Updates from September, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 4:13 am pada 15 September 2013 Permalink | Balas  

    Jadilah-Pelita (1)Lentera Istana Umar

    Suatu malam, Umar bin Abdul Azis sedang sibuk bekerja di salah satu ruangan istananya. Tak disangkanya, salah seorang putranya masuk hendak membicarakan sesuatu.

    “Untuk perkara apakah wahai putraku ke sini, untuk urusan negarakah ataukah urusan keluarga kita?” begitu tanya Umar.

    “Urusan keluarga, wahai ayahanda”, jawab sang anak.

    Maka secepat kilat Umar mematikan lentera di ruangan tersebut  sehingga gelap gulita suasananya.

    “Mengapa ayahanda mematikan lentera itu?”, tanya sang anak dengan penuh keheranan.

    “Anakku, lentera ini milik negara, minyaknya juga dibeli dengan uang negara, sehingga hanya boleh dipergunakan untuk urusan negara, bukankah engkau datang untuk urusan keluarga?” begitu Umar menjelaskan.

    Tak lama kemudian Umar mengambil lentera lain dari ruangan dalam dan berkata: “Anakku sekarang bicaralah, lentera ini milikku dan minyaknya juga dibeli dengan uangku sendiri, maka kita berhak memakainya untuk pembicaraan mengenai keluarga kita”, demikian Umar menegaskan.

    Kisah Umar ini sering dikutip para ustad, da’i, aktivis Islam dan para kyai untuk menjadi contoh bagaimana Umar yang juga sering dijuluki khulafaur rasyidin yang  ke-5 sangat berhati-hati dalam menjaga urusan ummat, memisahkan hak dan kewajiban pribadi dan negara. Menjaga benar dirinya akan hal-hal syubhat dan begitu takut dirinya kelak diadili karena mendzalimi rakyatnya.

    Sejatinya ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita peroleh. Pelajaran yang tidak hanya untuk direnungi di ruang-ruang kosong dan hampa akan realita. Pelajaran untuk menjadi pembanding dan pengingat di tengah-tengah kenyataan yang harus dihadapi dalam kehidupan harian para pelayan ummat atau pejabat publik dalam bahasa modern sekarang ini. Kisah Umar begitu mudah kita tuturkan dan begitu indah dan menenteramkan kita dengarkan. Tetapi senyatanya sulit dan bahkan sulit sekali dijalankan dan begitu langka dan bahkan nyaris sulit sekali kita temukan  pada jaman sekarang.

    Lantas, mari kita kupas satu persatu kisah Umar ini, untuk diambil pelajarannya.

    Pertama, kisah kesungguhan hidup sederhana. Sebelum ditunjuk sebagai khalifah, Umar dikenal kaya. Akan tetapi begitu ditunjuk sebagai penguasa, maka ia lepaskan semua kekayannya dan memilih kehidupan yang sangat sederhana sampai-sampai keluarganya mengeluh akan hal ini. Menurut ukuran para raja saat itu, sungguh sangat pantas seorang penguasa yang daerah kekuasannya membentang dari Yaman di sebelah Tenggara, Mesir di sebelah Barat, Persia di sebelah Timur Laut, melebihi kekuasaan para Raja-Raja atau Amir di Timur Tengah sekarang ini, duduk dengan megah dengan singgasana bertaburkan intan permata, pakaian kebesaran yang indah dan kendaraan yang nyaman. Akan tetapi menyadari betapa beratnya tanggung-jawab seorang khalifah, maka ia memilih jalan sederhana, jalan sunyi yang jauh dari hidup glamour dan foya-foya. Jalan yang tidak lazim, pilihan hidup aneh dan jauh dari keumuman para raja dan penguasa pada jamannya.

    Tetapi sikap hidup sederhananya tidak lantas sederhana prestasinya. Bahkan di masa kepemimpinan Umar, dalam buku-buku sejarah dituturkan tidak ada lagi orang yang menerima zakat di negri muslim, ini menggambarkan kemakmuran hidup rakyatnya. Dan di masanya seekor keledai tidak merasa takut berjalan ditengah padang pasir khawatir diterkam serigala, sebuah gambaran akan keamanan negara. Kesederhanaan hidupnya berbanding terbalik dengan prestasinya dalam menjalankan roda pemerintahan. Kesederhanaan hidupnya menjadi kemuliaan dirinya di hadapan manusia seluruhnya. Saat harta dan tahta ada di genggamannya, hatinya tidak lantas menggenggamnya. Dunia ada dalam tangannya tetapi tidak di hatinya.

    Sederhana tentu bukan berarti miskin. Lawan kata sederhana adalah mewah, gaya hidup gemerlap, glamor yang menampakkan semua kemegahan tampilan luar. Sederhana juga bukan berarti lemah, tetapi sejatinya adalah mengambil aksesoris dunia secukupnya dan tidak berlebih. Sifat ini muncul dan lahir dari kedalaman hati, bahwa kemuliaan, harga diri dan kehormatan muncul bukan bersumber dari duniawi, tetapi semua itu karena pribadi seseorang.

    Mungkin kaum muslimin sekarang akan bertanya: bukankah itu jaman dulu yang sangat jauh dari realita sekarang. Mari kita tengok di sebuah negri berbalut salju, Norwegia. Di Negri ini beberapa tahun lalu, ada seorang Perdana Menteri yang memang juga seorang pengusaha, membeli sebuah mobil diatas rata-rata penduduk Norwegia dengan uangnya sendiri. Maka tak lama kemudian, ramailah media masa mengkritiknya, dan akhirnya sang Perdana Menteri ini menjual lagi mobil mewahnya. Di sebuah negeri yang pasti kisah Umar ini tidak pernah dituturkan, masih ada sifat malu para pemimpinnya karena kritik rakyatnya. Akhirnya ia rela melepaskan mobil mewahnya. Padahal tidak ada UU yang melarang ia menggunakan mobil mewah yang dibeli dengan uangnya sendiri. Tetapi ia seorang pemimpin, seorang Perdana Menteri yang harus peka atas kehidupan rakyatnya.

    Atas kesadaran seperti itu, ia rela menggunakan mobilnya yang seperti normalnya rakyatnya menggunakan mobil.  Ia tidak ingin tampil beda dari kebanyakan rakyatnya.

    Atau tengoklah, bagaimana Wapres Muhammad Hatta yang tidak memberitahu istrinya akan rencana sanering (pemotongan nilai mata uang) yang akan dilakukan negara, sehingga pada saat sanering dilakukan, uang tabungan istrinya yang dikumpulkan berbulan-bulan untuk membeli mesin jahit, nilainya berkurang, padahal sesaat sebelum sanering uang tabungan tersebut hampir mencukupi. Ia tahu menjaga rahasia negara yang kalau dia obral bisa menguntungkan sebagian dan merugikan sebagian lainnya. Maka ia mengambil sikap seorang negarawan, rahasia negara harus dijaga walauun terhadap keluarganya sendiri.

    Atau kisah kesederhanaan Muhammad Natsir sang perdana mentri yang kita kenal dengan mosi integralnya sehingga menyelamatkan NKRI, ia menolak mobil dinas yang disediakan negara.

    Bagaimanakah kisah ini diperbandingkan dengan kehidupan para pelayan ummat (baca pejabat publik) yang dulunya bersemangat menuturkan kisah Umar ini sebagai landasan memupuk cita-cita besar akan perjuangan masa depan. Sebuah cita-cita yang di rajut di balik dinding-dinding rumah petak sempit, diruangan masjid sederhana, di padepokan nun jauh di pelosok desa. Saat itu, tidak ada bayangan sama sekali akan dunia dengan segala kemewahannya yang kelak mungkin ditemuinya. Jangankan membayangkan mobil mewah, rumah besar, jabatan tinggi, sekedar untuk maka layak tiga kali sehari dengan lauk daging saja susah. Sekedar membeli susu anaknya saja belum tentu kesampaian.

    Kedua, memisahkan kepentingan pribadi, keluarga dan golongan dari kepentingan negara dan rakyat. Jabatan khalifah adalah amanah ummat, tangguh-jawab atas rakyat. Harus ada pemisahan yang jelas antara fasilitas negara dan kekayaan pribadi. Kekuasaan untuk mengelola kekayaan negara, bukan berarti boleh dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Umar telah metelakkan contoh yang kokoh, ditinjau dari ilmu tata negara sekarang ini, Umar telah menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance atau menerapkan tata kelola pemerintahan yang baik. Tidak membiarkan kekayaan negara di manfaatkan untuk dirinya atau keluarganya atau golongannya, melainkan fasilitas negara hanya untuk rakyat. Ia juga tidak bermaksud menggunakan pengaruhnya sebagai kepala negara demi memuluskan proyek-proyek pemerintah untuk memperkaya diri, keluarga atau golongannya. Sungguh teladan yang sangat sempurna. Hendaknya begitulah para pelayan ummat (pejabat publik) dalam menjalankan tanggung-jawab jabatannya.

    Di Jepang, kita mendengar ada seorang pejabat mundur dengan sukarela karena memberi perlakuan khusus atas rekan bisnisnya untuk mendapatkan proyek.

    Atau tengoklah kisah Muh Hatta diatas, keteguhannya menjaga rahasia negara berupa informasi sanering ia jaga benar, sampai-sampai istrinyapun tidak ia beri tahu. Sehingga uang tabungannya yang sudah dikumpulkan berbulan-bulan untuk membeli mesin jahit nilainya mengecil karena sanering. Padahal apalah salahnya Muh Hatta memberi tahu saja informasi itu, sehingga dengan tambahan sedikit uang istrinya sudah bisa membeli mesin jahit sebelum sanering dilakukan. Toh ini bukan korupsi. Tetapi sekali lagi, teladan luar biasa dari seorang pejabat publik yang tahu memisahkan kepentingan negara dan kepentingan pribadi.

    Bagaimana di negri ini? Kita membaca seorang wakil rakyat, pemimpin sebuah partai, memanggil seorang pejabat kementrian untuk datang ke kantor partainya. Tidakkah ia malu pada Umar yang mematikan lentera Istananya karena anaknya datang untuk urusan keluarga. Pada jaman Umar, tentu teori “tata kelola pemerintahan yang baik atau good corporate governance” mungkin belum ada, tetapi ia sudah mempraktekkkannya. Sangat sulit dimengerti, bahwa pencampur adukan kepentingan publik dan golongan terjadi begitu nyata.  Kalaulah tujuannya memang baik yaitu meyampaikan permasalahan umum, yang pasti cara seperti ini salah, karena tidak sesuai dengan logika sehat menjalankan pemerintahan.

    Semoga pelajaran  Lentera Istana Umar masih belum terlambat untuk diingat dan dicontoh.

    Wassalam

    ***

    Oleh Akhmad

     
  • erva kurniawan 4:52 am pada 14 September 2013 Permalink | Balas  

    doaMembiasakan Anak Putri Menggunakan Hijab yang Sesuai Syariat

    Anak putri yang masih kecil harus dibiasakan merasa malu dan mencintai hijab. Selagi anak putri itu sudah mencapai umur lima tahun, maka dia dibiasakan mengenakan celana panjang dibawah gaunnya dan mengenakan kerudung yang menutup seluruh kepalanya dengan warna yang lembut, sesuai dengan usianya. Tabiat anak kecil adalah suka meniru. Jika dia melihat ibunya mengikuti hijab menurut syariat, maka dia pun akan merasa senang mengenakan hijab seperti yang dikenakan ibunya. Sehingga selagi sudah mencapai usia baligh, dia sudah terbiasa mengenakan pakaian penutup, sesuai dengan syariat.

    [Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (Al-Ahzab:59)]

    Sumber: Ensiklopedi Wanita Muslimah

    Haya Binti Mubarok Al-Barik

     
    • varezta 11:09 pm pada 14 September 2013 Permalink

      Tapi mas memang makhluk yg namanya wanita itu susah diatur

  • erva kurniawan 4:31 am pada 13 September 2013 Permalink | Balas  

    kerjaTakdir

    Oleh : Armansyah

    Takdir adalah ketentuan yang sudah diatur dan ditetapkan oleh Allah yang Maha Kuasa terhadap semua ciptaan-Nya, mulai dari makhluk terkecil hingga makhluk terbesar, mulai dari yang tampak maupun yang tidak nampak oleh mata lahiriah kita, sejak yang paling-paling baik sampai yang paling-paling buruk.

    Seorang manusia sejak ia ditakdirkan untuk terlahir dan menjadi ada dia sudah memilki jalan hidup ataupun takdir yang jutaan atau mungkin malah milyran jumlahnya. Masing-masing takdir ini berbeda satu dengan yang lain tergantung dari langkah maupun sikap yang dikerjakan. Disini hukum kausalitas atau sebab-akibat mulai berlaku.

    Jika saya tampar muka saya sendiri konsekwensinya saya pasti merasakan sakit akibat tamparan tersebut, demikian kira-kira contoh hukum sebab-akibat.

    Pada masa pemerintahan Umar Bin Khatab, pernah suatu waktu beliau akan mengadakan kunjungan kesuatu daerah, namun tiba-tiba dia mendapat kabar dari salah seorang sahabat bahwa daerah yang akan dia kunjungi tersebut ditimpa oleh bencana penyakit kulit yang menular.

    Khalifah menunda kunjungannya kedaerah tersebut hingga penyakit tersebut dapat teratasi. Sikap Khalifah Umar ini mendapatkan cukup banyak pertanyaan dari para sahabat lainnya. Pertanyaan mereka kira-kira seperti ini : Apakah tuan sudah tidak percaya kepada takdir Allah sehingga takut terkena penyakit menular tersebut ?

    Khalifah Umar menjawab : “Aku bukan tidak percaya kepada takdir Allah. Manusia tidak dapat berlari dari Kausalita yang berlaku. Hanya saja manusia dapat memilih takdir mana yang akan dia tempuh. Aku menghindari takdirku dari terkena penyakit menular untuk memasuki takdirku yang lain.”

    Sebelumnya, jauh diwaktu Nabi sendiri masih hidup, beliau pernah menegur seorang sahabatnya yang begitu ingin bergegas mengerjakan Sholat didalam masjid sehingga begitu turun dari kuda dia langsung masuk begitu saja tanpa menghiraukan hewan peliharaannya tersebut.

    Ketika ditanya Nabi mengapa orang tersebut melepaskan kudanya begitu saja tanpa merasa takut kehilangannya, orang itu menjawab bahwa dia percaya kepada Allah, dia pasrah apapun yang akan terjadi.

    Perbuatannya ini tidak dibenarkan oleh Nabi. Dia menyuruh orang itu untuk terlebih dahulu menambatkan kuda sebagaimana mestinya, agar tidak lepas dan hilang baru kemudian menyerahkan kepada Allah segala ketentuan lainnya. Jika setelah kuda itu ditambatkan dalam pengertian dicarikan upaya agar tidak hilang dan lepas namun masih juga hilang nantinya …. maka itu baru takdir Allah yang pun tidak terlepas dari takdir-takdir lain yang berjalan paralel didalam kehidupan ini.

    Mungkin anda tertawa jika saya mengatakan kausalita takdir anda tergantung dengan kausalita takdir saya, bagaimana bisa ? kita sendiri baru berkenalan sekarang dan inipun hanya melalui tulisan yang dijembatani oleh milis myQers atas fasilitas Internet, pesawat telepon, pulsa telepon, modem dan komputer.

    Namun sekarang saya buktikan bahwa kausalita takdir masing-masing kita ini saling berkaitan (paralel) :

    Coba anda bayangkan, bila saja orang yang bernama Thomas Alpha Edison, James Watt, Abraham Lincoln Bell, Bill Gates tidak pernah terlahir didunia ini atau katakanlah mereka terlahir namun tidak menjadi seperti sekarang ini … kira-kira, apakah saat ini kita bisa saling berkenalan seperti ini melalui internet ? Apakah kira-kira peradaban kita sekarang ini sama seperti yang kita jalani saat ini ?

    Jawabnya tidak ! Oleh karena mereka ada dan oleh karena hasil kreatifitas mereka maka dunia bisa menjadi seperti ini, kita tidak perlu lagi berkirim surat melalui burung merpati, kita tidak juga perlu lagi mempelajari ilmu telepati karena kehadiran pesawat telepon yang membuat komunikasi bisa terjadi antara 2 orang atau lebih dari tempat yang sangat berjauhan sekalipun, bahkan kita tidak perlu repot memikirkan bagaimana caranya bisa menerima telepon saat sedang berada dijalan raya sebab handphone sudah pula terlahir.

    Kita tidak juga bingung membuat sistem pengarsipan manual yang menumpuk kertas sebab sudah ada komputer dan sudah ada pula bermacam aplikasi, bahasa pemrograman dan sarana-sarana penunjang lainnya diciptakan orang.

    Bahkan untuk belajar agamapun kita tidak perlu jauh-jauh datang ketanah Arab hanya untuk mempelajari Tafsir al-Mizan, Tafsir at-Thabari, kitab-kitab Hadis dan sebagainya dan seterusnya sebab dengan adanya komputer dan Internet maka kita bisa mempelajarinya bahkan sambil menonton televisi dirumah ditemani secangkir kopi susu dan di-iringi musi lembut Diego Modena lewat Imploranya.

    Contoh lain, bila kita menebangi hutan terus-terusan maka karena sebab itu akan mengakibatkan terjadi banjir, tanah longsor dan sebagainya yang bisa saja merugikan orang lain. Begitu pula jika kita ingin anak dan istri kita sholeh, ya harus ada proses pembelajaran bagi mereka dan harus pula ada contoh dari orang yang paling dekat dengan mereka.

    Kesimpulannya, dengan sebab takdir orang lain maka kitapun bisa menentukan takdir pada diri kita masing-masing, mau apa, mau jadi bagaimana diri kita, mau sebejat apa atau mau seshaleh apa, mau berjalan keneraka atau berjalan kesurga dan lain sebagainya.

    Ini semua membuktikan bahwa hidup adalah suatu rangkaian yang saling berhubungan sampai pada titik paling kecil sekalipun, baik disadari maupun tidak disadari.

    Karenanya Allah berfirman :

    Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. – Qs. 13 ar-Ra’d 11

    Lalu pertanyaan lainnya sekarang : Seberapa jauh intervensi Allah terhadap kebebasan manusia dalam menentukan sikap dan hidupnya ?

    Jawaban dari pertanyaan ini akan kembali pada sejauh mana kausalitas pada diri kita telah kita maksimalkan kearah yang positip, menuju kreativitas yang menciptakan hubungan sebab-akibat bagi diri dan sejarah orang lain.

    Allah tidak menginginkan seseorang menjadi jahat, bukti bahwa Dia sudah mengutus banyak Nabi dan Rasul-Nya, sudah mengutus para mujahid-mujahid yang memberikan pencerahan disetiap jaman dan tempat sebagai jalan (sebab-akibat) orang lain untuk berbuat baik dan meninggalkan kejahatan.

    Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. -Qs. al-Baqarah 2:276

    Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. -Qs. al-An’am 6:12

    Akan halnya seorang penjahat tetap menjadi penjahat, seorang penzinah tetap menjadi penzinah, seorang pengkhianat tetap menjadi pengkhianat itu bukan karena Allah mentakdirkan dirinya harus seperti itu, sebab sekali lagi ini adalah akibat dari sebab yang dia lakukan sendiri :

    Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. -Qs. ali Imran 3:117

    Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipat gandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. -Qs. an-Nisa’ 4:40

    Semuanya berlaku sama,

    Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (kehendak Allah [nilai-nilai positip]), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. -Qs. 17 al-Israa’ :15

    Kita semua dilahirkan dengan membawa sifat baik dan buruk, ini fitrah (sesuatu yang natural) sebagai bekal dan bukti kemanusiawian kita, saat kita hanya dibekali dengan sifat yang baik saja maka ini bukan fitrah dan tentu kita bukan manusia, begitupula bila kita hanya dibekali sifat buruk saja maka itupun bukan fitrah.

    Fitrahnya kita ya seperti ini, tinggal lagi mau bagaimana kita memprogram fitrah yang ada.

    Jika anda yakin hidup anda akan happy ending maka berupayalah agar itu bisa menjadi terwujud, kejar dan cari takdir tersebut dari sekian juta atau sekian milyar takdir-takdir anda yang ada di Lauhful Mahfudz.

    Allah memang merencanakan semua makhluk-Nya berakhir bahagia, akan tetapi Allah memberikan kebebasan bagi manusia untuk tetap menentukan model bahagia seperti apa dan akhir yang bagaimana yang dia inginkan.

    Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. -Qs. al-Baqarah 2:185

    Rencana Allah tidak berjalan dengan mengabaikan hukum-hukum yang pun sudah ditetapkan-Nya sendiri.

    Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. -Qs. 33:62

    Kita berdoa dan berusaha dalam hidup ini agar semua modul-modul dari semua sintaksis pemrograman Allah yang teramat sangkat kompleks ini berjalan dengan baik, kita berdoa agar Allah memberikan bantuan (mengintervensi) atas semua usaha yang kita lakukan dengan memberikan jalur link pada hukum sebab-akibat yang baik, sholeh dan positip.

    Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.Tiap-tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya. -Qs. 52 ath-Thuur :21

    Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. -Qs. 2 al-Baqarah: 186

    Jika saya boleh menganalogikan dengan dunia saya sehari-hari, maka orang yang mengabaikan doa adalah orang yang tidak mengerti proses hukum yang berlaku, dia terjebak dalam logika pengulangan (looping) If … Then…Else yang tidak berakhir dengan kata End If, bagaikan seorang Web Master yang setelah selesai membangun sebuah website yang bagus tetapi dia bingung harus membuat link kesitus yang mana sebab dia tidak menjalin hubungan komunikasi dan kerjasama dengan Web Master lain dan dia akan berkutat dalam situsnya sendiri hingga siapapun yang berkunjung kesana pasti akan menemukan kebosanan saja, itulah makanya Allah menyebut orang yang demikian sebagai orang yang sombong.

    Dan berbuat baiklah (lakukanlah kerjasama dan jalinlah komunikasi yang harmonis) kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan orang-orang dalam tatahukummu Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. -Qs. an-Nisa’ 4:36

    Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. -Qs. an-Naml 27:31

    Wassalam.

     
  • erva kurniawan 4:30 am pada 12 September 2013 Permalink | Balas  

    salamanSemua Manusia itu Sama

    Dalam pandangan Islam, semua manusia itu sama, tidak dibeda-bedakan karena status social, harta, tahta, keturunan, atau latar belakang pendidikan. Manusia yang paling mulia derajatnya di sisi Allah adalah yang paling tinggi kadar ketaqwaannya diantara mereka.

    Syekh ‘Abdul Qadir Jailani berkata:

    • bila engkau bertemu dengan seseorang, hendaknya engkau memandang dia itu lebih utama daripada dirimu dan katakan dalam hatimu: “boleh jadi dia lebih baik di sisi Allah daripadadiriku ini dan lebih tinggi derajatnya.”
    • Jika dia orang yang lebih kecil dan lebih muda umurnya daripada dirimu, maka katakanlah dalam hatimu: “boleh jadi orang kecil ini tidak banyak berbuat dosa kepada Allah,sedangkan aku adalah orang yang telah banyak berbuat dosa,maka tidak diragukan lagi kalau derajat dirinya jauh lebih baik daripada diriku.”
    • Bila dia orang yang lebih tua, hendaknya engkau mengatakan dalam hati: “orang ini telah lebih dahulu beribadah kepada Allah daripada diriku.”
    • Jikadia orang yang “Alim,maka katakana dalamhatimu: “orang ini telah diberi oleh Allah sesuatu yang tidak bisa kuraih, telah mendapatkan apa yang tidak bisa aku dapatkan, telah mengetahui apa yang tidak aku ketahui, dan telah mengamalkan ilmunya.”
    • Bila dia orang yang bodoh, maka katakana dalam hatimu: “orang ini durhaka kepada Allah karena kebodohannya, sedangkan aku durhaka kepada-Nya, padahal aku mengetahuinya. Aku tidak tahu dengan apa umurku akan Allah akhiri atau dengan apa umur orang bodoh itu akan Allah akhiri (apakah dengan husnul khatimah atau dengan su’ul khatimah)
    • Bila dia orang kafir, maka katakana dalam hatimu: “aku tidak tahu, bisa jadi dia akan masuk Islam,lalu menyudahi seluruh amalannya dengan amal shalih, dan bisa jadi aku terjerumus menjadi kafir, lalu meyudahi seluruh amalanku dengan amal buruk.”

    ***

    Sumber: Nashaihul Ibad, Imam Nawawi Al-Bantani

     
  • erva kurniawan 4:55 am pada 10 September 2013 Permalink | Balas  

    wanita sholehahWanita Shalihah

    Oleh : K.H. Abdullah Gymnastiar

    Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. MULIALAH wanita shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan. Jika ia wafat, Allah akan menjadikannya bidadari di surga. Kemuliaan wanita shalihah digambarkan Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim).

    Dalam Al-Quran surat An-Nur: 30-31, Allah Swt. memberikan gambaran wanita shalihah sebagai wanita yang senantiasa mampu menjaga pandangannya. Ia selalu taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make up- nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya adalah dzikir kepada Allah. Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al-Quran. Wanita shalihah sangat memperhatikan kualitas

    kata-katanya. Tidak ada dalam sejarahnya seorang wanita shalihah centil, suka jingkrak-jingkrak, dan menjerit-jerit saat mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi. Dia sadar betul bahwa kemuliaannya bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah).

    Wanita shalihah itu murah senyum.

    Baginya, senyum adalah shadaqah. Namun, senyumnya tetap proporsional. Tidak setiap laki-laki yang dijumpainya diberikan senyuman manis. Senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas dan tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain. Wanita shalihah juga pintar dalam bergaul. Dengan pergaulan itu, ilmunya akan terus bertambah. Ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang yang ia temui. Kedekatannya kepada Allah semakin baik dan akan berbuah kebaikan bagi dirinya maupun orang lain. Ia juga selalu menjaga akhlaknya. Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah kemampuannya memelihara rasa

    malu. Dengan adanya rasa malu, segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan berbuat sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah. Ia sadar bahwa semakin kurang iman seseorang, makin kurang rasa malunya. Semakin kurang rasa malunya, makin buruk kualitas akhlaknya.

    Pada prinsipnya, wanita shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rambu-rambu kemuliaannya bukan dari aneka aksesoris yang ia gunakan. Justru ia selalu menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain. Kecantikan satu saat bisa jadi anugerah yang bernilai. Tapi jika tidak hati-hati, kecantikan bisa jadi sumber masalah yang akan menyulitkan pemiliknya sendiri. Saat mendapat keterbatasan fisik pada dirinya, wanita shalihah tidak akan pernah merasa kecewa dan sakit hati. Ia yakin bahwa kekecewaan adalah bagian dari sikap kufur nikmat. Dia tidak akan merasa minder dengan keterbatasannya. Pribadinya begitu indah sehingga make up

    apa pun yang dipakainya akan memancarkan cahaya kemuliaan. Bahkan, kalaupun ia “polos” tanpa make up sedikit pun, kecantikan jiwanya akan tetap terpancar dan menyejukkan hati orang-orang di sekitarnya. Jika ingin menjadi wanita shalihah, maka belajarlah dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang kita temui. Ambil ilmunya dari mereka. Bahkan kita bisa mencontoh istri-istri Rasulullah Saw. seperti Aisyah. Ia terkenal dengan kekuatan pikirannya. Seorang istri seperti beliau bisa dijadikan gudang ilmu bagi suami dan anak-anak.

    Contoh pula Siti Khadijah, figur istri shalihah penentram batin, pendukung setia, dan penguat semangat suami dalam berjuang di jalan Allah Swt. Beliau berkorban harta, kedudukan, dan dirinya demi membela perjuangan Rasulullah. Begitu kuatnya kesan keshalihahan Khadijah, hingga nama beliau banyak disebut-sebut oleh Rasulullah walau Khadijah sendiri sudah meninggal.

    Bisa jadi wanita shalihah muncul dari sebab keturunan. Seorang pelajar yang baik akhlak dan tutur katanya, bisa jadi gambaran seorang ibu yang mendidiknya menjadi manusia berakhlak. Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah ujug-ujug muncul tanpa didahului sebuah proses. Di sini, faktor keturunan memainkan peran. Begitu pun dengan pola pendidikan, lingkungan, keteladanan, dan lain-lain. Apa yang tampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu yang tersembunyi. Banyak wanita bisa sukses. Namun tidak semua bisa shalihah. Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. Tidak akan rugi jika seorang remaja putri menjaga sikapnya saat mereka berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Bertemanlah dengan orang-orang yang akan menambah kualitas ilmu, amal, dan ibadah kita. Ada sebuah ungkapan mengatakan, “Jika kita ingin mengenal pribadi seseorang maka lihatlah teman-teman di sekelilingnya.”

    Peran wanita shalihah sangat besar dalam keluarga, bahkan negara. Kita pernah mendengar bahwa di belakang seorang pemimpin yang sukses ada seorang wanita yang sangat hebat. Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di dunia ini, maka berapa banyak kesuksesan yang akan diraih. Selama ini, wanita hanya ditempatkan sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung dari belakang, tanpa peran tertentu yang serius. Wanita adalah tiang Negara. Bayangkanlah, jika tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah. Tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa.

    Kita tinggal memilih, apakah akan menjadi tiang yang kuat atau tiang yang rapuh? Jika ingin menjadi tiang yang kuat, kaum wanita harus terus berusaha menjadi wanita shalihah dengan mencontoh pribadi istri-istri Rasulullah. Dengan terus berusaha menjaga kehormatan diri dan keluarga serta memelihara farji-nya, maka pesona wanita shalihah akan melekat pada diri kaum wanita kita. Wallahua’lam.

    ***

    Sumber: MQ Media On Line – Kolom AaGym – Taushiah

     
  • erva kurniawan 4:55 am pada 9 September 2013 Permalink | Balas  

    tahajudPenyembuhan Kanker dengan Shalat Tahajud

    Shalat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah (Qs Al-Isra:79) tapi juga sangat penting bagi dunia kedokteran. Menurut hasil penelitian Dr. Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya, salah satu shalat sunnah itu bisa membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker.

    Tidak percaya? “Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. Jika anda melakukannya secara rutin, benar,khusuk,dan ikhlas, niscaya anda terbebas dari infeksi dan kanker”, ucap Sholeh. Ayah dua anak itu bukan “tukang obat” jalanan.

    Dia melontarkan pernyataanya itu dalam desertasinya yang berjudul “Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Respons ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan siko-neuroimunologi”. Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar dokt or dalam bidang ilmu kedokteranpada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang dipertahankannya Selasa pekan lalu.

    Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakanibadah salat tambahan atau sholat sunah. Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya,khusuk dan ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi. (coping).

    Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunah mendekati wajib). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan.

    Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai mis teri, dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol.

    Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00- normalnya antara 69-345 nmol/liter. “Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Begitu sebaliknya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.

    DR. Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41responden sisa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan.

    Sholat dimulai pukul 02-00-3:30 sebanyak 11* rakaat, masing masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya (paramita, Prodia dan Klinika) Hasilnya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda jauh dengan orang yang tidak melakukan tahajjud.

    Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajuud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan individual untuk menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi dengan stabil. “jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus sarat dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol kognisi.

    Dengan cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang efectif, emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang dari stress,” Nah, menurut DR. Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infek si. Dengan sholat tahjjud yang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak terpaksa,seseorang akan memiliki respons imun yang baik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker.

    Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan tubuh yang baik.

    “Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu dan Berkurbanlah”, (Q.S Al-Kautsar:2) Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya.

    Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita ???????

    Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu itu telah membuka sebuah klinik yang bernama “Pengobatan Melalui Al Quran” Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran.

    Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya. Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah.

    Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang diwajibkan oleh Islam.

    Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal.

    Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.

    Kesimpulannya : Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi lagi bukan yang beragama Islam walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal.

    Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang  tidak segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal.

    Maka tidak heranlah timbul bermacam macam gejala-gejala sosial masyarakat saat ini.

     
  • erva kurniawan 3:07 am pada 8 September 2013 Permalink | Balas  

    kerja kerasPutus Asa

    Oleh : Hidayatul Karomah

    Manusiawi apabila seseorang merasakan sedih atau kecewa atas sesuatu. Rasulullah SAW pun demikian, dalam doanya beliau senantiasa memohon supaya Abu Tholib, sang paman yang amat dicintai, dibukakan pintu hidayah untuk beriman dan memeluk Islam. Namun apa mau dikata, hingga ajal menjemput sang paman tidak juga mengucap syahadat sebagai ikrar seorang Muslim.

    Segala daya upaya telah dilakukan diiringi doa telah dipanjatkan pula, namun apa yang diharapkan tak juga menjadi kenyataan. Namun, tentu tidak tepat apabila memvonis usaha kita sia-sia.

    ”Katakanlah, Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar [39]: 53).

    Di tengah upaya yang kita rasa telah maksimal, alangkah bijak apabila senantiasa menata batin menghadapi segala kemungkinan yang akan kita dapatkan. Kemungkinan terbaik maupun terburuk, kemungkinan berhasil maupun tidak berhasil. Ingatlah, ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah [2]: 216).

    Menata hati untuk bisa menerima apa yang tengah kita hadapi, akan lebih berarti daripada berlarut-larut dalam kesedihan yang bisa membuat jatuh dalam keputusasaan.

    Apabila seseorang telah jatuh dalam keputusasaan, pikiran menjadi kosong, hidup terasa hampa dan tak berguna lagi. Hal ini memudahkan setan menjerumuskan dalam tindakan yang sangat fatal dan berbahaya. Fatal dunia dan akhirat. Na’udzubillahi min dzalik.

    Dengan menerima secara legowo dan senantiasa berpikir positif akan membuka pikiran mencari solusi, mengurai berbagai masalah atau cobaan. Karena sesungguhnya berputus asa tak mendatangkan manfaat apa pun kecuali tumpukan kerugian demi kerugian.

    Bagaimana mengatasi keputusasaan yang telanjur datang? Ingatlah selalu Allah tidak akan menimpakan cobaan di luar kesanggupan hamba-hamba-Nya. Apa yang kita terima, mungkin terasa berat di awalnya, namun kita tak tahu hikmah apa yang terkandung di dalamnya, yang mungkin justru akan menjadi ‘penyelamat’ kita di kemudian hari. Jadi, optimislah, karena Allah selalu beserta kita.

    ***

    Republika.co.id

     
  • erva kurniawan 4:05 am pada 7 September 2013 Permalink | Balas  

    sujud-shalat-di-masjidShalat, Bagaimanapun Tetap Kewajiban!

    Oleh Eko Hardjanto

    ”Setiap hari kubuka mata dari tidur di pagi hari sambil sesaat termenung, aku masih hidup. Seberapa baikkah shalatku. ”

    Teringat dulu ketika manusia agung itu menahan pedih di kala sakaratul maut, inilah yang diucapkannya, “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu. ” Di luar pintu rumah Az-Zahra tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii”, “Umatku, umatku, umatku.” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang dima’sum itu.

    Mari renungkan, betapa luar biasa amal shalat, sehingga Rasulullah masih sempat mewarisi wasiat shalat di akhir hidupnya, yaitu ketika rasa sakit tak ada yang menandingi lagi.

    • Shalat, ia amal utama setelah syahadat, amal pertama diperhitungkan di akhirat.
    • Shalat, ia mencerminkan kehidupan, dengannya tercegah perbuatan keji dan mungkar.
    • Shalat, ia diperintahkan Allah langsung ketika Rasulullah Mi’raj di suatu malam.

    Lalu mari renungkan kisah para pejuang, di masa lalu, di padang pasir, di masa kini, di kegelapan hutan, di puncak gunung, dalam persembunyian.

    • Shalat, ia membuat seorang luka berdiri di waktu malam, di tengah amuk pertempuran.
    • Shalat, ia bagaikan rehat karena keringat dan darah seharian.
    • Shalat, ia sarana mengadu dan memohon pertolongan.
    • Shalat, ia sebuah amal para mujahid sebelum tiang gantungan

    Coba renungkan kisah di kala sakit di pembaringan.

    Shalat, ia dikerjakan dalam duduk, ataupun berbaring, tetap ia sebuah kewajiban.

    Dan sebuah akhir yang sangat perlu direnungkan.

    Shalat, ia dilakukan bagi manusia yang tak kuasa dalam diam, sesaat menuju pekuburan.

    Saudaraku, itulah shalat, sebuah kewajiban 17 kali ruku’ dalam sehari semalam yang seringkali tak lengkap, tanpa makna, bahkan hilang.

    Setiap hari kubuka mata dari tidur di pagi hari sambil sesaat termenung, aku masih hidup. Seberapa baikkah shalatku.

    ***

    Robbij’alni muqiimassholaati wamindzurriyati Ya Allah jadikan aku dan keturunanku orang-orang yang mendirikat sholat.

    ***

    Rotterdam, 18 Jumaadil Awwal 1428 H.

    Di balik meja kantor, hanya mendengar suara Adzan ”Islamic Finder”

     
  • erva kurniawan 4:47 am pada 6 September 2013 Permalink | Balas  

    sholat-subuhTingkatan Manusia Ketika Shalat

    Tingkatan manusia ketika shalat berbeda-beda. Ada lima tingkatan yang perlu Anda perhatikan sebagai tolok ukur, di tingkat manakah Anda berada.

    Dalam pengantar buku Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa tidak akan ada yang bisa memahami dan merasakan nilai tingkatan-tingkatan ini kecuali orang-orang yang bergerak menaiki tingkatan itu. Tahukah Anda maksud saya?

    Tingkatan Pertama

    Di sinilah letak orang-orang yang tidak menjaga waktu shalat. Ia tidak menjaga wudhu, tidak juga rukun-rukun shalat yang zhahir serta kekhusyukan. Orang semacam ini akan mendapat hukuman atas shalatnya sebagaimana disepakati oleh semua ulama.

    Tingkat Kedua

    Disini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudhu dan juga rukun-rukun shalat yang zhahir, namun ia melalaikan kekhusyukan. Orang seperti ini akan dihisab shalatnya dengan keras.

    Kebanyakan orang berada dalam tingkatan ini. Iya, kan?

    Saya lihat Anda mulai berpikir. Ini pertanda baik, sebab Anda mulai perhatikan pada diri sendiri.

    Tingkatan Ketiga

    Di tingkat ini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudhu, dan juga rukun-rukun shalat yang zhahir, Ia tampak berjuang gigih melawan setan. Di awal-awal tampak ia bisa khusyuk, tapi kemudian setan berhasil mencurti perhatiannya. Ia kembali melawan, dan demikian seterusnya silih berganti. Orang seperti ini akan tertutup kekurangannnya.

    Ia berjuang gigih dalam shalatnya. Tentu ia akan mendapat dua pahala, pahala shalat di bagian mana ia berhasil khusyuk dan pahala perjuangan melawan setan.

    Tingkatan semacam ini sering terjadi. Sebab seseorang akan sering mengalami perubahan keadaan, dan setan pun terus berusaha untuk mendapatkan kesempatan menggoda.

    Tingkatan Keempat

    Ditingkat ini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudhu, menjaga rukun-rukun shalat, dan melaksanakan shalat dengan khusyuk. Ini merupakan tingkatan yang sangat tinggi, sebab ia menang melawan setan setelah perjuangan yang amat gigih. Orang seperti ini akan mendapat pahala penuh.

    Anda tampak mengatakan, “Kalau begitu inilah tingkatan yang terakhir. Maka, yang tepat adalah empat tingkatan dan bukannya lima.” Saudaraku, jangan terburu-buru. Simaklah sekarang tingkatan berikutnya:

    Tingkatan Kelima

    Tingkatan ini adalah tempat bagi orang yang menjaga penuh waktu shalat, wudhu, rukun-rukun, dan kekhusyukan. Orang ini juga menanggalkan hati dan menyerahkannya sepenuh jiwa kepada Allah SWT. Orang ini tidak lagi berada didunia. Ia ada bersama Allah. Tidak lagi terkait dengan ikatan-ikatan dunia. Ia tidak lagi melihat atau mendengar. Inilah maksud ucapan Rasulullah SAW, “Pucuk kebahagiaanku terletak di dalam shalat.” Orang semacam ini adalah orang istimewa yang dekat dengan Rabbnya.

    Sebelumnya Anda telah mengira tidak ada lagi tingkatan setelah tingkatan keempat.

    Sungguh, kebaikan orang-orangh shalih masih merupakan kejelekan bagi orang-orang istimewa. Alangkah kasihan orang yang tidak mampu merasakan kemanisan ini.!

    Saudaraku tercinta, sekarang jawab pertanyaan berikut: “Di tingkat mana Anda berada?”

    Berdoalah kepada Allah, agar Ia menjadikan Anda golongan orang-orang istimewa.

    ***

    http://www.jkmhal.com

    die *Ibadah Sepenuh Hati* Amru Khalid

     
  • erva kurniawan 4:17 am pada 4 September 2013 Permalink | Balas  

    siluet Masjid NabawiKeserakahan Pria dan Wanita

    Keserakahan menjadi sejarah tertua umat manusia. Sejak zaman nabi Adam sampai nanti hari kiamat. Keserakahan adalah menifestasi dari ego yang terlalu besar, sehingga tidak mempedulikan orang lain. Hasilnya, adalah masalah.

    Ketika nabi Adam dan ibu Hawa masih digambarkan berada di surga, mereka digelincirkan oleh setan dengan senjata keserakahan. Rayuan setan baru membuahkan hasil ketika setan mengiming-imingi Adam dan Hawa dengan kehidupan kekal abadi. Ya, mereka bakal bisa hidup kekal kalau memakan buah Khuldi…

    Padahal itu adalah ‘buah larangan’. Dilarang oleh Allah. Akan tetapi karena iming-iming memperoleh kehidupan kekal abadi, Adam dan Hawa pun ‘nekat’ melanggar perintah itu. Maka terbukalah aurat mereka berdua. Mereka, kemudian menutupinya dengan daun-daun surga. Allah menggolongkan mereka sebagai orang-orang yang mendurhakai perintah Allah. Dan tersesatlah mereka karenanya. Menuai masalah.

    QS. Al Baqarah (2): 35

    Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

    QS. Thaahaa (20): 115

    Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.

    QS. Thaahaa (20): 120-121

    Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

    Maka keduanya memakan buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.

    Untungnya, Allah adalah Dzat Yang Maha Mengampuni dan Maha Menyayangi. Allah mengampuni kesalahan itu. Dan kemudian memasukkan mereka ke dalam golongan hamba-hambaNya yang bertaubat dan golongan hamba-hamba yang saleh.

    QS. Al A’raaf (7): 23

    Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.

    Coba cermati, betapa dahsyatnya kekuatan keserakahan yang ada di dalam diri manusia. Dan ini telah bersemayam di dalam jiwa kita sejak awal. Maka, kalau kita tidak waspada, setan akan dengan mudah menggelincirkan kita sebagaimana telah menggelincirkan Adam dan Hawa.

    Kisah keserakahan ini terulang kembali pada anak keturunan Adam. Pada generasi kedua manusia, yaitu antara Qabil dan Habil. Keduanya adalah anak-anak Adam & Hawa. Qabil membunuh saudaranya, Habil, karena iri dan serakah terhadap apa yang dianugerahkan Allah kepada Habil. Ia tak bisa melawan nafsu serakahnya, maka ia pun tergelincir oleh tipu daya setan.

    Cerita ini diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, agar kita bisa mengambil pelajaran darinya. Bahwa keserakahan selalu menghasilkan masalah, penyesalan dan penderitaan.

    QS. Al Maa’idah (5): 27

    Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.

    QS. Al Maa’idah (5): 30

    Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.

    Cerita keserakahan yang lain terjadi pada jaman nabi Musa, yaitu Qarun. Ia adalah tokoh legendaris yang sangat kaya raya, sekaligus mewakili watak keserakahan dan kesombongan. Maka Allah membenamkan Qarun beserta harta bendanya ke dalam bumi lewat kejadian gempa.

    Permukaan Bumi retak-retak dan merekah, menelan seluruh harta bendanya. Sekaligus dirinya. Sehingga, kini, kalau ada orang menemukan harta benda yang terpendam di dalam tanah, mereka menyebutnya sebagai harta Karun.

    QS. Qashash (28): 76

    Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”.

    QS. Qashash (28): 81

    Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Ddan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).

    Dalam sejarah modern, bukan hanya lelaki yang menunjukkan keserakahan, melainkan juga para wanita. Barangkali ini terkait dengan gerakan emansipasi yang semakin menguat di jaman modern.

    Meskipun, sejarah keserakahan itu telah terjadi di abad-abad terdahulu di negara-negara tua seperti Mesir, Romawi, India, China dan Eropa dalam bentuk yang berbeda. Mereka biasanya muncul di belakang layar. Di balik kekuasaan raja atau penguasa tertentu yang telah bertekuk lutut kepadanya…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:47 am pada 31 August 2013 Permalink | Balas  

    keluarga-muslimTutuplah Aib Saudaramu

    Oleh : Al Ustadzah Ummu Ishaq bintu Husein Al Atsariyyah

    Saudariku Muslimah,

    Bagi kebanyakan kaum wanita, ibu ibu ataupun remaja putri, bergunjing membicarakan aib, cacat, atau cela yang ada pada orang lain bukanlah perkara yang besar. Bahkan dimata mereka terbilang remeh, ringan dan begitu gampang meluncur dari lisan. Seakan akan obrolan tidak asyik bila tidak membicarakan kekurangan orang lain . ” Si Fulanah begini dan begitu….”. ” Si “Alanah orang nya suka ini dan itu…”

    Ketika asyik membicarakan kekurangan orang lain seakan lupa dengan diri sendiri. Seolah diri sendiri sempurna tiada cacat dan cela. Ibarat kata pepatah, ” Kuman diseberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tiada tampak.”

    Perbuatan seperti ini selain tidak pantas / tidak baik menurut perasaan dan akal sehat kita, ternyata syariat yang mulia pun mengharamkannya bahkan menekankan untuk melakukan yang sebaliknya yaitu menutup dan merahasiakan aib orang lain.

    Ketahuilah wahai saudariku, siapa yang suka menceritakan kekurangan dan kesalahan orang lain, maka dirinya pun tidak aman untuk diceritakan oleh orang lain. Seorang ulama salaf berkata , ” aku mendapati orang orang yang tidak memiliki cacat / cela, lalu mereka membicarakan aib manusia, maka manusia pun menceritakan aib aib mereka. Aku dapati pula orang orang yang memiliki aib namun mereka menahan diri dari membicarakan aib manusia yang lain, maka manusia pun melupakan aib mereka.” 1

    Tahukah engkau bahwa manusia itu terbagi dua :

    Petama : Seseorang yang tertutup keadaannya, tidak pernah sedikitpun diketahui berbuat maksiat. Bila orang seperti itu tergelincir dalam kesalahan maka tidak boleh menyingkap dan menceritakannya, karena hal itu termasuk ghibah yang diharamkan. Perbuatan demikian juga berarti menyebarkan kejelekan di kalangan orang orang yang beriman. Alloh SubhanaHu wa Ta’ala berfirman :

    ” Sesungguhnya orang orang yang menyenangi tersebarnya perbuatan keji 2 dikalangan beriman, mereka memperoleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat … (An Nur : 19)

    Kedua : seorang yang terkenal suka berbuat maksiat dengan terang terangan, tanpa malu malu, tidak peduli dengan pandangan dan ucapan orang lain. Maka membicarakan orang seperti ini bukanlah ghibah. Bahkan harus diterangkan keadaannya kepada manusia hingga mereka berhati hati dari kejelekannya. Karena bila orang seperti ini ditutup tutupi kejelekannya, dia akan semakin bernafsu untuk berbuat kerusakan, melakukan keharaman dan membuat orang lain berani untuk mengikuti perbuatannya. 3

    Saudariku Muslimah….

    Engkau mungkin pernah mendengar hadits Rasululloh Shollallohu “alaihi wa Sallam yang berbunyi : ” Siapa yang melepaskan dari seseorang mukmin satu kesusahan yang sangat dari kesusahan dunia niscaya Alloh akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan dihari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Alloh akan memudahkannya di dunia dan nanti di akhirat . Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Alloh akan menutup aibnya didunia dan kelak di akhirat. Dan Alloh senantiasa menolong hambaNya selama hambaNya itu menolong saudaranya….(HR. Muslim no. 2699)

    Bila Demikian, engkau telah tahu keutamaan orang yang suka menutup aib saudaranya sesama muslim yang memang menjaga kehormatan dirinya, tidak dikenal suka berbuat maksiat namun sebaliknya ditengah manusia ia dikenal sebagai orang yang baik baik dan terhormat. Siapa yang menutup aib seorang muslim yang demikian keadaannya, Alloh SubhanaHu wa Ta’ala akan menutup aibnya di dunia dan kelak di akhirat.

    Namun bila disana ada kemaslahatan atau kebaikan yang hendak dituju dan bila menutupnya akan menambah kejelekan, maka tidak apa apa bahkan wajib menyampaikan perbuatan jelek / aib / cela yang dilakukan seseorang kepada orang lain yang bisa memberinya hukuman. Jika ia seorang istri maka disampaikan kepada suaminya. Jika ia seorang anak maka disampaikan kepada ayahnya. Jika ia seorang guru disebuah sekolah maka disampaikan kepada mudirnya (kepala sekolah). Demikian seterusnya. 4

    Yang perlu diingat, wahai saudariku, diri kita ini penuh dengan kekurangan, aib, cacat, dan cela. Maka sibukkan diri ini untuk memeriksa dan menghitung aib sendiri, niscaya hal itu sudah menghabiskan waktu tanpa sempat memikirkan dan mencari tahu aib orang lain. Lagi pula, orang yang suka mencari cari kesalahan orang lain untuk dikupas dan dibicarakan di hadapan manusia, Alloh SubhanaHu wa Ta’ala akan membalasnya dengan membongkar aibnya walaupun ia berada didalam rumahnya.

    Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Barzah Aslami radhiyallohu ‘anhu dari Rasululloh Shollallohu “alaihi wa Sallam :

    ” Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk kedalam hatinya 5. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari cari / mengintai aurot 6 mereka. Karena orang yang suka mencari cari aurot kaum muslimin, Alloh akan mencari cari aurotnya. Dan siapa yang dicari cari aurotnya oleh Alloh, niscaya Alloh akan membongkarnya didalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Ahmad 4/420. 421, 424 dan Abu Dawud no. 4880. Kata Asy Syaikh Al Albani rahimahulloh dalam Shahih Abi Dawud : ” Hasan shahih.”)

    Abdulloh bin Umar radhiyallohu ‘anhu menyampaikan hadits yang sama, ia berkata, ” suatu hari Rasululloh Shollallohu “alaihi wa Sallam naik ke atas mimbar, lalu menyeru dengan suara yang tinggi :

    ” Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah menjelekkan mereka, jangan mencari cari aurot mereka. Karena orang yang suka mencari cari aurot saudaranya sesama muslim, Alloh akan mencari cari aurotnya. dan siapa yang dicari cari aurotnya oleh Alloh, niscaya Alloh akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya (HR. At Tirmidzi no. 2032, dihasankan Asy Syaikh Muqbil rahimahulloh dalam Ash Shahibul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, hadits no. 725. I/581)

    Dari hadits di atas tergambar pada kita betapa besarnya kehormatan seorang muslim. Sampai sampai ketika suatu hari Abdulloh bin Umar radhiyallohu ‘anHu memandang Ka’bah, ia berkata :

    ” Alangkah agungnya engkau dan besarnya kehormatanmu. Namun seorang mukmin lebih besar lagi kehormatannya disisi Alloh darimu. 7

    Karena itu saudariku…. Tutuplah cela yang ada pada dirimu dengan menutup cela yang ada pada saudaramu yang memang pantas ditutupi. Dengan engkau menutup cela saudaramu, Alloh SubhanaHu wa Ta’ala akan menutup celamu di dunia dan kelak di akherat. Siapa yang Alloh SubhanaHu wa Ta’ala tutup celanya didunianya, dihari akhir nanti Alloh SubhanaHu wa Ta’ala pun akan menutup celanya, sebagaimana sabda nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

    ” Tidaklah Alloh menutup aib seseorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Alloh juga akan menutup aibnya. ” 8 (HR. Muslim no. 6537)

    Wallohu ta’ala a’lam bish showab

    ***

    1. Jami’ul Ulum Wal Hikam (2/291)

    2. Baik seseorang yang disebarkan kejelekannya itu benar benar terjatuh dalam perbuatan tersebut ataupun sekedar tuduhan yang tidak benar.

    3. Jami’ul Ulum Wal Hikam (2/293), Syarhul Arba’in Ibnu daqiqil Ied (hal 120), Qowa’id wa Fawa’id minal Arba’in An Nawawiyyah (hal 312)

    4. Syarhul Arba’in An Nawawiyyah, Asy Syaikh Ibnu Utsaimin (hal 390 – 391)

    5. Yakni lisannya menyatakan keimanan namun iman itu belum menancap didalam hatinya.

    6. Yang dimaksud dengan aurot disini adalah aib / cacat atau cela dan kejelekan. Dilarang mencari cari kejelekan seorang muslim untuk kemudian diungkapkan kepada manusia (tuhfatul Ahwadzi) 7. Diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 2032

    8. Al Qodhi ‘Iyadh rahimahulloh berkata : ” tentang ditutupnya aib si hamba di hari kiamat, ada dua kemungkinan. Pertama: Alloh SubhanaHu wa Ta’ala akan menutup kemaksiatan dan aibnya dengan tidak mengumumkannya kepada orang orang yang ada di mauqif (padang mahsyar). Kedua Alloh SubhanaHu wa Ta’ala tidak akan menghisab aibnya dan tidak menyebut aibnya tersebut.” Namun kata Al Qodhi, sisi yang pertama lebih nampak karena adanya hadits lain.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim. 16/360) Hadits yang dimaksud adalah hadits dari Abdulloh bin ‘Umar radhiyallohu ‘anhu, ia berkata.”

    Aku pernah mendengar Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda : ” Sesungguhnya (dihari penghisaban nanti) Alloh mendekatkan seorang mukmin, lalu Alloh meletakkan tabir dan menutupi si mukmin (sehingga penghisabannya tersembunyi dari orang orang yang hadir di mahsyar), Alloh berfirman : ” Apakah engkau mengetahui dosa ini yang pernah kau lakukan ? Apakah engkau tahu dosa itu yang dulunya di dunia engkau kerjakan ? Si mukmin menjawab : “Iya, hamba tahu wahai Rabbku (itu dosa dosa yang pernah hamba lakukan).” Hingga ketika si mukmin itu telah mengakui dosa dosanya dan ia memandang dirinya binasa karena dosa dosa tersebut, Alloh memberi kabar gembira padanya: ” Ketika didunia Aku menutupi dosa dosamu ini, dan pada hari ini Aku ampuni dosa dosamu itu. ” Lalu diberikanlah padanya catatan kebaikan kebaikannya…” (HR. Al Bukhori dan Muslim)

    Dari : Majalah Asy Syariah Vol III / No. 30/1428 H / 2007

    Wassalamu’alaykum wa RohmatulloHi wa BarokatuHu

     
  • erva kurniawan 4:15 am pada 29 August 2013 Permalink | Balas  

    lebah-maduLebah Madu

    Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. (QS. An-Nahl, 16:68)

    Lebah madu membuat tempat penyimpanan madu dengan bentuk heksagonal. Sebuah bentuk penyimpanan yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk geometris lain. Lebah menggunakan bentuk yang memungkinkan mereka menyimpan madu dalam jumlah maksimal dengan menggunakan material yang paling sedikit. Para ahli matematika merasa kagum ketika mengetahui perhitungan lebah yang sangat cermat. Aspek lain yang mengagumkan adalah cara komunikasi antar lebah yang sulit untuk dipercaya. Setelah menemukan sumber makanan, lebah pemadu yang bertugas mencari bunga untuk pembuatan madu terbang lurus ke sarangnya. Ia memberitahukan kepada lebah-lebah yang lain arah sudut dan jarak sumber makanan dari sarang dengan sebuah tarian khusus. Setelah memperhatikan dengan seksama isyarat gerak dalam tarian tersebut, akhirnya lebah-lebah yang lainnya mengetahui posisi sumber makanan tersebut dan mampu menemukannya tanpa kesulitan.

    Lebah menggunakan cara yang sangat menarik ketika membangun sarang. Mereka memulai membangun sel-sel tempat penyimpanan madu dari sudut-sudut yang berbeda, seterusnya hingga pada akhirnya mereka bertemu di tengah. Setelah pekerjaan usai, tidak nampak adanya ketidakserasian ataupun tambal sulam pada sel-sel tersebut. Manusia tak mampu membuat perancangan yang sempurna ini tanpa perhitungan geometris yang rumit; akan tetapi lebah melakukannya dengan sangat mudah. Fenomena ini membuktikan bahwa lebah diberi petunjuk melalui “ilham” dari Allah swt sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 68 di atas.

    Sejak jutaan tahun yang lalu lebah telah menghasilkan madu sepuluh kali lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Satu-satunya alasan mengapa binatang yang melakukan segala perhitungan secara terinci ini memproduksi madu secara berlebihan adalah agar manusia dapat memperoleh manfaat dari madu yang mengandung “obat bagi manusia” tersebut. Allah menyatakan tugas lebah ini dalam Al-Qur’an:

    Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An-Nahl, 16: 69)

    Tahukah anda tentang manfaat madu sebagai salah satu sumber makanan yang Allah sediakan untuk manusia melalui serangga yang mungil ini?

    Madu tersusun atas beberapa molekul gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, potasium, sodium, klorin, sulfur, besi dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas madu bunga dan serbuk sari yang dikonsumsi lebah. Di samping itu di dalam madu terdapat pula tembaga, yodium dan seng dalam jumlah yang kecil, juga beberapa jenis hormon.

    Sebagaimana firman Allah, madu adalah “obat yang menyembuhkan bagi manusia”. Fakta ilmiah ini telah dibenarkan oleh para ilmuwan yang bertemu pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference) yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 September 1993 di Cina. Dalam konferensi tersebut didiskusikan pengobatan dengan menggunakan ramuan yang berasal dari madu. Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa madu, royal jelly, serbuk sari dan propolis (getah lebah) dapat mengobati berbagai penyakit. Seorang dokter asal Rumania mengatakan bahwa ia mencoba menggunakan madu untuk mengobati pasien katarak, dan 2002 dari 2094 pasiennya sembuh sama sekali. Para dokter asal Polandia juga mengatakan dalam konferensi tersebut bahwa getah lebah (bee resin) dapat membantu menyembuhkan banyak penyakit seperti bawasir, penyakit kulit, penyakit ginekologis dan berbagai penyakit lainnya.

    ***

    Dari Harunyahya.com

     
  • erva kurniawan 4:47 am pada 25 August 2013 Permalink | Balas  

    Ya AllahCukuplah Hanya Allah

    Penulis : Emilia Febru Handini

    Sesuatu yang menurut kita baik untuk diri kita, kadang tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Karena belum tentu menurut pandangan ALLAH sesuatu yang disukai itu membawa kita pada kebaikan untuk diri kita atau pun lingkungan sekitar kita, dan belum tentu pula bisa menghantarkan kedekatan dengan ALLAH Ta’ala.

    Sesuatu yang kita hindari atau yang tidak kita harapkan terjadi dalam kehidupan kita, belum tentu tidak baik untuk masa depan kita menurut kacamata ALLAH. Mungkin saja di balik ketidaksukaan atau ketidaknyamanan yang kita rasakan itu, ALLAH memberikan petunjuk kepada kita untuk melangkahkan kaki menuju fase hidup selanjutnya. Di balik kejadian yang tidak sesuai dengan harapan, ALLAH menuntun kita agar kita tak bingung dalam menentukan arah. Agar kita terselamatkan dari segala macam keburukan atau malapetaka.

    Sepertinya tidak terima. Sepertinya sulit untuk bisa mengikhlaskan hati. Sepertinya berat untuk menjalaninya. Seperti hampir tak menemukan pintu tanpa kunci. Tapi, semua kepahitan, kegetiran, dan keberatan itu hanya untuk sementara. Sampai kapan? Tak kan bisa terjawab, karena hanya Dia yang berhak mengatur diri kita. Hanya Dia yang berhak menentukan apa yang terbaik buat diri kita.

    Hari esok tak kan pernah ada yang tahu. Esok hanyalah milikNya. Jangan ciptakan harapan muluk-muluk, sebab biasanya tak kan terjadi, atau mungkin tidak terjadi. Tak usah pikirkan kebahagiaan diri, karena kebahagiaan tidak pernah berlabuh pada suatu titik, malah akan terus berlanjut seiring dengan kepahitan hidup yang harus kita lalui. Jalan tak bisa selamanya lurus. Kadang ada tikungan tajam yang harus kita lewati dengan penuh kehati-hatian, kadang jalan itu riskan penuh dengan bebatuan yang terjal, kadang banyak sekali belokan yang membuat diri bisa tersesat kehilangan arah.

    Sekarang mungkin kita sedang berada di jalan yang penuh dengan belokan yang membingungkan. Menuntut diri untuk membuat suatu keputusan dalam memilih belokan yang tepat. Harus ke mana melangkah? Belokan manakah yang akan menyelamatkan diri kita? Apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Akankah Tuhan terangi sinarNya?

    “… Dan hati kan menjadi tentram manakala kau pasrahkan semua hanya kepadaNya…” Ketika kebimbangan itu menyentuh nurani, ingatlah padaNya. Ketika merasa seperti tak ada pilihan arah tuk berjalan, tetapkan hati hanya kepadaNya. Ketika kebahagiaan sepertinya sangat jauh terjangkau, syukuri banyak nikmatNya. Ketika harapan seakan memudar, jangan pernah putus asa dari rahmatNya.

    ***

    KotaSantri.com

     
  • erva kurniawan 4:41 am pada 24 August 2013 Permalink | Balas  

    kerja kerasKerja Keras

    “Maka apabila shalat telah selesai ditunaikan, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia (rezeki) Allah dan ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS Aljumu’ah [62]: 10)

    Ayat di atas menegaskan bahwa kita diperintahkan untuk mencari rezeki demi kelangsungan hidup di muka bumi ini. Rezeki, meski sudah diatur-Nya, tidak akan datang sendiri menghampiri kita tanpa ada usaha untuk memperolehnya. Perintah bertebaran di muka bumi untuk mencari rezeki mengandaikan sebuah usaha maksimal, kerja keras disertai ketekunan dan sikap tawakal kepada Allah SWT.

    Islam sangat menjunjung tinggi etos kerja. Bahkan dalam salah satu sabdanya Rasulullah SAW pernah menegaskan, “Sesungguhnya, bekerja mencari rezeki yang halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah-ibadah fardhu.” (HR Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

    Jika kerja keras mencari rezeki merupakan kewajiban seorang Muslim setelah ibadah fardhu, masihkah kita merasa menjadi Muslim yang baik, ketika dalam jiwa kita masih tersimpan sikap malas dan tidak mau berusaha?

    Selayaknya, ketika ibadah fardhu telah ditunaikan, kita tempa diri kita dengan cucuran keringat karena bekerja keras. Hanya dengan cara inilah, kita bisa bangga dan menunjukkan kalau kita benar-benar seorang Muslim sejati. Seorang Muslim yang sanggup menghadapi hidup dengan penuh semangat juang yang tinggi, meyakini rezeki Allah sangat berlimpah dan disediakan bagi siapa saja yang mau berusaha menggapainya dengan bimbingan-Nya.

    Kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, selain menunjukkan jiwa serta kepribadian seorang Muslim, juga merupakan salah satu cara untuk menghapus dosa-dosa kita. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan karena kedua tangannya bekerja pada siang hari, maka pada malam harinya ia diampuni Allah.” (HR Ahmad)

    Dengan demikian jelaslah bahwa tidak ada ruang bagi sikap malas dalam ajaran Islam. Islam mengajarkan umatnya untuk bekerja keras, mencari karunia Allah di muka bumi ini dengan sikap gagah, sabar, dan pantang menyerah. Di sinilah letak ‘izzah–kehormatan, harga diri, sekaligus jati diri–seorang Muslim.

    Sebaliknya, sikap berpangku tangan, selalu mengharapkan bantuan orang lain, pasrah terhadap keadaan, tidak berusaha mengubah ke arah yang lebih baik menunjukkan kerendahdirian serta kehinaan seseorang. Wallahu a’lam bish-shawab.

    ***

    (Didi Junaedi HZ )

    republika.co.id

     
  • erva kurniawan 4:30 am pada 23 August 2013 Permalink | Balas  

    Bersyukur kepada AllahSyukur

    Oleh: Tim dakwatuna.com

    Ketika Nabi Sulaiman a.s. mendapatkan puncak kenikmatan dunia, beliau berkata, ”Ini adalah bagian dari karunia Allah, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur.” (An-Naml: 40). Ketika Qarun mendapatkan harta yang sangat banyak, dia mengatakan, “Sesungguhnya harta kekayaan ini, tidak lain kecuali dari hasil kehebatan ilmuku.” (Al-Qashash: 78).

    Dua kisah yang bertolak belakang di atas menghasilkan akhir kesudahan yang berbeda. Nabi Sulaiman a.s. mendapatkan karunia di dunia dan akhirat. Sedangkan Qarun mendapat adzab di dunia dan akhirat karena kekufurannya akan nikmat Allah.

    Demikianlah, fragmen hidup manusia tidak terlepas dari dua golongan tersebut. Golongan pertama, manusia yang mendapatkan nikmat Allah dan mereka mensyukurinya dengan sepenuh hati. Dan golongan kedua, manusia yang mendapatkan banyak nikmat lalu mereka kufur. Golongan pertama yaitu para nabi, shidiqqin, zullada, dan shalihin (An-Nisa’: 69-70). Golongan kedua, mereka inilah para penentang kebenaran, seperti Namrud, Fir’aun, Qarun, Abu Lahab, Abu Jahal, dan para pengikut mereka dari masa ke masa.

    Secara umum bahwa kesejahteraan, kedamaian dan keberkahan merupakan hasil dari syukur kepada Allah sedangkan kesempitan, kegersangan dan kemiskinan akibat dari kufur kepada Allah. (An-Nahl 112)

    Nikmat Allah

    Betapa zhalimnya manusia, bergelimang nikmat Allah tetapi tidak bersyukur kepada-Nya (Ibrahim: 34). Nikmat yang Allah berikan kepada manusia mencakup aspek lahir (zhaahirah) dan batin (baatinah) serta gabungan dari keduanya. Surat Ar-Rahman menyebutkan berbagai macam kenikmatan itu dan mengingatkan kepada manusia akan nikmat tersebut dengan berulang-ulang sebanyak 31 kali, “Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”

    Baca dan tadabburilah surat Ar-Rahman. Allah yang Maha Penyayang memberikan limpahan nikmat kepada manusia dan tidak ada satu makhluk pun yang dapat menghitungnya. Dari awal sampai akhir surat Ar-Rahman, Allah merinci nikmat-nikmat itu.

    Dimulai dengan ungkapan yang sangat indah, nama Allah, Dzat Yang Maha Pemurah, Ar-Rahmaan. Mengajarkan Al-Qur’an, menciptakan manusia dan mengajarinya pandai berkata-kata dan berbicara. Menciptakan mahluk langit dengan penuh keseimbangan, matahari, bulan dan bintang-bintang. Menciptakan bumi, daratan dan lautan dengan segala isinya semuanya untuk manusia. Dan menciptakan manusia dari bahan baku yang paling baik untuk dijadikan makhluk yang paling baik pula. Kemudian mengingatkan manusia dan jin bahwa dunia seisinya tidak kekal dan akan berakhir. Hanya Allah-lah yang kekal. Di sana ada alam lain, akhirat. Surga dengan segala bentuk kenikmatannya dan neraka dengan segala bentuk kengeriannya. “Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”

    Sarana Hidup (Wasa-ilul Hayah)

    Sungguh Maha Agung nama Rabbmu Yang Mempunyai kebesaran dan karunia. Marilah kita sadar akan nikmat itu dan menysukurinya dengan sepenuh hati. Dalam surat An-Nahl ayat 78, ada nikmat yang lain yang harus disyukuri manusia, “ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”

    Cobalah renungkan! Bagaimana jika manusia hidup di dunia dalam kondisi buta, maka dia tidak dapat melihat. Seluruh yang ada di hadapannya adalah sama. Tidak dapat melihat keindahan warna-warni dan tidak dapat melihat keindahan alam semesta. Coba sekali lagi renungkan! Bagaimana jadinya jika manusia hidup di dunia dalam keadaan buta dan tuli. Maka dia tidak dapat berbuat apa-apa. Dan coba sekali lagi renungkan! Jika manusia hidup di dunia dalam keadaan buta, tuli, dan gila. Maka hidupnya dihabiskan di rumah sakit, menjadi beban yang lainnya. Demikianlah nikmat penglihatan, pendengaran, dan akal. Demikianlah nikmat sarana kehidupan (wasail al-hayat).

    Pedoman Hidup (Manhajul Hayah)

    Sekarang apa jadinya jika manusia itu diberi karunia oleh Allah mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan akal untuk berpikir. Kemudian mata itu tidak digunakan untuk melihat ayat-ayat Allah, telinga tidak digunakan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, dan akal tidak digunakan untuk mengimani dan memahami ayat-ayat Allah. Maka itulah seburuk-buruknya makhluk. Mereka itu seperti binatang. Bahkan, lebih rendah dari binatang (Al-A’raf: 179).

    Demikianlah, betapa besarnya nikmat petunjuk Islam (hidayatul Islam) dan pedoman hidup (manhajul hayah). Nikmat ini lebih besar dari seluruh harta dunia dan seisinya. Nikmat ini mengantarkan orang-orang beriman dapat menjalani hidupnya dengan lurus, penuh kejelasan, dan terang benderang. Mereka mengetahui yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram.

    Al-Qur’an banyak sekali membuat perumpamaan orang yang tidak menjadikan Islam sebagai pedoman hidup, diantaranya digambarkan seperti binatang secara umum dan binatang tertentu secara khusus, seperti; anjing, keledai, kera dan babi (Al-A’raf: 176, Al-Jumu’ah: 5, Al-Anfal: 55, Al-Maidah: 60). Diumpamakan juga seperti orang yang berjalan dengan kepala (Al-Mulk: 22), buta dan tuli (Al Maidah: 71), jatuh dari langit dan disambar burung (Al-Hajj: 31) kayu yang tersandar (Al-Munafiqun: 4) dan lainnya.

    Pertolongan (An-Nashr)

    Ada satu bentuk kenikmatan lagi yang akan Allah berikan kepada orang-orang beriman disebabkan mereka komitmen dengan manhaj Allah dan berdakwah untuk menegakkan sistem Islam, yaitu pertolongan Allah, “ Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

    Pertolongan Allah itu sangat banyak bentuknya, diantaranya perlindungan dan tempat menetap (al-iwaa), dukungan Allah sehingga menjadi kuat (ta’yiid), rizki yang baik-baik, kemenangan (al-fath), kekuasaan (al-istikhlaaf), pengokohan agama (tamkinud-din) dan berbagai macam bentuk pertolongan Allah yang lain (Al-Anfaal: 26, Ash-Shaaf: 10-13 dan An-Nuur: 55).

    Segala bentuk kenikmatan tersebut baik yang zhahir, bathin, maupun gabungan antara keduanya haruslah direspon dengan syukur secara optimal. Dan dalam bersyukur kepada Allah harus memenuhi rukun-rukunnya.

    Rukun Syukur

    Para ulama menyebutkan bahwa rukun syukur ada tiga, yaitu i’tiraaf (mengakui), tahaddust (menyebutkan), dan Taat.

    Al-I’tiraaf

    Pengakuan bahwa segala nikmat dari Allah adalah suatu prinsip yang sangat penting, karena sikap ini muncul dari ketawadhuan seseorang. Sebaliknya jika seseorang tidak mengakui nikmat itu bersumber dari Allah, maka merekalah orang-orang takabur. Tiada daya dan kekuatan kecuali bersumber dari Allah saja. “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 15)

    Dalam kehidupan modern sekarang ini, orang-orang sekular menyandarkan segala sesuatunya pada kemampuan dirinya dan mereka sangat menyakini bahwa kemampuannya dapat menyelesaikan segala problem hidup. Mereka sangat bangga terhadap capaian yang telah diraih dari peradaban dunia, seolah-olah itu adalah hasil kehebatan ilmu dan keahlian mereka. Pola pikir ini sama dengan pola pikir para pendahulu mereka seperti Qarun dan sejenisnya. “Sesungguhnya harta kekayaan ini, tidak lain kecuali dari hasil kehebatan ilmuku.” (Al-Qashash: 78)

    Dalam konteks manhaj Islam, pola pikir seperti inilah yang menjadi sebab utama masalah dan problematika yang menimpa umat manusia sekarang ini. Kekayaan yang melimpah ruah di belahan dunia Barat hanya dijadikan sarana pemuas syahwat, sementara dunia Islam yang menjadi wilayah jajahannya dibuat miskin, tenderita, dan terbelakang. Sedangkan umat Islam dan pemerintahan di negeri muslim yang mengikuti pola hidup barat kondisi kerusakannya hampir sama dengan dunia Barat tersebut, bahkan mungkin lebih parah lagi.

    I’tiraaf adalah suatu bentuk pengakuan yang tulus dari orang-orang beriman bahwa Allah itu ada, berkehendak dan kekuasaannya meliputi langit dan bumi. Semua makhluk Allah tidak ada yang dapat lepas dari iradah (kehendak) dan qudrah (kekuasaan) Allah.

    At-Tahadduts

    “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.” (Ad-Duhaa: 11)

    Abi Nadhrah berkata, “Dahulu umat Islam melihat bahwa di antara bentuk syukur nikmat yaitu mengucapkannya.” Rasul saw. bersabda, “Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih pada manusia.” (Abu Dawud dan At Tirmidzi). Berkata Al-Hasan bin Ali, “Jika Anda melakukan (mendapatkan) kebaikan, maka ceritakan kepada temanmu.” Berkata Ibnu Ishak, “Sesuatu yang datang padamu dari Allah berupa kenikmatan dan kemuliaan kenabian, maka ceritakan dan dakwahkan kepada manusia.”

    Orang beriman minimal mengucapkan hamdalah (alhamdulillah) ketika mendapatkan kenikmatan sebagai refleksi syukur kepada Allah. Demikianlah betapa pentingnya hamdalah, dan Allah mengajari pada hamba-Nya dengan mengulang-ulang ungkapan alhamdulillah dalam Al-Qur’an dalam mengawali ayat-ayat-Nya.

    Sedangkan ungkapan minimal yang harus diucapkan orang beriman, ketika mendapatkan kebaikan melalui perantaraan manusia, mengucapkan pujian dan do’a, misalnya, jazaakallah khairan (semoga Allah membalas kebaikanmu). Disebutkan dalam hadits Bukhari dan Muslim dari Anas r.a., bahwa kaum Muhajirin berkata pada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah saw., orang Anshar memborong semua pahala.” Rasul saw. bersabda, “Tidak, selagi kamu mendoakan dan memuji kebaikan mereka.”

    Dan ucapan syukur yang paling puncak ketika kita menyampaikan kenikmatan yang paling puncak yaitu Islam, dengan cara mendakwahkan kepada manusia.

    At-Tha’ah

    Allah menyebutkan bahwa para nabi adalah hamba-hamba Allah yang paling bersyukur dengan melaksanakan puncak ketaatan dan pengorbanan. Dan contoh-contoh tersebut sangat tampak pada lima rasul utama: Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan Nabi Muhammad saw. Allah swt. menyebutkan tentang Nuh a.s. “Sesungguhnya dia (Nuh a.s.) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (Al-Israa: 3)

    Dan lihatlah bagaimana Aisyah r.a. menceritakan tentang ketaatan Rasulullah saw. Suatu saat Rasulullah saw. melakukan shalat malam sehingga kakinya terpecah-pecah. Berkata Aisyah r.a., “Engkau melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang.” Berkata Rasulullah saw., “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” (Muslim)

    Dalam riwayat lain disebutkan dari Atha, berkata, aku bertanya pada ‘Aisyah, “Ceritakan padaku sesuatu yang paling engkau kagumi yang engkau lihat dari Rasulullah saw.” Aisyah berkata, “Adakah urusannya yang tidak mengagumkan? Pada suatu malam beliau mendatangiku dan berkata, “Biarkanlah aku menyembah Rabbku.” Maka beliau bangkit berwudhu dan shalat. Beliau menangis sampai air matanya mengalir di dadanya, kemudian ruku dan menangis, kemudian sujud dan menangis, kemudian mengangkat mukanya dan menangis. Dan beliau tetap dalam kondisi seperti itu sampai Bilal mengumandangkan adzan salta.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah saw., apa yang membuat engkau menangis padahal Allah sudah mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang?” Rasul saw. berkata, “Tidak bolehkah aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?” (Ibnul Mundzir, Ibnu Hibban, Ibnu Mardawaih, dan Ibnu ‘Asakir).

    Tambahan Nikmat

    Refleksi syukur yang dilakukan dengan optimal akan menghasilkan tambahan nikmat dari Allah (ziyadatun ni’mah), dalam bentuk keimanan yang bertambah (ziyadatul iman), ilmu yang bertambah, (ziyadatul ‘ilmi), amal yang bertambah (ziyadatul amal), rezeki yang bertambah (ziyadatur rizki) dan akhirnya mendapatkan puncak dari kenikmatan yaitu dimasukan ke dalam surga dan dibebaskan dari api neraka. Demikianlah janji Allah yang disebutkan dalam surat Ibrahim ayat 7, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

    ***

    Dakwatuna.com

     
  • erva kurniawan 4:26 am pada 22 August 2013 Permalink | Balas  

    kisahMelukis Sejarah

    Bagaimanapun juga sejarah pasti akan mencatat setiap peristiwa; tertulis maupun tidak. Setiap orang yang melihat akan memberi persaksian kepada generasi selanjutnya tentang apa ia saksikan pada zamannya; peristiwa, tokoh, kepahlawanan, keadilan, kecerdasan, kebodohan, keberanian, kepengecutan dan lain sebagainya. Catatan sejarah anak manusia tidak akan pernah sepi dari berbagai kejadian dan kumpulan cerita kehidupan.

    Hingga kini, tercatat beberapa nama yang menjadi simbol dari sebuah karakter. Misalnya,dalam kepemimpinan; Nabi Muhammad, dalam keadilan; Umar Bin Khatab, dalam kelembutan; Ahnaf, dalam keberanian; Antarah, dalam kecerdasan; Iyas bin Muawiyah, dalam kedunguan; Habannaqah, dalam syi’ir; Al-Mutanabbi, dalam kebagusan; Nabi Yusuf, dalam kesabaran; Nabi Ayyub, dalam kebohongan; Musailamah, dalam kemunafikan; Abdullah Ibnu Ubay, dalam hikmah dan kebijaksanaan; Luqman, dalam hadits; Al-Bukhari, dan dalam Tasawuf; Al-Junaid.

    Di saat hidupnya, mungkin mereka tidak pernah mengira bahwa sosoknya akan dijadikan simbol sebuah sifat tertentu. Mereka menjalani hidup sesuai alur pikiran masing-masing. Tidak ada niat untuk dijadikan orang yang “ter..”. oleh orang-orang sesudahnya. Tapi kemudian sejarahlah yang mengabadikan namanya.

    Kita semua pasti akan menjadi bagian sejarah di masa depan. Saat generasi telah berganti; saat jatah hidup dimakan usia, saat umur berlalu mengiringi waktu, saat jarak terpaut begitu jauh dengan masa kehidupan kita saat ini. Saat itulah generasi baru akan bercerita tentang kakeknya, pamannya, bapaknya atau seseorang (yang mungkin itu saya atau anda) yang pernah diceritakan orang kepadanya.

    “Dan begitulah masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)” (Q.S. Ali Imran: 140)

    Adalah hal yang tidak mungkin mengubah catatan sejarah yang telah tertulis dan diabadikan oleh zaman. Yang bisa dilakukan adalah merancang sejarah diri sebaiknya-baiknya. Apa yang kita inginkan menjadi citra diri masa mendatang bisa dituliskan sejak saat ini.

    Saya teringat sebuah nasehat; ”ukirlah kenangan, lukislah sejarah, dan jalanilah hidup dengan carta terbaik. Bagaimana engkau menjalani hidup, begitu pulalah kesan orang-orang disaat kematianmu”

    Wassalam

    ***

    Dari: Umarulfaruq Abubakar

     
  • erva kurniawan 4:17 am pada 21 August 2013 Permalink | Balas  

    ayat-kursiTafsir Ayat Kursi: Memahami Keagungan Kursi Allah

    Oleh: DR. Attabiq Luthfi, MA

    “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk)Nya, tidak mengantuk dan tidak pula tidur. MilikNya segala apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seizinNya. Allah Mengetahui apa-apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka. Sedangkan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah luasnya meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan adalah Allah Maha Tinggi lagi Maha Agung”.

    Ayat di atas yang masyhur dengan nama ayat kursi terdapat di dalam surah Al-Baqarah ayat 255. Penamaan ayat ini bukan ijtihad para ulama, tetapi Rasulullah sendiri yang menamakannya. Tersebut dalam salah satu riwayat bahwa ketika Rasulullah saw ditanya oleh salah seorang sahabatnya tentang “ayat apa yang paling agung dari kitabullah?” Beliau menjawab, “Ayat Kursi”, kemudian Rasulullah membaca ayat ini. (Hadits riwayat Imam Ahmad dan Nasa’i). Dan memang, kata “kursi” sendiri terdapat di dalam ayat ini yang menjadi salah satu argumen penamaan ayat ini seperti juga penamaan surah-surah Al-Qur’an yang lain.

    Ayat kursi sangat kental dengan nuansa akidah, terutama akidah kepada Allah swt, yaitu akidah akan sifat-sifat Allah yang berbeda dengan sifat seluruh makhlukNya. Kejelasan akan sifat-sifat Allah sangatlah penting untuk menghindari dominasi khurafat, mitos dan syubhat yang kerap kali menutupi hati dan pandangan manusia. Justru Islam datang untuk menyelamatkan dan membersihkan hati manusia dari timbunan kotoran yang demikian berat, serta dari kesesatan dan kebingungan dalam kegelapan. Sehingga secara korelatif dijelaskan pada ayat setelahnya: “Tidak ada paksaan dalam beragama”, bahwa akidah yang dibawa oleh Islam adalah akidah yang berdasarkan kerelaan hati setelah mendapat keterangan dan penjelasan yang terang benderang, bukan berdasarkan pemaksaan dan tekanan.

    Menurut Ibnu Athiyah, yang dimaksud dengan kursi, berdasarkan hadits-hadits Rasulullah saw, adalah makhluk Allah yang agung yang berada di antara Arsy Allah swt, sedangkan Arsy Allah tentunya lebih besar berbanding kursiNya. Perbandingan antara keduanya seperti yang dituturkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat Abu Dzar, “Bukanlah kursi Allah yang berada di Arsy Allah itu melainkan hanya seperti sebuah lingkaran besi yang dilemparkan di salah satu penjuru bumi”.

    Penyebutan kata “kursi” yang secara fisik inderawi bisa digambarkan layaknya kursi tempat duduk manusia, begitu juga ungkapan “dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya” sememangnya menurut Sayyid Qutb adalah untuk memudahkan manusia memahami dan menggambarkan keagungan dan luasnya kekuasaan Allah yang meliputi langit dan bumi, “Luasnya Kursi Allah meliputi langit dan bumi”. Ungkapan dalam kalimat deskripsi inderawi seperti ini akan memberikan kesan yang kuat dan mendalam serta mantap di dalam hati mengenai hakikat yang dimaksud.

    Berdasarkan analisa bahasa yang dikemukakan oleh Az-Zamakhsyari bahwa penyebutan sifat-sifat Allah yang terkandung dalam ayat kursi ternyata tidak menggunakan kata penghubung (wau athaf) yang biasa digunakan dalam susunan kalimat bahasa Arab untuk menghubungkan antara satu kata dengan kata lainnya. Redaksi yang demikian ini menunjukkan kekuatan bayan (penjelasan) pada seluruh sifat-sifat Allah swt yang tersebut dalam ayat ini. Paling tidak terdapat empat penjelasan tentang sifat-sifat Allah dalam ayat kursi, yaitu: pertama, penjelasan akan keesaan Allah dalam mengatur seluruh makhlukNya. Kedua, penjelasan bahwa Allah adalah Raja atas seluruh makhluk yang diaturNya. Ketiga, penjelasan akan luasnya ilmu Allah yang mencakup seluruh makhlukNya, sampai kepada mereka yang diridhoi dan berhak mendapat syafa’atNya dengan mereka yang tidak berhak mendapatkannya. Dan keempat, penjelasan tentang pengetahuan Allah akan seluruh maklumat yang tersebar di langit dan bumi.

    Wajar jika Ibnu Katsir menyimpulkan bahwa ayat kursi merupakan ayat yang paling agung dalam Al-Qur’an (A’dlomu ayatin fil Qur’an) dan memiliki kedudukan dan keutamaan yang banyak. Di antara keutamaan ayat kursi seperti yang ditegaskan dalam beberapa hadits Rasulullah diantaranya: pertama, ayat kursi merupakan pelindung dan benteng dari godaan syetan. Kedua, nilai ayat kursi setara dan sebanding dengan seperempat Al-Qur’an.

    Sebuah kisah yang diutarakan oleh ayah Abdullah bin Ubay bin Ka’ab menjadi bukti nyata akan keampuhan ayat kursi sebagai pelindung. Ia menceritakan bahwa pada suatu malam ketika melihat-lihat kebun kurma miliknya, tiba-tiba ia terserempak dengan seekor hewan yang mirip dengan seorang anak yang baru menginjak usia baligh. Maka ayah Abdullah bin Ubay bin Ka’ab mengucapkan salam yang langsung dijawab oleh anak itu. Kemudian dengan nada penasaran ia bertanya, “Siapakah kamu? Apakah kamu dari golongan jin atau manusia?”. Dengan singkat anak itu menjawab, “Dari golongan jin”. Akhirnya ia meminta jin itu untuk mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Ternyata ketika disentuh, tangannya seperti tangan anjing dan juga bulunya. Maka aku bertanya, “Apakah demikian jin diciptakan?”. Jin itu menjawab, “Bahkan ada yang lebih hebat dari ini”. “Apakah yang mengundang kamu datang kemari?”. Ayah Abdullah bin Ubay kembali bertanya. “Telah sampai berita kepadaku bahwa engkau adalah seorang yang sangat dermawan. Aku ingin mendapatkan sedekahmu”. “Jika memang demikian, aku ingin bertanya, apa yang dapat melindungi kami dari godaanmu?”. Pinta Abdullah bin Ubay. Dengan tegas, jin itu menjawab, “Ayat kursi”. Keesokan harinya, Ayah Abdullah bin Ubay menceritakan kepada Rasulullah apa yang dialaminya tadi malam. Maka Rasulullah bersabda, “Apa yang dikatakan oleh jin itu benar, tetapi dia tetap makhluk yang kotor”. (Diriwayatkan oleh Al-Hakim).

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dijelaskan kedudukan ayat kursi yang senilai dengan seperempat Al-Qur’an. Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bertanya kepada salah seorang sahabatnya, “Wahai fulan, sudahkan kamu menikah?”. Sahabat itu menjawab, “Saya tidak memiliki apapun untuk menikah”. Rasulullah bertanya kembali, “Bukankah bersama engkau (hafal) Al-Ikhlash?”. Ia menjawab, “Benar wahai Rasulullah”. Rasulullah menjelaskan, “Ia sebanding dengan seperempat Al-Qur’an”. Rasulullah terus bertanya pertanyaan yang sama sampai terakhir Rasulullah bertanya, “Bukankah bersama engkau (hafal) ayat kursi?”. Ia menjawab, “Benar ya Rasulullah”. Maka Rasulullah bersabda, “Ia senilai dengan seperempat Al-Qur’an”.

    Keagungan ayat kursi semakin jelas karena ayat ini secara terperinci mengandungi penjelasan akan sifat-sifat dzat Allah swt; dari sifat Wahdaniyah yang dinyatakan oleh Allahu La Ilaha Illah Huwa”, Sifat Maha Hidup yang berkekalan (Al-Hayyu), sifat Maha Kuasa dan berdiri sendiri (Al-Qayyum), bahkan sifat Qayyum Allah diperkuat dengan penafian akan segala yang mengarah kepada kelemahan, seperti “Tidak mengantuk dan tidak tidur”. Begitu juga dengan sifat memiliki yang berkuasa untuk melakukan apa saja terhadap makhluk yang dimilikiNya. Sifat iradah (berkehendak) yang ditunjukkan oleh kalimat “mandzalladzi yasyfa’u…”, dan iradah Allah di sini adalah pada urusan yang paling besar, yaitu syafa’at yang tidak dimiliki oleh siapapun kecuali atas izin Allah swt. Juga sifat “Ilm yang dinyatakan oleh “ya’lamu ma baina…..”. Terakhir sifat-sifat dzatiyyah Allah ditutup dengan sifat yang menunjukkan ketinggian dan keagunganNya, “Wahuwal Aliyyul Adzim”. Ibnu Abbas menuturkan, “Yang sempurna dalam ketinggian dan keagunganNya”.

    Inilah sifat penutup bagi ayat kursi untuk menetapkan ke-Esa-an Allah pada kebesaran dan ketinggianNya. Alif Lam Ma’rifah yang digunakan dalam kedua sifat terakhir “Al-Aliyyu Al-Adzimu” sesungguhnya untuk membatasi sifat itu hanya milik Allah Yang Maha Suci, tanpa ada yang bersekutu denganNya. Bahkan tidak ada seorang hamba pun yang berusaha mencapai posisi kebesaran dan ketinggian seperti ini melainkan Allah akan mengembalikannya kepada kehinaan dan kerendahan di akhirat kelak Allah swt berfirman, “Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi..” (Al-Qashash: 83)

    Demikianlah ayat kursi hendaknya dijadikan prinsip dan acuan dalam berinteraksi dengan Allah dan dengan seluruh makhlukNya. Hanya Allah Pemilik segala sifat kesempurnaan, sedangkan manusia tidak layak memakai pakaian kebesaran Allah. Keyakinan yang mendalam akan seluruh sifat-sifat Allah akan mampu melahirkan perasaan khauf (takut) akan murka dan azab Allah jika kita melanggar aturanNya. Begitu juga akan mampu melahirkan sifat raja’ (penuh harap) kepada kasih sayang dan rahmat Allah swt.

    http://www.dakwatuna.com

     
  • erva kurniawan 4:03 am pada 20 August 2013 Permalink | Balas  

    quranObat Hati

    Dibalik kemajuan materi yang dicapai oleh peradaban manusia modern, tersimpan penderita-penderita penyakit batin yang dilanda perasaan nelangsa dan gersang di dalam jiwanya. Sebagian dari mereka yang menderita sakit ini berpaling ke dunia tasawuf, meditasi, dan filsafat guna mencari penawar atas rasa sakit yang ada di relung dada itu.

    Bagi orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah telah menurunkan Peringatan-Nya berupa kitab al-Qur’an sebagai obat untuk menenteramkan hati.

    “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kamu satu peringatan dari Rabb kamu, dan satu penyembuhan bagi apa yang di dalam dada, dan satu petunjuk, dan satu rahmat, bagi orang-orang mukmin.” (Q.S. 10:57)

    “Dan Kami menurunkan dari al-Qur’an, satu penyembuhan, dan satu rahmat bagi orang-orang mukmin…” (Q.S. 17:82)

    “Orang-orang yang beriman, hati mereka tenteram dengan peringatan Allah – dengan peringatan Allah, hati tenteram.” (Q.S. 13:28)

    Al-Qur’an tidak bisa dilepaskan dari sifatnya sebagai kitab petunjuk. Untuk itu penggunaan al-Qur’an sebagai obat adalah dengan cara menyelami maknanya, bukan dengan misalnya meminum air yang telah dicelupi beberapa ayatnya.

    Diantara waktu untuk menelaah al-Qur’an adalah pada malam hari. Sisihkanlah sebagian dari waktu malam kita untuk amalan yang akan memperkaya jiwa ini.

    “Sesungguhnya Pemeliharamu mengetahui bahwa kamu berjaga-jaga hampir dua per tiga malam, atau separuhnya, atau satu per tiganya, dan segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menentukan malam dan siang. Dia mengetahui bahwa kamu tidak akan menjumlahkannya, dan Dia menerima taubat kamu. Maka pahamilah (faqra’u) dari al-Qur’an semudah yang dapat. Dia mengetahui bahwa antara kamu ada yang sakit, dan yang lain antara kamu berpergian di bumi, mencari pemberian Allah, dan yang lain berperang di jalan Allah. Maka pahamilah (faqra’u) darinya semudah yang dapat…” (Q.S. 73:20)

    Selain malam, waktu yang juga digunakan untuk mendalami al-Qur’an adalah fajar. Jadi ketika fajar kita tidak saja melakukan amalan shalat, tetapi juga membuka al-Qur’an dan memahami pesan-pesan di dalamnya.

    “Lakukanlah shalat dari terbenam matahari hingga kegelapan malam, dan bacaan (qur’an) fajar; sesungguhnya bacaan fajar disaksikan.” (Q.S. 17:78)

    Saat mengawali penelaahan al-Qur’an kita mohon kepada Allah agar melindungi kita dari pengaruh syaitan yang mungkin ingin mengintervensi.

    “Apabila kamu memahami al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaitan yang dirajam.” (Q.S. 16:98)

    Kemudian kita mulai membaca al-Qur’an dengan penuh pemahaman. Hayati setiap kata dari ayat yang sedang kita baca tanpa tergesa-gesa ingin segera beralih ke ayat berikutnya ataupun ingin segera menamatkan pembacaan al-Qur’an.

    “Dan janganlah kamu tergesa-gesa dengan al-Qur’an sebelum wahyunya disempurnakan kepadamu. Dan katakanlah: `Wahai Pemeliharaku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Q.S. 20:114)

    Sebagaimana pesan pada Surat 73:20, al-Qur’an dibaca/dipahami semudah yang dapat. Tidak ada batasan ataupun target harus berapa ayat yang diselesaikan setiap kali menelaah al-Qur’an.

    Pada saat berinteraksi dengan al-Qur’an, cobalah “mendengarkan” apa yang sedang disampaikan Allah melalui ayat-ayat yang sedang kita baca. Mungkin Allah menceritakan kisah orang-orang terdahulu yang dapat menjadi cermin dari apa yang baru kita alami. Atau Dia uraikan rahasia/hikmah di balik kejadian yang sedang kita hadapi. Bisa juga Allah mencerahkan kita dengan mengungkapkan hakikat keberadaan kita di dunia ini.

    Apapun yang disampaikan Allah, sadarilah bahwa kita sedang terhubung dengan Sang Tabib yang setiap patah perkataan-Nya adalah obat.

    KONTRA INDIKASI

    Al-Qur’an adalah obat penawar yang dikhususkan bagi orang-orang yang beriman. Sebaliknya bagi orang-orang yang tidak beriman, al-Qur’an hanya menambah kisruh hati mereka yang keruh.

    “Tetapi bagi orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, bagi mereka, ia menambah kekotoran mereka, dan mereka mati sedang mereka orang-orang yang tidak percaya (kafir).” (Q.S. 9:125)

    ***

    Sumber: allah-semata.com

     
    • lazione budy 6:31 am pada 20 Agustus 2013 Permalink

      Benar, baca Al Quran itu bisa membuat hati tenang dan tentram. Baca dengan tenang dan khidmat di waktu selesai Magrib dan Subuh. Malamnya baca artinya (bahasa Indonesia) dan hayati. Masya Allah…

    • M. ALY SUWAIM 9:01 pm pada 5 November 2013 Permalink

      Alhamdulillah,,, insya allah akan saya coba. trims

  • erva kurniawan 4:21 am pada 14 August 2013 Permalink | Balas  

    berlayarDan Kita Mengembara Menuju Rumah-NYA

    Dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuh.

    Sungguh Tuhanku benar-benar Maha Pengampun dan lagi Maha Penyayang (QS. Huud 11:41)

    Dan luka selalu menyimpan sesuatu yang menyesakkan jiwa. Raida, ibu muda beranak satu, mengeluhkan ihwal itu di suatu sore.

    “Wah, saya jadi ngeri naik kapal dan pesawat. Bahkan naik bus sekalipun. Saya jadi trauma. Apalagi melihat kecelakaan pesawat dan kapal laut yang banyak memakan korban, saya tambah malas untuk bepergian. Kalau bisa saya tidak ingin kemana-mana. Saya sudah pusing, saya mau di rumah saja.”

    “Kenapa bisa begitu bu?”

    “Saya pernah mengalami kecelakaan bis yang cukup serius. Alhamdulillah, hampir semua penumpang selamat. Hanya dua orang yang meninggal. Tapi saya dan penumpang lainnya rata-rata terluka. Waktu itu, saya sendiri mengalami cedera dan patah tulang agak serius. Yang membuat saya trauma; teriakan histeris para penumpang, detik-detik menakutkan sebelum terjadi tabrakan…ihh… mengerikan.”

    Kisah Bu Raida pun berhenti di kata ‘mengerikan’ itu. Sejenak saya terhenyak. Tercenung, merenung: Bagaimana dengan mereka yang selamat dari Adam Air? Bagaimana dengan mereka yang lolos dari KM Levina? Adakah kata ‘mengerikan’ terasa cukup mewakili luka itu, rasa maut di ujung tanduk itu?

    Inilah sebuah kondisi ketika luka meninggalkan ceruk-ceruk gulita di benak mereka yang lolos dari pelbagai musibah itu; luka yang belum sembuh selepas tragedi tragis itu, luka yang terus menyesakkan jiwa. Dan kita biasa menyebutnya itulah trauma! Dan Bu Raida, hanyalah secuil kisah pedih mengenainya. Namun, bagaimanakah bila di setiap orang yang trauma memiliki kesimpulan yang serupa Bu Raida; menjadi malas untuk bergerak, bepergian dan melakukan perjalanan?

    Nah, bila maut yang menjadi sumber kecemasan. Bu Raida dan orang yang senasib dengannya, maka bukankah maut tidak pernah memilih ruang dan waktu? Kapanpun, dimanapun ia bebas memilih. Tapi, jika maut bukan pangkal soalnya, melainkan perkara bagaimana maut menjemput Bu Raida, atau ihwal ketakutan-ketakutan yang membayangi Bu Raida selama berada dalam perjalanan, saya jadi teringat peribahasa Cina yang berbunyi, “Perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah pertama.”

    Kenapa? Sebab, langkah pertamalah yang menentukan keberlanjutan kisah perjalanan kita. Ia, pada hakikatnya, serupaniat. Bisa juga kita sebut visi. Atau apalah namanya yang membuat kita untuk memutuskan untuk mengadakan perjalanan entah kemana. Yang jelas, di titik inilah, sebetulnya, kita menghimpun tujuan dan harapan. Bolehlah ia kita sebut sebagai starting point penentu keberhasilan perjalanan kita.

    Lalu, bagaimanakah langkah pertama perjalanan kita seharusnya dimulai?

    Di sinilah, saya teringat doa yang pernah dibaca Nabi Nuh as. Di atas. Semoga saja anda, terutama mereka yang pernah mengenyam dunia pesantren, masih mengingat kisah terbitnya doa tersebut. Kendati demikian, bila memori anda telah berkarat, seperti saya, mari kita ingat kembali potongan kisah itu:

    Syahdan, ketika mayoritas penduduk negeri Armenia membantah seruan kebajikan Nuh as., sebuah titah Allah –melalui malaikat jibril- turun menyapanya: “wahai Nuh, tanamlah benih pohon dari surga ini.” Nuh -yang selama 950 tahun berdakwah di hadapan mereka- bersegera menanamnya. Dalam beberapa tahun, pohon itupun tumbuh dan berkembang menjulang begitu tinggi. Ajaibnya, sejak pohon itu dibenamkan ke bumi hingga tumbuh besar; tak ada satupun bayi yang lahir. Setelah itu, jibril kembali menghampiri Nuh untuk menyampaikan wahyu Allah bahwa pohon itu harus segera ditebang dan dibuat bahtera.

    Kontan saja, perintah Allah yang satu ini menjadi bahan cemoohan penduduk Armenia yang kafir. Pasalnya negeri dimana mereka tinggal adalah dataran tandus. Musim penghujan pun belum datang. Untuk apa bahtera besar yang tengah digarap Nuh dan pengikutnya itu? Dan Allah memang punya rencana. Dia, Pemilik Sang Maha, tiba-tiba mengirim risalah wahyu untuk sang nabi, “Wahai Nuh, segeralah berkemas! Himpunlah orang-orang yang beriman yang menjadi pengikutmu! Jangan lupa hewan-hewan jantan dan betina!”

    Wahyu itu menyebar begitu cepat. Semua yang beriman sibuk. Semua berkemas. Semua bergegas. Dan, ketika bahtera itu memuat Nuh dan pengikutnya dan hewan-hewannya, dan barang-barangnya, tiba-tiba langit berubah kelam. Awan tebal memanyungi bumi. Dan hujan dahsyat pun turun menggenangi tempat mereka berpijak. Bukan hanya hujan, segenap mata air pun memancar. Tak ayal air bah pun melanda negeri, menyapu desa, melahap kota. Saat itulah, perahu yang dibuat Nuh dan pengikutnya mulai bergerak. Pada momen inilah, Nuh berkata: “Bismillahi majraahaa wa mursahaa inna rabbi laghafuur rahiim.”

    Di mata alim Thabathaba’i, lafal Basmallah yang dibaca Nuh adalah sebuah asa agar senarai kebajikan dan keberkahan senantiasa menyertai perjalanan bahtera mereka, terhitung sejak mereka bertolak dan berlabuh.

    Yah, pada akhirnya langkah pertama pengembaraan kita itu memang Basmalah sebagaimana yang dicontohkan Nuh. Pada kata inilah, ketika kita mulai menjejakkan langkah kali pertama di atas satu kendaraan, kita seharusnya dapat membebaskan diri dari kelebat risau, cekam, dan trauma yang nyeri, ia menjadi tempat untuk merenung kembali niat perjalanan kita; apakah untuk tujuan yang baik atau malah sebaliknya?

    Kata inipun seyogyanya menjadi suluh bagi relung batin kita agar gelisah dan gundah yang kita khawatirkan itu menghilang selama kita menempuh perjalanan. Bayangkanlah, ketika doa Nuh ini kita panjatkan, kita tengah bepergian bersama Allah, kita tengah mempersilahkan segenap pasrah pada Sang Kholik yang meulurh di jiwa kita. Dan bila kemungkinan terburuk itu terjadi, saya yakin Allah Maha baik untuk memberi ganjaran kepada hamba-Nya yang kerap mendzikir namaNya di setiap detik hidupnya.

    Dalam pada itu, tak salah bila Thabathaba’i selanjutnya menegaskan, “Mengaitkan satu pekerjaan atau persoalan dengan nama Allah swt, merupakan cara untuk memeliharanya dari kehancuran, kebinasaan, kerusakan, kesesatan, dan kerugian. Kenapa? Karena Allah swt adalah Yang Maha Tinggi dan Maha Kuat yang tak bisa disentuh oleh kebinasaan, kefanaan, dan kelemahan, sehingga apa yang berkaitan dengan-Nya tidak akan tersentuh oleh keburukan.”

    Bagi saya pribadi, terlepas dari doa Nuh yang kita baca, yang layak kita cermati juga adalah perjalanan kita sendiri. Ini bukan lagi perkara kendaraan apa yang kita gunakan selama bepergian, tapi soal bagaimanakah sebetulnya kita memknai setiap perjalanan itu sendiri?

    Setiap Kita Adalah Seorang Musafir

    Dan hidup adalah sebuah perjalanan, sebuah pengembaraan. Kita, pada hakikatnya, bukan seorang pemukim, yang menetap dan bercita-cita tidak ingin berhijrah serta melanglang kemana-mana. Kita selayaknya menjadi sang pengelana, seorang pejalan yang terus menerus berstatus musafir.

    Bukankah Nabi Muhammad saw suatu kali pernah mengabarkan perkara ini? Sabdanya. “Hiduplah engkau di dunia seperti orang asing atau seperti seorang musafir.”

    Dalam pada itu, ihwal hadis ini para ulama menafsirkannya seperti ini “janganlah engkau condong kepada dunia, janganlah engkau menjadikannya sebagai tempat tinggal abadi; janganlah terbetik dalam hatimu untuk tinggal lama padanya; dan janganlah engkau terikat dengannya kecuali sebagaimana terikatnya orang asing di negeri perantauannya, sebab orang asing sejatinya tidak akan terikat di negeri kelananya kecuali sedikit sekali dari sesuatu yang dia butuhkan.”

    Sebagai mukmin, bila merujuk wasiat Nabi dia tas, setiap kita adalah seorang musafir, seorang yang melakukan perjalanan demi menunaikan tugas suci Sang Tuan, Allah Azza wa jalla. Karena itu siapakah diantara kita yang berhasil menjadi hamba yang paling bagus mengemban amanah-Nya? (Ya Allah, semoga kami, hamba-hamba-Mu yang dhoif termasuk musafir yang berhasil).

    Pesan rasulullah inilah yang kian meyakinkan saya bahwa di setiap safar (perjalanan) kita, kemanapun kita pergi, kendaraan apapun yang kita gunakan adalah ruang menguji jiwa kita. Di setiap rangkaian safar, kita kerap kali menjumpai beragam lapis masyarakat; pelbagai suasana hati yang tak menentu; pikiran-pikiran yang kadang lurus, kadang juga berkelok-kelok.

    Pada rupa-rupa pengalaman itulah, kita menyerap makna dan sejumlah hikmah. Kita menyimpan segenap suka dan duka sebagai bekal kenangan ketika pulang ke rumah-Nya, sebagai modal cerita ketika tetitah di rumah-Nya, sebagai pertanggungjawaban yang akan dituntut Sang Pemilik Rumah, Allah Azza wa jalla. Maka Sang rahman pun berkata, “Inna ilaina iyabahum, tsumma ina’alaina hisabahum, Kepada Kami-lah mereka kembali, kewajiban Kami-lah untuk memeriksa mereka semua,” (QS. Al-Ghaasyiyah: 25-26). Wajar bila Imam Ghozali dalam Kimiya yi sa’adat (Alchemy of Happiness) menuturkan bahwa: “Kunci untuk memahami diri adalah hati-bukan hati secara fisik melainkan hati yang diberikan Tuhan kepada kita, yang datang ke dunia sebagai pengelana mengunjungi negeri asing dan segera kembali ke negeri asalnya.”

    Akhir kalam, saya kira, Bu Raida dan teman-teman senasib dengannya atau kita sendiri memang perlu menghidmati bahwa-meski tidak berniat mengadakan perjalanan kemana-mana (atau memilih berdiam di suatu tempat) lantaran trauma atu hal lainnya- sejatinya, kita pun tengah bersafar; kita tengah di negeri rantau. Dengan sikap inilah, doa Nuh yang kita lafalkan akan terasa menjadi safar yang terindah, safar yang juga bernilai ibadah.

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 4:13 am pada 13 August 2013 Permalink | Balas  

    jodohBelahan Jiwa

    Ada kalanya seseorang memiliki pasangan hidup berparas menarik, tapi omongannya pedas dan menyakitkan. Yang lain barangkali rupawan, ucapan enak didengar tetapi sangat boros. Ada pula seseorang yang pandai menyenangkan pasangan, pandai mengatur keuangan, namun kurang rajin beribadah.

    “Manusia itu seperti unta. Di antara 100 ekor unta, sangat sulit kamu menemukan seekor yang sangat baik tunggangannya.” (HR Bukhari Muslim).

    Bagi istri hampir tidak mungkin mendapatkan suami yang gagah perkasa, mulia, dermawan, berilmu luas, banyak sedekah, pandai mengendalikan amarah, mudah memaafkan orang lain, dan romantis. Bagi suami hampir tidak mungkin memiliki seorang istri yang cantik, pandai menyenangkan suami, cekatan, pintar mengelola keuangan, rajin beribadah, serta sejuta sifat baik lainnya.

    Nasihat Rasulullah SAW, berkenaan kekurangan yang ada pada pasangan kita, “Hendaknya seorang mukmin tidak meninggalkan seorang mukminah. Kalau dia membenci suatu perangai pada diri istrinya, dia pasti menyenangi perangai yang lain.” Pesan Rasulullah senapas dengan firman-Nya, “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An Nisa [4]: 19).

    Tentu saja bukan berarti kita membiarkan begitu saja beberapa aib ataupun kekurangan pasangan kita. Harus ada usaha berupa perkataan (nasihat lisan) maupun perbuatan (nasihat dengan teladan) untuk memperbaiki kekurangan pasangan. Namun tentu saja, usaha perbaikan tersebut harus dengan keikhlasan serta cara yang sebaik mungkin kita mampu.

    Hendaknya kita melihat tindakan memberi nasihat merupakan penunaian kewajiban menyampaikan ilmu ataupun nilai kebaikan yang orang lain pada saat itu belum memilikinya. Tentu saja dengan tetap menyadari orang yang kita nasihati memiliki beberapa kelebihan yang tidak kita miliki. Selain ikhlas dalam menasihati, penting pula ikhlas dalam menerima nasihat. Ketika kita dinasihati, hendaknya kita kendalikan serta lunakkan hati kita untuk ikhlas menerimanya.

    Adakalanya suatu nasihat kebenaran akan mendapatkan penolakan ketika cara penyampaiannya salah. Hendaknya kita pandai memilih metode dan waktu yang lebih tepat untuk menasihati pasangan kita. Bil hikmah wa mau’idzhatul hasanah, dengan hikmah serta pelajaran utama. Semoga apa yang dicontohkan banyak rumah tangga publik figur belakangan ini, tidak terjadi pada kita. Amin.

    ***

    Oleh: Ratiko

    http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=14

     
    • Rioter9 12:27 pm pada 20 Oktober 2013 Permalink

      ada yang agak panjang lag gk ??

  • erva kurniawan 1:27 am pada 11 August 2013 Permalink | Balas  

    Puasa 6 Hari Bulan Syawwal

    Segala puji bagi Allah subhanahu wat’ala, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga besar serta para shahabatnya.

    Berikut ringkasan hukum-hukum seputar puasa enam hari di bulan Syawwal, semoga dapat bermanfa’at bagi semua.

    A. Hukumnya

    Puasa enam hari di bulan Syawwal hukumnya adalah sunnah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari hadits Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia (pahalanya) seperti puasa setahun penuh.” (HR.Ahmad, V/417; Muslim, II/822; Abu Daud, 2433; At-Turmudzi, 1164)

    Ibnu Qudamah rahimahullah berkata di dalam kitab Al-Mughni, “Puasa enam hari di bulan Syawwal hukumnya mustahab (dianjurkan sekali) menurut kebanyakan para ulama.”

    Di dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah (Ensiklopedia Islam) disebutkan, Jumhur ulama fiqih seperti madzhab Maliki, madzhab Asy-Syafi’i, madzhab Hanbali dan ulama muta’akhkhirin madzhab Hanafi berpendapat, puasa enam hari di bulan Syawwal adalah sunnah, sementara seperti dinukil dari Abu Hanifah, beliau berpendapat makruh berpuasa enam hari di bulan Syawwal baik itu secara terpisah-pisah maupun secara berturut-turut.”

    B. Keutamaannya

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa siapa saja yang berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka pahalanya seperti berpuasa setahun penuh, sebagaimana terdapat di dalam hadits di atas. Nabi shallallahu alaihi wasallam menafsirkan hal itu dengan mengatakan, “Siapa yang berpuasa enam hari setelah ‘Iedul Fithri, maka ia merupakan pelengkap satu tahun. Barangsiapa yang melakukan satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya ” Di dalam riwayat lain disebutkan, “Allah menjadikan satu kebaikan (setara) dengan sepuluh kali lipatnya, (puasa) satu bulan dengan (pahala puasa) sepuluh bulan dan puasa enam hari dengan (pahala puasa) setahun penuh.” (HR. An-Nasa’i dan Ibn Majah. Lihat, Shahih at-Targhib Wa At-Tarhib, I/421)

    Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Para ulama berkata, “(Pahala) puasa itu seperti setahun penuh karena satu kebaikan senilai sepuluh kali lipatnya dan satu Ramadhan senilai dengan pahala sepuluh bulan dan enam hari dengan pahala dua bulan.”

    Imam Ahmad rahimahullah dan An-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “(Ganjaran) Puasa Rama-dhan senilai dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) senilai dengan (puasa) dua bulan, maka itulah puasa selama setahun penuh.” (HR. Ibnu Khuzaimah di dalam kitab shahihnya)

    C. Buah-Buahnya

    Berikut kami nukil ucapan Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah:

    1. Puasa enam hari di bulan Syawwal setelah Ramadhan menyempurnakan pahala puasa setahun penuh.
    2. Puasa Syawwal dan Sya’ban adalah ibarat shalat sunnah rawatib sebelum atau sesudah shalat fardhu. Dengan begitu, maka ketimpangan dan kekurangan yang terdapat pada shalat fardhu dapat disempurnakan, karena pada hari Kiamat nanti amalan-amalan wajib akan disem-purnakan dengan amalan-amalan sunnah. Kebanyakan manusia dalam menjalankan puasa wajib pasti memiliki kekurangan dan ketimpangan, karena itu ia mem-butuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.
    3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah subhanahu wat’ala menerima amal seseorang hamba, pasti Dia akan memberikan taufiq untuk melakukan amal shalih setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan, “Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan sesuatu kebaikan, lalu diikuti dengan keburukan, maka hal itu merupa-kan tanda tertolaknya amal yang pertama dan tidak terkabulnya.
    4. Sebagaimana yang telah disinggung, konsekuensi dari puasa Ramadhan adalah mendapatkan ampunan atas dosa-dosa masa lalu.
    5. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya Iedul Fithri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah ‘Iedul Fithri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan Qiyamul-lail hingga kedua kakinya bengkak, lantas ada yang bertanya kepadanya, “Kenapa kamu lakukan ini padahal Allah sudah mengampuni dosamu yang dulu dan yang akan datang?” Beliau menjawab, “Tidakkah selayaknya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”

    Allah subhanahu wat’ala telah memerintahkan para hamba-Nya agar bersyukur atas nikmat puasa Ramadhan, dengan ucapan maupun ungkapan rasa syukur lainnya. Dan di antara ungkapan rasa syukur seorang hamba atas taufiq-Nya dalam menjalankan puasa Ramadhan, pertolongan, dan ampunan atas dosanya adalah ber-puasa setelah itu sebagai manivestasi rasa syukur terhadap-Nya.

    Bila mendapatkan taufiq melakukan shalat malam, maka sebagian ulama salaf ada yang berpuasa pada siang hari esoknya dan menjadikan puasanya itu sebagai rasa syukur atas taufiq-Nya dalam melakukan shalat malam tersebut.

    Permasalahan-Permasalahan Terkait

    1. Dianjurkan sekali memulai puasa Syawwal pada hari ke-2 sebab hal itu merupakan bentuk menyegerakan berbuat baik.
    2. Boleh berpuasa secara terpisah dalam bulan Syawwal tersebut dan tidak harus berurutan, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dengan lafazh mutlak puasa dan tidak menyebut harus berurutan atau terpisah-pisah.
    3. Siapa yang telah berpuasa Syawwal pada tahun tertentu, maka tidak harus baginya berpuasa di tahun mendatangnya, namun hal itu dianjurkan sekali baginya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Amalan-amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten (yang terus menerus) sekalipun sedikit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha)
    4. Diharuskan meniatkan puasa dari malam pada puasa enam hari di bulan Syawwal dan puasa-puasa sunnah yang Muqayyad (terikat, tidak mutlak) berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa yang tidak meniatkan puasa dari malam harinya sebelum fajar, maka tidak (sah) puasanya) ” (HR. An-Nasa’i, dishahihkan Syaikh Al-Albani) [Terdapat pendapat lain yang tidak mensyaratkan niat dari malam hari-nya selain pada puasa Ramadhan berdasarkan hadits yang lain-red]
    5. Menyempurnakan puasa enam hari di bulan Syawwal bukan suatu keharusan; siapa yang mampu menyempurnakannya, maka hal itu lebih baik dan barangsiapa yang tidak mampu, maka tidak apa-apa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Orang yang berpuasa sunnah adalah pemilik perintah atas dirinya sendiri; jika mau, ia berpuasa dan bila mau, boleh berbuka (tidak berpuasa).” Imam An-Nawawi rahimahullah di dalam kitabnya al-Majmu’ (VI:395) mengatakan, “Sanadnya Jayyid.”
    6. Bagi orang yang memiliki kewajiban mengqadha puasa Ramadhan, sebaiknya mengqadha hari-hari yang ditinggalkan dari puasa Ramadhan itu terlebih dulu sebab hal itu lebih terjamin bagi tanggungan diri (hutang) nya. Juga, karena amal wajib harus didahulu-kan atas amal sunnah.

    Para ulama berbeda pendapat mengenai orang yang mendahulukan puasa enam hari di bulan Syawwal atas mengqadha puasa wajib (Ramadhan) dalam dua pendapat:

    Pertama, Keutamaan puasa enam hari di bulan Syawwal tidak dapat diraih kecuali oleh orang yang telah mengqadha puasa Ramadhan yang batal karena udzur. Dalilnya, hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu di atas. Penyebutan berpuasa Ramadhan dapat terealisasi hanya bagi siapa saja yang telah menyempurnakan bilangannya.

    Kedua, Keutamaan puasa enam hari di bulan Syawwal dapat diraih oleh orang yang melakukannya sebelum mengqqadha puasa Ramadhan yang batal karena ‘udzur, sebab siapa saja yang tidak berpuasa pada hari-hari di bulan Ramadhan karena ‘udzur, maka dapat dikatakan telah berpuasa Ramadhan. Bila ia berpuasa enam hari di bulan Syawwal sebelum mengqadha, maka ia juga meraih pahala mengiringi puasa Ramadhan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal yang diurutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut.

    Tampaknya, pendapat ke dua lebih tepat apalagi keutamaan yang dimaksud itu tidak hanya bergantung pada selesainya mengqadha puasa sebelum enam hari di bulan Syawwal, sebab pahala puasa Ramadhan yang setara puasa sepuluh bulan dapat terealisasi dengan menyempurnakan puasa wajib, baik secara (penunaian pada waktunya) atau Qadha (penunaian di luar waktu asli). Allah subhanahu wat’ala telah memperluas waktu dalam mengqadha seperti dalam ayat 185 surat Al-Baqarah. Sedangkan puasa enam hari di bulan Syawwal merupakan keutamaan yang khusus pada bulan ini saja, di mana ia akan terlewatkan bila waktunya lewat. Sekalipun demikian, memulai dengan membebaskan tanggungan diri (hutang) melalui puasa wajib adalah lebih utama dari menyibukkan diri dengan puasa sunnah. Akan tetapi orang yang berpuasa Qadha setelah itu, maka ia juga mendapatkan keutamaan, sebab tidak ada dalil yang menafikannya, wallahu a’lam.

    Dalam hal ini, dalam fatwanya, Syaikh Ibnu Baz rahimahullah ketika ditanya tentang mana yang lebih didahulukan; melakukan puasa enam hari di bulan Syawwal ataukah mengqadha Ramadhan, maka beliau berpendapat lebih baik mendahulukan puasa Qadha sekali pun kehilangan kesempatan berpuasa enam hari di bulan Syawwal. (Hanif Yahya, Lc).

    ***

    Sumber: Ahkaam Shiyaam as-Sitt Min Syawwal karya Muhammad bin ‘Abdullah bin Shalih Al-Habdan.

    http://www.alsofwah.or id/?pilih=lihatannur&id=402

     
  • erva kurniawan 2:03 am pada 10 August 2013 Permalink | Balas  

    89masjidKemaksiatan dan Pengaruhnya

    Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan dosa, maka terbentuklah noda hitam dalam hatinya. Jika ia melepaskan dosa, istighfar dan taubat, bersihlah hatinya. Ketika mengulangi dosa lagi, bertambahlah noda hitamnya, sehingga menguasai hati. Itulah Roon (rona) yang disebutkan dalam Al-Qur’an, “Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (HR At-Tirmidzi).

    Maksiat dan dosa mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat dalam kehidupan umat manusia. Bahayanya bukan hanya berpengaruh di dunia tetapi sampai dibawa ke akhirat. Bukankah Nabi Adam a.s. dan istrinya Siti Hawwa dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke dunia karena dosa yang dilakukannya? Dan demikianlah juga yang terjadi pada umat-umat terdahulu.

    Disebabkan karena dosa, penduduk dunia pada masa Nabi Nuh a.s. dihancurkan oleh banjir yang menutupi seluruh permukaan bumi. Karena maksiat, kaum ‘Aad diluluhlantakkan oleh angin puting beliung. Karena ingkar pada Allah, kaum Tsamud ditimpa oleh suara yang sangat keras memekakkan telinga sehingga memutuskan urat-urat jantung mereka dan mati bergelimpangan. Karena perbuatan keji kaum Luth, buminya dibolak-balikkan dan semua makhluk hancur, sampai malaikat mendengar lolongan anjing dari kejauhan. Kemudian diteruskan dengan hujan bebatuan dari langit yang melengkapi siksaan bagi mereka. Dan kaum yang lain akan mendapatkan siksaan yang serupa. Jika tidak terjadi di dunia, maka di akhirat akan lebih pedih lagi. (Al-An’am: 6)

    Desember 2005 dunia juga baru menyaksikan musibah yang maha dahsyat terjadi di Asia: Tsunami menghancurkan ratusan ribu umat manusia. Terbesar menimpa Aceh. Semua itu harus menjadi pelajaran yang mendalam bagi seluruh umat manusia, bahwa Allah Maha Kuasa. Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad dari hadits Ummu Salamah, Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Jika kemaksiatan sudah mendominasi umatku, maka Allah meratakan adzab dari sisi-Nya”. Saya berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah di antara mereka ada orang-orang shalih?” Rasulullah menjawab, “Betul.” “Lalu bagaimana dengan mereka?” Rasul menjawab, “Mereka akan mendapat musibah sama dengan yang lain, kemudian mereka mendapatkan ampunan dan keridhaan Allah.”

    Akar Kemaksiatan

    Semua kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia, baik yang besar maupun yang kecil, bermuara pada tiga hal. Pertama; terikatnya hati pada selain Allah, kedua; mengikuti potensi marah, dan ketiga; mengikuti hasrat syahwat. Ketiganya adalah syirik, zhalim, dan keji. Puncak seseorang terikat pada selain Allah adalah syirik dan menyeru pada selain Allah.

    Puncak seseorang mengikuti amarah adalah membunuh; dan puncak seseorang menuruti syahwat adalah berzina. Demikianlah Allah swt. menggabungkan pada satu ayat tentang sifat ‘Ibadurrahman, “Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (Al-Furqaan: 68)

    Dan ciri khas kemaksiatan itu saling mengajak dan mendorong untuk melakukan kemaksiatan yang lain. Orang yang berzina maka zina itu dapat menyebabkan orang melakukan pembunuhan; dan pembunuhan dapat menyebabkan orang melakukan kemusyrikan. Dan para pembuat kemaksiatan saling membantu untuk mempertahankan kemaksiatannya. Setan tidak akan pernah diam untuk menjerumuskan manusia untuk melakukan dosa dan kemaksiatan. Setan senantiasa mengupayakan tempat-tempat yang kondusif untuk menjadi sarang kemaksiatan.

    Oleh karena itu agar terhindar dari jebakan kemaksiatan, manusia harus melakukan lawan dari ketiganya, yaitu: pertama; menguatkan keimanan dan hubungan hati dengan Allah swt. dengan senantiasa mengikhlaskan segala amal perbuatan hanya karena Allah. Kedua; mengendalikan rasa marah, karena marah merupakan pangkal sumber dari kezhaliman yang dilakukan oleh manusia. Dan ketiga; menahan diri dari syahwat yang menggoda manusia sehingga tidak jatuh pada perbuatan zina.

    Pengaruh Maksiat

    Seluruh manusia mengakui bahwa kesalahan yang terkait dengan hubungan antar manusia di dunia secara umum dapat mengakibatkan kerusakan secara langsung. Orang-orang yang membabat hutan hingga gundul akan menyebabkan kerusakan lingkungan, longsor, dan kebanjiran. Sopir yang mengendalikan mobilnya secara ugal-ugalan dan melintasi rel kereta yang dilalui kereta, berakibat sangat parah, ditabrak oleh kereta. Orang yang membunuh orang tanpa hak, maka dia akan senantiasa dalam kegelisahan dan penderitaan. Orang yang senantiasa bohong, hidupnya tidak akan merasa tenang.

    Dan pada dasarnya pengaruh kesalahan, dosa, dan kemaksiatan bukan saja yang terkait antar sesama manusia, tetapi antara manusia dengan Allah. Siapakah orang yang paling zhalim, ketika mereka diberi rezki oleh Allah dan hidup di bumi Allah kemudian menyekutukan Allah, tidak mentaati perintah-Nya, dan melanggar larangan-Nya. Jika kesalahan yang dibuat antar sesama manusia akan menimbulkan bahaya, maka kesalahan akibat tidak melaksanakan perintah Allah atau melanggar larangan-Nya, maka akan lebih berbahaya lagi, di dunia sengsara dan di akhirat disiksa. “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

    Beberapa pengaruh maksiat diantaranya:

    1. Lalai dan keras hati

    Al-Qur’an menyebut bahwa orang-orang yang bermaksiat hatinya keras membatu. “Karena mereka melanggar janjinya, kami kutuki mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka Telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ma-idah: 13)

    Berkata Ibnu Mas’ud r.a., “Saya menyakini bahwa seseorang lupa pada ilmu yang sudah dikuasainya, karena dosa yang dilakukan.”

    Orang yang banyak berbuat dosa, hatinya keras, tidak sensitif, dan susah diingatkan. Itu suatu musibah besar. Bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa orang yang senantiasa berbuat dosa, hatinya akan dikunci mati, sehingga keimanan tidak dapat masuk, dan kekufuran tidak dapat keluar.

    2. Terhalang dari ilmu dari rezeki

    Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba diharamkan mendapat rezeki karena dosa yang dilakukannya” (HR Ibnu Majah dan Hakim)

    Berkata Imam As-Syafi’i, “Saya mengadu pada Waqi’i tentang buruknya hafalanku. Beliau menasihatiku agar meninggalkan maksiat. Dan memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat.”

    Orang yang banyak melakukan dosa waktunya banyak dihabiskan untuk hal-hal yang sepele dan tidak berguna. Tidak untuk mencari ilmu yang bermanfaat, tidak juga untuk mendapatkan nafkah yang halal. Banyak manusia yang masuk dalam model ini. Banyak yang menghabiskan waktunya di meja judi dengan menikmati minuman haram dan disampingnya para wanita murahan yang tidak punya rasa malu. Sebagian yang lain asyik dengan hobinya. Ada yang hobi memelihara burung atau binatang piaraan yang lain. Sebagian lain, ada yang hobi mengumpulkan barang antik meski harus mengeluarkan biaya tak sedikit. Sebagian yang lain hobi belanja atau sibuk bolak-balik ke salon kecantikan. Seperti itulah kualitas hidup mereka.

    3. Kematian hati dan kegelapan di wajah

    Berkata Abdullah bin Al-Mubarak, “Saya melihat dosa-dosa itu mematikan hati dan mewariskan kehinaan bagi para pelakunya. Meninggalkan dosa-dosa menyebabkan hidupnya hati. Sebaik-baiknya bagi dirimu meninggalkannya. Bukankah yang menghancurkan agama itu tidak lain para penguasa dan ahli agama yang jahat dan para rahib.”

    Sungguh suatu musibah besar jika hati seseorang itu mati disebabkan karena dosa-dosa yang dilakukannya. Dan perangkap dosa yang dikejar oleh mayoritas manusia adalah harta dan kekuasaan. Mereka mengejar harta dan kekuasaan seperti laron masuk ke kobaran api unggun.

    Tanda seorang bergelimangan dosa terlihat di wajahnya. Wajah orang-orang yang jauh dari air wudhu dan cahaya Al-Qur’an adalah gelap tidak enak dipandang.

    4. Terhalang dari penerapan hukum Allah

    Penerapan hukum Allah berupa syariat Islam di muka bumi adalah rahmat dan karunia Allah dan memberikan keberkahan bagi penduduknya. Ketika masyarakat banyak yang melakukan kemaksiatan, maka mereka akan terhalang dari rahmat Islam tersebut. (Lihat Al-Maa-idah: 49 dan Al-A’raaf: 96)

    5. Hilangnya nikmat Allah dan potensi kekuatan

    Di antara nikmat yang paling besar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah pertolongan dan kemenangan. Sejarah telah membuktikan bahwa pertolongan Allah dan kemenangan-Nya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang taat. Sebaliknya, kekalahan dan kehancuran disebabkan karena maksiat dan ketidaktaatan.

    Kisah Perang Uhud harus menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman. Ketika sebagian pasukan perang sibuk mengejar harta rampasan dan begitu juga pasukan pemanah turun gunung ikut memperebutkan harta rampasan. maka terjadilah musibah luar biasa. Korban berjatuhan di kalangan umat Islam. Rasulullah saw. pun berdarah-darah.

    Kisah penghancuran Kota Baghdad oleh pasukan Tartar juga terjadi karena umat Islam bergelimang kemaksiatan. Khilafah Islam pun runtuh, selain dari faktor adanya konspirasi internasional yang melibatkan Inggris, Amerika Serikat, dan Israel, karena umat Islam berpecah belah dan kemaksiatan yang mereka lakukan.

    Umar bin Khattab berwasiat ketika melepas tentara perang: “Dosa yang dilakukan tentara (Islam) lebih aku takuti dari musuh mereka. Sesungguhnya umat Islam dimenangkan karena maksiat musuh mereka kepada Allah. Kalau tidak demikian kita tidak mempunyai kekuatan, karena jumlah kita tidak sepadan dengan jumlah mereka, perlengkapan kita tidak sepadan dengan perlengkapan mereka. Jika kita sama dalam berbuat maksiat, maka mereka lebih memiliki kekuatan. Jika kita tidak dimenangkan dengan keutamaan kita, maka kita tidak dapat mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.”

    Oleh karena itu umat Islam dan para pemimpinnya harus berhati-hati dari jebakan-jebakan cinta dunia dan ambisi kekuasaan. Jauhi segala harta yang meragukan apalagi yang jelas haramnya. Karena harta yang syubhat dan meragukan, tidak akan membawa keberkahan dan akan menimbulkan perpecahan serta fitnah. Kemaksiatan yang dilakukan oleh individu, keluarga, dan masyarakat akan menimbulkan hilangnya nikmat yang telah diraih dan akan diraih. Dan melemahkan segala potensi kekuatan. Waspadalah!

    ***

    Oleh: Tim dakwatuna.com

     
  • erva kurniawan 1:47 am pada 8 August 2013 Permalink | Balas  

    Membuka Lembaran Baru Idul Fitri

    Oleh: Aa Gym

    Saudara-saudaraku yang budiman, “Taqobbalalloohu Minna Wa Minkum Shiyamana Wa Shiyamakum” Semoga Allah menerima amal-amal kita dan juga shaum – shaum kita selama ini.

    Saudaraku, ini adalah saat yang paling kita rindukan… dimana kita mengakhiri Ramadhan ini dengan semangat baru; bahwa hidup kita masing-masing akan berubah menjadi lebih baik. Kita harus bertekad untuk membuka lembaran baru dalam hidup ini dan kita isi hanya dengan catatan-catatan terbaik.

    Oleh karena itu sesudah Ramadhan ini kita bertekad bahwa apa yang kita lakukan dilandasi niat dan cara yang terbaik. Percayalah bahwa rezeki dan kemuliaan dari Allah tidak akan tertukar dan tidak akan pernah meleset, yang berbahaya bagi kita adalah kalau kita berbusuk hati dan bertindak dengan cara yang tidak disukai oleh Allah.

    Kalau kita ingin tahu kebahagiaan dan penderitaan kita, cukuplah dengan evaluasi diri. Kita akan tahu bahwa semua bala bencana sesungguhnya kitalah yang mengundangnya. Saudaraku, bulan Ramadhan telah berakhir dan akan berganti dengan bulan yang penuh dengan perjuangan lainnya.

    Inilah bulan dimana kita bisa membuktikan hasil latihan kita dibulan Ramadhan. Andaikata kita tidak bisa memperbanyak amal sebanyak di bulan Ramadhan maka perbanyaklah kegigihan untuk menjaga diri, jangan biarkan diri kita berbuat sesuatu yang bisa merugikan orang lain. Amal-amal kita Insya Allah akan utuh jika kita tidak membiarkan diri kita berbuat sesuatu yang tidak bernilai “Qad aflaha man zakkaahaa, Wa qad khaaba man dassaahaa” (Q.S: Asy Syams: 9-10) Artinya : Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya, Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.

    Oleh karena itu jagalah diri kita, boleh jadi sahabat akan pulang ke kampungnya masing-masing oleh karenanya berusahalah untuk menjaga diri dari kesombongan dan kedengkian, jagalah diri kita dari sifat riya. Ketika bergaul dengan siapapun, berusahalah untuk senantiasa menjaga diri kita.

    Mudah-mudahan hasil jerih payah kita selama 1 bulan ini kalau kemudian kita lanjutkan dengan kegigihan menjaga diri, Insya Allah semoga kita akan terbentuk seperti yang diisyaratkan la ‘allakum tattaquun yaitu orang yang bertakwa yang cirinya adalah sangat indah dan mulia akhlaknya.

    Percayalah, bahwa hidup kita cuma sekali dan sebentar dan belum tentu kita berjumpa dengan Ramadhan yang akan datang, jangan sia-siakan apa yang sudah kita lakukan di bulan ramadhan ini dengan menodainya dengan akhlak yang buruk. Cukuplah bagi kita akhlak yang mulia dari hati yang bening dan amal yang lurus di jalan Allah. Wallahu a’lam

    ***

    Sumber : Artikel Manajemen Qolbu Online

     
  • erva kurniawan 4:53 am pada 7 August 2013 Permalink | Balas  

    pasangan_serasiSatu Diri yang Terpisah

    Laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan sekaligus persamaan. Dalam diri laki-laki ada kadar sifat-sifat perempuan. Sebaliknya pada diri perempuan ada kadar sifat-sifat lelaki. Sifat-sifat lawan jenisnya itu akan muncul lebih besar seiring dengan kadar hormon yang bekerja pada dirinya. Jika ada lelaki disuntik hormon perempuan, maka ia akan bertingkah ke arah perempuan. Sebaliknya, jika seorang perempuan disuntik hormon lelaki, ia pun bakal bertingkah seperti lelaki. Kenapa bisa demikian?

    Jawabnya adalah: karena laki-laki dan perempuan itu sebenarnya berasal dari diri yang satu. Cikal bakal yang sama. Yaitu Stem Sel. Inilah sebuah body yang terbentuk sesaat setelah sel telur dibuahi oleh sperma.

    Hanya dalam waktu beberapa jam, kedua sel dari bapak dan ibu itu bergabung dan melebur menjadi sel tunggal. Separo sifat-sifat bapak melebur dengan separo dari sifat-sifat ibu. Dan kemudian berkembang menjadi bayi berkelamin berbeda, dalam pengaruh hormon sebagaimana telah kita bahas di bagian sebelum ini. Lebih detil akan kita bahas dalam diskusi lain tentang proses penciptaan manusia di dalam rahim.

    Berikut ini adalah salah satu ayat yang bercerita bahwa laki-laki dan perempuan itu sebenarnya berasal dari satu diri, yang berkembang biak.

    QS. An Nisaa’ (4): 1

    Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan pasangannya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta (tolong) satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

    Karena berasal dari diri yang satu, maka struktur dasar antara manusia laki-laki dan manusia perempuan sebenarnya adalah sama. Mereka sama-sama memiliki otak. Namun otak ini menjadi agak berbeda setelah berkembang dalam pengaruh hormon yang berbeda.

    Mereka juga sama-sama memiliki sistem seks, akan tetapi lantas membentuk tampilan yang tidak sama karena pengaruh hormon yang berbeda. Payudara laki-laki tidak berkembang, sedangkan pada wanita berkembang, nnisalnya. Pada perempuan terbentuk vagina, rahim dan indung telur, sementara pada lelaki terbentuk penis dan testis. Postur lelaki lebih kekar, berotot, dan pinggulnya relatif kecil, sedangkan pada wanita sebaliknya. Dan seterusnya, dengan segala kekhasan masing-masing. Akan tetapi, sebenarnyalah mereka adalah “makhluk sama, yang berbeda”.

    Dari satu dipecah jadi kutub yang berbeda. Karena itu, akan menjadi sempurna kembali jika kedua perbedaan itu disatukan untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing.

    Namun meskipun berasal dari diri yang satu, wanita dan lelaki memiliki fungsi dengan kutub yang berbeda. Bagaikan kutub utara dan kutub selatan, memiliki arah yang berlawanan.

    Ya, ibarat kutub-kutub di planet Bumi, sama-sama dibutuhkan untuk membentuk fungsi Bumi yang utuh. Jika salah satu kutub bumi itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka Bumi akan mengalami masalah.

    Jika wanita tidak berfungsi sebagai wanita, dan lelaki tidak berfungsi sebagai lelaki, maka keduanya akan memperoleh masalah. Hilang keseimbangan. Karena sebenarnya keduanya adalah satu diri, dengan kutub yang berbeda.

    Karena itu dalam konsep Jawa, suami istri disebut sebagai Garwa – siGarane nyaWa – alias belahan jiwa. Ini menunjukkan kepada konsep saling melengkapi untuk menjadi satu diri kembali. Di dalam Al-Qur”an pun ditegaskan dengan istilah “berpasang-pasangan”.

    QS. An Najm (53): 45

    Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan,

    Karena berpasangan, maka jika masing-masing hidup menyendiri, atau bersama tetapi meninggalkan prinsip berpasangan, keduanya pun bakal memperoleh masalah juga.

    Jadi, setiap kita harus mengacu kepada konsep dasar penciptaan itu. Karena, itulah memang fitrah laki-laki dan perempuan. Keduanya diciptakan berbeda bukan untuk saling menjatuhkan melainkan justru untuk saling mengimbangi. Saling melengkapi. Untuk itu, di bawah ini saya kutipkan lagi ayat berikut, dengan penekanan yang berbeda.

    QS. An Nisaa’ (4): 1

    Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan pasangannya; dan daripada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta (tolong) satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

    Cobalah cermati kalimat yang saya tebalkan. Bahwa wanita dan lelaki itu diciptakan untuk saling tolong menolong, satu sama lain. Dan tolong-menolong itu dilakukan bukan karena apa-apa, melainkan karena Allah semata.

    Tolong menolong dalam hal apa? Dalam semua hal yang berkait dengan kesempurnaan dan kebahagiaan hidup kita. Dalam “membuat” anak. Dalam mendidik dan membesarkannya. Dalam mengelola rumah tangga. Dalam bekerja mencari rezeki. Dalam belajar ilmu pengetahuan. Dalam berkehidupan sosial. Dan lain sebagainya.

    Dan, kemudian adalah sangat menarik, Allah menutup ayat itu dengan penegasan: peliharalah hubungan silaturahim – hubungan yang penuh kasih sayang. Sebagai perekat untuk mengabadikan aktivitas saling tolong menolong itu. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu sekalian…

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 4:44 am pada 6 August 2013 Permalink | Balas  

    KURSI JABATANMeminta Jabatan

    Semua manusia baik laki-laki maupun perempuan suatu saat akan menerima jabatan dalam suatu tatanan kehidupan bermasyarakat baik bersifat umum maupun khusus. Jabatan merupakan suatu kebutuhan esensi yang mendasar, maka Islam hadir melihat bagaimana memandang suatu jabatan yang dapat menyelamatkan manusia dari mengarungi kehdupan didunia maupun diakherat kelak.

    Jabatan telah hadir menyentuh sendi-sendi kehidupan manusia dari jabatan terendah (Operator,Tukang sapu, Satpam, office boy, RT, Lurah, dsb) sampai yang tertinggi (Presiden, Mentri,Pengusaha, Manager, direktur ataupun Owner)…artinya sesuatu yang mempunyai kesepakan umum baik yang tertulis maupun yang tersirat itulah makna Jabatan.

    Dari Abu Said Abdurrahman bin Saumah berkata bahwa Rosulullah saw bersabda ”Wahai Abdurrahman bin Saumah, janganlah kamu meminta jabatan. Apabila kamu diberi dan tidak memintanya, maka kamu akan mendapat pertolongan Allah dalam melaksanakannya. Dan jika kamu diberi jabatan karena memintanya, maka jabatan itu diserahkan sepenuhnya (HR. Bukhari & Muslim dalam Kitab Riyadush Shalihin Abu Fajar Alqalami-Abd. Wahid Albanjari hal-280).

    Dari hadis diatas maka seluruh umat Nabi Muhammad SAW siapapun dan dimanapun berada dilarang meminta jabatan. Kini terdapat fenomena orang-orang berlomba-lomba meraih jabatan. Mengapa Islam melarang meminta jabatan paling tidak ada dua hikmah dari hadis diatas yaitu : Pertama, orang yang berambisi mendapat jabatan akan cenderung menempuh cara-cara yang tidak halal yang akhirnya besar kemungkinan jabatan itu akan banyak disalah gunakan. Jabatan tidak lagi dianggap sebagai amanah yang harus dipertanggung jawabkan. Kedua, Orang yang mendapat jabatan karena ambisi, ia akan dibebani dengan jabatan itu. Berat nya pekerjaan dan tanggung jawab harus ia jalani sendiri. Dengan Ambisinya dapat memudarat kan dirinya sehingga meminta suatu jabatan sesuatu yang lazim.

    Syarat-syarat memperoleh jabatan. Dari Abu Dzar ra. Berkata : aku bertanya kepada Nabi SAW, mengapa beliau tidak memberi jabatan kepadaku. Maka Nabi saw menepuk bahuku dan berkata ” Wahai Abu Dzar, sesungguhnya kamu adalah orang yang lemah sedangkan jabatan adalah suatu kepercayaan yang pada hari kiamat merupakan suatu kehinaan dan penyesalan. Kecuali bagi pejabat yang dapat memanfaatkan kewajiban sebaik-baiknya. (HR. Bukhari. Riyadush Shalihin hal-281).

    Dari kedua hadis diatas boleh tidaknya seseorang menduduki suatu jabatan dan agar selamat dunia dan akherat adalah Kepercayaan, Kejujuran, Keahlian dan Ketakwaan mutlak harus dimiliki. Marilah kita introspeksi diri sudahkah kita termasuk memperoleh jabatan selama ini dari kedua hadis tersebut? Hanya diri kita yang jujur yang dapat menjawabnya.

    ***

    Oleh: Bambang Wijonarso

     
  • erva kurniawan 4:20 am pada 6 August 2013 Permalink | Balas  

    rokok (1)Hukum Merokok, No Smoking

    Oleh: Dr. Ir. M. Romli, Msc

    Rokok, dulu makruh, kini haram. Sepintas, ini mungkin terasa aneh. Wong hukum kok berubah-ubah, yang dari dulu diketahui makruh sekarang dikatakan haram.

    Hal ini disebabkan kita masih sering mencampuradukkan antara pengertian syariah dan fiqih. Syariah adalah hukum yang diwahyukan oleh Allah SWT, sebagaimana tercantum dalam Al-Quran dan Sunnah. Apa yang telah ditetapkan 14 abad yang lalu berupa hukum Syariah itu, tetap berlaku hingga kini bahkan sampai akhir jaman nanti, tidak berubah.

    Lain halnya dengan Fiqih. Fiqih adalah hukum Islam yang dideduksi dari syariah untuk menjawab situasi-situasi spesifik yang tidak secara langsung ditetapkan oleh hukum syariah. Penetapan hukum berdasarkan deduksi ini dapat saja berubah tergantung pada situasi dan kondisi dimana hukum itu diterapkan. Kedua istilah yang sebenarnya tidak sama ini, hingga kini masih sering dipukul rata saja dengan sebutan, Hukum Islam.

    Lima Ratus Silam

    Budaya (me) rokok termasuk gelaja yang relatif baru di dunia Islam. Tak lama setelah Chirstopher Columbus dan penjelajah-penjelajah Spanyol lainnya mendapati kebiasaan bangsa Aztec ini pada 1500, rokok kemudian tersebar dengan cepatnya ke semenanjung Siberia dan daerah Mediterania. Dunia Islam, pada saat itu berada dui bawah kekhilafahan Ustmaniyah yang berpusat di Turki. Setelah diketahui adanya sebagian orang Islam yang mulai terpengaruh dan mengikuti kebiasaan merokok, maka dipandang perlu oleh penguasa Islam saat itu untuk menetapkan hukum tentang merokok.

    Pendekatan yang digunakan untuk menetapkan hukum merokok, adalah dengan melihat akibat yang nampak ditimbulkan oleh kebiasaan ini. Diketahui bahwa merokok menyebabkan bau nafas yang kurang sedap. Fakta ini kemudian dianalogkan dengan gejala serupa yang dijumpai pada masa Rasulullah Saw, yaitu larangan mendatangi masjid bagi orang-orang yang habis makan bawang putih/bawang merah mentah, karena bau tak sedap yang ditimbulkannya. Hadist mengenai hal ini diriwayatkan antara lain oleh Ibnu Umar, ra, dimana Nabi bersabda, “Siapa yang makan dari tanaman ini (bawang putih) maka jangan mendekat masjid kami” (HR Bukhari-Muslim).

    Sebagaimana kita ketahu, di penghujung sholat setiap orang memberikan salam, yang bisa bertemu muka satu dengan yang lainnya. Dapat dibayangkan, betapa tidak nyamannya bila ucapan salam ke kanan-kiri itu menebarkan “wangi” bawang mentah! Berdasarkan analogi tersebut, para ulama Islam saat itu berpendapat bahwa merokok hukumnya makruh (tercela).

    Kini, Haram

    Demikianlah hukum merokok yang sampai saat ini kita pahami, makruh. Lima ratus tahun berselang, fakta-fakta medis menunjukkan bahwa rokok tidak sekedar menyebabkan bau nafas tak sedap, tetapi juga berakibat negatif secara lebih luas pada kesehatan manusia.

    Sebenarnya pengaruh buruk dari merokok terhadap kesehatan telah diperkirakan sejak awal abad XVII (Encyclopedia Americana, Smoking and Health, p.70 1989). Namun demikian, rupanya perlu waktu hingga 350 tahun untuk mengumpulkan bukti-bukti ilmiah yang cukup untuk meyakinkan dugaan-dugaan itu.

    Kenaikan jumlah kematian akibat kanker paru-paru yang diamati pada awal abad XX telah menggelitik dimulainya penelitian-penelitian ilmiah tentang hubungan antara merkokok dan kesehatan. Sejalan dengan peningkatan pesat penggunaan tembakau, penelitian pun lebih dikembangkan, khususnya pada tahun-tahun 1950-an dan 1960-an.

    Laporan penting tentang akibat merokok terhadap kesehatan dikeluarkan oleh The Surgeon General’s Advisory Committee on Smoking and Health di Amerika Serikat pada tahun 1964. Dua tahun sebelumnya The Royal College of Physician of London di Inggris telah pula mengeluarkan suatu laporan penelitian penting yang mengungkapkan bahwa merokok menyebabkan penyakit kanker paru-paru, bronkitis, serta berbagai penyakit lainnya.

    Hingga tahun 1985 sudah lebih dari 30.000 paper tentang rokok dan kesehatan dipublikasikan. Sekarang ini tanpa ada keraguan sedikitpun disimpulkan bahwa merokok menyebabkan kanker paru-paru baik pada laki-laki maupun wanita. Diketahui juga bahwa kanker paru-paru adalah penyebab utama kematian akibat kanker pada manusia. Merokok juga dihubungkan dengan kanker mulut, tenggoroka, pankreas, ginjal, dan lain-lain.

    Bukti-bukti ilmiah tentang pengaruh negatif rokok terhadap kesehatan yang telah diringkaskan di atas mengharuskan kita untuk meninjau kembali status hukum makruh merokok yang selama ini kita ketahui. Beberapa fakta berikut ini sangatlah relevan untuk dijadikan bahan perenungan dan pertimbangan, sebelum sebatang rokok lagi mulai anda “nikmati” :

    1. Rokok menyebabkan kanker dan kanker menyebabkan kematian, maka merokok menyebabkan kematian. Hukum tentang perbuatan semacam ini secara terang dijelaskan dalam syariat Islam, antara lain ayat Al-Quran yang terjemahannya adalah: “…dan janganlah kamu membunuh jiwa…” (QS 6:151)

    2. Tubuh kita pada dasarnya adalah amanah dari Allah yang harus dijaga. Mengkonsumsi barang-barang yang bersifat mengganggu fungsi raga dan akal (intoxicant) hukumnya haram, misalnya alkohol, ganja dan sebangsanya. Perhatikan firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib adalah kekejian, termasuk perbuatan setan.Jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu sukses” (QS 5:90). Kemudian dijelaskan lebih lanjut dalam sebuah hadist yang dikumpulkan oleh Muslim dan Abu Dawud, dimana Nabi Saw berkata, “Setiap yang mengganggu fungsi akal (intoxicant) adalah khamr dan setiap khamr adalah haram”.

    3. Merokok hampir selalu menyebabkan gangguan pada orang lain. Asap rokok yang langsung diisapnya berakibat negatif tidak saja pada dirinya sendiri, tapi juga orang lain di sekitarnya. Asap rokok yang berasal dari ujung puntung maupun yang dikeluarkan kembali dari mulut dan hidung si perokok, menjadi “jatah” orang-orang disekelilingnya. Ini yang disebut passive smoking atau sidestream smoking yang berakibat sama saja dengan mainstream smoking. Berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan bahaya (mudharat) bagi diri sendiri apalagi orang lain, adalah hal yang terlarang menurut syariat. Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Laa dharar wa laa dhiraar”.

    4. Harta yang kita miliki tidaklah pantas untuk dibelanjakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaa, misalnya dengan membakarnya menjadi abu dan asap rokok. Tegakah kita melihat selembar uang berwajah kartini dibakar setiap minggunya? Perhatikan ayat-ayat Alquran sebagai berikut: “…dan janganlah menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sungguh para pemboros adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar pada Tuhannya” (QS 17: 26-27). Sungguh ayat ini adalah suatu deskripsi yang sangat serius

    Kesimpulan

    Uraian singkat di atas cukuplah kiranya membuktikan bahwa kebiasaan merokok merupakan suatu perbuatan yang terlarang menurut ajaran Islam. Merokok tidak saja memberikan mudharat bagi pelakunya, tetapi juga bagi orang-orang lain di sekitarnya. Merokok tidak dapat memberikan manfaat apapun bagi pelakunya, sehingga membelanjakan harta untuk rokok termasuk dalam kategori pemborosan (tabdzir) yang sangat dicela oleh Islam.

    Perlu ditegaskan di sini bahwa Islam pada dasarnya adalah suatu sistem yang membangun, bukan yang menghancurkan. Islam tidak datang untuk menghancurkan kebudayaan, moral maupun kebiasan-kebiasaan umat manusia, tetapi ia datang untuk memperbaiki kondisi umat manusia. Dengan demikian segala sesuatunya dilihat dari persepektif kesejahteraan umat manusia, apa yang merugikan dihilangkan dan apa yang bermanfaat dikonfirmasikan. Dalam Al-Quran ditegaskan bahwa Islam adalah suatu sistem yang:

    “..menyuruh mengerjakan ma’ruf dan melarang perbuatan mungkar, dan menghalalkan segala cara yang baik dan mengharamkan segala yang buruk…” (QS. 7:157).

    Mudah-mudahan kita sekalian diberi kekuatan untuk selalu melakukan apa yang diperintahkan Allah SWT dan RasulNya, dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya.

    Wallahu a’lam

    ***

    Penulis adalah auditor LPPOM MUI, Direktur APN dan Staf Dosen Jurusan Teknologi Industri-FATETA, IPB.

    Sumber: Jurnal Halal No. 5 / I / Mei – Juni 1995

     
    • lazione budy 10:42 pm pada 12 Agustus 2013 Permalink

      Haram.
      Saya ikuti anjuran Muhammadyah beberapa tahun yg lalu dan sampai sekarang tidak akan merokok.
      Lebih banyak mudaratnya.

  • erva kurniawan 5:43 am pada 5 August 2013 Permalink | Balas  

    taubat 1Definisi, Urgensi, dan Buah-Buah Taubat

    1. Definisi

    • Menurut bahasa: Kembali – Menurut istilah: Kembali mendekat pada Allah setelah menjauh dari-Nya. Hakikat taubat adalah: Menyesal terhadap apa yang telah terjadi, meninggalkan perbuatan tersebut saat ini juga, dan ber-azam yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut dimasa yang akan datang.

    2. Urgensi Taubat

    • Banyak yang tidak tahu akan hakikat taubat, syarat, dan adab-adabnya. Oleh karena itu banyak yang bertaubat hanya dengan lisan saja, sedangkan hati mereka kosong. Para ulama mengatakan: Taubatnya para pembohong adalah taubat dengan ujung lidah mereka, mereka mengatakan: “Saya mohon ampun dan bertaubat pada Alloh”. Tapi mereka tidak berhenti melakukan maksiat.
    • Allah memerintahkan untuk bertaubat. Allah mengulang perintah tersebut 87 kali. Allah juga memerintahkan Rasulullah untuk bertaubat. Allah berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. 24:31). Dalam ayat yang lain Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya” (QS. 66: 8 ). Rasulullah bersabda: “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah sesungguhnya saya bertaubat kepada Allah dalam sehari 100 kali” (HR. Muslim).
    • Siapa yang tidak bertaubat kepada Allah berarti dzalim terhadap dirinya. Allah berfirman: “Barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. 49:11).
    • Taubat adalah ibadah yang paling utama. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS. 2: 222). Dalam sebuah hadist dikatakan: “Demi Allah, Allah lebih bergembira dari pada seorang mu’min…” dst.

    3. Buah-Buah Taubat

    • Taubat itu jalan menuju keberuntungan. Allah berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. 24:31). Ibnul Qoyyim berkata: “Janganlah mengharapkan keberuntungan kecuali orang-orang yang bertaubat”.
    • Malaikat berdo’a untuk orang-orang yang bertaubat. Allah berfirman: “(Malaikat-malaikat) yang memikul `Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): ‘Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala’” (QS. 40:7).
    • Mendapat kemudahan hidup dan rizki yang luas. Allah berfirman: “dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan” (QS. 11:3). Dan firman Allah: “Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS. 11:52).

    Dan Allah berfirman: “maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu – sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun – niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada-mu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.’”

    • Penghapus kesalahan dan pengampun dosa. Dalam hadis qudsi, Rasulullah bersabda: “Wahai anak adam, sesungguhnya engkau telah berdo’a pada-Ku dan mengharap pada-Ku, Aku telah ampunkan dosa-dosamu dan Aku tak menghiraukan. Wahai anak adam, andaikan dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau meminta ampunan pada-Ku, Aku akan mengampunimu, dan Aku tidak menghiraukan. Wahai anak Adam, andaikan kamu datang pada-Ku dengan kesalahan sebesar Bumi, kemudian engkau tidak pernah mensekutukan pada-Ku dengan suatu apapun, Aku akan datang padamu dengan ampunan sebesar bumi pula.” Dan Rasulullah bersabda: “Orang yang bertaubat dari kesalahan bagaikan orang yang tidak punya dosa.” Dalam hadis yang lain: “Taubat itu menghapuskan dosa-dosa yang lalu.”
    • Hati menjadi bersih dan bersinar. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang mu’min jika melakukan perbuatan dosa, maka akan terjadi titik hitam di dalam kalbunya, jika dia bertaubat dan minta ampun pada Allah, kembali cemerlang hatinya, jika dosanya bertambah, bertambah pula titik hitam tersebut, hingga menutupi hatinya. Itulah “ar-ron” yang disebut oleh Alloh dalam firman-Nya: ‘Sekali-kali tidak (demikian) sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’” (HR. Tirmidzi).
    • Dicintai Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

    ***

    Al-Ikhwan.net

    Abu Nu’man Mubarok

     
  • erva kurniawan 1:55 am pada 3 August 2013 Permalink | Balas  

    Perlukah Hati Kita Istirahat?

    Oleh: Abuluthfia

    Yang paling penting yang ada di dalam jasad kita adalah hati dan yang paling penting yang ada dalam hati adalah iman yang merupakan sebagai pelita hati. Sifat iman sama dengan sifat hati yaitu bolak- balik atau yazid wa yankus. Oleh karena itu yang paling berkepentingan dalam menjaga dan memelihara hati adalah manusia itu sendiri. Sebab, kalau dibiarkan begitu saja maka hati itu akan menjadi hati yang berpenyakit atau mungkin juga menjadi mati. Kalau sudah begitu, maka nafsu yang akan menguasainya. Dan efeknya akan menjalar kepada anggota tubuh yang lain.

    Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di dalam tubuh anak Adam terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah tubuh itu seluruhnya, dan anggota-anggota tubuh yang lain akan membuatnya baik. Apabila segumpal daging itu rusak, maka rusak pula tubuh itu seluruhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati.”

    Hati adalah tempat untuk melihat Rabb. Ketika dihati sudah tertancap sebuah keyakinan, maka akan muncul sebuah kebahagiaan yang akan mengalirkan kedamaian dan keteduhan ke dalam ruh dan jiwa. Dari situ kebahagiaan akan meluap kepada yang lain.

    Ulama terkenal Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Hati yang mencapai kedamaian dan ketenteraman, mengantar pemiliknya dari ragu menjadi yakin, dari kebodohan kepada ilmu, dari lalai kepada taat, dari riya kepada ikhlas, dari lemah kepada teguh, dan dari sombong kepada tahu diri”

    Dan ini merupakan hasil dari pengistirahatan hati dari hawa nafsu duniawi yang selalu menggerogoti hati manusia. Sebab, hawa nafsu dan syahwat badani termasuk penyakit hati yang sering menghinggapi manusia. Apabila hawa nafsu itu telah masuk dan menusuk hati, maka rusaklah hati, dan apabila dibiarkan saja, ia akan membusuk dan sukar untuk disembuhkan. Dosa akibat hawa nafsu itu akibat setetes kotoran yang jatuh diatas lembaran hati manusia. Sekali manusia berbuat dosa, satu titik kotoran melekat diatas hati. Apabila tidak dicegah, tetesan dosa itu lama kelamaan akan menutup seluruh permukaan hati, maka gelaplah hati. Ia tertutup dari sinar iman karena sudah dipenuhi oleh kegelapan dan hawa nafsu.

    Jadi, mengistirahatkan hati menjadi sesuatu yang harus dilakukan sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini,

    Rasulullah SAW bersabda, “Istirahatkanlah hati kalian walaupun sejenak. Jika hati kalian tidak di istirahatkan (diporsir), maka hati kalian akan berubah menjadi buta.” (HR. Bukhari-Muslim)

    Istirahatnya hati bagi seorang muslim yaitu dengan zikrullah kepada Allah SWT.

    “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS. Ar-Ra’d (13): 28)

    Apalagi di bulan Ramadhan yang mulia ini. Dan ini merupakan momentum yang sangat baik untuk mengistirahatkan hati. Sebab, di bulan ini kita diwajibkan berpuasa, dianjurkan melakukan muamalah yang lainnya seperti membaca Al-Qur’an, zikrullah, qiyamul-lail, shadaqah, I’tikaf, dll. Coba kita simak apa kata Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan beberapa hikmah i’tikaf, beliau berkata, “Kelurusan hati dalam perjalanannya menuju Allah sangat bergantung kepada kuat tidaknya hati itu berkonsentrasi mengingat Allah dan merapikan kekusutan hati serta menghadapkannya secara total kepada Allah….. Perlu diketahui bahwa makan dan minum yang berlebihan, kepenatan jiwa dalam berinteraksi sosial, terlalu banyak berbicara dan tidur akan menambah kekusutan hati bahkan dapat menceraiberaikannya dan menghambat perjalanannya menuju Allah atau melemahkan langkahnya. Maka sebagai konsekuensi rahmat Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengasih terhadap hamba-hamba-Nya, Allah mensyari’atkan ibadah puasa atas mereka untuk menghilangkan kebiasaan makan dan minum secara berlebih-lebihan serta membersihkan hati dari noda-noda syahwat yang menghalangi perjalanannya menuju Allah. Dan Allah mensyari’atkan i’tikaf yang inti dan tujuannya adalah menambat hati untuk senantiasa mengingat Allah, menyendiri mengingat-Nya, menghentikan segala kesibukan yang berhubungan dengan makhluk, dan memfokuskan diri kepada Allah semata. Sehingga kegundahan dan goresan-gorasan hati dapat diisi dan dipenuhi dengan dzikrullah (mengingat Allah), mencintai dan menghadap kepada-Nya.”

    Wallahu A’lam

     
  • erva kurniawan 1:38 am pada 2 August 2013 Permalink | Balas  

    Kembali kepada Allah

    Seorang Muslim yang memahami hakikat Ramadhan, akan merasa berat berpisah dengan bulan mulia ini. Ia berharap sepanjang tahun diisi Ramadhan. Dalam Shirah Nabawiyyah diungkapkan betapa sedihnya Rasulullah SAW dan para sahabat ketika Ramadhan berlalu. Hati mereka harap-harap cemas, takut jatah umur yang tersisa tidak menyampaikan mereka pada Ramadhan tahun berikutnya. Perpisahan mereka dengan Ramadhan, bagaikan perpisahan dengan kekasih yang amat dicintai.

    Namun, dengan kasih sayang-Nya, Allah SWT mengganti berlalunya Ramadhan dengan aneka kebahagiaan. Tidak hanya kebahagiaan di dunia namun juga kebahagiaan di akhirat. Dosa-dosa diampuni, amalan dilipatgandakan, jiwa dan raga menjadi bersih. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang mendirikan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan balasan Allah niscaya diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari).

    Lalu kebahagiaan sesungguhnya akan mereka raih ketika di akhirat, yaitu kesempatan berjumpa dan menatap wajah Allah Azza wa Jalla. Disabdakan, “Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan yang membahagiakan ketika berbuka (termasuk pada saat Idul Fitri) ia bahagia dan ketika bertemu dengan Tuhannya ia pun bahagia karena puasanya itu.”(HR Bukhari).

    Hal paling khas selepas Ramadhan adalah kembalinya orang-orang beriman kepada fitrah penciptaannya. Yaitu kecucian jiwa dan bebasnya jiwa manusia dari penghambaan selain kepada Allah SWT. Difirmankan, Hadapkan wajahmu dengan lurus pada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS Ar Rum [30]: 30)

    Walau tidak berbicara dalam konteks Ramadhan, ayat ini sangat relevan dengan nuansa Ramadhan dan Idul Fitri. Orang yang telah menikmati jamuan Allah di bulan Ramadhan hendaklah tetap dalam karakteristik penciptaan-Nya dan potensi kemanusiaan yang selalu siap menerima kebenaran.

    Menurut Ibn Abdil Bar dan Ibn Athiyah, fitrah adalah ciptaan dan bentuk atau karakter yang Allah ciptakan dalam diri manusia. Fitrah ini telah disiapkan sehingga manusia bisa mengidentifikasi dan membedakan berbagai ciptaan Allah. Lalu ia menjadikannya dalil untuk mengetahui eksistensi dan mengimani Allah. Sedangkan dalam tafsir Al Qurtubhi XIV/29, mengutip gurunya, Abu Abbas, ayat tersebut mengungkapkan bahwa Allah telah menciptakan kalbu (akal) anak Adam agar siap menerima kebenaran. Seperti halnya mata diciptakan untuk melihat dan telinga diciptakan untuk mendengar. Selama akal manusia tetap dalam fitrahnya maka ia akan mengenali kebenaran.

    Dapat kita simpulkan bahwa kembalinya kita kepada fitrah adalah kembalinya kita kepada aturan Allah SWT secara kaffah dan menyeluruh. Allah yang telah menciptakan manusia, kehidupan dan alam semesta ini, sudah tentu akan menciptakan aturan untuk makhluk-Nya. Misalnya pengaturan tata surya, mampukah manusia mengaturnya? Ataukah mereka bergerak sendiri? Bagaimana jadinya jika tidak adanya aturan dan penjagaan Dzat Pencipta? Pastilah jagat raya ini akan hancur. Begitu pun manusia. Yang berhak mengatur akan kehidupan manusia hanya Allah semata. Dia mengetahui apa yang dibutuhkan manusia, tiada kepentingan dari aturan tersebut selain untuk kebahagiaan hamba-Nya.

    Fitrah manusia membutuhkan agama dan sistem hidup yang sesuai dengan fitrahnya. Agar semua perilaku dalam mengejawantahkan nilai-nilai fitrah tersebut bisa terlaksana dengan baik. Karena itu, fitrah manusia akan membuang agama dan sistem hidup yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Allah SWT memberikan potensi kepada manusia berupa gharizah at-tadayyun (naluri beragama). Sebab keterbatasan dan kelemahannya, manusia membutuhkan Dzat Mahaagung yang patut disembah. Dan Akal yang diberikan Allah SWT agar mampu memastikan adanya Al Khaliq dan tunduk patuh kepada-Nya.

    Sejatinya, kita menjadikan kemenangan Idul Fitri ini menjadi kemenangan kaum Muslimin seluruhnya, yakni bergabungnya kekuatan besar yang keluar dari rasa syukur kepada Allah SWT, untuk meraih rahmatan lil’alamin dari aturannya yang sempurna. Sehingga rahmat dan keridhaan Allah akan tercurah kepada segenap kaum Muslimin.

    Kini apa alasan kita untuk tidak menginternalisasikan aturan-aturan Allah dalam kehidupan kita. Mulai dari hal terkecil sampai hal terbesar. Mulai dari makan, minum, ke toilet, berumah tangga, bekerja hingga kehidupan bernegara. Bukankah kita meyakini bahwa Islam adalah agama fitrah? Yang mengatur manusia dengan Khalik-nya, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan dirinya sendiri.

    Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu,” demikian pesan Allah dalam QS Al Baqarah [2] ayat 208. Wallaahu a’lam. (tri )

    ***

    Sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:36 am pada 1 August 2013 Permalink | Balas  

    Indahnya Ramadhan – Mengendalikan Diri

    Oleh: Aa Gym

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Subhanallah, walhamdulillah, walaailaahaillallah, wallahuakbar. Semoga Allah SWT mengkaruniakan kepada kita semua keterampilan mengendalikan diri. Tidak ada yang bahaya dalam hidup ini, selain sikap kita sendiri.karena ternyata bahaya besar dalam hidup ini ialah ketika kita tidak berhasil mengendalikan diri kita dengan baik.

    Salah satu ciri orang bahagia dan bertaqwa ialah yang paling terampil mengendalikan dirinya dengan tepat. Sehingga dapat melalui rintangan yang ada. Kita bisa melatih diri selama ramadhan.

    Yang pertama ialah pikiran, pikiran akan mempengaruhi suasana hati. Kalau kita berpikir seseorang akan mengancam diri kita, maka pikiran kita akan langsung merasa tidak nyaman. Kita sering tidak nyaman dalam hidup karena pikiran kita terfokus pada hal-hal yang negatif dan mengakibatkan kita menjadi menderita. Seharusnya bagaimana sikap kita menyikapi hal ini?

    Seharusnya bulan Ramadhan bulan latihan untuk berpikir positif. Kalau pikiran kita hanya tertuju kepada makhluk, maka akan gelisah. Namun bila pikiran kita tertuju kepada pencipta makhluk yakni Allah SWT maka insyaallah tidak akan gelisah. Semakin lambat mengalihkan pikiran kita kepada Allah, semakin gelisah. Semakin cepat mengalihkan pikiran kita kepada Allah, maka akan semakin tenteram. “Alaa bidzikrillahi tatma’innulquluub”.

    Melihat kekurangan orang lain, akan jengkel. Melihat kelebihan orang lain, akan tenang. Mari kita mencari seribu satu alasan untuk memaafkan orang lain. Kendalikan pikiran, mencari hikmah, berdzikir, mencari Allah SWT insyaallah tenteram.

    Kita sering melihat lukisan kuda, dan kita terpesona kepada yang melukisnya. Kenapa melihat kuda yang nyata, kita tidak memuji Sang Maha Pencipta-Nya? Kita melihat adik kita memainkan boneka, dan kita memuji pabrik bonekanya. Kenapa melihat bayi memainkan boneka, kita tidak memuji yang Maha Pencipta?

    Setiap kejadian terjadi atas ijin dan kehendak Allah SWT. Setiap kejadian yang terjadi pasti ada hikmahnya. Kita jangan terfokus kepada makhluk, fokuslah kepada yang Maha Menciptakan makhluk.

    Selamat menikmati mengolah pikiran, kalau kita tidak terampil mengolah pikiran, ciri yang paling khas adalah gelisah. Apakah kita tidak boleh gelisah? Jawabnya “harus”, tetapi gelisahnya bukan karena urusan dunia, melainkan urusan akherat. Sebagai contoh : takut kalau shalat kita tidak diterima, amal yang tidak ikhlas, takut di yaumal hisab tidak husnul khotimah.

    Yang kedua, latihan mengendalikan keinginan. Kesengsaraan itu karena diperbudak oleh keinginan. Yang bagus ialah menginginkan sesuatu yang disukai oleh Allah SWT. Untuk keinginan dunia, memperbanyak do’a dan memohon petunjuk yang terbaik dalam pandangan Allah SWT. Apapun yang kita inginkan, syaratnya ialah :

    1. Allah SWT suka atau tidak dengan keinginan kita.
    2. Istiqharah, memohon petunjuk dan bimbingan dari Allah SWT. Sebagaimana terdapat dalam firman Allah SWT : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah maha mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS.2 : 216).

    Keinginan timbul dari pandangan, cobalah untuk menahan pandangan dari yang tidak membawa manfaat. Kalau kita ingin membeli sesuatu, pertanyaannya adalah, bukan ingin atau tidak ingin? Tetapi, kita perlu atau tidak perlu? Karena keinginan tidak akan pernah ada habisnya. Rasulullah SAW menggambar sebuah kotak dan didalamnya digambarkan ditengah kotak tersebut sebuah garis lurus yang melewati kotak tersebut, apa artinya? Kotak tersebut diartikan sebagai umur, sedangkan garis lurus didalam kotak tersebut digambarkan sebagai keinginan.

    Yang ketiga, mengendalikan amarah. Kenapa kita marah? Prinsip dasarnya ialah ketidaksiapan mental menerima yang tidak sesuai dengan keinginan dan harapan kita. Kalau kita marah, kepentingannya nafsu dan cenderung menyakiti orang lain. Sedangkan kalau kita tegas, kepentingannya adil. Maka berlaku adillah, karena adil dekat dengan taqwa.

    Sebagai analogi, kalau kita marah bagaikan menancapkan paku ke dinding. Semakin sering kita marah, semakin banyak paku yang akan menancap di dinding. Lisan kita seperti paku yang ditancapkan ke dinding atau hati orang yang kita sakiti. Seandainya kita meminta maaf kepada orang yang telah kita sakiti, maka paku tersebut akan lepas dari dinding, namun kita akan meninggalkan bekas lubang paku di dinding.

    Yang keempat, mengendalikan lisan. Sebagaimana sabda Rasullulah SAW “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang benar atau diam” (HR.Bukhari Muslim). Mari kita jaga lisan kita dari perkataan-perkataan yang sia-sia, yang tidak membawa manfaat.

    Setiap perkataan yang kita ucapkan bagaikan anak panah yang kita lepaskan melesat dari busurnya. Apabila sudah terlepas, maka tidak dapat kita tarik kembali. Oleh karena itu, alangkah lebih baik setiap perkataan yang akan kita ucapkan hendaknya dipikirkan terlebih dahulu.

    Semoga kita bisa belajar untuk tidak mudah menyinggung perasaan orang lain dan tidak mudah tersinggung oleh perkataan orang lain. Karena tidak setiap yang ingin kita katakan, harus kita katakan. Ada empat kriteria orang yang berbicara :

    • Orang yang berjiwa besar, yang jika berbicara ada 3 hal yang akan didapat, yakni : membicarakan ilmu, mencari hikmah dari setiap kejadian, dan berdzikir untuk mengingat Allah SWT.
    • Orang yang biasa-biasa, yang mempunyai ciri suka menceritakan peristiwa atau kejadian itu saja.
    • Orang yang rendahan, yang mempunyai ciri-cirinya suka mengeluh dan mencela kejadian yang ada.
    • Orang yang dangkal ialah orang yang senang membicarakan dirinya sendiri dengan tujuan untuk pamer.

    Wallahu’alam bis shawab.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ***

    Rangkuman Majelis Manajemen Qolbu Al-Azhar

     
  • erva kurniawan 1:25 am pada 31 July 2013 Permalink | Balas  

    Ketika Bumi Dipenuhi Malaikat (2)

    Lailatul Qadr pertama kali dijumpai Nabi ketika beliau menerima wahyu untuk pertama kalinya. Hal yang amat menarik adalah Nabi sebelum kedatangan jibril sedang menyendiri, bertafakur dan berkontemplasi. Nabi memikirkan keadaan lingkungan sekitarnya yang mempraktekkan adat jahiliyah. Nabi menyingkir dari suasana yang tak sehat itu sambil merenung dan menghela nafas sejenak dari hiruk pikuk kota Mekkah. Nabi menetap di gua hira’ untuk kemudian berkontemplasi guna mensucikan dirinya. Pada saat itulah turun malaikat Jibril alaihis salam.

    Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kisah ini? Pertama, di tengah masyarakat yang tak lagi mengindahkan etika, moral dan hati nurani, kita harus menyingkir sejenak untuk memikirkan kondisi masyarakat tersebut. Kedua, di tengah masyarakat yang giat mengerjakan maksiyat, kita harus menghela nafas sejenak dan mencoba untuk mensucikan diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum mensucikan masyarakat luas. Ketiga, di tengah “kesendirian” kita, kita berkontemplasi untuk mencari solusi terbaik dari persoalan yang dihadapi.

    Ketika Nabi menganjurkan kita untuk melakukan i’tikaf di sepuluh malam terakhir ramadhan, khususnya malam yang ganjil, saya menangkap bahwa sebenarnya kita dianjurkan untuk melakukan napak tilas proses pencerahan dan pensucian diri Nabi saat mendapati Lailatul Qadr.

    Seyogyanya, i’tikaf yang kita lakukan tidak hanya berisikan alunan ayat suci Al-Qur’an dan dzikir semata. Akan jauh lebih baik bila saat i’tikaf kita pun memikirkan kondisi masyarakat sekitar kita, persis seperti yang telah dilakukan Nabi ratusan tahun yang lalu di gua Hira’. Insya Allah, ketika saat malam yang mulia itu tiba kita sudah siap menyambut dan menjumpainya. Namun satu hal yang sangat penting untuk diingat bahwa setiap ibadah maupun gerak hidup kita seharusnya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah semata Silahkan anda mencari Lailatul Qadr, namun jangan menjadi tujuan anda yang hakiki. Tujuan kita beri’tikaf dan beribadah di sepuluh malam terakhir nanti adalah untuk mencari keridhaan Allah.

    Kalau yang anda kejar semata-mata hanyalah Lailatul Qadr, jangan-jangan anda tak mendapatkannya sama sekali. Tetapi kalau keridhaan Allah yang kita cari, maka terserah kepada Allah untuk mewujudkan keridhaan-Nya itu pada kita; apakah itu berbentuk Lailatul Qadr atau bentuk yang lain. Bukankah shalat kita, hidup dan mati kita untuk Allah semata? Dan Sungguh Allah jauh lebih mulia daripada Lailatul Qadr!

    ***

    Nadirsyah Hosen

     
    • lusi puspita 7:47 am pada 6 Agustus 2013 Permalink

      setuju bangett,,, yang kita cari adalah keridhoan-Nya ,, karena apabila alloh sudah ridho kpada kita,, ingsaaloh hidup kita akan tenang dan nyaman.. :)

  • erva kurniawan 1:00 am pada 30 July 2013 Permalink | Balas  

    Puasa, Etos kerja Dan Solidaritas

    Sekilas singkat tuturan Prof Dr Azyumardi Azra, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, menjelang Ramadhan, Jum’at 22 Desember 2006 dalam percakapan dengan Suara Karya, di ruang kerjanya, UIN Jakarta.

    **

    Makna Ramadhan bagi bangsa yang banyak dirundung bencana ini, bahwa Ramadhan menjanjikan rahmat (karunia), maghfirah (ampunan), dan itqun min al-nar (pembebasan dari api neraka), sesungguhnya adalah momentum ideal untuk menemukan solusi bagi berbagai persoalan umat dan bangsa. Aktivitas muraqabatullah (pendekatan diri kepada Allah), ketaatan, kasih sayang, solidaritas dan kepedulian sosial yang terakumulasi selama Ramadhan dan direalisasi di luar bulan ini, mudah-mudahan bisa menjadi salah satu “jalan keluar” bagi problematika negeri ini. Terkait dengan kenyataan-kenyataan pahit sekarang ini – bencana alam, kemiskinan yang terus bertambah dan ketimpangan sosial yang semakin menjadi-jadi.

    Ramadhan harusnya dipergunakan sebaik-baiknya untuk introspeksi dan muhasabah (mawas diri) agar bangsa ini tidak terus-menerus dirundung bermacam musibah.

    Jika dilihat dari masalah kemiskinan yang meraja-lela menunjukkan bahwa masih ada kontras atau disparitas antara tujuan atau hikmah puasa dengan realitas kehidupan sehari-hari. Padahal tujuan atau hikmah puasa itu antara lain adalah bukan hanya menahan hawa nafsu seperti makan, minum, dan seks, tapi juga untuk menunjukkan solidaritas kita terhadap mereka yang lapar.

    Banyak saudara kita yang tidak punya apa-apa. Jangankan rumah atau kendaraan, buat makan sehari-hari saja susah. Ini sangat kontras dengan hikmah puasa, terutama tentang solidaritas dan sikap santun kepada orang miskin.

    Umat Islam dari dulu sudah berpuasa. Tapi, solidaritas yang betul-betul membebaskan, mengangkat harkat dan kehidupan orang-orang miskin menjadi lebih layak, belum banyak terwujud, sampai hari ini. Walaupun, memang, di bulan puasa biasanya solidaritas meningkat dalam bentuk empati dengan cara sama-sama merasakan lapar.

    Persoalan kemiskinan sangat kompleks. Kita tidak bisa mengandalkan semangat keagamaan saja. Kita tidak bisa mengharapkan hanya dari peningkatan solidaritas terhadap orang miskin pada bulan puasa. Untuk menuntaskan masalah kemiskinan, perlu pendekatan komprehensif. Selain penyelesaian dengan pendekatan keagamaan juga diperlukan. Artinya, solidaritas umat Islam, mukmin dan mutakin harus ditingkatkan dengan memperbesar ZIS dan kontribusinya bagi umat yang miskin.

    Ramadhan tentu sangat relevan sebagai upaya menggairahkan kehidupan ekonomi. Karena selain menuntut peningkatan solidaritas terhadap sesama, etos sosial, etos kerja dan etos ekonomi kaum Muslim juga harus ditingkatkan. Selama ini ada kajian-kajian yang menyebutkan bahwa etos kerja kaum Muslim di Nusantara relatif lemah.

    Etos ekonomi dan sosial juga masih rendah. Kita melihat banyak yang lebih senang santai, mungkin karena lingkungan alam di negeri ini terlalu ramah. Sehingga banyak yang merasa tidak perlu kerja keras karena apa saja bisa tumbuh. Kata orang, tongkat kayu dan batu pun bisa jadi tanaman. Solusinya, ya etos kerja harus ditingkatkan.

    Bukan etos agama saja yang kuat namun jika faktor-faktor struktural tidak diatasi, tetap saja akan terjadi ketidakadilan ekonomi. Maka persoalan kemiskinan di Indonesia tidak akan pernah selesai. Agama mengajarkan, bekerjalah untuk dunia seolah-olah kau akan hidup abadi selamanya. Tapi pada saat yang sama, agama juga memerintahkan, beribadahlah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati esok hari. Dengan demikian, mestinya etos kerja dan agama dalam jiwa umat Islam harusnya kuat sekali.

    ***

    l.meilany

     
  • erva kurniawan 1:20 am pada 29 July 2013 Permalink | Balas  

    Ketika Bumi Dipenuhi Malaikat (1)

    Lailatul Qadr, betapa mulianya malam itu!

    Al-Qur’an menginformasikan bagaimana para Malaikat dan Jibril turun ke bumi atas izin Allah SWT.; bagaimana malam itu dilukiskan sebagai lebih mulia dari seribu bulan; bagaimana bumi penuh sesak dengan kehadiran para malaikat itu.

    Rasul menganjurkan kita untuk mencari malam itu, yang saking mulianya sehingga dirahasiakan kepastiannya oleh Allah. Rasul hanya memberi petunjuk untuk mencarinya di sepuluh malam terakhir Ramadhan, khususnya di malam-malam yang ganjil.

    Pertanyaannya, di sepuluh malam itu apa yang sebaiknya kita lakukan? Persiapan apa yang harus kita lakukan menunggu datangnya para tamu agung dari langit itu, sikap apa yang harus kita ambil ketika ternyata para tamu itu mampir ke rumah kita, dan, akhirnya, ibadah apa yang mesti kita lakukan di saat datangnya malam itu?

    Banyak riwayat yang menjelaskan hal itu, banyak pula saran dan kisah para ulama yang bisa kita jadikan patokan. Namun, saya menyarankan untuk melakukan dua hal.

    Pertama, banyak-banyaklah berdekah. Sungguh hanya di bumi inilah kita mendapati saudara kita yang kekurangan. Hanya di bumi orang-orang kaya memberikan makanan kepada kaum fukara wal masakin. Kedua, merintih dan menangislah kita untuk memohon ampunan Allah.

    Dua amalan itu merupakan amalan yang malaikat tak sanggup melakukannya. Bukankah di langit tak ada yang miskin, sehingga mustahil malaikat bisa bersedekah. Malaikat yang suci itu tentu saja tak pernah melakukan maksiyat, karenanya mereka adalah suci. Mereka tak pernah merintih dan menangisi dosa mereka. Kitalah yang mampu melakukannya.

    Dalam Tafsir al-Fakhr ar-Razi diceritakan bagaimana Allah berkata, “rintihan pendosa itu lebih aku sukai daripada gemuruh suara tasbih”. Malaikat mampu melakukan tasbih, namun gemuruh suara tasbih dari para malaikat kalah kualitasnya dibanding rintihan dan tangisan kita yang memohon ampun pada Allah SWT.

    Mari kita sambut Lailatul Qadr dengan dua amalan yang bahkan malaikat pun tak sanggup melakukannya. Bersedekah-lah…. kemudian menangis dan memohon ampunan ilahi. Siapa tahu, ada malaikat yang bersedia mampir ke rumah kita; dan malam itu menjadi milik kita, insya Allah!

    ***

    Nadirsyah Hosen

     
  • erva kurniawan 1:00 am pada 26 July 2013 Permalink | Balas  

    Menghidupkan Malam Ramadhan

    Bulan Ramadhan ini boleh dikatakan bulan ibadah. Bulan di mana kita untuk tempat menimba pahala atau berbuat amal kebajikan sebanyak-banyaknya. Di siang harinya kita berpuasa, pada waktu malamnya kita berjaga-jaga. Maksudnya menghidupkan malam bulan Ramadhan dengan berbagai macam kegiatan keagamaan. Di antara lain dengan membaca Al-Qur’an atau bertadarus. Dengan memperbanyak zikir kepada Allah. Mengingat dan mengagungkan kebesaran-Nya. Di samping itu ber’itikaf di Masjid, sambil merenungi hidup ini. Mengkaji makna dan hakekatnya, berikut ceramah-ceramah agama atau kegiatan da’wah lainnya.

    Dan yang tidak kalah pentingnya untuk kita lakukan pada malam bulan Ramadhan itu, ialah mendirikan sholat Taraweh. Yaitu sholat yang tidak ada di bulan lain kecuali pada bulan Ramadhan. Memang ada sholat di malam selain di bulan Ramadhan, tapi bukan namanya sholat Taraweh atau Qiyamur Ramadhan. Sholat sunah pada malam hari di luar bulan Ramadhan itu namanya “Sholatul lail”, yang juga disebut dengan “Sholat Tahajud”

    Sholat Taraweh

    Di riwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Urwah, bahwa A’isyah ra. Mengkhabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah ke Masjid di tengah-tengah malam Ramadhan. Lalu mendirikan sholat jama’ah bersama-sama para sahabat, sehingga pagi harinya para sahabat mengkhabarkan pula kepada yang lain.

    Pada malam kedua orang lebih banyak berkumpul di Masjid, lalu sholat bersama nabi. Kembali keesokan harinya hal itu diceritakan kepada orang-orang yang belum mengikutinya, sehingga pada malam ketiga orang berkumpul lebih banyak lagi. Dan mereka sholat bersama nabi. Pada malam berikutnya nabi tidak pergi lagi ke Masjid. Pada saat fajar barulah nabi berangkat ke Masjid untuk sholat Subuh. Seusai sholat Subuh Rasulullah bersabda: “Adapun kemudian itu, maka sesungguhnya tidaklah tersembunyi bagiku keadaanmu semalam. Akan tetapi aku takut difardukan sholat malam itu atas dirimu. Lalu kamu tidak sanggup melaksanakannya.”

    Berdasarkan keterangan di atas jelas bagi kita bahwa yang namanya sholat Taraweh itu bukanlah wajib, akan tetapi sunat. Namun demikian sunatnya itu bukan sunat biasa, tapi sunat muakadah. Yaitu sunat yang kalau ditinggalkan atau tidak dikerjakan tidaklah berdosa, tapi bila dilaksanakan akan mendapat pahala sama dengan pahala wajib. Demikian menurut sebagian ulama.

    ***

    Narasumber: buku “Puasa bukan sekedar kewajiban”

     
  • erva kurniawan 1:52 am pada 21 July 2013 Permalink | Balas  

    Kehati-Hatian

    Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (QS Al Baqarah [2]: 197)

    Ada kata yang sangat sentral dalam Alquran. Kata itu adalah takwa. Mengapa? Takwa adalah goal dari diturunkannya Alquran dan diutusnya Rasulullah SAW. Takwa menjadi prasyarat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Tak mengherankan bila dalam khutbah Jumat, khatib selalu mengajak jamaah untuk bertakwa. Salah satunya QS Ali Imran[3] ayat ke-102, Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

    Tak kurang dari lima belas kali kata takwa terulang dalam Alquran. Perintah bertakwa (ittaqu) terulang sebanyak 69 kali. Sedangkan kata muttaquun atau (orang-orang yang bertakwa–jamak) sebanyak enam kali dan muttaqiin (orang bertakwa–tunggal) sebanyak empat puluh tiga kali.

    Kata taqwa terambil dari akar kata waqaa-yaqii yang bermakna menjaga (melindungi) dari bencana atau sesuatu yang menyakitkan. Pendapat lain menyatakan bahwa kata ini terambil dari akar kata waqwaa, kemudian huruf waawu pada awalnya diganti dengan ta’ sehingga berbunyi taqwa, yang artinya terhalang. Ada ungkapan yang dinilai berasal dari Rasulullah SAW yang menyatakan al-taqii muljam bahwa orang bertakwa itu terkendali lidahnya. Ungkapan ini bermakna kehati-hatian. Demikian ungkap Dr Quraish Shihab dalam bukunya Secercah Cahaya Ilahi (Mizan, 2000).

    Takwa bukan sekadar ritual

    Identiknya takwa dan sikap hati-hati, terungkap dalam percakapan antara Umar bin Khathab dengan Ubay bin Ka’ab. Ketika itu, Ubay bertanya kepada Umar tentang makna takwa. Khalifah kedua ini malah balik bertanya, Pernahkah engkau berjalan di tempat yang penuh duri? Ya pernah Apa yang engkau lakukan? tanya Umar kembali. Tentu aku sangat berhati-hati melewatinya!” jawab Ubay. Itulah yang dinamakan takwa, tegas umar.

    Jadi, orang takwa adalah orang yang hati-hati dalam bersikap. Segalanya penuh perhitungan. Pemahaman, emosi dan gerak fisiknya benar-benar dipandu aturan Ilahi agar seiring sejalan. Mereka tidak mau menerima uang, kecuali uang tersebut didapat dengan cara yang dibenarkan. Mereka tidak mau makan, kecuali makanan yang terjamin kehalalannya, baik zatnya atau cara mendapatkannya. Mereka tidak mau berbicara, kecuali pembicaraannya benar dan tidak menyakiti. Mereka tidak mau berbisnis, kecuali bisnisnya tidak merugikan orang, barang yang dijual terjamin kehalalannya, tidak melanggar undang-undang dan tidak tersentuh unsur riba. Intinya, dalam hal apa pun, orang bertakwa selalu menyertakan sikap hati-hati yang bersumber dari keinginan untuk menyelaraskan diri dengan aturan Allah SWT.

    Dalam bahasanya Stephen Covey, orang bertakwa adalah orang yang proaktif. Artinya, ia mampu memanfaatkan ruang antara stimulus (rangsangan) dan respons (tindakan) untuk berpikir sesuai prinsip. Sederhananya, orang bertakwa itu selalu melibatkan pikiran dalam setiap tindakannya. Sehingga tindakan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan dunia akhirat, karena selalu didasarkan pada prinsip-prinsip Ilahiyah.

    Misal, seorang pejabat menerima amplop berisi uang sepuluh juta. Ini stimulus. Apa respons pejabat ini? Kalau ia seorang muttaqin, maka ia tidak menerima amplop tersebut begitu saja. Ia akan bertanya, ini amplop dari siapa? Untuk apa? Apakah telah sesuai prosedur yang berlaku? Apakah halal? Apakah tidak menyalahi nilai-nilai kejujuran dalam agama? Kalau memang amplop itu hak dirinya juga terjamin kehalalannya, maka ia terima. Namun jika tidak, ia menolak walau dipaksa. Itulah respons yang didahului proses berhenti sejenak untuk berpikir dan menyesuaikan diri dengan prinsip-prinsip Ilahi. Dalam hal apa pun, tidak hanya yang berkaitan dengan uang. Tindakan dan ucapannya benar-benar terkendali dan penuh kehati-hatian.

    Sejatinya, sikap hati-hati dan terkendali menjamin keselamatan seseorang di dunia dan akhirat. Juga pengundang datangnya pertolongan Allah. Difirmankan, Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya (QS Ath Thalaaq [65]: 2-5)

    Sebaliknya, sikap ceroboh dan tak terkendali akan membuat seseorang binasa. Hampir semua masalah berawal dari ketidaktakwaan (kecerobohan, kurang perhitungan, kurang kendali). Perkelahian bisa terjadi karena tidak hati-hati menjaga lidah. Terjerumusnya ke lembah hitam bisa berawal dari kurang hati-hati memilih pergaulan, dan sebagainya.

    Maka jelas, takwa itu tidak identik dengan ibadah-ibadah ritual. Takwa harus terwujud dalam keseharian. Benarlah firman Allah SWT agar kita menjadikan takwa sebagai bekal. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (QS Al Baqarah [2]: 197).

    Ramadhan dan kehati-hatian

    Ramadhan yang tengah kita jalani, sejatinya menjadi momentum tepat untuk menumbuhkan sikap hati-hati. Selama satu bulan penuh kita dilatih untuk tidak berkata, kecuali yang baik, benar lagi sesuai momennya. Dilatih mengendalikan perut, untuk tidak makan makanan haram bahkan makanan halal secara berlebihan. Dilatih mengendalikan mata, bukan saja dari memandang yang haram dipandang, tapi juga dari memandang hal-hal mubadzir. Juga panca indera dan perasaan, semuanya harus terkendali. Intinya, Ramadhan melatih kita menjadi manusia yang selalu berhati-hati. Allah SWT berfirman, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al Baqarah [2]: 183). Wallaahu a’lam . (tri )

    ***

    Sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:44 am pada 20 July 2013 Permalink | Balas  

    Bertanyalah Selalu

    KH Abdullah Gymnastiar

    Dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib berhasil menjungkalkan lawan tandingnya. Ketika akan menebaskan pedangnya, orang itu segera meludahi wajah Ali. Dengan refleks, Ali menarik tangannya. Ia pun tidak jadi membunuh lawannya. Ali, kenapa engkau tidak jadi membunuhku? tanya orang itu heran. “Aku khawatir membunuhmu bukan karena Allah, tetapi karena engkau meludahiku!.”

    Sungguh luar biasa.

    Ali masih mampu mengandalikan diri walau dalam kondisi kritis. Kisah ini memberikan pelajaran berharga, kita harus mampu mengendalikan diri dalam berbagai situasi, tempat dan waktu berbeda. Tak heran bila mengendalikan diri tergolong jihad an-nafs. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW bahwa perang melawan diri (nafsu) lebih berat dari Perang Badar.

    Kata kunci mengendalikan diri adalah mampu mengendalikan nafsu.

    Kita dapat mengumpamakan nafsu sebagai kuda dan setan sebagai pelatihnya. Ketika kuda itu tunduk kepada kita -bukan kepada setan-, maka kita mampu menghemat energi dan mampu mencapai tujuan dengan lebih cepat. Namun sebaliknya, kalau kuda (nafsu) itu tidak terkendali, maka kita akan seperti rodeo, terombang-ambing, terpelanting lalu binasa.

    Salah satu tabiat nafsu adalah tidak seimbangnya antara kesenangan yang didapat dengan akibat yang harus dipikul.

    Memakan makanan haram misalnya. Rasanya memang enak, tapi hanya sebentar saat di mulut saja. Mudaratnya pun sungguh luar biasa, doa kita tidak diterima, hati menjadi gelisah, bisa menghancurkan rumahtangga, harta jadi tidak berkah, merusak mental anak, dsb. Belum lagi api neraka yang siap menyambut.

    Begitu pula dengan pandangan tak terjaga. Melihatnya hanya beberapa saat, tapi bayangannya sulit dilupakan. Shalat pun jadi tidak khusyuk. Maka, kita jangan sekali-kali meremehkan nafsu. Karena bila tak terkendali dapat menghancurkan hidup kita.

    Ada banyak segi yang harus selalu kita kendalikan, khususnya saat Ramadhan seperti sekarang. Seperti panca indra, perut, syahwat, ataupun perasaan.

    Andai kita memandang, tahanlah sekuat mungkin dari sesuatu yang diharamkan. Segera berpaling karena Allah SWT melihat yang kita lakukan. Ketika mau menonton TV bertanyalah, Haruskah saya nonton acara ini? Apa ini berpahala? Kalau tidak, matikanlah segera TV tersebut. Untuk lebih menjaga pandangan ada baiknya di samping tempat tidur kita sediakan Alquran agar mudah dibaca, atau siapkan buku bacaan di sekitar tempat kita beraktivitas agar kita selalu terkondisi untuk melakukan hal-hal yang positif.

    Mengendalikan nafsu perut juga tidak kalah penting. Bertanyalah selalu sebelum menyantap makanan. Apakah saya harus membeli makanan semahal ini? Apakah saya harus makan sebanyak ini? Apakah yang saya makan ini terjamin kehalalannya? Mana yang lebih baik, saya makan makanan sederhana dengan kalori yang sama dan sisa uangnya disedekahkan?. Kalau kita terus bertanya maka nikmat makan akan pindah; bukan dari nikmat rasa lagi tapi nikmat syukur.

    Begitu pula ketika hendak berbelanja, proses bertanya harus selalu dilakukan sebagai alat mengendalikan keinginan dan nafsu. Luruskan niat terlebih dahulu. Jangan sekadar ingin, sehingga mengabaikan perhitungan. Lebaran tidak harus mengenakan baju atau aksesoris baru. Lebih baik kita memanfaatkan pakaian yang ada. Andai pun mau, sedekahkan uang tersebut kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Insya Allah akan lebih berkah.

    Dengan terus bertanya kepada hati, insya Allah kita akan memiliki pengendalian diri yang baik. Apalagi yang kita miliki kalau kita tidak bisa mengendalikan diri dan terus ditipu serta diperbudak hawa nafsu. Apalagi yang berharga pada diri kita? Sungguh, tidak ada kemuliaan bagi orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu yang tidak di jalan Allah SWT. Kemuliaan hanya bagi orang yang bersungguh-sungguh mengendalikan dan memelihara kesucian dirinya. Wallahu a’lam .

    ***

    republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:27 am pada 19 July 2013 Permalink | Balas  

    Puasa Dimulai Dengan Niat

    Puasa hendaklah dimulai dengan niat. Tanpa niat puasa tidak syah  Hal ini sejalan dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yang berbunyi: “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niat. Dan sesungguhnya tiap-tiap orang yang beramal itu ditentukan oleh apa yang ia niatkan”

    Niat dalam menjalankan ibadah puasa ini adalah semata-mata karena Allah. Karena mengharap ridho dan kasih-Nya. Dengan kata lain bukan dikarenakan malu kepada tetangga atau kepada orang lain, dan bukan pula karena faktor politis dan sebagainya, akan tetapi dikarenakan oleh Allah semata. Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Bayyinah ayat 5 yang berbunyi: “Mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” Apa itu niat ?

    Kalau kita bicara tentang niat, kami kira sudah tidak ada lagi yang tidak tahu atau mengerti apa itu niat. Sebab niat itu sudah menjadi bahasa Indonesia dan sudah sering kita pakai sehari-hari.

    Namun demikian tidak ada salahnya kalau hal ini kita kaji kembali untuk menyegarkan ingatan. Niat adalah keinginan hati yang kemudian diiringi dengan perbuatan. Dalam bahasa Arab didefinisikan sebagai berikut: “Menyengajakan sesuatu yang dibarengi dengan perbuatan”

    Umpamanya, kita mempunyai keinginan untuk pergi ke salah satu tempat. Katakanlah ke Medan atau ke Surabaya. Kemudian keinginan tersebut kita iringi atau barengi dengan pelaksanaan, maka itulah yang dikatakan niat. Tapi andaikata tidak dibarengi dengan perbuatan atau pelaksanaan maka belum dikatakan niat. Yang demikian ini baru dikatakan angan-angan.

    Demikian juga halnya dalam menjalankan ibadah puasa ini. Kalau kita sudah ada keinginan untuk mengerjakan puasa, kemudian kita laksanakan keinginan itu, maka sudah termasuk dengan apa yang disebut niat. Menempatkan niat

    Ada yang mengatakan niat puasa itu hendaklah dilakukan setiap malam bulan Ramadhan. Demikian pendapat Imam Syafi’i. Hal ini berdasarkan kepada salah satu hadist Nabi yang berbunyi: “Barang siapa yang tidak berniat puasa pada malam hari, maka tidak ada puasa baginya.”(Riwayat Malik)

    Kemudian ada hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Tarmidzi dan Nasa’, yang berbunyi: “Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.”

    Namun demikian, ada ulama yang mengatakan niat itu cukup sekali saja waktu awal Ramadhan atau waktu memulai puasa. Demikian pendapat Imam Maliki dan Imam Ahmad.

    Kesimpulannya, niat itu harus ada, sebab tidak syah puasa kalau tidak pakai niat. Permasalahannya niat itu perlu dilapazdkan atau tidak ? Niat itu sebaiknya dilafadzkan, seandainya tidak dilafadzkan juga tidak apa-apa dan tetap syah puasanya. Mengenai waktu memasang niat itu sama saja. Apakah itu pada awal Ramadhan atau setiap malam mau puasa.

    ***

    Narasumber: Buku “Puasa bukan sekedar kewajiban”

     
  • erva kurniawan 1:07 am pada 18 July 2013 Permalink | Balas  

    Sahur Menjelang Fajar Makan sahur tidaklah wajib Dan… 

    Sahur Menjelang Fajar

    Makan sahur tidaklah wajib. Dan tidak pula termasuk dari salah satu rukun atau syarat syahnya puasa. Tanpa makan sahur puasa akan tetap syah selama tidak melanggar ketentuan yang membatalkan puasa. Cuma saja, kalau kita makan sahur, setidaknya akan memperoleh dua keuntungan: Menambah daya tahan tubuh dalam menjalankan ibadah puasa. Mendapat pahala sunah karena Rasulullah melakukannya. Rasulullah kalau berpuasa selalu makan sahur berarti mengikuti apa yang telah dilakukan Nabi. Barang siapa yang mengikuti perbuatan Nabi akan mendapat ganjaran pahala. Justru itu, jangan beranggapan orang yang tidak makan sahur akan memperoleh pahala lebih banyak. Tidak sekali-kali tidak. “Bersahurlah kamu bahwasanya sahur itu membawa berkah” (Muttafaqa’laih)

    Waktu makan sahur

    Waktu makan sahur bukan tengah malam dan bukan pula seusai sholat taraweh. Banyak orang yang makan sahur seusai sholat taraweh atau menjelang tidur. Dengan tujuan agar tidak perlu bangun lagi lewat tengah malam. Nampaknya bangun setelah lewat tengah malam, maksudnya sepertiga malam terakhir, yang lebih dikenal dengan istilah menjelang fajar, terasa berat. Justru itulah, seusai sholat taraweh atau menjelang tidur langsung makan dengan niat makan sahur. Dan ada juga yang melakukan makan sahur itu tengah malam tepat.

    Semua itu salah dan keliru. Rasulullah tidak pernah melakukan itu. Orang yang makan sahur tengah malam atau seusai sholat taraweh tidaklah mendapat pahala sahur. Karena tidak termasuk dalam katagori apa yang dinamakan dengan sahur.

    Maka kalau ingin mendapat pahala, ikutilah petunjuk Rasulullah. Kalau Rasulullah makan sahur, waktunya itu diatur sedemikian rupa. Yaitu beberapa saat menjelang fajar menyingsing. Biasanya tidak lama seusai Rasulullah makan sahur, beliau langsung ke Masjid untuk sholat Subuh. Hal ini dijelaskan oleh Rasul dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan Zait bin Tsabit, yang bunyinya: “Kami bersahur bersama Rasulullah Saw, kemudian bangun untuk sembahyang Subuh. Ketika bertanya berapa lama diantara sahur hingga sembahyang Subuh itu ? Jawabnya, sekitar membaca 50 ayat.”

    Demikianlah Rasulullah menjelaskan dalam salah satu haditsnya tentang waktu makan sahur itu. Sementara kalau kita melihat pula ayat Al-Quran atau firman Allah, memang tidak jauh berbeda. Lapadznya yang tidak sama, tapi isinya tetap serupa. Untuk lebih jelasnya lihat firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 187 yang artinya: “Makan dan minumlah kamu hingga terang bagimu benang yang putih dari benang yang hitam dari fajar. Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam hari.”

    Dengan jalan demikian jelaslah bagi kita bahwa yang namanya makan sahur waktunya menjelang fajar menyingsing. Dengan kata lain, bukan tengah malam dan tidak pula seusai sholat taraweh. Barangsiapa yang makan sahur sesuai dengan garis yang ditentukan akan mendapat pahala. Dan hukumnya sunah.

    ***

    Narasumber: Buku “Puasa bukan sekedar kewajiban”

     
  • erva kurniawan 1:01 am pada 17 July 2013 Permalink | Balas  

    Menggali Hikmah Ramadhan

    Puasa bukan hanya untuk ritual saja, akan tetapi mengandung unsur sosial. Banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Puasa sebagai salah satu sarana pembinaan mental. Dengan menahan lapar dan dahaga, menahan diri dari bersenggama, dan dari yang membatalkan puasa, mulai dari  terbit fajar sampai terbenamnya matahari, berarti telah mengendalikan keinginan hawa nafsu. Kalau sudah mampu mengendalikan hawa nafsu berarti itu sudah kemenangan yang luar biasa.

    Sebab hawa nafsu inilah yang menjadi pangkal dari malapetaka. Hawa nafsulah yang menyebabkan manusia lupa daratan, terjerumus dalam lembah dosa dan maksiat. Tidak pernah bersyukur dan tidak pernah merasa puas terhadap rezeki yang diperolehnya. Sebagaimana kata Imam Ghozali, orang yang menjadikan standar hidupnya hawa nafsu tak obahnya bagaikan orang minum air laut, semakin diminum semakin haus.

    Retaknya sebuah rumah tangga, rusaknya pergaulan, semuanya ini berawal dari hawa nafsu yang tidak terkendalikan. Sebab hawa nafsu inilah yang menyebabkan manusia angkuh, sombong, merasa paling benar dan paling sempurna. Tidak mau mengalah, maunya menang sendiri. Demikian juga halnya dengan ambisi yang berlebihan, gila pangkat dan gila hormat. Termasuk juga sifat loba, tamak atau serakah. Semuanya ini berpangkal dari hawa nafsu yang tak terkendalikan.

    Kalau penyakit loba, tamak dan serakah ini sudah melanda, akibatnya akan menimbulkan bencana yang besar. Suatu bangsa akan hancur kalau penyakit ini sudah melanda. Sebab akan menimbulkan semangat kapitalisme yang kemudian bersifat ekspansionisme, yaitu ingin merebut dan mencaplok milik orang lain. Halal, haram tidak peduli.

    Yang penting uang bisa didapat, harta bisa terkumpul. Demikianlah kalau penyakit rakus sudah melanda. Bahaya ini pernah dikonstantir oleh Imam Ghozali dengan perkataan: Å´esungguhnya bencana yang paling besar dalam kehidupan ialah nafsu perut¡¦

    Tapi kalau hawa nafsu sudah terkendali, maka kebahagiaan akan terwujud. Ketenangan jiwa dan kedamaian hati akan tercapai. Pikiran akan jadi jernih, dan wajah akan berseri. Tidak akan ada lagi resah dan gelisah dalam menghadapi musibah. Tidak akan kedengaran lagi korupsi dan manipulasi, atau kebocoran anggaran Negara. Semua akan berjalan lancar sesuia dengan jalur yang sudah ditentukan. Sebab jiwa akan semakin dewasa dan akan semakin bertambah matang.

    Pembinaan Keluarga

    Dengan sama-sama makan sahur dan sama-sama berbuka, kemudian diiringi dengan sama-sama pergi sholat taraweh ke Masjid, itu merupakan suatu sarana dalam pembinaan keluarga yang harmonis.

    Hubungan antara anak dengan kedua orang tuanya, atau antara suami dengan istri, akan terasa semakin dekat dan semakin akrab. Maka dalam kehidupan zaman modern sekarang ini, peranan puasa Ramadhan semakin dirasakan.

    Kenapa tidak. Orang yang hidup di abad modern sekarang ini, terutama di kota-kota besar, sibuk dengan berbagai macam pekerjaan dan berpacu dengan waktu. Pergi pagi pulang malam. Berangkat ketika anak masih tidur, dan pulang setelah anak mulai tidur. Demikianlah setiap hari, boleh dikatakan tidak ada komunikasi dengan anak.

    Hal yang sama juga dialami oleh ibu-ibu wanita karier. Mendidik anak sebagai tugas pokoknya terabaikan. Mendidik anak tidak cukup dengan memberinya makanan dan minuman yang bergizi. Tidak hanya sekedar membelikannya baju baru, uang sekolah dan uang jajan. Tapi yang penting adalah belaian kasih sayang. Maka tidak salah kalau anak-anak lebih dekat kepada pembantu ketimbang ibu atau kedua orang tuanya.

    Menjalin Ukhuwah

    Ukhuwah zaman sekarang sudah sedemikian rapuh. Sikap individualistis begitu menonjol. Sudah tidak ada lagi sikap teposeliro. Sikap asah, asih, dan asuh. Semua berjalan sendiri-sendiri, dan mau menang sendiri. Ukhuwah zaman sekarang cenderung kepada materi. Kalau ada yang akan diharapkan dan saling ketergantungan, baru ada ukhuwah. Kalau tidak, maka tidak.

    Dengan ibadah puasa diharapkan akan lahir jiwa yang tulus dan sifat kebersamaan. Yaitu rasa senasib  sepenanggungan, yang dibuhul oleh tali akidah dan ukhuwah. Di mana orang kaya dapat merasakan penderitaan orang miskin yang terkadang makan terkadang tidak. Dikarenakan rasa ukhuwah yang ditimbulkan oleh ibadah puasa ini, diharapkan orang yang kaya hatinya akan tersentuh untuk membantu saudaranya seakidah itu, dengan membagi dan mengeluarkan sebahagian dari kekayaannya.

    Itu hikmahnya untuk orang kaya. Adapun untuk orang miskin lain lagi. Diharapkan dengan usainya menjalankan ibadah puasa ini keikhlasan dan kesabarannya dalam menghadapi musibah dan penderitaan hidup semakin mantap. Imannya semakin kuat. Kalau sudah dibiasakan dengan niat yang ikhlas dalam menghadapi cobaan demi cobaan, sudah tidak masalah lagi. Bahkan di balik itu  di balik penderitaan dan cobaan itu, ada nilai-nilai tertentu yang merupakan kredit point di sisi Allah. Adapun jumlah dan besarnya adalah hanya Allah-lah yang lebih tahu.

    Melatih Disiplin

    Salah satu kelemahan umat Islam, ialah kurangnya tingkat disiplin. Baik itu mengenai waktu maupun yang berhubungan dengan kerja. Nampaknya sebahagian umat Islam kurang menghargai waktu. Terkadang waktu dibiarkannya berlalu begitu saja, tanpa kesan dan coretan. Maksudnya tidak ada kegiatan. Menghargai waktu bukan berarti harus bekerja tanpa mengenal waktu untuk istirahat, tidak. Akan tetapi bagaimana membagi dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Maksudnya kapan harus bekerja, dan kapan pula waktu untuk istirahat.

    Demikian juga halnya dengan masalah kerja. Sudah menjadi kebiasaan cara kerja yang amburadul. Maksudnya tidak punya perencanaan dan kurang perhitungan. Bekerja seenaknya tanpa mengindahkan aturan main yang sudah diterapkan. Peraturan tinggal peraturan, pelanggaran jalan terus. Demikianlah yang banyak terjadi. Dan di sinilah letaknya kunci kesuksesan orang non muslim. Mereka bekerja dengan perencanaan, dengan perhitungan yang matang dan dengan disiplin yang tinggi.

    Demikianlah sebahagian kecil dari hikmah puasa Ramadhan kali ini  dan banyak lagi yang lain yang belum sempat digali. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

    ***

    Narasumber: buku Puasa bukan sekedar kewajiban

     
  • erva kurniawan 1:14 am pada 15 July 2013 Permalink | Balas  

    Doa Orang yang Berpuasa (Tafsir QS Al Baqarah 2:186)

    Tafsir QS Al Baqarah 2:186

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al Baqarah 2:186)

    Berdasar pada ujung ayat di atas, maka jadikanlah bulan puasa itu sebuah bulan yang penuh dengan ibadat, membaca Al Qur’an, shalat dan berdoa. Oleh karena doa adalah penting, menjadi otak dari ibadat, berkenanlah Tuhan memberitahukan tentang doa dan bagaimana sambutan-Nya jika hamba-Nya berdoa menyeru nama-Nya dan memohonkan sesuatu. Terang sekali ayat ini, tidak berbelit-belit.

    Pertama, Tuhan itu dekat.

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat.”

    Dia tidaklah jauh, dan lantaran Dia tiada jauh dari sisimu tidak usah kamu bersorak keras-keras memanggil-manggil namaNya: “Ya Allah! Ya Allah! Tolonglah aku, bantulah aku!”

    Apa guna suara keras demikian, padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu sendiri? Mengapa keras-keras, padahal Dia bukan pekak? Lantaran Dia dekat, tidaklah perlu memakai orang perantaraan atau wasilah. Yang penting ialah memohon langsung kepada-Nya, jangan memakai perantaraan. Kalau Dia sendiri telah menyatakan Dia dekat, guna apa kita mencari perantaraan lagi?

    Tuhan telah menutup pintu yang lain. Tuhan menyuruh kita langsung kepada-Nya. Tuhan telah menjelaskan di sini, kepada-Ku saja, supaya permohonanmu terkabul. Sedang dalam ayat tidak sedikitpun terbayang bahwa permohonan baru dikabulkan Tuhan kalau disampaikan sengan perantaraan Syaikh Anu atau Saiyid Fulan!

    Kedua, segala permohonan dari hamba-Nya yang memohon akan mendapat perhatian yang sepenuhnya dari-Nya. Tidak ada satu permohonanpun yang bagai air jatuh ke pasir, hilang saja sia-sia. Karena tidak didengar atau tidak diperdulikan.

    “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”

    Ketiga, supaya permohonan itu mendapat perhatian Ilahi, hendaklah si hamba yang memohon itu menyambut pula terlebih dahulu bimbingan dan petyunjuk yang diberikan Tuhan kepada-Nya.

    “Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

    Keempat, dan amat penting. Yaitu hendaklah percaya benar-benar, beriman benar-benar kepada Tuhan.

    Kelima, dengan sebab menyambut seruan Tuhan, dan percaya penuh kepada Tuhan, si hamba akan diberi kecerdikan. Si hamba akan diberi petunjuk jalan yang akan ditempuh hingga tidak tersesat dan tidak berputus asa.

    Menyambut seruan Tuhan dan iman kepada Tuhan adalah jalan satu-satunya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Apabila sudah dekat, Tuhanpun berjanji akan memberikan petunjuk sehingga menjadi orang yang cerdik cendekia, arif bijaksana.

    Dalam mengerjakan puasa, dilatihlah dia dalam ibadat dan doa. Bertambah ma’rifat kepada Tuhan bertambah pulalah tertanam rasa ikhlas dan tawakkal. Ikhlas, yaitu jujur dan tulus. Tawakkal ialah menyerah dengan tidak separoh hati. Dan kalau mendapat percobaan iman, dapatlah bertahan dengan sabar.

    Orang yang telah cerdik bukanlah mendiktekan Tuhan, Ya Alllah, beri saya itu! Ya Allah, hindarkan dari saya ini!

    Apa yang diminta kepada Tuhanpun menjadi ukuran dari kecerdikan yang meminta. Karena kalau hamba yang menentukan apa yang diminta, kalau tidak diberi apa yang dimintanya itu, diapun kecewa. Inilah tanda orang yang tidak cerdik. Atau jangan menentukan sendiri masa bila akan diberi. Karena kalau terlambat diberi, timbul lagi omelan. Padahal lambat atau cepat hanyalah ukuran keinginan.

    Dalam meminta atau berdoa kepada Tuhan, mintalah modal yang besar dan kokoh. Bukan benda, tetapi dapat menghasilkan benda. Doa-doa yang berasal dari Nabi adalah yang sebaik-baik doa. Kalau tidak pandai bahasa Arabnya, bolehlah dengan bahasa kita sendiri, asal dengan ikhlas.

    Cara Nabi Ayub berdoapun patut ditiru. Ketika sudah demikian besar malapetaka yang menimpa dirinya, doanya hanya demikian: “(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang” (QS 21:83)

    Nabi Ibrahimjuga seketika menuju Tuhan bahwaTuhanlah yang memberinya makan dan memberinya minum, selanjutnya tentang sakit, lain susun katanya: “(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan Aku, Maka Dialah yang menunjuki Aku, Dan Tuhanku, yang Dia memberi Makan dan minum kepadaKu, Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku.” (QS 26:78-80)

    Nabi Ibrahim tidak mengatakan Dia yang menyakitkan daku, Dia pula yang menyembuhkan. Dia hanya mengatakan, kalau aku sakit, Dia yang menyembuhkan. Maka menyambut seruan Tuhan dan percaya penuh kepada Tuhan adalah latihan diri untuk merasai bahwa benar-benarlah Tuhan itu dekat dengan hamba-hamba-Nya. Kesempatan melatih diri inilah yang diutamakan dalam mengerjakan puasa. Sehingga derajat dan martabat kita dinaikkan Tuhan, ke dekat-Nya.

    Untuk mengetahui latar belakang dari sebabnya turun ayat yang penting ini, baiklah kita ketahui riwayat-riwayat yang diterima berhubungan dengan dia. Menurut riwayat dari Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim dan Abusy Syaikh dan Ibnu Mardawaihi yang mereka terima dari riwayat as-Shalt bin Hakim, yaitu seorang sahabat Anshar, yang diterima pula dari ayahnya dan ayahnya menerima dari neneknya, bahwa seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah saw:

    “Ya Rasulullah, apakah Tuhan kita itu dekat dari kita, sehingga dapat kita seru dengan suara lembut, ataukah Dia jauh, sehingga kita Dia dengan suara keras?”

    Mendengar pertanyaan itu, Nabipun terdiam. Lalu turunlah ayat ini, yang menerangkan bahwa Tuhan itu amat dekat kepada kita. Dengan keterangan ayat ini terjawablah pertanyaan itu dan terjawab pulan pertanyaan dari kebanyakan manusia.

    Dan tersebut lagi di dalam sebuah hadits yang dirawikan oleh Bukhari dari Abu Hurairah:

    “Permohonan kamu akan dikabulkan oleh Tuhan , selama kamu tidak mendesak-desak. Dia berkata: Aku telah mendoa, tetapi doaku tidak diperkenankan.”

    Di dalam hadits lain pula, yang dirawikan oleh Bukhari dari hadits Abi Said al-Khudri, bahwa Nabi pernah bersabda:

    “Tidaklah mendoa muslim dengan doa, yang doa itu tidak dicampuri maksud jahat (dosa) atau memutuskan silaturahmi, melainkan pastilah doa itu akan dikabulkan Tuhan dengan menempuh satu dari tiga cara. Adakalanya doa itu diperkenankan dengan cepat, adakalanya disimpan dahulu untuk persediaannya di hari akhirat, dan aadakalanya dipalingkan daripadanya kejahatan yang seumpamanya.”

    Di dalam suatu hadits lagi ada tersebut bahwasanya lambatnya atau cepatnya akan terkabul suatu doa dari seorang hamba adalah menjadi rahasia juga daripada kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya. Di situ disebutkan bahwa kadang-kadang, oleh karena kasih sayang Tuhan pada seorang hamba, lama baru permohonannya dikabulkan. Karena Tuhan amat kasih kepadanya, Tuhan hendak mendengar seruannya selalu.

    Tetapi orang yang berdoa, lalu segera permohonanya dikabulkan, ialah karena Tuhan telah bosan dengan dia. Tuhan bersabda kepada malaikat: “Berikan saja cepat-cepat apa yang dimintanya. Karena yang diharapkannya bukan Daku, melainkan pemberian-Ku.”

    Dapatlah kita perhatikan orang yang lama di dalam percobaan suatu sengsara. Dia selalu mendoa, dia selalu berharap, tetapi pengharapannya belum kunjung dikabulkan. Ada orang yang oleh karena suatu fitnah dan kezaliman, bertahun-tahun lamanya ditahan. Lama baru permohonannya terkabul. Tetapi di masa yang lama itu dia sudah dapat membentuk diri, sehingga dia mempunyai kepribadian agama yang kuat dan kokoh. Penahanannya bertahun-tahun itu membuatnya menjadi seoarng muslim dan mukmin yang kuat, yang sebelum ditahan dia belum pernah merasainya. Dan ada pula orang yang sebelum matang imannya, diapun keluar dari tahanan. Sampai di luar diapun lupa kepada Tuhan. Cobalah kita perhatikan!

    Ayat yang sebuah ini terletak di tengah-tengah, ketika membicarakan dari hal puasa dan hukum-hukumnya. Dilihat sepintas lalu, seakan-akan tidak ada hubungan ayat ini dengan yang sebelumnya, atau yang sesudahnya. Padahal erat sekali hubungan itu.

    Sebab doa orang yang berpuasa itu lebih dekat dikabulkan, sebagaimana yang dirawikan oleh Imam Abu Daud at-Thayalisi dalam musnadnya, diterima daripada Abdullah bin Umar. Beliau berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Bagi orang yang berpuasa itu, seketika dia berbuka adalah doa yang mustajab”

    Dan terdapat pula sebuah hadits dalam musnad Imam Ahmad dan Sunan an-Nasa’i dan Tirmidzi dan Ibnu Majah, diterima daripada Abu Hurairah ra, berkata dia: Berkata Rasulullah saw: “Bertiga yang doanya tidak akan ditolak: imam yang adil, orang yang puasa sampai dia berbuka, dan orang yang teraniaya.”

    Dari kedua hadits ini, dan ada juga hadits-hadits lain yang sama maksudnya dapatlah difahami bahwa ayat ini tidaklah terpisah dari ayat yang sebelum dan sesudahnya, bahkan menjadi intinya. Yaitu bahwa latihan yang berhasil dari orang yang puasa terhadap jiwanya sendiri menyebabkan dia dekat kepada Tuhan.

    Dan lantaran dekat itu, doanya mudah dikabulkan.

    ***

    Sumber: Tafsir Al Azhar Prof. Dr. Hamka

     
  • erva kurniawan 1:10 am pada 14 July 2013 Permalink | Balas  

    Puasanya Orang yang Meninggalkan Shalat, Berpuasa tapi Tidak Shalat

    Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Pertanyaan.

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian ulama kaum muslimin mencela orang yang berpuasa tapi tidak shalat, karena shalat itu tidak termasuk puasa. Saya ingin berpuasa agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang masuk surga melalui pintu Ar-Rayyan. Dan sebagaimana diketahui, bahwa antara Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya. Saya mohon penjelasanya. Semoga Allah menunjukki anda.

    Jawaban

    Orang-orang yang mencela anda karena anda puasa tapi tidak shalat, mereka benar dalam mencela anda, karena shalat itu tianggnya agama Islam, dan Islam itu tidak akan tegak kecuali dengan shalat. Orang yang meninggalkan shalat berarti kafir, keluar dari agama Islam, dan orang kafir itu, Allah tidak akan menerima puasanya, shadaqahnya, hajinya dan amal-amal shalih lainnya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala.

    “Artinya : Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan” [At-Taubah : 54]

    Karena itu, jika anda berpuasa tapi tidak shalat, maka kami katakan bahwa puasa anda batal, tidak sah dan tidak berguna di hadapan Allah serta tidak mendekatkan anda kepadaNya. Sedangkan apa yang anda sebutkan, bahwa antara Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya adalah menghapus dosa-dosa di antara keduanya, kami sampaikan kepada anda, bahwa anda tidak tahu hadits tentang hal tersebut. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

    “Artinya : Shalat-shalat yang lima dan Jum’at ke Jum’at serta Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa-dosa di antara itu apabila dosa-dosa besar dijauhi” [Dikeluarkan oleh Muslim, kitab Ath-Thaharah (233)]

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam terlah mensyaratkan untuk penghapusan dosa-dosa antara satu Ramadhan degan Ramadhan berikutnya dengan syarat dosa-dosa besar dijauhi. Sementara anda, anda malah tidak shalat, anda puasa tapi tidak menjauhi dosa-dosa besar. Dosa apa yang lebih besar dari meninggalkan shalat. Bahkan meninggalkan shalat itu adalah kufur.

    Bagaimana puasa anda bisa menghapus dosa-dosa anda sementara meninggalkan shalat itu suatu kekufuran, dan puasa anda tidak diterima. Hendaklah anda bertaubat kepada Allah dan melaksanakan shalat yang telah diwajibkan Allah atas diri anda, setetah itu anda berpuasa. Karena itulah ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau bersaba.

    “Artinya : Maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka mematuhimu maka beritahukanlah mereka bahwa Allah telah mewajibkan lima shalat dalam sehari semalam” [Hadits Riwayat Al-Bukhari, kitab Az-Zakah (1393), Muslim, kitab Al-Iman (1)]

    Beliau memulai perintah dengan shalat, lalu zakat setelah dua kalimah syahadat

    ***

    [Syaikh Ibnu Utsaimin, Fatawa Ash-Shiyam, dikumpulkan oleh Muhammad Al-Musnad, hal. 34]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-1, Darul Haq]

     
    • ZULFITRIANSYAH PUTRA 5:44 am pada 14 Juli 2013 Permalink

      izin share

  • erva kurniawan 1:39 am pada 13 July 2013 Permalink | Balas  

    Kiat di Masjid Selama Bulan Suci Ramadhan

    Pada bulan suci ramadhan adakalanya kita setelah sahur hendak sholat berjamaah dirumah atau dimasjid, untuk itu diperlukan kiat-kiat untuk bisa menjalankan sholat berjamaahnya dengan baik maupun untuk menambah amal pahala dibulan suci ramadhan.

    Setelah bangun tidur, sahur sebaiknya membersihkan diri, ditekankan untuk menjalankan salat subuh secara berjamaah, baik di rumah sekeluarga atau di masjid bersama masyarakat banyak (terutama pria). Jika anda pergi ke masjid, maka adabnya adalah sebagai berikut:

    1. Mengenakan pakaian yang bersih dan pantas, seperti yang dimaksud al Qur`an: Artinya: Wahai bani Adam, kenakanlah pakaianmu yang indah di setiap kali kamu memasuki masjid. (Q/7:31)
    2. Tidak mengotori masjid, misalnya meludah dengan sembarangan. Menurut hadis Rasulullah: meludah di masjid adalah dosa, penebusnya ialah dengan menghilangkannya.
    3. Menghindarkan diri dari bau tak sedap yang menggaggu orang lain, seperti bau jengkol, bau bawang, atau bau badan karena belum mandi dan sebagainya. Rasulullah bersabda: Barang siapa makan bawang putih, maka sekali-kali jangan mendekati masjid kami. (muttafaq `alaih)
    4. Tidak membicarakan urusan bisnis, apalagi transaksi di dalam masjid, Rasulullah bersabda: Seandainya kalian itu penduduk di sini (bukan tamu) sungguh akan kucambuki kalian, karena kalian berteriak-teriak di masjid Rasulullah. (H.R. Bukhari)
    5. Mengerjakan salat tahiyatal masjid, dua rakaat. Rasulullah bersabda: Apabila seseorang diantara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk dulu sebelum salat dua rakaat.
    6. Tidak meninggalkan masjid jika azan sudah dikumandangkan. Seperti yang dikatakan oleh hadis riwayat Abu Hurairah.
    7. Memperpanjang jarak perjalanan ke masjid agar jumlah langkahnya lebih banyak, misalnya dengan mengambil rute yang berbeda- beda. Rasulullah bersabda: Barang siapa bersuci di rumahnya, lalu pergi ke salah satu masjid untuk menunaikan kewajiban salat fardlu, maka semua langkahnya yang satu menggugurkan dosanya dan yang lain mengangkat derajatnya. (H.R. Muslim)
    8. Sepanjang perjalanan menuju ke masjid hendaknya membaca doa, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah : yang artinya: Ya Allah jadikanlah cahaya di hatiku dan di lidahku, jadikanlah pula cahaya di pendengaranku dan penglihatanku, ya Allah, jadikanlah cahaya dari belakangku dan dari hadapanku, jadikanlah pula cahaya dari atasku dan dari bawahku, ya Allah berikanlah kepadaku cahaya Mu. (muttafaq `alaih)
    9. Memulai dengan kaki kanan ketika memasuki masjid, sambil membaca doa: Bismillahi was sala tu was sala mu `ala rasulillah. Allahumma iftah li abwa ba rahmatika Artinya: Dengan nama Allah, salawat dan salam kepada Rasulullah Nya, ya Allah bukakanlah kepadaku semua pintu rahmat Mu. (H.R. Muslim)
    10. Saat ke luar dari masjid, mendahulukan kaki kiri, dan membaca doa: Bismillahi was sala tu was sala mu `ala rasulillahi Allahumma inni as`aluka min fadhlik Artinya: Dengan nama Allah, salawat dan salam kepada Rasulullah Nya, Ya Allah sesungguhnya aku mohon anugerah Mu. (H.R. Muslim)

    Wassalam,

    Oleh Sahabat Agus Syafii

     
  • erva kurniawan 1:07 am pada 12 July 2013 Permalink | Balas  

    Kiat-Kiat Mengisi Ramadhan

    • Memperlambat sahur dan mempercepat berbuka puasa
    • Banyak melakukan infaq sodaqoh
    • Tilawatul Qur’an (membaca Qur’an) serta mempelajarinya (tadabbur)
    • Tingkatkan pemahaman agama dengan membaca tulisan2 atau buku2 Agama.
    • Meningkatkan disiplin dan muroqobatullah (perasaan bahwa Allah mengawasi kita)
    • Hidupkan malam dengan shalat tarawih dan Qiyamullail
    • Menjauhkan diri dari sebab2 yang dapat mendekatkan diri pada kemaksiatan.seperti pergaulan, bacaan, tontonan.
    • Memberikan makanan berbuka kepada orang-orang yang melakukan puasa, terutama bagi mereka yang kesulitan seperti fakir miskin, orang2 yang berada dalam perjalanan.
    • Berdzikir pada setiap kesempatan (duduk, berdiri dan berbaring)
    • Membuat skala prioritas segala aktivitas yang dapat mendekatkan diri pada Allah.
    • Perbanyaklah aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan amal yang bersifat sosial bagi orang2 yang lemah, fakir miskin, anak yatim, kegiatan dakwah dll
    • Berusaha untuk saling menjaga hati dan sikap untuk menyempurnakan puasa kita menjaga pandangan dan bagi wanita diharapkan untuk berpakaian lebih tertutup minimal selama bulan Ramadhan
    • Beri’tikaf (berdiam diri dengan tujuan mendekatkan diri pada Allah dan menyempurnakan amal ibadah kita) terutama pada 10 malam terakhir.

    Note :

    Apabila mungkin tundalah aktivitas-aktivitas yang tidak berhubungan dengan kegiatan ukhrawi di sepuluh terakhir Ramadhan dan prioritaskan waktu-waktu ini untuk banyak melakukan ibadah dengan penuh kekhusyuan.

    Mengambil cuti kantor akan lebih baik pada hari-hari di sepuluh terakhir Ramadhan sehingga ibadah dan bermunajad kepada Allah dapat diperhebat atau untuk ber’itikaf di Mesjid

    Dengan kita mengetahui keistimewaan yang begitu besar yang diberikan oleh Allah pada bulan Ramdhan ini, kita berharap dapat bersama-sama mengisi Ramadhan ini dengan segala aktivitas yang dapat bernilai ibadah disisi Allah, karena Ramadhan hanya datang sekali dalam setahun dan siapakah yang dapat menjamin bahwa kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa meni’mati Ramadhan-Ramadhan yang akan datang, mungkin saja ramadhan ini adalah ramadhan terakhir bagi kita, untuk itu janganlah kita lewatkan kesempatan yang berharga ini, janganlah Ramadhan ini lewat dengan sia-sia, tanpa memberikan arti bagi kita, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah : “mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga”. Semoga kita terhindar dari apa yang diisyaratkan Rasulullah tersebut.

    Wallahu’alam bishowab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:54 am pada 10 July 2013 Permalink | Balas  

    24 Jam Bersama Orang-orang Shalih di Bulan Ramadhan

    Bulan Ramadhan… Hari demi harinya adalah rentang waktu lipatan pahala yang tak ada batasnya. Jam demi jamnya adalah rangkuman kasih sayang Allah swt kepada hamba-hamba-Nya. Menit demi menitnya adalah hembusan angin surga yang begitu menyejukkan. Detik demi detiknya ada1ah kesempatan yang tak ternilai dibandingkan seumur hidup kita. Maka, mengagendakan aktifitas selama bulan Ramadhan menjadi sangat penting. Disiplin dan hati-hati menjalani hari-harinya harus menjadi tekad dalam hati semua hamba Allah swt yang menghendaki maghfirah dan hidayah-Nya.

    Berikut ini adalah contoh bagaimana kita melewati hari demi hari yang penuh kemuliaan itu. Dengan mengikuti kebiasaan dan perkataan Rasulullah, para salafusholih dan juga para ulama yang begitu menyadari kemuliaan Ramadhan, Semoga Allah swt menguatkan kita untuk menjadi alumni Ramadhan yang berhasil.

    Waktu Sahur hingga Subuh:

    Bangunlah sebelum fajar, sekitar pukul 03.00 pagi. lni adalah waktu sepertiga malam terakhir yang istimewa. Lakukan shalat qiyamul lail beberapa rakaat. Jangan lupa bangunkan keluarga untuk shaiat ma1am. Umar bin Khaththab ra biasa mengerjakan shalat malam. Apabila tiba pertengahan malam, beliau segera mernbangunkan keluarganya untuk shalat. la berseru: “Shalat, shalat!” seraya membacakan ayat ini: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerja-kannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (Qs. Thoha: 132)

    Banyak di antara kita yang lalai melewati waktu ini dengan istirahat dan tidur, lalu segera makan sahur. Mungkin karena menganggap ibadah shalat tarawih sudah dilakukan setelah isya. Padahal waktu-waktu sepertiga malam seharusnya tetap bisa dihidupkan lebih banyak daripada bulan-bulan lain.

    Pada waktu inilah, disebutkan dalam hadits Rasulullah saw, “Rabb kami turun setiap malam ke langit dunia saat sepertiga malam terakhir dan berkata: “Siapa yang berdo’a kepada-Ku, Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku ampuni dia.” (HR. Jamaah)

    “Barangsiapa yang menunaikan qiyamul lail pada bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosa-nya yang telah lalu.” (HR Bukhori dan Muslim)

    Dalam Al Qur’an, Allah swt berfirman: “Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Al-Furqan : 63-64)

    Setelah itu kita bisa menunaikan makan sahur yang memang disunnahkan oleh Rasulullah saw. Jangan lupa tanamkanlah niat dan ikhlaskanlah berpuasa pada siang hari nanti. LaIu bersiap untuk shalat Subuh berja-maah di masjid dan berangkatlah lebih awal. Di masjid sibukkanlah diri dengan memper-banyak istighfar. Aktifitas seperti ini disebutkan dalam Al Qur’anul Karim, “… wal mustaghfiriina bil ashaar.,” Pada waktu sahur kita memang dianjurkan banyak berdo’a, karena waktu sahur termasuk waktu diijabahnya do’a seorang hamba. Setelah azan subuh dirikanlah shalat dua rokaat sebelum subuh. Kemudian tunaikanlah shalat Subuh berjamaah.

    Setelah Subuh:

    Berhati-hatilah dari terpaan rasa kantuk bila kita tidak terbiasa bangun lebih pagi pada hari-hari yang lain. Berusahalah untuk tidak tidur dalam ruas waktu setelah subuh hingga terbit matahari. Para salafushalih sangat tidak menyukai tidur pada waktu itu. Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam Madarijus Salikin menyebutkan, “Di antara tidur yang tidak disukai menurut mereka ialah tidur antara shalat subuh dan terbit matahari, karena ia merupakan waktu untuk memperoleh hasil. Bagi perjalanan ruhani, pada saat itu terdapat keistimewaan besar, sehinga seandainya mereka melakukan perjalanan (kegiatan) semalam suntuk pun, belum tentu dapat menandinginya.”

    Jika kita sangat dibebani kantuk, bertahanlah dan bersabarlah, karena biasanya kebiasaan itu akan terbentuk setelah tiga hari kita melakukan suatu ritme yang berbeda. Selanjutnya, insya Allah kita tidak akan merasakan kantuk sedahsyat sebelumnya.

    Duduklah berdzikir setelah subuh hingga matahari terbit adalah sunnah. Dari Abu Umamah Ra dikatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai terbitnya matahari, kemudian berdiri dan shalat dua rakaat, maka ia akan memperoleh pahala haji dan umrah.” Waktu ba’da subuh hingga matahari terbit adalah waktu yang penuh barakah yang seharusnya benar-benar dipelihara oleh setiap mukmin. Peliharalah waktu itu dengan mengisinya melalui tilawatul Quran satu juz dalam satu hari, berdzikir atau menghafal. Inilah yang dilakukan Rasulullah saw selesai menunaikan shalat Subuh, bahwa ia selalu duduk di tempat shalatnya hingga terbit matahari.” (HR. Muslim)

    Imam At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik dari Rasulullah, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa shalat fajar berjama’ah di masjid, kemudian tetap duduk berdzikir mengingat Allah, hingga terbit matahari lalu shalat dua rakaat (Dhuha), maka seakan-akan ia mendapat pahala haji dan umrah dengan sempurna, sempurna dan sempurna.” (Dinyatakan shahih oleh Al-Albani)

    Hal ini berlaku pada setiap hari, maka bagaimana pula bila dilakukan pada bulan Ramadhan. Berusahalah mendapatkan pahala yang agung ini. Dengan tidur malam yang cukup dan meneladani orang-orang shalih. Senantiasa bersungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah SWT, dan selalu bertekad untuk mencapai derajat yang tinggi di dalam Surga. Sholat Dhuha SholaT dhuha disebutkan oleh Rasulullah, adalah shalatnya orang-orang awwabin, yakni orang-orang yang kembali kepada Allah swt. Waktunya mulai meningginya matahari sepanjang tombak. Menurut hadits shahih, shalat dhuha dilakukan paling sedikit dua rakaat dan paling banyak delapan rakaat.

    Saat bekerja:

    Banyak di antara kita yang tetap memiliki rutinitas mencari nafkah, belajar dan bekerja di bulan ini. Bekerjalah dengan penuh sema-ngat dan teliti. Selingilah waktu-waktu bekerja dengan berdzikir dan tidak meninggalkan shalat berjamaah di awal waktu. Teruslah berusaha menambah amal-amal sunnah yang bisa dilakukan di saat bekerja. Seperti mengajak orang lain kepada kebaikan, bersedekah, ikut berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan di masjid kantor pada bulan Ramadhan, dan sebagainya. Ingatlah sabda Rasulullah saw, “Seluruh amal ibadah bani Adam adalah milik-nya, dan setiap kebaikan akan dibalas 10 kali lipat hingga 700 kali lipat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata: “Kecuali ibadah puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Akulah yang langsung membalasnya. Seorang yang berpuasa telah menahan diri dari syahwat, makanan dan minumannya karena Aku semata. Ada dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa, kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan tatkala bertemu dengan Allah. Dan sungguh bau muiut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kesturi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Pertengahan siang :

    Berusahalah untuk beristirahat sekitar 15-30 menit menjelang atau sesudah waktu shalat Zuhur. Istirahat dan tidur pada rentang waktu ini disebut dengan qailulah. Rasulullah saw dan para salafushalih biasa melakukan qailulah. Imam Al Ghazali menyebutkan bahwa qailulah merupakan simpanan energi bagi mereka yang ingin melakukan qiyamul lail pada hari itu. Waktunya tidak lebih dari setengah jam. Tapi manfaatnya akan terasa saat kita bangun malam.

    Waktu Asar:

    Shalatlah berjamaah di masjid. Ingatlah lipatan pahala di bulan ini, minimum adalah 70 kali lipat dari kebaikan di bulan selainnya. Bila usai shalat saat bekerja sudah selesai, lakukanlah kajian-kajian keislaman, baik dengan membaca buku, diskusi, mendengarkan ceramah, mendengar kajian melalui kaset, atau lainnya. Banyak tema yang bisa kita perdalam pada kesempatan ini, misalnya tema-tema “pelembut jiwa dan hati”. Informasi ini bisa diambil dari hadits-hadits Nabawi atau dari tafsir Al Qur an.

    Mendengarkan kajian Islam melalui kaset bisa menjadi alternatif baik karena bisa dilakukan sambil mengerjakan pekerjaan rumah yang lain. Lakukan hal ini sampai menjelang maghrib untuk bersiap dzikir sore. Segeralah berbuka kemudian shalat maghrib di masjid. Setelah shalat maghrib lanjutkan berbuka puasa ala kadarnya. Jangan terlalu kenyang.

    Waktu Magrib/Berbuka Puasa:

    Bersyukurlah secara lebih mendalam kehadirat Allah swt. Bahwa kita diberikan karunia untuk bisa menyelesaikan hari dengan berpuasa. Jangan lupa berdo’a dengan khusyu ketika berbuka. Ada sebuah doa yang tidak tertolak bagi orang yang berpuasa saat berbuka. Berbukalah dengan tegukan-tegukan air manis diiringi dengan kesyukuran di dalam hati.

    Sebaiknya kita tidak segera melanjutkan berbuka dengan makanan berat. Tundalah sebentar makanan berbuka kita, untuk menunaikan shalat magrib berjamaah dimasjid. Ingatlah kenapa kita penting mempertahankan ibadah shalat berjamaah di masjid. Usai berjamaah, lanjutkan berbuka dengan memakan makanan lebih berat. Jangan terlalu banyak, makanlah secukupnya saja.

    Waktu Isya:

    Segeralah pergi menunaikan shalat isya dan tarawih di masjid. Berusahalah untuk disiplin melakukan shalat isya dan tarawih di masjid, apapun keadaannya. Jika harus terha-langi oleh kegiatan yang mendesak, lakukan shalat tarawih segera setelah kita selesai menunaikan kegiatan tersebut.

    Setelah itu pulanglah ke rumah untuk bertemu dan ber-bincang-bincang dengan keluarga. Mungkin juga pada saat itu kita menyimak perkem-bangan berita namun tidak terlena hingga melewati jam 10 malam. Tidurlah segera, semampunya. Sebaiknya kita menyempurnakan shalat tarawih bersama imam, agar kita termasuk orang-orang yang menghidupkan Ramadhan dengan shalat malam. Rasulullah Saw bersabda: “Siapa saja yang shalat tarawih bersama imam hingga selesai, akan ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah)

    Lakukanlah ini terus menerus sepanjang 20 hari pertama bulan Ramadhan. Untuk kaum Muslimah tentu saja agenda di atas bisa dilakukan di rumah. Tapi untuk shalat isya dan tarawih bisa dilakukan di masjid. Ingat juga, agar kita lebih banyak mendengarkan kajian Islam maupun tilawah Al Quran di rumah di sela-sela mengurus pekerjaan rumah.

    Setelah 20 Hari Ramadhan

    Rasulullah biasa beri’tikaf selama sepuluh hari setiap bulan Ramadhan. Pada tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari. (HR. Al-Bukhari). I’tikaf adalah ibadah yang menghimpun berbagai jenis ibadah lainnya. Saik tilawah Al-Qur’an, shalat, dzikir, do’a, tadabbur dan tain-lain. Bagi kita yang belum pernah melaksanakan i’tikaf, mungkin membayangkan I’tikaf adalah ibadah yang berat dan sulit. Bagaimana mungkin kita bisa menjalani hidup selama 10 hari di masjid? Bagaimana dengan keperluan harian kita? Bagaimana juga dengan keluarga di rumah? Padahal sebenarnya jika dijalankan dengan penuh keikhlasan dan tekad yang sungguh-sungguh, i’tikaf tidak sesulit yang dibayangkan. Allah swt akan mempermudah orang yang bersungguh-sungguh dan ikhlas menjalankan ibadah kepada-Nya.

    I’tikaf sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan sekaligus untuk meraih malam Lailatul Qadar. I’tikaf adalah mengurung diri dan mengikatnya untuk berbuat taat dan selalu mengingat Allah. Memutuskan hubungan dengan segala kesibukan-kesibukan duniawi. Mengurung hati dan jasmani hanya untuk Allah dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Tidak ada terbetik dalam hatinya sesuatu keinginan pun selain Allah dan yang mendatangkan ridha-Nya.

    Ibnul Qayyim ketika menjelaskan beberapa hikmah i’tikaf berkata: “Kelurusan hati dalam perjalanannya menuju Allah sangat bergan-tung kepada kuat tidaknya hati itu berkon-sentrasi mengingat Aliah. Dan merapikan kekusutan hati serta menghadapkannya se-cara total kepada Allah. Sebab kekusutan hati hanya dapat dirapikan dengan menghadapkan secara total kepada Allah.

    Perlu diketahui bahwasanya makan dan minum yang berfe-bihan, kepenatan jiwa dalam berinteraksi sosial, terlalu banyak berbicara dan tidur akan menambah kekusutan hati bahkan dapat menceraiberaikannya, dan menghambat perjalanannya menuju Allah atau melemahkan langkahnya. Maka sebagai konsekuensi rahmat Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengasih terhadap hamba-hambaNya, Allah mensyari’atkan ibadah puasa atas mereka untuk menghilangkan kebiasaan makan dan minum secara berlebih-lebihan serta membersihkan hati dari noda-noda syahwat yang menghalangi perjalanan-nya menuju Allah. Dan mensyariatkan i’tikaf yang inti dan tujuannya ialah menambat hati untuk senan-tiasa mengingat Allah, menyendiri mengingat-Nya, menghen-tikan segala kesibukan yang berhubungan dengan makhluk, dan memfo-kuskan diri bersama Allah semata. Sehingga kegundahan dan goresan-goresan hati dapat diisi dan dipenuhi dengan dzikruflah, men-cintai dan menghadap kepada-Nya.

    Pelajarilah hukum I’tikaf dan tanamkanlah tekad untuk benar-benar bisa menjalaninya selama sepuluh hari terakhir Ramadhan. Tak ada yang bisa menandingi keutamaan malam-malam I’tikaf sepanjang hidup kita.

    Perbanyak ibadah, seperti shalat, tilawah Al-Qur’an, membaca buku-buku agama, berdiskusi dan mengkaji masalah-masalah agama Islam dan lain-lain. Jangan terjerumus pada obrolan yang sia-sia, seperti berdebat, mencela, memaki dan lain-lain.

    Kaum wanita boleh beri’tikaf di dalam mas-jid. Jika terjaga dari fitnah dan diizinkan oleh suami. Hukum-hukum yang berkaitan dengan i’tikaf bagi kaum lelaki juga berlaku bagi kaum waniita. Hanya saja i’tikaf kaum wanita otomatis batal jika mereka haidh. Dan mereka boleh melanjutkannya kembali jika sudah suci.

    I’tikaf adalah sunnah Rasulullah. Maka, segeralah menghidupkan sunnah Nabi ini dan memasyarakatkannya di tengah-tengah keluarga, kerabat dekat, saudara-saudara dan teman-temanmu serta di tengah masyarakat. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menghidupkan salah satu sunnahku yang telah diabaikan, maka ia akan memperoleh pahala seperti orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi dari pahala mereka sedikitpun.” (HR. Tirmidzi).

    Di sisi lain beberapa faidah yang dapat dipetik dari sunnah i’tikaf ini adalah pembinaan jiwa dan melatihnya dalam mengerjakan ketaatan. Mencari Malam Lailatul Qadr Allah swt berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (Al-Qadr:1-3)

    Rasulullah saw bwesabda: “Barangsiapa yang bangun di malam Lailatul Qadr karena keimanan dan keikhlasan, niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam senantiasa mencari malam Lailatul Qadr dan memerintahkan sahabat untuk mencarinya. Beliau membangunkan keluarganya pada malam sepuluh terakhir dengan harapan mendapat malam Lailatul Qadr. Dalam Musnad Ahmad dari ‘Ubadah, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang bangun sebagai usaha untuk mendapat malam Lailatul Qadr, lalu ia benar-benar mendapatkannya, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang.”

    Sejumlah salafushalih mandi dan memakai minyak wangi pada sepuluh malam terakhir untuk mencari malam Lailatul Qadr, malam yang telah dimuliakan dan diangkat derajatnya oleh Allah. Jika kita termasuk orang yang telah menyia-nyiakan umur, kejarlah segala yang terluput atas dirimu pada malam Lailatul Qadr ini. Sebab malam inilah sebagai pengganti umur, beramal pada malam ini lebih baik dari pada seribu bulan. Malam itu datang pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, tepatnya pada malam-malam ganjil, dan lebih diharapkan lagi pada malam kedua puluh tujuh. Berdasarkan riwayat Muslim dari Ubay bin Ka’ab Radhiallaahu anhu bahwa ia berkata: “Demi Allah, sungguh aku mengetahui datangnya malam itu. Yaitu pada malam yang Rasulullah memerintahkan kami untuk menghidupkannya, yaitu malam kedua puluh tujuh.”

    Namun begitu, hendaknya kita tidak terlalu terpengaruh dengan hitungan malam ganjil atau tidak. Lakukanlah sepenuh kemampuan dan keseriusan setiap malam-malam dari 10 terakhir bulan Ramadhan. Kerap kali orang yang hanya mencari malam-malam ganjil ternyata justru tidak bisa memaksimalkan amal-amal ibadah di malam bulan itu. Semoga kita dikaruniakan Allah swt termasuk hamba-hamba-Nya yang mendapat rahmat-Nya karena bulan ini.

    Wallahu’alam

    ***

    Majalah Tarbawi

     
  • erva kurniawan 1:09 am pada 8 July 2013 Permalink | Balas  

    Tidurnya Orang Berpuasa itu Ibadah

    Oleh Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub, M.A.

    Ada tiga kejadian menarik yang berkaitan dengan Hadis yang akan kita bahas ini. Pertama pada bulan Ramadhan, tahun 1968, di sebuah pesantren di pesisir utara Jawa Tengah, seorang santri selalu tidur pa­da siang hari Ramadhan. Padahal para santri lainnya ramai-ramai mengikuti pengajian kitab kuning yang khusus diadakan pada setiap bulan Ramadhan. Istilah pesantrennya, Ngaji Pasaran.

    “Kang, bangun Kang, ngaji,? begitu kata seorang temannya mem­bangunkan. “Biarkan saja, tidurnya orang yang berpuasa itu ‘kan iba­dah,? begitu kata kawan santri yang lain seolah membela santri yang sedang tidur itu. Dan tampaknya, ungkapan kawan yang membela itu bukan sekadar ungkapan biasa, karena di kalangan para santri itu populer sebuah Hadis yang menyebutkan seperti itu.

    Diskusi di London

    Lain lagi dengan kejadian yang kedua ini yaitu yang terjadi pada musim panas tahun 1978 di London Inggris. Seorang mahasiswa Indonesia yang belajar di salah satu negara di Timur Tengah berlibur musim panas di kota super modern yang penuh dengan kebun-kebun raya itu. Ia menjadi tamu seorang Home Staff KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di London.

    Karena waktu itu bulan Ramadhan, maka pada pagi hari maha­siswa tadi tidur di rumah. Sedangkan tuan rumah pergi ke KBRI. Agak siang, mahasiswa tadi bangun dan selanjutnya bersama kawannya yang juga mahasiswa di Timur Tengah keluar, berjalan-jalan melihat Kota London. Menjelang sore, ketika tuan rumah belum pulang dari KBRI, mahasiswa tadi sudah pulang ke rumah, kemudian sambil menunggu sore ia tidur lagi.

    Ketika tuan rumah pulang petang hari dan dilihatnya mahasiswa tadi tidur seharian, ia berkata, “Kalau puasa hanya tidur saja, anak kecil juga bisa.? Mendengar sindiran itu mahasiswa tadi berkomentar, “Orang berpuasa itu tidurnya saja dinilai ibadah. Begitu kata sebuah Hadis.?

    “Ah, mana mungkin begitu,? kata tuan rumah, “Orang tidur kok beribadah. Ini berarti tidurnya saja sudah mendapatkan pahala, padahal orang beribadah itu mendapat pahala karena ia menghadapi tantangan dan godaan. Lantas, orang yang tidur itu apa tantangan dan godaannya?? katanya memberikan alasan.

    “Tetapi banyak yang mengatakan ungkapan itu sebuah Hadis,? jawab mahasiswa tadi. “Lha ini, Sampeyan ini ‘kan mahasiswa dan belajar agama Islam di Timun Tengah. Seharusnya sampeyan meneliti Hadis itu. Apa benar itu sebuah Hadis?? kata tuan rumah tadi mengharapkan kepada tamunya.

    Itulah dua kejadian yang sangat berjauhan baik dari segi waktu maupun tempat. Namun demikian, kedua kejadian itu mempunyai topik yang sama, yaitu Hadis tidurnya orang berpuasa itu merupakan ibadah.

    Narasumber di Televisi

    Kejadian ketiga baru saja pada bulan Ramadhan 1423 H yang lalu. Di sebuah stasiun televisi, seorang yang berpangkat Kiai Haji dan namanya tidak dikenal di kalangan masyarakat umum, menjadi nara­sumber untuk acara yang disiarkan pada siang hari. Sementara sebagai pembawa acara ditampilkan seorang artis sinetron yang namanya juga tidak begitu kondang.

    Kata pembawa acara, “Pak Kiai,? begitu ia menyapa narasumber. “Sebenarnya apa keutamaan bulan Ramadhan itu?? Pak Kiai yang saat itu mengenakan peci putih dan lehernya dililit surban menjawab dengan penuh percaya diri bahwa keutamaan bulan Ramadhan itu ada lima macam. Kemudian ia mengatakan, “Dalam sebuah Hadis, Nabi Muhammad Saw mengatakan bahwa tidurnya orang yang berpuasa itu merupakan ibadah, diamnya saja sama dengan membaca tasbih. Pahala amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.? Itulah keutamaan bulan Ramadhan,? kata narasumber tadi tanpa sedikit pun ragu-ragu bahwa Hadis yang dia sampaikan itu adalah Hadis yang bermasalah. Sementara sang artis yang menjadi pembawa acara sekaligus pewawancara tadi manggut-manggut saja.

    Tidak Populer

    Hadis yang disebut-sebut di tiga tempat di atas itu layaknya merupakan Hadis populer karena banyak orang mengetahuinya. Namun ternyata Hadis tersebut tidak tercantum dalam kitab-kitab Hadis populer. Hadis itu diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitabnya Syu‘ab al-Iman, kemudian dinukil oleh Imam al-Suyuti dalam kitabnya al-Jami al-Shaghir?

    Teks lengkap Hadis tersebut adalah sebagai berikut:

    “Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan (pahalanya), doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.?

    Hadis Palsu

    Menurut Imam al-Suyuti, kualitas Hadis ini adalah dha‘if (lemah). Bagi orang yang kurang mengetahui ilmu Hadis, pernyataan Imam al-­Suyuti ini dapat menimbulkan salah paham, sebab Hadis dha’if itu secara umum masih dapat dipertimbangkan untuk diamalkan. Sedangkan Hadis palsu (maudhu), semi palsu (matruk), dan atau munkar tidak dapat dijadikan dalil untuk beramal sama sekali, hatta sekedar untuk mendorong amal-amal kebajikan (fadhail al-a‘mal).

    Kesalahpahaman itu akan segera hilang manakala diketahui bahwa Hadis palsu dan sejenisnya itu merupakan bagian dari Hadis dha’if. Karenanya, suatu saat, Hadis palsu juga dapat disebut Hadis dha’if. Walau bagaimanapun Imam aI-Suyuti akhirnya menuai kritik juga dari para ulama atas pernyataannya itu, karena beliau dianggap tasahul (mempermudah) dalam menetapkan kualitas Hadis. Salah satunya adalah dari Imam Muhammad Abd al-Ra’uf al-Minawi dalam kitabnya Faidh al-Qadir yang merupakan kitab syarah (penjelasan) atas kitab al-­Jami al-Shaghir.

    Al-Minawi menyatakan bahwa pernyataan aI-Suyuti itu memberikan kesan bahwa Imam al-Baihaqi menilai Hadis tersebut dha’if, padahal masalahnya tidak demikian. Imam al-Baihaqi telah memberikan komentar atas Hadis di atas, tetapi komentar Imam al-Baihaqi itu tidak dinukil oleh imam al-Suyuti. Imam al-Baihaqi ketika menyebutkan Hadis tersebut, beliau memberikan komentar atas beberapa rawi yang terdapat dalam sanadnya.

    Menurut Imam al-Baihaqi, di dalam sanad Hadis itu terdapat nama­-nama seperti Ma’ruf bin Hisan, seorang rawi yang dha’if, dan Sulaiman bin Amr al-Nakha’i, seorang rawi yang lebih dha’if daripada Ma’ruf. Bahkan menurut kritikus Hadis al-Iraqi, Sulaiman adalah seorang pendusta. Demikian Imam al-Baihaqi seperti dituturkan oleh al-Minawi.

    Al-Minawi sendiri kemudian menyebutkan beberapa nama rawi yang terdapat dalam sanad Hadis di atas, yaitu Abd al-Malik bin Umair, seorang yang dinilai sangat dha’if. Namun rawi yang paling parah kedha’ifannya adalah Sulaiman bin Amr al-Nakha’i tadi, yang dinilai oleh para ulama kritikus Hadis sebagai seorang pendusta dan pemalsu Hadis.

    Perhatikan penuturan para ulama berikut ini. Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, Sulaiman bin Amr al-Nakha’i adalah pemalsu Hadis. Yahya bin Ma’in menyatakan, “Sulaiman bin Amr dikenal sebagal pemalsu Hadis.? Bahkan dalam kesempatan lain, Yahya bin Ma’in mengatakan, “Sulaiman bin Amr adalah manusia paling dusta di dunia ini.? Imam al­Bukhari mengatakan, “Sulaiman bin Amr adalah matruk (Hadisnya semi palsu lantaran ia pendusta). Sementara Yazid bin Harun mengatakan, “Siapa pun tidak halal meriwayatkan Hadis dari Sulaiman bin Amr.?

    Imam Ibnu Adiy menuturkan, “Para ulama sepakat bahwa Sulai­man bin Amr adalah seorang pemalsu Hadis.? Ibnu Hibban mengata­kan, “Sulaiman bin Amr al-Nakha’i adalah orang Baghdad, yang secara lahiriyah, dia adalah orang yang shalih, tetapi ia memalsu Hadis. Sementara Imam al-Hakim tidak meragukan lagi bahwa Sulaiman bin Amr adalah pemalsu Hadis.

    Keterangan-keterangan ulama ini cukuplah sudah untuk menetapkan bahwa Hadis di atas itu palsu.

    Beraktivitas Malam Hari

    Tampaknya Hadis di atas itu telah berdampak buruk bagi perilaku sebagian masyarakat Islam, khususnya di Indonesia. Banyak orang berpuasa tetapi tidak mau bekerja pada siang hari. Mereka banyak tidur-tidur saja. Alasannya, itu tadi, mereka menyebut-nyebut Hadis bahwa tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah.

    Memang benar, orang yang berpuasa itu meskipun tidur, ia tetap akan mendapatkan pahala. Tetapi pahala itu diperolehnya lantaran puasanya itu, bukan lantaran tidurnya. Memang, tidur pada siang hari itu akan mendapatkan pahala, apabila hal itu dilakukan agar yang bersangkutan dapat melakukan ibadah dan aktivitas pada malam hari. Tetapi hal ini tidak ada kaitannya dengan ibadah puasa.

    Dan setelah diketahui bahwa Hadis itu palsu, maka mudah-mudahan ia tidak akan beredar dan disebut-sebut lagi di masyarakat, khususnya oleh para da’i dan muballigh. Dan ini pada gilirannya mereka yang berpuasa tetap beraktivitas seperti biasa, tidak berlomba­-lomba tidur pada siang hari.

    ***

    (sumber: Hadis-hadis Bermasalah, oleh Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub, M.A., Penerbit Pustaka Firdaus, 2003. Ali Mustafa Yaqub adalah pakar ilmu hadis, pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, Ciputat, Jakarta dan Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta. Semoga beliau dan penerbit tidak berkeberatan tulisannya saya posting di Internet).

     
  • erva kurniawan 1:06 am pada 7 July 2013 Permalink | Balas  

    10 Indikasi “Gagal” Meraih Keutamaan Ramadhan  

    “Berapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga…” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Hadits Rasulullah tersebut harusnya dapat membangkitkan kewaspadaan kita untuk menjauhi dan tidak terjerumus didalamnya. Apalah artinya berpuasa bila hanya meninggalkan kering pada kerongkongan dan lapar didalam perut?

    Berikut ini adalah uraian yang patut direnungkan agar kita tidak termasuk orang-orang yang disinggung dalam hadits Rasulullah tersebut. Kegagalan yang dimaksud tentu bukan sebuah klaim yang pasti. Itu memang hak Allah SWT semata. Tapi setidaknya kita perlu berhitung dan memiliki neraca agar segenap amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini benar-benar berbobot, hingga kita bisa lulus dari madrasah Ramadhan menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Amiiin.

    PERTAMA, ketika kurang optimal melakukan “warming up” dengan memperbanyak ibadah dibulan Sya’ban. Ibarat sebuah mesin, memperbanyak ibadah di bulan Sya’ban berpungsi sebagai pemanasan bagi ruhani dan fisik untuk memasuki bulan Ramadhan. Berpuasa sunnah, memperbanyak ibadah shalat, tilawah Al-Qur’an sebelum Ramadhan. akan menjadikan suasana hati dan tubuh kondusif untuk pelaksanaan ibadah di bulan puasa. Dengan begitu, puasa, ibadah malam, memperbanyak membaca Al-Qur’an, berdzikir, taqarrub kepada Allah, menjadi lebih lancar.

    Mungkin, itulah hikmahnya kenapa Rasulullah SAW dalam hadits riwayat ‘Aisyah, disebutkan paling banyak melakukan puasa di bulan Sya’ban. Bahkan sejak bulan Rajab, dua bulan menjelang Ramadhan, beliau sudah mengajarkan doa kepada para sahabatnya, “Allaahumma bariklanaa fii Rajaba wa Sya’ban, wa balighna Ramadhana.” Ya Allah, berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah usia kami pada bulan Ramadhan. Rasulullah dan para sahabat ingin mengkondisikan jiwa dan fisik mereka untuk siap menerima kehadiran tamu agung bulan Ramadhan.

    KEDUA, ketika target pembacaan Al-Qur’an yang dicanangkan minimal satu kali khatam, tidak terpenuhi selama bulan Ramadhan. Di bulan ini, pembacaan Al-Qur’an merupakan bentuk ibadah tersendiri yang sangat dianjurkan. Pada bulan inilah Allah SWT menurunkan wahyunya dari Lauhul Mahfudz kelangit dunia. Peristiwa ini disebut sebagai malam lailatul qadar.. Pada bulan ini pula Jibril as biasa mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW.

    Orang yang berpuasa dibulan ini, sangat dianjurkan memiliki wirid Al-Qur’an yang lebih baik dari bulan-bulan selainnya. Kenapa minimal harus dapat mengkhatamkan satu kali sepanjang bulan ini? Karena itulah target minimal pembacaan Al-Qur’an yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ketika Abdullah bin Umar bertanya kepadanya, “Berapa lama sebaiknya seseorang mengkhatam Al-Qur’an?” Rasul menjawab, Satu kali dalam sebulan.” Abdullah bin Umar mengatakan, “Aku mampu untuk lebih dari satu kali khatam dalam satu bulan.” Rasul berkata lagi, “Kalau begitu, bacalah dalam satu pekan.” Tapi Abdullah bin Umar masih mengatakan bahwa dirinya masih mampu membaca seluruh AL-Qur’an lebih cepat dari satu pekan. Kemudian Rasul mengatakan, “Kalau begitu, bacalah dalam tiga hari.”

    KETIGA, Ketika berpuasa tidak menghalangi seseorang dari penyimpangan mulut seperti membicarakan keburukan orang lain, mengeluarkan kata-kata kasar, membuka rahasia, mengadu domba, berdusta dan sebagainya. Seperti yang sudah banyak diketahui, hakikat puasa tidak terletak pada menahan makanan dan minuman masuk masuk kedalam kerongkongan. Tapi puasa juga mengajak pelakunya untuk bisa menahan diri dari berbagai penyimpangan, salah satu yang dilakukan oleh mulut. Rasulullah SAW menyatakan bahwa dusta akan menjadikan puasa sia-sia. (HR. Bukhari).

    Mulut merupakan salah satu bagian tubuh yang paling sukar untuk di kembalikan namun nilainya sangat mahal. Rasulullah berpesan, adakalanya kalimat buruk yang ringan diucapkan oleh seseorang, tapi karena Allah tidak ridha dengan kalimat itu, maka orang itu tercampak ke dalam neraka. Sebaliknya adakalanya kalimat baik yang ringan diucapkan oleh seseorang, tapi karena Allah ridha dengan kalimat itu, orang tersebut dimasukan ke dalam surga. (HR. Ahmad)

    KEEMPAT, ketika puasa tak bisa menjadikan pelakunya berupaya memelihara mata dari melihat yang haram. Mata adalah penerima informasi paling efektif yang bisa memberi rekaman kedalam otak dan jiwa seseorang. Memori informasi yang tertangkap oleh mata, lebih sulit terhapus ketimbang informasi yang diperoleh oleh indra yang lainnya. Karenanya, memelihara mata menjadi sangat penting untuk membersihkan jiwa dan pikiran dari berbagai kotoran. Salah mengarahkan pandangan, bila terus berulang akan menumbuhkan suasana kusam dan tidak nyaman dalam jiwa dan pikiran. Ini sebabnya mengapa Islam mewasiatkan sikap hati-hati dalam menggunakan nikmat mata.

    Puasa yang tak menambah pelakunya lebih memelihara mata dari yang haram, menjadikan puasa itu nyaris tak memiliki pengaruh apapun dalam perbaikan diri. Karenanya, boleh jadi secara hukum puasanya sah, tapi substansi puasa itu tidak akan tercapai.

    KELIMA, ketika malam-malam Ramdhan menjadi tak ada bedanya dengan malam-malam selain Ramadhan. Salah satu ciri khas bulan Ramadhan adalah, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menghidupkan malam dengan shalat dan do’a-do’a tertentu. Ibadah shalat di bulan Ramadhan yang biasa disebut shalat tarawih, merupakan amal ibadah khusus di bulan ini. Tanpa menghidupkan malam dengan ibadah tarawih, tentu seseorang akan kehilangan momentum berharga. Selain itu di dalam shalat ini pula Rasulullah SAW mengajarkan do’a-do’a khusus yang insya Allah akan dijadikan oleh Allah SWT. Di antara do’a-do’a yang perlu diperbanyak dalam shalat tarawih adalah, “Allaahumma inni as alika rdhaaka wal jannah wa na’udzubika min sakhatika wan naar.” Ya Allah aku memohon keridhaan-Mu dan surga-Mu. Dan aku mohon perlindungan dari kemarahan-Mu dab dari neraka-Mu…”

    Para sahabat dahulu, berlomba untuk bisa melakukan shalat tarawih di belakang Rasulullah. Umar bin Kaththab bahkan beriztihad untuk melaksanakan shalat tarawih sebanyak 20 rakaat, sehingga kaum muslimin lebih termotivasi untuk menghidupkan malam Ramadhan.

    KEENAM, jika saat berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya yang tertahan sejak pagi hingga petang. Menjadikan saat berbuka sebagai kesempatan “balas dendam” dari upaya menahan lapar dan haus selama siang hari. Bila ini terjadi, berarti nilai pendidikan puasa akan hilang.

    Puasa, pada hakikatnya, adalah pendidikan bagi jiwa (tarbiyatun nafs) untuk mampu mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu. “Puasa itu adalah perisai” sabda Rasulullah SAW seperti diriwayatkan Imam Bukhari. Hanya dalam puasalah, seseorang dilarang melakukan perbuatan yang sebenarnya halal dilakukan. Hasil pendidikan itu, akan tercermin dalam pribadi orang-orang yang lebih bisa bersabar, menahan diri, tawakal, pasrah, tidak emosional, tenang dalam menghadapi berbagai persoalan.

    Puasa menjadi kecil tak bernilai dan lemah dalam unsur pendidikannya ketika upaya menahan dan mengendalikan nafsu itu hancur oleh pelampiasan nafsu yang dihempaskan saat terbuka.

    KETUJUH, ketika bulan Ramadhan tidak dioptimalkan untuk banyak mengeluarkan infaq dan shadaqah. Rasulullah SAW seperti digambarkan dalam hadits, menjadi soso yang paling murah dan dermawan di bulan Ramadhan, hingga kedermawanannnya itu mengalahkan angin yang bertiup. Di bulan inilah, satu amal kebajikan bisa bernilai puluhan bahkan ratusan kali lipat di banding bulan-bulan lainnya. Momentum seperti ini sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan. Keyakinan yang dikembangkan itu yang dikembangkan oleh para sahabat dan selalu shalih.

    KEDELAPAN, ketika hari-hari menjelang idul fitri sibuk dengan persiapan lahir, tapi tidak sibuk dengan memasok perbekalan sebanyak-banyaknya pada 10 malam terakhir untuk memperbanyak ibadah. Lebih banyak berfikir untuk bisa merayakan idul fitri dengan berbagai kesenangan, tapi melupakan suasana akan berpisah dengan bulan mulia tersebut.

    Rasulullah dan para shabat mengkhususkan 10 hari terakhir untuk berdiam didalam masjid, meninggalkan semua kesibukan duniawi. Mereka memperbanyak ibadah, dzikir dan berupaya meraih keutamaan malam seribu bulan, saat diturunkannya Al-Qur’an.

    Pada detik-detik terakhir menjelang usainya Ramadhan , mereka merasakan kesedihan mendalam karena harus berpisah dengan mulia itu. Sebagian mereka bahkan menangis karena akan berpisah dengan bulan mulia. Ada juga yang bergumam jika mereka dapat merasakan Ramadhan sepanjang tahun.

    KESEMBILAN, ketika Idul Fitri dan selanjutnya dirayakan laksana hari ”merdeka” dari penjara untuk melakukan berbagai penyimpangan. Fenomena ini sebenarnya hanya akibat dari pelaksanaan puasa yang tidak sesuai dengan adabnya. Orang yang berpuasa dengan baik tentu tidak akan menyikapi Ramadhan sebagai kerangkeng.

    KESEPULUH, setelah Ramadhan, nyaris tidak ada ibadah yang ditindaklanjuti pada bulan-bulan selanjutnya. Misalanya memelihara kesinambungan puasa sunnah, shalat malam, membaca Al-Qur’an.

    Amal-amal ibadah satu bulan Ramadhan, adalah bekal pasokan agar ruhani dan keimanan seseorang meningkatkan untuk menghadapi sebelas bulan setelahnya. Namun, orang akan gagal meraih keutamaan Ramadhan, saat ia tidak berupaya menghidupkan dan melestarikan amal-amal ibadah yang perbah ia jalankan dalam satu bulan.

    ***

    Sumber : Majalah Tarbawi

     
  • erva kurniawan 1:54 am pada 6 July 2013 Permalink | Balas  

    Tujuan Saum Ramadhan

    Bismillahirahmanirahim, Sahabatku, Insya Allah dalam beberapa hari lagi kita akan menjalani puasa di bulan Ramadhan. Marilah kita bersama menyambutnya dengan penuh kegembiraan dan suka cita tentunya dengan keikhlasan menjalani ibadah wajib dan sunnah untuk mendapatkan keridhaan dari Allah SWT. Tentu segala perencanaan dan persiapan perlu kita lakukan agar banyak amal kebaikan yang kita bisa peroleh di bulan Ramadhan nanti.

    Sebelum kita menyusun rencana atas apa yang akan kita lakukan, lebih baik kita memahami terlebih dahulu tujuan Saum Ramadhan itu sendiri yang tertera di dalam Al Qur’an, Surah Al Baqarah ayat 183-186 yaitu:

    1. untuk mencapai ketakwaan (183-184)

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

    2. agar menjadi orang yang bersyukur dan (185)

    “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur”an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa diantara kamu hadir (dinegeri tempat tinggalnya) di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

    3. tetap di jalan yang lurus (dalam kebenaran) (186)

    “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo”a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

    Terdapat beberapa amalan ibadah yang dapat kita lakukan dan Insya Allah apabila kita melakukannya dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT, kita akan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Semoga amal ibadah kita dibulan Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

    • Pilihlah dalil yang benar mengenai amalan dalam menyambut Ramadhan, jangan menjadikan tradisi kebudayaan sebagai kewajiban dan menganggap benar-benar amalan yang diwajibkan seperti yang dituliskan dalam Al Qur’an dan Hadist;
    • Gembirakan hati dalam menyambut bulan Ramadhan, lakukan persiapan dengan membuat rencana atas amalan apa yang akan dilakukan setiap harinya selama bulan Ramadhan. Jangan terpengaruh dengan keadaan lingkungan yang sudah meributkan kenaikan harga barang-barang dalam menyambut persiapan Ramadhan apalagi lebaran;
    • Maximalkan kegiatan rutin dibulan Ramadhan. Jadikan ibadah-ibadah sunah menjadi kewajiban apalagi yang sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat muslim. Perbanyak amalan sunnah antara lain shalat dhuha, shalat qiyamul lail, shalat tarawih, beritikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan;
    • Ramadhan merupakan bulan berkah karena Al Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan, oleh sebab itu lakukan amalan meng-khatam-kan Al Qur’an. Peliharalah terus disetiap kesempatan untuk berdzikir, dzikir pagi dan sore, dzikir pada keadaan-keadaan tertentu dan dzikir untuk mengagungkan nama Allah atas kebesaran dan keidahan ciptaanNya;
    • Maximalkan kegiatan rutin kita di bulan Ramadhan, jangan jadikan alasan di bulan puasa ini atas kekurangan dan kemunduran kita beraktifitas sehari-hari baik di kantor, di rumah, maupun disekolah;
    • Ringankan tugas-tugas pembantu rumah tangga kita di bulan Ramadhan ini, hal ini yang biasa dilakukan oleh Nabi semasa ia hidup;
    • Jangan ragu untuk mengeluarkan zakat, infak dan sadaqah. Adapun didalam Al Qur’an sendiri ditetapkan tempat-tempat penyaluran rizki kita dibulan Ramadhan nanti, yaitu: “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (Surat Al Baqarah ayat 273)

    Berinfaklah kepada:

    • Orang yang tidak meminta padahal sebenarnya dia kekurangan dan membutuhkan. Hal ini dilakukan karena ia ingin menjaga citranya sebagai seorang muslim.
    • Orang yang tidak bisa berusaha dalam hidupnya karena sedang menjalankan dakwahnya di muka bumi di Jalan Allah, contohnya orang yang sedang menjaga kehafishan Al Qurán, orang yang sedang berjihad.

    “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak. Orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surat At Taubah ayat 60)

    Yang berhak menerima zakat:

    • Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi kehidupannya.
    • Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.
    • Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan harta zakat.
    • Muállaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.
    • Memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan orang muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.
    • Orang yang sedang berjalan di jalan Allah.
    • Orang yang sedang menuntut ilmu tetapi kekurangan
    • Orang yang sedang mengalami goncangan hebat dalam hidupnya, baik fisik maupun mentalnya.

    Dirangkum dan dituliskan kembali, dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekurangannya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:04 am pada 5 July 2013 Permalink | Balas  

    Ramadhan Tinggal Sehasta

    rumahzakat.org

    Sobat zakat yang budiman, beberapa hari lagi umat Islam akan kedatangan tamu istimewa, yakni bulan Ramadhan. Inilah bulan yang kehadirannya senantiasa dirindukan oleh para orang saleh. Sebab, bulan Ramadhan mengandung kemuliaan yang amat besar, yang tak bisa dijumpai pada bulan-bulan lainnya.

    Rasulullah saw menjelaskan, pada bulan Ramadhan inilah berbagai amal kebajikan dilipatgandakan oleh Allah. Amalan sunnah yang dilakukan pada bulan Ramadhan dinilai sebagai amalan fardhu pada bulan lainnya. Sedang amalan fardhu yang dilakukan pada bulan ini dibalas dengan tujuh puluh kali lipat dibanding bulan-bulan lainnya. Dalam bulan Ramadhan rezeki orang Mukmin ditambah, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ramadhan adalah bulan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka.

    Rasulullah dan orang-orang saleh tak pernah menyia-nyiakan keutamaan Ramadhan barang sedikitpun. Rasulullah dan para sahabat memperbanyak puasa, juga bersedekah pada bulan Sya’ban sebagai latihan sekaligus tanda kegembiraan menyambut datangnya Ramadhan. Anas Bin Malik ra berkata, ”Ketika kaum Muslimin memasuki bulan Sya’ban, mereka sibuk membaca Alquran dan mengeluarkan zakat mal untuk membantu fakir miskin yang berpuasa.”

    ”Allah telah menjadikan Ramadhan sebagai arena pertandingan makhluk-makhluk-Nya. Mereka berlomba dengen ketaatan demi meraih ridha-Nya. Sebagian berhasil dan keluar sebagai pemenang, namun sebagian lagi meninggalkan ketaatan itu dan mereka pun merugi,” demikian penulis mengutip Hasan al-Bashri.

    Mari kita simak briefing Rasulullah saw. ketika akan memasuki bulan suci ini: “Wahai sekalian manusia, bulan yang besar lagi penuh barokah telah menaungi kalian: bulan Ramadhan. Bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang Allah jadikan puasanya sebagai kewajiban, dan qiyam di malam harinya sebagai tathowwu’ (amalan sunnah).

    Siapa yang bertaqorrub (mendekatkan diri kepada Allah) di dalam bulan Ramadhan dengan satu bentuk kebaikan, maka samalah dengan orang yang mengerjakan satu fardhu (kewajiban) di bulan lainnya. Dan siapa yang mengerjakan satu fardhu di bulan Ramadhan, maka samalah dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan lainnya. )

    ***

    Judul diambil dari Puisi Ust Abu Syauqi, Silaturahmi Keluarga Besar (SKB) Rumah Zakat Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:35 am pada 4 July 2013 Permalink | Balas  

    Khotbah Nabi S.A.W. Menyambut Ramadhan

    “Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkatan. Allah telah mewajibkan kepadamu puasa-Nya. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu syurga dan dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh syaithan. Padanya ada suatu malam yang terlebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu, maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan.”

    “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan penghulu segala bulan, maka “Selamat datanglah” kepadanya.”

    Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkatan, bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu kewajiban, dan qiam dimalam harinya suatu tatawwu’.

    Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan didalamnya samalah dia dengan orang yang menunaikan sesuatu fardhu didalam bulan yang lainnya. Barangsiapa menunaikan sesuatu fardhu dalam bulan Ramadhan samalah dia dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu dibulan lainnya. Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu pahalanya adalah surga. Ramadhan itu adalah bulan memberikan pertolongan dan bulan Allah memberikan rezeki kepada mukmin di dalamnya.

    Barangsiapa memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, yang demikian itu adalah pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti yang diperoleh orang yang berpuasa. Allah memberikan pahala itu kepada orang yang memberikan walaupun sebutir korma, atau seteguk air, atau sehirup susu. Dialah bulan yang permulaannya Rahmah, pertengahannya ampunan, dan akhirnya kemerdekaan dari neraka. Barangsiapa yang meringankan beban seseorang (yang membantunya) niscaya Allah mengampuni dosanya. Oleh itu banyakkanlah yang empat perkara dibulan Ramadhan.

    Dua perkara untuk mendatangkan keredhaan Tuhanmu dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya. Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya tiada tuhan melainkan Allah dan mohon ampun kepada-Nya.

    Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka. Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolamku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk kedalam surga.”

    (H.R.Ibnu Khuzaimah)

     
  • erva kurniawan 1:27 am pada 3 July 2013 Permalink | Balas  

    14 Alasan Merindukan Ramadhan

    Seperti seorang kekasih, selalu diharap-harap kedatangannya. Rasanya tak ingin berpisah sekalipun cuma sedetik. Begitulah Ramadhan seperti digambarkan sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, “Andaikan tiap hamba mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu puasa terus.” Sesungguhnya, ada apanya di dalam Ramadhan itu, ikutilah berikut ini:

    1. Gelar taqwa

    Taqwa adalah gelar tertinggi yang dapat diraih manusia sebagai hamba Allah.

    Tidak ada gelar yang lebih mulia dan tinggi dari itu. Maka setiap hamba yang telah mampu meraih gelar taqwa, ia dijamin hidupnya di surga dan diberi kemudahan-kemudahan di dunia. Dan puasa adalah sarana untuk mendapatkan gelar taqwa itu.

    “Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

    Kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah  kepada hambanya yang taqwa, antara lain:

    a. Jalan keluar dari semua masalah

    Kemampuan manusia amat terbatas, sementara persoalan yang dihadapi begitu banyak. Mulai dari masalah dirinya, anak, istri, saudara, orang tua, kantor dan sebagainya. Tapi bila orang itu taqwa, Allah akan menunjukkan jalan berbagai persoalan itu. Bagi Allah tidak ada yang sulit, karena Dialah

    pemilik kehidupan ini.

    “..Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath Thalaaq: 2)

    “..Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath Thalaaq: 4)

    b. Dicukupi kebutuhannya

    “Dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. …”(QS. Ath Thalaaq: 3)

    c. Ketenangan jiwa, tidak khawatir dan sedih hati

    Bagaimana bisa bersedih hati, bila di  dalam dadanya tersimpan Allah. Ia telah menggantungkan segala hidupnya kepada Pemilik kehidupan itu sendiri. Maka orang yang selalu mengingat-ingat Allah, ia bakal memperoleh ketenangan.

    “Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-KU, maka barangsiapa bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. al-A’raaf: 35)

    2. Bulan pengampunan

    Tidak ada manusia tanpa dosa, sebaik apapun dia. Sebaik-baik manusia bukanlah yang tanpa dosa, sebab itu tidak mungkin. Manusia yang baik adalah yang paling sedikit dosanya, lalu bertobat dan berjanji tidak mengulangi perbuatan dosa itu lagi. Karena dosa manusia itu setumpuk, maka Allah telah menyediakan alat penghapus yang canggih. Itulah puasa pada bulan Ramadhan.Beberapa hadis menyatakan demikian, salah satunya diriwayatkan Bukhari Muslim dan Abu  Dawud, “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanannya dan karena mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa sebelumnya diampuni.”

    3. Pahalanya dilipatgandakan

    Tidak hanya pengampunan dosa, Allah juga telah menyediakan bonus pahala berlipat-lipat kepada siapapun yang berbuat baik pada bulan mulia ini. Rasulullah bersabda, “Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan. Tiap satu kebaikan sepuluh lipat gandanya hingga tujuh ratus lipat gandanya.”

    (HR. Bukhari Muslim).

    Bahkan amalan-amalan sunnah yang dikerjakan pada Ramadhan, pahalanya dianggap sama dengan mengerjakan amalan wajib (HR. Bahaiqi dan Ibnu Khuzaimah). Maka perbanyaklah amal dan ibadah, mumpung Allah menggelar obral pahala.

    4. Pintu surga dibuka dan neraka ditutup

    “Kalau datang bulan Ramadhan terbuka pintu surga, tertutup pintu neraka, dan setan-setan terbelenggu. “(HR Muslim) Kenapa pintu surga terbuka? Karena sedikit saja amal perbuatan  yang dilakukan, bisa mengantar seseorang ke surga. Boleh diibaratkan, bulan puasa itu bulan obral. Orang yang tidak membeli akan merugi. Amal sedikit saja dilipatgandakan ganjarannya sedemikian banyak. Obral ganjaran itu untuk mendorong orang melakukan amal-amal kebaikan di bulan Ramadhan. Dengan demikian otomatis pintu neraka tertutup dan tidak ada lagi kesempatan buat setan menggoda manusia.

    5. Ibadah istimewa

    Keistimewaan puasa ini dikatakan Allah lewat hadis qudsinya, “Setiap amalan anak Adam itu untuk dirinya, kecuali puasa. Itu milik-Ku dan Aku yang membalasnya karena ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” (HR Bukhari Muslim)

    Menurut Quraish Shihab, ahli tafsir kondang dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, puasa dikatakan untuk Allah dalam arti untuk meneladani sifat-sifat Allah. Itulah subtansi puasa.

    Misalnya, dalam bidang jasmani, kita tahu Tuhan tidak beristri. Jadi  ketika berpuasa dia tidak boleh melakukan hubungan seks. Allah tidak makan, tapi memberi makan. Itu diteladani, maka ketika berpuasa kita tidak makan, tapi kita memberi makan. Kita dianjurkan untuk mengajak orang berbuka puasa. Ini tahap dasar meneladani Allah.

    Masih ada tahap lain yang lebih tinggi dari sekedar itu. Maha Pemurah adalah salah satu sifat Tuhan yang seharusnya juga kita teladani. Maka dalam berpuasa, kita dianjurkan banyak bersedekah dan berbuat kebaikan. Tuhan Maha Mengetahui. Maka dalam berpuasa, kita harus banyak belajar. Belajar bisa lewat membaca al-Qur’an, membaca kitab-kitab yang bermanfaat, meningkatkan pengetahuan ilmiah.

    Allah swt setiap saat sibuk mengurus makhluk-Nya. Dia bukan hanya mengurus manusia. Dia juga mengurus binatang. Dia mengurus semut. Dia mengurus rumput-rumput yang bergoyang. Manusia yang berpuasa meneladani Tuhan dalam sifat-sifat ini, sehingga dia harus selalu dalam  kesibukan.

    Perlu ditekankan meneladani Tuhan itu sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia. Kita tidak mampu untuk tidak tidur sepanjang malam, tidurlah secukupnya. Kita tidak mampu untuk terus-menerus tidak makan dan tidak minum. Kalau begitu, tidak makan dan tidak minum cukup sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari saja.

    6. Dicintai Allah

    Nah, sesesorang yang meneladani Allah sehingga dia dekat kepada-Nya. Bila sudah dekat, minta apa saja akan mudah dikabulkan. Bila Allah telah mencintai hambanya, dilukiskan dalam satu hadis Qudsi, “Kalau Aku telah mencintai seseorang, Aku menjadi pendengaran untuk telinganya, menjadi penglihatan untuk matanya, menjadi pegangan untuk tangannya, menjadi langkah untuk kakinya.” (HR Bukhari)

    7. Do’a dikabulkan

    “Dan apabila hamba-hamba- Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakanlah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang berdo’a apabila dia berdo’a, maka  hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku. ” (QS. al-Baqarah: 186)

    Memperhatikan redaksi kalimat ayat di atas, berarti ada orang berdo’a tapi sebenarnya tidak berdo’a. Yaitu do’anya orang-orang yang tidak memenuhi syarat. Apa syaratnya? “maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku. “

    Benar, berdo’a pada Ramadhan punya tempat khusus, seperti dikatakan Nabi saw, “Tiga do’a yang tidak ditolak; orang berpuasa hingga berbuka puasa, pemimpin yang adil dan do’anya orang teraniaya. Allah mengangkat do’anya ke awan dan membukakan pintu-pintu langit. ‘Demi kebesaranKu, engkau pasti Aku tolong meski tidak sekarang.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

    Namun harus diingat bahwa segala makanan yang kita makan, kesucian pakaian, kesucian tempat, itu punya hubungan yang erat dengan pengabulan do’a. Nabi pernah bersabda, ada seorang yang sudah kumuh pakaiannya, kusut rambutnya berdo’a kepada Tuhan. Sebenarnya keadaannya yang kumuh  itu bisa mengantarkan do’anya dia diterima. Tapi kalau makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya yang dipakainya terambil dari barang yang haram, bagaimana bisa dikabulkan doa’nya?

    Jadi do’a itu berkaitan erat dengan kesucian jiwa, pakaian dan makanan. Di bulan Ramadhan jiwa kita diasah hingga bersih. Semakin bersih jiwa kita, semakin tulus kita, semakin bersih tempat, pakaian dan makanan, semakin besar kemungkinan untuk dikabulkan do’a.

    8. Turunnya Lailatul Qodar

    Pada bulan Ramadhan Allah menurunkan satu malam yang sangat mulia. Saking mulianya Allah menggambarkan malam itu nilainya lebih dari seribu bulan (QS. Al-Qadr). Dikatakan mulia, pertama lantaran malam itulah awal al-Qur’an diturunkan. Kedua, begitu banyak anugerah Allah dijatuhkan pada malam itu. Beberapa hadits shahih meriwayatkan malam laulatul qodar itu jatuh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Seperti dirawikan Imam Ahmad, “Lailatul qadar  adalah di akhir bulan Ramadhan tepatnya di sepuluh malam terakhir, malam keduapuluh satu atau duapuluh tiga atau duapuluh lima atau duapuluh tujuh atau duapuluh sembilan atau akhir malam Ramadhan. Barangsiapa

    mengerjakan qiyamullail (shalat malam) pada malam tersebut karena mengharap ridha-Ku, maka diampuni dosanya yang lampau atau yang akan datang.”

    Mengapa ditaruh diakhir Ramadhan, bukan pada awal Ramadhan? Rupanya karena dua puluh malam sebelumnya kita mengasah dan mengasuh jiwa kita. Itu adalah suatu persiapan untuk menyambut lailatul qodar.

    Ada dua tanda lailatul qadar. Al Qur’an menyatakan, “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan/ kedamaian sampai terbit fajar. (QS al-Qadr: 4-5)

    Malaikat bersifat gaib, kecuali bila berubah bentuk menjadi manusia. Tapi kehadiran malaikat dapat dirasakan. Syekh Muhammad Abduh  menggambarkan, “Kalau Anda menemukan sesuatu yang sangat berharga, di dalam hati Anda akan tercetus suatu bisikan, ‘Ambil barang itu!’ Ada bisikan lain berkata, ‘Jangan ambil, itu bukan milikmu!’ Bisikan pertama adalah bisikan setan. Bisikan kedua adalah bisikan malaikat.” Dengan demikian, bisikan malaikat selalu mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal positif. Jadi kalau ada seseorang yang dari hari demi hari sisi kebajikan dan positifnya terus bertambah, maka yakinlah bahwa ia telah bertemu dengan lailatul qodar.

    9. Meningkatkan kesehatan

    Sudah banyak terbukti bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya, dengan puasa maka organ-organ pencernaan dapat istirahat. Pada hari biasa alat-alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras. Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh memerlukan proses pencernaan kurang lebih delapan jam. Empat jam diproses di dalam lambung dan empat jam di usus kecil (ileum). Jika malam sahur  dilakukan pada pukul 04.00 pagi, berarti pukul 12 siang alat pencernaan selesai bekerja. Dari pukul 12 siang sampai waktu berbuka, kurang lebih selama enam jam, alat pencernaan mengalami istirahat total.

    Meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli kesehatan, ternyata dengan berpuasa sel darah putih meningkat dengan pesat sekali. Penambahan jumlah sel darah putih secara otomatis akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

    Menghambat perkembangan atau pertumbuhan bakteri, virus dan sel kanker. Dalam tubuh manusia terdapat parasit-parasit yang menumpang makan dan minum. Dengan menghentikan pemasukan makanan, maka kuman-kuman penyakit seperti bakteri-bakteri dan sel-sel kanker tidak akan bisa bertahan hidup. Mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama sel-sel yang telah mati dan toksin.

    Manfaat puasa yang lain adalah membersihkan tubuh dari racun kotoran dan ampas,  mempercepat regenasi kulit, menciptakan keseimbangan elektrolit di dalam lambung, memperbaiki fungsi hormon, meningkatkan fungsi organ reproduksi, meremajakan atau mempercepat regenerasi sel-sel tubuh, meningkatkan fungsi fisiologis organ tubuh, dan meningkatkan fungsi susunan syaraf.

    10. Penuh harapan

    Saat berpuasa, ada sesuatu yang diharap-harap. Harapan itu kian besar menjelang sore. Sehari penuh menahan lapar dan minum, lalu datang waktu buka, wah… rasanya lega sekali. Alhamdulillah. Itulah harapan yang terkabul. Apalagi harapan bertemu Tuhan, masya’ Allah, menjadikan hidup lebih bermakna. “Setiap orang berpuasa selalu mendapat dua kegembiraan, yaitu tatkala berbuka puasa dan saat bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari).

    11. Masuk surga melalui pintu khusus, Rayyan

    “Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut rayyan yang akan dilewati oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat nanti,  tidak diperbolehkan seseorang melewatinya selain mereka. Ketika mereka dipanggil, mereka akan segera bangkit dan masuk semuanya kemudian ditutup.” (HR. Bukhari)

    Minum air telaganya Rasulullah saw :

    “Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan mendapat pahala yang sama tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang lain. Mereka (para sahabat) berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidak setiap kami mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa.’ Beliau berkata, ‘Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi buka puasa meski dengan sebutir kurma, seteguk air, atau sesisip susu…Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya minum seteguk dari telaga di mana ia tidak akan haus hingga masuk surga.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi)

    12. Berkumpul dengan sanak keluarga

    Pada tanggal 1 Syawal ummat Islam  merayakan Hari Raya Idhul Fitri. Inilah hari kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu dan syetan selama bulan Ramadhan. Di Indonesia punya tradisi khusus untuk merayakan hari bahagia itu yang disebut Lebaran. Saat itu orang ramai melakukan silahtuhrahim dan saling memaafkan satu dengan yang lain. Termasuk kerabat-kerabat jauh datang berkumpul. Orang-orang yang bekerja di kota-kota pulang untuk merayakan lebaran di kampung bersama kedua orang tuanya. Maka setiap hari Raya selalu terjadi pemandangan khas, yaitu orang berduyun-duyun dan berjubel-jubel naik kendaraan mudik ke kampung halaman. Silahturahim dan saling memaafkan itu menurut ajaran Islam bisa berlangsung kapan saja. Tidak mesti pada Hari Raya. Tetapi itu juga tidak dilarang. Justru itu momentum bagus. Mungkin, pada hari biasa kita sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak sempat lagi menjalin hubungan dengan tetangga dan saudara yang  lain. Padahal silahturahim itu

    dianjurkan Islam, sebagaimana dinyatakan hadis, “Siapa yang ingin rezekinya dibanyakkan dan umurnya dipanjangkan, hendaklah ia menghubungkan tali silaturahmi! ” (HR. Bukhari)

    13. Qaulan Tsaqiilaa

    Pada malam Ramadhan ditekankan (disunnahkan) untuk melakukan shalat malam dan tadarus al-Qur’an. Waktu paling baik menunaikan shalat malam sesungguhnya seperdua atau sepertiga malam terakhir (QS Al Muzzammil: 3). Tetapi demi kesemarakan syiar Islam pada Ramadhan ulama membolehkan melakukan terawih pada awal malam setelah shalat isya’ dengan berjamaah di masjid. Shalat ini populer disebut shalat tarawih. Shalat malam itu merupakan peneguhan jiwa, setelah siangnya sang jiwa dibersihkan dari nafsu-nafsu kotor lainnya. Ditekankan pula usai shalat malam untuk membaca Kitab Suci al-Qur’an secara tartil (memahami maknanya). Dengan membaca Kitab Suci itu seseorang bakal mendapat wawasan-wawasan yang luas  dan mendalam, karena al-Qur’an memang sumber pengetahuan dan ilham.

    Dengan keteguhan jiwa dan wawasan yang luas itulah Allah kemudian mengaruniai qaulan tsaqiilaa (perkataan yang berat). Perkataan-perkataan yang berbobot dan berwibawa. Ucapan-ucapannya selalu berisi kebenaran. Maka orang-orang yang suka melakukan shalat malam wajahnya bakal memancarkan kewibawaan.

    14. Hartanya tersucikan

    Setiap Muslim yang mampu pada setiap Ramadhan diwajibkan mengeluarkan zakat.

    Ada dua zakat, yaitu fitrah dan maal. Zakat fitrah besarnya 2,5 kilogram per orang berupa bahan-bahan makanan pokok. Sedangkan zakat maal besarnya 2,5 persen dari seluruh kekayaannya bila sudah mencapai batas nisab dan waktunya. Zakat disamping dimaksudkan untuk menolong fakir miskin, juga guna mensucikan hartanya. Harta yang telah disucikan bakal mendatangkan barakah dan menghindarkan pemiliknya dari siksa api neraka. Harta yang barakah  akan mendatangkan ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan. Sebaliknya, harta yang tidak barakah akan mengundang kekhawatiran dan ketidaksejahteraan.

    Semoga kita diberi kesempatan untuk menikmati the next Ramadhan. Amiin….

    ***

    Dari Sahabat

     
c
Compose new post
j
Postingan berikutnya/Komentar berikutnya
k
Postingan sebelumnya/Komentar sebelumnya
r
Balas
e
Edit
o
Tampilkan/Sembunyikan komentar
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 640 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: