Updates from Mei, 2014 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 5:28 am on 6 May 2014 Permalink | Balas  

    Taubat 1Taubat Nasuha

    Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Agama Islam tidak memandang manusia bagaikan malaikat tanpa kesalahan dan dosa sebagaimana Islam tidak membiarkan manusia berputus asa dari ampunan Allah, betapa pun dosa yang telah diperbuatnya. Bahkan Nabi Muhammad telah membenarkan hal ini dalam sebuah sabdanya yang berbunyi: “Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan/dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat (dari kesalahan tersebut).”

    Taubat dari segala kesalahan tidaklah membuat seorang terhina di hadapan Tuhannya. Hal itu justru akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya karena sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. Sebagaimana firmanya dalam surat Al-Baqarah: 222,  “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

    Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara, bahkan pintunya selalu terbuka luas tanpa penghalang dan batas. Seperti terungkap dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari: “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat.” Tepatlah kiranya firman Allah dalam surat Ali Imran ayat: 133, “Bersegeralah kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu.”

    Taubat yang tingkatannya paling tinggi di hadapan Allah adalah “Taubat Nasuha”, yaitu taubat yang murni. Sebagaimana dijelaskan dalam surat At-Tahrim: 66,  “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bresamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan ‘Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu’”.

    Taubat Nasuha adalah bertaubat dari dosa yang diperbuatnya saat ini dan menyesal atas dosa-dosa yang dilakukannya di masa lalu dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi di masa medatang. Apabila dosa atau kesalahan tersebut terhadap bani Adam (sesama manusia), maka caranya adalah dengan meminta maaf kepadanya. Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Apakah penyesalan itu taubat?”, “Ya”, kata Rasulullah (H.R. Ibnu Majah).  Amr bin Ala pernah mengatakan: “Taubat Nasuha adalah apabila kamu membenci perbuatan dosa sebagaimana kamu pernah mencintainya”.

    ***

    (Diambil dari artikel Muhajriin Abdul Qadir, milis DKM An-Nahl)

     
  • erva kurniawan 5:09 am on 5 May 2014 Permalink | Balas  

    taubatLelah

    Kalau ada orang-orang yang masih terus menerus berdusta, aku tidak mengerti, terbuat dari apakah lidah mereka sehingga teramat hebat merangkai kata-kata indah menutupi kebenaran, menyembunyikan hakikat, mengedepankan kepalsuan. Padahal sekali saja berdusta, sudah sedemikian lelahnya kita berpikir untuk mencari segudang alasan baru untuk dusta berikutnya, sudah sebegitu kelunya lidah ini terpaksa menari mengikuti irama gendang kepalsuan yang tak hentinya bertabuh.

    Jika masih ada sebagian orang yang saling mencaci, menghina, menggunjing, berprasangka buruk dan menjelek-jelekkan saudaranya, aku tidak tahu, sekuat apa penciuman dan mulutnya karena pada saat itu ia seperti tengah memakan bangkai saudaranya sendiri.

    Seandainya masih beredar orang-orang yang tak hentinya berlaku sombong, angkuh dan takabbur, aku tak habis pikir, sebesar apa dirinya sehingga sangat lancang menantang kebesaran Tuhannya, dan sekuat apa tubuhnya kelak menanggung akibat dari kesombongannya.

    Sekiranya tetap hidup manusia-manusia yang enggan menyisihkan sebagian harta yang dimilikinya, sementara bertebaran di seluruh penjuru bumi Allah ini anak-anak yatim piatu, fakir miskin dan orang-orang lemah… aku semakin heran, apakah ia selalu berpikir bahwa semua itu diperolehnya murni dari hasil jerih payahnya? Tak pernahkah ia tahu bahwa semua yang ada padanya itu adalah atas kehendak Allah Sang Pemberi Rizki? Yang seandainya Dia berkehendak, dengan sangat mudah pula Dia mengambilnya?

    Umpamanya masih hidup orang-orang yang gemar berbuat maksiat, bangga dengan dosa-dosanya, sungguh aku tidak akan pernah memahami, setebal apa kulit mereka menahan api neraka Allah, sekuat tubuh orang-orang itu menerima adzab Allah yang tak pernah berhenti.

    ***

    (Diambil dari artikel Bayu Gautama, http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 3:38 am on 3 May 2014 Permalink | Balas  

    TaubatKriteria Dosa Besar Menurut Al-Qur’an dan Hadis

    Oleh : Burhan Djamaluddin

    Di dalam ajaran Islam, dikenal adanya dosa besar dan dosa kecil. Namun tidak didapati rincian dalam al-Qur’an dan Hadis, dua sumber agama Islam, tentang kesalahan apa saja yang dikategorikan dosa besar dan dosa kecil.

    Dalam al-Qur’an, misalnya surat al-Nisa’ ayat 37, dan surat al-Najm ayat 32, disebut kata kaba’ir dan kaba’ir al-ism. Menurut Muhammad Fuad Abd al-Baqi, hanya 3 ayat dalam al-Qur’an yang mengandung kata kaba’ir atau kaba’ir al-ism. Dalam ayat-ayat itu, yang disebut kaba’ir tidak jelas. Kata kaba’ir atau kaba’ir al-ism, yang biasanya diterjemahkan dengan dosa besar dan muncul dalam al-Qur’an sebanyak 3 kali itu, semuanya tidak menyebut kesalahan apa saja yang disebut dosa besar.

    Hadis, yang fungsinya antara lain menjelaskan yang masih umum dalam al-Qur’an, tidak banyak membantu kita untuk dapat memahami kesalahan apa saja yang disebut dosa besar. Dalam Hadis, justeru yang terungkap hanya dosa-dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar (akbar al-kaba’ir), yaitu syirik, durhaka kepada kedua orang tua, saksi palsu, mundur dari medan perang melawan orang kafir, dan sihir. Jika ada dosa paling besar, tentu ada dosa besar dan dosa kecil. Dengan demikian, perincian dosa-dosa besar belum jelas adanya. Bahkan, ungkapan-ungkapan dalam al-Qur’an atau Hadis yang mengacu kepada arti dosa-dosa besar belum jelas. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba mengungkap kriteria-keriteria dosa besar, baik melalui sumber pertama (al-Qur’an) maupun sumber kedua (Hadis) Rasulullah, dengan cara menelusuri istilah atau ungkapan yang digunakan dalam dua sumber ajaran Islam tersebut.

    Sebelum dicoba diuraikan ungkapan-ungkapan yang mengacu kepada arti dosa besar dalam al-Qur’an dan Hadis, terlebih dahulu dikemukakan beberapa ungkapan yang biasa diterjemahkan dengan arti dosa dalam bahasa Indonesia.

    Istilah-Istilah Dosa Dalam Al-Qur’an

    Dalam al-Qur’an, terdapat sejumlah istilah atau kata yang biasa diterjemahkan dengan dosa dalam bahasa Indonesia. Istilah-istilah tersebut ,misalnya: al-itsm, al-zanb, al-khith’u, al -sayyi’at dan al-hub.

    Kata al-itsm dengan berbagai bentuk kata jadiannya, menurut perhitungan Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqi, muncul sebanyak 44 kali dalam al-Qur’an. Menurut Lewis Ma’luf, kata al-itsm, berarti ‘amila ma la yahillu (mengerjakan sesuatu yang tidak halal atau tidak dibolehkan agama). Makna kata al-itsm, seperti diungkap Lewis Ma’luf, umum sekali, yaitu mencakup semua amal yang dilarang agama. Padahal al-Qur’an, ketika menunjuk hal-hal yang dilarang agama, misalnya zina, mengungkapnya dengan kata fahisyat. Jadi, tidak selamanya hal-hal yang dilarang agama disebut al-itsm oleh al-Qur’an. Berbeda dengan Lewis Ma’luf, Al-Raghib al-Asfahani, salah seorang pakar bahasa al-Qur’an, mengemukakan bahwa kata al-itsm berarti sebutan bagi perbuatan-perbuatan yang menghambat tercapainya pahala. Dengan kata lain, al-itsm adalah sebutan bagi tindakan yang menghambat terwujudnya kebaikan.

    Berbeda dengan Lewis Ma’luf dan al-Asfahani, al-Maraghi (penulis tafsir al-Maraghi), mengatakan bahwa al-itsm sama dengan al-zanb. Sesuatu perkataan atau tindakan baru dapat disebut al-itsm, demikian al-Maraghi, bila mendatangkan bahaya yang menimpa jasmani, jiwa, akal, dan harta benda (materi). Ibn Mandhur, penulis kamus Lisan al-Arab, lebih khusus lagi mengartikan al-itsm dengan al-khamar. Alasan yang dikemukakan Ibn Mandhur ialah bait syair Arab yang berbunyi “syaribtu al-itsm hatta dlalla ‘aqliy, kazalika al-itsm tazhabu bi al-’uqul” (saya meminum al-ism, “al-khamar”, maka ingatanku hilang. Memang khamar dapat menghilangkan ingatan).

    Dalam al-Qur’an, terdapat dua tindakan yang dapat dikategorikan al-itsm, yakni meminum khamar dan bermain judi, seperti yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 219. Memang, mengartikan al-itsm dengan sesuatu yang menghambat perbuatan baik, mendatangkan bahaya, dan bahkan secara eksplisit sama dengan khamar, seperti yang dilakukan oleh ibn Mandhur, tidak jauh dari hakikat kata al-itsm, seperti yang ditunjukkan oleh al-Qur’an. Seseorang yang meminum khamar dan bermain judi, misalnya, dapat mengganggu aktifitas yang positif, dapat membahayakan kesehatan jasmani dan rohani,dan dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan negatif lainnya.

    Dari sejumlah kata al-itsm yang muncul dalam al-Qur’an, terlihat bahwa kata al-ism digunakan untuk menyebut pelanggaran yang memiliki efek negatif dalam kehidupan seseorang dan masyarakat.

    Kata al-zanb dengan berbagai bentuk kata jadiannya disebut sebanyak 48 kali dalam al-Qur’an. Menurut Lewis Ma’luf, kata al-zanb berarti tabi’ahu falam yufarriq israh (menyertai dan tidak pernah berpisah). Kata al-zanab yang dirangkai dengan binatang, misalnya zanab al-hayawan berarti ekor binatang. Ekor binatang biasanya terletak di belakang, dekat dengan tempat keluarnya kotoran. Ekor, kalau begitu, menggambarkan keterbelakangan atau kehinaan. Ungkapan zanab al-qawm berarti masyarakat terkebelakang. Dengan demikian dapat dipahami bahwa ungkapan al-zanb yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan dosa, ditujukan kepada perbuatan-perbuatan yang mengandung nilai kehinaan dan keterbelakangan, seperti letak ekor binatang yang dekat dengan tempat keluarnya kotoran.

    Diantara 48 kata al-zanb yang muncul dalam al-Qur’an adalah terdapat dalam surat Ali Imran ayat 135. Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang meminta ampun dari dosa (al-zanb), karena mengerjakan fahisyat, maka Allah akan mengampuni dosa mereka. Kata fahisyat berarti al-zina atau ma yusytaddu qubhuh min al-zunub (dosa yang paling jelek atau paling besar). Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kata al-zanb mengacu juga kepada perbuatan dosa yang paling jelek termasuk zina. Apalagi, diantara ulama tafsir, misalnya al-Maraghi, memang mengartikan kata fahisyat dalam ayat itu dengan arti zina.

    Tindakan lain yang dikatakan al-zanb oleh al-Qur’an adalah mengubur hidup-hidup anak perempuan, seperti yang dilakukan masyarakat Jahiliyah. Tindakan mereka disebutkan dalam surat al-Takwir ayat 9. Perbuatan masyarakat Jahiliyah seperti diungkap dalam ayat itu termasuk perbuatan keji, sebab tindakan itu tidak mengenal perikemanusiaan sama sekali. Dalam Islam, merusak tubuh manusia yang telah meninggal, jika tidak ada kepentingan keilmuan atau kepentingan lain, diketegorikan dosa, apalagi mengubur hidup-hidup manusia.

    Mendustakan ayat-ayat Allah diungkap pula dengan kata al-zanb, seperti terdapat dalam surat al-Anfal ayat 54. Hal ini, menurut pandangan Allah, karena dosa mendustakan ayat-ayat Allah termasuk dosa paling besar. Dalam ajaran Islam, puncak ajaran agama adalah tauhid (mengesakan Allah). Oleh karena ajaran tauhid paling penting dalam ajaran Islam, maka orang-orang yang menganggap Allah memiliki anak, seperti dalam surat al-Maidah ayat 18, dikatakan sebagai orang berdosa besar.

    Dari sekian banyak ayat yang mengadung kata al-zanb dalam al-Qur’an, dapat dipahami bahwa kata al-zanb digunakan untuk menyebut dosa terhadap Allah dan dosa terhadap sesama manusia. Kebanyakan kata al-zanb muncul dalam bentuk yang sangat umum, sehingga tidak dapat diketahui apakah dosa yang ditunjukkannya termasuk dosa besar atau dosa kecil. Untuk mengetahui besar kecilnya dosa yang ditunjuk oleh kata al-zanb harus didukung oleh petunjuk lain yang terdapat dalam konteks ayat yang memuat kata al-zanb itu, atau petunjuk dari Hadis Rasulullah.

    Al-khith’u juga termasuk salah satu kata yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan arti dosa. Bentuk kata kerja madli (kata kerja lampau) dari kata al-khith’u ialah khati’a. Penggunaan kata khathi’a fi dinih berarti salaka sabila khatha’in amidan aw ghaira amidin (mengikuti jalan yang salah, baik disengaja maupun tidak disengaja). Nampaknya, kata al-khith’u ini dianggap sama dengan kata al-zanb oleh Lewis Ma’luf. Namun, Lewis menambahkan pendapat lain bahwa al-khith’u khusus digunakan untuk mengungkap kesalahan yang tidak disengaja.

    Berbeda dengan Lewis, al-Raghib al-Asfahani, mengartikan kata al-khith’u dengan arti melenceng dari arah yang sebenarnya. Pengertian melenceng seperti diungkap al-Asfahani ini, memiliki beberapa kemungkinan. Pertama, niat mengerjakan sesuatu yang salah, kemudian benar-benar dikerjakan. Kesalahan seperti ini dinamakan al-khith’u al-tamm (betul-betul salah). Kedua, niat mengerjakan sesuatu yang boleh dikerjakan tetapi yang dikerjakan justru sebaliknya. Dengan kata lain, benar niatnya, tetapi tindakannya salah. Ketiga, niat mengerjakan yang tidak boleh dikerjakan, tetapi yang dilakukan sebaliknya, yaitu mengerjakan perbuatan yang boleh dilakukan. Yang disebut ketiga ini, salah niatnya tetapi benar tindakannya. Kata al-khith’u dalam al-Qur’an, menurut perhitungan Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, muncul sebanyak 22 kali. Diantara kata al-khith’u yang muncul dalam al-Qur’an ialah dalam surat al-Isra’ ayat 31. Kata al-khith’u dalam ayat ini dirangkai dengan kata kabiran (besar). Kata kabiran adalah sifat dari kata al-khith’u, sehingga rangkaian dua kata yang disebut terakhir ini berarti dosa besar. Dengan demikian, kata al-khith’u dalam ayat ini dapat diterjemahkan sebagai dosa besar jika dirangkai dengan kata kabiran.

    Dari sekian banyak ayat al-Qur’an yang mengandung kata al-khith’u dapat dipahami bahwa kata ini digunakan untuk menyebut dosa yang cukup bervariasi, misalnya dosa terhadap Allah, dan dosa terhadap sesama manusia. Juga dapat dipahami bahwa al-Qur’an, ketika menggunakan kata al-khith’u atau al-khathiat, tidak menjelaskan secara tersurat, apakah dosa yang ditunjukkannya dosa besar atau dosa kecil. Untuk membedakan dosa yang ditunjukkannya, dibutuhkan petunjuk lain, seperti adanya kata kabiran dalam ayat 31 surat al-isyra’ yang dikutip di depan.

    Seperti disebut di depan, kata al-sayyi’at juga termasuk kata yang diterjemahkan dalam bahasa Indoenesia dengan arti dosa. Kata ini dengan segenap kata jadiannya, menurut perhitungan Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, muncul sebanyak 167 kali. Seorang pakar bahasa al-Qur’an, al-Raghib al-Asfahani, mengartikan kata al-sayyi’at atau al-su’ dengan kullu ma yaghummu al-insan min al-umur al-dunyawiyyat wa al-ukhrawiyyat wa min al-ahwal al-nafsiyyat wa al-badaniyyat wa al-kharijat min fawat malin wa jahin wa faqd hamim (segala sesuatu yang dapat menyusahkan manusia, baik masalah keduniaan maupun masalah keakhiratan, atau baik masalah yang terkait dengan kejiwaan atau jasmani, yang diakibatkan oleh hilangnya harta benda, kedudukan dan meninggalnya orang-orang yang disayangi).

    Ternyata kata al-sayyi’at yang muncul dalam al-Qur’an, semuanya merujuk kepada arti yang disebutkan al-Asfahani tersebut. Dalam al-Qur’an, surat Thaha ayat 22, dikatakan bahwa Tuhan memerintahkan Nabi Musa untuk memasukkan tangannya ke ketiaknya, niscaya tangan Nabi Musa akan keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacad. Hal itu sebagai mu’jizat lain yang dimiliki Nabi Musa dari Tuhannya. Kata al-su’, dalam ayat ini berarti penyakit, yaitu al-barash (belang), yang banyak menimpa tangan, penyakit yang selalu menyusahkan orang yang ditimpanya. Oleh karena itu, sangat tepat bila kata al-su’ diartikan juga dengan al-huzn (susah). Sesuatu hal yang jelek juga dikatakan al-su’, dan karena itu kata al-su’ dalam hal ini dilawankan dengan al-husna (baik), dan al-sayyiat dilawankan dengan kata al-hasanat, seperti terdapat dalam surat al-Nisa’ ayat 79.

    Dalam al-Qur’an, perbuatan-perbuatan yang dikategorikan al-su antara lain: perzinaan (Surat al-Nisa’ ayat 22), menjadikan syetan sebagai teman (surat al-Nisa’ ayat 38), mengubur hidup-hidup anak perempuan seperti yang dilakukan masyarakat Jahiliyah (surat al-Nisa’ ayat 58-59). Dari sekian banyak kata al-su’ atau al-sayyi’at yang muncul dalam al-Qur’an, kelihatannya tidak selalu mengacu kepada arti dosa besar (seperti yang disebutkan dalam Hadis Rasulullah) atau dosa kecil. Terkadang kata al-su’ digunakan untuk menyebut dosa besar, seperti zina (surat al-Isra’ ayat 32), membunuh anak perempuan hidup-hidup (surat al-Nahl ayat 59), dan sebagainya. Terkadang juga kata al-su’ ada yang mengacu kepada dosa kecil, seperti yang muncul dalam surat al-Nisa’ ayat 31. Disamping itu, ada lagi kata al-su’ dalam al-Qur’an yang tidak jelas mengacu kepada dosa besar atau dosa kecil, seperti yang muncul dalam surat al-A’raf ayat 95, surat al-Ra’d ayat 6, surat Yunus ayat 28, surat al-Naml ayat 90, surat Ghafir ayat 40, dan lain-lain.

    Kata al-hub, yang diterjemahkan dengan arti dosa, muncul dalam al-Qur’an sebanyak satu kali, yaitu dalam surat al-Nisa’ ayat 2. Menurut al-Asfahani, kata al-hub sama dan sinonim dengan kata al-itsm. Oleh karena kata al-hub ini muncul hanya satu kali dalam al-Qur’an, tidak dapat diketahui berbagai makna yang timbul dari kata tersebut, apakah ia mengacu kepada arti dosa besar atau dosa kecil, atau dosa secara umum. Khusus dalam surat al-Nisa’ ayat 2 di atas, karena kata al-hub dirangkai dengan kata kabiran, maka rangkaian itu diterjemahkan dengan dosa besar.

    Kriteria Dosa Besar

    Tidak mudah untuk menentukan kriteria dosa besar dalam al-Qur’an. Kesulitan itu tetap terasa, walaupun istilah-istilah yang biasa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan dosa telah dijelaskan sebelum ini. Diantara lima istilah tersebut, tidak satu pun yang secara eksplisit dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan dosa besar. Bila al-Qur’an menyebut dosa besar, maka istilah-istilah tersebut dirangkai dengan kata kabir atau adim (dua kata yang berarti besar). Oleh karena itu, ditemukan rangkaian kata-kata: isman adiman, isman kabiran, zanban adiman, khith’an kabiran, atau huban kabiran, untuk merujuk dosa-dosa besar. Dengan demikian, jika ditemukan kata ism, zanb, khith’ saja, maka tidak dihukumi sebagai dosa besar, tanpa melihat indikator lain yang dapat mengantarkan kita memahaminya sebagai dosa besar.

    Sebagai dikatakan di atas, Hadis pun tidak banyak membantu kita menjelaskan kekaburan itu. Yang disebut dalam Hadis hanyalah dosa-dosa terbesar diantara dosa-dosa besar. Sedangkan dosa besar itu sendiri masih kabur. Setelah tidak jelas macam-macam dosa besar, menurut al-Qur’an dan Hadis, maka ijtihadlah yang harus difungsikan untuk mengetahui macam-macam dosa besar. Oleh karena dasar untuk mengetahui dosa besar itu ijtihad, maka hasilnya menjadi relatif. Jika dampak negatif yang ditimbulkan suatu tindakan pelanggaran dijadikan tolok ukur untuk mengetahui dosa besar, kesulitan yang ditemui ialah bahwa dampak negatif itu sendiri relatif juga. Suatu pelanggaran, yang dianggap oleh seseorang memiliki dampak yang relatif cukup besar bagi dirinya, belum tentu dirasakan sebagai hal yang sama oleh orang lain. Dalam menyelesaikan problem ini, akan digunakan tolok ukur lain, yaitu istilah apa yang digunakan al-Qur’an ketika mengancam pelanggar suatu aturan. Tentu yang dianalisa adalah bahasa yang digunakan oleh al-Qur’an atau Hadis tersebut.

    Berdasarkan tolok ukur kebahasaan itu, dosa besar menurut al-Baruzi, seperti dikutip al-Ghimari setidak-tidaknya ada lima belas kategori, yaitu dosa besar yang diancam dengan hukuman had, dosa besar yang ditandai dengan ungkapan “fahisyah”, dosa besar karena pelanggaran yang dilakukan termasuk perbuatan syetan, dosa besar karena Allah tidak menyenangi tindakan itu termasuk pelakunya, dosa besar karena pelaku dosa diancam dengan laknat, dosa besar karena Allah marah terhadap pelakunya, dosa besar ditandai dengan ungkapan “shalat yang dikerjakan seseorang ditolak Allah”, dosa besar karena pelakunya dikecam sebagai orang merugi, dosa besar ditandai dengan ungkapan “bukan dari golongan kami”, dosa besar ditandai dengan ungkapan “Allah menutup pintu taubat bagi pelaku dosa”, dosa besar ditandai dengan ungkapan “kemaksiatan menghabiskan kebaikan”, dosa besar ditandai dengan ancaman wayl, dosa besar karena tindakan itu membatalkan amalan shaleh, dosa besar ditandai dengan ungkapan “Allah tidak menyenangi pelaku dosa”, dan dosa besar ditandai dengan ungkapan “tidak perlu ditanyakan resiko yang akan diterima pelaku dosa”. Macam-macam dosa besar yang dikemukakan al-Baruzi tersebut, tidak dijelaskan semua di sini, karena disamping tidak memungkinkan dari segi tempat yang disediakan, juga karena sebagian besar dari dosa-dosa tersebut, sudah disebutkan dalam Hadis Rasulullah, bahkan ada yang termasuk dosa terbesar. Oleh karena itu hanya sebagian saja yang akan diuraikan di sini.

    1. Dosa Besar Karena Diancam Dengan Hukuman Had.

    Terdapat sejumlah ayat al-Qur’an yang mengancam sebuah pelanggaran dengan hukuman had, misalnya surat al-Baqarah ayat 178. Ayat ini membicarakan hukuman had bagi pembunuh, atau terkenal dengan qishash. Secara eksplisit, memang sudah dikatakan dalam Hadis bahwa dosa pembunuhan termasuk dosa besar. Namun, tidak semua pelanggaran yang diancam dengan hukuman had disebut oleh Hadis Rasulullah. Dalam Hadis disebutkan bahwa dosa besar karena diancam hukuman had hanyalah zina, dan saksi palsu. Padahal dosa besar dengan tolok ukur ancaman had bagi sebuah pelanggaran cukup banyak, misalnya: membunuh, zina, qazaf (tuduhan palsu), mencuri, pengacau di jalan, liwath (homo seksual) .

    Kata had berasal dari kata kerja hadda. Kalimat hadda Allah ‘anna al-syarra, berarti kaffahu wa sharrafahu (menjauhkan atau memalingkan). Tegasnya, Allah menjauhkan kita dari bahaya. Ungkapan hadda al-muzniba berarti aqama ‘alyhi al-had bima yamna’u ghairahu wa yamna’uhu min irtikab al-zanb (menerapkan hukuman had kepada seseorang yang berbuat dosa, agar dia jera dan agar orang lain yang mengetahui hukuman tersebut dapat juga jera). Kemudian muncullah istilah had dan dalam bentuk jamaknya hudud, yang berarti hukuman yang diterapkan di dunia bagi pelanggar hukum tertentu, seperti pencurian dengan hukuman potongan tangan, zina dengan hukuman rajam, pembunuhan dengan hukuman qishash, dan sebagainya.

    Hukuman bagi pembunuhan, perzinaan, qazaf, mencuri, mengacau di jalan, dan liwath (homoseksual) dikategorikan dosa besar, bukan saja karena diancam dengan hukuman had, tetapi karena dampak negatif dari tindakan- tindakan tersebut memang besar. Di sini, untuk menilai tindakan-tindakan tersebut sebagai dosa besar, bukan saja acuan kebahasaan tetapi juga acuan dampak negatif yang ditimbulkannya. Pembunuhan, misalnya, memiliki dampak negatif yang cukup besar, sebab pembunuhan tidak saja menghilangkan nyawa orang yang terbunuh. Lebih dari itu, pembunuhan dapat menambah penderitaan keluarga yang ditinggalkannya, terutama jika yang terbunuh itu orang yang menjadi tulang punggung kehidupan keluarga.

    Demikian juga perzinaan, dikategorikan dosa besar, karena disamping diancam dengan hukuman had, juga karena dampak negatif yang ditimbulkan zina cukup besar. Penyakit kelamin, anak lahir tanpa orang tua sah dan hidup terlantar, cemoohan masyarakat dan masih banyak lagi yang lainnya, adalah dampak-dampak yang ditimbulkan perzinaan. Qazaf pun tidak kalah besar dampaknya bila dibandingkan dengan pembunuhan dan perzinaan. Orang yang dituduh palsu, dalam hal ini wanita baik-baik yang dituduh berzina, nama baiknya akan tercemar, termasuk nama baik keluarganya. Wanita itu juga akan dikucilkan dari masyarakat, dan akan mengalami penderitaan batin yang cukup hebat. Tidak mudah untuk memulihkan nama baiknya, dan kalaupun bisa, membutuhkan waktu yang cukup lama dan membutuhkan mental yang cukup prima. Wajar bila penuduh palsu diancam dengan hukuman berat, yaitu dipukul delapan puluh kali (hukuman had), kesaksian mereka ditolak selamanya, dan mereka dikategorikan orang fasik. Demikian juga mencuri dan mengacau di jalan, termasuk yang diancam dengan hukuman had oleh al-Qur’an. Hukuman-hukuman yang diancamkan kepada pezina, pencuri, penuduh palsu, dan pengacau di jalan tersebut cukup berat. Dengan melihat ancaman hukuman tersebut, tidak salah jika pelanggaran-pelanggaran yang diancam dengan hukuman had dikategorikan dosa besar.

    2.Dosa Besar Ditandai Ungkapan “Fahisyat’.

    Dosa besar dapat dikenal juga dengan adanya ungkapan fahisyat bagi tindakan pelanggaran. Diantara ayat yang menggunakan kata fahisyat untuk menunjuk suatu pelanggaran adalah ayat 15 surat al-Nisa’. Dalam ayat ini, Allah menetapkan bahwa para isteri yang dituduh mengerjakan perbuatan fahisyat, harus dibuktikan kebenarannya oleh empat orang saksi. Kata fahisyat berarti qabihat dan syani’at (jelek dan keji). Banyak mufassir menafsirkan kata fahisyat dalam ayat ini dengan arti zina. Namun dalam beberapa ayat lain, kata fahisyat muncul dalam makna yang sangat umum, misalnya dalam ayat 45 surat al-Ankabut. Dalam ayat disebut terakhir, dikatakan bahwa shalat dapat mencegah seseorang dari perbuatan fahsya’ (bentuk jamak dari fahisyat). Kata fahisyat dalam ayat ini tidak dapat dipahami dengan makna zina, karena tidak ada petunjuk yang mengantarkan kita untuk dapat memahaminya dengan arti zina. Demikian pula kata fahsya’ dalam ayat 169 surat al-Baqarah, ayat 28 surat al-A’raf, ayat 24 surat Yusuf, ayat 22 surat al-Nisa’ dan sebagainya, muncul dengan makna yang sangat umum. Kata-kata fahsya’ atau fahisyat dalam konteks seperti ini tidak dapat dipahami dengan mengacu kepada arti dosa besar atau dosa kecil. Namun pada saat tertentu, misalnya ada petunjuk yang tegas yang mengarah kepada arti dosa besar, kata fahisyat atau fahsya’, dapat dijadikan dasar untuk menghukumi sebuah pelanggaran sebagai dosa besar.

    3. Dosa Besar Karena Pelakunya Diancam Dengan Laknat.

    Dosa besar terkadang dapat diketahui dengan adanya ungkapan lain yang digunakan al-Qur’an atau Hadis, selain yang dikemukakan di atas, yaitu pelakunya diancam dengan laknat, misalnya dalam ayat 51-52 surat al-Nisa. Dalam ayat ini, Allah menyatakan melaknat orang-orang musyrik dan orang-orang yang percaya kepada Thaghut dan orang-orang yang mengakui bahwa orang kafir Makkah lebih benar jalannya dari orang-orang beriman. Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata “la’ana” yang, dari segi bahasa, berarti akhaza wa sabba (menyiksa dan mencaci) dan dapat juga berarti ab’adahu min al-khair (menjauhkan dari kebaikan). Lebih jauh lagi, kata la’ana berarti ‘azzaba (menyiksa). Al-Maraghi mengartikan kata la’ana dengan ab’adahu min al-khayr. Dengan arti bahasa dan istilah dari kata la’ana seperti dikutip di atas, dapat dipahami bahwa kata la’ana mengakibatkan jauhnya seseorang dari kebaikan, atau tegasnya, jauhnya seseorang dari rahmat Allah. Orang yang dijauhi memang ada kemungkinan karena tidak disenangi, dan dampak dari tidak disenangi orang antara lain tidak mendapatkan kebaikan orang lain. Orang tidak disenangi dalam ayat di atas ialah orang musyrik, dan kemusyrikan termasuk dalam akbar al-kabair (salah satu dosa terbesar diantara dosa-dosa besar).

    Orang-orang yang tidak disenangi Allah, seperti tercantum dalam al-Qur’an cukup bervariasi, misalnya orang-orang kafir (Qs. al-Ahzab ayat 64). Bahkan golongan ini dinyatakan secara tegas akan dimasukkan ke dalam neraka yang apinya menyala-nyala di akhirat nanti. Golongan yang tidak disenangi Allah, juga termasuk orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah melanggar janji kepada Allah. Hati mereka pun enggan dan kaku, serta keras bagaikan batu, sehingga tidak mau menerima ayat-ayat Allah. Bahkan lebih jauh lagi, mereka berani merubah ayat-ayat Allah (ayat al-Qur’an), seperti merubah arti dan mengurangi atau menambah huruf dan kata-kata dalam ayat al-Qur’an tersebut.

    Dalam Hadis Rasulullah pun terdapat kata la’ana, yaitu sabda Rasulullah: “la’ana Allah al-rasyi wa al-murtasyi” (Allah melaknat orang yang menyuap dan yang disuap). Beberapa kata la’ana yang muncul, baik dalam al-Qur’an maupun dalam Hadis memang mengacu kepada arti dosa besar. Apalagi pelanggaran-pelanggaran yang diungkap dengan kata la’ana, dampak negatifnya memang besar, sehingga tepat bila kata la’ana digunakan sebagai dasar untuk menghukumi pelanggaran yang ditunjuknya sebagai dosa besar.

    4. Dosa Besar Yang Ditandai Ungkapan “Kemaksiatan Dapat Merusak Kebaikan”.

    Dosa besar dalam kategori ini tidak ditemukan dalam al-Qur’an, tetapi ditemukan dalam Hadis Rasulullah. Hadis tersebut berbunyi: “Iyyakum wa al-hasad fa inna al-hasad ya’kul al-hasanat kama ta’kul al-nar al-hathab” (Jauhilah sifat hasad (dengki), sebab dengki itu dapat memakan amalan baik, sebaimana halnya api membakar kayu). Dalam kamus Arab, kata hasad digunakan, misalnya dalam ungkapan “hasada fulan ni’matahu wa ‘ala ni’matihi” yang berarti “tamanna zawala ni’matih wa tahawwulaha ilayhi” (Seseorang berharap hilangnya ni’mat yang didapat orang lain, dan dapat berpindah ke tangan dia). Hasad, kalau begitu, adalah sifat yang tidak terpuji. Kemudian, bagaimana sifat hasad dapat memakan amal-amal baik, sehingga digambarkan sebagai api membakar kayu? Tidak dijelaskan oleh Rasulullah. Dapat diduga bahwa alasan hasad dapat memakan amal-amal baik, adalah karena orang kalau sudah hasad, tidak pernah merasa puas dengan nikmat yang diberikan Allah. Bahkan, nikmat Allah yang ada di tangan orang lain diusahakan pindah ke tangannya. Dalam pandangan orang hasad, kebaikan dan nikmat yang ada di tangannya selalu dirasakan kurang. Bahkan, nikmat tersebut tidak diakui eksistensinya. Jadi, sifat hasad sama dengan api yang membakar kayu. Yang tersisa hanya arang dan debu. Lama kelamaan, arang dan debu pun akan hilang tanpa bekas. Gambaran hasad dapat menghilangkan kebaikan bersifat abstrak. Proses hilangnya kebaikan oleh sifat hasad tidak dapat dilihat. Oleh karena itu, dibutuhkan perumpamaan. Kemudian, Rasulullah mengambil perumpamaan: Hasad menghilangkan kebaikan sama dengan api membakar kayu. Dengan cara mempersamakan seperti ini, sesuatu yang awalnya bersifat abstrak berubah menjadi kongkrit. Ia menjadi seakan-akan dapat diihat, seperti halnya benda nyata. Seseorang yang telah hangus amal baiknya, berarti ia tidak memiliki peluang untuk memperoleh balasan kebaikan dari Allah. Sebaliknya, justeru balasan keburukan (neraka) yang akan diperolehnya. Bila demikian, dapat dipahami kalau sifat hasad dikategorikan sebagai dosa besar.

    5. Dosa Besar Karena Diancam Dengan Wayl (Celaka).

    Dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang mengandung kata wayl (celaka), antara lain dalam surat al-Muthaffifin ayat 1-3. Kata wayl menurut kamus bahasa Arab berarti al-halak (kehancuran). Kata wayl dalam ayat 1 surat al-Muthaffifin tersebut, menurut al-Maraghi, merujuk kepada arti kehancuran yang besar. Kehancuran besar menggambarkan besarnya dampak yang ditimbulkan. Kehancuran besar dalam ayat ini ialah menimbang dengan timbangan yang besar ketika membeli dan menimbang dengan timbangan kecil ketika menjual. Tindakan ini jelas mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dalam perdagangan, tanpa memperhatikan kerugian dan penderitaan orang lain. Setidak-tidaknya, ada dua keuntungan yang diraih oleh orang yang melakukan penipuan seperti itu: Pertama, keuntungan dari selisih timbangan barang yang dibeli; Kedua, keuntungan dari selisih harga jual barang. Oleh karena itu, tindakan tersebut sangat menguntungkan diri sendiri dan sangat merugikan orang lain. Dengan demikian, adalah tepat bila al-Qur’an mengancam pelakunya dengan kata wayl, yang merujuk kepada besarnya dosa bagi pelaku tindakan tersebut.

    Al-Asfahani mengartikan kata wayl dengan al-qubh (jelek) atau al-tahassur (penyesalan). Pengertian wayl seperti yang dikemukakan al-Asfahani, secara etimologis, berbeda dengan pengertian yang diberikan oleh Lewis Ma’luf. Namun pada hakekatnya, dua pengertian itu memiliki makna yang sama, yaitu merujuk kepada arti kejelekan atau kejahatan yang besar, dan dampaknya menimbulkan kehancuran yang besar pula. Pendusta lagi banyak berbuat dosa, sebagai dikatakan dalam al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 7, tepat diancam dengan wayl. Kedustaan sudah cukup membahayakan, apalagi ditambah dengan kesenangan melakukan dosa.

    6. Dosa Besar Ditandai Ungkapan”Allah Tidak Suka Melihat Pelaku Dosa”.

    Dosa besar dalam kategori ini ditandai ungkapan “la yandhuru” (tidak melihat). Kata nadhara, bentuk kata kerja lampau dari kata kerja yandhuru, dalam al-Qur’an ditemukan lebih seratus kali dengan berbagai bentuk kata jadiannya. Seperti dikatakan di atas, kata la yandhuru, yang berarti tidak melihat, bukan saja berarti tidak melihat karena tidak bertemu atau tidak menemukan, akan tetapi ungkapan itu memiliki arti tertentu, yaitu tidak ingin melihat karena merasa tidak senang dengan sesuatu. Dalam al-Qur’an, tidak ditemukan ungkapan la yandhuru, dalam arti seperti disebut terakhir. Ungkapan la yandhuru dalam arti tersebut terakhir hanya ditemukan dalam Hadis, misalnya “la yandhuru Allah ‘azza wa jalla ila al-rajuli ata rajulan aw imrataan fi duburiha” (Allah tidak senang melihat seseorang yang menyetubuhi sesama lelaki (homoseksual) dan bersetubuh dengan perempuan melalui duburnya (sodomi).

    Ungkapan la yandhuru (tidak mau melihat) seperti dalam Hadis di atas, disebabkan ketidaksenangan kepada sesuatu. Ketidaksenangan boleh jadi menjurus kepada tidak mau melihat yang tidak disenangi itu, sebab pada umumnya orang yang tidak senang kepada sesuatu atau kepada seseorang, boleh jadi ia tidak mau melihat sesuatu atau seseorang yang dibencinya. Dalam Hadis lain dikatakan: Salasatun la yukallimuhum Allah yawm al-qiyamat wa la yuzakkihim wa la yandhuru ilayhim wa lahum ‘azabun alim: syaikhun zanin, wa malikun kazzab, wa ‘ailun mustakbirun (ada tiga golongan yang tidak diajak bicara oleh Allah di hari qiyamat, tidak dibersihkan hatinya, dan akan disiksa dengan siksaan yang pedih, yaitu orang tua yang berzina, raja pendusta, dan orang miskin yang sombong).

    Kata la yukallimuhum Allah (mereka tidak diajak bicara oleh Allah), bukan karena Allah tidak bertemu dengan orang itu, akan tetapi ungkapan itu memiliki makna kiasan, yaitu kiasan bahwa Allah tidak senang kepada mereka. Bahkan, ketidaksenangan Allah itu ditegaskan lagi dengan kata berikutnya wa la yandhuru ilayhim (Allah tidak mau melihat mereka). Mengapa Allah tidak senang kepada mereka ? Tentu saja karena perilaku mereka sudah melampaui batas. Orang tua yang berzina, dianggap melampaui batas, sebab orang tua seharusnya memberi contoh yang baik kepada anak cucu. Raja yang berdusta juga sangat dibenci Allah, sebab raja seharusnya jujur dalam menjalankan pemerintahan, bukan malah mengelabui rakyatnya.

    Kesimpulan

    Dari uraian yang telah dipaparkan sebelum ini, dapat dipahami bahwa al-Qur’an tidak menyebut secara tegas macam-macam dosa besar. Dalam al-Qur’an hanya terdapat ungkapan-ungkapan yang dapat mengantarkan kita untuk dapat menghukumi sebuah pelanggaran itu sebagai sebuah dosa besar. Dengan meresapi sejumlah istilah atau ungkapan yang menjadi tanda untuk memahami dosa besar, sebagaimana yang dikemukakan al-Baruzi, maka akan muncul puluhan macam dosa besar. Dosa-dosa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah hanyalah sebagian dari dosa-dosa besar yang terdapat dalam ajaran Islam. Untuk mengetahui secara rinci macam-macam dosa besar, kita hanya merujuk saja kepada ungkapan-ungkapan tersebut, baik yang terdapat dalam al-Qur’an maupun Hadis.

    ***

    Penulis adalah dosen tetap pada Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel

    Tamat S-3 dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta

     
  • erva kurniawan 2:46 am on 30 April 2014 Permalink | Balas  

    puasa-4Puasa Sunnah yang Dianjurkan Islam

    Ketika Islam melarang berpuasa pada hari-hari tertentu,maka Islam pun menganjurkan kepada umatnya agar melakukan puasa pada hari-hari tertentu yang Rasulullah saw sendiri biasa melakukan puasa pada hari-hari tersebut.

    1. Enam Hari pada Bulan Syawal

    Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh jamaah ahli hadis kecuali Bukhari, Nasa’i dari Abu Ayyub al-Anshari bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan lalu mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka seakan-akan dia telah berpuasa selama satu tahun (sepanjang masa).”

    Puasa tersebut menurut Imam Ahmad dapat dilakukan berturut-turut atau tidak berturut-turut dan tidak ada kelebihan antara yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan menurut golongan Hanafi dan golongan Syafi’i, lebih utama melakukannya secara berturut-turut, yaitu setelah hari raya.

    2. Puasa tanggal 9 Dzul Hijjah (Arafah) bagi selain orang yang melaksanakan Haji

    Kesunnahan berpuasa pada tanggal tersebut didasarkan pada hadis-hadis:

    1. Dari Abu Qatadah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yaitu satu tahun yang telah berlalu dan satun tahun yang akan datang.” (HR Jamaah kecuali Bukhari dan Tirmidzi).

    2. Dari Hafshah ra, dia berkata, “Ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah saw, yaitu puasa Asyura, puasa sepertiga bulan (yakni bulan Dzul Hijjah), puasa tiga hari dari tiap bulan, dan salat dua rakaat sebelum Subuh.” (HR Ahmad dan Nasa’i).

    3. Dari Uqbah bin Amir ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Hari Arafah, hari Kurban dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya umat Islam dan hari-hari tersebut adalah hari-hari makan dan minum.” HR Khamsah (lima imam hadis) kecuali Ibnu Majah dan dinyatakan sahih oleh Tirmidzi.

    4. Dari Ummu Fadhal, dia berkata, “Mereka merasa bimbang mengenai puasa Nabi saw di Arafah, lalu Nabi saw saya kirimi susu. Kemudian Nabi saw meminumnya, sedang ketika itu beliau berkhotbah di depan umat manusia di Arafah.” (HR Bukhari dan Muslim).

    3. Puasa Bulan Muharrom dan Sangat Dianjurkan pada Tanggal 9 dan 10 (Tasu’a dan ‘Asyura)

    Hal ini berdasarkan pada hadis-hadis:

    1. Dari Abu Hurairah ra dia berkata, “Rasulullah saw ditanya, ‘Salat apa yang lebih utama setelah salat fardhu?’ Nabi menjawab, ‘Salat di tengah malam’. Mereka bertanya lagi, ‘Puasa apa yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?’ Nabi menjawab, ‘Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan Muharrom’.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).

    2. Dari Muawiyah bin Abu Sufyan ra, dia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Hari ini adalah hari ‘Asyura dan kamu tidak diwajibkan berpuasa padanya. Sekarang, saya berpuasa, maka siapa yang mau, silahkan puasa dan siapa yang tidak mau, maka silahkan berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim).

    3. Dari Aisyah ra, dia berkata, “Hari ‘Asyura’ adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy di masa jahiliyah, Rasulullah juga biasa mempuasakannya. Dan tatkala datang di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk turut berpuasa. Maka, tatkala diwajibkan puasa Ramadhan beliau bersabda, ‘Siapa yang ingin berpuasa, hendaklah ia berpuasa dan siapa yang ingin meninggalkannya, hendaklah ia berbuka’.” (Muttafaq alaihi).

    4. Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Nabi saw datang ke Madinah lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’, maka Nabi bertanya, ‘Ada apa ini?’ Mereka menjawab, hari ‘Asyura’ itu hari baik, hari Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa saw dan Bani Israel dari musuh mereka sehingga Musa as berpuasa pada hari itu. Kemudian, Nabi saw bersabda, ‘Saya lebih berhak terhadap Musa daripada kamu’, lalu Nabi saw berpuasa pada hari itu dan menganjurkan orang agar berpuasa pada hari itu. ” (Muttafaq alaihi).

    5. Dari Abu Musa al-Asy’ari ra, dia berkata, “Hari ‘Asyura’ itu diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikan sebagai hari raya. Maka, Rasulullah saw bersabda,”Berpuasalah pada hari itu.” (Muttafaq alaihi).

    6. Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Tatkala Rasulullah saw berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan orang-orang agar berpuasa pada hari itu, mereka berkata, “Ya Rasulullah, ia adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani,” maka Nabi saw bersabda, “Jika datang tahun depan, insya Allah kami berpuasa pada hari kesembilan (dari bulan Muharrom).” Ibnu Abbas ra berkata, “Maka belum lagi datang tahun depan, Rasulullah saw sudah wafat.” (HR Muslim dan Abu Daud).

    Para ulama menyebutkan bahwa puasa Asyura’ itu ada tiga tingkat: tingkat pertama, berpuasa selama tiga hari yaitu hari kesembilan, kesepuluh dan kesebelas. Tingkat kedua, berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh. Tingkat ketiga, berpuasa hanya pada hari kesepuluh saja.

    4. Berpuasa pada Sebagian Besar Bulan Sya’ban

    Hal ini berdasarkan hadis:

    1. Dari Aisyah ra berkata, “Saya tidak melihat Rasulullah saw melakukan puasa dalam waktu sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan dan tidak satu bulan pun yang Nabi saw banyak melakukan puasa di dalamnya daripada bulan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim).

    2. Dari Usamah bin Zaid ra berkata, Aku berkata, “Ya Rasulullah saw , tidak satu bulan yang Anda banyak melakukan puasa daripada bulan Sya’ban !” Nabi menjawab: “Bulan itu sering dilupakan orang, karena letaknya antara Rajab dan Ramadhan, sedang pada bulan itulah amal-amal manusia diangkat (dilaporkan) kepada Tuhan Rabbul ‘Alamin. Maka, saya ingin amal saya dibawa naik selagi saya dalam berpuasa.” (HR Nasa’i dan dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah).

    5. Berpuasa pada Hari Senin dan Kamis

    Hal ini berdasarkan pada hadis Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw lebih sering berpuasa pada hari Senin dan Kamis, lalu orang-orang bertanya kepadanya mengenai sebab puasa tersebut, lalu Nabi saw menjawab, “Sesungguhnya amalan-amalan itu dipersembahkan pada setiap Senin dan Kamis, maka Allah berkenan mengampuni setiap muslim, kecuali dua orang yang bermusuhan, maka Allah berfirman, “Tangguhkanlah kedua orang (yang bermusuhan ) itu!” (HR Ahmad dengan sanad yang sahih).

    Dalam sahih Muslim diriwayatkan bahwa Nabi saw ditanya orang mengenai berpuasa pada hari Senin, maka beliau bersabda, “Itu hari kelahiranku dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku.” (HR Muslim).

    6. Berpuasa Tiga Hari Setiap Bulan

    Dari Abu Dzarr al-Ghiffari ra berkata, “Kami diperintah Rasulullah saw untuk melakukan puasa tiga hari dari setiap bulan, yaitu hari-hari terang bulan, yakni tanggal 13, 14 dan 15, sembari Rasul saw bersabda, ‘Puasa tersebut seperti puasa setahun (sepanjang masa)’.” (HR Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

    7. Berpuasa Selang-seling (Seperti Puasa Daud)

    Dari Abdullah bin Amr berkata, Rasulullah saw telah bersabda, “Puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Daud dan salat yang paling disukai Allah adalah salat Daud. Ia tidur seperdua (separoh) malam, bangun sepertiganya, lalu tidur seperenamnya, dan ia berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari.”

    Referensi:

    Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

    Tamamul Minnah, Muhammad Nashirudddin al-Albani

     
  • erva kurniawan 5:35 am on 26 April 2014 Permalink | Balas  

    ghibahTak Mudah Mengendalikan Lidah

    Qori tak menyangka kalau omongannya berbuah petaka. Ibu usia empat puluhan ini akhirnya harus rela suaminya ditangkap polisi lantaran membacok tetangga sendiri. Peristiwa itu bermula ketika warga Semarang ini terus-menerus mengadu ke suaminya. “Saya dipelototin Heri, Mas,” begitu ucapannya. Di luar dugaan, suami Qori tega membacok kepala tetangganya itu.

    Begitulah lidah ketika kita lengah. Tak jarang, hanya karena ucapan, antar kampung bisa saling tarung, antar negara bisa adu senjata. Luka karena lidah bahkan lebih parah dari senjata. Untuk beberapa waktu, lukanya tidak tampak. Luka itu terpendam dalam hati. Bagaikan benih, luka itu tumbuh, membesar, dan menjalar. Suatu saat, luka itu akan keluar dan memperlihatkan keganasannya. Mungkin, si empunya lidah tak menyangka kalau luka yang ditorehkan bisa begitu dalam dan menganga. Siapa menyangka kalau gurauan bisa berbuntut pada bunuh-bunuhan.

    Kehatian-hatian dengan gurauan menjadi keharusan buat seorang mukmin. Karena, gurauan yang terkesan ringan bisa bermakna besar buat seseorang. Walaupun cuma panggil-panggilan sebutan, timbangannya lumayan besar di sisi Allah.

    Allah swt berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 11, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

    Betapa kasihan tubuh ini jika harus menuai cela lantaran lidah. Kasihan, karena hanya sebab lidah, kebaikan anggota tubuh lain terhapus sia-sia. Mata tak lagi merasakan kemuliaannya yang letih bergadang di jalan Allah. Tangan yang begitu cekatan menolong orang, tak lagi mendapat penghargaan yang selayaknya. Kaki yang lelah mengantar tubuh berjuang di jalan Allah tak lagi menuai berkah. Di dunia cela, di akhirat menderita siksa.

    Itulah mungkin kenapa Rasulullah saw memberikan jaminan surga buat mereka yang sukses menjaga dua anggota tubuh: kemaluan dan lidah. Dari Sahal bin Sa’ad, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa berani memberi jaminan kepadaku atas selamatnya apa yang ada di antara tulang mulutnya dan apa yang ada di antara kedua pahanya, maka aku berani memberi jaminan surga kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Tingkat keburukan, kemuliaan, kecerdasan, dan kebijaksanaan seseorang bisa dilihat dari ucapannya. Peliharalah lidah. Latih ia dengan alur kerja yang rapi, bersih, berbobot, dan punya nilai. Jika tidak, akan selalu jatuh korban karena liarnya lidah. Sirami dan ingatkan lidah Anda dengan bacaan Al-Quran setiap hari.

    ***

    (Diambil dari kolom Taujih majalah Saksi)

     
  • erva kurniawan 2:38 am on 23 April 2014 Permalink | Balas  

    wanitaTipe Wanita yang Disunnahkan untuk Dilamar  

    Dalam melamar, seorang muslim dianjurkan untuk memperhatikan beberapa sifat yang ada pada wanita yang akan dilamar, diantaranya:

    1. Wanita itu disunahkan seorang yang penuh cinta kasih. Maksudnya ia harus selalu menjaga kecintaan terhadap suaminya, sementara sang suami pun memiliki kecenderungan dan rasa cinta kepadanya.

    Selain itu, ia juga harus berusaha menjaga keridhaan suaminya, mengerjakan apa yang disukai suaminya, menjadikan suaminya merasa tentram hidup dengannya, senang berbincang dan berbagi kasih saying dengannya. Dan hal itu jelas sejalan dengan firman Allah Ta’ala,

    Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia jadikan di antara kalian rasa kasih dan saying. (ar-Ruum:21).

    2. Disunahkan pula agar wanita yang dilamar itu seorang yang banyak memberikan keturunan, karena ketenangan, kebahagiaan dan keharmonisan keluarga akan terwujud dengan lahirnya anak-anak yang menjadi harapan setiap pasangan suami-istri.

    Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Ta’ala berfirman, Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’. (al-Furqan:74).

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

    Menikahlah dengan wanita-wanita yang penuh cinta dan yang banyak melahirkan keturunan. Karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat kelak. Demikian hadist yang diriwayatkan Abu Daud, Nasa’I, al-Hakim, dan ia mengatakan, Hadits tersebut sanadnya shahih.

    3. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu seorang yang masih gadis dan masih muda. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Shahihain dan juga kitab-kitab lainnya dari hadits Jabir, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bertanya kepadanya,

    Apakah kamu menikahi seorang gadis atau janda? dia menjawab,”Seorang janda.”Lalu beliau bersabda, Mengapa kamu tidak menikahi seorang gadis yang kamu dapat bercumbu dengannya dan ia pun dapat mencumbuimu?.

    Karena seorang gadis akan mengantarkan pada tujuan pernikahan. Selain itu seorang gadis juga akan lebih menyenangkan dan membahagiakan, lebih menarik untuk dinikmati akan berperilaku lebih menyenangkan, lebih indah dan lebih menarik untuk dipandang, lebih lembut untuk disentuh dan lebih mudah bagi suaminya untuk membentuk dan membimbing akhlaknya.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda,

    Hendaklah kalian menikahi wanita-wanita muda, karena mereka mempunyai mulut yang lebih segar, mempunyai rahim yang lebih subur dan mempunyai cumbuan yang lebih menghangatkan.

    Demikian hadits yang diriwayatkan asy-Syirazi, dari Basyrah bin Ashim dari ayahnya, dari kakeknya. Dalam kitab Shahih al_Jami’ ash_Shaghir, al-Albani mengatakan, “Hadits ini shahih.”

    4. Dianjurkan untuk tidak menikahi wanita yang masih termasuk keluarga dekat, karena Imam Syafi’I pernah mengatakan, “Jika seseorang menikahi wanita dari kalangan keluarganya sendiri, maka kemungkinan besar anaknya mempunyai daya pikir yang lemah.”

    5. Disunahkan bagi seorang muslim untuk menikahi wanita yang mempunyai silsilah keturunan yang jelas dan terhormat, karena hal itu akan berpengaruh pada dirinya dan juga anak keturunannnya. Berkenaan dengan hal tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

    Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya kamu beruntung. (HR. Bukhari, Muslim dan juga yang lainnya).

    6. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu taat beragama dan berakhlak mulia. Karena ketaatan menjalankan agama dan akhlaknya yang mulia akan menjadikannya pembantu bagi suaminya dalam menjalankan agamanya, sekaligus akan menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya, akan dapat bergaul dengan keluarga suaminya.

    Selain itu ia juga akan senantiasa mentaati suaminya jika ia akan menyuruh, ridha dan lapang dada jika suaminya memberi, serta menyenangkan suaminya berhubungan atau melihatnnya. Wanita yang demikian adalah seperti yang difirmankan Allah Ta’ala, “Sebab itu, maka wanita-wanita yang shahih adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminyatidak berada di tempat, oleh karena Allah telah memelihara mereka”. (an-Nisa:34).

    Sedangkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

    “Dunia ini adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatannya adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim, Nasa’I dan Ibnu Majah).

    7. Selain itu, hendaklah wanita yang akan dinikahi adalah seorang yang cantik, karena kecantikan akan menjadi dambaan setiap insane dan selalu diinginkan oleh setiap orang yang akan menikah, dan kecantikan itu pula yang akan membantu menjaga kesucian dan kehormatan. Dan hal itu telah disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits tentang hal-hal yang disukai dari kaum wanita.

    Kecantikan itu bersifat relatif. Setiap orang mempunyai gambaran tersendiri tentang kecantikan ini sesuai dengan selera dan keinginannya. Sebagian orang ada yang melihat bahwa kecantikan itu terletak pada wanita yang pendek, sementara sebagian yang lain memandang ada pada wanita yang tinggi.

    Sedangkan sebagian lainnya memandang kecantikan terletak pada warna kulit, baik coklat, putih, kuning dan sebagainya. Sebagian lain memandang bahwa kecantikan itu terletak pada keindahan suara dan kelembutan ucapannya.

    Demikianlah, yang jelas disunahkan bagi setiap orang untuk menikahi wanita yang ia anggap cantik sehingga ia tidak tertarik dan tergoda pada wanita lain, sehingga tercapailah tujuan pernikahan, yaitu kesucian dan kehormatan bagi tiap-tiap pasangan.

    ***

    Sumber: Fikih Keluarga, Syaikh Hasan Ayyub, Cetekan Pertama, Mei 2001, Pustaka Al-kautsar

    Dikirim oleh : abualifah

     
  • erva kurniawan 4:51 am on 20 April 2014 Permalink | Balas  

    Wanita_siluetIslam Mengangkat Martabat Wanita

    Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw lahir dalam situasi dominasi laki-laki yang sangat berlebihan. Di sekitar abad ke 5-6 itulah wanita mengalami penghinaan yang luar biasa di seluruh dunia.

    Di Afrika dan Amerika perbudakan sedang gencar-gencarnya berlangsung. Kalau kita melihat catatan sejarah, hal itu juga merembet sampai ke Eropa, Timur Tengah, dan sebagian Asia. Manusia, khususnya wanita, menjadi ‘barang’ yang diperjual-belikan secara bebas. Dari satu tangan penguasa ke penguasa lainnya. Dari satu saudagar ke saudagar lainnya.

    Para penguasa dan raja di berbagai belahan dunia pun memperlakukan wanita secara semena-mena. Banyak di antaranya memiliki istri atau selir puluhan, atau bahkan ratusan orang. Yang kadang-kadang juga dihadiah-hadiahkan, seperti barang saja layaknya. Martabat wanita benar-benar runtuh.

    Saat itulah Islam diturunkan kepada nabi Muhammad saw di Jazirah Arab, di Timur Tengah, dalam situasi peradaban yang tidak jauh berbeda. Bahkan disebut-sebut sebagai kondisi kegelapan yang mewakili suramnya peradaban dunia pada waktu itu. Jaman jahiliah. Jaman kegelapan.

    Kondisi masyarakat Arab waktu itu sangat memprihatinkan. Khususnya perlakuan terhadap wanita. Karena itu, tidak heran, banyak orang tua yang tidak ingin punya anak perempuan. Memiliki anak perempuan adalah aib besar pada waktu itu. Apalagi mereka yang bangsawan, hartawan, atau tokoh masyarakat lainnya.

    Begitu mendengar istrinya melahirkan anak perempuan, merah padamlahlah muka sang ayah. Pasti berita itu bakal disimpan rapat-rapat agar tidak terdengar oleh orang lain. Atau, mereka tidak akan segan-segan membunuh anak yang baru lahir itu, karena malu. Hal yang mengerikan ini sampai diabadikan dalam Al-Qur’an.

    QS. An Nahl (16): 58-59

    Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.

    Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.

    Dikabarkan, Umar bin Khatab sebelum masuk Islam juga pernah membunuh anak perempuannya dengan cara mengubur hidup-hidup. Betapa kejinya peradaban saat itu. Dan betapa rendahnya martabat seorang wanita pada saat itu. Kondisi Arab hanya salah satu contoh saja dari buruknya posisi wanita dalam peradaban dunia di jaman itu. Sampai-sampai seorang ayah tega membunuh anaknya sendiri. Bukan main…!

    Bukan hanya itu. Contoh lain adalah perilaku laki-laki terhadap wanita dalam hal perkawinan. Di arab jaman itu, kawin dengan banyak wanita adalah hal biasa. Hal yang lumrah.

    Bahkan yang menyedihkan, istri-istri bakal diwariskan kepada anak-anak lelakinya jika sang ayah meninggal dunia. Bayangkan, si anak laki-laki menerima warisan istri-istri ayahnya. Bukan main biadabnya…! Wanita benar-benar diperlakukan sebagai barang dan harta benda saja layaknya. Dan ini pun diabadikan dalam cerita Qur’an, sekaligus dikecam seperti ketika Allah mengecam pembunuhan terhadap anak-anak perempuan.

    QS. An Nisaa’ (4): 23

    Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,

    Allah mengecam praktek perkawinan yang amburadul secara moral, pada waktu itu. Tak peduli ibu tiri, anak, mertua, menantu dan sebagainya, saat itu sudah tidak ada artinya lagi. Wanita adalah barang tak berharga di kalangan lelaki. Maka Islam datang untuk meluruskan kembali tatakrama dengan berbasis pada akhlak mulia. Mendudukkan manusia sebagai makhluk yang beradab. Dan mengangkat wanita ke tempat yang terhormat. Sebagai seorang ibu, isteri dan anak yang harus dilindungi, dihargai dan dicintai.

    Islam datang untuk mengubah peradaban manusia yang sudah demikian rusak dan amburadul dengan cara yang bijak. Sehingga dalam ayat-ayat di atas, selain mengecam perilaku lama, Allah juga memberikan jalan keluarnya. Menciptakan aturan-aturan baru. Sekaligus mengampuni dosa-dosa yang telah lalu, asalkan tidak dilakukan lagi di masa-masa mendatang.

    Dengan kedatangan Islam, wanita dibela habis-habisan, dan diangkat dari kubangan lumpur yang sangat dalam. Bukan hanya di kalangan wanita pada umumnya, lebih khusus lagi Islam juga melakukan pembelaan kepada mereka yang lemah dan tertindas, seperti anak-anak perempuan yatim, ataupun para budak.

    Bukan main. Sudah wanita, budak lagi. Pada jaman itu mereka adalah golongan masyarakat yang paling bawah. Tak ada harganya. Tapi coba lihat, bagaimana Islam membela wanita-wanita tertindas itu.

    Banyak budak yang dibebaskan oleh pemuka-pemuka Islam. Bahkan tak sedikit yang dikawini, menjadi isteri sah. Ini sungguh luar biasa, di jaman itu. Islam membalik persepsi masyarakat secara frontal dengan cara ini. Bahwa wanita adalah orang-orang yang mesti dilindungi dan dihargai.

    QS. An Nisaa’ (4): 25

    Dan barangsiapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup penghasilannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. Itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Di jaman sekarang, ayat di atas sepertinya biasa-biasa saja. Namun, jika anda memahaminya dalam konteks jaman itu, sungguh tak ternilai tingginya.

    Sebagian umat Islam dianjurkan untuk mengangkat budak-budak menjadi istrinya. Bahkan memberikan mas kawin secara patut, karena mereka adalah bagian dari kita semua. Pada jaman itu, jangankan memberikan mas kawin, budak-budak diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi. Dan dimanfaatkan untuk pemuas nafsu dalam bentuk pelacuran secara terang-terangan.

    Islam membalik semua praktek tak manusiawi itu. Segala bentuk kekerasan terhadap wanita ‘diserang’ secara frontal oleh ayat-ayat Qur’an. Dan bukan hanya teoritis, melainkan dipraktekkan secara langsung oleh Rasulullah dan para sahabat. Perubahan yang signifikan pun terjadi. Hanya dalam beberapa tahun, martabat wanita pun terangkat sangat terhormat.

    QS. An Nuur (24): 33

    Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesuciannya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu).

    Ayat ini secara khusus memperjuangkan martabat budak wanita. Allah melarang seorang lelaki muslim untuk melakukan hubungan seks di luar nikah, meskipun dengan para budak. Sebuah hal yang lumrah di kala itu.

    Al-Qur’an memerintahkan agar semua itu diikat dalam sebuah lembaga perkawinan. Karena jika tidak, yang dirugikan bukan lelaki, melainkan para wanita. Padahal mereka adalah budak-budak yang tidak berdaya. Bayangkan jika mereka punya anak. Kesengsaraannya sungguh bakal berlipat-lipat. Sementara para lelaki tidak ada yang peduli.

    Para lelaki diperintahkan untuk menghargai mereka sebagai istri yang sah. Yang memperoleh perlindungan secara hukum. Kalau mereka tidak mau, maka lepaskanlah dengan ikatan perjanjian tertentu. Bahkan diperintahkan untuk memberikan sejumlah bekal dan uang untuk mereka. Agar mereka bisa menjadi manusia yang merdeka.

    Betapa mulianya Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. Ketika semua orang memperlakukan wanita dengan semena-mena, Islam justru memberikan pembelaan secara terang-terangan. Ketika semua penguasa dan bangsawan menindas wanita-wanita tak berdaya sebagai permainan para lelaki, maka Islam pun datang membongkar praktek-praktek tak bermoral itu, sekaligus memberikan contoh konkret dalam kehidupan masyarakat.

    Dari kubangan lumpur, wanita diangkat oleh Islam untuk menduduki singgasana yang penuh hormat, penghargaan, perlindungan, cinta, dan kasih sayang…

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 17 April 2014 Permalink | Balas  

    Lemah ImanDampak Maksiat terhadap Iman

    Maksiat adalah lawan ketaatan, baik itu dalam bentuk meninggalkan perintah maupun melakukan suatu larangan. Derajat maksiat juga berbeda-beda. Jika ia dilakukan karena ingkar atau mendustakan, maka ia bisa membatalkan iman. Sedangkan jika tidak sampai pada derajat tersebut maka maksiat tersebut tidak membuatnya keluar dari iman, tetapi memperburuk dan mengurangi iman.

    Orang yang melakukan dosa besar seperti berzina, mencuri, minum-minuman yang memabukkan atau sejenisnya, tetapi tanpa meyakini kehalalannya, akan hilang rasa takut, khusyu’ dan cahaya dalam hatinya; sekalipun pokok pembenaran dan iman tetap ada di hatinya. Lalu jika ia bertaubat kepada Allah dan melakukan amal shaleh maka kembalilah khassyah dan cahaya itu ke dalam hatinya. Namun apabila ia terus melakukan kemaksiatan, akan bertambahlah kotoran dosa itu di dalam hatinya sampai menutupi serta menguncinya -na’udzubillah!-. Hal ini akan membuatnya menjadi tidak sensitif bahkan tidak mengenal yang baik dan buruk.

    Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin itu jika berbuat dosa maka terbentuklah titik hitam di hatinya. Apabila ia bertaubat, meninggalkan dan beristighfar maka mengkilaplah hatinya. Dan jika menambah (dosa) maka bertambahlah (bintik hitamnya) sampai menutupi hatinya. Itulah ‘rain’ yang disebut oleh Allah dalam Al-Qur’an.”.“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin : 14, HR. Ahmad II/297).

    Ada sebuah perumpamaan yang menggambarkan pengaruh maksiat atas iman, yaitu bahwasanya iman itu seperti pohon besar yang rindang. Maka akar-akarnya adalah tashdiq (kepercayaan) dan dengan akar itulah ia hidup, sedangkan cabang-cabangnya adalah amal perbuatan. Dengan cabang itulah kelestarian dan hidupnya terjamin. Semakin bertambah cabangnya maka semakin bertambah dan sempurna pohon itu, dan jika berkurang maka buruklah pohon itu.

    Lalu jika berkurang terus sampai tidak tersisa cabang maupun batangnya maka hilanglah nama pohon itu. Manakala akar-akar itu tidak mengeluarkan batang-batang dan cabang-cabang yang bisa berdaun maka keringlah akar-akar itu dan hancurlah ia dalam tanah. Begitu pula maksiat-maksiat dalam kaitannya dengan pohon iman, ia selalu membuat pengurangan dan aib dalam Kesempurnaan dan keindahannya, sesuai dengan besar dan kecilnya atau banyak dan sedikitnya kemaksiatan tersebut.

    Wallau a’alam!

    ***

    Diambil dari milis An-Nahl

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 14 April 2014 Permalink | Balas  

    Dimana Maqam kita? 

    sufi 14Dimana Maqam Kita?

    Bismillaahir-rahmaanir-rahiim

    Sahabat,

    Sesungguhnya Rasulullah saw sampai pada maqam yang istimewa di sisi Allah adalah setelah melalui tahapan yang berterusan lewat fikir dan pengorbanannya. Ketinggian derajatnya tidak semata-mata karunia yang Allah berikan begitu saja. Dan tanpa keduanya, yakni fikir dan pengorbanannya, Allah tak akan buat keputusan untuk menurunkan hidayah yang bercurah-curah; Sehingga tidak ada seorangpun yang duduk di dekatnya (pada hari akhir hayatnya), kecuali dia menyaksikan manusia berbondong-bondong masuk kepada agama-Nya, Islam.

    Sebagaimana Rasulullah saw, seperti itu pula sahabat-sahabatnya. Mereka mencapai derajat yang tinggi dengan fikir dan pengorbanan mereka. Dalam membantu Rasulullah saw, fikir mereka adalah sedemikian rupa sehingga mereka merasa suka hati untuk mengorbankan nyawa mereka pada saat-saat diperlukan. Fikir dan pengorbanan mereka adalah demi tegaknya kalimah Allah. Fikir harian mereka adalah bagaimana setiap karunia yang Allah berikan kepada mereka berupa harta, diri dan masa dapat dikembalikan kepada-Nya dengan sebaik-baik pengembalian. Dan pengorbanan mereka yang luar biasa adalah wujud dari apa yang mereka fikirkan.

    Penggambaran “hayatush-shahabah” seringkali sedemikian rupa sehingga kita seakan berada di sisi mereka. Kita terbawa dalam duka-lara saat membaca riwayat kesusahan dan kepedihan mereka dalam menegakkan agama. Kita juga tak kuasa menyembunyikan kepiluan hati saat mendengar riwayat pengabdian yang sarat dengan kesulitan dalam perjuangan mereka. Kita juga tak dapat menahan airmata yang gugur ketika menonton adegan ulang kisah penderitaan mereka di jalan Allah.

    Bila demikian keadaannya, lalu dimana maqam kita? Dan bila dibandingkan dengan para sahabat Rasulullah, setinggi apa derajat kita di sisi Allah? Apakah kita menyangka bahwa cara yang kita lakukan hari ini akan dapat ‘mendongkrak’ derajat kita kepada suatu kemuliaan? Sungguh ini suatu sangka baik yang belum diletakkan pada tempatnya.

    Adalah kita ingin mencapai derajat kemuliaan sebagaimana yang telah mereka raih dengan cara menulis. Sebagian lagi dengan cara membuat adegan ulang (seperti tayangan tv dan sejenisnya). Sebagian yang lain dengan cara membaca buku (bahkan sambil berbaring atau mengunyah nyamikan). Sebagian lain dengan cara mendiskusikannya, membuat seminar atau yang serupa dengan itu. Ternyata kita ingin mencapai derajat mereka dengan cara kita sendiri yang senang dan mudah, tanpa mujahadah sebagaimana yang mereka contohkan.

    Lewat sirahnya, sesungguhnya Rasulullah saw mengajarkan kita cara terbaik untuk dapat sampai kepada maqam tertinggi. Bila hari ini kita mengaku bahwa kita sedang mengikuti Rasulullah dan para sahabatnya, yang sebenarnya adalah bahwa kita baru mengambil pelajaran dari yang tersurat saja. Barangkali kecerdasan kita sudah tertutup oleh kebodohan yang berlapis sehingga kita masih gagal untuk mengambil pelajaran yang tersirat. Bila kita malu mengakuinya demikian, hal itu sudah cukup membuktikan kebodohan kita sendiri.

    Kita tidak lagi mengetahui bahwa dakwah adalah kewajiban setiap individu bagi ummat ini. Artinya adalah bila seseorang tidak buat dakwah (sekurangnya niat untuk dakwah) maka dia ada diluar jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Padahal karena dakwahlah akan timbul berbagai ujian yang sesungguhnya yang sangat berat buat ummat ini. Asbab dakwahlah maka timbul kesusahan dan kesulitan yang sebenarnya. Asbab dakwahlah maka ada gelar kehormatan syahid (atau syuhada) yang tertinggi di sisi Allah.

    Bila kita menulis tentang dakwah, barangkali kita termasuk sedang dakwah, akan tetapi berapa kadar kesulitannya dibandingkan dengan dakwah yang menjadikan kita berhadapan dengan orang seperti Abu Jahal dan Abu Lahab? Bila kita menulis tentang dakwah, barangkali kita termasuk sedang dakwah, akan tetapi berapa kesan kesusahan yang kita dapatkan dibandingkan dengan dakwah yang menjadikan kita berhadapan dengan kondisi yang penuh dengan penderitaan seperti yang dialami oleh Rasulullah saw dan sahabatnya?

    Maka yang terbaik bagi kita adalah selain menulis, kita juga dapat melapangkan masa untuk bergerak kepada mereka yang awam yang jauh dari kemampuan menjangkau tulisan. Selain membaca, kita juga masih punya waktu khusus untuk berjalan kepada saudara kita di sekitar kita. Selain waktu yang kita habiskan di depan komputer ini, kita juga menginfakkan waktu kita untuk menjumpai manusia di alam nyata dan mengajak mereka kepada Allah.

    Bila kita mulai bergerak kepada manusia, maka tidak seorangpun yang meminta kesulitan di jalan-Nya. Bila dakwah kita diterima orang lain dengan baik, maka kita mesti menyakininya bahwa hal itu adalah semata karunia Allah swt. Akan tetapi bila kita mendapat kesulitan di dalamnya, maka kita mesti bersyukur karena kita telah mendapatkan sunnah nabi di sana. Padahal setiap kesulitan yang kita temui di jalan dakwah tidak akan memberi kecuali semakin meninggikan derajat kita di sisi Allah. Dengan cara seperti inilah kita bina maqam kita sendiri ke derajat yang paling tinggi di sisi Allah. Subhanallah.

    ***

    Dari: Abi Subhan

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 13 April 2014 Permalink | Balas  

    wanitaWanita Menurut Islam

    Kaum feminis bilang susah jadi wanita ISLAM, lihat saja peraturan dibawah ini:

    1. Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki.
    2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
    3. Wanita saksinya kurang berbanding lelaki.
    4. Wanita menerima pusaka (warisan) kurang dari lelaki.
    5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
    6. Wanita wajib taat kepada suaminya tetapi suami tak harus selalu taat pada isterinya.
    7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
    8. Wanita kurang dalam beribadat karena masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki. makanya Kaum Feminisme nggak capek-capeknya berpromosi untuk “MEMERDEKAKAN WANITA ISLAM”

    Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)??

    Benda yang mahal harganya tentu akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat yang teraman dan terbaik Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita Islam.

    Wanita perlu taat kepada suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya. Bukankah ibu adalah seorang wanita?

    Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya utk isteri dan anak- anak.

    Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan matinya jika karena melahirkan adalah syahid.

    Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.

    Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung boleh 4 orang lelaki ini: Suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

    Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui pintu mana saja yang disukainya cukup dengan 4 syarat saja : Sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat suaminya dan menjaga kehormatannya.

    Seorang lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH akan turut menerima pahala seperti pahala orang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

    Masya ALLAH … demikian sayangnya ALLAH pada wanita …. kan?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 11 April 2014 Permalink | Balas  

    tafakurMembiasakan Tafakkur

    Membiasakan tafakkur adalah tradisi seorang mukmin. Allah menyebut kegiatan bertafakkur sebagai kebiasaan orang-orang yang berakal, Ulil Albaab. Dia SWT berfirman:

    Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS. Ali Imran 190-191).

    Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan kita untuk memperhatikan dan mencari bukti-bukti dari ayat-ayat-Nya, sebab ayat-ayat itu tidak bersumber kecuali dari Dzat yang Maha hidup (Hayyun), Maha berdiri (Qayyuum), Maha Kuasa (Qadiir), Maha Suci (Qudduus), Maha Selamat (Salaam), dan Dzat yang tidak butuh kepada sleuruh alam; sehingga iman kita peroleh didasarkan pada keyakinan bukan sekedar taklid. Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa dia r.a. mengatakan: ” Tatkala turun ayat ini kepada Nabi saw., beliau lalu sholat, kemudian datanglah bilal yang hendak mengumandangkan adzan untuk sholat Subuh. Bilal melihat Nabi saw. sedang menangis, lalu Bilal berkata: Wahai Rasulullah, kenapa anda menangis padahal Allah telah mengampunimu dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang terkemudian!” Maka Nabi saw. berkata:

    Wahai Bilal, apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang bersyukur, sungguh Allah telah menurunkan kepadaku tadi malam ayat : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” Kemudian beliau bersabda: “Celakalah orang yang membaca ayat itu tapi tidak pernah bertafakkur di dalamnya”.

    As Shabuni dalam Shafwatut Tafaasiir Juz I/230 mengatakan bahwa orang-orang yang berakal (Ulil Al Baab) itu mendapatkan tanda-tanda yang jelas -dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam-tentang pembuatnya dan kecemerlangan hikmahnya. Hal itu tidak akan jelas kecuali bagi orang yang berakal yang memperhatikan alam semesta dengan jalan berfikir (tafakkur) dan mencari bukti (istidlal), tidak seperti melihatnya binatang-binatang yang tidak memiliki kemampuan berfikir dan menalar. Sifat-sifat Ulil Albab itu digambarkan oleh Allah SWT sebagai orang yang senantiasa mengingat Allah dengan lisan dan hati mereka dalam segala keadaan (berdiri, duduk, maupun berbaring), tidak melalaikan diri dari mengingat-Nya pada umumnya waktunya, untuk mendapatkan ketenangan dengan mengingat-Nya dan menghabiskan kesendirian mereka dengan muroqobah kepada-Nya, yakni introspeksi diri dengan menyadari pengawasan-Nya.

    As Shabuni (idem) menambahkan, bahwa selain senantiasa mengingatnya, Ulil Albab memiliki ciri khas yaitu senantiasa memperhatikan dan meneliti langit dan bumi, dalam penciptaan keduanya, dengan adanya planet-planet dan bintang-bintang yang besar, dan berbagai keajaiban yang diciptakan di langit maupun di bumi serta berbagai keanehan yang sangat kreatif, sehingga mereka berkata : Wahai Tuhan kami, tiadalah yang Engkau ciptakan itu sia-sia! Tak ada di antara ciptaanmu yang ada di alam semesta ini yang sia-sia tanpa suatu hikmah. Mahasuci Engkau ya Allah dari berbagai kesia-siaan. Maka selamatkanlah kami -dengan rahmat-Mu– dari siksa neraka jahanam! Itulah kesimpulan dan sikap yang akan diambil oleh orang-orang yang berakal setiap kali bertafakkur, memperhatikan dan memikirkan ciptaan-ciptaan Allah yang ada di jagad raya ini, baik yang dekat maupun yang jauh.

    Tafakkur, Ajakan Al Quran Allah SWT telah menurunkan sejumlah ayat kepada Rasulullah saw. yang mengajak kaum musyrikin Quraisy -dan manusia secara umum-untuk bertafakkur, agar mereka bisa mencapai keimanan kepada Allah SWT, Al Khaliq, mengimani kerasulan Muhammad saw. dan mengimani apa yang dibawanya. Allah SWT berfirman:

    Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.(QS. Al Jatsiyah 3).

    Juga firman-Nya:

    Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.(QS. Az Zumar 42).

    Al Quran merangsang manusia untuk memperhatikan dirinya dan alam sekitarnya untuk memperkuat kesadaran hubungan dirinya dengan Allah Sang Pencipta. Dia SWT berfirman:

    Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?(QS. Ad Dzariat 21).

    Juga firman-Nya:

    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS. Al Ghasyiyah 17-20).

    As Shaabuni dalam Shafwatut Tafaasiir Juz III/526 menafsirkan: hai Muhammad, nasihatilah mereka dan peringatilah mereka agar takut kepada Allah, dan janganlah memprihatinkan kamu bila mereka tidak memperhatikan dan memikirkan kejadian-kejadian alam yang ada. Ibnu Katsir, yang dikutip As Shabuni, mengatakan bahwa Allah memberikan peringatan kepada orang Baduwi agar mengambil bukti-bukti dari yang disaksikannya, yaitu onta yang dia tunggangi, langit yang ada di atas kepalanya, gunung yang ada di depannya, dan bumi yang ada di bawahnya, atas kekuasaan pencipta dan pembuatnya, yaitu Tuhan yang Maha Agung (ar Rabbul Azhiim), Sang Pencipta, Pemilik dan Pengatur jagad raya ini yang tidak layak ibadah dilakukan kepada selain Dia (Mukhtashor Ibnu Katsir Juz 3/634).

    Oleh karena itu, seorang Baduwi, ketika ditanya bagaimana anda membuktikan adanya Allah? Dia menjawab: Mudah saja, sebagaimana adanya onta yang bisa diketahui dari bekas telapak kakinya. Nyatalah bahwa siapapun, termasuk orang baduwi (Arab desa/gunung) bisa berfikir cemerlang terhadap ciptaan-ciptaan Allah hingga mencapai kesimpulan yang tepat dalam bermakrifat kepada Allah SWT, Pencipta Langit dan Bumi dengan seluruh isinya.

    Tradisi yang Perlu Ditumbuhkan Kembali

    Dengan demikian, untuk beriman kepada Allah, dan memperkuat keimanan serta makrifat kepada-Nya, kebiasaan bertafakkur perlu ditradisikan. Para sahabat yang langsung menyaksikan dan merasakan bagaimana Rasulullah saw. menerima dan menyampaikan ayat-ayat Al Quran adalah orang-orang yang telah memiliki tradisi berfikir yang baik sekali. Hasilnya, mereka yang sebelum Islam itu umumnya buta huruf, menjadi kaum pelopor yang menjadi guru dunia. Bahkan di antara mereka, Abu Darda r.a. menjadikan kegiatan berfikir adalah ibadah utama. Ketika ibunya ditanya tentang amal apa yang sangat putranya, sang ibu menjawab: “Tafakkur dan mengambil I´tibar atau pelajaran”. Sahabat Nabi ini selalu mendorong para sahabatnya untuk merenung dan berfikir. Katanya: “Berfikir (tafakkur) satu jam lebih baik dari pada ibadah satu malam” (lihat Khalid Muhammad Khalid, Karakteristik perihidup 60 sahabat Rasulullah saw.).

    Tradisi itulah yang membuat Al Quran, As Sunnah, dan seluruh hukum dan ideologi Islam terpelihara. Tsaqafah Islamiyah (ilmu-ilmu keislaman) yang menjadi poin kelebihan umat Islam daripada umat-umat lain yang dimasa Rasul dan para sahabat terbatas pada riwayat-riwayat yang memuat Al Quran dan As Sunnah beserta penjelasannya, berkembang menjadi Al Quran dan ulumul Quran, Tafsir, Hadits dan Ulumul Hadits dengan berbagai cabang ilmunya, Siroh, Fiqih, Ushul Fiqh, Nahwu, Sharaf, Balaghah, dan sebagainya. Bahkan umat Islam selalu unggul dalam berbagai lapangan kehidupan. Secara politik maupun militer, negara Islam (Khilafah Islamiyah) menjadi negara nomor satu di dunia setelah melengserkan hegemoni dua negara super power waktu itu, yakni Rumawi dan Persia. Tsaqafah dan peradaban Islam menjadi pusat ilmu dan peradaban dunia. Dalam bidang matematika dan ilmu pengetahuan, kaum muslimin tidak hanya menerjemahkan khazanah klasik Yunani, tapi juga meneliti dan mengembangkannya sehingga dunia matematika dan sains berutang budi kepada kaum muslimin. Tradisi berfikir dan keilmuan kaum muslimin inilah yang mengilhami renaisans bangsa-bangsa Barat setelah para pemuda mereka menuntut ilmu di universitas-universitas Islam di kota-kota Granadha, Sevilla, dan Kordoba di bumi Islam Andalusia.

    Namun umat Islam ini mengalami kemunduran, ketika tradisi bertafakkur dan berfikir yang merupakan bimbingan Al Quran ini memudar dan berhenti. Islam pun semakin tidak difahami, dan pada gilirannya tidak dijadikan sebagai pedoman hidup dalam mengatur diri umat ini, baik secara pribadi, jamaah, maupun kenegaraan. Kehidupan umat pun semakin merosot, sistem negara yang dibangun oleh Rasulullah saw. bersama generasi para sahabat pun melemah dan ambruk. Islam semakin dijauhkan dari kehidupan, dan semakin disamarkan pada diri umat Islam.

    Khatimah

    Oleh karena itu, untuk membangkitkan umat Islam kembali, kebiasaan tafakkur ini harus dihidupkan lagi. Apalagi bagi para pengemban dakwah. Memikirkan realitas dirinya, alam semesta dan kehidupan yang dirasakannya, adalah suatu keharusan. Juga memikirkan realitas masyarakat kaum muslimin yang ada dan berbagai faktor yang mempengaruhi sikap dan tanggung jawab mereka terhadap Islam, merupakan suatu keharusan. Terlebih-lebih memikirkan bagaimana agar pola hidup Islam yang diwariskan Rasulullah saw. diadopsi kembali oleh kaum muslimin, adalah suatu perkara yang sangat urgen. Wallahua´lam!

    ***

    Sumber : Buletin Al-Ihsan, by Muhammad al-Khaththath, Pusat Studi Khasanah Ilmu-ilmu Islam (PSKII).

     
  • erva kurniawan 5:01 am on 5 April 2014 Permalink | Balas  

    itikaf 2Iman, Islam, Ihsan

    Assalamualaikum wr. wb.

    Saudaraku yang semoga dirahmati Allah. Selama ini mungkin kita sering mendengar istilah Islam, Iman dan Ihsan. Tapi sudahkah kita mengerti maksudnya. Marilah kita sama-sama menyimak hadist Nabi berikut ini:

    Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

    Pada suatu hari, Rasulullah saw. muncul di antara kaum muslimin. Lalu datang seorang laki-laki dan bertanya:

    Wahai Rasulullah, apakah Iman itu?

    Rasulullah saw. menjawab: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya dan kepada hari berbangkit.”

    Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah Islam itu?

    Rasulullah saw. menjawab: “Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, mendirikan salat fardu, menunaikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadan.”

    Orang itu kembali bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Ihsan itu?

    Rasulullah saw. menjawab: “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu.

    Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu?

    Rasulullah saw. menjawab: “Orang yang ditanya mengenai masalah ini tidak lebih tahu dari orang yang bertanya. Tetapi akan aku ceritakan tanda-tandanya; Apabila budak perempuan melahirkan anak tuannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila orang yang miskin papa menjadi pemimpin manusia, maka itu termasuk di antara tandanya. Apabila para penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung. Itulah sebagian dari tanda-tandanya yang lima, yang hanya diketahui oleh Allah.”

    Kemudian Rasulullah saw. membaca firman Allah Taala:  ‘Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.’

    Kemudian orang itu berlalu, maka Rasulullah saw. bersabda: “Panggillah ia kembali!” Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat seorang pun. Rasulullah saw. bersabda: “Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia masalah agama mereka.”

    [Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim:10]

    Jadi apakah kita memang sudah Iman, Islam dan Ihsan?

    Wassalamualaikum wr. wb.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Syamsudin Din 6:56 pm on 6 April 2014 Permalink

      Waallaikum sallam wb, alhamdulillah dalam kedaan lindungan illahi robbi. Terima kasih atas informasi dan semoga bermanfaat untuk kita semua. Aamiin…     Salam, Syamsudin

      ________________________________

  • erva kurniawan 4:58 am on 4 April 2014 Permalink | Balas  

    hassan-musa-bismillahIslam Agama Kasih Sayang

    Oleh : Sari Narulita

    Pada suatu waktu, seorang laki-laki Arab melihat Rasulullah Muhammad Saw sedang menciumi salah seorang cucunya. Orang itu pun terkejut penuh kagum. Ia lalu bertanya, ”Apakah engkau menciumi anak-cucumu, ya Rasulullah? Sesungguhnya aku mempunyai 10 cucu, namun aku tak pernah sekalipun menciumi mereka.”

    Di lain kisah diceritakan, pada suatu saat Rasulullah melewati kebun seorang Anshar. Beliau melihat seekor unta yang lelah sedang meneteskan air matanya. Lalu, beliau mendatanginya dan memegangnya hingga unta tersebut terdiam. Kemudian Rasulullah bertanya siapa pemilik unta itu, yang ternyata adalah milik seorang pemuda Anshar.

    Rasulullah pun bersabda, ”Apakah kamu tidak takut kepada Allah atas hewan yang telah Allah amanatkan kepadamu. Sesungguhnya engkau telah membuatnya sangat lapar dan sangat kelelahan.” Pemuda itu pun malu dan mengubah semua sikapnya kepada untanya.

    Di lain waktu, Rasulullah sedang berdiskusi dengan para sahabat mengenai sifat rahmah. Beliau memerintahkan para sahabat agar selalu menjaga sifat ini pada diri mereka serta menjelaskan pentingnya kedudukan sifat ini dalam Islam. Sebagian sahabat berkata, ”Sesungguhnya kami menyayangi para istri kami, anak-anak kami, juga keluarga kami.”

    Rasulullah tampaknya belum puas dengan penjelasan para sahabatnya. Penjelasan mereka hanyalah mengimplikasikan sifat rahmah dalam ruang lingkup yang sangat kecil, padahal beliau menginginkan sifat rahmah itu lebih universal, lebih luas maknanya. Karena itu, beliau pun menyatakan, ”Bukan itu yang aku mau. Sesungguhnya yang aku inginkan adalah rahmah bagi seluruh alam.”

    Rahmah atau pengasih adalah sifat yang dimiliki oleh Allah SWT dan juga hamba-hamba-Nya. Apabila kita melihatnya sebagai salah satu sifat Allah, maka ia memiliki arti sebagai Pemberi Rezeki dan Kebaikan; dan bila kita lihat sebagai salah satu sifat manusia, maka ia berarti lemah lembut kepada sesama.

    Satu sifat yang sederhana ini ternyata sangat memiliki peran penting dalam Islam. Simaklah Allah telah menyifati diri-Nya dengan sifat rahman dan rahim. Lalu, di setiap awal surat di Alquran kita dapati bacaan Bismillahi-rahmanirrahim yang dengannya, diharapkan kita akan selalu mengingat dan membacanya di setiap awal langkah dan pekerjaan yang akan kita lakukan. Semua ini membuktikan bahwa Islam adalah agama yang sangat menekankan kasih sayang, bukan agama kekerasan.

    Muslim yang baik adalah yang selalu menjaga sifat ini dan dapat menyebarkannya kepada sesamanya. Dengan demikian, akan terciptalah apa yang disebut ‘Islam sebagai rahmah bagi seluruh alam’.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:55 am on 3 April 2014 Permalink | Balas  

    sombongSombong dan Pengaruhnya dalam Kehidupan

    Sombong atau yang sering kita kenal dengan istilah kibr, takabur dan istikbar -ketiganya hampir semakna-, merupakan suatu kondisi seseorang di mana ia merasa lain dari yang lain (dengan keadaan tersebut) sebagai pengaruh i’jab (kebanggaan) terhadap diri sendiri, yaitu dengan adanya anggapan atau perasaan, bahwa dirinya lebih tinggi dan besar daripada selainnya.

    Maka tidak akan berlaku sombong, kecuali orang yang merasa dirinya besar dan tinggi, dan ia tidak merasa tinggi atau besar, kecuali karena adanya keyakinan, bahwa dirinya memiliki keunggulan, kelebihan dan kesempur-naan yang dengannya ia menganggap berbeda dengan orang lain.

    Ada beberapa sebab yang mendorong seseorang menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain, sehingga melahirkan kesombongan dalam jiwa, yaitu:

    1. Sombong dengan Ilmu

    Ada sebagian thalib ilmu atau orang yang diberi pengetahuan oleh Allah, namun malah justru menjadikan dirinya sombong. Ia merasakan dirinyalah yang paling pandai (alim), menganggap rendah orang lain, menganggap bodoh mereka dan selalu ingin agar dirinya mendapatkan penghormatan, pelayanan dan fasilitas khusus dari mereka. Dia memandang, bahwa dirinya lebih mulia, tinggi dan utama di sisi Allah daripada mereka.

    Ada dua faktor yang menyebabkan seseorang menjadi sombong dengan ilmunya:

    Pertama, Ia mencurahkan perhatian terhadap apa yang ia anggap sebagai ilmu, padahal hakikatnya ia bukanlah ilmu. Ia tak lebih sebagai data atau informasi yang direkam dalam otak yang tidak memberikan buah dan hasil, karena ilmu yang sesungguhnya akan semakin membuat ia kenal siapa dirinya dan siapa Rabbnya. Ilmu yang hakiki akan melahirkan sikap khosyah (takut kepada Allah) dan tawadhu’ (rendah hati), bukan sombong, sebagai-mana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala ,

    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Faathir : 28)

    Kedua, Al-khoudl fil ilm yaitu belajar dengan tujuan agar dapat berbicara banyak, berdebat dan menjatuhkan orang dengan kepiawaian yang dimilikinya, sehingga orang menilainya sebagai orang alim yang tak terkalahkan ilmu-nya. Selayaknya ia lebih dahulu memperbaiki hati dan jiwanya, membersihkan dan menatanya, sehingga tujuan dalam mencari ilmu menjadi benar dan lurus. Karena merupakan karakteristik khas dari ilmu, bahwasanya ia menjadikan pemiliknya bertambah takut kepada Allah dan tawadhu’ terhadap sesama manusia. Ibarat pohon tatkala banyak buahnya, maka ia semakin merunduk dan merendah, sehingga orang akan dengan lebih mudah mendapatkan kebaikan dan manfaat darinya.

    Orang, apabila telah hobi mengumbar omongan, bantah-bantahan dan debat kusir, maka ilmunya justru akan melemparkannya kepada kedudukan yang rendah dan pengetahuan yang dimilikinya tidak akan membuahkan hasil yang baik, sehingga keberkahan ilmu tidak tampak sama sekali.

    2. Sombong dengan Amal Ibadah

    Kesombongan ahli ibadah dari segi keduniaan adalah ia menghendaki, -atau paling tidak membuat kesan-, agar orang lain menganggapnya sebagai orang yang zuhud, wara’, taqwa dan paling mulia di hadapan manusia. Sedangkan dari segi agama adalah ia memandang, bahwa orang lain akan masuk neraka, sedang dia selamat darinya.

    Sebagian ahli ibadah apabila ada orang lain yang membuatnya jengkel atau merendahkannya, maka terkadang mengeluarkan ucapan, “Allah tidak akan mengampunimu” atau, “Kamu pasti masuk neraka” dan yang sejenisnya. Padahal ucapan-ucapan tersebut dimurkai Allah, yang justru dapat menjerumuskannya ke dalam neraka.

    3. Sombong dengan Keturunan (Nasab)

    Barangsiapa yang mendapati kesombongan dalam hati karena nasabnya, maka hendaknya ia segera mengobati hatinya itu.

    Jika seseorang akan mencari nasabnya, maka perhatikan firman Allah berikut ini,

    “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).” (QS. 32:7-8)

    Inilah nasab manusia yang sebenarnya, kakeknya yang terjauh adalah tanah, dan nasabnya yang terdekat adalah nuthfah alias air mani. Jika demikian keadaannya, maka tak selayaknya seseorang sombong dan merasa tinggi dengan nasabnya.

    4. Sombong dengan Kecantikan/Ketampanan

    Kesombongan seperti ini banyak terjadi di kalangan para wanita, yaitu dengan menyebut-nyebut kekurangan orang lain, menggunjing dan membicarakan aib sesama.

    Seharusnya orang yang sombong dengan kecantikannya ini banyak menengok ke dalam hatinya. Untuk apa anggota tubuh yang indah, namun hati dan perangai buruk, padahal tubuh secantik apa pun pasti akan binasa, hancur dan hilang tak tersisa.

    Belum lagi kalau orang mau merenungi, bahwa selagi masih hidup, maka mungkin saja Allah berkehendak untuk mengubah kecantikan atau ketampanannya, misalnya dengan mengalami kecelakaan, sakit kulit, kebakaran dan lain sebagainya, yang dapat menjadikan rupa yang cantik menjadi buruk. Maka dengan kesadaran seperti ini, insya Allah rasa sombong yang ada dalam hati akan terkikis dan bahkan tercabut hingga ke akar-akarnya.

    5. Sombong dengan Harta

    Yaitu dengan memandang rendah orang fakir dan bersikap congkak terhadap mereka. Ini disebabkan harta yang dimilikinya, perusahaan-perusahaan yang banyak, tanah dan bangunan, kendaraan mewah, perhiasan dan lain sebagainya. Kesombongan karena harta termasuk kesombongan karena faktor luar, dalam arti bukan merupakan potensi pribadi orang yang bersangkutan. Berbeda dengan ilmu, amal, kecantikan atau nasab, sehingga apabila harta itu hilang, maka ia akan menjadi hina sehina-hinanya.

    6. Sombong dengan Kekuatan dan Kegagahan

    Orang yang mendapatkan karunia seperti ini hendaknya menyadari, bahwa kekuatan adalah milik Allah seluruhnya. Hendaknya selalu ingat, bahwa dengan sedikit sakit saja akan membuat badan tidak enak, istirahat tidak tenang. Kalau Allah menghendaki, seekor nyamuk pun dapat membuat seseorang sakit dan bahkan hingga menemui ajalnya.

    Orang yang mau memikirkan ini semua, yaitu sakit dan kematian yang bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja, maka sudah sepantasanya tidak angkuh dan takabur dengan kekuatan dan kesehatan badannya.

    7. Sombong dengan Banyaknya Keluarga, Kerabat atau Pengikut.

    Kesombongan jenis ini juga merupakan kesombongan yang disebabkan faktor luar, bukan karena kelebihan yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Dan setiap orang yang sombong karena sesuatu yang bukan dari kelebihan dan keunggulan dirinya sendiri, maka dia adalah sebodoh-bodoh manusia. Bagaimana mungkin ia sombong dengan sesuatu yang bukan merupakan kelebihan dirinya?

    PENGARUH KESOMBONGAN

    Kesombongan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan, dan pengaruh-pengaruh tersebut tampak dalam gerak-gerik anggota badan, cara berjalan, berdiri, duduk, berbicara dan diamnya seseorang.

    Di antara pengaruh-pengaruh yang tampak dari sikap kesombongan adalah:

    1. Orang yang sombong kalau toh mau berjalan bersama-sama orang lain, maka ia selalu minta paling depan dan semua orang harus ada di belakangnya. Konon Abdur Rahman bin Aufz, kalau sedang berjalan bersama para pembantunya, maka tidak ketahuan ada di sebelah mana, ia tidak pernah menonjolkan diri harus berada paling depan supaya semua orang melihatnya.

    2. Orang sombong jika berada di suatu majlis, biasanya minta diistimewakan, diperlakukan lain daripada yang lain. Kemudian ia akan sangat senang kalau semua orang mendengarkan yang ia katakan dan sangat benci kalau ada orang lain mengalihkan pembicaraan kepada selainnya. Maunya semua orang harus membenarkan dan menerima apa yang ia katakan.

    3. Termasuk pengaruh sifat sombong adalah memalingkan muka dari sesama muslim, atau melihat dengan pandangan sinis dan merendahkan.

    4. Kesombongan juga berpengaruh bagi seseorang dalam ucapan, gaya bicara dan nada intonasinya. Bahkan terkadang mencerminkan ketidaksopanan, misalnya seorang murid atau mahasiswa menghardik gurunya, karena ia merasa anak seorang pejabat atau tokoh.

    5. Kesombongan juga akan mempe-ngaruhi gaya jalan seseorang, misalnya sambil membusungkan dadanya, atau berjalan dengan dibuat-buat agar menarik perhatian orang lain. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah berfirman, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. 17:37)

    6. Kesombongan juga berpengaruh di dalam kehidupan rumah tangga. Biasanya orang yang dalam hatinya ada kesombongan akan enggan mengerjakan pekerjaan rumah, walau hanya sepele. Hal ini berbeda dengan sikap tawadhu’ yang diajarkan oleh Rasulullah n. Aisyah x meriwayatkan, bahwa Rasul Allah Subhannahu wa Ta’ala biasa membantu istri beliau.

    7. Merupakan pengaruh kesombongan juga, bahwasanya ia membuat seseorang enggan membawakan barang atau sesuatu ke rumahnya, meskipun bukan hal yang berat, misalnya saja barang belanjaan. Ali RA berkata, “Seseorang tidak akan berkurang kesempurnaannya dengan membawakan sesuatu untuk keluarganya.”

    8. Kesombongan juga mempengaruhi gaya berpakaian seseorang, yaitu ia berpakaian dengan tujuan pamer dan supaya terkenal, atau dengan pakaian yang melanggar ketentuan syar’i, seperti isbal (memanjangkan celana di bawah mata kaki) bagi laki-laki.

    9. Orang yang sombong biasanya sangat senang apabila ia datang, lalu orang-orang berdiri untuk menghormatnya. Padahal para shahabat apabila datang Rasulullah SAW kepada mereka, maka mereka tidak berdiri untuk beliau, hal ini dikarenakan mereka tahu, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membenci hal itu.

    10. Orang yang dalam hatinya ada kesombongan tidak akan mau mengunjungi orang lain, tidak mau mengucapkan salam lebih dahulu, minta supaya diprioritaskan dan tidak mau mendahulukan kepentingan orang lain.

    11. Kesombongan juga akan mengakibatkan seseorang tidak memandang adanya hak orang lain pada dirinya. Sementara itu ia beranggapan, bahwa ia memiliki hak yang banyak atas selainnya.

    ***

    Diringkas dari : Kutaib, “Al-Kibr”, Zahir bin Muhammad Asy-Syahri. (Sumber Al-sofwah)

     
  • erva kurniawan 2:26 am on 30 March 2014 Permalink | Balas  

    malamPernahkah Kita Memikirkannya???

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran 3:190-191)

    Assalaamu’alaikum warahmatullaah wabarakaatuh

    Coba perhatikan dirimu, wahai sahabatku! Rupa wajahmu, mata indahmu, senyum manismu, Subhanallah.. Adakah insan yang sama sepertimu di belahan dunia ini? Baik rupa, sifat maupun wataknya? Tidak ada, bukan?! Yach..tidak ada seorangpun yang sama sepertimu, walau dirimu kembar sekalipun! Dari sekian banyak manusia, dari sekian triliun jiwa, pernahkah engkau temui ada yang sama satu dengan lainnya? Tidak ada bukan?! Apa yang terlintas di pikiranmu? Allah!

    Yach..Maha Besar Allah.. Betapa Maha Kaya_Nya Dia.. Tak seorangpun yang patut dipuji selain Diri_Nya..! Tidak ada sedikitpun yang pantas kita sombongkan atas diri kita, Begitupun terhadap makhluk-makhluk_Nya. Subhanallah..walhamdulillah..walaa ilaa hailallah..wallaahu akbar..!

    Kita ini dulu hanyalah dari setetes air mani yang hina, menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, tulang, kemudian dibalut dengan kulit, sehingga jadilah kita, manusia, makhluk yang amat sempurna penciptaan_Nya. Betapa kita harus bersyukur, bukan? Apa yang terucap di bibirmu? Allah!

    Diri kita hanyalah satu dari sekian banyak makhluk yang Ia ciptakan, sahabatku.. Keciiil, tiada artinya sama sekali dibandingkan dengan penciptaan langit dan bumi ini! Pernahkah kita memikirkannya?

    Allah menundukkan matahari dan bulan untuk kita, Matahari bersinar, bulan bercahaya.. Tidak mungkin bagi matahari mengejar bulan, dan malam mendahului siang Masing-masing beredar menurut garis edarnya. Pernahkah kita memikirkannya?..

    Allah menghamparkan bumi dan meletakkan gunung-gunung yang kokoh, dan menumbuhkan tumbuhan darinya segala macam jenis tanaman yang indah dipandang mata. Pernahkah kita memikirkannya?

    Allah menurunkan air dari langit yang banyak manfaatnya, lalu menumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-bijian yang sebagian ada yang kita makan. Pernahkah kita memikirkannya?

    Allah memberi kita minum dari apa yang berada dalam perut binatang ternak berupa susu yang bersih antara tahi dan darah, yang enak ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. Pernahkah kita memikirkannya?

    Allah menundukkan langit dan dunia ini untuk kita, Langit sebagai atap, Bumi tempat menetap Pernahkah kita memikirkannya? Semuanya patuh pada apa yang diperintahkan Allah kapadanya untuk melayani kita. Pernahkah kita memikirkannya?

    Pernahkah terpikir jika semua itu tidak ditundukkan Allah untuk kita, alamat dunia ini akan hancur? Dapatkah kita bayangkan apa yang akan terjadi? Pernahkah terpikir oleh kita, jika Allah lelah ataupun lengah sesaat, maka seluruh yang ada di jagat raya ini akan binasa?!

    Adakah orang yang mengetahui dengan tidak mengetahui? Adakah sama yang buta dengan yang melihat?

    Fenomena alam ini menunjukkan betapa Kuasa_Nya Allah akan segala sesuatu. Kelak suatu saat nanti langit itu akan pecah berderai. Kelak suatu hari nanti bumi itu akan terbelah-belah mengeluarkan apa yang dikandungnya. Tidak takutkah kita?, Tidak tergetarkah Qalbu dan jiwa kita? Tidak bertambahkan keimanan, kecintaan serta kerinduan kita pada_Nya?

    Tanpa kita sadari, silih bergantinya siang dan malam dari detik menit kehidupan ini menyadarkan kita. Baru saja kita lahir menjadi seorang bayi mungil, tahu-tahu sudah sebesar ini. Baru saja kita merasa tentram berdekatan dengan orang-orang yang kita sayang, tahu-tahu mereka telah pergi meninggalkan kita. Baru saja kita tertidur dan terjaga, kemudian? Kita dapati tubuh ini sudah tua, tenaga sudah mulai berkurang, rambut sudah mulai beruban, mata sudah mulai rabun..dan..??? Siap-siap untuk pulang, kembali kepada siapa Yang Menciptakan kita. Tidakkah kita merindukan_Nya? Pernahkah kita memikirkannya?..

    Pada suatu hari di waktu shubuh, Setelah mengumandangkan azan di Masjid Madinah, lama Bilal menanti kehadiran Rasulullah keluar dari peraduannya untuk shalat berjamaah, namun Rasul belum juga muncul. Karena itu, pergilah Bilal menemuinya, antara perasaan cemas kalau-kalau Rasul yang amat dicintainya jatuh sakit.

    Sesudah minta izin kepada Siti Aisyah, Bilal segera menuju ke kamar tidur Rasulullah. Ketika sampai dimuka pintu, Bilal melihat ke dalam, kamar yang sederhana tanpa ada kasur tebal seperti kasur kita di sini, tidak ada bantal bersulam yang indah melainkan hanya seonggok rumput kering di sudut, itulah kekayaan Rasul kita, sebagai Pemimpin Dunia yang telah menggerakkan revolusi yang paling berhasil dalam sejarah kemanusiaan selama dunia berkembang.

    Didapatinya Nabi kita Saw sedang duduk di atas sajadah menghadap Qiblat, menangis tersedu-sedu. Bertanya Bilal, “Ya Nabiyallah, apakah gerangan yang menyebabkan dikau menangis? Padahal kalau ada juapun kesalahanmu, baik dahulu ataupun nanti, akan diampuni oleh Allah”.

    Kemudian Rasulullah menjawab, “Wahai Bilal, tengah malam telah datang Jibril membawa wahyu kepadaku dari Allah Swt, demikian bunyinya. ” Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran 3:190-191)

    Sengsara hai Bilal! Ujar Nabi selanjutnya, bagi orang yang membaca akan ayat ini lalu tidak difikirkannya. Apa maksud Rasulullah Saw tersebut, wahai sahabatku? Firman Allah dalam QS. Ali Imran 3 : 190-191 di atas dan ungkapan Nabi tersebut mengandung makna yang dalam bagi kita untuk senantiasa merenung dan memikirkan Fenomena alam yang ada di sekeliling kita.

    Jiwa yang suci bersih dapatlah mendengar dan melihat indahnya alam ini. Disana terdapat tiga sifat Tuhan, yaitu Jamal (indah), Jalal (agung), dan Kamal (sempurna). Semua yang ada ini adalah dinding pembatas kita dengan Dia. Tetapi bilamana kita berusaha menembusnya (dengan sekuat jiwa) insya Allah, dengan penglihatan ruhani yang bersih, niscahya terbukalah hijab itu. Hanya mata yang lahir ini saja yang melihat batas itu, melihat berbagai fenomena alam Gunung menjulang tinggi, deburan ombak, awan berarak, kembang bermekaran. Adapun mata ruhani mulailah menembus dinding itu. Bukan dinding lagi yang kelihatan, tetapi pencipta dari semuanya itu, “Allah”.

    “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

    Billaahi taufiq walhidayah Wassalaamu’alaikum warahmatullaah wabarakaatuh

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 29 March 2014 Permalink | Balas  

    ibu dan anak lelakinya berdoaMengapa Tak Mau Berdoa?

    “Saya tak bisa bahasa Arab, saya malu memimpin do’a selepas sholat jama’ah bersama isteri saya, apalagi didepan jama’ah yang lain.”

    Pernahkah pengalaman ini menimpa kita? Insya Allah tidak. Tapi andaikata pernah, janganlah khawatir. Sungguh Allah itu mengerti segala macam bahasa. Jangan malu untuk berdo’a dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Kalau anda hapal do’a dalam bahasa arab, saya ucapkan alhamdulillah! Namun kalau anda lebih “sreg” berdo’a dengan bahasa selain bahasa Arab, saya pun berucap alhamdulillah! Yang terpenting adalah kita masih mau berdo’a. Kalimat terakhir ini mengundang pertanyaan, “Mengapa sih kita harus berdo’a?”

    Allah adalah Tuhan kita satu-satunya. Allah pun dalam Al-Qur’an mengatakan bahwa “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu” (QS 112:2). Dalam surat al-Fatihah kita pun berseru, “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in” (Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan). Karena itu, kalau ada orang yang mengaku bahwa Allah itu Tuhannya lalu ia tak mau berdo’a maka pantas kalau kita sebut orang tersebut orang sombong. Bukankah Allah telah berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (QS 40:60).

    Betulkah setiap do’a akan dikabulkan oleh Allah? Boleh jadi ada di antara kita yang telah berdo’a sesuatu namun tak kita rasakan hasil dari do’a tersebut.

    Pertama, harus disadari bahwa kita ini “hamba” sehingga tak berhak memaksa Allah. Kita yang membutuhkan Allah; bukan sebaliknya.

    Kedua, Allah lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Boleh jadi, sebuah do’a yang kita minta bila dikabulkan oleh Allah justru ujung-ujungnya dapat menimbulkan kesulitan dalam hidup kita atau mungkin Allah punya ketentuan lain yang tak kita ketahui. Sebagai contoh, Nabi Nuh berdo’a agar anaknya diselamatkan dari banjir dahsyat, Tuhan tidak mengabulkannya dan bahkan menegur Nabi Nuh sehingga Nabi Nuh pun berdo’a: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakekatnya) dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang rugi.” (QS 11: 47) Allah Maha Tahu, maka do’a kita kadang kala bukan tak dikabulkan tapi ditunda waktunya, atau malah diganti dengan yang lebih baik. Wa Allahu A’lam.

    Ketiga, sudah seberapa jauh usaha kita untuk “meminta” dan “memelas” pada Allah. Nabi Zakariya sendiri telah puluhan tahun berdo’a namun belum dikabulkan Allah. Tapi berbeda dengan kita yang cenderung tak sabar, Nabi Zakariya berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku.” (QS 19:4)

    Begitulah sikap kita seharusnya: jangan pernah kecewa dalam berdo’a. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa “Aku ini bagaimana persangkaan hambaKu saja…” Maksudnya, kalau kita dalam berdo’a belum-belum sudah beranggapan bahwa do’a ini tak akan dikabulkan, yah begitulah jadinya. Insya Allah kita selalu berbaik sangka dan tak pernah kecewa dalam berdo’a.

    Dalam berdo’a kita diminta untuk berharap-harap cemas (QS 21:90). Artinya, kita berharap do’a kita akan dikabulkan, namun disisi lain kita juga cemas kalau-kalau do’a ini tidak dikabulkan. Gabungan perasaan inilah yang menjadi etika dalam berdo’a. Kita tidak terlalu yakin pasti akan dikabulkan, namun juga tidak putus asa. Etika lainnya adalah kita disuruh berdo’a dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut (QS 7:55). Kalau kita jalani etika berdo’a ini insya Allah hati kita akan tergetar dan seringkali tanpa sadar air mata menggantung di pelopak mata.

    Pendek kata, berdo’alah baik dalam keadaan sehat-sakit, suka-duka, kaya-miskin, berdiri-duduk-berbaring, pagi-siang-malam.

    ***

    Dari Sahabat: Haris Satriawan

     
  • erva kurniawan 3:04 am on 28 March 2014 Permalink | Balas  

    wudhu-4Sifat Wudhu’ Nabi SAW

    Secara syari’at wudhu’ ialah menggunakan air yang suci untuk mencuci anggota-anggota tertentu yang sudah diterangkan dan disyari’at kan Allah swt. Allah memerintahkan:

    Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melakukan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan , kedua mata-kaki (Al-Maaidah:6).

    Allah tidak akan menerima shalat seseorang sebelum ia berwudhu’ (HSR. Bukhari di Fathul Baari, I/206; Muslim, no.255 dan imam lainnya).

    Rasulullah juga mengatakan bahwa wudhu’ merupakan kunci diterimanya shalat. (HSR. Abu Dawud, no. 60).

    Utsman bin Affan ra berkata: “Barangsiapa berwudhu’ seperti yang dicontohkan Rasulullah saw, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan perjalanannya menuju masjid dan shalatnya sebagai tambahan pahala baginya” (HSR. Muslim, I/142, lihat Syarah Muslim, III/13).

    Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menyempurnakan wudhu’nya, kemudian ia pergi mengerjakan shalat wajib bersama orang-orang dengan berjama’ah atau di masjid (berjama’ah), niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya” (HSR. Muslim, I//44, lihat Mukhtashar Shahih Muslim, no. 132).

    Maka wajiblah bagi segenap kaum muslimin untuk mencontoh Rasulullah saw dalam segala hal, lebih-lebih dalam berwudhu’. Al-Hujjah kali ini memaparkan secara ringkas tentang tatacara wudhu’ Rasulullah saw melakukan wudhu’:

    1. Memulai wudhu’ dengan niat.

    Niat artinya menyengaha dengan kesungguhan hati untuk mengerjakan wudhu’ karena melaksanakan perintah Allah swt dan mengikuti perintah Rasul-Nya saw.

    Ibnu Taimiyah berkata: “Menurut kesepakatan para imam kaum muslimin, tempat niat itu di hati bukan lisan dalam semua masalah ibadah, baik bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, memerdekakan budak, berjihad dan lainnya. Karena niat adalah kesengajaan dan kesungguhan dalam hati. (Majmu’atu ar-Rasaaili al-Kubra, I/243)

    Rasulullah saw menerangkan bahwa segala perbuatan tergantung kepada niatnya, dan seseorang akan mendapatkan balasan menurut apa yang diniatkannya” (HSR. Bukhari dalam Fathul Baary, 1:9; Muslim, 6:48).

    2. Tasmiyah (membaca bismillah)

    Beliau memerintahkan membaca bismillah saat memulai wudhu’. Beliau bersabda: Tidak sah/sempurna wudhu’ sesorang jika tidak menyebut nama Allah, (yakni bismillah) (HR. Ibnu Majah, 339; Tirmidzi, 26; Abu Dawud, 101. Hadits ini Shahih, lihat Shahih Jami’u ash-Shaghir, no. 744).

    Abu Bakar, Hasan Al-Bashri dan Ishak bin Raahawaih mewajibkan membaca bismillah saat berwudhu’. Pendapat ini diikuti pula oleh Imam Ahmad, Ibnu Qudamah serta imam-imam yang lain, dengan berpegang pada hadits dari Anas tentang perintah Rasulullah untuk membaca bismillah saat berwudhu’. Rasulullah saw bersabda: “Berwudhu’lah kalian dengan membaca bismillah!” (HSR. Bukhari, I: 236, Muslim, 8: 441 dan Nasa’i, no. 78)

    Dengan ucapan Rasulullah saw: “Berwudhu’lah kalian dengan membaca bismillah” maka wajiblah tasmiyah itu. Adapun bagi orang yang lupa hendaknya dia membaca bismillah ketika dia ingat. Wallahu a’lam.

    3. Mencuci kedua telapak tangan

    Bahwa Rasulullah saw mencuci kedua telapak tangan saat berwudhu’ sebanyak tiga kali. Rasulullah saw juga membolehkan mengambil air dari bejana dengan telapak tangan lalu mencuci kedua telapak tangan itu. Tetapi Rasulullah melarang bagi orang yang bangun tidur mencelupkan tangannya ke dalam bejana kecuali setelah mencucinya. (HR. Bukhari-Muslim)

    4. Berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung

    Yaitu mengambil air sepenuh telapak tangan kanan lalu memasukkan air kedalam hidung dengan cara menghirupnya dengan sekali nafas sampai air itu masuk ke dalam hidung yang paling ujung, kemudian menyemburkannya dengan cara memencet hidung dengan tangan kiri. Beliau melakukan perbuatan ini dengan tiga kali cidukan air. (HR. Bukhari-Muslim. Abu Dawud no. 140)

    Imam Nawawi berkata: “Dalam hadits ini ada penunjukkan yang jelas bagi pendapat yang shahih dan terpilih, yaitu bahwasanya berkumur dengan menghirup air ke hidung dari tiga cidukan dan setiap cidukan ia berkumur dan menghirup air ke hidung, adalah sunnah. (Syarah Muslim, 3/122).

    Demikian pula Rasulullah saw menganjurkan untuk bersungguh-sungguh menghirup air ke hidung, kecuali dalam keadaan berpuasa, berdasarkan hadits Laqith bin Shabrah. (HR. Abu Dawud, no. 142; Tirmidzi, no. 38, Nasa’i )

    5. Membasuh muka sambil menyela-nyela jenggot.

    Yakni mengalirkan air keseluruh bagian muka. Batas muka itu adalah dari tumbuhnya rambut di kening sampai jenggot dan dagu, dan kedua pipi hingga pinggir telinga. Sedangkan Allah memerintahkan kita:

    “Dan basuhlah muka-muka kamu.” (Al-Maidah: 6)

    Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Humran bin Abaan, bahwa cara Nabi saw membasuh mukanya saat wudhu’ sebanyak tiga kali”. (HR Bukhari, I/48), Fathul Bari, I/259. no.159 dan Muslim I/14)

    Setalah Nabi saw membasuh mukanya beliau mengambil seciduk air lagi (di telapak tangan), kemudian dimasukkannya ke bawah dagunya, lalu ia menyela-nyela jenggotnya, dan beliau bersabda bahwa hal tersebut diperintahkan oleh Allah swt. (HR. Tirmidzi no.31, Abu Dawud, no. 145; Baihaqi, I/154 dan Hakim, I/149, Shahih Jaami’u ash-Shaghir no. 4572).

    6. Membasuh kedua tangan sampai siku

    Menyiram air pada tangan sampai membasahi kedua siku, Allah swt berfirman:

    “Dan basuhlah tangan-tanganmu sampai siku” (Al-Maaidah: 6)

    Rasulullah membasuh tangannya yang kanan sampai melewati sikunya, dilakukan tiga kali, dan yang kiri demikian pula, Rasulullah mengalirkan air dari sikunya (Bukhari-Muslim, HR. Daraquthni, I/15, Baihaqz, I/56)

    Rasulullah juga menyarankan agar melebihkan basuhan air dari batas wudhu’ pada wajah, tangan dan kaki agar kecemerlangan bagian-bagian itu lebih panjang dan cemerlang pada hari kiamat (HR. Muslim I/149)

    7. Mengusap kepada, telinga dan sorban

    Mengusap kepala, haruslah dibedakan dengan mengusap dahi atau sebagian kepala. Sebab Allah swt memerintahkan:

    “Dan usaplah kepala-kepala kalian”” (Al-Maidah: 6).

    Rasulullah mencontohkan tentang caranya mengusap kepala, yaitu dengan kedua telapak tangannya yang telah dibasahkan dengan air, lalu ia menjalankan kedua tangannya mulai dari bagian depan kepalanya ke belakangnya tengkuknya kemudian mengambalikan lagi ke depan kepalanya. (HSR. Bukhari, Muslim, no. 235 dan Tirmidzi no. 28 lih. Fathul Baari, I/251)

    Setelah itu tanpa mengambil air baru Rasulullah langsung mengusap kedua telingannya. Dengan cara memasukkan jari telunjuk ke dalam telinga, kemudian ibu jari mengusap-usap kedua daun telinga. Karena Rasulullah bersabda: “Dua telinga itu termasuk kepala.” (HSR. Tirmidzi, no. 37, Ibnu Majah, no. 442 dan 444, Abu Dawud no. 134 dan 135, Nasa’i no. 140)

    Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah, no. 995 mengatakan: “Tidak terdapat di dalam sunnah (hadits-hadits nabi saw) yang mewajibkan mengambil air baru untuk mengusap dua telinga. Keduanya diusap dengan sisa air dari mengusap kepala berdasarkan hadits Rubayyi’:

    Bahwasanya Nabi saw mengusap kepalanya dengan air sisa yang ada di tangannya. (HR. Abu Dawud dan lainnya dengan sanad hasan)

    Dalam mengusap kepala Rasulullah melakukannya satu kali, bukan dua kali dan bukan tiga kali. Berkata Ali bin Abi Thalib ra : “Aku melihat Nabi saw mengusap kepalanya satu kali. (lihat _Shahih Abu Dawud, no. 106). Kata Rubayyi bin Muawwidz: “Aku pernah melihat Rasulullah saw berwudhu’, lalu ia mengusap kepalanya yaitu mengusap bagian depan dan belakang darinya, kedua pelipisnya, dan kedua telinganya satu kali.” (HSR Tirmidzi, no. 34 dan Shahih Tirmidzi no. 31)

    Rasulullah saw juga mencontohkan bahwa bagi orang yang memakai sorban atau sepatu maka dibolehkan untuk tidak membukanya saat berwudhu’, cukup dengan menyapu diatasnya, (HSR. Bukhari dalam Fathul Baari I/266 dan selainnya) asal saja sorban dan sepatunya itu dipakai saat shalat, serta tidak bernajis.

    Adapun peci/kopiah/songkok bukan termasuk sorban, sebagaimana dijelaskan oleh para Imam dan tidak boleh diusap diatasnya saat berwudhu’ seperti layaknya sorban. Alasannya karena:

    1. Peci/kopiah/songkok diluar kebiasaan dan juga tidak menutupi seluruh kepala.
    2. Tidak ada kesulitan bagi seseorang untuk melepaskannya.

    Adapun Kerudung, jilbab bagi wanita, maka dibolehkan untuk mengusap diatasnya, karena ummu Salamah (salah satu isteri Nabi) pernah mengusap jilbabnya, hal ini disebutkan oleh Ibnu Mundzir. (Lihat al-Mughni, I/312 atau I/383-384).

    8. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki

    Allah swt berfirman: “Dan basuhlah kaki-kakimu hingga dua mata kaki” (Al-Maidah: 6)

    Rasulullah menyuruh umatnya agar berhati-hati dalam membasuh kaki, karena kaki yang tidak sempurna cara membasuhnya akan terkena ancaman neraka, sebagaimana beliau mengistilahkannya dengan tumit-tumit neraka. Beliau memerintahkan agar membasuh kaki sampai kena mata kaki bahkan beliau mencontohkan sampai membasahi betisnya. Beliau mendahulukan kaki kanan dibasuh hingga tiga kali kemudian kaki kiri juga demikian. Saat membasuh kaki Rasulullah menggosok-gosokan jari kelingkingnya pada sela-sela jari kaki. (HSR. Bukhari; Fathul Baari, I/232 dan Muslim, I/149, 3/128)

    Imam Nawai di dalam Syarh Muslim berkata. “Maksud Imam Muslim berdalil dari hadits ini menunjukkan wajibnya membasuh kedua kaki, serta tidak cukup jika dengan cara mengusap saja.”

    Sedangkan pendapat menyela-nyela jari kaki dengan jari kelingking tidak ada keterangan di dalam hadits. Ini hanyalah pendapat dari Imam Ghazali karena ia mengqiyaskannya dengan istinja’.

    Rasulullah saw bersabda: “…barangsiapa diantara kalian yang sanggup, maka hendaklahnya ia memanjangkan kecermerlangan muka, dua tangan dan kakinya.” (HSR. Muslim, 1/149 atau Syarah Shahih Muslim no. 246)

    9. Tertib

    Semua tatacara wudhu’ tersebut dilakukan dengan tertib (berurutan) muwalat (menyegerakan dengan basuhan berikutnya) dan disunahkan tayaamun (mendahulukan yang kanan atas yang kiri) [Bukhari-Muslim]

    Dalam penggunaan air hendaknya secukupnya dan tidak berlebihan, sebab Rasulullah pernah mengerjakan dengan sekali basuhan, dua kali basuhan atau tiga kali basuhan [Bukhari]

    10. Berdoa

    Yakni membaca do’a yang diajarkan Nabi saw:

    “Asyahdu anlaa ilaa ha illalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abdullahi wa rasuulahu. Allahummaj ‘alni minattawwabiina waja’alni minal mutathohhiriin (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah)

    Dan ada beberapa bacaan lain yang diriwayatkan dari Nabi saw.

    Semoga tulisan ini menjadi risalah dalam berwudhu’ yang benar serta merupakan pedoman kita sehari-hari.

    Maraji’:

    1. Sifat Wudhu’ Nabi saw, Syaikh Fadh asy Syuwaib.
    2. At-Tadzkirah, Syaikh Ali Hasan al-Halabi al-Atsari

    Diterbitkan oleh Majelis Ta’lim   “ANSHORUSSUNNAH”

     
  • erva kurniawan 2:25 am on 25 March 2014 Permalink | Balas  

    Muhammad SAWFisik Rasulullah Muhammad SAW

    Sumber : Haziah – kafe Muslimah

    Mari Mengenal Rasul ! semoga perbendaharaan di bawah bisa membuat kita semakin rindu pada beliau.

    BERWAJAH TAMPAN

    Rasulullah adalah manusia yang paling tampan dan paling baik kondisi fisiknya, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek (Mutafaq ‘Alaih)

    BERKULIT PUTIH DAN BERWAJAH BERSIH

    Rasulullah itu berkulit putih dan berwajah tampan. (HR. Muslim)

    BERBAHU LAPANG SERTA BERJENGGOT DAN BERAMBUT LEBAT

    Rasulullah memiliki postur tubuh ideal, bahu yang lapang, berjenggot lebat dan pangkalnya kemerahan, berambut lebat sampai cuping telinga. Aku pernah melihat beliau berpakaian merah, beliau pernah kulihat orang lebih tampan dari beliau. (HR. Bukhari)

    KEPALA, TANGAN DAN KAKI BELIAU BESAR

    Rasulullah SAW memiliki kepala, dua tangan dan kaki yang besar-besar, berwajah tampah, belum pernah kulihat orang seperti beliau sebelum dan sesudahnya. (HR. Bukhari)

    Wajah beliau SAW seperti matahari dan bulan, berbentuk bulat (HR. Muslim)

    WAJAH BELIAU KETIKA BERGEMBIRA

    Bila Rasulullah SAW sedang bergembira, wajah beliau terlihat cerah seperti bulan dan kami tahu hal itu. (MUtafaq ‘Alaih)

    MATA ROSUL

    Rasulullah SAW tidak tertawa kecuali sekedar tersenyum, bila kamu melihatnya akan berkomentar mata beliau bercelak, padahal beliau tidak memakainya. (HR. Tirmidzi hadits hasan)

    TAWA ROSUL

    Diriwayatkan dari Aisyah ra. : “Saya belum pernah melihat Rasulullah SAW tertawa terbahak-bahak sampai terlihat langit-langit mulutnya, tertawanya hanya tersenyum.” (HR. Bukhari)

    KEELOKAN WAJAH ROSUL

    Dari Jabir bin Samurah ra : “Saya pernah melihat Rasulullah SAW pada malam bulan purnama, aku melihat Rasulullah SAW lalu melihat bulan, sedangkan beliau mengenakan pakaian merah. Menurutku beliau lebih elok daripada bulan.” (HR. Tirmidzi, Hadits hasan hharib. Disahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

    INDAHNYA SIFAT ROSUL

    Tergambar dalam syair berikut “Putih wajahnya Diminta hujan dengan wajahnya Pemberi makan anak yatim dan pelindung janda”

    Syair ini ucapan Abu Thalib yang dilantunkan oleh Ibnu Umar dan sahabat yang lain ketika kaum muslimin tertimpa musim kemarau. Lantas Rasulullah berdoa untuk mereka: “Ya Allah! Hujanilah kami.” Lalu turunlah hujan. (HR. Bukhari)

    Maksudnya, Rasulullah disifati sebagai putih wajahnya diminta oleh orang-orang agar memohon kepada Allah dengan wasilah wajah beliau yang mulia dan doa beliau, agar Dia menurunkan hujan kepada mereka. Itu terjadi ketika Rasulullah masih hidup. Setelah Rasulullah wafat, Khalifah Umar ra berwasilah dengan Al-Abas agar berdoa supaya Allah menurunkan hujan, dan bukan berwasilah dengan Rasulullah yang telah wafat.

    Seseorang dari Bani Kinanah bersyair:

    “Bagi-Mu pujian dari insan yang bersyukur

    Diturunkan hujan kepada kami berkat wajah Nabi

    Dia berdoa kepada Allah, Khaliqnya

    Dengan doa yang menjadikan mata tertunduk

    Secepat lambaian sorban, bahkan lebih cepat

    Kami telah melihat hujan bak mutiara berjatuhan

    Jadilah beliau seperti kata pamannya, Abu Thalib

    Berwajah putih nan bersih

    Dengannya Allah menyiramkan awan Inilah kesaksian tentang berita itu

    Siapa bersyukur kepada Allah, akan mendapat tambahan

    Dan siapa ingkar kepada Allah, akan mendapat murka.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:45 am on 22 March 2014 Permalink | Balas  

    sujud 2Lutut dan Kewajiban Untuk Sujud

    Sesungguhnya penciptaan makhluk -termasuk di dalamnya manusia -selalu sesuai dengan kapasitas tugas dan kewajibannya. Itulah yang saya tangkap dari mutiara ceramah Bapak F.X. Rusharyanto di Yogya beberapa tahun yang lalu.

    Terus terang saja, itu untuk pertama kalinya saya tersedak; antara terharu, tersenyum, dan termenung. Keterpakuan yang membuat kalimat-kalimat beliau terasa terus berngiang-ngiang di telinga saya.

    “Saya mendapatkan hidayah dan masuk Islam,” katanya, “lewat mimpi.”

    Waktu itu, saya tak begitu respek. Entahlah, saya selalu berpendapat dangkal pada orang-orang yang masuk Islam lewat mimpi; bertemu (katanya) Rasulullah, orang berjubah putih, dan pengalaman-pengalaman supranatural lainnya. Tentu saja -menurut saya– hal ini tidak realistis. Saya pikir, saat seseorang menentukan langkahnya, haruslah berproses dalam pemikiran yang ilmiah.

    Tetangga saya masuk Islam gara-gara (katanya) mimpi bertemu Sunan Kalijaga. Hanya sebegitu saja. Bertemu thok. Boro-boro kalau sempat berkenalan atau bertukar alamat, berjabat tangan, apalagi ngobrol. Cuma bertemu sebentar. Katanya, Sunan Kalijaga mengenakan jubah warna hijau kesukaan beliau dan sedang berjalan entah ke mana. Paginya, dia masuk Islam.

    Alangkah mudahnya berganti akidah. Kalau dipikir, apa korelasi antara bertemu Sunan Kalijaga dengan memeluk agama Islam? Toh, zaman dulu banyak orang yang bertemu Sunan Kalijaga -malah -secara wadag.

    Beruntung saat itu dia mimpi bertemu Sunan Kalijaga. Bagaimana kalau dia bertemu Hitler… atau Syeikh Siti Jenar? Wheladalah… bagaimana kalau dia bertemu dengan Dewa Wisnu yang -walaupun kulitnya hitam arang- namun gantengnya ngudubilah setan itu? Kalau besok dia ngelindur ketemu Dewi Kwan Im, jangan-jangan terus memeluk Konghucu, atau lebih parah, menjadi pengikut Sun Go Kong.

    Kalau seseorang memutuskan memeluk Islam setelah pergulatan pikiran, nimbang-nimbang, mencari kebenaran… dan seterusnya yang akhirnya membawanya pada pemahaman yang proporsional sekaligus mantap, maka -menurut saya -keislamannya tidak perlu disangsikan. Saya acung jempol untuk orang-orang semacam itu.

    Apa istimewanya mimpi? Dijadikan patokan beli nomor buntut saja masih suka ngaco, apalagi untuk urusan besar yang berkait langsung dengan akhirat. Lha kok…. Karenanya, saya selalu memandang remeh ‘dalam tanda kutip’ untuk orang-orang seperti ini. Tapi, saya juga tidak ngoyoworo. Contoh gampang saja, tetangga saya yang mimpi bertemu Sunan Kalijaga itu nyatanya sampai sekarang -walaupun Islam -tidak shalat. Kalau shalat tarawih sih iya, grubyag-grubyug pas malam bulan Ramadhan. Mungkin karena lingsem atau bagaimana, yang jelas, hidungnya sering nampang di masjid kalau bulan Ramadhan.

    Saya tidak mengatakan bahwa agama terbebas dari hal-hal irrasional semacam itu. Toh, takdir dan rezeki adalah sesuatu yang tak bisa diterjemahkan secara letterlijk. Ruh, malaikat, jin… adalah mata pelajaran nonwadag dalam kerangka kegaiban yang menjadi komponen kelengkapan iman. Tapi bukan dalam arti juga agama adalah sesuatu yang mutlak irrasional. Semuanya mesti ada dimensi-dimensinya. Cuma, kok ya masih susah juga saya memaklumi orang yang masuk Islam karena ketemu orang berjubah putih dan memakai sorban.

    Kembali pada materi ceramah Ustadz tadi. Singkat cerita, setiba beliau pada kalimat yang menyatakan proses masuk Islamnya, saya langsung melengos merasa tak begitu tertarik. Seperti saya katakan tadi, apa korelasi antara mimpi bertemu bertemu Sunan Kalijaga dengan masuk Islam?

    Ooo… tapi tidak. Dalam ceramah yang saya ikuti dengan ogah-ogahan itu, ternyata akhirnya saya harus tertohok pada pengembaraan pemikiran yang menembus sisi-sisi ruhiyah saya. Dengarlah, mimpi apa yang begitu dahsyat telah mengubah kemudi seorang F.X. Rusharyanto ini.

    “Saya mimpi bertemu ayam,” katanya.

    Ayam? Benar-benar ayam? Kok, bukan Sunan siapa gitu atau kalau berani lebih heboh, ketemu Rasulullah. Ayam sehebat apa yang bisa membuat beliau masuk Islam?

    “Benar-benar ayam,” lanjutnya. “Jangan dulu tertawa dengan mimpi saya yang aneh. Benar, ayam. Saya tidak bermimpi bertemu dengan Rasulullah, orang berjubah putih, atau gadis cantik yang pakai jilbab.”

    Lantas, apa istimewanya ayam ini? Masih mendingan kalau mimpinya ketemu gadis memakai kerudung seperti yang suka dipajang pada bandrol jilbab.

    “Ayam ini bisa ngomong.”

    Ooo… bisa ngomong. Kayak film kartun, dooong? Terus, apa kaitannya dengan Islam?

    “Ayam itu berkata pada saya, ‘bacalah ayat-ayat Tuhan yang ada pada lututmu.’”

    Entahlah, mungkin karena agak-agak seperti dongeng fabel ini, maka saya menjadi tertarik.

    “Lutut?” lanjut sang Ustadz. “Tidak ada ayat apa pun dalam lutut saya,’ begitu bantah saya pada si ayam. Lantas, ayam itu melanjutkan kalimatnya, ‘Tidakkah kauperhatikan perbedaan antara lutut ayam dan lutut manusia? Perhatikanlah wahai manusia dan bacalah. Tempurung lutut kalian diciptakan Tuhan dan diletakkan di depan, berbeda dengan lutut ayam yang diletakkan di belakang. Itu disebabkan kalian tidak diperintah Tuhan untuk mengeram. Ayam diperintahkan untuk mengeram sehingga tubuhnya disempurnakan untuk melaksanakan tugas itu.’ Cukup lama saya memikirkan kalimat ayam itu sebelum kemudian saya bertanya, ‘Lantas, apa yang diperintahkan pada manusia yang memiliki lutut di depan?’”

    Nah, ini yang membuat saya mulai tertarik. Kenapa? Lantas apa jawaban si ayam?

    “Ayam itu,” lanjut beliau, “mengatakan, ‘kepada manusia, Tuhan memerintahkan untuk rukuk dan sujud. Itulah kenapa lutut kalian diletakkan di depan, bentuk kesempurnaan penciptaan di mana susunan yang demikian adalah untuk melaksanakan perintah rukuk dan sujud.”

    Subhanallah… betapa saya selama ini tak pernah membaca ayat yang begini indah. Lantas, berapa banyak lagi ayat yang belum dan tidak terbaca oleh pikiran saya yang lemah ini?

    Sungguh, ilmu dan ayat Allah tak akan selesai ditulis kendati laut diubah menjadi tinta dan digunakan untuk menulisnya, bahkan jika didatangkan satu laut lagi sebagai tinta, dan satu laut lagi sebagai tinta, dan….

    Allah, pandang-Mu sajalah pandang yang tak terhalang. Ilmu-Mu saja ilmu yang tak berujung. Setiap yang didapati pada manusia, hanyalah sepersekian debu-Mu. Ampunilah kesombongan dan kelemahan kami. Amin.

    ***

    eramuslim

    Sakti Wibowo

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 21 March 2014 Permalink | Balas  

    sholat-subuhAmalan yang Bermakna

    Berhati-hatilah bagi orang yang ibadahnya temporal, karena bisa jadi perbuatan tersebut merupakan ciri minimnya keikhlasan.

    Aktivitas ibadah yang dilakukan secara temporal tiada lain ukurannya adalah urusan duniawi. Ia hanya akan dilakukan dan meningkat kuantitasnya ketika sedang butuh, sedang dilanda musibah, atau sedang disempitkan oleh ujian dan kesusahan. Tidak demikian halnya ketika pertolongan Allah datang, kemudahan menghampiri, kesenangan berdatangan, justru seketika itu juga aktifitas amal ibadahnya menurun drastis bahkan lenyap.

    Bagi yang amalnya temporal, ketika menjelang pernikahan tiba-tiba saja ibadahnya jadi meningkat, shalat wajib tepat waktu, tahajud nampak khusu. Tapi anehnya ketika sudah menikah, jangankan tahajud, shalat subuh pun terlambat. Ini perbuatan yang memalukan. Sudah diberi kesenangan, justru malah melalaikan perintah-Nya. Harusnya sesudah menikah berusaha lebih gigih lagi dalam ber-taqarrub kepada Allah sebagai bentuk ungkapan rasa syukur.  Begitupun orang yang sedang ditimpa hutang, penyakit, menghadapi ujian, mengaharapkan kekayaan, kedudukan, dsb. Kebanyakan mereka sangat baik ibadahnya saat ditimpa kesulitan. Namun perlahan-lahan semuanya sirna seiring dengan banyaknya nikmat yang diterima.

    Hal ini berbeda dengan hamba-hamba-Nya yang telah menggapai derajat ikhlas, dimana mereka mampu beribadah secara istiqamah dan berkesinambungan. Ketika diberi kesusahan, dia akan segera saja bersimpuh sujud merindukan pertolongan Allah. Sedangkan ketika diberi kelapangan dan kesenangan yang lebih lagi, justru dia semakin bersimpuh dan bersyukur lagi atas nikmat-Nya ini.

    Orang yang ikhlas tidak akan menggunakan prinsip ekonomi jangka pendek dalam hidupnya, yang selalu meminta balasan instan berupa kenikmatan di dunia. Memang manusia akan termotivasi dalam melakukan suatu aktifitas apabila ada iming-iming di kemudian hari. Namun orang yang ikhlas hanya menginginkan janji Allah akan pahala dan syurganya. Kenikmatan dunia hanyalah alat dan sarana untuk berjuang dan mencapai kebahagiaan abadi di akhirat.

    Pertanyaannya, apakah kita akan tetap melakukan ibadah secara temporer, sekedar untuk menggugurkan kewajiban dan mengharapkan kenikmatan sesaat, atau beranjak ke derajat orang yang ikhlas? Sayang sekali jika amal ibadah yang kita lakukan tidak membawa manfaat pada kehidupan di akhirat kelak sebagai konsekuensi minimnya keikhlasan kita.

    ***

    (Diambil dari Rubrik Manajemen Qalbu)

     
    • Maxgrosir 10:50 am on 26 Maret 2014 Permalink

      Semoga ibadah kita selalu didasari dengan keikhlasan hati agar ibadah kita bisa semakin mantepp lagi menuju sang pencipta raga ini :D

  • erva kurniawan 3:23 am on 20 March 2014 Permalink | Balas  

    wanita sholehahPornografi Menurut Pandangan Alquran

    Fenomena pornografi sangatlah marak pada saat ini, mulai dari media, surat kabar, tabloid, majalah dan lain lain, yang mempertontonkan poster ataupun gambar wanita dengan pakaian setengah telanjang sebagai bahan beritanya.

    Media Televisi yang menyiarkan film-film, telenovela, sinetron, infoteinmen yang membahas tentang lekuk aurat wanita, atau infoteinment yang membahas tentang kehidupan seks, kehidupan hura-hura masyarakat kota besar, yang sesungguhnya semua siaran tersebut hanya menjual kemaksiatan dan kemungkaran yang haram dilihat oleh seorang muslim.

    Media Televisi juga menyiarkan tarian-tarian yang dipertontonkan oleh seorang atau beberapa orang wanita dengan menggunakan pakaian yang ketat, yang terbuka yang menunjukkan lekuk tubuh wanita. Dan kadang ditemani oleh pria yang dengan seenaknya memegang tubuh wanita tersebut yang nyata-nyata bukanlah muhrimnya.

    Mereka menari dengan gerakan-gerakan yang erotis dan vulgar di depan jutaan penonton yang nota bene adalah mayoritas kaum muslim.

    Bahkan ada seorang penyanyi wanita yang karena goyangnya menimbulkan pro dan kontra yang akhirnya menimbulkan suatu perselisihan di antara sesama ummat islam, hal ini sangatlah ironis sekali disaat seharusnya ummat islam bersatu, hanya karena seorang penyanyi dengan tarian nya yang jelas-jelas adalah suatu kemungkaran kita sesama islam saling menghujat.

    Yang menjadi suatu perdebatan saat ini adalah mengenai batasan-batasan apakah ini adalah sebuah seni atau sebuah pornografi. Masih banyak orang yang berkata bahwa belum adanya hukum yang mengatur masalah apakah ini seni atau pornografi sehingga sah-sah saja ini dipertontonkan. Dan hukum inilah yang sedang berusaha dibahas dan dimunculkan oleh para pemimpin kita di pemerintahan.

    Cobalah kita berpikir kenapa kita masih juga berdebat atau mengapa kita masih juga menunggu hadirnya sebuah hukum yang mengatur hal ini, yang diciptakan oleh manusia yang sesungguhnya hukum yang dihasilkan tersebut adalah hasil pemikiran manusia yang keluar dari perasaan hawa nafsu manusia.

    Sesungguhnya kalau kita sadar hukum yang mengatur hal ini sudahlah ada, yaitu hukum yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad saw yang diturunkan langsung oleh Allah SWT yaitu kitab suci alquran.

    Sebagai ummat islam islam seharusnya menggunakan Alquran yang merupakan hukum tertinggi, yang tidak ada satu pun yang dapat menyerupainya, yang merupakan sumber dari segala sumber hukum, dan tiada keraguan dengan Nya, sebagai rujukan untuk menjawab semua permasalahan yang terdapat pada diri ummat islam.

    Al quran diturunkan oleh Allah swt sebagai petunjuk hidup bagi kehidupan manusia untuk membedakan antara Hak dan yang Bathil. Firman Allah swt. Al quran surat Al Baqarah 185

    “Alquran diturunkan oleh Allah swt sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia, untuk membedakan antara yang hak dan yang bathil.

    Sangatlah jelas Allah swt mengatakan sesungguhnya Al quran diberikan kepada ummat islam sebagai sumber hukum untuk membedakan mana yang halal dan mana yang haram.

    Masalah pornografi ini coba kita lihat rujukannya dalam Al quran.

    Firman Allah swt. Al quran surat An Nur ayat 31.

    “Katakanlah kepada wanita yang beriman : hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya kecuali yang (biasa) nampak dari pada nya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada muhrimnya. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah swt hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”

    Sudah sangatlah jelas perintanh Allah swt memerintahkan kaum wanita untuk menjaga, memelihara auratnya dari pandangan manusia lainnya, selain kepada muhrimnya, dengan cara berpakaian lah yang menutup auratnya, bertingkah laku yang sopan, jangan mengumbar kemaksiatan kepada manusia lainnya, yang menimbulkan pikiran jahat manusia. Dan mereka juga harus menjaga pandangan mereka dari apa yang diharamkan oleh Allah swt. Jika Allah swt sudah mengeluarkan suatu larangan maka haram hukumnya untuk dilakukan. Dan jika dilanggar maka akan menjadi suatu dosa, dan dosa pasti mendapat azab, azab di dunia maupun di akhirat.

    Sesungguhnya Allah swt Maha Adil dia tidak hanya memberikan peringatan kepada kaum wanita, tetapi Allah swt juga memberikan peringatan kepada kaum pria.

    Firman Allah swt. Surat An Nur ayat 30

    “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”

    Allah swt memerintahkan kepada kaum pria untuk menjaga pandangannya dari apa yang diharamkan oleh Allah swt, (seperti aurat wanita). Dan memerintahkan mereka untuk menjaga kemaluannya dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah swt, (seperti perzinahan), dan juga menjauhkan qolbunya dari niat-niat yang diharamkan. Sesungguhnya Allah mengetahui apa-apa yang sudah diperbuat maupun yang belum diperbuat, walaupun itu hanya sebuah niat.

    Jika kita melanggar apa yang diperintahkan oleh Allah maka Azablah yang akan datang kepada kita. Firman Allah swt. Al quran surat Al An’aam ayat 49.

    “Dan orang yang mendustakan ayat Allah swt, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik”.

    Kesimpulan

    Firman Allah swt. Al quran surat Az Zukhruf ayat 43.

    “Berpegang teguhlah kamu kepada wahyu Allah, sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus”.

    Ummat Islam haruslah menggunakan Al quran sebagai petunjuk dalam melaksanakan kehidupannya. Dengan menggunakan akal pikirannya yang jernih dan qolbu yang bersih kita harus dapat melakukan penilaian apakah itu suatu seni atau pornografi menurut Al quran.

    Jika itu suatu pornografi maka itu adalah haram, dan jika haram wajib di jauhi, dan jika kita masih juga menghalalkannya maka azab Allah swt akan datang baik azab di dunia maupun diakhirat. Dan sesungguhnya azab Allah swt teramatlah pedih.

    Sesungguhnya Allah swt Maha Benar.

    Wallohu a’lam.

    ***

    Penulis: Iqbal Fahrul Rozi

    alhikmah.com

     
    • cheepan04 10:46 am on 21 Maret 2014 Permalink

      Syukron atas sharing pemikiran di artikel ini. saya suka. mohon ijin co-paste ya :)

  • erva kurniawan 1:01 am on 17 March 2014 Permalink | Balas  

    istiqomahIstiqomah

    Oleh : Aus. Hidayat Nur

    “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 11:112)”

    Seorang sahabat Nabi, Sofyan bin Abdullah Ats Tsaqafi mendatangi Rasulullah Shollallahu Alahi Wa Sallam kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, katakan kepadaku satu ajaran Islam yang aku tidak perlu lagi aku menanyakannya kepada yang lain selain kepada dirimu? Rasulullah Shollallahu Alahi Wa Sallam menjawab, “Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah kemudian bersikap istiqomahlah!”

    Itulah untaian hadits yang amat sederhana yang dapat kita jumpai di dalam Kitab Hadits Al Arbain yang disusun oleh Imam An Nawawie. Hadits itu menjadi salah satu sember ajaran Islam yang sangat penting yaitu istiqomah. Apakah istiqomah itu? Istiqomah seringkali diartikan konsisten dan konsekuen pada kebenaran. Artinya Anda tetap pada sikap dan pendirian atau amal ketaatan Anda yang berlandaskan keimanan dengan penuh keikhlasan, tanpa tergoda untuk surut karena rayuan nafsu dan bujukan duniawi yang ada.

    Manakala Islam telah menjadi pilihan untuk menjadi pedoman hidup kita, jangan dikira persoalan sudah selesai, masih banyak ujian dan cobaan untuk memastikan sejauh mana kebenaran iman yang kita miliki itu. Kehidupan kita dipenuhi dengan berbagai godaan, bujukan dan rayuan yang dapat memalingkan kita dari jalan Allah. Godaan ini datang dari berbagai arah, sangat indah menarik dan menggairahkan. Dia dapat terjadi dimanapun kita berada, di rumah, sekolah, kantor, di jalan, di maal-maal tempat berbelanja.

    Kadang-kadang hati kita tertipu kerena menganggap godaan tersebut dapat diatasi dengan segera sehingga kita pun bersedia berlalai-lalai. Namun ternyata ketika kita lepas dari jalur kebenaran, terasa semakin mengasyikkan dan mungkin hawanafsu pribadi berkata, “Biarlah untuk kali ini, tokh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”……Setelah itu godaan datang lagi, lama kelamaan kita sering terjatuh kemudian lebih sering, kemudian menjadi amat sering bermaksiat. Kemudian seringkali kita pun lupa apakah perbuatan ini termasuk larangan Allah, termasuk sesuatu yang dibenci Allah? Nauzubillah.

    Orang yang istiqomah bagaikan batu karang di tengah lautan, semakin kokoh dan kuat meskipun menghadapi hantaman ombak yang terus menerus menerpa. Atau seperti pohon yang terus menerus tumbuh di tengah hembusan angin dan ganasnya alam sekitar. Tiap hari ada saja daunnya yang jatuh berguguran, namun daun rontok itu ternyata dapat dijadikan pupuk yang bermanfaat. Pada akhirnya pohon itu akan memberikan buah yang bermanfaat kepada manusia kendatipun sebelumnya dia harus menderita.

    Demikian juga orang yang istiqomah dengan iman dan amal salehnya, dia mungkin menghadapi gangguan, ejekan, celaan dari orang lain, tapi dia terus saja melaksanakan amal kebaikannya. Sebaliknya kaum kafir dan munafikin menjadi batu penguji orang-orang beriman dalam meneguhkan kepribadian mereka. Mereka selalu menggangu, mengejek, dan mencela baik dengan diam-diam atau pun terang-terangan. Ini digambarkan dalam ayat berikut ini :

    “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang beriman berlalu dihadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila  orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan : “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat” (QS. 83:29-32)

    Istiqomah akan menjadi lebih kokoh dan kuat manakala dilakukan oleh satu komunitas yang beriman kepada Allah dan selalu tetap pada pendirian mereka. Mereka senantiasa bejuang di jalan Allah dengan penuh kesetian dan pengorbanan dengan tanpa mempedulikan segala bentuk resiko dalam perjuangan mereka. Di dalam Al-Quran dikatakan bahwa mereka yang mengatakan “Robbunallah” (Kami beriman kepada Allah) kemudian beristiqomah, Allah akan menurunkan kepadanya Malaikat yang memberikan jaminan kebahagian di Dunia dan Akhirat.

    “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. 41:30)”

    Bentuk perjuangan komunitas yang istiqomah ini telah banyak di contohkan oleh Kitabullah. Seperti misalnya sikap heroisme para pemuda yang berjihad menentang kezaliman seorang raja. mereka tidak setuju dengan pendirian mayoritas bangsanya yang menyimpang dari ajaran Tawhidullah. Mereka berhimpun utuk menumbangkan kezaliman penguasa yang membawa manusia pada jalan kesesatan. Di tengah masyarakatnya yang terseret arus jahiliyyah yaitu kemusyikan yang dipelopori Raja Zhalim Dekianus, Para pemuda Kahfi tetap istiqomah. Mereka tidak ikut-ikutan mengakui Tuhan-tuhan yang disembah Dekianus dan rakyatnya. Kerena itu mereka dianggap musuh negara, subvesif, dan harus dihukum. Namun mereka bersembunyi kerena tuntunan dakwah masih memerlukan tenaga mereka. Untuk menunjukan tanda kekuasaan-Nya Allah menidurkan mereka. Ketika bangun ternyata masyarakat yang zhalim beserta pemimpinnya itu telah tiada dan tinggal sejarah saja (QS. 18 Al Kahfi: 13-14)

    Secara umum, para ulama membedakan Istiqomah dalam beberapa jenis, tergantung keadaan orang yang menghadapi ujian dan cobaan:

    1. Istiqomah dalam Keimanan: Yaitu senantiasa menjadikan Iman sebagai dasar kehidupan   meskipun harus menghadapi resiko yang menghadang. Iman tidak dilepaskan hingga akhir hayat. Inilah istiqomah yang dicontohkan para Nabi dan Rasul dalam perjuangan dakwah mereka.
    2. Istiqomah dalam Ibadat: Yaitu tetap memelihara ibadat-ibadat yang difardhukan atau pun yang disunnatkan dengan menunaikan hak-hak Allah untuk mencapai khusyu dalam ibadah. Rasulullah Shollallahu Alahi Wa Sallam  pernah menyatakan “Khoirul umuurihi adwaamaha wa-in qolla” (Sebaik-baik amal itu adalah yang berkesinambungan kendati pun sedikit). Istiqomah dalam ibadat ini membuat seorang hamba Allah dicintai Allah dan Allah senantiasa dekat kepadanya.
    3. Istiqomah dalam Muamalah: Yaitu selalu menjalankan prinsip-prinsip syariat dalam hubungan interaksi antar manusia. Dalam berjual beli, perdagangan, dalam berorganisasi, dalam gaul, senantiasa menjalankan missi dan membangun masyarakat Islam.
    4. Istiqomah dalam Akhlaqul Karimah: Yaitu tetap memelihara dan menjaga kepribadian dan budipekerti serta sopan santun islam di tengah pergaulan hidup sehari-hari. Tidak mengikuti perilaku dan kebiasaan orang-orang yang kufur kendati pun masyarakat di sekitarnya sudah menganggap perbuatan tersebut sesuatu yang wajar.
    5. Istiqomah dalam Perjuangan: Yaitu senantiasa melakukan dakwah dan amar makruf nahi munkar, memperjuangkan nilai-nilai ajaran islam di tengah kehidupan masyarakat meskipun datang aneka ragam ujian dalam bentuk ancaman dan permusuhan dari berbagai lawan.

    ***

    Sumber : Marhamah; 592 Tahun XIII 1424 / 2003 M

     

     
  • erva kurniawan 2:40 am on 14 March 2014 Permalink | Balas  

    kerja kerasNasihat dalam Berikhtiar

    Ibnul Qayyim berkata ,”Tidaklah seorang hamba mengambil yang haram kecuali karena dua hal:

    1. Karena su’uzhon (buruk sangka) terhadap Rabb-nya dengan anggapan bahwa Allah tidak akan menganugerahkan sesuatu yang halal dan baik baginya bila ia mematuhi dan mengutamakan syari’at-Nya
    2. Ia mengetahui bahwa Allah akan menganugerahkan kepadanya kebaikan lagi halal manakala ia mematuhi-Nya, namun keinginannya telah mengalahkan kesabarannya dan hawa nafsunya telah menguasai akalnya.”

    ****

    Abdullah ibnu Umar r.a. berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Amal yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla adalah : kamu memasukkan rasa gembira pada hati seorang muslim, atau menghilangkan kesulitannya, atau kamu membayarkan utangnya, atau kamu mengusir rasa lapar darinya.

    ****

    Orang bodoh selalu mengeluh dan mengadukan nasibnya kepada manusia. Itulah puncak kedunguan tentang tampat pengaduan. Sekiranya ia mengenal Robb-nya, pasti ia tidak mengadu kepada mereka. Seandainya ia mengenal hakikat dan kemampuan manusia, pasti ia mengadu kepada Allah. (Ulama)

    ***

    (Diambil dari artikel kiriman sdr. Pitoyo)

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 12 March 2014 Permalink | Balas  

    Mimpi nikahUsah Kau Lara Sendiri

    OLeh: Abu Aufa

    Kegelisahan, kedukaan dan airmata adalah bagian sketsa hidup di dunia ini. Tetesan air mata bermuara dari hati yang terselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan. Kedukaan karena kerinduan yang teramat sangat dalam menyebabkan kepedihan yang memenuhi rongga dada, jiwa yang rapuh pun berkisah pada alam serta kehidupan, bertanya dimanakah pasangan jiwa berada. Lalu, hati menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.

    Keinginan bertemu pasangan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah? Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Sebuah kewajaran pula bahwa setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian. Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya akan terbentuk jiwa-jiwa yang sholeh dan sholehah. Duhai… betapa mulianya kedudukan seorang wanita, apalagi bila ia seorang wanita beriman yang mampu membina dan menjaga keindahan Islami hingga memenuhi setiap sudut rumahtangganya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala pun telah menciptakan wanita dengan segala keistimewaannya, hamil, melahirkan, menyusui hingga keta’atan dan memenuhi hak-hak suaminya laksana arena jihad fisabilillah. Karena itu, yakinkah batin ini tiada goresan saat melihat pernikahan wanita lain dibawah umurnya? Pernahkah kita menyaksikan kepedihan wanita yang berazam menjaga kehormatan diri hingga ia menemukan pasangan jiwanya? Dapatkah kita menggambarkan perasaannya yang merintih saat melihat kebahagiaan wanita lain melahirkan anak? Atau, tidakkah kita melihat kilas tatapan sedih mereka ketika melihat aqiqah anak kita?

    Letih… sungguh amat letih jiwa dan raga, sendiri mengayuh biduk kecil dengan rasa hampa tanpa tahu kapankah berlabuh.

    Ukhti sholehah yang disayang Allah Subhanahu wa Ta’ala… Dalam Islam, kehidupan manusia bukan hanya untuk dunia ini saja, ada dunia fana, pun ada akhirat. Memang, setiap manusia sudah diciptakan berpasangan, namun maksudnya tidak dibatasi hanya dunia fana ini saja. Jadi mungkin saja ada manusia yang jodohnya baru dipertemukan nanti di akhirat. Seseorang yang belum menemukan pasangan jiwanya di dunia fana ini, insya Allah akan dipertemukan di akhirat nanti, selama ia beriman dan bertaqwa serta sabar atas ujian-Nya yang telah menetapkan dirinya sebagai lajang di dunia fana.

    Keresahan dan kegelisahan janganlah sampai merubah pandangan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalaulah rasa itu selalu menghantui, usah kau lara sendiri duhai ukhti, taqarrub-lah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kembalikan segala urusan hanya kepada-Nya, bukankah hanya Ia yang Maha Memberi dan Maha Pengasih. Ikhtiar, munajat serta untaian doa tiada habis-habisnya curahkanlah kepada Sang Pemilik Hati. Jangan membandingkan diri ini dengan wanita lain, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti memberikan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya, meski ia tidak menyadarinya.

    Usahlah dirimu bersedih lalu menangis di penghujung malam karena tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pasangan jiwa, menangislah karena airmata permohonan kepada-Nya di setiap sujud dan keheningan pekat malam. Jadikan hidup ini penuh dengan harapan baik kepada Sang Pemilik Jiwa, dan kesiapan menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tausyiah-lah selalu batin dengan tarbiyah Ilahi hingga diri ini tidak sepi dalam keheningan. Bukankah kalau sudah saatnya tiba, jodoh itu tak akan lari kemana, karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad ini, siapa pasangan jiwamu pun telah dituliskan-Nya.

    Sabar dan sabarlah ukhti sholehah… Bukankah matahari akan selalu menghiasi pagi dengan kemewahan sinar keemasannya, malam pun masih indah dengan bintang gemintang keperakan, dan kicau bening burung malam selalu riang mencandai sang rembulan. Senyumlah, laksana senyum penuh pesona butir embun yang selalu setia melantunkan tasbih dan tahmid di kala subuh. Hapuslah airmata di pipi, hilangkan lara di hati hingga akan dirimu rasakan tak ada lagi gejolak keresahan, kegamangan atau pun kegelisahan. Terimalah semua sebagai bagian dari perjalanan hidup, hingga dirimu temukan rahasia kehidupan bahwa semua ini adalah tanda kebesaran hati dan jiwa, semoga.

    Wallahu alam bi showab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 11 March 2014 Permalink | Balas  

    sombongMenepis Sifat Sombong

    Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

    SOMBONG, takabbur, atau merasa diri besar adalah masalah yang sangat serius. Kita harus berhati-hati dengan persoalan ini. Sebab kesombongan inilah yang menyebabkan setan terusir dari surga dan kemudian dikutuk oleh Allah selamanya. Hadirnya rasa takabbur sangat halus sekali. Banyak orang telah merasa tawadhu (rendah hati) padahal dirinya di mata orang lain sedang menunjukkan sikap takabburnya.

    Tentang sikap takabbur ini Rasulullah SAW bersabda: Tidak akan masuk surga siapa yang di dalam hatinya ada kesombongan walau seberat debu. (HR Muslim). Allah benar-benar mengharamkan surga untuk dimasuki orang-orang takabbur. Takabbur hanya layak bagi Allah yang memang memiliki keagungan sempurna. Sedang seluruh makhluk hanya sekadar menerima kemurahan dari-Nya.

    Penyakit takabbur memang benar-benar seperti bau busuk yang tidak dapat ditutup-tutupi dan disembunyikan. Orang yang mengidap penyakit ini demikian mudah dilihat oleh mata telanjang orang awam sekalipun dan dapat dirasakan oleh hati siapapun.

    Perhatikan penampilan orang takabbur! Mulai dari ujung rambut, lirikan mata, tarikan nafas, senyum sinis, tutur kata, jumlah kata, nada suara, bahkan senandungnya pun benar-benar menunjukkan keangkuhan. Begitupun cara berjalan, duduk, menerima tamu, berpakaian, gerak-gerik tangan bahkan hingga ke jari-jari kaki. Semuanya menunjukkan gambaran orang yang benar-benar buruk perangainya.

    Ada pertanyaan menarik. Pantaskah sebenarnya orang bersikap takabbur, jika seluruh kebaikan pada dirinya semata-mata hanya berkat kemurahan Allah padanya? Padahal jika Allah menghendaki, dia bisa terlahir sebagai kambing. Tentu saja saat itu tidak ada lagi yang bisa disombongkan. Atau kalau Allah mau, dia bisa terlahir dengan kemampuan otak yang minim. Bahkan jika Allah takdirkan dia lahir di tengah-tengah suku pedalaman di hutan belantara, maka pada saat ini mungkin dia tengah mengejar babi hutan untuk makan malam. Apa lagi yang bisa disombongkan?

    Marilah kita berhati-hati dari bahaya kesombongan ini. Jika penyakit ini datang pada kita, kita akan sengsara. Langkah kehati-hatian ini bisa dimulai dengan mengenali ciri-ciri kesombongan. Rasulullah SAW bersabda: Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia. (HR Muslim). Jika dalam hati kita ada satu dari dua hal ini, atau kedua-duanya ada, itu pertanda kita telah masuk dalam deretan orang-orang sombong.

    Sebagian orang ada yang merasa dirinya paling mulia, baik, salih, dekat pada Allah, dikabul doanya, berkah urusannya, dan lainnya. Ketika ada kebaikan lalu kita laporkan padanya, dia berkata: Oh, siapa dulu dong yang mendoakannya? Dan ketika kita datang padanya dengan keluhan berupa musibah, dia berkata: Ah, itu sih tidak aneh, saya pernah mengalaminya lebih parah dari itu.

    Ini adalah gambaran kesombongan. Orang merasa diri lebih dekat pada Allah, lalu memandang orang lain dengan pandangan yang merendahkan. Perilaku seperti ini jika diteruskan akan merugikan pelakunya. Hakikatnya, semua kebaikan dan keburukan terjadi karena izin Allah. Katakanlah (wahai Muhammad) bahwa semuanya (kebaikan dan keburukan itu) adalah dari sisi (atas takdir) Allah. (QS An Nisaa 4:78). Kita tidak berdaya membuat kebaikan dan keburukan jika Allah tidak menghendaki hal itu terjadi. Sekalipun berupa doa atau puasa, tidak bisa dijadikan alasan bahwa kita punya kuasa atas kebaikan dan keburukan.

    Wallahu alam

    ***

    (Kolom Manajemen Qolbu, Harian Kedaulatan Rakyat)

     
  • erva kurniawan 4:09 am on 6 March 2014 Permalink | Balas  

    kasih-sayang-ibuIndahnya Kasing Sayang

    Oleh: K.H. Abdullah Gymnastiar

    Mahasuci ALLOH, Zat yang mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk-makhluk-Nya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang terlepas dari diri seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut.

    Betapa tidak? Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercerabut, maka itulah biang dari segala bencana, karena kasih sayang ALLOH Azza wa Jalla ternyata hanya akan diberikan kepada orang-orang yang masih hidup kasih sayang di kalbunya.

    Seperti kejadian yang menimpa Arie Hanggara yang kisahnya pernah diangkat di film layar lebar, dia menemui ajal karena dianiaya oleh ayah kandungnya sendiri. Begitulah, kekejian demi kekejian, kebiadaban demi kebiadaban menjadi perlambang kehinaan martabat manusia. Hal ini terjadi, tiada lain karena telah tercerabutnya karunia kasih sayang yang ALLOH semayamkan di dalam kalbunya.

    Karenanya, tidak bisa tidak, kita harus berjuang dengan sekuat tenaga agar hati nurani kita hidup. Tidak berlebihan jikalau kita mengasahnya dengan merasakan keterharuan dari kisah-kisah orang yang rela meluangkan waktu untuk memperhaikan orang lain. Kita dengar bagaimana ada orang yang rela bersusah-payah membacakan buku, koran, atau juga surat kepada orang-orang tuna netra, sehingga mereka bisa belajar, bisa dapat informasi, dan bisa mendapatkan ilmu yang lebih luas.

    Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, “ALLOH SWT mempunyai seratus rahmat (kasih sayang), dan menurunkan satu rahmat (dari seratus rahmat) kepada jin, manusia, binatang, dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling berbelas-kasih dan berkasih sayang, dan dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi anak-anaknya. Dan (ALLOH SWT) menangguhkan 99 bagian rahmat itu sebagai kasih sayang-Nya pada hari kiamat nanti.” (H.R. Muslim).

    Dari hadis ini nampaklah, bahwa walau hanya satu rahmat-Nya yang diturunkan ke bumi, namun dampaknya bagi seluruh makhluk sungguh luar biasa dahsyatnya. Karenanya, sudah sepantasnya jikalau kita merindukan kasih sayang, perhatian, dan perlindungan ALLOH SWT, tanyakanlah kembali pada diri ini, sampai sejauhmana kita menghidupkan kalbu untuk saling berkasih sayang bersama makhluk lain?!

    Kasih sayang dapat diibaratkan sebuah mata air yang selalu bergejolak keinginannya untuk melepaskan beribu-ribu kubik air bening yang membuncah dari dalamnya tanpa pernah habis. Kepada air yang telah mengalir untuk selanjutnya menderas mengikuti alur sungai menuju lautan luas, mata air sama sekali tidak pernah mengharapkan ia kembali.

    Sama pula seperti pancaran sinar cerah matahari di pagi hari, dari dulu sampai sekarang ia terus-menerus memancarkan sinarnya tanpa henti, dan sama pula, matahari tidak mengharap sedikit pun sang cahaya yang telah terpancar kembali pada dirinya. Seharusnya seperti itulah sumber kasih sayang di kalbu kita, ia benar-benar melimpah terus tidak pernah ada habisnya.

    Tidak ada salahnya agar muncul kepekaan kita menyayangi orang lain, kita mengawalinya dengan menyayangi diri kita dulu. Mulailah dengan menghadapkan tubuh ini ke cermin seraya bertanya-tanya: Apakah wajah indah ini akan bercahaya di akhirat nanti, atau justru sebaliknya, wajah ini akan gosong terbakar nyala api jahannam?

    Tataplah hitamnya mata kita, apakah mata ini, mata yang bisa menatap ALLOH, menatap Rasulullah SAW, menatap para kekasih ALLOH di surga kelak, atau malah akan terburai karena kemaksiyatan yang pernah dilakukannya?

    Bibir kita, apakah ia akan bisa tersenyum gembira di surga sana atau malah bibir yang lidahnya akan menjulur tercabik-cabik?!

    Perhatikan pula tubuh tegap kita, apakah ia akan berpendar penuh cahaya di surga sana, sehingga layak berdampingan dengan si pemiliki tubuh mulia, Rasulullah SAW, atau tubuh ini malah akan membara, menjadi bahan bakar bersama hangusnya batu-batu di kerak neraka jahannam?

    Ketika memandang kaki, tanyakanlah apakah ia senantiasa melangkah di jalan ALLOH sehingga berhak menginjakkannya di surga kelak, atau malah akan dicabik-cabik pisau berduri.

    Bersihnya kulit kita, renungkanlah apakah ia akan menjadi indah bercahaya ataukah akan hitam legam karena gosong dijilat lidah api jahannam? Mudah-mudahan dengan bercermin sambil menafakuri diri, kita akan lebih mempunyai kekuatan untuk menjaga diri kita.

    Jangan pula meremehkan makhluk ciptaan ALLOH, sebab tidaklah ALLOH menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia. Semua yang ALLOH ciptakan syarat dengan ilmu, hikmah, dan ladang amal. Semua yang bergerak, yang terlihat, yang terdengar, dan apasaja karunia dari ALLOH Azza wa Jalla adalah jalan bagi kita untuk bertafakur jikalau hati ini bisa merabanya dengan penuh kasih sayang.

    Dikisahkan di hari akhir datang seorang hamba ahli ibadah kepada ALLOH dengan membawa aneka pahala ibadah, tetapi ALLOH malah mencapnya sebagai ahli neraka, mengapa? Ternyata karena suatu ketika si ahli ibadah ini pernah mengurung seekor kucing sehingga si kucing tidak bisa mencari makan dan tidak pula diberi makan oleh si ahli ibadah ini. Akhirnya mati kelaparanlah si kucing ini. Ternyata walau ia seorang ahli ibadah, laknat ALLOH tetap menimpa si ahli ibadah ini, dan ALLOH menetapkannya sebagai seorang ahli neraka, tiada lain karena tidak hidup kasih sayang di kalbunya.

    Tetapi ada kisah sebaliknya, suatu waktu seorang wanita berlumur dosa sedang beristirahat di pinggir sebuah oase yang berair dalam di sebuah lembah padang pasir. Tiba-tiba datanglah seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya seakan sedang merasakan kehausan yang luar biasa. Walau tidak mungkin terjangkau kerena dalamnya air di oase itu, anjing itu tetap berusaha menjangkaunya, tapi tidak dapat. Melihat kejadian ini, tergeraklah si wanita untuk menolongnya. Dibukalah slopnya untuk dipakai menceduk air, setelah air didapat, diberikannya pada anjing yang kehausan tersebut. Subhanallah, dengan ijin ALLOH, terampunilah dosa wanita ini.

    Demikianlah, jikalau hati kita mampu meraba derita makhluk lain, insya ALLOH keinginan untuk berbuat baik akan muncul dengan sendirinya.

    Kisah lain, ketika suatu waktu ada seseorang terkena penyakit tumor yang sudah menahun. Karena tidak punya biaya untuk berobat, maka berkunjunglah ia kepada orang-orang yang dianggapnya mampu memberi pinjaman biaya. Bagi orang yang tidak hidup kasih sayang dikalbunya, ketika datang orang yang akan meminjam uang ini, justru yang terlintas dalam pikirannya seolah-olah harta yang dimilikinya akan diambil oleh dia, bukannya memberi, malah dia ketakutan hartanya akan habis atau bahkan jatuh miskin.

    Tetapi bagi seorang hamba yang tumbuh kasih sayang di kalbunya, ketika datang yang akan meminjam uang, justru yang muncul rasa iba terhadap penderitaan orang lain. Bahkan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam akan membayangkan bagaimana jikalau yang menderita itu dirinya. Terlebih lagi dia sangat menyadari ada hak orang lain yang dititipkan ALLOH dalam hartanya. Karenanya dia begitu ringan memberikan sesuatu kepada orang yang memang membutuhkan bantuannya.

    Ingatlah, hidupnya hati hanya dapat dibuktikan dengan apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain dengan ikhlas. Apa artinya hidup kalau tidak punya manfaat? Padahal hidup di dunia cuma sekali dan itupun hanya mampir sebentar saja. Tidak ada salahnya kita berpikir terus dan bekerja keras untuk menghidupkan kasih sayang di hati ini. Insya ALLOH bagi yang telah tumbuh kasih sayang di kalbunya, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah Kasih Sayang-Nya akan mengaruniakan ringannya mencari nafkah dan ringan pula dalam menafkahkannya di jalan ALLOH, ringan dalam mencari ilmu dan ringan pula dalam mengajarkannya kepada orang lain, ringan dalam melatih kemampuan diri dan ringan pula dalam membela orang lain yang teraniaya, subhanallah.

    Cara lain yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk menghidupkan hati nurani agar senantiasa diliputi nur kasih sayang adalah dengan melakukan banyak silaturahmi kepada orang-orang yang dilanda kesulitan, datang ke daerah terpencil, tengok saudara-saudara kita di rumah sakit, atau pula dengan selalu mengingat umat Islam yang sedang teraniaya, seperti di Bosnia, Checnya, Ambon, Halmahera, atau di tempat-tempat lainnya.

    Belajarlah terus untuk melihat orang yang kondisinya jauh di bawah kita, insya ALLOH hati kita akan melembut karena senantiasa tercahayai pancaran sinar kasih sayang. Dan hati-hatilah bagi orang yang bergaulnya hanya dengan orang-orang kaya, orang-orang terkenal, para artis, atau orang-orang elit lainnya, karena yang akan muncul justru rasa minder dan perasaan kurang dan kurang akan dunia ini, masya ALLOH

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:26 am on 3 March 2014 Permalink | Balas  

    Nasehat Imam Hasan Al Basri

    Imam Hasan Al Basri berkata pada murid-muridnya. Jika engkau ingin ketenangan hati dan ketentraman jiwa maka:

    1. Tadzabur Qur’an (baca Al Qur’an dengan artinya)
    2. Istiqomah puasa sunnat (senin & kamis).
    3. Shalat tahajud (qiyamul lail).
    4. Muhasabah (menghisab diri) di sepertiga malam.
    5. Bergaulah dengan orang-orang sholeh.

    Insya Alloh…

    Alloh akan memberi kebersihan hati dengan lisan yang terjaga. Kecerdasan, kearifan dan bijaksana dalam berfikir, serta adil dan ikhlas dalam mengambil keputusan

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:16 am on 1 March 2014 Permalink | Balas  

    ghibahHukum Mengolok-Olok Orang Teguh Menjalankan Ajaran Agama

    Mengolok-olok orang-orang yang berpegang teguh dengan perintah Allah dan Rasul-Nya disebabkan karena mereka itu berpegang teguh (konsisten) dengan perintah itu, hukumnya haram, dan berbahaya sekali terhadap dirinya. Karena dikhawatirkan kebenciannya terhadap mereka itu disebabkan kebenciannya terhadap kondisi mereka yang berpegang teguh dengan ajaran agama Allah, di saat itu, pengolok-olokannya terhadap mereka menjadi pengolok-olokan terhadap jalan yang mereka tempuh (ajaran yang mereka pegang), maka mereka menyerupai orang yang telah dikatakan Allah tentang mereka :

    “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman”. At-Taubah : 65,66).

    Sesungguhnya ayat ini turun kepada satu kaum dari orang-orang munafik yang mereka berkata: “Kami tidak melihat mereka ini seperti qari (pembaca-pembaca) kami -yang mereka maksudkan adalah Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- dan para sahabatnya- yang lebih suka makan, yang lebih pendusta lidahnya, dan yang lebih penakut dihadapan musuh.

    Lalu Allah menurunkan ayat ini terhadap diri mereka. Berhati-hatilah orang yang mengolok-olok penegak kebenaran, dikarenakan mereka itu dari penegak agama. Sesungguhnya Allah telah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lewat di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan:

    “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”. Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Al-Muthaffifiin : 29-36).

    ***

    Sumber: Jawaban Syeikh Ibnu Utsaimin (diambil dari kitab kecil ” Asilah Muhimmah”)

     
  • erva kurniawan 7:55 am on 28 February 2014 Permalink | Balas  

    uang dinarRiba Merajalela

    Oleh: Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

    Di antara tanda-tanda semakin dekatnya kiamat lagi ialah munculnya riba secara merajalela di tengah-tengah masyarakat dan ketidakpedulian mereka terhadap makanan yang haram. Di dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

    “Artinya : Menjelang datangnya hari kiamat akan merajalela riba”. (Diriwayatkan oleh Thabrani sebagaimana termaktub dalam At-Targhib Wat-tarhib karya Al-Mundziri 3:9, dan beliau berkata, “Perawi-perawinya adalah perawi-perawi shahih”).

    Dan di dalam kitab Shahih diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Sungguh akan datang pada manusia suatu zaman yang pada waktu itu orang tidak memperdulikan lagi harta yang diperolehnya, apakah dari jalan halal atau dari jalan haram”. (Shahih Bukhari, Kitab Al-Buyu’, Bab Qaulil-Lah Azza wa Jalla : “Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu ta’kuluu ar-ribaa” 4 : 313, dan Sunan Nasa’i 7 : 234, Kitab Al-Buyu’, Bab Ijtinaabi Asy-Syubuhaat fi Al-Kasbi).

    Kandungan atau isi hadits-hadits ini telah terbukti pada banyak kaum muslimin pada masa sekarang ini. Mereka tidak memilih yang halal lagi dalam berusaha, bahkan mereka kumpulkan saja harta baik dari jalan halal maupun dari jalan haram. Dan kebanyakan hal ini karena keterlibatan mereka dalam muamalah riba. Banyak bank yang berpaktik secara ribawi, dan banyak pula orang yang terjerembab ke dalammnya.

    Betapa jelinya Imam Bukhari hingga beliau memasukkan hadits ini dalam Bab Firman Allah Azza wa Jalla “Yaa ayyuhal-ladziina amanuu laa ta’kulur-ribaa adh’aafan mudhoo’affah” ayat 130 surat Ali Imran (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba secara berlipat ganda), untuk mejelaskan, bahwa praktik memakan riba secara berlipat ganda itu akan terjadi secara leluasa, yakni apabila manusia tidak mempedulikan cara mencari harta serta tidak membedakan antara yang halal dan yang haram.

    ***

    Disalin dari buku Asyratus Sa’ah Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA Edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 108. terbitan Pustaka Mantiq. Penerjemah Drs As’ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi.

     
  • erva kurniawan 7:50 am on 27 February 2014 Permalink | Balas  

    Benarkah Poligami Sunah? 

    poligami2Benarkah Poligami Sunah..?

    UNGKAPAN “poligami itu sunah” sering digunakan sebagai pembenaran poligami. Namun, berlindung pada pernyataan itu, sebenarnya bentuk lain dari pengalihan tanggung jawab atas tuntutan untuk berlaku adil karena pada kenyataannya, sebagaimana ditegaskan Al Quran, berlaku adil sangat sulit dilakukan (An-Nisa: 129).

    DALIL “poligami adalah sunah” biasanya diajukan karena sandaran kepada teks ayat Al Quran (QS An-Nisa, 4:2-3) lebih mudah dipatahkan. Satu-satunya ayat yang berbicara tentang poligami sebenarnya tidak mengungkapkan hal itu pada konteks memotivasi, apalagi mengapresiasi poligami. Ayat ini meletakkan poligami pada konteks perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang.

    Dari kedua ayat itu, beberapa ulama kontemporer, seperti Syekh Muhammad Abduh, Syekh Rashid Ridha, dan Syekh Muhammad al-Madan – ketiganya ulama terkemuka Azhar Mesir – lebih memilih memperketat.

    Lebih jauh Abduh menyatakan, poligami adalah penyimpangan dari relasi perkawinan yang wajar dan hanya dibenarkan secara syar’i dalam keadaan darurat sosial, seperti perang, dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan dan kezaliman (Tafsir al-Manar, 4/287).

    Anehnya, ayat tersebut bagi kalangan yang propoligami dipelintir menjadi “hak penuh” laki-laki untuk berpoligami. Dalih mereka, perbuatan itu untuk mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW. Menjadi menggelikan ketika praktik poligami bahkan dipakai sebagai tolok ukur keislaman seseorang: semakin aktif berpoligami dianggap semakin baik poisisi keagamaannya. Atau, semakin bersabar seorang istri menerima permaduan, semakin baik kualitas imannya. Slogan-slogan yang sering dimunculkan misalnya, “poligami membawa berkah”, atau “poligami itu indah”, dan yang lebih populer adalah “poligami itu sunah”.

    Dalam definisi fikih, sunah berarti tindakan yang baik untuk dilakukan. Umumnya mengacu kepada perilaku Nabi. Namun, amalan poligami, yang dinisbatkan kepada Nabi, ini jelas sangat distorsif. Alasannya, jika memang dianggap sunah, mengapa Nabi tidak melakukannya sejak pertama kali berumah tangga?

    Nyatanya, sepanjang hayatnya, Nabi lebih lama bermonogami daripada berpoligami. Bayangkan, monogami dilakukan Nabi di tengah masyarakat yang menganggap poligami adalah lumrah. Rumah tangga Nabi SAW bersama istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA, berlangsung selama 28 tahun. Baru kemudian, dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Dari kalkulasi ini, sebenarnya tidak beralasan pernyataan “poligami itu sunah”.

    Sunah, seperti yang didefinisikan Imam Syafi’i (w. 204 H), adalah penerapan Nabi SAW terhadap wahyu yang diturunkan. Pada kasus poligami Nabi sedang mengejawantahkan Ayat An-Nisa 2-3 mengenai perlindungan terhadap janda mati dan anak-anak yatim. Dengan menelusuri kitab Jami’ al-Ushul (kompilasi dari enam kitab hadis ternama) karya Imam Ibn al-Atsir (544-606H), kita dapat menemukan bukti bahwa poligami Nabi adalah media untuk menyelesaikan persoalan sosial saat itu, ketika lembaga sosial yang ada belum cukup kukuh untuk solusi.

    Bukti bahwa perkawinan Nabi untuk penyelesaian problem sosial bisa dilihat pada teks-teks hadis yang membicarakan perkawinan-perkawinan Nabi. Kebanyakan dari mereka adalah janda mati, kecuali Aisyah binti Abu Bakr RA.

    Selain itu, sebagai rekaman sejarah jurisprudensi Islam, ungkapan “poligami itu sunah” juga merupakan reduksi yang sangat besar. Nikah saja, menurut fikih, memiliki berbagai predikat hukum, tergantung kondisi calon suami, calon istri, atau kondisi masyarakatnya. Nikah bisa wajib, sunah, mubah (boleh), atau sekadar diizinkan. Bahkan, Imam al-Alusi dalam tafsirnya, Rûh al-Ma’âni, menyatakan, nikah bisa diharamkan ketika calon suami tahu dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan mencelakakannya. Demikian halnya dengan poligami. Karena itu, Muhammad Abduh dengan melihat kondisi Mesir saat itu, lebih memilih mengharamkan poligami.

    Nabi dan larangan poligami

    Dalam kitab Ibn al-Atsir, poligami yang dilakukan Nabi adalah upaya transformasi sosial (lihat pada Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 108-179). Mekanisme poligami yang diterapkan Nabi merupakan strategi untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka. Sebaliknya, yang dilakukan Nabi adalah membatasi praktik poligami, mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam berpoligami. Ketika Nabi melihat sebagian sahabat telah mengawini delapan sampai sepuluh perempuan, mereka diminta menceraikan dan menyisakan hanya empat. Itulah yang dilakukan Nabi kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Dan, inilah pernyataan eksplisit dalam pembatasan terhadap kebiasan poligami yang awalnya tanpa batas sama sekali.

    Pada banyak kesempatan, Nabi justru lebih banyak menekankan prinsip keadilan berpoligami. Dalam sebuah ungkapan dinyatakan : “Barang siapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus” (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 168, nomor hadis: 9049). Bahkan, dalam berbagai kesempatan, Nabi SAW menekankan pentingnya bersikap sabar dan menjaga perasaan istri.

    Teks-teks hadis poligami sebenarnya mengarah kepada kritik, pelurusan, dan pengembalian pada prinsip keadilan. Dari sudut ini, pernyataan “poligami itu sunah” sangat bertentangan dengan apa yang disampaikan Nabi. Apalagi dengan melihat pernyataan dan sikap Nabi yang sangat tegas menolak poligami Ali bin Abi Thalib RA. Anehnya, teks hadis ini jarang dimunculkan kalangan propoligami. Padahal, teks ini diriwayatkan para ulama hadis terkemuka: Bukhari, Muslim, Turmudzi, dan Ibn Majah.

    Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

    Sama dengan Nabi yang berbicara tentang Fathimah, hampir setiap orangtua tidak akan rela jika putrinya dimadu. Seperti dikatakan Nabi, poligami akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya. Jika pernyataan Nabi ini dijadikan dasar, maka bisa dipastikan yang sunah justru adalah tidak mempraktikkan poligami karena itu yang tidak dikehendaki Nabi. Dan, Ali bin Abi Thalib RA sendiri tetap bermonogami sampai Fathimah RA wafat.

    Poligami tak butuh dukungan teks

    Sebenarnya, praktik poligami bukanlah persoalan teks, berkah, apalagi sunah, melainkan persoalan budaya. Dalam pemahaman budaya, praktik poligami dapat dilihat dari tingkatan sosial yang berbeda. Bagi kalangan miskin atau petani dalam tradisi agraris, poligami dianggap sebagai strategi pertahanan hidup untuk penghematan pengelolaan sumber daya. Tanpa susah payah, lewat poligami akan diperoleh tenaga kerja ganda tanpa upah. Kultur ini dibawa migrasi ke kota meskipun stuktur masyarakat telah berubah. Sementara untuk kalangan priayi, poligami tak lain dari bentuk pembendamatian perempuan. Ia disepadankan dengan harta dan takhta yang berguna untuk mendukung penyempurnaan derajat sosial lelaki.

    Dari cara pandang budaya memang menjadi jelas bahwa poligami merupakan proses dehumanisasi perempuan. Mengambil pandangan ahli pendidikan Freire, dehumanisasi dalam konteks poligami terlihat mana kala perempuan yang dipoligami mengalami self-depreciation. Mereka membenarkan, bahkan bersetuju dengan tindakan poligami meskipun mengalami penderitaan lahir batin luar biasa. Tak sedikit di antara mereka yang menganggap penderitaan itu adalah pengorbanan yang sudah sepatutnya dijalani, atau poligami itu terjadi karena kesalahannya sendiri.

    Dalam kerangka demografi, para pelaku poligami kerap mengemukakan argumen statistik. Bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah kerja bakti untuk menutupi kesenjangan jumlah penduduk yang tidak seimbang antara lelaki dan perempuan. Tentu saja argumen ini malah menjadi bahan tertawaan. Sebab, secara statistik, meskipun jumlah perempuan sedikit lebih tinggi, namun itu hanya terjadi pada usia di atas 65 tahun atau di bawah 20 tahun. Bahkan, di dalam kelompok umur 25-29 tahun, 30-34 tahun, dan 45-49 tahun jumlah lelaki lebih tinggi. (Sensus DKI dan Nasional tahun 2000; terima kasih kepada lembaga penelitian IHS yang telah memasok data ini).

    Namun, jika argumen agama akan digunakan, maka sebagaimana prinsip yang dikandung dari teks-teks keagamaan itu, dasar poligami seharusnya dilihat sebagai jalan darurat. Dalam kaidah fikih, kedaruratan memang diperkenankan. Ini sama halnya dengan memakan bangkai; suatu tindakan yang dibenarkan manakala tidak ada yang lain yang bisa dimakan kecuali bangkai.

    Dalam karakter fikih Islam, sebenarnya pilihan monogami atau poligami dianggap persoalan parsial. Predikat hukumnya akan mengikuti kondisi ruang dan waktu. Perilaku Nabi sendiri menunjukkan betapa persoalan ini bisa berbeda dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lain. Karena itu, pilihan monogami-poligami bukanlah sesuatu yang prinsip. Yang prinsip adalah keharusan untuk selalu merujuk pada prinsip-prinsip dasar syariah, yaitu keadilan, membawa kemaslahatan dan tidak mendatangkan mudarat atau kerusakan (mafsadah).

    Dan, manakala diterapkan, maka untuk mengidentifikasi nilai-nilai prinsipal dalam kaitannya dengan praktik poligami ini, semestinya perempuan diletakkan sebagai subyek penentu keadilan. Ini prinsip karena merekalah yang secara langsung menerima akibat dari poligami. Dan, untuk pengujian nilai-nilai ini haruslah dilakukan secara empiris, interdisipliner, dan obyektif dengan melihat efek poligami dalam realitas sosial masyarakat. Dan, ketika ukuran itu diterapkan, sebagaimana disaksikan Muhammad Abduh, ternyata yang terjadi lebih banyak menghasilkan keburukan daripada kebaikan. Karena itulah Abduh kemudian meminta pelarangan poligami.

    Dalam konteks ini, Abduh menyitir teks hadis Nabi SAW: “Tidak dibenarkan segala bentuk kerusakan (dharar) terhadap diri atau orang lain.” (Jâmi’a al-Ushûl, VII, 412, nomor hadis: 4926). Ungkapan ini tentu lebih prinsip dari pernyataan “poligami itu sunah”.

    Penulis :

    Faqihuddin Abdul Kodir Dosen STAIN Cirebon dan peneliti Fahmina Institute Cirebon, Alumnus Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Suriah

     
  • erva kurniawan 7:44 am on 26 February 2014 Permalink | Balas  

    amanah semutRiya Lebih Tersembunyi Daripada Rambatan Semut

    Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy (Ibnu Qudamah)

    Pengantar:

    Duhai betapa beruntung pembaca ini dan betapa rugi penulisnya. Antum mendapatkan air jernih darinya sementara penulisnya mendapat air keruh. Tapi inilah perdagangan yang saya tawarkan. Bila hati pembaca lebih bersih maka itulah yang diharapkan, dengan tanpa terkotorinya hati penulis tentunya. Bila yang terjadi adalah sebaliknya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tempat meminta pertolongan, dan segala kebaikan yang ada berasal dari Allah Yang Maha Tunggal semata.

    Al-’alamah Ibnu Qudamah memberikan uraian tentang Riya’, Hakekat, Pembagian dan Celaannya, termasuk keterangan riya’ yang menggugurkan amal dan yang tidak, obat dan cara mengobati riya’ dan sebagainya. Uraiannya yang berdasar keterangan dari qur’an dan sunnah cukup jelas, dapat membuat takut orang yang terlalu beharap hingga meremehkan dan memberikan harapan kepada orang yang terlalu takut. Berikut ini saya kutipkan beberapa paragraf dari nasehat beliau yang bisa di jadikan perhatian agar kita bisa hati-hati, karena ini masalah hati. (ALS) Ketahuilah bahwa kata riya’ itu berasal dari kata ru’yah (melihat), sedangkan sum’ah (reputasi) berasal dari kata sami’a (mendengar). Orang yang riya’ menginginkan agar orang-orang bisa melihat apa yang dilakukannya.

    Riya’ itu ada yang tampak dan ada pula yang tersembunyi. Riya’ yang tampak ialah yang dibangkitkan amal dan yang dibawanya. Yang sedikit tersembunyi dari itu adalah riya’ yang tidak dibangkitkan amal, tetapi amal yang sebenarnya ditujukan bagi Allah menjadi ringan, seperti orang yang biasa tahajud setiap malam dan merasa berat melakukannya, namun kemudian dia menjadi ringan mengerjakannya tatkala ada tamu di rumahnya. Yang lebih tersembunyi lagi ialah yang tidak berpengaruh terhadap amal dan tidak membuat pelaksanaannya mudah, tetapi sekalipun begitu riya’ itu tetap ada di dalam hati. Hal ini tidak bisa diketahui secara pasti kecuali lewat tanda-tanda.

    Tanda yang paling jelas adalah, dia merasa senang jika ada orang yang melihat ketaatannya. Berapa banyak orang yang ikhlas mengerjakan amal secara ikhlas dan tidak bermaksud riya’ dan bahkan membencinya. Dengan begitu amalnya menjadi sempurna. Tapi jika ada orang-orang yang melihat dia merasa senang dan bahkan mendorong semangatnya, maka kesenangan ini dinamakan riya’ yang tersembunyi. Andaikan orang-orang tidak melihatnya, maka dia tidak merasa senang. Dari sini bisa diketahui bahwa riya’ itu tersembunyi di dalam hati, seperti api yang tersembunyi di dalam batu. Jika orang-orang melihatnya, maka bisa menimbulkan kesenangannya. Kesenangan ini tidak membawanya kepada hal-hal yang dimakruhkan, tapi ia bergerak dengan gerakan yang sangat halus, lalu membangkitkannya untuk menampakkan amalnya, secara tidak langsung maupun secara langsung.

    Kesenangan atau riya’ ini sangat tersembunyi, hampir tidak mendorongnya untuk mengatakannya, tapi cukup dengan sifat-sifat tertentu, seperti muka pucat, badan kurus, suara parau, bibir kuyu, bekas lelehan air mata dan kurang tidur, yang menunjukkan bahwa dia banyak shalat malam.

    Yang lebih tersembunyi lagi ialah menyembunyikan sesuatu tanpa menginginkan untuk diketahui orang lain, tetapi jika bertemu dengan orang-orang, maka dia merasa suka merekalah yang lebih dahulu mengucapkan salam, menerima kedatangannya dengan muka berseri dan rasa hormat, langsung memenuhi segala kebutuhannya, menyuruhnya duduk dan memberinya tempat. Jika mereka tidak berbuat seperti itu, maka ada yang terasa mengganjal di dalam hati.

    Orang-orang yang ikhlas senantiasa merasa takut terhadap riya’ yang tersembunyi, yaitu yang berusaha mengecoh orang-orang dengan amalnya yang shalih, menjaga apa yang disembunyikannya dengan cara yang lebih ketat daripada orang-orang yang menyembunyikan perbuatan kejinya. Semua itu mereka lakukan karena mengharap agar diberi pahala oleh Allah pada Hari Kiamat.

    Noda-noda riya’ yang tersembunyi banyak sekali ragamnya, hampir tidak terhitung jumlahnya. Selagi seseorang menyadari darinya yang terbagi antara memperlihatkan ibadahnya kepada orang-orang dan antara tidak memperlihatkannya, maka di sini sudah ada benih-benih riya’. Tapi tidak setiap noda itu menggugurkan pahala dan merusak amal. Masalah ini harus dirinci lagi secara detail.

    Telah disebutkan dalam riwayat Muslim, dari hadits Abu Dzarr Radliyallahu Anhu, dia berkata, “Ada orang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang orang yang mengerjakan suatu amal dari kebaikan dan orang-orang memujinya?” Beliau menjawab, “Itu merupakan kabar gembira bagi orang Mukmin yang diberikan lebih dahulu di dunia.”

    Namun jika dia ta’ajub agar orang-orang tahu kebaikannya dan memuliakannya, berarti ini adalah riya’.

    ***

    Dipetik dari: Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy , “Muhtashor Minhajul Qoshidin, Edisi Indonesia: Minhajul Qashidhin Jalan Orang-orang yang Mendapat Petunjuk”, penerjemah: Kathur Suhardi, Pustaka al-Kautsar, Jakarta Timur, 1997, hal. 271-286.

     
  • erva kurniawan 7:35 am on 25 February 2014 Permalink | Balas  

    gandeng-tanganPacaran = Percobaan Tindak Pidana Perzinahan

    “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalan hukum Alloh, jika kamu beriman kepada Alloh dan hari akhir, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman” (QS.An-Nuur:2)

    Oleh: Haryanto

    Tidak di kampus, tidak di kantor, tidak di pertokoan, tidak di bus, tidak di kereta api, lebih-lebih di tempat-tempat hiburan dengan mudah kita akan temukan dua sejoli yang belum terikat tali pernikahan asyik berduaan, bergandengan tangan bahkan berpelukan mesra. Kadang kita menjadi kikuk karenanya. Mau ditegur jadi ribut. Tidak ditegur merusak pandangan. Akibatnya perjalanan kita menjadi tidak nyaman.

    Itulah pacaran. Salah satu budaya sekaligus gaya hidup kaum muda Indonesia. Dengan alasan penjajakan pra nikah, berbagai carapun dilakukannya. Yang penting katanya “Tidak MBA (Married By Accident”. Meskipun realitas membuktikan tidak sedikit para remaja yang hamil sebelum nikah. Dan telah melakukan hubungan badan sesama lawan jenisnya.

    Sehubungan dengan itu, mari kita kaji masalah ini dalam tinjauan hukum positif Indonesia. Pada saat yang sama kita juga perlu membandingkannya dengan hukum Islam, sebagai referensi dan pedoman tertingggi bagi kehidupan kaum muslimin. Sehingga dengan ini, kita sebagai kaum muslimin dapat menentukan sikap berkaitan dengan masalah pacaran ini. Baik terhadap diri kita, saudara kita, anak kita, tetangga kita atau teman dan kolega kita.

    Dalam Hukum Positif

    Dalam KUHP Indonesia, kita tidak temukan istilah pacaran. Namun bukan berarti masalah ini tidak diatur dalam KUHP. Karena dalam Bab XIV diatur masalah kejahatan terhadap kesopanan. Khususnya pasal 281 yang menyatakan bahwa barang siapa yang sengaja merusak kesopanan dimuka umum diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan. Yang dimaksud dengan merusak kesopanan ini, R. Susilo dalam bukunya “Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Serta Komentar-Komentarnya” antara lain yaitu mencium lawan jenis dsb. Dan sebagainya disini bisa berarti pula berpelukan tergantung kebijakan hakim dalam memtuskan masalah ini. Tergantung pula dengan adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku pada sebuah masyarakat.

    Yang perlu digarisbawahi tindakan ini harus dilakukan di depan umum. Diantaranya yaitu di terminal, stasiun, tempat perbelanjaan, gedung bioskop, kampus dan perkantoran. Dan harus dilakukan dengan sengaja. Yang dibuktikan dengan tindakan saling berpelukan atau berciuman di depan umum. Sedangkan bagi mereka yang melakukan diluar tempat umum tidak dapat dikenakan delik ini. Karena unsur di tempat umum tidak terpenuhi.

    Dari ketentuan itu sebenarnya cukup jelas bahwa pacaran yang dibarengi dengan pelukan atau berciuman di depan umum dapat dianggap sebagai kejahatan yang diancam dengan penjara 2 tahun 8 bulan.

    Masalahnya adalah karena terjadinya pergeseran budaya, sehingga tindakan semacam itu sepertinya telah menjadi kebiasaan dan dianggap wajar oleh sebagian besar orang tua, pendidik dan aparat penegak hukum lainnya. Ini menunjukkan bahwa tingkat kesopanan bangsa Indonesia telah menurun. Demikian halnya rasa malu yang dimiliki bangsa ini. Padahal Rasulullah menyatakan Al Hayaau minal iiman (malu adalah sebagian dari iman). Lalu dimana letak keimanan kita jika membiarkan anak-anak kita melakukan hal itu ???.

    Menurut Hukum Islam

    Sebelum kita berbicara masalah pacaran dalam tinjauan hukum Islam kita perlu lebih dahulu memahami maslah hudud, qishash dan ta’zir. Yang dimaksud dengan hudud adalah ketentuan – ketentuan pidana yang telah diatur secara tegas dan jelas termasuk jenis hukumannya dalam Alqur’an atau sunnah Nabi dan yang merupakan hak prerogratif Allah Swt. Semisal mencuri, menyamun, berzina, dan memfitnah.

    Sedangkan qishash adalah pembalasan setimpal sehubungan dengan pembunuhan atau penganiayaan dimana hak menentukan hukumannya diserahkan kepada korban atau ahli waris korban. Apakah ingin membalas yang setimpal, membayar denda atau memaafkan pelakunya.

    Adapun ta’zir adalah ketentuan yang diatur oleh penguasa atau hakim selain dari kedua hal diatas (hudud dan qishash). Fungsinya yaitu untuk mengisi kekosongan hukum. Semisal masalah percobaan pembunuhan atau percobaan pencurian atau percobaan perzinahan yang tidak diatur dalam syariat Islam. Disini penguasa atau hakim diberikan wewenang untuk menentukan besarnya hukuman yang harus diterima oleh pelaku tindak pidana.

    Kembali ke masalah pacaran, penulis juga cukup terkejut ketika membaca buku Al Ahkam Al Sulthaniyyah; halaman 459 karya Imam Al Mawardi. Ternyata dalam hukum Islam pacaran dimasukkan sebagai salah satu bentuk percobaan tindak pidana perzinahan. Dimana hukumannya ditentukan oleh ta’zir penguasa atau hakim.

    Menurut beliau pacaran yang dibarengi dengan ngobrol berduaan dalam satu kamar / rumah maka dikenakan hukuman cambuk sebanyak tiga puluh kali (30). Jika berduaan dan berpelukan tanpa pakaian namun belum sampai bersetubuh dikenakan hukuman cambuk sebanyak enam puluh (60) kali. Jika ngobrol dijalanan maka dikenakan dua puluh (20) cambukan. Jika saling mengikuti dengan saling memberikan isyarat maka dikenakan hukuman cambuk sebanyak sepuluh (10) kali.

    Hal itu selaras dengan ayat ayat 32 surat Al Israa’ yang artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk”.

    Disini cukup jelas bahwa yang dilarang bukan hanya zina, bahkan segala sesuatu yang dapat menghantarkan seseorang jatuh kepada perbuatan zina. Satu diantaranya adalah pacaran. Karena pacaran akan menghantarkan pada zina hati, penglihatan, pendengaran dan tangan.

    Karena itu dalam ayat yang lain Allah menyuruh kita untuk menundukkan pandangan (ghadhul bashar). Firman Allah artinya :

    “Katakanlah kepada laki-laki beriman “ hendaklah mereka menundukkan / menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya …”(An Nuur : 30).

    Jalan Keluar

    Masalah yang timbul sekarang adalah bagaimana dengan anak-anak, teman atau saudara kita yang saat ini pacaran. Haruskah kita cambuk sesuai hukum Islam ?. Tentu saja tidak semudah itu, karena hukum pidana Islam belum diformalkan di negeri kita. Jalan keluar yang paling mungkin yaitu dengan cara mensegerakan mereka menikah. Kalau mereka masih sekolah atau kuliyah bisa dengan cara nikah gantung sebagaimana terjadi dalam hukum adat masyarakat jawa. Yaitu menikahkan secara resmi tapi belum boleh berkumpul dalam satu rumah dan melakukan hubungan suami istri.

    Hal itu juga pernah dicontohkan Rasulullah ketika menikahi ‘Aisyah, karena saat itu Aisyah belum menginjak baligh. Dan Rasulullah baru berkumpul dalam satu rumah setelah ‘Aisyah dewasa atau baligh. Model nikah semacam inilah yang seharusnya kita populerkan. Sehingga pacarannya menjadi resmi, karena dilakukan setelah ijab kabul. Sehingga ketika sang suami yang nikah gantung apel pada malam minggu akan merasa tenang dan nyaman. Tidak takut ditangkap hansip apalagi dicambuk hingga puluhan kali.

    Lalu bagaimana dengan yang belum pacaran dan belum menikah. Jalan keluarnya yaitu dengan cara mencari istri lewat orang tua, ustadz atau teman. Apabila sudah cocok setelah melakukan penyelidikan terhadap sang calon segera saja dilamar dan dinikahi. Hal ini pernah dicontohkan oleh orang tua kita. Meskipun mereka tidak berpacaran toh anaknya banyak dan perkawinannya kekal hingga akhir hayat. Ini sangat berbeda dengan para artis dan anak muda sekarang, meskipun berpacaran cukup lama, tapi toh tingkat perceraiannya cukup tinggi.

    Model pernikahan semacam itu juga sudah mulai dipraktekkan oleh para aktivis dakwah kampus dan anak-anak tarbiyyah Islamiyyah. Dan alhamdulillah menurut pengamatan penulis perjalanan rumah tangga mereka berjalan dengan baik, aman dan nyaman. Jika anda masih ragu-ragu jangan segan-segan bacalah buku “Indahnya Pernikahan Dini” atau buku “Berpacaran Dalam Islam”. Mudah-mudahan dengan itu budaya pacaran lambat laun akan hilang dari kehidupan masyarakat Indonesia yang mengaku religius ini. Wallahu ‘alam. (pay/alhikmah online)

     
  • erva kurniawan 2:06 am on 22 February 2014 Permalink | Balas  

    muslimat-air-mata1Tetesan Air Mata

    Pernah menangis? Pasti pernah ya, paling tidak sekali seumur hidup kita pasti menangis, yaitu saat dilahirkan. Saat itu uraian tetesan air di sudut mata menjadi kebahagiaan orang-orang yang mengasihi kita. Lalu, apakah air mata itu identik dengan kelemahan, bahkan kecengengan? Mungkin iya, tapi mungkin juga tidak. Air mata bisa juga menjadi berharga atau malah tidak berharga lho.

    Seseorang lelaki yang sesenggukan karena kekasihnya telah pergi meninggalkan dirinya, bisa jadi air mata saat itu tidak berharga sama sekali. Demikian juga uraian air mata seorang wanita yang ‘mengorbankan harga dirinya’ kepada Arjuna, Sang Pemetik Cinta, justru pada saat cinta mereka sebenarnya belum diikat dengan ikatan suci, maka saat itu air mata hanyalah kesia-siaan.

    Namun air mata juga bisa menjadi sangat berharga, bahkan sangat berharga. Di dunia, sebagai contoh, air mata bisa menjadi tema tulisan yang laku dijual dan menjadi tema yang tak pernah henti-hentinya mengalir ke benak banyak penulis.

    Pernah tahu buku-buku yang pernah laris di Jepang? Di antara buku-buku terlaris itu adalah “Gotan Fumanzoku”, karya autobiografis Hirotada Ototake, seorang pria yang lahir tanpa kaki dan tangan namun tetap bersemangat dalam hidupnya, menamatkan studinya di Universitas Waseda dan pernah menjadi presenter berita olahraga di televisi.

    Ada pula buku yang lain, yaitu “Dakara Anata mo Ikinuite”, sebuah autobiografi Mitsuyo Ohira, seorang wanita yang menjadi sasaran olok-olok ketika duduk di sekolah menengah. Ohira san pernah mencoba bunuh diri ketika remaja, menikah dengan seorang gangster pada usia enam belas tahun, bercerai, namun kemudian berhasil bangkit dari masa lalunya dan kini menjadi pengacara. Kisah-kisah haru seperti ini dan menguras air mata juga banyak diminati masyarakat pembaca di Jepang.

    Air mata memang ibarat hujan yang jatuh dari langit pada lahan hati yang tandus, gersang dan kering kerontang. Ia bisa melunakkan hati dan jiwa yang keras membatu, perlahan lunak dan menjadi peka terhadap lingkungan sosial.

    Dalam Islam, air mata sangat berharga nilainya saat penyesalan, kerinduan pada manusia-manusia yang tawadhu’. Menyiram kegersangan taman hati dan jiwa, serta qalbu yang gersang dengan berbagai nista hingga perlahan pupus, bagaikan debu-debu yang hanyut terbawa arus oleh butiran-butiran do’a yang dimunajatkan kepada-Nya.

    Mahal… sungguh sangat mahal harganya tetesan air mata yang mengalir saat khusuk menghadap-Nya, bahkan salah satu dari dua tetesan yang disukai Rasulullah SAW adalah air mata yang mengalir karena rasa takut dan rindu kepada Allah SWT. Beliau, kekasih Allah, merengguk, menumpahkan air mata karena penuh harap untuk berjumpa dengan-Nya. Abu Bakar ash-Shidiq r.a. pun senantiasa sesegukan ketika menegakkan sholat.

    Seorang mujahid serta sekaligus mujaddid yang pernah hidup di dunia ini, Hasan al Banna juga pernah menguraikan air matanya karena memikirkan ummat ini. Betapa sang mujahid menginginkan agar ummat mengetahui bahwa mereka lebih dicintai daripada dirinya sendiri, sesaat pun kami tidak akan pernah menjadi musuh kalian. Betapa bangganya beliau ketika jiwa-jiwa ini gugur sebagai penebus kehormatan mereka, atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan dan terwujudnya cita-cita Islam. Rasa cinta yang mengharu-biru hati, menguasai perasaan bahkan mencabut rasa ngantuk di pelupuk mata hingga membuat beliau memeras air matanya. Air mata yang mengalir karena menyaksikan bencana yang mencabik-cabik ummat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan serta pasrah pada keputusasaan.

    Lalu, bagaimanakah dengan kita? Takkala kita lahir menangis, namun orang-orang di sekeliling kita tertawa bahagia karena menyambut kelahiran kita. Namun orang-orang yang kita tinggalkan menangis pilu saat kita tutup usia, saat itu apakah kita juga turut menangis ataukah tertawa bahagia karena akan berjumpa dengan Allah SWT? Adakah amal kita lebih banyak dari dosa yang kita lakukan selama hidup di dunia yang singkat ini? Adakah prestasi kita hanya lahir, hidup, mati, kemudian dilupakan orang, bahkan oleh orang-orang terdekat kita? Lalu setelah itu pasrah, rebah di bantalan tanah, cemas menanti pengadilan akhir yang pasti tiba.

    Ya akhi wa ukhti fillah, Semoga Allah SWT menjadikan air mata yang jatuh di sudut-sudut mata kita adalah air mata yang berharga dipandangan-Nya, hingga dapat membersihkan hati yang pekat ini untuk mudah disusupi cahaya Ilahi Rabbi. Semoga air mata ini kelak tidak menjadi tetesan darah karena letihnya kita berteriak dan mengetuk pintu surga yang telah tertutup rapat setelah pengadilan itu nanti.

    Sungguh, tetesan air mata di dunia ini adalah lebih baik bagi kita ketimbang menangis di akhirat nanti, menangislah sebelum datang hari di mana kita semua akan ditangisi, karena itu pasti terjadi.

    Ya Allah, yang manusia harus takuti Angkatlah kami dari lembah maksiat Sampai kami keluar dari dunia Tak bawa beban walau sebesar zarah [Air Mata: from Izzatul Islam]

    Wallahu alam bi showab,

    ***

    Abu Aufa

     
  • erva kurniawan 7:27 am on 19 February 2014 Permalink | Balas  

    ibu dan anak lelakinya berdoaNasehat Luqman Al Hakim Kepada Putranya

    Segala puji bagi Allah SWT, sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, shahabat, keluarga serta orang-orang yang masih berittiba’ (mengikuti) kepada beliau sampai hari kiamat.

    Al Qur’an adalah sumber hukum dan ilmu pengetahuan yang tak pernah kering untuk ditimba, penuh dengan pelajaran, di dalamnya terdapat hikmah dan teladan. Salah satu isi pokok dari Al Qur’an adalah kisah perjalanan kehidupan para nabi dan rasul serta orang-orang saleh dari umat-umat sebelum nabi Muhammad SAW. Hikmah diceritakannya sirah manusia-manusia pilihan itu tidak lain karena besarnya manfaat dari keteladanan iman, sifat dan akhlaq mereka. Maka disini akan saya angkat sebuah kisah Luqman Al Hakim yang penuh dengan hikmah bagi kita semua.

    1. Tidak menyekutukan Allah.

    Sebesar-besar kedzaliman dan kemungkaran adalah menyekutukan Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT

    “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.(Q.S. Luqman:13)

    Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, kecuali ia bertobat dan meninggalkan perbuatannya. Sesungguhnya hanya Allah sajalah yang berhak untuk disembah (Allahu mustahiqqul ‘ibaadah). Dia lah yang berhaq di mintai pertolongan. Hanya kepada-Nyalah segala urusan diserahkan, takut (khouf), berharap (raja’) hanya layak ditujukan kepada Allah swt, bukan kepada yang lainnya

    2. Berbuat baik kepada kedua orang tua.

    Firman Allah SWT.

    “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”( QS.Luqman: 14)

    Di dalam riwayat Bukhari, Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat:

    “Amalan apakah yang dicintai oleh Allah ?Beliau menjawab: Shalat pada waktunya, ia bertanya lagi: Kemudian Apa ?, Beliau menjawab: berbuat baik kepada orang tua, .Ia bertanya lagi: kemudian apa?, Belau menjawab: Jihad di jalan Allah” (shahih Bukhari V/2227, hadits No.5625)

    3. Ketaatan kepada kedua orang tua harus dilandasi oleh ketaatan kepada Allah; karena tidak boleh taat kepada keduanya dalam rangka berbuat maksiat kepada Allah, lebih-lebih menyekutukan Allah ( syirik ). Allah berfirman

    “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”(QS. Luqman: 14).

    4. Mengikuti jalan orang-orang yang kembali kepada Allah SWT

    Firman Allah SWT

    Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(QS. Luqman: 15)

    Disini Luqman memberikan sebuah nasehat kepada anaknya agar ia mengikuti jejak orang-orang yang kembali kepada Allah SWT yaitu para nabi dan rasul serta orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, yang selalu bertaubat kepada Allah SWT, yang telah diberi Allah SWT hidayah, yaitu tetap dalam agama yang hanif yakni Islam.

    5. Allah akan membalas semua perbuatan manusia.

    Firman Allah swt :

    (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.(Q.S: 16)

    “Maka Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (QS. Al Zalzalah: 7-8).

    6. Menegakkan sholat.

    Shalat adalah tiang agama, sehingga ia tidak akan tegak tanpa shalat. Maka sebagai seorang yang beriman kita diwajibkan menegakkannya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Luqman ayat 17 yang berbunyi :

    “Hai anakku, dirikanlah shalat …”

    Shalat dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah SWT.

    …”Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabuut: 45)

    7. Amar Ma’ruf nahi Munkar.

    Ada dua komponen penting dalam Islam yang memberikan sebuah dorongan yang kuat kepada setiap muslim untuk mendakwahkan agama yang dianutnya, yaitu Amar ma’ruf nahi mungkar (memerintahkan berbuat kebajikan dan mencegah yang mungkar). Perintah untuk beramar ma’ruf nahi mungkar sangat banyak di dalam Al Qur’an seperti :

    “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.(QS. Ali Imran:104).

    8. Bersabar terhadap apa yang menimpa kita.

    Sesungguhnya segala cobaan yang menimpa seorang muslim itu adalah merupakan sesuatu yang mesti terjadi karena itulah bentuk ujian (ikhtibar) dari Allah SWT, apakah ia sabar atau tidak ?, firman Allah SWT.

    “Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”(QS. Luqman:17)

    9. Tidak Menyombongkan diri

    Sifat takabur atau merasa besar dihadapan manusia adalah sifat yang dibenci oleh Allah SWT.

    “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

    10. Bersikap pertengahan dalam segala hal dan berakhlaq yang baik

    Islam tidak menghendaki sikap Ghuluw (berlebih-lebihan) juga tidak menginginkan untuk bersikap tahawun (meremehkan) dalam segala hal termasuk juga dalam perkara-perkara yang menurut penilaian sebagian orang dianggap kecil seperti sikap berjalan, berbicara dsb. Allah SWT mengatur itu semua sebagaimana firmanNya:

    “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

    Manusia akan mempunyai nilai jika menampakkan akhlaq yang baik, karena tujun diutusnya Rasulullah SAW selain untuk menyeru kepada Allah (Ad-dakwah ilallah) adalah untuk menyempurnakan Akhlaq dan budi pekerti.

    ***

    Sumber : Tafsir Ibnu Katsir

     
  • erva kurniawan 7:17 am on 17 February 2014 Permalink | Balas  

    nasehat-quran1Bahaya Cinta Dunia

    Ibnu Qayyim al-Jauziyah

    Diceritakan Nabi Isa AS pernah berkata, “Cinta dunia adalah sumber segala kesalahan. Di dalam harta kekayaan itu penyakit yang banyak sekali.” Orang-orang yang ada disekitarnya bertanya, “Apakah penyakit itu?” Beliau menjawab, “Pemiliknya tidak akan selamat dari sifat berbangga diri dan angkuh.” Mereka berkata, “Bagaimana jika kita bisa selamat?” Nabi Isa AS menjawab, “Dia akan sibuk mengurusnya, dan terlupakan dari dzikir terhadap Allah.”

    Cinta dunialah yang memakmurkan neraka dengan dipenuhi oleh para pelakunya. Mabuk karena cinta dunia lebih berbahaya daripada mabuk karena minum arak. Seseorang yang mabuk karena cinta dunia hanya akan sadar ketika ia berada di kegelapan lahat.

    Yahya bin Mu’adz berkata, “Dunia itu arak setan. Barang siapa mabuk karenanya niscaya tidak akan sadar sampai ia berada di antara orang-orang yang sudah mati, menyesal bersama orang-orang yang merugi.”

    Paling tidak, cinta dunia akan melengahkan seseorang dari cinta kepada Allah SWT dan berdzikir kepadanya. Barang siapa dilengahkan oleh harta bendanya termasuklah ia ke dalam orang-orang yang merugi. Dan hati, jika telah lalai dari dzikrullah pasti setan menguasainya, dan disetir sesuai kehendaknya. Setan akan menipunya sehingga ia merasa telah mengerjakan banyak kebaikan , padahal ia baru mengerjakan sedikit saja.

    Abdullah bin Mas’ud berkata, “Bagi semua orang dunia ini adalah tamu, dan harta itu adalah pinjaman. Setiap tamu pasti akan pergi lagi dan setiap pinjaman pasti harus dikembalikan.”

    Para ulama berkata, “Cinta dunia itu pangkal segala kesalahan dan pasti merusak agama dari berbagai sisi:

    Pertama, mencintainya akan mengakibatkan mengagungkannya. Padalah di sisi Allah SWT dunia itu sangatlah remeh. Termasuk dosa terbesar, mengagungkan sesuatu yang dianggap remeh oleh Allah SWT.

    Kedua, Allah SWT telah melaknatnya, memurkai, dan membencinya, kecuali yang ditujukan kepadaNya. Barangsiapa mencintai sesuatu yang telah dilaknat, dimurkai, dan dibenci oleh Allah SWT berarti ia menyediakan diri untuk mendapat siksa, kemurkaan Allah SWT, dan juga kebencianNya.

    Ketiga, orang yang cinta dunia pasti menjadikannya sebagai tujuan akhir dari segalanya. Pun ia akan berusaha semampunya untuk mendapatkannya. Padahal seharusnya ia melakukan hal itu untuk sampai kepada Allah SWT, sampai ke akhirat. Ia telah membolak-balikan urusan dan juga hikmah. Dalam hal ini ada dua kesalahan. Pertama, ia menjadikan saran sebagai tujuan. Kedua, ia berusaha mendapatkan dunia dengan amalan akhirat. Bagaimanapun ini adalah sesuatu yang terbalik, keliru, dan buruk. Hatinya benar-benar terbalik total. Allah SWT berfirman:

    Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan. (Q.S. Hud:15-16)

    Hadits hadits yang menjelaskan tentang ini pun banyak. Salah satunya hadits Abu Hurairah tentang tiga orang yang pertama kali dijilat api neraka. Yaitu orang yang berperang, orang yang bersedekah, dan orang yang membaca Al-Qur’an. Mereka mengerjakan amalan itu untuk mendapatkan dunia dan kekayaannya.

    Begitulah cinta dunia. Ia bisa menghalangi seseorang dari pahala. Bisa merusak amal. Bahkan bisa menjadikannya sebagai orang yang pertama kali masuk neraka.

    Keempat, mencintai dunia akan menghalangi seorang hamba dari aktivitas yang bermanfaat untuk kehidupan di akhirat. Ia akan sibuk dengan apa yang dicintainya. Kerinduan dan kecintaan kepada dunia pasti membahayakan kehidupan akhirat. Begitu juga sebaliknya.

    Kelima, mencintai dunia menjadikan dunia sebagai harapan terbesar seorang hamba. Sahabat Anas bin Malik meriwayatkan: Rasulullah bersabda, Barangsiapa mengharapkan akhirat, Allah akan menjadikan kekayaan dihatinya dan menghimpun seluruh urusan untuknya, serta dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Adapun siapa yang mengharapkan dunia, Allah akan menjadikan kefakiran didepan matanya dan mencerai-beraikan urusannya, serta dunia tidak akan datang kepadanya kecuali yang sudah ditakdirkan baginya.

    Keenam, pecinta dunia adalah manusia dengan adzab yang paling berat. Mereka disiksa di tiga negara; di dunia, di barzakh, dan di akhirat. Di dunia mereka di adzab dengan kerja keras untuk mendapatkannya dan persaingan dengan orang lain. Adapun di alam Barzakh mereka di adzab dengan perpisahan dengan kekayaan dunia dan kerugian yang nyata atas apa yang mereka kerjakan.

    Ketujuh, orang yang rindu dan cinta kepada dunia sehingga lebih mengutamakannya dari pada akhirat adalah makhluk yang paling bodoh, dungu, dan tidak berakal. Karena mereka mendahulukan khayalan dari pada sesuatu yang hakiki, mendahulukan impian dari kenyataan, mendahulukan kenikmatan sesaat daripada kenikmatan yang abadi, dan mendahulukan negeri yang fana daripada negeri yang kekal selamanya. Mereka menukar kehidupan yang kekal ini dengan kenikmatan semu.

    Sesuatu yang paling mirip dengan dunia adalah bayang-bayang. Disangka memiliki hakekat yang tetap, padahal tidak demikian. Dikejar untuk digapai, sudah pasti tidak akan pernah sampai. Dunia mirip dengan seorang perempuan tua yang sama sekali tidak cantik. Ia ingin menikah dan berdandanlah ia. Dipakainya seluruh perhiasan. Ditutupinyalah segala kekurangan. Orang yang hanya memandang tampilan luarnya pasti tertipu. Ia ingin seseorang menikahinya dengan mahar suaminya harus menceraikan akhirat. Sebab, ia dan akhirat tidak mungkin bisa bertemu, duduk bersama.

    ***

    (Diambil dari Tazkiyah An-Nafs).

     
  • erva kurniawan 6:47 am on 16 February 2014 Permalink | Balas  

    cinta di hari tuaSayangilah Aku Hingga Ujung Waktu

    Kalau kita berbicara tentang pernikahan, pasti semua mengharapkan yang enak-enak atau kondisi ideal. Normal aja dong, kalau mengharapkan kriteria ideal untuk calon pasangan hidupnya. Sang pemuda mengharapkan calon istri yang cantik jelita, keluarganya tajir, pinter, akhlak mulia, sholehah, dll. Begitu juga sang wanita ingin punya suami yang ganteng, kaya, sabar, pinter, bertanggung jawab, setia, akhlaknya memikat, dan sebagainya. Coba bayangin semua ini terjadi pada diri kita, wuah…surga dunia tuh! Siapa sih yang gak mau, iya gak?

    Saat kita lanjut usia, rambut mulai satu-persatu rontok, raga pun perlahan rapuh dan sepuh, sang istri atau suami masih tetap setia mendampingi. Saat di pembaringan, ada yang mijitin pundak hingga kitapun tertidur pulas. Saat dingin menyerang rangkulan kekasih pun semakin erat, bersama saling menopang saat kaki-kaki kita semakin melemah. Kalau sedih ada yang menghibur, saat senang, apalagi, wuah…uendah nian.

    Namun, menurut Hasan Al Banna, waktu itu adalah kehidupan, ia tak pernah berhenti sesaatpun, seiring waktu berlalu, istri semakin keriput dan endut. Tapi menurut sang suami, “Istriku masih yang tercantik,” sementara suami pun perutnya udah buncit, tapi menurut sang istri, “Engkaulah satu-satunya Pangeran dalam istana hatiku.”

    Kebesaran Allah SWT pun selalu tampak di dalam rumah tangga. Setiap anggota keluarga melakukan sholat berjamaah, qiyamullail, membaca Al Qur’an, tasbih, tahmid, saling bertausyiah, bermaafan, menasehati, dan mengingatkan. Inilah hasil dari sepasang anak manusia yang menikah karena ingin mengharapkan ridho-Nya dan cita-cita Islam serta kemegahan ajaran-Nya. Inilah dia surga yang disegerakan sebelum surga yang kekal abadi.

    Semua diatas adalah harapan setiap pasangan. Namun, tak jarang juga ditemukan dalam suatu keluarga yang terjadi adalah sebaliknya. Dari istri yang dibilang gak pinter mengatur rumah tangga, menjaga anak, atau suami yang selalu pulang malam tak peduli dengan anak dan istri, dan macam-macam lagi. Kata nista, kata-kata yang nyelekit, tuduhan, makian bahkan saling memukul, bisa juga terjadi pada sebuah keluarga, yang gini nih sepet banget! Rumah tangga serasa bagai hidup di neraka, tak ada ketenangan apalagi kasih sayang.

    Memang, segala sesuatu itu bisa tak seindah bayangan semula. Ada bunga-bunga indah, namun cukup banyak juga onak dan duri yang siap menghadang. Karena itu, berbagai masalah kehidupan dalam lembaga pernikahan harus dihadapi secara realistis oleh setiap pasangan.

    Apalagi hidup di zaman seperti sekarang ini memang tak mudah, namun Al Qur’an memberikan arahan dalam kehidupan berumah tangga, “…. dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik…. [QS Ath Thalaaq: 6] “….. dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian, bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [QS An Nisaa': 19]

    Seperti gading, tak ada yang tak retak, begitu juga manusia, tak ada yang sempurna. Setiap kita pasti ada kekurangannya, bisa saja seorang suami atau istri terlihat mempunyai satu kekurangan, namun kalau dipikir-pikir lebih banyak kelebihannya. Apakah kekurangannya saja yang diperhatikan oleh pasangannya atau kedua-duanya dengan pertimbangan yang adil?

    Konflik dalam kehidupan rumah tangga juga tak jarang menyebabkan banyak pasangan kehilangan cinta yang dulunya mempersatukan mereka, dan Allah SWT juga telah memberikan arahan yang jelas, “Hai orang-orang mu’min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS At Taghaabun: 14]

    Karena itu, sesungguhnya dalam kehidupan berkeluarga yang kita harapkan adalah indahnya keampunan Allah dan surga-Nya, juga kasih sayang orang-orang yang terdekat dengan kita, yang setiap hari saling membutuhkan, karena itu ‘sayangilah aku (pasangan hidup) hingga ujung waktu.’

    Wahai akhi wa ukhti fillah, mari kita saling mendoakan ya, Semoga dengan kita mengambil panduan Al Qur’an dan sunnah Rasul-Nya serta contoh teladan dari keluarga Rasulullah SAW, akan semakin banyak rumah tangga yang tadinya kurang sakinah kembali menjadi sakinah, rumah tangga yang sakinah menjadi lebih sakinah, dan insya Allah pula saudara-saudara yang belum berumah tangga dikabulkan do’anya berupa pasangan hidup yang sholeh atau sholehah, aamiin allahumma aamiin.

    Wallahu alam bi showab,

    ***

    Al-Hubb Fillah wa Lillah, Abu Aufa

     
  • erva kurniawan 8:32 am on 11 February 2014 Permalink | Balas  

    quranOrang Yang Mengucapkan Syahadat, Pasti Masuk Surga

    Bagaimana hukumnya orang yang semasa hidupnya selalu mengerjakan maksiat, akan tetapi pada akhir hayatnya (ketika sakaratul maut) dia mengucapkan dua kalimat Syahadat?

    Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan bertauhid, yaitu sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir dia berikrar dan mengucapkan dua kalimat Syahadat, maka dia berhak berada di sisi Allah dan masuk surgaNya.

    Orang tersebut sudah dapat dipastikan oleh Allah akan masuk surga, walaupun masuknya terakhir (tidak bersama-sama orang yang masuk pertama), karena dia diazab terlebih dahulu di neraka disebabkan kemaksiatan dan dosa-dosanya yang dikerjakan, yang belum bertobat dan tidak diampuni. Tetapi dia juga tidak kekal di neraka, karena didalam hatinya masih ada sebutir iman. Adapun dalil-dalilnya sebagaimana

    diterangkan dalam hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, yaitu:

    Dari Abu Dzar r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah,’ kemudian meninggal, maka pasti masuk surga.”

    Dari Anas r.a., bahwa Nabi saw. telah bersabda, “Akan keluar dari neraka bagi orang yang mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah,’ walaupun hanya sebesar satu butir iman di hatinya.”

    Dari Abu Dzar pula, dia telah berkata bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda, “Telah datang kepadaku malaikat Jibril dan memberi kabar gembira kepadaku, bahwa barangsiapa yang meninggal diantara umatmu dalam keadaan tanpa mempersekutukan Allah, maka pasti akan masuk surga, walaupun dia berbuat zina dan mencuri.” Nabi saw. mengulangi sampai dua kali.

    Banyak hadis yang menunjukkan bahwa kalimat Syahadat memberi hak untuk masuk surga dan terlindung dari neraka bagi yang mengucapkannya (mengucap Laa ilaaha illallaah). Maksudnya ialah, meskipun dia banyak berbuat dosa, dia tetap masuk surga, walaupun terakhir.

    Sedangkan yang dimaksud terlindung dari neraka ialah tidak selama-lamanya di dalam neraka, tetapi diazab terlebih dahulu karena perbuatan maksiatnya.

     
  • erva kurniawan 8:28 am on 10 February 2014 Permalink | Balas  

    Apa syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam? 

    quranSyarat Utama Bagi Orang Yang Masuk Islam

    Apa syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam?

    Syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam ialah mengucapkan dua kalimat Syahadat. Yaitu, “Asyhadu allaa ilaaha ilallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah.” Barangsiapa yang mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisannya, maka dia menjadi orang Islam. Dan berlaku baginya hukum-hukum Islam, walaupun dalam hatinya dia mengingkari. Karena kita diperintahkan untuk memberlakukan secara lahirnya. Adapun batinnya, kita serahkan kepada Allah. Dalil dari hal itu adalah ketika Nabi saw. menerima orang-orang yang hendak masuk Islam, beliau hanya mewajibkan mereka mengucapkan dua kalimat Syahadat. Nabi saw. tidak menunggu hingga datangnya waktu salat atau bulan Puasa (Ramadhan).

    Di saat Usamah, sahabat Rasulullah saw, membunuh orang yang sedang mengucapkan, “Laa ilaaha illallaah,” Nabi menyalahkannya dengan sabdanya, “Engkau bunuh dia, setelah dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah.” Usamah lalu berkata, “Dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah karena takut mati.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kamu mengetahui isi hatinya?”

    Dalam Musnad Al-Imam Ahmad diterangkan, ketika kaum Tsaqif masuk Islam, mereka mengajukan satu syarat kepada Rasulullah saw, yaitu supaya dibebaskan dari kewajiban bersedekah dan jihad. Lalu Nabi saw. bersabda, “Mereka akan melakukan (mengerjakan) sedekah dan jihad.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 8:24 am on 9 February 2014 Permalink | Balas  

    tidurMimpi, Sekedar Bunga Tidur atau Mempunyai Makna?

    Apakah mimpi seorang muslim dapat ditafsirkan (memiliki alamat) atau hanya sekedar bunga tidur belaka?

    Mimpi bisa saja sekedar bunga tidur tapi bisa pula memiliki makna atau pertanda akan suatu hal. Namun yang jelas sebuah mimpi tidak bisa dijadikan dasar hukum dalam syariat Islam.

    Sebagai contoh, bila anda dalam kondisi harus mengambil keputusan pribadi untuk menentukan pilihan pasangan hidup, maka anda disunnahkan untuk shalat istikharah yang intinya meminta petunjuk dari Allah SWT. Dan diantara cara datangnya petunjuk itu adalah melalui mimpi. Sehingga atas dasar hal itu anda memiiki kekuatan batin untuk memilih pasangan hidup yang menurut anda paling sesuai. Berarti mimpi anda dalam hal ini bukanlah sekedar bunga tidur. Dan pengambilan keputusan pribadi untuk masalah ini dibenarkan secara syariat.

    Tapi bila ada seorang mengatakan bahwa tadi malam mimpi bertemu dengan kiyai anu lalu kiayi itu memberitahu hukum syariat tertentu, misalnya dia mengatakan bahwa khamar itu tidak haram diminum asal tidak terlalu banyak, maka ini sudah pasti sesat dan tidak bisa dijadikan dalil atas suatu hukum agama.

    Kecuali mimpi itu terjadi pada diri seorang nabi yang diutus Allah kepada manusia untuk membawa risalah. Seperti mimpinya Nabi Ibrahim AS bahwa beliau menyembelih puteranya Ismail. Mimpi ini adalah mimpi yang memiliki nilai syariat dan perintah dari Allah SWT. Tapi bila terjadi pada manusia biasa, maka tidak boleh dijadikan dasar syariat. Karena yang berhak membawa syariat itu hanyalah para nabi. Dan semua manusia sejak para shahabat hingga manusia terakhir terikat dengan syariat yang dibawa oleh Rasulullah SAW saja. Mereka sendiri tidak berhak untuk menjadi ‘agen’ wahyu atau syariat yang baru.

    Wallahu a‘lam bishshowab.

    ***

    Diambil dari kolom konsultasi, http://www.syariahonline.com

     
  • erva kurniawan 8:15 am on 7 February 2014 Permalink | Balas  

    Bsyukur (1)elajar Bersyukur

    Seorang Ibu terlihat gusar, setelah melihat tumpukan piring kotor di dapurnya. Semua itu bekas makan siang beberapa orang tamu yang baru saja berkunjung. Bukan karena banyaknya cucian piring, tetapi masih terlihatnya potongan-potongan daging bersisa, belum lagi sisa nasi yang masih menumpuk di piringnya. Ah… padahal untuk menyediakan lauk pauk itu tentu si ibu mesti mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Semua itu demi menjamu tamunya. Kalau saja para tamu itu hanya memakan daging dan mengambil nasi secukupnya saja, tentu tidak akan ada makanan bersisa di piring kotor. Dan anak-anaknya bisa ikut menikmati sebagian daging utuh lainnya. Melihat sisa potongan daging itu, si Ibu bingung, mau di buang … sayang… mau di olah lagi… sudah kotor bercampur sisa makanan lain…. tapi Alhamdulillah tetangga sebelah punya kucing… mungkin ini rezeki si kucing.

    ***

    “Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl:18).

    Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita. Nikmat iman, nikmat sehat, nikmat penghidupan (harta, ilmu, anak, waktu luang, ketentraman, dan lain-lain) serta nikmat-nikmat lain yang tak terkira. Namun dengan sekian banyak nikmat yang Allah berikan seringkali kita lupa dan menjadikan kita makhluk yang sedikit sekali bersyukur, bahkan tidak bersyukur, Na’udzubillahi min dzalik…

    Seringkali kita baru menyadari suatu nikmat bila nikmat itu di ambil atau hilang dari siklus hidup kita. Ketika sakit, baru kita ingat semasa sehat, bila kita kekurangan baru kita ingat masa-masa hidup cukup.

    Syukur diartikan dengan memberikan pujian kepada yang memberi kenikmatan dengan sesuatu yang telah diberikan kepada kita, berupa perbuatan ma’ruf dalam pengertian tunduk dan berserah diri pada-Nya. Cobalah kita memikirkan setiap langkah yang kita lakukan. Bila makan berlebihan dan bersisa. Bayangkan, di tempat lain begitu banyak orang yang kesulitan dan bekerja keras demi untuk mencari sesuap nasi. Bahkan banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung, mencari makan dari tong-tong sampah. Lantas sedemikian teganyakah kita menyia-nyiakan rezeki makanan yang didapat dengan berbuat mubazir. Ketika punya waktu luang malah dipergunakan untuk beraktivitas yang tidak bermanfaat bahkan cenderung merugikan orang lain. Kala tubuh sehat, malah lebih banyak dipakai dengan melangkahkan kaki ke tempat tak berguna. Tidak terbayangkah bila nikmat itu hilang dengan datangnya penyakit atau musibah lainnya. Ah… alangkah ruginya… karena semuanya menjadi percuma disebabkan tidak bersyukurnya kita atas nikmat. Bahkan karena sikap-sikap tadi yang didapat hanyalah dosa dan murka-Nya. Na’udzubillah….

    Kita harus berusaha mengaktualisasikan rasa syukur kita dari hal-hal yang sederhana. Setiap aktifitas sekecil apapun usahakan untuk selalu sesuai aturan-Nya, selaku pencipta kita. Kerusakan yang sekarang timbul di sekeliling kita tidak lain karena sikap kufur nikmat sebagian dari kita. Bayangkan, negara yang kaya akan sumber daya alam, tetapi sebagian besar rakyatnya miskin.

    Untuk itu, tidak ada salahya bila kita mulai dari diri dan keluarga, belajar bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Agar nikmat itu jangan sampai menjadi naqmah (balasan siksa), karena kufur akan nikmat-Nya. Mulailah untuk sering melihat kondisi orang-orang yang berada di bawah kita. Jika sudah, tentulah kita akan lebih banyak mengatakan “Alhamdulillah”. Seperti dalam hadits Rasulullah Saw, ”Perhatikanlah orang yang berada di bawah tingkatanmu (dalam urusan duniawi), dan jangalah kamu memandang kepada orang yang berada di atasmu. Itu lebih layak bagimu supaya kamu tidak menghina pemberian Allah kepadamu.” (HR.Muslim).

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kehilangan nikmat (yang telah Engkau berikan), dari siksa-Mu yang mendadak, dari menurunkannya kesehatan (yang engkau anugrahkan) dan dari setiap kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim dari Ibnu Umar).

    ***

    Diambil dari http://www.eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 7:07 am on 2 February 2014 Permalink | Balas  

    airmata 2Apa Salahnya Menangis

    Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt. Bukankah kondisi hati manusia tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya.

    Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina dan merupakan tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup.

    Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat dibelakang Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur’an, ketika sampai pada ayat: “Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis. Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka.

    Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo’a sendirian jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat.

    Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan ayat-ayat Allah. Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka menangislah disaat membaca Al Qur’an, menangislah ketika berdo’a di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada.

    ***

    Dari eramuslim

     
  • erva kurniawan 5:26 am on 30 January 2014 Permalink | Balas  

    Ada Air Mata Tertahan

    Oleh: M. Fauzil Adhim

    “Apabila datang kepadamu seorang laki-laki datang untuk meminang yang engkau ridho terhadap agama dan akhlaqnya maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan yang merata di muka bumi.” (HR Tarmidzi dan Ahmad)

    Saya tidak tahu apakah ini merupakan hukum sejarah yang digariskan oleh Allah. Ketika orang mempersulit apa yang dimudahkan Allah,  mereka akhirnya benar-benar mendapati keadaan yang sulit dan nyaris tak menemukan jalan keluarnya. Mereka menunda-nunda pernikahan tanpa ada alasan syar’i dan akhirnya mereka mereka benar-benar takut melangkah di saat hati sudah sangat menginginkannya. Atau ada yang sudah benar-benar gelisah tak kunjung ada yang mau serius.

    Kadangkala lingkaran ketakutan itu berlanjut. Bila di usia dua puluh tahunan mereka menunda pernikahan karena takut dengan ekonominya yang belum mapan, di usia menjelang tiga puluh hingga sampai tiga puluh lima berubah lagi masalahnya. Laki-laki mengalami sindrom kemapanan (meski wanita juga banyak yang demikian, terutama mendekati usia 30). Mereka (laki-laki) menginginkan pendamping dengan kriteria yang sulit dipenuhi. Seperti hukum kategori, semakin banyak kriteria semakin sedikit yang masuk kategori. Begitu pula kriteria tentang jodoh, ketika menetapkan kriteria yang terlalu banyak maka akhirnya bahkan tidak ada yang sesuai dengan keinginan kita. Sementara wanita yang sudah berusia sektar 35 tahun, masalah nya bukan kriteria tetapi soal apakah ada orang yang mau menikah dengannya. Ketika usia sudah 40-an, ketakutan kaum laki-laki sudah berbeda lagi, kecuali bagi mereka yang tetap terjaga hatinya. Jika sebelumnya banyak kriteria yang dipasang pada usia 40-an muncul ketakutan apakah dapat mendampingi isteri dengan baik. Lebih-lebih ketika usia beranjak 50 tahun, ada ketakutan lain yang mencekam. Yaitu kekhawatiran ketidakmampuan mencari nafkah sementara anak masih kecil. Atau ketika masalah nafkah tak merisaukan khawatir kematian lebih dahulu menjemput sementara anak-anak masih banyak perlu dinasehati. Apabila tak ada iman maka muncul keputusasaan.

    WAHAI ALI JANGAN KAU TUNDA-TUNDA

    Apa yang menghimpit saudara kita sehingga mereka sanggup meneteskan air mata. Awalnya adalah karena mereka menunda apa yang harus disegerakan, mempersulit apa yang seharusnya dimudahkan. Padahal Rasululloh berpesan:

    “Wahai Ali, ada tiga perkara jangan di tunda-tunda, apabila sholat telah tiba waktunya, jenazah apabila telah siap penguburannya, dan perempuan apabila telah datang laki-laki yang sepadan meminangnya.” (HR Ahmad)

    Hadis ini menunjukan agar tidak boleh mempersulit pernikahan baik langsung maupun tak langsung. Secara langsung adalah menuntut mahar yang terlalu tinggi. Atau yang sejenis dengan itu. Ada lagi yang tidak secara langsung. Mereka membuat kebiasaan yang mempersulit, meski nyata-nyata menuntut mahar yang tinggi atau resepsi yang mewah. Sebagian orang mengadakan acara peminangan sebagai acara tersendiri yang tidak boleh kalah mewah dari resepsi pernikahan, sebagian lainnya melazimkan acara penyerahan hadiah atau uang belanja untuk biaya pernikahan secara tersendiri.

    Bila seseorang tak kuat menahan beban, maka bisa saja melakukan penundaan pernikahan semata karena masalah ini. Saya sangat khawatir akan keruhnya niat dan bergesernya tujuan. Sehingga pernikahan itu kehilangan barokahnya. Na’udzubillah

    Penyebab lain adalah lemahnya keyakinan kita bahwa Allah pasti akan memberi rezeki atau bisa jadi cerminan dari seifat tidak qona’ah  mencukupkan diri dengan yang ada).

    PILIHLAH YANG BERTAKWA

    Suatu saat ada yang datang menemui Al Hasan (cucu Rasululloh). Ia ingin bertanya sebaiknya dengan siapa putrinya menikah? Maka Al Hasan ra berkata:

    “Kawinkanlah dia dengan orang yang bertakwa kepada Allah. Sebab jika laki-laki mencintainya, ia memuliakannya, dan jika ia tidak  menyenaginya ia tidak akan berbuat zalim padanya.”

    Nasihat AL Hasan menuntun kita untuk membenahi pikiran. Jika kita menikah dengan orang yang bertakwa cinta yang semula tak ada meski Cuma benihnya dapat bersemi indah karena komitmen yang memenuhi jiwa.

    ***

     
  • erva kurniawan 2:26 am on 29 January 2014 Permalink | Balas  

    berdoa 1Untaian Harap

    Dengarkanlah untaian harap seorang hamba yang duduk bersimpuh sambil menengadahkan tangan ditengah sunyinya malam diakhir sujud-sujud panjangnya…

    “….. Ya Allah berikan aku handphone lengkap dengan pulsanya yang banyak supaya aku bisa mudah berhubungan saudara2ku dan mengetahui kabarnya”

    “Ya Allah berikan aku notebook plus multimedia dan printer portable-nya agar aku bisa mengetahui informasi dunia memberitahu pada yang belum tahu dan membuat dokumentasi yang baik”

    “Ya Allah berikan aku mobil yang keciil saja supaya aku bisa dipakai urusan da’wah dengan mudah survey … syuro …jemput muajih..”

    “Ya Allah berikan aku sebuah rumah sederhana yang luaaas pekarangannya supaya bisa kujadikan markazud da’wah”

    “Ya Allah berikan aku kompor gas dan tabungnya supaya aku bisa buat konsumsi dengan cepat untuk para mujahid”

    “Ya Allah berikan aku otak yang encer dan kesempatan belajar setinggi2nya supaya aku bisa pintar dan mudah menghafal Al Qur’an”

    “Ya Allah berikan aku uang yang banyak biar bisa kusumbangkan pada yang membutuhkan”

    “Ya Allah berikan pasangan hidup yang Engkau sukai dan baik supaya aku bisa bersama-sama membangun miniatur daulah yang baik”

    “Ya Allah berikan aku anak-anak yang cerdik dan sholeh supaya bisa dijadikan kebanggaan dan tabungan di akhirat kelak”

    “Ya Allah berikan aku kesempatan untuk keliling dunia supaya kubisa tafakuri belahan duniaMu yang lain”

    ……………………………… Namun Ya Allah aku ….. (sambil terisak ia meneruskan untaian harapnya)…………………… aku ini hanyalah seorang hamba yang dhoif dan lemah …………….. seringkali khilaf untuk bersyukur

    janganlah kau kabulkan Ya Allah……… jangan … kalau sekiranya itu semua bisa membuatku terlena………. Apalah arti semua itu ….. kalau bukan untukMu…..

    Ya Allah ….. sesungguhya kuminta semua itu karna hanya ingin membuktikan cinta padaMu dengan berbagai cara……. Engkaulah yang Maha Mengetahui mana saja yang patut kudapat……. atau tidak sama sekali bila itu semua justru membuatku jauh dariMu tak usahlah Kau berikan…. cukup saja hamba diberi setitik cintaMu…………………kabulkanlah Ya Allah….. (Adzan Subuh berkumandang menutup untaian-untaian harap seorang hamba)

    “Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wafil aakhirati hasanah..waqinaa adzabannaar”.

    ***

    Dari sahabat di Pesanggrahan

     
  • erva kurniawan 6:27 am on 27 January 2014 Permalink | Balas  

    adab-sedekahMemberi Itu Indah

    Banyak orang beranggapan bahwa memberikan sesuatu (harta, ilmu pengetahuan, dan pemikiran) kepada orang lain yang tidak dapat memberikan balasan langsung, merupakan sesuatu yang sia-sia dan tidak boleh dilakukan. Teori kerja dengan imbalan yang bersifat material, atau ibadah yang hanya dikaitkan dengan balasan pahala semata itu begitu mendominasi sebagian besar umat kita. Karenanya, tidak jarang umat Islam memiliki sifat bakhil, kikir, dan sama sekali tidak mau memberi, kecuali dengan imbalan dan upah yang jelas, terukur dan terstruktur.

    Dalam sebuah hadis riwayat Imam Turmudzi, Rasulullah SAW bersabda, ”Pemurah itu akan dekat dengan Allah [rahmat-Nya], dekat dengan sesama manusia [cinta dan kasih sayangnya], dengan surga [nikmatnya], dan jauh dari neraka [adzanya]. Sebaliknya, orang yang bakhil akan jauh dari Allah, jauh dari sesama manusia, jauh dari surga, tetapi dekat dengan neraka.”

    Orang yang mengeluarkan zakat dengan kesadaran dan keikhlasan penuh akan mendapatkan kebersihan, kesucian, dan ketenangan jiwa (QS 9:103). Ia akan diberi kemudahan oleh Allah SWT dalam mengatasi berbagai problem hidup dan kehidupannya (QS 70: 19-25). Sementara itu, hartanya akan terus berkembang dan bertambah dari waktu ke waktu (QS 30:39).

    Dalam sebuah hadis sahih riwayat Ibn Abiddunya, Rasulullah SAW bersabda, ”Sedekah itu tidak akan menyebabkan sesuatu pada harta, kecuali hanya akan memperbanyaknya. Karena itu, bersedekahlah kamu sekalian, pasti Allah akan mencurahkan rahmat-Nya.” Dalam sebuah hadis yang lain riwayat Ibn Majah, Rasulullah SAW bersabda, ”Iri dan dengki itu akan menghabiskan segala kebaikan yang kita lakukan sebagaimana api menghanguskan kayu bakar. Sedekah akan menghapuskan segala kesalahan sebagaimana air memadamkan api. Shalat itu adalah cahayanya orang mukmin dan puasa itu penghalang mukmin dari azab neraka.”

    Orang yang suka berzakat dan berinfak akan memiliki etos kerja dan usaha kuat, yang menyebabkannya senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan rezeki yang halal, untuk kemudian sebagiannya diberikan kepada mereka yang membutuhkan dan berhak menerima. Mari kita tumbuhkan kecintaan untuk memberi dan memberi. Insya Allah kita akan menjadi orang kaya, baik material maupun spiritual.

    ***

    Diambil dari artikel kolom Hikmah Republika, karya KH. Didin Hafidzuddin

     
  • erva kurniawan 3:03 am on 25 January 2014 Permalink | Balas  

    Jagalah Makananmu Maka Allah Akan Menjagamu MasyaAllah Sebanyak… 

    makanan1Jagalah Makananmu Maka Allah Akan Menjagamu

    MasyaAllah, Sebanyak ini.?

    Kuamati kembali daftar dzat halal dan haram yang tertera di dalam majalah tersebut. Aku benar-benar shock karena makanan yang selama ini masuk dalam tubuhku mengandung dzat haram. Ingin rasanya aku keluarkan kembali semua isi perutku tapi hal itu tidaklah mungkin. Penyesalan tidak ada gunanya justru saat inilah seharusnya aku banyak bersyukur kepadaNya. Dia Yang Maha Tahu telah mengingatkan aku betapa pentingnya menjaga setiap tetes dzat yang masuk ke dalam tubuh. Dia Yang Maha Tahu pula yang telah mengajariku bahwa dengan menjaga makanan kita, maka kita telah menjaga keimanan.

    Saat ini, di negeri orang yang mayoritas penduduknya non muslim, aku merasakan betapa pentingnya arti makanan. Di saat yang lain makan dengan lahap, sementara kita harus teliti membaca kandungan dzat makanan kita. Disaat yang lain bebas memilih makanan kesukaan kita, sementara kita harus menahan rasa lapar yang mendera. Dan semua tidak semudah seperti yang aku bayangkan sebelumnya karena dzat-dzat itu tidak hanya menyeretku ke jurang kemalasan dan ke lembah kehinaan tetapi menutup semua jalan yang ingin aku lewati. “Ya” Aku jadi malas beibadah kepadaNya, dan Allah tidak memperkenankan aku bermunajat kepadaNya di malam hari karena tanpa aku sadari telah begitu banyaknya dzat haram yang masuk kedalam tubuh ini. Belum lagi urusan-urusan tiba-tiba jadi sulit untuk aku tembus.

    Kenapa dzat? Kenapa tidak langsung khamr, daging babi dan yang lainnya?”

    Karena yang besar dan terlihat secara fisik biasanya lebih mudah untuk dihindari. Justru yang kecil dan tidak terlihat yang sulit sekali dihindari dan kita mudah terjebak. Pada awalnya, aku hanya mengetahui dzat 472e saja yang haram. Setiap kali membeli sesuatu, aku selalu mengeceknya dan semua berjalan lancar. Ibadah harian yang biasa aku kerjakanpun tidak ada masalah berarti. Sampai akhirnya aku menyadari “ada sesuatu yang tidak beres.” Aku sangat sulit sekali bangun malam walaupun aku sudah mencoba berbagai macam strategi. Dan akhirnya aku menemukan daftar itu di sebuah majalah Islam. Aku bersihkan semua makanan yang mengandung dzat-dzat tersebut dan mulai saat itu aku memilih tidak makan kalau kandungan dzatnya tidak jelas atau meragukan. Subhanallah kini aku bisa bangun malam kembali, bermunajat kepadaNya, dan melaksanakan ibadah yang lain dengan lebih khusyuk. Allahpun membuka begitu banyak jalan kemudahan untukku dan segala urusan menjadi lancar. Alhamdulillah segala Puji Hanya Untuk Allah Yang Mencintai kebaikan dan hanya menerima sesuatu yang baik.

    Ada kebiasaan hidup yang hampir sama antara Rasulullah, para sahabat, dan orang–orang sholeh, mereka selalu menjaga makanan mereka. Menggalakan puasa demi penyucian diri dan kedekatan dengan RobbNya.

    Masih segar dalam ingatan kita kisah seorang pemuda yang menemukan apel di sungai, kemudian ia memakannya. Di tengah menikmati apel itu, ia tersadar bahwa apa yang ia makan bukanlah miliknya. Setelah mencari dan mencari, akhirnya ia dapat menemukan sang pemilik buah apel itu. Akhir cerita, sang pemilik pohon apel, menikahkan pemuda itu dengan salah seorang anaknya. Bukti keimanan terpancar dalam diri pemuda tersebut. Ia sangat menyadari bahwa setiap tetes makanan yang masuk kedalam tubuh pasti akan mempengaruhi kecintaannya pada Allah. Karena setiap output pasti tergantung dengan input maka makanlah makanan yang halal, cek dzat-dzat yang terkandung didalamnya, jangan remehkan yang kecil, karena kita bisa selamat dengannya atau bahkan terpuruk dilembah kehinaan karenanya. Jagalah makananmu, maka Allah akan menjagamu.

    Wallahu’a’lam bishshowab

    ***

    Dari Sahabat: Zamah Saari – eramuslim.

     
  • erva kurniawan 3:46 am on 24 January 2014 Permalink | Balas  

    Reciting-QuranMenyiasiati Rapuhnya Kemauan

    Lemahnya kemauan sering membuat orang enggan berbuat kebaikan, padahal manfaat dan maslahat terpulang pada dirinya. Mengapa ini sering terjadi?

    Siapa yang tak kenal Salman al-Farisi? Sahabat Rasul berkebangsaan Persia ini menempuh perjalanan panjang dan rintangan berat demi menjemput hidayah. Berbagai dera siksa telah dirasainya. Keluarga yang dikasihinya rela ia tinggalkan. Lebih dari itu, ia juga telah mengecap derita menjadi budak yang diperjual belikan. Usahanya tak sia-sia, ketika akhirnya ia tiba di Madinah dan bertemu Rasulullah saw. Keimanan dan hidayah yang diperolehnya berhasil memupus duka dan kepedihan yang telah ia jalani. Strateginya yang brilian dengan cara menggali parit, atas izin Allah, sukses melindungi Madinah dari serangan pasukan koalisi kaum Musyrikin dan Yahudi dalam perang Ahzab.

    Salman adalah contoh nyata sebuah perjuangan gigih menggapai hidayah. Fitrah dan nuraninya yang jernih mendambakan petunjuk yang dapat dipakainya dalam hidup. Amat wajar, jika ia mendapat anugerah dari Rasulullah saw sebagai bagian dari keluarga Rasul. Ia menjadi contoh tentang semangat dan tekad yang membaja dalam menemukan kebenaran.

    Dalam kenyataan sehari-hari, berbagai godaan memang datang silih berganti memenuhi ruang benak setiap Muslim. Sering terjadi, kemauan begitu lemah sehingga enggan berbuat demi kemaslahatan diri sendiri, di dunia ataupun di akhirat. Lemahnya kemauan itu, dilatari oleh kekeliruan dalam menyikapi tipu daya syetan. Dalam rangka pencerahan tekad dan kemauan ini, Ustadz Abdullah Abdul Aziz al-Idan dalam “Man yamna’uka min al-hidayah” , menguraikan enam pandangan yang layak diresapi oleh setiap Mukmin dalam rangka mengokohkan kemauan dan membajakan tekad untuk bersama menjemput hidayah Allah.

    Pertama, penting ditegaskan tentang urgensi kebertahapan jiwa (tadarruj), dengan memulai dari amal shalih yang sedikit tapi kontinu. Ibnul Qayyim, seorang ulama yang banyak menulis tentang masalah-masalah ruhiyah, menjelaskan fenomena ini dalam Ighatsah al-Lahfaan (I/183-184). Menurutnya, syetan ingin menjatuhkan manusia pada satu dari dua sisi. Di satu sisi, ia begitu semangat sehingga bernafsu melakukan banyak hal sehingga ia tak sanggup lagi lalu berhenti. Di sisi lain, ia menganggap enteng sehingga hanya melakukan sedikit amal.

    Seorang ulama pernah mengungkapkan, “Allah tidak memerintahkan suatu urusan, kecuali syetan mempunyai dua jalan untuk menggoda: sikap berlaku kurang dan lalai, atau melampaui batas dan berlebih-lebihan.”

    Kedua, keinginan dan tekad kuat itu hanya datang dari dalam diri, bukan dari luar. Ia harus menggunakan waktunya dengan penuh semangat betapapun sulit dan buruk situasi dihadapinya. Ia harus dalam tujuan baiknya untuk istiqamah, berdakwah dan menebar manfaat bagi diri dan umat. Bukan malah terbuai dalam angan-angan menanti masa depan yang tak pasti.

    Ketiga, harus disadari bahwa “barang dagangan” Allah itu mahal (Ash-Shaff:10-11). Setelah menyadarinya, akan terasa ringanlah berbagai kepayahan dan kesulitan yang dirasakan dalam mengerjakan ketaatan. Rasulullah saw dan para sahabat ra telah memberi teladan perjuangan dalam menegakkan agama, dengan pengorbanan waktu, kesungguhan dan harta, mulai dari menuntut ilmu, mengamalkannya, dan sabar mendakwahkannya. “Ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah sorga,” (HR Tirmidzi No. 2374).

    Keempat, hendaknya kita renungkan kondisi orang-orang kafir dan penganut ajaran dan pemikiran sesat. Mereka berjuang habis-habisan dalam kebatilan, tapi tak beroleh ganjaran di akhirat. Sebaliknya, orang Mukmin pasti mendapat ganjaran atas usaha dan perjuangannya. Menghindari kemaksiatan dan kemungkaran hanyalah sebuah pengorbanan kecil dibanding ganjaran sorga yang akan diperoleh.

    Kelima, setiap Mukmin yang ikhlas dan bertekad kuat dalam melaksanakan sunnah Rasulullah saw dan amal shalih, pasti mendapat pertolongan dan petunjuk dari Allah SWT (QS al-Ankabut: 69). Problema yang sering dihadapi oleh umat Islam, mereka ingin berbuat yang besar tapi melupakan yang kecil. Ini adalah kekeliruan besar dalam pendidikan. Semestinya, ia memulai dari yang kecil agar dapat melaksanakan yang besar. Seperti ungkapan seorang ulama, “Siapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, Allah akan menganugrahkan kepadanya pengetahuan terhadap sesuatu yang tak ia ketahui.”

    Keenam, doa adalah senjata Mukmin yang amat efektif. Doa adalah otaknya ibadah, sabda Rasul saw (HR Tirmidzi No. 3293). Seorang yang bertekad dengan sungguh-sungguh dan ikhlas memperbaiki diri, hendaknya memperbanyak doa dan kepasrahan kepada Allah. Diriwayatkan bahwa kaum salaf berdoa kepada Allah dalam setiap kebutuhan mereka, bahkan garam untuk makanan mereka sekalipun. Orang yang mengharapkan istiqamah, petunjuk dan keteguhan hati dalam kebenaran, tentu sangat memerlukan doa. Apalagi di zaman ini yang penuh dengan sebab-sebab futur (lemahnya semangat ketaatan), kelalaian dan penyimpangan. Rasulullah saw mengajarkan doa, “Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agama-Mu,” (HR Tirmidzi No.2066).

    Berbagai pemahaman ini diharapkan membantu kita mengokohkan kemauan dan semangat yang terkadang lemah dan rapuh. Sebab, dengan memahami tinggi dan mulianya tujuan dapat membantu mengokohkan semangat untuk berbuat dan terus berbuat. Bi idzinillah.

    ***

    Dari Sahabat: M. Nurkholis Ridwan

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 21 January 2014 Permalink | Balas  

    sujud-shalat-di-masjidSutrah Dalam Sholat

    1. Dari Ibnu `Umar radliallahu `anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

    “Janganlah kamu shalat kecuali menghadap sutrah (batas tempat sholat) dan jangan biarkan seorang pun lewat di depanmu, jika ia enggan maka perangilah karena bersamanya ada qarin (teman).” (HR. Muslim dalam As-Shahih no. 260, Ibnu Khuzaimah dalam As-Shahih 800, Al- Hakim dalam Al-Mustadrak 1/251 dan Baihaqi dalam As-Sunan Al- Kubra 2/268)

    2. Dari Abu Said Al-Khudri radliallahu `anhu ia berkata: “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

    “Jika shalat salah seorang diantara kalian, hendaklah shalat menghadap sutrah dan hendaklah mendekat padanya dan jangan biarkan seorangpun lewat antara dia dengan sutrah. Jika ada seseorang lewat (didepannya) maka perangilah karena dia adalah syaitan.” (HR. Ibnu Abi yaibah dalam Al-Mushannaf 1/279, Abu Dawud dalam As-Sunan 297, Ibnu Majah dalam As-Sunan no. 954, Ibnu Hibban dalam As-Shahih 4/48, 49-Al-Ihsan, dan Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra 2/267, sanadnya hasan) Di dalam riwayat lain (yang artinya): “(Karena) sesungguhnya setan lewat antara dia dengan sutrah.”

    Mengomentari hadits Abu Said di atas As-Syaukani berkata: “Padanya (menunjukkan) bahwa memasang sutrah itu adalah wajib.” (Nailul Authar 3/2). Beliau juga berkata: “Dan kebanyakan hadits- hadits (dalam masalah ini) mengandung perintah dengannya dan dhahir perintah (menunjukkan) wajib. Jika dijumpai sesuatu yang memalingkan perintah-perintah ini dari wajib ke mandub maka itulah hukumnya. Dan tidak tepat dijadikan pemaling (pengubah hukum) sabda shallallahu `alaihi wa sallam (yang artinya): “Sesungguhnya tidak memudharatkan apapun yang lewat di depannya karena menghindarnya orang shalat dari perkara yang memudharatkan shalatnya dan menghindari hilangnya sebagian pahalanya adalah wajib atasnya.” (As-Sailul Jarar 1/176)

    Di antara perkara yang menguatkan wajibnya: Sesungguhnya sutrah merupakan sebab syari yang menyebabkan tidak sahnya shalat karena lewatnya wanita baligh, keledai dan anjing hitam sebagaimana telah sah yang demikian itu dalam hadits yang menyatakan larangan orang lewat di depan orang shalat, dan hukum-hukum lainnya yang berkaitan dengan sutrah. (Tamamul Minnah hal. 300)

    5. Qurrah bin Iyas berkata: “Umar melihatku sedangkan aku (ketika itu) shalat di antara dua tiang. Maka dia memegang tengkukku dan mendekatkan aku ke sutrah seraya berkata: Shalatlah menghadap kepadanya.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahihnya 1/577 [lihat pula Al-Fath] secara muallaq 3 dengan lafadz jazm (pasti datang dari Rasulullah, pent) dan disambungkan [sanadnya] oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 2/370)

    Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Umar memaksudkan perbuatannya itu agar shalat (Qurrah bin Iyas) menghadap sutrah.” (Fathul Bari 1/577)

    6. Dari Nafi,ia berkata :”Bahwa Ibnu Umar jika tidak mendapati tempat yang menghadap tiang dari tiang-tiang Masjid, lalu ia berkata padaku :”Palingkan kepadaku punggungmu (untuk dijadikan sutroh,pent).(Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/279 dengan sanad shahih).

    7. (Dalam suatu riwayat) bahwa Salamah bin Al-Akhwa meletakkan batu di tanah.Jika dia mau mengejakan Sholat ,dia menghadap kepadanya.(Ibnu Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/278)

    8. Dari Ibnu Abbas r.a. “Aku memasang tongkat di depan Rosulullah SAW ketika di Arafah.Beliau sholat menghadapnya dan keledai lewat dibelakang tongkat.”(Ahmad dalam Al-Musnad 1/243,Ibnu Khuzaimah dalah As-Shahih 840,Thabari dalam Al-Mujamul Kabir 11/243 dan sanad dari Imam Ahmad:hasan)

    TENTANG JARAK KITA DENGAN SUTROH

    9. Diriwayatkan bahwa :”Rasulullah SAW berdiri di dekat tabir.Jarak antara beliau dengan tabir itu ada 3 hasta (HR.Bukhari dan Ahmad)

    10. Diantara tempat sujud beliau dengan dinding ada tempat berlalu kambing (H.R Bukhari dan Muslim)

    11. Beliau bersabda :”Apabila salah seorang di antara kamu sholat menghadap tabir, maka hendaklah ia mendekatkan dirinya kepada tabir itu, sehingga setan tidak memutuskan dia dari sholatnya “. (Abu Daud Al-Bazzar (p.54 Az-Zawaid),Al-Hakim dan dishahihkan olehnya,dan disepakati oleh Adz-Dzahabi dan An-Nawawi)

    BENDA-BENDA YANG BISA DIJADIKAN SUTROH

    12. Dan kadangkala beliau menjadikan kendaraannya sebagai tabir,lalu sholat dengan menghadap kendaraannya itu. (H.R Bukhari dan Ahmad)

    13. Hal ini berbeda dengan sholat di tempat berbaring unta .Karena beliau telah melarangnya (Muslim dan Ibnu Khuzaimah (92/2) dan Ahmad

    14. Kadangkala :”Beliau membawa semacam pelana ,lalu meluruskannya ,kemudian beliau sholat dengan menghadap kepada ujung pelana itu (H.R Bukhari dan Ahmad)

    15. Rasulullah SAW bersabda : “Apabila salah seorang diantara kamu meletakkan semacam ujung pelana di hadapannya,maka hendaklah ia shalat dengan tidak menghiraukan orang yang berlalu di belakangnya(ujung pelana itu)” (H.R Mulim dan Abu Daud)

    16. Diriwayatkan bahwa :”Sesekali beliau shalat dengan menghadap ke sebuah pohon.(H.R NasaI dan Ahmad dengan sanad yang shahih).

    17. “Kadangkala beliau shalat dengan menghadap ke tempat tidur,sedangkan Aisyah r.a berbaring di atasnya -dibawah beludrunya- (Al Bukhari,Muslim,dan Abu Yala(3/1107 -Mushawwaratu l-Maktab)

    18. Rasulullah SAW tidak pernah membiarkan sesuatu berlalu diantara dirinya dengan tabir.Dan pernah : “Beliau shalat,tiba-tiba datanglah seekor kambing berlari di hadapannya,lalu beliau berlomba dengannya hingga beliau menempelkan perutnya ke tabir -dan berlalulah kambing itu di belakang beliau-” (Ibnu Khuzaimah di dalam ash-Shahih (1/95/1),Ath-Thabrani(3/104/3),Al-Hakim dan dishahihkan olehnya,dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.

    PERINGATAN KERAS BAGI YANG MELANGGAR SUTROH ORANG YANG SHOLAT

    19. :”Sekiranya orang yang berlalu di hadapan orang yang shalat itu mengetahui apa yang akan menimpanya,niscaya untuk berhenti selama 40 tahun,adalah lebih baik baginya daripada untuk berlalu dihadapannya “.(H.R Al – Bukhari dan Muslim,riwayat lainnya adalah riwayat Ibnu Khuzaimah(1/94/1)).

    20. HAL-HAL YANG MEMUTUSKAN SHALAT

    Rasulullah SAW bersabda: “Shalat seorang laki-laki,apabila tidak ada semacam ujung pelana dihadapannya,maka akan diputus oleh :wanita -yang haid (atau balighah), keledai dan anjing hitam “.

    Abu Dzar berkata bahwasanya ia berkata,”Wahai Rasulullah,apa bedanya antara anjing hitam dengan anjing merah ?” beliau bersabda,”Anjing hitam adalah setan “. (H.R Muslim,Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah (1/95/2)

    Sumber :

    1. Kitab Al-Qaulul Mubin fi Akhtail Mushallin.Diterjemahkan oleh Suyuthi Abdullah

    2. Kitab Sifat Sholat Nabi , oleh Syeikh Nashiruddin Al-Albani

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 18 January 2014 Permalink | Balas  

    siluet-wanitaWanita

    Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). “Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS 16:58-59)

    Demikianlah keberadaan wanita di Jazirah Arab. Dan keadaan wanita diluar Jazirah Arab pun tidak lebih baik dari mereka. Namun Islam datang untuk meletakkan segala perkara pada proporsinya yang benar.  Nabi bersabda: “Wanita adalah saudara kandung pria”

    (HR:Tirmidzi)

    Ada seorang khatib terkenal berkhutbah dengan sangat emosional. Dia mengatakan: “Semoga Allah merahmati masa-masa di mana para wanita tidak keluar kecuali tiga kali, yaitu:

    1. Dari rahim ibunya kealam dunia,

    2. Dari rumah orang tuanya ke rumah suaminya,

    3. Dan, dari rumahnya ke alam kubur.

    Masa-masa ini adalah masa-masa jahiliah, semoga hal ini tidak terulang kembali dalam sejarah umat islam. Bila kita kaji ajaran Islam, maka kita mendapati bahwa ISLAM MENJUNJUNG TINGGI HARGA DIRI DAN KEMULIAAN WANITA dengan menempatkannya sebagai anak, istri, ibu, dan anggota masyarakat. Yang sangat penting dari semua itu adalah Islam menempatkan wanita sebagai manusia. Dalam Al-quran banyak ayat-ayat yang membahas tentang wanita, tentang kewajibannya dalam beribadah kepada Allah, tentang hak-haknya yang setara dengan lelaki. Secara umum surat An-Nisa ayat 32, menunjuk kepada hak-hak perempuan: “Bagi lelaki hak (atau bagian) dari apa yang dianugrahkan kepadanya dan bagi perempuan hak atau (bagian) dari apa yang dianugrahkan kepadanya.”

    Islam telah mendudukkan wanita pada posisinya yang benar agar dapat menunaikan tugasnya dalam kehidupan insani, menciptakan peradaban, dan membuat sejarah dengan sempurna sebagaimana yang dilakukan saudaranya yang lelaki. Segala sesuatu punya spesialisasi, kewajiban dan perannya masing-masing.

    Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik”. (QS. 3:195)

    Tidak ada agama yang bisa berbuat adil terhadap kaum wanita sebagaimana keadilan yang diberikan oleh Islam. “Dan kaum wanita itu memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (2:228)

    Ada kata -kata yang patut kita renungkan, bahwa BAIKNYA SEBUAH MASYARAKAT, TERGANTUNG BAIKNYA WANITANYA, menjadi barometer baik tidaknya sebuah masyarakat. Tentunya mendidik wanita untuk menjadi baik adalah kewajiban kita sebagai bagian dari agama Islam itu sendiri.

    Diantara keagungan agama kita yang hanif ini adalah-bahwa untuk masa sekarang dan masa-masa sebelum ini, ia merupakan sistem perundangan pertama sekaligus terahir, yang menempatkan kaum wanita di tempat yang paling terhormat, paling baik dan paling indah.  Islam mengkategorikan kaum wanita sebagai manusia yang utuh  dan sempurna sebagaimana kaum pria dalam hal penciptaan, kemanusiaan, perasaan-perasaan serta hak-haknya.

    Dalam rentang sejarah umat Islam yang panjang, telah bermunculan wanita agung. Yang keharuman namanya takkan pernah pudar sampai ahir zaman. Dia adalah contoh wanita pada masanya dan masa setelahnya. Dialah sahabat wanita yang mulia, karena dia TERDIDIK DALAM MADRASAH TAUHID DENGAN IMANNYA YANG TINGGI. Dia menjadi panutan dan perannya sangat besar dalam mengemban risalah ini. Banyak wanita salaf dahulu yang yang menjadi gudang ilmu, keutamaan, dan fiqih dari Dien Allah.

    Dialah Aisyah RA, Nusaibah bin Kaab, Ummu Atiah Al-Anshoriah, Asma, Zainab, Fatimah, dan istri-istri Nabi yang mulia. Bila kita kaji ajaran Islam, maka kita dapati bahwa Islam menjunjung tinggi harga diri dan kemuliaan wanita dengan menempatkannya sebagai anak, istri, ibu, dan anggota masyarakat. Dan Islam juga menempatkannya sebagai manusia, yang punya hak dan kewajiban sebagaimana lelaki tentunya.

    Dalam pandangan Islam WANITA ITU BUKANLAH MUSUH PRIA, JUGA BUKAN SAINGANNYA, MELAINKAN PENYEMPURNA BAGINYA. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri,supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.” (Ar-Ruum:21)

    Ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara wanita muslimah dengan suaminya dalam rangka kerjasama  antara lain:

    1. BEKERJASAMA DALAM KETAATAN PADA ALLAH

    Salah satu yang sangat membahagiakan pasangan  suami-istri adalah manakala melihat suami/istrinya bersungguh-sungguh dalam beribadah pada ALLAH. Karena ketaatan merupakan faktor terpenting dalam kerjasama  ini. Kita bisa saksikan contoh-contoh sahabat dan sahabiah dalam rangka melakukan ketaatan pada Allah. Suami-istri SALING MENGINGATKAN kalau salah seorang sedang kendur dan lemah untuk senantiasa menjaga ketaatan pada Allah, dan senantiasa saling membantu untuk menegakkannya.

    2. BEKERJASAMA DALAM DAKWAH

    Kewajiban seorang laki-laki dan wanita adalah sama dalam rangka MENYAMPAIKAN DAKWAH ISLAM INI KEPADA SELURUH UMAT MANUSIA. Pada zaman Rasulullah, tidak hanya sahabat saja yang terjun di lapangan dakwah. Tetapi para sahabiah juga banyak yang belajar dan mengajarkan Islam. Kita bisa lihat dengan banyaknya sahabiah yang menjadi tempat rujukan dan sumber-sumber Islam setelah Rasulullah wafat. Begitu juga pada masa sekarang, WANITA DAPAT BEKERJASAMA DENGAN SUAMINYA DALAM RANGKA BERDAKWAH DI JALAN ALLAH. Saling MENYEMANGATI ketika salah seorang sedang turun imannya. Sebagian bentuk peranan seorang istri/muslimah bagi dakwah suaminya adalah MENGAJAK MUSYAWARAH, MEMBERI NASEHAT YANG IKHLAS serta MENDISKUSIKAN HAL-HAL YANG ADA KAITANNYA DENGAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI. Ini bisa kita lihat pada kisah Ummu Salamah ra, yang pendapatnya kemudian diikuti Rasulullah saw.

    Juga salah satu bentuk KERJA SAMA YANG INDAH adalah bila SEORANG ISTRI DAPAT MENEGUHKAN JIWA SUAMINYA, MENGHIBUR, dan MEMBESARKAN HATINYA DENGAN MENGANGGAP KECIL BEBAN YANG DIPIKULNYA. Selalu MENGINGATKAN BAHWA PERTOLONGAN ALLAH SELALU BERSAMANYA. Disaat-saat Rasulullah dilanda kecemasan yang sangat, Khadijah ra datang menghibur dan menentramkan hati Beliau dengan kata-kata yang sangat menyejukkan hati Rasulullah hingga Beliau menjadi tenang.

    3. BEKERJASAMA DALAM JIHAD

    Salah satu yang dianjurkan Islam kepada suami-istri muslim dan muslimah adalah BEKERJASAMA DALAM RANGKA JIHAD DI JALAN ALLAH. Kisah sahabat Handhalah adalah KISAH KESUKSESAN SEORANG ISTRI YANG MENDORONG SUAMINYA BERJIHAD DI JALAN ALLAH. Beliau korbankan malam-malam pengantin mereka demi menggapai salah satu dari dua hal, menang atau syahid. Akhirnya Handhalah syahid dijalan Allah dan jenazahnya dimandikan para malaikat karena ketika berangkat kemedan jihad beliau masih dalam keadaan junub.

    Ada kisah sahabiah yang selalu menyemangati agar anak-anaknya selalu berjihad dijalan Allah sehingga seluruh anak-anaknya mendapat kemuliaan syahid dijalan-Nya. Peristiwa Al-Khansa, sang pelopor kaum ibu dan teladan para istri bisa kita jadikan panutan.

    Semoga kita bisa mengambil hikmah dan menjadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari terutama untuk kaum  muslimah senantiasa bisa melakukan peran -peran ini ,agar para Muslimah mendapatkan apa yang selama ini mereka harapkan yaitu TEGAKNYA ISLAM SERTA MENDAPAT SURGA ALLAH KELAK.

    Dikutip dari :

    1. Alqur’an dan hadist.

    2. Ceramah-Ceramah Hasan Al Banna.

    3. Perjalanan 1000 mil, Zainab Al-Ghazali.

    4. Membahagiakan Suami, M.Abdul Halim Hamid.

    5.Panduan Wanita Sholehah, Abu Fathan.

    ***

    Dari Sahabat Suseno

     
  • erva kurniawan 2:17 am on 17 January 2014 Permalink | Balas  

    ghibahGhibah, Keburukan yang Makin Disenangi

    Sumber : Ummu Zaidan Feikar

    Perbuatan tercela, tapi menjadi biasa. Sebab, dikemas dalam acara yang menarik di televisi.

    Banyak hal yang bergeser dan berubah dengan hadirnya pesawat televisi ke rumah kita, terutama yang berkaitan dengan budaya dan akhlak. Salah satu yang jelas terlihat yaitu pergeseran makna bergunjing atau menggosip.

    Menggosip adalah tindakan yang kurang terpuji yang celakanya, kebiasaan ini seringkali dilekatkan pada sifat kaum wanita. Dulu, orang akan tersinggung jika dikatakan tukang gosip. Seseorang yang ketahuan sedang menggosip biasanya merasa malu. Namun, sekarang kesan buruk tentang menggosip mungkin sudah mengalami pergeseran.

    Beberapa acara informasi kehidupan para artis atau selebritis yang dikemas dalam bentuk paket hiburan (infotainment) dengan jelas-jelas menyebut kata gosip sebagi bagian dari nama acaranya. Bahkan pada salah satu dari acara tersebut pembawa acaranya menyebut dirinya atau menyapa pemirsannya dengan istilah “biang gosip”. Mereka dengan bangganya mengaku sebagai tukang gosip.

    Saat ini, hampir di setiap stasiun televisi memiliki paket acara seperti di atas. Bahkan satu stasiun ada yang memiliki lebih dari satu paket acara infotainment tersebut, dengan jadwal tayangan ada yang mendapat porsi tiga kali seminggu. Hampir semua isi acara sejenis itu, isinya adalah menyingkap kehidupan pribadi para selebritis. Walhasil, pemirsa akan mengenal betul seluk beluk kehidupan para artis, seolah diajak masuk ke dalam rumah bahkan kamar tidur para artis.

    Sepintas acara ini terkesan menghibur. Seorang ibu yang kelelahan setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya, mungkin akan terasa terhibur dengan informasi sisi-sisi kehidupan pribadi orang-orang terkenal. Apalagi kemasan acara yang semakin bervariasi ada yang diselingi nyanyi, wawancara langsung dengan artis, daftar hari ulang tahun para selebritis, dll. Namun jika kita cermati lebih jauh, isinya kurang lebih adalah menggosip atau bergunjing.

    Awal tahun ditandai dengan banyaknya artis yang pisah ranjang dan bercerai. Peristiwa-peristiwa semacam ini merupakan sasaran empuk bagi penyaji hiburan semacam ini. Pemirsa disuguhi sajian informasi yang sarat dengan pergunjingan. Masing-masing pihak merasa benar dan tentu saja menyalahkan pihak lainnya.

    Menggosip yang merupakan tindakan buruk, bisa tidak terasa lagi memiliki konotasi buruk jika terus-menerus disosialisasikan dengan paket menarik pada televisi. Menggosip akan terasa sebagai tindakan biasa dan lumrah dilakukan. Menceritakan aib orang lain menjadi sesuatu yang tanpa beban kita lakukan.Padahal jika kita cermati makna gosip -yang sama dengan ghibah- barangkali kita akan merasa ngeri.

    Ghibah dalam Islam

    Ghibah atau gosip merupakan sesuatu yang dilarang agama. “Apakah ghibah itu?” Tanya seorang sahabat pada Rasulullah saw. “Ghibah adalah memberitahu kejelekan orang lain!” jawab Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar?” Tanya sahabat lagi. ” Jika benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah dusta!” tegas Rasulullah. Percakapan tersebut diambil dari HR Abu Hurairah.

    Dalam Al Qur’an (QS 49:12), orang yang suka meng-ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Jabir bin Abdullah ra. meriwayatkan,”Ketika kami bersama Rasulullah saw tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai. Maka Rasul pun berrsabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad)

    Dalam hadits lain dikisahkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Pada malam Isra’ mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril, `Siapa mereka?’ Jibril menjawab, `Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain,mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!’ (dari Abu Daud berasal dari Anas bin Malik ra).

    Begitulah Allah mengibaratkan orang yang suka mengghibah dengan perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia, betapa buruknya tindakan ghibah.

    Banyak kesempatan bagi ibu-ibu untuk menggosip. Pada saat berbelanja mengelilingi gerobak tukang sayur, menyuapi anak di halaman, pada acara arisan atau kumpulan ibu-ibu. Meng-ghibah kadang mendapat pembenaran dengan dalih, “Ini fakta, untuk diambil pelajarannya!”. Padahal di balik itu lebih banyak faktor ghibahnya daripada pelajarannya.

    Benarkah orang cenderung suka meng-ghibah, bahkan terkesan menikmati kebiasaan seperti ini? Seorang pengasuh konsultasi keluarga pada sebuah media cetak mengatakan rahasia mengapa rubriknya tetap disukai pembaca selama puluhan tahun. Katanya, pada diri manusia itu cenderung terdapat sifat suka menggunjingkan orang lain. Orang cenderung ingin tahu masalah yang terjadi pada orang lain. Dengan demikian ia akan merasa beruntung tidak seperti orang lain atau ternyata bukan dirinya saja yang menderita. Karena umumnya surat yang datang untuk berkonsultasi adalah mereka yang memiliki masalah.

    Jika demikian kebanyakan sifat dari manusia, tentunya kita harus sering melakukan istighfar. Syaitan dengan mudahnya mempengaruhi kebanyakan hati kita sehingga mungkin kita tengah menumpuk dosa akibat pergunjingan.

    Setiap orang mempunyai harga diri yang harus dihormati. Membuat malu seseorang adalah perbuatan dosa. “Tiada seseorang yang menutupi cacat seseorang di dunia, melainkan kelak di hari kiamat Allah pasti akan menutupi cacatnya” (HR. Muslim).

    Sosialisasi pergunjingan di televisi bagaimanapun harus dihindari. Jangan sampai kita merasa tidak berdosa melakukannya. Bahkan merasa terhibur dengan informasi semacam itu. Kita mesti berhati-hati. Bahaya ghibah harus senantiasa ditanamkan agar kita senantiasa sadar akan bahayanya. Benar kiranya jika dikatakan bahwa dulu orang tinggal di dalam rumah karena menghindari bahaya dari luar. Kini bahaya justru berasal dari dalam rumah sendiri yaitu dengan hadirnya acara yang menurunkan kualitas iman di televisi. Semoga kita bisa arif menyikapinya.

    Menangkal Ghibah

    Penyakit yang satu ini begitu mudahnya terjangkit pada diri seseorang. Bisa datang melalui televisi, bisa pula melalui kegiatan arisan, berbagai pertemuan, sekedar obrolan di warung belanjaan, bahkan melalui pengajian. Untuk menghindarinya juga tak begitu mudah, mengharuskan kita ekstra hati-hati, caranya?

    1. Berbicara Sambil Berfikir

    Cobalah untuk berpikir sebelum berbicara, “perlukah saya mengatakan hal ini?” dan kembangkan menjadi, “apa manfaatnya? Apa mudharatnya?” Berarti, otak harus senantiasa digunakan, dalam keadaan sesantai apapun. Seperti Rasulullah saw yang biasanya memberi jeda sesaat untuk berfikir sebelum menjawab pertanyaan orang.

    2. Berbicara Sambil Berzikir

    Berzikir di sini maksudnya selalu menghadirkan ingatan kita kepada Allah swt. Ingatlah betapa buruknya ancaman dan kebencian Allah kepada orang yang ber-ghibah. Bawalah ingatan ini pada saat berbicara dengan siapa saja, di mana saja dan kapan saja.

    3. Tingkatkan Rasa Percaya Diri

    Orang yang tidak percaya diri, suka mengikut saja perbuatan orang lain, sehingga ia mudah terseret perbuatan ghibah temannya. Bahkan ia pun berpotensi menyebabkan ghibah, karena tak memiliki kebanggaan terhadap dirinya sendiri sehingga lebih senang memperhatikan, membicarakan dan menilai orang lain.

    4. Buang Penyakit Hati

    Kebanyakan ghibah tumbuh karena didasari rasa iri dan benci, juga ketidakikhlasan menerima kenyataan bahwa orang lain lebih berhasil atau lebih beruntung daripada kita. Dan kalau dirinya kurang beruntung, diapun senang menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih sengsara daripada dirinya.

    5. Posisikan Diri

    Ketika sedang membicarakan keburukan orang lain, segera bayangkan bagaimana perasaan kita jika keburukan kita pun dibicarakan orang. Seperti hadis yang menjanjikan bahwa Allah akan menutupi cacat kita sepanjang kita tidak membuka cacat orang lain. Sebaliknya tak perlu heran jika Allah pun akan membuka cacat kita di depan orang lain jika kita membuka cacat orang.

    6. Hindari, Ingatkan, Diam atau Pergi

    Hindarilah segala sesuatu yang mendekatkan kita pada ghibah. Seperti acara-acara bernuansa ghibah di televisi dan radio. Juga berita-berita koran dan majalah yang membicarakan kejelekan orang.

    Jika terjebak dalam situasi ghibah, ingatkanlah mereka akan kesalahannya. Jika tak mampu, setidaknya Anda diam dan tak menanggapi ghibah tersebut. Atau Anda memilih hengkang dan `menyelamatkan diri’.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 14 January 2014 Permalink | Balas  

    maulid-nabi-muhammadBatasan Pujian Berlebihan

    Ada dari mereka yang berpendapat bahwa Maulid Nabi adalah termasuk pujian berlebihan sebagaimana kaum Nasrani yang mengadakan perayaan Natal dengan berdalilkan

    Rasulullah bersabda: “Jangan memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani yang memuji Isa putera Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Ahmad).

    Adapula yang berpendapat dari hadits tersebut bahwa Maulid Nabi termasuk mengkultuskan atau mendewakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sehingga mereka menganggap Maulid Nabi adalah yang dimaksud memuji-muji beliau yang menurut mereka berlebihan sehingga termasuk musyrik.

    Hal ini timbul dikarenakan mereka mencoba memahami hadits secara sepotong-potong.

    Kadang mereka memotong sebatas: “Jangan memujiku secara berlebihan ” atau “Jangan memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani yang memuji Isa putera Maryam”

    Mereka tidak memperhatikan apa fungsi bagian akhir dari sabda Rasulullah tersebut yakni “Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.”

    Hadits tersebut sudah secara jelas meberikan batasan pujian yang berlebihan yakni “seperti kaum Nasrani yang memuji Isa putera Maryam” yang mempunyai makna majaz (kiasan) yang maknanya adalah “seperti kaum Nasrani yang menjadikan Nabi Isa a.s sebagai putera Tuhan” Apa yang dilakukan oleh kaum Nasrani diingkari dengan “Isa putera Maryam” dan “Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.”

    Jadi tidak ada kaitannya dengan kaum Nasrani mengadakan perayaan Natal

    Dan sejak larangan Nabi itu disampaikan hingga saat ini, tidak pernah ada seorangpun dari kalangan umat Islam yang memuji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melebihi batasannya sebagai manusia.

    Sehingga benarlah apa yang disampaikan Imam Bushiri di dalam syair Burdahnya:

    “Tinggalkan pengakuan orang Nasrani atas Nabi mereka… Pujilah beliau (shallallahu alaihi wasallam) sesukamu dengan sempurna… Sandarkanlah segala kemuliaan untuk dirinya… Dan nisbahkanlah sesukamu segala keagungan untuk kemuliaannya…”

    Sudah jelas batasan berlebihan seperti juga anjuran janganlah makan berlebihan. Batasannya seperti “berhentilah sebelum kenyang” atau “1/3 udara, 1/3 air, 1/3 makanan

    Begitu pula para Sahabat pernah ditegur oleh Rasulullah ketika mereka melakukan pujian kepada Rasulullah yang diiringi dengan rebana pada kalimat “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.” karena Rasulullah mengetahui kejadian-kejadian di kemudian hari hanya berdasarkan apa yang diwahyukanNya

    Telah menceritakan kepada kami Musaddad Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadldlal Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Dzakwan ia berkata; Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin `Afran berkata; suatu ketika, Nabi shallallahu `alaihi wasallam dan masuk saat aku membangun mahligai rumah tangga (menikah). Lalu beliau duduk di atas kasurku, sebagaimana posisi dudukmu dariku. Kemudian para budak-budak wanita pun memukul rebana dan mengenang keistimewaan-keistimewaan prajurit yang gugur pada saat perang Badar. Lalu salah seorang dari mereka pun berkata, “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.” Maka beliau bersabda: “Tinggalkanlah ungkapan ini, dan katakanlah apa yang ingin kamu katakan.” (HR Bukhari 4750)

    Kesimpulannya yang dimaksud “janganlah memuji Rasulullah berlebihan” adalah memuji Beliau dengan sesuatu yang menyalahi laranganNya atau dengan sesuatu yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits

    Pujilah sesuka kita dengan segala keagungan untuk kemuliaan manusia yang paling mulia, Nabi Sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

    Wassalam

    ***

    Oleh: Zon di Jonggol , Kabupaten Bogor

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 694 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: