Updates from April, 2014 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 4:43 am pada 24 April 2014 Permalink | Balas  

    siluet pulangSketsa Kehidupan

    Seorang gadis bernama Li-Li menikah dan tinggal bersama suami dan ibu mertua. Dalam waktu singkat, Li-Li menyadari bahwa ia tidak dapat cocok dengan ibu mertuanya dalam segala hal. Kepribadian mereka berbeda, dan Li-Li sangat marah dengan banyak kebiasaan ibu mertua. Li-Li juga dikritik terus-menerus. Hari demi hari, minggu demi minggu, Li-Li dan ibu mertua tidak pernah berhenti konflik dan bertengkar. Keadaan jadi tambah buruk, karena berdasarkan tradisi Cina, Li-Li harus taat kepada setiap permintaan sang mertua.

    Semua keributan dan pertengkaran di rumah itu mengakibatkan suami yang miskin itu ada dalam stress yang besar.

    Akhirnya, Li-Li tidak tahan lagi dengan temperamen buruk dan dominasi ibu mertuanya, dan dia memutuskan untuk melakukan sesuatu.

    Li-Li pergi menemui teman baik ayahnya, Mr. Huang, yang menjual jamu. Li-Li menceritakan apa yang dialaminya dan meminta kalau-kalau Mr. Huang dapat memberinya sejumlah racun supaya semua kesulitannya selesai.

    Mr. Huang berpikir sejenak dan tersenyum dan akhirnya berkata, Li-Li, saya akan menolong, tapi kamu harus mendengarkan dan melakukan semua yang saya minta.

    Li-Li menjawab, “Baik, saya akan melakukan apa saja yang anda minta.” Mr. Huang masuk kedalam ruangan dan kembali beberapa menit kemudian dengan sekantong jamu.

    Dia memberitahu Li-Li, “Kamu tidak boleh menggunakan racun yang bereaksi cepat untuk menyingkirkan ibu mertuamu, karena nanti orang-orang akan curiga. Karena itu saya memberimu sejumlah jamu yang secara perlahan akan meracuni tubuh ibu mertuamu. Setiap hari masakkan daging atau ayam dan kemudian campurkan sedikit jamu ini. Nah, untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mencurigaimu pada waktu ia meninggal, kamu harus berhati-hati dan bertindak dangan sangat baik dan bersahabat. Jangan berdebat dengannya, taati dia, dan perlakukan dia seperti seorang ratu.”

    Li-Li sangat senang. Dia kembali ke rumah dan memulai rencana pembunuhan terhadap ibu mertua.

    Minggu demi minggu berlalu, dan berbulan-bulan berlalu, dan setiap hari, Lili melayani ibu mertua dengan masakan yang dibuat secara khusus. Li-Li ingat apa yang dikatakan Mr. Huang tentang menghindari kecurigaan, jadi Li-Li mengendalikan emosinya, mentaati ibu mertua, memperlakukan ibu mertuanya seperti ibu-nya sendiri dengan sangat baik dan bersahabat.

    Setelah enam bulan, seluruh rumah berubah. Li-Li telah belajar mengendalikan emosinya begitu rupa sehingga hampir-hampir ia tidak pernah meledak dalam amarah atau kekecewaan. Dia tidak berdebat sekalipun dengan ibu mertuanya, yang sekarang kelihatan jauh lebih baik dan mudah ditemani.

    Sikap ibu mertua terhadp Li-Li berubah, dan dia mulai menyayangi Li-Li seperti anaknya sendiri. Dia terus memberitahu teman-teman dan kenalannya bahwa Li-Li adalah menantu terbaik yang pernah ditemuinya. Li-Li dan ibu mertuanya sekarang berlaku sepertu ibu dan anak sungguhan.

    Suami Li-Li sangat senang melihat apa yang telah terjadi.

    Satu hari, Li-Li datang menemui Mr. Huang dan minta pertolongan lagi. Dia berkata, “Mr. Huang, tolonglah saya untuk mencegah racun itu membunuh ibu mertua saya. Dia telah berubah mencaji wanita yang sangat baik dan saya mengasihinya seperti ibu saya sendiri. Saya tidak ingin dia mati karena racun yang saya berikan.”

    Mr. Huang tersenyum dan mengangkat kepalanya. “Li-Li, tidak usah khawatir. Saya tidak pernah memberimu racun. Jamu yang saya berikan dulu adalah vitamin untuk meningkatkan kesehatannya. Satu-satunya racun yang pernah ada ialah didalam pikiran dan sikapmu terhadapnya, tapi semua sudah lenyap oleh kasih yang engkau berikan padanya.”

    Teman, pernahkah engkau menyadari bahwa sebagaimana perlakukanmu terhadap orang lain akan sama dengan apa yang akan mereka lakukan terhadap kita?

    Pepatah China berkata: Orang yang mengasihi orang lain akan dikasihi.

    ***

    1. Dunia itu racun, zuhud itu obatnya.
    2. Harta itu racun, zakat itu obatnya.
    3. Perkataan yang sia-sia itu racun, zikir itu obatnya.
    4. Seluruh umur itu racun, taat itu obatnya.
    5. Seluruh tahun itu racun, Ramadhan itu obatnya.

    “Sesungguhnya Syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan melalaikan kamu dari mengingati Allah dan sembahyang, maka maukah kamu berhenti. (Berhenti daripada mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak diridhai oleh Allah)” (Al-Maaidah A.91)

    “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendah diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara (senantiasa) diwaktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (Al-A’raaf A.205)

    “Wahai anak Adam, habiskanlah waktumu beribadat kepadaKu, maka Daku akan lapangkan kamu daripada kehendak-kehendakmu, Daku akan hapuskan kemiskinanmu. Jika tidak akan Ku bebani kamu dengan urusan-urusan dan tugas-tugas yang sibuk. Serta kerjakanlah amal-amalan kebajikan supaya kamu jaya didunia dan selamat sampai ke akhirat.” (Al-Hajj A.44)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:09 am pada 16 April 2014 Permalink | Balas  

    ayahKasih Yang Sebenarnya

    Suatu malam, di sebuah stasiun radio, sedang berlangsung acara dimana orang- orang berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang semula tercurah pada tugas statistik beralih ketika seorang wanita bercerita tentang ayahnya. Wanita ini adalah anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di pinggiran kota Jakarta. Sejak kecil ia sering dimarahi oleh ayahnya. Di mata sang ayah, tak satupun yang dikerjakan olehnya benar.

    Setiap hari ia berusaha keras untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan ayahnya, namun tetap saja hanya ketidakpuasan sang ayah yang ia dapatkan. Pada waktu ia berumur 17 tahun, tak sepatah ucapan selamat pun yang keluar dari mulut ayahnya. Hal ini membuat wanita itu semakin membenci ayahnya. Sosok ayah yang melekat dalam dirinya adalah sosok yang pemarah dan tidak memperhatikan dirinya. Akhirnya ia memberontak dan tak pernah satu hari pun ia lewati tanpa bertengkar dengan ayahnya.

    Beberapa hari setelah ulang tahun yang ke-17, ayah wanita itu meninggal dunia akibat penyakit kanker yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun kecuali pada istrinya. Walaupun merasa sedih dan kehilangan, namun di dalam diri wanita itu masih tersimpan rasa benci terhadap ayahnya.

    Suatu hari ketika membantu ibunya membereskan barang-barang peninggalan almarhum, ia menemukan sebuah bingkisan yang dibungkus dengan rapi dan di atasnya tertulis “Untuk Anakku Tersayang”.

    Dengan hati-hati diambilnya bingkisan tersebut dan mulai membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan dan sebuah buku yang telah lama ia idam-idamkan. Di samping kedua benda itu, terdapat sebuah kartu ucapan berwarna merah muda, warna kesukaannya. Perlahan ia membuka kartu tersebut dan mulai membaca tulisan yang ada di dalamnya, yang ia kenali betul sebagai tulisan tangan ayahnya.

    Ya Allah,

    Subhanallah,Terima kasih karena Engkau mempercayai diriku yang rendah ini Untuk memperoleh karunia terbesar dalam hidupku

    Kumohon Ya Allah, Jadikan buah kasih hambaMu ini

    Orang yang berarti bagi sesamanya dan bagiMu Jangan kau berikan jalan yang lurus dan luas membentang

    Berikan pula jalan yang penuh liku dan duri Agar ia dapat meresapi kehidupan dengan seutuhnya

    Sekali lagi kumohon Ya Allah, Sertailah anakku dalam setiap langkah yang ia tempuh Jadikan ia sesuai dengan kehendakMu

    Selamat ulang tahun anakku Doa ayah selalu menyertaimu “Dari Ayah yang Selalu Menyayangimu, sayang”

    Meledaklah tangis sang anak usai membaca tulisan yang terdapat dalam kartu tersebut. Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Dalam pelukan ibunya, ia menceritakan semua tentang bingkisan dan tulisan yang terdapat dalam kartu ulang tahunnya. Ibu wanita itu akhirnya menceritakan bahwa ayahnya memang sengaja merahasiakan penyakitnya dan mendidik anaknya dengan keras agar sang anak menjadi wanita yang kuat, tegar dan tidak terlalu kehilangan sosok ayahnya ketika ajal menjemput akibat penyakit yang diderita……..

    Pada akhir acara, wanita itu mengingatkan para pemirsa agar tidak selalu melihat apa yang kita lihat dengan kedua mata kita. Lihatlah juga segala sesuatu dengan mata hati kita. Apa yang kita lihat dengan kedua mata kita terkadang tidak sepenuhnya seperti apa yang sebenarnya terjadi.

    “Kasih seorang ayah, seorang ibu, saudara-saudara, orang-orang di sekitar kita, dan terutama kasih Allah dilimpahkan pada kita dengan berbagai cara. Sekarang tinggal bagaimana kita menerima, menyerap, mengartikan dan membalas Kasih Yang Sebenarnya……………” kata wanita tersebut menutup acara pada malam hari itu.

    ***

    Penulis – Tidak Diketahui

    Sumber – Tidak Diketahui

    Kiriman – Seorang Sahabat

     
  • erva kurniawan 6:13 am pada 6 April 2014 Permalink | Balas  

    nasehat-quran1Mengapa saya memilih Islam

    Farouk B. Karai (Zanzibar)

    Saya memeluk agama Islam sebagai buah dorongan jiwa saya sendiri dan karena besarnya kecintaan dan penghargaan saya kepada Rasul Islam Muhammad s.a.w. Hati saya telah dicengkeram oleh perasaan-perasaan itu sejak lama secara spontan. Tambahan lagi, saya tinggal di Zanzibar, dimana banyak sahabat-sahabat saya yang beragama Islam telah memberi kesempatan kepada saya untuk mempelajari dan mengerti Islam secukupnya. Maka secara diam-diam saya telah membaca sebahagian tulisan tentang Islam, karena takut ketahuan oleh keluarga saya. Pada bulan Desember 1940 saya telah menemukan diri saya telah siap menghadapi dunia, lalu saya umumkan ke-Islaman saya. Sejak waktu itu mulailah terjadi pemboikotan dan tentangan dari pihak keluarga maupun orang lain dalam masyarakat Persi yang sebelumnya memang saya tergolong dari padanya. Lama sekali kisah kesulitan-kesulitan yang harus saya lalui.

    Keluarga saya dengan keras menentang saya memeluk agama Islam, dan mereka telah mempergunakan berbagai cara yang dikiranya dapat menyulitkan saya. Akan tetapi sejak cahaya iman tumbuh dalam jiwa saya, tidak ada satupun kekuatan yang mampu menghalangi saya untuk menempuh agama yang halus yang telah saya pilih, yakni jalan iman kepada Allah yang Satu dan kepada Rasul-Nya, Muhammad s.a.w. Saya tegak keras bagaikan batu-batu Gibraltar menghadapi segala musibah dan kesulitan yang disebabkan oleh famili saya berulang kali. Ke-Imanan saya kepada Allah, kepada kebijaksanaanNya dan kepada takdir-Nya telah memantapkan langkah-langkah saya menerobos segala kesulitan itu.

    Saya telah mempelajari tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Gujarti yang telah banyak menolong saya, dan saya dapat mengatakan tanpa satu ketakutanpun bahwa tidak ada satupun Kitab dari agama lain yang dapat menandinginya. Al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab Suci yang sempurna. Ajaran-ajarannya mudah dan menyerukan kecintaan, persaudaraan, persamaan dan kemanusiaan. Sungguh Al-Qur’an itu suatu Kitab Suci yang mengagumkan, dan mengikuti ajaran-ajarannya merupakan jaminan kejayaan kaum Muslimin untuk selama-lamanya.

    ***

    Sumber: Mengapa Kami Memilih Islam

     
  • erva kurniawan 2:41 am pada 2 April 2014 Permalink | Balas  

    kerja kerasDimanakah Sumber Rizkiku

    Inur bukanlah seorang pengangguran. Dia muslimat rajin, mandiri dan berbakti pada orang tuanya. Semenjak SMA, dia sudah bekerja sebagai pramuniaga di Pekanbaru. Pulang sekolah dia shalat Dhuhur, makan siang terus jaga toko. Sambil nunggu pelanggan, dia memanfaatkan waktu sempit itu untuk membaca buku pelajaran. Jam sembilan malam toko tutup. Dia pulang, membantu ibunya nyuci piring, makan dan sebelum tidur dia kerjakan PR jika memang ada PR dari gurunya. Begitulah kesehariannya dia jalani selama tiga tahun di SMA. Ketika teman-teman SMA-nya pada jingkrak-jingkrak karena lulus SMA, dia justru mengerutkan dahi. Adiknya yang masih SMP sebentar lagi masuk SMA. Orang tuanya tidak mungkin lagi membiayai. Sementara dengan gaji sebagai pramuniaga tidak akan cukup.

    Akhirnya Inur memutuskan pergi ke Batam dengan harapan mendapatkan gaji lebih besar. Sesampainya di Batam dia bekerja di perusahaan swasta dengan gaji Rp. 390.000,-. Walaupun dia tinggal di rumah liar dengan dinding papan, rumah diatas pinggiran laut dengan aroma sekitar yang kurang bersahabat, dia tidak pernah mengeluh. Target utamanya dia bisa ngirim uang ke orang tua dan bisa membiayai adiknya sekolah. Baru kerja tiga bulan di Batam, tiba-tiba matanya berkunang-kunang. Saya sempat menyarankan sahabat baik saya itu untuk memeriksa ke dokter mata. Dia tidak mau karena takut biayanya mahal dan menolak bantuan saya karena dia tidak mau dikasihani orang apapun alasannya.

    Tiga hari kunang-kunangnya belum juga sembuh. Pada suatu pagi teman sekamarnya menepuk-nepuk pundaknya untuk membangunkannya. Badannya dingin dan kaku. Berulang kali temannya menggoyang-goyang badannya, tapi tidak ada respon balik. Di cek nafas dan degup jantungnya dan ternyata… innalillahi wa inna ilai roji’uun. Dia kembali ke pangkuan Sang Robbi dalam usia 19 tahun. Usia yang sangat muda sekali. Akhirnya jenazah Inur dipulangkan ke Pekanbaru dengan biaya Rp. 10 juta. Jauh lebih mahal daripada gaji yang dia kumpulkan selama tiga bulan ini (Rp. 1.160.000,-).

    Lalu dimanakah sumber rizki itu berada ? Kenapa Inur yang berusaha mendekati sumber rizkinya kok malah mendekati sumber ajalnya? Inilah pertanyaan menarik yang menjadi rahasia Allah. Manusia hanya bisa berusaha, menganalisa dan berdo’a. Allah memberi pahala kepada manusia berdasarkan usaha dan keikhlasan menjalankannya, bukan berapa banyak hasil yang dapat diraih.

    Rizki yang banyak kadang tidak selalu baik buat seorang hamba. Jika rizki yang banyak jatuh pada hamba yang suka bersedekah dan berzakat, maka rizki itu menjadi jalan pembuka pintu surga untuknya. Tapi sebaliknya, jika rizki yang banyak justru mengantarkannya ke tempat pelacuran, judi dan kemaksiatan lain; maka nerakalah muara akhir baginya. Allah Maha Tahu seberapa banyak ukuran rizki bagi setiap hambanya. Karena itu, marilah kita perbaiki niat dan cara kerja kita. Setiap berangkat kerja, ucapkan ” Saya niat mencari yang halal karena Allah”. Mudah-mudahan niat ini menjadi awal terbukanya pintu amal, terlepas dari kesuksesan dan kegagalan yang kita raih.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:28 am pada 1 April 2014 Permalink | Balas  

    iga mawarniIga Mawarni :”Islam Lebih Realistis “

    (Pengalaman Ruhani / Penyanyi : Iga Mawarni)

    Sejak kecil aku dididik di lingkungan Katolik. Di mata teman-teman aku termasuk Katolik fanatik. Kemanapun aku pergi, senantiasa memperkenalkan keyakinanku. Setelah bersosialisasi di bangku kuliah, aku lebih fair. Di kampus aku senang diskusi sama teman-teman seangkatan yang latar belakangnya berbeda – baik suku maupun agama. Dengan diskusi wawasanku kian terbuka. Dan dari pola pikir yang cukup demokratis itu kami senantiasa menghindari debat kusir. Segala yang dibicarakan berdasar referensi jelas. Bagiku itu menambah semangat membuka Alkitab. Sekaligus bikin catatan kaki buat persiapan diskusi sama temen-temen di setiap kesempatan. Ternyata semakin aku cermat mengkaji Alkitab, sering kujumpai poin-poin yang meragukan. Akhirnya aku bertanya sama teman seiman yang lebih ngerti isi Alkitab. Bahkan sama beberapa pendeta. Setiap aku bertanya, aku berusaha memposisikan diri sebagai orang awam yang ingin belajar agama, bukan sebagai orang yang seiman dengannya. Ternyata jawaban mereka justru bikin hatiku nggak puas. Seiring dengan keraguanku aku pelan-pelan menutup Alkitab. Aku ingin belajar yang lainnya.

    Tapi aku nggak langsung mempelajari Islam. Karena aku merasa ada jurang begitu dalam di antaranya (Islam-Kristen). Melalui sejumlah buku aku melanglang. Aku pelajari agama Hindu, lalu Budha. Namun hati nuraniku tetap ragu ketika sampai pada konsep ketuhanan. Sekalipun ajarannya bagus sekali. Eh, mentok-mentoknya aku pelajari juga ajaran Islam.

    Sejujurnya aku gengsi. Antara ogah dan ingin tahu terus bergelora dalam diriku. “Kenapa mesti Islam?” hatiku memprotes. Langkah pertama aku baca cerita para nabi melalui buku-buku tafsir. Alasanku, Islam dan Kristen itu historinya sama. Kecuali tentang kerasulan Isa AS dan Muhammad SAW. Di Kristen Nabi Isa utusan terakhir. Tapi dalam Islam ada lagi nabi yaitu Nabi Muhammad SAW. Sebagai manusia biasa, aku melihat bahwa al Qur’an itu lebih manusiawi. Artinya segala pertanyaan ada jawabannya. Ada hukum sebab akibat. Kenapa dilarang begini? Karena bisa berakibat begini. Itu yang bikin aku tertarik masuk Islam.

    Menurutku, landasan awal seseorang meyakini suatu kepercayaan itu karena buku besarnya (kitab). Melalui itu kita dapat bersentuhan langsung dengannya. Bagiku itu sudah jadi pegangan kuat. Sedangkan di agama lain, aku lihat banyak ayat yang ditulis oleh orang-orang pada masa itu. Dan aku lihat beberapa surat dalam Alkitab yang menceritakan kejadian sama tetapi versinya berbeda. Buatku hal semacam itu merupakan kasus besar. Karena kitab suci itu ternyata sudah disentuh oleh tangan manusia. Sedangkan ajaran Islam lebih realitis. Karena Al-Qur’an diwahyukan sebagai suatu keharusan. Sedangkan sunah Rasul lain lagi. Yaitu bersifat nggak mengikat. Ini lebih manusiawi.

    Proses hijrahku menjadi muslim nggak begitu mulus. Apalagi keluargaku Nasrani aktif yang fanatik. Aku mengucapkan dua kalimat syahadat pada tanggal 23 Maret 1994 di Malang, Jawa Timur. Padahal aku kuliah di Jakarta. Memang semasa pencarian, aku punya sohib di kota apel itu. Dia nggak bersedia mengajari tentang Islam, melainkan hanya menunjukkan seseorang yang menurutnya lebih tepat. Yaitu Kiai Zulkifli dan Pak Amir.

    Ternyata salah seorang dari mereka juga muallaf. Banyak pengalaman religiusnya yang bikin aku terkesan. Disamping memantapkan niatku masuk Islam. Cobaannya, ibuku aktivis kegiatan gereja. Karenanya aku mengupayakan agar keislamanku nggak diketahuinya dalam kurun waktu dua tahunan. Ternyata beliau tahu lebih awal dari yang aku rencanakan. Sebagai anak pertama pasti ibuku menaruh harapan besar terhadapku. Begitu tahu anaknya berbeda keyakinan, tentu batinnya terpukul. Itu cobaanku yang paling besar. Dimana aku merasa takut kalau ibu marah.

    Tapi begitu semuanya sudah terbuka, aku pasrah sama Allah. Aku tetap menempatkan diri sebagai anak, yang harus senantiasa menghormatinya. Aku bersyukur karena akhirnya sikap mereka sudah lebih baik. Tapi selama “perang dingin” berlangsung aku nggak pernah mau menyinggung soal agama. Kalau hari besar agama baik natal atau lebaran aku sengaja nggak kumpul sama keluarga. Aku tahu, mereka kecewa terhadapku. Kalau aku hadir dalam hari besar mereka, tentu ada perasaan nggak enak. Namun komunikasi tetap jalan. Aku senantiasa mengunjungi orang tua. Alhamdulillah, pada lebaran beberapa tahun lalu, ibu menemuiku. Aku anggap ini blessing. Lebih dari itu, semua ini sudah diatur oleh Allah Swt. Aku yakin itu.

    Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

    Semoga bermanfaat

    ***

    Witono Slamet

     
  • erva kurniawan 7:31 am pada 27 March 2014 Permalink | Balas  

    nabi-muhammad-rasulullah-sawDan Rasulullah Menuju Padanya

    Sosok berwajah cahaya itu berjalan perlahan. Wajahnya bulat, bening, teduh dengan mata bersinar seakan menampilkan gemintang. Gemintang dambaan umat sepanjang jaman. Ya, Rasulullah, salawat dan salam tercurah padamu, ya thala ‘al badru.

    Hanya rasa tak percaya berkecamuk di pikiranku, mungkin juga pikiran orang-orang di sekelilingku saat diumumkan bahwa pertemuan tersebut akan dihadiri Rasulullah. Benarkah? Lalu kudengar senandung zikir di sekitarku. Terus tak putus putus.

    Sosok itu terus berjalan dengan postur tegap, senyum tak henti menghiasi wajah langitnya. Semua orang di sekeliling, juga aku, berusaha menggapai sinar matanya. Berusaha menyalami beliau. Namun Rasulullah terus berjalan seakan hanya menuju satu tujuan. Semua mata mengikuti nabi akhir jaman itu. Siapakah yang dituju Rasul tercinta? Siapakah orang beruntung itu? Siapakah?

    Kemudian Rasul berhenti di depan orang itu, tersenyum dengan mata penuh cinta, menyalami dan menepuk bahunya. Semua yang ada kembali mendengungkan dzikir. Penuh syukur dan takjub.

    Lalu aku pun tersentak! Tanganku bergetar ketika dinihari itu aku terbangun dari tidur dan mengingat mimpi yang baru saja aku alami. Kubangunkan suamiku dan kuceritakan mimpi itu. Suamiku menangis terharu. Ia memelukku, kemudian kami berdua sujud syukur dan salat malam.

    Jujur kuakui, aku bukan ahli ibadah, yang dapat tenggelam bermunajat dalam khusyu. Aku masih harus banyak didorong dan dimotivasi baik oleh teman-teman maupun suami untuk meningkatkan amalan-amalan sunnah. Pun ketika siang hari sebelum aku bermimpi itu, aku berpuasa ayamul bidh, sebuah program menghidupkan ibadah sunnah dalam keluargaku.

    Ah, mimpi itu.. Rasa tak percaya sesaat memenuhi relung hatiku. Tetapi kebahagiaan sejuk merembesi dadaku. Benarkah? Rasanya tak pantas aku melihat senyum Rasulullah dalam mimpi tersebut. Rasanya tak pantas aku bisa melihat sosok al-Amin itu, meski hanya dalam mimpi. Bukankah hanya mereka yang memiliki tingkat keimanan yang tinggi yang mendapat rezeki semulia ini? Seperti Zainab al-Ghazali, seorang aktifis wanita pergerakan Islam di Mesir yang tertangkap dan dipenjarakan rezim Gamal Abdul Naser karena berdakwah. Beliau adalah pejuang Islam yang telah mempersembahkan dirinya untuk Islam. Pada suatu malam dalam penjara yang dingin beliau bermimpi berjumpa Rasulullah Saw.

    Aku? Belum ada yang bisa kupersembahkan untuk Islam. Hidupku masih disibuki dengan urusan keduniaan dan kepentingan-kepentingan jangka pendek. Sungguh aku tak sanggup menceritakan mimpi ini. Tetapi aku yakin akan kebaikan Allah, dan senantiasa berharap semoga Allah berkenan menerima amalku yang masih sedikit agar mampu bangkit dan terus memperbaiki diri.

    Sedangkan orang yang disalami Rasulullah dalam mimpi itu…. Siapakah dia? Persentuhanku dengan orang itu hanya beberapa kali saja. Aku lebih banyak mendengar dari orang lain mengenai kebaikan-kebaikan beliau. Seorang ustadz yang ramah dan jenaka, memiliki integritas yang baik, dan sering kali membuat orang menangis saat mendengar nasehatnya.

    Satu hal yang juga selalu diingat banyak orang adalah kebiasaan beliau bersedekah setiap hari. Tak ada hari dilewati beliau tanpa berdakwah di jalan-Nya. Sampai kemudian kanker hati mulai menggerogoti tubuhnya. Terus menggerogoti, hingga beliau harus menjalani beberapa kali operasi. Namun, seperti yang kudengar dari orang-orang, kesabaran selalu menghiasi hari-hari beliau meski sakit mendera. Bahkan sedekah terus beliau lakukan meski sedang sakit.

    Kurang lebih dua minggu setelah mimpi itu aku mendengar kabar beliau wafat. Dari kabar itu pula aku mendengar bahwa begitu banyak pelayat yang datang ke rumah beliau. Bahkan salat jenazah pun sampai dilakukan beberapa tahap karena masjid tak mampu menampung mereka yang ingin menyalatkan beliau. Ah, kemudian aku sadar. Allahu a’lam. Mimpiku itu mungkin perantara bahwa Rasullullah mencintai sosok itu. Dan bahwa Allah memang lebih sayang pada hamba-Nya yang terbaik, dan mengambil kembali beliau ke sisiNya. Ya, beliau seorang kader Partai Keadilan. Pada kepengurusan pertama Partai Keadilan beliau berada di DPP, Departemen Kaderisasi.

    Beliaulah, yang sebelum ruh lepas dari raga, memberikan tiga wasiat bagi orang di sekelilingnya: tingkatkan hubungan silaturahmi, konsisten di jalan lurus, dan pergauli serta perbaiki masyarakat agar menjadi lebih baik. Beliau yang ada dalam mimpiku, yang disalami serta dirangkul oleh Rasulullah itu adalah Ustadz Ahmad Madani.

    ***

    (Rahmadiyanti Rusdi, seperti diceritakan Dewi Fitri Lestari)

    Dari buku “Bukan di Negeri Dongeng”

     
  • erva kurniawan 2:15 am pada 26 March 2014 Permalink | Balas  

    sajadah1Ada Sajadah Panjang Terbentang

    Lagu Bimbo dengan judul tersebut membuat saya merenung akan hubungan saya dengan Allah swt. Saya ingin tahu bagaimana sebenarnya posisi saya di sisi Tuhan. Seorang sufi berkata, “jika anda ingin tahu bagaimana posisi anda di sisi Tuhan, lihatlah di mana posisi Tuhan di hati anda!”

    Saya pun mencoba melihat ke dalam hati saya. Bisakah saya merasakan Tuhan hadir di hati saya? Entahlah.Saya memang bukan seorang sufi. Tapi saya percaya bahwa Tuhan semestinya hadir dalam semua perbuatan saya. Ketika saya sholat dan puasa, saya tahu Tuhan hadir dalam hati saya. Namun ketika saya berangkat kerja, ke luar dari rumah, saya tak bisa memastikan apakah masih saya bawa Tuhan dalam aktivitas saya.

    Apakah Tuhan hadir ketika saya disodori uang komisi oleh rekan sekantor? Apakah Tuhan hadir ketika saya selipkan selembar amplop agar urusan saya menjadi lancar? Apakah Tuhan juga hadir ketika saya ombang-ambingkan mereka yang datang ke kantor saya, terlempar dari satu meja ke meja yang lain.

    Lagu Bimbo tersebut mengingatkan saya bahwa hidup ini bagaikan sajadah panjang yang terbentang,dari buaian bunda sampai ke liang lahat. Seharusnya semua aktivitas yang saya lakukan di sajadah panjang ini membawa saya untuk selalu mengingat kehadiran-Nya.

    Mengapa Tuhan hanya saya bawa dan saya resapi kehadiran-Nya ketika saya berada di masjid, dan tiba-tiba Tuhan hilang ketika saya berada di luar masjid. Kalau saja lagu Bimbo tersebut saya terjemahkan ke dalam bahasa para khatib Jum’at: “Apapun aktivitas kita, seharusnya kita selalu ingat keberadaan Allah. Itulah makna dzikrullah; mengingat Allah; itu jugalah makna ibadah.”

    Kalau saya diperbolehkan menerjemahkan lagu Bimbo itu dengan bahasa al-Qur’an, saya teringat satu ayat suci, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” Sayang, penfsiran saya akan kata ibadah masih terbatas pada ibadah ritual. Sayang sekali, sajadah saya tak panjang terbentang. Sajadah saya tak mampu masuk ke gedung-gedung pencakar langit, ke pusat perbelanjaan, ke tempat hiburan dan ke gedung sekolah.

    “Tak kulihat suatu benda, kecuali di ujungnya kulihat ada Tuhan!” Ah, ucapan sufi ini lagi-lagi membuat saya malu. Saya tahu bahwa bukan maksud sufi tersebut untuk mengatakan dia telah melihat Tuhan, tapi yang ingin dia ceritakan adalah Tuhan selalu hadir di sekelilingnya.

    Ada sajadah panjang terbentang.

    ***

    Dari Sahabat: Nadirsyah Hosen

     
    • Istanamurah 10:39 am pada 26 Maret 2014 Permalink

      sangat menyetujuinya gan,,kadang kita diwajibkan untuk menjalankan syariat agama yang kita yakini namun penting juga untuk mengenal tuhan dan keberadaannya agar sajadah kita juga panjang terbentang, :D

  • erva kurniawan 1:27 am pada 10 March 2014 Permalink | Balas  

    tahajjudKawan, Pernahkah Merasa Seberdosa Ini?

    Lelah. Rasanya terlalu lelah untuk terus berdo’a kepada Allah. Hari ini entah sudah kesekian kalinya aku meminta, tapi tak jua Dia mengabulkan permintaanku. Pekan lalu, saat ku membutuhkan pertolongan Nya, Ia tak segera mengulurkan tanganNya. Ah, jangankan yang baru-baru ini, puluhan bahkan ratusan pintaku bulan-bulan sebelumnya, juga tahun sebelumnya, kalau kuingat-ingat, belum juga terkabulkan.

    Tapi, apa salahnya malam ini ku mencoba berdialog kembali dengan Nya, semoga saja ia mau mendengar. Baru saja kususun jemari ini, belum sempat baris kata-kata yang sebelumnya sudah kurangkai indah di dalam benakku deras terburai keluar dari mulutku, mataku menangkap tajam jemariku yang bergerak …

    Astaghfirullaah … seketika dadaku sesak. Berdegub kencang. Ingin kuhapus kata-kataku diatas. Tapi sudah terlanjur tumpah. Aku malu telah lancang kepadaNya dan menihilkan semua yang telah diberikan-Nya.

    Pernahkah aku meminta kepada Nya untuk memberikan kepadaku jemari yang lengkap dan indah, sehingga aku bisa banyak berbuat dengan kesempurnaan penciptaan ini? Aku tak pernah meminta sebelumnya agar Ia melengkapi tanganku ini dengan jemari, aku juga tak pernah berdo’a untuk berbagai kesempatan hingga detik ini aku masih bisa menggerakkan, dan menyentuh dengan jemariku ini.

    Harus kusentuh lagi beberapa anggota tubuh ini. Kemudian aku berdiri, subhanallah, aku masih bisa berdiri. Padahal aku tak pernah sebelumnya meminta agar terus ditetapkan memiliki dua kaki sempurna, tapi Dia masih terus memberikannya. Lalu aku berjalan, Alhamdulillah aku masih bisa berjalan. Keluar kamar, ke ruang tengah, kulihat masih terlihat sederet makanan di meja makan, kucicipi sepotong tahu. Enak, ya enak. Tapi kenapa aku masih bisa merasakan nikmatnya sepotong tahu? Juga segarnya menyeruput sebotol juice buah yang kuambil dalam kulkas? Yang pasti, tak pernah barisan kata pinta terucap tuk sekedar memohon agar tetap diberikan kemampuan merasa.

    Kuterus berjalan. Ke kamar mandi. Ada air. Kusentuh segarnya air itu. aah, sejak kapan aku merasakan kesegaran ini. Mungkinkah ketika terlahir dulu sempat aku meminta kepadaNya agar dikaruniakan kesegaran macam ini? atau … hhhhhh, kuhirup udara malam yang sejuk. Eh, apa pernah aku minta Dia tak menyetop pasokan udara untukku? Bahkan … aku masih hidup, aku masih hiduuup (teriakku) … siapa yang tahu dan bisa menerka sampai kapan aku masih bisa menikmati hidup. Tapi yang jelas tak pernah sekalipun keluar dari mulut ini rangkaian kata: “Allah, terima kasih atas semua nikmat Mu, sampai hari ini.”

    Semakin kutahu, jika pepohonan dijadikan pena, dan laut menjadi tinta, niscaya takkan pernah cukup, tuk menuliskan semua nikmat-Nya

    ***

    (Diambil dari artikel eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 3:22 am pada 9 March 2014 Permalink | Balas  

    tahajjudKekasihku Mendekatkan Aku Pada Tuhan

    Oleh: Ningsih

    Malam semakin beranjak tinggi, gelap telah sempurna mewarnai seluruh lagit, walau bintang bertaburan, namun tidak jua mampu mengusir gelapnya malam. Afwan, mengetuk pintu rumahnya sedikit keras, tapi sepertinya tidak ada yang handak membukakan pintu. Berkali-kali-kali ucapan salam ia lontarkan, Namun tak ada sahutan dari dalam. “Ehm…Mungkin sudah tidur” guman afwan dalam hati.

    Afwan segera merogoh, sela-sela jendela rumahnya. ” Alhamdulillah, ini dia kuncinya”. Ucapnya bersyukur. Segera ia buka pintu dan masuk ke dalamnya. Ia dapati , Syifa istrinya tertidur pulas. Sejenak ia terpana, kemudian di dekati dan dipandanginya wajah istrinya. Gurat-gurat lelah tampak memenuhi wajahnya. “Maafkan aku Dik. Kesibukanku dalam da’wah, membuat aku sering mengabaikanmu. Terima kasih telah menjadi istri yang baik , terima kasih atas dukungan yang selalu kau berikan dalam setiap langkah da’wahku. Maaf, bila aku belum dapat menjadi seorang suami yang baik.” Dialog Afwan dalam hati.

    Afwan, merasa begitu bersyukur, mendapatkan istri seorang Syifa, yang mendukung penuh aktifitas da’wahnya. Sehingga ia lebih bersemangat melaksanakan kewajibannya untuk beramar ma’ruf nahi munkar.

    Suami atau istri merupakan salah satu sisi kehidupan kita manusia, bahkan merupakan orang yang paling dekat dengannya. Dengan pasangannyalah manusia dapat berbagi rasa, bercerita tentang suka cita atau duka cita. Mereka akan berusaha bersama-sama menyelesaikan permasalahan kehidupan yang kerap kali menyinggahi mereka. Mereka akan berusaha menjadikan rumah tangganya dipenuhi oleh harum semerbaknya bunga kebahagiaan. Karena sesungguhnya, kebahagiaan rumah tangga adalah sisi kebahagiaan terpenting dalam kehidupan manusia. Mereka akan berusaha menjadikan rumah tangga mereka sebagai sarana untuk menggapai ridho Tuhannya.

    Sebelum menikah, barangkali agama dalam diri sang istri atau suami belum terurus. Maka dengan menikah, akan ada kerja sama untuk saling menjaga agar agama dalam diri keduanya tidaklah merosot. Alangkah indahnya jika masing-masing dapat membantu teman hidupnya untuk memperbaiki agamanya. Mereka membantu dengan penuh kelembutan dan kelapangan hati.

    Suami istri bisa saling membantu untuk memperbaiki agama mereka. Mereka bisa mengajarkan apa-apa yang tidak diketahui pasangannya . Mereka bisa saling mengingatkan. Di sinilah ada ladang amal shalih bagi keduanya, ketika tingkatan ilmu agama mereka sederajat maupun salah satu dari mereka lebih tinggi.

    Rasulullah pernah berkata “Allah merahmati seseorang yang bangun pada malam hari lalu menunaikan sholat. Dia bangunkan istrinya, dan jika istri enggan, maka dia percikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam hari untuk menunaikan sholat. Dia bangunkan suaminya, dan apabila suaminya enggan, maka ia percikkan air ke wajahnya (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah).

    Jika sebelum menikah jiwa sulit terjaga dan mata sangat berat untuk memicing mudah-mudahan setelah menikah ada perbaikan. Paling tidak bisa lebih bangun lebh awal. dan jika sebelum menikah bisa bangun malam, mudah-mudahan kecantikan istri tidak menjadikan kaki berat untuk melangkah. Berdampingan dengan istri yang cantik dan sangat kita cintai memang menyenangkan hati. Adalah perjuangan berat untuk bisa merenggangkan jarak selama beberapa saat diantara malam gelap dan dingin.

    Islam memerintahkan kepada suami dan istri untuk melestarikan mahligai pernikahannya, memupuk rasa cinta cinta dan mempererat ikatan kasih diantara mereka, sampai saat yang dikehendaki oleh Allah atau sampai tiba ajla mereka. Oleh karena itu, prinsip-prinsip dan nasihat-nasihat sama-sama ditujukan kepada suami dan istri pada tingkat yang sama. Masing-masing di tuntut untuk memperlakukan pasangannya dengan baik.

    Allah memerintahkan seorang suami untuk berperilaku baik serta lembut kepada sang istri yaitu dengan memberi nasihat bila keliru, berbicara dengan baik, tidak memberi beban berat kepada istri dalam mengurus diri dan anak-anaknya, tidak menelantarkan nafkah nya, menyediakan keperluan istri untuk meningkatkan ilmu dan intelektualnya, dan lain-lain hal yang bermanfaat bagi kehidupan agama istri. Demikian juga istri terhadap suaminya, ia harus melayani kebutuhan suaminya dengan penuh ketulusan, mengurus anak-anak suami, memelihara harta dan martabat suami, dan memenuhi kepentingan lain suaminya yang bermanfaat bagi kehidupan keluarga.

    Suami juga diperintahkan untuk bersabar. Termasuk bersabar disini adalah tidak menari-cari kekurangan istrinya dan mengambil hikmah dari apa yang tidak disenanginya. Hal ini perlu sebab adakalanya suatu hal yang tidak disenangi oleh suami dari istri justru merupakan kunci kebaikan bagi pasangan tersebut. Misalnya, istri memiliki sifat cerewet. Sifat sering membuat suami sebal. Akan tetapi, adakalanya sifat cerewet ini bermanfaat bagi suami karena bisa menjadi pengontrol terhadap kelalaian suami. Dan Allah pun berfirman: “…………….Dan bergaulah dengan mereka secara baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah), karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Q.S. An- nisaa’ : 19)

    Demikianlah, sebelumnya manusia adalah seorang diri, kemudian Allah takdirkan manusia saling berpasang-pasangan, agar terjalin cinta kasih diantara mereka. Dengan energi cinta itulah manusia dapat saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

    Semoga anda dan istri anda merupakan pasangan yang saling memberikan motivasi untuk kebaikan dunia dan akhirat anda. Amin (nsh)

    ***

    Referensi :

    • Mencapai Pernikahan Barakah, M. Fauzil Adhim.1998
    • Petunjuk Pernikahan dalam Islam, M. Thalib
     
  • erva kurniawan 4:18 am pada 8 March 2014 Permalink | Balas  

    zakatKisah Seorang Penunda Zakat

    Oleh: Yopi BurhanJul

    Assalamu’alaikum,

    Insya Allah saya akan menceritakan pengalaman seorang temanku, sebut saja namanya Fulan. Kisah ini terjadi di Batam.

    Sebenarnya Fulan bukan tipe orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Bulan-bulan sebelumnya dia selalu mengeluarkan zakat dari gajinya. Tetapi satu bulan terakhir dia menunda-nundanya.

    Pada suatu saat Fulan bersama istrinya pergi ke kota. Sampai pada saat pulangnya mereka naik taxi. Setelah membayar, turun taxi dan jalan kaki beberapa langkah, baru diketahui bahwa istrinya merasa kehilangan dompet. Dengan segera Fulan mengejar taxi tadi yang diduga kuat dompetnya tertinggal di taxi. Telah beberapa lama mengejar, tidak ditemukan juga. Pulanglah Fulan dengan perasaan sedih.

    Sampai di rumah baru terpikir oleh batinnya, “astaghfirullahal ‘adziimm, mungkin ini akibat menunda-nunda zakatku..” Dengan segera besoknya Fulan membayarkan zakatnya.

    Apa yang terjadi selanjutnya? Tanpa disangka-sangka besoknya tertempel pengumuman di perusahaan tempat istrinya bekerja: DITEMUKAN DOMPET, YANG MERASA KEHILANGAN HARAP MENGHUBUNGI SECURITY” dengan tertulis dompet itu atas nama istrinya.

    Segera Fulan menghubungi alamat si penemu ke rumahnya. Setelah di uji sebentar oleh si penemu, diberikanlah dompetnya. Diperiksanya isi dompet tersebut. Alhamdulillah…..isinya tidak ada yang berkurang sedikitpun, baik ATM, kartu sampai uangnya.

    Subhanallah, Allahuakbar, Laailaahaillallah, Muhammadurrasuulullah

    Betapa meruginya orang yang menahan zakatnya. Mereka mengira itu bisa mengekalkan kebahagiaannya. Mungkin bisa jadi Allah tidak langsung mengambilnya secara langsung. Mungkin bisa dari kesehatannya, selalu membengkak kebutuhannya, bahkan keluarganya. Belum lagi panasnya setrika akhirat sudah menunggu kelak. Sungguh Allah maha mengetahui apa di balik hati manusia.

    Saya mohon maaf kalau ada kesalahan dalam penyampaian.

     

     
  • erva kurniawan 7:42 am pada 4 March 2014 Permalink | Balas  

    sakitPerjalanan Jauh Kita yang Sesungguhnya

    Sangat merugilah orang yang menjadikan dunia fana ini tujuan hidupnya. Sedangkan Rasulullah bersabda, “….Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya…”

    Betapa indah dan bijaksanannya perumpamaan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah terminal kehidupan sementara; hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya. Subhanallah….

    **

    Nurah, saudara perempuanku nampak pucat dan kurus sekali. Tetapi seperti biasa, ia masih membaca Al-Qur’anul Karim. Tika ingin menemuinya, pergilah ke mushallanya. Di sana engkau akan mendapatinya sedang ruku’, sujud dan menengadahkan ke langit. Itulah yang dilakukannya setiap pagi, sore dan di tengah malam hari. Ia tidak pernah jenuh.

    Berbeda dengannya, aku selalu asyik membaca majalah-majalah seni, tenggelam dengan buku-buku cerita dan hampir tak pernah beranjak dari video. Bahkan, aku sudah identik dengan benda yang satu ini. Setiap video diputar pasti di situ ada aku. Karena ‘kesibukanku’ ini, banyak kewajiban yang tak bisa kuselesaikan bahkan, aku suka meninggalkan shalat.

    Setelah tiga jam berturut-turut menonton video di tengah malam, aku dikagetkan oleh suara adzan yang berkumandang dari masjid dekat rumahku. Sekonyong-konyong malas menggelayuti semua persendianku, maka aku pun segera menghampiri tempat tidur. Nurah memanggilku dari mushallanya.

    Dengan berat sekali, aku menyeret kaki menghampirinya. “Ada apa Nurah?,” tanyaku. “Jangan tidur sebelum shalat Shubuh!”, ia mengingatkan. “Ah. Shubuh kan masih satu jam lagi. Yang baru saja kan adzan pertama” Begitulah, ia selalu penuh perhatian padaku. Sering memberiku nasihat, sampai akhimya ia terbaring sakit. ia tergeletak lemah di tempat tidur.

    “Hanah!,” panggilnya lagi suatu ketika. Aku tak mampu menolaknya. Suara itu begitu jujur dan polos.

    “Ada apa saudariku?”, tanyaku pelan.

    “Duduklah!” Aku menurut dan duduk di sisinya. Hening… Sejenak kemudian Nurah melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. “Tiap jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempumnkan pahalamu.” (Al Imran: 185)

    Diam sebentar, lalu ia bertanya: “Apakah kamu tidak percaya adanya kematian?” “Tentu saja percaya!”

    “Apakah kamu tidak percaya bahwa amalmu kelak akan dihisab, baik yang besar maupun yang kecil?” “Percaya. Tetapi bukankah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sementara aku masih muda, umurku masih panjang!” “Ukhti, apakah kamu tidak takut mati yang datangnya tiba-tiba? Lihatlah Hindun, dia lebih muda darimu, tetapi meninggal karena sebuah kecelakaan. Lihat pula si fulanah…Kematian tidak mengenal umur. Umur bukan ukuran bagi kematian seseorang. Aku menjawabnya penuh ketakutan. Suasana tengah malam yang gelap mencekam, semakin menambah rasa takutku.

    “Aku takut dengan gelap, bagaimana engkau menakut-nakutiku lagi dengan kematian? Di mana aku akan tidur nanti?” Jiwa asliku yang amat penakut betul-betul tampak. Kucoba menenangkan diri aku berusaha tegar dengan mengalihkan pembicaraan pada tema yang menyenangkan, rekreasi.

    “Oh ya, kukira ukhti setuju pada liburan ini kita pergi rekreasi bersama?”, pancingku. “‘Tidak, karena barangkali tahun ini aku akan pergi jauh, ke tempat yang jauh… mungkin… umur ada di tangan Allah, Hanah”, ia lalu terisak. Suara itu bergetar, aku ikut hanyut dalam kesedihan.

    Sekejap, langsung terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang ganas. Para dokter, secara rahasia telah mengabarkan hal itu kepada ayah. Menurut analisa medis, para doker sudah tak sanggup, dan itu berarti dekatnya kematian. Tetapi, siapa yang mengabarkan ini semua padanya?, atau ia memang merasa sudah datang waktunya?,

    “Mengapa termenung? Apa yang engkau lamunkan?”, Nurah membuyarkan lamunanku. “Apa kau mengira, hal ini kukatakan karena aku sedang sakit? Bahkan boleh jadi umurku lebih panjang dari umur orang-orang sehat. Dan kamu, sampai kapan akan terus hidup? Mungkin 20 tahun lagi, 40 tahun atau… Lalu apa setelah itu? Kita tidak berbeda. Kita semua pasti akan pergi, entah ke Surga atau ke Neraka. Apakah engkau belum mendengar ayat:

    “Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh ia telah beruntung” (Ali Imran: 185)

    “Sampai besok pagi,” ia menutup nasihatnya. Aku bergegas meninggalkannya menuju kamar. Nasihatnya masih tergiang-ngiang di gendang telingaku, “Semoga Allah memberimu petunjuk, jangan lupa shalat!”

    Pagi hari…Jam dinding menunjukkan angka delapan pagi. Terdengar pintu kamarku diketuk dari luar. “Pada jam ini biasanya aku belum mau bangun” pikirku. Tetapi di luar terdengar suara gaduh, orang banyak terisak. “Ya Rabbi, apa yang tejadi?”

    “Mungkin Nurah…?, “firasatku berbicara. Dan benar, Nurah pingsan, ayah segera melarikannya ke rumah sakit. Tidak ada rekreasi tahun ini. Kami semua harus menunggui Nurah yang sedang sakit. Lama sekali menunggu kabar dari rumah sakit dengan harap-harap cemas.

    Tepat pukul satu siang, telepon di rumah kami berdering. Ibu segera mengangkatnya. Suara ayah di seberang, ia menelpon dari rumah sakit. “Kalian bisa pergi ke rumah sakit sekarang!,” demikian pesan ayah singkat. Kata ibu, tampak sekali ayah begitu panik, nada suaranya berbeda dari biasanya.

    “Mana sopir…?” kami semua terburu-buru: Kami menyuruh sopir menjalankan mobil dengan cepat. Tapi ah, jalan yang biasanya terasa dekat bila aku menikmatinya dalam pejalanan liburan, kini terasa amat panjang, panjang dan lama sekali. Jalanan macet yang biasanya kunanti-nanti sehingga aku bisa menengok ke kanan-kiri, cuci mata, kini terasa menyebalkan. Di sampingku, ibu berdo’a untuk keselamatan Nurah.

    “Dia anak shalihah. Ia tidak pernah menyia-nyia kan waktunya. Ia begitu rajin beribadah”, ibu bergumam sendirian. Kami turun di depan pintu rumah sakit. Kami segera masuk ruangan. Para pasien pada tergeletak lunglai. Di sana sini terdengar lirih suara rintihan. Ada yang baru saja masuk karena kecelakaan mobil, ada yang matanya buta, ada yang mengerang keras. Pemandangan yang membuat bulu kudukku merinding. Kami naik tangga eskalator menuju lantai atas. Nurah berada di ruang perawatan intensif. Di depan pintu terpampang papan peringatan: “Tidak boleh masuk lebih dari satu orang!” Kami terperangah. Tak lama kemudian, seorang perawat datang menemui kami. Perawat memberitahu kalau kini kondisi Nurah mulai membaik, setelah beberapa saat sebelumnya tak sadarkan diri.

    Di tengah kerumunan para dokter yang merawat, dari sebuah lubang kecil jendela yang ada di pintu, aku melihat kedua bola mata Nurah sedang memandangiku. Ibu yang berdiri di sampingnya tak kuat menahan air matanya. Waktu besuknya habis, ibu segera keluar dari ruang perawatan intensif. Kini tiba giliranku masuk. Dokter memperingatkan agar aku tidak banyak mengajaknya bicara. Aku diberi waktu dua menit.

    “Assalamu ‘alaikum!, bagaimana keadaanmu Nurah?, tadi malam, engkau baik-baik saja. Apa yang terjadi denganmu?”, aku menghujaninya dengan pertanyaan. “Alhamdulillah, aku sekarang baik-baik saja, jawabnya dengan berusaha tersenyum. “Tapi, mengapa tanganmu dingin sekali, kenapa?” aku menyelidik. Aku duduk di pinggir dipan. Lalu kucoba meraba betisnya, tapi ia segera menjauhkannya dari jangkauanku. “Ma’af, kalau aku mengganggumu!”, aku tertunduk. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingat firman Allah Ta’ala: “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kami dihalau”. (Al-Qiyamah: 29-30)

    Nurah melantunkan ayat suci Alquran. Aku menguatkan diri. Sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak menangis dihadapan Nurah, aku membisu. ” Hanah, berdoalah untukku. Mungkin sebentar lagi aku akan menghadap. Mungkin aku segera mengawali hari pertama kehidupanku diakhirat…Perjalananku amat jauh tapi bekalku sedikit sekali”. Pertahananku runtuh. Air mataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya. Ayah mengkhawatirkan keadaanku. Sebab mereka tak pernah melihatku menangis seperti itu. Bersamaan dengan tenggelamnya matahari pada hari itu. Nurah meninggal dunia…. Suasana begitu sepat berubah. Seperti baru beberapa menit aku bebincang-bincang dengannya. Kini ia telah meninggalkan kami buat selama-selamanya. Dan, ia tak akan pernah bertemu lagi dengan kami. Tak akan pernah pulang lagi. Tidak akan bersama-sama lagi. Oh Nurah…

    Suasana dirumah kami digelayuti duka yang amat dalam. Sunyi mencekam. Lalu pecah oleh tangisan yang mengharu biru. Sanak kerabat dan tetangga berdatangan melawat. Aku tidak bisa membedakan lagi, siapa-siapa yang datang, tidak pula apa yang mereka percakapan. Aku tenggelam dengan diriku sendiri. Ya Allah, bagaimana dengan diriku? Apa yang bakal terjadi pada diriku? Aku tak kuasa lagi, meski sekedar menangis. Aku ingin memberinya penghormatan terakhir. Aku ingin menghantarkan salam terakhir. Aku ingin mencium keningnya.

    Kini, tak ada sesuatu yang kuingat selain satu hal. Aku ingat firman Allah yang dibacakannya kepadaku menjelang kematiannya. “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)”. Aku kini benar-benar paham bahwa, “Kepada Tuhanmullah pada hari itu kamu dihalau”

    “Aku tidak tahu, ternyata malam itu, adalah malam terakhir aku menjumpainya di mushallanya. Malam ini, aku sendirian di mushalla almarhumah, terbayang kembali saudara kembarku, Nurah yang demikian baik kepadaku. Dialah yang senantiasa menghibur kesedihanku, ikut memahami dn merasakan kegalauanku, saudari yang selalu mendo’akanku agar aku mendapat hidayah Allah, saudari yang senantiasa mengalirkan air mata pada tiap-tiap pertengahan malam, yang selalu menasihatiku tentang mati, hari perhitungan…. ya Allah! Malam ini adalah malam pertama bagi Nurah dikuburnya. Ya Allah, rahmatilah dia, terangilah kuburnya.

    Ya Allah, ini mushaf Nurah,… ini sajadahnya… dan ini.. ini gaun merah muda yang pernah dikatakannya padaku, bakal dijadikan kenangan manis pernikahannya. Aku menangisi hari-hariku yang berlalu dengan sia-sia. Aku menangis terus-menerus, tak bisa berhenti. Aku berdo’a kepada Allah semoga Dia merahmatiku dan menerima taubatku. Aku mendo’akan Nurah agar mendapat keteguhan dan kesenangan di kuburnya, sebagaimana ia begitu sering dan suka mendo’akanku. Tiba-tiba aku tersentak dengan pikiranku sendiri. “Apa yang terjadi jika yang meninggal adalah aku? Bagaimana kesudahanku?” Aku tak berani mencari jawabannya, ketakutanku memuncak. Aku menangis, menangis lebih keras lagi. Allahu Akbar, Allahu Akbar…Adzan fajar berkumandang.

    Tetapi, duhai alangkah merdunya suara panggilan itu kali ini. Aku merasakan kedamaian dan ketentraman yang mendalam. Aku jawab ucapan muadzin, lalu segera kuhamparkan lipatan sajadah, selanjutnya aku shalat Shubuh. Aku shalat seperti keadaan orang yang hendak berpisah selama-lamanya. Shalat yang pemah kusaksikan terakhir kali dari saudari kembarku Nurah. Jika tiba waktu pagi, aku tak menunggu waktu sore dan jika tiba waktu sore, aku tidak menunggu waktu pagi.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:23 am pada 2 March 2014 Permalink | Balas  

    Mimpi 2Mimpi

    Dia Cantik. Kadang-kadang mengenakan rok atau celana jeans sedengkul. Kaos masa kini dilengkapi dengan vest denim pendek, sepatu kets putih dan kaos kaki. Rambutnya kadang diikat di atas tengkuk, kadang dikepang dengan pita-pita banyak. Hampir setiap pagi, saat berangkat ke kantor saya bertemu dengannya. Beberapa kali saya lihat dia duduk di atas mobil yang terparkir di pinggir jalan. Bergaya ala fotomodel, sambil mengisap rokok yang terselip diantara jari-jemarinya. Dia selalu tampak sibuk dengan dunianya sendiri.

    Pernah saya bertanya pada tukang warung rokok di pinggir jalan tempat perempuan itu biasa mangkal. Dimana rumahnya? Apa yang terjadi dengannya? Tapi tak seorang pun tahu. Yang mereka tahu adalah, wanita itu gila. Melihat tingkah lakuknya, saya menduga, mungkin dulu ia pernah bermimpi menjadi seorang bintang, fotomodel, peragawati atau apapun yang berbau selebritis. Terlihat dari pakaiannya yang selalu trendi dan gayanya yang bak fotomodel. Entahlah!

    ***

    Mimpi. Siapa sih manusia di dunia ini yang tak memiliki mimpi? Sesederhana apa pun -dan meskipun orang tak menyebutnya dengan mimpi- saya yakin setiap kita punya mimpi. Punya keinginan yang suatu saat ingin diwujudkan.

    Dulu ketika kecil saya suka membayangkan menjadi anak orang kaya, memiliki rumah megah seperti rumah sahabat saya. Ketika saya menginjak remaja, saya bermimpi menjadi selebriti, meskipun sekadar menjadi selebriti tingkat kelas, atau anak gaul sekolah yang dikenal teman-teman. Saat memasuki bangku kuliah, saya mimpi menjadi mahasiswa terbaik, ikut berbagai aktivitas kampus, dan menguasai berbagai bahasa asing selain Inggris. Saat saya selesai kuliah, belasan impian, juga idealita, saya miliki dan menjadi obsesi. Dapat hadiah gebyar BCA, Kodok dari Citibank, dan segudang lainnya.

    Namun jika saya telusuri, nyaris semua kenyataan hidup yang saya jalani berbeda jauh dan bertolak belakang dengan impian dan idealita saya. Mengapa?

    Pertama, mungkin kurang memiliki motivasi berprestasi , Saya kurang kuat berusaha, kurang tekun menjalani, kurang sabar melewati tantangan. Mudah capek, mudah ngambek, mudah patah arang. Padahal, mungkin saja usaha saya belum ada apa-apanya dibanding mereka yang berhasil meraih impiannya.

    Kedua, kurang mengenali potensi diri: potensi otak, jiwa, materi. Impian saya yang terlalu tinggi sementara modal dan pemahaman pas-pasan, tidak sesuai ndengan kapasitas. Modal semangat saja tidaklah cukup untuk meraih mimpi. Alih-alih dapat merealisasikan impian, semangat yang terlalu besar menjadikan kita ambisius dan terobsesi kemudian stress.

    Ketiga, takdir! Apa yang saya impikan adalah apa yang saya ketahui baik untuk saya pada waktu itu, menurut batas pengetahuan saya, menurut paradigma saya. Namun semestinya saya menyadari, Allah jauh lebih tahu apa yang baik bagi saya dan apa yang tidak. Allah telah menetapkan sesuatu bagi hambaNya, sesuai ukuran dan kapasitas. Kita hanya diperintahkan untuk berusaha semaksimal mungkin.

    Ketika Allah telah menampakkan realitas hidup, tibalah masanya kita berdamai dengan kenyataan. Tawakkal, berserah diri. Agar tak seperti gadis trendi yang saya temui setiap hari, selalu terobsesi sehingga akhirnya terpaksa hidup dalam dunia mimpi.

    Buanglah mimpi yang tidak realistis. Berpikirlah, berusahalah, dan berdoalah…

    ***

    (Diambil dari artikel eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 2:51 am pada 24 February 2014 Permalink | Balas  

    kakek penjual amplopKakek Penjual Amplop

    Kisah nyata ini ditulis oleh seorang dosen ITB bernama Rinaldi Munir mengenai seorang kakek yang tidak gentar berjuang untuk hidup dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop di Masjid Salman ITB. Jaman sekarang amplop bukanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan, tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya dan pulang dengan tangan hampa. Mari kita simak kisah “Kakek Penjual Amplop di ITB”.

    Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

    Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.

    Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

    Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

    Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

     

    Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

    Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

    Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

    Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.

    Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

    Mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini. Tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:23 am pada 18 February 2014 Permalink | Balas  

    tukang-baksoMaafkan Saya Tuhan

    “Mas Ento”, biasa saya menyebutnya. Seorang lelaki yang tidak lagi muda, penjual bakso keliling di tempat saya. Keriput kulit begitu nyata terukir di wajah legam tanpa ekspresinya. Sebenarnya baksonya tidak seenak 2 penjual bakso rivalnya, itulah mengapa jarang sekali pembeli menghentikannya. Sering saya melihatnya termenung sendiri dibawah pohon jambu dekat lapangan tempat anak-anak bermain. Setiap rivalnya datang, dia bergegas seperti ketakutan membawa dagangannya yang tanpa roda itu pergi. Saya pernah bertanya tentang hal ini kepadanya, namun seperti biasanya dia diam dan beralih menanyakan berapa porsi bakso yang ingin saya beli.

    Akhirnya saya mendapatkan jawabannya sendiri. Saya sangat faham, pias wajah ketakutan yang membayang ketika rivalnya datang. Saat itu, di tempat sepi saya menyaksikan rivalnya melakukan sebuah hal yang sungguh tidak dapat saya fahami. Mangkuk-mangkuk bakso milik mas Ento menjadi terserak dijalanan, belum lagi botol-botol itu, bulatan-bulatan bakso terhambur dari tempatnya. Kuahnya tumpah mengenai kakinya yang tak lagi sempurna berjalan. Tanpa beban, sang rival melenggang pergi meninggalinya banyak kepedihan. Ingin sekali saya meneriakinya “kurang ajar”, tetapi melihat sosoknya yang besar membuat saya hanya mematung, meski hati saya ribut tidak karuan.

    Setiap teringat mas Ento, saya pasti berguman dengan ungkapan yang saya adopsi dari sebuah puisi “Maafkan saya Tuhan, di depan saya ada orang yang di zalimi tetapi saya tidak menolongnya”.

    ***

    Suatu saat menjelang siang, seorang bocah kecil pengamen, berdiri di dalam bis menghadap para penumpang. Suara paraunya menggema di bis yang akan membawa saya ke terminal Leuwi Panjang, Bandung. Beberapa lagu diperdengarkannya kepada kami. Saya memandangnya sayang, tangannya hanya satu yang sempurna, tangan sebelah kiri buntung sampai sikut. Mungkin karena itulah hampir semua penumpang memasukkan uang ke dalam bekas bungkus kemasan aqua gelas yang diedarkannya. Saya yang duduk dibelakang dapat menyaksikan binar mata kegembiraan sang bocah yang mengaso dekat pintu.

    Bis sudah masuk terminal, penumpang telah banyak turun. Si kondektur menyeret bocah tadi hampir tepat di hadapan saya. “Sini!!” bentak lelaki bertopi itu, tangannya meraih paksa tempat uang si bocah. Dengan tersenyum dia menghitung, dan tanpa beban dia mengembalikan wadah kosong ke tangan sang bocah. Dan lagi-lagi saya tidak berbuat apa-apa. Saya hanya diam, meski hati ini juga ribut tak karuan. Saya menatap wajah pasrah itu. “Ngga apa-apa, sudah biasa”. Itu yang diucapkan si bocah sebelum pergi.

    Jika sudah begitu, tak ada yang dapat menentramkan hati kecuali sebuah doa ampunan, “Maafkan saya Tuhan, di hadapan saya ada mahlukmu yang dizalimi, tetapi saya tidak mampu berbuat apa-apa”.

    ***

    Jari ditangan tak akan mampu membilang episode-episode kezaliman. Israel yang begitu pongah mengobrak-abrik Palestina. Bom-bom cluster yang tercurah, mengoyak banyak tubuh manusia.  Mereka yang direnggut nyawa dengan cara demikian, adalah saudara kita. Bukankah mereka juga shalat, puasa dan berdoa kepada Allah, sama sepert kita. Belum lagi di Mesir yang dilanda perang saudara atau yang kita lihat langsung di lingkungan sekitar.

    Nabi bersabda, ketika kemungkaran berada dihadapan, cegahlah dengan tangan, itulah seutama-utamanya iman. Jika belum mampu, sergahlah dengan lisan yang kita punya. Dan yang terakhir, bencilah dengan hatimu, berdoalah. Dan nabi melabelkan hal ini sebagai selemah-lemahnya iman.

    ***

    Diambil dari eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 8:51 am pada 12 February 2014 Permalink | Balas  

    bekerjaAllah Lebih Tahu Yang Terbaik Buat Kita

    Sore itu kulihat suamiku mondar mandir keluar masuk ruangan dengan wajah murung. Aku tahu sebabnya, dia tidak diterima dalam seleksi masuk S-2 di sebuah lembaga pendidikan yang dia inginkan, walaupun hasil test dia terbaik dari hasil tes peserta yang lain, dengan alasan suamiku telah diterima di lembaga lain yang masih ada dalam satu naungan.

    Suatu hal yang sangat wajar bila dia kecewa. Namun aku mencoba untuk menghibur walau aku sendiri merasakan kesedihan yang sama, dengan mengatakan: “Sudahlah mas, Insya Allah ada hikmahnya. Mungkin ini pilihan yang terbaik dari Allah buat kita”.

    Suamikupun berusaha untuk melapangkan hati, berusaha menghilangkan kekecewaan, dan menjalani pilihan Allah itu dengan sungguh-sungguh. Dengan rasa yakin, Allah pasti memberi yang terbaik.

    Benar saja, dalam perjalanan kuliah, Allah memberikan kepada suamiku tempat kerja yang memungkinkan untuk memperoleh beasiswa belajar. Padahal sekiranya suamiku diterima di lembaga yang dia inginkan, tidak ada program beasiswa di sana, walaupun diakui secara kualitas pendidikan di lembaga tersebut mungkin lebih baik.

    Beberapa bulan sebelum beasiswa turun, negeri ini dilanda krisis ekonomi. Segala kebutuhan pokok naik, biaya transport naik, dan usaha yang dirintis suamiku tidak lancar. Apabila suamiku diterima di lembaga pendidikan yang dia inginkan, mungkin study-nya tidak selesai, dan pekerjaanpun lepas entah kemana.

    Inilah sekilas pengalaman pribadi kami, yang mungkin dapat diambil hikmahnya. Bahwa, seringkali kita sulit menerima kenyataan yang ditentukan oleh Allah Sang Penguasa kepada kita. Hingga kita banyak berkeluh kesah, memendam kekecewaan yang panjang dan bersu’udzon kepada Allah. Bahkan ada yang sampai berani mengatakan, Allah tidak adil (na’udzu billahi min dzaalik).

    Demikianlah, kehidupan kita senantiasa diwarnai dengan kejadian yang senantiasa berpasangan. Ada senang ada susah, ada kesuksesan ada kegagalan. Yang sering kali kita tidak mengerti dan tidak mampu memahami hikmah dibalik setiap peristiwa. Yang kesemuanya mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersyukur atas setiap rahmat yang dianugerahkan kepada kita, dan bersikap sabar dalam setiap ujian.

    Kita harus meyakini sepenuhnya bahwa Allah Pencipta kita, lebih Tahu mana yang terbaik bagi kita. Apa saja yang kita inginkan dan kita senangi, belum tentu baik menurut pandangan Allah. Sebaliknya, apa yang tidak kita inginkan dan tidak kita senangi belum tentu buruk untuk kita, menurut pandangan Allah.

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS Al Baqoroh : 216).

    Sehingga, seharusnyalah kita sebagai ummat-Nya selalu menggantungkan diri kepada-Nya. Mengkomunikasikan segala keinginan kepada-Nya. Memohon petunjuk dan bimbingan untuk dapat memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk, dan selalu berprasangka baik kepada Allah atas segala ketentuan yang ditetapkan.

    Menyertakan do’a dalam setiap usaha. Dan lapang dada, tawakkal kepada Allah terhadap segala yang terjadi. Sehingga kehidupan ini akan menjadi nikmat dijalani. Nikmat yang dianugerahkan-Nya akan menambah ketaatan kita, dan cobaan yang diberikan akan menjadikan kita lebih dekat kepada-Nya.

    “Robbi awzi’nii an asykuroo ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shoolihan tardhoohu wa ad khilnaa birohmatika fii ‘ibaadikashshoolihiin”.

    Ya Robb kami, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada dua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh. (QS An Naml:19).

    Wallaahu ‘a’lam bishshowwab.

    ***

    Diambil dari artikel kiriman Ummu Shofi, http://www.eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 7:24 am pada 6 February 2014 Permalink | Balas  

    kasih-sayang-ibuAnak Sepasang Bintang

    Bunda …, jadah itu artinya apa?”

    Bunda tersentak waktu itu. Tak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari sela bibir mungilku, gadis kecilnya yang baru berumur lima tahun. “Kenapa Sayang?” Bunda bertanya sambil mendekapku di dadanya. “Orang-orang menyebutku seperti itu,” jawabku dengan sangat polos. Aku memeluk Bunda semakin erat dan merasakan perlindungannya.

    Di waktu lainnya aku ajukan pertanyaan lain padanya.

    “Bunda …, apa saya punya Ayah? Orang-orang itu bilang saya tak punya Ayah,” tanyaku. Bunda baru saja selesai mendongeng padaku waktu itu. Bunda tertegun begitu lama.

    “Ada!” tegas Bunda meyakinkanku. “Di mana? Kenapa aku tak bisa menemuinya?”

    Bunda membimbingku bangkit dari tempat tidur kayu berkepinding. Berjalan ke halaman tanpa penerangan.

    “Kau lihat langit di atas sana?” Bunda bertanya tanpa melepas genggamannya. Aku mengangguk mengiyakan.

    “Ayahmu ada di sana!” jawab Bunda meyakinkan.

    Aku tidak melihat apa-apa. Selain langit hitam dan taburan berjuta bintang tidak ada gambar wajah manusia terlihat di sana.

    Tapi aku tidak ingin bertanya lagi. Barangkali ayahku adalah satu diantara kerlip bintang-bintang itu. Besok jika anak-anak itu menggodaku lagi dan mengatakan aku tidak punya ayah aku sudah punya jawabannya.

    • * *

    Sejak kecil aku cuma punya Bunda. Perempuan yang miskin tanpa harta tapi penuh cinta. Yang selalu menyediakan dadanya untuk menyerap luka-luka. Dengan upah seadaanya sebagai tukang cuci pakaian pada beberapa keluarga, Bunda selalu menabung. Katanya aku harus sekolah setinggi mungkin dan jadi orang pandai. Agar tidak bodoh dan melarat seperti dirinya.

    Bunda lewati seluruh kehidupan berat sendiri. Mengasuh anak yang terus tumbuh tanpa pendamping di sisi. Tidak mudah memang. Tapi tidak sekalipun aku melihatnya berduka. Kecuali sekali pada suatu malam aku terbangun dan melihatnya mengisak di atas sehelai sajadah.

    Setiap kali aku menanyakan hal itu pada Bunda, cuma air matalah yang kemudian menjadi jawabannya. Seperti menguak luka yang tak pernah kering sama sekali. Lalu aku jadi tak pernah tega memaksa Bunda untuk menjawabnya. Sebab Bunda terlalu mulia untuk terluka.

    Aku tidak ingin mengecewakan Bunda. Perjuangannya tidak boleh sia-sia. Keinginannya melihatku sekolah setinggi mungkin memacu semangatku untuk belajar dengan giat. Aku selalu berhasil mencapai gelar juara sejak duduk di bangku SD hingga SMU. Lalu kemudian aku terpaksa berpisah dengan Bunda. Aku diterima masuk tanpa test di salah satu perguruan tinggi terkemuka di kota Pontianak. Sekarang aku bahkan telah diterima bekerja di salah satu Bank Syariah terkemuka yang baru berdiri. Aku ingin menjemput Bunda untuk mengajaknya pindah ke kota ini. Tapi Bunda menolak.

    • * *

    Kukira dengan meninggalkan tempat kelahiran aku akan bisa hidup dengan tenang. Semua mimpi buruk masa kecil tentang siapa ayahku tidak akan memburuku sampai ke kota ini. Tapi tidak. Sepertinya ia menjelma jadi kutukan yang mengikuti kemana pergi.

    Aku telah dewasa kini. Telah siap untuk menikah dan berkeluarga. Sudah tiga orang lelaki shaleh yang datang mengajukan lamaran padaku. Tapi sudah tiga kali pula aku terpaksa menolaknya. Aku takut menceritakan keluargaku. Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku anak sebuah bintang. “Rabbi …, aku hanya ingin tahu siapa lelaki yang menjadi ayahku. Hanya itu. Apa aku durhaka pada Bunda?”

    “Kau beruntung masih mempunyai Bunda. Aku dibesarkan di panti asuhan, tak tahu siapa keluargaku.” Asti , teman satu kamarku mencoba menghiburku. Aku insyaf kini. Aku masih sangat beruntung mempunyai Bunda. Dalam sujudku malam itu aku menangis. Mohon kesempatan pada Allah untuk membahagiakan Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga.

    • * *

    Berita itu sampai lewat seorang tamu. Salah seorang tetangga kami di kampung dulu. Sengaja datang untuk mengunjungiku. Padaku ia cerita Bunda sedang sakit. “Sebenarnya ia sakit sejak lama. Tapi tak mau cerita. Bunda bilang tak mau kalau pekerjaanmu terganggu. Tapi aku pikir kau memang perlu tahu!”

    Di rumah aku lihat Bunda terbaring di tempat tidurnya. Tempat tidur yang sama seperti masa kecilku dulu. Tempat Bunda biasa mendekap, mendongeng dan berdoa sebelum lelap menyergapku.

    “Kenapa Bunda tidak memberitahuku?” tanyaku setelah mencium tangannya.

    “Bunda tak mau pikiranmu terganggu,” jawabnya sambil tetap mengukir senyum di wajahnya. Tapi aku melihatnya semakin lemah saja. “Bunda ingin mengatakan sesuatu tentang ayahmu, ia …,”

    “Tidak perlu, Bunda,” potongku cepat. “Jangan katakan apa-apa. Tidak ada yang perlu Bunda jelaskan tentang masa lalu. Bunda tetaplah Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga!”

    Aku memang sudah tidak lagi perduli. Bunda manusia biasa. Mungkin pernah khilaf di masa lalunya. Tapi bagiku kini Bunda adalah anugerah Allah terbesar dalam hidup ini. Dua hari kemudian Bunda berpulang ke Rahmatullah.

    Malam itu kembali aku menatap langit. Seperti waktu kecil dulu saat aku bertanya pada Bunda di mana ayahku. Bunda akan menunjuk ke arah langit. Tempat kegelapan malam dihiasi pendar jutaan bintang. Bunda kini telah pergi. Menyusul ayahku di tempat yang abadi. Dan aku tahu kini. Jika seorang lelaki shaleh datang untuk melamar dan bertanya tentang keluargaku, aku akan mengatakan bahwa aku adalah anak sepasang bintang!

    ***

    Diambil dari Rubrik Cerpen Islamuda

     
  • erva kurniawan 7:11 am pada 3 February 2014 Permalink | Balas  

    cintaSi Pencari Cinta

    Author: Abu Aufa

    Alkisah di suatu zaman, hidup seorang lelaki yang mencari cinta, namanya Arjuna. Saking ngebetnya, gunung tertinggi didaki, isi bumi dijelajahi, lautan pun diarungi, cuma untuk mencari tempat berlabuh, yaitu wanita. Gilee beneer… Nih Arjuna, kagak peduli gunung, bumi, lautan, alam semesta ini punya siapa, maen grasak-grusuk aja! Di setiap tempat Arjuna berkata, “Wahai wanita, cintailah aku.” Ih… nih anak, malu-maluin ya! Masa’ sih sampe’ gitu-gitu banget, ya…namanya juga pencari cinta bo!

    Di kisah yang lain, seorang laki-laki yang bernama Ibrahim pun mencari cinta. Saat malam mulai menyapa alam, tampak sebuah bintang, tak lama kemudian sang bintang pun tenggelam. “Aku tak menyukai yang tenggelam,” kata Ibrahim. Beberapa saat kemudian, terbitlah sang rembulan, bersinar indah penuh kelembutan. Namun, bulan pun hanya sesaat, tersipu malu dengan keindahannya. Adzan subuh pun menyeruak kegelapan, kokok ayam jantan membelah tetesan embun pagi, tak lama keperkasaan mentari menerangi jagat raya ini, “Inikah dia yang kucari?” tanya beliau pula. Bukan…bukan itu, karena mentari pun bersujud, lalu merunduk sembunyi.

    Ikhwah fillah rahimakumullah…

    Kisah di atas adalah ilustrasi dari 2 manusia si pencari cinta. Di dunia ini, betapa banyak orang-orang yang mencari cinta. Namun jelas ada bedanya disini, antara laki-laki yang bernama Arjuna dengan Ibrahim a.s., yang namanya termaktub indah di lembaran suci Al Qur’an. Arjuna mencari cintanya tanpa tedeng aling-aling, gak peduli sana-sini, jumpalitan, cuma mencari cinta wanita. Emangnya salah si Arjuna, karena mencari cinta? Ih…jangan protes dulu dong, emang sih fitrah manusia itu ya pasti merasakan cinta [QS Al Imran: 14]. Tapi apa iya harus seperti itu? Masa’ sih akal, nalar dan fikiran sampe’ gak jalan, bahkan hingga melebihi cinta-Nya! Waduh…

    Padahal banyak kisah cinta sejati di dunia ini lho, salah satunya adalah cinta Ibrahim yang tak pernah pudar, setelah ia mengenal dan mengetahui siapa yang patut menerima cintanya. Beliau mengenal, dan kemudian sayang, lantas jatuh hati kepada Sang Pencipta. Karena itu yang dicintai pun berkenan menyambut cintanya, bahkan menjadikannya sebagai khalilullah [QS An Nisaa': 125].

    Cinta disini bukan cinta yang penuh kepalsuan, emosi apalagi birahi, namun cinta laksana mutiara yang memancarkan cintanya pada Rabb seluruh jagat raya ini, mengaliri denyut nadi, helaan nafas serta aliran darah untuk tunduk dan patuh pada titah-Nya. Cinta ini mestinya menempati prioritas utama pada diri seorang muslim, yakni cinta kepada Allah SWT, Rasul dan jihad di jalan-Nya. Inilah cinta hakiki!

    Dari nenek moyang kita dulu, sampai sekarang, buanyak buanget manusia-manusia yang telah jatuh cinta, namun apakah cinta mereka dan kita adalah cinta hakiki sebagaimana cinta mereka yang disebut ‘manusia langit?’

    Adakah cinta kita adalah cinta seorang Sumayah binti Khayyath, yang siap menjadi syahidah pertama dalam sejarah Islam demi mempertahankan akidah yang dicintainya. Ataukah Ali bin Abi Thalib r.a. yang rela ‘pasang badan’ menggantikan Rasulullah SAW di tempat tidurnya sewaktu beliau keluar untuk hijrah, padahal beliau tahu maut telah didepan mata siap mengancam jiwanya? Atau pun Abu Bakar Shiddiq r.a. yang tak kalah ikhlas tangan dan kakinya dipatuk binatang berbisa saat berdua dengan seseorang yang dicintainya? Ia tak ingin tubuh orang yang dicintai dan dikasihinya tersentuh sedikitpun oleh binatang-binatang yang berbisa itu.

    Mereka hanyalah sedikit contoh dari orang-orang yang jatuh cinta dengan cinta yang sebenarnya. Sebuah cinta sejati, cinta hakiki yang akan mendapatkan ridha Illahi Rabbi.

    Nah…sekarang milih yang mana, seorang Arjuna yang grasak-grusuk mencari cinta, atau seorang Ibrahim a.s., Sumayah binti Khayyath, Ali bin Abi Thalib r.a. atau pun Abu Bakar Shiddiq r.a. yang mencari cinta sejati?

    Ya akhi wa ukhti,

    Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang selalu mendambakan cinta, keridhoan kepada-Nya ya, insya Allah, aamin allahumma aamiin.

    ***

    Abu Aufa

     
  • erva kurniawan 2:15 am pada 28 January 2014 Permalink | Balas  

    tertawa 1Jaga Mulut

    Luqman Alhakim adalah seorang budak hitam. Bibirnya tebal, dan kedua kakinya melekuk, sehingga kalau berjalan tampak lucu. Meskipun demikian, dia seorang yang arif bijaksana. Luqman tidak pernah berperilaku buruk, bahkan dalam ucapannya. Apa yang keluar dari kedua bibirnya adalah kebijaksanaan. Ia tidak pernah mengucapkan sesuatu pun, kecuali hal-hal yang mulia, penuh makna dan hikmah, serta berguna. Allah mengabadikan namanya di dalam Alquran sebagai salah satu teladan umat manusia.

    Suatu kali tuannya menyuruh Luqman agar menyembelih beberapa ekor kambing untuk sebuah keperluan. ”Luqman, coba ambilkan untukku dua bagian yang terbaik dari daging-daging itu,” kata tuannya. Sejurus kemudian Luqman datang dan menyerahkan potongan hati dan lidah.

    ”Sekarang, ambilkan untukku bagian yang terburuknya,” pinta tuannya lagi. Luqman bergegas, dan sejenak kemudian datang. Namun, lagi-lagi ia menyerahkan potongan hati dan lidah. ”Apa maksudmu dengan ini semua, Luqman? Mengapa yang terbaik dan terburuk sama bentuknya?” tanya sang tuan keheranan.

    ”Tuan, jika kedua bagian ini sudah baik, tidak ada lagi yang lebih baik dari keduanya. Sebaliknya, jika kedua bagian ini sudah buruk, tidak ada lagi yang lebih buruk dibandingkan dengan keduanya,” jawab Luqman.

    Tentang mulut, Nabi saw seringkali mewanti-wanti agar menjaganya dengan sungguh-sungguh karena ia paling berpotensi mencelakakan kita. ”Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berbicaralah hanya yang baik-baik. Jika tidak sanggup, sebaiknya diam.” Sabda beliau di kali yang lain, ”Cukuplah seorang menjadi penduduk neraka, ketika ia tidak bisa menjaga lisannya.” Berkenaan dengan itu pula, Ali bin Abi Talib berkata, ”Berbahagialah orang yang bisa menahan kelebihan mulutnya dan menginfakkan kelebihan hartanya”.

    ***

    Diambil dari kolom Hikmah Republika

     
  • erva kurniawan 5:22 am pada 26 January 2014 Permalink | Balas  

    ampunDosa yang kita lupakan

    Sahabat,

    Dalam suatu kesempatan, seorang rekan berkisah tentang seorang pembantu rumah tangga. Pada awal kerjanya, dia diberitahu majikannya bahwa tugasnya adalah membersihkan lantai, membersihkan jendela, membersihkan halaman, menyiram tanaman dan membuka-tutup pintu untuk orang yang datang dan pergi. Majikannya menjanjikan bonus tertentu bila dia melakukan tugas-tugasnya dengan baik; Sederhana dan tampaknya mudah; bekerja sebaik-baiknya lalu dia akan dapat gaji ditambah bonus.

    Dengan suka hati dia menghapal ‘diluar kepala’ kelima tugasnya. Membersihkan lantai, membersihkan jendela, membersihkan halaman, menyiram tanaman dan membuka-tutup pintu. Diulang-ulangnya hingga dia dapat memastikan bahwa kelima tugas tersebut dapat diselesaikannya dengan sebaik-baiknya. Demi bonus yang akan diperolehnya, diapun berkonsentrasi pada tugas-tugasnya.

    Suatu ketika sang majikan harus pergi dengan meninggalkan anak-anaknya di rumah. Sementara anak-anak yang besar sibuk dengan urusannya masing-masing, si bungsu malah asyik bermain di halaman. Dia mendekati kolam lalu berusaha untuk berenang. Adalah suatu hal yang berbahaya bagi anak kecil bermain-main di kolam seorang diri, meski kolam itu ada di dekat rumah. Namun demikian sang pembantu coba menyakinkan diri bahwa tugas dia hanya lima. Menjaga anak bukanlah tugasnya. Dia coba meyakinkan lagi bahwa bila saja dia tunaikan kelima tugas tersebut dengan sebaik-baiknya tentu dia akan mendapatkan bonus sebagaimana yang dijanjikan kepadanya.

    Singkat cerita, sang anak bungsu ‘gelagepan’ di kolam lalu tenggelam. Sang pembantu masih coba meyakinkan bahwa menolong anak tersebut bukan tugasnya. Untuk lebih menyakinkan lagi, dia ucapkannya kembali kata-kata majikannya tentang tugasnya, yakni membersihkan lantai, membersihkan jendela, membersihkan halaman, menyiram tanaman dan membuka-tutup pintu. Ternyata tidak dia jumpai tugas menjaga anak. Maka dia tidak bergerak sedikitpun untuk menolong anak tersebut hingga tak ada lagi gerakan di kolam. Anak tesebut mati lemas.

    Ketika sang majikan datang dan menanyakan kemana si bungsu, tanpa rasa bersalah sedikitpun sang pembantu memberitahu bahwa anak tersebut ada di kolam, barangkali tenggelam di sana, sembari mengingat-ingat tugasnya yang lima yang selalu ditunaikannya dengan baik. Lalu bagaimana reaksi sang majikan terhadap pembantu ini? Bila kita adalah majikan tersebut, tentu saja kita tahu tindakan apa yang paling pantas terhadapnya.

    Keadaan kita hari ini, barangkali tidak bedanya dengan keadaan sang pembantu tersebut. Kita telah berusaha sebaik-baiknya menunaikan tugas apa saja sebatas pada yang ‘diperintahkan’ kepada kita. Kita tahu betul bahwa kewajiban sholat lima waktu harus kita tunaikan sebaik-baiknya setiap hari, namun kita tidak peduli dengan orang-orang lain yang melalaikannya. Kita tahu betul tanggung jawab kita terhadap diri sendiri, istri, anak, orangtua dan saudara-saudara kita, dan apa saja yang dapat kita berikan sebagai tanda sayang kita kepada mereka, namun kita tidak peduli dengan yang selainnya. Kita tahu bagaimana ‘mengamalkan’ agama tapi kita lupa bahwa dakwah adalah bagian dari amal agama.

    Hari ini kita mengetahui bahwa membunuh adalah dosa, mencuri atau korupsi adalah dosa, berzina adalah dosa, minum arak adalah dosa, berkata dusta adalah dosa, akan tetapi kita lupa bahwa meninggalkan dakwah adalah dosa. Padahal dosa tidak dakwah kadarnya mencakup dosa membunuh, mencuri, zina dan sebagainya. Karena tidak ada dakwahlah maka ada pembunuhan. Karena tidak ada dakwahlah maka ada pencurian. Karena tidak ada dakwahlah maka ada perzinaan dan seterusnya.

    Sebagian dari kita mengatakan bahwa untuk dakwah kita perlu punya ilmu dulu. Dan ilmu yang dimaksud adalah penguasaan yang baik atas berbagai pengetahuan (yang justru baru berkembang bersamaan dengan menyebarnya Islam ke seluruh pelosok dunia). Barangkali pernyataan ini benar, bila kita bermaksud menyempurnakan segala sesuatunya. Namun demikian, sebagaimana yang kita sampaikan kepada para mu’alaf, kita tetap harus melakukan sholat meskipun kita baru bisa mengucapkan basmallah. Dan dengan cara yang sama, kita harus buat dakwah meskipun kita baru bisa menjabat tangan saudara kita.

    Menjadi da’i sebenarnya tidak sesukar yang kita bayangkan pada hari ini. Siapapun dari ummat ini yang memiliki kalimah laa ilaaha illallah dalam hatinya adalah orang-orang yang punya tanggung jawab untuk ‘menumpahkannya’ kepada orang lain. Keadaan saat ini dimana kita mempersulit diri dengan berbagai syarat agar kita ‘layak’ buat dakwah, hanya menunjukkan betapa jauhnya kita dari kepahaman para sahabat Rasulullah saw.

    Lalu pertanyaannya adalah berapa lamakah seseorang dapat menjadi da’i sejak pertama kali dia bersyahadat? Adakah setiap orang berkewajiban menuntut ‘ilmu’ yang menjadikannya layak dipanggil ‘ulama atau ustdaz, baru setelah itu buat dakwah? Mestinya tidak demikian bila referensi kita adalah para sahabat Rasulullah saw.

    Saat Abu Bakar ra. menyatakan keislamannya, dia telah mengajak beberapa orang lainnya kepada iman-yakin yang benar pada hari yang sama. Dari usahanya pada hari itu beberapa orang mengimani bahwa Allah adalah tuhan mereka dan tidak ada tuhan selain-Nya dan mereka mengimani bahwa Muhammad (saw) adalah nabi dan rasul-Nya.

    Pada hari pertama Abu Dzar Ghiffari ra bersyahadat, dia telah umumkan keislamannya kepada kaum Quraisy di depan ka’bah. Seolah-olah dia ingin mengatakan sekaligus mengajak kaum yang belum beriman tersebut agar segera beriman. Kalau saja Ibnu Abbas (yang saat itu masih dalam kekafiran) tidak mengingatkan kaumnya akan perhubungannya dengan kaum Ghiffar, tentu mereka semua sudah membunuhnya.

    Selanjutnya bila kita baca atau dengar lagi dan lagi kisah-kisah mereka (yakni sahabat-sahabat Rasulullah), kita akan jumpai di sana bahwa mereka adalah para da’i sejak awal keislamannya. Demikianlah Rasulullah saw membina mereka sehingga siapa saja yang menyatakan keimanannya, mereka akan meyakini bahwa dakwah adalah tugas mereka. Setiap orang yang buat dakwah adalah da’i. Lalu kita dapati di sana (pada masa Rasulullah saw), setiap da’i akan ‘melahirkan’ da’i baru. Bahkan sebelum perintah ibadah (sholat) diturunkan, mereka menyangka bahwa agama ini identik dengan dakwah manusia kepada Allah.

    Kita mestinya bangga dengan titel da’i. Gelar inilah yang pada gilirannya kelak akan menjadikan kita mulia, bahkan ketika kita masih hidup di dunia ini. Bayangkan, betapa pilihan Allah tidak pernah salah. Dia memilih (selalu yang terbaik dari kebanyakan manusia) orang-orang yang akan mengemban kerja para nabi. Dia memuliakan kita dengan kerja ini sebagaimana kita meletakkan sesuatu di puncak ketinggian.

    Dan pilihan itu telah jatuh kepada kita ketika Dia berkata, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab (Kristen/Yahudi) beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS 3:110)

    Ketika kita sadar dan kita tidak ingin seperti pembantu di atas, maka tidak ada jalan lain buat kita (bahkan bagi keselamatan ummat ini) selain dengan segera buat dakwah. Hendaknya kita tidak menundanya lagi hingga ‘anak yang akan tenggelam’ dapat diselamatkan. Kita bergerak menjumpai manusia dan tidak menunggu sampai mereka datang kepada kita. Kita yakin bahwa pada saatnya kelak, sama saja apakah kita mengharapkannya atau tidak, kita akan mendapat gaji, bonus dan tentu saja hadiah yang luar biasa dari Allah yang maha memiliki lagi maha kaya.

    Subhanallah.

    ***

    Diambil dari artikel kolom Hikmah Republika, karya KH. Didin Hafidzuddin

     
  • erva kurniawan 2:41 am pada 23 January 2014 Permalink | Balas  

    cincin pernikahanAntara Harapan Dan Kenyataan

    EPISODE 1 :

    Saat Fulanah masih seorang gadis, yang ada di benaknya dan yang kemudian menjadi tekadnya adalah keinginan menjadi isteri shalihat yang taat dan selalu tersenyum manis. Pendeknya, ingin memberikan yang terbaik bagi suaminya kelak sebagai jalan pintas menuju surga. Tekad itu diperolehnya setelah mengikuti berbagai ‘tabligh’, ceramah, dan seminar keputerian serta membaca sendiri berbagai risalah. Bahkan banyak pula ayat Al-Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan hal itu telah dihafalnya, seperti “Ar Rijalu qowwamuna alan nisaa’…”,”Faso lihatu qonitatu hafizhotu lilghoibi bima hafizhallah…” (QS. An-Nisa ayat 34).

    Juga Hadits :”Ad dunya mata’, wa khoiru mata’iha al mar’atus sholihat.” (dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah isteri sholihat).

    Atau, hadits “Wanita sholihat adalah yang menyenangkan bila dipandang, taat bila disuruh dan menjaga apa-apa yang diamanahkan padanya.

    Begitu pula hadits “Jika seorang isteri sholat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan dan menjaga kehormatan dirinya serta suaminya dalam keadaan ridha padanya saat ia mati, maka ia boleh masuk surga lewat pintu yang mana saja. (HR Ahmad dan Thabrani). Hadits yang berat dan seram pun dihafalnya, “Jika manusia boleh menyembah manusia lainnya, maka aku perintahkan isteri menyembah suaminya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi,Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban) Figur isteri yang sholihat, taat, dan setia serta qona’ah seperti Kha-\dijah r.a. benar-benar terpatri kuat di benak Fulanah dan jelas ingin ditirunya.

    Maka, tatkala Allah SWT telah menakdirkan ia mendapat jodoh seorang Muslim yang sholih, ‘alim dan berkomitmen penuh pada Islam,Fulanah pun melangkah ke gerbang pernikahan dengan mantap. Begitu khidmat dan khusyu karena kesadaran penuh untuk beribadah dan menjadikan jihad dan syahid sebagai tujuan hidup berumah tangga.

    EPISODE 2

    Tatkala Fulan masih menjadi seorang jejaka, ia sering membatin, berangan-angan, dan bercita-cita membentuk rumah tangga Islami dengan seorang Muslimah sholihat yang menyejukkan hati dan mata.

    Alangkah bahagianya menjadi seorang suami dan seorang “qowwam” yang “qooimin bi nafsihi wa muuqimun lil ghoirihi” (tegak atas dirinya dan mampu menegakkan orang lain, terutama isteri dan anak-anaknya). Juga menjadi ‘imam yang adil’ yang akan memimpin dan mengarahkan isteri dan anak-anaknya. Alangkah menenangkannya mempunyai seorang isteri yang akan dijaganya lahir dan batin, dilindungi dan disayanginya karena ia adalah amanah Allah SWT yang telah dihalalkan baginya dengan dua kalimat Allah SWT.

    Ia bertekad untuk mempergauli isterinya dengan ma’ruf (QS An-Nisa:19) dan memperhatikan hadits Rasulullah SAW tentang kewajiban-kewajiban seorang suami. “Hanya laki-laki mulialah yang memuliakan wanita.”

    “Yang paling baik di antara kamu, wahai mu’min, adalah yang paling baik perlakuannya terhadap isterinya. Dan akulah (Muhammad SAW) yang paling baik perlakuannya terhadap isteri-isteriku.”

    “Wanita seperti tulang rusuk manakala dibiarkan ia akan tetap bengkok, dan manakala diluruskan secara paksa ia akan patah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Fulan pun bertekad meneladani Rasulullah SAW yang begitu sayang dan lembut pada isterinya. Tidak merasa rendah dengan ikut meringankan beban pekerjaan isteri seperti membantu menyapu, menisik baju dan sekali-sekali turun ke dapur.

    Seperti ucapan Rasulullah kepada Bilal : “Hai Bilal, mari bersenang-senang dengan menolong wanita di dapur.” Karena Rasulullah suka bergurau dan bermain-main dengan isteri seperti berlomba lari dengan Aisyah r.a. (HR Ahmad), maka ia pun berkeinginan meniru hal itu serta menyapa isteri dengan panggilan lembut ‘Dik’ atau ‘Yang’.

    EPISODE-EPISODE SELANJUTNYA

    Fulan dan Fulanah pun ditakdirkan Allah SWT untuk menikah. Pasangan yang serasi karena sekufu dalam dien, akhlaq, dan komitmen dengan Islam. Waktu pun terus berjalan. Dan walaupun tekad dan cita-cita terus membara, kian banyak hal-hal realistis yang harus dihadapi. Sifat, karakter, pembawaan, selera, dan kegemaran serta perbedaan latar belakang keluarga yang semula mudah terjembatani oleh kesatuan iman, cita-cita, dan komitmen ternyata lambat laun menjadi bahan-bahan perselisihan.

    Pertengkaran memang bumbunya perkawinan,tetapi manakala bumbu yang dibubuhkan terlalu banyak, tentu rasanya menjadi tajam dan tak enak lagi. Ternyata, segala sesuatunya tak seindah bayangan semula. Antara harapan dan kenyataan ada terbentang satu jarak. Taman bunga yang dilalui ternyata pendek dan singkat saja.

    Cukup banyak onak dan duri siap menghadang. Sehabis meneguk madu, ternyata ‘brotowali’ yang pahitpun harus diteguk. Berbagai masalah kehidupan dalam perkawinan harus dihadapi secara realistis oleh pasangan mujahid dan mujahidah sekalipun.

    Allah tak akan begitu saja menurunkan malaikat-malaikat untuk menyelesaikan setiap konflik yang dihadapi. “Innallaha laa yughoyyiru ma biqoumi hatta yughoyyiru maa bi anfusihim” (QS Ar-Raad : 6). Ada seorang isteri yang mengeluhkan cara bicara suaminya terutama jika marah atau menegur, terdengar begitu ‘nyelekit’. Ada pula suami yang mengeluh karena dominasi ibu mertua terlalu besar.

    Perselisihan dapat timbul karena perbedaan gaya bicara, pola asuh, dan latar belakang keluarganya. Kejengkelan juga mulai timbul karena ternyata suami bersikap ‘cuek’, tidak mau tahu kerepotan rumah tangga, karena beranggapan “itu khan memang tugas isteri.”

    Sebaliknya, ada suami yang kesal karena isterinya tidak gesit dan terampil dalam urusan rumah tangga, maklum sebelumnya sibuk kuliah dan jadi ‘kutu buku’ saja. Fulan pun mulai mengeluh. Ternyata isterinya tidak se-”qonaah” yang diduganya, bahkan cenderung menuntut, kurang bersahaja dan kurang bersyukur.

    Fulanah sebaliknya. Ia mengeluh, sang suami begitu irit bahkan cenderung kikir, padahal kebutuhan rumah tangga dan anak-anak terus meningkat. Seorang sahabat Fulan juga kesal karena isterinya sulit menerima keadaan keluargan. Sebab musababnya sih karena perbedaan status sosial, ekonomi dan adat istiadat. Kekesalannya bertambah-tambah karena dilihatnya sang isteri malas meningkatkan kemampuan intelektual, manajemen rumah tangga, serta kiat-kiat mendidik anak.

    Sebaliknya, sang isteri menuduh suaminya sebagai “anak mama” yang kurang mandiri dan tidak memberi perhatian yang cukup pada isteri dan anak-anaknya.

    Belum lagi problem yang akan dihadapi pasangan-pasangan muda yang masih tinggal menumpang di rumah orang tua. Atau di dl rumah mereka ikut tinggal kakak-kakak atau adik-adik ipar. Kesemua keadaan itu potensial mengundang konflik bila tidak bijak-bijak mengaturnya.

    Kadang-kadang semangat seorang Muslimah untuk da’wah keluar rumah terlalu berlebihan. Tidak “tawazun”. Hal ini dapat menyebabkan seorang suami mengeluh karena terbebani dengan tugas-tugas rumah tangga yang seabreg-abreg dan mengurus anak-anak.

    Selanjutnya, ada pula Muslimah yang terlalu banyak menceritakan kekurangan suaminya, kekecewaan-kekecewaannya pada suaminya. Padahal ia sendiri kurang instrospeksi bahwa ia sering lupa melihat kebaikan dan kelebihan suaminya. Ada suami yang begitu “kikir” dalam memuji, kurang “sense of humor” dan “sedikit” berkata lembut pada isteri. Kalau ada kebaikan isteri yang dilihatnya, disimpannya dalam hati, tetapi bila ia melihat kekurangan segera diutarakannya.

    Bahkan ada pula pasangan suami-isteri yang memiliki problem “hubungan intim suami-isteri”. Mereka merasa tabu untuk membicarakannya secara terus terang di antara mereka berdua. Padahal akibatnya menghilangkan kesakinahan rumah tangga. Kalau mau dideretkan dan diuraikan lagi, pasti daftar konflik yang terjadi di antara pasangan suami-isteri muda Muslim dan Muslimah akan lebih panjang lagi. Memang, persoalan-persoalan tidak begitu saja hilang. Rumah tangga tidak pasti akan berjalan mulus tanpa konflik hanya dengan kesamaan fikrah dan cita-cita menegakkan Islam.

    Mereka yakni Fulan dan Fulanah cs tetap manusia-manusia biasa yang bisa membuat kekhilafan dan tidak lepas dari kekurangan- kekurangan. Dan mereka pun pasti mengalami juga fluktuasi iman. Pasangan yang bijak dan kuat imannya akan mampu istiqomah dan lebih punya kemampuan menepis badai dengan menurunkan standar harapan. Tidak perlu berharap muluk-muluk seperti ketika masih gadis atau jejaka. Karena, ternyata kita pun belum bisa mewujudkan tekad kita itu. Sebagai Muslim dan Muslimah hendaknya kita sadar, tidak mungkin kita dapat menjadi isteri atau suami yang sempurna seperti bidadari atau malaikat. Maka kita pun tentunya tidak perlu menuntut kesempurnaan dari suami atau isteri kita. “Just the way you are” lah. Kita terima pasangan hidup kita seadanya, lengkap dengan segala kekurangan (asal tidak melanggar syar’i) dan kelebihannya. Kita memang berasal dari latar belakang keluarga, kebiasaan, dan karakter yang berbeda, walau tentunya dien, fikrah, dan cita-cita kita sama.

    Pada saat ghirah tinggi, iman dalam kondisi puncak,”Prima”, semua perbedaan seolah sirna. Namun pada saat “ghirah” turun, iman menurun, semua perbedaan itu menyembul ke permukaan, mengganjal,mengganggu, dan menyebalkan. Akibatnya tidak terwujud sakinah. Kiat utama mengatasi permasalahan dalam rumah tangga, tentunya setelah berdoa memohon pertolongan Allah SWT dan mau ber”muhasabah” (introspeksi), adalah mengusahakan adanya komunikasi yang baik dan terbuka antara suami-isteri. Masalah yang timbul sedapat mungkin diselesaikan secara intern dulu di antara suami-isteri dengan pembicaraan dari hati ke hati. “Uneg-uneg” yang ada secara fair dan bijak diungkapkan. Selanjutnya, yang memang bersalah diharapkan tidak segan-segan mengakui kesalahan dan meminta maaf. Yang dimintai maaf juga segera mau memaafkan dan tidak mendendam. Masing-masing pihak berusaha keras untuk tidak mengadu ke orang tua, atau orang lain. Jadi tidak membongkar atau membeberkan aib dan kekurangan suami atau isteri.

    Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak membanding- bandingkan suami atau isteri dengan orang lain, karena itu akan menyakitkan pasangan hidup kita. Setelah itu,masing-masing juga perlu ‘waspada’ agar tidak terbiasa kikir pujian dan royal celaan.

    Jika terpaksa, kadang-kadang memang diperlukan bantuan pihak ketiga (tetapi pastikan yang dapat dipercaya keimanan dan akhlaqnya) untuk membantu melihat permasalahan secara lebih jernih.

    Kadang-kadang “kacamata” yang kita pakai sudah begitu buram sehingga semua kebaikan pasangan hidup kita menjadi tidak terlihat, bahkan yang terlihat keburukannya saja. Orang lain yang terpercaya InsyaAllah akan bisa membantu menggosok ‘kacamata’ yang buram itu. Alhamdulillah ada yang tertolong dengan cara ini dan mengatakan setelah konflik terselesaikan mereka pun berbaikan lagi seperti baru menikah saja ! Layaknya ! Dengan berikhtiar maksimal, bermujahadah, dan bersandar pada Allah SWT, InsyaAllah kita dapat mengembalikan kesakinahan dan kebahagiaan rumah tangga kita, serta kembali bertekad menjadikan jihad dan syahid sebagai tujuan kita berumah tangga.

    Amiin yaa Robbal’aalamiin.

    ***

    Sumber: tulisan dari Ummu Samy Romadhon di majalah Ummi No. 6/V, 1414 H/1993

     
  • erva kurniawan 4:22 am pada 16 January 2014 Permalink | Balas  

    Tenggelam Dalam Lautan Cinta 

    cintaTENGGELAM DALAM LAUTAN CINTA

    Yuni Mardiyanto

    **

    ABSTRACT: Cinta itu ibarat taman yang penuh bunga warna-warni. Ada yang datang menikmati keindahannya, mencium bau harumnya, dan kemudian datang lagi. Namun ada juga yang tidak ingin pulang, ia menikmati taman tersebut bahkan ingin menguasainya, padahal banyak orang lain yang juga ingin menikmatinya. Cinta itu juga bagai lautan, di sana ada gugusan karang terbentuk alamiah, warna-warni ikan hias yang luar biasa indahnya, ombak, bening, hangat dan dinginnya air laut, subhanallah…semuanya indah. Namun, ada bedanya antara orang yang berenang dengan mereka yang tenggelam di dalamnya. Karena orang yang berenang, ia sedang dalam perjalanan menuju Allah SWT, tetapi orang yang tenggelam merasa dirinya sudah sampai kepada Allah, karena itu tak perlu lagi berenang. Nah, bagaimana mungkin orang yang tenggelam dapat menikmati indahnya lautan? Nikmatilah keindahan lautan cinta itu dengan berenang, karena dengan itu cinta akan selalu memberikan potensi, energi dan semangat pada diri kita. Selamat berenang di lautan cinta-Nya ya akhi wa ukhti.

    **

    Syaikh Ali Ath-Thanthawi dalam bukunya “Rijalun min al-Tarikh” mengajak pembacanya untuk merenungi sejenak tentang kisah seorang pemuda kaya-raya yang karena tenggelam dalam lautan cinta akhirnya justru menjadi sengsara.

    Pemuda sukses yang saudagar itu pada mulanya seluruh hidupnya hanya diabdikan untuk berdagang. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, bahkan mimpinya sendiri hanyalah soal dagang. Di luar dunia dagang, ia nyaris tidak memperhatikannya. Orang tuanya mulai gundah, sebab sang putera sudah cukup umur untuk menikah, sementara ketertarikannya kepada wanita nyaris tidak ada. Berkali-kali ditawari menikah, ia menolaknya.

    Kedua orangtua pemuda itu tak putus asa. Hampir setiap hari keduanya mendatangkan wanita-wanita cantik nan terhormat di rumahnya, dengan harapan agar anaknya tertarik dan memilih salah satunya untuk dijadikan istri. Bujuk rayu orangtuanya tidak berhasil mencuri perhatian sang putera. Tak satu pun wanita-wanita cantik itu yang menarik perhatiannya.

    Namun yang mengejutkan, tiba-tiba pada di suatu hari, sang pemuda pergi ke pasar budak. Di pasar itu ia menjumpai seorang budak wanita, lalu jatuh cinta ia jatuh cinta kepada budak wanita tersebut. Setelah dibelinya budak itu lalu dibawanya pulang dan diperistrinya.

    Sejak saat itu berubahlah seluruh dimensi kehidupannya. Sang pemuda yang biasanya setiap pagi sudah pergi ke pasar dan baru larut malam ia kembali pulang, kini tidak seperti itu lagi. Ia tidak lagi mau pergi ke pasar, mengurus perdagangan dan meraup keuntungan. Ia kini hanya menyibukkan diri untuk mencintai sang isteri. Siang malam ia hanya bercumbu dengan isterinya, sampai akhirnya ia lupa segala-galanya.

    Kejadian ini tidak hanya berlangsung dalam hitungan hari dan pekan. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun terus bergerak, tapi pola kehidupan pasangan itu tidak berubah. Hingga sampai pada saatnya seluruh kekayaannya habis, bahkan perabot rumahtangga pun sudah mulai digadai.

    Ketika orang-orang sekitarnya mengingatkan agar ia kembali berdagang, ia berkomentar sederhana, “Tujuan dagang itu untuk apa? Mengejar keuntungan. Lalu jika keuntungan itu sudah diperoleh, digunakan untuk apa? Untuk memperoleh ketenangan, kenikmatan, dan kebahagiaan. Ketahuilah, ketiganya kini telah kudapatkan pada isteriku, lalu untuk apa aku berdagang lagi?”

    Sampai akhirnya ketika sudah tidak ada lagi miliknya yang bisa dijual, kecuali rumahnya yang tinggal tiang, dinding, dan atapnya saja, ia mulai menyadari. Kesadaran yang terlambat itupun datangnya bersamaan dengan saat-saat kritis menjelang kelahiran bayi pertamanya. Ketika sang istri akan melakukan persalinan, ia sudah tidak punya apa-apa lagi, hatta ke dukun bayi sekalipun ia tak mampu membayarnya.

    Saat itulah sang isteri meminta dengan iba agar suaminya pergi mencari minyak dan peralatan persalinan. Atas permintaa itu sang suami keluar rumah, tapi sayangnya sudah tidak ada lagi orang yang dikenali.

    Demi keselamatan sang isteri dan bayi yang akan lahir, ia terus berjalan, namun ia sudah lupa bagaimana cara mendapatkan setetes minyak dan peralatan persalinan lainnya. Lelaki itu hampir saja putus asa. Sekiranya ia tak segera sadar bahwa agama melarangnya untuk bunuh diri, tentu ia sudah mencebur ke sungai atau melemparkan badannya di tengah jalan ramai.

    Lelaki itu terus berjalan dan semakin menjauhi rumah dan tempat sang isteri akan melakukan persalinan. Meskipun demikian, bayangan isterinya yang menangis dengan mengiba-iba agar sang suami pergi mencari minyak dan peralatan persalinan tak bisa hilang dari pikiran dan perasaannya. Justru bayangan itu mendorongnya untuk semakin jauh berjalan menyusuri jalan-jalan yang tak berujung.

    Kisah pasangan ini sengaja diputus hanya sampai di sini,sebab yang menjadi fokus perhatian kita adalah sebuah pertanyaan, kenapa cinta berakhir dengan sengsara? Bukankah CINTA ITU SEBUAH ENERGI YANG DAPAT MENDORONG SESEORANG UNTUK BERBUAT DAN BERPERILAKU YANG JAUH LEBIH DAHSYAT DARIPADA SEBELUMNYA? Mengapa justru cinta mematikan potensi, energi, dan semangat yang ada dalam diri?

    Cinta itu memang indah, ibarat taman yang dipenuhi bunga yang berwarna-warni. Ada orang yang datang menikmati keindahannya, mencium bau harumnya, menghirup udara segarnya, dan kemudian pulang untuk suatu saat kembali lagi. Akan tetapi ada juga orang sekali datang ke tempat itu, menikmati keindahannya, kemudian tak mau pergi lagi. Ia ingin menguasai taman itu, sekalipun banyak orang yang juga ingin menikmatinya.

    Cinta itu kadang berubah menjadi semacam alkohol yang memabukkan. Sekali mencoba ingin terus mengulangi, hingga sampai pada titik tertentu ia kemudian mencandu. Jika sudah pada tingkatan ini, maka dari hari ke hari kadar alkoholnya semakin dinaikkan, dosisnya semakin tinggi, sampai pada saatnya orang tersebut sakit dan mati justru oleh sesuatu “yang dicintai”.

    Jika cinta kepada manusia bisa seperti itu akibatnya, bagaimana dengan cinta kepada Allah? Dalam kaitan ini, banyak kaum sufi berpendapat bahwa cinta itu bahasa universal, berlaku pada siapa saja dan untuk apa saja. Berlaku universal untuk semua subyek dan obyek.

    CINTA KEPADA ALLAH YANG DILAKUKAN DENGAN CARA YANG SALAH BISA JUGA MENYENGSARAKAN, BAHKAN MEMATIKAN, sebagaimana kisah di atas. Untuk itu, para sufi berpesan terutama kepada para pemula agar lebih hati-hati. JIKA CINTA KEPADA ILAHI ITU DIIBARATKAN SAMUDERA, MAKA ORANG YANG SELAMAT ADALAH MEREKA YANG BERENANG. ADAPUN ORANG YANG TENGGELAM DALAM “LAUTAN CINTA” ITU JUSTRU TAK AKAN PERNAH SAMPAI KE TEPI.

    Di masyarakat kita banyak dijumpai para pecinta Allah yang menenggelamkan diri. Mereka asyik masyuk berdzikir kepada Allah berjam-jam lamanya di masjid, kemudian ia lakukan da’wah dari rumah ke rumah berhari hari, berbulan-bulan, bahkan ada yang sampai hitungan tahun dengan meninggalkan keluarganya, bahkan kadang tanpa bekal apapun. Mereka tenggelam dalam lautan cinta.

    Tenggelam di lautan itu memang mengasyikkan, terutama bagi mereka yang bisa menikmati keindahan taman laut. Di sana ada gugusan karang yang tertata alamiah dengan sangat indahnya. Di sana pula dijumpai warna-warni ikan hias yang luar biasa indahnya. Belum lagi ombak, bening, hangat dan dinginnya air laut. Semuanya indah, tapi BUAT APA KEINDAHAN ITU BAGI ORANG-ORANG YANG TENGGELAM?

    Untuk itu Allah menurunkan syari’at. DALAM SYARI’AT ITU ALLAH MENGENALKAN BATASAN-BATASANNYA, HINGGA KAUM BERIMAN SELAMAT DALAM MENGARUNGI BAHTERA KEHIDUPANNYA SAMPAI KE TEMPAT TUJUANNYA, BUKAN TENGGELAM LALU TIDAK DIKETAHUI DI MANA KEBERADAANNYA.

    Boleh saja orang menikmati khusyu’nya shalat sebagai sarana komunikasi dialogis dengan Allah swt. Akan tetapi shalat itu dibatasi dengan bacaan dan gerakan-gerakan. Orang yang shalat tidak boleh hanya menikmati ruku’nya saja, atau sujudnya saja, atau duduk tahiyyatnya saja. Semua gerakan, mulai dari takbiratul ihram hingga salam harus dinikmati semuanya secara proporsional. Inilah yang membedakan meditasi, baik meditasi agama-agama bumi maupun meditasi hasil karya cipta para spritualis yang kini berkembang bak jamur di musim hujan itu.

    Boleh saja shalat itu dilakukan berlama-lama di masjid, akan tetapi syari’at Allah tetap memberi batasan. Sehabis shalat kaum Muslimin harus segera pergi untuk menyebar di permukaan bumi, mencari karunia Allah berupa rizki. Dalam kaitan ini secara khusus Allah menyorotinya dalam firman-Nya:

    Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian beruntung. (Surat Al-Jumu’ah: 10)

    Apa bedanya orang yang berenang di lautan cinta Ilahi dengan mereka yang tenggelam di dalamnya? Orang yang berenang sadar bahwa ia sedang kepada Allah. Ia menikmati segala karunia yang disediakan Allah sambil terus berenang agar bisa sampai ke tujuan (Allah Swt). Adapun orang-orang yang tenggelam itu merasa dirinya sudah sampai kepada Allah. Ia tidak perlu lagi berenang, sebab tujuannya telah sampai. Ia tidak perlu lagi bersusah payah, karenanya ia menenggelamkan diri.

    Kini, apakah kita termasuk kelompok perenang atau orang yang tenggelam?

    *IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA* Al-Hubb Fillah wa Lillah,

    ***

    Author: Abu Zifora

    Editor: Abu Aufa

    Maraji’: Suara Hidayatullah

     
  • erva kurniawan 3:06 am pada 15 January 2014 Permalink | Balas  

    siluet burungKisah Seekor Burung Gereja

    Ada seekor burung gereja yang sedang terbang di musim salju. Karena mengalami kedinginan yang amat sangat, sayapnya membeku sehingga tidak bisa dikepakkannya lagi. Ia pun jatuh di sebuah tanah lapang. Setelah beberapa lama terbaring kedinginan, maka tiba2 lewat seekor sapi yang tanpa sengaja membuang kotorannya tepat menimpa badannya. Kontan sumpah serapah pun segera meluncur keluar dari mulut mungilnya !!!

    Rupanya tanpa disadari oleh burung gereja itu, hangatnya kotoran sapi yang menimpanya itu lambat laun membuat suhu tubuhnya berangsur normal. Ketika ia sedang bersiap-siap akan terbang kembali, tiba-tiba munculah seekor kucing. Keruan saja buruk gereja ini panik dan ingin secepatnya terbang menghindar. Tetapi sayangnya ternyata ia belum mampu, karena sayapnya rupanya masih agak membeku. Ia pun dengan dengan ketakutan yang amat sangat terpaksa pasrah saja menerima nasib. Namun diluar dugaannya kucing yang biasanya tidak pernah ramah terhadap burung gereja, kali ini bersifat sangat simpatik. Ia sama sekali tidak mengganggunya, bahkan menjilat-jilati badannya seolah-olah ingin membersihkan sisa-sisa kotoran sapi yang melekat pada bulu-bulunya. Sehingga akhirnya bersihlah seluruh badan burung gereja itu.

    Hangatnya kotoran sapi serta jilatan kucing itu rupanya mampu memulihkan kondisi burung gereja itu untuk dapat terbang kembali. Namun demikian burung gereja ini ternyata belum mau terbang. Rupanya ia menikmati jilatan kucing itu sebagai perlakuan yang memanjakannya. Maka ia pun membiarkan dirinya tetap terbaring sambil berpura-pura masih kedinginan, dengan harapan semoga kucing itu akan menjilatinya lagi.

    Tetapi apa yang terjadi Melihat badan burung gereja itu sudah bersih, maka kucing itu pun dengan ganasnya menerkam burung yang bodoh itu!!!!

    Burung gereja di atas melambangkan perumpamaan orang yang hanya pandai melihat yang tersurat saja. Baginya sesuatu yang tidak menyenangkannya selalu dianggapnya buruk, dan kejadian yang menyenangkannya dianggap pasti baik. Orang yang mempunyai sikap seperti ini jelas berlawanan dengan firman Allah pada surat Al-Baqarah 216, ” Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” Boleh jadi kita belum yakin sepenuhnya dengan firman Allah ini, tetapi yang pasti burung gereja itu sudah membuktikannya Dan bila kita tetap terpana dengan yang tersurat saja, bukan tidak mungkin kita akan bertemu dengan burung gereja itu.

    “Dan orang-orang itu berkata; ” seandainya kami mau mendengarkan (nasihat agama) dan kami menggunakan akal-akal kami, pasti kami tidak menjadi penghuni neraka Sair.” [Al-Mulk ayat 10].

    Wallahua’alam.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:42 am pada 11 January 2014 Permalink | Balas  

    nabi-muhammad-saw1E-mail Dari Rasul

    Malam sudah cukup larut, namun mata ini masih tak bisa terpejam. Semua tugas-tugas kantor yang kubawa pulang sudah selesai, tak lupa kusediakan setengah jam sebelum pukul 23.00 untuk membalas beberapa email yang baru sempat terbaca malam ini. Nyaris saja kupilih menu “shut down” setelah sebelumnya menutup semua jendela di layar komputer, tiba-tiba muncul alert yahoo masuknya email baru. “You have 1 new message(s)…”. Seperti biasanya, aku selalu tersenyum setiap kali alert itu muncul, karena sudah bisa diduga, email itu datang dari orang-orang, sahabat, saudara, kerabat, intinya, aku selalu senang menunggu kabar melalui email dari mereka. Tapi yang ini … Ooopss … ini pasti main-main … disitu tertulis “From: Muhammad Rasul Allah”

    Walaupun sudah seringkali menerima junkmail atau beraneka spam, namun kali ini aku tidak menganggapnya sebagai email sampah atau orang sedang main-main denganku. Maklum, meski selama ini sering sekali teman-teman yang “ngerjain”, tapi kali ini, sekonyol-konyolnya teman-teman sudah pasti tidak ada yang berani mengatasnamakan Rasulullah Saw. Maka dengan hati-hati, kuraih mouse-ku dan … klik …

    “Salam sejahtera saudaraku, bagaimana khabar imanmu hari ini … Kebaikan apa yang sudah kau perbuat hari ini, sebanyak apa perbuatan dosamu hari ini …”

    Aku tersentak … degub didada semakin keras, sedetik kemudian, ritmenya terus meningkat cepat. Kuhela nafas dalam-dalam untuk melegakan rongga dada yang serasa ditohok teramat keras hingga menyesakkan. Tiga pertanyaan awal dari “Rasulullah” itu membuatku menahan nafas sementara otakku berputar mencari dan memilih kata untuk siap-siap me-reply email tersebut. Barisan kalimat “Rasulullah” belum selesai, tapi rasanya terlalu berat untuk melanjutkannya. Antara takut dan penasaran bergelut hingga akhirnya kuputuskan untuk membacanya lagi.

    “Cinta seorang ummat kepada Rasulnya, harus tercermin dalam setiap perilakunya. Tidak memilih tempat, waktu dan keadaan. Karena aku, akan selalu mencintai ummatku, tak kenal lelah. Masihkah kau mencintaiku hari ini?”

    Air menetes membasahi pipiku, semakin kuteruskan membaca kalimat-kalimatnya, semakin deras air yang keluar dari sudut mataku.

    “Pengorbanan seorang ummat terhadap agamanya, jangan pernah berhenti sebelum Allah menghendaki untuk berhenti. Dan kau tahu, kehendak untuk berhenti memberikan pengorbanan itu, biasanya seiring dengan perintah yang diberikan-Nya kepada Izrail untuk menghentikan semua aktifitas manusia. Sampai detik ini, pernahkah kau berkorban untuk Allah?”.

    Kusorot ketengah halaman ….

    “Sebagai Ayah, aku contohkan kepada ummatku untuk menyayangi anak-anak mereka dengan penuh kasih. Kuajari juga bagaimana mencintai istri-istri tanpa sedikit melukai perasaannya, sehingga kudapati istri-istriku teramat mencintaiku atas nama Allah. Aku tidak pernah merasakan memiliki orangtua seperti kebanyakan ummatku, tapi kepada orang-orang yang lebih tua, aku sangat menghormati, kepada yang muda, aku mencintai mereka. Sudahkah hari ini kau mencium mesra dan membelai lembut anak-anakmu seperti yang kulakukan terhadap Fatimah? Masihkah panggilan sayang dan hangat menghiasi hari-harimu bersama istrimu? Sudahkah juga kau menjadi pemimpin yang baik untuk keluargamu, seperti aku mencontohkannya langsung terhadap keluargaku?.

    Satu hentakkan pagedown lagi …

    “Aku telah memberi contoh bagaimana berkasih sayang kepada sesama mukmin, bersikap arif dan bijak namun tegas kepada manusia dari golongan lainnya, termasuk menghormati keberadaan makhluk lain dimuka bumi. Saudaraku …”

    Cukup sudah. Aku tak lagi sanggup meneruskan rentetan kalimatnya hingga habis. Masih tersisa panjang isi email dari Rasulullah, namun baru yang sedikit ini saja, aku merasa tidak kuat. Aku tidak sanggup meneruskan semuanya karena sepertinya Rasulullah sangat tahu semua kesalahan dan kekuranganku, dan jika kulanjutkan hingga habis, yang pasti semuanya tentang aku, tentang semua kesalahan dan dosa-dosaku.

    Kuhela nafas panjang berkali-kali, tapi justru semain sesak. Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap, entah apa yang terjadi. Sudah tibakah waktuku? Padahal aku belum sempat me-reply email Rasulullah itu untuk memberitahukan kepada beliau bahwa aku tidak akan menjawab semua emailku dengan kata-kata. Karena aku yakin, Rasul lebih senang aku memperbaiki semua kesalahanku hari ini dan hari-hari sebelumnya, dari pada harus bermanis-manis mengumbar kata memikat hati, yang biasanya tak berketerusan dengan amal yang nyata.

    Pandanganku kini benar-benar gelap, pekat sampai tak ada lagi yang bisa terlihat. Hingga … nit… nit… alarm jam tanganku berbunyi. 00.00 WIB. Ah, kulirik komputerku, kosong, kucari-cari email dari Rasulullah di inbox-ku. Tidak ada. Astaghfirullaah, mungkinkah Rasulullah manusia mulia itu mau mengirimi ummatnya yang belum benar-benar mencintainya ini sebuah email? Ternyata aku hanya bermimpi, mungkin mimpi yang berangkat dari kerinduanku akan bertemu Rasul Allah. Tapi aku merasa berdosa telah bermimpi seperti ini. Tinggal kini, kumohon ampunan kepada Allah atas kelancangan mimpiku.

    Wallahu “a”lam bishshowaab

    ***

    Eramuslim – Bayu Gautama

     
  • erva kurniawan 3:36 am pada 10 January 2014 Permalink | Balas  

    Renungan Jumat: Pak Engkos 

    tukang_becak1Pak Engkos

    Pak Engkos, begitulah masyarakat sekitar rumahnya biasa memanggil. Beliau seorang tukang becak yang rajin ke masjid. Sholat jama’ah Maghrib, Isya’ dan subuh, hampir tak pernah absent. Seorang ibu bilang kepada saya, bahwa sebelumnya pak Engkos memiliki beberapa becak dan menyewakannya kepada tukang becak yang lain. Tinggal di rumah yang cukup lumayan, didampingi seorang istri dan seorang anak yang berusia dibawah sepuluh tahun.

    Karena kebijakan pemerintah setempat yang tidak mengijinkan becak beroperasi di kawasan tertentu, suatu hari becak pak Engkos kena operasi tramtib. Becakpun digusur dan dibuang ke laut.

    Jadilah pak Engkos tidak memiliki sarana pencari nafkah lagi. Rumah tinggalpun akhirnya ganti, dari rumah sederhana menjadi rumah yang hampir tak layak dihuni. Namun pak Engkos tetap tabah. Dia jalani kehidupannya dengan istiqomah, tetap berada di jalan Allah, tetap rajin sholat berjama’ah ke masjid, dan sekali-sekali bertindak menjadi imam sholat. Kami terkesan dengan bacaan qolqolahnya yang demikian kental.

    Untuk menyambung hidupnya, pak Engkos kembali menjadi tukang becak. Namun kali ini dia hanya sekedar buruh becak, yang harus memberikan uang setoran kepada majikannya. Hujan dan panas tak merintanginya bekerja menarik becak. Hingga ketuaan mulai menyapanya. Saat kondisi fisik sudah kurang mendukung, dia menderita sakit. Semakin hari semakin parah penyakitnya. Namun tak ada uang untuk pergi berobat. Hingga suatu malam datanglah seorang mahasiswa menyambangi rumahnya dan menawarkan bantuan pengobatan dengan syarat dia pindah agama.

    Dengan tegas pak Engkos menjawab, “Lebih baik saya mati dalam keadaan tetap beragama Islam, dari pada saya sembuh tapi harus pindah agama”.

    Mendengar kejadian itu, remaja masjidpun berembug. Kemudian membawa pak Engkos berobat kerumah sakit dengan pelayanan gratis tanpa biaya. Pak Engkospun bersyukur, begitu juga para remaja masjid. Karena pak Engkos berhasil berobat dengan tetap menjaga keimanannya.

    Janji Allah senantiasa benar. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushilat:30).

    Ditengah kondisi ekonomi yang menghimpit, ditambah dengan menderita sakit, pak Engkos berani menolak tawaran yang menggiurkan. Dia tidak takut mati, asal dalam keadaan tetap Islam dari pada sembuh tapi harus pindah agama. Pak Engkos-pun menjadi gembira, karena pertolongan Allah melalui tangan-tangan remaja masjid yang membawanya berobat dan merawatnya di rumah sakit hingga sembuh.

    Pak Engkos yang istiqomah. Kini beliau sudah tiada. Allah Swt berkenan memanggilnya beberapa saat setelah pulang dari rumah sakit. Semoga Allah Swt menerima segala amal kebaikannya, mengampuni kesalahannya, dan menempatkannya ditempat yang layak.

    Kesulitan ekonomi bukan penghalang untuk tetap istiqomah. Penderitaan fisik, rasa sakit dan ketidak beruntungan hidup di dunia bukan penghalang untuk tetap beriman kepada-Nya. Istiqomah di jalan Allah, akan mengantarkan kita kepada kehidupan yang kekal abadi di yaumil akhir nanti.

    Kesulitan kita, derita Pak Engkos… mungkin belum seberapa dibandingkan dengan perjuangan dan derita Rasul serta para sahabatnya. Malu rasanya.. jika kita harus gadaikan komitmen dan keimanan kita hanya demi sesuap nasi atau bahkan agar kita dipandang mapan di tengah masyarakat yang kian materialistis..

    Robbanaa laa tuzigh-quluubanaa ba’da ‘idz hadaitanaa wahab-lanaa milladunka rahmatan innaka antal wahhaab. Aamiin. (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (Petunjuk). (QS. Ali Imran:8).

    Wallahu ‘a’lam bishshowab.

    ***

    (Diambil dari http://www.eramuslim.com)

     
    • fauzi bin rifai 6:53 am pada 10 Januari 2014 Permalink

      Allohuakbar walillahilhamd : Dialah yang mahabesar dan kita memujiNYA, semoga kita selalu istiqomah menjalani agamaNYA dan diringankan ujian dari yang seberat itu

  • erva kurniawan 3:41 am pada 9 January 2014 Permalink | Balas  

    kisah-teladan-islamBeginilah Musuh Islam, dan Beginilah Umat Islam

    Ibu Guru berjilbab rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

    Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali. Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

    “Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

    Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”

    “Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham Bu Guru”

    “Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

    Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet. “Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

    “Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”

    “Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”

    Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

    ***

    Ini semua adalah fenomena Ghazwu lFikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya: “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu.” (9:32).

    Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.

    Maka tampak dari luar masih Muslim, padahal internal dalam jiwa ummat, khususnya generasi muda sesungguhnya sudah ibarat poteng (tapai singkong, peuyeum). Maka rasakan dan pikirkanlah itu dan ingatlah bahwa dunia ini hanya persinggahan sementara, ingatlah akan Hari Pengadilan.

    WaLlahu a’lamu bishshawab.

    ***

    Diambil dari: eramuslim

    H.Muh.Nur Abdurrahman

    Kolom Tetap Harian Fajar, dengan judul ‘Permainan Ibu Guru’ dari milist Faktual

     
  • erva kurniawan 6:44 am pada 29 December 2013 Permalink | Balas  

    siluet keluargaIt’s Becaused You Love Us

    Rencana manusia hanya sebatas pandangan karena ujung dari rencana hanya Allah jualah yang menentukan.

    Rasa bahagia kami lengkap sudah dan kian menambah semarak hari-hari kami ketika di akhir Februari lalu aku mendapati istriku tengah mengandung si buah hati. Sempurna sudah statusku sebagai seorang suami yang mampu memberikan keturunan. Kabar gembira pun kami sebarkan kepada orang tua, sanak keluarga dan teman-teman terdekat dengan harapan do’a agar kami dapat menjaga amanah Allah ini dengan sebaik-baiknya.

    Hari demi hari kami lalui dengan segala kegembiraan bermimpi segera menimang si buah hati. Nama indah penuh do’a pun sudah kami persiapkan. Entah mengapa kami berdua sepakat hanya menyiapkan satu nama anak lelaki.

    Namun di awal April kami harus segera mengubur impian indah kami ketika dokter memutuskan bahwa si calon buah hati harus dikeluarkan dari perut sang bunda karena alasan medis. Tak terperih kepedihan kami berdua. Apalagi sebagai seorang calon ibu, istriku sangat menantikan seorang anak. Kabar itupun hampir tak sanggup dipikul olehnya. Istriku hampir limbung menerima kenyataan ini. Aku hanya mampu berdo’a kepada Allah agar kami senantiasa diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi ujian ini. Walau kesedihan juga mendera hati teramat sangat namun aku berusaha terlihat tabah di hadapan istriku dan tak lepas kubisikan kepadanya agar terus beristighfar dan ikhlas dengan apapun kehendak Allah.

    Ku ingatkan istriku tentang kisah nabi Khidir yang membunuh seorang anak. Hikmah pembelajaran bagaimana menjadi seorang yang sabar bagi nabi Musa yang diajarkan oleh nabi Khidir. Sebagaimana dikisahkan di Al-Qur’an (surat Al Kahfi) bahwa anak kecil tersebut terpaksa dibunuh karena kelak diketahui akan mendorong kedua orang tuanya (yang mukmin) kepada kesesatan dan kekafiran. Dan Allah kelak akan mengganti bagi mereka dengan anak yang lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya kepada orang tuanya.

    Allah telah menentukan yang terbaik untuk calon buah hati kami dan aku percaya Allah Maha Tahu apa yang akan terjadi kelak jika dia dewasa. Mungkin dengan diambilnya sang janin sekarang, Allah kelak akan menggantikan yang lebih baik. Kukuatkan terus hati istriku untuk tetap beristighfar dan aku pun berusaha keras menjaga hati ini agar tidak luluh di hadapan istriku yang sedang shock berat.

    Dan siang itu ketika aku harus mengantarkan istriku ke ruang tindakan untuk mengeluarkan janin itu, mulut ini tak hentinya berdo’a memohon diberikan keselamatan untuk istriku tercinta.

    Ketika operasi itu selesai, dokter memanggiku untuk segera menemui istriku yang masih dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh obat bius. Kutatap istriku dalam diamnya. Ya Tuhan, air mata itu mengalir dari kedua sudut matanya. Mengalir deras dari alam bawah sadarnya. Dan aku sudah tidak mampu melihat kepedihan itu. Mataku panas oleh air mata yang serasa menggelegak mencoba keluar. Pertahananku pun bobol. Pipiku basah. Tidak mampu aku melihat wajah istriku yang pilu.

    Ya Allah, kuatkan kami, tautkan cinta kami. Terimalah buah cinta kami yang Engkau pinta kembali dengan segala keikhlasan kami. Karena apapun yang telah Engkau putuskan dan itu adalah karena Engkau mencintai kami. Anugerahkan bagi kami pengganti yang sholeh, yang sholehah, yang lebih dalam kasih sayangnya kepada kami. Jadikanlah kelak dia sebagai mujahid-Mu yang senantiasa membela agama-Mu di semesta alam raya ini.

    Segala kegembiraan yang pernah Engkau karuniakan kepada kami adalah karena Engkau mencintai kami. Begitu juga segala ujian yang kini menghampiri kami adalah bagian dari cinta-Mu kepada kami. Agar kami senantiasa tidak pernah berpaling kepada pelindung yang lain selain hanya kepada-Mu. Sebab kami tahu, It’s becaused YOU love us. Amiin. (as told by ayah, penuh cinta!)

    ***

    Oleh: Sahabat – eramuslim

     
  • erva kurniawan 2:53 am pada 26 December 2013 Permalink | Balas  

    tasbih quranKisah Sufi: Dzunun al Misri

    Suatu saat Dzunun al Misri berlayar dengan santri-santrinya, bertemulah mereka dengan kapal perampok yang isinya hanya kegiatan maksiat semua, karena geram para santri minta kepada sang Syeikh untuk mendoakan kecelakaan bagi kapal perampok tersebut (tentu maksudnya kalau mereka binasa tidak ada lagi kemaksiatan), dan sang Syekh menyetujui permintaan santrinya dengan berdo’a. Tapi betapa terkejut mereka karena do’a yang disampaikan sang Syekh ini ternyata: Ya Allah berikanlah mereka kebaikan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Kontan para santri protes kenapa do’anya begitu, dengan wajah teduhnya dan penuh kasih sayang sang syekh hanya tersenyum. Dan kapal perampokpun semakin mendekati kapal santri tersebut, ternyata pimpinan perampok begitu mendekat dan melihat wajah sang syekh atas kehendak Allah menangis terisak-isak karena ingat mati, dan diakhiri dengan bertaubat, berislam dengan baik. Dari situlah para santri baru mendapatkan jawaban kenapa sang Syekh berdo’a seperti itu.

    Dari kisah yang sangat singkat ini banyak sekali haikmah yang rekan-rekan bisa dapatkan dan silahkan direnungkan dengan jiwa yang tenang, meskipun kita bukan sang Syeikh tadi setidaknya kita bisa belajar dari cara  beliau bertindak.

    Wassalaamu ‘alaikum wr.wb.

     
  • erva kurniawan 8:30 am pada 23 December 2013 Permalink | Balas  

    melati1Tambah Satu Lagi Melati itu

    Bismillaahirrahmaanirrahiim

    Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh, supaya kamu selalu ingat. (QS. Al Araf 7:26)

    Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab 33:59)

    *****

    “Dunia ini semakin kacau Nisa, bunga-bunga semakin berani memamerkan aurat tubuhnya, astaghfirullooh.. kenapa mereka tidak mengerti?, kenapa Qalbu yang lembut itu tertutup? kenapa mereka lebih cinta dunia daripada Zat Yang Menciptakannya?.. kenapa?.. “

    Keluh Kasturi suatu ketika, ada semburat kemarahan dan kekecewaan di sana.

    “Apakah mereka tidak sadar diri bahwa dulunya mereka mati?, Apakah mereka tidak bersyukur bahwa dulunya mereka tak berbentuk?, dan kini.. mereka memilih menjual nyawa daripada menjaga kehormatannya. Padahal Allah begitu menyayangi mereka. Mereka korbankan jiwa demi uang, popularitas atau nama”. Padahal semua akan tinggal..

    Sungguh.. kasihan sekali, apakah mereka tidak pernah membaca sejarah bahwa di zaman jahiliyah kehadiran mereka adalah lambang kenistaan? Lebih baik mereka di kubur hidup-hidup daripada dipelihara dengan tanggungan kehinaan dan kini setelah dimuliakan, mereka malah berbalik merendahkan dirinya. Sudah di dunia rendah, apalagi di akhirat kelak?

    Gara-gara mereka cermin wanita ternoda gara-gara mereka fitnah merajalela, gara-gara mereka dunia ditimpa malapetaka. Aku benci mereka Nisa.. aku benci..”

    Semua terdiam mendengar perkataan Kasturi. Untaian katanya begitu menusuk, tajam dan mungkin menyakitkan? Sementara Nisa mencoba tersenyum menahan pahitnya kenyataan.

    “Apa yang engkau keluhkan ini, sama seperti yang kukeluhkan dulu, Kasturi..”. Ujar Nisa pelan, seraya melirik Ayuning yang duduk di sampingnya.

    “Kebencianmu pada mereka bisa Nisa maklumi karena cintamu pada Alloh.., sebagaimana sabda Rasul-Nya: Iman yang paling utama adalah bahwa engkau mencintai (seseorang) karena Alloh dan membenci (seseorang) karena Alloh. (At Thabrani)

    Membenci mereka, karena tidak memperhatikan Firman Alloh, sebab itu timbul usaha untuk merangkul mereka dengan kasih sayang agar kembali mendapat keridhaan Alloh. Betul begitukan ?”

    Kasturi menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan. Selanjutnya ketiga sahabat itu tenggelam dalam perbincangan panjang.

    *****

    Nisa memohon pada Yang Maha Kuasa agar memberikannya kekuatan, ia sadar sepenuhnya yang hadir di pengajian melati bukan hanya mereka yang mengenakan pakaian yang disyariatkan Alloh. Usai berdo’a, perlahan ia mulai memberikan salam dan percikan.

    “Ukhty, Alloh Swt yang sangat menyayangimu berfirman:

    Hai Anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari syurga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al Araf 7:27)

    Alloh telah memberitahukan keadaan nenek moyang kita dulu sewaktu diperdayakan, betapa senangnya syaitan melihat aurat Adam dan Hawa, begitu pula dengan kita. Sungguh, aurat yang tak terjaga itulah gerbang pembuka kemaksiatan di muka bumi ini

    Sungguh ukhty, Alloh yang menciptakan kita lebih tahu mana yang terbaik untuk ciptaan-Nya. Alloh menyuruh kita menjaga aurat karena tidak ingin kita teraniaya dan celaka.

    Dulu kita tidak ada, dengan kasih sayang-Nya, Ia menghadirkan kita. Pernah melihat lukisan indah seseorang? Kita saja yang melihatnya akan merasa takjub dan menghargainya, apalagi yang melukiskannya? Tentu Sang Pelukis lebih menghargai lukisannya, lebih menyayanginya, daripada insan yang hanya menilai. Begitu pula Alloh terhadap kita ukhty. Alloh tidak ingin lukisan-Nya dihina dan hidup sia-sia di dunia ini.

    Siapa yang paling menyayangimu kalau bukan Alloh? Rasakanlah kasih sayangnya dari lukisan wajah indahmu di hadapan cermin itu. Begitu sempurna. Begitu indah. Tidakkah engkau ingin mensyukurinya?

    Rasakan pula dalam setiap degup jantungmu, denyut nadimu, desah nafasmu, dan setiap apa yang engkau rasa pada dirimu. Tidak terpikirkah betapa Alloh senantiasa merawatmu? Ia tak pernah menghentikan dan membiarkanmu sedikitpun kesusahan. Walau betapa banyak salahmu, Alloh masih selalu mengasihimu, mengasihimu. Begitu banyak nikmat yang Ia berikan, jangankan untuk bersyukur, diri kita malah kufur.

    Bukankah nikmat rasanya jika disayang itu ya ukhty? jikalau kita sudah mengerti, mengapa kita tidak ingin disayang oleh yang Maha Penyayang itu sendiri? kenapa kita tidak ingin dicinta Sang Pencipta kita sendiri?

    Kelak apa yang kita lakukan di dunia ini diminta pertanggungjawaban, kelak seluruh anggota tubuh itu ditanya apa saja yang diperbuatnya. Kelak kita akan mengetahui kita selamat atau celaka!!!

    Karena itu, kuketuk dalam pintu hatimu, dengan segenap kemampuan jiwa dan ragaku, taqwalah dirimu dengan menjaga baik-baik apa yang Alloh titipkan kepadamu. Tutupilah aurat itu sebelum tiba masanya manusia tidak lagi memperdulikannya. Yaitu ketika seluruh langit dan bumi ini musnah dan terganti, ketika seluruh umat manusia berkumpul dalam keadaaan tubuh tak tertutup sehelai benangpun. Tak ada lagi yang memperdulikan, karena masing-masing telah sibuk dengan urusannya masing-masing.

    Duhai yang dianugerahi kelebihan rasa, duhai yang lebih dekat pada cinta, patuhlah pada Tuhanmu, kenakan pakaian taqwa itu, selamatkan dirimu Ulurkan jilbab ke seluruh tubuhmu! Tolong.. sempunakan ia!

    Tiba-tiba seorang wanita mendekati Nisa dengan berlinang air mata,

    “Boleh kupinjam jilbabmu untuk menutupi rambut dan seluruh tubuhku yang dibalut baju minim ini, Nisa?”

    Nisa memandang wanita yang ada dihadapannya. “Cathy! Betulkah apa yang kudengar tadi?, engkau mau mengenakan jilbab?”.

    Wanita itu menganggukkan kepalanya, seraya menangis. “Iya Nisa, karena aku takut murka Alloh.. takut kehilangan kasih sayang-Nya.. takut tidak diperdulikan-Nya di akhirat kelak.. takut tak bisa memandang wajah-Nya.. dan aku takut Alloh tidak mencintaiku Nisa.. aku takut Alloh tidak mencintaiku”

    Mendengar ucapan itu, Nisa memeluk Cathy, menciuminya, hampir ia tidak percaya bahwa gadis manis itu tergugah untuk menutup auratnya, Semua ini karena-Mu ya Alloh. Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan-Mu. Kemudian yang lain ikut menyalami Cathy, memeluk dan menciuminya sebagai ucapan selamat karena telah mendapat hidayah. Pada hari itu juga, dia tidak hanya mendapat 1 gaun muslimah lengkap, namun lebih. Tambah satu lagi Melati itu, Ya Alloh! Ucap Nisa seraya tersenyum bahagia, bahagia.

    Billaahi taufiq walhidayah, Wassalaamu’allaikum warahmatullooah wabarakaatuh

    ***

    Oleh: Ratna Dewi

    Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nuur 24:31)

     
  • erva kurniawan 7:49 am pada 18 December 2013 Permalink | Balas  

    siluet anak kecilJangan Ambil Anakku

    Terkulai lemas, demam dan mukanya merah karena panas yang lebih dari 40 derajat, sungguh memilukan melihatnya. Anakku dalam kondisi begitu, yang tadinya lincah, cerewet, tiba-tiba diam kuyuh dan hanya tergeletak tidur. Putriku, betapa ingin aku yang tergeletak di situ menggantikanmu. Sakit yang paling berat yang dialaminya selama 1,5 tahun usianya.

    Normalnya dia akan meringis usil atau berlari dan lincah menarik perhatian. Pas dengan usianya yang memang sedang caper-capernya. Bidadari kecilku itu. Yang membayangkannya saja atau bercerita tentangnya saja cukup membuat dadaku terbuncah oleh rasa sayangku. Tapi jangan dianggap aku tidak pernah dibuat jengkel olehnya. Usia 1,5 tahun yang sudah bukan ‘bayi’ lagi, identik dengan banyaknya keinginan, yang terkadang tidak mau ngerti dengan argumen yang kita berikan. Ngotot, teriak, dan nangis jika apa yang dia maui tidak terpenuhi. Singkatnya sih bikin senewen. Ya itu … bidadari kecilku itu. Putriku satu-satunya.

    Sekarang aku harus menyaksikannya mederita sakit. Bayangan buruk segera terlintas. Seandainya hari ini dia harus pergi. Seandainya penyakit yang dia idap sekarang mengantarkannya untuk meninggalkan kami. Ada lintasan rasa protes dan tidak rela membayangkan itu. Takut! Bahkan nada meminta, ya Allah jangan ambil anakku! Jangan sekarang, dia masih kecil, dia baru sebentar bersama kami. Kupeluk dia erat dan tak terasa menetes air mataku.

    Astafighrullah. Astafighrullah. Jeritan hatiku itu manusiawi kan? Terlebih aku sebagai seorang ibu. Yang sudah mengandung, menyusui dan membesarkan. Tapi sebagai seorang hamba-Nya aku berusaha berpikir jernih dan berusaha menghilangkan pikiran buruk yang timbul. Aku tahu aku tidak boleh berpikiran buruk.

    Tapi satu hal yang perlu kukaji dan kurenungkan dalam, bukan mengenai pikiran buruk itu. Mengenai sikapku menghadapinya. Mengapa aku harus takut, protes bahkan tak rela seperti jika hal itu – misalnya – harus terjadi. Astafighrullah. Ya Allah ampuni hamba-Mu ini. Yang mempertanyakan kehendak-Mu dan takdir-Mu.

    Manusia itu tidak punya apa-apa. Semuanya titipan Allah termasuk anak. Hal yang sudah lama aku tau. Namun jelas belum tertanam subur dalam hatiku. Anak adalah titipan-Nya. Seiring perjalanan sang waktu, betapa sering menyesatkan, melenakan rasa sayang yang kita miliki ke anak-anak kita. Besarnya rasa cinta, kebersamaan setiap waktunya, membuat lupa hakekat anak yang bukan milik kita.

    Aku tau aku harus mematri perlahan namun pasti dalam otak dan hatiku, bahwa bidadari kecilku itu bukan milikku. Dia titipan Allah yang diamanahkan padaku dan harus kujaga titipan itu. Sehingga kelak entah kapan kalau diminta kembali, bisa kembali dengan baik. Sehingga kelak ketika ditanya pertanggungjawabanku tentangnya aku sudah melakukan kewajibanku sebaik-baiknya.

    Rasa sedih adalah manusiawi, tapi rasa tidak rela dan ridho menghadapinya bukan merupakan sikap seorang Muslim yang beriman. Rasulullah Saw sendiri menangis sedih ketika putra beliau, Ibrahim meninggal. Tetapi beliau mengatakan, “Tidak akan berkata kecuali yang diridhoi Allah”. Artinya kesedihan beliau tidak sampai melanggar seperti menyalahkan ketentuan Allah atau tidak menerima takdir-Nya. Yakinlah bahwa di setiap kehendak dan takdir Allah selalu banyak hikmah dibaliknya.

    Mungkin ada baiknya jika kita merenungkan, mempertanyakan akan seperti apa kita ketika titipan Allah kepada kita diambil dan diminta. Bukan untuk buang-buang waktu memikirkan dan merisaukan hal yang tidak terjadi. Sekali lagi juga bukan untuk berpikiran buruk atau negatif, tapi untuk melihat jauh kedalam hati sanubari kita bagaimana kita memposisikan anak kita. Sebagai milik kita? Sebagai lambang identitas pribadi. Atau sebagai titipan dan amanah Allah yang harus kita jaga, pelihara dan kita didik.

    Orang tua harus ikhlas kalo barang pinjaman tersebut sudah diminta kembali. Dan itu tidak mengurangi sedikitpun porsi cinta dan sayang kita. Hanya menempatkannya pada porsi yang benar. Jangan sampai rasa sayang dan memiliki yang berlebihan membuat kita melanggar dan menentang ketentuan dan takdir Allah. Anak memang merupakan nikmat, tapi juga cobaan bahkan juga bisa menjadi fitnah. Wallahu’alam bishshowab.

    Ya Allah Engkau Maha Berkuasa dan Maha Tahu. Bimbing kami untuk mendidik anak-anak kami menjadi anak sholeh/sholehah dan manjadi hamba-Mu yang beriman. Jangan jadikan mereka pemberat langkah kami menuju surga-Mu ya Allah. Jangan engkau jadikan anak-anak kami sebagai fitnah bagi kami ya Allah. Jaga hati kami ya Allah untuk selalu condong kepada-Mu.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:55 am pada 8 December 2013 Permalink | Balas  

    maafMulianya Memaafkan

    Ada sebuah buku yang ditulis oleh seorang penulis terkenal, Dave Pelzer, berjudul A Man Named Dave, yang menggambarkan sebuah kisah tentang keberhasilan dan kekuatan dari sikap memaafkan. Buku tersebut – yang merupakan kesimpulan dari dua buku Pelzer sebelumnya yang menjadi best seller, A Child Called “It” dan The Lost Boy  begitu menyentuh hati siapapun yang membacanya, karena tidak seperti buku sebelumnya yang membuat dada berdegub, A Man Named Dave juga mengajak kita untuk meneguhkan hati, membalas kezaliman dengan sikap memaafkan.

    Sebagaimana digambarkan Pelzer, selama tidak kurang dari delapan tahun sejak usia 4 tahun hingga usia 12 tahun- mengalami berbagai siksaan yang sangat brutal dari ibunya sendiri yang menganggap Pelzer hanya sebagai “It” yang bisa diperlakukan dengan seenaknya, meninju, menendang, melemparkan dari atas menggelundung ke dasar tangga, menginjak-injak bahkan mencekiknya sampai nyaris mati. Sebuah kebesaran hati yang mengesankan dari Dave Pelzer bahwa kemudian ia tak sedikitpun menyalahkan sikap The Mother (ibunya) selama delapan tahun itu yang menyebabkan ia tak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu. Hingga akhirnya Pelzer menemukan dirinya sendiri di dalam hati, sampai ia mampu membebaskan diri.

    Bahkan dalam catatan di belakang buku tersebut, Jack Canfield, salah seorang penulis Chicken Soup for The Soul mengatakan bahwa Pelzer adalah bukti nyata yang menunjukkan bahwa kita masing-masing memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri sendiri, tak peduli pengalaman seburuk apapun yang menimpa diri kita.

    Dalam buku Mensucikan Jiwa, Said Hawwa menerangkan tentang empat kategori manusia dalam hal kemarahan, yang pertama, seperi ilalang yang cepat tersulut dan cepat pula reda. Kedua, seperti pohon bakau; lambat tersulut dan lambat pula redanya, ketiga, lambat tersulut dan cepat reda. Jenis ini yang paling terpuji, selagi tidak mengakibatkan redanya ghirah dan semangat pembelaan kebenaran. Sedangkan yang keempat, cepat tersulut dan lambat redanya. Jenis ini yang paling buruk.

    Berkaitan dengan itu, Imam Ghazali pernah mengajarkan bagaimana seharusnya seorang mukmin melampiaskan kemarahan. Bahwa kesabaran seseorang memang ada batasnya dan pada saatnya telah melampaui ambang batas itu, sangat wajar bilang seseorang harus marah. Hanya saja, yang terpenting adalah bagaimana kita mampu mengukur kadar marah itu sesuai dengan tingkat kesalahan orang membuat kita marah, selain juga kemarahan yang dilampiaskan masih wajar dan berada dibawah kesadaran yang tinggi. Inilah yang sulit, makanya Rasulullah pun pernah mengatakan bahwa memaafkan adalah sikap mulia dari seorang mukmin.

    Memaafkan, bukan memberi maaf, jelas perintah dalam surat Ali Imran ayat 134, karena memaafkan bermakna lebih mulia ketimbang memberi maaf. Memaafkan adalah sikap yang diberikan secara ikhlas terlepas orang yang melakukan kesalahan, sikap dan tindak semena-mena, dan atau ketidakadilan itu memintanya atau tidak. Dan sikap memaafkan itu dikatakan Allah sebagai satu sikap orang-orang bertaqwa yang Allah sediakan bagi mereka syurga seluas langit dan bumi.

    Bayangkan betapa mulianya orang-orang yang mampu memaafkan, karena sikap memberi maaf setelah orang meminta maaf saja sudah sedemikian luhur. Bahwa juga sikap seseorang yang meminta dimaafkan setelah melakukan satu kesalahan pun sudah begitu bagusnya. Sungguh membutuhkan kebesaran jiwa untuk bisa memaafkan kesalahan orang tanpa menunggu orang memintanya, karena pada saat itu kita telah membunuh kesombongan, dan rasa sebagai orang menang.

    Karena jika kita tak mampu melakukannya, dan menelan kemarahan itu karena ketidakmampuan untuk melampiaskannya seketika maka ia akan kembali ke dalam bathin dan menyelinap ke dalamnya lalu menjadi kedengkian. Kata Said Hawwa, makna kedengkian ialah hati senantiasa merasa berat dalam menelan kemarahan, merasa benci kepadanya dan lari darinya. Kedengkian adalah buah dari kemarahan.

    Sikap yang sebaiknya dilakukan seseorang adalah, selain memaafkan adalah meningkatkan kebaikan terhadapnya sebagai perlawanan terhadap hawa nafsu dan syetan maka hal itu merupakan maqam orang-orang yang tergolong shiddiqin, dan termasuk perbuatan orang-orang yang mencapai maqam Muqarrabin (orang-orang yang dekat dengan Allah). Wallahu a’lam bishshowaab

    ***

    Bayu Gautama – eramuslim

     
  • erva kurniawan 1:54 am pada 3 December 2013 Permalink | Balas  

    al-quranKisah Nyata Seorang Mualaf

    Bismillahirrahmanirrahim

    Inilah sebuah kisah kesaksian dari seorang mantan Gembala Gereja dan penginjil bernama Paulus F Tengker, yang bernama Islam Rahmad Hidayat, yang oleh saya (M.Donny Setiawan) dikutip dan ditulis kembali. Silahkan baca dengan penuh ketulusan atas pengakuan jujur, kisah mantan Gembala Gereja dan penginjil ini, yang telah bertabat dan menemukan kebenaran Ilahi.

    Inilah Kisah Nyatanya :

    Tadinya saya ragu untuk menulis kisah ini, karena takut terjebak dalam rasa dan sifat riya, tetapi setelah membaca posting kisah kesasian 4 orang Gembala yang kembali ke agamanya masing-masing yang diposting lewat : yesus.net dan kebenaran.net, ini merupakan sebuah pengungkapan jujur dan berani atas praktek Rohani Gereja yang sebenarnya rahasia dan tidak diketahui oleh banyak pihak termasuk oleh umat Kristiani sendiri. Karena saya melihat ada upaya penyangkalan kebenaran oleh kalangan-kalangan tertentu Umat Kristiani di forum diskusi agama tersebut. Demi tegaknya kebenaran dan agar semakin banyak Domba-domba maupun Gembala-gembala kristus yang bisa menemukan jalan kebenaran Ilahi yang sesungguhnya, maka saya beranikan diri menulis dan menuturkan kisah sejati ini.

    Saya berharap para Domba dan Gembala Kristus yang membaca kisah ini dapat memahami dan menghayati pengalaman rohani saya ini, agar bisa menemukan kebenaran Ilahi yang sejati, Jalan Tuhan yang Benar dan tidak sesat.

    Oleh karena itu demi penghargaan kepada umat Kristiani dan Umat Islam, saya tidak mengutip satu ayatpun dari Al-kitab dan Al-quran. Kesaksian tersebut adalah betul-betul ungkapan hati dan Jiwa Saya.

    Saya seorang pria, dilahirkan di Manado 27 tahun yang lalu. Nama saya Paulus F.Tengker, saya dilahirkan dalam tradisi keluarga penganut Kristen yang Fanatik. Ayah saya seorang Pendeta Gereja Pantekosta, kakak wanita tertua menikah dengan seorang penginjil Nehemia terkenal. Saya dididik untuk taat dalam beragama, menjadi Gembala tuhan. Itulah sebabnya setamat SMA, saya melanjutkan kuliah ke sebuah Sekolah Misi Al-kitab yang berlokasi di Jl. Arjuno – Surabaya. Kota Surabaya dipilih karena selain lebih dekat ke Manado, juga merupakan salah satu Kota dengan Umat Kristiani yang terkemuka.

    Banyak Gereja berdiri megah di tengah Kota dan Pekabaran Gembira Cinta Kasih Tuhan yesus mendapat respon yang sangat baik dari Masyarakat Jawa Timur, yang mayoritas beragama Islam Fanatik. Selama Kuliah saya juga bekerja Part-time sebagai pelayan Tuhan di Gereja Nehema dan Gereja Pantekosta di Indonesia Timur cabang Surabaya, saya bekerja sebagai penyusun Kisah kesaksian dari hama-hamba Islam yang bertobat masuk Kristen. Karena kebanyakan orang-orang itu adalah orang-orang dari desa, atau orang yang awam, beberapa diantaranya bahkan seperti sakit Jiwa, atau para pemakai Narkoba yang masih kecanduan berat, maka saya harus menuliskan kisah-kisah kesaksian yang hebat untuk mereka.

    Saya basa menulis cerita dengan tajuk : “Hamba Tuhan yang kembali, mantan seorang Kiyai masuk Kristen, Mantan Dosen IAIN masuk Kristen, dsb.

    Kisah-kisah palsu karangan saya itu sangat sempurna sekali, bahkan hampir tak bercela, saya ahli mengutip Al-Qur-an dan Hadist, saya juga tahu urutan pendidikan Islam dari mulai sekolah Islam, sampai pondok pesantren hingga IAIN. Saya juga sering ditugaskan untuk membuatkan dokumen asli tapi palsu ; Ijazah palsu dan foto-foto palsu, untuk meberikan kesan bahwa mereka itu dulunya benar-benar bekas tokoh-tokoh Islam walaupun sebenarnya Bukan.

    Bahkan saya juga mengajari mereka membaca Al-quran yang akan dipakai menohok orang-orang Islam yang sedang kami injili dan berusaha membantah Kami.Beberapa Kisah kesaksian yang sudah dibukukan, beberapa diantaranya merupakan hasil karangan saya. Memang betul orang Islam yang murtad  itu ada tetapi mereka tak sehebat kesaksiannya, jika disebut mantan ulama atau Mahasiswa IAIN, atau Guru Ngaji yang sekolah dimesir, maka sebenarnya mereka itu adalah para pengemis, gelandangan, bekas pecandu Narkoba, Wanita Nakan dan para preman tak beragama, orang desa yang ber KTP Islam, tapi berbudaya animisme didesa-desa pesisir selatan Jawa (misalnya ; Sukabumi dan Blitar). Bahkan saya sering berjumpa Orang-orang Islam yang diBabtis itu ernyata seumur hidupnya hampir tidak pernah Shalat dan mengetahui ajaran Islam yang paling dasar, tetapi kami harus melaporkan keberhasilan ini dengan cara yang gemilang kepada para Jemaat yang telah berderma, maka kami merekayasa kisah kesaksian orang-orang lugu ini menjadi hebat dan canggih. Tentu para Domba Gereja akan senang kalau mantan Ulama masuk Kristen, Walaupun yang sebenarnya Cuma bekas Gelandangan Buta huruf misalnya. Saya jalani terus pekerjaan ini hingga tamat Kuliah dan akhirnya saya dinobatkan menjadi Pendeta Muda. Karena keahliah saya ini terhitung langka, maka tugas ini tetap dipertahankan. Saya juga Rajin Membeli Tafsir Al-Quran, hadist, dan buku-buku Islam untuk mencari kelemahan-kelemahannya, Gereja mendanai setiap apapun yang berhubungan dengan kerjaan saya.

    Saya menemukan bahwa sikap saling beda pendapat, namun saling menghargai sebagai kelemahan Islam yang paling utama dalam pandangan Kristen. Bahkan saya juga pernah berpura-pura mengaji dan mengaku sebagai Islam dengan mengundang seorang Guru Ngaji kerumah Dinas saya, saya belajar ngaji hingga 1 tahun lebih dan ustadz itu tak pernah menyadari sampai saya tamatbelajar, bahwa saya sebenarnya seorang Kristen.

    Berkat pengajaran beliau itu saya bahkan bisa ngaji dan hal ini ternyata berguna sekali untuk saya sekarang ini, ketika kali ini saya dengan sesungguhnya belajar Islam.

    Saya pun secara Part Time terkadang ikut misi penginjilan malam bertajuk Tuhan Berkabar di Malam Hari. Kami mendatangi tempat-tempat keremangan malam seantero kota Surabay, kami wartakan Injil kepada para pekerja sex, ABG, wanita nakal, dan kaum Gay.

    Yang kami targetkan untuk dikristenkan biasanya adalah para pekerja sex independen, para pengunjung diskotik dan kafe yang menyambi, baik itu Gadis belia maupun para lelaki muda penjaja sex untuk kaum gay. Setiap orang yang terpilih biasanya hasil seleksi dan pengamatan yang teliti, tidak sembarangan orang kami jadikan target. Biasanya kami telah mengawasi mereka selama kurang lebih 1 hingga 3 bulan. Para penginjil yang aktif disini tidak aktif dalam kegiatan Gereja apalagi memimpin kebaktian dan acara Rohani lain.

    Sebab kami tak mau citra Gereja rusak di mata Umat yang kebetulan bertemu para penginjil di tempat keremangan malam tersebut. Juga para Penginjil itu tidak menggunakan seragam resmi, mereka berdandan seperti umumnya pengunjung diskotik dan Kafe.

    Selain itu para Penginjil Gembala Tuhan di malam hari juga aktif dalam jaringan pengedaran Narkoba, sebab inilah cara termudah menjerumuskan seorang Umat beragama lain dalam kesesatan hidup lalu setelah mereka tersesat dan butuh pertolongan, kamilah kamilah yang akan merangkul mereka. Apabila tidak terangkulpun kami sudah berhasil merusak sebagian dari generasi muda Islam yang sering ke diskotik atau kafe. Mungkin para pembaca posting ini sudah membaca artikel panjang tentang jaringan Narkoba di Jakarta di harian Kompas edisi hari Minggu tgl 11 Mei 2001, disana diceritakan dengan gambling betapa penyebaran dan mafia narkoba sudah menyebar sangat pesat diJakarta dan sulit diberantas. Betapa aparat kepolisian, TNI, pengelola tempat hiburan malam, para pengunjung, dan mafianya bekerja sama begitu rapi. Tapi ada yang kurang dari cerita itu dan ini sangat sulit mereka telusuri, yaitu keterlibatan Gereja dalam Jaringan dan Sindikat Narkoba.

    Berbeda dengan para mafia dan Bandar yang ingin mengeruk keuntungan materi, gereja terlibat semata untuk menjaring Domba Kristus baru dan menyesatkan Generasi Muda Islam.

    Jujur saja, kisah kesaksian bahwa para Gembala Tuhanpun banyak yang memakai Narkoba untuk menunjang performance mereka itu benar adanya. Narkoba itu digunakan agar para gembala Tuhan tampil percaya diri dan kami sangat yakin bahwa kondisi fly dan kakauw adalah kondisi dimana kami bisa kontak langsung dengan Roh kudus. Kisah yang dituturkan 4 mantan gembala itu benar adanya. Saya pun tahu persis, karena selaku anggota tidak tetap penginjilan malam hari, sayalah yang memasok kebutuhan mereka, saya kenal banyak dengan para Bandar besar Narkoba di Surabaya. Bahkan beberapa para Bandar besar itu adalah jemaat Gereja yang taat, donasinya bahkan ada yang melebihi nilai persepuluhan mereka.

    Selain menyumbang uang untuk penginjilan, mereka juga menjual Narkoba dengan harga khusus kepada gereja untuk memasok kebutuhan para Gembala yang membutuhkan dan untuk diedarkan guna merusak Generasi Muda Islam. Saya juga terkadang juga memakai ectassy / innex hanya saja saya pakai ketika menjamu para tamu Gembala Tuhan dari luar Kota. Kami pun biasa ketemu dan ngobrol-ngobrol dibeberapa pub malam terkenal, yang pasti dikunjungi para pelayan dan gembala Tuhan bila berkunjung ke Surabaya.

    Kami punya private number di Kowloon dan Club Deluxe dan top Ten. Saya pernah menemani pendeta terkenal seperti : KAM.Yusuf Ronny(yang mantan muballigh dan tokoh Islam terkenal), Gilbert Lumoindang dan Suradi ben Abraham di pub – pub tersebut.

    Kami bahkan pernah melakukan pembabtisan pekerja sex di private room salah satu pub terkenal itu sambil tripping. Setelah itu kami Dating dengan mereka, “mandi suci bersama” istilahnya. Kalau masalah skandal sekx antara Jemaat dengan Pendeta atau penyanyi Gereja dan Gembalanya, saya tidak tahu persis, tapi yang saya tahu memang sewaktu menerima para gembala Tuhan mengunjungi Pub malam, pernah mereka diantaranya ditemani beberapa wanita yang dikatakannya sebagai Jemaat yang minta untuk diurapi secara khusus.

    Selain itu saya juga aktif dalam pembinaan domba-domba baru yang kebanyakan berasal dari pedesaan dan para pekerja malam, seperti diuraikan diawal kisah nyata ini.

    Sayalah yang terkadang mengajari mereka tentang Islam, tetapi tentunya yang telah kami sortir bahwa ajaran Islam itu mengakui ketuhanan Yesus, misalnya. Saya juga mengajari mereka berakting untuk menunjang penampilan mereka diacara KKR atau kesaksian di Gereja. Jangan sampai mereka tidak hapal kisah nyata hasil rekaan saya sendiri lalu melenceng ke kisah nyata mereka sendiri, yang kalau ketahuan bisa berakibat fatal bagi Gereja.

    Khusus untuk KKR, kami melatih orang-orang untuk berpura-pura lumpuh, buta, bisu dan berbagai penyakit lainnya lalu pura-pura disembuhkan para pengKhotbah dan Jemaatpun akan histeris dan percaya itu mu’jizat. Kamipun harus menyiapkan upacara pemanggilan Roh kudus ditempat-tempat keramatdan angker di Surabaya sebelum acara penyembuhan Ilahi dimulai.

    Terkadang ada jemaat yang diluar kendali dan scenario betul-betul minta diurapi, biasanya kami akan segera menahan dia dengan mengatakan : maaf pendeta sibuk, dengan kedatangan umat yang luar biasa, lain kali saja!!!. Biasanya para penginjil malam lah yang bertugas untuk menahan orang-orang yang diluar scenario acara, kami tidak pernah melibatkan pemuda Gereja karena mereka diluar Gugus kendali komando kami.

    Memang pengakuan 4 orang mantan Gembala itu terdengar spektakuler dan sulit dipercaya, tetapi saya beritahukan kepada anda semua :

    SEMUA PENGAKUAN MEREKA ITU JUJUR dan BENAR ADANYA, SEMUA PRAKTEK TERCELA ITU MEMENG DIJALANKAN TERUTAMA OLEH :

    -                GEREJA BETHEL

    -                GEREJA BETHANY

    -                GEREJA NEHEMIA

    -                GEREJA SIDANG JEMAAT PANTEKOSTA

    -                GEREJA ABDIEL

    Bagi umat Kristiani maupun para Gembala dan pelayan Tuhan pun yang tidak pernah ikut kegiatan ini akan terkejut dan sulit mempercayai kenyataan ini, tetapi saya beritahukan sekali lagi : SEMUA ITU BENAR TERJADI. Selain mantan gembala itu saya juga saksi hidup lainnya.

    Mengapa saya masuk Islam ???

    Ketertarikan saya kepada Islam Bukan dari buku-buku yang saya baca, karena buku-buku itu tak pernah saya baca sepenuh hati dan tidak sampai tuntas, saya hanya menccari poin-poin tertentu saja. Saya masuk Islam bukan setelah saya bertemu atau berdiskusi dengan orang Islam, karena saya selalu menganggap dan diajarkan oleh Gereja bahwa orang-orang Islam itu Hina, bodoh, kotor, terbelakang, kasar, keji, penuh tipu muslihat dan penuh dosa.

    Ajaran Islam dinyatakan sebagai ajaran sesat dan ummatnya kalau tidak kita hinakan harus kita Insafkan. Hal-hal inilah yang tertanam dalam dalam benak saya sejak kecil hingga dewasa ini.

    Perlu semuanya ketahui bahwa ajaran kebencian kepada ajaran Islam dan umatnya ini merupakan pelajaran pokok yang diberikan kepada kader-kader umat Kristen sejak kecil. Materi ini mulai disampaikan dipengajaran sekolah minggu dan jika kita berminat menjadi penginjil atau gembala Tuhan, pelajaran ini akan semakin diperdalam.

    Saya akhirnya masuk Islam justru setelah mengalami suatu mimpi luar biasa dan Beberapa kejadian di keesokan harinya, yang akhirnya merubah jalan hidup saya menuju kebenaran sejati. Bermula dari suatu Kamis malam / Malam Jum’at tanggal 11 January 2001.

    Saya bermimpi sedang berdo’a dihadapan gambar Tuhan Yesus disuatu Gereja yang sangat megah, lalu datanglah Tuhan Yesus menemui saya dengan senyumnya yang agung, saya bahagia sekali, ini adalah mukjizat bagi saya. Saya lalu memandangi Tuhan Yesus dari ujung kaki hingga ujung rambut, sungguh mirip sekali, bahkan lebih agung disbanding foto dan gambar Tuhan yesus yang saya miliki.

    Tetapi sesaat kemudian dating menghampiri kami seorang pria berwajah Arab Palestina mirip orang Yahudi atau Israel, dia berkata “Kalian ini Siapa”??.

    Saya jawab: Saya seorang domba yang sedang bertemu Tuhannya!!

    Dia bertanya lagi : “Mana tuhannya??”

    Tuhan yesus yang datang pertama tadi menjawab : “Akulah Tuhan Yesus”, Juru selamat Ummat manusia dan Dunia , siapa engkau wahai pria Asing ??? (Tanya tuhan yesus).

    Pria Arab Palestina/Yahudi itu berkata : “akulah Isa Al-masih” dan Engkau bukanlah diriku.

    Saya menyela : “Wahai engkau orang Yahudi / arab, Janganlah engkau berbuat begitu dihadapan Tuhanku!!.

    Pria Yahudi tadi berkata : Kalau begitu buktikanlah bahwa kamu Yesus atau Isa Almasih yang sebenarnya!!.

    Lalu tuhan Yesus (orang yang pertama datang di mimpi saya) memejamkan matanya dan sungguh ajaib! Dari tangannya keluar mukjizat sinar api dan dia menyemburkannya kepada pria Yahudi itu, pikir saya pria Yahudi tadi binasa karena berani menghina Tuhan Yesus. Keajaiban keduapun terjadi, Pria Yahudi yang mengaku sebagai Isa Al-masih itu tak kurang suatu apapun dan dia lalu tersenyum, kemudian api itu kembali / membalik menyembur Tuhan Yesus, lalu Tuhan Yesus menjerit kesakitan dan wujudnya tiba-tiba berubah . Kedua telinganya memanjang, dari mulutnya keluar Gigi taring dan dari belakang tubuhnya keluar Ekor, dan wajahnyapun berubah mengerikan !!!, lalu salah satu tangannya mendadak memegang sebuah tombak seperti Garpu!!. TUHAN YESUS YANG SAYA LIHAT DALAM MIMPI ITU BERUBAH MENJADI IBLIS!!!.

    Sementara pria Yahudi itu lalu berdo’a dalam bahasa seperti bahasa orang Israel, Tuhan yesus yang telah berubah menjadi Iblis itu lari terbirit-birit. Lalu ada keajaiban lainnya yang terjadi, Gereja megah tempat saya berdo’a tiba-tiba menghilang, lalu bergantin dengan pemandangan seperti disebuah padang pasir yang sangat tandus. Saya kaget dan tak percaya melihatnya, lalu dengan terbata bata saya bertanya kepada pria Yahudi tadi :

    “Siapakah engkau sebenarnya ?, Pria itu menjawab: “Akulah Isa Al-Masih, hamba Alloh, rasul Nya yang ke-24, yang engkau beserta ummat-umat lainnya dinyatakan sebagai Tuhan Yesus”

    Saya berkata : Bukankah engkau telah mati dikayu Salib dan telah berkorban demi menebus dosa umat manusia???. Nabi Isa Al-Masih menjawab : “Bukan seperti itu kejadiannya, engkau telah diperdaya oleh iblis dan para pengikutnya yang telah berusaha mencelakakanku tadi dan sekarang dia sekarang telah terlihat wujud aslinya”.

    Saya berkata lagi : Maksud tuan, iblis itu tadi…… selama ini ….?.

    Nabi Isa Almasih Menyela : “Sudahlah, maukah engkau tahu kebenaran Ilahi yang sejati???.

    Saya menjawab : “Jika itu ada saya bersedia.”

    Nabi Isa Al-Masih menjawab : “Tetapi untuk menemukan kebenaran sejati itu engkau harus berkorban banyak, engkau akan kehilangan pekerjaanmu, hidup miskin, kehilangan teman-temanmu, serta dibenci banyak orang??.”

    Saya menjawab : “emmmmmmm (Tak bisa berkata-kata).

    Nabi Isa Almasih Berkata : “Ketahuilah akulah Nabi Isa Al-Masih, sebagaimana yang telah aku katakan tadi suatu saat nanti aku akan turun kembali ke muka bumi untuk meluruskan segalanya yang salah tentang aku. Janganlah engkau termasuk dalam golongan yang keliru itu, jika engkau ingin menemukan kebenaran sejati, engkau sebenarnya telah memiliki catatan-catatan kebenaran itu, tetapi engkau tak membacanya dengan pikiran dan hatimu. Otakmu telah beku karena telah disesatkan. Oleh orang-orang yang diilhami oleh Iblis dan para pengikutnya. Kalau engkau mau mencari kebenaran, engkau akan menemukan disuatu tempat, tepat esok hari dimana kamu ditempat itu mendapat suatu kesulitan.”

    Lalu pria yang mengaku sebagai Isal Al-Masih tadi mengucapkan salamnya orang Islam, kemudian pergi, sayapun lalu terbangun, dan hari telah pagi. Saya merenung, mimpi apa itu tadi?. Kesulitan apa yang akan saya alami hari ini?.

    Hari telah tiba kembali, rupanya ini hari Jum’at tanggal 12 January 2001. Saya berfikir itu hanya sebuah mimpi saja, saya lalu teringat cerita tahayul Jawa, kalau malam jum’at pasti setan-setan itu gentayangan, dan mungkin saya mengalami itu barangkali. Kemudian saya baca buku-buku Islam yang saya miliki, tiba-tiba saya merasa menemukan banyak hal yang selama ini tidak pernah saya baca. Betapa pikiran saya telah dibukakan, tapi saya belum yakin betul.

    Ketika perjalanan menuju Kantor saya di sekretariat Gereja, mendadak mobil saya mogok, tepat didepan sebuah Masjid dikawasan Jl. HR.Muhammad – Jl. Mayjen. Sungkono, Surabaya, sayapun kaget, kok bisa-bisanya mogok didepan sebuah masjid yang saya benci.

    Jangan-jangan mimpi itu betul?, akh saya pikir itu cuma kebetulan saja, jangan percaya takhayul. Namanya mogok itu bisa terjadi kapan saja, pikir saya. Belum hilang kaget saya, tiba-tiba ada seorang pria menghardik saya dan meminta dengan kasar dompet dan HP saya. Saya kaget, panik dan takut, lalu saya lari ke-arah Masjid dan masuk kesana, minta tolong sama orang-orang disitu. Orang yang mau menodong sayapun berlari menghindari massa, rupanya waktu itu jam 11:30, mendekati jam nya Sholat Jum’at. Saya ada di Masjid, mimpi saya, pesan orang yahudi yang mengaku sebagai Nabi Isa Al-Masih dalam mimpi itu, saya bingung lalu saya tak sadarkan diri.

    Ketika sadar, saya berada di sebuah ruangan di Masjid, rupanya ada seorang Bapak tua berpeci yang mengatakan kalau saya tadi pingsan, saya lalu berdiri, tiba-tiba hati saya ingin menangis, menjerit…”Ya Tuhan… Engkau telah menunjukkan jalan bagiku”. Pak tua itu kaget dan bertanya : Ada apa Nak??. Lalu saya menceritakan semua mimpi saya semalam dan kejadian yang saya alami, juga siapa saya dan apa pekerjaan saya, serta perbuatan-perbuatan saya dalam memerangi dan memperdaya agama Islam beserta ummatnya.

    Bapak tua itu berkata: “Itu suatu petunjuk Tuhan Bagimu, boleh percaya apa tidak, saya bukanlah seorang ahli agama yang baik. Sekarang kamu teruskan perjalanan atau pulang. Sayapun lalu pulang, menelpon gereja bahwa saya hari ini tidak enak badan, jadi nggak masuk kerja, tapi 3 jam kemudian, sekitar jam 16:00 sore, saya kembali lagi ke Masjid itu, lalu saya melihat ada pengajian, pak tua berpeci itu yang memimpinnya, saya beranikan diri untuk masuk dan berkata : Pak tolong yakinkan saya.! Saya ingin mengetahui tentang agama Islam sebenarnya. Disaksikan para jemaah Masjid itu lalu kami berdiskusi panjang lebar hingga malam hari, saya lalu pamitan pulang dan mengatakan kepada pak tua bahwa diskusi ini belum selesai dan akan kami sambung esok pagi.

    Proses diskusi ini memakan waktu satu Minggu lamanya, setiap pagi sebelum berngkat kerja sekitar jam 06:00 hingga jam 8:00 pagi saya mampir ke Masjid tersebut dan kami berdiskusi tentang Islam – Kristen. Akhirnya setelah yakin seyakin-yakinnya, setelah mendapat penjelasan panjang lebar dari pak tua, dimana setiap penjelasan balik dari saya yang sangat ilahiyah dan alkitabiah menurut saya, ternyata dinyatakan tidak berargumen dan berdasar oleh bapak tua dan beberapa Jemaah yang ikut hadir dalam diskusi pagi kami. Terutama setelah mengetahui bapak tua ternyata fasih dan hapal beberapa bagian dari Alkitab, mengetahui sejarah Gereja dan penulisan Alkitab yang belia tunjukkan dengan dokumen-dokumen Kristen asli yang dia miliki yang menurut beliau pernah diberikan para penginjil sekitar 30 tahun yang lalu. Yang ketika saya baca saya terkejut karena pemaparan buku-buku para missionaries 30 tahun lalu itu, ternyata berbeda sekali dengan dokumen yang ada di Gereja sekarang yang pernah saya pelajari. Saya jadi ragu dan bimbang kenapa literature agama yang dianggap sacral oleh umat kristiani itu bisa berubah setelah 30 tahun.?. Terlebih setelah pak tua menunjukkan dan memperbandingkan versi alkitab yang saya miliki (cetakan tahun 1990-an) yang mana diterbitkan oleh lembaga yang sama, kok bisa memiliki perbedaan dan revisi disana-sini tanpa penjelasan diedisi baru bahwa telah dilakukan revisi. Yang ternyata revisi itu bukan hanya EYD (ejaan yang disempurnakan) atau tata bahasanya saja, akan tetapi juga merubah ma’na dan arti ayat Alkitab itu sendiri.

    Akhirnya saya yakin bahwa agama lama saya ini Kristen ternyata banyak kelemahannya dan merupakan suatu kesalahan sejarah, Islamlah agama penutup dan penggenap/pelengkap.

    Yang menggembirakan saya adalah agama Islam itu ternyata juga menghargai dan menghormati Tuhan Yesus sebagai Nabi Allah yang dimuliakan, mengakui keberadaan agama-agama terdahulu dan kitab-kitab sucinya. Persamaan kisah dan sejarah agama dalam Alkitab dan Al-Quran yang lalu disempurnakan oleh wahyu Alloh kepada Nabi Muhammad dalam AlQuran, di mana semua ajaran Kristen yang dinyatakan menyimpang itu dijelaskan dengan baik. Dimana penyimpangannnya dan direposisi kembali ajaran wahyu ilahi itu secara benar dalam Islam.

    Penjelasan pak tua dan jemaahnya itu tentu saja tidak saya percaya begitu saja, saya juga mengajak berdiskusi teman-teman sesama Gembala. Selama masa diskusi ini, tetapi jawaban rekan Gembala lain sungguh sangat menyakitkan dan ketus sekali, bahkan ada yang bilang saya ini kena Guna-guna dari bekas guru ngaji saya, berikut pembantu rumah dinas saya, juga pengaruh sihir yang tersembunyi di dalam buku-buku Islam yang saya miliki. Beberapa rekan dari Gereja Pantekosta bahkan menawarkan jasa untuk melakukan upacara pengusiran roh Jahat Islam di rumah saya dan akan mengurapi serta akan mensucikan buku-buku Islam yang saya miliki agar kekuatan sihirnya hilang. Sikap rekan-rekan Gembala ini terasa kontras dan tidak sepadan dengan sikap pak tua dan jemaahnya di masjid yang sederhana itu. Saya merasa bersalah karena telah ikut dibesarkan dan dibina oleh lingkungan agama yang sesat, Saya harus segera mengambil keputusan, setelah melalui berbagai pertimbangan yang matang, menimbang segala resikonya. Akhirnya sudah mantap dan sudah bulat tekad saya dan saya akan masuk Islam.

    Tanggal 21 January 2001, hari Minggu jam 10:00 pagi saya berikrar DUA KALIAH SYAHADAT. “Asyhadu alla Ilaha Illalloh – Wa asy Hadu Anna Muhammadar Rasululloh”

    = Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan Alloh.=

    Setelah masuk Islam saya mengganti nama saya menjadi “Rachmad Hidayat”. Saya tidak memakai nama keluarga lagi karena ketika saya mengabarkan kepada keluarga saya di Manado bahwa saya telah masuk Islam, mereka murka sekali, papa mengatakan tidak akan mengakui saya sebagai anaknya, Oma bahkan mengutuk saya melarat bersama para pendosa Islam dan mengatakan bahwa saya telah disihir oleh orang Islam. Lalu saya juga memperoleh surat dari keluarga yang diberikan oleh mantan pembantu saya dirumah dinas, bahwa keluarga saya sekarang tidak mengakui saya lagi dan menyatakan mencabut hak waris dalam marga saya dan saya tidak diperkenankan menyandang nama keluarga Tengker lagi. Bahkan dalam surat itu papa menyatakan jikalau saya akhirnya dianiaya atau dibunuh oleh pihak Gereja, maka mereka gembira karena itu merupakan sarana penebus dosa saya kepada tuhan Yesus. Naudzubillah!!. Ya….. Alloh maafkan keluarga saya ini, mereka berkata begini karena mereka tidak mengerti hakekat ketuhannya.

    Sekarang saya ikut bimbingan Islam di rumah pak tua berpeci yang kemudian diketahui merupakan Ustadz dan Imam masjid itu. Maaf demi keamanan kami, nama ustadz, alamat Masjid, serta tempat kos saya rahasiakan, mohon maklum.

    Sejak saya pindah dari rumah mewah berfasilitas lengkap plus mobil dll di kawasan elite darmo Satelit- Surabaya. Yang merupakan fasilitas buat saya dari Gereja, telah saya kembalikan ke Gereja, saya sekarang kost di sebelah rumah pak tua sambil belajar agama Islam. Saya juga bekerja membantu usaha keci-kecilan milik keluarga pak tua, mencetak surat undangan, kop surat dan setting komputer. Insya Alloh kalau ada modal (saya berencana bersama seorang anak pak tua ini untuk mengajukan kridit usaha kecil di BRI – Surabaya). Mau buka usaha percetakan yang lebih permanen. Saya sambil kerja dan belajar memperdalam agama Islam, pagi sampai sore saya ada di studio kecil tempat saya bekerja, malamnya belajar Ilmu Agama. dan silat Tradisional. Saya perlu belajar ilmu bela diri karena tak mungkin para pemuda kampung selalu mengawal saya. Saya mendengar dari bekas teman akrab di Gereja dan Yayasan (namanya saya rahasiakan juga, demi keselamatan mereka) sangat solider dengan merahasiakan keberadaan saya , walau pihak gereja terus menerus mendesaknya. Mereka bercerita tentang usaha gereja untuk melaporkan ke Polisi Bahkan Memeja Hijaukan saya dengan tuduhan “Kasus pencurian Mobil, padahal semua orang diGereja tau dan banyak saksinya termasuk warga kampung tempat saya kost yang mengantar saya ketemu dengan pihak Gereja, waktu serah terima itu. Smua Inventaris gereja termasuk Mobil sudah saya kembalikan dan ada tanda terimanya. Demikian juga urusan keuangan dan kas Gereja Semua sudah clear dan pihak Gerejapun tahu, tapi entah mengapa mereka berusaha mengfitnah saya seperti ini?. Tetapi saya tekadkan, bila betul pihak Gereja akan melaporkan saya ke Polisi, akan saya buka semua fakta dan data yang saya miliki dan mungkin pihak Gereja akan saya tuntut balik dengan tuntutan pencemaran nama baik, penghinaan dan percobaan penganiayaan.

    Khusus masalah penganiayaan, saya bersama teman kerja di studio kecil kami, pernah beberapa kali hampir ditabrak sebuah mobil (yang saya tahu persis itu milik siapa), di beberapa tempat ketika saya sedang berboncengan naik sepeda motor, tetapi Alloh selalu melindungi hambanya yang telah bertaubat ini, sehingga upaya itu selalu gagal, selalu saja kami bias menghindari atau ada orang yang menolong kami ketika upaya tabrak lari itu terjadi.

    Saya serahkan semuanya kepada Allah SWT., Tuhan kita semua, Dialah maha tahu siapa yang benar dan siapa yang salah diantara hamba-hamba Nya.

    Saya masih menunggu dusta hokum dari mereka sebab sementara ini mereka kehilangan jejak saya. Mungkin setelah membaca kisah kesaksian ini mereka akan semakin Gusar, dan Marah kepada saya karena selain saya telah masuk Islam, saya juga telah dianggap membongkar beberapa rahasia penting Gereja yang selama ini selalu ditutupi dengan rapi, yang jangankan umat diluar Kristen, umat Kristiani sendiri banyak yang tidak tahu praktek-praktek tidak benar dalam beribadah yang saya utarakan diatas.

    Saya berpesan kepada para sahabat setia saya di Gereja dan Yayasan, supaya mereka memberi sedikit pengertian kepada pengurus Gereja untuk mengikhlaskan saya masuk Islam. Jangan mencari-cari saya, segala yang menyangkut masalah asset gereja yang pernah saya pegang sudah diselesaikan dengan baik. Juga agar tidak timbul konflik dengan warga kampung atau umat Islam yang mengetahui kisah ini, saya takut ada pihak ketiga yang memanfaatkan kondisi ini untuk mengacau. Sebab masalah menyangkut agama itu sangat sensitive dan Riskan sekali.

    Sekian penuturan saya, saya bahagia dalam keIslaman saya, walau hidup pas-pasan, saya sangat menyukainya karena tidak adda kepalsuan dalam Islam saya. Alhamdulillah, Alloh maha pengasih dan penyayang. Allah telah memberi rizki kepada saya dan keluarga pak Tua, order mulai banyak, walau nilai penghasilannya mungkin Cuma 10% dari nilai pendapatan saya dulu ketika masih di Gereja. Tapi saya sangat mensyukurinya.

    ***

    Dikisahkan oleh : Rahmad Hidayat atau Paulus F Tengker (nama Kristennya), kisah ini dinyatakan oleh yang bersangkutan kepada M.Donny Stiawan, ketika kami berdiskusi masalah Kisah Kesaksian 4 mantan Gembala yang pernah diposting. Atas permintaan yang bersangkutan dengan alasan keamanan dirinya dan orang-orang yang dekat dengannya, maka nama Masjid, alamat Masjid, nama persisnya Gereja tempat beliau dulu bekerja, tempat kost nya kami rahasiakan.

    Diketik ulang sesuai dengan cerita Aslinya, pada tanggal 29 Oktober 2002.

     
    • sintanofiana 8:12 am pada 3 Desember 2013 Permalink

      Reblogged this on sintanofiana.

    • abu jibraltar al_maqdisi shaopie satriani 2:15 pm pada 3 Desember 2013 Permalink

      Anda harus bersyukur msh diberi kesempatan bertaubat kpd azza wajallah…

  • erva kurniawan 2:16 am pada 2 December 2013 Permalink | Balas  

    mayat2Cerita Hidayah

    Cerita aneh ini terjadi di salah satu tempat di Jakarta.

    Fulan (bukan nama sebenarnya) adalah seorang laki-laki berusia 25 tahun. Pendidikan terakhirnya adalah SMA. Ia sangat menginginkan dapat bekerja di perusahaan atau kantor yang mapan. Ia tidak perduli pekerjaan apa yang ia dapat, asalkan ia dapat bekerja dikantor. Teman-teman sekampungnya bekerja sebagai kuli bangunan, berdagang atau bekerja di sebuah pabrik sebagai buruh biasa. Namun ia tidak menginginkan seperti teman-temannya itu. Ia mencoba terus membuat lamaran di perusahaan/perkantoran, sehingga iapun rela menganggur sambil menunggu panggilan.

    Selama menunggu, ia bergabung dengan teman-temannya yang juga menganggur dengan cara mabuk-mabukan dan sering meminta uang kepada para pedagang pasar dengan cara paksa. Setiap hari ia selalu pulang malam dengan menghabiskan waktu dengan perbuatan tersebut.

    Suatu hari ia jatuh sakit. Sebagai orang tua, ibunya sangat sedih melihat keadaan anaknya yang sakit dengan suhu tubuhnya yang tinggi. Setiap Fulan akan dibawa kerumah sakit, ia menolak dengan alasan ia hanya menderita demam biasa. Setelah beberapa hari kondisinya tidak baik, akhirnya Fulan meninggal. Kejadian ini membuat kedua orangnya beserta keluarganya sangat sedih.

    Seperti jenazah pada umumnya, jenazah Fulanpun dimandikan, dikain kafankan seperti yang sering dilakukan pada jenazah yang akan dikuburkan. Setelah jenazah itu siap, kemudian diberangkatkan ke tempat pemakaman. Pada saat saat penguburan, banyak yang hadir untuk melihat jenazah Fulan dikuburkan. Setelah selesai dikuburkan dan dibacakan doa, tidak lama kemudian datang salah satu jenazah lain yang datang untuk menguburkan ketempat yang kini ditempati jenazah Fulan. Perdebatan akhirnya terjadi. Pihak keluarga yang baru datang mengatakan, bahwa ia telah memesan tempat sebelumnya di blok B, dekat dengan kuburan keluarganya. Akhirnya penjaga makam mengantarkan pihak keluarga yang baru datang ketempat lain, yang juga sudah dipersiapkan. Namun pihak keluarga itu tidak mau terima, karena tempat itu berlokasi di blok G, jauh dari tempat keluarganya. Dia juga menunjukan surat pemesanannya. Penjaga itupun akhirnya menjelaskan kepada pihak keluarga Almarhum Fulan, bahwa terjadi kesalahn tempat. Seharusnya jenazah Fulan berada di blok G, dan keluarga yang baru datang itu di blok B. Akhirnya orang tua Fulan menyetujui, dan jenazah Fulanpun di gali untuk dipindahkan.

    Pada saat penggalian, semua mata tertuju pada makam Fulan. Setelah selesai digali dan papan jenazah dibuka, alangkah terkejutnya mereka yang melihat jenazah Fulan. Posisi jenazah itu dalam keadaan duduk. Kain kafannyapun sudah terkoyak-koyak dan dapat dilihat dari celah-celah koyakan itu, bahwa kondisi jenazah Fulan dalam keadaan gosong. Orang tua Fulan tidak dapat menahan tangisnya. Semua yang hadir mengucapkan istigfar dan bacaan-bacaan lain sebagai ekspresi keterkejutan mereka. Orang tua Fulanpun ingat dengan tindakan Fulan pada sat ia masih hidup. Merekapun kemudian memindahkan jenazah Fulan ke blok G. Orang tua Fulan tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa untuk meringankan siksa kubur anaknya.

    Kejadian tersebut menurut pandangan agama sangat mungkin terjadi atas keinginan Allah SWT terhadap hambanya yang telah lalai dengan ajaran yang telah digariskan-Nya. Semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua … … , amin !

    ***

    Sumber: Hidayah

     
  • erva kurniawan 5:44 am pada 25 November 2013 Permalink | Balas  

    2003-january-shazia-mirza2SHAZIA

    Namanya Shazia Mirza. Dia seorang komedian perempuan yang hidup di London. Dengan bersahaja, dia memberi kontribusi non-konvensional untuk Islam dan kemaslahatan umat Islam: dengan humor. Dari panggung ke panggung perempuan berjilbab asal India ini mencoba mencairkan kebencian; meminimalisir stereotipe Islam dan citra Muslim di Inggris khususnya. Praktis, pasca 11 September di AS, Islam dan umat Islam remuk-redam diterpa kecurigaan dan kebencian. Menurut Shazia, people (di Barat) think that all muslims are extreme and dangerous. Apa akal? Dengan caranya, Shazia mengocok perut warga Inggris. Dalam suasana kalut yang mendalam, tak mudah membuat orang tersenyum, apalagi tertawa terpingkal-pingkal. Rupanya, banyak jalan untuk berjihad. Salah satunya seperti disebut oleh Karen Armstrong, apologis untuk Islam. Maksudnya, jihad dengan menggunakan media. Dari sederet cara itu, Shazia mengambil cara nonkonvensional yang disebut tadi.

    Shazia cukup sukses. Dalam tulisannya di ISIM Newsletter edisi 10, menuturkan: “Mereka yang datang dengan beragam keyakinan, membanjiriku dengan rupa-rupa pertanyaan. Mereka sangat terkesan dengan pola hidup seorang perempuan muslim. Sebagian pikiran dan persepsi mereka tentang Islam dan Muslim pasca 11 September, berangsur-angsur berubah.”

    ISIM adalah jurnal kajian keislaman yang terbit di Nederland.

    Namun demikian, Shazia menyoal apa sebab Islam sangat sulit diasosiasikan dengan humor. Sebatas yang dia tahu, Nabi Muhammad banyak tertawa dan membuat gurauan-gurauan segar. Bagi seorang Shazia, “jika keyakinanmu, keagamaanmu kuat, kamu akan dapat tertawa dengannya.” Tapi nyatanya, dalam hal keyakinan, jangankan tertawa, senyum pun orang tak sudi. Itu bentuk pelecehan, paling tidak ketidakbersungguhan. Sementara, keyakinan bagi sementara orang adalah kesungguhan, ketegasan, sekali-sekali kemarahan.

    Tawa dalam keyakinan itu tentu saja sulit. Kalau dirujuk ke doktrin agama, tertawa mungkin menjadi makruh, kurang terpuji. Dalam sebuah hadits menyebut tawa yang overdosis sebagai pembunuh hati (fainna katsrat al-dlahik tumît al-qalb). Lebih dari itu, sebuah pepatah mengatakan, “Temanmu adalah yang membawamu terisak, bukan yang menggiringmu tertawa (shadiquka man abkâka lâ man adlhakaka). Yang perlu diingat, tentu saja teks dan realitas Shazia berlainan. Kalau tidak begitu, teks-teks menjadi tidak banyak bermakna. Sebab, menurut Shazia, “As comedian, I believe that laugther is strongest tool for communicating with people who shut the door in my face, because I am muslim. Tawa orang sangat penting bagi Shazia, ia menjadi instrumen terkuat untuk berkomunikasi dengan orang yang membanting pintu di depan mukanya, sebab ia muslim.

    Mungkin tak ada korelasi secara doktrinal antara tawa dengan agama. Tertawa, hanyalah ekspresi kemanusiaan yang umum saja. Ia tanda kebahagiaan, meskipun sekali-kali orang menyebut tangis (juga) tanda kebahagiaan. Tapi, bila pemikir Fahmi Huwaidi menyebut pola keberagamaan yang pemberang (al-tadayyun al-ghâdib), tak ada salahnya kita menghubungkan keberagamaan dengan humor. Tarolah kita menyebutnya keberagamaan yang humoris (al-tadayyun al-fukâhî), atau keberagamaan yang “uhuy”, meminjam istilah Komeng.

    Bisa jadi, keberagamaan yang ramah, santun, toleran bisa lahir dari tingkat humor yang tinggi. Siapa tahu? Itu sah-sah saja sebagai harapan. Toh Shazia yang sudah melakoni itu juga punya harapan. “One day, I hope we can all laught together.” Demikian harapan Shazia. [Novriantoni]

    ***

    source : http://www.islamlib.com/EDITORIAL/novri%20shazia.html

     
    • assa 1:11 pm pada 25 November 2013 Permalink

      Bisa berikan contoh dari “komedi”nya. Soal saya masih gamang dengan “bentuk” tawa yang ia sajikan.

  • erva kurniawan 3:08 am pada 23 November 2013 Permalink | Balas  

    ayahKisah Seorang Ulama Buntung

    Oleh Sabrur R Soenardi

    Beberapa abad silam, di sudut distrik terpencil Zamakhsyar, seorang bocah mungil asyik bermain-main dengan seekor burung. Ketika ibunya memanggil, si bocah tetap saja asyik bermain hingga akhirnya terjadilah sebuah tragedi : Bocah ini mematahkan kedua kaki burung. Binatang malang ini mencicit kesakitan, tetapi si bocah malah terbahak-bahak melihatnya.

    Merasa panggilannya tak digubris, sang ibu menghampiri dengan marah. Dia bertambah murka ketika tahu anaknya berbuat dosa pada sang burung yang hampir putus kakinya. “Oh, anakku, bagaimana kau bisa seenaknya mematahkan kaki burung kecil itu? Itu berdosa anakku. Ia sangat kesakitan. Coba pikirkan jika itu terjadi padamu. Kamu akan menderita anakku, Kamu sungguh keterlaluan.” Si bocah menggigil ketakutan. Baru kali ini ia melihat ibunya demikian marah, mengeluarkan kata-kata kasar dan mengerikan.

    Beberapa belas tahun kemudian, si bocah itu sudah menjadi remaja yang matang. Ia tengah melakukan perjalanan pulang selepas menyelesaikan belajarnya di sebuah madrasah di Iran. Malang, tiba-tiba seekor kalajengking menyengat kudanya. Sang kuda meringkik, terhuyung, kemudian terjerembat dan sang penunggang jatuh terjungkal.

    Singkat cerita, sesampai remaja ini di rumah, ternyata kedua kakinya terkilir hebat dan menurut tabib setempat, tidak bisa dipulihkan. Satu-satunya jalan keluar adalah mengamputasinya. Ia pun mesti menerima takdir Allah itu dengan ikhlas dan pasrah, menjadi manusia berkaki buntung.

    Sang Ibu benar-benar terpukul atas nasib yang menimpa anaknya itu. Namun suatu malam sehabis shalat tahajjud, sang ibu tersadar bahwa “kata-kata buruk” yang dia ucapkan belasan tahun lalu kepada si bocah kecil yang mematahkan kaki burung itu rupanya kini jadi kenyataan. Dalam larut atas rasa berdosa yang tak terkendali, ia pun berdoa pada Allah agar di kemudian hari, meski cacat tubuh, sang anak bisa menjadi manusia yang berguna bagi Islam dan kaum Muslim.

    Doa baik sang ibu dikabulkan Allah. Anak itulah yang di kemudian hari kita kenal sebagai Abu Qasim Azzamakhsyari, seorang ulama paling brillian di zamannya, sekaligus cendikiawan garda depan Muktazilah dengan karya tafsirnya yang terkenal Alkasysyaf.

    Dialah satu-satunya ulama yang buntung kedua kakinya, dan itu diyakini buah dari “kata-kata buruk” sang ibu. Ia menjadi tokoh ternama, dan itu juga diyakini sebagai buah dari “kata-kata mulia” sang ibu. Benar sabda Nabi SAW bahwa salah satu doa yang pasti dikabulkan Allah adalah yang terucap dari mulut orang tua (demi nasib anaknya). Maka, berhati-hatilah berucap untuk anak-anak kita.

    Wallahu a’lam

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:42 am pada 12 November 2013 Permalink | Balas  

    waldorf-astoria-hotel 2Pelayan Hotel

    Bertahun-tahun dahulu, pada malam hujan badai, seorang laki-laki tua dan istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia. Mencoba menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk mendapatkan tempat bermalam.

    “Dapatkah anda memberi kami sebuah kamar disini ?” tanya sang suami. Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota.

    “Semua kamar kami telah penuh,” pelayan berkata. “Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti anda keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin anda mau tidur di ruangan milik saya? Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat anda tidur dengan nyaman malam ini.”

    Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk. “Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik- baik saja,” kata sang pelayan. Akhirnya pasangan ini setuju. Ketika pagi hari saat tagihan dibayar, laki-laki tua itu berkata kepada sang pelayan, “Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk anda.”

    Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa.

    Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan sesorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah.

    Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut mengingatkannya pada malam hujan badai dan disertai dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini datang mengunjungi pasangan tua tersebut.

    Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York, dan membawa dia ke sudut Fifth Avenue and 34th Street. Dia menunjuk sebuah gedung baru yang megah di sana, sebuah istana dengan batu kemerahan, dengan menara yang menjulang ke langit

    “Itu,” kata laki-laki tua, “adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola”.

    “Anda pasti sedang bergurau,” jawab laki-laki muda.

    “Saya jamin, saya tidak,” kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum lebar.

    Nama laki-laki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur bangunan megah tersebut adalah bentuk asli dari Waldorf-Astoria Hotel.

    Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama adalah George C. Boldt.

    Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.

    Pelajarannya adalah perlakukanlah semua orang dengan kasih, kemurahan dan hormat, dan anda tidak akan gagal.

    ***

    Dari: Sahabat

     
    • lazione budy 5:05 am pada 12 November 2013 Permalink

      Lakukan yg terbaik tanpa pamrih. Itu saja, biar Tuhan yang mengatur segalanya.

  • erva kurniawan 3:07 am pada 10 November 2013 Permalink | Balas  

    keluarga-muslimMeja Kayu

    Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

    Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

    Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

    Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

    Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

    Teman, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

    Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

    Baaraka-llahu fiekum – wa shalla-llahu wa-ssallamuh ‘alaa nabiyyinaa muhammad, subhanaka-llahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atuubuilaik. wa ssalaam ‘alaikum wa rahmatu-llahi wa-barakatuh.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 5:45 am pada 5 November 2013 Permalink | Balas  

    danau-siluetGaram dan Telaga

    Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Beliau lalu mengambil segenggam garam dan segelas air. Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduk perlahan.

    “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya, “ujar Pak tua itu. “Asin. Asin sekali, “jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Beliau lalu mengajak sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal Beliau. Sesampai di tepi telaga, Pak Tua menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah.”

    Saat pemuda itu selesai mereguk air itu, Beliau bertanya, “Bagaimana rasanya?”

    “Segar,” sahut sang pemuda. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” tanya Beliau lagi.

    “Tidak,” jawab si anak muda. Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda.

    “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi, tak lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air yang kau rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita rasakan dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

    Beliau melanjutkan nasehatnya. “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu Adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan bahagiaan.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:35 am pada 4 November 2013 Permalink | Balas  

    Arti Sebuah Kehadiran

    Seorang laki-laki pergi ke luar negesuratri untuk bekerja dan meninggalkan gadis tunangannya tersedu-sedu. “Jangan khawatir, aku akan menulis surat untukmu setiap hari”, katanya. Selama ber-tahun laki-laki itu memang menulis surat untuk tunangannya. Tetapi karena dia senang dengan pekerjaannya, dia tidak merencanakan untuk pulang dalam waktu dekat.

    Suatu hari, dia menerima undangan pernikahan. Ternyata kekasihnya akan segera menikah. Dengan siapa? Dengan tukang pos yang tiap hari mengantar surat yang dia tulis. Jarak pemisah telah membuat hati berubah.

    Lelaki malang itu merenung, “Lho, apa salahku. Aku mengiriminya surat, coklat, dan bahkan bunga-bunga”. Ketika dalam suatu hubungan terjadi masalah, daftar barang yang telah diberikan atau hal yang telah dilakukan untuk seseorang, akan tiba-tiba muncul untuk dipermasalahkan. Kita akan berkata: “Saya telah memberimu ini dan itu… Saya telah melakukan semuanya demi kamu”. Tampaknya cinta dapat dibuktikan secara mudah hanya dengan pemberian hadiah dan perbuatan baik.

    Namun, walaupun hadiah itu penting juga, cinta memerlukan hal yang mendasar: KEHADIRAN. Kehadiran sang kekasih, kehadiran orang yang dicintai. Pengamatan saya terhadap anggrek ibu saya dapat dijadikan contoh. Saat ibu saya pergi agak lama, bunga itu tampak tak subur dan banyak diantaranya yang layu. Tapi saat ia kembali hadir,bunga itu mekar dengan indahnya. Padahal ibu saya tidak melakukan hal yang luar biasa. Ia hanya memberikan banyak waktunya untuk berbicara dan merawat mereka.

    Saya kira, orang lebih memerlukan kehadiran perhatian dan kepedulian.Cinta secara fundamental adalah sebuah komitmen terhadap seseorang. Kita dapat mempunyai komitmen terhadap bisnis, pekerjaan, hobi, olahraga, maupun keanggotaan di klub, tetapi dapat dikatakan dengan tegas: semua itu tidak dapat mencintai kita. Hanya orang lain yang dapat membalas cinta kita, dan untuk itu, komitmen tertinggi sebagai manusia adalah memberikan waktu kita dengan orang yang kita cintai. Dan karena manusia memerlukan kasih sayang dan makanan, hadiah material hanya dapat – secara terbatas – membantu untuk mengembangkan cinta.

    Tapi itu semua tidak dapat menggantikan kehadiran pribadi,yang merupakan hadiah terbesar!

    Martha sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia yakin harus bekerja keras,karena ia mencintai ayahnya yang sedang sakit kanker. Dia harus membeli obatan yang mahal. Saudaranya yang lain tetap tinggal dengan ayah mereka hampir setiap saat. Mereka memandikannya, bernyanyi untuknya, menyuapi makan, ataupun sekedar menemani sang ayah.

    Suatu hari Martha sakit hati. Dia mendengar sang ayah berkata kepada ibunya, “Semua anak kita mencintaiku kecuali Martha”.”Bagaimana mungkin?”, pikir Martha. “Bukankah aku yang bekerja matian untuk mendapatkan uang guna membeli semua obatan? Saudaraku bahkan tidak berbagi sebesar yang aku berikan”.

    Suatu hari, Martha pulang larut malam seperti biasanya. Dia mengintip untuk pertama kalinya, ke dalam kamar dimana ayahnya berbaring. Dia melihat ayahnya masih terjaga, maka dia memutuskan untuk datang mendekat di samping tempat tidur ayahnya. Ayahnya memegang kedua tangan Martha dan berkata, “Aku merindukanmu. Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi. Tinggalah dan temani aku”. Dan itu yang ia lakukan, semalaman ia tinggal menemani ayahnya, berpegang, menggenggam tangannya.

    Pagi harinya martha berkata pada semua orang, “Aku mengambil cuti. Aku ingin menemani Ayah. Mulai saat ini aku akan memandikan dan bernyanyi untuknya”. Sebuah senyum bahagia muncul menghias wajah ayahnya. Kali ini ia tahu Martha mencintainya.

    ***

    Dari: Sandman

     
  • erva kurniawan 3:46 am pada 2 November 2013 Permalink | Balas  

    pasangan_serasiBerpikir Sederhana

    Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.

    Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, “untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?”

    Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, “Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.” Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh,tetapi ternyata, ah… kijang. Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur.

    Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, Rusa!!!” sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

    Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

    Demikian juga dengan seseorang yang mengidamkan pasangan hidup, yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang alim, baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:31 am pada 31 October 2013 Permalink | Balas  

    cincin-kawinCinta dan Perkawinan Menurut Plato

    Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?

    Gurunya menjawab, Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”

    Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

    Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”

    Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan,tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana,jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”

    Gurunya kemudian menjawab “Jadi ya itulah cinta”

    Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

    Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

    Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/ subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

    Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?” Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan,ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat,jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”

    Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

    Catatan kecil:

    Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.

    Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, Ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, Karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

    Wassalam

     
  • erva kurniawan 4:56 am pada 27 October 2013 Permalink | Balas  

    kentangKentang

    Suatu ketika, ada seorang guru yang meminta murid-muridnya untuk membawa satu kantung plastik bening ke sekolah. Lalu, ia meminta setiap anak untuk memasukkan beberapa kentang di dalamnya. Setiap anak, diminta untuk memasukkan sebuah kentang, untuk setiap orang yang tak mau mereka maafkan.

    Mereka diminta untuk menuliskan nama orang itu, dan mencantumkan tanggal di dalamnya. Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, walau banyak juga yang memiliki plastik kelebihan beban.

    Mereka diminta untuk membawa kantung bening itu siang dan malam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Kantung itu, harus ada di sisi mereka kala tidur, diletakkan di meja saat belajar, dan ditenteng saat berjalan.

    Lama-kelamaan kondisi kentang itu makin tak menentu. Banyak dari kentang itu yang membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Hampir semua anak mengeluh dengan pekerjaan ini. Akhirnya, waktu satu minggu itu selesai.

    Dari semua anak, agaknya banyak yang memilih untuk membuangnya daripada menyimpannya terus menerus.

    Pekerjaan ini, setidaknya, memberikan hikmah spiritual yang besar sekali buat anak-anak. Suka-duka saat membawa-bawa kantung yang berat, akan menjelaskan pada mereka, bahwa, membawa beban itu, sesungguhnya sangat tidak menyenangkan. Memaafkan, sebenarnya, adalah pekerjaan yang lebih mudah, daripada membawa semua beban itu kemana saja kita melangkah.

    Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan, dan dendam yang kita genggam terus menerus. Getir, berat, dan meruapkan aroma yang tak sedap, bisa jadi, itulah nilai yang akan kita dapatkan saat memendam amarah dan kebencian.

    Sering kita berpikir, memaafkan adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf. Namun, kita harus kembali belajar, bahwa, pemberian itu, adalah juga hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah, untuk sebuah kebebasan.

    Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, dan kedegilan hati.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:38 am pada 24 October 2013 Permalink | Balas  

    pianoKisah Pianis Muda

    Kisah ini terjadi di Rusia. Seorang ayah, yang memiliki putra yang berusia kurang lebih 5 tahun, memasukkan putranya tersebut ke sekolah musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal. Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu singkat tiket konser telah terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.

    Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser dimulai, kursi telah terisi penuh, sang ayah duduk dan putranya tepat berada di sampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak ini pun tidak betah duduk diam terlalu lama, tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi. Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah terkejut menyadari bahwa putranya tidak ada di sampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan, dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut. Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa takut anak tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana, twinkle2 little star.

    Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba-aba terlebih dahulu, dan ia langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan sang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis pun terkejut, dan bergegas naik ke atas panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum dan berkata “Teruslah bermain”, dan sang anak yang mendapat ijin, meneruskan permainannya. Sang pianis lalu duduk, di samping anak itu, dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut. Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung. Sang anak jadi GR (Gede Rasa), pikirnya “Gila, baru belajar piano sebulan saja sudah hebat!” Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.

    Apa implikasinya dalam hidup kita

    Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita buat, perbuatan-perbuatan besar yang telah berhasil kita lakukan. Tapi kita lupa, bahwa semua itu terjadi karena Allah ada di samping kita. Kita adalah anak kecil tadi, tanpa ada Allah di samping kita, semua yang kita lakukan akan sia-sia. Tapi bila Allah ada di samping kita, sesederhana apapun hal yang kita lakukan hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan saja buat diri kita sendiri tapi juga baik bagi orang di sekitar kita.

    Semoga kita tidak pernah lupa bahwa ada Allah di samping kita.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:38 am pada 1 October 2013 Permalink | Balas  

    siluet menjemputHantu

    Tentu bukan karena didatangi peri, kuntilanak, genderuwo atau makhluk-makhluk sejenisnya jika Paijo dan kawan-kawan malam itu sibuk ngobrol soal hantu. Dan tentu juga bukan karena lagu ndangdut ‘Mbah Dukun’ yang sedang ngetop yang kemudian lantas menyeret anak-anak itu ke dunia klenik.

    Hantu semata-mata soal percaya atau tidak. Hantu, bagi yang percaya, adalah lelembut yang tidak tersentuh panca indera secara normal, dan akan muncul pada saat, kondisi atau tempat tertentu. Sedang bagi yang tidak percaya, hantu sekedar halusinasi, atau sekedar akibat adanya gelombang elektromagnetik berlebihan (seperti pernah ditayangkan oleh Discovery Channel) dari orang yang merasa melihat atau mendengar sesuatu yang aneh-aneh. Dan yang aneh-aneh itu sering digambarkan sebagai sesuatu yang menyeramkan. Hantu adalah sesuatu yang “entah”. Entah benar-benar ada atau tidak. Keberadaan hantu, meski dipercayai dan diklaim pernah dilihat atau didengar oleh sementara orang, tetap tidak bisa dibuktikan.

    Namun lepas dari kontroversi hantu ada atau tidak, yang pasti hantu telah sukses dijadikan sementara orang tua untuk menakut-nakuti anaknya, terutama yang tidak mau segera tidur meski hari sudah malam. Hantu juga sukses ‘diperalat’ sebagai senjata pamungkas orangtua yang tidak ingin anaknya main ke tempat-tempat tertentu. Tentu tidak ada niatan buruk dari orangtua yang melakukan hal seperti itu. Tapi, kadang yang kurang disadari orangtua adalah dampak jangka panjang bagi si anak. Sesuatu yang ditanamkan sejak dini dan secara terus-menerus pada akhirnya akan diam dan mengendap di benak si anak, dan selanjutnya akan dianggap sebagai kebenaran. Apalagi secara naluriah, setiap orang ada kecenderungan untuk tertarik dan mereka-reka pada sesuatu yang ‘ghaib’.

    Begitulah, setelah ngobrol ngalor-ngidul soal hantu yang menghuni dunia klenik itu, Paijo dan kawan-kawan akhirnya sampai juga di topik hantu dalam tataran psikologis.

    “Apa maksudmu dengan hantu dalam tataran psikologis Jo ?” tanya Blothong.

    “Maksudku, ya bayangan menakutkan yang menghinggapi pikiran orang.”

    “Bayangan menakutkan .. dalam hal apa ?” gantian Budi bertanya.

    “Nyaris dalam segala hal. Segala sesuatu yang menakutkan, yang sebenarnya belum tentu ada. Dan rasa takut itu lebih disebabkan dorongan dari dalam diri kita sendiri.”

    “Misalnya ?”

    “Misalnya .. kamu takut menghadap pak Lurah. Kamu takut nanti kalau di depan pak Lurah, begini-begitu. Padahal yang begini-begitu itu belum tentu. Dalam hal itu pak Lurah, dengan segala kemungkinan yang belum pasti, bahkan bisa jadi sekedar angan-angan kosong itu telah menjelma menjadi ‘hantu’ dalam benakmu.”

    “Apa ini menyangkut soal kepercayaan diri Jo ?” kali ini Rakhmat yang bertanya.

    “Ya ! Cuman, kepercayaan diri itu kan hasil. Berarti ada proses panjang yang melatar belakangi hasil itu.”

    “Proses panjang .. ?” Blothong mengerutkan dahinya.

    “Ya proses panjang yang membentuk kepercayaan diri itu,” jawab Paijo. “Termasuk informasi maupun nilai-nilai yang ditanamkan secara keliru dan terus-menerus tadi.”

    “Oleh siapa, orang tua ?”

    “Salah satunya,” jawab Paijo. “Bisa jadi juga oleh teman, guru, atasan, dan lain sebagainya. Dan repotnya, orang yang sudah kehilangan kepercayaan diri, suka menularkan ketidakpercayan dirinya itu ke orang lain. Orang yang sudah dibayang-bayangi hantu biasanya suka mentransfernya ke orang lain, terutama orang-orang yang berada dalam ‘kekuasaannya’. Jika perlu disertai dengan informasi yang seolah-olah meyakinkan tentang hantu itu, padahal ia sebenarnya berasal dari rasa ketakutannya sendiri. Bayangkan jika seandainya hal itu dilakukan secara intens dan terus menerus, apa hasilnya ?”

    “Lha apa ? malah nanya. Dasar cah gemblung !” komentar Blothong sambil nyengenges.

    “Hasilnya, ya hantu itu akan dianggap sebagai sesuatu yang nyata. Hasilnya adalah orang-orang yang terjajah secara psikologis, karena berhasil ditakut-takuti dengan hantu-hantuan itu.”

    “Jo, kamu tadi bilang hantu di tataran psikologis itu ada di segala hal ?” tanya Rakmat.

    “Betul.”

    “Apa agama termasuk juga di situ ?”

    “Ha..ha..ha.. Kamu tentu juga tahu Mat, kalau agama itu salah satu lahan subur buat menciptakan ‘hantu-hantu’. Orang atau pemikiran yang tidak disetujui bisa disulap jadi hantu. Bahkan Tuhan pun kadang digambarkan seperti hantu. Kok ya kebetulan, hantu sama tuhan itu kalau diucapkan berulang-ulang nggak ada bedanya. Han-tu-han-tu-han-tu-han-tu-han-tu-han-tu .. he..he..he…”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:18 am pada 27 September 2013 Permalink | Balas  

    sabarJangan Buat Allah Cemburu

    Diambil dari buku “Memoar Hasan Al-Banna”, semoga kita bisa meneladaninya….amin.

    Sudah menjadi kebiasaan kami, dalam rangka memperingati maulid Nabi setiap malam sejak tanggal 1 hingga 12 Rabi’ul Awal secara berombongan dan bergiliran selalu mengunjungi rumah salah seorang ikhwan. Malam itu tibalah giliran rumah Syaikh Syalbi Ar-Rijal yang menjadi jadwal kunjungan.

    Kamipun berangkat seperti biasanya,setelah Isya. Kami berangkat secara berombongan dengan mengalunkan qasidah (nasyid) dengan penuh gembira. Saya melihat rumah Syaikh Syalbi sangat terang, bersih dan rapi. Dihidangkanlah serbat, kopi, dan qirfah seperti biasanya. Kami duduk dan meminta nasihat-nasihat Syaikh Syalbi.

    Ketika kami hendak pergi, ia berkata dengan senyum yang lembut,” Datanglah kalian besok pagi-pagi sekali, agar kita bisa menguburkan Ruhiyah bersama-sama.” Ruhiyah adalah putri beliau satu-satunya. Allah mengaruniakan Ruhiyah kepadanya kurang lebih setelah sebelas tahun dari usia pernikahannya. Ia sangat mencintainya, sehingga ia tidak pernah meninggalkan sekalipun sedang sibuk bekerja.

    Ruhiyah kemudian tumbuh menjadi seorang gadis. Ia menamai “RUHIYAH” karena putrinya ini menempati kedudukan “ruh” pada dirinya. Tentu kami terperanjat.

    “Kapan ia meninggal?” tanya kami spontan. “Tadi, menjelang maghrib!” jawabnya tenang. “Kenapa Syaikh tidak memberi tahu kami semenjak tadi, sehingga kami dapat mengajak kawan yang lain untuk kemari bersama-sama?”

    Ia menjawab,”Apa yang terjadi telah meringankan kesedihanku. Pemakaman telah berubah menjadi peristiwa yang membahagiakan. Apakah kalian masih menginginkan nikmat Allah yang lebih besar lagi dari pada nikmat ini?”

    Pembicaraanpun akhirnya berubah menjadi pelajaran tasawuf yang disampaikan oleh Syaikh Syalbi. Beliau mengemukakan bahwa kematian putrinya itu adalah kecemburuan Allah kepada hatinya. Memang sesungguhnya Allah SWT. merasa cemburu kepada hati para hamba-Nya yang shalih, apabila sampai terikat dengan selain-Nya, atau apabila ia berpaling kepada selain-Nya.

    Beliau mengambil bukti dalil dengan kisah Ibrahim AS. Hati Ibrahim terikat dengan Ismail, sehingga akhirnya Allah swt. memerintahkannya untuk menyembelih putranya Ismail. Ketika hati nabi Ya’qub terikat dengan Yusuf, Allah swt. pun membuat Yusuf hilang dari sisinya sekian tahun. Oleh karena itu, seharusnya jangan sampai hati seorang hamba itu terikat dengan selain Allah swt. Kalau tidak demikian, maka sebenarnya ia adalah pendusta dalam hal pengakuan kecintaannya.

    Beliau juga membawakan kisah Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Fudhail pernah memegang tangan putrinya yang terkecil dan mengecupnya, lalu putrinya itu bertanya kepadanya, “Wahai ayahanda, apakah ayah mencintaiku?” “Tentu saja putriku,” jawab sang ayah. Lalu ia berkata,”Demi Allah, sebelum hari ini, saya tidak pernah mengira bahwa ayah sebagai seorang pendusta.” Fudhail bertanya,” Bagaimana bisa begitu? Berapa kali saya berdusta?” Ia menjawab,”Saya telah mengira bahwa dengan keberadaan ayah yang seperti ini dalam berhubungan dengan Allah, berarti ayah tidak mencintai seorang pun selain-Nya. Fudhail pun menangis seraya berkata,”Duhai Tuhanku, sampai anak sekecil ini dapat membongkar riya’ hamba-Mu yang bernama Fudahil ini?”

    Demikianlah pelajaran Syaikh Syalbi dari sebuah pembicaraan menjadi sebuah pelajaran. Syaikh Syalbi berupaya membahagiakan dan melembutkan hati kami seraya memalingkannya dari kepedihan musibah ini. Setelah itu kami pun pulang. Kami tidak mendengar sama sekali suara wanita yang meratap dan tidak mendengar adanya kata-kata kotor. Yang kami lihat hanyalah ekspresi kesabaran dan kepasrahan kepada Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar.

    Get the point…

     
  • erva kurniawan 4:36 am pada 19 September 2013 Permalink | Balas  

    nasehat-quran1Episode Abdullah

    Abdullah menatap penuh harap ingin diberi roti ketika menyaksikan teman-temannya dengan lahap mengunyah roti yang terlihat amat lezat. Abdullah kembali harus menahan air liurnya kala teman-temannya menyeruput aneka sirop dan berebut coklat. Tak tahan menyaksikan semua itu, bocah berusia tujuh tahun itu akhirnya berlari meninggalkan kerumunan bocah-bocah yang tengah berpesta menuju sang Ummi dalam tenda pengungsi.

    “Ummi…. lapar…,” seru bocah Somalia yang tinggal tulang belulang itu. Bocah hitam yang amat kurus itu menekan perut kempisnya kuat-kuat untuk mengurangi rasa lapar yang melilit. Abdullah lantas menarik lengan sang Ummi dan menuntunnya ke luar tenda untuk memperlihatkan apa yang dilakukan teman-taman sebayanya. “Mi… lihatlah mereka makan dengan lahapnya. Mereka kenyang dan mereka bahagia,” ucapnya dengan nada seolah minta persetujuan sang Ummi agar ia boleh bergabung dengan mereka. “Tidak! Tidak nak…! Kau tak boleh melakukan itu. Kita tak boleh menjual aqidah hanya dengan segenggam roti, sepotong coklat dan segelas sirop,” sang Ummi berucap lembut namun bernada tegas. “Dulu para sahabat pun pernah mengalami kelaparan seperti kita, dan mereka tetap sabar. Mereka tetap memegang teguh Islam. Rasulullah yang kita cintai mengabarkan ‘syurga’ buat orang-orang yang lapar dalam membela Islam. Lalu kenapa kita harus menukar syurga itu dengan kesenangan dunia yang hina dan sementara ini, Nak…? Masih ingatkah ….. ketika Abimu masih ada beliau pernah bercerita tentang ‘Ahlus Suffah’? Orang-orang yang belajar hadits pada Rasul dan mereka tinggal di masjid karena mereka rata-rata miskin. Mereka kelaparan kemudian jatuh waktu melakukan shalat saking tak kuatnya menahan lapar dan lemahnya badan. Melihat itu, Rasul datang menghampiri sambil berkata: “Jika engkau tahu balasan lapar yang kau derita ini (balasan syurga) pasti engkau ingin lebih lapar dari ini. Ahlus Suffah pun menjawab: “Ya Rasulullah, saya tidak menyesal dengan keadaan ini, dan saya ingin lebih lapar lagi.” Ummi berharap, kau bisa setegar Ahlus Suffah tersebut”, ucap sang Ummi penuh harap.

    Mendengar kisah Ahlus Suffah itu, Abdullah menjadi bersemangat kembali. Kini terlihat binar terang dalam mata cekungnya. “Ummi, aku pamit mau muraja’ah hafalan Quran. Sudah tiga hari ini aku lalai,” ucap Abdullah seraya menghambur ke luar tenda. Bocah kecil yang sudah hafal sepuluh juz itu menuju tempat sunyi sambil menggenggam Quran kecil.

    **

    Mendung kelabu masih saja menggayuti kota Wajir, wilayah terburuk para pengungsi Somalia. Kekumuhan dan kelaparan sudah teramat akrab dengan orang-orang yang menempati wilayah ini. Sudah tak heran lagi bila di sini terlihat seonggok mayat yang dikerumuni lalat lantas membusuk menebarkan baunya kemana-mana. Dan bukan hal asing pula menyaksikan bocah-bocah telanjang karena tak memiliki baju berlarian tersaruk-saruk ke sana ke mari sambil mengorek-ngorek timbunan sampah untuk mencari sesuap makanan yang bisa dimasukkan ke dalam mulutnya. Itulah keadaan sebagian besar orang-orang Somalia yang komit terhadap Islam. Negeri yang terkenal dengan julukan ‘gudang para hafidz’ itu di ambang kehancuran.

    Kelaparan dan kehausan rupanya tak menimpa seluruh orang Somelia. Sebagian mereka ada yang bersahabat dengan organisasi yang mengibarkan bendera ‘Penyelamat Manusia’. Mereka yang mau bergabung dengan organisasi tersebut akan dapat menikmati roti lezat dan segelas susu setiap pagi dan sore. Sebagian imbalan atas roti dan susu itu, mereka menerima buku-buku cerita tentang sesuatu yang bisa menyelamatkan manusia dari muka bumi.

    Abdullah berjalan tenang sembil mengulang-ulang hafalan Quran. Ketika melewati sekelompok anak-anak yang tengah mengunyah roti dan coklat, tak ada rasa iri di hatinya. Di antara gerombolan anak-anak itu tampak seorang pemuda gagah tengah membacakan sebuah buku cerita bergambar. Anak-anak Somalia itu asyik menyimak dongengan sang pemuda berkulit putih. Tampaknya, cerita yang dibawakan sang pemuda begitu serunya sampai-sampai terdengar anak-anak bersuara riuh rendah.

    Di antara gerombolan anak-anak itu ada yang memanggil Abdullah ketika ia berlalu di hadapan mereka. “Abdullah ini roti dan coklat untukmu. Mari duduk di sini kita mendengarkan cerita yang menarik,” ucap bocah itu sambil mengacung-acungkan roti dan coklat di tangannya. Sang pemuda -menghentikan kisahnya. Dengan senyum manis, ia melambaikan tangan agar Abdullah mendekat dan bergabung bersama mereka. Mendengar tawaran mereka, Abdullah menggeleng penuh izzah. “Tidak, aku tidak doyan roti dan coklat itu. Aku mau makan roti dan coklat yang disediakan Allah di syurga saja. Lagi pula, aku sibuk mau menghafal Quran. Untuk apa duduk bersenang-senang mendengarkan cerita tak berarti,” ucap Abdullah sambil berlalu. Sementara teman-temannya hanya dapat menatap punggung kurus itu dengan tatap hampa.

    “Anak siapa Abdullah itu…..?,” tanya sang pemuda pada anak-anak yang mengerumuninya. “Ia anak syaikh Ahmad,” jawab bocah-bocah itu serempak “Syaikh Ahmad ustadz di wilayah ini. Beliau terkenal sebagai hafidz Quran yang mengajarkan ilmunya pada kami semua. Abdullah sekarang sudah hafal sepuluh juz, sedang kami baru hafal juz ‘amma,” ucap mereka lagi. Pemuda bule itu cuma bisa menganggukan kepala mendengar cerita bocah-bocah itu tentang Abdullah, bocah kurus yang berani menolak tawaran roti dan coklat.

    ***

    Kehadiran pasukan PBB yang diawali dengan kedatangan tentara AS itu terasa juga pengaruhnya di Wajir. Walaupun konsentrasi pasukan PBB itu ada di Mogadishu, ibukota Somalia, beberapa divisi tentara AS juga mengadakan operasi di desa-desa, termasuk di Wajir. Bahkan setelah upaya AS menangkap Jenderal Farah Aidid gagal, operasi mencari pimpinan yang dicintai rakyat Somalia itu makin intensif dilakukan. Beberapa pekan terakhir ini, jalan-jalan di kota Wajir mulai dipenuhi oleh lalu lalangnya kendaraan lapis baja dan pasukan yang menginterogasi penduduk yang dicurigai sebagai pendukung Jenderal Aidid.

    Sepak terjang pasukan AS ini amat menyakitkan rakyat Somalia. Beberapa pemuda yang dicurigai mendapat perlakuan tak manusiawi. Perempuan dan anak-anak tak terkecuali. Protes yang dilakukan pemuka desa sama sekali tak digubris. Balasan bagi mereka yang melawan adalah mati. Beberapa hari yang lalu, seorang ustadz dibunuh hanya karena keluar malam, yakni untuk memberi ta’lim di suatu masjid. ‘Operasi Harapan’ yang selama ini digaungkan tak lebih hanyalah menjadikan banyak wilayah Somalia menjadi neraka.

    Dalam perjalanan pulang menuju tenda pengungsian, Abdullah bertemu dengan beberapa serdadu kulit putih yang tengah berkumpul menikmati makanan. Sambil tertawa dan bernyanyi riuh mereka menarik perhatian para pejalan kaki. Abdullah menatap sinis pada tentara kafir itu. Seorang serdadu berdiri dan melambaikan tangan menyuruh Abdullah mendekat. Karena penasaran, bocah itu mendekat. Oh, rupanya serdadu itu bermaksud memberinya makanan. Abdullah menggeleng ketika serdadu itu menyodorkan sekantong makanan. Ia ragu, jangan-jangan terdapat makanan haram di dalamnya, apalagi ia melihat minuman yang mereka teguk semuanya dari jenis khamar. Ia pun menggeleng ketika serdadu kulit putih itu menghadiahinya buku-buku bergambar menarik yang mengisahkan kasih sayang kaum yang menyebut dirinya pengikut Sang Penyelamat Manusia. “Aku sudah punya ini!”, ucap Abdullah dengan bangganya mengacungkan Quran pemberian Umminya. “Aku tak butuh buku-buku jelek itu,” katanya lagi dengan tatap mata menghujam. Anak Syaikh Ahmad itu lantas berlari meninggalkan gerombolan serdadu asing. Namun, baru beberapa langkah kaki kurus itu berlari, tubuhnya keburu terkapar bersimbah darah. Ya, sebutir peluru telah menembus punggungnya. Peluru serdadu bule itu telah menelan nyawa bocah kurus yang telah hafal sepuluh juz al-Qur’an, namun tak seorang pun memprotes dan membalas dendam atas kematian bocah ini. Semua bisu, bungkam dan diam .

    Para serdadu yang mengaku pengibar panji-panji demokrasi, pembela hak asasi manusia dan penyebar kasih sayang ini ternyata begitu biadab. Mayat Abdullah mereka angkut lalu dilemparkan di antara tumpukan sampah.

    • * * *

    Wanita setengah baya itu berjalan terseok. Ia tengah mencari sang putra yang sejak pagi belum kembali. Seorang diri ia menyusuri lorong-lorong Wajir yang kumuh. Mata bening wanita itu terbelalak ketika melihat sesosok tubuh mungil tergeletak di antara tumpukan sampah yang membusuk dan penuh lalat.

    Ia semakin mendekat ke arah tubuh kecil kurus itu. Ya, semakin dekat wanita itu semakin hafal dengan bentuk tubuh yang tergeletak itu. Sampai kemudian ia yakin tubuh itu adalah tubuh anaknya. Direngkuhnya tubuh kecil itu, lalu dipeluknya erat-erat. Air matanya tak kuasa untuk tidak menitik. Darah kering menghiasi tubuh kaku dan dingin itu. Ya …. anak dambaan jiwa penerus perjuangan suminya itu kini telah mati bersimbah darah. Namun wanita itu segera tersenyum ketika melihat tangan anaknya yang sudah jadi mayat itu menggenggam erat alqur’an pemberiannya. Dengan langkah tegap, Ummu Abdullah memangku tubuh putranya yang telah syahid.

    “Aku harus bersyukur karena punya anak tidak mati sia-sia. Sementara banyak teman seusianya mati sambil memeluk buku berjudul ‘Sang Penyelamat Manusia’. Tapi Abdullah mati sambil mendekap alqur’an…”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:19 am pada 11 September 2013 Permalink | Balas  

    berdoa-2Satu Doa Ketika Gelisah Meruyak

    “Hasbunallah wani’mal Wakil”

    (Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung) (QS. Ali Imron 3:173)

    April kelabu di musim tak tentu. Bukankah panas yang terik dan hujan yang deras seringkali bertukar kulit di beberapa bulan terakhir ini? Pun kabar mala dan petaka di hidup keseharian kita. Semua kian akrab di telinga. Tapi April, segala ketidak menentuan itu kian berkelindan bagi beberapa persona yang dilanda musibah, yang dirundung gelisah. Dan sejumlah sahabat saya diantaranya.

    Sahabat pertama; Aziz, begitu kerap saya memanggilnya, nampak begitu layu di pertengahan April. Air mukanya keruh. Matanya mengabarkan hampa. Ia tidak lagi tampil ekspresif seperti dulu. Ia tiba-tiba menjadi sosok yang rapuh. Kepada saya, Aziz menuturkan pangkal soal kegundahannya itu: “Inilah minggu terberat dalam hidupku. Aku shock! Tanpa pemberitahuan sedikitpun, aku dan beberapa teman di PHK secara tiba-tiba. Aku stres, stres bagai petir di siang bolong”

    Saat itu, suaranya seperti menghimpun amarah, resah dan lelah dalam satu wadah, yang kemudian dihempaskan ke saya. Maka saya pun bersetia hati menjadi ‘tong sampah’-nya. Sejak itulah, saya tahu, ia menimang-nimang kegelisahan dari hari ke hari.

    Sahabat kedua; Dinda namanya. Cantik, solehah dan seorang mahasiswi S2 sebuah perguruan tinggi negeri yang tengah menanam rasa serupa; gelisah dan cemas yang tak berbeda. Di ujung telepon, saya mendengar isak tangisnya yang pilu seraya berkata: “A…a…ku tak sanggup lagi. Ha…tiku tak sanggup menampung penyesalan ini. Pa…dahal, pernikahan itu tinggal selangkah lagi. Tapi ia me..mutuskan komitmen karena hal se..pele…”

    Kala itu, getaran sesak yang merasuki dadanya juga menghujam batin saya. Setiap kata yang meluncur di bibirnya seperti kidung nestapa yang sendu. Selanjutnya, saya menerima pesan-pesan pendek (sms) kekecewaan dan kegelisahan yang belum juga musnah.

    Saya yakin, anda mahfum, kenapa Aziz dan Dinda akhirnya larut dalam kecamuk gelisah itu. Sebab setiap kata, mungkin, pernah mengecapnya di suatu masa. Terlebih bila gelisah itu sudah berkecambah di segala ranah. Ia, diam-diam, merasuki setiap lini kehidupan kita. Semua terasa buram dan muram. Kondisi inilah yang saya khawatirkan juga meruyak di ceruk-ceruk jiwa Aziz dan Dinda dan saudara-saudara seiman lainnya.

    Saya jadi teringat lirik lagu bertajuk Kembali Pada Allah yang didendangkan Opick: Bila hati gelisah / Tak tenang, tak tentram / Bila hatimu goyah / Terluka, merana / Jauhkah hati ini dari Tuhan, dari Allah? / Hilangkah dalam hati zikirku, imanku? / Hanya dengan Allah, hatimu akan menjadi tenang / Dengan mengingat Allah / Hilanglah semua kegelisahan / Cukuplah hanya Allah / Hati bergantung, berserah diri / Hasbulallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wani’ma nashir…

    Hmm. Saya tercekat di lengkingan merdu Opick tatkala ia melafalkan hasbulallah wa ni’mal wakil. Bukankah sebaris kalimat ini pernah dzikir-zikir Nabi Ibrahim ketika maut tengah mengintainya?

    Di negeri Babilonia hidup seorang raja yang sangat zalim. Namrud bin Kan’an bin Kusy, namanya. Seturut catatan sejarah, Namrud dan segenap rakyatnya adalah para penyembah patung. Konon, dalam lingkungan sosial seperti inilah Nabi Ibrahim as lahir dan tumbuh dewasa. Tak aneh bila ayahanda Ibrahim sendiri pun seorang penyembah berhala sejati. Kendati demikian, Ibrahim sendiri bukanlah sosok yang mudah manut dengan keadaan yang menyesatkan. Ia bukanlah tipikal anak yang takluk pada kehendak semena-mena orang tua. Di matanya, kebiasaan ayah dan rakyat Babilonia menjadikan benda mati sebagai Tuhan itu jelas-jelas sebuah kedunguan. Sesuatu yang tidak logis. Irasional, tak masuk akal. Maka ia pun berontak. Ia bertekad menghancurkan patung-patung sesembahan rakyat Babilonia tersebut. Dengan sebilah kapak tajam yang terhunus di tangannya, ia merangsek masuk ke tempat dimana berhala-berhala itu di pancangkan. Sejurus kemudian kapak Ibrahim telah berayun-ayun, melesat-lesat, menghantam patung-patung itu. Semua roboh, hancur berkeping-keping, kecuali satu patung yang paling besar. Di patung besar itulah, Ibrahim mengalungkan kapak sebagai sebuah taktik jitu menguji keyakinan rakyat Babilonia.

    Keesokan harinya ketika rakyat Babilonia hendak beribadah, semua tiba-tiba histeris dan terperanjat bukan kepalang melihat tuhan-tuhan mereka telah roboh dan hancur. Mereka kalap, marah dan langsung menyelidiki siapa gerangan pelakunya. Setelah mengorek informasi ke sana sini, sosok Ibrahim pun terkuak sebagai tersangka. Ia pun disidang di pengadilan babilonia. Kepada para hakim Ibrahim berkilah. Ia tidak mengakui bahwa tindakan anarki itu perbuatannya. Ia berdalih bahwa patung yang paling besar itulah yang berbuat:

    “Bukankah kapak itu tergantung di lehernya? Tanyalah padanya!” mereka tercengang dan meradang atas jawaban Ibrahim.

    “Mana bisa patung itu bicara?” jawab mereka kesal.

    Akhirnya Ibrahim berkata kembali: “Tidak bisa? Lalu kenapa kalian menyembahnya? Setan telah memperdaya kalian. Kembalilah kepada Allah! Dialah Tuhan Yang Maha Esa.”

    Namun orang-orang yang sesat memang tidak mau mengakui kekalahannya. Akhirnya, para hakim tetap memutuskan vonis mati Ibrahim dengan cara membakarnya hidup-hidup. Kita tahu, akhirnya, Ibrahim pun tak bisa melawan. Ia rela raganya dijilati api, tapi ia tidak ridho jiwanya terlalap si jago merah. Maka Ibrahim pun berpasrah diri. Pada detik-detik genting inilah, mulutnya dan hatinya basah oleh lafal ‘hasbunallah wa ni’mal wakil’ (cukup Allah sebagai penolongku, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung). Dan Allah mendengar doa lirih Ibrahim, hingga satu firman pun turun: “Hai api, jadilah dingin! Jadilah keselamatan bagi Ibrahim!” dan api itu akhirnya tak mampu melahap tubuh Ibrahim. Ia selamat. Ia menumpas segala kegundahannya bersama kekuatan Illahi yang bersemayam di qolbunya.

    Ibrahim tak sendiri. Junjungan kita, Rasulullah saw, pun mendedahkan doa senada tatkala sebagian tentaranya bersikap setengah hati menghadapi pasukan musyrik yang senjata dan bekal perangnya lebih bayak. Ternyata kata hasbunallah wa ni’mal wakil yang ditutur Rasul Muhammad saw itu langsung menepis rasa takut pasukannya sehingga mereka mengucap hal yang serupa dan iman mereka pun kian berkembang.

    Begitulah, Ibrahim dan Muhammad akhirnya mampu menggerus kecemasan jiwanya bersama energi Ilahi hasbunallah wa ni’mal wakil. Wajar bila keajaiban sukses pun berpihak di sisi mereka. Padahal kita tahu, rasa gelisah mereka adalah bahaya maha dahsyat bernama maut. Dan kita, umatnya, juga Aziz dan Dinda, kadangkala menggelepar sekarat bila sejumlah harapan duniawi kita punah sebelum waktunya. Kita tiba-tiba menjadi manusia yang paling malang. Sepi, sendiri dan hidup dalam jeri. Tidak hanya itu, kita -acapkali- menggugat Sang Kholiq: ‘Ya Allah, kenapa hal ini terjadi dalam hidupku?’ Pada titik inilah, saya pikir, lirik Opick di atas terasa menggedor-gedor nurani: Bila hati mulai goyah/ terluka, merana/ Jauhkah hati ni dari Tuhan, dari Allah?

    Kegelisahan Negatif atau Kegelisahan Positif

    Heidegger, seorang filsuf Jerman abad 20, suatu kali pernah menta’rifkan kegelisahan atau kecemasan (angst) sebagai berikut: suasana hati dasariah yang menyingkap ketakberumahan dan ketakberkampunghalaman manusia. Bila kondisi ini bermukim di dalam hati kita, maka itu sebuah proses tersingkapnya kesadaran diri kita dari ketakberumahannya kita di dunia ini.

    Oleh karena itu, rasa ini sejatinya semakin meneguhkan ihwal kefanaan manusia, ketidakkekalan dirinya di jagad dunia ini. Tak aneh, bila Allah mencap ciptaan-Nya ini sebagai makhluk yang berselimut keluh kesah dan gelisah. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah…” (QS. Al-Ma’aarij: 19)

    Sayangnya, suasana gelisah ini seringkali menggiring manusia pada keyakinan bahwa rumah dan kampung halaman yang hakiki itu berada di dunia. Hal ini, bisa dilihat dari kenestapaan yang umumnya membuat kita larut dalam kecemasan dan kegelisahan yang parah. Saya menyebut kondisi ini dengan kegelisahan negatif, sejenis kegelisahan yang meringkus harapan dan semangat hidup seseorang untuk berani melangkah lagi. Pada titik ini, lazimnya orang akan cenderung tidak kreatif, mengeluh, marah-marah, dan bertindak impulsif. Jiwanya tidak tenang, dan hatinya rusuh oleh segenap peristiwa pahit yang menimpanya. Ia lupa bahwa kemalangan, kekecewaan dan kegelisahan ini adalah kesementaraan. Karena itulah, saya sepakat ketika filsuf Epictetus mengatakan bahwa manusia tidak diganggu oleh peristiwa-peristiwa, melainkan oleh pandangannya sendiri tentang peristiwa-peristiwa itu. Begitu pula dengan manusia yang mengelola kegelisahannya secara negatif. Ia melihat peristiwa yang tengah menyusahkannya itu semisal kutukan, selayak kelam yang berjelaga.

    Sebaliknya, bila seseorang melihat kejadihan pahit yang melandanya itu sebagai sebuah berkah, seumpama anugerah tersembunyi yang suatu saat akan menyembul tiba-tiba, maka ialah sosok yang saya sebut sebagai manusia yang memiliki kegelisahan positif. Pada titik ini, seseorang berusaha mengoptimalkan energi kreatifnya semaksimal mungkin. Ia berpikir positif, tidak mengeluh, dan tidak larut dalam kecemasan, dalam keterpurukan. Ia, menurut sufi Hazrat Salahedin Ali Nader Angha, adalah karakter yang senantiasa menganggap peristiwa-peristiwa pahit sebagai sesuatu yang tidak “buruk”, melainkan lebih merupakan pengalaman-pengalaman yang darinya kita bisa belajar untuk lebih dewasa.

    Ia percaya bahwa Sang Pemilik Maha, Allah azza wajalla, tengah menyingkap tabir mukjizat-Nya, ia yakin bahwa Allah sedang menyibak sendi-sendi rahasia-Nya hingga ia menemukan sebuah pintu keberkahan yang tidak disangka-sangkanya. Pada momen seperti inilah ia berusaha menjadi manusia yang mengaktualisasikan dirinya sebesar mungkin. Ia menggali potensi, bakat, dan kapasitas kemampuan yang selama ini dimilikinya. Bahkan seorang psikolog bernama Abraham Maslow dalam buku Motivation and Personality-nya menganggap orang-orang seperti inilah yang layak disebut orang-orang sukses.

    Dan saya yakin, kegelisahan positif ini tidak tumbuh menyelubungi jiwa seseorang begitu saja. Ia bukan sesuatu yang taken for granted. Ia hadir ketika keyakinan hati seorang hamba menerbitkan Allah di sisinya. Ia tempatkan sang Rahman sebagai Sahabat dan Penolong sejatinya seraya terus melafal-lafal hasbunallah wa ni’mal wakil di hatinya.

    Barangkali, tak aneh bila Simone Weil, intelektual kiri yang berubah menjadi seorang mistikus abad 20, berkata begini, “Bagi manusia spiritual (beriman), kemalangan menimbulkan perasaan bahwa Tuhan telah meninggalkan anda. Tetapi, jika Anda bisa bangkit dari kegelapan, iman Anda akan jadi lebih dalam dan Anda akan merasakan salah satu misteri besar kehidupan.”

    Semoga saja Aziz, Dinda, dan siapapun yang tengah dilanda gelisah tengah bersiap menyongsong datu misteri besar itu. Amin.

    ***

    Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 4:43 am pada 30 August 2013 Permalink | Balas  

    kado6Kado Terindah

    Oleh Lizsa Anggraeny

    Mencari hadiah, ternyata bukan hal yang mudah. Sudah berkali-kali berputar di sepanjang pertokoan, tetap belum menemukan sesuatu yang sreg. Ingin rasanya mendapatkan kado terindah yang dapat membuat hati sang penerima merasa senang. Terutama jika kado tersebut akan diberikan pada seseorang yang teristimewa, sahabat dekat.

    Menyebut nama sahabat tersebut, rasanya begitu banyak kebaikan yang telah saya terima. Tak terhitung pula, barang pemberian darinya. Tanpa diminta, sepertinya ia selalu tahu apa yang sedang saya perlukan. Ketika saya belum memiliki overcoat untuk penahan di musim dingin, dengan baik hati, ia ‘melungsurkan’ satu overcoatnya untuk saya. Begitu juga ketika pindahan rumah, dengan baik hatinya ia ‘mewariskan’ beberapa peralatan rumah tangga. Pun ketika pulang dari berwisata, saya selalu kebagian oleh-oleh. Tak hanya barang, sahabat inipun akan memberikan bantuan berupa kata-kata penyemangat serta doa jika saya ‘curhat’. Dengan alasan itulah, saya ingin mencari kado untuknya. Sebagai balas budi dan untuk lebih mengakrabkan tali ukhuwah.

    Kembali ke pencarian kado, ketika sedang serius memilih barang, tiba-tiba dari arah belakang, kaki terasa ada yang menubruk. Reflek badan membalik ke belakang. Dan nampaklah, satu orang wanita muda Jepang dengan kursi rodanya. Dilihat dari penampilan, tubuhnya cacat tak bisa digerakkan. Hanya tangannya saja yang masih berfungsi untuk menggerakkan kursi roda otomatisnya. “Sumimasen… (Maaf…), ” berat terdengar suaranya disertai mimik bersalah ketika saya membalikan badan. Wajahnya tampak mulai tersenyum ketika saya katakan, “tidak apa-apa. “

    Saya perhatikan, kursi rodanya nampak berjalan ke arah etalase lain. Dan mulai memperhatikan barang di sana. Tak tega membiarkanya sendiri, saya berlari kecil ke arahnya dan berkata, “Jika ada yang perlu diambilkan, saya akan bantu, ” Sesaat matanya memandang ke arah saya. Kemudian wajahnya tampak sumringah, terlihat hendak menganggukkan kepalanya yang sulit digerakan, sebagai tanda terima kasih.

    Entah kenapa, hari itu jadilah saya dan wanita Jepang berkursi roda tersebut melakukan windowshopping bersama. Dari ceritanya, ia telah mengalami cacat sejak kecil. Beberapa syarafnya tidak berkembang normal. Namun, ia tak pernah menyesal keadaan. Ia bersyukur masih diberi kesempatan hidup dengan ketidakberdayaannya. “Hidup harus disyukuri, ” begitu ucapnya. Cerita terputus ketika, seorang berseragam putih mendatangi. Perawat dari panti rehabilitasi-tempat tinggalnya sudah menjemput. Kami berpisah, tanpa sempat saling menanyakan tempat tinggal.

    Saya terduduk di bangku istirahat. Mulai mengamati diri. Mata dapat melihat, telinga mendengar, kaki bergerak bebas, tubuh normal. Tidak hanya itu, saya diberi kebebasan 24 jam menghirup udara gratis, diberi rizki, diberi kesehatan…. Subhanallah, begitu besar pemberian yang telah Allah berikan. Pemberian yang tak mungkin dapat dihitung. Tidak hanya jumlah, Allah swt pun telah memberikan sesuatu yang sangat berharga pada saya, yaitu memiliki iman Islam. Sebuah pemberian yang tak dapat diwariskan dari siapapun kecuali dari hidayah Allah.

    Untuk balas budi atas pemberian-Nya, apa yang telah saya berikan? Sudahkan saya memberikan kado istimewa yang indah, bagus yang dapat diterima oleh-Nya? Yang dapat mendekatkan diri saya pada-Nya? Bersyukur dan berterima kasih pada-Nya dengan hati yang ikhlas?

    Saya mulai mengingat-ngingat, terkadang shalat saya masih tidak tepat waktu. Sedekah hanya dilakukan ala kadarnya, puasa kadang hanya sebatas memenuhi yang wajib, dalam amalan pun mungkin terselip ria tanpa keikhlasan. Betapa saya belum bisa memberikan kado terindah atas semua pemberian dari-Nya. Ibadah, rasa syukur saya masih belum sebanding. Padahal dengan rasa cinta-Nya, Dia selalu memberi… Memberi dan Maha Pemberi.

    Saya kembali teringat wanita Jepang dengan kursi rodanya. Yang tetap bersyukur dengan semua keberadaannya. Teringat pula sahabat karib yang selalu selalu memberi. Betapa bahagianya saya bisa mengenal kedua orang tersebut. Yang secara tidak langsung mengingatkan diri, betapa banyak hal yang harus saya syukuri.

    Seolah tersadar, saya melirik jam tangan. Waktu ashar telah tiba. Bergegas saya meninggalkan bangku istirahat pertokoan tersebut. Mencari tempat yang kira-kira aman untuk shalat. Tak ingin rasanya waktu berharga ini dilewatkan. Karena saat inilah kesempatan saya untuk menumpahkan rasa syukur. Berterima kasih atas semua yang telah diberikan-Nya selama ini. Mudah-mudahan ini dapat menjadi amalan ‘kado’ terindah, yang dapat menunjukan bukti kecintaan saya pada Allah, Sang Maha Pemberi.

    ***

    “Adalah Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam shalat hingga kedua telapak kaki dan betisnya bengkak. Aisyah ra berkata kepada beliau, “Mengapa Anda mengerjakan yang demikian? Bukankah dosa Anda yang telah lalu maupun yang akan datang telah diampuni?” Beliau Rasulullah saw menjawab, “Apakah tidak sepantasnya jika aku menjadi seorang hamba yang selalu bersyukur?”(HR bukhari dan Muslim)

    Tokyo, aishliz et FLP-Jepang

    eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 4:32 am pada 19 August 2013 Permalink | Balas  

    mati-suri-dalam-buzzleAkhir yang Berbeda

    Dari Seorang Sahabat

    Semoga kita termasuk dalam orang2 yang khusnul khotimah….amien….

    Tatkala masih dibangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

    Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri : “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan! ” Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk munajat kepada Allah.

    Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.

    Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan,tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.

    Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian … banyak waktu luang … pengetahuanku terbatas. Aku mulai jenuh … tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain.

    Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan. Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas disebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol … tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh tragis.

    Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah … Laailaaha Illallaah ..” perintah temanku. Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding. Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat … Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi … keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.

    Tak ada gunanya … Suara lagunya terdengar semakin melemah … lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak … keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun. Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening… Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk).

    Ia berkata “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia. “Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaiman seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin. Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu’ sekali.

    Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali pada kebiasaanku semula … Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan!.

    Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu …. sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika. Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan.Dia masih sangat muda, wajahnya begitu bersih.Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.

    Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an … dengan suara amat lemah. “Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur’an seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian “Aku akan menuntunya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu … apalagi aku sudah punya pengalaman.” aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang.

    Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meningal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras mengalir.Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan..Sampai di rumah sakit …..Kepada orang-orang di sana, kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan.

    Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan di shalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah. Semua ingin ikut menyolatinya. Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin.

    Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawa permen untuk dibagikan kepada anak-anak kecil.

    Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa. hanya ada satu harap, semoga kita menjadi penghuni surga. Biarlah dunia jadi kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan pertaubatan. Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, dengan amal-amal yang nyata : “memperbaiki diri dan mengajak orang lain ” Allah Swt berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Al-Imran :185)

    Rasulullah Saw telah mengingatkan dalam sabadanya, “Barangsiapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.”

    Saudaraku Siapa yang tau kapan, dimana, bagaimana, sedang apa, kita menemuai tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap Allah SWT, Orang yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian dalam waktu waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan untuk menghadapinya.

    **

    Note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat.

    Begitulah hendaknya engkau nasehati dirimu setiap hari karena engkau tidak menyangka mati itu dekat kepadamu bahkan engkau mengira engkau mungkin hidup lima puluh tahun lagi, Kemudian engkau menyuruh dirimu berbuat taat, sudah pasti dirimu tidak akan patuh kepadamu dan pasti ia akan menolak dan merasa berat untuk mengerjakan ketaatan.

    Nasehat ini terutama untuk diri saya sendiri, dan saudara-saudaraku seiman pada umumnya.

    Jazakumullah khairan katsiran

    Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

     
  • erva kurniawan 4:28 am pada 18 August 2013 Permalink | Balas  

    cinta di hari tuaMemikat Cinta

    Oleh Indah Prihanande

    “Aku nyari – nyari koki yang cocok buat lidahmu, ternyata ada di dalam diriku! He… He, masakan spesial untukmu malam ini”

    SMS dari suami saya yang terlalu Pede ini datang begitu melambungkan rasa bahagia. Kejutan yang bagi saya tidaklah kecil nilainya. Amat berharga dan bernilai emosi tinggi.

    Saya hafal dengan kebiasaannya. Ketika dia mengirimkan pesannya tersebut, hampir bisa dipastikan dia tengah berkutat didapur. Meramu masakan yang entah apa namanya. Biasanya semua bumbu instant dicampur ke dalam masakan: kecap asin, minyak wijen, garam, bawang goreng siap pakai, dan lain-lainnya. Hanya dia saja yang tahu persis rumus masakannya. “Rahasia” katanya setiap kali saya iseng menanyakan kunci keberhasilannya.

    Padahal saya tidak serius untuk sungguh-sungguh ingin mengetahui racikannya tersebut. Saya tahu pasti, bumbu racikannya adalah campuran dari semua bumbu instant yang ada didapur kami.

    Tapi saya tak perduli, itu tak teramat penting. Yang terpenting adalah nilai-nilai kejutan yang selalu disodorkannya selama ini membuat hidup saya terasa lebih hidup dan penuh warna.

    Suami saya mempunyai cara sederhana dan memikat untuk menunjukan perhatiannya. Selama ini, saya terhipnotis dengan kejutan-kejutan yang disampaikannya dengan gaya yang segar dan menyenangkan itu.

    Kali ini saya tengah sibuk dikejar dengan tugas di kantor. Dan dari pagi saya belum sempat memberi kabar apapun untuknya. Tanpa diminta dengan sukarela dia mengirimkan setangkai bunga mawar yang indah lengkap dengan sebaris kalimat yang tertulis:

    “Hai, terima aja apa adanya ya. Tq”

    Ada tawa yang nyaris meledak! Saya tergelitik dengan usaha dan kerja kerasnya untuk menjadi sedikit romantis. Apa yang dikirimnya itu seketika menyegarkan fikiran dan perasaan. Walau hanya melalui SMS, mawar itu telah saya terima dengan rasa syukur tak terhingga.

    ***

    Ya, begitulah. Dia telah banyak mengajarkan tentang sebuah perhatian kecil di tengah keterbatasan waktu dan materi yang kami miliki.

    Ketika kita tidak bisa memberikan hal-hal besar menyenangkan yang membutuhkan ketersediaan materi untuk pasangan kita, kita harus bisa mencari, menemukan, untuk kemudian mengaplikasikan perhatian kecil tersebut dalam keseharian kita. Tak perduli betapa padatnya kesibukan yang kita miliki, seharusnya hal tersebut menjadi perhatian khusus yang tidak terganggu oleh alasan apapun.

    Bukankah di tengah perjalanan kita bisa berkirim SMS dengan kata-kata menyenangkan dan kalimat motivasi yang membuatnya bersemangat? Bukankah kita bisa memberikan kejutan dengan mengirimkan surat pujian kita untuknya yang dikirim lewat pos ke alamat kantornya? Atau jika ada sedikit uang, pergi saja ketoko buku, belikan buku yang terkait dengan hobi dan minatnya. Tidak sulit bukan?

    Kita bisa melakukannya dengan cara dan gaya dan menurut kemampuan masing-masing. Yang dibutuhkan hanyalah mau atau tidak untuk melakukannya.

    Yuk, kita buat proyek ini berjalan ditahun ini. Kita beri judul: Proyek Sederhana, Memikat dan Penuh Cinta!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:56 am pada 11 July 2013 Permalink | Balas  

    Puasaku Tahun-Tahun Lalu

    Sore itu, bulan Ramadhan tahun lalu adalah hari pertama puasa. Meskipun aku biasa berpuasa Senin dan Kamis, tetapi puasa Ramadhan selalu membawa kegembiraan dan suasana yang berbeda. Apalagi anak kami yang bungsu hari itu mulai belajar berpuasa. Aku menjanjikannya jika puasanya penuh akan kuberikan hadiah, seperti juga aku menghadiahi abangnya ketika mula pertama dia bisa berpuasa.

    Aku bergegas menepikan motorku ketika kurasakan getar ponsel disaku jaketku. Rupanya dari isteriku. “Jangan lupa ayah beli blewah atau timun suri 2 kemudian beli kelapa muda 4, minta pada penjualnya untuk dituang ke plastik jadi tidak sulit bawanya, saya sedang di toko dekat rumah beli sirup, beli kue-kue basah”

    ” Pasti”, jawabku, “Jangan lupa beli juga kue lapis beras dan lupis, kelapanya yang banyak. “

    Sesampai di rumah; meja makan telah sarat dipenuhi berbagai penganan, lauk, nasi, minuman. Begitulah hampir selama sebulan, kami makan berlebihan; sehingga mudah mengantuk. Isteriku setiap sore hari rajin ke rumah makan membeli makanan jadi yang kemudian selalu bersisa. Pagi hari ketika sahur kami sibuk makan dan menonton acara hiburan di TV yang penuh candaria. Akibatnya ketika dikantor, aku merasakan produktivitas kerjaku menurun.

    Padahal kantorku telah memberikan kelonggaran selama bulan puasa kantor dimulai setengah jam lebih lambat, pulang juga demikian setengah jam lebih awal. Aku lebih banyak duduk-duduk saja atau melama-lamakan diri berada di masjid lingkungan perkantoran. Bukan untuk berzikir, mengingat DIA atau membaca-baca buku agama tetapi membiarkan tubuhku berbaring di lantai masjid yang sejuk itu. Meskipun telah ada peringatan dilarang tiduran di masjid, tetapi selama puasa larangan itu seolah tidak ada artinya.

    Beberapa hari kemudian aku dan isteriku menghadiri undangan berbuka bersama yang diselenggarakan oleh teman sekolahku yang mempunyai rizki berlebih sekaligus ia mempromosikan biro perjalanan hajinya. Acara ini diadakan di sebuah hotel berbintang. Hidangan beraneka ragam dan sangat berlimpah ruah. Sebelum bedug berbunyi kami dan semua tamu sudah berdatangan dan segera sibuk mengambil berbagai macam tajil yang tersedia.

    Kami seperti layaknya orang-orang yang sangat kelaparan. Menyendok kolak ke mangkuk, mengambil piring yang berisi kue-kue, puding dan kurma; mengambil cangkir, gelas-gelas minuman hangat dan dingin.

    Ketika tanda berbuka terdengar serentak kami menyesap minuman dengan tergesa kemudian bergegas sholat. Sholatpun kurang khusyu, memikirkan makanan yang sangat menggoda selera. Saat mengambil makanan, kami memenuhi piring lebar itu dengan nasi dan lauk yang menggunung. Mengisi penuh mangkuk-mangkuk dengan beraneka supjagung, sotomadura, tekwan…. Kami makan dengan ribut, mulut berkecipak, ditingkahi bunyi sendok dan piring yang beradu, gelak tawa, obrolan-obrolan, lalu lalang ke meja hidangan untuk mencicipi semua makanan yang tersedia.

    Namun demikian kapasitas perut ada batasnya; makanan itu tersisa berserakan di piring dan mangkuk. Ketika kami pulang kami melihat betapa banyak makanan yang berlebih yang tidak bisa dimakan lagi akibat penyakit ‘lapar mata’ yang parah dari hampir semua undangan. Jika dikumpulkan mungkin bisa untuk memberi makan kaum yang jarang makan lebih banyak lagi.

    Begitulah dahulu; selalu setiap puasa ramadhan berlangsung kami hanya sekedar menunda makan dan minum. Kami belum bisa menahan hawa nafsu yang berhubungan dengan urusan perut.

    Kami tidak bisa merasakan penderitaan orang yang kekurangan. Setiap berbuka puasa kami selalu merasa tidak cukup hanya berbuka dengan minum segelas teh manis hangat saja. Puasa sekarang; aku, isteri dan anak-anakku akan berusaha menjalaninya seperti semangat puasa sebenarnya. Berpuasa yang penuh kebaikan, mendapat ridha dan maghfirahNya, insya Allah.

    Latihan berempati merasakan penderitaan orang yang kekurangan, orang-orang yang berpuasa di daerah bencana. Lebih giat mengumpulkan uang bujet pembeli segala makanan yang berlebihan untuk disedekahkan. Tidak melihat acara hiburan TV; waktu-waktu itu bisa aku pergunakan untuk mengkaji ilmu agama, mengaji, bersama anak-anak.

    Bukankah jika puasa Senin atau Kamis aku juga tidak melihat TV di pagi hari buta. Makan minum di hari puasa Senin dan Kamis itu aku juga tidak menuntut yang istimewa. Isteriku juga akan berusaha lebih cerdas membelanjakan uang dapur untuk urusan makan dan minum. Karena setiap puasa justru timbangan badannya menjadi mekar karena ia merasa sayang melihat makanan yang berlebihan, mau di sedekahkan tidak layak, sehingga ia makan sendiri, begitu alasannya :-)

    Bulan puasa seharusnya pengeluaran belanja makan dan minum tidak bertambah bahkan sebaiknya ada kelebihan. Bukankah kita makan hanya 2 kali. Tapi mengapa justru selama puasa pengeluaran untuk belanja dapur selalu membengkak sampai dua kali lipat bahkan lebih?

    Teman sekantorku justru ada yang berhutang setiap bulan puasa hanya untuk keperluan makan dan minum. Sehingga dimanakah nilai puasa yang sebenarnya? Jika puasa hanya sekedar menunda makan dan minum; tapi ketika ada kesempatan untuk bersantap, kita seolah ‘membalasdendam’ – dan terlalu berlebihan?

    ***

    [Sebagian besar kisah nyata ini berdasarkan penuturan seorang teman]

    “………Makan dan minumlah, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” [Al 'Araaf;7:31]

     
c
Compose new post
j
Postingan berikutnya/Komentar berikutnya
k
Postingan sebelumnya/Komentar sebelumnya
r
Balas
e
Edit
o
Tampilkan/Sembunyikan komentar
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 640 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: