Updates from Januari, 2014 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 4:22 am on 16 January 2014 Permalink | Balas  

    Tenggelam Dalam Lautan Cinta 

    cintaTENGGELAM DALAM LAUTAN CINTA

    Yuni Mardiyanto

    **

    ABSTRACT: Cinta itu ibarat taman yang penuh bunga warna-warni. Ada yang datang menikmati keindahannya, mencium bau harumnya, dan kemudian datang lagi. Namun ada juga yang tidak ingin pulang, ia menikmati taman tersebut bahkan ingin menguasainya, padahal banyak orang lain yang juga ingin menikmatinya. Cinta itu juga bagai lautan, di sana ada gugusan karang terbentuk alamiah, warna-warni ikan hias yang luar biasa indahnya, ombak, bening, hangat dan dinginnya air laut, subhanallah…semuanya indah. Namun, ada bedanya antara orang yang berenang dengan mereka yang tenggelam di dalamnya. Karena orang yang berenang, ia sedang dalam perjalanan menuju Allah SWT, tetapi orang yang tenggelam merasa dirinya sudah sampai kepada Allah, karena itu tak perlu lagi berenang. Nah, bagaimana mungkin orang yang tenggelam dapat menikmati indahnya lautan? Nikmatilah keindahan lautan cinta itu dengan berenang, karena dengan itu cinta akan selalu memberikan potensi, energi dan semangat pada diri kita. Selamat berenang di lautan cinta-Nya ya akhi wa ukhti.

    **

    Syaikh Ali Ath-Thanthawi dalam bukunya “Rijalun min al-Tarikh” mengajak pembacanya untuk merenungi sejenak tentang kisah seorang pemuda kaya-raya yang karena tenggelam dalam lautan cinta akhirnya justru menjadi sengsara.

    Pemuda sukses yang saudagar itu pada mulanya seluruh hidupnya hanya diabdikan untuk berdagang. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, bahkan mimpinya sendiri hanyalah soal dagang. Di luar dunia dagang, ia nyaris tidak memperhatikannya. Orang tuanya mulai gundah, sebab sang putera sudah cukup umur untuk menikah, sementara ketertarikannya kepada wanita nyaris tidak ada. Berkali-kali ditawari menikah, ia menolaknya.

    Kedua orangtua pemuda itu tak putus asa. Hampir setiap hari keduanya mendatangkan wanita-wanita cantik nan terhormat di rumahnya, dengan harapan agar anaknya tertarik dan memilih salah satunya untuk dijadikan istri. Bujuk rayu orangtuanya tidak berhasil mencuri perhatian sang putera. Tak satu pun wanita-wanita cantik itu yang menarik perhatiannya.

    Namun yang mengejutkan, tiba-tiba pada di suatu hari, sang pemuda pergi ke pasar budak. Di pasar itu ia menjumpai seorang budak wanita, lalu jatuh cinta ia jatuh cinta kepada budak wanita tersebut. Setelah dibelinya budak itu lalu dibawanya pulang dan diperistrinya.

    Sejak saat itu berubahlah seluruh dimensi kehidupannya. Sang pemuda yang biasanya setiap pagi sudah pergi ke pasar dan baru larut malam ia kembali pulang, kini tidak seperti itu lagi. Ia tidak lagi mau pergi ke pasar, mengurus perdagangan dan meraup keuntungan. Ia kini hanya menyibukkan diri untuk mencintai sang isteri. Siang malam ia hanya bercumbu dengan isterinya, sampai akhirnya ia lupa segala-galanya.

    Kejadian ini tidak hanya berlangsung dalam hitungan hari dan pekan. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun terus bergerak, tapi pola kehidupan pasangan itu tidak berubah. Hingga sampai pada saatnya seluruh kekayaannya habis, bahkan perabot rumahtangga pun sudah mulai digadai.

    Ketika orang-orang sekitarnya mengingatkan agar ia kembali berdagang, ia berkomentar sederhana, “Tujuan dagang itu untuk apa? Mengejar keuntungan. Lalu jika keuntungan itu sudah diperoleh, digunakan untuk apa? Untuk memperoleh ketenangan, kenikmatan, dan kebahagiaan. Ketahuilah, ketiganya kini telah kudapatkan pada isteriku, lalu untuk apa aku berdagang lagi?”

    Sampai akhirnya ketika sudah tidak ada lagi miliknya yang bisa dijual, kecuali rumahnya yang tinggal tiang, dinding, dan atapnya saja, ia mulai menyadari. Kesadaran yang terlambat itupun datangnya bersamaan dengan saat-saat kritis menjelang kelahiran bayi pertamanya. Ketika sang istri akan melakukan persalinan, ia sudah tidak punya apa-apa lagi, hatta ke dukun bayi sekalipun ia tak mampu membayarnya.

    Saat itulah sang isteri meminta dengan iba agar suaminya pergi mencari minyak dan peralatan persalinan. Atas permintaa itu sang suami keluar rumah, tapi sayangnya sudah tidak ada lagi orang yang dikenali.

    Demi keselamatan sang isteri dan bayi yang akan lahir, ia terus berjalan, namun ia sudah lupa bagaimana cara mendapatkan setetes minyak dan peralatan persalinan lainnya. Lelaki itu hampir saja putus asa. Sekiranya ia tak segera sadar bahwa agama melarangnya untuk bunuh diri, tentu ia sudah mencebur ke sungai atau melemparkan badannya di tengah jalan ramai.

    Lelaki itu terus berjalan dan semakin menjauhi rumah dan tempat sang isteri akan melakukan persalinan. Meskipun demikian, bayangan isterinya yang menangis dengan mengiba-iba agar sang suami pergi mencari minyak dan peralatan persalinan tak bisa hilang dari pikiran dan perasaannya. Justru bayangan itu mendorongnya untuk semakin jauh berjalan menyusuri jalan-jalan yang tak berujung.

    Kisah pasangan ini sengaja diputus hanya sampai di sini,sebab yang menjadi fokus perhatian kita adalah sebuah pertanyaan, kenapa cinta berakhir dengan sengsara? Bukankah CINTA ITU SEBUAH ENERGI YANG DAPAT MENDORONG SESEORANG UNTUK BERBUAT DAN BERPERILAKU YANG JAUH LEBIH DAHSYAT DARIPADA SEBELUMNYA? Mengapa justru cinta mematikan potensi, energi, dan semangat yang ada dalam diri?

    Cinta itu memang indah, ibarat taman yang dipenuhi bunga yang berwarna-warni. Ada orang yang datang menikmati keindahannya, mencium bau harumnya, menghirup udara segarnya, dan kemudian pulang untuk suatu saat kembali lagi. Akan tetapi ada juga orang sekali datang ke tempat itu, menikmati keindahannya, kemudian tak mau pergi lagi. Ia ingin menguasai taman itu, sekalipun banyak orang yang juga ingin menikmatinya.

    Cinta itu kadang berubah menjadi semacam alkohol yang memabukkan. Sekali mencoba ingin terus mengulangi, hingga sampai pada titik tertentu ia kemudian mencandu. Jika sudah pada tingkatan ini, maka dari hari ke hari kadar alkoholnya semakin dinaikkan, dosisnya semakin tinggi, sampai pada saatnya orang tersebut sakit dan mati justru oleh sesuatu “yang dicintai”.

    Jika cinta kepada manusia bisa seperti itu akibatnya, bagaimana dengan cinta kepada Allah? Dalam kaitan ini, banyak kaum sufi berpendapat bahwa cinta itu bahasa universal, berlaku pada siapa saja dan untuk apa saja. Berlaku universal untuk semua subyek dan obyek.

    CINTA KEPADA ALLAH YANG DILAKUKAN DENGAN CARA YANG SALAH BISA JUGA MENYENGSARAKAN, BAHKAN MEMATIKAN, sebagaimana kisah di atas. Untuk itu, para sufi berpesan terutama kepada para pemula agar lebih hati-hati. JIKA CINTA KEPADA ILAHI ITU DIIBARATKAN SAMUDERA, MAKA ORANG YANG SELAMAT ADALAH MEREKA YANG BERENANG. ADAPUN ORANG YANG TENGGELAM DALAM “LAUTAN CINTA” ITU JUSTRU TAK AKAN PERNAH SAMPAI KE TEPI.

    Di masyarakat kita banyak dijumpai para pecinta Allah yang menenggelamkan diri. Mereka asyik masyuk berdzikir kepada Allah berjam-jam lamanya di masjid, kemudian ia lakukan da’wah dari rumah ke rumah berhari hari, berbulan-bulan, bahkan ada yang sampai hitungan tahun dengan meninggalkan keluarganya, bahkan kadang tanpa bekal apapun. Mereka tenggelam dalam lautan cinta.

    Tenggelam di lautan itu memang mengasyikkan, terutama bagi mereka yang bisa menikmati keindahan taman laut. Di sana ada gugusan karang yang tertata alamiah dengan sangat indahnya. Di sana pula dijumpai warna-warni ikan hias yang luar biasa indahnya. Belum lagi ombak, bening, hangat dan dinginnya air laut. Semuanya indah, tapi BUAT APA KEINDAHAN ITU BAGI ORANG-ORANG YANG TENGGELAM?

    Untuk itu Allah menurunkan syari’at. DALAM SYARI’AT ITU ALLAH MENGENALKAN BATASAN-BATASANNYA, HINGGA KAUM BERIMAN SELAMAT DALAM MENGARUNGI BAHTERA KEHIDUPANNYA SAMPAI KE TEMPAT TUJUANNYA, BUKAN TENGGELAM LALU TIDAK DIKETAHUI DI MANA KEBERADAANNYA.

    Boleh saja orang menikmati khusyu’nya shalat sebagai sarana komunikasi dialogis dengan Allah swt. Akan tetapi shalat itu dibatasi dengan bacaan dan gerakan-gerakan. Orang yang shalat tidak boleh hanya menikmati ruku’nya saja, atau sujudnya saja, atau duduk tahiyyatnya saja. Semua gerakan, mulai dari takbiratul ihram hingga salam harus dinikmati semuanya secara proporsional. Inilah yang membedakan meditasi, baik meditasi agama-agama bumi maupun meditasi hasil karya cipta para spritualis yang kini berkembang bak jamur di musim hujan itu.

    Boleh saja shalat itu dilakukan berlama-lama di masjid, akan tetapi syari’at Allah tetap memberi batasan. Sehabis shalat kaum Muslimin harus segera pergi untuk menyebar di permukaan bumi, mencari karunia Allah berupa rizki. Dalam kaitan ini secara khusus Allah menyorotinya dalam firman-Nya:

    Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian beruntung. (Surat Al-Jumu’ah: 10)

    Apa bedanya orang yang berenang di lautan cinta Ilahi dengan mereka yang tenggelam di dalamnya? Orang yang berenang sadar bahwa ia sedang kepada Allah. Ia menikmati segala karunia yang disediakan Allah sambil terus berenang agar bisa sampai ke tujuan (Allah Swt). Adapun orang-orang yang tenggelam itu merasa dirinya sudah sampai kepada Allah. Ia tidak perlu lagi berenang, sebab tujuannya telah sampai. Ia tidak perlu lagi bersusah payah, karenanya ia menenggelamkan diri.

    Kini, apakah kita termasuk kelompok perenang atau orang yang tenggelam?

    *IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA* Al-Hubb Fillah wa Lillah,

    ***

    Author: Abu Zifora

    Editor: Abu Aufa

    Maraji': Suara Hidayatullah

     
  • erva kurniawan 3:06 am on 15 January 2014 Permalink | Balas  

    siluet burungKisah Seekor Burung Gereja

    Ada seekor burung gereja yang sedang terbang di musim salju. Karena mengalami kedinginan yang amat sangat, sayapnya membeku sehingga tidak bisa dikepakkannya lagi. Ia pun jatuh di sebuah tanah lapang. Setelah beberapa lama terbaring kedinginan, maka tiba2 lewat seekor sapi yang tanpa sengaja membuang kotorannya tepat menimpa badannya. Kontan sumpah serapah pun segera meluncur keluar dari mulut mungilnya !!!

    Rupanya tanpa disadari oleh burung gereja itu, hangatnya kotoran sapi yang menimpanya itu lambat laun membuat suhu tubuhnya berangsur normal. Ketika ia sedang bersiap-siap akan terbang kembali, tiba-tiba munculah seekor kucing. Keruan saja buruk gereja ini panik dan ingin secepatnya terbang menghindar. Tetapi sayangnya ternyata ia belum mampu, karena sayapnya rupanya masih agak membeku. Ia pun dengan dengan ketakutan yang amat sangat terpaksa pasrah saja menerima nasib. Namun diluar dugaannya kucing yang biasanya tidak pernah ramah terhadap burung gereja, kali ini bersifat sangat simpatik. Ia sama sekali tidak mengganggunya, bahkan menjilat-jilati badannya seolah-olah ingin membersihkan sisa-sisa kotoran sapi yang melekat pada bulu-bulunya. Sehingga akhirnya bersihlah seluruh badan burung gereja itu.

    Hangatnya kotoran sapi serta jilatan kucing itu rupanya mampu memulihkan kondisi burung gereja itu untuk dapat terbang kembali. Namun demikian burung gereja ini ternyata belum mau terbang. Rupanya ia menikmati jilatan kucing itu sebagai perlakuan yang memanjakannya. Maka ia pun membiarkan dirinya tetap terbaring sambil berpura-pura masih kedinginan, dengan harapan semoga kucing itu akan menjilatinya lagi.

    Tetapi apa yang terjadi Melihat badan burung gereja itu sudah bersih, maka kucing itu pun dengan ganasnya menerkam burung yang bodoh itu!!!!

    Burung gereja di atas melambangkan perumpamaan orang yang hanya pandai melihat yang tersurat saja. Baginya sesuatu yang tidak menyenangkannya selalu dianggapnya buruk, dan kejadian yang menyenangkannya dianggap pasti baik. Orang yang mempunyai sikap seperti ini jelas berlawanan dengan firman Allah pada surat Al-Baqarah 216, ” Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” Boleh jadi kita belum yakin sepenuhnya dengan firman Allah ini, tetapi yang pasti burung gereja itu sudah membuktikannya Dan bila kita tetap terpana dengan yang tersurat saja, bukan tidak mungkin kita akan bertemu dengan burung gereja itu.

    “Dan orang-orang itu berkata; ” seandainya kami mau mendengarkan (nasihat agama) dan kami menggunakan akal-akal kami, pasti kami tidak menjadi penghuni neraka Sair.” [Al-Mulk ayat 10].

    Wallahua’alam.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:42 am on 11 January 2014 Permalink | Balas  

    nabi-muhammad-saw1E-mail Dari Rasul

    Malam sudah cukup larut, namun mata ini masih tak bisa terpejam. Semua tugas-tugas kantor yang kubawa pulang sudah selesai, tak lupa kusediakan setengah jam sebelum pukul 23.00 untuk membalas beberapa email yang baru sempat terbaca malam ini. Nyaris saja kupilih menu “shut down” setelah sebelumnya menutup semua jendela di layar komputer, tiba-tiba muncul alert yahoo masuknya email baru. “You have 1 new message(s)…”. Seperti biasanya, aku selalu tersenyum setiap kali alert itu muncul, karena sudah bisa diduga, email itu datang dari orang-orang, sahabat, saudara, kerabat, intinya, aku selalu senang menunggu kabar melalui email dari mereka. Tapi yang ini … Ooopss … ini pasti main-main … disitu tertulis “From: Muhammad Rasul Allah”

    Walaupun sudah seringkali menerima junkmail atau beraneka spam, namun kali ini aku tidak menganggapnya sebagai email sampah atau orang sedang main-main denganku. Maklum, meski selama ini sering sekali teman-teman yang “ngerjain”, tapi kali ini, sekonyol-konyolnya teman-teman sudah pasti tidak ada yang berani mengatasnamakan Rasulullah Saw. Maka dengan hati-hati, kuraih mouse-ku dan … klik …

    “Salam sejahtera saudaraku, bagaimana khabar imanmu hari ini … Kebaikan apa yang sudah kau perbuat hari ini, sebanyak apa perbuatan dosamu hari ini …”

    Aku tersentak … degub didada semakin keras, sedetik kemudian, ritmenya terus meningkat cepat. Kuhela nafas dalam-dalam untuk melegakan rongga dada yang serasa ditohok teramat keras hingga menyesakkan. Tiga pertanyaan awal dari “Rasulullah” itu membuatku menahan nafas sementara otakku berputar mencari dan memilih kata untuk siap-siap me-reply email tersebut. Barisan kalimat “Rasulullah” belum selesai, tapi rasanya terlalu berat untuk melanjutkannya. Antara takut dan penasaran bergelut hingga akhirnya kuputuskan untuk membacanya lagi.

    “Cinta seorang ummat kepada Rasulnya, harus tercermin dalam setiap perilakunya. Tidak memilih tempat, waktu dan keadaan. Karena aku, akan selalu mencintai ummatku, tak kenal lelah. Masihkah kau mencintaiku hari ini?”

    Air menetes membasahi pipiku, semakin kuteruskan membaca kalimat-kalimatnya, semakin deras air yang keluar dari sudut mataku.

    “Pengorbanan seorang ummat terhadap agamanya, jangan pernah berhenti sebelum Allah menghendaki untuk berhenti. Dan kau tahu, kehendak untuk berhenti memberikan pengorbanan itu, biasanya seiring dengan perintah yang diberikan-Nya kepada Izrail untuk menghentikan semua aktifitas manusia. Sampai detik ini, pernahkah kau berkorban untuk Allah?”.

    Kusorot ketengah halaman ….

    “Sebagai Ayah, aku contohkan kepada ummatku untuk menyayangi anak-anak mereka dengan penuh kasih. Kuajari juga bagaimana mencintai istri-istri tanpa sedikit melukai perasaannya, sehingga kudapati istri-istriku teramat mencintaiku atas nama Allah. Aku tidak pernah merasakan memiliki orangtua seperti kebanyakan ummatku, tapi kepada orang-orang yang lebih tua, aku sangat menghormati, kepada yang muda, aku mencintai mereka. Sudahkah hari ini kau mencium mesra dan membelai lembut anak-anakmu seperti yang kulakukan terhadap Fatimah? Masihkah panggilan sayang dan hangat menghiasi hari-harimu bersama istrimu? Sudahkah juga kau menjadi pemimpin yang baik untuk keluargamu, seperti aku mencontohkannya langsung terhadap keluargaku?.

    Satu hentakkan pagedown lagi …

    “Aku telah memberi contoh bagaimana berkasih sayang kepada sesama mukmin, bersikap arif dan bijak namun tegas kepada manusia dari golongan lainnya, termasuk menghormati keberadaan makhluk lain dimuka bumi. Saudaraku …”

    Cukup sudah. Aku tak lagi sanggup meneruskan rentetan kalimatnya hingga habis. Masih tersisa panjang isi email dari Rasulullah, namun baru yang sedikit ini saja, aku merasa tidak kuat. Aku tidak sanggup meneruskan semuanya karena sepertinya Rasulullah sangat tahu semua kesalahan dan kekuranganku, dan jika kulanjutkan hingga habis, yang pasti semuanya tentang aku, tentang semua kesalahan dan dosa-dosaku.

    Kuhela nafas panjang berkali-kali, tapi justru semain sesak. Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap, entah apa yang terjadi. Sudah tibakah waktuku? Padahal aku belum sempat me-reply email Rasulullah itu untuk memberitahukan kepada beliau bahwa aku tidak akan menjawab semua emailku dengan kata-kata. Karena aku yakin, Rasul lebih senang aku memperbaiki semua kesalahanku hari ini dan hari-hari sebelumnya, dari pada harus bermanis-manis mengumbar kata memikat hati, yang biasanya tak berketerusan dengan amal yang nyata.

    Pandanganku kini benar-benar gelap, pekat sampai tak ada lagi yang bisa terlihat. Hingga … nit… nit… alarm jam tanganku berbunyi. 00.00 WIB. Ah, kulirik komputerku, kosong, kucari-cari email dari Rasulullah di inbox-ku. Tidak ada. Astaghfirullaah, mungkinkah Rasulullah manusia mulia itu mau mengirimi ummatnya yang belum benar-benar mencintainya ini sebuah email? Ternyata aku hanya bermimpi, mungkin mimpi yang berangkat dari kerinduanku akan bertemu Rasul Allah. Tapi aku merasa berdosa telah bermimpi seperti ini. Tinggal kini, kumohon ampunan kepada Allah atas kelancangan mimpiku.

    Wallahu “a”lam bishshowaab

    ***

    Eramuslim – Bayu Gautama

     
  • erva kurniawan 3:36 am on 10 January 2014 Permalink | Balas  

    Renungan Jumat: Pak Engkos 

    tukang_becak1Pak Engkos

    Pak Engkos, begitulah masyarakat sekitar rumahnya biasa memanggil. Beliau seorang tukang becak yang rajin ke masjid. Sholat jama’ah Maghrib, Isya’ dan subuh, hampir tak pernah absent. Seorang ibu bilang kepada saya, bahwa sebelumnya pak Engkos memiliki beberapa becak dan menyewakannya kepada tukang becak yang lain. Tinggal di rumah yang cukup lumayan, didampingi seorang istri dan seorang anak yang berusia dibawah sepuluh tahun.

    Karena kebijakan pemerintah setempat yang tidak mengijinkan becak beroperasi di kawasan tertentu, suatu hari becak pak Engkos kena operasi tramtib. Becakpun digusur dan dibuang ke laut.

    Jadilah pak Engkos tidak memiliki sarana pencari nafkah lagi. Rumah tinggalpun akhirnya ganti, dari rumah sederhana menjadi rumah yang hampir tak layak dihuni. Namun pak Engkos tetap tabah. Dia jalani kehidupannya dengan istiqomah, tetap berada di jalan Allah, tetap rajin sholat berjama’ah ke masjid, dan sekali-sekali bertindak menjadi imam sholat. Kami terkesan dengan bacaan qolqolahnya yang demikian kental.

    Untuk menyambung hidupnya, pak Engkos kembali menjadi tukang becak. Namun kali ini dia hanya sekedar buruh becak, yang harus memberikan uang setoran kepada majikannya. Hujan dan panas tak merintanginya bekerja menarik becak. Hingga ketuaan mulai menyapanya. Saat kondisi fisik sudah kurang mendukung, dia menderita sakit. Semakin hari semakin parah penyakitnya. Namun tak ada uang untuk pergi berobat. Hingga suatu malam datanglah seorang mahasiswa menyambangi rumahnya dan menawarkan bantuan pengobatan dengan syarat dia pindah agama.

    Dengan tegas pak Engkos menjawab, “Lebih baik saya mati dalam keadaan tetap beragama Islam, dari pada saya sembuh tapi harus pindah agama”.

    Mendengar kejadian itu, remaja masjidpun berembug. Kemudian membawa pak Engkos berobat kerumah sakit dengan pelayanan gratis tanpa biaya. Pak Engkospun bersyukur, begitu juga para remaja masjid. Karena pak Engkos berhasil berobat dengan tetap menjaga keimanannya.

    Janji Allah senantiasa benar. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushilat:30).

    Ditengah kondisi ekonomi yang menghimpit, ditambah dengan menderita sakit, pak Engkos berani menolak tawaran yang menggiurkan. Dia tidak takut mati, asal dalam keadaan tetap Islam dari pada sembuh tapi harus pindah agama. Pak Engkos-pun menjadi gembira, karena pertolongan Allah melalui tangan-tangan remaja masjid yang membawanya berobat dan merawatnya di rumah sakit hingga sembuh.

    Pak Engkos yang istiqomah. Kini beliau sudah tiada. Allah Swt berkenan memanggilnya beberapa saat setelah pulang dari rumah sakit. Semoga Allah Swt menerima segala amal kebaikannya, mengampuni kesalahannya, dan menempatkannya ditempat yang layak.

    Kesulitan ekonomi bukan penghalang untuk tetap istiqomah. Penderitaan fisik, rasa sakit dan ketidak beruntungan hidup di dunia bukan penghalang untuk tetap beriman kepada-Nya. Istiqomah di jalan Allah, akan mengantarkan kita kepada kehidupan yang kekal abadi di yaumil akhir nanti.

    Kesulitan kita, derita Pak Engkos… mungkin belum seberapa dibandingkan dengan perjuangan dan derita Rasul serta para sahabatnya. Malu rasanya.. jika kita harus gadaikan komitmen dan keimanan kita hanya demi sesuap nasi atau bahkan agar kita dipandang mapan di tengah masyarakat yang kian materialistis..

    Robbanaa laa tuzigh-quluubanaa ba’da ‘idz hadaitanaa wahab-lanaa milladunka rahmatan innaka antal wahhaab. Aamiin. (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (Petunjuk). (QS. Ali Imran:8).

    Wallahu ‘a’lam bishshowab.

    ***

    (Diambil dari http://www.eramuslim.com)

     
    • fauzi bin rifai 6:53 am on 10 Januari 2014 Permalink

      Allohuakbar walillahilhamd : Dialah yang mahabesar dan kita memujiNYA, semoga kita selalu istiqomah menjalani agamaNYA dan diringankan ujian dari yang seberat itu

  • erva kurniawan 3:41 am on 9 January 2014 Permalink | Balas  

    kisah-teladan-islamBeginilah Musuh Islam, dan Beginilah Umat Islam

    Ibu Guru berjilbab rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

    Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali. Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

    “Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

    Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”

    “Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham Bu Guru”

    “Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

    Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet. “Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

    “Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”

    “Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”

    Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

    ***

    Ini semua adalah fenomena Ghazwu lFikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya: “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu.” (9:32).

    Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.

    Maka tampak dari luar masih Muslim, padahal internal dalam jiwa ummat, khususnya generasi muda sesungguhnya sudah ibarat poteng (tapai singkong, peuyeum). Maka rasakan dan pikirkanlah itu dan ingatlah bahwa dunia ini hanya persinggahan sementara, ingatlah akan Hari Pengadilan.

    WaLlahu a’lamu bishshawab.

    ***

    Diambil dari: eramuslim

    H.Muh.Nur Abdurrahman

    Kolom Tetap Harian Fajar, dengan judul ‘Permainan Ibu Guru’ dari milist Faktual

     
  • erva kurniawan 6:44 am on 29 December 2013 Permalink | Balas  

    siluet keluargaIt’s Becaused You Love Us

    Rencana manusia hanya sebatas pandangan karena ujung dari rencana hanya Allah jualah yang menentukan.

    Rasa bahagia kami lengkap sudah dan kian menambah semarak hari-hari kami ketika di akhir Februari lalu aku mendapati istriku tengah mengandung si buah hati. Sempurna sudah statusku sebagai seorang suami yang mampu memberikan keturunan. Kabar gembira pun kami sebarkan kepada orang tua, sanak keluarga dan teman-teman terdekat dengan harapan do’a agar kami dapat menjaga amanah Allah ini dengan sebaik-baiknya.

    Hari demi hari kami lalui dengan segala kegembiraan bermimpi segera menimang si buah hati. Nama indah penuh do’a pun sudah kami persiapkan. Entah mengapa kami berdua sepakat hanya menyiapkan satu nama anak lelaki.

    Namun di awal April kami harus segera mengubur impian indah kami ketika dokter memutuskan bahwa si calon buah hati harus dikeluarkan dari perut sang bunda karena alasan medis. Tak terperih kepedihan kami berdua. Apalagi sebagai seorang calon ibu, istriku sangat menantikan seorang anak. Kabar itupun hampir tak sanggup dipikul olehnya. Istriku hampir limbung menerima kenyataan ini. Aku hanya mampu berdo’a kepada Allah agar kami senantiasa diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi ujian ini. Walau kesedihan juga mendera hati teramat sangat namun aku berusaha terlihat tabah di hadapan istriku dan tak lepas kubisikan kepadanya agar terus beristighfar dan ikhlas dengan apapun kehendak Allah.

    Ku ingatkan istriku tentang kisah nabi Khidir yang membunuh seorang anak. Hikmah pembelajaran bagaimana menjadi seorang yang sabar bagi nabi Musa yang diajarkan oleh nabi Khidir. Sebagaimana dikisahkan di Al-Qur’an (surat Al Kahfi) bahwa anak kecil tersebut terpaksa dibunuh karena kelak diketahui akan mendorong kedua orang tuanya (yang mukmin) kepada kesesatan dan kekafiran. Dan Allah kelak akan mengganti bagi mereka dengan anak yang lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya kepada orang tuanya.

    Allah telah menentukan yang terbaik untuk calon buah hati kami dan aku percaya Allah Maha Tahu apa yang akan terjadi kelak jika dia dewasa. Mungkin dengan diambilnya sang janin sekarang, Allah kelak akan menggantikan yang lebih baik. Kukuatkan terus hati istriku untuk tetap beristighfar dan aku pun berusaha keras menjaga hati ini agar tidak luluh di hadapan istriku yang sedang shock berat.

    Dan siang itu ketika aku harus mengantarkan istriku ke ruang tindakan untuk mengeluarkan janin itu, mulut ini tak hentinya berdo’a memohon diberikan keselamatan untuk istriku tercinta.

    Ketika operasi itu selesai, dokter memanggiku untuk segera menemui istriku yang masih dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh obat bius. Kutatap istriku dalam diamnya. Ya Tuhan, air mata itu mengalir dari kedua sudut matanya. Mengalir deras dari alam bawah sadarnya. Dan aku sudah tidak mampu melihat kepedihan itu. Mataku panas oleh air mata yang serasa menggelegak mencoba keluar. Pertahananku pun bobol. Pipiku basah. Tidak mampu aku melihat wajah istriku yang pilu.

    Ya Allah, kuatkan kami, tautkan cinta kami. Terimalah buah cinta kami yang Engkau pinta kembali dengan segala keikhlasan kami. Karena apapun yang telah Engkau putuskan dan itu adalah karena Engkau mencintai kami. Anugerahkan bagi kami pengganti yang sholeh, yang sholehah, yang lebih dalam kasih sayangnya kepada kami. Jadikanlah kelak dia sebagai mujahid-Mu yang senantiasa membela agama-Mu di semesta alam raya ini.

    Segala kegembiraan yang pernah Engkau karuniakan kepada kami adalah karena Engkau mencintai kami. Begitu juga segala ujian yang kini menghampiri kami adalah bagian dari cinta-Mu kepada kami. Agar kami senantiasa tidak pernah berpaling kepada pelindung yang lain selain hanya kepada-Mu. Sebab kami tahu, It’s becaused YOU love us. Amiin. (as told by ayah, penuh cinta!)

    ***

    Oleh: Sahabat – eramuslim

     
  • erva kurniawan 2:53 am on 26 December 2013 Permalink | Balas  

    tasbih quranKisah Sufi: Dzunun al Misri

    Suatu saat Dzunun al Misri berlayar dengan santri-santrinya, bertemulah mereka dengan kapal perampok yang isinya hanya kegiatan maksiat semua, karena geram para santri minta kepada sang Syeikh untuk mendoakan kecelakaan bagi kapal perampok tersebut (tentu maksudnya kalau mereka binasa tidak ada lagi kemaksiatan), dan sang Syekh menyetujui permintaan santrinya dengan berdo’a. Tapi betapa terkejut mereka karena do’a yang disampaikan sang Syekh ini ternyata: Ya Allah berikanlah mereka kebaikan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Kontan para santri protes kenapa do’anya begitu, dengan wajah teduhnya dan penuh kasih sayang sang syekh hanya tersenyum. Dan kapal perampokpun semakin mendekati kapal santri tersebut, ternyata pimpinan perampok begitu mendekat dan melihat wajah sang syekh atas kehendak Allah menangis terisak-isak karena ingat mati, dan diakhiri dengan bertaubat, berislam dengan baik. Dari situlah para santri baru mendapatkan jawaban kenapa sang Syekh berdo’a seperti itu.

    Dari kisah yang sangat singkat ini banyak sekali haikmah yang rekan-rekan bisa dapatkan dan silahkan direnungkan dengan jiwa yang tenang, meskipun kita bukan sang Syeikh tadi setidaknya kita bisa belajar dari cara  beliau bertindak.

    Wassalaamu ‘alaikum wr.wb.

     
  • erva kurniawan 8:30 am on 23 December 2013 Permalink | Balas  

    melati1Tambah Satu Lagi Melati itu

    Bismillaahirrahmaanirrahiim

    Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh, supaya kamu selalu ingat. (QS. Al Araf 7:26)

    Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab 33:59)

    *****

    “Dunia ini semakin kacau Nisa, bunga-bunga semakin berani memamerkan aurat tubuhnya, astaghfirullooh.. kenapa mereka tidak mengerti?, kenapa Qalbu yang lembut itu tertutup? kenapa mereka lebih cinta dunia daripada Zat Yang Menciptakannya?.. kenapa?.. “

    Keluh Kasturi suatu ketika, ada semburat kemarahan dan kekecewaan di sana.

    “Apakah mereka tidak sadar diri bahwa dulunya mereka mati?, Apakah mereka tidak bersyukur bahwa dulunya mereka tak berbentuk?, dan kini.. mereka memilih menjual nyawa daripada menjaga kehormatannya. Padahal Allah begitu menyayangi mereka. Mereka korbankan jiwa demi uang, popularitas atau nama”. Padahal semua akan tinggal..

    Sungguh.. kasihan sekali, apakah mereka tidak pernah membaca sejarah bahwa di zaman jahiliyah kehadiran mereka adalah lambang kenistaan? Lebih baik mereka di kubur hidup-hidup daripada dipelihara dengan tanggungan kehinaan dan kini setelah dimuliakan, mereka malah berbalik merendahkan dirinya. Sudah di dunia rendah, apalagi di akhirat kelak?

    Gara-gara mereka cermin wanita ternoda gara-gara mereka fitnah merajalela, gara-gara mereka dunia ditimpa malapetaka. Aku benci mereka Nisa.. aku benci..”

    Semua terdiam mendengar perkataan Kasturi. Untaian katanya begitu menusuk, tajam dan mungkin menyakitkan? Sementara Nisa mencoba tersenyum menahan pahitnya kenyataan.

    “Apa yang engkau keluhkan ini, sama seperti yang kukeluhkan dulu, Kasturi..”. Ujar Nisa pelan, seraya melirik Ayuning yang duduk di sampingnya.

    “Kebencianmu pada mereka bisa Nisa maklumi karena cintamu pada Alloh.., sebagaimana sabda Rasul-Nya: Iman yang paling utama adalah bahwa engkau mencintai (seseorang) karena Alloh dan membenci (seseorang) karena Alloh. (At Thabrani)

    Membenci mereka, karena tidak memperhatikan Firman Alloh, sebab itu timbul usaha untuk merangkul mereka dengan kasih sayang agar kembali mendapat keridhaan Alloh. Betul begitukan ?”

    Kasturi menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan. Selanjutnya ketiga sahabat itu tenggelam dalam perbincangan panjang.

    *****

    Nisa memohon pada Yang Maha Kuasa agar memberikannya kekuatan, ia sadar sepenuhnya yang hadir di pengajian melati bukan hanya mereka yang mengenakan pakaian yang disyariatkan Alloh. Usai berdo’a, perlahan ia mulai memberikan salam dan percikan.

    “Ukhty, Alloh Swt yang sangat menyayangimu berfirman:

    Hai Anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari syurga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al Araf 7:27)

    Alloh telah memberitahukan keadaan nenek moyang kita dulu sewaktu diperdayakan, betapa senangnya syaitan melihat aurat Adam dan Hawa, begitu pula dengan kita. Sungguh, aurat yang tak terjaga itulah gerbang pembuka kemaksiatan di muka bumi ini

    Sungguh ukhty, Alloh yang menciptakan kita lebih tahu mana yang terbaik untuk ciptaan-Nya. Alloh menyuruh kita menjaga aurat karena tidak ingin kita teraniaya dan celaka.

    Dulu kita tidak ada, dengan kasih sayang-Nya, Ia menghadirkan kita. Pernah melihat lukisan indah seseorang? Kita saja yang melihatnya akan merasa takjub dan menghargainya, apalagi yang melukiskannya? Tentu Sang Pelukis lebih menghargai lukisannya, lebih menyayanginya, daripada insan yang hanya menilai. Begitu pula Alloh terhadap kita ukhty. Alloh tidak ingin lukisan-Nya dihina dan hidup sia-sia di dunia ini.

    Siapa yang paling menyayangimu kalau bukan Alloh? Rasakanlah kasih sayangnya dari lukisan wajah indahmu di hadapan cermin itu. Begitu sempurna. Begitu indah. Tidakkah engkau ingin mensyukurinya?

    Rasakan pula dalam setiap degup jantungmu, denyut nadimu, desah nafasmu, dan setiap apa yang engkau rasa pada dirimu. Tidak terpikirkah betapa Alloh senantiasa merawatmu? Ia tak pernah menghentikan dan membiarkanmu sedikitpun kesusahan. Walau betapa banyak salahmu, Alloh masih selalu mengasihimu, mengasihimu. Begitu banyak nikmat yang Ia berikan, jangankan untuk bersyukur, diri kita malah kufur.

    Bukankah nikmat rasanya jika disayang itu ya ukhty? jikalau kita sudah mengerti, mengapa kita tidak ingin disayang oleh yang Maha Penyayang itu sendiri? kenapa kita tidak ingin dicinta Sang Pencipta kita sendiri?

    Kelak apa yang kita lakukan di dunia ini diminta pertanggungjawaban, kelak seluruh anggota tubuh itu ditanya apa saja yang diperbuatnya. Kelak kita akan mengetahui kita selamat atau celaka!!!

    Karena itu, kuketuk dalam pintu hatimu, dengan segenap kemampuan jiwa dan ragaku, taqwalah dirimu dengan menjaga baik-baik apa yang Alloh titipkan kepadamu. Tutupilah aurat itu sebelum tiba masanya manusia tidak lagi memperdulikannya. Yaitu ketika seluruh langit dan bumi ini musnah dan terganti, ketika seluruh umat manusia berkumpul dalam keadaaan tubuh tak tertutup sehelai benangpun. Tak ada lagi yang memperdulikan, karena masing-masing telah sibuk dengan urusannya masing-masing.

    Duhai yang dianugerahi kelebihan rasa, duhai yang lebih dekat pada cinta, patuhlah pada Tuhanmu, kenakan pakaian taqwa itu, selamatkan dirimu Ulurkan jilbab ke seluruh tubuhmu! Tolong.. sempunakan ia!

    Tiba-tiba seorang wanita mendekati Nisa dengan berlinang air mata,

    “Boleh kupinjam jilbabmu untuk menutupi rambut dan seluruh tubuhku yang dibalut baju minim ini, Nisa?”

    Nisa memandang wanita yang ada dihadapannya. “Cathy! Betulkah apa yang kudengar tadi?, engkau mau mengenakan jilbab?”.

    Wanita itu menganggukkan kepalanya, seraya menangis. “Iya Nisa, karena aku takut murka Alloh.. takut kehilangan kasih sayang-Nya.. takut tidak diperdulikan-Nya di akhirat kelak.. takut tak bisa memandang wajah-Nya.. dan aku takut Alloh tidak mencintaiku Nisa.. aku takut Alloh tidak mencintaiku”

    Mendengar ucapan itu, Nisa memeluk Cathy, menciuminya, hampir ia tidak percaya bahwa gadis manis itu tergugah untuk menutup auratnya, Semua ini karena-Mu ya Alloh. Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan-Mu. Kemudian yang lain ikut menyalami Cathy, memeluk dan menciuminya sebagai ucapan selamat karena telah mendapat hidayah. Pada hari itu juga, dia tidak hanya mendapat 1 gaun muslimah lengkap, namun lebih. Tambah satu lagi Melati itu, Ya Alloh! Ucap Nisa seraya tersenyum bahagia, bahagia.

    Billaahi taufiq walhidayah, Wassalaamu’allaikum warahmatullooah wabarakaatuh

    ***

    Oleh: Ratna Dewi

    Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nuur 24:31)

     
  • erva kurniawan 7:49 am on 18 December 2013 Permalink | Balas  

    siluet anak kecilJangan Ambil Anakku

    Terkulai lemas, demam dan mukanya merah karena panas yang lebih dari 40 derajat, sungguh memilukan melihatnya. Anakku dalam kondisi begitu, yang tadinya lincah, cerewet, tiba-tiba diam kuyuh dan hanya tergeletak tidur. Putriku, betapa ingin aku yang tergeletak di situ menggantikanmu. Sakit yang paling berat yang dialaminya selama 1,5 tahun usianya.

    Normalnya dia akan meringis usil atau berlari dan lincah menarik perhatian. Pas dengan usianya yang memang sedang caper-capernya. Bidadari kecilku itu. Yang membayangkannya saja atau bercerita tentangnya saja cukup membuat dadaku terbuncah oleh rasa sayangku. Tapi jangan dianggap aku tidak pernah dibuat jengkel olehnya. Usia 1,5 tahun yang sudah bukan ‘bayi’ lagi, identik dengan banyaknya keinginan, yang terkadang tidak mau ngerti dengan argumen yang kita berikan. Ngotot, teriak, dan nangis jika apa yang dia maui tidak terpenuhi. Singkatnya sih bikin senewen. Ya itu … bidadari kecilku itu. Putriku satu-satunya.

    Sekarang aku harus menyaksikannya mederita sakit. Bayangan buruk segera terlintas. Seandainya hari ini dia harus pergi. Seandainya penyakit yang dia idap sekarang mengantarkannya untuk meninggalkan kami. Ada lintasan rasa protes dan tidak rela membayangkan itu. Takut! Bahkan nada meminta, ya Allah jangan ambil anakku! Jangan sekarang, dia masih kecil, dia baru sebentar bersama kami. Kupeluk dia erat dan tak terasa menetes air mataku.

    Astafighrullah. Astafighrullah. Jeritan hatiku itu manusiawi kan? Terlebih aku sebagai seorang ibu. Yang sudah mengandung, menyusui dan membesarkan. Tapi sebagai seorang hamba-Nya aku berusaha berpikir jernih dan berusaha menghilangkan pikiran buruk yang timbul. Aku tahu aku tidak boleh berpikiran buruk.

    Tapi satu hal yang perlu kukaji dan kurenungkan dalam, bukan mengenai pikiran buruk itu. Mengenai sikapku menghadapinya. Mengapa aku harus takut, protes bahkan tak rela seperti jika hal itu – misalnya – harus terjadi. Astafighrullah. Ya Allah ampuni hamba-Mu ini. Yang mempertanyakan kehendak-Mu dan takdir-Mu.

    Manusia itu tidak punya apa-apa. Semuanya titipan Allah termasuk anak. Hal yang sudah lama aku tau. Namun jelas belum tertanam subur dalam hatiku. Anak adalah titipan-Nya. Seiring perjalanan sang waktu, betapa sering menyesatkan, melenakan rasa sayang yang kita miliki ke anak-anak kita. Besarnya rasa cinta, kebersamaan setiap waktunya, membuat lupa hakekat anak yang bukan milik kita.

    Aku tau aku harus mematri perlahan namun pasti dalam otak dan hatiku, bahwa bidadari kecilku itu bukan milikku. Dia titipan Allah yang diamanahkan padaku dan harus kujaga titipan itu. Sehingga kelak entah kapan kalau diminta kembali, bisa kembali dengan baik. Sehingga kelak ketika ditanya pertanggungjawabanku tentangnya aku sudah melakukan kewajibanku sebaik-baiknya.

    Rasa sedih adalah manusiawi, tapi rasa tidak rela dan ridho menghadapinya bukan merupakan sikap seorang Muslim yang beriman. Rasulullah Saw sendiri menangis sedih ketika putra beliau, Ibrahim meninggal. Tetapi beliau mengatakan, “Tidak akan berkata kecuali yang diridhoi Allah”. Artinya kesedihan beliau tidak sampai melanggar seperti menyalahkan ketentuan Allah atau tidak menerima takdir-Nya. Yakinlah bahwa di setiap kehendak dan takdir Allah selalu banyak hikmah dibaliknya.

    Mungkin ada baiknya jika kita merenungkan, mempertanyakan akan seperti apa kita ketika titipan Allah kepada kita diambil dan diminta. Bukan untuk buang-buang waktu memikirkan dan merisaukan hal yang tidak terjadi. Sekali lagi juga bukan untuk berpikiran buruk atau negatif, tapi untuk melihat jauh kedalam hati sanubari kita bagaimana kita memposisikan anak kita. Sebagai milik kita? Sebagai lambang identitas pribadi. Atau sebagai titipan dan amanah Allah yang harus kita jaga, pelihara dan kita didik.

    Orang tua harus ikhlas kalo barang pinjaman tersebut sudah diminta kembali. Dan itu tidak mengurangi sedikitpun porsi cinta dan sayang kita. Hanya menempatkannya pada porsi yang benar. Jangan sampai rasa sayang dan memiliki yang berlebihan membuat kita melanggar dan menentang ketentuan dan takdir Allah. Anak memang merupakan nikmat, tapi juga cobaan bahkan juga bisa menjadi fitnah. Wallahu’alam bishshowab.

    Ya Allah Engkau Maha Berkuasa dan Maha Tahu. Bimbing kami untuk mendidik anak-anak kami menjadi anak sholeh/sholehah dan manjadi hamba-Mu yang beriman. Jangan jadikan mereka pemberat langkah kami menuju surga-Mu ya Allah. Jangan engkau jadikan anak-anak kami sebagai fitnah bagi kami ya Allah. Jaga hati kami ya Allah untuk selalu condong kepada-Mu.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 8 December 2013 Permalink | Balas  

    maafMulianya Memaafkan

    Ada sebuah buku yang ditulis oleh seorang penulis terkenal, Dave Pelzer, berjudul A Man Named Dave, yang menggambarkan sebuah kisah tentang keberhasilan dan kekuatan dari sikap memaafkan. Buku tersebut – yang merupakan kesimpulan dari dua buku Pelzer sebelumnya yang menjadi best seller, A Child Called “It” dan The Lost Boy  begitu menyentuh hati siapapun yang membacanya, karena tidak seperti buku sebelumnya yang membuat dada berdegub, A Man Named Dave juga mengajak kita untuk meneguhkan hati, membalas kezaliman dengan sikap memaafkan.

    Sebagaimana digambarkan Pelzer, selama tidak kurang dari delapan tahun sejak usia 4 tahun hingga usia 12 tahun- mengalami berbagai siksaan yang sangat brutal dari ibunya sendiri yang menganggap Pelzer hanya sebagai “It” yang bisa diperlakukan dengan seenaknya, meninju, menendang, melemparkan dari atas menggelundung ke dasar tangga, menginjak-injak bahkan mencekiknya sampai nyaris mati. Sebuah kebesaran hati yang mengesankan dari Dave Pelzer bahwa kemudian ia tak sedikitpun menyalahkan sikap The Mother (ibunya) selama delapan tahun itu yang menyebabkan ia tak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu. Hingga akhirnya Pelzer menemukan dirinya sendiri di dalam hati, sampai ia mampu membebaskan diri.

    Bahkan dalam catatan di belakang buku tersebut, Jack Canfield, salah seorang penulis Chicken Soup for The Soul mengatakan bahwa Pelzer adalah bukti nyata yang menunjukkan bahwa kita masing-masing memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri sendiri, tak peduli pengalaman seburuk apapun yang menimpa diri kita.

    Dalam buku Mensucikan Jiwa, Said Hawwa menerangkan tentang empat kategori manusia dalam hal kemarahan, yang pertama, seperi ilalang yang cepat tersulut dan cepat pula reda. Kedua, seperti pohon bakau; lambat tersulut dan lambat pula redanya, ketiga, lambat tersulut dan cepat reda. Jenis ini yang paling terpuji, selagi tidak mengakibatkan redanya ghirah dan semangat pembelaan kebenaran. Sedangkan yang keempat, cepat tersulut dan lambat redanya. Jenis ini yang paling buruk.

    Berkaitan dengan itu, Imam Ghazali pernah mengajarkan bagaimana seharusnya seorang mukmin melampiaskan kemarahan. Bahwa kesabaran seseorang memang ada batasnya dan pada saatnya telah melampaui ambang batas itu, sangat wajar bilang seseorang harus marah. Hanya saja, yang terpenting adalah bagaimana kita mampu mengukur kadar marah itu sesuai dengan tingkat kesalahan orang membuat kita marah, selain juga kemarahan yang dilampiaskan masih wajar dan berada dibawah kesadaran yang tinggi. Inilah yang sulit, makanya Rasulullah pun pernah mengatakan bahwa memaafkan adalah sikap mulia dari seorang mukmin.

    Memaafkan, bukan memberi maaf, jelas perintah dalam surat Ali Imran ayat 134, karena memaafkan bermakna lebih mulia ketimbang memberi maaf. Memaafkan adalah sikap yang diberikan secara ikhlas terlepas orang yang melakukan kesalahan, sikap dan tindak semena-mena, dan atau ketidakadilan itu memintanya atau tidak. Dan sikap memaafkan itu dikatakan Allah sebagai satu sikap orang-orang bertaqwa yang Allah sediakan bagi mereka syurga seluas langit dan bumi.

    Bayangkan betapa mulianya orang-orang yang mampu memaafkan, karena sikap memberi maaf setelah orang meminta maaf saja sudah sedemikian luhur. Bahwa juga sikap seseorang yang meminta dimaafkan setelah melakukan satu kesalahan pun sudah begitu bagusnya. Sungguh membutuhkan kebesaran jiwa untuk bisa memaafkan kesalahan orang tanpa menunggu orang memintanya, karena pada saat itu kita telah membunuh kesombongan, dan rasa sebagai orang menang.

    Karena jika kita tak mampu melakukannya, dan menelan kemarahan itu karena ketidakmampuan untuk melampiaskannya seketika maka ia akan kembali ke dalam bathin dan menyelinap ke dalamnya lalu menjadi kedengkian. Kata Said Hawwa, makna kedengkian ialah hati senantiasa merasa berat dalam menelan kemarahan, merasa benci kepadanya dan lari darinya. Kedengkian adalah buah dari kemarahan.

    Sikap yang sebaiknya dilakukan seseorang adalah, selain memaafkan adalah meningkatkan kebaikan terhadapnya sebagai perlawanan terhadap hawa nafsu dan syetan maka hal itu merupakan maqam orang-orang yang tergolong shiddiqin, dan termasuk perbuatan orang-orang yang mencapai maqam Muqarrabin (orang-orang yang dekat dengan Allah). Wallahu a’lam bishshowaab

    ***

    Bayu Gautama – eramuslim

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 3 December 2013 Permalink | Balas  

    al-quranKisah Nyata Seorang Mualaf

    Bismillahirrahmanirrahim

    Inilah sebuah kisah kesaksian dari seorang mantan Gembala Gereja dan penginjil bernama Paulus F Tengker, yang bernama Islam Rahmad Hidayat, yang oleh saya (M.Donny Setiawan) dikutip dan ditulis kembali. Silahkan baca dengan penuh ketulusan atas pengakuan jujur, kisah mantan Gembala Gereja dan penginjil ini, yang telah bertabat dan menemukan kebenaran Ilahi.

    Inilah Kisah Nyatanya :

    Tadinya saya ragu untuk menulis kisah ini, karena takut terjebak dalam rasa dan sifat riya, tetapi setelah membaca posting kisah kesasian 4 orang Gembala yang kembali ke agamanya masing-masing yang diposting lewat : yesus.net dan kebenaran.net, ini merupakan sebuah pengungkapan jujur dan berani atas praktek Rohani Gereja yang sebenarnya rahasia dan tidak diketahui oleh banyak pihak termasuk oleh umat Kristiani sendiri. Karena saya melihat ada upaya penyangkalan kebenaran oleh kalangan-kalangan tertentu Umat Kristiani di forum diskusi agama tersebut. Demi tegaknya kebenaran dan agar semakin banyak Domba-domba maupun Gembala-gembala kristus yang bisa menemukan jalan kebenaran Ilahi yang sesungguhnya, maka saya beranikan diri menulis dan menuturkan kisah sejati ini.

    Saya berharap para Domba dan Gembala Kristus yang membaca kisah ini dapat memahami dan menghayati pengalaman rohani saya ini, agar bisa menemukan kebenaran Ilahi yang sejati, Jalan Tuhan yang Benar dan tidak sesat.

    Oleh karena itu demi penghargaan kepada umat Kristiani dan Umat Islam, saya tidak mengutip satu ayatpun dari Al-kitab dan Al-quran. Kesaksian tersebut adalah betul-betul ungkapan hati dan Jiwa Saya.

    Saya seorang pria, dilahirkan di Manado 27 tahun yang lalu. Nama saya Paulus F.Tengker, saya dilahirkan dalam tradisi keluarga penganut Kristen yang Fanatik. Ayah saya seorang Pendeta Gereja Pantekosta, kakak wanita tertua menikah dengan seorang penginjil Nehemia terkenal. Saya dididik untuk taat dalam beragama, menjadi Gembala tuhan. Itulah sebabnya setamat SMA, saya melanjutkan kuliah ke sebuah Sekolah Misi Al-kitab yang berlokasi di Jl. Arjuno – Surabaya. Kota Surabaya dipilih karena selain lebih dekat ke Manado, juga merupakan salah satu Kota dengan Umat Kristiani yang terkemuka.

    Banyak Gereja berdiri megah di tengah Kota dan Pekabaran Gembira Cinta Kasih Tuhan yesus mendapat respon yang sangat baik dari Masyarakat Jawa Timur, yang mayoritas beragama Islam Fanatik. Selama Kuliah saya juga bekerja Part-time sebagai pelayan Tuhan di Gereja Nehema dan Gereja Pantekosta di Indonesia Timur cabang Surabaya, saya bekerja sebagai penyusun Kisah kesaksian dari hama-hamba Islam yang bertobat masuk Kristen. Karena kebanyakan orang-orang itu adalah orang-orang dari desa, atau orang yang awam, beberapa diantaranya bahkan seperti sakit Jiwa, atau para pemakai Narkoba yang masih kecanduan berat, maka saya harus menuliskan kisah-kisah kesaksian yang hebat untuk mereka.

    Saya basa menulis cerita dengan tajuk : “Hamba Tuhan yang kembali, mantan seorang Kiyai masuk Kristen, Mantan Dosen IAIN masuk Kristen, dsb.

    Kisah-kisah palsu karangan saya itu sangat sempurna sekali, bahkan hampir tak bercela, saya ahli mengutip Al-Qur-an dan Hadist, saya juga tahu urutan pendidikan Islam dari mulai sekolah Islam, sampai pondok pesantren hingga IAIN. Saya juga sering ditugaskan untuk membuatkan dokumen asli tapi palsu ; Ijazah palsu dan foto-foto palsu, untuk meberikan kesan bahwa mereka itu dulunya benar-benar bekas tokoh-tokoh Islam walaupun sebenarnya Bukan.

    Bahkan saya juga mengajari mereka membaca Al-quran yang akan dipakai menohok orang-orang Islam yang sedang kami injili dan berusaha membantah Kami.Beberapa Kisah kesaksian yang sudah dibukukan, beberapa diantaranya merupakan hasil karangan saya. Memang betul orang Islam yang murtad  itu ada tetapi mereka tak sehebat kesaksiannya, jika disebut mantan ulama atau Mahasiswa IAIN, atau Guru Ngaji yang sekolah dimesir, maka sebenarnya mereka itu adalah para pengemis, gelandangan, bekas pecandu Narkoba, Wanita Nakan dan para preman tak beragama, orang desa yang ber KTP Islam, tapi berbudaya animisme didesa-desa pesisir selatan Jawa (misalnya ; Sukabumi dan Blitar). Bahkan saya sering berjumpa Orang-orang Islam yang diBabtis itu ernyata seumur hidupnya hampir tidak pernah Shalat dan mengetahui ajaran Islam yang paling dasar, tetapi kami harus melaporkan keberhasilan ini dengan cara yang gemilang kepada para Jemaat yang telah berderma, maka kami merekayasa kisah kesaksian orang-orang lugu ini menjadi hebat dan canggih. Tentu para Domba Gereja akan senang kalau mantan Ulama masuk Kristen, Walaupun yang sebenarnya Cuma bekas Gelandangan Buta huruf misalnya. Saya jalani terus pekerjaan ini hingga tamat Kuliah dan akhirnya saya dinobatkan menjadi Pendeta Muda. Karena keahliah saya ini terhitung langka, maka tugas ini tetap dipertahankan. Saya juga Rajin Membeli Tafsir Al-Quran, hadist, dan buku-buku Islam untuk mencari kelemahan-kelemahannya, Gereja mendanai setiap apapun yang berhubungan dengan kerjaan saya.

    Saya menemukan bahwa sikap saling beda pendapat, namun saling menghargai sebagai kelemahan Islam yang paling utama dalam pandangan Kristen. Bahkan saya juga pernah berpura-pura mengaji dan mengaku sebagai Islam dengan mengundang seorang Guru Ngaji kerumah Dinas saya, saya belajar ngaji hingga 1 tahun lebih dan ustadz itu tak pernah menyadari sampai saya tamatbelajar, bahwa saya sebenarnya seorang Kristen.

    Berkat pengajaran beliau itu saya bahkan bisa ngaji dan hal ini ternyata berguna sekali untuk saya sekarang ini, ketika kali ini saya dengan sesungguhnya belajar Islam.

    Saya pun secara Part Time terkadang ikut misi penginjilan malam bertajuk Tuhan Berkabar di Malam Hari. Kami mendatangi tempat-tempat keremangan malam seantero kota Surabay, kami wartakan Injil kepada para pekerja sex, ABG, wanita nakal, dan kaum Gay.

    Yang kami targetkan untuk dikristenkan biasanya adalah para pekerja sex independen, para pengunjung diskotik dan kafe yang menyambi, baik itu Gadis belia maupun para lelaki muda penjaja sex untuk kaum gay. Setiap orang yang terpilih biasanya hasil seleksi dan pengamatan yang teliti, tidak sembarangan orang kami jadikan target. Biasanya kami telah mengawasi mereka selama kurang lebih 1 hingga 3 bulan. Para penginjil yang aktif disini tidak aktif dalam kegiatan Gereja apalagi memimpin kebaktian dan acara Rohani lain.

    Sebab kami tak mau citra Gereja rusak di mata Umat yang kebetulan bertemu para penginjil di tempat keremangan malam tersebut. Juga para Penginjil itu tidak menggunakan seragam resmi, mereka berdandan seperti umumnya pengunjung diskotik dan Kafe.

    Selain itu para Penginjil Gembala Tuhan di malam hari juga aktif dalam jaringan pengedaran Narkoba, sebab inilah cara termudah menjerumuskan seorang Umat beragama lain dalam kesesatan hidup lalu setelah mereka tersesat dan butuh pertolongan, kamilah kamilah yang akan merangkul mereka. Apabila tidak terangkulpun kami sudah berhasil merusak sebagian dari generasi muda Islam yang sering ke diskotik atau kafe. Mungkin para pembaca posting ini sudah membaca artikel panjang tentang jaringan Narkoba di Jakarta di harian Kompas edisi hari Minggu tgl 11 Mei 2001, disana diceritakan dengan gambling betapa penyebaran dan mafia narkoba sudah menyebar sangat pesat diJakarta dan sulit diberantas. Betapa aparat kepolisian, TNI, pengelola tempat hiburan malam, para pengunjung, dan mafianya bekerja sama begitu rapi. Tapi ada yang kurang dari cerita itu dan ini sangat sulit mereka telusuri, yaitu keterlibatan Gereja dalam Jaringan dan Sindikat Narkoba.

    Berbeda dengan para mafia dan Bandar yang ingin mengeruk keuntungan materi, gereja terlibat semata untuk menjaring Domba Kristus baru dan menyesatkan Generasi Muda Islam.

    Jujur saja, kisah kesaksian bahwa para Gembala Tuhanpun banyak yang memakai Narkoba untuk menunjang performance mereka itu benar adanya. Narkoba itu digunakan agar para gembala Tuhan tampil percaya diri dan kami sangat yakin bahwa kondisi fly dan kakauw adalah kondisi dimana kami bisa kontak langsung dengan Roh kudus. Kisah yang dituturkan 4 mantan gembala itu benar adanya. Saya pun tahu persis, karena selaku anggota tidak tetap penginjilan malam hari, sayalah yang memasok kebutuhan mereka, saya kenal banyak dengan para Bandar besar Narkoba di Surabaya. Bahkan beberapa para Bandar besar itu adalah jemaat Gereja yang taat, donasinya bahkan ada yang melebihi nilai persepuluhan mereka.

    Selain menyumbang uang untuk penginjilan, mereka juga menjual Narkoba dengan harga khusus kepada gereja untuk memasok kebutuhan para Gembala yang membutuhkan dan untuk diedarkan guna merusak Generasi Muda Islam. Saya juga terkadang juga memakai ectassy / innex hanya saja saya pakai ketika menjamu para tamu Gembala Tuhan dari luar Kota. Kami pun biasa ketemu dan ngobrol-ngobrol dibeberapa pub malam terkenal, yang pasti dikunjungi para pelayan dan gembala Tuhan bila berkunjung ke Surabaya.

    Kami punya private number di Kowloon dan Club Deluxe dan top Ten. Saya pernah menemani pendeta terkenal seperti : KAM.Yusuf Ronny(yang mantan muballigh dan tokoh Islam terkenal), Gilbert Lumoindang dan Suradi ben Abraham di pub – pub tersebut.

    Kami bahkan pernah melakukan pembabtisan pekerja sex di private room salah satu pub terkenal itu sambil tripping. Setelah itu kami Dating dengan mereka, “mandi suci bersama” istilahnya. Kalau masalah skandal sekx antara Jemaat dengan Pendeta atau penyanyi Gereja dan Gembalanya, saya tidak tahu persis, tapi yang saya tahu memang sewaktu menerima para gembala Tuhan mengunjungi Pub malam, pernah mereka diantaranya ditemani beberapa wanita yang dikatakannya sebagai Jemaat yang minta untuk diurapi secara khusus.

    Selain itu saya juga aktif dalam pembinaan domba-domba baru yang kebanyakan berasal dari pedesaan dan para pekerja malam, seperti diuraikan diawal kisah nyata ini.

    Sayalah yang terkadang mengajari mereka tentang Islam, tetapi tentunya yang telah kami sortir bahwa ajaran Islam itu mengakui ketuhanan Yesus, misalnya. Saya juga mengajari mereka berakting untuk menunjang penampilan mereka diacara KKR atau kesaksian di Gereja. Jangan sampai mereka tidak hapal kisah nyata hasil rekaan saya sendiri lalu melenceng ke kisah nyata mereka sendiri, yang kalau ketahuan bisa berakibat fatal bagi Gereja.

    Khusus untuk KKR, kami melatih orang-orang untuk berpura-pura lumpuh, buta, bisu dan berbagai penyakit lainnya lalu pura-pura disembuhkan para pengKhotbah dan Jemaatpun akan histeris dan percaya itu mu’jizat. Kamipun harus menyiapkan upacara pemanggilan Roh kudus ditempat-tempat keramatdan angker di Surabaya sebelum acara penyembuhan Ilahi dimulai.

    Terkadang ada jemaat yang diluar kendali dan scenario betul-betul minta diurapi, biasanya kami akan segera menahan dia dengan mengatakan : maaf pendeta sibuk, dengan kedatangan umat yang luar biasa, lain kali saja!!!. Biasanya para penginjil malam lah yang bertugas untuk menahan orang-orang yang diluar scenario acara, kami tidak pernah melibatkan pemuda Gereja karena mereka diluar Gugus kendali komando kami.

    Memang pengakuan 4 orang mantan Gembala itu terdengar spektakuler dan sulit dipercaya, tetapi saya beritahukan kepada anda semua :

    SEMUA PENGAKUAN MEREKA ITU JUJUR dan BENAR ADANYA, SEMUA PRAKTEK TERCELA ITU MEMENG DIJALANKAN TERUTAMA OLEH :

    -                GEREJA BETHEL

    -                GEREJA BETHANY

    -                GEREJA NEHEMIA

    -                GEREJA SIDANG JEMAAT PANTEKOSTA

    -                GEREJA ABDIEL

    Bagi umat Kristiani maupun para Gembala dan pelayan Tuhan pun yang tidak pernah ikut kegiatan ini akan terkejut dan sulit mempercayai kenyataan ini, tetapi saya beritahukan sekali lagi : SEMUA ITU BENAR TERJADI. Selain mantan gembala itu saya juga saksi hidup lainnya.

    Mengapa saya masuk Islam ???

    Ketertarikan saya kepada Islam Bukan dari buku-buku yang saya baca, karena buku-buku itu tak pernah saya baca sepenuh hati dan tidak sampai tuntas, saya hanya menccari poin-poin tertentu saja. Saya masuk Islam bukan setelah saya bertemu atau berdiskusi dengan orang Islam, karena saya selalu menganggap dan diajarkan oleh Gereja bahwa orang-orang Islam itu Hina, bodoh, kotor, terbelakang, kasar, keji, penuh tipu muslihat dan penuh dosa.

    Ajaran Islam dinyatakan sebagai ajaran sesat dan ummatnya kalau tidak kita hinakan harus kita Insafkan. Hal-hal inilah yang tertanam dalam dalam benak saya sejak kecil hingga dewasa ini.

    Perlu semuanya ketahui bahwa ajaran kebencian kepada ajaran Islam dan umatnya ini merupakan pelajaran pokok yang diberikan kepada kader-kader umat Kristen sejak kecil. Materi ini mulai disampaikan dipengajaran sekolah minggu dan jika kita berminat menjadi penginjil atau gembala Tuhan, pelajaran ini akan semakin diperdalam.

    Saya akhirnya masuk Islam justru setelah mengalami suatu mimpi luar biasa dan Beberapa kejadian di keesokan harinya, yang akhirnya merubah jalan hidup saya menuju kebenaran sejati. Bermula dari suatu Kamis malam / Malam Jum’at tanggal 11 January 2001.

    Saya bermimpi sedang berdo’a dihadapan gambar Tuhan Yesus disuatu Gereja yang sangat megah, lalu datanglah Tuhan Yesus menemui saya dengan senyumnya yang agung, saya bahagia sekali, ini adalah mukjizat bagi saya. Saya lalu memandangi Tuhan Yesus dari ujung kaki hingga ujung rambut, sungguh mirip sekali, bahkan lebih agung disbanding foto dan gambar Tuhan yesus yang saya miliki.

    Tetapi sesaat kemudian dating menghampiri kami seorang pria berwajah Arab Palestina mirip orang Yahudi atau Israel, dia berkata “Kalian ini Siapa”??.

    Saya jawab: Saya seorang domba yang sedang bertemu Tuhannya!!

    Dia bertanya lagi : “Mana tuhannya??”

    Tuhan yesus yang datang pertama tadi menjawab : “Akulah Tuhan Yesus”, Juru selamat Ummat manusia dan Dunia , siapa engkau wahai pria Asing ??? (Tanya tuhan yesus).

    Pria Arab Palestina/Yahudi itu berkata : “akulah Isa Al-masih” dan Engkau bukanlah diriku.

    Saya menyela : “Wahai engkau orang Yahudi / arab, Janganlah engkau berbuat begitu dihadapan Tuhanku!!.

    Pria Yahudi tadi berkata : Kalau begitu buktikanlah bahwa kamu Yesus atau Isa Almasih yang sebenarnya!!.

    Lalu tuhan Yesus (orang yang pertama datang di mimpi saya) memejamkan matanya dan sungguh ajaib! Dari tangannya keluar mukjizat sinar api dan dia menyemburkannya kepada pria Yahudi itu, pikir saya pria Yahudi tadi binasa karena berani menghina Tuhan Yesus. Keajaiban keduapun terjadi, Pria Yahudi yang mengaku sebagai Isa Al-masih itu tak kurang suatu apapun dan dia lalu tersenyum, kemudian api itu kembali / membalik menyembur Tuhan Yesus, lalu Tuhan Yesus menjerit kesakitan dan wujudnya tiba-tiba berubah . Kedua telinganya memanjang, dari mulutnya keluar Gigi taring dan dari belakang tubuhnya keluar Ekor, dan wajahnyapun berubah mengerikan !!!, lalu salah satu tangannya mendadak memegang sebuah tombak seperti Garpu!!. TUHAN YESUS YANG SAYA LIHAT DALAM MIMPI ITU BERUBAH MENJADI IBLIS!!!.

    Sementara pria Yahudi itu lalu berdo’a dalam bahasa seperti bahasa orang Israel, Tuhan yesus yang telah berubah menjadi Iblis itu lari terbirit-birit. Lalu ada keajaiban lainnya yang terjadi, Gereja megah tempat saya berdo’a tiba-tiba menghilang, lalu bergantin dengan pemandangan seperti disebuah padang pasir yang sangat tandus. Saya kaget dan tak percaya melihatnya, lalu dengan terbata bata saya bertanya kepada pria Yahudi tadi :

    “Siapakah engkau sebenarnya ?, Pria itu menjawab: “Akulah Isa Al-Masih, hamba Alloh, rasul Nya yang ke-24, yang engkau beserta ummat-umat lainnya dinyatakan sebagai Tuhan Yesus”

    Saya berkata : Bukankah engkau telah mati dikayu Salib dan telah berkorban demi menebus dosa umat manusia???. Nabi Isa Al-Masih menjawab : “Bukan seperti itu kejadiannya, engkau telah diperdaya oleh iblis dan para pengikutnya yang telah berusaha mencelakakanku tadi dan sekarang dia sekarang telah terlihat wujud aslinya”.

    Saya berkata lagi : Maksud tuan, iblis itu tadi…… selama ini ….?.

    Nabi Isa Almasih Menyela : “Sudahlah, maukah engkau tahu kebenaran Ilahi yang sejati???.

    Saya menjawab : “Jika itu ada saya bersedia.”

    Nabi Isa Al-Masih menjawab : “Tetapi untuk menemukan kebenaran sejati itu engkau harus berkorban banyak, engkau akan kehilangan pekerjaanmu, hidup miskin, kehilangan teman-temanmu, serta dibenci banyak orang??.”

    Saya menjawab : “emmmmmmm (Tak bisa berkata-kata).

    Nabi Isa Almasih Berkata : “Ketahuilah akulah Nabi Isa Al-Masih, sebagaimana yang telah aku katakan tadi suatu saat nanti aku akan turun kembali ke muka bumi untuk meluruskan segalanya yang salah tentang aku. Janganlah engkau termasuk dalam golongan yang keliru itu, jika engkau ingin menemukan kebenaran sejati, engkau sebenarnya telah memiliki catatan-catatan kebenaran itu, tetapi engkau tak membacanya dengan pikiran dan hatimu. Otakmu telah beku karena telah disesatkan. Oleh orang-orang yang diilhami oleh Iblis dan para pengikutnya. Kalau engkau mau mencari kebenaran, engkau akan menemukan disuatu tempat, tepat esok hari dimana kamu ditempat itu mendapat suatu kesulitan.”

    Lalu pria yang mengaku sebagai Isal Al-Masih tadi mengucapkan salamnya orang Islam, kemudian pergi, sayapun lalu terbangun, dan hari telah pagi. Saya merenung, mimpi apa itu tadi?. Kesulitan apa yang akan saya alami hari ini?.

    Hari telah tiba kembali, rupanya ini hari Jum’at tanggal 12 January 2001. Saya berfikir itu hanya sebuah mimpi saja, saya lalu teringat cerita tahayul Jawa, kalau malam jum’at pasti setan-setan itu gentayangan, dan mungkin saya mengalami itu barangkali. Kemudian saya baca buku-buku Islam yang saya miliki, tiba-tiba saya merasa menemukan banyak hal yang selama ini tidak pernah saya baca. Betapa pikiran saya telah dibukakan, tapi saya belum yakin betul.

    Ketika perjalanan menuju Kantor saya di sekretariat Gereja, mendadak mobil saya mogok, tepat didepan sebuah Masjid dikawasan Jl. HR.Muhammad – Jl. Mayjen. Sungkono, Surabaya, sayapun kaget, kok bisa-bisanya mogok didepan sebuah masjid yang saya benci.

    Jangan-jangan mimpi itu betul?, akh saya pikir itu cuma kebetulan saja, jangan percaya takhayul. Namanya mogok itu bisa terjadi kapan saja, pikir saya. Belum hilang kaget saya, tiba-tiba ada seorang pria menghardik saya dan meminta dengan kasar dompet dan HP saya. Saya kaget, panik dan takut, lalu saya lari ke-arah Masjid dan masuk kesana, minta tolong sama orang-orang disitu. Orang yang mau menodong sayapun berlari menghindari massa, rupanya waktu itu jam 11:30, mendekati jam nya Sholat Jum’at. Saya ada di Masjid, mimpi saya, pesan orang yahudi yang mengaku sebagai Nabi Isa Al-Masih dalam mimpi itu, saya bingung lalu saya tak sadarkan diri.

    Ketika sadar, saya berada di sebuah ruangan di Masjid, rupanya ada seorang Bapak tua berpeci yang mengatakan kalau saya tadi pingsan, saya lalu berdiri, tiba-tiba hati saya ingin menangis, menjerit…”Ya Tuhan… Engkau telah menunjukkan jalan bagiku”. Pak tua itu kaget dan bertanya : Ada apa Nak??. Lalu saya menceritakan semua mimpi saya semalam dan kejadian yang saya alami, juga siapa saya dan apa pekerjaan saya, serta perbuatan-perbuatan saya dalam memerangi dan memperdaya agama Islam beserta ummatnya.

    Bapak tua itu berkata: “Itu suatu petunjuk Tuhan Bagimu, boleh percaya apa tidak, saya bukanlah seorang ahli agama yang baik. Sekarang kamu teruskan perjalanan atau pulang. Sayapun lalu pulang, menelpon gereja bahwa saya hari ini tidak enak badan, jadi nggak masuk kerja, tapi 3 jam kemudian, sekitar jam 16:00 sore, saya kembali lagi ke Masjid itu, lalu saya melihat ada pengajian, pak tua berpeci itu yang memimpinnya, saya beranikan diri untuk masuk dan berkata : Pak tolong yakinkan saya.! Saya ingin mengetahui tentang agama Islam sebenarnya. Disaksikan para jemaah Masjid itu lalu kami berdiskusi panjang lebar hingga malam hari, saya lalu pamitan pulang dan mengatakan kepada pak tua bahwa diskusi ini belum selesai dan akan kami sambung esok pagi.

    Proses diskusi ini memakan waktu satu Minggu lamanya, setiap pagi sebelum berngkat kerja sekitar jam 06:00 hingga jam 8:00 pagi saya mampir ke Masjid tersebut dan kami berdiskusi tentang Islam – Kristen. Akhirnya setelah yakin seyakin-yakinnya, setelah mendapat penjelasan panjang lebar dari pak tua, dimana setiap penjelasan balik dari saya yang sangat ilahiyah dan alkitabiah menurut saya, ternyata dinyatakan tidak berargumen dan berdasar oleh bapak tua dan beberapa Jemaah yang ikut hadir dalam diskusi pagi kami. Terutama setelah mengetahui bapak tua ternyata fasih dan hapal beberapa bagian dari Alkitab, mengetahui sejarah Gereja dan penulisan Alkitab yang belia tunjukkan dengan dokumen-dokumen Kristen asli yang dia miliki yang menurut beliau pernah diberikan para penginjil sekitar 30 tahun yang lalu. Yang ketika saya baca saya terkejut karena pemaparan buku-buku para missionaries 30 tahun lalu itu, ternyata berbeda sekali dengan dokumen yang ada di Gereja sekarang yang pernah saya pelajari. Saya jadi ragu dan bimbang kenapa literature agama yang dianggap sacral oleh umat kristiani itu bisa berubah setelah 30 tahun.?. Terlebih setelah pak tua menunjukkan dan memperbandingkan versi alkitab yang saya miliki (cetakan tahun 1990-an) yang mana diterbitkan oleh lembaga yang sama, kok bisa memiliki perbedaan dan revisi disana-sini tanpa penjelasan diedisi baru bahwa telah dilakukan revisi. Yang ternyata revisi itu bukan hanya EYD (ejaan yang disempurnakan) atau tata bahasanya saja, akan tetapi juga merubah ma’na dan arti ayat Alkitab itu sendiri.

    Akhirnya saya yakin bahwa agama lama saya ini Kristen ternyata banyak kelemahannya dan merupakan suatu kesalahan sejarah, Islamlah agama penutup dan penggenap/pelengkap.

    Yang menggembirakan saya adalah agama Islam itu ternyata juga menghargai dan menghormati Tuhan Yesus sebagai Nabi Allah yang dimuliakan, mengakui keberadaan agama-agama terdahulu dan kitab-kitab sucinya. Persamaan kisah dan sejarah agama dalam Alkitab dan Al-Quran yang lalu disempurnakan oleh wahyu Alloh kepada Nabi Muhammad dalam AlQuran, di mana semua ajaran Kristen yang dinyatakan menyimpang itu dijelaskan dengan baik. Dimana penyimpangannnya dan direposisi kembali ajaran wahyu ilahi itu secara benar dalam Islam.

    Penjelasan pak tua dan jemaahnya itu tentu saja tidak saya percaya begitu saja, saya juga mengajak berdiskusi teman-teman sesama Gembala. Selama masa diskusi ini, tetapi jawaban rekan Gembala lain sungguh sangat menyakitkan dan ketus sekali, bahkan ada yang bilang saya ini kena Guna-guna dari bekas guru ngaji saya, berikut pembantu rumah dinas saya, juga pengaruh sihir yang tersembunyi di dalam buku-buku Islam yang saya miliki. Beberapa rekan dari Gereja Pantekosta bahkan menawarkan jasa untuk melakukan upacara pengusiran roh Jahat Islam di rumah saya dan akan mengurapi serta akan mensucikan buku-buku Islam yang saya miliki agar kekuatan sihirnya hilang. Sikap rekan-rekan Gembala ini terasa kontras dan tidak sepadan dengan sikap pak tua dan jemaahnya di masjid yang sederhana itu. Saya merasa bersalah karena telah ikut dibesarkan dan dibina oleh lingkungan agama yang sesat, Saya harus segera mengambil keputusan, setelah melalui berbagai pertimbangan yang matang, menimbang segala resikonya. Akhirnya sudah mantap dan sudah bulat tekad saya dan saya akan masuk Islam.

    Tanggal 21 January 2001, hari Minggu jam 10:00 pagi saya berikrar DUA KALIAH SYAHADAT. “Asyhadu alla Ilaha Illalloh – Wa asy Hadu Anna Muhammadar Rasululloh”

    = Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan Alloh.=

    Setelah masuk Islam saya mengganti nama saya menjadi “Rachmad Hidayat”. Saya tidak memakai nama keluarga lagi karena ketika saya mengabarkan kepada keluarga saya di Manado bahwa saya telah masuk Islam, mereka murka sekali, papa mengatakan tidak akan mengakui saya sebagai anaknya, Oma bahkan mengutuk saya melarat bersama para pendosa Islam dan mengatakan bahwa saya telah disihir oleh orang Islam. Lalu saya juga memperoleh surat dari keluarga yang diberikan oleh mantan pembantu saya dirumah dinas, bahwa keluarga saya sekarang tidak mengakui saya lagi dan menyatakan mencabut hak waris dalam marga saya dan saya tidak diperkenankan menyandang nama keluarga Tengker lagi. Bahkan dalam surat itu papa menyatakan jikalau saya akhirnya dianiaya atau dibunuh oleh pihak Gereja, maka mereka gembira karena itu merupakan sarana penebus dosa saya kepada tuhan Yesus. Naudzubillah!!. Ya….. Alloh maafkan keluarga saya ini, mereka berkata begini karena mereka tidak mengerti hakekat ketuhannya.

    Sekarang saya ikut bimbingan Islam di rumah pak tua berpeci yang kemudian diketahui merupakan Ustadz dan Imam masjid itu. Maaf demi keamanan kami, nama ustadz, alamat Masjid, serta tempat kos saya rahasiakan, mohon maklum.

    Sejak saya pindah dari rumah mewah berfasilitas lengkap plus mobil dll di kawasan elite darmo Satelit- Surabaya. Yang merupakan fasilitas buat saya dari Gereja, telah saya kembalikan ke Gereja, saya sekarang kost di sebelah rumah pak tua sambil belajar agama Islam. Saya juga bekerja membantu usaha keci-kecilan milik keluarga pak tua, mencetak surat undangan, kop surat dan setting komputer. Insya Alloh kalau ada modal (saya berencana bersama seorang anak pak tua ini untuk mengajukan kridit usaha kecil di BRI – Surabaya). Mau buka usaha percetakan yang lebih permanen. Saya sambil kerja dan belajar memperdalam agama Islam, pagi sampai sore saya ada di studio kecil tempat saya bekerja, malamnya belajar Ilmu Agama. dan silat Tradisional. Saya perlu belajar ilmu bela diri karena tak mungkin para pemuda kampung selalu mengawal saya. Saya mendengar dari bekas teman akrab di Gereja dan Yayasan (namanya saya rahasiakan juga, demi keselamatan mereka) sangat solider dengan merahasiakan keberadaan saya , walau pihak gereja terus menerus mendesaknya. Mereka bercerita tentang usaha gereja untuk melaporkan ke Polisi Bahkan Memeja Hijaukan saya dengan tuduhan “Kasus pencurian Mobil, padahal semua orang diGereja tau dan banyak saksinya termasuk warga kampung tempat saya kost yang mengantar saya ketemu dengan pihak Gereja, waktu serah terima itu. Smua Inventaris gereja termasuk Mobil sudah saya kembalikan dan ada tanda terimanya. Demikian juga urusan keuangan dan kas Gereja Semua sudah clear dan pihak Gerejapun tahu, tapi entah mengapa mereka berusaha mengfitnah saya seperti ini?. Tetapi saya tekadkan, bila betul pihak Gereja akan melaporkan saya ke Polisi, akan saya buka semua fakta dan data yang saya miliki dan mungkin pihak Gereja akan saya tuntut balik dengan tuntutan pencemaran nama baik, penghinaan dan percobaan penganiayaan.

    Khusus masalah penganiayaan, saya bersama teman kerja di studio kecil kami, pernah beberapa kali hampir ditabrak sebuah mobil (yang saya tahu persis itu milik siapa), di beberapa tempat ketika saya sedang berboncengan naik sepeda motor, tetapi Alloh selalu melindungi hambanya yang telah bertaubat ini, sehingga upaya itu selalu gagal, selalu saja kami bias menghindari atau ada orang yang menolong kami ketika upaya tabrak lari itu terjadi.

    Saya serahkan semuanya kepada Allah SWT., Tuhan kita semua, Dialah maha tahu siapa yang benar dan siapa yang salah diantara hamba-hamba Nya.

    Saya masih menunggu dusta hokum dari mereka sebab sementara ini mereka kehilangan jejak saya. Mungkin setelah membaca kisah kesaksian ini mereka akan semakin Gusar, dan Marah kepada saya karena selain saya telah masuk Islam, saya juga telah dianggap membongkar beberapa rahasia penting Gereja yang selama ini selalu ditutupi dengan rapi, yang jangankan umat diluar Kristen, umat Kristiani sendiri banyak yang tidak tahu praktek-praktek tidak benar dalam beribadah yang saya utarakan diatas.

    Saya berpesan kepada para sahabat setia saya di Gereja dan Yayasan, supaya mereka memberi sedikit pengertian kepada pengurus Gereja untuk mengikhlaskan saya masuk Islam. Jangan mencari-cari saya, segala yang menyangkut masalah asset gereja yang pernah saya pegang sudah diselesaikan dengan baik. Juga agar tidak timbul konflik dengan warga kampung atau umat Islam yang mengetahui kisah ini, saya takut ada pihak ketiga yang memanfaatkan kondisi ini untuk mengacau. Sebab masalah menyangkut agama itu sangat sensitive dan Riskan sekali.

    Sekian penuturan saya, saya bahagia dalam keIslaman saya, walau hidup pas-pasan, saya sangat menyukainya karena tidak adda kepalsuan dalam Islam saya. Alhamdulillah, Alloh maha pengasih dan penyayang. Allah telah memberi rizki kepada saya dan keluarga pak Tua, order mulai banyak, walau nilai penghasilannya mungkin Cuma 10% dari nilai pendapatan saya dulu ketika masih di Gereja. Tapi saya sangat mensyukurinya.

    ***

    Dikisahkan oleh : Rahmad Hidayat atau Paulus F Tengker (nama Kristennya), kisah ini dinyatakan oleh yang bersangkutan kepada M.Donny Stiawan, ketika kami berdiskusi masalah Kisah Kesaksian 4 mantan Gembala yang pernah diposting. Atas permintaan yang bersangkutan dengan alasan keamanan dirinya dan orang-orang yang dekat dengannya, maka nama Masjid, alamat Masjid, nama persisnya Gereja tempat beliau dulu bekerja, tempat kost nya kami rahasiakan.

    Diketik ulang sesuai dengan cerita Aslinya, pada tanggal 29 Oktober 2002.

     
    • sintanofiana 8:12 am on 3 Desember 2013 Permalink

      Reblogged this on sintanofiana.

    • abu jibraltar al_maqdisi shaopie satriani 2:15 pm on 3 Desember 2013 Permalink

      Anda harus bersyukur msh diberi kesempatan bertaubat kpd azza wajallah…

  • erva kurniawan 2:16 am on 2 December 2013 Permalink | Balas  

    mayat2Cerita Hidayah

    Cerita aneh ini terjadi di salah satu tempat di Jakarta.

    Fulan (bukan nama sebenarnya) adalah seorang laki-laki berusia 25 tahun. Pendidikan terakhirnya adalah SMA. Ia sangat menginginkan dapat bekerja di perusahaan atau kantor yang mapan. Ia tidak perduli pekerjaan apa yang ia dapat, asalkan ia dapat bekerja dikantor. Teman-teman sekampungnya bekerja sebagai kuli bangunan, berdagang atau bekerja di sebuah pabrik sebagai buruh biasa. Namun ia tidak menginginkan seperti teman-temannya itu. Ia mencoba terus membuat lamaran di perusahaan/perkantoran, sehingga iapun rela menganggur sambil menunggu panggilan.

    Selama menunggu, ia bergabung dengan teman-temannya yang juga menganggur dengan cara mabuk-mabukan dan sering meminta uang kepada para pedagang pasar dengan cara paksa. Setiap hari ia selalu pulang malam dengan menghabiskan waktu dengan perbuatan tersebut.

    Suatu hari ia jatuh sakit. Sebagai orang tua, ibunya sangat sedih melihat keadaan anaknya yang sakit dengan suhu tubuhnya yang tinggi. Setiap Fulan akan dibawa kerumah sakit, ia menolak dengan alasan ia hanya menderita demam biasa. Setelah beberapa hari kondisinya tidak baik, akhirnya Fulan meninggal. Kejadian ini membuat kedua orangnya beserta keluarganya sangat sedih.

    Seperti jenazah pada umumnya, jenazah Fulanpun dimandikan, dikain kafankan seperti yang sering dilakukan pada jenazah yang akan dikuburkan. Setelah jenazah itu siap, kemudian diberangkatkan ke tempat pemakaman. Pada saat saat penguburan, banyak yang hadir untuk melihat jenazah Fulan dikuburkan. Setelah selesai dikuburkan dan dibacakan doa, tidak lama kemudian datang salah satu jenazah lain yang datang untuk menguburkan ketempat yang kini ditempati jenazah Fulan. Perdebatan akhirnya terjadi. Pihak keluarga yang baru datang mengatakan, bahwa ia telah memesan tempat sebelumnya di blok B, dekat dengan kuburan keluarganya. Akhirnya penjaga makam mengantarkan pihak keluarga yang baru datang ketempat lain, yang juga sudah dipersiapkan. Namun pihak keluarga itu tidak mau terima, karena tempat itu berlokasi di blok G, jauh dari tempat keluarganya. Dia juga menunjukan surat pemesanannya. Penjaga itupun akhirnya menjelaskan kepada pihak keluarga Almarhum Fulan, bahwa terjadi kesalahn tempat. Seharusnya jenazah Fulan berada di blok G, dan keluarga yang baru datang itu di blok B. Akhirnya orang tua Fulan menyetujui, dan jenazah Fulanpun di gali untuk dipindahkan.

    Pada saat penggalian, semua mata tertuju pada makam Fulan. Setelah selesai digali dan papan jenazah dibuka, alangkah terkejutnya mereka yang melihat jenazah Fulan. Posisi jenazah itu dalam keadaan duduk. Kain kafannyapun sudah terkoyak-koyak dan dapat dilihat dari celah-celah koyakan itu, bahwa kondisi jenazah Fulan dalam keadaan gosong. Orang tua Fulan tidak dapat menahan tangisnya. Semua yang hadir mengucapkan istigfar dan bacaan-bacaan lain sebagai ekspresi keterkejutan mereka. Orang tua Fulanpun ingat dengan tindakan Fulan pada sat ia masih hidup. Merekapun kemudian memindahkan jenazah Fulan ke blok G. Orang tua Fulan tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa untuk meringankan siksa kubur anaknya.

    Kejadian tersebut menurut pandangan agama sangat mungkin terjadi atas keinginan Allah SWT terhadap hambanya yang telah lalai dengan ajaran yang telah digariskan-Nya. Semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua … … , amin !

    ***

    Sumber: Hidayah

     
  • erva kurniawan 5:44 am on 25 November 2013 Permalink | Balas  

    2003-january-shazia-mirza2SHAZIA

    Namanya Shazia Mirza. Dia seorang komedian perempuan yang hidup di London. Dengan bersahaja, dia memberi kontribusi non-konvensional untuk Islam dan kemaslahatan umat Islam: dengan humor. Dari panggung ke panggung perempuan berjilbab asal India ini mencoba mencairkan kebencian; meminimalisir stereotipe Islam dan citra Muslim di Inggris khususnya. Praktis, pasca 11 September di AS, Islam dan umat Islam remuk-redam diterpa kecurigaan dan kebencian. Menurut Shazia, people (di Barat) think that all muslims are extreme and dangerous. Apa akal? Dengan caranya, Shazia mengocok perut warga Inggris. Dalam suasana kalut yang mendalam, tak mudah membuat orang tersenyum, apalagi tertawa terpingkal-pingkal. Rupanya, banyak jalan untuk berjihad. Salah satunya seperti disebut oleh Karen Armstrong, apologis untuk Islam. Maksudnya, jihad dengan menggunakan media. Dari sederet cara itu, Shazia mengambil cara nonkonvensional yang disebut tadi.

    Shazia cukup sukses. Dalam tulisannya di ISIM Newsletter edisi 10, menuturkan: “Mereka yang datang dengan beragam keyakinan, membanjiriku dengan rupa-rupa pertanyaan. Mereka sangat terkesan dengan pola hidup seorang perempuan muslim. Sebagian pikiran dan persepsi mereka tentang Islam dan Muslim pasca 11 September, berangsur-angsur berubah.”

    ISIM adalah jurnal kajian keislaman yang terbit di Nederland.

    Namun demikian, Shazia menyoal apa sebab Islam sangat sulit diasosiasikan dengan humor. Sebatas yang dia tahu, Nabi Muhammad banyak tertawa dan membuat gurauan-gurauan segar. Bagi seorang Shazia, “jika keyakinanmu, keagamaanmu kuat, kamu akan dapat tertawa dengannya.” Tapi nyatanya, dalam hal keyakinan, jangankan tertawa, senyum pun orang tak sudi. Itu bentuk pelecehan, paling tidak ketidakbersungguhan. Sementara, keyakinan bagi sementara orang adalah kesungguhan, ketegasan, sekali-sekali kemarahan.

    Tawa dalam keyakinan itu tentu saja sulit. Kalau dirujuk ke doktrin agama, tertawa mungkin menjadi makruh, kurang terpuji. Dalam sebuah hadits menyebut tawa yang overdosis sebagai pembunuh hati (fainna katsrat al-dlahik tumît al-qalb). Lebih dari itu, sebuah pepatah mengatakan, “Temanmu adalah yang membawamu terisak, bukan yang menggiringmu tertawa (shadiquka man abkâka lâ man adlhakaka). Yang perlu diingat, tentu saja teks dan realitas Shazia berlainan. Kalau tidak begitu, teks-teks menjadi tidak banyak bermakna. Sebab, menurut Shazia, “As comedian, I believe that laugther is strongest tool for communicating with people who shut the door in my face, because I am muslim. Tawa orang sangat penting bagi Shazia, ia menjadi instrumen terkuat untuk berkomunikasi dengan orang yang membanting pintu di depan mukanya, sebab ia muslim.

    Mungkin tak ada korelasi secara doktrinal antara tawa dengan agama. Tertawa, hanyalah ekspresi kemanusiaan yang umum saja. Ia tanda kebahagiaan, meskipun sekali-kali orang menyebut tangis (juga) tanda kebahagiaan. Tapi, bila pemikir Fahmi Huwaidi menyebut pola keberagamaan yang pemberang (al-tadayyun al-ghâdib), tak ada salahnya kita menghubungkan keberagamaan dengan humor. Tarolah kita menyebutnya keberagamaan yang humoris (al-tadayyun al-fukâhî), atau keberagamaan yang “uhuy”, meminjam istilah Komeng.

    Bisa jadi, keberagamaan yang ramah, santun, toleran bisa lahir dari tingkat humor yang tinggi. Siapa tahu? Itu sah-sah saja sebagai harapan. Toh Shazia yang sudah melakoni itu juga punya harapan. “One day, I hope we can all laught together.” Demikian harapan Shazia. [Novriantoni]

    ***

    source : http://www.islamlib.com/EDITORIAL/novri%20shazia.html

     
    • assa 1:11 pm on 25 November 2013 Permalink

      Bisa berikan contoh dari “komedi”nya. Soal saya masih gamang dengan “bentuk” tawa yang ia sajikan.

  • erva kurniawan 3:08 am on 23 November 2013 Permalink | Balas  

    ayahKisah Seorang Ulama Buntung

    Oleh Sabrur R Soenardi

    Beberapa abad silam, di sudut distrik terpencil Zamakhsyar, seorang bocah mungil asyik bermain-main dengan seekor burung. Ketika ibunya memanggil, si bocah tetap saja asyik bermain hingga akhirnya terjadilah sebuah tragedi : Bocah ini mematahkan kedua kaki burung. Binatang malang ini mencicit kesakitan, tetapi si bocah malah terbahak-bahak melihatnya.

    Merasa panggilannya tak digubris, sang ibu menghampiri dengan marah. Dia bertambah murka ketika tahu anaknya berbuat dosa pada sang burung yang hampir putus kakinya. “Oh, anakku, bagaimana kau bisa seenaknya mematahkan kaki burung kecil itu? Itu berdosa anakku. Ia sangat kesakitan. Coba pikirkan jika itu terjadi padamu. Kamu akan menderita anakku, Kamu sungguh keterlaluan.” Si bocah menggigil ketakutan. Baru kali ini ia melihat ibunya demikian marah, mengeluarkan kata-kata kasar dan mengerikan.

    Beberapa belas tahun kemudian, si bocah itu sudah menjadi remaja yang matang. Ia tengah melakukan perjalanan pulang selepas menyelesaikan belajarnya di sebuah madrasah di Iran. Malang, tiba-tiba seekor kalajengking menyengat kudanya. Sang kuda meringkik, terhuyung, kemudian terjerembat dan sang penunggang jatuh terjungkal.

    Singkat cerita, sesampai remaja ini di rumah, ternyata kedua kakinya terkilir hebat dan menurut tabib setempat, tidak bisa dipulihkan. Satu-satunya jalan keluar adalah mengamputasinya. Ia pun mesti menerima takdir Allah itu dengan ikhlas dan pasrah, menjadi manusia berkaki buntung.

    Sang Ibu benar-benar terpukul atas nasib yang menimpa anaknya itu. Namun suatu malam sehabis shalat tahajjud, sang ibu tersadar bahwa “kata-kata buruk” yang dia ucapkan belasan tahun lalu kepada si bocah kecil yang mematahkan kaki burung itu rupanya kini jadi kenyataan. Dalam larut atas rasa berdosa yang tak terkendali, ia pun berdoa pada Allah agar di kemudian hari, meski cacat tubuh, sang anak bisa menjadi manusia yang berguna bagi Islam dan kaum Muslim.

    Doa baik sang ibu dikabulkan Allah. Anak itulah yang di kemudian hari kita kenal sebagai Abu Qasim Azzamakhsyari, seorang ulama paling brillian di zamannya, sekaligus cendikiawan garda depan Muktazilah dengan karya tafsirnya yang terkenal Alkasysyaf.

    Dialah satu-satunya ulama yang buntung kedua kakinya, dan itu diyakini buah dari “kata-kata buruk” sang ibu. Ia menjadi tokoh ternama, dan itu juga diyakini sebagai buah dari “kata-kata mulia” sang ibu. Benar sabda Nabi SAW bahwa salah satu doa yang pasti dikabulkan Allah adalah yang terucap dari mulut orang tua (demi nasib anaknya). Maka, berhati-hatilah berucap untuk anak-anak kita.

    Wallahu a’lam

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:42 am on 12 November 2013 Permalink | Balas  

    waldorf-astoria-hotel 2Pelayan Hotel

    Bertahun-tahun dahulu, pada malam hujan badai, seorang laki-laki tua dan istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia. Mencoba menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk mendapatkan tempat bermalam.

    “Dapatkah anda memberi kami sebuah kamar disini ?” tanya sang suami. Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota.

    “Semua kamar kami telah penuh,” pelayan berkata. “Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti anda keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin anda mau tidur di ruangan milik saya? Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat anda tidur dengan nyaman malam ini.”

    Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk. “Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik- baik saja,” kata sang pelayan. Akhirnya pasangan ini setuju. Ketika pagi hari saat tagihan dibayar, laki-laki tua itu berkata kepada sang pelayan, “Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk anda.”

    Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa.

    Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan sesorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah.

    Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut mengingatkannya pada malam hujan badai dan disertai dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini datang mengunjungi pasangan tua tersebut.

    Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York, dan membawa dia ke sudut Fifth Avenue and 34th Street. Dia menunjuk sebuah gedung baru yang megah di sana, sebuah istana dengan batu kemerahan, dengan menara yang menjulang ke langit

    “Itu,” kata laki-laki tua, “adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola”.

    “Anda pasti sedang bergurau,” jawab laki-laki muda.

    “Saya jamin, saya tidak,” kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum lebar.

    Nama laki-laki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur bangunan megah tersebut adalah bentuk asli dari Waldorf-Astoria Hotel.

    Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama adalah George C. Boldt.

    Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.

    Pelajarannya adalah perlakukanlah semua orang dengan kasih, kemurahan dan hormat, dan anda tidak akan gagal.

    ***

    Dari: Sahabat

     
    • lazione budy 5:05 am on 12 November 2013 Permalink

      Lakukan yg terbaik tanpa pamrih. Itu saja, biar Tuhan yang mengatur segalanya.

  • erva kurniawan 3:07 am on 10 November 2013 Permalink | Balas  

    keluarga-muslimMeja Kayu

    Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

    Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

    Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

    Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

    Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

    Teman, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

    Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

    Baaraka-llahu fiekum – wa shalla-llahu wa-ssallamuh ‘alaa nabiyyinaa muhammad, subhanaka-llahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atuubuilaik. wa ssalaam ‘alaikum wa rahmatu-llahi wa-barakatuh.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 5:45 am on 5 November 2013 Permalink | Balas  

    danau-siluetGaram dan Telaga

    Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Beliau lalu mengambil segenggam garam dan segelas air. Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduk perlahan.

    “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya, “ujar Pak tua itu. “Asin. Asin sekali, “jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Beliau lalu mengajak sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal Beliau. Sesampai di tepi telaga, Pak Tua menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah.”

    Saat pemuda itu selesai mereguk air itu, Beliau bertanya, “Bagaimana rasanya?”

    “Segar,” sahut sang pemuda. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” tanya Beliau lagi.

    “Tidak,” jawab si anak muda. Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda.

    “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi, tak lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air yang kau rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita rasakan dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

    Beliau melanjutkan nasehatnya. “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu Adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan bahagiaan.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:35 am on 4 November 2013 Permalink | Balas  

    Arti Sebuah Kehadiran

    Seorang laki-laki pergi ke luar negesuratri untuk bekerja dan meninggalkan gadis tunangannya tersedu-sedu. “Jangan khawatir, aku akan menulis surat untukmu setiap hari”, katanya. Selama ber-tahun laki-laki itu memang menulis surat untuk tunangannya. Tetapi karena dia senang dengan pekerjaannya, dia tidak merencanakan untuk pulang dalam waktu dekat.

    Suatu hari, dia menerima undangan pernikahan. Ternyata kekasihnya akan segera menikah. Dengan siapa? Dengan tukang pos yang tiap hari mengantar surat yang dia tulis. Jarak pemisah telah membuat hati berubah.

    Lelaki malang itu merenung, “Lho, apa salahku. Aku mengiriminya surat, coklat, dan bahkan bunga-bunga”. Ketika dalam suatu hubungan terjadi masalah, daftar barang yang telah diberikan atau hal yang telah dilakukan untuk seseorang, akan tiba-tiba muncul untuk dipermasalahkan. Kita akan berkata: “Saya telah memberimu ini dan itu… Saya telah melakukan semuanya demi kamu”. Tampaknya cinta dapat dibuktikan secara mudah hanya dengan pemberian hadiah dan perbuatan baik.

    Namun, walaupun hadiah itu penting juga, cinta memerlukan hal yang mendasar: KEHADIRAN. Kehadiran sang kekasih, kehadiran orang yang dicintai. Pengamatan saya terhadap anggrek ibu saya dapat dijadikan contoh. Saat ibu saya pergi agak lama, bunga itu tampak tak subur dan banyak diantaranya yang layu. Tapi saat ia kembali hadir,bunga itu mekar dengan indahnya. Padahal ibu saya tidak melakukan hal yang luar biasa. Ia hanya memberikan banyak waktunya untuk berbicara dan merawat mereka.

    Saya kira, orang lebih memerlukan kehadiran perhatian dan kepedulian.Cinta secara fundamental adalah sebuah komitmen terhadap seseorang. Kita dapat mempunyai komitmen terhadap bisnis, pekerjaan, hobi, olahraga, maupun keanggotaan di klub, tetapi dapat dikatakan dengan tegas: semua itu tidak dapat mencintai kita. Hanya orang lain yang dapat membalas cinta kita, dan untuk itu, komitmen tertinggi sebagai manusia adalah memberikan waktu kita dengan orang yang kita cintai. Dan karena manusia memerlukan kasih sayang dan makanan, hadiah material hanya dapat – secara terbatas – membantu untuk mengembangkan cinta.

    Tapi itu semua tidak dapat menggantikan kehadiran pribadi,yang merupakan hadiah terbesar!

    Martha sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia yakin harus bekerja keras,karena ia mencintai ayahnya yang sedang sakit kanker. Dia harus membeli obatan yang mahal. Saudaranya yang lain tetap tinggal dengan ayah mereka hampir setiap saat. Mereka memandikannya, bernyanyi untuknya, menyuapi makan, ataupun sekedar menemani sang ayah.

    Suatu hari Martha sakit hati. Dia mendengar sang ayah berkata kepada ibunya, “Semua anak kita mencintaiku kecuali Martha”.”Bagaimana mungkin?”, pikir Martha. “Bukankah aku yang bekerja matian untuk mendapatkan uang guna membeli semua obatan? Saudaraku bahkan tidak berbagi sebesar yang aku berikan”.

    Suatu hari, Martha pulang larut malam seperti biasanya. Dia mengintip untuk pertama kalinya, ke dalam kamar dimana ayahnya berbaring. Dia melihat ayahnya masih terjaga, maka dia memutuskan untuk datang mendekat di samping tempat tidur ayahnya. Ayahnya memegang kedua tangan Martha dan berkata, “Aku merindukanmu. Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi. Tinggalah dan temani aku”. Dan itu yang ia lakukan, semalaman ia tinggal menemani ayahnya, berpegang, menggenggam tangannya.

    Pagi harinya martha berkata pada semua orang, “Aku mengambil cuti. Aku ingin menemani Ayah. Mulai saat ini aku akan memandikan dan bernyanyi untuknya”. Sebuah senyum bahagia muncul menghias wajah ayahnya. Kali ini ia tahu Martha mencintainya.

    ***

    Dari: Sandman

     
  • erva kurniawan 3:46 am on 2 November 2013 Permalink | Balas  

    pasangan_serasiBerpikir Sederhana

    Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.

    Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, “untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?”

    Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, “Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.” Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh,tetapi ternyata, ah… kijang. Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur.

    Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, Rusa!!!” sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

    Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

    Demikian juga dengan seseorang yang mengidamkan pasangan hidup, yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang alim, baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:31 am on 31 October 2013 Permalink | Balas  

    cincin-kawinCinta dan Perkawinan Menurut Plato

    Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?

    Gurunya menjawab, Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”

    Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

    Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”

    Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan,tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana,jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”

    Gurunya kemudian menjawab “Jadi ya itulah cinta”

    Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

    Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

    Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/ subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

    Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?” Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan,ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat,jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”

    Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

    Catatan kecil:

    Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.

    Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, Ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, Karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

    Wassalam

     
  • erva kurniawan 4:56 am on 27 October 2013 Permalink | Balas  

    kentangKentang

    Suatu ketika, ada seorang guru yang meminta murid-muridnya untuk membawa satu kantung plastik bening ke sekolah. Lalu, ia meminta setiap anak untuk memasukkan beberapa kentang di dalamnya. Setiap anak, diminta untuk memasukkan sebuah kentang, untuk setiap orang yang tak mau mereka maafkan.

    Mereka diminta untuk menuliskan nama orang itu, dan mencantumkan tanggal di dalamnya. Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, walau banyak juga yang memiliki plastik kelebihan beban.

    Mereka diminta untuk membawa kantung bening itu siang dan malam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Kantung itu, harus ada di sisi mereka kala tidur, diletakkan di meja saat belajar, dan ditenteng saat berjalan.

    Lama-kelamaan kondisi kentang itu makin tak menentu. Banyak dari kentang itu yang membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Hampir semua anak mengeluh dengan pekerjaan ini. Akhirnya, waktu satu minggu itu selesai.

    Dari semua anak, agaknya banyak yang memilih untuk membuangnya daripada menyimpannya terus menerus.

    Pekerjaan ini, setidaknya, memberikan hikmah spiritual yang besar sekali buat anak-anak. Suka-duka saat membawa-bawa kantung yang berat, akan menjelaskan pada mereka, bahwa, membawa beban itu, sesungguhnya sangat tidak menyenangkan. Memaafkan, sebenarnya, adalah pekerjaan yang lebih mudah, daripada membawa semua beban itu kemana saja kita melangkah.

    Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan, dan dendam yang kita genggam terus menerus. Getir, berat, dan meruapkan aroma yang tak sedap, bisa jadi, itulah nilai yang akan kita dapatkan saat memendam amarah dan kebencian.

    Sering kita berpikir, memaafkan adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf. Namun, kita harus kembali belajar, bahwa, pemberian itu, adalah juga hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah, untuk sebuah kebebasan.

    Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, dan kedegilan hati.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:38 am on 24 October 2013 Permalink | Balas  

    pianoKisah Pianis Muda

    Kisah ini terjadi di Rusia. Seorang ayah, yang memiliki putra yang berusia kurang lebih 5 tahun, memasukkan putranya tersebut ke sekolah musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal. Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu singkat tiket konser telah terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.

    Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser dimulai, kursi telah terisi penuh, sang ayah duduk dan putranya tepat berada di sampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak ini pun tidak betah duduk diam terlalu lama, tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi. Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah terkejut menyadari bahwa putranya tidak ada di sampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan, dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut. Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa takut anak tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana, twinkle2 little star.

    Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba-aba terlebih dahulu, dan ia langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan sang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis pun terkejut, dan bergegas naik ke atas panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum dan berkata “Teruslah bermain”, dan sang anak yang mendapat ijin, meneruskan permainannya. Sang pianis lalu duduk, di samping anak itu, dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut. Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung. Sang anak jadi GR (Gede Rasa), pikirnya “Gila, baru belajar piano sebulan saja sudah hebat!” Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.

    Apa implikasinya dalam hidup kita

    Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita buat, perbuatan-perbuatan besar yang telah berhasil kita lakukan. Tapi kita lupa, bahwa semua itu terjadi karena Allah ada di samping kita. Kita adalah anak kecil tadi, tanpa ada Allah di samping kita, semua yang kita lakukan akan sia-sia. Tapi bila Allah ada di samping kita, sesederhana apapun hal yang kita lakukan hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan saja buat diri kita sendiri tapi juga baik bagi orang di sekitar kita.

    Semoga kita tidak pernah lupa bahwa ada Allah di samping kita.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:38 am on 1 October 2013 Permalink | Balas  

    siluet menjemputHantu

    Tentu bukan karena didatangi peri, kuntilanak, genderuwo atau makhluk-makhluk sejenisnya jika Paijo dan kawan-kawan malam itu sibuk ngobrol soal hantu. Dan tentu juga bukan karena lagu ndangdut ‘Mbah Dukun’ yang sedang ngetop yang kemudian lantas menyeret anak-anak itu ke dunia klenik.

    Hantu semata-mata soal percaya atau tidak. Hantu, bagi yang percaya, adalah lelembut yang tidak tersentuh panca indera secara normal, dan akan muncul pada saat, kondisi atau tempat tertentu. Sedang bagi yang tidak percaya, hantu sekedar halusinasi, atau sekedar akibat adanya gelombang elektromagnetik berlebihan (seperti pernah ditayangkan oleh Discovery Channel) dari orang yang merasa melihat atau mendengar sesuatu yang aneh-aneh. Dan yang aneh-aneh itu sering digambarkan sebagai sesuatu yang menyeramkan. Hantu adalah sesuatu yang “entah”. Entah benar-benar ada atau tidak. Keberadaan hantu, meski dipercayai dan diklaim pernah dilihat atau didengar oleh sementara orang, tetap tidak bisa dibuktikan.

    Namun lepas dari kontroversi hantu ada atau tidak, yang pasti hantu telah sukses dijadikan sementara orang tua untuk menakut-nakuti anaknya, terutama yang tidak mau segera tidur meski hari sudah malam. Hantu juga sukses ‘diperalat’ sebagai senjata pamungkas orangtua yang tidak ingin anaknya main ke tempat-tempat tertentu. Tentu tidak ada niatan buruk dari orangtua yang melakukan hal seperti itu. Tapi, kadang yang kurang disadari orangtua adalah dampak jangka panjang bagi si anak. Sesuatu yang ditanamkan sejak dini dan secara terus-menerus pada akhirnya akan diam dan mengendap di benak si anak, dan selanjutnya akan dianggap sebagai kebenaran. Apalagi secara naluriah, setiap orang ada kecenderungan untuk tertarik dan mereka-reka pada sesuatu yang ‘ghaib’.

    Begitulah, setelah ngobrol ngalor-ngidul soal hantu yang menghuni dunia klenik itu, Paijo dan kawan-kawan akhirnya sampai juga di topik hantu dalam tataran psikologis.

    “Apa maksudmu dengan hantu dalam tataran psikologis Jo ?” tanya Blothong.

    “Maksudku, ya bayangan menakutkan yang menghinggapi pikiran orang.”

    “Bayangan menakutkan .. dalam hal apa ?” gantian Budi bertanya.

    “Nyaris dalam segala hal. Segala sesuatu yang menakutkan, yang sebenarnya belum tentu ada. Dan rasa takut itu lebih disebabkan dorongan dari dalam diri kita sendiri.”

    “Misalnya ?”

    “Misalnya .. kamu takut menghadap pak Lurah. Kamu takut nanti kalau di depan pak Lurah, begini-begitu. Padahal yang begini-begitu itu belum tentu. Dalam hal itu pak Lurah, dengan segala kemungkinan yang belum pasti, bahkan bisa jadi sekedar angan-angan kosong itu telah menjelma menjadi ‘hantu’ dalam benakmu.”

    “Apa ini menyangkut soal kepercayaan diri Jo ?” kali ini Rakhmat yang bertanya.

    “Ya ! Cuman, kepercayaan diri itu kan hasil. Berarti ada proses panjang yang melatar belakangi hasil itu.”

    “Proses panjang .. ?” Blothong mengerutkan dahinya.

    “Ya proses panjang yang membentuk kepercayaan diri itu,” jawab Paijo. “Termasuk informasi maupun nilai-nilai yang ditanamkan secara keliru dan terus-menerus tadi.”

    “Oleh siapa, orang tua ?”

    “Salah satunya,” jawab Paijo. “Bisa jadi juga oleh teman, guru, atasan, dan lain sebagainya. Dan repotnya, orang yang sudah kehilangan kepercayaan diri, suka menularkan ketidakpercayan dirinya itu ke orang lain. Orang yang sudah dibayang-bayangi hantu biasanya suka mentransfernya ke orang lain, terutama orang-orang yang berada dalam ‘kekuasaannya’. Jika perlu disertai dengan informasi yang seolah-olah meyakinkan tentang hantu itu, padahal ia sebenarnya berasal dari rasa ketakutannya sendiri. Bayangkan jika seandainya hal itu dilakukan secara intens dan terus menerus, apa hasilnya ?”

    “Lha apa ? malah nanya. Dasar cah gemblung !” komentar Blothong sambil nyengenges.

    “Hasilnya, ya hantu itu akan dianggap sebagai sesuatu yang nyata. Hasilnya adalah orang-orang yang terjajah secara psikologis, karena berhasil ditakut-takuti dengan hantu-hantuan itu.”

    “Jo, kamu tadi bilang hantu di tataran psikologis itu ada di segala hal ?” tanya Rakmat.

    “Betul.”

    “Apa agama termasuk juga di situ ?”

    “Ha..ha..ha.. Kamu tentu juga tahu Mat, kalau agama itu salah satu lahan subur buat menciptakan ‘hantu-hantu’. Orang atau pemikiran yang tidak disetujui bisa disulap jadi hantu. Bahkan Tuhan pun kadang digambarkan seperti hantu. Kok ya kebetulan, hantu sama tuhan itu kalau diucapkan berulang-ulang nggak ada bedanya. Han-tu-han-tu-han-tu-han-tu-han-tu-han-tu .. he..he..he…”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:18 am on 27 September 2013 Permalink | Balas  

    sabarJangan Buat Allah Cemburu

    Diambil dari buku “Memoar Hasan Al-Banna”, semoga kita bisa meneladaninya….amin.

    Sudah menjadi kebiasaan kami, dalam rangka memperingati maulid Nabi setiap malam sejak tanggal 1 hingga 12 Rabi’ul Awal secara berombongan dan bergiliran selalu mengunjungi rumah salah seorang ikhwan. Malam itu tibalah giliran rumah Syaikh Syalbi Ar-Rijal yang menjadi jadwal kunjungan.

    Kamipun berangkat seperti biasanya,setelah Isya. Kami berangkat secara berombongan dengan mengalunkan qasidah (nasyid) dengan penuh gembira. Saya melihat rumah Syaikh Syalbi sangat terang, bersih dan rapi. Dihidangkanlah serbat, kopi, dan qirfah seperti biasanya. Kami duduk dan meminta nasihat-nasihat Syaikh Syalbi.

    Ketika kami hendak pergi, ia berkata dengan senyum yang lembut,” Datanglah kalian besok pagi-pagi sekali, agar kita bisa menguburkan Ruhiyah bersama-sama.” Ruhiyah adalah putri beliau satu-satunya. Allah mengaruniakan Ruhiyah kepadanya kurang lebih setelah sebelas tahun dari usia pernikahannya. Ia sangat mencintainya, sehingga ia tidak pernah meninggalkan sekalipun sedang sibuk bekerja.

    Ruhiyah kemudian tumbuh menjadi seorang gadis. Ia menamai “RUHIYAH” karena putrinya ini menempati kedudukan “ruh” pada dirinya. Tentu kami terperanjat.

    “Kapan ia meninggal?” tanya kami spontan. “Tadi, menjelang maghrib!” jawabnya tenang. “Kenapa Syaikh tidak memberi tahu kami semenjak tadi, sehingga kami dapat mengajak kawan yang lain untuk kemari bersama-sama?”

    Ia menjawab,”Apa yang terjadi telah meringankan kesedihanku. Pemakaman telah berubah menjadi peristiwa yang membahagiakan. Apakah kalian masih menginginkan nikmat Allah yang lebih besar lagi dari pada nikmat ini?”

    Pembicaraanpun akhirnya berubah menjadi pelajaran tasawuf yang disampaikan oleh Syaikh Syalbi. Beliau mengemukakan bahwa kematian putrinya itu adalah kecemburuan Allah kepada hatinya. Memang sesungguhnya Allah SWT. merasa cemburu kepada hati para hamba-Nya yang shalih, apabila sampai terikat dengan selain-Nya, atau apabila ia berpaling kepada selain-Nya.

    Beliau mengambil bukti dalil dengan kisah Ibrahim AS. Hati Ibrahim terikat dengan Ismail, sehingga akhirnya Allah swt. memerintahkannya untuk menyembelih putranya Ismail. Ketika hati nabi Ya’qub terikat dengan Yusuf, Allah swt. pun membuat Yusuf hilang dari sisinya sekian tahun. Oleh karena itu, seharusnya jangan sampai hati seorang hamba itu terikat dengan selain Allah swt. Kalau tidak demikian, maka sebenarnya ia adalah pendusta dalam hal pengakuan kecintaannya.

    Beliau juga membawakan kisah Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Fudhail pernah memegang tangan putrinya yang terkecil dan mengecupnya, lalu putrinya itu bertanya kepadanya, “Wahai ayahanda, apakah ayah mencintaiku?” “Tentu saja putriku,” jawab sang ayah. Lalu ia berkata,”Demi Allah, sebelum hari ini, saya tidak pernah mengira bahwa ayah sebagai seorang pendusta.” Fudhail bertanya,” Bagaimana bisa begitu? Berapa kali saya berdusta?” Ia menjawab,”Saya telah mengira bahwa dengan keberadaan ayah yang seperti ini dalam berhubungan dengan Allah, berarti ayah tidak mencintai seorang pun selain-Nya. Fudhail pun menangis seraya berkata,”Duhai Tuhanku, sampai anak sekecil ini dapat membongkar riya’ hamba-Mu yang bernama Fudahil ini?”

    Demikianlah pelajaran Syaikh Syalbi dari sebuah pembicaraan menjadi sebuah pelajaran. Syaikh Syalbi berupaya membahagiakan dan melembutkan hati kami seraya memalingkannya dari kepedihan musibah ini. Setelah itu kami pun pulang. Kami tidak mendengar sama sekali suara wanita yang meratap dan tidak mendengar adanya kata-kata kotor. Yang kami lihat hanyalah ekspresi kesabaran dan kepasrahan kepada Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar.

    Get the point…

     
  • erva kurniawan 4:36 am on 19 September 2013 Permalink | Balas  

    nasehat-quran1Episode Abdullah

    Abdullah menatap penuh harap ingin diberi roti ketika menyaksikan teman-temannya dengan lahap mengunyah roti yang terlihat amat lezat. Abdullah kembali harus menahan air liurnya kala teman-temannya menyeruput aneka sirop dan berebut coklat. Tak tahan menyaksikan semua itu, bocah berusia tujuh tahun itu akhirnya berlari meninggalkan kerumunan bocah-bocah yang tengah berpesta menuju sang Ummi dalam tenda pengungsi.

    “Ummi…. lapar…,” seru bocah Somalia yang tinggal tulang belulang itu. Bocah hitam yang amat kurus itu menekan perut kempisnya kuat-kuat untuk mengurangi rasa lapar yang melilit. Abdullah lantas menarik lengan sang Ummi dan menuntunnya ke luar tenda untuk memperlihatkan apa yang dilakukan teman-taman sebayanya. “Mi… lihatlah mereka makan dengan lahapnya. Mereka kenyang dan mereka bahagia,” ucapnya dengan nada seolah minta persetujuan sang Ummi agar ia boleh bergabung dengan mereka. “Tidak! Tidak nak…! Kau tak boleh melakukan itu. Kita tak boleh menjual aqidah hanya dengan segenggam roti, sepotong coklat dan segelas sirop,” sang Ummi berucap lembut namun bernada tegas. “Dulu para sahabat pun pernah mengalami kelaparan seperti kita, dan mereka tetap sabar. Mereka tetap memegang teguh Islam. Rasulullah yang kita cintai mengabarkan ‘syurga’ buat orang-orang yang lapar dalam membela Islam. Lalu kenapa kita harus menukar syurga itu dengan kesenangan dunia yang hina dan sementara ini, Nak…? Masih ingatkah ….. ketika Abimu masih ada beliau pernah bercerita tentang ‘Ahlus Suffah’? Orang-orang yang belajar hadits pada Rasul dan mereka tinggal di masjid karena mereka rata-rata miskin. Mereka kelaparan kemudian jatuh waktu melakukan shalat saking tak kuatnya menahan lapar dan lemahnya badan. Melihat itu, Rasul datang menghampiri sambil berkata: “Jika engkau tahu balasan lapar yang kau derita ini (balasan syurga) pasti engkau ingin lebih lapar dari ini. Ahlus Suffah pun menjawab: “Ya Rasulullah, saya tidak menyesal dengan keadaan ini, dan saya ingin lebih lapar lagi.” Ummi berharap, kau bisa setegar Ahlus Suffah tersebut”, ucap sang Ummi penuh harap.

    Mendengar kisah Ahlus Suffah itu, Abdullah menjadi bersemangat kembali. Kini terlihat binar terang dalam mata cekungnya. “Ummi, aku pamit mau muraja’ah hafalan Quran. Sudah tiga hari ini aku lalai,” ucap Abdullah seraya menghambur ke luar tenda. Bocah kecil yang sudah hafal sepuluh juz itu menuju tempat sunyi sambil menggenggam Quran kecil.

    **

    Mendung kelabu masih saja menggayuti kota Wajir, wilayah terburuk para pengungsi Somalia. Kekumuhan dan kelaparan sudah teramat akrab dengan orang-orang yang menempati wilayah ini. Sudah tak heran lagi bila di sini terlihat seonggok mayat yang dikerumuni lalat lantas membusuk menebarkan baunya kemana-mana. Dan bukan hal asing pula menyaksikan bocah-bocah telanjang karena tak memiliki baju berlarian tersaruk-saruk ke sana ke mari sambil mengorek-ngorek timbunan sampah untuk mencari sesuap makanan yang bisa dimasukkan ke dalam mulutnya. Itulah keadaan sebagian besar orang-orang Somalia yang komit terhadap Islam. Negeri yang terkenal dengan julukan ‘gudang para hafidz’ itu di ambang kehancuran.

    Kelaparan dan kehausan rupanya tak menimpa seluruh orang Somelia. Sebagian mereka ada yang bersahabat dengan organisasi yang mengibarkan bendera ‘Penyelamat Manusia’. Mereka yang mau bergabung dengan organisasi tersebut akan dapat menikmati roti lezat dan segelas susu setiap pagi dan sore. Sebagian imbalan atas roti dan susu itu, mereka menerima buku-buku cerita tentang sesuatu yang bisa menyelamatkan manusia dari muka bumi.

    Abdullah berjalan tenang sembil mengulang-ulang hafalan Quran. Ketika melewati sekelompok anak-anak yang tengah mengunyah roti dan coklat, tak ada rasa iri di hatinya. Di antara gerombolan anak-anak itu tampak seorang pemuda gagah tengah membacakan sebuah buku cerita bergambar. Anak-anak Somalia itu asyik menyimak dongengan sang pemuda berkulit putih. Tampaknya, cerita yang dibawakan sang pemuda begitu serunya sampai-sampai terdengar anak-anak bersuara riuh rendah.

    Di antara gerombolan anak-anak itu ada yang memanggil Abdullah ketika ia berlalu di hadapan mereka. “Abdullah ini roti dan coklat untukmu. Mari duduk di sini kita mendengarkan cerita yang menarik,” ucap bocah itu sambil mengacung-acungkan roti dan coklat di tangannya. Sang pemuda -menghentikan kisahnya. Dengan senyum manis, ia melambaikan tangan agar Abdullah mendekat dan bergabung bersama mereka. Mendengar tawaran mereka, Abdullah menggeleng penuh izzah. “Tidak, aku tidak doyan roti dan coklat itu. Aku mau makan roti dan coklat yang disediakan Allah di syurga saja. Lagi pula, aku sibuk mau menghafal Quran. Untuk apa duduk bersenang-senang mendengarkan cerita tak berarti,” ucap Abdullah sambil berlalu. Sementara teman-temannya hanya dapat menatap punggung kurus itu dengan tatap hampa.

    “Anak siapa Abdullah itu…..?,” tanya sang pemuda pada anak-anak yang mengerumuninya. “Ia anak syaikh Ahmad,” jawab bocah-bocah itu serempak “Syaikh Ahmad ustadz di wilayah ini. Beliau terkenal sebagai hafidz Quran yang mengajarkan ilmunya pada kami semua. Abdullah sekarang sudah hafal sepuluh juz, sedang kami baru hafal juz ‘amma,” ucap mereka lagi. Pemuda bule itu cuma bisa menganggukan kepala mendengar cerita bocah-bocah itu tentang Abdullah, bocah kurus yang berani menolak tawaran roti dan coklat.

    ***

    Kehadiran pasukan PBB yang diawali dengan kedatangan tentara AS itu terasa juga pengaruhnya di Wajir. Walaupun konsentrasi pasukan PBB itu ada di Mogadishu, ibukota Somalia, beberapa divisi tentara AS juga mengadakan operasi di desa-desa, termasuk di Wajir. Bahkan setelah upaya AS menangkap Jenderal Farah Aidid gagal, operasi mencari pimpinan yang dicintai rakyat Somalia itu makin intensif dilakukan. Beberapa pekan terakhir ini, jalan-jalan di kota Wajir mulai dipenuhi oleh lalu lalangnya kendaraan lapis baja dan pasukan yang menginterogasi penduduk yang dicurigai sebagai pendukung Jenderal Aidid.

    Sepak terjang pasukan AS ini amat menyakitkan rakyat Somalia. Beberapa pemuda yang dicurigai mendapat perlakuan tak manusiawi. Perempuan dan anak-anak tak terkecuali. Protes yang dilakukan pemuka desa sama sekali tak digubris. Balasan bagi mereka yang melawan adalah mati. Beberapa hari yang lalu, seorang ustadz dibunuh hanya karena keluar malam, yakni untuk memberi ta’lim di suatu masjid. ‘Operasi Harapan’ yang selama ini digaungkan tak lebih hanyalah menjadikan banyak wilayah Somalia menjadi neraka.

    Dalam perjalanan pulang menuju tenda pengungsian, Abdullah bertemu dengan beberapa serdadu kulit putih yang tengah berkumpul menikmati makanan. Sambil tertawa dan bernyanyi riuh mereka menarik perhatian para pejalan kaki. Abdullah menatap sinis pada tentara kafir itu. Seorang serdadu berdiri dan melambaikan tangan menyuruh Abdullah mendekat. Karena penasaran, bocah itu mendekat. Oh, rupanya serdadu itu bermaksud memberinya makanan. Abdullah menggeleng ketika serdadu itu menyodorkan sekantong makanan. Ia ragu, jangan-jangan terdapat makanan haram di dalamnya, apalagi ia melihat minuman yang mereka teguk semuanya dari jenis khamar. Ia pun menggeleng ketika serdadu kulit putih itu menghadiahinya buku-buku bergambar menarik yang mengisahkan kasih sayang kaum yang menyebut dirinya pengikut Sang Penyelamat Manusia. “Aku sudah punya ini!”, ucap Abdullah dengan bangganya mengacungkan Quran pemberian Umminya. “Aku tak butuh buku-buku jelek itu,” katanya lagi dengan tatap mata menghujam. Anak Syaikh Ahmad itu lantas berlari meninggalkan gerombolan serdadu asing. Namun, baru beberapa langkah kaki kurus itu berlari, tubuhnya keburu terkapar bersimbah darah. Ya, sebutir peluru telah menembus punggungnya. Peluru serdadu bule itu telah menelan nyawa bocah kurus yang telah hafal sepuluh juz al-Qur’an, namun tak seorang pun memprotes dan membalas dendam atas kematian bocah ini. Semua bisu, bungkam dan diam .

    Para serdadu yang mengaku pengibar panji-panji demokrasi, pembela hak asasi manusia dan penyebar kasih sayang ini ternyata begitu biadab. Mayat Abdullah mereka angkut lalu dilemparkan di antara tumpukan sampah.

    • * * *

    Wanita setengah baya itu berjalan terseok. Ia tengah mencari sang putra yang sejak pagi belum kembali. Seorang diri ia menyusuri lorong-lorong Wajir yang kumuh. Mata bening wanita itu terbelalak ketika melihat sesosok tubuh mungil tergeletak di antara tumpukan sampah yang membusuk dan penuh lalat.

    Ia semakin mendekat ke arah tubuh kecil kurus itu. Ya, semakin dekat wanita itu semakin hafal dengan bentuk tubuh yang tergeletak itu. Sampai kemudian ia yakin tubuh itu adalah tubuh anaknya. Direngkuhnya tubuh kecil itu, lalu dipeluknya erat-erat. Air matanya tak kuasa untuk tidak menitik. Darah kering menghiasi tubuh kaku dan dingin itu. Ya …. anak dambaan jiwa penerus perjuangan suminya itu kini telah mati bersimbah darah. Namun wanita itu segera tersenyum ketika melihat tangan anaknya yang sudah jadi mayat itu menggenggam erat alqur’an pemberiannya. Dengan langkah tegap, Ummu Abdullah memangku tubuh putranya yang telah syahid.

    “Aku harus bersyukur karena punya anak tidak mati sia-sia. Sementara banyak teman seusianya mati sambil memeluk buku berjudul ‘Sang Penyelamat Manusia’. Tapi Abdullah mati sambil mendekap alqur’an…”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:19 am on 11 September 2013 Permalink | Balas  

    berdoa-2Satu Doa Ketika Gelisah Meruyak

    “Hasbunallah wani’mal Wakil”

    (Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung) (QS. Ali Imron 3:173)

    April kelabu di musim tak tentu. Bukankah panas yang terik dan hujan yang deras seringkali bertukar kulit di beberapa bulan terakhir ini? Pun kabar mala dan petaka di hidup keseharian kita. Semua kian akrab di telinga. Tapi April, segala ketidak menentuan itu kian berkelindan bagi beberapa persona yang dilanda musibah, yang dirundung gelisah. Dan sejumlah sahabat saya diantaranya.

    Sahabat pertama; Aziz, begitu kerap saya memanggilnya, nampak begitu layu di pertengahan April. Air mukanya keruh. Matanya mengabarkan hampa. Ia tidak lagi tampil ekspresif seperti dulu. Ia tiba-tiba menjadi sosok yang rapuh. Kepada saya, Aziz menuturkan pangkal soal kegundahannya itu: “Inilah minggu terberat dalam hidupku. Aku shock! Tanpa pemberitahuan sedikitpun, aku dan beberapa teman di PHK secara tiba-tiba. Aku stres, stres bagai petir di siang bolong”

    Saat itu, suaranya seperti menghimpun amarah, resah dan lelah dalam satu wadah, yang kemudian dihempaskan ke saya. Maka saya pun bersetia hati menjadi ‘tong sampah’-nya. Sejak itulah, saya tahu, ia menimang-nimang kegelisahan dari hari ke hari.

    Sahabat kedua; Dinda namanya. Cantik, solehah dan seorang mahasiswi S2 sebuah perguruan tinggi negeri yang tengah menanam rasa serupa; gelisah dan cemas yang tak berbeda. Di ujung telepon, saya mendengar isak tangisnya yang pilu seraya berkata: “A…a…ku tak sanggup lagi. Ha…tiku tak sanggup menampung penyesalan ini. Pa…dahal, pernikahan itu tinggal selangkah lagi. Tapi ia me..mutuskan komitmen karena hal se..pele…”

    Kala itu, getaran sesak yang merasuki dadanya juga menghujam batin saya. Setiap kata yang meluncur di bibirnya seperti kidung nestapa yang sendu. Selanjutnya, saya menerima pesan-pesan pendek (sms) kekecewaan dan kegelisahan yang belum juga musnah.

    Saya yakin, anda mahfum, kenapa Aziz dan Dinda akhirnya larut dalam kecamuk gelisah itu. Sebab setiap kata, mungkin, pernah mengecapnya di suatu masa. Terlebih bila gelisah itu sudah berkecambah di segala ranah. Ia, diam-diam, merasuki setiap lini kehidupan kita. Semua terasa buram dan muram. Kondisi inilah yang saya khawatirkan juga meruyak di ceruk-ceruk jiwa Aziz dan Dinda dan saudara-saudara seiman lainnya.

    Saya jadi teringat lirik lagu bertajuk Kembali Pada Allah yang didendangkan Opick: Bila hati gelisah / Tak tenang, tak tentram / Bila hatimu goyah / Terluka, merana / Jauhkah hati ini dari Tuhan, dari Allah? / Hilangkah dalam hati zikirku, imanku? / Hanya dengan Allah, hatimu akan menjadi tenang / Dengan mengingat Allah / Hilanglah semua kegelisahan / Cukuplah hanya Allah / Hati bergantung, berserah diri / Hasbulallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wani’ma nashir…

    Hmm. Saya tercekat di lengkingan merdu Opick tatkala ia melafalkan hasbulallah wa ni’mal wakil. Bukankah sebaris kalimat ini pernah dzikir-zikir Nabi Ibrahim ketika maut tengah mengintainya?

    Di negeri Babilonia hidup seorang raja yang sangat zalim. Namrud bin Kan’an bin Kusy, namanya. Seturut catatan sejarah, Namrud dan segenap rakyatnya adalah para penyembah patung. Konon, dalam lingkungan sosial seperti inilah Nabi Ibrahim as lahir dan tumbuh dewasa. Tak aneh bila ayahanda Ibrahim sendiri pun seorang penyembah berhala sejati. Kendati demikian, Ibrahim sendiri bukanlah sosok yang mudah manut dengan keadaan yang menyesatkan. Ia bukanlah tipikal anak yang takluk pada kehendak semena-mena orang tua. Di matanya, kebiasaan ayah dan rakyat Babilonia menjadikan benda mati sebagai Tuhan itu jelas-jelas sebuah kedunguan. Sesuatu yang tidak logis. Irasional, tak masuk akal. Maka ia pun berontak. Ia bertekad menghancurkan patung-patung sesembahan rakyat Babilonia tersebut. Dengan sebilah kapak tajam yang terhunus di tangannya, ia merangsek masuk ke tempat dimana berhala-berhala itu di pancangkan. Sejurus kemudian kapak Ibrahim telah berayun-ayun, melesat-lesat, menghantam patung-patung itu. Semua roboh, hancur berkeping-keping, kecuali satu patung yang paling besar. Di patung besar itulah, Ibrahim mengalungkan kapak sebagai sebuah taktik jitu menguji keyakinan rakyat Babilonia.

    Keesokan harinya ketika rakyat Babilonia hendak beribadah, semua tiba-tiba histeris dan terperanjat bukan kepalang melihat tuhan-tuhan mereka telah roboh dan hancur. Mereka kalap, marah dan langsung menyelidiki siapa gerangan pelakunya. Setelah mengorek informasi ke sana sini, sosok Ibrahim pun terkuak sebagai tersangka. Ia pun disidang di pengadilan babilonia. Kepada para hakim Ibrahim berkilah. Ia tidak mengakui bahwa tindakan anarki itu perbuatannya. Ia berdalih bahwa patung yang paling besar itulah yang berbuat:

    “Bukankah kapak itu tergantung di lehernya? Tanyalah padanya!” mereka tercengang dan meradang atas jawaban Ibrahim.

    “Mana bisa patung itu bicara?” jawab mereka kesal.

    Akhirnya Ibrahim berkata kembali: “Tidak bisa? Lalu kenapa kalian menyembahnya? Setan telah memperdaya kalian. Kembalilah kepada Allah! Dialah Tuhan Yang Maha Esa.”

    Namun orang-orang yang sesat memang tidak mau mengakui kekalahannya. Akhirnya, para hakim tetap memutuskan vonis mati Ibrahim dengan cara membakarnya hidup-hidup. Kita tahu, akhirnya, Ibrahim pun tak bisa melawan. Ia rela raganya dijilati api, tapi ia tidak ridho jiwanya terlalap si jago merah. Maka Ibrahim pun berpasrah diri. Pada detik-detik genting inilah, mulutnya dan hatinya basah oleh lafal ‘hasbunallah wa ni’mal wakil’ (cukup Allah sebagai penolongku, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung). Dan Allah mendengar doa lirih Ibrahim, hingga satu firman pun turun: “Hai api, jadilah dingin! Jadilah keselamatan bagi Ibrahim!” dan api itu akhirnya tak mampu melahap tubuh Ibrahim. Ia selamat. Ia menumpas segala kegundahannya bersama kekuatan Illahi yang bersemayam di qolbunya.

    Ibrahim tak sendiri. Junjungan kita, Rasulullah saw, pun mendedahkan doa senada tatkala sebagian tentaranya bersikap setengah hati menghadapi pasukan musyrik yang senjata dan bekal perangnya lebih bayak. Ternyata kata hasbunallah wa ni’mal wakil yang ditutur Rasul Muhammad saw itu langsung menepis rasa takut pasukannya sehingga mereka mengucap hal yang serupa dan iman mereka pun kian berkembang.

    Begitulah, Ibrahim dan Muhammad akhirnya mampu menggerus kecemasan jiwanya bersama energi Ilahi hasbunallah wa ni’mal wakil. Wajar bila keajaiban sukses pun berpihak di sisi mereka. Padahal kita tahu, rasa gelisah mereka adalah bahaya maha dahsyat bernama maut. Dan kita, umatnya, juga Aziz dan Dinda, kadangkala menggelepar sekarat bila sejumlah harapan duniawi kita punah sebelum waktunya. Kita tiba-tiba menjadi manusia yang paling malang. Sepi, sendiri dan hidup dalam jeri. Tidak hanya itu, kita -acapkali- menggugat Sang Kholiq: ‘Ya Allah, kenapa hal ini terjadi dalam hidupku?’ Pada titik inilah, saya pikir, lirik Opick di atas terasa menggedor-gedor nurani: Bila hati mulai goyah/ terluka, merana/ Jauhkah hati ni dari Tuhan, dari Allah?

    Kegelisahan Negatif atau Kegelisahan Positif

    Heidegger, seorang filsuf Jerman abad 20, suatu kali pernah menta’rifkan kegelisahan atau kecemasan (angst) sebagai berikut: suasana hati dasariah yang menyingkap ketakberumahan dan ketakberkampunghalaman manusia. Bila kondisi ini bermukim di dalam hati kita, maka itu sebuah proses tersingkapnya kesadaran diri kita dari ketakberumahannya kita di dunia ini.

    Oleh karena itu, rasa ini sejatinya semakin meneguhkan ihwal kefanaan manusia, ketidakkekalan dirinya di jagad dunia ini. Tak aneh, bila Allah mencap ciptaan-Nya ini sebagai makhluk yang berselimut keluh kesah dan gelisah. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah…” (QS. Al-Ma’aarij: 19)

    Sayangnya, suasana gelisah ini seringkali menggiring manusia pada keyakinan bahwa rumah dan kampung halaman yang hakiki itu berada di dunia. Hal ini, bisa dilihat dari kenestapaan yang umumnya membuat kita larut dalam kecemasan dan kegelisahan yang parah. Saya menyebut kondisi ini dengan kegelisahan negatif, sejenis kegelisahan yang meringkus harapan dan semangat hidup seseorang untuk berani melangkah lagi. Pada titik ini, lazimnya orang akan cenderung tidak kreatif, mengeluh, marah-marah, dan bertindak impulsif. Jiwanya tidak tenang, dan hatinya rusuh oleh segenap peristiwa pahit yang menimpanya. Ia lupa bahwa kemalangan, kekecewaan dan kegelisahan ini adalah kesementaraan. Karena itulah, saya sepakat ketika filsuf Epictetus mengatakan bahwa manusia tidak diganggu oleh peristiwa-peristiwa, melainkan oleh pandangannya sendiri tentang peristiwa-peristiwa itu. Begitu pula dengan manusia yang mengelola kegelisahannya secara negatif. Ia melihat peristiwa yang tengah menyusahkannya itu semisal kutukan, selayak kelam yang berjelaga.

    Sebaliknya, bila seseorang melihat kejadihan pahit yang melandanya itu sebagai sebuah berkah, seumpama anugerah tersembunyi yang suatu saat akan menyembul tiba-tiba, maka ialah sosok yang saya sebut sebagai manusia yang memiliki kegelisahan positif. Pada titik ini, seseorang berusaha mengoptimalkan energi kreatifnya semaksimal mungkin. Ia berpikir positif, tidak mengeluh, dan tidak larut dalam kecemasan, dalam keterpurukan. Ia, menurut sufi Hazrat Salahedin Ali Nader Angha, adalah karakter yang senantiasa menganggap peristiwa-peristiwa pahit sebagai sesuatu yang tidak “buruk”, melainkan lebih merupakan pengalaman-pengalaman yang darinya kita bisa belajar untuk lebih dewasa.

    Ia percaya bahwa Sang Pemilik Maha, Allah azza wajalla, tengah menyingkap tabir mukjizat-Nya, ia yakin bahwa Allah sedang menyibak sendi-sendi rahasia-Nya hingga ia menemukan sebuah pintu keberkahan yang tidak disangka-sangkanya. Pada momen seperti inilah ia berusaha menjadi manusia yang mengaktualisasikan dirinya sebesar mungkin. Ia menggali potensi, bakat, dan kapasitas kemampuan yang selama ini dimilikinya. Bahkan seorang psikolog bernama Abraham Maslow dalam buku Motivation and Personality-nya menganggap orang-orang seperti inilah yang layak disebut orang-orang sukses.

    Dan saya yakin, kegelisahan positif ini tidak tumbuh menyelubungi jiwa seseorang begitu saja. Ia bukan sesuatu yang taken for granted. Ia hadir ketika keyakinan hati seorang hamba menerbitkan Allah di sisinya. Ia tempatkan sang Rahman sebagai Sahabat dan Penolong sejatinya seraya terus melafal-lafal hasbunallah wa ni’mal wakil di hatinya.

    Barangkali, tak aneh bila Simone Weil, intelektual kiri yang berubah menjadi seorang mistikus abad 20, berkata begini, “Bagi manusia spiritual (beriman), kemalangan menimbulkan perasaan bahwa Tuhan telah meninggalkan anda. Tetapi, jika Anda bisa bangkit dari kegelapan, iman Anda akan jadi lebih dalam dan Anda akan merasakan salah satu misteri besar kehidupan.”

    Semoga saja Aziz, Dinda, dan siapapun yang tengah dilanda gelisah tengah bersiap menyongsong datu misteri besar itu. Amin.

    ***

    Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 4:43 am on 30 August 2013 Permalink | Balas  

    kado6Kado Terindah

    Oleh Lizsa Anggraeny

    Mencari hadiah, ternyata bukan hal yang mudah. Sudah berkali-kali berputar di sepanjang pertokoan, tetap belum menemukan sesuatu yang sreg. Ingin rasanya mendapatkan kado terindah yang dapat membuat hati sang penerima merasa senang. Terutama jika kado tersebut akan diberikan pada seseorang yang teristimewa, sahabat dekat.

    Menyebut nama sahabat tersebut, rasanya begitu banyak kebaikan yang telah saya terima. Tak terhitung pula, barang pemberian darinya. Tanpa diminta, sepertinya ia selalu tahu apa yang sedang saya perlukan. Ketika saya belum memiliki overcoat untuk penahan di musim dingin, dengan baik hati, ia ‘melungsurkan’ satu overcoatnya untuk saya. Begitu juga ketika pindahan rumah, dengan baik hatinya ia ‘mewariskan’ beberapa peralatan rumah tangga. Pun ketika pulang dari berwisata, saya selalu kebagian oleh-oleh. Tak hanya barang, sahabat inipun akan memberikan bantuan berupa kata-kata penyemangat serta doa jika saya ‘curhat’. Dengan alasan itulah, saya ingin mencari kado untuknya. Sebagai balas budi dan untuk lebih mengakrabkan tali ukhuwah.

    Kembali ke pencarian kado, ketika sedang serius memilih barang, tiba-tiba dari arah belakang, kaki terasa ada yang menubruk. Reflek badan membalik ke belakang. Dan nampaklah, satu orang wanita muda Jepang dengan kursi rodanya. Dilihat dari penampilan, tubuhnya cacat tak bisa digerakkan. Hanya tangannya saja yang masih berfungsi untuk menggerakkan kursi roda otomatisnya. “Sumimasen… (Maaf…), ” berat terdengar suaranya disertai mimik bersalah ketika saya membalikan badan. Wajahnya tampak mulai tersenyum ketika saya katakan, “tidak apa-apa. “

    Saya perhatikan, kursi rodanya nampak berjalan ke arah etalase lain. Dan mulai memperhatikan barang di sana. Tak tega membiarkanya sendiri, saya berlari kecil ke arahnya dan berkata, “Jika ada yang perlu diambilkan, saya akan bantu, ” Sesaat matanya memandang ke arah saya. Kemudian wajahnya tampak sumringah, terlihat hendak menganggukkan kepalanya yang sulit digerakan, sebagai tanda terima kasih.

    Entah kenapa, hari itu jadilah saya dan wanita Jepang berkursi roda tersebut melakukan windowshopping bersama. Dari ceritanya, ia telah mengalami cacat sejak kecil. Beberapa syarafnya tidak berkembang normal. Namun, ia tak pernah menyesal keadaan. Ia bersyukur masih diberi kesempatan hidup dengan ketidakberdayaannya. “Hidup harus disyukuri, ” begitu ucapnya. Cerita terputus ketika, seorang berseragam putih mendatangi. Perawat dari panti rehabilitasi-tempat tinggalnya sudah menjemput. Kami berpisah, tanpa sempat saling menanyakan tempat tinggal.

    Saya terduduk di bangku istirahat. Mulai mengamati diri. Mata dapat melihat, telinga mendengar, kaki bergerak bebas, tubuh normal. Tidak hanya itu, saya diberi kebebasan 24 jam menghirup udara gratis, diberi rizki, diberi kesehatan…. Subhanallah, begitu besar pemberian yang telah Allah berikan. Pemberian yang tak mungkin dapat dihitung. Tidak hanya jumlah, Allah swt pun telah memberikan sesuatu yang sangat berharga pada saya, yaitu memiliki iman Islam. Sebuah pemberian yang tak dapat diwariskan dari siapapun kecuali dari hidayah Allah.

    Untuk balas budi atas pemberian-Nya, apa yang telah saya berikan? Sudahkan saya memberikan kado istimewa yang indah, bagus yang dapat diterima oleh-Nya? Yang dapat mendekatkan diri saya pada-Nya? Bersyukur dan berterima kasih pada-Nya dengan hati yang ikhlas?

    Saya mulai mengingat-ngingat, terkadang shalat saya masih tidak tepat waktu. Sedekah hanya dilakukan ala kadarnya, puasa kadang hanya sebatas memenuhi yang wajib, dalam amalan pun mungkin terselip ria tanpa keikhlasan. Betapa saya belum bisa memberikan kado terindah atas semua pemberian dari-Nya. Ibadah, rasa syukur saya masih belum sebanding. Padahal dengan rasa cinta-Nya, Dia selalu memberi… Memberi dan Maha Pemberi.

    Saya kembali teringat wanita Jepang dengan kursi rodanya. Yang tetap bersyukur dengan semua keberadaannya. Teringat pula sahabat karib yang selalu selalu memberi. Betapa bahagianya saya bisa mengenal kedua orang tersebut. Yang secara tidak langsung mengingatkan diri, betapa banyak hal yang harus saya syukuri.

    Seolah tersadar, saya melirik jam tangan. Waktu ashar telah tiba. Bergegas saya meninggalkan bangku istirahat pertokoan tersebut. Mencari tempat yang kira-kira aman untuk shalat. Tak ingin rasanya waktu berharga ini dilewatkan. Karena saat inilah kesempatan saya untuk menumpahkan rasa syukur. Berterima kasih atas semua yang telah diberikan-Nya selama ini. Mudah-mudahan ini dapat menjadi amalan ‘kado’ terindah, yang dapat menunjukan bukti kecintaan saya pada Allah, Sang Maha Pemberi.

    ***

    “Adalah Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam shalat hingga kedua telapak kaki dan betisnya bengkak. Aisyah ra berkata kepada beliau, “Mengapa Anda mengerjakan yang demikian? Bukankah dosa Anda yang telah lalu maupun yang akan datang telah diampuni?” Beliau Rasulullah saw menjawab, “Apakah tidak sepantasnya jika aku menjadi seorang hamba yang selalu bersyukur?”(HR bukhari dan Muslim)

    Tokyo, aishliz et FLP-Jepang

    eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 4:32 am on 19 August 2013 Permalink | Balas  

    mati-suri-dalam-buzzleAkhir yang Berbeda

    Dari Seorang Sahabat

    Semoga kita termasuk dalam orang2 yang khusnul khotimah….amien….

    Tatkala masih dibangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

    Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri : “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan! ” Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk munajat kepada Allah.

    Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.

    Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan,tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.

    Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian … banyak waktu luang … pengetahuanku terbatas. Aku mulai jenuh … tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain.

    Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan. Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas disebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol … tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh tragis.

    Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah … Laailaaha Illallaah ..” perintah temanku. Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding. Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat … Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi … keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.

    Tak ada gunanya … Suara lagunya terdengar semakin melemah … lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak … keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun. Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening… Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk).

    Ia berkata “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia. “Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaiman seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin. Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu’ sekali.

    Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali pada kebiasaanku semula … Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan!.

    Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu …. sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika. Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan.Dia masih sangat muda, wajahnya begitu bersih.Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.

    Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an … dengan suara amat lemah. “Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur’an seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian “Aku akan menuntunya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu … apalagi aku sudah punya pengalaman.” aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang.

    Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meningal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras mengalir.Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan..Sampai di rumah sakit …..Kepada orang-orang di sana, kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan.

    Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan di shalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah. Semua ingin ikut menyolatinya. Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin.

    Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawa permen untuk dibagikan kepada anak-anak kecil.

    Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa. hanya ada satu harap, semoga kita menjadi penghuni surga. Biarlah dunia jadi kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan pertaubatan. Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, dengan amal-amal yang nyata : “memperbaiki diri dan mengajak orang lain ” Allah Swt berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Al-Imran :185)

    Rasulullah Saw telah mengingatkan dalam sabadanya, “Barangsiapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.”

    Saudaraku Siapa yang tau kapan, dimana, bagaimana, sedang apa, kita menemuai tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap Allah SWT, Orang yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian dalam waktu waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan untuk menghadapinya.

    **

    Note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat.

    Begitulah hendaknya engkau nasehati dirimu setiap hari karena engkau tidak menyangka mati itu dekat kepadamu bahkan engkau mengira engkau mungkin hidup lima puluh tahun lagi, Kemudian engkau menyuruh dirimu berbuat taat, sudah pasti dirimu tidak akan patuh kepadamu dan pasti ia akan menolak dan merasa berat untuk mengerjakan ketaatan.

    Nasehat ini terutama untuk diri saya sendiri, dan saudara-saudaraku seiman pada umumnya.

    Jazakumullah khairan katsiran

    Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

     
  • erva kurniawan 4:28 am on 18 August 2013 Permalink | Balas  

    cinta di hari tuaMemikat Cinta

    Oleh Indah Prihanande

    “Aku nyari – nyari koki yang cocok buat lidahmu, ternyata ada di dalam diriku! He… He, masakan spesial untukmu malam ini”

    SMS dari suami saya yang terlalu Pede ini datang begitu melambungkan rasa bahagia. Kejutan yang bagi saya tidaklah kecil nilainya. Amat berharga dan bernilai emosi tinggi.

    Saya hafal dengan kebiasaannya. Ketika dia mengirimkan pesannya tersebut, hampir bisa dipastikan dia tengah berkutat didapur. Meramu masakan yang entah apa namanya. Biasanya semua bumbu instant dicampur ke dalam masakan: kecap asin, minyak wijen, garam, bawang goreng siap pakai, dan lain-lainnya. Hanya dia saja yang tahu persis rumus masakannya. “Rahasia” katanya setiap kali saya iseng menanyakan kunci keberhasilannya.

    Padahal saya tidak serius untuk sungguh-sungguh ingin mengetahui racikannya tersebut. Saya tahu pasti, bumbu racikannya adalah campuran dari semua bumbu instant yang ada didapur kami.

    Tapi saya tak perduli, itu tak teramat penting. Yang terpenting adalah nilai-nilai kejutan yang selalu disodorkannya selama ini membuat hidup saya terasa lebih hidup dan penuh warna.

    Suami saya mempunyai cara sederhana dan memikat untuk menunjukan perhatiannya. Selama ini, saya terhipnotis dengan kejutan-kejutan yang disampaikannya dengan gaya yang segar dan menyenangkan itu.

    Kali ini saya tengah sibuk dikejar dengan tugas di kantor. Dan dari pagi saya belum sempat memberi kabar apapun untuknya. Tanpa diminta dengan sukarela dia mengirimkan setangkai bunga mawar yang indah lengkap dengan sebaris kalimat yang tertulis:

    “Hai, terima aja apa adanya ya. Tq”

    Ada tawa yang nyaris meledak! Saya tergelitik dengan usaha dan kerja kerasnya untuk menjadi sedikit romantis. Apa yang dikirimnya itu seketika menyegarkan fikiran dan perasaan. Walau hanya melalui SMS, mawar itu telah saya terima dengan rasa syukur tak terhingga.

    ***

    Ya, begitulah. Dia telah banyak mengajarkan tentang sebuah perhatian kecil di tengah keterbatasan waktu dan materi yang kami miliki.

    Ketika kita tidak bisa memberikan hal-hal besar menyenangkan yang membutuhkan ketersediaan materi untuk pasangan kita, kita harus bisa mencari, menemukan, untuk kemudian mengaplikasikan perhatian kecil tersebut dalam keseharian kita. Tak perduli betapa padatnya kesibukan yang kita miliki, seharusnya hal tersebut menjadi perhatian khusus yang tidak terganggu oleh alasan apapun.

    Bukankah di tengah perjalanan kita bisa berkirim SMS dengan kata-kata menyenangkan dan kalimat motivasi yang membuatnya bersemangat? Bukankah kita bisa memberikan kejutan dengan mengirimkan surat pujian kita untuknya yang dikirim lewat pos ke alamat kantornya? Atau jika ada sedikit uang, pergi saja ketoko buku, belikan buku yang terkait dengan hobi dan minatnya. Tidak sulit bukan?

    Kita bisa melakukannya dengan cara dan gaya dan menurut kemampuan masing-masing. Yang dibutuhkan hanyalah mau atau tidak untuk melakukannya.

    Yuk, kita buat proyek ini berjalan ditahun ini. Kita beri judul: Proyek Sederhana, Memikat dan Penuh Cinta!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 11 July 2013 Permalink | Balas  

    Puasaku Tahun-Tahun Lalu

    Sore itu, bulan Ramadhan tahun lalu adalah hari pertama puasa. Meskipun aku biasa berpuasa Senin dan Kamis, tetapi puasa Ramadhan selalu membawa kegembiraan dan suasana yang berbeda. Apalagi anak kami yang bungsu hari itu mulai belajar berpuasa. Aku menjanjikannya jika puasanya penuh akan kuberikan hadiah, seperti juga aku menghadiahi abangnya ketika mula pertama dia bisa berpuasa.

    Aku bergegas menepikan motorku ketika kurasakan getar ponsel disaku jaketku. Rupanya dari isteriku. “Jangan lupa ayah beli blewah atau timun suri 2 kemudian beli kelapa muda 4, minta pada penjualnya untuk dituang ke plastik jadi tidak sulit bawanya, saya sedang di toko dekat rumah beli sirup, beli kue-kue basah”

    ” Pasti”, jawabku, “Jangan lupa beli juga kue lapis beras dan lupis, kelapanya yang banyak. “

    Sesampai di rumah; meja makan telah sarat dipenuhi berbagai penganan, lauk, nasi, minuman. Begitulah hampir selama sebulan, kami makan berlebihan; sehingga mudah mengantuk. Isteriku setiap sore hari rajin ke rumah makan membeli makanan jadi yang kemudian selalu bersisa. Pagi hari ketika sahur kami sibuk makan dan menonton acara hiburan di TV yang penuh candaria. Akibatnya ketika dikantor, aku merasakan produktivitas kerjaku menurun.

    Padahal kantorku telah memberikan kelonggaran selama bulan puasa kantor dimulai setengah jam lebih lambat, pulang juga demikian setengah jam lebih awal. Aku lebih banyak duduk-duduk saja atau melama-lamakan diri berada di masjid lingkungan perkantoran. Bukan untuk berzikir, mengingat DIA atau membaca-baca buku agama tetapi membiarkan tubuhku berbaring di lantai masjid yang sejuk itu. Meskipun telah ada peringatan dilarang tiduran di masjid, tetapi selama puasa larangan itu seolah tidak ada artinya.

    Beberapa hari kemudian aku dan isteriku menghadiri undangan berbuka bersama yang diselenggarakan oleh teman sekolahku yang mempunyai rizki berlebih sekaligus ia mempromosikan biro perjalanan hajinya. Acara ini diadakan di sebuah hotel berbintang. Hidangan beraneka ragam dan sangat berlimpah ruah. Sebelum bedug berbunyi kami dan semua tamu sudah berdatangan dan segera sibuk mengambil berbagai macam tajil yang tersedia.

    Kami seperti layaknya orang-orang yang sangat kelaparan. Menyendok kolak ke mangkuk, mengambil piring yang berisi kue-kue, puding dan kurma; mengambil cangkir, gelas-gelas minuman hangat dan dingin.

    Ketika tanda berbuka terdengar serentak kami menyesap minuman dengan tergesa kemudian bergegas sholat. Sholatpun kurang khusyu, memikirkan makanan yang sangat menggoda selera. Saat mengambil makanan, kami memenuhi piring lebar itu dengan nasi dan lauk yang menggunung. Mengisi penuh mangkuk-mangkuk dengan beraneka supjagung, sotomadura, tekwan…. Kami makan dengan ribut, mulut berkecipak, ditingkahi bunyi sendok dan piring yang beradu, gelak tawa, obrolan-obrolan, lalu lalang ke meja hidangan untuk mencicipi semua makanan yang tersedia.

    Namun demikian kapasitas perut ada batasnya; makanan itu tersisa berserakan di piring dan mangkuk. Ketika kami pulang kami melihat betapa banyak makanan yang berlebih yang tidak bisa dimakan lagi akibat penyakit ‘lapar mata’ yang parah dari hampir semua undangan. Jika dikumpulkan mungkin bisa untuk memberi makan kaum yang jarang makan lebih banyak lagi.

    Begitulah dahulu; selalu setiap puasa ramadhan berlangsung kami hanya sekedar menunda makan dan minum. Kami belum bisa menahan hawa nafsu yang berhubungan dengan urusan perut.

    Kami tidak bisa merasakan penderitaan orang yang kekurangan. Setiap berbuka puasa kami selalu merasa tidak cukup hanya berbuka dengan minum segelas teh manis hangat saja. Puasa sekarang; aku, isteri dan anak-anakku akan berusaha menjalaninya seperti semangat puasa sebenarnya. Berpuasa yang penuh kebaikan, mendapat ridha dan maghfirahNya, insya Allah.

    Latihan berempati merasakan penderitaan orang yang kekurangan, orang-orang yang berpuasa di daerah bencana. Lebih giat mengumpulkan uang bujet pembeli segala makanan yang berlebihan untuk disedekahkan. Tidak melihat acara hiburan TV; waktu-waktu itu bisa aku pergunakan untuk mengkaji ilmu agama, mengaji, bersama anak-anak.

    Bukankah jika puasa Senin atau Kamis aku juga tidak melihat TV di pagi hari buta. Makan minum di hari puasa Senin dan Kamis itu aku juga tidak menuntut yang istimewa. Isteriku juga akan berusaha lebih cerdas membelanjakan uang dapur untuk urusan makan dan minum. Karena setiap puasa justru timbangan badannya menjadi mekar karena ia merasa sayang melihat makanan yang berlebihan, mau di sedekahkan tidak layak, sehingga ia makan sendiri, begitu alasannya :-)

    Bulan puasa seharusnya pengeluaran belanja makan dan minum tidak bertambah bahkan sebaiknya ada kelebihan. Bukankah kita makan hanya 2 kali. Tapi mengapa justru selama puasa pengeluaran untuk belanja dapur selalu membengkak sampai dua kali lipat bahkan lebih?

    Teman sekantorku justru ada yang berhutang setiap bulan puasa hanya untuk keperluan makan dan minum. Sehingga dimanakah nilai puasa yang sebenarnya? Jika puasa hanya sekedar menunda makan dan minum; tapi ketika ada kesempatan untuk bersantap, kita seolah ‘membalasdendam’ – dan terlalu berlebihan?

    ***

    [Sebagian besar kisah nyata ini berdasarkan penuturan seorang teman]

    “………Makan dan minumlah, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” [Al 'Araaf;7:31]

     
  • erva kurniawan 4:17 am on 24 June 2013 Permalink | Balas  

    alquranKisah Nyata Keajaiban 6 Amalan: Hutang Lunas, Istri Kembali

    “Lik, kalau besuk kamu nggak bisa melunasi utangmu, lebih baik kamu mengosongi rumah ini. Atau, aku yang akan mengosongi rumahmu ini” ancam rentenir, Ahad pagi itu. Dunia makin terasa sempit bagi Malik. Sudah tiga tahun ini ia bergelut dengan masalahnya, namun tak juga ia sanggup mengatasi masalah-masalah yang membelitnya, termasuk hutang tersebut. Malik sudah berusaha mencari pinjaman, tapi hasilnya nihil. Kurang dari 24 jam lagi rumah satu-satunya itu akan disita.

    Setelah si rentenir pergi, datanglah tamu kedua yang tidak lain adalah istrinya sendiri. Sudah 2 tahun suami istri itu pisah ranjang.

    “Kalau Abang belum juga menandatangani surat cerai saya, insya Allah besuk siang ada yang akan datang menjemput paksa Abang. Jadi besuk pukul 12 siang, saya tunggu di Pengadilan Agama untuk tanda tangan surat cerai!” Malik makin bongkok mendengar tuntutan istrinya itu. Ah… kalau saja si Malik tidak selingkuh. Ia masih ingat masa itu, ketika masih jaya-jayanya, Malik punya hobi main judi dan minum. Ketika usahanya bangkrut, hobi itu menjadi pelarian. Di tahun kedua ia main judi dan mabuk, terjadilah ‘perselingkuhan’ itu. Malik sudah menjelaskan bahwa ia selingkuh tidak sengaja, tetapi istrinya tidak terima. Pulang ke rumah orangtuanya dan meminta cerai.

    Setelah Asar, anak pertama datang ke rumah. “Pak, besuk aku sudah nggak bisa sekolah lagi!”

    “Kenapa?” tanya Malik

    “Habis Bapak tidak membayarkan uang sekolah. Sudah tujuh bulan nunggak.”

    Malik semakin bingung. Tiga masalah menumpuk dan memuncak di hari itu. Pikiran Malik semakin gelap seiring hari yang juga mulai gelap. Akhirnya malam itu, Malik memutuskan untuk bunuh diri.

    Untunglah Malik masih punya sedikit iman. Sebelum bunuh diri, ia ingat belum Shalat Isya’. Sudah lama sebenarnya Malik tidak shalat, dan ia ingin shalat untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggal. Keinginan untuk shalat ini rupanya adalah taufik dari Allah yang membuat Malik secara tak sengaja mengamalkan 6 amalan yang diwasiatkan Rasulullah kepada umatnya jika sedang dilanda gelisah. Fal yatawadh-dha’, langkah pertama adalah berwudhu.

    Setelah berwudhu, tiba-tiba hati Malik mulai tenang. “Ya Allah… saya belum pernah dapat ketenangan seperti ini!”

    Malik kemudian menunaikan shalat Isya’. Langkah kedua dalam wasiat Rasulullah: wal yushalli rak’atain dikerjakan oleh Malik. Meskipun yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Shalat Hajat, namun esensinya sama dengan Shalat Isya’ yang dilakukan Malik.

    Setelah shalat, Malik melihat Al Qur’an di atas rak bukunya. “Mengaji dulu ah, untuk terakhir kali,” kata Malik yang kemudian secara tak sengaja membuka Surat Ali Imran ayat 26.

    ”Katakanlah, ‘Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Seakan-akan Allah mengatakan kepada Malik: “Lik, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kata siapa rumahmu akan disita jika Allah mengamankannya? Kata siapa kau aka bercerai jika Allah menyatukan kalian? Kata siapa anakmu akan putus sekolah jika Allah memberi rezeki? Semua keputusan ada di tangan-Ku”

    Namun Malik tetap belum percaya. Bagaimana mungkin uang 15 juta bisa ia dapatkan dalam hitungan jam. Bagaimana mungkin ia bisa kembali harmonis dengan istrinya jika jam 12 besuk ia harus bercerai di pengadilan.

    Kemudian Malik meneruskan bacaannya. Ternyata artinya: ”Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki, tanpa batas.” (QS. Ali Imran : 27)

    Malik masih ragu. Ia pun membuka lembaran mushaf yang lain dan membaca Surat Faathir ayat 2-3.

    ”Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yan dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling?”

    Setelah membaca ayat ini, Malik pun sadar. Ia memohon ampun kepada Allah karena telah berniat bunuh diri yang dosanya sangat besar. “Kalau semua urusan adalah kehendak Allah, saya tidak jadi bunuh diri deh,” kata Malik sambil menutup mushafnya.

    Malik kemudian mematikan seluruh lampu rumahnya, kecuali kamarnya dan kamar anaknya. Ia ingin bermunajat kepada Allah. Yang ternyata, itu amal keempat dalam wasiat Nabi setelah berwudhu, shalat dan membaca Qur’an.

    Malik berdoa dengan khusyu’ memohon kepada Allah agar rumahnya tidak jadi disita, tidak jadi cerai dengan istrinya dan anaknya bisa tetap sekolah. Malik mengiringi doanya dengan membaca asmaul husna yang dihafalnya: Ya Aziizu ya Hakiim, ya Ghafuru ya Rahiim.

    Malik terus berdoa dan membaca asmaul husna hingga jam 1. Mata terasa ngantuk, tetapi Malik tidak menyerah. Ia pun berwudhu dan membaca Qur’an lagi. Kali ini ayat yang dibuka tepat tentang keutamaan taqwa dan tawakkal. Surat Ath Thalaq ayat 2-3.

    ”Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”

    Selesai membaca ayat ini, Malik kembali berdoa. Namun, kali ini doanya berbeda dari doa sebelumnya. Ia benar-benar bertawakkal dalam doanya. “Ya Allah… ampunilah dosaku. Jika besuk para rentenir itu datang, aku memasrahkan rumah ini. Aku telah menyerahkan semuanya kepadaMu…”

    Setelah bertawakkal, kini Malik mendapatkan petunjuk untuk melakukan amalan keenam yang diwasiatkan Nabi, yaitu wal yatashaddaq, bersedekahlah. Malik ingat bahwa yang akan disita dalah rumahnya saja, sedangkan isinya tidak. Maka ia pun berencana menyedekahkan isi rumah itu. Ia akan keluar dari rumah itu hanya membawa pakaian saja.

    Adzan Subuh terdengar. Malik yang sebelumnya lama tidak ke masjid, kini pergi ke rumah Allah itu untuk shalat berjamaah. Selesai shalat, dzikir dan doa, Malik tidak langsung pulang. Ia ingin terus menenangkan hatinya di masjid. Ia pun membaca surat Al Waqi’ah. Ia pernah mendengar, siapa yang membaca surat Al Waqi’ah akan dijauhkan dari kefakiran.

    Tepat pukul 6 pagi, Malik keluar dari masjid. Begitu nyampai rumah, ia melihat sudah ada orang yang menunggunya. “keterlaluan si rentenir, janji datang jam 10, jam 6 sudah di sini,” kata Malik. Namun, ia tetap merasa tenang. Tak lupa ia membaca basmalah.

    Ternyata tamu pagi-pagi ini bukan rentenir, melainkan teman lamanya. Singkat cerita, setelah saling sapa dan dibuatkan minum, sang teman menyampaikan maksud kedatangannya.

    “Sebenarnya gue ada order Lik. Elu kan jago naksir alat-alat berat, bantu gue ya,” kata sang teman. Malik yang memang jago menaksir harga dimintanya untuk menemani ke luar kota yang mau mengadakan lelang alat berat.

    “Maaf, nggak bisa. Gue lagi males,” jawab Malik.

    “Aduh Lik, tolong dong… bisa rugi gue kalau elu nggak ikut”

    Karena Malik tidak mau ikut temannya, ia pun iseng mengatakan, “Begini, deh. Kalau memang elu mau tetap ngajakgue juga, siapkan duit 50 juta cash di meja gue”

    Perkiraan Malik, tidak mungkin temannya menyanggupi hal itu. Namun bagi Allah, semuanya bisa terjadi atas kehendakNya. Kun fayakun.

    “Lik, kalau 50 juta mah nggak ada. Tapi kalau 25 juta ada, pagi ini cash pun gue siapin”

    “Tolong diulang yang tadi,” kata Si Malik yang tersedak mendengar kesanggupan sang teman.

    “Kalau 25 juta, bisa langsung gue siapin. Cash”

    Alhamdulillah… selesailah masalah pertama. Masalah utang 15 juta itu beres, bahkan ada sisa 10 juta. Tinggal dua masalah lagi. Istri dan anak.

    Rupanya, ketika Malik berdoa di malam hari, anaknya yang bungsu tak bisa tidur, ia nangis terus. Orang tua dari istri Malik menyarankan agar si anak dipertemukan dengan Malik pagi-pagi. “Barangkali anakmu kangen bapaknya, ajaklah bertemu besuk pagi sebelum kalian bercerai.”

    Setelah mendapatkan uang 25 juta tersebut, datanglah si istri ke rumah Malik sesuai saran orangtuanya. Malik tersenyum lebar menyambutnya. Si istri pun terheran-heran. Namun belum lagi hilang penasarannya, Malik segera memeluknya dan berkata: “Alhamdulillah, Mah, kita selamat!”

    “Selamat apa Bang?”

    “Abang dapat duit, nih 25 juta. Mamah tahu kan rumah kita diincar rentenir gara-gara utang Abang 15 juta. Ini uang 15 juta nanti Mamah pegang, bayarkan ke rentenir biar nggak datang lagi selamanya. Katanya mau datang jam 10. Sisanya kita bagi dua. 5 juta buat ongkos Abang ke Riau, yang 5 juta Mamah pegang buat urusan anak-anak. Selama Abang di Riau, tolong jaga anak-anak ya”

    “Iya Bang” entah mengapa tiba-tiba kata-kata itu yang keluar dari bibir istrinya. Istri yang tadinya bersikeras meminta cerai tiba-tiba lulu hatinya.

    Permasalahan kedua pun selesai. Tinggal permasalahan ketiga, yaitu masalah SPP anak. Masalah ini justru yang paling ringan karena tunggakan SPP hanya 7 bulan, sebulannya Rp 50 ribu. Jadi totalnya hanya Rp 350 ribu.

    ***

    [Disarikan dari Buku Kun Fayakun 2 karya Ustadz Yusuf Mansur]

     
  • erva kurniawan 3:34 am on 20 June 2013 Permalink | Balas  

    hidayah-allahKisah nyata Sarimin & Hendri, Bagaimana kelembutan akhlak menjadikan jalan hidayah

    Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu, Allah yang maha memberikan jalan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

    Alkisah di kota Cilacap, ada seorang anak SMP yang bernama Sarimin. Kemudian di sekolah itu ada seorang anak murid yang bernama Hendri. Dia beragama Katolik. Hendri minder karena dia merasakan anak-anak islam yang lainnya galak. Sering memusuhinya, sering menakali dan disisihkan dari pergaulan. Satu-satunya anak yang mau berteman dengan Hendri adalah Sarimin yang anak miskin dan sederhana. Namun sikap Sarimin sangat baik sekali kepada Hendri. Kalau ada yang mengganggu Hendri, Sarimin yang melindungi seraya berkata, “Hayo jangan gitu dong, kita ini kan sama-sama sedang belajar disini”.

    Sampai merekapun menjadi dua orang sahabat karib. Dimana ada Hendri, disitu ada Sarimin. Dimana ada Sarimin, disitu ada Hendri. Sampailah persahabatan mereka berlanjut ketika SMA. Di SMA, Hendri juga bernasib sama ketika dia di SMP. Hendri adalah seorang minoritas diantara banyak teman-temannya yang muslim. Kalau Hendri sakit, hanya Sariminlah yang menjenguk dan memijat kakinya.

    Sampai suatu saat, Sarimin bermaksud ingin mengajak Hendri untuk main ke rumahnya. Hendri pun panik seraya berkata dalam hati, “Wah jangan-jangan yang baik hanya Sarimin saja nih. kakaknya, bapaknya serta anggota keluarga Sarimin yang lain jangan-jangan galak. Kan orang Islam”. Tapi karena undangan dari seorang sahabat Hendri mau datang. Alangkah terkejutnya Hendri karena begitu datang, bapaknya menyambut dengan sangat baik kepada Hendri. Kakak Sarimin juga berlaku lembut kepada Hendri. Sampai ketika akan makan bersama di depan meja makan, bapak Sarimin berkata, “Nak Hendri, kami mau berdoa menurut agama Islam. Kalau nak Hendri mau berdoa sesuai agama Katolik, silahkan sebelum kita makan”. Begitu mau pulang kakak Sarimin berkata, “Hendri, jangan sungkan-sungkan ya, kapan-kapan mampirlah ke gubuk kami lagi”. Persahabatan mereka berdua berlangsung sampai kelas tiga SMA.

    Yang memisahkan mereka berdua adalah sarimin kuliah di Univ. Syarif Hidayatullah Jakarta dan Hendri kuliah di Theologi Yogyakarta. Pada jaman itu belum ada handphone seperti sekarang ini. Sampai akhirnya pada semester 6, benar-benar di kampus Theologi itu orang-orang terbeli dengan akhlak Hendri. Begitu lembut, begitu baik, begitu mau menghormati orang lain.

    Sampai suatu ketika pasturnya bertanya, “Hendri, kamu kok baik banget. Saya ingin bertanya, siapa pastur kamu dulu ketika di SMA?”.

    Lalu Hendri menjawab, “Maaf pastur, guru saya adalah Sarimin”.

    “Siapa Sarimin? Masa ada pastur namanya Sarimin?”.

    “Memang Sarimin bukan seorang pastur. Tapi Sarimin adalah sahabat saya. Dia seorang Islam”.

    Sampailah semester 8, Hendri belajar tentang perbandingan agama. Dan dia belajar tentang biografi Nabi Muhammad SAW. Begitu lembar demi lembar dia baca tiap malam, tak terasa air matanya bercucur deras, berlinang membasahi buku itu. Dan sampai mulutnya bergetar seraya berkata, “Ya Tuhan, pantas begitu mulianya akhlak Sarimin. Ini nabinya luar biasa, belum pernah saya temukan tokoh semulia akhlak Muhammad SAW. Luar biasa, pantas akhlak Sarimin begitu bagus”.

    Saudaraku, sampailah saat Hendri diwisuda. Dan ketika selesai diwisuda, dia letakkan toga wisudanya dan bergegas menuju ke suatu masjid. Apa yang dilakukan Hendri? Hendri langsung mengucapkan dua kalimah syahadat. Asyhaduallaaa Ilaa Ha Illallaah… wa Asyhaduallaaa Muhammadarrasuulllah…

    Setelah itu, Hendri langsung pulang ke Cilacap. Dan sebelum Hendri sampai ke rumahnya, dia sempatkan untuk mampir terlebih dahulu ke rumah Sarimin. ”Assalamualaikum… assalamualaikum…”.

    Lalu bapak Sariminlah yang keluar. “Waalaikumsalam…. Oh, nak Hendri …”.

    ”Tapi kok nak Hendri Assalamualaikum??”, tanya bapak Sarimin kepada Hendri.

    “Iya pak, saya sekarang sudah menjadi seorang muslim pak”, jawab Hendri.

    “Alhamdulillah… bapak senang nak..” ujar bapak Sarimin senang mendengar jawaban dari Hendri.

    Hendri lalu menanyakan Sarimin, “Pak, mana Sarimin? Sudah selesai belum kuliahnya pak? Saya kangen sekali dengan dia pak, saya ingin ketemu pak, dimana alamatnya pak”.

    Bapak Sarimin masih terdiam belum menjawabnya. “Pak, dimana alamatnya pak? nomor teleponnya berapa pak?”.

    Bapak Sarimin juga belum menjawabnya. Sampai akhirnya Hendri berkata, “Pak, kenapa bapak diam saja? Saya bertanya tentang Sarimin Pak?!”.

    Lalu bapak Sarimin baru menjawabnya, “Nak Hendri, mau ketemu Sarimin?”.

    “Betul Pak !” jawab Hendri.

    “Mari nak, kita ke belakang rumah” jawab bapak Sarimin.

    Dan saudaraku, ditunjukkanlah sebuah kubur di belakang rumah itu. Di batu Nisan bertuliskan Sarimin. Hendri langsung tertunduk lemas dan mulai keluarlah air matanya.

    Dia bertanya lagi kepada bapak Sarimin, “Kapan dia meninggal paak..”.

    Lalu Bapak menjawab dengan lirih “Dua tahun yang lalu ketika Sarimin semester 5. Dia terserang penyakit tifus”.

    Hendri langsung duduk bersimpuh. Sambil menangis Hendri berkata, “Yaa… Allah…. perjumpakanlah Sarimin dengan-Mu yaa… Rabb… Perjumpakanlah dia dengan Nabi-Mu, Kekasih-Mu, Rasulullah…, Demi Allah yaa Allah…. Saya Islam, mendapat hidayah karena kemuliaan akhlak Sarimin. Sayalah saksinya yaa… Allah…. bahwa sarimin cinta… cinta…. kepadamu yaa… Allah… yaa… Rasulullah….”.

    Allahu Akbar…

    Sarimin tidak banyak bicara tentang Islam. Tetapi Sarimin sudah menjadi bukti tentang kemuliaan Islam.

    ***

    (Ustadz Komar, Daarut Tauhiid Bandung)

     
    • mizsemberpink 11:15 am on 20 Juni 2013 Permalink

      Ini kisah nyata ya? MasyaAllah Subhanallah…kisah yg menggugah dan mengingatkan bahwa mengaku Islam seyogyanya tercermin dalam akhlak karimah, tingkah laku sehari-hari…mohon ijin co-paste ya :)

    • mizsemberpink 11:18 am on 20 Juni 2013 Permalink

      Reblogged this on Playgroup Surga and commented:
      Tidak banyak bicara tentang Islam. Tetapi Sarimin sudah menjadi bukti tentang kemuliaan Islam. Dengan berakhlak karimah yang tercermin dalam tingkah laku sehari-hari yang mampu menggetarkan hati siapapun…:)

  • erva kurniawan 4:43 am on 11 June 2013 Permalink | Balas  

    siluet masjid 5Bagaimanakah Sebenarnya Pengelolaan Masjid?

    Di suatu sore yang mendung saya ditelepon seorang teman. Setelah ngobrol ini dan itu, ia tiba pada pokok tujuannya menelpon.

    “Mei, bisakah bantu saya; kasih tahu caranya menyusun neraca, laporan laba rugi?”

    Saya sedikit terperangah; apakah teman yang memutuskan menjadi evangelis, [islam: daiyah] mengabdikan hidupnya untuk kegiatan gereja; seperti memberi pencerahan bagi orang-orang yang terpinggirkan; di kolong jembatan, pada mereka yang tinggal di bantaran sungai, di tempat pembuangan sampah; penghiburan bagi yang sakit dirumah, di rumah sakit juga pada mereka yang tertimpa musibah. Menyemangati mereka yg berada di lapas, panti rehabilitasi, di panti jompo dan lainnya yang jauh dari hiruk pikuk pemberitaan dan menjadi tempat curhat bagi mereka yang terlupakan dikehidupan ini. Apakah sekarang ia kembali bekerja ?

    Latar belakang pendidikan teman ini adalah kesekretariatan, PR yang diperolehnya di negeri Paman Sam. Sebelum memutuskan untuk mengabdi, bekerja bagi Tuhan ia pernah menjadi pegawai pada perusahaan asing, perusahaan multi nasional yang memberinya banyak kelimpahan materi. Rupanya teman ini bisa membaca pikiran saya dan iapun mengatakan, bahwa untuk sementara waktu ia mendapat tugas untuk membereskan pembukuan gereja karena yang biasanya bertugas pindah keluar kota.

    Beberapa hari kemudian di sebuah koran besar berskala nasional, saya membaca iklan lowongan pekerjaan yang cukup mencolok. – Di cari seorang sekretaris gereja berpendidikan SI Akuntansi, menguasai MS Word-Excel, bisa berbahasa asing.

    Setelah membaca iklan itu saya tercenung, bertanya-tanya dalam hati. Bagaimanakah dengan masjid? Sebenarnya pengelolaan masjid di masa kini itu seperti apa? Seorang kerabat ada yang menjadi pengurus sebuah masjid di lingkungan kami tinggal mengatakan, bahwa masjid pada umumnya dikelola dengan prinsip manajemen rumah tangga. Pegawai/pengurus/petugas masjid datang dan pergi. Karena biasanya mereka bekerja tidak profesional; hanya jika punya waktu dan belum punya pekerjaan tetap daripada menganggur, mereka bekerja secara sukarela, lillahi ta’ala di masjid-mushala. Bagaimanakah dana sebuah masjid dihimpun untuk membayar biaya operasional rutin seperti listrik, air, kebersihan? Bagaimanakah mempertanggungjawabkan dana yang terhimpun [kencleng masjid] kepada jamaah, hanya setahun sekali sajakah, tiap shalat hari raya?

    Telepon di sore yang mendung memberikan suatu pandangan bagi saya bahwa rumah ibadah -masjid di masa kini idealnya juga bisa melahirkan, membentuk pribadi-pribadi yang siap melakukan pekerjaan/karir ibadah sosial bagi sesamanya yang kurang beruntung. Masjid harus dikelola seperti sebuah ‘badan usaha’, ada pekerja ‘karir’ yang bertugas memakmurkan masjid dan digaji minimal sesuai standar UMR misalnya.

    Masjid juga seharusnya bisa memberi ruang untuk mereka yang terpinggirkan, mereka yang kumuh, yang papa. Ironis, ketika saya melewati sebuah masjid saat shalat Jum’at tiba. Seorang pemulung yang kumal hanya mendengarkan khutbah sambil duduk di bawah pohon yang berada di lingkungan masjid. “Mengapa bapak tidak ikut shalat?” Lelaki itupun menjawab bahwa ia tidak punya pakaian yang layak dan bersih untuk bisa bersama shalat dalam masjid yang megah itu. Bagaimana mungkin sebuah masjid yang besar tidak terpikirkan menyediakan seperangkat pakaian bersih untuk shalat, yang bisa dipinjamkan pada jamaah yang membutuhkan?

    Untuk siapakah masjid itu sebenarnya?

    ***

    Oleh: Meilany

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 27 May 2013 Permalink | Balas  

    sabar (1)Bukan Tamu Undangan

    Si musya menangis,terisak tertunduk ke arah tanah di plataran masjid,seolah olah dia sedang mengadu padanya “aku menyesal,aku telah lalai”..

    “Ada apa denganmu?” Sahut sahabatnya yang mengejar dibelakang,dengan raut wajah yang terlihat cemas dan ingin tahu.

    Musya, “Tidak kah kau dengar seruan adzan sebelum shalat tadi?”

    “Dengar, adakah yang salah?”

    Musya, “Tidak, hanya saja saat itu aku sedang asik dengan kemalasanku,mengulur waktu karena enggan menyambut seruannya”

    “Lalu?”

    Musya, “Ketika aku sampai di masjid dengan terburu-buru, kudapati sisa raka’at menghujung terakhir, sehingga aku mempercepat wudlu dan masuk dalam shaf dengan takbir asal-asalan dan kurang sempurna, oleh karena itulah ALLAH tidak ridho atas kedatanganku. DIA mengusirku dengan mengeluarkan hadats yg tak kuasa ku tahan, astaghfirullah, dan seketika itu aku sadar bahwa aku bukan tamunya maghrib ini. Aku tertolak, aku terbuang, tahu kah kamu rasanya diusir oleh orang yang paling kamu cintai lantaran kesalahanmu sendiri??”

    Sahabatnya hanya diam dengan mencoba merasakan apa yang dirasa si Musya.

    Musya, “Sangat menyedihkan kawan, bahkan saat itu kau sangat membenci dirimu sendiri!”

    ***

    Kumpulan humor “Gus Dur”

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 25 May 2013 Permalink | Balas  

    doaDarah Hitam

    Orang-orang terheran, bahkan menganggapnya gila.

    Bagaimana tidak, tangannya terluka dengan darah yang terus mengalir tapi diwajahnya tak teraut wajah ketakutan sedikitpun, melainkan sebuah senyum sumringah dengan mata yang berkaca-kaca..

    Maka seorang maju selangkah dari kerumunan orang-orang bisu itu, dan sepatah kata pertanyaan diucap dengan penuh penasaran.

    “Hei Hamka,bagaimana kau bisa melakukan itu?”

    Hamka: “Semua orang bisa melakukannya, yaitu ketika seseorang sangat bahagia karena mendapatkan apa yang sangat ia nantikan kedatangannya.”

    “Lalu apa yang kau nantikan sehingga kau tertawa dalam lukamu?”

    Maka Hamka menyodorkan tangannya yang terluka dan berkata “Lihatlah darah merah ini, sesungguhnya ia berwarna hitam yang terwarna dari makanan haram yang tak sengaja kumakan kemarin, maka aku bertaubat dan memohon ampunan kepada ALLAH yang maha bijaksana, sehingga ALLAH menerima taubatku hari ini dan mensucikan aku dengan mengeluarka darah yang tercemar dosa ini”

    “Lalu bagaimana kau tahu luka itu adalah ampunanNya?”

    Hamka: “Bukankah Rasulullah pernah bersabda bahwa ada ampunan disetiap kesakitan?!?!”

    Silahkan fikirkan hikmah kisah diatas sesuai fikiran masing-masing,agar hati terlatih dan peka akan suatu pelajaran.

    ***

    Dari: Kumpulan humor “Gus Dur”

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 22 May 2013 Permalink | Balas  

    hidayah-allahJalan Hidayah Mantan Bromocorah

    Lafadz shalawat terdengar berkumandang dari Mushala At Taubah. Bangunan ini berukuran 8×10 meter persegi terletak di perbatasan daerah Delima dan Teratai Putih, Perumnas Klender, Jaktim. Di sekitar mushala yang bediri di tanah milik Perumnas ini, terdapat rumah-rumah kumuh yang dihuni 20 keluarga.

    Mushala ini tidak pernah sepi dari agenda keagamaan. Sepintas, mushala ini tidak tampak istimewa. Padahal, tempat ibadah ini merupakan pelabuhan hidup bagi para mantan residivis dan mantan preman yang mendapatkan hidayah. Sebagian besar pengurus mushala ini adalah mereka yang dulu dunianya sangat kelam.

    Di mushala ini, mereka senantiasa menegakkan shalat lima waktu secara berjamaah. Mereka juga sering menggelar diskusi keagamaan untuk menyirami batin yang seringkali kering. Di mushala ini pula, para mantan ‘orang jahat’ itu menjalankan pendidikan Alquran untuk anak-anak yang tinggal di daerah kumuh dekat mushala.

    Kamis (5/3), Republika turut serta dalam majlis shalawat yang digelar di mushala itu. Jamaah yang hadir mayoritas pemuda jalanan. Meski begitu, mereka sangat khusyu dalam melafadzkan dan mengikuti bacaan shalawat selama dua jam lebih. Sesekali butiran air mata jatuh ke pipi mereka. Usai shalawat dan pembacaan doa, salah satu di antara mereka mengumpulkan uang dari para jamaah dengan peci yang dikenakannya.

    Menurut salah seorang pengurus mushala, Sukarya, dana yang terkumpul itu sebagian digunakan untuk pembangunan mushala dan sisanya diberikan kepada 135 anak yatim. Sukarya, dulunya sering berurusan dengan aparat kepolisian karena kasus perkelahian dan penodongan.

    ”Tadinya orang nggak percaya sama kami. Tapi, mungkin karena melihat kami sering bikin acara buat anak yatim, ada beberapa donatur dari luar yang menitip infak,” ungkap dia dengan wajah sumringah. Selanjutnya, Sukarya bercerita pengurus Mushala At Taubah ini dulunya adalah pemuda-pemuda yang gemar dengan alkohol dan sering membuat keresahan di masyarakat. Namun, sejak tujuh tahun silam, pemuda-pemuda ini aktif dalam majlis shalawat yang digelar di Masjid Nurul Iman, Teratai Putih, Klender.

    Namun, karena ingin memiliki tempat sendiri untuk berkumpul, para mantan residivis ini berusaha sekuat tenaga membangun mushala. Keinginan itu terwujud pada 2005. Apakah dana pembangunan mushala berasal dari uang haram? Sukarya menampik. Menurut dia, dana pembangunan sekitar Rp 20 juta diperoleh murni dari iuran dan satu orang donatur yang bekerja di Polairud di Surabaya.

    Awal proses pembangunan mushala ini, kata Sukarya, selain terbentur pada pengadaan dana, juga pernah bermasalah dengan Dinas Tata Kota Jaktim terkait penggunaan tanah. Namun, berkat bantuan tokoh masyarakat setempat, akhirnya proses pembangunan berjalan lancar. Untuk bisa iuran, jamaah mushala bekerja serabutan.

    Warga sekitar mushala, Bambang (50 tahun), mengaku sangat senang dengan keberadaan mushala baru di tempatnya. Selain mempermudah jarak untuk shalat jamaah, tempat tersebut juga bermanfaat sebagai tempat mengaji bagi anaknya.

    Firman Hidayat, salah satu pemuda yang aktif di Mushala At Taubah menceritakan, awal hadirnya shalawatan tersebut digagas oleh enam orang, di antaranya KH Ayip Abdul Abaz yang berasal dari Pesantren Buntet, Cirebon. Pada 1990, Kiai Ayip berniat mengadakan shalawat akbar berskala nasional di Masjid Istiqlal, namun kala itu yang hadir hanya enam orang.

    ”Mungkin merasa gak berkembang, Kiai Ayip akhirnya menyebarkan shalawat kepada pemuda-pemuda jalanan, ke terminal-terminal dan pasar-pasar. Akhirnya shalawat akbar tahun 2006 di Masjid Istiqlal dihadiri ribuan orang, dan sekitar 75 persennya mantan peminum dan pemuda jalanan,” kata Pema, sapaan akrab Firman.

    Firman yang kini berusia 34 tahun, semula sering keluar masuk penjara karena tindak kriminal yang dilakukannya. Sedikit pun dia dulu tidak pernah membayangkan mulutnya bakal bisa mengumandangkan ayat-ayat Alquran. Namun, ternyata pintu hidayah terbuka lebar untuknya. Begitu mendengar shalawat dan ayat-ayat yang berkumandang di masjid-masjid, hatinya luluh. Dia kemudian mulai aktif di Mushala At Taubah yang memang tidak jauh dari tempat tinggalnya. ”/Gue/ masih ingat, paling tidak sudah tiga kali keluar masuk LP Cipinang. Paling sering karena kasus pencurian dan kekerasan,” aku Pema.

    Perjalanan hidup yang hampir sama juga dilalui mantan pelaku kriminal asal Sunter, Jakut, Alova (40 tahun), yang ikut hadir dalam acara shalawat di mushala tersebut. Penasaran dengan alunan shalawat yang didengarnya, dia mengunjungi mushala tersebut untuk bergabung. Akhirnya hingga kini dia aktif mengembangkan majelis shalawat dan mengajak rekannya mendekatkan diri pada Allah.

    ”Waktu itu gue nggak tau ada brisik-brisik di mushala, ternyata pada shalawatan. Gue ikut dan hati gue tersentuh, sejak itu nggak mau jahat lagi,” tutur dia.

    Pengakuan serupa dikemukakan Sansan Sanro Roni (43 tahun). Selama bertahun-tahun dia selalu diajak bershalawat oleh adik dan rekannya. Namun, dia menolak dan lebih memilih menggeluti pekerjaannya sebagai pengecer judi togel. Sebelum sang adik mengembuskan napas terakhirnya di pangkuan Sansan pada Ramadhan 1427 H lalu, dia dihadiahi sebuah peci dan diminta untuk mencintai Nabi dengan mengikuti sunahnya. Kenang-kenangan itu ternyata sangat berkesan dan menuntun Sansan membaktikan dirinya pada aktivitas keagamaan.

    ”Sekarang bawaannya jadi /pengen/ memperdalam agama dan jadi benci banget sama minum dan judi,” kata pria asal Duren Sawit, Jaktim, itu.

    (mg01 )

    ***

    sumber : republika.co.id

     
    • wondo 6:49 am on 22 Mei 2013 Permalink

      Bisa kirimkan saya teks sholawatnya?? Trimakasih

  • erva kurniawan 1:34 am on 21 May 2013 Permalink | Balas  

    Taman-bungaKesempurnaan Hidup

    Suatu hari Kahlil Gibran bertanya kepada gurunya.

    “Gibran : Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup…???”

    “Sang Guru : Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali kebelakang…!!!”

    “Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Gibran kembali dengan tangan hampa…”

    “Lalu guru bertanya : Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun…???”

    “Gibran : Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya tapi aku tidak memetiknya karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yg lebih indah, namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali kebelakang lagi…!!!”

    “Sambil tersenyum Sang Guru berkata : Yaa, itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan…!!!”

    Sahabat yang budiman…

    Marilah kita sadari bahwa apa yang kita dapatkan hari ini adalah yang terbaik menurut Tuhan dan jangan pernah ragu, karena kesadaran itu akan menjadikan kita nikmat menjalani hidup ini… Aamiin… (sen)

    ***

    Sumber : Patut Anda Ketahui

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 16 May 2013 Permalink | Balas  

    hayyu qoyuumDua Nama yang Melumpuhkan Perih

    Ya Hayyu…Ya Qayyum…

    (Wahai Sang Maha Hidup Kekal… Wahai Sang Maha yang Senantiasa Mengurus Mahluk-Nya)

    Ia merintih. Ia memendam perih. Sebuah luka hampir saja meringkus jiwanya, melahap mimpi-mimpinya. Seorang laki-laki saleh nyaris luruh di dunia kuldesak (jalan buntu, red), dunia ketika jalan terasa gelap dan buntu. Matanya begitu pedih. Sebuah penyakit -yang entah apa- mengendap di kelopaknya. Tiga bulan sudah penyakit itu bersetia mukim di satu biji matanya.

    Bila rasa sakit itu meradang, ia menjerit-jerit. Serupa jeruk nipis bercampur garam dan cuka masam meresap ke dalam matanya. Ia merintih-rintih seraya melafal-lafal asma Allah, meminta belas kasih-Nya. Sudah sekian dokter ia datangi, telah sekian pula berita nihil didapatnya. Para dokter itu tak mampu mendiagnosa penyakitnya. Ia merasa hidupnya dan mimpinya dan jiwanya, lamat-lamat akan tenggelam di pusara sakit mata. Ia pun akhirnya bisa berdoa dan memunajatkan hati kepadaNya.

    Hingga pada satu momen, ia mulai bangkit kembali. Ia pergi ke sebuah rumah sakit dan didiagnosis oleh seorang asisten dokter bernama dokter Muhriz. Ternyata, jalan menumpas perih yang menjelaga di matanya belum juga berakhir. Seminggu selepas diidentifikasi sang dokter, ia hanya diberi resep guna meringankan rasa sakit yang dideranya. Ia pun terpaksa melewati hari dalam jeri, dalam cemas yang kelam. Kala itu, yang bisa dilakukannya hanya berdoa dan menzikir-zikir nama Allah.

    Dua bulan setelah itu, dokter Thuwaihi, dokter berpangkat profesor di sebuah fakukas kedokteran, bersama segenap mahasiswanya menjumpainya. Ia bermaksud mendeteksi penyakitnya sekaligus mengajarkan kepada mahasiswanya itu ihwal metode penyembuhan penyakit yang sudah lama mengendap di matanya.

    Saat itulah, sang Profesor menuturkan petuah sakti yang memasygulkan batinnya. “Daya lihat mata yang menderita penyakit seperti ini telah hilang secara total. Karena itu, kehadiran kita di sini sekadar membatasi pengaruhnya agar penyakit ini tidak menyebar ke mata yang satunya lagi, mata yang masih bisa melihat…”

    Kesimpulan sang Profesor kepada mahasiswanya itu kontan saja, mengiris-iris kalbu lelaki saleh ini. Ia seperti dilesakkan ke palung bumi yang paling gulita. Ia merasa benar-benar sendiri dan sepi. Air mata berderai-derai di pelupuknya. Betapa tidak! Seorang yang dipikirnya mampu mengusir ‘setan’ di matanya. malah melukai jiwanya. Saat itu, gejolak batinnya tidak lagi berwarna kelabu, tapi hitam pekat dan kelam. Maka Allah-lah menjadi sahabat sejatinya, menjadi tempat dia menumpahkan perih dan pedih.

    Beberapa hari kemudian, si Profesor dan gerombolan mahasiswanya kembali mengunjunginya. Kali ini, Profesor itu meletakkan sebuah mikroskop di atas matanya. Memantau kembali kelopaknya. Dan, tiba-tiba, Profesor itu terperanjat. Ia geleng-geleng kepada. Ia terkagum-kagum. “Demi Allah! Ini adalah mukjizat. Apa yang Anda perbuat hingga hal ini bisa terjadi? Mata Anda yang kemarin rusak, kenapa sekarang bisa pulih?” tanya Profesor penasaran.

    “Saya tidak melakukan apapun. Saya hanya terpengaruh ucapan Anda kemarin, sehingga saya menangis cukup lama. Namun demikian, harapan saya kepada Allah tidak pernah hilang, sebab kesembuhan semata-mata berasal dari-Nya,” jawab lelaki saleh itu penuh harap “Tampaknya, doa tulus Anda telah dikabulkan Allah”, Ujar Profesor penuh decak takjub.

    Begitulah, penuturan lelaki saleh bernama Ibrahim Muhammad Hasan Al-Jamal dalam bukunya yang bertajuk Al-istisyfaa’ bid Du’a (Meraih Kesembuhan dengan Doa -versi terjemahannya). Saya sengaja menuturkan kisahnya lantaran doa yang senantiasa dibacanya bukanlah doa yang panjang dan sulit dikenang-kenang. Doa itu Cuma dua nama Ilahi, Ya Hayyu dan Ya Qoyyum; dua nama yang berfaedah selaik dua “mantra’ ajaib yang dapat melumpuhkan perih dan pedih.

    Dan Ibrahim sendiri, hingga kini, tak menduga bila dua nama yang dianjurkan syekhnya itu bakal sedahsyat melampaui dokter dan profesor hebat yang dilaluinya. Tak aneh, dalam sabda Nabi Muhammad saw, dua nama Ilahi itu dijuluki Ismullah al-A’dzham (Nama Allah yang Paling Agung). Begini bunyinya:

    Rasulullah saw bersabda, ” Ismullah al-A’dzham yang jika digunakan untuk berdoa, maka Allah swt akan mengabulkan doanya, (yakni) yang terdapat dalam tiga surat Al-Qur’an: surat Al-Baqoroh, surat Al-Imron, dan surat Thoha (HR. Ibnu Majah, Hakim dan Thabrani)

    Setelah saya telusuri, tiga surat itu ada dalam ayat: Al-baqoroh ayat 255, Ali Imron ayat 2, dan Thoha ayat 111. khusus untuk ayat 255 surat Al-Baqoroh, dua nama Ilahi yang agung itu melekat dalam rangkaian bernama ayat Kursi, satu ayat yang saya yakin anda begitu fasih telah menghafalnya. Dan kita luput. Padahal bila ayat Kursi itu terasa panjang untuk dzikir-dzikir bibir, kita cukup menyebut-nyebut Ismullah al-A’dzham itu sebagai doa.

    Nah, ketika saya buka Tafsir Misbah, Prof. Dr. M Quraish Shihab seperti meneguhkan energi magis dua nama Allah yang agung itu.

    Bahwa tatkala membaca ayat Kursi, seseorang akan menyerahkan jiwa dan raganya kepada Allah swt. kepadaNya ia akan menghiba-hiba perlindungan. Dan saat itu, bisa jadi bisikan iblis melintas di dalam benaknya dan berkata “Yang dimohonkan pertolongan dan perlindungan itu memang dulu pernah ada, tetapi kini telah mati, Maka, penggalan ayat berikutnyalah yang meyakinkan ihwal kekeliruan bisikan makhluk terkutuk itu, yakni ayat berbunyi Al-Hayyu (yang Maha Hidup dengan kehidupan yang kekal). Namun imbuh Quraish, si iblis belum tentu menyerah begitu saja, ia bisa datang lagi guna menerbitkan waham dan prasangka seraya berkata, “Memang Dia hidup kekal, tetapi Dia pusing dengan urusan manusia, apalagi si pemohon. Pada titik krusial itulah, sepenggal ayat berbunyi “Qayyum’ (Sang Maha yang senantiasa menjaga makhluk-Nya) menampik bisikan dusta iblis itu.

    Dari sini saya mahfum kenapa Rasulullah saw, akhirnya memuji Abu Mundzir. Beliau bertanya, “Hai Abu Mundzir, tahukah kau ayat Al-Qur’an yang menurutmu paling agung?, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu., Rasulullah saw bertanya lagi. “Hai Abu Mundzir, tahukah kamu ayat Al-Qur’an yang menurutmu paling agung?, Abu Mundzir menjawab, “Yaitu ayat,,Dia-lah Allah, Tiada Tuhan selain Dia, Yang Hidup, Yang Berdiri Sendiri (Al-Hayyu, Al-Qayyum), Abu Mundzir kemudian berkata,, Kemudian Rasulullah saw menepuk dada saya seraya berkata, “Demi Allah, sungguh dalam ilmumu, wahai Abu Mundzir!,

    Karena itulah, mencermati dua nama agung tersebut, saya semakin yakin kenapa Ibrahim membacanya. Ia tahu bahwa perih yang mengendap di kelopak matanya bakal meringkus nafasnya. Maka, ia teringat nasehat gurunya untuk membaca Ismullah al-A’dzham itu. Pada dua nama inilah, cadangan asa yang dimilikinya menggeliat dahsyat: ya Hayyu dan ya Qayyum benar-benar serupa oase yang mempertahankan spirit hidupnya. Barangkali saat itu, Ibrahim sedang menghikmati apa yang dituturkan sufi Syekh Kabir bahwa “Nafas yang tidak menyebut-nyebut nama Allah adalah nafas yang sia-sia.,

    Dalam pada itu saya mencatat semangat penting ihwal sakit Ibrahim dan doa bernama Ismullah al-A’dzham ini.

    Suatu kali, filsuf masyhur bernama Socrates pernah berpesan: “Hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi, hanya ada satu tempat di dunia ini dimana manusia terbebas dari segala ujian hidup, yakni kuburan. Tanda manusia masih hidup adalah ketika ia mengalami ujian, kegagalan, dan penderitaan.,

    Dan Ibrahim, juga kisah orang-orang shaleh berabad-abad silam yang pernah memendam perih, saya kira sudah begitu lama menyerap petuah sang filsuf tersebut. Baginya, semangat hidup harus terus menyala meski dalam kondisi apapun. Ia tidak menjamah putus asa walau kondisi genting tengah menghimpitnya.

    Bahkan, ketika sebuah vonis sang profesor merajam qolbunya, ia masih bisa mengumpulkan energi harapan dengan doa Ismullah al-A’dzham. Ternyata, Ya Hayyu”Ya Qayyum itu benar-benar memberi kehidupan baru, benar-benar tak luput untuk menjaga dari segenap perih. Peristiwa Ibrahim semakin meyakinkan saya bahwa harapanlah, seberapapun bentuknya, yang membuat rasa sakit yang kita alami semakin melumpuhkan atau menyembuhkan.

    Dan harapan kecil yang meliputi jiwa Ibrahim itu bersenyawa dalam doa yang acapkali membasahi bibir dan hatinya. Tak aneh bila beberapa penelitian ilmuan barat mengungkap bahwa ada korelasi antara spiritualitas (doa) dan kesehatan fisik seseorang. David Larson misalnya, mengeluarkan statistik luar biasa untuk meyakinkan orang tentang pentingnya mempertimbangkan dimensi keagamaan. “sebanyak 90% orang Amerika percaya bahwa Tuhan dan atau berdoa dapat membantu mereka untuk sembuh dari penyakitnya”sementara orang yang tidak berdoa besar kemungkinan untuk bunuh diri”,

    Wajar bila ST. Agustinus, filsuf yang pernah berkubang dalam dunia jadah itu dalam karya bertajuk Confession, menyadari bahwa semakin dekat dengan Tuhan, maka kesengsaraan dan penderitaan dapat dilenyapkan. “Karena kemanapun jiwa manusia berpaling, kecuali jika berpaling kepada-Mu, ia akan terpancang kesedihan,, tegas agustibus ketika bersimpuh di hadirat Tuhannya.

    Di luar itu semua, jauh-jauh hari, Rasulullah saw, telah mengingatkan bahwa seorang muslim yang sakit dan menderita sebetulnya tengah menikmati betapa welas asih dan kasihannya Allah azza wa jalla. Dia yang Hayyu dan Qayyum, kata Nabi, tengah membersihkan jiwa hamba-Nya yang pekat oleh dosa. Lebih lengkap begini bunyi pesan Rasulullah saw

    Suatu kali Abdullah bin Mas’ud berkata: “Aku berkunjung ke rumah Rasulullah saw, ketika beliau tengah dilanda sakit parah. Kuusapkan tanganku pada tubuhnya seraya bertanya, “Ya Rasulullah, Anda menderita sakit parah? Rasulullah menjawab, “Ya, aku menderita sakit berat seperti sakitnya dua orang diantara kalian’. Aku bertanya kembali: “Apakah itu karena Anda mendapat dua kali lipat pahala?’ Rasul pun menjawab “Ya”, Lalu Rasulullah bersabda, “Tiadalah seorang muslim tertimpa rasa sakit melainkan dengan itu Allah menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.,

    Dapatkah anda membayangkan betapa sang Nabi Pamungkas nan mulia -yang dijanjikan Allah bebas dosa itu- masih menyadari segugus dosa-dosanya? Ia yang ma’sum itu masih bermunajat pada ilahi agar perih yang sedang menjalar di tubuhnya adalah penggugur dosanya.

    Dan kita? Semoga kita segera menyimpan rapat-rapat petuah itu di lubuk benak kita, agar kelak bila ada perih yang meluruh di tubuh kita, bukan hanya Ismullah al-A’dzham yang membadahi hati kita, tapi juga nasehatnya yang indah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 13 May 2013 Permalink | Balas  

    siluet harimauKisah Orang Shalih dan Harimau

    Ada seorang salih, ia mempunyai saudara (kawan) yang salih pula. Setiap tahun ia berkunjung kepadanya. Suatu hari ia mengunjunginya lagi, sampai ke rumah yang dituju pintunya masih tertutup. Ia ketuk pintu rumah itu. Dari dalam terdengar suara wanita: “Siapa itu?” Orang yang salih menjawab: “Aku, saudara suamimu. Aku datang untuk mengunjunginya, hanya karena Allah semata.”

    “Dia sedang keluar mencari kayu bakar,” balas istri sahabatnya. “Mudah-mudahan ia tidak kembali.” Lanjut wanita tersebut sambil terus bergumam memaki-maki suaminya.

    Ketika mereka sedang terlibat perbincangan, tiba-tiba orang yang salih itu datang sambil menuntun seekor harimau yang sedang membawa seikat kayu bakar. Begitu melihat saudaranya datang mengunjunginya, ia menghambur kepadanya seraya bersalaman.

    Kayu bakar itu lalu diturunkan dari punggung harimau tersebut. Katanya kemudian: “Sekarang pergilah kamu, mudah-mudahan Allah memberkahimu.”

    Orang yang salih itu (yakni yang empunya rumah) lalu mempersilakan saudaranya masuk. Sementara isterinya masih bergumam memaki-maki dirinya. Namun sebegitu jauh ia hanya berdiam, tanpa menunjukkan reaksi kebencian. Setelah terlibat perbincangan beberapa saat lamanya, hidangan keluar disuguhkan. Dilanjutkan berbincang-bincang hingga beberapa saat.

    Setelah itu saudaranya berpamitan dengan menyimpan kekaguman yang sangat berkesan. Ia sangat kagum sebab saudaranya sanggup menekan kesabarannya menghadap isteri yang begitu cerewet dan berlidah panjang.

    Tahun berikutnya ia berkunjung lagi. Sampai di depan pintu ia mencoba mengetuknya. Isterinya keluar dan menyapa: “Tuan siapa?”

    “Aku adalah saudara suamimu,“ balasnya. “Kedatanganku ini semata untuk mengunjunginya”

    “Oh, selamat datang, tuan” kata isteri saudaranya seraya mempersilahkan masuk penuh keramahan. Tidak begitu lama saudara salih yang ditunggunya tiba juga sambil memanggul seikat kayu bakar. Mereka segera terlibat perbincangan sambil menikmati hidangan yang disuguhkan.

    Setelah semuanya dirasa cukup, dan ketika ia hendak kembali, ia sempatkan bertanya tentang beberapa hal. Bagaimana dahulu ia dapat menundukkan seekor harimau dan mau diperintah membawakan kayu bakar. Sedang sekarang ini ia hanya datang sendirian sambil memanggul kayu bakar.

    “Kenapa bisa begitu?” tanya saudaranya.

    Saudaranya menjawab: ”Ketahuilah saudaraku, isteriku yang dahulu berlidah panjang itu sudah meninggal. Sedapat mungkin aku berusaha bersabar atas perangai buruknya. Sehingga Allah memberi kemudahan diriku untuk menundukkan seekor harimau, sebagaimana pernah kau lihat sendiri sambil membawa kayu bakar itu. Semuanya terjadi lantaran kesabaranku padanya. Lalu aku menikah lagi dengan perempuan yang shalihah ini. Aku sangat gembira mendapatkannya. Maka harimau itupun dijadikan jauh dariku, karena itu aku memanggul sendiri kayu bakar itu, lantaran kegembiraanku terhadap isteriku yang shalihah ini.”

    ***

    by: Lintas Islam

    Diambil dari kitab UQUD AL-LUJAIN FIY BAYAANI HUQUQ AL-ZAUJAIN, karya Syekh Nawawi Al Bantani.

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 11 May 2013 Permalink | Balas  

    angkot bogorSebuah Kisah Nyata Tentang Kebaikan

    Suatu hari saya naik angkutan kota dari Darmaga menuju Terminal Baranangsiang, Bogor. Pengemudi angkot itu seorang anak muda. Di dalam angkot duduk 7 penumpang, termasuk saya. Masih ada 5 kursi yang belum terisi.

    Di tengah jalan, angkot-angkot saling menyalip untuk berebut penumpang. Tapi ada pemandangan aneh. Di depan angkot yang kami tumpangi, ada seorang ibu dengan 3 orang anak remaja berdiri di tepi jalan. Tiap ada angkot yang berhenti dihadapannya, dari jauh kami bisa melihat si ibu bicara kepada supir angkot, lalu angkot itu melaju kembali.

    Kejadian ini terulang beberapa kali. Ketika angkot yang kami tumpangi berhenti, si ibu bertanya: “Dik, lewat terminal bis ya?”, supir tentu menjawab “Ya”. Yang aneh si ibu tidak segera naik. Ia bilang ” Tapi saya dan ke 3 anak saya tidak punya ongkos.” Sambil tersenyum, supir itu menjawab “Gak pa-pa Bu, naik saja”, ketika si Ibu tampak ragu2, supir mengulangi perkataannya “ayo bu, naik saja, gak pa-pa ..”

    Saya terpesona dengan kebaikan Supir angkot yang masih muda itu, di saat jam sibuk dan angkot lain saling berlomba untuk mencari penumpang, tapi si Supir muda ini merelakan 4 kursi penumpangnya untuk si ibu & anak-anaknya.

    Ketika sampai di terminal bis, 4 penumpang gratisan ini turun. Si Ibu mengucapkan terima kasih kepada Supir. Di belakang ibu itu, seorang penumpang pria turun lalu membayar dengan uang Rp. 20 ribu.

    Ketika supir hendak memberi kembalian (ongkos angkot hanya Rp.4 ribu) Pria ini bilang bahwa uang itu untuk ongkos dirinya dan 4 penumpang gratisan tadi.

    “Terus jadi orang baik ya, Dik ” kata pria tersebut kepada sopir angkot muda itu.

    Sore itu saya benar-benar dibuat kagum dengan kebaikan-kebaikan kecil yang saya lihat. Seorang Ibu miskin yang jujur, seorang Supir yang baik hati dan seorang penumpang yang budiman. Mereka saling mendukung untuk kebaikan.

    Andai separuh saja bangsa kita seperti ini, maka dunia akan takluk oleh kebaikan kita!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 5 May 2013 Permalink | Balas  

    uluran tanganArti Sebuah Sepi

    Oleh Febty Febriani

    Malam itu untuk kesekian kalinya aku berada di tempat itu. Sebuah tempat yang jaraknya tidak cukup jauh dengan letak kantorku. Namun, karena rute angkot di kota Kembang, maka untuk menuju ke tempat itu tidak cukup hanya dengan menggunakan satu kali angkot, harus dua kali.

    Tidak sengaja awalnya aku berada di tempat itu, setiap seminggu sekali selepas jam kerja. Aku ke tempat itu tidak sendirian. Selalu berdua bersama teman kantorku, aku berkunjung ke tempat itu. Dialah yang pertama kali mengajakku untuk berada di tempat itu seminggu sekali, meluangkan waktu istirahatku sekitar dua jam dalam seminggu. Ketika dia pertama kali bercerita tentang tempat itu dan kemudian mengajakku untuk berkunjung rutin ke tempat itu, aku tertarik dengan ajakannya. Suatu kegiatan yang aku pikir bisa membuatku terbebas sejenak dari semua hal yang berbau rutinitas dan kepenatan.

    Biasanya, kami lebih suka menggunakan satu kali angkot saja. Konsekuensinya, perjalanan kami ke tempat itu harus di awali dengan berjalan kaki dulu. Tidak lama, kira-kira lima belas menit dengan berjalan santai. Hal ini bukan sebuah keterpaksaan untuk kami. Rasanya, pilihan berjalan kaki adalah sebuah pilihan yang bisa sekedar menggerakan otot-otot kaki kami. Pilihan yang sehat, bukan?

    Malam itu, sama seperti malam-malam yang lain pada minggu-minggu yang lalu, aku berada di sebuah ruangan yang cukup luas di tempat itu. Mungkin ruangan itu adalah ruangan semacam aula. Di sebuah pojok dari ruangan itu, aku bersama lima orang anak

    Pojok ruangan itu adalah tempat favorit kami berenam, sejak pertemuan pertama kami: empat orang anak putri, seorang anak laki-laki dan aku. Kelimanya berusia sekitar kurang lebih 12 tahun. Sekarang, semuanya duduk di kelas enam sekolah dasar. Di tempat itu, mereka sendirian. Terpisah dari orang-orang yang mereka cintai. Keluarga mereka. Kedua orang tua mereka. Adik dan kakak mereka. Bagi mereka, orang tua adalah para bapak dan ibu yang mengasuh mereka di tempat itu. Kakak mereka adalah saudara-saudari mereka yang juga berada di tempat yang berusia lebih tua dari mereka. Adik mereka adalah saudara-saudari mereka yang berusia lebih muda dari mereka. Sebuah keluarga yang mereka temukan ketika di usia belasan tahun.

    Biasanya, sekitar dua jam, kami akan belajar matematika, sebuah pelajaran yang mungkin masih menjadi momok bagi anak-anak seusia mereka. Kami sudah membuat kesepakatan bersama. Pokok bahasan matematika setiap pertemuan kami ditentukan oleh kelima anak itu secara bergiliran. Biasanya, mereka akan bertanya tentang hal-hal yang belum mereka mengerti. Dan tugasku mendampingi mereka untuk bisa mengerti pokok bahasan-pokok bahasan yang belum mereka mengerti secara detail. Walaupun, kegiatan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaanku sehari-hari tapi kegiatan ini adalah kegiatan yang menyenangkan untukku. Bisa sejenak masuk ke dunia mereka yang senantiasa berwarna pelangi. Juga, sebuah sarana untuk belajar menjadi ibu dalam arti sesungguhnya.

    Malam itu tidak seperti malam-malam sebelumnya. Malam itu, kami hanya belajar dua soal matematika. Itupun soal-soal yang aku berikan sebagai bentuk pekerjaan rumah untuk mereka. Beberapa anak mulai menguap. Mungkin, mereka sedang capek. Atau juga, mungkin, mereka sedang bosan berhadapan dengan rumus-rumus yang njelimet.

    Kebosanan memang milik siapa saja, tidak mengenal umur. Pun juga, milik mereka.

    Akhirnya, sisa pertemuan malam itu, kami manfaatkan dengan dongeng bersama. Itupun mereka yang meminta. Mulailah aku mendongeng beberapa cerita yang masih berada di memoriku. Dongeng malam itu kuawali dengan dongeng sebuah cerita moral. Kemudian, suasana malam itu berjalan seperti air mengalir. Mereka yang meminta, aku yang mendongeng. Mereka meminta cerita Nabi Yunus a. S, akupun mulai bercerita. Mereka meminta cerita Nabi Musa a. S, akupun mulai memenuhi keinginan mereka. Dan akhirnya, mereka juga berani bercerita kepada kawan-kawannya sendiri. Suasana di pojok ruangan itu pada malam itu mulai hangat dan akrab.

    Tak terasa, malam sudah beranjak. Waktu pertemuan kami malam itu sudah hampir sekitar dua jam Dan acara mendongeng dan berceritapun selesai sudah.

    ***

    Mengingat mereka sering terfikir di benakku. Apakah mereka masih mengenal kasih yang yang utuh dari kedua orang tua mereka? Dari ibu kandung mereka? Dari bapak kandung mereka? Dari kakak atau adik kandung mereka? Seusia sekecil itu mereka sudah harus berpisah dari keluarga yang mungkin sangat mereka sayangi. Dengan jarak beratus-ratus kilometer, atau mungkin bahkan lebih.

    Mengingat mereka sering terfikir di benakku, seperti apakah wujud tangis kerinduan mereka pada ibu yang melahirkan mereka, pada bapak yang mengadzani dan mengiqamahi pada kedua telinga mereka, serta pada kakak dan adik yang memanggil mereka dengan panggilan sayang? Aku mengenal betul sebuah tangis kerinduan pada keluarga yang kita cintai. Tujuh tahun berpisah dengan orang-orang yang aku cintai, cukup sudah mengajarkan padaku sebuah kata yang bernama kerinduan. Aku bisa mengungkapkan tangis kerinduan itu dengan menelepon atau mengsms orang-orang yang aku cintai. Namun, untuk mereka dalam bentuk apakah wujud kerinduan itu harus terungkap?

    Mengingat mereka sering terfikir di benakku, seperti apakah wujud pembunuh rasa sepi yang mungkin senantiasa hadir di hari-hari mereka? Rasa sepi karena seusia sekecil itu mereka tidak lagi mendapatkan sentuhan kasih sayang dari tangan seorang ibu. Rasa sepi karena seusia sekecil itu mereka harus berpisah dengan bapak tercinta. Rasa sepi karena mereka harus berada jauh dari kakak dan adik mereka. Rasa sepi karena ketidakhadiran seorang ibu yang membangunkan mereka, menyiapkan baju sekolah, menyiapkan sarapan, mengantar mereka ke sekolah dengan lambaian tangan kasih sayang, menemani mereka belajar, dan mendongeng untuk mereka menjelang tidur. Juga rasa sepi karena ketidakhadiran seorang ayah yang mengajak mereka jalan-jalan, merayakan ulang tahun mereka, memberikan untuk mereka hadiah kenaikan kelas dan membelikan baju atau peralatan sekolah untuk mereka.

    Mengingat mereka sering terfikir di benakku, apakah ketika usia dewasa mereka juga akan mengenal konflik dengan kedua orang tua karena sesuatu hal yang terkadang disebabkan oleh keegoisan kita yang tidak mau mengalah sejenak pada kedua orang tua kita? Aku jadi teringat pada teman-teman yang sering bercerita tentang konflik yang mereka hadapi dengan kedua orang tua mereka. Dan sepertinya tidak ada yang menyalahkan diri sendiri karena konflik itu. Kita teramat sering mengarahkan telunjuk kesalahan itu kedua orang tua kita. Akupun juga tidak terbebas dari kondisi ini. Sekitar lima tahun yang lalu, aku juga menyalahkan kedua orang tuaku yang tidak mengizinkanku berjilbab, ketika aku memutuskan untuk mengenakannya. Keegoisanku juga yang membuat ada jarak antara diriku dengan kedua orang tuaku saat itu.

    Aku jadi teringat dengan perkataan seorang teman. Bersyukurlah masih punya orang tua. Jadi yatim piatu kayak aku gak enak lho. Sunyi. Itu kata-katanya padaku saat itu. Kata-kata itu mungkin hadir dari hatinya yang paling dalam, wujud kerinduannya pada kedua orang tuanya yang telah meninggalkannya lebih dahulu menuju ke rumah abadi. Rasanya, sekarang, aku pun juga sependapat dengan pendapatnya. Kita memang patut bersyukur pada Allah karena masih diberi kesempatan oleh-Nya melewati hari-hari kita bersama dengan orang-orang yang kita cintai. Kedua orang tua. Kakak kita. Adik kita. Keluarga besar kita. Ternyata, kesempatan itu tidak dimiliki oleh setiap orang. Kelima ’adik kecilku’ di atas, contohnya.

    ***

    Bandung, Maret 2006

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 24 April 2013 Permalink | Balas  

    cahaya-kebenaranDi Bengkel Itu Ada Ayat Allah

    Oleh: Ahmad Syafii Maarif

    Jika orang punya mata batin yang tajam dan rindu menemukan ayat-ayat Allah, yang tersebar di mana-mana, tak usahlah menguasai teori Big Bang (Ledakan Dahsyat). Atau harus paham karya fisikawan invalid Inggris, Stephen Hawking – A Brief History of Time – yang belum tentu mudah dicerna.

    Ayat Allah dapat dijumpai pada peristiwa atau fenomena alam atau sosial yang sifatnya sangat sederhana. Bisa diamati pada air serasah yang terjun, pada semut yang beriring, pada lebah yang bergantungan, pada bunyi siamang ketika subuh, atau pada kicau murai di pagi hari. Juga pada dengungan kipasan sayap enggang saat terbang tinggi, pada percakapan seorang bocah dengan orangtuanya, serta pada sikap Pak Bengkel yang lugu, tulus, dan murah hati.

    Kepatuhan alami

    Demikianlah di hari Natal lalu, 25 Desember 2012, menjelang dzuhur saya bersepeda di kitaran Desa Trihanggo, Sleman, Yogyakarta, untuk mencari onderdil komponen rantai sepeda yang harus segera diganti. Jika tuan dan puan melewati jalan Kabupaten Sleman dari Jalan Godean mengarah ke utara, dalam jarak sekitar 2 kilometer akan dijumpai pohon beringin besar, persis di persimpangan empat jalan. Melaju ke arah timur pada jarak sekitar 1 kilometer di kanan jalan sebelum jembatan, ada bengkel sepeda yang laris dikunjungi langganannya. Di bengkel inilah saya memerhatikan ayat Allah dalam dua fenomena sederhana yang saling berkaitan. Keterkaitan itu tampak terjalin akrab sekali.

    Ada seorang ayah bersama anak perempuannya yang masih belajar di taman kanak-kanak milik A’isyiyah sedang mengganti pedal sepeda bocah ini yang tak lagi bisa dipakai. Warna pedal itu dipilih yang merah jambu agar serasi dengan warna sepedanya. Saya perhatikan baik-baik tingkah bocah alit itu, tampaknya bahagia sekali karena pedal sepedanya diganti dengan yang baru. Sebuah kebahagiaan yang sangat tulus dari sebuah keluarga kebanyakan.

    Tiba-tiba penjaja es krim lewat. Si bocah minta kepada ayahnya agar dibelikan es kesukaannya itu. Ayahnya, dalam bahasa Jawa, dengan lembut menjawab, ”Marahi watuk (bisa menyebabkan batuk).”

    Si bocah sama sekali tidak berontak agar ayahnya memenuhi juga permintaannya. Tak ada rengut, tak ada gerutu. Malah bocah ini senyum-senyum sambil dengan lincah mengitari ayahnya. Bukankah sebenarnya seorang bocah sulit sekali dipisahkan dengan es krim?

    Dalam batin saya menduga bahwa suasana rumah tangga keluarga bocah ini tenteram sekali. Ayat Allah terlihat pada sikap ayah yang lembut terhadap anak dan sikap anak yang patuh kepada orangtua: sebuah kepatuhan alami hasil didikan dini yang teratur dan santun.

    Tidak mudah ditemukan di kawasan modern buah didikan anak semacam ini. Kegirangan bocah ini kian memuncak ketika ayahnya melengkapi sepedanya dengan sebuah bel yang dipasang pada bagian kanan setang. Untuk keseluruhan ongkos plus onderdil, Pak Bengkel cuma meminta Rp 25.000, sebuah angka kacang goreng di kawasan kota.

    Sikap Pak Bengkel yang satu ini tak kurang memukau untuk dicatat. Semua serba murah. Ada lagi seorang laki-laki setengah baya (rupanya kenal dengan saya) menambalkan ban sepeda motornya yang bocor. Setelah rampung, Pak Bengkel saya tanya berapa ongkosnya. Dijawab, antara Rp 5.000 dan Rp 6.000, padahal pengerjaannya cukup lama karena karet penambal ban harus dipanaskan lebih dulu.

    Sekarang tibalah giliran sepeda saya ganti onderdil. Kebetulan barang yang diperlukan tersedia. Ada dua yang boleh diganti. Pak Bengkel bertanya, apakah diganti satu atau dua sekaligus? Jawab saya: mana yang baiklah. Lalu diperiksa: cukup satu saja, katanya. Tak terbetik pada pikiran Pak Bengkel untuk melariskan barang dagangannya, toh, saya tidak akan bertanya jika keduanya diganti.

    Setelah rampung, ongkos plus harga onderdil yang diminta hanya Rp 5.000. Saya terkejut, mengapa terlalu murah, di mana ongkos teknisi dan keringat? Tentu secara moral saya tidak boleh hanya memberi ongkos hanya sejumlah yang diminta.

    Di luar pola umum

    Sebagai bengkel yang laris, saya tanya mengapa tidak sekalian jualan bensin. Jawab Pak Bengkel polos: agar berbagi rezeki dengan tetangga yang punya kedai bensin, sekalipun banyak orang menanyakan BBM itu kepadanya.

    Pada sikap Pak Bengkel ini jelas sekali terbaca ayat Allah: rezeki teman jangan direbut, sekalipun peluang untuk menambah pendapatan terbuka lebar. Kearifan Pak Bengkel ini adalah penyimpangan dari pola umum yang sedang berlaku di Indonesia: saling menelikung, saling gasak, dan jika perlu saling menghancurkan demi berebut rezeki.

    Perkara haram atau halal sudah berada di luar pertimbangan. Kultur Pak Bengkel yang masih bebas dari pencemaran ini mungkin merupakan sisa-sisa sifat asli Indonesia yang belum tergerus oleh ganasnya sisi buruk proses modernisasi.

    ***

    Ahmad Syafii Maarif, Pendiri Maarif Institute

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 15 April 2013 Permalink | Balas  

    pengantin muslimKisah Pengantin Wanita

    Kisah nyata yang diceritakan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al Ahmad ini terjadi di Abha, ibu kota Provinsi Asir Arab Saudi.

    “Setelah melaksanakan shalat Maghrib dia berhias, menggunakan gaun pengantin putih yang indah, mempersiapkan diri untuk pesta pernikahannya. Lalu dia mendengar azan Isya, dan dia sadar kalau wudhunya telah batal.

    Dia berkata pada ibunya : “Bu, saya mau berwudhu dan shalat Isya.”

    Ibunya terkejut : “Apa kamu sudah gila? Tamu telah menunggumu untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu? Semuanya akan terbasuh oleh air.”

    Lalu ibunya menambahkan : “Aku ibumu, dan ibu katakan jangan shalat sekarang! Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, ibu akan marah kepadamu”

    Anaknya menjawab : “Demi Allah, saya tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga saya shalat. Ibu, ibu harus tahu “bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Pencipta”!!

    Ibunya berkata : “ Apa yang akan dikatakan tamu-tamu kita tentang mu, ketika kamu tampil dalam pesta pernikahanmu tanpa make-up?? Kamu tidak akan terlihat cantik dimata mereka! dan mereka akan mengolok-olok dirimu !

    Anak nya berkata dengan tersenyum : “Apakah ibu takut karena saya tidak akan terrlihat cantik di mata makhluk? Bagaimana dengan Penciptaku? Yang saya takuti adalah jika dengan sebab kehilangan shalat, saya tidak akan tampak cantik dimata-Nya”.

    Lalu dia berwudhu, dan seluruh make-up nya terbasuh. Tapi dia tidak merasa bermasalah dengan itu.

    Lalu dia memulai shalatnya. Dan pada saat itu dia bersujud, dia tidak menyadari itu, bahwa itu akan menjadi sujud terakhirnya.

    Pengantin wanita itu wafat dengan cara yang indah, bersujud di hadapan Pencipta-Nya.

    Ya, ia wafat dalam keadaan bersujud. Betapa akhir yang luar biasa bagi seorang muslimah yang teguh untuk mematuhi Tuhannya!

    Banyak orang tersentuh mendengarkan kisah ini. Ia telah menjadikan Allah dan ketaatan kepada-Nya sebagai prioritas pertama.

    “Subhanallah”

    ***

    Dari: Andrian Jumari

     
  • erva kurniawan 2:04 am on 12 April 2013 Permalink | Balas  

    siluet-muslimah-laut-biru-soreMeja Telepon Ibu

    Oleh: Siti Horiah (Mahasiswa Program Studi Teknik Nuklir 2012)

    Disudut ruang tamu kami, yang luasnya tidak lebih dari 4m2 itu terletak sebuah meja kecil berwarna hitam. Meja itu adalah sebuah meja telepon rumah yang sudah beralih fungsi sebagai meja belajarku. Meja itu adalah satu-satunya meja yang ada di rumah kami, meja yang sampai saat ini masih dibiarkan ibuku tetap berdiri tegak dan masih tetap berada dirumah kami dengan sebuah alasan yang tak aku ketahui.

    Beginilah kondisi rumah kami setelah peristiwa kebangkrutan usaha ayahku. Demi menyambung nyawa keluarga kami, ibu rela menjual barang-barang berharga yanga ada di rumah kami pada tetangga sekitar. Ibuku tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membeli beras. Beliau menjual satu persatu barang-barang berharga kami, setiap kali datang waktu makan. Mulai dari beberapa pakaian ibuku yang paling beliau suka, alat-alat dapur seperti gelas, piring, panci, dispenser, bahkan sendok dan garpu pun ikut habis terjual.

    Ayahku tidak dapat berbuat banyak setelah peristiwa kebangkrutan usahanya. Beliau hanya mampu menjadi kuli dipasar tradisional di kota kami. Upah yang dia terima tidak mampu menutupi kebutuhan keluarga besar kami.

    ***

    Suatu siang, aku melihat adikku Rafi menangis sambil menghampiri ibu yang sedang duduk lemas menonton tv tanpa antena itu. Aku memperhatikan gerak-gerik ibu yang kepanikan, beliau tidak ingin membiarkan Rafi adikku menangis terlalu lama.

    “ibu, ibu aku lapar!” jerit Rafi.

    Ibu yang tak bisa berkata apa-apa langsung pergi menuju dapur, mengambil beberapa piring. Aku pun terus memperhatikan gerak-gerik ibu. Aku heran apa yang akan ibu lakukan dengan kelima buah piring itu. Sempat aku berpikir kalau ibu akan mengambilkan nasi untuk Rafi, namun aku teringat kalau dari kemarin aku belum memasak nasi untuk keluarga kami. Dengan masih tetap memperhatikannya dari balik pintu, aku melihat air mata ibuku jatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat, namun dengan cepat beliau langsung menghapusnya takut-takut kalau air matanya akan terlihat olehku. Aku pura-pura tidak sadar dengan apa yang ibu lakukan didapur, aku menyibukan diriku dengan menggendong dan menimang Rafi agar dia tidak menangis.

    Kubiarkan ibu dengan kesibukannya, kulihat beliau keluar rumah dengan kelima piringnya itu. Tak beberapa lama kemudian beliau kembali dengan uang ribuan yang lusuh sebanyak lima lembar. Aku terheran-heran atas apa yang ibu lakukan. Ibu langsung menyuruhku pergi kewarung membeli setengah liter beras, dan satu butir telur. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung pergi menuruti perintah ibu.

    Aku kembali dengan apa yang ibu minta dan ibu langsung menyuruhku memasaknya. Ibu menyuruhku membuat telur dadar dengan mencampurkan telur itu dengan terigu, agar satu telur itu menjadi besar dan cukup untuk dimakan oleh kami bersembilan. Aku menarik napas dalam-dalam, air mataku pun tak kuat dibendung, menetes jatuh. Aku tak kuat menahan ini semua, bagaimana tidak, setiap harinya kami hanya makan satu kali sehari. Berbagi setengah liter nasi untuk sembilan orang, satu butir telur saja harus dibagi sembilan, sering kamipun membagi 2 bungkus mie instans untuk sembilan orang. Terkadang ayah memilih pergi dari rumah saat tiba waktu makan, beliau pergi sambil menitip pesan padaku agar jatah makanannya diberikan pada adik-adikku saja.

    Ibu sangat sayang pada kami, beliau tidak pernah membagi penderitaanya pada kami semua. Selagi ayah menjadi kuli dipasar, ibu selalu menggantikan peran ayah. Ibu tak pernah terlihat sedih dengan penderitaanya. Ibu rela berkorban demi kami semua. Ibu rela menjual tempat tidurnya dan memilih tidur dilantai dengan beralaskan kasur yang tipis saja.

    Hampir seluruh barang berharga dirumah kami terpaksa beliau jual, demi menutupi pendapatan ayah yang besarnya tak kurang dari sepuluh ribu rupiah. Hanya satu buah meja telepon yang ibu sisakan diruang tamu kami. Aku heran kenapa ibu tidak pernah mau menjual meja tersebut, beliau lebih memilih menjual beberapa pakaiannya ketimbang menjual meja tersebut. Sampai pada saatnya aku tak sanggup melihat pakaian terbaik ibu harus ikut terjual, akupun menawarkan meja telepon itu untuk dijual pada ibu. Namun ibu menolak dengan kata-kata yang membuatku menangis sendiri.

    “Selapar apapun kita nanti, ibu tidak akan menjual tempat yang kau gunakan untuk mengantungkan cita-citamu itu nak, pakailah terus meja itu.” Ungkapnya sambil pergi kerumah tetangga untuk menjual baju terbaiknya selama ini, demi sepiring nasi untuk keenam adikku.

    Aku lemas mendengarnya, jadi selama ini ibu tidak mau menjualnya hanya karena aku sering memakai meja yang panjangnya tidak lebih dari 30 cm itu untuk belajar. Aku tersadar selama ini aku memang selalu menggunakan meja itu untuk belajar karena itu adalah satu-satunya meja yang ada dirumah kami.

    Itulah kondisi yang selama ini aku alami, tak ada yang bisa aku lakukan banyak ketika itu. Saat itu kondisinya aku sedang duduk dikelas tiga. Ditengah kondisi seperti ini aku harus tetap berjuang untuk bisa lulus SMA. Setiap malam aku bangun untuk belajar dan mengerjakan tugas, aku menggunakan meja telepon itu sebagai alasku belajar. Terbayang betapa menderitanya belajar di atas meja yang luasnya lebih kecil dari luas buku tulisku. Namun tidak ada pilihan lain bagiku, aku tak mampu menunduk lama untuk belajar bila memilih belajar diatas lantai yang dingin. Meja itu adalah teman terbaik bagiku. Dia selalu menemaniku dimalam hari disaat semua orang terlelap, aku harus bangun untuk belajar. Semua itu aku lakukan karena aku tidak memiliki waktu disiang hari untuk belajar.

    Benar kata ibuku meja itu adalah tempat aku menggantungkan semua cita-citaku. Tempat aku memulai perubahan pada hidup keluargaku. Ibuku berharap besar padaku, karena aku adalah anak pertama. Jadi setelah aku lulus SMA nanti aku bisa langsung bekerja, dan ibu optimis terhadap diriku kalau aku nanti akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena ibu tahu aku termasuk murid yang berprestasi disekolah.

    Tanpa disadari aku memang menyayangi meja kecil hitam itu, meja itu selalu aku bersihkan setiap harinya, walaupun meja itu kecil dan sempit tapi aku masih bersyukur bisa tetap menulis diatas meja. Meja itu adalah satu-satunya tempat aku berbagi rahasia, tempat aku mengukir sebuah mimpi. Hanya meja itu yang menjadi saksi kalau aku memiliki sebuah mimpi yang selama ini aku rahasiakan dari dunia.

    Aku punya sebuah mimpi yang benar-benar tidak bisa aku ungkapkan pada siapapun. Aku takut kalau mimpiku yang satu ini kuberitahu pada orang tuaku itu akan menjadi beban padanya, kalau aku beritahu pada teman-teman atau orang banyak aku takut mimpiku yang ini akan ditertawakan mereka. Jadi selama ini hanya meja kecil ini yang bersaksi kalau aku sering mengukir sebuah nama Universitas yang aku impikan pada catatan sekolahku. Ya, mimpiku yang tidak dapat aku beritahukan kepada siapa pun termasuk orang tuaku sendiri adalah duduk di bangku KULIAH.

    Sebenarnya setiap kali orang tuaku membahas tentang pekerjaan yang nantinya aku lakoni setelah lulus SMA, hati kecilku menangis merintih tak terdengar siapapun.

    “ayah, mama, aku gak mau kerja aku mau kuliah kaya temen-temen, aku mau masuk UGM aku mau ke Jogja, aku gak bisa KERJA!” jerit hati kecil ini.

    ***

    Saat-saat seperti ini semua teman-temanku sibuk mencari tempat bimbel yang terbaik dikota kami, sebagai salah satu persiapan sebelum menghadapi SNMPTN. Bagi seorang Siti Horiah jangankan mengikuti program bimbel, buku paduan SNMPTN saja tak punya. Aku tak pernah memiliki niat untuk membeli buku SNMPTN yang harganya selangit itu. Untuk makan adik-adiku saja setiap subhu aku dan ibu masih harus keliling pasar untuk menjajakan kue cucur buatan ibuku. Bagaimana aku mau menabung, uang jajan yang ibu berikan itu hanya sebesar tiga ribu rupiah saja, itupun hanya cukup untuk ongkos naik angkutan umum. Kalau kue kami tidak terjual satupun itu berarti aku harus berjalan kaki sejauh 3 km untuk sekolah. Aku tak sanggup meminta uang sepeserpun unutuk membeli buku SNMPTN pada ayahku yang menjadi kuli dipasar, apalagi berkata pada ayah kalau aku ingin kuliah ke JOGJA. Sudahlah bagiku kuliah adalah mimpi-mimpi basi seorang siswa SMA kelas 3 seperti aku ini.

    Itulah sebabnya aku menyembunyikan mimpi besar hidupku ini dari orang banyak. Bagiku mimpi ini hanya akan menjadi pisau kecil bagi keluarga kami. Mimpi yang akan menusuk dan mengiris perasaan kedua orang tuaku. Tak pernah sekalipun aku berniat untuk mengkhayal menduduki bangku kuliah. Aku takut kalau kedua orang tuaku tahu tentang mimpi ini, mereka pasti akan merasa kalau mereka bukan orang tua yang baik, orang tua yang tidak bisa membahagiakan anak-anaknya. Biarlah mimpiku yang ini hanya aku, meja kecil itu dan Tuhan yang tahu.

    ***

    Sahabatku Ana selalu ada untukku, memberika support. Cita-citanya menjadi dokter membuat aku tersenyum miris sendiri. Aku selalu berpikir kenapa aku tidak seberani dirinya bermimpi dan bercita-cita. Namun aku sadar aku tidak seperti dirinya, aku bukan anak siapa-siapa yang boleh bermimpi setinggi itu. Kalau kata adikku yang pertama “MIMPI ITU MAHAL KAK!” buat bermimpi saja itu sulit apa lagi merealisasikannya pada kenyataan. Sesulit itukah bermimpi pikirku kalau mimpi saja dianalogikan dan disamakan dengan kata mahal. Kata-kata yang membuat keluarga miskin seperti kami gempar mendengarnya. Kata mahal itu bagi kami berarti mustahil dijangkau. Maklumlah, bagi keluarga miskin seperti kami harga sebutir telur naik seratus rupiah pun sudah membuat kepala ayahku sakit.

    Saat aku berkunjung kerumah Ana, orang tuanya memberikanku uang sebesar seratus ribu rupiah. Tanganku gemetar menerimanya. Orang tua Ana memberikan uang itu untuk aku gunakan sebagai ongkos pulang kerumah, yang pada kenyataannya ongkos yang aku gunakan hanya empat ribu rupiah. Setelah kuputuskan sisa uang tersebut kuberanikan saja untuk kubelikan sebuah buku SNMPTN bekas dipasar. Agar harganya tidak mahal dan aku dapat memberikan sisa uangnya pada ibuku. Aku sangat senang sekali saat itu, aku berpikir walaupun aku tak ada niat untuk kuliah namun apa salahnya kalau aku juga ikut menimba ilmu seperti teman-temanku.

    ***

    “Kamu mau kuliah?” sahut ayahku didepan ibu dan adik-adiku.

    Aku kaget bukan main terhadap pertanyaan itu, dari mana ayah tahu mimpi yang aku sembunyikan dari dunia itu, mimpi yang tidak pernah terucap oleh lidahku sendiri walau dalam doa di sholatku, mimpi yang hanya ikut mengalir bersama air mata sebelum tidurku, mimpi yang bahkan akupun sendiri malu bercerita pada Tuhan. Ternyata ayah menyadari hal itu semua karena buku SNMPTN yang baru aku beli kemarin ku letakan diatas meja kecil hitam itu. Ibuku yang hanya lulusan SD menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan ayah. Ibu marah mendengar hal itu, ibu menyuruhku mengubur mimpi tersebut, ibu takut kalau nantinya aku stress karena mimpiku yang ini tidak akan pernah terwujud. Aku tertunduk menangis, adik-adiku iba melihat kearahku. Ayah menenangkanku tersenyum padaku, ayah berkata padaku agar aku belajar yang baik dan mencari tempat kuliah yang aku inginkan. Ayah berkata kalau beliau akan berusaha mati-matian agar aku bisa kuliah. Aku tersenyum melihat ayah yang bijak berkata seperti itu, entahlah aku sempat berpikir kalau ayah hanya ingin menenangkan diriku saja.

    ***

    Suatu sore saat aku sedang menyapu halaman rumah, seorang ibu yang sebaya dengan ibuku menegurku.

    “kamu mau kuliah yah neng?”. Tegurnya sambil tertawa kecil.

    Aku kaget dibuatnya, Ibu itu berkata kalau kemarin ibuku bercerita pada dirinya bahwa aku merengek meminta meneruskan sekolah. Ibu itu menasihati diriku, dia berkata padaku kalau kita sebagai orang susah jangan ‘kebanyakan tingkah’, aku sebagi anak pertama jangan menyusahkan kedua orangtua dengan merengek-rengek minta kuliah. Kuliah itu mahal katanya, upah ayahmu itu tidak cukup untuk makan dua kali sehari, apalagi untuk biaya kuliah. Kasihan adikmu ada banyak mau makan apa mereka.

    Hatiku bergetar, ingin rasanya aku membentaknya. Namun aku hanya mampu membalas perkataannya dengan senyum termanis yang aku miliki.

    Keesokan harinya ibuku bercerita, kalau teman-teman ayahku dipasar itu mengolok-olok ayahku karena ayahku bercerita pada mereka kalau aku ingin kuliah. Mereka berkata pada ayahku kalau tidak akan ada universitas yang mau menerima orang miskin seperti aku ini.

    Aku berlari menuju meja kecil hitam di ruang tamuku, ku buka buku catatanku yang pernah kutulisi tulisan grafiti nama sebuah universitas impianku. Kurobek dan kulempar bukunya, aku marah saat itu. Karena orang yang paling aku sayang itu dihina oleh orang lain, dicaci maki. Aku tersadar kalau itu semua karena mimpi ‘konyolku’ berkuliah. Itulah sebabnya selama ini aku malu dan memutuskan untuk menguburkan niat dan impianku berkuliah sedalam-dalamnya. Sudah kukira akan berakhir dengan penghinaan kedua orangtuaku seperti ini. Aku kesal, orang tuaku dihina seperti itu. Aku malu karena itu semua adalah ulah dari mimpi tidur indahku.

    ***

    Keesokan harinya disekolah teman-temanku bersorak dan memanggilku.

    “Selamat yah sit, lu masuk daftar undangan SNMPTN tuh!” ucap Lidia

    Jantungku bergetar, aku tak percaya kalau namaku bisa masuk dalam jajaran murid-murid pintar yang bisa mengikuti SNMPTN undangan. Aku pun girang bukan main, ku hampiri guru bimbingan konselingku. Aku menceritakan masalah keluargaku selama ini, awalnya aku tak mau bercerita namun karena mimpiku berkuliah saat ini sudah ada di depan pelupuk mata. Maka akupun memutuskan untuk menceritakan semuanya agar aku mendapatkan jalan keluar yang terbaik.

    Guruku itu langsung memeluk tubuhku yang kaku, dia memiliki impian besar terhadap diriku. Dia mencarikan solusi untuk masalahku ini dengan menawarkan beasiswa BIDIKMISI. Tanpa berpikir panjang aku menyetuji ajakannya. Aku pulang kerumah dan menyiapkan berkas-berkas yang ada, saat itu aku merasa bersyukur sekali karena impianku yang kurasa buruk itu akan segera terwujud. Aku sengaja tidak memberitahu informasi ini pada kedua orangtuaku, aku ingin membuat semua ini menjadi kejutan bagi mereka.

    Segala macam persyaratan pendaftaran SNMPTN itu pun telah dipenuhi, aku memutuskan untuk memilih UNIVERSITAS GADJAH MADA dan prodi TEKNIK NUKLIR pada pilihan pertama. Entahlah dengan hanya bermodal menyukai kimia dan fisika. Maka aku putuskan untuk memilih program studi ini. Besar harapanku untuk diterima. Setelah semuanya selesai , baru ku beritahu ayah dan mama. Mereka sangat senang karena beasiswa Bidik Misi ini mereka berdua tidak perlu mengeluarkan uang sampai aku lulus nanti. Kedua orang tuaku pun senang dengan pilihan program studi yang aku pilih itu. Semuanya tinggal ku pasrahkan pada Tuhan. Kalau memang rezeki aku pasti akan mendaptkannya pesan ayah padaku yang selalu ku ingat.Aku senang dan aku ingin membuktikan pada semua orang yang telah menghina mimpiku.Aku ingin membuktikan kalau impianku ini akan segera terwujud.

    ***

    Dua bulan lamanya aku menunggu pengumuman, selama itu aku mempersiapkan diriku untuk bisa mengikuti SNMPTN tulis, aku belajar sedikit demi sedikit dari buku soal-soal SNMPTN yang aku miliki. Semangatku berkuliah setiap harinya semakin kencang. Ditengah-tengah semangatku ini, masih saja ada tetangga yang mengolok-olok mimpiku. Ada tetangga yang berkata pada ibuku seperti ini.

    “Hati-hati bu, itu anaknya bukan mau kuliah tapi mau jual diri.” Ucapnya sinis

    Ingin rasanya aku menampar orang yang berbicara seperti itu pada ibuku, tapi ibuku menyadarkanku kalau ucapan mereka adalah batu loncatan bagi prestasiku. Aku harus tetap rajin belajar dan membuktikan pada dunia kalau mimpiku itu akan mengubah dunia menjadi lebih baik.

    ***

    Semua hinaan, cacian maki tetangga-tetangga sampai saudara-saudara terdekat kami kemarin terhadap mimpi besarku, kini lenyap sudah. Air mata kedua orang tuaku kini warnanya berubah sebening permata, keringatnya yang bercucuran itu menjadi keringat kebanggaan mereka terhadapku, simpulan senyum guru-guruku mengguratkan harapan besar padaku. Ya, aku diterima di Universitas kerakyatan yang menjadi kebanggaan negara ini. Universitas bergengsi dan nomor satu terbaik di Negri ini. Gadjah Mada namanya, di sana namaku tertera di Teknik Nuklir. Program studi sarjana Nuklir satu-satunya di ASEAN dan memiliki lulusan terbaik se-Asia.

    Aku tak bisa berkata apa-apa, melihat kebahagiaan kedua orang tuaku. Melihat mimpiku yang kini menjadi nyata, mimpi yang tak pernah berani aku ungkapkan pada dunia. Mimpi yang tak seharusnya aku tutupi dari orang lain. Sekarang aku sadar kalau semua itu memang berasal dari mimpi. Mimpi yang bukan hanya sekedar mimpi, mimpi yang harus segera diwujudkan, bukan dibiarkan tetap tidur bersama angan-angan semata. Aku pun tersadar sekarang kalau tak ada satupun hal yang mustahil dalam hidup ini, aku masih memiliki Allah. Tuhanku yang tak pernah tidur, yang selalu mau mendengarkan mimpi kecil kita. Aku tak akan menyia-nyiakan amanat besarmu ini Tuhan. Aku tersenyum mengingat semua pengorbanan aku dan kedua orangtuaku demi mimpi manis ini kemarin. Terimakasih meja kecilku yang setia menemaniku merogoh mimpi ini. Terimakasih Tuhan mengijinkanku merajut asa ini untuk meraih impian.

    ***

    SitiHoriah (1)Siti Horiah mahasiswa dari Program Studi Teknik Nuklir 2012 mendapat penghargaan sebagai pemenang pertama dalam Lomba Menulis Kisah Inspiratif Kamakarya 2013 yang diadakan dalam rangkaian acara Seminar Motivasi Nasional oleh divisi keilmuan Kamadiksi dalam rangka meningkatkan motivasi penerima beasiswa Bidik Misi. Acara yang memiliki tema “Menembus Batas, Memetik untaian mimpi ” ini diselenggarakan pada hari Minggu, 7 April 2013 bertempat di Gedung Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada dengan pembicara Dr. Revrisond Baswir (pakar Ekonomi Kerakyatan), Dr. Widyo Winarso (Kepala Subdirektorat Kemahasiswaan DIKTI) dan Bapak Eko Prasetyo. Talkshow dengan narasumber tersebut sangat menginspirasi dan memotivasi para peserta seminar yang jumlahnya kurang lebih 1100 orang, di mana para peserta tersebut didominasi oleh mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi UGM ditambah dari universitas lain di sekitar Yogyakarta.

    Dalam Lomba Menulis Kisah Inspiratif Kamakarya 2013 ini, peserta wajib menuliskan kisah nyata perjuangan mereka dalam merajut asa dan meraih impiannya masing-masing. Kisah yang harus menginspirasi banyak orang nantinya, kisah yang dapat memeberikan gambaran banyak orang betapa kita tak boleh berputus asa dalam meraih impian. Siti Horiah sendiri mengaku bahwa dirinya tidak menyangka dapat memenangkan lomba kepenulisan ini, karena latar belakang jurusan sebagai anak teknik yang harus bersaing dengan orang-orang hebat yang memang bergelut dalam bidang kepenulisan. Namun tanpa disangka dirinya dapat berprestasi dan bisa produktif dalam menghasilkan cipta dan karya yang terbaik. Inspirasi dan bakat itu memang akan selalu ada dalam diri seseorang tanpa terkecuali selagi ada motivasi yang kuat dalam diri untuk menciptakan karya terbaik untuk bangsa ini.

    Sumber: http://tf.ugm.ac.id/index.php/14-prestasi/112-mahasiswa-teknik-fisika-ft-ugm-memenangi-lomba-menulis-kisah-inspiratif-kamakarya-2013

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 10 April 2013 Permalink | Balas  

    pompeiiPompeii Mengulang Sejarah Kaum Luth

    Oleh: HARUN YAHYA

    Alqur’an mengisahkan kepada kita bahwa tidak ada perubahan dalam hukum Allah (sunnatullah):

    “Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah mereka kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu” (QS. Al- Faathir, 35:42-43).

    Begitulah, “sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah”. Siapapun yang menentang hukum Allah dan berusaha melawan-Nya akan terkena sunatullah yang sama. Pompeii, yang merupakan simbol dari degradasi akhlaq yang dialami kekaisaran Romawi, adalah pusat perzinaan dan homoseks. Nasib Pompeii mirip dengan kaum Nabi Luth. Kehancuran Pompeii terjadi melalui letusan gunung berapi Vesuvius.

    Gunung Vesuvius adalah simbol negara Italia, khususnya kota Naples. Gunung yang telah membisu sejak dua ribu tahun yang lalu itu juga dinamai “The Mountain of Warning” (Gunung Peringatan). Tentunya pemberian nama ini bukanlah tanpa sebab. Adzab yang menimpa penduduk Sodom dan Gommorah, yakni kaum Nabi Luth as, sangatlah mirip dengan bencana yang menghancurkan kota Pompeii.

    Di sebelah kanan gunung Vesuvius terletak kota Naples, sedangkan kota Pompeii berada di sebelah timur gunung tersebut. Lava dan debu dari letusan maha dasyat gunung tersebut yang terjadi dua milenia yang lalu membumihanguskan penduduk kota. Malapetaka itu terjadi dalam waktu yang sangat mendadak sehingga menimpa segala sesuatu yang ada di kota termasuk segala aktifitas sehari-hari yang tengah berlangsung. Aktifitas yang dilakukan penduduk dan segala peninggalan yang ada ketika bencana terjadi kini masih tertinggal persis sama seperti ketika bencana tersebut terjadi dua ribu tahun yang lalu, seolah-olah waktu tidak bergeser dari tempatnya.

    Pemusnahan Pompeii dari muka bumi oleh bencana yang demikian dasyat ini tentunya bukan tanpa maksud. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Saking banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak diketahui. Organ-organ kemaluan pria dengan ukurannya yang asli digantung di pintu tempat-tempat pelacuran tersebut. Menurut tradisi ini, yang berakar pada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya tidaklah tabu dan dilakukan di tempat tersembunyi; akan tetapi hendaknya dipertontonkan secara terbuka.

    Lava gunung Vesuvius menghapuskan keseluruhan kota tersebut dari peta bumi dalam waktu sekejap. Yang paling menarik dari peristiwa ini adalah tak seorang pun mampu meloloskan diri dari keganasan letusan Vesuvius. Hampir bisa dipastikan bahwa para penduduk yang ada di kota tersebut tidak mengetahui terjadinya bencana yang sangat sekejap tersebut, wajah mereka terlihat berseri-seri. Jasad dari satu keluarga yang sedang asyik menyantap makanan terawetkan pada detik tersebut. Banyak sekali pasangan-pasangan yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi sedang melakukan persetubuhan. Yang paling mengagetkan adalah terdapat sejumlah pasangan yang berkelamin sama, dengan kata lain mereka melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseks). Ada pula pasangan-pasangan pria dan wanita yang masih ABG. Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang masih utuh. Secara umum, raut-raut muka mereka menunjukkan ekspresi keterkejutan, seolah bencana yang terjadi datang secara tiba-tiba dalam sekejab.

    Dalam konteks ini, terdapat aspek dari bencana tersebut yang sangat sulit untuk dimengerti. Bagaimana bisa terjadi ribuan manusia tertimpa maut tanpa melihat dan mendengar sesuatu apapun?

    Aspek ini menunjukkan bahwa penghancuran Pompeii mirip dengan peristiwa-peristiwa adzab yang dikisahkan dalam Alqur’an, sebab Alqur’an secara khusus mengisyaratkan “pemusnahan secara tiba-tiba” ketika mengisahkan peristiwa yang demikian ini. Misalnya, “penduduk suatu negeri” sebagaimana disebut dalam surat Yaasiin ayat 13 musnah bersama-sama secara keseluruhan dalam waktu sekejap. Keadaan ini diceritakan sebagaimana berikut:

    “Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.” (QS. Yaasiin, 36:29)

    Di surat Al-Qamar ayat 31, pemusnahan dalam waktu yang singkat kembali disebut ketika kehancuran kaum Tsamud dikisahkan:

    “Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.”

    Kematian masal penduduk kota Pompeii terjadi dalam waktu yang sangat singkat persis sebagaimana adzab yang dikisahkan dalam kedua ayat di atas.

    Kendatipun semua peringatan ini, tidak banyak yang berubah di wilayah di mana Pompeii dulunya pernah ada. Distrik-distrik Naples tempat segala kemaksiatan tersebar luas tidaklah jauh berbeda dengan distrik- distrik bejat di Pompeii. Pulau Capri adalah tempat di mana para kaum homoseksual dan nudis (orang-orang yang hidup telanjang tanpa busana) tinggal. Pulau Capri diiklankan sebagai “surga kaum homoseks” di industri wisata. Tidak hanya di pulau Capri dan di Italia, bahkan hampir di seantero dunia, kerusakan moral tengah terjadi dan sayangnya mereka tetap saja tidak mau mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang dialami kaum-kaum terdahulu.

    ***

    harunyahya.com

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 3 April 2013 Permalink | Balas  

    siluet petaniMembaca Kemalangan

    Ini kisah tentang seorang petani tua yang bekerja di ladangnya. Suatu hari kudanya melarikan diri. Mendengar ini, tetangga si petani tua datang mengunjunginya, dan dengan penuh simpati berkata, “Oh, petani tua. Sungguh malang nasibmu.”

    Sang petani pun menjawab, “Mungkin saja.”

    Keesokan harinya, kuda itu kembali, bersama tiga kuda liar lainnya. “Sungguh menakjubkan. Betapa beruntungnya nasibmu,” seru tetangganya.

    Sang petani menjawab, “Mungkin saja.”

    Hari berikutnya, anak si petani tua mencoba menaiki salah satu kuda yang masih liar itu. Sang anak terlempar dari punggung kuda yang belum jinak itu. Kakinya patah. Mendengar ini, tetangganya datang mengunjunginya untuk memberi simpati atas kemalangannya,

    “Oh, petani tua. Betapa malang nasibmu.”

    Lagi-lagi sang petani menjawab, “Mungkin saja.”

    Keesokan harinya, seorang pejabat militer datang ke desa dan menyerukan kewajiban bagi setiap pemuda untuk berperang membela negara. Mengetahui bahwa kaki anak laki-lakinya patah, pejabat militer itu pun melewatinya. Para tetangga pun memberi selamat kepada si petani tua atas keberuntungan nasibnya.

    Sang petani tua pun menjawab, “Mungkin saja.”

    Cerita yang menggugah bukan? Nasib baik dan buruk sebenarnya tergantung dari cara kita memandangnya. Sepanjang kita bersyukur, tidak pernah ada yang buruk yang datang dari-Nya.

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Quran [2]:216).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 26 March 2013 Permalink | Balas  

    siluet keluarga 2Orang Tua Kita

    Pagi ini berangkat kantor ketika turun dari bus aku lihat bapak tua yang sedang memikul beban berat di pundaknya, dari fisiknya yang sudah renta mungkin umur bapak ini sudah hampir 70 tahun, tapi ketika aku melihat beliau sedang memikul pisang dagangan nya mungkin untuk di jual atau barusan habis belanja. Tampak sekali bapak ini kepayahan. Pingin sekali aku bisa membantu tapi akhirnya aku hanya bisa menatap iba, dan berdoa Ya Robb muliakan beliau

    Dan kemarin di bus aku bareng dengan seorang ibu, melihat dari keriput kulitnya umur ibu ini mungkin dah hampir 60 tahun tapi waktu itu beliau naik metromini dan dengan membawa beban belanjaan yang habis di belinya di pasar kebayoran, sudah kelihatan letih si ibu harus berdiri di bus karena memang tak ada lagi tempat duduk bahkan bus penuh sesak.

    Beberapa malam yang lalu aku sempat menyaksikan sekilas acara di TV, semacem reality Show yang di kemas dalam format humor. Acara yang di pandu oleh tokoh pelawak yang lagi hit di negeri ini, menghadirkan bintang tamu ayah kandung si presenter ini. Aku sedih melihat si bapak yang memang kelihatan orang dari kampung jadi bahan tertawaan dan candaan oleh anak nya sendiri.

    Sahabat..

    Pernahkah berfikir seperti apa perjuangan orang tua kita untuk memberi makan kita, melindungi kita, membahagiakan kita. Dengan tetesan darah, keringat dan airmata mereka berjuang, mungkin sosok2 diatas hanya segelintir contoh. Bahkan ada yang lebih berat lagi perjuangannya.

    Pernahkah kita membayangkan bagaimana orang tua kita dulu mencari uang untuk menyekolahkan kita, membelikan baju baru, membelikan apapun yang kita inginkan tanpa mengharap balas, setiap hari kita hanya menerima kebaikannya, kasih sayangnya yang tiada lelah dan tiada bosan.

    Pernahkah kita renungkan mungkin demi kita ayah dan ibu kita rela di caci maki orang, mungkin demi kita ayah ibu kita rela menahan malu mencari pinjaman uang, pernahkan kita renungkan itu???. Bahkan mungkin demi kita ayah ibu kita rela menahan lapar, menahan keinginan untuk memiliki baju yang bagus, untuk memiliki barang yang mewah. Tapi apa yang telah kita berikan pada mereka?? Sanggupkah kita membalas segala budinya, bahkan untuk bericara dengan lembut pun terasa begitu berat bibir ini. Bahkan mungkin kita sering menolak perintahnya, mengabaikan nasehatnya.

    Sahabat….

    Pepatah mengatakan ” orang tua kaya anak jadi raja, anak kaya orang tua jadi pembantu” pepatah ini bukan omong kosong belaka, karena banyak fakta yang membuktikan seperti itu. Ketika orang tua kaya segala keinginan anak dipenuhi tetapi ketika anak kaya tak jarang orang tua di perlakukan seperti pembantu, untuk mengurus anak, menjaga anak, bahkan menjaga rumah. Akankah kita juga seperti itu??

    Sahabat…

    Mari kita renungkan, dan intropeksi diri masing-masing terutama untuk diriku sendiri bagaimana perilaku kita selama ini, sudah kah kita termasuk anak yang berbakti, sudah sanggupkah kita menjaga lisan ini agar tidak menyakiti hati mereka, dan apa yang sudah kita lakukan untuk mebahagiakan mereka??, sudah kah kita mendoakan mereka di setiap sholat kita??

    Semoga kita termasuk anak yang berbakti dan bisa menjadi seorang anak yang soleh & solehah sehingga kita bisa menjadi penolong kedua orang tua kita kelak di yaumil akhir. Semoga kita bisa Mebahagiakan mereka di dunia dan akherat. Amiin

    “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh , dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” Q.S 4/36

    Wass

    Zrie_Kla

    ***

    Dari Sri Mulyani

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 25 March 2013 Permalink | Balas  

    syukurPengalaman Rohani: Mowo Purwito Disadarkan Sifat Wajib Allah

    Untuk sebagian besar umat Islam, terutama mereka yang tinggal di kampung, 20 sifat wajib Allah merupakan lafal yang sering diucapkan. Apalagi, buat mereka yang belajar di madrasah-madrasah maupun di majelis taklim. Bahkan kadang, 20 sifat wajib Allah ini dibaca dengan irama menarik, untuk mempermudah diingat dan dihafal.

    Lain lagi, buat Mowo Purwito Rahardjo. Bagi pria kelahiran Situbondo 28 Oktober 1965 ini, 20 sifat wajib bagi Allah tersebut telah membimbingnya menjadi seorang Muslim. ”Saya belajar teologi sudah lama tetapi yang saya pakai untuk perbandingan karena saya ingin melihat Islam justru pelajaran anak kelas 6 SD yang berbicara tentang 20 sifat wajib Allah kemudian ada asma al husna. Saya coba pelajari. Setelah saya dalami sifat wajib Allah, di situ saya membaca sifat-sifat Allah dari wujud, qidam, baqa, dan ada sebuah pernyataan yang sangat mengganggu pikiran saya bahwa Allah itu bersifat mukhalafatu lil hawadisi (berbada dengan makhluknya),” ungkap Mowo ketika mengisahkan pengalamannya menjadi seorang Muslim di Jakarta Rabu (14/2) malam.

    Suami dari Amik S Fatmawati SH ini pun tercengang membaca sifat wajib Allah tersebut. ”Saya tercengang, agak bingung juga dengan pernyataan ini membuat saya gelisah. Teryata zat Allah ini zat yang tidak sama setiap makhluk, zat yang tidak berfisik, zat yang tidak berjasad, yang sangat dibedakan dengan siapapun,” ujarnya.

    Bagi Mowo, ini sangat masuk akal juga karena Allah tidak berjasad dan berada di ruang yang tidak dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu mustahil Allah itu masuk ke dalam konsep ruang dan waktu. “Mustahil, Allah itu melakukan degradasi nature dari Sang Pencipta menyerupai ciptaannya.”

    Kekaguman tentang sifat-sifat wajib bagi Allah, terus menyentak sanubari ayah tiga putra ini. ”Saya juga menjumpai sifat Allah yang lain yaitu Allah qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri). Allah itu independen, berdiri sendiri, tidak bergantung kepada kita. Jadi untuk menyelamatkan manusia dengan kalamnya kun fayakun dengan kehendaknya maka jadilah.”

    Allah itu kekuasaannya tidak dibatasi oleh siapapun. Pemikiran ini membawa Mowo pada perenungan mengenai konsep Allah dan “proses tiga dalam satu” (trinitas). Dalam agamanya yang lama, konsep tentang Tuhan terjawab dalam polemik yang cukup panjang.

    Menilik ke belakang, tak mudah bagi Mowo untuk menjadi seorang Muslim. Semua bermula sejak tahun 2004, saat ia masih menjadi dosen sosiologi agama, fenomenologi agama, dan etika Kristen. Suatu hari, rekannya yang mengajar Islamologi (keislaman), meninggal dunia.

    Mencari dosen dalam waktu singkat tidak mudah. Apalagi untuk Islamologi, kendati mengajarkan keislaman, sang dosen harus beragama Kristen. “Akhirnya diputuskan secara darurat, sayalah yang menggantikan beliau mengajar tentang keislaman.”

    Ia bersyukur almarhum rekannya itu meningalkan modul dan diktat yang lengkap. Ajaran Islam-Kristen dikomparasi secara doktrinal. “Kita tahu bahwa ada beberapa titik-titik krusial yang menjadi polemik antara Islam dan Kristen khususnya kalau kita belajar tentang teos (Tuhan) dan logos (manusia) serta cosmos (alam semesta). Belum lagi kalau bicara kitab suci dan angelos (malaikat),” tambahnya.

    Tak ingin memberi pengertian yang salah pada mahasiswanya, ia mendalami Islam, khususnya bagaimana Islam menyoroti Kristen dari sudut ketuhanan. Sampai akhirnya menemukan “teori” 20 sifat wajib bagi Allah. September 2006 lalu ia bersyahadat.

    Mowo berlatar belakang pendidikan sosiologi. Kandidat Master of Art Religion ini dikenal sebagai pengajar teologi di Perguruan Tinggi Nusantara Malang, Jawa Timur dan beberapa STT di Malang. “Saya belajar di sekolah keteologian sampai mendapat gelar sarjana teologi,” ungkapnya yang mengaku mestinya 14 Februari lalu ia sudah diwisuda sebagai Master of Art Religion.

    Mowo sendiri tidak mempermasalahkan kenapa gelar tersebut belum disandangnya. Bagi dia, hidayah Islam yang diterimanya sudah lebih dari segalanya.

    Menurut dia, masing-masing agama punya klaim sendiri-sendiri. “Tapi kenapa saya harus memilih, ini tentang sebuah pilihan. Untuk memilih ini perlu perjalanan, perjuangan, perlu sebuah perenungan yang cukup dalam yang saya lakukan dari waktu ke waktu,” tegas pria yang pernah menjabat wakil sekretaris DPC Partai Damai Sejahtera (PDS) Malang, Jawa Timur ini.

    Lelaki ini memang dikenal aktif berorganisasi. Berbagai posisi penting dalam organisasi Kristen pernah dijalankannya. Selain pernah dipercaya sebagai pengurus DPC Partai Damai Sejahtera, Mowo pun pernah aktif di LSM Kristen bernama The Nation Care of Indonesia. Ia menjabat sebagai ketua Departemen Pengembangan Spiritualitas periode 2002-2006. Ia juga menjadi pengurus di Departemen Pemberdayaan Masyarakat di Gereja Kristen Injil Nusantara yang berkedudukan di kota Malang. n dam

    ***

    Drs Mowo Purwito R Dip HRD STh

    Tempat/Tgl. Lahir : Situbondo, 28-Oktober-1965

    Istri: Amik S Fatmawati SH

    Anak: Dida Nafiri (16 tahun) Dinar Naufal (12 tahun) Delpbel Oktobrian (8 tahun)

    Pendidikan: – S1 – FISIP Univ Merdeka Malang lulus tahun 1988 – Diploma Human Resources Development, tahun 1993 – Sarjana Theologia (STh)

    Seminari Alkitab Nusantara Malang –

    Kandidat Master of Art Religion (MAR), seharusnya diwisuda bulan Februari 2007 (drop out karena pindah agama)

    Sertifikat : Mendapat sertifikat dari Fuller Housing Minsitry, California, 2006 untuk terjun pada pelayanan Christianity Development, di Louisiana, USA, yang seharusnya berangkat bersama keluarga bulan Desember 2006 (dibatalkan karena pindah agama)

    Pekerjaan Sekarang: – Ketua Departemen Sumber Daya Manusia Forum Arimatea Jakarta – Kristolog dan Pemerhati Masalah Sosial Agama (dam)

    ***

    Republika Online

     
    • bejono777 6:11 am on 25 Maret 2013 Permalink

      hidayah melalui tradisi Islam di daerah, alhamdulillah

  • erva kurniawan 1:34 am on 23 March 2013 Permalink | Balas  

    pedagang kereta apiDan Gerbong Kereta Pun Bersaksi

    “Kemarin kau tak mengaji. Hari ini tak mengaji, tak sembahyang pula kau, mau jadi manusia macam apa kau nak,” tegur seorang ibu kepada anak lelakinya yang baru berusia sekitar delapan tahun.

    “Bukannya tak mau sembahyang mak. Di kereta banyak pembeli, kan sayang. Lagipula itu kan rejeki,” sanggah sang anak yang masih menggendong kotak rokok dan permen dagangannya.

    “Hey , apa kau bilang??? Rejeki tu sudah ada yang mengaturnya. Bukan kau yang menentukan apa kau dapat rejeki atau tidak hari ini. Kalau kau tak berdoa pada-Nya, mungkin esok kau tak seberuntung hari ini,”.

    Kata-kata itu, sungguh membuat ku terkesima. Sebuah cuplikan fragmen keimanan yang kutangkap hanya beberapa menit saat kuberdiri di Stasiun Kereta Api Pasar Minggu, Jakarta, tak seberapa masa menjelang Maghrib. Ada gemuruh yang menderu di dalam dada ini melihat pemandangan menakjubkan di depanku, terlebih mendengar dialog yang lumayan menggetarkan itu. Betapa tidak, seorang ibu yang tengah menggendong anaknya yang masih balita, ditemani putri sulungnya yang berusia tidak lebih dari dua belas tahun, meski tidak serapih muslimah-muslimah yang biasa kutemui di kampus-kampus atau perkantoran, tapi ia berusaha untuk menutupi bagian kepalanya dengan jilbab lusuh, bahu membahu bersama sang Ayah berdagang di emperan stasiun KA Pasar Minggu. Sementara anaknya yang lelaki, diberinya tanggungjawab berjualan rokok, tissue dan permen di gerbong KA Jabotabek.

    Mari, ingin sekali kuajak Anda merenung tentang mereka sebelum bicara tentang diri kita sendiri. Setiap dini hari mata terjaga mendahului kokok ayam paling pagi untuk mengepak barang-barang yang akan digelar di stasiun kereta api yang berdebu, kadang sesak di pagi dan sore hari saat jam pergi dan pulang kantor, yang sudah pasti tak berpengatur udara. Tak ada kursi empuk selain alas koran yang tidak jarang membuat pinggang dan tulang bokong mereka pegal-pegal sekaligus panas, jika tak sering-sering bangun, kemudian duduk kembali sekedar melancarkan peredaran darah. Keringat yang keluar tak bisa diukur dari nine to five seperti kebanyakan kita. Sedangkan si bocah lelaki keluar masuk dan turun naik dari gerbong ke gerbong, dari pagi hingga sore menjelang dengan segala bentuk bahaya yang senantiasa menanti.

    Tapi, tak sedikitpun mereka ragu bahwa Dia-lah yang mengatur semua rizki bagi manusia, tidak terkecuali mereka. Sehingga sedemikian marahnya si ibu setelah mendapat laporan dari si sulung bahwa anak lelakinya sudah dua hari tak mengaji, dan hari ini kedapatan tak sembahyang Dzuhur.

    Kemudian mari tengok diri ini. Di pagi hari tak perlu memanggul karung dan dus yang berat, untuk menggelarnya terpal di emperan manapun. Kita hanya perlu naik kendaraan menuju kantor, duduk di kursi yang empuk, mungkin tak ada peluh yang harus dibasuh karena seharian bekerja di ruangan ber-AC, dan tidak jarang masih mendapatkan pelayanan khusus dari office boy.

    Namun dengan kondisi yang demikian lebih baik, tidak jarang dzuhur dan ashar tertinggal, minimal sholat dzuhurnya menjelang ashar. Itu pun jika sempat. Seringkali kesibukan dan terlalu banyak pekerjaan menjadi alasan untuk tak melafazkan barang satu ayatpun kalimah-Nya. Tak mengertikah kita bahwa mungkin saja Dia yang maha mengatur rizki itu tak lagi memberikan kita semua kesibukan yang hari ini menjadi alasan untuk tak mendekati-Nya?

    Sungguh, enggankah kita membiarkan semua pekerjaan, komputer, meja kerja, kursi empuk, telepon yang berdering-dering itu kelak menjadi saksi di hadapan Allah, bahwa mereka pernah ditinggal oleh pemiliknya di waktu-waktu tertentu saat kita bermunajat pada-Nya?

    Adzan Maghrib pun berkumandang, kuikuti punggung-punggung mereka yang menuruti langkah-langkah kecil menuju mushola.

    ***

    Oleh: Bayu Gawt

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 21 March 2013 Permalink | Balas  

    doaUntung Saja, Allah Tidak Mengabulkan Doa Kami

    Mengapa seseorang yang do’anya tak dikabulkan, Justru ia bersyukur..?

    Waktu di Masjidil Haram, memang sangat banyak waktu kita untuk bertafakur. Maka bertafakurlah pada hal-hal yang positif untuk melihat Allah. Untuk bertemu dengan Allah. Agar hidup ini menjadi semakin bermakna, dan agar kita akan selalu bisa bersamaNya.

    Ketika aku bertafakur menyendiri, aku teringat pada sebuah kejadian nyata yang sangat perlu untuk aku tuliskan di diskusi ini.

    Suatu saat ada seorang teman yang bercerita tentang pengalamannya yang sangat unik dan menarik.

    Pak Kusuma, pernah naik mobil bersama keluarganya dari kota Malang menuju kota Solo. Mereka berangkat naik mobil pribadi. Berangkatnya malam hari. Dipilihnya malam hari agar perjalanan menjadi nyaman, dengan harapan mereka bisa istirahat dalam perjalanan yang cukup jauh itu.

    Udara malam itu cukup cerah. Sebelum mereka berangkat, kondisi mobil dikontrolnya dengan teliti. Mulai dari kondisi ban mobil sampai dengan peralatan kunci mobil. Setelah semua cukup aman dan sudah lengkap, berangkatlah mereka satu keluarga menuju kota Solo. Mobil itu dikemudikan oleh pak sopir mereka. Dalam kondisi normal perjalanan kedua kota itu akan ditempuh selama lebih kurang enam sampai dengan tujuh jam.

    Pak Kusuma dan keluarganya berangkat sekitar pukul 21.00, dengan harapan menjelang subuh sekitar pukul 04.00 sudah sampai di kota tujuan. Di awal perjalanan mereka tidak menemui kendala dan hambatan yang berarti. Semua lancar-lancar saja. Mobil pun melaju dengan nyaman ke arah kota Solo. Tetapi ketika perjalanan sudah mencapai setengah lebih dari jarak yang ditempuh, yaitu ketika mobil berada di daerah Ngawi, tiba-tiba saja mobil berhenti dan macet. Maka para penumpangpun bangun semua dari tidurnya.

    Kata mereka :

    “ada apa pak Sopir..?”

    “Ndak tahu pak, koq tiba-tiba mobil macet..” Penumpang lain pun menanggapi :

    “wah kenapa ya…? Mogoknya di tempat yang sepi lagi…”

    “iya…,” jawab yang lain.

    “Sekarang masih jam 02.00 dini hari…, wah kemana kita cari pertolongan ?”

    Jawab pak sopir :

    “pak, biar saya yang cari pertolongan. Semua di dalam mobil saja”

    “Saya mau naik bus yang ke arah Solo atau kota terdekat dari sini. Mudah-mudahan secepatnya akan saya dapatkan seorang montir ahli.” Mudah-mudahan pula segera ada bus yang lewat.”

    “Saya nggak tahu kenapa koq tiba-tiba mobil ini macet…padahal sebelum berangkat tadi sudah saya kontrol semuanya.!”

    “Baiklah” jawab yang lain.

    Maka pak sopir pun keluar dari mobil, ia berdiri di pinggir jalan untuk mencegat bus yang ke arah solo.

    Kurang lebih satu jam, pak sopir berdiri, dan tidak satu pun bus lewat. Padahal biasanya sekitar lima belas menit selalu saja ada bus yang lewat. Ada apa gerangan? Pikir para penumpang. Tidak terkecuali pak Kusuma

    Maka semua penumpang pun berdo’a agar secepat-nya ada bus yang lewat, agar kesulitan mereka cepat teratasi.

    Dalam kondisi semacam itu, tiba-tiba ada sebuah pikiran aneh dalam diri pak Kusuma. Ia berbicara pada dirinya sendiri. Katanya :”Bagaimana ya, cara Allah menolong kami yang dalam kondisi seperti ini? Jauh dari keramaian, di tengah malam, tak ada rumah di sekeliling, bahkan bus pun tak ada yang lewat….Tapi sungguh saya yakin bahwa Allah akan menolong hambaNya yang sedang mengalami kesulitan seperti ini. Tetapi bagaimana ya, caranya…? Rasanya seperti nggak mungkin ada pertolongan datang pada saat seperti ini…”

    Waktu pun terus berjalan! Tanpa terasa hampir dua jam mereka menunggu bus lewat. Tetapi tak ada yang kunjung lewat. Sehingga mereka hampir frustasi dibuatnya.

    Ketika semua penumpang dan juga pak sopir yang berdiri menunggu bus lewat hampir putus asa, tiba-tiba terlihat dari kejauhan lampu sebuah sepeda motor yang redup. Setelah sepeda motor tersebut dekat dengan mobil, terlihat seorang pengendara memakai jaket tebal sebagai pelindung tubuh dari dinginnya malam.

    Ketika persis di dekat mobil yang lagi macet itu, pengendara membelokkan sepedanya ke sebelah kiri. Ternyata di dekat mobil mereka itu ada sebuah rumah kecil sederhana yang tidak nampak sebelumnya, karena gelapnya malam. Tambahan lagi banyak pohon-pohon besar yang menutupinya.

    Sang pengendara sepeda motorpun berhenti di depan rumah terpencil itu. Tidak tahu apa penyebabnya, tiba-tiba pak sopir yang belum menemukan bus lewat itu menghampiri pengendara sepeda motor yang lagi mengetuk pintu rumah sederhana.

    Ketika pak sopir sudah dekat dengan si pengendara, dan ketika si pengendara sepeda motor melepas Helm nya….tiba-tiba pak sopir berteriak saking terkejutnya!

    Hei, mas Haris! koq anda di sini? ada keperluan apa?”

    Lho, anda ‘koq juga disini, sedang ngapain?” “Wah, kebetulan sekali mas. Ini Iho, mobil yang saya bawa ini lagi mogok. Dan saya nggak tahu, apa penyebabnya..! Wah, tolong ya mas…!?”

    “…oh, begitu,.. Ada lampu senter?”

    “Ada mas..!”jawab pak sopir!

    Maka diambilnya lampu senter dari dalam mobil mereka. Kemudian mas Haris mulai beraksi memperbaiki mobil tersebut. Anehnya tidak begitu lama, mesin mobil itu sudah bisa diperbaiki. Ternyata kerusakannya tidak terlalu berat. Tetapi kerusakan yang sedang terjadi itu, justru tidak diketahui oleh pak sopir. Tidak lebih dari lima menit, selesailah mobil tersebut diperbaiki oleh pak Haris, si pengendara sepeda motor.

    Sebenarnya siapakah pengendara sepeda motor itu? Mengapa begitu cepat ia bisa memperbaiki mobil yang lagi mogok?

    Ketika aku menuangkan cerita singkat ini, akupun menjadi merinding…

    Ternyata si pengendara sepeda motor itu, adalah montir ahli di sebuah bengkel langganan pak sopir, di kota Malang. Ia lagi menjenguk keluarganya yang rumahnya persis di dekat mobil yang lagi mogok tersebut…

    Maka tidak heran jika ia begitu cepat dapat memperbaiki kerusakan mobil mereka.

    Yang menjadikan aku termangu, adalah :

    Mengapa pengendara sepeda motor itu ke rumah familinya pada waktu malam hari, kenapa tidak siang hari saja? Dan mengapa waktunya persis dengan mobil yang lagi membutuhkan pertolongan? Apa yang menyebabkannya ?

    Mengapa mobil tersebut mogoknya tepat berada di dekat rumah itu? Apa pula yang menyebabkannya ?

    Mengapa kerusakan mobil yang cukup sederhana itu, pak sopir tidak bisa memperbaikinya? Apa yang menyebabkannya ?

    Mengapa sampai lama tidak ada bus lewat, sehingga akhirnya pak sopir bisa bertemu dengan mas Haris sang pengendara sepeda motor yang ahli memperbaiki mobil itu? Apa yang menyebabkan?

    Dan apa pula yang menyebabkan pak Kusuma sekeluarga pergi ke kota Solo, berangkat malam hari, dan jam berangkatnya begitu ‘tepat’ sehingga terjadilah peristiwa yang cukup unik di kota Ngawi itu…?

    Aku-pun berandai-andai,…

    Andaikata dalam waktu singkat ada bus lewat, dan pak sopir ikut bus tersebut untuk mencari montir ke kota berikutnya, sungguh menjadi runyam persoalannya…. Montir belum tentu didapatkan. Para penumpang mobil yang kebanyakan masih anak-anak itu, tentu akan mengalami rasa takut berkepanjangan ditinggal sendirian di tempat yang gelap semacam itu.

    Andaikata mobil tersebut mogok di lokasi lima puluh meter saja, lebih jauh dari tempat terjadinya peristiwa itu, tentu pak sopir tidak akan bertemu dengan si pengendara sepeda motor.

    Andaikata berangkatnya si pengendara sepeda motor, satu jam saja lebih lambat dari saat itu, atau ketika di perjalanan ia mengalami trouble dengan kendaraannya, maka tak akan bertemulah mereka semuanya.

    Andaikata do’a para penumpang mobil itu dikabulkan Allah pada saat itu juga, agar pak sopir bisa pergi ke Solo naik bus …… Akh, sungguh mereka akan kalang-kabut sendiri….

    Andaikata….. andaikata…

    Ah, sungguh terlalu banyak kita berandai-andai. Tetapi ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama. Bahwa setiap kejadian yang ada di muka bumi ini, bahkan juga yang ada di langit, semua tak ada yang terjadi dengan sendirinya. Tak ada yang terjadi dengan sia-sia. Tak ada yang terjadi secara kebetulan. Semua karena kehendak Sang Maha Kuasa, yang mencipta alam raya ini. Yang setiap hari Dia dalam kesibukan mengatur semua urusan dan persoalan para makhlukNya.

    QS. Ar-Rahmaan (55) : 29-30

    Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

    Satu hal lagi yang perlu kita renungkan,

    Mengapa bus-bus yang biasanya sering lewat itu, pada saat itu, tak ada yang lewat? Padahal mereka memiliki penumpang yang sangat banyak. Tentu semuanya menginginkan perjalanannya tidak terhambat dan tidak terlambat sampai pada tujuannya.

    Andaikata terlambatnya para bus itu, dikarenakan para sopirnya masih istirahat di suatu tempat, siapa yang menyuruh mereka istirahat?

    Andaikata terlambatnya para bus itu, dikarenakan ada penumpang yang sakit perut ketika makan malam, dan ia harus ke kamar mandi dalam waktu yang agak lama di suatu rumah makan, siapa yang menyebabkan sakit perut?

    Andaikata ada bus yang bannya gembos terkena paku di jalan, sehingga harus memperbaiki, dan mengganti ban mobil. Siapakah yang menyebabkannya? Mengapa ada paku yang tepat mengenai ban mobil pada bus yang sedang ditunggu oleh pak sopir yang mobilnya lagi mogok di kota Ngawi?

    Andaikata terlambatnya semua bus tersebut, dikarenakan adanya kemacetan lalu lintas yang dikarenakan terlambatnya Kereta Api yang melintasi jalanan, siapa yang menyebabkan itu semua?

    … Sungguh masih banyak hal-hal yang menyebabkan semua itu bisa terjadi. Berpuluh, bahkan mungkin bisa beratus-ratus variable penyebabnya….

    Hal apa yang bisa kita ambil dari peristiwa unik tersebut?

    Sebuah pelajaran menarik, telah kita dapatkan dari peristiwa itu. Andaikata Allah mengabulkan do’a para penumpang mobil mogok, agar ada bus yang lewat, pada saat pak sopir menunggu bus, maka tentu tidak teratasi permasalahan mobil mogok itu.

    Dengan kata lain, Allah telah menolong para penumpang mobil mogok itu dengan cara, ‘tidak mengabulkan do’a mereka!’ Tetapi Allah mengabulkan harapan mereka, menolong mereka dari kesulitan…

    Pak Kusuma menutup ceritanya dengan mata berkaca-kaca menahan jatuhnya setetes air mata…

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 684 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: