Updates from Desember, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 6:32 am on 28 December 2013 Permalink | Balas  

    wudhu2Hikmah Wudhu

    Assalamualaikum,

    Berikut ini adalah hikmah yang dapat kita peroleh dari wudhu seperti yang diuraikan Imam Al-Ghazali dalam bukunya “Ihya Ulumuddin”. Mudah-mudahan Allah swt selalu mencucurkan rahmat-Nya.

    Banyak diantara kita yang tidak sadar akan hakikat bahwa setiap yang dituntut dalam Islam mempunyai hikmahnya yang tersendiri.

    1. Ketika berkumur, berniatlah kamu dengan, “Ya Allah ampunilah dosa  mulut dan lidahku ini ” Penjelasan : Kita hari-hari bercakap  benda-benda yang tak berfaedah.
    2. Ketika membasuh muka, berniatlah kamu dengan, “Ya Allah, putihkanlah mukaku di akhirat kelak, Janganlah Kau hitamkan muka ku ini”. Penjelasan : Ahli syurga mukanya putih berseri-seri.
    3. Ketika membasuh tangan kanan, berniatlah kamu dengan, “Ya Allah, berikanlah hisab-hisab ku di tangan kanan ku ini” Penjelasan: Ahli syurga diberikan hisab-hisabnya di tangan kanan.
    4. Ketika membasuh tangan kiri, berniatlah kamu dengan, “Ya Allah, janganlah Kau berikan hisab-hisab ku di tangan kiriku ini”. Penjelasan : Ahli neraka diberikan hisab-hisabnya di tangan kiri.
    5. Ketika membasuh kepala, berniatlah kamu dengan, “Ya Allah, lindungilah daku dari terik matahari di padang Masyar dengan ArasyMu”. Penjelasan : Panas di Padang Masyar macam matahari sejengkal di atas kepala.
    6. Ketika membasuh telinga, berniatlah kamu dengan, “Ya Allah, ampunilah dosa telinga ku ini”. Penjelasan : Hari-hari mendengar orang mengumpat, memfitnah, mendengar lagu2 berunsur maksiat.
    7. Ketika membasuh kaki kanan, berniatlah kamu dengan. “Ya Allah, permudahkan-lah aku melintasi titian Siratul Mustaqqim”. Penjelasan : Ahli syurga melintasi titian dengan pantas sekali.
    8. Ketika membasuh kaki kiri, berniatlah kamu Dengan, “Ya Allah, bawakanlah daku pergi ke masjid-masjid, surau-surau dan bukan tempat-tempat maksiat”. Penjelasan : Qada’ dan Qadar kita di tangan Allah.

    Pernah kita terfikir mengapa kita mengambil wudhu sedemikian rupa? Pernah kita terfikir segala hikmah yang kita peroleh dalam menghayati Islam? Pernah kita terfikir mengapa Allah lahirkan kita sebagai umat Islam? Bersyukurlah dan bertaubat selalu.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 24 December 2013 Permalink | Balas  

    selamatBolehkah Mengucapkan Selamat atas Perzinahan, Pembunuhan, dan Kemusyrikan?

    Assalamu’alaikum wr wb,

    A : “Kamu koq mengucapkan Selamat hari Natal kepada non muslim? padahal kamu kan muslim?”

    B : “Saya ingin berbuat baik kepada mereka. Apalagi mereka bukan kafir harbi (kafir yang memerangi). Bukankah Allah Ta’ala berfirman:

    “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu…” [QS. Al-Mumtahanah: 8].

    A : “Kamu telah salah dalam mengambil dalil. Firman Allah tersebut mengenai berbuat baik seperti memberi makan atau menyantuni Non Muslim atau bergaul dengan orang tua yang Non Muslim. Bukan untuk berbuat dosa seperti Syirik dengan mengucapkan Selamat Natal kepada mereka yang merayakan kelahiran Tuhan mereka. Apakah kamu tahu asbabul nuzul ayat tersebut?

    Sebab turunnya ayat Al Qur’an di atas adalah sebagai berikut:

    Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya “Menjalin hubungan dengan orang tua yang musyrik”. Kemudian beliau membawakan riwayat berikut:

    Asma’ mengatakan, “Ibuku mendatangiku dan ia sangat ingin aku menyambung hubungan dengannya. Kemudian aku menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bolehkah aku tetap menjalin hubungan dengannya? Beliau pun menjawab, “Iya boleh”.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa setelah itu Allah menurunkan firman-Nya (yang artinya), “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama.” [QS. Al Mumtahanah [60] : 8]”

    B : “Dulu mereka (kaum nasrani) telah mengucapkan selamat kepada saya ketika hari raya Idul Fitri. Nah, ketika hari raya mereka, maka saya membalas kebaikan mereka dengan mengucapkan Selamat hari Natal. Ada dalilnya tentang hal ini. Allah Ta’ala berfirman:

    “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An Nisaa : 86).

    A : “2x kamu salah dalam mengambil dalil. Sesungguhnya firman Allah tersebut menyangkut dengan ucapan salam: “Assalamu’alaikum”. Bukan ucapan Selamat Natal yang mengandung kemusyrikan. Itu pun ucapan salam di atas berlaku jika pemberinya adalah sesama Muslim, Bukan non Muslim. Jika yang memberi salam Non Muslim, kita cukup menjawab “Wa ‘alaikum”. Sebab kita tidak boleh mendoakan Non Muslim dengan semoga Allah memberimu Keselamatan, Rahmat, dan Keberkahan sementara mereka tidak mau beriman kepada Allah.

    Hadits riwayat Anas bin Malik: Rasulullah bersabda: ‘Apabila Ahli Kitab mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah: Wa`alaikum.’ (Shahih Muslim No.4024).

    B : “Ah…ini kan masalah sepele, gak usah terlalu dibesar-besarkan. Nanti bisa terjadi perpecahan antar umat beragama.”

    A : “Menurut kamu mungkin kecil atau sepele. Tapi bisa jadi di sisi Allah ucapan itu sangat besar akibatnya. Allah Ta’ala berfirman:

    “Mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak.’ Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh” [Maryam 88-90].

    Bukankah ucapan selamat itu mendukung pemahaman mereka yang menyakini bahwa Allah memiliki anak?

    B : “Tapi bukankah ada ulama dan kyai yang membolehkan seorang muslim mengucapkan Selamat Natal kepada non muslim?”

    A : “Kita tidak boleh taqlid buta kepada ulama. Jika ulama itu telah keliru, maka jangan diikuti. Seandainya mengucapkan Selamat Natal itu baik, niscaya Nabi dan para sahabat2nya serta para Imam Ahlus Sunnah telah melakukannya, sedangkan mereka hidup di tengah orang2 non muslim.”

    B : “Sesungguhnya saya hanya sebatas mengucapkan selamat saja, sedangkan hati saya mengingkari keyakinan mereka. Agar mereka tidak membenci kita, bahkan akan mencintai kita.”

    ###

    A : “Kalau begitu, bagaimana menurut kamu jika ada orang yang memberikan ucapan selamat kepada orang yang berhasil melakukan korupsi?

    Atau mengucapkan selamat kepada orang yang telah berhasil berzina?

    Atau mengucapkan selamat kepada maling yang telah berhasil mencuri?

    Atau mengucapkan selamat kepada orang yang telah berhasil membunuh orang yang tidak berdosa?

    Apakah hal itu dibolehkan menurut kamu?”

    B : “Ya jelas tidak boleh. Karena itu sama saja mendukung perbuatan mereka dalam maksiat dan dosa.”

    A : “Kalau itu tidak dibolehkan menurut kamu, berarti memberikan ucapan selamat Natal lebih tidak dibolehkan lagi, karena hukumnya jauh lebih besar dari ucapan-ucapan selamat diatas. Perbuatan korupsi, zina, mencuri dan membunuh hanya sebatas dosa maksiat. Adapun merayakan hari Natal adalah termasuk dosa kesyirikan. Sedangkan dosa kesyirikan jauh lebih besar daripada dosa kemaksiatan.”

    Di balik Ucapan “Selamat Hari Natal” :

    Selamat Hari Natal = Selamat hari lahirnya tuhan kalian = selamat menyembah salib = selamat kalau Allah punya anak = selamat bertrinitas = selamat memusuhi agama tauhid (Islam) = Selamat bahagia dengan bangkitnya kaum salibis yang senantiasa mengharapkan hancurnya Islam.

    Ucapan selamat natal lebih parah daripada ucapan : Selamat berzina…, selamat mabuk…, selamat mencuri…, selamat membunuh…, selamat korupsi…, selamat berhomoseksual…

    Akan tetapi masih banyak kaum muslimin yang tidak menyadarinya…!!!!

    ***

    Oleh : AA Hakim,

    Dhuafa & Rich Institute

    Silahkan baca juga:

    http://media-islam.or.id/2011/12/20/bantahan-atas-fatwa-halal-mengucapkan-selamat-natal-yusuf-al-qaradhawi/

    http://media-islam.or.id/2012/12/24/kajian-al-quran-tentang-siti-maryam-dan-nabi-isa-bersama-kh-m-zain-kh-ali-yafie-dan-kh-m-hidayat/

    http://media-islam.or.id/2010/12/14/haram-hukumnya-mengucapkan-selamat-natal/

     
    • mhilal 9:45 am on 24 Desember 2013 Permalink

      pandangan Ini juga taklid sama media-islam.or.id
      cobalah renungkan baik-baik, apakah ucapan selamat hari natal itu selalu bermakna mendoakan. menurutku tidak.

  • erva kurniawan 8:24 am on 21 December 2013 Permalink | Balas  

    nabi-muhammad-saw1Yahudi dan Ramalan Rasulullah

    Bila mengingatkan kata Yahudi, orang sering menyamakan stigma omong kosong seperti stigma “PKI” oleh pejabat Orde Baru. Peristiwa di Palestina, agresi di Iraq, dan mungkin, akan menunggu giliran lagi beberapa negeri muslim lainnya, adalah fakta nyatanya. Ramalan Rosulullah di bawah ini patut anda renungkan kembali

    Oleh Sholeh Hasyim*

    “Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi dibalik batu dan pohon, lalu batu dan pohon berkata : Hai muslim ! Hai hamba Allah ! Ini Yahudi dibelakangku, kemarilah aku, bunuhlah dia ! Kecuali pohon ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohon orang Yahudi.” (HR. Muslim VII/188, Bukhari IV/51, Lu’lu’ wa al-Marjan III/308)

    Fenomena pertentangan antara ummat Islam dan Yahudi di Palestina semakin meningkat. Berbagai tindakan kekerasan terhadap ummat Islam tak kunjung berakhir, sekalipun bangsa-bangsa di dunia telah mengutuknya.

    Pengakuan Yahudi atas Yerusalem, ternyata menimbulkan kesalahpahaman ummat Islam dalam menyikapi Yahudi, dengan membandingan Yahudi jaman dahulu dan sekarang. Mereka menyamakan Yahudi dahulu yang beriman kepada Musa `Alaihis salaam (as) dengan Yahudi sekarang. Penyamaan sikap ini berakibat buruk baik dalam aspek aqidah maupun amal.

    Ada beberapa hal penting seperti dijelaskan dalam syariat dan sejarah; pertama, sesungguhnya Bani Israil yang mengimani ajaran Musa As berbeda dengan Yahudi sekarang. Yahudi dahulu terdiri dari kaum Muslim, dan Mukmin. Sedangkan sekarang terdiri dari kaum kafir, musyrik, dan penentang ajaran Musa yang telah keluar dari syariatnya. Bani Israil adalah keturunan Ya’qub Alaihissalam.

    Ibrahim pernah berwasiat kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. Ibrahim berkata: “Hai anak-ankakku, Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (al-Baqarah: 132). Yusuf as juga menegaskan hal yang sama,”Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah.” (Yusuf : 38)

    Ini sama dengan pesan Allah tentang orang-orang Yahudi yang mengimani ajaran Musa As. “Dan Kami jadikan di antara mereka (Bani Israil) itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami (QS. Sajdah : 24) Ayat lain mengatakan, “Dan sungguh telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (kami) atas bangsa-bangsa.” (ad-Dukhan: 32)

    Adapun orang-orang Yahudi yang keluar dari ajaran Musa, secara otomatis mereka telah jatuh pada kemusyrikan. Mereka yang musyrik itu seperti disebut dalam ayat-ayat berikut ini: Orang-orang Yahudi berkata, tangan Allah terbelenggu, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang mereka katakan itu (al-Maidah: 64), mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah (at-Taubah: 31). Orang-orang Yahudi berkata : Uzair itu putera Allah (at-Taubah: 30).

    Jadi, Yahudi sekarang tidak ada kaitannya dengan Yahudi yang beriman kepada Musa As. Adapun klaim mereka terhadap bumi Palestina, itu merupakan pengembangan dari kekufuran mereka terhadap Musa As. dan nabi-nabi sesudahnya. Mereka telah keluar dari tauhid dan syariat Musa As.

    Kedua : Kebanyakan Yahudi sekarang bukan berasal dari Bani Israil. Orang-orang Yahudi yang merampas wilayah Palestina sekarang, bukan berasal dari keturunan yang dulu pernah bersama-sama hidup dengan Musa as. Sekarang, Yahudi keturunan Israil, yang dikenal dengan sebutan Safaradim, tidak lebih dari 20% jumlahnya di dunia. Komunitas inipun percampuran dari berbagai etnis lain karena pernikahan dll. Sebagian kecil dari jumlah di atas, bukanlah asli keturunan Bani Israil. Adapun mayoritas kaum Yahudi di dunia yang mencapai 80%, itu berasal dari Eropa, dan berbagai negara di dunia. Mereka dikenal dengan sebutan al-Asykanazim, dimana mereka memasuki ajaran Yahudi yang sarat dengan paganisme.

    Bukti sejarah di atas menjadi jelas bahwa kaum Yahudi sekarang adalah penjajah. Mereka tidak berhak atas kepemilikan bumi Palestina, karena telah keluar dari ajaran Musa As yang benar dan mengubah-ubah kitab Taurat. Palestina adalah bumi kaum muslimin, tidak berhak bagi bangsa lain untuk memilikinya. Sesungguhnya, Palestina bukanlah milik Bani Israil, tetapi milik kaum Jabbariyin yang hidup sebelum Bani Israil. Allah mengizinkan kepada Bani Israil untuk memasuki wilayah Palestina, jika mereka masih komitmen terhadap ajaran yang benar. Jika tidak, secara otomatis izin tinggal dari Allah di Baitul Makdis telah dicabut.

    Ketiga: Sesungguhnya sifat dasar Yahudi yang diabadikan dalam al-Quran dari masa ke masa adalah pengkhianat, penakut, provokator, pemicu permusuhan, penipu, sombong dll. Sikap itu terlihat ketika mereka menyakiti Musa as. dan keluar dari ajaran Taurat. Itulah sikap dasar yang tertanam secara turun temurun. Sehingga sifat-sifat tercela mereka sebagai bagian dari agama mereka yang selalu rentan dengan perubahan. Mereka tanamkan ajaran berbahaya itu kepada anak cucu mereka dan kepada orang yang masuk agama mereka. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang masih memiliki komitmen terhadap Musa As ( al-Maidah: 59dan 62). Di antara mereka ada golongan pertengahan (al-Maidah: 66).

    Kehancuran Yahudi

    Hadits di atas mengajarkan kepada kita untuk merancang masa depan, sekalipun masa depan itu sesuatu yang ghaib. Dan yang bisa mengetahui hal-hal ghaib, hanyalah Allah. (QS. an-Naml: 65). Tetapi Allah mempunyai sunnatullah yang berlaku pada diri manusia. Ungkapan hadits di atas menjelaskan, peperangan yang akan terjadi bukanlah peperangan lokal antara orang Yahudi dan Muslim Palestina. Tetapi awal peperangan terhadap Yahudi yang sekarang mendominasi dunia. Apabila terjadi pertarungan global dan ummat Islam memperoleh kemenangan sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah saw, maka akan mengubah sejarah para penguasa Yahudi di dunia. Bila terjadi kekalahan, maka tidak ada lagi satu kekuasaanpun yang tertinggal untuk orang Yahudi di dunia. Ketika itu kepemimpinan dunia akan berubah dengan konsep lain yang sesuai dengan fitrah manusia.

    Jahiliyah modern sudah lama menyimpan berbagai penyakit karena mengingkari Allah dan akhirat. Dimana-mana terjadi penganiayaan, permusuhan, dekadensi moral, peperangan yang menghancurkan. Berbagai isme yang lain telah gagal dalam mengantarkan manusia modern menuju pintu gerbang kebahagiaan. Kini, manusia telah dijangkiti penyakit jiwa yang sangat akut. Mereka kehilangan harapan, kecewa, selalu dibayangi ketakutan dll. Mereka menunggu terwujudnya pandangan hidup yang bisa mencerdaskan akal, mencerahkan hati dan memperbaiki akhlaq mereka.

    Akan terjadi Nubuwwah padamu sesuai dengan kehendak Allah. Lalu Allah akan mengangkat (melenyapkan-Nya) jika Dia menghendakinya. Setelah itu, akan muncul khilafah yang sesuai dengan manhaj nubuwah. Maka sesuai dengan kehendak Allah, ia akan berada, lalu Allah akan melenyapkan jika Ia menghendaki. Kemudian akan datang raja yang zhalim. Maka iapun akan bercokol sesuai dengan kehendak-Nya. Kemudian akan ada raja yang tirani, maka iapun muncul sesuai dengan kehendak Allah, kemudian ia lenyap, jika Allah menghendaki. Baru setelah itu akan timbul kembali khilafah di atas manhaj nubuwah (HR. Ahmad dari Hdzaifah al-Yaman).

    Berbeda dengan sebagian orang Muslim, orang-orang Yahudi yakin dengan prediksi Rasulullah itu. Sampai hari ini, mereka memperbanyak menanam pohon ghorqod di kebun-kebun mereka. Mereka mengambil pengalaman dari berbagai peperangan dengan kaum muslimin pada masa Rasulullah ataupun masa intifadhah akhir-akhir ini. Pengalaman itu membuat Yahudi berusaha menghadang lajunya gerakan Islam di dunia. Harap tahu saja, simbol Yahudi internasional yang berbentuk seperti garpu, itu sesungguhnya simbol pohon ghorqod.

    Yang menjadi catatan, apakah peperangan di bumi Baitul Maqdis merupakan cikal bakal peperangan global Yahudi melawan Islam? Apalagi Yahudi dari berbagai belahan dunia telah berkumpul di satu tempat, sehingga mudah dihancurkan. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui kapan terjadinya peperangan yang menentukan nasib terakhir kaum Yahudi itu.

    Yang terpenting bagi ummat Islam sekarang adalah melakukan i’dad dan berjihad melawan Yahudi. Nash syariah dan bukti sejarah menunjukkan, perang melawan kekufuran akan senantiasa berlanjut. (QS. al-Baqarah 120 dan 109, Ali-Imran: 118). Sehingga Allah akan menolong ummat Islam, bila mereka memenuhi persyaratan untuk ditolong. Kita hanya bisa berdoa dan bekerja keras dalam menegakkan syariat di bumi. Keputusan terakhir kita serahkan kepada Allah. `Alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.• (Penulis, kontributor Suara Hidayatullah, Kudus, Jawa Tengah)

    ***

    Diambil dari Majalah Suara Hidayatullah, Edisi Khusus Milad Ke-14 Mei 2002

     
  • erva kurniawan 8:19 am on 20 December 2013 Permalink | Balas  

    sholat-dhuhaSudahkah Anda Menunaikan Sholat Dhuha?

    Sholat ini cukup hanya 2 (dua) rakaat dengan doa yang amat indah dan menyejukkan. Waktunya sangat panjang, mulai suruq (habisnya waktu subuh) sampai dengan menjelang masuk waktu dhuhur – logikanya pasti bisa menunaikannya. Namun di-muakkadkan (dianjurkan dengan sangat) untuk dilaksanakan sebelum kita memulai pekerjaan kita. Sehingga niat kita bekerja adalah semata-mata bernilai ibadah. Dengan demikian pekerjaan kita, InsyaAllah, akan mendapat ridho dari Allah SWT. Amiin.

    Lihat dan saksikanlah (harap diartikan menjadi saksi atas keindahan dan kesejukan) doa dhuha ini – masyaaalloh – sbb. (terjemahan) :

    Ya Allah, bahwasannya waktu dhuha itu adalah waktuMU, dan keagungan itu adalah keagunganMU, dan keindahan itu adalah keindahanMU, dan kekuatan itu adalah kekuatanMU, dan perlindungan itu adalah perlindunganMU, Ya Allah, jika rizkiku masih di atas langit, maka turunkanlah, jika masih di dalam bumi, maka keluarkanlah, jika masih sukar, maka mudahkanlah, jika (ternyata) haram, maka sucikanlah, jika masih jauh, maka dekatkanlah, Berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaanMU, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hambaMU yang sholeh. Amiin Ya Robbal Alamiin.

    **

    Bila anda tidak dapat membaca teks Arab-nya waktu berdoa, bacalah teks Indonesianya saja secara khusu’ dan tawaddhu’ (dengan kerendahan hati). InsyaAllah kita akan menjadi orang yang :

    1. Tawaddhu’ [penuh dengan kerendahan hati alias tidak sombong (tinggi hati) – apapun pangkat dan kedudukan kita.

    2. Percaya bahwa bekerja itu adalah bernilai ibadah, sehingga apapun yang menjadi tugas kita, seberat apapun, insyaalloh, akan mendapat ridho dan pertolongan dari Allah SWT.

    3. Percaya segala sesuatu di dunia ini ada yang Maha dari segala-galanya.

    4. Dihapuskan segala dosa meskipun dosa itu sebesar buih lautan. (Al-hadist). InsyaAllah !!!

    Demikianlah dan semoga risalah kecil ini akan menjadi “sesuatu yang dapat menggugah” kita utk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

    Jazakumulloh khoiron katsiro. Wass. Wr. Wb.

    Note: Risalah ini akan membawa nilai tambah sebagai amal, bila anda teruskan juga kepada sahabat-sahabat anda dan saudara-saudara anda !

     
  • erva kurniawan 8:17 am on 19 December 2013 Permalink | Balas  

    quran-tasbihMemelihara Diri dari Kezaliman

    ”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-Nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat biji zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-Nya pula.” (QS. Al-Zalzalah:7-8)

    Dari ayat di atas, maka dapat kita ambil hikmah. Betapa Allah SWT telah mengajarkan kepada manusia agar bersikap peka, meski terhadap hal yang teramat kecil sekalipun. Memang, sesungguhnya Islam sangat menekankan agar kita memperhatikan hal-hal kecil bahkan detail dalam hidup kita. Saudaraku, kepekaan memang sudah selayaknya terasah dalam setiap gerak langkah hidup kita. Sudah saatnya kita kita perhatikan, jangan-jangan sikap, perilaku, tindakan, atau kata-kata kita menzalimi orang lain.

    Banyak di antara manusia yang kurang menyadari bahwa dirinya kerap kali berlaku zalim terhadap sesamanya. Hal ini terjadi sekurang-kurangnya disebabkan oleh dua alasan.

    1. Kita kurang memiliki tingkat kepekaan yang bagus ketika hendak melakukan sesuatu.

    Dalam bertindak seringkali tidak diawali dengan pertimbangan, apakah orang lain akan terlukai perasaannya atau tidak dengan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan kita itu? Atau sekurang-kurangnya apakah orang lain bisa memaklumi tindakan kita atau tidak?

    2. Kita hanya memahami gambaran tentang makna kata ‘zalim’ atau ‘aniaya’ itu dalam konteks yang lebih besar.

    Misalnya, ketika Belanda dan Jepang menjajah tanah air, maka didapati kenyataan sejarah bahwa rakyat Indonesia ketika itu telah dizalimi oleh kaum penjajah. Sejarah pun telah mencatat tindakan raja Fir’aun yang amat sewenang-wenang terhadap rakyatnya, sehingga dia dikenal sebagai penguasa yang zalim. Demikian pun media massa sering menyampaikan informasi betapa rakyat kecil berada dalam posisi teraniaya karena tanah dan rumahnya telah dirampas dan digusur oleh pihak lain.

    Nah, di sisi lain kita mungkin sudah seharusnya menyadari bahwa kezaliman pun bisa terjadi dalam hal-hal kecil pada kehidupan kita. Misalnya, suatu ketika kita masuk ke kamar mandi lalu secara tidak sengaja kita menyenggol sikat gigi milik teman sehingga terlempar ke lubang kloset. Mungkin kita hanya akan mengambilnya, lalu disimpan kembali di tempat semula tanpa dicuci terlebih dahulu. Apalah jadinya jika kemudian si empunya sikat gigi tersebut memakainya. Tentu, secara tidak langsung kita sebagai orang yang tahu, telah membiarkan sikat gigi kotor itu digunakan.

    Di sinilah sebenarnya tingkat kepekaan kita diuji. Adakah dengan tindakan kita seperti itu lantas orang lain tidak merasa dizalimi? Atau kita mengira ia bisa memakluminya, karena toh kita memang tidak sengaja. Padahal, tidakkah kita menyadari bahwa perilaku seperti itu sebenarnya tindakan zalim juga? Suatu tindakan yang sebenarnya akan potensial sekali menghalangi datangnya pertolongan Allah. Hendaknya hal-hal yang tampaknya sepele ini tidak lagi menjadi bagian dari perilaku kita jika memang kita ingin semakin dekat kepada Allah.

    Tidak heran kalau sahabat Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib ketika mengajak para laki-laki muslim untuk berperang di jalan Allah, beliau terlebih dahulu bertanya, ”Bagaimana kalau ada pihak musuh yang menyerah? Apa yang akan engkau lakukan?”

    Seseorang spontan menjawab, ”Habisi saja!”

    Kemudian Ali bin Abi Thalib berkata dengan tegas, ”Kalau begitu engkau jangan ikut bertempur!”

    Mengapa Ali bin Abi Thalib melarang? Sebab orang tersebut masih memiliki bibit-bibit zalim yang bisa mengakibatkan tidak akan datangnya pertolongan Allah, karena pertempuran tersebut bersatu dengan kezaliman. Bagaimana mungkin berjihad di jalan Allah seraya ada kezaliman di dalamnya kendati mungkin hanya dilakukan oleh satu orang saja?

    Dalam kisah lain, kita pun masih ingat ketika Ali bin Abi Thalib bertarung mati-matian menghadapi lawan dalam suatu peperangan. Pada saat musuhnya berhasil dilumpuhkan dan hendak beliau tebas dengan pedangnya, tiba-tiba si musuh tersebut meludahi wajah Ali. Lalu dengan serta-merta beliau mengurungkan serangan pedangnya.

    Tentu saja, melihat sikap Ali tersebut sang musuh menjadi heran, lalu bertanya, ”Mengapa engkau tidak jadi membunuhku, hai Ali?”

    Ali bin Abi Thalib menjawab, ”Karena aku khawatir apabila aku jadi membunuhmu itu bukan karena Allah, melainkan karena kebencianku akibat engkau meludahi mukaku!” Subhanallah, begitu luhur dan mulianya motivasi beliau berperang. Bebas dari kezaliman.

    Semoga Allah melindungi kita dari perilaku mengabaikan hal-hal yang tampak sepele. Mudah-mudahan kita dapat mengikuti teladan Rasulullah, yang selalu memperhatikan hal-hal yang tampak kecil, yang menyebabkan beliau menjadi pribadi besar sepanjang zaman. Wallahu a’lam.

    ***

    (Diambil dari tulisan Aa Gym, kolom Refleksi Republika)

     
  • erva kurniawan 7:43 am on 17 December 2013 Permalink | Balas  

    perjalananRenungan: Orang Beruntung

    Ketika seorang bayi menjerit kelaparan, disertai ratapan ibunya yang tidak bisa berbuat apa-apa selain berdo’a dan penuh harap… Ketika seorang bapak jatuh bangun banting-tulang untuk mendapatkan sesuatu yang halal dalam memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga… Kepedulian terhadap sesama ummat manusia yang bisa diberikan kepadanya tidak juga ia dapatkan. Masing-masing orang sibuk dengan urusannya…

    Apakah bagi sebagian orang yang hidup dengan tingkat ekonomi lebih baik, ada sedikit rasa iba jika di lingkungannya masih ditemukan segelintir orang yang masuk dalam kelompok fakir miskin, yatim piatu, dan lain-lain? Adakah orang-orang yang memiliki kemampuan dan kekuasaan membantu merubah nasib orang lain?

    Dalam keadaan masyarakat yang penuh dengan ketidakpastian dalam segala hal, figur seseorang yang awalnya bisa diharapkan (karena tidak ada pilihan lain) menjadi seorang pemimpin dan bahkan berjanji akan merealisasikan harapan sebagian besar orang yang dipimpinnya, malah diluar dugaan menjadi bumerang dan sumber dari segala sumber masalah. Inkonsistensi serta ketidaktegasan dalam menjalankan roda kepemimpinannya, mengakibatkan banyak opini yang menyebutkan bahwa perdebatan karena perbedaan pendapat yang terjadi diantara para pembantu dan orang terdekatnya dapat menciptakan krisis moral yang mengawali terbentuknya mental-mental korupsi, kolusi, dan nepotisme disetiap sudut-sudut instansi pemerintah maupun swasta dari tingkatan yang paling atas sampai pada tingkat cleaning service.

    Hal itu sebenarnya juga disadari oleh mereka yang sedang “bermain” dengan jabatan, harta, dan kekuasaan yang dimiliki. Tetapi mereka berdalih bahwa tujuan duniawi yang sedang mereka kejar adalah semata-mata agar terhindar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Namun hanya sebagian kecil dari mereka menyadari bahwa sebenarnya yang mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi adalah mental dan moral mereka sendiri yang mengambil kebijakan untuk kepentingan mereka sendiri. Namun mereka juga tetap tidak peduli.

    Seandainya pemimpin tersebut berniat karena Allah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat yang sudah hampir punah dengan memanfaatkan kondisi dan situasi yang sifatnya nasional atau bahkan internasional untuk menetapkan kebijakan yang dapat mengangkat derajat dan martabat serta harga diri para pengikutnya. Insya Allah, dukungan yang semula sirna akan kembali bersinar. Dan jalan menuju tahta yang lebih baik dengan kepimpinan yang islami akan mudah dicapai. Karena yakinlah bahwa setelah ada kesulitan maka akan ditemukan kemudahan.

    Tetapi jika hal tersebut datas dilakukan dengan niat dan tujuan agar setelah moment untuk mengembalikan kepercayaan tersebut dapat dipilih kembali dan mengulangi lagi penderitaan rakyat serta membentukan mental dan moral KKN atau bahkan lebih parah lagi. Percayalah, bahwa tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari Allah, baik yang ada di bumi maupun ada di langit. Jikalau memang ada niatan seperti itu, besar kemungkinan bahwa prestasi yang akan selalu digembar-gemborkan dengan bangga dan sangat gigih hingga pada saat pemilihan nanti adalah kebijakan yang bersifat nasional atau internasional seperti yang disebutkan diatas sebelumnya. Mengenai tindakannya yang sengaja menyengsarakan rakyat akan berusaha sekuat mungkin untuk disembunyikan. Alangkah beruntungnya pemimpin seperti itu, bisa mengambil simpati serta keuntungan dari orang yang telah ditindas untuk kemudian ditindas kembali atas kepemimpinannya untuk yang kesekian kalinya.

    Hanya Allah tempat kita bersandar, kepada Dialah kita memohon pertolongan. Karena sesungguhnya manusia itu tidak pernah akan merugi jika beriman kepadaNya. Janganlah berpikir kehidupan duniawi itu lebih baik dari kehidupan akhirat, karena dunia hanyalah merupakan fasilitas bagi manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dihari akhir nanti.

    Niatlah dan berbuatlah untuk kebahagiaan semua ummat dengan membagi kepedulian kita kepada orang lain, selagi kita bisa dan beruntung…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:24 am on 16 December 2013 Permalink | Balas  

    wanita sholehahSampaikanlah Kepada Wanita

    1. Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 orang wali.
    2. Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 lelaki soleh.
    3. Seorang wanita yang jahat adalah lebih buruk daripada 1,000 lelaki yang jahat.
    4. 2 rakaat sholat dari wanita yang hamil adalah lebih baik daripada 80 rakaat sholat wanita yang tidak hamil.
    5. Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya daripada badannya (susu badan) akan dapat satu pahala daripada tiap-tiap titik susu yang diberikannya.
    6. Wanita yang melayani dengan baik suami yang pulang ke rumah di dalam keadaan letih akan mendapat pahala jihad.
    7. Wanita yang habiskan malamnya dengan tidur yang tidak nyenyak kerana menjaga anaknya yang sakit akan mendapat pahala seperti membebaskan 20 orang hamba.
    8. Wanita yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suami yang melihat isterinya dengan kasih sayang akan dipandang Allah dengan penuh rahmat.
    9. Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumahtangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal daripada suaminya, akan menjadi ketua 70,000 malaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat daripada yakut.
    10. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari kerana menjaga anak yang sakit akan diampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan bila dia hiburkan hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadat.
    11. Wanita yang memerah susu binatang dengan “bismillah” akan didoakan oleh binatang itu dengan doa keberkatan.
    12. Wanita yang mengolah tepung gandum dengan bismillah”, Allah akan berkatkan rezekinya.
    13. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti meyapu lantai di baitullah.
    14. Wanita yang menjaga sholat, puasa dan taat pada suami, Allah akan mengizinkannya untuk memasuki syurga dari mana-mana pintu yang dia suka.
    15. Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari.
    16. Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadat pada malam hari.
    17. Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun sholat dan puasa dan setiap kesakitan pada satu uratnya Allah mengaruniakan satu pahala haji.
    18. Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia akan dikira sebagai mati syahid.
    19. Jika wanita melayani suami tanpa khianat akan mendapat pahala 12 tahun sholat.
    20. Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempoh (2 1/2 tahun), maka malaikat-malaikat di langit akan kabarkan berita bahwa syurga wajib baginya.
    21. Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah akan memberi pahala satu tahun sholat dan puasa.
    22. Jika wanita memijit suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 tola emas dan jika wanita memijit suami bila disuruh akan mendapat pahala tola perak.
    23. Wanita yang meniggal dunia dengan keredaan suaminya akan memasuki syurga.
    24. Jika suami mengajarkan isterinya satu masalah akan mendapat pahala 80 tahun ibadat.
    25. Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah di akhirat, tetapi Allah akan datang sendiri kepada wanita yang memberati auratnya yaitu memakai purdah di dunia ini dengan istiqamah.

    ***

    Dipetik daripada Bayan Mastura Oleh Syed Ahmad Khan

     
  • erva kurniawan 7:09 am on 14 December 2013 Permalink | Balas  

    hidayah-allahKasih Sayang Allah

    Sabda Rasullullah yang bermaksud: “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, nescaya Ia bukakan kunci hatinya dan mengisikannya dengan keyakinan dan kepercayaan yang kukuh, Ia jadikan hatinya waspada terhadap liku-liku hidup yang dijalaninya, Ia jadikan hatinya sihat sejahtera dan lidahnya berkata benar dan perangainya baik/mulia dan Ia jadikan telinganya mendengar dan matanya melihat yang baik” (diriwayatkan oleh Abu Syeikh dari Abi Zam)

    URAIAN :

    Tanda-tanda seseorang manusia itu sedang dibimbing Allah ke arah jalanNya yang lurus atau kearah agama Nya yang suci ialah : Allah membuka pintu hatinya dan membedakan segala hijab-hijab kelalaian dan kejahilan, kemudahan hati yang terbuka itu dipancarkan dengan cahaya iman,cahaya cintakan Allah dan cahaya ma’rifatNya yang suci.

    Kemudian hati yang dipancarkan dengan kecintaan dan ma’rifat itu akan dihiasi pula dengan kayakinan dan kepercayaan yang kukuh dan utuh, dan tidak tergoncang oleh fitnah-fitnah dunia.

    Kemudian hati yang iman, ma’rifat, keyakinan dan kepercayaan kukuh akan dijadikan Allah begitu hati-hati, waspada dan sensitif dalam setiap langkah hidup yang dijalani hingga ia terselamat dari noda- noda dosa dan nafsu-nafsu penyelewengan dan ia juga begitu sedar dan teliti dengan segala ajaran-ajaran Allah.

    Allah jadikan hatinya yang penuh iman, ma’rifat, keyakinan dan kesedaran itu sihat sejahtera dari penyakit-penyakit hasat dengki, ria’, takbur, dendam, marah, rasa perseteruan, was-was, keraguan dan sebagainya dari penyakit-penyakit jiwa yang menyeksa dan menghilangkan ketenteraman manusia.

    Sebagai kesan dari pembinaan iman dan ma’rifat yang kukuh dalam hati seseorang, ia akan menjadi seseorang yang sentiasa berkata benar dan berani memperkatakan kebenaran walau dimana sahaja berada. Kesan dari pembinaan dan ma’rifat itu juga Allah kurniakan kepadanya telinga yang sentiasa cintakan ajaran dan nasihat yang benar dan serentak dengan itu Allah kurniakan kepada matanya yang tajam yang dapat melihat rahsia-rahsia dan hikmat-hikmat ketuhanan disebalik kejadian Allah dengan penelitian batin yang mendalam.

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 13 December 2013 Permalink | Balas  

    siluet-wanitaWanita

    Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, “Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia”.

    Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

    Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.

    Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

    Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

    Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah.

    Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis kerana takutkan Allah dan orang yang takutkan Allah, akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

    Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail.

    Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun). Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.

    Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh. Aisyah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab Rasulullah, “Suaminya. “Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah, “Ibunya”.

    Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

    Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung diudara,malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya.

    Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

    Syurga itu di bawah tapak kaki ibu. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga.

    Daripada Aisyah r.a. Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka. Jadi, janganlah sesekali kita merasa lemah. Wanitalah sebenarnya yang membuat seseorang lelaki itu kuat. Itulah salah satu sebab mengapa Nabi meletakkan wanita setaraf pada lelaki dan tidak lebih rendah. Buat renungan kita semua.

    Wassalam

    ***

    Oleh Sahabat: Seno

     
  • erva kurniawan 2:09 am on 12 December 2013 Permalink | Balas  

    Kisah cinta Laila MajnunBermesraan Ala Rasulullah

    Bermesraan, itulah yang membuat hubungan suami-istri terasa indah dan nikmat. Caranya? Coba perhatikan uraian berikut ini.

    Dalam berkomunikasi, ada dua jenis lambang yang bisa dipergunakan, yaitu lambang verbal dan lambang non verbal. Menurut penelitian Profesor Birdwhistell, maka nilai efektifitas lambang verbal dibanding non verbal adalah 35:65. Jadi, justru lambang non verbal yang lebih efektif dalam menyampaikan pesan.

    Bermesraan, adalah upaya suami istri untuk menunjukkan saling kasih sayang dalam bentuk verbal. Sentuhan tangan dan gerak tubuh lainnya, adalah termasuk lambang non verbal ketika suami berkomunikasi dengan istrinya. Komunikasi verbal semata belumlah efektif jika belum disertai oleh komunikasi non verbal, dalam bentruk kemesraan tersebut.

    Rasulullah saw pun merasakan pentingnya bermesraan dengan istri, sehingga beliau pun mempraktekkannya untuk menghias hari-hari dalam keluarganya, yang tecermin seperti dalam hadis-hadis berikut:

    1. Tidur dalam satu selimut bersama istri

    Dari Atha’ bin Yasar: “Sesungguhnya Rasulullah saw dan ‘Aisyah ra biasa mandi bersama dalam satu bejana. Ketika beliau sedang berada dalam satu selimut dengan ‘Aisyah, tiba-tiba ‘Aisyah bangkit. Beliau kemudian bertanya, ‘Mengapa engkau bangkit?’ Jawabnya, ‘Karena saya haidh, wahai Rasulullah.’ Sabdanya, ‘Kalau begitu, pergilah, lalu berkainlah dan dekatlah kembali kepadaku.’ Aku pun masuk, lalu berselimut bersama beliau.” (HR Sa’id bin Manshur)

    2. Memberi wangi-wangian pada auratnya

    ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya Nabi saw apabila meminyaki badannya, beliau memulai dari auratnya dan mengolesinya dengan nurah (sejenis bubuk pewangi), dan istrinya meminyaki bagian lain seluruh tubuhnya. (HR Ibnu Majah)

    3. Mandi bersama istri

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Aku biasa mandi bersama dengan Nabi saw dengan satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bejana).” (HR ‘Abdurrazaq dan Ibnu Abu Syaibah)

    4. Disisir istri

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya biasa menyisir rambut Rasulullah saw, saat itu saya sedang haidh”.(HR Ahmad)

    5. Meminta istri meminyaki badannya

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya meminyaki badan Rasulullah saw pada hari raya ‘Idul Adh-ha setelah beliau melakukan jumrah ‘aqabah.” (HR Ibnu Asakir)

    6. Minum bergantian pada tempat yang sama

    Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, “Saya biasa minum dari muk yang sama ketika haidh, lalu Nabi mengambil muk tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau minum, kemudian saya mengambil muk, lalu saya menghirup isinya, kemudian beliau mengambilnya dari saya, lalu beliau meletakkan mulutnya pada tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau pun menghirupnya.” (HR ‘Abdurrazaq dan Sa’id bin Manshur)

    7. Membelai istri

    “Adalah Rasulullah saw tidaklah setiap hari melainkan beliau mesti mengelilingi kami semua (istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampiri dan membelai kami dengan tidak mencampuri hingga beliau singgah ke tempat istri yang beliau giliri waktunya, lalu beliau bermalam di tempatnya.” (HR Ahmad)

    8. Mencium istri

    Dari ‘Aisyah ra, bahwa Nabi saw biasa mencium istrinya setelah wudhu’, kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi wudhu’nya.”(HR ‘Abdurrazaq)

    Dari Hafshah, putri ‘Umar ra, “Sesungguhnya Rasulullah saw biasa mencium istrinya sekalipun sedang puasa.” (HR Ahmad)

    9. Tiduran di Pangkuan Istri

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Nabi saw biasa meletakkan kepalanya di pangkuanku walaupun aku sedang haidh, kemudian beliau membaca al- Qur’an.” (HR ‘Abdurrazaq)

    10. Memanggil dengan kata-kata mesra

    Rasulullah saw biasa memanggil Aisyah dengan beberapa nama panggilan yang disukainya, seperti ‘Aisy, dan Humaira (pipi merah delima).

    11. Mendinginkan kemarahan istri dengan mesra

    Nabi saw biasa memijit hidung ‘Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, Wahai ‘Uwaisy, bacalah do’a: ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR. Ibnu Sunni)

    12. Membersihkan tetesan darah haidh istri

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Aku pernah tidur bersama Rasulullah saw di atas satu tikar ketika aku sedang haidh. Bila darahku menetes ke tikar itu, beliau mencucinya di bagian yang terkena tetesan darah dan beliau tidak berpindah dari tempat itu, kemudian beliau shalat di tempat itu pula, lalu beliau berbaring kembali di sisiku. Bila darahku menetes lagi ke tikar itu, beliau mencuci di bagian yang terkena darah itu saja dan tidak berpindah dari tempat itu, kemudia beliau pun shalat di atas tikar itu.” (HR Nasa’i)

    13. Bermesraan walau istri haidh

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya biasa mandi bersama Rasulullah saw dengan satu bejana, padahal kami sama-sama dalam keadaan junub. Aku biasa menyisir rambut Rasulullah ketika beliau menjalani i’tikaf di masjid dan saya sedang haidh. Beliau biasa menyuruh saya menggunakan kain ketika saya sedang haidh, lalu beliau bermesraan dengan saya.” (HR ‘Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah)

    14. Memberikan hadiah

    Dari Ummu Kaltsum binti Abu Salamah, ia berkata, “Ketika Nabi saw menikah dengan Ummu Salamah, beliau bersabda kepadanya, Sesungguhnya aku pernah hendak memberi hadiah kepada Raja Najasyi sebuah pakaian berenda dan beberapa botol minyak kasturi, namun aku mengetahui ternyata Raja Najasyi telah meninggal dunia dan aku mengira hadiah itu akan dikembalikan. Jika hadiah itu memang dikembalikan kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu.”

    Ia (Ummu Kultsum) berkata, “Ternyata keadaan Raja Najasyi seperti yang disabdakan Rasulullah saw, dan hadiah tersebut dikembalikan kepada beliau, lalu beliau memberikan kepada masing-masing istrinya satu botol minyak kasturi, sedang sisa minyak kasturi dan pakaian tersebut beliau berikan kepada Ummu Salamah.” (HR Ahmad)

    15. Segera menemui istri jika tergoda.

    Dari Jabir, sesungguhnya Nabi saw pernah melihat wanita, lalu beliau masuk ke tempat Zainab, lalu beliau tumpahkan keinginan beliau kepadanya, lalu keluar dan bersabda, “Wanita, kalau menghadap, ia menghadap dalam rupa setan. Bila seseorang di antara kamu melihat seorang wanita yang menarik, hendaklah ia datangi istrinya, karena pada diri istrinya ada hal yang sama dengan yang ada pada wanita itu.” (HR Tirmidzi)

    Begitu indahnya kemesraan Rasulullah saw kepada para istrinya, memberikan gambaran betapa Islam sangat mementingkan komunikasi non verbal ini, karena bahasa tubuh ini akan lebih efektif menyatakan cinta dan kasih sayang antara suami istri. Nah, silakan mencoba. ·

    ***

    From : Cathy, Didik L Kuntadi – eramuslim

    Diambil dari milis Faktual

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 11 December 2013 Permalink | Balas  

    hidayah-allahHidup Di Bawah Naungan Tauhid

    Sering orang bertanya, “Apakah Allah itu ada?” “Dimana Allah?” Keberadaan Allah hanya bisa kita akui bila kita memiliki landasan tauhid yang benar. Allah memang tidak menampakkan wujudnya, tapi Allah dengan segala sifatnya dapat kita rasakan keberadaan-Nya. Kejelasan tauhid akan tergambar dari kalimat syahadat yang kita ucapkan. Dari kalimat ini akan terjalin hubungan yang harmonis, penuh kecintaan kepada Allah. Kecintaan kepada Allah akan melahirkan pengorbanan kepada-Nya untuk berjuang di jalan-Nya, melaksanakan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya.

    Zat Allah lebih besar dari apa yang kita perkirakan. Manusia tidak akan sanggup memikirkan zat Allah. Allah berfirman, “katakanlah Dia- lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada- Nya segala sesuatu.” (QS.112:1-2)

    “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS.6:103)

    Tauhid yang murni hanya akan tercapai bila kita mengenal hakekat penciptaan kita, begitu juga dengan zat yang menciptakan kita. Betapa indah hidup di bawah naungan kasih sayang dan belain Allah. Namun banyak diantara kita sulit untuk memurnikan tauhidnya, karena selain tidak kenal dengan Allah, mereka masih menyekutukan Allah dengan tandingan-tandingan yang lain.

    Tak kenal maka tak sayang, begitu orang mengatakan. Tidak kita akan pernah tahu siapa Einstein jika kita belajar ilmu Fisika, kita tidak akan mengenal Jendral Sudirman jika kita tak belajar sejarah, kita juga tidak akan mungkin kenal Ronaldo kalau kita tidak mengenal sepak bola. Begitu juga dengan Allah. Bagaimana mungkin kita akan merasakan keindahan bertauhid kepadanya jika “kreasi” Allah tidak pernah kita baca dan pikirkan.

    Kita bisa lihat kreasi Allah denga kasat mata. Tidak perlu ke gunung, lembah atau pantai. Pandangi saja diri kita. Renungkan mata yang elok ini, subhanallah kenapa mata yang berdiameter kecil ini bisa mengantarkan kita melihat indahnya dunia, alangkah meruginya manusia jika mata ini buta. Hidung yang sempurna bertengger di wajah mampu menghirup udara segar, tanpa indra kecil itu tentulah kita tidak bisa bernafas. Subahanallah, mampukah kita membuat penggantinya, bila salah satu indera kita itu tidak berfungsi?

    Secara tekstual, kreasi Allah itu adalah Al-Quran. Ialah pedoman hidup yang banyak ditinggalkan kaum muslimin sekarang ini, akibatnya banyak kaum muslimn yang kehilangan arah. Padahal Sayyid Qurb dalam tafsir fi-zilalnya yang puitis dan romantis itu mengatakan, “Hidup di bawah naungan Al-Quran merupakan suatu kenikmatan. Kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah mereguknya. Kenikmatan yang mengangkat, memberkati dan mensucikan umur kehidupan…”

    Jadi, kembalilah kepada Al-Quran. Jadikan ia sebagai pegangan utama kita, bacaan pertama yang kita baca sebelum koran terhidang. Petunjuk hidup, jalan keselamatan. Lantunan ayat suci Al-quran saja telah membuat hati tentram, apa lagi hikmah yang terkandung di dalamnya.

    Wallahu ‘a’lam bishshowaab

    ***

    eramuslim – Yesi Elsandra, Untuk orang-orang yang telah menunjukkan jalan terang

     
  • erva kurniawan 3:25 am on 9 December 2013 Permalink | Balas  

    Tinggal Pilih Seperti Apa Kita di Hari Kiamat… 

    kiamat94Tinggal Pilih! Seperti Apa Kita di Hari Kiamat

    Pada hari kiamat keadaan manusia berbeda-beda satu sama lainnya. Ada yang tertunduk penuh penyesalan atas segala kebodohan yang selama ini mereka perbuat, ada juga yang bergembira dan berseri- seri, sebab hari kiamat merupakan awal perjumpaan mereka dengan Rabbnya.

    Keadaan Orang-orang kafir dan yang mengingkari Allah.

    Orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, mereka yang bergelimang maksiat dan tidak memperdulikan hukum-hukum Allah, pada hari kiamat akan merasakan penyesalan yang amat sangat. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan kecuali menunduk, menyesali dosa-dosa yang ada. “(Yaitu) hari mereka keluar dari kubur dengan segera bagaikan berlari menuju patung (atau tujuan), dengan pandangan menunduk. Mereka ditimpa kehinaan. Itulah hari yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS.Al-Ma’arij:43-44)

    Pada saat itu orang-orang kafir dan mereka yang tidak berjalan pada tali Allah merasakan kemalangan, mereka keluar dalam keadaan hina, keringat bercucuran deras, mata mereka melotot, jiwa mereka kosong. Orang kafir pada saat itu merasakan ketakutan yang amat sangat. Seluruh aib terbuka, dan mereka malu sendiri dengan segala yang telah diperbuatnya. Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang kafir, orang kaya yang hidup mewah tetapi tidak peduli dengan saudaranya yang miskin, pelanggar janji, koruptor, perampas tanah, bermuka dua, pemerintah yang dzhalim, pembohong, pezina, tidak melakukan ibadah yang wajib dan mereka yang gemar bermaksiat.

    Keadaan Orang-orang Sholeh

    Berbeda dengan orang kafir dan mereka yang mengabaikan hukum-hukum Allah, orang-orang sholeh pada hari itu tidak mengalami ketakutan. Ketika bangkit dari kubur mereka disambut oleh para malaikat yang menenangkan perasaan dan menentramkan hati mereka. Mereka mendapatkan naungan dari Allah.

    “Hai hamba-hambaKu, hari ini kalian tidak takut dan tidak bersedih, (yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan berserah diri.” (QS. Az-Zukhruf:68-69)

    Siapakah mereka ini? Merekalah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Allah, yang mengendalikan jiwanya dengan kendali taqwa dan menahan hawa nafsunya, sehingga ia hidup dengan suci dan bersih. Diantara mereka ada juga orang yang memakmurkan mesjid, orang yang saling mencintai dan membenci karena Allah, orang yang bersedekah dengan ikhlas dan orang-orang yang dalam hatinya dipenuhi rasa takut kepada Allah, dikala berzikir sendirian air mata adalah teman yang menemani kesendiriannya.

    Sahabat semua, dimanakah posisi kita pada saat itu? Kita bebas memilih dan menentukan apakah ingin menjadi orang yang tertunduk dan terhina, atau menjadi orang yang disambut oleh malaikat yang akan memberikan ketenangan dan ketentraman?

    ***

    Maroji’: Kiamat besar oleh Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar – eramuslim

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 29 November 2013 Permalink | Balas  

    wanita15 Dosa di Kepala Wanita

    1. Tidak berhijab (menutup aurat).

    Allah berfirman, yang artinya: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu , anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:”Hendakl ah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, kerana itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”

    (QS. Al-Ahzab: 59).

    “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur: 24).

    2. Menyambung rambut / memakai konde.

    Dari Asma’ binti Abi Bakr, ada seorang perempuan yang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Telah kunikahkan anak gadisku setelah itu dia sakit sehingga semua rambut kepalanya rontok dan suaminya memintaku segera mempertemukannya dengan anak gadisku, apakah aku boleh menyambung rambut kepalanya. Rasulullah lantas melaknat perempuan yang menyambung rambut dan perempuan yang meminta agar rambutnya disambung” (HR Bukhari-Muslim)

    3. Mewarnai / menyemir rambut dengan warna hitam.

    Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada akhir zaman nanti akan muncul suatu kaum yang bersemir dengan warna hitam seperti tembolok merpati. Mereka itu tidak akan mencium bau surga.” (HR. Abu Daud)

    Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Pada hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) datang dalam keadaan kepala dan jenggotnya telah memutih (seperti kapas, artinya beliau telah beruban). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim).

    4. Mencabut uban.

    Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, melainkan uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat nanti.” (HR. Abu Daud)

    5. Memakai bulu mata palsu.

    Fatwa: “…Menurut kami, tidak diperbolehkan memasang bulu mata buatan (palsu) pada kedua matanya, kerana hal tersebut sama dengan memasang rambut palsu, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melaknat wanita yang memasang dan yang minta dipasangi rambut palsu. Jika Nabi telah melarang menyambungkan rambut dengan rambut lainnya (memasang rambut palsu) maka memasang bulu mata pun tidak boleh.

    Juga tidak boleh memasang bulu mata palsu kerana alasan bulu mata yang asli tidak lentik atau pendek. Selayaknya seorang wanita muslimah menerima dengan penuh kerelaan sesuatu yang telah ditakdirkan Allah dan tidak perlu melakukan tipu daya atau merekayasa kecantikan, sehingga tampak kepada sesuatu yang tidak dimilikinya, seperti memiliki pakaian yang tidak patut dipakai oleh seorang wanita muslimah…”

    6. Bertabarruj.

    Allah Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: “Dan janganlah kalian (para wanita) bertabarruj (keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu” [al-Ahzaab:33].

    7. Merenggangkan / mengikir gigi.

    Dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang mencukur alis, mengkikir gigi, menyambung rambut, dan mentato, kecuali kerana penyakit. (HR. Ahmad).

    Dari ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Semoga Allah melaknat orang yang mentato, yang minta ditato, yang mencabut alis, yang minta dikerok alis, yang merenggangkan gigi, untuk memperindah penampilan, yang mengubah ciptaan Allah. (HR. Bukhari)

    8. Membuat tatto. (Lihat point ke-7)

    9. Memakai jilbab gaul / tidak memenuhi syarat hijab.

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahkan telah memperingatkan kita dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:

    “Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya, yaitu suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor-ekor sapi betina yang mereka pakai untuk mencambuk manusia; wanita-wanita yang berpakaian (namun) telanjang, yang kalau berjalan berlenggak-leng gok menggoyang-goya ngkan kepalanya lagi durhaka (tidak ta’at), kepalanya seperti punuk-punuk unta yang meliuk-liuk. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak dapat mencium bau wanginya, padahal bau wanginya itu sudah tercium dari jarak sekian dan sekian.”

    (HR Muslim/HR Ahmad)

    10. Memakai rambut palsu.

    “Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan minta disambungkan rambutnya.” (HR. Bukhari-Muslim)

    11. Mencukur rambut menyerupai laki-laki atau wanita kafir.

    a. Potongan yang menyerupai potongan laki-laki maka hukumnya haram dan dosa besar, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kaum wanita yang menyerupai kaum pria. Sebagaimana disebutkan dalam hadis, dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, bahwa beliau mengatakan:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat kaum lelaki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai lelaki.” (HR Bukhari)

    b. Potongan yang menyerupai potongan khas wanita kafir, maka hukumnya juga haram, karena tidak boleh menyerupai orang-orang kafir. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibn Umar radliallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Siapa yang meniru-niru (kebiasaan) suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut” (HR Abu Daud)

    12. Mencukur / mencabut bulu alis. (Lihat point ke-7)

    13. Memakai lensa kontak berwarna untuk tabarruj.

    Syaikh Muhammad shalih Al-Munajjid hafidzahullah berkata: Kepada Fp Dzikir Cinta“…lensa kontak berwana untuk perhiasan (untuk bergaya). Maka hukumnya sama dengan perhiasan, jika digunakan untuk berhias bagi suaminya maka tidak mengapa.

    Jika digunakan untuk yang lain maka hendaknya tidak menimbulkan fitnah. Dipersyaratkan juga tidak menimbulkan bahaya (misalnya iritasi dan alergi pada mata, pent) atau menimbulkan unsur penipuan dan kebohongan misalnya menampakkan pada laki-laki yang akan melamar. Dan juga tidak ada unsur menyia-nyiakan harta (israaf) karena Allah melarangnya.”

    14. Operasi plastik untuk kecantikan.

    Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya, “Bagaimana hukum melaksanakan operasi kecantikan dan hukum mempelajari ilmu kecantikan?”

    Jawaban beliau,”Operasi kecantikan (plastik) ini ada dua macam. Pertama, operasi kecantikan untuk menghilangkan cacat yang kerana kecelakaan atau yang lainnya. Operasi seperti ini boleh dilakukan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan izin kepada seorang lelaki–yang terpotong hidungnya dalam peperangan–untuk membuat hidung palsu dari emas.

    Kedua, operasi yang dilakukan bukan untuk menghilangkan cacat, namun hanya untuk menambah kecantikan (supaya bertambah cantik). Operasi ini hukumnya haram, tidak boleh dilakukan, karena dalam sebuah hadis (disebutkan), ‘Rasulullah melaknat orang yang menyambung rambut, orang yang minta disambung rambutnya, orang yang membuat tato, dan orang yang minta dibuatkan tato.’ (HR Bukhari).

    15. Memakai kawat gigi untuk kecantikan / tabarruj.

    Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya, “Apa hukumnya memperbaiki gigi?” Syaikh menjawab, “Memperbaiki gigi ini dibagi menjadi dua kategori:

    Pertama, jika tujuannya supaya bertambah cantik atau indah, maka ini hukumnya haram. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang menata giginya agar terlihat lebih indah yang merubah ciptaan Allah. Padahal seorang wanita membutuhkan hal yang demikian untuk estetika (keindahan), dengan demikian seorang laki-laki lebih layak dilarang daripada wanita.

    Kedua, jika seseorang memperbaikinya karena ada cacat, tidak mengapa ia melakukannya. Sebagian orang ada suatu cacat pada giginya, mungkin pada gigi serinya atau gigi yang lain. Cacat tersebut membuat orang merasa jijik untuk melihatnya. Keadaan yang demikian ini dimaklumi untuk membenarkannya. Hal ini dikategorikan sebagai menghilangkan aib atau cacat bukan termasuk menambah kecantikan. Dasar argumentasinya (dalil), Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seorang laki-laki yang hidungnya terpotong agar menggantinya dengan hidung palsu dari emas, yang demikian ini termasuk menghilangkan cacat bukan dimaksudkan untuk mempercantik diri.”

    … Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:39 am on 28 November 2013 Permalink | Balas  

    cahaya-kebenaranLima Penyakit Masyarakat

    Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!

    Dalam suatu hadis dari Abdullah bin Umar ra berkata, “Rasulullah saw menghadap ke arah kami seraya bersabda, ‘Wahai kaum muhajirin, ada lima hal yang aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak menjumpainya: tidaklah menyebarkan perbuatan keji (zina) pada suatu kaum hingga mereka berterang-terangan melakukannya, melainkan mereka akan ditimpa wabah-wabah penyakit dan kelaparan yang belum menimpa orang-orang sebelum mereka; tidaklah suatu kaum yang mengurangi takaran, melainkan mereka akan ditimpa paceklik, sulit mendapat makanan, dan jahatnya penguasa; tidaklah suatau kaum yang enggan mengeluarkan zakat dari harta mereka, melainkan akan terhalang hujan dari langit, kalau saja bukan karena binatang, niscaya tidak diturunkan hujan; tidaklah suatu kaum mengingkari janji, melainkan Allah akan menguasakan atas mereka musuh-musuh yang bukan dari golongan mereka , mereka mengambil harta yang ada di tangan mereka. Dan, selama pemimpin-pemimpin mereka tidak menerapkan hukum Allah dan memilih-milih apa yang Allah turunkan di dalam kitab-Nya, niscaya Allah akan menjadikan kekerasan (keributan) di antara mereka’.” (HR. Ibnu Maajah dan Hakim).

    Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!

    Kita yang hidup pada zaman sekarang ini telah menemui apa-apa yang ditakutkan oleh Nabi saw dan para sahabatnya tentang lima perkara yang ada dalam hadis di atas. Nabi saw telah memberi rumusan kepada kita dengan jelas dan gamblang lima penyakit masyarakat yang dapat membawa kehancuran. Lima penyakit yang akan membawa azab, kerusakan dan kemurkaan Allah terhadap pelakunya, juga manusia yang hidup di sekitarnya. Maka, dalam kesempatan yang singkat ini, marilah kita kaji satu persatu apa rumusan itu, sehingga kita dapat mengetahuinya dan menghindar, jangan sampai terjadi pada diri kita, keluarga kita, lingkungan kita, atau dalam negara kita ini.

    Pertama, Perzinaan yang Tersebar dan Terang-terangan

    Kita tidak dapat menutup mata dari bentuk penyakit ini. Perzinaan dalam bentuk pelacuran, baik yang dilokalisasi ataupun yang ilegal, sudah merupakan kewajaran yang tidak wajar. Bahkan, pemerintah pun terkesan merasa diuntungkan dengan adanya bisnis esek-esek ini, yaitu dengan adanya pemasukan pajak. Padahal, akibat dari kegiatan atau perbuatan keji ini adalah sangat besar bagi masyarakat. belum lagi selesai penanganannya, akibat yang ditimbulkannya sudah sekian jauh menjalar dan menular ke pelosok-pelosok daerah dan tempat-tempat yang subur untuk praktek pelacuran ini. Yang lebih mengerikan lagi adalah bahwa perzinaan ini telah menimpa anak-anak di bawah umur, anak-anak kaum muslimin yang miskin dan jahil, anak-anak yang seharusnya duduk manis di bangku-bangku sekolah, anak-anak yang seharusnya tidak terbebani mencari nafkah. Berapa banyak surat kabar, TV dan media lainnya memberitakan kasus orang tua menjual anaknya menjadi pelacur untuk untuk menopang hidupnya. Anak-anak sebagai generasi penerus dan tulang punggung masa depan rusak dan terjerumus dalam lembah perzinaan yang akan menjadi penyesalan seumur hidup baginya. Di antara akibat yang telah nyata dan jelas adalah menyebarnya virus AIDS ke seluruh dunia.

    Maka, tungggulah apa yang terjadi jika kita hanya berpangku tangan dengan keadaan ini, sebab Allah menyatakan dalam firman-Nya yang bermakna, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al-Anfaal: 25)

    Benarlah apa yang dinyatakan Nabi saw, “Tidaklah menyebar perbuatan keji (zina) pada suatu kaum hingga mereka berterang-terangan melakukannya, melainkan mereka akan ditimpa wabah-wabah penyakit dan kelaparan yang belum menimpa orang-orang sebelum mereka.”

    Kedua, Penipuan terhadap Timbangan

    Karena keimanan yang lemah dan tidak percaya adanya jaminan rezeki dari Allah, membuat para pedagang dan usahawan berbuat curang, yaitu mengurangi timbangan. Perbuatan curang dalam hal ini kian membudaya. Banyak penjual yang menipu melalui timbangan dan takaran. Tidak ahanya penjual, pembeli pun ikut mencari celah untuk tidak dirugikan, bahkan kadang kala dengan bentuk penipuan lain terhadap pedagang.

    Allah sudah mengingatkan dalam firman-Nya yang artinya: “Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (Al- An’aam:152)

    Kecurangan dan penipuan dalam jual beli termasuk hal yang diharamkan Allah, dan merupakan suatu penyakit masyarakat yang membawa akibat yang buruk bagi masyarakat. Jika hal ini terus berlarut-larut di kalangan masyarakat atau di suatu negeri, maka tunggulah ancaman Allah sebagaimana yang dinyatakan Nabi saw, “Tidaklah suatu kaum mengurangi takaran, melainkan mereka akan ditimpa paceklik, sulit mendapat makanan dan jahatnya penguasa.” Kalau kita lihat dan rasakan keadaan kita sekarang, maka akan kita sadari bahwa kita dalam kondisi ini, entah sampai kapan penyakit dan akibat dari keadaan ini akan berlalu.

    Ketiga, Tidak Mau Menunaikan Zakat

    Ketimpangan sosial tidak akan selesai penanganannya dengan teori ekonomi apa pun dari manusia. Kita sudah lihat hasil dari sosialisme, leberalisme, dll. Allah telah membekali manusia dengan suatu bentuk solusi yang ampuh dan telah teruji pada zaman-zaman kejayaan khilafah Islamiyah. Zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz, orang -orang fakir miskin terangkat nasibnya sampai mereka menolak harta dari baitul mal. Pada saat ini jumlah orang kaya tidak sedikit, bahkan di antara mereka ada yang mempunyai gunung, pulau, dll. Mengapa fakir miskin semakin banyak dan tak terkendalikan? Karena, orang-orang yang mampu dan berhak membayar zakat semakin sedikit dan rapuh kesadarannya. Maka, tunggulah akibatnya yang dijanjikan Allah melalui lisan Nabi- Nya, “Tidaklah suatu kaum yang enggan mengeluarkan zakat dari harta mereka, melainkan akan terhalang hujan dari langit, kalau saja bukan karena binatang niscaya tidak akan diturunkan hujan.”

    Kalau sampai saat ini masih ada hujan, bahkan sampai banjir, maka kita jangan merasa bahwa masih banyak orang-orang kaya kita yang membayar zakat, tetapi masih banyak hewan-hewan di sekitar kita yang Allah masih kasihi dengan menurunkan hujan kepada mereka. Sebab, jika kita menyatakan banyaknya orang kaya yang membayar zakat, maka tandanya adalah hujan dan tidak adanya ketimpangan sosial.

    Keempat, Melanggar Janji Allah dan Rasul-Nya

    “Tidaklah suatu kaum mengingkari janji, melainkan Allah akan menguasakan atas mereka musuh-musuh yang bukan dari golongan mereka, mereka mengambil harta yang ada di tangan mereka.” Fenomena ini ada di berbagai negara Islam di dunia. Banyak negara-negara yang mayoritas Islam, ketika berjuang melawan penjajah dengan pekik Allah Akbar, dan berikrar menegakkan kalimat Allah, tetapi apabila kemerdekaan itu telah dicapai justru yang mereka pakai adalah hukum manusia, atau mengambil aturan-aturan manusia dan mengingkari janji mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka jadilah negara-negara tersebut tetap dalam kekuasaan musuh-musuh Islam, yang selalu memeras dan menggali hasil bumi dan kekayaan negara tersebut.

    Kelima, Para Pemimpin Tidak Berhukum dengan Hukum Allah

    Penyakit yang kelima ini sangat kronis dan parah, kalau diibaratkan penyakit kanker sudah mencapai stadium akhir yang menjelang ajal, mengapa? Jawabannya, kita dapat lihat sendiri dari beberapa negara yang mayoritas Islam di dunia ini. Al-Jazair memakai hukum Prancis, Malaysia memakai hukum Inggris, Indonesia memakai hukum Belanda, dllnya. Maka jangan heran, jika ancaman Allah mengenai mereka yang para pemimpinnya tidak mau berhukum dengan Alquran dan Sunnah, yaitu dengan adannya perpecahan di kalangan mereka, pertentangan di kalangan elit politik, dan suburnya kekerasan di antara mereka dalam mencari posisi penting masing-masing.

    Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, yang notabene adalah mayoritas Muslim tetapi tidak menggunakan hukum yang berdasarkan Alquran dan as-Sunnah, terdapat kejadian-kejadian besar tentang kekerasan dan keributan, baik dari kalangan masyarakat bawah maupun samapai elit politik. Jatuhnya presiden-presiden kita, sejak Presiden Soekarno hingga Presiden Gusdur, dengan tidak wajar merupakan bukti bahwa apa yang telah difirmankan oleh Allah memang benar, dan memang pasti benar.

    Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!

    Sudah menjadi kewajiban kita dalam menghadapi keadaan seerti sekarang ini bahwa kita harus tetap istiqamah, sabar, dan jangan berputus asa. Kita harus bangkit untuk berupaya memperbaiki keadan ini. Sebab, jika kita hanya berpangku tangan dan tidak mau mencegah dan memerintahkan yang ma’ruf, maka resiko bagi umat ini akan semakin berat.

    “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al-Anfaal: 25).

    Dalam tafsir Ibnu katsir dan Qurtubi, ayat ini dikaitkan dengan suatu hadis dari Aisyah ra yang maknanya, “Apabila telah tersebar luas kemaksiatan, maka Allah akan menurunkan kesusahan (balasan) pada penghuni negeri itu. Berkata aku: ‘bukankah di antara mereka ada yang ta’at’? Nabi saw menjawab, ‘Mereka nanti akan dikumpulkan dalam naungan rahmat Allah (mereka yang taat)’.”

    Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami, jika kami lupa atau kami bersalah! Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami!

    Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya! Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami! Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami atas kaum yang kafir!

    Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia). Aamin.

    ***

    Sumber: Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 3:40 am on 26 November 2013 Permalink | Balas  

    bekerjaTawakal kepada Allah

    Oleh : Ustadz Diaudin

    Tawakal artinya mempercayakan, sedangkan yang dimaksud tawakal kepada Allah berarti mempercayakan kepada Allah dalam urusan yang seharusnya kita tangani kemudian kita pasrahkan kepada Allah untuk menanganinya. Tawakal kepada Allah artinya mempercayakan kepada Allah untuk menentukan suatu ketentuan yang mana kita percayakan pada Allah bahwa ketentuan itu adalah ketentuan yang terbaik buat kita karena kita tidak mengetahui apa yang hendak kita capai ini apakah dampaknya positif bagi kita ataukah dampaknya negatif.

    Ada contoh sahabat nabi yang bernama Ta’labah yang bertujuan ingin menjadi orang kaya dan apabila ia kaya maka ia merencanakan untuk beribadah serius kepada Allah akan tetapi setelah yang diingininya tercapai namun setelah kaya ternyata Ta’labah semakin jauh kepada Allah bahkan ia tidak berbibadah kepada Allah lagi.

    Ini menunjukkan kadang-kadang apa yang hendak kita capai setelah tercapai bisa jadi berdampak negatif pada diri kita oleh karena itu setiap kita hendak mencapai suatu apa yang kita capai maka sebaiknya dipercayakan kepada Allah untuk menentukannya apakah nanti tercapai apa yang kita capai ataukah digagalkan oleh Allah sebab kita tidak mengetahui dampak positif dan dampak negatifnya setelah kita mencapai segala sesuatu itu.

    Allah berfirman dalam QS Al Baqarah 216 ….Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui

    Boleh jadi keingininan kita umpamanya ingin menjadi orang kaya dan disukai oleh kita bisa jadi itu sebenarnya tidak baik buat kita. Yang tahu yang terbaik cuma Allah, oleh karena itu jika kita hendak mencapai sesuatu yang akan kita capai haruslah kita bertawakal kepada Allah mempercayakan kepada Allah untuk menentukan sebaiknya apa yang hendak kita capai itu tercapai ataukah gagal sebab Allah Yang Maha Mengetahui. Bisa jadi yang hendak kita capai telah tercapai berdampak negatif maka tentunya Allah akan menggagalkannya kalau kita bertawakal kepadaNya. Kalau kita mempercayakan Allah untuk menentukannya mana yang terbaik buat kita. Itulah tawakal kepada Allah.

    Muncul pertanyaan buat kita, kapan tawakal itu dibicarakan dan dipikirkan dan kapan tawakal dimasukkan kedalam hati sebagai prinsip ? Kita tidak boleh membicarakan dan memikirkan tawakal kalau masih dalam proses ikhtiar sebab kalau kita membicarakan dan memikirkan tawakal maka tawakal tersebut akan membunuh ide-ide, inisiatif, kreatifitas pikir solutif, daya semangat juang kita untuk mencapai sesuatu olehkarena itu kita harus menempatkan tawakal pada tempatnya. Jika salah menempatkan maka akan sangat fatal akibatnya.

    Kapan tawakal itu bisa dibicarakan dan dipikirkan? Ada seseorang yang datang pada Nabi Saw dan bertanya: Ya Nabi apakah saya harus lepas untaku dan kemudian aku bertawakal kepada Allah ataukah saya ikat untaku kemudian aku bertawakal kepada Allah ?

    Nabi Saw menjawab ikatlah untamu itu kemudian baru bertawakal kepada Allah. Hadist ini memberikan isyarat bahwa menempatkan tawakal setelah ikhtiar maksimal. Jika ikhtiar itu sudah maksimal baru boleh kemudian berpikir tawakal. Janganlah ikhtiar belum maksimal kita sudah berpikir tawakal.

    Kalau misalnya dalam mencapai sesuatu kemudian kita menemui persolan dan kita berusaha untuk menghadapi persoalan tsb dan persoalan tsb umpamanya sangat sulit untuk diatasinya Kalau seandainya disaat demikian kemudian terpikir oleh kita untuk bertawakal kepada Allah maka tawakalnya akan membunuh kreatifitas solutif kita, tawakalnya akan membunuh kreatifitas pikir kita untuk mencari solusi untuk menghadapi persoalan yang dihadapinya dan kalau sudah demikian fatal akibatnya. Olehkarena itu kalau kita berbicara tawakal bicaralah setelah ikhtiar maksimal kalau kita berpikir tawakal pikirkanlah tawakal itu setelah ikhtiar maksimal setelah usaha maksimal. Disaat kita menjalankan suatu usaha pikirkanlah masalah usaha itu fokuskanlah pikiran kita kepada usaha itu jangan sampai dimasuki pikiran tawakal karena tawakal tempatnya bukan dalam proses usaha tetapi tawakal tempatnya adalah setelah ikhtiar maksimal.

    Kemudian juga muncul pertanyaan kapan tawakal dimasukkan dalam hati sebagai prinsip. Tawakal dimasukkan dalam hati sebagai prinsip ditegaskan dalam firman Allah QS Al Imran 159 ……Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya.

    Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad (berazam, merencanakan perencanaaan yang sudah matang) untuk dilaksanakan maka setelah punya rencana yang matang dan siap untuk dilaksanakan maka masukkanlah dalam hati prinsip bertawakal kepada Allah. Tawakal dimasukkan dalam hati sebagai prinsip setelah adanya rencana yang matang dari kita yang siap untuk dilaksanakan. Sebab jika manusia sudah punya rencana yang matang yang siap dilaksanakan apabila hatinya telah diisi prinsip tawakal kepada Allah maka bisa diwujudkan dalam usaha yang telah matang tadi maka umpamanya diakhirnya kemudian gagal maka hati telah terisi dengan prinsip tawakal kepada Allah. Kalau hamba itu telah menemui suatu kegagalan setelah punya rencana yang matang dan akhirnya gagal maka kemanusiaan hamba tidak akan kecewa. Kemanusiaan hamba ia tidak bisa menerima tentang kegagalan tersebut kemanusiaan hamba akan protes akan kegagalan tersebut tetapi kegagalan yang diterima oleh manusia dimana kemanusiaannya protes dimana kemanusiaannya tidak bisa menerima dimana kemanusiaannya tersebut bergejolak menolak kenyataan kegagalannya, tetapi gejolak kemanusiaan tersebut tidak bisa mempengaruhi hati karena hati telah diisi dengan prinsip bertawakal kepada Allah. Maka kalau hati sudah tidak bisa dipengaruhi oleh reaksi dari kemanusiaannya atas kegagalannya maka hati tersebut akan tetap bersih disisi Allah Swt. Dan kalau hati sudah punya prinsip bertawakal kepada Allah maka kekuatan hati bisa mengalahkan seluruh diri manusia termasuk seluruh kemanusiaan manusia maka gejolak protes kemanusiaan manusia dinetralisir oleh prinsip bertawakal kepada Allah yang ada dalam hati. Maka begitu kemanusiaan itu kecewa maka kekecewaannya itu dinetralisir oleh prinsip yang ada dalam hati yang berupa tawakal kepada Allah maka hilanglah kekecewaan hamba sebab karena hati telaah diisi dengan prinsip bertawakal kepada Allah maka bahagialah hidup manusia walaupun ia menemui kegagalan.

    Jika sudah demikian maka kegagalan yang dialami oleh manusia tidak akan membawa tekanan dalam hatinya sehingga tidak akan mendatangkan stress karena hati telah diisi dengan prinsip tawakal kepada Allah maka prinsip tawakal kepada Allah yang ada dalam hati diantaranya secara duniawiyahnya akan menetralisir stress kemanusiaan

    Oleh karena itu jika kita menginginkan kebahagiaan dunia akhirat diantaranya harus berprinsip dengan prinsip agama termasuk didalamnya adalah bertawakal kepada Allah.

    Melalui tasawuf kita mensucikan hati yang sesuci- sucinya untuk mencapai kedekatan diri pada Allah sedekat-dekatnya sampai seakan-akan menyatu dengan diri Allah Swt

    Kalau di hati kita ada prinsip bertawakal maka begitu yang kita ingini tidak tercapai yang mana kemanusiaan kita tidak ridho takdir Allah tersebut tetapi hati kita bisa menerima takdir Allah tersebut. Kalau seandainya hati kita tidak diisi dengan prinsip tawakal kepada Allah begitu kemanusiaan kita menolak tidak bisa menerima takdir Allah yang berupa kegagalan maka dia akhirnya akan mempengaruhi hati kita dan akhirnya hati kita juga turut menolaknya. Maka hati kita menjadi tidak ridho atas takdir Allah jika hati tidak ridho akan takdir Allah maka kotorlah hati kita dan Allah tidak senang terhadap hati hambanya yang tidak ridho atas takdir Allah.

    Berdasarkan sabda Nabi Saw “Barangsiapa yang tidak ridho terhadap keputusanKu dan kekuasaanKu maka hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku”.

    Begitu kerasnya Allah memperingati hambanya seandainya hambaNya tidak ridho akan takdir Allah tentu Allah benci kepada hambaNya yang hatinya tidak ridho atas takdir Allah dan kalau Allah benci kepada hambaNya karena hatinya ada kekotoran maka sulit kita untuk bisa dekat kepada Allah. Untuk menjadi hamba yang dekat kepada Allah jangan sampai Allah benci kepada kita, tetapi yang dikejar adalah Allah cinta kepada kita.

    Karena itu kalau kita berusaha untuk bertasawuf maka tawakal tidak bisa ditawar lagi harus tertanam dihati kita sebagai prinsip dalam merencanakan suatu rencana yang harus kita capai masukkanlah tawakal dalam hati kita

    Dengan bertawakal kepada Allah semua takdir yang ditakdirkan kepada kita maka hati akan ridho menerimanya dan kalau hati sudah ridho menerimanya maka Allah tidak murka kepada hambaNya tapi cintai kepada hambaNya.

    Allah berfirman dalam Al Imron 159 “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertawakal”

    Allah cinta kepada hambaNya yang bertawakal tetapi tawakalnya bukan cuma ada dipikirannya tawakalnya bukan cuma dibicarakan tetapi tawakalnya masuk dalam hati sebagai prinsip.

    Keistimewaan tawakal tercantum dalam QS At Talaq 3 ……..Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya

    Allah akan mencukupi kebutuhan kita baik kebutuhan lahiriah maupun kebutuhan batiniah Karena Allah mencukupi kita maka itu adalah hak Allah kita tidak boleh intervensi akan hak Allah tersebut. Silahkan Allah yang menentukan kapan Allah akan mencukupkan kebutuhan kita tersebut. Bisa jadi saat sekarang kita bertawakal kepada Allah tetapi Allah mencukupi kebutuhan kita di lain waktu sesuai dengan situasi dan kondisi yangada pada diri kita. Dan yang paling penting bila kita tawakal kepada Allah maka diakhiratnya kita akan dicukupi kebutuhannya oleh Allah maka tempatnya tidak ada lain kecuali syurga karena syurga lah tempat dimana seluruh kebutuhan tercukupi sedangkan neraka adalah suatu tempat dimana kebutuhan tidak tercukupi oleh Allah. Jika kita bertawakal maka pastilah kita akan masuk syurga. Oleh karena itu orang yang bertasawuf yang dikejar adalah mencapai kedekatan diri kepada Allah diantaranya dengan bertawakal kepada Allah. Yang paling penting penting adalah tawakal dimasukkan dalam diri kita sebagai prinsip dan waktu memasukkan sebagai prinsip setelah kita punya rencana yang sudah matang yang siap untuk dilaksanakan. Dengan kita bertawakala kepad Allah akhirnya hati kita akan selamat dari tidak ridho atas takdir Allah karena dengan tidak ridho pada Allah adalah sangat mengotori hati kita maka Allah mengecamnya silahkan cari Tuhan yang lain (Nauudzubillahi min Dzalik)

    Tanya-Jawab Pada fase apa saja tawakal ditempatkan sehingga kita tidak salah menempatkan? Tahap I : Tempatkan tawakal dalam hati sebagai prinsip Jika dalam proses usaha maka jangan berpikir tawakal karena akan membunuh berpikir solutif kita Tahap II: Tawakal ditempatkan setelah usaha yang maksimal Tahap III: Tawakal ditempatkan setelah takdir ditentukan oleh Allah

    Apakah kita pernah kecewa apabila menerima kegagalan? Kita sering merasa kecewa yang berkepanjangan atas kegagalan yang kita temui. Ini dikarenakan kita tidak memasukkan prinsip bertawakal dalam hati kita. Kita juga sering mempertanyaan takdir Allah yang telah ditetapkan kepada kita akan kegagalan tersebut maka hal ini akan memunculkan titik-titik hitam dihati kita dan kotorlah hati kita. Jika hati kita kotor maka kita tidak akan dekat dengan Allah.

    Apakah kita bisa disebut tawakal apabila kita berusaha ke pengobatan alternatif ? Jika masih dalam jalur keislaman pengobatan tersebut masih boleh dilakukan namun tetap harus ditanamkan prinsip bertawakal kepada Allah. Melalui tawakal pada Allah jika terjadi hal-hal yang tidak berkenan maka kita tidak akan menyalahkan orang yang mengobati tersebut

    Bagaimana kita bisa tahu bahwa usaha kita sudah maksimal atau belum ? Awali dengan perencanaan yang matang. Kadang-kadang perencanaan yang kita buat tidak matang sehingga hasilnya pun kurang maksimal. Azam = Perencanaan yang matang. Setelah itu lakukan usaha maksimal untuk mewujudkan secara menyeluruh oleh karenanya disebut usahanya sudah maksimal

    Jika sering berusaha tapi gagal apakah ada hubungan Allah tidak merestui? Gagal itu ada 2 pandangan dari segi kemanusiaan rugi terus namun dari segi keimanan kegagalan bisa mengumpulkan tawakal

    Jika kita hendak menjual sesuatu dan pihak pembeli mantap dan kita berniat jika terjual maka sebagian keuntungan akan diinfakkan namun akhirnya tidak terjual, apakah ini artinya tidak diridhoi Allah? Kita ridho atas tidak terjualnya karena ada segi kebaikan akan tidak terjualnya tersebut

    Beda tawakal dengan sabar ? Tawakal artinya mempercayakan kepada Allah sedangkan Sabar artinya menahan

    Dalam proses tawakal kadang tidak mampu menahan emosi kita dan prosesnya melalui jatuh bangun hal apa yang perlu dilatih? Usaha memproses diri untuk bertawakal sudah digolongkan sebagai orang yang bertawakal. Bertawakal awalnya bisa dimulai dari ucapan kita sebelum berangkat kita membaca Bismillahitawakaltu Allahllah. kemudian langkah selanjutnya ucapan bertawakal tersebut meresap dalam hati caranya, hati berbicara mulut ditutup dan pikiran merenungi makna tawakal dan percaya pada Allah untuk menangani dan menentukan sesuatu urusan jika terus- terus dilakukan maka prinsip bertawakal akan masuk dalam hati maka punya kekuatan menetralisir kemanusiaan yang tidak menerima takdir Allah

    Alhamdulillahirabbil Alamin

    Daarut Tauhiid Cipaku

     
  • erva kurniawan 2:14 am on 22 November 2013 Permalink | Balas  

    berlayarNaluri Kembali Ke Asal

    Oleh: Cak Nur

    Naluri manusia untuk berbakti melahirkan naluri keinginan untuk kembali ke asal. Dalam pandangan para filosof Muslim, bukan hanya manusia yang ingin kembali ke asal, tetapi semua alam ini. Keinginan alam untuk kembali ke asal mencari Tuhan ini menyebabkan ada gerak putar. Semua alam bergerak berputar, seperti rembulan berputar mengelilingi bumi, bumi mengelilingi matahari, matahari mengelilingi bima sakti dan sebagainya. Inilah thawaf. Sebenarnya thawaf dalam haji adalah meniru thawaf-nya alam. Thawaf adalah gerak untuk mencari kembali ke asal. Hajar aswad kemudian dijadikan simbol permulaan, dan akhirnya inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (kita semuanya dariAllah dan kembali kepada-Nya).

    Semuanya ingin kembali, kita juga begitu. Kita merindukan ibu, kita sekeluarga merindukan kampung halaman, oleh karena itu ada gerak mudik setiap tahun, seperti pada setiap idul fitri. Secara psikologis, mudik tiap tahun itu tidak dapat dibendung karena merupakan naluri manusia. Mudik bukan semata tradisi di Indonesia, apalagi hanya tradisi pembantu. Di Amerika saja tradisi mudik saat thanksgiving day luar biasa.

    Sebetulnya haji juga merupakan gerak ke asal karena manusia mempunyai konsep tentang tanah suci. Tanah suci mewakili sentralitas dan Ka’bah hanya sebagai simbol sentralitas dari keputusan yang kita anggap sebagai bayt Allah (rumah Tuhan). Karena itu sebenarnya dengan zikir kita kembali kepada Tuhan. Laksana bayi yang tenteram berada dalam dekapan ibunya, dengan zikir seolah-olah kita pun didekap Tuhan sehingga menjadi tenteram, ala bi dzikr Allah tathma’inn al-qulub (ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah, maka hati menjadi tenteram {Q. 13:30}). Maka kalau pergi ke Makkah dan terharu melihat Ka’bah itu adalah psikologi dari orang yang menemukan asal, psikologi dari orang yang merasa kembali ke sentral (center).

    Sebenarnya seluruh ibadat kita adalah untuk ingat Tuhan dalam arti di atas. Memang “mengingat Tuhan” itu kemudian disistematisir melalui zikir formal seperti yang diajarkan oleh tarekat, tetapi itu semata institusionalisasi dari budaya dzikir. Karena lukisan dzikir dalam al-Qur’an adalah suatu kegiatan yang tidak mengenal tempat dan waktu, qiyaman wa qu’udan wa’ala junibihim (pada waktu berdiri pada waktu duduk dan pada waktu berbaring{Q. 3:191}), tidak ada henti. Perintah salat adalah perintah untuk berzikir, aqim al-shalata lidzikri (tegakkanlah salat supaya kamu ingat kepada-Ku {Q. 20: 13}). Semua pekerjaan kita menjadi zikir asal kita tarik dimensinya dari kita kepada Tuhan. Inilah yang namanya al-shirath al-mustaqim (jalan lurus); tidak harus lurus horizontal tetapi juga lurus vertikal, karenanya sering juga diterjemahkan dengan tegak lurus.

    Penyebutan jalan lurus, menurut Buya Hamka, karena merupakan jarak antara dua tempat yang paling dekat dan yang jalannya paling dekat. Disebut jalan lurus adalah juga dengan maksud tersedianya banyak jalan bagi orang yang ingin kembali kepada Tuhan, meskipun sebagian jalan itu menyimpang.

    Kalau orang tidak bisa kembali kepada asal sama saja dengan orang yang keluar rumah dan tidak bisa pulang, itulah sesat (tidak bisa kembali ke asal). Bisa dibayangkan kalau kita keluar rumah tetapi tiba-tiba tidak tahu jalan pulang dan gelap di mana-mana, itu menimbulkan kesengsaraan (dlalalah). Karena itu secara khusus kita berdo’a dalam al-Fatihah ghayr al-maghdlubi ‘alayhim wala al-dlallin (bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan jalan mereka yang sesat). Menurut Ibn Taymiyah, Tuhan masih bisa memaafkan orang yang sesat, tetapi tidak ada maaf bagi orang yang dimurkai karena dia sendiri yang tidak mau kembali.

    Ingat kepada Allah yang disebut zikir sebenarnya lebih merupakan sikap batin daripada sikap lahir. Wadzkur rabbaka fi nafsika tadlarru’an wa khifatan wa duna al-jahri min al-qawl bil ghuduwwi wal ashal (berzikirlah kepada Tuhanmu dalam dirimu dengan penuh haru dan takut dan tidak dengan mengeraskan suara baik pagi maupun petang, dan janganlah kamu termasuk mereka yang lalai pada Tuhan {Q. 7:205}). Perasaan takut di sini dalam arti merasakan keagungan Tuhan. Karena itu sangat tepat kalau dikatakan bahwa sebetulnya zikir adalah suatu cara untuk menyadarkan kita bahwa Tuhan hadir dalam hidup kita. Karena memang Tuhan beserta kita di mana pun kita berada huwa ma’akum ayna ma kuntum (Dia beserta kamu di manapun kamu berada), wa lillahi al-masyriq wa al-maghrib fa ayna ma tuwallu fatsamma wajhu Allah (Barat dan Timur itu milik Tuhan maka ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Tuhan {Q. 2:115}). Ayat ini menegaskan bahwa Tuhan Maha Hadir. Itulah sebabnya kenapa ketika Abu Bakar ketakutan hampir ketahuan oleh orang Quraisy dalam persembunyiannya di gua Tsur, dengan tenang Nabi berkata: la tahzan inna Allaha ma’ana (jangan khawatir karena Allah beserta kita).

    Kedekatan Tuhan dengan kita mestinya tidak membuat kita lupa kepada Tuhan sebagai asal dan tujuan hidup, inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Lupa kepada Tuhan berarti kita dijadikan Tuhan lupa kepada diri kita sendiri. Peringatan Allah wala takunu ka al-ladzina nasharullah fa ansahum (janganlah kamu seperti mereka yang lupa akan diri mereka sendiri), metafor yang dipergunakan untuk melukiskan orang dalam kegelapan. Ibarat sebuah nur, agama kemudian mengeluarkan orang dari kegelapan kepada terang. Terang ini diperlukan untuk kebahagiaan.

    Berada dalam kegelapan adalah kesengsaraan yang amat-sangat, karena itu mestinya kita tidak lupa kepada Tuhan dan kepada diri sendiri. Maka Allah mengingatkan ud’u rabbakum tadlarra’an wa khufyah (berdoalah kepada Tuhanmu dengan penuh haru, dan dengan rahasia {Q. 7:55}). Perlu digarisbawahi di sini bahwa zikir sebenarnya merupakan masalah pribadi, masalah pribadi antara kita dengan Allah. Dengan merujuk kapada ayat di atas, sebenarnya penggunaan loud speaker dalam berzikir adalah problem, atau lebih tegasnya tidak boleh. Al-Qur’an mengajarkan kita supaya khusyu’ dengan penuh haru dan penuh privacy dalam berzikir, karena hanya dengan begitu kita akan merasakan kehadiran Tuhan. Meskipun benar efek kebersamaan dalam zikir berpengaruh secara psikologis, tetapi yang paling penting dalam zikir adalah dalam hati. Itu yang disebut zikir khafi.

    Dilihat dari namanya yang khafi, rahasia, sebenarnya zikir ini merupakan sesuatu yang sangat rahasia, sangat pribadi, berada dalam lubuk hati masing-masing. Dalam bahasa Arab hal itu disebut lubb, dan itu bisa tidak berbahasa, tanpa bahasa, karena yang penting adalah menghayati kehadiran Tuhan dalam diri kita. Rasakanlah bahwa Allah sendiri berfirman, bahwa Allah lebih dekat kepada kita daripada urat leher kita sendiri.

     
  • erva kurniawan 4:19 am on 21 November 2013 Permalink | Balas  

    berjalan menapakiJalan Lurus

    Oleh: Cak Nur

    Dalam shalat, salah satu bacaan paling penting adalah al-Fatihah, yang puncaknya memohon petunjuk pada Allah: ihdina al-shirath al-mustaqim (tunjukilah kami jalan yang lurus). Permohonan ini menandakan bahwa kita tidak tahu jalan yang lurus itu yang mana. Kalau kita berdoa memohon ditunjukkan jalan yang lurus, tetapi merasa sudah tahu, itu som-bong namanya. Karena itulah dalam agama -misalnya dalam tasawuf- kita diajarkan tahalli (mengosongkan diri) sehingga tidak ada pretensi, dan siap untuk didikte hanya oleh Tuhan.

    Sebelum meminta petunjuk kita membaca iyyaka na’budu (hanya kepada Engkau kami menyembah). Menurut kaum sufi, ayat ini mengindikasikan bahwa kita masih merasa atau masih sempat mengaku kalau kita menyembah Tuhan. Ini artinya, kita mengklaim bahwa pekerjaan menyembah itu ada pada kita; kita aktif menyembah Tuhan dengan mengharap pahala. Inilah yang disebut ‘ibadah al-’abidin. Yang demikian ini memang tidak salah, tetapi dilihat dari segi keruhanian, tingkatnya masih bersi-fat lahiriah. Karena itu harus diteruskan dengan wa iyyaka nas-ta’in (dan kepada Engkau aku mohon pertolongan), yang berarti bahwa kita tidak mampu dan karena itu melepaskan klaim kita dalam beribadah.

    Oleh karena itulah, terutama dalam perspektif tasawuf shalat bukan diartikan sebagai kita telah menyembah Tuhan, tetapi Tuhan-lah yang telah menggerakkan kita untuk shalat. Ini berkaitan erat dengan la hawla wa la quwwata illa billahi ‘aliyy-il azhim (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah), ter-masuk dalam kita menyembah itu. Karena itulah kita memohon kepada Allah agar kita digerakkan untuk bisa berbuat baik. Inilah yang disebut ‘ibadah al-shalihin, ibadahnya orang-orang shalihin, orang yang sudah tidak lagi mengklaim bahwa dia berbuat baik, sebab sebenarnya Tuhan-lah yang menggerakkan-nya. Pada tingkat ini orang menjadi ikhlas, pasrah, tawakal kepada Allah. Dan inilah sebetulnya Islam dalam arti yang sebenarnya: yaitu sikap pasrah hanya kepada Allah. Maka menarik apa yang dikatakan Rabi’ah Adawiyah dalamn sebuah syairnya yang terkenal. “Ya Tuhan/Kalau aku menyembah Engkau hanya karena takut neraka-Mu/Masukkanlah saja aku ke nereka/Kalau aku menyembah Engkau karena ingin surga-Mu/Bakar saja surga itu untukku/Tapi kalau aku menyembah karena ridla-Mu/Maka terimalah aku.

    Inilah pencerahan dalam keberagamaan seperti diajarkan dalam tasawuf, yaitu keberhasilan keluar dari kegelapan menuju pada terang, atau cahaya. Kalau kita baru sampai pada iyyaka na’budu berarti kita masih mengklaim diri kita mampu dan aktif menyembah. Tetapi kalau sudah wa iyyaka nasta’in, maka kita lebur. Menyatu dengan Tuhan. Persis seperti pemaknaan ini, ihram dalam haji, terutama pada laki-laki, dengan memakai pakaian terdiri dari dua potong kain putih, dan bahan yang kasar dan sederhana sebenarnya merupakan upacara melepaskan pre-tensi dan klaim, melepaskan simbol dan melepaskan topeng yang berupa pakaian. Idealnya di hadapan Allah memang tanpa pakaian, telanjang. Tetapi itu tidak mungkin karena dapat menimbulkan kekacauan. Makanya diganti dengan pakaian ihram yang serba sederhana dan apa adanya. Inilah pasrah. Dan justeru itu yang lebih tinggi nilai spiritualnya daripada yang punya pretensi.

    Orang yang pasrah kepada Allah tidak pernah mengkalim bahwa dia yang berbuat baik. Kalau pun ternyata ada kebaikan, al-hamd li `L-Lah, yaitu Allah yang diberi kredit. Ucapan al-hamd li `l-Lah adalah untuk memupus egoisme dan kesombongan kita. Supaya diingat bahwa dosa makhluk yang pertama adalah kesombogan, yaitu ketika iblis menolak untuk sujud kepada Adam. Dia ingkar dan sombong, dengan begitu dia termasuk orang yang kafir. Kesombongan adalah dosa kesetanan. Rasulullah pernah bersabda, tidak akan masuk sorga orang yang dalam hatinya terdapat seberat atom dari perasaan sombong.

    Perlu diberi catatan di sini mengenai sifat sombong (al-mutak-abbir) Allah dalam asmaul husna, yang kita malah diperintah menirunya. Memang kita harus punya juga sifat sombong, tapi porsinya tidak besar, hanya sampai pada tingkat kita punya harga diri. Ini yang disebut ta’affuf (perwira), yaitu orang yang tidak mudah merendahkan diri pada orang lain, apalagi sampai meminta belas kasihan. Perwira artinya punya harga diri, tetapi tidak boleh sombong.

    Oleh karena itu zikir dalam agama sebenarnya merupakan suatu bentuk penyadaran bahwa kita hanyalah makhluk yang tidak mempunyai harga apa-apa, kecuali dengan pengakuan Allah sendiri. “Barang’ siapa mencari kemuliaan dan kekuatan, kepunyaan Allah segala kemuliaan dan kekuatan. Kepada-Nya naik kata yang baik; dan Dia-lah yang mengangkat amal yang baik. Tetapi mereka yang merencanakan kejahatan, akan menda-pat azab yang mengerikan. Dan rencana mereka akan sia-sia.” (Q. 35: 10).

    Inilah yang menjadi pokok dalam agama, yatiu kesediaan untuk menyesuaikan keberadaan diri di bawah cahaya kesa-daran akan kehadiran Tuhan dalam hidup, yang berarti kesedi-aan untuk menjalani hidup itu dengan standar akhlaq yang setin-gi-tingginya. Dan ini terjadi dengan melakukan hal-hal yang sekiranya akan mendapatkan perkenan atau ridla Tuhan, yaitu amal saleh, tindakan-tindakan bermoral dan berprikemanusiaan. Dalam semangat kesadaran akan adanya Tuhan Yang Mahahadir dan Mahatahu itu, hidup berakhlak bukan lagi masalah kesedia-an, tetapi keharusan. Sementara itu, dalam analisa selanjutnya, hidup berakhlak seseorang pada hakikatnya bukanlah untuk “kepentingan” Tuhan, melainkan justeru untuk kepentingan orang itu sendiri, sesuai dengan tabiat alamiah atau fitrah keja-diannya sebagai manusia. Karena itu, jika kita menolak pesan Tuhan itu, maka hendaknya kita ketahui bahwa Dia, sebagai pemilik dan penguasa langit dan bumi, adalah Maha Kaya (tidak perlu kepada siapapun), dan Maha Terpuji (perbuatan baik ataupun buruk kita tidak menambah ataupun mengurangi atribut yang Maha Kuasa itu) (Q. 4:131).

    Relevan sekali dengan pandangan ini adalah kutipan dari A. Yusuf Ali dalam memberi penjelasan tentang makna yang amat fundamental firman Ilahi itu. Katanya: “Eksistensi Tuhan adalah eksistensi yang mutlak. Ia tidak tergantung kepada siapapun atau apapun yang lain. Ia berhak atas segala pujian, karena ia adalah segala kebaikan dan terdiri dari setiap keutamaan yang manapun. Penting menekankan hal ini untuk menunjukkan bahwa hukum akhlaq manusia bukan hanya perkara perintah transendental tetapi benar-benar berpijak kepada kebutuhan-kebutuhan esensial umat manusia sendiri. Karena itu, jika teori-teori aliran pikiran tertentu seperti Behaviorisme terbukti sepe-nunhya, hal itu tidak berpengaruh sedikit pun kepada Islam. Standar etis yang tertinggi diajarkan Islam tidak sebagai perin-tah-perintah dogmatis, tapi karena bisa dibuktikan merupakan kelanjutan dari kebutuhan tabiat alami manusia dan hasil pe-ngalaman manusia.” (A. Yusuf Ali, h. 222, cat. 641).

    Karena pesan Tuhan itu tidak lain adalah kelanjutan wajar tabiat alami manusia, maka pesan itu pada prinsipnya sama untuk sekalian umat manusia dari segala zaman dan tempat. Pesan itu adalah universal sifatnya, baik secara temporal (untuk segala zaman) maupun secara spasial (untuk segala tempat). Oleh karena itu terdapat kesatuan esensial semua pesan Tuhan, khususnya pesan yang disampaikan kepada umat manusia lewat agama-agama “samawi” (“berasal dari langit”, yaitu mempunyai kitab suci yang diwahyukan Tuhan kepada seorang Nabi atau Rasul).

    ***

    Dari Sahabat

     
    • budihartono 7:27 am on 21 November 2013 Permalink

      Bilakah kita ditunjuki shirothol mustaqim tersebut?

  • erva kurniawan 4:17 am on 20 November 2013 Permalink | Balas  

    Dosa Struktural 

    Emha Ainun Najib

    Emha Ainun Najib

    Dosa Struktural

    Emha Ainun Nadjib

    Dosa struktural dipahami sesudah diketahui dan dialami bahwa sesudah kehidupan ini dibangun dan dilaksanakan dengan menggunakan institusi yang bernama Negara, dengan susunan dan tatanan unsur-unsur kehidupan bermasyarakat – di bawah negara – yang dialektis dan terkait satu sama lain, bahkan ada keterkaitan komprehensif antara Negara dengan Negara, antara masyarakat dengan masyarakat. Fenomena globalisasi membuat inter-relasi antara Negara dan masyarakat di sebagai bidang menjadi hampir tak ada dindingnya lagi.

    Kalau ada suatu Negara dijajah oleh Negara lain dan itu membuat masyarakat Negara yang dijajah itu menjadi miskin, tidak percaya diri dan serta tidak tertata hidupnya; dan kalau dalam Islam dikenal adagium “kaadal faqru an-yakuuna kufron”, kemiskinan itu cenderung mendorong pelakunya ke perbuatan-perbuatan kufur – maka tidakkah logis kalau disimpulkan bahwa para inisiator dan pelaku penjajahan itu turut bertanggung jawab atas kekufuran masyarakat yang dijajah? Bahkan lebih dari itu, tidak mungkinkah masyarakat penjajah menanggung dosa lebih besar karena justru merekalah penyebab utama kekufuran masyarakat yang terjajah?

    Kalau dominasi produk budaya tertentu – umpamanya melalui media televisi — membuat anak-anak kita rusak mentalnya, tidak terjaga iman dan jiwa religiousnya, bahkan lantas memiliki kebiasaan-kebiasaan hidup yang menjauhkannya dari Allah – apakah anak-anak kita yang paling besar menanggung dosanya, ataukah produser budaya itu yang akan lebih dihisab oleh Allah? Dan ini juga berlaku pada semua sektor kehidupan di mana pemegang mainstream pelaku destruksi-destruksi moral dan kemanusiaan. Anak-anak muda yang rusak hidupnya, yang nyandu narkoba, yang cengengesan karena tontonan-tontonan memang hanya mendidik mereka untuk cengengesan, yang kehilangan masa depan, yang tidak perduli pada kebenaran dan tidak menomer-satukan Tuhan – apakah mereka berdosa sendirian?

    Ini juga bisa terjadi pada skala yang lebih kecil dalam kehidupan sehari-hari. Orang mencuri ada sebabnya, orang menjadi rusak ada asal usulnya, bahkan tidak ada wanita yang bercita-cita menjadi pelacur dan tidak ada lelaki yang berdegam-degam hatinya karena punya cita-cita untuk merampok. Juga banyak kejadian-kejadian kecil sehari-hari yang kita akrabi yang jika berupa keburukan atau kejahatan – tidak serta merta kita hakimi sebagai suatu perbuatan yang berdiri sendiri.

    Anak-anak mengemis di perempatan jalan, anak-anak menghisap narkoba, pemuda-pemudi melakukan seks bebas: bisakah mereka disalahkan sendirian dan dihukum sendirian. Bukankah ada keterkaitan struktural antara perbuatan mereka dengan segala sesuatu, termasuk orang-orang dan system, yang menjadikan mereka seperti itu. Bukankah sederhana saja untuk mengarifi itu: kalau ada pejalan kaki terpeleset kakinya oleh kulit pisang, bisakah kita yakin bahwa orang yang membuat kulit pisang itu bebas dari tanggung jawab atas jatuhnya orang itu?

    ….

    Sesungguhnya hanya para faqih, fuqaha, para ahli hukum Agama – dan saya sama sekali bukan — yang memiliki keabsahan untuk berbicara tentang dosa.

    Seandainyapun saya pernah menulis buku lebih dari 60 buah, seandainyapun saya seorang ilmuwan yang berderajat tinggi di kalangan dunia ilmiah, kalau saya bukan faqih – tidak ada satu kata dari uraian saya mengenai dosa yang boleh serta merta dipercaya oleh siapapun. Oleh karena itu tulisan yang dimintakan kepada saya ini lebih banyak berupa pertanyaan.

    Setiap faqih adalah juga sekaligus seorang ahli filosofi tentang segala segi kehidupan, tentang sangkan-paran setiap nilai dan kenyataan, tentang keterkaitan antara Allah dengan setetes embun dan seekor semut yang ketika lahir dan tatkala mati tak diketahui oleh manusia. Seorang faqih tidak hanya berangkat dari ushulul fiqh, tapi juga ushulul hayat, ushulul ‘alamin, ushulul asyya’.

    Faqih, atau lazim disebut Ulama Fiqih, mempelajari seluruh kehidupan ini secara bulat, total tapi juga tartil. Dari petani menanam jagung hingga astronout pergi ke luar angkasa. Dari tukang ojek mengantarkan pelacur ke komplek prostitusi hingga akibat satu kata ucapan seorang Presiden bagi nasib sekumpulan masyarakat di lereng bukit yang tak pernah dikenal oleh pemimpinnya. Dari seorang suami yang tak punya jalan lain kecuali mencuri untuk membiayai kelahiran anaknya hingga kultus individu atau mitologisasi seorang tokoh oleh kalangan tertentu rakyat yang sebenarnya tidak tahu apa-apa mengenai pemimpin yang dipuji da dijunjungnya secara fanatik.

    Para Fuqaha mendatangi, meneliti, menilai, mempertimbangkan keadaan masyarakat Blandong yang menjadi buruh pencurian kayu-kayu hutan, hingga parpol yang berwajah Islam tapi berperilaku seakan-akan tak pernah mengenal Islam. Para ahli fiqih menghayati para pelacur berharga beberapa ratus rupiah dan penjudi lewat tengah malam sampai pagi di kampung liar barat stasiun, juga mendalami berapa masing-masing kelompok penjudi harus bayar upeti tiap malam kepada aparat keamanan.

    Para ahli hukum Islam mendalami kenyataan sejumlah pemuda yang menjadi perampok karena kampung mereka direndam air untuk pembangunan. Mengamati dan menimbang-nimbang apakah diridhai Allah seseorang yang naik haji lebih dari sepuluh kali sementara sangat banyak saudara-saudaranya sesama Muslim dan sesama manusia yang sangat miskin dan membutuhkan uluran tangan kasih sayangnya. Kalau seseorang berangkat ke Masjid untuk bersembahyang Jum’at lantas di tengah jalan ada orang ditabrak mobil: mana yang lebih disayang Allah – terus pergi ke Masjid mengacuhkan saudaranya yang kecelakaan, ataukah menolongnya, membawanya ke Rumah Sakit sehingga ia berkorban tidak shalat Jum’at.

    Para fuqaha bukan hanya menafsirkan kejadian, mengambil istimbat – ia juga memiliki akal yang jeli, logika yang cerdas, juga kearifan. Mereka memiliki kesanggupan untuk menentukan hukum seseorang yang akan berwudlu untuk shalat Ashar, menimba air di sumur Masjid, tapi dijumpainya ratusan semut mengambang di air timbanya ; lantas dengan jari-jarinya ia mengambil semut itu satu persatu dari air timba diletakkan di tanah – sedemikian rupa sehingga ketika ia selesai menolong semut yang teakhir: terdengar adzan maghrib.

    Seorang faqih membutuhkan lebih dari wacana hukum teknis untuk mengambil keputusan tentang apa ketentuan hukum Islam atas orang tersebut. Manakah yang lebih mashlahat di hadapan Allah, menolong semut ataukah bersembahyang – pada momentum yang berbenturan itu. Bagaimana kalau seseorang berkata demikian: “Aku bersedia mendapatkan dosa karena tidak shalat, asalkan karena itu makhluk Allah itu bisa kutolong”. Bagaimana kalau Rabiah Al-Adawiyah bersedia memenuhi neraka dengan badannya sehingga tak ada orang lain yang bisa dimasukkan ke dalamnya. Tentu ini bersifat simbolik, tetapi pasti filsafat hukum sanggup mengambil kearifan dari pernyataan Rabiah itu.

    Kalau suatu hari kita bertamu ke rumah seorang pejabat dan disuguhi segelas air, kemudian kita bertanya-tanya: uang untuk membeli segelas air ini uang korupsi atau bukan, pabrik air mineral ini modalnya hasil KKN atau bukan, pejabat yang kita tamui ini jumlah gajinya logis atau tidak terhadap besar dan mewah rumahnya, mahal mobil dan mebelnya dst – ahli fiqh yang bisa mengambil keputusan apakah meminum segelas air dari hasil – seandainya – korupsi ini halalkah, haramkah, makruhkah?

    Kalau kita shalat di Masjid yang dibangun dengan uang yang dihasilkan dari meminta para pengendara di jalan selama beberapa tahun, seberapa halalkah shalat kita itu? Sebab uang yang masuk ke dalam kotak amal untuk membangun masjid ini mungkin dari pedagang biasa, mungkin dari pencuri dan perampok, mungkin dari koruptor, mungkin dari orang yang beragama bukan Islam, mungkin ada yang memberi uang dengan niat tidak baik, dengan hati jengkel atau menghina tradisi mengemis Kaum Muslimin?

    Bagaimana kalau Masjid yang kita tempati shalat itu memang sepenuhnya dibangun dari subsidi yayasan nasional yang asal usul biayanya secara struktural tidak bisa dijamin kehalalannya? Bagaimana kalau karpetnya dibeli dari perusahaan besar yang secara struktural membunuh usaha-usaha tikar pandan rakyat kecil? Apakah membeli produk dari perusahaan yang mematikan usaha banyak orang secara struktural berarti mendukung kedhaliman struktural pula?

    Dosa itu konsep Agama: sekularisme dan atheisme hanya mengenal ‘kesalahan’, yang berskala horisontal. Sementara ‘dosa’ berskala horisontal sekaligus vertikal. Kalau digambar, horisontal-vertikal itu berbentuk salib.

    Salib itu suatu tahap pencapaian ilmu dan pengetahuan tentang kebenaran. Kalau Anda mendirikan sebatang kayu di atas tanah, kayu itu akan gampang jatuh kecuali Anda tancapkan. Tancapan kayu adalah garis bawah salib. Kalau Anda ingin berdirinya kayu itu lebih kokoh, letakkan dua kayu lain di bagian kanan dan kiri kayu yang berdiri, tempelkan, disambung dengan paku, sehingga mengukuhkan tegaknya kayu yang berdiri di atas tanah.

    Ilmu Salib memberi hikmah bahwa segala mekanisme sosial yang dilangsungkan hanya dengan kesadaran horisontal, tidak memiliki kekokohan sejarah, lambat atau cepat akan oleng dan ambruk. Kesadaran dan kepekaan dan terhadap dosa adalah tancapan ke bawah kayu salib: ia memberi bekal kepada manusia untuk menyelamatkan kehidupannya dari ancaman keambrukan. Kayu yang tegak ke atas sesungguhnya secara intelektual dan spiritual mengarah tak terbatas ke atas – seorang Muslim ketika bersujud mengucapkan “Subhana robbiyal a’la wabihamdih”: maha suci Allah yang Maha Tinggi. Panjang kayu salib ke bawah paling jauh sebatas bulatan bumi, namun yang ke atas jaraknya tak terukur kecuali dengan kerinduan rohani.

    Kalau memakai perspektif lain: kayu yang memanjang ke kanan dan ke kiri adalah lambang persaudaraan basyariyah, cinta kasih sosial atau hablun minannas. Kayu vertikal ke bawah adalah kematangan kultural setiap manusia yang bergaul, sedang kayu yang ke atas adalah kadar dan kesabaran manusia dalam melakukan thariqat yang dipandu oleh syari’at, mencapai tahap demi tahap ma’rifat sesuai dengan pencapaian demi pencapaian haqiqat-nya.

    Gambar salib itu menggambarkan struktur dasar bangunan hidup manusia di bawah sunnah Allah. Dalam perspektif kebersamaan, kayu kiri kanan itu tak terbatas jumlahnya karena kiri kanan berada dalam skala ‘lingkaran’. Bahkan kemudian skalanya ‘bulatan’: kumpulan lingkaran-lingkaran tak terhingga. Jadi, salib menjadi ka’bah, kemudian di-thariqat-i oleh manusia dengan aktivitas thawaf – menciptakan bulatan inna lillahi wainna ilaihi roji’un. Thowaf adalah puncak ilmu Islam.

    Tetapi sebagai wacana dasar, salib sangat menjelaskan dialektika horisontal-vertikal setiap kejadian dan perilaku manusia. Kalau Anda mencuri sebatang jarum dari rumah tetangga, yang berposisi di-dholim-i bukan hanya tetangga Anda melainkan juga Allah. Dengan kata lain, Anda tidak hanya melakukan kesalahan kepada tetangga, tetapi juga berdosa kepada Allah.

    Saya ingin memberi satu contoh kongkret. Di tengah riuhnya hari-hari awal reformasi, saya bersepakat dengan Pak Harto mantan Presiden RI untuk membawa beliau ke Masjid DPR di Senayan, melakukan “Ikrar Husnul Khatimah” di hadapan Allah di rumahNya. Sebelumnya saya katakana kepada beliau: ‘Pak Harto omong apa saja sekarang ini tidak akan dipercaya oleh siapapun. Tinggal satu yang menyediakan pintu, yakni Allah. Pak Harto pergi ke Masjid, mengaji, berwirid, kemudian mengemukakan ikrar untuk akhir yang baik”.

    Ikrar yang akan beliau bacakan memuat empat (4) point. Pertama, berikrar kepada Allah tidak akan berusaha untuk menjadi presiden lagi. Kedua, berikrar kepada Allah tidak akan melakukan apapun yang ada hubungannya dengan pencalonan presiden siapapun. Ketiga, berikrar kepada Allah bersedia diadili oleh Pengadilan Negara untuk mempertanggung-jawabkan kesalahan-kesalahannya. Keempat, berikrar kepada Allah bersedia mengembalikan harta di tangannya yang milik rakyat kepada rakyat.

    Akan tetapi niatan taubah nasuha ini di media massa hari-hari itu dipahami dari sisi yang berbeda. Seorang pengamat politik mengatakan bahwa saya adalah mesin politiknya Suharto, yang dengan rekayasa acara Ikrar Husnul Khatimah ini berusaha menghindarkan Suharto dari pengadilan Negara.

    Pandangan seperti itu muncul dari cara berpikir politik yang atheistik dan sekularistik. Tuhan tidak ada, sehingga tidak ada pula logika horisontal vertikal. Agama dan Masjid dipandang sebagai hasil kebudayaan manusia, tidak membedakan antara religiousitas dan religi, tidak bisa mencerap perbedaan dan jarak antara Agama sebagai informasi nilai langsung dari Tuhan dengan perilaku manusia yang berusaha mencerap dan melaksanakan informasi nilai itu.

    Kalau Pak Harto berkata kepada Allah: “Ya Allah, hamba mohon ampun atas segala dosa-dosa hamba.”, menurut logika Islam, Allah menjawab: “Bereskan dulu urusanmu dengan sesama makhlukKu terutama dengan rakyat Indonesia. Kalau sudah beres dan orang-orang yang engkau salahi telah memaafkanmu, maka baru Aku ampuni engkau.”. Bahasa jelasnya: supaya Pak Harto memiliki kemungkinan untuk diampuni oleh Allah, beliau harus bersedia diadili oleh hukum Negara dlsb. Semakin cepat Pak Harto diadili, semakin cepat pula pintu ampunan Allah dibukakan.

    Dan oleh karena wacana horisontal-vertikal itu tidak hidup di alam pikiran perpolitikan kita, bahkan rencana acara Ikrar itu malah menambah mudlarat bagi khalayak ramai – akhirnya tanggal 21 Pebruari 1999 pagi hari itu saya menelpon Pak Harto agar beliau tak usah datang ke Masjid DPR. Kepada wartawan saya katakan bahwa acara saya batalkan, biarkan Pak Harto kontak langsung di rumahnya kepada Tuhan, dan kepada Republik Indonesia saya persilahkan segera mengadili mantan Presiden 32 tahun ini. Kalau wacana horisontal-vertikal ini diremehkan, silahkan mengalami krisis tanpa cita-cita untuk akan pernah bisa disembuhkan.

    Tentu saja fokus cerita ini bukanlah Suharto, melainkan bahwa satu kesalahan keputusan dalam satu menit, melalui struktur waktu ia bisa mengakibatkan keburukan-keburukan yang besar dan berkepanjangan. Sebuah dosa dilakukan oleh Bapak, oleh Kepala, oleh Presiden, oleh pemimpin reformasi, atau siapapun — pada suatu detik, melalui susunan perjalanan waktu ia bisa membuahkan kemudlaratan yang serius. Krisis total yang dialami oleh Bangsa Indonesia bisa jadi bersumber dari hanya kejadian dua tiga hari di awal-awal euforia reformasi.

    Kaum Fuqaha memiliki kredibilitas ilmu dan kearifan untuk tidak menghukumi sesuatu hal dalam suatu penggalan. Hampir setiap kejadian tidak berdiri sendiri, ia memiliki struktur hubungan secara ruang maupun secara waktu.

    Kaum Fuqaha terus menerus meneliti dan merangkum seluruh kejadian sejarah, melihat dan menemukan mana kemashlahatan dan mana kemudharatan. Dua dimensi itu bersifat nilai. Para ahli fiqih menterjemahkan nilai itu menjadi norman-norma : Yang sangat mashlahat mereka sebut wajib. Yang lumayan mashlahat disebut sunnah. Yang tidak ada masalah disebut halal. Yang agak musharat disebut makruh. Yang sangat mudharat disebut haram. Betapa luas dan kompleksnya tugas para Fuqaha, sehingga afdhal kita mendoakan semoga Allah meninggikan derajat beliau-beliau di dunia dan di akhirat.

    ***

    (selesai)

    Jogja 8 Agustus 2002.

     
    • lazione budy 4:45 am on 29 November 2013 Permalink

      Jadi kangen pak Harto.
      Piye kabare? Enak zamanku to?

  • erva kurniawan 4:01 am on 18 November 2013 Permalink | Balas  

    ikhlasKerelaan Berkorban

    Seorang pemuda serta merta berdiri dan mempersilahkan seorang ibu setengah baya untuk menempati tempat duduknya di sebuah bis kota, tidak peduli sebelumnya ia pun harus berlari dan berdesakkan untuk mendapatkan tempat duduk tersebut. Sepuluh tahun yang lalu, pemandangan seperti itu bukanlah hal mengagumkan yang dilakukan orang muda terhadap orang-orang yang lebih tua, wanita atau penyandang cacat. Namun seiring pergeseran budaya dan perubahan tatanan nilai dalam masyarakat kita, seolah hal seperti itu saat ini menjadi barang langka yang jarang ditemui, lihat saja bahwa ternyata masih banyak pelajar, mahasiwa atau orang-orang yang sebenarnya masih sanggup untuk berdiri tetap tenang meski seorang jompo atau ibu hamil berdiri menahan beban tubuh disampingnya.

    Kejadian diatas hanyalah satu dari sekian banyak contoh pergeseran nilai yang semakin terasa nampak sebagai hal yang lumrah di masyarakat kita. Namun tentu bergesernya budaya dan nilai seperti itu jelas ada penyebabnya. Hilangnya semangat kerelaan berkorban misalnya, bisa karena hilangnya kepekaan sosial, rasa kebersamaan, budaya saling tolong atau bahkan memudarnya sifat-sifat humanis di kalangan masyarakat, terutama di perkotaan. Maka tidaklah aneh, misalnya lagi, seseorang akan jauh lebih marah ketika ditegor orang lain yang merasa terganggu oleh asap rokoknya di dalam kendaraan umum.

    Kita tentu merindukan orang-orang yang memiliki jiwa dan semangat rela berkorban (asketis) seperti yang pernah diajarkan sekaligus dicontohkan Rasulullah, sehingga sikap-sikap itu pun tercermin dalam diri sahabat-sahabat rasul. Kerelaan berkorban (asketisme) yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib, misalnya, saat menggantikan Rasul tidur di ranjangnya pada malam ketika Rasulullah ditemani Abu Bakar hendak melakukan hijrah. Atau keberanian Asma binti Abu bakar mengantar makanan untuk Rasulullah dan ayahandanya di tempat persembunyian di gua Tsur. Sikap-sikap serupa juga dicontohkan sahabat lainnya seperti Abu Bakar yang dengan lantang mengatakan, cukuplah Allah dan Rasul-Nya untuk menjawab pertanyaan Rasulullah tentang apa yang ditinggalkan untuk keluarganya. Pada saat itu, Abu Bakar menyerahkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan Islam.  Semangat kerelaan berkorban merupakan wujud dari kecintaan kepada Allah, yang karena itu mereka mau melakukan apapun untuk menolong agama Allah. Intanshurullaaha yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum, barang siapa menolong agama Allah maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Dari kecintaan terhadap Sang Khalik itu berlanjut pada kecintaan yang begitu mendalam terhadap sosok manusia yang dimuliakan Allah, yakni kecintaan terhadap Rasulullah. Bentuk kecintaaan inilah yang ditunjukkan oleh Ali bin Abi Thalib dan juga para sahabat lainnya.

    Dengan segenap cintanya, Rasulullah mampu menurunkan perasaan cinta Allah dan Rasul-Nya itu menjadi sebuah cinta yang bertebaran menyentuh seluruh ummat, sesama mukmin bahkan menjadi rahmat seluruh alam.

    Sesungguhnya, saat ini kita tidak kehilangan momentum-momentum untuk kembali memiliki atau memperbaiki jiwa dan semangat asketis yang pernah dicontohkan oleh orang-orang mukmin terdahulu itu. Ruang publik kita masih cukup terbuka untuk melakukannya, bahwa masih banyak para fakir miskin yang memerlukan sisihan sebagian dari harta kita, bahwa ada orang-orang lemah yang perlu huluran tangan, dan juga mereka yang sangat membutuhkan sekedar sandaran atau penyangga berdiri, dimana kelebihan dari kekuatan yang kita miliki akan sangat berharga bagi mereka. Tentu saja, kerelaan berkorban itu tercermin dalam sikap-sikap saling bantu, menyisihkan waktu dan tenaga untuk kepentingan banyak orang sebagai wujud dari Islam rahmat bagi seluruh alam, serta tidak egois dan semena-mena menggunakan hak tanpa mempedulikan hak orang lainnya. Hanya saja, sikap-sikap seperti itu akan lebih terasa jika menjadi sebuah kesadaran kolektif dalam menerapkannya, meski bukan menjadi alasan untuk tidak melakukannya mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang!

    Satu wujud yang cukup membuat kita tersenyum misalnya, ketika sekelompok mahasiswa yang insya Allah terjaga kemurnian perjuangannya merasa terusik saat orang-orang yang dipercaya rakyat untuk memimpin dan mengelola negeri ini justru mengkhianati rakyat. Kesadaran kolektif yang dimiliki itu tentu menjadi contoh bahwa semangat kerelaan berkorban jika dilakukan secara kolektif akan memberikan hasil yang luar biasa bagi sebuah perubahan bahkan peradaban.

    Maka patutlah sesegera mungkin kita melongok kedalam diri ini, adakah besarnya cinta yang bersemayam didalam diri ini masih lebih menguasai rasa akan pemenuhan kepentingan diri sendiri. Jika demikian, tak perlu menunggu waktu lama untuk memperbaiki sisi-sisi cinta itu dengan membetulkannya kearah yang pernah diajarkan Rasulullah, bahwa kecintaan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan seluruh mukmin sebagai wujud persaudaraan diatas segala kecintaan dan kepentingan terhadap diri sendiri.

    Karena bisa jadi kedepan, bukan sekedar kecerdasan intelektual tapi juga kecerdasan emosi berupa sikap kerelaan berkorban inilah yang jauh lebih dibutuhkan, jauh lebih penting dimiliki oleh setiap calon pemimpin, para wakil rakyat pengemban amanah ummat selain prinsip-prinsip berkeadilan yang juga mesti dihasung.

    Wallahu a’lam bishshowaab (Abi Hufha)

    ***

    eramuslim – Nasihin Ahmad

     
  • erva kurniawan 3:14 am on 16 November 2013 Permalink | Balas  

    bersyukurSyukur

    AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN.

    Kata-Kata Diatas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

    Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur. Pertama : Kita sering memfokuskan diri pada apa yang ita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah,kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya.

    Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ”kaya”. Orang yang ”kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki.

    Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.

    Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan, ”Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.

    Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

    Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

    Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Saya menjadi gemar berganta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya.

    Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, ”Lulu, Lulu.”

    Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, ”Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.”

    Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ”Lulu, Lulu”.

    ”Orang ini juga punya masalah dengan Lulu? ” tanyanya keheranan.

    Dokter kemudian menjawab, ”Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.”

    Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.

    Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, ”Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”

    ***

    Wassalamualaykum wR.wB

    abi ammar

     
  • erva kurniawan 4:11 am on 15 November 2013 Permalink | Balas  

    cahaya-kebenaran30 Jalan Menuju Surga

    Semua kita insyaallah ingin masuk surga, namun sayangnya banyak yang tidak berbuat apa-apa untuk mencapai keinginan tersebut.Atau ada juga yang merasa berbuat banyak tetapi dengan cara yang tidak sesuai tuntunan.Nah berikut saya sarikan isi buku kecil karya Dr. Adullah Abdurrahman berjudul “Thirty Ways To Enter Paradise”Terbitan Al-Firdous Ltd. London ,2001, mudah-mudahan bermanfaat bagi semua yang mengidam-idamkan surga.

    Sebelum kita berbuat sesuatu, sudah seharusnya kita memiliki dasar untuk apa/siapa kita melakukannya dan mengapa pula kita lakukan. Untuk permburu surga ada tiga prasyarat yang harus dipenuhi agar segala perbuatannya memberikan hasil yang diharapkan yaitu dengan rakhmat Allah diijinkan untuk masuk surga. Prasyarat tersebut adalah : Pertama ia harus Islam, Kedua harus ikhlas karena Allah, Ketiga harus sesuai tuntunan Rasulullah, s.a.w.

    Islam insyaallah kita sudah, Ikhlas adanya di hati kita dan hanya Allah-lah yang tahu, sedangkanperbuatan baik yang ada tuntunannya (Al-qur’an dan Al’hadits) yang insyaAllah akan membawa kita ke surga -dengan rakhmatNya tentu saja- diringkaskan dibawah ini:

    1. Iman
    2. Amal Sholeh
    3. Taqwa
    4. Mengikuti Perintah Allah dan Rasulnya
    5. Jihad di Jalan Allah
    6. Taubat
    7. Berpegang teguh pada agama Allah
    8. Menuntut Ilmu karena Allah
    9. Membangun Masjid
    10. Akhlaq Mulia
    11. Menghindari perdebatan meskipun benar
    12. Menghindari berbohong meskipun dalam canda
    13. Berwudlu ketika batal dan Sholat dua raka’at sehabis adzan
    14. Pergi ke Masjid untuk Sholat Jamaah
    15. Banyak Mengingat Allah
    16. Haji yang Mabrur
    17. Membaca Ayat Kursi setiap sehabis Sholat fardhlu, membaca Sayyidul Istighfar pagi dan petang (bagi yang belum tahu sayyidul istighfar adalah bacaan “Allahumma anta rabbi la Ilaha illa anta, Anta khalaqtani wa ana Abduka, wa ana ‘ala ahdika wa wa’dika mastata’tu, A’udhu bika min Sharrima sana’tu, abu’u Laka bini’matika ‘alaiya, wa Abu’u Laka bidhanbi faghfirli innahu la yaghfiru adhdhunuba illa anta.”)
    18. Melaksanakan 12 rakaat sholat sunat (4 sebelum dhuhur, 2 sesudah dhuhur,2 sesudah magrib, 2 sesudah isya; dan 2 sebelum subuh)
    19. Menyebarkan salam, memberi makan fakir miskin, berbuat baik terhadap saudara dekat dan sholat malam
    20. Memenuhi enam perkara (Berkata benar, memenuhi janji, jaga kepercayaan, menghindari zina,menundukkan pandangan, menahan tangan dari perbuatan yang tidak adil)
    21. Khusus wanita : Sholat, Puasa, Menjaga kehormatan dan Taat Pada Suami
    22. Menjaga tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan
    23. Sabar ketika ditinggal mati anak atau sahabat
    24. Memelihara anak yatim
    25. Mengunjungi orang sakit, atau Mengunjungi saudara dalam Islam
    26. Melaksanakan dua hal. Pertama Setiap habis sholat membaca Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar masing-masing sepuluh kali. Kedua ketika akan tidur membaca Allahuakbar (34x), Alhamdulillah (33x) dan Subhanallah (33x) , total 100x
    27. Mudah dalam menjual dan mudah dalam membeli
    28. Mema’afkan orang yang berhutang apabila yang berhutang tersebut dalam kesulitan
    29. Melaksanakan 4 perbuatan baik dalm satu hari yaitu : Puasa, Mengantar jenazah, memberi makan fakir miskin dan menjenguk orang sakit
    30. Menunjukkan ketabahan dan mencari pahala dari Allah apabila kehilangan penglihatan.

    Kalau ada salah dan keliru dari saya saya pribadi– tetapi kalau ada kebenaran tentu datangnya dari Allah semata. Wallahu a’lam Bi showab.

    [1] Di sarikan dari Buku “Thirty Ways To Enter Paradise” Karya Dr. Abdullah Abdurrahman” Terbitan Al-Firdous Ltd. London ,2001

     
    • lazione budy 4:16 am on 15 November 2013 Permalink

      Melaksanakan dua hal. Pertama Setiap habis sholat membaca Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar masing-masing sepuluh kali. Kedua ketika akan tidur membaca Allahuakbar (34x), Alhamdulillah (33x) dan Subhanallah (33x) , total 100x

      Koreksi:
      Setahu saya kebalik. Kalau mau tidur 10x dan setelah sholat 33x. CMIIW

  • erva kurniawan 3:01 am on 9 November 2013 Permalink | Balas  

    sholat-jenazah-1Kematian

    Assalam’mualaikum

    Kematian mestinya tak perlu menjadi sesuatu yang ditakuti malah sebaliknya harus senantiasa dirindukan, karena barang siapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah akan benci bertemu dengannya, demikian sabda Rasulullah SAW. Namun bukan pula berarti kita dianjurkan untuk selalu mengharap kematian. Cukuplah sepanjang hayat ini, kita selalu mengingat-ingat maut, dengan cara bertakziah, menengok jenazah, atau ikut menyaksikan penguburan, karena dengan “sekedar” itu saja, Allah akan memberikan pahala-Nya.

    Alkisah menurut sirah (sejarah kehidupan Nabi), pernah Nabi Ibrahim AS berdialog dengan malaikat Maut soal sakaratul maut. Nabi Ibrahim bertanya kepada malaikat maut, “Dapatkah engkau memperlihatkan rupamu saat engkau mencabut nyawa manusia yang gemar berbuat dosa?”. Malaikat menjawab pendek, “Engkau takkan sanggup”. “Aku pas! ti sanggup”, timpal Ibrahim. “Baiklah, berpalinglah dariku”, ujar sang malaikat.

    Saat Nabi Ibrahim AS berpaling kembali, dihadapannya telah berdiri sosok berkulit legam dengan rambut berdiri, berbau busuk dan berpakaian serba hitam. Dari hidung dan mulutnya tersembur jilatan api. Seketika itu pula Nabi Ibrahim AS jatuh pingsan !

    Ketika tersadar kembali, berkata beliau kepada malaikat maut, “Wahai Malaikat Maut, SEANDAINYA PARA PENDOSA ITU TAK MENGHADAPI SESUATU YANG LAIN DARI WAJAHMU DISAAT KEMATIANNYA, NISCAYA CUKUPLAH ITU MENJADI HUKUMAN UNTUKNYA.”

    Di kesempatan lain, kisah yang diriwayatkan oleh ‘Ikrimah dari Ibn ‘Abbas ini, Nabi Ibrahim AS meminta Malaikat Maut mengubah wujudnya saat mencabut nyawa orang-orang beriman. Dengan mengajukan syarat yang sama kepada Ibrahim AS sang malaikat kemudian mengubah wujudnya. Dihadapan Nabi yang telah membalikkan badannya kembali, telah berdiri seorang pemuda tampan,gagah, berpakaian indah yang darinya tersebar harum wewangian. “SEANDAINYA ORANG BERIMAN MELIHAT RUPAMU DISAAT KEMATIANNYA, NISCAYA CUKUPLAH ITU SEBAGAI IMBALAN AMAL BAIKNYA”, komentarnya.

    Dari nukilan kisah itu, apakah bisik-bisik misteri tentang penampakkan Malaikat Maut menjelang ajal seseorang benar adanya? Dalam pergaulan sehari-hari, kadang sering kita mendengar dari mulut ke mulut, misalnya salah satu anggota kelaurga dari orang yang tengah menghadapi maut bercerita bahwa saudaranya itu melihat sesuatu. Apakah itu berupa bayangan hitam, putih atau hanya gumaman dialog mirip seperti orang yang tengah mengigau.

    Namun yang pasti dari beberapa riwayat, selain Nabi Ibrahim AS., Nabi Daud AS. dan Nabi Isa AS. juga pernah dihadapkan pada fenomena penampakkan Malaikat Maut itu. Kisah pra sakaratul maut itu belum seberapa dibandingkan dengan peristiwa sakaratul mautnya itu sendiri. SAKARATUL MAUT ADALAH SEBUAH UNGKAPAN UNTUK MENGGAMBARKAN RASA SAKIT YANG MENYERANG INTI JIWA DAN MENJALAR KE SELURUH BAGIAN TUBUH, SEHINGGA TAK SATUPUN BAGIAN YANG TERBEBAS DARI RASA SAKIT ITU. Malapetaka paling dahsyat di kehidupan paripurna manusia ini memberi rasa sakit yang berbeda-beda pada setiap orang.

    Untuk menggambarkan rasa itu, pernah Rasulullah SAW. bersabda: “Kematian yang paling mudah adalah serupa dengan sebatang duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang terkoyak?”

    Di bagian lain Rasulullah seperti yang dikisahkan Al-Hasan pernah menyinggung soal kematian, cekikan dan rasa pedihnya. “Sakitnya sama dengan tiga ratus tusukan pedang”. Diriwayatkan, pernah Nabi Ibrahim AS. ketika ruhnya akan dicabut, Allah SWT bertanya kepada Ibrahim: “Bagaimana engkau merasakan kematian wahai kawanku?”. Beliau menjawab, “Seperti sebuah pengait yang dimasukkan kedalam gumpa! lan bulu basah yang kemudian ditarik”. “Yang seperti itulah, sudah kami ringankan atas dirimu”, firman-Nya.

    Tentang sakaratul maut, Nabi SAW bersabda, “Manusia pasti akan merasakan derita dan rasa sakit kematian dan sesungguhnya sendi-sendinya akan mengucapkan selamat tinggal satu sama lain seraya berkata: “Sejahteralah atasmu; sekarang kita saling berpisah hingga datang hari kiamat kelak”.

    Tentang sakaratul maut itu Rasulullah SAW sendiri menjelang akhir hayatnya berdo’a: “Ya Allah ringankanlah aku dari sakitnya sakaratul maut” berulang hingga tiga kali. Padahal telah ada jaminan dari Allah SWT bahwa beliau akan segera masuk surga. MULAI DETIK INI MARILAH KITA KOMPARASIKAN KEKHAWATIRAN BELIAU YANG MEMILIKI TINGKAT KEIMANAN DAN KESHALEHAN SEDEMIKIAN SEMPURNANYA, DENGAN KITA YANG HANYA MANUSIA BIASA INI.

    KEMATIAN MESTINYA TAK PERLU MENJADI SESUATU YANG DITAKUTI, MALAH SEBALIKNYA HARUS SENANTIASA DIRINDUK! AN. Jika sesuatu itu begitu dirindukan, logikanya berarti ingin cepat-cepat pula ditemui. “Barang siapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah akan benci bertemu dengannya” sabda Rasulullah SAW.

    Ini bukan berarti, kita dianjurkan untuk selalu mengharap kematian. Bukhari meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah seorang diantaramu mengharap kematian”.

    Cukuplah sepanjang hayat ini, kita selalu mengingat-ingat maut. Caranya dengan senantiasa tanpa lelah memerangi hawa nafsu, merenung dan melindungi hati dari silaunya kemegahan duniawi.

    UNTUK SEKEDAR MENGINGAT MAUT SAJA, ALLAH TELAH MENDATANGKAN PAHALA DAN KEBAIKAN. Ikut bertakziah mendoakan kematian orang lain, menengok jenazah atau ikut menyaksikan penguburan; bukankah ritual itu mendatangkan pahala?.

    Orang yang mengingat maut dua puluh kali dalam sehari semalam, pesan Nabi Muhammad SAW, di hari akhir nanti akan dibangkitkan bersama-sama d! engan golongan syuhada.

    *IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*

    Al-Hubb Fillah wa Lillah,

    Wasalam

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Istanamurah 11:04 am on 15 November 2013 Permalink

      benar sekali bahwa kita tidak perlu takut untuk mati, karena pada umumnya kita nantinya juga akan berhadapan dengan yang namanya maut. jalankan yang baik dan perkecil yang buruk. :d

  • erva kurniawan 3:29 am on 8 November 2013 Permalink | Balas  

    sedekahYang Menanti Uluran Tangan Dari Langit

    Serasa mendapat pertolongan dari langit, begitulah perasaan ‘Mpok Enah ketika mendapat bantuan uang dan makanan dari tetangganya, Ibu Sali. Bagaimana tidak senang? Maemunah yang lebih dikenal dengan panggilan ’Mpok Enah itu, adalah seorang janda miskin beranak tiga. Penghasilannya hanya mengandalkan menerima cucian beberapa orang tetangganya. Pekerjaan itu pun tidak selamanya berjalan mulus. Jika ia sakit, ya… tidak ada penghasilan yang masuk. Waktu Bu Sali datang menenteng “bawaan” ke rumahnya, ’Mpok Enah memang sudah 3 hari sakit.

    Walaupun tampak pucat, Maemunah memaksakan diri melepaskan senyumnya seceria mungkin, tatkala menerima bingkisan dari Ibu Sali yang nama panjangnya Salimah. Tak putus-putusnya ia mengucapkan syukur dan terima kasih pada tetangganya yang baik hati itu. Padahal ia nyaris keluar rumah untuk menyambangi lagi para tetangga yang butuh tenaganya, seandainya Bu Sali tidak bertandang ke rumahnya. Walaupun sebetulnya badannya masih lemah. Sebab ketiga anaknya sudah ribut lapar, sementara persediaan uangnya sudah habis. Anaknya yang paling besar (kelas II SD) pun, ia belum lunasi SPP-nya selama 3 bulan berturut-turut.

    Maka di saat-saat menghadapi situasi amat kritis seperti itu, Bu Sali baginya seperti malaikat penolong yang turun dari langit. Ini untuk kesekian kalinya Bu Sali menolong dirinya, saat dia menghadapi kesulitan. Entah, kenapa orang itu begitu berbaik hati pada dirinya, pikir Maemunah. Padahal tetangga-tetangganya yang lain belum pernah ada yang mau tau tentang keadaan rumah tangganya. Pernah ketiga anaknya sakit, tapi ia tak punya uang sama sekali untuk berobat. Sementara, tak satupun tetangga yang mau mengunjunginya. Akhirnya ia terpaksa menjual kalung emas seberat 3 gram warisan dari almarhum suaminya untuk biaya berobat anaknya.

    Kalau badannya fit, dan anak-anaknya sehat, Maemunah tak begitu bingung dan resah. Seribu dua ribu rupiah biasanya masih ada di tangan untuk sekadar jajan sekolah anaknya. Tapi jika ia sakit, apalagi anaknya juga sakit, perasaannya pasti sangat tidak karuan. Sedih, bingung, dan nyaris putus asa jika menghadapi situasi kritis seperti itu. Celakanya, keadaan stabil dimana diri dan anak-anaknya sehat, lalu ia punya sedikit tabungan, justru tak pernah berlangsung lama. Ia malah relatif lebih sering mengalami fase-fase kritis, khususnya ketika ia tak sanggup menerima cucian selama beberapa hari. Maklum belakangan ini tubuhnya dirasakan cepat letih, tidak setegar ketika masih ada sang suami di sampingnya dua tahun lalu.

    Fenomena ’Mpok Enah mungkin juga ada di sekitar rumah kita. Sebagai seorang Muslim/Muslimah sepatutnyalah kita tidak menutup mata dengan berbagai fenomena sosial yang ada. Mungkin ada satu atau lebih tetangga kita yang nasibnya tidak seberuntung kita. Tak usah menunggu mereka datang kepada kita untuk minta pertolongan. Tapi kitalah yang semestinya pro-aktif menyinggahi saudara-saudara kita yang nasibnya kurang beruntung itu. Karena Allah menakdirkan kita diberikan kelebihan rezekiNya, sehingga kitalah yang mestinya menjadi pelayan orang-orang dhu’afa itu. Percayalah pemberian seribu dua ribu rupiah atau sepiring makanan, mungkin tak berarti bagi kita. Tapi bagi yang butuh pertolongan, pemberian itu sungguh sangat berarti.

    Bukankah Islam juga mengajarkan kita untuk senantiasa mengasah ketajaman sense of social kita? Mengajarkan kita menjadi khodimul ummah (pelayan umat) yang baik? Al Qur’an mengisyaratkan, bahwa yang disebut kebaktian (al birr) tidaklah cukup hanya dengan beriman kepada Allah, Hari Akhir, Malaikat, Kitab-Kitab dan Nabi-NabiNya. Kebaktian juga harus diikuti dengan menunjukkan perilaku sosial yang baik.

    ”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian. Akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), orang yang meminta-minta, serta (memerdekakan) hamba sahaya, menegakkan shalat dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan merekalah itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS 2 : 177)

    Sebaliknya Allah swt mengancam orang-orang yang kikir dan tak peduli dengan nasib orang miskin dan anak yatim dengan menyediakan bagi mereka neraka jahannam. Betapapun mereka rajin mengerjakan shalat (QS 2 : 107).

    Sedangkan Nabi mulia mengingatkan, bahwa tidak beriman seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan. Kita berlindung kepada Allah swt agar tidak tergolong ke dalam kelompok orang-orang yang dimaksud Al Qur’an dan hadits Rasul di atas.

    Semoga Allah ‘Azza wa Jalla melapangkan hati kita untuk bisa menjadi Salimah-Salimah di lingkungan kita. Yakinlah saudaraku, masih banyak ’Mpok Enah – ‘Mpok Enah yang bertebaran di sekeliling kita, baik yang kelihatan maupun yang tersembunyi.

    ***

    Oleh: Sulthoni – eramuslim

     
  • erva kurniawan 4:37 am on 7 November 2013 Permalink | Balas  

    nikah erva kurniawan vs titik rahayuningsih 3Meriahkan Dunia Dengan Menikah

    Oleh : Ir. Drs. Abu Ammar, MM

    Islam adalah agama yang syumul (universal). Agama yang mencakup semua sisi kehidupan. Tidak ada suatu masalahpun dalam kehidupan ini yang tidak dijelaskan. Dan tidak ada satupun masalah yang tidak disentuh nilai Islam, walau masalah tersebut nampak kecil dan sepele (ringan). Itulah Islam, agama yang memberi rahmat bagi sekalian alam.

    Dalam masalah pernikahan, Islam telah berbicara banyak. Mulai dari bagaimana mencari kriteria bakal calon pendamping hidup hingga bagaimana memperlakukannya kala resmi menjadi sang penyejuk hati. Islam menuntunnya. Begitupula Islam mengajarkan bagaimana mewujudkan sebuah pesta pernikahan yang meriah, namun tetap mendapatkan berkah dan tidak melanggar tuntunan sunnah Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam. Begitupula dengan pernikahan yang sederhana namun tetap penuh dengan pesona. Islam mengajarkannya.

    Menikah merupakan jalan yang paling bermanfa’at dan paling afdhal dalam upaya merealisasikan dan menjaga kehormatan. Dengan menikah seseorang bisa terjaga dirinya dari apa yang diharamkan Allah SWT. Oleh sebab itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong untuk mempercepat nikah, mempermudah jalan untuknya dan memberantas kendala-kendalanya.

    Nikah merupakan jalan fitrah yang bisa menuntaskan gejolak biologis dalam diri manusia. Nikah mengangkat cita-cita luhur yang kemudian dari persilangan syar’i tersebut sepasang suami istri dapat menghasilkan keturunan. Melalui perannya bumi ini menjadi semakin semarak.

    Melalui risalah (tulisan) singkat ini, anda saya ajak untuk bisa mempelajari dan menyelami tata cara pernikahan Islam yang begitu agung nan penuh nuansa. Anda akan diajak untuk meninggalkan tradisi-tradisi masa lalu yang penuh dengan upacara-upacara dan adat istiadat yang berkepanjangan dan melelahkan. Mestikah kita bergelimang dengan kesombongan dan kedurhakaan hanya lantaran sebuah pernikahan ..? Na’udzu billahi tsumma na’udzu billahi min dzalik. Wallahu musta’an.

    Muqaddimah

    Persoalan pernikahan adalah persoalan yang selalu aktual dan selalu menarik untuk dibicarakan serta dibahas. Persoalan ini bukan hanya menyangkut tabiat dan hajat hidup manusia yang asasi saja tetapi juga menyentuh suatu lembaga yang luhur dan sentral yaitu rumah tangga. Luhur, karena lembaga ini merupakan benteng bagi pertahanan martabat manusia dan nilai-nilai akhlaq.

    Lembaga ini merupakan pusat bagi lahir dan tumbuhnya Bani Adam yang kelak mempunyai peranan kunci dalam mewujudkan kedamaian dan kemakmuran di muka bumi ini. Menurut Islam, Bani Adamlah yang memperoleh kehormatan untuk memikul amanah Illahi sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana firman Allah Ta’ala: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata : “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?. Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al-Baqarah: 30).

    Pernikahan merupakan persoalan penting dan besar. ‘Aqad nikah (pernikahan) adalah sebagai suatu perjanjian yang kokoh dan suci (MIITSAAQON GHALIIZHOO), sebagaimana firman Allah Ta’ala: Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”. (An-Nisaa’ : 21). Karena itu, diharapkan semua pihak yang terlibat di dalamnya, khususnya suami istri, memelihara dan menjaganya secara sunguh-sungguh dengan penuh tanggung jawab.

    Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan pernikahan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan ‘khitbah’ (peminangan), mendidik anak, memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai dalam proses nafaqah (memberikan nafkah) dan harta waris, semua diatur oleh Islam secara rinci dan detail.

    Selanjutnya untuk memahami konsep Islam tentang pernikahan, maka rujukan yang paling sah dan benar adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah Shahih (yang sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih). Melalui rujukan ini kita akan dapati kejelasan tentang aspek-aspek pernikahan maupun beberapa penyimpangan dan pergeseran nilai pernikahan yang terjadi di masyarakat.Tentu saja semua persoalan tersebut tidak dapat saya (penulis) tuangkan dalam tulisan ini. Hanya beberapa persoalan yang perlu dibahas yaitu tentang : Fitrah Manusia, Tujuan Perkawinan dalam Islam, Tata Cara Perkawinan dan Penyimpangan Dalam Perkawinan.

    Pernikahan adalah Fitrah Kemanusiaan

    Agama Islam adalah agama fithrah dan manusia diciptakan Allah Ta’ala cocok dengan fitrah ini. Karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh manusia menghadapkan diri ke agama fithrah agar tidak terjadi penyelewengan dan penyimpangan. Dengan demikian manusia dapat berjalan di atas fitrahnya tersebut.

    Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan (‘gharizah insaniyah’/naluri kemanusiaan). Karena itu Islam menganjurkan untuk menikah. Bila gharizah ini tidak dipenuhi dengan jalan yang sah yaitu pernikahan, maka ia akan mencari jalan-jalan syetan yang banyak menjerumuskan ke lembah hitam.

    Firman Allah Ta’ala: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) ; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus ; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Ar-Ruum :30).

    Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagi satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi serta sarana untuk membina keluarga yang Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata: “Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras kepada orang yang tidak mau menikah. Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras”. Dan beliau bersabda: “Artinya : Nikahilah perempuan yang banyak anak dan penyayang. Karena aku akan berbanggga dengan banyaknya umatku dihadapan para Nabi kelak di hari kiamat”. (Hadits Riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

    Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peribadatan beliau. Setelah mendapat penjelasan, masing-masing ingin meningkatkan peribadatan mereka. Salah seorang berkata: “Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus”. Yang lain berkata: “Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya”….

    Ketika hal itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau keluar seraya bersabda: “Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu ?. Demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku”. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

    Orang yang mempunyai akal dan bashirah tidak akan mau menjerumuskan dirinya ke jalan kesesatan dengan memilih hidup membujang. Menurut Syaikh Hussain Muhammad Yusuf: “Hidup membujang adalah suatu kehidupan yang kering dan gersang. Hidup yang tidak mempunyai makna dan tujuan. Suatu kehidupan yang hampa dari berbagai keutamaan insani yang pada umumnya ditegakkan atas dasar egoisme dan mementingkan diri sendiri serta ingin terlepas dari semua tanggung jawab”.

    Orang yang membujang pada umumnya hanya hidup untuk dirinya sendiri. Mereka membujang bersama hawa nafsu yang selalu bergelora, hingga kemurnian semangat dan rohaninya menjadi keruh. Mereka selalu berada dalam pergolakan melawan fitrahnya. Kendati ketaqwaan mereka dapat diandalkan, namun pergolakan yang terjadi secara terus menerus lama kelamaan akan melemahkan iman dan ketahanan jiwa serta mengganggu kesehatan dan akan membawanya ke lembah kenistaan.

    Jadi orang yang enggan menikah baik laki-laki atau wanita, maka mereka itu sebenarnya tergolong orang yang paling sengsara dalam hidup ini. Mereka itu adalah orang yang paling tidak menikmati kebahagian hidup, baik kesenangan bersifat sensual maupun spiritual. Mungkin mereka kaya, namun mereka miskin dari karunia Allah.

    Islam menolak sistem ke-’rahib-an’ karena sistem tersebut bertentangan dengan fitrah kemanusiaan. Sikap itu melawan sunnah dan kodrat Allah Ta’ala yang telah ditetapkan bagi semua mahluknya. Sikap enggan membina rumah tangga karena takut miskin adalah sikap orang jahil (bodoh), karena semua rezeki sudah diatur oleh Allah sejak manusia berada di alam rahim. Manusia tidak bisa menteorikan rezeki yang dikaruniakan Allah, misalnya ia berkata : “Bila saya hidup sendiri gaji saya cukup, tapi bila punya istri tidak cukup ?!”.

    Perkataan ini adalah perkataan yang batil dan bertentangan dengan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah memerintahkan untuk nikah. Seandainya mereka fakir pasti Allah akan membantu dengan memberi rezeki kepadanya. Allah menjanjikan suatu pertolongan kepada orang yang nikah. Firman-Nya: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui“. (An-Nur : 32).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguatkan janji Allah itu dengan sabdanya: “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (Hadits Riwayat Ahmad, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim dari shahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu).

    Para salafus shalih sangat menganjurkan untuk nikah. Mereka anti membujang dan tidak suka berlama-lama hidup sendiri. Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu pernah berkata : “Jika umurku tinggal sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus menemui Allah SWT sebagai seorang bujangan”. (Ihya Ulumuddin hal. 20).

    Tujuan Pernikahan dalam Islam

    1. Untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi.

    Pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan aqad nikah (melalui jenjang pernikahan). Bukan dengan cara yang amat kotor menjijikan seperti cara-cara orang sekarang seperti: berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang jauh dan diharamkan oleh Islam.

    2. Untuk membentengi ahlak yang luhur.

    Sasaran utama dari disyari’atkannya pernikahan dalam Islam di antaranya ialah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji yang telah menurunkan dan meninabobokan martabat manusia yang luhur. Islam memandang pernikahan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efektif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan serta melindungi masyarakat dari kekacauan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih Menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

    3. Untuk menegakkan rumah tangga yang islami.

    Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya Thalaq (perceraian). Jika suami istri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah, sebagaimana firman Allah: “Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zhalim”. (Al-Baqarah : 229).

    Yakni keduanya sudah tidak sanggup melaksanakan syari’at Allah. Dan dibenarkan rujuk (kembali nikah lagi) bila keduanya sanggup menegakkan batas-batas Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam lanjutan ayat di atas: “Kemudian jika si suami menthalaqnya (sesudah thalaq yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dinikahkan dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami yang pertama dan istri) untuk nikah kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, diterangkannya kepada kaum yang (mau) mengetahui”. (Al-Baqarah: 230).

    Jadi tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami istri melaksanakan syari’at Islam dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari’at Islam adalah WAJIB. Oleh karena itu setiap muslim dan muslimah yang ingin membina rumah tangga yang Islami, ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon pasangan yang ideal yaitu: (a) sesuai kafa’ah; dan (b) shalih dan shalihah.

    a. Kafa’ah menurut konsep islam

    Pengaruh materialisme telah banyak menimpa orangtua. Tidak sedikit pada zaman sekarang ini orang tua yang memiliki pemikiran, bahwa di dalam mencari calon jodoh putra-putrinya, selalu mempertimbangkan keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan saja. Sementara pertimbangan agama kurang mendapat perhatian. Masalah Kufu’ (sederajat, sepadan) hanya diukur lewat materi saja.

    Menurut Islam, kafa’ah (atau kesamaan/kesepadanan/ sederajat dalam pernikahan) dipandang sangat penting karena dengan adanya kesamaan antara kedua suami istri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami Insya Allah akan terwujud. Tetapi kafa’ah menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta akhlaq seseorang. Allah memandang sama derajat seseorang baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau kaya. Tidak ada perbedaan dari keduanya kecuali derajat taqwanya. Firman Allah: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Al-Hujurat : 13).

     Dan mereka tetap sekufu’ dan tidak ada halangan bagi mereka untuk menikah satu sama lainnya. Wajib bagi para orangtua, pemuda, pemudi untuk meninggalkan faham materialis dan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang Shahih. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wanita dikawini karena empat hal : Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (ke-Islamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim).

    b. Memilih yang shalih dan shalihah

    Lelaki yang hendak menikah harus memilih wanita yang shalihah dan wanita harus memilih laki-laki yang shalih. Menurut Al-Qur’an: “Wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, olkeh karena Allah telah memelihara (mereka)”. (An-Nisaa : 34). Menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits yang Shahih di antara ciri-ciri wanita yang shalihah ialah : “Ta’at kepada Allah, ta’at kepada Rasul, memakai jilbab (pakaian) yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah (Al-Ahzab : 32). Tidak berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahram, ta’at kepada orangtua dalam kebaikan, ta’at kepada suami dan baik kepada tetangganya dan lain sebagainya”.

    Bila kriteria ini dipenuhi Insya Allah rumah tangga yang Islami akan terwujud. Sebagai tambahan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih wanita yang peranak dan penyayang agar dapat melahirkan generasi penerus umat.

    4. Untuk meningkatkan ibadah kepada Allah.

    Menurut konsep Islam, hidup sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadatan dan amal shalih di samping ibadah dan amal-amal shalih yang lain. Sampai-sampai bersetubuh (berhubungan suami-istri) pun termasuk ibadah (sedekah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah!.” Mendengar sabda Rasulullah itu para shahabat keheranan dan bertanya: “Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? “Jawab para shahabat : “Ya, benar”. Beliau bersabda lagi : “Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala!”. (Hadits Shahih Riwayat Muslim, Ahmad dan Nasa’i dengan sanad yang Shahih).

    5. Untuk mencari keturunan yang shalih dan shalihah.

    Tujuan pernikahan diantaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam. Allah berfirman: “Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?”. (An-Nahl : 72).

    Yang tak kalah pentingnya, dalam pernikahan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas yaitu mencetak anak yang shalih dan Shalihah serta bertaqwa kepada Allah SWT. Keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan tarbiyah Islam (pendidikan Islam) yang benar. Disebutkan demikian karena banyak “Lembaga Pendidikan Islam”, tetapi isi dan metodanya tidak Islami. Sehingga banyak terlihat anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq Islami sebagai akibat pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami istri bertanggung jawab mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar.

    Islam memandang bahwa pembentukan keluarga merupakan salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.

    Tatacara Pernikahan Dalam Islam

    Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tatacara pernikahan berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih (sesuai dengan pemahaman para Salafus Shalih). Secara singkat saya (penulis) sebutkan tahapannya dan jelaskan seperlunya:

    1. Khitbah (meminang).

    Seorang muslim yang akan menikahi seorang muslimah hendaknya ia meminang terlebih dahulu, karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain. Islam melarang seorang muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain (Muttafaq ‘alaihi). Dalam khitbah disunnahkan melihat wajah yang akan dipinang (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Darimi).

     2. Aqad nikah.

    Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi yaitu:

    a. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.

    b. Adanya Ijab Qabul.

    c. Adanya Mahar.

    d. Adanya Wali.

    e. Adanya Saksi-saksi.

    Dan menurut sunnah sebelum aqad nikah diadakan ‘khutbah’ terlebih dahulu yang dinamakan ‘Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat’.

    3. Walimah ‘urusy (resepsi pernikahan).

    Walimatul ‘urusy hukumnya wajib dan diusahakan sesederhana mungkin. Hendaknya diundang juga orang-orang miskin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya saja untuk makan, sedangkan orang-orang miskin tidak diundang. Barangsiapa yang tidak menghadiri undangan walimah, maka ia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya”. (Hadits Shahih Riwayat Muslim dan Baihaqi dari Abu Hurairah).

    Sebagai catatan penting hendaknya yang diundang itu orang-orang shalih, baik kaya maupun miskin. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah kamu bergaul melainkan dengan orang-orang mukmin dan jangan makan makananmu melainkan orang-orang yang taqwa”. (Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim dan Ahmad dari Abu Sa’id Al-Khudri).

    Sebagian Penyelewengan Seputar Pernikahan

    1. Pacaran.

    Kebanyakan orang sebelum melangsungkan pernikahan biasanya “berpacaran” terlebih dahulu. Hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan individu, atau masa penjajakan atau di anggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih terhadap lawan jenisnya. Adanya anggapan seperti ini melahirkan konsensus (persepsi) bersama antar berbagai pihak untuk menganggap masa berpacaran sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar-wajar saja. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berintim-intim dua insan yang berlainan jenis. Terjadi saling pandang, saling sentuh antara lawan jenis yang sudah jelas haram hukumnya menurut syari’at Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ” Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim). Jadi dalam Islam tidak ada kesempatan untuk berpacaran dan berpacaran itu hukumnya haram.

    2. Tukar cincin.

    Dalam peminangan biasanya ada tukar cincin sebagai tanda ikatan, hal ini bukan dari ajaran Islam. (Lihat Adabuz-Zafat, nashiruddin Al-Bani)

    3. Menuntut mahar yang tinggi.

    Menurut Islam sebaik-baik mahar adalah yang murah dan mudah, tidak mempersulit atau mahal. Memang mahar itu hak wanita, tetapi Islam menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi.

    4. Mengikuti upacara adat.

    Ajaran dan peraturan Islam harus lebih tinggi dari segalanya. Setiap acara (upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam) maka wajib untuk dihilangkan. Umumnya umat Islam dalam cara perkawinan selalu meninggikan dan menyanjung adat istiadat setempat, sehingga sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar dan shahih telah mereka matikan dan padamkan (sesuai pengamatan dan perbincangan penulis). Sungguh sangat ironis…!. Kepada mereka yang masih menuhankan adat istiadat jahiliyah dan melecehkan konsep Islam, berarti mereka belum yakin kepada Islam.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”. (Al-Maaidah : 50). Orang-orang yang mencari konsep, peraturan, dan tatacara selain Islam, maka semuanya tidak akan diterima oleh Allah dan kelak di akhirat mereka akan menjadi orang-orang yang merugi, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (Ali-Imran : 85).

    5. Mengucapkan ucapan selamat ala jahiliyah.

    Kaum jahiliyah selalu menggunakan kata-kata ‘Birafa’ Wal Banin’, ketika mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Ucapan Birafa’ Wal Banin (semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak) dilarang oleh Islam. Dari Al-Hasan, bahwa ‘Aqil bin Abi Thalib nikah dengan seorang wanita dari Jasyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah : ‘Birafa’ Wal Banin’. ‘Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata : “Janganlah kalian ucapkan demikian !. Karena Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam melarang ucapan demikian”. Para tamu bertanya :”Lalu apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid ?”. ‘Aqil menjelaskan : “Ucapkanlah : Barakallahu lakum wa Baraka ‘Alaiykum” (mudah-mudahan Allah memberi kalian keberkahan dan melimpahkan atas kalian keberkahan). Demikianlah ucapan yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Darimi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, dan lain-lain).

    Do’a yang biasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan kepada seorang mempelai ialah : “Baarakallahu laka wa baarakaa ‘alaiyka wa jama’a baiynakumaa fii khoir” Do’a ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: ‘Artinya : Dari Abu hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mengucapkan selamat kepada seorang mempelai, beliau mengucapkan do’a : Baarakallahu laka wabaraka ‘alaiyka wa jama’a baiynakuma fii khoir (mudah-mudahan Allah mencurahkan keberkahan atasmu dan mudah-mudahan Dia mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan). (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Tirmidzi, Darimi 2:134, Hakim, Ibnu Majah dan Baihaqi).

    6. Adanya ikhtilath (bercampur baur antara laki-laki dan wanita).

    Ikhtilath adalah bercampurnya laki-laki dan wanita hingga terjadi pandang memandang, sentuh menyentuh, jabat tangan antara laki-laki dan wanita. Menurut Islam antara mempelai laki-laki dan wanita harus dipisah, sehingga apa yang kita sebutkan di atas dapat dihindari semuanya. (untuk yang satu ini masyarakat kita belum terbiasa dengan sunnah Rasulullah SAW, bahkan sangat asing dengan nilai-nilai yang dibawa oleh ajaran Islam)

    7. Pelanggaran lain.

    Pelanggaran-pelanggaran lain yang sering dilakukan di antaranya adalah musik yang hingar bingar, memakan hidangan yang disediakan sambil berdiri, dsb.

    Khatimah Rumah Tangga yang ideal menurut ajaran Islam adalah rumah tangga yang diliputi ‘sakinah’ (ketentraman jiwa), ‘mawaddah’ (rasa cinta) dan ‘rahmah’ (kasih sayang). Allah berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu hidup tentram bersamanya. Dan Dia (juga) telah menjadikan di antaramu (suami, istri) rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (Ar-Ruum : 21).

    Dalam rumah tangga yang Islami, suami-istri harus saling memahami kekurangan dan kelebihannya serta harus tahu pula hak dan kewajibannya serta memahami tugas dan fungsinya masing-masing yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Dengan demikian upaya untuk mewujudkan pernikahan dan rumah tangga yang mendapat keridha’an Allah SWT dapat terealisir.

    Tetapi mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tentram dan bahagia mendadak dilanda “kemelut” perselisihan dan percekcokan. Bila sudah diupayakan untuk damai (sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nisaa : 34-35) namun tetap gagal, maka Islam memberikan jalan terakhir, yaitu “perceraian”.

     Marilah kita berupaya untuk merealisasikan pernikahan secara Islam dan membina rumah tangga yang Islami. Disamping itu wajib bagi kita meninggalkan aturan, tatacara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam. Hanya Islam satu-satunya ajaran yang benar dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala (Ali-Imran : 19). “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan yang menyejukkan hati kami, dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Furqan ; 25:74 ). Amiin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:57 am on 4 November 2013 Permalink | Balas  

    ibu-anak-siluetIzinkan Aku Menciummu, Ibu 

    Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

    Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu.

    Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku. Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.

    Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga. Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya. Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.

    Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

    Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang. Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu.

    Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku Kubersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini. Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu.

    Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.

    ***

    Dari Sahabat – eramuslim

     
  • erva kurniawan 2:08 am on 28 October 2013 Permalink | Balas  

    ghibahMenikmati Celaan dan Hinaan

    Kejernihan dan kekotoran hati seseorang akan tampak jelas tatkala dirinya ditimpa kritik, celaan, atau penghinaan orang lain. Bagi orang yang lemah akal dan imannya, niscaya akan mudah goyah dan resah. Ia akan sibuk menganiaya diri sendiri dengan memboroskan waktu untuk memikirkan kemungkinan melakukan pembalasan. Mungkin dengan cara-cara mengorek-ngorek pula aib lawannya tersebut atau mencari dalih-dalih untuk membela diri, yang ternyata ujung dari perbuatannya tersebut hanya akan membuat dirinya semakin tenggelam dalam kesengsaraan batin dan kegelisahan.

    Persis seperti orang yang sedang duduk di sebuah kursi sementara di bawahnya ada seekor ular berbisa yang siap mematuk kakinya. Tiba-tiba datang beberapa orang yang memberitahukan bahaya yang mengancam dirinya itu. Yang seorang menyampaikannya dengan cara halus, sedangkan yang lainnya dengan cara kasar. Namun, apa yang terjadi? Setelah ia mendengar pemberitahuan itu, diambilnya sebuah pemukul, lalu dipukulkannya, bukan kepada ular namun kepada orang-orang yang memberitahukan adanya bahaya tersebut.

    Lain halnya dengan orang yang memiliki kejernihan hati dan ketinggian akhlak. Ketika datang badai kritik, celaan, serta penghinaan seberat atau sedahsyat apapun, dia tetap tegar, tak goyah sedikit pun. Malah ia justru dapat menikmati karena yakin betul bahwa semua musibah yang menimpanya tersebut semata-mata terjadi dengan seijin Allah Azza wa Jalla.

    Allah tahu persis segala aib dan cela hamba-Nya dan Dia berkenan memberitahunya dengan cara apa saja dan melalui apa saja yang dikehendaki-Nya. Terkadang terbentuk nasehat yang halus, adakalanya lewat obrolan dan guyonan seorang teman, bahkan tak jarang berupa cacian teramat pedas dan menyakitkan. Ia pun bisa muncul melalui lisan seorang guru, ulama, orang tua, sahabat, adik, musuh, atau siapa saja. Terserah Allah.

    Jadi, kenapa kita harus merepotkan diri membalas orang-orang yang menjadi jalan keuntungan bagi kita? Padahal seharusnya kita bersyukur dengan sebesar-besar syukur karena tanpa kita bayar atau kita gaji mereka sudi meluangkan waktu memberitahu segala kejelekkan dan aib yang mengancam amal-amal shaleh kita di akhirat kelak.

    Karenanya, jangan aneh jika kita saksikan orang-orang mulia dan ulama yang shaleh ketika dihina dan dicaci, sama sekali tidak menunjukkan perasaan sakit hati dan keresahan. Sebaliknya, mereka malahan bersikap penuh dengan kemuliaan, memaafkan dan bahkan mengirimkan hadiah sebagai tanda terima kasih atas pemberitahuan ihwal aib yang justru tidak sempat terlihat oleh dirinya sendiri, tetapi dengan penuh kesungguhan telah disampaikan oleh orang-orang yang tidak menyukainya.

    Sahabat, bagi kita yang berlumur dosa ini, haruslah senantiasa waspada terhadap pemberitahuan dari Allah yang setiap saat bisa datang dengan berbagai bentuk.

    Ketahuilah, ada tiga bentuk sikap orang yang menyampaikan kritik. Pertama, kritiknya benar dan caranya pun benar. Kedua, kritiknya benar, tetapi caranya menyakitkan. Dan ketiga, kritiknya tidak benar dan caranya pun menyakitkan.

    Bentuk kritik yang manapun datang kepada kita, semuanya menguntungkan. Sama sekali tidak menjatuhkan kemuliaan kita dihadapan siapapun, sekiranya sikap kita dalam menghadapinya penuh dengan kemuliaan sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Karena, sesungguhnya kemuliaan dan keridhaan-Nyalah yang menjadi penentu itu.

    Allah SWT berfirman, “Dan janganlah engkau berduka cita karena perkataan mereka. Sesungguhnya kekuatan itu bagi Allah semuanya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yunus [10] : 65)

    Ingatlah, walaupun bergabung jin dan manusia menghina kita, kalau Allah menghendaki kemuliaan kepada diri kita, maka tidak akan membuat diri kita menjadi jatuh ke lembah kehinaan. Apalah artinya kekuatan sang mahluk dibandingkan Khalik-nya? Manusia memang sering lupa bahwa qudrah dan iradah Allah itu berada di atas segalanya. Sehingga menjadi sombong dan takabur, seakan-akan dunia dan isinya ini berada dalam genggaman tangannya. Naudzubillaah!!!

    Padahal, Allah Azza wa Jalla telah berfirman, “Katakanlah, Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada orang Kau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Kau kehendaki. Engkau muliakan yang Kau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Kau Kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 26)

    ***

    Oleh: Ahmad

     
  • erva kurniawan 4:52 am on 26 October 2013 Permalink | Balas  

    doaDo’a   

    Nu’man bin Bashir ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kalian akan melihat orang beriman saling berkasih sayang satu sama lain, mencintai satu sama lain, bersahabat satu sama lain bagaikan satu tubuh. Ketika satu bagian tangan (dari tubuh) merasakan sakit, maka menyebabkan keseluruhan tubuh akan menjadi lemah dan merasa sakit” ( Misykat : 422 )

    Abu Musa ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seorang beriman dengan orang yang beriman lainnya seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain (dengan tiap batanya)”. (ibid)

    Ibnu Umar ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, maka jangan menyusahkannya dan jangan menyerahkannya (kepada musuh-musuh ketika ia di dalam kesusahan)”. (ibid)

    Amir bin Malik, ketua Bani Sulaym meminta bantuan kepada Rasulullah SAW untuk menghadapi musuh kaumnya. Rasulullah SAW menerima permohonannya dan mengirim 70 orang sahabat ra.hum. yang mereka terdiri dari para Quraa (ahli dalam bacaan Al-Qur’an). Kaum Bani Sulaym kemudian menawan para sahabat ra.hum. di sebuah tempat yang bernama Bir Ma’una dan kemudian membunuh mereka. Jibril AS memberitahukan peristiwa ini kepada Rasulullah SAW dan menyampaikan pesan terakhir dari para Quraaa tersebut, “Kabarkan kepada orang-orang bahwa kami telah berjumpa Rabb kami. Dia (Allah) ridha kepada kami dan kami ridha kepada-Nya”. Kejadian ini telah menyebabkan Rasulullah SAW mengalami kesedihan yang mendalam. Abdullah bin Mas’ud ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah membaca Qunut Nazilah selama satu bulan “mengutuk” Bani Sulaym (Bukhari 2:586)

    Berdasarkan riwayat-riwayat di atas, para Fuqaha telah menggariskan bahwa apabila Ummat ini dalam krisis mereka harus mengikuti sunnah untuk mengamalkan Qunut Nazilah dan berdo’a untuk Ummat.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:07 am on 22 October 2013 Permalink | Balas  

    Kisah cinta Laila MajnunMerawat Cinta dalam Nuansa Ibadah

    Banyak orang mengakui arti penting dalam rumah tangga. Banyak orang selalu mencari cara bagaimana agar pohon cinta senantiasa bersemi, tak layu dimakan usia dan tak lekang oleh problema. Banyak jalan menuju kelanggengan cinta, tapi tahukah Anda dimana kuncinya?

    Arief dan Fatimah sudah lebih dari lima tahun menikah dan memiliki empat anak yang masih kecil-kecil. Arief adalah seorang guru SD dengan penghasilan pas-pasan. Di sela kesibukannya merawat anak-anak,Fatimah membantu menambah pendapatan keluarga dengan berjualan makanan kecil. Himpitan ekonomi seringkali menjadi awal dari munculnya pertengkaran demi pertengkaran. Bagi mereka, hidup terasa begitu berat dan menyiksa. Suasana yang dominan adalah kerja keras, keluh kesah dan kekakuan. Tidak ada lagi kehangatan komunikasi, boro-boro ngomong cinta. Ada apa dengan cinta mereka?

    Ponco dan Sinta adalah pasangan eksekutif muda yang sukses. Semua yang menjadi impian orang muda mereka miliki; rumah, kendaraan, status sosial, liburan ke luar negeri. Tapi, semakin hari Ponco dan Sinta semakin merasa asing. Mereka tenggelam dalam dunianya sendiri. Memang selalu ada kecupan di pagi hari, telepon rutin saat makan siang, hadiah kejutan saat ulang tahun perkawinan atau liburan bersama di akhir tahun, tapi, mengapa aktifitas cinta mereka terasa hambar?

    Ada apa dengan cinta, apa makna dan hakikat cinta, siapa sebenarnya yang menumbuhkan cinta dan bagaimana seharusnya memupuk pohon cinta? Simak tulisan berikut-diramu berdasarkan uraian dari beberapa narasumber, pakar masalah cinta dan perkawinan untuk menjawab rasa penasaran Anda.

    Hakikat cinta

    Menurut Dra Ieda Poernomo Sigit Sidi, Psi, konsultan masalah perkawinan dan keluarga, secara psikologis cinta dapat dimaknai sebagai perasaan terhadap seseorang yang bisa mendorong munculnya keinginan untuk bahagia, menyenangkan, dan meringankan beban orang yang dicintainya. KH Rahmat Abdullah, Pimpinan Iqro, Bekasi, mengatakan, cinta menumbuhkan keinginan untuk selalu menyelamatkan, membahagiakan dan memberikan hal-hal yang bermanfaat pada orang yang dicintai. Oleh karena itu, kata Rahmat mengutip pendapat IbnU Abbas, hubungan jasadiyah sebagai muara dan puncak tumpahan segala perasaan harus diterjemahkan sebagai upaya memberi bukan merampas. “Lewat hubungan itu, orang Ingin melimpahkan bukan mengharapkan, Ingin pasangannya mendapatkan yang paling baik, paling membahagiakan. Bukan dia memuaskan diri dengan itu.”

    Lebih jauh, Rahmat mengaitkan konsep cinta dengan ketaatan pada Allah Swt. Artinya, cinta sebagai kekuatan yang dapat mendorong seseorang berkorban untuk orang yang dicintainya haruslah diletakkan dalam rangka mentaati perintah Allah, yaitu, menjaga diri dan keluarganya dari api neraka serta berbuat baik pada pasangan. Karena itu, kata Rahmat, Allah mencegah hal-hal yang dapat merusak hubungan cinta dan menganjurkan hal-hal yang dapat mengokohkannya. Misalnya, larangan saling berdiam diri dan perintah menumbuhkan iklim dialogis dan kebersamaan dalam rumah tangga. Dr. Setiawan Budi Utomo, anggota Dewan Syariah Nasional Majlis Ulama Indonesia, menyebutnya sebagai cinta karena Allah dan mencintai dijalan Allah ( al hubbu fillah wa billah ).

    Cinta memang memiliki kekuatan luar biasa dalam nenggerakkan jiwa. Menurut Rahmat, menyitir kisah salafussaleh, cinta sejati membuat pemiliknya dapat bersabar kala menderita, sanggup mensyukuri apa yang dirasakannya, berhasil mengubah derita menjadi kelezatan bahkan rela melupakan segala kepedihan kala berhadapan dengan yang dicintainya. Siapakah yang dapat menghadirkan cinta sejati dalam hati kita? Rahmat mengatakan, Allah lah yang menjadikan diantara suami istri itu rasa kasih dan sayang sebagai salah satu tanda kekuasaan-Nya. “Mawaddah warrohmah itu dari Allah, Dia yang menggerakkan hati seseorang untuk mencintai pasangannya:’ kata Setiawan. Ieda pun berpendapat serupa. Dalam pandangannya, jodoh harus dipahami sebagai ketentuan Allah (takdir). “Nggak bisa dijelaskan kenapa kita jatuh cinta pada orang itu dan tidak pada yang lain. Tuhan yang memberikan itu.”

    Berawal dari keshalehan pribadi

    Kata Ieda, perasaan cinta pada pasangan memang bersifat fluktuatif, naik turun tergantung pada kondisi interaksi suami istri dalam kehidupan sehari-hari. Jika ada hal yang mengganggu perasaan, ada hal yang menimbulkan kekecewaan, misalnya, respon yang diberikan pasangan tidak sesuai dengan yang diharapkan atau pasangan tidak merespon cinta, maka cinta dapat berubah menjadi kesal, bahkan benci.

    Jika kebencian telah mendominasi hati, maka suasana yang muncul dalam interaksi pasangan suami istri adalah kebekuan, kegersangan dan kehambaran. Bukankah kita tidak pernah mencitakan situasi seperti ini saat melangkah memasuki gerbang pernikahan. Nah, bagaimana sih merawat cinta? Benarkah tumbuh kembangnya cinta sejati pada pasangan hidup mensyaratkan wujudnya keshalehan pribadi (kekuatan ruhiyah) dalam diri mereka yang menginginkannya?

    Menjawab persoalan ini, Setiawan menunjuk ayat AI Quran yang berbunyi: “Apabila kalian mencintai Aku maka ikutilah Aku”. “Karena itu, katanya, perasaan cinta harus dibuktikan dengan komitmen perjodohan atas dasar kesolehan (agama). Artinya, pernikahan sebagai wadah penyemaian bibit cinta harus menjadikan agama sebagai pertimbangan utama dan menomorsekiankan pertimbangan lainnya. “Kalau itu tidak dijaga, maka otomatis cinta pun akan luntur.”

    Rahmat mengatakan, karena Allah yang menghadirkan cinta, Allah yang menguasai hati manusia, maka mohonlah pada-Nya agar la merawat cinta tersebut dihati kita. Lihat skenario Nabi Musa yang pelik: dicari tentara di rumah, dihanyutkan dalam peti ke sungai, sampai ke istana tapi tidak ada yg cedera dari beliau.

    Kenapa? Sebab Allah berfirman: “Aku tanamkan dalam dirimu kecintaan dari-Ku, agar engkau dibentuk dalam pengawasan mata-Ku.” Setiap orang yg melihat Nabi Musa akan tertarik, jatuh hati. Jika Allah mencintai hamba-Nya maka la tidak akan diam. “Jibril Aku mencintai si Fulan di bumi, maka kamu harus mencintainya.” Dan Jibril pun mengajak malaikat langit untuk mencintai fulan.

    Betapa tingginya cinta yang berasal dari Allah, sehingga saat salah satu pihak berkurang, usaha untuk mencintai tetap jalan.Menurut pendapat Setiawan, ini menunjukkan bahwa ada kolerasi positif antara hubungan ritual seseorang dengan Allah yang menghasilkan kekuatan ruhiyah dan hubungannya dengan kekasihnya (pasangannya,red). “Semakin dekat seseorang pada Allah, semakin ia memiliki kekuatan untuk mencintai pasangannya, begitupun sebaliknya, Jika hubungan seseorang dengan Allah buruk, maka ia akan menemui hal yang tidak menyenangkan pada perilaku pasangannya,” kata konsultan syariah di Bank Indonesia ini.

    Ciri kekuatan ruhiyah

    Kekuatan ruhiyah memiliki kemampuan yang tinggi dalam merawat cinta dan mempertahankan komitmen pernikahan, apa saja ciri-cirinya? Ciri-ciri orang yang memiliki kekuatan ruhiyah, menurut Setiawan, antara lain mampu mengendalikan emosi, melakukan banyak ibadah ritual pada Allah, kedekatan pada Allah yang tampak dari aktifitas keseharian, lebih sensitif dan empati pada penderitaan orang lain.

    Sedangkan secara psikologis, kata Ieda, seseorang yang mengenal dirinya, bertanggung jawab atas dirinya sendiri, memikirkan orang lain, dan mampu bertanggung jawab atas orang lain, adalah orang yang memiliki kematangan pribadi. Selain itu, ia bisa menampung aspirasi orang lain, bisa beradaptasi, luwes dalam bersikap dan bisa menghargai pendapat orang lain sekali pun berbeda dengan pendapatnya. “Dia juga bisa menata emosinya, dia tahu kapan dia harus bicara, kepada siapa, seberapa jauh, jadi dia menjaga interaksi lingkungan dengan baik.”

    Rahmat Abdullah menyebutkan ciri-ciri kekuatan ruhiyah bukan sekedar yang diaplikasikan pada fenomena ibadah zhahir semisal dzikir, tilawah dan tahajud tapi benar-benar ibadah yang menjadi malakah (capa-bility) jiwa. “Gerak dzikirnya bukan hanya lidah, tetapi gerak hati yang menyatu dengan jasad. Kekuatan dzikir bisa menopang batin, sebaliknya jiwa yang matang bisa mendorong lahirnya bekerja.”

    Bertanggungjawab dan lebih tenang

    Dengan keshalehan dan kesabaran, kata Setiawan, seseorang akan lebih tenang dalam menghadapi konflik atau terpaan masalah. Perbedaan perspektifkah, pertengkarankah atau yang lainnya akan dijadikan sebagai bumbu-bumbu yang menambah erat hubungan suami istri. “Konflik yang terjadi tidak dimasukkan ke dalam hati sehingga bisa membakar hati. Berbeda jika terjadi pada orang yang tidak soleh dan tidak sabar, konflik akan ditumpuk menjadi endapan, seperti bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak.”

    Dengan kata lain, Ieda mengatakan jika seseorang memiliki kekuatan ruhiyah, kestabilan jiwa, maka ia akan mencintai pasangannya dengan kesadaran penuh terhadap tanggungjawab. Menurut Ieda, tuntutan pertangunganjawaban di hadapan Allah membuat mereka tetap berusaha merawat cintanya agar makin besar dan kuat, apa pun masalah yang dihadapi. “Langkah mereka dilandasi keinginan beribadah, mengikuti sunah Rasul, mendidik anak-anak sebagai amanah Allah, sehingga tidak berpikir macam-macam. Yang penting bagaimana menyenangkan suami atau istri.”

    Praktik Ibadah untuk Cinta

    Rahmat mengatakan bahwa praktik ibadah yang dilakukan secara bersama dapat menjadi sarana perawat ibadah yang ampuh. Misalnya, shalat malam berjamaah. Kata Rahmat mengutip hadits Nabi, Allah merahmati seorang istri yang membangunkan suaminya untuk shalat malam, jika tidak mau ia akan memercikkan air hingga terbangun, atau sebaliknya. Bahkan, kata Setiawan, Rasulullah setiap malam mengajak keluarganya shalat malam, bukan hanya istrinya tetapi juga cucunya. “Ibarat kalau kita ingin berlayar, harus menjadikan seluruh anggota kapal sepaham, bukan hanya sebagian.”

    Pada bagian lain, Rahmat mengisahkan, bahwa jika datang ke rumah Aisyah, Rasulullah akan bertanya, apakah ada makanan hari ini? Aisyah menjawab tidak ada. Maka Rasul berkata, “Ya sudah, tidak apa-apa. Saya berpuasa saja hari ini.”Ini kan suatu yg mengagumkan buat istrinya. Begitu hebatnya ruhaniah beliau.”

    Senada dengan pendapat Rahmat dan Setiawan, ,Ieda mengatakan bahwa praktik ibadah ritual yang mengantarkan pada hakikat ibadah akan mempengaruhi perilaku seseorang, mempengaruhi kecerdasan emosionalnya, termasuk kemampuannya dalam menata emosi, beradaptasi dan berinteraksi dengan pasangan. “Kematangan spiritual bisa membantu tercapainya kematangan pribadi. Kan orang yang spiritualnya tinggi, jadi bagus. Dia bisa menata perilakunya.”

    Idealnya, rumah tangga dipertahankan dengan cinta hingga akhir. Bagaimana jika tak ada lagi cinta? Menurut Setiawan, rumah tangga dapat bertahan tanpa cinta, sepanjang masih ada komitmen, misi dan visi pernikahan, juga tekad dan kemauan. Katanya, orang sering mencampuradukkan hubungan suami istri itu dengan cinta, padahal ini berbeda. Jika sudah tak ada cinta, kekuatan ruhiyah seseorang tetap dapat melahirkan rasa tanggungjawab, terhadap anak-anak, terhadap masa depan mereka, untuk mempertahankan rumahtangga.

    Kata Rahmat, kehidupan rumah tangga tidak hanya soal romantis, tapi ada tanggungjawab. Suatu hari ada orang yang mengadu pada Khalifah Umar bahwa ia sudah tidak mencintai mencintai istrinya. Umar berkata, apakah setiap rumah tangga harus dibangun di atas cinta? Usahakanlah untuk menanam benih cinta, suatu saat kamu akan menemukan. Berkata Rahmat, “Kalau mau ingin dapet cinta. Tanam benihnya. Paksakan diri. Buat laki2 bersifat baik, melindungi. Buat perempuan taat kepada Allah, taat pada suami, menjaga diri.”

    Terawat hingga kiamat

    Menurut Setiawan, dalam ayat lain dijelaskan bahwa pada hari kiamat nanti orang-orang yang dekat (termasuk suami istri, red) akan menjadi musuh satu sama lain, kecuali orang yang bertaqwa. Itu menunjukkan bahwa ikatan ketaqwaan itulah yang akan memastikan erat tidaknya, dekat tidaknya hubungan seseorang dengan pasangannya. Kenapa? Karena itulah ikatan yang abadi, itulah yang akan konsisten dan tetap eksis, bahkan hingga hari akhir. “Wajah cantik bisa luntur karena sifatnya temporer.” Jadi, merawat cinta dengan ikatan ruhiyah, ikatan spiritual membuat cinta awet terawat hingga hari kiamat. Tidakkah kita ingin tetap dipersatukan dengan pasangan kita di surga kelak?

    ***

    Oleh: Dwi septiawati Djafat; Laporan Dina, Maria, Vieny

     
  • erva kurniawan 4:57 am on 21 October 2013 Permalink | Balas  

    cintaIndahnya Cinta

    Cinta adalah bagian dari fitrah, orang yang kehilangan cinta dia tidak normal tetapi banyak juga orang yang menderita karena cinta. Bersyukurlah orang-orang yang diberi cinta dan bisa menyikapi rasa cinta dengan tepat.

    Hikam: “Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah tempat kembali yang baik.” (Al-Qur`an: Al-Imron ayat 14)

    Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

    Cinta memang sudah ada didalam diri kita, diantaranya terhadap lawan jenis. Tapi kalau tidak hati-hati cinta bisa menulikan dan membutakan kita.

    Cinta yang paling tinggi adalah cinta karena Allah cirinya adalah orang yang tidak memaksakan kehendaknya. Tapi ada juga cinta yang menjadi cobaan buat kita yaitu cinta yang lebih cenderung kepada maksiat. Cinta yang semakin bergelora hawa nafsu, makin berkurang rasa malu. Dan, inilah yang paling berbahaya dari cinta yang tidak terkendali.

    Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapi mengarahkan cinta tetap pada rel yang menjaga martabat kehormatan, baik wanita maupun laki-laki. Kalau kita jatuh cinta harus hati-hati karena seperti minum air laut semakin diminum semakin haus. Cinta yang sejati adalah cinta yang setelah akad nikah, selebihnya adalah cobaan dan fitnah saja.

    Cara untuk bisa mengendalikan rasa cinta adalah jaga pandangan, jangan berkhalwat berdua-duaan, jangan dekati zina dalam bentuk apapun dan jangan saling bersentuhan.

    Bagi orang tua yang membolehkan anaknya berpacaran, harus siap-siap menanggung resiko. Marilah kita mengalihkan rasa cinta kita kepada Allah dengan memperbanyak sholawat, dzikir, istighfar dan sholat sehingga kita tidak diperdaya oleh nafsu, karena nafsu yang akan memperdayakan kita. Sepertinya cinta padahal nafsu belaka.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:16 am on 19 October 2013 Permalink | Balas  

    HaMuhammad SAWri terakhir Rasulullah, sebuah renungan

    Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya.

    Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.”

    Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan  penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,”keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya didunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu ru mah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

    Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

    Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.  “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrai l melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-oran g lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi.

    Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:00 am on 18 October 2013 Permalink | Balas  

    kuburanRenungan Jum’at : Menghargai Umur

    Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan yang menciptakan manusia dari tanah kemudian dari air mani dan yang telah menetapkan umur manusia dalam lauh Mahfuzh, maka sedikitpun tidak bisa dikurangi atau ditambah. Ia menjadikan mati dan hidup sebagai ujian supaya diketahui siapa di antara manusia yang paling baik amalnya.

    Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, begitu juga kepada para shahabat, tabi’in dan para pengikut jejak beliau yang setia sampai hari akhir.

    Kaum muslimin yang dirahmati Allah. Tidak ada yang lebih berharga dalam kehidupan ini baik itu dunia serta isinya bila dibanding dengan taqwa, karena hanya taqwa saja yang menjadikan hidup manusia berarti. Oleh sebab itu, marilah kita tingkatkan taqwa kita dengan memperbanyak amal shaleh agar umur yang dikaruniakan Allah kepada kita lebih bermanfaat dan berharga.

    Kaum muslimin yang berbahagia. Suatu hari, di bawah terik matahari yang menyengat, dengan keringat mengalir deras, seorang ibu bergegas menuju rumah sakit. Betapa hancur perasaannya ketika ia mengetahui hasil pemeriksaan tiga anaknya yang dinyatakan positif mengidap virus HIV. Virus dari penyakit laknat yang banyak menyerang penduduk dunia akibat dari pergaulan bebas dan budaya jahili yang bertentangan dengan aturan Allah. Betapa hati sang ibu pilu menahan sedih tak mampu berbuat apa-apa melihat anak-anaknya yang tak berdaya pelan tapi pasti bayangan maut sudah menyeringai di depan mata. Pelan tapi pasti, detik-detik dari sisa umurnya mereka lalui dengan kepasrahan, ketundukan dan taqarrub kepada Allah, mereka lebih khusyuk dari orang lain, mereka lebih takut dari orang-orang di sekitarnya. Pelan tapi pasti maut telah menanti dengan taringnya yang menakutkan.

    Kaum muslimin yang berbahagia. Apakah kita tidak sadar kalau maut itu selalu mengintai kita setiap saat? Maut tidak pernah pilih kasih kepada siapa saja ia mesti datang. Tidak peduli ia sehat atau sakit, tidak peduli ia seorang anak, pemuda atau orang tua, kalau sudah datang ajalnya, pasti maut akan menjemput tanpa permisi lagi. Karena itulah, mari kita jadikan sisa umur kita lebih berarti. Kita jadikan sisa nafas kita ini bermanfaat bagi akhirat kita. Kita bersyukur kepada Allah, karena sampai saat ini kita masih diberikan nikmat umur, kita sangat berterima-kasih kepada Allah karena sampai detik ini kita masih bisa menghirup udara kehidupan. Sehingga untuk mengungkapkan rasa gembira dan syukur sering diwujudkan dengan pesta ulang tahun. Namun pernahkah kita berfikir berapa persenkah dari umur kita yang bernilai dan berharga? Pernahkah kita merenung berapa persen dari usia kita yang telah kita siapkan untuk akhirat kita? Maka seorang muslim akan kembali menengok kepada tujuan asasi diciptakannya manusia. Ia akan menuju kepada orientasi hidup sebenarnya yaitu ibadah kepada Allah yang artinya :

    “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

    Maka jelaslah, umur kita yang sebenarnya adalah: detik-detik yang kita gunakan bersujud kepada Allah, umur kita yang paling berharga adalah saat-saat yang kita habiskan di medan jihad. Umur kita yang paling bernilai adalah saat-saat bersama Al-Qur’an, saat-saat bersama majlis-majlis zikir dan ilmu. Oleh sebab itu, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri berapa persenkah umur kita yang berharga? Berapa persenkah dari umur kita yang kita siapkan untuk ibadah? Sebab banyak orang yang berumur panjang namun umurnya tidak berharga sama sekali. Hidup mereka hanya untuk makan dan memuaskan hawa nafsunya. Hidup mereka hanya untuk berfoya-foya, hidup mereka hanya untuk dunia. Akhirnya kelak di hari kiamat tiada yang tinggal pada mereka kecuali penyesalan dan kerugian, seperti yang digambarkan oleh Al-Quran surat Fathir ayat 37:

    “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah Kami tidak memanjangkan umur kalian dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kalian pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolongpun.”

    Kaum muslimin yang dirahmati Allah. Seorang mu’min tidaklah patut tertipu dengan usianya yang masih muda atau terlena dengan kenikmatan yang diberikan oleh Allah. Sehingga ia mengulur-ulur waktu atau bahkan lupa untuk beribadah. Karena walau bagaimanapun panjang umurnya, namun yang akan bermanfaat di akherat adalah masa-masa yang ia gunakan untuk beribadah kepada Allah. Sedang yang lainnya akan hilang seperti debu di atas bacu licin yang tersiram hujan hilang tak berbekas. Akhirnya marilah kita renungi firman Allah yang artinya :

    “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan saling menasehati dengan kebaikan dan saling menasehati dengan kesabaran.” (Q.S. Al-Ashr:1-3).

    Kaum muslimin yang berbahagia. Kita sebagai orang yang beriman tidak patut lalai dari beribadah kepada Allah sebelum kita dijemput oleh maut yang selalu mengintai setiap saat, karena hanya dengan ibadah itu saja hidup kita ini bisa bernilai, dan bisa menyelamatkan kita pada hari kiamat.

    Umur panjang belum tentu lebih baik dari umur pendek. Tapi sebaik-baik umur adalah umur yang panjang digunakan untuk beramal shaleh yang banyak. Dan sejelek-jelek umur adalah yang pendek dan semuanya digunakan untuk kejelelekan.

    Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman

    Wassalam

    ***

    Oleh: Seno

    Normal
    0

    false
    false
    false

    IN
    X-NONE
    X-NONE

    MicrosoftInternetExplorer4

    Renungan Jum’at : Menghargai Umur

    Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan yang menciptakan manusia dari tanah kemudian dari air mani dan yang telah menetapkan umur manusia dalam lauh Mahfuzh, maka sedikitpun tidak bisa dikurangi atau ditambah. Ia menjadikan mati dan hidup sebagai ujian supaya diketahui siapa di antara manusia yang paling baik amalnya.

    Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, begitu juga kepada para shahabat, tabi’in dan para pengikut jejak beliau yang setia sampai hari akhir.

    Kaum muslimin yang dirahmati Allah. Tidak ada yang lebih berharga dalam kehidupan ini baik itu dunia serta isinya bila dibanding dengan taqwa, karena hanya taqwa saja yang menjadikan hidup manusia berarti. Oleh sebab itu, marilah kita tingkatkan taqwa kita dengan memperbanyak amal shaleh agar umur yang dikaruniakan Allah kepada kita lebih bermanfaat dan berharga.

    Kaum muslimin yang berbahagia. Suatu hari, di bawah terik matahari yang menyengat, dengan keringat mengalir deras, seorang ibu bergegas menuju rumah sakit. Betapa hancur perasaannya ketika ia mengetahui hasil pemeriksaan tiga anaknya yang dinyatakan positif mengidap virus HIV. Virus dari penyakit laknat yang banyak menyerang penduduk dunia akibat dari pergaulan bebas dan budaya jahili yang bertentangan dengan aturan Allah. Betapa hati sang ibu pilu menahan sedih tak mampu berbuat apa-apa melihat anak-anaknya yang tak berdaya pelan tapi pasti bayangan maut sudah menyeringai di depan mata. Pelan tapi pasti, detik-detik dari sisa umurnya mereka lalui dengan kepasrahan, ketundukan dan taqarrub kepada Allah, mereka lebih khusyuk dari orang lain, mereka lebih takut dari orang-orang di sekitarnya. Pelan tapi pasti maut telah menanti dengan taringnya yang menakutkan.

    Kaum muslimin yang berbahagia. Apakah kita tidak sadar kalau maut itu selalu mengintai kita setiap saat? Maut tidak pernah pilih kasih kepada siapa saja ia mesti datang. Tidak peduli ia sehat atau sakit, tidak peduli ia seorang anak, pemuda atau orang tua, kalau sudah datang ajalnya, pasti maut akan menjemput tanpa permisi lagi. Karena itulah, mari kita jadikan sisa umur kita lebih berarti. Kita jadikan sisa nafas kita ini bermanfaat bagi akhirat kita. Kita bersyukur kepada Allah, karena sampai saat ini kita masih diberikan nikmat umur, kita sangat berterima-kasih kepada Allah karena sampai detik ini kita masih bisa menghirup udara kehidupan. Sehingga untuk mengungkapkan rasa gembira dan syukur sering diwujudkan dengan pesta ulang tahun. Namun pernahkah kita berfikir berapa persenkah dari umur kita yang bernilai dan berharga? Pernahkah kita merenung berapa persen dari usia kita yang telah kita siapkan untuk akhirat kita? Maka seorang muslim akan kembali menengok kepada tujuan asasi diciptakannya manusia. Ia akan menuju kepada orientasi hidup sebenarnya yaitu ibadah kepada Allah yang artinya :

    “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

    Maka jelaslah, umur kita yang sebenarnya adalah: detik-detik yang kita gunakan bersujud kepada Allah, umur kita yang paling berharga adalah saat-saat yang kita habiskan di medan jihad. Umur kita yang paling bernilai adalah saat-saat bersama Al-Qur’an, saat-saat bersama majlis-majlis zikir dan ilmu. Oleh sebab itu, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri berapa persenkah umur kita yang berharga? Berapa persenkah dari umur kita yang kita siapkan untuk ibadah? Sebab banyak orang yang berumur panjang namun umurnya tidak berharga sama sekali. Hidup mereka hanya untuk makan dan memuaskan hawa nafsunya. Hidup mereka hanya untuk berfoya-foya, hidup mereka hanya untuk dunia. Akhirnya kelak di hari kiamat tiada yang tinggal pada mereka kecuali penyesalan dan kerugian, seperti yang digambarkan oleh Al-Quran surat Fathir ayat 37:

    “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah Kami tidak memanjangkan umur kalian dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kalian pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolongpun.”

    Kaum muslimin yang dirahmati Allah. Seorang mu’min tidaklah patut tertipu dengan usianya yang masih muda atau terlena dengan kenikmatan yang diberikan oleh Allah. Sehingga ia mengulur-ulur waktu atau bahkan lupa untuk beribadah. Karena walau bagaimanapun panjang umurnya, namun yang akan bermanfaat di akherat adalah masa-masa yang ia gunakan untuk beribadah kepada Allah. Sedang yang lainnya akan hilang seperti debu di atas bacu licin yang tersiram hujan hilang tak berbekas. Akhirnya marilah kita renungi firman Allah yang artinya :

    “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan saling menasehati dengan kebaikan dan saling menasehati dengan kesabaran.” (Q.S. Al-Ashr:1-3).

    Kaum muslimin yang berbahagia. Kita sebagai orang yang beriman tidak patut lalai dari beribadah kepada Allah sebelum kita dijemput oleh maut yang selalu mengintai setiap saat, karena hanya dengan ibadah itu saja hidup kita ini bisa bernilai, dan bisa menyelamatkan kita pada hari kiamat.

    Umur panjang belum tentu lebih baik dari umur pendek. Tapi sebaik-baik umur adalah umur yang panjang digunakan untuk beramal shaleh yang banyak. Dan sejelek-jelek umur adalah yang pendek dan semuanya digunakan untuk kejelelekan.

    Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman

    Wassalam

    ***

    Oleh: Seno

    /* Style Definitions */
    table.MsoNormalTable
    {mso-style-name:”Table Normal”;
    mso-tstyle-rowband-size:0;
    mso-tstyle-colband-size:0;
    mso-style-noshow:yes;
    mso-style-priority:99;
    mso-style-qformat:yes;
    mso-style-parent:””;
    mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
    mso-para-margin-top:0cm;
    mso-para-margin-right:0cm;
    mso-para-margin-bottom:10.0pt;
    mso-para-margin-left:0cm;
    line-height:115%;
    mso-pagination:widow-orphan;
    font-size:11.0pt;
    font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
    mso-ascii-font-family:Calibri;
    mso-ascii-theme-font:minor-latin;
    mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
    mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
    mso-hansi-font-family:Calibri;
    mso-hansi-theme-font:minor-latin;
    mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
    mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

     
  • erva kurniawan 3:53 am on 17 October 2013 Permalink | Balas  

    siluet ontaSeperti Malaikat

    Innallaaha ma ‘anaa … Rasulullah menenangkan sahabatnya, Abu Bakar Shiddik yang ketakutan saat bersembunyi dari kejaran pasukan kafir yang hendak membunuh mereka, di gua Tsur. Saat itu mereka tengah dalam perjalanan hijrah menuju Kota Madinah. Rasulullah yakin, Allah segera menurunkan para malaikat untuk melindungi dan menyelamatkan mereka. Dan keyakinan itu terbukti, seperti dikisahkan bahwa ada seekor laba-laba yang membuat sarangnya menutupi mulut gua segera setelah kedua hamba Allah itu masuk gua. Tindakan laba-laba itu tentulah dapat mengelabui orang-orang yang mengejar Rasulullah, sehingga mereka berpikir, mustahil Rasulullah masuk ke dalam gua tanpa merusak sarang laba-laba.

    Di Thaif, Jibril seolah ‘marah’ melihat kekasih Allah, Muhammad Saw dihina, dicaci, diejek sebagai penipu, diludahi bahkan disakiti dengan lemparan batu saat menerangkan ajaran Islam kepada kaum di tempat itu. ‘Kemarahan’ malaikat pendamping setia Rasulullah itu ditunjukkan dengan tawarannya untuk membalikkan gunung-gunung di sekitar Thaif untuk membinasakan kaum yang menindas Rasul dan para sahabat itu.

    Dalam perang Badar, tiga ratus pasukan mukminin mampu memukul mundur pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya sangat tidak sebanding, yakni tiga kali lebih banyak dari pasukan yang dipimpin Rasul. Rasulullah dan para sahabat yang bersyukur merayakan kemenangan itu merasa yakin, Allah dan para malaikat-Nya lah yang ‘turun tangan’ membantu mengalahkan musuh, disamping semangat tinggi, keberanian yang tak diragukan serta kehebatan berperang para pasukannya.

    Masih banyak kisah-kisah yang bisa kita hadirkan untuk membuktikan betapa Allah sangat peduli dengan mengirimkan para malaikat untuk membantu kaum mukminin dalam segala hal. Seperti yang dibuktikan para pejuang mujahidin Afghanistan saat berperang melawan pasukan Rusia. Secara logika, adalah mustahil kesederhanaan persenjataan dan keterbatasan amunisi yang dimiliki pejuang Afghan mengalahkan kehebatan senjata otomatis dan modern miliki pasukan Rusia. Belum lagi ditambah dengan kendaraan lapis baja serta serangan udara yang mematikan dari Rusia. Sebuah buku kecil yang terbit sekitar akhir tahun 1980-an yang ditulis oleh Dr. Abdullah Azzam, Ayaaturrohman fii Jihadil Afghan, banyak mengisahkan pertolongan-pertolongan Allah dengan menurunkan malaikat-malaikat-Nya untuk membantu perjuangan mujahidin Afghan.

    Kini, sebagian orang memudar keyakinannya akan datangnya pertolongan Allah seperti yang pernah dialami kaum mukminin sebelumnya. Bahkan tidak sedikit yang berpikir, malaikat-malaikat Allah itu hanya turun pada saat Rasulullah masih ada. Padahal seharusnya kita meyakini bahwa Allah tetap menurunkan para malaikat-Nya guna membantu hamba-hamba-Nya yang beriman, para abdi Allah yang komitmen pada agamanya, dan mereka yang tak selangkahpun mundur atau keluar dari jalan perjuangan menegakkan, membela agama Allah.

    Dalam banyak kesempatan, saat kesedihan melanda, datang seseorang saudara yang dengan caranya sendiri mencoba membuat kita tersenyum, sekaligus mengajarkan kita agar senantiasa kuat menerima segala bentuk cobaan. Saat kesulitan datang, ada saudara lain memberikan jalan keluar sehingga kita tak gelap mata dan dengan mudah menyelesaikan setiap persoalan yang terasa begitu rumit untuk dipecahkan. Saudara-saudaranya yang menghibur dikala sedih, menunjukkan jalan keluar dari kesesatan, mereka bukanlah malaikat. Tetapi apa yang dilakukannya seperti malaikat yang dihadirkan Allah bagi orang-orang yang memerlukannya.

    Mereka yang lebih kuat ketika mengangkat orang-orang yang lemah sehingga dapat ‘terbang’ bersama, para dermawan yang menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim piatu, orang yang memberikan pertolongan saat terjadi musibah, bencana alam, atau orang-orang yang sekedar menyapa lembut menyentuh hati seseorang yang terluka, atau juga mereka yang ikhlas memaafkan kekeliruan orang yang berbuat salah. Termasuk sahabat-sahabat yang menyentil kita dengan nasihatnya saat diri ini salah melangkah. Allah seperti menurunkan para malaikat-Nya saat itu, tanpa kita sadari. Seperti halnya Jibril dan ribuan malaikat yang pernah membantu Rasulullah dan kaum mukminin sebelumnya, ‘malaikat-malaikat’ yang berada di sekeliling kita saat ini pun memberikan bantuannya tanpa berharap balasan, tak meminta pujian dan penghargaan dari siapapun. Bagi mereka, mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan pertolongan menjadi kebahagiaan tersendiri, selain juga bentuk rasa syukur telah diberikan nikmat lebih oleh Allah, juga bagian lain dari ibadah.

    Bersyukurlah, Allah masih berkenan menurunkan malaikat-malaikat-Nya yang menyertai saudara, sahabat, atau siapapun yang kita sadari atau tidak telah banyak membantu. Dari yang terjatuh hingga mampu berdiri tegak, dari yang terpuruk sampai bangkit menatap masa depan yang cerah, yang tersenyum setelah kesedihan melanda, yang melonjak gembira saat meraih prestasi setelah sebelumnya merasa putus asa, dan dari yang terkulai lemah menjadi penuh semangat bergelora. Meski para ‘malaikat’ itu tak pernah berharap balasan, tentu mereka juga punya satu harapan, agar kita pun senantiasa menjadi malaikat bagi orang lain. Irwin Saranson dan koleganya (1991) melakukan penelitian terhadap 10.000 pelajar SMU, dari penelitiannya tersebut terungkap bahwa para pelajar yang diperlihatkan slide yang berisi tiga puluh delapan foto tentang aksi donor darah, mengalami kenaikan 17% untuk mendonorkan darah mereka daripada yang tidak melihat foto tersebut. Melihat orang lain “melakukan perbuatan yang benar dan baik” membangkitkan hasrat bawah sadar untuk meniru perbuatan tersebut.

    Maka, jadilah (seperti) malaikat bagi orang lain, sehingga tak ada lagi yang pernah berpikir, Allah telah membenci ummat-Nya karena tak lagi menolong …. Wallaahu a’lam bishshowaab

    ***

    Bayu Gautama

     
    • lazione budy 4:40 am on 17 Oktober 2013 Permalink

      Kasih contoh dengan teladan. Kalau kita ngajak donor kita sendiri harus donor. Kita koar koar jaga kebersihan maka kita sudah mempraktekan.
      Saya percaya sang penulis tangan kanan mencatatnya walau sebesar biji sawi. Noted!

      :D

  • erva kurniawan 1:57 am on 14 October 2013 Permalink | Balas  

    hewan-kurbanIlmu Pedang Nabi Ibrahim

    Sebuah babak drama kehidupan yang indah mempesona, yang akan menguras air mata bagi saja yang menghayati ceritanya. Betapa tidak, Nabi Ibrahim sebagai seorang yang lembut hatinya, yang mendambakan seorang putra idaman dalam kurun waktu yang lama, ketika harapan itu dipenuhi oleh Sang Pencipta, justru diperintahkan untuk mengorbankannya.

    Ya, ketika sang anak beranjak dewasa dalam usia yang masih belia, Allah Swt justru menyuruh Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangan dengan tangannya sendiri…

    QS. Ash-Shaafaat (37) : 102

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

    Buah hati yang diidamkan sepanjang hari sejak ia mempersunting istri pertamanya. Kini oleh Allah disuruhnya menyembelih dengan tangannya sendiri…Allaahu akbar!

    Kalaulah ini sekedar sebuah dongeng yang bukan nyata, tentu tidak akan berbekas pada hati manusia. Tetapi ini sebuah sejarah. Sebuah fakta. Sebuah ujian yang teramat berat bagi dua orang anak manusia yang telah membuktikan pada dunia, bahwa cinta mereka kepada tuhannya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri.

    Dengan kemantapan iman yang tiada tara, dilaksanakan juga perintah Allah Swt itu dengan terlebih dahulu ia rundingkan dengan sang buah hatinya. Maka dengan “izin’ sang putra, Nabiyullah Ibrahim melakukan perintah Tuhan Yang Maha Kuasa di tempat yang jauh dari jangkauan manusia.

    Sejarah berkata, ketika pedang Ibrahim berkelebat hampir menyentuh leher halus nan mulus sang putra, maka pada saat yang tepat dan kritis itu turunlah para malaikat yang dengan kecepatan laksana cahaya mengganti sang putra tercinta Ismail dengan seekor gibas…. Maka selamatlah Ismail dari maut di tangan ayahandanya sendiri…

    “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallahu Allahu akbar, Allahu akbar walillahil haimd”

    Subhaanallah,

    Cerita indah ini memberi pesan kepada kita semua, barang siapa yang bertaqwa, istiqomah dan mengutamakan kecintaan kepada Allah dalam Menjalankan perintahNya, maka pada saat yang tepat dan kritis, InsyaAllah, Allah Swt akan menolongnya dari berbagai macam kesulitan…

    Inilah ilmu ‘pedang Ibrahim’ yang akan dikenang sepanjang masa oleh jutaan umat manusia…

    Inilah ilmu ‘pedang Ibrahim’ yang akan menguras air mata bagi siapa saja yang menghayati kisah cintanya.

    Dan inilah ilmu ‘pedang Ibrahim’ yang harus kita jadikan sebagai suri tauladan cinta dalam kehidupan kita sepanjang masa.

    Sebenarnya, janji Allah kepada orang-orang yang bertaqwa sudah tertera dengan begitu jelas di dalam kitabNya. Yaitu kitab suci Al-Qur’an Al Kariim. Bahkan Allah Swt telah memberikan janjiNya kepada orang yang taqwa dengan begitu banyak dan begitu terinci

    1. Orang taqwa menempati tempat yang mulia pada hari kiamat

    QS. Al-Baqarah (2) : 212

    Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.

    2. Orang taqwa mendapat balasan Surga

    QS. Ali Imran (3) : 15

    Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

    3. Orang taqwa mendapat keberuntungan

    QS. Al-Maidah (5) : 100

    Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.”

    4. Orang taqwa tidak merasa khawatir

    QS. Al-A’raaf (7) : 35

    Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

    5. Orang taqwa mendapatkan barokah dari langit dan bumi

    QS. Al-A’raaf (7) : 96

    Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

    6. Orang taqwa selalu ingat kepada Allah

    QS. Al-A’raaf (7) : 201

    Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

    7. Mendapat kehormatan di sisi Allah

    Al-Hujurat (49) : 13

    manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

    8. Diberi kemudahan dalam urusannya

    QS. Ath-Thollaq (65) : 4

    Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

    9. Diberi jalan keluar dari berbagai kesulitan, dan diberi rejeki dari arah yang tiada disangka-sangka

    QS. Ath-Thollaq (65) : 2-3

    Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

    10. Mendapatkan rahmat dan cahaya

    QS. Al-Hadiid (57) : 28

    Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 4:09 am on 8 October 2013 Permalink | Balas  

    gandeng-tanganBermesraan Ala Rasulullah

    Bermesraan, itulah yang membuat hubungan suami-istri terasa indah dan nikmat. Caranya? Coba perhatikan uraian berikut ini.

    Dalam berkomunikasi, ada dua jenis lambang yang bisa dipergunakan, yaitu lambang verbal dan lambang non verbal. Menurut penelitian Profesor Birdwhistell, maka nilai efektifitas lambang verbal dibanding non verbal adalah 35:65. Jadi, justru lambang non verbal yang lebih efektif dalam menyampaikan pesan.

    Bermesraan, adalah upaya suami istri untuk menunjukkan saling kasih sayang dalam bentuk verbal. Sentuhan tangan dan gerak tubuh lainnya, adalah termasuk lambang non verbal ketika suami berkomunikasi dengan istrinya. Komunikasi verbal semata belumlah efektif jika belum disertai oleh komunikasi non verbal, dalam bentruk kemesraan tersebut.

    Rasulullah saw pun merasakan pentingnya bermesraan dengan istri, sehingga beliau pun mempraktekkannya untuk menghias hari-hari dalam keluarganya, yang tecermin seperti dalam hadis-hadis berikut:

    1. Tidur dalam satu selimut bersama istri

    Dari Atha’ bin Yasar: “Sesungguhnya Rasulullah saw dan ‘Aisyah ra biasa mandi bersama dalam satu bejana. Ketika beliau sedang berada dalam satu selimut dengan ‘Aisyah, tiba-tiba ‘Aisyah bangkit. Beliau kemudian bertanya, ‘Mengapa engkau bangkit?’ Jawabnya, ‘Karena saya haidh, wahai Rasulullah.’ Sabdanya, ‘Kalau begitu, pergilah, lalu berkainlah dan dekatlah kembali kepadaku.’ Aku pun masuk, lalu berselimut bersama beliau.” (HR Sa’id bin Manshur)

    2. Memberi wangi-wangian pada auratnya

    ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya Nabi saw apabila meminyaki badannya, beliau memulai dari auratnya dan mengolesinya dengan nurah (sejenis bubuk pewangi), dan istrinya meminyaki bagian lain seluruh tubuhnya. (HR Ibnu Majah)

    3. Mandi bersama istri

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Aku biasa mandi bersama dengan Nabi saw dengan satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bejana).” (HR ‘Abdurrazaq dan Ibnu Abu Syaibah)

    4. Disisir istri

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya biasa menyisir rambut Rasulullah saw, saat itu saya sedang haidh”.(HR Ahmad)

    5. Meminta istri meminyaki badannya

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya meminyaki badan Rasulullah saw pada hari raya ‘Idul Adh-ha setelah beliau melakukan jumrah ‘aqabah.” (HR Ibnu Asakir)

    6. Minum bergantian pada tempat yang sama

    Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, “Saya biasa minum dari muk yang sama ketika haidh, lalu Nabi mengambil muk tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau minum, kemudian saya mengambil muk, lalu saya menghirup isinya, kemudian beliau mengambilnya dari saya, lalu beliau meletakkan mulutnya pada tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau pun menghirupnya.” (HR ‘Abdurrazaq dan Sa’id bin Manshur)

    7. Membelai istri

    “Adalah Rasulullah saw tidaklah setiap hari melainkan beliau mesti mengelilingi kami semua (istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampiri dan membelai kami dengan tidak mencampuri hingga beliau singgah ke tempat istri yang beliau giliri waktunya, lalu beliau bermalam di tempatnya.” (HR Ahmad)

    8. Mencium istri

    Dari ‘Aisyah ra, bahwa Nabi saw biasa mencium istrinya setelah wudhu’, kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi wudhu’nya.”(HR ‘Abdurrazaq)

    Dari Hafshah, putri ‘Umar ra, “Sesungguhnya Rasulullah saw biasa mencium istrinya sekalipun sedang puasa.” (HR Ahmad)

    9. Tiduran di Pangkuan Istri

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Nabi saw biasa meletakkan kepalanya di pangkuanku walaupun aku sedang haidh, kemudian beliau membaca al- Qur’an.” (HR ‘Abdurrazaq)

    10. Memanggil dengan kata-kata mesra

    Rasulullah saw biasa memanggil Aisyah dengan beberapa nama panggilan yang disukainya, seperti ‘Aisy, dan Humaira (pipi merah delima).

    11. Mendinginkan kemarahan istri dengan mesra

    Nabi saw biasa memijit hidung ‘Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, Wahai ‘Uwaisy, bacalah do’a: ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR. Ibnu Sunni)

    12. Membersihkan tetesan darah haidh istri

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Aku pernah tidur bersama Rasulullah saw di atas satu tikar ketika aku sedang haidh. Bila darahku menetes ke tikar itu, beliau mencucinya di bagian yang terkena tetesan darah dan beliau tidak berpindah dari tempat itu, kemudian beliau shalat di tempat itu pula, lalu beliau berbaring kembali di sisiku. Bila darahku menetes lagi ke tikar itu, beliau mencuci di bagian yang terkena darah itu saja dan tidak berpindah dari tempat itu, kemudia beliau pun shalat di atas tikar itu.” (HR Nasa’i)

    13. Bermesraan walau istri haidh

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya biasa mandi bersama Rasulullah saw dengan satu bejana, padahal kami sama-sama dalam keadaan junub. Aku biasa menyisir rambut Rasulullah ketika beliau menjalani i’tikaf di masjid dan saya sedang haidh. Beliau biasa menyuruh saya menggunakan kain ketika saya sedang haidh, lalu beliau bermesraan dengan saya.” (HR ‘Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah)

    14. Memberikan hadiah

    Dari Ummu Kaltsum binti Abu Salamah, ia berkata, “Ketika Nabi saw menikah dengan Ummu Salamah, beliau bersabda kepadanya, Sesungguhnya aku pernah hendak memberi hadiah kepada Raja Najasyi sebuah pakaian berenda dan beberapa botol minyak kasturi, namun aku mengetahui ternyata Raja Najasyi telah meninggal dunia dan aku mengira hadiah itu akan dikembalikan. Jika hadiah itu memang dikembalikan kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu.”

    Ia (Ummu Kultsum) berkata, “Ternyata keadaan Raja Najasyi seperti yang disabdakan Rasulullah saw, dan hadiah tersebut dikembalikan kepada beliau, lalu beliau memberikan kepada masing-masing istrinya satu botol minyak kasturi, sedang sisa minyak kasturi dan pakaian tersebut beliau berikan kepada Ummu Salamah.” (HR Ahmad)

    15. Segera menemui istri jika tergoda.

    Dari Jabir, sesungguhnya Nabi saw pernah melihat wanita, lalu beliau masuk ke tempat Zainab, lalu beliau tumpahkan keinginan beliau kepadanya, lalu keluar dan bersabda, “Wanita, kalau menghadap, ia menghadap dalam rupa setan. Bila seseorang di antara kamu melihat seorang wanita yang menarik, hendaklah ia datangi istrinya, karena pada diri istrinya ada hal yang sama dengan yang ada pada wanita itu.” (HR Tirmidzi)

    Begitu indahnya kemesraan Rasulullah saw kepada para istrinya, memberikan gambaran betapa Islam sangat mementingkan komunikasi non verbal ini, karena bahasa tubuh ini akan lebih efektif menyatakan cinta dan kasih sayang antara suami istri. Nah, silakan mencoba. ·

    ***

    From : Cathy, Didik L Kuntadi

    Diambil dari milis Faktual

     
  • erva kurniawan 4:47 am on 7 October 2013 Permalink | Balas  

    Reciting-QuranHidup Di Bawah Naungan Tauhid

    Sering orang bertanya, “Apakah Allah itu ada?” “Dimana Allah?” Keberadaan Allah hanya bisa kita akui bila kita memiliki landasan tauhid yang benar. Allah memang tidak menampakkan wujudnya, tapi Allah dengan segala sifatnya dapat kita rasakan keberadaan-Nya. Kejelasan tauhid akan tergambar dari kalimat syahadat yang kita ucapkan. Dari kalimat ini akan terjalin hubungan yang harmonis, penuh kecintaan kepada Allah. Kecintaan kepada Allah akan melahirkan pengorbanan kepada-Nya untuk berjuang di jalan-Nya, melaksanakan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya.

    Zat Allah lebih besar dari apa yang kita perkirakan. Manusia tidak akan sanggup memikirkan zat Allah. Allah berfirman, “katakanlah Dia- lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada- Nya segala sesuatu.” (QS.112:1-2)

    “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS.6:103)

    Tauhid yang murni hanya akan tercapai bila kita mengenal hakekat penciptaan kita, begitu juga dengan zat yang menciptakan kita. Betapa indah hidup di bawah naungan kasih sayang dan belain Allah. Namun banyak diantara kita sulit untuk memurnikan tauhidnya, karena selain tidak kenal dengan Allah, mereka masih menyekutukan Allah dengan tandingan-tandingan yang lain.

    Tak kenal maka tak sayang, begitu orang mengatakan. Tidak kita akan pernah tahu siapa Einstein jika kita belajar ilmu Fisika, kita tidak akan mengenal Jendral Sudirman jika kita tak belajar sejarah, kita juga tidak akan mungkin kenal Ronaldo kalau kita tidak mengenal sepak bola. Begitu juga dengan Allah. Bagaimana mungkin kita akan merasakan keindahan bertauhid kepadanya jika “kreasi” Allah tidak pernah kita baca dan pikirkan.

    Kita bisa lihat kreasi Allah denga kasat mata. Tidak perlu ke gunung, lembah atau pantai. Pandangi saja diri kita. Renungkan mata yang elok ini, subhanallah kenapa mata yang berdiameter kecil ini bisa mengantarkan kita melihat indahnya dunia, alangkah meruginya manusia jika mata ini buta. Hidung yang sempurna bertengger di wajah mampu menghirup udara segar, tanpa indra kecil itu tentulah kita tidak bisa bernafas. Subahanallah, mampukah kita membuat penggantinya, bila salah satu indera kita itu tidak berfungsi?

    Secara tekstual, kreasi Allah itu adalah Al-Quran. Ialah pedoman hidup yang banyak ditinggalkan kaum muslimin sekarang ini, akibatnya banyak kaum muslimn yang kehilangan arah. Padahal Sayyid Qurb dalam tafsir fi-zilalnya yang puitis dan romantis itu mengatakan, “Hidup di bawah naungan Al-Quran merupakan suatu kenikmatan. Kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah mereguknya. Kenikmatan yang mengangkat, memberkati dan mensucikan umur kehidupan…”

    Jadi, kembalilah kepada Al-Quran. Jadikan ia sebagai pegangan utama kita, bacaan pertama yang kita baca sebelum koran terhidang. Petunjuk hidup, jalan keselamatan. Lantunan ayat suci Al-quran saja telah membuat hati tentram, apa lagi hikmah yang terkandung di dalamnya.

    Wallahu ‘a’lam bishshowaab

    ***

    eramuslim – Yesi Elsandra

     
  • erva kurniawan 4:34 am on 6 October 2013 Permalink | Balas  

    sujudTinggal Pilih! Seperti Apa Kita di Hari Kiamat

    Pada hari kiamat keadaan manusia berbeda-beda satu sama lainnya. Ada yang tertunduk penuh penyesalan atas segala kebodohan yang selama ini mereka perbuat, ada juga yang bergembira dan berseri- seri, sebab hari kiamat merupakan awal perjumpaan mereka dengan Rabbnya.

    Keadaan Orang-orang kafir dan yang mengingkari Allah.

    Orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, mereka yang bergelimang maksiat dan tidak memperdulikan hukum-hukum Allah, pada hari kiamat akan merasakan penyesalan yang amat sangat. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan kecuali menunduk, menyesali dosa-dosa yang ada. “(Yaitu) hari mereka keluar dari kubur dengan segera bagaikan berlari menuju patung (atau tujuan), dengan pandangan menunduk. Mereka ditimpa kehinaan. Itulah hari yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS.Al-Ma’arij:43-44)

    Pada saat itu orang-orang kafir dan mereka yang tidak berjalan pada tali Allah merasakan kemalangan, mereka keluar dalam keadaan hina, keringat bercucuran deras, mata mereka melotot, jiwa mereka kosong. Orang kafir pada saat itu merasakan ketakutan yang amat sangat. Seluruh aib terbuka, dan mereka malu sendiri dengan segala yang telah diperbuatnya. Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang kafir, orang kaya yang hidup mewah tetapi tidak peduli dengan saudaranya yang miskin, pelanggar janji, koruptor, perampas tanah, bermuka dua, pemerintah yang dzhalim, pembohong, pezina, tidak melakukan ibadah yang wajib dan mereka yang gemar bermaksiat.

    Keadaan Orang-orang Sholeh

    Berbeda dengan orang kafir dan mereka yang mengabaikan hukum-hukum Allah, orang-orang sholeh pada hari itu tidak mengalami ketakutan. Ketika bangkit dari kubur mereka disambut oleh para malaikat yang menenangkan perasaan dan menentramkan hati mereka. Mereka mendapatkan naungan dari Allah.

    “Hai hamba-hambaKu, hari ini kalian tidak takut dan tidak bersedih, (yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan berserah diri.” (QS. Az-Zukhruf:68-69)

    Siapakah mereka ini? Merekalah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Allah, yang mengendalikan jiwanya dengan kendali taqwa dan menahan hawa nafsunya, sehingga ia hidup dengan suci dan bersih. Diantara mereka ada juga orang yang memakmurkan mesjid, orang yang saling mencintai dan membenci karena Allah, orang yang bersedekah dengan ikhlas dan orang-orang yang dalam hatinya dipenuhi rasa takut kepada Allah, dikala berzikir sendirian air mata adalah teman yang menemani kesendiriannya.

    Sahabat semua, dimanakah posisi kita pada saat itu? Kita bebas memilih dan menentukan apakah ingin menjadi orang yang tertunduk dan terhina, atau menjadi orang yang disambut oleh malaikat yang akan memberikan ketenangan dan ketentraman?

    ***

    Maroji’: Kiamat besar

    Oleh Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar – eramuslim

     
  • erva kurniawan 4:29 am on 5 October 2013 Permalink | Balas  

    kiamat94Tanda Tanda Kiamat Yang Menakjubkan

    Assalamu’alaikum wr. wb

    Berikut tanda tanda kecil kiamat yang menakjubkan (bukan tanda besar), tanda kiamat yang menurut saya unik (tanda tanda yang lain sudah sering kita dengar semisal legalisasi Zina, perempuan seperti laki laki dll).

    1. Menggembungnya bulan, telah bersabda Rasulullah saw : “Di antara sudah mendekatnya kiamat ialah menggembungnya bulan sabit (awal bulan)” dishahihkan AlBaani di Ash Shahihah nomor 2292 dalam riwayat yang lain dikatakan “Di antara sudah dekatnya hari kiamat ialah bahwa orang akan melihat bulan sabit seperti sebelumnya, maka orang akan mengatakan satu bentuk darinya untuk dua malam dan masjid akan dijadikan tempat untuk jalan- jalan serta meluasnya mati mendadak” (Ash Shahiihah AlBani 2292). Menakjubkan, satu bulan sabit dihitung dua kali, sekarang umat islam hampir selalu bertengkar menentukan bulan sabit untuk ramadhan, syawal dan idhul adha, antar ru’yat tidak sama cara melihatnya , antar hisab berbeda cara menghitungnya, shodaqo rasuuhul kariim

    2. Tersebarnya banyak pasar, Rasulullah saw bersabda : “Kiamat hampir saja akan berdiri apabila sudah banyak perbuatan bohong, masa (waktu) akan terasa cepat dan pasar-pasar akan berdekatan (karena saking banyaknya)” (sahih Ibnu Hibban). Lihatlah sekarang, pasar ada dimana mana, mall semakin banyak, supermarket di mana mana.

    3. Wanita ikut bekerja seperti laki laki, Rasulullah saw bersabda : “Pada pintu gerbang kiamat orang-orang hanya akan mengucapkan salam kepada orang yang khusus (dikenal) saja dan berkembangnya perniagaan sehingga wanita ikut seperti suaminya (bekerja/berdagang) ” (Hadist Shahih lighairihi Ahmad). Sekarang karena emansipasi, kaum wanita banyak sekali yang ikut bekerja menafkahi keluarga, shodaqo rasuuhul kariim

    4. Banyaknya polisi, Rasululah saw bersabda : “Bersegeralah kamu melakukan amal shalih sebelum datang 6 perkara : pemerintahan orang orang jahil, banyaknya polisi, memperjualbelikan hukuman atau jabatan, memandang remeh terhadap darah, pemutusan silaturrahim, adanya manusia yang menjadikan al qur’an sebagai seruling dimana mereka menunjuk seorang imam untuk sholat jamaah agar ia dapat menyaksikan keindahannya dalam membaca Al Qur’an meskipun ia paling sedikit ke-Faqihannya. ” (Musnad Ahmad, At Thabrani, Ash Shaihhah AlBani 979)

    5. Manusia akan bermegah megah dalam membangun masjid rasulullah bersabda “Tidak akan berdiri kiamat hingga manusia berbangga-bangga dengan masjid” (hadist sahih musnad Ahmad3:134,145, An Nasa’i 2:32, Abu Dawud 449,Ibnu Majah 779), padahal Rasulullah di lain tempat berkata “Saya tidak diutus untuk menjulangkan masjid masjid” (sahih sunan abu dawud:448). Subhanallah, masjid-masjid sekarang banyak dan berdiri dengan megah dan indah.

    6. Menjadi pengikut tradisi Yahudi dan Nasrani telah berkata rasulullah : “Sungguh kamu akan mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal , sehasta demi sehasta (tanpa berbeda sedikitpun) sehingga walaupun mereka masuk ke lubang biawak, maka kamu akan masuk juga” Sahabat bertanya : Wahai Rasulullah, apakah kaum yang akan kami ikuti tersebut adalah kaum Yahudi dan Nasrani ?, maka Nabi menjawab : Siapa Lagi (kalau bukan mereka)?” Shodaqo rasuuhul kariim, ummat sudah menjadi pengikut barat, peringatan tahun baru, valentine day, peringatan ulang tahun, pengagum demokrasi, HAM, hukum positif dan sebagainya.

    7. Irak diboikot dan makanan ditahan darinya. Rasulullah bersabda : “Hampir saja tidak boleh dibawa makanan ke negeri Irak secupak (qafizh) makanan atau sebuah dirham, kami (sahabat) bertanya Orang orang ajam (non arab) kah yang melakukan ini? kemudian Beliau berkata : “Hampir saja tidak dibawa makanan atau sebuah dinar kepada penduduk syam (palestina, syiria , libanon , yordan dan sekitarnya) kemudian Sahabat bertanya “Siapa yang melakukan itu ya Rasulullah? “orang orang RUM (Romawi : Amerika-Eropa).”

    Sebenarnya ini adalah tanda yang paling menakjubkan, karena sampai sekarang irak telah diboikot oleh Amerika semenjak perang teluk dan syam telah menderita kekuarangan makanan, palestina di jajah israel yahudi dan setelah terkepungnya irak dan syam ini dan setelah terjadinya peperangan dahsyat di PALESTINA maka akan muncullah tanda tanda besar kiamat berupa munculnya Imam Mahdi, Keluarnya Dajjal dan turunnya Isa Al Masih.

    8. Turki akan memerangi Irak. Rasulullah bersabda : “Sekelompok manusia dari ummatku akan turun di suatu dataran rendah yang mereka namakan dengan Bashrah pada tepi suatu sungai yang bernama Dajlah. Dan apabila telah datang akhir zaman datangkah Bani Qanthura (mereka adalah orang orang turki) yang bermuka lebar dan bermata kecil sehingga mereka turun pada tepi sungai itu, maka terpecahlah penduduknya menjadi 3 kelompok, yang satu sibuk mengikuti ekor ekor sapi mereka (sibuk mengurusi harta benda) dan mereka akan hancur, dan satu kelompok dari mereka akan memperhatikan diri mereka sendiri dan mereka itu telah kafir, dan satu kelompok dari mereka akan menjadikan anak cucu mereka di belakang mereka kemudian mereka berperang, itulah para syuhada” (hadits hasan diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud (4138)

    Pada bulan mei 1997 dahulu orang orang turki telah mulai memancing mancing permusuhan dengan Irak dan mereka membangkitkan masalah-masalah yang dibuat-buat sekitar masalah air di sungai Eufrat dan orang orang turki itu membuat kesepakatan dengan orang orang israel dan amerika dan melakukan latihan militer bersama dengan tujuan penyerangan irak, iran dan syiria, dan waktu itu juga Turki menyerang bagian Irak Utara dengan alasan untuk menghajar suku kurdi.

    9. Bumi Arab akan kembali menjadi kebun kebun dan sungai sungai telah bersabda rasulullah : “Tidak akan berdiri hari kiamat hingga harta akan banyak melimpah dan sehingga bumi arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai ” (Ahmad dan Muslim)

    Dan Negeri Arab saat ini telah menjadi kebun, banyak sungai dan di daerah tha’if bahkan telah turun butiran es, musim haji suhu dingin kira kira 5 derajat celcius, tidak lagi panas

    10. Peperangan dengan Yahudi : Tidak terjadi kiamat hingga orang orang berperang dengan Yahudi, dan orang orang Yahudi bersembunyi dibawah batu dan pohon, lalu batu dan pohon itu berkata kepada orang orang islam ” di sini ada Yahudi, maka bunuhlah ia” (Fathul Bari’, Al Manaqib, Al Hafiz Ibnu Hajar)

    ***

    Wassalam

    Dari Sahabat.

     
    • lazione budy 5:25 am on 5 Oktober 2013 Permalink

      Membangga-banggakan masjid itu ironi ya.
      Masjidnya keren, jamaahnya dikit.

  • erva kurniawan 3:05 am on 4 October 2013 Permalink | Balas  

    quranWarisan Paling Berharga

    eramuslim – Pada suatu hari Abu Hurairah radiallaahuanhu berdiri di pasar kota Madinah. Kemudian dia berkata kepada para pedagang, “Wahai para pedagang, mengapa kalian masih belum menutup dagangan kalian?” Mereka bertanya kebingungan, ” Ada apa kiranya ya Aba Hurairah?”

    Abu Hurairah menjawab, “Apakah kalian tidak tahu kalau warisan Muhammad SAW tengah dibagi-bagikan sehingga kalian masih berdiri disini? Apakah kalian tidak ingin mengambil bagian kalian?” Dengan keinginan yang meluap mereka bertanya serius, “Dimana ya Aba Hurairah?!” “Di Masjid Rasulullah,” jawab Abu Hurairah ra.

    Setelah diberitahu demikian, para pedagang itu segera bergegas ke Masjid Rasulullah, sedangkan Abu Hurairah tetap tinggal disitu, tidak ikut pergi.

    Tak Berapa lama kemudian para pedagang itu kembali ke pasar. Abu Hurairah bertanya kepda mereka, “Mengapa kalian kembali?” Mereka segera menjawab dengan nada kesal, “Ya Aba Hurairah, kami telah datang ke Masjid, tetapi setiba disana kami tidak melihat ada sesuatu yang dibagikan Rasulullah…”

    Abu Hurairah bertanya lagi memancing, “Apakah kalian tidak melihat seorangpun di Masjid?”. “Bukan demikian ya Aba Hurairah, kami melihat banyak orang tetapi bukan yang seperti yang kau maksud, kami melihat banyak orang sedang sholat, sementara sekelompok lainnya ada yang mengaji Al Qur’an dan ada pula yang sedang mempelajari soal-soal yang haram dan halal…” jawab para pedagang dengan agak sewot.

    Mendengar uraian para pedagang tersebut, Abu Hurairah menjelaskan, “Wahai para pedagang, ketahuilah, itulah warisan Muhammad SAW yang paling berharga untuk kalian semua…”. (Hadist Riwayat Tabrani)

    Saudaraku, Ketahuilah bahwa tidak ada yang lebih berharga dari apapun yang kita miliki di dunia ini melainkan sesuatu hal yang senantiasa kita lakukan demi mengharap ridha Allah. Karena dengan itu semua, Dia akan membalasnya dengan sesuatu yang tak pernah terukur nilainya, takkan pernah ternilai besarnya, yakni kecintaan-Nya akan orang-orang yang mencintai.

    Maka, tatkala datang seruan-Nya, buktikanlah bahwa kita termasuk orang-orang yang mencintai Allah diatas segala kecintaan terhadap apapun.

    Wallaahu a’lam bishshowaab

    ***

    Oleh: Dwi Ryan

     
  • erva kurniawan 4:45 am on 3 October 2013 Permalink | Balas  

    itikafAdab Berjalan ke Masjid

    Bacaan Sewaktu Masuk dan Keluarnya

    oleh Abdul Hakim bin Amir Abdat

    Hadits Pertama

    “Dari Abu Qatadah, ia berkata : Tatkala kami sedang shalat bersama Nabi SAW, tiba-tiba beliau mendengar suara berisik orang-orang (yang datang). Maka ketika Nabi telah selesai shalat, ia bertanya : “Ada apa urusan kamu tadi (berisik) ?”. Mereka menjawab: “Kami terburu- buru untuk turut (jama’ah)”, Nabi SAW berkata : “Janganlah kamu berbuat begitu!. Apabila kamu mendatangi shalat, hendaklah kamu berlaku tenang ! Apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan, sempurnakanlah!” (Hadits riwayat : Ahmad, Muslim dan Bukhari).

    Hadits Kedua

    “Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW beliau bersabda : “Apabila kamu mendengar iqamat, maka pergilah kamu ke tempat shalat itu, dan kamu haruslah berlaku tenang dan bersikap sopan/ terhormat, dan janganlah kamu tergesa-gesa, apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan sempurnakanlah”. (Hadits riwayat : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa’i & Ahmad).

    Kedua hadits ini mengandung beberapa hukum : Kita diperintah berlaku tenang dan bersikap sopan/ terhormat apabila mendatangi tempat shalat/masjid Kita dilarang tergesa-gesa/ terburu-buru apabila mendatangi tempat shalat, seperti berlari-lari, meskipun iqamat telah dikumandangkan. Kita dilarang berisik apabila sampai di tempat shalat, sedang shalat (jama’ah) telah didirikan. Ini dapat mengganggu orang-orang yang sedang shalat jama’ah. Imam masjid perlu menegur (memberikan pelajaran/ nasehat) kepada para jama’ah (ma’mum) yang kelakuannya tidak sopan di masjid, seperti berisik, mengganggu orang shalat, melewati orang yang sedang shalat, shaf tidak beres, berdzikir dengan suara keras, yang dapat mengganggu orang yang sedang shalat atau belajar atau lain-lain. Apa yang kita dapatkan dari shalatnya Imam, maka hendaklah langsung kita shalat sebagaimana keadaan shalat Imam waktu itu. Setelah Imam selesai memberi salam ke kanan dan ke kiri, barulah kita sempurnakan apa-apa yang ketinggalan.

    Diantara hikmahnya kita diperintahkan tenang dan sopan serta tidak boleh tergesa-gesa, Nabi SAW pernah bersabda. Artinya : “Karena sesungguhnya salah seorang diantara kamu, apabila menuju shalat, maka berarti dia sudah dianggap dalam shalat”. (Hadits riwayat : Muslim). Periksa : Shahih Muslim 2 : 99,100. Shahih Bukhari 1 : 156. Subulus Slam (syarah Bulughul Maram) 2 : 33, 34. Nailul Authar (terjemahan) 2 : 781. koleksi hadits hukum, Ustadz Hasbi 4 : 27. Fiqih Sunnah.

    Hadits Ketiga

    “…..Kemudian muadzin adzan (Shubuh), lalu Nabi keluar ke (tempat) shalat (masjid), dan beliau mengucapkan : “ALLAHUMMAJ ‘AL FI QALBY NUURAN dan seterusnya (yang artinya) : “Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, dan didalam ucapakanku cahaya, dan jadikanlah pada pendengaranku cahaya, dan jadikanlah pada penglihatanku cahaya, dan jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya, dan jadikanlah dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya, ya Allah berikanlah kepadaku cahaya”. (Hadits riwayat : Muslim & Abu Dawud).

    Keterangan : Hadits ini diriwayatkan dari jalan Ibnu Abbas ra yang menerangkan tentang shalat Nabi SAW di waktu malam (shalat ul-lail). Hadits ini menyatakan : Disukai kita mengucapkan do’a di atas di waktu pergi ke Masjid. Periksa : Tuhfatudz Dzakirin hal : 93, Imam Syaukani. Al-Adzkar hal : 25, Imam Nawawi. Fathul Bari’ 11 : 16, Ibnu hajar. Aunul Ma’bud (syarah Abu Dawud) 4 : 232. Syarah shahih Muslim 5 : 51, Imam Nawawi.

    Hadits Keempat

    “Dari Abi Humaid atau dari Abi Usaid, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW : “Apabila salah seorang kamu masuk masjid, maka ucapkanlah : “ALLAHUMMAF TAHLI ABWAABA RAHMATIKA (Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)”. Dan apabila keluar (dari masjid), maka ucapkanlah : “ALLAHUMMA IN-NI AS ALUKA MIN FADLIKA (Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu)”. (Hadits riwayat : Muslim, Ahmad & Nasa’i). Hadits ini menyatakan : Disunatkan kita mengucapkan do’a di atas apabila masuk ke masjid dan keluar dari padanya.

    Periksa : Shahih Muslim 2 : 155. Sunan Nasa’i 2 : 41. Fathur Rabbani 3 : 51,52 Nomor hadits 314. Al-Adzkar hal : 25.

    Hadits Kelima

    “Dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Nabi SAW, bahwasanya Nabi SAW, apabila masuk masjid, beliau mengucapkan : “AUDZU BILLAHIL ‘AZHIMI WABIWAJHIHIL KARIIMI WA SULTHANIHIL QADIIMI MINASY SYAITHANIR RAJIIM” (Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung dan dengan wajah-Nya yang Mulia serta kekuasaan-Nya yang tidak mendahuluinya, dari (gangguan) syaithan yang terkutuk)”. Nabi SAW berkata : Apabila ia mengucapkan demikian (do’a di atas), syaithanpun berkata: Dipeliharalah ia dari padaku sisa harinya”. (Hadits riwayat Abu Dawud). Hadits ini menyatakan: Disunatkan kita membaca do’a mohon perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithan apabila memasuki masjid.

    Periksa : Sunan Abu Dawud Nomor hadits : 466, Aunul Ma’bud Nomor hadits : 462. Minhalul ‘Adzbul Mauruud (syarah Abu Dawud) 4 : 75, Imam As-Subki. Adzkar hal : 26. Tafsir Ibnu Katsir 3 : 294.

     
  • erva kurniawan 3:39 am on 29 September 2013 Permalink | Balas  

    kasih-sayang-ibuIndahnya Kasih Sayang

    Mahasuci Allah, Zat yang mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk- makhluk-Nya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang terlepas dari diri seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut.

    Betapa tidak? Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercerabut, maka itulah biang dari segala bencana, karena kasih sayang Allah Azza wa Jalla ternyata hanya akan diberikan kepada orang- orang yang masih hidup kasih sayang di kalbunya. Seperti kejadian yang menimpa Arie Hanggara yang kisahnya pernah diangkat di film layar lebar. Ia menemui ajal karena dianiaya oleh ayah kandungnya sendiri. Begitulah, kekejian demi kekejian, kebiadaban demi kebiadaban menjadi perlambang kehinaan martabat manusia. Hal ini terjadi, tiada lain karena telah tercerabutnya karunia kasih sayang yang Allah semayamkan di dalam kalbunya.

    Karenanya, tidak bisa tidak, kita harus berjuang dengan sekuat tenaga agar hati nurani kita hidup. Tidak berlebihan jikalau kita mengasahnya dengan merasakan keterharuan dari kisah-kisah orang yang rela meluangkan waktu untuk memperhatikan orang lain. Kita dengar bagaimana ada orang yang rela bersusah-payah membacakan buku, koran, atau juga surat kepada orang-orang tuna netra, sehingga mereka bisa belajar, bisa dapat informasi, dan bisa mendapatkan ilmu yang lebih luas.

    Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, “Allah SWT mempunyai seratus rahmat (kasih sayang), dan menurunkan satu rahmat (dari seratus rahmat) kepada jin, manusia, binatang, dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling berbelas-kasih dan berkasih sayang, dan dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi anak-anaknya. Dan (Allah SWT) menangguhkan 99 bagian rahmat itu sebagai kasih sayang- Nya pada hari kiamat nanti.” (H.R. Muslim).

    Dari hadis ini nampaklah, bahwa walau hanya satu rahmat-Nya yang diturunkan ke bumi, namun dampaknya bagi seluruh makhluk sungguh luar biasa dahsyatnya. Karenanya, sudah sepantasnya jikalau kita merindukan kasih sayang, perhatian, dan perlindungan Allah SWT, tanyakanlah kembali pada diri ini, sampai sejauhmana kita menghidupkan kalbu untuk saling berkasih sayang bersama makhluk lain?!

    Kasih sayang dapat diibaratkan sebuah mata air yang selalu bergejolak keinginannya untuk melepaskan beribu-ribu kubik air bening yang membuncah dari dalamnya tanpa pernah habis. Kepada air yang telah mengalir untuk selanjutnya menderas mengikuti alur sungai menuju lautan luas, mata air sama sekali tidak pernah mengharapkan ia kembali. Sama pula seperti pancaran sinar cerah matahari di pagi hari, dari dulu sampai sekarang ia terus-menerus memancarkan sinarnya tanpa henti, dan sama pula, matahari tidak mengharap sedikit pun sang cahaya yang telah terpancar kembali pada dirinya. Seharusnya seperti itulah sumber kasih sayang di kalbu kita, ia benar- benar melimpah terus tidak pernah ada habisnya.Tidak ada salahnya agar muncul kepekaan kita menyayangi orang lain, kita mengawalinya dengan menyayangi diri kita dulu.

    Mulailah dengan menghadapkan tubuh ini ke cermin seraya bertanya- tanya: Apakah wajah indah ini akan bercahaya di akhirat nanti, atau justru sebaliknya, wajah ini akan gosong terbakar nyala api jahannam? Tataplah hitamnya mata kita, apakah mata ini, mata yang bisa menatap Allah, menatap Rasulullah SAW, menatap para kekasih Allah di surga kelak, atau malah akan terburai karena kemaksiyatan yang pernah dilakukannya? Bibir kita, apakah ia akan bisa tersenyum gembira di surga sana atau malah bibir yang lidahnya akan menjulur tercabik- cabik?!

    Perhatikan pula tubuh tegap kita, apakah ia akan berpendar penuh cahaya di surga sana, sehingga layak berdampingan dengan si pemiliki tubuh mulia, Rasulullah SAW, atau tubuh ini malah akan membara, menjadi bahan bakar bersama hangusnya batu-batu di kerak neraka jahannam? Ketika memandang kaki, tanyakanlah apakah ia senantiasa melangkah di jalan Allah sehingga berhak menginjakkannya di surga kelak, atau malah akan dicabik-cabik pisau berduri. Bersihnya kulit kita, renungkanlah apakah ia akan menjadi indah bercahaya ataukah akan hitam legam karena gosong dijilat lidah api jahannam?

    Mudah-mudahan dengan bercermin sambil menafakuri diri, kita akan lebih mempunyai kekuatan untuk menjaga diri kita.Jangan pula meremehkan makhluk ciptaan Allah, sebab tidaklah Allah menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia. Semua yang Allah ciptakan syarat dengan ilmu, hikmah, dan ladang amal. Semua yang bergerak, yang terlihat, yang terdengar, dan apasaja karunia dari Allah Azza wa Jalla adalah jalan bagi kita untuk bertafakur jikalau hati ini bisa merabanya dengan penuh kasih sayang.

    Dikisahkan di hari akhir datang seorang hamba ahli ibadah kepada Allah dengan membawa aneka pahala ibadah, tetapi Allah malah mencapnya sebagai ahli neraka, mengapa? Ternyata karena suatu ketika si ahli ibadah ini pernah mengurung seekor kucing sehingga si kucing tidak bisa mencari makan dan tidak pula diberi makan oleh si ahli ibadah ini. Akhirnya mati kelaparanlah si kucing ini. Ternyata walau ia seorang ahli ibadah, laknat Allah tetap menimpa si ahli ibadah ini, dan Allah menetapkannya sebagai seorang ahli neraka, tiada lain karena tidak hidup kasih sayang di kalbunya.

    Tetapi ada kisah sebaliknya, suatu waktu seorang wanita berlumur dosa sedang beristirahat di pinggir sebuah oase yang berair dalam di sebuah lembah padang pasir. Tiba-tiba datanglah seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya seakan sedang merasakan kehausan yang luar biasa. Walau tidak mungkin terjangkau kerena dalamnya air di oase itu, anjing itu tetap berusaha menjangkaunya, tapi tidak dapat. Melihat kejadian ini, tergeraklah si wanita untuk menolongnya. Dibukalah slopnya untuk dipakai menceduk air, setelah air didapat, diberikannya pada anjing yang kehausan tersebut. Subhanallah, dengan ijin Allah, terampunilah dosa wanita ini.Demikianlah, jikalau hati kita mampu meraba derita makhluk lain, insyaAllah keinginan untuk berbuat baik akan muncul dengan sendirinya.

    Kisah lain, ketika suatu waktu ada seseorang terkena penyakit tumor yang sudah menahun. Karena tidak punya biaya untuk berobat, maka berkunjunglah ia kepada orang-orang yang dianggapnya mampu memberi pinjaman biaya. Bagi orang yang tidak hidup kasih sayang dikalbunya, ketika datang orang yang akan meminjam uang ini, justru yang terlintas dalam pikirannya seolah-olah harta yang dimilikinya akan diambil oleh dia, bukannya memberi, malah dia ketakutan hartanya akan habis atau bahkan jatuh miskin. Tetapi bagi seorang hamba yang tumbuh kasih sayang di kalbunya, ketika datang yang akan meminjam uang, justru yang muncul rasa iba terhadap penderitaan orang lain. Bahkan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam akan membayangkan bagaimana jikalau yang menderita itu dirinya. Terlebih lagi dia sangat menyadari ada hak orang lain yang dititipkan Allah dalam hartanya. Karenanya dia begitu ringan memberikan sesuatu kepada orang yang memang membutuhkan bantuannya. Ingatlah, hidupnya hati hanya dapat dibuktikan dengan apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain dengan ikhlas. Apa artinya hidup kalau tidak punya manfaat? Padahal hidup di dunia cuma sekali dan itupun hanya mampir sebentar saja. Tidak ada salahnya kita berpikir terus dan bekerja keras untuk menghidupkan kasih sayang di hati ini.

    Insya Allah bagi yang telah tumbuh kasih sayang di kalbunya, Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah Kasih Sayang-Nya akan mengaruniakan ringannya mencari nafkah dan ringan pula dalam menafkahkannya di jalan Allah, ringan dalam mencari ilmu dan ringan pula dalam mengajarkannya kepada orang lain, ringan dalam melatih kemampuan diri dan ringan pula dalam membela orang lain yang teraniaya, subhanallah.

    Cara lain yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk menghidupkan hati nurani agar senantiasa diliputi nur kasih sayang adalah dengan melakukan banyak silaturahmi kepada orang-orang yang dilanda kesulitan, datang ke daerah terpencil, tengok saudara-saudara kita di rumah sakit, atau pula dengan selalu mengingat umat Islam yang sedang teraniaya, seperti di Bosnia, Chechnya, Ambon, Halmahera, atau di tempat-tempat lainnya.

    Belajarlah terus untuk melihat orang yang kondisinya jauh di bawah kita, insya Allah hati kita akan melembut karena senantiasa tercahayai pancaran sinar kasih sayang. Dan hati-hatilah bagi orang yang bergaulnya hanya dengan orang-orang kaya, orang-orang terkenal, para artis, atau orang-orang elit lainnya, karena yang akan muncul justru rasa minder dan perasaan kurang dan kurang akan dunia ini, masya Allah.

    ***

    Sumber: Manajemen Qolbu

    Oleh : K.H. Abdullah Gymnastiar

     
  • erva kurniawan 4:29 am on 28 September 2013 Permalink | Balas  

    sholat-dhuhaTentang Sholat

    1 – Niat Sembahyang : Sebenarnya memelihara taubat kita dari dunia dan akhirat.

    2 – Berdiri Betul : Fadilatnya, ketika mati dapat meluaskan tempat kita di dalam kubur.

    3 – Takbir-ratul Ihram : Fadilatnya, sebagai pelita yang menerangi kita di dalam kubur.

    4 – Fatihah : Sebagai pakaian yang indah-indah di dalam kubur.

    5 – Ruqu’ : Sebagai tikar kita di dalam kubur.

    6 – I’tidal : Akan memberi minuman air dari telaga al-kautsar ketika di dalam kubur.

    7 – Sujud : Memagar kita ketika menyeberangi titian SIROTOL-MUSTAQIM.

    8 – Duduk antara 2 Sujud : Akan menaung panji-panji nabi kita di dalam kubur.

    9 – Duduk antara 2 Sujud (akhir) : Menjadi kendaraan ketika kita di padang Masyar.

    10 – Tahiyat Akhir : Sebagai penjawab bagi saat ditanya oleh mungkar nangkir di dalam kubur.

    11 – Selawat Nabi : Sebagai dinding api neraka di dalam kubur.

    12 – Salam : Memelihara kita di dalam kubur.

    13 – Tertib : Akan pertemukan kita dengan Allah S.W.T

    Dari Abdullah bin ‘Amr R.A., Rasulullah S.A.W. bersabda, “Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • lazione budy 3:41 am on 1 Oktober 2013 Permalink

      Membawa Sholat dalam kehidupan, memaknai kehidupan dalam sholat.

  • erva kurniawan 4:05 am on 26 September 2013 Permalink | Balas  

    itikaf2Dzikir

    (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring … (QS Ali Imran 191).

    Dzikir atau mengingat Allah merupakan aktivitas yang dilakukan terutama oleh hati dan lisan berupa tasbih atau menyucikan Allah Ta’ala, memuji, dan menyanjung-Nya, menyebutkan sifat-sifat kebesaran dan keagungan serta keindahan dan kesempurnaan-Nya. Dzikir telah menjadi kebiasaan kaum Muslimin dalam mengarungi kehidupan sehari-hari atas dasar kesadaran bahwa itu merupakan perintah Allah dan rasul-Nya.

    Rasulullah menyebut orang yang tidak mengingat Allah sebagai orang yang mati, “Perumpamaan orang-orang yang dzikir kepada Allah dengan yang tidak adalah seperti orang yang hidup dengan yang mati,” (HR Bukhari).

    Banyak sekali perintah Allah dan rasul-Nya untuk berdzikir di antaranya QS Al Baqoroh: 152. Rasullah bersabda, “Ada dua kalimat yang ringan diucapkan lisan, tetapi berat dalam timbangan dan disukai oleh Allah yaitu, Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil azhim.” Dalam hadis lain, “Dzikir yang paling utama ialah La ilaha ilallah, sedangkan doa yang paling utama ialah Alhamdulillah.” (HR Nasai).

    Keutamaan dzikir tidak terbatas pada tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir. Setiap orang yang beramal karena Allah, demi menaati perintah-Nya maka, ia disebut dzikir kepada Allah SWT. Demikian yang dikatakan oleh Said bin Zubair ra dan ulama lainnya. Atha ra berkata, “Majelis dzikir adalah majelis halal dan haram yang membahas bagaimana Anda menjual dan membeli, shalat, shaum, menikah, bermuamalah, dan pergi haji.” Rasulullah bersabda, “Jika kamu lewat taman-taman surga hendaklah kamu ikut bercengkrama!” Mereka bertanya, “Apa taman-taman surga itu, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Halaqoh-halaqoh dzikir, karena sesungguhnya Allah SWT mempunyai malaikat yang berkeliling mencari halaqoh-halaqoh dzikir, apabila mereka mendatangi orang-orang yang berdzikir tersebut akan berhenti dan melingkari mereka”. (HR Tirmidzi). Ibnu Mas’ud ra jika mengucapkan hadis ini, berkata, “Aku tidak maksudkan itu halaqoh-halaqoh yang membahas kisah-kisah, melainkan halaqoh yang membahas fikih.” Diriwayatkan oleh Anas ra bahwa maknanya begitu juga.

    Dengan demikian, dzikirnya seorang Muslim dalam kondisi saat ini adalah tidak sebatas pada ucapan-ucapan tasbih, takbir, tahmid, dan istigfar, tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita dalam setiap aktivitas kita senantiasa terikat pada perintah dan larangan Allah SWT.

    Apalagi dalam kondisi yang serba semrawut dan penuh ketidakjelasan seperti sekarang ini, di mana krisis yang tak kunjung berakhir, kerusuhan, teror, huru-hara, dan pemaksaan kehendak masih terus menghantui dan membayangi kehidupan kita. Sudah sepatutnya kita lebih mempergiat aktivitas berdzikir. Karena pada hakikatnya semua musibah yang menimpa kita adalah cobaan, ujian, sekaligus azab dari Allah lantaran perbuatan kita sendiri yang tidak bertahkim dan mengatur segala aspek kehidupan kita dengan apa yang diturunkan Allah yaitu Islam. Allah SWT berfirman: Telah banyak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (Islam). (QS Ar-Ruum: 41).

    ***

    Zamah Saari

     
  • erva kurniawan 4:35 am on 25 September 2013 Permalink | Balas  

    dzikirMenggapai Ketenangan Jiwa yang Islami

    Dalam perkembangan hidupnya, manusia seringkali berhadapan dengan berbagai masalah yang mengatasinya berat. Akibatnya timbul kecemasan, ketakutan dan ketidaktenangan, bahkan tidak sedikit manusia yang akhirnya kalap sehingga melakukan tindakan-tindakan yang semula dianggap tidak mungkin dilakukannya, baik melakukan kejahatan terhadap orang lain seperti banyak terjadi kasus pembunuhan termasuk pembunuhan terhadap anggota keluarga sendiri maupun melakukan kejahatan terhadap diri sendiri seperti meminum minuman keras dan obat-obat terlarang hingga tindakan bunuh diri.

    Oleh karena itu, ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam hidup ini yang terasa kian berat dihadapinya. Itu sebabnya, setiap orang ingin memiliki ketenangan jiwa. Dengan jiwa yang tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Untuk bisa menggapai ketenangan jiwa, banyak orang yang mencapainya dengan cara-cara yang tidak Islami, sehingga bukan ketengan jiwa yang didapat tapi malah membawa kesemrautan dalam jiwanya itu. Untuk itu, secara tersurat, Al-Qur’an menyebutkan beberapa kiat praktis.

    1. Dzikrullah.

    Dzikir kepada Allah Swt merupakan kiat untuk menggapai ketenangan jiwa, yakni dzikir dalam arti selalu ingat kepada Allah dengan menghadirkan nama-Nya di dalam hati dan menyebut nama-Nya dalam berbagai kesempatan. Bila seseorang menyebut nama Allah, memang ketenangan jiwa akan diperolehnya. Ketika berada dalam ketakutan lalu berdzikir dalam bentuk menyebut ta’awudz (mohon perlindungan Allah), dia menjadi tenang. Ketika berbuat dosa lalu berdzikir dalam bentuk menyebut kalimat istighfar atau taubat, dia menjadi tenang kembali karena merasa telah diampuni dosa-dosanya itu. Ketika mendapatkan kenikmatan yang berlimpah lalu dia berdzikir dengan menyebut hamdalah, maka dia akan meraih ketenangan karena dapat memanfaatkannya dengan baik dan begitulah seterusnya sehingga dengan dzikir, ketenangan jiwa akan diperoleh seorang muslim, Allah berfirman yang artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram (13:28).

    Untuk mencapai ketenangan jiwa, dzikir tidak hanya dilakukan dalam bentuk menyebut nama Allah, tapi juga dzikir dengan hati dan perbuatan. Karena itu, seorang mu’min selalu berdzikir kepada Allah dalam berbagai kesempatan, baik duduk, berdiri maupun berbaring.

    2. Yakin Akan Pertolongan Allah.

    Dalam hidup dan perjuangan, seringkali banyak kendala, tantangan dan hambatan yang harus dihadapi, adanya hal-hal itu seringkali membuat manusia menjadi tidak tenang yang membawa pada perasaan takut yang selalu menghantuinya. Ketidaktenangan seperti ini seringkali membuat orang yang menjalani kehidupan menjadi berputus asa dan bagi yang berjuang menjadi takluk bahkan berkhianat.

    Oleh karena itu, agar hati tetap tenang dalam perjuangan menegakkan agama Allah dan dalam menjalani kehidupan yang sesulit apapun, seorang muslim harus yakin dengan adanya pertolongan Allah dan dia juga harus yakin bahwa pertolongan Allah itu tidak hanya diberikan kepada orang-orang yang terdahulu, tapi juga untuk orang sekarang dan pada masa mendatang, Allah berfirman yang artinya: Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (3:126, lihat juga QS 8:10).

    Dengan memperhatikan betapa banyak bentuk pertolongan yang diberikan Allah kepada para Nabi dan generasi sahabat dimasa Rasulullah Saw, maka sekarangpun kita harus yakin akan kemungkinan memperoleh pertolongan Allah itu dan ini membuat kita menjadi tenang dalam hidup ini. Namun harus kita ingat bahwa pertolongan Allah itu seringkali baru datang apabila seorang muslim telah mencapai kesulitan yang sangat atau dipuncak kesulitan sehingga kalau diumpamakan seperti jalan, maka jalan itu sudah buntu dan mentok. Dengan keyakinan seperti ini, seorang muslim tidak akan pernah cemas dalam menghadapi kesulitan karena memang pada hakikatnya pertolongan Allah itu dekat, Allah berfirman yang artinya:

    Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman: “bilakah datangnya pertolongan Allah?”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (QS 2:214).

    3. Memperhatikan Bukti Kekuasaan Allah.

    Kecemasan dan ketidaktenangan jiwa adalah karena manusia seringkali terlalu merasa yakin dengan kemampuan dirinya, akibatnya kalau ternyata dia merasakan kelemahan pada dirinya, dia menjadi takut dan tidak tenang, tapi kalau dia selalu memperhatikan bukti-bukti kekuasaan Allah dia akan menjadi yakin sehingga membuat hatinya menjadi tentram, hal ini karena dia sadari akan besarnya kekuasaan Allah yang tidak perlu dicemasi, tapi malah untuk dikagumi. Allah berfirman yang artinya:

    Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?”. Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tenang (tetap mantap dengan imanku)”. Allah berfirman: (“kalau begitu) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah, kemudian letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS 2:260).

    4. Bersyukur.

    Allah Swt memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang amat banyak. Kenikmatan itu harus kita syukuri karena dengan bersyukur kepada Allah akan membuat hati menjadi tenang, hal ini karena dengan bersyukur, kenikmatan itu akan bertambah banyak, baik banyak dari segi jumlah ataupun minimal terasa banyaknya. Tapi kalau tidak bersyukur, kenikmatan yang Allah berikan itu kita anggap sebagai sesuatu yang tidak ada artinya dan meskipun jumlahnya banyak kita merasakan sebagai sesuatu yang sedikit.

    Apabila manusia tidak bersyukur, maka Allah memberikan azab yang membuat mereka menjadi tidak tenang, Allah berfirman yang artinya: Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rizkinya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat(QS 16:112).

    5. Tilawah, Tasmi’ dan tadabbur Al-Qur’an.

    Al-Qur’an adalah kitab yang berisi sebaik-baik perkataan, diturunkan pada bulan suci Ramadhan yang penuh dengan keberkahan, karenanya orang yang membaca (tilawah), mendengar bacaan (tasmi’) dan mengkaji (tadabbur) ayat-ayat suci Al-Qur’an niscaya menjadi tenang hatinya, manakala dia betul-betul beriman kepada Allah Swt, Allah berfirman yang artinya: Allah telah menurunkan perkataan yang baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhanya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya (QS 39:23).

    Oleh karena itu, sebagai mu’min, interaksi kita dengan al-Qur’an haruslah sebaik mungkin, baik dalam bentuk membaca, mendengar bacaan, mengkaji dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Manakala interaksi kita terhadap Al-Qur’an sudah baik, maka mendengar bacaan Al-Qur’an saja sudah membuat keimanan kita bertambah kuat yang berarti lebih dari sekedar ketenangan jiwa, Allah berfirman yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal (QS 8:2).

    Dengan berbekal jiwa yang tenang itulah, seorang muslim akan mampu menjalani kehidupannya secara baik, sebab baik dan tidak sesuatu seringkali berpangkal dari persoalan mental atau jiwa. Karena itu, Allah Swt memanggil orang yang jiwanya tenang untuk masuk ke dalam syurga-Nya, Allah berfirman yang artinya: Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam syurga-Ku (QS 89:27-30).

    Akhirnya, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memantapkan ketenangan dalam jiwa kita masing-masing sehingga kehidupan ini dapat kita jalani dengan sebaik-baiknya.

    ***

    Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

     
  • erva kurniawan 3:56 am on 24 September 2013 Permalink | Balas  

    berdoa-2Berdoalah kepada Tuhanmu

    Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

    Q.S.7 (Al A’raf): 55. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

    Ayat ini mengandung adab-adab dalam berdo’a kepada Allah. Berdo’a adalah suatu munajat antara seorang hamba dengan Tuhannya untuk menyampaikan suatu permintaan agar Allah dapat mengabulkannya. Maka berdo’a kepada Allah hendaklah dengan sepenuh kerendahan hati, dengan betul- betul khusyu’ dan berserah diri. Kemudian berdo’a itu disampaikan dengan suara lunak dan lembut yang keluar dari hati sanubari yang bersih. Berdo’a dengan suara yang keras, menghilangkan kekhusyu’an dan mungkin menjurus kepada ria dan pengaruh-pengaruh lainnya dan dapat mengakibatkan do’a itu tidak dikabulkan Allah. Tidak perlulah doa itu dengan suara yang keras, sebab Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

    Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari ra dia berkata: Ketika kami bersama-sama Rasulullah saw. dalam perjalanan, kedengaranlah orang-orang membaca takbir dengan suara yang keras. Maka Rasulullah bersabda, “Sayangilah dirimu jangan bersuara keras, karena kamu tidak menyeru kepada yang pekak dan yang jauh. Sesungguhnya kamu menyeru Allah Yang Maha Mendengar lagi Dekat dan Dia selalu beserta kamu.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Bersuara keras dalam berdo’a, bisa mengganggu orang, lebih-lebih orang yang sedang beribadat, baik dalam masjid atau di tempat-tempat ibadat yang lain, kecuali yang dibolehkan dengan suara keras, seperti talbiyah dalam musim haji dan membaca takbir pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Allah SWT memuji Nabi Zakaria as yang berdo’a dengan suara lembut.

    Firman Allah: Q.S.19 (Maryam): 3. yaitu tatkala ia berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.

    Kemudian ayat ini ditutup dengan peringatan: “sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Maksudnya dilarang melampaui batas dalam segala hal, termasuk berdoa. Tiap-tiap sesuatu sudah ditentukan batasnya yang harus diperhatikan, jangan sampai dilampaui. Firman Allah: Q.S.2 (Al Baqarah): 229. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim.

    Bersuara keras dan berlebih-lebihan dalam berdo’a termasuk melampaui batas, Allah tidak menyukainya. Termasuk juga melampaui batas dalam berdo’a, meminta sesuatu yang mustahil adanya menurut syara’ ataupun akal, seperti seseorang meminta supaya dia menjadi kaya, tetapi tidak mau berusaha atau seseorang menginginkan agar dosanya diampuni, tetapi dia masih terus bergelimang berbuat dosa dan lain-lainnya. Berdo’a seperti itu, namanya ingin merubah sunnatullah yang mustahil terjadinya. Firman Allah: Q.S.35 (Fatir): 43. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan pergantian bagi sunnah Allah dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.

    Termasuk juga melampaui batas, bila berdo’a itu dihadapkan kepada selain Allah atau dengan memakai perantara orang yang sudah mati. Cara yang begini adalah melampaui batas yang sangat tercela. Berdo’a itu hanya dihadapkan kepada Allah saja, tidak boleh menyimpang kepada yang lain. Berdo’a dengan memakai perantara (wasilah) kepada orang yang sudah mati termasuk yang melampaui batas juga, seperti orang yang menyembah dan berdoa kepada malaikat, kepada wali-wali, kepada matahari, bulan dan lain-lainnya.

    Firman Allah: Q.S.17 (Al Isra): 56-57. Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, makan mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya”.

    Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah), dan mereka mengharapkan rahmat Nya dan takut akan azab Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.

    Hadis Rasulullah saw: Diriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw, “Mintalah kepada Allah wasilah untukku. Mereka bertanya: Ya Rasulullah, apakah wasilah itu? Rasulullah menjawab: “Dekat dengan Allah Azza Wa Jalla, kemudian Rasulullah membaca ayat: (mereka sendiri) mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat kepada Allah.” (HR Turmudzi dari Ibnu Mardawaih)

    Lampiran: (terjemah secara lafzhiyah) bismi [dengan nama] -llaahi [Allah] -rrahmaani [Maha Pemurah] -rrahiim(i) [Maha Penyayang]

    Surah Al A’raaf [Tempat tertinggi] (7): 55. ud’uu [berdo'alah kamu] rabbakum [Tuhanmu] tadharru’an [berendah diri] wakhufyah(tan) [dan suara yang lembut] innahuu [sesungguhnya Dia] laa yuhibbu [tidak menyukai] -lmu’tadiin(a) [orang-orang yang melampaui batas].

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:48 am on 23 September 2013 Permalink | Balas  

    7 lapisan bumiInformasi Geologi dalam Al-Quran

    Bagaimana Anda menunjukkan bukti tentang agama ini kepada mereka yang tidak mengerti tentang Bahasa Arab atau pun tidak mengetahui sesuatu pun tentang ketidakmungkinan ditirunya Al-Quran? Apakah hal ini satu-satunya cara bagi mereka untuk mempelajari bahasa Arab dan menguasai ilmunya? Jawabannya, tentu saja, adalah ‘TIDAK’, Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung, telah menunjukkan kemurahannya kepada mereka dan kepada generasi-generasi yang lain dengan mengirimkan bukti-bukti yang sesuai untuk semua manusia, apa pun ras mereka, bahasa mereka atau kapan pun mereka berada.

    Kami hadirkan Profesor Palmer, seorang ahli ilmu bumi terkemuka di Amerika. Dia mengepalai sebuah komite yang mengorganisasikan Ulang Tahun Masyarakat Geologi Amerika. Ketika kami bertemu dengan dia, kami menunjukkan berbagai macam keajaiban sains di dalam Al-Quran dan Sunnah, dia sangat tercengang. Saya teringat sebuah anekdot ketika kami menginformasikan kepadanya bahwa Al-Quran menyebutkan bagian paling bawah dari bumi dan menyatakan bahwa bagian tersebut dekat dengan Jerusalem, di mana sebuah pertempuan terjadi antara Persia dan

    Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia berfirman dalam Al-Quran:

    Alif Laam Miim, Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang paling rendah (adnal-ardh) dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang (Quran 30:1-3)

    Istilah adna bisa berarti lebih dekat dan paling bawah. Para penafsir Al-Quran, semoga Allah ridha kepada mereka semua, berpendapat bahwa adnal-ardh berarti tanah paling dekat ke Semenanjung Arab. Akan tetapi, arti kedua juga tetap bisa diterapkan. Dengan cara ini, Al-Quran yang Suci memberikan satu kata dengan beberapa arti, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw ketika dia mengatakan:

    Aku telah dikaruniai dengan kata-kata yang paling mudah difahami. [Al-Bukhari dan Muslim]

    Ketika kita meneliti bagian paling bawah dari bumi, kita menemukan bahwasanya bagian tersebut secara tepat berada di titik di mana Roma dikalahkan. Ketika kami menginformasikan hal ini kepada Profesor Palmer, dia mempertentangkan dengan mengatakan bahwa ada beberapa daerah lain yang lebih rendah dari pada yang disebutkan dalam Al-Quran. Dia memberikan contoh-contoh dan nama-nama dari beberapa daerah di Eropa dan Amerika. Kami meyakinkan dia bahwa informasi kami sahih dan benar. Dia memiliki globe secara topografi yang menunjukkan pengangkatan dan penurunan. Dia mengatakan bahwa akan jadi mudah untuk membuktikan mana bagian paling bawah di bumi dengan globe tersebut. Dia memutar globe tersebut dengan tangannya dan memfokuskan telunjuknya pada daerah dekat Jerusalem. Mengherankan, di sana ada tanda panah kecil yang mengarah pada daerah dengan kalimat: ‘bagian terendah di muka bumi.’

    Profesor Palmer segera mengakui bahwa informasi kami adalah benar adanya. Dia kemudian berkata, sebagaimana Anda ketahui sekarang dengan globe ini, yang mengatakan bahwa ini  sebenarnya adalah bagian paling bawah dari bumi.

    Profesor Palmer: Tempat dari daerah tersebut adalah Laut Mati, yaitu di sini, dan menariknya, label di globe ini mengatakan ‘titik terendah bumi’. Maka sesungguhnya hal ini didukung oleh penafsiran dari kata yang dimaksud.

    Profesor Palmer bahkan lebih tercengang ketika dia menemukan bahwa Al-Quran berbicara tentang masa lalu dan menjelaskan bagaimana awal mula penciptaan dimulai; bagaimana bumi dan langit-langit diciptakan; bagaimana air dipancarkan keluar dari kedalaman bumi; bagaimana pegunungan ditancapkan di atas tanah; bagaimana tanam-tanaman pertama kali ditumbuhkan; bagaimana bumi saat ini, menjelaskan pegunungan, menjelaskan fenomena-fenomenanya, menjelaskan perubahan-perubahan pada permukaan bumi sebagaimana disaksikan di Semenanjung Arab. Dia bahkan menjelaskan masa depan dari pada tanah Arab dan masa depan dari seluruh bumi. Di sini, Profesor Palmer mengakui bahwa Al-Quran adalah buku yang sangat menakjubkan yang menjelaskan masa lalu, masa sekarang dan masa depan.

    Sebagaimana para ahli sains lainnya, Profesor Palmer pada mulanya ragu-ragu. Akan tetapi segara sesudahnya dia datang dengan pendapatnya. Di Kairo, dia mempresentasikan sebuah makalah penelitian yang berkaitan dengan aspek yang tak bisa ditiru dari pengetahuan tentang ilmu bumi yang berada dalam Al-Quran. Dia mengatakan bahwa dia tidak mengetahui bagaimana keadaan sains sesungguhnya pada masa Nabi Muhammad diutus. Akan tetapi dari apa yang kita ketahui tentang sedikitnya pengetahuan dan arti pada masa itu, tidak ragu lagi bahwa kita bisa menyimpulkan bahwa Al-Quran adalah sebuah cahaya dari ilmu Tuhan yang diwahyukan kepada Muhammad saw. Inilah kesimpulan Profesor Palmer:

    Kita memerlukan penelitian tentang sejarah Timur Tengah pada awal tradisi penyampaian dari mulut ke mulut untuk mengetahui apakah sesungguhnya kejadian sejarah semacam itu telah dilaporkan. Jika ternyata tidak ada rekaman, maka hal ini menguatkan kepercayaan kita bahwa Allah telah mengirimkan melalui Muhammad saw sedikit dari pengetahuan-nya yang mana baru kita temukan belum lama berselang ini. Kita mencari tindak lanjut dialog pada topik sains di dalam Al-Quran dalam konteks ilmu bumi. Terima kasih banyak.

    Sebagaimana Anda lihat, inilah salah satu dari raksasa di bidang ilmu bumi di dunia kita saat ini, datang dari Amerika. Dia tidak ragu-ragu untuk mengikuti dan membeberkan pendapatnya. Akan tetapi dia masih memerlukan seseorang untuk menunjukkan kebenaran kepadanya. Orang-orang barat dan orang-orang timur keduanya telah hidup di tengah-tengah perseteruan antara agama dan sains. Perseteruan ini, bagaimana pun juga, tidak bermanfaat, karena pesan-pesan yang lalu telah didistorsikan. Oleh karena itu, Allah mengirimkan Nabi Muhammad saw dengan Islam untuk meluruskan apa-apa yang telah dirusak.

    Seseorang mungkin akan bertanya: ‘Bagaimana nantinya orang-orang ini menerima apa yang kita katakan kepada mereka ketika kita secara materi berada di luar mereka dan kita tidak mengikuti agama kita secara dekat?’ Jawaban saya kepada mereka adalah bahwa pengetahuan meningkatkan kepedulian seseorang yang memperolehnya. Orang-orang berpengetahuan peduli hanya pada fakta-faktanya, tidak pada gambaran di luarnya. Kejayaan Islam saat ini justru terletak pada pengetahuan ini dan kemajuan sains. Sains modern bisa akan tetapi hanyalah akan menundukkan kepalanya kepada referensi kepada buku Allah dan kepada Sunnah Nabi-nya saw.

    Sifat alami, Al-Fitrah, yang telah diciptakan oleh Allah atas manusia tidak mencapai ketenangan kecuali dengan jalan Islam atau iman. Mereka yang tidak memiliki iman berada dalam kondisi yang tidak mudah dan bingung. Lebih jauh lagi, atmosfer kebebasan di dunia Barat telah menolong para ahli sains Barat untuk mengekspresikan apa yang mereka percayai tanpa rasa takut. Kami telah mendengar banyak di antara mereka di dalam episode-episode ini yang menegaskan dan mengenalkan keajaiban di abad ini, Al-Quran, yang akan tetap bertahan hidup sampai Hari Akhir.

    ***

    Diterjemahkan dari paper http://www.gulfdc.com

     
  • erva kurniawan 4:44 am on 22 September 2013 Permalink | Balas  

    Mengapa Menunda Pernikahan Rosulullah pernah berkata kepada Ali… 

    pernikahan-42Mengapa Menunda Pernikahan ?

    Rosulullah pernah berkata kepada Ali ra: Hai Ali, ada 3 perkara yang jangan kamu tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu shalat apabila tiba waktunya, jenazah apabila sudah siap penguburannya, dan wanita bila menemukan pria sepadan yang meminangnya (HR. Ahmad)

    Kalau kita tanya seseorang pemuda/pemudi, Mengapa belum menikah? Maka jawabanya antara lain:

    1. Masih kuliah/menuntut ilmu.

    Dikhawatirkan bila menikah akan mempengaruhi prestasi belajar dan mempengaruhi persiapan masa depan. Hal ini sesungguhnya tergantung dari manajemen waktu, waktu yang biasanya dipakai untuk hura-hura setelah waktu kuliah, diganti dengan mencari nafkah atau bercengkrama dengan keluarga.

    Disisi lain, bisa menghemat sewa kamar (kost-kost an), dapat saling membantu mengerjakan tugas (kalau satu bidang studi) atau dapat memperluas wawasan diskusi interdisipliner misalnya suami studi ilmu komputer dan istri akutansi maka diskusi komputasi akutansi akan nyambung, atau biologi dengan kimia diskusi tentang biokimia.

    2. Bila menikah akan terkekang tidak bisa bebas lagi, tidak bisa kongkow-kongkow di mal setelah pulang kuliah atau kerja, bertambah beban tanggung jawab untuk memberi nafkah istri dan anak. Sedangkan Rosul bersabda: “Bukan golonganku orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah kemudian ia tidak menikah” (HR Thabrani).

    3. Belum siap dalam hal materi/rezeki.

    Banyak yang beranggapan kalau mau menikah harus siap materi, yang berarti harus punya jabatan yang mapan, rumah minimal BTN, kendaraan dll, sehingga bila belum terpenuhi semua itu, takut untuk “maju”. Sedangkan Allah menjamin akan memberikan rizki bagi yang menikah seperti dalam firmanNYA: Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:32).

    Rasulullah SAW bersabda : Carilah oleh kalian rezeki dalam pernikahan dalam kehidupan berkeluarga) ” (HR Imam Dailami dalam musnad Al Firdaus).

    4. Tidak ada/belum ada jodoh

    Masalah memilih jodoh telah di jelaskan pada tazkiroh 2 pekan yang lalu, dibawah ini adalah pesan Rosul SAW: Imam Thabrani meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa menikahi wanita karena kehormatannya (jabatan), maka Allah SWT hanya akan menambah kehinaan; barang siapa menikah karena hartanya, maka Allah tidak akan menambah kecuali kefakiran; barang siapa menikahi wanita karena hasab (kemuliaannya), maka Allah hanya akan menambah kerendahan. Dan barang siapa yang menikahi wanita karena ingin menutupi (kehormatan) matanya, membentengi farji (kemaluan) nya, dan mempererat silaturahmi, maka Allah SWT akan memberi barakah-Nya kepada suami-istri tersebut”.

    Imam Abu Daud & At Tirmidzi meriwayatkan,bahwa Rasulullah SAW bersabda : Tetapi nikahilah wanita itu karena agamanya. Sesungguhnya budak wanita yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik dari pada wanita kaya & cantik tapi tidak taat beragama)”. Bukan berarti Rasulullah SAW mengabaikan penampilan fisik dari pasangan kita, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda : Kawinilah wanita yang subur rahimnya dan pecinta ” (HR Abu Daud, An Nasai & Al Hakim).

    Tiga kunci kebahagiaan suami adalah: Istri yang solehah: yang jika dipandang membuat semakin sayang, jika kamu pergi membuat tenang karena bisa menjaga kehormatannya dan taat pada suami”.

    4. Mungkin masih ada alasan lainya, yang tidak akan dibahas disini misalnya: karena kakak (apalagi wanita) belum menikah, karena orang tua terlalu selektif memilih calon mantu, dll.

    Manfaat menikah di usia muda:

    1. Menjaga kesucian fajr (kemaluan) dari perzinaan serta menjaga pandangan mata. (QS 24: 30-31).

    2. Dapat melahirkan perasaan tentram (sakinah), cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah) dalam hati. (QS 30:21).

    3. Segera mendapatkan keturunan, di mana anak akan menjadi Qurrata A’yunin penyejuk mata, penyenang hati) (QS 25:74) Karena usia yang baik untuk melahirkan bagi wanita antara 20-30 tahun, diatas umur tersebut akan beresiko baik bagi ibu maupun sang baby.

    4. Memperbanyak ummat Islam. Seperti yang dipesankan Rosul, beliau akan membanggakan jumlah ummatnya yang banyak nanti di akhirat.

    Kemuliaan menikah:

    Barang siapa menggembirakan hati istri, (maka) seakan-akan menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan istri (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jarinya.” HR Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Al-Khudzri r.a.)

    Juga dapat ditambahkan, bahwa Islam memberi nilai yang tinggi bagi siapa yang telah menikah, dengan menikah berarti seseorang telah melaksanakan SEPARUH dari agama Islam!, tinggal orang tersebut berhati-hati melaksanakan yang separuhnya lagi agar tidak sesat.

    Rosul SAW bersabda: Barang siapa menikah, maka dia telah menguasai separuh agamanya, karena itu hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi (HR Al Hakim).

    Kehinaan melajang/membujang: Orang yang paling buruk diantara kalian ialah yang melajang (membujang)dan seburuk-buruk mayat (diantara) kalian ialah yang melajang (membujang)” HR Imam, diriwayatkan juga oleh Abu Ya’la dari Athiyyah bin Yasar).

    Itulah yang dapat saya sampaikan kali ini, silakan menambah pengetahuan ikhwati semua yang berencana menikah dengan membaca buku tentang pernikahan atau keluarga islami yang banyak dijual, antara lain:

    *Cahyadi Takariawan: Pernik-Pernik Rumah Tangga Islami

    *Muhammad Fauzil Adhim: Kupinang Engkau dengan Hamdalah

    *Mustaghfiri Asror: Hak dan Kewajiban Suami Istri.

    *Sholih Al Fauzan: Pemuda Islam di Seputar Persoalan yang Dihadapi.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:40 am on 20 September 2013 Permalink | Balas  

    babiHikmah Pengharaman Babi

    Hal ini penting untuk diketahui, terutama oleh pemuda-pemuda kita yang sering pergi ke negara-negara Eropa dan Amerika, yang menjadikan daging babi sebagai makanan pokok dalam hidangan mereka.

    Dalam kesempatan ini, saya sitir kembali kejadian yang berlangsung ketika Imam Muhammad Abduh mengunjungi Perancis. Mereka bertanya kepadanya mengenai rahasia diharamkannya babi dalam Islam. Mereka bertanya kepada Imam, “Kalian (umat Islam) mengatakan bahwa babi haram, karena ia memakan sampah yang mengandung cacing pita, mikroba-mikroba dan bakteri-bakteri lainnya. Hal itu sekarang ini sudah tidak ada. Karena babi diternak dalam peternakan modern, dengan kebersihan terjamin, dan proses sterilisasi yang mencukupi. Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau bakteri dan mikroba lainnya.?”

    Imam Muhammad Abduh tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dan dengan kecerdikannya beliau meminta mereka untuk menghadirkan dua ekor ayam jantan beserta satu ayam betina, dan dua ekor babi jantan beserta satu babi betina.

    Mengetahui hal itu, mereka bertanya, “Untuk apa semua ini?” Beliau menjawab, “Penuhi apa yang saya pinta, maka akan saya perlihatkan suatu rahasia.”

    Mereka memenuhi apa yang beliau pinta. Kemudian beliau memerintahkan agar melepas dua ekor ayam jantan bersama satu ekor ayam betina dalam satu kandang. Kedua ayam jantan itu berkelahi dan saling membunuh, untuk mendapatkan ayam betina bagi dirinya sendiri, hingga salah satu dari keduanya hampir tewas. Beliau lalu memerintahkan agar mengurung kedua ayam tersebut.

    Kemudian beliau memerintahkan mereka untuk melepas dua ekor babi jantan bersama dengan satu babi betina. Kali ini mereka menyaksikan keanehan. Babi jantan yang satu membantu temannya sesama jantan untuk melaksanakan hajat seksualnnya, tanpa rasa cemburu, tanpa harga diri atau keinginan untuk menjaga babi betina dari temannya.

    Selanjutnya beliau berkata, “Saudara-saudara, daging babi membunuh ‘ghirah’ orang yang memakannya. Itulah yang terjadi pada kalian. Seorang lelaki dari kalian melihat isterinya bersama lelaki lain, dan membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan seorang bapak di antara kalian melihat anak perempuannya bersama lelaki asing, dan kalian membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan was-was, karena daging babi itu menularkan sifat-sifatnya pada orang yang memakannya.”

    ***

    Dari buku: Hidangan Islami: Ulasan Komprehensif Berdasarkan Syari`at dan Sains Modern

    Penulis: Syeikh Fauzi Muhammad Abu Zaid

    Penerjemah: Abdul Hayyie al Kattani

     
  • erva kurniawan 4:27 am on 18 September 2013 Permalink | Balas  

    etika-suami-isteriAntara Pria dan Wanita

    Kali ini kita membahas bagaimana Islam memandang kedudukan pria dan wanita. Apakah benar seperti anggapan para orientalis Barat bahwa Islam memandang rendah wanita dan pria lebih dominan ?, benarkah Islam menentang emansipasi wanita ?.

    Islam memandang pria dan wanita dalam 3 hal, yaitu:

    1. Sebagai manusia

    Sebagai seorang manusia Islam tidak membedakan pria dan wanita, masing-masing tidak berbeda dari segi aspek kemanusiaannya dan tidak saling melebihi satu sama lain. Masing-masing mempunyai kebutuhan jasmani seperti: rasa lapar, dahaga, buang hajat, dll. Juga mempunyai naluri seperti: mempertahankan hidup, seksual dan beragama serta sama-sama mempunyai akal. Dengan adanya kesamaan pria dan wanita sebagai manusia ini maka Islam juga memberikan aturan yang sama, seperti: sama-sama wajib shalat, zakat, puasa, haji, da’wah, aturan halal-haram, aturan akhlaq, dll. Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (At-Taubah 71).

    2. Sifat kelelakian dan kewanitaan

    Dalam hal sifat ini masing-masing mempunyai fitrah masing-masing dan saling berbeda, wanita mengalami haid, melahirkan, menyusui, mengasuh anak, dst, sedangkan pria sebagai pemimpin keluarga, mencari nafkah, dst. Untuk itu Islam juga mempunyai aturan yang berbeda diantara keduanya, seperti dalam hal warisan, kesaksian, menutup aurat, pemberian mahar, mencari nafkah, pemimpin keluarga, jihad, dll.

    3. Sebagai bagian dari anggota masyarakat

    a. Interaksi pria dan wanita

    • Interaksi yang melahirkan kenikmatan. Hal ini merupakan interaksi yang haram karena tidak sesuai dengan syariah, misalnya: pacaran, selingkuh, berkhalwat, dll.
    • Interaksi yang melestarikan keturunan. Seharusnya semua interaksi antara pria dan wanita untuk melestarikan keturunan (gharizah an-na’u), artinya harus melalui ikatan pernikahan terlebih dahulu Islam dalam memandang adanya interaksi pria dan wanita mengakui adanya naluri seksual dan hal itu alamiah serta merupakah fitrah manusia, naluri tersebut tidak perlu dijauhi/dicegah karena Islam tidak mengenal kerahiban (seperti: pendeta Budha atau pastor Katolik). Hanya saja naluri tersebut harus disalurkan semata-mata untuk melestarikan keturunan (pernikahan).

    Diantara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari diri kalian sendiri supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Diapun menjadikan diantara kalian rasa kasih sayang (Ar-Rum 21).

    b. Interaksi mu’amalah Dalam hal mu’amalah (seperti dalam bidang pendidikan, kesehatan, industri, perdagangan, pertanian, dll) maka Islam memberikan kelonggaran berinteraksi antara pria dan wanita.

    Dalam hal interaksi yang melahirkan kenikmatan (haram) dengan interaksi mu’amalah (halal) kadang sangat tipis perbedaannya. Misalnya seorang atasan (pria) berduaan dengan bawahannya (wanita) dalam berdiskusi masalah pekerjaan (mu’amalah atau halal) akan tetapi pada saat atasan mulai tertarik dengan kecantikan atau keseksian bawahannya maka hal ini sudah haram dan harus segera dicegah atau dipisahkan. Untuk itu kita perlu sangat berhati-hati dalam hal interaksi yang melahirkan kenikmatan ini dan harus dihindarkan.

    Dilain hal dokter kandungan (laki-laki) dibolehkan melihat aurat wanita yang paling pribadi sekalipun karena itu termasuk mu’amalah (bidang kesehatan), walaupun memang dianjurkan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter kandungan wanita.

    Dari uraian diatas diharapkan pembaca mendapat gambaran betapa Islam sangat menghargai kehomatan wanita karena dengan cara demikianlah kehidupan ini menjadi nikmat dunia dan akhirat. Coba kita lihat, bukankah semua kerusakan yang terjadi selama ini karena begitu longgar dan bebasnya interaksi pria dan wanita ini. Pria dan wanita bebas bertemu kapanpun, dimanapun dan dengan siapapun, akibatnya timbullah kehamilan diluar nikah, aborsi, perkosaan, pelacuran, perselingkuhan, dll.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:19 am on 17 September 2013 Permalink | Balas  

    sholat-subuhSholat setahun = Sholat 27 Tahun

    Perintah Allah SWT: “Hai orang-orang beriman, bila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli (pekerjaan)… “ (QS Al-Jumu’ah 62:9).

    Sholat setahun = Sholat 27 Tahun? Sekedar membandingkan, sholat sendiri dengan sholat berjamaah

    Islam sangat menganjurkan umatnya untuk melakukan shalat berjamaah. Rasul saw banyak menyebutkan keistimewaan shalat berjamaah. Antara lain, “Sholat berjamaah lebih utama dari solat sendirian, dengan dua puluh kali derajat.” (Muttafaq alaih)

    Sholat berjamaah juga hukumnya sunnah muakkad, yakni sunnah yang sangat ditekankan untuk dilakukan, bagi kaum laki-laki. Imam Maliki dan Hambali, bahkan mengatakan sholat berjamaah hukumnya wajib.

    Mari kita renungkan perbedaan pahala yang kita peroleh antara shalat berjamaah dengan shalat seorang diri berdasarkan hadits Rasulullah yang disebutkan di atas.

    • Solat sendirian = 1 derajat x 365 hari (setahun) x 5 waktu = 1.825 derajat
    • Solat berjamaah = 27 derajat x 365 hari (setahun) x 5 waktu = 49.275 derajat

    Jelas di sini, sembahyang sendirian selama 27 tahun, derajatnya sama dengan setahun solat berjama’ah. Bayangkan pahala ganda yang Allah karuniakan bagi orang yang mengerjakan sholat berjamaah. Ini sebenarnya memberi gambaran kepada kita betapa hikmah perintah Allah dan RasulNYa tersembunyi, yang terkadang tidak kita sadari, atau kita sepelekan. Karena itu, mari tunaikan perintah dan perintah Allah SWT dan Rasulullah saw dalam sholat berjamaah.

    Anda ingin beramal shaleh, tolong kirimkan artitel ini kepada sesama muslim, baik keluarga, sahabat dan siapapun yang anda kenal.

    ***

    Wassalam

    Imam Puji Hartono

     
    • lazione budy 4:51 am on 17 September 2013 Permalink

      Saya sudah tahu hukumnya ini sejak SD tapi masih saja berat untuk melangkah ke masjid. Heran deh,.

  • erva kurniawan 4:24 am on 16 September 2013 Permalink | Balas  

    ibu dan anak lelakinya berdoa5 Prinsip Komunikasi dengan Anak

    1. Jangan pernah menganggap anak bodoh atau tak tahu apa-apa

    Berbeda dengan anggapan banyak orang dewasa ini, anak yang paling kecil sekalipun sebenarnya sudah menyerap banyak hal dari lingkungannya. Ia melihat, merasakan, mendengar dan memikirkan (meski masih dalam kapasitas yang terbatas). Kadangkadang bahkan dengan kepekaan yang luar biasa. Expect more they’ll give you more.

    2. Hatihati dengan kemampuan orang tua menghipnotis anak

    Prinsip programming komputer garbage in garbage out (sampah yang masuk, sampah yang keluar), benar-benar terbukti dalam pendidikan anak. Kalau orang tua ingin memperoleh output yang berkualitas, masukkanlah bahan-bahan mentah yang baik. Pujian, penghargaan, katakata manis, omelan yang proporsional dan tidak rnerendahkan harga diri anak; semuanya menentukan output itu. Sebaliknya, celaan dan hinaan akan menghipnotis anak bahwa dirinya tak berharga sampai ia dewasa.

    3. Dibutuhkan kelenturan dan fleksibilitas

    Kadang-kadang, orang tua perlu menjadi ‘pelindung dan pahlawan’, kadang-kadang sebagai teman dan sahabat, dan pada waktunya nanti sebagai seorang ayah/ibu yang realistis menerima berbagai kondisi dan keterbatasan. Tentu dibutuhkan kepekaan untuk itu. Misalnya pada saat sulit, orang tua justru berhenti bersikap sebagai sahabat dan lebih bertindak sebagai pelindung. Sesudah konfrontasi atau krisis, tidak peduli berapapun usianya, anak membutuhkan suasana terlindungi. Ia, dan juga kita, membutuhkan ‘ruang’, yang lebih tenang; kita bisa memberinya dengan bersikap sebagai pelindung. Misalnya, dengan berbicara tenang, pandang mata anak. Jangan hujani dengan terlalu banyak pertanyaan. Syukur alhamdulillah, kebanyakan orang tua sebenarnya sudah dibekali naluri untuk bertindak peka seperti ini, meski semata-mata mengandalkan naluri pun tak terlalu tepat.

    4. Semaksimal mungkin menyediakan tiga unsur penting komunikasi yakni; waktu, sentuhan dan bicara

    Tiga faktor utama inilah yang menentukan apakah komunikasi orang tua dan anak akan sehat, apakah anak akan tumbuh kembang normal dan sehat serta siap memasuki dunia luas. Apakah ia akan tumbuh menjadi anak yang penuh percaya diri dan siap menghadapi tantangan, atau anak penakut dan rendah diri. Bahkan ayah/ibu yang sangat sibuk pun sebenarnya bisa tetap menyediakan waktu yang cukup bagi anak mereka. Ada teknik-teknik untuk itu; misalnya, dengan memberi anak beberapa menit perhatian yang tak terbagi dalam sehari.

    Semua orang memiliki yang disebut skin hunger for langer; rasa lapar akan sentuhan. Tak perduli berapa usia kita, kita membutuhkan kasih sayang yang diwujudkan dengan sentuhan. Ini bisa berarti, cubit, sayang, gelitikan, gulat atau ciuman. Selama masih bisa, sebanyakbanyaknya sentuhan itu pada anak; tidak akan lama lagi mereka sudah akan merasa malu dicium oleh ayah/ibu mereka. Namun, jangan berhenti karena mereka malu dicium; sentuh dengan cara lain, misalnya merangkul bahu atau menggelitik. Pada dasamya, mereka tetap membutuhkannya. Akan halnya bicara, banyak hal yang bisa diperhatikan. Misalnya saja, orang tua dapat berbicara pada anak lewat mendongeng, bacaan ayat suci, nyanyian, ‘goda menggoda’, humor dan lelucon. Berbicara adalah juga mendengar dengan baik dan peka; membaca raut muka serta pengungkapan isi hati. Berbicara adalah memuji, mengomeli, sesekali mengancam, menyatakan cinta, menyatakan kesedihan dan kekecewaan. Berbicara adalah menghargai pendapat anak, memintanya menghargai pendapat orang lain. Berbicara bicara serius, ringan ataupun sambil lalu.

    5. Menggunakan kreativitas

    Tidak semua ketrampilan dan pengetahuan diperoleh seketika. Karena itu dibutuhkan keberanian mencoba dan kreativitas. Dua faktor Bantu orang tua menghadapi berbagai tantangan yang mungkin tak bisa dicegah, seperti godaan dari luar rumah. Contoh ketika seorang ibu terpaksa mengambil keputusan pindah dari lingkungan yang sekarang, karena dirasa tak lagi aman bagi perkembangan anakanaknya.

    Bagaimana bila orang tua merasa ‘terlanjur’ salah dalam berkomunikasi dengan anak? Alhamdulillah, Allah Ta’ala melengkapi manusia dengan kemampuan melupakan suatu pengalaman buruk dan bangkit kembali dari kegagalannya. Karena itu, selamat mencoba resep berkomunikasi dengan anak ini. Semoga Allah memudahkan langkah kita semua.

    Dikutip dari Makalah Shanti W:E: Soekanto pada Seminar Sehari Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 658 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: