Updates from Maret, 2014 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 2:25 am on 25 March 2014 Permalink | Balas  

    Muhammad SAWFisik Rasulullah Muhammad SAW

    Sumber : Haziah – kafe Muslimah

    Mari Mengenal Rasul ! semoga perbendaharaan di bawah bisa membuat kita semakin rindu pada beliau.

    BERWAJAH TAMPAN

    Rasulullah adalah manusia yang paling tampan dan paling baik kondisi fisiknya, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek (Mutafaq ‘Alaih)

    BERKULIT PUTIH DAN BERWAJAH BERSIH

    Rasulullah itu berkulit putih dan berwajah tampan. (HR. Muslim)

    BERBAHU LAPANG SERTA BERJENGGOT DAN BERAMBUT LEBAT

    Rasulullah memiliki postur tubuh ideal, bahu yang lapang, berjenggot lebat dan pangkalnya kemerahan, berambut lebat sampai cuping telinga. Aku pernah melihat beliau berpakaian merah, beliau pernah kulihat orang lebih tampan dari beliau. (HR. Bukhari)

    KEPALA, TANGAN DAN KAKI BELIAU BESAR

    Rasulullah SAW memiliki kepala, dua tangan dan kaki yang besar-besar, berwajah tampah, belum pernah kulihat orang seperti beliau sebelum dan sesudahnya. (HR. Bukhari)

    Wajah beliau SAW seperti matahari dan bulan, berbentuk bulat (HR. Muslim)

    WAJAH BELIAU KETIKA BERGEMBIRA

    Bila Rasulullah SAW sedang bergembira, wajah beliau terlihat cerah seperti bulan dan kami tahu hal itu. (MUtafaq ‘Alaih)

    MATA ROSUL

    Rasulullah SAW tidak tertawa kecuali sekedar tersenyum, bila kamu melihatnya akan berkomentar mata beliau bercelak, padahal beliau tidak memakainya. (HR. Tirmidzi hadits hasan)

    TAWA ROSUL

    Diriwayatkan dari Aisyah ra. : “Saya belum pernah melihat Rasulullah SAW tertawa terbahak-bahak sampai terlihat langit-langit mulutnya, tertawanya hanya tersenyum.” (HR. Bukhari)

    KEELOKAN WAJAH ROSUL

    Dari Jabir bin Samurah ra : “Saya pernah melihat Rasulullah SAW pada malam bulan purnama, aku melihat Rasulullah SAW lalu melihat bulan, sedangkan beliau mengenakan pakaian merah. Menurutku beliau lebih elok daripada bulan.” (HR. Tirmidzi, Hadits hasan hharib. Disahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

    INDAHNYA SIFAT ROSUL

    Tergambar dalam syair berikut “Putih wajahnya Diminta hujan dengan wajahnya Pemberi makan anak yatim dan pelindung janda”

    Syair ini ucapan Abu Thalib yang dilantunkan oleh Ibnu Umar dan sahabat yang lain ketika kaum muslimin tertimpa musim kemarau. Lantas Rasulullah berdoa untuk mereka: “Ya Allah! Hujanilah kami.” Lalu turunlah hujan. (HR. Bukhari)

    Maksudnya, Rasulullah disifati sebagai putih wajahnya diminta oleh orang-orang agar memohon kepada Allah dengan wasilah wajah beliau yang mulia dan doa beliau, agar Dia menurunkan hujan kepada mereka. Itu terjadi ketika Rasulullah masih hidup. Setelah Rasulullah wafat, Khalifah Umar ra berwasilah dengan Al-Abas agar berdoa supaya Allah menurunkan hujan, dan bukan berwasilah dengan Rasulullah yang telah wafat.

    Seseorang dari Bani Kinanah bersyair:

    “Bagi-Mu pujian dari insan yang bersyukur

    Diturunkan hujan kepada kami berkat wajah Nabi

    Dia berdoa kepada Allah, Khaliqnya

    Dengan doa yang menjadikan mata tertunduk

    Secepat lambaian sorban, bahkan lebih cepat

    Kami telah melihat hujan bak mutiara berjatuhan

    Jadilah beliau seperti kata pamannya, Abu Thalib

    Berwajah putih nan bersih

    Dengannya Allah menyiramkan awan Inilah kesaksian tentang berita itu

    Siapa bersyukur kepada Allah, akan mendapat tambahan

    Dan siapa ingkar kepada Allah, akan mendapat murka.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:45 am on 22 March 2014 Permalink | Balas  

    sujud 2Lutut dan Kewajiban Untuk Sujud

    Sesungguhnya penciptaan makhluk -termasuk di dalamnya manusia -selalu sesuai dengan kapasitas tugas dan kewajibannya. Itulah yang saya tangkap dari mutiara ceramah Bapak F.X. Rusharyanto di Yogya beberapa tahun yang lalu.

    Terus terang saja, itu untuk pertama kalinya saya tersedak; antara terharu, tersenyum, dan termenung. Keterpakuan yang membuat kalimat-kalimat beliau terasa terus berngiang-ngiang di telinga saya.

    “Saya mendapatkan hidayah dan masuk Islam,” katanya, “lewat mimpi.”

    Waktu itu, saya tak begitu respek. Entahlah, saya selalu berpendapat dangkal pada orang-orang yang masuk Islam lewat mimpi; bertemu (katanya) Rasulullah, orang berjubah putih, dan pengalaman-pengalaman supranatural lainnya. Tentu saja -menurut saya– hal ini tidak realistis. Saya pikir, saat seseorang menentukan langkahnya, haruslah berproses dalam pemikiran yang ilmiah.

    Tetangga saya masuk Islam gara-gara (katanya) mimpi bertemu Sunan Kalijaga. Hanya sebegitu saja. Bertemu thok. Boro-boro kalau sempat berkenalan atau bertukar alamat, berjabat tangan, apalagi ngobrol. Cuma bertemu sebentar. Katanya, Sunan Kalijaga mengenakan jubah warna hijau kesukaan beliau dan sedang berjalan entah ke mana. Paginya, dia masuk Islam.

    Alangkah mudahnya berganti akidah. Kalau dipikir, apa korelasi antara bertemu Sunan Kalijaga dengan memeluk agama Islam? Toh, zaman dulu banyak orang yang bertemu Sunan Kalijaga -malah -secara wadag.

    Beruntung saat itu dia mimpi bertemu Sunan Kalijaga. Bagaimana kalau dia bertemu Hitler… atau Syeikh Siti Jenar? Wheladalah… bagaimana kalau dia bertemu dengan Dewa Wisnu yang -walaupun kulitnya hitam arang- namun gantengnya ngudubilah setan itu? Kalau besok dia ngelindur ketemu Dewi Kwan Im, jangan-jangan terus memeluk Konghucu, atau lebih parah, menjadi pengikut Sun Go Kong.

    Kalau seseorang memutuskan memeluk Islam setelah pergulatan pikiran, nimbang-nimbang, mencari kebenaran… dan seterusnya yang akhirnya membawanya pada pemahaman yang proporsional sekaligus mantap, maka -menurut saya -keislamannya tidak perlu disangsikan. Saya acung jempol untuk orang-orang semacam itu.

    Apa istimewanya mimpi? Dijadikan patokan beli nomor buntut saja masih suka ngaco, apalagi untuk urusan besar yang berkait langsung dengan akhirat. Lha kok…. Karenanya, saya selalu memandang remeh ‘dalam tanda kutip’ untuk orang-orang seperti ini. Tapi, saya juga tidak ngoyoworo. Contoh gampang saja, tetangga saya yang mimpi bertemu Sunan Kalijaga itu nyatanya sampai sekarang -walaupun Islam -tidak shalat. Kalau shalat tarawih sih iya, grubyag-grubyug pas malam bulan Ramadhan. Mungkin karena lingsem atau bagaimana, yang jelas, hidungnya sering nampang di masjid kalau bulan Ramadhan.

    Saya tidak mengatakan bahwa agama terbebas dari hal-hal irrasional semacam itu. Toh, takdir dan rezeki adalah sesuatu yang tak bisa diterjemahkan secara letterlijk. Ruh, malaikat, jin… adalah mata pelajaran nonwadag dalam kerangka kegaiban yang menjadi komponen kelengkapan iman. Tapi bukan dalam arti juga agama adalah sesuatu yang mutlak irrasional. Semuanya mesti ada dimensi-dimensinya. Cuma, kok ya masih susah juga saya memaklumi orang yang masuk Islam karena ketemu orang berjubah putih dan memakai sorban.

    Kembali pada materi ceramah Ustadz tadi. Singkat cerita, setiba beliau pada kalimat yang menyatakan proses masuk Islamnya, saya langsung melengos merasa tak begitu tertarik. Seperti saya katakan tadi, apa korelasi antara mimpi bertemu bertemu Sunan Kalijaga dengan masuk Islam?

    Ooo… tapi tidak. Dalam ceramah yang saya ikuti dengan ogah-ogahan itu, ternyata akhirnya saya harus tertohok pada pengembaraan pemikiran yang menembus sisi-sisi ruhiyah saya. Dengarlah, mimpi apa yang begitu dahsyat telah mengubah kemudi seorang F.X. Rusharyanto ini.

    “Saya mimpi bertemu ayam,” katanya.

    Ayam? Benar-benar ayam? Kok, bukan Sunan siapa gitu atau kalau berani lebih heboh, ketemu Rasulullah. Ayam sehebat apa yang bisa membuat beliau masuk Islam?

    “Benar-benar ayam,” lanjutnya. “Jangan dulu tertawa dengan mimpi saya yang aneh. Benar, ayam. Saya tidak bermimpi bertemu dengan Rasulullah, orang berjubah putih, atau gadis cantik yang pakai jilbab.”

    Lantas, apa istimewanya ayam ini? Masih mendingan kalau mimpinya ketemu gadis memakai kerudung seperti yang suka dipajang pada bandrol jilbab.

    “Ayam ini bisa ngomong.”

    Ooo… bisa ngomong. Kayak film kartun, dooong? Terus, apa kaitannya dengan Islam?

    “Ayam itu berkata pada saya, ‘bacalah ayat-ayat Tuhan yang ada pada lututmu.'”

    Entahlah, mungkin karena agak-agak seperti dongeng fabel ini, maka saya menjadi tertarik.

    “Lutut?” lanjut sang Ustadz. “Tidak ada ayat apa pun dalam lutut saya,’ begitu bantah saya pada si ayam. Lantas, ayam itu melanjutkan kalimatnya, ‘Tidakkah kauperhatikan perbedaan antara lutut ayam dan lutut manusia? Perhatikanlah wahai manusia dan bacalah. Tempurung lutut kalian diciptakan Tuhan dan diletakkan di depan, berbeda dengan lutut ayam yang diletakkan di belakang. Itu disebabkan kalian tidak diperintah Tuhan untuk mengeram. Ayam diperintahkan untuk mengeram sehingga tubuhnya disempurnakan untuk melaksanakan tugas itu.’ Cukup lama saya memikirkan kalimat ayam itu sebelum kemudian saya bertanya, ‘Lantas, apa yang diperintahkan pada manusia yang memiliki lutut di depan?'”

    Nah, ini yang membuat saya mulai tertarik. Kenapa? Lantas apa jawaban si ayam?

    “Ayam itu,” lanjut beliau, “mengatakan, ‘kepada manusia, Tuhan memerintahkan untuk rukuk dan sujud. Itulah kenapa lutut kalian diletakkan di depan, bentuk kesempurnaan penciptaan di mana susunan yang demikian adalah untuk melaksanakan perintah rukuk dan sujud.”

    Subhanallah… betapa saya selama ini tak pernah membaca ayat yang begini indah. Lantas, berapa banyak lagi ayat yang belum dan tidak terbaca oleh pikiran saya yang lemah ini?

    Sungguh, ilmu dan ayat Allah tak akan selesai ditulis kendati laut diubah menjadi tinta dan digunakan untuk menulisnya, bahkan jika didatangkan satu laut lagi sebagai tinta, dan satu laut lagi sebagai tinta, dan….

    Allah, pandang-Mu sajalah pandang yang tak terhalang. Ilmu-Mu saja ilmu yang tak berujung. Setiap yang didapati pada manusia, hanyalah sepersekian debu-Mu. Ampunilah kesombongan dan kelemahan kami. Amin.

    ***

    eramuslim

    Sakti Wibowo

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 21 March 2014 Permalink | Balas  

    sholat-subuhAmalan yang Bermakna

    Berhati-hatilah bagi orang yang ibadahnya temporal, karena bisa jadi perbuatan tersebut merupakan ciri minimnya keikhlasan.

    Aktivitas ibadah yang dilakukan secara temporal tiada lain ukurannya adalah urusan duniawi. Ia hanya akan dilakukan dan meningkat kuantitasnya ketika sedang butuh, sedang dilanda musibah, atau sedang disempitkan oleh ujian dan kesusahan. Tidak demikian halnya ketika pertolongan Allah datang, kemudahan menghampiri, kesenangan berdatangan, justru seketika itu juga aktifitas amal ibadahnya menurun drastis bahkan lenyap.

    Bagi yang amalnya temporal, ketika menjelang pernikahan tiba-tiba saja ibadahnya jadi meningkat, shalat wajib tepat waktu, tahajud nampak khusu. Tapi anehnya ketika sudah menikah, jangankan tahajud, shalat subuh pun terlambat. Ini perbuatan yang memalukan. Sudah diberi kesenangan, justru malah melalaikan perintah-Nya. Harusnya sesudah menikah berusaha lebih gigih lagi dalam ber-taqarrub kepada Allah sebagai bentuk ungkapan rasa syukur.  Begitupun orang yang sedang ditimpa hutang, penyakit, menghadapi ujian, mengaharapkan kekayaan, kedudukan, dsb. Kebanyakan mereka sangat baik ibadahnya saat ditimpa kesulitan. Namun perlahan-lahan semuanya sirna seiring dengan banyaknya nikmat yang diterima.

    Hal ini berbeda dengan hamba-hamba-Nya yang telah menggapai derajat ikhlas, dimana mereka mampu beribadah secara istiqamah dan berkesinambungan. Ketika diberi kesusahan, dia akan segera saja bersimpuh sujud merindukan pertolongan Allah. Sedangkan ketika diberi kelapangan dan kesenangan yang lebih lagi, justru dia semakin bersimpuh dan bersyukur lagi atas nikmat-Nya ini.

    Orang yang ikhlas tidak akan menggunakan prinsip ekonomi jangka pendek dalam hidupnya, yang selalu meminta balasan instan berupa kenikmatan di dunia. Memang manusia akan termotivasi dalam melakukan suatu aktifitas apabila ada iming-iming di kemudian hari. Namun orang yang ikhlas hanya menginginkan janji Allah akan pahala dan syurganya. Kenikmatan dunia hanyalah alat dan sarana untuk berjuang dan mencapai kebahagiaan abadi di akhirat.

    Pertanyaannya, apakah kita akan tetap melakukan ibadah secara temporer, sekedar untuk menggugurkan kewajiban dan mengharapkan kenikmatan sesaat, atau beranjak ke derajat orang yang ikhlas? Sayang sekali jika amal ibadah yang kita lakukan tidak membawa manfaat pada kehidupan di akhirat kelak sebagai konsekuensi minimnya keikhlasan kita.

    ***

    (Diambil dari Rubrik Manajemen Qalbu)

     
    • Maxgrosir 10:50 am on 26 Maret 2014 Permalink

      Semoga ibadah kita selalu didasari dengan keikhlasan hati agar ibadah kita bisa semakin mantepp lagi menuju sang pencipta raga ini :D

  • erva kurniawan 3:23 am on 20 March 2014 Permalink | Balas  

    wanita sholehahPornografi Menurut Pandangan Alquran

    Fenomena pornografi sangatlah marak pada saat ini, mulai dari media, surat kabar, tabloid, majalah dan lain lain, yang mempertontonkan poster ataupun gambar wanita dengan pakaian setengah telanjang sebagai bahan beritanya.

    Media Televisi yang menyiarkan film-film, telenovela, sinetron, infoteinmen yang membahas tentang lekuk aurat wanita, atau infoteinment yang membahas tentang kehidupan seks, kehidupan hura-hura masyarakat kota besar, yang sesungguhnya semua siaran tersebut hanya menjual kemaksiatan dan kemungkaran yang haram dilihat oleh seorang muslim.

    Media Televisi juga menyiarkan tarian-tarian yang dipertontonkan oleh seorang atau beberapa orang wanita dengan menggunakan pakaian yang ketat, yang terbuka yang menunjukkan lekuk tubuh wanita. Dan kadang ditemani oleh pria yang dengan seenaknya memegang tubuh wanita tersebut yang nyata-nyata bukanlah muhrimnya.

    Mereka menari dengan gerakan-gerakan yang erotis dan vulgar di depan jutaan penonton yang nota bene adalah mayoritas kaum muslim.

    Bahkan ada seorang penyanyi wanita yang karena goyangnya menimbulkan pro dan kontra yang akhirnya menimbulkan suatu perselisihan di antara sesama ummat islam, hal ini sangatlah ironis sekali disaat seharusnya ummat islam bersatu, hanya karena seorang penyanyi dengan tarian nya yang jelas-jelas adalah suatu kemungkaran kita sesama islam saling menghujat.

    Yang menjadi suatu perdebatan saat ini adalah mengenai batasan-batasan apakah ini adalah sebuah seni atau sebuah pornografi. Masih banyak orang yang berkata bahwa belum adanya hukum yang mengatur masalah apakah ini seni atau pornografi sehingga sah-sah saja ini dipertontonkan. Dan hukum inilah yang sedang berusaha dibahas dan dimunculkan oleh para pemimpin kita di pemerintahan.

    Cobalah kita berpikir kenapa kita masih juga berdebat atau mengapa kita masih juga menunggu hadirnya sebuah hukum yang mengatur hal ini, yang diciptakan oleh manusia yang sesungguhnya hukum yang dihasilkan tersebut adalah hasil pemikiran manusia yang keluar dari perasaan hawa nafsu manusia.

    Sesungguhnya kalau kita sadar hukum yang mengatur hal ini sudahlah ada, yaitu hukum yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad saw yang diturunkan langsung oleh Allah SWT yaitu kitab suci alquran.

    Sebagai ummat islam islam seharusnya menggunakan Alquran yang merupakan hukum tertinggi, yang tidak ada satu pun yang dapat menyerupainya, yang merupakan sumber dari segala sumber hukum, dan tiada keraguan dengan Nya, sebagai rujukan untuk menjawab semua permasalahan yang terdapat pada diri ummat islam.

    Al quran diturunkan oleh Allah swt sebagai petunjuk hidup bagi kehidupan manusia untuk membedakan antara Hak dan yang Bathil. Firman Allah swt. Al quran surat Al Baqarah 185

    “Alquran diturunkan oleh Allah swt sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia, untuk membedakan antara yang hak dan yang bathil.

    Sangatlah jelas Allah swt mengatakan sesungguhnya Al quran diberikan kepada ummat islam sebagai sumber hukum untuk membedakan mana yang halal dan mana yang haram.

    Masalah pornografi ini coba kita lihat rujukannya dalam Al quran.

    Firman Allah swt. Al quran surat An Nur ayat 31.

    “Katakanlah kepada wanita yang beriman : hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya kecuali yang (biasa) nampak dari pada nya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada muhrimnya. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah swt hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”

    Sudah sangatlah jelas perintanh Allah swt memerintahkan kaum wanita untuk menjaga, memelihara auratnya dari pandangan manusia lainnya, selain kepada muhrimnya, dengan cara berpakaian lah yang menutup auratnya, bertingkah laku yang sopan, jangan mengumbar kemaksiatan kepada manusia lainnya, yang menimbulkan pikiran jahat manusia. Dan mereka juga harus menjaga pandangan mereka dari apa yang diharamkan oleh Allah swt. Jika Allah swt sudah mengeluarkan suatu larangan maka haram hukumnya untuk dilakukan. Dan jika dilanggar maka akan menjadi suatu dosa, dan dosa pasti mendapat azab, azab di dunia maupun di akhirat.

    Sesungguhnya Allah swt Maha Adil dia tidak hanya memberikan peringatan kepada kaum wanita, tetapi Allah swt juga memberikan peringatan kepada kaum pria.

    Firman Allah swt. Surat An Nur ayat 30

    “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”

    Allah swt memerintahkan kepada kaum pria untuk menjaga pandangannya dari apa yang diharamkan oleh Allah swt, (seperti aurat wanita). Dan memerintahkan mereka untuk menjaga kemaluannya dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah swt, (seperti perzinahan), dan juga menjauhkan qolbunya dari niat-niat yang diharamkan. Sesungguhnya Allah mengetahui apa-apa yang sudah diperbuat maupun yang belum diperbuat, walaupun itu hanya sebuah niat.

    Jika kita melanggar apa yang diperintahkan oleh Allah maka Azablah yang akan datang kepada kita. Firman Allah swt. Al quran surat Al An’aam ayat 49.

    “Dan orang yang mendustakan ayat Allah swt, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik”.

    Kesimpulan

    Firman Allah swt. Al quran surat Az Zukhruf ayat 43.

    “Berpegang teguhlah kamu kepada wahyu Allah, sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus”.

    Ummat Islam haruslah menggunakan Al quran sebagai petunjuk dalam melaksanakan kehidupannya. Dengan menggunakan akal pikirannya yang jernih dan qolbu yang bersih kita harus dapat melakukan penilaian apakah itu suatu seni atau pornografi menurut Al quran.

    Jika itu suatu pornografi maka itu adalah haram, dan jika haram wajib di jauhi, dan jika kita masih juga menghalalkannya maka azab Allah swt akan datang baik azab di dunia maupun diakhirat. Dan sesungguhnya azab Allah swt teramatlah pedih.

    Sesungguhnya Allah swt Maha Benar.

    Wallohu a’lam.

    ***

    Penulis: Iqbal Fahrul Rozi

    alhikmah.com

     
    • cheepan04 10:46 am on 21 Maret 2014 Permalink

      Syukron atas sharing pemikiran di artikel ini. saya suka. mohon ijin co-paste ya :)

  • erva kurniawan 1:01 am on 17 March 2014 Permalink | Balas  

    istiqomahIstiqomah

    Oleh : Aus. Hidayat Nur

    “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 11:112)”

    Seorang sahabat Nabi, Sofyan bin Abdullah Ats Tsaqafi mendatangi Rasulullah Shollallahu Alahi Wa Sallam kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, katakan kepadaku satu ajaran Islam yang aku tidak perlu lagi aku menanyakannya kepada yang lain selain kepada dirimu? Rasulullah Shollallahu Alahi Wa Sallam menjawab, “Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah kemudian bersikap istiqomahlah!”

    Itulah untaian hadits yang amat sederhana yang dapat kita jumpai di dalam Kitab Hadits Al Arbain yang disusun oleh Imam An Nawawie. Hadits itu menjadi salah satu sember ajaran Islam yang sangat penting yaitu istiqomah. Apakah istiqomah itu? Istiqomah seringkali diartikan konsisten dan konsekuen pada kebenaran. Artinya Anda tetap pada sikap dan pendirian atau amal ketaatan Anda yang berlandaskan keimanan dengan penuh keikhlasan, tanpa tergoda untuk surut karena rayuan nafsu dan bujukan duniawi yang ada.

    Manakala Islam telah menjadi pilihan untuk menjadi pedoman hidup kita, jangan dikira persoalan sudah selesai, masih banyak ujian dan cobaan untuk memastikan sejauh mana kebenaran iman yang kita miliki itu. Kehidupan kita dipenuhi dengan berbagai godaan, bujukan dan rayuan yang dapat memalingkan kita dari jalan Allah. Godaan ini datang dari berbagai arah, sangat indah menarik dan menggairahkan. Dia dapat terjadi dimanapun kita berada, di rumah, sekolah, kantor, di jalan, di maal-maal tempat berbelanja.

    Kadang-kadang hati kita tertipu kerena menganggap godaan tersebut dapat diatasi dengan segera sehingga kita pun bersedia berlalai-lalai. Namun ternyata ketika kita lepas dari jalur kebenaran, terasa semakin mengasyikkan dan mungkin hawanafsu pribadi berkata, “Biarlah untuk kali ini, tokh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”……Setelah itu godaan datang lagi, lama kelamaan kita sering terjatuh kemudian lebih sering, kemudian menjadi amat sering bermaksiat. Kemudian seringkali kita pun lupa apakah perbuatan ini termasuk larangan Allah, termasuk sesuatu yang dibenci Allah? Nauzubillah.

    Orang yang istiqomah bagaikan batu karang di tengah lautan, semakin kokoh dan kuat meskipun menghadapi hantaman ombak yang terus menerus menerpa. Atau seperti pohon yang terus menerus tumbuh di tengah hembusan angin dan ganasnya alam sekitar. Tiap hari ada saja daunnya yang jatuh berguguran, namun daun rontok itu ternyata dapat dijadikan pupuk yang bermanfaat. Pada akhirnya pohon itu akan memberikan buah yang bermanfaat kepada manusia kendatipun sebelumnya dia harus menderita.

    Demikian juga orang yang istiqomah dengan iman dan amal salehnya, dia mungkin menghadapi gangguan, ejekan, celaan dari orang lain, tapi dia terus saja melaksanakan amal kebaikannya. Sebaliknya kaum kafir dan munafikin menjadi batu penguji orang-orang beriman dalam meneguhkan kepribadian mereka. Mereka selalu menggangu, mengejek, dan mencela baik dengan diam-diam atau pun terang-terangan. Ini digambarkan dalam ayat berikut ini :

    “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang beriman berlalu dihadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila  orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan : “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat” (QS. 83:29-32)

    Istiqomah akan menjadi lebih kokoh dan kuat manakala dilakukan oleh satu komunitas yang beriman kepada Allah dan selalu tetap pada pendirian mereka. Mereka senantiasa bejuang di jalan Allah dengan penuh kesetian dan pengorbanan dengan tanpa mempedulikan segala bentuk resiko dalam perjuangan mereka. Di dalam Al-Quran dikatakan bahwa mereka yang mengatakan “Robbunallah” (Kami beriman kepada Allah) kemudian beristiqomah, Allah akan menurunkan kepadanya Malaikat yang memberikan jaminan kebahagian di Dunia dan Akhirat.

    “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. 41:30)”

    Bentuk perjuangan komunitas yang istiqomah ini telah banyak di contohkan oleh Kitabullah. Seperti misalnya sikap heroisme para pemuda yang berjihad menentang kezaliman seorang raja. mereka tidak setuju dengan pendirian mayoritas bangsanya yang menyimpang dari ajaran Tawhidullah. Mereka berhimpun utuk menumbangkan kezaliman penguasa yang membawa manusia pada jalan kesesatan. Di tengah masyarakatnya yang terseret arus jahiliyyah yaitu kemusyikan yang dipelopori Raja Zhalim Dekianus, Para pemuda Kahfi tetap istiqomah. Mereka tidak ikut-ikutan mengakui Tuhan-tuhan yang disembah Dekianus dan rakyatnya. Kerena itu mereka dianggap musuh negara, subvesif, dan harus dihukum. Namun mereka bersembunyi kerena tuntunan dakwah masih memerlukan tenaga mereka. Untuk menunjukan tanda kekuasaan-Nya Allah menidurkan mereka. Ketika bangun ternyata masyarakat yang zhalim beserta pemimpinnya itu telah tiada dan tinggal sejarah saja (QS. 18 Al Kahfi: 13-14)

    Secara umum, para ulama membedakan Istiqomah dalam beberapa jenis, tergantung keadaan orang yang menghadapi ujian dan cobaan:

    1. Istiqomah dalam Keimanan: Yaitu senantiasa menjadikan Iman sebagai dasar kehidupan   meskipun harus menghadapi resiko yang menghadang. Iman tidak dilepaskan hingga akhir hayat. Inilah istiqomah yang dicontohkan para Nabi dan Rasul dalam perjuangan dakwah mereka.
    2. Istiqomah dalam Ibadat: Yaitu tetap memelihara ibadat-ibadat yang difardhukan atau pun yang disunnatkan dengan menunaikan hak-hak Allah untuk mencapai khusyu dalam ibadah. Rasulullah Shollallahu Alahi Wa Sallam  pernah menyatakan “Khoirul umuurihi adwaamaha wa-in qolla” (Sebaik-baik amal itu adalah yang berkesinambungan kendati pun sedikit). Istiqomah dalam ibadat ini membuat seorang hamba Allah dicintai Allah dan Allah senantiasa dekat kepadanya.
    3. Istiqomah dalam Muamalah: Yaitu selalu menjalankan prinsip-prinsip syariat dalam hubungan interaksi antar manusia. Dalam berjual beli, perdagangan, dalam berorganisasi, dalam gaul, senantiasa menjalankan missi dan membangun masyarakat Islam.
    4. Istiqomah dalam Akhlaqul Karimah: Yaitu tetap memelihara dan menjaga kepribadian dan budipekerti serta sopan santun islam di tengah pergaulan hidup sehari-hari. Tidak mengikuti perilaku dan kebiasaan orang-orang yang kufur kendati pun masyarakat di sekitarnya sudah menganggap perbuatan tersebut sesuatu yang wajar.
    5. Istiqomah dalam Perjuangan: Yaitu senantiasa melakukan dakwah dan amar makruf nahi munkar, memperjuangkan nilai-nilai ajaran islam di tengah kehidupan masyarakat meskipun datang aneka ragam ujian dalam bentuk ancaman dan permusuhan dari berbagai lawan.

    ***

    Sumber : Marhamah; 592 Tahun XIII 1424 / 2003 M

     

     
  • erva kurniawan 2:40 am on 14 March 2014 Permalink | Balas  

    kerja kerasNasihat dalam Berikhtiar

    Ibnul Qayyim berkata ,”Tidaklah seorang hamba mengambil yang haram kecuali karena dua hal:

    1. Karena su’uzhon (buruk sangka) terhadap Rabb-nya dengan anggapan bahwa Allah tidak akan menganugerahkan sesuatu yang halal dan baik baginya bila ia mematuhi dan mengutamakan syari’at-Nya
    2. Ia mengetahui bahwa Allah akan menganugerahkan kepadanya kebaikan lagi halal manakala ia mematuhi-Nya, namun keinginannya telah mengalahkan kesabarannya dan hawa nafsunya telah menguasai akalnya.”

    ****

    Abdullah ibnu Umar r.a. berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Amal yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla adalah : kamu memasukkan rasa gembira pada hati seorang muslim, atau menghilangkan kesulitannya, atau kamu membayarkan utangnya, atau kamu mengusir rasa lapar darinya.

    ****

    Orang bodoh selalu mengeluh dan mengadukan nasibnya kepada manusia. Itulah puncak kedunguan tentang tampat pengaduan. Sekiranya ia mengenal Robb-nya, pasti ia tidak mengadu kepada mereka. Seandainya ia mengenal hakikat dan kemampuan manusia, pasti ia mengadu kepada Allah. (Ulama)

    ***

    (Diambil dari artikel kiriman sdr. Pitoyo)

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 12 March 2014 Permalink | Balas  

    Mimpi nikahUsah Kau Lara Sendiri

    OLeh: Abu Aufa

    Kegelisahan, kedukaan dan airmata adalah bagian sketsa hidup di dunia ini. Tetesan air mata bermuara dari hati yang terselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan. Kedukaan karena kerinduan yang teramat sangat dalam menyebabkan kepedihan yang memenuhi rongga dada, jiwa yang rapuh pun berkisah pada alam serta kehidupan, bertanya dimanakah pasangan jiwa berada. Lalu, hati menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.

    Keinginan bertemu pasangan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah? Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Sebuah kewajaran pula bahwa setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian. Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya akan terbentuk jiwa-jiwa yang sholeh dan sholehah. Duhai… betapa mulianya kedudukan seorang wanita, apalagi bila ia seorang wanita beriman yang mampu membina dan menjaga keindahan Islami hingga memenuhi setiap sudut rumahtangganya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala pun telah menciptakan wanita dengan segala keistimewaannya, hamil, melahirkan, menyusui hingga keta’atan dan memenuhi hak-hak suaminya laksana arena jihad fisabilillah. Karena itu, yakinkah batin ini tiada goresan saat melihat pernikahan wanita lain dibawah umurnya? Pernahkah kita menyaksikan kepedihan wanita yang berazam menjaga kehormatan diri hingga ia menemukan pasangan jiwanya? Dapatkah kita menggambarkan perasaannya yang merintih saat melihat kebahagiaan wanita lain melahirkan anak? Atau, tidakkah kita melihat kilas tatapan sedih mereka ketika melihat aqiqah anak kita?

    Letih… sungguh amat letih jiwa dan raga, sendiri mengayuh biduk kecil dengan rasa hampa tanpa tahu kapankah berlabuh.

    Ukhti sholehah yang disayang Allah Subhanahu wa Ta’ala… Dalam Islam, kehidupan manusia bukan hanya untuk dunia ini saja, ada dunia fana, pun ada akhirat. Memang, setiap manusia sudah diciptakan berpasangan, namun maksudnya tidak dibatasi hanya dunia fana ini saja. Jadi mungkin saja ada manusia yang jodohnya baru dipertemukan nanti di akhirat. Seseorang yang belum menemukan pasangan jiwanya di dunia fana ini, insya Allah akan dipertemukan di akhirat nanti, selama ia beriman dan bertaqwa serta sabar atas ujian-Nya yang telah menetapkan dirinya sebagai lajang di dunia fana.

    Keresahan dan kegelisahan janganlah sampai merubah pandangan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalaulah rasa itu selalu menghantui, usah kau lara sendiri duhai ukhti, taqarrub-lah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kembalikan segala urusan hanya kepada-Nya, bukankah hanya Ia yang Maha Memberi dan Maha Pengasih. Ikhtiar, munajat serta untaian doa tiada habis-habisnya curahkanlah kepada Sang Pemilik Hati. Jangan membandingkan diri ini dengan wanita lain, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti memberikan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya, meski ia tidak menyadarinya.

    Usahlah dirimu bersedih lalu menangis di penghujung malam karena tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pasangan jiwa, menangislah karena airmata permohonan kepada-Nya di setiap sujud dan keheningan pekat malam. Jadikan hidup ini penuh dengan harapan baik kepada Sang Pemilik Jiwa, dan kesiapan menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tausyiah-lah selalu batin dengan tarbiyah Ilahi hingga diri ini tidak sepi dalam keheningan. Bukankah kalau sudah saatnya tiba, jodoh itu tak akan lari kemana, karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad ini, siapa pasangan jiwamu pun telah dituliskan-Nya.

    Sabar dan sabarlah ukhti sholehah… Bukankah matahari akan selalu menghiasi pagi dengan kemewahan sinar keemasannya, malam pun masih indah dengan bintang gemintang keperakan, dan kicau bening burung malam selalu riang mencandai sang rembulan. Senyumlah, laksana senyum penuh pesona butir embun yang selalu setia melantunkan tasbih dan tahmid di kala subuh. Hapuslah airmata di pipi, hilangkan lara di hati hingga akan dirimu rasakan tak ada lagi gejolak keresahan, kegamangan atau pun kegelisahan. Terimalah semua sebagai bagian dari perjalanan hidup, hingga dirimu temukan rahasia kehidupan bahwa semua ini adalah tanda kebesaran hati dan jiwa, semoga.

    Wallahu alam bi showab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 11 March 2014 Permalink | Balas  

    sombongMenepis Sifat Sombong

    Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

    SOMBONG, takabbur, atau merasa diri besar adalah masalah yang sangat serius. Kita harus berhati-hati dengan persoalan ini. Sebab kesombongan inilah yang menyebabkan setan terusir dari surga dan kemudian dikutuk oleh Allah selamanya. Hadirnya rasa takabbur sangat halus sekali. Banyak orang telah merasa tawadhu (rendah hati) padahal dirinya di mata orang lain sedang menunjukkan sikap takabburnya.

    Tentang sikap takabbur ini Rasulullah SAW bersabda: Tidak akan masuk surga siapa yang di dalam hatinya ada kesombongan walau seberat debu. (HR Muslim). Allah benar-benar mengharamkan surga untuk dimasuki orang-orang takabbur. Takabbur hanya layak bagi Allah yang memang memiliki keagungan sempurna. Sedang seluruh makhluk hanya sekadar menerima kemurahan dari-Nya.

    Penyakit takabbur memang benar-benar seperti bau busuk yang tidak dapat ditutup-tutupi dan disembunyikan. Orang yang mengidap penyakit ini demikian mudah dilihat oleh mata telanjang orang awam sekalipun dan dapat dirasakan oleh hati siapapun.

    Perhatikan penampilan orang takabbur! Mulai dari ujung rambut, lirikan mata, tarikan nafas, senyum sinis, tutur kata, jumlah kata, nada suara, bahkan senandungnya pun benar-benar menunjukkan keangkuhan. Begitupun cara berjalan, duduk, menerima tamu, berpakaian, gerak-gerik tangan bahkan hingga ke jari-jari kaki. Semuanya menunjukkan gambaran orang yang benar-benar buruk perangainya.

    Ada pertanyaan menarik. Pantaskah sebenarnya orang bersikap takabbur, jika seluruh kebaikan pada dirinya semata-mata hanya berkat kemurahan Allah padanya? Padahal jika Allah menghendaki, dia bisa terlahir sebagai kambing. Tentu saja saat itu tidak ada lagi yang bisa disombongkan. Atau kalau Allah mau, dia bisa terlahir dengan kemampuan otak yang minim. Bahkan jika Allah takdirkan dia lahir di tengah-tengah suku pedalaman di hutan belantara, maka pada saat ini mungkin dia tengah mengejar babi hutan untuk makan malam. Apa lagi yang bisa disombongkan?

    Marilah kita berhati-hati dari bahaya kesombongan ini. Jika penyakit ini datang pada kita, kita akan sengsara. Langkah kehati-hatian ini bisa dimulai dengan mengenali ciri-ciri kesombongan. Rasulullah SAW bersabda: Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia. (HR Muslim). Jika dalam hati kita ada satu dari dua hal ini, atau kedua-duanya ada, itu pertanda kita telah masuk dalam deretan orang-orang sombong.

    Sebagian orang ada yang merasa dirinya paling mulia, baik, salih, dekat pada Allah, dikabul doanya, berkah urusannya, dan lainnya. Ketika ada kebaikan lalu kita laporkan padanya, dia berkata: Oh, siapa dulu dong yang mendoakannya? Dan ketika kita datang padanya dengan keluhan berupa musibah, dia berkata: Ah, itu sih tidak aneh, saya pernah mengalaminya lebih parah dari itu.

    Ini adalah gambaran kesombongan. Orang merasa diri lebih dekat pada Allah, lalu memandang orang lain dengan pandangan yang merendahkan. Perilaku seperti ini jika diteruskan akan merugikan pelakunya. Hakikatnya, semua kebaikan dan keburukan terjadi karena izin Allah. Katakanlah (wahai Muhammad) bahwa semuanya (kebaikan dan keburukan itu) adalah dari sisi (atas takdir) Allah. (QS An Nisaa 4:78). Kita tidak berdaya membuat kebaikan dan keburukan jika Allah tidak menghendaki hal itu terjadi. Sekalipun berupa doa atau puasa, tidak bisa dijadikan alasan bahwa kita punya kuasa atas kebaikan dan keburukan.

    Wallahu alam

    ***

    (Kolom Manajemen Qolbu, Harian Kedaulatan Rakyat)

     
  • erva kurniawan 4:09 am on 6 March 2014 Permalink | Balas  

    kasih-sayang-ibuIndahnya Kasing Sayang

    Oleh: K.H. Abdullah Gymnastiar

    Mahasuci ALLOH, Zat yang mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk-makhluk-Nya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang terlepas dari diri seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut.

    Betapa tidak? Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercerabut, maka itulah biang dari segala bencana, karena kasih sayang ALLOH Azza wa Jalla ternyata hanya akan diberikan kepada orang-orang yang masih hidup kasih sayang di kalbunya.

    Seperti kejadian yang menimpa Arie Hanggara yang kisahnya pernah diangkat di film layar lebar, dia menemui ajal karena dianiaya oleh ayah kandungnya sendiri. Begitulah, kekejian demi kekejian, kebiadaban demi kebiadaban menjadi perlambang kehinaan martabat manusia. Hal ini terjadi, tiada lain karena telah tercerabutnya karunia kasih sayang yang ALLOH semayamkan di dalam kalbunya.

    Karenanya, tidak bisa tidak, kita harus berjuang dengan sekuat tenaga agar hati nurani kita hidup. Tidak berlebihan jikalau kita mengasahnya dengan merasakan keterharuan dari kisah-kisah orang yang rela meluangkan waktu untuk memperhaikan orang lain. Kita dengar bagaimana ada orang yang rela bersusah-payah membacakan buku, koran, atau juga surat kepada orang-orang tuna netra, sehingga mereka bisa belajar, bisa dapat informasi, dan bisa mendapatkan ilmu yang lebih luas.

    Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, “ALLOH SWT mempunyai seratus rahmat (kasih sayang), dan menurunkan satu rahmat (dari seratus rahmat) kepada jin, manusia, binatang, dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling berbelas-kasih dan berkasih sayang, dan dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi anak-anaknya. Dan (ALLOH SWT) menangguhkan 99 bagian rahmat itu sebagai kasih sayang-Nya pada hari kiamat nanti.” (H.R. Muslim).

    Dari hadis ini nampaklah, bahwa walau hanya satu rahmat-Nya yang diturunkan ke bumi, namun dampaknya bagi seluruh makhluk sungguh luar biasa dahsyatnya. Karenanya, sudah sepantasnya jikalau kita merindukan kasih sayang, perhatian, dan perlindungan ALLOH SWT, tanyakanlah kembali pada diri ini, sampai sejauhmana kita menghidupkan kalbu untuk saling berkasih sayang bersama makhluk lain?!

    Kasih sayang dapat diibaratkan sebuah mata air yang selalu bergejolak keinginannya untuk melepaskan beribu-ribu kubik air bening yang membuncah dari dalamnya tanpa pernah habis. Kepada air yang telah mengalir untuk selanjutnya menderas mengikuti alur sungai menuju lautan luas, mata air sama sekali tidak pernah mengharapkan ia kembali.

    Sama pula seperti pancaran sinar cerah matahari di pagi hari, dari dulu sampai sekarang ia terus-menerus memancarkan sinarnya tanpa henti, dan sama pula, matahari tidak mengharap sedikit pun sang cahaya yang telah terpancar kembali pada dirinya. Seharusnya seperti itulah sumber kasih sayang di kalbu kita, ia benar-benar melimpah terus tidak pernah ada habisnya.

    Tidak ada salahnya agar muncul kepekaan kita menyayangi orang lain, kita mengawalinya dengan menyayangi diri kita dulu. Mulailah dengan menghadapkan tubuh ini ke cermin seraya bertanya-tanya: Apakah wajah indah ini akan bercahaya di akhirat nanti, atau justru sebaliknya, wajah ini akan gosong terbakar nyala api jahannam?

    Tataplah hitamnya mata kita, apakah mata ini, mata yang bisa menatap ALLOH, menatap Rasulullah SAW, menatap para kekasih ALLOH di surga kelak, atau malah akan terburai karena kemaksiyatan yang pernah dilakukannya?

    Bibir kita, apakah ia akan bisa tersenyum gembira di surga sana atau malah bibir yang lidahnya akan menjulur tercabik-cabik?!

    Perhatikan pula tubuh tegap kita, apakah ia akan berpendar penuh cahaya di surga sana, sehingga layak berdampingan dengan si pemiliki tubuh mulia, Rasulullah SAW, atau tubuh ini malah akan membara, menjadi bahan bakar bersama hangusnya batu-batu di kerak neraka jahannam?

    Ketika memandang kaki, tanyakanlah apakah ia senantiasa melangkah di jalan ALLOH sehingga berhak menginjakkannya di surga kelak, atau malah akan dicabik-cabik pisau berduri.

    Bersihnya kulit kita, renungkanlah apakah ia akan menjadi indah bercahaya ataukah akan hitam legam karena gosong dijilat lidah api jahannam? Mudah-mudahan dengan bercermin sambil menafakuri diri, kita akan lebih mempunyai kekuatan untuk menjaga diri kita.

    Jangan pula meremehkan makhluk ciptaan ALLOH, sebab tidaklah ALLOH menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia. Semua yang ALLOH ciptakan syarat dengan ilmu, hikmah, dan ladang amal. Semua yang bergerak, yang terlihat, yang terdengar, dan apasaja karunia dari ALLOH Azza wa Jalla adalah jalan bagi kita untuk bertafakur jikalau hati ini bisa merabanya dengan penuh kasih sayang.

    Dikisahkan di hari akhir datang seorang hamba ahli ibadah kepada ALLOH dengan membawa aneka pahala ibadah, tetapi ALLOH malah mencapnya sebagai ahli neraka, mengapa? Ternyata karena suatu ketika si ahli ibadah ini pernah mengurung seekor kucing sehingga si kucing tidak bisa mencari makan dan tidak pula diberi makan oleh si ahli ibadah ini. Akhirnya mati kelaparanlah si kucing ini. Ternyata walau ia seorang ahli ibadah, laknat ALLOH tetap menimpa si ahli ibadah ini, dan ALLOH menetapkannya sebagai seorang ahli neraka, tiada lain karena tidak hidup kasih sayang di kalbunya.

    Tetapi ada kisah sebaliknya, suatu waktu seorang wanita berlumur dosa sedang beristirahat di pinggir sebuah oase yang berair dalam di sebuah lembah padang pasir. Tiba-tiba datanglah seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya seakan sedang merasakan kehausan yang luar biasa. Walau tidak mungkin terjangkau kerena dalamnya air di oase itu, anjing itu tetap berusaha menjangkaunya, tapi tidak dapat. Melihat kejadian ini, tergeraklah si wanita untuk menolongnya. Dibukalah slopnya untuk dipakai menceduk air, setelah air didapat, diberikannya pada anjing yang kehausan tersebut. Subhanallah, dengan ijin ALLOH, terampunilah dosa wanita ini.

    Demikianlah, jikalau hati kita mampu meraba derita makhluk lain, insya ALLOH keinginan untuk berbuat baik akan muncul dengan sendirinya.

    Kisah lain, ketika suatu waktu ada seseorang terkena penyakit tumor yang sudah menahun. Karena tidak punya biaya untuk berobat, maka berkunjunglah ia kepada orang-orang yang dianggapnya mampu memberi pinjaman biaya. Bagi orang yang tidak hidup kasih sayang dikalbunya, ketika datang orang yang akan meminjam uang ini, justru yang terlintas dalam pikirannya seolah-olah harta yang dimilikinya akan diambil oleh dia, bukannya memberi, malah dia ketakutan hartanya akan habis atau bahkan jatuh miskin.

    Tetapi bagi seorang hamba yang tumbuh kasih sayang di kalbunya, ketika datang yang akan meminjam uang, justru yang muncul rasa iba terhadap penderitaan orang lain. Bahkan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam akan membayangkan bagaimana jikalau yang menderita itu dirinya. Terlebih lagi dia sangat menyadari ada hak orang lain yang dititipkan ALLOH dalam hartanya. Karenanya dia begitu ringan memberikan sesuatu kepada orang yang memang membutuhkan bantuannya.

    Ingatlah, hidupnya hati hanya dapat dibuktikan dengan apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain dengan ikhlas. Apa artinya hidup kalau tidak punya manfaat? Padahal hidup di dunia cuma sekali dan itupun hanya mampir sebentar saja. Tidak ada salahnya kita berpikir terus dan bekerja keras untuk menghidupkan kasih sayang di hati ini. Insya ALLOH bagi yang telah tumbuh kasih sayang di kalbunya, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah Kasih Sayang-Nya akan mengaruniakan ringannya mencari nafkah dan ringan pula dalam menafkahkannya di jalan ALLOH, ringan dalam mencari ilmu dan ringan pula dalam mengajarkannya kepada orang lain, ringan dalam melatih kemampuan diri dan ringan pula dalam membela orang lain yang teraniaya, subhanallah.

    Cara lain yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk menghidupkan hati nurani agar senantiasa diliputi nur kasih sayang adalah dengan melakukan banyak silaturahmi kepada orang-orang yang dilanda kesulitan, datang ke daerah terpencil, tengok saudara-saudara kita di rumah sakit, atau pula dengan selalu mengingat umat Islam yang sedang teraniaya, seperti di Bosnia, Checnya, Ambon, Halmahera, atau di tempat-tempat lainnya.

    Belajarlah terus untuk melihat orang yang kondisinya jauh di bawah kita, insya ALLOH hati kita akan melembut karena senantiasa tercahayai pancaran sinar kasih sayang. Dan hati-hatilah bagi orang yang bergaulnya hanya dengan orang-orang kaya, orang-orang terkenal, para artis, atau orang-orang elit lainnya, karena yang akan muncul justru rasa minder dan perasaan kurang dan kurang akan dunia ini, masya ALLOH

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:26 am on 3 March 2014 Permalink | Balas  

    Nasehat Imam Hasan Al Basri

    Imam Hasan Al Basri berkata pada murid-muridnya. Jika engkau ingin ketenangan hati dan ketentraman jiwa maka:

    1. Tadzabur Qur’an (baca Al Qur’an dengan artinya)
    2. Istiqomah puasa sunnat (senin & kamis).
    3. Shalat tahajud (qiyamul lail).
    4. Muhasabah (menghisab diri) di sepertiga malam.
    5. Bergaulah dengan orang-orang sholeh.

    Insya Alloh…

    Alloh akan memberi kebersihan hati dengan lisan yang terjaga. Kecerdasan, kearifan dan bijaksana dalam berfikir, serta adil dan ikhlas dalam mengambil keputusan

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:16 am on 1 March 2014 Permalink | Balas  

    ghibahHukum Mengolok-Olok Orang Teguh Menjalankan Ajaran Agama

    Mengolok-olok orang-orang yang berpegang teguh dengan perintah Allah dan Rasul-Nya disebabkan karena mereka itu berpegang teguh (konsisten) dengan perintah itu, hukumnya haram, dan berbahaya sekali terhadap dirinya. Karena dikhawatirkan kebenciannya terhadap mereka itu disebabkan kebenciannya terhadap kondisi mereka yang berpegang teguh dengan ajaran agama Allah, di saat itu, pengolok-olokannya terhadap mereka menjadi pengolok-olokan terhadap jalan yang mereka tempuh (ajaran yang mereka pegang), maka mereka menyerupai orang yang telah dikatakan Allah tentang mereka :

    “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman”. At-Taubah : 65,66).

    Sesungguhnya ayat ini turun kepada satu kaum dari orang-orang munafik yang mereka berkata: “Kami tidak melihat mereka ini seperti qari (pembaca-pembaca) kami -yang mereka maksudkan adalah Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- dan para sahabatnya- yang lebih suka makan, yang lebih pendusta lidahnya, dan yang lebih penakut dihadapan musuh.

    Lalu Allah menurunkan ayat ini terhadap diri mereka. Berhati-hatilah orang yang mengolok-olok penegak kebenaran, dikarenakan mereka itu dari penegak agama. Sesungguhnya Allah telah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lewat di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan:

    “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”. Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Al-Muthaffifiin : 29-36).

    ***

    Sumber: Jawaban Syeikh Ibnu Utsaimin (diambil dari kitab kecil ” Asilah Muhimmah”)

     
  • erva kurniawan 7:55 am on 28 February 2014 Permalink | Balas  

    uang dinarRiba Merajalela

    Oleh: Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

    Di antara tanda-tanda semakin dekatnya kiamat lagi ialah munculnya riba secara merajalela di tengah-tengah masyarakat dan ketidakpedulian mereka terhadap makanan yang haram. Di dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

    “Artinya : Menjelang datangnya hari kiamat akan merajalela riba”. (Diriwayatkan oleh Thabrani sebagaimana termaktub dalam At-Targhib Wat-tarhib karya Al-Mundziri 3:9, dan beliau berkata, “Perawi-perawinya adalah perawi-perawi shahih”).

    Dan di dalam kitab Shahih diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Sungguh akan datang pada manusia suatu zaman yang pada waktu itu orang tidak memperdulikan lagi harta yang diperolehnya, apakah dari jalan halal atau dari jalan haram”. (Shahih Bukhari, Kitab Al-Buyu’, Bab Qaulil-Lah Azza wa Jalla : “Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu ta’kuluu ar-ribaa” 4 : 313, dan Sunan Nasa’i 7 : 234, Kitab Al-Buyu’, Bab Ijtinaabi Asy-Syubuhaat fi Al-Kasbi).

    Kandungan atau isi hadits-hadits ini telah terbukti pada banyak kaum muslimin pada masa sekarang ini. Mereka tidak memilih yang halal lagi dalam berusaha, bahkan mereka kumpulkan saja harta baik dari jalan halal maupun dari jalan haram. Dan kebanyakan hal ini karena keterlibatan mereka dalam muamalah riba. Banyak bank yang berpaktik secara ribawi, dan banyak pula orang yang terjerembab ke dalammnya.

    Betapa jelinya Imam Bukhari hingga beliau memasukkan hadits ini dalam Bab Firman Allah Azza wa Jalla “Yaa ayyuhal-ladziina amanuu laa ta’kulur-ribaa adh’aafan mudhoo’affah” ayat 130 surat Ali Imran (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba secara berlipat ganda), untuk mejelaskan, bahwa praktik memakan riba secara berlipat ganda itu akan terjadi secara leluasa, yakni apabila manusia tidak mempedulikan cara mencari harta serta tidak membedakan antara yang halal dan yang haram.

    ***

    Disalin dari buku Asyratus Sa’ah Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA Edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 108. terbitan Pustaka Mantiq. Penerjemah Drs As’ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi.

     
  • erva kurniawan 7:50 am on 27 February 2014 Permalink | Balas  

    Benarkah Poligami Sunah? 

    poligami2Benarkah Poligami Sunah..?

    UNGKAPAN “poligami itu sunah” sering digunakan sebagai pembenaran poligami. Namun, berlindung pada pernyataan itu, sebenarnya bentuk lain dari pengalihan tanggung jawab atas tuntutan untuk berlaku adil karena pada kenyataannya, sebagaimana ditegaskan Al Quran, berlaku adil sangat sulit dilakukan (An-Nisa: 129).

    DALIL “poligami adalah sunah” biasanya diajukan karena sandaran kepada teks ayat Al Quran (QS An-Nisa, 4:2-3) lebih mudah dipatahkan. Satu-satunya ayat yang berbicara tentang poligami sebenarnya tidak mengungkapkan hal itu pada konteks memotivasi, apalagi mengapresiasi poligami. Ayat ini meletakkan poligami pada konteks perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang.

    Dari kedua ayat itu, beberapa ulama kontemporer, seperti Syekh Muhammad Abduh, Syekh Rashid Ridha, dan Syekh Muhammad al-Madan – ketiganya ulama terkemuka Azhar Mesir – lebih memilih memperketat.

    Lebih jauh Abduh menyatakan, poligami adalah penyimpangan dari relasi perkawinan yang wajar dan hanya dibenarkan secara syar’i dalam keadaan darurat sosial, seperti perang, dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan dan kezaliman (Tafsir al-Manar, 4/287).

    Anehnya, ayat tersebut bagi kalangan yang propoligami dipelintir menjadi “hak penuh” laki-laki untuk berpoligami. Dalih mereka, perbuatan itu untuk mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW. Menjadi menggelikan ketika praktik poligami bahkan dipakai sebagai tolok ukur keislaman seseorang: semakin aktif berpoligami dianggap semakin baik poisisi keagamaannya. Atau, semakin bersabar seorang istri menerima permaduan, semakin baik kualitas imannya. Slogan-slogan yang sering dimunculkan misalnya, “poligami membawa berkah”, atau “poligami itu indah”, dan yang lebih populer adalah “poligami itu sunah”.

    Dalam definisi fikih, sunah berarti tindakan yang baik untuk dilakukan. Umumnya mengacu kepada perilaku Nabi. Namun, amalan poligami, yang dinisbatkan kepada Nabi, ini jelas sangat distorsif. Alasannya, jika memang dianggap sunah, mengapa Nabi tidak melakukannya sejak pertama kali berumah tangga?

    Nyatanya, sepanjang hayatnya, Nabi lebih lama bermonogami daripada berpoligami. Bayangkan, monogami dilakukan Nabi di tengah masyarakat yang menganggap poligami adalah lumrah. Rumah tangga Nabi SAW bersama istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA, berlangsung selama 28 tahun. Baru kemudian, dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Dari kalkulasi ini, sebenarnya tidak beralasan pernyataan “poligami itu sunah”.

    Sunah, seperti yang didefinisikan Imam Syafi’i (w. 204 H), adalah penerapan Nabi SAW terhadap wahyu yang diturunkan. Pada kasus poligami Nabi sedang mengejawantahkan Ayat An-Nisa 2-3 mengenai perlindungan terhadap janda mati dan anak-anak yatim. Dengan menelusuri kitab Jami’ al-Ushul (kompilasi dari enam kitab hadis ternama) karya Imam Ibn al-Atsir (544-606H), kita dapat menemukan bukti bahwa poligami Nabi adalah media untuk menyelesaikan persoalan sosial saat itu, ketika lembaga sosial yang ada belum cukup kukuh untuk solusi.

    Bukti bahwa perkawinan Nabi untuk penyelesaian problem sosial bisa dilihat pada teks-teks hadis yang membicarakan perkawinan-perkawinan Nabi. Kebanyakan dari mereka adalah janda mati, kecuali Aisyah binti Abu Bakr RA.

    Selain itu, sebagai rekaman sejarah jurisprudensi Islam, ungkapan “poligami itu sunah” juga merupakan reduksi yang sangat besar. Nikah saja, menurut fikih, memiliki berbagai predikat hukum, tergantung kondisi calon suami, calon istri, atau kondisi masyarakatnya. Nikah bisa wajib, sunah, mubah (boleh), atau sekadar diizinkan. Bahkan, Imam al-Alusi dalam tafsirnya, Rûh al-Ma’âni, menyatakan, nikah bisa diharamkan ketika calon suami tahu dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan mencelakakannya. Demikian halnya dengan poligami. Karena itu, Muhammad Abduh dengan melihat kondisi Mesir saat itu, lebih memilih mengharamkan poligami.

    Nabi dan larangan poligami

    Dalam kitab Ibn al-Atsir, poligami yang dilakukan Nabi adalah upaya transformasi sosial (lihat pada Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 108-179). Mekanisme poligami yang diterapkan Nabi merupakan strategi untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka. Sebaliknya, yang dilakukan Nabi adalah membatasi praktik poligami, mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam berpoligami. Ketika Nabi melihat sebagian sahabat telah mengawini delapan sampai sepuluh perempuan, mereka diminta menceraikan dan menyisakan hanya empat. Itulah yang dilakukan Nabi kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Dan, inilah pernyataan eksplisit dalam pembatasan terhadap kebiasan poligami yang awalnya tanpa batas sama sekali.

    Pada banyak kesempatan, Nabi justru lebih banyak menekankan prinsip keadilan berpoligami. Dalam sebuah ungkapan dinyatakan : “Barang siapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus” (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 168, nomor hadis: 9049). Bahkan, dalam berbagai kesempatan, Nabi SAW menekankan pentingnya bersikap sabar dan menjaga perasaan istri.

    Teks-teks hadis poligami sebenarnya mengarah kepada kritik, pelurusan, dan pengembalian pada prinsip keadilan. Dari sudut ini, pernyataan “poligami itu sunah” sangat bertentangan dengan apa yang disampaikan Nabi. Apalagi dengan melihat pernyataan dan sikap Nabi yang sangat tegas menolak poligami Ali bin Abi Thalib RA. Anehnya, teks hadis ini jarang dimunculkan kalangan propoligami. Padahal, teks ini diriwayatkan para ulama hadis terkemuka: Bukhari, Muslim, Turmudzi, dan Ibn Majah.

    Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

    Sama dengan Nabi yang berbicara tentang Fathimah, hampir setiap orangtua tidak akan rela jika putrinya dimadu. Seperti dikatakan Nabi, poligami akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya. Jika pernyataan Nabi ini dijadikan dasar, maka bisa dipastikan yang sunah justru adalah tidak mempraktikkan poligami karena itu yang tidak dikehendaki Nabi. Dan, Ali bin Abi Thalib RA sendiri tetap bermonogami sampai Fathimah RA wafat.

    Poligami tak butuh dukungan teks

    Sebenarnya, praktik poligami bukanlah persoalan teks, berkah, apalagi sunah, melainkan persoalan budaya. Dalam pemahaman budaya, praktik poligami dapat dilihat dari tingkatan sosial yang berbeda. Bagi kalangan miskin atau petani dalam tradisi agraris, poligami dianggap sebagai strategi pertahanan hidup untuk penghematan pengelolaan sumber daya. Tanpa susah payah, lewat poligami akan diperoleh tenaga kerja ganda tanpa upah. Kultur ini dibawa migrasi ke kota meskipun stuktur masyarakat telah berubah. Sementara untuk kalangan priayi, poligami tak lain dari bentuk pembendamatian perempuan. Ia disepadankan dengan harta dan takhta yang berguna untuk mendukung penyempurnaan derajat sosial lelaki.

    Dari cara pandang budaya memang menjadi jelas bahwa poligami merupakan proses dehumanisasi perempuan. Mengambil pandangan ahli pendidikan Freire, dehumanisasi dalam konteks poligami terlihat mana kala perempuan yang dipoligami mengalami self-depreciation. Mereka membenarkan, bahkan bersetuju dengan tindakan poligami meskipun mengalami penderitaan lahir batin luar biasa. Tak sedikit di antara mereka yang menganggap penderitaan itu adalah pengorbanan yang sudah sepatutnya dijalani, atau poligami itu terjadi karena kesalahannya sendiri.

    Dalam kerangka demografi, para pelaku poligami kerap mengemukakan argumen statistik. Bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah kerja bakti untuk menutupi kesenjangan jumlah penduduk yang tidak seimbang antara lelaki dan perempuan. Tentu saja argumen ini malah menjadi bahan tertawaan. Sebab, secara statistik, meskipun jumlah perempuan sedikit lebih tinggi, namun itu hanya terjadi pada usia di atas 65 tahun atau di bawah 20 tahun. Bahkan, di dalam kelompok umur 25-29 tahun, 30-34 tahun, dan 45-49 tahun jumlah lelaki lebih tinggi. (Sensus DKI dan Nasional tahun 2000; terima kasih kepada lembaga penelitian IHS yang telah memasok data ini).

    Namun, jika argumen agama akan digunakan, maka sebagaimana prinsip yang dikandung dari teks-teks keagamaan itu, dasar poligami seharusnya dilihat sebagai jalan darurat. Dalam kaidah fikih, kedaruratan memang diperkenankan. Ini sama halnya dengan memakan bangkai; suatu tindakan yang dibenarkan manakala tidak ada yang lain yang bisa dimakan kecuali bangkai.

    Dalam karakter fikih Islam, sebenarnya pilihan monogami atau poligami dianggap persoalan parsial. Predikat hukumnya akan mengikuti kondisi ruang dan waktu. Perilaku Nabi sendiri menunjukkan betapa persoalan ini bisa berbeda dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lain. Karena itu, pilihan monogami-poligami bukanlah sesuatu yang prinsip. Yang prinsip adalah keharusan untuk selalu merujuk pada prinsip-prinsip dasar syariah, yaitu keadilan, membawa kemaslahatan dan tidak mendatangkan mudarat atau kerusakan (mafsadah).

    Dan, manakala diterapkan, maka untuk mengidentifikasi nilai-nilai prinsipal dalam kaitannya dengan praktik poligami ini, semestinya perempuan diletakkan sebagai subyek penentu keadilan. Ini prinsip karena merekalah yang secara langsung menerima akibat dari poligami. Dan, untuk pengujian nilai-nilai ini haruslah dilakukan secara empiris, interdisipliner, dan obyektif dengan melihat efek poligami dalam realitas sosial masyarakat. Dan, ketika ukuran itu diterapkan, sebagaimana disaksikan Muhammad Abduh, ternyata yang terjadi lebih banyak menghasilkan keburukan daripada kebaikan. Karena itulah Abduh kemudian meminta pelarangan poligami.

    Dalam konteks ini, Abduh menyitir teks hadis Nabi SAW: “Tidak dibenarkan segala bentuk kerusakan (dharar) terhadap diri atau orang lain.” (Jâmi’a al-Ushûl, VII, 412, nomor hadis: 4926). Ungkapan ini tentu lebih prinsip dari pernyataan “poligami itu sunah”.

    Penulis :

    Faqihuddin Abdul Kodir Dosen STAIN Cirebon dan peneliti Fahmina Institute Cirebon, Alumnus Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Suriah

     
  • erva kurniawan 7:44 am on 26 February 2014 Permalink | Balas  

    amanah semutRiya Lebih Tersembunyi Daripada Rambatan Semut

    Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy (Ibnu Qudamah)

    Pengantar:

    Duhai betapa beruntung pembaca ini dan betapa rugi penulisnya. Antum mendapatkan air jernih darinya sementara penulisnya mendapat air keruh. Tapi inilah perdagangan yang saya tawarkan. Bila hati pembaca lebih bersih maka itulah yang diharapkan, dengan tanpa terkotorinya hati penulis tentunya. Bila yang terjadi adalah sebaliknya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tempat meminta pertolongan, dan segala kebaikan yang ada berasal dari Allah Yang Maha Tunggal semata.

    Al-‘alamah Ibnu Qudamah memberikan uraian tentang Riya’, Hakekat, Pembagian dan Celaannya, termasuk keterangan riya’ yang menggugurkan amal dan yang tidak, obat dan cara mengobati riya’ dan sebagainya. Uraiannya yang berdasar keterangan dari qur’an dan sunnah cukup jelas, dapat membuat takut orang yang terlalu beharap hingga meremehkan dan memberikan harapan kepada orang yang terlalu takut. Berikut ini saya kutipkan beberapa paragraf dari nasehat beliau yang bisa di jadikan perhatian agar kita bisa hati-hati, karena ini masalah hati. (ALS) Ketahuilah bahwa kata riya’ itu berasal dari kata ru’yah (melihat), sedangkan sum’ah (reputasi) berasal dari kata sami’a (mendengar). Orang yang riya’ menginginkan agar orang-orang bisa melihat apa yang dilakukannya.

    Riya’ itu ada yang tampak dan ada pula yang tersembunyi. Riya’ yang tampak ialah yang dibangkitkan amal dan yang dibawanya. Yang sedikit tersembunyi dari itu adalah riya’ yang tidak dibangkitkan amal, tetapi amal yang sebenarnya ditujukan bagi Allah menjadi ringan, seperti orang yang biasa tahajud setiap malam dan merasa berat melakukannya, namun kemudian dia menjadi ringan mengerjakannya tatkala ada tamu di rumahnya. Yang lebih tersembunyi lagi ialah yang tidak berpengaruh terhadap amal dan tidak membuat pelaksanaannya mudah, tetapi sekalipun begitu riya’ itu tetap ada di dalam hati. Hal ini tidak bisa diketahui secara pasti kecuali lewat tanda-tanda.

    Tanda yang paling jelas adalah, dia merasa senang jika ada orang yang melihat ketaatannya. Berapa banyak orang yang ikhlas mengerjakan amal secara ikhlas dan tidak bermaksud riya’ dan bahkan membencinya. Dengan begitu amalnya menjadi sempurna. Tapi jika ada orang-orang yang melihat dia merasa senang dan bahkan mendorong semangatnya, maka kesenangan ini dinamakan riya’ yang tersembunyi. Andaikan orang-orang tidak melihatnya, maka dia tidak merasa senang. Dari sini bisa diketahui bahwa riya’ itu tersembunyi di dalam hati, seperti api yang tersembunyi di dalam batu. Jika orang-orang melihatnya, maka bisa menimbulkan kesenangannya. Kesenangan ini tidak membawanya kepada hal-hal yang dimakruhkan, tapi ia bergerak dengan gerakan yang sangat halus, lalu membangkitkannya untuk menampakkan amalnya, secara tidak langsung maupun secara langsung.

    Kesenangan atau riya’ ini sangat tersembunyi, hampir tidak mendorongnya untuk mengatakannya, tapi cukup dengan sifat-sifat tertentu, seperti muka pucat, badan kurus, suara parau, bibir kuyu, bekas lelehan air mata dan kurang tidur, yang menunjukkan bahwa dia banyak shalat malam.

    Yang lebih tersembunyi lagi ialah menyembunyikan sesuatu tanpa menginginkan untuk diketahui orang lain, tetapi jika bertemu dengan orang-orang, maka dia merasa suka merekalah yang lebih dahulu mengucapkan salam, menerima kedatangannya dengan muka berseri dan rasa hormat, langsung memenuhi segala kebutuhannya, menyuruhnya duduk dan memberinya tempat. Jika mereka tidak berbuat seperti itu, maka ada yang terasa mengganjal di dalam hati.

    Orang-orang yang ikhlas senantiasa merasa takut terhadap riya’ yang tersembunyi, yaitu yang berusaha mengecoh orang-orang dengan amalnya yang shalih, menjaga apa yang disembunyikannya dengan cara yang lebih ketat daripada orang-orang yang menyembunyikan perbuatan kejinya. Semua itu mereka lakukan karena mengharap agar diberi pahala oleh Allah pada Hari Kiamat.

    Noda-noda riya’ yang tersembunyi banyak sekali ragamnya, hampir tidak terhitung jumlahnya. Selagi seseorang menyadari darinya yang terbagi antara memperlihatkan ibadahnya kepada orang-orang dan antara tidak memperlihatkannya, maka di sini sudah ada benih-benih riya’. Tapi tidak setiap noda itu menggugurkan pahala dan merusak amal. Masalah ini harus dirinci lagi secara detail.

    Telah disebutkan dalam riwayat Muslim, dari hadits Abu Dzarr Radliyallahu Anhu, dia berkata, “Ada orang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang orang yang mengerjakan suatu amal dari kebaikan dan orang-orang memujinya?” Beliau menjawab, “Itu merupakan kabar gembira bagi orang Mukmin yang diberikan lebih dahulu di dunia.”

    Namun jika dia ta’ajub agar orang-orang tahu kebaikannya dan memuliakannya, berarti ini adalah riya’.

    ***

    Dipetik dari: Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy , “Muhtashor Minhajul Qoshidin, Edisi Indonesia: Minhajul Qashidhin Jalan Orang-orang yang Mendapat Petunjuk”, penerjemah: Kathur Suhardi, Pustaka al-Kautsar, Jakarta Timur, 1997, hal. 271-286.

     
  • erva kurniawan 7:35 am on 25 February 2014 Permalink | Balas  

    gandeng-tanganPacaran = Percobaan Tindak Pidana Perzinahan

    “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalan hukum Alloh, jika kamu beriman kepada Alloh dan hari akhir, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman” (QS.An-Nuur:2)

    Oleh: Haryanto

    Tidak di kampus, tidak di kantor, tidak di pertokoan, tidak di bus, tidak di kereta api, lebih-lebih di tempat-tempat hiburan dengan mudah kita akan temukan dua sejoli yang belum terikat tali pernikahan asyik berduaan, bergandengan tangan bahkan berpelukan mesra. Kadang kita menjadi kikuk karenanya. Mau ditegur jadi ribut. Tidak ditegur merusak pandangan. Akibatnya perjalanan kita menjadi tidak nyaman.

    Itulah pacaran. Salah satu budaya sekaligus gaya hidup kaum muda Indonesia. Dengan alasan penjajakan pra nikah, berbagai carapun dilakukannya. Yang penting katanya “Tidak MBA (Married By Accident”. Meskipun realitas membuktikan tidak sedikit para remaja yang hamil sebelum nikah. Dan telah melakukan hubungan badan sesama lawan jenisnya.

    Sehubungan dengan itu, mari kita kaji masalah ini dalam tinjauan hukum positif Indonesia. Pada saat yang sama kita juga perlu membandingkannya dengan hukum Islam, sebagai referensi dan pedoman tertingggi bagi kehidupan kaum muslimin. Sehingga dengan ini, kita sebagai kaum muslimin dapat menentukan sikap berkaitan dengan masalah pacaran ini. Baik terhadap diri kita, saudara kita, anak kita, tetangga kita atau teman dan kolega kita.

    Dalam Hukum Positif

    Dalam KUHP Indonesia, kita tidak temukan istilah pacaran. Namun bukan berarti masalah ini tidak diatur dalam KUHP. Karena dalam Bab XIV diatur masalah kejahatan terhadap kesopanan. Khususnya pasal 281 yang menyatakan bahwa barang siapa yang sengaja merusak kesopanan dimuka umum diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan. Yang dimaksud dengan merusak kesopanan ini, R. Susilo dalam bukunya “Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Serta Komentar-Komentarnya” antara lain yaitu mencium lawan jenis dsb. Dan sebagainya disini bisa berarti pula berpelukan tergantung kebijakan hakim dalam memtuskan masalah ini. Tergantung pula dengan adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku pada sebuah masyarakat.

    Yang perlu digarisbawahi tindakan ini harus dilakukan di depan umum. Diantaranya yaitu di terminal, stasiun, tempat perbelanjaan, gedung bioskop, kampus dan perkantoran. Dan harus dilakukan dengan sengaja. Yang dibuktikan dengan tindakan saling berpelukan atau berciuman di depan umum. Sedangkan bagi mereka yang melakukan diluar tempat umum tidak dapat dikenakan delik ini. Karena unsur di tempat umum tidak terpenuhi.

    Dari ketentuan itu sebenarnya cukup jelas bahwa pacaran yang dibarengi dengan pelukan atau berciuman di depan umum dapat dianggap sebagai kejahatan yang diancam dengan penjara 2 tahun 8 bulan.

    Masalahnya adalah karena terjadinya pergeseran budaya, sehingga tindakan semacam itu sepertinya telah menjadi kebiasaan dan dianggap wajar oleh sebagian besar orang tua, pendidik dan aparat penegak hukum lainnya. Ini menunjukkan bahwa tingkat kesopanan bangsa Indonesia telah menurun. Demikian halnya rasa malu yang dimiliki bangsa ini. Padahal Rasulullah menyatakan Al Hayaau minal iiman (malu adalah sebagian dari iman). Lalu dimana letak keimanan kita jika membiarkan anak-anak kita melakukan hal itu ???.

    Menurut Hukum Islam

    Sebelum kita berbicara masalah pacaran dalam tinjauan hukum Islam kita perlu lebih dahulu memahami maslah hudud, qishash dan ta’zir. Yang dimaksud dengan hudud adalah ketentuan – ketentuan pidana yang telah diatur secara tegas dan jelas termasuk jenis hukumannya dalam Alqur’an atau sunnah Nabi dan yang merupakan hak prerogratif Allah Swt. Semisal mencuri, menyamun, berzina, dan memfitnah.

    Sedangkan qishash adalah pembalasan setimpal sehubungan dengan pembunuhan atau penganiayaan dimana hak menentukan hukumannya diserahkan kepada korban atau ahli waris korban. Apakah ingin membalas yang setimpal, membayar denda atau memaafkan pelakunya.

    Adapun ta’zir adalah ketentuan yang diatur oleh penguasa atau hakim selain dari kedua hal diatas (hudud dan qishash). Fungsinya yaitu untuk mengisi kekosongan hukum. Semisal masalah percobaan pembunuhan atau percobaan pencurian atau percobaan perzinahan yang tidak diatur dalam syariat Islam. Disini penguasa atau hakim diberikan wewenang untuk menentukan besarnya hukuman yang harus diterima oleh pelaku tindak pidana.

    Kembali ke masalah pacaran, penulis juga cukup terkejut ketika membaca buku Al Ahkam Al Sulthaniyyah; halaman 459 karya Imam Al Mawardi. Ternyata dalam hukum Islam pacaran dimasukkan sebagai salah satu bentuk percobaan tindak pidana perzinahan. Dimana hukumannya ditentukan oleh ta’zir penguasa atau hakim.

    Menurut beliau pacaran yang dibarengi dengan ngobrol berduaan dalam satu kamar / rumah maka dikenakan hukuman cambuk sebanyak tiga puluh kali (30). Jika berduaan dan berpelukan tanpa pakaian namun belum sampai bersetubuh dikenakan hukuman cambuk sebanyak enam puluh (60) kali. Jika ngobrol dijalanan maka dikenakan dua puluh (20) cambukan. Jika saling mengikuti dengan saling memberikan isyarat maka dikenakan hukuman cambuk sebanyak sepuluh (10) kali.

    Hal itu selaras dengan ayat ayat 32 surat Al Israa’ yang artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk”.

    Disini cukup jelas bahwa yang dilarang bukan hanya zina, bahkan segala sesuatu yang dapat menghantarkan seseorang jatuh kepada perbuatan zina. Satu diantaranya adalah pacaran. Karena pacaran akan menghantarkan pada zina hati, penglihatan, pendengaran dan tangan.

    Karena itu dalam ayat yang lain Allah menyuruh kita untuk menundukkan pandangan (ghadhul bashar). Firman Allah artinya :

    “Katakanlah kepada laki-laki beriman “ hendaklah mereka menundukkan / menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya …”(An Nuur : 30).

    Jalan Keluar

    Masalah yang timbul sekarang adalah bagaimana dengan anak-anak, teman atau saudara kita yang saat ini pacaran. Haruskah kita cambuk sesuai hukum Islam ?. Tentu saja tidak semudah itu, karena hukum pidana Islam belum diformalkan di negeri kita. Jalan keluar yang paling mungkin yaitu dengan cara mensegerakan mereka menikah. Kalau mereka masih sekolah atau kuliyah bisa dengan cara nikah gantung sebagaimana terjadi dalam hukum adat masyarakat jawa. Yaitu menikahkan secara resmi tapi belum boleh berkumpul dalam satu rumah dan melakukan hubungan suami istri.

    Hal itu juga pernah dicontohkan Rasulullah ketika menikahi ‘Aisyah, karena saat itu Aisyah belum menginjak baligh. Dan Rasulullah baru berkumpul dalam satu rumah setelah ‘Aisyah dewasa atau baligh. Model nikah semacam inilah yang seharusnya kita populerkan. Sehingga pacarannya menjadi resmi, karena dilakukan setelah ijab kabul. Sehingga ketika sang suami yang nikah gantung apel pada malam minggu akan merasa tenang dan nyaman. Tidak takut ditangkap hansip apalagi dicambuk hingga puluhan kali.

    Lalu bagaimana dengan yang belum pacaran dan belum menikah. Jalan keluarnya yaitu dengan cara mencari istri lewat orang tua, ustadz atau teman. Apabila sudah cocok setelah melakukan penyelidikan terhadap sang calon segera saja dilamar dan dinikahi. Hal ini pernah dicontohkan oleh orang tua kita. Meskipun mereka tidak berpacaran toh anaknya banyak dan perkawinannya kekal hingga akhir hayat. Ini sangat berbeda dengan para artis dan anak muda sekarang, meskipun berpacaran cukup lama, tapi toh tingkat perceraiannya cukup tinggi.

    Model pernikahan semacam itu juga sudah mulai dipraktekkan oleh para aktivis dakwah kampus dan anak-anak tarbiyyah Islamiyyah. Dan alhamdulillah menurut pengamatan penulis perjalanan rumah tangga mereka berjalan dengan baik, aman dan nyaman. Jika anda masih ragu-ragu jangan segan-segan bacalah buku “Indahnya Pernikahan Dini” atau buku “Berpacaran Dalam Islam”. Mudah-mudahan dengan itu budaya pacaran lambat laun akan hilang dari kehidupan masyarakat Indonesia yang mengaku religius ini. Wallahu ‘alam. (pay/alhikmah online)

     
  • erva kurniawan 2:06 am on 22 February 2014 Permalink | Balas  

    muslimat-air-mata1Tetesan Air Mata

    Pernah menangis? Pasti pernah ya, paling tidak sekali seumur hidup kita pasti menangis, yaitu saat dilahirkan. Saat itu uraian tetesan air di sudut mata menjadi kebahagiaan orang-orang yang mengasihi kita. Lalu, apakah air mata itu identik dengan kelemahan, bahkan kecengengan? Mungkin iya, tapi mungkin juga tidak. Air mata bisa juga menjadi berharga atau malah tidak berharga lho.

    Seseorang lelaki yang sesenggukan karena kekasihnya telah pergi meninggalkan dirinya, bisa jadi air mata saat itu tidak berharga sama sekali. Demikian juga uraian air mata seorang wanita yang ‘mengorbankan harga dirinya’ kepada Arjuna, Sang Pemetik Cinta, justru pada saat cinta mereka sebenarnya belum diikat dengan ikatan suci, maka saat itu air mata hanyalah kesia-siaan.

    Namun air mata juga bisa menjadi sangat berharga, bahkan sangat berharga. Di dunia, sebagai contoh, air mata bisa menjadi tema tulisan yang laku dijual dan menjadi tema yang tak pernah henti-hentinya mengalir ke benak banyak penulis.

    Pernah tahu buku-buku yang pernah laris di Jepang? Di antara buku-buku terlaris itu adalah “Gotan Fumanzoku”, karya autobiografis Hirotada Ototake, seorang pria yang lahir tanpa kaki dan tangan namun tetap bersemangat dalam hidupnya, menamatkan studinya di Universitas Waseda dan pernah menjadi presenter berita olahraga di televisi.

    Ada pula buku yang lain, yaitu “Dakara Anata mo Ikinuite”, sebuah autobiografi Mitsuyo Ohira, seorang wanita yang menjadi sasaran olok-olok ketika duduk di sekolah menengah. Ohira san pernah mencoba bunuh diri ketika remaja, menikah dengan seorang gangster pada usia enam belas tahun, bercerai, namun kemudian berhasil bangkit dari masa lalunya dan kini menjadi pengacara. Kisah-kisah haru seperti ini dan menguras air mata juga banyak diminati masyarakat pembaca di Jepang.

    Air mata memang ibarat hujan yang jatuh dari langit pada lahan hati yang tandus, gersang dan kering kerontang. Ia bisa melunakkan hati dan jiwa yang keras membatu, perlahan lunak dan menjadi peka terhadap lingkungan sosial.

    Dalam Islam, air mata sangat berharga nilainya saat penyesalan, kerinduan pada manusia-manusia yang tawadhu’. Menyiram kegersangan taman hati dan jiwa, serta qalbu yang gersang dengan berbagai nista hingga perlahan pupus, bagaikan debu-debu yang hanyut terbawa arus oleh butiran-butiran do’a yang dimunajatkan kepada-Nya.

    Mahal… sungguh sangat mahal harganya tetesan air mata yang mengalir saat khusuk menghadap-Nya, bahkan salah satu dari dua tetesan yang disukai Rasulullah SAW adalah air mata yang mengalir karena rasa takut dan rindu kepada Allah SWT. Beliau, kekasih Allah, merengguk, menumpahkan air mata karena penuh harap untuk berjumpa dengan-Nya. Abu Bakar ash-Shidiq r.a. pun senantiasa sesegukan ketika menegakkan sholat.

    Seorang mujahid serta sekaligus mujaddid yang pernah hidup di dunia ini, Hasan al Banna juga pernah menguraikan air matanya karena memikirkan ummat ini. Betapa sang mujahid menginginkan agar ummat mengetahui bahwa mereka lebih dicintai daripada dirinya sendiri, sesaat pun kami tidak akan pernah menjadi musuh kalian. Betapa bangganya beliau ketika jiwa-jiwa ini gugur sebagai penebus kehormatan mereka, atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan dan terwujudnya cita-cita Islam. Rasa cinta yang mengharu-biru hati, menguasai perasaan bahkan mencabut rasa ngantuk di pelupuk mata hingga membuat beliau memeras air matanya. Air mata yang mengalir karena menyaksikan bencana yang mencabik-cabik ummat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan serta pasrah pada keputusasaan.

    Lalu, bagaimanakah dengan kita? Takkala kita lahir menangis, namun orang-orang di sekeliling kita tertawa bahagia karena menyambut kelahiran kita. Namun orang-orang yang kita tinggalkan menangis pilu saat kita tutup usia, saat itu apakah kita juga turut menangis ataukah tertawa bahagia karena akan berjumpa dengan Allah SWT? Adakah amal kita lebih banyak dari dosa yang kita lakukan selama hidup di dunia yang singkat ini? Adakah prestasi kita hanya lahir, hidup, mati, kemudian dilupakan orang, bahkan oleh orang-orang terdekat kita? Lalu setelah itu pasrah, rebah di bantalan tanah, cemas menanti pengadilan akhir yang pasti tiba.

    Ya akhi wa ukhti fillah, Semoga Allah SWT menjadikan air mata yang jatuh di sudut-sudut mata kita adalah air mata yang berharga dipandangan-Nya, hingga dapat membersihkan hati yang pekat ini untuk mudah disusupi cahaya Ilahi Rabbi. Semoga air mata ini kelak tidak menjadi tetesan darah karena letihnya kita berteriak dan mengetuk pintu surga yang telah tertutup rapat setelah pengadilan itu nanti.

    Sungguh, tetesan air mata di dunia ini adalah lebih baik bagi kita ketimbang menangis di akhirat nanti, menangislah sebelum datang hari di mana kita semua akan ditangisi, karena itu pasti terjadi.

    Ya Allah, yang manusia harus takuti Angkatlah kami dari lembah maksiat Sampai kami keluar dari dunia Tak bawa beban walau sebesar zarah [Air Mata: from Izzatul Islam]

    Wallahu alam bi showab,

    ***

    Abu Aufa

     
  • erva kurniawan 7:27 am on 19 February 2014 Permalink | Balas  

    ibu dan anak lelakinya berdoaNasehat Luqman Al Hakim Kepada Putranya

    Segala puji bagi Allah SWT, sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, shahabat, keluarga serta orang-orang yang masih berittiba’ (mengikuti) kepada beliau sampai hari kiamat.

    Al Qur’an adalah sumber hukum dan ilmu pengetahuan yang tak pernah kering untuk ditimba, penuh dengan pelajaran, di dalamnya terdapat hikmah dan teladan. Salah satu isi pokok dari Al Qur’an adalah kisah perjalanan kehidupan para nabi dan rasul serta orang-orang saleh dari umat-umat sebelum nabi Muhammad SAW. Hikmah diceritakannya sirah manusia-manusia pilihan itu tidak lain karena besarnya manfaat dari keteladanan iman, sifat dan akhlaq mereka. Maka disini akan saya angkat sebuah kisah Luqman Al Hakim yang penuh dengan hikmah bagi kita semua.

    1. Tidak menyekutukan Allah.

    Sebesar-besar kedzaliman dan kemungkaran adalah menyekutukan Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT

    “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.(Q.S. Luqman:13)

    Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, kecuali ia bertobat dan meninggalkan perbuatannya. Sesungguhnya hanya Allah sajalah yang berhak untuk disembah (Allahu mustahiqqul ‘ibaadah). Dia lah yang berhaq di mintai pertolongan. Hanya kepada-Nyalah segala urusan diserahkan, takut (khouf), berharap (raja’) hanya layak ditujukan kepada Allah swt, bukan kepada yang lainnya

    2. Berbuat baik kepada kedua orang tua.

    Firman Allah SWT.

    “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”( QS.Luqman: 14)

    Di dalam riwayat Bukhari, Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat:

    “Amalan apakah yang dicintai oleh Allah ?Beliau menjawab: Shalat pada waktunya, ia bertanya lagi: Kemudian Apa ?, Beliau menjawab: berbuat baik kepada orang tua, .Ia bertanya lagi: kemudian apa?, Belau menjawab: Jihad di jalan Allah” (shahih Bukhari V/2227, hadits No.5625)

    3. Ketaatan kepada kedua orang tua harus dilandasi oleh ketaatan kepada Allah; karena tidak boleh taat kepada keduanya dalam rangka berbuat maksiat kepada Allah, lebih-lebih menyekutukan Allah ( syirik ). Allah berfirman

    “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”(QS. Luqman: 14).

    4. Mengikuti jalan orang-orang yang kembali kepada Allah SWT

    Firman Allah SWT

    Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(QS. Luqman: 15)

    Disini Luqman memberikan sebuah nasehat kepada anaknya agar ia mengikuti jejak orang-orang yang kembali kepada Allah SWT yaitu para nabi dan rasul serta orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, yang selalu bertaubat kepada Allah SWT, yang telah diberi Allah SWT hidayah, yaitu tetap dalam agama yang hanif yakni Islam.

    5. Allah akan membalas semua perbuatan manusia.

    Firman Allah swt :

    (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.(Q.S: 16)

    “Maka Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (QS. Al Zalzalah: 7-8).

    6. Menegakkan sholat.

    Shalat adalah tiang agama, sehingga ia tidak akan tegak tanpa shalat. Maka sebagai seorang yang beriman kita diwajibkan menegakkannya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Luqman ayat 17 yang berbunyi :

    “Hai anakku, dirikanlah shalat …”

    Shalat dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah SWT.

    …”Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabuut: 45)

    7. Amar Ma’ruf nahi Munkar.

    Ada dua komponen penting dalam Islam yang memberikan sebuah dorongan yang kuat kepada setiap muslim untuk mendakwahkan agama yang dianutnya, yaitu Amar ma’ruf nahi mungkar (memerintahkan berbuat kebajikan dan mencegah yang mungkar). Perintah untuk beramar ma’ruf nahi mungkar sangat banyak di dalam Al Qur’an seperti :

    “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.(QS. Ali Imran:104).

    8. Bersabar terhadap apa yang menimpa kita.

    Sesungguhnya segala cobaan yang menimpa seorang muslim itu adalah merupakan sesuatu yang mesti terjadi karena itulah bentuk ujian (ikhtibar) dari Allah SWT, apakah ia sabar atau tidak ?, firman Allah SWT.

    “Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”(QS. Luqman:17)

    9. Tidak Menyombongkan diri

    Sifat takabur atau merasa besar dihadapan manusia adalah sifat yang dibenci oleh Allah SWT.

    “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

    10. Bersikap pertengahan dalam segala hal dan berakhlaq yang baik

    Islam tidak menghendaki sikap Ghuluw (berlebih-lebihan) juga tidak menginginkan untuk bersikap tahawun (meremehkan) dalam segala hal termasuk juga dalam perkara-perkara yang menurut penilaian sebagian orang dianggap kecil seperti sikap berjalan, berbicara dsb. Allah SWT mengatur itu semua sebagaimana firmanNya:

    “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

    Manusia akan mempunyai nilai jika menampakkan akhlaq yang baik, karena tujun diutusnya Rasulullah SAW selain untuk menyeru kepada Allah (Ad-dakwah ilallah) adalah untuk menyempurnakan Akhlaq dan budi pekerti.

    ***

    Sumber : Tafsir Ibnu Katsir

     
  • erva kurniawan 7:17 am on 17 February 2014 Permalink | Balas  

    nasehat-quran1Bahaya Cinta Dunia

    Ibnu Qayyim al-Jauziyah

    Diceritakan Nabi Isa AS pernah berkata, “Cinta dunia adalah sumber segala kesalahan. Di dalam harta kekayaan itu penyakit yang banyak sekali.” Orang-orang yang ada disekitarnya bertanya, “Apakah penyakit itu?” Beliau menjawab, “Pemiliknya tidak akan selamat dari sifat berbangga diri dan angkuh.” Mereka berkata, “Bagaimana jika kita bisa selamat?” Nabi Isa AS menjawab, “Dia akan sibuk mengurusnya, dan terlupakan dari dzikir terhadap Allah.”

    Cinta dunialah yang memakmurkan neraka dengan dipenuhi oleh para pelakunya. Mabuk karena cinta dunia lebih berbahaya daripada mabuk karena minum arak. Seseorang yang mabuk karena cinta dunia hanya akan sadar ketika ia berada di kegelapan lahat.

    Yahya bin Mu’adz berkata, “Dunia itu arak setan. Barang siapa mabuk karenanya niscaya tidak akan sadar sampai ia berada di antara orang-orang yang sudah mati, menyesal bersama orang-orang yang merugi.”

    Paling tidak, cinta dunia akan melengahkan seseorang dari cinta kepada Allah SWT dan berdzikir kepadanya. Barang siapa dilengahkan oleh harta bendanya termasuklah ia ke dalam orang-orang yang merugi. Dan hati, jika telah lalai dari dzikrullah pasti setan menguasainya, dan disetir sesuai kehendaknya. Setan akan menipunya sehingga ia merasa telah mengerjakan banyak kebaikan , padahal ia baru mengerjakan sedikit saja.

    Abdullah bin Mas’ud berkata, “Bagi semua orang dunia ini adalah tamu, dan harta itu adalah pinjaman. Setiap tamu pasti akan pergi lagi dan setiap pinjaman pasti harus dikembalikan.”

    Para ulama berkata, “Cinta dunia itu pangkal segala kesalahan dan pasti merusak agama dari berbagai sisi:

    Pertama, mencintainya akan mengakibatkan mengagungkannya. Padalah di sisi Allah SWT dunia itu sangatlah remeh. Termasuk dosa terbesar, mengagungkan sesuatu yang dianggap remeh oleh Allah SWT.

    Kedua, Allah SWT telah melaknatnya, memurkai, dan membencinya, kecuali yang ditujukan kepadaNya. Barangsiapa mencintai sesuatu yang telah dilaknat, dimurkai, dan dibenci oleh Allah SWT berarti ia menyediakan diri untuk mendapat siksa, kemurkaan Allah SWT, dan juga kebencianNya.

    Ketiga, orang yang cinta dunia pasti menjadikannya sebagai tujuan akhir dari segalanya. Pun ia akan berusaha semampunya untuk mendapatkannya. Padahal seharusnya ia melakukan hal itu untuk sampai kepada Allah SWT, sampai ke akhirat. Ia telah membolak-balikan urusan dan juga hikmah. Dalam hal ini ada dua kesalahan. Pertama, ia menjadikan saran sebagai tujuan. Kedua, ia berusaha mendapatkan dunia dengan amalan akhirat. Bagaimanapun ini adalah sesuatu yang terbalik, keliru, dan buruk. Hatinya benar-benar terbalik total. Allah SWT berfirman:

    Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan. (Q.S. Hud:15-16)

    Hadits hadits yang menjelaskan tentang ini pun banyak. Salah satunya hadits Abu Hurairah tentang tiga orang yang pertama kali dijilat api neraka. Yaitu orang yang berperang, orang yang bersedekah, dan orang yang membaca Al-Qur’an. Mereka mengerjakan amalan itu untuk mendapatkan dunia dan kekayaannya.

    Begitulah cinta dunia. Ia bisa menghalangi seseorang dari pahala. Bisa merusak amal. Bahkan bisa menjadikannya sebagai orang yang pertama kali masuk neraka.

    Keempat, mencintai dunia akan menghalangi seorang hamba dari aktivitas yang bermanfaat untuk kehidupan di akhirat. Ia akan sibuk dengan apa yang dicintainya. Kerinduan dan kecintaan kepada dunia pasti membahayakan kehidupan akhirat. Begitu juga sebaliknya.

    Kelima, mencintai dunia menjadikan dunia sebagai harapan terbesar seorang hamba. Sahabat Anas bin Malik meriwayatkan: Rasulullah bersabda, Barangsiapa mengharapkan akhirat, Allah akan menjadikan kekayaan dihatinya dan menghimpun seluruh urusan untuknya, serta dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Adapun siapa yang mengharapkan dunia, Allah akan menjadikan kefakiran didepan matanya dan mencerai-beraikan urusannya, serta dunia tidak akan datang kepadanya kecuali yang sudah ditakdirkan baginya.

    Keenam, pecinta dunia adalah manusia dengan adzab yang paling berat. Mereka disiksa di tiga negara; di dunia, di barzakh, dan di akhirat. Di dunia mereka di adzab dengan kerja keras untuk mendapatkannya dan persaingan dengan orang lain. Adapun di alam Barzakh mereka di adzab dengan perpisahan dengan kekayaan dunia dan kerugian yang nyata atas apa yang mereka kerjakan.

    Ketujuh, orang yang rindu dan cinta kepada dunia sehingga lebih mengutamakannya dari pada akhirat adalah makhluk yang paling bodoh, dungu, dan tidak berakal. Karena mereka mendahulukan khayalan dari pada sesuatu yang hakiki, mendahulukan impian dari kenyataan, mendahulukan kenikmatan sesaat daripada kenikmatan yang abadi, dan mendahulukan negeri yang fana daripada negeri yang kekal selamanya. Mereka menukar kehidupan yang kekal ini dengan kenikmatan semu.

    Sesuatu yang paling mirip dengan dunia adalah bayang-bayang. Disangka memiliki hakekat yang tetap, padahal tidak demikian. Dikejar untuk digapai, sudah pasti tidak akan pernah sampai. Dunia mirip dengan seorang perempuan tua yang sama sekali tidak cantik. Ia ingin menikah dan berdandanlah ia. Dipakainya seluruh perhiasan. Ditutupinyalah segala kekurangan. Orang yang hanya memandang tampilan luarnya pasti tertipu. Ia ingin seseorang menikahinya dengan mahar suaminya harus menceraikan akhirat. Sebab, ia dan akhirat tidak mungkin bisa bertemu, duduk bersama.

    ***

    (Diambil dari Tazkiyah An-Nafs).

     
  • erva kurniawan 6:47 am on 16 February 2014 Permalink | Balas  

    cinta di hari tuaSayangilah Aku Hingga Ujung Waktu

    Kalau kita berbicara tentang pernikahan, pasti semua mengharapkan yang enak-enak atau kondisi ideal. Normal aja dong, kalau mengharapkan kriteria ideal untuk calon pasangan hidupnya. Sang pemuda mengharapkan calon istri yang cantik jelita, keluarganya tajir, pinter, akhlak mulia, sholehah, dll. Begitu juga sang wanita ingin punya suami yang ganteng, kaya, sabar, pinter, bertanggung jawab, setia, akhlaknya memikat, dan sebagainya. Coba bayangin semua ini terjadi pada diri kita, wuah…surga dunia tuh! Siapa sih yang gak mau, iya gak?

    Saat kita lanjut usia, rambut mulai satu-persatu rontok, raga pun perlahan rapuh dan sepuh, sang istri atau suami masih tetap setia mendampingi. Saat di pembaringan, ada yang mijitin pundak hingga kitapun tertidur pulas. Saat dingin menyerang rangkulan kekasih pun semakin erat, bersama saling menopang saat kaki-kaki kita semakin melemah. Kalau sedih ada yang menghibur, saat senang, apalagi, wuah…uendah nian.

    Namun, menurut Hasan Al Banna, waktu itu adalah kehidupan, ia tak pernah berhenti sesaatpun, seiring waktu berlalu, istri semakin keriput dan endut. Tapi menurut sang suami, “Istriku masih yang tercantik,” sementara suami pun perutnya udah buncit, tapi menurut sang istri, “Engkaulah satu-satunya Pangeran dalam istana hatiku.”

    Kebesaran Allah SWT pun selalu tampak di dalam rumah tangga. Setiap anggota keluarga melakukan sholat berjamaah, qiyamullail, membaca Al Qur’an, tasbih, tahmid, saling bertausyiah, bermaafan, menasehati, dan mengingatkan. Inilah hasil dari sepasang anak manusia yang menikah karena ingin mengharapkan ridho-Nya dan cita-cita Islam serta kemegahan ajaran-Nya. Inilah dia surga yang disegerakan sebelum surga yang kekal abadi.

    Semua diatas adalah harapan setiap pasangan. Namun, tak jarang juga ditemukan dalam suatu keluarga yang terjadi adalah sebaliknya. Dari istri yang dibilang gak pinter mengatur rumah tangga, menjaga anak, atau suami yang selalu pulang malam tak peduli dengan anak dan istri, dan macam-macam lagi. Kata nista, kata-kata yang nyelekit, tuduhan, makian bahkan saling memukul, bisa juga terjadi pada sebuah keluarga, yang gini nih sepet banget! Rumah tangga serasa bagai hidup di neraka, tak ada ketenangan apalagi kasih sayang.

    Memang, segala sesuatu itu bisa tak seindah bayangan semula. Ada bunga-bunga indah, namun cukup banyak juga onak dan duri yang siap menghadang. Karena itu, berbagai masalah kehidupan dalam lembaga pernikahan harus dihadapi secara realistis oleh setiap pasangan.

    Apalagi hidup di zaman seperti sekarang ini memang tak mudah, namun Al Qur’an memberikan arahan dalam kehidupan berumah tangga, “…. dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik…. [QS Ath Thalaaq: 6] “….. dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian, bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [QS An Nisaa': 19]

    Seperti gading, tak ada yang tak retak, begitu juga manusia, tak ada yang sempurna. Setiap kita pasti ada kekurangannya, bisa saja seorang suami atau istri terlihat mempunyai satu kekurangan, namun kalau dipikir-pikir lebih banyak kelebihannya. Apakah kekurangannya saja yang diperhatikan oleh pasangannya atau kedua-duanya dengan pertimbangan yang adil?

    Konflik dalam kehidupan rumah tangga juga tak jarang menyebabkan banyak pasangan kehilangan cinta yang dulunya mempersatukan mereka, dan Allah SWT juga telah memberikan arahan yang jelas, “Hai orang-orang mu’min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS At Taghaabun: 14]

    Karena itu, sesungguhnya dalam kehidupan berkeluarga yang kita harapkan adalah indahnya keampunan Allah dan surga-Nya, juga kasih sayang orang-orang yang terdekat dengan kita, yang setiap hari saling membutuhkan, karena itu ‘sayangilah aku (pasangan hidup) hingga ujung waktu.’

    Wahai akhi wa ukhti fillah, mari kita saling mendoakan ya, Semoga dengan kita mengambil panduan Al Qur’an dan sunnah Rasul-Nya serta contoh teladan dari keluarga Rasulullah SAW, akan semakin banyak rumah tangga yang tadinya kurang sakinah kembali menjadi sakinah, rumah tangga yang sakinah menjadi lebih sakinah, dan insya Allah pula saudara-saudara yang belum berumah tangga dikabulkan do’anya berupa pasangan hidup yang sholeh atau sholehah, aamiin allahumma aamiin.

    Wallahu alam bi showab,

    ***

    Al-Hubb Fillah wa Lillah, Abu Aufa

     
  • erva kurniawan 8:32 am on 11 February 2014 Permalink | Balas  

    quranOrang Yang Mengucapkan Syahadat, Pasti Masuk Surga

    Bagaimana hukumnya orang yang semasa hidupnya selalu mengerjakan maksiat, akan tetapi pada akhir hayatnya (ketika sakaratul maut) dia mengucapkan dua kalimat Syahadat?

    Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan bertauhid, yaitu sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir dia berikrar dan mengucapkan dua kalimat Syahadat, maka dia berhak berada di sisi Allah dan masuk surgaNya.

    Orang tersebut sudah dapat dipastikan oleh Allah akan masuk surga, walaupun masuknya terakhir (tidak bersama-sama orang yang masuk pertama), karena dia diazab terlebih dahulu di neraka disebabkan kemaksiatan dan dosa-dosanya yang dikerjakan, yang belum bertobat dan tidak diampuni. Tetapi dia juga tidak kekal di neraka, karena didalam hatinya masih ada sebutir iman. Adapun dalil-dalilnya sebagaimana

    diterangkan dalam hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, yaitu:

    Dari Abu Dzar r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah,’ kemudian meninggal, maka pasti masuk surga.”

    Dari Anas r.a., bahwa Nabi saw. telah bersabda, “Akan keluar dari neraka bagi orang yang mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah,’ walaupun hanya sebesar satu butir iman di hatinya.”

    Dari Abu Dzar pula, dia telah berkata bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda, “Telah datang kepadaku malaikat Jibril dan memberi kabar gembira kepadaku, bahwa barangsiapa yang meninggal diantara umatmu dalam keadaan tanpa mempersekutukan Allah, maka pasti akan masuk surga, walaupun dia berbuat zina dan mencuri.” Nabi saw. mengulangi sampai dua kali.

    Banyak hadis yang menunjukkan bahwa kalimat Syahadat memberi hak untuk masuk surga dan terlindung dari neraka bagi yang mengucapkannya (mengucap Laa ilaaha illallaah). Maksudnya ialah, meskipun dia banyak berbuat dosa, dia tetap masuk surga, walaupun terakhir.

    Sedangkan yang dimaksud terlindung dari neraka ialah tidak selama-lamanya di dalam neraka, tetapi diazab terlebih dahulu karena perbuatan maksiatnya.

     
  • erva kurniawan 8:28 am on 10 February 2014 Permalink | Balas  

    Apa syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam? 

    quranSyarat Utama Bagi Orang Yang Masuk Islam

    Apa syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam?

    Syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam ialah mengucapkan dua kalimat Syahadat. Yaitu, “Asyhadu allaa ilaaha ilallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah.” Barangsiapa yang mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisannya, maka dia menjadi orang Islam. Dan berlaku baginya hukum-hukum Islam, walaupun dalam hatinya dia mengingkari. Karena kita diperintahkan untuk memberlakukan secara lahirnya. Adapun batinnya, kita serahkan kepada Allah. Dalil dari hal itu adalah ketika Nabi saw. menerima orang-orang yang hendak masuk Islam, beliau hanya mewajibkan mereka mengucapkan dua kalimat Syahadat. Nabi saw. tidak menunggu hingga datangnya waktu salat atau bulan Puasa (Ramadhan).

    Di saat Usamah, sahabat Rasulullah saw, membunuh orang yang sedang mengucapkan, “Laa ilaaha illallaah,” Nabi menyalahkannya dengan sabdanya, “Engkau bunuh dia, setelah dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah.” Usamah lalu berkata, “Dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah karena takut mati.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kamu mengetahui isi hatinya?”

    Dalam Musnad Al-Imam Ahmad diterangkan, ketika kaum Tsaqif masuk Islam, mereka mengajukan satu syarat kepada Rasulullah saw, yaitu supaya dibebaskan dari kewajiban bersedekah dan jihad. Lalu Nabi saw. bersabda, “Mereka akan melakukan (mengerjakan) sedekah dan jihad.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 8:24 am on 9 February 2014 Permalink | Balas  

    tidurMimpi, Sekedar Bunga Tidur atau Mempunyai Makna?

    Apakah mimpi seorang muslim dapat ditafsirkan (memiliki alamat) atau hanya sekedar bunga tidur belaka?

    Mimpi bisa saja sekedar bunga tidur tapi bisa pula memiliki makna atau pertanda akan suatu hal. Namun yang jelas sebuah mimpi tidak bisa dijadikan dasar hukum dalam syariat Islam.

    Sebagai contoh, bila anda dalam kondisi harus mengambil keputusan pribadi untuk menentukan pilihan pasangan hidup, maka anda disunnahkan untuk shalat istikharah yang intinya meminta petunjuk dari Allah SWT. Dan diantara cara datangnya petunjuk itu adalah melalui mimpi. Sehingga atas dasar hal itu anda memiiki kekuatan batin untuk memilih pasangan hidup yang menurut anda paling sesuai. Berarti mimpi anda dalam hal ini bukanlah sekedar bunga tidur. Dan pengambilan keputusan pribadi untuk masalah ini dibenarkan secara syariat.

    Tapi bila ada seorang mengatakan bahwa tadi malam mimpi bertemu dengan kiyai anu lalu kiayi itu memberitahu hukum syariat tertentu, misalnya dia mengatakan bahwa khamar itu tidak haram diminum asal tidak terlalu banyak, maka ini sudah pasti sesat dan tidak bisa dijadikan dalil atas suatu hukum agama.

    Kecuali mimpi itu terjadi pada diri seorang nabi yang diutus Allah kepada manusia untuk membawa risalah. Seperti mimpinya Nabi Ibrahim AS bahwa beliau menyembelih puteranya Ismail. Mimpi ini adalah mimpi yang memiliki nilai syariat dan perintah dari Allah SWT. Tapi bila terjadi pada manusia biasa, maka tidak boleh dijadikan dasar syariat. Karena yang berhak membawa syariat itu hanyalah para nabi. Dan semua manusia sejak para shahabat hingga manusia terakhir terikat dengan syariat yang dibawa oleh Rasulullah SAW saja. Mereka sendiri tidak berhak untuk menjadi ‘agen’ wahyu atau syariat yang baru.

    Wallahu a‘lam bishshowab.

    ***

    Diambil dari kolom konsultasi, http://www.syariahonline.com

     
  • erva kurniawan 8:15 am on 7 February 2014 Permalink | Balas  

    Bsyukur (1)elajar Bersyukur

    Seorang Ibu terlihat gusar, setelah melihat tumpukan piring kotor di dapurnya. Semua itu bekas makan siang beberapa orang tamu yang baru saja berkunjung. Bukan karena banyaknya cucian piring, tetapi masih terlihatnya potongan-potongan daging bersisa, belum lagi sisa nasi yang masih menumpuk di piringnya. Ah… padahal untuk menyediakan lauk pauk itu tentu si ibu mesti mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Semua itu demi menjamu tamunya. Kalau saja para tamu itu hanya memakan daging dan mengambil nasi secukupnya saja, tentu tidak akan ada makanan bersisa di piring kotor. Dan anak-anaknya bisa ikut menikmati sebagian daging utuh lainnya. Melihat sisa potongan daging itu, si Ibu bingung, mau di buang … sayang… mau di olah lagi… sudah kotor bercampur sisa makanan lain…. tapi Alhamdulillah tetangga sebelah punya kucing… mungkin ini rezeki si kucing.

    ***

    “Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl:18).

    Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita. Nikmat iman, nikmat sehat, nikmat penghidupan (harta, ilmu, anak, waktu luang, ketentraman, dan lain-lain) serta nikmat-nikmat lain yang tak terkira. Namun dengan sekian banyak nikmat yang Allah berikan seringkali kita lupa dan menjadikan kita makhluk yang sedikit sekali bersyukur, bahkan tidak bersyukur, Na’udzubillahi min dzalik…

    Seringkali kita baru menyadari suatu nikmat bila nikmat itu di ambil atau hilang dari siklus hidup kita. Ketika sakit, baru kita ingat semasa sehat, bila kita kekurangan baru kita ingat masa-masa hidup cukup.

    Syukur diartikan dengan memberikan pujian kepada yang memberi kenikmatan dengan sesuatu yang telah diberikan kepada kita, berupa perbuatan ma’ruf dalam pengertian tunduk dan berserah diri pada-Nya. Cobalah kita memikirkan setiap langkah yang kita lakukan. Bila makan berlebihan dan bersisa. Bayangkan, di tempat lain begitu banyak orang yang kesulitan dan bekerja keras demi untuk mencari sesuap nasi. Bahkan banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung, mencari makan dari tong-tong sampah. Lantas sedemikian teganyakah kita menyia-nyiakan rezeki makanan yang didapat dengan berbuat mubazir. Ketika punya waktu luang malah dipergunakan untuk beraktivitas yang tidak bermanfaat bahkan cenderung merugikan orang lain. Kala tubuh sehat, malah lebih banyak dipakai dengan melangkahkan kaki ke tempat tak berguna. Tidak terbayangkah bila nikmat itu hilang dengan datangnya penyakit atau musibah lainnya. Ah… alangkah ruginya… karena semuanya menjadi percuma disebabkan tidak bersyukurnya kita atas nikmat. Bahkan karena sikap-sikap tadi yang didapat hanyalah dosa dan murka-Nya. Na’udzubillah….

    Kita harus berusaha mengaktualisasikan rasa syukur kita dari hal-hal yang sederhana. Setiap aktifitas sekecil apapun usahakan untuk selalu sesuai aturan-Nya, selaku pencipta kita. Kerusakan yang sekarang timbul di sekeliling kita tidak lain karena sikap kufur nikmat sebagian dari kita. Bayangkan, negara yang kaya akan sumber daya alam, tetapi sebagian besar rakyatnya miskin.

    Untuk itu, tidak ada salahya bila kita mulai dari diri dan keluarga, belajar bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Agar nikmat itu jangan sampai menjadi naqmah (balasan siksa), karena kufur akan nikmat-Nya. Mulailah untuk sering melihat kondisi orang-orang yang berada di bawah kita. Jika sudah, tentulah kita akan lebih banyak mengatakan “Alhamdulillah”. Seperti dalam hadits Rasulullah Saw, ”Perhatikanlah orang yang berada di bawah tingkatanmu (dalam urusan duniawi), dan jangalah kamu memandang kepada orang yang berada di atasmu. Itu lebih layak bagimu supaya kamu tidak menghina pemberian Allah kepadamu.” (HR.Muslim).

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kehilangan nikmat (yang telah Engkau berikan), dari siksa-Mu yang mendadak, dari menurunkannya kesehatan (yang engkau anugrahkan) dan dari setiap kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim dari Ibnu Umar).

    ***

    Diambil dari http://www.eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 7:07 am on 2 February 2014 Permalink | Balas  

    airmata 2Apa Salahnya Menangis

    Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt. Bukankah kondisi hati manusia tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya.

    Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina dan merupakan tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup.

    Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat dibelakang Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur’an, ketika sampai pada ayat: “Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis. Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka.

    Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo’a sendirian jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat.

    Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan ayat-ayat Allah. Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka menangislah disaat membaca Al Qur’an, menangislah ketika berdo’a di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada.

    ***

    Dari eramuslim

     
  • erva kurniawan 5:26 am on 30 January 2014 Permalink | Balas  

    Ada Air Mata Tertahan

    Oleh: M. Fauzil Adhim

    “Apabila datang kepadamu seorang laki-laki datang untuk meminang yang engkau ridho terhadap agama dan akhlaqnya maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan yang merata di muka bumi.” (HR Tarmidzi dan Ahmad)

    Saya tidak tahu apakah ini merupakan hukum sejarah yang digariskan oleh Allah. Ketika orang mempersulit apa yang dimudahkan Allah,  mereka akhirnya benar-benar mendapati keadaan yang sulit dan nyaris tak menemukan jalan keluarnya. Mereka menunda-nunda pernikahan tanpa ada alasan syar’i dan akhirnya mereka mereka benar-benar takut melangkah di saat hati sudah sangat menginginkannya. Atau ada yang sudah benar-benar gelisah tak kunjung ada yang mau serius.

    Kadangkala lingkaran ketakutan itu berlanjut. Bila di usia dua puluh tahunan mereka menunda pernikahan karena takut dengan ekonominya yang belum mapan, di usia menjelang tiga puluh hingga sampai tiga puluh lima berubah lagi masalahnya. Laki-laki mengalami sindrom kemapanan (meski wanita juga banyak yang demikian, terutama mendekati usia 30). Mereka (laki-laki) menginginkan pendamping dengan kriteria yang sulit dipenuhi. Seperti hukum kategori, semakin banyak kriteria semakin sedikit yang masuk kategori. Begitu pula kriteria tentang jodoh, ketika menetapkan kriteria yang terlalu banyak maka akhirnya bahkan tidak ada yang sesuai dengan keinginan kita. Sementara wanita yang sudah berusia sektar 35 tahun, masalah nya bukan kriteria tetapi soal apakah ada orang yang mau menikah dengannya. Ketika usia sudah 40-an, ketakutan kaum laki-laki sudah berbeda lagi, kecuali bagi mereka yang tetap terjaga hatinya. Jika sebelumnya banyak kriteria yang dipasang pada usia 40-an muncul ketakutan apakah dapat mendampingi isteri dengan baik. Lebih-lebih ketika usia beranjak 50 tahun, ada ketakutan lain yang mencekam. Yaitu kekhawatiran ketidakmampuan mencari nafkah sementara anak masih kecil. Atau ketika masalah nafkah tak merisaukan khawatir kematian lebih dahulu menjemput sementara anak-anak masih banyak perlu dinasehati. Apabila tak ada iman maka muncul keputusasaan.

    WAHAI ALI JANGAN KAU TUNDA-TUNDA

    Apa yang menghimpit saudara kita sehingga mereka sanggup meneteskan air mata. Awalnya adalah karena mereka menunda apa yang harus disegerakan, mempersulit apa yang seharusnya dimudahkan. Padahal Rasululloh berpesan:

    “Wahai Ali, ada tiga perkara jangan di tunda-tunda, apabila sholat telah tiba waktunya, jenazah apabila telah siap penguburannya, dan perempuan apabila telah datang laki-laki yang sepadan meminangnya.” (HR Ahmad)

    Hadis ini menunjukan agar tidak boleh mempersulit pernikahan baik langsung maupun tak langsung. Secara langsung adalah menuntut mahar yang terlalu tinggi. Atau yang sejenis dengan itu. Ada lagi yang tidak secara langsung. Mereka membuat kebiasaan yang mempersulit, meski nyata-nyata menuntut mahar yang tinggi atau resepsi yang mewah. Sebagian orang mengadakan acara peminangan sebagai acara tersendiri yang tidak boleh kalah mewah dari resepsi pernikahan, sebagian lainnya melazimkan acara penyerahan hadiah atau uang belanja untuk biaya pernikahan secara tersendiri.

    Bila seseorang tak kuat menahan beban, maka bisa saja melakukan penundaan pernikahan semata karena masalah ini. Saya sangat khawatir akan keruhnya niat dan bergesernya tujuan. Sehingga pernikahan itu kehilangan barokahnya. Na’udzubillah

    Penyebab lain adalah lemahnya keyakinan kita bahwa Allah pasti akan memberi rezeki atau bisa jadi cerminan dari seifat tidak qona’ah  mencukupkan diri dengan yang ada).

    PILIHLAH YANG BERTAKWA

    Suatu saat ada yang datang menemui Al Hasan (cucu Rasululloh). Ia ingin bertanya sebaiknya dengan siapa putrinya menikah? Maka Al Hasan ra berkata:

    “Kawinkanlah dia dengan orang yang bertakwa kepada Allah. Sebab jika laki-laki mencintainya, ia memuliakannya, dan jika ia tidak  menyenaginya ia tidak akan berbuat zalim padanya.”

    Nasihat AL Hasan menuntun kita untuk membenahi pikiran. Jika kita menikah dengan orang yang bertakwa cinta yang semula tak ada meski Cuma benihnya dapat bersemi indah karena komitmen yang memenuhi jiwa.

    ***

     
  • erva kurniawan 2:26 am on 29 January 2014 Permalink | Balas  

    berdoa 1Untaian Harap

    Dengarkanlah untaian harap seorang hamba yang duduk bersimpuh sambil menengadahkan tangan ditengah sunyinya malam diakhir sujud-sujud panjangnya…

    “….. Ya Allah berikan aku handphone lengkap dengan pulsanya yang banyak supaya aku bisa mudah berhubungan saudara2ku dan mengetahui kabarnya”

    “Ya Allah berikan aku notebook plus multimedia dan printer portable-nya agar aku bisa mengetahui informasi dunia memberitahu pada yang belum tahu dan membuat dokumentasi yang baik”

    “Ya Allah berikan aku mobil yang keciil saja supaya aku bisa dipakai urusan da’wah dengan mudah survey … syuro …jemput muajih..”

    “Ya Allah berikan aku sebuah rumah sederhana yang luaaas pekarangannya supaya bisa kujadikan markazud da’wah”

    “Ya Allah berikan aku kompor gas dan tabungnya supaya aku bisa buat konsumsi dengan cepat untuk para mujahid”

    “Ya Allah berikan aku otak yang encer dan kesempatan belajar setinggi2nya supaya aku bisa pintar dan mudah menghafal Al Qur’an”

    “Ya Allah berikan aku uang yang banyak biar bisa kusumbangkan pada yang membutuhkan”

    “Ya Allah berikan pasangan hidup yang Engkau sukai dan baik supaya aku bisa bersama-sama membangun miniatur daulah yang baik”

    “Ya Allah berikan aku anak-anak yang cerdik dan sholeh supaya bisa dijadikan kebanggaan dan tabungan di akhirat kelak”

    “Ya Allah berikan aku kesempatan untuk keliling dunia supaya kubisa tafakuri belahan duniaMu yang lain”

    ……………………………… Namun Ya Allah aku ….. (sambil terisak ia meneruskan untaian harapnya)…………………… aku ini hanyalah seorang hamba yang dhoif dan lemah …………….. seringkali khilaf untuk bersyukur

    janganlah kau kabulkan Ya Allah……… jangan … kalau sekiranya itu semua bisa membuatku terlena………. Apalah arti semua itu ….. kalau bukan untukMu…..

    Ya Allah ….. sesungguhya kuminta semua itu karna hanya ingin membuktikan cinta padaMu dengan berbagai cara……. Engkaulah yang Maha Mengetahui mana saja yang patut kudapat……. atau tidak sama sekali bila itu semua justru membuatku jauh dariMu tak usahlah Kau berikan…. cukup saja hamba diberi setitik cintaMu…………………kabulkanlah Ya Allah….. (Adzan Subuh berkumandang menutup untaian-untaian harap seorang hamba)

    “Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wafil aakhirati hasanah..waqinaa adzabannaar”.

    ***

    Dari sahabat di Pesanggrahan

     
  • erva kurniawan 6:27 am on 27 January 2014 Permalink | Balas  

    adab-sedekahMemberi Itu Indah

    Banyak orang beranggapan bahwa memberikan sesuatu (harta, ilmu pengetahuan, dan pemikiran) kepada orang lain yang tidak dapat memberikan balasan langsung, merupakan sesuatu yang sia-sia dan tidak boleh dilakukan. Teori kerja dengan imbalan yang bersifat material, atau ibadah yang hanya dikaitkan dengan balasan pahala semata itu begitu mendominasi sebagian besar umat kita. Karenanya, tidak jarang umat Islam memiliki sifat bakhil, kikir, dan sama sekali tidak mau memberi, kecuali dengan imbalan dan upah yang jelas, terukur dan terstruktur.

    Dalam sebuah hadis riwayat Imam Turmudzi, Rasulullah SAW bersabda, ”Pemurah itu akan dekat dengan Allah [rahmat-Nya], dekat dengan sesama manusia [cinta dan kasih sayangnya], dengan surga [nikmatnya], dan jauh dari neraka [adzanya]. Sebaliknya, orang yang bakhil akan jauh dari Allah, jauh dari sesama manusia, jauh dari surga, tetapi dekat dengan neraka.”

    Orang yang mengeluarkan zakat dengan kesadaran dan keikhlasan penuh akan mendapatkan kebersihan, kesucian, dan ketenangan jiwa (QS 9:103). Ia akan diberi kemudahan oleh Allah SWT dalam mengatasi berbagai problem hidup dan kehidupannya (QS 70: 19-25). Sementara itu, hartanya akan terus berkembang dan bertambah dari waktu ke waktu (QS 30:39).

    Dalam sebuah hadis sahih riwayat Ibn Abiddunya, Rasulullah SAW bersabda, ”Sedekah itu tidak akan menyebabkan sesuatu pada harta, kecuali hanya akan memperbanyaknya. Karena itu, bersedekahlah kamu sekalian, pasti Allah akan mencurahkan rahmat-Nya.” Dalam sebuah hadis yang lain riwayat Ibn Majah, Rasulullah SAW bersabda, ”Iri dan dengki itu akan menghabiskan segala kebaikan yang kita lakukan sebagaimana api menghanguskan kayu bakar. Sedekah akan menghapuskan segala kesalahan sebagaimana air memadamkan api. Shalat itu adalah cahayanya orang mukmin dan puasa itu penghalang mukmin dari azab neraka.”

    Orang yang suka berzakat dan berinfak akan memiliki etos kerja dan usaha kuat, yang menyebabkannya senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan rezeki yang halal, untuk kemudian sebagiannya diberikan kepada mereka yang membutuhkan dan berhak menerima. Mari kita tumbuhkan kecintaan untuk memberi dan memberi. Insya Allah kita akan menjadi orang kaya, baik material maupun spiritual.

    ***

    Diambil dari artikel kolom Hikmah Republika, karya KH. Didin Hafidzuddin

     
  • erva kurniawan 3:03 am on 25 January 2014 Permalink | Balas  

    Jagalah Makananmu Maka Allah Akan Menjagamu MasyaAllah Sebanyak… 

    makanan1Jagalah Makananmu Maka Allah Akan Menjagamu

    MasyaAllah, Sebanyak ini.?

    Kuamati kembali daftar dzat halal dan haram yang tertera di dalam majalah tersebut. Aku benar-benar shock karena makanan yang selama ini masuk dalam tubuhku mengandung dzat haram. Ingin rasanya aku keluarkan kembali semua isi perutku tapi hal itu tidaklah mungkin. Penyesalan tidak ada gunanya justru saat inilah seharusnya aku banyak bersyukur kepadaNya. Dia Yang Maha Tahu telah mengingatkan aku betapa pentingnya menjaga setiap tetes dzat yang masuk ke dalam tubuh. Dia Yang Maha Tahu pula yang telah mengajariku bahwa dengan menjaga makanan kita, maka kita telah menjaga keimanan.

    Saat ini, di negeri orang yang mayoritas penduduknya non muslim, aku merasakan betapa pentingnya arti makanan. Di saat yang lain makan dengan lahap, sementara kita harus teliti membaca kandungan dzat makanan kita. Disaat yang lain bebas memilih makanan kesukaan kita, sementara kita harus menahan rasa lapar yang mendera. Dan semua tidak semudah seperti yang aku bayangkan sebelumnya karena dzat-dzat itu tidak hanya menyeretku ke jurang kemalasan dan ke lembah kehinaan tetapi menutup semua jalan yang ingin aku lewati. “Ya” Aku jadi malas beibadah kepadaNya, dan Allah tidak memperkenankan aku bermunajat kepadaNya di malam hari karena tanpa aku sadari telah begitu banyaknya dzat haram yang masuk kedalam tubuh ini. Belum lagi urusan-urusan tiba-tiba jadi sulit untuk aku tembus.

    Kenapa dzat? Kenapa tidak langsung khamr, daging babi dan yang lainnya?”

    Karena yang besar dan terlihat secara fisik biasanya lebih mudah untuk dihindari. Justru yang kecil dan tidak terlihat yang sulit sekali dihindari dan kita mudah terjebak. Pada awalnya, aku hanya mengetahui dzat 472e saja yang haram. Setiap kali membeli sesuatu, aku selalu mengeceknya dan semua berjalan lancar. Ibadah harian yang biasa aku kerjakanpun tidak ada masalah berarti. Sampai akhirnya aku menyadari “ada sesuatu yang tidak beres.” Aku sangat sulit sekali bangun malam walaupun aku sudah mencoba berbagai macam strategi. Dan akhirnya aku menemukan daftar itu di sebuah majalah Islam. Aku bersihkan semua makanan yang mengandung dzat-dzat tersebut dan mulai saat itu aku memilih tidak makan kalau kandungan dzatnya tidak jelas atau meragukan. Subhanallah kini aku bisa bangun malam kembali, bermunajat kepadaNya, dan melaksanakan ibadah yang lain dengan lebih khusyuk. Allahpun membuka begitu banyak jalan kemudahan untukku dan segala urusan menjadi lancar. Alhamdulillah segala Puji Hanya Untuk Allah Yang Mencintai kebaikan dan hanya menerima sesuatu yang baik.

    Ada kebiasaan hidup yang hampir sama antara Rasulullah, para sahabat, dan orang–orang sholeh, mereka selalu menjaga makanan mereka. Menggalakan puasa demi penyucian diri dan kedekatan dengan RobbNya.

    Masih segar dalam ingatan kita kisah seorang pemuda yang menemukan apel di sungai, kemudian ia memakannya. Di tengah menikmati apel itu, ia tersadar bahwa apa yang ia makan bukanlah miliknya. Setelah mencari dan mencari, akhirnya ia dapat menemukan sang pemilik buah apel itu. Akhir cerita, sang pemilik pohon apel, menikahkan pemuda itu dengan salah seorang anaknya. Bukti keimanan terpancar dalam diri pemuda tersebut. Ia sangat menyadari bahwa setiap tetes makanan yang masuk kedalam tubuh pasti akan mempengaruhi kecintaannya pada Allah. Karena setiap output pasti tergantung dengan input maka makanlah makanan yang halal, cek dzat-dzat yang terkandung didalamnya, jangan remehkan yang kecil, karena kita bisa selamat dengannya atau bahkan terpuruk dilembah kehinaan karenanya. Jagalah makananmu, maka Allah akan menjagamu.

    Wallahu’a’lam bishshowab

    ***

    Dari Sahabat: Zamah Saari – eramuslim.

     
  • erva kurniawan 3:46 am on 24 January 2014 Permalink | Balas  

    Reciting-QuranMenyiasiati Rapuhnya Kemauan

    Lemahnya kemauan sering membuat orang enggan berbuat kebaikan, padahal manfaat dan maslahat terpulang pada dirinya. Mengapa ini sering terjadi?

    Siapa yang tak kenal Salman al-Farisi? Sahabat Rasul berkebangsaan Persia ini menempuh perjalanan panjang dan rintangan berat demi menjemput hidayah. Berbagai dera siksa telah dirasainya. Keluarga yang dikasihinya rela ia tinggalkan. Lebih dari itu, ia juga telah mengecap derita menjadi budak yang diperjual belikan. Usahanya tak sia-sia, ketika akhirnya ia tiba di Madinah dan bertemu Rasulullah saw. Keimanan dan hidayah yang diperolehnya berhasil memupus duka dan kepedihan yang telah ia jalani. Strateginya yang brilian dengan cara menggali parit, atas izin Allah, sukses melindungi Madinah dari serangan pasukan koalisi kaum Musyrikin dan Yahudi dalam perang Ahzab.

    Salman adalah contoh nyata sebuah perjuangan gigih menggapai hidayah. Fitrah dan nuraninya yang jernih mendambakan petunjuk yang dapat dipakainya dalam hidup. Amat wajar, jika ia mendapat anugerah dari Rasulullah saw sebagai bagian dari keluarga Rasul. Ia menjadi contoh tentang semangat dan tekad yang membaja dalam menemukan kebenaran.

    Dalam kenyataan sehari-hari, berbagai godaan memang datang silih berganti memenuhi ruang benak setiap Muslim. Sering terjadi, kemauan begitu lemah sehingga enggan berbuat demi kemaslahatan diri sendiri, di dunia ataupun di akhirat. Lemahnya kemauan itu, dilatari oleh kekeliruan dalam menyikapi tipu daya syetan. Dalam rangka pencerahan tekad dan kemauan ini, Ustadz Abdullah Abdul Aziz al-Idan dalam “Man yamna’uka min al-hidayah” , menguraikan enam pandangan yang layak diresapi oleh setiap Mukmin dalam rangka mengokohkan kemauan dan membajakan tekad untuk bersama menjemput hidayah Allah.

    Pertama, penting ditegaskan tentang urgensi kebertahapan jiwa (tadarruj), dengan memulai dari amal shalih yang sedikit tapi kontinu. Ibnul Qayyim, seorang ulama yang banyak menulis tentang masalah-masalah ruhiyah, menjelaskan fenomena ini dalam Ighatsah al-Lahfaan (I/183-184). Menurutnya, syetan ingin menjatuhkan manusia pada satu dari dua sisi. Di satu sisi, ia begitu semangat sehingga bernafsu melakukan banyak hal sehingga ia tak sanggup lagi lalu berhenti. Di sisi lain, ia menganggap enteng sehingga hanya melakukan sedikit amal.

    Seorang ulama pernah mengungkapkan, “Allah tidak memerintahkan suatu urusan, kecuali syetan mempunyai dua jalan untuk menggoda: sikap berlaku kurang dan lalai, atau melampaui batas dan berlebih-lebihan.”

    Kedua, keinginan dan tekad kuat itu hanya datang dari dalam diri, bukan dari luar. Ia harus menggunakan waktunya dengan penuh semangat betapapun sulit dan buruk situasi dihadapinya. Ia harus dalam tujuan baiknya untuk istiqamah, berdakwah dan menebar manfaat bagi diri dan umat. Bukan malah terbuai dalam angan-angan menanti masa depan yang tak pasti.

    Ketiga, harus disadari bahwa “barang dagangan” Allah itu mahal (Ash-Shaff:10-11). Setelah menyadarinya, akan terasa ringanlah berbagai kepayahan dan kesulitan yang dirasakan dalam mengerjakan ketaatan. Rasulullah saw dan para sahabat ra telah memberi teladan perjuangan dalam menegakkan agama, dengan pengorbanan waktu, kesungguhan dan harta, mulai dari menuntut ilmu, mengamalkannya, dan sabar mendakwahkannya. “Ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah sorga,” (HR Tirmidzi No. 2374).

    Keempat, hendaknya kita renungkan kondisi orang-orang kafir dan penganut ajaran dan pemikiran sesat. Mereka berjuang habis-habisan dalam kebatilan, tapi tak beroleh ganjaran di akhirat. Sebaliknya, orang Mukmin pasti mendapat ganjaran atas usaha dan perjuangannya. Menghindari kemaksiatan dan kemungkaran hanyalah sebuah pengorbanan kecil dibanding ganjaran sorga yang akan diperoleh.

    Kelima, setiap Mukmin yang ikhlas dan bertekad kuat dalam melaksanakan sunnah Rasulullah saw dan amal shalih, pasti mendapat pertolongan dan petunjuk dari Allah SWT (QS al-Ankabut: 69). Problema yang sering dihadapi oleh umat Islam, mereka ingin berbuat yang besar tapi melupakan yang kecil. Ini adalah kekeliruan besar dalam pendidikan. Semestinya, ia memulai dari yang kecil agar dapat melaksanakan yang besar. Seperti ungkapan seorang ulama, “Siapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, Allah akan menganugrahkan kepadanya pengetahuan terhadap sesuatu yang tak ia ketahui.”

    Keenam, doa adalah senjata Mukmin yang amat efektif. Doa adalah otaknya ibadah, sabda Rasul saw (HR Tirmidzi No. 3293). Seorang yang bertekad dengan sungguh-sungguh dan ikhlas memperbaiki diri, hendaknya memperbanyak doa dan kepasrahan kepada Allah. Diriwayatkan bahwa kaum salaf berdoa kepada Allah dalam setiap kebutuhan mereka, bahkan garam untuk makanan mereka sekalipun. Orang yang mengharapkan istiqamah, petunjuk dan keteguhan hati dalam kebenaran, tentu sangat memerlukan doa. Apalagi di zaman ini yang penuh dengan sebab-sebab futur (lemahnya semangat ketaatan), kelalaian dan penyimpangan. Rasulullah saw mengajarkan doa, “Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agama-Mu,” (HR Tirmidzi No.2066).

    Berbagai pemahaman ini diharapkan membantu kita mengokohkan kemauan dan semangat yang terkadang lemah dan rapuh. Sebab, dengan memahami tinggi dan mulianya tujuan dapat membantu mengokohkan semangat untuk berbuat dan terus berbuat. Bi idzinillah.

    ***

    Dari Sahabat: M. Nurkholis Ridwan

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 21 January 2014 Permalink | Balas  

    sujud-shalat-di-masjidSutrah Dalam Sholat

    1. Dari Ibnu `Umar radliallahu `anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

    “Janganlah kamu shalat kecuali menghadap sutrah (batas tempat sholat) dan jangan biarkan seorang pun lewat di depanmu, jika ia enggan maka perangilah karena bersamanya ada qarin (teman).” (HR. Muslim dalam As-Shahih no. 260, Ibnu Khuzaimah dalam As-Shahih 800, Al- Hakim dalam Al-Mustadrak 1/251 dan Baihaqi dalam As-Sunan Al- Kubra 2/268)

    2. Dari Abu Said Al-Khudri radliallahu `anhu ia berkata: “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

    “Jika shalat salah seorang diantara kalian, hendaklah shalat menghadap sutrah dan hendaklah mendekat padanya dan jangan biarkan seorangpun lewat antara dia dengan sutrah. Jika ada seseorang lewat (didepannya) maka perangilah karena dia adalah syaitan.” (HR. Ibnu Abi yaibah dalam Al-Mushannaf 1/279, Abu Dawud dalam As-Sunan 297, Ibnu Majah dalam As-Sunan no. 954, Ibnu Hibban dalam As-Shahih 4/48, 49-Al-Ihsan, dan Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra 2/267, sanadnya hasan) Di dalam riwayat lain (yang artinya): “(Karena) sesungguhnya setan lewat antara dia dengan sutrah.”

    Mengomentari hadits Abu Said di atas As-Syaukani berkata: “Padanya (menunjukkan) bahwa memasang sutrah itu adalah wajib.” (Nailul Authar 3/2). Beliau juga berkata: “Dan kebanyakan hadits- hadits (dalam masalah ini) mengandung perintah dengannya dan dhahir perintah (menunjukkan) wajib. Jika dijumpai sesuatu yang memalingkan perintah-perintah ini dari wajib ke mandub maka itulah hukumnya. Dan tidak tepat dijadikan pemaling (pengubah hukum) sabda shallallahu `alaihi wa sallam (yang artinya): “Sesungguhnya tidak memudharatkan apapun yang lewat di depannya karena menghindarnya orang shalat dari perkara yang memudharatkan shalatnya dan menghindari hilangnya sebagian pahalanya adalah wajib atasnya.” (As-Sailul Jarar 1/176)

    Di antara perkara yang menguatkan wajibnya: Sesungguhnya sutrah merupakan sebab syari yang menyebabkan tidak sahnya shalat karena lewatnya wanita baligh, keledai dan anjing hitam sebagaimana telah sah yang demikian itu dalam hadits yang menyatakan larangan orang lewat di depan orang shalat, dan hukum-hukum lainnya yang berkaitan dengan sutrah. (Tamamul Minnah hal. 300)

    5. Qurrah bin Iyas berkata: “Umar melihatku sedangkan aku (ketika itu) shalat di antara dua tiang. Maka dia memegang tengkukku dan mendekatkan aku ke sutrah seraya berkata: Shalatlah menghadap kepadanya.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahihnya 1/577 [lihat pula Al-Fath] secara muallaq 3 dengan lafadz jazm (pasti datang dari Rasulullah, pent) dan disambungkan [sanadnya] oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 2/370)

    Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Umar memaksudkan perbuatannya itu agar shalat (Qurrah bin Iyas) menghadap sutrah.” (Fathul Bari 1/577)

    6. Dari Nafi,ia berkata :”Bahwa Ibnu Umar jika tidak mendapati tempat yang menghadap tiang dari tiang-tiang Masjid, lalu ia berkata padaku :”Palingkan kepadaku punggungmu (untuk dijadikan sutroh,pent).(Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/279 dengan sanad shahih).

    7. (Dalam suatu riwayat) bahwa Salamah bin Al-Akhwa meletakkan batu di tanah.Jika dia mau mengejakan Sholat ,dia menghadap kepadanya.(Ibnu Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/278)

    8. Dari Ibnu Abbas r.a. “Aku memasang tongkat di depan Rosulullah SAW ketika di Arafah.Beliau sholat menghadapnya dan keledai lewat dibelakang tongkat.”(Ahmad dalam Al-Musnad 1/243,Ibnu Khuzaimah dalah As-Shahih 840,Thabari dalam Al-Mujamul Kabir 11/243 dan sanad dari Imam Ahmad:hasan)

    TENTANG JARAK KITA DENGAN SUTROH

    9. Diriwayatkan bahwa :”Rasulullah SAW berdiri di dekat tabir.Jarak antara beliau dengan tabir itu ada 3 hasta (HR.Bukhari dan Ahmad)

    10. Diantara tempat sujud beliau dengan dinding ada tempat berlalu kambing (H.R Bukhari dan Muslim)

    11. Beliau bersabda :”Apabila salah seorang di antara kamu sholat menghadap tabir, maka hendaklah ia mendekatkan dirinya kepada tabir itu, sehingga setan tidak memutuskan dia dari sholatnya “. (Abu Daud Al-Bazzar (p.54 Az-Zawaid),Al-Hakim dan dishahihkan olehnya,dan disepakati oleh Adz-Dzahabi dan An-Nawawi)

    BENDA-BENDA YANG BISA DIJADIKAN SUTROH

    12. Dan kadangkala beliau menjadikan kendaraannya sebagai tabir,lalu sholat dengan menghadap kendaraannya itu. (H.R Bukhari dan Ahmad)

    13. Hal ini berbeda dengan sholat di tempat berbaring unta .Karena beliau telah melarangnya (Muslim dan Ibnu Khuzaimah (92/2) dan Ahmad

    14. Kadangkala :”Beliau membawa semacam pelana ,lalu meluruskannya ,kemudian beliau sholat dengan menghadap kepada ujung pelana itu (H.R Bukhari dan Ahmad)

    15. Rasulullah SAW bersabda : “Apabila salah seorang diantara kamu meletakkan semacam ujung pelana di hadapannya,maka hendaklah ia shalat dengan tidak menghiraukan orang yang berlalu di belakangnya(ujung pelana itu)” (H.R Mulim dan Abu Daud)

    16. Diriwayatkan bahwa :”Sesekali beliau shalat dengan menghadap ke sebuah pohon.(H.R NasaI dan Ahmad dengan sanad yang shahih).

    17. “Kadangkala beliau shalat dengan menghadap ke tempat tidur,sedangkan Aisyah r.a berbaring di atasnya -dibawah beludrunya- (Al Bukhari,Muslim,dan Abu Yala(3/1107 -Mushawwaratu l-Maktab)

    18. Rasulullah SAW tidak pernah membiarkan sesuatu berlalu diantara dirinya dengan tabir.Dan pernah : “Beliau shalat,tiba-tiba datanglah seekor kambing berlari di hadapannya,lalu beliau berlomba dengannya hingga beliau menempelkan perutnya ke tabir -dan berlalulah kambing itu di belakang beliau-” (Ibnu Khuzaimah di dalam ash-Shahih (1/95/1),Ath-Thabrani(3/104/3),Al-Hakim dan dishahihkan olehnya,dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.

    PERINGATAN KERAS BAGI YANG MELANGGAR SUTROH ORANG YANG SHOLAT

    19. :”Sekiranya orang yang berlalu di hadapan orang yang shalat itu mengetahui apa yang akan menimpanya,niscaya untuk berhenti selama 40 tahun,adalah lebih baik baginya daripada untuk berlalu dihadapannya “.(H.R Al – Bukhari dan Muslim,riwayat lainnya adalah riwayat Ibnu Khuzaimah(1/94/1)).

    20. HAL-HAL YANG MEMUTUSKAN SHALAT

    Rasulullah SAW bersabda: “Shalat seorang laki-laki,apabila tidak ada semacam ujung pelana dihadapannya,maka akan diputus oleh :wanita -yang haid (atau balighah), keledai dan anjing hitam “.

    Abu Dzar berkata bahwasanya ia berkata,”Wahai Rasulullah,apa bedanya antara anjing hitam dengan anjing merah ?” beliau bersabda,”Anjing hitam adalah setan “. (H.R Muslim,Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah (1/95/2)

    Sumber :

    1. Kitab Al-Qaulul Mubin fi Akhtail Mushallin.Diterjemahkan oleh Suyuthi Abdullah

    2. Kitab Sifat Sholat Nabi , oleh Syeikh Nashiruddin Al-Albani

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 18 January 2014 Permalink | Balas  

    siluet-wanitaWanita

    Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). “Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS 16:58-59)

    Demikianlah keberadaan wanita di Jazirah Arab. Dan keadaan wanita diluar Jazirah Arab pun tidak lebih baik dari mereka. Namun Islam datang untuk meletakkan segala perkara pada proporsinya yang benar.  Nabi bersabda: “Wanita adalah saudara kandung pria”

    (HR:Tirmidzi)

    Ada seorang khatib terkenal berkhutbah dengan sangat emosional. Dia mengatakan: “Semoga Allah merahmati masa-masa di mana para wanita tidak keluar kecuali tiga kali, yaitu:

    1. Dari rahim ibunya kealam dunia,

    2. Dari rumah orang tuanya ke rumah suaminya,

    3. Dan, dari rumahnya ke alam kubur.

    Masa-masa ini adalah masa-masa jahiliah, semoga hal ini tidak terulang kembali dalam sejarah umat islam. Bila kita kaji ajaran Islam, maka kita mendapati bahwa ISLAM MENJUNJUNG TINGGI HARGA DIRI DAN KEMULIAAN WANITA dengan menempatkannya sebagai anak, istri, ibu, dan anggota masyarakat. Yang sangat penting dari semua itu adalah Islam menempatkan wanita sebagai manusia. Dalam Al-quran banyak ayat-ayat yang membahas tentang wanita, tentang kewajibannya dalam beribadah kepada Allah, tentang hak-haknya yang setara dengan lelaki. Secara umum surat An-Nisa ayat 32, menunjuk kepada hak-hak perempuan: “Bagi lelaki hak (atau bagian) dari apa yang dianugrahkan kepadanya dan bagi perempuan hak atau (bagian) dari apa yang dianugrahkan kepadanya.”

    Islam telah mendudukkan wanita pada posisinya yang benar agar dapat menunaikan tugasnya dalam kehidupan insani, menciptakan peradaban, dan membuat sejarah dengan sempurna sebagaimana yang dilakukan saudaranya yang lelaki. Segala sesuatu punya spesialisasi, kewajiban dan perannya masing-masing.

    Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik”. (QS. 3:195)

    Tidak ada agama yang bisa berbuat adil terhadap kaum wanita sebagaimana keadilan yang diberikan oleh Islam. “Dan kaum wanita itu memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (2:228)

    Ada kata -kata yang patut kita renungkan, bahwa BAIKNYA SEBUAH MASYARAKAT, TERGANTUNG BAIKNYA WANITANYA, menjadi barometer baik tidaknya sebuah masyarakat. Tentunya mendidik wanita untuk menjadi baik adalah kewajiban kita sebagai bagian dari agama Islam itu sendiri.

    Diantara keagungan agama kita yang hanif ini adalah-bahwa untuk masa sekarang dan masa-masa sebelum ini, ia merupakan sistem perundangan pertama sekaligus terahir, yang menempatkan kaum wanita di tempat yang paling terhormat, paling baik dan paling indah.  Islam mengkategorikan kaum wanita sebagai manusia yang utuh  dan sempurna sebagaimana kaum pria dalam hal penciptaan, kemanusiaan, perasaan-perasaan serta hak-haknya.

    Dalam rentang sejarah umat Islam yang panjang, telah bermunculan wanita agung. Yang keharuman namanya takkan pernah pudar sampai ahir zaman. Dia adalah contoh wanita pada masanya dan masa setelahnya. Dialah sahabat wanita yang mulia, karena dia TERDIDIK DALAM MADRASAH TAUHID DENGAN IMANNYA YANG TINGGI. Dia menjadi panutan dan perannya sangat besar dalam mengemban risalah ini. Banyak wanita salaf dahulu yang yang menjadi gudang ilmu, keutamaan, dan fiqih dari Dien Allah.

    Dialah Aisyah RA, Nusaibah bin Kaab, Ummu Atiah Al-Anshoriah, Asma, Zainab, Fatimah, dan istri-istri Nabi yang mulia. Bila kita kaji ajaran Islam, maka kita dapati bahwa Islam menjunjung tinggi harga diri dan kemuliaan wanita dengan menempatkannya sebagai anak, istri, ibu, dan anggota masyarakat. Dan Islam juga menempatkannya sebagai manusia, yang punya hak dan kewajiban sebagaimana lelaki tentunya.

    Dalam pandangan Islam WANITA ITU BUKANLAH MUSUH PRIA, JUGA BUKAN SAINGANNYA, MELAINKAN PENYEMPURNA BAGINYA. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri,supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.” (Ar-Ruum:21)

    Ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara wanita muslimah dengan suaminya dalam rangka kerjasama  antara lain:

    1. BEKERJASAMA DALAM KETAATAN PADA ALLAH

    Salah satu yang sangat membahagiakan pasangan  suami-istri adalah manakala melihat suami/istrinya bersungguh-sungguh dalam beribadah pada ALLAH. Karena ketaatan merupakan faktor terpenting dalam kerjasama  ini. Kita bisa saksikan contoh-contoh sahabat dan sahabiah dalam rangka melakukan ketaatan pada Allah. Suami-istri SALING MENGINGATKAN kalau salah seorang sedang kendur dan lemah untuk senantiasa menjaga ketaatan pada Allah, dan senantiasa saling membantu untuk menegakkannya.

    2. BEKERJASAMA DALAM DAKWAH

    Kewajiban seorang laki-laki dan wanita adalah sama dalam rangka MENYAMPAIKAN DAKWAH ISLAM INI KEPADA SELURUH UMAT MANUSIA. Pada zaman Rasulullah, tidak hanya sahabat saja yang terjun di lapangan dakwah. Tetapi para sahabiah juga banyak yang belajar dan mengajarkan Islam. Kita bisa lihat dengan banyaknya sahabiah yang menjadi tempat rujukan dan sumber-sumber Islam setelah Rasulullah wafat. Begitu juga pada masa sekarang, WANITA DAPAT BEKERJASAMA DENGAN SUAMINYA DALAM RANGKA BERDAKWAH DI JALAN ALLAH. Saling MENYEMANGATI ketika salah seorang sedang turun imannya. Sebagian bentuk peranan seorang istri/muslimah bagi dakwah suaminya adalah MENGAJAK MUSYAWARAH, MEMBERI NASEHAT YANG IKHLAS serta MENDISKUSIKAN HAL-HAL YANG ADA KAITANNYA DENGAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI. Ini bisa kita lihat pada kisah Ummu Salamah ra, yang pendapatnya kemudian diikuti Rasulullah saw.

    Juga salah satu bentuk KERJA SAMA YANG INDAH adalah bila SEORANG ISTRI DAPAT MENEGUHKAN JIWA SUAMINYA, MENGHIBUR, dan MEMBESARKAN HATINYA DENGAN MENGANGGAP KECIL BEBAN YANG DIPIKULNYA. Selalu MENGINGATKAN BAHWA PERTOLONGAN ALLAH SELALU BERSAMANYA. Disaat-saat Rasulullah dilanda kecemasan yang sangat, Khadijah ra datang menghibur dan menentramkan hati Beliau dengan kata-kata yang sangat menyejukkan hati Rasulullah hingga Beliau menjadi tenang.

    3. BEKERJASAMA DALAM JIHAD

    Salah satu yang dianjurkan Islam kepada suami-istri muslim dan muslimah adalah BEKERJASAMA DALAM RANGKA JIHAD DI JALAN ALLAH. Kisah sahabat Handhalah adalah KISAH KESUKSESAN SEORANG ISTRI YANG MENDORONG SUAMINYA BERJIHAD DI JALAN ALLAH. Beliau korbankan malam-malam pengantin mereka demi menggapai salah satu dari dua hal, menang atau syahid. Akhirnya Handhalah syahid dijalan Allah dan jenazahnya dimandikan para malaikat karena ketika berangkat kemedan jihad beliau masih dalam keadaan junub.

    Ada kisah sahabiah yang selalu menyemangati agar anak-anaknya selalu berjihad dijalan Allah sehingga seluruh anak-anaknya mendapat kemuliaan syahid dijalan-Nya. Peristiwa Al-Khansa, sang pelopor kaum ibu dan teladan para istri bisa kita jadikan panutan.

    Semoga kita bisa mengambil hikmah dan menjadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari terutama untuk kaum  muslimah senantiasa bisa melakukan peran -peran ini ,agar para Muslimah mendapatkan apa yang selama ini mereka harapkan yaitu TEGAKNYA ISLAM SERTA MENDAPAT SURGA ALLAH KELAK.

    Dikutip dari :

    1. Alqur’an dan hadist.

    2. Ceramah-Ceramah Hasan Al Banna.

    3. Perjalanan 1000 mil, Zainab Al-Ghazali.

    4. Membahagiakan Suami, M.Abdul Halim Hamid.

    5.Panduan Wanita Sholehah, Abu Fathan.

    ***

    Dari Sahabat Suseno

     
  • erva kurniawan 2:17 am on 17 January 2014 Permalink | Balas  

    ghibahGhibah, Keburukan yang Makin Disenangi

    Sumber : Ummu Zaidan Feikar

    Perbuatan tercela, tapi menjadi biasa. Sebab, dikemas dalam acara yang menarik di televisi.

    Banyak hal yang bergeser dan berubah dengan hadirnya pesawat televisi ke rumah kita, terutama yang berkaitan dengan budaya dan akhlak. Salah satu yang jelas terlihat yaitu pergeseran makna bergunjing atau menggosip.

    Menggosip adalah tindakan yang kurang terpuji yang celakanya, kebiasaan ini seringkali dilekatkan pada sifat kaum wanita. Dulu, orang akan tersinggung jika dikatakan tukang gosip. Seseorang yang ketahuan sedang menggosip biasanya merasa malu. Namun, sekarang kesan buruk tentang menggosip mungkin sudah mengalami pergeseran.

    Beberapa acara informasi kehidupan para artis atau selebritis yang dikemas dalam bentuk paket hiburan (infotainment) dengan jelas-jelas menyebut kata gosip sebagi bagian dari nama acaranya. Bahkan pada salah satu dari acara tersebut pembawa acaranya menyebut dirinya atau menyapa pemirsannya dengan istilah “biang gosip”. Mereka dengan bangganya mengaku sebagai tukang gosip.

    Saat ini, hampir di setiap stasiun televisi memiliki paket acara seperti di atas. Bahkan satu stasiun ada yang memiliki lebih dari satu paket acara infotainment tersebut, dengan jadwal tayangan ada yang mendapat porsi tiga kali seminggu. Hampir semua isi acara sejenis itu, isinya adalah menyingkap kehidupan pribadi para selebritis. Walhasil, pemirsa akan mengenal betul seluk beluk kehidupan para artis, seolah diajak masuk ke dalam rumah bahkan kamar tidur para artis.

    Sepintas acara ini terkesan menghibur. Seorang ibu yang kelelahan setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya, mungkin akan terasa terhibur dengan informasi sisi-sisi kehidupan pribadi orang-orang terkenal. Apalagi kemasan acara yang semakin bervariasi ada yang diselingi nyanyi, wawancara langsung dengan artis, daftar hari ulang tahun para selebritis, dll. Namun jika kita cermati lebih jauh, isinya kurang lebih adalah menggosip atau bergunjing.

    Awal tahun ditandai dengan banyaknya artis yang pisah ranjang dan bercerai. Peristiwa-peristiwa semacam ini merupakan sasaran empuk bagi penyaji hiburan semacam ini. Pemirsa disuguhi sajian informasi yang sarat dengan pergunjingan. Masing-masing pihak merasa benar dan tentu saja menyalahkan pihak lainnya.

    Menggosip yang merupakan tindakan buruk, bisa tidak terasa lagi memiliki konotasi buruk jika terus-menerus disosialisasikan dengan paket menarik pada televisi. Menggosip akan terasa sebagai tindakan biasa dan lumrah dilakukan. Menceritakan aib orang lain menjadi sesuatu yang tanpa beban kita lakukan.Padahal jika kita cermati makna gosip -yang sama dengan ghibah- barangkali kita akan merasa ngeri.

    Ghibah dalam Islam

    Ghibah atau gosip merupakan sesuatu yang dilarang agama. “Apakah ghibah itu?” Tanya seorang sahabat pada Rasulullah saw. “Ghibah adalah memberitahu kejelekan orang lain!” jawab Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar?” Tanya sahabat lagi. ” Jika benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah dusta!” tegas Rasulullah. Percakapan tersebut diambil dari HR Abu Hurairah.

    Dalam Al Qur’an (QS 49:12), orang yang suka meng-ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Jabir bin Abdullah ra. meriwayatkan,”Ketika kami bersama Rasulullah saw tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai. Maka Rasul pun berrsabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad)

    Dalam hadits lain dikisahkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Pada malam Isra’ mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril, `Siapa mereka?’ Jibril menjawab, `Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain,mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!’ (dari Abu Daud berasal dari Anas bin Malik ra).

    Begitulah Allah mengibaratkan orang yang suka mengghibah dengan perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia, betapa buruknya tindakan ghibah.

    Banyak kesempatan bagi ibu-ibu untuk menggosip. Pada saat berbelanja mengelilingi gerobak tukang sayur, menyuapi anak di halaman, pada acara arisan atau kumpulan ibu-ibu. Meng-ghibah kadang mendapat pembenaran dengan dalih, “Ini fakta, untuk diambil pelajarannya!”. Padahal di balik itu lebih banyak faktor ghibahnya daripada pelajarannya.

    Benarkah orang cenderung suka meng-ghibah, bahkan terkesan menikmati kebiasaan seperti ini? Seorang pengasuh konsultasi keluarga pada sebuah media cetak mengatakan rahasia mengapa rubriknya tetap disukai pembaca selama puluhan tahun. Katanya, pada diri manusia itu cenderung terdapat sifat suka menggunjingkan orang lain. Orang cenderung ingin tahu masalah yang terjadi pada orang lain. Dengan demikian ia akan merasa beruntung tidak seperti orang lain atau ternyata bukan dirinya saja yang menderita. Karena umumnya surat yang datang untuk berkonsultasi adalah mereka yang memiliki masalah.

    Jika demikian kebanyakan sifat dari manusia, tentunya kita harus sering melakukan istighfar. Syaitan dengan mudahnya mempengaruhi kebanyakan hati kita sehingga mungkin kita tengah menumpuk dosa akibat pergunjingan.

    Setiap orang mempunyai harga diri yang harus dihormati. Membuat malu seseorang adalah perbuatan dosa. “Tiada seseorang yang menutupi cacat seseorang di dunia, melainkan kelak di hari kiamat Allah pasti akan menutupi cacatnya” (HR. Muslim).

    Sosialisasi pergunjingan di televisi bagaimanapun harus dihindari. Jangan sampai kita merasa tidak berdosa melakukannya. Bahkan merasa terhibur dengan informasi semacam itu. Kita mesti berhati-hati. Bahaya ghibah harus senantiasa ditanamkan agar kita senantiasa sadar akan bahayanya. Benar kiranya jika dikatakan bahwa dulu orang tinggal di dalam rumah karena menghindari bahaya dari luar. Kini bahaya justru berasal dari dalam rumah sendiri yaitu dengan hadirnya acara yang menurunkan kualitas iman di televisi. Semoga kita bisa arif menyikapinya.

    Menangkal Ghibah

    Penyakit yang satu ini begitu mudahnya terjangkit pada diri seseorang. Bisa datang melalui televisi, bisa pula melalui kegiatan arisan, berbagai pertemuan, sekedar obrolan di warung belanjaan, bahkan melalui pengajian. Untuk menghindarinya juga tak begitu mudah, mengharuskan kita ekstra hati-hati, caranya?

    1. Berbicara Sambil Berfikir

    Cobalah untuk berpikir sebelum berbicara, “perlukah saya mengatakan hal ini?” dan kembangkan menjadi, “apa manfaatnya? Apa mudharatnya?” Berarti, otak harus senantiasa digunakan, dalam keadaan sesantai apapun. Seperti Rasulullah saw yang biasanya memberi jeda sesaat untuk berfikir sebelum menjawab pertanyaan orang.

    2. Berbicara Sambil Berzikir

    Berzikir di sini maksudnya selalu menghadirkan ingatan kita kepada Allah swt. Ingatlah betapa buruknya ancaman dan kebencian Allah kepada orang yang ber-ghibah. Bawalah ingatan ini pada saat berbicara dengan siapa saja, di mana saja dan kapan saja.

    3. Tingkatkan Rasa Percaya Diri

    Orang yang tidak percaya diri, suka mengikut saja perbuatan orang lain, sehingga ia mudah terseret perbuatan ghibah temannya. Bahkan ia pun berpotensi menyebabkan ghibah, karena tak memiliki kebanggaan terhadap dirinya sendiri sehingga lebih senang memperhatikan, membicarakan dan menilai orang lain.

    4. Buang Penyakit Hati

    Kebanyakan ghibah tumbuh karena didasari rasa iri dan benci, juga ketidakikhlasan menerima kenyataan bahwa orang lain lebih berhasil atau lebih beruntung daripada kita. Dan kalau dirinya kurang beruntung, diapun senang menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih sengsara daripada dirinya.

    5. Posisikan Diri

    Ketika sedang membicarakan keburukan orang lain, segera bayangkan bagaimana perasaan kita jika keburukan kita pun dibicarakan orang. Seperti hadis yang menjanjikan bahwa Allah akan menutupi cacat kita sepanjang kita tidak membuka cacat orang lain. Sebaliknya tak perlu heran jika Allah pun akan membuka cacat kita di depan orang lain jika kita membuka cacat orang.

    6. Hindari, Ingatkan, Diam atau Pergi

    Hindarilah segala sesuatu yang mendekatkan kita pada ghibah. Seperti acara-acara bernuansa ghibah di televisi dan radio. Juga berita-berita koran dan majalah yang membicarakan kejelekan orang.

    Jika terjebak dalam situasi ghibah, ingatkanlah mereka akan kesalahannya. Jika tak mampu, setidaknya Anda diam dan tak menanggapi ghibah tersebut. Atau Anda memilih hengkang dan `menyelamatkan diri’.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 14 January 2014 Permalink | Balas  

    maulid-nabi-muhammadBatasan Pujian Berlebihan

    Ada dari mereka yang berpendapat bahwa Maulid Nabi adalah termasuk pujian berlebihan sebagaimana kaum Nasrani yang mengadakan perayaan Natal dengan berdalilkan

    Rasulullah bersabda: “Jangan memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani yang memuji Isa putera Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Ahmad).

    Adapula yang berpendapat dari hadits tersebut bahwa Maulid Nabi termasuk mengkultuskan atau mendewakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sehingga mereka menganggap Maulid Nabi adalah yang dimaksud memuji-muji beliau yang menurut mereka berlebihan sehingga termasuk musyrik.

    Hal ini timbul dikarenakan mereka mencoba memahami hadits secara sepotong-potong.

    Kadang mereka memotong sebatas: “Jangan memujiku secara berlebihan ” atau “Jangan memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani yang memuji Isa putera Maryam”

    Mereka tidak memperhatikan apa fungsi bagian akhir dari sabda Rasulullah tersebut yakni “Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.”

    Hadits tersebut sudah secara jelas meberikan batasan pujian yang berlebihan yakni “seperti kaum Nasrani yang memuji Isa putera Maryam” yang mempunyai makna majaz (kiasan) yang maknanya adalah “seperti kaum Nasrani yang menjadikan Nabi Isa a.s sebagai putera Tuhan” Apa yang dilakukan oleh kaum Nasrani diingkari dengan “Isa putera Maryam” dan “Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.”

    Jadi tidak ada kaitannya dengan kaum Nasrani mengadakan perayaan Natal

    Dan sejak larangan Nabi itu disampaikan hingga saat ini, tidak pernah ada seorangpun dari kalangan umat Islam yang memuji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melebihi batasannya sebagai manusia.

    Sehingga benarlah apa yang disampaikan Imam Bushiri di dalam syair Burdahnya:

    “Tinggalkan pengakuan orang Nasrani atas Nabi mereka… Pujilah beliau (shallallahu alaihi wasallam) sesukamu dengan sempurna… Sandarkanlah segala kemuliaan untuk dirinya… Dan nisbahkanlah sesukamu segala keagungan untuk kemuliaannya…”

    Sudah jelas batasan berlebihan seperti juga anjuran janganlah makan berlebihan. Batasannya seperti “berhentilah sebelum kenyang” atau “1/3 udara, 1/3 air, 1/3 makanan

    Begitu pula para Sahabat pernah ditegur oleh Rasulullah ketika mereka melakukan pujian kepada Rasulullah yang diiringi dengan rebana pada kalimat “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.” karena Rasulullah mengetahui kejadian-kejadian di kemudian hari hanya berdasarkan apa yang diwahyukanNya

    Telah menceritakan kepada kami Musaddad Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadldlal Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Dzakwan ia berkata; Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin `Afran berkata; suatu ketika, Nabi shallallahu `alaihi wasallam dan masuk saat aku membangun mahligai rumah tangga (menikah). Lalu beliau duduk di atas kasurku, sebagaimana posisi dudukmu dariku. Kemudian para budak-budak wanita pun memukul rebana dan mengenang keistimewaan-keistimewaan prajurit yang gugur pada saat perang Badar. Lalu salah seorang dari mereka pun berkata, “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.” Maka beliau bersabda: “Tinggalkanlah ungkapan ini, dan katakanlah apa yang ingin kamu katakan.” (HR Bukhari 4750)

    Kesimpulannya yang dimaksud “janganlah memuji Rasulullah berlebihan” adalah memuji Beliau dengan sesuatu yang menyalahi laranganNya atau dengan sesuatu yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits

    Pujilah sesuka kita dengan segala keagungan untuk kemuliaan manusia yang paling mulia, Nabi Sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

    Wassalam

    ***

    Oleh: Zon di Jonggol , Kabupaten Bogor

     
  • erva kurniawan 4:19 am on 13 January 2014 Permalink | Balas  

    Muhammad SAWDia Manusia Yang Paling Agung

    Mari kita lihat beberapa nama orang-orang yang mengagumi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam:

    1. “Muhammad adalah suatu jiwa yang bijaksana dan pengaruhnya dirasakan dan tak akan dilupakan oleh orang orang di sekitarnya.” (Diwan Chand Sharma, seorang sarjana beragama Hindu, dalam bukunya The Prophets of the East (Nabi-nabi dari Timur), Calcutta 1935, halaman 122.)

    2. “Empat tahun setelah kematian justinian, 569 m, lahir di Makkah di tanah Arab, seorang yang memberikan pengaruh yang terbesar bagi umat manusia. Orang itu adaIah … Muhammad …. ” (John William Draper, M.D., LLD., dalam bukunya A History of the Intellectual Development of Europe (Sejarah Perkembangan Intelektual di Eropa), London 1875.)

    3. “Saya ragu apakah ada orang lain yang bisa merubah kondisi manusia begitu besar seperti yang dilakukan oleh dia (Muhammad SAW).” (R.V.C. Bodley dalam The Messenger (Sang Utusan), London 1946, halaman 9.).

    4. “Saya telah mempelajari dia (Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) laki-laki yang luar biasa- dan menurut saya, terlepas dari pemikiran anti kristen, dia adalah penyelamat umat manusia.” (George Bernard Shaw dalam The Genuine of Islam (Islam yang Murni), volume I no. 81936).

    5. “Dengan sebuah keberuntungan yang sangat unik dalam sejarah, Muhammad adalah pendiri dari suatu negara, suatu kerajaan dan suatu agama.” (R.Bosworth-Smith dalam Mohammed and Mohammedanism, 1946).

    6. “Muhammad adalah pribadi religius yang paling sukses” (Encyclopedia Britannica, edisi ke-11).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 12 January 2014 Permalink | Balas  

    kaligrafiMasihkah Kita Merasa Sebagai Ummatnya Nabi Muhammad SAW?

    Tanggal 12 Rabi’ul Awal memiliki arti penting bagi Nabi Muhammad SAW dan seluruh ummat Islam di belahan dunia mana pun. Pada tanggal itu beliau dilahirkan, dan pada tanggal itu pula beliau wafat, tentu tahunnya berbeda. Sudah empat belas abad lebih kita terpisah dengan kehidupan Rasul yang agung Nabi Muhammad SAW namun gaung keindahan pribadinya tetap bergema sampai saat ini dan akan tetap demikian hingga putaran dunia ini berakhir. Bagi kita adalah bagaimana menyimak sirah-nya, mengambil ibrah-nya dan mengamalkan ghirah-nya. Sebab, sosok Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah peradaban dunia, sudah sepatutnya diteladani oleh kaum Muslimin.

    Tapi, roda kehidupan berputar terus tak terkendali, dan kehidupan ummat manusia pun bergerak mengikuti peregerakan zaman yang semakin hari semakin canggih. Pergerakan gaya hidup pun semakin hari semakin tak terkendali sehingga hampir kebanyakan manusia sudah terpedaya oleh tipu muslihatnya setan la’natullah, dan kehidupan manusia pun telah banyak berubah seiring dengan pergerakan gaya hidup itu sendiri. Banyak dari ummat manusia lebih mencintai dunia daripada kehidupan di akhirat kelak. Apalagi sekarang kita berada di sebuah zaman, yang menunjukkan bahwa manusia sudah benar-benar lebih sesat dari binatang; Seorang anak membunuh ibunya, seorang ibu membunuh anaknya, seorang ayah memperkosa anak perempuannya, aurat dipertontonkan dengan menggunakan kecanggihan teknologi, harga diri dijual menjadi ajang komoditi dan lain sebagainya.

    Itu semua terjadi karena, setiap manusia punya peluang untuk dijerumuskan oleh setan, sehingga kita juga merasa tidak aneh lagi di zaman sekarang ini, melihat banyak orang yang tidak melaksanakan shalat, tidak shaum ketika bulan Rammadhan, membuka aurat di tempat umum dan lain sebagainya. Dan perbuatan itu juga kadang atau malah kita sendiri yang suka melakukannya.

    Oleh karena itu, coba tanya diri kita,

    “Masihkah kita merasa sebagai umatnya Nabi Muhammad SAW???

    “Masihkan kita mencintainya???

    “Masihkan kita merindukan-Nya sehingga kita ingin sekali bertatap muka, mencium tangannya, mendekapnya, bercengkrama dan lain sebagainya???

    Coba kita rasakan syair nashid dari Raihan yang berjudul Ya Rasulullah berikut ini, mudah-mudahan ini dapat membantu kita, menumbuhkan kembali kecintaan kita, kerinduan kita kepada Nabi Muhammad SAW yang mungkin telah lama kita campakkan ajarannya, perintahanya, anjurannya, akhlaknya dan lain sebagainya. Dan mudah- mudahan dengan perenungan ini juga kita masih merasa bahwa diri kita masih sebagai ummat Nabi Muhammad SAW yang berhak mendapatkan pembelaan beliau dihadapan Allah SWT dengan syafa’atnya:

    Alangkah indahnya hidup ini, andai dapat ku tatap wajahmu, Kan pasti mengalir air mataku, karena pancaran ketenanganmu

    Alangkah indahnya hidup ini, andai dapat ku kecup tanganmu, Moga mengalir keberkatan dalam diriku, untuk mengikut jejak langkahmu

    Ya Rasulallah, Ya Habiballah…, Tak pernah ku tatap wajahmu, Ya Rasulallah, Ya Habiballah…, Kami rindu padamu…

    Allahumma shalli ‘ala Muhammad, Ya Rabbi shalli ‘alaihi wa saliim, Allahumma shalli ‘ala Muhammad, Ya Rabbi shalli ‘alaihi wa saliim…

    Alangkah indahnya hidup ini, andai dapat ku dekap dirimu, Tiada kata yang dapat aku ucapkan, hanya Tuhan saja yang Tahu

    Ya Rasulallah, Ya Habiballah…, Tak pernah ku tatap wajahmu, Ya Rasulallah, Ya Habiballah…, Kami rindu padamu…

    Ku tahu cintamu kepada ummat, Ummati… ummati…, Kau tahu bimbangnya kau tentang kami, syafa’atkan kami…

    Alangkah indahnya hidup ini, andai dapat ku tatap wajahmu, Kan pasti mengalir air mataku, karena pancaran ketenanganmu

    Ya Rasulallah, Ya Habiballah…, Tak pernah ku tatap wajahmu, Ya Rasulallah, Ya Habiballah…, Kami rindu padamu…

    Ya Rasulallah, Ya Habiballah…, Terimalah kami sebagai ummatmu, Ya Rasulallah, Ya Habiballah…, Kurniakanlah syafa’atmu…

    Allahumma shalli ‘ala Muhammad, Ya Rabbi shalli ‘alaihi wa saliim, Allahumma shalli ‘ala Muhammad, Ya Rabbi shalli ‘alaihi wa saliim…

    Allahumma shalli ‘ala Muhammad, Ya Rabbi shalli ‘alaihi wa saliim, Allahumma shalli ‘ala Muhammad, Ya Rabbi shalli ‘alaihi wa saliim…

    “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzaab” (33): 56)

    ***

    Sumber: jkmhal.com

     
  • erva kurniawan 3:30 am on 8 January 2014 Permalink | Balas  

    keluarga-muslimIngin Nyaman Di Rumah? Ciptakan Suasana Itu Bersama!

    Bagaimana perasaan anda, jika pas tiba di rumah setelah tugas kantor cukup lama di luar kota, keadaan rumah berantakan, anak-anak rewel, dan penampilan isteri compang-camping? Pasti perasaan anda kesal setengah mati. Bayangan semula bahwa setelah pulang bisa beristirahat, disambut hangat istri, bisa bercengkerama dengan anak-anak, kontan buyar. Rasa penat setelah perjalanan jauh bukannya hilang, bahkan tambah capek. Soalnya pikiran ruwet, membuat fisik kian lesu tak bersemangat. Sebaliknya hati jadi panas. Emosi gampang meledak. Itu barangkali ekses dari suasana di dalam rumah yang tidak nyaman.

    Jika ketidaknyamanan suasana seperti ini kerap terjadi, jelas sangat mengancam kelangsungan kehidupan rumah tangga pasangan suami-isteri (pasutri). Ini bukan persoalan sepele. Sebab dia menyangkut fondasi bangunan keluarga. Fondasi itu tidak boleh dibiarkan mengalami erosi karena persoalan-persoalan seperti di atas.

    Patut dicatat bahwa pada banyak kasus, untuk menghindari ketidaknyamanan suasana di rumah, kebanyakan pria tak jarang mengambil jalan penyelesaian pintas. Keluar rumah dan cari tempat istirahat yang tenang. Entah itu rumah teman atau tempat penginapan lainnya. Atau dia keluar ke tempat-tempat hiburan untuk menghilangkan pikiran yang suntuk. Bila ini yang terjadi, sangat beresiko. Soalnya, mencari ketenangan, khususnya bagi pria yang telah berkeluarga, akan berkonotasi dia perlu “pendamping alternatif” untuk tempat pelampiasan uneg-uneg atau tempat pelepas beban pikirannya. Entah bersifat sementara atau permanen.

    Apa yang terjadi selanjutnya, bila seorang suami merasa rumah tidak bisa lagi dijadikan tempatnya beristirahat? Andalah yang bisa menjawabnya. Tapi tentu saja, persoalan itu tidak bisa semata-mata menuding isteri sebagai penyebabnya. Dengan kata lain, suami seharusnya tidak mendramatisir persoalan itu sebagai kesalahan istrinya. Karena suami juga punya kewajiban ikut bertanggung jawab menciptakan kenyamanan di dalam rumahnya. Secara bersama, para pasutri sebetulnya bisa mengantisipasi bakal terjadinya kasus-kasus gawat yang akan melanda kehidupan rumah tangga mereka.

    Kasus seorang suami yang pulang dari tugas di tempat jauh misalnya, sebetulnya bisa diatur kepulangannya. Sehingga saat ia pulang, keadaan rumah rapi dan para anggota keluarga menyambutnya dengan hangat. Hal darurat lainnya adalah, isteri jangan sekali-kali mengizinkan orang lain (tamu wanita tentunya) menginap di rumahnya selama suami tidak di rumah. Soalnya ini bisa mengganggu kebebasan bercengkerama suaminya dengan anggota keluarga, khususnya dengan dirinya.

    Ini artinya, seorang suami/ayah akan lebih baik bila tidak pulang dengan cara dadakan, sehingga orang rumah tidak melakukan persiapan. Karena itu perlu ada komunikasi dan koordinasi dengan isteri sebelum seorang suami pulang setelah dari bepergian jauh dalam waktu lama.

    Sebagai suami, kita sebetulnya bisa mengkomunikasikan dan mengatur jadwal waktu kepulangan kita dengan isteri kita. Mau malam atau siang, termasuk juga jam kepulangan. Pukul berapa kira-kira waktu yang kondusif bagi kita sampai di rumah.

    Jika kita menghendaki agenda kencan dengan isteri setelah tiba di rumah, toh semuanya bisa diatur. Kalau jadwal kepulangan kita malam hari, kita bisa kontak istri agar menyediakan air panas untuk mandi malam kita misalnya. Atau kita minta pada isteri agar dimasakkan makanan kesukaan kita. Atau misalnya, kita bisa minta pada isteri agar anak-anak di rumah dimandikan dan memakai pakaian yang rapi, karena ayah mereka sebentar lagi datang. Bukankah semua itu bisa dikomunikasikan dan direkayasa?

    Setelah lama bepergian, wajar jika muncul kekangenan seorang ayah pada anggota keluarganya. Selain tentunya, kerinduan ingin berkencan dengan sang isteri. Ini perasaan manusiawi yang ada pada diri setiap orang. Seorang sahabat bernama Jabir bin Abdullah, ra juga pernah mengalami perasaan serupa. Di bawah ini cuplikan kisahnya.

    Jabir bin Abdullah, ra berkata; “Suatu hari kami pulang dari peperangan bersama Nabi saw. Aku bergegas mempercepat untaku yang semula berjalan lambat. Tapi tiba-tiba seorang pengendara menyusul dari belakang dan mendorong bagian belakang untaku dengan tongkat yang dibawanya. Lalu untaku menjadi unta paling cepat yang pernah kami lihat. Ternyata orang itu adalah Rasulullah saw.

    “Apa yang membuatmu tergesa-gesa,” tanya Rasulullah saw.

    “Aku belum lama menikah,” jawabku.

    “Gadis atau janda?” tanya beliau lagi.

    “Janda,” jawabku.

    “Mengapa tidak dengan gadis sehingga kamu bisa bersenda gurau dengannya?” lanjut beliau.

    Ketika kami hampir sampai, beliau saw berkata; “Jangan tergesa-gesa. Usahakan menemui keluarga di malam hari (ketika hari sudah gelap). Supaya mereka menyisir rambutnya yang lusuh dan menyiapkan diri (untuk menyambut kedatangan suaminya), setelah ditinggal pergi.” (HR Bukhori)

    Hadits di atas mengisyaratkan dengan gamblang, agar seorang suami yang ingin bercumbu dengan isterinya setelah bepergian jauh, untuk memberikan waktu kepada si isteri bersolek. Agar penampilan isteri segar ketika menyambut sang suami yang sudah kangen berat. Secara umum riwayat di atas juga mengajarkan, bahwa hendaknya isteri selalu berpenampilan rapi dan selalu “ready” jika diajak bercumbu dengan suaminya.

    Persoalannya, bagaimana jika isteri selalu sibuk dengan pekerjaan di rumah seharian penuh sehingga tidak fresh menghadapi suaminya pada malam hari? Itu pun merupakan persoalan yang sebetulnya bisa didiskusikan dengan suami. Jika persoalan rutin isteri adalah kesibukan pekerjaan rumah tangga, kenapa suami tidak mencarikan pembantu untuk meringankan beban pekerjaan rutin sang isteri? Andaikan anggaran untuk menggaji pembantu juga belum ada? Maka suami seharusnya bisa turun tangan untuk sementara waktu ikut meringankan beban pekerjaan isterinya.

    Walhasil, tidak ada persoalan besar, jika masalahnya didiskusikan dan dipecahkan bersama. Sebaliknya tidak ada persoalan yang ringan, jika hal itu dibiarkan berlarut-larut tanpa ada penyelesaian. Jadi saling berkomunikasi antara pasutri itu penting dan wajib, agar bahtera rumah-tangga kita tetap bisa berlayar walaupun diterpa berbagai badai cobaan. Wallahu a’lam.

    ***

    Diambil dari eramuslim

    (sulthoni)

     
  • erva kurniawan 9:23 am on 7 January 2014 Permalink | Balas  

    Kenapa Aku Diuji 

    ujian aAlahKENAPA AKU DIUJI?

    “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan  saja mengatakan;  “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?  Dan sesungguhnya kami telah menguji org2 yg sebelum  mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui org2 yg  benar dan sesungguhnya Dia mengetahui org2 yg  dusta.” -Surah Al-Ankabut ayat 2-3

    KENAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat  baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai  sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah  mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”  -Surah Al-Baqarah ayat 216

    KENAPA UJIAN SEBERAT INI?

    “Allah tidak membebani seseorang itu melainkan  sesuai dengan  kesanggupannya.”  -Surah Al-Baqarah ayat 286

    RASA FRUSTASI?

    “Jgnlah kamu bersikap lemah, dan jgnlah pula kamu  bersedih hati, padahal kamulah org2 yg paling tinggi  darjatnya, jika kamu org2 yg beriman.”  – Surah Al-Imran ayat 139

    BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?

    “Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu  (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan  perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah  kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di  medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan  pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta  bertaqwalah kamu kepada Allah supaya, kamu  berjaya (mencapai kemenangan).”  -Surah Al-Imran ayat 200

    “Dan mintalah pertolongan(kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan  sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk”  -Surah Al-Baqarah ayat 45

    APA YANG AKU DAPAT DARI SEMUA INI?

    “Sesungguhnya Allah telah membeli dr org2 mu’min,  diri, harta mereka dengan memberikan syurga utk  mereka… ..  -Surah At-Taubah ayat 111

    KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?

    “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain  drNya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal.”  -Surah At-Taubah ayat 129

    AKU DAH TAK DAPAT BERTAHAN LAGI!!!!!

    “… ..dan jgnlah kamu berputus asa dr rahmat Allah.  Sesungguhnya tiada berputus asa dr rahmat Allah  melainkan kaum yg kafir.”  -Surah Yusuf ayat 12

    Dan apabila kamu diberikan  penghormatan dengan sesuatu ucapan hormat seperti  memberi salam), maka balaslah penghormatan itu  dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah  dia (dengan cara yang sama).Sesungguhnya Allah  sentiasa menghitung tiap-tiap sesuatu.  -Surah An-Nisaa’ ayat 86

    ***

    Wallahua’lam bishshowwab

    Dari sahabat:  Yuni Mardiyanto

     
  • erva kurniawan 9:08 am on 6 January 2014 Permalink | Balas  

    harta karunHidup Kaya Raya Tidak Selalu Berarti Disayang Allah

    Hidup kaya raya di dunia tidak selalu berarti di sayang Allah, saudaraku. seringkali kita melihat dan memperhatikan bahwa pelaku bisnis kotor, pegawai yang korup, orang-orang non muslim, kok hidup didunia ini terlihat senang, kaya raya, bahkan terhormat. Sebaliknya, mengapa ummat Islam yang sehari-harinya rajin ibadah, masih sangat banyak yang hidupnya serba miskin dan kesusahan. Pertanyaannya, apa rahasia Allah dibalik semua ini?

    Mengapa seolah membiarkan yang jahat hidupnya lebih makmur dan berkuasa, bahkan menindas terus kaum lemah? Mengapa para penjahat kelas hiu tetap terbebas dari hukum dunia, mereka bebas berkeliaraan dan beraktivitas secara normal bahkan dapat mengeruk terus kekayaaan dari bisnisnya? Tentunya masih akan banyak lagi berbagai pertanyaan dari benak kita, yang terutama akan muncul dari sesama muslim yang hidupnya hingga saat ini masih dalam taraf kesusahan. Susah dalam mendapatkan penghasilan yang memadai, susah untuk menyekolahkan anak dengan layak, bahkan tidak sedikit yang kesusahan sekalipun untuk memenuhi makan sehari-hari, apalagi kalau ingin makan dengan syarat makan yang sehat, tentunya masih jauh sekali.

    Jika manusia ternyata lebih banyak berkeluh kesah dalam menyikapi perjalanan hidup ini, itu sangat wajar dan normal karena jelas jawabannya ada dalam Al-Qur’an sebagai Firman Allah yang Maha Tahu segalanya tentang kehidupan ini dari awal penciptaan hingga berakhirnya kehidupan di dunia kelak. Mari kita perhatikan petikan ayat Al-Quran berikut ini: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”. (Al Ma’arij: 19-21)

    Allah yang Maha Bijaksana, yang selalu menunjukkan jalan untuk kebaikan bagi manusia, pada ayat selanjutnya Allah memberikan jalan keluar agar manusia yang memiliki sifat dasar keluh kesah, kikir, tersebut dapat memilihnya. “Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya”. (Al Ma’arij: 22-27)

    Kembali pada pertanyaan mengapa Allah memberikan dan memperlihatkan hidup di dunia lebih makmur bagi orang kafir, atau orang jahat, daripada kepada umat islam yang ahli ibadah. Jawabanya juga sangat jelas tersedia dalam ayat berikut: “Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (At Taubah: 55)

    Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan tentang ayat di atas: Allah Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya, “Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu.” Penggalan di atas seperti firman Allah Ta’ala, “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. 23:55,56).

    Qatadah menafsirkan, “Susunan kalimat yang dikemudiankan dan diakhirkan”. Asal ayat ini kira-kira, “Maka janganlah harta dan anak-anak mereka mempesonamu dalam kehidupan dunia. Sesungguhnya Allah hendak menyiksa mereka dengannya di akhirat.”.

    Namun Hasan Basri menafsirkan, “Dia menyiksa mereka karena menolak zakat dan tidak menginfakkan sebagian hartanya dijalan Allah.” Firman Allah Ta’ala, “Dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” Yakni, Dia hendak mematikan mereka dalam keadaan kafir agar hal itu lebih menistakan mereka dan memberatkan siksanya.

    Saudaraku, jadi sangat jelas, bahwa ummat Islam agar tidak termasuk manusia yang memiliki sifat keluh kesah jika ditimpa kesusahan, dan tidak kikir jika diberikan kebahagiaan oleh Allah Ta’ala, maka obatnya ikuti saja petunjuk-Nya. Dan ummat Islam tidak perlu bersusah payah seperti membenci berat, terhadap manusia yang kafir, dan yang berlaku jahat, padahal mereka hidup dengan bergelimang harta, bahkan dihormati. Tetapi cukup menyikapinya dengan sangat berlapang dada, dan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Pemilik Rencana Matang dan Adil, yaitu Allah akan membiarkan mereka dalam keadaan yang sangat menyedihkan, yaitu mati dalam keadaan kafir, dan mendapatkan siksa yang teramat pedih di akhirat kelak. Ummat Islam yang hingga saat ini kehidupannya masih kesusahaan, Allah sedang menguji apakah berkeluh kesah atau sebaliknya semakin beriman.

    Bagi ummat Islam yang kehidupannya telah diberikan kemapanan, Allah juga sedang menguji apakah mereka kikir atau semakin beriman pula. Dengan demikian Allah telah jelas memberikan dua jalan pilihan bagi manusia, yaitu jalan yang baik untuk menuju Surga, dan jalan penuh maksiat dan jahat untuk menuju Neraka. Silahkan pilih jalan mana?

    Saudaraku, sebaiknya kita berlindung kepada Allah Ta’ala, agar dimatikan dalam keadaan Islam dan iman. Wallahu ‘alam bishshowaab

    ***

    (Diambil dari http://www.eramuslim.com)

    Sebarkan ke saudara-saudara kita, mudah-mudahan bermanfaat.

     
  • erva kurniawan 7:05 am on 1 January 2014 Permalink | Balas  

    keluarga-muslimMenanamkan Pondasi Akidah yang Kokoh Sejak Usia Dini

    Setiap mukmin pasti tidak bisa memungkiri pengakuan dalam lubuk hatinya yang paling dalam bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah figur guru/pengajar yang terbaik. Sehingga metode Rasulullah dalam menanamkan keyakinan aqidah kepada para Sahabatnya, termasuk yang masih sangat muda belia, adalah metode yang paling relevan diterapkan dalam berbagai situasi zaman.

    Di saat setiap orang tua muslim mulai khawatir dengan keimanan dan moral anaknya, para pendidik mulai mencemaskan perkembangan kepribadian peserta didiknya, patutlah kita menengok kembali bagaimana Rasulullah memberikan contoh peletakan pondasi keimanan yang kokoh kepada seorang sahabat, sekaligus sepupu beliau yang masih kecil waktu itu, yakni Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu.

    Bukti sejarah memaparkan keunggulan metode pengajaran Rasulullah tersebut yang membuahkan pribadi yang beriman dan berilmu seperti Ibnu Abbas. Kita kemudian mengenal beliau sebagai seorang Ulama’ di kalangan sahabat Nabi, seorang ahli tafsir, sekaligus seorang panutan yang menghiasi dirinya dengan akhlaqul karimah, sikap wara’, taqwa, dan perasaan takut hanya kepada Allah semata.

    Begitu banyak keutamaan Ibnu Abbas yang tidak bisa kita sebutkan hanya dalam hitungan jari. Beliau adalah seseorang yang didoakan oleh Rasulullah:

    “Wahai Allah, pahamkanlah ia dalam permasalahan Dien, dan ajarilah ia ta’wil (ilmu tafsir AlQuran)”. Beliau pula yang dua kali didoakan Rasulullah supaya dianugerahi hikmah oleh Allah. Tidak ada yang menyangsikan maqbulnya doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia yang paling bertaqwa di sisi Allah.

    Mari kitak simak salah satu metode pengajaran agung itu, untuk selanjutnya kita gunakan pula dalam membimbing anak-anak kita meretas jalan menuju hidayah dan bimbingan Allah.

    Disebutkan dalam suatu hadits: Dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu:

    “Pada suatu hari aku pernah berboncengan di belakang Nabi (di atas kendaraan), beliau berkata kepadaku:

    “Wahai anak, aku akan mengajari engkau beberapa kalimat:

    Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu…

    Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu…

    Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah…

    Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah…

    Ketahuilah…kalaupun seluruh umat (jin dan manusia) berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan bermanfaat bagimu)…

    Ketahuilah… kalaupun seluruh umat (jin dan manusia)berkumpul untuk mencelakakan kamu, tidak akan mampu mencelakakanmu sedikitpun, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan sampai dan mencelakakanmu)…

    Pena telah diangkat… dan telah kering lembaran-lembaran…(hadits riwayat Tirmidzi, hasan shahih)

    Inilah salah satu wasiat Rasulullah yang mewarnai kalbu Ibnu Abbas, menghunjam dan mengakar, serta membuahkan keimanan yang mantap kepada Allah. Kita juga melihat bagaimana metode dakwah Rasulullah, hal pertama kali yang ditanamkan adalah tauhid, bagaimana seharusnya manusia memposisikan dirinya di hadapan Allah. Manusia seharusnya mencurahkan segala hidup dan kehidupannya untuk menghamba hanya kepada Allah. Tidaklah Rasulullah mendahulukan sesuatu sebelum masalah tauhid diajarkan.

    Kalau manusia ingin selalu berada dalam penjagaan Allah, maka dia harus ‘menjaga’ Allah.

    Makna perkataan Rasulullah: “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu…” dijelaskan oleh seorang Ulama’ bernama Ibnu Daqiqil ‘Ied: “Jadilah engkau orang yang taat kepada Rabbmu, mengerjakan perintah-perintah-Nya, dan berhenti dari (mengerjakan) larangan-larangan-Nya”. (syarah al-arba’in hadiitsan an-nawawiyah).

    Kita jaga batasan-batasan Allah dan tidak melampauinya. Batasan-batasan itu adalah syariat Allah, penentuan hukum halal dan haram dari Allah, yang memang hanya Allah sajalah yang berhak menetapkan hukum tersebut, sebagaimana dalam ayat:

    Artinya: “…penetapan hukum hanyalah hak Allah” (Q.S.Yusuf: 40 )

    Allah mencela orang-orang yang melampaui batasan-batasan-Nya:

    Artinya: “…dan barangsiapa yang melampaui batasan-batasan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dhalim”(Q.S. Albaqarah:229).

    Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya tentang ayat ini menyebutkan:

    “Batasan itu terbagi dua, yaitu: batasan perintah (untuk) dikerjakan dan batasan larangan (untuk)ditinggalkan.

    Rasulullah dalam hadits ini memberikan sinyalemen bahwa barangsiapa yang senantiasa menjaga batasan-batasan Allah itu maka dia akan senantiasa dalam penjagaan Allah. Maka siapakah lagi yang lebih baik penjagaannya selain Allah? sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik penjaga. Dalam AlQuran disebutkan:

    “Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong”(Q.S. Al-Anfaal:40).

    Syaikh Abdirrahman bin Naashir As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan:…”Allah lah yang memelihara hamba-hambanya yang mu’min,dan menyampaikan pada mereka (segala) kebaikan/mashlahat, dan memudahkan bagi mereka manfaat-manfaat Dien maupun kehidupan dunianya, dan Allah yang menolong dan melindungi mereka dari makar orang-orang fujjar,dan permusuhan secara terang-terangan dari orang-orang yang jelek akhlaq dan Diennya.(Kitab Taisiril Kariimir Rahman fi Tafsiiri Kalaamil Mannaan).

    Makna perkataan Rasul “Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu…”.

    Syaikh Abdirrahman bin Muhammad bin Qasim al- Hanbaly an-Najdi dalam kitabnya Hasyiyah Tsalatsatil Ushul, menjelaskan makna hadits tersebut: “Jagalah batasan-batasan Allah dan perintah-perintah-Nya, niscaya Ia akan menjagamu di manapun kamu berada”.

    “Jika engkau memohon, memohonlah kepada Allah, jika engkau meminta pertolongan, minta tolonglah kepada Allah”. Ini adalah sebagai perwujudan pengakuan kita yang selalu kita ulang-ulang dalam sholat :Iyyaaka na’budu waiyyaaka nasta’iin

    “Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan”(Q.S. Al-Fatihah: 5).

    Kalimat yang sering kita ulang-ulang dalam munajad kita dengan Penguasa seluruh dunia ini, akankah benar-benar membekas dan mewarnai kehidupan kita? Sudahkah kita benar-benar menjiwai makna pernyataan ini sehingga terminal keluhan dan pelarian kita yang terakhir adalah Dia Yang Berkuasa atas segala sesuatu?

    Demikianlah yang seharusnya. Di saat kita meyakini ada titik tertentu , sebagai batas semua makhluk siapapun dia, tidak akan mampu mengatasinya, pulanglah kita pada tempat kita berasal dan tempat kita kembali. Apakah dengan penguakan kesadaran yang paling dalam ini kita masih rela berbagi permintaan tolong kita yang sebenarnya hanya Allah saja yang mampu, kepada makhluk selain-Nya? Sungguh hal itu merupakan bentuk kedzaliman yang paling besar.

    Allah mengabadikan salah satu bentuk nasehat mulya yang akan senantiasa dikenang :

    Artinya: “Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, dalam keadaan dia menasehatinya: “Wahai anakku janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya kesyirikan adalah kedzaliman yang paling besar”  (Q.S.Luqman:13)

    Meminta pertolongan dalam permasalahan yang hanya Allah saja yang mampu memenuhinya, seperti rezeki, kebahagiaan, kesuksesan, keselamatan, dan yang semisalnya, kepada selain Allah adalah termasuk bentuk kedzaliman yang terbesar itu (syirik). Berbeda halnya jika kita minta tolong dalam permasalahan yang manusia memang diberi kemampuan secara normal oleh Allah untuk memenuhinya, seperti tolong menolong sesama muslim dalam hal finansial, perdagangan dan semisalnya.

    “Ketahuilah…kalaupun seluruh umat (jin dan manusia) berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan bermanfaat bagimu)…” Ketahuilah… kalaupun seluruh umat (jin dan manusia)berkumpul untuk mencelakakan kamu, tidak akan mampu mencelakakanmu sedikitpun, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan sampai dan mencelakakanmu)…Dua bait ucapan Rasulullah ini mempertegas dan memberikan argumen yang pasti bahwa Allah sajalah yang berhak dijadikan tempat bergantung, meminta pertolongan, karena hanya Ia saja yang bisa menentukan kemanfaatan atau kemudharatan akan menimpa suatu makhluk. Rasulullah juga mengajarkan kepada kita dzikir seusai sholat yang menguatkan pengakuan itu:

    “Allahumma laa maani’a limaa a’thoyta walaa mu’tiya limaa mana’ta “

    Artinya: “…Wahai Allah tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau cegah/halangi…”   (hadits riwayat Bukhari 2/325 dan Muslim 5/90, lihat kitab Shahih al-Waabilus Shayyib minal Kalamit Thayyib, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly).

    Dalam hadits itu pula terkandung pelajaran penting wajibnya iman terhadap taqdir dari Allah baik maupun buruk. Seandainya seluruh makhluk berkumpul dan mengerahkan segala daya dan upayanya untuk memberikan sesuatu pada seseorang, tidak akan bisa diterimanya jika tidak ditakdirkan oleh Allah, demikian pula sebaliknya dalam hal usaha untuk mencelakakan.Kesadaran ini pula yang harus ditanamkan sejak dini.

    Orang tua hendaknya memberikan gambaran-gambaran yang mudah dimengerti oleh si anak tentang kekuasaan Allah dan taqdirnya. Anak-anak mulai diajak berpikir secara Islamy, bahwa segala sesuatu yang menjadi kepunyaannya itu adalah pemberian dari Allah dan telah Allah takdirkan sampai padanya. Demikian pula apa yang luput dari usaha anak itu untuk mencapainya, telah Allah takdirkan tidak akan sampai padanya.

    Telah diangkat pena-pena dan telah kering lembaran-lembaran….maksudnya, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini telah tertulis ketentuannya dan hanya Allah saja yang mengetahuinya. Allah berfirman:

    “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,”(Q.S. Al-hadiid:22-23).

    Sungguh indah rasanya jika teladan pengajaran dari Rasulullah ini benar-benar kita tindak lanjuti sebagai upaya pembekalan bagi anak-anak kita. Mewarnai kalbu mereka yang masih putih seputih kertas tanpa ada goresan sedikitpun sebelumnya. Sehingga di saat mereka beranjak dewasa, kita akan menuai hasilnya. Orangtua mana yang tak kan bangga melihat anak-anaknya tumbuh menjadi manusia yang tangguh, beriman dan berilmu Dien yang mantap serta siap menghambakan dirinya untuk Allah semata dan siap berjuang untuk menegakkan Kalimat-Nya, berjihad fi sabiilillah. Tidak ada yang ditakuti kecuali hanya kepada, dan karena Allah semata.

    ***

    Daftar rujukan:

    1. Syarah al-Arba’in Hadiitsan an-Nawawiyah, Imam Ibn Daqiiqil ‘Ied.

    2. Taisiril Kariimir Rahman fi tafsiiri Kalaamil Mannan, Syaikh Abdirrahman bin Naashir As Sa’di

    3. Tafsir Al-Qurthuby.

    4. Shahih al-Waabilus Shayyib minal Kalamit Thayyib, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly.

    5. Hasyiyah Tsalaatsatil Ushul, Syaikh Abdirrahman bin Muhammad bin Qasim al-Hanbaly an-Najdi.

     
  • erva kurniawan 6:32 am on 28 December 2013 Permalink | Balas  

    wudhu2Hikmah Wudhu

    Assalamualaikum,

    Berikut ini adalah hikmah yang dapat kita peroleh dari wudhu seperti yang diuraikan Imam Al-Ghazali dalam bukunya “Ihya Ulumuddin”. Mudah-mudahan Allah swt selalu mencucurkan rahmat-Nya.

    Banyak diantara kita yang tidak sadar akan hakikat bahwa setiap yang dituntut dalam Islam mempunyai hikmahnya yang tersendiri.

    1. Ketika berkumur, berniatlah kamu dengan, “Ya Allah ampunilah dosa  mulut dan lidahku ini ” Penjelasan : Kita hari-hari bercakap  benda-benda yang tak berfaedah.
    2. Ketika membasuh muka, berniatlah kamu dengan, “Ya Allah, putihkanlah mukaku di akhirat kelak, Janganlah Kau hitamkan muka ku ini”. Penjelasan : Ahli syurga mukanya putih berseri-seri.
    3. Ketika membasuh tangan kanan, berniatlah kamu dengan, “Ya Allah, berikanlah hisab-hisab ku di tangan kanan ku ini” Penjelasan: Ahli syurga diberikan hisab-hisabnya di tangan kanan.
    4. Ketika membasuh tangan kiri, berniatlah kamu dengan, “Ya Allah, janganlah Kau berikan hisab-hisab ku di tangan kiriku ini”. Penjelasan : Ahli neraka diberikan hisab-hisabnya di tangan kiri.
    5. Ketika membasuh kepala, berniatlah kamu dengan, “Ya Allah, lindungilah daku dari terik matahari di padang Masyar dengan ArasyMu”. Penjelasan : Panas di Padang Masyar macam matahari sejengkal di atas kepala.
    6. Ketika membasuh telinga, berniatlah kamu dengan, “Ya Allah, ampunilah dosa telinga ku ini”. Penjelasan : Hari-hari mendengar orang mengumpat, memfitnah, mendengar lagu2 berunsur maksiat.
    7. Ketika membasuh kaki kanan, berniatlah kamu dengan. “Ya Allah, permudahkan-lah aku melintasi titian Siratul Mustaqqim”. Penjelasan : Ahli syurga melintasi titian dengan pantas sekali.
    8. Ketika membasuh kaki kiri, berniatlah kamu Dengan, “Ya Allah, bawakanlah daku pergi ke masjid-masjid, surau-surau dan bukan tempat-tempat maksiat”. Penjelasan : Qada’ dan Qadar kita di tangan Allah.

    Pernah kita terfikir mengapa kita mengambil wudhu sedemikian rupa? Pernah kita terfikir segala hikmah yang kita peroleh dalam menghayati Islam? Pernah kita terfikir mengapa Allah lahirkan kita sebagai umat Islam? Bersyukurlah dan bertaubat selalu.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 24 December 2013 Permalink | Balas  

    selamatBolehkah Mengucapkan Selamat atas Perzinahan, Pembunuhan, dan Kemusyrikan?

    Assalamu’alaikum wr wb,

    A : “Kamu koq mengucapkan Selamat hari Natal kepada non muslim? padahal kamu kan muslim?”

    B : “Saya ingin berbuat baik kepada mereka. Apalagi mereka bukan kafir harbi (kafir yang memerangi). Bukankah Allah Ta’ala berfirman:

    “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu…” [QS. Al-Mumtahanah: 8].

    A : “Kamu telah salah dalam mengambil dalil. Firman Allah tersebut mengenai berbuat baik seperti memberi makan atau menyantuni Non Muslim atau bergaul dengan orang tua yang Non Muslim. Bukan untuk berbuat dosa seperti Syirik dengan mengucapkan Selamat Natal kepada mereka yang merayakan kelahiran Tuhan mereka. Apakah kamu tahu asbabul nuzul ayat tersebut?

    Sebab turunnya ayat Al Qur’an di atas adalah sebagai berikut:

    Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya “Menjalin hubungan dengan orang tua yang musyrik”. Kemudian beliau membawakan riwayat berikut:

    Asma’ mengatakan, “Ibuku mendatangiku dan ia sangat ingin aku menyambung hubungan dengannya. Kemudian aku menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bolehkah aku tetap menjalin hubungan dengannya? Beliau pun menjawab, “Iya boleh”.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa setelah itu Allah menurunkan firman-Nya (yang artinya), “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama.” [QS. Al Mumtahanah [60] : 8]”

    B : “Dulu mereka (kaum nasrani) telah mengucapkan selamat kepada saya ketika hari raya Idul Fitri. Nah, ketika hari raya mereka, maka saya membalas kebaikan mereka dengan mengucapkan Selamat hari Natal. Ada dalilnya tentang hal ini. Allah Ta’ala berfirman:

    “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An Nisaa : 86).

    A : “2x kamu salah dalam mengambil dalil. Sesungguhnya firman Allah tersebut menyangkut dengan ucapan salam: “Assalamu’alaikum”. Bukan ucapan Selamat Natal yang mengandung kemusyrikan. Itu pun ucapan salam di atas berlaku jika pemberinya adalah sesama Muslim, Bukan non Muslim. Jika yang memberi salam Non Muslim, kita cukup menjawab “Wa ‘alaikum”. Sebab kita tidak boleh mendoakan Non Muslim dengan semoga Allah memberimu Keselamatan, Rahmat, dan Keberkahan sementara mereka tidak mau beriman kepada Allah.

    Hadits riwayat Anas bin Malik: Rasulullah bersabda: ‘Apabila Ahli Kitab mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah: Wa`alaikum.’ (Shahih Muslim No.4024).

    B : “Ah…ini kan masalah sepele, gak usah terlalu dibesar-besarkan. Nanti bisa terjadi perpecahan antar umat beragama.”

    A : “Menurut kamu mungkin kecil atau sepele. Tapi bisa jadi di sisi Allah ucapan itu sangat besar akibatnya. Allah Ta’ala berfirman:

    “Mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak.’ Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh” [Maryam 88-90].

    Bukankah ucapan selamat itu mendukung pemahaman mereka yang menyakini bahwa Allah memiliki anak?

    B : “Tapi bukankah ada ulama dan kyai yang membolehkan seorang muslim mengucapkan Selamat Natal kepada non muslim?”

    A : “Kita tidak boleh taqlid buta kepada ulama. Jika ulama itu telah keliru, maka jangan diikuti. Seandainya mengucapkan Selamat Natal itu baik, niscaya Nabi dan para sahabat2nya serta para Imam Ahlus Sunnah telah melakukannya, sedangkan mereka hidup di tengah orang2 non muslim.”

    B : “Sesungguhnya saya hanya sebatas mengucapkan selamat saja, sedangkan hati saya mengingkari keyakinan mereka. Agar mereka tidak membenci kita, bahkan akan mencintai kita.”

    ###

    A : “Kalau begitu, bagaimana menurut kamu jika ada orang yang memberikan ucapan selamat kepada orang yang berhasil melakukan korupsi?

    Atau mengucapkan selamat kepada orang yang telah berhasil berzina?

    Atau mengucapkan selamat kepada maling yang telah berhasil mencuri?

    Atau mengucapkan selamat kepada orang yang telah berhasil membunuh orang yang tidak berdosa?

    Apakah hal itu dibolehkan menurut kamu?”

    B : “Ya jelas tidak boleh. Karena itu sama saja mendukung perbuatan mereka dalam maksiat dan dosa.”

    A : “Kalau itu tidak dibolehkan menurut kamu, berarti memberikan ucapan selamat Natal lebih tidak dibolehkan lagi, karena hukumnya jauh lebih besar dari ucapan-ucapan selamat diatas. Perbuatan korupsi, zina, mencuri dan membunuh hanya sebatas dosa maksiat. Adapun merayakan hari Natal adalah termasuk dosa kesyirikan. Sedangkan dosa kesyirikan jauh lebih besar daripada dosa kemaksiatan.”

    Di balik Ucapan “Selamat Hari Natal” :

    Selamat Hari Natal = Selamat hari lahirnya tuhan kalian = selamat menyembah salib = selamat kalau Allah punya anak = selamat bertrinitas = selamat memusuhi agama tauhid (Islam) = Selamat bahagia dengan bangkitnya kaum salibis yang senantiasa mengharapkan hancurnya Islam.

    Ucapan selamat natal lebih parah daripada ucapan : Selamat berzina…, selamat mabuk…, selamat mencuri…, selamat membunuh…, selamat korupsi…, selamat berhomoseksual…

    Akan tetapi masih banyak kaum muslimin yang tidak menyadarinya…!!!!

    ***

    Oleh : AA Hakim,

    Dhuafa & Rich Institute

    Silahkan baca juga:

    http://media-islam.or.id/2011/12/20/bantahan-atas-fatwa-halal-mengucapkan-selamat-natal-yusuf-al-qaradhawi/

    http://media-islam.or.id/2012/12/24/kajian-al-quran-tentang-siti-maryam-dan-nabi-isa-bersama-kh-m-zain-kh-ali-yafie-dan-kh-m-hidayat/

    http://media-islam.or.id/2010/12/14/haram-hukumnya-mengucapkan-selamat-natal/

     
    • mhilal 9:45 am on 24 Desember 2013 Permalink

      pandangan Ini juga taklid sama media-islam.or.id
      cobalah renungkan baik-baik, apakah ucapan selamat hari natal itu selalu bermakna mendoakan. menurutku tidak.

  • erva kurniawan 8:24 am on 21 December 2013 Permalink | Balas  

    nabi-muhammad-saw1Yahudi dan Ramalan Rasulullah

    Bila mengingatkan kata Yahudi, orang sering menyamakan stigma omong kosong seperti stigma “PKI” oleh pejabat Orde Baru. Peristiwa di Palestina, agresi di Iraq, dan mungkin, akan menunggu giliran lagi beberapa negeri muslim lainnya, adalah fakta nyatanya. Ramalan Rosulullah di bawah ini patut anda renungkan kembali

    Oleh Sholeh Hasyim*

    “Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi dibalik batu dan pohon, lalu batu dan pohon berkata : Hai muslim ! Hai hamba Allah ! Ini Yahudi dibelakangku, kemarilah aku, bunuhlah dia ! Kecuali pohon ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohon orang Yahudi.” (HR. Muslim VII/188, Bukhari IV/51, Lu’lu’ wa al-Marjan III/308)

    Fenomena pertentangan antara ummat Islam dan Yahudi di Palestina semakin meningkat. Berbagai tindakan kekerasan terhadap ummat Islam tak kunjung berakhir, sekalipun bangsa-bangsa di dunia telah mengutuknya.

    Pengakuan Yahudi atas Yerusalem, ternyata menimbulkan kesalahpahaman ummat Islam dalam menyikapi Yahudi, dengan membandingan Yahudi jaman dahulu dan sekarang. Mereka menyamakan Yahudi dahulu yang beriman kepada Musa `Alaihis salaam (as) dengan Yahudi sekarang. Penyamaan sikap ini berakibat buruk baik dalam aspek aqidah maupun amal.

    Ada beberapa hal penting seperti dijelaskan dalam syariat dan sejarah; pertama, sesungguhnya Bani Israil yang mengimani ajaran Musa As berbeda dengan Yahudi sekarang. Yahudi dahulu terdiri dari kaum Muslim, dan Mukmin. Sedangkan sekarang terdiri dari kaum kafir, musyrik, dan penentang ajaran Musa yang telah keluar dari syariatnya. Bani Israil adalah keturunan Ya’qub Alaihissalam.

    Ibrahim pernah berwasiat kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. Ibrahim berkata: “Hai anak-ankakku, Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (al-Baqarah: 132). Yusuf as juga menegaskan hal yang sama,”Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah.” (Yusuf : 38)

    Ini sama dengan pesan Allah tentang orang-orang Yahudi yang mengimani ajaran Musa As. “Dan Kami jadikan di antara mereka (Bani Israil) itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami (QS. Sajdah : 24) Ayat lain mengatakan, “Dan sungguh telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (kami) atas bangsa-bangsa.” (ad-Dukhan: 32)

    Adapun orang-orang Yahudi yang keluar dari ajaran Musa, secara otomatis mereka telah jatuh pada kemusyrikan. Mereka yang musyrik itu seperti disebut dalam ayat-ayat berikut ini: Orang-orang Yahudi berkata, tangan Allah terbelenggu, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang mereka katakan itu (al-Maidah: 64), mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah (at-Taubah: 31). Orang-orang Yahudi berkata : Uzair itu putera Allah (at-Taubah: 30).

    Jadi, Yahudi sekarang tidak ada kaitannya dengan Yahudi yang beriman kepada Musa As. Adapun klaim mereka terhadap bumi Palestina, itu merupakan pengembangan dari kekufuran mereka terhadap Musa As. dan nabi-nabi sesudahnya. Mereka telah keluar dari tauhid dan syariat Musa As.

    Kedua : Kebanyakan Yahudi sekarang bukan berasal dari Bani Israil. Orang-orang Yahudi yang merampas wilayah Palestina sekarang, bukan berasal dari keturunan yang dulu pernah bersama-sama hidup dengan Musa as. Sekarang, Yahudi keturunan Israil, yang dikenal dengan sebutan Safaradim, tidak lebih dari 20% jumlahnya di dunia. Komunitas inipun percampuran dari berbagai etnis lain karena pernikahan dll. Sebagian kecil dari jumlah di atas, bukanlah asli keturunan Bani Israil. Adapun mayoritas kaum Yahudi di dunia yang mencapai 80%, itu berasal dari Eropa, dan berbagai negara di dunia. Mereka dikenal dengan sebutan al-Asykanazim, dimana mereka memasuki ajaran Yahudi yang sarat dengan paganisme.

    Bukti sejarah di atas menjadi jelas bahwa kaum Yahudi sekarang adalah penjajah. Mereka tidak berhak atas kepemilikan bumi Palestina, karena telah keluar dari ajaran Musa As yang benar dan mengubah-ubah kitab Taurat. Palestina adalah bumi kaum muslimin, tidak berhak bagi bangsa lain untuk memilikinya. Sesungguhnya, Palestina bukanlah milik Bani Israil, tetapi milik kaum Jabbariyin yang hidup sebelum Bani Israil. Allah mengizinkan kepada Bani Israil untuk memasuki wilayah Palestina, jika mereka masih komitmen terhadap ajaran yang benar. Jika tidak, secara otomatis izin tinggal dari Allah di Baitul Makdis telah dicabut.

    Ketiga: Sesungguhnya sifat dasar Yahudi yang diabadikan dalam al-Quran dari masa ke masa adalah pengkhianat, penakut, provokator, pemicu permusuhan, penipu, sombong dll. Sikap itu terlihat ketika mereka menyakiti Musa as. dan keluar dari ajaran Taurat. Itulah sikap dasar yang tertanam secara turun temurun. Sehingga sifat-sifat tercela mereka sebagai bagian dari agama mereka yang selalu rentan dengan perubahan. Mereka tanamkan ajaran berbahaya itu kepada anak cucu mereka dan kepada orang yang masuk agama mereka. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang masih memiliki komitmen terhadap Musa As ( al-Maidah: 59dan 62). Di antara mereka ada golongan pertengahan (al-Maidah: 66).

    Kehancuran Yahudi

    Hadits di atas mengajarkan kepada kita untuk merancang masa depan, sekalipun masa depan itu sesuatu yang ghaib. Dan yang bisa mengetahui hal-hal ghaib, hanyalah Allah. (QS. an-Naml: 65). Tetapi Allah mempunyai sunnatullah yang berlaku pada diri manusia. Ungkapan hadits di atas menjelaskan, peperangan yang akan terjadi bukanlah peperangan lokal antara orang Yahudi dan Muslim Palestina. Tetapi awal peperangan terhadap Yahudi yang sekarang mendominasi dunia. Apabila terjadi pertarungan global dan ummat Islam memperoleh kemenangan sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah saw, maka akan mengubah sejarah para penguasa Yahudi di dunia. Bila terjadi kekalahan, maka tidak ada lagi satu kekuasaanpun yang tertinggal untuk orang Yahudi di dunia. Ketika itu kepemimpinan dunia akan berubah dengan konsep lain yang sesuai dengan fitrah manusia.

    Jahiliyah modern sudah lama menyimpan berbagai penyakit karena mengingkari Allah dan akhirat. Dimana-mana terjadi penganiayaan, permusuhan, dekadensi moral, peperangan yang menghancurkan. Berbagai isme yang lain telah gagal dalam mengantarkan manusia modern menuju pintu gerbang kebahagiaan. Kini, manusia telah dijangkiti penyakit jiwa yang sangat akut. Mereka kehilangan harapan, kecewa, selalu dibayangi ketakutan dll. Mereka menunggu terwujudnya pandangan hidup yang bisa mencerdaskan akal, mencerahkan hati dan memperbaiki akhlaq mereka.

    Akan terjadi Nubuwwah padamu sesuai dengan kehendak Allah. Lalu Allah akan mengangkat (melenyapkan-Nya) jika Dia menghendakinya. Setelah itu, akan muncul khilafah yang sesuai dengan manhaj nubuwah. Maka sesuai dengan kehendak Allah, ia akan berada, lalu Allah akan melenyapkan jika Ia menghendaki. Kemudian akan datang raja yang zhalim. Maka iapun akan bercokol sesuai dengan kehendak-Nya. Kemudian akan ada raja yang tirani, maka iapun muncul sesuai dengan kehendak Allah, kemudian ia lenyap, jika Allah menghendaki. Baru setelah itu akan timbul kembali khilafah di atas manhaj nubuwah (HR. Ahmad dari Hdzaifah al-Yaman).

    Berbeda dengan sebagian orang Muslim, orang-orang Yahudi yakin dengan prediksi Rasulullah itu. Sampai hari ini, mereka memperbanyak menanam pohon ghorqod di kebun-kebun mereka. Mereka mengambil pengalaman dari berbagai peperangan dengan kaum muslimin pada masa Rasulullah ataupun masa intifadhah akhir-akhir ini. Pengalaman itu membuat Yahudi berusaha menghadang lajunya gerakan Islam di dunia. Harap tahu saja, simbol Yahudi internasional yang berbentuk seperti garpu, itu sesungguhnya simbol pohon ghorqod.

    Yang menjadi catatan, apakah peperangan di bumi Baitul Maqdis merupakan cikal bakal peperangan global Yahudi melawan Islam? Apalagi Yahudi dari berbagai belahan dunia telah berkumpul di satu tempat, sehingga mudah dihancurkan. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui kapan terjadinya peperangan yang menentukan nasib terakhir kaum Yahudi itu.

    Yang terpenting bagi ummat Islam sekarang adalah melakukan i’dad dan berjihad melawan Yahudi. Nash syariah dan bukti sejarah menunjukkan, perang melawan kekufuran akan senantiasa berlanjut. (QS. al-Baqarah 120 dan 109, Ali-Imran: 118). Sehingga Allah akan menolong ummat Islam, bila mereka memenuhi persyaratan untuk ditolong. Kita hanya bisa berdoa dan bekerja keras dalam menegakkan syariat di bumi. Keputusan terakhir kita serahkan kepada Allah. `Alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.• (Penulis, kontributor Suara Hidayatullah, Kudus, Jawa Tengah)

    ***

    Diambil dari Majalah Suara Hidayatullah, Edisi Khusus Milad Ke-14 Mei 2002

     
  • erva kurniawan 8:19 am on 20 December 2013 Permalink | Balas  

    sholat-dhuhaSudahkah Anda Menunaikan Sholat Dhuha?

    Sholat ini cukup hanya 2 (dua) rakaat dengan doa yang amat indah dan menyejukkan. Waktunya sangat panjang, mulai suruq (habisnya waktu subuh) sampai dengan menjelang masuk waktu dhuhur – logikanya pasti bisa menunaikannya. Namun di-muakkadkan (dianjurkan dengan sangat) untuk dilaksanakan sebelum kita memulai pekerjaan kita. Sehingga niat kita bekerja adalah semata-mata bernilai ibadah. Dengan demikian pekerjaan kita, InsyaAllah, akan mendapat ridho dari Allah SWT. Amiin.

    Lihat dan saksikanlah (harap diartikan menjadi saksi atas keindahan dan kesejukan) doa dhuha ini – masyaaalloh – sbb. (terjemahan) :

    Ya Allah, bahwasannya waktu dhuha itu adalah waktuMU, dan keagungan itu adalah keagunganMU, dan keindahan itu adalah keindahanMU, dan kekuatan itu adalah kekuatanMU, dan perlindungan itu adalah perlindunganMU, Ya Allah, jika rizkiku masih di atas langit, maka turunkanlah, jika masih di dalam bumi, maka keluarkanlah, jika masih sukar, maka mudahkanlah, jika (ternyata) haram, maka sucikanlah, jika masih jauh, maka dekatkanlah, Berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaanMU, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hambaMU yang sholeh. Amiin Ya Robbal Alamiin.

    **

    Bila anda tidak dapat membaca teks Arab-nya waktu berdoa, bacalah teks Indonesianya saja secara khusu’ dan tawaddhu’ (dengan kerendahan hati). InsyaAllah kita akan menjadi orang yang :

    1. Tawaddhu’ [penuh dengan kerendahan hati alias tidak sombong (tinggi hati) – apapun pangkat dan kedudukan kita.

    2. Percaya bahwa bekerja itu adalah bernilai ibadah, sehingga apapun yang menjadi tugas kita, seberat apapun, insyaalloh, akan mendapat ridho dan pertolongan dari Allah SWT.

    3. Percaya segala sesuatu di dunia ini ada yang Maha dari segala-galanya.

    4. Dihapuskan segala dosa meskipun dosa itu sebesar buih lautan. (Al-hadist). InsyaAllah !!!

    Demikianlah dan semoga risalah kecil ini akan menjadi “sesuatu yang dapat menggugah” kita utk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

    Jazakumulloh khoiron katsiro. Wass. Wr. Wb.

    Note: Risalah ini akan membawa nilai tambah sebagai amal, bila anda teruskan juga kepada sahabat-sahabat anda dan saudara-saudara anda !

     
  • erva kurniawan 8:17 am on 19 December 2013 Permalink | Balas  

    quran-tasbihMemelihara Diri dari Kezaliman

    ”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-Nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat biji zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-Nya pula.” (QS. Al-Zalzalah:7-8)

    Dari ayat di atas, maka dapat kita ambil hikmah. Betapa Allah SWT telah mengajarkan kepada manusia agar bersikap peka, meski terhadap hal yang teramat kecil sekalipun. Memang, sesungguhnya Islam sangat menekankan agar kita memperhatikan hal-hal kecil bahkan detail dalam hidup kita. Saudaraku, kepekaan memang sudah selayaknya terasah dalam setiap gerak langkah hidup kita. Sudah saatnya kita kita perhatikan, jangan-jangan sikap, perilaku, tindakan, atau kata-kata kita menzalimi orang lain.

    Banyak di antara manusia yang kurang menyadari bahwa dirinya kerap kali berlaku zalim terhadap sesamanya. Hal ini terjadi sekurang-kurangnya disebabkan oleh dua alasan.

    1. Kita kurang memiliki tingkat kepekaan yang bagus ketika hendak melakukan sesuatu.

    Dalam bertindak seringkali tidak diawali dengan pertimbangan, apakah orang lain akan terlukai perasaannya atau tidak dengan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan kita itu? Atau sekurang-kurangnya apakah orang lain bisa memaklumi tindakan kita atau tidak?

    2. Kita hanya memahami gambaran tentang makna kata ‘zalim’ atau ‘aniaya’ itu dalam konteks yang lebih besar.

    Misalnya, ketika Belanda dan Jepang menjajah tanah air, maka didapati kenyataan sejarah bahwa rakyat Indonesia ketika itu telah dizalimi oleh kaum penjajah. Sejarah pun telah mencatat tindakan raja Fir’aun yang amat sewenang-wenang terhadap rakyatnya, sehingga dia dikenal sebagai penguasa yang zalim. Demikian pun media massa sering menyampaikan informasi betapa rakyat kecil berada dalam posisi teraniaya karena tanah dan rumahnya telah dirampas dan digusur oleh pihak lain.

    Nah, di sisi lain kita mungkin sudah seharusnya menyadari bahwa kezaliman pun bisa terjadi dalam hal-hal kecil pada kehidupan kita. Misalnya, suatu ketika kita masuk ke kamar mandi lalu secara tidak sengaja kita menyenggol sikat gigi milik teman sehingga terlempar ke lubang kloset. Mungkin kita hanya akan mengambilnya, lalu disimpan kembali di tempat semula tanpa dicuci terlebih dahulu. Apalah jadinya jika kemudian si empunya sikat gigi tersebut memakainya. Tentu, secara tidak langsung kita sebagai orang yang tahu, telah membiarkan sikat gigi kotor itu digunakan.

    Di sinilah sebenarnya tingkat kepekaan kita diuji. Adakah dengan tindakan kita seperti itu lantas orang lain tidak merasa dizalimi? Atau kita mengira ia bisa memakluminya, karena toh kita memang tidak sengaja. Padahal, tidakkah kita menyadari bahwa perilaku seperti itu sebenarnya tindakan zalim juga? Suatu tindakan yang sebenarnya akan potensial sekali menghalangi datangnya pertolongan Allah. Hendaknya hal-hal yang tampaknya sepele ini tidak lagi menjadi bagian dari perilaku kita jika memang kita ingin semakin dekat kepada Allah.

    Tidak heran kalau sahabat Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib ketika mengajak para laki-laki muslim untuk berperang di jalan Allah, beliau terlebih dahulu bertanya, ”Bagaimana kalau ada pihak musuh yang menyerah? Apa yang akan engkau lakukan?”

    Seseorang spontan menjawab, ”Habisi saja!”

    Kemudian Ali bin Abi Thalib berkata dengan tegas, ”Kalau begitu engkau jangan ikut bertempur!”

    Mengapa Ali bin Abi Thalib melarang? Sebab orang tersebut masih memiliki bibit-bibit zalim yang bisa mengakibatkan tidak akan datangnya pertolongan Allah, karena pertempuran tersebut bersatu dengan kezaliman. Bagaimana mungkin berjihad di jalan Allah seraya ada kezaliman di dalamnya kendati mungkin hanya dilakukan oleh satu orang saja?

    Dalam kisah lain, kita pun masih ingat ketika Ali bin Abi Thalib bertarung mati-matian menghadapi lawan dalam suatu peperangan. Pada saat musuhnya berhasil dilumpuhkan dan hendak beliau tebas dengan pedangnya, tiba-tiba si musuh tersebut meludahi wajah Ali. Lalu dengan serta-merta beliau mengurungkan serangan pedangnya.

    Tentu saja, melihat sikap Ali tersebut sang musuh menjadi heran, lalu bertanya, ”Mengapa engkau tidak jadi membunuhku, hai Ali?”

    Ali bin Abi Thalib menjawab, ”Karena aku khawatir apabila aku jadi membunuhmu itu bukan karena Allah, melainkan karena kebencianku akibat engkau meludahi mukaku!” Subhanallah, begitu luhur dan mulianya motivasi beliau berperang. Bebas dari kezaliman.

    Semoga Allah melindungi kita dari perilaku mengabaikan hal-hal yang tampak sepele. Mudah-mudahan kita dapat mengikuti teladan Rasulullah, yang selalu memperhatikan hal-hal yang tampak kecil, yang menyebabkan beliau menjadi pribadi besar sepanjang zaman. Wallahu a’lam.

    ***

    (Diambil dari tulisan Aa Gym, kolom Refleksi Republika)

     
  • erva kurniawan 7:43 am on 17 December 2013 Permalink | Balas  

    perjalananRenungan: Orang Beruntung

    Ketika seorang bayi menjerit kelaparan, disertai ratapan ibunya yang tidak bisa berbuat apa-apa selain berdo’a dan penuh harap… Ketika seorang bapak jatuh bangun banting-tulang untuk mendapatkan sesuatu yang halal dalam memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga… Kepedulian terhadap sesama ummat manusia yang bisa diberikan kepadanya tidak juga ia dapatkan. Masing-masing orang sibuk dengan urusannya…

    Apakah bagi sebagian orang yang hidup dengan tingkat ekonomi lebih baik, ada sedikit rasa iba jika di lingkungannya masih ditemukan segelintir orang yang masuk dalam kelompok fakir miskin, yatim piatu, dan lain-lain? Adakah orang-orang yang memiliki kemampuan dan kekuasaan membantu merubah nasib orang lain?

    Dalam keadaan masyarakat yang penuh dengan ketidakpastian dalam segala hal, figur seseorang yang awalnya bisa diharapkan (karena tidak ada pilihan lain) menjadi seorang pemimpin dan bahkan berjanji akan merealisasikan harapan sebagian besar orang yang dipimpinnya, malah diluar dugaan menjadi bumerang dan sumber dari segala sumber masalah. Inkonsistensi serta ketidaktegasan dalam menjalankan roda kepemimpinannya, mengakibatkan banyak opini yang menyebutkan bahwa perdebatan karena perbedaan pendapat yang terjadi diantara para pembantu dan orang terdekatnya dapat menciptakan krisis moral yang mengawali terbentuknya mental-mental korupsi, kolusi, dan nepotisme disetiap sudut-sudut instansi pemerintah maupun swasta dari tingkatan yang paling atas sampai pada tingkat cleaning service.

    Hal itu sebenarnya juga disadari oleh mereka yang sedang “bermain” dengan jabatan, harta, dan kekuasaan yang dimiliki. Tetapi mereka berdalih bahwa tujuan duniawi yang sedang mereka kejar adalah semata-mata agar terhindar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Namun hanya sebagian kecil dari mereka menyadari bahwa sebenarnya yang mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi adalah mental dan moral mereka sendiri yang mengambil kebijakan untuk kepentingan mereka sendiri. Namun mereka juga tetap tidak peduli.

    Seandainya pemimpin tersebut berniat karena Allah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat yang sudah hampir punah dengan memanfaatkan kondisi dan situasi yang sifatnya nasional atau bahkan internasional untuk menetapkan kebijakan yang dapat mengangkat derajat dan martabat serta harga diri para pengikutnya. Insya Allah, dukungan yang semula sirna akan kembali bersinar. Dan jalan menuju tahta yang lebih baik dengan kepimpinan yang islami akan mudah dicapai. Karena yakinlah bahwa setelah ada kesulitan maka akan ditemukan kemudahan.

    Tetapi jika hal tersebut datas dilakukan dengan niat dan tujuan agar setelah moment untuk mengembalikan kepercayaan tersebut dapat dipilih kembali dan mengulangi lagi penderitaan rakyat serta membentukan mental dan moral KKN atau bahkan lebih parah lagi. Percayalah, bahwa tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari Allah, baik yang ada di bumi maupun ada di langit. Jikalau memang ada niatan seperti itu, besar kemungkinan bahwa prestasi yang akan selalu digembar-gemborkan dengan bangga dan sangat gigih hingga pada saat pemilihan nanti adalah kebijakan yang bersifat nasional atau internasional seperti yang disebutkan diatas sebelumnya. Mengenai tindakannya yang sengaja menyengsarakan rakyat akan berusaha sekuat mungkin untuk disembunyikan. Alangkah beruntungnya pemimpin seperti itu, bisa mengambil simpati serta keuntungan dari orang yang telah ditindas untuk kemudian ditindas kembali atas kepemimpinannya untuk yang kesekian kalinya.

    Hanya Allah tempat kita bersandar, kepada Dialah kita memohon pertolongan. Karena sesungguhnya manusia itu tidak pernah akan merugi jika beriman kepadaNya. Janganlah berpikir kehidupan duniawi itu lebih baik dari kehidupan akhirat, karena dunia hanyalah merupakan fasilitas bagi manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dihari akhir nanti.

    Niatlah dan berbuatlah untuk kebahagiaan semua ummat dengan membagi kepedulian kita kepada orang lain, selagi kita bisa dan beruntung…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:24 am on 16 December 2013 Permalink | Balas  

    wanita sholehahSampaikanlah Kepada Wanita

    1. Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 orang wali.
    2. Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 lelaki soleh.
    3. Seorang wanita yang jahat adalah lebih buruk daripada 1,000 lelaki yang jahat.
    4. 2 rakaat sholat dari wanita yang hamil adalah lebih baik daripada 80 rakaat sholat wanita yang tidak hamil.
    5. Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya daripada badannya (susu badan) akan dapat satu pahala daripada tiap-tiap titik susu yang diberikannya.
    6. Wanita yang melayani dengan baik suami yang pulang ke rumah di dalam keadaan letih akan mendapat pahala jihad.
    7. Wanita yang habiskan malamnya dengan tidur yang tidak nyenyak kerana menjaga anaknya yang sakit akan mendapat pahala seperti membebaskan 20 orang hamba.
    8. Wanita yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suami yang melihat isterinya dengan kasih sayang akan dipandang Allah dengan penuh rahmat.
    9. Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumahtangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal daripada suaminya, akan menjadi ketua 70,000 malaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat daripada yakut.
    10. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari kerana menjaga anak yang sakit akan diampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan bila dia hiburkan hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadat.
    11. Wanita yang memerah susu binatang dengan “bismillah” akan didoakan oleh binatang itu dengan doa keberkatan.
    12. Wanita yang mengolah tepung gandum dengan bismillah”, Allah akan berkatkan rezekinya.
    13. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti meyapu lantai di baitullah.
    14. Wanita yang menjaga sholat, puasa dan taat pada suami, Allah akan mengizinkannya untuk memasuki syurga dari mana-mana pintu yang dia suka.
    15. Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari.
    16. Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadat pada malam hari.
    17. Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun sholat dan puasa dan setiap kesakitan pada satu uratnya Allah mengaruniakan satu pahala haji.
    18. Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia akan dikira sebagai mati syahid.
    19. Jika wanita melayani suami tanpa khianat akan mendapat pahala 12 tahun sholat.
    20. Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempoh (2 1/2 tahun), maka malaikat-malaikat di langit akan kabarkan berita bahwa syurga wajib baginya.
    21. Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah akan memberi pahala satu tahun sholat dan puasa.
    22. Jika wanita memijit suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 tola emas dan jika wanita memijit suami bila disuruh akan mendapat pahala tola perak.
    23. Wanita yang meniggal dunia dengan keredaan suaminya akan memasuki syurga.
    24. Jika suami mengajarkan isterinya satu masalah akan mendapat pahala 80 tahun ibadat.
    25. Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah di akhirat, tetapi Allah akan datang sendiri kepada wanita yang memberati auratnya yaitu memakai purdah di dunia ini dengan istiqamah.

    ***

    Dipetik daripada Bayan Mastura Oleh Syed Ahmad Khan

     
  • erva kurniawan 7:09 am on 14 December 2013 Permalink | Balas  

    hidayah-allahKasih Sayang Allah

    Sabda Rasullullah yang bermaksud: “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, nescaya Ia bukakan kunci hatinya dan mengisikannya dengan keyakinan dan kepercayaan yang kukuh, Ia jadikan hatinya waspada terhadap liku-liku hidup yang dijalaninya, Ia jadikan hatinya sihat sejahtera dan lidahnya berkata benar dan perangainya baik/mulia dan Ia jadikan telinganya mendengar dan matanya melihat yang baik” (diriwayatkan oleh Abu Syeikh dari Abi Zam)

    URAIAN :

    Tanda-tanda seseorang manusia itu sedang dibimbing Allah ke arah jalanNya yang lurus atau kearah agama Nya yang suci ialah : Allah membuka pintu hatinya dan membedakan segala hijab-hijab kelalaian dan kejahilan, kemudahan hati yang terbuka itu dipancarkan dengan cahaya iman,cahaya cintakan Allah dan cahaya ma’rifatNya yang suci.

    Kemudian hati yang dipancarkan dengan kecintaan dan ma’rifat itu akan dihiasi pula dengan kayakinan dan kepercayaan yang kukuh dan utuh, dan tidak tergoncang oleh fitnah-fitnah dunia.

    Kemudian hati yang iman, ma’rifat, keyakinan dan kepercayaan kukuh akan dijadikan Allah begitu hati-hati, waspada dan sensitif dalam setiap langkah hidup yang dijalani hingga ia terselamat dari noda- noda dosa dan nafsu-nafsu penyelewengan dan ia juga begitu sedar dan teliti dengan segala ajaran-ajaran Allah.

    Allah jadikan hatinya yang penuh iman, ma’rifat, keyakinan dan kesedaran itu sihat sejahtera dari penyakit-penyakit hasat dengki, ria’, takbur, dendam, marah, rasa perseteruan, was-was, keraguan dan sebagainya dari penyakit-penyakit jiwa yang menyeksa dan menghilangkan ketenteraman manusia.

    Sebagai kesan dari pembinaan iman dan ma’rifat yang kukuh dalam hati seseorang, ia akan menjadi seseorang yang sentiasa berkata benar dan berani memperkatakan kebenaran walau dimana sahaja berada. Kesan dari pembinaan dan ma’rifat itu juga Allah kurniakan kepadanya telinga yang sentiasa cintakan ajaran dan nasihat yang benar dan serentak dengan itu Allah kurniakan kepada matanya yang tajam yang dapat melihat rahsia-rahsia dan hikmat-hikmat ketuhanan disebalik kejadian Allah dengan penelitian batin yang mendalam.

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 13 December 2013 Permalink | Balas  

    siluet-wanitaWanita

    Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, “Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia”.

    Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

    Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.

    Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

    Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

    Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah.

    Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis kerana takutkan Allah dan orang yang takutkan Allah, akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

    Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail.

    Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun). Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.

    Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh. Aisyah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab Rasulullah, “Suaminya. “Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah, “Ibunya”.

    Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

    Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung diudara,malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya.

    Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

    Syurga itu di bawah tapak kaki ibu. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga.

    Daripada Aisyah r.a. Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka. Jadi, janganlah sesekali kita merasa lemah. Wanitalah sebenarnya yang membuat seseorang lelaki itu kuat. Itulah salah satu sebab mengapa Nabi meletakkan wanita setaraf pada lelaki dan tidak lebih rendah. Buat renungan kita semua.

    Wassalam

    ***

    Oleh Sahabat: Seno

     
  • erva kurniawan 2:09 am on 12 December 2013 Permalink | Balas  

    Kisah cinta Laila MajnunBermesraan Ala Rasulullah

    Bermesraan, itulah yang membuat hubungan suami-istri terasa indah dan nikmat. Caranya? Coba perhatikan uraian berikut ini.

    Dalam berkomunikasi, ada dua jenis lambang yang bisa dipergunakan, yaitu lambang verbal dan lambang non verbal. Menurut penelitian Profesor Birdwhistell, maka nilai efektifitas lambang verbal dibanding non verbal adalah 35:65. Jadi, justru lambang non verbal yang lebih efektif dalam menyampaikan pesan.

    Bermesraan, adalah upaya suami istri untuk menunjukkan saling kasih sayang dalam bentuk verbal. Sentuhan tangan dan gerak tubuh lainnya, adalah termasuk lambang non verbal ketika suami berkomunikasi dengan istrinya. Komunikasi verbal semata belumlah efektif jika belum disertai oleh komunikasi non verbal, dalam bentruk kemesraan tersebut.

    Rasulullah saw pun merasakan pentingnya bermesraan dengan istri, sehingga beliau pun mempraktekkannya untuk menghias hari-hari dalam keluarganya, yang tecermin seperti dalam hadis-hadis berikut:

    1. Tidur dalam satu selimut bersama istri

    Dari Atha’ bin Yasar: “Sesungguhnya Rasulullah saw dan ‘Aisyah ra biasa mandi bersama dalam satu bejana. Ketika beliau sedang berada dalam satu selimut dengan ‘Aisyah, tiba-tiba ‘Aisyah bangkit. Beliau kemudian bertanya, ‘Mengapa engkau bangkit?’ Jawabnya, ‘Karena saya haidh, wahai Rasulullah.’ Sabdanya, ‘Kalau begitu, pergilah, lalu berkainlah dan dekatlah kembali kepadaku.’ Aku pun masuk, lalu berselimut bersama beliau.” (HR Sa’id bin Manshur)

    2. Memberi wangi-wangian pada auratnya

    ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya Nabi saw apabila meminyaki badannya, beliau memulai dari auratnya dan mengolesinya dengan nurah (sejenis bubuk pewangi), dan istrinya meminyaki bagian lain seluruh tubuhnya. (HR Ibnu Majah)

    3. Mandi bersama istri

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Aku biasa mandi bersama dengan Nabi saw dengan satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bejana).” (HR ‘Abdurrazaq dan Ibnu Abu Syaibah)

    4. Disisir istri

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya biasa menyisir rambut Rasulullah saw, saat itu saya sedang haidh”.(HR Ahmad)

    5. Meminta istri meminyaki badannya

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya meminyaki badan Rasulullah saw pada hari raya ‘Idul Adh-ha setelah beliau melakukan jumrah ‘aqabah.” (HR Ibnu Asakir)

    6. Minum bergantian pada tempat yang sama

    Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, “Saya biasa minum dari muk yang sama ketika haidh, lalu Nabi mengambil muk tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau minum, kemudian saya mengambil muk, lalu saya menghirup isinya, kemudian beliau mengambilnya dari saya, lalu beliau meletakkan mulutnya pada tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau pun menghirupnya.” (HR ‘Abdurrazaq dan Sa’id bin Manshur)

    7. Membelai istri

    “Adalah Rasulullah saw tidaklah setiap hari melainkan beliau mesti mengelilingi kami semua (istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampiri dan membelai kami dengan tidak mencampuri hingga beliau singgah ke tempat istri yang beliau giliri waktunya, lalu beliau bermalam di tempatnya.” (HR Ahmad)

    8. Mencium istri

    Dari ‘Aisyah ra, bahwa Nabi saw biasa mencium istrinya setelah wudhu’, kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi wudhu’nya.”(HR ‘Abdurrazaq)

    Dari Hafshah, putri ‘Umar ra, “Sesungguhnya Rasulullah saw biasa mencium istrinya sekalipun sedang puasa.” (HR Ahmad)

    9. Tiduran di Pangkuan Istri

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Nabi saw biasa meletakkan kepalanya di pangkuanku walaupun aku sedang haidh, kemudian beliau membaca al- Qur’an.” (HR ‘Abdurrazaq)

    10. Memanggil dengan kata-kata mesra

    Rasulullah saw biasa memanggil Aisyah dengan beberapa nama panggilan yang disukainya, seperti ‘Aisy, dan Humaira (pipi merah delima).

    11. Mendinginkan kemarahan istri dengan mesra

    Nabi saw biasa memijit hidung ‘Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, Wahai ‘Uwaisy, bacalah do’a: ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR. Ibnu Sunni)

    12. Membersihkan tetesan darah haidh istri

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Aku pernah tidur bersama Rasulullah saw di atas satu tikar ketika aku sedang haidh. Bila darahku menetes ke tikar itu, beliau mencucinya di bagian yang terkena tetesan darah dan beliau tidak berpindah dari tempat itu, kemudian beliau shalat di tempat itu pula, lalu beliau berbaring kembali di sisiku. Bila darahku menetes lagi ke tikar itu, beliau mencuci di bagian yang terkena darah itu saja dan tidak berpindah dari tempat itu, kemudia beliau pun shalat di atas tikar itu.” (HR Nasa’i)

    13. Bermesraan walau istri haidh

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya biasa mandi bersama Rasulullah saw dengan satu bejana, padahal kami sama-sama dalam keadaan junub. Aku biasa menyisir rambut Rasulullah ketika beliau menjalani i’tikaf di masjid dan saya sedang haidh. Beliau biasa menyuruh saya menggunakan kain ketika saya sedang haidh, lalu beliau bermesraan dengan saya.” (HR ‘Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah)

    14. Memberikan hadiah

    Dari Ummu Kaltsum binti Abu Salamah, ia berkata, “Ketika Nabi saw menikah dengan Ummu Salamah, beliau bersabda kepadanya, Sesungguhnya aku pernah hendak memberi hadiah kepada Raja Najasyi sebuah pakaian berenda dan beberapa botol minyak kasturi, namun aku mengetahui ternyata Raja Najasyi telah meninggal dunia dan aku mengira hadiah itu akan dikembalikan. Jika hadiah itu memang dikembalikan kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu.”

    Ia (Ummu Kultsum) berkata, “Ternyata keadaan Raja Najasyi seperti yang disabdakan Rasulullah saw, dan hadiah tersebut dikembalikan kepada beliau, lalu beliau memberikan kepada masing-masing istrinya satu botol minyak kasturi, sedang sisa minyak kasturi dan pakaian tersebut beliau berikan kepada Ummu Salamah.” (HR Ahmad)

    15. Segera menemui istri jika tergoda.

    Dari Jabir, sesungguhnya Nabi saw pernah melihat wanita, lalu beliau masuk ke tempat Zainab, lalu beliau tumpahkan keinginan beliau kepadanya, lalu keluar dan bersabda, “Wanita, kalau menghadap, ia menghadap dalam rupa setan. Bila seseorang di antara kamu melihat seorang wanita yang menarik, hendaklah ia datangi istrinya, karena pada diri istrinya ada hal yang sama dengan yang ada pada wanita itu.” (HR Tirmidzi)

    Begitu indahnya kemesraan Rasulullah saw kepada para istrinya, memberikan gambaran betapa Islam sangat mementingkan komunikasi non verbal ini, karena bahasa tubuh ini akan lebih efektif menyatakan cinta dan kasih sayang antara suami istri. Nah, silakan mencoba. ·

    ***

    From : Cathy, Didik L Kuntadi – eramuslim

    Diambil dari milis Faktual

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 11 December 2013 Permalink | Balas  

    hidayah-allahHidup Di Bawah Naungan Tauhid

    Sering orang bertanya, “Apakah Allah itu ada?” “Dimana Allah?” Keberadaan Allah hanya bisa kita akui bila kita memiliki landasan tauhid yang benar. Allah memang tidak menampakkan wujudnya, tapi Allah dengan segala sifatnya dapat kita rasakan keberadaan-Nya. Kejelasan tauhid akan tergambar dari kalimat syahadat yang kita ucapkan. Dari kalimat ini akan terjalin hubungan yang harmonis, penuh kecintaan kepada Allah. Kecintaan kepada Allah akan melahirkan pengorbanan kepada-Nya untuk berjuang di jalan-Nya, melaksanakan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya.

    Zat Allah lebih besar dari apa yang kita perkirakan. Manusia tidak akan sanggup memikirkan zat Allah. Allah berfirman, “katakanlah Dia- lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada- Nya segala sesuatu.” (QS.112:1-2)

    “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS.6:103)

    Tauhid yang murni hanya akan tercapai bila kita mengenal hakekat penciptaan kita, begitu juga dengan zat yang menciptakan kita. Betapa indah hidup di bawah naungan kasih sayang dan belain Allah. Namun banyak diantara kita sulit untuk memurnikan tauhidnya, karena selain tidak kenal dengan Allah, mereka masih menyekutukan Allah dengan tandingan-tandingan yang lain.

    Tak kenal maka tak sayang, begitu orang mengatakan. Tidak kita akan pernah tahu siapa Einstein jika kita belajar ilmu Fisika, kita tidak akan mengenal Jendral Sudirman jika kita tak belajar sejarah, kita juga tidak akan mungkin kenal Ronaldo kalau kita tidak mengenal sepak bola. Begitu juga dengan Allah. Bagaimana mungkin kita akan merasakan keindahan bertauhid kepadanya jika “kreasi” Allah tidak pernah kita baca dan pikirkan.

    Kita bisa lihat kreasi Allah denga kasat mata. Tidak perlu ke gunung, lembah atau pantai. Pandangi saja diri kita. Renungkan mata yang elok ini, subhanallah kenapa mata yang berdiameter kecil ini bisa mengantarkan kita melihat indahnya dunia, alangkah meruginya manusia jika mata ini buta. Hidung yang sempurna bertengger di wajah mampu menghirup udara segar, tanpa indra kecil itu tentulah kita tidak bisa bernafas. Subahanallah, mampukah kita membuat penggantinya, bila salah satu indera kita itu tidak berfungsi?

    Secara tekstual, kreasi Allah itu adalah Al-Quran. Ialah pedoman hidup yang banyak ditinggalkan kaum muslimin sekarang ini, akibatnya banyak kaum muslimn yang kehilangan arah. Padahal Sayyid Qurb dalam tafsir fi-zilalnya yang puitis dan romantis itu mengatakan, “Hidup di bawah naungan Al-Quran merupakan suatu kenikmatan. Kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah mereguknya. Kenikmatan yang mengangkat, memberkati dan mensucikan umur kehidupan…”

    Jadi, kembalilah kepada Al-Quran. Jadikan ia sebagai pegangan utama kita, bacaan pertama yang kita baca sebelum koran terhidang. Petunjuk hidup, jalan keselamatan. Lantunan ayat suci Al-quran saja telah membuat hati tentram, apa lagi hikmah yang terkandung di dalamnya.

    Wallahu ‘a’lam bishshowaab

    ***

    eramuslim – Yesi Elsandra, Untuk orang-orang yang telah menunjukkan jalan terang

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 691 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: