Updates from Juli, 2014 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:19 am on 22 July 2014 Permalink | Balas  

    madu (1)Kisah Sesendok Madu (Mulailah Dari Diri Sendiri)

    Diceritakan, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warga kotanya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit di tengah kota. Seluruh warga kota memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya. Tetapi, dalam pikiran seorang warga kota ( katakanlah namanya Fulan); terlintas cara untuk mengelak perintah tersebut. “Aku akan membawa sesendok penuh, tapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungiku dari pandangan mata orang lain. Sesendok air tidak akan mempengaruhi isi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota.”

    Tibalah waktu yang ditetapkan. Apa kemudian yang terjadi? Bejana itu ternyata seluruhnya berisi penuh dengan air! Rupanya seluruh warga kota berpikiran sama dengan si Fulan. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.

    Kisah simbolik ini sering terjadi dalam berbagai kehidupan masyarakat. Idealnya memang bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian melibatkan pengikut-pengikutnya.

    Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah disertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku (QS 12:108)

    Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin (pengikut-pengikutmu) (QS 4:84)

    Perhatikanlah kata-kata : “tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri”. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : “Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu” Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Berarti setiap orang harus harus tampil terlebih dulu. SIkap mental yang seperti ini akan menyebabkan bejana sang raja akan penuh dengan madu, bukan air, apalagi racun.

    (Dari : Lentera Hati, M Quraish Shihab)

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 21 July 2014 Permalink | Balas  

    motor tuaMotor Tua

    Dengan riang kulangkahkan kaki memasuki pekarangan rumah. Ah, cukup lama aku meninggalkan orang-orang yang kucintai. Langkahku terhenti, pandanganku tertumbuk pada sebuah motor tua. 20 tahun yang lalu motor itu sangat berarti. Allah menyatukan hati papa, mama, aku dan adik-adik (kami 4 bersaudara) lewat kendaraan bekas yang sekarang sudah dipenuhi debu dan karat itu. Sebagai pegawai negeri biasa dengan ekonomi pas-pasan, papa dan mama hanya bisa mencicil sebuah motor sebagai sarana transportasi kami sekeluarga. Waktu itu aku berusia 5 tahun, adikku no 2 berusia 3 tahun, no 3 berusia 2 tahun dan adik bungsuku berusia kira-kira 5 bulan. Kalau kedua orang tuaku pergi, kami semua pasti dibawa.. tentu saja dengan motor tua itu.

    Sejenak, senyumku mengembang seiring memori yang tetap mengalunkan kenangan indah. Urutan-urutan di motor itu adalah : adikku no.2 di depan sekali (di tank bensin), papa (sebagai rider), adikku no.3, aku dan terakhir mama duduk miring ke satu arah dengan menggendong adik bungsuku yang masih bayi. Aku juga ga habis pikir kenapa bisa muat dan kenapa orang tuaku begitu berani ? Tapi sudahlah, semua sudah berlalu dan aku sedang menikmati kebersamaan kami ketika itu.

    Hal yang paling bertahan dalam ingatanku adalah ketika tiba-tiba hujan turun, papa segera menepikan motornya, kami semua diturunkan karena mantel hujan tersimpan di bawah sadel. Mantel dikeluarkan .. kemudian kami kembali menempati posisi dan masuk ke dalam mantel. Mantel satu dipakai ramai-ramai. Pemandangan yang tadinya indah mendadak gelap gulita tapi tawa canda tetap mewarnai perjalanan hingga tempat tujuan.

    Namun… perjalanan hidup tidak selamanya bahagia. Di suatu sore, dalam keadaan kurang sehat papa pulang ke rumah untuk istirahat. Namun di perjalanan papa tidak sempat mengelakkan segerombolan sapi yang melintas dan menabrak salah satunya. Papa terpental dari motor dan mengalami patah kaki. Otomatis, kebersamaan di motor tua terhenti untuk sementara waktu. Terasa ada yang lain.. kami merindukan kehangatan berdesakan di motor tua (tak terasa air mataku mengalir)..

    Betapa bersyukurnya aku dikarunia keluarga yang hidup pas-pasan oleh Allah. Kenangan ini menjadi milikku… belum tentu dimiliki oleh orang lain. Kebahagiaan dan kebersamaan keluargaku dibangun di atas motor tua. Antara percaya dan tidak, tapi aku yakin motor itu jadi salah satu sarana kehangatan aku dan keluarga hingga sekarang. Dengan menyusut air mata, kulangkahkan kaki menuju pintu dan subhaanallaah… suara orang tua dan adik-adik riuh rendah menyambut kedatanganku… Betapa hangatnya cinta-Mu ya Allah. Ijinkan aku untuk selalu ingin memiliki cinta ini…dalam sabar dan syukurku…

    Ayo sobat, bangkitkan kenangan indah beserta anggota keluarga. Janganlah sesekali menyesali kondisi keluarga. Insya Allah kebahagiaan dan semangat akan selalu mewarnai hidup kita. Jangan lupa bersyukur kepada Allah dan berterimakasih kepada orang-orang yang berjasa kepada kita.

    ***

    (Diambil dari http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 4:56 am on 8 July 2014 Permalink | Balas  

    beruang ikanMengapa Beruang Tumbuh Besar

    Seekor beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dengan sabar di tepi sungai deras. Waktu itu memang tidak sedang musim ikan. Sejak pagi ia berdiri di sana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar air. Namun, tak satu juga ikan yang berhasil ia tangkap. Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya… hup… ia dapat menangkap seekor ikan kecil. Ikan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan.

    Si ikan kecil itu meratap pada sang beruang, “Wahai beruang, tolong lepaskan aku.”

    “Mengapa,” tanya sang beruang.

    “Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat celah-celah gigimu,” rintih sang ikan.

    “Lalu kenapa?” tanya beruang lagi.

    “Begini saja, tolong kembalikan aku ke sungai. Setelah beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang besar. Di saat itu kau bisa menangkapku dan memakanku untuk memenuhi seleramu,” kata ikan.

    “Wahai ikan, kau tahu mengapa aku bisa tumbuh begitu besar?” tanya beruang.

    “Mengapa?” ikan balas bertanya sambil menggeleng-geleng kepalanya.

    “Karena aku tak pernah menyerah walau sekecil apa pun keberuntungan yang telah tergenggam di tangan!” jawab beruang sambil tersenyum mantap.

    “Ops!” teriak sang ikan

    Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kita tidak mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Dan hal ini hanya akan menciptakan penyesalan yang tiada guna di kemudian hari, saat kita harus berucap : “Ohhh….Andaikan aku tidak menyia2kan kesempatan itu dulu…??”.

    Maka bijaksanalah pada hidup, hargai setiap detil kesempatan dalam hidup kita. Disaat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan; disaat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan; disaat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali; dan dalam kesempatan untuk meraih kembali yang terbaik untuk hidup kita.

    Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara yang besar. Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi sebuah kesempatan yang besar.

     
  • erva kurniawan 7:29 am on 15 June 2014 Permalink | Balas  

    siluet-wanitaUkhti Muslimah Bagaimana Akidahmu?

    Penulis Ummu Raihanah (www.jilbabonline.com)

    Sengaja penulis mengambil judul diatas agar ukhti semua senantiasa bermuhasabah (intropeksi) diri, apakah sudah benar aqidah (keyakinan) kita dalam beragama ini? suatu pertanyaan yang mungkin agak sepele akan tetapi sangat sulit untuk dijawab.

    Sebenarnya dari sinilah segala amal akan dihisab oleh Rabb kita, dengan akidah yang shahih (benar) sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah dan pemahaman pendahulu kita salafuna Shalih maka hati kita akan tunduk dan patuh kepadaNya. Menyerahkan seluruh hidup kita dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan. Segala perintah yang Allah turunkan dalam kitab-Nya yang Mulia dan melalui lisan Nabi-Nya adalah merupakan hal yang ringan, mudah sehingga jawaban kita terhadap perintah-perintah tersebut adalah ”kami dengar dan kami patuh”, sebuah jawaban yang indah .

    Wahai ukhti muslimah, Cobalah simak firman-Nya:

    ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu” (Adz-dzariyaat:56)

    Sebuah seruan yang jelas dan pasti untuk kita, yaitu agar kita hanya benar-benar menyembahNya saja, mentauhidkan-Nya, tidak menyekutukan-Nya, tentu ukhti semua menyadari kita ini adalah hamba-hamba-Nya dan suatu saat akan kembali pada-Nya. Karena itulah tugas kita untuk selalu membersihkan akidah kita dari noda-noda kesyirikan.

    Dengan akidah yang bersih inilah kita mulai beramal untuk mencapai derajat takwa derajat wanita shalihah yang kita idam-idamkan.

    Sayangnya, banyak saudari kita yang masih terlena dan jauh dari akidah yang benar, jauh dari syariat yang benar, sehingga apa yang mereka perbuat lebih banyak melanggar perintah-Nya dari pada taat kepada-Nya.

    Wahai ukhti muslimah saudariku, bukan maksud penulis untuk membuka aib atau mencela dan merasa diri sendiri suci dan benar, akan tetapi hanya ingin saling menasehati semoga Allah selalu membimbing kita semua,

    Penulis hanyalah ingin membagi cerita tentang apa yang dialaminya ketika Allah memberikan kemudahan untuk menunaikan rukun islam yang kelima pada tahun 2001 yang lalu bersama sang suami,

    Dengan penuh rasa haru penulis memasuki pesawat dan duduk disebelah saya seorang wanita keturunan Arab yang cantik jelita dengan dua orang anaknya, saya bertanya kepadanya ”Akan pergi kemana?”

    Karena saya melihatnya tanpa mahram, dia menjawab akan ke Dammam. Saya melihatnya dengan prihatin karena kasihan melihatnya kerepotan seorang diri mengurus dua anaknya yang agak rewel di pesawat, Saya membantunya memasukkan barang-barangnya yang sempat tercecer keluar diantaranya adalah abaya hitam (gamis panjang) dan jilbab panjang hitam,

    Saya bertanya, “Apakah anda memakai ini sama seperti saya? Saya bertanya heran karena beliau saat itu mengenakan setelan celana jean ketat dan kaos ketat, beliau menjawab: ”Iya, di Saudikan kita haram terbuka seperti ini, setiba saya di bandara saya akan memakainya, mbak orang Arab?

    Saya menjawab: “Bukan”

    Beliau bertanya lagi : “Oh, tetapi kenapa pake cadar apa karena suami mbak orang Arab jadi disuruh pake begitu?” Beliau bertanya sambil melirik ke suami saya.

    Sayapun menjelaskannya dengan panjang lebar mengapa saya memakai cadar kepadanya, dan alhamdulillah dia mengerti.

    Suatu kejadian yang sungguh disesalkan dimana banyak kaum kita (wanita) memahami bahwa perintah jilbab adalah ditaati ketika suatu negara mewajibkannya bukan karena ketaatan dan ketundukan hati.

    Ketika penulis sampai di Madinahpun banyak meneteskan air mata karena ternyata, saudari-saudari kita yang shalat disana masih banyak yang melakukan kemusyrikan diantaranya mencium tiang-tiang masjid Nabawi dan menyapunya keseluruh tubuh untuk mencari berkah walaupun polisi wanita di sana meneriaki haram, toh mereka tak perduli, jalan terus, sungguh menyedihkan.

    Hal tersebut tak jauh berbeda saya dapati di Masjidil Haram, mereka berdesak-desakkan mencari berkah di tempat keluarnya air zam-zam, mengorek-ngorek dinding tersebut , teriakan saudari kita yang lain melarang perbuatan itu sama sekali tidak digubris,

    Saya hanya bisa berdo’a semoga Allah memberi mereka hidayah.

    Setibanya di Bandara Jeddah untuk pulang ketanah air, saya mendapatkan pengalaman yang sangat menarik, karena tempat pemeriksaan antara laki-laki dan wanita dipisah, jadilah saya sendiri menghadapi petugas imigrasi bandara, mereka lama sekali melihat kesaya, sayapun bertanya kepadanya dalam bahasa Arab : Apakah ada masalah?

    Petugas itu agak terkejut karena dia melihat paspor saya adalah paspor indonesia. Dia menjawab: ”tidak”.

    Salah seorang petugas imigrasi yang lain mendatangi saya dan bertanya apakah saya benar-benar orang indonesia asli bukan keturunan Arab, saya mengiyakan, dia pun berkata kepada saya: ”Coba lihat di sana itu semuakan teman-temanmu mereka sudah melepaskan kerudung mereka semua karena sudah selesai dari hajinya, ” Saya tidak sempat menjawab banyak karena saya melihat wajah khawatir suami saya dari jauh.

    Dengan sangat terpaksa sayapun meninggalkan beliau yang masih dalam kebingungan.

    Ini adalah suatu kenyataan ukhti, saudariku. Sebuah hal yang sungguh patut di renungkan, apabila memang hati kita benar-benar telah tunduk kepada-Nya kita akan selalu taat dimanapun kita berada tanpa memandang situasi dan kondisi hingga kita menghadap-Nya.

    Semoga Allah senantiasa membimbing dan menjaga kita untuk istiqomah di jalan-Nya dan menjadikan seluruh amalan kita ikhlas kepada-Nya bersih dari riya dan kesyirikan.

     
  • erva kurniawan 8:50 am on 1 June 2014 Permalink | Balas  

    istri solekhahIsteriku, Matahariku

    Saya pernah ditinggal istri seharian untuk mengikuti suatu acara. Acaranya memang bermanfaat, baik untuk istri saya maupun untuk kepentingan umat. Konsekuensinya saya harus momong lima anak mulai dari yang besar 11 tahun sampai si bungsu 2,5 tahun. Kebetulan hari itu nenek mereka sedang sibuk dan anak-anak pun sedang libur sekolah.

    Agenda yang saya lakukan pertama kali adalah memonitor apakah anak pertama dan kedua sudah mandi. Lalu saya membantu anak ketiga dan keempat untuk mandi sekaligus memandikan si bungsu. Berikutnya adalah makan pagi. Alhamdulillah, lauk dan nasi sudah disediakan istri sebelum ia berangkat. Anak pertama sampai ketiga sudah biasa makan sendiri, tapi anak keempat dan kelima ini harus saya suapi. Jangan harap mereka duduk manis saat saya suapi, saya malahan ikut berlarian kesana kemari mengejar si kecil untuk makan. Saat akan disuapi pun mereka akan berebut siapa yang harus disuapi lebih dulu.

    Agenda berikutnya adalah membersihkan rumah. Anak pertama mendapat tugas mencuci piring, sedangkan adiknya hari itu membersihkan halaman dan ruang tamu. Saya sendiri merapikan kamar tidur dan lain-lain seperti yang biasa dilakukan isteri. Sedangkan anak ketiga, keempat dan kelima asyik bermain-main. Satunya berlari-lari, yang lain main bongkar pasang dan satunya lagi bermain dengan anak tetangga. Namanya anak-anak, bermain selalu saja dihiasi dengan tangisan akibat berebut mainan yang terbatas jumlahnya. Belum lagi soal baju bersih yang berubah kotor saat dipakai bermain.

    Saat urusan bersih-bersih rumah usai, tahu-tahu waktu sudah menjelang siang. Berarti persiapan shalat dhuhur dan makan siang harus dilakukan. Alhamdulillah nasi dan sayurnya masih ada, walaupun lauknya sudah habis. Kebetulan masih ada telur. Tinggal goreng saja, pikir saya. Akhirnya saya menggoreng ceplok telur. Hasilnya lumayan walaupun sedikit gosong. Makannya seperti tadi pagi. Saya kembali mengejar kedua anak saya yang masih balita untuk disuapi. Baru kemudian dilanjutkan acara sholat dzuhur dan istirahat siang.

    Semua pekerjaan tetap bisa tertangani walaupun hasilnya tidak maksimal sebagaimana jika istri ada di rumah. Anak-anak juga tetap mandi, makan, bermain dan tidur siang di rumah walaupun tidak seceria saat ibunya ada di rumah. Rumah dan peralatan dapur juga bisa dibersihkan, tetapi memang tidak sebersih dan seasri ketika istri di rumah. Anak-anak juga tetap bisa menjalankan shalat, sekalipun ayahnya tidak bisa menjalankan sholat berjama’ah di Masjid. Saya juga masih bisa mengerjakan tugas-tugas rutin (mengajar di Pesantren), tapi tidak senyaman dibandingkan ketika ibunya anak-anak di rumah.

    Pengalaman itu membawa saya pada pemahaman bahwa keberadaan istri itu penting. Bukan semata-mata sebagai ibu rumah tangga saja tapi lebih kepada cahaya dalam keluarga, sesuatu yang melahirkan motivasi, rasa aman, kenyamanan dan keceriaan dalam satu keluarga. Keadaan ini memberikan jawaban untuk saya mengapa keluarga tanpa ibu terkesan suram atau juga kenyataan bahwa seorang anak lebih tidak siap ditinggal oleh ibunya dibandingkan oleh ayahnya.

    Begitu pentingnya makna kehadiran istri shalihah dalam satu rumah tangga membuat saya sadar bahwa di balik setiap orang besar seperti Rasulullah SAW ada istri yang mendukungnya.

    Saya pernah ditanya oleh seorang teman,” Apakah Anda ingin nikah lagi?” Saya menjawab,”Belum berpikir dan hingga sekarang tidak pernah berpikir ke arah sana.” Bukan berarti anti, apalagi mengharamkannya.

    Jawaban saya ini jujur dari hati saya yang paling dalam. Alasannya, pertama, istri saya telah memberikan kontribusi kebaikan yang sangat banyak dalam rumah tangga ini. Kedua, bagi saya keluarga itu merupakan susunan yang terdiri dari unsur-unsur kenangan, komitmen, emosi, cita-cita, markas atau pangkalan, labuhan dan sejarah. Jadi tidak bisa dirubah atau digantikan atau disempurnakan begitu saja oleh unsur lain kecuali dengan unsur yang yang ada di dalamnya. Kalau toh ada program menikah lagi, ide bukan dari saya tetapi dari istri dan tentunya berdasarkan hasil musyawarah dengan anak-anak. Karena merekalah yang akan merasakan dampak langsung, baik yang positif maupun yang negatif.

    Suatu kedzoliman manakala dalam diri kita muncul pikiran untuk menyia-nyiakan istri atau memberikan apresiasi yang rendah terhadap perkerjaan isteri. Ditinggal satu hari saja saya sudah kerepotan menghadapi pekerjaan rumah tangga dan anak-anak. Istri menghadapi hal itu seperti itu bukan sehari dua seperti saya, tapi sudah menjadi rutinitas. Sedikit pun ia tidak pernah mengeluh. Suatu kedzaliman pula jika sebagai suami, begitu pelit untuk memberi hadiah atau penghargaan, sekalipun hanya sebuah ucapan terima kasih, maaf atau kata-kata menyenangkan lainnya. Apalagi jika diingat-ingat lagi perjuangan untuk mendapatkan istri saya yang sekarang juga bisa dibilang tidak ringan.

    Semoga tidak berlebihan jika saya mengatakan dalam berbagai kesempatan bahwa istri ibarat matahari. Ia bersinar, menerangi dan menghangatkan setiap jiwa yang ada di dalam rumah. Karenanya, tetaplah bersinar wahai matahariku!

    ***

    Dari Sahabat: Dosen pada Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor

     
  • erva kurniawan 8:34 am on 30 May 2014 Permalink | Balas  

    sholatTiga Hal Membawa Keuntungan

    Pada suatu hari Imam Syafi’i ra berkunjung ke rumah Imam Ahmad bin Hambal. Seusai makan malam bersamanya, Imam Syafi’i masuk ke kamar yang telah disediakan untuknya, beliau segera berbaring hingga esok fajar.

    Puteri Imam Ahmad yang mengamati Imam Syafi’i sejak awal kedatangannya hingga masuk kamar tidur, terkejut melihat teman dekat ayahnya itu. Dengan terheran-heran ia bertanya, “Ayah…, Ayah selalu memuji dan mengatakan bahwa Imam Syafi’i itu seorang ulama yang amat alim. Tapi setelah kuperhatikan dengan seksama, pada dirinya banyak hal yang tidak berkenan di hatiku, dan tidak sealim yang kukira.”

    Imam Ahmad agak terkejut mendengar perkataan puterinya. Ia balik bertanya, “Ia seorang yang alim, anakku. Mengapa engkau berkata demikian?”

    sang puteri berkata lagi, “Aku perhatikan ada tiga hal kekurangannya, Ayah. Pertama, pada waktu disuguhi makanan, makannya lahap sekali. Kedua, sejak masuk ke kamarnya, ia tidak shalat malam dan baru keluar dari kamarnya sesudah tiba shalat shubuh. Ketiga, ia shalat shubuh tanpa berwudhu.”

    Imam Ahmad merenungkan perkataan puterinya itu, maka untuk mengetahui lebih jelasnya dia menyampaikan pengamatan puterinya kepada Imam Syafi’i.

    Maka Imam syafi’i tersenyum mendengar pengaduan puteri Imam Ahmad tersebut. Lalu ia berkata, “Ya Ahmad, ketahuilah olehmu. Aku banyak makan di rumahmu karena aku tahu makanan yang ada di rumahmu jelas halal dan thoyib. Maka aku tidak meragukannya sama sekali. Karena itulah aku bisa makan dengan tenang dan lahap. Lagipula aku tahu bahwa engkau seorang pemurah. Makanan seorang pemurah adalah obat, sedangkan makanan orang kikir adalah penyakit. Aku makan semalam bukan untuk kenyang, akan tetapi untuk berobat dengan makananmu itu, ya Ahmad. Sedangkan mengapa aku semalam tidak shalat malam karena ketika aku meletakkan kepalaku di atas bantal tidur, tiba-tiba seakan-akan aku melihat di hadapanku kitab Alloh dan sunnah Rasul-Nya. Dengan izin Alloh, malam itu aku dapat menyusun 72 masalah Ilmu Fiqh Islam sehingga aku tidak sempat untuk shalat malam. Sedangkan kenapa aku tidak wudhu lagi ketika shalat shubuh karena aku pada malam itu tidak dapat tidur sekejap pun. Aku semalam tidak tidur sehingga aku shalat fajar dengan wudhu shalat Isya”.

    ***

    (Abu Abdurrahman Ali – khasanah no.21 th.ix)

     
  • erva kurniawan 8:16 am on 29 May 2014 Permalink | Balas  

    siluet burungAl-Balkhi dan Si Burung Pincang

    Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesalehannya, bernama al-Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishak.

    Pada suatu hari, al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama al-Balkhi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang ditujunya sangat jauh lokasinya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada al-Balkhi, sahabatnya. “Wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?”

    “Dalam perjalanan”, jawab al-Balkhi, “Aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan untuk segera membatalkan perjalanan”.

    “Keanehan apa yang kamu maksud?” tanya Ibrahim bin Adham penasaran.

    “Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak”, jawab al-Balkhi menceritakan, “Aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian bertanya-tanya dalam hati. “Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada di tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa”.

    “Tidak lama kemudian”, lanjut al-Balkhi, “Ada seekor burung lain yang dengan susah payah menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat”.

    “Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu?” tanya Ibrahim bin Adham yang belum mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera.

    “Maka aku pun berkesimpulan”, jawab al-Balkhi seraya bergumam, “Bahwa Sang Pemberi Rizki telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku sekali pun aku tidak bekerja”. Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang saat itu juga”.

    Mendengar penuturan sahabatnya itu, Ibrahim bin Adham berkata, “wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu? Mengapa engkau rela mensejajarkan derajatmu dengan seekor burung pincang lagi buta itu? Mengapa kamu mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup dari belas kasihan dan bantuan orang lain? Mengapa kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku burung yang satunya lagi? Ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup sahabatnya yang memang tidak mampu bekerja? Apakah kamu tidak tahu, bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah?”

    Al-Balkhi pun langsung menyadari kekhilafannya. Ia baru sadar bahwa dirinya salah dalam mengambil pelajaran dari kedua burung tersebut. Saat itu pulalah ia langsung bangkit dan mohon diri kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, “wahai Abu Ishak, ternyata engkaulah guru kami yang baik”. Lalu berangkatlah ia melanjutkan perjalanan dagangnya yang sempat tertunda.

    Dari kisah ini, mengingatkan kita semua pada hadits yang diriwayatkan dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya: “Tidak ada sama sekali cara yang lebih baik bagi seseorang untuk makan selain dari memakan hasil karya tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud ‘alaihis salam makan dari hasil jerih payahnya sendiri” (HR. Bukhari).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:50 am on 25 May 2014 Permalink | Balas  

    kerang mutiaraKalung Mutiara Imitasi

    Ini cerita tentang Muthia, seorang gadis kecil yang ceria berusia Lima tahun.

    Pada suatu sore, Muthia menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, Muthia melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik.

    Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Muthia sangat ingin memilikinya. Tapi… Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik. Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya. “Ibu, bolehkah Muthia memiliki kalung ini ? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi… “

    Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Muthia. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Muthia yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten. “Oke … Muthia, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?”

    Muthia mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya. “Terima kasih…, Ibu”

    Muthia sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau.

    Setiap malam sebelum tidur, ayah Muthia membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya “Muthia…, Muthia sayang ngga sama Ayah ?”

    “Tentu dong… Ayah pasti tahu kalau Muthia sayang Ayah!”

    “Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu…”

    “Yah…, jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil “si Ratu” boneka kuda dari nenek…! Itu kesayanganku juga”

    “Ya sudahlah sayang,… ngga apa-apa !”. Ayah mencium pipi Muthia sebelum keluar dari kamar Muthia.

    Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi, “Muthia…, Muthia sayang nggak sih, sama Ayah?”

    “Ayah, Ayah tahu bukan kalau Muthia sayang sekali pada Ayah?”.

    “Kalau begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu.”

    “Jangan Ayah… tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini..” kata Muthia seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.

    Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk kekamarnya, Muthia sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Muthia rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. “Ada apa Muthia, kenapa Muthia ?”

    Tanpa berucap sepatah pun, Muthia membuka tangan-nya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya.

    “Kalau Ayah mau… ambillah kalung Muthia.”

    Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Muthia. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih… sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Muthia.

    “Muthia… ini untuk Muthia. Sama bukan ? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau.”

    Ya, ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Muthia.

    Demikian pula halnya dengan Alloh SWT terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Muthia. Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Alloh SWT mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik. Semoga bermanfaat, amin.

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 21 May 2014 Permalink | Balas  

    pasirHanya Karena Sebutir Pasir

    Sir Edmund Hillary, penakluk pertama Mount Everest, puncak tertinggi dunia di Pegunungan Himalaya; pernah ditanya wartawan apa yang paling ditakutinya dalam menjelajah alam?

    Hillary mengatakan bahwa dia tidak takut pada binatang buas, jurang yang curam, bongkahan es raksasa atau padang pasir yang luas dan gersang sekalipun!

    Lantas apa? – “Sebutir pasir yang terselip di sela-sela jari kaki,” kata Hillary –

    Wartawan heran, tetapi sang penjelajah melanjutkan kata-katanya, “ Sebutir pasir yang masuk di sela-sela jari kaki sering sekali menjadi awal malapetaka. Ia bisa masuk ke kulit kaki atau menyelusup lewat kuku. Lama-lama jari kaki terkena infeksi lalu membusuk (gangren). Tanpa sadar kakipun tidak bisa digerakkan. Itulah malapetaka bagi seorang penjelajah sebab dia harus ditandu.”

    Harimau, dan binatang buas lainnya adalah binatang yang secara naluriah takut menghadapi manusia. Sedang untuk menghadapi jurang terjal, padang pasir, seorang penjelajah pasti sudah punya persiapan yang memadai. Tetapi jika menghadapai sebutir pasir yang akan masuk ke jari kaki, seorang penjelajah tak mempersiapkannya. Dia cenderung mengabaikannya.

    Jika kita renungkan dengan apa yang dinyatakan Hillary sebenarnya sama dengan kita, yang mengabaikan dosa kecil, seperti mencicipi minuman keras, berdusta, berburuksangka, serta tindakan tercela lainnya yang dianggap sepele.

    Sebab itulah kita akan sering ‘keterusan’ melakukan dosa-dosa kecil yang lambat laun akan menjadi kebiasaan. Dosa kecil itupun akan menjadi dosa besar yang akan merugikan diri pribadi dan lingkungan.

    Dengan melihat potensi kerusakan besar, akibat terbentuk dari dosa-dosa kecil itulah Nabi Muhammad SAW memperingatkan umatnya agar tidak mengabaikan dosa-dosa kecil seraya tidak melupakan amal kebaikan meskipun juga kecil.

    Dalam kisah sufi diceritakan bahwa seorang pelacur masuk surga hanya karena memberi minum anjing yang kehausan. Perbuatan yang cenderung dinilai sangat kecil ternyata di mata Tuhan punya nilai besar karena faktor keikhlasannya.

    Itulah nilai setetes air penyejuk yang diberikan sang pelacur pada anjing yang kehausan.

    Bukankah semua roh yang ada di seluruh jagad ini, termasuk roh anjing tersebut hakekatnya berasal dari Tuhan Yang Maha Pencipta juga?

    (Dari Motivasi_Net)

     
  • erva kurniawan 8:10 am on 17 May 2014 Permalink | Balas  

    agus salimTokoh: H. Agus Salim

    Oleh: PakTani

    Sebagai tokoh perjuangan, ia punya kadar kualitas yang sulit dicari tandingannya. Terutama kecerdasannya, barangkali termasuk jenius. Semua orang yang pernah bicara dengannya, mengakui itu.

    Mohammad Natsir (alm), tokoh Islam termasyhur mengungkapkan, “Kalau kita hendak menggunakan kualifikasi intelektual brilian pada salah seorang putra Indonesia, maka saya rasa yang paling pertama tepat ialah pada Haji Agus Salim.”

    Tokoh tiga jaman yang hingga kini masih hidup, Prof. DR. Roeslan Abdulgani, juga mengakui, “Siapa yang pernah mengenal Oude Heer Salim dari dekat, pasti tertarik oleh nilai isi segala pembicaraannya, yang mencerminkan dua hal, yaitu ketajaman otak dan mendalamnya kehidupan keagamaannya.”

    Fisiknya sih biasa-biasa saja. Bahkan ukurannya temasuk kecil, dan yang tak pernah lupa adalah jenggotnya selalu dipelihara dan rokok kretek yang tak pernah berhenti mengepul dari dua bibirnya. Tapi tubuhnya yang kecil, tidak menjadikan dirinya kecil hati berhadapan dengan orang lain. Justru ia tampak gesit dan selalu mendominasi dalam setiap pembicaraan, seolah tidak memberi kesempatan lawan bicaranya mengungkapkan dua atau tiga patah kata. “Saya mengundang kedua beliau itu bersantap di Ruang Pertemuan Tenaga Pengajar, dan duduk di tengah kedua beliau itu saya pun terperangah,” George Mct. Kahin, profesor di Universitas Cornell Amerika Serikat, mengungkapkan kesaksiannya.

    Yang dimaksud beliau di situ adalah Ngo Dinh Diem, tokoh perjuangan kemerdekaan Vietnam Selatan, dan Agus Salim. Diem telah dikenal sebagai seorang yang senantiasa merajai setiap percakapan.

    “Percakapannya berlangsung dalam bahasa Perancis –bahasa yang paling dimahiri Diem– namun Haji Salim tetap mengungguli Diem, berbicara amat fasihnya, sehingga Diem tidak mendapat peluang sedikit pun!” McT. Kahin melanjutkan kesaksiannya.

    Lain lagi kesan Mohammad Hatta. Di samping kecerdasan, di mata mantan Wakil Presiden RI pertama ini, kekuatan Salim terletak pada keyakinan, ketangkasan, dan ketegasannya membela suatu pendirian yang sudah diambilnya. Setia kawannya juga besar. Ia sanggup menghadapi berbagai kesulitan dengan sabar.

    Dengan segala kelebihannya itu, baik lawan maupun kawan jadi segan kepadanya. Termasuk Belanda. Di antara tokoh perjuangan, Salim termasuk yang belum pernah meringkuk di penjara. Meskipun kritikan-kritikannya kepada Belanda sangat berani dan tajam. “Saya selalu sangat hati-hati akan jangkauan UU penguasa dan berusaha untuk tidak kena jerat,” kata Agus Salim tentang kiatnya.

    Bukan berarti tanpa kelemahan. “Ia kadang kurang sabar untuk mengupas suatu masalah sampai tuntas,” ujar Hatta. Mungkin karena proses berfikirnya yang terlalu cepat sehingga tampak melompat-lompat. Akibatnya, satu masalah belum selesai dikupasnya, sudah pindah ke soal lain. “Ini barangkali pembawaan dari seorang yang jenial,” tambah Hatta.

    Tapi kelemahan yang sungguh mengherankan sebagaimana dicatat Prof Schermerhorn dari Belanda adalah, Salim hidup melarat sepanjang hayatnya!

    Kukuh

    Sebagai orang yang berpendidikan dan berkemampuan tinggi, apalagi ia menjadi pemimpin ternama, agak sulit dipahami bila Salim hidup dalam kemiskinan. Tidak sulit rasanya bila Salim yang menguasai 6 bahasa asing (Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Arab dan Turki) ini ingin hidup enak dan bergelimang harta. Dengan bekerja di pemerintah Belanda, misalnya, tentu ia akan kaya. Toh itu tidak ia lakukan.

    Tahun l925 ia pernah diminta jadi pimpinan redaksi harian Hindia Baroe, milik segolongan orang pribumi dan Belanda. Di tangan Salim Hindia Baroe maju pesat. Tetapi karena tulisan-tulisan Salim yang pedas dan tajam mengkritik Belanda, membuat pemiliknya gerah juga. Mereka minta agar Salim memperlunak kritiknya. Tanpa pikir panjang, esok harinya Salim mengundurkan diri dari jabatannya. “Pendapat saya tentang Pemerintah Hindia Belanda dan kebijaksanaannya, saya tidak bersedia ditawar-tawar,” katanya kepada Mohamad Roem yang menanyakan keputusannya itu.

    Di Jakarta ia bersama keluarganya tinggal dari rumah kontrak yang satu ke rumah kontrak yang lain. Bukan rumah megah di tepi jalan raya, melainkan rumah jelek di gang-gang sempit dan becek. Di antaranya Salim pernah tinggal di daerah Tanah Abang, di Karet, Jatinegara, Gang Kerlonong, Gang Toapekong, Gang Listrik dan banyak lagi. Khususnya di Gang Listrik, di sinilah justru mereka hidup benar-benar tanpa listrik, karena tak kuat membayar sewa listrik.

    Mohamad Roem, orang yang sejak muda dekat dengan Salim menyaksikan sendiri. Salim dan keluarganya pernah tinggal dalam satu ruangan sempit. “Kopor-kopor bertumpuk di pinggir ruangan serta beberapa kasur digulung, sedangkan di tengah ada ruang yang bebas untuk duduk-duduk dan menerima tamu,” tutur Roem. Menderitakah mereka?

    Orang luar yang melihatnya tentu akan menjawab iya. Tapi tidak dengan Salim. Ia adalah seorang ayah yang sangat dekat dan sayang kepada keluarganya –semua anaknya tidak ada yang disekolahkan di luar, tapi dididik sendiri. Bukan tak mampu mengongkosi, tapi karena prinsip.

    Pernah suatu ketika istrinya yang tabah kehabisan uang untuk membeli lauk-pauk. Sambil bergurau dengan anak-anaknya, Salim menyingsingkan lengan baju beramai-ramai membuat nasi goreng. Jadilah seisi rumah riang gembira, sementara anak-anaknya merasa mendapat “traktiran” istimewa dari sang ayah.

    Seorang ayah yang pasrah dan tawakkal juga nampak dari sikapnya yang tenang ketika pernah hendak pindah rumah, namun tak ada uang untuk biaya. “Allah Maha Besar. Kita tentu akan diberi-Nya jalan,” katanya tenang. Tak lama kemudian datang wesel, kiriman pembayaran sesuatu yang tak diduga-duga.

    Dibesarkan Belanda

    Boleh dibilang, sejak remaja Salim dibesarkan Belanda. Di samping menimba ilmu di sekolah Belanda, ia pernah dibimbing secara khusus oleh Brouwer, seorang guru Belanda yang terpikat kepada kecerdasannya. Semasa menempuh pendidikan HBS di Jakarta, ia juga in de kost pada keluarga Belanda bernama Koks. Ayahnya termasuk pula pejabat di pemerintah Hindia Belanda, sehingga hidup Salim relatif tidak mengalami penderitaan karena penjajahan. Lalu mengapa ia kemudian berbalik menentang penjajah Belanda?

    Lahir dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab pada 8 Oktober l884 di Kota Gedang, Minangkabau, Sumatera Barat. Ayahnya adalah seorang Hoofd (jaksa atau kepala jaksa) di Pengadilan Tinggi Riau dan daerah bawahannya. Kedudukan Hoofd jaksa, apalagi bagi penduduk pribumi, ketika itu termasuk tinggi dan sangat terhormat. Itulah sebabnya Salim dan kakaknya bisa diterima di Europese Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa.

    Selama menempuh pendidikan di ELS, prestasi Salim sangat cemerlang. Dalam semua pelajaran, ia mengungguli anak-anak Eropa lainnya. Pun tatkala menempuh Hogere Burger School (HBS) –sekolah setingkat SMA khusus anak-anak Eropa– di Jakarta, Salim yang punya nama asli Masyudul Haq ini tetap unggul. Pada akhir studi, ia berhasil keluar sebagai lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda (Jakarta, Bandung dan Surabaya).

    Sebenarnya ia ingin melanjutkan studi kedokteran di Belanda, tapi kandas karena tiada biaya. Berbagai upaya dilakukan, di antaranya mengajukan beasiswa dan persamaan status kewarganegaraan sederajat dengan bangsa Eropa, namun gagal juga. Kabarnya, Kartini pernah mengusahakan beasiswa untuk Salim tapi juga nihil. Di sinilah titik balik pada diri Salim mulai muncul. Ia mulai tidak senang kepada Belanda yang menjalankan politik diskriminasi.

    Gagal berangkat ke negeri Belanda, Salim kembali ke Riau dan bekerja pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Di sini ia bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris. Sebagai lulusan HBS, ia memang menguasai sejumlah bahasa asing: Belanda, Inggris, Perancis dan Jerman. Untuk pemuda seukuran Salim (21), pekerjaan itu cukup mentereng.

    Namun, lain bagi kedua orang tuanya. Ada sesuatu yang mencemaskan. Di mata kedua orang tuanya, putra kelima dari lima belas bersaudara itu menunjukkan tanda-tanda menyimpang dari nilai-nilai masyarakat ketimuran, lebih-lebih Islam. Bahkan tanda-tanda menyimpang itu sudah dirasakan sejak Salim menempuh pendidikan di HBS.

    Salim sendiri tidak mengelak. Itu sesuai pengakuan Salim ketika memberi kuliah di Cornell University Amerika Serikat tahun l953. Pendidikan di HBS, akunya, telah berhasil menjauhkan dirinya dari ajaran Islam. Setelah lima tahun di HBS, Salim merasa tak dapat berpegang kepada satu agama pun secara sungguh-sungguh. Hanya karena keluarganya termasuk taat beribadah, maka dalam berislam seakan-akan ia sekedar melanjutkan tradisi. Saat itu ia melihat agama hanya sebagai sesuatu yang dibutuhkan oleh orang yang kurang terdidik; kalau tidak, orang bakal memasuki jalan sesat.

    Dalam kondisi iman yang labil seperti itu, datanglah tawaran dari pemerintah Hindia Belanda untuk bekerja di Konsulat Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Atas dorongan orang tuanya, Salim pun berangkat ke Jeddah pada tahun l906 dalam usia 22 tahun. Orang tuanya berharap, selama di Arab Saudi itu Salim bisa kembali memulihkan imannya. Apalagi di sana ada pamannya yang menjadi guru besar sekaligus imam di Masjidil Haram, yakni Syech Ahmad Khatib.

    Namun, selain orang tuanya, ternyata Prof Snouck Hurgronje juga berperan besar atas keberangkatan Salim ke Jeddah itu. Dalam pertemuannya dengan Salim tahun l906 di Jakarta, orientalis terkenal itu menyarankan Salim agar tidak usah melanjutkan studi kedokteran. “Karena menjadi dokter itu bayarannya kecil,” ujar Hurgronje yang lantas menawarkan gagasan yang menurutnya lebih baik. Di mata Hurgronje, Salim adalah seorang intelektual muda yang sangat cerdas dan fikirannya tajam serta punya keberanian luar biasa untuk ukuran orang melayu. Maka atas anjuran Hurgronje pula pemerintah Hindia Belanda menawarkan pekerjaan di konsulat Jeddah. Di sana Salim bertugas sebagai ahli penterjemah dan mengurusi jamaah haji asal Indonesia.

    Terkabul harapan orang tua Salim. Disamping bekerja, Salim tekun mendalami Islam kepada Syech Ahmad Khatib, yang juga menjadi gurunya KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Saat itu, Syech Ahmad terkenal sebagai salah satu tokoh pembaharu dari mazhab Imam Syafi’i.

    Jabatan-jabatan yang pernah diduduki Agus Salim:

    1. Anggota Volksraad l921-l924.
    2. Anggota Panitia 9 BPUPKI mempersiapkan UUD 1945.
    3. Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Syahrir II l946 dan Kabinet III l947.
    4. Tokoh kunci pembuka hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir, 1947.
    5. Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Amir Syarifuddin l947.
    6. Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta l948-l949.

    Sebagai orang yang pernah mendapat gemblengan dari sistem pendidikan barat dan berpengetahuan umum cukup luas, Salim menerima pelajaran dari pamannya dengan sikap kritis. Syech Ahmad meladeni pertanyaan muridnya itu dengan arif dan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot. Itulah yang membuat roh Islam menancap kokoh di sanubari Salim. Islam bagi Salim bukan lagi sebagai warisan, tetapi sudah dilandasi pemahaman yang mendalam.

    Ajaran Islam yang memang menentang penindasan atas manusia, semakin menebalkan sikap antipati Salim kepada Belanda. Apalagi saat itu Muhammad Abduh, intelektual dari Mesir, sedang gencar-gencarnya melancarkan pembaharuan Islam. Gerakan Abduh ini berpengaruh luas di dunia Islam dan membangkitkan negara-negara Islam yang masih banyak dihimpit kaum penjajah.

    Salim kembali ke Tanah Air pada l911. Sempat lima hari bekerja di Kantor Pekerjaan Umum Jakarta, Salim lantas mengundurkan diri dari pegawai pemerintah Hindia Belanda. Ia kemudian kembali ke Kota Gedang mendirikan sekolah dasar HIS. Tahun l915 ia kembali ke Jawa dan tak lama kemudian ia nyebur ke dunia pergerakan lewat Sarekat Islam (SI). (Bas)

    Pemberi Cap Islam di SI

    Sejak masuk Syarikat Islam (SI), peran Salim cukup besar. Bahkan dalam perjalanannya, Salim pernah menjadi tangan kanan pemimpin utama SI, yakni HOS Tjokroaminoto. Dua pemimpin ini seolah menjadi sejoli yang sulit digantikan. Keduanya punya kelebihan dan kelemahan yang saling melengkapi. Tjokro dikenal sebagai pemimpin yang kharismatis, sedang Salim adalah tokoh intelektual Islam yang luas pengetahuannya.

    Menurut Deliar Noer, di dalam bukunya Gerakan Modern Islam di Indonesia, Salimlah yang lebih banyak memberi cap Islam pada SI. “Salim bukan saja seorang yang mengetahui pikiran-pikiran Barat, tetapi dialah pemimpin SI yang paling mengetahui tentang Islam dari sumber aslinya,” tulis Deliar. Berbeda dengan Tjokroaminoto. D.A Rinkes, penasihat untuk Bumiputra yang sering mengadakan perjalanan bersama Tjokroaminoto menilai, “Tjokroaminoto lebih merupakan priyayi yang berpaham bebas daripada seorang Islam yang fanatik.”

    Peranan Salim di SI sangat menonjol terutama dalam merumuskan kebijakan dan strategi perjuangan organisasi. Hal itu tampak saat ia berusaha membersihkan orang-orang PKI yang mulai menyusup ke tubuh SI. Usaha pembersihan itu terkenal dengan istilah “Disiplin Partai”.

    Pertentangan PKI dengan Islam di SI sudah mencuat sejak tahun l917. PKI diwakili Darsono, dan Semaun dari Cabang Semarang, sedang Islam diwakili Agus Salim dan Abdoel Moeis. Sikap Tjokroaminoto sendiri tampak kurang tegas terhadap konflik tersebut. Ia lebih mengutamakan persatuan di tubuh SI ketimbang perbedaan yang menurutnya bukanlah sesuatu yang prinsip. Berbeda dengan Salim. Ia berpendapat, masalah PKI sangatlah prinsip, karena menyangkut akidah.

    Perdebatan sengit tak terelakkan saat digelar Kongres Luar Biasa SI keenam di Surabaya tahun l921, antara PKI dengan Salim. Dua agenda besar dibahas dalam Kongres: masalah disiplin partai dan penegasan asas SI.

    Soal asas Salim menyatakan, “Tidak perlu mencari isme-isme lain yang akan mengobati penyakit gerakan. Obatnya ada di dalam asasnya sendiri, asas yang lama dan kekal, yang tidak dapat dimubahkan orang, sungguhpun sedunia telah memusuhi dengan permusuhan lain. Asas itu adalah Islam.”

    Dalam hal PKI, Salim meminta agar Kongres mengeluarkannya dari SI. Sambil mengutip ayat al-Qur’an Salim menegaskan, “Di dalam al-Qur’an terkandung perintah yang melarang kita bersaudara, yakni berikatan lahir batin dengan orang yang tidak sama keyakinan dengan kita. Karena mereka selalu hendak menjerumuskan kita dan mereka suka bila kita menderita bencana.”

    Menanggapi Salim, Semaun menjawab bahwa SI perlu taktik yang lebih luas. Selama ini, katanya, SI hanya mampu mengumpulkan orang Islam saja buat bekerja bersama-sama membela hak rakyat. Padahal, selain Islam masih ada orang lain yang jumlahnya tidak sedikit. “PKI sudah nyata bisa membawa orang-orang Ambon, Manado, dan lain-lain rakyat Hindia yang tidak beragama Islam. Bilangan mereka tidak sedikit, pengaruhnya harus pula dihargakan. Di sini PKI sudah membuktikan taktiknya, bekerja dengan orang Islam Kristen guna keperluan rakyat.”

    Akan tetapi, semua argumentasi dan pembelaan Semaun dapat dipatahkan Salim dan Moeis. Dalam kongres itu Salim telah menunjukkan dirinya sebagai pemimpin Islam yang tangguh, yang tidak saja menguasai ilmu-ilmu Islam, melainkan juga pemikiran-pemikiran Barat seperti komunisme. Sehingga argumentasi-argumentasi Salim dalam perdebatannya dengan golongan komunis sangat tajam.

    Kongres akhirnya mensahkan keputusan disiplin partai dan Islam sebagai asas SI. Akibatnya, PKI harus keluar dari SI. Tak lama kemudian, Semaun dan Darsono membentuk SI sendiri yang terkenal dengan sebutan “SI Merah”.

    Tahun l934 Tjokroaminoto meninggal dunia, Salim menggantikan sebagai Ketua Umum SI. Setelah itu peran Salim di SI surut, seiring dengan konfliknya dengan Aboekosno. Pokok utamanya adalah garis partai. Salim mengusulkan agar garis kebijaksanaan SI diubah, dari non-kooperatif menjadi kooperatif. Pertimbangannya, demi menyelamatkan SI sendiri. Soalnya pada tahun-tahun itu sudah mulai bertindak keras, terhadap pihak-pihak penentangnya. Tetapi justru karena usulannya itu, ia disingkirkan Aboekosno dari SI.

    Tahun l936, Salim bersama Sangadji membentuk Barisan Penyadar. Setelah Partai Masyumi muncul pasca kemerdekaan, Salim bergabung dengan partai politik terbesar yang pernah dimiliki ummat Islam Indonesia itu.

    Salim wafat 4 November l954 pada usia 70 tahun dan mendapat gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional l961. Salim meninggalkan tujuh anak dan seorang istri bernama Zainatun Nahar Almatsier.

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 14 May 2014 Permalink | Balas  

    Kakek PenjualKakek Penjual Lem

    Pada suatu hari, tepatnya itu hari jum’at. Sekitar pukul 11.45 saya pergi k mesjid belakang kampus untuk menunaikan ibadah sholat jum’at dan dzuhur. Saya berjalan dengan teman kelas yang juga beragama islam untuk menunaikan sholat bersama. Ketika perjalanan ke mesjid sekitar 10 meter dari mesjid terlihat seorang kakek tua yang duduk lemas di pinggiran dinding dan pagar kampus. Sekilas saya berfikir itu seorang pengemis, ketika makin dekat perjalanan saya dengan si kakek tua itu. Saya tergejut ternyata dia pedagang Lem kertas. Sementara saya lihat di kerumunan banyak orang yang lalu lalang, tidak ada satu pun mahasiswa yang mendekati si kakek tua itu dengan maksud membeli barang dagangannya. Hati ini berdegup kencang dengan sedikit sedih melihat kondisi si kakek yang sudah tua. Namun waktu sholat sudah hampir mulai, dengan terpaksa saya harus melanjutkan berjalanan saya ke mesjid dengan maksud nanti setelah sholat saya akan menemui kakek itu.

    Setelah saya menunaikan sholat, saya langsung keluar mesjid dan memakai sepatu saya. Dengan sedikit tergesa-gesa saya langsung menghampiri kakek tua yang ternyata dia juga baru selesai sholat. Dalam hati saya berkata “Ya Allah Hebat sekali kakek ini meskipun dia sudah tua, tetapi dia tetap menjalankan kewajiban sholatnya dengan harus berjalan kaki yang saya rasa diapun susah untuk berjalan”. Akhir nya saya sampai di tempat kakek tua, dan saya langsung berbincang kepada si kakek.

    “Kek,Jualan apa disini”.tanyaku basa-basi untuk memulai perbincangan.

    “Jual Lem kertas cu”. Jawab kakek itu pelan.

    “Berapa kek 1 nya?”. Tanyaku lagi.

    “1500 cu”. Jawab dia singkat.

    “cucu mau beli?” tanyanya.

    “ia kek, oia hari ini kakek sudah laku berapa lemnya?”.tanyaku kembali

    “Kalo kamu jadi beli, kamu pembeli pertama yang membeli dagangan kakek hari ini.”katanya.

    Akupun kaget mendengar jawabannya. Dari sekian banyak mahasiswa yang lewat belom ada 1 orang pun yang membeli barang dagangannya. Karena, untuk kalangan mahasiswa tidak terlalu membutuhkan Lem kertas.

    “Kakek kenapa berjualan? Cucu kakek kemana?”. Bertanya dengan rasa ingin tahu.

    “Kakek sendiri cu sudah 5 tahun lebih kakek hidup sendiri”. Jawabnya sambil meneteskan air mata.

    “Maaf kek kalau saya banyak bertanya, ya sudah saya ambil semua ya kek lem nya” ujarku dengan senang hati sambil mengeluarkan uang 100.000,-.

    Kakek itu pun memelukku sambil mengucapkan terima kasih.

    Saya yakin harga lem itu tidak seberapa, tapi hanya demi kebutuhan makan harian kakek itu pun rela berjualan sepanjang hari untuk melangsungan hidupnya.

     
  • erva kurniawan 4:00 am on 4 May 2014 Permalink | Balas  

    siluet kesendirianJawaban Seorang Murid

    Suatu ketika Syafiq Al Balkhi bertanya kepada muridnya, Hatim Al Asham, “Apakah pelajaran yang dapat engkau petik sejak menemaniku?”

    Mendengar pertanyaan dari sang guru, Hatim menjawab, “Ada enam pelajaran yang dapat aku petik. Pertama, ketika aku melihat manusia selalu mencemaskan masalah rezeki sedangkan mereka bakhil dengan apa yang telah mereka dapat dan tamak dengannya. Karena aku termasuk makhluk yang menjalar di muka bumi, maka aku tidak meresahkan hatiku apa yang telah dijamin Yang Maha Kuasa.”

    Syafiq mendengarkan dengan seksama, “Bagus.” ujarnya.

    “Yang kedua, karena aku melihat semua orang mempunyai teman yang menjadi tempat pengaduannya untuk mengatakan semua permasalahan dan rahasianya, sedangkan mereka tidak membelanya pada waktu temannya susah. Aku menjadikan amal shaleh sebagai temanku agar ia dapat membantuku kepada waktu hisab dan membelaku ketika dihadapkan kepada Alloh.”

    “Bagus,” kata Syafiq lagi, dengan terus menanti uraian kalimat berikutnya dari sang murid.

    “Ketiga, aku melihat setiap orang mempunyai musuh. Aku melihat setiap orang yang menggunjingku bukanlah musuhku, bukan orang yang mendzalimiku, bukan pula orang yang berbuat jahat kepadaku. Tapi orang-orang tersebut telah memberiku keuntungan dari mereka dan akan menanggung dosa-dosaku. Musuhku adalah orang-orang yang apabila aku mentaati Alloh, mereka menggodaku unruk melakukan kedurhakaan. Aku menganggap bahwa mereka itu adalah iblis, nafsu, dunia, dan hawa. Oleh karena itu aku menjadikan mereka sebagai musuhku. Aku akan berhati-hati dengan mereka dan mempersiapkan segala sesuatu untuk memerangi mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka mendekatiku.”

    Safiq masih dengan ketekunannya memperhatikan ucapan muridnya itu. “Bagus,” katanya lagi.

    “Keempat, aku melihat setiap makhluk hidup dalam keadaan diburu, dan pemburu tersebut adalah malaikat maut. Maka aku mempersiapkan diri untuk menemuinya dan akan segera menyambutnya tanpa penghalang.”

    “Bagus.” ungkap Syafiq lagi.

    “Kelima, aku melihat semua manusia selalu dalam keadaan saling menyayangi dan saling membenci. Lalu aku mempelajari sebab dari sayang dan benci. Oleh karena itu aku membuang jauh-jauh dariku sifat hasad. Kemudian aku mencintai semua manusia sebagaimana aku mencintai diriku sendiri.”

    Syafiq berucap lagi menanggapi perkataan muridnya, “Bagus!”

    “Keenam, aku melihat setiap orang yang bertempat pasti akan berpisah dengan tempatnya. Maka aku melihat bahwa tempat kembali semua orang yang menetap tersebut adalah kubur. Oleh karena itu aku mempersiapkan untuknya segala persiapan berupa amal-amal shaleh untuk menetap di tempatku yang baru tersebut sedangkan tidak ada tempat dibelakangnya kecuali surga dan neraka.”

    Untuk kesekian kalinya, Syafiq berkata lagi, “Bagus.” ujarnya seraya menutup pembicaraan. *** (Irfanul Hakim)

     
  • erva kurniawan 2:01 am on 2 May 2014 Permalink | Balas  

    bukuBuku Merah Itu

    Kubaca kembali lembar pertama buku lusuh dihadapanku. Seperti tak percaya kubalik lembar demi lembarnya, untuk memastikan kembali isinya. Ya Allah, memang benar ini tulisanku!!!

    Buku merah itu kutemukan di tumpukan paling bawah, di laci meja belajarku. Sejak pagi hari tadi, hingga sekarang pukul 11 siang, aku sibuk membereskan kamarku yang berantakan tak terurus. Penyebab utamanya tak lain karena kesibukanku di kantor yang memuncak beberapa bulan ini.

    Kembali kuamati buku yang ujungnya telah termakan kutu buku. Masing-masing halamannya hanya terbagi dalam tiga kolom. Pertama, kolom hari dan tanggal, selanjutnya aktivitas, dan terakhir keterangan. Kucermati baris pertamanya. Jumat, 14 Juli 2000. Sholat subuh, dhuhur, ashar, magrib dan isya’. Sholat sunnah: tahajud, rawatib dan dhuha. Baca Al Qur’an: 3 juz, wirid: istighfar 500 kali, Tasbih, Tahmid dan Tahlil, masing-masing 100 kali, Al Ma’tsurat pagi dan sore, Surat Yaasin, Waqiah dan Ar Rahman. Selanjutnya, kulihat kolom keterangan. Tampak semua tanda centang berada di kolom ”terlaksana”, yang merupakan bagian dari kolom keterangan. Lalu, tanganku yang kotor oleh debu, refleks membalik lembar demi lembarnya yang tak menampakkan perbedaan, selain menampakkan peningkatan aktivitas ibadah, dari hari ke hari. Dan buku itu, berakhir ditulis pada tanggal 24 Agustus 2000. Subhannallah… mataku nanar, dan setetes air beningnya tak bisa kutahan lagi.

    ***

    Otakku berputar untuk mengingat tahun berapa saat ini. Robb, sudah tiga tahun hamba berpaling dari-Mu. Dan aku seperti tak merasakannya. Kesibukan yang kemudian berubah menjadi rutinitas dan membuat hatiku mengeras karena malah menyukainya, telah mengungkungku selama ini. Mungkin banyak orang berkata, bahwa catatan ibadahku tadi bukan apa-apa karena amalan sunnahnya hanya beberapa. Namun bagiku, saat itu adalah puncak kedekatanku dengan-Nya. Tuhan Pencipta Alam Semesta. Karena berikutnya, aku menjauh dan semakin menjauhi-Nya.

    Astaghfirullahal adziim.

    Ingatanku kembali menyusuri tiga tahun yang tak berasa. Aku ingat, kejauhanku dengan Robb-ku diawali dengan beratnya melaksanakan ibadah wajib tepat waktu. Lantas bersambung ke ibadah sunnah yang mulai hilang satu-satu. Ujungnya, sholat lima waktu hanya sekedarnya. Sekedar menggugurkan kewajiban. Sementara berdoa, bukan lagi kurasakan sebagai sarana komunikasi dengan Allah Yang Maha Pemurah, melainkan hanya aliran kata-kata yang tak pernah kuresapi maknanya. Air mata pun tak pernah lagi mengucur deras, saat tangan ini menengadah. Apalagi wirid, karena seusai salam kubaca, mukena pun langsung kulepas. Astaghfirullahal adziim…

    ***

    Ya Allah, tiga tahun yang sia-sia. Kerugian yang tiada terhitung. Tuhanku, hamba ingin bangkit. Terlalu banyak titik dosa yang terukir di lembaran hidup hamba, tak sebanding dengan amalan kebajikan yang hamba lakukan. Robb, beri hamba kekuatan untuk bangkit menuju-Mu… agar hati ini kembali tenang. Agar segala yang hamba lakukan mendapat ridho-Mu… Hidup hamba gersang, Tuhanku. Tak ada air sejuk yang mengaliri jalan yang hamba tempuh… tak ada tempat mengadu seperti dulu Ya Allah… hamba terlalu memanjakan diri hamba untuk tidur semalaman, hanya karena alasan terlalu lelah. Padahal, kelelahan yang sesungguhnya adalah saat ini, saat hamba jauh dari-Mu. Ya Allah… ampunkan dosa hamba, Robb. Terima hamba kembali Ya Allah… jangan biarkan hamba jauh dari nur-Mu Yaa Rohim. Hamba ingin sekali kembali, berkhalwat dengan-Mu setiap malam dan menunaikan segala perintah-Mu seperti dulu lagi. Hamba rindu kepada-Mu Ya Allah… teramat rindu.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:12 am on 29 April 2014 Permalink | Balas  

    ilmu-adalah-pelitaMenyombongkan Ilmu

    Seorang ahli hikmah berpetuah, “Jangan sekali-kali membicarakan suatu ilmu pada tempat dan keadaan yang tidak cocok, apalagi menyombongkannya.”

    “Seperti pernah dialami seorang sarjana,” kata ahli hikmah itu. “Ketika naik perahu menuju sebuah pulau kecil nun jauh di seberang pantai, ia menerangkan bahwa sukses hidup manusia bergantung pada empat jenis ilmu : ilmu hitung, ilmu ekonomi, ilmu sosial, dan ilmu politik.”

    “Apakah anda menguasai ilmu hitung ?” tanya sang sarjana.

    “Tidak.” jawab tukang perahu.

    “Waduh bahaya, kalau begitu, sukses hidup anda berkurang 25%. Tapi tentu anda mengetahui ilmu ekonomi …?”

    “Tidak juga,” jawab tukang perahu.

    “Berarti sukses hidup Anda tinggal 50%. Itupun jika Anda menguasai ilmu sosial dan ilmu politik.”

    “Kedua ilmu itupun saya tidak tahu,” tukang perahu tersenyum kecil.

    “Gawat ! Kalau begitu, sukses hidup Anda mungkin tak ada lagi,” komentar sang sarjana sambil geleng-geleng kepala.

    Tiba-tiba datang angin puting beliung. Ombak besar pun menggulung hingga perahu terbalik. Tukang perahu dan sang sarjana terlempar ke laut. Sambil berenang santai, tukang perahu berteriak kepada sang sarjana yang timbul tenggelam tanpa daya.

    “Apakah Anda menguasai ilmu berenang, wahai Tuan Sarjana ?”

    “Ti … ti … ti …dak, toloong … “ teriak sarjana itu ketakutan.

    “Kalau begitu, 100% sukses hidup Anda hilang sudah,” gumam tukang perahu.

    Wassalaam

    ***

    Kutipan dari : Percikan Hikmah. Berdialog dengan Hati Nurani

    H. Usep Romli HM.

     
  • erva kurniawan 2:24 am on 27 April 2014 Permalink | Balas  

    jagungJagung

    Seorang wartawan mewawancarai seorang petani untuk mengetahui rahasia di balik buah jagungnya yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian. Petani itu mengaku ia sama sekali tidak mempunyai rahasia khusus karena ia selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaiknya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunannya.

    “Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?” tanya sang wartawan.

    “Tak tahukah anda?,” jawab petani itu. “Bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya mendapatkan jagung yang baik pula.”

    Begitu pula dengan hidup kita. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya menjadi berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula. Nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang disentuhnya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:43 am on 24 April 2014 Permalink | Balas  

    siluet pulangSketsa Kehidupan

    Seorang gadis bernama Li-Li menikah dan tinggal bersama suami dan ibu mertua. Dalam waktu singkat, Li-Li menyadari bahwa ia tidak dapat cocok dengan ibu mertuanya dalam segala hal. Kepribadian mereka berbeda, dan Li-Li sangat marah dengan banyak kebiasaan ibu mertua. Li-Li juga dikritik terus-menerus. Hari demi hari, minggu demi minggu, Li-Li dan ibu mertua tidak pernah berhenti konflik dan bertengkar. Keadaan jadi tambah buruk, karena berdasarkan tradisi Cina, Li-Li harus taat kepada setiap permintaan sang mertua.

    Semua keributan dan pertengkaran di rumah itu mengakibatkan suami yang miskin itu ada dalam stress yang besar.

    Akhirnya, Li-Li tidak tahan lagi dengan temperamen buruk dan dominasi ibu mertuanya, dan dia memutuskan untuk melakukan sesuatu.

    Li-Li pergi menemui teman baik ayahnya, Mr. Huang, yang menjual jamu. Li-Li menceritakan apa yang dialaminya dan meminta kalau-kalau Mr. Huang dapat memberinya sejumlah racun supaya semua kesulitannya selesai.

    Mr. Huang berpikir sejenak dan tersenyum dan akhirnya berkata, Li-Li, saya akan menolong, tapi kamu harus mendengarkan dan melakukan semua yang saya minta.

    Li-Li menjawab, “Baik, saya akan melakukan apa saja yang anda minta.” Mr. Huang masuk kedalam ruangan dan kembali beberapa menit kemudian dengan sekantong jamu.

    Dia memberitahu Li-Li, “Kamu tidak boleh menggunakan racun yang bereaksi cepat untuk menyingkirkan ibu mertuamu, karena nanti orang-orang akan curiga. Karena itu saya memberimu sejumlah jamu yang secara perlahan akan meracuni tubuh ibu mertuamu. Setiap hari masakkan daging atau ayam dan kemudian campurkan sedikit jamu ini. Nah, untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mencurigaimu pada waktu ia meninggal, kamu harus berhati-hati dan bertindak dangan sangat baik dan bersahabat. Jangan berdebat dengannya, taati dia, dan perlakukan dia seperti seorang ratu.”

    Li-Li sangat senang. Dia kembali ke rumah dan memulai rencana pembunuhan terhadap ibu mertua.

    Minggu demi minggu berlalu, dan berbulan-bulan berlalu, dan setiap hari, Lili melayani ibu mertua dengan masakan yang dibuat secara khusus. Li-Li ingat apa yang dikatakan Mr. Huang tentang menghindari kecurigaan, jadi Li-Li mengendalikan emosinya, mentaati ibu mertua, memperlakukan ibu mertuanya seperti ibu-nya sendiri dengan sangat baik dan bersahabat.

    Setelah enam bulan, seluruh rumah berubah. Li-Li telah belajar mengendalikan emosinya begitu rupa sehingga hampir-hampir ia tidak pernah meledak dalam amarah atau kekecewaan. Dia tidak berdebat sekalipun dengan ibu mertuanya, yang sekarang kelihatan jauh lebih baik dan mudah ditemani.

    Sikap ibu mertua terhadp Li-Li berubah, dan dia mulai menyayangi Li-Li seperti anaknya sendiri. Dia terus memberitahu teman-teman dan kenalannya bahwa Li-Li adalah menantu terbaik yang pernah ditemuinya. Li-Li dan ibu mertuanya sekarang berlaku sepertu ibu dan anak sungguhan.

    Suami Li-Li sangat senang melihat apa yang telah terjadi.

    Satu hari, Li-Li datang menemui Mr. Huang dan minta pertolongan lagi. Dia berkata, “Mr. Huang, tolonglah saya untuk mencegah racun itu membunuh ibu mertua saya. Dia telah berubah mencaji wanita yang sangat baik dan saya mengasihinya seperti ibu saya sendiri. Saya tidak ingin dia mati karena racun yang saya berikan.”

    Mr. Huang tersenyum dan mengangkat kepalanya. “Li-Li, tidak usah khawatir. Saya tidak pernah memberimu racun. Jamu yang saya berikan dulu adalah vitamin untuk meningkatkan kesehatannya. Satu-satunya racun yang pernah ada ialah didalam pikiran dan sikapmu terhadapnya, tapi semua sudah lenyap oleh kasih yang engkau berikan padanya.”

    Teman, pernahkah engkau menyadari bahwa sebagaimana perlakukanmu terhadap orang lain akan sama dengan apa yang akan mereka lakukan terhadap kita?

    Pepatah China berkata: Orang yang mengasihi orang lain akan dikasihi.

    ***

    1. Dunia itu racun, zuhud itu obatnya.
    2. Harta itu racun, zakat itu obatnya.
    3. Perkataan yang sia-sia itu racun, zikir itu obatnya.
    4. Seluruh umur itu racun, taat itu obatnya.
    5. Seluruh tahun itu racun, Ramadhan itu obatnya.

    “Sesungguhnya Syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan melalaikan kamu dari mengingati Allah dan sembahyang, maka maukah kamu berhenti. (Berhenti daripada mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak diridhai oleh Allah)” (Al-Maaidah A.91)

    “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendah diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara (senantiasa) diwaktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (Al-A’raaf A.205)

    “Wahai anak Adam, habiskanlah waktumu beribadat kepadaKu, maka Daku akan lapangkan kamu daripada kehendak-kehendakmu, Daku akan hapuskan kemiskinanmu. Jika tidak akan Ku bebani kamu dengan urusan-urusan dan tugas-tugas yang sibuk. Serta kerjakanlah amal-amalan kebajikan supaya kamu jaya didunia dan selamat sampai ke akhirat.” (Al-Hajj A.44)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:09 am on 16 April 2014 Permalink | Balas  

    ayahKasih Yang Sebenarnya

    Suatu malam, di sebuah stasiun radio, sedang berlangsung acara dimana orang- orang berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang semula tercurah pada tugas statistik beralih ketika seorang wanita bercerita tentang ayahnya. Wanita ini adalah anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di pinggiran kota Jakarta. Sejak kecil ia sering dimarahi oleh ayahnya. Di mata sang ayah, tak satupun yang dikerjakan olehnya benar.

    Setiap hari ia berusaha keras untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan ayahnya, namun tetap saja hanya ketidakpuasan sang ayah yang ia dapatkan. Pada waktu ia berumur 17 tahun, tak sepatah ucapan selamat pun yang keluar dari mulut ayahnya. Hal ini membuat wanita itu semakin membenci ayahnya. Sosok ayah yang melekat dalam dirinya adalah sosok yang pemarah dan tidak memperhatikan dirinya. Akhirnya ia memberontak dan tak pernah satu hari pun ia lewati tanpa bertengkar dengan ayahnya.

    Beberapa hari setelah ulang tahun yang ke-17, ayah wanita itu meninggal dunia akibat penyakit kanker yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun kecuali pada istrinya. Walaupun merasa sedih dan kehilangan, namun di dalam diri wanita itu masih tersimpan rasa benci terhadap ayahnya.

    Suatu hari ketika membantu ibunya membereskan barang-barang peninggalan almarhum, ia menemukan sebuah bingkisan yang dibungkus dengan rapi dan di atasnya tertulis “Untuk Anakku Tersayang”.

    Dengan hati-hati diambilnya bingkisan tersebut dan mulai membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan dan sebuah buku yang telah lama ia idam-idamkan. Di samping kedua benda itu, terdapat sebuah kartu ucapan berwarna merah muda, warna kesukaannya. Perlahan ia membuka kartu tersebut dan mulai membaca tulisan yang ada di dalamnya, yang ia kenali betul sebagai tulisan tangan ayahnya.

    Ya Allah,

    Subhanallah,Terima kasih karena Engkau mempercayai diriku yang rendah ini Untuk memperoleh karunia terbesar dalam hidupku

    Kumohon Ya Allah, Jadikan buah kasih hambaMu ini

    Orang yang berarti bagi sesamanya dan bagiMu Jangan kau berikan jalan yang lurus dan luas membentang

    Berikan pula jalan yang penuh liku dan duri Agar ia dapat meresapi kehidupan dengan seutuhnya

    Sekali lagi kumohon Ya Allah, Sertailah anakku dalam setiap langkah yang ia tempuh Jadikan ia sesuai dengan kehendakMu

    Selamat ulang tahun anakku Doa ayah selalu menyertaimu “Dari Ayah yang Selalu Menyayangimu, sayang”

    Meledaklah tangis sang anak usai membaca tulisan yang terdapat dalam kartu tersebut. Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Dalam pelukan ibunya, ia menceritakan semua tentang bingkisan dan tulisan yang terdapat dalam kartu ulang tahunnya. Ibu wanita itu akhirnya menceritakan bahwa ayahnya memang sengaja merahasiakan penyakitnya dan mendidik anaknya dengan keras agar sang anak menjadi wanita yang kuat, tegar dan tidak terlalu kehilangan sosok ayahnya ketika ajal menjemput akibat penyakit yang diderita……..

    Pada akhir acara, wanita itu mengingatkan para pemirsa agar tidak selalu melihat apa yang kita lihat dengan kedua mata kita. Lihatlah juga segala sesuatu dengan mata hati kita. Apa yang kita lihat dengan kedua mata kita terkadang tidak sepenuhnya seperti apa yang sebenarnya terjadi.

    “Kasih seorang ayah, seorang ibu, saudara-saudara, orang-orang di sekitar kita, dan terutama kasih Allah dilimpahkan pada kita dengan berbagai cara. Sekarang tinggal bagaimana kita menerima, menyerap, mengartikan dan membalas Kasih Yang Sebenarnya……………” kata wanita tersebut menutup acara pada malam hari itu.

    ***

    Penulis – Tidak Diketahui

    Sumber – Tidak Diketahui

    Kiriman – Seorang Sahabat

     
  • erva kurniawan 6:13 am on 6 April 2014 Permalink | Balas  

    nasehat-quran1Mengapa saya memilih Islam

    Farouk B. Karai (Zanzibar)

    Saya memeluk agama Islam sebagai buah dorongan jiwa saya sendiri dan karena besarnya kecintaan dan penghargaan saya kepada Rasul Islam Muhammad s.a.w. Hati saya telah dicengkeram oleh perasaan-perasaan itu sejak lama secara spontan. Tambahan lagi, saya tinggal di Zanzibar, dimana banyak sahabat-sahabat saya yang beragama Islam telah memberi kesempatan kepada saya untuk mempelajari dan mengerti Islam secukupnya. Maka secara diam-diam saya telah membaca sebahagian tulisan tentang Islam, karena takut ketahuan oleh keluarga saya. Pada bulan Desember 1940 saya telah menemukan diri saya telah siap menghadapi dunia, lalu saya umumkan ke-Islaman saya. Sejak waktu itu mulailah terjadi pemboikotan dan tentangan dari pihak keluarga maupun orang lain dalam masyarakat Persi yang sebelumnya memang saya tergolong dari padanya. Lama sekali kisah kesulitan-kesulitan yang harus saya lalui.

    Keluarga saya dengan keras menentang saya memeluk agama Islam, dan mereka telah mempergunakan berbagai cara yang dikiranya dapat menyulitkan saya. Akan tetapi sejak cahaya iman tumbuh dalam jiwa saya, tidak ada satupun kekuatan yang mampu menghalangi saya untuk menempuh agama yang halus yang telah saya pilih, yakni jalan iman kepada Allah yang Satu dan kepada Rasul-Nya, Muhammad s.a.w. Saya tegak keras bagaikan batu-batu Gibraltar menghadapi segala musibah dan kesulitan yang disebabkan oleh famili saya berulang kali. Ke-Imanan saya kepada Allah, kepada kebijaksanaanNya dan kepada takdir-Nya telah memantapkan langkah-langkah saya menerobos segala kesulitan itu.

    Saya telah mempelajari tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Gujarti yang telah banyak menolong saya, dan saya dapat mengatakan tanpa satu ketakutanpun bahwa tidak ada satupun Kitab dari agama lain yang dapat menandinginya. Al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab Suci yang sempurna. Ajaran-ajarannya mudah dan menyerukan kecintaan, persaudaraan, persamaan dan kemanusiaan. Sungguh Al-Qur’an itu suatu Kitab Suci yang mengagumkan, dan mengikuti ajaran-ajarannya merupakan jaminan kejayaan kaum Muslimin untuk selama-lamanya.

    ***

    Sumber: Mengapa Kami Memilih Islam

     
  • erva kurniawan 2:41 am on 2 April 2014 Permalink | Balas  

    kerja kerasDimanakah Sumber Rizkiku

    Inur bukanlah seorang pengangguran. Dia muslimat rajin, mandiri dan berbakti pada orang tuanya. Semenjak SMA, dia sudah bekerja sebagai pramuniaga di Pekanbaru. Pulang sekolah dia shalat Dhuhur, makan siang terus jaga toko. Sambil nunggu pelanggan, dia memanfaatkan waktu sempit itu untuk membaca buku pelajaran. Jam sembilan malam toko tutup. Dia pulang, membantu ibunya nyuci piring, makan dan sebelum tidur dia kerjakan PR jika memang ada PR dari gurunya. Begitulah kesehariannya dia jalani selama tiga tahun di SMA. Ketika teman-teman SMA-nya pada jingkrak-jingkrak karena lulus SMA, dia justru mengerutkan dahi. Adiknya yang masih SMP sebentar lagi masuk SMA. Orang tuanya tidak mungkin lagi membiayai. Sementara dengan gaji sebagai pramuniaga tidak akan cukup.

    Akhirnya Inur memutuskan pergi ke Batam dengan harapan mendapatkan gaji lebih besar. Sesampainya di Batam dia bekerja di perusahaan swasta dengan gaji Rp. 390.000,-. Walaupun dia tinggal di rumah liar dengan dinding papan, rumah diatas pinggiran laut dengan aroma sekitar yang kurang bersahabat, dia tidak pernah mengeluh. Target utamanya dia bisa ngirim uang ke orang tua dan bisa membiayai adiknya sekolah. Baru kerja tiga bulan di Batam, tiba-tiba matanya berkunang-kunang. Saya sempat menyarankan sahabat baik saya itu untuk memeriksa ke dokter mata. Dia tidak mau karena takut biayanya mahal dan menolak bantuan saya karena dia tidak mau dikasihani orang apapun alasannya.

    Tiga hari kunang-kunangnya belum juga sembuh. Pada suatu pagi teman sekamarnya menepuk-nepuk pundaknya untuk membangunkannya. Badannya dingin dan kaku. Berulang kali temannya menggoyang-goyang badannya, tapi tidak ada respon balik. Di cek nafas dan degup jantungnya dan ternyata… innalillahi wa inna ilai roji’uun. Dia kembali ke pangkuan Sang Robbi dalam usia 19 tahun. Usia yang sangat muda sekali. Akhirnya jenazah Inur dipulangkan ke Pekanbaru dengan biaya Rp. 10 juta. Jauh lebih mahal daripada gaji yang dia kumpulkan selama tiga bulan ini (Rp. 1.160.000,-).

    Lalu dimanakah sumber rizki itu berada ? Kenapa Inur yang berusaha mendekati sumber rizkinya kok malah mendekati sumber ajalnya? Inilah pertanyaan menarik yang menjadi rahasia Allah. Manusia hanya bisa berusaha, menganalisa dan berdo’a. Allah memberi pahala kepada manusia berdasarkan usaha dan keikhlasan menjalankannya, bukan berapa banyak hasil yang dapat diraih.

    Rizki yang banyak kadang tidak selalu baik buat seorang hamba. Jika rizki yang banyak jatuh pada hamba yang suka bersedekah dan berzakat, maka rizki itu menjadi jalan pembuka pintu surga untuknya. Tapi sebaliknya, jika rizki yang banyak justru mengantarkannya ke tempat pelacuran, judi dan kemaksiatan lain; maka nerakalah muara akhir baginya. Allah Maha Tahu seberapa banyak ukuran rizki bagi setiap hambanya. Karena itu, marilah kita perbaiki niat dan cara kerja kita. Setiap berangkat kerja, ucapkan ” Saya niat mencari yang halal karena Allah”. Mudah-mudahan niat ini menjadi awal terbukanya pintu amal, terlepas dari kesuksesan dan kegagalan yang kita raih.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 1 April 2014 Permalink | Balas  

    iga mawarniIga Mawarni :”Islam Lebih Realistis “

    (Pengalaman Ruhani / Penyanyi : Iga Mawarni)

    Sejak kecil aku dididik di lingkungan Katolik. Di mata teman-teman aku termasuk Katolik fanatik. Kemanapun aku pergi, senantiasa memperkenalkan keyakinanku. Setelah bersosialisasi di bangku kuliah, aku lebih fair. Di kampus aku senang diskusi sama teman-teman seangkatan yang latar belakangnya berbeda – baik suku maupun agama. Dengan diskusi wawasanku kian terbuka. Dan dari pola pikir yang cukup demokratis itu kami senantiasa menghindari debat kusir. Segala yang dibicarakan berdasar referensi jelas. Bagiku itu menambah semangat membuka Alkitab. Sekaligus bikin catatan kaki buat persiapan diskusi sama temen-temen di setiap kesempatan. Ternyata semakin aku cermat mengkaji Alkitab, sering kujumpai poin-poin yang meragukan. Akhirnya aku bertanya sama teman seiman yang lebih ngerti isi Alkitab. Bahkan sama beberapa pendeta. Setiap aku bertanya, aku berusaha memposisikan diri sebagai orang awam yang ingin belajar agama, bukan sebagai orang yang seiman dengannya. Ternyata jawaban mereka justru bikin hatiku nggak puas. Seiring dengan keraguanku aku pelan-pelan menutup Alkitab. Aku ingin belajar yang lainnya.

    Tapi aku nggak langsung mempelajari Islam. Karena aku merasa ada jurang begitu dalam di antaranya (Islam-Kristen). Melalui sejumlah buku aku melanglang. Aku pelajari agama Hindu, lalu Budha. Namun hati nuraniku tetap ragu ketika sampai pada konsep ketuhanan. Sekalipun ajarannya bagus sekali. Eh, mentok-mentoknya aku pelajari juga ajaran Islam.

    Sejujurnya aku gengsi. Antara ogah dan ingin tahu terus bergelora dalam diriku. “Kenapa mesti Islam?” hatiku memprotes. Langkah pertama aku baca cerita para nabi melalui buku-buku tafsir. Alasanku, Islam dan Kristen itu historinya sama. Kecuali tentang kerasulan Isa AS dan Muhammad SAW. Di Kristen Nabi Isa utusan terakhir. Tapi dalam Islam ada lagi nabi yaitu Nabi Muhammad SAW. Sebagai manusia biasa, aku melihat bahwa al Qur’an itu lebih manusiawi. Artinya segala pertanyaan ada jawabannya. Ada hukum sebab akibat. Kenapa dilarang begini? Karena bisa berakibat begini. Itu yang bikin aku tertarik masuk Islam.

    Menurutku, landasan awal seseorang meyakini suatu kepercayaan itu karena buku besarnya (kitab). Melalui itu kita dapat bersentuhan langsung dengannya. Bagiku itu sudah jadi pegangan kuat. Sedangkan di agama lain, aku lihat banyak ayat yang ditulis oleh orang-orang pada masa itu. Dan aku lihat beberapa surat dalam Alkitab yang menceritakan kejadian sama tetapi versinya berbeda. Buatku hal semacam itu merupakan kasus besar. Karena kitab suci itu ternyata sudah disentuh oleh tangan manusia. Sedangkan ajaran Islam lebih realitis. Karena Al-Qur’an diwahyukan sebagai suatu keharusan. Sedangkan sunah Rasul lain lagi. Yaitu bersifat nggak mengikat. Ini lebih manusiawi.

    Proses hijrahku menjadi muslim nggak begitu mulus. Apalagi keluargaku Nasrani aktif yang fanatik. Aku mengucapkan dua kalimat syahadat pada tanggal 23 Maret 1994 di Malang, Jawa Timur. Padahal aku kuliah di Jakarta. Memang semasa pencarian, aku punya sohib di kota apel itu. Dia nggak bersedia mengajari tentang Islam, melainkan hanya menunjukkan seseorang yang menurutnya lebih tepat. Yaitu Kiai Zulkifli dan Pak Amir.

    Ternyata salah seorang dari mereka juga muallaf. Banyak pengalaman religiusnya yang bikin aku terkesan. Disamping memantapkan niatku masuk Islam. Cobaannya, ibuku aktivis kegiatan gereja. Karenanya aku mengupayakan agar keislamanku nggak diketahuinya dalam kurun waktu dua tahunan. Ternyata beliau tahu lebih awal dari yang aku rencanakan. Sebagai anak pertama pasti ibuku menaruh harapan besar terhadapku. Begitu tahu anaknya berbeda keyakinan, tentu batinnya terpukul. Itu cobaanku yang paling besar. Dimana aku merasa takut kalau ibu marah.

    Tapi begitu semuanya sudah terbuka, aku pasrah sama Allah. Aku tetap menempatkan diri sebagai anak, yang harus senantiasa menghormatinya. Aku bersyukur karena akhirnya sikap mereka sudah lebih baik. Tapi selama “perang dingin” berlangsung aku nggak pernah mau menyinggung soal agama. Kalau hari besar agama baik natal atau lebaran aku sengaja nggak kumpul sama keluarga. Aku tahu, mereka kecewa terhadapku. Kalau aku hadir dalam hari besar mereka, tentu ada perasaan nggak enak. Namun komunikasi tetap jalan. Aku senantiasa mengunjungi orang tua. Alhamdulillah, pada lebaran beberapa tahun lalu, ibu menemuiku. Aku anggap ini blessing. Lebih dari itu, semua ini sudah diatur oleh Allah Swt. Aku yakin itu.

    Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

    Semoga bermanfaat

    ***

    Witono Slamet

     
  • erva kurniawan 7:31 am on 27 March 2014 Permalink | Balas  

    nabi-muhammad-rasulullah-sawDan Rasulullah Menuju Padanya

    Sosok berwajah cahaya itu berjalan perlahan. Wajahnya bulat, bening, teduh dengan mata bersinar seakan menampilkan gemintang. Gemintang dambaan umat sepanjang jaman. Ya, Rasulullah, salawat dan salam tercurah padamu, ya thala ‘al badru.

    Hanya rasa tak percaya berkecamuk di pikiranku, mungkin juga pikiran orang-orang di sekelilingku saat diumumkan bahwa pertemuan tersebut akan dihadiri Rasulullah. Benarkah? Lalu kudengar senandung zikir di sekitarku. Terus tak putus putus.

    Sosok itu terus berjalan dengan postur tegap, senyum tak henti menghiasi wajah langitnya. Semua orang di sekeliling, juga aku, berusaha menggapai sinar matanya. Berusaha menyalami beliau. Namun Rasulullah terus berjalan seakan hanya menuju satu tujuan. Semua mata mengikuti nabi akhir jaman itu. Siapakah yang dituju Rasul tercinta? Siapakah orang beruntung itu? Siapakah?

    Kemudian Rasul berhenti di depan orang itu, tersenyum dengan mata penuh cinta, menyalami dan menepuk bahunya. Semua yang ada kembali mendengungkan dzikir. Penuh syukur dan takjub.

    Lalu aku pun tersentak! Tanganku bergetar ketika dinihari itu aku terbangun dari tidur dan mengingat mimpi yang baru saja aku alami. Kubangunkan suamiku dan kuceritakan mimpi itu. Suamiku menangis terharu. Ia memelukku, kemudian kami berdua sujud syukur dan salat malam.

    Jujur kuakui, aku bukan ahli ibadah, yang dapat tenggelam bermunajat dalam khusyu. Aku masih harus banyak didorong dan dimotivasi baik oleh teman-teman maupun suami untuk meningkatkan amalan-amalan sunnah. Pun ketika siang hari sebelum aku bermimpi itu, aku berpuasa ayamul bidh, sebuah program menghidupkan ibadah sunnah dalam keluargaku.

    Ah, mimpi itu.. Rasa tak percaya sesaat memenuhi relung hatiku. Tetapi kebahagiaan sejuk merembesi dadaku. Benarkah? Rasanya tak pantas aku melihat senyum Rasulullah dalam mimpi tersebut. Rasanya tak pantas aku bisa melihat sosok al-Amin itu, meski hanya dalam mimpi. Bukankah hanya mereka yang memiliki tingkat keimanan yang tinggi yang mendapat rezeki semulia ini? Seperti Zainab al-Ghazali, seorang aktifis wanita pergerakan Islam di Mesir yang tertangkap dan dipenjarakan rezim Gamal Abdul Naser karena berdakwah. Beliau adalah pejuang Islam yang telah mempersembahkan dirinya untuk Islam. Pada suatu malam dalam penjara yang dingin beliau bermimpi berjumpa Rasulullah Saw.

    Aku? Belum ada yang bisa kupersembahkan untuk Islam. Hidupku masih disibuki dengan urusan keduniaan dan kepentingan-kepentingan jangka pendek. Sungguh aku tak sanggup menceritakan mimpi ini. Tetapi aku yakin akan kebaikan Allah, dan senantiasa berharap semoga Allah berkenan menerima amalku yang masih sedikit agar mampu bangkit dan terus memperbaiki diri.

    Sedangkan orang yang disalami Rasulullah dalam mimpi itu…. Siapakah dia? Persentuhanku dengan orang itu hanya beberapa kali saja. Aku lebih banyak mendengar dari orang lain mengenai kebaikan-kebaikan beliau. Seorang ustadz yang ramah dan jenaka, memiliki integritas yang baik, dan sering kali membuat orang menangis saat mendengar nasehatnya.

    Satu hal yang juga selalu diingat banyak orang adalah kebiasaan beliau bersedekah setiap hari. Tak ada hari dilewati beliau tanpa berdakwah di jalan-Nya. Sampai kemudian kanker hati mulai menggerogoti tubuhnya. Terus menggerogoti, hingga beliau harus menjalani beberapa kali operasi. Namun, seperti yang kudengar dari orang-orang, kesabaran selalu menghiasi hari-hari beliau meski sakit mendera. Bahkan sedekah terus beliau lakukan meski sedang sakit.

    Kurang lebih dua minggu setelah mimpi itu aku mendengar kabar beliau wafat. Dari kabar itu pula aku mendengar bahwa begitu banyak pelayat yang datang ke rumah beliau. Bahkan salat jenazah pun sampai dilakukan beberapa tahap karena masjid tak mampu menampung mereka yang ingin menyalatkan beliau. Ah, kemudian aku sadar. Allahu a’lam. Mimpiku itu mungkin perantara bahwa Rasullullah mencintai sosok itu. Dan bahwa Allah memang lebih sayang pada hamba-Nya yang terbaik, dan mengambil kembali beliau ke sisiNya. Ya, beliau seorang kader Partai Keadilan. Pada kepengurusan pertama Partai Keadilan beliau berada di DPP, Departemen Kaderisasi.

    Beliaulah, yang sebelum ruh lepas dari raga, memberikan tiga wasiat bagi orang di sekelilingnya: tingkatkan hubungan silaturahmi, konsisten di jalan lurus, dan pergauli serta perbaiki masyarakat agar menjadi lebih baik. Beliau yang ada dalam mimpiku, yang disalami serta dirangkul oleh Rasulullah itu adalah Ustadz Ahmad Madani.

    ***

    (Rahmadiyanti Rusdi, seperti diceritakan Dewi Fitri Lestari)

    Dari buku “Bukan di Negeri Dongeng”

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 26 March 2014 Permalink | Balas  

    sajadah1Ada Sajadah Panjang Terbentang

    Lagu Bimbo dengan judul tersebut membuat saya merenung akan hubungan saya dengan Allah swt. Saya ingin tahu bagaimana sebenarnya posisi saya di sisi Tuhan. Seorang sufi berkata, “jika anda ingin tahu bagaimana posisi anda di sisi Tuhan, lihatlah di mana posisi Tuhan di hati anda!”

    Saya pun mencoba melihat ke dalam hati saya. Bisakah saya merasakan Tuhan hadir di hati saya? Entahlah.Saya memang bukan seorang sufi. Tapi saya percaya bahwa Tuhan semestinya hadir dalam semua perbuatan saya. Ketika saya sholat dan puasa, saya tahu Tuhan hadir dalam hati saya. Namun ketika saya berangkat kerja, ke luar dari rumah, saya tak bisa memastikan apakah masih saya bawa Tuhan dalam aktivitas saya.

    Apakah Tuhan hadir ketika saya disodori uang komisi oleh rekan sekantor? Apakah Tuhan hadir ketika saya selipkan selembar amplop agar urusan saya menjadi lancar? Apakah Tuhan juga hadir ketika saya ombang-ambingkan mereka yang datang ke kantor saya, terlempar dari satu meja ke meja yang lain.

    Lagu Bimbo tersebut mengingatkan saya bahwa hidup ini bagaikan sajadah panjang yang terbentang,dari buaian bunda sampai ke liang lahat. Seharusnya semua aktivitas yang saya lakukan di sajadah panjang ini membawa saya untuk selalu mengingat kehadiran-Nya.

    Mengapa Tuhan hanya saya bawa dan saya resapi kehadiran-Nya ketika saya berada di masjid, dan tiba-tiba Tuhan hilang ketika saya berada di luar masjid. Kalau saja lagu Bimbo tersebut saya terjemahkan ke dalam bahasa para khatib Jum’at: “Apapun aktivitas kita, seharusnya kita selalu ingat keberadaan Allah. Itulah makna dzikrullah; mengingat Allah; itu jugalah makna ibadah.”

    Kalau saya diperbolehkan menerjemahkan lagu Bimbo itu dengan bahasa al-Qur’an, saya teringat satu ayat suci, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” Sayang, penfsiran saya akan kata ibadah masih terbatas pada ibadah ritual. Sayang sekali, sajadah saya tak panjang terbentang. Sajadah saya tak mampu masuk ke gedung-gedung pencakar langit, ke pusat perbelanjaan, ke tempat hiburan dan ke gedung sekolah.

    “Tak kulihat suatu benda, kecuali di ujungnya kulihat ada Tuhan!” Ah, ucapan sufi ini lagi-lagi membuat saya malu. Saya tahu bahwa bukan maksud sufi tersebut untuk mengatakan dia telah melihat Tuhan, tapi yang ingin dia ceritakan adalah Tuhan selalu hadir di sekelilingnya.

    Ada sajadah panjang terbentang.

    ***

    Dari Sahabat: Nadirsyah Hosen

     
    • Istanamurah 10:39 am on 26 Maret 2014 Permalink

      sangat menyetujuinya gan,,kadang kita diwajibkan untuk menjalankan syariat agama yang kita yakini namun penting juga untuk mengenal tuhan dan keberadaannya agar sajadah kita juga panjang terbentang, :D

  • erva kurniawan 1:27 am on 10 March 2014 Permalink | Balas  

    tahajjudKawan, Pernahkah Merasa Seberdosa Ini?

    Lelah. Rasanya terlalu lelah untuk terus berdo’a kepada Allah. Hari ini entah sudah kesekian kalinya aku meminta, tapi tak jua Dia mengabulkan permintaanku. Pekan lalu, saat ku membutuhkan pertolongan Nya, Ia tak segera mengulurkan tanganNya. Ah, jangankan yang baru-baru ini, puluhan bahkan ratusan pintaku bulan-bulan sebelumnya, juga tahun sebelumnya, kalau kuingat-ingat, belum juga terkabulkan.

    Tapi, apa salahnya malam ini ku mencoba berdialog kembali dengan Nya, semoga saja ia mau mendengar. Baru saja kususun jemari ini, belum sempat baris kata-kata yang sebelumnya sudah kurangkai indah di dalam benakku deras terburai keluar dari mulutku, mataku menangkap tajam jemariku yang bergerak …

    Astaghfirullaah … seketika dadaku sesak. Berdegub kencang. Ingin kuhapus kata-kataku diatas. Tapi sudah terlanjur tumpah. Aku malu telah lancang kepadaNya dan menihilkan semua yang telah diberikan-Nya.

    Pernahkah aku meminta kepada Nya untuk memberikan kepadaku jemari yang lengkap dan indah, sehingga aku bisa banyak berbuat dengan kesempurnaan penciptaan ini? Aku tak pernah meminta sebelumnya agar Ia melengkapi tanganku ini dengan jemari, aku juga tak pernah berdo’a untuk berbagai kesempatan hingga detik ini aku masih bisa menggerakkan, dan menyentuh dengan jemariku ini.

    Harus kusentuh lagi beberapa anggota tubuh ini. Kemudian aku berdiri, subhanallah, aku masih bisa berdiri. Padahal aku tak pernah sebelumnya meminta agar terus ditetapkan memiliki dua kaki sempurna, tapi Dia masih terus memberikannya. Lalu aku berjalan, Alhamdulillah aku masih bisa berjalan. Keluar kamar, ke ruang tengah, kulihat masih terlihat sederet makanan di meja makan, kucicipi sepotong tahu. Enak, ya enak. Tapi kenapa aku masih bisa merasakan nikmatnya sepotong tahu? Juga segarnya menyeruput sebotol juice buah yang kuambil dalam kulkas? Yang pasti, tak pernah barisan kata pinta terucap tuk sekedar memohon agar tetap diberikan kemampuan merasa.

    Kuterus berjalan. Ke kamar mandi. Ada air. Kusentuh segarnya air itu. aah, sejak kapan aku merasakan kesegaran ini. Mungkinkah ketika terlahir dulu sempat aku meminta kepadaNya agar dikaruniakan kesegaran macam ini? atau … hhhhhh, kuhirup udara malam yang sejuk. Eh, apa pernah aku minta Dia tak menyetop pasokan udara untukku? Bahkan … aku masih hidup, aku masih hiduuup (teriakku) … siapa yang tahu dan bisa menerka sampai kapan aku masih bisa menikmati hidup. Tapi yang jelas tak pernah sekalipun keluar dari mulut ini rangkaian kata: “Allah, terima kasih atas semua nikmat Mu, sampai hari ini.”

    Semakin kutahu, jika pepohonan dijadikan pena, dan laut menjadi tinta, niscaya takkan pernah cukup, tuk menuliskan semua nikmat-Nya

    ***

    (Diambil dari artikel eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 3:22 am on 9 March 2014 Permalink | Balas  

    tahajjudKekasihku Mendekatkan Aku Pada Tuhan

    Oleh: Ningsih

    Malam semakin beranjak tinggi, gelap telah sempurna mewarnai seluruh lagit, walau bintang bertaburan, namun tidak jua mampu mengusir gelapnya malam. Afwan, mengetuk pintu rumahnya sedikit keras, tapi sepertinya tidak ada yang handak membukakan pintu. Berkali-kali-kali ucapan salam ia lontarkan, Namun tak ada sahutan dari dalam. “Ehm…Mungkin sudah tidur” guman afwan dalam hati.

    Afwan segera merogoh, sela-sela jendela rumahnya. ” Alhamdulillah, ini dia kuncinya”. Ucapnya bersyukur. Segera ia buka pintu dan masuk ke dalamnya. Ia dapati , Syifa istrinya tertidur pulas. Sejenak ia terpana, kemudian di dekati dan dipandanginya wajah istrinya. Gurat-gurat lelah tampak memenuhi wajahnya. “Maafkan aku Dik. Kesibukanku dalam da’wah, membuat aku sering mengabaikanmu. Terima kasih telah menjadi istri yang baik , terima kasih atas dukungan yang selalu kau berikan dalam setiap langkah da’wahku. Maaf, bila aku belum dapat menjadi seorang suami yang baik.” Dialog Afwan dalam hati.

    Afwan, merasa begitu bersyukur, mendapatkan istri seorang Syifa, yang mendukung penuh aktifitas da’wahnya. Sehingga ia lebih bersemangat melaksanakan kewajibannya untuk beramar ma’ruf nahi munkar.

    Suami atau istri merupakan salah satu sisi kehidupan kita manusia, bahkan merupakan orang yang paling dekat dengannya. Dengan pasangannyalah manusia dapat berbagi rasa, bercerita tentang suka cita atau duka cita. Mereka akan berusaha bersama-sama menyelesaikan permasalahan kehidupan yang kerap kali menyinggahi mereka. Mereka akan berusaha menjadikan rumah tangganya dipenuhi oleh harum semerbaknya bunga kebahagiaan. Karena sesungguhnya, kebahagiaan rumah tangga adalah sisi kebahagiaan terpenting dalam kehidupan manusia. Mereka akan berusaha menjadikan rumah tangga mereka sebagai sarana untuk menggapai ridho Tuhannya.

    Sebelum menikah, barangkali agama dalam diri sang istri atau suami belum terurus. Maka dengan menikah, akan ada kerja sama untuk saling menjaga agar agama dalam diri keduanya tidaklah merosot. Alangkah indahnya jika masing-masing dapat membantu teman hidupnya untuk memperbaiki agamanya. Mereka membantu dengan penuh kelembutan dan kelapangan hati.

    Suami istri bisa saling membantu untuk memperbaiki agama mereka. Mereka bisa mengajarkan apa-apa yang tidak diketahui pasangannya . Mereka bisa saling mengingatkan. Di sinilah ada ladang amal shalih bagi keduanya, ketika tingkatan ilmu agama mereka sederajat maupun salah satu dari mereka lebih tinggi.

    Rasulullah pernah berkata “Allah merahmati seseorang yang bangun pada malam hari lalu menunaikan sholat. Dia bangunkan istrinya, dan jika istri enggan, maka dia percikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam hari untuk menunaikan sholat. Dia bangunkan suaminya, dan apabila suaminya enggan, maka ia percikkan air ke wajahnya (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah).

    Jika sebelum menikah jiwa sulit terjaga dan mata sangat berat untuk memicing mudah-mudahan setelah menikah ada perbaikan. Paling tidak bisa lebih bangun lebh awal. dan jika sebelum menikah bisa bangun malam, mudah-mudahan kecantikan istri tidak menjadikan kaki berat untuk melangkah. Berdampingan dengan istri yang cantik dan sangat kita cintai memang menyenangkan hati. Adalah perjuangan berat untuk bisa merenggangkan jarak selama beberapa saat diantara malam gelap dan dingin.

    Islam memerintahkan kepada suami dan istri untuk melestarikan mahligai pernikahannya, memupuk rasa cinta cinta dan mempererat ikatan kasih diantara mereka, sampai saat yang dikehendaki oleh Allah atau sampai tiba ajla mereka. Oleh karena itu, prinsip-prinsip dan nasihat-nasihat sama-sama ditujukan kepada suami dan istri pada tingkat yang sama. Masing-masing di tuntut untuk memperlakukan pasangannya dengan baik.

    Allah memerintahkan seorang suami untuk berperilaku baik serta lembut kepada sang istri yaitu dengan memberi nasihat bila keliru, berbicara dengan baik, tidak memberi beban berat kepada istri dalam mengurus diri dan anak-anaknya, tidak menelantarkan nafkah nya, menyediakan keperluan istri untuk meningkatkan ilmu dan intelektualnya, dan lain-lain hal yang bermanfaat bagi kehidupan agama istri. Demikian juga istri terhadap suaminya, ia harus melayani kebutuhan suaminya dengan penuh ketulusan, mengurus anak-anak suami, memelihara harta dan martabat suami, dan memenuhi kepentingan lain suaminya yang bermanfaat bagi kehidupan keluarga.

    Suami juga diperintahkan untuk bersabar. Termasuk bersabar disini adalah tidak menari-cari kekurangan istrinya dan mengambil hikmah dari apa yang tidak disenanginya. Hal ini perlu sebab adakalanya suatu hal yang tidak disenangi oleh suami dari istri justru merupakan kunci kebaikan bagi pasangan tersebut. Misalnya, istri memiliki sifat cerewet. Sifat sering membuat suami sebal. Akan tetapi, adakalanya sifat cerewet ini bermanfaat bagi suami karena bisa menjadi pengontrol terhadap kelalaian suami. Dan Allah pun berfirman: “…………….Dan bergaulah dengan mereka secara baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah), karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Q.S. An- nisaa’ : 19)

    Demikianlah, sebelumnya manusia adalah seorang diri, kemudian Allah takdirkan manusia saling berpasang-pasangan, agar terjalin cinta kasih diantara mereka. Dengan energi cinta itulah manusia dapat saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

    Semoga anda dan istri anda merupakan pasangan yang saling memberikan motivasi untuk kebaikan dunia dan akhirat anda. Amin (nsh)

    ***

    Referensi :

    • Mencapai Pernikahan Barakah, M. Fauzil Adhim.1998
    • Petunjuk Pernikahan dalam Islam, M. Thalib
     
  • erva kurniawan 4:18 am on 8 March 2014 Permalink | Balas  

    zakatKisah Seorang Penunda Zakat

    Oleh: Yopi BurhanJul

    Assalamu’alaikum,

    Insya Allah saya akan menceritakan pengalaman seorang temanku, sebut saja namanya Fulan. Kisah ini terjadi di Batam.

    Sebenarnya Fulan bukan tipe orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Bulan-bulan sebelumnya dia selalu mengeluarkan zakat dari gajinya. Tetapi satu bulan terakhir dia menunda-nundanya.

    Pada suatu saat Fulan bersama istrinya pergi ke kota. Sampai pada saat pulangnya mereka naik taxi. Setelah membayar, turun taxi dan jalan kaki beberapa langkah, baru diketahui bahwa istrinya merasa kehilangan dompet. Dengan segera Fulan mengejar taxi tadi yang diduga kuat dompetnya tertinggal di taxi. Telah beberapa lama mengejar, tidak ditemukan juga. Pulanglah Fulan dengan perasaan sedih.

    Sampai di rumah baru terpikir oleh batinnya, “astaghfirullahal ‘adziimm, mungkin ini akibat menunda-nunda zakatku..” Dengan segera besoknya Fulan membayarkan zakatnya.

    Apa yang terjadi selanjutnya? Tanpa disangka-sangka besoknya tertempel pengumuman di perusahaan tempat istrinya bekerja: DITEMUKAN DOMPET, YANG MERASA KEHILANGAN HARAP MENGHUBUNGI SECURITY” dengan tertulis dompet itu atas nama istrinya.

    Segera Fulan menghubungi alamat si penemu ke rumahnya. Setelah di uji sebentar oleh si penemu, diberikanlah dompetnya. Diperiksanya isi dompet tersebut. Alhamdulillah…..isinya tidak ada yang berkurang sedikitpun, baik ATM, kartu sampai uangnya.

    Subhanallah, Allahuakbar, Laailaahaillallah, Muhammadurrasuulullah

    Betapa meruginya orang yang menahan zakatnya. Mereka mengira itu bisa mengekalkan kebahagiaannya. Mungkin bisa jadi Allah tidak langsung mengambilnya secara langsung. Mungkin bisa dari kesehatannya, selalu membengkak kebutuhannya, bahkan keluarganya. Belum lagi panasnya setrika akhirat sudah menunggu kelak. Sungguh Allah maha mengetahui apa di balik hati manusia.

    Saya mohon maaf kalau ada kesalahan dalam penyampaian.

     

     
  • erva kurniawan 7:42 am on 4 March 2014 Permalink | Balas  

    sakitPerjalanan Jauh Kita yang Sesungguhnya

    Sangat merugilah orang yang menjadikan dunia fana ini tujuan hidupnya. Sedangkan Rasulullah bersabda, “….Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya…”

    Betapa indah dan bijaksanannya perumpamaan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah terminal kehidupan sementara; hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya. Subhanallah….

    **

    Nurah, saudara perempuanku nampak pucat dan kurus sekali. Tetapi seperti biasa, ia masih membaca Al-Qur’anul Karim. Tika ingin menemuinya, pergilah ke mushallanya. Di sana engkau akan mendapatinya sedang ruku’, sujud dan menengadahkan ke langit. Itulah yang dilakukannya setiap pagi, sore dan di tengah malam hari. Ia tidak pernah jenuh.

    Berbeda dengannya, aku selalu asyik membaca majalah-majalah seni, tenggelam dengan buku-buku cerita dan hampir tak pernah beranjak dari video. Bahkan, aku sudah identik dengan benda yang satu ini. Setiap video diputar pasti di situ ada aku. Karena ‘kesibukanku’ ini, banyak kewajiban yang tak bisa kuselesaikan bahkan, aku suka meninggalkan shalat.

    Setelah tiga jam berturut-turut menonton video di tengah malam, aku dikagetkan oleh suara adzan yang berkumandang dari masjid dekat rumahku. Sekonyong-konyong malas menggelayuti semua persendianku, maka aku pun segera menghampiri tempat tidur. Nurah memanggilku dari mushallanya.

    Dengan berat sekali, aku menyeret kaki menghampirinya. “Ada apa Nurah?,” tanyaku. “Jangan tidur sebelum shalat Shubuh!”, ia mengingatkan. “Ah. Shubuh kan masih satu jam lagi. Yang baru saja kan adzan pertama” Begitulah, ia selalu penuh perhatian padaku. Sering memberiku nasihat, sampai akhimya ia terbaring sakit. ia tergeletak lemah di tempat tidur.

    “Hanah!,” panggilnya lagi suatu ketika. Aku tak mampu menolaknya. Suara itu begitu jujur dan polos.

    “Ada apa saudariku?”, tanyaku pelan.

    “Duduklah!” Aku menurut dan duduk di sisinya. Hening… Sejenak kemudian Nurah melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. “Tiap jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempumnkan pahalamu.” (Al Imran: 185)

    Diam sebentar, lalu ia bertanya: “Apakah kamu tidak percaya adanya kematian?” “Tentu saja percaya!”

    “Apakah kamu tidak percaya bahwa amalmu kelak akan dihisab, baik yang besar maupun yang kecil?” “Percaya. Tetapi bukankah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sementara aku masih muda, umurku masih panjang!” “Ukhti, apakah kamu tidak takut mati yang datangnya tiba-tiba? Lihatlah Hindun, dia lebih muda darimu, tetapi meninggal karena sebuah kecelakaan. Lihat pula si fulanah…Kematian tidak mengenal umur. Umur bukan ukuran bagi kematian seseorang. Aku menjawabnya penuh ketakutan. Suasana tengah malam yang gelap mencekam, semakin menambah rasa takutku.

    “Aku takut dengan gelap, bagaimana engkau menakut-nakutiku lagi dengan kematian? Di mana aku akan tidur nanti?” Jiwa asliku yang amat penakut betul-betul tampak. Kucoba menenangkan diri aku berusaha tegar dengan mengalihkan pembicaraan pada tema yang menyenangkan, rekreasi.

    “Oh ya, kukira ukhti setuju pada liburan ini kita pergi rekreasi bersama?”, pancingku. “‘Tidak, karena barangkali tahun ini aku akan pergi jauh, ke tempat yang jauh… mungkin… umur ada di tangan Allah, Hanah”, ia lalu terisak. Suara itu bergetar, aku ikut hanyut dalam kesedihan.

    Sekejap, langsung terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang ganas. Para dokter, secara rahasia telah mengabarkan hal itu kepada ayah. Menurut analisa medis, para doker sudah tak sanggup, dan itu berarti dekatnya kematian. Tetapi, siapa yang mengabarkan ini semua padanya?, atau ia memang merasa sudah datang waktunya?,

    “Mengapa termenung? Apa yang engkau lamunkan?”, Nurah membuyarkan lamunanku. “Apa kau mengira, hal ini kukatakan karena aku sedang sakit? Bahkan boleh jadi umurku lebih panjang dari umur orang-orang sehat. Dan kamu, sampai kapan akan terus hidup? Mungkin 20 tahun lagi, 40 tahun atau… Lalu apa setelah itu? Kita tidak berbeda. Kita semua pasti akan pergi, entah ke Surga atau ke Neraka. Apakah engkau belum mendengar ayat:

    “Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh ia telah beruntung” (Ali Imran: 185)

    “Sampai besok pagi,” ia menutup nasihatnya. Aku bergegas meninggalkannya menuju kamar. Nasihatnya masih tergiang-ngiang di gendang telingaku, “Semoga Allah memberimu petunjuk, jangan lupa shalat!”

    Pagi hari…Jam dinding menunjukkan angka delapan pagi. Terdengar pintu kamarku diketuk dari luar. “Pada jam ini biasanya aku belum mau bangun” pikirku. Tetapi di luar terdengar suara gaduh, orang banyak terisak. “Ya Rabbi, apa yang tejadi?”

    “Mungkin Nurah…?, “firasatku berbicara. Dan benar, Nurah pingsan, ayah segera melarikannya ke rumah sakit. Tidak ada rekreasi tahun ini. Kami semua harus menunggui Nurah yang sedang sakit. Lama sekali menunggu kabar dari rumah sakit dengan harap-harap cemas.

    Tepat pukul satu siang, telepon di rumah kami berdering. Ibu segera mengangkatnya. Suara ayah di seberang, ia menelpon dari rumah sakit. “Kalian bisa pergi ke rumah sakit sekarang!,” demikian pesan ayah singkat. Kata ibu, tampak sekali ayah begitu panik, nada suaranya berbeda dari biasanya.

    “Mana sopir…?” kami semua terburu-buru: Kami menyuruh sopir menjalankan mobil dengan cepat. Tapi ah, jalan yang biasanya terasa dekat bila aku menikmatinya dalam pejalanan liburan, kini terasa amat panjang, panjang dan lama sekali. Jalanan macet yang biasanya kunanti-nanti sehingga aku bisa menengok ke kanan-kiri, cuci mata, kini terasa menyebalkan. Di sampingku, ibu berdo’a untuk keselamatan Nurah.

    “Dia anak shalihah. Ia tidak pernah menyia-nyia kan waktunya. Ia begitu rajin beribadah”, ibu bergumam sendirian. Kami turun di depan pintu rumah sakit. Kami segera masuk ruangan. Para pasien pada tergeletak lunglai. Di sana sini terdengar lirih suara rintihan. Ada yang baru saja masuk karena kecelakaan mobil, ada yang matanya buta, ada yang mengerang keras. Pemandangan yang membuat bulu kudukku merinding. Kami naik tangga eskalator menuju lantai atas. Nurah berada di ruang perawatan intensif. Di depan pintu terpampang papan peringatan: “Tidak boleh masuk lebih dari satu orang!” Kami terperangah. Tak lama kemudian, seorang perawat datang menemui kami. Perawat memberitahu kalau kini kondisi Nurah mulai membaik, setelah beberapa saat sebelumnya tak sadarkan diri.

    Di tengah kerumunan para dokter yang merawat, dari sebuah lubang kecil jendela yang ada di pintu, aku melihat kedua bola mata Nurah sedang memandangiku. Ibu yang berdiri di sampingnya tak kuat menahan air matanya. Waktu besuknya habis, ibu segera keluar dari ruang perawatan intensif. Kini tiba giliranku masuk. Dokter memperingatkan agar aku tidak banyak mengajaknya bicara. Aku diberi waktu dua menit.

    “Assalamu ‘alaikum!, bagaimana keadaanmu Nurah?, tadi malam, engkau baik-baik saja. Apa yang terjadi denganmu?”, aku menghujaninya dengan pertanyaan. “Alhamdulillah, aku sekarang baik-baik saja, jawabnya dengan berusaha tersenyum. “Tapi, mengapa tanganmu dingin sekali, kenapa?” aku menyelidik. Aku duduk di pinggir dipan. Lalu kucoba meraba betisnya, tapi ia segera menjauhkannya dari jangkauanku. “Ma’af, kalau aku mengganggumu!”, aku tertunduk. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingat firman Allah Ta’ala: “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kami dihalau”. (Al-Qiyamah: 29-30)

    Nurah melantunkan ayat suci Alquran. Aku menguatkan diri. Sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak menangis dihadapan Nurah, aku membisu. ” Hanah, berdoalah untukku. Mungkin sebentar lagi aku akan menghadap. Mungkin aku segera mengawali hari pertama kehidupanku diakhirat…Perjalananku amat jauh tapi bekalku sedikit sekali”. Pertahananku runtuh. Air mataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya. Ayah mengkhawatirkan keadaanku. Sebab mereka tak pernah melihatku menangis seperti itu. Bersamaan dengan tenggelamnya matahari pada hari itu. Nurah meninggal dunia…. Suasana begitu sepat berubah. Seperti baru beberapa menit aku bebincang-bincang dengannya. Kini ia telah meninggalkan kami buat selama-selamanya. Dan, ia tak akan pernah bertemu lagi dengan kami. Tak akan pernah pulang lagi. Tidak akan bersama-sama lagi. Oh Nurah…

    Suasana dirumah kami digelayuti duka yang amat dalam. Sunyi mencekam. Lalu pecah oleh tangisan yang mengharu biru. Sanak kerabat dan tetangga berdatangan melawat. Aku tidak bisa membedakan lagi, siapa-siapa yang datang, tidak pula apa yang mereka percakapan. Aku tenggelam dengan diriku sendiri. Ya Allah, bagaimana dengan diriku? Apa yang bakal terjadi pada diriku? Aku tak kuasa lagi, meski sekedar menangis. Aku ingin memberinya penghormatan terakhir. Aku ingin menghantarkan salam terakhir. Aku ingin mencium keningnya.

    Kini, tak ada sesuatu yang kuingat selain satu hal. Aku ingat firman Allah yang dibacakannya kepadaku menjelang kematiannya. “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)”. Aku kini benar-benar paham bahwa, “Kepada Tuhanmullah pada hari itu kamu dihalau”

    “Aku tidak tahu, ternyata malam itu, adalah malam terakhir aku menjumpainya di mushallanya. Malam ini, aku sendirian di mushalla almarhumah, terbayang kembali saudara kembarku, Nurah yang demikian baik kepadaku. Dialah yang senantiasa menghibur kesedihanku, ikut memahami dn merasakan kegalauanku, saudari yang selalu mendo’akanku agar aku mendapat hidayah Allah, saudari yang senantiasa mengalirkan air mata pada tiap-tiap pertengahan malam, yang selalu menasihatiku tentang mati, hari perhitungan…. ya Allah! Malam ini adalah malam pertama bagi Nurah dikuburnya. Ya Allah, rahmatilah dia, terangilah kuburnya.

    Ya Allah, ini mushaf Nurah,… ini sajadahnya… dan ini.. ini gaun merah muda yang pernah dikatakannya padaku, bakal dijadikan kenangan manis pernikahannya. Aku menangisi hari-hariku yang berlalu dengan sia-sia. Aku menangis terus-menerus, tak bisa berhenti. Aku berdo’a kepada Allah semoga Dia merahmatiku dan menerima taubatku. Aku mendo’akan Nurah agar mendapat keteguhan dan kesenangan di kuburnya, sebagaimana ia begitu sering dan suka mendo’akanku. Tiba-tiba aku tersentak dengan pikiranku sendiri. “Apa yang terjadi jika yang meninggal adalah aku? Bagaimana kesudahanku?” Aku tak berani mencari jawabannya, ketakutanku memuncak. Aku menangis, menangis lebih keras lagi. Allahu Akbar, Allahu Akbar…Adzan fajar berkumandang.

    Tetapi, duhai alangkah merdunya suara panggilan itu kali ini. Aku merasakan kedamaian dan ketentraman yang mendalam. Aku jawab ucapan muadzin, lalu segera kuhamparkan lipatan sajadah, selanjutnya aku shalat Shubuh. Aku shalat seperti keadaan orang yang hendak berpisah selama-lamanya. Shalat yang pemah kusaksikan terakhir kali dari saudari kembarku Nurah. Jika tiba waktu pagi, aku tak menunggu waktu sore dan jika tiba waktu sore, aku tidak menunggu waktu pagi.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:23 am on 2 March 2014 Permalink | Balas  

    Mimpi 2Mimpi

    Dia Cantik. Kadang-kadang mengenakan rok atau celana jeans sedengkul. Kaos masa kini dilengkapi dengan vest denim pendek, sepatu kets putih dan kaos kaki. Rambutnya kadang diikat di atas tengkuk, kadang dikepang dengan pita-pita banyak. Hampir setiap pagi, saat berangkat ke kantor saya bertemu dengannya. Beberapa kali saya lihat dia duduk di atas mobil yang terparkir di pinggir jalan. Bergaya ala fotomodel, sambil mengisap rokok yang terselip diantara jari-jemarinya. Dia selalu tampak sibuk dengan dunianya sendiri.

    Pernah saya bertanya pada tukang warung rokok di pinggir jalan tempat perempuan itu biasa mangkal. Dimana rumahnya? Apa yang terjadi dengannya? Tapi tak seorang pun tahu. Yang mereka tahu adalah, wanita itu gila. Melihat tingkah lakuknya, saya menduga, mungkin dulu ia pernah bermimpi menjadi seorang bintang, fotomodel, peragawati atau apapun yang berbau selebritis. Terlihat dari pakaiannya yang selalu trendi dan gayanya yang bak fotomodel. Entahlah!

    ***

    Mimpi. Siapa sih manusia di dunia ini yang tak memiliki mimpi? Sesederhana apa pun -dan meskipun orang tak menyebutnya dengan mimpi- saya yakin setiap kita punya mimpi. Punya keinginan yang suatu saat ingin diwujudkan.

    Dulu ketika kecil saya suka membayangkan menjadi anak orang kaya, memiliki rumah megah seperti rumah sahabat saya. Ketika saya menginjak remaja, saya bermimpi menjadi selebriti, meskipun sekadar menjadi selebriti tingkat kelas, atau anak gaul sekolah yang dikenal teman-teman. Saat memasuki bangku kuliah, saya mimpi menjadi mahasiswa terbaik, ikut berbagai aktivitas kampus, dan menguasai berbagai bahasa asing selain Inggris. Saat saya selesai kuliah, belasan impian, juga idealita, saya miliki dan menjadi obsesi. Dapat hadiah gebyar BCA, Kodok dari Citibank, dan segudang lainnya.

    Namun jika saya telusuri, nyaris semua kenyataan hidup yang saya jalani berbeda jauh dan bertolak belakang dengan impian dan idealita saya. Mengapa?

    Pertama, mungkin kurang memiliki motivasi berprestasi , Saya kurang kuat berusaha, kurang tekun menjalani, kurang sabar melewati tantangan. Mudah capek, mudah ngambek, mudah patah arang. Padahal, mungkin saja usaha saya belum ada apa-apanya dibanding mereka yang berhasil meraih impiannya.

    Kedua, kurang mengenali potensi diri: potensi otak, jiwa, materi. Impian saya yang terlalu tinggi sementara modal dan pemahaman pas-pasan, tidak sesuai ndengan kapasitas. Modal semangat saja tidaklah cukup untuk meraih mimpi. Alih-alih dapat merealisasikan impian, semangat yang terlalu besar menjadikan kita ambisius dan terobsesi kemudian stress.

    Ketiga, takdir! Apa yang saya impikan adalah apa yang saya ketahui baik untuk saya pada waktu itu, menurut batas pengetahuan saya, menurut paradigma saya. Namun semestinya saya menyadari, Allah jauh lebih tahu apa yang baik bagi saya dan apa yang tidak. Allah telah menetapkan sesuatu bagi hambaNya, sesuai ukuran dan kapasitas. Kita hanya diperintahkan untuk berusaha semaksimal mungkin.

    Ketika Allah telah menampakkan realitas hidup, tibalah masanya kita berdamai dengan kenyataan. Tawakkal, berserah diri. Agar tak seperti gadis trendi yang saya temui setiap hari, selalu terobsesi sehingga akhirnya terpaksa hidup dalam dunia mimpi.

    Buanglah mimpi yang tidak realistis. Berpikirlah, berusahalah, dan berdoalah…

    ***

    (Diambil dari artikel eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 2:51 am on 24 February 2014 Permalink | Balas  

    kakek penjual amplopKakek Penjual Amplop

    Kisah nyata ini ditulis oleh seorang dosen ITB bernama Rinaldi Munir mengenai seorang kakek yang tidak gentar berjuang untuk hidup dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop di Masjid Salman ITB. Jaman sekarang amplop bukanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan, tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya dan pulang dengan tangan hampa. Mari kita simak kisah “Kakek Penjual Amplop di ITB”.

    Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

    Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.

    Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

    Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

    Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

     

    Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

    Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

    Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

    Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.

    Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

    Mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini. Tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:23 am on 18 February 2014 Permalink | Balas  

    tukang-baksoMaafkan Saya Tuhan

    “Mas Ento”, biasa saya menyebutnya. Seorang lelaki yang tidak lagi muda, penjual bakso keliling di tempat saya. Keriput kulit begitu nyata terukir di wajah legam tanpa ekspresinya. Sebenarnya baksonya tidak seenak 2 penjual bakso rivalnya, itulah mengapa jarang sekali pembeli menghentikannya. Sering saya melihatnya termenung sendiri dibawah pohon jambu dekat lapangan tempat anak-anak bermain. Setiap rivalnya datang, dia bergegas seperti ketakutan membawa dagangannya yang tanpa roda itu pergi. Saya pernah bertanya tentang hal ini kepadanya, namun seperti biasanya dia diam dan beralih menanyakan berapa porsi bakso yang ingin saya beli.

    Akhirnya saya mendapatkan jawabannya sendiri. Saya sangat faham, pias wajah ketakutan yang membayang ketika rivalnya datang. Saat itu, di tempat sepi saya menyaksikan rivalnya melakukan sebuah hal yang sungguh tidak dapat saya fahami. Mangkuk-mangkuk bakso milik mas Ento menjadi terserak dijalanan, belum lagi botol-botol itu, bulatan-bulatan bakso terhambur dari tempatnya. Kuahnya tumpah mengenai kakinya yang tak lagi sempurna berjalan. Tanpa beban, sang rival melenggang pergi meninggalinya banyak kepedihan. Ingin sekali saya meneriakinya “kurang ajar”, tetapi melihat sosoknya yang besar membuat saya hanya mematung, meski hati saya ribut tidak karuan.

    Setiap teringat mas Ento, saya pasti berguman dengan ungkapan yang saya adopsi dari sebuah puisi “Maafkan saya Tuhan, di depan saya ada orang yang di zalimi tetapi saya tidak menolongnya”.

    ***

    Suatu saat menjelang siang, seorang bocah kecil pengamen, berdiri di dalam bis menghadap para penumpang. Suara paraunya menggema di bis yang akan membawa saya ke terminal Leuwi Panjang, Bandung. Beberapa lagu diperdengarkannya kepada kami. Saya memandangnya sayang, tangannya hanya satu yang sempurna, tangan sebelah kiri buntung sampai sikut. Mungkin karena itulah hampir semua penumpang memasukkan uang ke dalam bekas bungkus kemasan aqua gelas yang diedarkannya. Saya yang duduk dibelakang dapat menyaksikan binar mata kegembiraan sang bocah yang mengaso dekat pintu.

    Bis sudah masuk terminal, penumpang telah banyak turun. Si kondektur menyeret bocah tadi hampir tepat di hadapan saya. “Sini!!” bentak lelaki bertopi itu, tangannya meraih paksa tempat uang si bocah. Dengan tersenyum dia menghitung, dan tanpa beban dia mengembalikan wadah kosong ke tangan sang bocah. Dan lagi-lagi saya tidak berbuat apa-apa. Saya hanya diam, meski hati ini juga ribut tak karuan. Saya menatap wajah pasrah itu. “Ngga apa-apa, sudah biasa”. Itu yang diucapkan si bocah sebelum pergi.

    Jika sudah begitu, tak ada yang dapat menentramkan hati kecuali sebuah doa ampunan, “Maafkan saya Tuhan, di hadapan saya ada mahlukmu yang dizalimi, tetapi saya tidak mampu berbuat apa-apa”.

    ***

    Jari ditangan tak akan mampu membilang episode-episode kezaliman. Israel yang begitu pongah mengobrak-abrik Palestina. Bom-bom cluster yang tercurah, mengoyak banyak tubuh manusia.  Mereka yang direnggut nyawa dengan cara demikian, adalah saudara kita. Bukankah mereka juga shalat, puasa dan berdoa kepada Allah, sama sepert kita. Belum lagi di Mesir yang dilanda perang saudara atau yang kita lihat langsung di lingkungan sekitar.

    Nabi bersabda, ketika kemungkaran berada dihadapan, cegahlah dengan tangan, itulah seutama-utamanya iman. Jika belum mampu, sergahlah dengan lisan yang kita punya. Dan yang terakhir, bencilah dengan hatimu, berdoalah. Dan nabi melabelkan hal ini sebagai selemah-lemahnya iman.

    ***

    Diambil dari eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 8:51 am on 12 February 2014 Permalink | Balas  

    bekerjaAllah Lebih Tahu Yang Terbaik Buat Kita

    Sore itu kulihat suamiku mondar mandir keluar masuk ruangan dengan wajah murung. Aku tahu sebabnya, dia tidak diterima dalam seleksi masuk S-2 di sebuah lembaga pendidikan yang dia inginkan, walaupun hasil test dia terbaik dari hasil tes peserta yang lain, dengan alasan suamiku telah diterima di lembaga lain yang masih ada dalam satu naungan.

    Suatu hal yang sangat wajar bila dia kecewa. Namun aku mencoba untuk menghibur walau aku sendiri merasakan kesedihan yang sama, dengan mengatakan: “Sudahlah mas, Insya Allah ada hikmahnya. Mungkin ini pilihan yang terbaik dari Allah buat kita”.

    Suamikupun berusaha untuk melapangkan hati, berusaha menghilangkan kekecewaan, dan menjalani pilihan Allah itu dengan sungguh-sungguh. Dengan rasa yakin, Allah pasti memberi yang terbaik.

    Benar saja, dalam perjalanan kuliah, Allah memberikan kepada suamiku tempat kerja yang memungkinkan untuk memperoleh beasiswa belajar. Padahal sekiranya suamiku diterima di lembaga yang dia inginkan, tidak ada program beasiswa di sana, walaupun diakui secara kualitas pendidikan di lembaga tersebut mungkin lebih baik.

    Beberapa bulan sebelum beasiswa turun, negeri ini dilanda krisis ekonomi. Segala kebutuhan pokok naik, biaya transport naik, dan usaha yang dirintis suamiku tidak lancar. Apabila suamiku diterima di lembaga pendidikan yang dia inginkan, mungkin study-nya tidak selesai, dan pekerjaanpun lepas entah kemana.

    Inilah sekilas pengalaman pribadi kami, yang mungkin dapat diambil hikmahnya. Bahwa, seringkali kita sulit menerima kenyataan yang ditentukan oleh Allah Sang Penguasa kepada kita. Hingga kita banyak berkeluh kesah, memendam kekecewaan yang panjang dan bersu’udzon kepada Allah. Bahkan ada yang sampai berani mengatakan, Allah tidak adil (na’udzu billahi min dzaalik).

    Demikianlah, kehidupan kita senantiasa diwarnai dengan kejadian yang senantiasa berpasangan. Ada senang ada susah, ada kesuksesan ada kegagalan. Yang sering kali kita tidak mengerti dan tidak mampu memahami hikmah dibalik setiap peristiwa. Yang kesemuanya mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersyukur atas setiap rahmat yang dianugerahkan kepada kita, dan bersikap sabar dalam setiap ujian.

    Kita harus meyakini sepenuhnya bahwa Allah Pencipta kita, lebih Tahu mana yang terbaik bagi kita. Apa saja yang kita inginkan dan kita senangi, belum tentu baik menurut pandangan Allah. Sebaliknya, apa yang tidak kita inginkan dan tidak kita senangi belum tentu buruk untuk kita, menurut pandangan Allah.

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS Al Baqoroh : 216).

    Sehingga, seharusnyalah kita sebagai ummat-Nya selalu menggantungkan diri kepada-Nya. Mengkomunikasikan segala keinginan kepada-Nya. Memohon petunjuk dan bimbingan untuk dapat memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk, dan selalu berprasangka baik kepada Allah atas segala ketentuan yang ditetapkan.

    Menyertakan do’a dalam setiap usaha. Dan lapang dada, tawakkal kepada Allah terhadap segala yang terjadi. Sehingga kehidupan ini akan menjadi nikmat dijalani. Nikmat yang dianugerahkan-Nya akan menambah ketaatan kita, dan cobaan yang diberikan akan menjadikan kita lebih dekat kepada-Nya.

    “Robbi awzi’nii an asykuroo ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shoolihan tardhoohu wa ad khilnaa birohmatika fii ‘ibaadikashshoolihiin”.

    Ya Robb kami, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada dua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh. (QS An Naml:19).

    Wallaahu ‘a’lam bishshowwab.

    ***

    Diambil dari artikel kiriman Ummu Shofi, http://www.eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 7:24 am on 6 February 2014 Permalink | Balas  

    kasih-sayang-ibuAnak Sepasang Bintang

    Bunda …, jadah itu artinya apa?”

    Bunda tersentak waktu itu. Tak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari sela bibir mungilku, gadis kecilnya yang baru berumur lima tahun. “Kenapa Sayang?” Bunda bertanya sambil mendekapku di dadanya. “Orang-orang menyebutku seperti itu,” jawabku dengan sangat polos. Aku memeluk Bunda semakin erat dan merasakan perlindungannya.

    Di waktu lainnya aku ajukan pertanyaan lain padanya.

    “Bunda …, apa saya punya Ayah? Orang-orang itu bilang saya tak punya Ayah,” tanyaku. Bunda baru saja selesai mendongeng padaku waktu itu. Bunda tertegun begitu lama.

    “Ada!” tegas Bunda meyakinkanku. “Di mana? Kenapa aku tak bisa menemuinya?”

    Bunda membimbingku bangkit dari tempat tidur kayu berkepinding. Berjalan ke halaman tanpa penerangan.

    “Kau lihat langit di atas sana?” Bunda bertanya tanpa melepas genggamannya. Aku mengangguk mengiyakan.

    “Ayahmu ada di sana!” jawab Bunda meyakinkan.

    Aku tidak melihat apa-apa. Selain langit hitam dan taburan berjuta bintang tidak ada gambar wajah manusia terlihat di sana.

    Tapi aku tidak ingin bertanya lagi. Barangkali ayahku adalah satu diantara kerlip bintang-bintang itu. Besok jika anak-anak itu menggodaku lagi dan mengatakan aku tidak punya ayah aku sudah punya jawabannya.

    • * *

    Sejak kecil aku cuma punya Bunda. Perempuan yang miskin tanpa harta tapi penuh cinta. Yang selalu menyediakan dadanya untuk menyerap luka-luka. Dengan upah seadaanya sebagai tukang cuci pakaian pada beberapa keluarga, Bunda selalu menabung. Katanya aku harus sekolah setinggi mungkin dan jadi orang pandai. Agar tidak bodoh dan melarat seperti dirinya.

    Bunda lewati seluruh kehidupan berat sendiri. Mengasuh anak yang terus tumbuh tanpa pendamping di sisi. Tidak mudah memang. Tapi tidak sekalipun aku melihatnya berduka. Kecuali sekali pada suatu malam aku terbangun dan melihatnya mengisak di atas sehelai sajadah.

    Setiap kali aku menanyakan hal itu pada Bunda, cuma air matalah yang kemudian menjadi jawabannya. Seperti menguak luka yang tak pernah kering sama sekali. Lalu aku jadi tak pernah tega memaksa Bunda untuk menjawabnya. Sebab Bunda terlalu mulia untuk terluka.

    Aku tidak ingin mengecewakan Bunda. Perjuangannya tidak boleh sia-sia. Keinginannya melihatku sekolah setinggi mungkin memacu semangatku untuk belajar dengan giat. Aku selalu berhasil mencapai gelar juara sejak duduk di bangku SD hingga SMU. Lalu kemudian aku terpaksa berpisah dengan Bunda. Aku diterima masuk tanpa test di salah satu perguruan tinggi terkemuka di kota Pontianak. Sekarang aku bahkan telah diterima bekerja di salah satu Bank Syariah terkemuka yang baru berdiri. Aku ingin menjemput Bunda untuk mengajaknya pindah ke kota ini. Tapi Bunda menolak.

    • * *

    Kukira dengan meninggalkan tempat kelahiran aku akan bisa hidup dengan tenang. Semua mimpi buruk masa kecil tentang siapa ayahku tidak akan memburuku sampai ke kota ini. Tapi tidak. Sepertinya ia menjelma jadi kutukan yang mengikuti kemana pergi.

    Aku telah dewasa kini. Telah siap untuk menikah dan berkeluarga. Sudah tiga orang lelaki shaleh yang datang mengajukan lamaran padaku. Tapi sudah tiga kali pula aku terpaksa menolaknya. Aku takut menceritakan keluargaku. Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku anak sebuah bintang. “Rabbi …, aku hanya ingin tahu siapa lelaki yang menjadi ayahku. Hanya itu. Apa aku durhaka pada Bunda?”

    “Kau beruntung masih mempunyai Bunda. Aku dibesarkan di panti asuhan, tak tahu siapa keluargaku.” Asti , teman satu kamarku mencoba menghiburku. Aku insyaf kini. Aku masih sangat beruntung mempunyai Bunda. Dalam sujudku malam itu aku menangis. Mohon kesempatan pada Allah untuk membahagiakan Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga.

    • * *

    Berita itu sampai lewat seorang tamu. Salah seorang tetangga kami di kampung dulu. Sengaja datang untuk mengunjungiku. Padaku ia cerita Bunda sedang sakit. “Sebenarnya ia sakit sejak lama. Tapi tak mau cerita. Bunda bilang tak mau kalau pekerjaanmu terganggu. Tapi aku pikir kau memang perlu tahu!”

    Di rumah aku lihat Bunda terbaring di tempat tidurnya. Tempat tidur yang sama seperti masa kecilku dulu. Tempat Bunda biasa mendekap, mendongeng dan berdoa sebelum lelap menyergapku.

    “Kenapa Bunda tidak memberitahuku?” tanyaku setelah mencium tangannya.

    “Bunda tak mau pikiranmu terganggu,” jawabnya sambil tetap mengukir senyum di wajahnya. Tapi aku melihatnya semakin lemah saja. “Bunda ingin mengatakan sesuatu tentang ayahmu, ia …,”

    “Tidak perlu, Bunda,” potongku cepat. “Jangan katakan apa-apa. Tidak ada yang perlu Bunda jelaskan tentang masa lalu. Bunda tetaplah Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga!”

    Aku memang sudah tidak lagi perduli. Bunda manusia biasa. Mungkin pernah khilaf di masa lalunya. Tapi bagiku kini Bunda adalah anugerah Allah terbesar dalam hidup ini. Dua hari kemudian Bunda berpulang ke Rahmatullah.

    Malam itu kembali aku menatap langit. Seperti waktu kecil dulu saat aku bertanya pada Bunda di mana ayahku. Bunda akan menunjuk ke arah langit. Tempat kegelapan malam dihiasi pendar jutaan bintang. Bunda kini telah pergi. Menyusul ayahku di tempat yang abadi. Dan aku tahu kini. Jika seorang lelaki shaleh datang untuk melamar dan bertanya tentang keluargaku, aku akan mengatakan bahwa aku adalah anak sepasang bintang!

    ***

    Diambil dari Rubrik Cerpen Islamuda

     
  • erva kurniawan 7:11 am on 3 February 2014 Permalink | Balas  

    cintaSi Pencari Cinta

    Author: Abu Aufa

    Alkisah di suatu zaman, hidup seorang lelaki yang mencari cinta, namanya Arjuna. Saking ngebetnya, gunung tertinggi didaki, isi bumi dijelajahi, lautan pun diarungi, cuma untuk mencari tempat berlabuh, yaitu wanita. Gilee beneer… Nih Arjuna, kagak peduli gunung, bumi, lautan, alam semesta ini punya siapa, maen grasak-grusuk aja! Di setiap tempat Arjuna berkata, “Wahai wanita, cintailah aku.” Ih… nih anak, malu-maluin ya! Masa’ sih sampe’ gitu-gitu banget, ya…namanya juga pencari cinta bo!

    Di kisah yang lain, seorang laki-laki yang bernama Ibrahim pun mencari cinta. Saat malam mulai menyapa alam, tampak sebuah bintang, tak lama kemudian sang bintang pun tenggelam. “Aku tak menyukai yang tenggelam,” kata Ibrahim. Beberapa saat kemudian, terbitlah sang rembulan, bersinar indah penuh kelembutan. Namun, bulan pun hanya sesaat, tersipu malu dengan keindahannya. Adzan subuh pun menyeruak kegelapan, kokok ayam jantan membelah tetesan embun pagi, tak lama keperkasaan mentari menerangi jagat raya ini, “Inikah dia yang kucari?” tanya beliau pula. Bukan…bukan itu, karena mentari pun bersujud, lalu merunduk sembunyi.

    Ikhwah fillah rahimakumullah…

    Kisah di atas adalah ilustrasi dari 2 manusia si pencari cinta. Di dunia ini, betapa banyak orang-orang yang mencari cinta. Namun jelas ada bedanya disini, antara laki-laki yang bernama Arjuna dengan Ibrahim a.s., yang namanya termaktub indah di lembaran suci Al Qur’an. Arjuna mencari cintanya tanpa tedeng aling-aling, gak peduli sana-sini, jumpalitan, cuma mencari cinta wanita. Emangnya salah si Arjuna, karena mencari cinta? Ih…jangan protes dulu dong, emang sih fitrah manusia itu ya pasti merasakan cinta [QS Al Imran: 14]. Tapi apa iya harus seperti itu? Masa’ sih akal, nalar dan fikiran sampe’ gak jalan, bahkan hingga melebihi cinta-Nya! Waduh…

    Padahal banyak kisah cinta sejati di dunia ini lho, salah satunya adalah cinta Ibrahim yang tak pernah pudar, setelah ia mengenal dan mengetahui siapa yang patut menerima cintanya. Beliau mengenal, dan kemudian sayang, lantas jatuh hati kepada Sang Pencipta. Karena itu yang dicintai pun berkenan menyambut cintanya, bahkan menjadikannya sebagai khalilullah [QS An Nisaa': 125].

    Cinta disini bukan cinta yang penuh kepalsuan, emosi apalagi birahi, namun cinta laksana mutiara yang memancarkan cintanya pada Rabb seluruh jagat raya ini, mengaliri denyut nadi, helaan nafas serta aliran darah untuk tunduk dan patuh pada titah-Nya. Cinta ini mestinya menempati prioritas utama pada diri seorang muslim, yakni cinta kepada Allah SWT, Rasul dan jihad di jalan-Nya. Inilah cinta hakiki!

    Dari nenek moyang kita dulu, sampai sekarang, buanyak buanget manusia-manusia yang telah jatuh cinta, namun apakah cinta mereka dan kita adalah cinta hakiki sebagaimana cinta mereka yang disebut ‘manusia langit?’

    Adakah cinta kita adalah cinta seorang Sumayah binti Khayyath, yang siap menjadi syahidah pertama dalam sejarah Islam demi mempertahankan akidah yang dicintainya. Ataukah Ali bin Abi Thalib r.a. yang rela ‘pasang badan’ menggantikan Rasulullah SAW di tempat tidurnya sewaktu beliau keluar untuk hijrah, padahal beliau tahu maut telah didepan mata siap mengancam jiwanya? Atau pun Abu Bakar Shiddiq r.a. yang tak kalah ikhlas tangan dan kakinya dipatuk binatang berbisa saat berdua dengan seseorang yang dicintainya? Ia tak ingin tubuh orang yang dicintai dan dikasihinya tersentuh sedikitpun oleh binatang-binatang yang berbisa itu.

    Mereka hanyalah sedikit contoh dari orang-orang yang jatuh cinta dengan cinta yang sebenarnya. Sebuah cinta sejati, cinta hakiki yang akan mendapatkan ridha Illahi Rabbi.

    Nah…sekarang milih yang mana, seorang Arjuna yang grasak-grusuk mencari cinta, atau seorang Ibrahim a.s., Sumayah binti Khayyath, Ali bin Abi Thalib r.a. atau pun Abu Bakar Shiddiq r.a. yang mencari cinta sejati?

    Ya akhi wa ukhti,

    Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang selalu mendambakan cinta, keridhoan kepada-Nya ya, insya Allah, aamin allahumma aamiin.

    ***

    Abu Aufa

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 28 January 2014 Permalink | Balas  

    tertawa 1Jaga Mulut

    Luqman Alhakim adalah seorang budak hitam. Bibirnya tebal, dan kedua kakinya melekuk, sehingga kalau berjalan tampak lucu. Meskipun demikian, dia seorang yang arif bijaksana. Luqman tidak pernah berperilaku buruk, bahkan dalam ucapannya. Apa yang keluar dari kedua bibirnya adalah kebijaksanaan. Ia tidak pernah mengucapkan sesuatu pun, kecuali hal-hal yang mulia, penuh makna dan hikmah, serta berguna. Allah mengabadikan namanya di dalam Alquran sebagai salah satu teladan umat manusia.

    Suatu kali tuannya menyuruh Luqman agar menyembelih beberapa ekor kambing untuk sebuah keperluan. ”Luqman, coba ambilkan untukku dua bagian yang terbaik dari daging-daging itu,” kata tuannya. Sejurus kemudian Luqman datang dan menyerahkan potongan hati dan lidah.

    ”Sekarang, ambilkan untukku bagian yang terburuknya,” pinta tuannya lagi. Luqman bergegas, dan sejenak kemudian datang. Namun, lagi-lagi ia menyerahkan potongan hati dan lidah. ”Apa maksudmu dengan ini semua, Luqman? Mengapa yang terbaik dan terburuk sama bentuknya?” tanya sang tuan keheranan.

    ”Tuan, jika kedua bagian ini sudah baik, tidak ada lagi yang lebih baik dari keduanya. Sebaliknya, jika kedua bagian ini sudah buruk, tidak ada lagi yang lebih buruk dibandingkan dengan keduanya,” jawab Luqman.

    Tentang mulut, Nabi saw seringkali mewanti-wanti agar menjaganya dengan sungguh-sungguh karena ia paling berpotensi mencelakakan kita. ”Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berbicaralah hanya yang baik-baik. Jika tidak sanggup, sebaiknya diam.” Sabda beliau di kali yang lain, ”Cukuplah seorang menjadi penduduk neraka, ketika ia tidak bisa menjaga lisannya.” Berkenaan dengan itu pula, Ali bin Abi Talib berkata, ”Berbahagialah orang yang bisa menahan kelebihan mulutnya dan menginfakkan kelebihan hartanya”.

    ***

    Diambil dari kolom Hikmah Republika

     
  • erva kurniawan 5:22 am on 26 January 2014 Permalink | Balas  

    ampunDosa yang kita lupakan

    Sahabat,

    Dalam suatu kesempatan, seorang rekan berkisah tentang seorang pembantu rumah tangga. Pada awal kerjanya, dia diberitahu majikannya bahwa tugasnya adalah membersihkan lantai, membersihkan jendela, membersihkan halaman, menyiram tanaman dan membuka-tutup pintu untuk orang yang datang dan pergi. Majikannya menjanjikan bonus tertentu bila dia melakukan tugas-tugasnya dengan baik; Sederhana dan tampaknya mudah; bekerja sebaik-baiknya lalu dia akan dapat gaji ditambah bonus.

    Dengan suka hati dia menghapal ‘diluar kepala’ kelima tugasnya. Membersihkan lantai, membersihkan jendela, membersihkan halaman, menyiram tanaman dan membuka-tutup pintu. Diulang-ulangnya hingga dia dapat memastikan bahwa kelima tugas tersebut dapat diselesaikannya dengan sebaik-baiknya. Demi bonus yang akan diperolehnya, diapun berkonsentrasi pada tugas-tugasnya.

    Suatu ketika sang majikan harus pergi dengan meninggalkan anak-anaknya di rumah. Sementara anak-anak yang besar sibuk dengan urusannya masing-masing, si bungsu malah asyik bermain di halaman. Dia mendekati kolam lalu berusaha untuk berenang. Adalah suatu hal yang berbahaya bagi anak kecil bermain-main di kolam seorang diri, meski kolam itu ada di dekat rumah. Namun demikian sang pembantu coba menyakinkan diri bahwa tugas dia hanya lima. Menjaga anak bukanlah tugasnya. Dia coba meyakinkan lagi bahwa bila saja dia tunaikan kelima tugas tersebut dengan sebaik-baiknya tentu dia akan mendapatkan bonus sebagaimana yang dijanjikan kepadanya.

    Singkat cerita, sang anak bungsu ‘gelagepan’ di kolam lalu tenggelam. Sang pembantu masih coba meyakinkan bahwa menolong anak tersebut bukan tugasnya. Untuk lebih menyakinkan lagi, dia ucapkannya kembali kata-kata majikannya tentang tugasnya, yakni membersihkan lantai, membersihkan jendela, membersihkan halaman, menyiram tanaman dan membuka-tutup pintu. Ternyata tidak dia jumpai tugas menjaga anak. Maka dia tidak bergerak sedikitpun untuk menolong anak tersebut hingga tak ada lagi gerakan di kolam. Anak tesebut mati lemas.

    Ketika sang majikan datang dan menanyakan kemana si bungsu, tanpa rasa bersalah sedikitpun sang pembantu memberitahu bahwa anak tersebut ada di kolam, barangkali tenggelam di sana, sembari mengingat-ingat tugasnya yang lima yang selalu ditunaikannya dengan baik. Lalu bagaimana reaksi sang majikan terhadap pembantu ini? Bila kita adalah majikan tersebut, tentu saja kita tahu tindakan apa yang paling pantas terhadapnya.

    Keadaan kita hari ini, barangkali tidak bedanya dengan keadaan sang pembantu tersebut. Kita telah berusaha sebaik-baiknya menunaikan tugas apa saja sebatas pada yang ‘diperintahkan’ kepada kita. Kita tahu betul bahwa kewajiban sholat lima waktu harus kita tunaikan sebaik-baiknya setiap hari, namun kita tidak peduli dengan orang-orang lain yang melalaikannya. Kita tahu betul tanggung jawab kita terhadap diri sendiri, istri, anak, orangtua dan saudara-saudara kita, dan apa saja yang dapat kita berikan sebagai tanda sayang kita kepada mereka, namun kita tidak peduli dengan yang selainnya. Kita tahu bagaimana ‘mengamalkan’ agama tapi kita lupa bahwa dakwah adalah bagian dari amal agama.

    Hari ini kita mengetahui bahwa membunuh adalah dosa, mencuri atau korupsi adalah dosa, berzina adalah dosa, minum arak adalah dosa, berkata dusta adalah dosa, akan tetapi kita lupa bahwa meninggalkan dakwah adalah dosa. Padahal dosa tidak dakwah kadarnya mencakup dosa membunuh, mencuri, zina dan sebagainya. Karena tidak ada dakwahlah maka ada pembunuhan. Karena tidak ada dakwahlah maka ada pencurian. Karena tidak ada dakwahlah maka ada perzinaan dan seterusnya.

    Sebagian dari kita mengatakan bahwa untuk dakwah kita perlu punya ilmu dulu. Dan ilmu yang dimaksud adalah penguasaan yang baik atas berbagai pengetahuan (yang justru baru berkembang bersamaan dengan menyebarnya Islam ke seluruh pelosok dunia). Barangkali pernyataan ini benar, bila kita bermaksud menyempurnakan segala sesuatunya. Namun demikian, sebagaimana yang kita sampaikan kepada para mu’alaf, kita tetap harus melakukan sholat meskipun kita baru bisa mengucapkan basmallah. Dan dengan cara yang sama, kita harus buat dakwah meskipun kita baru bisa menjabat tangan saudara kita.

    Menjadi da’i sebenarnya tidak sesukar yang kita bayangkan pada hari ini. Siapapun dari ummat ini yang memiliki kalimah laa ilaaha illallah dalam hatinya adalah orang-orang yang punya tanggung jawab untuk ‘menumpahkannya’ kepada orang lain. Keadaan saat ini dimana kita mempersulit diri dengan berbagai syarat agar kita ‘layak’ buat dakwah, hanya menunjukkan betapa jauhnya kita dari kepahaman para sahabat Rasulullah saw.

    Lalu pertanyaannya adalah berapa lamakah seseorang dapat menjadi da’i sejak pertama kali dia bersyahadat? Adakah setiap orang berkewajiban menuntut ‘ilmu’ yang menjadikannya layak dipanggil ‘ulama atau ustdaz, baru setelah itu buat dakwah? Mestinya tidak demikian bila referensi kita adalah para sahabat Rasulullah saw.

    Saat Abu Bakar ra. menyatakan keislamannya, dia telah mengajak beberapa orang lainnya kepada iman-yakin yang benar pada hari yang sama. Dari usahanya pada hari itu beberapa orang mengimani bahwa Allah adalah tuhan mereka dan tidak ada tuhan selain-Nya dan mereka mengimani bahwa Muhammad (saw) adalah nabi dan rasul-Nya.

    Pada hari pertama Abu Dzar Ghiffari ra bersyahadat, dia telah umumkan keislamannya kepada kaum Quraisy di depan ka’bah. Seolah-olah dia ingin mengatakan sekaligus mengajak kaum yang belum beriman tersebut agar segera beriman. Kalau saja Ibnu Abbas (yang saat itu masih dalam kekafiran) tidak mengingatkan kaumnya akan perhubungannya dengan kaum Ghiffar, tentu mereka semua sudah membunuhnya.

    Selanjutnya bila kita baca atau dengar lagi dan lagi kisah-kisah mereka (yakni sahabat-sahabat Rasulullah), kita akan jumpai di sana bahwa mereka adalah para da’i sejak awal keislamannya. Demikianlah Rasulullah saw membina mereka sehingga siapa saja yang menyatakan keimanannya, mereka akan meyakini bahwa dakwah adalah tugas mereka. Setiap orang yang buat dakwah adalah da’i. Lalu kita dapati di sana (pada masa Rasulullah saw), setiap da’i akan ‘melahirkan’ da’i baru. Bahkan sebelum perintah ibadah (sholat) diturunkan, mereka menyangka bahwa agama ini identik dengan dakwah manusia kepada Allah.

    Kita mestinya bangga dengan titel da’i. Gelar inilah yang pada gilirannya kelak akan menjadikan kita mulia, bahkan ketika kita masih hidup di dunia ini. Bayangkan, betapa pilihan Allah tidak pernah salah. Dia memilih (selalu yang terbaik dari kebanyakan manusia) orang-orang yang akan mengemban kerja para nabi. Dia memuliakan kita dengan kerja ini sebagaimana kita meletakkan sesuatu di puncak ketinggian.

    Dan pilihan itu telah jatuh kepada kita ketika Dia berkata, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab (Kristen/Yahudi) beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS 3:110)

    Ketika kita sadar dan kita tidak ingin seperti pembantu di atas, maka tidak ada jalan lain buat kita (bahkan bagi keselamatan ummat ini) selain dengan segera buat dakwah. Hendaknya kita tidak menundanya lagi hingga ‘anak yang akan tenggelam’ dapat diselamatkan. Kita bergerak menjumpai manusia dan tidak menunggu sampai mereka datang kepada kita. Kita yakin bahwa pada saatnya kelak, sama saja apakah kita mengharapkannya atau tidak, kita akan mendapat gaji, bonus dan tentu saja hadiah yang luar biasa dari Allah yang maha memiliki lagi maha kaya.

    Subhanallah.

    ***

    Diambil dari artikel kolom Hikmah Republika, karya KH. Didin Hafidzuddin

     
  • erva kurniawan 2:41 am on 23 January 2014 Permalink | Balas  

    cincin pernikahanAntara Harapan Dan Kenyataan

    EPISODE 1 :

    Saat Fulanah masih seorang gadis, yang ada di benaknya dan yang kemudian menjadi tekadnya adalah keinginan menjadi isteri shalihat yang taat dan selalu tersenyum manis. Pendeknya, ingin memberikan yang terbaik bagi suaminya kelak sebagai jalan pintas menuju surga. Tekad itu diperolehnya setelah mengikuti berbagai ‘tabligh’, ceramah, dan seminar keputerian serta membaca sendiri berbagai risalah. Bahkan banyak pula ayat Al-Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan hal itu telah dihafalnya, seperti “Ar Rijalu qowwamuna alan nisaa’…”,”Faso lihatu qonitatu hafizhotu lilghoibi bima hafizhallah…” (QS. An-Nisa ayat 34).

    Juga Hadits :”Ad dunya mata’, wa khoiru mata’iha al mar’atus sholihat.” (dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah isteri sholihat).

    Atau, hadits “Wanita sholihat adalah yang menyenangkan bila dipandang, taat bila disuruh dan menjaga apa-apa yang diamanahkan padanya.

    Begitu pula hadits “Jika seorang isteri sholat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan dan menjaga kehormatan dirinya serta suaminya dalam keadaan ridha padanya saat ia mati, maka ia boleh masuk surga lewat pintu yang mana saja. (HR Ahmad dan Thabrani). Hadits yang berat dan seram pun dihafalnya, “Jika manusia boleh menyembah manusia lainnya, maka aku perintahkan isteri menyembah suaminya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi,Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban) Figur isteri yang sholihat, taat, dan setia serta qona’ah seperti Kha-\dijah r.a. benar-benar terpatri kuat di benak Fulanah dan jelas ingin ditirunya.

    Maka, tatkala Allah SWT telah menakdirkan ia mendapat jodoh seorang Muslim yang sholih, ‘alim dan berkomitmen penuh pada Islam,Fulanah pun melangkah ke gerbang pernikahan dengan mantap. Begitu khidmat dan khusyu karena kesadaran penuh untuk beribadah dan menjadikan jihad dan syahid sebagai tujuan hidup berumah tangga.

    EPISODE 2

    Tatkala Fulan masih menjadi seorang jejaka, ia sering membatin, berangan-angan, dan bercita-cita membentuk rumah tangga Islami dengan seorang Muslimah sholihat yang menyejukkan hati dan mata.

    Alangkah bahagianya menjadi seorang suami dan seorang “qowwam” yang “qooimin bi nafsihi wa muuqimun lil ghoirihi” (tegak atas dirinya dan mampu menegakkan orang lain, terutama isteri dan anak-anaknya). Juga menjadi ‘imam yang adil’ yang akan memimpin dan mengarahkan isteri dan anak-anaknya. Alangkah menenangkannya mempunyai seorang isteri yang akan dijaganya lahir dan batin, dilindungi dan disayanginya karena ia adalah amanah Allah SWT yang telah dihalalkan baginya dengan dua kalimat Allah SWT.

    Ia bertekad untuk mempergauli isterinya dengan ma’ruf (QS An-Nisa:19) dan memperhatikan hadits Rasulullah SAW tentang kewajiban-kewajiban seorang suami. “Hanya laki-laki mulialah yang memuliakan wanita.”

    “Yang paling baik di antara kamu, wahai mu’min, adalah yang paling baik perlakuannya terhadap isterinya. Dan akulah (Muhammad SAW) yang paling baik perlakuannya terhadap isteri-isteriku.”

    “Wanita seperti tulang rusuk manakala dibiarkan ia akan tetap bengkok, dan manakala diluruskan secara paksa ia akan patah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Fulan pun bertekad meneladani Rasulullah SAW yang begitu sayang dan lembut pada isterinya. Tidak merasa rendah dengan ikut meringankan beban pekerjaan isteri seperti membantu menyapu, menisik baju dan sekali-sekali turun ke dapur.

    Seperti ucapan Rasulullah kepada Bilal : “Hai Bilal, mari bersenang-senang dengan menolong wanita di dapur.” Karena Rasulullah suka bergurau dan bermain-main dengan isteri seperti berlomba lari dengan Aisyah r.a. (HR Ahmad), maka ia pun berkeinginan meniru hal itu serta menyapa isteri dengan panggilan lembut ‘Dik’ atau ‘Yang’.

    EPISODE-EPISODE SELANJUTNYA

    Fulan dan Fulanah pun ditakdirkan Allah SWT untuk menikah. Pasangan yang serasi karena sekufu dalam dien, akhlaq, dan komitmen dengan Islam. Waktu pun terus berjalan. Dan walaupun tekad dan cita-cita terus membara, kian banyak hal-hal realistis yang harus dihadapi. Sifat, karakter, pembawaan, selera, dan kegemaran serta perbedaan latar belakang keluarga yang semula mudah terjembatani oleh kesatuan iman, cita-cita, dan komitmen ternyata lambat laun menjadi bahan-bahan perselisihan.

    Pertengkaran memang bumbunya perkawinan,tetapi manakala bumbu yang dibubuhkan terlalu banyak, tentu rasanya menjadi tajam dan tak enak lagi. Ternyata, segala sesuatunya tak seindah bayangan semula. Antara harapan dan kenyataan ada terbentang satu jarak. Taman bunga yang dilalui ternyata pendek dan singkat saja.

    Cukup banyak onak dan duri siap menghadang. Sehabis meneguk madu, ternyata ‘brotowali’ yang pahitpun harus diteguk. Berbagai masalah kehidupan dalam perkawinan harus dihadapi secara realistis oleh pasangan mujahid dan mujahidah sekalipun.

    Allah tak akan begitu saja menurunkan malaikat-malaikat untuk menyelesaikan setiap konflik yang dihadapi. “Innallaha laa yughoyyiru ma biqoumi hatta yughoyyiru maa bi anfusihim” (QS Ar-Raad : 6). Ada seorang isteri yang mengeluhkan cara bicara suaminya terutama jika marah atau menegur, terdengar begitu ‘nyelekit’. Ada pula suami yang mengeluh karena dominasi ibu mertua terlalu besar.

    Perselisihan dapat timbul karena perbedaan gaya bicara, pola asuh, dan latar belakang keluarganya. Kejengkelan juga mulai timbul karena ternyata suami bersikap ‘cuek’, tidak mau tahu kerepotan rumah tangga, karena beranggapan “itu khan memang tugas isteri.”

    Sebaliknya, ada suami yang kesal karena isterinya tidak gesit dan terampil dalam urusan rumah tangga, maklum sebelumnya sibuk kuliah dan jadi ‘kutu buku’ saja. Fulan pun mulai mengeluh. Ternyata isterinya tidak se-”qonaah” yang diduganya, bahkan cenderung menuntut, kurang bersahaja dan kurang bersyukur.

    Fulanah sebaliknya. Ia mengeluh, sang suami begitu irit bahkan cenderung kikir, padahal kebutuhan rumah tangga dan anak-anak terus meningkat. Seorang sahabat Fulan juga kesal karena isterinya sulit menerima keadaan keluargan. Sebab musababnya sih karena perbedaan status sosial, ekonomi dan adat istiadat. Kekesalannya bertambah-tambah karena dilihatnya sang isteri malas meningkatkan kemampuan intelektual, manajemen rumah tangga, serta kiat-kiat mendidik anak.

    Sebaliknya, sang isteri menuduh suaminya sebagai “anak mama” yang kurang mandiri dan tidak memberi perhatian yang cukup pada isteri dan anak-anaknya.

    Belum lagi problem yang akan dihadapi pasangan-pasangan muda yang masih tinggal menumpang di rumah orang tua. Atau di dl rumah mereka ikut tinggal kakak-kakak atau adik-adik ipar. Kesemua keadaan itu potensial mengundang konflik bila tidak bijak-bijak mengaturnya.

    Kadang-kadang semangat seorang Muslimah untuk da’wah keluar rumah terlalu berlebihan. Tidak “tawazun”. Hal ini dapat menyebabkan seorang suami mengeluh karena terbebani dengan tugas-tugas rumah tangga yang seabreg-abreg dan mengurus anak-anak.

    Selanjutnya, ada pula Muslimah yang terlalu banyak menceritakan kekurangan suaminya, kekecewaan-kekecewaannya pada suaminya. Padahal ia sendiri kurang instrospeksi bahwa ia sering lupa melihat kebaikan dan kelebihan suaminya. Ada suami yang begitu “kikir” dalam memuji, kurang “sense of humor” dan “sedikit” berkata lembut pada isteri. Kalau ada kebaikan isteri yang dilihatnya, disimpannya dalam hati, tetapi bila ia melihat kekurangan segera diutarakannya.

    Bahkan ada pula pasangan suami-isteri yang memiliki problem “hubungan intim suami-isteri”. Mereka merasa tabu untuk membicarakannya secara terus terang di antara mereka berdua. Padahal akibatnya menghilangkan kesakinahan rumah tangga. Kalau mau dideretkan dan diuraikan lagi, pasti daftar konflik yang terjadi di antara pasangan suami-isteri muda Muslim dan Muslimah akan lebih panjang lagi. Memang, persoalan-persoalan tidak begitu saja hilang. Rumah tangga tidak pasti akan berjalan mulus tanpa konflik hanya dengan kesamaan fikrah dan cita-cita menegakkan Islam.

    Mereka yakni Fulan dan Fulanah cs tetap manusia-manusia biasa yang bisa membuat kekhilafan dan tidak lepas dari kekurangan- kekurangan. Dan mereka pun pasti mengalami juga fluktuasi iman. Pasangan yang bijak dan kuat imannya akan mampu istiqomah dan lebih punya kemampuan menepis badai dengan menurunkan standar harapan. Tidak perlu berharap muluk-muluk seperti ketika masih gadis atau jejaka. Karena, ternyata kita pun belum bisa mewujudkan tekad kita itu. Sebagai Muslim dan Muslimah hendaknya kita sadar, tidak mungkin kita dapat menjadi isteri atau suami yang sempurna seperti bidadari atau malaikat. Maka kita pun tentunya tidak perlu menuntut kesempurnaan dari suami atau isteri kita. “Just the way you are” lah. Kita terima pasangan hidup kita seadanya, lengkap dengan segala kekurangan (asal tidak melanggar syar’i) dan kelebihannya. Kita memang berasal dari latar belakang keluarga, kebiasaan, dan karakter yang berbeda, walau tentunya dien, fikrah, dan cita-cita kita sama.

    Pada saat ghirah tinggi, iman dalam kondisi puncak,”Prima”, semua perbedaan seolah sirna. Namun pada saat “ghirah” turun, iman menurun, semua perbedaan itu menyembul ke permukaan, mengganjal,mengganggu, dan menyebalkan. Akibatnya tidak terwujud sakinah. Kiat utama mengatasi permasalahan dalam rumah tangga, tentunya setelah berdoa memohon pertolongan Allah SWT dan mau ber”muhasabah” (introspeksi), adalah mengusahakan adanya komunikasi yang baik dan terbuka antara suami-isteri. Masalah yang timbul sedapat mungkin diselesaikan secara intern dulu di antara suami-isteri dengan pembicaraan dari hati ke hati. “Uneg-uneg” yang ada secara fair dan bijak diungkapkan. Selanjutnya, yang memang bersalah diharapkan tidak segan-segan mengakui kesalahan dan meminta maaf. Yang dimintai maaf juga segera mau memaafkan dan tidak mendendam. Masing-masing pihak berusaha keras untuk tidak mengadu ke orang tua, atau orang lain. Jadi tidak membongkar atau membeberkan aib dan kekurangan suami atau isteri.

    Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak membanding- bandingkan suami atau isteri dengan orang lain, karena itu akan menyakitkan pasangan hidup kita. Setelah itu,masing-masing juga perlu ‘waspada’ agar tidak terbiasa kikir pujian dan royal celaan.

    Jika terpaksa, kadang-kadang memang diperlukan bantuan pihak ketiga (tetapi pastikan yang dapat dipercaya keimanan dan akhlaqnya) untuk membantu melihat permasalahan secara lebih jernih.

    Kadang-kadang “kacamata” yang kita pakai sudah begitu buram sehingga semua kebaikan pasangan hidup kita menjadi tidak terlihat, bahkan yang terlihat keburukannya saja. Orang lain yang terpercaya InsyaAllah akan bisa membantu menggosok ‘kacamata’ yang buram itu. Alhamdulillah ada yang tertolong dengan cara ini dan mengatakan setelah konflik terselesaikan mereka pun berbaikan lagi seperti baru menikah saja ! Layaknya ! Dengan berikhtiar maksimal, bermujahadah, dan bersandar pada Allah SWT, InsyaAllah kita dapat mengembalikan kesakinahan dan kebahagiaan rumah tangga kita, serta kembali bertekad menjadikan jihad dan syahid sebagai tujuan kita berumah tangga.

    Amiin yaa Robbal’aalamiin.

    ***

    Sumber: tulisan dari Ummu Samy Romadhon di majalah Ummi No. 6/V, 1414 H/1993

     
  • erva kurniawan 4:22 am on 16 January 2014 Permalink | Balas  

    Tenggelam Dalam Lautan Cinta 

    cintaTENGGELAM DALAM LAUTAN CINTA

    Yuni Mardiyanto

    **

    ABSTRACT: Cinta itu ibarat taman yang penuh bunga warna-warni. Ada yang datang menikmati keindahannya, mencium bau harumnya, dan kemudian datang lagi. Namun ada juga yang tidak ingin pulang, ia menikmati taman tersebut bahkan ingin menguasainya, padahal banyak orang lain yang juga ingin menikmatinya. Cinta itu juga bagai lautan, di sana ada gugusan karang terbentuk alamiah, warna-warni ikan hias yang luar biasa indahnya, ombak, bening, hangat dan dinginnya air laut, subhanallah…semuanya indah. Namun, ada bedanya antara orang yang berenang dengan mereka yang tenggelam di dalamnya. Karena orang yang berenang, ia sedang dalam perjalanan menuju Allah SWT, tetapi orang yang tenggelam merasa dirinya sudah sampai kepada Allah, karena itu tak perlu lagi berenang. Nah, bagaimana mungkin orang yang tenggelam dapat menikmati indahnya lautan? Nikmatilah keindahan lautan cinta itu dengan berenang, karena dengan itu cinta akan selalu memberikan potensi, energi dan semangat pada diri kita. Selamat berenang di lautan cinta-Nya ya akhi wa ukhti.

    **

    Syaikh Ali Ath-Thanthawi dalam bukunya “Rijalun min al-Tarikh” mengajak pembacanya untuk merenungi sejenak tentang kisah seorang pemuda kaya-raya yang karena tenggelam dalam lautan cinta akhirnya justru menjadi sengsara.

    Pemuda sukses yang saudagar itu pada mulanya seluruh hidupnya hanya diabdikan untuk berdagang. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, bahkan mimpinya sendiri hanyalah soal dagang. Di luar dunia dagang, ia nyaris tidak memperhatikannya. Orang tuanya mulai gundah, sebab sang putera sudah cukup umur untuk menikah, sementara ketertarikannya kepada wanita nyaris tidak ada. Berkali-kali ditawari menikah, ia menolaknya.

    Kedua orangtua pemuda itu tak putus asa. Hampir setiap hari keduanya mendatangkan wanita-wanita cantik nan terhormat di rumahnya, dengan harapan agar anaknya tertarik dan memilih salah satunya untuk dijadikan istri. Bujuk rayu orangtuanya tidak berhasil mencuri perhatian sang putera. Tak satu pun wanita-wanita cantik itu yang menarik perhatiannya.

    Namun yang mengejutkan, tiba-tiba pada di suatu hari, sang pemuda pergi ke pasar budak. Di pasar itu ia menjumpai seorang budak wanita, lalu jatuh cinta ia jatuh cinta kepada budak wanita tersebut. Setelah dibelinya budak itu lalu dibawanya pulang dan diperistrinya.

    Sejak saat itu berubahlah seluruh dimensi kehidupannya. Sang pemuda yang biasanya setiap pagi sudah pergi ke pasar dan baru larut malam ia kembali pulang, kini tidak seperti itu lagi. Ia tidak lagi mau pergi ke pasar, mengurus perdagangan dan meraup keuntungan. Ia kini hanya menyibukkan diri untuk mencintai sang isteri. Siang malam ia hanya bercumbu dengan isterinya, sampai akhirnya ia lupa segala-galanya.

    Kejadian ini tidak hanya berlangsung dalam hitungan hari dan pekan. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun terus bergerak, tapi pola kehidupan pasangan itu tidak berubah. Hingga sampai pada saatnya seluruh kekayaannya habis, bahkan perabot rumahtangga pun sudah mulai digadai.

    Ketika orang-orang sekitarnya mengingatkan agar ia kembali berdagang, ia berkomentar sederhana, “Tujuan dagang itu untuk apa? Mengejar keuntungan. Lalu jika keuntungan itu sudah diperoleh, digunakan untuk apa? Untuk memperoleh ketenangan, kenikmatan, dan kebahagiaan. Ketahuilah, ketiganya kini telah kudapatkan pada isteriku, lalu untuk apa aku berdagang lagi?”

    Sampai akhirnya ketika sudah tidak ada lagi miliknya yang bisa dijual, kecuali rumahnya yang tinggal tiang, dinding, dan atapnya saja, ia mulai menyadari. Kesadaran yang terlambat itupun datangnya bersamaan dengan saat-saat kritis menjelang kelahiran bayi pertamanya. Ketika sang istri akan melakukan persalinan, ia sudah tidak punya apa-apa lagi, hatta ke dukun bayi sekalipun ia tak mampu membayarnya.

    Saat itulah sang isteri meminta dengan iba agar suaminya pergi mencari minyak dan peralatan persalinan. Atas permintaa itu sang suami keluar rumah, tapi sayangnya sudah tidak ada lagi orang yang dikenali.

    Demi keselamatan sang isteri dan bayi yang akan lahir, ia terus berjalan, namun ia sudah lupa bagaimana cara mendapatkan setetes minyak dan peralatan persalinan lainnya. Lelaki itu hampir saja putus asa. Sekiranya ia tak segera sadar bahwa agama melarangnya untuk bunuh diri, tentu ia sudah mencebur ke sungai atau melemparkan badannya di tengah jalan ramai.

    Lelaki itu terus berjalan dan semakin menjauhi rumah dan tempat sang isteri akan melakukan persalinan. Meskipun demikian, bayangan isterinya yang menangis dengan mengiba-iba agar sang suami pergi mencari minyak dan peralatan persalinan tak bisa hilang dari pikiran dan perasaannya. Justru bayangan itu mendorongnya untuk semakin jauh berjalan menyusuri jalan-jalan yang tak berujung.

    Kisah pasangan ini sengaja diputus hanya sampai di sini,sebab yang menjadi fokus perhatian kita adalah sebuah pertanyaan, kenapa cinta berakhir dengan sengsara? Bukankah CINTA ITU SEBUAH ENERGI YANG DAPAT MENDORONG SESEORANG UNTUK BERBUAT DAN BERPERILAKU YANG JAUH LEBIH DAHSYAT DARIPADA SEBELUMNYA? Mengapa justru cinta mematikan potensi, energi, dan semangat yang ada dalam diri?

    Cinta itu memang indah, ibarat taman yang dipenuhi bunga yang berwarna-warni. Ada orang yang datang menikmati keindahannya, mencium bau harumnya, menghirup udara segarnya, dan kemudian pulang untuk suatu saat kembali lagi. Akan tetapi ada juga orang sekali datang ke tempat itu, menikmati keindahannya, kemudian tak mau pergi lagi. Ia ingin menguasai taman itu, sekalipun banyak orang yang juga ingin menikmatinya.

    Cinta itu kadang berubah menjadi semacam alkohol yang memabukkan. Sekali mencoba ingin terus mengulangi, hingga sampai pada titik tertentu ia kemudian mencandu. Jika sudah pada tingkatan ini, maka dari hari ke hari kadar alkoholnya semakin dinaikkan, dosisnya semakin tinggi, sampai pada saatnya orang tersebut sakit dan mati justru oleh sesuatu “yang dicintai”.

    Jika cinta kepada manusia bisa seperti itu akibatnya, bagaimana dengan cinta kepada Allah? Dalam kaitan ini, banyak kaum sufi berpendapat bahwa cinta itu bahasa universal, berlaku pada siapa saja dan untuk apa saja. Berlaku universal untuk semua subyek dan obyek.

    CINTA KEPADA ALLAH YANG DILAKUKAN DENGAN CARA YANG SALAH BISA JUGA MENYENGSARAKAN, BAHKAN MEMATIKAN, sebagaimana kisah di atas. Untuk itu, para sufi berpesan terutama kepada para pemula agar lebih hati-hati. JIKA CINTA KEPADA ILAHI ITU DIIBARATKAN SAMUDERA, MAKA ORANG YANG SELAMAT ADALAH MEREKA YANG BERENANG. ADAPUN ORANG YANG TENGGELAM DALAM “LAUTAN CINTA” ITU JUSTRU TAK AKAN PERNAH SAMPAI KE TEPI.

    Di masyarakat kita banyak dijumpai para pecinta Allah yang menenggelamkan diri. Mereka asyik masyuk berdzikir kepada Allah berjam-jam lamanya di masjid, kemudian ia lakukan da’wah dari rumah ke rumah berhari hari, berbulan-bulan, bahkan ada yang sampai hitungan tahun dengan meninggalkan keluarganya, bahkan kadang tanpa bekal apapun. Mereka tenggelam dalam lautan cinta.

    Tenggelam di lautan itu memang mengasyikkan, terutama bagi mereka yang bisa menikmati keindahan taman laut. Di sana ada gugusan karang yang tertata alamiah dengan sangat indahnya. Di sana pula dijumpai warna-warni ikan hias yang luar biasa indahnya. Belum lagi ombak, bening, hangat dan dinginnya air laut. Semuanya indah, tapi BUAT APA KEINDAHAN ITU BAGI ORANG-ORANG YANG TENGGELAM?

    Untuk itu Allah menurunkan syari’at. DALAM SYARI’AT ITU ALLAH MENGENALKAN BATASAN-BATASANNYA, HINGGA KAUM BERIMAN SELAMAT DALAM MENGARUNGI BAHTERA KEHIDUPANNYA SAMPAI KE TEMPAT TUJUANNYA, BUKAN TENGGELAM LALU TIDAK DIKETAHUI DI MANA KEBERADAANNYA.

    Boleh saja orang menikmati khusyu’nya shalat sebagai sarana komunikasi dialogis dengan Allah swt. Akan tetapi shalat itu dibatasi dengan bacaan dan gerakan-gerakan. Orang yang shalat tidak boleh hanya menikmati ruku’nya saja, atau sujudnya saja, atau duduk tahiyyatnya saja. Semua gerakan, mulai dari takbiratul ihram hingga salam harus dinikmati semuanya secara proporsional. Inilah yang membedakan meditasi, baik meditasi agama-agama bumi maupun meditasi hasil karya cipta para spritualis yang kini berkembang bak jamur di musim hujan itu.

    Boleh saja shalat itu dilakukan berlama-lama di masjid, akan tetapi syari’at Allah tetap memberi batasan. Sehabis shalat kaum Muslimin harus segera pergi untuk menyebar di permukaan bumi, mencari karunia Allah berupa rizki. Dalam kaitan ini secara khusus Allah menyorotinya dalam firman-Nya:

    Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian beruntung. (Surat Al-Jumu’ah: 10)

    Apa bedanya orang yang berenang di lautan cinta Ilahi dengan mereka yang tenggelam di dalamnya? Orang yang berenang sadar bahwa ia sedang kepada Allah. Ia menikmati segala karunia yang disediakan Allah sambil terus berenang agar bisa sampai ke tujuan (Allah Swt). Adapun orang-orang yang tenggelam itu merasa dirinya sudah sampai kepada Allah. Ia tidak perlu lagi berenang, sebab tujuannya telah sampai. Ia tidak perlu lagi bersusah payah, karenanya ia menenggelamkan diri.

    Kini, apakah kita termasuk kelompok perenang atau orang yang tenggelam?

    *IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA* Al-Hubb Fillah wa Lillah,

    ***

    Author: Abu Zifora

    Editor: Abu Aufa

    Maraji’: Suara Hidayatullah

     
  • erva kurniawan 3:06 am on 15 January 2014 Permalink | Balas  

    siluet burungKisah Seekor Burung Gereja

    Ada seekor burung gereja yang sedang terbang di musim salju. Karena mengalami kedinginan yang amat sangat, sayapnya membeku sehingga tidak bisa dikepakkannya lagi. Ia pun jatuh di sebuah tanah lapang. Setelah beberapa lama terbaring kedinginan, maka tiba2 lewat seekor sapi yang tanpa sengaja membuang kotorannya tepat menimpa badannya. Kontan sumpah serapah pun segera meluncur keluar dari mulut mungilnya !!!

    Rupanya tanpa disadari oleh burung gereja itu, hangatnya kotoran sapi yang menimpanya itu lambat laun membuat suhu tubuhnya berangsur normal. Ketika ia sedang bersiap-siap akan terbang kembali, tiba-tiba munculah seekor kucing. Keruan saja buruk gereja ini panik dan ingin secepatnya terbang menghindar. Tetapi sayangnya ternyata ia belum mampu, karena sayapnya rupanya masih agak membeku. Ia pun dengan dengan ketakutan yang amat sangat terpaksa pasrah saja menerima nasib. Namun diluar dugaannya kucing yang biasanya tidak pernah ramah terhadap burung gereja, kali ini bersifat sangat simpatik. Ia sama sekali tidak mengganggunya, bahkan menjilat-jilati badannya seolah-olah ingin membersihkan sisa-sisa kotoran sapi yang melekat pada bulu-bulunya. Sehingga akhirnya bersihlah seluruh badan burung gereja itu.

    Hangatnya kotoran sapi serta jilatan kucing itu rupanya mampu memulihkan kondisi burung gereja itu untuk dapat terbang kembali. Namun demikian burung gereja ini ternyata belum mau terbang. Rupanya ia menikmati jilatan kucing itu sebagai perlakuan yang memanjakannya. Maka ia pun membiarkan dirinya tetap terbaring sambil berpura-pura masih kedinginan, dengan harapan semoga kucing itu akan menjilatinya lagi.

    Tetapi apa yang terjadi Melihat badan burung gereja itu sudah bersih, maka kucing itu pun dengan ganasnya menerkam burung yang bodoh itu!!!!

    Burung gereja di atas melambangkan perumpamaan orang yang hanya pandai melihat yang tersurat saja. Baginya sesuatu yang tidak menyenangkannya selalu dianggapnya buruk, dan kejadian yang menyenangkannya dianggap pasti baik. Orang yang mempunyai sikap seperti ini jelas berlawanan dengan firman Allah pada surat Al-Baqarah 216, ” Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” Boleh jadi kita belum yakin sepenuhnya dengan firman Allah ini, tetapi yang pasti burung gereja itu sudah membuktikannya Dan bila kita tetap terpana dengan yang tersurat saja, bukan tidak mungkin kita akan bertemu dengan burung gereja itu.

    “Dan orang-orang itu berkata; ” seandainya kami mau mendengarkan (nasihat agama) dan kami menggunakan akal-akal kami, pasti kami tidak menjadi penghuni neraka Sair.” [Al-Mulk ayat 10].

    Wallahua’alam.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:42 am on 11 January 2014 Permalink | Balas  

    nabi-muhammad-saw1E-mail Dari Rasul

    Malam sudah cukup larut, namun mata ini masih tak bisa terpejam. Semua tugas-tugas kantor yang kubawa pulang sudah selesai, tak lupa kusediakan setengah jam sebelum pukul 23.00 untuk membalas beberapa email yang baru sempat terbaca malam ini. Nyaris saja kupilih menu “shut down” setelah sebelumnya menutup semua jendela di layar komputer, tiba-tiba muncul alert yahoo masuknya email baru. “You have 1 new message(s)…”. Seperti biasanya, aku selalu tersenyum setiap kali alert itu muncul, karena sudah bisa diduga, email itu datang dari orang-orang, sahabat, saudara, kerabat, intinya, aku selalu senang menunggu kabar melalui email dari mereka. Tapi yang ini … Ooopss … ini pasti main-main … disitu tertulis “From: Muhammad Rasul Allah”

    Walaupun sudah seringkali menerima junkmail atau beraneka spam, namun kali ini aku tidak menganggapnya sebagai email sampah atau orang sedang main-main denganku. Maklum, meski selama ini sering sekali teman-teman yang “ngerjain”, tapi kali ini, sekonyol-konyolnya teman-teman sudah pasti tidak ada yang berani mengatasnamakan Rasulullah Saw. Maka dengan hati-hati, kuraih mouse-ku dan … klik …

    “Salam sejahtera saudaraku, bagaimana khabar imanmu hari ini … Kebaikan apa yang sudah kau perbuat hari ini, sebanyak apa perbuatan dosamu hari ini …”

    Aku tersentak … degub didada semakin keras, sedetik kemudian, ritmenya terus meningkat cepat. Kuhela nafas dalam-dalam untuk melegakan rongga dada yang serasa ditohok teramat keras hingga menyesakkan. Tiga pertanyaan awal dari “Rasulullah” itu membuatku menahan nafas sementara otakku berputar mencari dan memilih kata untuk siap-siap me-reply email tersebut. Barisan kalimat “Rasulullah” belum selesai, tapi rasanya terlalu berat untuk melanjutkannya. Antara takut dan penasaran bergelut hingga akhirnya kuputuskan untuk membacanya lagi.

    “Cinta seorang ummat kepada Rasulnya, harus tercermin dalam setiap perilakunya. Tidak memilih tempat, waktu dan keadaan. Karena aku, akan selalu mencintai ummatku, tak kenal lelah. Masihkah kau mencintaiku hari ini?”

    Air menetes membasahi pipiku, semakin kuteruskan membaca kalimat-kalimatnya, semakin deras air yang keluar dari sudut mataku.

    “Pengorbanan seorang ummat terhadap agamanya, jangan pernah berhenti sebelum Allah menghendaki untuk berhenti. Dan kau tahu, kehendak untuk berhenti memberikan pengorbanan itu, biasanya seiring dengan perintah yang diberikan-Nya kepada Izrail untuk menghentikan semua aktifitas manusia. Sampai detik ini, pernahkah kau berkorban untuk Allah?”.

    Kusorot ketengah halaman ….

    “Sebagai Ayah, aku contohkan kepada ummatku untuk menyayangi anak-anak mereka dengan penuh kasih. Kuajari juga bagaimana mencintai istri-istri tanpa sedikit melukai perasaannya, sehingga kudapati istri-istriku teramat mencintaiku atas nama Allah. Aku tidak pernah merasakan memiliki orangtua seperti kebanyakan ummatku, tapi kepada orang-orang yang lebih tua, aku sangat menghormati, kepada yang muda, aku mencintai mereka. Sudahkah hari ini kau mencium mesra dan membelai lembut anak-anakmu seperti yang kulakukan terhadap Fatimah? Masihkah panggilan sayang dan hangat menghiasi hari-harimu bersama istrimu? Sudahkah juga kau menjadi pemimpin yang baik untuk keluargamu, seperti aku mencontohkannya langsung terhadap keluargaku?.

    Satu hentakkan pagedown lagi …

    “Aku telah memberi contoh bagaimana berkasih sayang kepada sesama mukmin, bersikap arif dan bijak namun tegas kepada manusia dari golongan lainnya, termasuk menghormati keberadaan makhluk lain dimuka bumi. Saudaraku …”

    Cukup sudah. Aku tak lagi sanggup meneruskan rentetan kalimatnya hingga habis. Masih tersisa panjang isi email dari Rasulullah, namun baru yang sedikit ini saja, aku merasa tidak kuat. Aku tidak sanggup meneruskan semuanya karena sepertinya Rasulullah sangat tahu semua kesalahan dan kekuranganku, dan jika kulanjutkan hingga habis, yang pasti semuanya tentang aku, tentang semua kesalahan dan dosa-dosaku.

    Kuhela nafas panjang berkali-kali, tapi justru semain sesak. Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap, entah apa yang terjadi. Sudah tibakah waktuku? Padahal aku belum sempat me-reply email Rasulullah itu untuk memberitahukan kepada beliau bahwa aku tidak akan menjawab semua emailku dengan kata-kata. Karena aku yakin, Rasul lebih senang aku memperbaiki semua kesalahanku hari ini dan hari-hari sebelumnya, dari pada harus bermanis-manis mengumbar kata memikat hati, yang biasanya tak berketerusan dengan amal yang nyata.

    Pandanganku kini benar-benar gelap, pekat sampai tak ada lagi yang bisa terlihat. Hingga … nit… nit… alarm jam tanganku berbunyi. 00.00 WIB. Ah, kulirik komputerku, kosong, kucari-cari email dari Rasulullah di inbox-ku. Tidak ada. Astaghfirullaah, mungkinkah Rasulullah manusia mulia itu mau mengirimi ummatnya yang belum benar-benar mencintainya ini sebuah email? Ternyata aku hanya bermimpi, mungkin mimpi yang berangkat dari kerinduanku akan bertemu Rasul Allah. Tapi aku merasa berdosa telah bermimpi seperti ini. Tinggal kini, kumohon ampunan kepada Allah atas kelancangan mimpiku.

    Wallahu “a”lam bishshowaab

    ***

    Eramuslim – Bayu Gautama

     
  • erva kurniawan 3:36 am on 10 January 2014 Permalink | Balas  

    Renungan Jumat: Pak Engkos 

    tukang_becak1Pak Engkos

    Pak Engkos, begitulah masyarakat sekitar rumahnya biasa memanggil. Beliau seorang tukang becak yang rajin ke masjid. Sholat jama’ah Maghrib, Isya’ dan subuh, hampir tak pernah absent. Seorang ibu bilang kepada saya, bahwa sebelumnya pak Engkos memiliki beberapa becak dan menyewakannya kepada tukang becak yang lain. Tinggal di rumah yang cukup lumayan, didampingi seorang istri dan seorang anak yang berusia dibawah sepuluh tahun.

    Karena kebijakan pemerintah setempat yang tidak mengijinkan becak beroperasi di kawasan tertentu, suatu hari becak pak Engkos kena operasi tramtib. Becakpun digusur dan dibuang ke laut.

    Jadilah pak Engkos tidak memiliki sarana pencari nafkah lagi. Rumah tinggalpun akhirnya ganti, dari rumah sederhana menjadi rumah yang hampir tak layak dihuni. Namun pak Engkos tetap tabah. Dia jalani kehidupannya dengan istiqomah, tetap berada di jalan Allah, tetap rajin sholat berjama’ah ke masjid, dan sekali-sekali bertindak menjadi imam sholat. Kami terkesan dengan bacaan qolqolahnya yang demikian kental.

    Untuk menyambung hidupnya, pak Engkos kembali menjadi tukang becak. Namun kali ini dia hanya sekedar buruh becak, yang harus memberikan uang setoran kepada majikannya. Hujan dan panas tak merintanginya bekerja menarik becak. Hingga ketuaan mulai menyapanya. Saat kondisi fisik sudah kurang mendukung, dia menderita sakit. Semakin hari semakin parah penyakitnya. Namun tak ada uang untuk pergi berobat. Hingga suatu malam datanglah seorang mahasiswa menyambangi rumahnya dan menawarkan bantuan pengobatan dengan syarat dia pindah agama.

    Dengan tegas pak Engkos menjawab, “Lebih baik saya mati dalam keadaan tetap beragama Islam, dari pada saya sembuh tapi harus pindah agama”.

    Mendengar kejadian itu, remaja masjidpun berembug. Kemudian membawa pak Engkos berobat kerumah sakit dengan pelayanan gratis tanpa biaya. Pak Engkospun bersyukur, begitu juga para remaja masjid. Karena pak Engkos berhasil berobat dengan tetap menjaga keimanannya.

    Janji Allah senantiasa benar. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushilat:30).

    Ditengah kondisi ekonomi yang menghimpit, ditambah dengan menderita sakit, pak Engkos berani menolak tawaran yang menggiurkan. Dia tidak takut mati, asal dalam keadaan tetap Islam dari pada sembuh tapi harus pindah agama. Pak Engkos-pun menjadi gembira, karena pertolongan Allah melalui tangan-tangan remaja masjid yang membawanya berobat dan merawatnya di rumah sakit hingga sembuh.

    Pak Engkos yang istiqomah. Kini beliau sudah tiada. Allah Swt berkenan memanggilnya beberapa saat setelah pulang dari rumah sakit. Semoga Allah Swt menerima segala amal kebaikannya, mengampuni kesalahannya, dan menempatkannya ditempat yang layak.

    Kesulitan ekonomi bukan penghalang untuk tetap istiqomah. Penderitaan fisik, rasa sakit dan ketidak beruntungan hidup di dunia bukan penghalang untuk tetap beriman kepada-Nya. Istiqomah di jalan Allah, akan mengantarkan kita kepada kehidupan yang kekal abadi di yaumil akhir nanti.

    Kesulitan kita, derita Pak Engkos… mungkin belum seberapa dibandingkan dengan perjuangan dan derita Rasul serta para sahabatnya. Malu rasanya.. jika kita harus gadaikan komitmen dan keimanan kita hanya demi sesuap nasi atau bahkan agar kita dipandang mapan di tengah masyarakat yang kian materialistis..

    Robbanaa laa tuzigh-quluubanaa ba’da ‘idz hadaitanaa wahab-lanaa milladunka rahmatan innaka antal wahhaab. Aamiin. (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (Petunjuk). (QS. Ali Imran:8).

    Wallahu ‘a’lam bishshowab.

    ***

    (Diambil dari http://www.eramuslim.com)

     
    • fauzi bin rifai 6:53 am on 10 Januari 2014 Permalink

      Allohuakbar walillahilhamd : Dialah yang mahabesar dan kita memujiNYA, semoga kita selalu istiqomah menjalani agamaNYA dan diringankan ujian dari yang seberat itu

  • erva kurniawan 3:41 am on 9 January 2014 Permalink | Balas  

    kisah-teladan-islamBeginilah Musuh Islam, dan Beginilah Umat Islam

    Ibu Guru berjilbab rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

    Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali. Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

    “Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

    Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”

    “Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham Bu Guru”

    “Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

    Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet. “Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

    “Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”

    “Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”

    Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

    ***

    Ini semua adalah fenomena Ghazwu lFikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya: “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu.” (9:32).

    Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.

    Maka tampak dari luar masih Muslim, padahal internal dalam jiwa ummat, khususnya generasi muda sesungguhnya sudah ibarat poteng (tapai singkong, peuyeum). Maka rasakan dan pikirkanlah itu dan ingatlah bahwa dunia ini hanya persinggahan sementara, ingatlah akan Hari Pengadilan.

    WaLlahu a’lamu bishshawab.

    ***

    Diambil dari: eramuslim

    H.Muh.Nur Abdurrahman

    Kolom Tetap Harian Fajar, dengan judul ‘Permainan Ibu Guru’ dari milist Faktual

     
  • erva kurniawan 6:44 am on 29 December 2013 Permalink | Balas  

    siluet keluargaIt’s Becaused You Love Us

    Rencana manusia hanya sebatas pandangan karena ujung dari rencana hanya Allah jualah yang menentukan.

    Rasa bahagia kami lengkap sudah dan kian menambah semarak hari-hari kami ketika di akhir Februari lalu aku mendapati istriku tengah mengandung si buah hati. Sempurna sudah statusku sebagai seorang suami yang mampu memberikan keturunan. Kabar gembira pun kami sebarkan kepada orang tua, sanak keluarga dan teman-teman terdekat dengan harapan do’a agar kami dapat menjaga amanah Allah ini dengan sebaik-baiknya.

    Hari demi hari kami lalui dengan segala kegembiraan bermimpi segera menimang si buah hati. Nama indah penuh do’a pun sudah kami persiapkan. Entah mengapa kami berdua sepakat hanya menyiapkan satu nama anak lelaki.

    Namun di awal April kami harus segera mengubur impian indah kami ketika dokter memutuskan bahwa si calon buah hati harus dikeluarkan dari perut sang bunda karena alasan medis. Tak terperih kepedihan kami berdua. Apalagi sebagai seorang calon ibu, istriku sangat menantikan seorang anak. Kabar itupun hampir tak sanggup dipikul olehnya. Istriku hampir limbung menerima kenyataan ini. Aku hanya mampu berdo’a kepada Allah agar kami senantiasa diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi ujian ini. Walau kesedihan juga mendera hati teramat sangat namun aku berusaha terlihat tabah di hadapan istriku dan tak lepas kubisikan kepadanya agar terus beristighfar dan ikhlas dengan apapun kehendak Allah.

    Ku ingatkan istriku tentang kisah nabi Khidir yang membunuh seorang anak. Hikmah pembelajaran bagaimana menjadi seorang yang sabar bagi nabi Musa yang diajarkan oleh nabi Khidir. Sebagaimana dikisahkan di Al-Qur’an (surat Al Kahfi) bahwa anak kecil tersebut terpaksa dibunuh karena kelak diketahui akan mendorong kedua orang tuanya (yang mukmin) kepada kesesatan dan kekafiran. Dan Allah kelak akan mengganti bagi mereka dengan anak yang lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya kepada orang tuanya.

    Allah telah menentukan yang terbaik untuk calon buah hati kami dan aku percaya Allah Maha Tahu apa yang akan terjadi kelak jika dia dewasa. Mungkin dengan diambilnya sang janin sekarang, Allah kelak akan menggantikan yang lebih baik. Kukuatkan terus hati istriku untuk tetap beristighfar dan aku pun berusaha keras menjaga hati ini agar tidak luluh di hadapan istriku yang sedang shock berat.

    Dan siang itu ketika aku harus mengantarkan istriku ke ruang tindakan untuk mengeluarkan janin itu, mulut ini tak hentinya berdo’a memohon diberikan keselamatan untuk istriku tercinta.

    Ketika operasi itu selesai, dokter memanggiku untuk segera menemui istriku yang masih dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh obat bius. Kutatap istriku dalam diamnya. Ya Tuhan, air mata itu mengalir dari kedua sudut matanya. Mengalir deras dari alam bawah sadarnya. Dan aku sudah tidak mampu melihat kepedihan itu. Mataku panas oleh air mata yang serasa menggelegak mencoba keluar. Pertahananku pun bobol. Pipiku basah. Tidak mampu aku melihat wajah istriku yang pilu.

    Ya Allah, kuatkan kami, tautkan cinta kami. Terimalah buah cinta kami yang Engkau pinta kembali dengan segala keikhlasan kami. Karena apapun yang telah Engkau putuskan dan itu adalah karena Engkau mencintai kami. Anugerahkan bagi kami pengganti yang sholeh, yang sholehah, yang lebih dalam kasih sayangnya kepada kami. Jadikanlah kelak dia sebagai mujahid-Mu yang senantiasa membela agama-Mu di semesta alam raya ini.

    Segala kegembiraan yang pernah Engkau karuniakan kepada kami adalah karena Engkau mencintai kami. Begitu juga segala ujian yang kini menghampiri kami adalah bagian dari cinta-Mu kepada kami. Agar kami senantiasa tidak pernah berpaling kepada pelindung yang lain selain hanya kepada-Mu. Sebab kami tahu, It’s becaused YOU love us. Amiin. (as told by ayah, penuh cinta!)

    ***

    Oleh: Sahabat – eramuslim

     
  • erva kurniawan 2:53 am on 26 December 2013 Permalink | Balas  

    tasbih quranKisah Sufi: Dzunun al Misri

    Suatu saat Dzunun al Misri berlayar dengan santri-santrinya, bertemulah mereka dengan kapal perampok yang isinya hanya kegiatan maksiat semua, karena geram para santri minta kepada sang Syeikh untuk mendoakan kecelakaan bagi kapal perampok tersebut (tentu maksudnya kalau mereka binasa tidak ada lagi kemaksiatan), dan sang Syekh menyetujui permintaan santrinya dengan berdo’a. Tapi betapa terkejut mereka karena do’a yang disampaikan sang Syekh ini ternyata: Ya Allah berikanlah mereka kebaikan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Kontan para santri protes kenapa do’anya begitu, dengan wajah teduhnya dan penuh kasih sayang sang syekh hanya tersenyum. Dan kapal perampokpun semakin mendekati kapal santri tersebut, ternyata pimpinan perampok begitu mendekat dan melihat wajah sang syekh atas kehendak Allah menangis terisak-isak karena ingat mati, dan diakhiri dengan bertaubat, berislam dengan baik. Dari situlah para santri baru mendapatkan jawaban kenapa sang Syekh berdo’a seperti itu.

    Dari kisah yang sangat singkat ini banyak sekali haikmah yang rekan-rekan bisa dapatkan dan silahkan direnungkan dengan jiwa yang tenang, meskipun kita bukan sang Syeikh tadi setidaknya kita bisa belajar dari cara  beliau bertindak.

    Wassalaamu ‘alaikum wr.wb.

     
  • erva kurniawan 8:30 am on 23 December 2013 Permalink | Balas  

    melati1Tambah Satu Lagi Melati itu

    Bismillaahirrahmaanirrahiim

    Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh, supaya kamu selalu ingat. (QS. Al Araf 7:26)

    Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab 33:59)

    *****

    “Dunia ini semakin kacau Nisa, bunga-bunga semakin berani memamerkan aurat tubuhnya, astaghfirullooh.. kenapa mereka tidak mengerti?, kenapa Qalbu yang lembut itu tertutup? kenapa mereka lebih cinta dunia daripada Zat Yang Menciptakannya?.. kenapa?.. “

    Keluh Kasturi suatu ketika, ada semburat kemarahan dan kekecewaan di sana.

    “Apakah mereka tidak sadar diri bahwa dulunya mereka mati?, Apakah mereka tidak bersyukur bahwa dulunya mereka tak berbentuk?, dan kini.. mereka memilih menjual nyawa daripada menjaga kehormatannya. Padahal Allah begitu menyayangi mereka. Mereka korbankan jiwa demi uang, popularitas atau nama”. Padahal semua akan tinggal..

    Sungguh.. kasihan sekali, apakah mereka tidak pernah membaca sejarah bahwa di zaman jahiliyah kehadiran mereka adalah lambang kenistaan? Lebih baik mereka di kubur hidup-hidup daripada dipelihara dengan tanggungan kehinaan dan kini setelah dimuliakan, mereka malah berbalik merendahkan dirinya. Sudah di dunia rendah, apalagi di akhirat kelak?

    Gara-gara mereka cermin wanita ternoda gara-gara mereka fitnah merajalela, gara-gara mereka dunia ditimpa malapetaka. Aku benci mereka Nisa.. aku benci..”

    Semua terdiam mendengar perkataan Kasturi. Untaian katanya begitu menusuk, tajam dan mungkin menyakitkan? Sementara Nisa mencoba tersenyum menahan pahitnya kenyataan.

    “Apa yang engkau keluhkan ini, sama seperti yang kukeluhkan dulu, Kasturi..”. Ujar Nisa pelan, seraya melirik Ayuning yang duduk di sampingnya.

    “Kebencianmu pada mereka bisa Nisa maklumi karena cintamu pada Alloh.., sebagaimana sabda Rasul-Nya: Iman yang paling utama adalah bahwa engkau mencintai (seseorang) karena Alloh dan membenci (seseorang) karena Alloh. (At Thabrani)

    Membenci mereka, karena tidak memperhatikan Firman Alloh, sebab itu timbul usaha untuk merangkul mereka dengan kasih sayang agar kembali mendapat keridhaan Alloh. Betul begitukan ?”

    Kasturi menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan. Selanjutnya ketiga sahabat itu tenggelam dalam perbincangan panjang.

    *****

    Nisa memohon pada Yang Maha Kuasa agar memberikannya kekuatan, ia sadar sepenuhnya yang hadir di pengajian melati bukan hanya mereka yang mengenakan pakaian yang disyariatkan Alloh. Usai berdo’a, perlahan ia mulai memberikan salam dan percikan.

    “Ukhty, Alloh Swt yang sangat menyayangimu berfirman:

    Hai Anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari syurga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al Araf 7:27)

    Alloh telah memberitahukan keadaan nenek moyang kita dulu sewaktu diperdayakan, betapa senangnya syaitan melihat aurat Adam dan Hawa, begitu pula dengan kita. Sungguh, aurat yang tak terjaga itulah gerbang pembuka kemaksiatan di muka bumi ini

    Sungguh ukhty, Alloh yang menciptakan kita lebih tahu mana yang terbaik untuk ciptaan-Nya. Alloh menyuruh kita menjaga aurat karena tidak ingin kita teraniaya dan celaka.

    Dulu kita tidak ada, dengan kasih sayang-Nya, Ia menghadirkan kita. Pernah melihat lukisan indah seseorang? Kita saja yang melihatnya akan merasa takjub dan menghargainya, apalagi yang melukiskannya? Tentu Sang Pelukis lebih menghargai lukisannya, lebih menyayanginya, daripada insan yang hanya menilai. Begitu pula Alloh terhadap kita ukhty. Alloh tidak ingin lukisan-Nya dihina dan hidup sia-sia di dunia ini.

    Siapa yang paling menyayangimu kalau bukan Alloh? Rasakanlah kasih sayangnya dari lukisan wajah indahmu di hadapan cermin itu. Begitu sempurna. Begitu indah. Tidakkah engkau ingin mensyukurinya?

    Rasakan pula dalam setiap degup jantungmu, denyut nadimu, desah nafasmu, dan setiap apa yang engkau rasa pada dirimu. Tidak terpikirkah betapa Alloh senantiasa merawatmu? Ia tak pernah menghentikan dan membiarkanmu sedikitpun kesusahan. Walau betapa banyak salahmu, Alloh masih selalu mengasihimu, mengasihimu. Begitu banyak nikmat yang Ia berikan, jangankan untuk bersyukur, diri kita malah kufur.

    Bukankah nikmat rasanya jika disayang itu ya ukhty? jikalau kita sudah mengerti, mengapa kita tidak ingin disayang oleh yang Maha Penyayang itu sendiri? kenapa kita tidak ingin dicinta Sang Pencipta kita sendiri?

    Kelak apa yang kita lakukan di dunia ini diminta pertanggungjawaban, kelak seluruh anggota tubuh itu ditanya apa saja yang diperbuatnya. Kelak kita akan mengetahui kita selamat atau celaka!!!

    Karena itu, kuketuk dalam pintu hatimu, dengan segenap kemampuan jiwa dan ragaku, taqwalah dirimu dengan menjaga baik-baik apa yang Alloh titipkan kepadamu. Tutupilah aurat itu sebelum tiba masanya manusia tidak lagi memperdulikannya. Yaitu ketika seluruh langit dan bumi ini musnah dan terganti, ketika seluruh umat manusia berkumpul dalam keadaaan tubuh tak tertutup sehelai benangpun. Tak ada lagi yang memperdulikan, karena masing-masing telah sibuk dengan urusannya masing-masing.

    Duhai yang dianugerahi kelebihan rasa, duhai yang lebih dekat pada cinta, patuhlah pada Tuhanmu, kenakan pakaian taqwa itu, selamatkan dirimu Ulurkan jilbab ke seluruh tubuhmu! Tolong.. sempunakan ia!

    Tiba-tiba seorang wanita mendekati Nisa dengan berlinang air mata,

    “Boleh kupinjam jilbabmu untuk menutupi rambut dan seluruh tubuhku yang dibalut baju minim ini, Nisa?”

    Nisa memandang wanita yang ada dihadapannya. “Cathy! Betulkah apa yang kudengar tadi?, engkau mau mengenakan jilbab?”.

    Wanita itu menganggukkan kepalanya, seraya menangis. “Iya Nisa, karena aku takut murka Alloh.. takut kehilangan kasih sayang-Nya.. takut tidak diperdulikan-Nya di akhirat kelak.. takut tak bisa memandang wajah-Nya.. dan aku takut Alloh tidak mencintaiku Nisa.. aku takut Alloh tidak mencintaiku”

    Mendengar ucapan itu, Nisa memeluk Cathy, menciuminya, hampir ia tidak percaya bahwa gadis manis itu tergugah untuk menutup auratnya, Semua ini karena-Mu ya Alloh. Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan-Mu. Kemudian yang lain ikut menyalami Cathy, memeluk dan menciuminya sebagai ucapan selamat karena telah mendapat hidayah. Pada hari itu juga, dia tidak hanya mendapat 1 gaun muslimah lengkap, namun lebih. Tambah satu lagi Melati itu, Ya Alloh! Ucap Nisa seraya tersenyum bahagia, bahagia.

    Billaahi taufiq walhidayah, Wassalaamu’allaikum warahmatullooah wabarakaatuh

    ***

    Oleh: Ratna Dewi

    Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nuur 24:31)

     
  • erva kurniawan 7:49 am on 18 December 2013 Permalink | Balas  

    siluet anak kecilJangan Ambil Anakku

    Terkulai lemas, demam dan mukanya merah karena panas yang lebih dari 40 derajat, sungguh memilukan melihatnya. Anakku dalam kondisi begitu, yang tadinya lincah, cerewet, tiba-tiba diam kuyuh dan hanya tergeletak tidur. Putriku, betapa ingin aku yang tergeletak di situ menggantikanmu. Sakit yang paling berat yang dialaminya selama 1,5 tahun usianya.

    Normalnya dia akan meringis usil atau berlari dan lincah menarik perhatian. Pas dengan usianya yang memang sedang caper-capernya. Bidadari kecilku itu. Yang membayangkannya saja atau bercerita tentangnya saja cukup membuat dadaku terbuncah oleh rasa sayangku. Tapi jangan dianggap aku tidak pernah dibuat jengkel olehnya. Usia 1,5 tahun yang sudah bukan ‘bayi’ lagi, identik dengan banyaknya keinginan, yang terkadang tidak mau ngerti dengan argumen yang kita berikan. Ngotot, teriak, dan nangis jika apa yang dia maui tidak terpenuhi. Singkatnya sih bikin senewen. Ya itu … bidadari kecilku itu. Putriku satu-satunya.

    Sekarang aku harus menyaksikannya mederita sakit. Bayangan buruk segera terlintas. Seandainya hari ini dia harus pergi. Seandainya penyakit yang dia idap sekarang mengantarkannya untuk meninggalkan kami. Ada lintasan rasa protes dan tidak rela membayangkan itu. Takut! Bahkan nada meminta, ya Allah jangan ambil anakku! Jangan sekarang, dia masih kecil, dia baru sebentar bersama kami. Kupeluk dia erat dan tak terasa menetes air mataku.

    Astafighrullah. Astafighrullah. Jeritan hatiku itu manusiawi kan? Terlebih aku sebagai seorang ibu. Yang sudah mengandung, menyusui dan membesarkan. Tapi sebagai seorang hamba-Nya aku berusaha berpikir jernih dan berusaha menghilangkan pikiran buruk yang timbul. Aku tahu aku tidak boleh berpikiran buruk.

    Tapi satu hal yang perlu kukaji dan kurenungkan dalam, bukan mengenai pikiran buruk itu. Mengenai sikapku menghadapinya. Mengapa aku harus takut, protes bahkan tak rela seperti jika hal itu – misalnya – harus terjadi. Astafighrullah. Ya Allah ampuni hamba-Mu ini. Yang mempertanyakan kehendak-Mu dan takdir-Mu.

    Manusia itu tidak punya apa-apa. Semuanya titipan Allah termasuk anak. Hal yang sudah lama aku tau. Namun jelas belum tertanam subur dalam hatiku. Anak adalah titipan-Nya. Seiring perjalanan sang waktu, betapa sering menyesatkan, melenakan rasa sayang yang kita miliki ke anak-anak kita. Besarnya rasa cinta, kebersamaan setiap waktunya, membuat lupa hakekat anak yang bukan milik kita.

    Aku tau aku harus mematri perlahan namun pasti dalam otak dan hatiku, bahwa bidadari kecilku itu bukan milikku. Dia titipan Allah yang diamanahkan padaku dan harus kujaga titipan itu. Sehingga kelak entah kapan kalau diminta kembali, bisa kembali dengan baik. Sehingga kelak ketika ditanya pertanggungjawabanku tentangnya aku sudah melakukan kewajibanku sebaik-baiknya.

    Rasa sedih adalah manusiawi, tapi rasa tidak rela dan ridho menghadapinya bukan merupakan sikap seorang Muslim yang beriman. Rasulullah Saw sendiri menangis sedih ketika putra beliau, Ibrahim meninggal. Tetapi beliau mengatakan, “Tidak akan berkata kecuali yang diridhoi Allah”. Artinya kesedihan beliau tidak sampai melanggar seperti menyalahkan ketentuan Allah atau tidak menerima takdir-Nya. Yakinlah bahwa di setiap kehendak dan takdir Allah selalu banyak hikmah dibaliknya.

    Mungkin ada baiknya jika kita merenungkan, mempertanyakan akan seperti apa kita ketika titipan Allah kepada kita diambil dan diminta. Bukan untuk buang-buang waktu memikirkan dan merisaukan hal yang tidak terjadi. Sekali lagi juga bukan untuk berpikiran buruk atau negatif, tapi untuk melihat jauh kedalam hati sanubari kita bagaimana kita memposisikan anak kita. Sebagai milik kita? Sebagai lambang identitas pribadi. Atau sebagai titipan dan amanah Allah yang harus kita jaga, pelihara dan kita didik.

    Orang tua harus ikhlas kalo barang pinjaman tersebut sudah diminta kembali. Dan itu tidak mengurangi sedikitpun porsi cinta dan sayang kita. Hanya menempatkannya pada porsi yang benar. Jangan sampai rasa sayang dan memiliki yang berlebihan membuat kita melanggar dan menentang ketentuan dan takdir Allah. Anak memang merupakan nikmat, tapi juga cobaan bahkan juga bisa menjadi fitnah. Wallahu’alam bishshowab.

    Ya Allah Engkau Maha Berkuasa dan Maha Tahu. Bimbing kami untuk mendidik anak-anak kami menjadi anak sholeh/sholehah dan manjadi hamba-Mu yang beriman. Jangan jadikan mereka pemberat langkah kami menuju surga-Mu ya Allah. Jangan engkau jadikan anak-anak kami sebagai fitnah bagi kami ya Allah. Jaga hati kami ya Allah untuk selalu condong kepada-Mu.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 8 December 2013 Permalink | Balas  

    maafMulianya Memaafkan

    Ada sebuah buku yang ditulis oleh seorang penulis terkenal, Dave Pelzer, berjudul A Man Named Dave, yang menggambarkan sebuah kisah tentang keberhasilan dan kekuatan dari sikap memaafkan. Buku tersebut – yang merupakan kesimpulan dari dua buku Pelzer sebelumnya yang menjadi best seller, A Child Called “It” dan The Lost Boy  begitu menyentuh hati siapapun yang membacanya, karena tidak seperti buku sebelumnya yang membuat dada berdegub, A Man Named Dave juga mengajak kita untuk meneguhkan hati, membalas kezaliman dengan sikap memaafkan.

    Sebagaimana digambarkan Pelzer, selama tidak kurang dari delapan tahun sejak usia 4 tahun hingga usia 12 tahun- mengalami berbagai siksaan yang sangat brutal dari ibunya sendiri yang menganggap Pelzer hanya sebagai “It” yang bisa diperlakukan dengan seenaknya, meninju, menendang, melemparkan dari atas menggelundung ke dasar tangga, menginjak-injak bahkan mencekiknya sampai nyaris mati. Sebuah kebesaran hati yang mengesankan dari Dave Pelzer bahwa kemudian ia tak sedikitpun menyalahkan sikap The Mother (ibunya) selama delapan tahun itu yang menyebabkan ia tak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu. Hingga akhirnya Pelzer menemukan dirinya sendiri di dalam hati, sampai ia mampu membebaskan diri.

    Bahkan dalam catatan di belakang buku tersebut, Jack Canfield, salah seorang penulis Chicken Soup for The Soul mengatakan bahwa Pelzer adalah bukti nyata yang menunjukkan bahwa kita masing-masing memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri sendiri, tak peduli pengalaman seburuk apapun yang menimpa diri kita.

    Dalam buku Mensucikan Jiwa, Said Hawwa menerangkan tentang empat kategori manusia dalam hal kemarahan, yang pertama, seperi ilalang yang cepat tersulut dan cepat pula reda. Kedua, seperti pohon bakau; lambat tersulut dan lambat pula redanya, ketiga, lambat tersulut dan cepat reda. Jenis ini yang paling terpuji, selagi tidak mengakibatkan redanya ghirah dan semangat pembelaan kebenaran. Sedangkan yang keempat, cepat tersulut dan lambat redanya. Jenis ini yang paling buruk.

    Berkaitan dengan itu, Imam Ghazali pernah mengajarkan bagaimana seharusnya seorang mukmin melampiaskan kemarahan. Bahwa kesabaran seseorang memang ada batasnya dan pada saatnya telah melampaui ambang batas itu, sangat wajar bilang seseorang harus marah. Hanya saja, yang terpenting adalah bagaimana kita mampu mengukur kadar marah itu sesuai dengan tingkat kesalahan orang membuat kita marah, selain juga kemarahan yang dilampiaskan masih wajar dan berada dibawah kesadaran yang tinggi. Inilah yang sulit, makanya Rasulullah pun pernah mengatakan bahwa memaafkan adalah sikap mulia dari seorang mukmin.

    Memaafkan, bukan memberi maaf, jelas perintah dalam surat Ali Imran ayat 134, karena memaafkan bermakna lebih mulia ketimbang memberi maaf. Memaafkan adalah sikap yang diberikan secara ikhlas terlepas orang yang melakukan kesalahan, sikap dan tindak semena-mena, dan atau ketidakadilan itu memintanya atau tidak. Dan sikap memaafkan itu dikatakan Allah sebagai satu sikap orang-orang bertaqwa yang Allah sediakan bagi mereka syurga seluas langit dan bumi.

    Bayangkan betapa mulianya orang-orang yang mampu memaafkan, karena sikap memberi maaf setelah orang meminta maaf saja sudah sedemikian luhur. Bahwa juga sikap seseorang yang meminta dimaafkan setelah melakukan satu kesalahan pun sudah begitu bagusnya. Sungguh membutuhkan kebesaran jiwa untuk bisa memaafkan kesalahan orang tanpa menunggu orang memintanya, karena pada saat itu kita telah membunuh kesombongan, dan rasa sebagai orang menang.

    Karena jika kita tak mampu melakukannya, dan menelan kemarahan itu karena ketidakmampuan untuk melampiaskannya seketika maka ia akan kembali ke dalam bathin dan menyelinap ke dalamnya lalu menjadi kedengkian. Kata Said Hawwa, makna kedengkian ialah hati senantiasa merasa berat dalam menelan kemarahan, merasa benci kepadanya dan lari darinya. Kedengkian adalah buah dari kemarahan.

    Sikap yang sebaiknya dilakukan seseorang adalah, selain memaafkan adalah meningkatkan kebaikan terhadapnya sebagai perlawanan terhadap hawa nafsu dan syetan maka hal itu merupakan maqam orang-orang yang tergolong shiddiqin, dan termasuk perbuatan orang-orang yang mencapai maqam Muqarrabin (orang-orang yang dekat dengan Allah). Wallahu a’lam bishshowaab

    ***

    Bayu Gautama – eramuslim

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 3 December 2013 Permalink | Balas  

    al-quranKisah Nyata Seorang Mualaf

    Bismillahirrahmanirrahim

    Inilah sebuah kisah kesaksian dari seorang mantan Gembala Gereja dan penginjil bernama Paulus F Tengker, yang bernama Islam Rahmad Hidayat, yang oleh saya (M.Donny Setiawan) dikutip dan ditulis kembali. Silahkan baca dengan penuh ketulusan atas pengakuan jujur, kisah mantan Gembala Gereja dan penginjil ini, yang telah bertabat dan menemukan kebenaran Ilahi.

    Inilah Kisah Nyatanya :

    Tadinya saya ragu untuk menulis kisah ini, karena takut terjebak dalam rasa dan sifat riya, tetapi setelah membaca posting kisah kesasian 4 orang Gembala yang kembali ke agamanya masing-masing yang diposting lewat : yesus.net dan kebenaran.net, ini merupakan sebuah pengungkapan jujur dan berani atas praktek Rohani Gereja yang sebenarnya rahasia dan tidak diketahui oleh banyak pihak termasuk oleh umat Kristiani sendiri. Karena saya melihat ada upaya penyangkalan kebenaran oleh kalangan-kalangan tertentu Umat Kristiani di forum diskusi agama tersebut. Demi tegaknya kebenaran dan agar semakin banyak Domba-domba maupun Gembala-gembala kristus yang bisa menemukan jalan kebenaran Ilahi yang sesungguhnya, maka saya beranikan diri menulis dan menuturkan kisah sejati ini.

    Saya berharap para Domba dan Gembala Kristus yang membaca kisah ini dapat memahami dan menghayati pengalaman rohani saya ini, agar bisa menemukan kebenaran Ilahi yang sejati, Jalan Tuhan yang Benar dan tidak sesat.

    Oleh karena itu demi penghargaan kepada umat Kristiani dan Umat Islam, saya tidak mengutip satu ayatpun dari Al-kitab dan Al-quran. Kesaksian tersebut adalah betul-betul ungkapan hati dan Jiwa Saya.

    Saya seorang pria, dilahirkan di Manado 27 tahun yang lalu. Nama saya Paulus F.Tengker, saya dilahirkan dalam tradisi keluarga penganut Kristen yang Fanatik. Ayah saya seorang Pendeta Gereja Pantekosta, kakak wanita tertua menikah dengan seorang penginjil Nehemia terkenal. Saya dididik untuk taat dalam beragama, menjadi Gembala tuhan. Itulah sebabnya setamat SMA, saya melanjutkan kuliah ke sebuah Sekolah Misi Al-kitab yang berlokasi di Jl. Arjuno – Surabaya. Kota Surabaya dipilih karena selain lebih dekat ke Manado, juga merupakan salah satu Kota dengan Umat Kristiani yang terkemuka.

    Banyak Gereja berdiri megah di tengah Kota dan Pekabaran Gembira Cinta Kasih Tuhan yesus mendapat respon yang sangat baik dari Masyarakat Jawa Timur, yang mayoritas beragama Islam Fanatik. Selama Kuliah saya juga bekerja Part-time sebagai pelayan Tuhan di Gereja Nehema dan Gereja Pantekosta di Indonesia Timur cabang Surabaya, saya bekerja sebagai penyusun Kisah kesaksian dari hama-hamba Islam yang bertobat masuk Kristen. Karena kebanyakan orang-orang itu adalah orang-orang dari desa, atau orang yang awam, beberapa diantaranya bahkan seperti sakit Jiwa, atau para pemakai Narkoba yang masih kecanduan berat, maka saya harus menuliskan kisah-kisah kesaksian yang hebat untuk mereka.

    Saya basa menulis cerita dengan tajuk : “Hamba Tuhan yang kembali, mantan seorang Kiyai masuk Kristen, Mantan Dosen IAIN masuk Kristen, dsb.

    Kisah-kisah palsu karangan saya itu sangat sempurna sekali, bahkan hampir tak bercela, saya ahli mengutip Al-Qur-an dan Hadist, saya juga tahu urutan pendidikan Islam dari mulai sekolah Islam, sampai pondok pesantren hingga IAIN. Saya juga sering ditugaskan untuk membuatkan dokumen asli tapi palsu ; Ijazah palsu dan foto-foto palsu, untuk meberikan kesan bahwa mereka itu dulunya benar-benar bekas tokoh-tokoh Islam walaupun sebenarnya Bukan.

    Bahkan saya juga mengajari mereka membaca Al-quran yang akan dipakai menohok orang-orang Islam yang sedang kami injili dan berusaha membantah Kami.Beberapa Kisah kesaksian yang sudah dibukukan, beberapa diantaranya merupakan hasil karangan saya. Memang betul orang Islam yang murtad  itu ada tetapi mereka tak sehebat kesaksiannya, jika disebut mantan ulama atau Mahasiswa IAIN, atau Guru Ngaji yang sekolah dimesir, maka sebenarnya mereka itu adalah para pengemis, gelandangan, bekas pecandu Narkoba, Wanita Nakan dan para preman tak beragama, orang desa yang ber KTP Islam, tapi berbudaya animisme didesa-desa pesisir selatan Jawa (misalnya ; Sukabumi dan Blitar). Bahkan saya sering berjumpa Orang-orang Islam yang diBabtis itu ernyata seumur hidupnya hampir tidak pernah Shalat dan mengetahui ajaran Islam yang paling dasar, tetapi kami harus melaporkan keberhasilan ini dengan cara yang gemilang kepada para Jemaat yang telah berderma, maka kami merekayasa kisah kesaksian orang-orang lugu ini menjadi hebat dan canggih. Tentu para Domba Gereja akan senang kalau mantan Ulama masuk Kristen, Walaupun yang sebenarnya Cuma bekas Gelandangan Buta huruf misalnya. Saya jalani terus pekerjaan ini hingga tamat Kuliah dan akhirnya saya dinobatkan menjadi Pendeta Muda. Karena keahliah saya ini terhitung langka, maka tugas ini tetap dipertahankan. Saya juga Rajin Membeli Tafsir Al-Quran, hadist, dan buku-buku Islam untuk mencari kelemahan-kelemahannya, Gereja mendanai setiap apapun yang berhubungan dengan kerjaan saya.

    Saya menemukan bahwa sikap saling beda pendapat, namun saling menghargai sebagai kelemahan Islam yang paling utama dalam pandangan Kristen. Bahkan saya juga pernah berpura-pura mengaji dan mengaku sebagai Islam dengan mengundang seorang Guru Ngaji kerumah Dinas saya, saya belajar ngaji hingga 1 tahun lebih dan ustadz itu tak pernah menyadari sampai saya tamatbelajar, bahwa saya sebenarnya seorang Kristen.

    Berkat pengajaran beliau itu saya bahkan bisa ngaji dan hal ini ternyata berguna sekali untuk saya sekarang ini, ketika kali ini saya dengan sesungguhnya belajar Islam.

    Saya pun secara Part Time terkadang ikut misi penginjilan malam bertajuk Tuhan Berkabar di Malam Hari. Kami mendatangi tempat-tempat keremangan malam seantero kota Surabay, kami wartakan Injil kepada para pekerja sex, ABG, wanita nakal, dan kaum Gay.

    Yang kami targetkan untuk dikristenkan biasanya adalah para pekerja sex independen, para pengunjung diskotik dan kafe yang menyambi, baik itu Gadis belia maupun para lelaki muda penjaja sex untuk kaum gay. Setiap orang yang terpilih biasanya hasil seleksi dan pengamatan yang teliti, tidak sembarangan orang kami jadikan target. Biasanya kami telah mengawasi mereka selama kurang lebih 1 hingga 3 bulan. Para penginjil yang aktif disini tidak aktif dalam kegiatan Gereja apalagi memimpin kebaktian dan acara Rohani lain.

    Sebab kami tak mau citra Gereja rusak di mata Umat yang kebetulan bertemu para penginjil di tempat keremangan malam tersebut. Juga para Penginjil itu tidak menggunakan seragam resmi, mereka berdandan seperti umumnya pengunjung diskotik dan Kafe.

    Selain itu para Penginjil Gembala Tuhan di malam hari juga aktif dalam jaringan pengedaran Narkoba, sebab inilah cara termudah menjerumuskan seorang Umat beragama lain dalam kesesatan hidup lalu setelah mereka tersesat dan butuh pertolongan, kamilah kamilah yang akan merangkul mereka. Apabila tidak terangkulpun kami sudah berhasil merusak sebagian dari generasi muda Islam yang sering ke diskotik atau kafe. Mungkin para pembaca posting ini sudah membaca artikel panjang tentang jaringan Narkoba di Jakarta di harian Kompas edisi hari Minggu tgl 11 Mei 2001, disana diceritakan dengan gambling betapa penyebaran dan mafia narkoba sudah menyebar sangat pesat diJakarta dan sulit diberantas. Betapa aparat kepolisian, TNI, pengelola tempat hiburan malam, para pengunjung, dan mafianya bekerja sama begitu rapi. Tapi ada yang kurang dari cerita itu dan ini sangat sulit mereka telusuri, yaitu keterlibatan Gereja dalam Jaringan dan Sindikat Narkoba.

    Berbeda dengan para mafia dan Bandar yang ingin mengeruk keuntungan materi, gereja terlibat semata untuk menjaring Domba Kristus baru dan menyesatkan Generasi Muda Islam.

    Jujur saja, kisah kesaksian bahwa para Gembala Tuhanpun banyak yang memakai Narkoba untuk menunjang performance mereka itu benar adanya. Narkoba itu digunakan agar para gembala Tuhan tampil percaya diri dan kami sangat yakin bahwa kondisi fly dan kakauw adalah kondisi dimana kami bisa kontak langsung dengan Roh kudus. Kisah yang dituturkan 4 mantan gembala itu benar adanya. Saya pun tahu persis, karena selaku anggota tidak tetap penginjilan malam hari, sayalah yang memasok kebutuhan mereka, saya kenal banyak dengan para Bandar besar Narkoba di Surabaya. Bahkan beberapa para Bandar besar itu adalah jemaat Gereja yang taat, donasinya bahkan ada yang melebihi nilai persepuluhan mereka.

    Selain menyumbang uang untuk penginjilan, mereka juga menjual Narkoba dengan harga khusus kepada gereja untuk memasok kebutuhan para Gembala yang membutuhkan dan untuk diedarkan guna merusak Generasi Muda Islam. Saya juga terkadang juga memakai ectassy / innex hanya saja saya pakai ketika menjamu para tamu Gembala Tuhan dari luar Kota. Kami pun biasa ketemu dan ngobrol-ngobrol dibeberapa pub malam terkenal, yang pasti dikunjungi para pelayan dan gembala Tuhan bila berkunjung ke Surabaya.

    Kami punya private number di Kowloon dan Club Deluxe dan top Ten. Saya pernah menemani pendeta terkenal seperti : KAM.Yusuf Ronny(yang mantan muballigh dan tokoh Islam terkenal), Gilbert Lumoindang dan Suradi ben Abraham di pub – pub tersebut.

    Kami bahkan pernah melakukan pembabtisan pekerja sex di private room salah satu pub terkenal itu sambil tripping. Setelah itu kami Dating dengan mereka, “mandi suci bersama” istilahnya. Kalau masalah skandal sekx antara Jemaat dengan Pendeta atau penyanyi Gereja dan Gembalanya, saya tidak tahu persis, tapi yang saya tahu memang sewaktu menerima para gembala Tuhan mengunjungi Pub malam, pernah mereka diantaranya ditemani beberapa wanita yang dikatakannya sebagai Jemaat yang minta untuk diurapi secara khusus.

    Selain itu saya juga aktif dalam pembinaan domba-domba baru yang kebanyakan berasal dari pedesaan dan para pekerja malam, seperti diuraikan diawal kisah nyata ini.

    Sayalah yang terkadang mengajari mereka tentang Islam, tetapi tentunya yang telah kami sortir bahwa ajaran Islam itu mengakui ketuhanan Yesus, misalnya. Saya juga mengajari mereka berakting untuk menunjang penampilan mereka diacara KKR atau kesaksian di Gereja. Jangan sampai mereka tidak hapal kisah nyata hasil rekaan saya sendiri lalu melenceng ke kisah nyata mereka sendiri, yang kalau ketahuan bisa berakibat fatal bagi Gereja.

    Khusus untuk KKR, kami melatih orang-orang untuk berpura-pura lumpuh, buta, bisu dan berbagai penyakit lainnya lalu pura-pura disembuhkan para pengKhotbah dan Jemaatpun akan histeris dan percaya itu mu’jizat. Kamipun harus menyiapkan upacara pemanggilan Roh kudus ditempat-tempat keramatdan angker di Surabaya sebelum acara penyembuhan Ilahi dimulai.

    Terkadang ada jemaat yang diluar kendali dan scenario betul-betul minta diurapi, biasanya kami akan segera menahan dia dengan mengatakan : maaf pendeta sibuk, dengan kedatangan umat yang luar biasa, lain kali saja!!!. Biasanya para penginjil malam lah yang bertugas untuk menahan orang-orang yang diluar scenario acara, kami tidak pernah melibatkan pemuda Gereja karena mereka diluar Gugus kendali komando kami.

    Memang pengakuan 4 orang mantan Gembala itu terdengar spektakuler dan sulit dipercaya, tetapi saya beritahukan kepada anda semua :

    SEMUA PENGAKUAN MEREKA ITU JUJUR dan BENAR ADANYA, SEMUA PRAKTEK TERCELA ITU MEMENG DIJALANKAN TERUTAMA OLEH :

    -                GEREJA BETHEL

    -                GEREJA BETHANY

    -                GEREJA NEHEMIA

    -                GEREJA SIDANG JEMAAT PANTEKOSTA

    -                GEREJA ABDIEL

    Bagi umat Kristiani maupun para Gembala dan pelayan Tuhan pun yang tidak pernah ikut kegiatan ini akan terkejut dan sulit mempercayai kenyataan ini, tetapi saya beritahukan sekali lagi : SEMUA ITU BENAR TERJADI. Selain mantan gembala itu saya juga saksi hidup lainnya.

    Mengapa saya masuk Islam ???

    Ketertarikan saya kepada Islam Bukan dari buku-buku yang saya baca, karena buku-buku itu tak pernah saya baca sepenuh hati dan tidak sampai tuntas, saya hanya menccari poin-poin tertentu saja. Saya masuk Islam bukan setelah saya bertemu atau berdiskusi dengan orang Islam, karena saya selalu menganggap dan diajarkan oleh Gereja bahwa orang-orang Islam itu Hina, bodoh, kotor, terbelakang, kasar, keji, penuh tipu muslihat dan penuh dosa.

    Ajaran Islam dinyatakan sebagai ajaran sesat dan ummatnya kalau tidak kita hinakan harus kita Insafkan. Hal-hal inilah yang tertanam dalam dalam benak saya sejak kecil hingga dewasa ini.

    Perlu semuanya ketahui bahwa ajaran kebencian kepada ajaran Islam dan umatnya ini merupakan pelajaran pokok yang diberikan kepada kader-kader umat Kristen sejak kecil. Materi ini mulai disampaikan dipengajaran sekolah minggu dan jika kita berminat menjadi penginjil atau gembala Tuhan, pelajaran ini akan semakin diperdalam.

    Saya akhirnya masuk Islam justru setelah mengalami suatu mimpi luar biasa dan Beberapa kejadian di keesokan harinya, yang akhirnya merubah jalan hidup saya menuju kebenaran sejati. Bermula dari suatu Kamis malam / Malam Jum’at tanggal 11 January 2001.

    Saya bermimpi sedang berdo’a dihadapan gambar Tuhan Yesus disuatu Gereja yang sangat megah, lalu datanglah Tuhan Yesus menemui saya dengan senyumnya yang agung, saya bahagia sekali, ini adalah mukjizat bagi saya. Saya lalu memandangi Tuhan Yesus dari ujung kaki hingga ujung rambut, sungguh mirip sekali, bahkan lebih agung disbanding foto dan gambar Tuhan yesus yang saya miliki.

    Tetapi sesaat kemudian dating menghampiri kami seorang pria berwajah Arab Palestina mirip orang Yahudi atau Israel, dia berkata “Kalian ini Siapa”??.

    Saya jawab: Saya seorang domba yang sedang bertemu Tuhannya!!

    Dia bertanya lagi : “Mana tuhannya??”

    Tuhan yesus yang datang pertama tadi menjawab : “Akulah Tuhan Yesus”, Juru selamat Ummat manusia dan Dunia , siapa engkau wahai pria Asing ??? (Tanya tuhan yesus).

    Pria Arab Palestina/Yahudi itu berkata : “akulah Isa Al-masih” dan Engkau bukanlah diriku.

    Saya menyela : “Wahai engkau orang Yahudi / arab, Janganlah engkau berbuat begitu dihadapan Tuhanku!!.

    Pria Yahudi tadi berkata : Kalau begitu buktikanlah bahwa kamu Yesus atau Isa Almasih yang sebenarnya!!.

    Lalu tuhan Yesus (orang yang pertama datang di mimpi saya) memejamkan matanya dan sungguh ajaib! Dari tangannya keluar mukjizat sinar api dan dia menyemburkannya kepada pria Yahudi itu, pikir saya pria Yahudi tadi binasa karena berani menghina Tuhan Yesus. Keajaiban keduapun terjadi, Pria Yahudi yang mengaku sebagai Isa Al-masih itu tak kurang suatu apapun dan dia lalu tersenyum, kemudian api itu kembali / membalik menyembur Tuhan Yesus, lalu Tuhan Yesus menjerit kesakitan dan wujudnya tiba-tiba berubah . Kedua telinganya memanjang, dari mulutnya keluar Gigi taring dan dari belakang tubuhnya keluar Ekor, dan wajahnyapun berubah mengerikan !!!, lalu salah satu tangannya mendadak memegang sebuah tombak seperti Garpu!!. TUHAN YESUS YANG SAYA LIHAT DALAM MIMPI ITU BERUBAH MENJADI IBLIS!!!.

    Sementara pria Yahudi itu lalu berdo’a dalam bahasa seperti bahasa orang Israel, Tuhan yesus yang telah berubah menjadi Iblis itu lari terbirit-birit. Lalu ada keajaiban lainnya yang terjadi, Gereja megah tempat saya berdo’a tiba-tiba menghilang, lalu bergantin dengan pemandangan seperti disebuah padang pasir yang sangat tandus. Saya kaget dan tak percaya melihatnya, lalu dengan terbata bata saya bertanya kepada pria Yahudi tadi :

    “Siapakah engkau sebenarnya ?, Pria itu menjawab: “Akulah Isa Al-Masih, hamba Alloh, rasul Nya yang ke-24, yang engkau beserta ummat-umat lainnya dinyatakan sebagai Tuhan Yesus”

    Saya berkata : Bukankah engkau telah mati dikayu Salib dan telah berkorban demi menebus dosa umat manusia???. Nabi Isa Al-Masih menjawab : “Bukan seperti itu kejadiannya, engkau telah diperdaya oleh iblis dan para pengikutnya yang telah berusaha mencelakakanku tadi dan sekarang dia sekarang telah terlihat wujud aslinya”.

    Saya berkata lagi : Maksud tuan, iblis itu tadi…… selama ini ….?.

    Nabi Isa Almasih Menyela : “Sudahlah, maukah engkau tahu kebenaran Ilahi yang sejati???.

    Saya menjawab : “Jika itu ada saya bersedia.”

    Nabi Isa Al-Masih menjawab : “Tetapi untuk menemukan kebenaran sejati itu engkau harus berkorban banyak, engkau akan kehilangan pekerjaanmu, hidup miskin, kehilangan teman-temanmu, serta dibenci banyak orang??.”

    Saya menjawab : “emmmmmmm (Tak bisa berkata-kata).

    Nabi Isa Almasih Berkata : “Ketahuilah akulah Nabi Isa Al-Masih, sebagaimana yang telah aku katakan tadi suatu saat nanti aku akan turun kembali ke muka bumi untuk meluruskan segalanya yang salah tentang aku. Janganlah engkau termasuk dalam golongan yang keliru itu, jika engkau ingin menemukan kebenaran sejati, engkau sebenarnya telah memiliki catatan-catatan kebenaran itu, tetapi engkau tak membacanya dengan pikiran dan hatimu. Otakmu telah beku karena telah disesatkan. Oleh orang-orang yang diilhami oleh Iblis dan para pengikutnya. Kalau engkau mau mencari kebenaran, engkau akan menemukan disuatu tempat, tepat esok hari dimana kamu ditempat itu mendapat suatu kesulitan.”

    Lalu pria yang mengaku sebagai Isal Al-Masih tadi mengucapkan salamnya orang Islam, kemudian pergi, sayapun lalu terbangun, dan hari telah pagi. Saya merenung, mimpi apa itu tadi?. Kesulitan apa yang akan saya alami hari ini?.

    Hari telah tiba kembali, rupanya ini hari Jum’at tanggal 12 January 2001. Saya berfikir itu hanya sebuah mimpi saja, saya lalu teringat cerita tahayul Jawa, kalau malam jum’at pasti setan-setan itu gentayangan, dan mungkin saya mengalami itu barangkali. Kemudian saya baca buku-buku Islam yang saya miliki, tiba-tiba saya merasa menemukan banyak hal yang selama ini tidak pernah saya baca. Betapa pikiran saya telah dibukakan, tapi saya belum yakin betul.

    Ketika perjalanan menuju Kantor saya di sekretariat Gereja, mendadak mobil saya mogok, tepat didepan sebuah Masjid dikawasan Jl. HR.Muhammad – Jl. Mayjen. Sungkono, Surabaya, sayapun kaget, kok bisa-bisanya mogok didepan sebuah masjid yang saya benci.

    Jangan-jangan mimpi itu betul?, akh saya pikir itu cuma kebetulan saja, jangan percaya takhayul. Namanya mogok itu bisa terjadi kapan saja, pikir saya. Belum hilang kaget saya, tiba-tiba ada seorang pria menghardik saya dan meminta dengan kasar dompet dan HP saya. Saya kaget, panik dan takut, lalu saya lari ke-arah Masjid dan masuk kesana, minta tolong sama orang-orang disitu. Orang yang mau menodong sayapun berlari menghindari massa, rupanya waktu itu jam 11:30, mendekati jam nya Sholat Jum’at. Saya ada di Masjid, mimpi saya, pesan orang yahudi yang mengaku sebagai Nabi Isa Al-Masih dalam mimpi itu, saya bingung lalu saya tak sadarkan diri.

    Ketika sadar, saya berada di sebuah ruangan di Masjid, rupanya ada seorang Bapak tua berpeci yang mengatakan kalau saya tadi pingsan, saya lalu berdiri, tiba-tiba hati saya ingin menangis, menjerit…”Ya Tuhan… Engkau telah menunjukkan jalan bagiku”. Pak tua itu kaget dan bertanya : Ada apa Nak??. Lalu saya menceritakan semua mimpi saya semalam dan kejadian yang saya alami, juga siapa saya dan apa pekerjaan saya, serta perbuatan-perbuatan saya dalam memerangi dan memperdaya agama Islam beserta ummatnya.

    Bapak tua itu berkata: “Itu suatu petunjuk Tuhan Bagimu, boleh percaya apa tidak, saya bukanlah seorang ahli agama yang baik. Sekarang kamu teruskan perjalanan atau pulang. Sayapun lalu pulang, menelpon gereja bahwa saya hari ini tidak enak badan, jadi nggak masuk kerja, tapi 3 jam kemudian, sekitar jam 16:00 sore, saya kembali lagi ke Masjid itu, lalu saya melihat ada pengajian, pak tua berpeci itu yang memimpinnya, saya beranikan diri untuk masuk dan berkata : Pak tolong yakinkan saya.! Saya ingin mengetahui tentang agama Islam sebenarnya. Disaksikan para jemaah Masjid itu lalu kami berdiskusi panjang lebar hingga malam hari, saya lalu pamitan pulang dan mengatakan kepada pak tua bahwa diskusi ini belum selesai dan akan kami sambung esok pagi.

    Proses diskusi ini memakan waktu satu Minggu lamanya, setiap pagi sebelum berngkat kerja sekitar jam 06:00 hingga jam 8:00 pagi saya mampir ke Masjid tersebut dan kami berdiskusi tentang Islam – Kristen. Akhirnya setelah yakin seyakin-yakinnya, setelah mendapat penjelasan panjang lebar dari pak tua, dimana setiap penjelasan balik dari saya yang sangat ilahiyah dan alkitabiah menurut saya, ternyata dinyatakan tidak berargumen dan berdasar oleh bapak tua dan beberapa Jemaah yang ikut hadir dalam diskusi pagi kami. Terutama setelah mengetahui bapak tua ternyata fasih dan hapal beberapa bagian dari Alkitab, mengetahui sejarah Gereja dan penulisan Alkitab yang belia tunjukkan dengan dokumen-dokumen Kristen asli yang dia miliki yang menurut beliau pernah diberikan para penginjil sekitar 30 tahun yang lalu. Yang ketika saya baca saya terkejut karena pemaparan buku-buku para missionaries 30 tahun lalu itu, ternyata berbeda sekali dengan dokumen yang ada di Gereja sekarang yang pernah saya pelajari. Saya jadi ragu dan bimbang kenapa literature agama yang dianggap sacral oleh umat kristiani itu bisa berubah setelah 30 tahun.?. Terlebih setelah pak tua menunjukkan dan memperbandingkan versi alkitab yang saya miliki (cetakan tahun 1990-an) yang mana diterbitkan oleh lembaga yang sama, kok bisa memiliki perbedaan dan revisi disana-sini tanpa penjelasan diedisi baru bahwa telah dilakukan revisi. Yang ternyata revisi itu bukan hanya EYD (ejaan yang disempurnakan) atau tata bahasanya saja, akan tetapi juga merubah ma’na dan arti ayat Alkitab itu sendiri.

    Akhirnya saya yakin bahwa agama lama saya ini Kristen ternyata banyak kelemahannya dan merupakan suatu kesalahan sejarah, Islamlah agama penutup dan penggenap/pelengkap.

    Yang menggembirakan saya adalah agama Islam itu ternyata juga menghargai dan menghormati Tuhan Yesus sebagai Nabi Allah yang dimuliakan, mengakui keberadaan agama-agama terdahulu dan kitab-kitab sucinya. Persamaan kisah dan sejarah agama dalam Alkitab dan Al-Quran yang lalu disempurnakan oleh wahyu Alloh kepada Nabi Muhammad dalam AlQuran, di mana semua ajaran Kristen yang dinyatakan menyimpang itu dijelaskan dengan baik. Dimana penyimpangannnya dan direposisi kembali ajaran wahyu ilahi itu secara benar dalam Islam.

    Penjelasan pak tua dan jemaahnya itu tentu saja tidak saya percaya begitu saja, saya juga mengajak berdiskusi teman-teman sesama Gembala. Selama masa diskusi ini, tetapi jawaban rekan Gembala lain sungguh sangat menyakitkan dan ketus sekali, bahkan ada yang bilang saya ini kena Guna-guna dari bekas guru ngaji saya, berikut pembantu rumah dinas saya, juga pengaruh sihir yang tersembunyi di dalam buku-buku Islam yang saya miliki. Beberapa rekan dari Gereja Pantekosta bahkan menawarkan jasa untuk melakukan upacara pengusiran roh Jahat Islam di rumah saya dan akan mengurapi serta akan mensucikan buku-buku Islam yang saya miliki agar kekuatan sihirnya hilang. Sikap rekan-rekan Gembala ini terasa kontras dan tidak sepadan dengan sikap pak tua dan jemaahnya di masjid yang sederhana itu. Saya merasa bersalah karena telah ikut dibesarkan dan dibina oleh lingkungan agama yang sesat, Saya harus segera mengambil keputusan, setelah melalui berbagai pertimbangan yang matang, menimbang segala resikonya. Akhirnya sudah mantap dan sudah bulat tekad saya dan saya akan masuk Islam.

    Tanggal 21 January 2001, hari Minggu jam 10:00 pagi saya berikrar DUA KALIAH SYAHADAT. “Asyhadu alla Ilaha Illalloh – Wa asy Hadu Anna Muhammadar Rasululloh”

    = Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan Alloh.=

    Setelah masuk Islam saya mengganti nama saya menjadi “Rachmad Hidayat”. Saya tidak memakai nama keluarga lagi karena ketika saya mengabarkan kepada keluarga saya di Manado bahwa saya telah masuk Islam, mereka murka sekali, papa mengatakan tidak akan mengakui saya sebagai anaknya, Oma bahkan mengutuk saya melarat bersama para pendosa Islam dan mengatakan bahwa saya telah disihir oleh orang Islam. Lalu saya juga memperoleh surat dari keluarga yang diberikan oleh mantan pembantu saya dirumah dinas, bahwa keluarga saya sekarang tidak mengakui saya lagi dan menyatakan mencabut hak waris dalam marga saya dan saya tidak diperkenankan menyandang nama keluarga Tengker lagi. Bahkan dalam surat itu papa menyatakan jikalau saya akhirnya dianiaya atau dibunuh oleh pihak Gereja, maka mereka gembira karena itu merupakan sarana penebus dosa saya kepada tuhan Yesus. Naudzubillah!!. Ya….. Alloh maafkan keluarga saya ini, mereka berkata begini karena mereka tidak mengerti hakekat ketuhannya.

    Sekarang saya ikut bimbingan Islam di rumah pak tua berpeci yang kemudian diketahui merupakan Ustadz dan Imam masjid itu. Maaf demi keamanan kami, nama ustadz, alamat Masjid, serta tempat kos saya rahasiakan, mohon maklum.

    Sejak saya pindah dari rumah mewah berfasilitas lengkap plus mobil dll di kawasan elite darmo Satelit- Surabaya. Yang merupakan fasilitas buat saya dari Gereja, telah saya kembalikan ke Gereja, saya sekarang kost di sebelah rumah pak tua sambil belajar agama Islam. Saya juga bekerja membantu usaha keci-kecilan milik keluarga pak tua, mencetak surat undangan, kop surat dan setting komputer. Insya Alloh kalau ada modal (saya berencana bersama seorang anak pak tua ini untuk mengajukan kridit usaha kecil di BRI – Surabaya). Mau buka usaha percetakan yang lebih permanen. Saya sambil kerja dan belajar memperdalam agama Islam, pagi sampai sore saya ada di studio kecil tempat saya bekerja, malamnya belajar Ilmu Agama. dan silat Tradisional. Saya perlu belajar ilmu bela diri karena tak mungkin para pemuda kampung selalu mengawal saya. Saya mendengar dari bekas teman akrab di Gereja dan Yayasan (namanya saya rahasiakan juga, demi keselamatan mereka) sangat solider dengan merahasiakan keberadaan saya , walau pihak gereja terus menerus mendesaknya. Mereka bercerita tentang usaha gereja untuk melaporkan ke Polisi Bahkan Memeja Hijaukan saya dengan tuduhan “Kasus pencurian Mobil, padahal semua orang diGereja tau dan banyak saksinya termasuk warga kampung tempat saya kost yang mengantar saya ketemu dengan pihak Gereja, waktu serah terima itu. Smua Inventaris gereja termasuk Mobil sudah saya kembalikan dan ada tanda terimanya. Demikian juga urusan keuangan dan kas Gereja Semua sudah clear dan pihak Gerejapun tahu, tapi entah mengapa mereka berusaha mengfitnah saya seperti ini?. Tetapi saya tekadkan, bila betul pihak Gereja akan melaporkan saya ke Polisi, akan saya buka semua fakta dan data yang saya miliki dan mungkin pihak Gereja akan saya tuntut balik dengan tuntutan pencemaran nama baik, penghinaan dan percobaan penganiayaan.

    Khusus masalah penganiayaan, saya bersama teman kerja di studio kecil kami, pernah beberapa kali hampir ditabrak sebuah mobil (yang saya tahu persis itu milik siapa), di beberapa tempat ketika saya sedang berboncengan naik sepeda motor, tetapi Alloh selalu melindungi hambanya yang telah bertaubat ini, sehingga upaya itu selalu gagal, selalu saja kami bias menghindari atau ada orang yang menolong kami ketika upaya tabrak lari itu terjadi.

    Saya serahkan semuanya kepada Allah SWT., Tuhan kita semua, Dialah maha tahu siapa yang benar dan siapa yang salah diantara hamba-hamba Nya.

    Saya masih menunggu dusta hokum dari mereka sebab sementara ini mereka kehilangan jejak saya. Mungkin setelah membaca kisah kesaksian ini mereka akan semakin Gusar, dan Marah kepada saya karena selain saya telah masuk Islam, saya juga telah dianggap membongkar beberapa rahasia penting Gereja yang selama ini selalu ditutupi dengan rapi, yang jangankan umat diluar Kristen, umat Kristiani sendiri banyak yang tidak tahu praktek-praktek tidak benar dalam beribadah yang saya utarakan diatas.

    Saya berpesan kepada para sahabat setia saya di Gereja dan Yayasan, supaya mereka memberi sedikit pengertian kepada pengurus Gereja untuk mengikhlaskan saya masuk Islam. Jangan mencari-cari saya, segala yang menyangkut masalah asset gereja yang pernah saya pegang sudah diselesaikan dengan baik. Juga agar tidak timbul konflik dengan warga kampung atau umat Islam yang mengetahui kisah ini, saya takut ada pihak ketiga yang memanfaatkan kondisi ini untuk mengacau. Sebab masalah menyangkut agama itu sangat sensitive dan Riskan sekali.

    Sekian penuturan saya, saya bahagia dalam keIslaman saya, walau hidup pas-pasan, saya sangat menyukainya karena tidak adda kepalsuan dalam Islam saya. Alhamdulillah, Alloh maha pengasih dan penyayang. Allah telah memberi rizki kepada saya dan keluarga pak Tua, order mulai banyak, walau nilai penghasilannya mungkin Cuma 10% dari nilai pendapatan saya dulu ketika masih di Gereja. Tapi saya sangat mensyukurinya.

    ***

    Dikisahkan oleh : Rahmad Hidayat atau Paulus F Tengker (nama Kristennya), kisah ini dinyatakan oleh yang bersangkutan kepada M.Donny Stiawan, ketika kami berdiskusi masalah Kisah Kesaksian 4 mantan Gembala yang pernah diposting. Atas permintaan yang bersangkutan dengan alasan keamanan dirinya dan orang-orang yang dekat dengannya, maka nama Masjid, alamat Masjid, nama persisnya Gereja tempat beliau dulu bekerja, tempat kost nya kami rahasiakan.

    Diketik ulang sesuai dengan cerita Aslinya, pada tanggal 29 Oktober 2002.

     
    • sintanofiana 8:12 am on 3 Desember 2013 Permalink

      Reblogged this on sintanofiana.

    • abu jibraltar al_maqdisi shaopie satriani 2:15 pm on 3 Desember 2013 Permalink

      Anda harus bersyukur msh diberi kesempatan bertaubat kpd azza wajallah…

  • erva kurniawan 2:16 am on 2 December 2013 Permalink | Balas  

    mayat2Cerita Hidayah

    Cerita aneh ini terjadi di salah satu tempat di Jakarta.

    Fulan (bukan nama sebenarnya) adalah seorang laki-laki berusia 25 tahun. Pendidikan terakhirnya adalah SMA. Ia sangat menginginkan dapat bekerja di perusahaan atau kantor yang mapan. Ia tidak perduli pekerjaan apa yang ia dapat, asalkan ia dapat bekerja dikantor. Teman-teman sekampungnya bekerja sebagai kuli bangunan, berdagang atau bekerja di sebuah pabrik sebagai buruh biasa. Namun ia tidak menginginkan seperti teman-temannya itu. Ia mencoba terus membuat lamaran di perusahaan/perkantoran, sehingga iapun rela menganggur sambil menunggu panggilan.

    Selama menunggu, ia bergabung dengan teman-temannya yang juga menganggur dengan cara mabuk-mabukan dan sering meminta uang kepada para pedagang pasar dengan cara paksa. Setiap hari ia selalu pulang malam dengan menghabiskan waktu dengan perbuatan tersebut.

    Suatu hari ia jatuh sakit. Sebagai orang tua, ibunya sangat sedih melihat keadaan anaknya yang sakit dengan suhu tubuhnya yang tinggi. Setiap Fulan akan dibawa kerumah sakit, ia menolak dengan alasan ia hanya menderita demam biasa. Setelah beberapa hari kondisinya tidak baik, akhirnya Fulan meninggal. Kejadian ini membuat kedua orangnya beserta keluarganya sangat sedih.

    Seperti jenazah pada umumnya, jenazah Fulanpun dimandikan, dikain kafankan seperti yang sering dilakukan pada jenazah yang akan dikuburkan. Setelah jenazah itu siap, kemudian diberangkatkan ke tempat pemakaman. Pada saat saat penguburan, banyak yang hadir untuk melihat jenazah Fulan dikuburkan. Setelah selesai dikuburkan dan dibacakan doa, tidak lama kemudian datang salah satu jenazah lain yang datang untuk menguburkan ketempat yang kini ditempati jenazah Fulan. Perdebatan akhirnya terjadi. Pihak keluarga yang baru datang mengatakan, bahwa ia telah memesan tempat sebelumnya di blok B, dekat dengan kuburan keluarganya. Akhirnya penjaga makam mengantarkan pihak keluarga yang baru datang ketempat lain, yang juga sudah dipersiapkan. Namun pihak keluarga itu tidak mau terima, karena tempat itu berlokasi di blok G, jauh dari tempat keluarganya. Dia juga menunjukan surat pemesanannya. Penjaga itupun akhirnya menjelaskan kepada pihak keluarga Almarhum Fulan, bahwa terjadi kesalahn tempat. Seharusnya jenazah Fulan berada di blok G, dan keluarga yang baru datang itu di blok B. Akhirnya orang tua Fulan menyetujui, dan jenazah Fulanpun di gali untuk dipindahkan.

    Pada saat penggalian, semua mata tertuju pada makam Fulan. Setelah selesai digali dan papan jenazah dibuka, alangkah terkejutnya mereka yang melihat jenazah Fulan. Posisi jenazah itu dalam keadaan duduk. Kain kafannyapun sudah terkoyak-koyak dan dapat dilihat dari celah-celah koyakan itu, bahwa kondisi jenazah Fulan dalam keadaan gosong. Orang tua Fulan tidak dapat menahan tangisnya. Semua yang hadir mengucapkan istigfar dan bacaan-bacaan lain sebagai ekspresi keterkejutan mereka. Orang tua Fulanpun ingat dengan tindakan Fulan pada sat ia masih hidup. Merekapun kemudian memindahkan jenazah Fulan ke blok G. Orang tua Fulan tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa untuk meringankan siksa kubur anaknya.

    Kejadian tersebut menurut pandangan agama sangat mungkin terjadi atas keinginan Allah SWT terhadap hambanya yang telah lalai dengan ajaran yang telah digariskan-Nya. Semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua … … , amin !

    ***

    Sumber: Hidayah

     
  • erva kurniawan 5:44 am on 25 November 2013 Permalink | Balas  

    2003-january-shazia-mirza2SHAZIA

    Namanya Shazia Mirza. Dia seorang komedian perempuan yang hidup di London. Dengan bersahaja, dia memberi kontribusi non-konvensional untuk Islam dan kemaslahatan umat Islam: dengan humor. Dari panggung ke panggung perempuan berjilbab asal India ini mencoba mencairkan kebencian; meminimalisir stereotipe Islam dan citra Muslim di Inggris khususnya. Praktis, pasca 11 September di AS, Islam dan umat Islam remuk-redam diterpa kecurigaan dan kebencian. Menurut Shazia, people (di Barat) think that all muslims are extreme and dangerous. Apa akal? Dengan caranya, Shazia mengocok perut warga Inggris. Dalam suasana kalut yang mendalam, tak mudah membuat orang tersenyum, apalagi tertawa terpingkal-pingkal. Rupanya, banyak jalan untuk berjihad. Salah satunya seperti disebut oleh Karen Armstrong, apologis untuk Islam. Maksudnya, jihad dengan menggunakan media. Dari sederet cara itu, Shazia mengambil cara nonkonvensional yang disebut tadi.

    Shazia cukup sukses. Dalam tulisannya di ISIM Newsletter edisi 10, menuturkan: “Mereka yang datang dengan beragam keyakinan, membanjiriku dengan rupa-rupa pertanyaan. Mereka sangat terkesan dengan pola hidup seorang perempuan muslim. Sebagian pikiran dan persepsi mereka tentang Islam dan Muslim pasca 11 September, berangsur-angsur berubah.”

    ISIM adalah jurnal kajian keislaman yang terbit di Nederland.

    Namun demikian, Shazia menyoal apa sebab Islam sangat sulit diasosiasikan dengan humor. Sebatas yang dia tahu, Nabi Muhammad banyak tertawa dan membuat gurauan-gurauan segar. Bagi seorang Shazia, “jika keyakinanmu, keagamaanmu kuat, kamu akan dapat tertawa dengannya.” Tapi nyatanya, dalam hal keyakinan, jangankan tertawa, senyum pun orang tak sudi. Itu bentuk pelecehan, paling tidak ketidakbersungguhan. Sementara, keyakinan bagi sementara orang adalah kesungguhan, ketegasan, sekali-sekali kemarahan.

    Tawa dalam keyakinan itu tentu saja sulit. Kalau dirujuk ke doktrin agama, tertawa mungkin menjadi makruh, kurang terpuji. Dalam sebuah hadits menyebut tawa yang overdosis sebagai pembunuh hati (fainna katsrat al-dlahik tumît al-qalb). Lebih dari itu, sebuah pepatah mengatakan, “Temanmu adalah yang membawamu terisak, bukan yang menggiringmu tertawa (shadiquka man abkâka lâ man adlhakaka). Yang perlu diingat, tentu saja teks dan realitas Shazia berlainan. Kalau tidak begitu, teks-teks menjadi tidak banyak bermakna. Sebab, menurut Shazia, “As comedian, I believe that laugther is strongest tool for communicating with people who shut the door in my face, because I am muslim. Tawa orang sangat penting bagi Shazia, ia menjadi instrumen terkuat untuk berkomunikasi dengan orang yang membanting pintu di depan mukanya, sebab ia muslim.

    Mungkin tak ada korelasi secara doktrinal antara tawa dengan agama. Tertawa, hanyalah ekspresi kemanusiaan yang umum saja. Ia tanda kebahagiaan, meskipun sekali-kali orang menyebut tangis (juga) tanda kebahagiaan. Tapi, bila pemikir Fahmi Huwaidi menyebut pola keberagamaan yang pemberang (al-tadayyun al-ghâdib), tak ada salahnya kita menghubungkan keberagamaan dengan humor. Tarolah kita menyebutnya keberagamaan yang humoris (al-tadayyun al-fukâhî), atau keberagamaan yang “uhuy”, meminjam istilah Komeng.

    Bisa jadi, keberagamaan yang ramah, santun, toleran bisa lahir dari tingkat humor yang tinggi. Siapa tahu? Itu sah-sah saja sebagai harapan. Toh Shazia yang sudah melakoni itu juga punya harapan. “One day, I hope we can all laught together.” Demikian harapan Shazia. [Novriantoni]

    ***

    source : http://www.islamlib.com/EDITORIAL/novri%20shazia.html

     
    • assa 1:11 pm on 25 November 2013 Permalink

      Bisa berikan contoh dari “komedi”nya. Soal saya masih gamang dengan “bentuk” tawa yang ia sajikan.

  • erva kurniawan 3:08 am on 23 November 2013 Permalink | Balas  

    ayahKisah Seorang Ulama Buntung

    Oleh Sabrur R Soenardi

    Beberapa abad silam, di sudut distrik terpencil Zamakhsyar, seorang bocah mungil asyik bermain-main dengan seekor burung. Ketika ibunya memanggil, si bocah tetap saja asyik bermain hingga akhirnya terjadilah sebuah tragedi : Bocah ini mematahkan kedua kaki burung. Binatang malang ini mencicit kesakitan, tetapi si bocah malah terbahak-bahak melihatnya.

    Merasa panggilannya tak digubris, sang ibu menghampiri dengan marah. Dia bertambah murka ketika tahu anaknya berbuat dosa pada sang burung yang hampir putus kakinya. “Oh, anakku, bagaimana kau bisa seenaknya mematahkan kaki burung kecil itu? Itu berdosa anakku. Ia sangat kesakitan. Coba pikirkan jika itu terjadi padamu. Kamu akan menderita anakku, Kamu sungguh keterlaluan.” Si bocah menggigil ketakutan. Baru kali ini ia melihat ibunya demikian marah, mengeluarkan kata-kata kasar dan mengerikan.

    Beberapa belas tahun kemudian, si bocah itu sudah menjadi remaja yang matang. Ia tengah melakukan perjalanan pulang selepas menyelesaikan belajarnya di sebuah madrasah di Iran. Malang, tiba-tiba seekor kalajengking menyengat kudanya. Sang kuda meringkik, terhuyung, kemudian terjerembat dan sang penunggang jatuh terjungkal.

    Singkat cerita, sesampai remaja ini di rumah, ternyata kedua kakinya terkilir hebat dan menurut tabib setempat, tidak bisa dipulihkan. Satu-satunya jalan keluar adalah mengamputasinya. Ia pun mesti menerima takdir Allah itu dengan ikhlas dan pasrah, menjadi manusia berkaki buntung.

    Sang Ibu benar-benar terpukul atas nasib yang menimpa anaknya itu. Namun suatu malam sehabis shalat tahajjud, sang ibu tersadar bahwa “kata-kata buruk” yang dia ucapkan belasan tahun lalu kepada si bocah kecil yang mematahkan kaki burung itu rupanya kini jadi kenyataan. Dalam larut atas rasa berdosa yang tak terkendali, ia pun berdoa pada Allah agar di kemudian hari, meski cacat tubuh, sang anak bisa menjadi manusia yang berguna bagi Islam dan kaum Muslim.

    Doa baik sang ibu dikabulkan Allah. Anak itulah yang di kemudian hari kita kenal sebagai Abu Qasim Azzamakhsyari, seorang ulama paling brillian di zamannya, sekaligus cendikiawan garda depan Muktazilah dengan karya tafsirnya yang terkenal Alkasysyaf.

    Dialah satu-satunya ulama yang buntung kedua kakinya, dan itu diyakini buah dari “kata-kata buruk” sang ibu. Ia menjadi tokoh ternama, dan itu juga diyakini sebagai buah dari “kata-kata mulia” sang ibu. Benar sabda Nabi SAW bahwa salah satu doa yang pasti dikabulkan Allah adalah yang terucap dari mulut orang tua (demi nasib anaknya). Maka, berhati-hatilah berucap untuk anak-anak kita.

    Wallahu a’lam

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:42 am on 12 November 2013 Permalink | Balas  

    waldorf-astoria-hotel 2Pelayan Hotel

    Bertahun-tahun dahulu, pada malam hujan badai, seorang laki-laki tua dan istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia. Mencoba menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk mendapatkan tempat bermalam.

    “Dapatkah anda memberi kami sebuah kamar disini ?” tanya sang suami. Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota.

    “Semua kamar kami telah penuh,” pelayan berkata. “Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti anda keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin anda mau tidur di ruangan milik saya? Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat anda tidur dengan nyaman malam ini.”

    Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk. “Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik- baik saja,” kata sang pelayan. Akhirnya pasangan ini setuju. Ketika pagi hari saat tagihan dibayar, laki-laki tua itu berkata kepada sang pelayan, “Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk anda.”

    Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa.

    Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan sesorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah.

    Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut mengingatkannya pada malam hujan badai dan disertai dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini datang mengunjungi pasangan tua tersebut.

    Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York, dan membawa dia ke sudut Fifth Avenue and 34th Street. Dia menunjuk sebuah gedung baru yang megah di sana, sebuah istana dengan batu kemerahan, dengan menara yang menjulang ke langit

    “Itu,” kata laki-laki tua, “adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola”.

    “Anda pasti sedang bergurau,” jawab laki-laki muda.

    “Saya jamin, saya tidak,” kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum lebar.

    Nama laki-laki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur bangunan megah tersebut adalah bentuk asli dari Waldorf-Astoria Hotel.

    Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama adalah George C. Boldt.

    Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.

    Pelajarannya adalah perlakukanlah semua orang dengan kasih, kemurahan dan hormat, dan anda tidak akan gagal.

    ***

    Dari: Sahabat

     
    • lazione budy 5:05 am on 12 November 2013 Permalink

      Lakukan yg terbaik tanpa pamrih. Itu saja, biar Tuhan yang mengatur segalanya.

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 660 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: