    Cukup banyak contoh orang-orang yang berada di posisi puncak, tetapi malah menunjukkan rasa syukurnya kepada Allah SWT. Mereka menyadari bahwa kepemimpinannya (kekhalifahannya) akan dimintai pertanggunganjawaban. Misalnya, Umar bin Khatab r.a yang lebih memilih menaiki keledai kecil dan dengan pakaian ala kadarnya. Mahatma Gandhi, inspirator gerakan kemerdekaan di Asia pada era 40-an, menyukai berpakaian hanya selembar kain gandum. Bung Hatta menjadi sangat dikenang selain karena intelektualitas juga karena kesederhanaan dan kejujurannya. Ataupun Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, anak seorang tukang pangkas rambut. Kantornya hanyalah sebuah bangunan kecil di kawasan padat di tengah Teheran, bahkan lebih kecil dari kantor Gubernur DKI Jakarta. Pakaian kesehariannya produk dalam negeri, dan hanya memakai jas tanpa dasi. Ia menolak tinggal di rumah dinas presiden, dan lebih memilih tinggal di apartemen sederhana di kawasan kelas menengah bawah di Nurmagi,

    Teheran Tenggara. Kesederhanaan sebagai manifestasi dari bentuk empati dan simpati itulah yang membuat mereka menjadi guru (digugu dan ditiru) bagi rakyat yang dipimpinnya daripada mereka memilih gaya borjuis saat menjadi Ratu. Tangan, pemikiran, dan kedudukannya telah memberi manfaat untuk kemaslahatan rakyat yang dipimpinnya. Semoga pesan ini dapat menggugah keterlenaaan kita sebagai makhluk Allah bahwa kemanfaatan sebagai khalifah di bumi-Nya adalah segalanya, hal itu jualah yang membedakan mana Petruk dan diri kita, dan kita termasuk orang-orang yang senantiasa mau berbuat bagi kemasalahatan umat dan orang banyak. Mudah-mudahan Allah SWT meringankan langkah kita dan meridhoi setiap upaya kita semua. Amin (fn).

     
  • erva kurniawan 1:37 am pada 5 February 2013 Permalink | Balas  

    Tengoklah ke “Dalam” sebelum Bicara

    Oleh Sus Woyo

    Ada sebuah kisah kecil, ketika saya masih aktif bersama teman-teman di organisasi remaja masjid kampung saya. Namun kisah kecil ini telah menjadi ‘prasasti’ indah dalam kehidupan saya sampai sekarang.

    Waktu itu kami sedang giat-giatnya menggelar usaha keagamaan. Tiba-tiba di belakang masjid kami, salah seorang warga membuka rumahnya untuk dijadikan tempat judi togel.

    Setiap malam orang-orang ramai berkumpul di situ. Karena dari pihak desa tidak ada reaksi apa-apa terhadap judi itu, maka kami bersepakat untuk negosiasi dengan warga itu. Agar kegiatan yang banyak merugikan masyarakat itu dihentikan saja.

    Dengan semangat, kami bersepakat untuk mendatangi tempat tersebut.

    Namun sebelum berangkat, ada salah satu senior kami yang mengingatkan.

    Ia berkata pada kami. “Ini kerja besar.Ini perjuangan berat. Jangan gegabah kita melangkah. Kita harus lebih siap lagi untuk maju ke medan ‘jihad’ ini.

    Ada sesuatu yang harus kita laksanakan dulu sebelum kita maju kesana.”

    Senior kami itu menyarankan agar kami mengoreksi diri dulu. Sudah sejauh mana ibadah harian kita kepada Allah. Sudah sejauh mana komitmen kita terhadap apa yang diperintahNya dan apa yang dilarangNya.

    Ahirnya, selama beberapa hari, kami disarankan untuk sebisa mungkin sholat wajib berjamaah. Kita juga harus bangun malam untuk qiamullail.

    Yang biasanya jarang puasa Senin Kamis, sekarang amalan Nabi itu harus dilaksanakan dengan intensif. Pokoknya, senior kami itu menyarankan agar sebisa mungkin mengaplikasikan bentuk ketakwaan dan keimanan kepada Allah SWT. Tidak hanya bentuk “amar ma’ruf” saja, tapi mesti diiringi juga dengan “nahi mungkar.” Seperti yang masih merokok untuk segera meninggalkan perbuatan mubah itu.

    Beberapa hari kemudian, saat hari ‘H’ sudah tiba, kami berkumpul lagi.

    Namun kami tidak jadi menemui bandar togel itu. Sebab, dengan izin Allah, orang itu sudah menutup total usahanya. Rupanya ia sudah kembali berprofesi seperti biasa, yaitu sebagai kuli bangunan. Kami merasa gembira sekali. Dan semua ini sudah jelas merupakan pertolongan dariNya. Entah apa yang terjadi seandainya kami menyikapi perbuatan salah seorang warga di dekat masjid itu dengan emosional pada waktu itu, tanpa mengindahkan nasehat senior kami.

    Apakah ini sebuah kemenangan sebelum bertanding? Tidak juga.

    Sebab kami telah berjuang dulu, berjuang menaklukan napsu diri.

    Bukankah ini juga jihad besar?

    Pantas, jika sahabat Umar ra. sebelum berangkat perang dengan orang kafir, selalu memeriksa pasukannya sedetil mungkin. Mereka yang malamnya tidak qiamullail, sementara jangan ikut ke medan jihad dulu. Kata Khalifah kedua itu: “Saya tidak takut dengan musuh yang banyak, tapi saya lebih takut kepada banyaknya dosa yang kita bawa. Sehingga kita akan kesulitan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.”

    Dan sejarah juga mencatat gemilangnya perang Badar bagi kaum muslimin.

    Padahal erbandingan jumlah pasukan antara kaum muslimin dan kafir sama sekali tidak seimbang. Tentu sudah bisa dipastikan bahwa salah satu faktor kemenangan kaum muslimin adalah karena kwalitas iman orang muslim masa itu yang sangat prima. Dan tentunya sangat minim dengan dosa-dosa. Tidak seperti kami di jaman ini.

    Saya hanya bisa berpikir, seandainya saya, keluarga saya, lingkungan saya, atau skup yang lebih luas lagi negri saya, dalam mengatasi masalah berkiblat dengan cara mereka, mungkin Allah pun akan memberi kemudahan dalam mengatasi berbagai masalah.

    Ya, tentunya harus dimulai dari pribadi masing-masing. Sebab tak mustahil, bahwa saya, kita-kita inipun ternyata ada dalam barisan orang-orang yang menghambat pertolongan Allah.

    Sampai sekarang pesan senior kami di organisasi remaja masjid bertahun-tahun lalu itu, selalu terngiang ditelinga saya, manakala ada sesuatu pekerjaan yang harus berhubungan dengan orang banyak. Pesan yang pendek, namun sangat berarti: “Bacalah dirimu! Sebelum kau baca orang lain!”

    Atau dalam bahasa populer penyanyi ballada Ebiet G Ade: “Tengoklah ke ‘dalam’, sebelum bicara.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:30 am pada 3 February 2013 Permalink | Balas  

    Ya Kayuku, Ya Kayumu

    Oleh: Luthfi Bashori

    Konon menurut shahibul hikayat, di jaman penjajahan Jepang pernah terjadi suatu keajaiban. Saat itu, ada seorang petani yang aktif shalat di sebuah mushalla dekat perkampungan. Sekali pun ia bukanlah penduduk desa itu, namun ia memiliki sebidang tanah sawah yang berada di wilayah tersebut.

    Karena itulah hampir setiap Dhuhur dan Ashar petani itu selalu meluangkan waktunya shalat di mushalla itu, bahkan karena keaktifannya, maka warga setempat menunjuknya sebagai imam shalat khusus Dhuhur dan Ashar.

    Sebenarnya, petani itu bukanlah ahli ilmu agama, namun karena kondisi masyarakat di jaman itu cukup mengenaskan, baik dari segi keilmuan, perekonomian maupun keamanan, maka karena keadaanlah memaksa mereka untuk memanfaatkan apa saja yang dianggap maslahat tanpa harus meninjau syarat-syarat ideal, termasuk dalam mengangkat imam shalat Dhuhur dan Ashar.

    Di sisi lain, kaum lelaki di kampung itu kebanyakan adalah para pejuang kemerdekaan, sehingga bukan urusan gampang mencari kaum lelaki yang senantiasa stand by di kampung halamannya, karena mereka harus bergerilya dan selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, masuk hutan keluar hutan, demi menyusun strategi menghadapi dan menyerang penjajah Jepang.

    Suatu saat, ada serombongan gerilyawan yang berlarian menuju mushalla kampung tersebut. Rupanya mereka sedang dikejar tentara Jepang. Sangat kebetulan, di saat yang bersamaan si petani itu sedang mengimami shalat Dhuhur. Maka kontan para gerilyawan bergabung shalat berjamaah, sekaligus untuk menghilangkan jejak dari kejaran tentara Jepang.

    Sayangnya barisan tentara Jepang itu tetap mencurigai para jamaah shalat Dhuhur di mushala itu, dan menghitungnya sebagai para pejuang yang sedang mereka kejar, maka tanpa ba-bi-bu, tiba-tiba tembakan demi tembakan meletus dan diarahkan kepada para jamaah shalat.

    Tentu saja banyak para jamaah yang bergelimpangan mati syahid, sedangkan mereka yang tidak terkena peluru, secara refleksi menggunakan trik menjatuhkan diri pura-pura mati, agar tidak menjadi sasaran tembak berikutnya.

    Lain halnya dengan si petani yang menjadi imam shalat, ia dengan khusyu` terus menyelesaikan shalatnya, hingga tentara Jepang itupun membrodongkan tembakannya ke arah si petani yang menjadi imam shalat. Anehnya, si petani itu tetap istiqamah dalam shalatnya tanpa terpengaruh apapun, hingga akhirnya tentara barisan Jepang beranjak meninggalkan si petani di saat sedang membaca salam pada tahiyyat akhir.

    Peristiwa ini sangat mengejutkan para pejuang yang masih hidup. Maka Mereka beramai-ramai menanyakan ajian apa yang digunakan oleh si petani hingga dirinya tidak mempan ditembak.

    Dengan polos, si petani mengatakan bahwa konon ia mendapat ijazah dari seorang Kiai yang kebetulan sedang mengajar di kampung tempat tinggalnya, yaitu agar setiap usai shalat fardlu hendaklah selalu membaca : YA KAYUKU YA KAYUMU sebanyak seratus kali, dan jika berada dalam keadaan darurat/genting maka hendaklah dibaca sebanyak-banyaknya tanpa hitungan tertentu. Karena itulah si petani selalu istiqamah membacanya dengan penuh keyakinan `seyakin-yakinnya`, sehingga dalam keadaan darurat tadi si petani merasa dirinya menjadi seperti KAYU yang tidak mempan ditembak.

    Kebetulan ada salah seorang dari kalangan pejuang yang masih hidup itu, konon adalah alumni sebuah pesantren. Maka dengan sedikit senyum ia ingin mengoreksi bacaan sang petani yang merangkap jadi imam shalat > Lantas dengan nada lembut dan hormat alumni pesantren itu mengatakan: Pak, mohon maaf, barangkali bacanya yang benar itu adalah YA HAYYU YA QAYYUM, karena yang bapak baca itu adalah termasuk Asmaul Husna, yaitu nama-nama Allah, bukan YA KAYUKU YA KAYUMU, hingga badan bapak berubah menjadi KAYU.

    Karena keawwaman si petani, ia hanya dapat mengangguk-anggukkan kepala, sedangkan lisan awwamnya tetap saja membaca YA KAYUKU YA KAYUMU dengan penuh keyakinan, hal ini karena lisannya sudah terbiasa dengan bacaan itu.

    Berbeda dengan alumni pesantren tersebut, ia pun berusaha mengamalkan bacaan YA HAYYU YA QAYYUM seperti yang diamalkan si petani, bahkan lisannya jauh lebih baik dan lebih fasih saat membacanya. Hanya saja dari segi keyakinan saat mengamalkan ijazah itu, masih di bawah standar keyakinan si petani awwam tadi.

    Hingga suatu saat, terjadi lagi peristiwa yang hampir sama, bahwa para gerilyawan itu kembali dikejar-kejar tentara Jepang dan dibrondong peluru. Namun karena nasib yang berbeda, alumni pesantren yang fasih mengucapkan YA HAYYU YA QAYYUM itu pun akhirnya mati syahid tertembak peluru tentara Jepang. Innalillahi wa inaa ilaihi raaji`un.

    Penyair mengatakan :

    Idzil fataa hasba`tiqaadihi rufi` # wakullu man lam ya`taqid lan yantafi`

    Seseorang itu akan diangkat derajatnya sesuai kadar keyakinannya, siapa yang tidak yakin terhadap sesuatu, ia tidak akan dapat mengambil manfaatnya.

     
  • erva kurniawan 1:39 am pada 28 January 2013 Permalink | Balas  

    Mimpi Bertemu Rasulullah SAW Sebelum Mati Syahid

    Abu Muslim Al-Turki, berasal dari Inggris. Syahid dalam sebuah pertempuran melawan tentara Kroasia di Bosnia pada tahun 1993, pada umur 51 tahun. Kisah dari orang pertama.

    Abu Muslim adalah seorang muslim keturunan Turki yang dibesarkan di Inggris. Sebelumnya ia menjalani hidupnya bagaikan seorang kafir. Ia menikahi seorang wanita non muslim, begitu pula ia tidak mengerjakan shalat dan menjalankan ibadah lainnya, sampai suatu hari Allah SWT memberikan petunjukNya untuk kembali ke jalan yang benar.

    Tak lama kemudian, Abu Muslim mendengar tentang situasi di Bosnia, dan berkata pada dirinya bahwa saya harus berangkat ke Bosnia, saya harus bertaubat pada Allah dan bertempur melawan pasukan Serbia, semoga dengan demikian Allah mengampuni semua yang telah saya lakukan di masa lampau.

    Ia tiba di Bosnia pada musim gugur 1992 dan mengikuti training pada sebuah kamp di Mehorich. Abu Muslim adalah orang yang paling tua di antara para mujahidin. Saat mujahidin melakukan lari pagi, mereka semua harus menggenggam sebuah senapan, kecuali Abu Muslim, karena usianya yang tua dan kepayahan fisiknya. Orang yang melihat matanya akan mendapatkan mata seorang yang benar dan jujur kepada Allah.

    Dalam sebuah operasi melawan pasukan Kroasia, Amir pasukan tidak memilihnya untuk ikut dalam operasi tersebut karena usianya yang tua. Namun Abu Muslim mulai menangis, meraung-meraung bagaikan seorang bayi hingga Amir pasukan terpaksa memasukkannya untuk ambil bagian dalam operasi tersebut.

    Dalam operasi tersebut Abu Muslim tertembak di lengannya hingga menghancurkan tulangnya dan sebatang logam harus ditanamkan di lengannya selama enam bulan. Abu Muslim rajin melatih lengannya, dan setelah 45 hari dokter mengatakan bahwa logam tersebut sudah dapat diambil dari tangannya. Semua orang terkejut mendengar kabar tersebut.

    Sebelum dilakukan sebuah operasi besar terhadap pasukan Kroasia, Abu Muslim mendapat mimpi, di mana ia melihat Rasulullah SAW dan mencium kakinya. Kemudian Rasulullah SAW berkata padanya,”Janganlah kau cium kakiku.” Kemudian Abu Muslim mencium tangan Rasulullah SAW, hingga Rasulullah berkata padanya,”Jangan kau cium tanganku.” Kemudian Rasulullah SAW bertanya padanya,”Apa yang kamu inginkan hai Abu Muslim?” Abu Muslim menjawab,” Ya Rasulullah, berdoalah pada Allah untukku, agar dalam operasi besok saya mati syahid.”

    Sebelum operasi tersebut dijalankan, Amir pasukan, yaitu Komandan Abul Haris memilih personil yang akan ambil bagian dalam operasi tersebut. Ia menolak Abu Muslim untuk ikut, karena masih terluka dan belum pulih.

    Seorang mujahid yang hadir saat itu berkata,” Aku bersumpah pada Allah bahwa Abu Muslim mulai menangis seperti bayi dan berkata pada Amir, ‘Takutlah pada Allah! Abul Haris, saya akan menuntutmu di hari Kiamat jika engkau tidak mengikutkanku dalam operasi ini.”

    Saat komandan Abul Haris menyuruhnya untuk tidak berteriak karena kuatir didengar musuh, Abu Muslim menjawab, ”Demi Allah, jika engkau tidak memilih saya dalam operasi ini Abul Haris, saya akan menangis keras hingga terdengar ke seluruh negeri.” Lalu ia berkata,”Ikutkan saya dalam operasi ini di mana saja, meskipun sebagai orang yang paling belakang, ikutkanlah saya dalam operasi ini.”

    Akhirnya Abu Muslim diikutkan dalam operasi ini di posisi belakang. Namun jalannya pertempuran berubah, hingga barisan belakang menjadi barisan depan (berhadapan dengan musuh – penerjemah) dan barisan depan menjadi barisan belakang. Abu Muslim menjadi mujahid kedua yang syahid dalam operasi itu oleh sebuah peluru yang mengenai dadanya.

    Tubuhnya baru dikembalikan oleh pasukan Kroasia setelah tiga bulan, bersama tubuh saudara senegaranya Daud al-Britany. Sebuah aroma wangi tercium dari tubuhnya yang tampak tidak berubah meskpun tiga bulan telah berlalu. Semua orang yang menyaksikannya mengatakan bahwa tubuhnya menjadi lebih tampan dan tampak lebih putih daripada ketika terakhir kalinya mereka melihat Abu Muslim.

    Seorang mujahid bertutur bahwa dari semua jenazah para syuhada yang pernah dilihatnya di Bosnia, tidak ada yang lebih tampan daripada jenazah Abu Muslim at-Turki.

    “Barangsiapa yang menderita suatu luka dalam jihad fi sabilillah, kelak ia akan datang pada hari kiamat, baunya seperti bau harum minyak kesturi, dan warnanya seperti warna za’faron, ada ada cap syuhada’ padanya. Barangsiapa yang meminta syahadah dengan tulus, maka Allah akan memberikan padanya pahala orang yang mati syahid meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya.“ (Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan Al Hakim)

    ***

    Disadur dari : ebook Wakaf Kisah Nyata “Biografi dan Karomah Syuhada Jihad Bosnia”

    Silahkan download selengkapnya di abuhamdi.wordpress.com

     
    • what is the best time to try and get pregnant 1:57 am pada 31 Januari 2013 Permalink

      I absolutely love your blog.. Pleasant colors & theme.
      Did you build this site yourself? Please reply back as
      I’m planning to create my very own site and want to find out where you got this from or what the theme is named. Thank you!

    • Lia Abduh 5:32 pm pada 10 April 2013 Permalink

      Subhanallah*** indahnya mati syahid.

    • VAN roen 5:12 pm pada 12 April 2013 Permalink

      Ya ALLAH YA RABB ku tanamkanlah api jihad kpd ENGKAU YANG MAHA SUCI dhati n jiwa hamba Mu yg hina ini sampai ajal menjemput

  • erva kurniawan 1:29 am pada 27 January 2013 Permalink | Balas  

    Abraham David Mandey : Pendeta yang mendapat Hidayah Allah

    Barangkali tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa perjalanan hidupnya merupakan suatu kasus yang langka dan unik. Betapa tidak, Abraham David Mandey yang selama 12 tahun mengabdi di gereja sebagai “Pelayan Firman Tuhan “, istilah lain untuk sebutan pendeta, telah memilih Islam sebagai “jalan hidup” akhir dengan segala risiko dan konsekuensinya. Di samping itu, ia yang juga pernah menjadi perwira TNI-AD dengan pangkat mayor, harus mengikhlaskan diri melepas jabatan, dan memulai karir dari bawah lagi sebagai kepala keamanan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. – Cerita Beliau ini, – mohon maaf – tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan Institusi tertentu karena apa yang telah terjadi Beliau terima dengan ikhlas dan tawakal, Beliau hanya ingin menceritakan proses bagaimana Beliau mendapat hidayah dan tantangannya sebagai mualaf – red.

    Saya terlahir dengan nama Abraham David di Manado, 12 Februari 1942. Sedangkan, Mandey adalah nama fam (keluarga) kami sebagai orang Minahasa, Sulawesi Utara. Saya anak bungsu dan tiga bersaudara yang seluruhnya laki-laki. Keluarga kami termasuk keluarga terpandang, baik di lingkungan masyarakat maupun gereja. Maklum, ayah saya yang biasa kami panggil papi, adalah seorang pejabat Direktorat Agraria yang merangkap sebagai Bupati Sulawesi pada awal revolusi kemerdekaan Republik Indonesia yang berkedudukan di Makasar. Sedangkan, ibu yang biasa kami panggil mami, adalah seorang guru SMA di lingkungan sekolah milik gereja Minahasa.

    Sejak kecil saya kagum dengan pahlawan-pahlawan Perang Salib seperti Richard Lion Heart yang legendaris. Saya juga kagum kepada Jenderal Napoleon Bonaparte yang gagah perwira. Semua cerita tentang kepahlawanan, begitu membekas dalam batin saya sehingga saya sering berkhayal menjadi seorang tentara yang bertempur dengan gagah berani di medan laga.

    Singkatnya, saya berangkat ke Jakarta dan mendaftar ke Mabes ABRI. Tanpa menemui banyak kesulitan, saya dinyatakan lulus tes. Setelah itu, saya resmi mengikuti pendidikan dan tinggal di asrama. Tidak banyak yang dapat saya ceritakan dari pendidikan militer yang saya ikuti selama 2 tahun itu, kecuali bahwa disiplin ABRI dengan doktrin “Sapta Marga”-nya telah menempa jiwa saya sebagai perwira remaja yang tangguh, berdisiplin, dan siap melaksanakan tugas negara yang dibebankan kepada saya.

    Meskipun dipersiapkan sebagai perwira pada bagian pembinaan mental, tetapi dalam beberapa operasi tempur saya selalu dilibatkan. Pada saat-saat operasi pembersihan G-30S/PKI di Jakarta, saya ikut bergabung dalam komando yang dipimpin Kol. Sarwo Edhie Wibowo (almarhum).

    Setelah situasinegara pulih yang ditandai dengan lahirnya Orde Baru tahun 1966, oleh kesatuan saya ditugaskan belajar ke STT (Sekolah Tinggi Teologi) milik gereja Katolik yang terletak di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Di STI ini, selama 5 tahun (1966-1972) saya belajar, mendalami, mengkaji, dan diskusi tentang berbagai hal yang diperlukan sebagai seorang pendeta. Di samping belajar sejarah dan filsafat agama Kristen. STT juga memberikan kajian tentang sejarah dan filsafat agama-agama di dumia, termasuk studi tentang Islam.

     

    Menjadi Pendeta.

    Sambil tetap aktif d TNI-AD, oleh Gereja Protestan Indonesia saya ditugaskan menjadi Pendeta II di Gereja P***** (edited) di Jakarta Pusat, bertetangga dengan Masjid Sunda Kelapa. Di gereja inilah, selama kurang lebih 12 tahun (1972-1984) saya memimpin sekitar 8000 jemaat yang hampir 80 persen adalah kaum intelektual atau masyarakat elit.

    Di Gereja P***** (edited) ini, saya tumpahkan seluruh pengabdian untuk pelayanan firman Tuhan. Tugas saya sebagai Pendeta II, selama memberikan khutbah, menyantuni jemaat yang perlu bantuan atau mendapat musibah, juga menikahkan pasangan muda-mudi yang akan berumah tangga.

    Kendati sebagai pendeta, saya juga anggota ABRI yang harus selalu siap ditugaskan di mana saja di wilayah Nusantara. Sebagai perwira ABRI saya sering bertugas ke seluruh pelosok tanah air Bahkan, ke luar negeri dalam rangka tugas belajar dari markas, seperti mengikuti kursus staf Royal Netherland Armed Forces di Negeri Belanda. Kemudian, pada tahun 1969 saya ditugaskan untuk mengikuti Orientasi Pendidikan Negara-negara Berkembang yang disponsoni oleh UNESCO di Paris, Prancis.

     

    Dilema Rumah Tangga

    Kesibukkan saya sebagai anggota ABRI ditambah tugas tugas gereja, membuat saya sibuk luar biasa. Sebagaipendeta, saya lebih banyak memberikan perhatian kepada jemaat. Sementara,kepentingan pribadi dan keluarga nyaris tergeser. Istri saya, yang putri mantan Duta Besar RI di salah satu negara Eropa, sering mengeluh dan menuntut agar saya memberikan perhatian yang lebih banyak buat rumah tangga.

    Tetapi yang namanya wanita, umumnya lebih banyak berbicara atas dasar perasaan. Karena melihat kesibukan saya yang tidak juga berkurang, ia bahkan meminta agar saya mengundurkan diri dan tugas-tugas gereja, dengan alasan supaya lebih banyak waktu untuk keluarga. Tenth saja saya tidak dapat menerima usulannya itu. Sebagai seorang “Pelayan Firman Tuhan” saya telah bersumpah bahwa kepentingan umat di atas segalanya.

    Problem keluarga yang terjadi sekitar tahun 1980 ini kian memanas, sehingga bak api dalam sekam. Kehidupan rumah tangga saya, tidak lagi harmonis. Masalah-masalah yang kecil dan sepele dapat memicu pertengkaran. Tidak ada lagi kedamaian di rumah. Saya sangat mengkhawatirkan Angelique, putri saya satu-satunya. Saya khawatir perkembangan jiwanya akan terganggu dengan masalah yang ditimbulkan kedua orang tuanya. Oleh karenanya, saya bertekad harus merangkul anak saya itu agar ia mau mengerti dengan posisi ayahnya sebagai pendeta yang bertugas melayani umat. Syukur, ia mau mengerti. Hanya Angeliquelah satu-satunya orang di rumah yang menyambut hangat setiap kepulangan saya.

    Dalam kesunyian malam saat bebas dan tugas-tugas gereja, saya sering merenungkan kehidupan ramah tangga saya sendiri. Saya sering berpikir, buat apa saya menjadi pendeta kalau tidak mampu memberikan kedamaian dan kebahagiaan buat rumah tangganya sendiri. Saya sering memberikan khutbah pada setiap kebaktian dan menekankan hendaknya setiap umat Kristen mampu memberikan kasih kepada sesama umat manusia. Lalu, bagaimana dengan saya?

    Pertanyaan-pertanyaan seperti itu semakin membuat batin saya resah. Saya mencoba untuk memperbaiki keadaan. Tetapi, semuanya sudah terlambat. Istri saya bahkan terang terangan tidak mendukung tugas-tugas saya sebagai pendeta. Saya benar-benar dilecehkan. Saya sudah sampal pada kesimpulan bahwa antara kami berdua sudah tidak sejalan lagi.

    Lalu, untuk apa mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak saling sejalan? Ketika niat saya untuk “melepas” istri, saya sampaikan kepada sahabat-sahabat dekat saya sesama pendeta, mereka umumnya menyarankan agar saya bertindak lebih bijak. Mereka mengingatkan saya, bagaimana mungkin seorang pendeta yang sering menikahkan seseorang, tetapi ia sendiri justru menceraikan istrinya? Bagaimana dengan citra pendeta di mata umat? Begitu mereka mengingatkan.

    Apa yang mereka katakan semuanya benar. Tetapi, saya sudah tidak mampu lagi mempertahankan bahtera rumah tangga. Bagi saya yang terpenting saat itu bukan lagi persoalan menjaga citra pendeta. Tetapi, bagaimana agar batin saya dapat damai. Singkatnya, dengan berat hati saya terpaksa menceraikan istri saya. Dan, Angelique, putri saya satu-satunya memilih ikut bersama saya.

     

    Mencari Kedamaian

    Setelah kejadian itu, saya menjadi lebih banyak melakukan introspeksi. Saya menjadi lebih banyak membaca literatur tentang filsafat dan agama. Termasuk kajian tentang filsafat Islam, menjadi bahan yang paling saya sukai. Juga mengkaji pemikiran beberapa tokoh Islam yang banyak dilansir media massa.

    Salah satunya tentang komentar K.H. E.Z. Muttaqin (almarhum) terhadap krisis perang saudara di Timur Tengah, seperti diYerusalem dan Libanon. Waktu itu (tahun 1983), K.H.E.Z. Muttaqin mempertanyakan dalam khutbah Idul Fitrinya, mengapa Timur Tengah selalu menjadi ajang mesiu dan amarah, padahal di tempat itu diturunkan para nabi yang membawa agama wahyu dengan pesan kedamaian?

    Saya begitu tersentuh dengan ungkapan puitis kiai dan Jawa Barat itu. Sehingga, dalam salah satu khutbah saya di gereja, khutbah Idul Fitni K.H. E.Z. Muttaqin itu saya sampaikan kepada para jemaat kebaktian. Saya merasakan ada kekagetan di mata para jemaat. Saya maklum mereka terkejut karena baru pertama kali mereka mendengar khutbah dari seorang pendeta dengan menggunakan referensi seorang kiai Tetapi, bagi saya itu penting, karena pesan perdamaian yang disampaikan beliau amat manusiawi dan universal.

    Sejak khutbah yang kontroversial itu, saya banyak mendapat sorotan. Secara selentingan saya pemah mendengar “Pendeta Mandey telah miring.” Maksudnya, saya dinilai telah memihak kepada salah satu pihak. Tetapi, saya tidak peduli karena yang saya sampaikan adalah nilai-nilai kebenaran.

    Kekaguman saya pada konsep perdamaian Islam yank diangkat oleh KH. E.Z. Muttaqin, semakin menarik saya lebih kuat untuk mendalami konsepsi-konsepsi Islam lainnya. Saya ibarat membuka pintu, lalu masuk ke dalamnya, dan setelah masuk, saya ingin masuk lagi ke pintu yang lebih dalam. Begitulah perumpamaannya. Saya semakin “terseret” untuk mendalami, konsepsi Islam tentang ketuhanan dan peribadahan

    Saya begitu tertarik dengan konsepsi ketuhanan Islam yang disebut “tauhid”. Konsep itu begitu sederhana, lugas, dan tuntas dalam menjelaskan eksistensi Tuhan yang oleh orang Islam disebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga, orang yang paling awam sekalipun akan mampu mencemanya. Berbeda dengan konsepsi ketuhanan Kristen yang disebut Trinitas. Konsepsi ini begitu rumit, sehingga diperlukan argumentasi ilmiah untuk memahaminya.

    Akan halnya konsepsi peribadatan Islam yang disebut syariat, saya melihatnya begitu teratur dan sistematis. Saya berpikir seandainya sistemper ibadatan yang seperti ini benar benar diterapkan, maka dunia yang sedang kacau ini akan mampu di selamatkan.

    Pada tahun 1982 itulah saya benar-benar mencoba mendekati Islam. Selama satu setengah tahun saya melakukar konsultasi dengan K.H. Kosim Nurzeha yang juga aktif di Bintal (Pembinaan Mental) TNI-AD. Saya memang tidak ingin gegabah dan tergesa-gesa, karena di samping saya seorang pendeta, saya juga seorang perwira Bintal Kristen dilingkungan TNI-AD. Saya sudah dapat menduga apa yang akan terjadi seandainya saya masuk Islam.

    Tetapi, suara batin saya yang sedang mencari kebenaran dan kedamaian tidak dapat diajak berlama-lama dalam kebimbangan. Batin saya mendesak kuat agar saya segera meraih kebenaran yang sudah saya temukan itu.

    Oh, ya, di samping Pak Kosim Nurzeha, saya juga sering berkonsultasi dengan kolega saya di TNI-AD. Yaitu, Dra. Nasikhah M., seorang perwira Kowad (Korps.Wanita Angkatan Darat) yang bertugas pada BAIS (Badan Intelijen dan Strategi) ABRI.

    Ia seorang muslimah lulusan UGM (Universilas Gajah Mada) Yogyakarta, jurusan filsafat. Kepadanya saya sering berkonsultasi tentang masalah-masalah pribadi dan keluarga. Ia sering memberi saya buku-buku bacaan tentang pembinaan pribadi dan keluarga dalam Islam. Saya seperti menemukan pegangan dalam kegundahan sebagai duda yang gagal dalam membina rumah tangganya.

    Akhirnya, saya semakin yakin akan hikmah dibalik drama rumah tangga saya. Saya yakin bahwa dengari jalan itu, Tuhan ingin membimbing saya ke jalan yang lurus dan benar. Saya bertekad, apa pun yang terjadi saya tidak akan melepas kebenaran yang telah saya raih ini.

    Akhimya, dengan kepasrahan yang total kepada Tuhan, pada tanggal 4 Mei 1984 saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dengan bimbingan Bapak K.H. Kosim Nurzeha dan saksi Drs. Farouq Nasution di Masjid Istiqial. Allahu Akbar. Hari itu adalah hari yang amat bersejarah dalam hidup saya. Han saat saya menemukan diri saya yang sejati.

     

    Menghadapi Teror

    Berita tentang keislaman saya ternyata amat mengejutkan kalangan gereja, termasuk di tempat kerja saya di TNI-AD. Wajar, karena saya adalah Kepala Bintal (Pembinaan Mental)Kristen TNI-AD dan di gereja, saya adalah pentolan.

    Sejak itu saya mulai memasuki pengalaman baru, yaitu menghadapi tenor dan berbagai pihak. Telepon yang bernada ancaman terus berdening. Bahkan, ada sekelompok pemuda gereja di Tanjung Priok yang bertekad menghabisi nyawa saya, karena dianggapnya telah murtad dan mempermalukan gereja.

    Akan halnya saya, di samping menghadapi teror, juga menghadapi persoalan yang menyangkut tugas saya di TNI AD. DGI (Dewan Gereja Indonesia), bahkan menginim surat ke Bintal TNT-AD, meminta agar saya dipecat dan kedinasan dijajaran ABRl dan agar saya mempertanggungjawabkan perbuatan saya itu di hadapan majelis gereja.

    Saya tidak penlu menjelaskan secara detail bagaimana proses selanjutnya, karena itu menyangkut rahasia Mabes ABRI. Yang jelas setelah itu, saya menerima surat ucapan tenima kasih atas tugas-tugas saya kepada negara, sekaligus pembebastugasan dan jabatan saya di jajaran TNT-AD dengan pangkat akhir Mayor.

    Tidak ada yang dapat saya ucapkan, kecuali tawakal dan ménerima dengan ikhlas semua yang tenjadi pada diri saya. Saya yakin ini ujian iman.

    Saya yang terlahir dengan nama Abraham David Mandey, setelah muslim menjadi Ahmad Dzulkiffi Mandey, mengalami ujian hidup yang cukup berat. Alhamdulillah, berkat kegigihan saya, akhirnya saya diterima bekerja di sebuab perusahaan swasta. Sedikit demi sedikit kanin saya terus menanjak. Setelah itu, beberapa kali saya pindah kerja dan menempati posisi yang cukup penting. Saya pennah menjadi Manajer Divisi Utama FT Putera Dharma. Pernah menjadi Personel/General Affairs Manager Hotel Horison, tahun 1986-1989, Dan, sejak tahun 1990 sampai sekarang saya bekerja di sebuah bank terama di Jakarta sebagai Safety & Security Coordinator.

    Kini, keadaan saya sudah relatif baik, dan saya sudah meraih semua kebahagiaan yang selama sekian tahun saya rindukan. Saya sudah tidak lagi sendiri, sebab Dra. Nasikhah M, perwira Kowad itu, kini menjadi pendamping saya yang setia, insya Allah selama hayat masih di kandung badan. Saya menikahinya tahun 1986. Dan, dan perikahan itu telah lahir seorarig gadis kedil yang manis dan lucu, namariya Achnasya. Sementara, Angelique, putri saya dari istri pertama, sampai hari ini tetap ikut bersama saya, meskipun ia masih tetap sebagai penganut Protestan yang taat.

    Kebahagiaan saya semakin bertambah lengkap, tatkala saya mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama istri tercinta pada tahun 1989.

     
    • andreas 1:53 am pada 19 Agustus 2013 Permalink

      Syalom,itu semua pilihan hati anda…
      semoga kehidupan anda lebih baik didalam pilihan anda pak…

      Yudas iskariot seorang murid dari Yesus juga dipilih oleh Yesus tetapi pada akhirnya dia meninggalkan Yesua dan berakhir didalam kematian kekal….

  • erva kurniawan 1:50 am pada 20 January 2013 Permalink | Balas  

    Orang Tua Sumbu Pendek

    Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

    Tiba-tiba, saya marah kepada anak saya. Saya membelalakkan mata lebar-lebar, dengan wajah menegangkan dan suara yang menakutkan. Untunglah istri saya segera bertindak.

    Ia panggil anak saya baik-baik, mengajaknya bicara empat mata tanpa amarah yang meluap-luap, lalu menasehatinya dengan lembut dan tegas. Anak saya yang usianya belum mencapai lima tahun itu memerah matanya, merebahkan badannya di pangkuan ibunya tanda bahwa ia menyesal -bukan kesal.

    Entah apa yang dikatakan oleh ibunya, seperti nyaris berbisik, tetapi anak saya segera keluar menemui saya. “Bapak, aku sayang sama Bapak. Aku minta maaf, ya?” katanya.

    Saya pegang tangannya lalu saya pangku. “Iya, Nak. Bapak juga minta maaf. Tadi bapak salah. Bapak nggak boleh marah seperti itu,” kata saya menanggapi, sambil diam-diam merasa malu.

    Ya, saya tidak boleh marah dengan cara yang buruk. Memarahi anak memang boleh jika benar-benar dibutuhkan. Tetapi memarahi berbeda dengan marah. Memarahi tidak selalu karena marah, meski acapkali orangtua memarahi anaknya karena emosi yang meluap-luap, saat hati dan pikiran sama-sama keruh. Memarahi bisa kita lakukan dengan kondisi emosi yang terkontrol, jernih dan tenang.  Lalu, seperti apa marah dengan cara yang buruk? Dan bagaimana pula seharusnya bila kita harus memarahi anak?

    Sumbu Pendek

    Ada beberapa hal buruk yang sering dialami orangtua semacam saya. Mereka cepat tersulut emosinya karena ada hal-hal yang kurang menyenangkan dari anak. Mereka cepat melampiaskan kemarahan hanya karena kejadian-kejadian kecil, tanpa berusaha mengendapkan terlebih dulu untuk mencari jalan paling jernih. Tidak menunggu waktu lama untuk mencubit anak dengan keras, membelalakkan mata secara menakutkan, atau segera menghujaninya dengan kata-kata makian dan umpatan. Begitu anak melakukan sedikit kesalahan, atau bahkan belum tentu merupakan kesalahan, seketika itu pula orangtua menyerangnya dengan kata-kata ancaman, cap yang buruk atau pertanyaan yang memojokkan. Orangtua semacam ini memiliki sumbu pendek, sehingga cepat terbakar tanpa sempat berpikir.

    Sebagian orangtua sumbu pendek menganggap tindakan yang keras, mudah meledak dan reaktif sebagai pilihan terbaik untuk memberi pelajaran pada anak. “Biar anak tidak kurang ajar,” kata seorang ibu, “Mereka harus diajari sopan santun.” Sayangnya, banyak yang merasa mengajarkan sopan santun tanpa pernah menerangkan kepada anak apa yang seharusnya dilakukan. Mereka hanya memberi hukuman yang menyakitkan dan memarahinya habis-habisan ketika anaknya berbuat yang tidak sesuai dengan keinginannya. Padahal, ada kaidah yang mengatakan, “Qubhunal ‘iqab bila bayan.” Adalah buruk menyiksa (menghukum) tanpa memberi penjelasan.  Menghukum dengan memberi penjelasan bukan berarti memukuli atau membentak-bentak sambil menyanyikan lagu cercaan, “Bodoh itu. Awas, kalau kamu melakukan lagi, saya jewer kamu. Ayo, kamu ulangi lagi nggak? Awas kau nanti! Kalau kamu lakukan lagi, saya lempar kamu.”

    Menghukum dengan memberi penjelasan berarti, kita menunjukkan kepada anak apa yang baik, apa yang sepatutnya dilakukan, dan sesudahnya menunjukkan apa yang tidak baik untuk dikerjakan. Kita tunjukkan kepada anak konsekuensinya jika anak mengerjakan yang buruk dan salah. Atau, kita jelaskan kepada anak dengan cara yang lembut dan tegas kesalahan yang baru saja ia lakukan.

    Sikap yang reaktif atau bahkan impulsif dalam menghukum anak akan menjadikan anak belajar menganggap kekerasan sebagai hal yang biasa. Tidak menakutkan. Mereka tidak lagi merasa takut mendapat hukuman orangtua, asal keinginannya terpenuhi. Alhasil, jika Anda sering sekali memarahi anak -apalagi kalau sulit ditebak apa yang membuat Anda memarahinya- jangan salahkan siapa-siapa kalau anak menganggap Anda sebagai macan kertas. Jangan kaget kalau ibunya marah-marah, tetapi anaknya yang kelas empat SD berkata, “Tuh, ibu lagi kumat.”

    Sekalipun memarahi dengan cara ini memang bisa menghentikan perilaku negatif anak, tetapi bukan karena sadar. Anak berhenti melakukan semata-mata karena takut kepada orangtua. Sewaktu-waktu ketakutan itu memudar, atau merasa tak terjangkau oleh pengawasan dan kemarahan orangtua, atau pun merasa sudah punya kekuatan untuk berkata tidak, anak tidak lagi patuh kepada orangtua. Sebaliknya, anak bahkan bisa melawan orangtua.

    Itulah sebabnya kenapa sebagian anak begitu patuh pada orangtua saat mereka kanak-kanak, tetapi berubah menjadi penentang saat remaja. Ada pula yang tetap menjaga kepatuhan sampai masa remaja, tetapi hanya di hadapan orangtua atau berada dalam jangkauan pengawasan orangtua.

    Jika ini terjadi pada anak-anak kita, saya tidak dapat membayangkan bagaimana nasib kita di akhirat kelak. Jangankan di akhirat, ketika uban belum memenuhi kepala pun kita sudah bisa sangat kerepotan. Kita tidak pernah bisa istirahat, meski cuma sejenak. Kita dipaksa mengawasi mereka terus-menerus, padahal kita tidak akan pernah punya kesanggupan untuk mengawasi mereka secara benar-benar sempurna. Karenanya, marilah kita memohon kepada Allah penjagaan atas hati dan iman anak-anak kita. Sesungguhnya, sebaik-baik penjaga adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Selebihnya, marilah kita ingat pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

    Seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw. “Ya Rasul Allah, berpesanlah kepadaku.” Nabi saw berpesan, “Laa taghdhab! Jangan marah.” Laki-laki itu bertanya berulang-ulang, tetapi Nabi saw tetap berpesan berulang kali pula, “Laa taghdhab! Jangan marah.” (HR. Bukhari).

    Ya, jangan marah. Tetapi alangkah sulitnya menahan marah bila hati sedang keruh dan pikiran sedang rusuh. Lebih-lebih jika tak ada keteduhan jiwa antara suami dan istri lantaran kurangnya syukur atau banyaknya keluh kesah. Atau boleh jadi keadaan itu tidak terjadi di rumah kita, tetapi kita masih sulit mengelola emosi sehingga mudah melampiaskan kemarahan secara berapi-api. Dan inilah yang dirasakan oleh banyak orangtua. Mereka sebenarnya ingin menjadi orangtua yang paling lembut, paling sayang dan paling bijak kepada anaknya. Mereka tidak ingin kasar dan bertindak secara tergesa-gesa, tetapi masih saja sering melakukan kegagalan.

    Dalam kasus yang terakhir ini, kerjasama antara suami dan istri sangat penting peranannya. Mereka perlu saling mengingatkan dan saling menyadari keterbatasan.  Berkenaan dengan mengingatkan, ada dua hal penting yang perlu kita perhatikan. Pertama, ingatkanlah kekeliruan yang dilakukannya saat ini tanpa memojokkan. Tanpa menyalahkan. Teguran yang disampaikan dengan baik dan lembut akan lebih mudah diterima. Seperti sore itu, istri saya memberi teguran dengan empatik tanpa suara yang meninggi, sehingga saya segera menyadari kekeliruan atas tindakan saya kepada anak. Kedua, terimalah teguran itu dengan lapang. Bukan sebagai ancaman atau serangan terhadap harga diri. Sebaik dan selembut apa pun nasehat yang diberikan, tapi kalau kita menerimanya dengan penuh kecurigaan (“Tumben, kok dia bicara seperti itu.”), menganggapnya sebagai serangan terhadap harga diri (“Kok sepertinya cuma saya yang bersalah, padahal dia juga melakukan banyak kesalahan.”), apalagi kita tanggapi dengan serangan balik (“Apa kamu merasa tidak pernah melakukan kesalahan?”), maka seluruh upaya yang baik itu akan sia-sia. Komunikasi akan macet dan saling pengertian tidak tercapai. Boleh jadi, ini akan memicu komunikasi yang bernada saling menyerang dan memaksa. Inilah yang disebut coercive communication, salah satu penyebab utama pertengkaran dan perceraian.

    Masih tentang marah. Memarahi anak secara impulsif, tiba-tiba, dan tanpa berpikir jernih justru dapat membuat anak kebal hukuman. Ia tidak lagi takut terkena bentakan, cubitan atau bahkan pukulan yang paling keras sekalipun. Ia merasakannya sebagai ritme hidup yang harus dijalani dan karena itu tidak perlu dirisaukan lagi. Rasa dongkol dan sakit hati memang tetap ada, tetapi tidak membuat anak jera. Jika ini terjadi, kemarahan orangtua akan berkejar-kejaran dengan “kenakalan” anak. Orangtua marah sepanjang hari, berteriak setiap saat, dan mencubit tanpa henti; sementara anak akan tetap melakukan kenakalannya. Bahkan boleh jadi, anak akan berusaha melawan sebisa-bisanya.

    Keadaan ini akan lebih buruk lagi jika orangtua suka marah semata-mata karena mengikuti kata hatinya. Jadi benar tidaknya perbuatan anak, ditentukan oleh suasana hati orangtua. Hari ini satu perbuatan bisa disambut dengan senyuman, atau sekurang-kurangnya dibiarkan tanpa teguran, tetapi besok bisa tiba-tiba mendatangkan amarah yang menakutkan. Ini menyebabkan anak tidak bisa belajar mengambil keputusan yang baik. Sebaliknya, ia hanya mengikuti kemana angin bertiup atau belajar melawan. Ia tidak punya pendirian yang teguh, lemah, mudah terpengaruh atau sebaliknya, ia menjadi orang yang sangat keras kepala.

    Di sisi lain, tindakan kita yang secara reaktif memarahi anak bisa mematikan kreativitas dan potensi unggul anak. Saya pernah melakukan kesalahan. Dua orang anak saya mengambil cucian yang belum selesai dibilas, sehingga pekerjaan justru bertambah. Saya segera bertindak. Cucian itu saya ambil tanpa bertanya kepada anak. Meskipun tanpa memukul dan atau membentak, tetapi anak saya menampakkan tanda ingin berontak. Ia dongkol. Ketika itulah saya tersentak. Saya dekati mereka dan bertanya, “Cuciannya kenapa diambil, Nak?”

    “Aku mau bantu. Biar ibu nggak capek,” kata Husain.  “Aku hati-hati kok ngambilnya, Pak,” kata Fathimah menambahkan, “Aku mau bantu Bapak.”

    Ya. Allah, maksud yang baik tetapi saya sikapi dengan buruk. Dan alangkah sering kita melakukan yang demikian. Karenanya, begitu menyadari kekeliruan yang saya lakukan, saya segera meminta maaf sekaligus ucapan terima kasih kepada mereka. Sesudahnya, saya beri sedikit penjelasan. Bayangkan kalau kesalahan semacam itu terjadi setiap hari, betapa besar potensi kebaikan anak yang terkubur dalam-dalam sebelum sempat berkembang!

    Benarlah kata Rasulullah. Jangan marah! Jangan marah! Jangan marah! Boleh memarahi anak, tetapi bukan untuk memperturutkan emosi. Ini butuh usaha yang keras dan kesediaan saling mengingatkan antara suami dan istri.  Nah, semoga Allah membaguskan akhlak kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Semoga Allah menjaga keturunan kita seluruhnya. Allahumma amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:00 am pada 19 January 2013 Permalink | Balas  

    Beras dari Langit

    Allah mengiriminya “orang tak dikenal dari langit” dengan membawakan berkarung-karung beras. Demikianlah satu balasan yang diberikan Allah sebagaimana janjinya kepada para pejuang agama Nya

    Hidayatullah.com — Perempuan itu terlihat khusyuk di atas sajadahnya. Wajahnya bening, bersahaja memancarkan sinar kemuliaan dari hati yang qona ah. Jari tangannya masih bergerak-gerak mengiringi rentak tasbihnya, puji cinta yang tak pernah bosan ia lantunkan untuk sang kekasih yang Maha Pengasih.

    “Hhhhh…Ukh…..ukh…..”

    Anak lelaki usia 10 tahunan yang terbaring lemah di atas kasur di sampingnya menggeliat. Dia mengigau lagi. Panas tubuhnya belum turun dari tadi malam. Perempuan itu menghentikan zikirnya. Diperhatikannya lalu dengan penuh kasih diusapnya dahi anak itu.

    “Alhamdulillah … panasnya sudah turun”

    “Salman, minum dulu, nak!” Katanya sambil menyodorkan segelas teh.

    Perempuan itu kemudian bangun dari duduknya. Melipat sejadah dan muqananya, lalu beranjak ke dapur.

    Salman hanyalah satu dari puluhan santri yang mondok di rumahnya. Mereka kebanyakan anak-anak usia sekolah dasar, sebagian yatim atau piatu. Di pondok itu mereka diasuh dan dibesarkan, dididik dan diajari shalat, akhlak, mengaji dan menghafal Al-Qur’an. Mereka juga disekolahkan di SD, SMP ataupun MTSN setempat. Santri-santri itu memang diperlakukan layaknya anak kandung sendiri, sehingga bila ada di antara mereka yang sakit, ia sendiri yang akan merawat dan menjaganya sampai sembuh.

    “Ummi …”

    “Ada apa Da?”

    “Hmm… ini Ummi, Ida cuma mau memberitahu. Beras persiapan kita sudah hampir habis.” Ida juga seorang santriwati yang rajin membantunya di dapur.

    “Hmm…, baiklah. Oh ya, sepertinya di luar ada tamu ya, Da? Sudah dibuatkan minum?”

    “Sudah, Ummi”.

    Ia bergegas ke ruang tamu. Di beranda, suaminya tengah beramah-tamah dengan beberapa guru. Ia berhenti di balik pintu, mencoba mencermati percakapan mereka.

    “Ustadz, kami rasa, sistem yang lama sudah tidak bisa diteruskan lagi. Jumlah santri semakin bertambah, sementara sarana yang kita miliki tidak memadai,” ujar salah seorang guru kepada Pimpinan Pondok.

    “Betul, Ustadz, kita harus memungut bayaran dari santri. Minimal untuk menutupi biaya makan mereka. Kami dengar bahkan beras pun sering kali hampir habis. Bagaimana kalau untuk makan saja tidak cukup?” kata yang lain menambahi.

    “Tapi kalian belum pernah betul-betul kelaparan bukan?” jawab beliau, kalem dan bijaksana.

    “Begini, Ustadz … Maksud kami, biar dana yang biasanya untuk makan santri itu dialihkan untuk dana lain.”

    “Iya, asrama santri perlu ditambah. Bangunan yang ada tidak layak lagi untuk menampung para santri yang jumlahnya bertambah terus. Begitu juga ruang belajar dan sarana kebersihan seperti kamar mandi, toilet, dan lain sebagainya.”

    Hening sejenak. Kemudian terdengar helaan nafas yang berat dari lelaki bijaksana itu.

    “Kami akan menyiapkan proposal permohonan bantuan dana ke seorang kaya yang kami dengar sering membantu pesantren, kalau kalian setuju,” ujar salah seorang dari mereka setengah mendesak namun hati-hati, khawatir akan menyinggung perasaan Pak Ustadz.

    Sunyi lagi. Pak Ustadz tetap terdiam. Beliau hanya sesekali menghela nafas sambil melempar pandangan ke luar. Tetapi kemudian,

    “Baiklah, Ustadz, kami pamit dulu,” kata rombongan guru itu.

    “Assalamu ‘alaykum!”

    “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Pak Ustadz.

    Beberapa saat sesudah mereka pergi, perempuan yang tadi berdiri di balik pintu dan menyimak pembicaraan itu keluar, lalu duduk di sebelah suaminya.

    “Saya mengikuti dialog tadi,” katanya memecah keheningan.

    “Dan sudah tahu, bukan, apa jawaban saya. Sampai kapan pun, akan tetap sama, jawab suaminya. Sejak didirikan pada tahun 1975, pesantren itu memang tidak memungut iuran sama sekali walau satu sen pun dari para santri, wali ataupun orangtua mereka. Semuanya gratis, dari mulai makan hingga biaya sekolah.

    “Beras di dapur sudah hampir habis. Hanya cukup untuk hari ini saja,” kata perempuan itu kepada suaminya. Suaranya tetap datar, hanya bermaksud memberitahu. Suaminya hanya terdiam. Tak sepatah kata pun diucapkannya. Janji yang ia ikrarkan kepada Sang Khalik tidak akan berubah, karena ia sangat yakin Allah tidak pernah menyalahi janjiNya: in tanshuru-llaha yanshurkum. Orang yang berjuang menegakkan agama Allah pasti akan ditolong, dijamin dan dimenangkan olehNya.

    Pak Ustadz belum beranjak dari duduknya. Hanya kelihatan bergumam sambil menggerak-gerakan jari-jemarinya, larut dalam zikir dan doa. Tidak lama kemudian terdengar suara riuh rendah. Nampaknya santri-santri telah selesai melakukan olah raga, jalan keliling kampung. Sudah menjadi acara khusus di hari Minggu pagi bagi pesantren tersebut. Perempuan itu melongok ke ruang dalam, melihat jam dinding, sudah jam 10. Bergegas dia masuk, menuju dapur. Hanya ada Ida dan Yati di sana, dia harus membantunya menyiapkan makan siang

    ***

    Selesai sholat zuhur, lingkungan pesantren kembali sepi. Sebagian besar santri sedang beristirahat di pondokan masing-masing. Tiba-tiba sebuah truk berhenti di depan pesantren. Sopir dan seorang lagi temannya menurunkan karung-karung beras dari truk itu. Salah seorang dari mereka melambaikan tangan ke arah santri yang sedang duduk-duduk di kursi kayu di depan salah satu pondokan tidak jauh dari pintu gerbang. Bergegas santri itu mendekati orang tersebut.

    “Panggil temanmu. Angkat karung-karung ini ke dapur”, kata orang tadi. Selesai menurunkan semua karung-karung, tanpa berkata apa-apa lagi, kedua orang itu pun langsung pergi. Belum sempat santri itu bertanya, truk sudah bergerak meninggalkan kepulan asap dan debu. Santri itu hanya melongo sesaat setelah itu segera berlari memanggil kawannya.

    “Ilham, orang yang mengantar beras ini sudah dipersilahkan masuk? Biar Ummi panggil Ustadz sebentar, ya!”

    “Orangnya sudah pergi Ummi,” agak ngos-ngosan anak yang dipanggil Ilham itu menjawab.

    “Lho…, dia bilang atau tidak, dari mana beras-beras ini?” tanya Ummi keheranan.

    “Ilham belum sempat tanya Ummi. Orangnya sudah keburu pergi. Dia hanya menyuruh saya mengangkat karung-karung ini ke dapur”.

    “Ya sudahlah …”.

    Ketika disampaikan perihal kedatangan orang-orang tak dikenal itu, suaminya menjawab singkat: “Oh, itu beras dari langit.”

    Demikianlah satu dari sekian banyak pengalaman yang ia lalui selama mendampingi suaminya membina pesantren yang kini kelihatan sudah berkembang dengan pesat dan mulai dikenal luas di seantero nusantara.

    Siapakah orangnya yang (mahu) memberikan pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman yang baik (yang ikhlas) supaya Allah melipatgandakan balasannya dengan berganda-ganda banyaknya? Dan (ingatlah), Allah jualah Yang menyempit dan Yang meluaskan (pemberian rezeki) dan kepadaNyalah kamu semua dikembalikan. (QS.2:245)

    “Orang-orang mukmin itu hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.S. Al Hujurat :10).

    ***

    Oleh: Andi Sri Suriati Amal

     
  • erva kurniawan 1:44 am pada 2 January 2013 Permalink | Balas  

    Ketika Naira Berjilbab

    Adalah Naira seorang gadis remaja lulus SMU. Naira memiliki wajah yang cantik, tubuhnya langsing, dengan tinggi hampir 170 cm. Naira memilik kegemaran yang jarang dimiliki oleh wanita seusianya yakni berolahraga. Hampir semua bidang olahraga ia kuasai. Ketika teman-temannya mendaftar diperguruan tinggi dengan memilih jurusan yang populer, banyak diminati agar mudah mencari kerja, atau memilih bidang yang bergengsi misalnya; Naira justru memilih untuk kuliah di Universitas Negeri Jakarta [ dulu namanya IKIP] mengambil jurusan ‘langka’, – olahraga -.

    Selama Naira kuliah ia mengambil jurusan olahraga voli. Selain cantik, Naira cerdas, ia berprestasi. Sehingga dimasa kuliahnya ia juga mampu mencari uang sendiri. Misanya memberi pelajaran privat berenang; mengajar ilmu beladiri, senam di kursus-kursus. Kepandaian ber volinya juga memberi dampak bagi lingkungan tempat tinggalnya. Ia melatih warga dan sering memenangkan lomba voli dalam rangka 17-an atau antar RT, kelurahan.

    Puncaknya, ketika Naira terpilih menjadi tim voli dari universitasnya untuk mengikuti acara olahraga antar mahasiswa. Naira bisa berkunjung ke daerah-daerah lain di Indonesia. Naira juga sempat terpilih menjadi anggota tim voli yang mewakili daerah (porda), bahkan nasional. Secara internasional pun Naira sempat merasakannya; bagaimana dieluk-elukan, di puja -puji. Buah keahliannya menghasilan penghargaan; berupa piala, medali, piagam dan tentunya juga materi serta fasilitas lainnya dari universitas.

    Di penghujung masa ia hendak meraih gelar S1 nya, Naira memutuskan untuk berjilbab. Betapa godaan, kesempatan emas untuk berkarir itu justru datang bertubi-tubi padanya ketika ia telah berjilbab. Bermula dari tawaran suatu yayasan kedaerahan di tempat ia tinggal agar Naira bisa mengikuti lomba ‘ratu-ratu-an’. Naira menolak dengan halus. Orangtua Naira yang mempunyai kedekatan dengan personil di AL, memungkinkan Naira bisa merintis karir sedikit mudah untuk menjadi bagian dari korps wanita AL. Kemudian juga ada tawaran untuk menjadi pramugari. Pada karir-karir inilah yang kemudian Naira sempat bimbang. Naira sebenarnya sangat ingin, karena selain menyukai olahraga ia juga senang berpergian. Tapi Naira memutuskan untuk mengatakan tidak, karena untuk profesi ini ia harus menanggalkan jilbabnya; meskipun hanya untuk selama masa pendidikan dan bertugas.

    Selama menganggur setelah menjadi sarjana, ia mendapatkan tawaran dari teman-temannya, lembaga, klub untuk menjadi bagian dari tim voli mereka. Naira menolak, selain harus melepas jilbab, busana resmi voli untuk wanita sangat tidak islami, begitu penuturannya.

    Kini, Naira berprofesi sebagai pengajar di sebuah taman kanak-kanak, menjadi instruktur olahraga bagi anak-anak TK. Naira anak sulung dengan 3 orang adik, berasal dari keluarga sederhana. Umurnya belum 25, ia masih muda tapi ia tak mudah tergoda ketika menentukan arah hidup selanjutnya sesuai yang ia inginkan. Naira menerima banyak pertanyaan dari teman-temannya sehubungan dengan sikapnya ini. Masa sih, seorang atlit bisa dengan mudah berpindah profesi menjadi guru taman kanak-kanak, meninggalkan hiruk pikuk sorak sorai ketenaran, mengabaikan kesempatan profesi yang memungkinkan mendapatkan materi, fasilitas yang lebih menjanjikan sekedar untuk mempertahankan keyakinannya?

    ***

    [Kisah ini nyata, terimakasih untuk 'Naira' yang telah membagi pengalaman hidupnya]

     
    • irahakim 5:38 pm pada 7 Januari 2013 Permalink

      Semoga Allah selalu menjagamu, Naira :-)

  • erva kurniawan 1:30 am pada 7 December 2012 Permalink | Balas  

    Kerja Itu Cuma Selingan, Untuk Menunggu Waktu Shalat

    Ketika Pak Heru, atasan saya, memerintahkan untuk mencari klien yang bergerak di bidang interior, seketika pikiran saya sampai kepada Pak Azis. Meskipun hati masih meraba-raba, apa mungkin Pak Azis mampu membuat kios internet, dalam bentuk serupa dengan anjungan tunai mandiri dan dari kayu pula, dengan segera saya menuju ke bengkel workshop Pak Azis.

    Setelah beberapa kali keliru masuk jalan, akhirnya saya menemukan bengkel Pak Azis, yang kini ternyata sudah didampingi sebuah masjid. Pak Azispun tampak awet muda, sama seperti dulu, hanya pakaiannya yang sedikit berubah. Kali ini dia selalu memakai kopiah putih. Rautnya cerah, fresh, memancarkan kesan tenang dan lebih santai. Beungeut wudhu-an ( wajah sering wudhu), kata orang sunda. Selalu bercahaya.

    Hidayah Allah ternyata telah sampai sejak lama, jauh sebelum Pak Azis berkecimpung dalam berbagai dinamika kegiatan Islam. Hidayah itu bermula dari peristiwa angin puting-beliung, yang tiba-tiba menyapu seluruh atap bengkel workshop-nya, pada suatu malam kira-kira lima tahun silam. “Atap rumah saya tertiup angin sampai tak tersisa satupun. Terbuka semua.” cerita Pak Azis.”Padahal nggak ada hujan, nggak ada tanda-tanda bakal ada angin besar. Angin berpusar itupun cuma sebentar saja.”

    Batin Pak Azis bergolak setelah peristiwa itu. Walau uang dan pekerjaan masih terus mengalir kepadanya, Pak Azis tetap merasa gelisah, stres & selalu tidak tenang. “Seperti orang patah hati, Ndra. Makan tidak enak, tidur juga susah.”cerita Pak Azis lagi.

    Lama-kelamaan Pak Azis menjadi tidak betah tinggal di rumah dan stres. Padahal, sebelum kejadian angin puting-beliung yang anehnya hanya mengenai bengkel workshop merangkap rumahnya saja, Pak Azis merasa hidupnya sudah sempurna. Dari desainer grafis hingga jadi arsitek. Dengan keserbabisaannya itu, pak Azis merasa puas dan bangga, karena punya penghasilan tinggi. Tapi setelah peristiwa angin puting-beliung itu, pak Azis kembali bangkrut, beliau bertanya dalam hati : “apa sih yang kurang” apa salahku ” ?

    Akhirnya pak Azis menekuni ibadah secara mendalam “Seperti musafir atau walisongo, saya mendatangi masjid-masjid di malam hari. Semua masjid besar dan beberapa masjid di pelosok Bandung ini, sudah pernah saya inapi.” Setahun lebih cara tersebut ia jalani, sampai kemudian akhirnya saya bisa tidur normal, bisa menikmati pekerjaan dan keseharian seperti sediakala.

    “Bahkan lebih tenang dan santai daripada sebelumnya.”

    “Lebih tenang ? Memang Pak Azis dapet hikmah apa dari tidur di masjid itu ?”

    “Di masjid itu ‘kan tidak sekedar tidur, Ndra. Kalau ada shalat malam, kita dibangunkan, lalu pergi wudhu dan tahajjud. Karena terbiasa, tahajjud juga jadi terasa enak. Malah nggak enak kalau tidak shalat malam, dan shalat-shalat wajib yang lima itu jadi kurang enaknya, kalau saya lalaikan. Begitu, Ndra.”

    “Sekarang tidak pernah terlambat atau bolong shalat-nya, Pak Azis ?”

    “Alhamdulillah. Sekarang ini saya menganggap bhw yg utama itu adalah shalat. Jadi, saya dan temen-temen menganggap kerja itu cuma sekedar selingan aja.” “Selingan ?”

    “Ya, selingan yang berguna. Untuk menunggu kewajiban shalat, Ndra.” Untuk beberapa lama saya terdiam, sampai kemudian adzan ashar mengalun jelas dari masjid samping rumah Pak Azis. Pak Azis mengajak saya untuk segera pergi mengambil air wudhu, dan saya lihat para pekerjanyapun sudah pada pergi ke samping rumah, menuju masjid. Bengkel workshop itu menjadi lengang seketika. Sambil memandang seluruh ruangan bengkel, sambil berjalan menuju masjid di samping workshop, terus terngiang-ngiang di benak saya : “Kerja itu cuma selingan, Ndra. Untuk menunggu waktu shalat…”

    Sepulangnya dari tempat workshop, sambil memandang sibuknya lalu lintas di jalan raya, saya merenungi apa yang tadi dikatakan oleh Pak Azis. Sungguh trenyuh saya, bahwa setelah perenungan itu, saya merasa sebagai orang yang sering berlaku sebaliknya. Ya, saya lebih sering menganggap shalat sebagai waktu rehat, cuma selingan, malah saya cenderung lebih mementingkan pekerjaan kantor. Padahal sholat yang akan bantu kita nantinya…(sungguh saya orang yang merugi..) Kadang-kadang waktu shalat dilalaikan sebab pekerjaan belum selesai, atau rapat dengan klien dirasakan tanggung untuk diakhiri.

    Itulah penyebab dari kegersangan hidup saya selama ini. Saya lebih semangat dan habis-habisan berjuang meraih dunia, daripada mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan kekal di akhirat nanti. Padahal dunia ini akan saya tinggalkan juga, kenapa saya begitu bodoh..

    Saya lupa, bahwa shalat adalah yang utama. Mulai saat itu saya berjanji untuk mulai shalat di awal waktu..

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:30 am pada 5 December 2012 Permalink | Balas  

    Lelaki Kubah dan Tukang Pos

    Cerpen Adek Alwi

    Ia lelaki tua pembuat kubah yang bekerja setelah fajar dan berhenti saat pudar matahari. Tujuh hari sepekan, tiga puluh hari sebulan — diseling kegiatan lain yang tak bisa diabaikan: makan, tidur, ke masjid di hari Jumat, bersapaan dengan tetangga atau kenalan yang lewat. Juga dengan tukang pos muda yang selalu berhenti di tepi jalan di luar pagar halaman. Setiap kali sepeda motor tukang pos itu terdengar si tua itu akan menelengkan kepala yang nyaris botak serta beruban. Menegak-negakkan punggung yang bungkuk, dan mendekat tertatih-tatih. “Wah. Kosong, Pak Kubah!” sambut si tukang pos.

    “Kosong?”

    “Mungkin besok,” suara tukang pos seperti membujuk.

    “Ya. Mudah-mudahan.” Pembuat kubah itu manggut-manggut. “Banyak surat diantar hari ini?”

    “Lumayan, Pak Kubah. Semoga isinya pun berita gembira.”

    “Mudah-mudahan. Menyenangkan dapat menggembirakan orang, Pak Pos.”

    “Tapi awak hanya tukang pos, Pak Kubah.”

    “Hehehe. Tidak ada Pak Pos malah kegembiraan tak jadi sampai.”

    “Terima kasih. Mudah-mudahan besok giliran Pak Kubah.”

    “Mudah-mudahan.”

    Tukang pos itu selalu berhenti di luar pagar meski tahu tidak ada surat untuk laki-laki tua itu. Pembuat kubah itu tidak punya siapa-siapa dalam hidupnya. Kecuali tetangga, pemesan kubah, orang lepau tempat makan, serta penjual bahan untuk kubah. Istrinya meninggal belasan tahun lalu. Satu-satunya anaknya, lelaki, mati waktu kecil.

    Tetapi si tua itu mengesankan seolah anak itu masih ada, sudah dewasa, dan merantau seperti lazimnya anak-anak muda kota itu. Begitu didengar si tukang pos muda waktu baru bertugas di kota itu, menggantikan tukang pos tua yang kini pensiun dan berleha-leha dengan cucu.

    “Kurang waras?” tanya tukang pos muda itu mula-mula pada tukang pos tua. “Tidak. Tidak. Bahkan ramah. Juga rajin. Kerja sejak pagi, berhenti menjelang magrib. Bayangkan. Tiap hari begitu, sudah berpuluh tahun.”

    “Sejak muda hanya membuat kubah?”

    “Kata orang, sejak kecil,” ujar tukang pos tua. “Langganannya tidak cuma dari kota ini saja. Tapi tak pernah dia pasang tarif.”

    “Maksud Bapak?”

    “Ia hanya menyebut modal pembuat kubah. Terserah, mau dibayar berapa.”

    “Wah!”

    “Betul. Dan punggungnya tambah bungkuk tiap selesai bikin kubah.” Tukang pos muda itu kembali melongo. “Maksudnya bagaimana?”

    “Punggung si pembuat kubah itu,” ujar tukang pos tua menjelaskan. “Tiap kali selesai membuat kubah tampak makin lengkung, membuat mukanya seperti mendekat terus ke tanah. Seolah-olah ingin mencium tanah!”

    Mungkin karena cerita-cerita itu, atau iba pada kesendirian lelaki tua itu serta takjub melihat ketabahannya menanti surat yang tak kunjung tiba, si tukang pos muda akhirnya memenuhi permintaan tukang pos tua yang sudah pensiun. Kecuali hari libur dan Minggu ia berhenti di pinggir jalan mengucapkan tak ada surat dan bicara sejenak dengan si pembuat kubah. Saat ia melaju lagi di jalan dilihatnya lelaki tua itu kembali bekerja. Punggungnya lengkung — teramat lengkung tidak ubahnya batang-batang padi yang buahnya sudah masak. “Nah! Betul, kan?” sambut si tukang pos tua saat tukang pos muda itu bertamu sore-sore ke rumahnya dan bercerita.

    Tukang pos muda itu membenarkan. “Tapi kenapa bisa begitu?” dia bilang. “Entah, tak ada yang tahu. Sejak tugas di kota ini saya dapati seperti itu. Boleh jadi hanya pembuat kubah itu sendiri yang tahu.” “Tidak pernah Bapak tanya?”

    “Tak tega saya. Dia baik dan ramah sekali,” jawab tukang pos tua. “Saya cuma singgah tiap hari, bicara sebentar saling bertanya kabar, lalu bilang tidak ada surat dan mungkin besok.”

    Tetapi tukang pos muda itu tega bertanya. Dan pembuat kubah tua itu terkekeh mendengarnya. “Ada-ada saja,” dia bilang. “Kalau padi memang seperti itu, Pak Pos. Eh, mestinya hati manusia juga, ya. Tetapi punggung saya, hehehe, ada-ada saja Pak Pos Tua dan orang-orang itu.”

    “Jadi Pak Kubah sama sekali tidak merasa? Bahwa punggung….”

    “Hehehe. Punggung ini tentu saja tambah bungkuk, Pak Pos. Dulu tak begini. Maklumlah, semakin tua. Agaknya setua ayah Pak Pos. Ah, tidak. Pasti saya lebih tua. Pasti. Tapi anak saya itu, ya, anak saya mungkin sebaya dengan Pak Pos. Eh, belum ada tiba surat dia?”

    “Oh. Belum, Pak Kubah. Kosong. Mudah-mudahan besok.”

    “Ya, besok. Mudah-mudahan.” Pembuat kubah itu manggut-manggut.

    Sejak itu si tukang pos muda berhenti tiap hari di pinggir jalan di luar pagar si pembuat kubah. Tidak kecuali hari libur atau Minggu. Apalagi, sebagai orang baru di kota itu belum banyak ia punya kenalan — untuk kawan berbincang seusai kerja atau di saat senggang. Ibunya di kampung sudah mencari gadis yang patut untuk pendamping hidupnya dan ia pun telah setuju tetapi belum berani melamar mengingat gaji yang tak memadai untuk berdua. Tukang pos itu juga tidak mendambakan yang muluk-muluk. Tapi, menurutnya, hidup dalam perkawinan seyogianya lebih baik daripada saat masih sendiri.

    Kadang, tukang pos itu juga memarkir sepeda motornya di halaman sekaligus bengkel lelaki tua itu, hingga mereka leluasa bercakap-cakap. Pembuat kubah itu pun senang ditemani. Kadang-kadang, meski dicegah si tukang pos dia berteriak ke lepau seberang jalan memesan dua gelas teh, juga pisang goreng, dan mereka lalu bercakap-cakap sambil minum teh serta menyantap pisang goreng.

    Pembuat kubah itu bercakap-cakap sambil terus bekerja, dan tukang pos muda itu memperhatikan serta bertanya-tanya. Wajah si tua itu dilihatnya berseri-seri meski kulitnya keriput. Lengannya coklat, dan kukuh serupa kayu. Urat-urat tangannya hijau bertonjolan, melingkar-lingkar bagai cacing. Tangan tua itu amat cekatan melipat atau membulat-bulatkan seng. Menggunting, atau menokok-nokok dengan palu kayu. Atau mematri. Semua dilakukan si pembuat kubah tanpa buru-buru, sambil bercakap-cakap dengan si tukang pos. “Hebat!” puji si tukang pos muda.

    “Ya?”

    “Hebat benar Pak Kubah bekerja!” ulang tukang pos. “Cekatan, seolah mudah saja pekerjaan itu buat Pak Kubah.”

    “O. Hehehe. Alah bisa karena biasa, Pak Pos. Seperti Pak Pos mengantar surat dengan sepeda motor.”

    “Dan ikhlas,” ujar si tukang pos.

    “Hehehe. Kalau tidak tentu berat terasa,” sambut si pembuat kubah. Mereka terus bercakap-cakap. Si tukang pos terus pula memperhatikan tangan si pembuat kubah. Juga tubuhnya. Tubuh lelaki tua itu tentu tampak lebih tinggi, juga besar, kalau saja punggungnya tidak melengkung bungkuk dan badannya lisut. Tetapi wajahnya selalu berseri meski kulitnya keriput. Tukang pos itu berpikir, apakah wajah ayahnya –yang samar-samar saja ia ingat– akan keriput dan berseri andai sempat jadi tua. Jika tak wafat saat ia di sekolah dasar. Wajahnya juga. Apakah nanti keriput, tapi juga berseri-seri, seandainya Tuhan memberi dia usia panjang? “Berapa umur Pak Kubah tahun ini?” tanya tukang pos itu.

    “Hehehe. Tak jelas, Pak Pos. Tapi pasti sudah panjang, sebab punggung ini tak kuat lagi menyangga tubuh.” Pembuat kubah itu tertawa lagi.

    Musim hujan kemudian singgah di kota itu. Meski tidak selalu lebat dan lebih kerap berujud gerimis tapi tiap hari mendesis. Kadang-kadang sore, sepanjang malam, pagi, atau siang hari. Tukang pos itu berteduh di bawah pohon atau emperan toko bila hujan turun deras, dan kembali berkeliling ketika hujan menjelma gerimis. Tubuhnya tertutup mantel, sebatas leher ke atas saja mencogok bak kura-kura. Tapi di kepalanya ada pet. Mukanya ditutupi sapu tangan seperti perampok.

    Pembuat kubah itu sudah menggeser tempat kerjanya dari bawah pohon jambu ke emperan rumah agar terhindar dari hujan maupun tempias. Sedikit jauh dari pagar. Tapi telinganya tajam. Tiap kali terdengar suara sepeda motor tukang pos ia telengkan kepalanya. Tukang pos itu mulanya hendak lewat saja karena sapu tangannya sudah kuyup dan mukanya perih ditusuk-tusuk gerimis. Atau cukup ia melambai, dan teriak, “Kosong, Pak Kubah!” Namun, dia tepikan sepeda motor begitu tiba dekat pagar laki-laki tua itu. Dan pembuat kubah itu mendekat tertatih-tatih setelah menegak-negakkan punggung.

    “Wah. Kosong, Pak Kubah!”

    “Kosong?”

    “Kosong. Tapi, mungkin besok.”

    “Ya, ya. Besok. Mudah-mudahan. Singgahlah dulu. Ngopi.”

    “Terima kasih. Masih banyak surat harus diantar.” Dan tukang pos itu melaju pula. Sejenak dilihatnya lelaki tua itu tertatih-tatih di bawah gerimis, menuju emperan rumah. Punggungnya makin bungkuk seolah ingin sekali mencium tanah.

    Seperti biasa musim hujan cukup lama di kota itu. Atap, pohon, dan jalan-jalan tidak pernah kering. Orang-orang berpayung ke mana-mana. Berbaju hangat, jas, jaket atau mantel, sebab angin pun rajin bertiup meski tak pernah jadi badai.

    Tukang pos itu juga tak lepas-lepas dari mantel, pet serta sapu tangan menutup sebagian wajah. Dan walau sejenak, serta dengan muka terlihat makin putih juga perih ditusuk gerimis, ia berhenti dekat pagar berucap “kosong Pak Kubah, mungkin besok” dengan suara, bibir, dan dada bergetar. Kemudian dilihatnya lagi lelaki tua itu kembali melangkah, terbungkuk-bungkuk di bawah gerimis menuju emperan rumah.

    Tetapi, suatu hari, tukang pos itu merasa jadi manusia paling bahagia sedunia. Meski masih pucat malah makin perih ditusuk gerimis yang terus mendesis, wajahnya berseri. Belum tiga menit lalu ia bersorak kepada pembuat kubah itu, dan kali ini tidak dengan dada serta suara yang bergetar: “Surat Pak Kubah!”

    “Surat?”

    “Ya. Surat! Dari anak Pak Kubah!”

    Pembuat kubah itu menerimanya dengan jemari bergetar. Dan saat tukang pos itu melaju pula di jalan dilihatnya laki-laki tua itu masih berdiri di bawah rinyai hujan, melambai-lambaikan tangan.

    Lenteng Agung, 23 Juli 2005

     
  • erva kurniawan 1:27 am pada 2 December 2012 Permalink | Balas  

    Pengakuan Nakata Khaula

    Menutupt aurat? tak pernah terlintas baginya. Maklum, ia seorang aktifis feminis. Namur wanita asal Jepang ini berubah total dan justru menemukan kedamaian setelah mengenal Islam. Baca pengakuan seorang mantan aktifis feminisme ini

    Ketika saya kembali ke dalam pangkuan Islam, agama asli semua manusia, sebuah perdebatan sengit sedang terjadi di sekolah-sekolah Prancis tentang jilbab di kalangan pelajar perempuan-terutama keturunan imigran TImur-Tengah-hingga beberapa waktu lamanya (hal itu terjadi karena ada kebijakan pelarangan penggunaan jilbab dari otoritas Prancis, pen). Mayoritas pelajar berpendapat, public-dalam hal ini sekolah negeri-seharusnya bersikap netral dalam urusan agama, termasuk tentang tudung kepala (jilbab). Tidak dapat dipungkiri, kelompok Muslim di Prancis turut membayar pajak yang lumayan besar jumlahnya.

    Menurut saya, pihak sekolah hendaknya menghargai keyakinan seseorang atau kelompok dalam menjalankan ajaran agamanya sepanjang orang atau kelompok itu tidak mengganggu kegiatan rutin sekolah, apalagi sampai melanggar disiplin. Namun, tampaknya pemerintah Prancis sedang menghadapi gejolak social dengan meningkatnya jumlah pengangguran. Mereka merasa kehidupan ekonomi mereka terancam dengan makin banyaknya pekerja imigran Arab. Banyaknya penggunaan jilbab di kota-kota atau di sekolah-sekolah semakin memicu perasaan mereka itu.

    Pada kenyataannya, memang semakin banyak perempuan Arab imigran yang memakai jilbab, terlepas dari pandangan bahwa fenomena itu akan segera menghilang seperti halnya ketika sekularisme Barat menanamkan pengaruhnya di dunia Arab (Timur-Tengah). Ketahanan pelaksanaan ajaran Islam itu sering dianggap sebagai upaya kelompok Islam di mana saja untuk mengembalikan kebaggaan dan identitas mereka yang pernah hilang ditelan kolonialisme Barat.

    Di Jepang sendiri, sikap seperti itu mungkin dianggap sama dengan sikap tradisional konservatif orang Jepang yang muncul sebagai perwujudan perasaan anti-Barat. Sesuatu yang dalam pandangan bangsa Jepang adalah serupa dengan pengalaman yang kami rasakan sejak kami berinteraksi dengan budaya Barat pada zaman Restorasi Meiji. Bangsa Jepang saat itu memunculkan sikap penentangan terhadap gaya hidup yang tidak lagi tradisional dan mengikuti model pakaian Barat. Ada kecenderungan dalam suatu masyarakat untuk bersikap konservatif terhadap segala hal yang baru tanpa mau melihat kebaikan atau keburukannya.

    Perasaan seperti itu masih ada diantara kelompok non-Muslim di Prancis yang memandang bahwa penggunaan jilbab menunjukkan ketundukan para penggunanya sebagai budak budaya tradisional seolah-olah jilbab adalah ikon pengekangan. Oleh karena itu, sikap gerakan pembebasan dan pembelaan atas kaum hawa selalu terfokus pada upaya mendorong perempuan Muslim agar melepaskan jilbab-jilbab mereka sebagai tanda pembebasan itu atau mereka belum dianggap bebas sebelum jilbab-jilbab itu lepas dari kepala mereka.

    Pandangan yang naïf seperti itu, bagi kelompok Muslim, menunjukkan dangkalnya pengetahuan mereka tentang Islam di dalam gerakan pembebasan perempuan. Hal ini akibat kebiasaan mencampuradukkan pandangan secular dan nilai-nilai eklektisisme agama sehingga mereka tidak mampu lagi menangkap kesempurnaan Islam sebagai agama yang universal dan abadi.

    Hal itu berbeda sekali dengan kenyataan bahwa semakin banyak perempuan non-Muslim dan non-Arab dari seluruh penjuru dunia yang kembali ke pangkuan Islam. Bahkan, mereka melaksanakan kewajiban berjilbab atas kesadaran mereka sendiri dan bukan atas desakan tradisi yang dipandang berorientasi pada kekuasaan laki-laki atas perempuan (masculine-oriented).

    Saya adalah salah seorang diantara perempuan non-Arab (sebelumnya non-Muslim) yang dengan penuh kesadaran memakai jilbab bukan karena bagian dari identitas kelompok atau tradisi Islam semata atau memiliki signifikansi pada kelompok social dan politik tertentu, melainkan karena jilbab adalah identitas keyakinan saya, yaitu Islam. Bagi kelompok non-Muslim, jilbab tidak hanya dianggap sebagai penutup kepala, tetapi sebagai penghalang yang menyebabkan para perempuan itu tidak punya akses ke dunia yang luas. Seolah-olah, perempuan Muslimah tercerabut dari kebebasan yang seharusnya mereka rengkuh di dunia yang sekular.

    Sebelumnya, saya pernah diperingatkan tentang kemungkinan hilangnya kebebasan saya saat memutuskan untuk kembali ke pangkuan Islam. Saya diberitahu bentuk jilbab itu berbeda-beda menurut daerahnya masing-masing atau pemahaman dan kesadaran agamanya. Di Prancis, saya memakai jilbab yang sederhana-lebih tepat disebut penutup kepala-yang sesuai dengan mode dan sekedar tersampir di kepala sehingga terkesan modis.

    Namun ketika saya berada di Arab Saudi, saya memakai gamis hitam yang menutupi seluruh tubuh saya, termasuk mata. Jadi,saya telah merasakan sendiri penggunaan jilbab dari model yang paling sederhana hingga model yang dianggap kebanyakan orang paling “mengekang”. Mungkin Anda bertanya, apa makna jilbab bagi saya? Meski banyak buku dan artikel tentang jilbab, hampir semuanya cenderung ditulis dari sudut pandang “orang luar” (laki-laki). Saya harap tulisan ini dapat menjelaskan makna jilbab dari sudut pandang “orang dalam” (perempuan).

    Ketika saya memutuskan untuk kembali ke dalam pangkuan Islam, saya tidak berpikir tentang pelaksanaan ibadah shalat lima kali sehari atau tentang penggunaan jilbab. Barangkali saat itu saya khawatir jika saya terlalu dalam memikirkan hal itu, saya tidak akan pernah sampai pada keputusan yang tepat. Bahkan, hal itu mungkin akan mempengaruhi niat saya untuk bepaling ke Islam. Sebelum saya berkunjung ke sebuah masjid di Paris, sebetulnya saya tidak tertarik sama sekali terhadap Islam, termasuk tentang sholat dan penggunaan jilbab. Bahkan, tidak pernah terbayang sedikitpun. Namun sejak itu, keinginan saya kembali ke pangkuan Islam begitu kuat untuk dikalahkan pikiran-pikiran tentang tanggung jawab yang akan saya emban sebagai seorang Muslim, Alhamdulillah.

    Saya baru mulai merasakan keuntungan dan manfaat jilbab sesudah saya mendengarkan khotbah di sebuah masjid di Paris. Bahkan saat itu, saya tetap menggunakan kerudung kepala saya saat keluar dari masjid. Khotbah itu telah menjadi sebuah keputusan spiritual tersendiri seperti pengalaman saya sebelumnya dan saya tidak ingin kepuasan itu hilang. Mungkin karena cuaca yang dingin hingga saya tidak terlalu merasakan adanya kerudung di kepala. Selain itu, saya merasa bersih, suci, dan terjaga dari kotoran dalam arti yang fisik atau psikis. Saya merasa seolah berada di dalam lindungan Allah SWT. Sebagai orang asing di Paris, terkadang saya merasa tidak nyaman dengan pandangan liar laki-laki ke arah saya. Dengan jilbab, saya merasa lebih terlindung dari pandangan liar itu.

    Jilbab membuat saya bahagia sebagai wujud ketaatan dan manifestasi iman saya kepada Allah SWT. Saya tidak perlu meyakinkan diri saya lagi karena jilbab telah menjadi tanda bagi semua orang, terutama sesame Muslim, sehingga memperkuat ikatan persaudaraan Islam (Ukhuwwah Islamiyyah). Memakai jilbab sudah menjadi sesuatu yang spontan saya lakukan, bahkan dengan sukarela. Pada awalnya, saya berpikir tidak ada seorang pun yang dapat memaksa saya untuk memakai jilbab. Jika mereka memaksa, saya pasti menentang mereka. Namun, buku Islam pertama mengenai jilbab yang saya baca sangat moderat. Buku itu hanya menyebutkan, “Allah SWT sangat menekankan pemakaian jilbab.”

    Oleh karena Islam-seperti yang ditunjukkan dengan makna Islam, yaitu penyerahan diri-saya pun melaksanakan kewajiban keislaman saya dengan sukarela dan tanpa merasa kesulitan. Alhamdulillah. Selain itu, jilbab mengingatkan semua manusia bahwa Tuhan itu ada dan senantiasa mengingatkan saya untuk bersikap Islami. Seperti halnya petugas polisi yang tampak lebih professional dengan seragam mereka, saya pun merasa lebih Muslimah dengan jilbab yang saya pakai.

    Dua pekan sesudah saya kembali ke pangkuan Islam, saya pulang ke Jepang untuk menghadiri pernikahan keluarga. Setelah itu, saya memutuskan untuk tidak meneruskan pendidikan di Sastra Perancis yang telah kehilangan daya tariknya. Sebagai gantinya, saya memilih kajian Arab dan Islam.

    Sebagai seorang Muslimah yang baru dengan pemahaman Islam yang belum banyak, tinggal di kota kecil di Jepang dan jauh dari lingkungan Islam membuat saya merasa terisolasi. Namun, keterisolasian itu semakin menguatkan keislaman saya tahu saya tidak sendiri karena Allah SWT senantiasa menemani. Saya harus membuang semua pakaian saya dan, berkat bantuan beberapa teman, saya membuat patokan sendiri yang mirip pakaian orang Pakistan. Saya tidka merasa terganggu dengan pandangan orang yang tertuju kepada saya!

    Sesudah enam bulan berada di Jepang, hasrat untuk mempelajari segala hal tentang Arab tumbuh begitu besar hingga saya memutuskan untuk pergi ke Kairo, Mesir, karena di sana saya punya seorang kenalan. Saya tinggal di rumah keluarga teman saya. Namun, tidak seorang pun keluarga teman saya itu dapat berbahasa Inggris (apalagi Jepang!). Seorang wanita menjabat tangan saya dan mengajak saya masuk ke dalam rumahnya. Ia memakai jubah hitam yang menutupi dirinya dari kepala hingga ujung jari. Bahkan, wajahnya pun tertutup. Meski di Riyadh saya telah terbiasa dengan hal itu, saya ingat saat itu saya terkejut.

    Apalagi, saya teringat dengan kasus jilbab di Prancis. Saat itu, saya memandang perempuan dalam jubah sebagai,” perempuan yang diperbudak budaya Arab karena tidak tahu Islam” (kini saya tahu menutup wajah bukan kewajiban dalam ajaran Islam, melainkan sebagai tradisi etnis semata).

    Saya ingin mengatakan kepada wanita Kairo itu bahwa ia telah berlebihan dalam berpakaian sehingga tampak tidak alami dan tidak lazim. Namun, saya justru diingatkan wanita itu bahwa jilbab buatan saya sendiri tidak cocok digunakan di luar rumah-sesuatu yang tidak saya setujui sebelumnya karena saya merasa sudah memenuhi tuntutan jilbab bagi Muslimah.

    Saya pun membeli beberapa bahan baju dan membuat pakaian wanita dalam ukuran yang lebih panjang, disebut juga khimar, yang menutup sempurna bagian pinggul ke bawah dan tangan. Saya bahkan siap menutup wajah saya, sesuatu yang dipakai sebagian besar saudara Islam saya. Meski demikian, mereka tetaplah minoritas di Kairo.

    Secara umum, pemuda Mesir yang sedkit atau banyak terpengaruh budaya Barat masih menjaga jarak dengan perempuan yang memakai khimar dan memanggil mereka dengan sebutan ukhti. Laki-laki Mesir memperlakukan kami dengan penuh hormat dan sopan. Oleh karena itu, perempuan yang memakai khimar saling menjalin persaudaraan sehingga mereka turut menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW-seorang Muslim hendaknya memberi salaam kepada Muslim lain yang ditemui di jalan, dikenal atau tidak dikenalnya.

    Persaudaraan mereka yang lebih tepat untuk ditekankan itu didasari keimanan kepada Alloh SWT dibandingkan perempuan yang hanya memakai kerudung sebagai bagian dari bagian dari budaya dan bukan bagian dari keimanan. Sebelum berpaling ke pangkuan Islam, saya sangat senang memakai pakaian dengan model celana yang memungkinkan saya bergerak aktif meskipun bukan rok feminine. Namun, long dress yang biasa saya pakai di Kairo cukup nyaman bagi saya. Saya merasa anggun dan lebih santai.

    Dalam budaya Barat, warna hitam adalah warna favorit untuk acara malam karena menguatkan kecantikan pemakainya. Saudara-saudara baru saya yang di Kairo pun tampak sangat cantik dengan khimar hitam mereka dan sangat menunjang cahaya ketakwaan yang terpancar dari wajah-wajah mereka (meski begitu, mereka sangat berbeda dengan suster Katholik Roma yang dulu menjadi eprhatian utama ketika saya berkesempatan mengunjungi Paris tidak berapa lama sesudah saya tinggal di Riyadh, Arab Saudi).

    Saat itu, saya berada dalam satu metro (trem dalam kota) dengan suster-suster itu dan saya tersenyum karena keserupaan pakaian kami. Pakaian yang dipakai suster itu merupakan tanda ketakwaan mereka kepada tuhan seperti halnya Muslimah. Saya etrkadang merasa aneh dengan orang-orang yang tidak banyak mengkritik jubah yang dipakai suster Katholik Roma, tetapi mereka mengkritik dengan tajam jilbab yang dipakai Muslimah, terlepas dari pandangan bahwa keduanya dianggap melambangkan terorisme dan tekanan. Namun, saya tidak bermaksud mengabaikan jilbab dengan warna yang lebih cerah selain hitam karena pada kenyataannya sejak dulu saya bekeinginan memakai pakaian dengan gaya yang relijius seperti suster Katholik Roma jauh sebelum saya berpaling ke pangkuan Islam!

    Meski demikian, saya menolak orang yang menganjurkan saya tetap memakai khimar sekembalinya saya ke Jepang. Saya akan marah kepada setiap Muslimah yang tidak begitu menyadari pentingnya ajaran Islam : sepanjang kita sudah menutup diri kita sesuai tuntunan syariat, kita boleh memakainya sesuai model yang kita inginkan. Apalagi, setiap budaya memiliki cirinya sendiri-sendiri sehingga pemakaian khimar hitam di Jepang hanya akan membuat orang berpikir saya orang gila dan mereka akan emnolak Islam jauh sebelum saya mengenalkan Islam dengan baik kepada mereka. Perdebatan kami biasanya seputar masalah itu.

    Sesudah tinggal selama enam bulan di Kairo, saya sudah terbiasa dengan pakaian long dress sehingga saya mulia berpikir untuk tetap memakainya meskipun di Jepang. Komprominya, saya akan membuat khimar dengan aneka warna yang cerah atau putih dengan harapan orang Jepang tidak akan terlalu kaget dengan hal itu daripada saya hanya memakai khimar warna hitam. Ternyata saya betul. Reaksi orang Jepang lebih baik dengan khimar putih dan mereka lebih cenderung menduga saya sebagai yang relijius. Saya mendengar seorang gadis Jepang yang berkata kepada temannya bahwa saya seorang suster Buddha : betapa miripnya antara Muslimah, suster Buddha, dan suster Katholik Roma!

    Sekali waktu di dalam sebuah kereta, orang tua yang berada dis ebelah saya menanyakan alasan saya memakai baju yang tidak biasa dipakai banyak orang. Ketika saya jelaskan bahwa saya seorang Muslimah dan Islam mengajarkan kepada perempuan agar menutup tubuh mereka supaya terlindung secara fisik maupun psikis, orang tua itu tampaknya sangat tertarik. Saat ia turun dari kereta, ia berterima kasih dan mengatakan bahwa ia ingin sekali berbicara banyak tentang Islam dengan saya.

    Dalam waktu sekejap, ternyata jilbab menjadi factor yang dominant dalam memancing keingintahuan orang tentang Islam. Apalagi, orang Jepang bukanlah orang yang lazim berbicara banyak tentang agama. Sama seperti di Kairo, jilbab berperan sebagai tanda diantara sesama Muslimah, di Jepang pun hal yang sama saya lakukan.

    Pernah suatu kali ketika dalam suatu perjalanan, saya berkeliling dan bertanya-tanya benarkah rute yang saya ambil ini. Pada saat itu, saya melihat sekelompok perempuan memakai jilbab. Saya pun mendekati mereka dan kami bersalaman satu sama lain.

    Namun, ayah saya cemas ketika saya pertama kembali ke Jepang dengan menggunakan pakaian lengan panjang dan kepala tertutup rapat, padahal cuaca sedang panas meskipun saya sendiri merasa bahwa jilbab justru melindungi saya dari sinar matahari. Saya sendiri justru merasa tidak nyaman melihat adik eprempuan saya hanya memakai celana pendek sehingga tampak paha dan kakinya. Saya sering malu-bahkan sebelum saya kembali ke pangkuan Islam-terhadap perempuan yang memperlihatkan pantat dan pinggul mereka dengan pakaian yang ketat dan tipis.

    Saya merasa seperti melihat sesuatu yang seharusnya tersembunyi. Jika pemandangan seperti itu saja membuat saya malu sebagai perempuan, saya tidak dapat membayangkan dampaknya jika dilihat laki-laki. Oleh karena itu, Islam memerintahkan manusia berpakaian sopan dan tidak telanjang di ruang public meskipun di ruangan khusus perempuan atau laki-laki.

    Jelaslah, penerimaan sesuatu yang telanjang dalam suatu masyarakat berbeda-beda menurut pemahaman masyarakat atau individunya. Misalnya, di Jepang limapuluh tahun yang lalu, berenang dengan memakai baju renang yang setengah tertutup sudah dianggap vulgar, tetapi sekarang bikin sudah dianggap biasa. Namun, jika ada perempuan berenang dengan baju renang topless, ia dianggap tidak punya malu.

    Lain halnya jika topless di pantai selatan Prancis yang sudah dianggap biasa. Begitu pun di beberapa pantai di Amerika Serikat. Kaum nudis sudah berani bertelanjang ria seolah-olah mereka baru dilahirkan. Jika kaum nudis ditanya tentang perempuan liberal yang menolak jilbab-mengapa mereka masih menutupi pantat dan pinggul mereka padahal keduanya sama alamiahnya dengan wajah dan tangan-apakah perempuan liberal mau memberikan jawaban yang jujur? Definisi tentang bagia tubuh perempuan yang harus tetap pribadi ternyata sangat bergantung pada fantasi dan ksesenangan laki-laki di sekitar mereka yang mengaku-ngaku sebagai feminis. Namun di dalam Islam, kita tidak akan menemui masalah semacam itu karena Alloh SWT telah menetapkan definisi tentang bagian tubuh perempuan dan laki-laki yang boleh dan tidak boleh diperlihatkan di ruang public. Kita pun patuh dan mengikutinya.

    Jika saya melihat cara berpakaian manusia sekarang (telanjang atau hampir telanjang), buang air sembarangan, atau bercintaan di tempat umum, saya cenderung memandang mereka seperti makhluk yang tidak punya malu sehingga menjatuhkan martabat mereka hingga ke derajat binatang.

    Di Jepang, perempuan hanya memakai make up saat keluar rumah dan sedikit sekali memperhatikan penampilan diri mereka di rumah sendiri. Padahal, Islam mengajarkan perempuan agar selalu tampil cantik bagi suaminya sehingga ia akan berusaha tampil menarik pula baginya. Tentu, dengan begitu muncul keanggunan dalam hubungan antara suami isitri di dalam Islam.

    Muslim sering dituduh sebagai kelompok orang yang terlalu sensitive menyangkut tubuh manusia, tetapi tingkat kejahatan seksual yang terjadi akhir-akhir ini semakin menegaskan pentingnya pakaian sopan. Orang luar mungkin melihat Islam seperti melihat Muslim yang tampak kaku. Padahal jika dilihat dari dalam, ada kedamaian, kebebasan, dan kebahagiaan yang tidak akan pernah mereka rasakan sebelumnya. Menjalankan Islam-bagi Muslim yang terlahir di tengah keluarga Muslim atau orang yang kembali ke dalam pangkuan Islam-lebih disukai daripada jalan hidup bebas yang ditawarkan sekularisme.

    ***

    [ditulis ulang oleh Kartika dari buku "Mereka Yang Kembali", Zenan Asharfillah, penerbit Pustaka Zaman, Jakarta, 2003/Hidayatullah.com]

     
  • erva kurniawan 1:00 am pada 20 November 2012 Permalink | Balas  

    Mendahulukan Ibu

    Ibu Yeni, seorang anggota DPR mengisahkan pengalamannya mengenai sedekah yang membawa keberkahan baginya. Kejadian ini dialaminya sekitar bulan Agustus tahun 2001 yang lalu. Saat itu ia mendapat undangan seminar di Sumatra Selatan. Karena masih masa nifas dan membawa anak bungsunya yang kala itu masih berusia 35 hari, ia memutuskan membawa ibunya.

    Bukan main senangnya sang ibu dibawa pelesiran naik pesawat. Maklum saja, tahun 1972 waktu naik haji, ia cuma naik kapal laut. Di pesawat tak henti ibunda tercintanya menyatakan kesenangannya naik pesawat.

    “Alhamdulillah… kesampaian juga Ibu naik pesawat, “ syukurnya. Yeni yang duduk di sebelahnya tersenyum.

    “Coba Buya (ayah) masih hidup ya… dia pasti senang naik pesawat kayak gini, “ tuturnya lagi dengan mata berkaca-kaca. Yeni menoleh dan mengusap pundak ibunda tercintanya.

    “Sudahlah Bu, Buya pasti sudah bahagia sekarang. Selama hidup Buya kan sangat baik, maka Allah pasti melimpahkan kebahagiaan padanya… “

    “Yah… “ Ibu menganguk-angguk, “Buya emang baik…. “ lanjutnya sendu.

    Tidak lama kemudian mereka tiba di bandara dan diantar oleh panitia ke sebuah penginapan yang sederhana. Ibunya nampak sangat bahagia. Untuk menyenangkan hatinya, Yeni memesankan makanan kesukaannya.

    “Dimakan, Bu… “ kata Yeni. Ibunya mengangguk dan mulai makan dengan lahap.

    Keesokan harinya saat Yeni ikut seminar, Ibu menjaga cucunya yang masih merah di penginapan. Seminar itu untunglah tidak begitu lama. Jeda makan siang, mereka diajak makan di sebuah restoran khas Sumatra Selatan. Konon restoran ini biasa ditongkrongi oleh para pejabat dari pusat.

    Memang suasananya sangat asri, bertingkat dua, dan Subhanallah makanan yang tersaji juga terasa sangat nikmat.

    “Pepes ikan dengan duriannya enak sekali, Yen… “ Ibu memberikan penilaian seraya makan dengan lahap.

    “Kalau di Tangerang, daerah kita durian cuma untuk Kinca teman makan ketan ya, ternyata buat pepes juga enak, “ imbuhnya kemudian.

    “Alhamdulillah… kita di sini jadi nambah ilmu kan, Bu? “ balas Yeni tersenyum.

    Selesai makan, mereka menuju penginapan lagi untuk berkemas. Ya, mereka harus kembali ke Jakarta hari itu juga. Sebelum berangkat, Yeni memeriksa sebuah bungkusan yang diberikan panitia saat seminar tadi.

    “Subhanallah… bagus amat nih kain sutra? “ desisnya takjub sambil menyidik bahan itu dengan teliti. Yeni bertekad akan menjahitnya setiba di Jakarta nanti.

    Saking indahnya kain tersebut, di pesawatpun Yeni tak kuasa membayangkannya. Menjahitnya menjadi baju muslimah yang indah yang akan dikenakannya pada event-event tertentu. Tapi sejenak kemudian hati kecilnya berkata, “Berikan saja pada ibumu…. “

    “Bagaimana, ya…. bagus banget sih? “ sekilas bathinnya tak rela. Rupanya syetan sedang merasuki niat baiknya.

    “Sudah… kasih Ibu saja, supaya dia senang, kamu kan bisa beli nanti lagi… “ hati kecilnya kembali berkata.

    Sejenak Yeni merasa bimbang. Terus-terang saja, ia sangat ingin memiliki bahan itu untuk dirinya. Sudah dibayangkannya begitu manisnya ia dalam balutan baju berbahan sutra itu. Suaminya pasti memuji, anak-anaknya pasti juga bangga. Tapi…

    “Ah, sudahlah biar untuk ibuku saja, “ hati kecilnya memenangkan pergolakan bathin.

    Maka Yeni memberikan kain sutra itu pada ibunya. Mata ibunya bersinar menerima pemberian itu. Paras bahagia yang tak bisa ditutupinya. Yeni tak menyesal memberikannya.

    Sesampainya di Jakarta, Yeni kembali mengisi hari-harinya dengan seabreg aktivitas yang menunggunya. Ia sudah tak teringat lagi kain sutra indah pemberian panitia seminar di Sumatra Selatan itu. Sampai dua hari kemudian seorang temannya kembali dari Malaysia dan membawa titipan dari teman Yeni, yang orang asli Malaysia.

    “Apaan ini? “ Yeni mengerutkan dahinya, menatap bungkusan yang diberikan temannya itu.

    “Titipan dari teman Malaysiamu, aku nggak tahu isinya, buka aja gih… “

    Tanpa menunggu lama, Yeni membuka bungkusan itu dan terbelalak, “Subhanallah bagus banget…. “ serunya takjub. Temannya pun ternganga.

    Selembar bahan sutra yang lebih halus dan lembut warnanya…

    “Benar-benar Allah Maha Besar… “ Yeni berbisik pelan.

    Kain sutranya telah digantikan oleh Allah dengan yang lebih bagus dan manis. Yeni kemudian teringat sebuah hadits Rasulullah Saw, bahwa kebaikan yang cepat mendapatkan balasannya di dunia adalah kebaikan kita kepada orang tua….

    ***

    Sumber: Wisata Hati.

     
  • erva kurniawan 1:43 am pada 14 November 2012 Permalink | Balas  

    Jeruk Busuk Rasa Manis

    Suatu hari, ketika saya sedang menjenguk salah satu saudara yang tengah dirawat di rumah sakit, terdengar suara makian keras dari pasien sebelah, “Bawa jeruk kok busuk, mau ngeracunin saya? biar saya cepat mati?”

    Suara marah itu berasal dari lelaki tua yang kedatangan salah satu keluarganya dengan membawa jeruk. Boleh jadi benar, bahwa beberapa jeruk dalam jinjingan itu busuk atau masam. Meski tidak semua jeruk yang dibawanya itu busuk dan sangat kebetulan yang terambil pertama oleh si pasien yang busuk. Dan tanpa bertanya lagi, marahlah ia kepada si pembawa jeruk.

    Sebenarnya, boleh dibilang wajar jika seorang pasien marah lantaran kondisinya labil dan kesehatannya terganggu. Ketika ia marah karena jeruk yang dibawa salah satu keluarganya itu busuk, mungkin itu hanya pemicu dari segunung emosi yang terpendam selama berhari-hari di rumah sakit. Penat, bosan, jenuh, mual, pusing, panas, dan berbagai perasaan yang menderanya selama berhari-hari, belum lagi ditambah dengan bisingnya rumah sakit, perawat yang kadang tak ramah, keluarga yang mulai uring-uringan karena kepala keluarganya sekian hari tak bekerja, semuanya membuat dadanya bergemuruh. Lalu datanglah salah satu saudaranya dengan setangkai ketulusan berjinjing jeruk. Namun karena jeruk yang dibawanya itu tak bagus, marahlah ia.

    Wajar. Sekali lagi wajar. Tetapi tidak dengan peristiwa lain yang hampir mirip terjadi di acara keluarga besar belum lama ini. Seorang keluarga yang tengah diberi ujian Allah menjalani kehidupannya dalam ekonomi menengah ke bawah, berupaya untuk tetap berpartisipasi dalam acara keluarga besar tersebut. Tiba-tiba, “Kalau nggak mampu beli jeruk yang bagus, mending nggak usah beli. Jeruk asam gini siapa yang mau makan?” suara itu terdengar di tengah-tengah keluarga dan membuat malu keluarga yang baru datang itu.

    Pupuslah senyum keluarga itu, rusaklah acara kangen-kangenan keluarga oleh kalimat tersebut. Si empunya suara mungkin hanya melihat dari jeruk masam itu, tapi ia tak mampu melihat apa yang sudah dilakukan satu keluarga itu untuk bisa membawa sekantong jeruk yang boleh jadi harganya tak seberapa.

    Harga sekantong jeruk mungkin tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Tapi tahukah seberapa besar pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk membelinya?

    Rumahnya sangat jauh dari rumah tempat acara keluarga, dan sedikitnya tiga kali tukar angkutan umum. Sepuluh ribu itu seharusnya bisa untuk makan satu hari satu keluarga. Boleh jadi mereka akan menggadaikan satu hari mereka tanpa lauk pauk di rumah. Atau jangan-jangan pagi hari sebelum berangkat, tak satu pun dari anggota keluarga itu sempat menyantap sarapan karena uangnya dipakai untuk membeli jeruk. Yang lebih parah, mungkin juga mereka rela berjalan kaki dari jarak yang sangat jauh dan memilih tak menumpang satu dari tiga angkutan umum yang seharusnya. “Ongkos bisnya kita belikan jeruk saja ya, buat bawaan. Nggak enak kalau nggak bawa apa-apa,” kata si Ayah kepada keluarganya.

    Kalimat sang Ayah itu, hanya bisa dijawab dengan tegukan ludah kering si kecil yang sudah tak sanggup menahan lelah dan panas berjalan beberapa ratus meter. Tak tega, Ayah yang bijak itu pun menggendong gadis kecil yang hampir pingsan itu. Ia tetap memaksakan hati untuk tega demi bisa membeli harga dari di depan keluarga besarnya walau hanya dengan sekantong jeruk. Menahan tangisnya saat mendengar lenguhan nafas seluruh anggota keluarganya sambil berkali-kali membungkuk, jongkok, atau bahkan singgah sesaat untuk mengumpulkan tenaga. Itu dilakukannya demi mendapatkan sambutan hangat keluarga besar karena menjinjing sesuatu.

    Setibanya di tempat acara, sebuah rumah besar milik salah satu keluarga jauh yang sukses, menebar senyum di depan seluruh keluarga yang sudah hadir sambil bangga bisa membawa sejinjing jeruk, lupa sudah lelah satu setengah jam berjalan kaki, tak ingat lagi terik yang memanggang tenggorokan, bertukar dengan sejumput rindu berjumpa keluarga. Namun, terasa sakit telinga, layaknya dibakar dua matahari siang. Lebih panas dari sengatan yang belum lama memanggang kulit, ketika kalimat itu terdengar, “Jeruk asam begini kok dibawa…”

    Duh. Jika semua tahu pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk bisa menjinjing sekantong jeruk tadi, pastilah semua jeruk asam itu akan terasa manis. Jauh lebih manis dari buah apa pun yang dibawa keluarga lain yang tak punya masalah keuangan. Yang bisa datang dengan kendaraan pribadi atau naik taksi dengan ongkos yang cukup untuk membeli seperti jeruk manis dan segar.

    Mampukah kita melihat sedalam itu? Sungguh, manisnya akan terasa lebih lama, meski jeruknya sudah dimakan berhari-hari yang lalu.

    ***

    Oleh: Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:19 am pada 30 October 2012 Permalink | Balas  

    Anak-anak Kecil Penghuni Surga

    Apabila sebuah keluarga telah kehilangan atas meninggal anaknya, maka ada beberapa ungkapan yang sering kita dengar dari orang-orang sekitar yang mengatakan “Sabar, anak kalian akan menjadi tabungan buat kalian berdua di akherat”, “Tabah, anak kalian akan menolong dan memberi syafaat di akherat untuk kalian berdua”, “Anak kalian akan menunggu di akherat kelak” … dan sebagainya yang sejenis.

    Ungkapan para kerabat tersebut itu tak salah. Ada hadist-hadist yang menyiratkan hal itu. Di antaranya yang “muttafaq ‘alaih” (riwayat Bukhari-Muslim) berikut ini. Diceritakan, ada seorang perempuan mendatangi Rasulullah saw. lalu berkata: “Wahai Rasulullah, kaum laki-laki telah memperoleh hadist-hadist Tuan (dengan arti nasehat atau petuah Tuan -red), maka berilah kami (kaum perempuan -red) hari di mana Tuan memberikan pengajaran kepada kami tentang apa yang telah Allah ajarkan kepada Tuan.”

    Rasulullah menjawab, “Berkumpullah pada hari ini dan ini”. Maka kaum perempuan itu berkumpul dan Rasulullah hadir memberikan pengajaran apa yang diajarkan Allah kepadanya. Kata Rasul: “Tiada di antara kalian perempuan yang ditinggal mati tiga anak-anaknya kecuali ketiga anak tersebut menjadi penghalang (hijab) bagi perempuan itu dari api neraka. Seorang perempuan bertanya, “Dan dua orang anak?” Jawab Rasul, “(Ya) dan dua orang anak.”

    Hadis di atas hanya menyebutkan sampai dua orang anak saja. Bagaimana kalau satu anak saja yang meninggal? Kami kira, seandainya waktu itu ada perempuan lagi yang menanyakan “Bagaimana jika yang meninggal satu anak saja?”, kemungkinan besar Rasul juga akan mengiyakan. Artinya bilangan 2 itu tidak menjadi batas.

    Dalam kontek yang sama, dalam hadist lain yang diriwayatkan al-Nasa’iy, Rasulullan berkata (jika diterjemahkan secara bebas demikian) “Tidakkah menggembirakanmu, bahwa kamu kelak akan melihat anakmu membukakan pintu sorga dan berjalan menjemputmu?”.

    Dalam hadist lain lagi (riwayat Muslim), diceritakan ada seorang -Abu Hissan namanya- yang dua anak laki-lakinya meninggal. Abu Hissan ini dekat dengan Abu Hurairah, hingga ia (Abu Hissan) menganggap Abu Hurairah itu sebagai juru bicaranya Rasul yang senantiasa membawa kabar dari tentang Rasul. Setelah musibah meninggalnya dua anaknya itu, Abu Hissan meminta Abu Harairah agar memberinya hadist-hadist Rasulullah yang menghibur orang-orang yang lagi berduka cita karena keluarganya meninggal. Lantas Abu Hurairah berkata (dengan terjemah bebas begini), “(Oh) iya, anak-anak kecil mereka adalah anak-anak kecilnya sorga.”

    Maksudnya, anak-anak yang meninggal masih kecil akan menjadi penghuni sorga tak akan meninggalkannya. “Salah satu mereka (anak-anak kecil penghuni sorga itu) akan menemui orang tuanya. (Setelah ketemu) dia memegangi kuat-kuat baju orang tuanya, tak akan melepaskannya sampai Allah memasukkannya bersama kedua orang tuanya ke dalam sorga.” Masih ada beberapa hadist lainnya yang isinya tak jauh beda. Singkatnya, tepat seperti anggapan banyak orang, anak kecil yang meninggal itu ibaratnya celengan bagi kedua orang tuanya. Di sini perlu ada yang ditegaskan: namanya celengan, tentu ia bukanlah segala-galanya. Apa untungnya kita punya celengan, jika ternyata kita mempunyai hutang yang lebih besar dari celengan tersebut? Jelasnya, amal perbuatan orang tua -setelah anaknya meninggal- tetap akan ditimbang dan dihisab kelak. Jika kejelekannya lebih berat, walau sudah ditutupi dengan adanya celengan tsb, maka tetap akan masuk neraka lebih dulu. Jika sebaliknya, kebaikannya -dengan dukungan celengan yang telah dimilikinya- akan semakin cepat proses masuk sorga.

    Ketabahan dan kesabaran itu sudah seharusnya sikap yang diambil seseorang yang terkena musibah. Termasuk musibah spt ini. Maka, tentunya hadis ini tak berlaku bagi orang tua yang sengaja menghabisi anak bayinya, karena hal itu bukan musibah. Dengan tabah dan sabar, kita akan menjaga stabilitas mental-spiritual hingga mampu kembali aktif dengan segala kegiatan seperti biasanya.

    Wallaahua’lam.

    ***

    Oleh Sahabat: Wafi Maimoen dan Arif Hidayat

     
    • chan 5:19 pm pada 17 Februari 2013 Permalink

      terima kasih sobat atas penjelasan nya karna saya baru mengalami hal yg sama

    • wandri 11:47 am pada 4 Oktober 2013 Permalink

      terima kasih juga atas penjelasannya,kami juga baru mengalami hal yang sama,putra tercinta kami pergi meninggalkan kami utk selama2nya tgl 11 september 2013 kemarin,,,,memang begitu berat rasanya kehilangan

  • erva kurniawan 1:51 am pada 28 October 2012 Permalink | Balas  

    Memelihara Mimpi

    Seorang teman marah ketika saya membangunkannya dari tidur siangnya. “Gara-gara dibangunin, saya gagal dapat uang dua ratus ribu,” katanya. “Bagaimana bisa?” tanya saya. “Ya, hampir saja saya menerima dua lembar ratusan ribu jika saja kamu tak membangunkan saya,” tambahnya. “Sudahlah, bangun dari mimpimu itu. Kamu bisa mendapatkan jauh lebih banyak dari dua lembar jika tak sedang bermimpi,” segera saya menariknya keluar dari kamar untuk mengajaknya berjalan mencari pekerjaan.

    Fase bermimpi itu pernah sama-sama kami lewati, ketika rasa malas kerap menggelayuti otak kami yang berpikir meraih sukses itu amat mudah. Mungkin kami terlalu banyak menonton televisi, melihat orang-orang muda seusia kami memakai stelan jas mengendari mobil mewah dan menghuni rumah seharga di atas dua milyar. Dengan kemapanan seperti itu, perempuan mana yang tak suka berkenalan atau bergaul dengannya. Tayangan televisi lainnya mengajarkan kami betapa mudahnya mendapatkan uang hanya dengan bermodalkan pengetahuan pas-pasan atau mencoba keberuntungan dan mengundi nasib mengikuti berbagai kuis dengan hadiah menjanjikan.

    Beberapa film lainnya sempat membuat saya dan teman-teman berkhayal ketika tengah berada di pinggir jalan menunggu bis, sebuah mobil mewah yang melintas di depan kami tiba-tiba berhenti karena pengendaranya tiba-tiba terserang penyakit jantung. Kami pun berhamburan menolongnya dan membawanya ke rumah sakit. Singkat cerita, jadilah kami dewa penolong yang mendapat imbalan, “apa pun yang kalian minta akan kami berikan, karena kalian telah menyelamatkan nyawa saya,” Ahay, indahnya hidup jika setiap episode selalu dihiasi keberuntungan seperti itu. Tetapi nyatanya tidak, hidup ini tetap keras dan perlu melalui banyak onak yang terkadang kaki ini tak sanggup menahannya. Nyatanya, meski sudah berjam-jam kami masih tetap di pinggir jalan itu dan tak satu pun mobil mewah melintas yang tersuruk lantaran pemiliknya terserang jantung sehingga kemudian kami menjadi dewa penyelamatnya. Tidak, itu hanya ada dalam film, komik, bahkan mimpi yang seringkali tak nyata.

    Mimpi seringkali membuat orang untuk terus bermimpi, seperti seorang pandir yang selalu mendapat keberuntungan meski pun kebodohannya tak tertandingi, seperti Cinderella yang mendapat keberuntungan dari sepatu kaca pemberian peri cantik, seperti seorang pemulung yang tiba-tiba saja menemukan beberapa batang emas di tempat sampah, sehingga seluruh warga kampung berbondong-bondong ikut memulung di tempat yang sebelumnya teramat menjijikkan bagi mereka. Si pemulung akan berpikir bahwa menjadi pemulung adalah jalan hidupnya, dan ia terus bermimpi menemukan batang emas lainnya di tempat sampah yang berbeda.Dan seperti juga kita, yang masih saja terus ingin melanjutkan tidur berharap mimpi siang tadi berlanjut sehingga dua lembar ratusan ribu berpindah ke tangan kita. Tapi itu dalam mimpi!

    Nyatanya, mungkinkah ada orang yang bisa melanjutkan mimpinya? Bahkan adakah yang mampu mewujudkan mimpinya hanya dengan terus memejamkan matanya dan menyembunyikan wajah di bawah bantal?

    Waktu terus bergulir, detik terus berlari. Sebagian orang masih terlelap berharap mimpi indah dalam tidurnya. Sebagian lainnya berpacu dengan cepatnya waktu untuk meraih sukses. Yang tidur akan bangun dengan tangan hampa, menyesal betapa banyak waktu terbuang untuk meraih mimpi yang tak pernah mampu diwujudkannya hanya dengan terus menerus terlelap. Sementara yang lain, sudah tersenyum karena lebih cepat meninggalkan tempat tidur mereka dan melangkah cepat meraih mimpinya dengan kerja keras.

    Memelihara mimpi, bukanlah dengan melanjutkan mimpi dalam tidur. Melainkan dengan melipat selimut dan bergegas ke luar kamar melangkahkan kakinya menapaki setiap anak tangga kesuksesan. Bukankah matahari terlihat saat ia bersinar, bukankah kokok ayam jantan menunjukkan keberadaannya. Tukang becak akan mendapatkan uang setelah ratusan kali kakinya mengayuh, tukang koran bisa tersenyum setelah semua korannya habis, para pedagang akan menghitung laba setelah uang modalnya terpenuhi, dan para karyawan akan menerima gaji setelah sebulan penuh bekerja.

    Layaknya seorang pemain sepak bola di lapangan. Jika tak bertarung merebut bola, berapa sering ia akan mendapatkan bola jika hanya berharap pemberian bola dari temannya? Dan hitung berapa peluang yang ia peroleh untuk menciptakan gol dari jerih payahnya yang sedikit itu? Akankah timnya menjadi pemenang? Jadi, peliharalah mimpi dengan bergegas beranjak dari mimpi dan khayalan. Karena rezeki lebih senang dihampiri, bukan menghampiri.

    Saya dan teman-teman yang pernah sama-sama bermimpi dulu, hingga kini masih terus memelihara mimpi kami. Tetapi kali ini tidak di tempat tidur. Percaya lah.

    ***

    Oleh Sahabat Bayu Gawtama

     
c
Compose new post
j
Postingan berikutnya/Komentar berikutnya
k
Postingan sebelumnya/Komentar sebelumnya
r
Balas
e
Edit
o
Tampilkan/Sembunyikan komentar
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 640 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: