Updates from Oktober, 2014 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 7:23 am on 19 October 2014 Permalink | Balas  

    ibu dan  anakCinta Ini Milikmu Mama

    “Farah, bangun. udah azan subuh. Sarapanmu udah mama siapin di meja.”

    Tradisi ini sudah berlangsung 26 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah kepala 3 tapi kebiasaan mama tak pernah berubah.

    “Mama sayang. ga usah repot-repot ma, aku dan adik-adikku udah dewasa.” pintaku pada mama pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika mama mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya.

    Ingin kubalas jasa mama selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan. Kenapa mama mudah sekali sedih? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami mama karena dari sebuah artikel yang kubaca .. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak . tapi entahlah.. Niatku ingin membahagiakan malah membuat mama sedih. Seperti biasa, mama tidak akan pernah mengatakan apa-apa.

    Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya “Ma, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan mama. Apa yang bikin mama sedih?”

    Kutatap sudut-sudut mata mama, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata mama berkata, “Tiba-tiba mama merasa kalian tidak lagi membutuhkan mama. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Mama tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, mama tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri”

    Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.

    Diam-diam aku bermuhasabah. Apa yang telah kupersembahkan untuk mama dalam usiaku sekarang? Adakah mama bahagia dan bangga pada putera putrinya? Ketika itu kutanya pada mama. Mama menjawab “Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada mama. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat mama. Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat mama. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua.”

    Lagi-lagi aku hanya bisa berucap “Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada mama. Masih banyak alasan ketika mama menginginkan sesuatu.”

    Betapa sabarnya mamaku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan mamaku untuk “cuti” dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak! Mamaku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari mama bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh mama ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi. Ah, maafin kami mama . 18 jam sehari sebagai “pekerja” seakan tak pernah membuat mama lelah.. Sanggupkah aku ya Allah?

    • * *

    “Farah. bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah mama siapin di meja.. “

    Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul mama sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan

    “Terimakasih mama, aku beruntung sekali memiliki mama yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan mama. “. Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan.

    Cintaku ini milikmu, Mama. Aku masih sangat membutuhkanmu. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..

    Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat “aku sayang padamu. “, namun Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah. Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita . ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta. Percayalah. kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia. Wallaahu a’lam

    “Ya Allah, cintai mamaku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan mama .. dan jika saatnya nanti mama Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Titip mamaku ya Rahman”

    Untuk semua Ibu yang mencintai anak-anaknya dan semua anak yang mencintai Ibunya

     

    Kiriman Sahabat Sakka

     
  • erva kurniawan 3:59 am on 4 October 2014 Permalink | Balas  

    kambing-kurban-300x225Qurban sang Nenek

    Saya punya cerita yang mudah-mudahan bisa ngenggugah hati temen-temen, true story loh, dan kalau Idul Adha pasti ngingetin saya (Dia Maha Pengasih dalam memberi peringatan pada hambaNya)

    Suatu siang yang panas di penjualan kambing kurban, waktu itu seorang akhwat minta ditemani membeli kambing untuk aqiqah putrinya.

    Setelah memilih-milih kambing, saya lihat kambing yang paling bagus dan gemuk, temen saya menawar harganya , ternyata terlalu mahal untuk ukuran kantong temen saya.

    Tiba-tiba datang seorang nenek tua, kira-kira berusia 70 tahunan, ternyata dia mau beli kambing juga dan milih kambing yang saya pilih.

    Iseng-iseng saya tanya, “Buat apa kambingnya nek?”

    Si Nenek bilang kalau dia mau beli kambing buat kurban, lalu saya tanya lagi,”Kok belinya sendiri emangnya nggak ada anak, atau saudara nenek yang mau nganterin untuk beli kambing?”

    Ternyata si Nenek sudah lama hidup sebatang kara, dan untuk mengidupi kebutuhan sehari-hari dia jualan sapu lidi yang dibuatnya sendiri dari pelepah daun kelapa dan daun pisang.

    Lalu saya bertanya ,”Subhanallah yach nek, nenek masih sanggup berkorban.” Si nenek pun tersenyum dan ini satu hal yang nggak bisa saya lupain, ternyata si Nenek bukan saat itu saja berkorban tapi sudah beberapa tahun ia berkorban.

    Saudaraku, ternyata dia menabung setiap hari seribu rupiah, hasil menjual sapu lidi dan daun-daun pisang, lalu dia bilang, “Neng , gusti Allah sudah demikian sayang sama nenek, tiap hari Dia memberi nenek nikmat-nikmat yang hanya dapat nenek hargai dengan seribu rupiah sehari, neng kalau Dia memberi rezeki lebih, sebenarnya nenek ingin pergi haji, tapi neng tahu sendiri ongkos ke sana berapa dan fisik nenek udah nggak memungkinkan.”

    Nenek tahu gusti Allah Maha kaya dan nggak perlu dengan uang seribu yang nenek korbani tiap hari, tapi hanya ini yang bisa nenek korbankan untuk membalas setiap nikmatNya.

    Saudaraku, saya jadi malu pada diri saya sendiri, ternyata seorang nenek mau bersusah payah berkorban tiap tahun untuk membalas berjuta nikmat yang telah dilimpahkanNYa tiap hari, sedang saya yang telah di beri rezeki lebih terkadang masih merasa sayang, bila harus membeli kambing untuk berkorban.

    Walaupun peristiwa ini sudah terjadi beberapa tahun yang lalu tapi kalau idul adha tiba saya selalu teringat dengan si Nenek, beliau masih ada nggak yach?

    ***

    “Mulailah dari hal yang terkecil, mulailah dari diri sendiri, mulailah dari sekarang juga!”

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 1 October 2014 Permalink | Balas  

    dzikir 2Pengalaman Dzikir

    Ma’af kalau tidak berkenan hanya sekedar pengalaman….

    Dengan berdzikir berarti kita berupaya untuk terus mengingat keberadaan Allah Swt, kapanpun dan dimanapun kita berada. Saya sadari ditengah-tengah kesibukan sehari-hari,seringkali saya merasa melupakan Allah. Oleh sebab itu saya bertekad untuk memperbanyak dzikir agar bayang-bayang kebesaran Allah Swt selalu menyertai ke manapun saya pergi. Saya memilih untuk mengikuti dzikir secara berjamaah, karena selain memupuk kebersamaan,dzikir dengan cara ini juga menghasilkan pahala yang lebih besar. Dan memang,banyak sekali hikmah yang saya dapatkan setalah mengikuti dzikir secara berjamaah ini.

    Pada waktu itu saya mengikuti majelis dzikir disebuah masjid. Saya merasakan betapa berpengaruhnya dzikir tersebut terhadap ketenangan jiwa saya. Sejuk dan nyaman rasanya hati ini merasakan nikmatnya iman dan nikmatnya dzikir kepada Allah.Suatu berkah yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

    Sebelumnya, saya adalah orang yang mudah sekali dihinggapi perasaan emosional, hingga jeleknya terkadang tidak dapat mengendalikan amarah ketika sedang menghadapi problema yang pelik. Ketika saya marah maka tak akan ada yang bisa menahan saya untuk menumpahkan kekesalan dengan berbagai cara. Tak ada yang mampu meredakan bara hati ketika kebuntuan menghadang jalan kehidupan yang saya tempuh.

    Melalui dzikir secara berjamaah itulah saya mendapat pelajaran, apa yang harus saya lakukan ketika sedang menghadapi masalah dan bagaimana cara memanage berbagai permasalahn hidup secara bijaksana.Alhamdulilah, setelah mendapatkan pelajaran itu, saya tekun melakukan istighfar, membaca Asmaul Husna dan memahami surat Al-Fatihah dengan lebih mendalam.Hasilnya, kini saya dapat lebih menahan diri ketika marah,tidak uring-uringan seperti dulu lagi.

    Berbagai macam hal dalam hidup, saya rasakan sebagai ujian Allah terdapat ketaatan saya kepada-Nya. Oleh sebab itu, ketika saya melihat pemandangan yang indah,keagungan semua ciptaan-Nya, membuat saya melihat dan ingat kepada Sang Maha Pencipta.Saya tak bisa menahan untuk mengucapkan Subhanallah!

    Memang tidak mudah untuk membiasakan diri selalu berdzikir kepada Allah, apalagi berbagai godaan hawa nafsu selalu mengitari kehidupan kita. Tapi Insya Allah, kalau kita terus berusaha setiap saat untuk melakukan dzikir kapanpun dan dimanapun kita berada. Semoga Allah selalu dalam hati kita dan meridhoi semua hal yang kita lakukan dalam mengarungi kehidupan. Amien.

    ***

    Kiriman Sahabat : Karlina, Lina

     
  • erva kurniawan 2:13 am on 20 September 2014 Permalink | Balas  

    kuburanTak Ada Ujung (Maut itu pasti menjemput)

    Kutatap dalam diam ibuku yang sedang menekuni buku primbon jawanya. Matanya yang masih tajam itu sering menatapku dalam-dalam, meski aku anak kandung darah dagingnya sendiri, aku masih sering bergidik menerima tatapan ibu. Rambutnya yang sudah bertabur uban dan bibirnya yang selalu mengulum sirih itu pun sering menambah keengganan teman-teman kuliahku untuk bertegur sapa dengannya. Ibumu seram Ji, kayak dukun!!. Begitu ledek mereka. Yaaaahhhh,mau gimana lagi ibuku memang suka hal-hal yang berbau mistik.

    “Setiaji, sudah dapat kabar dari masmu?” tanya ibu perlahan, jemari tuanya masih membolak-balikan primbonnya.

    “Belum Bu. Mas Bimo belum telpon.” Jawabku singkat.

    Diantara anak-anak Ibu, Mas Bimo yang paling disayangi olehnya. Mbak Wening, Mbak Lastri, Mas Harjuno sering protes karena selalu Mas Bimo yang diprioritaskan oleh Ibu. Ada uang sedikit, permintaan Mas Bimo yg paling dulu diluluskan. Mas Bimo minta kerja gambar,sawah peninggalan Eyang dijual separuh. Sampai ketika Mas Bimo dikirim pemerintah keluar negri ibu masih menyempatkan diri untuk memberi uang saku seluruh hasil penjualan perhiasan emasnya, peninggalan Eyang kakung almarhum.Begitulah Ibu,Mas Bimo adalah segala-galanya.

    Barangkali karena Mas Bimo selalu menurut semua kata-kata ibu , meluluskan semua permintaan ibu.Bahkan untuk hal-hal yang bagi kami sangat tidak masuk akal sekalipun. Beberapa waktu yang lalu ketika Mas Bimo menabrak seekor kucing di jalan, Mas Bimo langsung menguburkannya saat itu juga, persis sebagaimana pesan ibu.Ibu selalu berkata , kalau di jalanan nabrak kucing, harus cepat-cepat di kubur, sebab kucing itu mengakibatkan celaka,kamu bisa celaka. Bimo yang mengangguk-angguk, sedang kami berempat cuma tersenyum – senyum geli saja.Bagaimana tidak geli?? Bukankah yang bisa menimbulkan kecelakaan dan kebahagiaan hanya Allah saja? Tapi lain dengan versi Mas Harjuno yang lulus Harvard.

    “Ibu itu pantasnya dimasukan RSJ saja, habis semuanya selalu dikaitkan dengan mistik, it doesn’t make sense!! gerutunya setiap kali mendengar nasihat ibu.

    Sedangkan Mbak Wening dan Mbak Lestari yang cenderung Opportunistik selalu mengatakan sudahlah turuti saja apa kata ibu, nanti kalau ibu ngambek kan payah bisa-bisa uang hasil perkebunan teh warisan almarhum Bapak, tidak dibagikan lagi pada kita.

    Yaah, begitulah kakak-kakakku. Rasanya tidak ada yang cara berfikirnya beres, yang lulusan luar negri seperti Mas Harjuno semua selalu dikaitkan dengan logika, yang materialistis seperti Mbak Wening dan Mbak Lastri tidak pernah berusaha meluruskan pendapat ibu karena takut ibu tidak membagi hasil perkebunan , yang penurut seperti Mas Bimo hampir -hampir tidak pernah berfikir bahwa pendapat ibu hampir selalu nyerempet -nyerempet dengan syirik. Heeeehhhhh, paling cuma aku yang memperhatikan pendapat Ibu, itupun baru beberapa tahun ini setelah aku mencoba mendalami Islam dari pesantren mahasiswa yang kuikuti selepas kuliah.

    “Mas -mu Harjuno juga belum menelpon to Ji??” tanya Ibu lagi.

    “Belum Bu,cuma kemaren Mas Harjuno sudah nelpon minta bantuan saya untuk membantunya pindahan,”jawabku.Tumben Ibu menanyakan Mas Harjuno, biasanya cuma Mas Bimo yang disebut-sebut.

    “Anak itu selalu membantah kalau diperintah orangtua .” Ibu bertutur seperti orang bergumam saja, seakan-akan ia tidak berbicara pada siapa-siapa.

    “Memangnya Mas Harjuno kenapa Bu ?” tanyaku sambil lalu.Tidak sopan rasanya membiarkan Ibu mengguman sendiri.

    “Lha iyooo,kalau pindah itu khan seharusnya bertahap,yang harus masuk itu pertama kali ya sapu lidi untuk tempat tidur sama bantal guling dulu,baru yang lain-lain.ini malah tidak,yang masuk pertama komputer,mesin faksimile,alasannya biar pekerjaan bisa di bawa ke rumah!! Dasar bocah ngak gugu sama orang tua ,nanti kuwalat baru tahu rasa!!” gerutu ibu panjang-pendek. Aku hanya bisa menghela nafas panjang ,Ibu.Ibu.

    Tiba-tiba telphone berdering. Aku dan Ibu serentak berdiri, sejenak kami beradu pandang. Lalu Ibu duduk kembali, dan melanjutkan kesibukannya. Itu tanda bahwa aku yang harus mengangkat telpon.

    “Assalmualaikum ? Oh,Mas Juno? Dirampok orang? Kapan?! Tadi malam? Lho, khan ada si Yem sama Kardi? Apa? Komputer, telephone, faks, dan brankas? Innalilahi…ya deh Mas,aku segera kesana ,iya,iya,” gagang telpon kuletakan dengan terburu-buru.

    “Mas Harjuno-mu ya,Le?” tanya ibu.

    Aku mengangguk cepat.

    “Dirampok orang?” tanya ibu lagi.

    Aku mengangguk sambil terburu-buru mencari kunci mobil. Kulihat sekilas wajah Ibu memancar aneh. Segera kucium punggung tangannya ,dalam pikiranku saat ini hanya berkecamuk satu pemikiran. Mengapa ancaman-ancaman Ibu selalu benar-benar terjadi?

    Didalam mobilpun aku masih memikirkan kebetulan-kebetulan yang sepertinya berulang-ulang itu. Kemarin, ketika Mbak Wening melahirkan anak pertamanya,ancaman Ibu terjadi juga. Pada saat hamil Mbak Wening tidak mau menuruti larangan ibu untuk tidak menjahit di atas tempat tidur saat hamil karena nanti jari-jari bayinya akan berimpit. Ternyata ketika bayi itu lahir, keadaannya persis seperti yang dikatakan ibu, sehingga Mbak Wening harus menyiapkan jutaan rupiah untuk operasi plastik anak perempuannya.

    Itu adalah istidraj kata seorang Ustad,semacam ujian dari Allah yang diberikan kepada seseorang yang tidak mau menyadari kesalahannya, lalu Allah membiarkan orang itu berlarut-larut dalam dosanya sehingga akhirnya orang tsb mengira bahwa dirinya tidak melakukan sesuatu yang tidak diridhoi Allah.

    **

    “Rasanya kali ini saya tidak bisa mundur, Bu,tidak bisa, tidak mungkin.” suara Mas Bimo terdengar seperti menahan amarah, wajahnya yang biasanya lembut , teduh, dan penurut itu memerah padam. Wajah Ibu pun tak kalah merah.Aku bisa menyimak betapa dalam ketegangan diantara Mas Bimo menentang kehendak Ibu.

    “Ibu hanya menyayangi kamu aja kok Le.. kalau kamu tidak mau disayang ya sudah, yang penting ibu sudah memperingatkan kamu, bahwa menurut firasat Ibu, pesawatmu itu tidak akan sampai selamat di San fransisco, Ibu tidak mau kehilangan kamu, Le,”

    “Tapi ini tender penting Bu, Mr.Melners pasti tidak akan percaya lagi pada saya jika saya mengundur jadwal penerbangan saya. ia pasti tidak segan-segan memecat saya, toh sekarng ahli komputer tidak sedikit lagi, apa itu yang Ibu kehendaki???? Ibu tega melihat saya dipecat??!!” Suara Mas Bimo mengguntur. Tubuhnya yang kurus karena terlalu keras bekerja dihempaskan keatas sofa.

    “Ya,bukan begitu Le,” Suara ibu melemah.

    “Ya, sudah !! Ibu tidak usah ikut campur!!!” Mas Bimo membentak. Tubuh tua Ibu sampai terdorong ke belakang mendengar bentakannya. Aku pun terkejut. Tidak biasanya Mas Bimo meradang seperti ini. Biasanya ia lembut seperti kapas, tutur katanya ringan seperti awan.tapi kali ini tidak, Mas Bimo benar-benar mirip singa yang sedang marah.

    Kulihat ibu perlahan beringsut pergi. Air mata menitik satu-satu dikerut – kerut pipinya. Kususul Ibu, kubimbing memasuki kamarnya. Ibu benar-benar terluka. Tepat pukul tujuh malam ketika aku dan ibu sedang menyimak berita di teve. Seharian ini ibu hanya mengunci mulut saja, dan aku pun tidak berani mengusiknya. Tiba-tiba pintu depan yang tidak terkunci terkuak dengan kasar. Lho,Mas Bimo?!!!!

    “Sial!!!!!! Benar-benar siaaaalllllllllll!!!!!!!!!!!” runtuknya sambil menghempaskan tubuh diatas sofa.

    “Tidak jadi berangkat Mas??” tanyaku keheranan.

    “Tiketku hilang!! Jatuh barangkali ?! Aku sudah mencoba melacak kemana-mana,bandara aku kitari, laci kantor aku obrak-abrik,kertas sialan itu tetap tidak ada,sial. Semuanya sial!!!” Mas Bimo menyumpah -nyumpah.

    Serentak perhatian kami tertuju ke layar teve. Berita kecelakaan.sebuah pesawat Garuda dengan penerbangan 1078 dengan tujuan San Fransisco meledak diatas Laut Jawa. Penumpang beserta seluruh awak kapalnya tewas.

    Tiba-tiba Ibu terkekeh kekeh, bulu kudukku berdiri. Mas Bimo mengerutkan kening. Ia mengingat-ingat. “Lho,itu khan pesawatku? Itu pesawatku Ji. ” teriak Mas Bimo. Ibu masih terkekeh.

    “Berterima kasihlah pada ibumu yang sudah tua ini,Le. Tiketmu ibu sembunyikan .., kalau tidak pasti namamu sudah berada dalam deretan penumpang pesawat yang tewas itu.. hehehehehe..” Ibu terkekeh sambil melambai-lambaikan tiket pesawat Mas Bimo. Mendadak. Mas Bimo mendekap dadanya dengan kedua tangan. Wajahnya pucat pasi, sebelum tubuhnya ambruk ke lantai

    “Mas bimooooooooooooooooo,” teriakku histeris.

    Kuraba dadanya.Kucari detak jantungnya. Ya Allah.tidak ada .detak jantung Mas Bimo berhenti.Mas Bimo???!!! Kucoba memberinya nafas buatan. Kutekan-tekan dadanya dengan harapan jantung Mas Bimo kembali berdetak.peluhku melelh membanjir sia-sia, Mas Bimo tetap terbaring kaku.

    Aku menatap ibu dengan tatapan kosong. “Ibu menatapku dengan tatapan tanya.Mas Bimo meninggal bu.” kataku lirih. Ibu terbelalak. lalu tersungkur pingsan.

    **

    Semoga anda semua dapat mengerti apa hikmah dan pesan dari cerita ini,

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 14 September 2014 Permalink | Balas  

    kerja kerasPerumpamaan Orang-orang Tamak

    Zaman dahulu ada seorang petani yang suka bekerja keras dan berbudi baik, yang mempunyai beberapa anak laki-laki yang malas dan tamak. Ketika sekarat, Si Tua mengatakan kepada anak-anaknya bahwa mereka akan menemukan harta karun kalau mau menggali tempat tertentu di kebun. Segera setelah ayah itu meninggal, anak-anaknya bergegas kekebun, menggalinya dan satu sudut ke sudut lain, dengan putus asa dan kehendak yang semakin memuncak setiap kali mereka tidak menemukan emas di tempat yang disebut ayahnya tadi.

    Namun mereka sama sekali tidak menemukan emas. Karena menyadari bahwa ayah mereka itu tentunya telah membagi-bagikan emasnya semasa hidupnya, lelaki-lelaki muda itupun menanggalkan usahanya. Akhirnya, terpikir juga oleh mereka, karena tanah sudah terlanjur dikerjakan, tentunya lebih baik ditanami benih. Mereka pun menanam gandum, yang hasilnya melimpah-limpah. Mereka menjualnya, dan tahun itu mereka menjadi kaya.

    Setelah musim panen, mereka-berpikir lagi tentang harta terpendam yang mungkin masih luput dari penggalian mereka; mereka pun menggali lagi ladang mereka, namun hasilnya sama saja.

    Setelah bertahun-tahun lamanya, merekapun menjadi terbiasa bekerja keras, disamping juga mengenal musim, hal-hal yang tidak pernah mereka pahami sebelumnya. Kini mereka memahami cara ayah mereka melatih mereka; mereka pun menjadi petani-petani yang jujur dan senang. Akhirnya mereka memiliki kekayaan yang cukup untuk membuat mereka sama sekali melupakan perkara harta terpendam tersebut.

    Itulah juga ajaran tentang pengertian terhadap nasib manusia dan karma kehidupan. Guru, yang menghadapi ketidaksabaran, kekacauan, dan ketamakan murid murid, harus mengarahkan mereka ke suatu kegiatan yang diketahuinya akan bermanfaat dan menguntungkan mereka tetapi yang kepentingan dan tujuannya sering tidak terlihat oleh murid-mulid itu karena kebelumdewasaan mereka.

    Catatan:

    Kisah ini, yang menggarisbawahi pernyataan bahwa seseorang bisa mengembangkan kemampuan tertentu meskipun ia sebenarnya berusaha mengembangkan kemampuannya yang lain, dikenal sangat luas. Hal ini mungkin disebabkan adanya pengantar yang berbunyi, “Mereka yang mengulangnya akan mendapatkan lebih dari yang mereka ketahui.”

    Kisah ini diterbitkan oleh seorang ulama Fransiskan, Roger Bacon (yang mengutip filsafat Sufi dan mengajarkannya di Oxford, dan kemudian dipecat dari universitas itu atas perintah Paus) dan oleh ahli kimia abad ketujuh belas, Boerhaave.

    Versi ini berasal dari Hasan dari Basra, Sufi yang hidup hampir seribu dua ratus tahun yang lalu.

    ***

    Kiriman Sahabat: Luky L Santoso

     
  • erva kurniawan 2:14 am on 2 September 2014 Permalink | Balas  

    syahadat1Amal-amal Penyelamat Umat Muhammad

    Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

    Suatu ketika terjadi tabrakan yang sangat keras antara dua kendaraan, yang menyebabkan pengendaranya luka berat. Masyarakat pun berdatangan untuk memberikan pertolongan.

    Pengendara pertama yang ditolong ternyata seorang pemuda. Wajahnya bersih bersinar dan tampak tersenyum kendati tubuhnya penuh luka. Ia tengah menghadapi sakaratul maut. Kedua bibirnya tampak bergerak-gerak seperti mengucapkan sesuatu.

    Seseorang yang menolongnya mencoba mendekatkan telinganya ke bibir pemuda itu, ia tercenung bercampur haru dan takjub. Apa yang didengarnya? Ternyata pemuda itu tengah melafalkan ayat suci Alquran hingga menghembuskan napas terakhirnya.

    Adapun pengendara kedua, juga seorang pemuda. Tubuhnya penuh luka, dan bibirnya pun bergerak-gerak seperti mengucapkan sesuatu. Si penolong itu merasa penasaran dan mendekatkan telinganya ke bibir sang pemuda. Apa yang didengarnya? Ternyata dari bibir pemuda itu terlantun sebuah lagu //rock//, dan ini terus terdengar dari mulutnya hingga tarikan napasnya yang penghabisan.

    Belakangan si penolong mengetahui lebih jauh tentang siapa pemuda yang pertama tadi. Ternyata pemuda itu tengah melakukan tugas rutin yang dilakukannya setiap bulan, yaitu mengunjungi fakir miskin di suatu kampung untuk membagikan makanan dan pakaian bekas yang ia kumpulkan selama satu bulan.

    Saat kejadian itu pun tampak di mobilnya beberapa bungkus makanan dan pakaian. Sementara di dashboard mobilnya ditemukan beberapa kaset bacaan Alquran dan ceramah.

    Bagaimana dengan pemuda yang satunya lagi? Tentu tidak perlu diungkapkan lebih lanjut di sini. Hanya saja, dengan kejadian tersebut, si penolong dan tentu kita semua seakan diberi gambaran oleh Allah SWT tentang amal seseorang ketika hidup dan kira-kira apa yang dialami keduanya setelah nyawanya tercerabut.

    Oleh karena itu, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menukilkan sebuah Hadis Rasulullah yang cukup panjang tentang amalan-amalan yang bisa menyelamatkan seseorang dari kesulitan di akhirat kelak. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Madini berbunyi, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku semalam bermimpi melihat hal yang sangat menakjubkan. Aku melihat seorang dari umatku yang didatangi oleh malaikat untuk mencabut nyawanya, lalu datang amalnya kepadanya dalam berbakti kepada dua orang tuanya, sehingga amal itu membuat malaikat itu kembali lagi.

    Aku melihat seseorang yang telah dipersiapkan kepadanya siksa kubur, lalu datang wudhunya, sehingga wudhunya itu menyelamatkannya dari siksa kubur.

    Aku melihat seseorang yang telah dikepung banyak setan, lalu datang kepadanya zikirnya kepada Allah, sehingga zikirnya itu mengusir setan-setan tersebut darinya.

    Aku melihat seseorang yang kehausan, sedang tiap kali ia mendekati telaga, ia diusir darinya. Lalu, datanglah shaum Ramadhannya, sehingga shaumnya itu memberikan minum kepadanya.

    Aku melihat seseorang di mana para nabi masing-masing duduk dalam halaqah, ia diusir dan dilarang untuk bergabung ke dalamnya. Lalu, datanglah mandinya dari hadas besar, sehingga mandinya itu membimbing ia dengan memegang tangannya seraya mendudukannya di sampingku.

    Aku melihat seseorang yang di depannya gelap sekali, begitu pula di belakang, atas, dan bawahnya, sehingga ia kebingungan mencari arah jalannya. Datanglah kepadanya haji dan umrahnya, lalu keduanya mengeluarkan ia dari kegelapan tersebut dan memasukkannya ke dalam tempat yang terang sekali.

    Aku melihat seseorang yang melindungi mukanya dengan tangannya dari panasnya kobaran api, lalu datang sedekahnya kepadanya dengan menutupi kobaran api dari mukanya seraya membimbingnya ke hadapan Allah SWT.

    Aku melihat seseorang yang mengajak bicara orang-orang mukmin, tetapi mereka mendiamkannya. Datanglah silaturahminya seraya berkata, ‘Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya ia adalah orang yang melakukan silaturahmi, maka ajaklah dia bicara’. Maka, orang tersebut diajak bicara oleh semua orang mukmin dan mereka mengulurkan tangan untuk berjabatan dengannya, sementara ia pun mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan mereka.

    Aku melihat seseorang yang telah dicengkeram Malaikat Jabaniyyah, lalu datanglah kepadanya amal ma’ruf nahyi munkar-nya, hingga amalnya itu menyelamatkan ia dari siksa Jabaniyyah dan memasukannya ke dalam lingkungan malaikat rahmat.

    Aku melihat seseorang yang jalannya merangkak dengan kedua lututnya dan di depannya terdapat tabir yang memisahkan ia dengan Allah, lalu datanglah akhlak baiknya seraya memegang tangan dan membimbingnya ke hadirat Allah SWT.

    Aku melihat seseorang yang catatan amalnya datang dari sebelah kirinya, lalu datanglah takwanya kepada Allah dan mengambil buku tersebut dengan meletakkannya di tangan kanannya.

    Aku melihat orang yang timbangan amalnya sangat ringan, lalu datang anak-anaknya yang meninggal waktu kecil, sehingga mereka memberatkan timbangan amal baiknya tersebut.

    Aku melihat seseorang yang berdiri di tebing Jahannam, lalu datanglah harapannya kepada Allah, hingga harapannya itu menyelamatkannya dari Jahannam dan ia berjalan menuju syurga dengan selamat.

    Aku melihat seseorang yang terpelanting di atas neraka, lalu datanglah air matanya karena takut pada Allah, hingga air mata itu menyelamatkannya dari jatuh ke neraka.

    Aku melihat seseorang yang tengah berada di atas jembatan dengan tubuh gemetar, lalu datang husnudzannya pada Allah, hingga sikapnya itu menjadikan dia tenang dan ia pun berjalan dengan lancar.

    Aku melihat seseorang yang jatuh bangun di atas jembatan. Terkadang ia merangkak, terkadang pula ia menggantung. Lalu datanglah shalatnya menegakkan kedua kakinya dan menyelamatkannya hingga ia mampu menyeberangi jembatan sampai ke pintu syurga.

    Aku pun melihat pula seseorang yang telah sampai ke pintu syurga, semua pintu ditutup baginya. Lalu datanglah syahadatnya, sehingga dibukalah pintu syurga dan ia pun bisa masuk ke dalamnya”.

    Itulah gambaran tentang amalan-amalan yang dengan izin Allah SWT bisa menjadi penyelamat umat Muhammad SAW yang benar-benar melaksanakan perintah Allah dan sunnah Rasulullah dengan hati ikhlas.

    ps: Tolong disebarkan kepada saudara kita yang belum membacanya. Semoga kebaikan anda dibalas ALLAH SWT.

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 30 August 2014 Permalink | Balas  

    ibu dan anak lelakinya berdoaYang Terlupakan

    Ibu,

    Tahun yang lalu, ketika ibu saya berkunjung, ia mengajak saya untuk berbelanja bersamanya karena dia membutuhkan sebuah gaun yang baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama dengan orang lain, dan saya bukanlah orang yang sabar, tetapi walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan tersebut.

    Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring hari yang berlalu, saya mulai lelah dan ibu saya mulai frustasi.

    Akhirnya pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu saya mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya, dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya dalam ruang ganti pakaian, saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan dengan susah mencoba untuk mengikat talinya.

    Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu dia tidak dapat melakukannya, seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya. Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan air mata yang keluar tanpa saya sadari.

    Setelah saya mendapatkan ketenangan lagi, saya kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan tali gaun tersebut. Pakaian ini begitu indah, dan dia membelinya. Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya. Sepanjang sisa hari itu, pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di dalam ruang ganti pakaian tersebut dan terbayang tangan ibu saya yang sedang berusaha mengikat tali blusnya.

    Kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya, sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati saya.

    Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar ibu saya, mengambil tangannya, menciumnya … dan yang membuatnya terkejut, memberitahukannya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan mata baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan saya dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri. Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ibu… With Love to All Mother.

    Note : Berbahagialah yang masih memiliki Ibu. Dan lakukanlah yang terbaik untuknya………

    ***

    Oleh Sahabat Nining

     
  • erva kurniawan 2:16 am on 29 August 2014 Permalink | Balas  

    siluet-anak-dan-ayahRenungan Jumat: Ayah

    Suatu ketika, ada seorang anak perempuan bertanya kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk, disertai suara batuk-batuk. Anak perempuan itu bertanya: “Ayah, mengapa wajahmu kian berkerut-merut dengan badan yang kian hari kian terbungkuk?” Ayahnya menjawab : “Sebab aku laki-laki.” Anak perempuan itu bergumam : “Aku tidak mengerti.” Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak perempuan itu, terus menepuk-nepuk bahunya sambil mengatakan : “Anakku, kamu memang belum mengerti tentang laki-laki.”

    Karena penasaran, anak perempuan itu kemudian menghampiri Ibunya seraya bertanya: “Ibu, mengapa wajah ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk ? Dan sepertinya ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?” Ibunya menjawab : “Anakku, seorang laki-laki yang bertanggung-jawab terhadap keluarga memang akan demikian.” Hanya itu jawaban sang Ibu.

    Anak perempuan itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa. Tetapi dia tetap saja penasaran, mengapa wajah ayahnya yang tadinya tampan dan gagah menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk ? Hingga pada suatu malam, anak perempuan itu bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa kepenasarannya selama ini.

    “Saat Ku-ciptakan laki-laki, Aku membuatnya sebagai pemimpin dan tiang penyangga dari bangunan keluarga, yang akan menahan setiap ujungnya agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi. Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting tulang menghidupi keluarganya. Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetes keringat yang halal dan bersih sehingga keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya. Demi keluarganya, dia merelakan kulitnya tersengat panas matahari dan badannya basah kuyup kedinginan tersiram hujan. Yang selalu dia ingat adalah semua orang menanti kedatangannya dan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya.”

    “Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan kerapkali menerpanya. Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya didalam kondisi apapun juga, walaupun tidak jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Ku-berikan kerutan di wajahnya agar menjadi bukti, bahwa dia senantiasa berusaha tenaga dan pikiran untuk mencari cara sehingga keluarganya bisa hidup dalam keluarga yang sakinah. Ku-jadikan badannya terbungkuk-bungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, dia senantiasa berusaha mencurahkan seluruh tenaganya demi kelangsungan hidup keluarga. Ku-berikan kepada laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat.”

    Terbangun anak perempuan itu, dan segera dia berlari, bersuci, berwudhu dan melakukan shalat malam hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik ayahnya yang sedang berdzikir. Ketika ayahnya berdiri, anak perempuan itu merengkuh dan mencium telapak tangan ayahnya.

    “Aku mendengar dan merasakan bebanmu, ayah.”

    ***

    Saudaraku, do’akanlah dia dan berbaktilah kepadanya selagi masih hidup karena Allah memerintahkan kita demikian dan dia memang menjadi jalan kelangsungan hidup kita hingga sekarang. Manfaatkan momen Ramadhan dan Idul Fitri nanti untuk menyatakan cintamu kepadanya.

    ***

    (Diambil dari milis Daarut Tauhid)

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 26 August 2014 Permalink | Balas  

    161848_abunawasAbu Nawas di Antara Sengketa 2 Perempuan

    Jakarta – Kebijaksanaan Abu Nawas lagi-lagi diuji. Suatu ketika, Khalifah Harun Al Rasyid memanggilnya ke istana. Khalifah tengah dibingungkan oleh dua perempuan yang bersengketa terhadap seorang bayi mungil. Sang khalifah telah berupaya segala langkah damai, tapi gagal. Kedua perempuan itu tetap mati-matian saling mengakui sebagai pemilik absah sang bayi. Sengketa ini sampai berlangsung berhari-hari.

    Langkah terakhir, Sang Khalifah pun memanggil Abu Nawas untuk meminta pertolongan. Biasanya dari pikiran Abu Nawas selalu keluar ide-ide gila yang tak tepikirkan banyak orang untuk menyelesaikan sebuah persoalan.

    Lalu, datanglah Abu Nawas ke istana. Sang Khalifah tampaknya lebih mempercayai Abu Nawas daripada hakim untuk urusan ini. Kedua perempuan dihadapkan ke persidangan. Sementara Abu Nawas berperan sebagai hakim. Namun setelah persidangan berjalan, Abu Nawas tidak langsung memberikan keputusan solusi saat itu juga. Baru keesokannya Abu Nawas mencetuskan ide yang cemerlang.

    Saat sidang dilanjutkan di hari kedua, semua hadirin termasuk Khalifah meyakini Abu Nawas yang dikenal cerdik dan pandai itu dapat menyelesaikan kasus tersebut.

    Benar saja, Abu Nawas pun mengeluarkan keputusan yang ‘gila’. Keputusan Abu Nawas membuat semua hadirin yang datang termasuk sang khalifah tercengang. Apa keputusannya? Dia memerintahkan algojo untuk membelah dua bayi mungil itu dengan pedang.

    Sontak dua perempuan itu terkejut dan marah. Mereka bertanya, apa yang akan dilakukan Abu Nawas terhadap bayi yang tidak berdosa.

    Abu Nawas lalu berkata, “Sebelum saya mengambil tindakan, apakah salah satu dari kalian bersedia mengalah dan menyerahkan bayi itu kepada yang memang berhak memilikinya?”

    “Tidak, bayi itu adalah anakku,” teriak kedua perempuan itu.

    Dua perempuan itu masih belum ada yang bersedia mengalah meski algojo sudah mengeluarkan pedangnya. Sikap keras kepada dua perempuan itu memaksa Abu Nawas untuk memutuskan membelah bayi itu menjadi dua. Sebagian untuk perempuan yang pertama, sebagian lain untuk perempuan kedua.

    “Jangan, tolong jangan belah bayi itu. Biarlah, aku rela bayi itu seutuhnya diserahkan kepada perempuan itu,” pinta perempuan kedua dengan suara setengah berteriak.

    Sementara perempuan pertama tak berkata kecuali hanya diam dan tercengang.

    Mendengar itu, Abu Nawas tersenyum lega. Dengan segera dia menyerahkan bayi itu kepada perempuan kedua yang memohon tadi. Menurut Abu Nawas, tidak ada satu orang pun ibu yang tega anaknya disembelih. Seorang ibu lebih memilih dirinya menderita dari pada anaknya.

    ***

    ( rmd / rmd )

    Ramdhan Muhaimin – detikRamadan

     
  • erva kurniawan 1:53 pm on 20 August 2014 Permalink | Balas  

    cincin pernikahanPengantin Itu Menikah di Hadapan Jenasah Ayahnya

    Pada tahun 1987 ada sepasang muda-mudi, Fulan dan Katrina yang mencoba untuk menjalin hubungan. Sepertinya keduanya tidak mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan, karena di antara mereka banyak kesamaan.

    Tetapi ada yang sesuatu perbedaan yang sangat prinsipal yang apabila difikirkan, sama sekali mereka tidak mungkin bersatu. Perbedaan itu adalah perbedaan agama. Fulan adalah seorang muslim sedangkan Katrin adalah non muslim.

    Pada saat itu keduanya masih tidak menyadari arti dari perbedaan itu. Yang mereka fikirkan hanya rasa rindu dan keinginan untuk selalu bertemu. Karena mereka belum berfikir ke arah hubungan yang lebih tinggi atau ke jenjang pernikahan.

    Ada satu kemudahan yang diberikan oleh orang tua Katrina tersebut.

    Putrinya tidak dilarang berhubungan dengan kekasihnya walaupun dia beda agama, karena mereka berfikir kalau hubungan putrinya adalah bersifat sementara.

    Selain itu kemudahan yang lain adalah kekasih putrinya itu diberikan kemudahan untuk menjalankan kewajibanya mendirikan Sholat lima waktu di rumahnya apabila masuk waktu Sholat. Dan itu dilaksanakan dari awal behubungan.

    Dengan berjalannya waktu tidak disadari hubungan mereka telah memasuki tahun ke 8 dan pada saat itu kebetulan mereka sama-sama berada di salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta, satu fakultas dan satu kelas.

    Namun perbedaan tersebut sudah mulai mengganggu perasaan keduannya. Perlu diketahui bahwa keduanya berasal dari keluarga yang sama-sama memegang teguh keyakinannya. Tetapi Fulan maupun Katrina tidak berani saling mempengaruhi untuk masuk agamanya salah satu di antara mereka, karena mereka takut apabila masalah itu di bahas maka akan menimbulkan pertengkaran yang berujung dengan perpisahan.

    Pada suatu hari dalam perjalanan menuju kampus di dalam bis seperti hari-hari biasanya banyak pedagang asongan yang sedang menjajakan dagangannya. Ada salah satu pedagang yang menawarkan buku-buku keagama’an (belajar sholat, Iqro’, dll) yang kesemuanya berjumlah 5 buah buku.

    Katrina tiba-tiba berkata “Mas, aku beli’in itu dong”

    Fulan tidak menyadari apa yang diinginkan oleh kekasihnya karena disitu banyak pedangan yang lain.

    ” Yang mana??” tanya Fulan, “Itu yang itu tu….” kata Katrina, ketika menyadari apa yang ditunjuk kekasihnya itu, Fulan sangat terkejut dan memandangi pasangannya dengan wajah penuh keheranan. Tanpa ada yang berbicara Katrina menganggukkan kepalanya.sepertinya mereka sedang berbicara dengan bahasa batin.

    Lalu Katrina berkata “Mas mau ngajarin aku Sholat nggak???”

    Dengan rasa haru yang mendalam dan dengan mata yang berkaca-kaca Fulan itu mengangguk tidak bisa berkata apa-apa. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia bersyukur “Tuhan terima kasih Engkau telah melepaskan beban di pundakku yang selama ini menggangu fikiranku, Engkau telah mengabulkan do’aku selama ini dan Engkau telah membukakan hidayah kekasihku untuk memeluk Agama yang aku yakini kebenarannya”.

    Mulai hari itu Fulan mengajarkan tentang Sholat, Puasa, semua kewajiban-kewajiban seorang Muslim. Serta hukum-hukum di dalam Islam dan lain sebagainya Dengan demikian Fulan bertambah yakin bahwa kekasihnya itu memang diciptakan untuknya.

    Tetapi masih ada masalah yang masih menggagu keduannya yaitu bagaimana berbicara kepada kedua orang tua Katrina, pasti mereka akan mendapat marah besar. Selama itu Katrina belajar dengan cara sembunyi- sembunyi di rumahnya.

    Tetapi rupanya Tuhan berkehendak lain.

    Pada suatu hari Kakak lelaki Katrina membuat suatu keputusan berbicara kepada Bapaknya bahwa dia ingin pindah agama dan memeluk agama Islam. Subhanallah, Bapaknya tidak melarangnya.

    Mendengar kakaknya masuk Islam dan diperbolehkan Bapaknya, Katrina kemudian memberanikan untuk membicarakan hal yang sama yaitu bahwa dia juga ingin memeluk agama Islam. Bapaknya juga mengijinkan.

    Bukan main gembiranya hati Katrina dan Fulan, dengan demikian sudah tidak ada lagi beban yang mengganjal di hati mereka, dan Fulan semakin yakin dapat mempersunting Katrina karena mereka bisa se-iman yaitu Islam.

    Berarti di rumah Katrina yang terdiri dari 4 orang itu yang 2 orang telah memeluk Islam. Dan pada suatu hari terjadi berita yang menggemparkan dalam keluarga Katrina.. ketika tiba-tiba Ayah Katrina pada suatu sore pergi dengan menggunakan sarung dan baju putih menuju ke Masjid terdekat di sekitar rumahnya. Tentu saja ini membuat anggota keluarganya baik yang Muslim dan yang nonmuslim menjadi keheranan.

    Bagi Katrina dan Kakaknya ini adalah suatu Rahmat yang tidak ternilai harganya karena kini Ayah mereka juga memeluk agama Islam, tapi tidak demikian dengan Ibunya, tentu saja hal ini menjadi kesedihan yang sangat mendalam baginya.

    Dengan demikian di dalam satu rumah itu hanya Ibunya saja yang non muslim. Ibunya mengatakan bahwa dirinya tidak mungkin pindah agama karena sejak kecil agama yang diyakininya adalah agama yang dianutnya sekarang.

    Namun demikian baik Katrina, Kakaknya serta Fulan memberi tahu kepada Ibunya bahwa ibunya tidak usah kawatir mereka akan tetap berbakti kepada ibunya. Ayahnya sendiri berkata bahwa bersedia untuk mengantarkan istrinya ke tempat peribadatan yang diyakini Istrinya. Dan tidak satupun dari mereka yang berusaha untuk mempengaruhi ibunya untuk masuk agama Islam.

    Dengan kata lain mereka sekeluarga tidak memaksa ibunya untuk pindah agama apalagi memusuhinya bahkan tetap menghormatinya sebagai seorang ibu.

    Dalam benak seorang suami (bapaknya Katrina) selalu berharap agar istrinya dapat seiman dengannya tetapi tidak diutarakannya untuk menjaga perasaan istrinya.

    Kehidupan keluarga itupun kesehariannya tidak ada masalah karena toleransi yang cukup tinggi yang diterapkan oleh keluarga tersebut dan sudah berjalan selama satu setengan tahun.

    Namun Bapaknya Katrina setiap tengah malam selalu bangun untuk Sholat Tahajud. Dan di dalam Sholatnya itu ia berdo’a dengan tulus dan ikhlas. Dia memohon kepada Allah SWT. agar dibukakan pintu Hidayah bagi istrinya untuk dapat seiman dengannya. Hal ini dilaksanakan secara terus menerus selama empat puluh malam berturut-turut tanpa alpa satu malam pun.

    Pada suatu malam, tepatnya malam keempat puluh Ayahnya Katrina melaksanakan Sholat Tahajud, di sebelahnya Istrinya sedang terlelap. Di dalam tidurnya (ibu Katrina) bermimpi di datangi seseorang dengan wujud Pocongan. Tetapi Ibunya Katrina tidak bilang kepada siapa-siapa tentang mimpinya kecuali kepada Katrina yang diteruskan kepada kekasihnya, Fulan.

    Kemudian malam berikutnya kembali Ibu Katrina bermimpi didatangi seseorang pria dengan memakai Jubah dan mengenakan sorban putih dengan wajah tampan dan bersinar memandanginya dengan tersenyum.

    Mimpi di datangi pria bersorban dan berjubah putih itu dialami ibunya Katrina selama tiga malam berturut-turut. Ibunya masih tidak mengerti apa arti dari mimpinya itu, begitu juga dengan Katrina yang menjadi curahan hati ibunya dalam berbagi cerita mengenai mimpinya.

    Malam ke lima Ibunya Katrina bermimpi, kali ini dia bermimpi kalau dia melakukan suatu gerakan-gerakan yang tidak dia mengerti. Gerakan- gerakan tersebut setelah diceritakan kepada Katrina ternyata adalah gerakan sholat.

    Malam berikutnya kembali Ibunya Katrina bermimpi, kali ini ia bermimpi bahwa dia sedang membaca Alqur’an dengan lancar. Luar Biasa.

    Akhirnya tepat di malam yang ke tujuh Ibunya kembali bermimpi, yang terakhir ini Ia bermimpi sedang melaksanakan Ibadah Haji, Subhanallah…

    Dan disetiap mimpinya itu ibunya selalu bercerita kepada Katrina, hingga disuatu hari tepatnya malam minggu di pertengahan tahun 1996 di mana Fulan dan Katrina sedang berbincang-bincang di teras rumah, Ibunya ikut bergabung. Tiba-tiba ibunya berbicara kepada Katrina.

    Dik (karena Katrina anak bungsu, dia selalu dipanggil adik oleh orang tua dan kakanya), Dik.. kembali ibunya mengulangi ucapannya…

    Dik aku pinjem buku kamu dong…

    Buku yang mana jawa Katrina di depat Fulan..

    Buku kamu yang dari Mas Fulan… Buku tentang Sholat dan lain-lain…

    Mendadak Fulan dan Katrina terperangah dan tersenyum, tanpa bicara apa-apa Katrina langsung berlari dan menghampiri ibunya lalu memeluknya erat-erat sambil berkata lirih.. Allahu Akbar.. Subhanallah…

    Tentu saja berita sangat mengejutkan, karena ibunya pernah berkata bahwa ia tidak akan pindah agama walau apapun yang terjadi. Dan berita inipun menyebar di lingkungan keluarganya dan disambut dengan suka cita apalagi dengan Ayahnya. Karena ayahnya Katrina merasa bahwa do’anya di dalam Sholat telah didengar dan dikabulkan Allah SWT.

    Maka tanpa diduga dan hanya karena kehendak Allah SWT. Seluruh keluarga tersebut menjadi Mualaf..Subhanallah…

    Dan pada awal tahun 1998 kedua orang tua Fulan dan Katrina sepakat akan melanjutkan hubungan putra-putri mereka ketingkat yang lebih tinggi yaitu pernikahan. Tepatnya pernikahan itu akan dilangsungkan pada bulan Oktober 1998. Dan persiapan pernikahan itupun mulai dilaksanakan.

    Namun Allah punya rencana lain Akhir bulan Juli 1998 setelah memasuki tahun ke tiga Ayahnya Katrina memeluk agama Islam dan di tengah- tengah persiapan pernikahan putrinya, tiba-tiba Beliau terserang stroke dan setelah sembilan hari dirawat di rumah sakit Ayahnyapun berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 29 Juli 1998 pukul 16:00. Dan sampai akhir hayatnyapun sewaktu di rumah sakit beliau selalu melaksanakan Sholat Wajib walaupun dengan berbaring, sampai-sampai pada saat beliau tidak sadar, tangan selalu bergerak-gerak seperti orang sedang Sholat.

    Akhirnya Fulan dan Katrina atas persetujuan kedua belah pihak dan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan serta untuk menjaga Ibu mereka maka Keduanya dinikahkan di depan Jenazah Ayahnya sesaat sebelum Ayahnya dikebumikan…

    Itulah kehendak Allah SWT….

    Kesimpulan:

    1. Salah satu manfaat dari Sholat Tahajud seperti apa yang telah dialami sorang Bapak di atas. Yang dapat merubah seseorang kepada kebajikan tanpa paksaan.
    2. Cerita di atas dapat mengandung arti bahwa dengan memperlihatkan Wajah Islam yang sebenarnya, yang berisi dengan kedamaian, rasa saling menghormati, toleransi yang tinggi dapat membuat seseorang menjadi terkesan sehingga ingin memeluk agama Islam tanpa adanya unsur paksaan, intimidasi dan lain sebagainya.
    3. Sesungguhnya hanya Allah SWT. Yang dapat membukakan hidayah seseorang.
    4. Manusia punya rencana tetapi Allah SWT. punya kehendak.

    Semoga kisah nyata di atas dapat bermanfaat. Dan semoga kita selalu berada di bawah lindungan ALLAH SWT. Amiin……….

     
  • erva kurniawan 3:04 am on 15 August 2014 Permalink | Balas  

    sabarAntara Sabar dan Mengeluh

    Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Pada waktu tawaf tiba-tiba beliau melihat seorang wanita yang ceria dan berseri wajahnya.

    “Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu, tidak lain pasti karena tidak pernah merasa risau dan bersedih hati,” ucap beliau.

    Wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, “Apakah katamu wahai saudaraku? Demi Allah aku terbelenggu oleh perasaan duka dan sedih, dan tiada seorang pun yang mengetahui perasaanku ini.”

    Abu Hassan bertanya, “Apa kiranya hal yang membuatmu bersedih, wahai saudariku?”

    Wanita itu menjawab, “Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban. Pada waktu itu aku masih bersama dua orang anakku yang sudah bermain, dan yang lain masih menyusu. Ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang lebih besar berkata pada adiknya, “Hai adikku, maukah kutunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?”

    Jawab adiknya, “Bagaimana caranya, Kak?”

    Lalu disuruh adiknya berbaring dan disembelih leher adiknya tersebut. Kemudian sang Kakak merasa ketakutan setelah melihat banyaknya darah yang keluar dan akhirnya dia lari ke bukit, kemudian di sana ia dimakan oleh serigala. Lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sampai meninggal dunia karena kehausan. Ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas mengenai badannya, habis melepuh kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah menikah dan tinggal di daerah lain. Seketika ia jatuh pingsan, sampai akhirnya menemui ajalnya. Dan sekarang aku tinggal sebatang kara tiada lagi sanak saudara.”

    Lalu Abul Hassan bertanya, “Bagaimanakah kamu bisa bersabar menghadapi semua musibah yang itu?”

    Wanita itu menjawab, “Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada yang berbeda. Adapun dengan bersabar, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun dengan mengeluh, maka orang tersebut tidak mendapat gantinya kecuali sia-sia belaka.”

    Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat dianjurkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah. Oleh karena itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:

    “Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil kekasaihnya di dunia kemudian ia bersabar, melainkan syurga baginya.”

    Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Oleh karena itu Rasulullah s.a.w bersabda,:

    “Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang.”

    Dan sabdanya pula, “Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya pakaian dari uap api neraka.” (Riwayat oleh Imam Majah)

    Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.

    Abu Abdurrahman Ali.

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 11 August 2014 Permalink | Balas  

    Lampu-merahBapak, Muslim Nak!!! “

    Penulis : Ahmad Syauqi

    “Yah rese deh, kena lampu merah lagi…!” Belum dua menit yang lalu kena lampu merah, kini aku lagi-lagi harus menginjak rem motor untuk menyambut si bohlam bulat merah. Desah kesal menghiasi telingaku saat ini. Apalagi saat kulihat beberapa motor dengan enaknya melanjutkan perjalanan, mentang-mentang tak ada polisi berjaga di sana.

    Sambil melihat ulah anak-anak kecil menunggu receh dari para pengendara mobil didepanku, pandanganku tertumbuk pada sesosok bapak yang menjajakan sebuah gambar berukuran sedang dan sebuah hiasan meja. Oh! Gambar berpigura yang diapit tangan kanan itu ternyata gambar Yesus, dan hiasan meja yang digenggam tangan kiri adalah salib. Ah.. biasa saja. Mau jual apapun, itu hak siapa saja. Namun… rasa kagetku muncul saat melihat bapak penjaja itu memakai … peci haji !! Loh, gimana sih?!!

    Si bapak kini mendekati aku, Kubuka helm yang sedari tadi melindungi kepalaku. Aku penasaran betul, ingin berbicara barang sedikit dengan bapak itu.

    “Malem Pak.. Wah,malam-malam begini, masih jualan juga Pak? Belum pulang?” tanyaku sambil tak lupa mengulum senyum manis

    “Belum mas….”, jawab si bapak tak kalah ramah. “Biasanya bapak pulang jam 11-an”.

    “Dagangannya laku berapa Pak hari ini?”. Aku kembali bertanya, sambil melihat-lihat pigura bergambar Yesus dan hiasan salib keramik yang dibawanya.

    Si Bapak menjawab sambil mengangkat sedikit salib keramik itu. “Yah, yang salib sih laku 1 biji. Yang gambar ini,belum laku mas. Mas mau beli?!!”

    Aku tersenyum getir,walau tetap berusaha tampil manis. “Hehe… saya… saya muslim Pak. Maaf yah…!!”

    “Oh, mas muslim thoo… Waduh saya yang minta maaf nih, Hmm, saya juga muslim.”” Hihi.. si bapak jadi salah tingkah begitu.

    Heh? Bener dugaanku. Wah, Ada yang nggak bener neh. “Bapak Muslim? Lalu… mm… kenapa bapak jualan beginian?” tanyaku dengan hati-hati.

    “Ya.. sebenarnya bapak juga ndak suka, mas. Biasa mas, gara-gara urusan perut”. jawab si bapak.

    I knew it !! Kulihat raut wajahnya kini agak “mendem”. Waduh, jadi gak enak nih

    “Trus Pak… tadi bapak bilang, hari ini baru laku 1 biji. Trus berapa untungnya? Apa cukup keuntungan 1 dagangan itu untuk kebutuhan sehari, Pak?”

    “Mm… sebenarnya, laku nggak laku nggak jadi soal mas. Setiap hari, asal saya mau menjajakan ini, saya dikasih 25 ribu. Kalau dagangannya laku, semua uangnya buat saya… Kalo ada yang bisa ngasih pekerjaan lebih baik, saya udah pasti ndak mau jalanin ini. Saya tahu ini nggak halal. Tapi… kalo gak begini, kami sekeluarga makan apa mas…”

    Aku masih terdiam. Sampai tak sadar bahwa mesin motorku mati, kalau saja bapak itu tidak mengingatkan. “Tapi mas boleh percaya, saya tetap muslim, gusti Allah tetep Tuhan saya. Kalau ada kerjaan lain dan hasilnya cukup untuk keluarga, saya pasti gak jualan beginian”.

    “Iya Pak. Mm.. apa bapak belum pernah coba jualan yang lainnya, gitu?”

    “Iya, pernah…jualan koran, makanan kecil dan rokok, tapi hasilnya gak cukup mas, buat makan aja kurang, apalagi bayar sekolah anak …. jauh lah ama yang sekarang ini mas….”.

    TIINN!! TIIN !! Pengemudi mobil di belakang sudah membunyikan klakson. Ternyata lampu merah sudah padam, sampai kendaraan di belakang saya ngomel-ngomel.

    “Oke pak… makasih banyak yah…. maaf sebelumnya. Assalamu’alaikum!” Aku bergegas menarik gas motorku, melewati perempatan pramuka yang saat itu sudah mulai sepi.

    Sepanjang perjalanan Rawasari – Sumur Batu, aku betul-betul gundah. Kurang ajar misionaris itu !! Umpatan demi umpatan silih berganti memenuhi relung hatiku saat itu. Tapi mendadak aku tersadar. Hey… ini bukan salah misionaris itu ! Mereka hanya memanfaatkan situasi yang ada ! Situasi dimana umat Islam kini sudah betul-betul lemah dalam hal ekonomi. Situasi di mana umat Islam tak lagi peduli pada saudara seagamanya yang dhu’afa. Situasi di mana Rasululah pernah ungkapkan 14 abad silam, bahwa umat Islam yang mayoritas, tak ubahnya seperti buih di lautan. Tak berkekuatan. Tak berwibawa. Tak bergigi. Tak berpengaruh. Antara ada-tiada. Innaa lillaah…

    Apa yang bisa aku lakukan? Apa yang bisa aku sumbangkan? Apa yang bisa aku bantu? Lagi-lagi berondongan pertanyaan menghujani pikiranku. Ahh… pusing…

    Peristiwa itu ternyata betul-betul terlupakan… sampai tadi aku menyaksikan acara di sebuah televisi swasta, yang menayangkan profil kaum dhu’afa, seorang bapak penjual kerupuk. Mendadak aku teringat pada si bapak penjual hiasan di perempatan Pramuka. Apa kabarnya sekarang? Apakah di bulan Ramadhan ini beliau tetap berjualan seperti biasanya? Ah… ingin rasanya memacu motor bebekku menemuinya. Tapi hm… sudah malam.

    Ya Allah, semoga ini adalah teguran darimu, betapa kesadaran kami akan pentingnya saling tolong menolong pada sesama saudara segama, masih belum terpatri dengan baik, masih belum menjadi hiasan akhlak kami dalam menapaki hidup ini.

    Ya Rabb, berikanlah kami kekuatan, karuniakanlah kami kesadaran, sinarilah hati kami dengan pancaran kasih dan sayangMu, sehingga kami bisa berusaha semaksimal mungkin menyayangi dan mengasihi sesama kami. Ya Rahmaan, yaa Rahiim.

    Di luar sana banyak saudara-saudara kami yang mendapatkan nafkah melalui cara yang mungkin tidak Engkau ridhai, karena kondisi yang memaksa. Berilah mereka ampunan, berilah mereka hidayah, maafkanlah ketidaktahuan mereka, ya Rabb. Tuntunlah mereka menuju jalan yang Engkau ridhai, dan tuntunlah kami untuk membantu mereka…..

     
  • erva kurniawan 4:16 am on 7 August 2014 Permalink | Balas  

    ibu dan anak lelakinya berdoaSorga di Bawah Telapak Kaki Ibu

    “Ibu… Ibu… mau ke Ibu… ” suara tangisan itu terdengar sangat menyedihkan. Di keheningan tengah malam, di saat orang lain tertidur pulas, ada seorang anak yang gelisah, tidak bisa tidur. Ketika dia terbangun, orang yang sangat dicintainya tidak berada di sampingnya seperti biasa. Karena keterbatasan ekonomi, Ibu yang single parent itu mengambil keputusan untuk menitipkan puterinya di panti asuhan.

    Masih terngiang bujukan si Ibu kepada anaknya, “Karena Ibu sayang sama kamu nak, Ibu titipkan kamu di sini, kan kamu bilang kamu ingin sekolah ? Ibu ga punya uang. Kamu harus sabar ya nak…atau kamu mau kita seperti dulu lagi ? Jualan sambil hujan-hujanan atau kepanasan dan kalau “cape” tidur di pinggir jalan ?” Percakapan antara ibu dan anak tersebut pastilah asing di telinga kita yang punya sejuta nikmat. Sekolah tinggal sekolah, sarapan tinggal makan atau kemana-mana diantar oleh supir. Ah, semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur.

    Kembali kepada si anak. Hatinya yang belum dirasuki oleh “hingar bingar” dunia telah terpatri begitu kuat dengan hati si ibu. Teringat pula saya pada seorang Ibu yang “sadis” kepada anaknya. Hampir setiap hari si anak dipukul dengan bermacam-macam benda. Tapi hati yang “virgin” tadi tidak mau tahu, Ibu tetaplah orang yang paling dicintainya. Ketika sang Ibu pergi, tangisan yang dilantunkannya juga sama dengan tangisan anak yatim di atas yang hidup dengan belaian Ibu penuh cinta. Wahai Ibu! Waktu akan cepat sekali berlalu, anakpun dengan cepat bertambah usia. Hatinya tidak lagi “terkekang” oleh cinta seorang Ibu. Banyak “tawaran” cinta di luar rumah yang akan didapatnya. Seorang anak akan mulai menerjemahkan cinta sesuai dengan kebutuhannya. Bila cinta ibu kalah bersaing, tidak akan cukup air mata untuk mengembalikannya ke dalam pelukan.

    Saya teringat kisah nyata yang ditulis oleh seorang Ibu (sebagai ibrah). Karena karir, si Ibu lalai memperhatikan anaknya yang beranjak dewasa. Si Mbok, pembantu yang setia dengan cinta polosnya telah mengisi seluruh ruang batin puterinya, hingga tiap lembar diary sang puteri hanya bercerita tentang si mbok, tidak selembarpun tersisa untuk menulis kenangan bersama sang Ibu. Ketika si mbok harus menghadap Rabb-Nya, si anak tidak siap, overdosis! (cinta “putaw” mengalahkan cinta Ibu). Puterinya itupun “pergi’ dalam kerinduan terhadap cinta si mbok, sementara sang ayah stroke karena tidak bisa menerima kenyataan. Innaalillaahi. Ada juga ibu yang baru merasa kehilangan ketika seorang anak sudah tidak bisa dipisahkan dengan kekasihnya yang beda agama hingga “kawin lari” pun menjadi pilihan. Kebersamaan dengan seorang Ibu tidak meninggalkan kesan apa-apa. Na’uzubillahi min zalik. Dan mungkin banyak kisah ratapan anak-anak lainnya yang begitu rindu dibelai oleh jari jemari ibu. Wallaahu a’lam.

    Betapa berat amanah yang dipikul oleh seorang Ibu hingga Allah pun bersedia “meletakkan” sorga-Nya di bawah telapak kaki Ibu. Kisah kepahlawan seorang Ibu pun menjadi perhatian penting dalam tapak sejarah, seperti Al-Khansa yang sanggup memotivasi dan menghantarkan putra-putranya mati syahid atau Siti Asiah isteri Fir’aun yang menerjemahkan kasih sayangnya dengan membawa putra-putranya “ikut” bersama menemui Khalik demi mempertahankan keimanannya. Saya optimis! Masih banyak ibu-ibu di jaman sekarang yang tidak rela mengurangi kehormatan sorga di bawah telapak kakinya.

    Untuk Mama yang telah membesarkan dan mendidik dengan samudera cinta. Sayangi mamaku ya Allah..

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 6:34 am on 28 July 2014 Permalink | Balas  

    NIKMATNYA MAIYAH 

    89masjidNikmatnya Maiyah

    Dalam forum Maiyahan, tempat pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar, sering saya bertanya kepada forum :

    “Apakah Anda punya tetangga?”

    Dijawab serentak  “ Tentu punya!”

    “Punya istri enggak tetangga Anda?” –

    “Ya, punya dooooong”

    “Pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu?”

    “Secara khusus, tak pernah melihat” –

    “Jari-jari kakinya lima atau tujuh?”

    “Tidak pernah memperhatikan” –

    “Body-nya sexy enggak?”

    Hadirin tertawa lepas. Dan saya lanjutkan tanpa menunggu jawaban mereka.

    “Sexy atau tidak bukan urusan kita, kan? Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan. Biarin saja.

    Keyakinan keagamaan orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apapun. Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah  disimpan didalam hati. Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah. Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam. Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar, ngapain dia jadi non-Islam? Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah. Justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam. Tapi, sebagaimana istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan seminar atau pertengkaran. Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak pakai dokter, umpamanya.

    Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya. Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silakan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit. Atau Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misalnya kehujanan, padahal waktunya mendesak, ia boleh pinjam baju koko tetangganya yang NU maupun yang Muhammadiyah. Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya. Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing.

    Bisa memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihi kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple dan remi bersama. Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco, atau apapun. Jangankan kerja sama dengan sesama manusia, sedangkan dengan kerbau dan sapi pun kita bekerjasama nyingkal dan nggaru sawah. Itulah lingkaran tulus hati dengan hati. Itulah Maiyah.”

    Emha Ainun Nadjib

     
  • erva kurniawan 6:25 am on 27 July 2014 Permalink | Balas  

    Nasehat IbuCinta Tak Berujung

    Sore ini seperti biasa aku pulang naik angkot. Tidak terlalu jauh memang, tapi kemacetan seringkali membuat aku harus lebih banyak menghirup sesaknya udara polusi. Dan di sinilah, aku seringkali mengingat kisah kami, aku dan bayiku.

    Saat itu, ketika setiap hari ibu membawamu ke kantor, saat itu pula tumbuh rasa sesal di hati ibu. Mungkin sebuah penyesalan yang wajar bagi seorang bunda. Karena ibu sudah memaksamu untuk keluar rumah, menikmati hiruk pikuknya dunia. Idealnya, di usiamu yang masih rentan itu, ibu menungguimu di rumah. Di kamar yang bersih dan sejuk, tanpa polusi, tanpa kericuhan, tanpa keramaian dan tanpa hal-hal yang membuat ibu sendiri pusing. Padahal ibu sudah dewasa, anakku. Bagaimana denganmu, yang masih berusia dua bulan.

    Namun ibu lalui semuanya dengan senyum. Bersama dukungan ayahmu dan iringan tawa riangmu. Hati ibu pun semakin menguat tatkala melihat keluarga yang kurang beruntung. Yang tinggal di pinggir-pinggir jalan. Juga di terminal tempat angkot kita berhenti untuk berganti angkot berikutnya. Ibu melihat betapa anak-anak itu juga bisa tumbuh dewasa, walaupun dengan segala keterbatasan fasilitas orang tuanya. Dari wajah-wajah mereka yang ceria, mereka juga tampak sehat. Allah memang Maha Adil, sayang. Ibu sangat percaya itu.

    Ibu yakin, hal yang terbaik untukmu saat itu adalah dekat dan mendapatkan air susu ibumu. Dan, satu-satunya jalan untuk mewujudkannya, hanya dengan membawamu kemanapun ibu pergi. Aneh! Beberapa orang yang ibu temui di jalan menganggapnya demikian. Pun dengan rekan-rekan sekerja ibu. Apalagi saat ibu memilih menghampirimu daripada menghadiri undangan meeting, saat kau menangis kehausan. Beberapa rekan mengatakan bahwa ibu bisa di-PHK karena itu.

    Tapi ibu tidak takut, sayang. Yang lebih ibu khawatirkan adalah jika ibu tidak bisa memberikan hak yang seharusnya kau terima. Rizki yang diberikan oleh Dzat Yang Maha Welas Asih melalui ibumu yaitu air susu. Karena ibu sangat berharap, bisa menggenapkan kewajiban ibu hingga dua tahun usiamu.

    Untuk itu, maafkan ibu jika terpaksa mengurungmu dalam sesaknya polusi di angkot yang kita naiki. Sungguh, kami tak pernah menghendakinya, sayang.

    Hanya doa yang ibu panjatkan tiap saat agar rasa sesal ini sedikit berkurang. Bermohon kekuatan dan kesehatan untukmu. Mohon agar kau bisa tumbuh sehat dan kuat. Bisa tumbuh dan berkembang dengan sempurna untuk menjadi generasi yang lebih baik daripada kami.

    Ya Tuhanku Allah Yang Maha Waspada…
    Allah Yang Tak Pernah Lengah…
    Dzat Yang Maha Pemurah…

    Berikan perlindungan untuk putra-putri kami…
    Awasi dia selalu…
    Jaga fitrahnya Ya Robb
    Jadikan mereka putra-putri yang sholeh dan sholehah

    Jangan timpakan hukuman pada mereka akibat dosa dan kesalahan kami, Tuhanku…

    Ampuni kami Ya Allah, Berilah kami kekuatan untuk menjadi orang tua yang adil buat mereka, aamiiin.

    ***

    Aku tahu…dan teramat sadar, bahwa aliran kata-kata bermakna doa yang selalu kuhadirkan buat buah hatiku, bukanlah apa-apa dibandingkan dengan pengorbanan ibu bapakku. Aku hanya ingin memulainya saat ini. Untuk menjadi bunda yang baik baginya… untuk menjadi madrasah yang berkualitas buatnya.

    Dengarlah doaku Ya Robbi, dan kabulkan keinginanku.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 22 July 2014 Permalink | Balas  

    madu (1)Kisah Sesendok Madu (Mulailah Dari Diri Sendiri)

    Diceritakan, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warga kotanya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit di tengah kota. Seluruh warga kota memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya. Tetapi, dalam pikiran seorang warga kota ( katakanlah namanya Fulan); terlintas cara untuk mengelak perintah tersebut. “Aku akan membawa sesendok penuh, tapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungiku dari pandangan mata orang lain. Sesendok air tidak akan mempengaruhi isi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota.”

    Tibalah waktu yang ditetapkan. Apa kemudian yang terjadi? Bejana itu ternyata seluruhnya berisi penuh dengan air! Rupanya seluruh warga kota berpikiran sama dengan si Fulan. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.

    Kisah simbolik ini sering terjadi dalam berbagai kehidupan masyarakat. Idealnya memang bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian melibatkan pengikut-pengikutnya.

    Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah disertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku (QS 12:108)

    Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin (pengikut-pengikutmu) (QS 4:84)

    Perhatikanlah kata-kata : “tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri”. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : “Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu” Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Berarti setiap orang harus harus tampil terlebih dulu. SIkap mental yang seperti ini akan menyebabkan bejana sang raja akan penuh dengan madu, bukan air, apalagi racun.

    (Dari : Lentera Hati, M Quraish Shihab)

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 21 July 2014 Permalink | Balas  

    motor tuaMotor Tua

    Dengan riang kulangkahkan kaki memasuki pekarangan rumah. Ah, cukup lama aku meninggalkan orang-orang yang kucintai. Langkahku terhenti, pandanganku tertumbuk pada sebuah motor tua. 20 tahun yang lalu motor itu sangat berarti. Allah menyatukan hati papa, mama, aku dan adik-adik (kami 4 bersaudara) lewat kendaraan bekas yang sekarang sudah dipenuhi debu dan karat itu. Sebagai pegawai negeri biasa dengan ekonomi pas-pasan, papa dan mama hanya bisa mencicil sebuah motor sebagai sarana transportasi kami sekeluarga. Waktu itu aku berusia 5 tahun, adikku no 2 berusia 3 tahun, no 3 berusia 2 tahun dan adik bungsuku berusia kira-kira 5 bulan. Kalau kedua orang tuaku pergi, kami semua pasti dibawa.. tentu saja dengan motor tua itu.

    Sejenak, senyumku mengembang seiring memori yang tetap mengalunkan kenangan indah. Urutan-urutan di motor itu adalah : adikku no.2 di depan sekali (di tank bensin), papa (sebagai rider), adikku no.3, aku dan terakhir mama duduk miring ke satu arah dengan menggendong adik bungsuku yang masih bayi. Aku juga ga habis pikir kenapa bisa muat dan kenapa orang tuaku begitu berani ? Tapi sudahlah, semua sudah berlalu dan aku sedang menikmati kebersamaan kami ketika itu.

    Hal yang paling bertahan dalam ingatanku adalah ketika tiba-tiba hujan turun, papa segera menepikan motornya, kami semua diturunkan karena mantel hujan tersimpan di bawah sadel. Mantel dikeluarkan .. kemudian kami kembali menempati posisi dan masuk ke dalam mantel. Mantel satu dipakai ramai-ramai. Pemandangan yang tadinya indah mendadak gelap gulita tapi tawa canda tetap mewarnai perjalanan hingga tempat tujuan.

    Namun… perjalanan hidup tidak selamanya bahagia. Di suatu sore, dalam keadaan kurang sehat papa pulang ke rumah untuk istirahat. Namun di perjalanan papa tidak sempat mengelakkan segerombolan sapi yang melintas dan menabrak salah satunya. Papa terpental dari motor dan mengalami patah kaki. Otomatis, kebersamaan di motor tua terhenti untuk sementara waktu. Terasa ada yang lain.. kami merindukan kehangatan berdesakan di motor tua (tak terasa air mataku mengalir)..

    Betapa bersyukurnya aku dikarunia keluarga yang hidup pas-pasan oleh Allah. Kenangan ini menjadi milikku… belum tentu dimiliki oleh orang lain. Kebahagiaan dan kebersamaan keluargaku dibangun di atas motor tua. Antara percaya dan tidak, tapi aku yakin motor itu jadi salah satu sarana kehangatan aku dan keluarga hingga sekarang. Dengan menyusut air mata, kulangkahkan kaki menuju pintu dan subhaanallaah… suara orang tua dan adik-adik riuh rendah menyambut kedatanganku… Betapa hangatnya cinta-Mu ya Allah. Ijinkan aku untuk selalu ingin memiliki cinta ini…dalam sabar dan syukurku…

    Ayo sobat, bangkitkan kenangan indah beserta anggota keluarga. Janganlah sesekali menyesali kondisi keluarga. Insya Allah kebahagiaan dan semangat akan selalu mewarnai hidup kita. Jangan lupa bersyukur kepada Allah dan berterimakasih kepada orang-orang yang berjasa kepada kita.

    ***

    (Diambil dari http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 4:56 am on 8 July 2014 Permalink | Balas  

    beruang ikanMengapa Beruang Tumbuh Besar

    Seekor beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dengan sabar di tepi sungai deras. Waktu itu memang tidak sedang musim ikan. Sejak pagi ia berdiri di sana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar air. Namun, tak satu juga ikan yang berhasil ia tangkap. Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya… hup… ia dapat menangkap seekor ikan kecil. Ikan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan.

    Si ikan kecil itu meratap pada sang beruang, “Wahai beruang, tolong lepaskan aku.”

    “Mengapa,” tanya sang beruang.

    “Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat celah-celah gigimu,” rintih sang ikan.

    “Lalu kenapa?” tanya beruang lagi.

    “Begini saja, tolong kembalikan aku ke sungai. Setelah beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang besar. Di saat itu kau bisa menangkapku dan memakanku untuk memenuhi seleramu,” kata ikan.

    “Wahai ikan, kau tahu mengapa aku bisa tumbuh begitu besar?” tanya beruang.

    “Mengapa?” ikan balas bertanya sambil menggeleng-geleng kepalanya.

    “Karena aku tak pernah menyerah walau sekecil apa pun keberuntungan yang telah tergenggam di tangan!” jawab beruang sambil tersenyum mantap.

    “Ops!” teriak sang ikan

    Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kita tidak mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Dan hal ini hanya akan menciptakan penyesalan yang tiada guna di kemudian hari, saat kita harus berucap : “Ohhh….Andaikan aku tidak menyia2kan kesempatan itu dulu…??”.

    Maka bijaksanalah pada hidup, hargai setiap detil kesempatan dalam hidup kita. Disaat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan; disaat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan; disaat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali; dan dalam kesempatan untuk meraih kembali yang terbaik untuk hidup kita.

    Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara yang besar. Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi sebuah kesempatan yang besar.

     
  • erva kurniawan 7:29 am on 15 June 2014 Permalink | Balas  

    siluet-wanitaUkhti Muslimah Bagaimana Akidahmu?

    Penulis Ummu Raihanah (www.jilbabonline.com)

    Sengaja penulis mengambil judul diatas agar ukhti semua senantiasa bermuhasabah (intropeksi) diri, apakah sudah benar aqidah (keyakinan) kita dalam beragama ini? suatu pertanyaan yang mungkin agak sepele akan tetapi sangat sulit untuk dijawab.

    Sebenarnya dari sinilah segala amal akan dihisab oleh Rabb kita, dengan akidah yang shahih (benar) sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah dan pemahaman pendahulu kita salafuna Shalih maka hati kita akan tunduk dan patuh kepadaNya. Menyerahkan seluruh hidup kita dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan. Segala perintah yang Allah turunkan dalam kitab-Nya yang Mulia dan melalui lisan Nabi-Nya adalah merupakan hal yang ringan, mudah sehingga jawaban kita terhadap perintah-perintah tersebut adalah ”kami dengar dan kami patuh”, sebuah jawaban yang indah .

    Wahai ukhti muslimah, Cobalah simak firman-Nya:

    ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu” (Adz-dzariyaat:56)

    Sebuah seruan yang jelas dan pasti untuk kita, yaitu agar kita hanya benar-benar menyembahNya saja, mentauhidkan-Nya, tidak menyekutukan-Nya, tentu ukhti semua menyadari kita ini adalah hamba-hamba-Nya dan suatu saat akan kembali pada-Nya. Karena itulah tugas kita untuk selalu membersihkan akidah kita dari noda-noda kesyirikan.

    Dengan akidah yang bersih inilah kita mulai beramal untuk mencapai derajat takwa derajat wanita shalihah yang kita idam-idamkan.

    Sayangnya, banyak saudari kita yang masih terlena dan jauh dari akidah yang benar, jauh dari syariat yang benar, sehingga apa yang mereka perbuat lebih banyak melanggar perintah-Nya dari pada taat kepada-Nya.

    Wahai ukhti muslimah saudariku, bukan maksud penulis untuk membuka aib atau mencela dan merasa diri sendiri suci dan benar, akan tetapi hanya ingin saling menasehati semoga Allah selalu membimbing kita semua,

    Penulis hanyalah ingin membagi cerita tentang apa yang dialaminya ketika Allah memberikan kemudahan untuk menunaikan rukun islam yang kelima pada tahun 2001 yang lalu bersama sang suami,

    Dengan penuh rasa haru penulis memasuki pesawat dan duduk disebelah saya seorang wanita keturunan Arab yang cantik jelita dengan dua orang anaknya, saya bertanya kepadanya ”Akan pergi kemana?”

    Karena saya melihatnya tanpa mahram, dia menjawab akan ke Dammam. Saya melihatnya dengan prihatin karena kasihan melihatnya kerepotan seorang diri mengurus dua anaknya yang agak rewel di pesawat, Saya membantunya memasukkan barang-barangnya yang sempat tercecer keluar diantaranya adalah abaya hitam (gamis panjang) dan jilbab panjang hitam,

    Saya bertanya, “Apakah anda memakai ini sama seperti saya? Saya bertanya heran karena beliau saat itu mengenakan setelan celana jean ketat dan kaos ketat, beliau menjawab: ”Iya, di Saudikan kita haram terbuka seperti ini, setiba saya di bandara saya akan memakainya, mbak orang Arab?

    Saya menjawab: “Bukan”

    Beliau bertanya lagi : “Oh, tetapi kenapa pake cadar apa karena suami mbak orang Arab jadi disuruh pake begitu?” Beliau bertanya sambil melirik ke suami saya.

    Sayapun menjelaskannya dengan panjang lebar mengapa saya memakai cadar kepadanya, dan alhamdulillah dia mengerti.

    Suatu kejadian yang sungguh disesalkan dimana banyak kaum kita (wanita) memahami bahwa perintah jilbab adalah ditaati ketika suatu negara mewajibkannya bukan karena ketaatan dan ketundukan hati.

    Ketika penulis sampai di Madinahpun banyak meneteskan air mata karena ternyata, saudari-saudari kita yang shalat disana masih banyak yang melakukan kemusyrikan diantaranya mencium tiang-tiang masjid Nabawi dan menyapunya keseluruh tubuh untuk mencari berkah walaupun polisi wanita di sana meneriaki haram, toh mereka tak perduli, jalan terus, sungguh menyedihkan.

    Hal tersebut tak jauh berbeda saya dapati di Masjidil Haram, mereka berdesak-desakkan mencari berkah di tempat keluarnya air zam-zam, mengorek-ngorek dinding tersebut , teriakan saudari kita yang lain melarang perbuatan itu sama sekali tidak digubris,

    Saya hanya bisa berdo’a semoga Allah memberi mereka hidayah.

    Setibanya di Bandara Jeddah untuk pulang ketanah air, saya mendapatkan pengalaman yang sangat menarik, karena tempat pemeriksaan antara laki-laki dan wanita dipisah, jadilah saya sendiri menghadapi petugas imigrasi bandara, mereka lama sekali melihat kesaya, sayapun bertanya kepadanya dalam bahasa Arab : Apakah ada masalah?

    Petugas itu agak terkejut karena dia melihat paspor saya adalah paspor indonesia. Dia menjawab: ”tidak”.

    Salah seorang petugas imigrasi yang lain mendatangi saya dan bertanya apakah saya benar-benar orang indonesia asli bukan keturunan Arab, saya mengiyakan, dia pun berkata kepada saya: ”Coba lihat di sana itu semuakan teman-temanmu mereka sudah melepaskan kerudung mereka semua karena sudah selesai dari hajinya, ” Saya tidak sempat menjawab banyak karena saya melihat wajah khawatir suami saya dari jauh.

    Dengan sangat terpaksa sayapun meninggalkan beliau yang masih dalam kebingungan.

    Ini adalah suatu kenyataan ukhti, saudariku. Sebuah hal yang sungguh patut di renungkan, apabila memang hati kita benar-benar telah tunduk kepada-Nya kita akan selalu taat dimanapun kita berada tanpa memandang situasi dan kondisi hingga kita menghadap-Nya.

    Semoga Allah senantiasa membimbing dan menjaga kita untuk istiqomah di jalan-Nya dan menjadikan seluruh amalan kita ikhlas kepada-Nya bersih dari riya dan kesyirikan.

     
  • erva kurniawan 8:50 am on 1 June 2014 Permalink | Balas  

    istri solekhahIsteriku, Matahariku

    Saya pernah ditinggal istri seharian untuk mengikuti suatu acara. Acaranya memang bermanfaat, baik untuk istri saya maupun untuk kepentingan umat. Konsekuensinya saya harus momong lima anak mulai dari yang besar 11 tahun sampai si bungsu 2,5 tahun. Kebetulan hari itu nenek mereka sedang sibuk dan anak-anak pun sedang libur sekolah.

    Agenda yang saya lakukan pertama kali adalah memonitor apakah anak pertama dan kedua sudah mandi. Lalu saya membantu anak ketiga dan keempat untuk mandi sekaligus memandikan si bungsu. Berikutnya adalah makan pagi. Alhamdulillah, lauk dan nasi sudah disediakan istri sebelum ia berangkat. Anak pertama sampai ketiga sudah biasa makan sendiri, tapi anak keempat dan kelima ini harus saya suapi. Jangan harap mereka duduk manis saat saya suapi, saya malahan ikut berlarian kesana kemari mengejar si kecil untuk makan. Saat akan disuapi pun mereka akan berebut siapa yang harus disuapi lebih dulu.

    Agenda berikutnya adalah membersihkan rumah. Anak pertama mendapat tugas mencuci piring, sedangkan adiknya hari itu membersihkan halaman dan ruang tamu. Saya sendiri merapikan kamar tidur dan lain-lain seperti yang biasa dilakukan isteri. Sedangkan anak ketiga, keempat dan kelima asyik bermain-main. Satunya berlari-lari, yang lain main bongkar pasang dan satunya lagi bermain dengan anak tetangga. Namanya anak-anak, bermain selalu saja dihiasi dengan tangisan akibat berebut mainan yang terbatas jumlahnya. Belum lagi soal baju bersih yang berubah kotor saat dipakai bermain.

    Saat urusan bersih-bersih rumah usai, tahu-tahu waktu sudah menjelang siang. Berarti persiapan shalat dhuhur dan makan siang harus dilakukan. Alhamdulillah nasi dan sayurnya masih ada, walaupun lauknya sudah habis. Kebetulan masih ada telur. Tinggal goreng saja, pikir saya. Akhirnya saya menggoreng ceplok telur. Hasilnya lumayan walaupun sedikit gosong. Makannya seperti tadi pagi. Saya kembali mengejar kedua anak saya yang masih balita untuk disuapi. Baru kemudian dilanjutkan acara sholat dzuhur dan istirahat siang.

    Semua pekerjaan tetap bisa tertangani walaupun hasilnya tidak maksimal sebagaimana jika istri ada di rumah. Anak-anak juga tetap mandi, makan, bermain dan tidur siang di rumah walaupun tidak seceria saat ibunya ada di rumah. Rumah dan peralatan dapur juga bisa dibersihkan, tetapi memang tidak sebersih dan seasri ketika istri di rumah. Anak-anak juga tetap bisa menjalankan shalat, sekalipun ayahnya tidak bisa menjalankan sholat berjama’ah di Masjid. Saya juga masih bisa mengerjakan tugas-tugas rutin (mengajar di Pesantren), tapi tidak senyaman dibandingkan ketika ibunya anak-anak di rumah.

    Pengalaman itu membawa saya pada pemahaman bahwa keberadaan istri itu penting. Bukan semata-mata sebagai ibu rumah tangga saja tapi lebih kepada cahaya dalam keluarga, sesuatu yang melahirkan motivasi, rasa aman, kenyamanan dan keceriaan dalam satu keluarga. Keadaan ini memberikan jawaban untuk saya mengapa keluarga tanpa ibu terkesan suram atau juga kenyataan bahwa seorang anak lebih tidak siap ditinggal oleh ibunya dibandingkan oleh ayahnya.

    Begitu pentingnya makna kehadiran istri shalihah dalam satu rumah tangga membuat saya sadar bahwa di balik setiap orang besar seperti Rasulullah SAW ada istri yang mendukungnya.

    Saya pernah ditanya oleh seorang teman,” Apakah Anda ingin nikah lagi?” Saya menjawab,”Belum berpikir dan hingga sekarang tidak pernah berpikir ke arah sana.” Bukan berarti anti, apalagi mengharamkannya.

    Jawaban saya ini jujur dari hati saya yang paling dalam. Alasannya, pertama, istri saya telah memberikan kontribusi kebaikan yang sangat banyak dalam rumah tangga ini. Kedua, bagi saya keluarga itu merupakan susunan yang terdiri dari unsur-unsur kenangan, komitmen, emosi, cita-cita, markas atau pangkalan, labuhan dan sejarah. Jadi tidak bisa dirubah atau digantikan atau disempurnakan begitu saja oleh unsur lain kecuali dengan unsur yang yang ada di dalamnya. Kalau toh ada program menikah lagi, ide bukan dari saya tetapi dari istri dan tentunya berdasarkan hasil musyawarah dengan anak-anak. Karena merekalah yang akan merasakan dampak langsung, baik yang positif maupun yang negatif.

    Suatu kedzoliman manakala dalam diri kita muncul pikiran untuk menyia-nyiakan istri atau memberikan apresiasi yang rendah terhadap perkerjaan isteri. Ditinggal satu hari saja saya sudah kerepotan menghadapi pekerjaan rumah tangga dan anak-anak. Istri menghadapi hal itu seperti itu bukan sehari dua seperti saya, tapi sudah menjadi rutinitas. Sedikit pun ia tidak pernah mengeluh. Suatu kedzaliman pula jika sebagai suami, begitu pelit untuk memberi hadiah atau penghargaan, sekalipun hanya sebuah ucapan terima kasih, maaf atau kata-kata menyenangkan lainnya. Apalagi jika diingat-ingat lagi perjuangan untuk mendapatkan istri saya yang sekarang juga bisa dibilang tidak ringan.

    Semoga tidak berlebihan jika saya mengatakan dalam berbagai kesempatan bahwa istri ibarat matahari. Ia bersinar, menerangi dan menghangatkan setiap jiwa yang ada di dalam rumah. Karenanya, tetaplah bersinar wahai matahariku!

    ***

    Dari Sahabat: Dosen pada Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor

     
  • erva kurniawan 8:34 am on 30 May 2014 Permalink | Balas  

    sholatTiga Hal Membawa Keuntungan

    Pada suatu hari Imam Syafi’i ra berkunjung ke rumah Imam Ahmad bin Hambal. Seusai makan malam bersamanya, Imam Syafi’i masuk ke kamar yang telah disediakan untuknya, beliau segera berbaring hingga esok fajar.

    Puteri Imam Ahmad yang mengamati Imam Syafi’i sejak awal kedatangannya hingga masuk kamar tidur, terkejut melihat teman dekat ayahnya itu. Dengan terheran-heran ia bertanya, “Ayah…, Ayah selalu memuji dan mengatakan bahwa Imam Syafi’i itu seorang ulama yang amat alim. Tapi setelah kuperhatikan dengan seksama, pada dirinya banyak hal yang tidak berkenan di hatiku, dan tidak sealim yang kukira.”

    Imam Ahmad agak terkejut mendengar perkataan puterinya. Ia balik bertanya, “Ia seorang yang alim, anakku. Mengapa engkau berkata demikian?”

    sang puteri berkata lagi, “Aku perhatikan ada tiga hal kekurangannya, Ayah. Pertama, pada waktu disuguhi makanan, makannya lahap sekali. Kedua, sejak masuk ke kamarnya, ia tidak shalat malam dan baru keluar dari kamarnya sesudah tiba shalat shubuh. Ketiga, ia shalat shubuh tanpa berwudhu.”

    Imam Ahmad merenungkan perkataan puterinya itu, maka untuk mengetahui lebih jelasnya dia menyampaikan pengamatan puterinya kepada Imam Syafi’i.

    Maka Imam syafi’i tersenyum mendengar pengaduan puteri Imam Ahmad tersebut. Lalu ia berkata, “Ya Ahmad, ketahuilah olehmu. Aku banyak makan di rumahmu karena aku tahu makanan yang ada di rumahmu jelas halal dan thoyib. Maka aku tidak meragukannya sama sekali. Karena itulah aku bisa makan dengan tenang dan lahap. Lagipula aku tahu bahwa engkau seorang pemurah. Makanan seorang pemurah adalah obat, sedangkan makanan orang kikir adalah penyakit. Aku makan semalam bukan untuk kenyang, akan tetapi untuk berobat dengan makananmu itu, ya Ahmad. Sedangkan mengapa aku semalam tidak shalat malam karena ketika aku meletakkan kepalaku di atas bantal tidur, tiba-tiba seakan-akan aku melihat di hadapanku kitab Alloh dan sunnah Rasul-Nya. Dengan izin Alloh, malam itu aku dapat menyusun 72 masalah Ilmu Fiqh Islam sehingga aku tidak sempat untuk shalat malam. Sedangkan kenapa aku tidak wudhu lagi ketika shalat shubuh karena aku pada malam itu tidak dapat tidur sekejap pun. Aku semalam tidak tidur sehingga aku shalat fajar dengan wudhu shalat Isya”.

    ***

    (Abu Abdurrahman Ali – khasanah no.21 th.ix)

     
  • erva kurniawan 8:16 am on 29 May 2014 Permalink | Balas  

    siluet burungAl-Balkhi dan Si Burung Pincang

    Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesalehannya, bernama al-Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishak.

    Pada suatu hari, al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama al-Balkhi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang ditujunya sangat jauh lokasinya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada al-Balkhi, sahabatnya. “Wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?”

    “Dalam perjalanan”, jawab al-Balkhi, “Aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan untuk segera membatalkan perjalanan”.

    “Keanehan apa yang kamu maksud?” tanya Ibrahim bin Adham penasaran.

    “Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak”, jawab al-Balkhi menceritakan, “Aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian bertanya-tanya dalam hati. “Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada di tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa”.

    “Tidak lama kemudian”, lanjut al-Balkhi, “Ada seekor burung lain yang dengan susah payah menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat”.

    “Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu?” tanya Ibrahim bin Adham yang belum mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera.

    “Maka aku pun berkesimpulan”, jawab al-Balkhi seraya bergumam, “Bahwa Sang Pemberi Rizki telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku sekali pun aku tidak bekerja”. Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang saat itu juga”.

    Mendengar penuturan sahabatnya itu, Ibrahim bin Adham berkata, “wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu? Mengapa engkau rela mensejajarkan derajatmu dengan seekor burung pincang lagi buta itu? Mengapa kamu mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup dari belas kasihan dan bantuan orang lain? Mengapa kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku burung yang satunya lagi? Ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup sahabatnya yang memang tidak mampu bekerja? Apakah kamu tidak tahu, bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah?”

    Al-Balkhi pun langsung menyadari kekhilafannya. Ia baru sadar bahwa dirinya salah dalam mengambil pelajaran dari kedua burung tersebut. Saat itu pulalah ia langsung bangkit dan mohon diri kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, “wahai Abu Ishak, ternyata engkaulah guru kami yang baik”. Lalu berangkatlah ia melanjutkan perjalanan dagangnya yang sempat tertunda.

    Dari kisah ini, mengingatkan kita semua pada hadits yang diriwayatkan dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya: “Tidak ada sama sekali cara yang lebih baik bagi seseorang untuk makan selain dari memakan hasil karya tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud ‘alaihis salam makan dari hasil jerih payahnya sendiri” (HR. Bukhari).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:50 am on 25 May 2014 Permalink | Balas  

    kerang mutiaraKalung Mutiara Imitasi

    Ini cerita tentang Muthia, seorang gadis kecil yang ceria berusia Lima tahun.

    Pada suatu sore, Muthia menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, Muthia melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik.

    Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Muthia sangat ingin memilikinya. Tapi… Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik. Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya. “Ibu, bolehkah Muthia memiliki kalung ini ? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi… “

    Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Muthia. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Muthia yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten. “Oke … Muthia, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?”

    Muthia mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya. “Terima kasih…, Ibu”

    Muthia sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau.

    Setiap malam sebelum tidur, ayah Muthia membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya “Muthia…, Muthia sayang ngga sama Ayah ?”

    “Tentu dong… Ayah pasti tahu kalau Muthia sayang Ayah!”

    “Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu…”

    “Yah…, jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil “si Ratu” boneka kuda dari nenek…! Itu kesayanganku juga”

    “Ya sudahlah sayang,… ngga apa-apa !”. Ayah mencium pipi Muthia sebelum keluar dari kamar Muthia.

    Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi, “Muthia…, Muthia sayang nggak sih, sama Ayah?”

    “Ayah, Ayah tahu bukan kalau Muthia sayang sekali pada Ayah?”.

    “Kalau begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu.”

    “Jangan Ayah… tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini..” kata Muthia seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.

    Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk kekamarnya, Muthia sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Muthia rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. “Ada apa Muthia, kenapa Muthia ?”

    Tanpa berucap sepatah pun, Muthia membuka tangan-nya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya.

    “Kalau Ayah mau… ambillah kalung Muthia.”

    Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Muthia. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih… sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Muthia.

    “Muthia… ini untuk Muthia. Sama bukan ? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau.”

    Ya, ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Muthia.

    Demikian pula halnya dengan Alloh SWT terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Muthia. Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Alloh SWT mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik. Semoga bermanfaat, amin.

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 21 May 2014 Permalink | Balas  

    pasirHanya Karena Sebutir Pasir

    Sir Edmund Hillary, penakluk pertama Mount Everest, puncak tertinggi dunia di Pegunungan Himalaya; pernah ditanya wartawan apa yang paling ditakutinya dalam menjelajah alam?

    Hillary mengatakan bahwa dia tidak takut pada binatang buas, jurang yang curam, bongkahan es raksasa atau padang pasir yang luas dan gersang sekalipun!

    Lantas apa? – “Sebutir pasir yang terselip di sela-sela jari kaki,” kata Hillary –

    Wartawan heran, tetapi sang penjelajah melanjutkan kata-katanya, “ Sebutir pasir yang masuk di sela-sela jari kaki sering sekali menjadi awal malapetaka. Ia bisa masuk ke kulit kaki atau menyelusup lewat kuku. Lama-lama jari kaki terkena infeksi lalu membusuk (gangren). Tanpa sadar kakipun tidak bisa digerakkan. Itulah malapetaka bagi seorang penjelajah sebab dia harus ditandu.”

    Harimau, dan binatang buas lainnya adalah binatang yang secara naluriah takut menghadapi manusia. Sedang untuk menghadapi jurang terjal, padang pasir, seorang penjelajah pasti sudah punya persiapan yang memadai. Tetapi jika menghadapai sebutir pasir yang akan masuk ke jari kaki, seorang penjelajah tak mempersiapkannya. Dia cenderung mengabaikannya.

    Jika kita renungkan dengan apa yang dinyatakan Hillary sebenarnya sama dengan kita, yang mengabaikan dosa kecil, seperti mencicipi minuman keras, berdusta, berburuksangka, serta tindakan tercela lainnya yang dianggap sepele.

    Sebab itulah kita akan sering ‘keterusan’ melakukan dosa-dosa kecil yang lambat laun akan menjadi kebiasaan. Dosa kecil itupun akan menjadi dosa besar yang akan merugikan diri pribadi dan lingkungan.

    Dengan melihat potensi kerusakan besar, akibat terbentuk dari dosa-dosa kecil itulah Nabi Muhammad SAW memperingatkan umatnya agar tidak mengabaikan dosa-dosa kecil seraya tidak melupakan amal kebaikan meskipun juga kecil.

    Dalam kisah sufi diceritakan bahwa seorang pelacur masuk surga hanya karena memberi minum anjing yang kehausan. Perbuatan yang cenderung dinilai sangat kecil ternyata di mata Tuhan punya nilai besar karena faktor keikhlasannya.

    Itulah nilai setetes air penyejuk yang diberikan sang pelacur pada anjing yang kehausan.

    Bukankah semua roh yang ada di seluruh jagad ini, termasuk roh anjing tersebut hakekatnya berasal dari Tuhan Yang Maha Pencipta juga?

    (Dari Motivasi_Net)

     
  • erva kurniawan 8:10 am on 17 May 2014 Permalink | Balas  

    agus salimTokoh: H. Agus Salim

    Oleh: PakTani

    Sebagai tokoh perjuangan, ia punya kadar kualitas yang sulit dicari tandingannya. Terutama kecerdasannya, barangkali termasuk jenius. Semua orang yang pernah bicara dengannya, mengakui itu.

    Mohammad Natsir (alm), tokoh Islam termasyhur mengungkapkan, “Kalau kita hendak menggunakan kualifikasi intelektual brilian pada salah seorang putra Indonesia, maka saya rasa yang paling pertama tepat ialah pada Haji Agus Salim.”

    Tokoh tiga jaman yang hingga kini masih hidup, Prof. DR. Roeslan Abdulgani, juga mengakui, “Siapa yang pernah mengenal Oude Heer Salim dari dekat, pasti tertarik oleh nilai isi segala pembicaraannya, yang mencerminkan dua hal, yaitu ketajaman otak dan mendalamnya kehidupan keagamaannya.”

    Fisiknya sih biasa-biasa saja. Bahkan ukurannya temasuk kecil, dan yang tak pernah lupa adalah jenggotnya selalu dipelihara dan rokok kretek yang tak pernah berhenti mengepul dari dua bibirnya. Tapi tubuhnya yang kecil, tidak menjadikan dirinya kecil hati berhadapan dengan orang lain. Justru ia tampak gesit dan selalu mendominasi dalam setiap pembicaraan, seolah tidak memberi kesempatan lawan bicaranya mengungkapkan dua atau tiga patah kata. “Saya mengundang kedua beliau itu bersantap di Ruang Pertemuan Tenaga Pengajar, dan duduk di tengah kedua beliau itu saya pun terperangah,” George Mct. Kahin, profesor di Universitas Cornell Amerika Serikat, mengungkapkan kesaksiannya.

    Yang dimaksud beliau di situ adalah Ngo Dinh Diem, tokoh perjuangan kemerdekaan Vietnam Selatan, dan Agus Salim. Diem telah dikenal sebagai seorang yang senantiasa merajai setiap percakapan.

    “Percakapannya berlangsung dalam bahasa Perancis –bahasa yang paling dimahiri Diem– namun Haji Salim tetap mengungguli Diem, berbicara amat fasihnya, sehingga Diem tidak mendapat peluang sedikit pun!” McT. Kahin melanjutkan kesaksiannya.

    Lain lagi kesan Mohammad Hatta. Di samping kecerdasan, di mata mantan Wakil Presiden RI pertama ini, kekuatan Salim terletak pada keyakinan, ketangkasan, dan ketegasannya membela suatu pendirian yang sudah diambilnya. Setia kawannya juga besar. Ia sanggup menghadapi berbagai kesulitan dengan sabar.

    Dengan segala kelebihannya itu, baik lawan maupun kawan jadi segan kepadanya. Termasuk Belanda. Di antara tokoh perjuangan, Salim termasuk yang belum pernah meringkuk di penjara. Meskipun kritikan-kritikannya kepada Belanda sangat berani dan tajam. “Saya selalu sangat hati-hati akan jangkauan UU penguasa dan berusaha untuk tidak kena jerat,” kata Agus Salim tentang kiatnya.

    Bukan berarti tanpa kelemahan. “Ia kadang kurang sabar untuk mengupas suatu masalah sampai tuntas,” ujar Hatta. Mungkin karena proses berfikirnya yang terlalu cepat sehingga tampak melompat-lompat. Akibatnya, satu masalah belum selesai dikupasnya, sudah pindah ke soal lain. “Ini barangkali pembawaan dari seorang yang jenial,” tambah Hatta.

    Tapi kelemahan yang sungguh mengherankan sebagaimana dicatat Prof Schermerhorn dari Belanda adalah, Salim hidup melarat sepanjang hayatnya!

    Kukuh

    Sebagai orang yang berpendidikan dan berkemampuan tinggi, apalagi ia menjadi pemimpin ternama, agak sulit dipahami bila Salim hidup dalam kemiskinan. Tidak sulit rasanya bila Salim yang menguasai 6 bahasa asing (Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Arab dan Turki) ini ingin hidup enak dan bergelimang harta. Dengan bekerja di pemerintah Belanda, misalnya, tentu ia akan kaya. Toh itu tidak ia lakukan.

    Tahun l925 ia pernah diminta jadi pimpinan redaksi harian Hindia Baroe, milik segolongan orang pribumi dan Belanda. Di tangan Salim Hindia Baroe maju pesat. Tetapi karena tulisan-tulisan Salim yang pedas dan tajam mengkritik Belanda, membuat pemiliknya gerah juga. Mereka minta agar Salim memperlunak kritiknya. Tanpa pikir panjang, esok harinya Salim mengundurkan diri dari jabatannya. “Pendapat saya tentang Pemerintah Hindia Belanda dan kebijaksanaannya, saya tidak bersedia ditawar-tawar,” katanya kepada Mohamad Roem yang menanyakan keputusannya itu.

    Di Jakarta ia bersama keluarganya tinggal dari rumah kontrak yang satu ke rumah kontrak yang lain. Bukan rumah megah di tepi jalan raya, melainkan rumah jelek di gang-gang sempit dan becek. Di antaranya Salim pernah tinggal di daerah Tanah Abang, di Karet, Jatinegara, Gang Kerlonong, Gang Toapekong, Gang Listrik dan banyak lagi. Khususnya di Gang Listrik, di sinilah justru mereka hidup benar-benar tanpa listrik, karena tak kuat membayar sewa listrik.

    Mohamad Roem, orang yang sejak muda dekat dengan Salim menyaksikan sendiri. Salim dan keluarganya pernah tinggal dalam satu ruangan sempit. “Kopor-kopor bertumpuk di pinggir ruangan serta beberapa kasur digulung, sedangkan di tengah ada ruang yang bebas untuk duduk-duduk dan menerima tamu,” tutur Roem. Menderitakah mereka?

    Orang luar yang melihatnya tentu akan menjawab iya. Tapi tidak dengan Salim. Ia adalah seorang ayah yang sangat dekat dan sayang kepada keluarganya –semua anaknya tidak ada yang disekolahkan di luar, tapi dididik sendiri. Bukan tak mampu mengongkosi, tapi karena prinsip.

    Pernah suatu ketika istrinya yang tabah kehabisan uang untuk membeli lauk-pauk. Sambil bergurau dengan anak-anaknya, Salim menyingsingkan lengan baju beramai-ramai membuat nasi goreng. Jadilah seisi rumah riang gembira, sementara anak-anaknya merasa mendapat “traktiran” istimewa dari sang ayah.

    Seorang ayah yang pasrah dan tawakkal juga nampak dari sikapnya yang tenang ketika pernah hendak pindah rumah, namun tak ada uang untuk biaya. “Allah Maha Besar. Kita tentu akan diberi-Nya jalan,” katanya tenang. Tak lama kemudian datang wesel, kiriman pembayaran sesuatu yang tak diduga-duga.

    Dibesarkan Belanda

    Boleh dibilang, sejak remaja Salim dibesarkan Belanda. Di samping menimba ilmu di sekolah Belanda, ia pernah dibimbing secara khusus oleh Brouwer, seorang guru Belanda yang terpikat kepada kecerdasannya. Semasa menempuh pendidikan HBS di Jakarta, ia juga in de kost pada keluarga Belanda bernama Koks. Ayahnya termasuk pula pejabat di pemerintah Hindia Belanda, sehingga hidup Salim relatif tidak mengalami penderitaan karena penjajahan. Lalu mengapa ia kemudian berbalik menentang penjajah Belanda?

    Lahir dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab pada 8 Oktober l884 di Kota Gedang, Minangkabau, Sumatera Barat. Ayahnya adalah seorang Hoofd (jaksa atau kepala jaksa) di Pengadilan Tinggi Riau dan daerah bawahannya. Kedudukan Hoofd jaksa, apalagi bagi penduduk pribumi, ketika itu termasuk tinggi dan sangat terhormat. Itulah sebabnya Salim dan kakaknya bisa diterima di Europese Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa.

    Selama menempuh pendidikan di ELS, prestasi Salim sangat cemerlang. Dalam semua pelajaran, ia mengungguli anak-anak Eropa lainnya. Pun tatkala menempuh Hogere Burger School (HBS) –sekolah setingkat SMA khusus anak-anak Eropa– di Jakarta, Salim yang punya nama asli Masyudul Haq ini tetap unggul. Pada akhir studi, ia berhasil keluar sebagai lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda (Jakarta, Bandung dan Surabaya).

    Sebenarnya ia ingin melanjutkan studi kedokteran di Belanda, tapi kandas karena tiada biaya. Berbagai upaya dilakukan, di antaranya mengajukan beasiswa dan persamaan status kewarganegaraan sederajat dengan bangsa Eropa, namun gagal juga. Kabarnya, Kartini pernah mengusahakan beasiswa untuk Salim tapi juga nihil. Di sinilah titik balik pada diri Salim mulai muncul. Ia mulai tidak senang kepada Belanda yang menjalankan politik diskriminasi.

    Gagal berangkat ke negeri Belanda, Salim kembali ke Riau dan bekerja pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Di sini ia bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris. Sebagai lulusan HBS, ia memang menguasai sejumlah bahasa asing: Belanda, Inggris, Perancis dan Jerman. Untuk pemuda seukuran Salim (21), pekerjaan itu cukup mentereng.

    Namun, lain bagi kedua orang tuanya. Ada sesuatu yang mencemaskan. Di mata kedua orang tuanya, putra kelima dari lima belas bersaudara itu menunjukkan tanda-tanda menyimpang dari nilai-nilai masyarakat ketimuran, lebih-lebih Islam. Bahkan tanda-tanda menyimpang itu sudah dirasakan sejak Salim menempuh pendidikan di HBS.

    Salim sendiri tidak mengelak. Itu sesuai pengakuan Salim ketika memberi kuliah di Cornell University Amerika Serikat tahun l953. Pendidikan di HBS, akunya, telah berhasil menjauhkan dirinya dari ajaran Islam. Setelah lima tahun di HBS, Salim merasa tak dapat berpegang kepada satu agama pun secara sungguh-sungguh. Hanya karena keluarganya termasuk taat beribadah, maka dalam berislam seakan-akan ia sekedar melanjutkan tradisi. Saat itu ia melihat agama hanya sebagai sesuatu yang dibutuhkan oleh orang yang kurang terdidik; kalau tidak, orang bakal memasuki jalan sesat.

    Dalam kondisi iman yang labil seperti itu, datanglah tawaran dari pemerintah Hindia Belanda untuk bekerja di Konsulat Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Atas dorongan orang tuanya, Salim pun berangkat ke Jeddah pada tahun l906 dalam usia 22 tahun. Orang tuanya berharap, selama di Arab Saudi itu Salim bisa kembali memulihkan imannya. Apalagi di sana ada pamannya yang menjadi guru besar sekaligus imam di Masjidil Haram, yakni Syech Ahmad Khatib.

    Namun, selain orang tuanya, ternyata Prof Snouck Hurgronje juga berperan besar atas keberangkatan Salim ke Jeddah itu. Dalam pertemuannya dengan Salim tahun l906 di Jakarta, orientalis terkenal itu menyarankan Salim agar tidak usah melanjutkan studi kedokteran. “Karena menjadi dokter itu bayarannya kecil,” ujar Hurgronje yang lantas menawarkan gagasan yang menurutnya lebih baik. Di mata Hurgronje, Salim adalah seorang intelektual muda yang sangat cerdas dan fikirannya tajam serta punya keberanian luar biasa untuk ukuran orang melayu. Maka atas anjuran Hurgronje pula pemerintah Hindia Belanda menawarkan pekerjaan di konsulat Jeddah. Di sana Salim bertugas sebagai ahli penterjemah dan mengurusi jamaah haji asal Indonesia.

    Terkabul harapan orang tua Salim. Disamping bekerja, Salim tekun mendalami Islam kepada Syech Ahmad Khatib, yang juga menjadi gurunya KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Saat itu, Syech Ahmad terkenal sebagai salah satu tokoh pembaharu dari mazhab Imam Syafi’i.

    Jabatan-jabatan yang pernah diduduki Agus Salim:

    1. Anggota Volksraad l921-l924.
    2. Anggota Panitia 9 BPUPKI mempersiapkan UUD 1945.
    3. Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Syahrir II l946 dan Kabinet III l947.
    4. Tokoh kunci pembuka hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir, 1947.
    5. Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Amir Syarifuddin l947.
    6. Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta l948-l949.

    Sebagai orang yang pernah mendapat gemblengan dari sistem pendidikan barat dan berpengetahuan umum cukup luas, Salim menerima pelajaran dari pamannya dengan sikap kritis. Syech Ahmad meladeni pertanyaan muridnya itu dengan arif dan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot. Itulah yang membuat roh Islam menancap kokoh di sanubari Salim. Islam bagi Salim bukan lagi sebagai warisan, tetapi sudah dilandasi pemahaman yang mendalam.

    Ajaran Islam yang memang menentang penindasan atas manusia, semakin menebalkan sikap antipati Salim kepada Belanda. Apalagi saat itu Muhammad Abduh, intelektual dari Mesir, sedang gencar-gencarnya melancarkan pembaharuan Islam. Gerakan Abduh ini berpengaruh luas di dunia Islam dan membangkitkan negara-negara Islam yang masih banyak dihimpit kaum penjajah.

    Salim kembali ke Tanah Air pada l911. Sempat lima hari bekerja di Kantor Pekerjaan Umum Jakarta, Salim lantas mengundurkan diri dari pegawai pemerintah Hindia Belanda. Ia kemudian kembali ke Kota Gedang mendirikan sekolah dasar HIS. Tahun l915 ia kembali ke Jawa dan tak lama kemudian ia nyebur ke dunia pergerakan lewat Sarekat Islam (SI). (Bas)

    Pemberi Cap Islam di SI

    Sejak masuk Syarikat Islam (SI), peran Salim cukup besar. Bahkan dalam perjalanannya, Salim pernah menjadi tangan kanan pemimpin utama SI, yakni HOS Tjokroaminoto. Dua pemimpin ini seolah menjadi sejoli yang sulit digantikan. Keduanya punya kelebihan dan kelemahan yang saling melengkapi. Tjokro dikenal sebagai pemimpin yang kharismatis, sedang Salim adalah tokoh intelektual Islam yang luas pengetahuannya.

    Menurut Deliar Noer, di dalam bukunya Gerakan Modern Islam di Indonesia, Salimlah yang lebih banyak memberi cap Islam pada SI. “Salim bukan saja seorang yang mengetahui pikiran-pikiran Barat, tetapi dialah pemimpin SI yang paling mengetahui tentang Islam dari sumber aslinya,” tulis Deliar. Berbeda dengan Tjokroaminoto. D.A Rinkes, penasihat untuk Bumiputra yang sering mengadakan perjalanan bersama Tjokroaminoto menilai, “Tjokroaminoto lebih merupakan priyayi yang berpaham bebas daripada seorang Islam yang fanatik.”

    Peranan Salim di SI sangat menonjol terutama dalam merumuskan kebijakan dan strategi perjuangan organisasi. Hal itu tampak saat ia berusaha membersihkan orang-orang PKI yang mulai menyusup ke tubuh SI. Usaha pembersihan itu terkenal dengan istilah “Disiplin Partai”.

    Pertentangan PKI dengan Islam di SI sudah mencuat sejak tahun l917. PKI diwakili Darsono, dan Semaun dari Cabang Semarang, sedang Islam diwakili Agus Salim dan Abdoel Moeis. Sikap Tjokroaminoto sendiri tampak kurang tegas terhadap konflik tersebut. Ia lebih mengutamakan persatuan di tubuh SI ketimbang perbedaan yang menurutnya bukanlah sesuatu yang prinsip. Berbeda dengan Salim. Ia berpendapat, masalah PKI sangatlah prinsip, karena menyangkut akidah.

    Perdebatan sengit tak terelakkan saat digelar Kongres Luar Biasa SI keenam di Surabaya tahun l921, antara PKI dengan Salim. Dua agenda besar dibahas dalam Kongres: masalah disiplin partai dan penegasan asas SI.

    Soal asas Salim menyatakan, “Tidak perlu mencari isme-isme lain yang akan mengobati penyakit gerakan. Obatnya ada di dalam asasnya sendiri, asas yang lama dan kekal, yang tidak dapat dimubahkan orang, sungguhpun sedunia telah memusuhi dengan permusuhan lain. Asas itu adalah Islam.”

    Dalam hal PKI, Salim meminta agar Kongres mengeluarkannya dari SI. Sambil mengutip ayat al-Qur’an Salim menegaskan, “Di dalam al-Qur’an terkandung perintah yang melarang kita bersaudara, yakni berikatan lahir batin dengan orang yang tidak sama keyakinan dengan kita. Karena mereka selalu hendak menjerumuskan kita dan mereka suka bila kita menderita bencana.”

    Menanggapi Salim, Semaun menjawab bahwa SI perlu taktik yang lebih luas. Selama ini, katanya, SI hanya mampu mengumpulkan orang Islam saja buat bekerja bersama-sama membela hak rakyat. Padahal, selain Islam masih ada orang lain yang jumlahnya tidak sedikit. “PKI sudah nyata bisa membawa orang-orang Ambon, Manado, dan lain-lain rakyat Hindia yang tidak beragama Islam. Bilangan mereka tidak sedikit, pengaruhnya harus pula dihargakan. Di sini PKI sudah membuktikan taktiknya, bekerja dengan orang Islam Kristen guna keperluan rakyat.”

    Akan tetapi, semua argumentasi dan pembelaan Semaun dapat dipatahkan Salim dan Moeis. Dalam kongres itu Salim telah menunjukkan dirinya sebagai pemimpin Islam yang tangguh, yang tidak saja menguasai ilmu-ilmu Islam, melainkan juga pemikiran-pemikiran Barat seperti komunisme. Sehingga argumentasi-argumentasi Salim dalam perdebatannya dengan golongan komunis sangat tajam.

    Kongres akhirnya mensahkan keputusan disiplin partai dan Islam sebagai asas SI. Akibatnya, PKI harus keluar dari SI. Tak lama kemudian, Semaun dan Darsono membentuk SI sendiri yang terkenal dengan sebutan “SI Merah”.

    Tahun l934 Tjokroaminoto meninggal dunia, Salim menggantikan sebagai Ketua Umum SI. Setelah itu peran Salim di SI surut, seiring dengan konfliknya dengan Aboekosno. Pokok utamanya adalah garis partai. Salim mengusulkan agar garis kebijaksanaan SI diubah, dari non-kooperatif menjadi kooperatif. Pertimbangannya, demi menyelamatkan SI sendiri. Soalnya pada tahun-tahun itu sudah mulai bertindak keras, terhadap pihak-pihak penentangnya. Tetapi justru karena usulannya itu, ia disingkirkan Aboekosno dari SI.

    Tahun l936, Salim bersama Sangadji membentuk Barisan Penyadar. Setelah Partai Masyumi muncul pasca kemerdekaan, Salim bergabung dengan partai politik terbesar yang pernah dimiliki ummat Islam Indonesia itu.

    Salim wafat 4 November l954 pada usia 70 tahun dan mendapat gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional l961. Salim meninggalkan tujuh anak dan seorang istri bernama Zainatun Nahar Almatsier.

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 14 May 2014 Permalink | Balas  

    Kakek PenjualKakek Penjual Lem

    Pada suatu hari, tepatnya itu hari jum’at. Sekitar pukul 11.45 saya pergi k mesjid belakang kampus untuk menunaikan ibadah sholat jum’at dan dzuhur. Saya berjalan dengan teman kelas yang juga beragama islam untuk menunaikan sholat bersama. Ketika perjalanan ke mesjid sekitar 10 meter dari mesjid terlihat seorang kakek tua yang duduk lemas di pinggiran dinding dan pagar kampus. Sekilas saya berfikir itu seorang pengemis, ketika makin dekat perjalanan saya dengan si kakek tua itu. Saya tergejut ternyata dia pedagang Lem kertas. Sementara saya lihat di kerumunan banyak orang yang lalu lalang, tidak ada satu pun mahasiswa yang mendekati si kakek tua itu dengan maksud membeli barang dagangannya. Hati ini berdegup kencang dengan sedikit sedih melihat kondisi si kakek yang sudah tua. Namun waktu sholat sudah hampir mulai, dengan terpaksa saya harus melanjutkan berjalanan saya ke mesjid dengan maksud nanti setelah sholat saya akan menemui kakek itu.

    Setelah saya menunaikan sholat, saya langsung keluar mesjid dan memakai sepatu saya. Dengan sedikit tergesa-gesa saya langsung menghampiri kakek tua yang ternyata dia juga baru selesai sholat. Dalam hati saya berkata “Ya Allah Hebat sekali kakek ini meskipun dia sudah tua, tetapi dia tetap menjalankan kewajiban sholatnya dengan harus berjalan kaki yang saya rasa diapun susah untuk berjalan”. Akhir nya saya sampai di tempat kakek tua, dan saya langsung berbincang kepada si kakek.

    “Kek,Jualan apa disini”.tanyaku basa-basi untuk memulai perbincangan.

    “Jual Lem kertas cu”. Jawab kakek itu pelan.

    “Berapa kek 1 nya?”. Tanyaku lagi.

    “1500 cu”. Jawab dia singkat.

    “cucu mau beli?” tanyanya.

    “ia kek, oia hari ini kakek sudah laku berapa lemnya?”.tanyaku kembali

    “Kalo kamu jadi beli, kamu pembeli pertama yang membeli dagangan kakek hari ini.”katanya.

    Akupun kaget mendengar jawabannya. Dari sekian banyak mahasiswa yang lewat belom ada 1 orang pun yang membeli barang dagangannya. Karena, untuk kalangan mahasiswa tidak terlalu membutuhkan Lem kertas.

    “Kakek kenapa berjualan? Cucu kakek kemana?”. Bertanya dengan rasa ingin tahu.

    “Kakek sendiri cu sudah 5 tahun lebih kakek hidup sendiri”. Jawabnya sambil meneteskan air mata.

    “Maaf kek kalau saya banyak bertanya, ya sudah saya ambil semua ya kek lem nya” ujarku dengan senang hati sambil mengeluarkan uang 100.000,-.

    Kakek itu pun memelukku sambil mengucapkan terima kasih.

    Saya yakin harga lem itu tidak seberapa, tapi hanya demi kebutuhan makan harian kakek itu pun rela berjualan sepanjang hari untuk melangsungan hidupnya.

     
  • erva kurniawan 4:00 am on 4 May 2014 Permalink | Balas  

    siluet kesendirianJawaban Seorang Murid

    Suatu ketika Syafiq Al Balkhi bertanya kepada muridnya, Hatim Al Asham, “Apakah pelajaran yang dapat engkau petik sejak menemaniku?”

    Mendengar pertanyaan dari sang guru, Hatim menjawab, “Ada enam pelajaran yang dapat aku petik. Pertama, ketika aku melihat manusia selalu mencemaskan masalah rezeki sedangkan mereka bakhil dengan apa yang telah mereka dapat dan tamak dengannya. Karena aku termasuk makhluk yang menjalar di muka bumi, maka aku tidak meresahkan hatiku apa yang telah dijamin Yang Maha Kuasa.”

    Syafiq mendengarkan dengan seksama, “Bagus.” ujarnya.

    “Yang kedua, karena aku melihat semua orang mempunyai teman yang menjadi tempat pengaduannya untuk mengatakan semua permasalahan dan rahasianya, sedangkan mereka tidak membelanya pada waktu temannya susah. Aku menjadikan amal shaleh sebagai temanku agar ia dapat membantuku kepada waktu hisab dan membelaku ketika dihadapkan kepada Alloh.”

    “Bagus,” kata Syafiq lagi, dengan terus menanti uraian kalimat berikutnya dari sang murid.

    “Ketiga, aku melihat setiap orang mempunyai musuh. Aku melihat setiap orang yang menggunjingku bukanlah musuhku, bukan orang yang mendzalimiku, bukan pula orang yang berbuat jahat kepadaku. Tapi orang-orang tersebut telah memberiku keuntungan dari mereka dan akan menanggung dosa-dosaku. Musuhku adalah orang-orang yang apabila aku mentaati Alloh, mereka menggodaku unruk melakukan kedurhakaan. Aku menganggap bahwa mereka itu adalah iblis, nafsu, dunia, dan hawa. Oleh karena itu aku menjadikan mereka sebagai musuhku. Aku akan berhati-hati dengan mereka dan mempersiapkan segala sesuatu untuk memerangi mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka mendekatiku.”

    Safiq masih dengan ketekunannya memperhatikan ucapan muridnya itu. “Bagus,” katanya lagi.

    “Keempat, aku melihat setiap makhluk hidup dalam keadaan diburu, dan pemburu tersebut adalah malaikat maut. Maka aku mempersiapkan diri untuk menemuinya dan akan segera menyambutnya tanpa penghalang.”

    “Bagus.” ungkap Syafiq lagi.

    “Kelima, aku melihat semua manusia selalu dalam keadaan saling menyayangi dan saling membenci. Lalu aku mempelajari sebab dari sayang dan benci. Oleh karena itu aku membuang jauh-jauh dariku sifat hasad. Kemudian aku mencintai semua manusia sebagaimana aku mencintai diriku sendiri.”

    Syafiq berucap lagi menanggapi perkataan muridnya, “Bagus!”

    “Keenam, aku melihat setiap orang yang bertempat pasti akan berpisah dengan tempatnya. Maka aku melihat bahwa tempat kembali semua orang yang menetap tersebut adalah kubur. Oleh karena itu aku mempersiapkan untuknya segala persiapan berupa amal-amal shaleh untuk menetap di tempatku yang baru tersebut sedangkan tidak ada tempat dibelakangnya kecuali surga dan neraka.”

    Untuk kesekian kalinya, Syafiq berkata lagi, “Bagus.” ujarnya seraya menutup pembicaraan. *** (Irfanul Hakim)

     
  • erva kurniawan 2:01 am on 2 May 2014 Permalink | Balas  

    bukuBuku Merah Itu

    Kubaca kembali lembar pertama buku lusuh dihadapanku. Seperti tak percaya kubalik lembar demi lembarnya, untuk memastikan kembali isinya. Ya Allah, memang benar ini tulisanku!!!

    Buku merah itu kutemukan di tumpukan paling bawah, di laci meja belajarku. Sejak pagi hari tadi, hingga sekarang pukul 11 siang, aku sibuk membereskan kamarku yang berantakan tak terurus. Penyebab utamanya tak lain karena kesibukanku di kantor yang memuncak beberapa bulan ini.

    Kembali kuamati buku yang ujungnya telah termakan kutu buku. Masing-masing halamannya hanya terbagi dalam tiga kolom. Pertama, kolom hari dan tanggal, selanjutnya aktivitas, dan terakhir keterangan. Kucermati baris pertamanya. Jumat, 14 Juli 2000. Sholat subuh, dhuhur, ashar, magrib dan isya’. Sholat sunnah: tahajud, rawatib dan dhuha. Baca Al Qur’an: 3 juz, wirid: istighfar 500 kali, Tasbih, Tahmid dan Tahlil, masing-masing 100 kali, Al Ma’tsurat pagi dan sore, Surat Yaasin, Waqiah dan Ar Rahman. Selanjutnya, kulihat kolom keterangan. Tampak semua tanda centang berada di kolom ”terlaksana”, yang merupakan bagian dari kolom keterangan. Lalu, tanganku yang kotor oleh debu, refleks membalik lembar demi lembarnya yang tak menampakkan perbedaan, selain menampakkan peningkatan aktivitas ibadah, dari hari ke hari. Dan buku itu, berakhir ditulis pada tanggal 24 Agustus 2000. Subhannallah… mataku nanar, dan setetes air beningnya tak bisa kutahan lagi.

    ***

    Otakku berputar untuk mengingat tahun berapa saat ini. Robb, sudah tiga tahun hamba berpaling dari-Mu. Dan aku seperti tak merasakannya. Kesibukan yang kemudian berubah menjadi rutinitas dan membuat hatiku mengeras karena malah menyukainya, telah mengungkungku selama ini. Mungkin banyak orang berkata, bahwa catatan ibadahku tadi bukan apa-apa karena amalan sunnahnya hanya beberapa. Namun bagiku, saat itu adalah puncak kedekatanku dengan-Nya. Tuhan Pencipta Alam Semesta. Karena berikutnya, aku menjauh dan semakin menjauhi-Nya.

    Astaghfirullahal adziim.

    Ingatanku kembali menyusuri tiga tahun yang tak berasa. Aku ingat, kejauhanku dengan Robb-ku diawali dengan beratnya melaksanakan ibadah wajib tepat waktu. Lantas bersambung ke ibadah sunnah yang mulai hilang satu-satu. Ujungnya, sholat lima waktu hanya sekedarnya. Sekedar menggugurkan kewajiban. Sementara berdoa, bukan lagi kurasakan sebagai sarana komunikasi dengan Allah Yang Maha Pemurah, melainkan hanya aliran kata-kata yang tak pernah kuresapi maknanya. Air mata pun tak pernah lagi mengucur deras, saat tangan ini menengadah. Apalagi wirid, karena seusai salam kubaca, mukena pun langsung kulepas. Astaghfirullahal adziim…

    ***

    Ya Allah, tiga tahun yang sia-sia. Kerugian yang tiada terhitung. Tuhanku, hamba ingin bangkit. Terlalu banyak titik dosa yang terukir di lembaran hidup hamba, tak sebanding dengan amalan kebajikan yang hamba lakukan. Robb, beri hamba kekuatan untuk bangkit menuju-Mu… agar hati ini kembali tenang. Agar segala yang hamba lakukan mendapat ridho-Mu… Hidup hamba gersang, Tuhanku. Tak ada air sejuk yang mengaliri jalan yang hamba tempuh… tak ada tempat mengadu seperti dulu Ya Allah… hamba terlalu memanjakan diri hamba untuk tidur semalaman, hanya karena alasan terlalu lelah. Padahal, kelelahan yang sesungguhnya adalah saat ini, saat hamba jauh dari-Mu. Ya Allah… ampunkan dosa hamba, Robb. Terima hamba kembali Ya Allah… jangan biarkan hamba jauh dari nur-Mu Yaa Rohim. Hamba ingin sekali kembali, berkhalwat dengan-Mu setiap malam dan menunaikan segala perintah-Mu seperti dulu lagi. Hamba rindu kepada-Mu Ya Allah… teramat rindu.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:12 am on 29 April 2014 Permalink | Balas  

    ilmu-adalah-pelitaMenyombongkan Ilmu

    Seorang ahli hikmah berpetuah, “Jangan sekali-kali membicarakan suatu ilmu pada tempat dan keadaan yang tidak cocok, apalagi menyombongkannya.”

    “Seperti pernah dialami seorang sarjana,” kata ahli hikmah itu. “Ketika naik perahu menuju sebuah pulau kecil nun jauh di seberang pantai, ia menerangkan bahwa sukses hidup manusia bergantung pada empat jenis ilmu : ilmu hitung, ilmu ekonomi, ilmu sosial, dan ilmu politik.”

    “Apakah anda menguasai ilmu hitung ?” tanya sang sarjana.

    “Tidak.” jawab tukang perahu.

    “Waduh bahaya, kalau begitu, sukses hidup anda berkurang 25%. Tapi tentu anda mengetahui ilmu ekonomi …?”

    “Tidak juga,” jawab tukang perahu.

    “Berarti sukses hidup Anda tinggal 50%. Itupun jika Anda menguasai ilmu sosial dan ilmu politik.”

    “Kedua ilmu itupun saya tidak tahu,” tukang perahu tersenyum kecil.

    “Gawat ! Kalau begitu, sukses hidup Anda mungkin tak ada lagi,” komentar sang sarjana sambil geleng-geleng kepala.

    Tiba-tiba datang angin puting beliung. Ombak besar pun menggulung hingga perahu terbalik. Tukang perahu dan sang sarjana terlempar ke laut. Sambil berenang santai, tukang perahu berteriak kepada sang sarjana yang timbul tenggelam tanpa daya.

    “Apakah Anda menguasai ilmu berenang, wahai Tuan Sarjana ?”

    “Ti … ti … ti …dak, toloong … “ teriak sarjana itu ketakutan.

    “Kalau begitu, 100% sukses hidup Anda hilang sudah,” gumam tukang perahu.

    Wassalaam

    ***

    Kutipan dari : Percikan Hikmah. Berdialog dengan Hati Nurani

    H. Usep Romli HM.

     
  • erva kurniawan 2:24 am on 27 April 2014 Permalink | Balas  

    jagungJagung

    Seorang wartawan mewawancarai seorang petani untuk mengetahui rahasia di balik buah jagungnya yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian. Petani itu mengaku ia sama sekali tidak mempunyai rahasia khusus karena ia selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaiknya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunannya.

    “Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?” tanya sang wartawan.

    “Tak tahukah anda?,” jawab petani itu. “Bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya mendapatkan jagung yang baik pula.”

    Begitu pula dengan hidup kita. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya menjadi berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula. Nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang disentuhnya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:43 am on 24 April 2014 Permalink | Balas  

    siluet pulangSketsa Kehidupan

    Seorang gadis bernama Li-Li menikah dan tinggal bersama suami dan ibu mertua. Dalam waktu singkat, Li-Li menyadari bahwa ia tidak dapat cocok dengan ibu mertuanya dalam segala hal. Kepribadian mereka berbeda, dan Li-Li sangat marah dengan banyak kebiasaan ibu mertua. Li-Li juga dikritik terus-menerus. Hari demi hari, minggu demi minggu, Li-Li dan ibu mertua tidak pernah berhenti konflik dan bertengkar. Keadaan jadi tambah buruk, karena berdasarkan tradisi Cina, Li-Li harus taat kepada setiap permintaan sang mertua.

    Semua keributan dan pertengkaran di rumah itu mengakibatkan suami yang miskin itu ada dalam stress yang besar.

    Akhirnya, Li-Li tidak tahan lagi dengan temperamen buruk dan dominasi ibu mertuanya, dan dia memutuskan untuk melakukan sesuatu.

    Li-Li pergi menemui teman baik ayahnya, Mr. Huang, yang menjual jamu. Li-Li menceritakan apa yang dialaminya dan meminta kalau-kalau Mr. Huang dapat memberinya sejumlah racun supaya semua kesulitannya selesai.

    Mr. Huang berpikir sejenak dan tersenyum dan akhirnya berkata, Li-Li, saya akan menolong, tapi kamu harus mendengarkan dan melakukan semua yang saya minta.

    Li-Li menjawab, “Baik, saya akan melakukan apa saja yang anda minta.” Mr. Huang masuk kedalam ruangan dan kembali beberapa menit kemudian dengan sekantong jamu.

    Dia memberitahu Li-Li, “Kamu tidak boleh menggunakan racun yang bereaksi cepat untuk menyingkirkan ibu mertuamu, karena nanti orang-orang akan curiga. Karena itu saya memberimu sejumlah jamu yang secara perlahan akan meracuni tubuh ibu mertuamu. Setiap hari masakkan daging atau ayam dan kemudian campurkan sedikit jamu ini. Nah, untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mencurigaimu pada waktu ia meninggal, kamu harus berhati-hati dan bertindak dangan sangat baik dan bersahabat. Jangan berdebat dengannya, taati dia, dan perlakukan dia seperti seorang ratu.”

    Li-Li sangat senang. Dia kembali ke rumah dan memulai rencana pembunuhan terhadap ibu mertua.

    Minggu demi minggu berlalu, dan berbulan-bulan berlalu, dan setiap hari, Lili melayani ibu mertua dengan masakan yang dibuat secara khusus. Li-Li ingat apa yang dikatakan Mr. Huang tentang menghindari kecurigaan, jadi Li-Li mengendalikan emosinya, mentaati ibu mertua, memperlakukan ibu mertuanya seperti ibu-nya sendiri dengan sangat baik dan bersahabat.

    Setelah enam bulan, seluruh rumah berubah. Li-Li telah belajar mengendalikan emosinya begitu rupa sehingga hampir-hampir ia tidak pernah meledak dalam amarah atau kekecewaan. Dia tidak berdebat sekalipun dengan ibu mertuanya, yang sekarang kelihatan jauh lebih baik dan mudah ditemani.

    Sikap ibu mertua terhadp Li-Li berubah, dan dia mulai menyayangi Li-Li seperti anaknya sendiri. Dia terus memberitahu teman-teman dan kenalannya bahwa Li-Li adalah menantu terbaik yang pernah ditemuinya. Li-Li dan ibu mertuanya sekarang berlaku sepertu ibu dan anak sungguhan.

    Suami Li-Li sangat senang melihat apa yang telah terjadi.

    Satu hari, Li-Li datang menemui Mr. Huang dan minta pertolongan lagi. Dia berkata, “Mr. Huang, tolonglah saya untuk mencegah racun itu membunuh ibu mertua saya. Dia telah berubah mencaji wanita yang sangat baik dan saya mengasihinya seperti ibu saya sendiri. Saya tidak ingin dia mati karena racun yang saya berikan.”

    Mr. Huang tersenyum dan mengangkat kepalanya. “Li-Li, tidak usah khawatir. Saya tidak pernah memberimu racun. Jamu yang saya berikan dulu adalah vitamin untuk meningkatkan kesehatannya. Satu-satunya racun yang pernah ada ialah didalam pikiran dan sikapmu terhadapnya, tapi semua sudah lenyap oleh kasih yang engkau berikan padanya.”

    Teman, pernahkah engkau menyadari bahwa sebagaimana perlakukanmu terhadap orang lain akan sama dengan apa yang akan mereka lakukan terhadap kita?

    Pepatah China berkata: Orang yang mengasihi orang lain akan dikasihi.

    ***

    1. Dunia itu racun, zuhud itu obatnya.
    2. Harta itu racun, zakat itu obatnya.
    3. Perkataan yang sia-sia itu racun, zikir itu obatnya.
    4. Seluruh umur itu racun, taat itu obatnya.
    5. Seluruh tahun itu racun, Ramadhan itu obatnya.

    “Sesungguhnya Syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan melalaikan kamu dari mengingati Allah dan sembahyang, maka maukah kamu berhenti. (Berhenti daripada mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak diridhai oleh Allah)” (Al-Maaidah A.91)

    “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendah diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara (senantiasa) diwaktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (Al-A’raaf A.205)

    “Wahai anak Adam, habiskanlah waktumu beribadat kepadaKu, maka Daku akan lapangkan kamu daripada kehendak-kehendakmu, Daku akan hapuskan kemiskinanmu. Jika tidak akan Ku bebani kamu dengan urusan-urusan dan tugas-tugas yang sibuk. Serta kerjakanlah amal-amalan kebajikan supaya kamu jaya didunia dan selamat sampai ke akhirat.” (Al-Hajj A.44)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:09 am on 16 April 2014 Permalink | Balas  

    ayahKasih Yang Sebenarnya

    Suatu malam, di sebuah stasiun radio, sedang berlangsung acara dimana orang- orang berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang semula tercurah pada tugas statistik beralih ketika seorang wanita bercerita tentang ayahnya. Wanita ini adalah anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di pinggiran kota Jakarta. Sejak kecil ia sering dimarahi oleh ayahnya. Di mata sang ayah, tak satupun yang dikerjakan olehnya benar.

    Setiap hari ia berusaha keras untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan ayahnya, namun tetap saja hanya ketidakpuasan sang ayah yang ia dapatkan. Pada waktu ia berumur 17 tahun, tak sepatah ucapan selamat pun yang keluar dari mulut ayahnya. Hal ini membuat wanita itu semakin membenci ayahnya. Sosok ayah yang melekat dalam dirinya adalah sosok yang pemarah dan tidak memperhatikan dirinya. Akhirnya ia memberontak dan tak pernah satu hari pun ia lewati tanpa bertengkar dengan ayahnya.

    Beberapa hari setelah ulang tahun yang ke-17, ayah wanita itu meninggal dunia akibat penyakit kanker yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun kecuali pada istrinya. Walaupun merasa sedih dan kehilangan, namun di dalam diri wanita itu masih tersimpan rasa benci terhadap ayahnya.

    Suatu hari ketika membantu ibunya membereskan barang-barang peninggalan almarhum, ia menemukan sebuah bingkisan yang dibungkus dengan rapi dan di atasnya tertulis “Untuk Anakku Tersayang”.

    Dengan hati-hati diambilnya bingkisan tersebut dan mulai membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan dan sebuah buku yang telah lama ia idam-idamkan. Di samping kedua benda itu, terdapat sebuah kartu ucapan berwarna merah muda, warna kesukaannya. Perlahan ia membuka kartu tersebut dan mulai membaca tulisan yang ada di dalamnya, yang ia kenali betul sebagai tulisan tangan ayahnya.

    Ya Allah,

    Subhanallah,Terima kasih karena Engkau mempercayai diriku yang rendah ini Untuk memperoleh karunia terbesar dalam hidupku

    Kumohon Ya Allah, Jadikan buah kasih hambaMu ini

    Orang yang berarti bagi sesamanya dan bagiMu Jangan kau berikan jalan yang lurus dan luas membentang

    Berikan pula jalan yang penuh liku dan duri Agar ia dapat meresapi kehidupan dengan seutuhnya

    Sekali lagi kumohon Ya Allah, Sertailah anakku dalam setiap langkah yang ia tempuh Jadikan ia sesuai dengan kehendakMu

    Selamat ulang tahun anakku Doa ayah selalu menyertaimu “Dari Ayah yang Selalu Menyayangimu, sayang”

    Meledaklah tangis sang anak usai membaca tulisan yang terdapat dalam kartu tersebut. Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Dalam pelukan ibunya, ia menceritakan semua tentang bingkisan dan tulisan yang terdapat dalam kartu ulang tahunnya. Ibu wanita itu akhirnya menceritakan bahwa ayahnya memang sengaja merahasiakan penyakitnya dan mendidik anaknya dengan keras agar sang anak menjadi wanita yang kuat, tegar dan tidak terlalu kehilangan sosok ayahnya ketika ajal menjemput akibat penyakit yang diderita……..

    Pada akhir acara, wanita itu mengingatkan para pemirsa agar tidak selalu melihat apa yang kita lihat dengan kedua mata kita. Lihatlah juga segala sesuatu dengan mata hati kita. Apa yang kita lihat dengan kedua mata kita terkadang tidak sepenuhnya seperti apa yang sebenarnya terjadi.

    “Kasih seorang ayah, seorang ibu, saudara-saudara, orang-orang di sekitar kita, dan terutama kasih Allah dilimpahkan pada kita dengan berbagai cara. Sekarang tinggal bagaimana kita menerima, menyerap, mengartikan dan membalas Kasih Yang Sebenarnya……………” kata wanita tersebut menutup acara pada malam hari itu.

    ***

    Penulis – Tidak Diketahui

    Sumber – Tidak Diketahui

    Kiriman – Seorang Sahabat

     
  • erva kurniawan 6:13 am on 6 April 2014 Permalink | Balas  

    nasehat-quran1Mengapa saya memilih Islam

    Farouk B. Karai (Zanzibar)

    Saya memeluk agama Islam sebagai buah dorongan jiwa saya sendiri dan karena besarnya kecintaan dan penghargaan saya kepada Rasul Islam Muhammad s.a.w. Hati saya telah dicengkeram oleh perasaan-perasaan itu sejak lama secara spontan. Tambahan lagi, saya tinggal di Zanzibar, dimana banyak sahabat-sahabat saya yang beragama Islam telah memberi kesempatan kepada saya untuk mempelajari dan mengerti Islam secukupnya. Maka secara diam-diam saya telah membaca sebahagian tulisan tentang Islam, karena takut ketahuan oleh keluarga saya. Pada bulan Desember 1940 saya telah menemukan diri saya telah siap menghadapi dunia, lalu saya umumkan ke-Islaman saya. Sejak waktu itu mulailah terjadi pemboikotan dan tentangan dari pihak keluarga maupun orang lain dalam masyarakat Persi yang sebelumnya memang saya tergolong dari padanya. Lama sekali kisah kesulitan-kesulitan yang harus saya lalui.

    Keluarga saya dengan keras menentang saya memeluk agama Islam, dan mereka telah mempergunakan berbagai cara yang dikiranya dapat menyulitkan saya. Akan tetapi sejak cahaya iman tumbuh dalam jiwa saya, tidak ada satupun kekuatan yang mampu menghalangi saya untuk menempuh agama yang halus yang telah saya pilih, yakni jalan iman kepada Allah yang Satu dan kepada Rasul-Nya, Muhammad s.a.w. Saya tegak keras bagaikan batu-batu Gibraltar menghadapi segala musibah dan kesulitan yang disebabkan oleh famili saya berulang kali. Ke-Imanan saya kepada Allah, kepada kebijaksanaanNya dan kepada takdir-Nya telah memantapkan langkah-langkah saya menerobos segala kesulitan itu.

    Saya telah mempelajari tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Gujarti yang telah banyak menolong saya, dan saya dapat mengatakan tanpa satu ketakutanpun bahwa tidak ada satupun Kitab dari agama lain yang dapat menandinginya. Al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab Suci yang sempurna. Ajaran-ajarannya mudah dan menyerukan kecintaan, persaudaraan, persamaan dan kemanusiaan. Sungguh Al-Qur’an itu suatu Kitab Suci yang mengagumkan, dan mengikuti ajaran-ajarannya merupakan jaminan kejayaan kaum Muslimin untuk selama-lamanya.

    ***

    Sumber: Mengapa Kami Memilih Islam

     
  • erva kurniawan 2:41 am on 2 April 2014 Permalink | Balas  

    kerja kerasDimanakah Sumber Rizkiku

    Inur bukanlah seorang pengangguran. Dia muslimat rajin, mandiri dan berbakti pada orang tuanya. Semenjak SMA, dia sudah bekerja sebagai pramuniaga di Pekanbaru. Pulang sekolah dia shalat Dhuhur, makan siang terus jaga toko. Sambil nunggu pelanggan, dia memanfaatkan waktu sempit itu untuk membaca buku pelajaran. Jam sembilan malam toko tutup. Dia pulang, membantu ibunya nyuci piring, makan dan sebelum tidur dia kerjakan PR jika memang ada PR dari gurunya. Begitulah kesehariannya dia jalani selama tiga tahun di SMA. Ketika teman-teman SMA-nya pada jingkrak-jingkrak karena lulus SMA, dia justru mengerutkan dahi. Adiknya yang masih SMP sebentar lagi masuk SMA. Orang tuanya tidak mungkin lagi membiayai. Sementara dengan gaji sebagai pramuniaga tidak akan cukup.

    Akhirnya Inur memutuskan pergi ke Batam dengan harapan mendapatkan gaji lebih besar. Sesampainya di Batam dia bekerja di perusahaan swasta dengan gaji Rp. 390.000,-. Walaupun dia tinggal di rumah liar dengan dinding papan, rumah diatas pinggiran laut dengan aroma sekitar yang kurang bersahabat, dia tidak pernah mengeluh. Target utamanya dia bisa ngirim uang ke orang tua dan bisa membiayai adiknya sekolah. Baru kerja tiga bulan di Batam, tiba-tiba matanya berkunang-kunang. Saya sempat menyarankan sahabat baik saya itu untuk memeriksa ke dokter mata. Dia tidak mau karena takut biayanya mahal dan menolak bantuan saya karena dia tidak mau dikasihani orang apapun alasannya.

    Tiga hari kunang-kunangnya belum juga sembuh. Pada suatu pagi teman sekamarnya menepuk-nepuk pundaknya untuk membangunkannya. Badannya dingin dan kaku. Berulang kali temannya menggoyang-goyang badannya, tapi tidak ada respon balik. Di cek nafas dan degup jantungnya dan ternyata… innalillahi wa inna ilai roji’uun. Dia kembali ke pangkuan Sang Robbi dalam usia 19 tahun. Usia yang sangat muda sekali. Akhirnya jenazah Inur dipulangkan ke Pekanbaru dengan biaya Rp. 10 juta. Jauh lebih mahal daripada gaji yang dia kumpulkan selama tiga bulan ini (Rp. 1.160.000,-).

    Lalu dimanakah sumber rizki itu berada ? Kenapa Inur yang berusaha mendekati sumber rizkinya kok malah mendekati sumber ajalnya? Inilah pertanyaan menarik yang menjadi rahasia Allah. Manusia hanya bisa berusaha, menganalisa dan berdo’a. Allah memberi pahala kepada manusia berdasarkan usaha dan keikhlasan menjalankannya, bukan berapa banyak hasil yang dapat diraih.

    Rizki yang banyak kadang tidak selalu baik buat seorang hamba. Jika rizki yang banyak jatuh pada hamba yang suka bersedekah dan berzakat, maka rizki itu menjadi jalan pembuka pintu surga untuknya. Tapi sebaliknya, jika rizki yang banyak justru mengantarkannya ke tempat pelacuran, judi dan kemaksiatan lain; maka nerakalah muara akhir baginya. Allah Maha Tahu seberapa banyak ukuran rizki bagi setiap hambanya. Karena itu, marilah kita perbaiki niat dan cara kerja kita. Setiap berangkat kerja, ucapkan ” Saya niat mencari yang halal karena Allah”. Mudah-mudahan niat ini menjadi awal terbukanya pintu amal, terlepas dari kesuksesan dan kegagalan yang kita raih.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 1 April 2014 Permalink | Balas  

    iga mawarniIga Mawarni :”Islam Lebih Realistis “

    (Pengalaman Ruhani / Penyanyi : Iga Mawarni)

    Sejak kecil aku dididik di lingkungan Katolik. Di mata teman-teman aku termasuk Katolik fanatik. Kemanapun aku pergi, senantiasa memperkenalkan keyakinanku. Setelah bersosialisasi di bangku kuliah, aku lebih fair. Di kampus aku senang diskusi sama teman-teman seangkatan yang latar belakangnya berbeda – baik suku maupun agama. Dengan diskusi wawasanku kian terbuka. Dan dari pola pikir yang cukup demokratis itu kami senantiasa menghindari debat kusir. Segala yang dibicarakan berdasar referensi jelas. Bagiku itu menambah semangat membuka Alkitab. Sekaligus bikin catatan kaki buat persiapan diskusi sama temen-temen di setiap kesempatan. Ternyata semakin aku cermat mengkaji Alkitab, sering kujumpai poin-poin yang meragukan. Akhirnya aku bertanya sama teman seiman yang lebih ngerti isi Alkitab. Bahkan sama beberapa pendeta. Setiap aku bertanya, aku berusaha memposisikan diri sebagai orang awam yang ingin belajar agama, bukan sebagai orang yang seiman dengannya. Ternyata jawaban mereka justru bikin hatiku nggak puas. Seiring dengan keraguanku aku pelan-pelan menutup Alkitab. Aku ingin belajar yang lainnya.

    Tapi aku nggak langsung mempelajari Islam. Karena aku merasa ada jurang begitu dalam di antaranya (Islam-Kristen). Melalui sejumlah buku aku melanglang. Aku pelajari agama Hindu, lalu Budha. Namun hati nuraniku tetap ragu ketika sampai pada konsep ketuhanan. Sekalipun ajarannya bagus sekali. Eh, mentok-mentoknya aku pelajari juga ajaran Islam.

    Sejujurnya aku gengsi. Antara ogah dan ingin tahu terus bergelora dalam diriku. “Kenapa mesti Islam?” hatiku memprotes. Langkah pertama aku baca cerita para nabi melalui buku-buku tafsir. Alasanku, Islam dan Kristen itu historinya sama. Kecuali tentang kerasulan Isa AS dan Muhammad SAW. Di Kristen Nabi Isa utusan terakhir. Tapi dalam Islam ada lagi nabi yaitu Nabi Muhammad SAW. Sebagai manusia biasa, aku melihat bahwa al Qur’an itu lebih manusiawi. Artinya segala pertanyaan ada jawabannya. Ada hukum sebab akibat. Kenapa dilarang begini? Karena bisa berakibat begini. Itu yang bikin aku tertarik masuk Islam.

    Menurutku, landasan awal seseorang meyakini suatu kepercayaan itu karena buku besarnya (kitab). Melalui itu kita dapat bersentuhan langsung dengannya. Bagiku itu sudah jadi pegangan kuat. Sedangkan di agama lain, aku lihat banyak ayat yang ditulis oleh orang-orang pada masa itu. Dan aku lihat beberapa surat dalam Alkitab yang menceritakan kejadian sama tetapi versinya berbeda. Buatku hal semacam itu merupakan kasus besar. Karena kitab suci itu ternyata sudah disentuh oleh tangan manusia. Sedangkan ajaran Islam lebih realitis. Karena Al-Qur’an diwahyukan sebagai suatu keharusan. Sedangkan sunah Rasul lain lagi. Yaitu bersifat nggak mengikat. Ini lebih manusiawi.

    Proses hijrahku menjadi muslim nggak begitu mulus. Apalagi keluargaku Nasrani aktif yang fanatik. Aku mengucapkan dua kalimat syahadat pada tanggal 23 Maret 1994 di Malang, Jawa Timur. Padahal aku kuliah di Jakarta. Memang semasa pencarian, aku punya sohib di kota apel itu. Dia nggak bersedia mengajari tentang Islam, melainkan hanya menunjukkan seseorang yang menurutnya lebih tepat. Yaitu Kiai Zulkifli dan Pak Amir.

    Ternyata salah seorang dari mereka juga muallaf. Banyak pengalaman religiusnya yang bikin aku terkesan. Disamping memantapkan niatku masuk Islam. Cobaannya, ibuku aktivis kegiatan gereja. Karenanya aku mengupayakan agar keislamanku nggak diketahuinya dalam kurun waktu dua tahunan. Ternyata beliau tahu lebih awal dari yang aku rencanakan. Sebagai anak pertama pasti ibuku menaruh harapan besar terhadapku. Begitu tahu anaknya berbeda keyakinan, tentu batinnya terpukul. Itu cobaanku yang paling besar. Dimana aku merasa takut kalau ibu marah.

    Tapi begitu semuanya sudah terbuka, aku pasrah sama Allah. Aku tetap menempatkan diri sebagai anak, yang harus senantiasa menghormatinya. Aku bersyukur karena akhirnya sikap mereka sudah lebih baik. Tapi selama “perang dingin” berlangsung aku nggak pernah mau menyinggung soal agama. Kalau hari besar agama baik natal atau lebaran aku sengaja nggak kumpul sama keluarga. Aku tahu, mereka kecewa terhadapku. Kalau aku hadir dalam hari besar mereka, tentu ada perasaan nggak enak. Namun komunikasi tetap jalan. Aku senantiasa mengunjungi orang tua. Alhamdulillah, pada lebaran beberapa tahun lalu, ibu menemuiku. Aku anggap ini blessing. Lebih dari itu, semua ini sudah diatur oleh Allah Swt. Aku yakin itu.

    Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

    Semoga bermanfaat

    ***

    Witono Slamet

     
  • erva kurniawan 7:31 am on 27 March 2014 Permalink | Balas  

    nabi-muhammad-rasulullah-sawDan Rasulullah Menuju Padanya

    Sosok berwajah cahaya itu berjalan perlahan. Wajahnya bulat, bening, teduh dengan mata bersinar seakan menampilkan gemintang. Gemintang dambaan umat sepanjang jaman. Ya, Rasulullah, salawat dan salam tercurah padamu, ya thala ‘al badru.

    Hanya rasa tak percaya berkecamuk di pikiranku, mungkin juga pikiran orang-orang di sekelilingku saat diumumkan bahwa pertemuan tersebut akan dihadiri Rasulullah. Benarkah? Lalu kudengar senandung zikir di sekitarku. Terus tak putus putus.

    Sosok itu terus berjalan dengan postur tegap, senyum tak henti menghiasi wajah langitnya. Semua orang di sekeliling, juga aku, berusaha menggapai sinar matanya. Berusaha menyalami beliau. Namun Rasulullah terus berjalan seakan hanya menuju satu tujuan. Semua mata mengikuti nabi akhir jaman itu. Siapakah yang dituju Rasul tercinta? Siapakah orang beruntung itu? Siapakah?

    Kemudian Rasul berhenti di depan orang itu, tersenyum dengan mata penuh cinta, menyalami dan menepuk bahunya. Semua yang ada kembali mendengungkan dzikir. Penuh syukur dan takjub.

    Lalu aku pun tersentak! Tanganku bergetar ketika dinihari itu aku terbangun dari tidur dan mengingat mimpi yang baru saja aku alami. Kubangunkan suamiku dan kuceritakan mimpi itu. Suamiku menangis terharu. Ia memelukku, kemudian kami berdua sujud syukur dan salat malam.

    Jujur kuakui, aku bukan ahli ibadah, yang dapat tenggelam bermunajat dalam khusyu. Aku masih harus banyak didorong dan dimotivasi baik oleh teman-teman maupun suami untuk meningkatkan amalan-amalan sunnah. Pun ketika siang hari sebelum aku bermimpi itu, aku berpuasa ayamul bidh, sebuah program menghidupkan ibadah sunnah dalam keluargaku.

    Ah, mimpi itu.. Rasa tak percaya sesaat memenuhi relung hatiku. Tetapi kebahagiaan sejuk merembesi dadaku. Benarkah? Rasanya tak pantas aku melihat senyum Rasulullah dalam mimpi tersebut. Rasanya tak pantas aku bisa melihat sosok al-Amin itu, meski hanya dalam mimpi. Bukankah hanya mereka yang memiliki tingkat keimanan yang tinggi yang mendapat rezeki semulia ini? Seperti Zainab al-Ghazali, seorang aktifis wanita pergerakan Islam di Mesir yang tertangkap dan dipenjarakan rezim Gamal Abdul Naser karena berdakwah. Beliau adalah pejuang Islam yang telah mempersembahkan dirinya untuk Islam. Pada suatu malam dalam penjara yang dingin beliau bermimpi berjumpa Rasulullah Saw.

    Aku? Belum ada yang bisa kupersembahkan untuk Islam. Hidupku masih disibuki dengan urusan keduniaan dan kepentingan-kepentingan jangka pendek. Sungguh aku tak sanggup menceritakan mimpi ini. Tetapi aku yakin akan kebaikan Allah, dan senantiasa berharap semoga Allah berkenan menerima amalku yang masih sedikit agar mampu bangkit dan terus memperbaiki diri.

    Sedangkan orang yang disalami Rasulullah dalam mimpi itu…. Siapakah dia? Persentuhanku dengan orang itu hanya beberapa kali saja. Aku lebih banyak mendengar dari orang lain mengenai kebaikan-kebaikan beliau. Seorang ustadz yang ramah dan jenaka, memiliki integritas yang baik, dan sering kali membuat orang menangis saat mendengar nasehatnya.

    Satu hal yang juga selalu diingat banyak orang adalah kebiasaan beliau bersedekah setiap hari. Tak ada hari dilewati beliau tanpa berdakwah di jalan-Nya. Sampai kemudian kanker hati mulai menggerogoti tubuhnya. Terus menggerogoti, hingga beliau harus menjalani beberapa kali operasi. Namun, seperti yang kudengar dari orang-orang, kesabaran selalu menghiasi hari-hari beliau meski sakit mendera. Bahkan sedekah terus beliau lakukan meski sedang sakit.

    Kurang lebih dua minggu setelah mimpi itu aku mendengar kabar beliau wafat. Dari kabar itu pula aku mendengar bahwa begitu banyak pelayat yang datang ke rumah beliau. Bahkan salat jenazah pun sampai dilakukan beberapa tahap karena masjid tak mampu menampung mereka yang ingin menyalatkan beliau. Ah, kemudian aku sadar. Allahu a’lam. Mimpiku itu mungkin perantara bahwa Rasullullah mencintai sosok itu. Dan bahwa Allah memang lebih sayang pada hamba-Nya yang terbaik, dan mengambil kembali beliau ke sisiNya. Ya, beliau seorang kader Partai Keadilan. Pada kepengurusan pertama Partai Keadilan beliau berada di DPP, Departemen Kaderisasi.

    Beliaulah, yang sebelum ruh lepas dari raga, memberikan tiga wasiat bagi orang di sekelilingnya: tingkatkan hubungan silaturahmi, konsisten di jalan lurus, dan pergauli serta perbaiki masyarakat agar menjadi lebih baik. Beliau yang ada dalam mimpiku, yang disalami serta dirangkul oleh Rasulullah itu adalah Ustadz Ahmad Madani.

    ***

    (Rahmadiyanti Rusdi, seperti diceritakan Dewi Fitri Lestari)

    Dari buku “Bukan di Negeri Dongeng”

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 26 March 2014 Permalink | Balas  

    sajadah1Ada Sajadah Panjang Terbentang

    Lagu Bimbo dengan judul tersebut membuat saya merenung akan hubungan saya dengan Allah swt. Saya ingin tahu bagaimana sebenarnya posisi saya di sisi Tuhan. Seorang sufi berkata, “jika anda ingin tahu bagaimana posisi anda di sisi Tuhan, lihatlah di mana posisi Tuhan di hati anda!”

    Saya pun mencoba melihat ke dalam hati saya. Bisakah saya merasakan Tuhan hadir di hati saya? Entahlah.Saya memang bukan seorang sufi. Tapi saya percaya bahwa Tuhan semestinya hadir dalam semua perbuatan saya. Ketika saya sholat dan puasa, saya tahu Tuhan hadir dalam hati saya. Namun ketika saya berangkat kerja, ke luar dari rumah, saya tak bisa memastikan apakah masih saya bawa Tuhan dalam aktivitas saya.

    Apakah Tuhan hadir ketika saya disodori uang komisi oleh rekan sekantor? Apakah Tuhan hadir ketika saya selipkan selembar amplop agar urusan saya menjadi lancar? Apakah Tuhan juga hadir ketika saya ombang-ambingkan mereka yang datang ke kantor saya, terlempar dari satu meja ke meja yang lain.

    Lagu Bimbo tersebut mengingatkan saya bahwa hidup ini bagaikan sajadah panjang yang terbentang,dari buaian bunda sampai ke liang lahat. Seharusnya semua aktivitas yang saya lakukan di sajadah panjang ini membawa saya untuk selalu mengingat kehadiran-Nya.

    Mengapa Tuhan hanya saya bawa dan saya resapi kehadiran-Nya ketika saya berada di masjid, dan tiba-tiba Tuhan hilang ketika saya berada di luar masjid. Kalau saja lagu Bimbo tersebut saya terjemahkan ke dalam bahasa para khatib Jum’at: “Apapun aktivitas kita, seharusnya kita selalu ingat keberadaan Allah. Itulah makna dzikrullah; mengingat Allah; itu jugalah makna ibadah.”

    Kalau saya diperbolehkan menerjemahkan lagu Bimbo itu dengan bahasa al-Qur’an, saya teringat satu ayat suci, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” Sayang, penfsiran saya akan kata ibadah masih terbatas pada ibadah ritual. Sayang sekali, sajadah saya tak panjang terbentang. Sajadah saya tak mampu masuk ke gedung-gedung pencakar langit, ke pusat perbelanjaan, ke tempat hiburan dan ke gedung sekolah.

    “Tak kulihat suatu benda, kecuali di ujungnya kulihat ada Tuhan!” Ah, ucapan sufi ini lagi-lagi membuat saya malu. Saya tahu bahwa bukan maksud sufi tersebut untuk mengatakan dia telah melihat Tuhan, tapi yang ingin dia ceritakan adalah Tuhan selalu hadir di sekelilingnya.

    Ada sajadah panjang terbentang.

    ***

    Dari Sahabat: Nadirsyah Hosen

     
    • Istanamurah 10:39 am on 26 Maret 2014 Permalink

      sangat menyetujuinya gan,,kadang kita diwajibkan untuk menjalankan syariat agama yang kita yakini namun penting juga untuk mengenal tuhan dan keberadaannya agar sajadah kita juga panjang terbentang, :D

  • erva kurniawan 1:27 am on 10 March 2014 Permalink | Balas  

    tahajjudKawan, Pernahkah Merasa Seberdosa Ini?

    Lelah. Rasanya terlalu lelah untuk terus berdo’a kepada Allah. Hari ini entah sudah kesekian kalinya aku meminta, tapi tak jua Dia mengabulkan permintaanku. Pekan lalu, saat ku membutuhkan pertolongan Nya, Ia tak segera mengulurkan tanganNya. Ah, jangankan yang baru-baru ini, puluhan bahkan ratusan pintaku bulan-bulan sebelumnya, juga tahun sebelumnya, kalau kuingat-ingat, belum juga terkabulkan.

    Tapi, apa salahnya malam ini ku mencoba berdialog kembali dengan Nya, semoga saja ia mau mendengar. Baru saja kususun jemari ini, belum sempat baris kata-kata yang sebelumnya sudah kurangkai indah di dalam benakku deras terburai keluar dari mulutku, mataku menangkap tajam jemariku yang bergerak …

    Astaghfirullaah … seketika dadaku sesak. Berdegub kencang. Ingin kuhapus kata-kataku diatas. Tapi sudah terlanjur tumpah. Aku malu telah lancang kepadaNya dan menihilkan semua yang telah diberikan-Nya.

    Pernahkah aku meminta kepada Nya untuk memberikan kepadaku jemari yang lengkap dan indah, sehingga aku bisa banyak berbuat dengan kesempurnaan penciptaan ini? Aku tak pernah meminta sebelumnya agar Ia melengkapi tanganku ini dengan jemari, aku juga tak pernah berdo’a untuk berbagai kesempatan hingga detik ini aku masih bisa menggerakkan, dan menyentuh dengan jemariku ini.

    Harus kusentuh lagi beberapa anggota tubuh ini. Kemudian aku berdiri, subhanallah, aku masih bisa berdiri. Padahal aku tak pernah sebelumnya meminta agar terus ditetapkan memiliki dua kaki sempurna, tapi Dia masih terus memberikannya. Lalu aku berjalan, Alhamdulillah aku masih bisa berjalan. Keluar kamar, ke ruang tengah, kulihat masih terlihat sederet makanan di meja makan, kucicipi sepotong tahu. Enak, ya enak. Tapi kenapa aku masih bisa merasakan nikmatnya sepotong tahu? Juga segarnya menyeruput sebotol juice buah yang kuambil dalam kulkas? Yang pasti, tak pernah barisan kata pinta terucap tuk sekedar memohon agar tetap diberikan kemampuan merasa.

    Kuterus berjalan. Ke kamar mandi. Ada air. Kusentuh segarnya air itu. aah, sejak kapan aku merasakan kesegaran ini. Mungkinkah ketika terlahir dulu sempat aku meminta kepadaNya agar dikaruniakan kesegaran macam ini? atau … hhhhhh, kuhirup udara malam yang sejuk. Eh, apa pernah aku minta Dia tak menyetop pasokan udara untukku? Bahkan … aku masih hidup, aku masih hiduuup (teriakku) … siapa yang tahu dan bisa menerka sampai kapan aku masih bisa menikmati hidup. Tapi yang jelas tak pernah sekalipun keluar dari mulut ini rangkaian kata: “Allah, terima kasih atas semua nikmat Mu, sampai hari ini.”

    Semakin kutahu, jika pepohonan dijadikan pena, dan laut menjadi tinta, niscaya takkan pernah cukup, tuk menuliskan semua nikmat-Nya

    ***

    (Diambil dari artikel eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 3:22 am on 9 March 2014 Permalink | Balas  

    tahajjudKekasihku Mendekatkan Aku Pada Tuhan

    Oleh: Ningsih

    Malam semakin beranjak tinggi, gelap telah sempurna mewarnai seluruh lagit, walau bintang bertaburan, namun tidak jua mampu mengusir gelapnya malam. Afwan, mengetuk pintu rumahnya sedikit keras, tapi sepertinya tidak ada yang handak membukakan pintu. Berkali-kali-kali ucapan salam ia lontarkan, Namun tak ada sahutan dari dalam. “Ehm…Mungkin sudah tidur” guman afwan dalam hati.

    Afwan segera merogoh, sela-sela jendela rumahnya. ” Alhamdulillah, ini dia kuncinya”. Ucapnya bersyukur. Segera ia buka pintu dan masuk ke dalamnya. Ia dapati , Syifa istrinya tertidur pulas. Sejenak ia terpana, kemudian di dekati dan dipandanginya wajah istrinya. Gurat-gurat lelah tampak memenuhi wajahnya. “Maafkan aku Dik. Kesibukanku dalam da’wah, membuat aku sering mengabaikanmu. Terima kasih telah menjadi istri yang baik , terima kasih atas dukungan yang selalu kau berikan dalam setiap langkah da’wahku. Maaf, bila aku belum dapat menjadi seorang suami yang baik.” Dialog Afwan dalam hati.

    Afwan, merasa begitu bersyukur, mendapatkan istri seorang Syifa, yang mendukung penuh aktifitas da’wahnya. Sehingga ia lebih bersemangat melaksanakan kewajibannya untuk beramar ma’ruf nahi munkar.

    Suami atau istri merupakan salah satu sisi kehidupan kita manusia, bahkan merupakan orang yang paling dekat dengannya. Dengan pasangannyalah manusia dapat berbagi rasa, bercerita tentang suka cita atau duka cita. Mereka akan berusaha bersama-sama menyelesaikan permasalahan kehidupan yang kerap kali menyinggahi mereka. Mereka akan berusaha menjadikan rumah tangganya dipenuhi oleh harum semerbaknya bunga kebahagiaan. Karena sesungguhnya, kebahagiaan rumah tangga adalah sisi kebahagiaan terpenting dalam kehidupan manusia. Mereka akan berusaha menjadikan rumah tangga mereka sebagai sarana untuk menggapai ridho Tuhannya.

    Sebelum menikah, barangkali agama dalam diri sang istri atau suami belum terurus. Maka dengan menikah, akan ada kerja sama untuk saling menjaga agar agama dalam diri keduanya tidaklah merosot. Alangkah indahnya jika masing-masing dapat membantu teman hidupnya untuk memperbaiki agamanya. Mereka membantu dengan penuh kelembutan dan kelapangan hati.

    Suami istri bisa saling membantu untuk memperbaiki agama mereka. Mereka bisa mengajarkan apa-apa yang tidak diketahui pasangannya . Mereka bisa saling mengingatkan. Di sinilah ada ladang amal shalih bagi keduanya, ketika tingkatan ilmu agama mereka sederajat maupun salah satu dari mereka lebih tinggi.

    Rasulullah pernah berkata “Allah merahmati seseorang yang bangun pada malam hari lalu menunaikan sholat. Dia bangunkan istrinya, dan jika istri enggan, maka dia percikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam hari untuk menunaikan sholat. Dia bangunkan suaminya, dan apabila suaminya enggan, maka ia percikkan air ke wajahnya (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah).

    Jika sebelum menikah jiwa sulit terjaga dan mata sangat berat untuk memicing mudah-mudahan setelah menikah ada perbaikan. Paling tidak bisa lebih bangun lebh awal. dan jika sebelum menikah bisa bangun malam, mudah-mudahan kecantikan istri tidak menjadikan kaki berat untuk melangkah. Berdampingan dengan istri yang cantik dan sangat kita cintai memang menyenangkan hati. Adalah perjuangan berat untuk bisa merenggangkan jarak selama beberapa saat diantara malam gelap dan dingin.

    Islam memerintahkan kepada suami dan istri untuk melestarikan mahligai pernikahannya, memupuk rasa cinta cinta dan mempererat ikatan kasih diantara mereka, sampai saat yang dikehendaki oleh Allah atau sampai tiba ajla mereka. Oleh karena itu, prinsip-prinsip dan nasihat-nasihat sama-sama ditujukan kepada suami dan istri pada tingkat yang sama. Masing-masing di tuntut untuk memperlakukan pasangannya dengan baik.

    Allah memerintahkan seorang suami untuk berperilaku baik serta lembut kepada sang istri yaitu dengan memberi nasihat bila keliru, berbicara dengan baik, tidak memberi beban berat kepada istri dalam mengurus diri dan anak-anaknya, tidak menelantarkan nafkah nya, menyediakan keperluan istri untuk meningkatkan ilmu dan intelektualnya, dan lain-lain hal yang bermanfaat bagi kehidupan agama istri. Demikian juga istri terhadap suaminya, ia harus melayani kebutuhan suaminya dengan penuh ketulusan, mengurus anak-anak suami, memelihara harta dan martabat suami, dan memenuhi kepentingan lain suaminya yang bermanfaat bagi kehidupan keluarga.

    Suami juga diperintahkan untuk bersabar. Termasuk bersabar disini adalah tidak menari-cari kekurangan istrinya dan mengambil hikmah dari apa yang tidak disenanginya. Hal ini perlu sebab adakalanya suatu hal yang tidak disenangi oleh suami dari istri justru merupakan kunci kebaikan bagi pasangan tersebut. Misalnya, istri memiliki sifat cerewet. Sifat sering membuat suami sebal. Akan tetapi, adakalanya sifat cerewet ini bermanfaat bagi suami karena bisa menjadi pengontrol terhadap kelalaian suami. Dan Allah pun berfirman: “…………….Dan bergaulah dengan mereka secara baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah), karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Q.S. An- nisaa’ : 19)

    Demikianlah, sebelumnya manusia adalah seorang diri, kemudian Allah takdirkan manusia saling berpasang-pasangan, agar terjalin cinta kasih diantara mereka. Dengan energi cinta itulah manusia dapat saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

    Semoga anda dan istri anda merupakan pasangan yang saling memberikan motivasi untuk kebaikan dunia dan akhirat anda. Amin (nsh)

    ***

    Referensi :

    • Mencapai Pernikahan Barakah, M. Fauzil Adhim.1998
    • Petunjuk Pernikahan dalam Islam, M. Thalib
     
  • erva kurniawan 4:18 am on 8 March 2014 Permalink | Balas  

    zakatKisah Seorang Penunda Zakat

    Oleh: Yopi BurhanJul

    Assalamu’alaikum,

    Insya Allah saya akan menceritakan pengalaman seorang temanku, sebut saja namanya Fulan. Kisah ini terjadi di Batam.

    Sebenarnya Fulan bukan tipe orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Bulan-bulan sebelumnya dia selalu mengeluarkan zakat dari gajinya. Tetapi satu bulan terakhir dia menunda-nundanya.

    Pada suatu saat Fulan bersama istrinya pergi ke kota. Sampai pada saat pulangnya mereka naik taxi. Setelah membayar, turun taxi dan jalan kaki beberapa langkah, baru diketahui bahwa istrinya merasa kehilangan dompet. Dengan segera Fulan mengejar taxi tadi yang diduga kuat dompetnya tertinggal di taxi. Telah beberapa lama mengejar, tidak ditemukan juga. Pulanglah Fulan dengan perasaan sedih.

    Sampai di rumah baru terpikir oleh batinnya, “astaghfirullahal ‘adziimm, mungkin ini akibat menunda-nunda zakatku..” Dengan segera besoknya Fulan membayarkan zakatnya.

    Apa yang terjadi selanjutnya? Tanpa disangka-sangka besoknya tertempel pengumuman di perusahaan tempat istrinya bekerja: DITEMUKAN DOMPET, YANG MERASA KEHILANGAN HARAP MENGHUBUNGI SECURITY” dengan tertulis dompet itu atas nama istrinya.

    Segera Fulan menghubungi alamat si penemu ke rumahnya. Setelah di uji sebentar oleh si penemu, diberikanlah dompetnya. Diperiksanya isi dompet tersebut. Alhamdulillah…..isinya tidak ada yang berkurang sedikitpun, baik ATM, kartu sampai uangnya.

    Subhanallah, Allahuakbar, Laailaahaillallah, Muhammadurrasuulullah

    Betapa meruginya orang yang menahan zakatnya. Mereka mengira itu bisa mengekalkan kebahagiaannya. Mungkin bisa jadi Allah tidak langsung mengambilnya secara langsung. Mungkin bisa dari kesehatannya, selalu membengkak kebutuhannya, bahkan keluarganya. Belum lagi panasnya setrika akhirat sudah menunggu kelak. Sungguh Allah maha mengetahui apa di balik hati manusia.

    Saya mohon maaf kalau ada kesalahan dalam penyampaian.

     

     
  • erva kurniawan 7:42 am on 4 March 2014 Permalink | Balas  

    sakitPerjalanan Jauh Kita yang Sesungguhnya

    Sangat merugilah orang yang menjadikan dunia fana ini tujuan hidupnya. Sedangkan Rasulullah bersabda, “….Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya…”

    Betapa indah dan bijaksanannya perumpamaan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah terminal kehidupan sementara; hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya. Subhanallah….

    **

    Nurah, saudara perempuanku nampak pucat dan kurus sekali. Tetapi seperti biasa, ia masih membaca Al-Qur’anul Karim. Tika ingin menemuinya, pergilah ke mushallanya. Di sana engkau akan mendapatinya sedang ruku’, sujud dan menengadahkan ke langit. Itulah yang dilakukannya setiap pagi, sore dan di tengah malam hari. Ia tidak pernah jenuh.

    Berbeda dengannya, aku selalu asyik membaca majalah-majalah seni, tenggelam dengan buku-buku cerita dan hampir tak pernah beranjak dari video. Bahkan, aku sudah identik dengan benda yang satu ini. Setiap video diputar pasti di situ ada aku. Karena ‘kesibukanku’ ini, banyak kewajiban yang tak bisa kuselesaikan bahkan, aku suka meninggalkan shalat.

    Setelah tiga jam berturut-turut menonton video di tengah malam, aku dikagetkan oleh suara adzan yang berkumandang dari masjid dekat rumahku. Sekonyong-konyong malas menggelayuti semua persendianku, maka aku pun segera menghampiri tempat tidur. Nurah memanggilku dari mushallanya.

    Dengan berat sekali, aku menyeret kaki menghampirinya. “Ada apa Nurah?,” tanyaku. “Jangan tidur sebelum shalat Shubuh!”, ia mengingatkan. “Ah. Shubuh kan masih satu jam lagi. Yang baru saja kan adzan pertama” Begitulah, ia selalu penuh perhatian padaku. Sering memberiku nasihat, sampai akhimya ia terbaring sakit. ia tergeletak lemah di tempat tidur.

    “Hanah!,” panggilnya lagi suatu ketika. Aku tak mampu menolaknya. Suara itu begitu jujur dan polos.

    “Ada apa saudariku?”, tanyaku pelan.

    “Duduklah!” Aku menurut dan duduk di sisinya. Hening… Sejenak kemudian Nurah melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. “Tiap jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempumnkan pahalamu.” (Al Imran: 185)

    Diam sebentar, lalu ia bertanya: “Apakah kamu tidak percaya adanya kematian?” “Tentu saja percaya!”

    “Apakah kamu tidak percaya bahwa amalmu kelak akan dihisab, baik yang besar maupun yang kecil?” “Percaya. Tetapi bukankah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sementara aku masih muda, umurku masih panjang!” “Ukhti, apakah kamu tidak takut mati yang datangnya tiba-tiba? Lihatlah Hindun, dia lebih muda darimu, tetapi meninggal karena sebuah kecelakaan. Lihat pula si fulanah…Kematian tidak mengenal umur. Umur bukan ukuran bagi kematian seseorang. Aku menjawabnya penuh ketakutan. Suasana tengah malam yang gelap mencekam, semakin menambah rasa takutku.

    “Aku takut dengan gelap, bagaimana engkau menakut-nakutiku lagi dengan kematian? Di mana aku akan tidur nanti?” Jiwa asliku yang amat penakut betul-betul tampak. Kucoba menenangkan diri aku berusaha tegar dengan mengalihkan pembicaraan pada tema yang menyenangkan, rekreasi.

    “Oh ya, kukira ukhti setuju pada liburan ini kita pergi rekreasi bersama?”, pancingku. “‘Tidak, karena barangkali tahun ini aku akan pergi jauh, ke tempat yang jauh… mungkin… umur ada di tangan Allah, Hanah”, ia lalu terisak. Suara itu bergetar, aku ikut hanyut dalam kesedihan.

    Sekejap, langsung terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang ganas. Para dokter, secara rahasia telah mengabarkan hal itu kepada ayah. Menurut analisa medis, para doker sudah tak sanggup, dan itu berarti dekatnya kematian. Tetapi, siapa yang mengabarkan ini semua padanya?, atau ia memang merasa sudah datang waktunya?,

    “Mengapa termenung? Apa yang engkau lamunkan?”, Nurah membuyarkan lamunanku. “Apa kau mengira, hal ini kukatakan karena aku sedang sakit? Bahkan boleh jadi umurku lebih panjang dari umur orang-orang sehat. Dan kamu, sampai kapan akan terus hidup? Mungkin 20 tahun lagi, 40 tahun atau… Lalu apa setelah itu? Kita tidak berbeda. Kita semua pasti akan pergi, entah ke Surga atau ke Neraka. Apakah engkau belum mendengar ayat:

    “Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh ia telah beruntung” (Ali Imran: 185)

    “Sampai besok pagi,” ia menutup nasihatnya. Aku bergegas meninggalkannya menuju kamar. Nasihatnya masih tergiang-ngiang di gendang telingaku, “Semoga Allah memberimu petunjuk, jangan lupa shalat!”

    Pagi hari…Jam dinding menunjukkan angka delapan pagi. Terdengar pintu kamarku diketuk dari luar. “Pada jam ini biasanya aku belum mau bangun” pikirku. Tetapi di luar terdengar suara gaduh, orang banyak terisak. “Ya Rabbi, apa yang tejadi?”

    “Mungkin Nurah…?, “firasatku berbicara. Dan benar, Nurah pingsan, ayah segera melarikannya ke rumah sakit. Tidak ada rekreasi tahun ini. Kami semua harus menunggui Nurah yang sedang sakit. Lama sekali menunggu kabar dari rumah sakit dengan harap-harap cemas.

    Tepat pukul satu siang, telepon di rumah kami berdering. Ibu segera mengangkatnya. Suara ayah di seberang, ia menelpon dari rumah sakit. “Kalian bisa pergi ke rumah sakit sekarang!,” demikian pesan ayah singkat. Kata ibu, tampak sekali ayah begitu panik, nada suaranya berbeda dari biasanya.

    “Mana sopir…?” kami semua terburu-buru: Kami menyuruh sopir menjalankan mobil dengan cepat. Tapi ah, jalan yang biasanya terasa dekat bila aku menikmatinya dalam pejalanan liburan, kini terasa amat panjang, panjang dan lama sekali. Jalanan macet yang biasanya kunanti-nanti sehingga aku bisa menengok ke kanan-kiri, cuci mata, kini terasa menyebalkan. Di sampingku, ibu berdo’a untuk keselamatan Nurah.

    “Dia anak shalihah. Ia tidak pernah menyia-nyia kan waktunya. Ia begitu rajin beribadah”, ibu bergumam sendirian. Kami turun di depan pintu rumah sakit. Kami segera masuk ruangan. Para pasien pada tergeletak lunglai. Di sana sini terdengar lirih suara rintihan. Ada yang baru saja masuk karena kecelakaan mobil, ada yang matanya buta, ada yang mengerang keras. Pemandangan yang membuat bulu kudukku merinding. Kami naik tangga eskalator menuju lantai atas. Nurah berada di ruang perawatan intensif. Di depan pintu terpampang papan peringatan: “Tidak boleh masuk lebih dari satu orang!” Kami terperangah. Tak lama kemudian, seorang perawat datang menemui kami. Perawat memberitahu kalau kini kondisi Nurah mulai membaik, setelah beberapa saat sebelumnya tak sadarkan diri.

    Di tengah kerumunan para dokter yang merawat, dari sebuah lubang kecil jendela yang ada di pintu, aku melihat kedua bola mata Nurah sedang memandangiku. Ibu yang berdiri di sampingnya tak kuat menahan air matanya. Waktu besuknya habis, ibu segera keluar dari ruang perawatan intensif. Kini tiba giliranku masuk. Dokter memperingatkan agar aku tidak banyak mengajaknya bicara. Aku diberi waktu dua menit.

    “Assalamu ‘alaikum!, bagaimana keadaanmu Nurah?, tadi malam, engkau baik-baik saja. Apa yang terjadi denganmu?”, aku menghujaninya dengan pertanyaan. “Alhamdulillah, aku sekarang baik-baik saja, jawabnya dengan berusaha tersenyum. “Tapi, mengapa tanganmu dingin sekali, kenapa?” aku menyelidik. Aku duduk di pinggir dipan. Lalu kucoba meraba betisnya, tapi ia segera menjauhkannya dari jangkauanku. “Ma’af, kalau aku mengganggumu!”, aku tertunduk. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingat firman Allah Ta’ala: “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kami dihalau”. (Al-Qiyamah: 29-30)

    Nurah melantunkan ayat suci Alquran. Aku menguatkan diri. Sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak menangis dihadapan Nurah, aku membisu. ” Hanah, berdoalah untukku. Mungkin sebentar lagi aku akan menghadap. Mungkin aku segera mengawali hari pertama kehidupanku diakhirat…Perjalananku amat jauh tapi bekalku sedikit sekali”. Pertahananku runtuh. Air mataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya. Ayah mengkhawatirkan keadaanku. Sebab mereka tak pernah melihatku menangis seperti itu. Bersamaan dengan tenggelamnya matahari pada hari itu. Nurah meninggal dunia…. Suasana begitu sepat berubah. Seperti baru beberapa menit aku bebincang-bincang dengannya. Kini ia telah meninggalkan kami buat selama-selamanya. Dan, ia tak akan pernah bertemu lagi dengan kami. Tak akan pernah pulang lagi. Tidak akan bersama-sama lagi. Oh Nurah…

    Suasana dirumah kami digelayuti duka yang amat dalam. Sunyi mencekam. Lalu pecah oleh tangisan yang mengharu biru. Sanak kerabat dan tetangga berdatangan melawat. Aku tidak bisa membedakan lagi, siapa-siapa yang datang, tidak pula apa yang mereka percakapan. Aku tenggelam dengan diriku sendiri. Ya Allah, bagaimana dengan diriku? Apa yang bakal terjadi pada diriku? Aku tak kuasa lagi, meski sekedar menangis. Aku ingin memberinya penghormatan terakhir. Aku ingin menghantarkan salam terakhir. Aku ingin mencium keningnya.

    Kini, tak ada sesuatu yang kuingat selain satu hal. Aku ingat firman Allah yang dibacakannya kepadaku menjelang kematiannya. “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)”. Aku kini benar-benar paham bahwa, “Kepada Tuhanmullah pada hari itu kamu dihalau”

    “Aku tidak tahu, ternyata malam itu, adalah malam terakhir aku menjumpainya di mushallanya. Malam ini, aku sendirian di mushalla almarhumah, terbayang kembali saudara kembarku, Nurah yang demikian baik kepadaku. Dialah yang senantiasa menghibur kesedihanku, ikut memahami dn merasakan kegalauanku, saudari yang selalu mendo’akanku agar aku mendapat hidayah Allah, saudari yang senantiasa mengalirkan air mata pada tiap-tiap pertengahan malam, yang selalu menasihatiku tentang mati, hari perhitungan…. ya Allah! Malam ini adalah malam pertama bagi Nurah dikuburnya. Ya Allah, rahmatilah dia, terangilah kuburnya.

    Ya Allah, ini mushaf Nurah,… ini sajadahnya… dan ini.. ini gaun merah muda yang pernah dikatakannya padaku, bakal dijadikan kenangan manis pernikahannya. Aku menangisi hari-hariku yang berlalu dengan sia-sia. Aku menangis terus-menerus, tak bisa berhenti. Aku berdo’a kepada Allah semoga Dia merahmatiku dan menerima taubatku. Aku mendo’akan Nurah agar mendapat keteguhan dan kesenangan di kuburnya, sebagaimana ia begitu sering dan suka mendo’akanku. Tiba-tiba aku tersentak dengan pikiranku sendiri. “Apa yang terjadi jika yang meninggal adalah aku? Bagaimana kesudahanku?” Aku tak berani mencari jawabannya, ketakutanku memuncak. Aku menangis, menangis lebih keras lagi. Allahu Akbar, Allahu Akbar…Adzan fajar berkumandang.

    Tetapi, duhai alangkah merdunya suara panggilan itu kali ini. Aku merasakan kedamaian dan ketentraman yang mendalam. Aku jawab ucapan muadzin, lalu segera kuhamparkan lipatan sajadah, selanjutnya aku shalat Shubuh. Aku shalat seperti keadaan orang yang hendak berpisah selama-lamanya. Shalat yang pemah kusaksikan terakhir kali dari saudari kembarku Nurah. Jika tiba waktu pagi, aku tak menunggu waktu sore dan jika tiba waktu sore, aku tidak menunggu waktu pagi.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:23 am on 2 March 2014 Permalink | Balas  

    Mimpi 2Mimpi

    Dia Cantik. Kadang-kadang mengenakan rok atau celana jeans sedengkul. Kaos masa kini dilengkapi dengan vest denim pendek, sepatu kets putih dan kaos kaki. Rambutnya kadang diikat di atas tengkuk, kadang dikepang dengan pita-pita banyak. Hampir setiap pagi, saat berangkat ke kantor saya bertemu dengannya. Beberapa kali saya lihat dia duduk di atas mobil yang terparkir di pinggir jalan. Bergaya ala fotomodel, sambil mengisap rokok yang terselip diantara jari-jemarinya. Dia selalu tampak sibuk dengan dunianya sendiri.

    Pernah saya bertanya pada tukang warung rokok di pinggir jalan tempat perempuan itu biasa mangkal. Dimana rumahnya? Apa yang terjadi dengannya? Tapi tak seorang pun tahu. Yang mereka tahu adalah, wanita itu gila. Melihat tingkah lakuknya, saya menduga, mungkin dulu ia pernah bermimpi menjadi seorang bintang, fotomodel, peragawati atau apapun yang berbau selebritis. Terlihat dari pakaiannya yang selalu trendi dan gayanya yang bak fotomodel. Entahlah!

    ***

    Mimpi. Siapa sih manusia di dunia ini yang tak memiliki mimpi? Sesederhana apa pun -dan meskipun orang tak menyebutnya dengan mimpi- saya yakin setiap kita punya mimpi. Punya keinginan yang suatu saat ingin diwujudkan.

    Dulu ketika kecil saya suka membayangkan menjadi anak orang kaya, memiliki rumah megah seperti rumah sahabat saya. Ketika saya menginjak remaja, saya bermimpi menjadi selebriti, meskipun sekadar menjadi selebriti tingkat kelas, atau anak gaul sekolah yang dikenal teman-teman. Saat memasuki bangku kuliah, saya mimpi menjadi mahasiswa terbaik, ikut berbagai aktivitas kampus, dan menguasai berbagai bahasa asing selain Inggris. Saat saya selesai kuliah, belasan impian, juga idealita, saya miliki dan menjadi obsesi. Dapat hadiah gebyar BCA, Kodok dari Citibank, dan segudang lainnya.

    Namun jika saya telusuri, nyaris semua kenyataan hidup yang saya jalani berbeda jauh dan bertolak belakang dengan impian dan idealita saya. Mengapa?

    Pertama, mungkin kurang memiliki motivasi berprestasi , Saya kurang kuat berusaha, kurang tekun menjalani, kurang sabar melewati tantangan. Mudah capek, mudah ngambek, mudah patah arang. Padahal, mungkin saja usaha saya belum ada apa-apanya dibanding mereka yang berhasil meraih impiannya.

    Kedua, kurang mengenali potensi diri: potensi otak, jiwa, materi. Impian saya yang terlalu tinggi sementara modal dan pemahaman pas-pasan, tidak sesuai ndengan kapasitas. Modal semangat saja tidaklah cukup untuk meraih mimpi. Alih-alih dapat merealisasikan impian, semangat yang terlalu besar menjadikan kita ambisius dan terobsesi kemudian stress.

    Ketiga, takdir! Apa yang saya impikan adalah apa yang saya ketahui baik untuk saya pada waktu itu, menurut batas pengetahuan saya, menurut paradigma saya. Namun semestinya saya menyadari, Allah jauh lebih tahu apa yang baik bagi saya dan apa yang tidak. Allah telah menetapkan sesuatu bagi hambaNya, sesuai ukuran dan kapasitas. Kita hanya diperintahkan untuk berusaha semaksimal mungkin.

    Ketika Allah telah menampakkan realitas hidup, tibalah masanya kita berdamai dengan kenyataan. Tawakkal, berserah diri. Agar tak seperti gadis trendi yang saya temui setiap hari, selalu terobsesi sehingga akhirnya terpaksa hidup dalam dunia mimpi.

    Buanglah mimpi yang tidak realistis. Berpikirlah, berusahalah, dan berdoalah…

    ***

    (Diambil dari artikel eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 2:51 am on 24 February 2014 Permalink | Balas  

    kakek penjual amplopKakek Penjual Amplop

    Kisah nyata ini ditulis oleh seorang dosen ITB bernama Rinaldi Munir mengenai seorang kakek yang tidak gentar berjuang untuk hidup dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop di Masjid Salman ITB. Jaman sekarang amplop bukanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan, tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya dan pulang dengan tangan hampa. Mari kita simak kisah “Kakek Penjual Amplop di ITB”.

    Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

    Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.

    Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

    Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

    Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

     

    Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

    Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

    Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

    Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.

    Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

    Mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini. Tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:23 am on 18 February 2014 Permalink | Balas  

    tukang-baksoMaafkan Saya Tuhan

    “Mas Ento”, biasa saya menyebutnya. Seorang lelaki yang tidak lagi muda, penjual bakso keliling di tempat saya. Keriput kulit begitu nyata terukir di wajah legam tanpa ekspresinya. Sebenarnya baksonya tidak seenak 2 penjual bakso rivalnya, itulah mengapa jarang sekali pembeli menghentikannya. Sering saya melihatnya termenung sendiri dibawah pohon jambu dekat lapangan tempat anak-anak bermain. Setiap rivalnya datang, dia bergegas seperti ketakutan membawa dagangannya yang tanpa roda itu pergi. Saya pernah bertanya tentang hal ini kepadanya, namun seperti biasanya dia diam dan beralih menanyakan berapa porsi bakso yang ingin saya beli.

    Akhirnya saya mendapatkan jawabannya sendiri. Saya sangat faham, pias wajah ketakutan yang membayang ketika rivalnya datang. Saat itu, di tempat sepi saya menyaksikan rivalnya melakukan sebuah hal yang sungguh tidak dapat saya fahami. Mangkuk-mangkuk bakso milik mas Ento menjadi terserak dijalanan, belum lagi botol-botol itu, bulatan-bulatan bakso terhambur dari tempatnya. Kuahnya tumpah mengenai kakinya yang tak lagi sempurna berjalan. Tanpa beban, sang rival melenggang pergi meninggalinya banyak kepedihan. Ingin sekali saya meneriakinya “kurang ajar”, tetapi melihat sosoknya yang besar membuat saya hanya mematung, meski hati saya ribut tidak karuan.

    Setiap teringat mas Ento, saya pasti berguman dengan ungkapan yang saya adopsi dari sebuah puisi “Maafkan saya Tuhan, di depan saya ada orang yang di zalimi tetapi saya tidak menolongnya”.

    ***

    Suatu saat menjelang siang, seorang bocah kecil pengamen, berdiri di dalam bis menghadap para penumpang. Suara paraunya menggema di bis yang akan membawa saya ke terminal Leuwi Panjang, Bandung. Beberapa lagu diperdengarkannya kepada kami. Saya memandangnya sayang, tangannya hanya satu yang sempurna, tangan sebelah kiri buntung sampai sikut. Mungkin karena itulah hampir semua penumpang memasukkan uang ke dalam bekas bungkus kemasan aqua gelas yang diedarkannya. Saya yang duduk dibelakang dapat menyaksikan binar mata kegembiraan sang bocah yang mengaso dekat pintu.

    Bis sudah masuk terminal, penumpang telah banyak turun. Si kondektur menyeret bocah tadi hampir tepat di hadapan saya. “Sini!!” bentak lelaki bertopi itu, tangannya meraih paksa tempat uang si bocah. Dengan tersenyum dia menghitung, dan tanpa beban dia mengembalikan wadah kosong ke tangan sang bocah. Dan lagi-lagi saya tidak berbuat apa-apa. Saya hanya diam, meski hati ini juga ribut tak karuan. Saya menatap wajah pasrah itu. “Ngga apa-apa, sudah biasa”. Itu yang diucapkan si bocah sebelum pergi.

    Jika sudah begitu, tak ada yang dapat menentramkan hati kecuali sebuah doa ampunan, “Maafkan saya Tuhan, di hadapan saya ada mahlukmu yang dizalimi, tetapi saya tidak mampu berbuat apa-apa”.

    ***

    Jari ditangan tak akan mampu membilang episode-episode kezaliman. Israel yang begitu pongah mengobrak-abrik Palestina. Bom-bom cluster yang tercurah, mengoyak banyak tubuh manusia.  Mereka yang direnggut nyawa dengan cara demikian, adalah saudara kita. Bukankah mereka juga shalat, puasa dan berdoa kepada Allah, sama sepert kita. Belum lagi di Mesir yang dilanda perang saudara atau yang kita lihat langsung di lingkungan sekitar.

    Nabi bersabda, ketika kemungkaran berada dihadapan, cegahlah dengan tangan, itulah seutama-utamanya iman. Jika belum mampu, sergahlah dengan lisan yang kita punya. Dan yang terakhir, bencilah dengan hatimu, berdoalah. Dan nabi melabelkan hal ini sebagai selemah-lemahnya iman.

    ***

    Diambil dari eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 8:51 am on 12 February 2014 Permalink | Balas  

    bekerjaAllah Lebih Tahu Yang Terbaik Buat Kita

    Sore itu kulihat suamiku mondar mandir keluar masuk ruangan dengan wajah murung. Aku tahu sebabnya, dia tidak diterima dalam seleksi masuk S-2 di sebuah lembaga pendidikan yang dia inginkan, walaupun hasil test dia terbaik dari hasil tes peserta yang lain, dengan alasan suamiku telah diterima di lembaga lain yang masih ada dalam satu naungan.

    Suatu hal yang sangat wajar bila dia kecewa. Namun aku mencoba untuk menghibur walau aku sendiri merasakan kesedihan yang sama, dengan mengatakan: “Sudahlah mas, Insya Allah ada hikmahnya. Mungkin ini pilihan yang terbaik dari Allah buat kita”.

    Suamikupun berusaha untuk melapangkan hati, berusaha menghilangkan kekecewaan, dan menjalani pilihan Allah itu dengan sungguh-sungguh. Dengan rasa yakin, Allah pasti memberi yang terbaik.

    Benar saja, dalam perjalanan kuliah, Allah memberikan kepada suamiku tempat kerja yang memungkinkan untuk memperoleh beasiswa belajar. Padahal sekiranya suamiku diterima di lembaga yang dia inginkan, tidak ada program beasiswa di sana, walaupun diakui secara kualitas pendidikan di lembaga tersebut mungkin lebih baik.

    Beberapa bulan sebelum beasiswa turun, negeri ini dilanda krisis ekonomi. Segala kebutuhan pokok naik, biaya transport naik, dan usaha yang dirintis suamiku tidak lancar. Apabila suamiku diterima di lembaga pendidikan yang dia inginkan, mungkin study-nya tidak selesai, dan pekerjaanpun lepas entah kemana.

    Inilah sekilas pengalaman pribadi kami, yang mungkin dapat diambil hikmahnya. Bahwa, seringkali kita sulit menerima kenyataan yang ditentukan oleh Allah Sang Penguasa kepada kita. Hingga kita banyak berkeluh kesah, memendam kekecewaan yang panjang dan bersu’udzon kepada Allah. Bahkan ada yang sampai berani mengatakan, Allah tidak adil (na’udzu billahi min dzaalik).

    Demikianlah, kehidupan kita senantiasa diwarnai dengan kejadian yang senantiasa berpasangan. Ada senang ada susah, ada kesuksesan ada kegagalan. Yang sering kali kita tidak mengerti dan tidak mampu memahami hikmah dibalik setiap peristiwa. Yang kesemuanya mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersyukur atas setiap rahmat yang dianugerahkan kepada kita, dan bersikap sabar dalam setiap ujian.

    Kita harus meyakini sepenuhnya bahwa Allah Pencipta kita, lebih Tahu mana yang terbaik bagi kita. Apa saja yang kita inginkan dan kita senangi, belum tentu baik menurut pandangan Allah. Sebaliknya, apa yang tidak kita inginkan dan tidak kita senangi belum tentu buruk untuk kita, menurut pandangan Allah.

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS Al Baqoroh : 216).

    Sehingga, seharusnyalah kita sebagai ummat-Nya selalu menggantungkan diri kepada-Nya. Mengkomunikasikan segala keinginan kepada-Nya. Memohon petunjuk dan bimbingan untuk dapat memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk, dan selalu berprasangka baik kepada Allah atas segala ketentuan yang ditetapkan.

    Menyertakan do’a dalam setiap usaha. Dan lapang dada, tawakkal kepada Allah terhadap segala yang terjadi. Sehingga kehidupan ini akan menjadi nikmat dijalani. Nikmat yang dianugerahkan-Nya akan menambah ketaatan kita, dan cobaan yang diberikan akan menjadikan kita lebih dekat kepada-Nya.

    “Robbi awzi’nii an asykuroo ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shoolihan tardhoohu wa ad khilnaa birohmatika fii ‘ibaadikashshoolihiin”.

    Ya Robb kami, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada dua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh. (QS An Naml:19).

    Wallaahu ‘a’lam bishshowwab.

    ***

    Diambil dari artikel kiriman Ummu Shofi, http://www.eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 7:24 am on 6 February 2014 Permalink | Balas  

    kasih-sayang-ibuAnak Sepasang Bintang

    Bunda …, jadah itu artinya apa?”

    Bunda tersentak waktu itu. Tak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari sela bibir mungilku, gadis kecilnya yang baru berumur lima tahun. “Kenapa Sayang?” Bunda bertanya sambil mendekapku di dadanya. “Orang-orang menyebutku seperti itu,” jawabku dengan sangat polos. Aku memeluk Bunda semakin erat dan merasakan perlindungannya.

    Di waktu lainnya aku ajukan pertanyaan lain padanya.

    “Bunda …, apa saya punya Ayah? Orang-orang itu bilang saya tak punya Ayah,” tanyaku. Bunda baru saja selesai mendongeng padaku waktu itu. Bunda tertegun begitu lama.

    “Ada!” tegas Bunda meyakinkanku. “Di mana? Kenapa aku tak bisa menemuinya?”

    Bunda membimbingku bangkit dari tempat tidur kayu berkepinding. Berjalan ke halaman tanpa penerangan.

    “Kau lihat langit di atas sana?” Bunda bertanya tanpa melepas genggamannya. Aku mengangguk mengiyakan.

    “Ayahmu ada di sana!” jawab Bunda meyakinkan.

    Aku tidak melihat apa-apa. Selain langit hitam dan taburan berjuta bintang tidak ada gambar wajah manusia terlihat di sana.

    Tapi aku tidak ingin bertanya lagi. Barangkali ayahku adalah satu diantara kerlip bintang-bintang itu. Besok jika anak-anak itu menggodaku lagi dan mengatakan aku tidak punya ayah aku sudah punya jawabannya.

    • * *

    Sejak kecil aku cuma punya Bunda. Perempuan yang miskin tanpa harta tapi penuh cinta. Yang selalu menyediakan dadanya untuk menyerap luka-luka. Dengan upah seadaanya sebagai tukang cuci pakaian pada beberapa keluarga, Bunda selalu menabung. Katanya aku harus sekolah setinggi mungkin dan jadi orang pandai. Agar tidak bodoh dan melarat seperti dirinya.

    Bunda lewati seluruh kehidupan berat sendiri. Mengasuh anak yang terus tumbuh tanpa pendamping di sisi. Tidak mudah memang. Tapi tidak sekalipun aku melihatnya berduka. Kecuali sekali pada suatu malam aku terbangun dan melihatnya mengisak di atas sehelai sajadah.

    Setiap kali aku menanyakan hal itu pada Bunda, cuma air matalah yang kemudian menjadi jawabannya. Seperti menguak luka yang tak pernah kering sama sekali. Lalu aku jadi tak pernah tega memaksa Bunda untuk menjawabnya. Sebab Bunda terlalu mulia untuk terluka.

    Aku tidak ingin mengecewakan Bunda. Perjuangannya tidak boleh sia-sia. Keinginannya melihatku sekolah setinggi mungkin memacu semangatku untuk belajar dengan giat. Aku selalu berhasil mencapai gelar juara sejak duduk di bangku SD hingga SMU. Lalu kemudian aku terpaksa berpisah dengan Bunda. Aku diterima masuk tanpa test di salah satu perguruan tinggi terkemuka di kota Pontianak. Sekarang aku bahkan telah diterima bekerja di salah satu Bank Syariah terkemuka yang baru berdiri. Aku ingin menjemput Bunda untuk mengajaknya pindah ke kota ini. Tapi Bunda menolak.

    • * *

    Kukira dengan meninggalkan tempat kelahiran aku akan bisa hidup dengan tenang. Semua mimpi buruk masa kecil tentang siapa ayahku tidak akan memburuku sampai ke kota ini. Tapi tidak. Sepertinya ia menjelma jadi kutukan yang mengikuti kemana pergi.

    Aku telah dewasa kini. Telah siap untuk menikah dan berkeluarga. Sudah tiga orang lelaki shaleh yang datang mengajukan lamaran padaku. Tapi sudah tiga kali pula aku terpaksa menolaknya. Aku takut menceritakan keluargaku. Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku anak sebuah bintang. “Rabbi …, aku hanya ingin tahu siapa lelaki yang menjadi ayahku. Hanya itu. Apa aku durhaka pada Bunda?”

    “Kau beruntung masih mempunyai Bunda. Aku dibesarkan di panti asuhan, tak tahu siapa keluargaku.” Asti , teman satu kamarku mencoba menghiburku. Aku insyaf kini. Aku masih sangat beruntung mempunyai Bunda. Dalam sujudku malam itu aku menangis. Mohon kesempatan pada Allah untuk membahagiakan Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga.

    • * *

    Berita itu sampai lewat seorang tamu. Salah seorang tetangga kami di kampung dulu. Sengaja datang untuk mengunjungiku. Padaku ia cerita Bunda sedang sakit. “Sebenarnya ia sakit sejak lama. Tapi tak mau cerita. Bunda bilang tak mau kalau pekerjaanmu terganggu. Tapi aku pikir kau memang perlu tahu!”

    Di rumah aku lihat Bunda terbaring di tempat tidurnya. Tempat tidur yang sama seperti masa kecilku dulu. Tempat Bunda biasa mendekap, mendongeng dan berdoa sebelum lelap menyergapku.

    “Kenapa Bunda tidak memberitahuku?” tanyaku setelah mencium tangannya.

    “Bunda tak mau pikiranmu terganggu,” jawabnya sambil tetap mengukir senyum di wajahnya. Tapi aku melihatnya semakin lemah saja. “Bunda ingin mengatakan sesuatu tentang ayahmu, ia …,”

    “Tidak perlu, Bunda,” potongku cepat. “Jangan katakan apa-apa. Tidak ada yang perlu Bunda jelaskan tentang masa lalu. Bunda tetaplah Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga!”

    Aku memang sudah tidak lagi perduli. Bunda manusia biasa. Mungkin pernah khilaf di masa lalunya. Tapi bagiku kini Bunda adalah anugerah Allah terbesar dalam hidup ini. Dua hari kemudian Bunda berpulang ke Rahmatullah.

    Malam itu kembali aku menatap langit. Seperti waktu kecil dulu saat aku bertanya pada Bunda di mana ayahku. Bunda akan menunjuk ke arah langit. Tempat kegelapan malam dihiasi pendar jutaan bintang. Bunda kini telah pergi. Menyusul ayahku di tempat yang abadi. Dan aku tahu kini. Jika seorang lelaki shaleh datang untuk melamar dan bertanya tentang keluargaku, aku akan mengatakan bahwa aku adalah anak sepasang bintang!

    ***

    Diambil dari Rubrik Cerpen Islamuda

     
  • erva kurniawan 7:11 am on 3 February 2014 Permalink | Balas  

    cintaSi Pencari Cinta

    Author: Abu Aufa

    Alkisah di suatu zaman, hidup seorang lelaki yang mencari cinta, namanya Arjuna. Saking ngebetnya, gunung tertinggi didaki, isi bumi dijelajahi, lautan pun diarungi, cuma untuk mencari tempat berlabuh, yaitu wanita. Gilee beneer… Nih Arjuna, kagak peduli gunung, bumi, lautan, alam semesta ini punya siapa, maen grasak-grusuk aja! Di setiap tempat Arjuna berkata, “Wahai wanita, cintailah aku.” Ih… nih anak, malu-maluin ya! Masa’ sih sampe’ gitu-gitu banget, ya…namanya juga pencari cinta bo!

    Di kisah yang lain, seorang laki-laki yang bernama Ibrahim pun mencari cinta. Saat malam mulai menyapa alam, tampak sebuah bintang, tak lama kemudian sang bintang pun tenggelam. “Aku tak menyukai yang tenggelam,” kata Ibrahim. Beberapa saat kemudian, terbitlah sang rembulan, bersinar indah penuh kelembutan. Namun, bulan pun hanya sesaat, tersipu malu dengan keindahannya. Adzan subuh pun menyeruak kegelapan, kokok ayam jantan membelah tetesan embun pagi, tak lama keperkasaan mentari menerangi jagat raya ini, “Inikah dia yang kucari?” tanya beliau pula. Bukan…bukan itu, karena mentari pun bersujud, lalu merunduk sembunyi.

    Ikhwah fillah rahimakumullah…

    Kisah di atas adalah ilustrasi dari 2 manusia si pencari cinta. Di dunia ini, betapa banyak orang-orang yang mencari cinta. Namun jelas ada bedanya disini, antara laki-laki yang bernama Arjuna dengan Ibrahim a.s., yang namanya termaktub indah di lembaran suci Al Qur’an. Arjuna mencari cintanya tanpa tedeng aling-aling, gak peduli sana-sini, jumpalitan, cuma mencari cinta wanita. Emangnya salah si Arjuna, karena mencari cinta? Ih…jangan protes dulu dong, emang sih fitrah manusia itu ya pasti merasakan cinta [QS Al Imran: 14]. Tapi apa iya harus seperti itu? Masa’ sih akal, nalar dan fikiran sampe’ gak jalan, bahkan hingga melebihi cinta-Nya! Waduh…

    Padahal banyak kisah cinta sejati di dunia ini lho, salah satunya adalah cinta Ibrahim yang tak pernah pudar, setelah ia mengenal dan mengetahui siapa yang patut menerima cintanya. Beliau mengenal, dan kemudian sayang, lantas jatuh hati kepada Sang Pencipta. Karena itu yang dicintai pun berkenan menyambut cintanya, bahkan menjadikannya sebagai khalilullah [QS An Nisaa': 125].

    Cinta disini bukan cinta yang penuh kepalsuan, emosi apalagi birahi, namun cinta laksana mutiara yang memancarkan cintanya pada Rabb seluruh jagat raya ini, mengaliri denyut nadi, helaan nafas serta aliran darah untuk tunduk dan patuh pada titah-Nya. Cinta ini mestinya menempati prioritas utama pada diri seorang muslim, yakni cinta kepada Allah SWT, Rasul dan jihad di jalan-Nya. Inilah cinta hakiki!

    Dari nenek moyang kita dulu, sampai sekarang, buanyak buanget manusia-manusia yang telah jatuh cinta, namun apakah cinta mereka dan kita adalah cinta hakiki sebagaimana cinta mereka yang disebut ‘manusia langit?’

    Adakah cinta kita adalah cinta seorang Sumayah binti Khayyath, yang siap menjadi syahidah pertama dalam sejarah Islam demi mempertahankan akidah yang dicintainya. Ataukah Ali bin Abi Thalib r.a. yang rela ‘pasang badan’ menggantikan Rasulullah SAW di tempat tidurnya sewaktu beliau keluar untuk hijrah, padahal beliau tahu maut telah didepan mata siap mengancam jiwanya? Atau pun Abu Bakar Shiddiq r.a. yang tak kalah ikhlas tangan dan kakinya dipatuk binatang berbisa saat berdua dengan seseorang yang dicintainya? Ia tak ingin tubuh orang yang dicintai dan dikasihinya tersentuh sedikitpun oleh binatang-binatang yang berbisa itu.

    Mereka hanyalah sedikit contoh dari orang-orang yang jatuh cinta dengan cinta yang sebenarnya. Sebuah cinta sejati, cinta hakiki yang akan mendapatkan ridha Illahi Rabbi.

    Nah…sekarang milih yang mana, seorang Arjuna yang grasak-grusuk mencari cinta, atau seorang Ibrahim a.s., Sumayah binti Khayyath, Ali bin Abi Thalib r.a. atau pun Abu Bakar Shiddiq r.a. yang mencari cinta sejati?

    Ya akhi wa ukhti,

    Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang selalu mendambakan cinta, keridhoan kepada-Nya ya, insya Allah, aamin allahumma aamiin.

    ***

    Abu Aufa

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 28 January 2014 Permalink | Balas  

    tertawa 1Jaga Mulut

    Luqman Alhakim adalah seorang budak hitam. Bibirnya tebal, dan kedua kakinya melekuk, sehingga kalau berjalan tampak lucu. Meskipun demikian, dia seorang yang arif bijaksana. Luqman tidak pernah berperilaku buruk, bahkan dalam ucapannya. Apa yang keluar dari kedua bibirnya adalah kebijaksanaan. Ia tidak pernah mengucapkan sesuatu pun, kecuali hal-hal yang mulia, penuh makna dan hikmah, serta berguna. Allah mengabadikan namanya di dalam Alquran sebagai salah satu teladan umat manusia.

    Suatu kali tuannya menyuruh Luqman agar menyembelih beberapa ekor kambing untuk sebuah keperluan. ”Luqman, coba ambilkan untukku dua bagian yang terbaik dari daging-daging itu,” kata tuannya. Sejurus kemudian Luqman datang dan menyerahkan potongan hati dan lidah.

    ”Sekarang, ambilkan untukku bagian yang terburuknya,” pinta tuannya lagi. Luqman bergegas, dan sejenak kemudian datang. Namun, lagi-lagi ia menyerahkan potongan hati dan lidah. ”Apa maksudmu dengan ini semua, Luqman? Mengapa yang terbaik dan terburuk sama bentuknya?” tanya sang tuan keheranan.

    ”Tuan, jika kedua bagian ini sudah baik, tidak ada lagi yang lebih baik dari keduanya. Sebaliknya, jika kedua bagian ini sudah buruk, tidak ada lagi yang lebih buruk dibandingkan dengan keduanya,” jawab Luqman.

    Tentang mulut, Nabi saw seringkali mewanti-wanti agar menjaganya dengan sungguh-sungguh karena ia paling berpotensi mencelakakan kita. ”Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berbicaralah hanya yang baik-baik. Jika tidak sanggup, sebaiknya diam.” Sabda beliau di kali yang lain, ”Cukuplah seorang menjadi penduduk neraka, ketika ia tidak bisa menjaga lisannya.” Berkenaan dengan itu pula, Ali bin Abi Talib berkata, ”Berbahagialah orang yang bisa menahan kelebihan mulutnya dan menginfakkan kelebihan hartanya”.

    ***

    Diambil dari kolom Hikmah Republika

     
  • erva kurniawan 5:22 am on 26 January 2014 Permalink | Balas  

    ampunDosa yang kita lupakan

    Sahabat,

    Dalam suatu kesempatan, seorang rekan berkisah tentang seorang pembantu rumah tangga. Pada awal kerjanya, dia diberitahu majikannya bahwa tugasnya adalah membersihkan lantai, membersihkan jendela, membersihkan halaman, menyiram tanaman dan membuka-tutup pintu untuk orang yang datang dan pergi. Majikannya menjanjikan bonus tertentu bila dia melakukan tugas-tugasnya dengan baik; Sederhana dan tampaknya mudah; bekerja sebaik-baiknya lalu dia akan dapat gaji ditambah bonus.

    Dengan suka hati dia menghapal ‘diluar kepala’ kelima tugasnya. Membersihkan lantai, membersihkan jendela, membersihkan halaman, menyiram tanaman dan membuka-tutup pintu. Diulang-ulangnya hingga dia dapat memastikan bahwa kelima tugas tersebut dapat diselesaikannya dengan sebaik-baiknya. Demi bonus yang akan diperolehnya, diapun berkonsentrasi pada tugas-tugasnya.

    Suatu ketika sang majikan harus pergi dengan meninggalkan anak-anaknya di rumah. Sementara anak-anak yang besar sibuk dengan urusannya masing-masing, si bungsu malah asyik bermain di halaman. Dia mendekati kolam lalu berusaha untuk berenang. Adalah suatu hal yang berbahaya bagi anak kecil bermain-main di kolam seorang diri, meski kolam itu ada di dekat rumah. Namun demikian sang pembantu coba menyakinkan diri bahwa tugas dia hanya lima. Menjaga anak bukanlah tugasnya. Dia coba meyakinkan lagi bahwa bila saja dia tunaikan kelima tugas tersebut dengan sebaik-baiknya tentu dia akan mendapatkan bonus sebagaimana yang dijanjikan kepadanya.

    Singkat cerita, sang anak bungsu ‘gelagepan’ di kolam lalu tenggelam. Sang pembantu masih coba meyakinkan bahwa menolong anak tersebut bukan tugasnya. Untuk lebih menyakinkan lagi, dia ucapkannya kembali kata-kata majikannya tentang tugasnya, yakni membersihkan lantai, membersihkan jendela, membersihkan halaman, menyiram tanaman dan membuka-tutup pintu. Ternyata tidak dia jumpai tugas menjaga anak. Maka dia tidak bergerak sedikitpun untuk menolong anak tersebut hingga tak ada lagi gerakan di kolam. Anak tesebut mati lemas.

    Ketika sang majikan datang dan menanyakan kemana si bungsu, tanpa rasa bersalah sedikitpun sang pembantu memberitahu bahwa anak tersebut ada di kolam, barangkali tenggelam di sana, sembari mengingat-ingat tugasnya yang lima yang selalu ditunaikannya dengan baik. Lalu bagaimana reaksi sang majikan terhadap pembantu ini? Bila kita adalah majikan tersebut, tentu saja kita tahu tindakan apa yang paling pantas terhadapnya.

    Keadaan kita hari ini, barangkali tidak bedanya dengan keadaan sang pembantu tersebut. Kita telah berusaha sebaik-baiknya menunaikan tugas apa saja sebatas pada yang ‘diperintahkan’ kepada kita. Kita tahu betul bahwa kewajiban sholat lima waktu harus kita tunaikan sebaik-baiknya setiap hari, namun kita tidak peduli dengan orang-orang lain yang melalaikannya. Kita tahu betul tanggung jawab kita terhadap diri sendiri, istri, anak, orangtua dan saudara-saudara kita, dan apa saja yang dapat kita berikan sebagai tanda sayang kita kepada mereka, namun kita tidak peduli dengan yang selainnya. Kita tahu bagaimana ‘mengamalkan’ agama tapi kita lupa bahwa dakwah adalah bagian dari amal agama.

    Hari ini kita mengetahui bahwa membunuh adalah dosa, mencuri atau korupsi adalah dosa, berzina adalah dosa, minum arak adalah dosa, berkata dusta adalah dosa, akan tetapi kita lupa bahwa meninggalkan dakwah adalah dosa. Padahal dosa tidak dakwah kadarnya mencakup dosa membunuh, mencuri, zina dan sebagainya. Karena tidak ada dakwahlah maka ada pembunuhan. Karena tidak ada dakwahlah maka ada pencurian. Karena tidak ada dakwahlah maka ada perzinaan dan seterusnya.

    Sebagian dari kita mengatakan bahwa untuk dakwah kita perlu punya ilmu dulu. Dan ilmu yang dimaksud adalah penguasaan yang baik atas berbagai pengetahuan (yang justru baru berkembang bersamaan dengan menyebarnya Islam ke seluruh pelosok dunia). Barangkali pernyataan ini benar, bila kita bermaksud menyempurnakan segala sesuatunya. Namun demikian, sebagaimana yang kita sampaikan kepada para mu’alaf, kita tetap harus melakukan sholat meskipun kita baru bisa mengucapkan basmallah. Dan dengan cara yang sama, kita harus buat dakwah meskipun kita baru bisa menjabat tangan saudara kita.

    Menjadi da’i sebenarnya tidak sesukar yang kita bayangkan pada hari ini. Siapapun dari ummat ini yang memiliki kalimah laa ilaaha illallah dalam hatinya adalah orang-orang yang punya tanggung jawab untuk ‘menumpahkannya’ kepada orang lain. Keadaan saat ini dimana kita mempersulit diri dengan berbagai syarat agar kita ‘layak’ buat dakwah, hanya menunjukkan betapa jauhnya kita dari kepahaman para sahabat Rasulullah saw.

    Lalu pertanyaannya adalah berapa lamakah seseorang dapat menjadi da’i sejak pertama kali dia bersyahadat? Adakah setiap orang berkewajiban menuntut ‘ilmu’ yang menjadikannya layak dipanggil ‘ulama atau ustdaz, baru setelah itu buat dakwah? Mestinya tidak demikian bila referensi kita adalah para sahabat Rasulullah saw.

    Saat Abu Bakar ra. menyatakan keislamannya, dia telah mengajak beberapa orang lainnya kepada iman-yakin yang benar pada hari yang sama. Dari usahanya pada hari itu beberapa orang mengimani bahwa Allah adalah tuhan mereka dan tidak ada tuhan selain-Nya dan mereka mengimani bahwa Muhammad (saw) adalah nabi dan rasul-Nya.

    Pada hari pertama Abu Dzar Ghiffari ra bersyahadat, dia telah umumkan keislamannya kepada kaum Quraisy di depan ka’bah. Seolah-olah dia ingin mengatakan sekaligus mengajak kaum yang belum beriman tersebut agar segera beriman. Kalau saja Ibnu Abbas (yang saat itu masih dalam kekafiran) tidak mengingatkan kaumnya akan perhubungannya dengan kaum Ghiffar, tentu mereka semua sudah membunuhnya.

    Selanjutnya bila kita baca atau dengar lagi dan lagi kisah-kisah mereka (yakni sahabat-sahabat Rasulullah), kita akan jumpai di sana bahwa mereka adalah para da’i sejak awal keislamannya. Demikianlah Rasulullah saw membina mereka sehingga siapa saja yang menyatakan keimanannya, mereka akan meyakini bahwa dakwah adalah tugas mereka. Setiap orang yang buat dakwah adalah da’i. Lalu kita dapati di sana (pada masa Rasulullah saw), setiap da’i akan ‘melahirkan’ da’i baru. Bahkan sebelum perintah ibadah (sholat) diturunkan, mereka menyangka bahwa agama ini identik dengan dakwah manusia kepada Allah.

    Kita mestinya bangga dengan titel da’i. Gelar inilah yang pada gilirannya kelak akan menjadikan kita mulia, bahkan ketika kita masih hidup di dunia ini. Bayangkan, betapa pilihan Allah tidak pernah salah. Dia memilih (selalu yang terbaik dari kebanyakan manusia) orang-orang yang akan mengemban kerja para nabi. Dia memuliakan kita dengan kerja ini sebagaimana kita meletakkan sesuatu di puncak ketinggian.

    Dan pilihan itu telah jatuh kepada kita ketika Dia berkata, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab (Kristen/Yahudi) beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS 3:110)

    Ketika kita sadar dan kita tidak ingin seperti pembantu di atas, maka tidak ada jalan lain buat kita (bahkan bagi keselamatan ummat ini) selain dengan segera buat dakwah. Hendaknya kita tidak menundanya lagi hingga ‘anak yang akan tenggelam’ dapat diselamatkan. Kita bergerak menjumpai manusia dan tidak menunggu sampai mereka datang kepada kita. Kita yakin bahwa pada saatnya kelak, sama saja apakah kita mengharapkannya atau tidak, kita akan mendapat gaji, bonus dan tentu saja hadiah yang luar biasa dari Allah yang maha memiliki lagi maha kaya.

    Subhanallah.

    ***

    Diambil dari artikel kolom Hikmah Republika, karya KH. Didin Hafidzuddin

     
  • erva kurniawan 2:41 am on 23 January 2014 Permalink | Balas  

    cincin pernikahanAntara Harapan Dan Kenyataan

    EPISODE 1 :

    Saat Fulanah masih seorang gadis, yang ada di benaknya dan yang kemudian menjadi tekadnya adalah keinginan menjadi isteri shalihat yang taat dan selalu tersenyum manis. Pendeknya, ingin memberikan yang terbaik bagi suaminya kelak sebagai jalan pintas menuju surga. Tekad itu diperolehnya setelah mengikuti berbagai ‘tabligh’, ceramah, dan seminar keputerian serta membaca sendiri berbagai risalah. Bahkan banyak pula ayat Al-Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan hal itu telah dihafalnya, seperti “Ar Rijalu qowwamuna alan nisaa’…”,”Faso lihatu qonitatu hafizhotu lilghoibi bima hafizhallah…” (QS. An-Nisa ayat 34).

    Juga Hadits :”Ad dunya mata’, wa khoiru mata’iha al mar’atus sholihat.” (dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah isteri sholihat).

    Atau, hadits “Wanita sholihat adalah yang menyenangkan bila dipandang, taat bila disuruh dan menjaga apa-apa yang diamanahkan padanya.

    Begitu pula hadits “Jika seorang isteri sholat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan dan menjaga kehormatan dirinya serta suaminya dalam keadaan ridha padanya saat ia mati, maka ia boleh masuk surga lewat pintu yang mana saja. (HR Ahmad dan Thabrani). Hadits yang berat dan seram pun dihafalnya, “Jika manusia boleh menyembah manusia lainnya, maka aku perintahkan isteri menyembah suaminya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi,Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban) Figur isteri yang sholihat, taat, dan setia serta qona’ah seperti Kha-\dijah r.a. benar-benar terpatri kuat di benak Fulanah dan jelas ingin ditirunya.

    Maka, tatkala Allah SWT telah menakdirkan ia mendapat jodoh seorang Muslim yang sholih, ‘alim dan berkomitmen penuh pada Islam,Fulanah pun melangkah ke gerbang pernikahan dengan mantap. Begitu khidmat dan khusyu karena kesadaran penuh untuk beribadah dan menjadikan jihad dan syahid sebagai tujuan hidup berumah tangga.

    EPISODE 2

    Tatkala Fulan masih menjadi seorang jejaka, ia sering membatin, berangan-angan, dan bercita-cita membentuk rumah tangga Islami dengan seorang Muslimah sholihat yang menyejukkan hati dan mata.

    Alangkah bahagianya menjadi seorang suami dan seorang “qowwam” yang “qooimin bi nafsihi wa muuqimun lil ghoirihi” (tegak atas dirinya dan mampu menegakkan orang lain, terutama isteri dan anak-anaknya). Juga menjadi ‘imam yang adil’ yang akan memimpin dan mengarahkan isteri dan anak-anaknya. Alangkah menenangkannya mempunyai seorang isteri yang akan dijaganya lahir dan batin, dilindungi dan disayanginya karena ia adalah amanah Allah SWT yang telah dihalalkan baginya dengan dua kalimat Allah SWT.

    Ia bertekad untuk mempergauli isterinya dengan ma’ruf (QS An-Nisa:19) dan memperhatikan hadits Rasulullah SAW tentang kewajiban-kewajiban seorang suami. “Hanya laki-laki mulialah yang memuliakan wanita.”

    “Yang paling baik di antara kamu, wahai mu’min, adalah yang paling baik perlakuannya terhadap isterinya. Dan akulah (Muhammad SAW) yang paling baik perlakuannya terhadap isteri-isteriku.”

    “Wanita seperti tulang rusuk manakala dibiarkan ia akan tetap bengkok, dan manakala diluruskan secara paksa ia akan patah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Fulan pun bertekad meneladani Rasulullah SAW yang begitu sayang dan lembut pada isterinya. Tidak merasa rendah dengan ikut meringankan beban pekerjaan isteri seperti membantu menyapu, menisik baju dan sekali-sekali turun ke dapur.

    Seperti ucapan Rasulullah kepada Bilal : “Hai Bilal, mari bersenang-senang dengan menolong wanita di dapur.” Karena Rasulullah suka bergurau dan bermain-main dengan isteri seperti berlomba lari dengan Aisyah r.a. (HR Ahmad), maka ia pun berkeinginan meniru hal itu serta menyapa isteri dengan panggilan lembut ‘Dik’ atau ‘Yang’.

    EPISODE-EPISODE SELANJUTNYA

    Fulan dan Fulanah pun ditakdirkan Allah SWT untuk menikah. Pasangan yang serasi karena sekufu dalam dien, akhlaq, dan komitmen dengan Islam. Waktu pun terus berjalan. Dan walaupun tekad dan cita-cita terus membara, kian banyak hal-hal realistis yang harus dihadapi. Sifat, karakter, pembawaan, selera, dan kegemaran serta perbedaan latar belakang keluarga yang semula mudah terjembatani oleh kesatuan iman, cita-cita, dan komitmen ternyata lambat laun menjadi bahan-bahan perselisihan.

    Pertengkaran memang bumbunya perkawinan,tetapi manakala bumbu yang dibubuhkan terlalu banyak, tentu rasanya menjadi tajam dan tak enak lagi. Ternyata, segala sesuatunya tak seindah bayangan semula. Antara harapan dan kenyataan ada terbentang satu jarak. Taman bunga yang dilalui ternyata pendek dan singkat saja.

    Cukup banyak onak dan duri siap menghadang. Sehabis meneguk madu, ternyata ‘brotowali’ yang pahitpun harus diteguk. Berbagai masalah kehidupan dalam perkawinan harus dihadapi secara realistis oleh pasangan mujahid dan mujahidah sekalipun.

    Allah tak akan begitu saja menurunkan malaikat-malaikat untuk menyelesaikan setiap konflik yang dihadapi. “Innallaha laa yughoyyiru ma biqoumi hatta yughoyyiru maa bi anfusihim” (QS Ar-Raad : 6). Ada seorang isteri yang mengeluhkan cara bicara suaminya terutama jika marah atau menegur, terdengar begitu ‘nyelekit’. Ada pula suami yang mengeluh karena dominasi ibu mertua terlalu besar.

    Perselisihan dapat timbul karena perbedaan gaya bicara, pola asuh, dan latar belakang keluarganya. Kejengkelan juga mulai timbul karena ternyata suami bersikap ‘cuek’, tidak mau tahu kerepotan rumah tangga, karena beranggapan “itu khan memang tugas isteri.”

    Sebaliknya, ada suami yang kesal karena isterinya tidak gesit dan terampil dalam urusan rumah tangga, maklum sebelumnya sibuk kuliah dan jadi ‘kutu buku’ saja. Fulan pun mulai mengeluh. Ternyata isterinya tidak se-“qonaah” yang diduganya, bahkan cenderung menuntut, kurang bersahaja dan kurang bersyukur.

    Fulanah sebaliknya. Ia mengeluh, sang suami begitu irit bahkan cenderung kikir, padahal kebutuhan rumah tangga dan anak-anak terus meningkat. Seorang sahabat Fulan juga kesal karena isterinya sulit menerima keadaan keluargan. Sebab musababnya sih karena perbedaan status sosial, ekonomi dan adat istiadat. Kekesalannya bertambah-tambah karena dilihatnya sang isteri malas meningkatkan kemampuan intelektual, manajemen rumah tangga, serta kiat-kiat mendidik anak.

    Sebaliknya, sang isteri menuduh suaminya sebagai “anak mama” yang kurang mandiri dan tidak memberi perhatian yang cukup pada isteri dan anak-anaknya.

    Belum lagi problem yang akan dihadapi pasangan-pasangan muda yang masih tinggal menumpang di rumah orang tua. Atau di dl rumah mereka ikut tinggal kakak-kakak atau adik-adik ipar. Kesemua keadaan itu potensial mengundang konflik bila tidak bijak-bijak mengaturnya.

    Kadang-kadang semangat seorang Muslimah untuk da’wah keluar rumah terlalu berlebihan. Tidak “tawazun”. Hal ini dapat menyebabkan seorang suami mengeluh karena terbebani dengan tugas-tugas rumah tangga yang seabreg-abreg dan mengurus anak-anak.

    Selanjutnya, ada pula Muslimah yang terlalu banyak menceritakan kekurangan suaminya, kekecewaan-kekecewaannya pada suaminya. Padahal ia sendiri kurang instrospeksi bahwa ia sering lupa melihat kebaikan dan kelebihan suaminya. Ada suami yang begitu “kikir” dalam memuji, kurang “sense of humor” dan “sedikit” berkata lembut pada isteri. Kalau ada kebaikan isteri yang dilihatnya, disimpannya dalam hati, tetapi bila ia melihat kekurangan segera diutarakannya.

    Bahkan ada pula pasangan suami-isteri yang memiliki problem “hubungan intim suami-isteri”. Mereka merasa tabu untuk membicarakannya secara terus terang di antara mereka berdua. Padahal akibatnya menghilangkan kesakinahan rumah tangga. Kalau mau dideretkan dan diuraikan lagi, pasti daftar konflik yang terjadi di antara pasangan suami-isteri muda Muslim dan Muslimah akan lebih panjang lagi. Memang, persoalan-persoalan tidak begitu saja hilang. Rumah tangga tidak pasti akan berjalan mulus tanpa konflik hanya dengan kesamaan fikrah dan cita-cita menegakkan Islam.

    Mereka yakni Fulan dan Fulanah cs tetap manusia-manusia biasa yang bisa membuat kekhilafan dan tidak lepas dari kekurangan- kekurangan. Dan mereka pun pasti mengalami juga fluktuasi iman. Pasangan yang bijak dan kuat imannya akan mampu istiqomah dan lebih punya kemampuan menepis badai dengan menurunkan standar harapan. Tidak perlu berharap muluk-muluk seperti ketika masih gadis atau jejaka. Karena, ternyata kita pun belum bisa mewujudkan tekad kita itu. Sebagai Muslim dan Muslimah hendaknya kita sadar, tidak mungkin kita dapat menjadi isteri atau suami yang sempurna seperti bidadari atau malaikat. Maka kita pun tentunya tidak perlu menuntut kesempurnaan dari suami atau isteri kita. “Just the way you are” lah. Kita terima pasangan hidup kita seadanya, lengkap dengan segala kekurangan (asal tidak melanggar syar’i) dan kelebihannya. Kita memang berasal dari latar belakang keluarga, kebiasaan, dan karakter yang berbeda, walau tentunya dien, fikrah, dan cita-cita kita sama.

    Pada saat ghirah tinggi, iman dalam kondisi puncak,”Prima”, semua perbedaan seolah sirna. Namun pada saat “ghirah” turun, iman menurun, semua perbedaan itu menyembul ke permukaan, mengganjal,mengganggu, dan menyebalkan. Akibatnya tidak terwujud sakinah. Kiat utama mengatasi permasalahan dalam rumah tangga, tentunya setelah berdoa memohon pertolongan Allah SWT dan mau ber”muhasabah” (introspeksi), adalah mengusahakan adanya komunikasi yang baik dan terbuka antara suami-isteri. Masalah yang timbul sedapat mungkin diselesaikan secara intern dulu di antara suami-isteri dengan pembicaraan dari hati ke hati. “Uneg-uneg” yang ada secara fair dan bijak diungkapkan. Selanjutnya, yang memang bersalah diharapkan tidak segan-segan mengakui kesalahan dan meminta maaf. Yang dimintai maaf juga segera mau memaafkan dan tidak mendendam. Masing-masing pihak berusaha keras untuk tidak mengadu ke orang tua, atau orang lain. Jadi tidak membongkar atau membeberkan aib dan kekurangan suami atau isteri.

    Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak membanding- bandingkan suami atau isteri dengan orang lain, karena itu akan menyakitkan pasangan hidup kita. Setelah itu,masing-masing juga perlu ‘waspada’ agar tidak terbiasa kikir pujian dan royal celaan.

    Jika terpaksa, kadang-kadang memang diperlukan bantuan pihak ketiga (tetapi pastikan yang dapat dipercaya keimanan dan akhlaqnya) untuk membantu melihat permasalahan secara lebih jernih.

    Kadang-kadang “kacamata” yang kita pakai sudah begitu buram sehingga semua kebaikan pasangan hidup kita menjadi tidak terlihat, bahkan yang terlihat keburukannya saja. Orang lain yang terpercaya InsyaAllah akan bisa membantu menggosok ‘kacamata’ yang buram itu. Alhamdulillah ada yang tertolong dengan cara ini dan mengatakan setelah konflik terselesaikan mereka pun berbaikan lagi seperti baru menikah saja ! Layaknya ! Dengan berikhtiar maksimal, bermujahadah, dan bersandar pada Allah SWT, InsyaAllah kita dapat mengembalikan kesakinahan dan kebahagiaan rumah tangga kita, serta kembali bertekad menjadikan jihad dan syahid sebagai tujuan kita berumah tangga.

    Amiin yaa Robbal’aalamiin.

    ***

    Sumber: tulisan dari Ummu Samy Romadhon di majalah Ummi No. 6/V, 1414 H/1993

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 684 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: